P. 1
Hubungan Antara Pendidikan Kewarganegaraan dengan Pancasila sebagai Sistem Filsafat dan Ideologi Bangsa dan Negara Indonesia

Hubungan Antara Pendidikan Kewarganegaraan dengan Pancasila sebagai Sistem Filsafat dan Ideologi Bangsa dan Negara Indonesia

|Views: 10,801|Likes:
Published by anisakomalasari

More info:

Published by: anisakomalasari on Oct 12, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/03/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokus kan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak d an kewajibannya untuk menjadi warga Negara Indonesia yang cerdas, terampil dan b erkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. Perkembangan kehidupan kenegaraan Indonesia mengalami perubahan yang sangat besar terutama berkaitan de ngan gerakan reformasi, serta perubahan Undang-undang termasuk amandemen UUD 194 5 serta Tap MPR NO.XVIII/MPR/1998, yang menetapkan mengembalikan kedudukan Panca sila pada kedudukan semula, sebagai dasar filsafat Negara. Hal ini menimbulkan p enafsiran yang bermacam-macam, akibatnya akhir-akhir ini bangsa Indonesia mengha dapi krisis ideologi. Dampak yang cukup serius atas manipulasi Pancasila oleh para penguasa pada masa lampau. Dewasa ini banyak kalangan elit politik serta sebagian masyarakat berang gapan bahwa Pancasila merupakan label politik Orde Baru sehingga mengembangkan s erta mengkaji Pancasila dianggap akan mengembalikan kewibawaan Orde Baru. Pandan gan yang sinis serta upaya melemahkan peranan ideologi Pancasila pada era Reform asi dewasa ini akan sangat berakibat fatal bagi bangsa Indonesia yaitu melemahny a kepercayaan rakyat terhadap ideologi negara yang kemudian pada gilirannya akan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang telah lama dibina, dipel ihara serta didambakan bangsa Indonesia sejak dahulu. Oleh karena itu, agar kalangan intelektual terutama mahasiswa sebagai calon peng ganti pemimpin bangsa di masa mendatang memahami makna serta kedudukan Pancasila yang sebenarnya maka harus dilakukan suatu kajian yang bersifat ilmiah. Berhubu ng banyaknya bahasan yang mencakup Pancasila maka penulis hanya membahas Pancasi la sebagai Sistem Filsafat dan Ideologi bangsa Indonesia. 1.2. Tujuan Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: 1. Berpikir secara kritis, rasional dan kreatif dalam menanggapi isu kewarg anegaraan 2. Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan masyarakat, berbangsa , dan bernegara, serta anti-korupsi 3. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasark an karakter-karakter maasyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangs a-bangsa lainnya. 4. Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara lan gsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi .

BAB II PENGANTAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN 2.1. Dasar Pemikiran dan Landasan Hukum Pendidikan Kewarganegaraan Pada hakikatnya pendidikan adalah upaya sadar dari suatu masyarakat dan pemerintah suatu negara untuk menjamin kelangsungan hidup dan kehidupan generasi penerusnya, selaku warga masyarakat, bangsa dan negara, secara berguna (berkait an dengan kemampuan spiritual) dan bermakna (berkaitan dengan kemampuan kognitif dan psikomotorik) serta mampu mengantisipasi hari depan mereka yang senantiasa berubah dan selalu terkait dengan konteks dinamika budaya, bangsa, negara dan hu bungan internasionalnya. Pendidikan tinggi tidak dapat mengabaikan realita kehid upan yang mengglobal yang digambarkan sebagai perubahan kehidupan yang penuh den gan paradoksal dan ketakterdugaan. Wawasan Pengembangan Pendidikan Tinggi di Indonesia ke masa depan yang h endak dicapai, adalah: 1. Proses pembelajaran di Perguruan Tinggi Indonesia menyerap konsep pendid ikan internasional yang cenderung semakin: manusiawi, religius, demokratis, dan praktis. 2. Menyepakati dan melaksanakan hakikat pendidikan yang berwujud empat pila r pendidikan yaitu: (1) learning to be, (2) learning to know, (3) learning to do (4) learning to live together. 3. Pendidikan Tinggi mempunyai fungsi untuk pembentukan sosok lulusan yang utuh dan lengkap ditinjau dari segi kemampuan, keterampilan dan kematangan, sert a kesiapan pribadi. Pendidikan IPTEK di Perguruan Tinggi Indonesia (termasuk Politeknik) dirancang d alam kurikulum suatu bidang studi sesuai dengan disiplin ilmu yang diasuh. Isi k urikulum yang dimaksud perlu dibekali dengan dasar-dasar sikap, prilaku dan kepr ibadian peserta didik untuk menyempurnakan pengetahuan, keterampilan, serta damp ak turunan dari IPTEK dan seni yang diperolehnya. Pembekalan kepada peserta didik di Indonesia berkenaan dengan pemupukan nilai-nilai, sikap, dan kepribadian sebagaimana tersebut di atas, dalam komponen kurikulum Perguruan Tinggi diandalkan diantaranya pada Pendidikan Kewarganegara an (PKn) yang termasuk Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MKPK). Misi kelompo k MKPK di Perguruan Tinggi bertujuan membentuk mahasiswa agar mampu mewujudkan nilai dasar agama dan kebudayaan serta kesadaran berbangsa dan bernegara dalam menerapkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang dikuasainya dengan rasa tan ggung jawab kemanusiaan. Landasan hukum (Yuridis Formal) kewajiban adanya Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi, didasarkan pada: 1. Pembukaan UUD 1945, Alinea II dan IV; 2. Batang Tubuh UUD 1945 Pasal 27, Pasal 30, Pasal 31; 3. Undang-undang No. 20/1982, dirubah dengan UU No. 1/1988 Tentang Ketentua n-ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara RI (baca Pasal 17, 18,19); UU No. 3/2002 Tentang Pertahanan Negara (baca Pasal 9); 4. UU Tentang Sistem Pendidikan Nasional No. 2/1989, Pasal 39, dirubah deng an UU No. 20/2003, Pasal 3, Pasal 36 ayat (3), Pasal 37 ayat (2); 5. Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan, Pasal 9; 6. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI, No. 232/U/2000 dan 045/U/2002, Tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa; 7. Keputusan Direktur Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidik an Nasional RI, No. 38/Dikti/Kep/2002, yang disempurnakan dengan Nomor : 43/Dikti/Kep/2006, Tentang Rambu-rambu Pelaksanaan Mata Kuliah

Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. 2.2 Kompetensi Yang Diharapkan Dalam penjelasan pasal 39 Undang-undang No. 2/1989, disebutkan bahwa”Pendi dikan Kewarganegaraan merupakan usaha untuk membekali peserta didik dengan penge tahuan dan kemampuan dasar berkenaan dengan hubungan antara warga negara dengan negara serta pendidikan pendahuluan bela negara (PPBN) agar menjadi warga negara yang dapat diandalkan oleh bangsa dan negara”, sedangkan menurut penjelasan pasal 37 Undang-undang No.20/2003, Pendidikan Kewarganegaraan dimaksudkan untuk membe ntuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Kompetensi lulusan Pendidikan Kewarganegaraan adalah seperangkat tindaka n cerdas penuh tanggung jawab seorang warga negara dalam berhubungan dengan nega ra, dan memecahkan berbagai masalah hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dengan menerapkan konsepsi falsafah bangsa., wawasan kebangsaan, dan ketahanan nasional. Sifat cerdas yang dimaksud tampak pada kemahiran, ketepatan dan keberh asilan bertindak, sedangkan sifat penuh tanggung jawab diperlihatkan sebagai keb enaran tindakana ditilik dari nilai iptek, etika maupun kepatutan ajaran agama d an budaya. Pendidikan Kewarganegaraan diarahkan pada penguasaan kemampuan berpik ir, bersikap rasional dan dinamis, berpandangan luas sebagai manusia intelektual , dengan penekanan: 1. Mengantarkan peserta didik memiliki wawasan kesadaran bernegara untuk be la negara dan memiliki pola pikir, pola sikap dan perilaku untuk cinta tanah air Indonesia; 2. Menumbuhkembangkan wawasan kebangsaan, kesadaran berbangsa dan bernegara sehingga terbentuk daya tangkal sebagai ketahanan nasional; 3. Menumbuhkembangkan peserta didik untuk mempunyai pola sikap dan pola pik ir yang komprehensif, integral pada aspek kehidupan nasional.

