TUNTUTAN KEMBALI / GUGAT DIGUGAT / GUGAT BALASAN ( GUGAT REKONVENSI ) 1.

Gugat Konvensi adalah gugatan yang mula mula diajukan , yang berisikan tuntutan pihak penggugat agar pihak lawan ( pihak tergugat ) melaksanakan suatu prestasi atau jasa kepada pihak penggugat . 2. Dalam hal ini pihak penggugat dinamakan penggugat in konvensi dan pihak tergugat dinamakan pihak tergugat in konvensi . 3. Gugat Rekonvensi adalah gugatan balasan atau gugat balik , contoh : dalam hal ini diantara kedua belah pihak yang sama ada kalanya ada suatu urusan lain , yang berisikan juga kewajiban salah satu pihak untuk berprestasi kepada pihak yang lain ., dan dimana kita ketahui apabila akan mengajukan gugatan lagi harus mmeklalui proses awal kembali , tetapi disini hukum memberikan jalan kepada pihak yang sedang berperkara untuk tidak usah mengajukan gugatan baru tersebut . , melainkan cukup dengan mengajukan tuntutan baliknya di dalam jawabannya terhadap gugatan semula . 4. Dalam gugatan balasan , terdapat ketentuan – ketentuan yaitu : Penggugat asal (Penggugat konvensi) menjadi Tergugat in rekonvensi Tergugat asal ( tergugat konvensi )menjadi Penggugat in rekonvensi 5. Persyaratan untuk kemungkinan mengajukan gugatan rekonvensi : 1. Pihak penggugat rekonvensi adalah pihak yang berwenang untuk bertindak dalam dalam hukum 2. Para pihaknya samassssss 6. Batasan batasan atau larangan – larangan dalam mengajukan rekonvensi atau gugatan balik : 1. Jika Penggugat dalam gugat asal mengenai sifat , sedangkan gugat balasan itu mengenai dirinya sendiri dan sebaliknya 2. Dalam perkara perselisihan yang berhubungan dengan pelaksanaan putusan ( eksepsi ) 3. Jika dalam pemeriksaan tingkat 1 tidak dimasukkan gugat balasan , maka dalam tingkat banding maupun kasasi tidak boleh mengajukan gugat balasan . 7. Pembatasan waktu mengajukan syarat gugat rekonveksi : Peraturan HIR psl 132 ( b) : harus diajukan bersamasama dengan surat jawaban 1 • Praktek Pengadilan : bahwa sebelum surat pembuktian

maka dia yang berkewajiban membuktian dalilnya . Batasan waktu gugatan rekonveksi : hanya boleh dalam tingkat 1 harus bersama sama dengan gugat asal Hukam Acara Peradilan Agama 1. Mengapa perlu adanya gugat balik . Gugat Rekonvensi . 8. tujuan daripada gugat rekonvensi ini adalah: a) Menggabungkan dua tuntutan yang berhubungan untuk diperiksa dalam persidangan sekaligus. mengenai pokok persoalan yang sama: Karena jangkauan isi putusan hanyalah untuk pihak tergugat pribadi . Gugat rekonvensi diatur dalam pasal 132a dan 132b HIR yang disisipkan dalam HIR dengan Stb. Mempermudah pemeriksaan 3. Menghemat ongkos perkara 2.masih dimungkinkan mengajukan gugat rekonpensi selama belum diadakan pembuktian . Jadi tidak semua gugatan Penggugat dibalas dengan gugat rekonvensi. Tuhuan gugat rekonvensi ini adalah untuk mengimbangi gugatan Penggugat.Bg tentang rekonvensi ini diatur dalam pasal 157 dan 158.hal yang tidak membenarkan untuk mengajukan gugat rekonvensi . 1927-300 yang diambil alih dalam pasal 244-247 B. agar sama-sama dapat diperiksa sekaligus. tersebut apabila dalil tersebut disangkal olehnya.sebab di dalam haper dalilnya “ siapa yang mengemukakan dalil . sedangkan dalam R. gugat rekonvensi tidak boleh dilaksanakan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan hukum perorangan atau yang menyangkut dengan status orang. Mempercepat penyelesaian sengketa 4.Konvensi dan Rekonvensi Rekonvensi adalah gugatan balasan yang diajukan oleh Tergugat asli (penggugat dalam rekonvensi) yang digugat adalah Penggugat asli (Tergugat dalam rekonvensi) dalam sengketa yang sedang berjalan antara mereka. yaitu tidak boleh menarik orang yang tidak bersangkut paut dengan gugatan rekonvensinya 11. • Menurut Yahya adiwinata : hal itu diserahkan kepada hakimnya saja . dalam hukum Acara Perdata. gugat rekonvensi ini dikenal dengan “gugat balik” berhubung Tergugat juga melakukan wanprestasi pada Tergugat. Rv. ada hal.Di samping itu. 10. Keuntungan gugat rekonpensi : 1. . Tergugat baru dapat melakukan gugat rekonvensi apabila secara kebetulan berkaitan dengan hokum kebendaan yang sedang diperiksa dalam sidang Pengadilan. Menghindarkan putusan yang saling bertentangan 9.

c) Menghindarkan putusan yang saling bertentangan satu sama lain. yaitu menyerahkan satu unit mobil Daihatsu Taruna kepada penggugat. PERMOHONAN CERAI TALAK DENGAN REKONVENSI . kemudian tergugat mengajukan rekonvensi supaya penggugat membayar hutangnya yang dijamin dengan mobil tersebut pada pihak ketiga. 2. Jadi dalam gugatan itu ada gugatan yang saling berlawanan yaitu gugatan konvensi (gugat asal) dan gugatan rekonvensi (gugat balik). Gugatan rekonvensi tidak boleh dilakukan dalam hal pelaksanaan putusan hakim. Namun menurut Wiryono Projodikoro. Masalah sengketa utang-piutang bukan kewenangan Pengadilan Agama. sedangkan dalam gugat rekonvensi Penggugatnya adalah Tergugat atau salah seorang dari Tergugat asal yang disebut Penggugat dalam rekonvensi. Kecuali dua bentuk intervensi tersebut dijumpai juga dalam praktik Intervensi Vrijwaring. mau cerai dengan syarat suami membayar hutangnya kepada orang tua isteri tersebut. gugatan rekonvensi ini cukup diajukan bersama-sama dengan jawaban terhadap gugatan Penggugat. yakni: a) Gugatan rekonvensi harus diajukan bersama-sama dengan jawaban pertama oleh Tergugat baik tertulis maupun dengan lisan. Dengan dimungkinkannya pihak Tergugat mengajukan gugat rekonvensi kepada Penggugat. e) Memudahkan acara pembuktian dan menghemat biaya. yaitu: a) Penggugat dalam Kualitas yang Berbeda Rekonvensi tidak boleh diajukan apabila penggugat bertindak dalam suatu kualitas (sebagai kuasa hukum). b) Tidak dapat diajukan dalam tingkat banding. isteri mengajukan rekonvensi. Menurut ketentuan Pasal 132 (a) HIR dan Pasal 157 R. Dalam gugatan konvensi Penggugatnya adalah Penggugat asal.Macam-macam Intervensi dan Dasar Hukumnya Intervensi adalah suatu aksi hukum oleh pihak yang berkepentingan dengan jalan melibatkan diri dalam suatu perkara Perdata yang sedang berlangsung antara dua pihak yang berperkara. seperti suami menceraikan isteri. maka Tergugat tidak perlu mengajukan gugat baru. tergugat dapat mengajukan rekonvensi terhadap penggugat.b) Mempermudah prosedur pemeriksaan. Tidak ada ketentuan tersebut diatur dalam HIR dan RBg.Bg dalam setiap gugatan. Dasar hukum intervensi adalah pasal 279 sampai dengan pasal 282 B. c) Penyusunan gugatan rekonvensi sama dengan gugatan konvensi. Beberapa syarat gugat rekonvensi diajukan di muka persidangan Pengadilan Agama. c)Perkara mengenai Pelaksanaan Putusan. gugatan rekonvensi masih dapat diajukan dalam acara jawab menjawab dan sebelum acara pembuktian. bila dalam tingkat pertama tidak diajukan. b) Pengadilan yang Memeriksa Konvensi tidak Berwenang memeriksa Gugatan rekonvensi gugatan rekonvensi tidak diperbolehkan terhadap perkara yang tidak menjadi wewenang Pengadilan Agama. Seperti hakim memerintahkan tergugat untuk pelaksanaan putusan. dan Tergugatnya adalah Tergugat asal. yaitu Intervensi yang bersifat menengahi (Tussenkomst) dan intervensi yang bersifat menyertai (Voeging). Dalam Reglement Op de Burgerlijke Rechtsvordering (RV) terdapat dua bentuk intervensi.Rv dan pasal 70-76 Rv. Rekonvensi seperti ini harus ditolak. kecuali dalam tiga hal. d) Menetralisir tuntutan konvensi. sedangkan rekonvensinya ditujukan kepada diri pribadi penggugat (pribadi kuasa hukum tersebut).

sesuai dengan kewenangan nya seperti yang tercantum dalam Pasal 49 ( 1 ) UU No 7 Tahun 1989 yang direvisi menjadi UU No 3 Tahun 2006 . termasuk didalam nya adalah perkara Cerai Talak atau lazim disebut permohonan Izin Talak ( dalam praktek ) yang termaktub dalam Pasal 66 UU no 7 Tahun 1989 . harta gono gini / harta bersama disertai permohonan sita jaminan (conservatoir beslag ) dan seterus nya misalnya. dan jika Isteri tidak hadir tanpa alasan yang sah maka Suami dapat mengucapkan Ikrar Talak. 7 Tahun 1989 yang direvisi menjadi U U No 3 Tahun 2006 “ Cerai Talak adalah Permohonan Cerai yang diajukan oleh Suami terhadap Isterinya di wilayah Pengadilan Agama dimana Isterinya menetap dan bertempat tinggal. 7 Tahun1989 . asuhan anak. Namun jika Suami tidak hadir dan tidak mengirimkan wakil nya dalam jangka waktu 6 ( enam ) bulan maka gugurlah kekuatan Penetapan Ikrar Talak dimaksud. sebagai maksud dan perkembangan dari Pasal 86 UU No. Gono Gini / harta bersama dan seterusnya . yang tentunya dalam kaitannya dengan perceraian adalah Rekonpensi tentang Nafkah.Diposkan oleh viee_kristina Perkara Permohonan Cerai talak sesuai dengan ketentuan yang ada dalam Pasal 66 sampai dengan Pasal 72 UU N0. namun kemudian berkembang setelah permohonan / gugatan tersebut diajukan oleh Pemohon dan dijawab oleh Termohon dengan mengajukan gugat balasan / balik ( rekonpensi ) tentang nafkah. Sedangkan Pengertian Rekonvensi adalah sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 132 ayat ( 1 ) HIR .Pasal 157 R B G memberikan pengertian “ Gugatan Rekonvensi adalah gugatan Tergugat sebagai gugatan balasan terhadap gugatan yang diajukan Penggugat kepadanya. PERMASALAHAN Pada dasarnya Pengadilan ( dalam hal ini Pengadilan Agama ) bertugas menerima memutus dan menyelesaikan suatu perkara yang diajukan kepadanya Pasal 63 (1) UU No. Asuhan Anak. Yaitu perceraian yang diajukan oleh Pemohon dalam hal ini adalah Suami sebagai Pemohon sedangkan Isteri sebagai Termohon. dan setelah perkara diperiksa dan tidak bisa di damaikan maka apabila perkara cukup alasan untuk cerai maka di putus dengan mengabulkan permohonan tersebut ( penetapan penyaksian Pengadilan menentukan hari sidang penetapan penyaksian ikrar talak dengan memanggil Para Pihak untuk hadir di persidangan . 1 Tahun 1974.

dengan sederhana . Maka perkara permohonan cerai talak berrupa konpensi dan gono gini menjadi rekonpensi nya akan diperiksa sesuai dengan tahapan yang ada . kemudian pihak Pemohon mengajukan Banding .sebagaimana yang ditulis oleh M. • mempersingkat pemeriksaan perkara. duplik. karena dalam satu proses yang sama dapat dislesaikan seluruh sengketa . dalam buku nya” Kedudukan kewenangan dan acara Peradilan Agama ‘ Bahwa yang dimaksud Gugat rekonpensi adalah gugat yang didalam nya benar benar memuat semacam : • mempunyai “ jalinan hubungan yang erat “ atau innerlijke samenhangen antara gugat konpensi dengan rekonpensi. dan biaya ringan ( Pasal 57 (3) U U No 7 / 1989 ). Maksud dan tujuan adanya penggabungan Konpensi dengan rekonvensi di gabung menjadi satu perkara adalah untuk memenuhi tuntutan penyelesaian. • serta sekaligus menghemat waktu sebab gugat harta bersama tidak perlu lagi diajukan nanti setelah penetapan cerai talak berkekuatan hokum tetap. S H. walaupun dalam perkara perceraian dengan Gono Gini misalnya ada perbedaan antara Hukum orang dan Hukum Benda . karena UU memang memberi pengecualian / eksepsional yang biasa di sebut termasuk dalam azas “ LEX SPESIALIS DEROGRAT LEX GENERALIS “ .Yahya Harahap. • juga memperingan biaya perkara sebab dengan gugat rekonpensi isteri tidak di beban imembayar biaya perkara . setelah pembacaan surat gugatan kemudian jawaban ( yang didalamnya ada permintaan Sita Jaminan yang diajukan oleh Tergugat ( Penggugat Rekonpensi ) dengan mengabulkan.dan setelah diputus ia mengajukan Kasasi misalnya . • sekaligus dapat menyelesaikan seluruh sengketa yang timbul dari akibat gugat cerai talak apabila permohonan cerai talak dikabulkan . namun itu semua di kesampingkan . yang dilaksanakan dalam sidang secara terbuka dan sidang tertutup ( Pasal 59 UU Nomor : 7 / 1989 ) . serta bukti bukti dari Para Pihak maka barulah di bacakan lah putusan dengan menagabulkan cerai talak ( ijin talak ) dan sekaligus mengabulkan gugatan gono gininya misalnya . cepat. namun ternayata setelah putusan Kasasi diberitahukan pada Para pihak dan punya kekuatan hukum tetap . sita tersebut dilanjutkan dengan replik.

Ketiga Pengadilan ( Majlis Hakim ) memutus . Kedua Pengadilan mengabulkan gugatan / Permohonan Konpensinya / Cerai Talak dan menyatakan tidak dapat menerima ( N O ) terhadap gugatan balik / Rekonpensi Termohon ( Rekonpensi tersebut ) misalnya . Maka timbul pertanyaan apakah demikian itu akhir dari putusan Pengadilan Agama yang saat ini menjadi Pengadilan yang baik. Pertama Pengadilan menyarankan pada Pihak Termohon agar tidak mengajukan gugatan Rekonvensi karena sangat beresiko jika Pemohon tidak bersedia mengucapkan Ikrar Talak ( sebagaimana kasus tersebut diatas ) 2. namun hal tersebut kuncinya adalah terserah Pihak Termohon . dipanggillah Para Pihak untuk mengucapkan IKRAR TALAK dan ternyata Pemohon tidak memenuhi panggilan tersebut ( tidak hadir dalam persidangan tanpa alas an yang sah dan tidak mewakilkan ). mengadili perkara Konpensi lebih dahulu . . yang tentunya harus beralasan berdasar bahwa gugatan balik tidak beralasan hak. 3. maka sia sia lah pemeriksaan perkara yang cukup lama bahkan bertahun tahun.( ingkracht ). PENYELESAIA 1. tentu jawaban nya “ tidak demikian itu “ agar supaya Pengadilan Agama tidak dikatakan sebagai Pengadilan Quasi ( Semu) seperti sebelum di undangkan nya uu no 7 / 1989. Dan hal yang demikian ini pernah terjadi / sering dialami pada Pengadilan Agama yang menerima / menyelesaikan perkara carai talak dengan Rekonpensi seperti tersebut diatas. namun tidak menutup kemungkinan ia enggan mengurungkan atau mencabut nya sehingga perkara tetap berjalan antara Konpensi dan . Bahwa dalam solusi yang pertama mungkin dapat dilakukan dengan Penasehatan – Penasehatan dan anjuran pada Termohon untuk mengurungkan gugatan Rekonpensinya ( bila hendak mengajukan ) atau mencabut gugat Rekonpensi nya ( bila mana sudah terlanjur mengajukan ) kemudian ia di sarankan mengajukan gugat tersendiri tentang Gono Gini tersebut misalnya dengan Nomor dan biaya tersendiri pula . kemudian baru memutus perkara Rekonpensi nya ( tentunya putusan tersebut oleh Majlis Hakim yang sama dan Nomor perkara yang sama pula . bila ia bersedia mengurungkan atau mencabut gugatan balik nya tersebut . sempurna dan putusan nya dapat dlaksanakan dengan baik pula ( setelah berkekuatan hukum tetap ) . cukup melelahkan dengan menghabiskan biaya yang banyak tersebut.

Padahal anjuran pencabutan gugat rekonpensi tersebut adalah tidak sesuai dg azas : • Perkara gugat cerai / cerai talak adalah sama persis dengan gugat contentiosa. Bahwa dalam Solusi yang ketiga Pengadilan menyelesaikan lebih dahulu gugatan / Permohonan Konpensi yang berupa Cerai Talak ( mengabulkan / mengijinkan Pemohon untuk mengucapkan Ikrar Talak di depan sidang Pengadilan Agama dan kemudian bila mana sudah berkekuatan hokum tetap Pengadilan memanggil Para Pihak untuk mengucapkan Ikrar Talak Bahwa setelah itu Pengadilan memeriksa gugatan balik / Rekonpensi yang diajukan oleh Termohon Tersebut yaitu tahap pembuktian nya sampai dengan tuntas ( mengucapkan putusan nya ) . namun tetap saja bila Para Pihak khusus nya Termohon tidak bisa menerimanya . sebab saran tersebut tidak mengikat dan pada azas nya Pengadilan tidak bolrh menolak perkara dengan alas an tidak ada hokum nya ( Pasal 56 U U No 7 Tahun 1989 ).Rekonpensi tersebut . Kasasi itupun dengan catatan Amar Putusan Banding ataupun Kasasi belum pasti seperti Amar Putusan tingkat Pertama tersebut dan pada akhirnya dari iyu semua juga sama jika Pemohon tidak mengucapkan Ikrar Talak perkara cerai talak tersebut tetap sia sia. tidak mungkin perkara Konpensi dan . 7 / 1989. Bahwa dalam penyelesaian perkara seperti ini harus diperhatikan pada saat jawab menjawab artinya masalah perceraian memang mereka kehendaki dan setidaknya telah terbuk ti memang ada pertengkaran terus menerus yang sulit didamaikan . yang tentunya bila majlis menilai dalam gugatan tersebut tidak beralasan hak ( tidak bisa direkayasa ) . namun bila perceraian nya Pihak Termohon keberatan . Pasal 70 ayat ( 2 ) UU No. ia akan mengajukan upaya hokum berupa banding . 7 / 1989 • gugat cerai talak dimungkin kan untuk menggabungnya dengan gugat pembagian harta bersama ( Kumulasi Obyektif ). ( Pasal 66 ayat ( 5 ) UU No. Bahwa dalam solusi yang kedua Pengadilan memutus dengan mengabulkan gugatan/ permohonan Konpensi dan menyatakan tidak dapat menerima gugatan rekonpensi nya . Pasal 66 ayat ( 2 ) dan Pasal 67 huruf a UU No 7 / 1989 • Kepada Isteri diberikan hak mengajukan upaya hukum banding.

karena telah Inkrachrt. Dalam ayat ( 3 ) nya berbunyi “ kedua perkara ini diseleseaikan sekaligus dan diputus dalam satu keputusan Hakim kecuali kalau pengadilan negeri berpendapat bahwa perkara yang satu dapat diselesaikan lebih dulu daripada yang lain. tetapi yang jelas tehnis Yustisial tidak boleh dikalahkan oleh adminitrasi seperti penulisan dan seterus nya.. Bahwa Solusi yang ketiga ini di dasarkan pada Pasal 132 b ayat ( 2 ) H I R / Pasal 157 . Kemudian timbul pertanyaan bagaimana jika terjadi banding dan kasasi dalam perkara tersebut maka jawabannya adalah . sedangkan perkara cerai talak nya adalah sebagai lampirannya . Kasasi . perkaraa Rekonpensi tersebut boleh Banding. Semoga makalah singkat ini dapat menambah wawasan kita dan Allah S W T selalu memberi ilmu dan petunjuk serta meridhoi apa yang kita kerjakan. 158 R B G yang berbunyi “ untuk tuntutan balik itu berlaku juga bagian2 dari tuntutan ini . amien . Bahwa solusi yang ketiga inilah menurut Penyaji Makalah yang dapat menyelesaikan permasalahan atau setidak nya memecahkan persoalan yang selama ini menjadi kendala dalam perkara cerai talak yang di rekonpensi sebagaimana tersebut diatas dan pada akhirnya Putusan Rekonprnsi tidak tergantung perkara konpensi / cerai talak ( ikrar talak nya Pemohon ) karena mereka telah menyelesaikan perkara perceraian nya sampai berkekuatan hokum tetap kemudian dil. Demikian antara lain sumbangan pikiran tentang pemecahan dan penyelesaian perkara cerai talak dengan Rekonpensi yang selama ini menjadi problematika pada Pengadilan Agama.anjutkan dengan pemeriksaan perkara Rekonpensinya sampai tuntas selesai.Rekonpensi di putus sendiri sendiri ( perkara Konpensi diputus lebih dahulu kemudian setelah Ingkrancht perkara Rekonpensi diperiksa dan diputus pula dalam satu Nomor. maksudnya putusan Cerai talak yang sudah berkekuatan hokum tetap tersebut disertakan sebatas sebagai lampiran Adapun tentang lain lain ( bagaimana penulisannya dalam Buku Regester pola bin dal min dan seterusnya ) hal itu bisa ditulis / di tambahkan . dalam hal ini kedua perkara itu boleh diperiksa satu persatu tetapi. tuntutan asal dan tuntutan balik yang belum diputus kan itu tetap diperiksa oleh hakim yang sama sampai dijatuhkan keputusan yang terakhir ( R V 246 ) .

Penyusunan gugatan rekonvensi sama dengan gugatan konvensi. Menghemat biaya. mas kawin dan pemeliharaan anak. kemudian pihak istri selaku termohon menuntut kepada pihak suami sebagai pemohon asal perihal nafkah wajib. Kedua pasal tersebut memberi kemungkinan bagi tergugat atau para tergugat untuk mengajukan gugatan balik kepada penggugat. 132 (a) dan Pasal 132 (b) HIR. Mempermudah prosedur. 3. Tidak dapat diajukan dalam tingkat banding. bila dalam tingkat pertama tidak diajukan. mut’ah. kiswah. pemeliharaan anal dan lain-lain. jika suami selaku pemohon. Bertujuan menggabungkan dua tuntutan yang berhubungan. Menurut ketentuan pasal 132 (a) HIR dan pasal 157 R. 5. artinya belumsampai pada pendengaran keterangan saksi. Gugatan rekonvensi hendaknya berkaitan dengan hal-hal yang berhubungan dengan hukum kebendaan. namun menurut Wiryono Projodikoro. Gugat balasan diajukan bersama=sama dengan jawaban. maka pihak suami sebagai tergugat mengajukan gugat balik (rekonvensi) tentang harta bersama.Gugat Balik / rekonvensi lanjutan : eksepsi Gugat balik atau gugat dalam rekonvensi diatur dalam Pasal.239. 6.240. 2. lepas dari gugat asal.Bg dalam setiap gugatan. Yng disebut dengan gugat rekonvensi adalah gugatan balasan yang diajukan oleh tergugat asli (penggugat dalam rekonvensi) yang digugat adalah penggugat asli (tergugat dalam rekonvensi) dalam sengketa yang sedang berjalan antara mereka. Penggugat rekonvensi dapat juga menempuh jalan lain yakni dengan mengajukan gugatan baru dan tersendiri. Sedang tujuan diperbolehkan mengajukan gugatan balasan atas gugatan penggugat adalah: 1. yakni : 1. gugatan rekonvensi masih dapat diajukan dalam acara jawab menjawabdan sebelum acara pembuktian. 3. Acara pembuktian dapat disederhanakan. dalam praktik gugat balasan dapat diajukan selama belum dimulai dengan pemeriksaan bukti. Baik gugat asal (konvensi) maupun gugatan balik (rekonvensi) pada umumnya diselesaikan secara sekaligus dengan satu putusan. yakni pertimbangan hukum dalam konvensi dan pertimbangan hukum dalam rekonvensi. Gugatan rekonvensi harus diajukan bersama-sama dengan jawaban pertamaoleh tergugat baik tertulis maupun dengan lisan. Menetralisir tuntutan konvensi. tergugat . bukan yang berhubungan dengan hukum perorangan atau berkaitan dengan status seseorang. dan pertimbangan hukumnya memuat dua hal. Menghindarkan putusan-putusan yang saling bertentangan antara satu dengan yang lainnya. 2.237 Sebagai contoh dalam praktek sidang peradilan agama.238 Beberapa syarat gugat rekonvensi diajukan dimuka persidangan pengadilan agama. 4. Begitu juga bila istri mengajukan gugatan cerai terhadap suaminya baik dengan jalan pelanggaran ta’lik talak (Sighot ta’lik talak) maupun syiqoq. baik itu berupa jawaban lisanatau tertulis.

Pencabutan dan Mengubah surat Gugatan. seperti suami menceraikan istri. dengan demikian hakim ada keleluasaan untuk menentukan sampai dimana penambahan atau pengurangan surat gugatan itu akan akan diperbolehkan. dengan selalu memperhatikan kepentingan kedua belah pihak. dalam hal permohonan agar gugatan ditambah dengan petitum dimaksudkan agar putusan dapat dilaksanakan terlebih dahulu (uitvoer bij voorraad). Perihal mengubah bias berarti menambah. bahkan bias jadi berubah sikap untuk mencabut surat gugatan. istri mengajukan rekonvensi . Contoh perubahan gugatan. Disamping itu perubahan atau penambahan yang dilakukan penggugat tidak bertentangan dengan asas-asas hukum acara perdata. yaitu menyerahkan satu unit mobil Daihatsu Taruna kepada penggugat. terutama kepentingan pihak tergugat sebagai pihak yang digugat. Rekonvensi tidak boleh diajukan apabila penggugat bertindak dalam suatu kualitas (sebagai kuasa hukum). Seperti hakim memerintahkan tergugat untuk melaksanakan putusan. Pengadilan yang memeriksa konvensi tidak berwenang memeriksa gugatan rekonvensi. Sebagai contoh dalam permohonan cerai talak. Secara tegas tidak diatur dalam HIR atau R. A. Sebagai contoh penembahan gugatan . maka hal ini akan menguntungkan bagi termohon untuk . Gugatan rekonvensi tidak diperbolehkan terhadap perkara yang tidak menjadi wewenang Pengadilan Agama. mau cerai dengan syarat suami membayar hutangnya kepada orang tua istri tersebut. mengurangi. Masalah sengketa hutang piutang bukan kewenangan pengadilan agama. apabila pihak tergugat menyatakan kewberatan. Gugatan rekonvensi tidak boleh dilakukan dalam hal pelaksanaan putusan hakim. rekonvensi seperti ini harus dittolak. kemudian mohon diubah sehingga dasar gugatan perceraian menjadi keretakan rumah tangga yang tidak dapat diperbaki (Onheel bare tweespact). 1. hal itu harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari tergugat.Bg. Perubahan gugatan tidak diperbolehkan apabila berdasar atas keadaan hukum yang sama dimohon pelaksanaan suatu hak yang lain atau apabila penggugat mengemukakan keadaan baru sehingga dengan demikian mohon putusan hakim tentang suatu hubungan hukum antara kedua belah pihak yang lain dari pada yang semula telah dikemukakan. Perkara mengenai pelaksanaan putusan. disamping tidak mengubahatau menyimpang dari fakta materiil walaupun tidak ada tuntutan subsider.dapat mengajukan rekonvensi terhadap penggugat. yaitu: 241. kecuali dalam tiga hal. bagi tergugat berhak membela diri. semula gugatan perceraian adalah karena perzinahan. dengan harapan tidak dirugikan dengan adanya perubahan atau penambahan dalam gugatan tersebut. maka permohonan mengenai perubahan tau penambahan atau pengurangan gugatan tersebut harus ditolak. 3. kemudian tergugat mengajukan rekonvensi supaya penggugat membayar hutangnya yang dijamin dengan mobil tersebut kepada pihak ketiga. Perihal penembahan atau pengurangan atau perubahan gugatan yang dimohon oleh pihak penggugatsetelah tergugat menyampaikan jawaban. sedangkan rekonvensinya ditujukan kepada diri sendiri pribadi penggugat (pribadi kuasa hukum tersebut). Penggugat dalam kualitas berbeda. bila pemohon melakukan perubahan atau tidak jadimenjatuhkan talak. 2.

maka hal tersebut akan merugikan termohon. pihak ketiga tersebut disebut intervenent. Dalam Reglement op de burgerlijke rechtsvordering (RV) terdapat dua bentuk intervensi. tetapi apabila termohon ternyata menginginkan untuk dicerai. dengan catatan tidak sampai pada mengubah atau menambah (“onderwerp van geschil”) petitum atau pokok tuntutan. Dan perubahan gugatan tidak dibenarkan apabila pemeriksaan perkara sudah hamper selesai. hal itu diatur dalam RV pasal 279 sampai dengan pasal 282. Apabila gugatan dicabut sebelum perkara diperiksa maka dianggap seperti belum pernah diajukan. Hakim secara bijaksana harus menawarkan bahkan menyarankan kepada penggugat apabila terdapat hal-hal dalam suratgugatan untuk diubah. Apabila intervensi dikabulkan maka perdebatan menjadi perdebatan segi tiga. Tussenkomst (menengahi) Yang disebut dengan menengahi (tussenkomst) adalah aksi hukum pihak ketiga dalam perkara perdata yang sedang berlangsung dan membela kepentingannya sendiri untuk melawan kedua pihak yang sedang berperkara. Akan tetapi bila gugatannya dicabut setelah perkara sudah mulai diperiksa dan tergugat tidak menyetujui pencabutan ini. ditambah atau dikurangi. a. apabila hal tersebut sangat diperlukan untuk mempercepat penyelesaian perkara. namun dalam praktek gugatan dapat saja dicabut oleh penggugat secara sepihak dengan catatan apabila perkara belum diperiksa. pengabulan atau penolakan tersebut . Dalam arti lain perubahan gugatan dapat dikabulkan asal tidak melampaui batas-batas materi pokok pertama yang dapat dikabulkan kerugian pada hak-hak pembelaan tergugat. pada saat mana dalil-dalil tangkisan sudah disampaikan. Artinya si istri harus mengajukan gugatan cerai kepada pengadilan. Berkaitan dengan pencabutan gugatan atau permohonan oleh penggugat adalah tidak diatur dalah HIR atau R. Pembahasan mengenai intervensi adalah tidak diatur dalam HIR dan RBg. dan juga dalam Undang-undang Nomor 3 tahun 2006 tentang perubahan atas Undang-undang nomor 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama . Intervensi dalam bentuk tussenkomst bias terkabulkan dan bias juga ditolak. B.Bg.bersatu kembali. maka pihak ketiga ini melawan kepentingan penggugat dan tergugat yang sedang berperkara. maka hakim akan memberikan keputusannya terhadap perkara itu berupa penetapan. yaitu intervensi yang bersifat menengahi (tussenkomst) dan intervensi yang bersifat menyertai (voeging). Mengubah gugatan diperbolehkan sepanjang masih dalam tahap pemeriksaan perkara. namundemikian pasal dalam RV tersebut berlaku juga dalam proses persidangan di Pengadilan Agama. Dengan keterlibatannya pihak ketiga sebagai pihak yang berdiri sendiri dan membela kepentingannya. Kecuali dua bentuk intervensi tersebut dijumpai juga dalam praktek intervensi vrijwaring. Yang dimaksud dengan intervensi adalah suatu aksi hukum oleh pihak yang berkepentingan dengan jalan melibatkan diri dalam suatu perkara perdata yang sedang berlangsung antara kedua pihak yang berperkara. apabila perkara sudah diperiksa dan tergugat sudah memberikan jawaban atas gugatan itu maka pencabutan perkara tersebut haruys mendapat persetujuan dari pihak tergugat. cepat dan biaya ringan. sehingga termohon harus mengajukan gugatan sendiri. Sehubungan dengan asas kedudukan majlis hakim memimpin persidangan adalah aktif dan dibebani fungsi memberi bantuan dalam hal-hal yang bertujuan memperlancar perkara dan tercapainya peradilan yang sederhana. Intervensi.

Mengenai prosedur acaranya adalah pihak ketiga yang berkepentingan mengajukan gugatan kepada Ketua Pengadilan Agama dengan melawan pihak yang sedang bersengketa (Penggugat dan tergugat) dengan menunjuk nomor dan tanggal perkara yang dilawan tersebut. Yang dilakukan oleh Ketua Pengadilan Agama adalah mendisposisikan kepada majlis hakim yang menangani perkara itu. Suarat gugatan disusun seperti gugatan biasa dengan memuat identitas. b. Kepentingan tersebut harus ada hubungannya dengan pokok perkara yang sedang berlangsung. Mencegah timbulnya putusan yang saling bertentangan. Proses berperkara dipersingkat. Yang disebut dengan voeging yaitu suatu aksi hukum oleh pihak yang berkepentingandengan jalan memasuki perkara perdata yang sedang berlangsung antara penggugat dan tergugat untuk bersama-sama tergugat untuk menghadapi penggugat. Keuntungan tussenkomst: Prosedur beracara dipermudah dan disederhanakan. Kepentingan mana untuk mencegah kerugian atau mempertahankan hak puihak ketiga. atau kehilangan haknya yang mungkin terancam. dalam hal ini putusan insidentil. . dengan membayar biaya tambahan panjar perkara tetapi tidak diberi nomor perkara baru melainkan memakai nomor perkara yang dilawan tersebut dan dicatat dalam regester. Melawan kepentingan kedua belah pihak yang berperkara. Ciri-ciri tussenkomst: Sebagai pihak ketiga yang berkepentingan dan berdiri sendiri. Apabila dikabulkan maka intervenient ditarik sebagai pihak dalam sengketa yang sedang berlangsung. posita dan potitum. Dikabulkannya intervensi tusskomst. Adanya kepentingan hukum dalam sengketa yang sedang berlangsung.dalam bentuk putusan sela. nomor dan kolom yang sama. apakah penggugat atau tergugat yang menang atau ataukah intervenent yang menang. Dengan memasukkan tuntutan terhadap pihak-pihak yang berperkara (Penggabungan tuntutan). yang pasti adalah bahwa salah satu dari kedua gugatan itu yang dikabulkan atau mungkin juga kedua-duanya ditolak. Syarat-syarat mengajukan tussenkomst adalah : Merupakan tuntutan hak. Adanya kepentingan untuk mencegah timbulnya kerugian. Kemudian ketua majlis mempelajari gugatan intervensi tersebut dan membuat “penetapan” yang isinya memerintahkan kepada juru sita agar pihak ketiga tersebut dipanggil dalam sidang yang akan dating untuk pemeriksaan gugatan intervensi tersebut bersama pihak lawan. Perbedaannya dengan tussenkomst adalah keberpihakannya ditujukan langsung kepada pihak tergugat. Voeging (menengahi). putusannya dijatuhkan sekaligus dalam satu putusan. Terjadi penggabungan tuntutan. Terhadap intervensi tersebut hakim akan menjatuhkan putusan “sela” untuk mengabulkan atau menolak intervensi tersebut. Surat gugatan tersebut diserahkan ke meja I yang selanjutnya diproses seperti gugatan biasa .

Merupakan tuntutan hak 2. Salah satu pihak yang bersengketa menarik pihak ketiga didalam sengketa. dengan isi penetapan menolak atau menerima pihak ketiga untuk turut campur dalam sengketa tersebut.Ciri-ciri voeging: Sebagai pihak yang berkepentingan dan berpihak kepada salah satu pihak dari penggugat atau tergugat. apabila dikabulkan maka permohonan ditarik sebagai pihak dalam sengketa yang sedang berlangsung. Tujuan salah satu pihak (tergugat) menarik pihak ketiga adalah agar pihak ketiga yang ditarik dalam sengketa yang sedang berlangsung akan membebaskan pihak yang memanggilnya (tergugat) dari kemungkinan akibat putusan tentang pokok perkara.Majlis hakim dengan penetapan yang dimuat dalam berita acara persidangan memerintahkan memanggil pihak ketiga tersebut dalam persidangan yang akan datanguntuk pemeriksaan vrijwaring bersama-sama penggugat dan tergugat . terjadinya penggabunga tuntutan Mencegah timbulnya putusan yang saling bertentangan. Kepentingan tersebut haruslah ada hubungannya dengan pokok perkara yang sedang berlangsung. kemudian majlis hakim memberikan penetapan . Keuntungan voeging adalah : Prosedur beracara dipermudah dan disederhanakan. Vrijwaring (penarikan) Vrijwaring atau penarikan pihak ketiga dalamperkara adalah suatu aksi hukum yang dilakukan oleh tergugat untuk menarik pihak ketiga dalam perkara guna menjamin kepentingan tergugat menghadapi gugatan penggugat. yaitu penggugat dan tergugat untuk bersama-sama salah satu pihak menghadapi pihak lain guna kepentingan hukumnya. Proses berperkara dipersingkat. Permohonan dibuat seperti gugatan biasa dengan menunjuk nomor dan tanggal perkara yang akan diikutinya itu. Adanya kepentingan hukum untuk melindungi dirinya dengan jalan berpihak kepada tergugat. Memasukkan tuntutan terhadap pihak-pihak yang berperkara. Prosedur acaranya adalah pihak ketiga yang berkepentingan mengajukan permohonan kepada Ketua Pengadilan Agama dengan mencampuri yang sedang bersengketa. kemudian ketua Pengadilan Agama menyerahkan berkas tuntutan itu lewat panitera kepada majlis hakim yang menangani perkara itu. Keikut sertaan pihak ketiga timbul karena dipaksa dan bukan karena kehendaknya. 3. A. Syarat-syarat untuk mengajukan voeging adalah : 1. Adanya kepentingan hukum untuk melindungi dirinya sendiri dengan jalan membela salah satu yang bersengketa. . Prosedur Vrijwaring tergugat dalam jawabannya atau dupliknya memohon kepada majlis hakim yang memeriksa perkaranya agar pihak ketiga yang dimaksudkan oleh tergugat sebagai penjamin ditarik masuk kedalam proses perkara untuk menjamin tergugat. Adapun cirri-ciri Vrijwaring adalah :255 Merupakan penggabungan tuntutan. Permohonan voeging dimasukkan pada meja pertama dan diproses oleh kasir dan meja II sampai pada ketua.

. yaitu apabila pihak penggugat atau pihak tergugat adalah mereka yang secara nyata telah bersengketa yang diajukan dimuka persidangan dan dalam penggabungan gugatan itu memang sudah diatur dalam undang-undang.Dari hasil pemeriksaan itu hakim menjatuhkan “putusan sela” untuk menolak atau mengabulkan permohonan vrijwaring tersebut. sebagai contoh gugatan perceraian. bahwa dalam hal gugatan mengenai warisan. hal ini dimaksudkan untuk memudahkan proses berperkara dan tidak berseberangan dengan prinsip-prinsip keadilan. C. Pengertian obyective comulatie (penggabungan obyektif) adalah apabila pihak penggugat mengajukan beberapa obyek gugatan dalam satu perkara sekaligus. Komulasi gugatan kemungkinan terjadi dalam 3 (tiga) bentuk yakni : 1. Apabila dikabulkan maka pihak pihak ketiga ditarik masuk dalam proses perkara tersebut. Objective comulatie (Penggabungan obyektif). Beberapa hal tidak diperbolehkan dalam komulasi obyektif yaitu : Penggabungan antara gugatan yang diperiksa dengan acara khusus seperti perceraian digabung dengan perkara perdata biasa (misalkan mengenai pelaksanaan perjanjian) Penggabungan anatara dua atau lebih tuntutan yang salah satu diantaranya pengadilan tidak berwenang secara absolut untuk memeriksanya. bahwa yang disebut dengan gugatan adalah diajukan oleh seorang. apabila suatu warisan diperebutkan oleh beberapa ahli waris. karena ia merasa haknya dilanggar. penggabungan dan komulasi gugatan diatur dalam pasal 134 dan 135 RV. maka perkara yang baru itu akan diserahkan kepada majlis hakim yang memeriksa perkara yang pertama untuk digabungkan. bahkan hal ini sudah menjadi yurisprodensi Mahkamah Agung. seperti pembagian harta bersama. Meskipun penggabungan obyektif gugatan secara khusus tidak ditemukan dalam Undang-undang. Komulasi Gugatan. apabila permohonan dikabulkan . penggabungan gugatan yang diperkenankan sepanjang masih dalam batas-batas tertentu. Komulasi gugatan tidak diatur dalam HIR atau BW. maka hal tersebut adalah diperbolehkan karena yang menjadi persengketaan pada hakekatnya adalah satu persoalan tentang kewarisan. sedangkan apabila diajukan oleh pihak tergugat. maka hal itu harus diajukan bersama-sama dengan jawaban pertama. namun penggabungan obyektif seperti ini diperbolehkan dalam praktik acara peradilan Agama selama permasalahannya terkait erat dengan perkara pokoknya. Permohonan penggabungan gugatan itu apabila diajukan oleh penggugat harus diajukan dalam surat gugatan kedua atau gugatan yang berikutnya. Contoh lain dalam hal gugatan hak waris. nafkah anak. Dalam bahasa Belanda disebut dengan voeging van zaken. penggugat harus menggugat semua ahli waris sebagai pihak dalam perkara waris tersebut. Jadi dalam hal ini ada kepentingan dari yang bersangkutan sehubungan dengan pe3ngajuan gugatan tersebut. Komulasi yang tidak ada hubungannya sama sekali adalah tidak benar. Pada umumnya gugatan harus berdiri sendiri . nafkah istri dan penguasaan anak. yaitu adanya suatu fakta hukum yang menjadi dasar gugatan. untuk menggabungkan perkara tersebut dijatuhkan dengan putusan sela yang disebut dengan putusan insidentil. didalamnya terdapat masalah lain yang melekat pada gugatan perceraian tersebut.

Komulasi obyektif dalam praktik di Pengadilan Agama kemungkinan terjadi dalam perkara perceraian yang digabungkan dengan tuntutan nafkah madhiyah. . maka tuntutan yang lain dengan sendirinya terpenuhi juga.261 3. Hal ini dimungkinkan karena masih terkait dengan kewenangan absolut Pengadilan Agama. Subyective Comulatie (penggabungan subyektif). dengan catatan tuntutan penggugat tersebut harus ada hubungan erat satu sama lain. Bentuk penggabungan subyektif bias terjadi apabila penggugat lebih dari satu orang melawantergugat yang lebih dari satu orang juga. dan nafkah iddah. Contoh permonan pemohon dalam hal terlaksanya pernikahan yang terhambat karena masalah wali adhal. pemeliharaan anak . Hal ini diperbolehkan menurut hukumacara perdata. maka ketiga hal tersebitdapat digabung menjadi satu.Penggabaungan antara tuntutan mengenai bezit dengan tuntutan mengenai eigendom. dispensasi nikah. Dimana apabila satu tuntutan sudah terpenuhi. nafkah anak. Concursus (kebersamaan) Komulasi kebersamaan yang dimaksud adalah apabila seseorang penggugat mempunyai beberapa tuntutan yang meneju pada suatu akibat hukum saja. 2. Ketiga hal tersebut hamper serupa dalam persoalannya dan memiliki tujuan yang sama pula yakni terlaksanya pernikahan.260. dan ijin kawin. sehingga apabila ijin kawin dikabulkan maka dengan sendirinya kedua hal yang lain tersebut mengikutinya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful