http://muslimah.or.id/fikih/tayammum.

html

Mari Tetap Sholat di Kala Tak Mendapatkan Air (Tayammum Ala Rasulullah Shallallahu µAlaihi wa Sallam)
85Share Penulis: Ummu Ziyad Muraja¶ah: Ust. Aris Munandar Rasa sedih tentu akan menyeruak dari dalam diri seorang muslim, jika melihat seorang saudaranya yang lain meninggalkan kewajiban yang telah diperintahkan oleh Allah. Begitu pula yang penulis rasakan ketika dalam suatu perjalanan, penulis menyaksikan sebagian besar penumpang bus yang penulis tumpangi meninggalkan shalat. Padahal waktu itu bulan Ramadhan dan sebagian besar pulang kampung untuk merayakan lebaran µIdul Fithri di rumah masingmasing. Puasa yang mereka tinggalkan saat perjalanan memang merupakan keringanan yang Allah berikan bagi orang yang bersafar. Tentu saja dengan ketentuan bahwa puasa yang ditinggalkan akan di-qadha ketika telah usai bulan Ramadhan tersebut. Namun, shalat bagi seorang muslim tetaplah wajib, begitupula bersuci sebagai salah satu syarat sahnya shalat juga merupakan kewajiban. Allah dan Rasul-Nya telah memberikan keringanan dalam bentuk yang berbeda untuk masing-masing kewajiban tersebut. Ketika shalat tidak mampu dilaksanakan secara berdiri, maka bisa dilakukan dengan duduk, dan jika tidak mampu maka bisa dilakukan dengan berbaring. Dalam keadaan safar, Rasulullah shallallahu µalaihi wa sallam mencontohkan bahwa untuk shalat-shalat wajib, orang yang dalam perjalanan tidak melakukannya di atas kendaraannya. Adapun untuk kendaraan-kendaraan yang tidak memungkinkan bagi seorang musafir untuk menghentikan kendaraannya (seperti kereta, kapal laut) atau bis yang tidak diketahui secara tepat pemberhentiannya, maka seseorang dapat shalat di dalam kendaraan tersebut, karena terpaksa. (Insya Allah akan datang artikel khusus tentang shalat bagi orang musafir). Begitupula dengan bersuci. Ketika seseorang telah bersuci dan memakai khuf, maka dalam perjalanan dengan jangka waktu tiga hari, ia dapat berwudhu dengan cara mengusap khuf. Adapun jika ia tidak mendapat air atau terhalang untuk menggunakan air, maka Allah telah memberi keringanan berupa tayammum. ³Jika kamu tidak menemukan air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih). Usaplah mukamu dan kedua tanganmu dengan tanah itu.´ (Qs. al-Maa-idah [5]: 6) Kesimpulannya, adalah keringanan untuk wudhu dan shalat bukanlah dalam bentuk boleh ditinggalkannya kewajiban wudhu dan shalat tersebut.

´ (HR. tidaklah engkau mengalami perkara yang tidak engkau sukai. Kemudian aku berguling-guling di atas permukaan tanah lalu shalat. lalu Allah menurukan ayat tayammum (yaitu al-Maa-idah ayat 6). Waktu itu mereka berhenti di tempat yang tidak ada airnya dan mereka juga tidak membawa air. Ketika mereka telah sampai di Baida¶ atau Dzatul Jaisy (hendak memasuki kota Madinah). Kemudian Rasulullah shallallahu µalaihi wa sallam bersabda.´ Kemudian tibalah waktu shalat. ia bersama Nabi shallallahu µalaihi wa sallam dalam salah satu perjalanannya. Demi Allah. Salah satunya adalah hadits berikut. padahal mereka tidak di tempat yang ada airnya dan tidak membawa air. ³Tidakkah engkau lihat apa yang dilakukan Aisyah? Ia telah menghentikan Rasulullah shallallahu µalaihi wasallam dan orang banyak. ³Abu Bakar mencercaku dan mengatakan apa yang dikehendaki Allah untuk mengatakannya.¶Apa engkau menahan orang-orang ini karena kalung?!¶ Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena keberadaan Rasulullah shallallahu µalaihi wa sallam sekalipun itu terasa menyakitkanku. Ia pun memukulku dengan keras seraya berkata. Dalam satu riwayat. Hal tersebut disampaikan kepada Rasulullah shallallahu µalaihi wa sallam. ³Semoga Allah membalas kebaikan bagimu. Suatu saat. tiba-tiba Aisyah kehilangan kalung yang dipinjamnya dari Asma. Aisyah radhiallahu µanha menceritakan. dan (menjadikan) kebaikan bagi kaum muslimin di dalamnya.´ yaitu Nabi shallallahu µalaihi wa sallam menepukkan kedua telapak tangannya pada permukaan tanah. Saat itu orang-orang mengeluh kepada Abu Bakar ash-Shidiq. Akhirnya (saat kalung Aisyah belum juga diemukan). Akhirnya Rasulullah shallallahu µalaihi wa sallam berhenti dan berkenan mencarinya dan orang-orang pun ikut mencarinya. para sahabat akhirnya shalat tanpa wudhu. lalu tidak mendapatkan air. Aku tidak dapat berbuat sedikit pun karena Rasulullah shallallahu µalaihi wasallam berada di pangkuanku. Usaid bin Hudhair berkata kepada Aisyah. Setelah itu. Dari Ammar bin Yasir radhiallahu µanhu. dan mereka tidak menemukan air. lalui Beliau mengusapkan kedua tangannya pada wajah dan kedua telapak tangannya. kecuali Allah memberikan untukmu (jalan keluarnya). µkusampaikan kepada Nabi shallallahu µalaihi wa sallam. ia berkata. Rasulullah shallallahu µalaihi wa sallam tidur di pangkuan Aisyah radhiallahu µanha. ³Sebenarnya cukuplah bagimu hanya (melakukan) begini.´ (Muttafaqun µalaih) Saat-Saat Bolehnya Bertayammum .Kisah Munculnya Syari¶at Tayammum Kisah ini diceritakan oleh Aisyah istri tercinta Nabi shallallahu µalaihi wa sallam. Bukhari dari beberapa jalan periwayatan) Dalil Syariat Tayammum Ada banyak dalil yang menunjukkan disyari¶atkannya tayammum. kemudian meniup keduanya.´ Abu Bakar pun mendatangi Aisyah dan memarahinya. ³(Pada suatu saat) aku junub.

bahwa Nabi shallallahu µalaihi wa sallam bersabda. 5. Ia juga mengutip perkataan Abu Ishaq yang menyatakan bahwa sha¶id adalah permukaan tanah. Saat air yang dimilikinya terbatas dan jika digunakan untuk berwudhu akan membahayakan dirinya (karena bisa mati kehausan). ³Aku diberi lima perkara yang belum pernah diberikan kepada seorang pun sebelumku. ³Maka bertayammumlah dengan sha¶iid yang bersih´. maka shalatlah di mana ia berada«. pencuri. maka dia tidak boleh tayammum). bahkan boleh dimana saja sebagaimana Nabi shallallahu µalaihi wa sallam pernah melakukan tayammum dari dinding. namun air tersebut sangat dingin dan membahayakan dirinya dan ia tidak dapat memanaskan air tersebut. Namun menurut pendapat yang lebih kuat. . tidak harus bertayammum dengan tanah asli yang berdebu. Imam Ahmad dan lainnya). Bukhari dan Muslim) 2. Ibnu Majah. Ketika sakit dan sakitnya tersebut menghalangi dirinya untuk menggunakan air. Saat tidak mendapatkan air. namun tidak berhalangan menggunakan air. Imam Ahmad dan sebagian madzhab Dzohiri mengharuskan tayammum dengan menggunakan tanah asli yang berdebu. tayammum boleh menggunakan semua jenis belahan bumi. seseorang boleh bertayammum dengan syarat ia tidak mendapatkan air dan khawatir kehabisan waktu shalat. kebakaran dan semacamnya sehingga jika ia menggunakan air akan membahayakan diri. Membaca bismillah (HR. misalnya karena ada musuh. (Namun. bila seseorang sakit. seluruh bagian bumi dijadikan tempat sujud dan alat bersuci. Ibnul Manzhur mengatakan dalam Lisanul Arab bahwa sha¶id berarti tanah. 4. Saat mendapatkan air. Hal ini termasuk keistimewaan Rasulullah shallallahu µalaihi wa sallam dari rasul lainnya sebagaimana dalam hadits yang dibawakan oleh Jabir bin Abdullah radhiallahu µanhuma. 2. Abu Dawud. harta dan kehormatannya. (lihat Ashl Shifat Shalat an-Nabi shallallahu µalaihi wa sallam 2/784. Saat terhalang dari mengambil air. dikutip dari majalah Al-Furqon). ³fatayammamu sha¶iidan thayyiban´ yang artinya. Ketika dalam keadaan mukim (tidak berpergian) ataupun bepergian. Zat yang Digunakan untuk Tayammum Imam Syafii. 3. Aku diberi kemenangan dengan ditanamkan rasa takut pada diri musuh dalam jarak sebulan perjalanan.1. maka orang yang hendak tayammum cukup menepukkan kedua tangannya pada permukaan tanah dan tidak perlu mempermasalahkan apakah tanah pada permukaan tersebut terdapat debu atau tidak. 6. (lihat Al-Wajiz) Tata Cara Tayammum 1. Niat dalam hati (HR.´ (HR. Bukhari) Dan dalam ayat Al-Qur¶an juga disebutkan. Dalam keadaan junub dan air yang dimilikinya tidak cukup untuk berwudhu atau mandi. siapapun di antara umatku yang menjumpai waktu shallat.

(Poin 3 ± 6. Kemudian usapkan kedua telapak tangan yang satu dengan telapak tangan lain secara bergantian mulai dari ujung-ujung jari hingga pergelangan tangan. HR. Tepukkan kedua tangan kalian ke tanah yang suci (atau semua jenis belahan bumi) sekali Syaikh al-Bani mengatakan bahwa pada riwayat Ibnu Khuzaimah dalam kitab Shahih-nya disebutkan secara ringkas bahwa tayammum adalah satu tepukan debu untuk wajah dan kedua telapak tangan. tidak diperbolehkan melakukan tayammum. . Hal ini dilakukan jika ternyata banyak debu yang menempel di kedua tangan sebagaimana difatwakan oleh Syaikh Ibnu Baz rahimahullah.3. ia berkata. 4. ia melakukan tayammum dan shalat dengannya. Hal ini sebagaimana dalam hadits yang diceritakan oleh Abu Sa¶id al-Khudri radhiallahu µanhu. Tiuplah debu yang ada padanya atau dikibaskan agar debunya berjatuhan. Bukhari dan Muslim) Setelah Mendapatkan Air Seseorang yang telah mendapatkan air dan tidak terhalang dari menggunakannya. Namun bila sebelum menemukan air tersebut. maka ia tidak perlu mengulangi shalat yang telah dilakukannya meskipun waktu shalat tersebut masih ada. Usapkan pada wajah sekali. (lihat artikel wudhu untuk melihat batasan wajah).

Demikian tata cara tayammum yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu µalaihi wa sallam. Ketika dalam perjalanan. dishahihkan oleh syaikh al-Albani) Syaikh Ibnu Baz menjelaskan maksud dari hadits ini adalah. Salah seorang dari mereka berwudhu lalu mengulangi shalatnya. Abdul µAzhim bin Badawi al-Khalafi.³Pernah ada dua orang bepergian bersama. sedangkan waktu shalat masih ada. µKamu telah mengikuti sunnah dan shalat yang kamu lakukan telah cukup bagimu. orang yang tidak mengulangi shalatnya telah melakukan suatu yang benar karena telah mencukupkan dengan kemampuan yang ada (ketika tidak ada air). µKamu mendapatkan dua pahala. Setelah selesai shalat. namun mereka tidak mendapatkan air. Setelah pulang. Mereka pun tayammum dengan tanah yang suci.¶ Sedangkan kepada yang mengulangi wudhu dan shalatnya beliau berkata. Pustaka Azzam. Pustaka As-Sunnah. cetakan kedua 2006 Majalah Al-Furqon Edisi 4 Tahun VI Dzul Qo¶dah 1427/Desember 2006 (63) Ringkasan Shahih Bukhari (terj). Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Sa¶id bin µAli bin Wahf al-Qahthani. datanglah waktu shalat. sedangkan yang satunya tidak mengulangi shalatnya. Dan maksud perkataan Nabi shallallahu µalaihi wa sallam bahwa mendapat dua pahala adalah pahala dari shalatnya yang pertama dan yang kedua adalah dari ijtihadnya untuk mengulang shalatnya yang ia maksudkan untuk mengikuti sunnah Nabi. cetakan pertama 2002 Thaharah Nabi shallallahu µalaihi wa sallam Tuntunan Bersuci Lengkap. Media Hidayah *** . Abu Dawud dan an-Nasai. Adapun orang yang mengulangi shalatnya melakukan ijtihad. Maraji¶: al-Wajiz. mereka datang dan menceritakan kepada Rasulullah shallallahu µalaihi wa sallam kejadian yang mereka alami. mereka mendapatkan air. lalu shalat.¶´ (HR. tahkik syaikh Nashiruddin al-Albani. Rasulullah berkata kepada yang tidak mengulangi shalatnya.

Abu Dawud no. 2. ats-Tsauri. baik hadats besar maupun kecil. (HR.´ Lalu beliau memukulkan kedua tangan beliau ke tanah dengan sekali tepukan kemudian membasuhkan tangan kiri ke tangan kanan dan dan kedua punggung tangan beliau dan wajah beliau. kemudian saya menjumpai Nabi dan menceritakan kepada beliau hal itu. kemudian kalian tidak mendapatkan air. ³Saya teringat dengan firman Allah Ta. Seorang yang junub lagi musafir dan tidak mendapatkan air. ³Dan janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri. beliau mengatakan. Al-Maidah: 6) Dari sunnah adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. Berdasarkan keumuman firman Allah Ta¶ala diatas.´ Demikian yang dikutip oleh al-Hafizh di dalam Fathul Bari. Beliau bersabda. 347) dan Muslim (1/280) dari Ammar bin Yasir. Siapakah yang diperbolehkan melakukan Tayammum? 1.shalat dan semisalnya.´ Maka saya melakukan tayammum kemudian mengerjakan shalat. umat Islam telah sepakat bahwa tayammum disyariatkan hanya pada wajah dan kedua telapak tangan bagi seseorang yang berhadats.bertayammum kemudian mengimami para sahabatku pada shalat subuh. Bagi seorang junub apabila khawatir udara dingin.´ (QS. ³Wahai Amru. al-Hakim 1/177) Hadits ini dijadikan dasar oleh Malik. Baik tayammum tersebut mewakili seluruh anggota thaharahnya ataukah sebagiannya saja. Rasulullah kemudian tertawa dan tidak mengatakan sesuatu. Sesungguhnya Allah sangatlah penyayang bagi kalian. ³Firman Allah ta¶ala. ³Hingga saya ihtilam (mimpi basah) pada malam yang sangat dingin. Maka saya berguling-guling sebagaimana tunggangan berguling. Ibnu as-Sukait mengatakan. Ahmad didalam al-Musnad 4/203. Dan beliau bersabda. beliau berkata. Maka saya pun -hanya. Lalu pemakaian mereka telah meluas hingga kata tayammum diinterpretasikan sebagai mengusap wajah dan kedua tangan dengan tanah. 334-335. maka kalian lakukanlah tayammum dengan tanah yang baik. Abu Hanifah dan Ibnul-Mundzir bahwa seseorang yang melakukan tayammum karena udara yang sangat dingin. firman Allah Ta¶ala. Dan saya khawatir jikalau saya mandi maka saya akan mati. maka tayammum-lah kalian dengan tanah yang baik.´ Demikian pula. ³Rasulullah mengutusku untuk suatu keperluan. ³Dan jikalau kalian dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan atau seseorang diantara kalian baru saja buang hajat atau menggauli wanita. Dan juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan selainnya dari hadits Amru bin al-¶Ash.´ Yaitu menghendaki ±pemakaian. Lalu saya junub dan tidak mendapatkan air. ³Dan kalian tidak mendapatkan air.ala.Hukum-Hukum Seputar Tayammum Definisi Tayammum: Tayammum adalah keinginan/kehendak untuk mengusap wajah dan kedua tangan dalam bentuk yang khusus dengan niat pembolehan ±mengerjakan. engkau telah mengerjakan shalat mengimami sahabatmu sementara engkau dalam keadaan junub?´Saya berkata. Dan ketika kami tiba kembali menemui Rasulullah. ³Cukuplah engkau melakukan dengan kedua tanganmu seperti ini. bahwa ketika beliau diutus pada perang Dzaat as-Salaasil.tanah. tidak diharuskan untuk . Hal ini berdasarkan keumuman ayat tayammum dan juga ditunjukkan oleh hadits Ammar bin Yasir yang baru saja berlalu. mereka menceritakan hal itu kepada beliau. Usaplah wajah kalian dan tangan kalian dari tanah tersebut. Dalil-Dalil disyariatkannya Tayammum: Adapun dalil pensyariatan tayammum didalam al-Qur`an.

Mujahid. asy-Syaukani dan asy-Syaikh Ibnul Utsaimin. Musafir yang memiliki sedikit air dan khawatir kehausan dalam perjalanannya. asy-Syafi¶i. ats-Tsauri. 5. 3. asy-Syafi¶i. ash-Shan¶ani. Dan inilah pendapat yang shahih. Berdasarkan keumuman ayat tayammum di atas dan juga berdasarkan hadits Amru bin al-¶Ash sebelumnya. Karena Nabi tidaklah menyuruh beliau untuk mengulanginya. bahwa beliau menafsirkan firman Allah Ta¶ala di atas. Penyakit/sakit semacam ini tidak diperbolehkan tayammum baginya menurut pendapat sebagian besar ulama. sakit gigi dan semisalnya. Ibnul Mundzir mengutip bahwa ulama sepakat dalam hal ini. Kedua: Sakit/penyakit yang dengan penggunaan air akan dikhawatirkan mendatangkan kebinasaan pada dirinya.´ Dan inilah pendapat yang shahih sesuai dengan keterangan dalil diatas. atau penyakit cacar air. Malik. sebagaimana yang difirmankan oleh Allah . Ahmad. Ishaq dan merupakan pendapat yang dipilih oleh Ibnul Mundzir. ³Yaitu seseorang yang mendapatkan luka ketika fi sabilillah. Seandainya wajib. maka musafir tersebut menyimpan airnya untuk dipergunakan minum dan dia mencukupkan dengan tayammum di setiap shalatnya. ashhaab ar-Ra`yi. Ibnu Abbas.suatu keharusan baginya. Jika seorang musafir khawatir kehausan dan dia membawa air yang hanya mencukupi untuk dipergunakan minum.´ Beliau berkata. hammad bin Abu Sulaiman. Adapun jikalau seseorang dalam keadaan safar/bepergian dan unub sementara dia tidak memiliki air selain kadar yang memungkinkan untuk berwudhu`. anggota tubuhnya. Ibrahim. Seorang yang dalam keadaan sakit tidak mampu mempergunakan air. Seorang junub lagi musafir yang tidak mendapatkan air kecuali yang hanya cukup dipergunakan untuk berwudhu`. lalu dia junub dan takut jika dia mati maka dia akan meninggal dunia. 4. maka hal itu ±wudhu`. Pada dua keadaan pada sakit/penyakit ini diperbolehkan untuk tayammum dan tidak perlu mengulangi shalat. Setiap kali selesai membasuh anggota wudhu` dia lalu menutup dan menghalanginya dari udara dingin. Malik.´ Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan al-Baihaqi. Selanjutnya dia melakukan tayammum dengan tanah yang baik. Dan juga diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Ishaq. Dawud dan sebagian besar ulama.Atha`. ³Tayammum karena takut udara dingin tidak diperbolehkan bagi seseorang yang memungkinkan untuk memanaskan air atau dapat mempergunakan air dengan cara yang tidak menimbulkan mudharat baginya semisal membasuh anggota wudhu` kemudian menutupinya. niscaya beliau akan menyuruh mengulangi shalat. imam Ahmad berpendapat bahwa dia membasuh kemaluannya dengan air tersebut serta bagian yang terkena janabah. Qatadah. Pendapat ini adalah pendapat Abu Hanifah. Ketiga: Penyakit/sakit yang dengan penggunaan air akan memperlambat kesembuhannya atau menambah parah sakitnya. Malik. Jika dia tidak mampu dia diperbolehkan tayammum dan mengerjakan shalat pada pendapat sebagian besar ulama. al-Hasan. Ibnu Raslaan mengatakan. mendatangkan penyakit yang membahayakan jiwanya. Ahmad. Abu Tsaur dan Ashhabur-Ra`yi. Thawus. Dan pendapat tersebut telah diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib. Ikrimah. adh-Dhahhak. Qatadah. Sakit/penyakit terbagi atas tiga bagian: Pertama: Penyakit yang ringan dan tidak dikhawatirkan akan mendatangkan bahaya.mengulangi shalat. dia dapat tayammum dengan tanah yang baik. tidak menambah rasa sakit atau suatu yang buruk jika orang tersebut mempergunakan air. Ahmad. Pendapat ini adalah pendapat Mujahid. atau borok. ³Jika kalian dalam keadaan sakit. Semisal penyakit pusing. Thawus. tidak akan memperlambat kesembuhannya. Ibnul Qayyim.

Sa¶id bin al-Musayyab.´ Muttafaq a¶laihi. ³Lalu kalian tidak mendapatkan air. tidak satupun hadits tersebut yang shahih. ³Lalu Nabi menepukkan kedua telapak tangan beliau pada tanah kemudian meniupnya. ³Sesungguhnya tiap amalan berdasarkan pada niatnya. dalam salah satu riwayatnya pada Shahih al-Bukhari. Apabila dia telah mendapatkan air maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah dan mengusap kulitnya. Wallahu a¶lam. Bahkan sebagian besarnya adalah hadits-hadits yang sangat lemah. Berdasarkan hadits Ammar bin Yasir. ³Tayammum dengan dua kali tepukan. karena hal itu lebih baik. 3.bersabda. 2. Pendapat ini juga merupakan pendapat Atha`.´ (HR. 153) Niat pada Tayammum: Telah shahih diriwayatkan dari hadits Umar bin al-Khaththab dari Nabi. Ibnu Abdil Barr mengatakan. Hammad. 338 dan juga no. al-Auza¶i. bahwa beliau bersabda. Adapun hadits-hadits yang menyebutkan adanya mengusap tangan hingga ke bagian siku. Sebagaimana halnya dalam wudhu`. Ishaq dan merupakan pendapat yang dipilih oleh Ibnul Mundzir dan juga sebagian besar ulama hadits. Mencukupkan tayammum pada wajah dan kedua tangan hingga pergelangan merupakan pendapat Atha`. Adapun atsar yang diriwayatkan dari beliau yang menyebutkan dua kali tepukan maka kesemuanya adalah mudhtharib (goncang). adalah sebagai berikut: 1. az-Zuhri. dimana disebutkan. dan pengganti menyadur hukum yang digantikannya. dia perawi yang matruk. Ahmad. Dan merupakan pendapat yang dipilih oleh Ibnul Mundzir. pada sanadnya terdapat Ali bin Zhabyaan. Malik dan Abdul Azis bin Abu Salamah. Demikian juga hadits Ibnu Umar lainnya yang menyebutkan tiga kali tepukan pada tayammum adalah hadits yang sangat lemah. Menepukkan kedua telapak tangan ke tanah dengan sekali tepukan. Dikarenakan tayammum adalah pengganti thaharah wudhu`. sekali untuk wajah dan sekali untuk kedua tangan hingga bagian siku.´ Dalam hadits Abu Dzar. Berdasarkan hadits Ammar bin Yasir di atas. Membaca Basmalah.´ (Shahih al-Bukhari no.´ Dan hadits Abdullah bin Umar secara marfu¶.´ Diriwayatkan oleh adDaraquthni. Makhul. ³Bahwa sebagian besar atsar-atsar yang diriwayatkan dari Ammar menyebutkan sekali tepukan. Tanah yang dipergunakan untuk Tayammum Allah Ta¶ala berfirman. lalu mengusapkan keduanya pada wajah dan kedua telapak tangan beliau. al-Hasan. Seperti disebutkan oleh Ibnu Abdil Barr didalam kitab beliau at-Tamhid dan juga asy- . namun hadits ini sangat lemah. Meniup kedua telapak tangan sebelum membasuhkannya ke anggota tayammum. al-Hakim dan al-Baihaqi. ³Tanah yang baik adalah wadhu` seorang muslim walau dia tidak mendapatkan air selama sepuluh tahun. Nabi -shallallahu alaihi wasallam. Abu Dawud dan at-Tirmidzi dan dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani di dalam al-Irwa` no. Berdasarkan ayat tayammum dan juga berdasarkan hadits Ammar bin Yasir di atas. an-Nakha¶i.ta¶ala. Tata Cara Tayammum: Adapun tata cara tayammum. Mengusap wajah dan kedua tangan hingga pergelangan. 339) 4. maka bertayammumlah kalian dengan tanah yang baik.

yaitu dimulai dengan mengusap wajah lalu kedua tangan. alMaidah: 6) 6. Berdasarkan konteks firman Allah Ta¶ala. [Diringkas dari tulisan Ustadz. Abu Zakariya Rizki Al-Atsary] . at-Tamhid 2/237 dan selanjutnya. al-Uddah hal. Masaa`il Abdullah bin al-Imam Ahmad 36-39. al-Majmu¶ 2/238 dan selanjutnya. Bidayah al-Mujtahid 2/3-50 . 5. asy-Syarh al-Mumti` 1/373413.Syaukani didalam Nail al-Authar.´ (QS. as-Sail al-Jarrar 1/308-334. ³Basuhlah wajah dan tangan-tangan kalian. Tertib dalam tayammum. 224-253. Nail al-Authar 2/410-443. 39-42. al-Isyraf 1/255-. Dikerjakan secara beriringan (al-muwalaah) Rujukan: al-Umm 1/41-44. Badai¶ ash-Shana¶i 1/178-191. al-Mughni 1/318-368. Subul as-Salam 1/204-217. al-Ausath 2/11-73. al-Muhalla 1/no. Kasysyaf al-Qina` 1/237-254. Fathul Bari 1/559-593.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful