BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Sebagai bahasa yang hidup, pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus semakin ditingkatkan. Hal itu dapat dilakukan pada semua bidang yang dianggap tepat dan dapat menunjang kesempurnaan bahasa Indonesia. Pada bidang morfologi misalnya, pembinaan dan pengembangan biasanya diarahkan pada proses pembentukan kata. Proses pembentukan kata tersebut dapat dilakukan dengan cara, antara lain: proses pembubuhan afiks atau afiksasi, pemajemukan, dan pengulangan atau reduplikasi. Khusus mengenai proses pembentukan kata melalui afiksasi atau pembubuhan afiks (imbuhan), pada umumnya sangat berpotensi mengubah makna dan bentuk kata. Sebagai contoh, dapat dilihat pada kata-kata tersebut seperti: temu, amen, lempar, dan sebagainya. Jika Kata-kata itu dibubuhi afiks menjadi penemu, temuan, penemuan, dan sebagainya, demikian pula terhadap kata amen dan lempar, maka makna dan bentuk kata-kata tersebut akan berubah, misalnya: temu (muka berhadapan muka ; tatap muka), penemu (orang yang menemukan); temuan (hasil menemukan); penemuan (proses atau cara menemukan). Jadi, proses pembubuhan afiks atau afiksasi sangat penting dan memerlukan ketelitian karena jika salah akan menjadi makna dan bentuknya tidak komunikatif. Berdasarkan kenyataan itu, media massa, dalam hal ini surat kabar sebagaimana diketahui, merupakan salah satu media yang dianggap resmi dalam pemakaian bahasa. Asep menjelaskan bahwa berita dalam televisi, radio, surat kabar, majalah, serta tulisan dalam buku-buku, yang merupakan produk wartawan dan penerbit, sangat mewarnai pemakaian bahasa dalam masyarakat. Oleh karena itu, suatu hal yang sangat masuk akal jika wartawan dan penerbit perlu meningkatkan kemahiran dalam pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam penyebaran informasi, baik secara lisan maupun tulisan. Hal tersebut tidak

2

dapat dipungkiri karena di samping sebagai salah satu media resmi, juga media massa sangat berpotensi dalam usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia yang balk dan benar. Namun, yang menjadi pertanyaan, apakah media massa, dalam hal ini surat kabar, sudah patut menjadi panutan berbahasa Indonesia yang baik dan benar? Apakah sudah menerapkan kaidah-kaidah morfologis dalam penulisan berita-beritanya? Ataukah lebih mengutamakan prinsip ekonomi bahasa sebagai salah satu cirinya. Dalam pemakaian bahasa di surat kabar, terdapat istilah “ekonomi bahasa”. Artinya, kita dapat menggunakan kata atau kalimat dengan sehemat-hematnya. Akan tetapi, penghematan itu jangan sampai merusak kaidah bahasa, apalagi menimbulkan salah paham (Suroso, 2001: 6). Salah satu kolom yang terdapat dalam surat kabar atau media massa ini adalah tajuk rencana yang membahas masalah atau informasi yang sedang hangat berkembang dalam masyarakat. Tujuan utama penulisan tajuk rencana adalah menyampaikan tulisan disertai dengan argumentasi dan logika yang jelas. Bahkan, untuk memperjelas pandangan penulis dalam tajuk rencana disertakan fakta pendukung. Secara umum karakteristik bahasa yang digunakan pada wacana tajuk rencana adalah padat, logis, singkat, menarik, dan bertujuan mempengaruhi pembaca. Penulisan tajuk rencana harus berpijak pada kaidah jurnalistik dan hal ini memungkinkan pada hasil tulisannya terdapat kesalahan karena hanya memenuhi target yang telah disebutkan di atas. Bertolak pada uraian di atas, penulis tertarik pada salah satu media cetak yang terbit di kawasan Indonesia barat, yakni surat kabar harian KOMPAS sebagai objek penelitian. Surat kabar KOMPAS merupakan salah satu surat kabar harian yang paling sering ditemukan pada pedagang koran dan terlaris di wilayah Indonesia barat. Penulis juga memilih wacana Tajuk Rencana sebagai kajian penelitian karena wacana tersebut sering dijadikan bahan pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah. Sering kali guru kurang memperhatikan struktur morfologinya terutama menyoroti afiksasi atau kata berimbuhan pada wacana tersebut. Pada saat sesorang membaca surat kabar, pertama kali yang ia baca adalah isi berita tersebut. Setelah selesai dibaca, kemudian koran akan dilipat dan

3

dimasukan ke dalam tas bahkan dibiarkan begitu saja. Jarang sekali seorang pembaca meneliti kebahasaannya padahal, belum tentu setiap wacana tidak terdapat kesalahan. Misalnya saja kesalahan penulisan atau penggunaan EYD, tidak terdapatnya kekohesian pada wacananya, juga kaidah gramatikalnya yang kurang diperhatikan khususnya pada bidang kajian morfologi yaitu afiks pada kata kerja yang berupa prefiks atau awalan yang sering dihilangkan. Berdasarkan yang tercantum dalam surat kabar harian KOMPAS, terutama dalam hal pembentukan kata melalui afiksasi atau pembubuhan afiks (imbuhan). B. Rumusan Masalah Pada umunya, pembahasan afiksasi merupakan hal yang cukup rumit sering menemui kesulitan. Melihat kenyataan itu, penulisan skripsi ini akan dipusatkan pada masalah : 1. Afiks apa sajakah yang digunakan pada wacana “Tajuk Rencana” dalam surat kabar KOMPAS ? 2. Afiks apakah yang dominan digunakan dalam wacana “Tajuk Rencana” di KOMPAS dan apa fungsinya? C. Batasan Masalah Afiksasi mempunyai jangkauan yang cukup luas. Agar pembahasan yang dilakukan lebih terarah dan terinci, maka penulis membatasi ruang lingkup penelitian ini. Aspek yang akan ditelaah dalam penelitian ini adalah pemakaian afiks pada wacana kolom “Tajuk Rencana” dalam surat kabar harian KOMPAS. sebanyak 10 terbitan, edisi Januari 2010. Afiks yang dimaksud adalah afiks asli bahasa Indonesia. D. Tujuan Penelitian Berdasarkan permasalahan di atas, tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini untuk mendeskripsikan: 1. Jenis-jenis afiks yang digunakan pada wacana “Tajuk Rencana” dalam surat kabar KOMPAS.

Bagi peneliti lain sebagai sumber informasi pengetahuan dalam bidang linguistic dan para jurnalis. b.4 2. Bagi guru. E. c. Bagi siswa. khususnya guru bahasa Indonesia sebagai tambahan pengetahuan dalam memahami afiks pada wacana yang nantinya dapat digunakan sebagai bahan materi pelajaran bagi siswa untuk menambah kosakata. memperdalam pemahaman afiks dalam wacana sehingga siswa dapat memanfaatkan pengetahuan tersebut secara praktis dalam pemakaian kalimat. Jenis afiks yang dominan digunakan dalam wacana “Tajuk Rencana” di KOMPAS dan fungsinya. sejalan dengan keberadaan media massa sebagai salah satu panutan dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. . khususnya pemakaian afiks dalam wacana sehingga dapat menulis wacana sesuai dengan tata gramatikal yang berlaku. Manfaat Teoritik dan Praktis Adapun manfaat yang diperoleh baik secara teoritik maupun secara praktis diantaranya :  Manfaat Teoritik Memberikan masukan bagi media massa pada umumnya dan lebih khusus bagi harian KOMPAS.  Manfaat Praktis a.

tambahnya. ataupun kata yang membawa amanat lengkap. Wacana direalisasikan dalam bentuk yang utuh (novel. Di sisi lain. Crystal sebagaimana dikutip oleh Dede Oetomo (1993: 4) menyatakan bahwa wacana adalah suatu rangkaian sinambung bahasa (khususnya lisan) yang lebih luas dari pada kalimat. Dalam upaya menguraikan suatu unit bahasa. Harimurti Kridalaksana (1996: 94) menyatakan bahwa wacana merupakan satuan bahasa terlengkap. buku. kalimat. pafragraf. analisis wacana tidak terlepas dari penggunaan piranti cabang ilmuu bahasa . Sementara itu. Kajian Pustaka 1. dalam hhierarki gframatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Pengertian Wacana Isttilah wacana diperkenalkan oleh para linguis di Indonesia dan negeri-negeri berbahasa Melayu lainnya sebagai terjemahan dari istilah bahasa Inggris discourse yang berarti wacana. Soesono Kartomiharjo (1996: 21) menyatakan bahwa analisis wacana merupakan cabang ilmu bahasa yang dikembangkan untuk menganalisis suatu unit bahasa yang lebih besar dari pada kalimat. dan sebagainya).” Senada dengan pendapat di atas. analisis wacana juga memperhatikan bahasa pada waktu digunakan dalam konteks sosial.5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Moeliono (1988: 334) mengungkapkan bahwa wacana adalah rentetan kalimat yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain membentuk kesatuan. dan khususnya interaksi dialog antarpenutur. Analisis Wacana Analisis wacana menurut pendapat Stubs seperti dikutip Dede Oetomo (1993: 5) adalah sebagai berikut: Analisis wacana adalah upaya untuk mengkaji pengaturan bahasa di atas kalimat/ di atas klausa. Konsekuensinya. 2. seperti pertukaran percakapan atau teks tertulis. dan karenanya mengkaji satuan-satuan kebahasaan yang lebih luas.

fonologi. Berdasarkan pendapat di atas. Kesalahan-kesalahan lain yang termasuk kelompok ini adalah pemakaian katakata: idiil. karikatur dan kolom.tulisan opini tentang suatu masalah atau peristiwa (Asep. dan sebagainya. dapat kita lihat pada kata yang bercetak miring dalam kalimat:     Ia berziarah ke kuburan ayahnya. Mereka saling ketemu. memproklamirkan. yaitu: pembentukan kata dan pemakaian kata. salah satunya bidang morfologi. artikel. dsb.6 lainnya seperti yang dimiliki semantik. maka ia akan menemukan nama kolom opini. Ia dimuat dihalaman khusus bagi tulisan. Pemakaian kata analisa dan semacamnya seharusnya analisis. morfologi. Pada halaman opini terkecuali tajuk . Tajuk Rencana Tajuk rencana adalah tulisan kolom yang dibuat oleh redaksi penerbit pers. Pemakaian afiks –il salah seharusnya –al. 3. memproklamirkan dan semacamnya seharusnya memproklamasikan. kecuali pada kata materiil dan spirituil sebab maknanya berbeda dengan material dan spiritual. Adik sedang nggambar pemandangan. 2003 : 88).. Pada bidang ini Purwadi menambahkan ada dua macam kesalahan. Halaman opini ini biasanya berisikan tajuk rencana / pojok. Sejalan dengan Soesono. Purwadi (2000: 37) membagi pokok bahasan dalam menganalisis berrdasarkan bidang kajian ilmu linguistik lainnya. Di daerah kami sedang membangun jembatan. surat pembaca. analisa. Kesalahan pembentukan kata mencakup kesalahan memilih afiks yang tepat untuk mengungkap makna kata dan kesalahan dalam membuat variasi bentuk/alomorf. dijelaskan bahwa tajuk rencana merupakan tulisan-tulisan berupa opini tentang suatu masalah yang biasanya dimuat dihalaman khusus dan ditulis oleh pemimpin redaksi. Jika sesorang membaca koran. sintaksis. Kesalahan pembentukan kata terjadi karena salah dalam memilih afiks sebagai pembentuk kata.

Berdasarkan pendapat di atas bahwa morfologi merupakan ilmu yang mengkaji tentang bentukan kata serta menganalisis penyimpangan dalam pemakaian bentuk kata tersebut. Salah satu jenis proses morfologis adalah afiksasi (1996: 61). Asep (2003 : 89) mengemukakan bahwa Tajuk rencana (editorial) biasa disingkat “Tajuk” saja disebut juga “induk karangan” “opini redaksi”. atau analisis. Senada dengan pendapat di atas. Sumarwati mengemukakan morfologi merupakan kaidah atau tata bahasa sebab di dalamnya terkandung seperangkat kaidah tentang penggunaan bentuk kata. (1999: 2). atau suatu organisasi mengenai suatu hal haruslah orang terpercaya yang mengetahui kebijakan pemerintahan. Tajukrencana merupakan Jatidiri atau identitas sebuah media massa sesuai dengan visi dan misi tersebut Dari pendapat di atas. membuktikan bahwa bahasa itu hidup dan bukan semata pencerminan logika. atau “Leader”. segi kategori. Karena ia merupakan jatidiri dari sebuah media massa sesuai dengan visi dan misi media tersebut. dapat dijelaskan bahwa tajukrencana juga biasanya disebut sebagai editorial. Jadi morfologi adalah cabang tata bahasa yang membicarakan saluk beluk terjadinya kata. misi dan penilaian orang. Seseorang bisa menilai baik atau tidaknya kualitas suatu koran dapat dilihat dari hasil tulisan tajukrencana. Adapun penyimpanganpenyimpangan di dalamnya. dan segi makna. Morfologi Morfologi ialah cabang dari ilmu bahasa yang mempelajari selukbeluk bentuk kata dan perubahannya serta dampak dari perubahan itu terhadap arti (makna) dan kelas kata (Supriyadi. para pakar. Ada tiga kebahasaan yang terlibat dalam proses ini yaitu segi bentuk. Seperti yang diungkapkan Supriyadi proses morfologis adalah proses gramatis dalam pembentukan kata. . 1996: 5). Opini atau pemikiran yang disuarakan lewat tajuk adalah visi. kelompok. pengamat. opini biasanya ditulis khusus oleh penulis ternama. Ini berarti morfologi di dalamnya terdapat proses morfologis. 4.7 rencana.

Awalan dan akhiran masih sangat produktif digunakan. sisipan.8 5. akhiran terdiri atas -kan. dalam penciptaan kosakata baru atau dalam penerjemahan atau penyepadanan istilah asing (Agus. Hal tersebut bergantung pada bunyi awal bentuk dasar yang dilekati awalan tersebut. akhiran.+ jabat → menjabat me(N). perhatikan contoh berikut: me(N). dkk.+ buat → membuat me(N).+ hadap→ menghadap me(N). sufiksasi. dan konfiksasi (Sumarwati. imbuhan terdiri atas awalan. -pe(N)-. Dalam bahasa Indonesia.+ tatar → menatar me(N). sedangkan sisipan terdiri atas -el-. te(R). Afiksasi ini dibedakan menjadi empat macam. infiksasi.+ colok→ mencolok me(N). dan -er-.terhadap bentuk dasar dapat mengakibatkan munculnya bunyi sengau atau bunyi hidung dapat pula tidak. ke-. -i. a. konfiks atau gabungan afiks terdiri atas gabungan awalan dengan akhiran. dan gabungan awalan dengan akhiran yang disebut konfiks dan gabungan afiks dalam ilmu bahasa.+ fotokopi → memfotokopi me(N). Untuk memperjelas hal tersebut.+ nganga → menganga .+ muat→ memuat me(N).+ nilai → menilai me(N). dapat pula tidak bergantung pada jenis bunyi bentuk dasar yang dilekati awalan. semua imbuhan termasuk sisipan di dalamnya. Awalan me(N)Proses pengimbuhan dengan awalan me(N). pe(R)-. dan se-. apabila diperlukan. Kata Berimbuhan (Afiksasi) Afiksasi atau kata berimbuhan adalah proses pembubuhan afiks pada kata dasar. misalnya.+ kikis→ mengikis me(N). sedangkan sisipan tidak produktif.+ dengar→ mendengar me(N).+ nyanyi → menyanyi me(N). 2007: 19-27). Walaupun demikian. dan -an. Bunyi awal bentuk dasar dapat luluh.+ pakai→ memakai me(N). yaitu: prefiksasi. Awalan yang terdapat di dalam bahasa Indonesia terdiri atas me(N)-. 1999: 20). be(R)-. masih dapat kita manfaatkan.+ undang→ mengundang me(N). -em-. di-.

be-. dalam contoh berikut. misalnya.memiliki tiga variasi.+ diskusi→ berdiskusi be(R).+ tik→ ditik di. sedangkan sebagai kata berimbuhan.+ ajar → belajar . perlu kita perhatikan jika bentuk dasar tersebut ditempeli awalan di-.+ pak → mengepak Namun demikian.+ suruh→ menyuruh me(N). dalam contoh berikut: be(R). yang terdiri atas ber. be(R). di.9 me(N). dan bel-. b.+ usaha→ berusaha be(R).+ korban→ berkorban be(R).+ ganti→ mengganti me(N). dapat kita impulkan bahwa untuk membentuk kata secara benar. kita harus mengetahui bentuk dasarnya.+ rencana → berencana Kata beruang sebagai kata dasar berarti sejenis binatang.+ cap → mengecap me(N).+ pak → dipak di.+ lepas→ melepas me(N). Awalan be(R)Awalan be(R). me(N). me(N)berubah menjadi menge-. misalnya.dan revolusi. Kata tersebut akan menjadi jelas artinya jika terdapat dalam konteks kalimat. yaitu ber-. ber. Variasi tersebut muncul sesuai dengan bentuk dasar yang dilekatinya.dan uang memiliki arti mempunyai uang.+ kerja→ bekerja be(R).+ rusak→ merusak Apabila bentuk dasar yang dilekati hanya berupa satu suku kata. Kita perhatikan contoh berikut.dan ruang berarti memiliki ruang’.+ cap→ dicap Berdasarkan contoh-contoh yang sudah kita kenal dengan baik. bentuk yang ditempelinya tidak mengalami perubahan.+ serta→ beserta be(R). Begitu pula halnya dengan kata berevolusi yang terdiri atas ber.dan evolusi atau ber.

+ rusak→ perusak pe(N).merupakan hal yang lazim.10 Dalam keseharian kini sering digunakan kata berterima atau keberterimaan.dan pe(R).+ pandai→ terpandai te(R).+ kerjakan→ tekerjakan te(R).+ beri → pemberi pe(N).+ guna→ pengguna .yang sepadan dengan di. Ketiga. menyatakan arti sudah di.berkaitan dengan kata kerja yang berawalan me(N)-. kata dijawab.+ perdaya→ teperdaya te(R). Variasi tersebut muncul bergantung pada bentuk dasar yang dilekati pe(N)-. Layak diingat bahwa awalan ini memiliki tiga macam arti dalam pemakaiannya.berkaitan dengan kata kerja yang berawalan be(R)-.+ dengar→ terdengar te(R). berterima sama dengan diterima. dalam kalimat Usulan yang disampaikan kepada Bapak Gubernur sudah berterima. peribahasa gayung bersambut. menyatakan arti tidak sengaja. dan tel-.memiliki variasi pe-. pen-.dan pe(R)Awalan pe(N). misalnya. Dalam bahasa Melayu.+ cari → pencari pe(N). te(R). Kitaihat contoh berikut: pe(N).sejajar dengan awalan di-. Kata berterima dan keberterimaan merupakan padanan acceptable dan acceptability dalam bahasa Inggris. peny-. Pertama.+ rasa → terasa te(R). dan penge-. Kata benda yang dibentuk dengan pe(R). Kata benda yang dibentuk dengan pe(N). Dalam hal ini awalan ber. te-. cobalah Anda menggunakan awalan itu dalam kata lain dan kalimat lain yang sesuai dengan tautannya. imbuhan ber. artinya sama dengan paling. d.+ percaya→ tepercaya Selanjutnya. Awalan te(R)Awalan te(R). Jadi.memiliki variasi ter-. pem-. Kedua. Awalan pe(N). Ketiga variasi tersebut muncul sesuai dengan bentuk dasar yang dilekatinya.+ laku → pelaku pe(N). Awalan pe(N).Misalnya dalam contoh di bawah ini.+ suluh→ penyuluh pe(N). c. peng-. kata berjawab berarti gayung disambut.merupakan pembentuk kata benda.

dan ajar. misalnya. kata-kata tersebut berkaitan dengan kata berdagang. Pesuruh berarti yang disuruh’ dan penyuruh berarti yang menyuruh’. Variasi tersebut muncul sesuai denngan bentuk dasar yang dilekati awalan pe(R)-. bentuk pengrajin merupakan bentuk yang tidak tepat. bekerja. Karena itu.+ suruh. dan pel-.11 pe(N). Jadi.+ ajar → pelajar Kata-kata sebelah kanan berkaitan dengan awalan ber. bertapa. rajin dan rusak.+ teliti→ peneliti pe(N). .+ pasok→ pemasok pe(N).+ daftar→ pendaftar pe(N).+ las → pengelas Dalam keseharian sering dijumpai bentuk pengrajin yang berarti orang yang pekerjaannya membuat kerajinan’.+ tapa → pertapa pe(R).+ tik → pengetik pe(N). yaitu perajin.+ suruh. Dalam bahasa Indonesia sekarang muncul pula bentuk kata yang sepola dengan kedua kata di atas.+ kirim→ pengirim pe(N). Selain kata-kata itu. Bila kita bandingkan dengan kata pe(N). Misalnya. merupakan kata sifat.yang dilekati dengan kata dasar dagang.+ dagang → pedagang pe(R). pesuluh dan penyuluh. Kita lihat contoh berikut: pe(R).memiliki variasi bentuk pe-.+ jual → penjual pe(N). Awalan pe(R). tapa. per-. kita sering melihat kata-kata lain seperti pesuruh dan penyuruh. Kita ingat saja bahwa kedua kata tersebut. sedangkan penyuruh dibentuk dari pe(N).+ cap→ pengecap pe(N). kerja. pegolf. Beranalogi pada kedua kata tersebut kini muncul kata-kata lain yang sepola dengan pesuruh dan penyuruh.+ rusak menjadi perusak yang berarti orang yang membuat kerusakan’. dan belajar. pecatur.+ kerja→ pekerja pe(R). kata petatar dan penatar. tetapi artinya berlainan. bentuk tersebut harus dikembalikan pada bentuk yang tepat dan sesuai dengan kaidah. Kata pesuruh dibentuk dari pe(R).

Kita perhatikan contoh berikut: pe(N).+ kan. Bentuk-bentuk itu merupakan bentuk baru dalam bahasa Indonesia. atau me(N)i. me(N)-kan.+ lepas + -an → pelepasan pe(N). dia begitu cekatan. Awalan pe. Konfiks pe(N)-an dan pe(R)-an Kata benda yang dibentuk dengan pe(N)-an menunjukkan proses yang berkaitan dengan kata kerja yang berimbuhan me(N)-. o o Generasi muda sekarang merupakan pewaris Angkatan 45. Sebagai pengelola administrasi.pada kata-kata tersebut berarti pelaku olah raga golf.atau memper. Mereka adalah pemrakarsa pembangunan gedung ini. Selain itu.+ tik + -an → pengetikan pe(R).+ kerja + -an → pekerjaan . Dapatkah Anda membedakan siapa petembak dan siapa penembak? o Orang yang memberikan atau memiliki saham suatu perusahaan bisa disebut penyaham perusahaan. o Betulkah bangsa Indonesia sebagai pengkonsumsi barang buatan Jepang. renang. Kini mari kita mencoba menaruh perhatian pada pemakaian bentuk kata yang dicetak miring dalam kalimat berikut. senam. Setiap peubah dalam penyusunan harus dapat diuji. Kata-kata yang termasuk kata benda itu berkaitan dengan kata kerja yang berawalan memper.12 perenang. dan petenis. muncul juga bentuk lain seperti pemerhati ‘yang memperhatikan’. dan tenis. pemersatu ‘yang mempersatukan’ dan pemerkaya ‘yang memperkaya’.+ rusak + -an → perusakan pe(N). Orang yang memfotokopi bisa disebut pengopi. pesenam. Kata benda yang dibentuk dengan pe(R)-an ini menunjukkan hal atau masalah yang berkaitan dengan kata kerja yang berawalan be(R)-. o Pertamina akan mendatangkan alat pembor minyak dari Amerika Serikat. o o o o o Siapa pun pemitnahnya harus dihukum. catur. e.

o Sejak lama ia dididik orang tuanya. Kata-kata yang tidak sesuai dengan kaidah ini harus dikembalikan pada bentuk yang tepat (Bagaimana bentuk yang tepat dari kata-kata di atas menurut Saudara?). pengluasan. Isilah rumpang kalimat berikut dengan kata benda yang mengandung akhiran -an atau konfiks ke-an.+ ajar + -an → pelajaran Selain kata-kata yang dicontohkan. Akhiran -an dan Konfiks ke-an Kata benda dapat dibentuk dengan bentuk dasar dan akhiran –an atau konfiks ke-an.+ sah + -an → pengesahan pe(R).. karangannya itu dikirimkan ke sebuah media massa.+ tatar + -an → penataran pe(N). f.. itu sangat bermanfaat bagi kami. penyoblosan. . yang diberikan orang tuanya itu menyebabkan dia menjadi orang besar. . o Mereka membantu kami sepekan lalu. o Sebulan setelah dia mengarang artikel. .. Kata benda yang mengandung akhiran -an umumnya menyatakan hasil. kita sering menemukan kata-kata yang tidak sesuai dengan kaidah di atas seperti pengrumahan. tetapi kiriman itu belum kami terima.. sedangkan kata benda yang mengandung konfiks ke-an umumnya menyatakan hal. o Mereka terlambat menyerahkan tugasnya. Untuk memperjelas uraian di atas. Kata benda yang mengandung ke-an diturunkan langsung dari bentuk dasarnya seperti contoh berikut: o Beliau hadir untuk meresmikan penggunaan gedung baru.13 pe(N). kita perhatikan contoh berikut: o Dia mengirimkan sumbangan sepekan lalu. Kehadiran beliau disana disambut dengan berbagai kesenian tradisional. dan pensuksesan. penglepasan. penyucian (kain). Keterlambatan itu menyebabkan mereka mendapatkan nilai jelek. pengrusakan.

. dia memperoleh beasiswa dari pemerintah. dia tidak pernah putus asa akibat . Kami membelikan mereka buku baru untuk perpustakaan. . o o o o Beliau sedang mengajar di kelas. g. Mari kita perhatikan contoh untuk memperjelas uraian.14 o Masyarakat di pulau terpencil itu masih terbelakang. kasih. o Usaha yang ditempuhnya selalu gagal. Kata benda yang dibentuk dengan awalan ke..dan me(N)-kan Akhiran -kan dan -i pada kata kerja dalam kalimat berfungsi menghadirkan objek kalimat. Beberapa kata kerja baru dapat digunakan dalam kalimat setelah diberi akhiran -kan atau -i. Setiap 28 Oktober kami memperingati hari Sumpah Pemuda. o Anak itu sangat pandai di kelasnya.. Kata Kerja Bentuk me(N). Beliau mengajari kami bahasa Indonesia di kelas.nya itu. itu.. o Pemerintah menganugerahi rakyat Jawa Barat tanda kehormatan. o o o Kami membeli buku-buku baru untuk perpustakaan. itu menyebabkan taraf hidup mereka masih rendah. yaitu hanya pada kata tua. o Pemerintah menganugerahkan tanda kehormatan kepada rakyat Jawa Barat.berfungsi membentuk kata benda dan kata bilangan.. o Atasan kami menugaskan pembuatan naskah pidato kepada sekretaris.sangat terbatas. . dan kehendak. h. Akan tetapi. Karena . baik bilangan tingkat maupun bilangan yang menyatakan kumpulan. Beliau sedang mengajarkan bahasa Indonesia.. Awalan keAwalan ke. hendak yang menjadi ketua. Atasan kami menugasi kami mengikuti penyuluhan ini. kekasih.

Akhiran -wan dan -wati produktif.sebagai pembentuk kata bilangan tingkat atau kata bilangan yang menyatakan kumpulan harus dilihat dalam hubungan kalimat. Perhatikan beberapa contoh kata berikut: karyawan karyawati olahragawan olahragawati budiman seniman manusiawi surgawi badani badaniah . Akhiran -wi tidak hanya terdapat dalam bentukan bahasa asalnya. sedangkan akhiran –man tidak demikian. akhiran -i. terdapat pula beberapa akhiran yang berasal dari bahasa asing. -man. misalnya. dan -an. Akhiran Lain Selain akhiran asli bahasa Indonesia -kan. o Ketiga penyuluh itu ternyata teman kami waktu di SMA. i. Akhiran -wi lebih produktif daripada akhiran -i dan -iah.sering mengganti awalan tersebagai bentuk pasif. Dalam percakapan sehari-hari. dan -iah dari bahasa Arab. korban tanpa identitas itu ketabrak mobil. -wi. Kita perhatikan contoh berikut:  Menurut laporan yang dapat dipercaya. hal ini harus dihindari.15 Penentuan apakah awalan ke. Hal ini terjadi karena pengaruh bahasa daerah atau dialek tertentu. Seharusnya:  Menurut laporan yang dapat dipercaya. tetapi juga terdapat dalam bentukan dengan bentuk dasar bahasa Indonesia. dan -wati dari bahasa Sanskerta. awalan ke. Dalam situasi resmi. -i. korban tanpa identitas itu tertabrak mobil. -wan. Misalnya kalimat berikut: o Tim kami berhasil menduduki peringkat ketiga dalam MTQ tingkat Jawa Barat.

Salah: memparkir menterjemahkan mentafsirkan mensukseskan memitnah menyolok menyintai Benar: memarkir menerjemahkan menafsirkan menyukseskan memfitnah mencolok mencintai mengontrakan membanding mengundur memberitahu berserta bewarna bekerjasama berterimakasih dikata dipensiun terlantar terlanjur pengrusakan pengletakan penglepasan pengrajin nampak dibanding diselusuri mengontrakkan membandingkan mengundurkan memberi tahu beserta berwarna bekerja sama berterima kasih dikatakan dipensiunkan telantar telanjur perusakan peletakan pelepasan perajin tampak dibandingkan dengan ditelusuri .16 Beberapa contoh bentuk kata yang salah dan yang benar didaftarkan berikut ini.

tumbuh. Semua yang diperlukan pembaca sudah tertampung di dalamnya. Jurnalistik Bahasa jurnalistik adalah bahasa yang dipergunakan dalam bidang pers. Jelas. sederhana pemakaian kalimatnya. Bahasa yang dipergunakan dalam bidang pers adalah bahasa yang praktis. beberapa ciri yang harus dimiliki bahasa jurnalistik seperti yang dikemukakan Rosihan Anwar (1991: 1-2) di antaranya: 1. Kalimat yang efektif. Dengan fungsi yang demikian itu bahasa jurnalistik harus jelas dan mudah dibaca dengan tingkat ukuran intelektual minimal. artinya bahasa pers sedapat-dapatnya memilih kalimat tunggal dan sederhana. artinya informasi yang disampaikan jurnalis dengan mudah dapat dipahami oleh khalayak umum (pembaca). artinya bahasa jurnalistik harus menghindari penjelasan yang panjang dan bertele-tele. dan kompleks. efisien.17 6. seyogyanya bahasa jurnalistik menggunakan kata-kata yang bermakna denotatif. Menerapkan prinsip 5 W + 1 H. 6. 5. Lugas. dan berkembang. Oleh karena itu. Singkat. Menarik. bukan kalimat majemuk yang panjang. artinya bahasa jurnalistik mampu menyampaikan pengertian atau makna informasi secara langsung dengan menghindari bahasa yang berbunga-bunga . dan efektif bagi semua orang (Badudu. artinya bahasa jurnalistik yang singkat itu sudah mampu menyampaikan informasi yang lengkap. Menghindari kata-kata yang sudah mati. Sederhana. Namun. Bahasa jurnalistik merupakan bahasa komunikasi massa sebagaimana tampak dalam surat kabar dan majalah. Padat. 1988: 119). artinya dengan menggunakan pilihan kata yang masih hidup. tidak berlebihan pengungkapannya (bombastis) 4. Struktur kalimatnya tidak menimbulkan pengertian makna yang berbeda. seringkali kita masih menjumpai judul berita “Tim Ferrari . menghindari ungkapan bersayap atau bermakna ganda (ambigu). Oleh karena itu. membuang kata-kata mubazir dan menerapkan ekonomi kata. praktis. 2. 3. rumit.

Asegaf (1982. seorang peneliti harus mengkaji Skripsi sebelumnya yang sama dengan kajian yang penulis teliti. yaitu pemakaian kata kerja tidak baku dengan penghilangan afiks. Jago Merah Melahap Mall Termewah di Kawasan Jakarta”. Dari pendapat tersebut dapat dijelaskan bahwa cara ilmiah yang gunakan oleh seorang peneliti bukanlah cara yang dilakukan dengan rekayasa atau kebohongan untuk memperoleh data. 20) menyebutkan penyebab wartawan melakukan kesalahan bahasa dari faktor penulis karena minimnya penguasaan kosakata. B. Kita sering menemukan judul berita misalnya. Kajian Relevansi Untuk menghindari terjadinya kesalahan. Penyimpangan ini sering terjadi dijumpai pada judul berita surat kabar yang memakai kalimat aktif. Berdasarkan ciri di atas. Sugiono (2005 : 1) mengatakan bahwa adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Afiks pada kata kerja yang berupa prefiks atau awalan dihilangkan. digunakan untuk memahami dan memperjelas masalah. sering wartawan kurang teliti menulis dan menyusun berita. Israil Tembak Pesawat Matamata. serta melakukan antisipasi .18 Berhasil Mengatasi Rally Neraka Paris-Dakar”. Sedangkan faktor di luar penulis. karena kebiasaan lupa dan pendidikan yang belum baik. Data yang didapatkan. lama kerja. “Polisi Mengamankan Spesialis Perampok Bank”. Amerika Bom Lagi Kota Bagdad. yang menyebabkan wartawan melakukan kesalahan dalam menggunakan bahasa Indonesia karena keterbatasan waktu menulis. pengetahuan kebahasaan yang terbatas. sehingga tidak jarang adanya kesalahan. Terdapat beberapa penyimpangan bahasa jurnalistik dibandingkan dengan kaidah bahasa Indonesia baku salah satunya penyimpangan morfologis. Polisi Tembak Mati Lima Perampok Nasabah Bank. dan kurang bertanggung jawab terhadap pemakaian bahasa. banyaknya naskah yang dikoreksi. dan tidak tersedianya redaktur bahasa dalam surat kabar.

Kerangka Berfikir Kerangka berpikir merupakandalamberpikir yang dipergunakan dalam Ujaran-ujaran alur Wacana penelitian yang digambarkan“Tajuk Rencana” secara menyeluruh dan sistematis setelah mempelajari teori yang mendukung kerangka berpikir yang akan dipakai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Analisis Wacana Kata Berimbuhan Pendekatan Morfologis Prefiksasi Infiksasi Sufiksasi Konfiksasi . Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan oleh peneliti tersebut.19 guna mencegah timbulnya masalah. Adapun judul penelitian yang telah dilakukan diantaranya: Penelitian yang dilakukan oleh Nida Ul Husna dengan judul “Analisis Kesalahan Morfologi dalam wacana publik Radar Banten Edisi Juni 2005 dan model pembelajaran di kelas I SMA”. (3) penggunaan kata ulang sebanyak 2 kesalahan. Adapun kesalahan tersebut berupa : (1) penulisan afiksasi sebanyak 18 kesalahan. sedangkan dua di antaranya membahas tentang kohesi dan koherensi. memecahkan. Menyimpulkan bahwa kesalahan morfologi pada wacana tersebut sebanyak 35 kesalahan. Akan tetapi. penulis mencoba semaksimal mungkin untuk memahami. (4) penulisan kata majemuk sebanyak 8 kesalahan. dapat disusun model rencana pembelajaran bahasa (aspek morfologi) di kelas 1 SMA. C. ada beberapa orang yang melakukan penelitian yang sejenis dengan proposal yang penulis ajukan yaitu penelitian tentang wacana. Berkaitan dengan hal tersebut. Dari penelitian yang telah dipaparkan menganalisis kesalahan morfologi. dan mengantisipasi masalah yang ada dalam proses belajar mengejar khususnya pelajaran bahasa Indonesia yang menyangkut tentang wacana. (2) pemilihan afiks sebanyak 7 kesalahan. Oleh karena itu. penulis memilih menganalisis wacana dari segi morfologi khususnya pada pemakaian kata berimbuhan atau afiksasi sehingga dapat menghasilkan penelitian mikro.

20 .

Data adalah semua informasi/bahan yang disediakan alam (dalam arti luas) yaitu segala sesuatu yang menjadi bidang dan sarana penelitian yang harus dicari/dikumpulkan dan dipilih oleh peneliti. kalimat. Metode deskriptif kualitatif dalam penelitian ini digunakan penulis untuk mendeskripsikan penyimpangan afiks pada wacana kolom “Tajuk Rencana” dalam surat kabar harian KOMPAS edisi bulan Januari 2011. Jadwal kegiatan selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut ini: No. karena itu penelitian ini dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini bukan termasuk dalam penelitian lapangan. video. peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif. 1992: 34). Sumber yang dipakai adalah: 1. artinya peneliti mencatat dengan teliti dan detail data yang berwujud kata-kata. Sumber Data Penelitian ini diawali dengan tahap pencarian data. (Edy Subroto. 1 2 3 4 5 Kegiatan Pengajuan Judul Penyusunan Proposal Pelaksanaan Penelitian Analisis Data Penyusunan Laporan Tahun 2011. C. antara bulan Maret sampai dengan bulan Juni 2011. wacana. Dokumen . Metode Pendekatan Penelitian Dalam penelitian ini. gambar. dan lain-lain (1992: 7). Subroto mengatakan bahwa penelitian kualitatif bersifat deskriptif.21 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. memorandum. catatan harian. Bulan Maret April Mei Juni v v v v v v v v B.

dengan siapa akan berbicara. serta (4) menganalisis afiks yang domain digunakan pada wacana tajuk rencana tersebut. 1988: 22) merupakan pengambilan sampel atas dasar pemikiran umum peneliti tentang apa yang dipelajari. dan kapan akan melakukan observasi. 2.22 Sumber data primer yang dipakai penulis adalah Koran KOMPAS pada wacana “Tajuk Rencana” Edisi Januari 2011. Adapun langkah-langkah pengumpulan data yang ditempuh adalah sebagai berikut: (1) membaca wacana tajuk rencana pada surat kabar KOMPAS. (2) mencatat kata-kata yang mengandung afiks. berapa jumlah dokumen. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis dokumen yang berupa kajian morfologis dengan teknik studi pustaka (Library research) dan teknik catat. E. Sedangkan wawancara dilakukan kepada orang-orang yang dianggap kompeten dalam dunia bahasa khususnya afiksasi untuk mengetahui seberapa jauh . Informan Peneliti dapat mengambil data dengan wawancara kepada sejumlah tokoh pengamat bahasa khususnya kajian morfologis yaitu afiksasi serta pendidik/pakar pendidikan D. yaitu mencatat dokumen-dokumen atau arsip yang berkaitan dengan masalah dan tujuan penelitian. (3) menggolongkan afiks berdasarkan jenis dan fungsinya. Teknik Pengambilan Sampel Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah internal sampling. Teknik internal sampling ini diterapkan dengan cara memberikan bukti nyata tentang hal yang dikaji sesuai denga yang diinginkan atau dibutuhkan. Sedangkan data sekunder yang dipakai adalah semua buku-buku maupun artikel-artikel kajian morfologi dan bahasa jurnalistik yang mendukung penelitian ini. Internal sampling menurut Bogdan dan Biklen (dalam Sutopo. serta macam data yang akan direviu. dan sesuai pula dengan teori para ahli seperti yang ditunjuk pada landasan teoritis.

G. serta (4) menganalisis afiks yang domain digunakan pada wacana tajuk rencana tersebut. triangulasi peneliti. Untuk menguji validitas data dalam penelitian ini. 2. yaitu triangulasi sumber/ data triangulasi teori. Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian kali ini adalah teknik analisis jalinan atau mengalir (flow model of analysis) yang meliputi tiga komponen. Data-data yang digunakan peneliti analisis secara teliti untuk menunjukkan jawaban yang diharapkan. 1988: 31). Validitas Data Penelitian kualitatif menuntut kesahihan data yang dapat diperoleh melalui triangulasi. dan triangulasi metode (Sutopo. 2. Berikut penjelasannya: 1. Triangulasi ada empat macam. dan 3. (3) menggolongkan afiks berdasarkan jenis dan fungsinya. Kegiatan analisis data dilakukan sebagai berikut: (1) membaca wacana tajuk rencana pada surat kabar KOMPAS. yaitu: 1. reduksi data (data reduction). Reduksi data (Data Reduction) Pada langkah ini yang dilakukan peneliti adalah mencatat data yang diperoleh dalam bentuk uraian yang terperinci.23 jenis dan fungsi afiks yang digunakan pada surat kabar KOMPAS khususnya dalam wacana tajuk rencana. (2) mencatat kata-kata yang mengandung afiks. sajian data (data display). Triangulasi teori digunakan dengan merujuk silang teori yang diperoleh dari perspektif satu dengan perspektif yang lain untuk mengecek kebenarannya sedangkan triangulasi peneliti digunakan dengan merujuk silang informasi yang diperoleh dari peneliti yang sebaya atau yang lebih tau. Sajian Data (Data Display) Pada langkah ini. peneliti menyusun informasi/data secara teratur dan terperinci sehingga mudah dipahami. F. penarikan simpulan (cunclution drawing). peneliti menggunakan triangulasi teori dan triangulasi peneliti. .

24 3. Penarikan Simpulan (Conclution Drawing) Pada langkah ini peneliti sudah memasuki tahap membuat simpulan dari data yang sudah diperoleh sejak awal penelitian. saat penelitian berlangsung dan sampai akhir penelitian. Ketiga komponen tersebut saling berkaitan dan dilakukan secara terus menerus dari mulai awal. Tahap-tahap kegiatan analisis data secara lebih jelas dapat dilihat pada gambar berikut: PENGUMPULAN DATA REDUKSI DATA Sebelum Selama DISPLAI DATA Sesudah ANALISIS Selama PENARIKAN SIMPULAN/ VERIFIKASI Selama Sesudah Sesudah Gambar 2. Simpulan ini masih bersifat sementara. 1994: 10) . Analisis Data Model Mengalir (Miles and Huberman. untuk itu perlu adanya verifikasi (penelitian kembali tentang kebenaran laporan) selama penelitian berlangsung.

...................................................................................................... 1 A..................................................................................................................................... 4 KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERFIKIR...................................................................................................................................... 20 METODOLOGI PENELITIAN........................................................... iii BAB I PENDAHULUAN.............Lat ar Belakang....... 21 D..................................................Ker angka Berfikir.......................................................................................................................................................................Kaj ian Pustaka...........................................................................Ma nfaat Teoritik dan Praktis........................ 21 B...........................................................................25 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL.................................................................... 21 BAB II BAB III ...................................................................................... 5 B...........................................................................................................Bat asan Masalah..................................................................................................................................................... 3 D..Su mber Data..................................................................................................................................................................................................................................................................Te mpat dan Waktu Penelitian............................................................. 21 A........................................................................................................................................................................................................Kaj ian Relevansi...........Tek nik Pengambilan Sampel......................................................... 5 A........ 18 C...............................Tuj uan Penelitian................................ i DAFTAR ISI ...................................................................Me tode Pendekatan Penelitian............................................ 3 C................................................................. 21 C........................ 1 B.........................Ru musan Masalah............................................ ii ABSTRAK............................................................................................................................................................................................... 4 E...................................................................................................................................................

.............................Tek nik Pengumpulan Data.....................26 E..........Tek nik Uji Validitas Data................ 22 F................. 23 G............................................................................................................................................................................................................................................. 23 DAFTAR PUSTAKA ii ...............................................Tek nik Analisis Data..............................................................................................................................

Jurnalistik Praktis Untuk Pemula (edisi revisi). Dja’far H Asegaf. Soesono Kartomiharjo. “Analisis Wacana dengan Penerapannya pada Beberapa Wacana” (Bambang Kaswanti Purwo. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. 1982. 1992. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Surakarta: UNS Press. Jakarta: Pradnya Paramita. 1988. Bandung: Widyatama University. Jakarta: Depdikbud. Rosihan Anwar. Jakarta: Gramedia. Purwadi. Bahasa Jurnalistik dan Komposisi. J. Jakarta: Ghalia Indonesia. Surakarta: UNS Press. 2003. 1988. dkk. Bahasa Indonesia dalam Penuisan Karya Ilmiah.S Badudu. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Analisis Kesalahan Berbahasa Ind 4237/ 2 SKS (Hand Out). . 2000. 1993. 2007.) PELLBA 6. Dede Oetomo. Anton Moeliono. Asep Syamsul.1996. Pengantar Metode Penelitian Struktural. 1996. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Cakrawala Bahasa Indonesia.27 DAFTAR PUSTAKA Agus. Harimurti Kridalaksana. ed. ed. Jurnalistik Masa Kini: Pengantar ke Praktik Kewartawanan. “Pelahiran dan Perkembangan Analisis Wacana” (Bambang Kaswanti Purwo. Edi Subroto.) PELLBA 6. 1991.

Pengantar Penelitian Kualitatif. dkk. . Analisis Morfologi (Buku Pegangan Kuliah FKIPPBS-Indonesia).28 Sumarwati dan Purwadi. Sutopo Heribertus. 1999. Yogyakarta: LSIP. Suarakarta: UNS Press. 1988. Suroso (2001). Menuju Pers Demokratis: Kritik atas Profesionalisme Wartawan. Jakarta: Depdikbud. Surakarta: Depdikbud Supriyadi. 1996. Morfologi Bahasa Indonesia.

29 PROPOSAL ANALISIS PEMAKAIAN KATA BERIMBUHAN PADA WACANA “TAJUK RENCANA” SURAT KABAR KOMPAS (edisi Januari 2011) Oleh : Nur Salamah Wijayanti NIM : K1207026 PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2010 .

Pd .30 PROPOSAL PENELITIAN ANALISIS PEMAKAIAN KATA BERIMBUHAN PADA WACANA “TAJUK RENCANA” SURAT KABAR KOMPAS Pengesahan proposal metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekan kualittaif untuk mengetahui penggunaan kata berimbuhan wacana “Tajuk Rencana” pada surat kabar KOMPAS. Sumarwati. M. telah disetujui oleh dosen mata kulia metode penelitian kualitatif pada : Hari Tanggal : : Surakarta. Oktober 2010 Dosen Pengampu Dra.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful