P. 1
Pengaruh Tingkat Suku Bunga dan Inflasi Terhadap Return Saham LQ 45 ( Aryo Dwiatmojo Raksa Buana ) Universitas Mataram NTB

Pengaruh Tingkat Suku Bunga dan Inflasi Terhadap Return Saham LQ 45 ( Aryo Dwiatmojo Raksa Buana ) Universitas Mataram NTB

|Views: 5,258|Likes:
Published by raksa buana
Pengaruh Inflasi dan Tingkat Suku Bunga Terhadap Return Saham Emiten yang tergabung di LQ 45 Priode 2009;01 -2010;08 (Oleh : Aryo Dwiatmojo Raksa Buana) 1 Universitas Mataram (NTB)
ABSTRAK Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui Pengaruh inflasi dan tingkat suku bunga Bank Indonesia terhadap Return Saham Perusahaan yang tergabung di LQ 45. penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui variabel mana yang memiliki pengaruh Dominan Terhadap Return saham Perusahaan di LQ 45 tersebut. Jenis pe
Pengaruh Inflasi dan Tingkat Suku Bunga Terhadap Return Saham Emiten yang tergabung di LQ 45 Priode 2009;01 -2010;08 (Oleh : Aryo Dwiatmojo Raksa Buana) 1 Universitas Mataram (NTB)
ABSTRAK Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui Pengaruh inflasi dan tingkat suku bunga Bank Indonesia terhadap Return Saham Perusahaan yang tergabung di LQ 45. penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui variabel mana yang memiliki pengaruh Dominan Terhadap Return saham Perusahaan di LQ 45 tersebut. Jenis pe

More info:

Published by: raksa buana on Oct 13, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/01/2013

pdf

text

original

Pengaruh Inflasi dan Tingkat Suku Bunga Terhadap Return Saham Emiten yang tergabung di LQ 45 Priode 2009;01 -2010;08

(Oleh : Aryo Dwiatmojo Raksa Buana) 1 Universitas Mataram (NTB)
ABSTRAK Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui Pengaruh inflasi dan tingkat suku bunga Bank Indonesia terhadap Return Saham Perusahaan yang tergabung di LQ 45. penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui variabel mana yang memiliki pengaruh Dominan Terhadap Return saham Perusahaan di LQ 45 tersebut. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian asosiatif/ hubungan. Sementara itu untuk menentukan jumlah sampel dalam penelitian ini, digunakan tehnik purposive sampling, sehingga jumlah sampel adalah 13 Emitenn, dari total populasinya 45 Emiten. Teknik analisis yang digunakan adalah metode statistik diskriptif, kemudian alat analisis yang digunakan adalah regresi data panel dengan dua model yaitu : 1) model common 2) model Random Effect yang di aplikasikan dengan program Eviews versi 5.00. Dimana Setiap variabel yang diteliti diukur merupakan skala rasio. Hasil Penelitian menunjukan bahwa model yang efisien adalah model Random Effect, karena model ini dapat meningkatkan nilai F hitung, dan R-square, serta dapat mengurangi standar error. Hasil Estimasi random effect menunjukan bahwa Inflasi berpengaruh signifikan negatif terhadap return saham, begitu juga variabel tingkat suku bunga bank Indonesia berpengaruh signifikan negatif terhadap return saham perusahaan yang tergabung di LQ 45. Berdasarkan Hasil Penelitian ini, maka disarankan Agar Investor lebih peka dalam menilai kelayakan Investasi di pasar modal, terutama hal-hal yang terkait dengan analisis Fundamental, karena pada dasaranya variabel-variabel makro maupun mikro adalah sinyal penting untuk memperoleh return yang diharapkan. Kata Kunci : Pengaruh inflasi dan Suku Bunga terhadap Return Saham LQ 45 1. PENDAHULUAN Tahun 2007 hingga 2008 ini menjadi tahun yang amat berat bagi ekonomi dunia. Setelah krisis bahan bakar (fuel) dan pangan (food), saat ini ekonomi dunia dihadapkan pada krisis finansial (financial) yang dampaknya telah begitu terasa dan masih akan terus berlangsung. Untuk
1 Mahasiswa Program Pascasarjana Magister manajemen Universitas mataram ( NTB)

Mahasiswa Program Pascasarjana Magister manajemen Universitas mataram ( NTB)

1

krisis terakhir, yaitu krisis finansial, karena berasal dari Amerika Serikat (AS), pelaku nomor satu ekonomi dunia saat ini, maka dampaknya berimbas pada lebih banyak bidang dan melibatkan lebih banyak negara, termasuk Indonesia. Alan Greenspan, mantan Gubernur Bank Sentral AS (The Fed) bahkan menyebut krisis ini sebagai ‘once-in-century’ financial crisis-nya yang akan dan terus membawa dampak terhadap perekonomian global. International Monetary Fund (IMF) bahkan menyebutnya sebagai „largest financial shock since Great Depression‟, yang menandakan betapa dalam krisis telah terjadi. Sementara itu bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, dampak krisis golbal begitu jelas terasa. Selain jatuhnya nilai IHSG di Bursa Efek Indonesia hingga penutupan aktivitas bursa beberapa waktu lalu, dampak krisis juga nampak dari mulai turunnya omset ekspor produk-produk Indonesia ke pasaran dunia, terutama AS, termasuk juga yang dikelola oleh pengusaha bidang UKM. Pemerintah sendiri juga telah melakukan berbagai upaya antisipatif menghadapi kemungkinan terburuk dari krisis tersebut. Paparan berikut dimaksudkan untuk melihat sejauh mana kemampuan ekonomi nasional dalam menghadapi krisis yang tengah berlangsung, sekaligus mencoba melihat alternatif solusi jangka panjang bagi ekonomi Indonesia ( Hamid, 2004). Akibat terjadinya krisis menyebabkan variabel-variabe makro bergejolak, inflasipun mengalami peningkatan. Adapun peningkatan inflasi tersebut dapat dilihat pada grafik1. dibawah ini : Grafik 1. Signal Inflasi

Sumber: The Economist Tingginya inflasi terus berlangsung hingga paruh ke dua tahun 2009. BI menyikapi tingginya inflasi dengan menaikkan suku bunga secara bertahap sebesar 25 basis point per bulan yang kini pada tingkatan 9,5 persen. Dengan perkiraan inflasi pada tahun 2009 sekitar 6,5-7,5 persen tingkat BI Rate ini dianggap memadai.

Mahasiswa Program Pascasarjana Magister manajemen Universitas mataram ( NTB)

2

Upaya untuk mengatasi ketatnya likuiditas di satu sisi dan tingginya inflasi di sisi lain tampaknya saling bertentangan. Untuk melawan inflasi dibutuhkan kebijakan uang ketat, sedangkan untuk mengatasi persoalan ketatnya likuiditas di perbankan dibutuhkan aliran dana ke dalam perekonomian. Tampaknya BI dan pemerintah berupaya melakukan kebijakan bersifat hibrid, yaitu mengurangi tekanan likuiditas dengan berupaya mengendalikan inflasi, paling tidak dalam enam bulan ke depan saat inflasi masih tinggi. Sementara itu Semenjak SBY memimpin Indonesia baik Kurs Rupiah maupun IHSG terlihat Stabil (lihat Gambar 10). Namun terjadinya krisis financial global membuat pemerintah dan beberapa departemen di Indonesia mengeluarkan beberapa langkah antisipasi. Kepanikan investor yang membuat jatuhnya indeks saham sampai level 1400 membuat BEI dan pemerintah melakukan suspensi atas aktivitas perdagangan di bursa. Ernyata krisis keuangan global tidak hanya menyebabkan terjadinya peningkatan Inflasi, namun menyebabkan juga kurs mengalami depresiasi, grafik 2 dibawah ini menggambarkan keadaan yang sebenarnya terjadi. Grafik 2. Perkembangan Kurs akibat krisis keuangan global

Namun tampaknya intervensi yang telah dilakukan pemerintah pun belum berhasil untuk menahan nilai kurs rupiah, bahkan pada 10 oktober 2008 kemarin dolar sempat menembus Rp. 10.650,-. Kebijakan BI untuk menaikkan suku bunga menjadi 9,5% ternyata belum mampu menahan gejolak dan tekanan krisis. Terjadinya krisis ini mau tidak mau sangat berpengaruh terhadap usaha bisnis yang ada di Indonesia yang berhubungan dengan kegiatan investasi seperti pembiayaan, asuransi, bank, properti dan industri yang terkait dengan ekspor. Untuk bisnis pembiayaan sendiri, keringnya likuiditas di pasar akan sangat menghambat industri multifinance untuk mengembangkan pembiayaannya sehingga pertumbuhan sampai akhir tahun ini diprediksi

Mahasiswa Program Pascasarjana Magister manajemen Universitas mataram ( NTB)

3

10-20%. industri pembiayaan yang mencakup consumer finance, leasing, dan anjak piutang mayoritas mengandalkan sumber dana dari pinjaman bank dan sebagian kecil dari pinjaman langsung lainnya dalam negeri dan asing. Sulitnya mendapatkan funding dari bank dengan sendirinya akan berpengaruh terhadap pertumbuhan kredit baru yang memiliki beban suku bunga pembiayaan lebih tinggi menyesuaikan dengan naiknya biaya dana. Tingginya suku bunga yang ditetapkan BI dikhawatirkan akan menurunkan kualitas pembiayaan, yakni potensi naiknya pembiayaan macet menjadi lebih besar meski kucuran pembiayaan dilakukan dengan sangat hati-hati. Kerena itu para pelaku bisnis di pembiayaan ini harus mencari sumber dana lain. Jika melalui bank local sulit mendapatkan dana, maka segera ekspansi untuk menggaet mitra bank asing yang memiliki likuiditas yang tinggi. Pemerintah harusnya juga menciptakan iklim yang kondusif untuk bisnis pembiayaan ini, misalnya dengan membuka kesempatan kepada multifinance mendapat dana dari industri asuransi atau dana pensiun sehingga tak hanya mengandalkan dana dari bank ataupun obligasi. Di samping itu, perlu juga dibuat aturan mengenai kepemilikan asing dalam lembaga pembiayaan. Sama halnya dengan industri asuransi, jatuhnya saham domestik ini berpotensi negetif terhadap pemegang polis asuransi unit link. Walaupun untungnya, unit link menempatkan dananya di saham masih sedikit apabila dibandingkan dengan fix income, namun saat ini perusahaan asuransi harus mulai untuk melihat potensi atau peluang investasi di sektor riil. Memang investasi di sektor ini membuat asset kurang liquid, akan tetapi dalam jangka panjang, investasi sektor riil yang dikelola secara hati hati akan menjadi salah satu alternatif pendapatan yang menjanjikan untuk industri asuransi. Krisis keuangan yang memberikan dampak negatif tersebut ternyata juga menyebabkan Indeks LQ 45 mengalami kemerosotan, hal ini tergambarkan oleh merosotnya harga saham Indeks harga pasar Saham gabungan (IHSG). Oleh karena variabel makro ekonomi adalah faktor yang sangat penting bagi Investor untuk menanamkan modalnya pada Saham yang tepat oleh Karena itulah Investr harus melakukan penilaian terhadap kondisi perekonomian makro. Kondisi makro yang mempengaruhi kondisi pasar, mempengaruhi pemodal. Dalam kebijakan makro dilemma yang harus dihadapai otoritas moneter adalah berkurangnya efektifitas instrument tingkat bunga untuk menurunkan laju inflasi, serta konsekuaensinya terhadap nilai tukar kita ( Goeltom; 1998). rSelain itu, juga tingkat bunga yang tinggi juga akan mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Beberapa bukti Empiris juga membuktikan tentang pengaruh inflasi , suku bunga terhadap return saham menunjukan hasil yang berbedabeda ; ( adler manurung : 1994; Claude et al. 1996: Indi Sutopo dan Sudarto, 1999 : dan Eny Pudjiastuti, 2000). Sementara bukti empiris luar negeri ( Claude et al, 1996) bahwa return tidak dipengaruhi oleh factor

Mahasiswa Program Pascasarjana Magister manajemen Universitas mataram ( NTB)

4

ekonomi ( termasuk tingkat inflasi) tapi dipengaruhi politik. Dengan bukti empiris yang berbeda tersebut perlu dilakukan penelitian lebih lanjut yg menghubungkan factor-faktor tersebut diatas pengaruhnya terhadap return saham. Berdasarkan latarbelakang krisis keuangan global dan research gap dari penelitian terdahulu di atas, maka permasalahan utama dari penelitian ini adalah 1) Apakah Inflasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap return saham Perusahaan yang tergabung di LQ 45. 2) Apakah tingkat uku bunga berpengaruh negatif dan signifikan terhadap return saham Perusahaan yang tergabung di LQ 45. 2. KAJIAN PUSTAKA 2.1 Hasil Penelitian Terdahulu Beberapa penelitian terdahulu tentang pengaruh variabel makro ekonomi terhadap kinerja saham menunjukkan hasil yang berbeda sebagaimana yang ditemukan oleh Tirapat dan Nitayagasetwat (1999) bahwa terdapat sensitivitas perusahaan terhadap variabel makro ekonomi yang disebut resiko sitematik perusahaan yang diperoleh dari hasil regresi return saham perusahaan dengan variabel makro ekonomi tersebut. Selanjutnya, beberapa penelitian sebelumnya tentang harga saham dengan nilai tukar uang (domestik terhadap US dolar) yang dilakukan di berbagai negara menunjukkan hasil yang berbeda. Frank danYoung (Saini dkk, 2002) yang meneliti US MNCs menemukan bahwa tidak ada pola yang pasti (no recognizable pattern) dari hubungan harga saham dengan nilai tukar uang. Bahmani-Oskooee dan Sohrabian (1992) menyimpulkan bahwa ada feedback interaction antara harga saham di Amerika dengan nilai tukar uang. Tetapi Ang dan Ghalap (dalam Saini dkk, 2002) yang meneliti lima belas US MNCs juga menunjukkan hal lain yaitu bursa saham saat itu adalah efisien dan harga saham menyesuaikan dengan cepat terhadap perubahan nilai tukar uang. Selanjutnya Smith (1992) menemukan bahwa nilai tukar uang mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap return saham di Jerman, Jepang dan Amerika. Hal senada diungkapkan oleh Granger dkk (2000) bahwa nilai tukar berpengaruh (lead) terhadap harga saham di Jepang, Hongkong dalam periode Januari 1995 sampai November 1997 dan Januari 1986 sampai November 1987. Sementara itu dalam kasus di emerging market seperti India, Pakistan, Korea Selatan dan Filipina. Dengan menggunakan data bulanan selama Juli 1985 sampai Juli 1994, Abdalla dan Murinde (1997) menemukan bahwa nilai tukar berpengaruh (lead) terhadap harga saham di India, Pakistan dan Korea Selatan sedangkan di Filipina justru harga saham yang takes the lead. Tetapi temuan Granger dkk (2000) menunjukkan hal lain. Dengan menggunakan data selama periode Januari 1987 sampai Desember 1994 di Phlippines Market dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa nilai tukar berpengaruh (lead)

Mahasiswa Program Pascasarjana Magister manajemen Universitas mataram ( NTB)

5

terhadap harga saham. Penelitian yang dilakukan Ma dan Kao (1990) menemukan bahwa dengan menggunakan data untuk enam negara, apresiasi (menguatnya) uang domestik berpengaruh negatif pada pergerakan harga saham domestik untuk perekonomian yang didominasi ekspor dan berpengaruh positif pada pergerakan harga saham domestik di suatu perekonomian yang didominasi impor. Selanjuntya Ajayi dan Mougue (dalam Setyorini dkk., 2000) melalui pendekatan kontegrasi, Error Correction Model (EMC) untuk menguji hubungan dinamis antara nilai tukar uang dan indeks saham di delapan negara maju, negara industri, yaitu: Kanada, Perancis, Jeman, Italia, Jepang, Belanda, Inggris dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa pasangan indeks saham dan nilai tukar untuk di tiap negara berkointegrasi. Selanjutnya hasil estimasi menunjukkan bahwa di keenam negara tersebut (kecuali Kanada dan Belanda), perubahan di pasar uang asing ditransmisikan ke pasar saham dan sebaliknya. Selanjutnya Setyorini dkk. (2000) menyimpulkan bahwa dari hasil pengujian kasualitas menunjukkan bahwa pergerakan IHSG mempengaruhi pergerakan kurs rupiah terhadap US dolar di pasar valuta asing secara signifikan, bukan sebaliknya, dan IHSG berpengaruh negatif dan signifikan pada kurs rupiah terhdap dolar AS secara long run dan short run. Sementara itu, hubungan antara suku bunga (interest rate) dengan return saham terdapat perbedaan hasil antara lain temuan Granger (dalam Mok, 1993) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh negatif antara suku bunga dan harga saham tetapi Mok (1993) sendiri dengan menggunakan model analisis Arima tidak menemukan hubungan yang signifikan antara kedua variabel ini. Selanjutnya, penelitian tentang hubungan antara inflasi dengan return saham seperti yang dilakukan oleh Widjojo (dalam Almilia, 2003) menyatakan bahwa makin tinggi inflasi akan semakin menurunkan tingkat profitabilitas perusahaan. Turunnya profit perusahaan adalah informasi yang buruk bagi para trader di bursa saham dan dapat mengakibatkan turunnya harga saham perusahaan tersebut. Sementara dalam penelitiannya, Park (2000) menyimpulkan bahwa terdapat hubungan negatif antara return saham dan inflasi. Demikian juga Adams et al (2004) menyatakan bahwa berita mengenai inflasi mempunyai dampak pada return saham. 2.2. Tinjauan Teori 2.2.1. Pasar Modal Pasar modal merupakan alternatif penghimpunan dana selain sistem perbankan. Menurut Suad Husnan (1994), pasar modal adalah pasar dari berbagai instrumen keuangan (sekuritas) jangka panjang yang dapat diperjual belikan, baik dalam bentuk hutang (obligasi) maupun modal sendiri (saham) yang diterbitkan pemerintah dan perusahaan

Mahasiswa Program Pascasarjana Magister manajemen Universitas mataram ( NTB)

6

swasta. Pasar modal sebagai salah satu sumber pembiayaan eksternal jangka panjangbagi dunia usaha khususnya perusahaan yang go public dan sebagai wahana investasi bagi masyarakat (Farid Harianto dan Siswanto Sudomo, 1998). Kepemilikan saham oleh masyarakat melalui pasar modal, dapat menjadikan masyarakat bisa menikmati keberhasilan perusahaan melalui pembagian deviden dan peningkatan harga saham yang diharapkan. Kepemilikan saham oleh masyarakat juga dapat memberikan pengaruh positif terhadap pengelolaan perusahaan melalui pengawasan langsung oleh masyarakat. 2.2.2. Kinerja Saham Konsep risiko tidak terlepas kaitannya dengan return, karena investor selalu mengharapkan tingkat return yang sesuai atas setiap risiko investasi yang dihadapinya. Menurut Brigham et al. (1999:192), pengertian dari return adalah “measure the financial performance of an investment”. Pada penelitian ini, return digunakan pada suatu investasi untuk mengukur hasil keuangan suatu perusahaan. Horne dan Wachoviz (1998:26) mendefinisikan return sebagai: “Return as benefit which related with owner that includes cash dividend last year which is paid, together with market cost appreciation or capital gain which is realization in the end of the year”. Menurut Jones (2000:124) “return is yield dan capital gain (loss)”. (1) Yield, yaitu cash flow yang dibayarkan secara periodik kepada pemegang saham (dalam bentuk dividen), (2) Capital gain (loss), yaitu selisih antara harga saham pada saat pembelian dengan harga saham pada saat penjualan. Hal tersebut diperkuat oleh Corrado dan Jordan (2000:5) yang menyatakan bahwa ”Return from investment security is cash flow and capital gain/loss”. Berdasarkan pendapat yang telah dikemukakan, dapat diambil kesimpulan return saham adalah keuntungan yang diperoleh dari kepemilikan saham investor atas investasi yang dilakukannya, yang terdiri dari dividen dan capital gain/loss. Jogiyanto (1998) menjelaskan bahwa terdapat 2 (dua) unsur pokok return total saham, yaitu: capital gain dan deviden. Capital gain merupakan hasil yang diperoleh investor dari selisih antara harga pembelian (kurs beli) dengan harga penjualan (kurs jual). Artinya jika kurs beli lebih kecil dari pada kurs jual maka investor dikatakan memperoleh capital gain, dan sebaliknya disebut dengan capital loss. Sedangkan deviden merupakan hasil yang diperoleh oleh investor akibat memiliki saham perusahaan, yang dapat diterima dalam bentuk kas (cash deviden) maupun dalam bentuk saham (stock deviden). Dalam penelitian ini, return saham yang dimaksud adalah capital gain atau capital lost yang didefinisikan sebagai selisih dari harga investasi sekarang relatif dengan harga periode yang lalu. Dari definisi tersebut return saham dapat dicari dengan rumus sebagai berikut : dimana :

Mahasiswa Program Pascasarjana Magister manajemen Universitas mataram ( NTB)

7

it R = return saham individual i pada periode t it P = harga saham individual i pada periode t it−1 P = harga saham individual i pada periode t – 1 2.2.3. Hubungan Variabel Makro Ekonomi Terhadap Kinerja Saham Banyak hal mempengaruhi naik turunnya kinerja saham di antaranya faktor makro ekonomi seperti inflasi, nilai tukar uang, dan suku bunga sebagaimana yang ditemukan oleh Tirapat dan Nitayagasetwat (1999). Berikut penjelasan hubungan beberapa variabel makro ekonomi terhadap kinerja saham.

2.2.3.1 Hubungan Nilai Tukar Uang Terhadap Return Saham Secara teori ada dua sudut pandang tentang keterkaitan antara harga saham dan nilai tukar. Di satu sisi, para pendukung model ‘portfolio-balance” meyakini bahwa harga saham mempengaruhi nilai tukar uang secara negatif (Saini dkk., 2002). Equitas yang merupakan bagian dari kekayaan (wealth) perusahaan dapat mempengaruhi nilai tukar uang melalui permintaan uang. Sebagai contoh semakin tinggi harga saham akan menyebabkan semakin tinggipermintaan uang dengan tingkat bunga yang semakin tinggi pula. Sehingga, hal ini akan menarik minat investor asing untuk menanamkan modalnya dan hasilnya terjadi apresiasi terhadap mata uang domestik. Selanjutnya, harga saham juga mempengaruhi nilai tukar uang melalui permintaan uang (money demand equation), yang membentuk suatu basis model alokasi portofolio dan moneter dari determinasi nilai tukar uang. Pada kondisi tertentu yang mencerminkan aktivitas ekonomi riil, perubahan harga saham menyebabkan peningkatan permintaan uang riil dan nilai mata uang domestik (Ajayi, Ibrahim, 2000). Solnik (dalam Ibrahim, 2000) menyatakan bahwa harga saham dapat mencerminkan variabel makroekonomi, karena menunjukkan ekspektasi pasar terhadap aktivitas ekonomi riil. Semenjak model nilai tukar uang semisal model moneter mengkorelasikan nilai tukar tersebut terhadap variabel makro ekonomi, maka perubahan dalam harga saham dapat menyebabkan efek dari nilai tukar. Solnik (dalam Ibrahim, 2000) juga menemukan hubungan positif yang lemah antara perbedaan return saham (domestik dikurangi luar negeri) dengan perubahan dalam nilai tukar riil. Mok (1993) menemukan bahwa nilai tukar (FOREX) dan harga saham merupakah dua

Mahasiswa Program Pascasarjana Magister manajemen Universitas mataram ( NTB)

8

variabel yang independen. Tetapi ada kausalitas dua arah antara FOREXvdan harga saham penutupan dan pembukaan saham. Nilai tukar mempengaruhi harga saham, tapi pertumbuhan pasar saham juga mendesak pengaruh positif dari nilai tukar. Indeks SCC (Structural Contagion Coefficient) yang negative juga menunjukkan bahwa hubungan antara harga saham dan nilai tukar adalah posistif, yang berarti ketika dolar Hongkong terdepresiasi, harga saham juga turun dan begitu pula sebaliknya. Menurut Damele dkk (2004), pergerakan pasar dapat juga merupakan hasil dari market contagion (penularan dari pasar lain). Dalam kondisi asimetri informasi terhadap harga pasar, perubahan harga pada satu segmen pasar dapat bergantung dari perubahan harga dalam segmen lain melalui SCC. Sehingga, pasar tidak menyerap seluruh informasi secara simultan dan pergerakan harga menunjukkan lead/lag struktur korelasi. Bany, Amain dan Hook (dalam Damele dkk., 2004) meneliti hubungan antara KLSE dan nilai tukar di Kualalumpur Stock Exchange menemukan bahwa return saham nampak mengikuti pergerakan nilai tukar selam periode ini. Sementara itu Ang dan Gallob (dalam Damele dkk., 2004) menemukan bahwa harga saham bergerak secara cepat mengikuti pergerakan nilai tukar. Karmarka dan Kawadia (dalam Damele dkk., 2004) menemukan hubungan yang kuat antara nilai tukar dolar AS terhadap Rupee dengan stock market India. Dengan menggunakan indek sektoral yang berbeda penelitian tersebut menyimpulkan bahwa ketika Rupee terdepresiasi maka stock market terapresiasi begitu pula sebaliknya. Bahmani-Oskooee dan Sohrabian (1992) menawarkan penjelasan lain dari efek harga saham terhadap nilai tukar dimana hasil kenaikan dalam keseimbangan riil akan menghasilkan kenaikan tingkat bunga. Sehingga, aset financial domestik akan menjadi lebih atraktif. Sebagai hasilnya, para investor akan menyesuaikan portofolio aset dalam dan luar negeri melalui permintaan lebih banyak aset domestik. Penyesuaian portofolio dari perusahaan tersebut akan menghasilkan apresiasi mata uang domestik, karena mereka membutuhkan mata uang domestik untuk traksaksi tersebut. Qiao (dalam Ibrahim, 2002) juga menegaskan bahwa perubahan dalam harga saham dapat mempengaruhi aliran masuk dan aliran keluar dari modal, yang akan menghasilkan perubahan dalam nilai mata uang. Ibrahim (2002) menemukan bahwa dalam pengujian multivariat ada kausalitas satu arah (uni-directional) dari indeks pasar saham (stock market index) terhadap nilai tukar. Selanjutnya, nilai tukar dan indek pasar saham dipengaruhi oleh suplay uang dan begitu pula sebaliknya. Tetapi di sisi yang lain, para ekonom lain yakin bahwa apresiasi mata uang dalam sistem nilai tukar mengambang (the floating exhange rate regime) akan mempengaruhi daya saing produk lokal secara internasional dan posisi neraca perdagangan. Sehingga, aliran kas

Mahasiswa Program Pascasarjana Magister manajemen Universitas mataram ( NTB)

9

perusahaan di masa datang akan terpengaruh karena buruknya output riil dan hal ini menurunkan harga saham. Intinya, model tersebut menyimpulkan bahwa nilai tukar berpengaruh pada harga saham secara positif (Saini dkk., 2002). Dalam sektor properti, kondisi nilai tukar rupiah yang menurun pernah berdampak demikian buruk mengingat banyak perusahaan properti memiliki hutang luar negeri. Kinerja yang menurun akan berdampak pula pada penurunan return saham, terutama di dunia properti. 2.2.3.2. Hubungan Suku Bunga Terhadap Return Saham Suku bunga merupakan harga atas dana yang dipinjam (Reilly and Brown, 1997). Pada waktu perusahaan merencanakan pemenuhan kebutuhan modal sangat dipengaruhi oleh tingkat bunga yang berlaku saat itu. Apakah akan menerbitkan sekuritas ekuitas atau hutang/obligasi. Karena penerbitan obligasi/ penambahan hutang hanya dibenarkan jika tingkat bunganya lebih rendah dari earning power dari penambahan modal tersebut (Riyanto,1990). Suku bunga yang rendah akan menyebabkan biaya peminjaman yang lebih rendah. Suku bunga yang rendah akan merangsang investasi dan aktivitas ekonomi yang akan menyebabkan harga saham meningkat. Dalam dunia properti, suku bunga berperan dalam meningkatkan aktivitas ekonomi sehingga berdampak kuat pada kinerja perusahaan properti yang berakibat langsung pada meningkatnya return saham. Pengaruh signifikan dari suku bunga terhadap harga saham sebagaimana yang ditemukan Granger (dalam Mok, 1993) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh negatif antara suku bunga dan harga saham. Kaitan antara suku bunga dan return saham dikemukakan pula oleh Boedie et al (1995) yang menyatakan bahwa perubahan harga saham dipengaruhi oleh beberapa faktor, yang salah satunya adalah suku bunga. Hal tersebut didukung pula dengan penelitian yang dilakukan oleh Utami dan Rahayu (2003) yang menemukan secara empiris pengaruh suku bunga terhadap harga saham di LQ 45. 2.2.3.3. Hubungan Tingkat Inflasi Terhadap Return Saham Inflasi menunjukkan arus harga secara umum (Samuelson, 1992). Inflasi sangat terkait dengan penurunan kemampuan daya beli, baik individu maupun perusahaan. Penelitian tentang hubungan antara inflasi dengan return saham seperti yang dilakukan oleh Widjojo (dalam Almilia, 2003) yang menyatakan bahwa makin tinggi inflasi akan semakin menurunkan tingkat profitabilitas perusahaan. Turunnya profit perusahaan adalah informasi yang buruk bagi para trader di bursa saham dan dapat mengakibatkan turunnya harga saham perusahaan tersebut. Pada penelitian lain yang dilakukan oleh Utami dan Rahayu (2003) membuktikan secara empirik pengaruh inflasi terhadap harga saham, semakin tinggi tingkat inflasi semakin rendah return saham. Penelitian tersebut juga dilakukan oleh Adams et al (2004) yang menemukan secara

Mahasiswa Program Pascasarjana Magister manajemen Universitas mataram ( NTB)

10

signifikan pengaruh negatif inflasi terhadap return saham. Inflasi yang tinggi bagi perusahaan properti akan menurunkan profitabilitas perusahaan sehingga return saham pun dapat terpengaruh. 3. METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian asosiatif. Penelitian asosiatif adalah merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih. Dengan penelitian ini maka akan dapat dibangun suatu teori yang dapat berfungsi untuk menjelaskan, meramalkan, dan mengontrol suatu gejala (Sugiyono,2006 :11). 3.2 Populasi dan Sampel Penelitian Populasi adalah kumpulan individu atau obyek penelitian yang memiliki kualitas-kualitas serta ciri-ciri yang ditetapkan. Berdasarkan kualitas dan ciri tersebut, populasi dapat dipahami sebagai sekelompok individu atau obyek pegamatan yang minimal memiliki satu persamaan karakteristik (Cooper, Emory, 1999). Populasi dari penelitian ini adalah 45 Emiten yang masuk dalam kategori LQ 45 yang terdaftar di BEJ (Bursa Efek Jakarta) selama periode penelitian (2009;01–2010:8) sebanyak 45 perusahaan. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah non probability sampling. Metode pemilihan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, dimana peneliti memiliki kriteria atau tujuan tertentu terhadap sampel yang akan diteliti (Indriantoro, 1999). Sampel penelitian diambil secara purposive sampling, dimana sample harus memenuhi kriteria: 1. Perusahaan properti yang telah dan masih tercatat (listed) di BEJ pada Januari tahun 2005 s/d. Desember 2010. 2. Perdagangan saham emiten tidak pernah disuspend selama lebih dari satu bulan. 3. Saham diperdagangkan minimal 1 bulan sekali. 4. Data tersedia untuk dianalisis. Berdasarkan kriteria tersebut diperoleh 13 emiten yang dapat dianalisa . 3.3. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder meliputi rata-rata harga saham emiten-emiten di LQ 45 yang diperoleh dari situs ( www.duniainvestasi.com) , suku bunga (SBI), dan inflasi yang dipublikasikan periode tahun 2009 ; 01 sampai dengan tahun 2010 ; 08 yang dikutip dari situs resmi Bank Indonesia (www.bi.go.id). 3.4. Tehnik pengumpulan data

Mahasiswa Program Pascasarjana Magister manajemen Universitas mataram ( NTB)

11

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan mendokumentasikan yaitu dengan mencatat data yang tercantum pada Indonesian Capital Market Directory Indonesian Capital Market Directory untuk data rata-rata harga saham bulanan, dan situs resmi Bank Indonesia (www.bi.go.id) untuk data kurs dan suku bunga, serta BPS (Biro Pusat Statistik) untuk data inflasi. 3.5. Teknis Analisis Teknik analisis yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis data kuantitatif, untuk memperkirakan secara kuantitatif pengaruh dari beberapa variabel independen secara bersama-sama maupun secara sendiri-sendiri terhadap variabel dependen. Hubungan fungsional antara satu variabel dependent dengan variable independen dapat dilakukan dengan regresi data panel dan menggunakan data gabungan antara cross section dan time series. Metode analisis yang digunakan adalah Polled least squared dengan model common effect dan random effect. Data panel merupakan gabungan data cross section dan data time series. Kerangka umum data panel untuk satu variabel independen diberikan pada Tabel

Mahasiswa Program Pascasarjana Magister manajemen Universitas mataram ( NTB)

12

Banyaknya unit waktu di setiap unit individu inilah yang mencirikan apakah data panel tersebut seimbang atau tidak. Jika tiaptiap unit individu diobservasi dalam waktu yang sama maka data panel dikatakan seimbang (balanced panel data). Sedangkan jika tidak semua unit individu diobservasi pada waktu yang sama atau bisa juga disebabkan adanya data yang hilang dalam suatu unit individu, maka data panel dikatakan tidak seimbang (unbalanced panel data). 3.5.1. Teknik Estimasi Least Square Dummy Variable (LSDV) a. Model Efek Individu Pada model ini, intersep diperbolehkan berbeda dari individu ke individu, sementara parameter slope diasumsikan konstan pada unit individu dan unit waktu. Jadi penggunaan variabel dummy hanya berperan dalam penggolongan unit individu[1].

Persamaan umum data panel model efek individu adalah

Mahasiswa Program Pascasarjana Magister manajemen Universitas mataram ( NTB)

13

Mahasiswa Program Pascasarjana Magister manajemen Universitas mataram ( NTB)

14

4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Mahasiswa Program Pascasarjana Magister manajemen Universitas mataram ( NTB)

15

4.1. Deskripsi data Penelitian 4.1.1. Variabel Return Saham LQ 45

Tabel 4.1 deskripsi Return saham di LQ 45
Descriptive Statistics

N RETURN Valid N (listwise)

Minimum Maximum

Mean

Std. Deviation .162657027

260 -.330827 1.056180 .05244225 260

Sumber : data diolah Software SPSS 17.00 Berdasarkan table diatas terlihat bahwa nilai maksimum return saham di LQ 45 adalah sebesar 1,05 persen, dan nilai minimum return capital loss yang diperoleh perusahaan yang tergabung di LQ 45 adalah sebesar -0,33 %, sementara itu nilai rata-rata perolehan return saham yang tergabung di LQ 45 adalah sebesar 0,05%. 4.1.2. Variabel Inflasi

Tabel 4.2 Deskripsi Inflasi di LQ 45
Descriptive Statistics N Range Minimum Maximu m Mean Std. Dev Statistic Variance Statistic 4.499

Statisti Statistic c Statistic Statistic Statistic Std. Error INFLASI Valid N 260 260 6.76 2.41 9.17 4.7740

.13154 2.12102

Sumber : data diolah Software SPSS 17.00 Berdasarkan table diatas terlihat bahwa nilai maksimum inflasi yang terjadi adalah sebesar 9,17 persen, dan nilai minimum inflasi yang terjadi adalah sebesar 2,41 %, sementara itu nilai rata-rata inflasi yang terfjadi di Indonesia adalah sebesa 4,77 persen, dan dari table diatas diperoleh juga informasi bahw nilai variance inflasi adalah sebesar 4,49 %. 4.1.3.Variabel Suku Bunga

Tabel 4.3. Deskripsi Suku bunga di LQ 45
Descriptive Statistics N Range Minimum Maximu m

Mean Std. Error .04065

Std. Deviation Statistic .65545

Statistic Statistic Statistic Statistic Statistic SUKU BUNGA Valid N 260 260 2.25 6.50 8.75 6.8875

Sumber : data diolah Software SPSS 17.00 Dari data diatas terlihat bahwa nilai maksimum suku bunga yang ditetapka BI adalah sebesar 8,75 persen, dan nilai minimumsuku bunga adalah sebesar 6,50 %, sementara itu nilai rata-rata suku bunga yang di tetapkan oleh Otoritas Bank Indonesia adalah sebesar 6,88 persen, dan

Mahasiswa Program Pascasarjana Magister manajemen Universitas mataram ( NTB)

16

dari table diatas, diperoleh juga informasi bahw nilai variance suku bunga adalah sebesar 0,65%. 4.1.4. Data 13 Emiten di LQ 45 yang diteliti Table 4.4. Daftar Emiten di LQ 45 yang dijadikan sampel Penelitian
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 NAMA PERUSAHAAN Astra Agro Lestari Astra Internasional Tbk BNI Tbk BRI Tbk Bakrie brother's Tbk Bumi Resources Tbk Indofood Sukses makmur Tbk Indosat Tbk Tambang Batu Bara Bukit Asam Tbk Tambang Timah Tbk Telekomunikasi Indonesia Tbk Truba Alam manunggal Enginering Tbk United Tractors Tbk KODE AALI ASII BBNI BMRI BNBR BUMI INDF ISAT PTBA TINS TLKM TRUB UNTR BIDANG USAHA Pertanian Otomotive Perbankan Perbankan Perusahaan Investasi Pertambangan Food telekomunikasi Pertambangan Metal dan mineral telekomunikasi Konstruksi non bangunan Perdagangan besar dan produksi KLASIFIKASI INDUSTRI Agricultur Miscellaneous Industri Finance Finance Investment Mining Miscellaneous Industri Tellecomunicati on Mining Mining Tellecomunicati on Construction Manufacturing

4.2. Analisis Data Berdasarkan hasil Estimasi regresi data Panael ( Pooled Least Square) dengan dua metode yaitu common effect dan Random Effect maka diperoleh hasil sebagai berikut : 4.2.1. Model Common Metode ini adalah metode paling sederhana untuk mengestimasi data panel ( Widarjono ; 2005). Adapun hasil estimasi common adalah seperti pada table dibawah ini :
Dependent Variable: RETURN? Method: Pooled Least Squares Date: 09/17/10 Time: 09:49 Sample: 2009:01 2010:08 Included observations: 20 Total panel observations 260 Variable Coefficien t C 40090.12

Tabel 4.5. Hasil Estimasi dengan metode Common

Std. Error 13.67173

t-Statistic 2932.338

Prob. 0.0000

Mahasiswa Program Pascasarjana Magister manajemen Universitas mataram ( NTB)

17

INFLASI? SUKU_BUNGA? R-squared

Mean dependent var Adjusted R-squared 0.123494 S.D. dependent var S.E. of regression Log likelihood 164.3998 Sum squared resid F-statistic Prob(F-statistic)

0.003527 321.2813 0.130263

0.001032 3.418169 62.81304 -5.114882

0.0007 0.0000 40102.1 0 175.599 8 694601 7. 19.2457 7 0.00000 0

1139.324 Durbin-Watson stat 0.190620

Sumber : data diolah dengan Software Eviews versi 5.0 Berdasarkan table diatas mengindikasikan bahwa Return Saham Emiten di LQ 45 pada periode 2009:01 sampai 2010: 08 dipengaruhi secara signifikan oleh Inflasi dan Suku Bunga Bank Indonesia (SBI). Hal ini ditunjukan oleh nilai t hitung inflasi > nilai t tabelnya yaitu 3,41 > 1,96. Sementara itu Tingkat suku bunga SBI berpengaruh signifikan negatif terhadap return saham LQ 45 hal ini ditunuukan oleh nilai t hitung > t tabelnya yaitu -5,11 > 1,96 . Terjadinya kenaikan Suku Bunga Bank Indonesia (SBI) 1% akan diikuti dengan penurunan Return LQ 45 sebesar 321 %. Return Saham LQ 45 juga dipengaruhi secara positif oleh tingkat Inflasi, dimana kenaikan Inflasi sebesar 1% akan meningkatkan Return Saham LQ 45 sebesar 0.03%. Nilai R square sebesar 0.130. Hal ini dapat diartikan bahwa variasi dalam variabel bebas yaitu (Suku Bunga dan inflasi) mempunyai kontribusi terhadap return saham adalah sebesar 13% sementara itu sisanya sebesar 87% dipengaruhi variabel lain diluar model penelitian. Akan tetapi jika mengikuti kaidah metodologis dalam regresi data panel , maka model common effect diatas belum memenuhi kriteria model yang baik untuk mendapatkan estimasator yang efisien, hal ini ditunjukan oleh nilai konstanta yang signifikan secara statistik, hal ini dibuktikan oleh nilai probabilitas alfa < 5%, yaitu 0,000<0,005. Konsekuensi dari signifikannya nilai konstanta atau intersep, merefleksikan bahwa model common atau estimasi dengan metode OLS ( Ordinary Least Square ) dalam data panel tidak dapat digunakan, karena Tidak ada variasi dalam sampel yang mendasari hubungan konstan antara variabel dependen dan variabel independen. Kelemahan mendasar model ini adalah ketidakmampuan model untuk membedakan varians unik dalam suatu silang-tempat atau sejumlah silang-tempat dan dalam penelitian ini, ternyata model tersebut berlaku demikian. Sehingga diperlukan alternatif model lainnya. Namun dalam melihat konsistensi hasil atau dalam mendapatkan model terbaik, maka estimasi panel (pooling) dalam penelitian ini

Mahasiswa Program Pascasarjana Magister manajemen Universitas mataram ( NTB)

18

dilakukan dengan tiga model, yaitu OLS biasa, Least Square Dummy Variable (LSDV) dan Generalized Least Square (GLS). Model OLS (Ordinary Least Square) biasa mempunyai asumsi yang menyertai yaitu konstanta atau intercept dari persamaan adalah sama untuk semua daerah (koefisien konstanta tidak signifikan), apabila hal ini tidak terpenuhi maka OLS tidak layak digunakan (Insukindro et al., 2000). 4.2.2. Model Random Effect Model random effects biasanya digunakan ketika sejumlah unit data silang tempat berjumlah besar, dan jangkauan waktu pada data silang yang diobservasi tersebut kecil. Masing-,masing model memerlukan penaksir EGLS. Model Random Effect Adalah keseluruhan intersep dan faktor kesalahan dengan dua komponen : εit + μi. εit adalah faktor kesalahan tradisional yangg unik pada masing-masing observasi. μi adalah faktor kesalahan yang mewakili luas jangkauan yang mana intersep dari unit data silang tempat ke i berbeda dari keseluruhan intersep. ( Kuncoro : Model Random effects mempunyai satu kesalahan pokok, namun : ia mengasumsikan bahwa kesalahan random yang berkaitan dengan masing-masing unit data silang tempat tidak berkorelasi dengan regresor lainnya, kadang-kadang hal tersebut tidak masalah. ( Kuncoro ; 2004)
Dependent Variable: RETURN? Method: GLS (Variance Components) Date: 09/17/10 Time: 10:07 Sample: 2009:01 2010:08 Included observations: 20 Total panel observations 260 Variable Coefficient C 40102.10 INFLASI? -4.703445 SUKU_BUNGA? -1.464788 Random Effects _AALI--C 4.807613 _ASII--C -5.382322 _BBNI--C 4.568813 _BMRI--C 6.762313 _BNBR--C 1.495314 _BUMI--C 5.235413 _INDF--C 4.774580 _ISAT--C 1.563566 _PTBA--C 4.922467 _TINS--C 1.015676 _TLKM--C 1.123422 _TRUB--C 1.043211 _UNTR--C 2.023444 GLS Transformed

Tabel 4.6. Hasil Estimasi Menggunakan model random effect

Std. Error 2.946711 1.484415 4.567510

t-Statistic 1.37E615 -3.189429 -3.198531

Prob. 0.0000 0.0016 0.0016

Mahasiswa Program Pascasarjana Magister manajemen Universitas mataram ( NTB)

19

Regression R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Durbin-Watson stat Unweighted Statistics including Random Effects R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Durbin-Watson stat

0.291224

Mean dependent var 0.301273 S.D. dependent var 200.3125 0.023346 Sum squared resid

40102.1 0 175.599 8 103121 55

2495987500

Mean dependent var 2515411980 S.D. dependent var 8.81433 1.204355 Sum squared resid

40102.1 0 175.599 8 1.99857 5

Sumber ; data diolah dengan software Eviews versi 5.00
Berdasarkan data diatas terlihat bahwa setiap emiten memiliki intersep yang berbeda dalam priode penelitian, Berdasarkan table diatas memperlihatkan bahwa bahwa Return Saham Emiten di LQ 45 pada periode 2009:01 sampai 2010: 08 dipengaruhi secara signifikan oleh Inflasi dan Suku Bunga Bank Indonesia (SBI). Hal ini sama halnya dengan model Common yang digunakan sebelumnya. Dimana tingkat inflasi dan suku bunga berpengaruh signifikan terhadap return saham. Nilai t hitung > t tabel variabel tingkat inflasi adalah -3,189 > 1,96, yang artinya variabel ini berpengaruh signifikan terhadap return saham di LQ 45. sementara itu nilai t hitung > t tabel untuk variabel suku bunga Bank Indonesia menunjukan hal serupa dimana nilainya adalah -3,198 > -196 yang artinya variabel ini berpengaruh signifikan terhadap return saham di LQ 45. Sementara itu perbedaan substansif dari penggunaan metode random effect dari metode common dan fixed effect adalah metode ini, menggunakan kesalahan random dalam waktu, ruang, dan kesalahan random yang tidak unik terhadap waktu dan ruang namun masih random terhadap model regresi dalam menurunkan estimasi yang efisien dan tidak bias. Komponen total kesalahan dalam model ini meliputi kesalahan sistematik terhadap ruang, waktu, dan keduanya. Keunggulan model ini adalah tidak diperlukannya asumsi mengenai di mana varians harus ditetapkan. Kelemahannya, di lain pihak, model ini diatur oleh kesalahan random, sehingga kesalahan harus dimodelkan secara akurat ( Firmansyah : 2008) Koofesien B1 ( Inflasi ) diatas menunjukan bahwa setiap terjadinya peningkatan inflasi sebesar 1% menunjukan penurunan pada return saham di LQ 45 sebesar Rp. 4.70, sementara itu koofesien B2( suku

Mahasiswa Program Pascasarjana Magister manajemen Universitas mataram ( NTB)

20

bunga) dengan nilai koofesien sebesar -1,464 menunjukan bahwa setiap terjadinya peningkatan sebesar 1 % tingkat suku bunga, maka hal ini akan berdampak pada semakin menurunnya return saham LQ 45 sebesar Rp. 1,464. Sementara itu nilai R-Square sebesar 0,291, yang artinya 29,1 % variasi variabel inflasi dan suku bunga memberikan pengaruhnya terhadap return saham di LQ 45. sementara itu sisanya sebesar 71,9 % dipengaruhi oleh variabel lain diluar model penelitian. Nilai R-Square tersebut yang mengaami peningkatan menunjukan bahwa penggunaan model random effect ternyata memenuhi kriteria model yang efisien, karena variasi nilai intersepnya lebih dinamis, nilai R-squarenya lebih besar, dan nilai standar errornya mengalami penurunan. Dengan dipilihnya model random effect ini, menunjukan bahwa model yang paling tepat dan efisien dalam penelitian ini, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian inipun ikut terjawab dimana, Hipotesis Pertma yang menyatakan bahwa Terdapat pengaruh yang signifikan antara inflasi dan return saham di LQ 45 diterima atau (Ha diterima), serta Hipotesis kedua yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara suku bunga dengan return saham di LQ 45 juga diterima, hal ini berarti kedua Hipotesa alternatif yang diajukan dalam penelitian ini secara teoritis diterima, atau dengan kata lain hipotesa nol (Ho) ditolak. 4.3. Intepretasi Hasil Penelitian 4.3.1. Pengaruh Inflasi Terhadap Return Saham yang Tergabung di LQ 45 Penelitian ini membuktikan b ahwa Inflasi memiliki hubungan yang negatif dengan return saham, dimana inflasi yang terjadi menyebabkan kenaikan harga sehingga terjadi inflasi, maka biaya produksi yang harus dikeluarkan oleh perusahaan akan meningkat secara relatif. Peningkatan biaya produksi mengakibatkan harga pokok produksi meningkat. Sehingga akan mengurangi tingkat keuntungan yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Keuntungan yang menurun mengakibatkan penurunan jumlah dividen (cash flow). Menurunnya dividen akan menyebabkan investor akan melepaskan saham tersebut karena memiliki expected return yang buruk, sehingga dapat dikatakan bahwa inflasi berpengaruh negatif terhadap expected stock market return di LQ 45. Tingkat inflasi yang besar merefleksikan bahwa resiko investasi di semua sektor usaha besar pula, sebab inflasi yang tinggi akan mengurangi tingkat pengembalian (rate of return) dari investor. Selain itu pula inflasi yang tinggi yang mengakibatkan harga barang-barang mempunyai kecenderungan untuk meningkat. Peningkatan harga barangbarang ini akan membuat biaya produksi menjadi tinggi, sehingga akan berpengaruh pada penurunan jumlah permintaan secara individual maupun menyeluruh. Akibatnya jumlah penjualan akan menurun pula, penurunan jumlah penjualan ini akan menurunkan pendapatan

Mahasiswa Program Pascasarjana Magister manajemen Universitas mataram ( NTB)

21

perusahaan. Selanjutnya akan berdampak buruk terhadap kinerja perusahaan yang tercermin dengan turunnya harga saham perusahaan tersebut sehingga return saham perusahaan yang tergabung di LQ 45 juga menurun. 4.3.2. Pengaruh inflasi Terhadap Return saham Yang Tergabung di LQ 45 Perubahan variasi tingkat suku bunga yang terjadi sepnjang bulan di tahun 2009 sangat berpotensi mempengaruhi investasi. Variasi tersebut berasal dari pengaruh perubahan tingkat suku bunga jangka panjang juga menunjukkan harapan tingkat suku bunga jangka panjang akan membuat para pemegang saham enggan untuk memegang surat berharga atau saham jangka panjang yang dapat menurunkan tingkat pengembalian (return) mereka di LQ 45 . Kenaikan tingkat suku bunga berarti penurunan harga saham yang bersangkutan dan sebaliknya. Dalam menghadapi kenaikan tingkat suku bunga tersebut, para pemegang saham di LQ 45 akan menahan sahamnya sampai tingkat suku bunga kembali pada tingkat yang dianggap normal. Disis lain faktor tingkat bunga deposito juga akan mempengaruhi investor dalam menanamkan dananya pada saham. Apabila tingkat bunga deposito lebih rendah dari return yang diharapkan maka investor memilih menginvestasikan dananya pada saham, sehingga permintaan saham meningkat yang mengakibatkan naiknya harga saham, yang pada akhirnya akan naik pula return saham yang akan diterima investor. Weston dan Brigham (1998) juga mengatakan bahwa suku bunga mempengaruhi laba perusahaan dalam dua cara yaitu pertama, karena bunga merupakan biaya, maka makin tinggi tingkat suku bunga maka makin rendah laba perusahaan apabila ceteris paribus; kedua, suku bunga mempengaruhi tingkat aktivitas ekonomi dan karena itu mempengaruhi laba perusahaan. Suku bunga tidak diragukan lagi mempengaruhi harga saham karena pengaruhnya terhadap laba, tetapi mungkin yang lebih penting lagi suku bunga berpengaruh karena persaingan dipasar antara saham dan obligasi. Berdasarkan fakta empiris diatas dapat dikatakan bahwa perubahan tingkat suku bunga berhubungan negatif dengan return saham di LQ 45 , karena return saham di LQ 45 ditentukan oleh tingkat perubahan harga saham, dimana tingkat suku bunga sebagai faktor penentunya. 5. KESIMPULAN 5.1. Kesimpulan

Mahasiswa Program Pascasarjana Magister manajemen Universitas mataram ( NTB)

22

maka 1.

2.

3.

Berdasarkan hasil analisis dan intepretasi pada bab-sebelumnya dapat disimpulkan beberapa substansi mendasar yaitu : Inflasi berpengaruh signifikan terhadap Return saham di LQ 45, begitupula dengan Tingkat suku bunga bank Indonesia. Suku Bunga BI juga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap return saham perusahaan yang tergabung di LQ 45. Regresi data Panel (Pooled Least Square) dengan model Random effect adalah model yang terbaik, dbandingkan dengan model common karena dapat mengurangi nilai standar error yang besar, dan meningkatkan nilai F hitung sebagai barometer atau criteria goodness of fit dalam sebuah model regresi. Koofesien determinasi sebesar 0,291, yang artinya 29,1 % variasi variabel inflasi dan suku bunga memberikan pengaruhnya terhadap return saham di LQ 45. sementara itu sisanya sebesar 71,9 % dipengaruhi oleh variabel lain diluar model penelitian. Seperti situasi politik, corporate action, good news, dan sebagainya

5.2. Saran Berdasarkan kesimpulan diatas maka ada beberapa saran yang perlu menjadi bahan pertimbangan yaitu ; 1. bagi Investor yang ingin menanamkan sahamnya di Perusahaan yang tergabung dalam LQ 45, sebaiknya terlebih dahulu melakukan analisis fundamental, karena hal ini sangat berguna dalam keputusan berivestasi di Bursa saham. 2. Menentukan model yang terbaik adalah syarat mutlak dalam bagi peneliti, karena pada dasarnya model merupakan suatu barometer dalam memproyeksikan hal-hal yang sangat strategis sifatnya. 3. bagi para peneliti berikutny, agar memasukan variabel-variabel lainya untuk menambah kompleksitas permasalahn yang ada, serta disarankan juga menambahkan jumlah data, agar penelitian berikutnya lebih reliabel dan dinamis. DAFTAR PUSTAKA Almilia, Luciana Spica, 2004. “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kondisi Financial Distress Suatu Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta”. Simposium Nasional Akuntansi. Ke.VI. Hal.546-564 Bahmani-Oskooée, M., and Sohrabian, 1992, “Stock Prices and the Effective Exchange Rate of the Dollar”. Applied Economics, Vol.24, 459-64. Boedie, Z., Kane, A., and Alan, M.J., 1995, Investment, Second Edition, Von Hoffman Press Inc, USA.

Mahasiswa Program Pascasarjana Magister manajemen Universitas mataram ( NTB)

23

Brigham, Eugene F., Gapenski, Louis C., dan Ehrnart, Michel C. 1999, Financial Management Theory and Practice, Orlando: The Dryden Press Conroy, Robert M., Robert S. Harris. dan Bruce A. Benet., 1990. “The Effects of Stock Splits on Bid-Ask Spreads”, Journal of Finance. Vol. XLV. No.4.Hal. 1285-1295 Farid Hananto dan Siswanto Sudomo, 1998, Perangkat dan Teknik Anailis Investasi di Pasar Modal Indonesia, PT Bursa Efek Jakarta, Jakarta Ghozali, Imam, 2002, Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS, BP Undip Granger, C.W.J., Bwo-Nung, H., Yang, C.W., 2000, “A Bivariate Causality Between Stock Prices and Exchange Rates: Evidence from Recent Asia Flu”, The Quarterly Review of Economics and Finance, 40, 33754. Greg Adams., Grant McQueen dan Robert Wood., 2004, “The Effects of Inflation News on High Frequency Stocks Returns”, The Journal of Business. Jul 2004. Hal. 547-574 Hamid Sandi Edy, 2008. Akar Krisis ekonomi Global dan Dampaknya terhadap Indonesia. Hadi kurniawan Didik, 2008. Dampak Krisis Keuangan Global Bagi Indonesia, chieft Economis Assistant PT Recapital Advisor. Horne, James C. V. and Wachoviz Jr, John M. 1998, Fundamental of Financial Management, 8th ed, New Jersey: Prentice Hall International Ibrahim, Mansor H., 2000, “Cointegration and Granger Causality Test of Interaction in Malaysia”, Asean Economics Bulletin. Vol 17. Hal.3647 Imam Gozali., 2001. Aplikasi Analisis Multivariat dengan Program SPSS. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang. Jogianto. 1998, Teori Portofolio dan Analisis Investasi, BPFE, Yogyakarta. Jones, Charles P. 2000, Investment: Analysis and Management, 7th edition, New York: John Willey and Sons.Inc. Mok, Henry MK., 1993, “Causality of Interest Rate, Exchange Rate, and Stock Price ata Stock Market Open and Close in Hong Kong”, Asia Pacific Journal Of Management. Vol.X. Hal. 123-129 Reilly, F.K., 1992, Investement, The Dryden Press Internacional Editian, Third edition, USA.

Mahasiswa Program Pascasarjana Magister manajemen Universitas mataram ( NTB)

24

www.duniainvestasi.com www.Bi.go.id

Mahasiswa Program Pascasarjana Magister manajemen Universitas mataram ( NTB)

25

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->