P. 1
Kumpulan Berita Tentang Muhammdiyah

Kumpulan Berita Tentang Muhammdiyah

5.0

|Views: 2,317|Likes:
Published by Rohadi Wicaksono
Berisi berbagai berita dan artikel tentang Muhammadiyah dari koran Republika
Berisi berbagai berita dan artikel tentang Muhammadiyah dari koran Republika

More info:

Published by: Rohadi Wicaksono on Jul 15, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/15/2012

pdf

text

original

KH

Ahmad

Azhar

Basyir

Perteguh Gerakan Pembaruan Muhammadiyah
Menjelang Muktamar Muhammadiyah tahun 1990 dan beberapa waktu setelah itu, diselenggarakan banyak seminar untuk mengevaluasi perjalanan Muhammadiyah sebagai organisasi pembaru. Sejumlah cendekiawan muda, termasuk dari kalangan Muhammadiyah sendiri, melontarkan kritik terhadap organisasi keagamaan ini. Banyak wacana yang muncul saat itu; Muhammadiyah sudah berhenti menjadi organisasi pembaru; pengamalan agama di kalangan Muhammadiyah sudah kering, dan bahwa kalangan Muhammadiyah mengabaikan dzikir dan tak punya dimensi tasawuf serta masih banyak lagi. Terhadap kritik-kritik tersebut, tampillah KH Ahmad Azhar Basyir di garis depan memberikan penjelasan. Ulama yang kala itu menjabat sebagai Ketua Umum Muhammadiyah itu menegaskan, pada dasarnya Muhammadiyah tetap menjadi organisasi pembaru, organisasi tajdid (reformasi) dalam Islam di Indonesia. Dia berpendapat, tajdid setidaknya memiliki tiga dimensi. Pertama, dimensi akidah. Dalam hal ini, semua persoalan harus dikembalikan kepada ajaran Alquran dan hadis. Akidah sifatnya absolut, tetapi dalam perkembangan sejarah ia mengalami perkembangan yang tak jarang menimbulkan perbedaan pendapat. Akibatnya ada pikiran yang terlalu jauh, sebagaimana juga ada golongan yang 'memudahkan pengertian.' Oleh karenanya diperlukan tajdid di bidang akidah. Kedua, dimensi ibadah mahdah atau ibadah murni. Di sini, perbedaan pendapat pun harus dikembalikan pada Alquran dan hadis, karena dalam bidang ini juga terjadi perkembangan sebagaimana terjadi pada bidang akidah. Ketiga, dimensi muamalat. Terkait hal ini diperlukan pengembangan pemikiran sesuai dengan perkembangan masyarakat, sebab di dalam Alquran dan hadis persoalan muamalat berupa kaidahkaidah umum. Tajdid dalam hal ini mempunyai makna dinamis. Berkenaan dengan dimensi tasawuf dalam Muhammadiyah, Azhar Basyir menyatakan bahwa Muhammadiyah juga menganut

tasawuf, seperti yang ditulis Buya Hamka dalam buku Tasauf Modern. Menurutnya, orang dapat saja melakukan kegiatan yang berorientasi dunia tanpa meninggalkan dzikir. Demikianlah ketegasan tokoh ini dalam menetapkan garis kebijakan Muhammadiyah. KH Ahmad Azhar memang kemudian dikenal sebagai ulama yang banyak menguasai ilmu agama, low profile, serta ibarat sumur yang tidak pernah habis ditimba. KH Ahmad Azhar dilahirkan di Yogyakarta tanggal 21 Nopember 1928. Dia dibesarkan di lingkungan masyarakat yang kuat berpegang pada nilai agama yakni di Kauman. Ayahnya bernama HM Basyir dan ibunya Siti Djilalah. Pendidikan formalnya dimulai pada Sekolah Rendah Muhammadiyah di Suronatan, Yogyakarta. Setelah tamat pendidikan tingkat dasar tahun 1940, diapun nyantri di Madrasah Salafiyah, Ponpes Salafiyah Tremas, Pacitan, Jawa Timur. Setahun kemudian dia pindah ke Madrasah al-Fallah di Kauman hingga tahun 1944 kala menyelesaikan pendidikan tingkat menengah pertamanya. Pendidikan lanjutan kemudian ditempuhnya di Madrasah Mubalighin III (Tabligh School) Muhammadiyah Yogyakarta dan rampung selama dua tahun. Pada zaman revolusi, Azhar Basyir bergabung dengan kesatuan TNI Hizbullah Batalion 36 di Yogyakarta. Seusai kemerdekaan, dia pun kembali ke bangku sekolah dan masuk ke Madrasah Menengah Tinggi Yogyakarta tahun 1949. Tamat tahun 1952, lantas meneruskan ke Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri Yogyakarta. Beberapa saat kemudian dia mendapat beasiswa untuk belajar di Universitas Baghdad, Irak. Fakultas Adab Jurusan Sastra adalah bidang yang diambil. Dari sini dia melanjutkan studi ke Fakultas Dar al 'Ulum Universitas Kairo serta belajar islamic studies sampai meraih gelar master berkat tesis Nizam al-Miras fi Indunisia, Bain al-'Urf wa asy-Syari'ah al-Islamiyah (Sistem Warisan di Indonesia, antara Hukum Adat dan Hukum Islam). Tak hanya di bidang keilmuan, di lapangan organisasi pun Ahmad Azhar aktif terlibat. Sejak duduk di sekolah menengah, dia telah bergiat di Majelis Tabligh Muhammadiyah. Karir berorganisasinya ini dimulai sebagai

1

juru tulis yang tugasnya mengetik dan mengantar surat. Lama kelamaan, karena kegigihan dan ditunjang kemampuan ilmu agamanya, Ahmad Azhar dipercaya menjadi ketua muda Pemuda Muhammadiyah ketika lembaga ini baru didirikan tahun 1954. Jabatan ini dikukuhkan pada Muktamar Pemuda Muhammadiyah di Palembang tahun 1956. Namun tak lama jabatan tersebut mesti diserahterimakan kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah berhubung dia harus kuliah di Baghdad dan Kairo. Kembali ke Tanah Air, dia diangkat sebagai dosen di Universitas Gadjah Mada (UGM). Sembari mengajar, Ahmad Azhar aktif kembali di organisasi Muhammadiyah yang kali ini sudah di tingkat pimpinan pusat. Dia lantas berkecimpung di lembaga Majelis Tarjih Muhammadiyah (bidang penetapan hukum agama) dengan menjadi pimpinan dari tahun 1985-1990. Tahun 1990 pula, pada Muktamar Muhammadiyah di Semarang, ulama ini diberi amanah untuk memimpin Muhammadiyah. Pada saat yang sama, dia duduk pada beberapa organisasi, antara lain sebagai salah seorang ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat masa bakti 19901995, anggota Dewan Pengawas Syariah Bank Muamalat Indonesia, serta anggota MPR-RI periode 1993-1998. Sementara di tingkat internasional ia menjadi anggota tetap Akademi Fikih Islam, Organisasi Konferensi Islam (OKI). Pada usia 65 tahun, tokoh kharismatik ini mulai memasuki masa pensiun dari kegiatan mengajar di Fakultas Filsafat UGM. Tetapi, dia tetap bertekad mengabdikan ilmunya dengan mengajar di Fakultas Hukum UGM, IAIN Sunan Kalijaga, dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Di waktu senggangnya, Ahmad Azhar punya kegiatan lain yakni menulis buku. Beberapa karyanya antara lain Hukum Perkawinan Islam, Garis Besar Ekonomi Islam, Hukum Adat di Indonesia, Prospek Hukum Islam di Indonesia, dan masih banyak lagi. Di samping itu ada pula buku yang membahas persoalan akhlak dan bidang lainnya. Saat memasuki musim haji tahun 1994, pemerintah menunjuknya selaku wakil amirulhaj Indonesia. Setelah dari Tanah Suci, dia kembali bekerja keras. Tak lama,

tepatnya pada awal Juni 1994, ulama ini masuk rumah sakit karena komplikasi penyakit gula, radang usus dan jantung. Kondisinya kian memburuk. Dan pada tanggal 28 Juni 1994, KH Ahmad Azhar Basyir meninggal dunia.

Sumber http://www.republika.co.id/suplemen/
Ahmad Rasyid Sutan Mansur

:

Mengembangkan Muhammadiyah di Sumbar
Muhammadiyah selama ini dikenal punya basis yang kuat di Propinsi Sumatera Barat. Hal tersebut tidak bisa dilepaskan dari kiprah salah seorang tokohnya yang bernama Ahmad Rasyid Sutan Mansur, atau yang lebih kondang dengan nama AR Sutan Mansur. Tokoh ini lahir di Maninjau, Sumatera Barat, 15 Desember 1895. Di tempat kelahirannya itu pula, Sutan Mansur pertama kali memperoleh pendidikan agama meski masih secara tradisional di dalam lingkungan keluarganya yang memang amat religius. Selain mendapatkan gemblengan agama, dia juga mendapatkan pendidikan formal. Adapun pendidikan formal didapat sejak tahun 1902 saat menimba ilmu di Tweede Class School (sekolah kelas dua), juga di Maninjau, hingga tahun 1909. Kemudian atas rekomendasi dari controlleur Maninjau, Sutan Mansur melanjutkan pendidikan ke Kweekschool (sekolah guru) di kota Bukitinggi. Akan tetapi karena sejak awal Sutan Mansur sudah berkeinginan bersekolah di Mesir, maka dia memutuskan untuk belajar ilmu agama terlebih dahulu kepada H Abdul Karim Amrullah, ayahanda Buya Hamka. Pada saat perkumpulan Sumatera Thawalib dibentuk pada Februari 1918 di Padang Panjang, oleh beberapa sejawat, Sutan Mansur sudah dipandang mampu berperan sebagai guru. Oleh karenanya, Sumatera Thawalib langsung mengutusnya menjadi guru di Kuala Simpang, Aceh, selama dua tahun. Pindak ke Pulau Jawa Tahun 1920, dia pindah ke Pekalongan

