PROSES LEGISLATIF DI INDONESIA

Apabila politik diartikan sebagai gejala manusia dalam rangaka mengatur hidup bersama maka esensi politik sebenarnya juga suatu komumikasi. Komunikasi adalah hubungan antar manusia dalam rangka mencapai saling pengertian (Panuju, 1997). Shannon dan Weaver (1949) menyatakan bahwa komunikasi adalah bentuk interaksi munusia yang saling pengaruh dan mempengaruhui satu sama lainnya sengaja atau tidak sengaja. Tidak terbatas dalam bentuk komunikasi menggunakan bahasa verbal tetapi juga dalam hal ekspresi muka, lukisan, seni dan teknologi. Menurut Alfian (1993) komunikassi politik diasumsikan sebagai yang menjadikan sistem politik itu hidup dan dimanis. ³Komunikasi politik mempersembahkan semua kegiatan sistem politik baik masa kini maupun massa lampau, sehingga aspirasi dan kepentingan dikonvermasikan menjadi berbagai kebijaksanaan. Komunikasi menurut Harmoko pada intinya adalah komunikasi yang diarahkan kepada pencapaian suatu pengaruh sedemikian rupa, sehingga masalah yang dibahas oleh kegiatan jenis komunikasi tersebut dapat mengikat semua kelompok atau warganya. Komunikasi politik adalah upaya sekelompok manusia yang mempunyai orientasi, pemikiran politik atau ideologi tertentu dalam rangka menguasai atau memperoleh kekuasaan (Rauf, 1993). Unsur-unsur dalam komunikasi pada umumnya terdiri dari: komunikator, komunikan, pesan, media, tujuan, efek, dan sumber komunikasi. Semua unsur tersebut berada pada dua situasi politik atau struktur politik yakni pada suprastruktur politik dan infrastruktur politik. Yang dimaksud suprastruktur misalnya: Lembaga Legislatif, Eksekutif, dan Yudikatif. Sedangkan yang dimaksud dengan infrastruktur misalnya: partai politik, kelompok kepentingan, tokoh politik, dan media komunikasi politik. Sistem politik menurut David Easton sebagaimana disebutkan dalam bukunya Asystem Analysis of Political Life (1965), adalah keseluruhan dari interaksi yang menagkibatkan terjadinya pembagian nilai bagi masyarakat. Cara kerja sistem politik ditentukan oleh adanya suatu masukan dari lingkungan dan setelah melalui proses tertentu membentuk sejumlah output. Selanjutnya output ini diberikan kembali kepada lingkungan sebagai umpan balik (Panuju, 1994). Input terdiri dari dari dukungan-dukungan dan tuntutan-tuntutan. Dukungan dapat terarah kepada masyarakat politik; rezim atau cara pemerintah (asas-asas politik yang berlaku, tujuan-tujuan dan norma-norma); dan para pemegang kekuasaan (atoritas). Sedangkan yang dimaksud dengan output adalah kebijaksanaan pemerintah atau norma-norma dan produk yuridis yang dipergunakan untuk mengatur kehidupan bersama. Melalui komunikasi politik rakyat memberikan dukungan menyampaikan aspirasi, dan melakukan pengawasan terhadap sistem politik. Melalui komunikasi pula rakyat dapat mengetahui apakah dukungan, aspirasi dan pengawasan itu tersalur atau tidak dalam berbagai kebijaksanaan politik (Rauf, 1993). Karena itulah Rudini membuat hipotesis, bahwa semakin sehat dan tinggi kualitas komunikasi politik dan sistem politik menunjukan bahwa sifat dan kualitas demokrasi sistem politik itu semakin sehat dan tinggi.

Yang mampu dilakukan oleh komunikasi politik adalah: 1) Komunikasi merupakan cara dan teknik penyerahan sejumlah tuntutan dan dukungan sebagai input dalam sistem politik. Misalnya, dalam rangka artikulasi kepentingan. 2) Komunikasi digunakan sebagai penghubung antara pemerintah dengan rakyat, baik dalam rangka mobilitass sosial untuk implementasi tujuan, memperoleh dukungan, memperoleh kepatuhan dan integrasi politik.

Dan sebagai akibatnya dapat pula berstruktur keluar organisasi. Harold D.Komunikasi juga digunakan sebagai bentuk umpan balik (feed back) atas sejumlah output (kebijaksanaan pemerintah). Kerena anggota masyarakat terlibat didalam pembahasan itu. 2. Karena fungsinya sebagai tempat berdiskusi seluruh anggota masyarakat. motivasinya. latar belakang pendidikannya. 3) adalah upaya untuk melakukan tranformasi warisan sosialisasi. 1965). Berlo dari Michan State University menyebut secara ringkas bahwa komunikasi sebagai instrumen dari interaksi sosial berguna untuk mengetahui keberadaan diri sendiri dalam menciptakan keseimbangan dengan masyarakat (Byrnes. Sedangkan komunikasi itu sendiri dipengaruhui oleh bebrapa faktor antara lain. prasangka pribadi (personal bias) (Thoha. 4) Komunikasi menjalankan peran memberi ancaman (conversion) untuk memperoleh kepatutan sebelum alat paksa dipergunakan. Komunikasi ini mempunyai struktur yang vertikal dan horizontal. Ciri dari komunikasi organisasi ini adalah berstruktur atau berherarki. maka Legislatif/parlemen harus: 1. Struktur yang terakhir jika organisasi tersebut melakukan interaksi dengan lingkungannya. 3) Komunikasi menjalankan fungsi sosialisasi politik kepada warga negara.1998). orang yang berkomunikasi. Ketiga fungsi ini menjadi patokan dasar bagi setiap individu dalam berhubungan dengan sesama anggota masyarakat.1994). Fungsi Legislatif DPR tidak terlepas dari konsep ³trias politica´ yang ditawarkan oleh Montesquieu. Pola Hubungan Eksekutif dan Legislatif dalam Perumusan Peraturan Daerah sebagai Proses Legislatif Dengan mengikuti kelaziman dengan teori ketatanegaraan pada umumnya maka salah satu fungsi DPR adalah dibidang Legislatif. Untuk mencegah penyalahgunaan ataupun penggunaan kekuasaan yang berlebih-lebihan maka kekuasaan itu dipisah-pisahkan (Thaib. 5) Komunikasi mengkoordinasikan tata nialai politik yang diinginkan. Profesor David K. sehingga mencapai tingkat homogenitas yang relatif tinggi. . 1983).1993) menjelaskan komunikasi organisasi adalah suatu komunikasi yang terjadi dalam organisasi tertentu. (Panuju. Pendapat Montesquieu kekuasaan itu berada pada satu tangan maka kekuasaan itu sering disalah gunakan. Legislatif/Parlemen adalah suatu temapat dimana secara formal masalah-masalah kemasyarakatan dibahas oleh anggota masyarakat. (Riswandha : 2001) Dalam hubungan Legislatif dan Eksekutif Daerah dalam proses perumusan Peraturan Daerah maka komunikasi yang sering dilakukan adalah komunikasi organisasi (antar organisasi) dan komunikasi antar pribadi (interpersonal). maka apapun yang diputuskan mengikat seluruh anggota masyarakat untuk melaksanakan. Anggota Legislatif/Parlemen harus mengutamakan kepentingan masyarakat daripada kepentingan diri sendiri atau kelompoknya. Menggambarkan secara utuh kelompok yang ada dalam masyarakat. 6) Komunikasi sebagai kekuatan kontrol sosial yang memelihara idealisasi sosial dan keseimbangan politik. (Thoha. sekaligus juga memberi batasan-batasan mengenai hal-hal yang ditabukan untuk membatasi ruang gerak aktivitas politik masyarakat. Homogenitas nilai-nilai politik ini sangat menentukan stabilitas politik. 3. Orang-orang yang terlibat didalamnya memilliki keahlian minimal dan pengetahuan luas untuk memecahkan persoalan masyarakat. Lasswell salah seorang peletak dasar ilmu komunikasi lewat ilmu politik menyebut tiga fungsi dasar yang menjadi penyebab mengapa manusia perlu komunikasi : 1) adalah hasrat manusia untuk mengontrol lingkungannya. 2) adalah upaya manusia untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya.

para wakil dalam dewan atau lembaga perwakilan memiliki 6 (enam) fungsi dasar. Apabila kita tinjau dari sudut pandang UUD 1945 maka pasal 5 ayat (1) UUD 1945 menentukan bahwa Presiden memegang kekuasaan membentuk undang-undang dengan persetujuan DPR. sekaligus penentu stabilitas politik. Bahwa undang-undang yang dibentuk Presiden harus mendapat persetujuan DPR. Dengan adanya reformasi dibidang politik. Jelasnya fungsi Legislatif dan ketetanegaraan dilaksanakan secara bersama-sama oleh Presiden dan DPR Pasal 5 ayat (1) UUD 1945. Fungsi Perwakilan Rakyat Fungsi ini berhubungan dengan posisi para aktivis partai(yang mewakili rakyat) sebagai agregator dan artikulator aspirasi masyarakat. Jadi adalah keliru kalau ada sementara orang yang beranggapan itu adalah mutlak pada DPR. 2. merekam aspirasi masyarakat. dan perundang-undangan maka kedudukan DPRD dan Pemerintah Daerah saat ini mengalami perubahan yang mendasar dengan ditetapkannya Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004. 2. yakni : 1. Badan inilah secara konstitusional membentuk citra demokratis pemerintah. Presiden memegang kekuasaan membentuk Undang-undang. Sebagai sebuah institusi. Dengan demikian terdapat perimbangan kekuatan antara Presiden dengan DPR. Konsep ³trias politica´ tersebut diadakan modifikasi dalam sistem pemerintahan negara-negara barat. justru mereka yang kehilangan legitimasinya. . Sebagaimana diketahui Undang-undang 1945 fungsi membuat UU yang lazim disebut fungsi Legislatif bukanlah semata-mata dilakukan oleh DPR. Lembaga Legislatif kita bukanlah konsep barat. kekuasaan Legislatif. menguji sehingga tidak mungkin organ-organ kekuasaan itu melampaui kekuasaan yang telah ditentukan. Menurut Riswandha fungsi DPR maupun DPRD sebagai wakil ada 3 (tiga) diantaranya pembentukan legitimasi adalah fungsi badan perwakilan atas nama rakyat berhadapan dengan Eksekutif. Dengan adanya sistem pemisahan tersebut maka didalam konsep ³trias politica´ terdapat suasana ³check and balance´ karena masing±masing kekuasaan dapat saling mengawasi. DPRD yang baik adalah yang sanggup memahami.Menurut konsep ³trias politica´ kekuasaan dalam negara dibagai ada tiga yakni. Namun begitu dengan adanya hubungan antara Presiden dan DPR dalam pembuatan Undang-Undang maka Presiden tidak bisa membuat Peraturan perundang-undangan dengan sewenang-wenang karena DPR akan membatasinya dengan mengemukakan kepentingan rakyat yang diwakilinya. menjaring. Sedangkan landasan proses kekuasaan Legislatif di Indonesia secara garis besar dilakukan oleh pihak Legislatif dan Eksekutif pada tataran DPR dan Presiden juga dilakukan oleh DPRD dan pemerintah Daerah. kekuasaan Eksekutif dan kekuasaan yudikatif. Disini kwalitas anggota DPRD diuji. Fungsi Legislasi Fungsi ini berhubungan dengan upaya menterjemahkan aspirasi masyarakat menjadi keputusan-keputusan politik yang nantinya dilaksanakan oleh pihak Eksekutif (pemerintah). Karena itu DPR maupun DPRD sebagai lembaga perwakilan terlalu pasif dan tidak pernah memberikan koreksi atau mengingatkan Eksekutif. hukum. Dengan demikian akan terdapat pertimbangan kekuasaan antara lembaga-lembaga tersebut. Mereka harus mamapu merancang dan menentukan arah serta tujuan aktivitas pemerintahan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan setempat. Dari rumusan Pasal 5 ayat (1) secara tegas tanpa raguragu dinyatakan bahwa: 1.

3. Fungsi Pengawasan Fungsi yang berkaitan dengan upaya memastikan pelaksanaan keputusan politik yang telah diambil tidak menyimpang dari arah dan tujuan yang telah ditetapkan. Stimuli Ekternal. James Lee (dalam Riswandha 1975:156 ± 175) memasukkan faktor-faktor tersebut kedalam 3 (tiga) kelompok: 1. yang mencangkup apiliasi partai politik. Memebatasi hak-hak masyarakat. c. dan aktivitas kelompok-kelompok penekan. b. 3. Fungsi Pengaturan Politik Melalui fungsi ini anggota DPRD dituntut untuk: a. Fungsi Legeslative Review Fungsi ini berhubungan dengan upaya menilai kembali semua produk politik yang secara umum dirasakan mengusik rasa keadilan ditengah masyarakat seperti dinilai atau dirasakan: a. Setting psikologis. yaitu predisposisi personal. Idealnya anggota DPRD tidak sekedar mendeteksi adanya penyimpangan yang bersifat prosedural. Komunikasi Intra-institusional. 5. b. Megakibatkan ketimpangan distribusi sumber daya alam. sikap. Secara skematis pengaruh ini pada bagan berikut: . Membebani masyarakat. juga diharapkan dapat mendeteksi penyimpangan teknis. seperti penertiban PKL. 2. dsb) sesuia dengan skala prioritas yang secara politis telah ditetapkan 6. Menjadi mediator kepentingan masyarakat dengan pemerintah Dalam melaksanakan fungsi-fungsi itu DPR maupun DPRD mepunyai hak-hak. input output Eksekutif. 4. mengadakan penyelidikan (angket) dan mengubah aturan yang berlaku (amandemen). serta harapanharapannya. Fungsi Anggaran Fungsi ini berkaitan dengan kemampuan DPRD mendistibusikan sumber daya lokal (termasuk anggaran. seperti pengalihan lahan pertanian menjadi lapangan golf. seperti penentuan objek pajak. seperti dalam kasus bangunan fisik yang daya tahannya diluar perhitungan normal. dan peran-peran yang dijalankan. sehingga menghindari pengunaan kekerasan pada tingkat masyarakat. kepentingan pemilih. Aktualisasi fungsi dan hak tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berkaitan. baik formal maupun informal yang berpotensi menggantikan atau membesarkan pengaruh faktor-faktor lain yang telah disebutkan. Menjadi fasilitator aspirasi dan konflik yang ada pada tataran masyarakat.

dan transparan dan kejujuran dalam sikap dan tindakan. Kepala Daerah dan Perangkat Daerah mungkin sukar menerima kenyataan ini mengingat pada masa lalu kalangan Eksekutiflah yang secara praktis menentukan arah dan bentuk APBD dan Peraturan Daerah lainnya. Hal ini diatur dalam Pasal 42 UU No. dan pemberian pelayanan publik kepada warga masyarakat. 1990). memberikan pelayanan publik kepada warga masyarakat. Pendekatan baru yang dimaksud adalah profesionalisme dalam melaksanakan tugas mentaati hukum dalam menggunakan kewenangan. Hal ini tidak saja memerlukan sikap dan perilaku dari pihak Eksekutif karena pada masa lalu mereka mudah sekali menjinakkan pertanyaan anggota DPRD tetapi juga memerlukan pendekatan baru dalam merespon pertanyaan yang kritis dari para anggota DPRD. menegakkan Peraturan Daerah dan keputusan Daerah. Kalau DPRD memiliki fungsi mandiri berupa pengawasan dan perwakilan maka Kepala Daerah memiliki fungsi mandiri berupa pembuatan keputusan Kepala Daerah untuk menjabarkan Peraturan Daerah dan memimpin penyelenggaraan pemerintahan Daerah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama dengan DPRD. Kalangan Eksekutif harus belajar menerima kenyataan yang seharusnya itu. Istilah policy (kebijakan) seringkali penggunaannya saling dipertukarkan dengan istilah-istilah lain seperti tujuan (goals). Sementara dalam pasal Pasal 44 ayat (1) point (a) disebutkan bahwa Anggota DPRD mempunyai hak: mengajukan rancangan Perda. Karena itu tidak mengherankan bila hubungan DPRD dengan jajaran Eksekutif Daerah akan lebih berlangsung dinamis karena penuh perdebatan dan adu argumentasi. penegakan Peraturan. hak mengajukan pertanyaan pendapat. Dari ketiga fungsinya tersebut. mencari dan mengolah informasi yang diperlukan. dan konflik kepentingan. Anderson (1979) merumuskan bahwa kebijakan itu adalah A purposive course of action followed by an actor or set actors in dealing with problem or matter of concern (serangkaian tindakan yang mempunyai tujuan tertentu yang diikuti dan dilaksanakan oleh seorang atau kelompok pelaku guna memecahkan suatu masalah tertentu). kemungkinan besar pelaksanaan fungsi pengawasan dan fungsi perwakilanlah yang akan sangat menonjol. program. Hubungan DPRD dan jajaran Eksekutif yang dinamis juga terjadi dalam rangka pelaksanaan fungsi pengawasan dan fungsi perwakilan DPRD. 2004 ayat (1) point (a) yang berbunyi ³DPRD mempunyai tugas dan wewenang: membentuk Perda yang dibahas dengan kepala daerah untuk mendapat persetujuan bersama. undang-undang ketentuan-ketentuan usulan-usulan dan rancanganrancangan besar ( Wahab.hari melaksanakan keempat bentuk penyelenggaraan pemerintahan tersebut dibawah pengendalian dan pengarahan Kepala Daerah. Berangkat dari kewenangan DPRD meminta keterangan yang akan disertai ancaman sanksi bagi yang menolaknya. tanya jawab yang hidup dan transparan. Kebijakan Publik Agar pemaparan kebijakan publik lebih jelas sebelum membahas kebijakan publik terlebih dahulu akan dibahas pengertian kebijakan dan pengertian publik. Perangkat Daerah. DPRD bermitra dengan Kepala Daerah. Baru setelah kedua pengertian tersebut dibahas dilanjutkan kemudian pengertian kebijakan publik. Seorang ahli. keputusan. DPRD misalnya agar APBD dan Peraturan Daerah lainnya agar dirumuskan secara operasioanal tidak saja menyangkut kewenangan Legislatif mereka tetapi juga karena harus memperjuangkan kepentingan konstituennya dalam APBD dan Peraturan Daerah lainnya. Tetapi kalangan Eksekutif tidaklah begitu saja kehilangan pengaruh karena bertindak proporsional perangkat Daerah justru unggul dalam informasi dan keahlian. dalam bukunya yang sama. Sedangkan pengertian publik. seperti dinas Daerah dan lembaga teknis Daerah lainnya. Dialek kita antara aspirasi masyarakat yang diperjuangkan oleh para anggota DPRD dan program yang disusun berdasarkan informasi (yang lengkap dan akurat) dan keahlian yang dibawakan oleh pihak jajaran Eksekutif justru akan melahirkan keputusan politik yang terbaik menurut ruang dan waktu serta dapat dilaksanakan. 32 th. Hal ini DPRD akan lebih menonjol dalam pelaksanaan fungsi pengawasan dan fungsi perwakilan. Yang dipimpin oleh Sekretaris Daerah yang sehari. hak mengadakan penyelidikan dan hak meminta pertanggungjawaban Kepala Daerah maupun mengajukan pertanyaan kritis secara transparan. Yang dimaksud dengan penyelenggaraan pemerintah Daerah ialah melaksanakan kebijakan publik. keberanian para anggota DPRD semakin meningkat baik untuk menggunakan hak meminta keterangan kepada Pemda. Islamy (1998) menjelaskan: . sedangkan perangkat Daerah dan Kepala Daerah akan lebih menonjol dalam implementasi kebijakan.Dalam pembuatan Peraturan Daerah.

