P. 1
LAPORAN PRAKTIKUM Kimia Organik Presentasi

LAPORAN PRAKTIKUM Kimia Organik Presentasi

|Views: 1,693|Likes:
Published by Tyas Harbii Ganis

More info:

Published by: Tyas Harbii Ganis on Oct 14, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/13/2013

pdf

text

original

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK

Di Susun Oleh :
Dyah Tyas Kusumaningrum Harbi ganis Kinkin Etti dores ( 09334088 ) ( 09334078 ) ( 09334089 ) ( 09334090 )

PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA dan ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT SAINS dan TEKNOLOGI NASIONAL JAKARTA 2010

KATA PENGANTAR Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat rahmat serta hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan laporan ini. Laporan ini disusun dalam rangka memenuhi syarat mengikuti ujian mata kuliah Kimia Organik untuk di presentasikan di Institut Sains dan Teknologi Nasional. Dalam penyusunan laporan ini, saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mengumpulkan data dan keterangan yang diperoleh dalam penyusunan laporan tersebut. Saya juga menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan serta kelemahan dalam menyusun laporan ini, karena ilmu pengetahuan yang saya dapat masih kurang. Demikian akhir kata, bukan pujian yang saya harapkan, melainkan kritik dan saran yang saya harapkan guna memperbaiki laporan ini. Akhirnya, saya ucapkan terima kasih kepada dosen-dosen pembimbing serta seluruh pihak yang telah membantu saya dalam penyusunan laporan ini.

Jakarta, Agustus 2010 Penyusun

PERCOBAAN 5 SINTESA DAN IDENTIFIKASI ACETANILID
I. TUJUAN PERCOBAAN
Adapun tujuan dari percobaan kali ini tentang sintesa dan identifikasi acetanilid agar mahasiswa dapat memahami cara sintesa dan identifikasi acetanilid, diantaranya : ‡ Mampu membuat asetanilida dan reaksi antara aniline dengan asetat anhidrida. ‡ Dapat memurnikan asetanilida hasil reaksi dengan teknik rekristalisasi. ‡ Dapat menentukan titik lebur asetanilida dengan benar.

II.

PRINSIP PERCOBAAN
Acetanilid dapat dibuat dengan mereaksikan anilin yang dilarutkan terlebih dahulu dalam HCL, kemudian direaksikan dengan asam asetat anhydrat.

III.

LANDASAN TEORI
1.1. Reaksi Anhidrida Anhidrida asam lebih reaktif daripada asam karboksilat dan dapat digunakan untuk

mensintesis keton, ester atau amida. Anhidrida asam bereaksi dengan nukleofil yang sama seperti yang bereaksi dengan klorida asam, namun laju reaksinya lebih rendah. (sebagai gugus pergi suatu ion karboksilat tidaklah sebagai ion halide) perhatikan bahwa produk lain dalam reaksireaksi ini adalah asam karboksilat atau, bila campuran reaksi bersifat basa, anionnya. Hidrolisis, anhidrida bereaksi dengan air untuk menghasilkan asam karboksilat. Laju reaksi, seperti laju hidrolisis klorida asam, tergantung pada kelarutan anhidrida dalam air. Reaksi dengan alcohol dan fenol. Reaksi berkatalis asam dan suatu anhidrida dengan alcohol atau fenol akan menghasilkan ester. Reaksi mi terutama berguna dengan anhidrida asam asetat yang tersedia secara komersial, yang menghasilkan asetat.Ester-ester fenil dapat dibuat dengan menggunakan kondisi asam atau kondisi basa. Pada kondisi basa, mulam ula dibuat garam natrium dan fenol dan kemudian diolah dengan anhidridanya.

Amonia, amina primer, dan amina sekunder bereaksi dengan anhidrida menghasilkan amida. Sekali lagi anhidrida asam asetat merupakan anhidrida paling popular yang digunakan dalam reaksi mi. Ammonia dan anhidrida asam asetat menghasilkan asetamida, sedangkan amina dan anhidrida asam asetat menghasilkan asetamida tersubtitusi. Satu mol amina dihabiskan dalam netralisasi asam asetat yang terbentuk dalam reaksi itu.

1.2. Penggunaan Derivat Asam Karboksilat dalam Sintesis Asam karboksilat dan derivate (turunan-turunannya) semua bersifat dapat diubah satu menjadi yang lain (interconvertthle) secara sintetik. Namun dan antara derivate asam karboksilat mi, halida asam dan anhidrida agaknya yang paling serbaguna, karena keduanya lebih reakstif daripada senyawa karbonil yang lain. Keduanya dapat digunakan untuk mensintesis ester yang terintangi (secara sterik) dan ester fenil, yang tidak dapat dibuat dengan rendemen yang baik dengan pemanansan RCOOH dan R¶OH dengan katalis asam, karena kesetimbangan tidak menguntungkan. Kedua derivate ni juga merupakan reagensia yang paling berguna untuk membuat amida tersubtitusi-N. Ruduksi suatu klorida asam dengan LiAIH(OR)3 menyajikan satu dan hanya sedikit jalur ke aldehida. Meskipun ester tidak sereaktif klorida asam atau anhidrida, mereka berguna dalam sintesis alcohol (dengan reduksi atau dengan reaksi Grignard) dan merupakan bahan awal yang berharga dalam mensintesis molekul rumit. Sintesis nitril memberikan satu dan teknik-teknik yang paling mudah untuk memperpanjang rantai karbon alifatik dengan satu rantai lagi, atau untuk menambahkan suatu gugus karboksil atau suatu gugus NH2. Seperti telah disebut, reaksi RX dan CN memberikan rendemen terbaik dengan alkil halide primer. Alkil halide sekunder dapat juga digunakan, tetapi rendemennya lebih rendah.

1.3. Asetilasi Amina Aromatis Aniline merupakan amina aromatis primer. Reaksi subtitusi terhadap amina aromatis dapat berupa subtitusi pada cincin benzene atau subtitusi pada gugus amina. Asetilasi amina aromatis primer atau sekunder banyak dilakukan dengan kiorida asam dalam suasana basa atau

dengan mereaksikan amina dengan asetat anhidrida. Aniline primer bereaksi dengan asetat anhidrida menghasilkan asetanilida. Jika asetat anhidrida yang digunakan berlebihan dan pemanasan dilakukan pada waktu yang lama, maka sejumlah turunan diasetil akan terbentuk. Namun demikian, turunan diasetil tidak stabil dengan kehadiran air dan mengalami hid rolisis menghasilkan senyawa monoasetil. Amina dapat mengalami reaksi hidrolisa dalam suasana asam membentuk asam karboksilat dan garam amina, sedangkan dalam suasana basa membentuk ion karboksilat dan amina.

1.4. Pemurnian Zat Jika suatu reagensia dengan kemurnian yang memadai untuk suatu penetapan tertentu tidak tersedia, maka produk termurni yang tersedia haruslah dimurnikan: paling lazim mi dilakukan dengan rekristalisasi dan dalam air. Zat padat dengan bobot yang diketahui dilarutkan dalam air dengan volume cukup urituk memperoleh jenuh atau hampir jenuh pada titik didih: dapat digunakan piala, labu erlemeyer ataupun pinggan porselen larutan panas itu disaring lewat kertas saring bergalur yang ditaruh dalam suatu corong berpipa pendek, dan filtratnya ditampung dalam suatu piala: proses mi akan memisahkan bahan yang tak dapat larut yang biasanya terdapat. Jika zat itu mengkristal dalam corong, maka haruslah larutan disaring dalam suatu corong berair-panas. Filtrate panas yang jernih itu didinginkan dengan cepat dengan mencelupkan kedalam pinggan air dingin atau campuran air dan es menurut kelarutan zat padat itu: larutan itu diaduk dengan tetap agar mendorong terjadinya Kristal kecil, yang tidak sebanyak Kristal besar dalam mengepung cairan induk. Zat padat itu kemudian dipisahkan dengan cairan induk dengan penyaringan, dengan menggunakan salah sati tipe corong Buchner. Setelah semua cairan tersaring, zat padat itu ditekan kebawah dengan tutup kaca yang luas, isap sekering mungkin dan kemudian dicuci dengan porsi-porsi kecil pelarut aslinya untuk menyingkirkan cairan induk yang menempel. Zat padat terkristalkan ulang mi dikeringkan pada kca-kaca arloji besar pada atau diatas temperature kamar sesuai dengan sifat bahan; tentu saja dijaga agar tidak terkena debu. Zat padat yang telah dikeringkan disimpan dalam botol bersumbat kaca.

1.5. Rekristalisasi Senyawa organic berbentuk kristal yang diperoleh dan suatu reaksi biasanya tidak murni. Mereka masih terkontaminasi sejumlah kecil senyawa yang terjadi selama reaksi. Senyawa mi dapat dimurnikan dengan cara rekristalisasi menggunakan pelarut yang sesuai. Pemurnian senyawa dengan cara rekristalisasi didasarkan pada perbedaan kelarutan senyawa dalam suatu pelarut tunggal atau campuran. Ada dua kemungkina keadaan dalam rekristalisasi yaitu pengotor Iebih larut dan pada senyawa yang dimurnikan atau sebaliknya. Pada dasarnya proses rekristalisasi adalah (a) melarutkan senyawa yang akan dimurnikan kedalam pelarut yang sesuai pada atau dekat titik didihnya ; (b) menyaring larutan panas dan molekul atau partikel tidak larut ; (c) biarkan larutan panas menjadi dingin hingga terbentuk kristal; dan (d) memisahkan Kristal dan larutan berair. Kristal yang terjadi dikeringkan dan ditentukan kemurnianya dengan penentuan titik lebur, kromatografi dan metode spekstrokopi. Langkah penentuan pelarut dalam rekristalisasi merupakan Iangkan penentu keberhasilan pemisahan. Jika senyawa larut dalam keadaan panas maka penyaring harus dilakukan pada keadaan panas. Senyawa organic sering mengandung pengotor yang berwarna. Senyawa tersebut dapat dimurniakn dengan penambahan karbon aktif penghilang warna seperti norit.

IV.

BAHAN DAN ALAT
1. BAHAN Bahan yang digunakan dalam percobaan adalah sebagai berikut: 1. Anilin 2. Asam asetat glacial 3. Aqua dest 4. Carbon aktif 5. Batu didih

2. ALAT Alat yang digunakan pada percobaan adalah sebagai berikut: 1. Labu alas bulat dan pendingin bola (alat refluks). 2. Gelas ukur 3. Gelas beker 4. Pipet 5. Corong gelas 6. Kertas saring 7. Alat penyaring panas 8. Gelas Erlenmeyer 9. Lampu pemanas 1O.Gelas arloji 11.Penyaring Buchner 12.Pipa kapiler 13.Alat penimbang 14.Alat penentuan titik lebur

V.

CARA KERJA

-

Masukkan ke dalam beaker glass 9,1ml HCL pekat tambahkan 250ml aq.dest. Kemudian tambahkan 10ml aniline, kocok ad homogeny Larutan berwarna ( kuning jernih ) tambahkan 1,75gr carbon aktif dan panaskan pada suhu 50o C selama 5 menit sambil di aduk.

-

Saring melalui kertas saring ( Larutan 1 )

-

Buat larutan Na.asetat 16,59 dalam 50ml air. Masukkan ke dalam filtrate tadi 12,8ml assam asetat anhydrat kocok ad larut/homogen, lalu masukkan larutan Na.asetat yang tadi dibuat. Kocok dengan sempurna dan dinginkan dalam es.

-

Saring acetanilid yang terbentuk dengan corong Buchner. Hasil dikeringkan di udara. Lakukan pemurnian dengan cara rekristlisasi sebagai berikut : Larutkan acetanilid yang di dapat dalam 500ml air mendidih, bila larutan berwarna tambahkan 3,5gr carbon aktif, aduk dan saring dalam keadaan panas-panas. Dinginkan filtrat yang didapat sampai terbentuk Kristal. Saring melalui corong Buchner dan keringkan di udara.

VI.

PENGAMATAN
5 menit menjadi homogen ( bening ) terdapat hitam ( carbo adsorben ) tetapi sedikit.

1. Larutan berwarna keruh dan setelah d tambahkan carbo adsorben dan di panaskan selama

2. Larutan setelah di saring larutan menjadi jernih dan berembun 3. Pada kertas saring terdapat butiran-butiran carbo adsorben menempel pada kertas saring 4. Setelah larutan ditambahkan asam acetat dan larutan aniline lalu di dinginkan dengan es, terbentuk butiran-butiran Kristal. 5. Setelah disaring, terdapat Kristal di kertas saring.

VII. PEMBAHASAN

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->