BAB III PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT

3.1. Pengertian Filsafat Secara etimologis istilah “filsafat” berasal dari bahasa Yunani “philer” yan g artinya “cinta” dan “sophos yang artinya “hikmah” atau “kebijaksanaan” atau “wisdom” (Nas 973).Jadi secara harfiah istilah filsafat mengandung makna cinta kebijaksanaan. Filsafat dapat dikelompokan menjadi dua macam sebagai berikut: Pertama: Filsafat sebagai produk yang mencakup pengertian. 1. Filsafat sebagai jenis pengetahuan,ilmu,konsep,pemikiran-pemikiran dari para filsuf pada zaman dahulu yang lazimnya merupakan suatu aliran atau sistem filsafat tertentu. 2. Filsafat sebagai suatu jenis problema yang dihadapi oleh manusia sebagai hasi l dari aktifitas berfilsafat. Kedua: Filsafat sebagai suatu proses yang dalam hal ini filsafat diartikan dalam bentuk suatu aktifitas berfilsafat,dalam proses suatu pemecahan permasalahan de ngan menggunakan suatu cara atau metode tertentu yang sesuai dengan objeknya. Adapun cabang-cabang filsafat yang pokok adalah sebagai berikut: 1. Metafisika, yang membahas tentang hal-hal yang bereksistensi di balik fisis, yang meliputi bidang ontologi, kosmologi dan antropologi.

2. Epistemologi, yang berkaitan dengan persoalan hakikat pengetahuan 3. Metodologi, yang berkaitan dengan persoalan hakikat metode dalam ilmu pengetahuan. 4. Logika, yang berkaitan dangan persoalan filsafat berfikir, yaitu rumus-rumus dan dalil-dalil berfikir yang benar. 5. Etika, yang berkaitan dengan moralitas,tingkah laku manusia. 6. Estetika, yang berkaitan dengan persoalan hakikat keindahan. 3.2. Rumusan Kesatuan Sila-sila Pancasila Sebagai Suatu Sistem Pancasila yang terdiri atas lima sila pada hakikatnya merupakan suatu sistem filsafat. Pengertian sistem adalah suatu kesatuan bagian-bagian yang sali ng berhubungan, saling bekerja sama untuk suatu tujuan tertentu dan secara kesel uruhan merupakan suatu kesatuan yang utuh.Pancasila yang terdiri atas bagian-bag ian yaitu sila-sila Pancasila setiap sila pada hakikatnya merupakan suatu asas s endiri, fungsi sendiri-sendiri, namun secara keseluruhan merupakan suatu kesatua n yang sistematis. 3.2.1 Susunan Kesatuan Sila-sila Pancasila yang Bersifat Organis Pancasila merupakan satu kesatuan yang majemuk tunggal. Konsekuensinya setiap sila tidak dapat berdiri sendiri terlepas dari sila-sila lainnya serta diantara sila satu dan yang lainnya tidak saling bertentangan. Kesatuan sila-sila Pancasila yang bersifat organis tersebut pada hakik atnya secara filosofis bersumber pada hakikat dasar ontologis manusia sebagai pe ndukung dari inti,isi dari sila-sila Pancasila yaitu hakikat manusia ‘monopluralis’ yang memiliki unsur-unsur,’susunan kodrat’ jasmani rohani, ’sifat kodrat’ individu-makhl uk sosial, dan ‘kedudukan kodrat’ sebagai pribadi berdiri sendiri makhluk Tuhan yang Maha Esa. 3.2.2 Susunan Pancasila yang Bersifat Hierarkhis dan Berbentuk Piramidal Susunan Pancasila adalah hierarkhis dan berbentuk Piramidal.Pengertian matematis piramidal digunakan untuk menggambarkan hubungan hierarkhi sila-sila Pancasila dalam urut-urutan luas (kwantitas) dan juga dalam hal isi sifatnya (kw alitas). Kalau dilihat dari intinya urut-urutan lima sila menunjukan suatu rangk aian tingkat dalam luasnya dan isi sifatnya merupakan pengkhususan dari sila-sil a di mukanya. Jika urut-urutan lima sila dianggap mempunyai maksud demikian maka dia ntara lima sila ada hubungan yang mengikat yang satu kepada yang lainnya sehingg a Pancasila merupakan suatu keseluruhan yang bulat.Andai kata urut-urutan itu di pandang sebagai tidak mutlak maka diantara satu sila dengan sila yang lainnya ti dak ada sangkut pautnya,maka Pancasila itu menjadi terpecah-pecah, Oleh karena i tu, tidak dapat dipergunakan sebagai asas kerohanian negara. Setiap sila dapat d iartikan dalam bermacam-macam maksud, sehingga sebenarnya sama saja dengan tidak ada Pancasila. Kesatuan sila-sila Pancasila yang memiliki susunan hierarkhis piramida l ini maka sila Ketuhanan yang Maha Esa menjadi basis dari sila kemanusiaaan ya ng adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat k ebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan keadilan sosial bagi seluruh r akyat Indonesia, sebaliknya ketuhanan yang Maha Esa adalah Ketuhanan yang berkem anusiaan, berpersatuan, berkerakyatan serta berkeadilan sosial sehingga di dalam setiap sila senantiasa terkandung sila-sila lainnya. 3.2.3 Rumusan Hubungan Kesatuan Sila-sila Pancasila yang Saling Mengisi dan saling Mengkualifikasi Kesatuan sila-sila Pancasila yang ‘Majemuk Tunggal’, ‘hierarkis Piramidal’ juga memiliki sikap saling mengisi dan saling mengkualifikasi. Hal ini dimaksudkan ba hwa dalam setiap sila terkandung nilai keempat sila lainnya, atau dengan kata la in perkataan dalam setiap sila senantiasa dikualifikasi oleh keempat sila lainny a.

3.3 Kesatuan Sila-sila Pancasila sebagai Suatu Sistem Filsafat Secara filosofis Pancasila sebagai suatu kesatuan sistem filsafat memili ki dasar ontologis, dasar epistemologis dan dasar aksiologis sendiri yang berbed a dengan sistem filsafat yang lainnya misalnya matrealisme, liberalisme, pragmat isme, komunisme, idealisme dan lain paham filsafat di dunia. 3.3.1 Dasar Antropologis Sila-sila Pancasila Dasar ontologis Pancasila pada hakikatnya adalah manusia yang memiliki h akikat untuk monopluralis. Oleh karena itu hakikat dasar ini juga disebut sebaga i dasar antropologis. Jikalau kita pahaami dari segi filsafat negara bahwa Panca sila adalah dasar filsafat negara, adapun pendukung pokok negara adalah rakyat d an unsur rakyat adalah manusia itu sendiri, sehingga tepatlah jikalau dalam fils afat Pancasila bahwa hakikat dasar antropologis sila-sila Pancasila adalah manus ia.

3.3.2 Dasar Epistemologis Sila-sila Pancasila Sebagai suatu ideologi maka Pancasila memiliki tiga unsur pokok agar dap at menarik loyalitas dari pendukungnya yaitu : 1) logos yaitu rasionalitas atau penalarannya, 2) pathos yaitu penghayatannya dan 3) ethos yaitu kesusilaanya (Wi bisono, 1996:3). Sebagai suatu sistem filsafat serta ideologi maka Pancasila har us memilki unsur rasional terutama dalam kedudukannya sebagai suatu sistem penge tahuan. Dasar epistemologis Pancasila pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan den gan dasar ontologisnya. Pancasila sebagai suatu ideologi bersumber pada nilai-ni lai dasarnya yaitu filsafat Pancasila (Soeryanto, 1991:50). Oleh karena itu dasa r epistemologis Pancasila tidak dapat dipisahkan dengan konsep dasarnya tentang hakikat manusia. Kalau manusia merupakan basis ontologis dari Pancasila, maka de ngan demikian mempunyai implikasi terhadap bangunan epistemologi, yaitu bangunan epistemologi yang ditempatkan dalam bangunan filsafat manusia (Pranarka, 1996:3 2). Terdapat tiga persoalan yang mendasar dalam epistemologi yaitu pertama t entang sumber pengetahuan manusia, kedua tentang teori kebenaran pengetahuan man usia, ketiga tentang watak pengetahuan manusia (Titus, 1984 : 20). 3.3.3. Dasar Aksiologis Sila-sila Pancasila Sila-sila sebagai suatu sistem filsafat juga memiliki satu kesatuan dasa r aksiologisnya sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila pada hakika tnya juga merupakan suatu kesatuan. Terdapat berbagai macam teori tentang nilai dan hal ini sangat tergantung pada titik tolak dan sudut pandangnya masing-masin g dalam menentukan tentang pengertian nilai dan hierarkinya. Max Sscheler mengemukakan bahwa nilai yang ada tidak sama luhurnya dan t idak sama tingginya. Nilai-nilai itu dalam kenyataanya ada yang lebih tinggi dan ada yang lebih rendah bilamana dibandingkan satu dengan lainnya. Menurut tinggi rendahnya nilai dapat digolongkan menjadi empat tingkatan sebagai berikut : 1) Nilai-nilai kenikmatan, nilai-nilai ini berkaitan dengan indra manusia sesuatu y ang mengenakkan dan tidak mengenakkan dalam kaitannya dengan indra manusia (die Wertreidhe des Angenehmen und Unangehmen), yang menyebabkan manusia senang atau menderita atau tidak enak. 2) Nilai-nilai kehidupan, yaitu dalam tingkatan ini t erdapatlah nilai-nilai yang penting bagi kehidupan manusia, misalnya kesegaran j asmani, kesehatan, serta kesejahteraan umum. 3) Nilai-nilai kejiwaan, dalam ting katan ini terdapat nilai-nilai kejiwaan yang sama sekali tidak tergantung dari k eadaan jasmani ataupun lingkungan. Nilai-nilai semacam ini antara lain nilai kei ndahan, kebenaran, dan pengetahuan murni yang dicapai dalam filsafat. 4) Nilai-n ilai kerokhanian, yaitu dalam tingkatan ini terdapatlah modalitas nilai dari yan g suci (Wer Modalitat der Heiligen und Unbeilingen). Nilai-nilai semacam itu ter utama terdiri dari nilai-nilai pribadi (Driyarkara, 1978). Nilai-nilai Pancasila sebagai Suatu Sistem

Isi arti sila-sila Pancasila pada hakikatnya dapat dibedakan atas hakika t Pancasila yang umum universal yang merupakan substansi sila-sila Pancasila, se bagai pedoman pelaksanaan dan pennyelenggaraan negara yaitu sebagai dasar negara yang bersifat umum kolektif serta realisasi pengamalan Pancasila yang bersifat khusus dan kongkrit. Hakikat Pancasila adalah merupakan nilai, adapun sebagai pe doman negara adalah merupakan norma adapun aktualisasi atau pengamalannya adalah merupakan realisasi kongkrit Pancasila. Nilai-nilai yang terkandung dalam sila satu sampai dengan lima merupakan cita-cita harapan, dan dambaan bangsa Indonesia yang akan diwujudkannya dalam k ehidupannya. Pada hakikatnya Pancasila itu merupakan suatu sistem nilai, dalam a rtian bahwa bagian-bagian atau sila-silanya saling berhubungan secara erat sehin gga membentuk suatu struktur yang menyeluruh. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila termasuk nilai kerohanian ya ng tertinggi adapun nilai-nilai tersebut berturut-turut nilai ketuhanan adalah t ermasuk nilai yang tertinggi karena nilai ketuhanan adalah bersifat mutlak. Sila kemanusiaan, adalah sebagai pengkhususan nilai ketuhanan karena manusia adalah makhluk Tuhan Yang Maha Esa sedangkan manusia adalah sebagai makhluk Tuhan. Nila i ketuhanan dan nilai kemanusiaan dilihat dari tingkatannya adalah lebih tinggi dari pada nilai-nilai kenegaraan yang terkandung dalam ketiga sila lainnya yaitu sila persatuan, sila kerakyatan dan sila keadilan. Adapun nilai-nilai kenegaraa n yang terkandung dalam ketiga sila tersebut berturut-turut memiliki tingkatan y ang lebih tinggi daripada nilai kerakyatan dan nilai keadilan sosial karena pers atuan merupakan adalah merupakan syarat mutlak adanya rakyat dan terwujudnya kea dilan. Berikutnya nilai kerakyatan yang didasari nilai Ketuhanan, kemanusiaan da n nilai persatuan lebih tinggi dan mendasari nilai keadilan sosial karena keraky atan adalah sebagai sarana terwujudnya suatu keadilan sosial, barulah kemudian n ilai keadilan sosial adalah sebagai tujuan dari keempat sial lainnya. Meskipun n ilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila Pancasila berbeda-beda dan memiliki t ingkatan serta luas yang berbeda-beda pula namun keseluruhan nilai tersebut meru pakan suatu kesatuan dan tidak saling bertentangan. 3.4. Pancasila sebagai Nilai Dasar Fundamental bagi Bangsa dan Negara Republik Indonesia 3.4.1 Dasar Filosofis Pancasila pada hakikatnya merupakan suatu nilai-nilai yang bersifat sist ematis, fundamental dan menyeluruh. Maka sila-sila Pancasila merupakan suatu kes atuan yang bulat dan utuh, hierarkhis dan sistematis. Konsekuensinya kelima sila bukan terpisah-pisah dan memiliki makna sendiri-sendiri, melainkan memiliki ese nsi serta makna yang utuh. Pancasila sebagai filsafat bangsa dan negara Republik Indonesia, mengand ung makna bahwa dalam setiap aspek kehidupan kebangsaan, kemasyarakatan dan kene garaan harus berdasarkan nilai-nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyat an dan Keadilan. Pemikiran filsafat kenegaraan bertolak dari suatu pandanagan ba hwa negara adalah merupakan suatu persekutuan hidup manusia atau organisasi kem asyarakatan, yang merupakan masyarakat hukum (legal society). Adapun negara yang didirikan oleh manusia itu berdasarkan pada kodrat bahwa manusia sebagai warga negara sebagai persekutuan hidup adalah berkedudukan kodrat manusia sebagai makh luk Tuhan Yang Maha Esa (hakikat sila pertama). Negara yang merupakan persekutua n hidup manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, pada hakikatnya bertujuan u ntuk mewujudkan harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang berbudaya atau makhluk yang beradab (hakikat sila kedua). Untuk mewujudkan suatu negara sebagai suatu organisasi hidup manusia harus membentuk suatu ikatan sebagai suatu bangs a (hakikat sila ketiga). Terwujudnya persatuan dalam suatu negara akan melahirka n rakyat sebagai suatu bangsa yang hidup dalam suatu wilayah negara tertentu. Ko nsekuensinya dalam hidup kenegaraan itu haruslah mendasarkan pada nilai bahwa ra kyat merupakan asal mula kekuasaan negara. Maka negara harus bersifat demokratis , hak serta kekuasaan rakyat harus dijamin, baik sebagai individu maupun secara bersamaan (hakikat sila keempat). Untuk mewujudkan tujuan negara sebagai tujuan bersama, maka dalam hidup kenegaraan harus mewujudkan jaminan perlindungan bagi

seluruh warga, sehingga untuk mewujudkan tujuan seluruh warganya harus dijamin b erdasarkan suatu prinsip keadilan yang timbul dalam kehidupan bersama (kehidupan sosial) (hakikat sila kelima). Nilai-nilai inilah yang merupakan suatu nilai da sar bagi kehidupan kenegaraan, kebangsaan dan kemasyarakatan. 3.4.2 Nilai-nilai Pancasila sebagai Nilai Fundamental Negara Nilai-nilai Pancasila terkandung dalam Pembukaan UUD1945 secara yuridis memiliki kedudukan sebagai Pokok Kaidah Negara yang Fundamental.Adapun Pembukaan UUD 1945 yang di dalamnya memuat nilai-nilai Pancasila mengandung Empat Pokok P ikiran yang bilamana di dalamnya dianalisis makna yang terkandung di dalamnya ad alah derivasi atau penjabaran dari nilai-nilai Pancasila Pokok Pikiran pertama menyatakan bahwa negara Indonesia adalah nega ra persatuan,yaitu negara yang melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah dara h Indonesia,mengatasi segala paham golongan maupun perseorangan.Hal ini merupaka n penjabaran sila ketiga. Pokok pikiran kedua menyatakan bahwa negara hendak mewujudkan suat u keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dalam hal ini negara berkewajib an mewujudkan kesejahteraan umum bagi seluruh warga negara. Mencerdaskan kehidup an bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan perdamaian ab adi dan keadilan sosial. Pokok pikiran ini sebagai penjabaran sila kelima. Pokok Pikiran ketiga menyatakan bahwa negara berkedaulatan rakyat. Berda sarkan atas kerakyatan dan permusyawaratan/perwakilan. Hal ini menunjukkan bahwa negara Indonesia adalah negara demokrasi yaitu kedaulatan di tangan rakyat. Hal ini merupakan penjabaran sila keempat. Pokok Pikiran keempat menyatakan bahwa , negara berdasarkan atas Ketuhan an yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. Hal ini mengan dung arti bahwa negara Indonesia menjungjung tinggi keberadaban semua agama dala m pergaulan hidup negara. Hal ini merupakan penjabaran sila pertama dan kedua. Dalam pengertian seperti inilah maka sebenarnya dapat disimpulkan bahwa Pancasil a merupakan dasar yang fundamental bagi negara Indonesia terutama dalam pelaksan aan dan penyelenggaraan negara. 3.5 Inti Isi Sila-sila Pancasila Nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila adalah sebagai berikut. 3.5.1 Sila Ketuhanan Yang Maha Esa Dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa terkandung nilai bahwa negara yang di dirikan adalah sebagai pengejawantahan tujuan manusia sebagai makhluk Tuhan yang Maha Esa. Oleh karena itu segala hal yang berkaitan dengan pelaksanaan dan peny elenggaraan negara bahkan moral negara, moral penyelenggara negara, politik nega ra, pemerintahan negara, hukum dan peraturan perundang-undangan negara, kebebasa n dan hak asasi warga negara harus dijiwai nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa. 3.5.2 Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab Dalam sila kemanusiaan terkandung nilai-nilai bahwa negara harus menjunj ung tinggi harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang beradab. Oleh karena itu dalam peraturan perundang-undangan negara harus mewujudkan tercapainya tuju an ketinggian harkat dan martabat manusia, terutama hak-hak kodrat manusia sebag ai hak dasar (hak asasi) harus dijamin dalam peratuiran perundang-undangan negar a. Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah mengandung nilai suatu kesadaran sik ap moral dan tingkah laku manusia yang didasarkan pada potensi budi nurani manus ia dalam hubungan dengan norma-norma dan kebudayaan pada umumnya baik terhadap d iri sendiri, terhadap sesama manusia maupun terhadap lingkungannya. Nilai kemanu siaan yang beradab adalah perwujudan nilai kemanusiaan sebagai makhluk yang berb udaya bermoral dan beragama. 3.5.3 Persatuan Indonesia Dalam sila ini terkandung nilai bahwa negara adalah sebagai penjelmaan s ifat kodrat manusia monodualis yaitu sebagai makhluk individu dan makhluk sosial . Negara adalah suatu persekutuan hidup bersama di antara elemen-elemen yang mem bentuk negara yang berupa, suku, ras, kelompok, golongan maupun kelompok agama. Tujuan negara dirumuskan untuk melindungi segenap warganya dan seluruh tumpah da rahnya, memajukan kesejahteraan umum (kesejahteraan seluruh warganya) mencerdask an kehidupan warganya serta dalam kaitannya dengan pergaulan dengan bangsa-bangs

a lain di dunia untuk mewujudkan suatu ketertiban dunia yang berdasarkan perdama ian abadi dan keadilan sosial. Hal ini terkandung nilai bahwa nasionalisme Indonesia adalah nasionalism e religius. Yaitu nasionalisme yang bermoral Ketuhanan yang Maha Esa, nasionalis me yang humanistik yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sebagai na khluk Tuhan. 3.5.4. Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaa dalam Permusyawaratan/Perwakilan Nilai filosofis yang terkandung di dalamnya adalah bahwa hakikat negara adalah sebagai penjelmaan sifat kodrat manusia sebagai makhluk individu dan makh luk sosial. Hakikat rakyat adalah merupakan sekelompok manusia sebagai makhluk T uhan yang Maha Esa yang bersatu yang bertujuan mewujudkan harkat dan martabat ma nusia dalam suatu wilayah negara. Rakyat adalah subjek pendukung pokok negara. N egara adalah dari oleh dan untuk rakyat, oleh karena itu rakyat merupakan asal m ula kekuasaan negara. Dalam sila kerakyatan terkandung nilai demokrasi yang seca ra mutlak harus dilaksanakan dalam hidup negara, maka nilai-nilai demokrasi yang terkandung dalam sila keempat adalah (1) adanya kebebasan yang harus disertai d engan tanggung jawab baik terhadap masyarakat bangsa maupun secara moral terhada p Tuhan yang Maha Esa. (2) Menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan. (3 ) Menjamin dan memperkokoh persatuan dan kesatuan dalam hidup bersama. (4) Menga kui atas perbedaan individu, kelompok, ras, suku, agama, karena perbedaan merupa kan suatu bawaan kodrat manusia. (5) Mengakui adanya persamaan hak yang melekat pada setiap individu, kelompok, ras, suku, maupun agama. (6) Mengarahkan perbeda an dalam suatu kerja sama kemanusiaan yang beradab. (7) Menjunjung tinggi asas m usyawarah sebagai moral kemanusiaan yang beradab. (8) Mewujudkan dan mendasarkan suatu keadilan dalam kehidupan sosial agar tercapainya tujuan bersama. 3.5.5. Keadilan sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia Dalam sila kelima tersebut terkandung nilai-nilai yang merupakan tujuan negara sebagai tujuan dalam hidup bersama. Maka di dalam sila kelima tersebut te rkandung nilai keadilan yang harus terwujud dalam kehidupan bersama (kehidupan s osial). Keadilan yang harus terwujud dalam hidup bersama adalah meliputi (1) kea dilan distributif, yaitu suatu hubungan keadilan antara negara terhadap warganya , dalam arti pihak negaralah yang wajib memenuhi keadilan dalam bentuk keadilan membagi, dalam bentuk kesejahteraan, bantuan, subsidi serta kesempatan dalam hid up bersama yang didasarkan atas hak dan kewajiban. (2) keadilan legal (keadilan bertaat), yaitu suatu hubungan keadilan antara warga negara terhadap negara dan dalam masalah ini pihak wargalah yang wajib memenuhi keadilan dalam bentuk menta ati peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam negara. (3) keadilan komutat if, yaitu suatu hubungan keadilan antara warga satu dengan lainnya secara timbal balik.

BAB IV

PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NASIONAL 4.1 Pengertian Asal Mula Pancasila Pancasila sebagai dasar filsafat serta ideologi bangsa dan negara Indone sia, bukan terbentuk secara mendadak serta bukan hanya diciptakan oleh seseorang sebagaimana yang terjadi pada ideologi-ideologi lain di dunia, namun terbentukn ya Pancasila melalui prose yang cukup panjang dalam sejarah bangsa Indonesia. 4.1.1. Asal Mula yang Langsung Secara ilmiah filsafati dibedakan atas empat macam yaitu: Kausa Material is, Kausa Effisien, dan Kausa Finalis (Bagus, 1991 : 158). Adapun rincian asal m ula langsung Pancasila menurut Notonagoro adalah sebagi berikut: (a) Asal mula bahan (Kausa Materialis) Asal bahan Pancasila adalah pada bangsa Indonesia sendiri yang terdapat dalam ke pribadian dan pandangan hidup. (b) Asal mula bentuk (Kausa Formalis) Asal mula bentuk Pancasila adalah Ir. Soekarno bersama-sama Drs. Moh. Hatta sert a anggota BPUPKI lainnya merumuskan dan membahas Pancasila terutama dalam hal be ntuk, rumusan serta nama Pancasila. (c) Asal mula karya (Kausa Effisien) Yaitu PPKI sebagai pembentuk negara dan atas kuasa pembentuk negara yang mengesa hkan Pancasila menjadi dasar negara yang sah, setelah dilakukan pembahasan baik dalam sidang-sidang BPUPKI, Panitia Sembilan. (d) Asal mula tujuan (Kausa Finalis) Tujuan perumusan Pancasila adalah untuk dijadikan sebagai dasar negara yang diba has dalam sidang-sidang para pendiri negara, yang mana para pendiri negara terse but berfungsi sebagai kausa sambungan karena yang merumuskan dasar filsafat nega ra. 4.1.2. Asal Mula yang Tidak Langsung Secara kausalitas asal mula yang tidak langsung Pancasila adalah asal mu la sebelum proklamsai kemerdekaan.Berarti bahwa asal mula nilai-nilai Pancasila yang terdapat dalam adat-istiadat,dalam kebudayaan serta dalam nilai-nilai agama bangsa Indonesia, sehingga dengan demikian asal mula tidak langsung Pancasila a dalah terdapat pada kepribadian serta dalam pandangan hidup sehari-hari bangsa I ndonesia. 4.1.3. Bangsa Indonesia ber-Pancasila dalam ‘Tri Prakara’ Pada hakikatnya bangsa Indonesia ber-Pancasila dalam tiga asas atau ‘Tr i Prakara’ yang rinciannya adalah sebagai berikut: Pertama : Bahwa unsur-unsur Pancasila sebelum disahkan menjadi dasar filsafat ne gara secara yuridis sudah dimiliki oleh bangsa Indonesia sebagai asas-asas dalam adat-istiadat dan kebudayaan dalam arti luas (Pancasila Asas Kebudayaan). Kedua : Demikian juga unsur-unsur Pancasila telah terdapat pada bangsa Ind onesia sebagai asas-asas dalam agama-agama (nilai-nilai religius) (Pancasila Asa s Religius). Ketiga : Unsur-unsur tadi kemudian diolah, dibahas dan dirumuskan secara saksa ma oleh para pendiri negara dalam sidang-sidang BPUPKI, Panitia ‘Sembilan’. Setelah bangsa Indonesia merdeka rumusan Pancasila calon dasar negara tersebut kemudian disahkan oleh PPKI sebagai Dasar Filsafat Negara Indonesia dan terwujudlah panca sila sebagai asas kenegaraan (Pancasila asas kenegaraan). 4.2 Kedudukan dan Fungsi Pancasila Dari berbagai macam kedudukan dan fungsi Pancasila sebagai titik sentral pembahasan adalah kedudukan dan fungsi pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia, hal ini sesuai dengan kausa finalis Pancasila yang dirumuskan oleh pe mbentuk negara pada hakikatnya adalah sebagai dasar negara Republik Indonesia. N amun hendaklah dipahami bahwa asal mula Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia, adalah digali dari unsur-unsur yang berupa nilai-nilai yang terdapat pada bangsa Indonesia sendiri yang berupa pandangan hidup bangsa Indonesia. Oleh karena itu dari berbagai macam kedudukan dan fungsi Pancasila dapat dikembalika n pada dua macam kedudukan dan fungsi Pancasila yang pokok yaitu sebagai Dasar N

egara Republik Indonesia dan sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia. 4.2.1. Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa Bangsa Indonesia dalam hidup bernegara telah memiliki suatu pandangan hi dup bersama yang bersumber pada akar budayanya dan nilai-nilai religiusnya. Panc asila sebagai pandangan hidup bangsa terkandung di dalamnya konsepsi dasar menge nai kehidupan yang dicita-citakan, terkandung dasar pikiran terdalam dan gagasan mengenai wujud kehidupan yang yang dianggap baik. Pandangan hidup Pancasila bag i bangsa Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika harus merupakan asas pemersatu bang sa sehingga tidak boleh mematikan keanekaragaman. Sebagai intisari dari nilai budaya masyarakat Indonesia, maka Pancasila merupakan cita-cita moral bangsa yang memberikan pedoman dan kekuatan rohaniah b agi bangsa untuk berprilaku luhur dalam kehidupan sehari-hari dalam bermasyaraka t, berbangsa dan bernegara. 4.2.2 Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia Pancasila merupakan suatu dasar nilai serta norma untuk mengatur pemerin tahan negara atau Pancasila merupakan suatu dasar untuk mengatur penyelenggaraan negara. Pancasila merupakan Sumber dari Segala sumber hukum, Pancasila merupaka n sumber kaidah hukum negara yang secara konstitusional mengatur negara Republik Indonesia beserta seluruh unsur-unsurnya yaitu rakyat, wilayah, serta pemerinta han negara. Sebagai dasar negara, Pancasila merupakan suatu asas kerohanian yang mel iputi suasana kebatinan atau cita-cita hukum, sehingga merupakan suatu sumber ni lai, norma serta kaidah, baik moral maupun hukum negara, dan menguasai yang tida k tertulis atau convensi. Dalam kedudukannya sebagai dasar negara, Pancasila mem punyai kekuatan mengikat secara hukum. Kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dapat dirinci sebagai berikut : a) Pancasila sebagai dasar negara adalah merupakan sumber dari segala sumbe r hukum (sumber tertib hukum) Indonesia. Dengan demikian Pancasila merupakan asa s kerohanian tertib hukum Indonesia yang dalam Pembukaan UUD 1945 dijelmakan leb ih lanjut ke dalam empat pokok pikiran. b) Meliputi suasana kebatinan (Geistlichenhintergrund) dari UUD 1945. c) Mewujudkan cita-cita hukum bagi hukum dasar negara (baik hukum dasar ter tulis maupun tidak tertulis) d) Mengandung norma yang mengharuskan UUD mengandung isi yang mewajibkan pe merintah dan lain-lain penyelenggara negara (termasuk para penyelenggara partai dan golongan fungsional) memegang teguh cita-cita moral rakyat yang luhur. e) Merupakan sumber semangat bagi UUD 1945, bagi penyelenggara negara, para pelaksana pemerintahan (juga para penyelenggara partai dan golongan fungsional) . Dengan semangat yang bersumber pada asas kerohanian negara sebagai pandangan h idup bangsa, maka dinamika masyarakat dan negara akan tetap diliputi dan diarahk an asas kerohanian negara. 4.2.3. Pancasila sebagai Ideologi Bangsa dan Negara Indonesia Pancasila bukan hasil pemikiran dari seseorang atau sekelompok orang, na mun Pancasila diangkat dari nilai-nilai adat-istiadat, nilai-nilai kebudayaan se rta nilai religius yang terdapat dalam pandangan hidup masyarakat Indonesia sebe lum membentuk negara. Dengan demikian Pancasila sebagai ideologi bangsa dan nega ra Indonesia berakar pada pandangan hidup dan budaya bangsa, dan bukannya mengan gkat atau mengambil ideologi dari bangsa lain. Pancasila berasal dari nilai-nila i yang dimiliki oleh bangsa sehingga Pancasila pada hakikatnya untuk seluruh lap isan serta unsur-unsur bangsa secara komperhensif. Oleh karena ciri khas Pancasi la itu maka memiliki kesesuaian dengan bangsa Indonesia. a. Pengertian Ideologi Istilah ideologi bersal dari kata ‘idea’ yang berarti ‘gagasan, konsep, penger tian dasar , cita-cita’ dan ‘logos’ yang berarti ‘ilmu’. Kata ‘idea’ berasal dari kata baha Yunani ‘eidos’ yang artinya ‘bentuk’. Di samping itu ada kata ‘idein’ yang artinya ‘melihat ka secara harafiah, ideologi berarti ilmu pengertian-pengertian dasar. Dalam pen gertian sehari-hari, ‘idea’ disamakan artinya dengan ‘cita-cita’. Cita-cita yang dimaksu d adalah cita-cita yang bersifat tetap yang harus dicapai, sehingga cita-cita ya ng bersifat tetap itu sekaligus merupakan dasar, pandangan atau faham. Pada haki katnya, antara dasar dan cita-cita itu sebenarnya dapat merupakan satu kesatuan.

Dasar ditetapkan karena atas suatu landasan, asas atau dasar yang telah ditetap kan pula. Dengan demikian ideologi mencakup pengertian tentang idea-idea, penger tian dasar, gagasan dan cita-cita. Pengertian “ideologi” secara umum dapat dikatakan sebagai kumpulan gagasan-g agasan, ide-ide, keyakinan-keyakinan, kepercayaan-kepercayaan, yang menyeluruh d an sistematis yang menyangkut: a. Bidang politik (termasuk di dalamnya bidang pertahanan dan keamanan) b. Bidang sosial c. Bidang kebudayaan d. Bidang keagamaan (Soejono Soemargono, Ideologi Pancasila sebagai Penjelm aan Filsafat Pancasila dan pelaksanaanya dalam masyarakat Kita Dewasa ini, suatu makalah diskusi dosen Fakultas Filsafat, hal 8). b. Ideologi Terbuka dan Ideologi Tertutup Ideologi sebagai suatu sistem pemikiran (system of thought), maka ideolo gi terbuka itu merupakan suatu sistem pemikiran terbuka. Sedangkan ideologi tert utup itu merupakan suatu sistem pemikiran tertutup. Suatu ideologi tertutup dapa t dikenali dari beberapa ciri khas. Ideologi itu bukan cita-cita yang sudah hidu p dalam masyarakat, melainkan merupakan cita-cita satu kelompok orang yang menda sari suatu program untuk mengubah dan membaharui masyarakat. Dengan demikian ada lah menjadi ciri ideologi tertutup bahwa atas nama ideologi dibenarkan pengorban an-pengorbanan yang dibebankan kepada masyarakat. Demi ideologi masyarakat harus berkorban, dan kesediaan untuk menilai kepercayaan ideologis para warga masyara kat serta kesetiaannya masing-masing sebagai warga masyarakat. Isi dari ideologi tertutup bukan hanya berupa nilai-nilai dan cita-cita tertentu, melainkan intinya terdiri dari tuntutan-tuntutan konkret dan operasion al yang keras, yang diajukan dengan mutlak. Jadi ciri khas ideologi tertutup ada lah bahwa betapapun besarnya perbedaan antara tuntutan berbagai ideologi yang me mungkinkan hidup dalam masyarakat itu, akan selalu ada tuntutan mutlak bahwa ora ng harus taat terhadap ideologi tersebut. Hal itu juga berarti orang harus taat terhadap elite yang mengembannya, taat terhadap tuntutan ideologis dan tuntutan ketaatan itu mutlak dari nuraninya, tanggung jawabnya atas hak-hak asasinya. Kek uasaannya selalu condong ke arah total, jadi bersifat totaliter dan akan menyang kut segala segi kehidupan. Yang berlaku bagi ideologi tertutup, tidak berlaku bagi ideologi terbuka . Ciri khas ideologi terbuka adalah bahwa nilai-nilai dan cita-citanya tidak dip aksakan dari luar, melainkan digali dan diambil dari harta kekayaan rohani, mora l dan budaya masyarakat itu sendiri. Dasarnya bukan keyakinan ideologis sekelomp ok orang, melainkan hasil musyawarah dan konsensus dari masyarakat tersebut. Ide ologi terbuka tidak diciptakan oleh negara, melainkan digali dan ditemukan dalam masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, ideologi terbuka adalah milik seluruh rakyat, dan masyarakat dalam menemukan ‘dirinya’, ‘kepribadiannya’ di dalam ideologi ter sebut. c. Ideologi Partikular dan Ideologi Komprehensif Dari segi sosiologis pengetahuan mengenai ideologi dikembangkan oleh Kar l Mannheim yang beraliran Marx. Mannheim membedakan dua macam kategori ideologi secara sosiologis, yaitu ideologi yang bersifat partikular dan ideologi yang ber sifat komprehensif. Kategori pertama diartikan sebagai suatu keyakinan-keyakinan yang tersusun secara sistematis dan terkait erat dengan kepentingan suatu kelas sosial tertentu dalam masyarakat (Mahendra, 1999). Berdasarkan tipologi ideolog i menurut Mannheim inilah maka ideologi komunis yang membela kelas proletar dan ideologi liberalis yang memperjuangkan hanya kebebasan individu saja termasuk ti pe ideologi partikular. Kategori kedua diartikan sebagai suatu sistem pemikiran menyeluruh mengenai semua aspek kehidupan sosial. Ideologi dalam kategori kedua ini bercita-cita melakukan transformasi sosial secara besar-besran menuju bentuk tertentu. Menurut Mannheim ideologi kategori kedua ini tetap berada dalam batas an-batasan yang realistis dan berbeda dengan ideologi “utopia” yang hanya berisi gag asan-gagasan besar namun hampir tidak mungkin dapat ditrasnsformasikan dalam keh idupan praktis. d. Hubungan antara Filsafat dan Ideologi Filsafat sebagai pandangan hidup pada hakikatnya merupakan sistem nilai

yang secara epistemologis kebenarannya telah diyakini sehingga dijadikan dasar a tau pedoman bagi manusia dalam memandang realitas alam semesta, manusia, masyara kat, bangsa dan negara, tentang makna hidup serta sebagai dasar dan pedoman bagi manusia dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam hidup dan kehidupan. Fi lsafat telah beralih dan menjelma menjadi ideologi(Roeslan Abdukgani, 1986). Ideologi dapat dikatakan sebagai konsep operasionalisasi dari suatu pan dangan atau filsafat hidup dan merupakan norma ideal yang melandasi ideologi, ka rena norma itu akan dituangkan dalam perilaku, juga dalam kelembagaan sosial, po litik, ekonomi, pertahanan keamanan dan sebagainya. Jadi filsafat sebagai dan su mber bagi perumusan ideologi yang timbul didalam kehidupan bangsa dan negara, te rmasuk di dalamnya menentukan sudut pandang dan sikap dalam menghadapi berbagai aliran atau sistem filsafat yang lain. Makna Ideologi bagi Bangsa dan Negara Kompleks pengetahuan yang berupa ide-ide,pemikiran-pemikiran,gagasan-gag asan,harapan serta cita-cita merupakan suatu nilai yang dianggap benar dan memil iki derajat yang tinggi dalam negara.Hal ini merupakan suatu landasan bagi selur uh warga negara untuk memahami alam serta menentukan sikap dasar untuk bertinda k dalam hidupnya.Pada hakikatnya ideologi adalah merupakan hasil refleksi manusi a berkat kemampuan mengadakan distansi terhadap dunia kehidupannya.Maka terdapat suatu yang bersifat dialektis antara ideologi dengan masyarakat negara.Di satu pihak membuat ideologi semakin realistis dan di pihak lain mendorong masyarakat makin mendekati bentuk ideal. Ideologi mencerminkan cara berpikir masyarakat, ba ngsa maupun negara, namun juga membentuk masyarakat menuju cita-citanya. (Poespo wardojo, 1991). Dengan demikian ideologi sangat menentukan eksistensi suatu bangsa dan n egara. Ideologi membimbing bangsa dan negara untuk mencapai tujuannya melalui be rbagai realisasi pembangunan. Hal ini disebabkan dalam ideologi terkandung suatu orientasi praktis. Pancasila sebagai Ideologi yang Reformatif, Dinamis dan Terbuka Pancasila sebagai suatu ideologi tidak bersifat kaku dan tertutup, namun bersifat reformatif, dinamis dan terbuka. Ideologi Pancasila adalah bersifat ak tual, dinamis, antisipatif dan senantiasa mampu menyesuaikan dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi serta dinamika perkembangan aspirasi raky at. Keterbukaan ideologi Pancasila bukan berarti mengubah nilai-nilai dasar yang terkandung di dalamnya, namun mengeksplisitkan wawasannya secara lebih kongkrit , sehingga memiliki kemampuan yang reformatif untuk memecahkan masalah-masalah a ktual yang senantiasa berkembang seiring dengan aspirasi rakyat, perkembangan ip tek serta zaman. Berdasarkan pengertian tentang ideologi terbuka, nilai-nilai yang terkan dung dalam ideologi Pancasila adalah sebagai berikut: Nilai dasar, yaitu kelima sila Pancasila yang kemudian dijabarkan dalam pasal-pa sal UUD 1945 yang didalamnya terkandung lembaga-lembaga penyelenggaraan negara, hubungan antara lembaga penyelenggara negara, hubungan antara lembaga penyelengg ara negara beserta tugas dan wewenangnya. Nilai Instrumental , yaitu merupakan arahan, kebijakan, strategi, saran serta le mbaga pelaksanaannya, seperti yang dijabarkan dalam GBHN. Nilai Praksis, yaitu merupakan realisasi nilai-nilai instrumental dalam suatu re alisasi pengamalan yang bersifat nyata, dalam kehidupan sehari-hari dalam bermas yarakat, berbangsa dan bernegara. Secara ideologi terbuka, secara struktural Pancasila memiliki tiga dimensi yaitu : 1) Dimensi Idealistis, yaitu nilai-nilai dasar yang terkandung dalam Pancas ila yang bersifat sistematis, rasional dan menyeluruh, yaitu hakikat nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila Pancasila. 2) Dimensi Normatif, yaitu nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila perl u dijabarkan dalam suatu sistem norma, sebagaimana terkandung dalam norma-norma kenegaraan. 3) Dimensi Realistis, yaitu suatu ideologi harus mampu mencerminkan realita

s yang hidup dan berkembang dalam masyarakat. 4.3. Perbandingan Ideologi Pancasila dengan Paham Ideologi Besar lainnya di Dun ia Ideologi Pancasila Nilai-nilai pancasila berasal dari nilai-nilai pandangan hidup bangsa te lah diyakini kebenarannya kemudian diangkat oleh bangsa Indonesia sebagai dasar filsafat negara dan kemudian menjadi ideologi bangsa dan negara. Oleh karena itu , ideologi Pancasila ada pada kehidupan bangsa dan terlekat pada kelangsungan hi dup bangsa dalam rangka bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Ideologi Pancasila mendasarkan pada haikat sifat kodrat manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Dalam ideologi Pancasila mengakui atas kebe saran dan kemerdekaan individu, namun dalam hidup bersama juga harus mengakui ha k dan kebebasan orang lain secara bersama sehingga harus mengakui hak-hak masyar akat. Negara Pancasila Bangsa Indonesia dalam panggung sejarah berdirinya negara di dunia memil iki suatu ciri khas yaitu dengan mengangkat nilai-nilai yang telah dimilikinya s ebelum membentuk suatu negara modern. Nilai-nilai tersebut adalah berupa nilai-n ilai adat-istiadat kebudayaan, serta nilai religius yang kemudian dikristalisasi kan menjadi suatu sistem nilai yang disebut Pancasila. Dalam upayanya untuk memb entuk suatu persekutuan yang disebut negara maka bangsa Indonesia mendasarkan pa da suatu pandangan hidup yang telah dimilikinya yaitu Pancasila. Bangsa ini mend irikan suatu negara berdasarkan Filsafat Pancasila, yaitu suatu Negara Persatuan , Negara Kebangsaan serta Negara yang bersifat Integralistik. 4.3.1. Paham Negara Persatuan Bangsa dan negara Indonesia terdiri atas berbagai macam unsur yang membe ntuknya yaitu suku bangsa, kepulauan, kebudayaan, golongan serta agama yang seca ra keseluruhan merupakan suatu kesatuan. Hakikat negara persatuan dalam pengerti an ini adalah negara yang merupakan suatu kesatuan dari unsur-unsur yang membent uknya, yaitu rakyat yang terdiri atas berbagai macam etnis suku bangsa, golongan , kebudayaan serta agama. Wilayah, yang terdiri atas beribu-ibu pulau yang sekal igus juga memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda pula. Oleh karena itu ne gara persatuan adalah merupakan satu negara, satu rakyat, satu wilayah dan tidak terbagi-bagi misalnya seperti negara serikat, satu pemerintahan, satu tertib hu kum yaitu tertib hukum nasional, satu bahasa serta satu bangsa yaitu Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika Hakikat makna Bhinneka Tunggal Ika yang memberikan suatu pengertian bahw a meskipun bangsa dan negara Indonesia terdiri atas bermaca-macam suku bangsa ya ng memiliki adat-istiadat, kebudayaan serta karakter yang berbeda-beda, memiliki agama yang berbeda-beda dan terdiri atas beribu-ribu kepulauan wilayah nusantar a Indonesia, namun keseluruhannya adalah merupakan suatu persatuan yaitu persatu an bangsa dan negara Indonesia. Perbedaan itu adalah merupakan suatu bawaan kodr at manusia sebagai makhluk Tuhan yang Maha Esa, namun perbedaan itu untuk dipers atukan disintesakan dalam suatu sintesa yang positif dalam suatu negara kebersam aan, negara persatuan Indonesia (Notonagoro, 1975:106). 4.3.2. Paham Negara Kebangsaan Dalam upaya untuk merealisasikan harkat dan martabatnya secara sempurna maka manusia membntuk suatu persekutuan hidup dalam suatu wilayah tertentu serta memiliki suatu tujuan tertentu. Dalam pengertian inilah maka manusia membentuk suatu persekutuan hidup yang disebut sebagai bangsa, dan bangsa yang hidup dalam suatu wilayah tertentu serta memiliki tujuan tertentu maka pengertian ini diseb ut negara. a. Hakikat Bangsa Manusia sebagai makhluk Tuhan pada hakikatnya memiliki sifat kodrat seba gai makhluk individu dan makhluk sosial. Suatu bangsa bukanlah merupakan suatu m anifestasi kepentingan individu saja yang diikat secara imperatif dengan suatu p

eraturan perundangan-undangan sebagaimana dilakukan oleh negara liberal. Demikia n juga suatu bangsa bukanlah suatu totalitas kelompok masyarakat yang menenggela mkan hak-hak individu sebagimana terjadi pada bangsa sosialis komunistis. b. Teori Kebangsaan Terdapat berbagai macam teori besar yang digunakan para pendiri negara I ndonesia untuk mewujudkan suatu bangsa yang memiliki sifat dan karakter tersendi ri. Teori-teori kebangsaan tersebut adalah sebagai berikut: (1) Teori Hans Kohn Hans Kohn sebagai seorang ahli antropologi etnis mengemukakan teorinya t entang bangsa, yang dikatakannya bahwa bangsa yaitu terbentuk karena persamaan b ahasa, ras, agama, peradaban, wilayah, negara dan kewarganegaraan. Suatu bangsa tumbuh dan berkembang dari anasir-anasir serta akar-akar yang terbentuk melalui suatu proses sejarah. (2) Teori Kebangsaan Ernest Renan Menurut Renan pokok-pokok pikiran tentang bangsa adalah sebagai berikut: a) Bahwa bangsa adalah suatu jiwa, suatu asas kerohanian b) Bahwa bangsa adalah suatu solidaritas yang besar c) Bangsa adalah suatu hasil sejarah. Oleh karena sejarah berkembang terus maka kemudian menurut Renan bahwa: d) Bangsa adalah bukan sesuatu yang abadi. e) Wilayah dan ras bukanlah suatu penyebab timbulnya bangsa . wilayah membe rikan ruang dimana bangsa hidup, sedangkan manusia membentuk jiwanya. Dalam kait an inilah maka Renan kemudian tiba pada suatu kesimpulan bahwa bangsa adalah sua tu jiwa, suatu asas kerohanian. (3) Teori Geopolitik oleh Frederich Ratzel Teorinya menyatakan bahwa negara adalah suatu organisme yang hidup. Nega ra-negara besar menurut Ratzel memiliki semangat ekspansi, militerisme serta opt imisme, teori tersebut mendapat sambutan yang hangat di negara sepperti Jerman, namun dampak buruknya dapat menimbulkan semangat kebangsaan yang chauvinistis (P olak, 1960:71). (4) Negara Kebangsaan Pancasila Prinsip-prinsip nasionalisme Indonesia yang berdasarkan Pancasila adalah bersifat ‘majemuk tunggal’. Adapun unsur-unsur yang membentuk nasionalisme (bangsa) Indonesia adalah sebagai berikut: (a) Kesatuan Sejarah, bangsa Indonesia tumbuh dan berkembang melauli proses seja rah. (b) Kesatuan Nasib, yaitu perasaan senasib yang sama selama terjajah dalam waktu yang lebih dari tiga setengah abad yang kemudian atas Rahmat Yang Maha Kuasa pa da tanggal 17 Agustus 1945 memperoleh kemerdekaannnya. (c) Kesatuan Kebudayaan, walaupun memiliki keanekaragaman budaya, tetapi kesemua nya menyatu dan menjadi kebudayaan nasional yang berakar dari kebudayaan tiap-ti ap daerah di Indonesia. (d) Kesatuan Wilayah, yaitu satu tumpah darah Indonesia. (e) Kesatuan Asas Kerohanian, yaitu memiliki kesamaan cita-cita, kesamaan pandan gan dan falsafah hidup yaitu Pancasila. 3. Paham Negara Integralistik Paham integralistik memberikan suatu prinsip bahwa negara adalah suatu k esatuan integral dari unsur-unsur yang menyusunnya, negara mengatasi semua golon gan bagian-bagian yang membentuk negara, negara tidak memihak pada suatu golonag n betapapun golongan tersebut sebagai golonagn terbesar. Negara dan bangsa adala h untuk semua unsur yang membentuk kesatuan tersebut. Berdasarkan pengertian paham integralistik, terinci pandangan tersebut a dalah sebagai berikut: 1) Negara merupakan suatu susunan masyarakat yang integral 2) Semua golongan bagian, bagian dan anggotanya berhubungan erat satu denga n lainnya. 3) Semua golongan, bagian dan anggotanya merupakan persatuan masyarakat yan

g organis 4) Yang terpenting dalam kehidupan bersama adalah perhimpunan bangsa seluru hnya. 5) Negara tidak memihak kepada sesuatu golongan atau perorangan. 6) Negara tidak menganggap kepentingan seseorang sebagai pusat. 7) Negara tidak hanya untuk menjamin kepentingan seseorang atau golongan sa ja. 8) Negara menjamin kepentingan manusia seluruhnya sebagai suatu kesatuan in tegral. 9) Negara menjamin keselamatan hidup bangsa seluruhnya sebagai suatu kesatu an yang tak dapat dipisahkan (Yasmin, 1959). 4. Negara Pancasila adalah Negara Kebangsaan yang Berketuhanan Yang Maha Esa. Pancasila pada hakikatnya adalah negara Kebangsaan yang Ber-Ketuhanan ya ng Maha Esa. Landasan pokok sebagai pangkal tolak paham tersebut adalah Tuhan a dalah sebagai Sang Pencipta segala sesuatu. Kodrat alam semesta, keselarasan ant ara makro kosmos dan mikro kosmos, keteraturan segala ciptaan Tuhan Yang Maha Es a kesatuan saling hubungan dan saling ketergantungan antara satu sama lainnya, a tau dengan lain perkataan kesatuan integral (Ensiklopedi Pancasila, 1995:274). a. Hakikat Ketuhanan Yang Maha Esa Sila pertama Pancasila sebagai dasar filsafat negara adalah ‘Ketuhanan Yan g Maha Esa’.Oleh karena sebagai dasar negara maka sila tersebut merupakan sumber n ilai,dan sumber norma dalam setiap aspek penyelenggaraan negara,baik yang besifa t material maupun yang besifat spiritual.dengan lain perkataan bahwa segala aspe k penyelenggaraan negara harus sesuai dengan hakikat yang berasal dari Tuhan bai k material maupun spiritual. b. Hubungan Negara dengan Agama Manusia sebagai warga hidup bersama,berkedudukan kodrat sebagai makhluk pribadi dan sebagai makhluk Tuhan yang Maha Esa.Sebagai makhluk pribadi ia dikar uniai kebebasan atas segala suatu kehendak kemanusiaannya.Sehingga hal inilah ya ng merupakan suatu kebebasan asasi yang merupakan karunia dari Tuhan yang Maha E sa. Sebagai makhluk Tuhan yang Maha Esa ia memiliki hak dan kewajiban untuk meme nuhi harkat kemanusiaannya yaitu menyembah kepada Tuhan yang Maha Esa. Manifesta si hubungan manusia dengan Tuhannya adalah terwujud dalam agama. Negara adalah m erupakan produk manusia sehingga merupakan hasil budaya manusia, sedangkan agama adalah bersumber kepada wahyu Tuhan yang sifatnya mutlak. Dalam hidup keagamaan manusia memiliki hak-hak dan kewajiban yang didasarkan atas keimanan dan ketaqw aannya terhadap Tuhan, sedangkan dalam negara manusia memiliki hak-hak dan kewaj iban secara horisontal dalam hubungannya dengan manusia lainnnya. (1) Hubungan Negara dengan Agama Menurut Pancasila Hubungan negara dengan agama menurut negara Pancasila secara terinci ada lah sebagai berikut: 1) Negara adalah berdasar atas Ketuhanan yang Maha Esa. 2) Bangsa Indonesia adalah sebagai bangsa yang Berketuhanan yang Maha Esa. Konsekuensinya setiap warga memiliki hak asasi untuk memeluk dan menjalankan iba dah sesuai dengan agama masing-masing. 3) Tidak ada tempat bagi atheisme dan sekulerisme karena hakikatnya manusia berkedudukan kodrat sebagai makhluk Tuhan. 4) Tidak ada tempat bagi pertentangan agama, golongan agama, antar dan inte r pemeluk agama serta antar pemeluk agama. 5) Tidak ada tempat bagi pemaksaan agama karena ketaqwaan itu bukan hasil p aksaan bagi siapapun juga. 6) Oleh karena itu harus memberikan toleransi terhadap orang lain dalam men jalankan agama dalam negara. 7) Segala aspek dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan negara harus sesuai d engan nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa terutama norma-norma Hukum positif mau pun norma moral baik norma negara maupun moral para penyelenggara negara. 8) Negara pada hakikatnya adalah merupakan “…berkat rahmat Allah Yang maha Esa.

(2). Hubungan Negara dengan Agama menurut Paham Theokrasi Hubungan tersebut menyatakan bahwa negara dan agama tidak dapat dipisahk an. Pemerintahan , segala tata kehidupan dalam masyarakat, bangsa dan negara did asarkan atas firman-firman Tuhan. Terdapat dua macam pengertian negara Theokrasi , yaitu Negara Theokrasi Langsung dan Negara Theokrasi tidak Langsung. (a) Negara Theokrasi Langsung Kekuasaan adalah langsung merupakan otoritas Tuhan. Adanya negara diduni a ini adalah atas kehendak Tuhan, dan yang memerintah adalah Tuhan. Dalam sejara h Perang Dunia II, rakyat Jepang rela mati berperang demi Kaisarnya, karena menu rut kepercayaannya Kaisar adalah sebagai anak Tuhan. (b) Negara Theokrasi Tidak Langsung Negara theokrasi tidak langsung bukan Tuhan sendiri yang memerintah dala m negara, melainkan Kepala Negara atau Raja, yang memiliki otoritas atas nama Tu han. Dalam sejarah kenegaraan kerajaan Belanda, raja mengemban tugas suci yaitu kekuasaan yang merupakan amanat dari Tuhan (mission sacre). (3) Hubungan Negara denagn Agama menurut Sekulerisme Paham sekulerisme membedakan dan memisahkan antara agama dan negara. Dal am negara yang berpaham sekulerisme bentuk, sistem, serta segala aspek kenegaraa n tidak ada hubungannya dengan agama. sekulerisme berpandangan bahwa negara adal ah masalah-masalah keduniawian hubungan manusia dengan manusia, adapun agama ada lah urusan akherat yang menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan. 5. Negara Pancasila Adalah Negara Kebangsaan Yang Berkemanusiaan yang Adil dan Beradab Negara pada hakikatnya menurut pandangan filsafat pancasila adalah merup akan suatu persekutuan hidup manusia, yang merupakan penjelmaan sifat kodrat man usia sebagai makhluk sosial serta manusia sebagai makhluk Tuhan yang Maha Esa. N egara adalah lembaga kemanusiaan, lembaga kemasyarakatan yang bertujuan demi ter capainya harkat dan martabat manusia serta kesejahteraan lahir maupun batin. Seh ingga tidak mengherankan jikalau manusia adalah merupakan subjek pendukung pokok negara. Oleh karena itu negara adalah suatu negara Kebangsaan yang Berketuhanan yang Maha Esa, dan Berkemanusiaan yang adil dan Beradab. 6. Negara Pancasila adalah Negara Kebangsaan Yang Berkerakyatan Negara kebangsaan yang berkedaulatan rakyat berarti bahwa kekuasaan tert inggi adalah di tangan rakyat dan dalam sistem kenegaraan dilakukan oleh suatu m ajelis yaitu Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dalam kata lain negara tersebu t adalah suatu negara demokrasi. Rakyat adalah merupakan suatu penjelmaan sifat kodrat manusia sebagai individu dan makhluk sosial. Oleh karena itu demokrasi me nurut kerakyatan adalah demokrasi ‘monodualis’ artinya sebagai makhluk individu memi liki hak dan sebagai makhluk sosial harus disertai tanggung jawab. Oleh karena i tu dalam menggunakan hak-hak demokrasi yang (1) disertai tanggung jawab kepada T uhan yang Maha Esa, (2) menjunjung dan memperkokoh pesatuan dan kesatuan bangsa, serta (3) disertai dengan tujuan untuk mewujudkan suatu keadilan sosial,yaitu ke sejahteraan dalam hidup bersama. 7. Negara Pancasila adalah Negara Kebangsaan Yang Berkeadilan Sosial Negara Pancasila adalah negara kebangsaan yang berkeadilan sosial yang m ana keadilan sosial tersebut didasari dan dijiwai oleh hakikat keadilan manusia sebagai makhluk yang beradab (sila II). Keadilan sosial meliputi tiga hal yaitu: (1) keadilan distributif (keadilan membagi), yaitu negara terhadap warganya, (2 ) keadilan legal (keadilan bertaat), yaitu warga terhadap negaranya untuk mentaa ti peraturan perundangan, dan (3) keadilan komutatif (keadilan antar sesama warg a negara), yaitu hubungan keadilan antara warga satu dengan lainnya secara timba l balik (Notonagoro, 1975).

Ideologi Liberal Paham liberalisme berkembang dari akar-akar rasionalisme yaitu paham yan g meletakkan rasio sebagai sumber kebenaran tetinggi, materialisme yang meletakk an materi sebagai nilai tertinggi, empirisme yang mendasarkan atas kebenaran fak ta empiris (yang dapat ditangkap dengan indra manusia), serta individualisme yan g meletakkan nilai dan kebebasan individu sebagai nilai tertinggi dalam kehidupa n masyarakat dan negara. Hubungan Negara dengan Agama Menurut Paham Liberalisme Negara liberal hakikatnya mendasarkan pada kebebasan individu. Negara ad alah alat atau sarana individu, sehingga masalah agama dalam negara sangat diten tukan oleh kebebasan individu. Negara memberi kebebasan kepada warganya untuk me meluk agama dan mejalankan ibadah sesuai dengan agamanya masing-masing. Juga war ganya diberi kebebasan untuk atheisme. Nilai-nilai agama dalam negara dipisahkan dan dibedakan dengan negara, keputusan dan ketentuan kenegaraan terutama peratu ran perundang-undangan sangat ditentukan oleh kesepakatan individu-individu seba gai warga negaranya. Ideologi Sosialisme Komunis Komunisme yang dicetuskan melalui pemikiran Karl Marx memandang bahwa ha kikat, kebebasan dan hak individu itu tidak ada. Ideologi komunisme mendasarkan pada suatu keyakinan bahwa manusia pada hakikatnya adalah hanya makhluk sosial s aja. Hak milik pribadi tidak ada karena hal ini akan menimbulkan kapitalisme yan g pada gilirannya akan melakukan penindasan pada kaum proletar. Dalam kaitannya dengan negara, bahwa negara adalah sebagai manifestasi d ari manusia sebagai makhluk komunal. Mengubah masyarakat secara revolusioner har us berakhir dengan kemenangan pada pihak proletar. Sehingga pada gilirannya peme rintahan negara harus dipegang oleh orang-orang yang meletakkan kepentingan pada kelas proletar. Demikian juga hak asasi dalam negara hanya berpusat pada hak ko lektif, sehingga hak individual pada hakikatnya tidak ada. Atas dasar pengertian inilah maka sebenarnya komunisme adalah anti demokrasi dan hak asasi manusia. Hubungan Negara dengan Agama Menurut Paham Komunisme Menurut komunisme yang dipelopori oleh K. Marx, menyatakan bahwa manusia adalah merupakan suatu hakikat yang menciptakan dirinya sendiri dengan menghasi lkan sarana-sarana kehidupan sehingga sangat menentukan dalam perubahan sosial, politik, ekonomi, kebudayaan bahkan agama. dalam pengertian ini maka komunisme b erpaham atheis, karena manusia ditentukan oleh dirinya sendiri. Agama menurut ko munisme adalah suatu keadaran diri bagi manusia yang kemudian menghasilkan masya rakat negara. Agama menurut komunisme adalah realisasi fanatis makhluk manusia, agama adalah keluhan makhluk tertindas. Oleh karena itu menurut komunisme Marxis , agama adalah merupakan candu masyarakat(Marx, dalam Louis Leahy, 1992:97,98). Negara yang berpaham komunisme adalah bersifat atheis bahkan bersifat antitheis, melarang dan menekan kehidupan agama. Nilai yang tertinggi dalam negara adalah materi sehingga nilai manusia ditentukan oleh materi.

BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan Pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan terkandung bahasan-bahasa

n Pancasila. Berdasarkan alasan serta kenyataan objektif tersebut diatas maka su dah menjadi tanggung jawab bersama sebagai warga negara untuk mengembangkan sert a mengkaji Pancasila sebagai suatu hasil karya besar bangsa kita yang setingkat dengan paham atau isme-isme besar dunia dewasa ini separti misalnya Liberalisme, Sosialisme, Komunisme. Upaya untuk mempelajari serta mengkaji Pancasila tersebu t terutama dalam kaitannya dengan tugas besar bangsa Indonesia untuk mengembalik an tatanan negara kita yang porak poranda dewasa ini. Tentunya dengan kita harus memahami filsafat dan ideologi bangsa kita sendiri yaitu Pancasila. 5.2. Saran 1. Agar mahasiswa dapat mempelajari mata pelajaran Pendidikan Kewarganegar aan dengan baik 2. Agar mahasiswa dapat mengerti apa yang diamanatkan Pancasila dan memaha mi Pancasila sebagai filsafat dan ideologi bangsa kita negara Indonesia

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->