harus ada tujuannya (objek). Selanjutnya pengertian kebijakan publik (public policy). Kebijakan publik tidak hanya yang dibuat oleh lembaga/ badan negara tertinggi/tinggi saja.is what governments say and do. Charles Lindblom (dalam Abdul Wahab 1990). karena publik itu sulit dikenali sifat-sifat kepribadiannya (identifikasinya) secara jelas. Perumusan Kebijakan Membuat atau merumuskan suatu kebijakan. lebih jauh lagi dikatakan bahwa pemerintah memilih untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. or not do. seperti dinegara kita MPR dan Presiden tetapi juga oleh badan/pejabat disemua jenjang pemerintahan. Satu hal yang menonjol mereka mempunyai perhatian atau minat yang sama. 1997) kebijakan publik adalah semua pilihan atau tindakan yang dilakukan pemerintah. Dilain pihak kata publik diartikan sebagai ³kumpulan orang-orang yang menaruh perhatian. bentuknya berupa Peraturan perundang-undangan atau program-program. Hal ini disebabkan karena terdapat banyak faktor atau kekuatankekuatan yang berpengaruh terhadap proses pembuatan kebijakan tersebut. Untuk selanjutnya pengertian publik sebagaimana yang telah diuraikan diataslah yang digunakan sebagai pembatas.´). bukanlah suatu proses yang sederhana dan mudah. Anderson (1979) mengatakan ³public policies are those policies developed by governmental bodies and official ³. Dye (1978) memberikan definisi kebijakan publik sebagai ³is whatever governments choose to do or not to do´. Edwards dan Sharkansky (1978) dalam Islamy (1997) mengartikan public policy yang hampir mirip dengan definisi Dye tersebut diatas. untuk mengatasi masalah-masalah dalam masyarakat. Untuk memperjelas makna yang terkandung dalam perumusan kebijakan. pada dasarnya yang dimaksud dengan kebijakan publik adalah semua tindakan pemerintah baik untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Edwards dan Sharkansky kemudian mengatakan bahwa kebijakan negara itu dapat ditetapkan secara jelas dalam bentuk pidato-pidato pejabat teras pemerintah ataupun berupa program-program dan tindakan-tindakan yang dilakukan pemerintah. berkaitan dengan definisi kebijakan Anderson yang telah dikemukakan diatas. Berdasarkan pengertian dari Anderson tentu saja pengertian kebijakan dapat dijabarkan sebagaimana diartikan Anderson pada uraian sebelumnya. Kemudian. 1997). Didalam masyarakat tersebut norma-norma atau nilai-nilai tertentu yang mengikat atau membatasi kehidupan anggota-anggotanya. Kebijakan publik itu berupa sasaran atau tujuan program-program pemerintah«. yaitu sebagai berikut: ³«««. secara sosiologis kita tidak boleh menyamakan dengan masyarakat. Jadi menurut Anderson setiap kebijakan yang dikembangkan oleh badan atau pejabat pemerintah dapat disebut kebijakan publik. minat atau kepentingan yang sama´. Sofian Effendi (1997) memberikan batasan kebijakan publik adalah suatu tindakan pemerintah yang bertujuan untuk mengatasi masalah-masalah yang ada dalam masyarakat yang antara lain tidak mau bertanggungjawab. Jadi kebijakan publik merupakan tindakan pemerintah yang bertujuan untuk mengatasi masalah-masalah dalam masyarakat yang orang lain tidak mau mengatasinya. baik untuk melaksanakan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Suatu kebijakan/ Peraturan dibuat bukan untuk kepentingan politik (misalnya guna mempertahankan status quo pembuat keputusan) tetapi justru untuk meningkatkan kesejahteraan hidup anggota masyarakat secara keseluruhan (Islamy. It is the goals or purpose of governments programs«´ (³adalah apa yang dinyatakan dan dilakukan atau tidak dilakukan oleh pemerintah. Dari berbagai definisi diatas. Tidak ada norma yang mengikat /membatasi perilaku publik sebagaimana halnya pada masyarakat. apalagi kebijakan itu berupa Peraturan/Peraturan Daerah. menuturkan bahwa pembuatan kebijakan negara (Public-Policy-marking) itu pada hakekatnya . Sedangkan menurut Dye (Darwin. Dan kebijakan publik itu harus meliputi semua tindakantindakan pemerintah.Kata publik mempunyai dimensi arti agak banyak. Perbedaan pengertian masyarakat diartikan sebagai ³sistem antar hubungan sosial dimana manusia hidup dan tinggal secara bersama ±sama´.

Sementara kalau kita mengikuti pendapat Anderson (1979) dan Tjokroamidjoyo (1976) mereka membedakan pengertian pembuatan keputusan dan pembuatan kebijakan dengan mengatakan: pembuatan kebijakan atau policy formulation sering disebut juga policy making dan ini berbeda dengan pengambilan keputusan karena pengambilan keputusan adalah pengambilan pilihan sesuatu alternatif yang bersaing mengenai sesuatu hal dan selesai sampai disitu. c) Perumusan usulan kebijakan negara. Serangkaian kekuatan-kekuatan yang agak kompleks yang kita sebut sebagai pembuatan kebijakan negara itulah yang membuahkan hasil yang disebut kebijakan). Somehow a complex set of forces that we call policy making all taken together. Secara singkat tekanan khususnya adalah perwujudan martabat manusia baik secara teori maupun fakta. d) Proses legitimasi kebijakan negara. yang selama ini tingkatan otonomi daerah asas dekonsentrasi serta meningkatkan kewenangan DPRD. Menuruut Laswell (dalam Dunn. Dimana daerah memiliki wewenang yang lebih besar dalam mengatur dan mengurusi rumah tangganya sendiri. Raymond Bour (dalam Wahab. maka kegiatan tersebut dinamakan perumusan kebijakan. Menurut Islamy (1997). Proses perumusan kebijakan pada intinya adalah suatu tindakan dan interaksi dilingkungan stakeholder yang menghasilakan output dalam bentuk kebijakan. tetapi juga demokrasi lokal yang arahnya . 1998) bahwa tujuan ilmu-ilmu kebijakan tidak sekedar untuk memberikan penngetahuan yang dibutuhkan dalam rangka pelaksanaan demokrasi. yang sejak diundangkannya Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 sampai diberlakukannya UU 32 Th 2004 sebagai hasil revisi dari UU terdahulu. produses effects called policies. langkah-langkah perumusan kebijakan disusun sebagai berikut: a) Perumusan masalah kebijakan negara. Bahkan menurut Sofian Effendi (1993) ³ desentralisasi tidak sekedar pendelegasian otoritas formal dalam bentuk dekonsentrasi (pelimpahan wewenang implementasi kepada daerah) dan devolusi (pelimpahan sebagian wewenang pembuat kebijakan dan pengendalian sumberdaya kepada daerah)´. sebaliknya bila pemilihan alternatif itu terus-menerus dan tidak pernah selesai. Makna dari desentralisasi itu sendiri dapat dilihat dari banyak sisi seperti yang dikemukakan oleh Ichlasul Amal dan Nasikun (1988) yang menyoroti dari sudut pandang kandungan yang dimilikinya yaitu ³ desentralisasi administratif dan desentralisasi politik. analytical and politica process to which there is no beginning or end. Indonesia memasuki babak baru dalam penyelenggaraan pemerintah daerah. Sedangkan policy making meliputi banyak pengambilan keputusan.merupakan ³an extermely complex. dimana yang diinginkan tidaklah hanya demokrasi pada tingkat nasional. dan batas-batas dari proses itu sesungguhnya yang paling tidak pasti. Jadi menurut Tjokroamidjoyo. Tetapi juga harus dillihat sebagai process of political interaction. maka kegiatan itu disebut pembuatan keputusan. b) Proses memasukan masalah kebijakan negara ke dalam agenda pemerintah. e) Pelaksanaan kebijakan negara dan f) Penilaian kebijakan negara. Dan ini berarti bahwa desentralisasi atau otonomi sangat erat kaitannya dengan demokrasi. Otonomi Daerah: Demokrasi Lokal Dalam Proses Perumusan Peraturan Daerah Didalam konteks teoritis demokrasi selalu berkaitan erat dengan desentralisasi kekuasaan. 1990) merumuskan pembuatan kebijakan negara sebagai proses transformasi atau pengubahan input-input politik menjadi output-output politik. dan ini terlihat dari kewenangan pusat yang sudah dibatasi. and the boundaries of which are mosed uncertain. Sedangkan menurut Warsito Utomo (1998) ³otonomi atau desentralisasi bukanlah semata-mata bernuansa technical adminstration atau practical administration saja. Jadi komitmen yang jelas terhadap nilai-nilai kemanusiaan tertentu yaitu demokrassi dan martabat manusia.´ (merupakan proses politik yang amat kompleks dan analisis dimana tidak mengenal saat dimulai dan diakhirinya. Pandangan yang diketengahkan oleh Bouer ini nampak amat oleh teori analisis sistem sebagaimana dianjurkan oleh David Easton (1963). Desentralisasi administratif pada umumnya disebut dekonsentrasi dan mempunyai pendelegasian sebagian wewenang pelaksanaan pada tingkat bawah. Pejabat-pejabat lokal hanya berdasarkan rencana dan anggaran yang sudah ditentukan oleh pusat. apabila pemilihan alternatif itu sekali dilakukan dan selesai. sedangkan desentralisasi politik berarti bahwa sebagian wewenang membuat keputusan dan kontrol atas sumber-sumber dana diserahkan pada pejabatpejabat regional atau lokal´. Dan desentralisasi pada dasarnya diwujudkan dengan adanya otonomi pada tingkat lokal untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri.

jadi mereka yang diperintah menganggap bahwa sudah wajar PeraturanPeraturan dan keputusan yang dikeluarkan oleh penguasa harus dipatuhi. Menurut Ichlasul Amal (2000) pola hubungan eksekutif-legislatif terbagi dalam tiga pola hubungan yakni : ³dominasi Eksekutif. namun dalam perumusan Perturan Daerah haruslah mempunyai legitimasi. maka format demokrasi lokal sangat dipengaruhi oleh sistem politik nasional sehingga berkaitan dengan proses perumusan Peraturan Daerah. keabsahan tidak saja legitimasi dari sudut pandang penguasa tetapi juga dari sudut pandang rakyat. sebagaimana diuraikan Miriam Budiardjo (1996) legitimasi atau ³Keabsahan adalah kenyakinan dari anggotaanggota masyarakat masyarakat bahwa wewenangyang ada pada seseorang. Pendapat-pendapat diatas termasuk pendapat yang mungkin saja secara kontekstual. 1996) ³legitimasi menyangkut kemampuan untuk membentuk dan mempertahankan kepercayaan bahwa lembaga-lembaga atau bentuk-bentuk politik yang ada adalah yang paling wajar untuk masyarakat itu´. (The Liang Gie. tentunya tidak melampaui perundang-undangan yang lebih tinggi. Dipandang dari sudut penguasa sebagaimana dikatakan A. Kewajaran ini berdasarkan persepsi bahwa pelaksanaan wewenang itu seseuai dengan asas-asas dan prosedur yang sudah diterima secara luas dalam masyarakat dan sesuai dengan ketentuanketentuan dan prosedur yang sah. Dimana melalui keseimbang kekuasaan antara Legislatif dan Eksekutif didaerah diharapakan mekanisme check and balances ditingkat lokal dapat direalisasikan dalam rangka memperjuangkan kepentingan rakyat sebagai pemilik kedaulatan tertinggi. berbeda tentang desentralisasi yang diterjemahkan dalam konteks otonomi daerah dan memang itu dihubungkan karena otonomi itu sendiri sifatnya relatif dan tidak ada suatu wilayah baik negara atau daerah yang memiliki otonomi mutlak. karena interaksi yang terjadi dengan lingkungan disekitarnya. dominasi Legislatif.M. Oleh karena itu untuk membangun pola hubungan yang ideal antara Legislatif dan Eksekutif dalam arati terciptanya keseimbangan antara kedua lembaga tersebut sangat tergantung pada sistem politik yang dibangun. kalau seseorang melakukan suatu perbuatan denngan maksud tertentu yang memang dikehendaki. Dalam arti kedaulatan rakyat pada tingkat lokal akan memberikan konstribusi politik pada kedaulatan rakyat pada tingkat yang lebih besar. . negara yang antara lain berhubungan dengan posisi rakyat dalam proses pemilihan pemimpin publik di daerah.kepada pemberdayaan atau kemandirian daerah´. Mengingat demokrasi lokal merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem demokrasi nasional. Lipset (Budiardjo. kelompok atau penguasa adalah wajar dan patut dihormati. Sebaliknya semakin tidak demokratis sistem politik suatu negara maka yang tercipta dua kemungkinan yaitu dominatif Eksekutif yang mencipatakan rezim otoriter dan dominatif Legislatif yang mencipatakan anarki politik. 1967)´. Namun persoalaannya dalam negara yang demokrasi. Dan dalam pola yang seimbang antara Legislatif dan Eksekutif itu pulalah hubungan yang hendak dibangun antara Legislatif dan Eksekutif daerah dalam melaksanakan demokrasi lokal. dan hubungan yang seimbang´ dan lebih lanjut dikatakannya dalam suatu sistem politik satu negara ketiga pola hubungan tersebut tidak berjalan dengan tetap´. sedangkan dari sudut pandang rakyat. Semakin demokratis sistem politik itu maka hubungan antara Legislatif dan Eksekutif akan semakin seimbang. Maka orang itu dikatakan efektif kalau menimbulkan atau mempunyai maksud sebagaimana yang dikehendaki. Dimana rakyat memiliki kebebasan untuk berpendapat dan memilih agen-agennya yang duduk sebagai wakil-wakil mereka dilembaga Legislatif maupun pemimpin publik dilembaga Eksekutif pada tinngkat lokal dengan bebas dalam sistem demokratis. Efektifitas Kebijakan Dalam Ensiklopedia administrasi memberi pengertian tentang efektifitas sebagai berikut : ³Efektifitas adalah suatu keadaan yang mengandung pengertian mengenai terjadinya suatu efek atau akibat yang dikehendaki. sejauh mana otonomi tersebut memberikan posisi yang lebih besar pada rakyat sebagai pemilik kedaulatan tertinggi.

1996 : 38) sebagai berikut: ³Pendekatan tujuan untuk mendefinisikan dan mengevaluasi efektifitas merupakan pendekatan evaluasi tertua dan paling luas digunakan´. 3. Maka yang dimaksud Efektifitas Kebijakan adalah keberhasilan implemintasi kebijakan tersebut dapat dicapai secara tepat waktu. maka sasarannya akan terus berupaya mempertahankannya sehingga Peraturan Daerah itu akan dipatuhi oleh pegawai. Suatu kebijakan yang telah ditetapkan diharapakan mempermudah pegawai berurusan sehingga akan puas. efesiensi. Pendapat lain juga memberikan pengertian tentang efektifitas seperti Richard M. persaingannya dihubungkan dengan pengembangan. Suatu kebijakan yang telah ditetapkan dapat bertahan lama dan relefan dengan tujuan maka dapat digunakan 3 (tiga) kriteria yaitu jangka pendek. Bila Peraturan Daerah ini diterapkan. Sedangkan mutu dikaitkan dengan kreteria ini adalah menjadi efektifitas individu dari kelompok sasaran. Jangka Menengah pada kreteria jangka menengah. seperti pendapat (Michael Keely : 1984 dalam Gibson dkk. memperhatikan suatu kebijakan yang telah ditetapkan dapat menjaga kelangsungan hidup sampai kepada yang tidak kemungkinan suatu saat tidak sesuai lagi dengan keadaan dan situasi perkembangan jaman. suatu kebijakan yang dilakukan pada tataran jangka pendek adalah mengukur suatu produksi. Berarti suatu kebijakan dapat dianggap sudah efektif apabila target dari tujuan kebijakan telah terpenuhi. Jadi pencapaian tujuan tidak dapat diukur bagi organisasi yang tidak menghasilkan keluaran yang bersifat wujud. Jangka Pendek. organisasi makin efektif pula. Keberadaan suatu organisasi salah astunya adalah untuk mencapai tujuan kebijakan. fleksibilitas dan tingkat kepuasan : 1. jangka menengah dan jangka panjang. Kriteria tersebut menggunakan sejumlah literatur jangka pendek untuk kelangsungan Peraturan Daerah jangka panjang seperti produktifitas. . Jangka Panjang kreteria efektifitas jangka panjang adalah dengan. Dengan demikian efektifitas dipandang sebagai tujuan akhir oleh sebagian besar organisasi setidaknya secara teoritis´. dokumen yang selesai diproses dan klien yang dilayani. Dari model diatas penerapannya dalam proses perumusan Peraturan Daerah antara Legislatif dan Eksekutif dengan menghasilkan Peraturan Daerah yang baru ini dapat mempermudah pegawai untuk berurusan mengenai kenaikan pangkat. Steirs (1985 : 2) sebagai berikut : ³Bahwa makin rasional suatu organisasi. Definisi ini menyatakan bahwa efektifitas dimaksudkan seberapa jauh organisasi itu mencapai tujuan sebegitu jauh pula tingkat efektifitas yang telah dicapai. 2. gaji berkala yang sebelumnya harus melalui Biro Aparatur sekarang cukup diselesaikan di Biro masing-masing sehingga dikatakan efisien. makin besar kemampuan yang diperoleh kearah tujuan.Dari pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa suatu hal dapat efektif adalah suatu kegiatan yang telah dilakukan memenuhi target yang di inginkan atau tujuan yang telah ditetapkan. bagaimana suatu organisasi mampu mewujudkan kemampuannya dalam berbagai situasi untuk dapat menjalankan tugasnya dalam menyelesaikan suatu wewenang yang telah diberikan.

### DAFTAR PUSTAKA Abdullah. fungsi. Solo. dan difungsikan mencapai tujuan yang efektif seperti tertera pada gambar berikut : Hubungan antar kelomppok.. Rosali. Raja Grafindo Persada. Abdul Wahab.Gibson (1997) juga mengajukan suatu model tentang hubungan antara fungsi manajemen. Gadjah Mada University Press. . PT.. Komunikasi politik dan Sistem Politik Indonesia. (terjemahan Samudra Wibawa. Alfian.. 1993. Sofian. Jakarta. Model implementasi dikemukakan oleh Van Meter dan Van Horn (dalam Budi Winarso. Jakarta. 2. Dunn.. 1. Anderson. 2005. William. 1989) bahwa untuk mengukur dan menjelaskan hasil akhir dari suatu kebijakan yang efektif adalah pencapaian program. Pertimbangan manajerial adalah karena proses manajerial yang melekat dengan proses manusia berhubungan dengan organisasi mengenai faktor ini memungkinkan pemahaman perilaku manusia di tempat kerja. Gramedia. Agus purwanto. Effendi. Erwan. Kebijakan Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Menghadapi Era Tinggal Landas. Miriam. Gramedia Pustaka Utama. NewYork. Public Policy Making Hoolt. individu dan organisasi adalah dengan efektifitas yang bersifat langsung yang pembahasannya dapat dilihat sebagai berikut. Jakarta. Solichin. Tapi gagal dampak substansional karena kebijaksanaan tidak disusun secara baik oleh instituisi dominan suatu kebijakan diberlakukan kesemuanya faktor tersebut dapat mempengaruhi dan secara bersama-sama mempunyai peran masing-masing mewujudkan implementasi kebijakan. Keberhasilan implementasi kebijakan ditentukan dengan adanya kelompok sasaran. 3. Agus Herwanto Hadna. Berdasarkan sifatnya. 1979. Budiardjo. Jakarta. kelomppok dan organisasi yang bagaimana diterapkan. Penyunting. Demokrasi di Indonesia Parlementer Dan Demokrasi Pancasila. 1996. PT. Sifat kerja manajerial berasal dari perlunya mengkoordinasikan pekerjaan dalam organisasi. Rinehart and Weston. Teknik manajerial semua ditujuankan pada penegakan efektifitas. Muhadjir Darwin) Pengantar Analisis Kebijakan Publik. 1990. JE. artinya masyarakat akan dapat menerima suatu kebijakan apabila telah diterapkan dengan sepenuhnya tanpa pandang bulu. 2000. Pelaksanaan Otonomi Luas Dengan Pemilihan Kepala Daerah Secara Langsung. organisasi memanfaatkan spesialisasi. tetapi adanya spesialisasi membutuhkan koordinasi. 1990. Pengantar Analisis Kebijakan Negara. Rienika Cipta. efektifitas individu. Perlu diperhatikan bahwa beberapa pelayanan yang sebenarnya dapat diberikan tanpa mempunyai dampak substansional pada masalah yang diperkirakan berhubungan dengan kebijakan suatu kebijaksanaan mungkin dapat di implementasikan secara efektif..

. Diskriminasi tentang perbedaan perlakuan Absolute menciptakan dominasi . Cendrung buruk maksudnya pengulangan cara dan menggunakanya lebih kepada kepentingan sedndiri. Mengapa Negara perlu legislative? 1. Karena sebagai syarat/ prinsip dari Negara demokrasi 2. Untuk menghindari kekuasaan yang absolute Kekuasaan cendrung buruk dan untuk mengatasinya harus ada yang control atau di imbangi. Dimana kakuasaan absolute itu akan menciptakan hal yang buruk. Eksploitasi 3.PROSES LEGISLATIF DI INDONESIA Legislative: membuat undang-undang Eksekutif : kekuasaan yang menyelenggarakan Yudikatif : lembaga eksekutor (peninjau) atas penyelenggaraan per-undangan LEGISLATIF Asal kata berasal dari kata ³legis´ dan berkembang menjadi ³legal´ lalu menjadi ³legislative´ sedangkan dari belanda ³legislatur´ Legas : aturan menjadi legal kalau sesuai dengan aturan Legislative : lembaga dan produknya adalah legis Legilatif bisa juga dikatakan sebagai wakil rakyat yang di hasilkan melalui pemilihan umum dan bisa di simpulkan bahwa legislatgif adalah lembaga / organisasi perwakilan rakyat yang dihasilkan dari hasil pemilu dan membuat undang-undang. Pentingnya legislative Agar tidak terjadi kekuasaan yang absolute maka dibagi lembaga-lembaga tinggi Negara salah satunya legislative dimana hasil pilihan rakyat. Dominasi 2. Untuk mencegahnya maka harus ada tindakan control/ diimbangi Karena kekuasaan absolute akan menimbulkan: 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful