P. 1
Peneraan Ukuran Energi Listrik

Peneraan Ukuran Energi Listrik

4.0

|Views: 3,944|Likes:
Published by Andre Gunawan

More info:

Published by: Andre Gunawan on Oct 16, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/10/2013

pdf

text

original

Sections

  • Gambar 2.12. Skema Diagram 3 phasa 4 kawat 3 elemen
  • Gambar 2.13. Skema Diagram 3 phasa 4 kawat 2,5 elemen
  • Gambar 2.14. Skema Diagram 3 phasa 3 kawat tipe bintang
  • B. Elemen Meter kWh
  • Gambar 3.1. Gambar dan Skema Elemen Meter kWh
  • Gambar 3.2. Kumparan Arus
  • Gambar 3.3. Kumparan Tegangan Tegangan
  • Gambar 3.4. Elemen Putar
  • Gambar 3.5. Elemen Pengerem
  • Gambar 3.7. Elemen Penghitung dengan Desimal
  • Gambar 3.8. Elemen Penghitung tanpa Desimal
  • Gambar 3.9. Terminal Arus dan Tegangan
  • Gambar 3.10. Peralatan Kompensasi dan Penyetel
  • C. Klasifikasi Meter kWh
  • D. Rangkuman
  • E. Latihan
  • A. Metoda Perbandingan Energi
  • B. Metoda Wattmeter dan Stopwatch
  • C. Pengujian Ijin Tipe Meter kWh
  • Tabel 4.1. Pengujian Gerak Mula
  • Tabel 4.2. Pengujian Kebenaran Meter Fasa Tunggal
  • Tabel 4.3. Pengujian Kebenaran Meter Fasa Banyak
  • Tabel 4.4. Variasi Penunjukkan Akibat Beda Besaran
  • Tabel 4.5. Batas Koefisien Suhu Rata-rata
  • Tabel 4.6. Variasi Kesalahan Akibat Arus Lebih Sesaat
  • Tabel 4.7. Variasi Kesalahan Akibat Pemanasan Sendiri
  • Tabel 4.8. Batas Suhu dan Frekuensi Referensi
  • Tabel 4.10. Batas Kenaikan Suhu
  • Rotor
  • A. Praktikum Meter kWh Metoda Perbandingan Pulsa
  • Tabel 5.1. Tabel Isian
  • B. Praktikum Meter kWh Metoda Meter Pilot
  • C. Praktikum Meter kWh Secara Otomatis
  • D. Praktikum Meter kWh Menggunakan Metrotec
  • A. Kesimpulan
  • B. Implikasi
  • C. Tindak Lanjut
  • DAFTAR PUSTAKA
  • LAMPIRAN 1

PENERAAN UKURAN ENERGI

LISTRIK
BAHAN MICRO TEACHING
1. Rancang Bangun
2. Rencana Pembelajaran
3. Bahan Ajar
4. Copy Slide/OHT
VERA FIRMANSYAH, M.Si
DIKLAT CALON WIDYAISWARA
PUSAT DIKLAT KEHUTANAN
BEKERJASAMA DENGAN
DIREKTORAT PEMBINAAN WIDYAISWARA LAN-RI
2008
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah SWT bahwasanya bahan ajar ini telah
dikerjakan dengan sebaik-baiknya. Bahan ajar Peneraan Ukuran Energi
Listrik (Meter kWh) ini telah sesuai dengan Peraturan Menteri
Perdagangan R.I nomor 279/M-DAG/PER/2/2008 tentang
Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan Kemetrologian. Bahan ajar ini
dipersiapkan untuk melengkapi syarat mengikuti seleksi Calon
Widyaiswara di Lembaga Administrasi Negara.
Bahan ajar terdiri dari penjelasan teori yang dibagi dalam enam
bab, meliputi : Pendahuluan; Energi Listrik; Meter kWh; Pengujian meter
kWh; Praktikum Meter kWh dan Penutup.
Dengan bahan ajar ini diharapkan dapat membantu widyaiswara
yang mempunyai spesifikasi di bidang peneraan ukuran energi listrik
dalam menbagi ilmunya kepada peserta diklat. Bahan ajar ini tidak
menutup kemungkinan untuk dikembangkan sesuai dengan kebutuhan
masyarakat, tuntutan jaman, dan kebijakan pemerintah karena bahan ajar
ini masih jauh dari sempurna.
Mudah-mudahan Allah SWT meridhoi segala apa yang telah kita
lakukan. Amin.
Bandung, Desember 2008
Penulis
ii
DAFTAR ISI
Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
Daftar Gambar v
Daftar Tabel vii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Deskripsi Singkat 1
C. Manfaat Modul Bagi Peserta 2
D. Tujuan Pembelajaran 2
1. Kompetensi Dasar 2
2. Indikator Keberhasilan 2
E. Materi Pokok dan Sub Materi Pokok 3
F. Petunjuk Belajar 4
BAB II ENERGI LISTRIK 5
A. Daya dan Energi Listrik 5
B. Teori Pengukuran Energi Listrik 8
C. Jaringan Meter Listrik 10
D. Rangkuman 13
E. Latihan 14
BAB III METER kWh 15
iii
A. Ketentuan Umum Syarat-syarat Teknik Khusus Meter
kWh 15
B. Elemen Meter kWh 18
C. Klasifikasi Meter kWh 24
D. Rangkuman 29
E. Latihan 30
BAB IV PENGUJIAN METER kWh 31
A. Metoda Perbandingan Energi 31
B. Metoda Watt Meter dan Stopwatch 33
C. Pengujian Ijin Tipe Meter kWh 37
D. Rangkuman 51
E. Latihan 51
BAB V PRAKTIKUM METER kWh 53
A. Praktikum Meter kWh Metoda Perbandingan Pulsa 53
B. Praktikum Meter kWh Metoda Meter Pilot 58
C. Praktikum Meter kWh Secara Otomatis 64
D. Praktikum Meter kWh Menggunakan Metrotec 71
BAB VI PENUTUP 78
A. Kesimpulan 78
B. Implikasi 79
C. Tindak Lanjut 80
DAFTAR PUSTAKA 81
LAMPIRAN 1 82
iv
BIODATA PENULIS 83
v
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Vektor Hubungan Daya Reaktif, Daya Aktif, dan
Daya Apparent 6
Gambar 2.2. Vektor Hubungan Daya Reaktif(Lagging) , Daya
Aktif, dan Daya Apparent 6
Gambar 2.3. Vektor Hubungan Daya Reaktif(Leading) , Daya
Aktif, dan Daya Apparent 6
Gambar 2.4. Vektor Hubungan Daya Reaktif, Daya Aktif, dan
Daya Apparent yang dikalikan dengan konstanta
waktu 7
Gambar 2.5. kWh METER / KVArh METER 3 FASA 4 KAWAT
dengan 3 pasang elemen , yaitu 3 kumparan
tegangan dan 3 kumparan arus 8
Gambar 2.6. Diagram kawat 3 kumparan tegangan dan 3
kumparan arus 9
Gambar 2.7. Diagram vektor kWh 3 fasa 4 kawat 3 pasang
elemen 10
Gambar 2.8. Diagram vektor kVArh 3 fasa 4 kawat 3 pasang
elemen 10
Gambar 2.9. Skema Diagram 1 phasa 2 kawat 11
Gambar 2.10. Skema Diagram 1 phasa 3 kawat 11
vi
Gambar 2.11. Transformator Sekunder Diisolasi dari Jarigan
Primernya 12
Gambar 2.12. Skema Diagram 3 phasa 4 kawat 3 elemen 12
Gambar 2.13. Skema Diagram 3 phasa 4 kawat 2,5 elemen 13
Gambar 2.14. Skema Diagram 3 phasa 3 kawat tipe bintang 13
Gambar 3.1. Gambar dan Skema Elemen Meter kWh 19
Gambar 3.2. Kumparan Arus 20
Gambar 3.3. Kumparan Tegangan Tegangan 20
Gambar 3.4. Elemen Putar 21
Gambar 3.5. Elemen Pengerem 22
Gambar 3.6. Elemen Penghitung 22
Gambar 3.7. Elemen Penghitung dengan Desimal 23
Gambar 3.8. Elemen Penghitung tanpa Desimal 23
Gambar 3.9. Terminal Arus dan Tegangan 23
Gambar 3.10. Peralatan Kompensasi dan Penyetel 24
Gambar 5.1. Tampilan Aplikasi Praktikum Meter kWh Otomatis 67
vii
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1. Pengujian Gerak Mula 38
Tabel 4.2. Pengujian Kebenaran Meter Fasa Tunggal 39
Tabel 4.3. Pengujian Kebenaran Meter Fasa Banyak 39
Tabel 4.4. Variasi Penunjukkan Akibat Beda Besaran 42
Tabel 4.5. Batas Koefisien Suhu Rata-rata 42
Tabel 4.6. Variasi Kesalahan Akibat Arus Lebih Sesaat 43
Tabel 4.7. Variasi Kesalahan Akibat Pemanasan Sendiri 43
Tabel 4.8. Batas Suhu dan Frekuensi Referensi 44
Tabel 4.9. Batas Suhu dan Frekuensi Referensi untuk arus dasar
kurang dari 30 A 44
Tabel 4.10. Batas Kenaikan Suhu 45
Tabel 4.11. Titik-titik Pengujian Tegangan 48
Tabel 4.12. Kemampuan Minimum Penyetelan Kecepatan Putaran
Rotor 50
Tabel 5.1. Tabel Isian 56
Tabel 5.2. Batas Kesalahan Yang Diijinkan Untuk Meter kWh 1
Phasa Metoda Meter Pilot 57
Tabel 5.3. % Id (Arus Dasar) Untuk Masing-masing Kelas Mete
kWh 62
viii
Tabel 5.4. Batas Kesalahan yang Diijinkan untuk Meter kWh Kelas
2 65
Tabel 5.5. Batas Kesalahan yang Diijinkan untuk Meter kWh Kelas
0,5; 1; dan 2 73
Tabel 5.6. Arus Dasar untuk Meter kWh Kelas 0,5; 1; dan 2 76
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia
nomor 279/M-DAG/PER/2/2008 tentang penyelenggaraan
pendidikan dan pelatihan kemetrologian bahwa perkembangan Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang bergerak dengan cepat
menyebabkan peningkatan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan
teknologi baik secara kuantitas maupun kualitas serta munculnya
jenis Alat-alat Ukur, Takar, Timbang dan Perlengkapannya (UTTP)
yang memiliki berbagai tingkat kesulitan. Sehingga untuk
mengantisipasi perkembangan dan peningkatan IPTEK dan UTTP
sebagaimana dimaksud di atas menuntut adanya Sumber Daya
Manusia (SDM) Metrologi yang memiliki kompetensi di bidang
kemetrologian yang hanya dapat diperoleh melalui pendidikan dan
pelatihan kemetrologian.
B. Deskripri Singkat
Mata Diklat ini membahas tentang Peneraan Ukuran Energi Listrik
yang meliputi : konsep energi listrik, meter kWh, metoda pengujian
meter kWh, dan praktikum meter kWh.
2
C. Manfaat Modul Bagi Peserta
Modul ini sebagai salah satu pedoman peserta dalam membantu
proses pembelajaran pada Diklat Fungsional Penera Tingkat
Lanjutan dan Diklat Fungsional Penera. Melalui modul ini, peserta
diharapkan dapat memahami landasan ilmiah energi listrik,
mejelaskan elemen termasuk klasifikasinya meter kWh, dan yang
terakhir dapat melakukan proses pengujiannya. Hubungan antara
modul ini dengan bidang kemetrologian yaitu karena meter kWh
merupakan salah satu alat ukur yang wajib dilakukan peneraan.
D. Tujuan Pembelajaran
1. Kompetensi Dasar
Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta mampu
menjelaskan meter kWh, yang dimulai dari elemen meter kWh,
klasifikasi meter kWh.
2. Indikator Keberhasilan
Secara lebih spesifik kemampuan yang harus dimiliki di akhir
pelajaran adalah sebagai berikut :
a. Menjelaskan konsep energi listrik
b. Menjelaskan syarat-syarat, elemen, dan klasifikasi meter
kWh
c. Menjelaskan pengujian-pengujian meter kWh
3
d. Mempraktekkan pengujian meter kWh
E. Materi Pokok dan Sub Materi Pokok
1. Materi Pokok
a. Energi Listrik
b. Meter kWh
c. Pengujian Meter kWh
d. Praktikum Meter kWh
2. Sub Materi Pokok
a.1. Daya dan energi listrik
a.2. Teori pengukuran energy listrik
a.3. Jaringan meter listrik
b.1. Syarat-syarat teknik khusus meter kWh
b.2. Elemen meter kWh
b.3. Klasifikasi meter kWh
c.1. Metoda perbandingan energi
c.2. Metoda Watt meter dan stopwatch
c.3. Pengujian ijin tipe meter kWh
d.1. Praktikum Meter kWh Metoda Perbandingan Pulsa
d.2. Praktikum Meter kWh Metoda Meter Pilot
d.3. Praktikum Meter kWh Secara Otomatis
d.4. Praktikum Meter kWh Menggunakan Metrotec
4
F. Petunjuk Belajar
Modul ini digunakan bagi peserta diklat dengan kualifikasi lulusan
Sekolah Menegah Atas (SMA) atau yang sederajat dan telah
mengikuti Diklat Penera Tingkat dasar pada Diklat Fungsional
Penera Tingkat Lanjutan. Sedangkan pada Diklat Penera kualifikasi
lulusan yang dibutuhkan adalah tingkat sarjana (S1).
Untuk membantu peserta diklat dalam proses pembelajaran,
disediakan latihan soal-soal yang berhubungan dengan kebutuhan
pada mata diklat selanjutnya atau yang lebih tinggi.
5
BAB II
ENERGI LISTRIK
Indikator Keberhasilan :
Peserta diharapkan mampu menjelaskan daya dan energi listrik.
Peserta diharapkan mampu menjelaskan teori pengukuran energi listrik.
Peserta diharapkan mampu menjelaskan jaringan meter listrik
A. Daya dan Energi Listrik
Sebelum kita berbicara pada energy listrik yang merupakan
besaran turunan dari Daya listrik, maka Daya adalah besaran dasar
yang perlu kita ketahui
Daya listrik terbagi atas :
1. Daya Aktif (Daya Nyata)
WATT = P
2. Daya Reaktif (Daya Induktif dan Kapasitif)
VAR = Q
3. Daya Apparent (Perkalian Secara Vektor ntara Daya Aktif dan
Daya Reaktif)
VA = S
D DA AY YA A = = T TE EG GA AN NG GA AN N X X A AR RU US S
E EN NE ER RG GI I = = D DA AY YA A X X W WA AK KT TU U
6
Perhatikan gambar di bawah ini, yaitu gambar segitiga daya dari
vektor besaran daya yang berpengaruh terhadap suatu beban listrik
Gambar 2.1. Vektor Hubungan Daya Reaktif, Daya Aktif, dan Daya Apparent
Gambar 2.2. Vektor Hubungan Daya Reaktif(Lagging) , Daya Aktif, dan Daya
Apparent
Gambar 2.3. Vektor Hubungan Daya Reaktif(Leading) , Daya Aktif, dan Daya
Apparent
7
Karena Energy Listrik merupakan perkalian antara Daya dan waktu,
maka Vektor Daya listrik juga dapat dianggap vector Energy listrik
dimana waktu merupakan konstanta
Gambar 2.4. Vektor Hubungan Daya Reaktif, Daya Aktif, dan Daya Apparent yang
dikalikan dengan konstanta waktu
Maka dari gambar diatas dijelaskan bahwa kWh meter ; kVarh meter
dan kVA meter adalah alat ukur yang dapat mengukur energy listrik.
Pada umumnya kWh meter adalah alat ukur yang paling banyak
digunakan untuk keperluan transaksi jual beli energy listrik. Untuk
pembahasan selanjutnya kita fokuskan pada alat ukur kWh meter.
Besaran yang berpengaruh pada pengukuran kWh Meter arus bolak-
balik :
Arus
Tegangan
Faktor Daya ( COS / SIN )
8
COS adalah faktor daya pada kWh meter dan SIN adalah factor
daya pada kVarh meter.
B. Teori Pengukuran Energi Listrik
Gambar dibawah menyatakan diagram pengawatan kWh meter satu
Phasa dua kawat yang banyak dijumpai di Rumah tangga, yang
terdiri dari satu elemen tegangan(Kumparan Tegangan) dan satu
elemen Arus. Garis tebal menyatakan alur (flow) dari beban (Arus)
dan melewati kumparan Arus. Garis lebih tipis merupakan kawat
yang menuju kumparan tegangan.
Daya (P) yang terukur oleh meter kWh adalah perkalian antara
tegangan (U), Arus(I), dan Faktor Daya (COS )
P = U x I x COS
Gambar 2.5. kWh METER / KVArh METER 3 FASA 4 KAWAT dengan 3 pasang
elemen , yaitu 3 kumparan tegangan dan 3 kumparan arus
9
Gambar 2.6. Diagram kawat 3 kumparan tegangan dan 3 kumparan arus
Daya yang terbaca pada kWh meter :
P = ( I
R1
x U
R1-0
x Cos
R1
) + ( I
S2
x U s
2-0
x Cos
S2
) + ( I
T3
x U
T3-0
x
Cos
T3
)
Untuk beban – beban yang simetris dan sama besar maka
persamaan menjadi ;
P = 3 x I x U x Cos
Daya Reaktif yang terbaca oleh kVArh meter :
Q = ( I
R1
x U
S2-T3
x Cos ( 90 - ) ) + ( I
S2
x U
T3-R1
x Cos ( 90 - )) + (
I
T3
x U
R1 –S2
x Cos (90-))
Untuk beban yang sama besar maka persamaan menjadi
10
Q = I x U x 3 x Sin atau Q = 3 x I x Ux Sin
Gambar 2.7. Diagram vektor kWh 3 fasa 4 kawat 3 pasang elemen
Gambar 2.8. Diagram vektor kVArh 3 fasa 4 kawat 3 pasang elemen
C. Jaringan Meter Listrik
Jaringan meter listrik ini menunjukkan skema pemasangan jenis-
jenis meter kWh yang dipasang baik di perumahan, institusi, ataupun
tempat yang memerlukan perlakuan khusus dalam pemasangannya.
1 phasa (phasa tunggal) disuplai dengan cara :
1. 1 phasa 2 kawat
11
Gambar 2.9. Skema Diagram 1 phasa 2 kawat
Pelayanan 1 phasa 2 kawat biasanya disuplai dari
transformator. Listrik 1 phasa disuplai oleh salah satu dari
jaringan 3 phasa (dapat dilihat dari warna hitam, biru, dan
merah).
2. 1 phasa 3 kawat
Gambar 2.10. Skema Diagram 1 phasa 3 kawat
Biasanya skema 1 phasa 3 kawat ini digunakan di Amerika
Utara. Pada gambar di atas dapat dilihat transformator
sekunder diisolasi dari jarigan primernya, untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada gambar di bawah ini
12
Gambar 2.11. Transformator Sekunder Diisolasi dari Jarigan Primernya
3. 3 phasa 4 kawat 3 elemen
Layanan 3 phasa 4 kawat adalah metode yang biasa digunakan
untuk suplai listrik phasa banyak dalam perdagangan dan
konsumen industri.
Gambar 2.12. Skema Diagram 3 phasa 4 kawat 3 elemen
4. 3 phasa 4 kawat 2,5 elemen
Jika tegangan tidak seimbang, menyebabkan pengukurannya
tidak akurat,. Sehingga pemasangan jaringan yang seperti ini
tidak dapat direkomendasikan.
13
Gambar 2.13. Skema Diagram 3 phasa 4 kawat 2,5 elemen
5. 3 phasa 3 kawat tipe bintang
Penggunaan jaringan 3 phasa 3 kawat umumnya digunakan
untuk jaringan transmisi tegangan tinggi dimana netralnya
sebagai ground.
Gambar 2.14. Skema Diagram 3 phasa 3 kawat tipe bintang
D. Rangkuman
Besaran-besaran yang berpengaruh pada pengukuran meter kWh
adalah arus, tegangan, dan faktor daya. Pada skema pemasangan
jaringan listrik ada dimana salah satu jenis metoda yang tidak
direkomendasikan yaitu metoda 3 phasa 4 kawat 2,5 elemen.
14
E. Latihan
Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan baik dan benar !
1. Sebutkan jenis-jenis daya dan tuliskan rumus masing-
masingnya !
2. Sebutkan besaran-besaran yang berpengaruh pada
pengukuran meter kWh !
3. Gambarkan skema pemasangan jaringan listrik dengan metoda
3 phasa 4 kawat 2,5 elemen dan analisa kenapa metoda
pemasangannya tidak direkomendasikan !
15
BAB III
METER kWh
Indikator Keberhasilan :
Peserta diharapkan mampu menjelaskan ketentuan umum syarat-syarat teknis
khusus meter kWh.
Peserta diharapkan mampu menjelaskan elemen meter kWh.
Peserta diharapkan mampu menjelaskan klasifikasi meter kWh.
Meter kWh adalah alat ukur integrasi yang digunakan untuk mengukur
besarnya energi aktif dalam satuan kilowatthour. Sedangkan yang
dimaksud dengan alat ukur integrasi adalah alat yang mengintegrasikan
dan mengukur arus, daya reaktif, dan sejenisnya yang diberikan kepada
suatu beban untuk suatu jangka waktu tertentu.
A. Ketentuan Umum Syarat-syarat Teknik Khusus Meter kWh
Pada sub Bab ini hanya menyangkut ketentuan umum dari
Keputusan Direktorat Metrologi No. 923/Dirmet-1/III/1997 tentang
Syarat-syarat Teknik Khusus Meter kWh. Ketentuan umum tersebut
meliputi :
1. Meter kWh dinamis yang selanjutnya disebut dengan meter
adalah alat ukur listrik yang digunakan untuk mengukur energi
listrik arus bolak balik, dengan cara mengintegrasikan daya
aktif dalam suatu selang waktu dengan satuan kilowatt-jam,
16
kWh dari jenis elektro mekanis dengan cara kerja prinsip
induksi dan atau elektronis
2. Meter induksi adalah meter yang dialiri arus pada kumparan
tetap yang berinteraksi dengan arus yang diinduksikan pada
suatu elemen penghantar yang menimbulkan gerakan pada
elemen tersebut
3. Meter Kelas 0,5 adalah meter yang mempunyai tingkat
ketelitian 0,5% dari energi yang diukur pada kondisi acuan dan
daerah ukur tertentu
4. Meter Kelas 1 adalah meter yang mempunyai tingkat ketelitian
1% dari energi yang diukur pada kondisi acuan dan daerah
ukur tertentu
5. Meter Kelas 2 adalah meter yang mempunyai tingkat ketelitian
2% dari energi yang diukur pada kondisi acuan dan daerah
ukur tertentu
6. Meter tarif ganda adalah meter yang dilengkapi dengan
beberapa alat hitung/register yang masing-masing beroperasi
pada selang waktu tertentu berdasarkan tarif yang berbeda
7. Rotor meter yang selanjutnya disebut rotor adalah elemen
meter yang bergerak yang merupakan tempat berinteraksinya
fluksi magnetik dari belitan tetap dengan fluksi magnetik dari
17
elemen rem dan yang mengoperasikan alat hitung/register
termasuk alat pembangkit pulsa bila ada
8. Alat hitung/register adalah bagian dari meter yang menunjukan
nilai energi terukur
9. Tutup meter adalah penutup bagian muka meter yang dibuat
dari bahan seluruhnya tembus pandang atau bahan yang tidak
tembus pandang yang dilengkapi jendela untuk melihat putaran
rotor dan pembacaan alat hitung/register
10. Arus dasar, I
dasar
adalah nilai arus yang dijadikan dasar untuk
menetapkan unjuk kerjanya
11. Arus maksimum, I
maks
adalah nilai arus tertinggi yang diizinkan
mengalir secara terus menerus yang masih memenuhi syarat
kesalahan maksimum
12. Tegangan acuan adalah nilai tegangan yang dijadikan dasar
untuk menetapkan unjuk kerja meter
13. Frekuensi acuan adalah nilai frekuensi yang dijadikan dasar
untuk menetapkan unjuk kerja meter
14. Konstanta meter adalah konstanta yang menyatakan hubungan
anatara energi yang ditunjukan oleh alat hitung/register dan
jumlah putaran rotor/jumlah pulsa
15. Suhu acuan adalah suhu sekitar yang ditentukan untuk kondisi
acuan
18
16. Kedudukan vertikal meter adalah kedudukan meter yang
sumbu rotornya dalam keadaan vertikal
17. Kondisi acuan adalah nilai kondisi tertentu yang digunakan
sebagai acuan untuk menentukan unjuk kerja meter
18. Persentase kesalahan adalah kesalahan meter yang
dinyatakan dalam rumus sebagai berikut :
% 100
sebenarnya energi
sebenarnya energi - meter n ditunjukka yang
x
energi
19. Energi sebenarnya adalah energi yang ditunjukkan oleh meter
standar
20. Gerak tanpa beban adalah gerakan rotor meter yang sama
sekali tidak dibebani arus
21. Gerak mula adalah gerakan rotor meter yang dibebani arus
sangat kecil.
B. Elemen Meter kWh
Pada dasarnya komponen meter kWh terdiri dari bagian-bagian
seperti pada gambar di bawah ini
19
Gambar 3.1. Gambar dan Skema Elemen Meter kWh
1. Elemen penggerak
Elemen ini terdiri dari kumparan arus dan kumparan tegangan.
Sifat-sifat kumparan arus :
Kumparan ini dihubungkan secara seri dengan beban
20
Jika pada kumparan ini dialiri arus (ada beban), maka
terbentuk medan magnit adanya medan magnit tersebut
akan menimbulkan fluks magnit
Gambar 3.2. Kumparan Arus
Sifat-sifat kumparan tegangan :
Kumparan ini dihubungkan secara paralel dengan beban
Kumparan ini berbentuk U. Pada kumparan ini juga terjadi
fluks magnit yang ditimbulkan karena adanya medan
magnit, jika diberi tegangan
Gambar 3.3. Kumparan Tegangan Tegangan
2. Elemen putar
21
Elemen putar ini berupa piringan yang bentuknya terdapat lekukan-
lekukan kecil dan terdapat lubang kecil. Adapun ciri-cirinya adalah :
Bagian ini berupa piringan yang dibuat dari bahan konduktor.
Pada bagian tengah piringan dipasangkan sebuah poros yang
ditumpu oleh dua buah bantalan.
Salah satu bantalannya dapat diatur.
Pada poros tersebut ditempatkan roda gigi
Gambar 3.4. Elemen Putar
3. Elemen pengerem
Elemen pengerem ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
Elemen ini berupa magnit permanen yang berbentuk ladam
Penempatannya mengapit piringan (yang terbuat dari bahan
konduktor ) dan biasanya berseberangan dengan elemen
penggerak
22
Gambar 3.5. Elemen Pengerem
4. Elemen penghitung
Elemen penghitung ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
Bagian merupakan seperangkat roda gigi yang disusun
sedemikian rupa dan dihubungkan dengan roda gigi yang
terdapat pada poros piringan
Pada bagian ini juga terdapat rol angka yang tersusun secara
berderet
Gambar 3.6. Elemen Penghitung
23
Gambar 3.7. Elemen Penghitung dengan Desimal
Gambar 3.8. Elemen Penghitung tanpa Desimal
5. Terminal
Terminal terdiri dari 2 bagian :
Terminal Arus
Terminal Tegangan
Gambar 3.9. Terminal Arus dan Tegangan
6. Peralatan kompensasi dan penyetel
Peralatan ini dibuat untuk menyetel kecepatan putar dari piringan
agar alat ukur tersebut mengukur energi listrik dengan benar. Alat
penyetel ini terdiri dari :
Alat Beban Maksimum (Magnet Permanen)
24
Penyetel Beban Rendah (Pergeseran Cincin Penghalang Flux)
Penyetel Beban Kosong (Membelokkan Flux atau Lobang pd
Piring)
Penyetel Kesetimbangan Beban
Penyetel Sudut Phasa (Tahanan Geser)
Gambar 3.10. Peralatan Kompensasi dan Penyetel
C. Klasifikasi Meter kWh
Pada umumnya meter kWh dapat diklasifikasikan berdasarkan :
1. Arus yang lewat
Meter kWh arus bolak-balik (meter kWh AC)
Meter kWh arus searah (meter kWh DC)
2. Prinsip dan sistem kerjanya
Meter kWh mekanik
kWh meter mekanik, energi listrik ditransformasikan
melalui putaran disk (piringan ) dengan menggunakan
sistim induksi elektromagenetik pada kumparan tegangan
25
dan kumparan arus dan akhirnya terbaca pada register
mekanik.
Meter kWh elektronik (digital)
kWh meter digital, mentransformasikan energy listrik
dengan menggunakan pulsa-pulsa digital melalui ADC
Analog to digital converter dan pulsa –pulsa digital
tersebut dianologikan menjadi tampilan Display elektronik.
Meter kWh semi elektronik
kWh semi elektronik , besaran energy listrik
ditransformasikan melalui sistim elektronik, dan diubah
menjadi pulsa digital . Pulsa digital tersebut
menggerakakn pointer dan register yang berupa roda gigi
mekanik. Sehingga pada kWh meter semi elektronik ini
tidak dijumpai piringan atau disk dan sebagai
penggantinya adalah pulsa digital yang tampilannya
berupa lampu LED yang menyatakan flashing pulsa dari
kWh meter tersebut.
3. Pemakaian Fasa
Meter fasa tunggal 2 kawat
Meter fasa tunggal 3 kawat
Meter fasa 3 – 3 kawat
Meter fasa 3 – 4 kawat
4. Pemakaian Transformator
26
Meter kWh pemasangan langsung (tanpa transformator)
Meter kWh pemasangan tak langsung (dengan
transformator)
Apabila kWh meter tiga fasa pemasangan langsung, maka
pembacaan pada register kWh meter adalah pembacaan
langsung dari jumlah energy listrik yang terpakai dan tercatat
oleh kWh meter tersebut.
5. Cara penyambungan kawat
Meter biasa, kawat disambungkan menggunakan baut
pada terminalnya
Mete colok, meter mempunyai terminal dibagian belakang
dengan tipe bayonet
6. Penunjukkan register
Meter kWh dengan redister terpasang
Meter dengan register terpisah dengan unitnya
Meter dengan register analog (jarum)
Meter dengan register digital mekanik
Meter dengan register digital elektronik
Meter dengan register ganda
7. Lokasi dan syarat pemasangan
Meter pasangan dalam
Meter pasangan luar
8. Jenis kotak
27
Meter biasa (dilengkapi terminal pembumian)
Meter berkotak isolasi dengan perlindungan kelas II
(biasanya tanpa terminal pembumian)
9. Sistem Pencatatan
Pencatatan langsung secara manual atau visual
Pencatatan langsung dengan remote kontrol
Pencatatan langsung dengan remote jarak jauh (sistem
SCADA)
Pencatatan ini dilakukan dengan menggunakan media
telekomunikasi jarak jauh seperti : telepon , radio komunikasi (
VHF ; UHF ; SHF – satellite ; dll) , kabel jaringan transmisi dan
distribusi PLN , kabel dengan serat optik. Pencatatan jarak jauh
ini biasanya dilakukan oleh kWh meter type elektronik atau kWh
meter digital dimana dalam konstruksinya terdapat output sinyal
dan fasilitas RS 232-Communication , sehingga data – data
pada kWh meter digital tersebut dapat dibaca ditempat lain dan
atau dibaca pada lokasi dimana kWh tersebut berada. Data –
data tersebut dapat di down load dan diprint kapan saja dan
dimanapun. Data – data down load dapat berupa :
- kWh; kVarh ; kVA yang diterima ( receive )
- kWh; kVarh ; kVA yang diserahkan ( demand )
- Pencatatan selama 1 jam ; 1 hari ; 1 bulan ; 1 tahun.
- Analysis gelombang harmonik
28
- Dan lain – lain.
Data – data yang dapat didown load secara jarak – jauh
memang teknologi canggih kWh meter, tetapi selain dapat
didown load , data – data tersebut bisa saja dapat dirubah,
maka proteksi program terhadap down – load data sangatlah
penting. Proteksi tersebut dapat berupa software program yang
memasukan password sebagai kata kunci pembuka program
atau juga Switch on-off down load data, silahkan mana yang
paling aman dalam mencegah penyimpangan manipulasi data,
sehingga prinsip kita dalam melindungi produsen dan
konsumen tetap terjaga.
10. Sistem pembayaran
Sistem pembayaran biasa
Sistem prabayar
11. Kelas ketelitian
Meter kelas 0,2 s
Meter kelas 0,5 s
Meter kelas 1
Meter kelas 2
Meter kelas 3
kWh meter klas 0.2 s dan 0.5 s ( statis ) biasanya adalah type
kWh meter digital static dimana Error (kesalahan) tetap selama
dalam pemakaiannya selalu pada kondisi acuan dan spesifkasi
29
dari kWh meter tersebut. kWh meter klas 1 bisa berupa kWh
meter digital atau kWh meter mekanik. kWh meter klas 2 dan
klas 3 biasanya adalah type mekanik. Prinsip pengujian kWh
meter juga berbeda tergantung dari klasnya. kWh meter klas
0.2 s dan 0.5 s tersendiri dan terpisah prinsip pengujiannya dari
kWh meter klas 1 ; 2 dan 3 . Perbedaan klas kWh meter
didasarkan atas batas – batas kesalahan maksimum yang
diijinkan (mpe) . Menurut ketentuan teknis yang berlaku ( OIML
Rekomendasi ; IEC ; SPLN ) maka batas kesalahan maksimum
yang diijinkan adalah : - kWh meter klas 0,2 ; 0,2 % pada
tegangan nominal , Arus nominal dan Cos = 1
- kWh meter klas 0,5 ; 0,5 % pada tegangan nominal ,
Arus nominal dan Cos = 1
- kWh meter klas 1 ; 1,0 % pada tegangan nominal , Arus
nominal dan Cos = 1
- kWh meter klas 2 ; 2,0 % pada tegangan nominal , Arus
nominal dan Cos = 1
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table kesalahan meter
kWh.
D. Rangkuman
Enam elemen meter kWh memiliki fungsi masing-masing yang saling
berhubungan satu sama lainnya. Sehingga, jika salah satu elemen
30
terjadi kerusakan maka akan menyebabkan pengukuran meter kWh
tersebut akan tidak semestinya. Pada elemen penggerak terdapat
kumparan arus yang terhubung seri dan kumparan tegangan yang
terhubunga secara paralel. Selain hal di atas, meter kWh juga dibagi
menjadi sebelas klasifikasi.
E. Latihan
Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan baik dan benar !
1. Pada elemen putar, jelaskan kenapa piringan dibuat ada
lekukan-lekukan kecil ? jelaskan !
2. Pada elemen putar, jelaskan kenapa piringan terdapat satu
lubang kecil ? jelaskan !
3. Kenapa kumparan arus disusun seri sedangakan kumparan
paralel dihubungkan paralel? Jelaskan !
4. Sebutkan klasifikasi meter kWh berdasarkan sistem
pencatatannya !
5. Jelaskan dengan singkat meter kWh semielektronik !
31
BAB IV
PENGUJIAN METER kWh
Indikator Keberhasilan :
Peserta diharapkan mampu menjelaskan metoda perbandingan energi.
Peserta diharapkan mampu menjelaskan metoda Wattmeter dan stopwatch.
Peserta diharapkan mampu menjelaskan metoda pengujian ijin tipe meter kWh.
A. Metoda Perbandingan Energi
Untuk menentukan kesalahan meter kWh pada saat mengukur suatu
jumlah energi tertentu, maka jumlah energi ini digunakan sebagai
ukuran (W) atau sebagai jumlah energi yang diukur. Jumlah energi
ini dapat dihitung berdasarkan nilai-nilai yang kita ukur. Ketika alat
ukur telah melakukan pengukuran secara lengkap, maka meter yang
diuji akan memberikan hasil (yang dipantau oleh standar) yang
dinyatakan sebagai nilai energi yang sebenarnya (Ws).
E = Jumlah Energi – Nilai energi sebenarnya
E = W - Ws
Metoda pengujian perbandingan energi ini banyak dilakukan dengan
cara :
1. Metoda Putaran Piringan
Pengujian dengan metode ini dilakukan dengan memasukkan
jumlah putaran piringan sebagai pengendali standar meter
32
kWh. Kesalahan meter kWh ditentukan dengan menggunakan
rumus :
E =
Nm- Ns
Ns
x1 0 0 %
dimana :
Nm = Jumlah putaran piringan meter yang diuji
Ns = Jumlah putaran piringan meter standar
dalam praktek kesalahan meter kWh diketahui dari simpangan
piringannya
E =
simpongon ( ]umlob skolonyo)
]umlob putoron x ]umlob skolo/ putoron
x1 0 0 %
2. Metoda Pulsa Energi
Pengujian dengan metode ini dilakukan dengan memasukkan
jumlah putaran piringan sebagai pengendali standar meter
kWh. Kesalahan meter kWh ditentukan dengan menggunakan
rumus :
E =
no - n1
n1
x1 0 0 %
dimana :
no =
N k
K
= pcmbocoon mctcr yong Jiu]i
n1 = pembacaan standar (pulsa)
N = Jumlah putaran piringan ( putaran)
k = konstanta meter kWh (kWh/putaran)
K = konstanta standar (kWh/pulsa)
33
3. Metoda Sinkron (meter pilot)
Metode ini sama dengan metode putaran piringan
Metode ini dilakukan dengan membandingkan putaran
meter yang diuji dengan putaran meter pilot.
Meter pilot diambil dari salah satu meter dari kelompok
meter kWh yang akan diuji dan telah mendapatkan
perlakuan khusus.
Putaran piringan meter pilot ini dipantau oleh “scanning
head” dan jumlah putarannya digunakan untuk
mengendalikan pengujian.
Pengujian meter kWh dengan metode sinkron dapat
digunakan untuk melakukan pengujian meter dalam
jumlah banyak sekaligus sesuai dengan kapasitas rak
pengujian.
Kesalahan meter kWh metode sinkron ( meter pilot ) dihitung
berdasarkan simpangan putaran piringan dibandingkan dengan
jumlah putaran piringan meter pilot.
E =
simpongon
]umlob skolo x ]umlob putoron piringon
x1 0 0 %
B. Metoda Wattmeter dan Stopwatch
Metoda ini menggunakan Watt meter standar dan standar waktu
(stopwatch), degan kesalahan dapat dihitung dengan tumus di
bawah ini :
34
E =
Im- Is
Is
x1 0 0 %
dimana :
Tm = Waktu meter yang diuji (dihitung dengan formula)
Ts = Waktu meter standar (penunjukkan stopwatch)
Perhitungan waktu meter yang diuji
1. Meter kWh 1 Phasa
Pada meter kWh 1 phasa dapat dihitung dengan menggunakan
rumus :
I =
N x 3 6 0 0 x 1 0 0 0
k x I x I x cose
Jctik
I =
N x 3 6 0 0 x 1 0 0 0
k x P
Jctik
dimana :
T = Waktu dasar meter (detik)
N = Jumlah putaran meter kWh
k = Konstanta meter kWh (putaran/meter kWh)
V = Tegangan pada meter kWh (Volt)
I = Arus yang mengalir pada sirkuit arus (ampere)
= beda sudut phasa antara tegangan dan arus
P = Daya aktif (Watt)
3600 = 1 jam menjadi 3600 detik
1000 = 1 kW menjadi 1000 Watt
2. Meter kWh 3 Phasa 3 Kawat
35
Pada meter kWh 3 phasa 3 kawat dapat dihitung dengan
menggunakan rumus :
I =
N x 3 6 0 0 x 1 0 0 0
V3 x k x I x I x cose
Jctik
I =
N x 3 6 0 0 x 1 0 0 0
3 x k x P
Jctik
(beban dianggap seimbang)
dimana :
T = Waktu dasar meter (detik)
N = Jumlah putaran meter kWh
k = Konstanta meter kWh primer atau sekunder
(putaran/meter kWh)
V = Tegangan antara phasa-phasa sisi primer atau
sekunder meter kWh (Volt)
I = Arus yang mengalir pada sirkuit arus (ampere)
= Beda sudut phasa antara tegangan dan arus
P = Daya aktif (Watt)
3600 = 1 jam menjadi 3600 detik
1000 = 1 kW menjadi 1000 Watt
3. Meter kWh 3 Phasa 4 Kawat
Pada meter kWh 3 phasa 4 kawat dapat dihitung dengan
menggunakan rumus :
I =
N x 3 6 0 0 x 1 0 0 0
3 x k x I x I x cose
Jctik
36
I =
N x 3 6 0 0 x 1 0 0 0
3 x k x P
Jctik
(beban dianggap seimbang)
dimana :
T = Waktu dasar meter (detik)
N = Jumlah putaran meter kWh
k = Konstanta meter kWh primer atau sekunder
(putaran/meter kWh)
V = Tegangan antara phasa dan netral sisi primer atau
sekunder meter kWh (Volt)
I = Arus yang mengalir pada sirkuit arus (ampere)
= beda sudut phasa antara tegangan dan arus
P = Daya aktif (Watt)
3600 = 1 jam menjadi 3600 detik
1000 = 1 kW menjadi 1000 Watt
Dalam perhitungan waktu Tm di atas, penggunaan k, V, dan I
harus dari sisi yang sama yakni sisi primer atau sisi sekunder.
Penggunaan sisi primer atau sekunder hanya berlaku untuk
meter kWh yang tersambung melalui transformator dan perlu
diketahui juga rasio transformatornya.
Dalam menggunakan metoda ini diperlukan kondisi tegangan
harus stabil (pada umumnya menggunakan stabilizer
tegangan).
37
C. Pengujian Ijin Tipe Meter kWh
Pengujian ijin tipe ini bertujuan untuk memberikan persetujuan atau
menginjikan sebuah produk meter kWh beredar di masyarakat atau
perusahaan-perusahaan yang menggunakan meter kWh khusus,
dalam hal ini PT. Perusahaan Listrik Negara sebagai
pengguna/penyalur dari produsen meter kWh. Adapun kondisi
pemeriksaan dan pengujian harus memenuhi hal-hal sebagai berikut:
Kotak meter harus selalu tertutup, kecuali untuk memeriksa
kualitas mekanis tertentu. Peneraan di bengkel konstruksi
dapat dilakukan dengan kotak terbuka, dalam hal telah
diketahui bahwa pengaruh tutup terhadap penunjukan meter
diabaikan.
Sebelum dilakukan pemeriksaan dan pengujian, meter harus
dibebani selama paling sedikit setengah jam dengan tegangan
acuan dan arus sebesar 0,1 I
d
, serta faktor daya sama dengan
satu.
Pembebanan tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan
pemanasan dari sirkit tegangan dan untuk mengetahui apakah
rotor dapat berputar secara bebas.
Adapun jenis pengujiannya itu sendiri meliputi :
1. Pengujian gerak tanpa beban
38
Dengan tanpa arus pada sirkuit arus, piringan meter tidak boleh
membuat satu putaran penuh pada tegangan antara 80%
sampai dengan 110%dari tegangan referensi.
2. Pengujian gerak mula
Meter dibebani dengan tegangan referensi dan dilewati arus
sesuai dengan tabel berikut, rotornya harus dapat bergerak
lebih dari satu putaran.
Meter
Faktor
Daya
Batas Variasi Kesalahan (%)
untuk meter kelas :
0,5 1 2
Meter tarif tunggal
tanpa alat pemakaian
putaran balik
1 0,3 0,4 0,5
Meter lainnya 1 0,4 0,4 0,5
Tabel 4.1. Pengujian Gerak Mula
3. Pengujian kebenaran
Pengujian Kebenaran untuk meter fasa tunggal dan fasa
banyak yang mempunyai beban fasa banyak yang seimbang:
Nilai Arus
Faktor
Daya
Kesalahan maksimum yang
diizinkan untuk meter kelas :
0,5 1 2
0,05 I
b
1 ± 1,0 ± 1,5 ± 2,5
0,1 I
b
s/d I M
aks
1 ± 0,5 ± 1,0 ± 2,0
39
0,1 I
b
0,5 ( ind ) ± 1,3 ± 1,5 ± 2,5
0,8 ( kap ) ± 1,3 ± 1,5 -
Jika diminta oleh
pemakai
0,2 I
b
s/d I
b
0,25 ( ind ) ± 2,5 ± 3,5 -
0,5 ( kap ) ± 1,5 ± 2,5 -
Tabel 4.2. Pengujian Kebenaran Meter Fasa Tunggal
Pengujian Kebenaran untuk meter fasa banyak dengan
dibebani satu fasa yang mempunyai tegangan fasa banyak
yang seimbang:
Nilai Arus
Faktor
Daya
Kesalahan maksimum yang
diizinkan untuk meter kelas :
0,5 1 2
0,2 I
b
s/d I
b
1 ± 1,5 ± 2,0 ± 3,0
I
b
s/d I
maks
1 - - ± 4,0
I
b
0,5 ( ind ) ± 1,5 ± 2,0 ± 3,0
0,5 I
b
0,5 ( ind ) ± 1,5 ± 2,0 -
Tabel 4.3. Pengujian Kebenaran Meter Fasa Banyak
4. Pengujian konstanta
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui nilai konstanta meter
dan nilai konstanta meter sebagaimana dimaksud pada ayat 1
Pasal ini, harus sesuai dengan nilai konstanta yang tercantum
pada pelat spesifikasi.
5. Pengujian akibat beda besaran yang mempengaruhi
40
Pengujian variasi penunjukan yang disebabkan oleh beda
besaran yang mempengaruhi adalah sesuai dengan tabel
berikut :
No
Besaran
yang
berpengar
uh dan
selisih
dengan
nilai
acuan
Nilai arus
yang
diseimbangka
n untuk meter
fasa banyak
kecuali ada
indikasi yang
berlawanan
Faktor
Daya
Nilai maksimum dari
koefisien suhu rata-
rata % /
o
C untuk
meter kelas :
0,5 1 2
1
Suhu 1)
0,1 I b s/d I
maks
1 0,03 0,05 0,1
0,2 Ib s/d I
maks
0,5
(ind)
0,05 0,07 0,15
2 Posisi
miring
dengan
arah
sembaran
g
0,05 Ib 1 1,5 2,0 3,0
I b dan I maks 1 0,3 0,4 0,5
3
Selisih
tegangan
± 10%
0,1 I
b
1 0,8 1,0 1,5
0,5 I
maks
1 0,5 0,7 1,0
0,5 I
maks
0,5 0,7 1,0 1,5
41
(ind)
4 Selisih
frekuensi ±
5%
0,1 I
b
1 0,7 1,0 1,5
0,5 I
maks
1 0,6 0,8 1,3
5 Induksi
magnetik
dari luar
0,5 mT 2)
I
b
1 1,5 2,0 3,0
6 Bentuk
gelomban
g 10 %
dari
harmonis
ke III pada
arus
3)
I
b
1 0,5 0,6 0,8
7 Pembalika
n urutan
fasa
( meter
fasa
banyak )
0,5 I
b
s/d I
maks
1 1,5 1,5 1,5
0,5 I
b
( muatan fasa
tunggal )
1 2,0 2,0 2,0
8 Medan
magnet
0,05 I
b
1 0,3 0,5 1,0
42
dari alat
pelengkap
4)
9 Gaya
mekanis
dari alat
penghitun
g 5)
0,05 I
b
1 0,8 1,5 2,0
Tabel 4.4. Variasi Penunjukkan Akibat Beda Besaran
Koefisien suhu rata-rata yang digunakan tidak boleh melebihi
batas-batas sebagaimana tabel berikut :
Nilai arus Faktor daya
Koefisien suhu rata-rata %/
o
C
meter kelas:
0,5 1 2
0,1 I
b
s/d I
maks
1 0,03 0,05 0,1
0,2 I
b
s/d I
maks
0,5 (ind) 0,05 0,07 0,15
Tabel 4.5. Batas Koefisien Suhu Rata-rata
6. Pengujian pada kuat arus berlebihan yang berlangsung sesaat
Meter kWh
Besar
Arus
Faktor
Daya
Batas Variasi Kesalahan (%)
untuk meter kelas :
0,5 1 2
Sambungan I
b
1 - 1,5 1,5
43
langsung
Sambungan
melalui trafo arus
I
b
1 0,3 0,5 1,0
Tabel 4.6. Variasi Kesalahan Akibat Arus Lebih Sesaat
7. Pengujian akibat dari pengaruh panas sendiri
Variasi kesalahan akibat pemanasan sendiri
Besar Arus
Faktor
Daya
Batas Variasi Kesalahan (%) untuk
meter kelas :
0,5 1 2
I
maks
1 0,5 0,7 1,0
0,5 (ind) 0,7 1,0 1,5
Tabel 4.7. Variasi Kesalahan Akibat Pemanasan Sendiri
8. Pengujian pelengkap
Pengujian pelengkap ini meliputi :
a. Pengujian daya yang hilang pada sirkuit tegangan dan
sirkuit arus. Daya yang hilang pada tiap sirkuit tegangan
pada tegangan referensi, suhu referensi dan frekuensi
referensi tidak boleh melebihi nilai-nilai pada tabel
berikut :
Meter kWh
Kelas meter :
0,5 dan 1 2
Meter fasa tunggal 3 W dan 12 VA 2 W dan 8 VA
44
Meter fasa banyak 3 W dan 12 VA 2 W dan 10 VA
Tabel 4.8. Batas Suhu dan Frekuensi Referensi
Daya yang diambil oleh masing-masing sirkuit arus pada
arus dasar khususnya arus dasar kurang dari 30 A,
frekuensi referensi dan suhu referensi tidak boleh melebihi
nilai pada tabel berikut :
Meter kWh
Kelas meter :
0,5 1 2
Meter fasa tunggal
dan fasa banyak
6,0 VA 4,0 VA 2,5 VA
Tabel 4.9. Batas Suhu dan Frekuensi Referensi untuk arus dasar
kurang dari 30 A
b. Pengujian suhu
Dalam kondisi normal, kumparan dan isolasi tidak
boleh mencapai suhu yang dapat mempengaruhi kerja
meter.
Dengan masing-masing sirkuit arus dibebani arus
maksimum dan dengan masing-masing sirkuit
tegangan diberi tegangan sebesar 1,2 kali tegangan
referensi, dengan suhu ruangan tidak melebihi 40
o
C,
kenaikan suhu masing-masing bagian tidak boleh
melebihi nilai pada tabel berikut :
Bagian Meter Kenaikan suhu
o
C
45
Kumparan 60
Bagian luar kotak 25
Tabel 4.10. Batas Kenaikan Suhu
c. Pengujian dielektrik
Kondisi umum pengujian dielektrik meliputi :
pengujian dilakukan pada kondisi pemakaian
selama pengujian pada isolasi tidak terdapat debu
atau kelembaban yang tidak normal
suhu lingkungan antara 15 oC - 25 oC
kelembaban relatif antara 45 % - 75 %
tekanan atmosfir antara 86 kPa – 106 kPa (860 mbar
– 1060 mbar).
Pengujian tegangan impuls harus memenuhi :
pengujian ini bertujuan untuk mengetahui
kemampuan meter menahan tegangan tinggi
tanpa mengalami kerusakan
generator yang digunakan sesuai dengan prosedur
IEC publikasi 60
bentuk gelombang distandarkan 1,2/50 dan nilai
puncaknya 6 kV. Tiap pengujian dilakukan sebanyak
10 kali pada polaritas yang sama
pengujian isolasi sirkuit dan isolasi antar sirkuit
pengujian isolasi sirkuit listrik relatif terhadap tanah
46
d. Pengujian tegangan AC
Pengujian tegangan AC meliputi :
tegangan yang diberikan saat pengujian sebaiknya
sinusoidal, mempunyai frekuensi 45 Hz sampai
dengan 65 Hz dan diberikan selama 1 menit.
Sumber daya harus mampu memberikan daya
minimal 500 VA.
selama pengujian relatif terhadap rangka (bagian A
pada tabel di bawah), sirkuit yang tidak diuji harus
dihubungkan ke rangka.
selama pengujian relatif terhadap tanah (bagian C
pada tabel di bawah), sirkuit tambahan dengan
tegangan referensi yang sama atau lebih kecil dari
40 V harus dihubungkan ke tanah.
Tegangan Uji
r.m.s
Titik-titik Dilakukan Pengujian
Tegangan :
47
2 kV ( untuk
pengujian huruf
a, b, c, d ) dan
500 V untuk
pengujian huruf e
A. Pengujian yang dapat dilakukan
dengan tutup meter dan tutup
terminal terbuka,
Antara rangka dan :
a. setiap sirkuit arus, dalam
pemakaian normal terpisah dan
diisolasi dari sirkuit lainnya
1
)
b. setiap sirkuit tegangan atau
sekumpulan sirkuit tegangan
yang mempunyai satu titik
netral (common point) dalam
pemakaian normal harus
terpisah dan diisolasi dari
sirkuit lainnya
1
).
c. setiap sirkuit tambahan atau
sekumpulan sirkuit tambahan
yang mempunyai titik netral
(common point) dan tegangan
referensinya lebih besar dari 40
V.
d. setiap kumparan arus dan
tegangan dari satu elemen
penggerak yang sama, dalam
pemakaian normal
dihubungkan menjadi satu
tetapi terpisah dan diisolasi dari
sirkuit lainnya.
2
)
48
e. setiap sirkuit tambahan yang
tegangan referensinya kurang
dari atau sama dengan 40 V
600 V atau 2 kali
tegangan
dilakukan pada
kumparan
tegangan dalam
kondisi referensi,
jika tegangan ini
lebih besar dari
300 V
B. Pengujian dapat dilakukan
dengan penutup terminal terbuka
tetapi dengan penutup kotak pada
tempatnya jika terbuat dari logam.
Antara sirkuit arus dan sirkuit
tegangan, masing-masing elemen
gerak biasanya dihubungkan.
Hubungan ini biasanya diputus
untuk tujuan pengujian.
2 kV C. Pengujian dilakukan dengan tutup
kotak dan tutup terminal tertutup.
Antara semua sirkuit arus,
tegangan dan pelengkap yang
dihubungkan, tegangan
referensinya lebih besar dari 40 V
dan tanah
Tabel 4.11. Titik-titik Pengujian Tegangan
49
Penjelasan tabel di atas :
Pemutusan sambungan saja antara sirkuit
tegangan dan sirkuit arus biasanya tidak cukup
untuk menjamin isolasi yang baik dan tahan
terhadap pengujian tegangan 2 kV. Pengujian a
dan b pada umumnya digunakan pada meter-
meter yang dijalankan dari alat transformator
dan juga meter-meter khusus yang mempunyai
kumparan arus dan kumparan tegangan
terpisah.
Sirkuit yang diuji pada a dan b tidak diuji pada
pengujian d. Jika sirkuit tegangan meter fasa
banyak mempunyai titik netral, pada pemakaian
titik netral ini dipertahankan selama pengujian
dan dalam hal ini sirkuit elemen gaya gerak
dilakukan pengujian tunggal.
e. Pengujian alat penyetel
Pengujian alat penyetel dapat dilakukan dengan cara :
Pada umumnya alat penyetel terdapat pada tiap-tiap
meter dan pengujiannya dilakukan pada kondisi
referensi.
Nilai minimum kemampuan alat penyetel harus
sesuai dengan table berikut :
50
Alat
Penyetel
Nilai Arus
Faktor
Daya
Kemampuan Minimum
Penyetelan Kecepatan
putaran Rotor ( untuk meter
kelas ) :
0,5 1 2
Elemen
pengerem
0,5 I maks 1 ± 2 ± 2 ± 4
Beban
Rendah
0,05 I b 1 ± 2 ± 2 ± 4
Sudut
Fasa
0,5 I b
0,5
(ind)
± 1 ± 1 -
0,5 I maks
0,5
(ind)
- - ± 1
Tabel 4.12. Kemampuan Minimum Penyetelan Kecepatan Putaran
Rotor
Catatan :
Untuk meter fasa banyak, pemeriksaan dari daerah
penyetelan untuk muatan induktif harus dilakukan pada
tiap elemen penggerak dan harus ditentukan pada saat
sirkuit arus dan tiap elemen mengalir arus dasar yang
terlambat 60º dibelakang tegangannya pada terminal-
terminal dari elemen tersebut, semua sirkuit tegangan dari
elemen-elemen penggerak ( tegangan fasa banyak )
seimbang, dimana nilai r.m.s nya adalah sesuai dengan
51
referensi tegangan pada alat pengubah fasa sesuai
dengan diagram sambungan.
D. Rangkuman
Pada dasarnya pengujian meter kWh dilaksanakan sebelum meter
kWh digunakan/dipasarkan ke masyarakat sampe pada saat
penggunaannya tetap dilaksanakan pengujian agar tidak merugikan
pelanggan, dalam hal ini pelanggan yang dimaksud adalah
pelanggan dari PT. Perusahaan Listrik Negara.
Sebelum produsen meter kWh memasarkan produknya ke
masyarakan maka harus dilakukan adalah pengujian ijin tipe, dimana
pengujian ini dilakukan oleh Direktorat Metrologi Departemen
Perdagangan. Setelah menjapatkan ijin tipe, maka selama
penggunaanya tetap dilakukan pengujian untuk menjaga
keakuratannya (prosesnya bisa disebut menera). Pengujian yang
dilakukan dengan cara metoda perbandingan energi dan metoda
Watt meter dan stopwatch. Kedua metoda ini dilakukan bersamaan
dan atau dapat dilakukan dengan salah satu metoda saja.
E. Latihan
Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan baik dan benar :
52
1. Sebutkan jenis-jenis pengujian yang menggunakan metoda
perbandingan energi !
2. Sebutkan langkah-langkah pengujian dengan meter pilot
menurut kata-kata sendiri !
3. Pada pengujian metoda Watt meter dan stopwatch, tuliskan
rumus waktu dasar meter kWh untuk 3 phasa 3 kawat dan 3
phasa 4 kawat. Analisa perbedaan kedua rumus tersebut !
53
BAB V
PRAKTIKUM METER kWh
Indikator Keberhasilan :
Peserta mampu mempraktekkan meter kWh metoda perbandingan pulsa
Peserta mampu mempraktekkan meter kWh metoda meter pilot
Peserta mampu mempraktekkan meter kWh secara otomatis
Peserta mampu mempraktekkan meter kWh menggunakan Metrotec
A. Praktikum Meter kWh Metoda Perbandingan Pulsa
1. Tujuan
Untuk menentukan kesalahan penunjukan Meter kWh dengan
cara membandingkan terhadap standar ukurnya yang mampu
telusur ke standar Nasional/Internasional dan memenuhi
persyaratan sebagai alat ukur Metrologi Legal.
2. Peralatan yang digunakan
Peralatan yang digunakan dalam pengujian Meter kWh ini
adalah :
a) Instalasi uji Meter kWh 1 phasa yang dilengkapi dengan :
Alat pengatur tegangan
Alat pengatur arus
Alat pengatur factor daya
Alat pengatur sudut phasa.
Alat pencatat putaran piringan meter kWh.
b) Bangku / rak Meter kWh berikut kabel penghubung.
54
3. Notasi
Notasi yang digunakan dalam prosedur ini adalah :
V = Satuan tegangan ( volt )
A = Satuan arus ( ampere )
Cos = Faktor daya
kWh = Satuan Energi aktif ( kilo watt hour )
E = Kesalahan penunjukan Meter kWh ( % )
no = jumlah pulsa meter kWh menurut hitungan
n
1
= pembacaan pulsa standar
N = jumlah putaran meter kWh yang diuji
k = nilai konstanta meter kWh. ( mWh / putaran )
K = nilai konstanta standar.
4. Persiapan Pengujian
a) Catat data teknis Meter kWh yang diuji dalam cerapan
pengujian
b) Standar yang digunakan sudah terkalibrasi yang tertelusur
ke standar Nasional/Internasional
c) Teliti arus dasar dan arus maksimum, tegangan referensi,
konstanta putar dan kelas dari meter kWh yang akan diuji.
d) Hubungkan meter kWh yang diuji pada bangku uji
menggunakan kabel-kabel yang tersedia.
e) Lepaskan hubungan antara kumparan arus dan kumparan
tegangan dari meter kWh.
55
f) Hubungan arus secara seri dan tegangan secara parallel.
g) Setelah butir a). s/d f). dilakukan hidupkan instalasi uji
dan lakukan penekan tombol sesuai dengan data meter
kWh sebagaimana butir a).
5. Pelaksanaan Pengujian
a) Setelah itu lakukan pemanasan awal dengan membebani :
tegangan referensi
arus dasar dan
factor daya = 1
selama 30 menit.
b) Sambil melakukan pemanasan awal lakukan pengecekan
konstanta putar Meter kWh dan cocokan dengan data
teknisnya.
c) Setelah pelaksanaan huruf a dan b, lakukan pengujian
gerak tanpa beban / pengujian beban kosong dengan
tegangan yang diberikan sebesar 110 % dari tegangan
referensi serta arus = 0 (tanpa beban). Pada pengujian ini
putaran piringan harus lebih kecil dari 1 putaran
d) Setelah pengujian butir 7.3 lakukan pengujian arus mula
dengan membebani
Tegangan acuan
Arus sebagaimana tabel berikut :
56
% Id untuk meter kWh
kelas
1
Meter tarif tunggal
Meter lainnya
Tabel 5.1. Tabel Isian
Faktor daya = 1
Jumlah putaran piringan harus lebih besar dari 1.
e) Atur posisi dan sensivitas ‘Scanning Head’
f) Setelah pengujian butir 7.4 lakukan pengujian kebenaran
dengan titik pengujian pada :
100 % Id, tegangan referensi dan faktor daya = 1
100 % Id, tegangan referensi dan faktor daya = 0,5
50 % Id, tegangan referensi dan faktor daya = 1
50 % Id, tegangan referensi dan faktor daya = 0,5
10 % Id, tegangan referensi dan faktor daya = 1
5 % Id, tegangan referensi dan faktor daya = 1
6. Perhitungan
a) Tentukan nilai pulsa meter kWh yang diuji (n
0
) :
n
0
=
Nk
K
57
b) Perhitungan kesalahan penunjukan meter kWh (E)
E =
n
0
-n
1
n
1
x 1 0 0 %
Kesalahan penunjukan rata-rata (Er)
E
¡
=
¿E
ì
N
7. Batas Kesalahan Yang Diinginkan
Batas kesalahan yang diijinkan pada pengujian meter kWh 1
phasa metode meter pilot (pada kondisi referensi) adalah
sesuai dengan tabel dibawah ini :
No Nilai Arus Faktor Daya
Batas Kesalahan Yang
Diizinkan ( % )
0,5 1 2
1. 0,05 Id 1 ±1,0 ±1,5 ±2,5
2. 0,5 Id 1 ±0,5 ±1,0 ±2,0
3. 0,5 Id 0,5 ±0,5 ±1,0 ±2,0
4. Id 1 ±0,5 ±1,0 ±2,0
5. Id 0,5 ±0,5 ±1,0 ±2,0
6. Imaks 1 ±0,5 ±1,0 ±2,0
Tabel 5.2. Batas Kesalahan Yang Diijinkan Untuk Meter kWh 1 Phasa
Metoda Meter Pilot
8. Pembubuhan Tanda Tera
a) 1 ( satu ) buah tanda Sah SP 6 bersebelahan dengan HP
pada salah satu baut penutup meter kWh.
58
b) 1 ( satu ) buah tanda jaminan JP 8 pada satu buah baud
yang lain pada penutup meter kWh.
Catatan :
Tutup terminal meter kWh tidak perlu disegel
B. Praktikum Meter kWh Metoda Meter Pilot
1. Tujuan
Untuk menentukan kesalahan penunjukan sekelompok Meter
kWh 1 phasa dengan cara membandingkan terhadap meter
pilot yang telah ditentukan kesalahannya dan mampu telusur ke
standar Nasional /Internasional dan memenuhi persyaratan
sebagai alat ukur Metrologi Legal.
2. Acuan
Standar acuan yang digunakan dalam petunjuk ini adalah :
a) Undang-undang Republik Indonesia No. 2 Tahun 1981
tentang Metrologi Legal
b) Keputusan Sementara Direktur Metrologi Nomor Met –
4005/ 3548/ VIII/1991 Tentang Syarat-Syarat Teknis
Khusus Meter kWh.
c) Surat Direktur Metrologi Nomor Met 1036/449/1992
tanggal 20 Februari 1992 Tentang Pembubuhan Tanda
Tera pada Meter kWh.
3. Ruang Lingkup
59
Petunjuk ini digunakan sebagai petunjuk untuk menera Meter
kWh 1 phasa metode meter pilot dengan batas-batas :
a) Tegangan terminal kurang dari 600 volt.
b) Frekuensi antara 45 – 65 Hz.
c) Menggunakan alat hitung tunggal dan ganda.
d) Meter kWh dengan kelas 0,5 , kelas 1 dan kelas 2.
e) Jenis meter kWh 1 phasa yang diuji mempunyai data
teknis yang sama.
4. Peralatan Yang Digunakan
Peralatan yang digunakan dalam pengujian Meter kWh ini
adalah :
a) Instalasi uji Meter kWh 1yang dilengkapi dengan :
Alat pengatur tegangan
Alat pengatur arus
Alat pengatur factor daya
Alat pengatur sudut phasa.
Alat pencatat putaran piringan meter kWh.
b) Bangku/rak Meter kWh 1 phasa berikut kabel
penghubung.
c) Meter pilot jenis meter kWh 1 phasa yang berfungsi
sebagai standar dan sertifikatnya.
5. Notasi
Notasi yang digunakan dalam prosedur ini adalah :
60
V = Satuan tegangan (volt).
A = Satuan arus (ampere).
Cos = Faktor daya.
kWh = Satuan Energi aktif (kilo watt hour)
E = Kesalahan penunjukan Meter kWh 1 phasa
(%).
Er = Kesalahan rata
Si = Pembacaan simpangan tanda hitam masing-
masing meter kWh..
N = Jumlah putaran meter kWh yang diuji.
p = Jumlah skala pada piringan meter kWh.
6. Persiapan Pengujian
a) Catat data teknis Meter kWh yang diuji dalam cerapan
pengujian.
b) Meter pilot sebagai standar yang digunakan sudah
terkalibrasi yang tertelusur ke standar
Nasional/Internasional.
c) Teliti arus dasar dan arus maksimum, tegangan referensi,
konstanta putar dan kelas dari seluruh meter kWh yang
akan diuji dan harus sejenis dengan meter pilotnya.
d) Hubungkan meter kWh yang diuji pada bangku uji
menggunakan kabel-kabel yang tersedia secara seri.
61
e) Lepaskan hubungan antara kumparan arus dan kumparan
tegangan dari meter kWh.
f) Hubungan arus secara seri dan tegangan secara paralel.
g) Letakkan scanning head pada meter pilot.
7. Pelaksanaan Pengujian
a) Posisikan switch pada manual.
b) Hidupkan Test bench ( tekan switch pada posisi ON.
c) Atur posisi Current out
d) Atur posisi Voltage out.
e) Atur posisi factor daya ( cos phi ) = 1
f) Atur posisi arus pada step 1
g) Atur posisi arus dengan mengatur selector arus serta
membaca pada standar ( sebagai indicator ) pada posisi
Ib.
h) Secara bersamaan dengan butir 7.7 atur phase shifter
pada posisi faktor daya = 1
i) pilih posisi jumlah putaran piringan ( N ) sebesar :
10 putaran untuk bebal 100 % Ib dan p.f = 1
5 putaran untuk beban 100 % Ib dan p.f = 0,5
2 putaran untuk beban 10 % Ib dan p.f = 1
1 putaran untuk beban 5 % Ib dan p.f = 1
j) Setelah itu lakukan pemanasan awal dengan membebani :
tegangan referensi
62
arus dasar dan
factor daya = 1
selama 30 menit.
k) Sambil melakukan pemanasan awal lakukan pengecekan
konstanta putar untuk mencocokan dengan data
teknisnya.
l) Setelah itu, lakukan pengujian gerak tanpa
beban/pengujian beban kosong dengan tegangan yang
diberikan sebesar 110 % dari tegangan referensi serta
arus = 0 (tanpa beban). Pada pengujian ini putaran
piringan harus lebih kecil dari 1 putaran.
m) Setelah itu lakukan pengujian arus mula dengan
membebani
Tegangan acuan
Arus sebesar
% Id untuk meter kWh
kelas
0,5 1 2
Meter tarif tunggal 0,3 0,5 0,5
Meter lainnya 0,4 0,5 0,5
Tabel 5.3. % Id (Arus Dasar) Untuk Masing-masing Kelas Mete
kWh
Faktor daya = 1
Jumlah purtaran piringan harus lebih besar dari 1 putaran.
63
n) Atur posisi dan sensivitas ‘Scanning Head’ pada meter
pilot.
o) Posisikan black mark meter yang diuji pada posisi tepat
pada indeks
p) Tekan tombol start / run untuk mendapatkan posisi black
mark dari meter pilot.
q) Setelah itu lakukan pengujian kebenaran dengan titik
pengujian pada : ( sebanyak 3 kali )
100 % Id, tegangan referensi dan factor daya = 1
r) Setelah putaran meter kWh berhenti, catat penyimpangan
black mark dari masing2 meter kWh yang diuji.
s) Lanjutkan pengujian berikutnya untuk beban :
100 % Id, tegangan referensi dan factor daya = 0,5
10 % Id, tegangan referensi dan factor daya = 1
5 % Id, tegangan referensi dan factor daya = 1
t) Pengujian selesai.
8. Perhitungan
a) Tentukan nilai simpangan tanda hitam terhadap indeks
pada piringan masing-masing meter kWh yang diuji (Si).
b) Perhitungan kesalahan penunjukan meter kWh (E).
E =
S
1
P N
x 1 0 0 %
c) Kesalahan penunjukan rata-rata (Er)
64
E
¡
=
¿E
ì
3
9. Pembubuhan Tanda Tera
a) 1 ( satu ) buah tanda Sah SP 6 bersebelahan dengan
tanda pribadi HP pada salah satu baut penutup meter
kWh.
b) 1 ( satu ) buah tanda jaminan JP 8 pada satu buah baud
yang lain pada penutup meter kWh.
Catatan :
Tutup terminal meter kWh tidak perlu disegel
Untuk mempermudahkan peserta dalam praktikum ini disediakan
cerapan yang ada di lampiran 1.
C. Praktikum Meter kWh Secara Otomatis
1. Tujuan
Menentukan kesalahan penunjukan meter kWh 1 phasa 2
kawat dengan membandingkan dengan standar dengan
perhitungan secara otomatis.
2. Peralatan Yang Digunakan.
Instalasi Uji Meter kWh yang menggunakan error calculator unit
( ECU ) Meter kWh yang diuji.
65
3. Batas Kesalahan Maksimum Yang Diizinkan ( sesuai dengan
SSTK ) Untuk meter 1 fase yang dilakukan tidak pada kondisi
acuan, sebagaimana tabel berikut :
No. Nilai arus Faktor daya
Batas Kesalahan
Maksimum yang
diizinkan
Meter Kelas 2
1 O,5 I
d
1 3,5%
2 I
d
1 2,5%
3 I
d
0,5 (Ind) 3,0%
4 I
maks
1 2,5%
5 O,5 I
d
1 2,5%
Tabel 5.4. Batas Kesalahan yang Diijinkan untuk Meter kWh Kelas 2
Catatan : tabel Batas kesalahan yang Diizinkan ini
diperuntukkan bagi meter kWh 1 phasa yang dilakukan di
ruangan yang tidak dikondisikan pada kondisi acuan.
4. Persiapan pengujian
a) Pasangkan meter kWh yang akan diuji pada bangku uji
yang telah tersedia.
66
b) Penyambungan kawat disesuaikan dengan jenis meter
kWh yang akan diuji. (yaitu meter kWh 1 phasa).
c) Urutan penyambungan pada terminal tsb. yaitu dengan
urutan sesuai nomor yang tertulis pada terminalnya serta
cara penyambungannya digambarkan di balik tutup
terminal. Urutannya ( dari kiri ke kanan ):
Arus masuk.
Tegangan ( phasa 1 )
Arus keluar.
Netral dari tegangan.
d) Pasangkan sensor pendeteksi putaran piringan pada
meter kWh.
e) Ketepatan pemasangan sensor ini dapat diketahui dari :
Jika posisi Sensor ( photo transistor ) belum sejajar
dengan tanda hitam ( black-mark ) pada piringan,
maka LED kuning pada electronic calculator error (
ECU ) tidak berkedip saat pengujian.
Jika posisi Sensor ( photo transistor ) belum pas dan
trimer ECU belum pas, maka LED kuning pada
electronic calculator error ( ECU ) menyala terus
menerus.
5. Persiapan Data masukan komputer.
67
a) Jalankan program WINKWH dengan cara klik short cut
WINKWH pada desktop Window, dan akan muncul
tampilan program kalibrasi meter.
b) Pada tampilan ini program kalibrasi ini , pilih perintah
selanjutnya dengan cara klik menu SYSTEM.
c) Pada menu system terdapat menu lebih lanjut yaitu untuk
perintah pengujian ( calibrate meter ) dan perintah keluar (
exit ) ini klik CALIBRATE METER atau dengan menekan
tombol F1 selanjutnya muncul tampilan sbb :
Gambar 5.1. Tampilan Aplikasi Praktikum Meter kWh Otomatis
68
d) Pada tampilan tersebut di atas, masukkan data meter
serta data lain yang diperlukan meliputi :
Tanggal pengujian
Nama perusahaan pemohon
Merek dan tipe meter kWh
Jumlah meter yang diuji
Nomor seri
Jenis meter kWh ( I phasa atau 3 phasa )
MPE (%) pada : Full Load, Ind Load, dan Low Load
(sesuaikan dengan kelas akurasi Meter kWh )
Konstanta meter kWh
Tegangan referensi
Arus dasar dan arus maksimum meter kWh
Kelas akurasi meter kWh
Temperatur .
Nama petugas
Waktu pengujian gerak mula ( starting time )
Waktu pengujian beban kosong ( Creeping time
pada no load test )
Interface port
Penanggung jawab pengujian
Dst.
69
e) Setelah data yang kita masukkan sudah lengkap, klik
SAVE SETUP,
f) Untuk memulai pengujian klik NEW TEST.
g) Kemudian klik FULL LOAD yang bertuliskan GO, ditandai
dengan kedipan led pada kolom Full Load.
6. Pelaksanaan Pengujian
a) Pastikan seluruh tombol pada posisi off.
b) Pastikan posisi selektor pada posisi minimum.
c) Hidupkan saklar utama ( main switch ).
d) Posisikan switch tegangan output pada posisi 1 phasa ( 1
)
e) Posisikan switch arus output pada posisi 1 phasa ( 1 )
f) Posisikan switch cos phi pada posisi cos phi = 1 (contoh
untuk beban penuh )
g) Posisikan step arus pada angka 1 ( step a )
h) Pilih menu setting arus pada meter standar pada posisi
100 Ampere.
i) System measurement 3 ph, 4 kawat
j) Energy pada posisi Wh dan automatic.
k) Dalam hal test bench dilengkai dengan pengatur
tegangan, atur penyetelan tegangan secara perlahan dari
posisi minimum ke posisi maksimum sampai didapatkan
nilai tegangan yang kita kehendaki sesuai dengan nilai full
70
load ( Vref ) dengan membaca penunjukan tegangan pada
meter standar ).
l) Atur penyetelan arus secara perlahan dari posisi minimum
ke posisi maksimum sampai didapatkan nilai arus yang
kita kehendaki sesuai dengan nilai ( contoh full load = 100
% Ib ) dengan membaca penunjukan arus pada meter
standar ).
m) Bersamaan dengan penyetelan arus, lakukan juga
penyetelan phasa shifter dari posisi minimum menuju
maksimum sampai diperoleh nilai cos phi yang sesuai (
contoh full load cos phi = 1 dengan membaca
penunjukan cos phi pada meter standar )
n) Pembacaan tegangan 1 phasa (Vr), arus 1 phasa (Ir) dan
nilai cos phi ( p.f.) dapat dilihat pada Meter standar.
o) Apabila nilai tegangan, arus dan cos phi sudah sesuai,
perhatikan nilai kesalahan penunjukannya ( Error % ) dari
meter kWh yang diuji pada electronic calculator error (
ECU ).
p) Perhatikan juga pada pencatatan komputernya.
q) Amati pembacaan tersebut sebanyak 3 kali untuk
menentukan ketidak tetapannya.
r) Selanjutnya data dapat disimpan data data base cara
dengan klik SAVE DATA.
71
s) Untk menampilkan layar report, klik menu pulldown
REPORT kemudian klik CALIBRATION RESULT atau
dengan menekan tombol F2 pada keyboard.
t) Pengujian selesai.
u) Kembalikan posisi penyetelan tegangan (jika ada)
penyetelan arus dan penyetelan phasa shifter pada posisi
minimum.
D. Praktikum Meter kWh Menggunakan Metrotec
1. Tujuan
Untuk menentukan kesalahan penunjukan Meter kWh 1 phasa
dengan cara membandingkan terhadap Meter kWh Standar
(Metrotec) yang telah ditentukan kesalahannya dan mampu
telusur ke standar Nasional /Internasional dan memenuhi
persyaratan sebagai alat ukur Metrologi Legal.
2. Acuan
Standar acuan yang digunakan adalah :
a) Undang-undang Republik Indonesia No. 2 Tahun 1981
tentang Metrologi Legal.
b) Keputusan Sementara Direktur Metrologi Nomor Met –
4005/ 3548/ VIII/1991 Tentang Syarat-Syarat Teknis
Khusus Meter kWh.
72
c) Surat Direktur Metrologi Nomor Met 1036/449/1992
tanggal 20 Februari 1992 Tentang Pembubuhan Tanda
Tera pada Meter kWh.
3. Ruang Lingkup
a) Prosedur ini digunakan sebagai pedoman untuk menera
Meter kWh 1 phasa menggunakan Metrotec dengan
batas-batas :
Tegangan terminal 127 volt atau 220 volt.
Frekuensi antara 50 Hz.
Menggunakan alat hitung tunggal dan ganda
Meter kWh jenis dinamis..
Meter kWh dengan kelas 0,5 ; 1 ; 2.
b) Rentang ukur pengujian antara 5 Ampere sampai dengan
60 Ampere.
4. Sarana yang Digunakan
Peralatan yang digunakan dalam pengujian Meter kWh ini
adalah :
Portable Meter kWh Standar ( Metrotec )
Kabel-kabel penghubung.
Cerapan pengujian.
Petunjuk Penggunaan Metrotec
5. Notasi
Notasi yang digunakan dalam prosedur ini adalah :
73
V = Satuan tegangan ( volt ).
A = Satuan arus ( ampere ).
E = Kesalahan penunjukan Meter kWh 1 phasa ( % ).
Er = Kesalahan rata ( % ).
N1 = Jumlah putaran meter kWh yang diuji.
N2 = Pembacaan Metrotec ( pulsa )
C1 = Konstanta putar Meter kWh ( mWh/putaran )
C2 = Konstanta Metrotec ( mWh/pulse )
6. Batas Kesalahan yang Diijinkan
Batas kesalahan yang diijinkan pada pengujian dengan
metode ini adalah sesuai dengan table dibawah ini :
No.
Nilai Arus Faktor
Daya
Batas Kesalahan
Yang Diizinkan ( % )
0,5 1 2
1 0,05 Id 1 1,0 1,5 2,5
2 0,5 Id 1 0,5 1,0 2,0
3 Id 1 0,5 1,0 2,0
4 I maks 1 0,5 1,0 2,0
Tabel 5.5. Batas Kesalahan yang Diijinkan untuk Meter kWh Kelas 0,5; 1;
dan 2
7. Persiapan Pengujian
a) Catat data teknis Meter kWh yang diuji dalam cerapan
pengujian yaitu:
Pemilik :
74
Meter kWh
Kelas
Tipe
No. seri
Konstanta putar
Tegangan
Ib ( Imaks )
Frekuensi
CT
PT
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
Diisi jika menggunakan trafo
arus
Diisi jika menggunakan trafo
tegangan
b) Meter kWh standar (Metrotec) yang digunakan sudah
terkalibrasi yang tertelusur ke standar Nasional /
Internasional.
c) Hubungkan meter kWh yang diuji dengan Meter kWh
Standar (Metrotec) menggunakan kabel-kabel yang
tersedia sesuai gambar yang tertera pada Metrotec (lihat
gambar di bawah).
d) Hubungan antara kumparan arus dan kumparan tegangan
dari meter kWh harus tetap tersambung.
e) Hubungkan titik-titik positif dan titik netral dengan jaringan
PLN.
75
f) Tentukan nilai arus sesuai dengan beban yang diinginkan
(umumnya pada 100 %Ib, 50 %Ib dan 10 %Ib atau 5
%Ib).
g) Setelah butir a). s/d f). dilakukan, hidupkan Metrotec
dengan cara memutar alat pengatur arus ke arah
berlawanan jarum jam
h) Setelah butir g) dilakukan maka akan terlihat salah satu
lampu indicator tegangan menyala secara otomatis
menempatkan tegangan jaringan yang terpasang yaitu :
Jika tegangannya 220 volt, maka indicator tegangan
220 volt yang menyala
Jika tegangannya 110 volt, maka indicator tegangan
127 volt yang menyala
8. Pelaksanaan Pengujian
a) Setelah itu lakukan pemanasan awal dengan membebani :
tegangan referensi
arus dasar dan
selama 30 menit.
b) Sambil melakukan pemanasan awal lakukan pengecekan
konstanta putar untuk mencocokan dengan data
teknisnya.
c) Setelah pelaksanaan butir a) dan b), lakukan pengujian
gerak tanpa beban/pengujian beban kosong dengan
76
tegangan yang diberikan sebesar 110 % dari tegangan
referensi serta arus = 0 (tanpa beban). Pada pengujian ini
putaran piringan harus kurang dari 1 putaran
d) Setelah pengujian butir 8.3 lakukan pengujian arus mula
dengan membebani :
Tegangan acuan
Arus sebesar :
% Id untuk Meter kWh klas :
0,5 1 2
Meter Tarif Tunggal 0,3 0,5 0,5
Meter Lainnya 0,4 0,5 0,5
Tabel 5.6. Arus Dasar untuk Meter kWh Kelas 0,5; 1; dan 2
Jumlah purtaran piringan harus lebih besar dari 1 putaran
e) Setelah pengujian butir d) lakukan pengujian kebenaran
dengan titik pengujian pada :
100 % Id, tegangan referensi dan factor daya = 1
dengan jumlah putaran piringan = 10
10 % Id, tegangan referensi dan factor daya = 1
dengan jumlah putaran piringan = 2
5 % Id, tegangan referensi dan factor daya = 1
dengan jumlah putaran piringan = 1
9. Perhitungan
77
a) Tentukan nilai simpangan tanda hitam terhadap indeks
pada piringan masing-masing meter kWh yang diuji. (Si)
b) Perhitungan kesalahan penunjukan meter kWh (E)
E
ì
=
( N1 C1 ) -( N2 C2 )
N2 C2
x 1 0 0 %
c) Untuk memudahkan dalam penggunaan cerapan, formula
se-bagaimana butir 8 a) dapat diubah sebagai berikut
E
ì
=
( N1 C1 )
C2
-N2
N2
x 1 0 0 %
Dimana :
N1 C1
C2
= Pcmbocoon Hctcr kwb
d) Kesalahan penunjukan rata-rata (Er)
E
¡
=
¿E
ì
3
10. Pembubuhan Tanda Tera
a) 1 ( satu ) buah tanda Sah SP 6 bersebelahan dengan
tanda pribadi HP pada salah satu baut penutup meter
kWh.
b) 1 ( satu ) buah tanda jaminan JP 8 pada satu buah baud
yang lain pada penutup meter kWh.
Catatan :
Tutup terminal meter kWh tidak perlu disegel
78
BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pemabahsan peneraan ukutan energi listrik ini terutama untuk alat
ukurnya berupa meter kWh. Sebelum memeasuki bahasan tentang
meter kWh, sebelumnya disediakan bab yang membahas tentang
energi listrik yang di dalamnya merupakan bahasan pengulangan
dari dasar elektronika.
Bahasan meter kWh meliputi ketentuan umum dari syarat-syarat
teknis khusus meter kWh yang dikeluarkan oleh Direktorat Metrologi
Departemen Perdaganan. Bahasan lainnya yaitu elemen dan
klasifikasi meter kWh tersebut. Meter kWh dibagi ke dalam 6 elemen
utama yang saling keterkaitan, keenam elemen tersebut adalah
elemen penggerak, elemen putar, elemen pengerem, elemen
penghitung, terminal, dan peralatan kompensasi dan penyetel.
Sedangkan pengklasifikasiannya didasarkan pada arus yang lewat;
prinsip dan sistem kerjanya; pemakaian phasa, pemakaian
transformator; cara penyambungan kawat; penunjukkan register;
lokasi dan syarat pemasangan; jenis kotak; sistem pencatatan;
sistem pembayaran; dan sistem pembayaran.
79
Pada bahasan pengujian ini dibagi menjadi tiga jenis pengujian,
yaitu: meotda perbandingan energi; metoda Watt meter dan
stopwatch; dan pengujian ijin tipe meter kWh. Khusus pengujian ijin
tipe, merupakan pengujian yang dilakukan terhadap meter kWh
sebelum meter kWh tersebut dipasarkan oleh produsen. Jika
pengujian ini telah dilewati maka produsen akan mendapatkan ijin
tipe dan diperkenankan untuk dipasarkan. Sedangkan kedua metoda
yang lainnya merupakan pengujian yang rutin dilakukan ketika meter
kWh telah dan sedang digunakan.
Bagian bab terakhir diisi oleh petunjuk praktikum meter kWh, yaitu:
Praktikum Meter kWh Metoda Perbandingan Pulsa, Praktikum Meter
kWh Metoda Meter Pilot, Praktikum Meter kWh Secara Otomatis,
dan Praktikum Meter kWh Menggunakan Metrotec.
B. Implikasi
Mengingat luasnya cakupan pembelajaran tentang peneraan ukuran
energi listrik (meter kWh), hal ini menuntut Widyaiswara untuk
mengembangkan pengetahuannya, menguasai materi pokoknya,
termasuk materi pokok diluar bahasan ini yang masih relevan.
Sebagai contohnya adalah penguasaan terhadap bagian dari
elektronika dasar dan fisika tentang rangkaian listrik dan
80
elektromagnetik karena bahasan ini merupakan salah satu faktor
yang dapat menentukan sukses atau tidaknya pembelajaran.
C. Tindak Lanjut
Penguasaan konsep dan pengetahuan tentang peneraan ukuran
energi listrik (meter kWh) tidak cukup, akan tetapi perlu dilakukan
praktik yang terus menerus. Adapun sebagai bahan tambahan dapat
dilakukan demonstrasi/praktikum yang khusus membahas tentang
meter kWh.
Pada era serba informasi ini tidak menutup kemungkinan
penguasaan materi dapat dilakukan melalui internet sebagai sumber
pengetahuan. Praktikum yang tersedia di internet pun cukup bagus
untuk mengilustrasikan hal-hal penting yang menyangkut konsep
kinematika dan dinamika, atau dengan kata lain simulasi melalui
website.
81
DAFTAR PUSTAKA
Undang-undang Metrologi Legal No. 2/1981.
Keputusan Direktorat Metrologi No. 923/Dirmet-1/III/1997 tentang Syarat–
syarat Teknik Khusus Meter kWh.
Surat Direktur Metrologi Nomor Met 1036/449/1992 tanggal 20 Februari
1992 Tentang Pembubuhan Tanda Tera pada Meter kWh
Sutrisno, “ Elektronika Teori dan Penerapannya “, Penerbit ITB, Bandung,
1987.
82
LAMPIRAN 1
Laporan Praktikum Meter kWh Metoda Meter Pilot
CERAPAN PENGUJIAN
METER kWh
1 PHASA
Metode Meter Pilot
BALAI DIKLAT METROLOGI
Model :
Pemilik :
Alamat :
Data Pengujian
Merek dan Buatan :
Model / Tipe : :
No. Seri :
I dasar / Imaks :
Tegangan Nominal :
Konstanta Putar :
Kelas :
Frekuensi :
Berlaku sampai :
Ratio ( CT x PT ) :
Tanggal Pengujian :
Pemanasan Awal
Dibebani 100 % Id dan Tegangan Nominal serta Faktor Daya = 1 , selama 30 menit.
Pengujian Konstanta *)
Hitung perbandingan putaran antara piringan dan register (alat hitung )
Hasilnya harus sesuai dengan nilai konstanta yang tertera pada plat pengenal. . Sah/Batal *
Pengujian Tanpa Beban Arus ( Pengujian Beban Kosong )
Dibebani 110 % Tegangan Nominal, tanpa beban Arus dan Faktor Daya = 1
Putaran piringan harus kurang dari 1 putaran Sah/Batal *
Pengujian Arus Mula
Dibebani arus sesuai dengan 0,5 % Id, 100 % Tegangan nominal dan Factor Daya = 1
Putaran piringan harus lebih dari 1 putaran Sah/Batal *
Putaran Tegang
an
(Volt)
Arus
% Id
Cos
Putaran Piringan
Kesalahan
penunjuka
n
%
E rata2
%
BKD
%
Meter
kWh
(skala)
Meter
Pilot
(skala)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)=((5)-
(6))): (6)
(8) (9)
100 1
100 0,5
10 1
5 1
Catatan :
*) Pengujian konstanta dapat digantikan dengan pengujian register dengan cara membandingkan penunjukan
register dan standar menggunakan periode waktu yang lama.
PETUGAS KETERANGAN
No Nama Kelompok
83
BIODATA
Nama lengkap Vera Firmansyah, lahir di Lebak
pada tanggal 26 Februari 1979. Sekolah Dasar
dan Sekolah Menegah Pertama diselesaikan di
Bayah, sedangkan Sekolah Menegah Umum
diselesaikan di Serang.
Pada tahun 1998 masuk ke Institut Teknologi
Bandung di Departemen Fisika dan lulus pada
tahun 2002 dengan bidang keahlian komputasi fisika bumi dan
menyandang predikat kumlaude. Sebelum bekerja di PT. Krakatau Steel
Group sebagai IT Engineer, sempat mengalami selama 6 (enam) bulan
menjadi koordinator asisten di Laboratorium Fisika Dasar ITB. Pada tahun
2004 melanjutkan sekolah ke Magister Sains (S2) di Departemen Fisika
ITB dengan bidang keahlian komputasi fisika bumi (pemodelan).
Pada tahun 2007 masuk ke Departemen Perdagangan R.I sebagai
Widyaiswara di Balai Diklat Metrologi Bandung. Selama menjadi Calon
Pegawai Negeri Sipil telah mengikuti beberapa diklat, diantaranya : Diklat
Fungsional Penera, Diklat Pra Jabatan, dan Diklat Calon Widyaiswara.
Selain mengikuti diklat telah memiliki sertifikat sebagai auditor ISO
9000:2001 dan sertifikat kalibrasi alat ukur.
Sekarang tinggal di alamat Jl. Kanayakan D52, RT 0006, RW 0008, Kel.
Dago, Kec. Coblong, Bandung, 40132.

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT bahwasanya bahan ajar ini telah dikerjakan dengan sebaik-baiknya. Bahan ajar Peneraan Ukuran Energi Listrik (Meter kWh) R.I ini telah sesuai dengan Peraturan Menteri tentang

Perdagangan

nomor

279/M-DAG/PER/2/2008

Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan Kemetrologian. Bahan ajar ini dipersiapkan untuk melengkapi syarat mengikuti seleksi Calon

Widyaiswara di Lembaga Administrasi Negara. Bahan ajar terdiri dari penjelasan teori yang dibagi dalam enam bab, meliputi : Pendahuluan; Energi Listrik; Meter kWh; Pengujian meter kWh; Praktikum Meter kWh dan Penutup. Dengan bahan ajar ini diharapkan dapat membantu widyaiswara yang mempunyai spesifikasi di bidang peneraan ukuran energi listrik dalam menbagi ilmunya kepada peserta diklat. Bahan ajar ini tidak menutup kemungkinan untuk dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat, tuntutan jaman, dan kebijakan pemerintah karena bahan ajar ini masih jauh dari sempurna. Mudah-mudahan Allah SWT meridhoi segala apa yang telah kita lakukan. Amin.

Bandung, Penulis

Desember 2008

i

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Gambar Daftar Tabel BAB I PENDAHULUAN A. B. C. D. Latar Belakang Deskripsi Singkat Manfaat Modul Bagi Peserta Tujuan Pembelajaran 1. Kompetensi Dasar 2. Indikator Keberhasilan E. F. BAB II Materi Pokok dan Sub Materi Pokok Petunjuk Belajar

i ii v vii 1 1 1 2 2 2 2 3 4 5 5 8 10 13 14 15

ENERGI LISTRIK A. B. C. D. E. Daya dan Energi Listrik Teori Pengukuran Energi Listrik Jaringan Meter Listrik Rangkuman Latihan

BAB III

METER kWh

ii

D. D. B. B. E. C. C. Elemen Meter kWh Klasifikasi Meter kWh Rangkuman Latihan BAB IV PENGUJIAN METER kWh A. Ketentuan Umum Syarat-syarat Teknik Khusus Meter kWh 15 18 24 29 30 31 31 33 37 51 51 53 53 58 64 71 78 78 79 80 81 82 B. C. B. E. Kesimpulan Implikasi Tindak Lanjut DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 1 iii . D.A. Praktikum Meter kWh Metoda Perbandingan Pulsa Praktikum Meter kWh Metoda Meter Pilot Praktikum Meter kWh Secara Otomatis Praktikum Meter kWh Menggunakan Metrotec BAB VI PENUTUP A. BAB V Metoda Perbandingan Energi Metoda Watt Meter dan Stopwatch Pengujian Ijin Tipe Meter kWh Rangkuman Latihan PRAKTIKUM METER kWh A. C.

BIODATA PENULIS 83 iv .

6. Skema Diagram 1 phasa 3 kawat v . dan Daya Apparent 6 Gambar 2. Diagram kawat 3 kumparan tegangan dan 3 kumparan arus 9 Gambar 2. Vektor Hubungan Daya Reaktif(Leading) .7. dan Daya Apparent yang dikalikan dengan konstanta waktu 7 Gambar 2. Daya Aktif. dan Daya Apparent 6 Gambar 2.3. Vektor Hubungan Daya Reaktif.5. kWh METER / KVArh METER 3 FASA 4 KAWAT dengan 3 pasang elemen .2. Daya Aktif. Vektor Hubungan Daya Reaktif.9. yaitu 3 kumparan tegangan dan 3 kumparan arus 8 Gambar 2. Diagram vektor kWh 3 fasa 4 kawat 3 pasang elemen 10 Gambar 2. Diagram vektor kVArh 3 fasa 4 kawat 3 pasang elemen 10 11 11 Gambar 2.1.10. dan Daya Apparent 6 Gambar 2. Skema Diagram 1 phasa 2 kawat Gambar 2. Daya Aktif.DAFTAR GAMBAR Gambar 2. Vektor Hubungan Daya Reaktif(Lagging) . Daya Aktif.4.8.

7.2. Gambar 3.6. Gambar 3. Transformator Primernya Sekunder Diisolasi dari Jarigan 12 12 13 13 19 20 20 21 22 22 23 23 23 24 67 Gambar 2. Skema Diagram 3 phasa 4 kawat 3 elemen Gambar 2. Skema Diagram 3 phasa 3 kawat tipe bintang Gambar 3.9.12. Gambar 3.10. Gambar 3. Gambar 3. Gambar 3. Gambar dan Skema Elemen Meter kWh Kumparan Arus Kumparan Tegangan Tegangan Elemen Putar Elemen Pengerem Elemen Penghitung Elemen Penghitung dengan Desimal Elemen Penghitung tanpa Desimal Terminal Arus dan Tegangan Gambar 3.8. Gambar 3.1.4.Gambar 2.5. Tampilan Aplikasi Praktikum Meter kWh Otomatis vi . Peralatan Kompensasi dan Penyetel Gambar 5.1.11.3.5 elemen Gambar 2. Gambar 3.14.13. Skema Diagram 3 phasa 4 kawat 2.

3. Tabel 4.1.11.2.10. Tabel 4.8.6. Tabel 4. Tabel 4. Pengujian Gerak Mula Pengujian Kebenaran Meter Fasa Tunggal Pengujian Kebenaran Meter Fasa Banyak Variasi Penunjukkan Akibat Beda Besaran Batas Koefisien Suhu Rata-rata Variasi Kesalahan Akibat Arus Lebih Sesaat Variasi Kesalahan Akibat Pemanasan Sendiri Batas Suhu dan Frekuensi Referensi Batas Suhu dan Frekuensi Referensi untuk arus dasar kurang dari 30 A 38 39 39 42 42 43 43 44 44 45 48 Tabel 4.4.7.3.12.2. Batas Kenaikan Suhu Tabel 4. Titik-titik Pengujian Tegangan Tabel 4. Tabel 4. Tabel 4. Tabel Isian Batas Kesalahan Yang Diijinkan Untuk Meter kWh 1 Phasa Metoda Meter Pilot Tabel 5. Tabel 4. Tabel 5.9. Kemampuan Minimum Penyetelan Kecepatan Putaran Rotor Tabel 5.5.1.DAFTAR TABEL Tabel 4. Tabel 4. % Id (Arus Dasar) Untuk Masing-masing Kelas Mete kWh 50 56 57 62 vii .

dan 2 73 76 Tabel 5. Batas Kesalahan yang Diijinkan untuk Meter kWh Kelas 0.5.4. 1.6. dan 2 viii . Arus Dasar untuk Meter kWh Kelas 0.Tabel 5.5. 1. Batas Kesalahan yang Diijinkan untuk Meter kWh Kelas 2 65 Tabel 5.5.

metoda pengujian meter kWh.BAB I PENDAHULUAN A. Takar. B. Timbang dan Perlengkapannya (UTTP) yang memiliki berbagai tingkat kesulitan. Deskripri Singkat Mata Diklat ini membahas tentang Peneraan Ukuran Energi Listrik yang meliputi : konsep energi listrik. dan praktikum meter kWh. 1 . Sehingga untuk mengantisipasi perkembangan dan peningkatan IPTEK dan UTTP sebagaimana dimaksud di atas menuntut adanya Sumber Daya Manusia (SDM) Metrologi yang memiliki kompetensi di bidang kemetrologian yang hanya dapat diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan kemetrologian. Latar Belakang Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia nomor 279/M-DAG/PER/2/2008 tentang penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan kemetrologian bahwa perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang bergerak dengan cepat menyebabkan peningkatan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi baik secara kuantitas maupun kualitas serta munculnya jenis Alat-alat Ukur. meter kWh.

Hubungan antara modul ini dengan bidang kemetrologian yaitu karena meter kWh merupakan salah satu alat ukur yang wajib dilakukan peneraan. 2. klasifikasi meter kWh. dan yang terakhir dapat melakukan proses pengujiannya. Kompetensi Dasar Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta mampu menjelaskan meter kWh. D. dan klasifikasi meter kWh c. Menjelaskan konsep energi listrik Menjelaskan syarat-syarat. yang dimulai dari elemen meter kWh. Tujuan Pembelajaran 1. Manfaat Modul Bagi Peserta Modul ini sebagai salah satu pedoman peserta dalam membantu proses pembelajaran pada Diklat Fungsional Penera Tingkat Lanjutan dan Diklat Fungsional Penera. peserta diharapkan dapat memahami landasan ilmiah energi listrik. mejelaskan elemen termasuk klasifikasinya meter kWh. Indikator Keberhasilan Secara lebih spesifik kemampuan yang harus dimiliki di akhir pelajaran adalah sebagai berikut : a. b.C. elemen. Menjelaskan pengujian-pengujian meter kWh 2 . Melalui modul ini.

3.3. d. Syarat-syarat teknik khusus meter kWh b. c. Teori pengukuran energy listrik a.3.1.2. Materi Pokok a. b. Praktikum Meter kWh Secara Otomatis d. Energi Listrik Meter kWh Pengujian Meter kWh Praktikum Meter kWh Sub Materi Pokok a.1.1. Daya dan energi listrik a. Mempraktekkan pengujian meter kWh E.2. Praktikum Meter kWh Menggunakan Metrotec 3 . Elemen meter kWh b.d. Metoda Watt meter dan stopwatch c. Klasifikasi meter kWh c. Materi Pokok dan Sub Materi Pokok 1. 2.2.3.1. Jaringan meter listrik b.2. Pengujian ijin tipe meter kWh d.4. Metoda perbandingan energi c. Praktikum Meter kWh Metoda Meter Pilot d. Praktikum Meter kWh Metoda Perbandingan Pulsa d.

Sedangkan pada Diklat Penera kualifikasi lulusan yang dibutuhkan adalah tingkat sarjana (S1).F. Untuk membantu peserta diklat dalam proses pembelajaran. Petunjuk Belajar Modul ini digunakan bagi peserta diklat dengan kualifikasi lulusan Sekolah Menegah Atas (SMA) atau yang sederajat dan telah mengikuti Diklat Penera Tingkat dasar pada Diklat Fungsional Penera Tingkat Lanjutan. disediakan latihan soal-soal yang berhubungan dengan kebutuhan pada mata diklat selanjutnya atau yang lebih tinggi. 4 .

maka Daya adalah besaran dasar yang perlu kita ketahui DAYA = TEGANGAN X ARUS ENERGI = DAYA X WAKTU Daya listrik terbagi atas : 1. Daya dan Energi Listrik Sebelum kita berbicara pada energy listrik yang merupakan besaran turunan dari Daya listrik.BAB II ENERGI LISTRIK Indikator Keberhasilan : Peserta diharapkan mampu menjelaskan daya dan energi listrik. Peserta diharapkan mampu menjelaskan jaringan meter listrik A. Peserta diharapkan mampu menjelaskan teori pengukuran energi listrik. Daya Aktif (Daya Nyata) WATT = P 2. Daya Reaktif (Daya Induktif dan Kapasitif) VAR = Q 3. Daya Apparent (Perkalian Secara Vektor ntara Daya Aktif dan Daya Reaktif) VA = S 5 .

Vektor Hubungan Daya Reaktif(Leading) .2.3. Daya Aktif. dan Daya Apparent 6 . yaitu gambar segitiga daya dari vektor besaran daya yang berpengaruh terhadap suatu beban listrik Gambar 2. Vektor Hubungan Daya Reaktif(Lagging) .Perhatikan gambar di bawah ini.1. Vektor Hubungan Daya Reaktif. Daya Aktif. dan Daya Apparent Gambar 2. Daya Aktif. dan Daya Apparent Gambar 2.

Vektor Hubungan Daya Reaktif. Untuk pembahasan selanjutnya kita fokuskan pada alat ukur kWh meter.Karena Energy Listrik merupakan perkalian antara Daya dan waktu. kVarh meter dan kVA meter adalah alat ukur yang dapat mengukur energy listrik. maka Vektor Daya listrik juga dapat dianggap vector Energy listrik dimana waktu merupakan konstanta Gambar 2. dan Daya Apparent yang dikalikan dengan konstanta waktu Maka dari gambar diatas dijelaskan bahwa kWh meter .4. Pada umumnya kWh meter adalah alat ukur yang paling banyak digunakan untuk keperluan transaksi jual beli energy listrik. Besaran yang berpengaruh pada pengukuran kWh Meter arus bolakbalik : Arus Tegangan Faktor Daya ( COS / SIN ) 7 . Daya Aktif.

kWh METER / KVArh METER 3 FASA 4 KAWAT dengan 3 pasang elemen . Daya (P) yang terukur oleh meter kWh adalah perkalian antara tegangan (U). Garis tebal menyatakan alur (flow) dari beban (Arus) dan melewati kumparan Arus. Arus(I). yaitu 3 kumparan tegangan dan 3 kumparan arus 8 . dan Faktor Daya (COS ) P = U x I x COS Gambar 2. yang terdiri dari satu elemen tegangan(Kumparan Tegangan) dan satu elemen Arus. B. Teori Pengukuran Energi Listrik Gambar dibawah menyatakan diagram pengawatan kWh meter satu Phasa dua kawat yang banyak dijumpai di Rumah tangga. Garis lebih tipis merupakan kawat yang menuju kumparan tegangan.5.COS adalah faktor daya pada kWh meter dan SIN adalah factor daya pada kVarh meter.

Gambar 2.) ) + ( IS2 x U T3-R1 x Cos ( 90 IT3 x U R1 –S2 x Cos (90. P=3xIxU x Cos Daya Reaktif yang terbaca oleh kVArh meter : Q = ( IR1 x U S2-T3 x Cos ( 90 .6. Diagram kawat 3 kumparan tegangan dan 3 kumparan arus Daya yang terbaca pada kWh meter : P = ( IR1 x U R1-0 x Cos R1 ) + ( IS2 x U s2-0 x Cos Cos T3 S2 ) + ( IT3 x U T3-0 x ) maka Untuk beban – beban yang simetris dan sama besar persamaan menjadi .)) Untuk beban yang sama besar maka persamaan menjadi )) + ( 9 .

7. ataupun tempat yang memerlukan perlakuan khusus dalam pemasangannya. Jaringan Meter Listrik Jaringan meter listrik ini menunjukkan skema pemasangan jenisjenis meter kWh yang dipasang baik di perumahan. institusi. Diagram vektor kWh 3 fasa 4 kawat 3 pasang elemen Gambar 2.8.Q=IxU x 3 x Sin atau Q = 3 x I x U x Sin Gambar 2. Diagram vektor kVArh 3 fasa 4 kawat 3 pasang elemen C. 1 phasa 2 kawat 10 . 1 phasa (phasa tunggal) disuplai dengan cara : 1.

1 phasa 3 kawat Gambar 2. Listrik 1 phasa disuplai oleh salah satu dari jaringan 3 phasa (dapat dilihat dari warna hitam.Gambar 2.9. Skema Diagram 1 phasa 3 kawat Biasanya skema 1 phasa 3 kawat ini digunakan di Amerika Utara. biru. untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini 11 . 2. dan merah). Pada gambar di atas dapat dilihat transformator sekunder diisolasi dari jarigan primernya.10. Skema Diagram 1 phasa 2 kawat Pelayanan 1 phasa 2 kawat biasanya disuplai dari transformator.

Skema Diagram 3 phasa 4 kawat 3 elemen 4. 3 phasa 4 kawat 2. Sehingga pemasangan jaringan yang seperti ini tidak dapat direkomendasikan.11. 3 phasa 4 kawat 3 elemen Layanan 3 phasa 4 kawat adalah metode yang biasa digunakan untuk suplai listrik phasa banyak dalam perdagangan dan konsumen industri.5 elemen Jika tegangan tidak seimbang. menyebabkan pengukurannya tidak akurat.Gambar 2. 12 ..12. Transformator Sekunder Diisolasi dari Jarigan Primernya 3. Gambar 2.

5 elemen 5.13. Skema Diagram 3 phasa 4 kawat 2. Rangkuman Besaran-besaran yang berpengaruh pada pengukuran meter kWh adalah arus. Skema Diagram 3 phasa 3 kawat tipe bintang D.14. Pada skema pemasangan jaringan listrik ada dimana salah satu jenis metoda yang tidak direkomendasikan yaitu metoda 3 phasa 4 kawat 2. 3 phasa 3 kawat tipe bintang Penggunaan jaringan 3 phasa 3 kawat umumnya digunakan untuk jaringan transmisi tegangan tinggi dimana netralnya sebagai ground. Gambar 2. dan faktor daya. 13 .Gambar 2. tegangan.5 elemen.

Gambarkan skema pemasangan jaringan listrik dengan metoda 3 phasa 4 kawat 2.E. Sebutkan besaran-besaran yang berpengaruh pada pengukuran meter kWh ! 3. Sebutkan jenis-jenis daya dan tuliskan rumus masing- masingnya ! 2. Latihan Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan baik dan benar ! 1.5 elemen dan analisa kenapa metoda pemasangannya tidak direkomendasikan ! 14 .

923/Dirmet-1/III/1997 tentang Syarat-syarat Teknik Khusus Meter kWh. dengan cara mengintegrasikan daya aktif dalam suatu selang waktu dengan satuan kilowatt-jam. Peserta diharapkan mampu menjelaskan klasifikasi meter kWh. Sedangkan yang dimaksud dengan alat ukur integrasi adalah alat yang mengintegrasikan dan mengukur arus. dan sejenisnya yang diberikan kepada suatu beban untuk suatu jangka waktu tertentu. Peserta diharapkan mampu menjelaskan elemen meter kWh. Meter kWh dinamis yang selanjutnya disebut dengan meter adalah alat ukur listrik yang digunakan untuk mengukur energi listrik arus bolak balik. Meter kWh adalah alat ukur integrasi yang digunakan untuk mengukur besarnya energi aktif dalam satuan kilowatthour. daya reaktif. 15 .BAB III METER kWh Indikator Keberhasilan : Peserta diharapkan mampu menjelaskan ketentuan umum syarat-syarat teknis khusus meter kWh. Ketentuan Umum Syarat-syarat Teknik Khusus Meter kWh Pada sub Bab ini hanya menyangkut ketentuan umum dari Keputusan Direktorat Metrologi No. Ketentuan umum tersebut meliputi : 1. A.

Meter induksi adalah meter yang dialiri arus pada kumparan tetap yang berinteraksi dengan arus yang diinduksikan pada suatu elemen penghantar yang menimbulkan gerakan pada elemen tersebut 3. Meter Kelas 0.kWh dari jenis elektro mekanis dengan cara kerja prinsip induksi dan atau elektronis 2. Rotor meter yang selanjutnya disebut rotor adalah elemen meter yang bergerak yang merupakan tempat berinteraksinya fluksi magnetik dari belitan tetap dengan fluksi magnetik dari 16 . Meter Kelas 1 adalah meter yang mempunyai tingkat ketelitian 1% dari energi yang diukur pada kondisi acuan dan daerah ukur tertentu 5.5 adalah meter yang mempunyai tingkat ketelitian 0. Meter tarif ganda adalah meter yang dilengkapi dengan beberapa alat hitung/register yang masing-masing beroperasi pada selang waktu tertentu berdasarkan tarif yang berbeda 7.5% dari energi yang diukur pada kondisi acuan dan daerah ukur tertentu 4. Meter Kelas 2 adalah meter yang mempunyai tingkat ketelitian 2% dari energi yang diukur pada kondisi acuan dan daerah ukur tertentu 6.

Frekuensi acuan adalah nilai frekuensi yang dijadikan dasar untuk menetapkan unjuk kerja meter 14. Konstanta meter adalah konstanta yang menyatakan hubungan anatara energi yang ditunjukan oleh alat hitung/register dan jumlah putaran rotor/jumlah pulsa 15. Idasar adalah nilai arus yang dijadikan dasar untuk menetapkan unjuk kerjanya 11.elemen rem dan yang mengoperasikan alat hitung/register termasuk alat pembangkit pulsa bila ada 8. Alat hitung/register adalah bagian dari meter yang menunjukan nilai energi terukur 9. Tegangan acuan adalah nilai tegangan yang dijadikan dasar untuk menetapkan unjuk kerja meter 13. Tutup meter adalah penutup bagian muka meter yang dibuat dari bahan seluruhnya tembus pandang atau bahan yang tidak tembus pandang yang dilengkapi jendela untuk melihat putaran rotor dan pembacaan alat hitung/register 10. Arus dasar. Suhu acuan adalah suhu sekitar yang ditentukan untuk kondisi acuan 17 . Arus maksimum. Imaks adalah nilai arus tertinggi yang diizinkan mengalir secara terus menerus yang masih memenuhi syarat kesalahan maksimum 12.

B. Gerak tanpa beban adalah gerakan rotor meter yang sama sekali tidak dibebani arus 21. Persentase kesalahan adalah kesalahan meter yang dinyatakan dalam rumus sebagai berikut : energi yang ditunjukka n meter . Kedudukan vertikal meter adalah kedudukan meter yang sumbu rotornya dalam keadaan vertikal 17.energi sebenarnya x100% energi sebenarnya 19. Gerak mula adalah gerakan rotor meter yang dibebani arus sangat kecil. Energi sebenarnya adalah energi yang ditunjukkan oleh meter standar 20. Kondisi acuan adalah nilai kondisi tertentu yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan unjuk kerja meter 18.16. Elemen Meter kWh Pada dasarnya komponen meter kWh terdiri dari bagian-bagian seperti pada gambar di bawah ini 18 .

Sifat-sifat kumparan arus : Kumparan ini dihubungkan secara seri dengan beban 19 .Gambar 3. Gambar dan Skema Elemen Meter kWh 1. Elemen penggerak Elemen ini terdiri dari kumparan arus dan kumparan tegangan.1.

jika diberi tegangan Gambar 3. Kumparan Tegangan Tegangan 2.3. Kumparan Arus Sifat-sifat kumparan tegangan : Kumparan ini dihubungkan secara paralel dengan beban Kumparan ini berbentuk U. Pada kumparan ini juga terjadi fluks magnit yang ditimbulkan karena adanya medan magnit.2.Jika pada kumparan ini dialiri arus (ada beban). Elemen putar 20 . maka terbentuk medan magnit adanya medan magnit tersebut akan menimbulkan fluks magnit Gambar 3.

Elemen pengerem Elemen pengerem ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : Elemen ini berupa magnit permanen yang berbentuk ladam Penempatannya mengapit piringan (yang terbuat dari bahan konduktor ) dan biasanya berseberangan dengan elemen penggerak 21 . Elemen Putar 3. Adapun ciri-cirinya adalah : Bagian ini berupa piringan yang dibuat dari bahan konduktor. Salah satu bantalannya dapat diatur. Pada bagian tengah piringan dipasangkan sebuah poros yang ditumpu oleh dua buah bantalan. Pada poros tersebut ditempatkan roda gigi Gambar 3.Elemen putar ini berupa piringan yang bentuknya terdapat lekukanlekukan kecil dan terdapat lubang kecil.4.

5. Elemen penghitung Elemen penghitung ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : Bagian merupakan seperangkat roda gigi yang disusun sedemikian rupa dan dihubungkan dengan roda gigi yang terdapat pada poros piringan Pada bagian ini juga terdapat rol angka yang tersusun secara berderet Gambar 3.Gambar 3. Elemen Pengerem 4.6. Elemen Penghitung 22 .

7. Terminal Arus dan Tegangan 6. Peralatan kompensasi dan penyetel Peralatan ini dibuat untuk menyetel kecepatan putar dari piringan agar alat ukur tersebut mengukur energi listrik dengan benar.9. Alat penyetel ini terdiri dari : Alat Beban Maksimum (Magnet Permanen) 23 . Terminal Terminal terdiri dari 2 bagian : Terminal Arus Terminal Tegangan Gambar 3.8.Gambar 3. Elemen Penghitung tanpa Desimal 5. Elemen Penghitung dengan Desimal Gambar 3.

10.Penyetel Beban Rendah (Pergeseran Cincin Penghalang Flux) Penyetel Beban Kosong (Membelokkan Flux atau Lobang pd Piring) Penyetel Kesetimbangan Beban Penyetel Sudut Phasa (Tahanan Geser) Gambar 3. energi listrik ditransformasikan melalui putaran disk (piringan ) dengan menggunakan sistim induksi elektromagenetik pada kumparan tegangan 24 . Klasifikasi Meter kWh Pada umumnya meter kWh dapat diklasifikasikan berdasarkan : 1. Peralatan Kompensasi dan Penyetel C. Arus yang lewat Meter kWh arus bolak-balik (meter kWh AC) Meter kWh arus searah (meter kWh DC) 2. Prinsip dan sistem kerjanya Meter kWh mekanik kWh meter mekanik.

Meter kWh elektronik (digital) kWh meter digital. besaran energy listrik ditransformasikan melalui sistim elektronik. Pemakaian Transformator 25 .dan kumparan arus dan akhirnya terbaca pada register mekanik. dan diubah menjadi pulsa digital . Sehingga pada kWh meter semi elektronik ini tidak dijumpai piringan atau disk dan sebagai penggantinya adalah pulsa digital yang tampilannya berupa lampu LED yang menyatakan flashing pulsa dari kWh meter tersebut. 3. Meter kWh semi elektronik kWh semi elektronik . mentransformasikan energy listrik dengan menggunakan pulsa-pulsa digital melalui ADC Analog to digital converter dan pulsa –pulsa digital tersebut dianologikan menjadi tampilan Display elektronik. Pemakaian Fasa Meter fasa tunggal 2 kawat Meter fasa tunggal 3 kawat Meter fasa 3 – 3 kawat Meter fasa 3 – 4 kawat 4. Pulsa digital tersebut menggerakakn pointer dan register yang berupa roda gigi mekanik.

maka pembacaan pada register kWh meter adalah pembacaan langsung dari jumlah energy listrik yang terpakai dan tercatat oleh kWh meter tersebut. Jenis kotak 26 .Meter kWh pemasangan langsung (tanpa transformator) Meter kWh pemasangan tak langsung (dengan transformator) Apabila kWh meter tiga fasa pemasangan langsung. Penunjukkan register Meter kWh dengan redister terpasang Meter dengan register terpisah dengan unitnya Meter dengan register analog (jarum) Meter dengan register digital mekanik Meter dengan register digital elektronik Meter dengan register ganda 7. Cara penyambungan kawat Meter biasa. Lokasi dan syarat pemasangan Meter pasangan dalam Meter pasangan luar 8. meter mempunyai terminal dibagian belakang dengan tipe bayonet 6. kawat disambungkan menggunakan baut pada terminalnya Mete colok. 5.

Pencatatan jarak jauh ini biasanya dilakukan oleh kWh meter type elektronik atau kWh meter digital dimana dalam konstruksinya terdapat output sinyal dan fasilitas RS 232-Communication . kabel jaringan transmisi dan distribusi PLN . kabel dengan serat optik. UHF . sehingga data – data pada kWh meter digital tersebut dapat dibaca ditempat lain dan atau dibaca pada lokasi dimana kWh tersebut berada. Analysis gelombang harmonik 27 . 1 hari . kVA yang diserahkan ( demand ) Pencatatan selama 1 jam . kVarh . radio komunikasi ( VHF . 1 bulan . dll) . kVA yang diterima ( receive ) kWh. 1 tahun. SHF – satellite . Data – data down load dapat berupa : kWh. Sistem Pencatatan Pencatatan langsung secara manual atau visual Pencatatan langsung dengan remote kontrol Pencatatan langsung dengan remote jarak jauh (sistem SCADA) Pencatatan ini dilakukan dengan menggunakan media telekomunikasi jarak jauh seperti : telepon .Meter biasa (dilengkapi terminal pembumian) Meter berkotak isolasi dengan perlindungan kelas II (biasanya tanpa terminal pembumian) 9. Data – data tersebut dapat di down load dan diprint kapan saja dan dimanapun. kVarh .

sehingga prinsip kita dalam melindungi produsen dan konsumen tetap terjaga.- Dan lain – lain. data – data tersebut bisa saja dapat dirubah. Sistem pembayaran Sistem pembayaran biasa Sistem prabayar 11.2 s Meter kelas 0.5 s Meter kelas 1 Meter kelas 2 Meter kelas 3 kWh meter klas 0. silahkan mana yang paling aman dalam mencegah penyimpangan manipulasi data. tetapi selain dapat didown load . maka proteksi program terhadap down – load data sangatlah penting.5 s ( statis ) biasanya adalah type kWh meter digital static dimana Error (kesalahan) tetap selama dalam pemakaiannya selalu pada kondisi acuan dan spesifkasi 28 . Data – data yang dapat didown load secara jarak – jauh memang teknologi canggih kWh meter. Kelas ketelitian Meter kelas 0. Proteksi tersebut dapat berupa software program yang memasukan password sebagai kata kunci pembuka program atau juga Switch on-off down load data.2 s dan 0. 10.

=1 1. tegangan nominal . Arus =1 2. kWh meter klas 0.0 % pada tegangan nominal . Menurut ketentuan teknis yang berlaku ( OIML Rekomendasi . SPLN ) maka batas kesalahan maksimum yang diijinkan adalah : . Sehingga. D.5 .dari kWh meter tersebut.5 % pada tegangan nominal . nominal dan Cos =1 0. kWh meter klas 1 bisa berupa kWh meter digital atau kWh meter mekanik.2 s dan 0. 2 dan 3 . Rangkuman Enam elemen meter kWh memiliki fungsi masing-masing yang saling berhubungan satu sama lainnya. kWh meter klas 2 dan klas 3 biasanya adalah type mekanik. Arus =1 Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table kesalahan meter kWh.5 s tersendiri dan terpisah prinsip pengujiannya dari kWh meter klas 1 . Perbedaan klas kWh meter didasarkan atas batas – batas kesalahan maksimum yang diijinkan (mpe) . IEC . nominal dan Cos kWh meter klas 2 . Arus nominal dan Cos kWh meter klas 0. jika salah satu elemen 29 . Arus nominal dan Cos kWh meter klas 1 . Prinsip pengujian kWh meter juga berbeda tergantung dari klasnya.2 .2 % pada 0.0 % pada tegangan nominal .kWh meter klas 0.

Selain hal di atas. Kenapa kumparan arus disusun seri sedangakan kumparan paralel dihubungkan paralel? Jelaskan ! 4. E. Pada elemen putar. Pada elemen putar. Sebutkan klasifikasi meter kWh berdasarkan sistem pencatatannya ! 5. meter kWh juga dibagi menjadi sebelas klasifikasi. jelaskan kenapa piringan terdapat satu lubang kecil ? jelaskan ! 3. jelaskan kenapa piringan dibuat ada lekukan-lekukan kecil ? jelaskan ! 2. Pada elemen penggerak terdapat kumparan arus yang terhubung seri dan kumparan tegangan yang terhubunga secara paralel. Latihan Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan baik dan benar ! 1. Jelaskan dengan singkat meter kWh semielektronik ! 30 .terjadi kerusakan maka akan menyebabkan pengukuran meter kWh tersebut akan tidak semestinya.

A. Peserta diharapkan mampu menjelaskan metoda Wattmeter dan stopwatch. Ketika alat ukur telah melakukan pengukuran secara lengkap. Peserta diharapkan mampu menjelaskan metoda pengujian ijin tipe meter kWh. E = Jumlah Energi – Nilai energi sebenarnya E = W . maka jumlah energi ini digunakan sebagai ukuran (W) atau sebagai jumlah energi yang diukur. maka meter yang diuji akan memberikan hasil (yang dipantau oleh standar) yang dinyatakan sebagai nilai energi yang sebenarnya (Ws). Metoda Perbandingan Energi Untuk menentukan kesalahan meter kWh pada saat mengukur suatu jumlah energi tertentu.BAB IV PENGUJIAN METER kWh Indikator Keberhasilan : Peserta diharapkan mampu menjelaskan metoda perbandingan energi. Metoda Putaran Piringan Pengujian dengan metode ini dilakukan dengan memasukkan jumlah putaran piringan sebagai pengendali standar meter 31 .Ws Metoda pengujian perbandingan energi ini banyak dilakukan dengan cara : 1. Jumlah energi ini dapat dihitung berdasarkan nilai-nilai yang kita ukur.

Metoda Pulsa Energi / Pengujian dengan metode ini dilakukan dengan memasukkan jumlah putaran piringan sebagai pengendali standar meter kWh. Kesalahan meter kWh ditentukan dengan menggunakan rumus : = = 1 100% dimana : = 1 n1 = pembacaan standar (pulsa) N = Jumlah putaran piringan ( putaran) k = konstanta meter kWh (kWh/putaran) K = konstanta standar (kWh/pulsa) 32 .kWh. Kesalahan meter kWh ditentukan dengan menggunakan rumus : = 100% dimana : Nm = Jumlah putaran piringan meter yang diuji Ns = Jumlah putaran piringan meter standar dalam praktek kesalahan meter kWh diketahui dari simpangan piringannya = ( ) 100% 2.

= 100% B. Metoda Sinkron (meter pilot) Metode ini sama dengan metode putaran piringan Metode ini dilakukan dengan membandingkan putaran meter yang diuji dengan putaran meter pilot. Kesalahan meter kWh metode sinkron ( meter pilot ) dihitung berdasarkan simpangan putaran piringan dibandingkan dengan jumlah putaran piringan meter pilot. Putaran piringan meter pilot ini dipantau oleh “scanning head” dan jumlah putarannya digunakan untuk mengendalikan pengujian. Meter pilot diambil dari salah satu meter dari kelompok meter kWh yang akan diuji dan telah mendapatkan perlakuan khusus.3. degan kesalahan dapat dihitung dengan tumus di bawah ini : 33 . Pengujian meter kWh dengan metode sinkron dapat digunakan untuk melakukan pengujian meter dalam jumlah banyak sekaligus sesuai dengan kapasitas rak pengujian. Metoda Wattmeter dan Stopwatch Metoda ini menggunakan Watt meter standar dan standar waktu (stopwatch).

Meter kWh 3 Phasa 3 Kawat 34 .dimana : = 100% Tm = Waktu meter yang diuji (dihitung dengan formula) Ts = Waktu meter standar (penunjukkan stopwatch) Perhitungan waktu meter yang diuji 1. Meter kWh 1 Phasa Pada meter kWh 1 phasa dapat dihitung dengan menggunakan rumus : = 3600 1000 dimana : T N k V I = 3600 1000 = Waktu dasar meter (detik) = Jumlah putaran meter kWh = Konstanta meter kWh (putaran/meter kWh) = Tegangan pada meter kWh (Volt) = Arus yang mengalir pada sirkuit arus (ampere) = beda sudut phasa antara tegangan dan arus P = Daya aktif (Watt) 3600 = 1 jam menjadi 3600 detik 1000 = 1 kW menjadi 1000 Watt 2.

Pada meter kWh 3 phasa 3 kawat dapat dihitung dengan menggunakan rumus : = 3 3600 1000 (beban dianggap seimbang) dimana : T N k = 3600 1000 3 = Waktu dasar meter (detik) = Jumlah putaran meter kWh = Konstanta meter kWh primer atau sekunder (putaran/meter kWh) V = Tegangan antara phasa-phasa sisi primer atau sekunder meter kWh (Volt) I = Arus yang mengalir pada sirkuit arus (ampere) = Beda sudut phasa antara tegangan dan arus P = Daya aktif (Watt) 3600 = 1 jam menjadi 3600 detik 1000 = 1 kW menjadi 1000 Watt 3. Meter kWh 3 Phasa 4 Kawat Pada meter kWh 3 phasa 4 kawat dapat dihitung dengan menggunakan rumus : = 3 3600 1000 35 .

dan I harus dari sisi yang sama yakni sisi primer atau sisi sekunder. penggunaan k. 36 . Penggunaan sisi primer atau sekunder hanya berlaku untuk meter kWh yang tersambung melalui transformator dan perlu diketahui juga rasio transformatornya.(beban dianggap seimbang) dimana : T N k = 3600 1000 3 = Waktu dasar meter (detik) = Jumlah putaran meter kWh = Konstanta meter kWh primer atau sekunder (putaran/meter kWh) V = Tegangan antara phasa dan netral sisi primer atau sekunder meter kWh (Volt) I = Arus yang mengalir pada sirkuit arus (ampere) = beda sudut phasa antara tegangan dan arus P = Daya aktif (Watt) 3600 = 1 jam menjadi 3600 detik 1000 = 1 kW menjadi 1000 Watt Dalam perhitungan waktu Tm di atas. Dalam menggunakan metoda ini diperlukan kondisi tegangan harus stabil (pada umumnya menggunakan stabilizer tegangan). V.

C.

Pengujian Ijin Tipe Meter kWh Pengujian ijin tipe ini bertujuan untuk memberikan persetujuan atau menginjikan sebuah produk meter kWh beredar di masyarakat atau perusahaan-perusahaan yang menggunakan meter kWh khusus, dalam hal ini PT. Perusahaan Listrik Negara sebagai

pengguna/penyalur dari produsen meter kWh. Adapun kondisi pemeriksaan dan pengujian harus memenuhi hal-hal sebagai berikut: Kotak meter harus selalu tertutup, kecuali untuk memeriksa kualitas mekanis tertentu. Peneraan di bengkel konstruksi dapat dilakukan dengan kotak terbuka, dalam hal telah diketahui bahwa pengaruh tutup terhadap penunjukan meter diabaikan. Sebelum dilakukan pemeriksaan dan pengujian, meter harus dibebani selama paling sedikit setengah jam dengan tegangan acuan dan arus sebesar 0,1 Id, serta faktor daya sama dengan satu. Pembebanan tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan

pemanasan dari sirkit tegangan dan untuk mengetahui apakah rotor dapat berputar secara bebas.

Adapun jenis pengujiannya itu sendiri meliputi : 1. Pengujian gerak tanpa beban

37

Dengan tanpa arus pada sirkuit arus, piringan meter tidak boleh membuat satu putaran penuh pada tegangan antara 80% sampai dengan 110% dari tegangan referensi. 2. Pengujian gerak mula Meter dibebani dengan tegangan referensi dan dilewati arus sesuai dengan tabel berikut, rotornya harus dapat bergerak lebih dari satu putaran.
Batas Variasi Kesalahan (%) Faktor Meter Daya 0,5 Meter tarif tunggal 1 0,3 1 0,4 2 0,5 untuk meter kelas :

tanpa alat pemakaian putaran balik Meter lainnya 1 0,4 0,4 0,5

Tabel 4.1. Pengujian Gerak Mula

3.

Pengujian kebenaran Pengujian Kebenaran untuk meter fasa tunggal dan fasa banyak yang mempunyai beban fasa banyak yang seimbang:
Kesalahan maksimum yang Faktor Nilai Arus Daya 0,5 0,05 I b 0,1 I b s/d I Maks 1 1 ± 1,0 ± 0,5 1 ± 1,5 ± 1,0 2 ± 2,5 ± 2,0 diizinkan untuk meter kelas :

38

0,1 I b

0,5 ( ind ) 0,8 ( kap )

± 1,3 ± 1,3 ± 2,5 ± 1,5

± 1,5 ± 1,5 ± 3,5 ± 2,5

± 2,5 -

Jika diminta oleh pemakai 0,2 I b s/d I b

0,25 ( ind ) 0,5 ( kap )

Tabel 4.2. Pengujian Kebenaran Meter Fasa Tunggal

Pengujian Kebenaran untuk meter fasa banyak dengan dibebani satu fasa yang mempunyai tegangan fasa banyak yang seimbang:
Kesalahan maksimum yang Faktor Nilai Arus Daya 0,5 0,2 I b s/d I b I b s/d I maks Ib 0,5 I b 1 1 0,5 ( ind ) 0,5 ( ind ) ± 1,5 ± 1,5 ± 1,5 1 ± 2,0 ± 2,0 ± 2,0 2 ± 3,0 ± 4,0 ± 3,0 diizinkan untuk meter kelas :

Tabel 4.3. Pengujian Kebenaran Meter Fasa Banyak

4.

Pengujian konstanta Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui nilai konstanta meter dan nilai konstanta meter sebagaimana dimaksud pada ayat 1 Pasal ini, harus sesuai dengan nilai konstanta yang tercantum pada pelat spesifikasi.

5.

Pengujian akibat beda besaran yang mempengaruhi

39

5 0.1 I b 0.7 1.5 Imaks 1 1 0.7 1.5 40 .07 0.0 1.1 I b s/d I 1 maks 0.1 0.05 (ind) 1 1.5 0.5 1.5 0.05 0.Pengujian variasi penunjukan yang disebabkan oleh beda besaran yang mempengaruhi adalah sesuai dengan tabel berikut : Besaran yang berpengar uh dan No selisih dengan nilai acuan 1 Suhu 1) 0.3 0.5 I maks 0.5 0.0 1.4 0.8 0.03 0.0 3.2 Ib s/d I maks 2 Posisi miring dengan arah sembaran g I b dan I maks 1 0.0 0.5 1 2 Daya Nilai arus yang diseimbangka n untuk meter Faktor Nilai maksimum dari koefisien suhu ratarata % /oC untuk meter kelas : 3 Selisih tegangan ± 10% 0.05 Ib 0.0 0.5 2.15 fasa banyak kecuali ada indikasi yang berlawanan 0.

8 10 % 7 Pembalika n urutan fasa ( meter fasa banyak ) 0.5 1.05 I b 1 0.5 1.8 1.5 0.0 3.0 2.0 2.5 I b ( muatan fasa tunggal ) 1 2.0 1.5 I maks 1 0.7 1.0 6 Bentuk gelomban g dari Ib harmonis ke III pada arus 3) 1 0.0 8 Medan magnet 0.5 0.5 5 Induksi magnetik Ib dari luar 0.3 0.3 0.5 I b s/d I maks 1 1.6 0.5 1.6 0.5 mT 2) 1 1.(ind) 4 Selisih frekuensi ± 5% 0.5 2.0 41 .1 I b 1 0.

05 I b 1 0.05 2 0.5 2.15 Tabel 4.03 meter kelas: 1 0.5 Faktor untuk meter kelas : 42 . Variasi Penunjukkan Akibat Beda Besaran Koefisien suhu rata-rata yang digunakan tidak boleh melebihi batas-batas sebagaimana tabel berikut : Koefisien suhu rata-rata Nilai arus Faktor daya 0.5. Pengujian pada kuat arus berlebihan yang berlangsung sesaat Batas Variasi Kesalahan (%) Besar Meter kWh Arus Daya 0.07 0.5 Sambungan Ib 1 1 1.dari alat pelengkap 4) 9 Gaya mekanis dari alat penghitun g 5) 0.5 (ind) 0.2 Ib s/d Imaks 1 0.5 0.1 Ib s/d Imaks 0.05 0.5 2 1.1 %/ C o 0.8 1.4.0 Tabel 4. Batas Koefisien Suhu Rata-rata 6.

Pengujian pelengkap Pengujian pelengkap ini meliputi : a.5 1 I maks 0.5 1 0. Pengujian daya yang hilang pada sirkuit tegangan dan sirkuit arus. suhu referensi dan frekuensi melebihi nilai-nilai pada tabel referensi tidak boleh berikut : Kelas meter : Meter kWh 0.7 2 1.0 7.5 dan 1 Meter fasa tunggal 3 W dan 12 VA 2 2 W dan 8 VA 43 . Variasi Kesalahan Akibat Pemanasan Sendiri 8. Daya yang hilang pada tiap sirkuit tegangan pada tegangan referensi.7.0 meter kelas : Tabel 4. Pengujian akibat dari pengaruh panas sendiri Variasi kesalahan akibat pemanasan sendiri Batas Variasi Kesalahan (%) untuk Faktor Besar Arus Daya 0.5 1.6.5 0. Variasi Kesalahan Akibat Arus Lebih Sesaat 1 0.langsung Sambungan Ib melalui trafo arus Tabel 4.3 0.0 1.5 (ind) 0.7 1.

dengan suhu ruangan tidak melebihi 40oC.5 VA 1 2 b.2 kali tegangan referensi. Batas Suhu dan Frekuensi Referensi untuk arus dasar kurang dari 30 A 4. Pengujian suhu Dalam kondisi normal. Batas Suhu dan Frekuensi Referensi Daya yang diambil oleh masing-masing sirkuit arus pada arus dasar khususnya arus dasar kurang dari 30 A. kumparan dan isolasi tidak boleh mencapai suhu yang dapat mempengaruhi kerja meter. frekuensi referensi dan suhu referensi tidak boleh melebihi nilai pada tabel berikut : Kelas meter : Meter kWh 0. Dengan masing-masing sirkuit arus dibebani arus maksimum dan dengan masing-masing sirkuit tegangan diberi tegangan sebesar 1.0 VA 2.5 Meter fasa tunggal 6.0 VA dan fasa banyak Tabel 4. kenaikan suhu masing-masing bagian tidak boleh melebihi nilai pada tabel berikut : Bagian Meter Kenaikan suhu oC 44 .8.Meter fasa banyak 3 W dan 12 VA 2 W dan 10 VA Tabel 4.9.

Batas Kenaikan Suhu c.25 oC kelembaban relatif antara 45 % .Kumparan Bagian luar kotak 60 25 Tabel 4. Tiap pengujian dilakukan sebanyak 10 kali pada polaritas yang sama pengujian isolasi sirkuit dan isolasi antar sirkuit pengujian isolasi sirkuit listrik relatif terhadap tanah 45 .2/50 dan nilai puncaknya 6 kV. Pengujian tegangan impuls harus memenuhi : pengujian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan meter menahan tegangan tinggi tanpa mengalami kerusakan generator yang digunakan sesuai dengan prosedur IEC publikasi 60 bentuk gelombang distandarkan 1.75 % tekanan atmosfir antara 86 kPa – 106 kPa (860 mbar – 1060 mbar). Pengujian dielektrik Kondisi umum pengujian dielektrik meliputi : pengujian dilakukan pada kondisi pemakaian selama pengujian pada isolasi tidak terdapat debu atau kelembaban yang tidak normal suhu lingkungan antara 15 oC .10.

selama pengujian relatif terhadap tanah (bagian C pada tabel di bawah). selama pengujian relatif terhadap rangka (bagian A pada tabel di bawah).d. sirkuit yang tidak diuji harus dihubungkan ke rangka. mempunyai frekuensi 45 Hz sampai dengan 65 Hz dan diberikan selama 1 menit.m. sirkuit tambahan dengan tegangan referensi yang sama atau lebih kecil dari 40 V harus dihubungkan ke tanah. Pengujian tegangan AC Pengujian tegangan AC meliputi : tegangan yang diberikan saat pengujian sebaiknya sinusoidal. Tegangan Uji r. Sumber daya harus mampu memberikan daya minimal 500 VA.s Titik-titik Dilakukan Pengujian Tegangan : 46 .

setiap sirkuit arus. d. c. c.2 kV ( untuk huruf A. setiap sirkuit tegangan atau sekumpulan sirkuit tegangan yang mempunyai satu titik netral (common point) dalam pemakaian terpisah dan normal diisolasi harus dari sirkuit lainnya 1). Pengujian yang dapat dilakukan dengan tutup meter dan tutup terminal terbuka. d ) dan 500 V untuk pengujian huruf e pemakaian normal terpisah dan diisolasi dari sirkuit lainnya 1) b. dalam pemakaian dihubungkan menjadi normal satu tetapi terpisah dan diisolasi dari sirkuit lainnya. setiap sirkuit tambahan atau sekumpulan sirkuit tambahan yang mempunyai titik netral (common point) dan tegangan referensinya lebih besar dari 40 V. Antara rangka dan : a. b. dalam pengujian a. ) 2 47 . setiap kumparan dari arus dan tegangan satu elemen penggerak yang sama.

masing-masing elemen gerak biasanya dihubungkan. setiap sirkuit tambahan yang tegangan referensinya kurang dari atau sama dengan 40 V 600 V atau 2 kali tegangan dilakukan kumparan tegangan dalam kondisi referensi. jika tegangan ini lebih besar dari 300 V 2 kV pada B. Antara sirkuit arus dan sirkuit tegangan.e. C. Pengujian dapat dilakukan dengan penutup terminal terbuka tetapi dengan penutup kotak pada tempatnya jika terbuat dari logam. tegangan referensinya lebih besar dari 40 V dan tanah Tabel 4. tegangan dan pelengkap yang dihubungkan.11. Pengujian dilakukan dengan tutup kotak dan tutup terminal tertutup. Hubungan ini biasanya diputus untuk tujuan pengujian. Titik-titik Pengujian Tegangan 48 . Antara semua sirkuit arus.

Sirkuit yang diuji pada a dan b tidak diuji pada pengujian d. Pengujian a dan b pada umumnya digunakan pada metermeter yang dijalankan dari alat transformator dan juga meter-meter khusus yang mempunyai kumparan terpisah. pada pemakaian titik netral ini dipertahankan selama pengujian dan dalam hal ini sirkuit elemen gaya gerak dilakukan pengujian tunggal. e. Nilai minimum kemampuan alat penyetel harus sesuai dengan table berikut : arus dan kumparan tegangan 49 . Pengujian alat penyetel Pengujian alat penyetel dapat dilakukan dengan cara : Pada umumnya alat penyetel terdapat pada tiap-tiap meter dan pengujiannya dilakukan pada kondisi referensi.Penjelasan tabel di atas : Pemutusan sambungan saja antara sirkuit tegangan dan sirkuit arus biasanya tidak cukup untuk menjamin isolasi yang baik dan tahan terhadap pengujian tegangan 2 kV. Jika sirkuit tegangan meter fasa banyak mempunyai titik netral.

5 Elemen 0. semua sirkuit tegangan dari elemen-elemen penggerak ( tegangan fasa banyak ) seimbang.5 I b Sudut Fasa 0. dimana nilai r.5 0.05 I b Rendah 0.Kemampuan Minimum Penyetelan Kecepatan Alat Nilai Arus Penyetel Daya kelas ) : 0.5 ±1 ±1 ±1 1 ±2 ±2 ±4 1 ±2 ±2 ±4 1 2 Faktor putaran Rotor ( untuk meter Catatan : Untuk meter fasa banyak.5 I maks (ind) Tabel 4.m.12. Kemampuan Minimum Penyetelan Kecepatan Putaran Rotor (ind) 0.5 I maks pengerem Beban 0.s nya adalah sesuai dengan 50 . pemeriksaan dari daerah penyetelan untuk muatan induktif harus dilakukan pada tiap elemen penggerak dan harus ditentukan pada saat sirkuit arus dan tiap elemen mengalir arus dasar yang terlambat 60º dibelakang tegangannya pada terminalterminal dari elemen tersebut.

dimana pengujian ini dilakukan oleh Direktorat Metrologi Departemen Perdagangan. Rangkuman Pada dasarnya pengujian meter kWh dilaksanakan sebelum meter kWh digunakan/dipasarkan ke masyarakat sampe pada saat penggunaannya tetap dilaksanakan pengujian agar tidak merugikan pelanggan. Latihan Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan baik dan benar : 51 . Perusahaan Listrik Negara. Pengujian yang dilakukan dengan cara metoda perbandingan energi dan metoda Watt meter dan stopwatch. Sebelum produsen meter kWh memasarkan produknya ke masyarakan maka harus dilakukan adalah pengujian ijin tipe. E. maka untuk selama menjaga pengujian keakuratannya (prosesnya bisa disebut menera). D. penggunaanya Setelah tetap menjapatkan dilakukan ijin tipe.referensi tegangan pada alat pengubah fasa sesuai dengan diagram sambungan. dalam hal ini pelanggan yang dimaksud adalah pelanggan dari PT. Kedua metoda ini dilakukan bersamaan dan atau dapat dilakukan dengan salah satu metoda saja.

Analisa perbedaan kedua rumus tersebut ! 52 . Pada pengujian metoda Watt meter dan stopwatch.1. Sebutkan jenis-jenis pengujian yang menggunakan metoda perbandingan energi ! 2. Sebutkan langkah-langkah pengujian dengan meter pilot menurut kata-kata sendiri ! 3. tuliskan rumus waktu dasar meter kWh untuk 3 phasa 3 kawat dan 3 phasa 4 kawat.

2. Praktikum Meter kWh Metoda Perbandingan Pulsa 1. Tujuan Untuk menentukan kesalahan penunjukan Meter kWh dengan cara membandingkan terhadap standar ukurnya yang mampu telusur ke standar Nasional/Internasional dan memenuhi persyaratan sebagai alat ukur Metrologi Legal. Peralatan yang digunakan Peralatan yang digunakan dalam pengujian Meter kWh adalah : a) Instalasi uji Meter kWh 1 phasa yang dilengkapi dengan : Alat pengatur tegangan Alat pengatur arus Alat pengatur factor daya Alat pengatur sudut phasa. Alat pencatat putaran piringan meter kWh.BAB V PRAKTIKUM METER kWh Indikator Keberhasilan : Peserta mampu mempraktekkan meter kWh metoda perbandingan pulsa Peserta mampu mempraktekkan meter kWh metoda meter pilot Peserta mampu mempraktekkan meter kWh secara otomatis Peserta mampu mempraktekkan meter kWh menggunakan Metrotec A. b) Bangku / rak Meter kWh berikut kabel penghubung. ini 53 .

54 . konstanta putar dan kelas dari meter kWh yang akan diuji. ( mWh / putaran ) = nilai konstanta standar.3. Persiapan Pengujian a) Catat data teknis Meter kWh yang diuji dalam cerapan pengujian b) Standar yang digunakan sudah terkalibrasi yang tertelusur ke standar Nasional/Internasional c) Teliti arus dasar dan arus maksimum. tegangan referensi. e) Lepaskan hubungan antara kumparan arus dan kumparan tegangan dari meter kWh. Notasi Notasi yang digunakan dalam prosedur ini adalah : V A Cos kWh E no n1 N k K = Satuan tegangan ( volt ) = Satuan arus ( ampere ) = Faktor daya = Satuan Energi aktif ( kilo watt hour ) = Kesalahan penunjukan Meter kWh ( % ) = jumlah pulsa meter kWh menurut hitungan = pembacaan pulsa standar = jumlah putaran meter kWh yang diuji = nilai konstanta meter kWh. d) Hubungkan meter kWh yang diuji pada bangku uji menggunakan kabel-kabel yang tersedia. 4.

Pada pengujian ini putaran piringan harus lebih kecil dari 1 putaran d) Setelah pengujian butir 7. c) Setelah pelaksanaan huruf a dan b. b) Sambil melakukan pemanasan awal lakukan pengecekan konstanta putar teknisnya.f) g) Hubungan arus secara seri dan tegangan secara parallel. s/d f). 5. lakukan pengujian gerak tanpa beban / pengujian beban kosong dengan tegangan yang diberikan sebesar 110 % dari tegangan referensi serta arus = 0 (tanpa beban).3 lakukan pengujian arus mula dengan membebani Tegangan acuan Arus sebagaimana tabel berikut : Meter kWh dan cocokan dengan data 55 . dilakukan hidupkan instalasi uji dan lakukan penekan tombol sesuai dengan data meter kWh sebagaimana butir a). Setelah butir a). Pelaksanaan Pengujian a) Setelah itu lakukan pemanasan awal dengan membebani : tegangan referensi arus dasar dan factor daya = 1 selama 30 menit.

Perhitungan a) Tentukan nilai pulsa meter kWh yang diuji (n0) : = 56 .1. tegangan referensi dan faktor daya = 1 50 % Id. Tabel Isian Faktor daya = 1 Jumlah putaran piringan harus lebih besar dari 1. tegangan referensi dan faktor daya = 1 100 % Id.5 50 % Id. tegangan referensi dan faktor daya = 0. tegangan referensi dan faktor daya = 1 5 % Id. tegangan referensi dan faktor daya = 1 6. tegangan referensi dan faktor daya = 0.5 10 % Id.4 lakukan pengujian kebenaran dengan titik pengujian pada : 100 % Id.% Id untuk meter kWh kelas 1 Meter tarif tunggal Meter lainnya Tabel 5. e) f) Atur posisi dan sensivitas ‘Scanning Head’ Setelah pengujian butir 7.

2. Batas Kesalahan Yang Diijinkan Untuk Meter kWh 1 Phasa Metoda Meter Pilot 8.0 Tabel 5.05 Id 0.0 ±1.b) Perhitungan kesalahan penunjukan meter kWh (E) Kesalahan penunjukan rata-rata (Er) = 7.0 ±1.5 Id 0.0 2 ±2.0 ±2.0 ±2. 0.0 ±2.5 ±0. 57 .5 Diizinkan ( % ) 1 ±1.5 ±1.5 ±0. Batas Kesalahan Yang Diinginkan = 100% Batas kesalahan yang diijinkan pada pengujian meter kWh 1 phasa metode meter pilot (pada kondisi referensi) adalah sesuai dengan tabel dibawah ini : Batas Kesalahan Yang No Nilai Arus Faktor Daya 0.5 1 0.5 ±2.0 ±1.2. 5.5 ±0.0 ±2. Pembubuhan Tanda Tera a) 1 ( satu ) buah tanda Sah SP 6 bersebelahan dengan HP pada salah satu baut penutup meter kWh.0 ±1.5 ±0.5 1 ±1. 4.0 ±0.5 1. 6.5 Id Id Id Imaks 1 1 0. 3.

Catatan : Tutup terminal meter kWh tidak perlu disegel B.b) 1 ( satu ) buah tanda jaminan JP 8 pada satu buah baud yang lain pada penutup meter kWh. Tujuan Untuk menentukan kesalahan penunjukan sekelompok Meter kWh 1 phasa dengan cara membandingkan terhadap meter pilot yang telah ditentukan kesalahannya dan mampu telusur ke standar Nasional /Internasional dan memenuhi persyaratan sebagai alat ukur Metrologi Legal. 3. 2 Tahun 1981 tentang Metrologi Legal b) Keputusan Sementara Direktur Metrologi Nomor Met – 4005/ 3548/ VIII/1991 Tentang Syarat-Syarat Teknis Khusus Meter kWh. Ruang Lingkup 58 . Acuan Standar acuan yang digunakan dalam petunjuk ini adalah : a) Undang-undang Republik Indonesia No. Praktikum Meter kWh Metoda Meter Pilot 1. c) Surat Direktur Metrologi Nomor Met 1036/449/1992 tanggal 20 Februari 1992 Tentang Pembubuhan Tanda Tera pada Meter kWh. 2.

b) Bangku/rak penghubung. kelas 1 dan kelas 2. 5. e) 4.Petunjuk ini digunakan sebagai petunjuk untuk menera Meter kWh 1 phasa metode meter pilot dengan batas-batas : a) b) c) d) Tegangan terminal kurang dari 600 volt. Menggunakan alat hitung tunggal dan ganda.5 . c) Meter pilot jenis meter kWh 1 phasa yang berfungsi Meter kWh 1 phasa berikut kabel ini sebagai standar dan sertifikatnya. Jenis meter kWh 1 phasa yang diuji mempunyai data teknis yang sama. Frekuensi antara 45 – 65 Hz. Meter kWh dengan kelas 0. Notasi Notasi yang digunakan dalam prosedur ini adalah : 59 . Peralatan Yang Digunakan Peralatan yang digunakan dalam pengujian Meter kWh adalah : a) Instalasi uji Meter kWh 1yang dilengkapi dengan : Alat pengatur tegangan Alat pengatur arus Alat pengatur factor daya Alat pengatur sudut phasa. Alat pencatat putaran piringan meter kWh.

Persiapan Pengujian a) Catat data teknis Meter kWh yang diuji dalam cerapan pengujian. Er Si = Satuan tegangan (volt). N p 6. = Jumlah skala pada piringan meter kWh. konstanta putar dan kelas dari seluruh meter kWh yang akan diuji dan harus sejenis dengan meter pilotnya. c) Teliti arus dasar dan arus maksimum. = Jumlah putaran meter kWh yang diuji. tegangan referensi. 60 .. b) Meter pilot terkalibrasi sebagai standar yang digunakan sudah yang tertelusur ke standar Nasional/Internasional.V A Cos kWh E (%). d) Hubungkan meter kWh yang diuji pada bangku uji menggunakan kabel-kabel yang tersedia secara seri. = Satuan arus (ampere). = Faktor daya. = Satuan Energi aktif (kilo watt hour) = Kesalahan penunjukan Meter kWh 1 phasa = Kesalahan rata = Pembacaan simpangan tanda hitam masing- masing meter kWh.

f) g) 7. Letakkan scanning head pada meter pilot. Pelaksanaan Pengujian a) b) c) d) e) f) g) Posisikan switch pada manual.f = 1 5 putaran untuk beban 100 % Ib dan p.e) Lepaskan hubungan antara kumparan arus dan kumparan tegangan dari meter kWh. Hidupkan Test bench ( tekan switch pada posisi ON. Hubungan arus secara seri dan tegangan secara paralel.f = 1 1 putaran untuk beban j) 5 % Ib dan p. h) Secara bersamaan dengan butir 7. Atur posisi Current out Atur posisi Voltage out.f = 1 Setelah itu lakukan pemanasan awal dengan membebani : tegangan referensi 61 . Atur posisi factor daya ( cos phi ) = 1 Atur posisi arus pada step 1 Atur posisi arus dengan mengatur selector arus serta membaca pada standar ( sebagai indicator ) pada posisi Ib.5 2 putaran untuk beban 10 % Ib dan p.7 atur phase shifter pada posisi faktor daya = 1 i) pilih posisi jumlah putaran piringan ( N ) sebesar : 10 putaran untuk bebal 100 % Ib dan p.f = 0.

arus dasar dan factor daya = 1 selama 30 menit. k) Sambil melakukan pemanasan awal lakukan pengecekan konstanta teknisnya. l) Setelah itu, lakukan pengujian gerak tanpa putar untuk mencocokan dengan data

beban/pengujian beban kosong dengan tegangan yang diberikan sebesar 110 % dari tegangan referensi serta arus = 0 (tanpa beban). Pada pengujian ini putaran piringan harus lebih kecil dari 1 putaran. m) Setelah itu lakukan pengujian arus mula dengan

membebani Tegangan acuan Arus sebesar % Id untuk meter kWh kelas 0,5 Meter tarif tunggal Meter lainnya 0,3 0,4 1 0,5 0,5 2 0,5 0,5

Tabel 5.3. % Id (Arus Dasar) Untuk Masing-masing Kelas Mete kWh

Faktor daya = 1 Jumlah purtaran piringan harus lebih besar dari 1 putaran.
62

n)

Atur posisi dan sensivitas ‘Scanning Head’ pada meter pilot.

o)

Posisikan black mark meter yang diuji pada posisi tepat pada indeks

p)

Tekan tombol start / run untuk mendapatkan posisi black mark dari meter pilot.

q)

Setelah itu lakukan pengujian kebenaran dengan pengujian pada : ( sebanyak 3 kali ) 100 % Id, tegangan referensi dan factor daya = 1

titik

r)

Setelah putaran meter kWh berhenti, catat penyimpangan black mark dari masing2 meter kWh yang diuji.

s)

Lanjutkan pengujian berikutnya untuk beban : 100 % Id, tegangan referensi dan factor daya = 0,5 10 % Id, tegangan referensi dan factor daya = 1 5 % Id, tegangan referensi dan factor daya = 1

t) 8.

Pengujian selesai.

Perhitungan a) Tentukan nilai simpangan tanda hitam terhadap indeks pada piringan masing-masing meter kWh yang diuji (Si). b) Perhitungan kesalahan penunjukan meter kWh (E).

c)

Kesalahan penunjukan rata-rata (Er)

=

100%

63

9.

Pembubuhan Tanda Tera a)

=

3

1 ( satu ) buah tanda Sah SP 6 bersebelahan dengan tanda pribadi HP pada salah satu baut penutup meter kWh.

b)

1 ( satu ) buah tanda jaminan JP 8 pada satu buah baud yang lain pada penutup meter kWh.

Catatan : Tutup terminal meter kWh tidak perlu disegel Untuk mempermudahkan peserta dalam praktikum ini disediakan cerapan yang ada di lampiran 1.

C.

Praktikum Meter kWh Secara Otomatis 1. Tujuan Menentukan kesalahan penunjukan meter kWh 1 phasa 2 kawat dengan membandingkan dengan standar dengan perhitungan secara otomatis. 2. Peralatan Yang Digunakan. Instalasi Uji Meter kWh yang menggunakan error calculator unit ( ECU ) Meter kWh yang diuji.

64

sebagaimana tabel berikut : Batas Kesalahan Maksimum yang No.4. Batas Kesalahan yang Diijinkan untuk Meter kWh Kelas 2 Catatan : tabel Batas kesalahan yang Diizinkan ini diperuntukkan bagi meter kWh 1 phasa yang dilakukan di ruangan yang tidak dikondisikan pada kondisi acuan.5 Id 1 2. 4.0% 4 Imaks 1 2.5% 2 Id 1 2. Persiapan pengujian a) Pasangkan meter kWh yang akan diuji pada bangku uji yang telah tersedia.5% 3 Id 0.3. 65 .5% 5 O. Nilai arus Faktor daya diizinkan Meter Kelas 2 1 O.5% Tabel 5.5 Id 1 3. Batas Kesalahan Maksimum Yang Diizinkan ( sesuai dengan SSTK ) Untuk meter 1 fase yang dilakukan tidak pada kondisi acuan.5 (Ind) 3.

tutup d) Pasangkan sensor meter kWh. Tegangan ( phasa 1 ) Arus keluar. Netral dari tegangan. 66 .b) Penyambungan kawat disesuaikan dengan jenis meter kWh yang akan diuji. Jika posisi Sensor ( photo transistor ) belum pas dan trimer ECU belum pas. Persiapan Data masukan komputer. (yaitu meter kWh 1 phasa). c) Urutan penyambungan pada terminal tsb. 5. Urutannya ( dari kiri ke kanan ): Arus masuk. pendeteksi putaran piringan pada e) Ketepatan pemasangan sensor ini dapat diketahui dari : Jika posisi Sensor ( photo transistor ) belum sejajar dengan tanda hitam ( black-mark ) pada piringan. maka LED kuning pada electronic calculator error ( ECU ) menyala terus menerus. maka LED kuning pada electronic calculator error ( ECU ) tidak berkedip saat pengujian. yaitu dengan urutan sesuai nomor yang tertulis pada terminalnya serta cara penyambungannya digambarkan di balik terminal.

c) Pada menu system terdapat menu lebih lanjut yaitu untuk perintah pengujian ( calibrate meter ) dan perintah keluar ( exit ) ini klik CALIBRATE METER atau dengan menekan tombol F1 selanjutnya muncul tampilan sbb : Gambar 5.1. dan akan muncul tampilan program kalibrasi meter. pilih perintah selanjutnya dengan cara klik menu SYSTEM. b) Pada tampilan ini program kalibrasi ini . Tampilan Aplikasi Praktikum Meter kWh Otomatis 67 .a) Jalankan program WINKWH dengan cara klik short cut WINKWH pada desktop Window.

Ind Load. masukkan data meter serta data lain yang diperlukan meliputi : Tanggal pengujian Nama perusahaan pemohon Merek dan tipe meter kWh Jumlah meter yang diuji Nomor seri Jenis meter kWh ( I phasa atau 3 phasa ) MPE (%) pada : Full Load.d) Pada tampilan tersebut di atas. dan Low Load (sesuaikan dengan kelas akurasi Meter kWh ) Konstanta meter kWh Tegangan referensi Arus dasar dan arus maksimum meter kWh Kelas akurasi meter kWh Temperatur . Nama petugas Waktu pengujian gerak mula ( starting time ) Waktu pengujian beban kosong ( Creeping time pada no load test ) Interface port Penanggung jawab pengujian Dst. 68 .

Posisikan switch tegangan output pada posisi 1 phasa ( 1 ) e) f) Posisikan switch arus output pada posisi 1 phasa ( 1 ) Posisikan switch cos phi pada posisi cos phi = 1 (contoh untuk beban penuh ) g) h) Posisikan step arus pada angka 1 ( step a ) Pilih menu setting arus pada meter standar pada posisi 100 Ampere.e) Setelah data yang kita masukkan sudah lengkap. Dalam hal test bench dilengkai dengan pengatur tegangan. f) g) Untuk memulai pengujian klik NEW TEST. 6. 4 kawat Energy pada posisi Wh dan automatic. atur penyetelan tegangan secara perlahan dari posisi minimum ke posisi maksimum sampai didapatkan nilai tegangan yang kita kehendaki sesuai dengan nilai full 69 . ditandai dengan kedipan led pada kolom Full Load. Pelaksanaan Pengujian a) b) c) d) Pastikan seluruh tombol pada posisi off. Pastikan posisi selektor pada posisi minimum. klik SAVE SETUP. Kemudian klik FULL LOAD yang bertuliskan GO. i) j) k) System measurement 3 ph. Hidupkan saklar utama ( main switch ).

o) Apabila nilai tegangan. lakukan juga penyetelan phasa shifter dari posisi minimum menuju maksimum sampai diperoleh nilai cos phi yang sesuai ( contoh full load cos phi = 1 dengan membaca penunjukan cos phi pada meter standar ) n) Pembacaan tegangan 1 phasa (Vr).load ( Vref ) dengan membaca penunjukan tegangan pada meter standar ). m) Bersamaan dengan penyetelan arus. arus dan cos phi sudah sesuai. Amati pembacaan tersebut sebanyak 3 kali untuk menentukan ketidak tetapannya. perhatikan nilai kesalahan penunjukannya ( Error % ) dari meter kWh yang diuji pada electronic calculator error ( ECU ). arus 1 phasa (Ir) dan nilai cos phi ( p. r) Selanjutnya data dapat disimpan data data base cara dengan klik SAVE DATA. l) Atur penyetelan arus secara perlahan dari posisi minimum ke posisi maksimum sampai didapatkan nilai arus yang kita kehendaki sesuai dengan nilai ( contoh full load = 100 % Ib ) dengan membaca penunjukan arus pada meter standar ). 70 .) dapat dilihat pada Meter standar. p) q) Perhatikan juga pada pencatatan komputernya.f.

Praktikum Meter kWh Menggunakan Metrotec 1. Acuan Standar acuan yang digunakan adalah : a) Undang-undang Republik Indonesia No. t) u) Pengujian selesai.s) Untk menampilkan layar report. 2 Tahun 1981 tentang Metrologi Legal. Tujuan Untuk menentukan kesalahan penunjukan Meter kWh 1 phasa dengan cara membandingkan terhadap Meter kWh Standar (Metrotec) yang telah ditentukan kesalahannya dan mampu telusur ke standar Nasional /Internasional dan memenuhi persyaratan sebagai alat ukur Metrologi Legal. 71 . b) Keputusan Sementara Direktur Metrologi Nomor Met – 4005/ 3548/ VIII/1991 Tentang Syarat-Syarat Teknis Khusus Meter kWh. klik menu pulldown REPORT kemudian klik CALIBRATION RESULT atau dengan menekan tombol F2 pada keyboard. 2. D. Kembalikan posisi penyetelan tegangan (jika ada) penyetelan arus dan penyetelan phasa shifter pada posisi minimum.

1 .. Menggunakan alat hitung tunggal dan ganda Meter kWh jenis dinamis. 4. 2.5 . b) Rentang ukur pengujian antara 5 Ampere sampai dengan 60 Ampere. Sarana yang Digunakan Peralatan yang digunakan dalam pengujian Meter kWh adalah : Portable Meter kWh Standar ( Metrotec ) Kabel-kabel penghubung. Notasi Notasi yang digunakan dalam prosedur ini adalah : 72 .c) Surat Direktur Metrologi Nomor Met 1036/449/1992 tanggal 20 Februari 1992 Tentang Pembubuhan Tanda Tera pada Meter kWh. Cerapan pengujian. Frekuensi antara 50 Hz. Ruang Lingkup a) Prosedur ini digunakan sebagai pedoman untuk menera Meter kWh 1 phasa menggunakan Metrotec dengan batas-batas : Tegangan terminal 127 volt atau 220 volt. 3. Meter kWh dengan kelas 0. Petunjuk Penggunaan Metrotec ini 5.

= Kesalahan rata ( % ). = Satuan arus ( ampere ).5 1. Persiapan Pengujian a) Catat data teknis Meter kWh yang diuji dalam cerapan pengujian yaitu: Pemilik : 73 .5. = Pembacaan Metrotec ( pulsa ) = Konstanta putar Meter kWh ( mWh/putaran ) = Konstanta Metrotec ( mWh/pulse ) Batas Kesalahan yang Diijinkan Batas kesalahan yang diijinkan pada pengujian dengan metode ini adalah sesuai dengan table dibawah ini : No. Nilai Arus Faktor Daya 0.5. dan 2 7. = Jumlah putaran meter kWh yang diuji.0 0.5 1 2 3 4 0.5 0. 1.0 2. = Satuan tegangan ( volt ).5 Id Id I maks 1 1 1 1 1.V A E Er N1 N2 C1 C2 6.0 2.5 0.5 2.0 1. Batas Kesalahan yang Diijinkan untuk Meter kWh Kelas 0.0 1. = Kesalahan penunjukan Meter kWh 1 phasa ( % ).5 Batas Kesalahan Yang Diizinkan ( % ) 1 1.0 Tabel 5.05 Id 0.0 2 2.

seri Konstanta putar Tegangan Ib ( Imaks ) Frekuensi CT PT : : : : : : : : : : Diisi Diisi jika arus jika menggunakan trafo menggunakan trafo tegangan b) Meter kWh standar (Metrotec) yang digunakan sudah terkalibrasi yang tertelusur ke standar Nasional / Internasional. e) Hubungkan titik-titik positif dan titik netral dengan jaringan PLN. d) Hubungan antara kumparan arus dan kumparan tegangan dari meter kWh harus tetap tersambung. c) Hubungkan meter kWh yang diuji dengan Meter kWh Standar (Metrotec) menggunakan kabel-kabel yang tersedia sesuai gambar yang tertera pada Metrotec (lihat gambar di bawah).Meter kWh Kelas Tipe No. 74 .

Pelaksanaan Pengujian a) Setelah itu lakukan pemanasan awal dengan membebani : tegangan referensi arus dasar dan selama 30 menit. lakukan pengujian gerak tanpa beban/pengujian beban kosong dengan putar untuk mencocokan dengan data 75 . %Ib). hidupkan Metrotec dengan cara memutar alat pengatur arus ke arah berlawanan jarum jam h) Setelah butir g) dilakukan maka akan terlihat salah satu lampu indicator tegangan menyala secara otomatis menempatkan tegangan jaringan yang terpasang yaitu : Jika tegangannya 220 volt.f) Tentukan nilai arus sesuai dengan beban yang diinginkan (umumnya pada 100 %Ib. b) Sambil melakukan pemanasan awal lakukan pengecekan konstanta teknisnya. maka indicator tegangan 220 volt yang menyala Jika tegangannya 110 volt. c) Setelah pelaksanaan butir a) dan b). s/d f). dilakukan. 50 %Ib dan 10 %Ib atau 5 g) Setelah butir a). maka indicator tegangan 127 volt yang menyala 8.

5 2 0.6.5 0. tegangan referensi dan factor daya = 1 dengan jumlah putaran piringan = 1 9. tegangan referensi dan factor daya = 1 dengan jumlah putaran piringan = 2 5 % Id.5 Tabel 5. tegangan referensi dan factor daya = 1 dengan jumlah putaran piringan = 10 10 % Id.5 Meter Tarif Tunggal Meter Lainnya 0. Pada pengujian ini putaran piringan harus kurang dari 1 putaran d) Setelah pengujian butir 8. Arus Dasar untuk Meter kWh Kelas 0.3 lakukan pengujian arus mula dengan membebani : Tegangan acuan Arus sebesar : % Id untuk Meter kWh klas : 0.5.tegangan yang diberikan sebesar 110 % dari tegangan referensi serta arus = 0 (tanpa beban).3 0. Perhitungan 76 . 1.5 0.4 1 0. dan 2 Jumlah purtaran piringan harus lebih besar dari 1 putaran e) Setelah pengujian butir d) lakukan pengujian kebenaran dengan titik pengujian pada : 100 % Id.

Pembubuhan Tanda Tera a) = 3 1 ( satu ) buah tanda Sah SP 6 bersebelahan dengan tanda pribadi HP pada salah satu baut penutup meter kWh. Catatan : Tutup terminal meter kWh tidak perlu disegel 77 . (Si) b) Perhitungan kesalahan penunjukan meter kWh (E) c) Untuk memudahkan dalam penggunaan cerapan.a) Tentukan nilai simpangan tanda hitam terhadap indeks pada piringan masing-masing meter kWh yang diuji. formula se-bagaimana butir 8 a) dapat diubah sebagai berikut = ( 1 1) ( 2 2) 2 2 ( 1 1) 2 = 2 2 100% Dimana : d) Kesalahan penunjukan rata-rata (Er) 1 1 = 2 100% 10. b) 1 ( satu ) buah tanda jaminan JP 8 pada satu buah baud yang lain pada penutup meter kWh.

78 . Kesimpulan Pemabahsan peneraan ukutan energi listrik ini terutama untuk alat ukurnya berupa meter kWh. sebelumnya disediakan bab yang membahas tentang energi listrik yang di dalamnya merupakan bahasan pengulangan dari dasar elektronika. prinsip dan sistem kerjanya. sistem pembayaran. pemakaian phasa. dan sistem pembayaran. lokasi dan syarat pemasangan. elemen penghitung. Bahasan lainnya yaitu elemen dan klasifikasi meter kWh tersebut. penunjukkan register. terminal. jenis kotak. elemen putar. dan peralatan kompensasi dan penyetel. cara penyambungan kawat. keenam elemen tersebut adalah elemen penggerak. Meter kWh dibagi ke dalam 6 elemen utama yang saling keterkaitan. pemakaian transformator. elemen pengerem.BAB VI PENUTUP A. sistem pencatatan. Bahasan meter kWh meliputi ketentuan umum dari syarat-syarat teknis khusus meter kWh yang dikeluarkan oleh Direktorat Metrologi Departemen Perdaganan. Sedangkan pengklasifikasiannya didasarkan pada arus yang lewat. Sebelum memeasuki bahasan tentang meter kWh.

Sebagai contohnya adalah penguasaan terhadap bagian dari elektronika dasar dan fisika tentang rangkaian listrik dan 79 .Pada bahasan pengujian ini dibagi menjadi tiga jenis pengujian. merupakan pengujian yang dilakukan terhadap meter kWh sebelum meter kWh tersebut dipasarkan oleh produsen. Jika pengujian ini telah dilewati maka produsen akan mendapatkan ijin tipe dan diperkenankan untuk dipasarkan. dan pengujian ijin tipe meter kWh. dan Praktikum Meter kWh Menggunakan Metrotec. Praktikum Meter kWh Metoda Meter Pilot. termasuk materi pokok diluar bahasan ini yang masih relevan. Bagian bab terakhir diisi oleh petunjuk praktikum meter kWh. Khusus pengujian ijin tipe. B. Sedangkan kedua metoda yang lainnya merupakan pengujian yang rutin dilakukan ketika meter kWh telah dan sedang digunakan. hal ini menuntut Widyaiswara untuk mengembangkan pengetahuannya. Implikasi Mengingat luasnya cakupan pembelajaran tentang peneraan ukuran energi listrik (meter kWh). menguasai materi pokoknya. yaitu: Praktikum Meter kWh Metoda Perbandingan Pulsa. Praktikum Meter kWh Secara Otomatis. metoda Watt meter dan stopwatch. yaitu: meotda perbandingan energi.

Praktikum yang tersedia di internet pun cukup bagus untuk mengilustrasikan hal-hal penting yang menyangkut konsep kinematika dan dinamika. akan tetapi perlu dilakukan praktik yang terus menerus. C. 80 . Adapun sebagai bahan tambahan dapat dilakukan demonstrasi/praktikum yang khusus membahas tentang meter kWh. Pada era serba informasi ini tidak menutup kemungkinan penguasaan materi dapat dilakukan melalui internet sebagai sumber pengetahuan.elektromagnetik karena bahasan ini merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan sukses atau tidaknya pembelajaran. atau dengan kata lain simulasi melalui website. Tindak Lanjut Penguasaan konsep dan pengetahuan tentang peneraan ukuran energi listrik (meter kWh) tidak cukup.

1987. 2/1981. Surat Direktur Metrologi Nomor Met 1036/449/1992 tanggal 20 Februari 1992 Tentang Pembubuhan Tanda Tera pada Meter kWh Sutrisno. 81 . Penerbit ITB.DAFTAR PUSTAKA Undang-undang Metrologi Legal No. “ Elektronika Teori dan Penerapannya “. Bandung. Keputusan Direktorat Metrologi No. 923/Dirmet-1/III/1997 tentang Syarat– syarat Teknik Khusus Meter kWh.

Sah/Batal * Pengujian Tanpa Beban Arus ( Pengujian Beban Kosong ) Dibebani 110 % Tegangan Nominal. Seri : Ratio ( CT x PT ) : I dasar / Imaks : Tanggal Pengujian : Tegangan Nominal : Konstanta Putar : Pemanasan Awal Dibebani 100 % Id dan Tegangan Nominal serta Faktor Daya = 1 .5 10 1 5 1 Catatan : *) Pengujian konstanta dapat digantikan dengan pengujian register dengan cara membandingkan penunjukan register dan standar menggunakan periode waktu yang lama. . selama 30 menit.5 % Id.LAMPIRAN 1 Laporan Praktikum Meter kWh Metoda Meter Pilot Model : CERAPAN PENGUJIAN BALAI DIKLAT METROLOGI METER kWh 1 PHASA Metode Meter Pilot Pemilik : Alamat : Data Pengujian Kelas : Merek dan Buatan : Frekuensi : Model / Tipe : : Berlaku sampai : No. Pengujian Konstanta *) Hitung perbandingan putaran antara piringan dan register (alat hitung ) Hasilnya harus sesuai dengan nilai konstanta yang tertera pada plat pengenal. PETUGAS Nama KETERANGAN Kelompok No 82 . tanpa beban Arus dan Faktor Daya = 1 Putaran piringan harus kurang dari 1 putaran Sah/Batal * Pengujian Arus Mula Dibebani arus sesuai dengan 0. 100 % Tegangan nominal dan Factor Daya = 1 Putaran piringan harus lebih dari 1 putaran Sah/Batal * Putaran Piringan Meter kWh (skala) (5) Meter Pilot (skala) (6) Putaran Tegang an (Volt) Arus % Id Cos Kesalahan penunjuka n % (7)=((5)(6))): (6) E rata2 % BKD % (1) (2) (3) (4) (8) (9) 100 1 100 0.

lahir di Lebak pada tanggal 26 Februari 1979. Pada tahun 2007 masuk ke Departemen Perdagangan R. Sekolah Dasar dan Sekolah Menegah Pertama diselesaikan di Bayah. 40132. Pada tahun 1998 masuk ke Institut Teknologi Bandung di Departemen Fisika dan lulus pada tahun 2002 dengan bidang keahlian komputasi fisika bumi dan menyandang predikat kumlaude. Coblong. Pada tahun 2004 melanjutkan sekolah ke Magister Sains (S2) di Departemen Fisika ITB dengan bidang keahlian komputasi fisika bumi (pemodelan). Sekarang tinggal di alamat Jl. RT 0006. Selama menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil telah mengikuti beberapa diklat. Kec. 83 . Sebelum bekerja di PT. RW 0008. Kel. diantaranya : Diklat Fungsional Penera. Krakatau Steel Group sebagai IT Engineer. Kanayakan D52. Diklat Pra Jabatan. dan Diklat Calon Widyaiswara. Bandung. Selain mengikuti diklat telah memiliki sertifikat sebagai auditor ISO 9000:2001 dan sertifikat kalibrasi alat ukur. sedangkan Sekolah Menegah Umum diselesaikan di Serang.I sebagai Widyaiswara di Balai Diklat Metrologi Bandung. sempat mengalami selama 6 (enam) bulan menjadi koordinator asisten di Laboratorium Fisika Dasar ITB. Dago.BIODATA Nama lengkap Vera Firmansyah.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->