2

ketika cita-citanya untuk menempuh pendidikan di Mesir tidak tercapai. Namun kekecewaannya tidak berlangsung lama, sebab pada tahun 1922 Sutan Mansur bertemu dengan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Tokoh kharismatik ini datang ke Pekalongan guna mengadakan tabligh Muhammadiyah. Peristiwa tersebut ternyata mengubah perjalanan hidupnya kemudian. Dia begitu terkesan dengan kefasihan KH Ahmad Dahlan dalam menjelaskan berbagai persoalan agama. Kepribadiannya yang lembut, bersahaja, serta rendah hati semakin menumbuhkan simpati dari banyak orang, termasuk dirinya. Dari ulama itulah, Sutan Mansur banyak menimba pengetahuan mengenai Muhammadiyah. Maka pada tahun yang sama, dia masuk menjadi anggota organisasi kemasyarakatan ini dan sekaligus berkenalan dengan sejumlah tokoh Muhammadiyah semisal KH AR Fakhruddin dan KH Mas Mansur. Dan kembali Sutan Mansur makin mengenal Islam tidak hanya dari aspek hukumnya, melainkan juga aspek sosial kemasyarakatan, dan ekonomi dari dua tokoh tadi. Tahun 1923 dia menjadi guru serta mubaligh Muhammadiyah. Muridnya terdiri dari pelbagai kalangan, antara lain bangsawan Jawa (R Ranuwihardjo, R Tjitrosoewarno, dan R Oesman Poedjooetomo), keturunan Arab, serta orang Minang perantauan yang menetap di Pekalongan dan sekitarnya. Dua tahun kemudian dia kembali ke daerah kelahirannya sebagai mubaligh Muhammadiyah untuk wilayah Sumatera. Mengembangkan Muhammadiyah Sejatinya, sebelum Sutan Mansur, pikiranpikiran dari Muhammadiyah sudah lebih dulu disebarluaskan oleh H Abdul Karim Amrullah, bahkan beberapa cabang Muhammadiyah sudah berdiri di Maninjau dan Padang Panjang. Dengan kata lain, H Abdul Karim Amrullah telah membuka jalan bagi Sutan Mansur untuk lebih mengembangkan Muhammadiyah di Sumatera Barat. Dan penyebaran gerakan ini justru semakin pesat setelah dia mendapat dukungan dari tokoh-tokoh masyarakat setempat dan sejumlah alim ulama 'kaum muda'. Di samping itu, selaku mubaligh tingkat pusat Muhammadiyah (1926-1929) dia

ditugaskan mengadakan tabligh keliling ke Medan, Aceh, Kalimantan (Banjarmasin, Amuntai dan Kuala Kapuas), Mentawai serta beberapa bagian Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan. Aktivitasnya juga melatih pemuda-pemudi dalam lembaga Kulliyatul Muballigin yang didirikannya untuk menjadi kader Muhammadiyah. Adapun metode yang digunakan untuk latihan itu adalah mujadalah (kelompok diskusi). Murid-muridnya antara lain Duski Samad (adik kandungnya sendiri), Abdul Malik Ahmad (penulis tafsir Alquran), Zein Jambek, Marzuki Yatim (mantan Ketua KNI Sumatera Barat), Hamka, Fatimah Latif, Khadijah Idrus, Fatimah Jalil, dan Jawanis. Pada tahun 1930 diselenggarakan Kongres ke-19 Muhammadiyah di Minangkabau. Salah satu keputusannya adalah perlunya jabatan konsul Muhammadiyah di setiap karesidenan. Maka berdasarkan Konferensi Daerah di Payakumbuh tahun 1931, dipilihlah Sutan Mansur sebagai konsul Muhammadiyah untuk wilayah Sumatera Barat hingga 1944. Kemudian atas usul konsul Aceh, konsul-konsul seluruh Sumatera setuju untuk mengangkat Sutan Mansur selaku imam Muhammadiyah Sumatera. Ketika berlangsung Kongres Muhammadiyah ke-32 di Purwokerto tahun 1953, dia terpilih sebagai Ketua Pusat Pimpinan (PP) Muhammadiyah. Tiga tahun berikutnya yakni pada Kongres ke-33 di Palembang, dia terpilih kembali sebagai ketua PP Muhammadiyah. Lantas pada kongres ke-35 tahun 1962 di Yogyakarta, Sutan Mansur diangkat sebagai Penasehat PP Muhammadiyah sampai 1980. Tercatat selama masa kepemimpinannya dua periode (1953-1959) dia berhasil merumuskan khittah (garis perjuangan) Muhammadiyah. Antara lain mencakup usaha-usaha menanamkan dan mempertebal jiwa tauhid, menyempurnakan ibadah dengan khusyuk dan tawadlu, mempertinggi akhlak, memperluas ilmu pengetahuan, menggerakkan organisasi dengan penuh tanggung jawab, memberikan contoh dan suri tauladan kepada umat, konsolidasi administrasi, mempertinggi kualitas sumber daya manusia, serta membentuk kader handal. Selain aktif di organisasi, dia pun dikenal sebagai penulis yang produktif. Buku-

3

bukunya antara lain Pokok-pokok Pergerakan Muhammadiyah, Penerangan Azas Muhammadiyah, Hidup di Tengah Kawan dan Lawan, Tauhid, Ruh Islam, dan Ruh Jihad. Buku-buku tersebut sampai saat ini masih menjadi pegangan bagi anggota Muhammadiyah. Dalam bidang fikih, Sutan Mansur dikenal sangat toleran. Dia misalnya tidak terlalu mempermasalahkan perbedaan pendapat dalam masalah furu'iyyah (hukum agama yang tidak pokok). Hasil Putusan Tarjih Muhammadiyah dipandangnya hanya sebagai sikap organisasi Muhammadiyah terhadap suatu masalah agama, itu pun sepanjang belum ditemukan pendapat yang lebih kuat. Karenanya HPT menurut dia tidak mengikat anggota Muhammadiyah. Sumbangsihnya dalam mengembangkan Muhammadiyah di Sumatera Barat menjadikanya mendapat julukan 'Bintang Barat Muhammadiyah', setelah KH Mas Mansyur dipandang sebagai 'Bintang Timur Muhammadiyah'. Dia pun dipandang selaku tokoh utama Muhammadiyah dari generasi pertama, setelah KH Ahmad Dahlan, KH AR Fakhruddin, KH Ibrahim, KH Abdul Mu'thi, KH Mukhtar Bukhari, serta KH Mas Mansyur.

organisasi Muhammadiyah, H Muhammad Sudjak terlahir di Kampung Kauman, Yogyakarta pada tahun 1885/1303 H. Dia berasal dari keluarga abdi dalem santri keraton Yogyakarta. Ayahnya adalah H. Hasyim yang menjabat sebagai seorang abdi dalem keraton Yogyakarta pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VII. Sudjak semasa masih kecil dipanggil dengan nama Daniel. Nama tersebut diberikan karena dia lahir bertepatan dengan tahun Dal. Tapi, setelah menginjak usia dewasa, khususnya setelah naik haji namanya diganti menjadi Muhammad Sudjak. Nama Sudjak berarti berani naik haji. Sudjak lebih banyak mendapat pendidikan keagamaan dari orang tuanya, baik di lingkungan keluarga maupun di Masjid Agung Keraton Yogyakarta. Latar belakang pendidikannya secara formal kurang dapat ditelusuri. Sementara itu, menurut beberapa informasi yang ada, Sudjak dikenal sebagai seorang yang otodidak. Dia juga sempat belajar di pondok pesantren. Hanya saja, di pondok pesantren mana tidak ada yang mengetahui. Ada kemungkinan dia belajar di pondok pesantren Wonokromo seperti adiknya, KH Fakhruddin. Saat memasuki usia remaja, di Kauman terjadi usaha pembaharuan bidang pendidikan yang dipelopori oleh KH Ahmad Dahlan. Sebagai remaja yang yang besar di lingkungan Kauman, Sudjak masuk di dalamnya. Dia menjadi salah seorang pendukung, murid, sekaligus santri KH Ahmad Dahlan. Pada waktu bersamaan, Sudjak juga dimagangkan di lingkungan Keraton Yogyakarta untuk menjadi abdi dalem. Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama karena dia merasa kurang cocok untuk menjadi seorang abdi dalem. Keluar dari magang di lingkungan keraton, Sudjak mulai mencurahkan perhatian di Muhammadiyah yang baru berdiri. Saat Muhammadiyah berdiri tahun 1912, Sudjak adalah salah seorang anggota angkatan mudanya. Dia adalah murid serta kader langsung KH Ahmad Dahlan bersama-sama dengan adik dan teman-temannya, seperti H Fakhruddin, Ki Bagus Hadikusumo, H Zaini, H Mokhtar, HA Badawi, RH Hadjid, dan lain-lain. Meski demikian, dia belum duduk di dewan kepengurusan. Hal itu dikarenakan usianya

Sumber : http://www.republika.co.id/suplemen/cet ak_detail.asp?mid=5&id=195877&kat_i d=105&kat_id1=147&kat_id2=185
Jumat, 17 Juni 2005

H Muhammad Sudjak

Perumus Gerakan Sosial Muhammadiyah
Berdirinya organisasi sosial keagamaan Muhammadiyah tidak terlepas dari sumbangsih empat kuartet bersaudara. Mereka amat dihormati oleh warga Muhammadiyah, dari sejak dulu hingga kini. Empat bersaudara tersebut antara lain H Muhammad Sudjak, KH Fakhruddin, Ki Bagus Hadikusuma, dan KH Zaini. Mereka merupakan generasi pertama gerakan Muhammadiyah yang langsung di bawah bimbingan KH Ahmad Dahlan, Bapak Muhammadiyah. Dan dari empat orang bersaudara itu, yang paling tua adalah H Muh Sudjak. Seperti dikutip dari situs resmi

