P. 1
PTS SUPERVISI KINERJA

PTS SUPERVISI KINERJA

|Views: 2,363|Likes:
Published by Thomas Wood

More info:

Published by: Thomas Wood on Oct 14, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/26/2013

pdf

text

original

PENGARUH SUPERVISI KEPALA SEKOLAH DENGAN TEKNIK KELOMPOK (MEETING) TERHADAP PENINGKATAN PRESTASI KERJA GURU SMP NEGRI

4 NUSA PENIDA

LEMBAR PENGESAHAN ABSTRAK KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL (kalau ada dan tabel lebih dari 5 buah) DAFTAR GAMBAR (kalau ada dan gambar lebih dari 5 buah) DAFTAR LAMPIRAN (kalau lebih dari 5 buah)

BAB I

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), 2009 (I Nyoman Sudana)

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam pelaksanaan fungsi dan tugasnya, guru sebagai profesi menyandang persyaratan tertentu sebagaimana tertuang di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam pasal 39 (1) dan (2) dinyatakan bahwa: Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi,

pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan. Untuk dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawab diatas, seorang guru dituntut memiliki beberapa kemampuan dan ketrampilan tertentu. Kemampuan dan ketrampilan tersebut sebagai bagian dari kompetensi profesionalisme guru. Kompetensi merupakan suatu kemampuan yang mutlak dimiliki oleh guru agar tugasnya sebagai pendidik dapat terlaksana dengan baik. Tugas guru erat kaitannya dengan peningkatan sumber daya manusia melalui sektor pendidikan, oleh karena itu perlu upaya-upaya untuk meningkatkan mutu guru untuk menjadi tenaga profesional. Agar peningkatan mutu pendidikan dapat berhasil. Sebagaimana dikemukakan oleh Tilaar (1999:104) peningkatan kualitas pendidikan tergantung banyak hal, terutama mutu gurunya.Menurut UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,

pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, Bangsa dan Negara. Untuk menjadikan guru sebagai tenaga professional maka perlu diadakan pembinaan secara terus menerus dan berkesinambungan, dan menjadikan guru sebagai tenaga kerja perlu diperhatikan, dihargai dan diakui keprofesionalannya.

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), 2009 (I Nyoman Sudana)

Membuat mereka menjadi professional tidak semata-mata hanya meningkatkan kompetensinya baik melalui pemberian penataran, pelatihan maupun memperoleh kesempatan untuk belajar lagi namun perlu juga memperhatikan guru dari segi yang lain seperti peningkatan disiplin, pemberian motivasi, pemberian bimbingan melalui supervisi, pemberian insentif, gaji yang layak dengan keprofesionalnya sehingga memungkinkan guru menjadi puas dalam bekerja sebagai pendidik. Kepuasan kerja bagi guru sebagai pendidik diperlukan untuk meningkatkan kinerjanya. Kepuasan kerja berkenaan dengan kesesuaian antara harapan seseorang dengan imbalan yang disediakan. Kepuasan kerja guru berdampak pada prestasi kerja, disiplin, kualitas kerjanya. Pada guru yang puas terhadap pekerjaannya maka kinerjanya akan meningkat kemungkinan akan berdampak positif terhadap peningkatan mutu pendidikan. Kinerja guru atau prestasi kerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman, dan kesungguhan serta waktu (Hasibuan, 2001:94). Kinerja guru akan baik jika guru telah melakukan unsur-unsur yang terdiri dari kesetiaan dan

komitmen yang tinggi pada tugas mengajar, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran, kedisiplinan dalam mengajar dan tugas lainnya, kreativitas dalam pelaksanaan pengajaran, kerjasama dengan semua warga sekolah, kepemimpinan yang menjadi panutan siswa, kepribadian yang baik, jujur dan objektif dalam membimbing siswa, serta tanggung jawab terhadap tugasnya. Oleh karena itu tugas kepala sekolah selaku manager adalah melakukan penilaian terhadap kinerja guru. Ada beberapa hal yang menyebabkan meningkatnya kinerja guru, namun penulis mencoba mengkaji masalah supervisi yang diberikan oleh kepala sekolah. Supervisi dalam hal ini adalah mengenai tanggapan guru terhadap pelaksanaan pembinaan dan bimbingan yang diberikan oleh kepala sekolah yang nantinya berdampak kepada kinerja guru yaitu kualitas pengajaran. Supervisi pendidikan didefinisikan sebagai proses pemberian layanan

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), 2009 (I Nyoman Sudana)

bantuan

profesional

kepada

guru

untuk

meningkatkan

kemampuannya

dalam

melaksanakan tugas-tugas pengelolaan proses pembelajaran secara efektif dan efisien (Bafadal, 2004:46). Dengan adanya pelaksanaan supervisi oleh kepala sekolah diharapkan memberi dampak terhadap terbentuknya sikap professional guru. Sikap professional guru merupakan hal yang amat penting dalam memelihara dan meningkatkan profesionalitas guru, karena selalu berpengaruh pada perilaku dan aktivitas keseharian guru. Perilaku profesional akan lebih diwujudkan dalam diri guru apabila institusi tempat ia bekerja memberi perhatian lebih banyak pada pembinaan, pembentukan, dan pengembangan sikap profesional (Pidarta, 1996:380). Kegiatan supervisi kepala sekolah akan berpengaruh secara psikologis terhadap kinerja guru, guru yang puas dengan pemberian supervisi kepala sekolah dan motivasi kerjanya tinggi maka ia akan bekerja dengan sukarela yang akhirnya dapat membuat produktivitas kerja guru meningkat. Tetapi jika guru kurang puas terhadap pelaksanaan supervisi kepala sekolah dan motivasi kerjanya rendah maka guru dalam bekerja kurang bergairah, hal ini mengakibatkan produktivitas guru menurun. Berdasarkan kenyataan yang ada di SMP Negeri 4 Nusa Penida belum maksimal dilakukan supervisi dan masih banyak kendala atau persoalan yang berkaitan dengan pelaksanaan supervisi oleh kepala sekolah. Partisipasi guru untuk di supervisi masih rendah, mereka beranggapan bahwa supervisi adalah pengawasan atau penilaian yang akhirnya kondite baginya, maka beberapa guru masih enggan untuk disupervisi. Padahal tujuan supervisi untuk membantu guru-guru melihat dengan jelas tujuan pendidikan dan berusaha mencapai tujuan pendidikan itu dengan membina dan mengembangkan metode-metode dan prosedur pengajaran yang lebih baik. Bertitik tolak dari uraian di atas maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Pengaruh Supervisi Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Guru SMP Negeri 4 Nusa Penida Tahun Ajaran 2009/2010”

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), 2009 (I Nyoman Sudana)

B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: 1. Adakah pengaruh supervisi kepala sekolah terhadap kinerja guru SMP Negeri 4 Nusa Penida? 2. Seberapa besar pengaruh supervisi kepala sekolah terhadap kinerja guru SMP Negeri 4 Nusa Penida ? A. Pembatasan Masalah Dari permasalahan diatas, dalam penelitian tindakan sekolah ini akan dilakukan tindakan supervisi kepala sekolah dengan pendekatan rapat/pertemuan(meeting) dalam rangka mengetahui dan seberapa jauh peningkatan kinerja guru SMP Negeri 4 Nusa Penida B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah yang telah dikemukakan diats, maka rumusan masalah yang ditetapkan adalah “ Apakah ada Pengaruh Supervisi Kepala Sekolah Dengan Teknik Kelompok (Meeting) Terhadap Peningkatan Kinerja Guru” SMP negeri 4 Nusa Penida.

C. Pemecahan Masalah Untuk memecahkan masalah tersebut diatas dipergunakan “ Apakah ada Pengaruh Supervisi Kepala Sekolah Dengan Teknik Kelompok (Meeting) Terhadap Peningkatan Kinerja Guru ” SMP negeri 4 Nusa Penida. D. Tujuan Penelitian Sesuai dengan permasalahan yang dijabarkan di atas, maka tujuan penelitian yang hendak dicapai adalah:

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), 2009 (I Nyoman Sudana)

1. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh supervisi kepala sekolah terhadap kinerja guru SMP Negeri 4 Nusa Penida 2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh supervisi kepala sekolah terhadap kinerja guru SMP Negeri 4 Nusa Penida A. Manfaat Penelitian 1. Kegunaan secara teoritis a) Untuk mengembangkan pengetahuan mengenai supervisi kepala sekolah, dan kinerja. b) Untuk mengembangkan wawasan mengenai supervisi kepala sekolah, dan kinerja guru SMP Negeri 4 Nusa Penida 1. Kegunaan secara praktis a) Sebagai bahan masukan atau input bagi SMP Negeri 4 Nusa Penida agar mampu mengambil langkah-langkah tepat dalam upaya meningkatkan kinerja guru melalui supervisi kepala sekolah dan motivasi kerja guru. b) Memberi dorongan para guru untuk meningkatkan kinerjanya dengan melalui supervisi kepala sekolah yang nantinya dapat meningkatkan mutu pendidikan.

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Supervisi Kepala Sekolah 1. Pengertian Supervisi Kepala Sekolah Supervisi adalah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif (Purwanto, 2003:32)

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), 2009 (I Nyoman Sudana)

Menurut Jones dalam Mulyasa (2003:155), supervisi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh proses administrasi pendidikan yang ditujukan terutama untuk mengembangkan efektivitas kinerja personalia sekolah yang berhubungan tugastugas utama pendidikan. Menurut carter, supervisi adalah usaha dari petugas-petugas sekolah dalam memimpin guru-guru dan petugas-petugas lainnya dalam memperbaiki pengajaran, termasuk menstimulasi, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan

perkembangan guru-guru serta merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan pengajaran dan metode serta evaluasi pengajaran (Sahertian, 2000:17) Supervisi adalah aktivitas menentukan kondisi/syarat-syarat yang essensial yang akan menjamin tercapainya tujuan-tujuan pendidikan. Dari definisi tersebut maka tugas kepala sekolah sebagai supervisor berarti bahwa dia hendaknya pandai meneliti, mencari, dan menentukan syarat-syarat mana sajakah yang diperlukan bagi kemajuan sekolahnya sehingga tujuan-tujuan pendidikan di sekolah itu semaksimal mungkin dapat tercapai. Jadi supervisi kepala sekolah merupakan upaya seorang kepala sekolah dalam pembinaan guru agar guru dapat meningkatkan kualitas mengajarnya dengan melalui langkah-langkah perencanaan, penampilan mengajar yang nyata serta mengadakan perubahan dengan cara yang rasional dalam usaha meningkatkan hasil belajar siswa. 2. Karakteristik supervisi Menurut Mulyasa (2004:112) Salah satu supervisi akademik yang populer adalah supervisi klinis, yang memiliki karakteristik sebagai berikut: a) Supervisi diberikan berupa bantuan (bukan perintah), sehingga inisiatif tetap berada di tangan tenaga kependidikan. b) Aspek yang disupervisi berdasarkan usul guru, yang dikaji bersama kepala sekolah sebagai supervisor untuk dijadikan kesepakatan.

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), 2009 (I Nyoman Sudana)

c) Instrumen dan metode observasi dikembangkan bersama oleh guru dan kepala sekolah. d) Mendiskusikan dan menafsirkan hasil pengamatan dengan mendahulukan interpretasi guru. e) Supervisi dilakukan dalam suasana terbuka secara tatap muka, dan supervisor lebih banyak mendengarkan serta menjawab pertanyaan guru daripada memberi saran dan pengarahan. f) Supervisi klinis sedikitnya memiliki tiga tahap, yaitu pertemuan awal, pengamatan, dan umpan balik. g) Adanya penguatan dan umpan balik dari kepala sekolah sebagai supervisor terhadap perubahan perilaku guru yang positif sebagai hasil pembinaan. h) Supervisi dilakukan secara berkelanjutan untuk meningkatkan suatu keadaan dan memecahkan suatu masalah. 1. Faktor yang mempengarui berhasil tidaknya supervisi Menurut Purwanto (2004:118) ada beberapa faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya supervisi atau cepat-lambatnya hasil supervisi antara lain: a) Lingkungan masyarakat tempat sekolah itu berada. Apakah sekolah itu di kota besar, di kota kecil, atau pelosok. Dilingkungan masyarakat orang-orang kaya atau dilingkungan orang-orang yang pada umumnya kurang mampu. Dilingkungan masyarakat intelek, pedagang, atau petani dan lain-lain. b) Besar-kecilnya sekolah yang menjadi tanggung jawab kepala sekolah. Apakah sekolah itu merupakan kompleks sekolah yang besar, banyak jumlah guru dan muridnya, memiliki halaman dan tanah yang luas, atau sebaliknya. c) Tingkatan dan jenis sekolah. Apakah sekolah yang di pimpin itu SD atau sekolah lanjutan, SLTP, SMU atau SMK dan sebagainya semuanya memerlukan sikap dan sifat supervisi tertentu.

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), 2009 (I Nyoman Sudana)

d) Keadaan guru-guru dan pegawai yang tersedia. Apakah guru-guru di sekolah itu pada umumnya sudah berwenang, bagaimana kehidupan sosial-ekonomi, hasrat kemampuannya, dan sebagainya. e) Kecakapan dan keahlian kepala sekolah itu sendiri. Di antara faktor-faktor yang lain, yang terakhir ini adalah yang terpenting. Bagaimanapun baiknya situasi dan kondisi yang tersedia, jika kepala sekolah itu sendiri tidak mempunyai kecakapan dan keahlian yang diperlukan, semuanya itu tidak akan ada artinya. Sebaliknya, adanya kecakapan dan keahlian yang dimiliki oleh kepala sekolah, segala kekurangan yang ada akan menjadi perangsang yang mendorongnya untuk selalu berusaha memperbaiki dan menyempurnakannya. 1. Fungsi kepala sekolah sebagai supervisor pengajaran Kegiatan atau usaha-usaha yang dapat dilakukan oleh kepala sekolah sesuai dengan fungsinya sebagai supervisor antara lain: a) Membangkitkan dan merangsang guru-guru dan pegawai sekolah di dalam menjalankan tugasnya masing-masing dengan sebaik-baiknya. b) Berusaha mengadakan dan melengkapi alat-alat perlengkapan sekolah termasuk media instruksional yang belajar-mengajar. c) Bersama guru-guru berusaha mengembangkan, mencari, dan menggunakan metode-metode mengajar yang lebih sesuai dengan tuntutan kurikulum yang sedang berlaku. d) Membina kerja sama yang baik dan harmonis di antara guru-guru dan pegawai sekolah lainnya. e) Berusaha mempertinggi mutu dan pengetahuan guru-guru dan pegawai sekolah, antara lain dengan mengadakan diskusi-diskusi kelompok, menyediakan diperlukan bagi kelancaran dan keberhasilan proses

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), 2009 (I Nyoman Sudana)

perpustakaan sekolah, dan atau mengirim mereka untuk mengikuti penataranpenataran, seminar, sesuai dengan bidangnya masing-masing. f) Membina hubungan kerja sama antara sekolah dengan BP3 atau komite sekolah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan para siswa. 1. Teknik-teknik supervisi Menurut Purwanto (2004:120-122), secara garis besar cara atau tehnik supervisi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu tehnik perseorangan dan teknik kelompok. a) Teknik perseorangan Yang dimaksud dengan teknik perseorangan ialah supervisi yang dilakukan secara perseorangan. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan antara lain : 1. Mengadakan kunjungan kelas (classroom visition) Yang dimaksud dengan kunjungan kelas ialah kunjungan sewaktuwaktu yang dilakukan oleh seorang supervisor (kepala sekolah) untuk melihat atau mengamati seorang guru yang sedang mengajar. Tujuannya untuk mengobservasi bagaimana guru mengajar, apakah sudah memenuhi syaratsyarat didaktis atau metodik yang sesuai. Dengan kata lain, untuk melihat apa kekurangan atau kelemahan yang sekiranya masih perlu diperbaiki. 2. Mengadakan kunjungan observasi (observation visits) Guru-guru dari suatu sekolah sengaja ditugaskan untuk

melihat/mengamati seorang guru yang sedang mendemonstrasikan cara-cara mengajar suatu mata pelajaran tertentu. Misalnya cara menggunakan alat atau media yang baru, seperti audio-visual aids, cara mengajar dengan metode tertentu, seperti misalnya sosiodrama, problem solving, diskusi panel, fish bowl, metode penemuan (discovery), dan sebagainya.

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), 2009 (I Nyoman Sudana)

3. Membimbing guru-guru tentang cara-cara mempelajari pribadi siswa dan atau mengatasi problema yang dialami siswa Banyak masalah yang dialami guru dalam mengatasi kesulitan-kesulitan belajar siswa. Misalnya siswa yang lamban dalam belajar, tidak dapat memusatkan perhatian, siswa yang nakal, siswa yang mengalami perasaan rendah diri dan kurang dapat bergaul dengan teman-temannya. Masalah-masalah yang sering timbul di dalam kelas yang disebabkan oleh siswa itu sendiri lebih baik dipecahkan atau diatasi oleh guru kelas itu sendiri daripada diserahkan kepada guru bimbingan atau konselor yang mungkin akan memakan waktu yang lebih lama untuk mengatasinya. 4. Membimbing guru-guru dalam hal-hal yang berhubungan dengan

pelaksanaan kurikulum sekolah. Antara lain : 1) Menyusun program catur wulan atau program semester 2) Menyusun atau membuat program satuan pelajaran 3) Mengorganisasikan kegiatan-kegiatan pengelolaan kelas 4) Melaksanakan teknik-teknik evaluasi pengajaran 5) Menggunakan media dan sumber dalam proses belajar-mengajar 6) Mengorganisasikan kegiatan-kegiatan siswa dalam bidang ekstrakurikuler, study tour, dan sebagainya. a) Teknik kelompok Ialah supervisi yang dilakukan secara kelompok. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan antara lain : 1) Mengadakan pertemuan atau rapat (meetings) Seorang kepala sekolah yang baik umumnya menjalankan tugasnya berdasarkan rencana yang telah disusunnya. Termasuk didalam perencanaan itu antara lain mengadakan rapat-rapat secara periodik dengan guru-guru.

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), 2009 (I Nyoman Sudana)

2) Mengadakan diskusi kelompok (group discussions) Diskusi kelompok dapat diadakan dengan membentuk kelompokkelompok guru bidang studi sejenis. Kelompok-kelompok yang telah terbentuk itu diprogramkan untuk mengadakan pertemuan/diskusi guna membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan usaha pengembangan dan peranan proses belajar-mengajar. 3) Mengadakan penataran-penataran (inservice-training) Teknik supervisi kelompok yang dilakukan melalui penataran-penataran sudah banyak dilakukan. Misalnya penataran untuk guru-guru bidang studi tertentu, penataran tentang metodologi pengajaran, dan penataran tentang

administrasi pendidikan. Mengingat bahwa penataran-penataran tersebut pada umumnya diselenggarakan oleh pusat atau wilayah, maka tugas kepala sekolah terutama adalah mengelola dan membimbing pelaksanaan tindak lanjut (followup) dari hasil penataran, agar dapat dipraktekkan oleh guru-guru. Menurut Gwynn, dalam Bafadal (2004 :48-50), teknik supervisi digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu teknik perorangan dan teknik kelompok. Teknik supervisi individual meliputi : 1) kunjungan kelas, 2)

percakapan pribadi, 3) kunjungan antarkelas, 4) penilaian sendiri. Sedang teknik supervisi kelompok meliputi : 1) kepanitiaan, 2) kursus, 3) laboratorium

kelompok, 4) bacaan terpimpin, 5) demonstrasi pembelajaran, 6) perjalanan staf, 7) diskusi panel, 8) perpustakaan profesional, 9) organisasi profesional, 10) bulletin supervisi, 11) sertifikasi guru, 12) tugas belajar, 13) pertemuan guru. Dari beberapa pendapat dan uraian tersebut diatas dapat diambil kesimpulan, bahwa supervisi kepala sekolah adalah proses pembinaan kepala sekolah kepada guru dalam rangka memperbaiki proses belajar mengajar.

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), 2009 (I Nyoman Sudana)

Adapun teknik yang biasa digunakan adalah kunjungan kelas, pertemuan baik formal maupun informal serta melibatkan guru lain yang dianggap berhasil dalam proses belajar mengajar. Ada beberapa teknik yang biasa digunakan kepala sekolah dalam mensupervisi gurunya, namun dalam penelitian ini hanya indikator : kunjungan kelas, semangat kerja guru, pemahaman tentang kurikulum, pengembangan metode dan evaluasi, rapat-rapat pembinaan, dan kegiatan rutin diluar mengajar yang kami teliti sedangkan indikator lain tidak kami teliti karena kurang mengungkap masalah yang kami teliti A. Kinerja Guru 1. Pengertian Kinerja Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud 1990:503) kinerja berarti sesuatu yang dicapai, prestasi diperlihatkan atau kemampuan kerja. Dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh lembaga administrasi negara (1992:12)

merumuskan kinerja merupakan terjemahan bebas dari istilah Performance yang artinya adalah prestasi kerja atau pelaksanaan kerja atau pencapaian kerja atau hasil kerja. Menurut Simamora (1997:327) kinerja adalah tingkat pencapaian standar pekerjaan. Sementara Nawawi (1997:235) menegaskan bahwa kinerja yang diistilahkan sebagai karya adalah hasil pelaksanaan suatu pekerjaan, baik fisik / material maupun non material. Menurut Anwar (1986:86) memberikan pengertian kinerja sama dengan performance yang esensinya adalah berapa besar dan berapa jauh tugas-tugas yang telah dijabarkan telah dapat diwujudkan atau dilaksanakan yang berhubungan dengan tugas dan tanggung jawab yang menggambarkan pola perilaku sebagai aktualisasi dan kompetensi yang dimiliki. Dalam kajian yang berkenaan dengan profesi guru, Anwar (1986: 22) memberikan pengertian kinerja sebagai seperangkat

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), 2009 (I Nyoman Sudana)

perilaku nyata yang

ditunjukkan oleh seorang guru pada waktu memberikan

pelajaran kepada siswanya. Kinerja guru dapat dilihat saat dia melaksanakan interaksi belajar-mengajar dikelas termasuk persiapannya baik dalam benmtuk program semester maupun persiapan mengajar. Kesimpulan yang dapat diambil dari pendapat dan teori kinerja guru diatas, bahwa kinerja guru adalah persiapan, pelaksanaan, dan pencapaian guru dalam melaksanakan interaksi belajar mengajar dikelas. 2. Unsur Kinerja Berdasarkan pengertian diatas kinerja mengandung 3 (tiga) unsur, yaitu: a. Unsur waktu, dalam arti hasil-hasil yang dicapai oleh usaha-usaha tertentu, dinilai dalam satu putaran waktu atau sering disebut periode. Ukuran periode dapat menggunakan satuan jam, hari, bulan maupun tahun. b. Unsur hasil, dalam arti hasil-hasil tersebut merupakan hasil rata-rata pada akhir periode tersebut. Hal ini tidak berarti mutlak setengah periode harus

memberikan hasil setengah dari keseluruhan. c. Unsur metode, dalam arti seorang pegawai harus menguasai betul dan bersedia mengikuti pedoman yang telah ditentukan, yaitu metode kerja yang efektif dan efisien, ditambahkan pula dalam bekerjanya pegawai tersebut harus bekerja dengan penuh gairah dan tekun serta bukan berarti harus bekerja berlebihan. 1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Banyak faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang, baik yang berasal dari dalam diri maupun yang berasal dari luar. Tiffin dan Mccormick (1975: 79) menyatakan ada 2 (dua) macam faktor yang dapat mempengaruhi kinerja seseorang yaitu: a. Faktor Individual

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), 2009 (I Nyoman Sudana)

Yaitu faktor-faktor yang meliputi sikap, sifat-sifat kepribadian, sifat fisik, keinginan atau motivasinya, umur, jenis kelamin, pendidikan,pengalaman kerja, latar belakang budaya dan variabel-variabel personal lainnya. b. Faktor Situasional Faktor sosial dan organisasi, meliputi : kebijaksanaan organisasi, jenis latihan dan pengawasan, sistem upah dan lingkungan sosial. c. Faktor fisik dan pekerjaan, meliputi : metode kerja, desain dan kondisi alat-alat kerja, penataan ruang kerja dan lingkungan kerja (seperti penyinaran, kebisingan dan fentilasi). 1. Penilaian Kinerja Tugas manajer (Kepala Sekolah) terhadap guru salah satunya adalah melakukan penilaian atas kinerjanya. Penilaian ini mutlak dilaksanakan untuk mengetahui kinerja yang telah dicapai oleh guru. Apakah kinerja yang dicapai setiap guru baik, sedang, atau kurang. Penilaian ini penting bagi setiap guru dan berguna bagi sekolah dalam menetapkan kegiatannya. Penilaian kinerja menurut Simamora (1997: 415) adalah alat yang berfaedah tidak hanya untuk mengevaluasi kerja dari para karyawan, tetapi juga untuk mengembangkan dan memotivasi kalangan karyawan. Sejalan dengan pendapat Hasibuan (2000: 87) penilaian prestasi adalah kegiatan manajer untuk mengevaluasi prestasi kerja karyawan serta menetapkan kebijaksanaan selanjutnya. Sehubungan dengan hal diatas maka penilaian kinerja guru berdasarkan Standar Kompetensi Guru. Dalam bukunya Suparlan yang berjudul Guru sebagai Profesi, standar kompetensi guru dapat diartikan sebagai ”suatu ukuran yang ditetapkan atau

dipersyaratkan”. Lebih lanjut dinyatakan bahwa Standar Kompetensi Guru adalah suatu ukuran yang ditetapkan atau dipersyaratkan dalam bentuk penguasaan

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), 2009 (I Nyoman Sudana)

pengetahuan dan perilaku perbuatan bagi seorang guru agar berkelayakan untuk menduduki jabatan fungsional sesuai dengan bidang tugas, kualifikasi dan jenjang pendidikan. Berdasarkan pengertian tersebut, standar kompetensi guru dibagi dalam tiga komponen yang saling mengait, yakni: 1.) pengelolaan pembelajaran, 2.)

pengembangan profesi, dan 3.) penguasaan akademik. Ketiga komponen SKG tersebut, masing-masing terdiri atas beberapa kompetensi, komponen pertama terdiri atas empat kompetensi, komponen kedua memiliki satu kompetensi, dan komponen ketiga terdiri atas dua kompetensi. Dengan demikian, ketiga komponen tersebut secara keseluruhan meliputi 7 (tujuh) kompetensi dasar, yaitu: a. Penyusunan rencana pembelajaran b. Pelaksanaan interaksi belajar- mengajar c. Penilaian prestasi belajar peserta didik d. Pelaksanaan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar peserta didik e. Pengembangan profesi f. Pemahaman wawasan kependidikan g. Penguasaan bahan kajian akademik (sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan. (Standar Kompetensi Guru Direktorat Tenaga Kependidikan 2003) Berdasarkan pendapat dan teori diatas bahwa supervisi merupakan proses pembinaan kepala sekolah kepada guru dalam meningkatkan kinerja guru dan motivasi kerja guru adalah dorongan untuk merubah kinerja guru kearah yang lebih baik A. Kerangka Berpikir Kegiatan utama pendidikan di sekolah dalam rangka mewujudkan tujuannya yakni kegiatan pembelajaran, sehingga seluruh aktivitas organisasi sekolah bermuara pada pencapaian efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Untuk mewujudkan tujuan

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), 2009 (I Nyoman Sudana)

tersebut maka kinerja guru perlu ditingkatkan. Oleh karena itu diperlukan peran dari kepala sekolah untuk mendorong bawahannya/guru-gurunya supaya berkinerja lebih tinggi lagi. Salah satu tugas kepala sekolah adalah sebagai supervisor, yaitu mensupervisi pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kependidikan. Jika kepala sekolah sebagai supervisor dapat melakukan tugas, fungsi dan tanggung jawabnya dengan baik melaksanakan supervisi pendidikan secara efektif dan profsional maka logikanya pemberian supervisi oleh kepala sekolah akan meningkatkan kinerja guru. Disamping itu motivasi kerja guru sebagai perangsang keinginan dan daya gerak yang menyebabkan seorang guru bersemangat dalam mengajar karena terpenuhi kebutuhannya. Guru yang bersemangat dalam mengajar terlihat dalam ketekunannya ketika melaksanakan tugas, ulet, minatnya yang tinggi dalam memecahkan masalah, penuh kreatif dan sebagainya. Hal ini berdampak pada kepuasan kerja guru yang akhirnya mampu menciptakan kinerja yang baik. Berdasarkan teori-teori diatas dapat dikemukakan bahwa terdapat pengaruh antara supervisi kepala sekolah dan motivasi kerja terhadap kinerja guru. Pengaruh Supervisi Kepala Sekolah dan Motivasi Kerja terhadap Kinerja Guru SMP Negeri 4 Nusa Penida Tahun Ajaran 2009/2010 B. Hasil-hasil penelitian terdahulu yang relevan Laeli Kurniati. 2007. Pengaruh Supervisi Kepala Sekolah dan Motivasi Kerja terhadap Kinerja Guru SMK Negeri 1 Purbalingga. Permasalahan penelitian ini: adakah pengaruh supervisi kepala sekolah dan motivasi kerja terhadap kinerja guru? Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh supervisi kepala sekolah dan motivasi kerja secara bersama-sama terhadap kinerja guru. Hasil penelitian menunjukkan secara simultan supervisi kepala sekolah dan motivasi kerja berpengaruh terhadap kinerja, ditunjukkan dari p value = 0,001 < 0,05.

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), 2009 (I Nyoman Sudana)

Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi supervisi kepala sekolah dan motivasi kerja akan diikuti dengan tingginya kinerja guru, begitu sebaliknya.

BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Pada dasarnya desain hanya berfungsi sebagai fasilitas bagi tujuan peneletian dan bersifat prosedural. Oleh karena itu, desain ditentukan oleh masalah penelitian, bukan sebaliknya. Karena tujuan penelitian bervariasi, desain yang sesuai untuk mencapai tujuan tersebut juga bervariasi. Masing-masing desain memiliki karakteristik yang berbeda-beda dan memiliki kelebihan dan kelemahan. Desain penelitian mengacu pada rencana dan struktur menyelidikan yang digunakan untuk memperoleh bukti-bukti emperis dalam menjawab pertanyaan penelitian (McMillan dan Schummacher, 1989). Karya tulis ilmiah ini mengambil bentuk penelitian tindakan Sekolah (PTS) yaitu usaha Meningkatan disiplin kerja guru dalan proses belajar mengajar memalui supervisi individual dengan pendekatan tehnik kunjungan kelas, yang terdiri dari dua siklus dan masing-masing siklus terdiri dari empat tahapan yaitu, (1). perencanaan, (2), pelaksanaan tindakan, (3).observasi/evaluasi, dan (4).refleksi. B. Lokasi Penelitian

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), 2009 (I Nyoman Sudana)

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini dilaksanakan di SMP Negeri 4 Nusa Penida, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Provinsi Bali. SMP Negeri 4 Nusa Penida satu-satunya SMP Negeri yang berstandar Nasional di Kecamatan Nusa Penida mewilayahi 2 (dua) desa yaitu Desa Lembongan dan Desa Jungutbatu, dengan jumlah siswa 315 (tiga ratus lima belas) orang, terdiri dari 12 (dua belas) kelas, dengan jumlah guru 31 (tiga puluh satu) orang, 3 (tiga) orang kwalifikasi S2, 28 (dua puluh delapan) kwalifikasi S1, 1(satu) orang D1. Dilihat dari input yang masuk di SMP N 4 Nusa Penida tidak terlalu menonjol, hal ini diakibatkan karena tidak adanya sekolah-sekolah swasta dilingkungan sekolah dalam rangka menuntaskan pendidikan 9 tahun, hal ini berakibat prestasi yang dicapai tidak terlalu membanggakan, sehingga merupakan tantangan besar bagi sekolah untuk membentuk siswa yang berkompetensi. Untuk itu diperlukan usaha ekstra segenap stakeholder sekolah, sarana prasarana yang memadai, sehingga proses belajar mengajar dapat diselenggarakan dengan lancar. Subyek Penelitian Populasi Penelitian Menurut Arikunto (1998:115), populasi adalah keseluruhan objek penelitian. Maka populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru SMP Negeri 4 Nusa Penida yang berjumlah 35 orang. Karena jumlah kurang dari 100, maka semua populasi menjadi subyek penelitian. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan Arikunto (1998:112), apabila subyek kurang dari seratus lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Dalam penelitian tindakan Sekolah (PTS) ini mengambil subyek penelitian yaitu guru-guru di SMP Negeri 4 Nusa Penida, karena peneliti sebagai Kepala Sekolah di sekolah ini.

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), 2009 (I Nyoman Sudana)

Obyek Penelitian dari penelitian tindakan sekolah supervivi kepala sekolah dengan tehnik

ini adalah menerapkan yaitu pendekatan

kelompok

pertemuan/rapat(meeting) untuk meningkatan prestasi kerja guru dalam proses belajar mengajar Obyek Penelitian Variabel Penelitian Variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian (Arikunto,1998:99). a. Variabel Bebas, yaitu variabel yang mempengaruhi terhadap sesuatu gejala. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Supervisi Kepala Sekolah dengan indikator: rapatrapat pembinaan. b. Variabel Terikat, yaitu variabel yang dipengaruhi suatu gejala. Adapun yang menjadi variabel terikat adalah Kinerja guru yakni standar kompetensi guru yang meliputi 7 (tujuh) kompetensi dasar, namaun dalan penelitian tindakan ini di ambil beberapa kompetensi dasar antara lain : 1) penyusunan rencana pembelajaran, 2) pelaksanaan interaksi belajar-mengajar, 3) penilaian prestasi belajar peserta didik, 4) pelaksanaan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar peserta didik, A. Perencanaan Tindakan Rencana penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan untuk siklus I pada minggu ke 2 (dua) bulan Agustus 2010 dan siklus II dilaksanakan minggu ke 2 (dua) dari bulan September 2010. Sebelum melakukan penelitian tindakan sekolah ini, dilakukan pendekatan sosialisasi dalam rapat, bahwa akan dilaksanakan suatu penelitian tindakan sekolah melalui supervisi teknik kelompok yaitu dengan cara melakukan pertemuan(metting) dengan tujuan peningkatan prestasi kerja guru dalam perbaikan pembelajaran. B. Pelaksanaan Tindakan

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), 2009 (I Nyoman Sudana)

Siklus 1 1. Perencanaan a. Menyiapkan perlengakapan administrasi penelitian(Form Observasi dll) b. Menetapkan waktu pelaksanaan pertemuan (metting) c. Menyiapkan tempat dan perlengkapan pertemuan (metting) 1. Pelaksanaan a. Pada awal pertemuan siklus 1 (pertama) ini peneliti menyampaikan tujuan dilaksanakannya penetlitian tindakan sekolah ini. b. Menyampaikan kepada guru-guru administrasi yang mesti disiapkan yang sebelumnya sudah di informasikan. c. Peneliti melakukan diskusi dan menyampaikan kepada guru-guru apa yang harus disiapkan sebelum melaksanakan tugas di dalam kelas dalam rangkan persiaan pembelajaran yang berhubungan dengan kinerja guru atau peningkatan prestasi kerja guru. d. Peneliti/supervisor menyiapkan instruman yang digunakan dalam supervisi dan bukti fisik dikumpulkan untuk di nilai 1. Observasi a. Selama pelaksanaan rapat/pertemuan dilakukan obsrvasi: 1. Perahtian para guru mengikkuti acara rapat/pertemuan(metting) 2. Hasil kerja guru-guru berupa bukti fisik perlengkapan pembelajaran (prota, promes, Silabus, RPP, bahan ajar, Analisis hasil belajar siswa) a. Mengisi formulir isian sesuai tagihan yang diperlukan 1. Refleksi Berdasarkan analisis data hasil pengamatan pada siklus I ini, akan diadakan perbaikan-perbaikan baik cara maupun kelengkapan instrumen yang masih kurang di siklus I ini akan di perbaiki dan dilengkapi pada siklus berikutnya.

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), 2009 (I Nyoman Sudana)

Siklus 2 2. Perencanaan a. Menyiapkan perlengakapan administrasi penelitian(Form Observasi dll) b. Menetapkan waktu pelaksanaan pertemuan (metting) c. Menyiapkan tempat dan perlengkapan pertemuan (metting) 1. Pelaksanaan a. Pada awal pertemuan siklus 1 (pertama) ini peneliti menyampaikan tujuan dilaksanakannya penetlitian tindakan sekolah ini. b. Menyampaikan kepada guru-guru administrasi yang mesti disiapkan yang sebelumnya sudah di informasikan. c. Peneliti melakukan diskusi dan menyampaikan kepada guru-guru apa yang harus disiapkan sebelum melaksanakan tugas di dalam kelas dalam rangkan persiaan pembelajaran yang berhubungan dengan kinerja guru atau peningkatan prestasi kerja guru. d. Peneliti/supervisor menyiapkan instruman yang digunakan dalam supervisi dan bukti fisik dikumpulkan untuk di nilai 1. Observasi a. Selama pelaksanaan rapat/pertemuan dilakukan obsrvasi: 1. Perahtian para guru mengikkuti acara rapat/pertemuan(metting) 2. Hasil kerja guru-guru berupa bukti fisik perlengkapan pembelajaran (prota, promes, Silabus, RPP, bahan ajar, Analisis hasil belajar siswa) a. Mengisi formulir isian sesuai tagihan yang diperlukan 1. Refleksi Berdasarkan analisis data hasil pengamatan pada siklus I ini, akan diadakan perbaikan-perbaikan baik cara maupun kelengkapan instrumen yang masih kurang di siklus I ini akan di perbaiki dan dilengkapi pada siklus berikutnya.

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), 2009 (I Nyoman Sudana)

A. Instrumen Penelitian Instrumen yang di gunakan dalam penelitian tindakan Sekolah ini menggunakan lembar observasi yang berhubungan dengan langkah proses pembelajaran dari awal sampai langkat penutup pembelajaran. Lembar observasi dimaksud seperti dibawah ini.
Aspek yang diamati Petunjuk Umum Berilah tanda (V) atau nilai pada kolom yang sesuai dengan penilaian anda dan catatlah hal-hal yang penting yang berhubungan dengan aspek yang diamati pada kolom keterangan.
Lembar Observasi No Perencanaan Proses pembelajaran. A. Apakah guru: Menyusun Silabus? 1 Identitas mata pelajaran atau tema pelajaran 2 Standar kompetensi 3 Kompetensi dasar 4 Materi pembelajaran 5 Kegiatan pembelajaran 6 Indikator pencapaian kompetensi 7 Penilaian 8 Alokasi waktu 9 Sumber belajar B. Menyusun RPP ? 10 Identitas mata pelajaran 11 Standar kompetensi 12 Kompetensi Dasar 13 Indikator pencapaian kompetensi 14 Tujuan Pembelajaran 15 Materi Ajar 16 Alokasi Waktu 17 Metode Pembelajaran 18 Kegiatan Pembelajaran a) Pendahuluan b) Inti c) Penutup 19 Penilaian Hasil Belajar 20 Sumber Belajar C. Pelaksanaan Proses Pembelajaran 21 Persyaratan pelaksanaan proses pembelajaran 22 Pelaksanaan Pembelajaran 23 D. Penilaian Hasil Belajar 24 E. Pengawasan Proses Pembelajaran Jumlah NILAI RIIL Jumlah NILAI IDEAL Nilai PERSENTASI 1 2 3 4 5

120

KLASIFIKASI

A. = Baik Sekali B. = Baik C. = Cukup

: : :

76% - 100% 56% - 75% 26% - 55%

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), 2009 (I Nyoman Sudana)

D. = Kurang

:

0%

- 25%

A. Teknik Pengumpulan Data Untuk mengumpulkan data dalam Penelitian Tindakan Sekolah ini menggunakan metode pengamatan/obsevasi dengan menggunakan instrumen diatas. Data adalah suatu fakta dan angka yang secara relatif belum dapat dimanfaatkan bagi peneliti sehingga data yang ada perlu di transpormasikan terlebih dahulu(Sugiono, 200,75). Data juga diartikan sebagai hasil yang diperoleh yang akan diproses sehingga menjadi suatu nilai yang merupakan hasil dari penelitian. Data yang telah terkumpul perlu dilakukan analisis untuk dapat disimpulkan. Adapun ananlisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistik sederhana yaitu secara kualitatif(deskriptif). B. Tehnik Analisis Data dan Kriteria Keberhasilan Penilaian terhadap kreteria kualitas pelaksanaan proses belajar mengajar dari guru yang diamati.diobservasi , dengan rentang skor antara 1 sampai dengan 5 Jumlah skor nilai riil Nilai Kwalifikasi = ---------------------------------- X 100 Jumlah skor nilai idial a. Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data adalah mengamati variabel yang akan diteliti dengan metode interview, tes, observasi, kuesioner, dan sebagainya (Arikunto 1998:225). Dalam penelitian ini untuk mengumpulkan data digunakan Metode Dokumentasi Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya (Arikunto, 1998:236). Data dapat diperoleh dari sumber

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), 2009 (I Nyoman Sudana)

tertulis yang berhubungan dengan penelitian yaitu informasi tentang 7 (tujuh) kompetensi dasar guru, pada SMP Negeri 4 Nusa Penida. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A.

Hasil Penelitian Data yang telah dikumpulkan baik pada siklus I dan pada Siklus II hanyalah

merupakan data atau informasi mentah yang masih perlu di analisis. Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam analisis data dalam penelitian tindakan Sekolah mengambil cara supervisi individual dengan tehnik pendekatan kunjungan kelas untuk meningkatkan kinerja guru dalam proses belajar mengajar sehubungan dengan langkah pembelajaran yang baik dan benar. 1. Deskripsi Analisis Hasil Penelitian Tindakan Siklus I Pelaksanaan kegiatan pengamatan/observasi melalui pertemuan (metting) yang ke 2 (dua) sejak dari awal pertemuan 1 (pertama) mulai supervisi pada siklus I (satu) yaitu yang di lakukan selama 1 (satu) bulan pertama,dapat di diskripsikan sebagai berikut: Dari 31 (tiga puluh satu) guru yang di supervisi setelah di analisis sesuai kreteria kwalifikasi yaitu 2 (dua) orang guru berkwalifikasi (C) cukup dengan rentang nilai 26% 55% yaitu: 54% dan 45%, dengan 27 (dua puluh tujuh) orang guru yang berkwalifikasi (B) baik dengan rentang nilai 56%-75% yaitu: 62% 1(satu) orang, 63% 3(tiga) orang, 64% 2 (dua) orang, 65% 2(dua) orang, 66% 3(tiga) orang, 67% 2(dua) orang, 68% 1 (satu) orang, 69% 3(tiga) orang, 70% 2(dua) 0rang, 72% 1(satu) orang, 73% 4(empat) orang, 75% 2(dua) orang, 78% 1(satu) orang, 82% 1(satu) orang. Dan 2 (dua) orang guru katagori kualifikasi (A) dengan rentang nilai 76% - 100% yaitu 78% dan 82%. Dapat digambarkan pada tabel 1 dibawah ini

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), 2009 (I Nyoman Sudana)

Tabel 1. Analisis data pada siklus I

Sumber: Analisis data primer Grafik 1. Hasil Analisis Siklus I Sumber: Analisis data primer Dengan nilai rata-rata kumulatif kwalifikasi (B) baik dengan nilai riil 80.71 dan nilai persentase 67,26%. Data lebih rinci dapat di lihat pada tabel di bawah ini. Tabel 2, Nilai Rata-rata Analisis hasil siklus I

Sumber: Analisis data primer Dibawah dapat disajikan grafik hasil analisis data sebagai berikut: Grafik 2, Nila Rata-rata Analisis Hasil Suklus I Sumber: Analisis data primer 2. Kesimpulan Hasil tindakan Siklus I Berdasarkan analisis data hasil pengamatan perangkat pemebelajaran guru dalam pelaksanaan pembelajaran sehubungan dengan kinerja/prestasi kerja guru dalam persiapan, pelaksanaan proses belajar mengajar (PBM), penilaian dan tindak lanjut pada siklus I di SMP Negeri 4 Nusa Penida dengan penerapan supervisi kepala sekolah pendekatan tehnik kelompok melalui media pertemuan(metting) di peroleh nilai rata-rata kwalifikasi (B) yaitu sebesar 67.26%, 3. Hasil Observasi Sesuai perencanaan, hal-hal yang akan di observasi menyangkut persiapan, pelaksanaan proses belajar mengajar (PBM), penilaian dan tindak lanjut pada siklus I di SMP Negeri 4 Nusa Penida dengan penerapan supervisi kepala sekolah pendekatan

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), 2009 (I Nyoman Sudana)

tehnik kelompok melalui media pertemuan(metting) kwalifikasi adalah sebesar 67.26% dengan kualifikasi (B). 1. Refleksi

di peroleh nilai rata-rata

Sebanyak 31(tiga puluh satu) orang guru yang di lakukan penerapan supervisi kepala sekolah pendekatan tehnik kelompok melalui media pertemuan(metting) ternyata dari hasil analsisi data pada umumnya dapat dikatakan berkualifikasi baik, walau ada beberapa guru 2 (dua) atau 6,45% masih disiplin kerjanya berkulaifikasi cukup dan 27 (sepuluh) atau 87,10% orang berkualifikasi baik dan 2 (dua) atau 6,54% berkualifikasi baik sekali Dari 3(tiga) kelompok kualifikasi diatas, terutama guru yang masih memiliki kinerjanya masih kurang akan dilakukan pembinaan lebih intesif untuk dapat meningkatkan kinerjanya lebih baik lagi.

1. Deskripsi Analisis Hasil Penelitian Tindakan Siklus II Pelaksanaan kegiatan pengamatan/observasi melalui pertemuan (metting) yang ke 2 (dua) sejak dari awal pertemuan 1 (pertama) mulai supervisi pada siklus I (satu) yaitu yang di lakukan selama 1 (satu) bulan pertama,dapat di diskripsikan sebagai berikut: Dari 31 (tiga puluh satu) guru yang di supervisi setelah di analisis sesuai kreteria kwalifikasi yaitu: 10 (sepuluh) orang guru yang berkwalifikasi (B) baik dengan rentang nilai 56%-75% yaitu: 63% 1(satu) orang, 68% 3(tiga) orang, 69% 1(satu) orang, 70% 2(dua) orang, 71% 1(satu) orang, 73% 2(dua) orang, Dan 2 (dua) orang guru katagori kualifikasi (A) dengan rentang nilai 76% - 100% yaitu 77% 1 (satu) orang, 78% 4(empat) orang, 79% 2(dua) 0rang, 81% 1(satu) orang, 82% 2(dua) orang, 83% 2(dua)

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), 2009 (I Nyoman Sudana)

orang, 84% 4(empat) orang, 85% 1(satu) orang, 86% 1(satu) orang, 87% 1(satu) orang, 89% 1(satu) orang dan 90% 1 orang. Dapat digambarkan pada tabel 3 dibawah ini Tabel 3, Hasil Analisis Siklus II, Kinerja Guru.

Sumber: Analisis data primer Grafik 3 Hasil Analisis Siklus II, Kinerja Guru. Sumber: Analisis data primer Dengan nilai rata-rata kumulatif kwalifikasi (A) sangat baik dengan nilai persentase 78,12% Tabel 4. Hasil Analisisi Rata-rata Siklus II

Sumber: Analisis data primer Dibawah dapat disajikan grafik hasil analisis data sebagai berikut: Grafik 4 Sumber: Analisis data primer 2. Kesimpulan Hasil tindakan Siklus II Berdasarkan analisis data hasil pengamatan perangkat pemebelajaran guru dalam pelaksanaan pembelajaran sehubungan dengan kinerja/prestasi kerja guru dalam persiapan, pelaksanaan proses belajar mengajar (PBM), penilaian dan tindak lanjut pada siklus I di SMP Negeri 4 Nusa Penida dengan penerapan supervisi kepala sekolah pendekatan tehnik kelompok melalui media pertemuan(metting) di peroleh nilai rata-rata kwalifikasi (B) yaitu sebesar 67.26%, 3. Hasil Observasi

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), 2009 (I Nyoman Sudana)

Sesuai perencanaan, hal-hal yang akan di observasi menyangkut persiapan, pelaksanaan proses belajar mengajar (PBM), penilaian dan tindak lanjut pada siklus I di SMP Negeri 4 Nusa Penida dengan penerapan supervisi kepala sekolah pendekatan tehnik kelompok melalui media pertemuan(metting) kwalifikasi adalah sebesar 78,12% dengan kualifikasi (A). 1. Refleksi Sebanyak 31(tiga puluh satu) orang guru yang di lakukan penerapan supervisi kepala sekolah pendekatan tehnik kelompok melalui media pertemuan(metting) ternyata dari hasil analsisi data pada umumnya dapat dikatakan berkualifikasi baik, 10 (sepuluh) atau 32,26% orang berkualifikasi baik dan 21 (dua puluh satu) atau 67,74% di peroleh nilai rata-rata

berkualifikasi baik sekali Dari analisis data hasil kinerja guru pada siklus 2 memang telah berkualifikasi baik dan sangat baik namun masih berada pada rentang bawah dalam kriteria baik sekali yaitu berada pada 78,12%, maka masih perlu diadakan pembinaan pada penelitian berikutnya. A. Pembahasan Dari hasil analisis data hasil pengamatan dan dari administrasi perangkat pembelajaran guru-guru yang telah di konversi sesuai dengan kualifikasi yang telah ditetapkan dan setelah di analisis maka dapat digambarkan pada tebel dan grafik dibawah ini, Tabel 5. Analisis Siklus I dengan Siklus II
ASPEK SIKLU SI Jumlah NILAI RIIL 80,71
Nilai PERSENTASI Kualifikasi

SIKLU ↑ S II 93,74 13,03 78,12 10,86 A

67,26 B

Sumber: Analisis data primer

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), 2009 (I Nyoman Sudana)

Grafik 5. Rata-rata Perubahan Nilai Hasil Pengamatan Siklus I dan Siklus II Sumber: Analisis data primer Yang digambarkan dalan tabel 5 diatas hasil analisis siklus I dan analisis pada siklus II terdapat peningkatan sebesar 10,85%, ini berarti ada pengaruh supervisi kepala sekolah terhadap prestasi kerja guru-guru SMP Negeri 4 Nusa Penida.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Penelitian Tindakan Sekolah ini di laksanakan sebanyak 2 (dua) siklus yaitu siklus I dilaksanakan pada minggu kedua bulan Agustus 2009 dan Siklus II dilaksanakan

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), 2009 (I Nyoman Sudana)

pada minggu kedua bulan September 2009 , terhadap 31 (tiga puluh satu) orang guru diambil seluruhnya jumlah guru yang ada di SMP Negeri 4 Nusa Penida Berdasarkan hasil Analisis data baik siklus I dan siklus II dapat disi,pulkan bahwa: 1. Ada pengaruh supervisi kepala sekoah terhadap pengingkatan kinerja guru-guru di SMP Negeri 4 Nusa Penida. Ini terbukti dari hasil nilai analisis siklus I rata-rata persentasenya adalah 67,26% meningkat menjadi 78,12% 2. Besarnya pengaruh supervisi kepala sekolah terhadap kinerja guru-guru SMP Negeri 4 Nusa Penida dalam penelitian ini adalah 10,86% A. Saran Sehubungan dengan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini, maka dalam rangka perbaikan pelaksanaan program tindakan selanjutnya ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian seperti 1. Untuk perbaikan prestasi kerja guru-guru disarankan untuk mengunakan beberapa supervisi termasuk tehnik kelompok dengan pendekatan pertemua(metting). 2. Dalam penerapan tehnik supervisi agar tidak terpaku pada satu tehnik saja, sebaiknya mencoba tehnik yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Andriani Nutria (2004( Analisis Iklim Organisasi dan Kepuasan Kerja terhadap Kinerja Karyawan pada PT Bank Mandiri Cabang Malang.Universitas Unibra Arikunto,Suharsini Prof.Dr: 1999: Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek Penerbit : Rineka Cipta Jakarta.

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), 2009 (I Nyoman Sudana)

Departemen Pendidikan Nasional 2003 , Standar Kompetensi Guru Sekolah Menengah Umum, Direktur Tenaga Kependidikan Jati Sidi,Ph.D Indra 2001: Menuju Masyarakat Belajar Menggagas Paradigma Baru Pendidikan ,Penerbit Paramadina ,dengan Logos Wacana Ilmu,Jakarta . Majid,Yusuf A.2000, Pengaruh Prilaku Pemimpin Terhadap Kinerja dan Kepuasan Kerja Karyawan Pada Industri Kecil Kembang Gula di Kodya Malang,Malang Pasca Sarjana UNIBRA Nurhadi,Drs.,M.Pd., (2004), Pembelajaran Contekstual dan Penerapannya dalam KBK. PPPPTK, Surya Dharma MPA.Ph.D, (2010) PTS (Penelitian Tindakan Sekolah) Suharsini A, Prof., Dr., (2007), Penelitian Tindakan Kelas, Bahan Pelatihan PTK untuk guru, Kepala Sekolah dan Pengawas. Santyasa I W, Prof.,Dr., (2007), Metodelogi Penelitian Tindakan Kelas, Makalah disajikan dalam pelatihan PTK bagi guru-guru SD di Kabupaten Klungkung. Santyasa I W, Prof.,Dr., (2007), Model-model Pembelajaran inovatif, disajikandalam pelatihan PTK bagi guru-guru SD di Kabupaten Klungkung. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 14. Tahun 2005, Undang-Undang Guru dan Dosen ,Penerbit Cemerlang Jakarta, Tahun 2005

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), 2009 (I Nyoman Sudana)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->