P. 1
MAKALAH PROBLEMATIKA PENDIDIKAN

MAKALAH PROBLEMATIKA PENDIDIKAN

|Views: 3,539|Likes:
Published by attian2001

More info:

Published by: attian2001 on Oct 17, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/29/2013

pdf

text

original

MAKALAH PENYELENGGARAAN SEKOLAH GRATIS MELALUI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN DI SEKOLAH MENENGAH ATAS

NEGERI 6 PALEMBANG

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Landasan Dan Problematika Pendidikan

Oleh : Nama Program Studi NIM : Yuhanah Mulyadi : Teknologi Pendidikan : 200925113040

PROGRAM PASCASARJANA TEKNOLOGI PENDIDIKAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2009

A. Latar Belakang Masalah Salah satu cara untuk meningkatkan sumber daya manusia adalah melalui pendidikan, baik secara pendidikan formal, nonformal dan informal. Pendidikan yang lebih banyak dirasakan seorang manusia dari lahir hingga mencapai tahap dewasa adalah pendidikan informal dan nonformal tapi pendidikan yang membuat seoarang manusia mengalami lingkungan sosial adalah pendidikan formal karena memiliki jenjang yang akan memenuhi kebutuhan yang sesuai dengan tingkat usia. suatu kewajiban seorang manusia belajar dan untuk mendapatkan pendidikan formal. Selanjutnya pendidikan pun harus dilangsungkan seumur hidup. Untuk mendapatkan pendidikan di lingkungan rumah tangga dan masyarakat tidak perlu dirisaukan hambatannya karena merupakan bagian dari kehidupan sehari hari. Tetapi yang masih menjadi kendala adalah hak untuk mendapatkan pendidikan dari lingkungan sekolah. Indonesia adalah sebuah negara berkembang sehingga masih ada masyarakat yang dibawah garis hidup kemiskinan. untuk menjalani pendidikan merupakan suatu hal yang tidak diutamakan. Sekolah merupakan suatu hal yang sangat mahal yang dirasakan oleh masyarakat pada lapisan tersebut. Pemerintah pun dalam rangka menyelesaikan masalah tersebut menyelenggarakan suatu program dengan nama Sekolah Gratis. Kebijakan tersebut merupakan salah satu strategi pemerintah dalam mewujudkan program jangka menengah untuk sasaran sebagai berikut: • • APK SMP/MTs= 98%; APK Perguruan Tinggi= 18% Memberi kesempatan yang sama pada seluruh peserta didik dari berbagai golongan menurut kategori tingkat ekonomi, gender, wilayah, tingkat kemampuan intelektual dan kondisifisik meningkatkan mutu pendidikan dengan

Di sinilah terlihat. persoalan dana pendidikan untuk sekolah gratis mulai terasa.• • Memperluas daya tampung satuan pendidikan sesuai dengan prioritas nasional Penggunaan TIK untuk menjangkau daerah terpencil/sulitdijangkau. Program tersebut juga sesuai dengan UUD 1945 Pasal 31 yang menyatakan bahwa (1) Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Memberi harapan untuk tidak pantang menyerah dalam menuntut ilmu. siswa hingga paradigma masyarakat yang tidak melihat secara menyeluruh dan bijak sehingga dapat mempengaruhi manajemen sekolah dan sikap yang dapat mempengaruhi kualitas pendidikan. (4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang.kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. Terjadi masalah dalam proses penyelenggaraan. (3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Program pemerintah tersebut membawa angin segar bagi warga negara Indonesia yang kurang mampu untuk mengikuti pendidikan disekolah. (2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Namun dalam aplikasi pelaksanaan peraturan yang diberlakukan memberi problema-problematik pendidikan meskipun sisi lain menguntungkan salah satu pihak. Namun dari segi pihak penyelenggara sekolah. serta (5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia. bahwa tak ada pendidikan yang gratis. . Ketika kegiatan belajarmengajar berjalan.

7500).000 uang makan. Tak dapat dipungkiri. dan guru. Rp 200. Meski demikian. mereka menjadi tidak serius dalam belajar karena merasa tidak dibebani biaya. Terjadi perbedaan pemberian sarana dan prasrana antara peserta didik kelas RSBI dan kelas yang mengenyam Sekolah Gratis. tentunya membutuhkan biaya. juga menyelenggarakan RSBI atau Rencana Sekolah Berstandar Internasional. dan 145. Dampak pada pendidik yaitu guru tidak menerima uang transport dari komite. Perlakuan lain yaitu siswa kelas RSBI mendapatkan fasilitas dalam pembelajaran lengkap. Disinilah kesenjangan mulai terjadi.00 mendapat perlakukan mendapatkan fasilitas lebih untuk pembelajaran. seperti penggunaan LCD. Pada SMA Negeri 6 selain sudah menyelenggarakan program Sekolah Gratis.000. faktor dana bukanlah satu-satunya penentu kegiatan belajar-mengajar. Fasilitas yang mereka dapatkan dari sekolah hanya kelas untuk belajar.000. Dampak lain yang terjadi adalah siswa sekolah gratis. harus ditunjang oleh faktor dana. selama ini guru menerima transpot jumlahnya dihitung per jam pelajaran (Rp. untuk pembayaran les tambahan dari sekolah. Rincian pembayaran tersebut adalah Rp 150.Kegiatan dan sarana infrastruktur apapun. Peserta didik yang masuk program Sekolah Gratis mendapat bantuan subsidi dari pemerintah untuk membayar biaya sekolah SPP sebesar Rp80. untuk SPP. bahwa kualitas peserta didik dan tenaga pendidik.000. menggunakan Laboratorium Komputer satu siswa satu komputer.000. meskipun baru diperuntukkan kelas X. sarana dan prasarana lain cukup . Sedangkan peserta didik pada kelas RSBI yang membayar sendiri sebesar Rp 495. Siswa sekolah gratis tidak mendapatkan fasilitas les tambahan lagi. sesuai falsafah dunia pendidikan. Makalah ini akan mengangkat kesenjangan yang terjadi di SMA Negeri 6 Palembang.

Perbedaan tersebut tidak sepantasnya terjadi. Khususnya dalam membayar biaya sekolah karena tidak semua siswa yang sekolah adalah siswa yang tidak mampu dan sebagian juga pasti ada siswa yang kaya. melaksanakan dan evaluasi secara sistematis beradsarkan kebutuhan sekolah atau melaksanakan dengan menerapkan manajemen berbasis sekolah sehingga program Sekolah Gratis tepat pada sasaran sesuai yang membutuhkan. dimana memang sudah hak siswa yang tidak mampu untuk mendapat pendidikan. Pengelolaan merencanakan. Adanya hak berarti ada suatu kewajiban kewajiban peserta didik ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan. Sekolah gratis juga bukan berarti tidak mengutamakan kualitas hasil pendidikan.2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. kecuali bagi peserta didik yang dibebaskan dari kewajiban tersebut sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. yang baik yaitu memperhitungkan mengorganiasikan. dalam hal hak peserta didik yang berbunyi ”mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya”. Meskipun sekolah gratis penjaminan mutu pendidikan tetap diutamakan. termasuk juga pada kebijakan apa-pun yang dikeluarkan pemerintah. Meskipun gratis penjaminan mutu tetap diutamakan. 20 TH. Hak tersebut juga dijamin oleh pemerintah yang dituangkan dalam Undang–Undang NO. Agar sekolah gratis dapat berjalan tanpa mengesampingkan kualitas pendidikan. . karena adanya sekolah gratis untuk membantu siswa yang tidak mampu melanjutkan sekolah. enyelenggaraan sekolah gratis di setiap lembaga sekolah harus dikelola aspek dengan dalam baik. Kebijakan pemerintah yang dicantumkan dalam undang-undang hingga peraturan daerah harus dilaksanakan tidak dengan mentah-mentah tapi tidak memperhatikan aspek lain untuk meningkatkan kulitas pendidikan. Sekolah Gratis bukan berarti semua siswa disamaratakan mendapat kebijakan sekolah gratis.

Berdasarkan pemaparan latar belakang diatas maka masalah yang akan dibahas dalam penulisan makalah ini adalah : 1. pengkoordinasian dan pemanfaatan dengan melibatkan secara menyeluruh elemen-elemen yang ada pada sekolah untuk mencapai tujuan (mutu pendidikan) yang diharapkan secara efisien. Tidak hanya program sekolah gratis juga dengan kebijakan lain.Manajemen yang baik sesuai kebutuhan sekolah sangat mempengaruhi kualitas tersebut.Tujuan Penulisan Makalah. Rumusan Masalah. Berdasarkan hal tersebut makalah ini mengangkat masalah penyelenggaraan sekolah gratis melalui manajemen berbasis sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di SMA Negeri 6 Palembang? B. Untuk Untuk mendapatkan memahami pemahaman Manajemen tentang Berbasis penyelenggaraan Sekolah dalam program sekolah gratis. Bagaimana penerapan Manajemen Berbasis Sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan? C. 1. 2. Masalah yang timbul dari kebijakan sekolah gratis diharapkan dapat diselesaikan dengan penerapan manajemen berbasis sekolah yang merupakan proses pengintegrasian. Betapa pentingnya dilakukan kajian mendalam tentang masalah pelaksanaan sekolah gratis dengan menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah hingga kualitas pendidikan meningkat dan dapat terjamin. Bagaimana penyelenggaraan program sekolah gratis? 2. meningkatan kualitas pendidikan .

Sekolah gratis juga dilandasi oleh kebijakan hukum dari Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan. Pendidikan adalah hak setiap warga negara. 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan. Untuk . Pemerintah wajib membuat anggaran biaya untuk warga negara yang memadai sehingga pendidikan dapat diselenggarakan tanpa memungut biaya atau gratis melalui pembiayaan kas negara. sisanya 26 triliun untuk alokasi lain. UUD 1945 hasil amandemen juga telah mengamanatkan 20% anggaran pendidikan. yaitu Biaya Satuan Pendidikan. jenis-jenis biaya pendidikan semakin jelas dan gamblang. Peraturan Pemerintah No. Rp 105 triliun gaji guru. Tahun 2009 biaya satuan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) mengalami peningkatan. Program Sekolah Gratis Kebijakan ini adalah aplikasi dari kebijakan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai dasar negara telah memberikan jaminan bagi setiap warga negara untuk mendapatkan pendidikan.D. Biaya Penyelenggaraan dan/atau Pengelolaan Pendidikan. Rinciannya. Menurut Peraturan Pemerintah ini biaya pendidikan dikategorikan menjadi 3 jenis. pemerintah sejak bulan Juli 2005 telah mengeluarkan kebijakan tentang Bantuan Operasional sekolah (BOS). Sekolah Gratis merupakan program pemerintah untuk membebaskan biaya sekolah dari Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Lanjutan Tinggat Pertama (SLTP). serta Biaya Pribadi Peserta Didik. Rp 16 triliun pembiayaan BOS. Rp 60 triliun khusus buat Depdiknas. Pada Tahun 2009 Anggaran berasal dari 20 % persen dari anggaran pendidikan atau kurang lebih Rp 207 triliun. Sebagai upaya untuk mewujudkan amanat tersebut. Peningkatan biaya tersebut telah dijadikan pilar utama bagi pemerintah untuk mewujudkan pendidikan gratis pada tingkat pendidikan dasar terutama pada sekolahsekolah negeri dan menggratiskan seluruh siswa miskin pada sekolah swasta.

SMA/SMALB/MA/SMK baik negeri maupun swasta. Pemerintah dengan segenap usaha melalui kebijakan harus merujudkan pendidikan yang berjalan sesuai undang-undang yang dibuat dan diselaraskan sesuai kebutuhan daerah oleh pemerintah daerah. Namun . Pendidikan merupakan proses sistematis untuk meningkatkan martabat manusia secara holistik. Berdasarkan Perda. biaya investasi. yang memungkinkan ketiga dimensi kemanusiaan paling elementer di atas dapat berkembang secara optimal.SMP/SMPLB/MTs. Kelompok Belajar (Kejar) Paket dan Diniyah. Salah satu propinsi yang telah membuat peraturan tentang sekolah gratis adalah Pemerintah Propinsi Sumatera Selatan. Adapun BOS merupakan program pemerintah untuk penyediaan pendanaan biaya operasional bagi satuan pendidikan dasar. pendidikan seyogyanya menjadi wahana strategis bagi upaya mengembangkan segenap potensi individu. Kemudian ditindaklanjuti dengan Peraturan Gubernur Sumatera Selatan Nomor 31 tahun 2009 tentang Pedoman Penyelenggaraan Program Sekolah Gratis di Provinsi Sumatera Selatan. biaya operasional. Program tersebut ditujukan kepada siswa mulai dari jenjang SD/SDLB/MI. bantuan biaya pendidikan. setiap penduduk Sumatera Selatan dalam usia sekolah berhak mendapatkan pelayanan sekolah gratis. Provinsi ini juga mengeluarkan Perda tentang Penyelenggaraan Program Sekolah Gratis. Dengan demikian. SBI (Sekolah Bertaraf Internasional).biaya satuan pendidikan adalah biaya penyelenggaraan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan meliputi. sehingga cita-cita membangun manusia seutuhnya dapat terpecahkan. (Amzulian Rifai: 2009) Untuk penerapan peraturan tersebut pemerintah memberikan subsidi Rp 80 ribu/bulan untuk setiap siswa. Pada 19 Maret 2009 diterbitkan Perda Provinsi Sumatera Selatan No 3 tahun 2009 di Provinsi Sumatera Selatan. RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional). dan beasiswa. kecuali SSN (Sekolah Standar Nasional).

didalamnya juga melibatkan pemerintah daerah dan peran serta masyarakat. Kemungkinan kondisi setiap lembaga sekolah yang berbeda dapat dipastikan terjadi perbedaan taraf hidup setiap siswa.2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa ada hak dan kewajiban dari peserta didik. Untuk pengaturan hak dan kewajiban tersebut tentu yang paling tepat untuk mengolahnya dalah pihak sekolah sendiri. kecuali bagi peserta didik yang dibebaskan dari kewajiban tersebut sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Jelas sekali kewajiban tersebut diperuntukkan bagi siswa yang mampu membayar sekolah sendiri bahkan untuk yang lebih. ada siswa yang mampu membayar uang sekolah ada pula siswa yang mencukupi bahkan lebih. Kewajiban tersebut juga memberi pengecualian untuk siswa yang tidak mapu membayar. Meskipun program penuntusan masalah APK dengan mengadakan gratiskan. Untuk kewajiban peserta didik adalah ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan. Pengolahan yang baik kebijakan pemerintah di masing-masing sekolah menuju pada suatu pendekatan yaitu manajemen sekolah gratis tetapi perlu dilihat siapa saja siswa yang membutuhkan sekolah gratis tidak menyamaratakan semua siswa untuk di . Salah satu hak peserta didik adalah mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya.jumlah tersebut berbeda jauh antara subsidi dari pemerintah dengan kebutuhan ril sekolah. 20 TH. Meskipun pemerintah menjamin pendidikan setiap warga negara dan adalah hak setiap warga negara mendapatkan pendidikan. Sedangkan pemerintah sebagai pihak mengelola pendidikan secara sistematis tapi pihakpihak terkait harus ikut serta dalam kelangsungan pendidikan yang berkualitas yaitu dari warga itu sendiri atau masyarakat. Berdasarkan Undang–Undang NO. UU Sisdiknas telah mensinyalir bahwa pembiayaan pendidikan tidak hanya merupakan peran pemerintah saja.

20/2003 menyatakan bahwa “Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan konsep pengelolaan sekolah yang ditujukan untuk meningkatkan mutu pendidikan di era desentralisasi pendidikan.berbasis sekolah agar hambatan dan kesenjangan yang terjadi dapat diminimalisir. Sedangkan menurut Nanang Fatah (1996: 1) mengartikan manajemen sebgai ilmu. A. pemerintah daerah pelaksanaan proses dan pusat sehingga manajemen menjadi lebih efisien. yaitu bidang pengetahuan yang secara sistematik berusaha memahami mengapa dan bagaimana orang bekerja sama. . 2006) adalah ”proses mencapai hasil dengan mendayagunakan sumber daya yang tersedia secara produktif ”. MBS pada intinya adalah untuk penyeimbangan struktur kewenangan antara sekolah. Kewenangan terhadap pembelajaran di serahkan kepada unit yang paling dekat dengan pelaksanaan proses pembelajaran itu sendiri yaitu sekolah. Sehingga pemeratan pendidikan melalui sekolah gratis dapat mencapai tujuan dan kualitas pendidikan tidak terabaikan. dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah”. sebagai dukungan terhadap diberlakukannya otonomi daerah (desentalisasi pendidikan). MBS merupakan paradigma baru pendidikan yang memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah dengan maksud agar sekolah leluasa mengelola sumber daya dan sumber dana dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan. Pasal 51 UU Sistem Pendidikan Nasional No. Pengertian manajemen menurut (Depdiknas. Konsep Manajemen Berbasis Sekolah Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan kebijakan publik Departemen Pendidikan Nasional untuk memberikan otonomi kepada sekolah. pendidikan ndasar.

dan pemerintah tentang mutu sekolahnya. terutama sumber daya manusianya (kepala sekolah. meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orangtua. 2. masyarakat. meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia. guru. Menurut buku Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (2002: 3) mengartikan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) sebagai bagian dari Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yaitu model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar pada sekolah dan mengorong pengambilan keputusan partisipasif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah (guru. orang tua siswa dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan nasional. dan pendidikan melalui pengambilan keputusan . karyawan. efisiensi dan pemeretaan poendidikan agar dapat mengakomodasi keinginan masyarakt setempat serta saling menjaling kerjasama yang erat antara sekolah masyarakat dan pemerintah (Nur Ainy:2005) . melalui pemberian kewenangan. meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam menyelenggarakan bersama.Mulyasa (2002: 11) mengungkapkan bahwa manajemen berbasis sekolah merupakan suatu konsep yang menawarkan otonomi pada sekolah yang menentukan kebijakan sekolah dalam rangka meningkatkan mutu. kepala sekolah. siswa. dan sumber daya lain untuk memecahkan persoalan yang dihadapi oleh sekolah yang bersangkutan. dan masyarakat sekitarnya). orang tua siswa. fleksibilitas. MBS bertujuan untuk: 1. Selain itu. karyawan. 3. Manajemen berbasis sekolah bertujuan untuk "memberdayakan" sekolah.

Hendaknya dalam sosialisasi ini juga dibaca dan dipahami sistem. Bottom-up planning and decision making 3. dan sumber daya sekolah yang ada secermat-cermatnya dan direfleksikan kecocokannya dengan sistem. Fokus pada mutu 2. Mensosialiasikan konsep manajemen berbasis sekolah keseluruh warga sekolah. mengubah pendekatan manajemen berbasis pusat menjadi manajemen berbasis sekolah bukanlah merupakan one-shot and quick-fix. Pemberdayaan masyarakat 5.4. 2000): 1. Manajemen yang transparan 4.) melalui seminar. diskusi. dsb. budaya. pengawas. konselor. dan media masa. strategi utama yang perlu ditempuh dalam melaksanakan manajemen berbasis sekolah adalah sebagai berikut (Slamet PH. wakil kanwil. wakil-wakil kepala sekolah. forum ilmiah. Oleh karena itu. dan sumber daya yang dibutuhkan untuk penyelenggaraan manajemen berbasis sekolah. karyawan dan unsur-unsur terkait lainnya (orangtua murid. meningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah tentang mutu pendidikan yang akan dicapai. Prinsip dan Implementasi MBS Prinsip utama pelaksanaan MBS ada 5 (lima) hal yaitu: 1. Peningkatan mutu secara berkelanjutan Strategi Pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah Pada dasarnya. yaitu guru.siswa. . budaya. 2000. akan tetapi merupakan proses yang berlangsung secara terus menerus dan melibatkan semua unsur yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan pendidikan persekolahan. Direktorat Dikmenum. wakil kandep.

Kriteria inilah yang akan digunakan sebagai standar atau kriteria untuk mengukur tingkat kesiapan setiap fungsi dan faktor-faktornya. maka perlu diidentifikasi fungsi-fungsi mana yang perlu dilibatkan untuk mencapai tujuan situasional dan yang masih perlu diteliti tingkat kesiapannya. pengembangan fasilitas. pengembangan hubungan sekolah-masyarakat. besar kecilnya ketidaksesuaian antara keadaan sekarang (kenyataan) dan keadaan yang diharapkan (idealnya) memberitahukan besar kecilnya tantangan (loncatan). Merumuskan tujuan situasional yang akan dicapai dari pelaksanaan manajemen berbasis sekolah berdasarkan tantangan nyata yang dihadapi (butir 2). and Threat). Melakukan analisis situasi sekolah dan luar sekolah yang hasilnya berupa tantangan nyata yang harus dihadapi oleh sekolah dalam rangka mengubah manajemen berbasis pusat menjadi manajemen berbasis sekolah. Fungsi-fungsi yang dimaksud meliputi antara lain: pengembangan kurikulum. kriteria kesiapan setiap fungsi dan faktor-faktornya ditetapkan. Opportunity. Karena itu. pengembangan tenaga kependidikan dan nonkependidikan. . Tantangan adalah selisih (ketidaksesuaian) antara keadaan sekarang (manajemen berbasis pusat) dan keadaan yang diharapkan (manajemen berbasis sekolah). pengembangan siswa. Menentukan tingkat kesiapan setiap fungsi dan faktor-faktornya melalui analisis SWOT (Strength. Segera setelah tujuan situasional ditetapkan. 3. Untuk mencapai tujuan situasional yang telah ditetapkan. 5. Weaknes. dan fungsi-fungsi lain. pengembangan iklim akademik sekolah. 4. Mengidentifikasi fungsi-fungsi yang perlu dilibatkan untuk mencapai tujuan situasional dan yang masih perlu diteliti tingkat kesiapannya.2.

artinya tidak memenuhi ukuran kesiapan. Sedang tingkat kesiapan yang kurang memadai. bagi faktor yang tergolong faktor eksternal. bagi faktor yang tergolong faktor internal. beserta programprogramnya untuk merealisasikan rencana tersebut. perlu dilakukan tindakan-tindakan yang mengubah ketidaksiapan menjadi kesiapan fungsi. dan panjang. 6. peluang. dan ancaman. yang sama artinya dengan ada ketidaksiapan fungsi. Sekolah tidak selalu memiliki sumber daya yang cukup untuk melaksanakan . sekolah bersama-sama dengan semua unsur-unsurnya membuat rencana untuk jangka pendek. 7. Oleh karena itu. maka tujuan situasional yang telah ditetapkan tidak akan tercapai. bagi faktor yang tergolong faktor eksternal. yang dinyatakan sebagai: kekuatan. agar menjadi kekuatan dan/atau peluang. menengah. baik faktor yang tergolong internal maupun eksternal. bagi faktor yang tergolong internal. yakni tindakan yang diperlukan untuk mengubah fungsi yang tidak siap menjadi fungsi yang siap. Selama masih ada persoalan. dinyatakan bermakna: kelemahan.dilakukan dengan maksud mengenali tingkat kesiapan setiap fungsi dari keseluruhan fungsi yang diperlukan untuk mencapai tujuan situasional yang telah ditetapkan. Analisis SWOT dilakukan terhadap keseluruhan faktor dalam setiap fungsi. yang hakekatnya merupakan tindakan mengatasi makna kelemahan dan/atau ancaman. Memilih langkah-langkah pemecahan (peniadaan) persoalan. yakni dengan memanfaatkan adanya satu/lebih faktor yang bermakna kekuatan dan/atau peluang. agar tujuan situasional tercapai. Tindakan yang dimaksud lazimnya disebut langkah-langkah pemecahan persoalan. Berdasarkan langkah-langkah pemecahan persoalan tersebut.

Jika input tidak siap/tidak memadai. 8. Dalam pelaksanaan. Melaksanakan program-program untuk merealisasikan rencana jangka pendek manajemen berbasis sekolah. sehingga proses dan hasil manajemen berbasis sekolah dapat dioptimalkan. Evaluasi diri harus . khususnya evaluasi yang dilakukan secara internal.manajemen berbasis sekolah idealnya. Kewenangan yang Didesentralisasikan : 1. maka tujuan situasional tidak akan tercapai. dan pengelolaan proses belajar mengajar. sehingga perlu dibuat sekala prioritas jangka pendek. Evaluasi semacam ini sering disebut evaluasi diri. 9. Evaluasi internal dilakukan oleh warga sekolah untuk memantau proses pelaksanaan dan untuk mengevaluasi hasil program-program yang telah dilaksanakan. pengelolaan program. sekolah harus melakukan analisis kebutuhan mutu dan berdasarkan hasil analisis kebutuhan mutu inilah kemudian sekolah membuat rencana peningkatan mutu. Pemantauan terhadap proses dan evaluasi terhadap hasil manajemen berbasis sekolah perlu dilakukan. Hasil pantauan proses dapat digunakan sebagai umpan balik bagi perbaikan penyelenggaraan dan hasil evaluasi dapat digunakan untuk mengukur tingkat ketercapaian tujuan situasional yang telah dirumuskan. dan panjang. menengah. Sekolah diberi wewenang untuk melakukan evaluasi. Perencanaan dan Evaluasi Sekolah diberi kewenangan untuk melakukan perencanaan sekolah sesuai dengan kebutuhannya (school-based plan). Demikian kegiatan ini dilakukan secara terus-menerus. Oleh karena itu. Yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan adalah pengelolaan kelembagaan. semua input yang diperlukan untuk berlangsungnya proses (pelaksanaan) manajemen berbasis sekolah harus siap.

metode. pemeliharaan dan perbaikan. Secara umum. 3. Pengelolaan Kurikulum Kurikulum yang dibuat oleh Pemerintah Pusat adalah kurikulum standar yang berlaku secara nasional. laboran. mulai dari analisis kebutuhan. sesuai dengan karakteristik mata pelajaran. Hal ini didasarkan oleh kenyataan bahwa sekolahlah . karakteristik siswa. kecuali yang menyangkut pengupahan/imbal jasa dan rekrutmen guru pegawai negeri yang sampai saat ini masih ditangani oleh Pemerintah Pusat/Daerah. dan teknik-teknik pembelajaran dan penagjaran yang paling efektif. Pengelolaan Proses Belajar Mengajar Proses belajar mengajar merupakan kegiatan utama sekolah. Pengelolaan Ketenagaan Pengelolaan ketenagaaan. karakteristik guru. hadiah dan sanksi (reward and punishment). dalam impelentasinya sekolah dapat mengembangkan (memperdalam. pengembangan. dan kondisi nyata sumber daya yang tersedia di sekolah. Sekolah diberi kebebasan memilih strategi. mulai dari pengadaan. 4. Selain itu. Padahal kondisi sekolah pada umumnya sangat beragam. memperkaya. 5. hubungan kerja. rekrutmen. dan memodifikasi). dan sebagainya) dapat dilakukan oleh sekolah. sampai evaluasi kinerja tenaga kerja sekolah (guru. 2. namun tidak boleh mengurangi isi kurikulum yang berlaku secara nasional. strategi/metode/teknik pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered) lebih mampu memberdayakan pembelajaran siswa.jujur dan transparan agar benar-benar dapat mengungkap informasi yang sebenarnya. hingga sampai pengembangan. perencanaan. Pengelolaan Fasilitas (Peralatan dan Perlengkapan) Pengelolaan fasilitas sudah seharusnya dilakukan oleh sekolah. sekolah diberi kebebasan untuk mengembanhgkan kurikulum muatan lokal. Oleh karena itu. tenaga administrasi.

Hal ini juga didasari oleh kenyataan bahwa sekolahlah yang paling memahami kebutuhannya sehingga desentraslisasi pengalokasian/penggunaan uang sudah seharusnya dilimpahkan ke sekolah. mulai dari penerimaan siswa baru. pengalokasian/penggunaan uang sudah sepantasnya dilakukan oleh sekolah. sebenarnya dari dahulu sudah didesentralisasikan. Pengelolaan Iklim Sekolah Iklim sekolah (fisik dan non fisik) yang kondusif-akademik merupakan prasyarat bagi terselenggaranya proses belajar mengajar yang efektif. penempatan untuk melanjutkan sekolah atau untuk memasuki dunia kerja hingga sampai pada pengurusan alumni. optimisme dan harapan/espektasi yang tinggi dari warga sekolah.yang 6. hubungan sekolahmasyarakat dari dahulu sudah didesentraslisasikan. Dalam arti yang sebenarnya. 8. paling mengetahui kebutuhan fasilitas. yang diperlukan adalah peningkatan intensitas dan ekstensitasnya. Hubungan Sekolah-Masyarakat Esensi hubungan sekolahmasyarakat adalah untuk meningkatkan keterlibatan. maupun kemutakhirannya. sekali lagi yang dibutuhkan adalah peningkatan intensitas dan ekstensitas hubungan sekolah-masyarakat. 7. baik kecukupan. kepedulian. Lingkungan sekolah yang aman dan tertib. dan dukungan dari masyarakat terutama dukungan moral dan finansial. terutama kesesuaian. Karena itu. kesehatan sekolah. dan kegiatan-kegiatan yang terpusat . Pengelolaan Keuangan Pengelolaan keuangan. Oleh karena itu. 9. kepemilikan. Sekolah juga harus diberi kebebasan untuk melakukan ? kegiatan-kegiatan yang mendatangkan penghasilan? (income generating activities) sehingga sumber keuangan tidak semata-mata tergantung pada pemerintah. Pelayanan Siswa Pelayanan siswa. pengembangan/pembinaan/ pembimbingan.

Hal ini juga berpotensi untuk meningkatkan kinerja staf. Pengambilan keputusan lebih partisipatif terutama dalam hal : a. peluang dan ancaman bagi sekolah yang bersangkutan sehingga sekolah dapat lebih mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang ada. Bahwa penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) akan menghasilkan nilai positif bagi sekolah antara lain : 1. mengalokasikan. menawarkan partisipasi langsung kepada kelompok-kelompok terkait. 3. Menetapkan sasaran peningkatan mutu b. mengendalikan. Sekolah lebih mengetahui kebutuhan skala prioritas. Melakukan evaluasi pelaksanaan peningkatan mutu. dan meningkatkan pemahaman kepada masyarakat terhadap pendidikan. Ketelitian dalam pengelolaan semua aspek yang ada di sekolah dan sesuai karakteristik sekolah akan membantu penyelenggraan sekolah gratis yang tepat sasaran dan kebutuhan sehingga tidak mengesampingkan kualitas atau mutu pendidikan. . kelemahan. Penggunaan dana lebih efektif dan efisien sesuai dengan skala prioritasnya Pada sistem MBS sekolah dituntut secara mandiri menggali. 4. Sekolah lebih mengetahui kekuatan. Iklmi sekolah sudah merupakan kewenangan sekolah sehingga yang diperlukan adalah upaya-upaya yang lebih intensif dan ekstensif.pada siswa (student-centered activities) adalah contoh-contoh iklim sekolah yang dapat menumbuhkan semangat belajar siswa. Melaksanakan rencana peningkatan mutu d. Menyusun rencana peningkatan mutu c. baik kepada masyarakat maupun pemerintah. menentukan prioritas. 2. dan mempertanggungjawabkan pemberdayaan sumber-sumber. MBS juga merupakan salah satu wujud dari reformasi pendidikan yang menawarkan kepada sekolah untuk menyediakan pendidikan yang lebih baik dan memadai bagi siswa.

Mutu pendidikan dapat dilihat dalam dua hal. yakni mengacu pada proses pendidikan dan hasil pendidikan. Faktor-faktor dalam proses pendidikan adalah berbagai input. Dan pihak harus dengan bijak mengatur pendanaan yang didapatkan. dukungan administrasi dan sarana prasarana dan sumber daya lainnya serta penciptaan suasana kondusif. mutu pendidikan dalam konteks hasil pendidikan mengacu pada prestasi yang dicapai oleh sekolah pada setiap kurun waktu tertentu Kualitas Pendidikan . seperti bahan ajar. Pendidikan gratis yang diprogramkan pemerintah pada saat ini pada hakikatnya merupakan cikal bakal pendidikan gratis di masa yang akan datang atau mungkin lebih tepat disebut sebagai pendidikan murah bagi rakyat.Anggaran sebesar berapapun yang diturunkan jangan sampai membuat sekolah menjadikan alasan untuk menghambat proses pembelajaran bagi peserta didik karena sudah menjadi hak peserta didik untuk mendapatkan pendidikan. metodologi. E. Manajemen Berbasis Sekolah dalam Meningkatkan Secara umum kualitas atau mutu adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang diharapkan atau tersirat. Sedangkan. Peran serta masyarakat sebagaimana disinnyalir dalam Undang-Undang Sisdiknas masih sangat diperlukan untuk mewujudkan sekolah gratis di tanah air. saran sekolah. Masyarakat harus menjadi kontrol atau pengawas secara nonformil yang mengingatkan jika terjadi penyimpangan dalam pelaksanaan. Kerjasama antara masyarakat dengan pihak sekolah akan lebih mengefisenkan tugas-tugas yang sudah dibentuk untuk mengatasi masalah yang terjadi. Proses pendidikan yang bermutu apabila seluruh komponen pendidikan terlibat dalam proses pendidikan itu sendiri.

Dalam hal ini penerapan Manajemen Berbasis Sekolah untuk meningkatkan kualitas adalah jalan yang tepat mengingat setiap lembaga mempunyai kondisi yang berbeda. (ii) kualitas/mutu harus ditentukan oleh pengguna jasa sekolah. baik dalam lingkup subtansi yang akademis maupun yang non-akademis dalam suasana yang mendukung proses pembelajaran. maka mutu dalam artian hasil (ouput) harus dirumuskan lebih dahulu oleh sekolah. Antara proses dan hasil pendidikan yang bermutu saling berhubungan. baik konteks kurikuler maupun ekstra-kurikuler. namun akan tetap dilaksanakan mengacu pada Standar Pendidikan Nasional dari kebijakan pemerintah. Akan tetapi agar proses yang baik itu tidak salah arah.menerus mengumandangkan peningkatan mutu. Kualitas pendidikan dari segi penyelenggaraan dapat tercapai maksimal dengan adanya pengelolaan yang baik pula.Kualitas pendidikan dapat terlihat secara kasat adalah hasil belajar siswa. Tetapi dari segi kulitas penyelenggaran menuju hasil adalah yang terpenting karena akan berdampak dari hasil akhir. keterampilan. (i) perhatian harus ditekankan kepada proses dengan terus . Berbagai input dan proses harus selalu mengacu pada mutu-hasil (output) yang ingin dicapai. atau dari segi jumlah siswa yang lulus di akhir tahun sekolah. Manajemen sekolah.prinsip pengelolaan kualitas total yaitu. sikap . (iii) prestasi harus diperoleh melalui pemahaman visi bukan dengan pemaksaan aturan. Ada empat hal yang terkait dengan prinsip . siswa dan sarana pendukung di kelas maupun di luar kelas. dukungan kelas berfungsi mensinkronkan berbagai input tersebut atau mensinergikan semua komponen dalam interaksi (proses) belajar mengajar baik antara guru. (iv) sekolah harus menghasilkan siswa yang memiliki ilmu pengetahuan. dan harus jelas target yang akan dicapai untuk setiap tahun atau kurun waktu lainnya.

TQM pertama kali dikemukakan dan dikembangkan oleh Edward Deming. siswa dan masyarakat.arief bijaksana. pertama. TQM merupakan suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus menerus atas produk. Kedua. yaitu. manusia.13 Wohlstetter dalam Watson (1999) memberikan panduan yang komprehensif sebagai elemen kunci reformasi MBS yang terdiri dari atas: 1) menetapkan secara jelas visi dan hasil yang diharapkan. proses dan lingkungan. kemajuan program pendidikan dan pelayanan kepada siswa-orang tua. Pada hakekatnya MBS akan membawa kemajuan dalam dua area yang saling tergantung. 5) membutuihkan kerjasama tim. yaitu: 1) fokus pada pelanggan baik internal maupun eksternal. 3) menggunakan pendekatan ilmiah dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah. dan memiliki kematangan emosional (Umaedi: 1999). 9) memiliki kesatuan tujuan. 7) menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan. . 4) memiliki komitmen jangka panjang. jasa. Total Quality Management (TQM). Namun pendekatan TQM hanya dapat dicapai dengan memperhatikan karakteristiknya. keinginan dan harapan pelanggan saat ini dan dimasa yang akan datang. dkk tahun TQM dalam pendidikan adalah filosofi perbaikan terus-menerus dimana lembaga pendidikan menyediakan seperangkat sarana atau alat untuk memenuhi bahkan melampaui kebutuhan. 2) memiliki obsesi yang tinggi terhadap kualitas. Upaya peningkatan kualitas pendidikan dapat ditempuh dalam menerapkan 1982. 8) memberikan kebebasan yang terkendali. Paine. dan 10) adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan Konsep peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah muncul dalam kerangka pendekatan manajemen berbasis sekolah. kualitas lingkungan kerja untuk semua anggota organisasi. 6) memperbaiki proses secara berkesinambungan. karakter.

fleksibilitas kepada sekolah. memiliki kontrol yang kuat terhadap input manajemen dan sumber dayanya. dan anggota dewan sekolah. adaptif.2) menciptakan fokus tujuan nasional yang memerlukan perbaikan. komitmen yang tinggi pada dirinya dan prestasi merupakan acuan bagi penilaiannya F. Kesimpulan . 6) adanya keadilan dalam pendanaan atau pembiayaan pendidikan (Feiby Ismail: 2008) Model MBS di Indonesia disebut Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). memiliki kontrol yang kuat terhadap kondisi kerja. Otonomi sekolah adalah kewenangan sekolah untuk mengatur dan mengurus kepentingan warga sekolah sesuai dengan peraturan perundangundangan pendidikan nasional yang berlaku. Sehingga diharapkan sekolah akan menjadi mandiri dengan ciri-ciri sebagai berikut: tingkat kemandirian tinggi. MPMBS merupakan bagian dari manajemen berbasis sekolah (MBS). Sedangkan pengambilan keputusan partisipatif adalah cara untuk mengambil keputusan melalui penciptaan lingkungan yang terbuka dan demokratik dimana warga sekolah di dorong untuk terlibat secara langsung dalam proses pengambilan keputusan yang dapat berkontribusi terhadap pencapaian tujuan sekolah. 4) tingkat kepemimpinan yang kuat dan dukungan politik serta dukungan kepemimpinan dari atas. 3) adanya panduan kebijakan dari pusat yang berisi standar-standar kepada sekolah. antisipatif. MPMBS dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah. para guru. dan proaktif. 5) pembagunan kelembagaan (capacity building) melalui pelatihan dan dukungan kepada kepala sekolah. dan mendorong partisipasi secara langsung warga sekolah dan masyarakat untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional serta peraturan perundangundangan yang berlaku.

Kewenangan yang diberikan pemerintah dalam bentuk Manajemen Berbasis Sekolah merupakan otonomi untuk sekolah agar mengelola sesuai karakteristik dan kebutuhan sekolah sehingga setiap kebijakan baru seperti “Sekolah Gratis” dapat diselenggarakan sesuai kondisi sekolah. G. Negara pun memberi anggaran sebesar 20% untuk untuk pendidikan untuk penyeleggaraan program tersebut. Negara juga untuk biaya sekolah dari Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Lanjutan Tinggat Pertama (SLTP) hingga SMA. Saran Setiap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah harus diujicoba yaitu diteliti terlebih dahulu untuk mengetahui efektifitas dan efiseiensi sehingga mendapatkan kekurangan dari kebijakan. dan siswa yang ada. Pemberdayaan semua komponen suatu lembaga sekolah dan pengolaan yang baik dapat mengefisienkan kinerja hingga tujuan lembaga dapat tercapai. Sehingga pembelajaran dapat berjalan maksimal dan peningkatan kualitas pendidikan dapat tercapai.Sekolah Gratis merupakan program pemerintah suatu aplikasi kebijakan yang tertulis Pembukaan Undang-Undang 1945 dan UndangUndang Negara Indonesia hingga peraturan daerah. akibat kebijakan tersebut maka sekolah harus diberikan sosialisasi dari pemerintah secara lengkap tentang manajemen berbasis sekolah sehingga tidak melupakan tujuan utama sebagai alat untuk memberi pendidikan semua warga. Setiap daerah pun dalam rangka otonomi daerah diberikan kebijakan untuk menyelenggarakan Sekolah Gratis yang mengacu pada standar pendidikan nasional dan Undang-Undang. Sosialisasi secara serius dari pemerintah harus dilakukan sehingga . Untuk menerapkan sekolah gratis yang ideal tanpa penyelewangan kebijakan baru disekolah. Selanjutnya dapat merancang kebijakan baru untuk petunjuk teknis dari penyelenggaraan program tersebut.

Sekolah pun harus mengadakan analisis kebutuhan untuk mengetahui siswa yang layak mengikuti program sekolah gratis.2009 [Online] Tersedia: http://bos.uns.ppt. DAFTAR PUSTAKA ________(2002).id/pub/ono/pendidikan/pelajaran-sekolah/ktsp-smk/03. . Selain itu setelah sosialisasi dan penyelenggaraan dari pihak sekolah berlangsung pemerintah secara berkala memonitoring atau mengawasi penyelenggaraan program tersebut.penyelewengan kebijakan dari pihak sekolah dapat dihindari. _______(2004) Rencana Pembangunan Pendidikan Nasional Jangka Menengah 2005. Buku 1 Konsep Dasar. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Masyarakat pun dalam bentuk warga sekolah atau komite sekolah diharapkan ikut andil dan berperan dalam pengawasan program tersebut. Masyarakat pun harus berperan serta dalam pelaksaaan setiap kebijakan pemerintah termasuk juga pendidikan.ac. Meskipun yang program sekolah gratis diharapkan tapi adalah kualitas tetap dijaga bahkan ditingkatkan. Untuk selanjutnya melakukan program dengan manajemen berbasis sekolah agar mencapai sekolah gratis yang berkualitas dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan.fkip. Jakarta : depdiknas.

dalam Menyukseskan MBS dan KBK.pdf [21 Juli 2009] Slamet PH (2000). Bandung: remaja Rosdakarya Feiby Ismail (2008) Manajemen Berbasis Sekolah Solusi Peningkatan Kualitas Pendidikan [Online] Tersedia: http://jurnaliqro. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (Buku 1). Landasan Manajemen Pendidikan. Remaja Rosdakarya Nur.files. hlm. 2004). 2000.wordpress. Manajemen Kualitas Total Dalam Pendidikan (Total Quality Managementin Education) Penerjemah : Kambey Daniel C. Manado : Program Pascasarjana Universitas Negeri Manado Fatah. (Manado:Yayasan Tri Ganesha Nusantara.pdf [1 Agustus 2008 Mulyasa E.com//pdf/15289/mengaudit_sekolah_gratis. Kambey. Nanang.. LAMPIRAN Laporan Presentasi Sesi Tanya Jawab : No 1 Sesi Sesi 1 Nama Penanya Ibu Sumarni Pertanyaan 1. Amzulian (2009) Mengaudit Sekolah Gratis [Online] Tersedia: http://www. Universitas Negeri Yogyakarta dengan Tema "Pendidikan yang Berwawasan Pembebasan: Tantangan Masa Depan" pada Tanggal 27 Mei 2000 di Ambarukmo Palace Hotel. Makalah pada Acara Seminar dan Temu Alumni Fakultas Ilmu Sosial. Bandung: PT.Daniel C. Ainy (2005) Pelaksanaan manajemen Berbasis Sekolah di SDN Berjo I Ngarso Kabupaten Karanganyar: Universitas Negeri Yogyakarta Rifai. (2002) Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Yogyakarta.com/2008/08/01-eby-1-12.sripoku.. Departemen Pendidikan Nasional Edward dan Sallis. Menuju Pengelolaan Pendidikan Berbasis Sekolah. Landasan Teori Administrasi/Manajemen (Sebuah Intisari). 34-45 Direktorat Pendidikan Menengah Umum. Tolong Jelaskan kembali prinsip dan implementasi MBS dan berikan . (1999). Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum. 2004.

campur tangan pemerintah harus sudah dikurangi sekolah sendiri dengan harus tidak membiyayai tergantung pemerintah. Apakah kaitan MBS dengan permasalahan sekolah gratis? 1. Apakah ada landasan hukum yang menyebabkan ada 2 kelompok di SMA 6. 1. ada yang RSBI dan ada yang Gratis? 4 5 Sesi 2 Ibu Muliadiniarti Pak Amrulah 1. Bagaimana penyelenggaraan sekolah gratis di SMA 6? 2. yang ada sekarang kita ingin MBS tapi biaya masih minta di tanggung 6 Ibu Sumarni pemerintah. Masukan: Dengan adanya MBS. Apakah sekolah gratis dapat meningkatkan 3 Ibu Evi kualitas terhadap output di SMA 6? 1. Masukan: SMA 3 sudah sekolah gratis tapi tidak ada RSBI .2 Ibu Anerly Agung contohnya? 1.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->