4

masih relatif muda. Sudjak mulai terlibat dalam kepengurusan Muhammadiyah sejak memasuki dekade 1920-an, tepatnya pada tahun 1921. Pada saat itu Hoofdbestuur (HB) dalam kepengurusannya. Salah satunya adalah Bagian Penolong Kesengsaraan Umum (PKU) yang bertugas meringankan beban penderitaan umat melalui aksi-aksi sosialnya. Dari sekian banyak kader muda KH. Ahmad Dahlan yang mempunyai pola pikir dan perjuangan pragmatis dan bergerak di bidang sosial adalah Sudjak. Sikap seperti itu merupakan hasil pendidikan yang diberikan KH Ahmad Dahlan di mana dia senantiasa menekankan pentingnya aksi (praktek amaliah) dari pada hanya sekedar beretorika. Dan Sudjak dipandang sebagai tokoh yang pantas memimpin Bagian PKU Muhammadiyah. Sebagai pemimpin Bagian PKU Muhammadiyah, Sudjak yakin lembaga tersebut akan mampu membuktikan bahwa bangsa Indonesia, khususnya Muhammadiyah dapat mendirikan rumah sakit, rumah miskin, rumah anak yatim dan sebagai aksi sosialnya. Rencananya untuk mendirikan beberapa amal sosial itu kemudian dipresentasikan saat dilantik menjadi ketua Bagian PKU Muhammadiyah. Rencana Sudjak terdengar sangat berlebihan untuk ukuran saat itu sehingga di depan khalayak dia malah ditertawakan. Meski demikian dia tetap yakin akan tekadnya. Dia berpegang pada realitas bahwa telah banyak orang non-Muslim (Kolonial Belanda) yang dapat mendirikan rumah sakit, rumah miskin dan rumah yatim hanya karena dorongan rasa kemanusiaan tanpa didasari rasa tanggungjawab kepada Allah SWT. Jika umat non-Muslim saja mampu melakukan aksi-aksi sosial, mengapa umat Islam yang mempunyai landasan agama seperti yang tertera dalam QS Al Maun, tidak dapat melakukannya. Lebih jauh dia berprinsip bahwa jika Allah telah menetapkan ketentuannya di dalam Alquran, pasti ketentuan itu dapat dilakukan umat-Nya, karena mustahil Allah membuat ketentuan yang tidak dapat dilakukan kaumNya. Pada perkembangannya kemudian, ternyata apa yang digagas Sudjak menjadi kenyataan. Perlahan tapi pasti Muhammadiyah mampu mendirikan rumah sakit di Yogyakarta serta mendirikan rumah

miskin dan panti anak yatim di mana-mana sebagai amal usaha-amal usaha andalan di bidang sosial. Itulah sumbangan terbesar yang diberikan Sudjak dalam merintis dan mengembangkan gerakan Muhammadiyah, khususnya di bagian PKU. Sudjak pun dipandang sebagai inspirator dan perintis utama aksi sosial dalam gerakan Muhammadiyah setelah KH Ahmad Dahlan sendiri. Di lingkungan Muhammadiyah, meski belum pernah menjabat sebagai ketua Muhammadiyah dan jabatan tertingginya hanya sampai pada jabatan wakil ketua, tapi nama Sudjak cukup populer. Hal ini karena dia dipandang sebagai salah seorang murid dan kader langsung dari KH. Ahmad Dahlan. Bahkan pada sekitar tahun 1937 ketika terjadi gejolak di kalangan muda Muhammadiyah yang menghendaki adanya regenerasi dia adalah salah satu di antara trio angkatan tua bersama-sama dengan M. Mukhtar dan H. Hisyam yang sangat populer. Dalam kongres Muhammadiyah yang ke-26 di Yogyakarta pada tahun 1937, Sudjak tetap diberi kepercayaan untuk memimpin Bagian (Majlis )PKU yang memang bidangnya. Setelah itu, Sudjak tidak lagi duduk di dalam kepengurusan besar Muhammadiyah secara fungsional. Namun, hingga masa akhir hayatnya pada tahun 1962, dia dipercaya menjadi anggota penasehat PP Muhammadiyah. Kiprah Sudjak tak hanya di lingkup Muhammadiyah saja, tercatat dia juga aktif dalam memperjuangkan perbaikan kualitas perjalanan haji bagi jamaah asal Indonesia. Pada periode pasca kemerdekaan bersama teman-temannya yang punya komitmen pada persoalan jamaah haji, dia membentuk satu wadah yang kemudian dinamakan Persatuan Djamaah Haji Indonesia (PDHI). Meski dalam perjuangannya dia sampai diperkarakan di pengadilan, tapi langkahnya tidak pernah surut. Sampai hari-hari menjelang wafatnya pun dia masih terus aktif di urusan perjalanan Haji. Berkat jasajasanya itulah sehingga Sudjak dikenal sebagai tokoh pelopor perbaikan perjalanan haji Indonesia. H Sudjak meninggal dunai pada tanggal 5 Agustus 1962 setelah sekitar setengah abad ikut membesarkan Muhammadiyah. Di kalangan para tokoh Muhammadiyah, dia dikenal sebagai salah seorang yang banyak mewarisi sikap gurunya, KH. Ahmad Dahlan,

5

dalam rangka mengembangkan organisasi. Jika KH Ahmad Dahlan adalah peletak dasar berbagai aktivitas amal usaha sosial Muhammadiyah, maka H.Sudjak adalah perumus dan sekaligus penafsirnya dalam realitas gerakan. Itulah sumbangan besar H. Sudjak dalam mengembangkan gerakan Muhammadiyah, khususnya di bidang amal usaha sosial.

jadi mengajak mereka agar kembali jadi religius, agar selamat dunia dan akhirat," katanya. Acara workshop diawali dengan presentasi HIV/AIDS dari berbagai dimensinya kemudian diakhiri dengan diskusi tentang apa yang harus dilakukan oleh para tokohtokoh agama Islam dan lembaga-lembaga Islam untuk menangggulangi HIV/AIDS. Peserta workshop dibagi empat kelompok daerah yang masing-masing punya karakteristik penyebab HIV/AIDS sehingga masing-masing kelompok bisa berdiskusi untuk mencegah laju perkembangan HIV/AIDS. Panitia juga menghadirkan penderita HIV/AIDS untuk memberikan testimoni kepada peserta, sementara salah seorang pembicara yang menjadi narasumber adalah Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya yang juga Ketua PW Aisyiyah Jatim, dr Esti Martiana Rahmy. "Kami mengharapkan, setelah peserta pulang bisa melakukan gerakan kerja sama dengan Pemda, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) dan dengan lembaganya sendiri," katanya Sumber : http://www.republika.co.id/online_detail.asp? id=340564&kat_id=23
Jumat, 10 Juni 2005

Sumber : http://www.republika.co.id/suplemen/cet ak_detail.asp?mid=5&id=201953&kat_i d=105&kat_id1=147&kat_id2=185
Selasa, 08 Juli 2008 15:41:00

NU-Muhammadiyah Jatim Serukan Jihad Melawan HIV/AIDS Surabaya-RoL-- Pimpinan Wilayah NU (PWNU) Jatim bersama Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim secara bersama-sama menyerukan jihad melawan epidemi HIV/AIDS di masyarakat. Ketua PWM Jatim, Prof Dr Syafiq Mughni bersama pengurus PWNU Jatim, KH Sonhaji mengemukakan hal itu disela-sela Workshop Pendekatan Islam Dalam Menanggulangi HIV/AIDS yang diselenggarakan Health Policy Initiative dan USAID di Surabaya, Selasa. Syafiq mengatakan jihad melawan HIV/AIDS dilakukan dengan menggunakan fasilitasfasilitas yang dimiliki Muhammadiyah, NU dan MUI, termasuk menggunakan masjid dan lembaga-lembaga dakwah yang ada di ketiga ormas Islam tersebut. "USAID memiliki dukungan dana, sementara kami memiliki SDM dan jaringan organisasi. Potensi ini disinergikan sehingga terjadi kerja sama strategis untuk kemaslahatan masyarakat," kata Guru Besar IAIN Sunan Ampel tersebut. Syafiq mengatakan dalam workshop dirinya bersama KH Sonhaji diminta menjadi diminta jadi panitia dengan harapan agar workshop bisa melibatkan tokoh-tokoh Muhammadiyah, NU dan MUI se-Jawa Timur. "Keterlibatan ormas Islam dalam penanggulangan HIV/AIDS merupakan tantangan dakwah bagi ulama dan mubaligh untuk masuk kepada mereka yang tidak religius untuk mencegah epidemi HIV/AIDS,

Muhammadiyah dan Dakwah Global
KH Dr Tarmizi Taher Ketua Dewan Direktur Center for Moderate Muslim (CMM) Tinggal dua minggu lagi muktamar Muhammadiyah ke-45 akan digelar di Universitas Muhammadiyah Malang. Sebagian besar muktamirin adalah dai-dai Muhammadiyah di samping pengurus pusat, wilayah, daerah, dan cabang seluruh Indonesia. Muktamar ini memiliki nilai budaya yang strategis, mengingat pertemuan para pengurus dan kader Muhammadiyah ini tidak hanya dimaknai sebagai proses pergantian pengurus Muhammadiyah, melainkan sebagai ajang persilangan budaya dan informasi. Masukan-masukan brilian dari para aktifisnya mendapatkan media yang tepat,

6

hal mana perbedaan dan benturan gagasan akan sangat bermanfaat bagi pematangan kepribadian Muhammadiyah. Khittah (1912) Muhammadiyah tercermin sebagaimana ditegaskan oleh KH Ahmad Dahlan pada saat kelahiran Muhammadiyah, yaitu dakwah Islamiyah. Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan cucu KH Ahmad Dahlan di Thailand. Belakangan saya tahu bahwa keluarga mereka telah tersebar bukan hanya di Thailand, melainkan juga di Singapura dan Amerika. Keluarga pendiri Muhammdiyah ini memang sudah mengglobal, tentunya kita tidak perlu menyangsikan jika pengikut Muhammadiyah pun sudah mengglobal pula. Hal ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah memiliki pengaruh yang luas dalam dinamika nasional dan internasional. Dari sekian organisasi sosial kemasyarakatan yang ada, daya survival Muhammadiyah cukup mengagumkan. Sungguhpun Muhammadiyah lahir dalam masa penjajahan Barat (Belanda) di Nusantara, ternyata Muhammadiyah tetap mampu bertahan, bahkan menjadi salah satu motor penggerak untuk melawan penjajah. Tantangan terhadap Muhammadiyah kini tentu berbeda dengan tantangan di masa 'kecilnya'. Penjajahan telah selesai, namun saat ini Muhammadiyah dihadapkan pada situasi yang tidak kalah krusialnya, yaitu globalisasi. Mampukah Muhammadiyah dalam proses globalisasi ini mendorong umat Islam untuk tampil sebagai pihak yang mewarnai dan mengarahkan jalannya proses tersebut? Jawaban atas pertanyaan tersebut tentu saja tidak sederhana sebagaimana tidak sederhananya proses globalisasi itu sendiri. Namun satu hal yang jelas adalah Muhammadiyah tidak boleh berpangku tangan melihat umat Islam menjadi korban dari arus globalisasi dan tenggelam didasarnya hanya lantaran tidak paham bagaimana berenang di atasnya. Globalisasi sebagai suatu proses pada akhirnya akan membawa seluruh penduduk planet bumi menjadi suatu world society dan global society. Hal ini harus dipandang dan dipahami sebagai proses wajar yang tak terhindarkan yang diakibatkan oleh semakin majunya peradaban manusia di bidang ilmu

