Ibnu Jarir al-Thabari; Pemburu Ilmu Hingga Ujung Dunia

Tauladan Kamis, 21/05/2009 Nama lengkapnya Muhammad ibn Jarir ibn Yazid ibn Katsir ibn Ghalib, Abu Ja¶far al-Thabari. Al-Thabari adalah tempat tinggal beliau sebelum pindah ke Amuli. Referensi lain menyebutkan, nama beliau adalah Muhammad ibn Jarir ibn Yazid ibn Khalid berasal dari Amuli, salah satu wilayah Tibristan. Konon, asal mula penamaan Tibris (kapak) adalah ketika negeri itu ditaklukkan orang Islam Arab, mereka banyak menemukan pohon-pohon tumbuh subur di negeri itu. Sehingga untuk membuka lahan, mereka membutuhkan kapak. Menurut al-Sam¶ani, sebagaimana dituturkan Qadli Abi Bakr al-Anshari, kronologi penamaan itu karena orang-orang di sana ketika berperang selalu memakai kapak. Masa Hidup al-Thabari Al-Thabari hidup pada masa-masa terbaik, banyak tokoh berkualitas, penuh kemajuan dan semangat di segala bidang kehidupan. Meski dikenal sebagai pakar tafsir, sebenarnya beliau juga mengusai keilmuan lainnya. Tidak diketahui kapan beliau lahir, yang jelas pada akhir 224 H. atau awal 225 H. Al-Qadli Ibnu Kamil (murid al-Thabari) pernah bertanya tanggal kelahirannya. Al-Thabari menjawab, pada umumnya orang Tibris menggunakan fenomena tertentu untuk menandai suatu peristiwa, bukan dengan penanggalan. Sehingga ketika al-Thabari menanyakan kelahirannya, sebagian menjawab akhir 224 H. dan ada yang menjawab awal 225 H. Fenomena pergantian tahun dijadikan penanda atas kelahiran beliau oleh orang-orang di sekitarnya. Al-Thabari adalah tipikal orang yang tekun menuntut ilmu sejak kecil. Beliau hafal al-Quran pada umur 7 tahun. Perlu diketahui, dalam tradisi belajar umat Islam (baik Barat maupun Timur), membaca dan menghafal al-Quran adalah materi pertama yang wajib diberikan. Sehingga tak heran bila dalam sejarah muncul hafidz-hafidz cilik yang kelak menjadi ulama panutan umat, seperti al-Thabari, al-Syafi¶i, Malik ibn Anas, Nu¶man ibn Tsabit dan lainnya. Selain hafal alQuran, al-Thabari juga pandai fikih. Terbukti, saat berumur 8 tahun, beliau berani menjadi imam shalat. Al-Thabari menekuni dunia tulis ketika ia belajar hadis. Keahlian menulis yang menghasilkan puluhan karya inilah yang mengabadikan namanya dalam belantika keilmuan Islam. Kesuksesan karir intelektual al-Thabari tak lepas dari peran serta kedua orang tuanya. Suatu ketika ayah al-Thabari bermimpi, putranya berada di hadapan Rasulullah dengan membawa keranjang yang penuh batu. Al-Thabari kecil melempar-lempar batu tersebut. Menurut seorang ahli takwil mimpi, al-Thabari kelak akan menjadi orang yang baik dan pelindung agamanya. Kejadian inilah yang mendorong orang tuanya mengirim al-Thabari belajar ke luar daerah. Firasat ayahnya menjadi kenyataan, nama al-Thabari benar-benar harum dalam dunia intelektualkeagamaan. Dalam hal akidah, beliau sangat menentang kelompok ekstrim Syiah dan Mu¶tazilah. Meski ada sebagian orang salah paham dan berusaha menuduhnya sebagai pengikut

