METODE BERCERITA ANAK USIA DINI

Ada suatu ungkapan ”Seorang Guru yang tidak bisa bercerita, ibarat orang yang hidup tanpa kepala”. Betapa tidak, bagi para pengasuh anak-anak (guru, tutor) keahian bercerita merupakan salah satu kemampuan yang wajib dikuasai. Melalui metode bercerita inilah para pengasuh mampu menularkan pengetahuan dan menanamkan nilai budi pekerti luhur secara efektif, dan anak-anak menerimanya dengan senang hati. Pada saat ini begitu banyak cerita yang tersebar, namun masih jarang tulisan dari para praktisi ahli cerita , yang mampu mengarahkan secara khusus untuk ditujukan kepada anak-anak usia dini, sehingga penceritaan yang disampaikan kurang mengena. Apalagi model cerita yang secara khusus didasarkan pada material kurikulum pengajaran di TPA/KB/RA/BA/TK yang berlaku. Padahal panduan praktis semacam ini sangat dibutuhkan oleh tenaga pendidik di seluruh Nusantara. Pada umumnya mereka masih terbatas pengetahuannya tentang metode bercerita. Tulisan ini kami susun dengan maksud agar menjadi salah satu bahan pengayaan ketrampilan mendidik anak, bagi para pendidik anak usia dini dalam kegiatan kepengasuhan yang mereka lakukan . PENDAHULUAN Di Inggris konon pernah diadakan penyebaran angket kepada orang-orang dewasa. Kepada mereka ditanyakan pada saat apa mereka benar-benar merasa bahagia di masa kanak-kanak dulu. Jawaban mereka : “Pada saat orang tua mereka membacakan buku atau Cerita” Apabila pertanyaan yang sama diajukan kepada orang-orang dewasa di Indonesia, kiranya jawaban tak akan jauh berbeda. Bahkan, khusus mengenai cerita, sampai orang dewasapun masih tetap menggemarinya. Tengoklah obrolan kita juga akan semakin ‘renyah’ bila kita saling bercerita dengan penuh semangat. Cerita memang ‘gurih’. Semua orang tak pandang usia, menyukainya. Bercerita adalah metode komunikasi universal yang sangat berpengaruh kepada jiwa manusia. Bahkan dalam teks kitab sucipun banyak berisi cerita-cerita. Tuhan mendidik jiwa manusia menuju keimanan dan kebersihan rohani, dengan mengajak manusia berfikir dan merenung, menghayati dan meresapi pesan-pesan moral yang terdapat dalam kitab suci, Beliau mengetahui akan jiwa manusia, mengetuk hati manusia antara lain dengan cerita-cerita. Karena metode ini sangat efektif untuk mempengaruhi jiwa anak-anak. Mengapa metode cerita ini efektif ? jawabannya tidak sulit. Pertama, cerita pada umumnya lebih berkesan daripada nasehat murni, sehingga pada umumnya cerita terekam jauh lebih kuat dalam memori manusia. Ceritacerita yang kita dengar dimasa kecil masih bisa kita ingat secara utuh selama berpuluh-puluh tahun kemudian. Kedua, melalui cerita manuasi diajar untuk mengambil hikmah tanpa merasa digurui. Memang harus diakui, sering kali hati kita tidak merasa nyaman bila harus diceramahi dengan segerobak nasehat yang berkepanjangan. Pengertian Cerita, Dongeng dan Metode Bercerita Cerita adalah rangkaian peristiwa yang disampaikan, baik berasal dari kejadian nyata (non fiksi) ataupun tidak nyata (fiksi). Kata Dongeng berarti cerita rekaan/tidak nyata/fiksi, seperti: fabel (binatang dan benda mati), sage (cerita petualangan), hikayat (cerita rakyat), legenda (asal usul), mythe (dewadewi, peri, roh halus), ephos (cerita besar; Mahabharata, Ramayana, saur sepuh, tutr tinular). Jadi kesimpulannya adalah “Dongeng adalah cerita, namun cerita belum tentu dongeng”. Metode Bercerita berarti penyampaian cerita dengan cara bertutur. Yang membedakan anatara bercerita dengan metode penyampaian cerita lain adalah lebih menonjol aspek teknis penceritaan lainnya. Sebagaimana phantomin yang lebih menonjolkan gerak dan mimik, operet yang lebih menonjolkan musik dan nyanyian, puisi dan deklamasi yang lebih menonjolkan syair, sandiwara yang lebih menonjol pada permainan peran oleh para pelakunya, atau monolog (teater tunggal) yang mengoptimalkan semuanya. Jadi tegasnya metode bercerita lebih menonjolkan penuturan lisan materi cerita dibandingkan aspek

seperti. yaitu: 1. baik suara lazim maupun suara tak lazim (6) Media/alat peraga (bila ada) (7) Teknis ilustrasi lainnya. waktu cerita hingga 7 menit b. Anak yang rakus dan sebagainya c. misalnya lagu. Membantu proses peniruan perbuatan baik tokoh dalam cerita 6. pendidik harus memahami terlebih dahulu tentang cerita apa yang hendak disampaikannya. berbeda pada setiap tingkat usia. seperti: Si wortel. hari besar nasional. anak nakal tersesat di hutan rimba.Membangun kedekatan emosional antara pendidik dengan anak 2. Pendidik dituntut untuk memperkaya diri dengan materi cerita yang disesuaikan dengan suasana. Pemilihan cerita antara lain ditentukan oleh : 1. yang membuat imajinasinya “menari-nari”. a. Jika aku (tepuk 3x) sudah duduk (tepuk 3x) maka aku (tepuk 3x) harus tenang (tepuk 3x) sst…sst. Tomat yang Hebat. bukan satu atau beberapa cerita untuk segala suasana. Secara garis besar unsur-unsur penyajian cerita yang harus dikombinasikan secara proporsional adalah sebagai berikut : (1) Narasi (2) Dialog (3) Ekspresi (terutama mimik muka) (4) Visualisasi gerak/Peragaan (acting) (5) Ilustrasi suara. Sampai usia 4 tahun. kambing Gunung dan Kambing Gibas. misalnya. komunikatif dan humoris. PRAKTEK BERCERITA 1. Suasana tertib harus diciptakan sebelum dan selama anak-anak mendengarkan cerita. Perjalanan ke planet Biru. Usia 8-12 tahun. Usia 4-8 tahun. a.teknis yang lainnya. raksasa yang menyeramkan dan sebagainya. pengenalan profesi. bahasa dan komunikasi serta ekspresi. rentang konsentrasi dan daya tangkap anak. Aneka tepuk: seperti tepuk satu-dua. Menyalurkan dan mengembangkan emosi 5. Jadi selaras materi cerita dengan acara yang diselenggarakan. seperti acara kegiatan keagamaan. tokoh pahlawan/hero dan kisah tentang kecerdikan. ulang tahun. kemampuan bahasa. Mengkondisikan anak : Tertib merupakan prasyarat tercapainya tujuan bercerita. maka para ahli dongeng menyimpulkan sebagai berikut. Agar dapat bercerita dengan tepat. Diantaranya dengan cara-cara sebagai berikut: a. permainan. tepuk tenang. musik. Robot pintar. atraktif. Karni Juara menyanyi dan sebagainya 2. Sarana membangun watak mulia BERCERITA UNTUK ANAK USIA DINI Sebelum bercerita. Waktu Penyajian Dengan mempertimbangkan daya pikir.sst… b. sampai ada usia 4 tahun. apabila tingkat konsentrasi dan daya tangkap anak dirangsang oleh penampilan pencerita yang sangat baik. hal-hal yang menarik. akan berbeda jenis dan materi ceritanya. Seorang pencerita harus pandai-pandai mengembangkan berbagai unsur penyajian cerita sehingga terjadi harmoni yang tepat. waktu cerita hingga 10 -15 menit c. anak-anak menyukai dongeng jenaka.Memberikan dan memperkaya pengalaman batin 7. Teknik Bercerita: Pendidik perlu mengasah keterampilannya dalam bercerita. b. anak menyukai dongeng fabel dan horor. . Sarana Hiburan dan penarik perhatian 8. cerita nenek sihir. Pendidikan imajinasi/fantasi 4. Suasana (situasi dan kondisi) Suasana disesuaikan dengan acara/peristiwa yang sedang atau akan berlangsung. seperti: Persahabatan si Pintar dan si Pikun. Menggugah minat baca 9. Pemilihan Tema dan judul yang tepat Bagaimana cara memilih tema cerita yang tepat berdasarkan usia anak? Seorang pakar psikologi pendidikan bernama Charles Buhler mengatakan bahwa anak hidup dalam alam khayal. Pada usia 4-8 tahun. Anak ayam yang Manja. 3.. anak-anak menyukai dongeng petualangan fantastis rasional (sage). Pada usia 8-12 tahun. 2. anak sholeh dan lain-lain. Anak-anak menyukai hal-hal yang fantastis. olah gerak. Media penyampai pesan/nilai mora dan agama yang efektif 3. aneh. Manfaat Cerita Menurut para ahli pendidikan bercerita kepada anak-anak memiliki beberapa fungsi yang amat penting. orang jahat. Bagi anak-anak. Contoh. peluncuran produk. tentu saja disesuaikan dengan karakteristik anak-anak usia dini. pendidik harus mempertimbangkan materi ceritanya. waktu cerita hingga 25 menit Namun tidak menutup kemungkinan waktu bercerita menjadi lebih panjang. dan sebagainya. program sosial dan lain-lain. baik dalam olah vokal. pisah sambut anak didik.

dimulai cerita…(kalimat ini dinyanyikan). maka anak-anak pun akan melakukannya dengan sungguh-sungguh pula. ia tak takut dengan siapapun…namanya Adiba. b. Hadiah men dorong untuk anak-anak untuk mendapatkannya. Munculkan Tokoh dan Visualisasi “ dalam cerita kali ini. h.! Selama cerita. suara ledakan. Menyatakan ikrar untuk berubah menjadi lebih baik. sebelum bercerita pendidik menyampaikan aturan selama mendengarkan cerita. Siapkan hadiah!. Teknik ini cukup efektif untuk menenangkan anak. wajahnya cerah dan menyenangkan…dan seterusnya. balon yang seolaholah ada di tangan dan diberikan kepada anak. suara aneka binatang. Somad memiliki golok yang sangat besar. c. contoh “Mulai hari ini.... Potongan cerita: “Pernahkah kalian mendengar. d. Suara tak Lazim atau ”Boom” ! : Pendidik dapat memulai cerita dengan memunculkan berbagai macam suara seperti. dan agar diberi kemampuan untuk dapat meniru kebaikan tokoh yang baik. baik . Pijakan (setting) tempat “Di sebuah desa yang makmur…”. ada 4 orang tokoh penting…yang pertama adalah seorang anak yang jago main karate. Hal ini dilakukan untuk mencegah anak-anak agar tidak melakukan aktifitas yang mengganggu jalannya cerita e. misalnya. Akan duduk rapi dan tenang 2.Simulasi kunci mulut: Pendidik mengajak anak-anak memasukkan tangannya ke dalam saku. ataupun selama berlangsungnya cerita. menangis.. Ibu telah siapkan sebuah cerita yang sangat menarik…” dan seterusnya. tidak boleh menebak/komentari cerita.iiih mengerikan karena sangat keras”…HA. Ikrar. yang bertempur melawan raja gagah perkasa perkasa ditengah perang yang besar” (kisah nabi Daud) mari kita dengarkan bersama-sama ! d.. Apabila cara pengucapannya dengan bersungguh-sungguh. b. lalu kunci di masukkan kembali ke dalam saku c. 4. secara umum anak-anak menyukai hadiah. Kami berjanji 1. “Di pinggir pantai. atau ambillah sebuah lagu yang popular. Mengapa harus menggugah minat? Karena membuka cerita merupakan saat yang sangat menentukan. contoh: Ikrar. kisah tentang seorang anak yang terjebak di tengah banjir?. Pendidik mengajak anak-anak untuk mengikrarkan janji selama mendengar cerita. tembakan dan lain-lain. meskipun harus menahan diri untuk tidak bermain dan berbicara. Akan mendengarkan cerita dengan baik f. Menutup Cerita dan Evaluasi a. hari ini. Bisa saja kita memberikan hadiah imajinatif seperti makanan. yang ketiga seorang guru yang bernama Umar.HA. suara bedug. tentu saja diberikan kepada anak-anak yang sudah akrab dengan kita. berteriakteriak dan lain-lain. i. Janji untuk berubah. Ekspresi emosi: Adegan orang marah. Pijakan (setting) waktu.terserah anda”.HA”. “Lomba duduk tenang”. gembira. Kalimat ini diucapkan sebelum cerita disampaikan. Hal ini mengingatkan pula betapa pentingnya membuka suatu cerita dengan sesuatu cara yang menggugah. Pernyataan kesiapan : “Anak-anak.” “Di sebuah Pesantren…” dan lain-lain. kemudian gantilah syairnya dengan kalimat pembuka sebuah cerita. tidak boleh mengobrol dan mengganggu kawannya dengan berteriak dan memukul meja. badannya tinggi besar dan bila tertawa. 3.. layaknya iklan sinetron “Cerita bu Guru hari ini adalah cerita tentang “seorang anak kecil pemberani. tidak boleh berjalan-jalan. Tanya jawab seputar nama tokoh dan perbuatan mereka yang harus dicontoh maupun ditinggalkan. Doa khusus memohon terhindar dari memiliki kebiasaan buruk seperti tokoh yang jahat. g. Teknik membuka Cerita ”Kesan pertama begitu menggoda selanjutnya …. e. diantaranya dapat dilakukan dengan: a. kemudian terdampar di tepi pantai…?” c. f. binatang kesayangan.. maka membutuhkan teknik yang memiliki unsur penarik perhatian yang kuat. Sinopsis (ringkasan cerita). “Jaman dahulu kala…” “Jaman pemerintahan raja mataram …” ”Tahun 2045 terjadi sebuah tabrakan komet…” “Pada suatu malam…” “Suatu hari…” dan lain-lain. Tata tertib cerita. HA. Aku tak akan malas lagi. Nyanyian yang selaras dengan tema.HA. kemudian mengunci mulut dengan kunci tersebut. yang kedua adalah seorang ketua gerombolan penjahat yang bernama Somad. kemudian seolah-olah mengambil kunci dari saku. Kalimat yang mengingatkan kita pada salah satu produk yang diiklankan. Musik & Nyanyian “Di sebuah negeri angkara murka.” “Di tengah Hutan…” “Ada sebuah kerajaan yang bernama . aku anak rajin dan taat kepada guru!” d. seringkali teknik ini menimbulkan kelucuan tersendiri.

wayang dsb). Ada tamu. Kurang taat pada aturan atau tata tertib. i. Anak berkelahi.wordpress. Ibu makin sayang jika adik duduk lebih tenang” f. gambar. penanganan: sampaikan kepada anak tersebut bahwa kita dan teman-temannya terganggu. kemudian cerita diringkas untuk mempercepat penyelesaiannya Suasana cerita sangat ditentukan oleh ketrampilan bercerita pendidik dan hubungan emosional yang baik antara pendidik dengan anak-anak. Selain itu. pendidik disarankan untuk lebih variatif dalam bercerita. Sebagai sebuah keterampilan. Penanganan: Katakanlah ”Hari ini ceritanya adalah ini. Akhirnya…. teknik ini sangat baik untuk mengukur daya tangkap dan imajinasi anak. Pananganan: pendidik lebih variatif mengajak tepuk tangan maupun yel-yel. Yang lebih penting dari itu adalah keberanian dan ketekunan dalam mencobanya secara langsung. jadi penanganannya bisa disesuaikan dengan situasi dan kondisi serta kreativitas pendidik. dari kondisi yang buruk kepada kondisi yang lebih baik (tertib). gambar seri. cerita yang engkau inginkan akan Ibu sampaikan nanti”. Penanganan Keadaan Darurat Apabila saat bercerita terjadi keadaan yang mengganggu jalannya cerita. Penanganan: Pendidik lebih dekat secara fisik dan lebih sering melakukan kontak mata dengan hangat. kemampuan dalam bercerita agar dapat memunculkan berbagai unsur diatas. Anak mencari perhatian. kemudian mintalah anak tersebut untuk tidak mengulanginya. Anak protes minta ganti cerita. tentu membutuhkan persiapan yang matang. latihan-latihan tertentu yang rutin sangat dibutuhkan. Beberapa kasus di atas hanyalah sebagian contoh yang sering muncul saat seorang pendidik bercerita. d.com/ . hanya dapat dikuasai dengan pengalaman dan latihan-latihan yang tekun. Adapun kasus-kasus yang paling sering terjadi adalah: a. Setelah selesai mendengar cerita. Anak mencari kekuasaan. Penanganan: Pendidik membisikkan ke telinga anak tersebut dengan hangat ”Adik anak baik. PENUTUP Untuk dapat menguasai aspek-aspek keterampilan teknis dari penyajian cerita diatas. Penanganan: Pisahkan posisi duduk mereka jangan terpancing untuk menyelesaikan masalahnya. Penanganan: Mintalah orang tua atau pengasuh lainnya membawa keluar. Penanganan: Pendidik mengulangi dengan sungguh-sungguh tata tertib kelas. Yang jelas.berasal dari lagu nasional. Penanganan: Berikan isyarat tangan kepada tamu agar menunggu. Agar bercerita lebih menarik dan tidak membosankan. Anak-anak kurang kompak. Penanganan: Pendidik lebih mendekat secara fisik dan lebih sering melakukan kontak mata dengan hangat. panggung boneka. membacakan cerita dan sebagainya. popular maupun tradisional e.sehingga kegiatan bercerita tidak menjemukan. slide. 6. pendidik harus segera tanggap dan melakukan tindakan tertentu untuk mengembalikan keadaan. Anak menangis. e. kemudian mengalihkan perhatiannya kepada aktivitas bersama seperti tepuk tangan dan penyanyi yang mendukung penceritaan. 5. h.SELAMAT BERCERITA! Sumber : http://kakbimo. Sedangkan bercerita dengan alat peraga tersebut dibedakan menjadi peraga langsung (membawa contoh langsung:kucing dsb) maupun peraga tidak langsung (boneka. adakalanya mendongeng secara langsung. g. bercerita dapat disampaikan dengan alat peraga maupun tanpa alat peraga (dirrect story). Menggambar salah satu adegan dalam cerita. c. Anak menunjukkan ke tidak puasan. papan flanel. Itulah sebabnya. dan tersaji secara padu. Anak menebak cerita. Anak gelisah. Media dan Alat bercerita Berdasarkan cara penyajiannya. namun tunggu setelah selesai cerita k. keterampilan teknis bercerita hanya dapat dikembangkan melalui latihan dan pengalaman praktek bercerita. Penanganan: Ubah urutan cerita atau kreasikan alur cerita b. Bercerita memang salah satu bagian dari keterampilan mengajar. penguasaannya tidak cukup hanya dengan memahami ilmunya secara teoritik saja. j.

tehnik bercerita dua arah yang melibatkan scaffolding termasuk di dalamnya prinsip-prinsip percakapan seperti turn-taking. biasanya terdiri dari definisi dan detil deskripsi. Riyadi Santosa. baik melalui orang tua di rumah maupun guru di sekolah sering tidak menghiraukan tehnik dan metode berceritanya (Santosa dkk. Umumnya kegiatan bercerita baik yang bersifat tertulis melalui buku cerita maupun lisan. Di samping itu juga. masih juga belum menggunakan cara atau tehnik bercerita yang benar. rekon. isi cerita untuk anak-anak yang ditulis di negara kita inti masih bersifat satu sisi. rekon dan laporan. . 12-14 Agustus 2008 para orang tua. 2006. Artikel ini membahas bagaimana scaffolding dan prinsip-prinsip percakapan dapat membantu memperkenalkan dan sekaligus mengasuh nilai-nilai kultural dan ideologis di dalam bercerita.Scaffolding dalam Bercerita sebagai Metode Pengenalan Nilai-nilai Ideologiskepada Siswa* Bercerita sering ditengarai sebagai kegiatan diskursif yang sudah lazim baik di rumah maupun di dunia pendidikan. dan nilai sosial sekolah . Artinya dalam mengenalkan suatu nilai kultural atau ideologis masih dengan komunikasi satu arah melalui tokoh utamanya tanpa adanya tantangan yang muncul dari tokoh antagonis (Riyadi. yang dapat mengenalkan nilai-nilai kultural maupun ideologis secara dua arah (Riyadi. Genre rekon mempunyai struktur orientasi dan detil kejadian. anekdot. ada beberapa yang tidak menggunakan orientasi secara jelas. atau eksemplum. dengan pentahapan orientasi. Mereka umumnya lebih mementingkan tercapainya plot atau memberikan nilai-nilai kultural atau ideologis di dalam cerita itu implisit di dalam plot atau melalui struktur koda di dalam akhir ceritanya. komplikasi. dan resolusi. yang terdiri dari berbagai macam nilai-nilai sosial yang lebih detil. Cerita anak ini umumnya dapat diklasifikasikan menjadi tiga genres. yang pada umumnya ibu. Artinya dalam mengenalkan nilai kultural maupun ideologis kepada anak dan murid mereka. 2. Genre laporan. Konferensi Internasional Kesusastraan XIX / hiski halaman 2 dari 11 Batu. yang umumnya digunakan untuk melapor.Pendahuluan Bercerita umumnya masih kita pandang sebagai kegiatan rutin yang digunakan untuk mengenalkan plot suatu cerita yang ber-genre narasi. yaitu naratif. dan guru TK. minimal pairs. ada beberapa saja yang menggunakan evaluasi sebelum resolusi. yang meliputi nilai sosial rumah. Artikel ini akan memberikan paparan bagaimana scaffolding dalam bercerita baik secara lisan maupun tulis mampu memberikan siswa atau anak ikut masuk di dalam proses pengenalan nilai-nilai ideologis secara lebih demokratis. Demikian halnya cara bercerita yang dilakukan oleh para orang tua dan guru TK dalam bercerita kepada anak dan muridnya umumnya masih satu arah. Genre naratif merupakan genre yang dominan. 2006). Djatmika & Fitria. Di dalam buku cerita umumnya ada tiga jenis nilai kultural dan ideologis yang diperkenalkan. umumnya. 2007). nilai sosial lingkungan. 2007). Djatmika & Fitria. Kebiasaan seperti ini sebetulnya kurang atau bahkan tidak mendidik siswa atau anak dasar-dasar demokratis yang pada saat ini sangat diperlukan dalam proses sosial di masyarakat kita. 1. Deskripsi Buku Cerita dan Cara Bercerita Seperti yang kita ketahui bahwa buku cerita anak yang diterbitkan di Indonesia ini umumnya mempunyai cirri-ciri sebagai berikut. Artinya.

Buku cerita yang berhaluan dua sisi ini masih jarang (Riyadi. Inti cerita dalam umumnya terdapat tiga genre. Kemudian diikuti dengan pernyataan tak selesai pelengkapan pernyataan. Konferensi Internasional Kesusastraan XIX / hiski halaman 3 dari 11 Batu. 12-14 Agustus 2008 Kemudian ada dua macam ideologi di dalam buku cerita anak. yang pada dasarnya masih termasuk pertanyaanjawaban. Kemudian. Yang paling dominan ialah pertanyaan-jawaban. Walaupun ada. Buku cerita yang berhaluan antagonis kanan adalah cerita-cerita yang menggunakan penyajian satu sisi. scaffolding tidak bisa menyelesaikan permasalahan pemahaman nilai dan penyelesaian alur cerita. karena mengikuti model bercerita jaman dulu. atau antara orang tua dan anak terjadi. Di dalam penutup inilah sebetulnya kesempatan untuk mengembangkan cerita menjadi sarana pengenalan ideologi atau nilai-nilai kultural dan genre cerita dengan baik dapat dikembangkan. yaitu antagonis kanan dan protagonis kanan. Sementara itu cara bercerita orang tua dan guru TK yang sering dilakukan umumnya mempunyai cirri-ciri sebagai berikut. Yang terakhir. Scaffolding sudah ada sedikit. dan keagamaan. Pengenalan cerita digunakan untuk mengantarkan murid atau anak untuk mengenalkan tokoh. Pola adjacency-pair yang digunakan ini masih terbatas. 12-14 Agustus 2008 dominan adalah pencerita dan pendengar yang baik adalah pendengar yang diam mendengarkan.Riyadi Santosa. walaupun ada beberapa guru dan orang tua yang mendistribusikan pola turn-taking-nya untuk membangun cerita secara bersama-sama mulai dari pengenalan. pengulangan. Djatmika & Fitria. Hal ini disebabkan penutup ini dapat muncul scaffolding yang melibatkan turn-taking dan adjacency pairs. dan rekon. Konferensi Internasional Kesusastraan XIX / hiski halaman 4 dari 11 Batu. Kemudian tema cerita bervariasi mulai dari cerita fabel. atau tema cerita yang akan dilakukan. walaupun percakapan juga terjadi di pengenalan cerita dan inti cerita. yaitu naratif (dominan). Dengan demikian. tetapi sangat jarang yaitu pernyataan persetujuan/penolakan. kelas sosial dan tingkat pendidikan tidak dapat . dan diakhiri dengan penutup. Nah di dalam penutup inilah umumnya percakapan antara guru dan murid. beberapa menggunakan eksemplum. penutup berupa tanya jawab mengenai nilai moral cerita atau ringkasan cerita. yaitu yang Riyadi Santosa. inti cerita. umum. sampai dengan akhir cerita (tanya-jawab). Kemungkinan besar ketidakmaksimalan scaffolding ini disebabkan tidak mengertinya peran scaffolding untuk memahami nilai-nilai ideologis yang ada. Pola turn-taking dalam bercerita yang ada pada umumnya masih didominasi oleh guru atau orang tua. Selain itu melihat pola adjacency-pair dan turn-taking yang ada di dalam bentuk dan cara bercerita ini dapat dikatakan bahwa sebenarnya pencerita masih belum memahami benar mengenai konsep-konsep scaffolding yang sangat membantu dalam pemerolehan bahasa termasuk di dalamnya nilai-nilai ideologis dan sangat membantu dalam membentuk pola interaksi yang demokratis yang mempunyai turn-taking yang lebih terdistribusi dan adjacency-pairs yang bervariasi. sedangkan cerita yang berhaluan protagonist kanan adalah cerita-cerita yang menggunakan penyajian dua sisi. inti cerita. karena pernyataan tak lengkapnya diakhiri dengan intonasi meninggi. pertanyaan-diam (anggukan/gelengan kepala) atau jawaban tak sesuai. seperti pertanyaan. 2006). serta untuk membangun cerita. Akan tetapi masih belum maksimal. Overall organization atau struktur bercerita umumnya terdiri dari tiga tahap: pengenalan cerita. ternyata.

khususnya para ahli Language Acquisition. 12-14 Agustus 2008 yang termasuk kelas bawah tetapi secara tidak sadar sudah mengenalkan pola turntaking terdistribusi dan adjacency pair bervariasi.131) mengatakan bahwa scaffolding juga sangat membantu untuk membangun bagian-bagian yang hilang di dalam percakapan. Rothery in Hasan and Williams. khususnya ibu. dalam membantu anak mereka di dalam berbahasa dengan bahasa ibu mereka (mother tongue) (Larsen-Freeman and Long. penutur asli bekerja sama dengan pembelajar dengan cara menuntun dan membantu pembelajar untuk menyelesaikan wacana. Konferensi Internasional Kesusastraan XIX / hiski halaman 6 dari 11 Batu. Bahkan Varonis dan Gass (1985) menyatakan interaksi antara non-native dengan non-native-pun dapat menimbulkan negotiation of meaning. Kemudian Rothery (dalam Hasan & Williams. hubungan . di dalam teori literasinya (Literacy) menyatakan bahwa scaffolding sangat penting di dalam pembelajaran bahasa atau belajar sesuatu (termasuk nilai-nilai cultural. hal. jika di dalam percakapannya terjadi scaffolding. hal. untuk merujuk bahasa atau perilaku yang digunakan oleh para orang tua. Bahkan para guru harus mengetahui sistem kebahasaan. Ada rumah tangga dan sekolah Riyadi Santosa. Sebaliknya ada rumah tangga dan sekolah kelas atas yang penceritaannya masih mendominasi cerita dengan komunikasi one-way/ satu arah saja. dengan pola komunikasi dua arah. Di dalam interaksi tersebut. 3. 1991. ideologis) melalui bahasa. 70) Riyadi Santosa. hal. Misalnya: T: this broken H: broken T: broken This /az/ broken H: Upside down T: upside down this broken upside down broken ( Larsen-Freeman & Long.menunjukkan adanya perbedaan pola interaksinya.90). Kemudian menurut Sato scaffolding membantu untuk terjadinya language acquisition (pemerolehan bahasa) (dalam ibid. yang secara umum direalisasikan ke dalam pola turn-taking dan adjacency pairs. yang mereka sebut dengan collaborative discourse . seperti yang terjadi di dalam percakapan antara Takahiro dan native speaker di atas. Pembahasan Istilah scaffolding ini digunakan oleh para ahli Applied Linguistics. Hal ini disebabkan bahwa scaffolding memberikan akses pembelajar untuk mengenal dan sekaligus mempraktekan unit-unit kebahasaan yang hilang. 1996). jarang dipakai.). 1991. atau yang belum dikenal sekalipun. Konferensi Internasional Kesusastraan XIX / hiski halaman 5 dari 11 Batu. Di dalam Larsen-Freeman & Long (1991) digambarkan bahwa scaffolding merupakan bantuan kebahasaan yang digunakan untuk membangun percakapan bersama antara penutur asli Bahasa Inggris (H) dan pembelajar bahasa kedua Takahiro (T). 1996. hal.131. 12-14 Agustus 2008 Model scaffolding yang bersifat vertical ini penutur asli berusaha membantu pembelajar Bahasa Inggris dalam menyusun struktur sintaksisnya secara vertical dengan memberikan mengulang broken dan menambah upside down konstituen pelengkapnya untuk membentuk struktur sintaksis yang lengkap. Selanjutnya Meisel (dalam ibid.

Kedua sang ayah membantu sang anak untuk membenarkan tense nya: Erm. . 12-14 Agustus 2008 melalui pola turn-taking dan adjacency pair di dalam wacana. Contoh berikutnya: Ayah: What have you been doing to day? Anak: All sorts of things.antara teks dan konteks untuk dapat memberikan scaffolding yang efektif. Ayah: Did you find strawa and cups and things (as usual)? Anak: Yes (pause) not cups. Ayah: What else did you do? Anak: Erm. dengan pertanyaan-pertanyaan yang menuntun pembentukan pengurutan kejadian secara temporal (lihat pertanyaan-pertanyaan yang bercetak miring). run around. Seperti yang terlihat di dalam contoh di atas. yang mestinya past tense. run around. Apa sih sombong? Murid : Nggak tau Guru : Belum tahu. Dan pertanyaan ini berhasil membantu anak untuk membetulkan bahasanya sendiri I found in the laundry . Konferensi Internasional Kesusastraan XIX / hiski halaman 8 dari 11 Batu. Guru : Si Jantan yang Sombong Apa? Si Jantan Yang Sombong . Para guru atau orang tua bertanya dan berkomentar Riyadi Santosa. I found it in the laundry Di dalam penggalan percakapan di atas Ibu menemukan bahwa sang anak masih menggunakan kata break dalam present tense. Ayah: Where did you go? Anak: On the beach. I find a moth. Konferensi Internasional Kesusastraan XIX / hiski halaman 7 dari 11 Batu. hal. Akan tetapi dalam hal ini sang ayah kurang berhasil. Berikut ini adalah sebagian dari hasil percakapan anatara guru dan murid di dalam bercerita. apa sih sombong? Murid : Sombong itu malas malas Guru : O malas ya. karena jawabnya hanya Yeahh!! . Guru : Nah sebelum Bu Wahyu cerita. Go in the water. with Mummy. I break it all up Ibu: Where did you find? Anak: In the laundry. 12-14 Agustus 2008 sedemikian rupa mengenai pengetahuan dan pengalaman yang sama untuk membangun teks tersebut (ibid. Mummy and Hal Ayah: Was it cold in the water? Anak: Yeah!! Di dalam percakapan antara ayah dan anak ini terjadi dua macam scaffolding. scaffolding akan kelihatan Riyadi Santosa. Go in the water yang mestinya past tense. Pola turn-taking dan adjacency pair tertentu akan menentukan kemunculan scaffolding dalam alur bercerita. Kemudian sang ibu membantu sang anak untuk menemukan yang benar dengan bertanya dalam past tense Where did you find? . Baik nanti setelah cerita anak-anak akan tahu apa sih . Yang pertama sang ayah membantu anak untuk menyusun wacananya mengenai kegiatannya pada hari itu. Apa? Murid : Si Jantan yang Sombong. Misalnya: Anak: I break a moth. Kemudian ia melanjutkan bahwa scaffolding digunakan untuk membangun suatu jenis teks tertentu / genre sebagai suatu joint construction ( membangun teks secara bersama-sama). 100).

Apa sih sombong itu? Murid : Boong Guru : Boong ya? Apa? Kalau menurut Dustin. bisa makan Murid dan Guru: tertawa (Riyadi.Habiburrahman juga. sombong itu boong. Murid : (semua anak bertepuk tangan) Guru : Ok. Guru : Menolong siapa? Murid : rajin bekerja . .sombong itu. nakal. guru harus menggiring (scaffold) dengan memberikan clues atau pujian seperti Bagus Michael untuk menunjukkan jawabannya sudah benar atau mendekati benar.. Ada juga struktur pola turn-taking dan adjacency pair yang membentuk scaffolding untuk membantu membangun struktur teks. Riyadi Santosa. Guru : Teman-teman. Silahkan duduk.. Ustadz Anang tadi cerita tentang apa teman-teman? Murid : Rusa Guru : Rusa namanya siapa? Murid : Ruru. Apa lagi Apa Michael? Menurut Michael apa itu sombong? Murid : (Rita menjawab) jahat Guru : O kalau menurut Rita. Hal ini terbukti sampai akhir rentetan scaffolding di atas murid masih belum bisa menjawab kata sombong dengan baik. Ruru tadi. jahat. dan pola adjacency pair-nya juga bervariasi. Akan tetapi jika dilihat pola pertanyaan guru masih bersifat bertanya saja.. Misalnya perhatikan percakapan di akhir cerita oleh guru dan murid di salah satu TK di Surakarta. Konferensi Internasional Kesusastraan XIX / hiski halaman 9 dari 11 Batu. masih belum bertanya sambil memberikan clues atau sinyal-sinyal yang bisa menuntun murid untuk memahami kata sombong . 12-14 Agustus 2008 Mestinya ketika murid sudah menjawab Sombong pas punya rumahe tingkat dicritak-critake orang-orang . yaitu alur cerita ringkas. Guru : O sombong itu males katanya Lynn. Guru : Ya. Akan tetapi mungkin belum disadari dengan baik sehingga pertanyaan tidak urut menurut alur cerita secara temporal dan akhirnya alur ceritanya belum selesai scaffolding sudah diakhiri. Guru : Pemalas. sehingga jawaban anak-anak lainnya tidak ngelantur. Sombong. sekarang tepuk satu tepuk satu.paman gajah. akhirnya kenapa teman-teman? Murid : (Diam) Guru : Mas Rafi? Murid : (diam) Guru : Ok. 2007) Secara terstruktur pola turn-taking sudah terdistribusi dengan baik. Ok. ya. Apa tadi? Murid : Sombong pas punya rumahe tingkat dicritak-critake orang-orang Guru : O pas punya rumah dicritak-critake orang-orang katanya sombong. suka menolong. Ruru sama Sasa. Sasa? Murid : baik. mas Reza sama mas . dkk.males. Ruru anak yang ? Murid : Pemalas. Kalau menurut Michael? Murid : sombong itu e kalo nggak ngga . yang jawab silahkan duduk yang manis. Sasa. sombong. Ada yang lain yang mau ngomong? Murid : Sombong itu sombong. jahat.

dkk. OK. Penutup Berdasarkan gambaran hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa scaffolding mempunyai dua manfaat. 12-14 Agustus 2008 orientasi.Guru : ya menolong paman gajah terus kenapa? Murid : Paman gajahnya se hat. sehingga anak mempunyai kesan dan memahami plot dengan baik. 4.pusatbahasa.? Murid : baik Guru : minta maaf. Kemudian.go. Pertama scaffolding dapat membantu anak untuk mengenal nilai-nilai kultural dan genre cerita dengan baik. Apalagi jika ceritanya dikenalkan secara dua sisi. Pertama turn-taking yang terdistribusi dan pola adjacency pairs yang bervariasi menyiratkan pemberian hak untuk berbicara dan sekaligus kewajiban untuk mendengarkan.id . melalui turn-taking yang terdistribusi dan pola adjacency pairs yang bervariasi. atau konflik antara antagonis dan protagonis di dalam scaffolding akan memunculkan pola turn-taking dan adjacency pairs yang bervariatif. diskusi. ya sudah dulu cerita ustadz Anang (Riyadi. Konferensi Internasional Kesusastraan XIX / hiski halaman 10 dari 11 Batu. 2007) Mestinya guru harus membantu anak untuk mengenali ceritanya dengan Riyadi Santosa. Dengan scaffolding yang terus menerus anak dapat menemukan nilai-nilai kultural atau ideologis dan genre cerita secara sendiri. akan terjadi dialog. distribusi turn-taking yang seimbang dan terus menerus serta pola adjacency pairs yang bervariasi itu sendiri lama-kelamaan juga akan mengilhami nilai-nilai demokratis. komplikasi. Guru : Ruru kenapa? Ruru akhirnya. dan rsolusinya secara singkat dan mengulangi lagi scaffoldingnya sekali lagi supaya lebih jelas plotnya.. Dengan demikian nilai-nilai kultural akan diterima secara lebih dialogis. ku at. Sumber:http://www.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful