P. 1
m Suryo Pranoto Dampak Ekonomi Global Terhadap Perbankan Syariah

m Suryo Pranoto Dampak Ekonomi Global Terhadap Perbankan Syariah

|Views: 623|Likes:
Published by Evita Isretno

More info:

Published by: Evita Isretno on Oct 15, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/21/2012

pdf

text

original

•Universal Bank Syariah adalah untuk setiap orang, tanpa memandang perbedaan
kemampuan ekonomi maupun perbedaan agama
•Adil Memberikan sesuatu hanya kepada yang berhak serta memperlakukan
sesuatu sesuai posisinya
•melarang adanya masyir (unsur spekulasi atau untung-untungan), gharar
(ketidakjelasan), haram, dan riba.
•Transparan Dalam kegiatannya, bank syariah sangat terbuka bagi seluruh lapisan
masyrakat.
•Seimbang Mengembangkan sektor keuangan melalui aktivitas perbankan syariah
yang mencakup pengembangan sektor riil danUMKM.
•Maslahat Bermanfaat dan membawa kebaikan bagi seluruh aspek kehidupan.
Variatif Produk bervariasi mula idari tabungan haji dan umrah, tabungan umum,
giro, deposito, pembiayaan yang berbasis bagi hasil, jual beli dan sewa,sampai
pada produk jasa kustodian, jasa transfer dan jasa pembayaran (debit card, syariah
charge).

•Memiliki Fasilitas Penerimaan dan penyaluran zakat, infaq, sedekah, waqaf, dana
kebajikan (qard), memiliki fasilitas ATM, mobile banking, internet banking dan
inter-koneksi antar bank syariah. (aml)

Sumber : Ayo ke Bank, Bank Syariah untuk Kita Semua, Bank Indonesia

5

Target Perbankan Syariah

Adapun target pencapaian pengembangan sistem perbankan syariah nasional adalah:
•Memiliki daya saing yang tinggi dengan tetap berpegang pada nilai-nilai syariah
•Memiliki peran signifikan dalam sistem perekonomian nasional serta perbaikan
kesejahteraan rakyat
•Memiliki kemampuan untuk bersaing secara global dengan pemenuhan standar
operasional keuangan internasion

Sasaran Perbankan Syariah

Bank Indonesia telah menentukan sasaran yang realistis untuk mewujudkan visi yang
sudah dicanangkan. Sasaran ini dibuat dengan mempertimbangkan kondisi aktual,
termasuk: faktorfaktor yang berpengaruh dan kecenderungan yang akan membentuk
industri di masa yang akan datang manfaat dan tantangan yang ada, serta kelebihan dan
keterbatasan dari pelaku industri dan stakeholders lainnya.

Sasaran pengembangan perbankan syariah sampai tahun 2011 adalah:

Terpenuhinya prinsip syariah dalam operasional perbankan, yang ditandai dengan:
•Tersusunnya norma-norma keuangan syariah yangseragam (standarisasi)
•Terwujudnya mekanisme kerja yang efisien bagipengawasan prinsip syariah
dalam operasional perbankan (baik instrumen maupun badan terkait)
•Rendahnya tingkat keluhan masyarakat dalam hal penerapan prinsip syariah
dalam setiap transaksi.

Diterapkannya prinsip kehati-hatian dalam operasional perbankan syariah:

•Terwujudnya kerangka pengaturan dan pengawasan berbasis risiko yang sesuai
dengan karakteristiknya dan didukung oleh SDI yang handal.
•Diterapkannya konsep corporate governance dalam operasi perbankan syariah.
•Diterapkannya kebijakan exit dan entry yang efisien.
•Terwujudnya realtime supervision.
•Terwujudnya self regulatory system.

Terciptanya sistem perbankan syariah yang kompetitif dan efisien; yang ditandai
dengan:

•Terciptanya pemain-pemain yang mampu bersaing secara global.
•Terwujudnya aliansi strategis yang efektif.
•Terwujudnya mekanisme kerjasama dengan lembaga lembaga pendukung .

6

Terciptanya stabilitas sistemik serta terealisasinya kemanfaatan bagi masyarakat
luas,
yang ditandai dengan:
•Terwujudnya safety net yang merupakan kesatuan dengan konsep operasional
perbankan yang berhati – hati
•Terpenuhinya kebutuhan masyarakat yang menginginkan layanan bank syariah di
seluruh Indonesia dengan target pangsa sebesar 5% dari total aset perbankan
nasional

•Terwujudnya fungsi perbankan syariah yang kaffah dan dapat melayani seluruh
segmen masyarakat
•Meningkatnya proporsi pola pembiayaan secara bagi hasil.

Tantangan Sistem Perbankan Syariah di Indonesia

Kenyataan menunjukkan bahwa dalam periode krisis ekonomi, perbankan syariah
memiliki daya tahan yang relatif lebih kuat. Berkaitan dengan itu perbankan syariah
diharapkan dapat berperan lebih besar dalam proses pemulihan perekonomian Indonesia
yang masih terus berlangsung.
Dalam upaya mendorong pertumbuhan industri perbankan syariah yang masih berada
dalam tahap awal pengembangan, beberapa hal penting yang perlu mendapatkan
perhatian antara lain:

•Kerangka dan perangkat pengaturan perbankan syariah belum lengkap.
•Cakupan pasar masih terbatas.
•Kurangnya pengetahuan dan pemahaman mengenai produk dan jasa perbankan

syariah.
•Institusi pendukung yang belum lengkap dan efektif
•Efisiensi operasional perbankan syariah yang masih belum optimal
•Porsi skim pembiayaan bagi hasil dalam transaksi bank syariah masih perlu
ditingkatkan;
•Kemampuan untuk memenuhi standar keuangan syariah internasional.

Prinsip Perbankan Syariah

Prinsip syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dan pihak
lain untuk penyimpanan dana dan/atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya
yang sesuai dengan syariah.

Beberapa prinsip/ hukum yang dianut oleh sistem perbankan syariah antara lain :
•Pembayaran terhadap pinjaman dengan nilai yang berbeda dari nilai pinjaman
dengan nilai ditentukan sebelumnya tidak diperbolehkan.
•Pemberi dana harus turut berbagi keuntungan dan kerugian sebagai akibat hasil
usaha institusi yang meminjam dana.

7

•Islam tidak memperbolehkan "menghasilkan uang dari uang". Uang hanya
merupakan media pertukaran dan bukan komoditas karena tidak memiliki nilai
intrinsik.

•Unsur Gharar (ketidakpastian, spekulasi) tidak diperkenankan. Kedua belah pihak
harus mengetahui dengan baik hasil yang akan mereka peroleh dari sebuah
transaksi.

•Investasi hanya boleh diberikan pada usaha-usaha yang tidak diharamkan dalam
islam. Usaha minuman keras misalnya tidak boleh didanai oleh perbankan
syariah.

Produk perbankan syariah

Beberapa produk jasa yang disediakan oleh bank berbasis syariah antara lain:

•Jasa untuk peminjam dana
•Mudhorobah, adalah perjanjian antara penyedia modal dengan pengusaha. Setiap
keuntungan yang diraih akan dibagi menurut rasio tertentu yang disepakati.
Resiko kerugian ditanggung penuh oleh pihak Bank kecuali kerugian yang
diakibatkan oleh kesalahan pengelolaan, kelalaian dan penyimpangan pihak
nasabah seperti penyelewengan, kecurangan dan penyalahgunaan.
•Musyarokah (Joint Venture), konsep ini diterapkan pada model partnership atau
joint venture. Keuntungan yang diraih akan dibagi dalam rasio yang disepakati
sementara kerugian akan dibagi berdasarkan rasio ekuitas yang dimiliki masing-
masing pihak. Perbedaan mendasar dengan mudharabah ialah dalam konsep ini
ada campur tangan pengelolaan manajemennya sedangkan mudharabah tidak ada
campur tangan
•Murobahah , yakni penyaluran dana dalam bentuk jual beli. Bank akan
membelikan barang yang dibutuhkan pengguna jasa kemudian menjualnya
kembali ke pengguna jasa dengan harga yang dinaikkan sesuai margin
keuntungan yang ditetapkan bank, dan pengguna jasa dapat mengangsur barang
tersebut. Besarnya angsuran flat sesuai akad diawal dan besarnya angsuran=harga
pokok ditambah margin yang disepakati. Contoh:harga rumah, 500 juta, margin
bank/keuntungan bank 100 jt, maka yang dibayar nasabah peminjam ialah 600
juta dan diangsur selama waktu yang disepakati diawal antara Bank dan Nasabah.
•Takaful (asuransi islam)

Jasa untuk penyimpan dana

•Wadi'ah (jasa penitipan), adalah jasa penitipan dana dimana penitip dapat
mengambil dana tersebut sewaktu-waktu. Dengan sistem wadiah Bank tidak
berkewajiban, namun diperbolehkan, untuk memberikan bonus kepada nasabah.

Akad Wadiah sendiri menurut cara penitipannya dapat ada 2 jenis akad yaitu :

8

1. Wadhiah Dhamanah : Titipan dengan izin tertitip boleh pemanfaatan harta
titipan. Diletakkan dalam pool of fund untuk dikembangkan oleh tertitip
2. Wadhiah Amanah : Titipan tanpa kebolehan izin memanfaatkan harta titipan:
contoh : Safe Deposit Box

•Deposito Mudhorobah, nasabah menyimpan dana di Bank dalam kurun waktu
yang tertentu. Keuntungan dari investasi terhadap dana nasabah yang dilakukan
bank akan dibagikan antara bank dan nasabah dengan nisbah bagi hasil tertentu.

Akad Mudharabah juga ada 2 jenis berdasarkan dimana dana dititipkan :
1. Mudharabah Mutlaqah (Bagi Hasil Mutlak): Bank berkuasa penuh
menentukan jenis dan tempat investasi. Nasabah tidak perlu menentukan ke mana
dananya akan diinvestasikan oleh bank syariah, sepenuhnya merupakan hak Bank.
2. Mudharabah Muqayyadah (Bagi Hasil Terikat): Bank berwenang terbatas
dalam menentukan jenis dan tempat investasi. Skim ini biasanya digunakan untuk
mewadahi kebutuhan nasabah (umumnya adalah nasabah besar seperti perusahaan
dan pemerintah) untuk menggunakan bank syariah sebagai perpanjangan
tangannya untuk berinvestasi pada sektor bisnis tertentu. Dana tidak disatukan
dalam pool-of-fund bank syariah, namun dikelola secara terpisah.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->