sebelum al-Thabari sampai di tempat Ahmad ibn Hanbal. hukum Islam dan teologi. tafsir dan hadis sangat dominan melebihi kajian fikih atau kalam. Kepopuleran Ahmad ibn Hanbal membuat al-Thabari tertarik untuk berguru kepadanya. di Kufah al-Thabari juga belajar kepada Hannad ibn al-Sari al-Tamimi (243 H. Belum puas ia menjarah ilmu di Bashrah. Dua periode ini (Bashrah dan Kufah) al-Thabari banyak mendalami hadis. Pengembaraan al-Thabari Kesempatan yang diberikan ayahnya untuk belajar dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Imam Muslim ibn Hajjaj pemilik Shahih Muslim dan para pemilik kitab-kitab sunan meriwayatkan dari Ibnu Abd A¶la al-Shan¶ani ini. Kepergian Imam Ahmad bukan berarti tertutupnya gerbang pengetahuan. Al-Thabari juga belajar kepada guru-guru besar lainnya yang tidak bisa disebutkan satu-persatu. Ketika berumur 20 tahun. al-Thabari ingin belajar hadis dan tafsir kepada Imam Ahmad. Meski begitu.).). salah satu kota metropolis di era keemasaan imperium Islam yang dibangun sekitar abad ke-4 M. Imad ibn Musa al-Qazzar (240 H. Bashrah berhasil mencatatkan diri sebagai salah satu kota yang banyak melahirkan pakar gramatika arab. Tak heran ketika dewasa. Al-Thabari juga berguru pada Muhammad ibn Bassyar al-µAbadi (252 H. al-Thabari tidak putus asa dan mengurungkan niatnya untuk belajar di kota ini. Di Bashrah. Dengan segudang harapan. . Di kota ini. Walaupun sebenarnya karyanya tersebut juga memuat dua jenis ilmu terakhir. al-Thabari mengincar Bashrah sebagai lahan mencari ilmu. beberapa kilometer ke arah selatan Iran utara yang berdekatan dengan Tibristan. dan yang tidak sependapat dengan pemerintah harus siap menanggung siksaan terutama masalah apakah al-Quran itu makhluk atau tidak. al-Thabari berguru kepada Muhammad ibn Humaid al-Râzi (248 H.).). Namun sayang. Mazhab dan akidah negara telah dikuasai oleh mereka.Syiah. Selanjutnya. untuk pertama kalinya al-Thabari belajar kepada seorang hafidz hadis.). Al-Thabari juga belajar pada ahli hadis Muhammad ibn Abd A¶la al-Shan¶ani (245 H. Imam Ahmad begitu terkenal karena ketabahannya menahan siksaan (mihnah) penguasa Abbasiyah yang dipengaruhi paham Mu¶tazilah. Bahkan dalam magnum opusnya. Selain Abu Kuraib. Al-Thabari berhasil mengantongi seratus ribu hadis. seorang ahli hadis yang menjadi mata rantai dalam hadis-hadis Imam Ahmad ibn Hanbal. ayah al-Thabari mengirimnya belajar ke kota Rayy. Ia berguru pada Ahmad ibn Hanbal.). al-Thabari belajar kepada Abu Kuraib Muhammad ibn µAla al-Hamdani (247 H. al-Thabari pindah ke Kufah. ia singggah di kota al-Salam. para pemilik kitab-kitab induk hadis banyak meriwayatkan hadis-hadis Nabi. Imam Ahmad adalah salah satu ulama yang secara terang-terangan tidak sependapat dengan pemeritah dalam masalah ini. Al-Thabari berguru pada ulama-ulama lain yang ada di kota tersebut selama beberapa waktu. Di Kufah. Dari ulama kondang ini. Tidak ada rotan akar pun jadi. mujtahid pendiri mazhab Hanbali yang terkenal ketabahannya mempertahankan paham Ahlu Sunah dari serangan rasionalis Mu¶tazilah. Jami¶ al-Bayan µAn Ta¶wil al-Quran atau yang lebih populer dengan Tafsir al-Thabari. beliau telah berpulang ke rahmatullah.

000 lembar. al-Thabari melanjutkan perjalanan ke perguruan tinggi Fusthath.).).000 lembar. Syawal 310 H. Banyak kawan-kawan sejawat yang mengakui kecerdasan. Sa¶d. Versi lain menyebutkan.). Beliau kembali lagi ke Syam dan Mesir. al-Thabari mengunjungi kota ini untuk kedua kalinya tahun 290 H. Kapasitas Keilmuan dan Integritas Moralnya Perjalanan intelektual al-Thabari hampir mengelilingi daratan Islam yang kaya ilmu dan peradaban. membuat al-Thabari menjadi sosok yang tiada tanding di masanya. kota yang menjadi pelabuhan pertama dalam mengarungi samudra ilmu.). al-Thabari dijajal oleh para pakar di sana. Setelah kunjungan keduanya. ia tidak pernah lagi menengok kampung halaman. Di kota ini beliau menetap untuk mengembangkan fikih. al-Thabari belajar kepada Yunus ibn Abd A¶la (264 H. namun menurut al-Dzahabi lebih dari itu-. Di Mesir. dan Ibnu Akhi Wahab. rupanya telah mati semangat kalian. Syawahil. Al-Thabari berkata. Kemudian Al-Thabari meringkasnya menjadi 3. Para murid al-Thabari berkata. daerah kelahirannya.). keluasan ilmu dan tingginya semangat al-Thabari. dan mempelajari ilmu-ilmu al-Quran. dan kecerdasan yang dianugerahkan Allah. Ketika sampai di Mesir pada kali kedua ini. Pada usia 29 tahun (253 H. kira-kira 30.). Inna lillah. Abd alRahman. Abul Qasim ibn Uqail al-Warraq meriwayatkan perkataan al-Thabari kepada muridnya. umur kami akan habis lebih dahulu sebelum pekerjaan ini selesai. namun kemudian meringkasnya menjadi setebal buku sejarahnya. kepenulisan. Keduanya adalah punggawa mazhab Syafi¶i yang baru (baca. Namun. kira-kira sampai berapa halaman? Al-Thabari menjawab. guru-gurunya yang begitu banyak ±yang tercatat mencapai 62 orang. menurut Dr.Berikutnya al-Thabari melanjutkan perjalanan ke kota al-Salam. Al-Subki dalam Thabaqat al-Syafi¶iyyah memasukkan namanya dalam daftar mata rantai keilmuan mazhab Syafi¶i. Bani Abd al-Hakam Muhammad (268 H. Kebanyakan yang beliau pelajari di Mesir adalah seputar fikih (yurisprudens of islamic law).´ Berikutnya al-Thabari pergi ke al-Salam dan diteruskan ke Tibristan. sampai sekarang? Mereka berkata. Sebuah pusat pengetahuan kuno di Mesir yang dibangun Amr ibn Ash. Abdullah ibn Abdil Muhsin al-Turki (editor . mercusuar ilmu pengetahuan dari timur yang menjadi ibu kota imperium Abbasiyah. al-Thabari berguru kepada Hasan ibn Muhammad al-Za¶farani al-Baghdadi (260 H. Tercatat dengan jelas. Pada kali kedua kunjungannya ke Mesir. Sedangkan dari mazhab Malik. Di Baghdad ini al-Thabari berdomisili di distrik Qantharah alBaradan. Mesir. dan Tsughur. jadid). Al-Thabari menetap di Baghdad. beliau wafat pada Sabtu sore dan dikebumikan pada ahad pagi di rumahnya. Al-Thabari mengatakan. ´Tidak seorang pun pakar ilmu di Mesir yang aku temui kecuali ia mengujiku dalam bidang keilmuan yang mereka kuasai. ketika ia berusia 66 tahun. Setelah mengasingkan diri beliau melanjutkan perjalanan ke Syam. apakah kalian masih punya semangat untuk menuliskan sejarah dunia sejak Adam As. sahabat Nabi yang pernah menjadi gubernur di daerah tersebut. al-Thabari sempat belajar mazhab Syafi¶i kepada murid langsung alSyafi¶i yakni al-Rabi¶ ibn Sulaiman al-Azda (256 H. Ketika akan mendiktekan tafsirnya ia juga berkata demikian. dan Ismail ibn Yahya al-Muzanni (264 H. Ia bermukim di kota ini hingga wafat pada Ahad sore.

kelembutanku membuat kawanku mencariku Jika saja aku sia-siakan air mukaku. sehingga ia telah mencapai derajat mujtahid mutlak. Al-Farghani pernah mendengar al-Thabari berkata. ´Ketika aku kesusahan kawanku tak mengerti Aku berusaha merasa kaya. Abdullah mengalasi analisisnya dengan temuannya dalam Tafsir al-Thabari yang banyak menyebutkan pendapat-pendapat fikih. Dalam sebuah puisinya. Al-Syairazi memasukkan al-Thabari dalam jajaran mujtahid. Karena ia pernah dideportasi dari Baghdad dan ketika kembali. . karangan al-Thabari mencapai 43 buah. ia menggembar-gemborkan keagungan Ali dan mengaku telah menganut mazhab Hanbali. Kemudian al-Thabari mengarang kitab untuk membantah pernyataan Abi Bakr dengan judul ³Al-Fadla¶il´. Namun demikian. ketenaran al-Thabari juga dibarengi dengan tuduhan-tuduhan yang tak berdasar. suatu ketika kiriman dari orang tuaku telat. Dari ulama salaf yang mengakui pendapat ini adalah Abu Ishaq al-Syairazi dalam Thabaqat al-Fuqaha. melainkan pula Abu Bakar dan Umar. Abu Bakr ibn Abi Dawud-lah yang lebih pantas dicurigai. Namun dalam penelitian Abdulah Muhsin. Dr. pintar menjaga diri. dan juga dermawan. kemudian al-Thabari menawarkan pendapat dan menguatkannya dengan argumen-argumen. al-Thabari mengungkapkan pergulatan batinnya. perjalanan seorang tokoh tentu tak luput dari cobaan dan ujian. Abu Bakr ibn Abi Dawud dan kelompoknya menuduh beliau sebagai agen Syiah. sangat hati-hati dari perkara haram. niscaya jalan kepada kepopuleran akan mudah Dua sifat yang tidak rela aku melewatinya Sombongnya sifat kaya dan hinanya kemelaratan Ketika kau kaya janganlah kau sombong lagi ceroboh Jika kau melarat maka sombongilah waktu´ Tuduhan sebagai pengikut Syiah Di dunia yang penuh intrik dan tipu muslihat. hingga aku terpaksa merobek kedua lengan bajuku untuk kemudian aku jual. Badr ibn Yusuf alMa¶tuq salah satu peneliti kitab al-Thabari yang berjudul ³Sharih al-Sunnah´ menyebutkan 7 buah karyanya. para ahli justru memandang sebaliknya. al-Thabari telah memiliki pendapat sendiri (mustaqil).Tafsir al-Thabari). zuhud. hingga kawanku menganggap aku kaya Rasa maluku menjaga air mukaku. Al-Thabari memiliki kepribadian yang baik. Demikianlah. Kejadian ini dimulai ketika Abu Bakr ibn Abi Dawud al-Sijistani mengkaji masalah hadis ³Ghadirkham´. Di dalamnya ia tidak hanya menyebutkan keutamaan Ali.

di mana dikemukakan pendapat hukum yang independen dan persoalan-persoalan fiqh yang berbeda dari keempat madzhab yang sudah mapan di kalangan ahl al-sunnah. Selain itu. juga ia tidak menerima riwayat dari perawi seperti Muqatil ibn Bakir dan al-Kalabi. termasuk cerita Isra¶iliyat. Secara spesifik Fu¶ad Sezkin menaruh perhatian terhadap keshahihan sanad-sanad dalam tafsirnya yang dapat digunakan sebagai bukti bahwa kitab-kitab lebih awal yang dijadikan sebagai rujukan oleh Ibnu Jarir ketika menulis tafsirnya. antara lain: . ia juga berbeda pandangan dengan madzhab Hambali. Tafsirnya berisi juga kisah atau riwayat yang tidak shahih. kitab ini merupakan salah satu karya tasir yang paling terkenal dan dijadikan rujukan oleh hampir setiap ulama. al-Thabari dalam tafsirnya memuat ajaran-ajaran salaf dengan rangkaian sanad yang mapan dan tidak ada bid¶ah di dalamnya.JÂMI¶ AL-BAYÂN FÎ TAFSÎR AL-QUR¶ÂN Penulis Kategori Mazhab Terbit : : : : AT-THABARI Tafsir bil Matsur Syafiiyah 1992 M Jilid Terbit : 12 Jilid : Dar al-Kutub al-µIlmiyah (Beirut) Kitab ini dikenal dengan sebutan Tafsir at-Thabary. dan sekaligus membantah pendapat para orientalis yang menyatakan bahwa Tafsir Ibnu Jarir semata-mata bersumber dari cerita-cerita lisan. dan tabi¶in. Kitab ini telah dicetak dua kali di Mesir dan sampai saat ini belum ada terjemahan dalam bahasa Inggris. para sahabat. Tafsir Muhammad bin Jarir al-Thabari adalah yang paling otentik. Namun demikian. Tafsir ini tidak terlepas dari perdebatan teologis yang begitu menonjol pada masanya. Ia menambahkan. Tafsir ini menjadi referensi utama serta pokok bahasan bagi tafsir-tafsir berikutnya. sehingga di dalamnya terdapat kritik terhadap Qadariyah dan Jabariyah. merupakan suatu keharusan dan keniscayaan dalam kitab ini. Pokok-pokok gramatika al-Qur¶an juga dibahas dan dijelaskan di dalamnya. Penjelasan tentang tata bahasa dan aspek-aspek lain dari bahasa Arab yang ada sekarang dan kemudian. yang pembahasannya didasarkan atas riwayat-riwayat dari Rasulullah Saw. Ketika Syekh al-Islam Taqi al-Din Ahmad ibn Taimiyah ditanyakan tentang tafsir mana yang lebih dekat kepada al-Qur¶an dan Sunnah? Ia menjawab bahwa di antara semua tafsir yang ada pada kita sekarang. Pembahasan mengenai fiqh dibuat sangat menarik. Ada beberapa kitab yang terkait dengan kitab ini.

Yaman). Muhammad Bakar Isma¶il. 1402 H. Cet. (Keterangan ini merujuk pada kitab At-Tafsir wa al-Mufassirun karya Muhammad Husain Adz-Dzahaby dan kitab Muqaddimah fi Ushul at-Tafsir karya Ibnu Taimiyah) . 1400 H. Dar Ahya at-Turats al-µArabi. I.. Muhammad Najib Qubawah (Tesis di Universitas Damaskus). tahun 1414 H. tahun 1411 H. Ibnu Jarir at-Thabari wa Minhajuhu fi at-Tafsir karya Dr. Riyadh: Univeritas Muhammad ibn Syu¶ud. Kairo: al-Hae¶at al-Mishriyah al-µAmmah li al-Kitab. Makkah al-Mukarramah: Universitas Ummu alQurra¶. Mukhtashar Tafsir at-Thabari (ditahqiq oleh Syekh Muhamamd Ali ash-Shabuni dan Dr. At-Thabari Qari¶an wa Ushuluhu fi Ikhtiyar al-Qira¶at alQur¶aniyah. Selain itu. 2 jilid. Mahmud ibn Syarif. Imam at-Thabari Bahtsun fi atTafsir karya Syakir Abdillah ibn µAbd al-µAziz al-Mushlih. seperti: Mukhtashar Tafsir at-Thabari karya Muhammad ibn Shumadih at-Tujaibi al-Andalusi. juga ada yang melakukan ringkasan (ikhtishar) terhadapnya./1983 M. Al-Qira¶at µInda Abi Jarir at-Thabari fi Dhau¶i al-Lughah wa an-Nahwi karya Ahmad Khalid Aba Bakr (Disertasi). As-Syi¶r al-Jahili fi Tafsir at-Thabari karya Laela Taufiq al-µumari (Tesis di Universitas al-Ardani. Muhammad ibn Jarir At-Thabari wa Minhajuhu fi at Tafsir karya Dr./1991 M. 2 jilid.At-Thabari wa Minhajuhu fi at-Tafsir karya Dr./1980 M. 1403 H. 2 jilid. Shalih Ahmad Ridha). Mahmud Muhammad Syubkah (Disertasi). Kairo: Dar al-Manar.