SUPERVISI KOLEGIAL

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat menuntut lembaga pendidikan untuk lebih dapat menyesuaikan dengan arus perkembangan tersebut. Lulusan suatu sekolah harus sesuai dengan tuntutan perkembangan yang ada. Personil sekolah yang memadai kemampuannya menjadi perhatian utama bagi setiap lembaga pendidikan. Diantara personil yang ada, guru merupakan jajaran terdepan dalam menentukan kualitas pendidikan. Guru setiap hari bertatap muka dengan siswa dalam proses pembelajaran. Karena itu guru yang berkualitas sangat dibutuhkan oleh setiap sekolah. Peningkatan kualitas pendidikan di sekolah memerlukan pendidikan profesional dan sistematis dalam mencapai sasarannya. Efektivitas kegiatan kependidikan di suatu sekolah dipengaruhi banyaknya variabel (baik yang menyangkut aspek personal, operasional, maupun material) yang perlu mendapatkan pembinaan dan pengembangan secara berkelanjutan. Proses pembinaan dan pengembangan keseluruhan situasi merupakan kajian supervisi pendidikan. Kepala sekolah sebagai pimpinan sekolah memiliki kewajiban membina kemampuan para guru. Dengan kata lain kepala sekolah hendaknya dapat melaksanakan supervisi secara efektif. Mantja (1998) mengemukakan supervisi merupakan pendekatan yang melibatkan guru sejak tahap perencanaan. Supervisi merupakan jawaban yang tepat untuk mengatasi kekurangtepatan permasalahan yang berhubungan dengan guru pada umumnya. Kepala sekolah diharapkan memahami dan mampu melaksanakan supervisi karena keterlibatan guru sangat besar mulai dari tahap perencanaan sampai dengan analisis keberhasilannya. Guru diberi kesempatan untuk berdiskusi dengan gutu lainnya (rekan sejawat/kolegial) membahas tentang tugasnya. Pertemuan dalam kelompok kerja guru merupakan salah satu upaya efektif melakukan pembinaan profesional. Burhanuddin (2007:123-124) menyatakan kelompok kerja guru yang dikelola dengan baik dapat

3. Bagaimana konsep supervisi informal? 5. 4. berbagi pengalaman dan pikiran dengan rekan sejawat dalam menyelesaikan masalah pengajaran. dan dapat memotivasi akan perlunya meningkatkan mutu kemampuan sebagai guru. Tujuan Berdasarkan rumusan masalah di atas. maka rumusan masalah utama adalah bagaimana peranan supervisi kolegial di sekolah. dan bentuk supervisi kolegial. Masalah utama tersebut dirumuskan menjadi masalah khusus yaitu: 1. Bagaimana konsep supervisi kolektif? 3. Bagaimana konsep supervisi pribadi secara langsung? 4. 2. Mengetahui konsep supervisi informal. yaitu untuk: 1. Mengetahui konsep supervisi kolektif. 2. 5. Mengetahui konsep supervisi pribadi secara langsung. Mengetahui bentuk supervisi kolegial. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dipaparkan di atas. supervisi informal. Apa yang termasuk dalam bentuk supervisi kolegial? 3. supervisi kolektif. maka tujuan utama penulisan ini adalah untuk mengetahui peranan supervisi kolegial di sekolah. Mengetahui pendekatan dalam pembinaan guru. Berdasarkan latar belakang di atas maka yang akan dikaji adalah tentang beberapa pendekatan dalam pembinaan guru. . Apa pendekatan dalam pembinaan guru yang digunakan supervisor? 2.memberikan manfaat bagi guru. supervisi pribadi secara langsung. Tujuan utama dirumuskan secara rinci menjadi tujuan khusus.

Kepuasan diperoleh apabila segala aktivitas telah dikerjakan dengan berhasil dan keberhasilan dalam menyelesaikan pekerjaan merupakan komponen kunci daripada efektivitas sekolah. Supervisor yang menggunakan pendekatan human resources selalu melibatkan guru dalam proses pengambilan keputusan karena potensi yang mereka diasumsikan mampu meningkatkan efektivitas sekolah. 2007:12-13). Pandangan tersebut menyebabkan munculnya berbagai pendekatan yang mewarnai konsep dan praktik supervisi. Supervisi melandasi dirinya pada pandangan tertentu yang selalu berkembang menuju kesempurnaan. Pelaksanaan supervisi didasarkan pada salah satu atau kombinasi dari teori manajemen yakni scientific management. Partisipasi dijadikan sebagai metode penting dengan tujuan membuat guru agar mempunyai perasaan bahwa mereka penting dan berguna bagi sekolah. Beberapa Pendekatan dalam Pembinaan Guru Perkembangan supervisi pendidikan tidak terlepas dari pengaruh perkembangan teori manajemen. 1995). Situasi hubungan antara guru dan supervisor seperti majikan dan pembantu. Burhanuddin dkk (1995) berpendapat perasaan pribadi dan hubungan yang menyenangkan merupakan semboyan pendekatan human relations. human relations.BAB II PEMBAHASAN 1. 2007:13). Guru dianggap sebagai alat manajemen dan dipakai untuk melaksanakan segala kewajiban yang telah ditentukan sesuai dengan keinginan manajemen. dan human resources (Burhanuddin dkk. Pandangan human resources memandang kepuasan sebagai tujuan yang diinginkan ke arah mana guru akan bekerja (Burhanuddin. efisiensi. Pengawasan. dan sikap yang dibutuhkan oleh supervisor. Pendekatan scientific management melukiskan pandangan klasik supervisi pendidikan yang otokratis (Burhanuddin dkk. Supervisor bekerja untuk menciptakan suatu kepuasan pada guru dengan cara menunjukkan perhatian pada guru sebagai manusia utuh. dan pertanggungjawaban guru sangat dipentingkan. Suatu . Supervisi berdasarkan human relations merupakan tantangan paling berhasil terhadap pandangan scientific management. Guru dipandang sebagai manusia yang utuh (whole people) dan memiliki hak pribadi bukan sekedar paket energi. keterampilan.

maka supervisor yang membuat pemaknaan atas pengajaran yang sedang berlangsung. Guna meningkatkan dan mengupayakan perbaikan pengajaran maka menurut Burhanuddin dkk (2007:15-16) supervisor yang menggunakan pendekatan ilmiah dituntut dapat melaksanakan hal-hal yaitu 1) mengimplementasikan hasil temuan para peneliti. 1981). kognitif. puitis. dan behavioral. 2) bersama-sama dengan peneliti mengadaka penelitian dibidang pengajaran dan hal lain yang bersangkutpaut dengannya. Dalam pelaksanaannya. dan 3) menerapkan metode ilmiah dan mempunyai sikap ilmiah dalam menentukan efektivitas pengajaran. Oleh karena itu supervisor sendiri yang ditempatkan sebagai instrumennya. Pendekatan artistik menempatkan supervisor sebagai instrumen observasi dalam mencari data untuk keperluan supervisi. . sehingga perbaikan pengajaran dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah. Pendekatan yang muncul yaitu nondirektif. dan klinis (Sergiovanni. dan bahkan dengan menggunakan bahasa simbol dan kiasan. 1982). Disamping itu ada juga pendekatan yang bertitik tolak pada psikologi belajar. supervisi pengajaran berkembang melalui pendekatan yang memiliki pijakan ilmu tertentu. yaitu psikologi humanistik. 1982). Tujuan dari supervisi pengajaran adalah peningkatan mutu pengajaran melalui perbaikan mutu guru dan pembinaan terhadap kemampuan gurunya. dengan demikian dilihat secara ekspresif. Supervisi pengajaran merupakan bagian dari supervisi pendidikan. dan pengetahuan supervisor (Eisner dalam Sergiovanni. Pendekatan ilmiah memiliki indikator keberhasilan mengajar dilihat dari komponen dan variabel proses pembelajaran. Pendekatan artistik melihat berhasil tidaknya pengajaran dan usaha meningkatkan mutu guru banyak menekankan pada kepekaan. Pendekatan ilmiah berkaitan dengan efektivitas pengajaran. Pengajaran dipandang sebagai ilmu (science). Pendekatan yang dimaksud yaitu ilmiah. Sehingga pusat perhatian pendekatan ilmiah lebih ditekankan pada pengembangan komponen pembelajaran secara keseluruhan. Pengajaran di dalam kelas. kolaboratif. Supervisor diharapkan dapat mengapresiasi kejadian pengajaran yang bersifat subtleties (lembut) dan bermakna di dalam kelas. artistik. dan direktif (Glickman. persepsi.keputusan yang baik dan komitmen guru yang tinggi terhadap keputusan yang diambil akan menjamin meningkatnya efektivitas kegiatan sekolah.

Ada tiga siklus dalam pelaksanaan supervisi klinis. Keterangan: • • Garis horizontal = Derajat komitmen. dan direktif dilaksanakan berdasar kondisi dan perkembangan kemampuan guru yang disupervisi. observasi. Adapun hubungan paradigma kategori guru dengan pendekatan yang digunakan supervisor seperti pada Gambar 1. kemampuan apa yang perlu diamati untuk ditingkatkan. Berdasarkan dua aspek ini guru dikategorikan dalam empat kelompok (kuadran). dan pertemuan balikan. Penentuan peningkatan kemampuan guru telah didahului dengan kontrak (kesepakatan) antara guru dan supervisor. Keberhasilan pengajaran banyak ditentukan oleh guru dalam penampilannya di kelas. Pendekatan nondirektif. 1981) . 1982). Titik tolak pembinaan didasarkan atas kebutuhan guru. meliputi pertemuan awal. Gambar 1 Paradigma Kategori Guru (Glickman. Triyono (2009) berpendapat supervisi klinis adalah bantuan profesional yang diberikan pada guru berdasarkan kebutuhan dengan beberapa siklus tertentu dan melibatkan guru sebagai target utama. kolaboratif. Glickman menekankan dua aspek yaitu derajat komitmen dan abstraksi guru. Garis vertikal = Derajat abstraksi. Supervisi klinis sifatnya lebih ke arah yang khusus dan terbatas pada aspek tertentu yang dibutuhkan dalam pengajaran guru.Pendekatan klinis menekankan pada kesejawatan antara supervisor dan guru (Goldhammer dalam Sergiovanni.

Guru yang memiliki derajat abstraksi rendah dan derajat komitmen tinggi (Kuadran II guru kerjanya tak berfokus) atau guru yang memiliki derajat abstraksi yang tinggi namun komitmennya rendah (Kuadran III guru yang pengamat analitik) pendekatan supervisi yang cocok adalah kolaboratif. Pengembangan kerjasama profesional adalah suatu strategi nonevaluasi kepada para guru untuk membantu satu sama lain sebagai rekan kerja sama profesional. mengarahkan. para guru dapat terorganisir ke dalam . mengajukan alternatif pemecahan masalah. bertanya dan mengklarifikasi pengalaman guru. Kegiatannya menginformasikan. Guru yang memiliki derajat abstraksi tinggi dan juga derajat komitmen tinggi (Kuadran IV guru profesional) pendekatan supervisi yang tepat adalah nondirektif. menetapkan patokan tingkah laku. memberi umpan balik satu sama lain tentang pengamatan. Supervisor berkolaborasi dengan guru. membangkitkan kesadaran sendiri. Kegiatan supervisor adalah mempresentasikan persepsinya mengenai sesuatu yang menjadi sasaran supervisi. bernegosiasi dengan guru. 2. dan menilai serta menggunakan insentif sosial dan material. yang pada umumnya dilakukan dengan pengamatan kelas satu sama lain. Glatthorn (1990) mendefinisikan supervisi kolektif sebagai proses yang disusun di mana dua atau lebih guru menyetujui bekerja bersama-sama untuk pertumbuhan profesional. menanyakan guru mengenai persepsinya terhadap sasaran supervisi.Guru yang memiliki derajat abstraksi rendah dan derajat komitmen rendah (Kuadran I guru yang drop out) pendekatan supervisi yang tepat adalah direktif. Kegiatan supervisor adalah mendengarkan. Dalam beberapa sekolah. Glatthorn mengemukakan istilah supervisi panutan atau supervisi kolektif. Supervisi Kolektif Glatthorn (1990) menggunakan ungkapan pengembangan kerjasama profesional untuk menguraikan proses kolektif di mana para guru bersedia bekerja sama untuk pengembangan profesional mereka sendiri. Pengembangan kerjasama profesional atau supervisi secara kolektif dapat mengambil banyak format berbeda. dan berdiskusi tentang profesi mereka. Supervisor banyak mengarahkan guru. memperhatikan dan mendiskusikan dengan guru. mendengarkan guru. pendekatan ini menyarankan para guru berkomunikasi satu sama lainnya saling mengawasi di dalam suatu manajemen. menjadi model.

Dalam hal ini penekanan pada pengajaran sedikit dipusatkan pada isu spesifik yang dikenali oleh guru. Ketika membentuk. 2. Suatu pendekatan yang bersandar pada unsur-unsur dan disain langkah-langkah pengajaran yang boleh jadi digunakan pada kesempatan yang lain. Prinsip menyediakan sumber daya yang diperlukan dan administratif yang memungkinkan tim pengawasan kolegial berfungsi secara normal. Guru berdiskusi terlebih dahulu untuk memutuskan aturan dan isu dari hasil pengamatan dan untuk menentukan rapat berikutnya. Untuk itu perlu suatu aturan di mana para guru secara informal mendiskusikan permasalahan mereka hadapi. Para guru berhak berbicara dalam memutuskan dengan siapa mereka bekerja. guru berkesempatan memilih dengan siapa mereka suka bekerja. atau untuk menyusun pengganti jika . 3.beberapa tim. dan memberikan dukungan lain ke satu sama lain. Saat pembentukan tim. Pada kesempatan yang lain penekanan tidak dipusatkan dalam rangka mempersiapkan untuk memberikan pengajaran umum. Sebagai contoh sukarelawan untuk kelas yang membutuhkan. berbagi gagasan. Catatan ini harus disampaikan tiap tahun anggota. memberi umpan balik informal dan jika tidak mendiskusikan isu pengajaran yang penting menurut pertimbangan mereka. 4. Seperti antartim guru saling mengamati kelas satu sama lain dan memberikan bantuan menurut keinginan dari guru yang sedang diamati. bantuan satu sama lain dalam menyiapkan pelajaran. Ini merupakan suatu gagasan yang baik untuk secara kolektif supervisi meluas di luar pengamatan kelas. Struktur (pengawasan kolektif merupakan tim yang cukup formal untuk memelihara arsip dan bagaimana penjelasan nonevaluatif) aktivitas pengawasan. tim boleh memilih untuk bekerja sama pada sejumlah kegiatan mengenai supervisi klinis secara intensif dan proses informal. Perlu pertanggungjawaban akhir untuk menentukan tim pengawasan bersama-sama. Satu anggota terpilih sebagai ketua. pertukaran strategi. Glatthorn (1990) mendeskripsikan petunjuk penerapan supervisi kerjasama atau supervisi kolektif adalah: 1. Guru yang lain kemudian. tetapi tidak kaku untuk pemilihan tim. Beberapa usul utama untuk menerapkan supervisi secara kolektif disiapkan dengan presentasi materi.

Tidak perlu mencari data evaluasi dari seorang guru tentang yang lain. guru dan supervisor mendiskusikan kemajuan guru untuk menemukan target pengembangan profesional. Guru diharapkan menyediakan beberapa format dokumentasi (buku praktik. Masing-masing guru diharapkan untuk memelihara pertumbuhan profesional yang mencerminkan praktik dan tumbuh secara profesional sebagai hasil aktivitas pengawasan kolegial. Pada akhir suatu periode tertentu. 8. Guru mengembangkan rencana tahunan yang berisi tujuan atau target untuk memperoleh penilaian tentang kebutuhan mereka sendiri. Perlu pertemuan tim pengawasan kolektif sedikitnya sekali setahun untuk tujuan penilaian umum dan untuk pembagian informasi dan kesan tentang proses pengawasan kolegial. 10. 7. Pertemuan (konferensi) ini kemudian memacu ke arah pembuatan target baru untuk pengembangan profesional individu berikutnya. 9. tetapi supervisor perlu memastikan bahwa rencana dan target yang terpilih adalah yang dapat dicapai dan realistis. Perlu pertemuan individual sedikitnya sekali setahun dengan anggota tim pengawasan kolektif untuk mendiskusikan pertumbuhan profesionalnya dan untuk menyediakan bantuan dan dorongan yang diperlukan. 5. 3. Supervisi Pribadi secara Langsung Pilihan lain yang dikemukakan oleh Glatthorn (1997) pada penetapan suatu sistem yang berbeda adalah apa yang disebut dengan pengembangan pribadi. Jika informasi yang didapatkan tim tentang mengajar dan pelajaran dipertimbangkan menjadi bahan evaluatif. Biasanya. jadwal. perlu berdiskusi dengan tim. dan contoh pekerjaan siswa) yang menggambarkan kemajuan. Guru mengembangkan rencana tahunan yang berisi tujuan atau target untuk memperoleh penilaian tentang kebutuhan mereka sendiri. 6. . Di sini para guru bekerja sendiri dan merasa bertanggung jawab untuk pengembangan profesional mereka sendiri. tim baru dibentuk pada tahun kedua atau ketiga. atau untuk penyesuaian jadwal inovatif yang memungkinkan anggota tim untuk bekerja sama. foto. Guru diberikan banyak waktu luang dalam mengembangkan rencana. membahas informasi dan data tentang pembelajaran. seperti pada umumnya.dibutuhkan.

dan proses pengumpulan data yang berkaita dengan kegiatan pembelajaran (sebagai refleksi diri dan bahan konsultasi selanjutnya). Didasarkan pada pengamatan tahun terakhir. Penentuan kegiatan dalam pembelajaran dan pencapaian/prestasi belajar siswa (student achievement). Neagley dan Evan (1980) menyatakan pendekatan individu dalam supervisi adalah ideal para guru untuk bekerja sendiri atau yang oleh karena penjadwalan atau berbagai kesulitan lain.Sejumlah permasalahan dihubungkan dengan pendekatan supervisi dengan menentukan target yang sulit dicapai. Karena pertimbangan ini supervisi pribadi secara langsung dilakukan dengan pendekatan praktis. Guru dalam pengembangan profesionalnya secara individual atau bekerja sendiri tetap berkonsultas dengan supervisor. jarang melebihi lima . tidak untuk merintangi proses peningkatan diri. Seperti supervisor terkadang mempertahankan target tertentu dan terkadang memaksakan target lain kepada guru. Pilihan supervisi pada masalah ini adalah dapat menggunakan waktu dengan efisien dan lebih menuntut kepercayaan orang lain dibandingkan dengan pilihan lain. dan hal penting lain yang tidak ditargetkan dapat dilalaikan. 3. Target harus sedikit. tidak mampu untuk bekerja dengan guru lain. Menerapkan suatu sistem dengan target yang telah dirancang terfokus pada evaluasi dan guru dibatasi untuk mengantisipasi masalah umum yang dikatakan sebelumnya. Glatthorn (1997) mendeskripsikan petunjuk untuk menerapkan supervisi individual adalah: 1. Aksi (kegiatan) khusus. Danielson (2000) mengemukakan faktor yang harus diperhatikan guru dalam berkonsultasi ialah: 1. Ketika hal ini terjadi. ringkasan laporan. tenaga dan konsentrasi guru diarahkan untuk mencapai target. Pengaturan target dimaksudkan untuk membantu dan memudahkan. Pendekatan ini idealnya disesuaikan untuk para guru yang mampu dan berkompeten. 2. konferensi. para guru mengembangkan target atau tujuan yang akan mereka harapkan dalam meningkatkan tugas yang mereka emban. Penentuan target. pelaksanaan supervisi klinis. Penentuan sumber daya/media yang digunakan selanjutnya. atau alat-alat lain dari penilaian pribadi. metode. strategi.

batasan waktu. para . selanjutnya membuat jadwal konferensi untuk mendiskusikan target dan rencana. Meninjau masing-masing target. Supervisor adalah mitra bagi guru di tiap-tiap kelas untuk setiap situasi pembelajaran. Supervisor bersama guru meninjau ulang laporan penilaian. Supervisi informal adalah suatu peristiwa pertemuan secara kebetulan antara para supervisor dengan para guru di tempat kerja dan ditandai oleh seringnya pengamatan informal dan ringkas para guru. evaluasi siswa. ulang target. Manakala supervisi informal dilakukan dengan baik pada tempatnya. Guru bertanggung jawab mengumpulkan informasi penilaian dan menyusun material ini dalam suatu laporan untuk didiskusikan dan ditinjau ulang oleh supervisor. Mungkin saja suatu gagasan perbaikan supervisor kepada guru dalam bentuk ringkasan tulisan menyangkut konferensi itu. Kesuksesan supervisi informal memerlukan penerimaan oleh para guru. Umumnya spesifik dari proses penilaian tergantung pada tiap target dan bisa meliputi pengamatan kelas informal dan formal. Supervisor dan guru akan lebih baik jika menyiapkan ringkasan tertulis bersama-sama. Sebagai bagian dari proses ini. Pertemuan untuk mendiskusikan target. hal-hal yang prinsip dipersiapkan guru dalam bentuk tulisan. Ringkasan penilaian. Pendekatan informal berasumsi bahwa para supervisor utama tentu saja memimpin atau guru berhak dan bertanggung jawab dari semua pengajaran yang berlangsung di dalam sekolah. 4. 5. guru supervisor utaman meninjau kembali target jika sesuai. Setelah meninjau ulang masing-masing target dan memperkirakan batasan waktu. Menentukan target konferensi. 3. Perkiraan batasan waktu harus disediakan 2. 4. Secara khusus supervisi ini tidak ada perjanjian untuk bertemu dan kunjungan tidak diumumkan. Kesimpulan penilaian dimulai dari penentuan target konferensi dan dilanjutkan ke batasan waktu yang disetujui. supervisor menafsirkan masing-masing target. merencanakan untuk mempersiapkan kegiatan informal dengan mengumpulkan guru. kemudian berdiskusi dengan supervisor. dan reaksi. Supervisi Informal Suatu bentuk berbeda dari sistem supervisi adalah supervisi informal. dan informasi lain. suatu analisa kelas artifak. analisis interaksi.atau enam dan lebih baik membatasi dua atau tiga. supervisor dan guru secara bersama-sama merencanakan siklus supervisi individu berikutnya (supervisi pribadi langsung). Proses penilaian.

Musyawarah guru mata pelajaran . teaching concepts (memahami konsep mengajar guru). penataran. para supervisor utama harus mengakomodasi pilihan guru tetapi bertanggung jawab untuk memutuskan kesesuaian dari suatu pilihan dan tentu saja perlu memberikan hak penuh terhadap guru untuk menentukan pilihan. dan teaching skills a perspective (memahami perspektif/sudut pandang proses guru mengajar). 1. Di dalam memilih pilihan tambahan. Berdasarkan proses terjadinya supervisi informal yang secara kebetulan. Sebagai tambahan terhadap supervisi informal terlibat di dalamnya merupakan pendekatan tambahan seperti klinis. heuristics in skill learning (memahami cara guru belajar secara heuristik).supervisor utama dipandang dapat memberikan pembinaan secara umum kepada guru dalam peningkatan kualitas pembelajaran. Supervisi informal tidak dapat dianggap sebagai suatu pilihan untuk para guru. Walaupun supervisi informal terjadi secara kebetulan. Bentuk Supervisi Kolegial Supervisi kolegial yang menekankan pada proses interaksi antara guru satu dengan guru lainnya yang terbentuk dalam suatu kelompok/tim. Glatthorn (1990) berpendapat bahwa suatu sistem supervisi yang berbeda diperlukan oleh para guru untuk mengambil bagian di dalam supervisi informal. dan kunjungan antarkelas. dialog yang dilakukan merupakan dialog profesional tentang berbagai hal berkaitan dengan perbaikan pengajaran. secara kolektif. 5. learning theory (teori belajar). Selama berlangsungnya supervisi informal supervisor diharapkan dapat berperan sebagai konsultan yang edukatif atau narasumber yang berpikiran terbuka serta menjadi pendengar yang baik. cooperative supervision (bekerja sama dalam pelaksanaan supervisi). Beberapa teknik yang termasuk dalam supervisi kolegial menurut Burhanuddin (2007) adalah musyawarah guru mata pelajaran. rapat dewan guru. atau supervisi individu. maka menurut Stones (2003) supervisor dituntut untuk memiliki kemampuan pedagogik (pedagogical skills) yaitu co-operative exploration (mengeksplorasi atau menyelidiki guru sedalam mungkin).

dan kemampuan sebagai upaya untuk mengembangkan kualitas sekolah. dan konstruktif. Kegiatan MGMP menurut Soetopo dan Soemanto (1984:40-41) dapat membantu guru dalam membimbing pengalaman belajar siswa. kontinyu. menilai kemampuan belajar siswa. terutama yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran. dan menggunakan instrumen. Rapat dipimpin oleh kepala sekolah atau yang ditunjuk. 3) menentukan cara untuk . pengalaman. 2) mendorong guru untuk memahami dan melaksanakan tugas dan tanggung jawab masing-masing dengan sebaik-baiknya. Karena itu rapat dewan guru merupakan salah satu wahana untuk melaksanakan kegiatan pembinaan profesional. Penyelenggaraan MGMP sesuai dengan prinsipprinsip supervisi yaitu ilmiah. menggunakan media pembelajaran yang berbasis teknologi informasi. Kooperatif seluruh anggota MGMP bekerja sama dalam mengembangkan dan meningkatakan kualitas guru dalam mengajar. Rapat dewan guru merupakan sarana komunikasi langsung antara kepala sekolah dan semua guru serta antarsesama guru. dan dalam pembuatan rencana pembelajaran yang akan dilaksanakan. Rapat dewan guru Rapat dewan guru merupakan pertemuan antara semua guru dan kepala sekolah. Obyektif MGMP diselenggarakan tidak berdasarkan pemikiran pribadi melainkan bersama-sama. kooperatif. Tujuan supervisi pembelajaran adalah untuk meningkatkan kemampuan profesional guru dalam meningkatkan proses dan hasil belajar melalui pemberian bantuan yang terutama bercorak layanan profesional kepada guru. Keilmiahan MGMP mencakup sistematis. obyektif. Rapat dewan guru dimanfaatkan untuk membicarakan berbagai hal yang menyangkut penyelenggaraan pendidikan. Pertemuan ini merupakan forum untuk membahas masalah yang menjadi perhatian seluruh atau sejumlah guru secara bersama-sama. Demokratis MGMP menjunjung tinggi asas musyawarah dan terdapat adanya kekeluargaan dengan menerima pendapat orang lain. Sistematis MGMP dilaksanakan secara teratur. Tujuan rapat dewan guru secara umum adalah 1) mengatur dan menghimpun potensi guru yang berbeda tingkat pendidikan. Konstruktif dan kreatif yaitu dengan mendorong dan membina inisiatif guru dalam mengembangkan proses belajar mengajar yang lebih baik 2. dan berencana. demokratis.Musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) merupakan teknik supervisi yang bersifat kelompok berupaya untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil kegiatan pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.

2) penatar lebih banyak kegiatan. Dengan demikian guru magang dapat berkomunikasi secara intensif dengan guru kelas. 2) tahap kedua. dan 4) meningkatkan arus komunikasi dan informasi antarguru. 3. 4. dan 3) tahap ketiga. pengelolaan kelas. Pada kunjungan antarkelas mungkin guru berkesempatan untuk berkunjung berkali-kali dengan mengadakan magang. mengamati kegiatan pembelajaran di kelas yang dikunjungi. dan metode pembelajaran. . Tahap selanjutnya dapat mengulangi tahap tersebut secara sistematis dan berulang. dan 4) penatar sebaiknya banyak menggali gagasan peserta untuk dijadikan titik tolak pengenalan gagasan. menyiapkan kegiatan pembelajaran bersama-sama dengan guru kelas.memperbaiki kualitas proses pembelajaran. 3) penatar dapat menerapkan asas belajar sambil mencoba atau atas asas belajar sambil melakukan sendiri sehingga seusai penataran guru dapat menerapkan gagasan penataran di sekolah dan menularkannya kepada rekan guru lainnya. Suatu penataran efektif sebaiknya keterlibatan penatar lebih berdasarkan dari penatar. Penataran Penataran merupakan salah satu teknik pembinaan yang sering digunakan. termasuk kepala sekolah. Guru magang dapat berperan serta secara aktif di kelas sehingga dapat langsung mengalami dan mendiskusikan setiap kegiatan pembelajaran. Kegiatan penataran hendaknya menerapkan prinsip-prinsip yaitu 1) penatar lebih banyak berfungsi sebagai fasilitator. Usaha tindak lanjut ini dapat berupa kegiatan pembinaan langsung dengan memberikan bantuan yang diperlukan untuk mengatasi kesulitan guru di lapangan. Tahapan selama kunjungan kelas adalah 1) tahap pertama. oleh karena itu kegiatan penataran perlu diikuti dengan usaha tindak lanjut untuk menerapkan hasil-hasil penataran. Kunjungan antarkelas Melalui kunjungan antarkelas setiap guru akan memperoleh pengalaman baru tentang proses pembelajaran. melakukan kegiatan pembelajaran bersama dengan guru kelas yang bertindak sebagai pengamat dan bila perlu memberikan bantuan langsung dalam suatu pengajaran tim. Kunjungan antarkelas akan lebih efektif jika disertai kesempatan berdialog tentang hal-hal yang menarik perhatian guru tamu dengan guru yang dikunjungi.

dan behavioral. supervisi pengajaran berkembang melalui pendekatan-pendekatan yang memiliki pijakan ilmu tertentu. dan pembinaan terhadap kemampuan gurunya. Kesimpulan Tujuan supervisi pengajaran adalah peningkatan mutu pengajaran melalui perbaikan mutu guru. Pendekatan yang muncul yaitu nondirektif. dan klinis. dan berdiskusi tentang profesi mereka. Supervisi informal adalah suatu peristiwa pertemuan secara kebetulan antara para supervisor dengan para guru di tempat kerja dan ditandai oleh seringnya pengamatan informal dan ringkas para guru. Pada akhir suatu periode tertentu. Secara khusus supervisi ini tidak ada perjanjian untuk bertemu dan kunjungan tidak diumumkan. Selain itu ada juga pendekatan yang bertitik tolak pada psikologi belajar. yang pada umumnya dilakukan dengan pengamatan kelas satu sama lain. Di sini para guru bekerja sendiri dan merasa bertanggung jawab untuk pengembangan profesional mereka sendiri. kognitif. Penetapan suatu sistem yang berbeda adalah apa yang disebut dengan pengembangan pribadi. tetapi supervisor perlu memastikan bahwa rencana dan target yang terpilih adalah yang dapat dicapai dan realistis. Pendekatan yang dimaksud yaitu ilmiah. artistik. . seperti pada umumnya. kolaboratif. memberi umpan balik satu sama lain tentang pengamatan. Supervisi kolektif sebagai proses yang disusun di mana dua atau lebih guru menyetujui bekerja bersama-sama untuk pertumbuhan profesional. yaitu psikologi humanistik. Kesuksesan supervisi informal memerlukan penerimaan oleh para guru. guru dan supervisor mendiskusikan kemajuan guru untuk menemukan target pengembangan profesional.BAB III PENUTUP 1. Dalam pelaksanaannya. dan direktif. Guru diberikan banyak waktu luang dalam mengembangkan rencana.

dan berdiskusi tentang profesi mereka. Supervisi kolegial sebagai proses yang disusun di mana dua atau lebih guru menyetujui bekerja bersama-sama untuk pertumbuhan profesional. dan workshop penyusunan silabus. Bagi guru. . disarankan agar guru berkomunikasi satu sama lainnya saling mengawasi di dalam suatu manajemen. Dalam model ini. yang pada umumnya dilakukan dengan pengamatan kelas satu sama lain. pelatihan penggunaan teknologi informasi. 2. Saran 1. Bagi supervisor. 2.Supervisi kolegial digunakan berdasarkan pengembangan kerjasama profesional untuk menguraikan proses kolektif dimana para guru sedia bekerja sama untuk pengembangan profesional mereka sendiri. dan kunjungan antarkelas. memberi kesempatan guru mengikuti pendidikan formal untuk mencapai kualifikasi pendidikan yang sudah ditentukan sebagai prasyarat profesi yang diemban guru. Pengembangan kerjasama profesional adalah suatu strategi nonevaluasi kepada para guru untuk membantu satu sama lain sebagai rekan kerja sama profesional. Beberapa teknik yang termasuk dalam supervisi kolegial adalah MGMP. seperti mengikuti seminar. penataran. memberi umpan balik satu sama lain tentang pengamatan. rapat dewan guru. mengikuti kegiatan yang dapat meningkatkan derajat komitmen dan abstraksinya.

Sekolah (online). dan Evan. Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan. Virginia. Teacher Evaluation to Enhance Profesional Practice.. 2007. Malang: Bina Aksara. London: Methuen & Co. Sergiovani. Differentiated Supervision. E.. Menyimak Desain Supervisi (http://www. Supervisi Akademik (Supervisi Pembelajaran). Alexandria: ASCD. 1995.. A. B. 1998. dan Penerapan Pembinaan Profesional. W. R.. 1984. J. Effendi. Profesi Keguruan. Supervisory Leadership. T. dan Ulfatin. A. 1982. 2000. N. Alexandria: ASCD. Supervision in Teacher Education A Counselling and Pedagogical Approach. 2009. N. . Mantja. Malang: IKIP Malang. Supervisi Pendidikan dan Pengajaran Konsep. 1990. Introduction to Instructional Supervision. R. C.. Ltd. C. H. A. W. H. Englewood Cliffs: Prentice Hall. Soetopo. Triyono. Handbook for Effective Supervision of Instruction. Glickman. Malang: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. 2003. Soetopo. Development Supervision: Alternative for Helping Teachers Improve Instructions.DAFTAR RUJUKAN Burhanuddin. 1997.. Pendekatan. A. dan Soemanto. di Surabaya tanggal 26 Oktober – 14 Nopember 1998. A. Imron. Glatthorn. Stones. 1980. Supervisi of Teaching. L. 1981. Neagley. diakses 17 Mei 2009). Alexandria: ASCD. Burhanuddin. Glatthorn.D. Santoso.. A. Alexandria: ASCD. D. New York: Harper Collins Publishers. H. Inc. A. Makalah disajikan pada Pelatihan Kepala Sekolah Menengah Umum. Hidayah. dan Imron. N. N.kabarindonesia.com. Danielson. Maisyaroh.