BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Teknologi modern telah memungkinkan terciptanya komunikasi bebas lintas benua, lintas negara, menerobos berbagai pelosok perkampungan di pedesaan dan menyelusup di gang-gang sempit di perkotaan, melalui media audio (radio) dan audio visual (televisi, internet, dan lain-lain). Fenomena modern yang terjadi di awal milenium ketiga ini popular dengan sebutan globalisasi. Sebagai akibatnya, media ini, khususnya televisi, dapat dijadikan alat yang sangat ampuh di tangan sekelompok orang atau golongan untuk menanamkan atau, sebaliknya, merusak nilai-nilai moral, untuk mempengaruhi atau mengontrol pola fikir seseorang oleh mereka yang mempunyai kekuasaan terhadap media tersebut. Persoalan sebenarnya terletak pada mereka yang menguasai komunikasi global tersebut memiliki perbedaan perspektif yang ekstrim dengan Islam dalam memberikan criteria nilai-nilai moral; antara nilai baik dan buruk, antara kebenaran sejati dan yang artifisial. Di sisi lain era kontemporer identik dengan era sains dan teknologi, yang pengembangannya tidak terlepas dari studi kritis dan riset yang tidak kenal henti. Dengan semangat yang tak pernah padam ini para saintis telah memberikan kontribusi yang besar kepada keseejahteraan umat manusia di samping kepada sains itu sendiri. Hal ini sesuai dengan identifikasi para saintis sebagai pecinta kebenaran dan pencarian untuk kebaikan seluruh umat manusia. Akan tetapi, sekali lagi, dengan perbedaan perspektif terhadap nilai-nilai etika dan moralitas agama, jargon saintis sebagai pencari kebenaran tampaknya perlu dipertanyakan. Apalagi bila dilihat data-data berikut : Di pusat riset Porton Down di Inggris para saintis memakai binatangbinatang yang masih hidup untuk menguji coba baju anti peluru. Hewan-hewan tersebut dimasukkan ke dalam troli yang kemudian diledakkan. Pada awalnya, monyet yang dipakai dalam berbagai eksperimen tetapi para saintis kemudian

1

Kuttschreuter & Baarda. bersikap pro social (Gunter. kecenderungan atas preferensi seksual (Silverman – Watkins & Sprafkin. 1994 2 . Brown. dengan kecenderungan gaya hidup (Henry & Patrick.menggantinya dengan babi. 1990). 1985). dengan sikap anti social (Hagell & Newburn. 1 Anak Remaja Diberi Sarapan yang dicampuri Radioaktif. 1979). kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga negara (Conway. Wiegman. 1983). identifikasi diri dengan karakter-karakter di televisi (Shaheen. Di Amerika Serikat. kesadaran akan daya tarik seksual (Tan. Hasil-hasil studi yang lain tentang dampak-dampak televisi menunjukkan indikasi yang cenderung ‘agak menggembirakan’. bertambahnya pengetahuan akan geografi (Earl & Pasternack. 1986). 1975). dengan sikap rasial (Zeckerman. Steven & Smith. Beberapa hasil studi berhasil menguak hubungan antara menonton televisi dengan sikap agresif (Huismon & Eron. 1983). ibu-ibu setengah baya disuntik dengan plutonium radioaktif dan biji kemaluan para tahanan disuntik radiasi – semua atas nama sains. dengan sikap aktifitas santai (Selnon & Reynolds. Singer &Singer. 1996). Eksperimen-eksperimen ini diadakan sejak tahun 1940-an sampai 1970-an1 Sementara itu media televisi. di akhir tahun 40-an. Binatang-binatang tersebut ditembak persis di atas mata untuk meneliti efek daripada misil berkecepatan tinggi pada jaringan otak. 1992). stereotype peran seksual (Durkin. Seperti adanya kesadaran akan segala peristiwa yang terjadi di seluruh dunia (Cairn. 1991). kemajuan dan keamanan. 1984). anak-anak remaja diberi sarapan yang dicampuri radioaktif. 1983). dengan bunuh diri (Gould & Shaffer. 1986. 1977). sebagai hasil pencapaian teknologi modern yang paling luas jangkauannya memiliki dampak sosio-psikologis sangat kuat pada pemirsanya. meningkatnya pengetahuan tentang masalah politik (Furnham & Gunter. 1984). 1980).

B. Permasalahan Dalam penulisan makalah ini penulis mengangkat masalah Pendidikan Islam di Era Globalisasi. 3 . sebab masyarakat sekarang sudah banyak meninggalkan islam karena Era Globalisasi.

Usaha demikian bukannya tanpa tantangan dan kendala yang seringkali amat berat dan karena itu harus dilihat sebagai satu perjuangan Tantangan dan kendala itu ada yang datang dari dalam tubuh umat Islam sendiri dan ada pula yang datang dari luar. Kebangkitan moral-spiritual akan menjadi satu kekuatan pendorong yang amat penting. Hal itu dapat menimbulkan cara berpikir 4 . Satu peradaban menunjukkan kehidupan spiritual dan material yang menjadi ukuran bagi tinggi rendahnya peradaban itu. Kondisi mental lain yang merupakan kendala adalah kurangnya keseimbangan antara daya nalar atau rasio dengan daya rasa atau emosi. Sebab itu umat Islam membangun kehidupan spiritual dan moral sesuai dengan ajaran Islam untuk menjadi pemicu bagi seluruh kehidupan umat Islam yang bermakna. seperti lemahnya pelaksanaan ajaran Islam disebabkan banyak hal antara lain kuatnya kebiasaan tertentu dan kurangnya kekuatan kehendak.BAB II KONSEP PENDIDIKAN ISLAM DI ERA GLOBALISASI A. Kondisi mental ini mempunyai banyak segi. Dan itu menjadi ukuran keberhasilan Kebangkitan Islam. Di pihak lain diwujudkan pula perubahan dalam kondisi material umat Islam untuk menciptakan kesejahteraan yang makin meningkat. umat Islam kembali membentuk peradaban yang setingkat dengan peradaban lainnya. tetapi harus dapat mengatasi kondisi mental yang di banyak bagian umat Islam masih merupakan rintangan bagi terwujudnya kebangkitan moral-spiritual itu. Semakin tinggi hasil pembangunan moral-spiritual dan material itu semakin tercipta peradaban Islam masa kini yang tinggi tingkatnya. Dengan perkataan lain. Berbagai Persoalan Globalisasi yang dihadapi Kebangkitan Islam Kebangkitan Islam adalah satu proses penuh perubahan yang dilakukan umat Islam untuk mewujudkan kehidupan yang maju dan sejahtera setingkat dengan umat manusia lainnya yang sudah lebih dahulu mencapai kondisi demikian .

Juga kemampuan berpolitik akan kurang berkembang. Juga kenyataan bahwa sukar sekali mencapai kesatuan pandangan di kalangan umat Islam merupakan tantangan berat bagi kebangkitan moral-spiritual yang kuat. Kemampuan membela dan mengamankan diri juga menjadi terbatas kalau penghasilan dan produksi rendah. umat Islam tidak dapat membangun kemampuan ekonomi yang dapat menciptakan aneka ragam produksi dan jasa. Dengan begitu akan lebih terjamin kekompakan dan kemantapan perjuangan. Akibatnya tidak saja pada terbatasnya produktivitas. tetapi juga berpengaruh terhadap kemajuan berkreasi dalam segala aspek kebudayaan. Perbedaan pendapat adalah hal yang lumrah dan bahkan bermanfaat untuk memperoleh pandangan yang luas tentang satu persoalan. Selama kemampuan dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi kurang memadai. Agar supaya Kebangkitan Islam membawa masa depan yang lebih cerah dan maju bagi umat Islam. yaitu umat Islam yang penuh vitalitas atau daya hidup untuk melakukan hal-hal yang dapat menimbulkan perubahan ke arah kemajuan. harus terjadi berbagai perubahan yang menuntut adanya aneka macam usaha yang harus dilakukan umat Islam. Oleh sebab itu diperlukan Revitalisasi Islam. Dalam pada itu kebangkitan material menghadapi kendala berupa tingkat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang umumnya masih rendah. Alhasil. Hal ini sangat berbeda dengan masa lampau ketika justru umat Islam memegang peran penting dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. akumulasi modal dan rendahnya penghasilan. Akan tetapi perbedaan pendapat harus diimbangi dengan kemampuan mencapai keputusan yang menguntungkan semua pihak (Win-Win Solution). seluruh kesejahteraan tidak berada pada tingkat yang tinggi. 5 .yang kurang cekatan dan mampu untuk melakukan penyesuaian dengan perkembangan umat manusia di kelilingnya.

Proses pendidikan meliputi banyak sekali segi dan sebenarnya setiap kegiatan manusia mengandung unsur pendidikan. Pendidikan di Era Globalisasi Pendidikan mempunyai peran besar sekali untuk menimbulkan perubahan pada diri umat Islam. yaitu harus ada pendidikan yang besar kuantitasnya sehingga meliputi sebanyak mungkin warga masyarakat. Hal ini terutama terasa dalam Era Globalisasi yang membuat setiap unsur masyarakat makin intensif hubungannya dengan unsur masyarakat lainnya. maupun setinggi mungkin kualitasnya 6 . Melalui pendidikan dapat dibentuk kondisi mental yang lebih kondusif untuk mengembangkan kebangkitan moral-spiritual yang dikehendaki. Namun secara umum dapat dikatakan bahwa pendidikan meliputi sistem sekolah dan pendidikan luar sekolah. Dalam pendidikan luar sekolah yang amat besar perannya adalah pendidikan di lingkungan keluarga.B. Hal ini menimbulkan tantangan yang amat berat. Bahkan Kepemimpinan itu sangat penting untuk menimbulkan proses pendidikan yang diperlukan. Demikian pula penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat diusahakan melalui pelaksanaan pendidikan yang tepat. Dua hal itu harus saling mendukung untuk mencapai hasil yang optimal. Oleh karena Kebangkitan Islam sekarang sudah berjalan maka pendidikan harus dibarengi dengan terbentuknya Kepemimpinan yang dapat menjalankan proses perubahan tersebut sejak sekarang. Harus sebanyak mungkin warga masyarakat mempunyai mutu tinggi untuk dapat melakukan kerjasama dan persaingan bangsa dan umat. Akibatnya adalah bahwa tidak cukup hanya sebagian kecil masyarakat bermutu tinggi untuk mencapai kemajuan satu bangsa atau satu umat. Sebab di lingkungan keluarga manusia lahir dan tumbuh di masa yang paling menentukan bagi pembentukan kepribadiannya. Hubungan itu dapat berupa kerjasama atau persaingan yang dalam Era Globalisasi makin intensif kondisinya. Namun harus pula disadari bahwa hasil dari proses pendidikan baru terasa secara sungguh-sungguh setelah berlalunya satu generasi. demikian pula dengan unsur masyarakat luar negeri.

Sebagaimana telah dikemukakan. Sebelum undang-undang itu berlaku. 2 Th. 1989 sebaiknya ditetapkan bahwa pendidikan dasar meliputi TK 2 tahun dan SD 6 tahun.2 itu ditetapkan sebagai pendidikan pra-sekolah.untuk seluruh pendidikan yang diselenggarakan. 2 Th. Makin terbukti bahwa ketentuan UU no. Sebab itu harus ada usaha yang kuat dan sistematis agar para orang tua memainkan peran itu dengan sebaik-baiknya. sesuai dengan ketentuan dalam UU no. makin terbukti pentingnya bagi pendidikan semua anak kita dan karena itu perlu ditetapkan sebagai bagian dari sistem sekolah. Kondisi dan suasana masyarakat serta lingkungan kehidupan pada umumnya berpengaruh kuat terhadap peran orang tua itu. pendidikan dasar hanya SD. 1989 tentang Pendidikan Nasional. Hal ini merupakan tantangan besar untuk pengadaan dan penyediaan Sumberdaya. khususnya pendidikan di lingkungan keluarga. Amat besar peran orang tua dalam membentuk kepribadian anak yang sudah mulai dibentuk sejak kecil sebelum masuk sekolah. Dan karena sumberdaya pada dasarnya adalah langka. Di pihak lain Taman Kanak-Kanak (TK) yang dalam UU no. 1989 itu kurang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan lebih baik kita kembali kepada ketentuan sebelumnya. amat besar terhadap seluruh proses pendidikan. Pendidikan dasar sebaiknya meliputi masa persekolahan 2 tahun di Taman Kanak-Kanak (TK) dan 6 tahun di Sekolah Dasar (SD). sedangkan SMP termasuk pendidikan menengah. Pendidikan dasar membentuk landasan bagi perkembangan anak dalam segala segi kehidupannya. Oleh sebab itu dalam UU Pendidikan baru untuk menggantikan UU no. Sumberdaya Uang maupun Sumberdaya Material. 7 . 2 Th. maka timbul tantangan kuat terhadap kemampuan Manajemen Pendidikan di satu pihak dan di pihak lain adanya Komitmen yang kuat pada Kepemimpinan Bangsa untuk pengadaan Sumberdaya itu. Pada waktu ini di Indonesia masih belaku ketentuan bahwa pendidikan dasar meliputi Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) 3 tahun. pengaruh dari pendidikan luar sekolah. baik Sumberdaya Manusia.

Untuk itu harus ada sistem pendidikan Guru yang tepat dan baik. harus ada sistem penggajian Guru yang memungkinkan seorang Guru berkonsentrasi kepada pekerjaannya di satu sekolah tertentu. Sebab itu sudah mulai di SMP sudah harus ada penjurusan dalam SMP yang mempersiapkan murid untuk melanjutkan ke SMU. Sebaiknya Sekolah Menengah Umum (SMU) diadakan untuk mendidik anak-anak yang tingkat inteligensinya tepat untuk nantinya melanjutkan ke Universitas. Pendidikan Menengah yang terdiri dari Sekolah Menengah Pertama (SMP). atau SMP Umum. tetapi jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah anak didik yang semuanya harus menjalani pendidikan dasar guna kehidupan lebih lanjut. Sekolah Menengah Umum (SMU) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) melanjutkan proses pendidikan dan pengajaran bagi anak didik. Ketiga. Ketiga hal ini pada waktu sekarang belum terpenuhi di Indonesia. Oleh sebab itu harus selalu kita perhatikan segala segi yang berhubungan dengan pencapaian kondisi itu. Mungkin ada Sekolah Dasar yang baik mutunya. Meskipun juga fasilitas pendidikan penting artinya. harus diciptakan status sosial Guru yang menjadikan professi Guru terpandang dan menarik dalam masyarakat. Apalagi jumlah TK masih sangat terbatas sehingga baru terjangkau oleh jumlah anak yang terbatas. Jadi SMU adalah semacam pendidikan pra-universitas. namun manfaat sebenarnya dari kehadiran fasilitas ditentukan oleh Guru yang bermutu. dan SMP Kejuruan yang memungkinkan muridnya secepat mungkin mempunyai keahlian untuk dapat memperoleh penghasilan. Di SMP Umum pun perlu ada seleksi siapa yang cocok untuk terus ke SMU dan siapa yang melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk 8 . Oleh sebab itu boleh dikatakan bahwa pendidikan dasar di Indonesia masih amat lemah. yaitu yang lebih berminat kepada penguasaan ilmu pengetahuan ketimbang ingin cepat mempunyai keahlian untuk memperoleh penghasilan.Kunci utama untuk memperoleh pendidikan dasar yang bermutu adalah Guru yang bermutu. Kedua. khususnya untuk Guru yang berfungsi sebagai Guru kelas atau Guru yang mengajarkan semua mata pelajaran.

seperti Politeknik dan Sekolah Tinggi Kejuruan .kemudian terjun ke masyarakat dengan memperoleh penghasilan yang baik. Sebab itu SMP Kejuruan dan SMK menyiapkan anak agar menguasai satu profesi tertentu dan karena itu SMP Kejuruan dan SMK beraneka ragam jenisnya. kalau sekolah itu tidak mempunyai laboratorium dan bengkel yang memadai. Satu SMU yang menjaga mutunya memerlukan perpustakaan yang banyak bukunya di samping adanya ruang kelas untuk pelajaran ilmu kimia dan ilmu alam dengan peralatannya yang lengkap. Tanpa itu anak 9 . sistem penggajiannya dan status sosialnya. sistem madrasah itu tidak boleh mengabaikan pemberian pendidikan umum yang memadai. Pada tingkat pendidikan dasar peran Guru sangat menonjol dibandingkan dengan fasilitas pendidikan. Di lingkungan umat Islam ada pendidikan dasar dan menengah yang dilakukan dalam Madrasah Ibitidaiyah yang setingkat SD. Setiap Guru harus menguasai sekurang-kurangnya satu mata pelajaran dengan baik. SMU dan SMK yang baik jauh di bawah keperluan mendidik begitu banyak anak didik. Di Indonesia ada SMP. meskipun tidak berarti pendidikan dasar tidak memerlukan fasilitas pendidikan yang baik. yaitu pendidikannya. Oleh sebab itu peran umat Islam untuk membangun pendidikan menengah yang baik sangat penting bagi perkembangan umat Islam khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya. SMU dan SMK yang baik. Sukar dilakukan pendidikan yang baik di satu SMK-Teknik umpamanya. Meskipun demikian. Madrasah Tsanawiyah setingkat SMP dan Madrasah Aliyah setingkat SMU. Maka dari itu tetap berlaku tiga syarat bagi mutu Guru. Adanya pendidikan melalui madrasah bermaksud untuk menjamin bahwa anak didik mendapat pendidikan Islam yang baik dan lengkap. Akan tetapi lulusan SMK dapat juga melanjutkan studi dalam professinya dengan masuk pendidikan tinggi yang menyangkut professi tersebut. tetapi juga dalam hal ini jumlah SMP. Di pendidikan menengah peran Guru maupun fasilitas pendidikan sama pentingnya. Tentu Guru di pendidikan menengah juga harus dijaga mutunya. Lulusannya siap untuk bekerja dan sangat diperlukan untuk mengisi pekerjaan kader bawah dan menengah dalam setiap professi.

antara lain kalah kesempatan dibandingkan anak lulusan sistem sekolahan biasa. di samping pendidikan agama Islam.. kalau setiap Muslim bermutu tinggi. Memperhatikan hal-hal di atas maka penyelenggaraan pendidikan tinggi di Indonesia dewasa ini menghadapi kendala yang cukup sukar dan berat. Agar pembelajarannya tidak memberatkan anak didik dan mengurangi manfaat pendidikan.didiknya akan mengalami kesulitan dalam kehidupannya setelah keluar dari pendidikan itu. SMP dan SMU. tetapi mayoritas mahasiswa sebagai calon kader bangsa atau umat masih belum dapat dijamin mutunya untuk mengisi dan menjalankan aneka ragam pekerjaan dan professi yang ada dalam satu masyarakat Abad ke 21. Jumlah yang besar itu merupakan asset bagi Kebangkitan Islam dan pertumbuhan bangsa Indonesia. harus ada pertimbangan yang mendalam dan saksama dalam pembuatan kurikulum setiap tingkat pendidikan madrasah. Sebab itu sebaiknya sistem madrasah juga memberikan pendidikan yang sama dengan SD. Pendidikan di lingkungan keluarga masih sangat banyak memerlukan perbaikan. 10 . Akan tetapi sebaliknya kalau mutunya rendah justru menjadi satu liability atau gangguan yang amat berat. Pendidikan dasar dan menengah hanya mempunyai sekolah bermutu dalam jumlah terbatas. Hal ini semua juga berlaku bagi umat Islam yang memperjuangkan Kebangkitan Islam. Hal ini membawa konsekuensi bahwa tidak mustahil ada sejumlah mahasiswa yang bermutu. sehingga belum cukup menghasilkan lulusan yang memadai untuk pelaksanaan pendidikan tinggi yang luas dan bermutu. Selain itu sistem madrasah belum menghasilkan pendidikan umum yang setingkat dengan sistem sekolahan biasa. Khususnya hal ini berlaku bagi umat Islam di Indonesia yang jumlahnya lebih dari 170 juta orang. Sebab itu umat Islam Indonesia dan terutama para pemimpinnya harus mengembangkan komitmen yang sekuatkuatnya untuk menyelenggarakan pendidikan yang sebaik-baiknya. baik yang milik Pemerintah maupun Swasta.

Jadi saran penulis bagi seluruh masyarakat era globalisasi sangat bagus sebab masyarakat bias melihat perkembangan zaman tetapi masyarakat juga harus tahu dampak negative dari era globaliasi dan juga harus mempersiapkan kemungkinan yang terjadi karena era globalisasi. Keunggulan partisipatoris dengan sendirinya berkewajiban untuk menggali dan mengembangkan seluruh potensi manusia yang akan digunakan dalam kehidupan yang penuh persaingan juga semakin tajam. dan lain-lain). hanya manusia unggul yang akan survive di dalam kehidupan yang penuh persaingan. Membentuk manusia unggul partisipatoris. Fenomena modern yang terjadi di awal milenium ketiga ini popular dengan sebutan globalisasi. internet. 3. 11 .1 Kesimpulan Era globalisasi memunculkan era kompetisi yang berbicara keunggulan.BAB III PENUTUP 3. lintas negara. karena itu salah satu persoalan yang muncul bagaimana upaya untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia. yakni manusia yang ikut serta secara aktif dalam persaingan yang sehat untuk mencari yang terbaik.2 Saran Teknologi modern telah memungkinkan terciptanya komunikasi bebas lintas benua. melalui media audio (radio) dan audio visual (televisi. menerobos berbagai pelosok perkampungan di pedesaan dan menyelusup di gang-gang sempit di perkotaan.

Language. Konsep Pendidikan Islam di Era Globalisasi.com. 2000. Chicago: University of Chicago Press Peran Wanita Dalam Membangun Masyarakat Religius (Sebuah Upaya Perlindungan Bangsa terhadap Pengaruh Negatif dari Era Globalisasi) www.A. J. Era Globalisasi. Pocock.blogspot.G. 1989. Thomas. Politics.DAFTAR PUSTAKA Gordon. 12 . and Time: Essay on Political Thought and History. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

S.Pd.I UNIVERSITAS BINA DARMA PALEMBANG FAKULTAS ILMU KOMPUTER JURUSAN TEKNIK KOMPUTER TAHUN 2009 13 .MATA KULIAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM TENTANG KONSEP PENDIDIKAN ISLAM DI ERA GLOBALISASI DISUSUN OLEH : NAMA NIM : AKBAR MULIA : 08146052 DOSEN PEMBIMBING ISKANDI.

Wb Puji syukur penulis panjatkan Kehadirat Allah SWT Karena atas berkat rahmat dan hidayah-nyalah penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Konsep Pendidikan Islam Di Era Globalisasi tepat pada waktunya. November 2009 Penulis ii 14 ii .KATA PENGANTAR Assalamualaikum Wr. Amin Wassalamualaikum Wr. sehingga kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan di masa yang akan datang Akhir kata Penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan penulis sendiri khususnya. Wb Palembang. Dalam pembuatan makalah ini penulis menyadari masih banyak kesalahan dan kekurangan karena penulis menyadari masih terbatasnya ilmu pengetahuan penulis.

....... DAFTAR ISI .......Berbagai Persoalan Globalisasi yang dihadapi dalam Kebangkitan Islam.........................................................................Pendidikan di Era Globalisasi ................................................................................... 1 ii iii B............................Saran .......................................................................................................................................11 11 6 15 iii ...................................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN A............................................................................................... B................................ BAB II KONSEP PENDIDIKAN ISLAM DI ERA GLOBALISASI A......................Kesimpulan ..................................... BAB III PENUTUP A..............................................................................................................Permasalahan .................... 4 3 B..............................................Latar Belakang ............................................................DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ...............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful