P. 1
penerapan pemecahan masalah solso

penerapan pemecahan masalah solso

|Views: 1,016|Likes:
Published by Sand Bae
buat semua rekan yang mau di wisuda
buat semua rekan yang mau di wisuda

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Sand Bae on Oct 13, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/03/2015

pdf

text

original

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan landasan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, karena matematika dapat mengembangkan kemampuan berfikir kritis, logis, sistematis, kreatif dan analisis, sehingga mampu menghadapi perkembangan IPTEK yang semakin pesat. Cara berfikir seperti ini dikembangkan melalui belajar matematika, karena memiliki struktur dan keterkaitan yang kuat antara konsepnya sehingga memungkinkan siswa terampil berfikir rasional. Sesuai dengan pendapat Erman (2004:58) bahwa : Tujuan umum diberikannya matematika pada jenjang pendidikan dasar dan menengah meliputi dua hal yaitu : 1. Mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan didalam kehidupan dan dunia yang selalu berkembang, melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, jujur, efektif dan efisien. 2. Mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari berbagai ilmu pendidikan. Mengingat begitu pentingnya peranan matematika dalam kehidupan, maka berbagai pihak yang terkait dalam dunia pendidikan khususnya bidang matematika selalu mengusahakan agar pelajaran matematika di setiap jenjang pendidikan selalu baik dan berkualitas. Berbagai usaha telah dilakukan untuk mewujudkan hal itu yaitu mulai dari pengembangan dan penyempurnaan kurikulum, melengkapi sarana dan prasarana pendidikan, meningkatkan kualitas guru melalui penataran-penataran dan seminar-seminar serta penyediaan buku 1

2

pegangan untuk siswa dan guru. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan namun hasil belajar matematika siswa belum memuaskan dengan kata lain hasil belajar matematika masih rendah, seperti yang terjadi di SMAN 1 Lintau Buo. Rendahnya hasil belajar matematika siswa di SMAN 1 Lintau Buo dapat dilihat dari rata-rata hasil kuis siswa kelas X SMAN 1 Lintau Buo tahun pelajaran 2010-2011 seperti yang terlihat pada tabel berikut : Tabel 1. Rata-rata dan Persentase Ketuntasan Nilai Kuis Siswa Kelas X SMAN 1 Lintau Buo Tahun Pelajaran 2010-2011 Jumlah Siswa Tuntas Persentase (%) X1 54,28 17 48,57 X2 50,71 13 37,14 X3 55,40 20 54,05 X4 52,89 15 39,47 X5 58,24 21 56,75 X6 54,72 21 58,33 X7 61,38 23 65,71 X8 58,33 19 57,57 Sumber : Guru matematika SMAN 1 Lintau Buo Kelas Rata-rata Jumlah Tidak Tuntas Jumlah Persentase (%) 18 51,43 22 62,86 17 45,95 23 60,53 16 43,25 15 41,67 12 34,29 14 42,43

Data pada tabel di atas memperlihatkan bahwa rata-rata hasil belajar matematika siswa masih dibawah KKM matematika yang ditetapkan di sekolah yaitu 60. Selain itu dapat dilihat dari tabel secara keseluruhan nilai rata-rata siswa yang tuntas lebih sedikit dari pada yang tidak tuntas. Berdasarkan observasi dan wawancara peneliti dengan guru SMAN 1 Lintau Buo pada tanggal 13 Januari 2010, ada beberapa faktor yang

menyebabkan rendahnya hasil belajar matematika siswa. Diantaranya karena pembelajaran yang dilaksanakan guru bersifat monoton, dimana guru yang banyak berperan dalam belajar sedangkan siswa kurang aktif atau cendrung pasif,

3

sehingga aktifitas siswa hanya mencatat dan mendengarkan saja. Jarang siswa yang mau bertanya atau berdiskusi sehingga siswa kurang bisa menyelesaikan masalah-masalah yang diberikan guru. Dengan demikian siswa kurang bisa berfikir kritis, logis, sistematis, kreatif dan analisis. Menurut guru matematika di SMAN 1 Lintau Buo, mereka mencoba mengatasi permasalahan di atas, yaitu dengan menerapkan beberapa metode dalam pembelajaran matematika seperti menerapkan model pembelajaran kooperatif yang banyak melibatkan siswa dalam belajar. Namun hasil belajar matematika siswa belum juga maksimal. Menurut pengamatan penulis dalam pembelajaran kooperatif yang diterapkan, guru kurang membimbing siswa dalam menyelesaikan masalah. Siswa dibiarkan saja bekerja dengan kelompoknya masing-masing sehingga kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah sangat rendah. Berpangkal tolak pada permasalahan di atas, maka penulis mencoba mengatasinya dengan melaksanakan suatu strategi pembelajaran yang dapat mengajak siswa untuk mampu berfikir lebih kritis dan menjadi lebih aktif dalam pelaksanaan proses pembelajaran serta mampu dalam memecahkan masalah pembelajaran yang dihadapinya. Salah satu strategi yang dapat dilaksanakan untuk mewujudkan hal di atas agar siswa mampu dalam memecahkan masalah sehingga siswa dapat berfikir kritis, logis, sistematis, kreatif dan analisis adalah Strategi Pemecahan Masalah Solso. Pemecahan masalah merupakan strategi pembelajaran yang efektif yang akan mendorong peserta didik terlibat dalam proses pembelajaran. Anak yang

4

terbiasa memecahkan masalah berarti mereka sudah terbiasa berfikir tingkat tinggi. Untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam pemecahan masalah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT). Model pembelajaran NHT ini lebih banyak melibatkan siswa dalam belajar. NHT merupakan model diskusi kelompok yang lebih banyak menuntut keaktifan siswa dan setiap siswa harus dapat menjawab pertanyaan yang diberikan guru, karena setiap anggota kelompok harus menguasai jawaban dari pertanyaan yang diberikan. Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul : ³Penerapan Strategi Pemecahan Masalah Solso dalam Model Numbered Head Together (NHT) pada Pembelajaran Matematika Siswa Kelas X SMAN 1 Lintau Buo Tahun Pelajaran 20102011´

B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah : 1. 2. 3. Hasil belajar matematika siswa rendah Proses pembelajaran matematika siswa berlangsung monoton Siswa kurang aktif dan kurang berfikir kritis, logis, sistematis, kreatif dan analisis 4. Kemampuan siswa dalam memecahkan masalah masih rendah

5

C. Pembatasan Masalah Mengingat keterbatasan waktu, tenaga, dana, kemampuan penulis dan agar penelitian ini lebih terarah maka peneliti membatasi masalah yang akan diteliti pada hasil belajar matematika siswa yang rendah dan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah yang masih rendah. Hal ini diperkirakan dapat diatasi dengan menerapkan strategi Pemecahan Masalah Solso dalam Model Numbered Head Together (NHT).

D. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah yang dikemukakan di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : ³Apakah hasil belajar matematika siswa dengan menerapkan Strategi Pemecahan Masalah Solso dalam Model Numbered Head Together (NHT) lebih baik dari hasil belajar matematika dengan menggunakan metode konvensional pada kelas X SMAN 1 Lintau Buo ?´

E. Asumsi Asumsi dalam penelitian ini adalah : 1. Setiap siswa punya kesempatan yang sama untuk belajar matematika di sekolah 2. Materi yang diberikan sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 3. Guru dapat menerapkan Strategi Pemecahan Masalah Solso dalam Model Numbered Head Together (NHT) pada pembelajaran matematika

6

4. Hasil tes yang diberikan pada akhir penelitian merupakan gambaran tentang hasil belajar siswa

F. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah hasil belajar siswa dengan menerapkan Strategi Pemecahan Masalah Solso dalam Model Numbered Head Together (NHT) lebih baik dari hasil belajar siswa dengan menggunakan metode pembelajaran konvensional pada siswa kelas X SMAN 1 Lintau Buo.

G. Kegunaan Penelitian Selesainya penelitian ini, diharapkan dapat menjadi kontribusi positif untuk dimanfaatkan sebagai berikut : 1. Bagi peneliti sebagai bekal calon guru yang nantinya bisa diterapkan di sekolah 2. Bagi guru matematika SMAN 1 Lintau Buo, diharapkan menjadi salah satu alternatif dalam merencanakan dan mengembangkan model pembelajaran untuk mengatasi kesulitan siswa dalam mengajar matematika 3. Bagi sekolah dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa di SMAN 1 Lintau Buo 4. Memberi kesempatan dan pengalaman belajar yang baru kepada siswa sehingga motivasi dan hasil belajar siswa meningkat

7

BAB II KERANGKA TEORITIS

A. Kajian Teori 1. Proses Belajar dan Pembelajaran matematika Proses belajar dan pembelajaran merupakan dua kegiatan yang terjadi sekaligus. Belajar merupakan proses perubahan pengetahuan, sikap dan tingkah laku seperti dijelaskan oleh Abu (2002:279) bahwa : ³Belajar adalah suatu pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dengan cara-cara bertingkah laku berkat pengalaman dan latihan´. Demikian pula Slameto (2003:2) mengungkapkan : Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Sumadi (2001:230) juga berpendapat bahwa : a. Belajar itu membawa perubahan (dalam arti behavioral change, actual maupun potensial) b. Perubahan itu pada pokoknya adalah didapatnya kecakapan baru c. Perubahan itu terjadi karena usaha dan sengaja Berdasarkan kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa belajar

merupakan suatu proses yang terjadi pada diri seseorang, sehingga setelah melalui proses tersebut terjadi perubahan pada dirinya. Guru dalam belajar matematika perlu melakukan suatu proses yang disebut pembelajaran. Pembelajaran merupakan suatu prosedur penciptaan kondisi belajar yang memungkinkan proses belajar mengajar berlangsung

7

8

dengan mudah dan sistematik untuk mendapatkan hasil belajar yang lebih baik. Erman (2004:7) menegaskan ³Pembelajaran merupakan upaya penataan lingkungan yang memberikan nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal´. Hubungan dengan matematika seperti dikemukakan Nikson dalam Muliyardi (2002:3) bahwa : Pembelajaran matematika adalah upaya untuk membantu siswa untuk mengkonstruksi konsep-konsep/prinsip-prinsip matematika dengan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi sebagai konsep dan prinsip itu terbangun kembali

Dalam pembelajaran siswa yang lebih banyak mengkonstruksi pengetahuan bagi dirinya sendiri dan bukan hanya transformasi dari guru. Untuk itu dalam pembelajaran matematika guru dituntut untuk bisa memilih dan menggunakan strategi, model, metode, teknik dan

pendekatan yang banyak melibatkan siswa dalam belajar. Salah satu strategi yang dapat membuat peserta didik berfikir kritis, logis, sistematis, kreatif dan analisis adalah dengan menerapkan strategi Pemecahan Masalah Solso. Salah satu model pembelajaran yang banyak melibatkan siswa dalam belajar adalah Numbered Head Together (NHT).

2. Pembentukan Kelompok pada Strategi Pemecahan Masalah Solso dalam Model NHT Pembentukan kelompok secara heterogen adalah salah satu cara pembentukan kelompok dalam pembelajaran kooperatif. Pembentukan kelompok secara heterogen dapat dilakukan dengan memperhatikan

9

keanekaragaman jenis kelamin, latar belakang sosial ekonomi, suku dan kemampuan akademik. Pembentukan kelompok pada penelitian ini diprioritaskan pada kemampuan akademik. Dalam hal kemampuan akademik, setiap kelompok terdiri dari siswa dengan kemampuan akademik rendah, sedang dan tinggi. Pengelompokan secara heterogen mempunyai beberapa keunggulan. Adapun keunggulan tersebut menurut Anita (2002: 42) adalah: 1. Memberikan kesempatan saling mengajar dan mendukung. 2. Meningkatkan relasi dan interaksi antar ras, etnik dan gender. 3. Memudahkan pengelolaan kelas karena adanya satu orang dengan kemampuan akademis tinggi, guru mendapat satu asisten untuk tiap tiga orang. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa

pengelompokan secara heterogen bermanfaat bagi proses pembelajaran terutama dalam hal meningkatkan hubungan dan kemampuan akademik setiap anggota kelompoknya. Hal ini dikarenakan setiap anggota kelompok berusaha mengembangkan hubungan yang baik dengan teman

sekelompoknya dan saling membantu untuk mencapai tujuan belajar yang sama. Selain itu, pengelolaan kelas menjadi semakin mudah di mana guru telah mendapat asisten untuk masing-masing kelompok. Berikut ini disajikan langkah-langkah pembentukan kelompok berdasarkan kemampuan akademik menurut Anita (2002: 41) adalah sebagai berikut :

10

Tabel 3.

Prosedur Pengelompokan Kemampuan Akademis.

Heterogenitas

Berdasarkan

Langkah I Langkah II Mengurutkan Membentuk siswa berdasarkan pertama kemampuan akademis 1. Ani 1. Ani 2. David 2. David 3. 3. 4. 4. 5. 5. 6. 6. 7. 7. 8. 8. 9. 9. 10. 10. 11. Yusuf 11. Yusuf 12. Citra 12. Citra 13. Rini 13. Rini 14. Basuki 14. Basuki 15. 15. 16. 16. 17. 17. 18. 18. 19. 19. 20. 20. 21. 21. 22. 22. 23. 23. 24. Slamet 24. Slamet 25. Dian 25. Dian Sumber : Anita (2002:41) Berdasarkan tingkat kemampuan

Langkah III kelompok Membentuk selanjutnya

kelompok

Citra Ani

Dian

Rini

1. Ani 2. David 3. 4. 5. Yusuf David 6. 7. 8. 9. 10. Slamet Basuki 11. Yusuf 12. Citra 13. Rini 14. Basuki 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. Slamet 25. Dian

tabel di atas terlihat bahwa siswa diurutkan dari tinggi sampai tingkat kemampuan rendah.

Pembentukan kelompok satu dapat dilakukan dengan mengambil siswa dari urutan nomor 1 (kemampuan tinggi), siswa nomor 25 (kemampuan rendah), dan siswa nomor 12 dan 13 (kemampuan sedang). Untuk kelompok dua dapat diambil dengan menempatkan siswa dari urutan

11

nomor 2, 24, 11, dan 14. Kemudian untuk kelompok selanjutnya dilakukan proses yang sama (mengambil siswa dari urutan kemampuan tinggi berikutnya, seorang siswa berkemampuan rendah berikutnya dan dua orang siswa berkemampuan sedang berikutnya).

3. Strategi Pemecahan Masalah Solso Pemecahan masalah dipandang sebagai suatu proses untuk menemukan kombinasi dari sejumlah aturan yang dapat diterapkan dalam upaya mengatasi situasi baru. Pemecahan masalah tidak sekedar sebagai bentuk kemampuan menerapkan aturan-aturan yang telah dikuasai melalui kegiatan-kegiatan belajar terlebih dahulu, melainkan lebih dari itu, yaitu merupakan proses untuk mendapatkan seperangkat aturan pada tingkat yang lebih tinggi. Pemecahan masalah merupakan bagian dari kurikulum matematika yang sangat penting karena dalam proses pembelajaran penyelesaian masalah keterampilan maupun

akan membantu siswa dalam mengembangkan mereka dan mengajarkan kepada siswa

intelektual

bagaimana memecahkan masalah dan menggunakan

langkah-langkah

pemecahan masalah. Sesuai dengan teori belajar yang dikemukakan Gagne dalam Erman (2004:89) bahwa : ³Keterampilan intelektual tingkat tinggi dapat dikembangkan dalam pemecahan masalah´. Hal yang perlu ditingkatkan dalam mengembangkan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah adalah kemampuan menyangkut teknik

12

dan strategi pemecahan masalah. Pengetahuan, keterampilan dan pemahaman merupakan elemen-elemen penting dalam belajar matematika. Dalam pemecahan masalah, siswa dituntut memiliki kemampuan untuk mensintesis elemen-elemen tersebut sehingga akhirnya dapat

menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan baik. Menurut Solso dalam Made (2009:56) mengemukakan enam tahap pemecahan masalah: a. Identifikasi permasalahan b.Representasi permasalahan c. Perencanaan pemecahan d.Menerapkan / mengimplementasikan perencanaan e. Menilai perencanaan f. Menilai hasil pemecahan Secara operasional kegiatan guru dan siswa selama proses pembelajaran dapat dijabarkan sebagai berikut :

13

Tabel 2. Tahap-tahap Pelaksanaan Pemecahan Masalah Solso No 1. Tahap Pembelajaran Identifikasi Permasalahan Kegiatan Guru Kegiatan siswa Memahami permasalahan Melakukan identifikasi terhadap masalah yang dihadapi Merumuskan dan pengenalan permasalahan Melakukan perencanaan pemecahan masalah Menerapkan rencana pemecahan masalah Melakukan penilaian terhadap perencanaan pemecahan masalah

Memberi permasalahan pada siswa Membimbing siswa dalam melakukan identifikasi permasalahan 2. Representasi/ Membantu siswa untuk penyajian merumuskan dan permasalahan memahami masalah secara benar 3. Perencanaan Membimbing siswa Pemecahan melakukan perencanaan pemecahan masalah 4. Menerapkan / Membimbing siswa mengimplementasi menerapkan perencanaan kan perencanaan yang telah dibuat 5. Menilai Membimbing siswa Perencanaan dalam melakukan penilaian terhadap perencanaan pemecahan masalah 6. Menilai hasil Membimbing siswa pemecahan melakukan penilaian terhadap hasil pemecahan Sumber : Made (2009: 56)

Melakukan terhadap pemecahan

penilaian hasil

Proses pembelajaran dengan strategi pemecaan masalah solso mempunyai kelebihan dan kekurangan, meskipun dalam pembelajaran kita sudah membuat perencanaan yang baik dan diterapkan sesuai dengan skenario yang sudah dibuat. Menurut Herman (1988:121) penerapan pemecahan masalah mempunyai kelebihan yaitu : 1. Dengan pendekatan problem solving situasi belajar siswa menjadi lebih aktif, hidup, bersemangat, bermutu dan berdaya guna. Disamping penguasaan para siswa terhadap bahan pelajaran lebih mendalam, sekaligus merupakan latihan berfikir ilmiah dalam menghadapi suatu masalah apa saja.

2.

14

3.

Menumbuhkan sikap objektif, percaya pada diri sendiri, kesanggupan, keberanian, serta rasa tanggung jawab dalam mengatasi segala permasalahan hidupnya kelak

Selain itu kekurangan dari penerapan pemecahan masalah menurut Herman (1988:121) adalah 1. Memerlukan kemampuan dan keterampilan guru untuk menentukan masalah yang tingkat kesulitannya sesuai dengan tingkat berfikir siswa, tingkat sekolah dan kelasnya serta pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki siswa. 2. Proses belajar mengajar dengan strategi ini memerlukan waktu yang cukup banyak. 3. Mengubah kebiasaan belajar siswa dari mendengarkan dan menerima informasi dari guru menjadi belajar dengan banyak berfikir memecahkan masalah secara sendiri maupun kelompok terkadang memerlukan banyak sumber belajar dan merupakan kesulitan tersendiri bagi siswa. Kelemahan-kelemahan tersebut harus diantisipasi dalam

pelaksanaan pembelajaran sehingga pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan tujuan pembelajaran dapat tercapai. Antisipasi yang dapat dilakukan adalah memberikan pengarahan tentang pelaksanaan

pemecahan masalah dalam kegiatan belajar sebelum pembelajaran dimulai. Selama pembelajaran siswa tetap diarahkan dalam mencari solusi dari permasalahan yang diberikan guru. 4. Model Numbered Head Together (NHT) Numbered Head Together (NHT) pertama kali dikembangkan oleh Spenser Kagen (1993) untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.

15

Numbered Head Together (NHT) atau penomoran berfikir bersama merupakan pola jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional. Langkah-langkah pelaksanaan NHT menurut Trianto (2009:82) adalah sebagai berikut a. Fase 1 : Penomoran Dalam fase ini guru membagi siswa kedalam kelompok 3-5 orang dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1-5. b. Fase 2 : Mengajukan Pertanyaan Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan dapat bervariasi. c. Fase 3 : Befikir Bersama Siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban tim. d. Fase 4 : Menjawab Guru memanggil satu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba untuk menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas.

Ciri khas dari NHT adalah guru menunjuk seorang siswa dengan menyebutkan salah satu nomor yang mewakili kelompoknya untuk menjawab pertanyaan yang diberikan guru. Sehingga masing-masing anggota kelompok harus paham dengan hasil kerja kelompoknya dan

mempertanggungjawabkan hasil kerja kelompoknya. Dengan sendirinya siswa merasa dirinya harus terlibat aktif dalam proses pembelajaran. NHT merupakan model diskusi kelompok yang lebih banyak menuntut keaktifan siswa dan setiap siswa harus dapat menjawab

16

pertanyaan yang diberikan guru, karena setiap anggota kelompok harus menguasai jawaban dari pertanyaan yang diberikan. Selama proses pembelajaran anggota dari kelompok lain boleh menjawab pertanyaan seandainya kelompok yang diajukan pertanyaan tidak dapat menjawabnya. Anggota yang menjawab dengan benar pertanyaan tersebut akan mendapat skor individu.

5. Strategi Pemecahan Masalah Solso dalam Model NHT Untuk mencapai hasil yang maksimal dalam pembelajaran matematika, guru harus mampu menggunakan strategi dan model yang dapat

mengaktifkan siswa dalam belajar dan meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. Salah satunya adalah Strategi Pemecahan Masalah Solso dalam Model Numbered Head Together (NHT). Menurut Suryadi dalam Erman (2004:89) bahwa : Pemecahan masalah matematika merupakan salah satu kegiatan matematika yang dianggap paling baik oleh para guru maupun siswa di semua tingkatan mulai dari Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Umun (SMU). Strategi Pemecahan Masalah Solso dalam model pembelajaran NHT dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah sehingga siswa bisa berfikir kritis, logis, sistematis, kreatif dan analisis. Adapun langkah-langkah dari Strategi Pemecahan Masalah Solso dalam Model NHT adalah sebagai berikut :

17

a. Fase 1 : Penomoran Dalam fase ini guru membagi siswa kedalam kelompok yang beranggotakan 3-5 orang, kemudian masing-masing anggota kelompok diberi nomor antara 1-5. b. Fase 2 : Mengajukan Pertanyaan Dalam fase ini guru memberikan pertanyaan atau masalah kepada siswa. c. Fase 3 : Berfikir Bersama Dalam fase ini siswa akan mencari solusi dari pertanyaan atau masalah yang diberikan guru. Siswa akan menyatukan pendapatnya terhadap masalah yang diberikan guru dan meyakinkan setiap anggota dalam kelompoknya mengetahui jawaban yang disepakati kelompok. Dalam mencari solusi terhadap masalah tersebut digunakan Strategi Pemecahan Masalah Solso. Adapun langkahlangkahnya adalah sebagai berikut : 1) Identifikasi permasalahan 2) Representasi permasalahan 3) Perencanaan pemecahan 4) Menerapkan / mengimplementasikan perencanaan 5) Menilai perencanaan 6) Menilai hasil pemecahan

18

d. Fase 4 : Menjawab Dalam fase ini guru akan memanggil satu nomor dari kelompok tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangan dan menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas. Dengan mengelompokkan siswa kedalam kelompok-kelompok kecil akan memberi peluang bagi mereka untuk mendiskusikan masalah yang dihadapi, saling tukar ide antar siswa dan memperdebatkan alternatif pemecahan masalah yang digunakan. Selain itu, dalam kelompok kecil siswa dimungkinkan untuk mampu menyelesaikan masalah yang lebih baik dibandingkan kalau mereka belajar sendiri-sendiri.

6. Hasil Belajar Hasil belajar merupakan tolak ukur yang digunakan untuk menentukan tingkat keberhasilan siswa dalam memahami suatu mata pelajaran. Wina (2005:27) menyatakan bahwa ³Hasil belajar merupakan gambaran kemampuan siswa dalam memenuhi suatu tahapan pencapaian pengalaman belajar dalam suatu kompetensi dasar´. Menurut Sudjana (1989:22) bahwa ³Hasil belajar adalah

kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya´. Jadi hasil belajar dapat digunakan untuk mengetahui sejauh mana siswa menguasai dan memahami pelajaran yang diterimanya.

19

7. Pembelajaran Konvensional Pembelajaran konvensional merupakan pembelajaran yang

dilakukan secara klasikal dengan metode ceramah dan pemberian tugas secara individu. Menurut Muslimin (2000:178) : Pembelajaran konvensional adalah pembelajaran yang hanya ceramah saja. Hal ini menuntut guru tidak memerlukan waktu yang lama dan tidak memerlukan biaya sehingga pembelajaran yang diberikan sangat monoton. Pembelajaran konvensional yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pembelajaran yang dilakukan guru di sekolah tempat penelitian. Dimana guru menjelaskan materi secara rinci di depan kelas kemudian diberikan contoh soal dan siswa disuruh mengerjakan latihan.

8. Penelitian Relevan Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah : 1. Penelitian yang dilakukan oleh Wilfa Hidayati (2009) yang meneliti tentang pembelajaran matematika dengan pendekatan Problem Solving yang dipakai adalah tipe Polya. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian Wilfa Hidayati ini menyatakan bahwa penerapan Problem Solving di kelas X SMAN 1 Solok dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa. 2. Penelitian yang dilakukan oleh Dewi Oktaria (2009) yang meneliti tentang pembelajaran matematika dengan model NHT. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian Dewi Oktaria menyatakan bahwa penggunaan model NHT di kelas X SMAN 3 Bukit Tinggi dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa.

20

Penelitian tentang problem solving yang dilakukan pada penelitian sebelumnya adalah dengan mengunakan tipe Polya. Pada penelitian ini peneliti menerapkan Strategi Pemecahan Masalah Solso dalam model pembelajaran Numbered Head Together (NHT).

B. Kerangka konseptual Semakin canggihnya teknologi informasi dan semakin cepatnya penemuan baru dibidang IPTEK maka semakin tinggi pula tuntunan untuk lulusan sekolah yang memiliki sikap kritis, sistematis, logis, kreatif, dan mau bekerja sama secara efektif. Untuk itu penerapan Strategi Pemecahan Masalah Solso dalam model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) merupakan salah satu cara yang digunakan untuk memajukan pembelajaran matematika. Guru dan siswa merupakan komponen utama dalam proses pembelajaran di kelas. Aktivitas siswa dan guru dalam proses pembelajaran tergantung pada strategi atau model pembelajaran yang diterapkan. Strategi Pemecahan Masalah Solso dalam model NHT membutuhkan peran guru untuk membimbing dan

mengarahkan cara berfikir siswa, sehingga terlatih untuk berfikir secara kritis, logis, sistematis, kreatif dan analisis. Penerapan Strategi Pemecahan Masalah Solso dalam Model NHT ini siswa benar-benar terlibat aktif dalam pembelajaran matematika, sehingga siswa mampu menyelesaikan masalah. Dengan keterlibatan siswa secara aktif dan mampu menyelesaikan masalah yang diberikan guru, diharapkan siswa lebih memahami materi sehingga diperoleh hasil belajar matematika yang lebih baik.

21

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat skema berikut ini : Strategi Pemecahan Masalah Solso dalam Model NHT

Siswa

Hasil Belajar

C. Hipotesis Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah dalam penelitian yang perlu diuji kebenarannya secara empiris. Berdasarkan latar

belakang masalah dan kajian teori maka hipotesis dalam penelitian ini adalah ³Hasil belajar matematika siswa dengan menerapkan Strategi Pemecahan Masalah Solso dalam Model Numbered Head Together (NHT) lebih baik daripada hasil belajar matematika siswa dengan menggunakan pembelajaran konvensional pada kelas X SMAN 1 Lintau Buo´.

22

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian Sesuai dengan masalah dan tujuan penelitian maka jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen. Suharsimi (2005:207) menjelaskan bahwa ³Penelitian eksperimen merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya akibat dari suatu tindakan atau perlakuan´. Berdasarkan jenis penelitian di atas yaitu penelitian eksperimen maka objek dalam penelitian ini terdiri dari dua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Maka rancangan penelitian yang digunakan adalah Randomized control group only design seperti tabel berikut: Tabel 4. Rancangan Penelitian Kelas Perlakuan Eksperimen X Kontrol Sumber : Sumadi (2004 : 104) Keterangan : X = Penerapan Strategi Pemecahan Masalah Solso dalam model NHT T = Tes Akhir -

Tes akhir T T

B. Populasi dan Sampel 1. Populasi Menurut Walpole (1992:7) ³populasi adalah keseluruhan

pengamatan yang menjadi perhatian kita´. Populasi dalam penelitian ini 22

23

adalah siswa kelas X SMAN 1 Lintau Buo yang terdaftar pada tahun pelajaran 2010-2011. Tabel 5. Jumlah Siswa Kelas X SMAN 1 Lintau Buo Tahun Pelajaran 2010-2011 Kelas Jumlah siswa X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 Sumber : Tata usaha SMAN 1 Lintau Buo 35 35 37 38 37 35 35 33

2. Sampel Menurut Walpole (1992:7) ³sampel adalah suatu himpunan bagian dari populasi´. Sesuai dengan rancangan penelitian yang akan

dilaksanakan, maka sampel yang dibutuhkan ada dua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Prosedur pengambilan sampel antara lain: a. Mengumpulkan nilai kuis siswa kelas X semester 1 SMAN 1 Lintau Buo tahun pelajaran 2010-2011 untuk dijadikan populasi. b. Melakukan uji normalitas populasi menggunakan uji Anderson Darling dengan bantuan software Minitab. Uji normalitas bertujuan untuk melihat apakah sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak.

24

Dengan hipotesis statistik : H0 : Populasi berdistribusi normal H1 : Populasi tidak berdistribusi normal Untuk interpretasi uji ini dapat dilakukan dengan memperhatikan PValue. Syafriandi (2004:4) mengemukakan ³Jika P-Value yang diperoleh lebih kecil dari taraf nyata yang ditetapkan ( E ) maka tolak H0 dan sebaliknya terima H0´. Setelah dilakukan uji normalitas terhadap kedelapan kelas yang menjadi populasi terlihat bahwa pencaran titik-titik mendekati garis lurus dengan nilai P-value seperti dibawah ini : Tabel 6. P-value Uji Normalitas Populasi
Kelas
P-value

X.1 0,341

X.2 0,106

X.3 0,075

X.4 0,066

X.5 0,195

X.6 0,054

X.7 0,144

X.8 0,323

Sumber : Perhitungan Normalitas pada Lampiran II Hal. 47 Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa P-value dari kedelapan kelas populasi lebih besar dari taraf nyata yang ditetapkan yaitu jadi dapat disimpulkan bahwa populasi berdistribusi normal. c. Melakukan uji homogenitas variansi dengan menggunakan uji Bartlet dengan bantuan software Minitab. Uji homogenitas variansi dilakukan untuk mengetahui apakah populasi mempunyai variansi yang homogen atau tidak. Dengan hipotesis statistik :
2 H0 : W 12 ! W 22 ! W 32 ! W 4 ! W 52 ! W 62 ! W 72 ! W 82 H1 : jika salah satu tanda tidak sama

,

Untuk interpretasi uji ini, dapat kita lihat chart yang dihasilkan . Jika irisan selang kepercayaan itu kosong, maka dikatakan kelompok perlakuan tersebut tidak homogen dan sebaliknya dikatakan homogen (Syafriandi,2001:5).

25

Setelah dilakukan uji homogenitas terlihat bahwa terdapat irisan pada tiap-tiap selang kepercayaan maka dapat disimpulkan bahwa populasi mempunyai variansi yang homogen (Lampiran III Hal. 51) d. Populasi berdistribusi normal dan homogen maka pengambilan sampel dapat dilakukan secara acak dengan ketentuan kelas yang terambil pertama adalah kelas eksperimen yaitu kelas X.5 dan kelas yang terambil kedua adalah kelas kontrol yaitu kelas X.1

C. Variabel dan Data 1. Variabel Variabel adalah segala sesuatu yang akan menjadi objek penelitian. Adapun variabel dalam penelitian ini adalah : a. Variabel bebas yaitu variabel yang mempengaruhi variabel lain. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah menerapkan Strategi Pemecahan Masalah Solso dalam Model NHT b. Variabel terikat yaitu variabel yang dipengaruhi variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar matematika siswa kelas sampel.

2. Data a. Jenis Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Data primer

26

Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari objek penelitian. Yang menjadi data primer dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh dari hasil belajar matematika siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. 2. Data sekunder Data sekunder adalah data yang yang diperoleh dari orang lain. Data sekunder dalam penelitian ini adalah data tentang jumlah siswa dan hasil kuis siswa kelas X SMAN 1 Lintau Buo tahun pelajaran 20102011 b. Sumber Data 1. Data primer bersumber dari seluruh siswa kelas X SMAN 1 Lintau Buo yang terpilih sebagai kelas sampel pada penelitian ini. 2. Data sekunder bersumber dari tata usaha dan guru bibang studi matematika kelas X SMAN 1 Lintau Buo tahun pelajaran 2010-2011

D.

Prosedur Penelitian Secara umum prosedur penelitian dapat dibagi atas 3 tahap yaitu

persiapan, pelaksanaan dan penyelesaian, antara lain : 1. Tahap Persiapan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan penelitian, antara lain : a. Memilih 2 kelas sampel

27

b. Mempersiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menerapkan Strategi Pemecahan Masalah Solso dalam Model NHT c. Membuat kisi-kisi soal tes akhir d. Membuat soal tes akhir 2. Tahap Pelaksanaan Perlakuan yang diberikan : a. Kelas Eksperimen Tabel 7. Pelaksanaan Kelas Eksperimen Perkiraan Aktivitas Guru Siswa 1) Pendahuluan (± 10 menit) a) Guru membuka pelajaran b) Guru menyampaikan apersepsi Siswa memperhatikan penjelasan c) Guru menyampaikan tujuan guru pembelajaran d) Guru memotivasi siswa e) Guru memperkenalkan Strategi Pemecahan Masalah Solso dalam model NHT 2) Kegiatan inti (± 70 menit) Fase 1 : Penomoran a) Guru mengelompokkan siswa secara Siswa duduk dalam heterogen, masing-masing kelompok masing-masing beranggotakan 3-5 orang dan setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1-5 Fase 2 : Mengajukan Pertanyaan a) Guru menjelaskan materi secara garis besar b) Guru memberikan pertanyaan atau masalah kepada siswa Fase 3 : Berfikir Bersama a) Guru meminta siswa menyelesaikan masalah dengan menggunakan Strategi Pemecahan Masalah Solso

kelompok

Siswa memperhatikan penjelasan guru Siswa memperhatikan penjelasan guru Siswa bekerja dalam kelompok masing-masing untuk menyelesaikan masalah yang

28

diberikan guru b) Guru mengontrol siswa dalam menyelesaikan masalah dengan cara : 1) Guru membimbing siswa dalam Siswa melakukan identifikasi melakukan identifikasi masalah terhadap masalah yang diberikan guru 2) Guru membantu siswa untuk Siswa merumuskan permasalahan merumuskan dan memahami masalah secara benar 3) Guru membimbing siswa Siswa melakukan melakukan perencanaan pemecahan masalah pemecahan masalah 4) Guru membimbing siswa Siswa menerapkan menerapkan perencanaan yang pemecahan masalah telah dibuat perencanaan

rencana

5) Guru membimbing siswa dalam Siswa melakukan penilaian melakukan penilaian terhadap terhadap perencanaan pemecahan perencanaan pemecahan masalah masalah 6) Guru membimbing siswa Siswa melakukan penilaian melakukan penilaian terhadap terhadap hasil pemecahan hasil pemecahan Fase 4 : Menjawab a) Guru memanggil satu nomor dari kelompok tertentu secara acak b) Guru menyuruh siswa yang sudah dipanggil nomornya tersebut untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya di depan kelas c) Guru memberikan penegasan terhadap hasil kerja kelompok yang dipresentasikan 3) Penutup (± 10 menit) 1) Guru membimbing siswa dalam Siswa menyimpulkan materi menyimpulkan materi 2) Guru memberikan PR tentang Siswa mencatat PR yang diberikan materi yang sudah dipelajari guru 3) Guru menutup pelajaran

Siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangan Siswa yang terpanggil mempresentasikan hasil kerja kelompoknya Siswa memperhatikan penjelasan guru

29

b. Kelas Kontrol Tabel 8. Pelaksanaan Kelas Kontrol Perkiraan Kegiatan Guru a. Pendahuluan (± 10 menit) Siswa

1) Guru membuka pelajaran 2) Guru menyampaikan apersepsi Siswa memperhatikan penjelasan 3) Guru menyampaikan tujuan guru pembelajaran 4) Guru memotivasi siswa b. Kegiatan inti (± 70 menit) Eksplorasi : 1) Guru menjelaskan materi secara rinci Siswa memperhatikan penjelasan 2) Guru memberikan contoh soal guru 3) Guru meminta siswa bertanya Siswa bertanya kepada guru mengenai hal-hal yang tidak mengerti Elaborasi : Guru menyuruh siswa mengerjakan Siswa mengerjakan latihan yang latihan disuruh guru Konfirmasi : Guru membahas soal yang dianggap Siswa memperhatikan penjelasan sulit bagi siswa guru c. Penutup (10 menit) 1) Guru membimbing siswa dalam menyimpulkan materi Siswa menyimpulkan materi 2) Guru memberikan PR tentang materi yang sudah dipelajari Siswa mencatat PR yang diberikan 3) Guru menutup pelajaran guru

3. Tahap Penyelesaian Tahap ini dilaksanakan tes akhir. Tes akhir ini dilaksanakan setelah pokok bahasan berakhir, tes ini bertujuan untuk mengetahui hasil belajar matematika siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol.

30

4. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian merupakan alat pengumpul data yang digunakan dalam suatu penelitian. Dalam penelitian ini instrumen penelitian yang digunakan adalah tes hasil belajar matematika yang dilaksanakan setelah eksperimen berlangsung. Bentuk tes yang digunakan adalah uraian. Untuk mendapatkan tes akhir yang baik maka dilakukan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Menyusun Tes Dalam menyusun tes, peneliti melakukan langkah-langkah sebagai berikut a) Menentukan tujuan mengadakan tes yaitu memperoleh hasil belajar matematika siswa b) Membuat pembatasan terhadap bahan yang akan diujikan c) Munyusun kisi-kisi soal d) Menyusun butir-butir soal yang akan diujikan e) Memvalidasi soal tes 2. Validitas soal tes Suharsimi (2002:144) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat keandalan atau kesahihan suatu alat ukur. Validitas yang akan diuji dalam penelitian ini adalah validitas isi atau validitas kurikulum. Menurut Suharsimi (1997:64) mengemukakan bahwa : Sebuah soal dikatakan memiliki validitas isi apabila mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dangan materi dan isi pelajaran yang diberikan. Oleh karena materi yang diajarkan tertera dalam kurikulum maka validitas isi sering disebut validitas kurikuler.

31

Tes yang diberikan pada penelitian ini berdasarkan kurikulum dan materinya telah diajarkan oleh guru serta didahului dengan pembuatan kisi-kisi soal, sehingga tes yang diberikan memiliki validitas isi.

3. Melaksanakan tes uji coba Hasil dari suatu penelitian reliabel apabila alat pengumpul data yang digunakan telah memiliki validitas, indeks pembeda dan indeks kesukaran. Agar soal yang disusun itu memiliki kriteria yang baik maka perlu diuji cobakan terlebih dahulu. Dalam penelitian ini peneliti melakukan tes uji coba di SMAN 2 Lintau Buo karena berdasarkan informasi dari Depdiknas Kabupaten Tanah Datar bahwa sekolah penelitian dan sekolah uji coba memiliki kemampuan akademis yang tidak jauh berbeda. Hal ini dapat dilihat dari KKM sekolah tempat penelitian dengan sekolah tempat uji coba yang sama-sama 60. 4. Melakukan Analisis Item Setelah uji coba dilakukan, kemudian dilakukan analisis item untuk mengetahui baik atau buruknya suatu soal.

a) Indeks Kesukaran Indeks kesukaran soal digunakan untuk menentukan apakah butir soal tes tergolong mudah, sedang atau sukar. Untuk menentukan taraf kesukaran soal digunakan rumus : 
  

32

Ket :  = Rata-rata Tabel 9. Kriteria Indeks Kesukaran Indeks Kesukaran      Sumber : Depdiknas (2001:27) Kriteria Sukar Sedang Mudah

Berdasarkan perhitungan indeks kesukaran setiap butir soal tes uji coba maka soal yang termasuk mudah adalah soal nomor 1a, 2a, dan 3b, sedangkan soal yang termasuk sedang adalah soal nomor 1b, 2b, 3a, 4a, 4b (lampiran XI hal. 80)

b) Daya Pembeda Soal Daya pembeda soal adalah kemampuan soal untuk membedakan siswa yang pandai dengan siswa yang tidak pandai. Untuk menentukan daya pembeda soal digunakan rumus : DP = Mean kelompok atas ± mean kelompok bawah Skor maksimal soal Tabel 10. Kriteria Daya Pembeda soal Daya Pembeda Soal Kriteria 0,40 ” DP ”1,00 Soal diterima / baik 0,30 ” DP < 0,40 Soal diterima tetapi perlu diperbaiki 0,20 ” DP < 0,30 Soal diperbaiki 0,00 ” DP <0,20 Soal tidak dipakai / dibuang Sumber : Depdiknas (2001:28) Berdasarkan hasil analisis soal uji coba, maka semua soal diterima (lampiran XII hal.82 )

33

c) Reliabilitas Soal Reliabilitas tes adalah suatu ukuran apakah tes tersebut dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data. Untuk menentukan reliabilitas digunakan rumus seperti yang dinyatakan oleh Suharsimi (2002:171) yaitu :
2 k ¨ §W b ©1  r11 ! 2 k 1© Wt ª

¸ ¹ ¹ º

Dimana : r11 k = Reliabilitas tes = Banyaknya butir pertanyaan
2 b

§W
Wt
2

= Jumlah variansi butir

= Variansi total

Tabel 11. Kriteria Reliabilitas Reliabilitas                Sumber : Suharsimi (2002:171) Kriteria Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah

Berdasarkan hasil perhitungan reliabilitas soal uji coba diperoleh r11= 0,71 yang berarti soal berada pada kriteria reliabilitas tinggi, ini menunjukkan bahwa soal tes dapat dipercaya ( lampiran XIII hal 83) 5. Teknik Analisis Data Analisis data bertujuan untuk menguji hipotesis yang diajukan, apakah diterima atau ditolak. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan menggunakan uji t. Sebelum menguji hipotesis dengan uji t terlebih

34

dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas, karena kedua uji ini merupakan syarat perlu dan cukup untuk uji t. Untuk menguji ketiganya digunakan software minitab. a. Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk melihat apakah data sampel berdistribusi normal atau tidak. Hipotesis yang diajukan adalah : H0 : Skor hasil belajar siswa kelas sampel berdistribusi normal H1 : Skor hasil belajar siswa kelas sampel tidak berdistribusi normal Uji yang digunakan adalah uji Anderson Darling dengan bantuan software Minitab. Untuk interpretasi uji ini dengan memperhatikan P-Value. Jika P-Value yang diperoleh lebih kecil dari taraf nyata yang ditetapkan (E ) maka tolak H0 dan sebaliknya terima H0 (Syafriandi,2001:4).

b.

Uji Homogenitas Variansi Uji homogenitas variansi bertujuan untuk melihat apakah skor hasil belajar

pada kedua sampel mempunyai variansi yang homogen atau tidak. Hipotesis yang digunakan adalah :
2 H0 : W 12 ! W 2 2 H1 : W 12 { W 2

Uji yang digunakan adalah uji F dengan menggunakan rumus menurut Sudjana (2005 : 250) : 
  

35

Kriteria pengujian, tolak

jika  

dengan

didapat

dari daftar dari distribusi F dengan peluang

sedangkan derajat kebebasan

Pengujian ini peneliti lakukan dengan menggunakan bantuan software minitab. Untuk interpretasi uji ini, dapat kita lihat chart yang dihasilkan . Jika irisan selang kepercayaan itu kosong, maka dikatakan kelompok perlakuan tersebut tidak homogen dan sebaliknya dikatakan homogen (Syafriandi,2001:5).

c.

Uji Hipotesis Setelah dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas terhadap sampel,

maka selanjutnya dilakukan uji hipotesis. Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui apakah hasil belajar matematika siswa kelas eksperimen lebih baik dari hasil belajar matematika kelas kontrol. Berdasarkan hipotesis penelitian yang dikemukakan maka dilakukan uji satu pihak dengan hipotesis statistik sebagai berikut : H0 : Q1 ! Q 2 H1 : Q1 > Q 2 Dimana :

Q1 = Rata-rata hasil belajar matematika kelas eksperimen Q 2 = Rata-rata hasil belajar matematika kelas kontrol
Untuk pengujian tersebut, menurut Sudjana (2005:239) :

36

Karena kedua kelas sampel berdistribusi normal dan mempunyai variansi yang homogen, maka untuk menguji hipotesis digunakan uji kesamaan ratarata yaitu uji satu pihak dengan rumus : 
   

dengan: 
  

dimana : = nilai rata-rata kelas eksperimen = nilai rata-rata kelas kontrol = jumlah siswa kelas eksperimen = jumlah siswa kelas kontrol = variansi kelas eksperimen = variansi kelas kontrol  

simpangan baku kedua kelompok data Kriteria pengujian adalah: terima hipotesis selain itu : jika thitung  

dengan dk =

ditolak.

Pengujian ini peneliti lakukan dengan menggunakan bantuan software minitab. Untuk interpretasi dari uji ini biasanya memperlihatkan P-Value, Syafriandi (2001:10) mengemukakan ³jika P-Value yang diperoleh lebih kecil dari taraf nyata yang ditetapkan ( ) maka tolak H0 dan sebaliknya terima H0 ´

37

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Data Deskripsi data yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil yang diperoleh dari tes akhir yang diberikan pada kedua kelas sampel, yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pada kelas eksperimen yang berjumlah 37 siswa, yang mengukuti tes 36 siswa dan pada kelas kontrol berjumlah 35 siswa, yang mengikuti tes 31 siswa. Dari skor tes hasil belajar siswa pada kedua kelas ini dilakukan perhitungan rata-rata ( ), simpangan baku (S), skor tertinggi (X maks ) dan skor terendah (X min ), hasil perhitungan dapat dilihat pada tabel: Tabel 12. Perhitungan Rata-Rata ( ), Simpangan Baku (s), Skor Tertinggi (X maks ) dan Skor Terendah (X min ) Tes Hasil Belajar Siswa pada Kelas Sampel. X maks Eksperimen 74,11 12,30 100 Kontrol 63,09 11,93 85 Sumber: Data dalam tabel dapat dilihat pada lampiran XX hal 88 Kelas Sampel s X min 48 35

Tabel di atas memperlihatkan bahwa skor rata-rata siswa pada kelas eksperimen lebih besar dari skor rata-rata siswa pada kelas kontrol dan simpangan baku skor siswa pada kelas eksperimen lebih besar dari pada simpangan baku kelas kontrol yang artinya kemampuan siswa pada kelas eksperimen lebih tinggi bila dibandingkan dengan kemampuan siswa pada kelas kontrol.

38

38

B. Analisis Data Sesuai hipotesis dalam penelitian ini adalah hasil belajar matematika siswa dengan menerapkan Strategi Pemecahan Masalah Solso dalam Model Numbered Head Together (NHT) lebih baik dari pada hasil belajar matematika siswa dengan menggunakan pembelajaran konvensional di kelas X SMAN 1 Lintau Buo. Untuk mengetahui apakah hipotesis ini diterima atau ditolak maka penulis

membandingkan hasil belajar matematika siswa pada kelas eksperimen dengan hasil belajar matematika pada kelas kontrol. Rumus yang digunakan yai u uji t t satu pihak. Untuk menggunakan uji t terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan homogenitas. 1. Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk melihat apakah data sampel berdistribusi normal atau tidak. Hipotesis yang diajukan adalah : Skor hasil belajar siswa kelas sampel berdistribusi normal Skor hasil belajar siswa kelas sampel tidak berdistribusi normal Berdasarkan hasil analisis uji normalitas kedua kelas sampel dengan bantuan software MINITAB, untuk kelas eksperimen diperoleh P-value = 0,100 dan kelas kontrol diperoleh P-value = 0,172 berarti P-value kelas sampel lebih besar dari maka diterima. Demikian juga pada grafik, menunjukkan

bahwa untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol pencaran titik mendekati garis lurus. Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil belajar kedua kelas sampel berdistribusi normal. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran XVIII hal 85.

39

2. Uji homogenitas Uji homogenitas variansi bertujuan untuk melihat apakah skor hasil belajar pada kedua sampel mempunyai variansi yang homogen atau tidak. Hipotesis yang digunakan adalah : 


Berdasarkan analisis hasil uji homogenitas dengan software MINITAB, diperoleh P-value = 0,870 lebih besar dari selang maka dan terdapat irisan pada tiap

diterima, sehingga dapat disimpulkan skor hasil belajar kedua

kelas sampel adalah homogen. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran XIX hal 86. 3. Uji Hipotesis Setelah dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas terhadap sampel, maka selanjutnya dilakukan uji hipotesis. Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui apakah hasil belajar matematika siswa kelas eksperimen lebih baik dari hasil belajar matematika kelas kontrol. Berdasarkan hipotesis penelitian yang dikemukakan maka dilakukan uji satu pihak dengan hipotesis statistik sebagai berikut : 


Setelah dilakukan uji normalitas dan uji homegenitas diketahui bahwa skor tes hasil belajar siswa pada kelas sampel berdistribusi normal dan memiliki

40

variansi yang homogen. Selanjutnya dilakukan uji-t satu pihak dengan bantuan software MINITAB pada taraf kepercayaan 95% ( kebebasan 65 diperoleh P-value maka tolak dan terima ) dengan derajat

karena P-value lebih besar dari

(lampiran XX hal 87). Maka dapat disimpulkan

bahwa hasil belajar matematika siswa dengan menggunakan Strategi Pemecahan Masalah Solso dalam model Numbered Head Together (NHT) lebih baik dari hasil belajar matematika siswa dengan menggunakan pembelajaran konvensional di kelas X SMAN 1 Lintau Buo tahun pelajaran 2010-2011. C. Pembahasan Berdasarkan hasil analisis tes akhir terdapat bahwa rata-rata hasil belajar matematika siswa kelas eksperimen adalah 74,11 dengan simpangan baku 12,30 dan kelas kontrol adalah 63,09 dengan simpangan baku 11,93. Berarti lebih tinggi hasil belajar matematika siswa dengan menerapkan strategi Pemecahan Masalah Solso dalam model Numbered Head Together (NHT). Setelah dilakukan pengujian dengan bantuan software MINITAB diperoleh Pvalue = 0.000 lebih kecil dari , ini berarti terima hipotesis yang

berbunyi hasil belajar matematika siswa dengan menerapkan strategi pemecahan masalah Solso dalam model Numbered Head Together (NHT) lebih baik dari pada hasil belajar matematika siswa dengan menggunakan

pembelajaran konvensional di kelas X SMAN 1 Lintau Buo tahun pelajaran 2010-2011.

41

Lebih baiknya hasil belajar matematika siswa pada kelas eksperimen dengan menerapkan Strategi Pemecahan Masalah Solso dalam model Numbered Head Together (NHT) karena Strategi Pemecahan Masalah Solso dalam model pembelajaran NHT dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah sehingga siswa bisa berfikir kritis, logis, sistematis, kreatif dan analisis. Selain itu, dengan mengelompokkan siswa kedalam kelompok-kelompok kecil akan memberi peluang bagi mereka untuk mendiskusikan masalah yang dihadapi, saling tukar ide antar siswa dan memperdebatkan alternatif pemecahan masalah yang digunakan. Selama melakukan penelitian peneliti mengalami beberapa kendala diantaranya sulitnya siswa dalam berdiskusi kelompok karena belum terbiasa belajar dalam kelompok. Namun hal ini dapat diatasi dengan memberitahukan manfaat yang bisa mereka dapat dengan belajar kelompok.

42

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa: hasil belajar matematika siswa dengan menerapkan strategi Pemecahan Masalah Solso dalam Model Numbered Head Together (NHT) lebih baik dari hasil belajar matematika siswa dengan menggunakan pembelajaran konvensional. B. Saran-Saran Sehubungan dengan hasil penelitian yang diperoleh maka penulis dapat memberikan saran-saran sebagai berikut: 1. Guru di SMAN 1 Lintau Buo, khususnya guru matematika diharapkan dapat menerapkan Strategi Pemecahan Masalah Solso dalam Model Numbered Head Together (NHT) sebagai alternatif dalam pembelajaran. 2. Bagi peneliti lain yang berminat melanjutkan penelitian ini diharapkan dapat menerapkan pada sekolah dan materi yang berbeda. 3. Penerapan Strategi Pemecahan Masalah Solso dalam Model Numbered Head Together (NHT) akan lebih berhasil apabila guru mampu mengorganisasikan siswa kedalam kelompok kelompok yang tepat dan dapat mengelola kelompok tersebut dengan sebaik baiknya.

43

43

DAFTAR PUSTAKA

Abu Ahmadi (2002). Psikologi Sosial. Jakarta : Rineka Cipta. Anita Lie (2003). Coopeartif Learning Memperaktekkan Cooperative Learning Diruang-Ruang kelas. Jakarta : Grasindo Depdiknas (2001). Penyusunan Butir-butir Soal dan Instrumen Penilaian. Jakarta : Diknasmen Dewi Oktavia (2009). Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT Dalam Pembelajaran Matematika Siswa Kelas X SMAN 3 Bukit Tinggi Tahun Pelajaran 2009-2010. Skripsi. Padang : FMIPA UNP Erman Suherman (2004). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung : Universitas Indonesia Herman Hudoyo (1988). Mengajar Belajar Matematika. Jakarta : pplptk daepdikbud. Made Wena (2009). Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta : Bumi Aksara Mulyardi (2002). Strategi Belajar Mengajar Matematika. Padang : FMIPA UNP

Muslimin Ibrahim (2006). Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : UNESA Nana Sudjana (1989). Penilaian Hasil Belajar Mengajar. Bandung : Remaja Rosdakarya Riduan (2004). Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru, Karyawan dan Peneliti Mudah. Bandung : Alfabeta Slameto (2003). Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta Sudjana (2005). Metoda Statistika. Bandung : Tarsindo Suharsimi Arikunto (2001). Prosedur Penelitian. Jakarta: PT Rineka Cipta. _________________ (2002). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT Rineka cipta

44

Sumadi Suryabrata (2004). Metodologi Penelitian. Jakarta : PT Grafindo Persada Syafriandi (2001). Pengantar Statistika Inferensial Dengan Menggunakan Minitab (Makalah). Padang : UNP Tim Penyusun (2008). Buku Panduan Penulisan Tugas Akhir/Skripsi Universitas Negeri Padang. Padang : UNP Trianto (2009). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Surabaya : Kencana Walpole, Ronald (1992). Pengantar Statistika. Jakarta : Gramedia Wilfa Hidayati (2009). Penerapan Pendekatan Problem Solving Dalam Pembelajaran Matematika di Kelas X SMAN I Kota Solok. Skripsi. Padang. FMIPA UNP Wina Sanjaya (2005). Strategi Pembelajaran. Jakarta : Kencana Winkel,WS (1991). Psikologi Pengajaran. Jakarta : PT Grasindo

45

Lampiran I Daftar Nilai Kuis Siswa Kelas X SMAN 1 Lintau Buo Tahun Pelajaran 2010-2011 Kelas Kelas Kelas Kelas Kelas Kelas Kelas Kelas X.1 X.2 X.3 X.4 X.5 X.6 X.7 X.8 20 60 60 60 60 60 80 65 35 40 40 35 50 75 60 70 80 50 80 40 45 40 60 30 75 80 50 40 60 70 70 40 60 75 70 65 40 60 70 80 50 50 60 70 75 60 55 60 30 50 70 35 60 55 65 55 50 60 90 50 75 50 70 40 40 60 55 50 50 35 45 45 60 35 45 70 65 65 50 80 70 45 30 35 40 40 50 70 60 65 35 40 60 80 30 75 40 30 60 40 40 50 60 65 60 60 60 75 80 65 60 40 80 70 60 35 100 55 75 35 70 80 40 70 80 60 70 50 45 50 30 55 70 75 80 60 20 40 45 30 60 60 45 65 35 40 55 60 60 45 65 70 80 30 65 55 40 60 50 80 55 35 75 60 55 60 60 50 75 45 35 75 50 75 75 60 60 60 35 35 45 75 40 65 60 35 70 40 35 60 70 55 75 30 75 40 60 30 35 35 65 70 60 35 60 35 60 80 50 50 75 60 55 55 50 50 40 60 40 60 50 40 80 60 50 35 60 45 40 60 75 75 60 40 55 90 50 70 65 60 65 55 60 75 35 30 70 45 55 50 60 55 65 65 55 65 40 40 60 80 70 50 65 50 35 40 60 55 60 65 45 55 65 35 50 80 60 80 50 65 70 50 75 50 30 65 50

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

46

Lampiran II UJI NORMALITAS POPULASI

UJI NORMALITAS KELAS X.1

,999 ,99 ,95

Probability

,80 ,50 ,20 ,05 ,01 ,001 20 30 40 50 60 70 80

X.1
A ve ra g e : 5 4 ,2 8 5 7 S tD e v: 1 6 ,5 0 0 6 N: 35 A n d e rs o n -D a rl i n g N o rm a l i ty T e s t A -S q u a re d : 0 ,4 0 2 P -V a l u e : 0 ,3 4 1

UJI NORMALITAS KELAS X.2

,999 ,99 ,95

Probability

,80 ,50 ,20 ,05 ,01 ,001 30 40 50 60 70 80

X.2
A ve ra g e : 5 0 ,8 5 7 1 S tD e v: 1 4 ,3 7 3 5 N: 35 A n d e rs o n -D a rl i n g N o rm a l i ty T e s t A -S q u a re d : 0 ,6 0 7 P -V a l u e : 0 ,1 0 6

47

UJI NORMALITAS KELAS X.3

,999 ,99 ,95

Probability

,80 ,50 ,20 ,05 ,01 ,001 30 40 50 60 70 80 90

X.3
A ve ra g e : 5 5 ,5 4 0 5 S tD e v: 1 4 ,8 0 3 5 N: 37 A n d e rs o n -D a rl i n g N o rm a l i ty T e s t A -S q u a re d : 0 ,6 6 8 P -V a l u e : 0 ,0 7 5

UJI NORMALITAS KELAS X.4

,999 ,99 ,95

Probability

,80 ,50 ,20 ,05 ,01 ,001 30 40 50 60 70 80 90

X.4
A ve ra g e : 5 2 ,8 9 4 7 S tD e v: 1 5 ,6 6 6 8 N: 38 A n d e rs o n -D a rl i n g N o rm a l i ty T e s t A -S q u a re d : 0 ,6 9 0 P -V a l u e : 0 ,0 6 6

48

UJI NORMALITAS KELAS X.5

,999 ,99 ,95

Probability

,80 ,50 ,20 ,05 ,01 ,001 32 42 52 62 72 82 92 102

X.5
A ve ra g e : 5 8 ,2 4 3 2 S tD e v: 1 4 ,6 8 2 6 N: 37 A n d e rs o n -D a rl i n g N o rm a l i ty T e s t A -S q u a re d : 0 ,5 0 1 P -V a l u e : 0 ,1 9 5

UJI NORMALITAS KELAS X.6

,999 ,99 ,95

Probability

,80 ,50 ,20 ,05 ,01 ,001 30 40 50 60 70 80

X.6
A ve ra g e : 5 6 ,6 6 6 7 S tD e v: 1 3 ,2 5 5 7 N: 36 A n d e rs o n -D a rl i n g N o rm a l i ty T e s t A -S q u a re d : 0 ,7 2 2 P -V a l u e : 0 ,0 5 4

49

UJI NORMALITAS KELAS X.7

,999 ,99 ,95

Probability

,80 ,50 ,20 ,05 ,01 ,001 30 40 50 60 70 80

X.7
A ve ra g e : 6 1 ,3 8 8 9 S tD e v: 1 3 ,2 8 8 6 N: 36 A n d e rs o n -D a rl i n g N o rm a l i ty T e s t A -S q u a re d : 0 ,5 5 2 P -V a l u e : 0 ,1 4 4

UJI NORMALITAS KELAS X.8

,999 ,99 ,95

Probability

,80 ,50 ,20 ,05 ,01 ,001 30 40 50 60 70 80

X.8
A ve ra g e : 5 8 ,3 3 3 3 S tD e v: 1 4 ,3 9 7 6 N: 33 A n d e rs o n -D a rl i n g N o rm a l i ty T e s t A -S q u a re d : 0 ,4 1 1 P -V a l u e : 0 ,3 2 3

50

Lampiran III
JI H
95% Confidence Intervals for igmas

G

IT

L
Factor Levels

I

Test

- alue

X.3

X.4

Lev ene's Test
X.5

Test
X.7

- alue

X.8

10

15

20

25

£

£

¢

¢

¡

¡

 

X.1

Bartlett's Test
X.2

tatistic: 1,954 : 0,924

tatistic: 0,416 : 0,868

51

Lampiran IV PEMBAGIAN KELOMPOK KELAS EKSPERIMEN Kelompok 1 1. 2. 3. 4. Raudatul jannah Wardian Yuliansyah Galang Sattia Budiman Leni Fitri Kelompok 6 1. 2. 3. 4. Eka Pramana Putri Elfita Nuriski Fauzi Mariani Darma Yulia Inanda

Kelompok 2 1. 2. 3. 4. Nanda Rahim Widia Asri Wulandari Kensi Kanesta Lelen Elfina

Kelompok 7 1. 2. 3. 4. Siska Amelia Noval Adrianto Ahmad Rivandi Ririn Syafiti

Kelompok 3 1. 2. 3. 4. Anisa FItratul Husna Ariano Sagita Nanda Alzeta Pratama Indah Prmata Sari

Kelompok 8 1. 2. 3. 4. Dwi Putri Arizona Diki Kurniadi Fajar Ramadan Retno Novita

Kelompok 4 1. 2. 3. 4. Emilya Febriani M. Iqbal Santi Palupi Wita Rahmawat Kelompok 9 1. 2. 3. 4. 5. Lailatul Isra Lina Mala Sari Sintia Amriza Melia Fillia Narulita Yola Musa Fitri

Kelompok 5 1. 2. 3. 4. Risky ALfitri Iftita Rahmi Robi Parlint Dila Novri Yeni

52

Lampiran V RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Nama Sekolah Mata Pelajaran Kelas / Semester Jumlah Pertemuan : SMAN 1 Lintau Buo : Matematika :X/1 : 1 kali

A. Standar Kompetensi 1. Memecahkan masalah yang berkaitan dengan bentuk pangkat, akar dan logaritma B. Kompetesi Dasar 1.1 Menggunakan aturan pangkat, akar dan logaritma C. Indikator 1. Mengetahui bentuk pangkat positif 2. Mengetahui bentuk pangkat negatif 3. Mengubah bentuk pangkat negatif ke pangkat positif dan sebaliknya.

D. Tujuan pembelajaran Setelah mempelajari materi ini siswa dapat : 1. Mengetahui bentuk pangkat positif 2. Mengetahui bentuk pangkat negatif 3. Mengubah bentuk pangkat negatif ke pangkat positif dan sebaliknya E. Materi ajar Bentuk pangkat positif dan bentuk pangkat negatif

F. Alokasi Waktu: 2 x 45 menit G. Metode pembelajaran: Strategi Pemecahan Masalah Solso dalam Model NHT

53

H. Kegiatan Pembelajaran: Kegiatan Guru Pendahuluan ( 10 menit) a. Apersepsi : Guru mengingatkan kembali pelajaran terdahulu yang berkaitan dengan bentuk pangkat b. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran c. Motivasi : Guru menyebutkan contoh penggunaan bentuk pangkat dalam kehidupan sehari-hari d. Guru memperkenalkan strategi pemecahan masalah solso dalam model NHT Perkiraan aktivitas Siswa Waktu

Siswa mendengarkan penjelasan guru Siswa mendengarkan penjelasan guru Siswa mendengarkan penjelasan guru Siswa mendengarkan penjelasan guru

10¶

Kegiatan Inti (70 menit)

Eksplorasi

a. Guru mengelompokkan siswa secara heterogen, masing-masing kelompok beranggotakan 3-5 orang dan setiap anggota kelompok diberi nomor antara 15 ( fase 1) b. Guru menanyakan kepada siswa siapa yang tahu bentuk bilangan berpangkat c. Guru menjelaskan bentuk bilangan berpangkat positif dan berpangkat negatif (fase 2) d. Guru memberikan contoh soal dengan pemecahan masalah solso e. Guru memberikan latihan kepada siswa ( fase 2) f.

Siswa duduk dalam 70¶ kelompok masingmasing

Siswa menjawab pertanyaan guru Siswa memperhatikan penjelasan guru

Siswa memperhatikan penjelasan guru Siswa mencatat soal latihan yang diberikan guru mengerjakan Guru meminta siswa Siswa mengerjakan latihan dengan latihan yang diberikan strategi pemecahan masalah solso guru

Elaborasi

g. Guru mengontrol siswa dalam menyelesaikan masalah dengan cara:

54

1) Guru membimbing siswa Siswa melakukan dalam melakukan identifikasi terhadap identifikasi masalah masalah yang diberikan guru 2) Guru membantu siswa untuk Siswa merumuskan merumuskan dan memahami permasalahan masalah secara benar 3) Guru membimbing siswa Siswa melakukan melakukan perencanaan perencanaan pemecahan masalah pemecahan masalah 4) Guru membimbing siswa Siswa menerapkan menerapkan perencanaan rencana pemecahan masalah yang telah dibuat melakukan 5) Guru membimbing siswa Siswa terhadap dalam melakukan penilaian penilaian terhadap perencanaan perencanaan pemecahan masalah pemecahan masalah melakukan 6) Guru membimbing siswa Siswa terhadap melakukan penilaian penilaian hasil pemecahan terhadap hasil pemecahan Konfirmasi h. Guru memanggil satu nomor dari kelompok tertentu secara acak i. Guru menyuruh siswa yang sudah dipanggil nomornya tersebut untuk mempersentasikan hasil kerja kelompoknya di depan kelas j. Guru memberikan penegasan terhadap hasil kerja kelompok yang dipresentasikan k. Guru membimbing siswa dalam menyimpulkan materi l. Guru memberikan PR tentang materi yang telah dipelajari m. Guru menutup pelajaran Siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangan Siswa yang terpanggil mempresentasikan hasil kerja kelompoknya Siswa memperhatikan penjelasan guru

Penutup (10 menit)

Siswa menyimpulkan 10¶ materi Siswa mencatat PR yang diberikan guru

I. Sumber Belajar : buku matematika SMA kelas X karangan Sartono Wirodikromo penerbit Erlangga

55

J. Penilaian : Teknik : tes Bentuk instrumen : uraian

Instrumen : Tulislah bentuk-bentuk dibawah ini dalam bentuk pangkat bulat positif! a. b. c. d. 


Penyelesaian : No Soal Penyelesaian 

Skor

Bobot soal

a. 

10 10 

30

10

b.  

  

10 10

20

c

20

20

d.

10

30

56 

20 100 100

Total

Mengetahui Guru matematika SMAN 1 Lintau Buo

Lintau, Juli 2010 Peneliti

YONA JUITA, S.Pd

WIWI OKTOVERA

57

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Nama Sekolah Mata Pelajaran Kelas / Semester Jumlah Pertemuan : SMAN 1 Lintau Buo : Matematika :X/1 : 1 kali

A. Standar Kompetesi 1. Memecahkan masalah yang berkaitan dengan bentuk pangkat, akar dan logaritma B. Kompetesi Dasar 1.1 Menggunakan aturan pangkat, akar dan logaritma C. Indikator 1. Menjelaskan bentuk akar 2. Menjelaskan bentuk pangkat pecahan 3. Mengubah bentuk akar ke bentuk pangkat pecahan dan sebaliknya. D. Tujuan pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, siswa dapat: 1. Menjelaskan bentuk akar

2. Menjelaskan bentuk pangkat pecahan 3. Mengubah bentuk akar ke pangkat pecahan dan sebaliknya E. Materi ajar Bentuk akar dan bentuk pangkat pecahan F. Alokasi Waktu: 2 x 45 menit G. Metode pembelajaran: Strategi Pemecahan Masalah Solso dalam Model NHT H. Kegiatan Pembelajaran:

58

Kegiatan Guru

Perkiraan aktivitas Siswa

Waktu 10¶

Pendahuluan ( 10 menit) a. Apersepsi : Guru mengingatkan kembali pelajaran terdahulu tentang bentuk pangkat b. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran c. Motivasi : Guru menyebutkan contoh penggunaan bentuk pangkat dan akar d. Guru memperkenalkan strategi pemecahan masalah solso dalam model NHT

Siswa mendengarkan penjelasan guru

Siswa mendengarkan penjelasan guru Siswa mendengarkan penjelasan guru Siswa mendengarkan penjelasan guru

Kegiatan Inti (70 menit)

Eksplorasi

a. Guru mengelompokkan siswa secara heterogen, masing-masing kelompok beranggotakan 3-5 orang dan setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1-5 ( fase 1) b. Guru menanyakan kepada siswa siapa yang tahu bentuk akar dan bentuk pangkat pecahan c. Guru menjelaskan bentuk akar dan bentuk pangkat pecahan (fase 2) d. Guru memberikan contoh soal dengan pemecahan masalah solso e. Guru memberikan latihan kepada siswa ( fase 2)

Siswa duduk dalam 70¶ kelompok masingmasing

Siswa menjawab pertanyaan guru

Siswa memperhatikan penjelasan guru

Siswa memperhatikan penjelasan guru

Siswa mencatat soal latihan yang diberikan f. Guru meminta siswa guru mengerjakan latihan Siswa mengerjakan dengan strategi pemecahan latihan yang diberikan masalah solso guru

Elaborasi

g. Guru mengontrol siswa dalam menyelesaikan masalah dengan cara:

59

7) Guru membimbing siswa dalam melakukan identifikasi masalah 8) Guru membantu sisiwa untuk merumuskan dan memahami masalah secara benar 9) Guru membimbing siswa melakukan perencanaan pemecahan masalah 10) Guru membimbing siswa menerapkan perencanaan yang telah dibuat 11) Guru membimbing siswa dalam melakukan penilaian terhadap perencanaan pemecahan masalah 12) Guru membimbing siswa melakukan penilaian terhadap hasil pemecahan

Siswa melakukan identifikasi terhadap masalah yang diberikan guru Siswa merumuskan permasalahan

Siswa melakukan perencanaan pemecahan masalah Siswa rencana masalah menerapkan pemecahan

Siswa melakukan penilaian terhadap perencanaan pemecahan masalah Siswa melakukan penilaian terhadap hasil pemecahan

Konfirmasi

h. Guru memanggil satu nomor dari kelompok tertentu secara acak i. Guru menyuruh siswa yang sudah dipanggil nomornya tersebut untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya di depan kelas j. Guru memberikan penegasan terhadap hasil kerja kelompok yang dipresentasikan

Siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangan Siswa yang terpanggil mempresentasikan hasil kerja kelompoknya

Siswa memperhatikan penjelasan guru

60

Penutup (10 menit)

k. Guru membimbing siswa dalam menyimpulkan materi l. Guru memberikan PR tentang materi yang telah dipelajari m. Guru menutup pelajaran

Siswa menyimpulkan 10¶ materi Siswa mencatat PR yang diberikan guru

I. Sumber Belajar : buku matematika SMA kelas X karangan Sartono Wirodikromo penerbit Erlangga

J. Penilaian : Teknik : tes Bentuk instrumen : uraian

Instrumen : 1. Nyatakan bilangan berikut dalam bentuk tanda akar! a. b. 2. Nyatakan tiap bilangan berikut dalam pangkat pecahan dengan bilangan pokok 2! a. b. Penyelesaian : No Soal 
 

Penyelesaian

skor

Bobot soal

1. 

ƒ „

12,5 12,5 12,5

37,5

61

2.

ƒ

„ 

  



12,5 12,5

25

12,5 12,5 12,5

37,5

Total

100

100

Mengetahui Guru matematika SMAN 1 Lintau Buo

Lintau, Juli 2010 Peneliti

YONA JUITA, S.Pd

WIWI OKTOVERA

62

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Nama Sekolah Mata Pelajaran Kelas / Semester Jumlah Pertemuan : SMAN 1 Lintau Buo : Matematika :X/1 : 1 kali

A. Standar Kompetesi 1. Memecahkan masalah yang berkaitan dengan bentuk pangkat, akar dan logaritma B. Kompetesi Dasar 1.1 Menggunakan aturan pangkat, akar dan logaritma C. Indikator 1. Menjelaskan sifat-sifat pangkat rasional dan akar 2. Melakukan operasi aljabar pada bentuk pangkat dan akar. D. Tujuan pembelajaran Setelah mempelajari materi ini siswa dapat: 1. Menjelaskan sifat-sifat pangkat rasional dan akar 2. Melakukan operasi aljabar pada bentuk pangkat dan akar. E. Materi ajar Sifat-sifat pangkat rasional dan akar F. Alokasi Waktu: 2 x 45 menit G. Metode pembelajaran: Strategi Pemecahan Masalah Solso dalam Model NHT H. Kegiatan Pembelajaran:

63

Kegiatan Guru

Perkiraan aktivitas Siswa

Waktu 10¶

Pendahuluan ( 10 menit) a. Apersepsi : Guru mengingatkan kembali pelajaran terdahulu tentang bentuk pangkat dan akar b. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran c. Motivasi : Guru menyebutkan contoh penggunaan bentuk pangkat dalam kehidupan sehari-hari d. Guru memperkenalkan strategi pemecahan masalah solso dalam model NHT Kegiatan Inti (70 menit)

Siswa mendengarkan penjelasan guru Siswa mendengarkan penjelasan guru Siswa mendengarkan penjelasan guru Siswa mendengarkan penjelasan guru

a. Guru mengelompokkan siswa Siswa duduk dalam 70¶ secara heterogen, masing-masing kelompok masingkelompok beranggotakan 3-5 masing orang dan setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1-5 ( fase 1) b. Guru menanyakan kepada siswa siapa yang tahu sifat-sifat pangkat rasional c. Guru menjelaskan sifat-sifat pangkat rasional dan operasi aljabar bentuk bilangan berpangkat positif dan negatif serta bentuk akar (fase 2) d. Guru memberikan contoh soal dengan pemecahan masalah solso e. Guru memberikan latihan kepada siswa ( fase 2) Siswa menjawab pertanyaan guru Siswa memperhatikan penjelasan guru

Eksplorasi

Siswa memperhatikan penjelasan guru Siswa mencatat soal latihan yang diberikan guru f. Guru meminta siswa mengerjakan Siswa mengerjakan latihan dengan strategi pemecahan latihan yang diberikan masalah solso guru

Elaborasi g. Guru mengontrol siswa dalam menyelesaikan masalah dengan cara:

64

1) Guru membimbing siswa dalam melakukan identifikasi masalah 2) Guru membantu sisiwa untuk merumuskan dan memahami masalah secara benar 3) Guru membimbing siswa melakukan perencanaan pemecahan masalah 4) Guru membimbing siswa menerapkan perencanaan yang telah dibuat 5) Guru membimbing siswa dalam melakukan penilaian terhadap perencanaan pemecahan masalah 6) Guru membimbing siswa melakukan penilaian terhadap hasil pemecahan

Siswa melakukan identifikasi terhadap masalah yang diberikan guru Siswa merumuskan permasalahan Siswa melakukan perencanaan pemecahan masalah Siswa menerapkan rencana pemecahan masalah Siswa melakukan penilaian terhadap perencanaan pemecahan masalah Siswa melakukan penilaian terhadap hasil pemecahan

Konfirmasi

h.

i.

j.

Guru memanggil satu nomor dari kelompok tertentu secara acak Guru menyuruh siswa yang sudah dipanggil nomornya tersebut untuk mempersentasikan hasil kerja kelompoknya di depan kelas Guru memberikan penegasan terhadap hasil kerja kelompok yang dipresentasikan

Siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangan Siswa yang terpanggil mempresentasikan hasil kerja kelompoknya Siswa memperhatikan penjelasan guru

Penutup (10 menit)

Guru membimbing siswa dalam menyimpulkan materi l. Guru memberikan PR tentang materi yang telah dipelajari m. Guru menutup pelajaran

k.

Siswa menyimpulkan 10¶ materi Siswa mencatat PR yang diberikan guru

I. Sumber Belajar : buku matematika SMA kelas X karangan sartono wirodikromo penerbit erlangga

65

J. Penilaian : Teknik : tes Bentuk instrumen : uraian

Instrument : 1. Sederhanakanlah bentuk-bentuk berikut ini! e. f. g. h. i. Penyelesaian : No Soal 1. a. Penyelesaian skor 5 5 5 5 5 5 5 5 5 ) 5 5 5 5 5 5 Bobot soal 15 

b. 

10

c.

20

d.

30

66

e.  

15 5 5 Total

25

100

100

Mengetahui Guru matematika SMAN 1 Lintau Buo

Lintau, Juli 2010 Peneliti

YONA JUITA, S.Pd

WIWI OKTOVERA

67

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Nama Sekolah Mata Pelajaran Kelas / Semester Jumlah Pertemuan : SMAN 1 Lintau Buo : Matematika :X/1 : 1 kali

A. Standar Kompetesi 1. Memecahkan masalah yang berkaitan dengan bentuk pangkat, akar dan logaritma B. Kompetesi Dasar 1.1 Menggunakan aturan pangkat, akar dan logaritma C. Indikator 1. Merasionalkan bentuk akar. D. Tujuan pembelajaran 1. Setelah mempelajari materi ini, siswa dapat merasionalkan bentuk akar E. Materi ajar Bentuk akar F. Alokasi Waktu: 2 x 45 menit G. Metode pembelajaran: Strategi Pemecahan Masalah Solso dalam Model NHT H. Kegiatan Pembelajaran:

68

Kegiatan Guru

Perkiraan aktivitas Siswa

Waktu 10¶

Pendahuluan ( 10 menit) a. Apersepsi : Guru mengingatkan kembali pelajaran terdahulu yang berkaitan dengan sifat-sifat pangkat rasional b. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran c. Motivasi : Guru menyebutkan contoh penggunaan bentuk pangkat dalam kehidupan sehari-hari d. Guru memperkenalkan strategi pemecahan masalah solso dalam model NHT Kegiatan Inti (70 menit)

Siswa mendengarkan penjelasan guru Siswa mendengarkan penjelasan guru Siswa mendengarkan penjelasan guru Siswa mendengarkan penjelasan guru

Eksplorasi

a) Guru mengelompokkan siswa secara heterogen, masing-masing kelompok beranggotakan 3-5 orang dan setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1-5 ( fase 1) b) Guru menanyakan kepada siswa siapa yang bisa merasionalkan bentuk akar c) Guru menjelaskan cara merasionalkan bentuk akar (fase 2) d) Guru memberikan contoh soal dengan pemecahan masalah solso e) Guru memberikan latihan kepada siswa ( fase 2)

Siswa duduk dalam 70¶ kelompok masingmasing

Siswa menjawab pertanyaan guru Siswa memperhatikan penjelasan guru

Siswa memperhatikan penjelasan guru Siswa mencatat soal latihan yang diberikan guru f) Guru meminta siswa mengerjakan Siswa mengerjakan latihan dengan strategi pemecahan latihan yang diberikan masalah solso guru g) Guru mengontrol siswa dalam menyelesaikan masalah dengan cara: 1) Guru membimbing siswa Siswa melakukan dalam melakukan identifikasi identifikasi terhadap masalah masalah yang diberikan guru

Elaborasi

69

2) Guru membantu sisiwa untuk merumuskan dan memahami masalah secara benar 3) Guru membimbing siswa melakukan perencanaan pemecahan masalah 4) Guru membimbing siswa menerapkan perencanaan yang telah dibuat 5) Guru membimbing siswa dalam melakukan penilaian terhadap perencanaan pemecahan masalah 6) Guru membimbing siswa melakukan penilaian terhadap hasil pemecahan

Siswa merumuskan permasalahan Siswa melakukan perencanaan pemecahan masalah Siswa menerapkan rencana pemecahan masalah Siswa melakukan penilaian terhadap perencanaan pemecahan masalah Siswa melakukan penilaian terhadap hasil pemecahan

Konfirmasi

h) Guru memanggil satu nomor dari kelompok tertentu secara acak i) Guru menyuruh siswa yang sudah dipanggil nomornya tersebut untuk mempersentasikan hasil kerja kelompoknya di depan kelas j) Guru memberikan penegasan terhadap hasil kerja kelompok yang dipresentasikan

Siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangan Siswa yang terpanggil mempresentasikan hasil kerja kelompoknya Siswa memperhatikan penjelasan guru

Penutup (10 menit)

k) Guru membimbing siswa dalam menyimpulkan materi l) Guru memberikan PR tentang materi yang telah dipelajari m) Guru menutup pelajaran

Siswa menyimpulkan materi Siswa mencatat PR yang diberikan guru

10¶

I. Sumber Belajar : buku matematika SMA kelas X karangan sartono wirodikromo penerbit erlangga

J. Penilaian : Teknik : tes

70

Bentuk instrumen : uraian Instrumen : 2. Rasionalkan penyebut pecahan berikut ini : a. b. c. d. Penyelesaian : No 1. Soal a. Penyelesaian skor 4 3 3 Bobot soal 15

b.

5 5 5 5

20

c.

9 8 8

25

d. 

8 6

71  

6 8 6 6

40

Total

100

100

Mengetahui Guru matematika SMAN 1 Lintau Buo

Lintau, Juli 2010 Peneliti

YONA JUITA, S.Pd

WIWI OKTOVERA

72

Lampiran VI KISI-KISI SOAL UJI COBA Mata Pelajaran Kelas / Semester Pokok Bahasan Alokasi Waktu Bentuk Soal : Matematika :X/1 : Beentuk pangkat dan Akar : 90 menit : Essay No Soal 1 Mengubah bentuk pangkat 1.a negatif ke pangkat positif dan 1.b 2 sebaliknya 2.a Bobot Soal 5 15 10 10 15 15 15 15 Aspek yang diukur C1 C2 C3

No Konsep / Uraian Materi

Mengubah bentuk akar ke 2.b 3 bentuk sebaliknya 4 pangkat dan 3.a 3.b

Melakukan operasi aljabar 4.a pada bentuk akar dan pangkat 4.b Merasionalkan bentuk akar

Keterangan : C1 = Ingatan C2 = Pemahaman C3 = Aplikasi

73

Lampiran VII SOAL UJI COBA TES Mata Pelajaran Kelas / Semester Pokok Bahasan Waktu Petunjuk : a. Bacalah basmalah dan berdoa sebelum dimulai b. Tulis nama dan kelas pada lembar jawaban c. Bacalah soal dengan teliti dan cermat d. Kerjakan soal yang dianggap mudah SOAL : 1. Tulislah bentuk-bentuk dibawah ini dalam bentuk pangkat bulat positif! a. b. 2. a. Nyatakan bilangan b. Nyatakan bilangan pokok 2! 3. Sederhanakanlah bentuk-bentuk berikut ini : a. b. 


: Matematika :X/1 : Bentuk pangkat dan akar : 90 menit

ke dalam bentuk tanda akar! ke dalam pangkat pecahan dengan bilangan

74

4. Rasionalkan tiap pecahan berikut a. b.

75

LAMPIRAN VIII KUNCI JAWABAN SOAL TES UJI COBA No Soal 1.a Kunci Jawaban Skor 5 10 1.b 5 4 Bobot Soal

4

4 20 4

4 2.a 2.b 3.a  

5 5

5 5

3 4 3 4 3 3

20

3.b

4.a

3 4 3 5 3

10

76

2

15

b.

5 3 15 3 3

Total

100

100

77

Lampiran IX Daftar nilai uji coba tes siswa kelas X SMAN 2 Lintau Buo
No Soal dan Skor No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 1.a 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 0 0 0 10 5 5 10 0 0 7,14 150
2

1.b 20 20 20 20 10 0 0 10 10 20 10 10 10 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6,67 140 2.200

2.a 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 0 0 0 0 5 5 5 0 0 3,57 75 375

2.b 5 5 5 5 5 5 0 5 0 5 0 0 0 0 0 5 0 0 0 0 5 0 2,14 45 225

3.a 20 20 20 20 20 20 10 0 0 0 0 0 0 20 20 20 0 0 0 0 10 20 9,52 200 3.800

3.b 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 8 0 10 10 10 0 0 0 8 168 1.664

4.a 15 15 15 10 15 10 15 15 15 10 15 10 10 10 10 5 5 10 0 5 5 0 9,76 205 2.475

4.b 15 10 10 10 10 10 15 10 10 0 10 10 10 10 10 10 0 0 5 0 0 0 6,67 140 1.350

Skor Siswa 95 95 90 85 70 65 65 60 60 60 55 55 50 48 40 30 30 25 20 20 20 45,19 1138 73.604

Skor Kuadrat Siswa 9025 9025 8100 7225 4900 4225 4225 3600 3600 3600 3025 3025 2500 2304 1600 900 900 625 400 400 400 73.604

§x §x

1.450

78

Lampiran X Daftar Skor Nilai Uji Coba Menurut Kelompok Tinggi Dan Kelompok Rendah Data besar : kelompok tinggi = kelompok rendah = 27% x 21 = 6 orang Distribusi skor nilai uji coba tes kelompok tinggi No 1 2 3 4 5 6
_

1.a 10 10 10 10 10 10 10 10 60 600

1.b 20 20 20 20 10 0 0 11,66 70 1.300

2.a 5 5 5 5 5 5 5 5 30 150

No Soal dan Skor 2.b 3.a 3.b 5 20 10 5 20 10 5 20 10 5 20 10 5 20 10 5 20 10 0 10 10 4,16 25 125 18,33 110 2.100 10 60 600

4.a 15 15 15 10 15 10 15 13,33 80 1.100

4.b 15 10 10 10 10 10 15 10,83 65 725

Jumlah 95 95 90 85 70 65 83,33 500 42.500

x §x §x

2

Distribusi skor nilai uji coba tes kelompok rendah No 1 2 3 4 5 6
_

1.a 10 10 5 5 0 10 0 5 30 250

1.b 20 0 0 0 0 0 0 0 0 0

2.a 5 0 5 5 0 5 0 2,5 15 75

No Soal dan Skor 2.b 3.a 5 20 5 0 0 0 0 0 0 20 0 0 5 10 1,66 10 50 5 30 500

3.b 10 10 10 10 0 0 0 5 60 800

4.a 15 5 10 0 0 5 5 4,167 25 175

4.b 15 30 30 25 20 20 20 0,83 5 25

Jumlah 30 30 25 20 20 20 25 150 3.850

x §x §x

2

79

Lampiran XI TINGKAT KESUKARAN SOAL UJI COBA

TK =

1. Soal No. 1.a Skor Maksimum = 10, TK = 2. Soal No. 1.b Skor Maksimum = 20, TK = 3. Soal No. 2.a Skor Maksimum = 5, TK = 4. Soal No. 2.b Skor Maksimum = 5, TK = 5. Soal No. 3.a Skor Maksimum = 20, TK = 6. Soal No. 3.b Skor Maksimum = 10, =8 = = 9,57 = = 2,38 = = 3,47 = = 6,67 = = 7,14

7,14 ! 0,714 (mudah) 10

6,67 ! 0,33 (sedang) 20

3,57 ! 3,47 (Mudah) 5

2,38 ! 0,476 (sedang) 5

9,57 ! 0,476 (sedang) 20

80

TK = 7. Soal No. 4.a

=

8 ! 0,8 (Mudah) 10

Skor Maksimum = 15, TK = 8. Soal No. 4.b Skor Maksimum = 15, TK = = =

= 9,76

9,76 ! 0,65 (sedang) 15

= 6,67

6,67 ! 0,44 (sedang) 15

81

Lampiran XII DAYA PEMBEDA (DP)

1. Soal No.1.a 

(Diterima)

2. Soal No. 1.b 

(Diterima)

3. Soal No. 2.a 

(Diterima)

4. Soal No. 2.b 

(Diterima)

5. Soal No. 3.a 

(Diterima)

6. Soal No. 3.b 

(Diterima)

7. Soal No. 4.a 

(Diterima)

8. Soal No. 4.b 

(Diterima)

82

Lampiran XIII PERHITUNGAN RELIABILITAS TES UJI COBA No Soal 1a 1b 2a 2b 3a 3b 4a 4b
150 140 75 45 200 168 205 140

1450 2200 375 225 3800 1664 2475 1350
š 

18,02 60,31 5,10 6,12 90,24 15,23 22,56 19,84 217,582 

†‡‰ƒ ƒ  „  
   

2a.  

2b.  

3a.  

3b.  

4a.  

4b.  

83

= 217,58 

84

Lampiran XIV DAFTAR NILAI AKHIR KELAS EKSPRIMEN NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 EKSPERIMEN 80 80 63 93 68 64 75 55 80 65 80 78 80 63 100 80 80 48 51 60 65 90 69 70 65 75 75 80 76 75 100 62 70 80 80 93 KONTROL 76 73 68 61 71 75 61 60 75 43 60 65 60 45 35 65 60 48 68 53 61 40 65 85 80 63 70 55 65 75 75 KETERANGAN EKSPERIMEN Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas KONTROL Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas

85

Lampiran XV UJI NORMALITAS KELAS SAMPEL
UJI NORMALITAS KELAS EKSPERIMEN

,999 ,99 ,95

Probability

,80 ,50 ,20 ,05 ,01 ,001 50 60 70 80 90 100

X.5
A ve ra g e : 7 4 ,1 1 1 1 S tD e v: 1 2 ,3 0 2 8 N: 36 A n d e rs o n -D a rl i n g N o rm a l i ty T e s t A -S q u a re d : 0 ,6 1 7 P -V a l u e : 0 ,1 0 0

UJI NORMALITAS KELAS KONTROL

,999 ,99 ,95

Probability

,80 ,50 ,20 ,05 ,01 ,001 35 45 55 65 75 85

X.1
A ve ra g e : 6 3 ,0 9 6 8 S tD e v: 1 1 ,9 3 1 3 N: 31 A n d e rs o n -D a rl i n g N o rm a l i ty T e s t A -S q u a re d : 0 ,5 2 0 P -V a l u e : 0 ,1 7 2

86

Lampiran XVI UJI HOMOGENITAS KELAS SAMPEL

M
¦ ¤
95 on iden e n e al o

T
ig a

L

M

L
1 0    ©§
1
Fa o Le el

9

10

11

12

13

14

15

16

17

F Te

Le ene' Te

Te

a i i 0 941 0 870

Te

a i i 0 052 0 820

alue

alue

oxplo o aw a a

1

5

¥

30

40

50

60

70

80

3

1 0

&%

$ # "! $ #( &% & & &% ' % )

© 

¦ © 

   ¦   © ¨ § 

$ # "! $ #( &% & & &% ' &% !

¥

5 



90

100

87

Lampiran XVII UJI HIPOTESIS KELAS SAMPEL

Two-Sample T-Test and CI: X.5; X.1

Two-sample T for X.5 vs X.1 N 36 31 Mean 74,1 63,1 StDev 12,3 11,9 SE Mean 2,1 2,1

X.5 X.1

Difference = mu X.5 - mu X.1 Estimate for difference: 11,01 95% lower bound for difference: 6,06 T-Test of difference = 0 (vs >): T -Value = 3,71

P-Value = 0,000

DF = 64

88

Lampiran XVIII HASIL KERJA KELOMPOK SISWA

89

90

Lampiran XIX DOKUMENTASI PENELITIAN

Guru menjelaskan materi

Siswa bekerja dalam kelompok untuk memecahkan masalah yang diberikan guru

Siswa Mempresentasikan hasil kerja kelompoknya

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->