pengetahuan dan teknologi (Iptek), khususnya teknologi komunikasi dan informasi. Sebab bagaimanapun, global society yang oleh Miriam L Campanella dalam buku Transition to a Global Society diartikan sebagai an idealistic cosmopolitan and universal society that includes all the people, living on earth, without regard to cultural and ethical beliefs lambat maupun cepat akhirnya akan menjadi kenyataan. Ini menampakkan wujudnya yang paling nyata. Peristiwa di pojok bumi manapun dengan cepat dapat dikomunikasikan ke seluruh dunia. Akibatnya manusia semakin menyadari posisinya sebagai sesama warga satu desa dunia atau a global village. Sebagaimana halnya warga desa yang saling kenal mengenal satu sama lain serta selalu saling bergotong royong dalam mewujudkan keamanan dan kesejahteraan seluruh warga, demikian pula hendaknya sikap manusia sebagai sesama warga planet bumi. Menyadari bahwa kesatuan umat manusia adalah konsekuensi dari kemajuan peradaban manusia, maka globalisasi justru harus dihadapi dengan kesiapan untuk berlomba dalam mendakwahkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat dunia. Dengan cara bersikap kreatif dengan menggali tak kenal henti saripati dan hikmah ajaran Islam untuk didakwahkan dan disumbangkan sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan li al-alamin) . Tidak bisa dinafikan bahwa ada sisi lain dari globalisasi yang berdampak tidak menguntungkan bagi umat Islam. Sebab pihak yang diuntungkan adalah yang paling menguasai teknologi dan bermodal besar. Dalam situasi inilah globalisasi muncul dalam bentuk dominasi Barat terhadap negara-negara Timur (Islam). Salah satu faktor yang menyebabkan muncul dan meluasnya radikalisme serta terorisme adalah dominasi tersebut. John L Esposito misalnya, melihat bahwa dominasi Barat terhadap negara-negara Islam menyebabkan umat Islam resisten terhadap peradaban Barat. Celakanya, resistensi tersebut acapkali disertai dengan generalisasi bahwa semua yang berasal dari Barat harus ditolak dan dimusuhi. Dengan demikian sedikit banyak globalisasi memiliki kontribusi dalam konflik IslamBarat. Ini bukan berarti kita harus menolak globalisasi, sebab ada nilai-nilai dan produk

7

globalisasi yang bermanfaat bagi kehidupan bersama. Globalisasi sebagai fenomena tercabutnya ruang dari waktu bukan hanya sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditampik, melainkan juga menguntungkan bagi interaksi peradaban seluruh umat manusia. Kemunculannya seiring dengan kemajuan peradaban manusia itu sendiri. Namun globalisasi sebagai sebuah ideologi, dimana liberalisme ekonomi yang menjadi spiritnya, tentu harus diwaspadai. Yang patut diperhatikan, dunia tanpa batas menuntut kemajuan Muhammadiyah dalam memperbaiki akhlak dan moral. Betapa beratnya tugas dakwah Nasional sebagai bagian umat Islam terbesar dunia-sekaligus dengan beban citra umat dan bangsa terkorup. Namun di tengah pesimisme itu Muhammadiyah harus mampu mendorong Umat Islam Indonesia agar dapat menjadi tauladan bagi umat manusia dan jembatan Barat dengan Islam. Dalam konteks dakwah global, Muhammadiyah memiliki kemampuan untuk mengarahkan warganya-yang sebagian besar telah mengenyam sarjana S1, S2, dan S3-untuk berpartisipasi mensosialisasikan nilai-nilai Islam moderat dalam kancah pergaulan global. Sesungguhnya mereka (warga Muhammadiyah) telah siap menjadi dai MML (Mandiri dan Multi-Lingual). Mereka berdakwah atas dasar panggilan nurani. Dengan demikian, kita bisa berharap bahwa umat Islam tidak gampang terseret dalam menghadapi arus globalisasi. Sebagai bagian terbesar dari bangsa Indonesia, umat Islam dengan kemampuannya menggali dan mendayagunakan ajaran agamanya untuk menjawab tantangan globalisasi, justru diharapkan untuk mampu memelopori dan membawa bangsa ini tampil di gelanggang percaturan dan persaingan global tanpa kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang beriman dan bertakwa. Ini sekaligus merupakan upaya konkrit untuk turut mengarahkan aliran arus globalisasi. Dengan teknologi komunikasi dan informasi dunia memang terasa menjadi sempit dan kecil. Tanpa keimanan kecanggihan produk Iptek tersebut dapat membawa manusia ke sikap sombong dan melupakan Tuhan. Namun dari sudut iman dunia yang terasa kecil itu justru mengugah agar manusia lebih merasa kecil dihadapan Tuhan Yang Maha Pencipta. Tanpa pegangan iman pola kehidupan yang makin mengglobal ini akan

mudah membawa orang-orang terombangambing, terlanda stress dan keterasingan (alienated). Tetapi dengan keimanan orang akan tangguh menghadapinya karena proses tersebut dipahami sebagai bagian dari sunnatullah yang tak mungkin dihindari. Rubrik ini merupakan kerja sama antara Center for Moderate Muslim (CMM) dengan Harian Umum Republika. Kritik dan saran dialamatkan ke e-mail cmm_jkt yahoo.com. Sumber : http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_d etail.asp?mid=5&id=200954&kat_id=105&ka t_id1=147&kat_id2=291
Senin, 01 Juli 2002

SMP Muhammadiyah Yogyakarta

I

Ciptakan Nuansa Islami dan Kemampuan Teknologi Menguasai komputer, pintar berbahasa Inggris, dan Arab bukan hanya milik siswa SMU ataupun mahasiswa saja. Siswa SLTP pun bisa dilatih menguasai tiga keahlian tersebut. SMP I Muhammadiyah Yogyakarta yang berlokasi di Jalan Purwodiningratan Ng I/902 B Yogyakarta mencoba mewujudkan pelajar yang mahir berbahasa Inggris, Arab, dan terampil menggunakan komputer. Caranya adalah dengan melatih siswa setiap hari. Sebagai sekolah Islam, wajar jika siswa diwajibkan berbusana muslim. Pelajar putri memakai baju panjang dan jilbab, sedangkan pelajar lelaki mengenakan celana panjang. Ini berbeda dengan ketentuan Depdiknas di mana anak perempuan mengenakan rok pendek biru dan kemeja putih, sementara pelajar putra memakai celana pendek biru dan kemeja putih. Busana muslim menjadikan sekolah ini memiliki nuansa Islam. Kelengkapan berbusana muslim itu hendak disempurnakan dengan penguasaan teknologi dan keterampilan berbahasa. Adalah kepala sekolah Anis Santoso yang berusaha menciptakan nuansa Islam dengan basis ilmu pengetahuan di sekolah tersebut. Islam, sebagaimana disebutkan dalam Alquran dan Hadist mewajibkan pemeluknya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Anis mencoba menanamkan pemikiran ini kepada seluruh pelajar. Untuk memahami betul pesan tersebut,

8

siswa diharuskan mengikuti pelajaran Alquran tiap hari. Mereka bukan cuma berlatih membaca dan menulis tapi juga memahami kandungan maknanya dengan bimbingan staf pengajar. Untuk menambah frekuensi pengajaran Alquran, kepala sekolah membuat kebijakan pendukung. Bentuknya, pengajian keliling antarsiswa serta antarkaryawan dan guru. ''Langkah itu selain meningkatkan silaturahmi juga mempererat persaudaraan dan kebersamaan antarsiswa, karyawan, serta guru. Rasa kebersamaan itu membangkitkan gairah belajar siswa,'' papar Anis Santoso kepada Republika di kantornya awal pekan lalu. Mereka jadi akrab satu sama lain. Pengajian tersebut diselenggarakan di dua tempat, yakni di rumah siswa, karyawan, dan guru secara bergilir dan juga di sekolah. Tiap satu bulan sekali ada pengajian umum di sekolah. Untuk mempercepat kemampuan berbahasa Inggris dan Arab, mantan aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) tersebut membuat langkah baru di lingkungan sekolahnya. Dia membuat papan penunjuk ruangan dengan memakai tiga bahasa, Indonesia, Inggris dan Arab. Anis percaya langkah yang ditempuhnya bersama guruguru SMP I Muhammadiyah tersebut mampu mewujudkan misi sekolah untuk menciptakan suasana Islami, unggul dalam prestasi dan berwawasan ilmu pengetahuan alam dan teknologi. Aktivitas sehari-hari juga mendukung pembentukan karakter Muslim yang baik. Setiap pagi hari kepala sekolah dan guru bimbingan pengajar (BP) akan berdiri di pintu gerbang sekolah dan melaksanakan Tiga S (senyum, sapa, dan salam) kepada pada siswa yang masuk. Setelah itu, pada jam pelajaran pertama semua guru diwajibkan memimpin siswa tadarus Alquran selama sepuluh menit. Siang hari, ada shalat Dzuhur berjamaah, serta shalat Jumat di masjid sekolah. Untuk penguasaaan teknologi, sekolah yang didirikan 1 Juni 1967 dengan nama MULO Muhammadiyah itu melengkapi diri dengan berbagai laboratorium. Salah satunya adalah laboratorium komputer dan IPA elektronik. Keberadaan laboratorium itu ditunjang pengajar yang kompeten di bidangnya.

Saat ini, siswa yang berjumlah 615 menempati bangunan dengan 15 ruang kelas dengan bimbingan 38 pengajar. Pengajaran di sekolah ini juga didukung 16 karyawan. ''Alhamdulillah, kami akan mendapat bantuan dana dari Depdiknas. Besarnya sekitar Rp 90 juta. Uang tersebut akan kami pergunakan untuk membangun dan melengkapi labolatorium komputer, elektronik, dan bahasa. Dengan fasilitas yang baik, lulusan sekolah ini benar-benar mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi serta ketrampilan berbahasa selain modal iman dan taqwa yang kami pupuk sejak awal,'' tambah Anis yang beristrikan perempuan aktivis Aisyiah. Yulianingsih. Sumber : http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_d etail.asp?mid=1&id=81155&kat_id=105&kat _id1=151&kat_id2=191
Jumat, 15 Juli 2005

Ki Bagus Hadikusumo

Turut Menyusun Mukadimah UUD 1945
Ki Bagus Hadikusumo dilahirkan di kampung Kauman Yogyakarta dengan nama R Hidayat pada 11 Rabi'ul Akhir 1038 Hijriyah. Ia putra ketiga dari lima bersaudara Raden Kaji Lurah Hasyim, seorang abdi dalem putihan (pejabat) agama Islam di Kraton Yogyakarta. Seperti umumnya keluarga santri, Ki Bagus mulai memperoleh pendidikan agama dari orang tuanya dan beberapa kiai di Kauman. Setelah tamat dari 'Sekolah ongko loro' (tiga tahun tingkat sekolah dasar), Ki Bagus belajar di pondok pesantren tradisional Wonokromo Yogyakarta. Di Pesantren ini ia mulai banyak mengkaji kitab-kitab fikih dan tasawuf. Dalam usia 20 tahun Ki Bagus menikah dengan Siti Fatmah (putri Raden Kaji Suhud) dan memperoleh enam anak. Salah seorang di antaranya ialah Djarnawi Hadikusumo, tokoh Muhammadiyah dan pernah menjadi orang nomor satu di Parmusi. Setelah Fatmah meninggal, ia menikah lagi dengan seorang wanita pengusaha dari Yogyakarta bernama Mursilah. Ia dikaruniai anak tiga orang anak. Ki Bagus kemudian menikah lagi dengan Siti Fatimah (juga seorang pengusaha) setelah istri keduanya meninggal. Dari istrinya yang ketiga ini ia memperoleh lima anak.

9

Sekolahnya tidak lebih dari sekolah rakyat (sekarang SD) ditambah mengaji dan besar di pesantren. Tetapi berkat kerajinan dan ketekunan mempelajari kitab-kitab terkenal akhirnya ia menjadi orang alim, mubaligh, dan pemimpin umat. Ia merupakan pemimpin Muhammadiyah yang besar andilnya dalam penyusunan mukadimah UUD 1945, karena ia termasuk dalam anggota Panitia Persiapan Kemerdekan Indonesia (PPKI). Ki Bagus Hadikusumo sangat besar peranannya dalam perumusan mukadimah UUD 1945 dengan memberikan landasan ketuhanan, kemanusiaan, keberadaban, dan keadilan. Pokok-pokok pikirannya dengan memberikan landasanlandasan itu dalam mukadimah itu disetujui oleh semua anggota PPKI. Secara formal, disamping kegiatan tabligh, Ki Bagus pernah menjadi ketua Majelis Tabligh (1922), ketua Majelis Tarjih, anggota Komisi MPM Hoofdbestuur Muhammadijah (1926), dan ketua PP Muhammadiyah (1942-1953). Pokok-pokok pikiran Ahmad Dahlan berhasil ia rumuskan sedemikian rupa sehingga dapat menjiwai dan mengarahkan gerak langkah serta perjuangan Muhammadiyah. Bahkan, pokok-pokok pikiran itu menjadi Mukadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah. Mukadimah yang merupakan dasar ideologi Muhammadiyah ini menginspirasi sejumlah tokoh Muhammadiyah lainnya. HAMKA, misalnya, mendapatkan inspirasi dari muqaddimah tersebut untuk merumuskan dua landasan idiil Muhammadiyah, yaitu Matan Kepribadian Muhammadiyah dan Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah. Ki Bagus juga sangat produktif untuk menuliskan buah pikirannya. Buku karyanya antara lain Islam Sebagai Dasar Negara dan Achlaq Pemimpin. Karya-karyanya yang lain yaitu Risalah Katresnan Djati (1935), Poestaka Hadi (1936), Poestaka Islam (1940), Poestaka Ichsan (1941), dan Poestaka Iman (1954). Dari buku-buku karyanya tersebut tercermin komitmennya terhadap etika dan bahkan juga syariat Islam. Dari komitmen tersebut, Ki Bagus adalah termasuk seorang tokoh yang memiliki kecenderungan kuat untuk menginstutisionalisasikan Islam. Bagi Ki Bagus, pelembagaan Islam menjadi sangat penting untuk alasan-alasan ideologi, politis, dan juga intelektual. Ini nampak dalam upayanya memperkokoh eksistensi

hukum Islam di Indonesia ketika ia dan beberapa ulama lainnya terlibat dalam sebuah kepanitiaan yang bertugas memperbaiki peradilan agama. Hasil penting sidang-sidang komisi ini ialah kesepakatan untuk memberlakukan hukum Islam. Akan tetapi Ki Bagus dikecewakan oleh sikap politik pemerintah kolonial yang didukung oleh para ahli hukum adat yang membatalkan seluruh keputusan penting tentang diberlakukannya hukum Islam untuk kemudian diganti dengan hukum adat melalui penetapan ordonansi 1931. Kekecewaannya ia ungkap kembali saat menyampaikan pidato di depan sidang BPUKPKI. Munculnya Ki Bagus Hadikusumo sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah adalah pada saat terjadi pergolakan politik internasional, yaitu pecahnya Perang Dunia II. Kendatipun Ki Bagus Hadikusuma menyatakan ketidaksediaannya sebagai Wakil Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah ketika diminta oleh Mas Mansur pada kongres ke-26 tahun 1937 di Yogyakarta, ia tetap tidak bisa mengelak memenuhi panggilan tugas untuk menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah ketika Mas Mansur dipaksa menjadi anggota pengurus Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) di Jakarta pada tahun 1942. Apalagi dalam situasi di bawah penjajahan Jepang, Muhammadyah memerlukan tokoh kuat dan patriotik. Ki Bagus Hadikusumo berani menentang perintah pimpinan tentara Dai Nippon yang terkenal ganas dan kejam untuk memerintahkan ummat Islam dan warga Muhammadiyah melakukan upacara kebaktian tiap pagi sebagai penghormatan kepada Dewa Matahari. Ia menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah selama 11 tahun (1942-1953) dan wafat pada usia 64 tahun. Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Perintis Kemerdekaan Nasional Indonesia. n muhammadiyah.or.id Sumber : http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_d etail.asp?mid=5&id=205645&kat_id=105&ka t_id1=147&kat_id2=185
Selasa, 26 Juni 2007 12:11:00

PMB Muhammadiyah Perlu Ciptakan Tokoh Politik Masa Depan'
Laporan:

10

PEKANBARU -- Muhammadiyah dinilai harus mengambil peran lebih aktif dalam politik. Organisasi Islam itu diminta lebih banyak melepaskan kegiatan politik pada organisasi yang bernaung di bawahnya. Muhammadiyah perlu berubah agar mampu menciptakan kekuatan baru di bidang politik. Ketua Umum Partai Matahari Bangsa (PMB), Imam Addaruqutni, mengatakan peran yang lebih besar dalam politik harus diambil dari sekarang. ''Tanpa itu semuanya akan lewat,'' ujarnya, Senin (25/6), di selasela deklarasi dan pelantikan pimpinan wilayah PMB Provinsi Riau di Pekanbaru, Riau. Maksud Imam adalah bila organisasi di bawah Muhammadiyah tidak terjun dari saat ini juga maka pada pemilu 2014 Muhammadiyah tidak akan punya gigi. Mantan Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah itu memberi contoh Nahdlatul Ummat (NU) yang saat ini memiliki banyak kader di partai politik. ''Kader tersebut diperkirakan memiliki kekuatan untuk bersaing dalam pemilu 2014. Mereka diantaranya adalah Anas Urbaningrum (Ketua DPP Partai Demokrat), Suryadharma Ali (Ketua Umum DPP PPP), dan Muhaimin Iskandar (Ketua Umum DPP PKB). Apa yang dilakukan PMB merupakan upaya untuk meningkatkan partisipasi politik Muhmammadiyah,'' kata Imam. Menyinggung mengenai soal PMB, Imam, menyatakan partai ini telah mempunyai kepengurusan di 10 provinsi. Namun susunan pengurus partai ini telah mencapai 24 provinsi. 80 persen pengurusnya adalah kader muda Muhammadiyah. Sedangkan, Sekjen DPP PMB, Ahmad Rofiq, menjelaskan partai dengan logo warna merah tersebut berasaskan Islam. ''Islam yang pro terhadap kemajuan. Dan PMB diharapkan sanggup menjadi sayap politik dari dakwah persyarikatan yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada tahun 1912 itu.'' Rofiq mengatakan PMB menyadari sepenuhnya bahwa perjuangan politik sangat penting, sepenting bentuk dakwah lainnya dalam Islam. ''Melalui partai politik sebuah rekayasa politik dapat dilakukan. Tujuannya jelas untuk mencapai Islam yang sesungguhnya yang berkemajuan, penuh keadilan, dan kesejahteraan,'' katanya.

Seperti diketahui PMB dideklarasikan pada 11 Desember 2006. Tujuannya sebagai upaya menampung aspirasi warga Muhammadiyah yang saat ini semakin tidak didengar oleh partai-partai politik. Menurut para deklaratornya, meski mempunyai basis massa yang signifikan, tapi suara warga Muhammadiyah malah terkesan `dititipkan`, akibatnya aspirasi mereka tidak didengar. ''Kelahiran PMB juga merupakan jawaban atas berbagai keputusan permusyawaratan di tingkat internal keluarga besar Muhammadiyah,'' kata Imam. ind/ant

Sumber : http://www.republika.co.id/Online_detail .asp?id=297989&kat_id=43
Senin, 09 Juni 2008

Mu'allimin Diminta Fokus pada Pengkaderan Muhammadiyah

JAKARTA -- Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, meminta agar lembaga pendidikan Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta tetap menfokuskan diri sebagai ajang pengkaderan. Untuk itu, ke depannya sekolah yang didirikan pada 1927 itu harus terus meningkatkan mutu pengajarannya. ''Kami ingin Mu'allimin menjadi sekolah bertaraf internasional. Selain menguasai ilmu agama dan pengetahuan umum, para siswanya harus menguasai bahasa asing. Mutu harus terus ditingkatkan agar nanti tetap mampu memunculkan kader mumpuni,'' kata Din Syamsuddin, dalam acara peresmian renovasi Gedung Madrasah Mu'allimin di Yogyakarta, Sabtu (7/6). Menurut Din, peran Mu'allimin sangat sentral dalam perjalanan dakwah Muhammadiyah. ''Melalui sekolah ini, kami harapkan agar kepeloporan Muhammadiyah sebagai agen pencerahan umat Islam terus dilanjutkan. Kita tanamkan kepada anak muda bangsa dengan karakter gerakan umat yang berada di tengah. Tidak terjebak tarikan ke kiri atau ke kanan,'' tegas Din. Madrasah Mu'allimin dibangun pada tahun 1927. Namun, gedung yang berada di Jl S Parman Yogyakarta itu baru digunakan pada tahun 1929.

11

Di gedung inilah pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, mengawali kiprahnya dalam pendidikan dengan menjadi salah satu gurunya. Sebagai lembaga pendidikan kiprah alumni Mu'allimin telah teruji, salah satu tokoh penting yang berasal dari madrasah itu adalah Prof DR Syafii Ma'arif. Renovasi gedung itu sebenarnya sudah dilakukan beberapa kali. Pada tahun 1948, gedung ini pernah dibumihanguskan oleh tentara kolonial ketika Belanda menyerbu Yogyakarta. Hal ini karena gedung Mu'allimin saat itu dipakai sebagai Gedung Departemen Keuangan RI. Setelah hancur, gedung itu dibangun kembali pada tahun 1950-an. Ketua Pantia Pembangunan Gedung Mu'allimin, Dasron Hamid, mengatakan renovasi kali ini dilakukan sebagai akibat rusaknya gedung akibat gempa yang melanda Yogyakarta pada 27 Mei 2006. ''Jadi, renovasi ini adalah pembangunan gedung yang ketiga. Sedangkan, dana yang digunakan semuanya berasal dari sumbangan para donatur dalam negeri. Jumlah dananya mencapai Rp 6,52 miliar.'' Sementara itu, tokoh alumni Madrasah Mu'allimin, Syafii Maarif, mengatakan dukungan dana dari para donatur untuk membangun kembali sekolah tersebut memang luar biasa. Bahkan, diperkirakan hingga babak paripurna, dana pembangunan gedung akan mencapai lebih dari Rp 7 miliar. ''Semua sumber dana berasal dari domestik. Bahkan, yang banyak dari para dermawan yang tak mau disebut namanya atau 'hamba Allah','' kata Syafii. Sedangkan, Tokoh PDIP, Taufiq Kiemas, yang turut hadir dalam acara itu berharap Madrasah Mu'allimin tetap mampu menghadirkan kader penerus bangsa yang terbaik. ''Kami ingin alumni sekolah ini menjadi kader bangsa yang mumpuni. Apalagi, sekolah ini sudah berkiprah sangat lama dan telah pula membuktikan mutunya,'' tegas Taufiq Kiemas. uba

Dr Tarmizi Taher Ketua Dewan Direktur Center for Moderate Muslim (CMM) Kerukunan umat beragama bukan wacana baru bagi bangsa Indonesia. Konflik dan kecurigaan antar umat beragama di awal tahun 70-an memang memiliki daya dorong yang cukup signifikan untuk mengusung dan membumikan kerukunan beragama. Betapa tidak, agama yang sejatinya dipraktekkan untuk kemaslahatan manusia, bisa menjadi pemicu peperangan antar sesama. Maka mengulang-ngulang wacana kerukunan adalah setara dengan keinginan untuk memaksimalkan kenyamanan dan kesejahteraan hidup manusia. Muhammadiyah sebagai salah satu kekuatan sosial-politik bangsa Indonesia, tidak bisa diabaikan perannya dalam upaya membangun kerukunan beragama. Visi toleran dan pluralis ini tidak didapat dalam waktu sekejap. Perjalanan panjang Muhammadiyah sejak tahun 1912 menjadi "ruang pergumulan" yang cukup berarti dalam mendewasakan Muhammadiyah. Bidang pendidikan yang menjadi perhatian utama Muhammadiyah menjadi instrumen yang tepat dalam melakukan transformasi sosial. Dalam kaitannya dengan hal ini Muhammadiyah "berhutang pada pemikiran KH Ahmad Dahlan, tokoh pendiri sekaligus peletak dasar gagasan-gagasan pluralisme dan kerukunan beragama. Kerukunan beragama tidak diartikan merukunkan ajaran agama, karena masing agama memang memiliki klaim-klaim kebenaran yang berada pada wilayah sensitif. Dan hal itu wajar, karena pemeluk agama memerlukan keyakinan tersebut. Maka kerukunan antar umat beragama harus diartikan kerukunan antar pemeluk agama, yang rukun bukan agamanya, tetapi umatnya, yang sama-sama satu bangsa. Menurut tesis Dr Alfian dalam Muhammadiyah: the Political Behaviour of Muslim Modernist Organization Under Dutch Colonialism (1989) ada tiga fungsi Muhammadiyah: pertama, sebagai gerakan reformasi agama. Kedua, sebagai agen transformasi sosial. Dan ketiga, sebagai kekuatan politik. Gerakan reformasi agama muhammadiyah sangat dipengaruhi oleh pan Islamisme Timur Tengah.

Sumber : http://www.republika.co.id/koran_detail. asp?id=336945&kat_id=61
Jumat, 03 Juni 2005

Memetik Nilai-nilai Pluralisme dari KH Ahmad Dahlan

12

KH A Dahlan "membaca" situasi umat Islam Indonesia yang tidak jauh berbeda dengan di Timur Tengah pada umumnya. Penjajahan bangsa Eropa terhadap umat Islam menjadi titik keprihatinan KH A Dahlan. Menurutnya, keberagamaan yang dipenuhi mitologi telah melemahkan aqidah dan semangat juang umat Islam. Karena itu reformasi agama adalah kunci utama menuju transformasi sosial dan memperjuangkan kemerdekaan. Menariknya, sunguhpun titik berangkat keprihatinannya adalah penjajahan bangsa barat atas umat Islam, namun KH A Dahlan tidak menutup diri untuk mengadopsi sistem pendidikan Barat. Ini menunjukkan bahwa beliau memiliki sikap arif dan jernih dalam melihat dan memilah persoalan. Barat harus dimusuhi sebagai penjajah, namun harus dikawani sebagai peradaban. Agama Kristen yang dibawa para misionaris Barat harus dimusuhi sejauh ketika agama tersebut dipakai sebagai kedok imperialisme. Namun sebagai sebuah agama, KH A Dahlan sangat menghormati para pemeluk agama Kristen. Hal ini ditunjukkan dengan pergaulannya yang amat luas, tidak sebatas sesama umat Islam. Sejarah mencatat bahwa beliau sangat akrab dengan para pastur dan pendeta. Pergaulannya melintasi keimanan dan agama. Beliau menjadikan kemerdekaan dan kebebasan sebagai common platform (kalimatun sawa) dalam perjuangan. Dari situlah, sungguhpun Muhammadiyah bukan organisasi politik, namun ia memiliki peran dan pengaruh politik yang amat disegani oleh pemerintah Belanda. Sejak awal sudah terlihat bahwa Muhammadiyah memiliki potensi menjadi kekuatan yang membahayakan negara-negara imperialis. Situasi sosial-politik yang penuh dengan penindasan dan ketidak-adilan itu, ditambah dengan adanya problem internal umat Islam dan bangsa Indonesia secara umum berupa kebodohan dan konservatisme dalam beragama, menjadi altar yang melandasi kiprah KH Ahmad Dahlan. Namun, sungguhpun kondisi politik bangsa yang menjadi keprihatinannya, KH Ahmad Dahlan menggunakan pendekatan kultural dalam mengartikulasikannya. Ini menandakan bahwa beliau tidak berorientasi kekuasaan, melainkan kemanusiaan dan peradaban. Dari KH Ahmad Dahlan kita juga dapat menarik pelajaran bahwa bahwa

peran tokoh agama sangat signifikan dalam mengarahkan keberagamaan umat. Tokoh agama dituntut untuk memerankan fungsi agama sebagai kemaslahatan manusia. Sejatinya mereka mengembangkan interpretasi (tafsir) yang memiliki semangat perdamaian dan kerukunan antarumat beragama. Pengembangan interpretasi semacam ini, diyakini mampu mencerahkan keberagamaan umat. Sehingga ajaran ketuhanan menjadi fungsional, bahkan mampu menciptakan kedamaian, keadilan, toleransi, dan nilai-nilai kemanusiaan lainnya dalam kehidupan bemasyarakat dan berbangsa. Dalam konteks penciptaan kerukunan antarumat beragama dalam bingkai pluralisme harus ada penafsiran ulang terhadap ayat-ayat yang secara tekstual melegitimasi permusuhan. Misalnya QS AtTaubah (9):29 menyebut: "Perangilah orangorang yang tidak beriman kepada Allah". Ayat tersebut jika dipahami secara teksual berdampak buruk terhadap masa depan kerukunan antarumat beragama. Sebenarnya makna ayat ini tidak berlaku universal, melainkan terikat dengan ruang dan waktu. Kondisi masayarakat Arab dimana ayat itu diturunkan, berada dalam suasana yang terpolarisasi dalam (1) kutub kaum beriman, yakni orang-orang yang secara teologis beragama Islam dan secara ideologis anti perbudakan serta anti monopoli kekayaan. (2) kutub kaum tidak beriman yang secara teologis tidak beragama Islam dan secara ideologis pro perbudakan dan monopoli kekayaan. Kondisi saat itu tidak memungkinkan tercipta kerukunan, sebab garis perjuangan masingmasing berbeda, bahkan saling berhadapan. Dengan kata lain, ayat ini turun dalam kondisi peperangan. Maka dalam konteks kekinian dan kedisinian, dimana kaum beriman dan kaum tidak beriman (nonMuslim) tidak berada dalam posisi yang saling berhadapan, ayat itu harus disandingkan dan didialogkan dengan ayatayat lain yang menganjurkan toleransi, kasih-sayang dan tolong-menolong antar sesama. Dalam sejarah peradaban manusia agama telah menjadi komoditi konflik. Di satu sisi agama mengajarkan umat manusia untuk saling mengasihi satu sama lain. Agama

13

telah banyak berjasa menjadikan manusia mengerti arti dan tujuan hidupnya. Namun di sisi lain, agama juga digunakan sebagai alat untuk membasmi komunitas manusia lain, dengan mengatasnamakan iman. Nilai-nilai suci agama menjadi kabur seiring dengan tumpah ruahnya perilaku destruktif manusia yang menggunakannya sebagai sumber legitimasi. Kerukunan antar umat beragama kiranya akan menjadi agenda nasional yang tak kunjung usai. Ini bisa dipahami karena masa depan bangsa kita sedikit banyak bergantung pada sejauhmana keharmonisan hubungan antar umat beragama ini. Kegagalan dalam merealisasikan agenda ini akan mengantarkan bangsa pada trauma terpecah belahnya kita sebagai bangsa. Maka sangat wajar jika tuntutan kepada para tokoh agama semakin besar dalam mensosialisasikan kerukunan umat beragama. Maka seyogyanya dakwah agama (Islam dan non-Islam) dilakukan dengan menghilangkan nuansa kebencian. Ayat-ayat Tuhan dan risalah kenabian harus didakwahkan sesuai dengan fungsinya, yakni untuk menasihati dan meluruskan yang kurang dan tidak lurus, bukan untuk memaki yang salah atau melegitiamsi kebencian terhadap umat agama lain. Dakwah juga harus disampaikan dengan tutur kata yang santun, tidak menyinggung perasaan atau menyindir keyakinan umat lain, Apalagi mencaci-makinya. Kekasaran ucapan dalam aktifitas dakwah bukan saja akan merusak keharmonisan hubungan antarumat beragama, tetapi juga tidak diperkenankan dalam Islam. Firman Allah dalam Alquran surat Ali Imran ayat 159: "Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan lari dari lingkungan kamu. Karena itu maafkanlah mereka, dan mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan". Tokoh agama diharapkan mampu mengembangkan dakwah yang simpatik, tidak boleh dengan jalan menjelek-jelekkan agama atau bahkan dengan menghina Tuhan yang menjadi keyakinan umat agama lain. Dengan cara seperti inilah para tokoh agama dapat memainkan perannya secara maksimal dalam mereduksi konflik dan mengembangkan keberagamaan yang saling menghargai. Kerukunan beragama memang bukan sesuatu yang mudah untuk diwujudkan. Di Barat sendiri, yang saat ini

sering mempromosikan kerukunan, ternyata di masa lalu (periode pertengahan sampai dengan munculnya Renaisance), mereka adalah masyarakat yang gemar bertengkar (Bernard Lewis, 1999). Bahkan pemerintah pada masa itu bersikap monolitik, menolak perbedaan pendapat dan memusuhi agama lain. Ini menandakan bahwa Barat membutuhkan proses pergumulan yang tarik menarik selama ratusan tahun untuk menjadi bangsa yang rukun dan menghargai perbedaan. Bangsa Indonesiapun harus senantiasa belajar mengembangkan perbedaan menjadi sesuatu yang positif dan konstruktif. Kerukunan umat beragama tidak bisa ditampik lagi, kita membutuhkan kerukunan beragama kini dan esok.

Sumber : http://www.republika.co.id/suplemen/cet ak_detail.asp?mid=5&id=200049&kat_i d=105&kat_id1=147&kat_id2=291
Jumat, 05 September 2003

Berdayakan

Rakyat

Kecil

PKPU dan Muhammadiyah Peduli Kekeringan Musibah demi musibah menimpa bangsa Indonesia. Setelah tahun lalu diguyur banjir besar, kini Indonesia dilanda kekeringan panjang. Ratusan ribu hektar lahan pertanian puso dan kering tanpa bisa ditanami. Miliaran kerugian dialami kaum petani. Dampaknya, terjadi krisis air bersih di banyak daerah. Menangkap keprihatinan inilah, Pos Keadilan Peduli Ummat (PKPU) cabang Yogyakarta meluncurkan program "Peduli Kekeringan 2003". Aksi sosial itu terlaksana atas kerja sama dengan LAZIS Perkasa, DSUQ, dan Kalbe Farma, dalam bentuk penyaluran air bersih di dua kabupaten, Gunung Kidul, Yogyakarta dan Pracimantoro, Wonogiri, Jawa Tengah. Menurut staf humas PKPU, Yahya, program "Peduli Kekeringan 2003" telah dilakukan sejak Juli lalu dan masih berlangsung hingga bulan ini. "Ini sebagai bentuk kepedulian kami atas musibah yang menimpa Indonesia. Kekeringan berkepanjangan amat berdampak pada rakyat kecil, dan karena itu harus dibantu," ujarnya. Yahya menjelaskan, program "Peduli Kekeringan" bukan hal baru. Tahun lalu,

14

katanya, PKPU juga telah meluncurkan aksi sosial sejenis di beberapa daerah kekeringan. Untuk tahun ini, telah disalurkan air bersih sumbangan para Donatur PKPU sebanyak 12 tangki yang dikirim ke Dusun Duwet, Dusun Winangun dan Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Gunung Kidul. Sementara jumlah penduduk yang mendiami 3 desa tersebut berjumlah 245 KK. Aksi serupa juga dilaksanakan pada 8/8 lalu. Atas kerja sama PKPU dengan Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah Perkasa PT Sari Husada Yogyakarta menyerahkan bantuan sosial air bersih. Kali ini ada 6 dusun yang mendapatkan bantuan air bersih. Di antaranya, Dusun Duwer, Dusun Pringsanggar, Dusun Cepogo, Dusun Ngandung, Dusun Ngande-ande, serta Desa Purwodadi. Yahya menguraikan, selain air bersih, PKPU bersama LAZIS Perkasa juga menyerahkan sebanyak 14 tangki air bersih, 600 bungkus mie instan, 60 kg minyak goreng, 60 kg gula pasir, 60 bungkus bubuk dan 60 bungkus kue wafer. Secara keseluruhan ada 751 KK yang menerima bantuan tersebut. Kemudian pada Rabu (20/8), PKPU bekerja sama dengan Dompet Sosial Ummul Qurro (DSUQ) dan PT Kalbe Farma kembali mendistribusikan bantuan air bersih ke Dusun Karanggede, Dusun Dempol, Dusun Bendo, Desa Jerukwudel, Kecamatan Giri Subo, Gunung Kidul. Kali ini bantuan yang diberikan berupa 20 tangki air bersih dan 206 kaleng kornet yang dibagikan kepada 206 KK. Mengantisipasi terus berlanjutnya musim kemarau kali ini, pihak PKPU menyerukan kepada seluruh dermawan menyisihkan sedikit rezeki yang dimilikinya untuk menyambung rasa kepedulian dengan berbagi rasa kepada mereka yang membutuhkan di tengah krisis yang tak kunjung usai. "Pintu kami terbuka lebar bagi semua pihak untuk ikut berpartisipasi menyalurkan sebagian rezekinya buat mereka yang tertimpa musibah kekeringan ini," tambah Yahya. Sementara itu, ormas Muhammadiyah punya cara sendiri dalam memberdayakan rakyat kecil. Pekan lalu, Muhammadiyah Cabang Plered Purwakarta dan Muhammadiyah Cabang Rawamangun, Jakarta, menyerahkan bantuan peminjaman modal tanpa bunga kepada pedagang kaki lima dan pedagang kecil lainnya.

"Mudah-mudahan dengan bantuan uang Rp 500 ribu bisa untuk tambahan modal usaha" ujar Ibu Siti Warsiyem, yang tiap pagi berjualan nasi uduk di lingkungan TK 'Aisyiyah Rawamangun. Demikian juga dengan ibu Martinah, penjual mie rebus, yang telah ditekuninya selama 22 tahun. "Ya bisa untuk nambah modal mas" ujarnya dengan penuh bangga. Menurut ketua BM PCM Plered, Anshor SPd.I, awalnya masyarakat ada yang takut mengajukan bantuan karena dikira disuruh masuk Muhammadiyah. Sebab Muhammadiyah masih dianggap sebagai agama baru, katanya. Anggapan demikian tak ditampik Azhar SH, ketua PDM Purwakarta. "Muhammadiyah di Purwakarta memang masih tergolong baru, jadi wajar bila masih terasa asing," ujarnya. Seperti tak mau tertinggal, Lazismuh PP Muhammadiyah juga menyerahkan bantuan serupa kepada Syamsudin (50). Ia mewakili 30 orang peserta program Pengembangan Ekonomi Dhuafa (PED). Kekhawatiran tidak akan mendapatkan dana bergulir dari Baitul Maal PCM Plered, pupus sudah. "Mudahmudahan usaha saya lebih maju," komentar singkat Syamsuddin usai menerima bantuan. Siapa lagi membantu pengembangan ekonomi dhuafa? n her Lembaga Keuangan Syariah Wakaf Tunai, Mengapa Kelola Tidak!

Kecenderungan masyarakat menunaikan wakaf secara tunai patut disyukuri. Itu menunjukkan mereka tak lagi memandang wakaf hanya sebatas barang tak bergerak seperti tanah dan bangunan. Meski begitu, pelaksanaan wakaf bentuk baru ini harus tertib. Maksudnya, dana wakaf tunai ini harus dikelola dengan baik, aman, dan akhirnya benar-benar terasakan manfaatnya secara optimal. Menurut Didin Hafidhuddin, Ketua Dewan Syariah Dompet Dhuafa (DD) Republika, untuk mewujudkan hal seperti di atas mestinya ada kerja sama dengan lembaga keuangan. Misalnya bank-bank syariah yang kini telah banyak bertebaran. Individu atau kelompok masyarakat dapat menyerahkan dana wakafnya ke sebuah lembaga keuangan syariah dengan maksud dana tersebut diserahkan ke daerah

15

tertentu. Maka dana dari masyarakat akan aman tersimpan di dalam bank. Demikian pula, jika penerima wakaf belum menggunakan seluruh dana yang telah menjadi haknya, dapat tetap menyimpannya di bank tersebut. ''Tentu keamanan juga tetap terjamin. Masyarakat pun tak akan merasa was-was,'' kata Didin kepada Republika di Jakarta, Rabu (3/9). Alternatif lain, bisa saja kelompok masyarakat menyerahkan wakaf tunai ke bank. Dan nazir (pengelola wakaf) seperti DD atau PKPU yang nantinya berhubungan dengan bank tersebut. Dengan pola demikian, tambah Didin, maka akan terjadi sinergi antara bank, wakif (pewakaf), maupun nazir yang saling menguntungkan. ''Saya yakin baik lembaga keuangan syariah maupun nazir akan siap melakukannya. Apalagi kerja sama tersebut akan memberikan kenyamanan bagi masyarakat dalam membelanjakan hartanya untuk kepentingan saudaranya yang papa,'' tandasnya. Bisa jadi lembaga keuangan akan menawarkan produk baru untuk memenuhi hasrat masyarakat berwakaf secara tunai, apapun bentuknya. Apakah berupa sertifikat wakaf tunai seperti yang dilaksanakan di Bangladesh melalui Social Investment Bank Limited (SIBL) atau bentuk lainnya. Didin menyatakan bahwa sertifikat wakaf tunai yang diperkenalkan melalui SIBL oleh Prof Dr MA Mannan, terbukti telah memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat di sana. Pada akhirnya menjadi bentuk tabungan sosial untuk kepentingan sosial pula. Alternatif lain, nazirlah yang memberikan tawaran produk kepada masyarakat. Sebut saja, DD Republika yang mungkin bisa menawarkan wakaf tunai dalam paket Rp 15 juta untuk memasok dana bagi layanan kesehatan cuma-cuma. Selain itu, sekolah gratis misalnya, memungkinkan pula menjadi paket yang dananya dapat digali dari masyarakat melalui wakaf tunai. Apalagi jika melihat biaya sekolah yang akhir-akhir ini semakin tinggi. Tentu akan menjadi alternatif bagi mereka yang tak mampu untuk menyekolahkan anak-anaknya di sekolah gratis tersebut. Didin berharap fleksibelitas wakaf tunai ini --

berlipat. Pahala yang Allah berikan juga akan terus mengalir yang tiada henti,'' tambah Didin. Karena itu, ia yakin RUU Wakaf yang tengah digulirkan akan memberikan iklim kondusif bagi pelaksanaan wakaf nantinya. Dengan demikian masyarakat akan terlindungi secara hukum. Mereka pun akan lebih yakin akan keamanan dana wakaf yang terkumpul. Pada akhirnya kesejahteraan umat kian meningkat.

Sumber : http://www.republika.co.id/suplemen/cet ak_detail.asp?mid=5&id=138689&kat_i d=105&kat_id1=147&kat_id2=300
Jumat, 15 April 2005

Nyai Ahmad Dahlan

Melawan Arus, Berdayakan Perempuan
Nyai Ahmad Dahlan adalah puteri Kyai Haji Muhammad Fadli, Penghulu Keraton Nyayogyokarto Hadiningrat (nama Yogyakarta waktu itu). Nama kecilnya adalah Siti Walidah. Ia dilahirkan pada tahun 1872 di Kampung Kauman, Yogyakarta. Sebagai anak seorang ulama yang disegani oleh masyarakat, lebih-lebih menjabat Penghulu Kraton Dalem Ngayogyakarta Hadiningrat, ia menjadi puteri 'pingitan'. Pergaulannya sangat terbatas dan ia tidak belajar di sekolah formal. Mengaji Alquran dan ilmu agama dipandang cukup pada masa itu. Hampir tiap hari, sebagaimana umumnya penduduk Kampung Kauman, Siti Walidah belajar Alquran dan kitab-kitab agama berbahasa Arab Jawa (pegon). Ia adalah sosok yang sangat giat menuntut ilmu, terutama ilmu-ilmu keislaman. Dahaga ilmu agama seolah terpuaskan setelah ia menikah dengan KH Ahmad Dahlan, sepupunya. Ia mengikuti segala hal yang diajarkan oleh suaminya. Bahkan, ia kemudian mengikuti jejak KH A Dahlan menggerakkan Muhammadiyah, yang menambah ilmu, pengalaman, dan amal baktinya. Meskipun Nyai Dahlan hanya memperoleh pendidikan dari lingkungan keluarga, namun ia mempunyai pandangan yang luas. Hal itu diperoleh karena pergaulannya dengan para

16

tokoh, baik tokoh-tokoh Muhammadiyah maupun tokoh pemimpin bangsa lainnya, yang kebanyakan adalah teman seperjuangan suaminya. Mereka antara lain adalah Jenderal Sudirman, Bung Tomo, Bung Karno, Kyai Haji Mas Mansyur, dan lainnya. Dia tidak merasa rendah diri terhadap mereka, bahkan pada berbagai kesempatan, ia selalu menyampaikan nasihat-nasihat yang sangat bernilai. Keterlibatannya dengan Muhammadiyah dimulai saat ia turut merintis kelompok pengajian wanita Sopo Tresno, yang artinya 'siapa cinta' tahun 1914. Kelompok ini belum merupakan organisasi tetapi hanya suatu gerakan kelompok pengajian saja, karena belum mempunyai anggaran dasar dan peraturan lain. Kegiatan Sopo Tresno berupa pengkajian agama yang disampaikan secara bergantian oleh Kyai Dahlan dan Nyai Dahlan. Dalam pengajian itu, diterangkan ayat-ayat Alquran dan hadis yang mengupas tentang hak dan kewajiban perempuan. Dengan kegiatan seperti diatas diharapkan akan timbul suatu kesadaran bagi kaum wanita tentang kewajibannya sebagai manusia, isteri, hamba Allah, serta sebagai warga negara. Dalam suatu pertemuan di rumah Nyai A Dahlan, yang dihadiri oleh Kyai Muhtar, Kyai Ahmad Dahlan, Ki Bagus Hadikusuma, KH Fakhruddin, dan pengurus Muhammadiyah lainnya, timbul pemikiran untuk mengubah Sopo Tresno menjadi sebuah organisasi wanita Islam yang mapan. Semula "Fatimah" diusulkan sebagai nama organisasi itu, tetapi tidak disepakati seluruh tokoh yang hadir. Kemudian oleh almarhum Haji Fakhrudin dicetuskan nama "Aisyiyah". Semua sepakat. Maka pada tanggal 22 April 1917 organisasi itu diresmikan. Upacara peresmian bertepatan waktunya dengan peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW yang diadakan oleh Muhammadiyah untuk pertama kalinya secara meriah dan besar. Siti Bariyah tampil sebagai ketuanya. Dan pada tahun 1922, Aisyiyah resmi menjadi bagian dari Muhammadiyah. Penuh tantangan Tak gampang membesarkan organisasi wanita pada zaman itu. Nyai Dahlan dan pengurus Aisyiyah berjuang membuang kepercayaan kolot yang menyebut sepak

terjangnya sebagai 'melanggar kesusilaan wanita'. Di sisi lain, ia menanamkan ide baru bahwa wanita bisa berdaya dan sepadan perannya dengan laki-laki. Nyai Dahlan memilih 'mengajari' masyarakat dengan karya nyata. Ia membuka asrama dan sekolah-sekolah puteri dan mengadakan kursus-kursus pelajaran Islam dan pemberantasan buta huruf bagi kaum perempuan. Selain itu, ia juga mendirikan rumah-rumah miskin dan anak yatim perempuan serta menerbitkan majalah bagi kaum wanita. Ia bersama-sama dengan pengurus Aisyiyah, sering mengadakan perjalanan ke luar daerah sampai ke pelosok desa untuk menyebarluaskan ide-idenya. Ia pun kerap mendatangi cabang-cabang Aisyiyah seperti Boyolali, Purwokerto, Pasuruan, Malang, Kepanjen, Ponorogo, Madiun, dan sebagainya. Karenanya, meski tidak duduk dalam pengurus Aisyiyah, organisasi itu menganggap Nyai A Dahlan adalah Ibu Aisiyah dan juga Ibu Muhammadiyah. Tahun 1926 saat Konggres Muhammadiyah ke-15 di Surabaya, Nyai Dahlan membuat catatan sejarah. Dialah wanita pertama yang tampil memimpin kongres itu. Saat itu, dalam sidang 'Aisyiyah yang dipandunya, duduk puluhan pria di samping mimbar. Mereka adalah wakil pemerintah, perwakilan organisasi yang belum mempunyai bagian kewanitaan, dan wartawan. Seluruh pembicara dalam sidang itu adalah kaum perempuan, hal yang tidak 'lumrah' pada masa itu. Koran Pewarta Surabaya dan Sin Tit Po menulis besar-besar di halaman depan mengenai tampilnya wanita memimpin kongres anak organisasi Muhammadiyah tersebut. Media menuliskan, Munculnya para istri turut serta dan memimpin Bagian 'Aisyiyah, perkumpulan yang mulai tampak dan merata di seluruh Indonesia, bukan hanya di Jawa saja. Nyai Ahmad Dahlan berpulang ke Rahmatullah, pada tanggal 31 Mei 1946. Tidak hanya kaum Muhammadiyyah dan Aisyiyah saja yang berkabung, tapi hampir seluruh kaum Muslimin di Indonesia. Dia dimakamkan di pemakaman di belakang Masjid Besar Kauman Jogyakarta. Menteri Sekretaris Negara, Mr AG Pringgodigdo, mewakili pemerintah memberikan penghormatan terakhir.

17

Atas jasa-jasanya, pada Hari Pahlawan 10 Nopember 1971 di Istana Presiden Negara Jakarta, presiden menyerahkan secara resmi SK pengukuhannya sebagai Pahlawan Nasional. Penghargaan itu diterima salah seorang cucunya, Ny M Wardan, isteri KHM Wardan, salah seorang ketua PP Muhammadiyah pada waktu itu.

Sumber : http://www.republika.co.id/suplemen/cet ak_detail.asp?mid=5&id=194441&kat_i d=105&kat_id1=147&kat_id2=185
Senin, 19 Mei 2008

Kepada kader dan simpatisan Muhammadiyah yang memadati MAJT, Din mengingatkan, warga Muhammadiyah memiliki lima etos, kepribadian, dan jiwa yang senantiasa melekat. Kelima etos itu adalah keimanan yang melandasi dalam segala tindakan, bukan hanya berdasarkan pikiran. Kepribadian inilah yang akan menuntun setiap tindakan pada dua etos berikutnya, yakni kebaikan dan keikhlasan. Etos keempat yaitu kemajuan, yang selama ini telah dibuktikan dengan adanya ribuan amal usaha di berbagai pelosok Tanah Air. ''Muhammadiyah mengusung Islam yang berkemajuan, gerakan untuk memajukan masyarakat,'' katanya. Etos kelima yakni kekeluargaan, yang menjadikan setiap warga organisasi yang didirikan Ahmad Dahlan di Yogyakarta satu abad lalu itu mampu menjaga kebersamaan, meskipun mereka berasal dari latar belakang yang sangat beragam. Hadir dalam tablig akbar itu antara lain Gubernur Jateng Ali Mufiz dan Wali Kota Semarang Sukawi Sutarip. Sementara, Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, Tafsir, mengatakan, pengajian yang dihadiri Din Syamsuddin ini adalah pengajian ranting Muhammadiyah se-Jawa Tengah. Ini dimaksudkan untuk mengetahui kekuatan riil dan membangun basis di tingkat bawah dalam rangka menyongsong satu abad Muhammadiyah. ''Selama ini, yang kuat masih di tingkat atas, sedangkan yang di bawah masih lemah,'' katanya. Menurutnya, akan muncul sejumlah implikasi kuat dari pertemuan Din Syamsuddin dengan warga Muhammadiyah se-Jawa Tengah, di antaranya pada sektor ekonomi. ''Dalam kaitannya dengan kebangkitan nasional, kita menganjurkan agar peserta pengajian menggunakan pakaian batik sebagai simbol kita cinta produk Indonesia,'' katanya.

Muhammadiyah Tolak Kekerasan Agama
SEMARANG -- Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin menyatakan, sejak tahun 1953 Muhammadiyah sudah menegaskan bahwa orang atau kelompok yang mengakui ada nabi setelah Muhammad SAW adalah kafir. Din menegaskan hal itu ketika menyampaikan sikap Muhammadiyah terhadap Ahmadiyah, yang mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi atau rasul. Menurut Guru Besar IAIN Syarif Hidayatullah Ciputat Jakarta itu, sikap ini sampai kini masih dipegang Muhammadiyah. Pengakuan ada nabi atau rasul setelah Nabi Muhammad, katanya, di luar akidah Islamiyah. Meskipun demikian, menghadapi masalah Ahmadiyah ini Muhammadiyah secara tegas menolak segala tindakan kekerasan yang mengatasnamakan agama. ''Muhammadiyah sebagai organisasi dakwah mengajak masyarakat ke jalan yang benar dengan pendekatan dakwah pula,'' katanya di depan belasan ribu kader dan simpatisan Muhammadiyah se-Jawa Tengah, di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang, Ahad (18/5). Din mengingatkan, menjadi kewajiban warga Muhammadiyah ikut membina dan melakukan dakwah untuk mengajak mereka ke jalan yang benar. ''Kita bersama organisasi yang lain tidak ikut-ikutan mendesak agar organisasi (Ahmadiyah, red.) dibubarkan. Soal eksistensi organisasi, itu urusan pemerintah,'' katanya.

Sumber : http://www.republika.co.id/suplemen/cet ak_detail.asp?mid=7&id=334420&kat_i d=6.

18

19

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->