P. 1
Islam Sebagai Sasaran Studi Dan Penelitian

Islam Sebagai Sasaran Studi Dan Penelitian

|Views: 1,147|Likes:
Published by Just Vickry

More info:

Published by: Just Vickry on Oct 13, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/16/2013

pdf

text

original

ISLAM SEBAGAI SASARAN STUDI DAN PENELITIAN 1.

Agama Sebagai Doktrin Untuk penelitian agama yang sasarannya adalah agama sebagai doktrin. Agama sebagai teologi, tidak terbatas hanya sekedar menerangkan hubungan antara manusia dengan Tuhan [Transendental] saja, tetapi tidak terelakan adalah melibatkan kesadaran berkelompok [sosiologis], kesadaran pencarain asal-usul agama [antropologi], pemenuhan kebutuhan untuk membentuk kepribadian yang kuat dan ketenangan jiwa [psikologis] bahkan ajaran agama tertentu dapat diteliti sejauh mana keterkaitan ajaran etikanya dengan corak pandangan hidup yang memberi dorongan yang kuat untuk memperoleh derajat kesejahteraan hidup yang optimal [ekonomi]. Apabila kita memandangan agama sebagai doktrin yang sacral, suci dan tabuh, maka tertutup untuk kajian-kajian atau penelitian. Tetapi, apabila kajian-kajian diarahkan pada elemen-elemen agama, maka terbuka pintu untuk melakukan penelitian dan bahkan metodologi penelitian sudah pernah dirintis, yaitu ilmu ushul fiqh sebagai metode untuk mengistimbatkan hukum dalam agama Islam, dan ilmu musthalah hadis sebagai metode untuk menilai akurasi dan kekuatan sebab-sebab Nabi [hadis], merupakan bukti adanya keinginan untuk mengembangkan metodologi penelitian. Al-Qur’an bukan semata-mata teks puji-pujian ataupun tuntutan kesalehan pribadi dan sama halnya, karier kerasulan Nabi Muhammad juga diarahkan kepada perbaikan moral manusia dalam artian yang konkrit dan komunal, bukan hanya sekedar kepada hal-hal yang bersifat pribadi dan metafisik saja. Dengan sendirinya mendorong para ahli hukum dan intelektual muslim untuk memandang al-Qur’an dan Sunnah Rasul sebagai sumber yang mampu menjawab semua persoalan [Fazlur Rahman, 1985: 2]. Sebelum mendekati agama, memang amat perlu mengetahui sasaran yang akan didekati, yaitu agama atau kepercayaan yang terjadi karena adanya dipandang mahakuasa menjadi sumber dari segala sesuatu. Dalam berbagai disiplin ilmu sosial dipelajari adanya dua macam agama yaitu: e. Agama Alam, atau sering juga disebut agama suku bangsa primitif, disebut juga “innerweltlich religion”. Berbagai sebutan yang diberikan kepada agama itu, sesuai dengan dasar kepercayaannya, seperti animisme, dinamisme, polytheisme dan ada yang menyebut dengan agama leluuhur, kepercayaan nenek moyang; paganisme, syamanisme dengan berbagai ritus dan perbuatanperbuatan keagamaan dengan aneka sebutan, sepeti dewa, Tuhan, dan lain-lain seolah-olah berada dalam dunia

dlm Taufik Abdullah dan Rusli Karim. kepercayaan suku-suku bangsa primitif. yang biasanya juga disebut agama samawi. berkuasa atas segala sesuatu [makhluk-Nya] berada di luar makhluk. Pengkajian terhadap agama Islam mulai timbul seiring dengan perkembangan pengkajian ilmu perbandingan agama. dan menentukan sendiri kehendak-Nya dan tidak tergantung pada makhluk-Nya [Mattulada. sosiologi. Agama yang tergolong jenis ini. hingga menemukan segala unsure yang menjadi komponen terjadinya perilaku tersebut. dlm Taufik Abdullah dan Rusli Karim. yang dilatarbelakangi oleh factor kepustakaan Islam yang langkah. suci. ilmu pengetahuan modern juga telah melakukan pengkajianpengkajian atasnya. dlm Taufik Abdullah dan Rusli Karim. adalah agama Islam. Sedangkan ilmu pengetahuan. yaitu agama yang diturunkan oleh Khalik [Pencipta] melalui utusan atau nabi-Nya kepada manusia. Adapun agamaagama profetis. Nasrani. 1989:2] Dalam perkembangan kegamaan.kehidupan manusia. dan Yahudi. Durkheim hingga Weber. f. 1989:1] Apabila. ilmu-ilmu pengetahuan sosial dan antropologi budaya telah mengembangkan metode-metode ilmiah dalam penelitian agamaagama alam. teknik dan peralatannya. dalam hal ini ilmu pengetahuan sosial dengan caranya masing-masing. memang telah banyak mengkaji tentang agama Nasrani dan Yahudi. dan antropologi secara sintetik. tetapi amat sepele perhatiannya terhadap Islam. Agama-agama itu dilihat sebagai fenomena kehidupan kebudayaan para penganutnya. 1989:2]. merupakan masalah yang selalu hadir dalam sejarah kehidupan manusia sepanjang zaman dan sama dengan masalah kehidupan lainnya. “Fenomena keagamaan yang berakumulasi pada pola perilaku manusia dalam kehidupannya beragama adalah perwujudan dari “sikap” dan “perilaku” manusia yang menyangkut dengan hal-hal yang dipandang sacral. sedangkan ilmu antropologi memperhatikan terbentuknya pola-pola perilaku tersebut dalam tatanan nilai [value] yang dianut dalam kehidupan manusia [Mattulada. atau metode. dapat mengamati secara cermat perilaku manusia itu. Perilaku hidup beragama yang amat luas tersebar di permukaan bumi dan dikatakan menjadi “bagian dari hidup kebudayaan” yang dapat dikembangkan dalam aneka corak yang khas antara suatu lingkup sosial-budaya berbeda dengan lingkup sosial budaya lainnya. Ilmu sejarah mengamati proses terjadinya perilaku itu. Masalah keagamaan. ilmu sosiologi menyoroti dari sudut posisi manusia yang membawanya kepada perilaku itu. maka fenomena keagamaan itu berakumulasi pada “pola perilaku manusia” didekati dengan menggunakan ketiga model pendekatan . tetapi kuasa memberikan kekuatan-kekuatan atau kesaktian pada manusia yang menguasai tata cara untuk memperoleh kekuatan sakti itu. Tuhan atau Khalik Yang Maha Pencipta. keramat yang berasalan dari suatu kegaiban. tidak memadai dan eksklusif [Mattulada. Marx. kita mencoba menggambarkannya dalam pendekatan sejarah. Agama Profetis.

Sebab penelitian ilmu sosial berada di antara ilmu budaya dan ilmu kelaman. Misalnya saja. 1989:1]. Ilmu budaya hanya dapat diamati dan kadang-kadang tidak dapat diukur apalagi diverifikasi. sebuah situs sejarah unik untuk situs tersebut dan sebagainya dan disini tidak ada keterulangan. Ilmu kealaman. karena fenomena sosial dapat berulang terjadinya dan dapat dites kembali. diukur dan diverifikasi. Itulah inti dari penelitian dalam ilmu-ilmu eksak. mencari keteraturan-keteraturan yang terjadi pada alam. 1998:12]. di antara penelitian kelaman dan budaya. terdapat penelitian-penelitian ilmu-ilmu sosial. budaya stau kelompok masyarakat unik buat keleompok masyarakat tersebut. Karena itu.Atho Mudzhar. Uraian di atas. yaitu : [1] dapat diamti [observable]. dlm Taufik Abdullah dan Rusli Karim. aliran yang menyatakan bahwa ilmu sosial lebih dekat kepada ilmu kealaman. [2] dapat diukur [measurable]. dan [3] dapat dibuktikan [verifiable].Atho Mudzhar [1998:12-13]. Dapat dikatakan bahwa inti ilmu kealaman adalah ”positivisme”. dengan memperhatikan gejala eksak. sekrang ini ada ilmu statistik khusus untuk ilmu-ilmu sosial yang digunakan untuk mengukur gejala-gejala sosial secara lebih cermat dan lebih signifikant. Oleh karena itu suatu penemuan yang dihasilkan pada suatu waktu mengenai suatu gejala atau sifat alam dapat dites kembali oleh peneliti lain. Suatu penemuan. Kedua. biologi dan lain-lain mempunyai tujuan utama mencari hukum-hukum alam. lebih dekat pada ilmu budaya. Untuk mendukung pendapat mengenai keteraturan itu. membatasi diri pada upaya menemukan metode yang tepat bagi penelitian dalam studi Islam. yaitu aspek-aspek ajaran Islam yang dapat didekati secara ilmiah yang relevan dan perkembangan pengkajian Islam di masa depan. Agama sebagai Gejala Budaya dan Sosial a] Agama Sebagai Gejala Budaya Pada awalnya ilmu hanya ada dua. baru dikatakan atau dianggap sebagai ilmu apabila memenuhi syarat. Perkembangan selanjutnya. yakni mencari keterulangan dari gejala-gejala yang kemudian diangkat menjadi teori dan menjadi hukum. Karena itu. Sebagai contoh. yang mencoba untuk memahami gejala-gejala yang tidak berulang tetapi dengan cara memahami keterulangannya. Oleh karena itu. penelitian ilmu sosial mengalami problem dari segi objektivitasnya. kalau sekarang air mengalir dari atas kebawah. seperti fisika. para ilmuan sosiologi dari Universitas Chicago mengembangkan sosiologi kuantitatif yang lebih menekankan pada perhitungan . Contoh. ini berarti sifatnya unik. ada dua aliran yang dapat digunakan. maka dalam ilmu sosial digunakan ilmu-ilmu statistik yang juga digunakan dalam ilmu-ilmu kelaman. yaitu : ilmu kealaman dan ilmu budaya. 2. pada waktu lain. yaitu : Pertama. penelitian antropologi sosial. Sedangkan ilmu sosial lebih dekat kepada ilmu alam mengatakan bahwa ilmu sosial dapat diamati. aliran yang menyatakan bahwa penelitian sosial lebih dekat depada penelitian budaya. kimia. tekanan utama dititikberatkan pada segisegi metodologi stusi Islam. Menurut M. Sebaliknya ilmu budaya mempunyai sifat tidak berulang tetapi unik [M. besok apabila dites lagi juga hasilnya begitu.sesuai dengan posisi perilaku itu dalam konteksnya masing-masing [Mattulada. Apakah penelitian sosial itu objektif dan dapat dites kembali keterulangannya? Untuk menjawab pertanyaan ini.

Atau dapat meneliti ajaran atau pemikiran-pemikiran yang berkembang sepanjang sejarah suatu agama[M. Maisalnya saja. bahkan peci digunakan untuk pengambilan sumpah pejabat dan bahkan di daerah lain peci sebagai ”simbol” kebangsaan daripada keagamaan. naskah-naskah atau sumber ajaran dan symbol-simbol agama. Sunni dan sebagainya [M. penelitian terhadap peralatan agama. lonceng. Mulai Berlaku : 2005 Versi : 1 Revisi : 1 Halaman : 7 dari: 12 UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA . Misalnya saja. Dalam komunitas Islam juga terjadi hal yang sama. 1998:13-14]. 1998:14]. tetapi sebenarnya bukan alat agama.Atho Mudzhar. terletak pada kepercayaan orang tersebut mengenai nilai-nilai yang ada di dalamnya dan bukan sakral. naskah-naskah sejarah agama dan sebagainya. seperti masjid. perkawinan dan waris. Muhammadiyah. Misalnya saja. membahas al-Qur’an dan isinya. orang yang beragama Kristen-pun menggunakan peci. seperti peci. apabila kita hendak mempelajari atau meneliti suatu agama.perhitungan statistik dan juga dikalangan sosiologi Indonesia berada pada dua posisi tersebut. siapa yang membangun. yaitu : [1] Scripture. tempat para penganut agama berkumpul dan berperan. menyangkut dengan sikap. Perilaku umat Islam. ibadat-ibadat. Hajar Aswad. MSI. kitab tafsir atau penafsiran seseorang. dapatkah agama didekati secara kualitatif atau kuantitatif? Jawabannya. kapan didirikan. dapat. Tetapi di daerah lain. Demikian pula alat-alat agama lain yang dapat dijadikan sasaran penelitian. studi tentang tokoh. karena ada yang hanya dianggap sebagai alat agama. dalam konsep Islam. kritik atas terjemahan orang lain. termasuk begaimana tokoh itu tersebut mencoba memahami dan mengaktualisasikan agama yang diyakininya.pimpinan. peci dan semacamnya. Kemudian timbul perdebatan. FM-UII-AA-FKA-07/R1 MATERI/BAHAN MATA KULIAH Fakultas : ILMU AGAMA ISLAM Pertemuan ke : EMPAT Jurusan/Program Studi : TARBIYAH/PAI Modul ke : IV Kode Mata Kuliah : 42001411 Jumlah Halaman : 12 Nama Mata Kuliah Dosen : METODOLOGI STUDI ISLAM : Hujair AH. Misalnya. nilai Hajar Aswad bagi seorang muslim. Dalam penelitian naskah atau sumber-sumber ajaran agama yang pertama diteliti adalah persoalan filologi dan kemudian adalah isi dari naskah yang ada. tergantung unsure-unsur agama yang diteliti itu dilihat sebagai gejala apa. perilaku dan penghayatan para penganutnya. [2] Para penganut.Atho Mudzhar. di daerah tertentu menganggap peci sebagai ”tanda” atau ”simbol” orang Islam dan bahkan ada yang menggap sebagai pelengkap sahnya salat. atau salah satunya. tentu selalu mensakralkan atau mensucikan wahyu Allah sampai kapanpun. gereja. saya tidak akan menciummu. seperti Nahdlatul Ulama. [5] Organisasi-organisasi kegamaan. Maka. Artinya agama dapat didekati secara kualitatif dan kuantitatif sekaligus. ada 5 [lima] bentuk gejala agama yang diperhatikan. Misalnya.Atho Mudzhar [1998:15]. M. maka tergantung pada alat apa yang diteliti. Sanaky. maka biasanya membahas tentang kehidupan dan pemikiran tokoh tersebut. maka yang perlu dilakukan adalah apakah alat-alat tersebut betul-betul alat agama atau tidak. pemuka agama. Tetapi. mengatakan kenapa begitu? Ada pendapat dalam ilmu sosiologi. Drs. Gejera Katholik. Syi’ah. suatu benda dianggap suci [sakral] karena orang menganggapnya demikian. peneliti dapat mengambil sasaran dari kelima bentuk gejala tersebut. kitab hadis. 1998:13]. Menurut beberapa para ahli. orang akan meleiti tentang sejarah ka’bah. [3] Ritus-ritus. sama dengan batu-batu yang lain” . Kamu hanya sebuah batu. Katakan saja. Umar bin Khattab. haji. yaitu kelompok kuantitatif dan kelompok kualitatif [M. [4] Alat-alat.Atho Mudzhar. mengakatakan ”Kalau saya tidak melihat Nabi menciummu. bagaimana bentuknya dan seterusnya. Dalam penelitian keagamaan. Protestan. lembaga-lembaga. seperti shalat. tetapi benda yang sama mungkin saja tidak menjadi suci [profane] apabila orang tidak menganggapnya suci. Timbul pertanyaan. puasa. sebenarnya tidak ada hal-hal atau benda yang dianggap sakral atau suci.

Maluku Sulawesi Tengah. Berlanjutnya konflik dan kekerasan yang bersumber—atau sedikitnya bernuansa politis. adalah jelas merupakan gejala budaya yang dapat dijadikan objek penelitian[M. Apabila yang disebut wahyu Allah itu adalah sisi atau bacaannya. maka bentuk-bentuk tulisan alQur’an [rik’ah] dan lain-lain atau penggambaran titik dan harkat. melainkan lebih kepada pengaruh agama terhadap perilaku atau tingkah laku masyarakat. kiai yang menganggap sah menggauli para santrinya. 1998:15]. Maka. b] Agama Sebagai Gejala Sosial Mengenai agama sebagai gejala sosial. lenyapnya kesabaran sosial [social temper] dalam menghadapi realitas kehidupan yang semakin sulit sehingga mudah mengamuk dan melakukan berbagai tindakan kekerasan dan anarki.apakah wakyu itu pada batas tulisan. munculnya kiai yang salat dengan menggunakan bahasa Indonesia. itu semua dapat menjadi fenomena atau gejala sosial keagamaan dan menjadi sasaran penenlitian agama. kurukunan antar umat beragama. moral. dan kesantunan sosial. mungkin kita dapat meneliti bagaimana perkembangan pemikiran keagamaan masyarakat Indonesia terhadap krisis sosial yang meluas yang dapat disaksikan dalam berbagai bentuk. merosotnya penghargaan dan kepatuhan terhadap hukum. Lahirnya teologi Khawarij. globalisasi dan internet mulai berbicara ”tauhid sosial” dan ”kesalehan sosial”. Syiah dan Ahli Sunnah wal Jamaah sebagai produk atau hasil pertikaian politik dan bukan poroduk teologi. pada dasarnya bertumpu pada sosiologi agama. yang dibacakan ataukah isinya. dan ini sekaligus menjadi tantangan bagi para pemeluk agama adalah munculnya program tayangan stasiun televisi yang mengusung unsur-usnsur mistik yang dikemas sebagai suatu tontonan yang menarik. Saat sekarang ini. pameran busana mewah dengan memperlihatkan bagian tubuh [aurat] yang seharusnya ditutup rapat dan tidak ditontonkan. tetapi anggapan bahwa Ali sebagai imam adalah produk perbedaan pandangan politik. artinya bagaimana agama sebagai sistem nilai dapat mempengaruhi tingkah laku masayarakat dan bagaimana pengaruh masyarakat terhadap pemikiuran-pemikiran keagamaan. pengamatan terhadap apakah mereka menggunakan norma-norma. sosiologi agama mempelajari hubungan timbal-balik antar agama dan masyarakat. para intelektual Islam para era reformasi. budaya korupsi dan nepotisme sebagai budaya. Maka dapat dikatakan. satu dan asli.Atho Mudzhar. apalagi kaligrafi alQur’an. Para ahli sosiologi agama. bahwa pergeseran perkembangan pemikiran masyarakat dapat mempengaruhi pemikiran teologi atau keagamaan. Artinya. Tauhidnya sama. dan lain-lain. bagaimana bentuk dan karakteristik tauhid sosial dan kesalehan sosial. penggunaan ayat-ayat Qur’an untuk mengusir setan yang ditayangkan melalui program siaran televisi. mucul ”tokoh muslimah Amerika” yang memimpin salat jum’at. semakin meluasnya penyebaran narkotika dan penyakit-penyakit sosial lainnya. . misalnya. Pada zaman dahulu. Contoh lain. tetapi ada juga yang tidak menggunakannya. ”interaksi antara orang-orang Islam ada yang menggunakan norma-norma Islam. mulai mempelajari bukan hanya pada soal hubungan timbal-balik saja. Kalimantan Barat dan Tengah. etika. Persoalan lain adalah interaksi antar pemeluk suatu agama dan antar pemeluk suatu agama dengan pemeluk agama lainnya. etnis dan agama seperti terjadi di berbagai wilayah Aceh. mesyarakat mempengaruhi agama dan agama mempengaruhi masyarakat.

mengenai nasikh-mansukh. Demikian juga pengamatan terhadap para pemeluk Islam dalam interaksinya dengan pemeluk agama lain. Bagaimana karakteristik interaksi itu. Jadi. Islam sebagai wahyu dan produk Sejarah a. Maka lahirlah misalnya tafsir maudu’I yang merupakan salah satu bentuk jawaban terhadap pertanyaan tersebut [M. 3. termasuk penelitian ke-Islaman. [M. Maka pendekatan yang digunakan dalam memahami Islam. kenapa cara membacanya begitu. komsmologi. Menurut M. sunnah Nabi Muhammad saw [M. bukan mempertanyakan ”kebenaran al-Qur’an sebagai wahyu”. inti Islam adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. elemen-elemen yang harus diketahui dalam Islam adalah persoalan teologi.Islam atau tidak. apakah sekarang masih harus dipahami sama ataukah perlu pemahaman baru yang disesuai dengan perkembangan kehidupan sekarang atau dapat dikatakan kontekstual dengan realitas.Atho Mudzhar.Atho Mudzhar. 1998:18]. 1998:19].Atho Mudzhar.Atho Mudzhar. Perubahan-perubahan dramatis yang menempa hubungan antara "Barat" dan dunia Islam sebagai akibat dari peristiwa terorisme internasional. apabila pada zaman dulu ayat dipahami begitu. bagaimana mereka memahami dan mengeskpresikan nilai-nilai Islam dalam interaksi antara pemeluk agama-agama yang berbeda. tetapi misalnya mempertanyakan: bagaimana cara membaca al-Qur’an. menurut Mukti Ali adalah metode filosofis. Maka kita percaya bahwa wahyu itu terdiri atas dua macam. apa kaitannya dengan bacaan sebelumnya. Menurut M. Agama Islam merupakan suatu agama yang membentuk suatu masyarakat dan berperadaban. perang Iraq-Amerika. 1998:19]. karena mengkaji hubungan manusia dan Tuhan yang dibahas dalam filsafat. Dari pandangan tentang agama sebagai gejala budaya dan sebagai gejala sosial. dan antropologi yang tentu menyangkut dengan persoalan sosial kemanusian dan budaya. Dalam arti pemikiran “metafisik” yang umum dan bebas. tuduhan Barat terhadap tokohtokoh muslim radikal sebagai pemimpin terorisme. orang juga masih terus berbeda pendapat. Selain itu metode-metode ilmu manusia juga perlu digunakan. yaitu metode sejarah dan sosiologi yang Islam juga merupakan agama yang membentuk suatu masyarakat dan peradaban serta mengatur hubungan manusia dengan manusia. Pertanyaan selanjutnya. Islam sebagai Wahyu Islam biasanya didefinisikan sebagai berikut: al-Islam wahyu ilahiyun unzila ila nabiyyi Muhammad Salallahu ‘alaihi wassalam lisa’adati al-dunya wa al akhirah [Islam adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw sebagai pedoman untuk kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat]. Meskipun kita ambil pendapat bahwa ada ayat al-Qur’an yang dimansukh dan ada . bahwa tujuan studi Qur’an. apa sesusungguhnya yang melatarbelakangi lahirnya suatu ayat [asbabul nuzul]. dan [2] wahyu yang bernetuk hadis. siapa yang menggunakan jenis bacaan tertentu. karena dalam agama Islam masalah kehidupan manusia di bumi ini dibahas. yaitu : [1] wahyu yang berbetuk al-Qur’an. itu semua dapat menjadi sasaran penelitian agama”. Metode lain. secara alami juga membawa dampak pada pengajaran dan riset yang terkait dengan studi Islam. ada berapa jenis bacaan.Atho Mudzhar. dan apa maksud ayat itu.

Imam Muslim. yang menyarankan penggunaan pendekatan historical criticism terhadap hadis. tetapi sangat mungkin dapat dilakukan oleh kelompok. ”sah-sah saja itu menjadi tidak sah”. 1998:21]. Ilmu tafsir. Dalam perkembangan hadis. Imam Bukhari. aturan-aturan. sekarang turun lagi menjadi 16 ayat.perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai jumlah ayat yang dimansukh. metode tahlili [analisis]. Pendapat Fazlur Rahman. mungkin metode ini tidak dapat dilakukan oleh pribadipribadi. Perkembangan selanjutnya. Menurut M. bahwa pada awalnya jumlah ayat yang dimansukh adalah 115 ayat. telah digunakan mufasirin. tetapi penafsiran dengan gaya hermeneutika merupakan tradisi Yunani yang kemudian diadopsi oleh Kristen dan mereka menggunakannya untuk mengatasi persoalan yang dihadapi teks Bible. dalam pengantarnya mengatakan bahwa tadinya hadis yang dikumpulkan ada 300. Pertanyaannya.000 [tiga ratus ribu] buah. Menurut M. Kajian ini lebih pada penelitian teks dan sejarah. Sebab al-Qur’an selain berbicara mengenai keimanan. Persoalannya.Atho Mudzhar. untuk memahami ayat-ayat al-Qur’an. Satu hal yang perlu diperhatikan dalam studi al-Qur’an adalah ”studi interdisipliner mengenai al-Qur’an.000 ? Pertanyaan dan persoalan-persoalan seperti ini merupakan wilayah yang dapat dilakukan kajian-kajian hermeneutika dan historical criticism terhadap hadis [lihat : M. yaitu : metode ijmali [global]. Sekarang ini. apa hermeneutika al-Qur’an itu dan bagaimana penerapannya dalam Islam? Memang istilah ini baru. bahwa wilayahwilayah inilah antara lain yang dapat dijadikan kajian dan penelitian.Atho Mudzhar. juga berbicara tentang sebagian isyarat-isyarat ilmu pengetahuan. Persoalan utamanya adalah bagaimana kaitan antara ilmu alQur’an dengan ilmu-ilmu lain dan di sinilah dibutuhkan studi interdisipliner. diadopsi oleh sebagian kalangan umat Islam.Atho Mudzhar. Begitu juga ilmu yang sudah baku yang membahas persoalan hadis adalah Ilmu Hadis Riwayah dan Ilmu Hadis Dirayah perlu terus dikaji dan dikembangkan . Islam sebagai wahyu yang dicerminkan dalam hadis-hadis Nabi Muhammad saw. Menurut beberapa pendapat. muncul studi tekstual dan kontekstual dan sekarang ada juga yang mulai menggunakan studi hermeneutika al-Qur’an. dan metode maudhu’i [tematik]. Tetaptnya setelah ilmu penafsisran teks atau lazim disebut dengan hermeneutika.000 buah hadis. Selanjutnya. hadis mashur dan hadis ahad. Tapi bagi sebagian kalangan umat Islam.Atho Mudzhar. 1998:20]. metode muqarin [komporatif]. mulai terlihat penafsiran terhadap al-Qur’an mulai menghadapi babak baru. botani dan semacamnya perlu dipelajari. hadis mutawatir. Hal inilah yang menjadikan sebagian umat Islam belum menerima studi Qur’an dengan menggunakan hermeneutika. rijalul hadis atau perawi hadis tertentu dan dapat meneliti buku-buku syarah hadis tertentu. Studi Qur’an dengan menggunakan hermeneutika dari sisi keilmuan. yang kemungkinan besar istilah ini belum dikenal oleh para mufasir terdahulu [lihat : M. 1998:1920]. mungkin sah-sah saja. Kemudian orang bertanya. kemudian turun menjadi 60 ayat. ”ada hadis shahih. ibadah. Kita dapat meneliti matan hadis. dengan metode yang digunakan dalam menafsirkan al-Qur’an. hermeneutika bukan orisinal ciptaan umat. tetapi setelah selesai menjadi 6. Kita mengetahui dalam sejarah adanya upaya untuk pemalsuan hadis.Atho Mudzhar [1998:20]. Imam Muslim atau Imam Malik mengumpulkan dan melakukan mencatat hadis dengan upaya hati-hati. dari mana Hadis sebanyak itu dan sudah meresap kemana saja sisanya itu. sehingga tinggal 6. Maka ilmu-ilmu seperti sosiologi. Itu merupakan persoalan yang penting untuk dikaji dan diteliti [M.

MSI. mengatakan bahwa kajian Hadis sam dengan kajian terhadap al-Qur’an yang membutuhkan studi interdisipliner.shtml. Kristen. peristiwa hijrah telah menciptakan keberagaman penduduk Madinah. Sabi'in dan Majusi. Ketiga. karena struktur masyarakat Madinah yang baru dibangun terdapat beragam agama yaitu Islam. yaitu: mu'minun. dengan: Pertama. melalui Piagam Madinah. b. munafiqun. Maka.Atho Mudzhar [1998:21]. dan mereka terbagi ke dalam beberapa kelompok. Katakan saja. maka benamkanlah]. Hadis ini diterangkan dalam kitab Subulu al-Salam. kuffar. Keempat. tetapi Muhajirin Quraisy dan sukusuku Arab lain yang datang dan hidup bersama mereka di Madinah. Struktur masyarakat yang pluralistik ini dibangun oleh Nabi di atas fondasi ikatan iman dan akidah yang tentu lebih tinggi nilai ikatannya dari solidaritas kesukuan [ashabiyah] dan afiliasi lainnya. di mana Islam "memanusia". melalui hijrah gerakan itu "menegara". Penjelasan terhadap hadis ini memerlukan satu upaya untuk mencoba mengadakan studi interdispliner terhadap hadis tersebut.. mushrikun dan Yahudi [Akram Dhiyauddin Umari. bahwa pada sayap kanan mengandung ini dan pada sayap kiri mengandung itu. negara dan masyarakat Madinah yang dibangun oleh Nabi Saw merupakan negara dan masyarakat yang kuat dan solid. Hadis mengenai psikologi. Kedua. membuat nota kesepakatan untuk hidup bersama dengan komunitas lain yang berbeda. 1999:77]. Yahudi. sebagai sebuah masyarakat pluralistik yang mendiami wilayah yang sama. Peristiwa gerakan hijrah yang dilakukan Nabi merupakan sebuah metamorfosis dari suatu "gerekan" menjadi "negara".hidayatullah. di mana Islam menjadi jalan hidup individu. menciptakan kohesi sosial melalui proses persaudaraan antara dua komunitas yang berbeda yaitu "Quraisy" dan "Yatsrib" yang menjadi dan dikenal dengan komunitas "Muhajirin" dan "Anshar" tetapi menyatu sebagai komunitas agama. dan manusia kemudian "memasyarakat". Gerakan ini berasal dari tiga belas tahun sebelumnya. pendidikan. com/2001/ 06/ kajut3. Sebagai contoh. Islam sebagai Produk Sejarah dan Sasaran Penelitian Perlu ditegaskan bahwa ternyata ada bagian dari Islam yang merupakan produk sejarah. membangun infrastruktur negara dengan mesjid sebagai simbol dan perangkat utamanya. From: http://www. dalam hadis-pun usaha ini perlu dilakukan. Nabi Saw melakukan penetrasi sosial yang sangat sistematis. dan Madinah adalah wilayahnya. merancang sistem negara melalui konsep jihad fi sabilillah [M. Khazraj. mengenai hadis ”idza waqa’a al-dzubabu fi inai ahadikum falyaqmishu [artinya: ketika sadar lalat terjatuh ke dalam bejanamu. Kemudian. 7 Maret 2001] Dengan dasar ini. klasifikasi masyarakat pada saat itu didasarkan atas keimanan. dan ada juga golongan yang tidak bertuhan [atheis] dan bertuhan banyak [polytheists]. masyarakat itu bergerak secara linear menuju negara. Dengan melalui hijrah. Penduduk Madinah tidak terdiri dari atas suku Aus. Nabi melakukan penataan negara tersebut.M. dan Yahudi. Nabi menghadapi realitas pluralitas. Anis Hatta. Drs. barangkali memerlukan ilmu tentang serangga untuk membuktikan secara emperik terhadap pernyataan Hadis tersebut. Mulai Berlaku : 2005 Versi : 1 Revisi : 1 Halaman : 11 dari: 12 UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA . Selain itu. iptek dan sebagainya yang perlu dikelompokan dan dibandingkan dengan hasil penemuan ilmu modern. Sanaky. dengan kata lain bahwa masyarakat di Madinah pada saat itu merupakan bagian dari komunitas FM-UII-AA-FKA-07/R1 MATERI/BAHAN MATA KULIAH Fakultas : ILMU AGAMA ISLAM Pertemuan ke : EMPAT Jurusan/Program Studi : TARBIYAH/PAI Modul ke : IV Kode Mata Kuliah : 42001411 Jumlah Halaman : 12 Nama Mata Kuliah Dosen : METODOLOGI STUDI ISLAM : Hujair AH.

hlm. serta tanggung jawab sosial dan politik. kalam. dalam mengkaji karya-karya. Demikian juga perkembangan filsafat Islam. andaikan Islam tidak berhenti di Spanyol. semuanya dapat dan perlu dijadikan sebagai sasaran penelitian. sebagai produk sejarah. Konsep "Piagam Madinah" [Mitsaq al-Madinah]. dianggap sebagai konstitusi tertulis pertama dalam sejarah kemanusian. Konsep tentang Khulafa al-Rasyidin adalah merupakan produk sejarah. Jadi. atau bahasa hukum yang padat juga memerlukan upaya penafsiran. Selain itu. tidak membeda-bedakan [diskriminasi] dan menghargai kemajemukan". kedua metode ilmiah "critical history" dan Hermeneutic. agar mudah dipahami. merupakan sebuah pendekatan kesejarahaan yang pada prinsipnya bertujuan menemukan fakta-fakta obyektif secara utuh dan mencari nilai-nilai [values] tertentu yang terkandung di dalamnya. Menurut Fazlur Rahman. tetapi sebagai ilmu yang disistematisasir akhlak adalah produk sejarah. persaudaraan [al-ukhuwwah] antar agama. sering menyebutkan dua istilah metode dalam buku-bukunya yaitu Historico critical method dan Hermeneutic method. kepada wawasan kebebasan. tengah.. 1998:23]. Cina adalah produk sejarah.Atho Mudzhar. Hermeneutic method yaitu metode untuk memahami dan menafsirkan teks-teks kuno seperti kitab suci. maka model semacam ini dinamakan pendekatan kesejarahan. yang ditekankan oleh metode ini adalah pengungkapan nilai-nilai yang terkandung dalam sejumlah data sejarah. Teologi Syiah. hukum juga dalam bidang filsafat.masyarakat yang majemuk atau plural. Piagam ini tidak hanya sangat maju pada masanya. Demikian juga Seni dan metode baca al-Qur’an yang berkembang di Indonesia adalah merupakan produk sejarah [lihat : M. Historico critical method [metode kritik sejarah]. karena nama itu muncul belakangan. penafsiran terhadap teks-teks sejarah yang menggunakan bahasa yang rumit. Tasawuf dan akhlak sebagai ilmu juga merupakan produk sejarah Islam. Kebudayaan Islam klasik. antara lain. keadilan [al-'adalah]. fiqh. terutama dibidang agama dan ekonomi. dan Ahmad Hatta. bukan presitiwa sejarah itu sendiri. kita perlu mengetahui metodependekatan yang digunakan dalam menulis karya-karyanya. Seluruh bangunan sejarah Islam klasik. Konsep Piagam Madinah ini merupakan produk sejarah. Menurut Fazlur Rahman. Akhlak sebagai nilai bersumber dari wahyu. dalam dokumen Piagam itulah. Peristiwa hijrah itu sendiri merupakan produk sejarah yang memang perlu dikaji dan diteliti. Mu’tazilah adalah merupakan bagian dari wajah Islam produk sejarah. khususnya pertahanan secara bersama. Fazlur Rahman. sejarahnya akan lain lagi. Jikalau data sejarah dipaparkan sebatas kronologinya. Metode "critical history" berfungsi sebagai upaya dekonstruksi metodologi. sejarah. sebenarnya merupakan produk sejarah. seni lukis. ushul fiqh produk sejarah. arsitektur Islam. modern. dikatakan bahwa "umat manusia untuk pertama kalinya diperkenalkan. Indonesia. banyak bangunan pengetahuan kita tentang Islam. Orang dapat berkata. bentuk-bentuk masjid Timur Tengah. Kedua istlah tersebut merupakan "kata kunci" adalah : 1. 2. merupakan dua buah metode yang berkaitan erat. Islam di Eropa akan berkembang sampai saat ini dan andaikan Islam terus bertahan di Spanyol. Maka karena itu. dll. 1995:10]. Semuanya dapat dan perlu dijadikan sasaran penelitian. tengah dan modern. perdamaian dan kedamaian. persatuan dan kesatuan. tetapi juga menjadi satu-satunya dokumen penting dalam perkembangan kebiasaan konstitusional dan hukum dalam dunia Islam [Nurchalis Madjid. Demikian. sedangkan metode Hermeneutic difungsikan sebagai upaya . musik. 51. toleransi. Metode ini diperlukan untuk melakukan interpretasi terhadap teks kitab suci. Dalam Piagam tersebut juga menempatkan hak-hak individu yaitu kebebasan memeluk agama.

ummat Islam memerlukan kajian sejarah agar mereka dapat menimbang lebih lanjut nilai-nilai perkembangan historis tersebut untuk bisa melakukan rekonstruksi disiplin-disiplin Islam untuk masa depan [baca : Hujair AH. menyadari kurangnya perpektif kesejarahan dalam kecendekiawan Muslim yang pada gilirannya menyebabkan minimnya kajian-kajian historis Islam. Karena itu. Fazlur Rahman. Menurut Fazlur Rahman.rekonstruksinya. Sanaky. 1998:3-5] . Sementara dalam kajian normatif (penerapan metode Hermeneutic dalam menafsirkan al-Qur'an) Fazlur Rahman menggunakan metode sosio-historis sebagai alat bantu dalam menentukan konteks sosial yang terkait.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->