Mengusik Keajegan Konsumerisme di Tengah Nuansa Kapitalis

“Toko bisa membangkitkan gairah untuk membeli barang yang tidak diperlukan.” (Rebecca Bloomwood, Confessions of a Shopaholic).

Kendati singkat, namun cuplikan narasi film di atas mampu menyuratkan secara lugas realitas sosial yang tengah terjadi dalam masyarakat masa kini. Hasrat konsumsi setiap orang meningkat seirama dengan jumlah produk baru yang ditawarkan pada mereka yang juga membanjir. Pada hakikatnya, konsumsi merupakan hak dasar manusia. Sehingga tidak mungkin menghindarkan manusia dari kegiatan konsumsi. Akan tetapi, yang patut dicermati ialah perubahan tujuan dan pola konsumsi masyarakat sekarang. Sigit Kurniawan dalam tulisannya yang berjudul “Perang Melawan Konsumerisme” mengamati, kini, konsumsi dilakukan masyarakat tidak sebatas untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Namun, konsumsi sekarang lebih mereka tujukan untuk mengenyangkan rasa lapar akan simbol, status, dan prestise dari kepemilikan suatu barang 1 . Akibatnya, pola konsumsi masyarakat berubah menjadi tak terkendali. Mereka senantiasa terangsang membeli dan memiliki suatu barang hanya untuk mengejar citra tertentu dalam masyarakat. Inilah yang disebut konsumerisme.

Berkenalan dengan konsumerisme Peter N. Stearns, seperti dikutip Yohanes Krisnawan dalam tesis magisternya mengungkapkan, konsumerisme adalah sebuah ‘masyarakat dimana sebagian dari warganya merumuskan tujuan-tujuan hidupnya dengan barang-barang yang sebetulnya tidak mereka butuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar mereka’ 2 . Sederhananya, menurut N. Soerawidjaja, konsumerisme merupakan suatu kondisi yang mana masyarakat mengonsumsi tanpa menghiraukan aspek fungsionalitas barang yang mereka konsumsi 3 . Yang terpenting
1

Sigit Kurniawan, “Perang Melawan Konsumerisme” (http://www.rayakultura.net/wmview.php?ArtID=67&page=1, diakses pada 24 Okt. 2009, 17.00).

2

Lihat Stearns dalam Yohanes Krisnawan, “Kritik Konsumerisme dalam Masyarakat Satu Dimensi (Studi Teori Kritis Kebutuhan-kebutuhan Semu Menurut Herbert Marcuse dalam Masyarakat Konsumen di Indonesia)”, Tesis Magister Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, Depok, 2006, hal. 59. N. Soerawidjaja, “Berpikir Fungsional, Melawan Konsumerisme” (http://www.apakabar.ws/forums/viewtopic.php?f=1&t=28683, diakses pada 24 Okt. 2009, 17.00)

3

menurut Jean Baudrillard. Depok. masyarakatnya tampak sangat gemar mengonsumsi tanpa dibarengi lonjakan produktivitas. Atau. ada pula kategori hedonistik. (2) kecenderungan makin bertambahnya pertukaran dan interaksi manusia yang dimungkinkan melalui pasar. Masyarakat ini mempunyai karakter orientasi produserisme dan hasrat konsumerisme yang rendah. Tesis Magister Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Lihat Wells dalam Nina Mutmainnah Armando. Adorno menamai masyarakat berciri serupa dengan masyarakat komoditas 7 . (5) pertumbuhan konsumsi olahraga dan kegiatan waktu senggang. kategori tradisional. mal-mal. tetapi hasrat konsumerismenya rendah.ialah kepuasan akan diasosiasikannya citra kelas tertentu pada seseorang ketika mereka memiliki barang tertentu. 34. barang-barang modern diinginkan sementara etos kerja yang kondusif bagi produksi barang massal tidak dihiraukan. Di dalam masyarakat konsumer maupun masyarakat komoditas muncul budaya konsumer yang ditandai dengan mencuatnya karakter konsumsi modern. masyarakat sadar tidak sadar sebenarnya berpartisipasi dalam apa yang disebut “budaya konsumtif” dengan mengabaikan investasi. namun diimbangi dengan orientasi produserisme yang tinggi pula. (4) peningkatan berbagai bentuk kegiatan belanja.. hingga penjualan di atas mobil dan toko barang-barang bekas. Dan memang benar. di negara-negara Dunia Ketiga yang meningkat hanyalah konsumerisme tanpa diimbangi produserisme 4 .. terkadang produktivitas menjadi korban. Di samping konsumerisme parasitik. setara dengan itu. Lihat Ibid. 30-33. op. 29. Pada gaya konsumerisme parasitik. Lury mencatat setidaknya ada sebelas karakter konsumsi modern yang dijunjung tinggi masyarakat tersebut. Menurut pengamatan Allan Wells. hal. yang berciri hasrat konsumerisme tinggi. Dengan landasan konsumsi seperti itu. Ciri gaya konsumerisme parasitik di atas. Kondisi seperti inilah yang kemudian disebutnya dengan konsumerisme parasitik5 . (6) pergeseran peraturan dalam peminjaman uang dan 4 Produserisme menurut Wells ialah meningkatnya mobilisasi pada masyarakat untuk bekerja lebih aktif di sektor ekonomi non-konsumtif. loc. “Konsumerisme pada Majalah Remaja (Studi Analisis Wacana Kritis terhadap Majalah Gadis)”. Pada tipe pembangunan parasitik. pada mayoritas negara-negara Dunia Ketiga. cit. antara lain: (1) tersedianya sejumlah besar barang (dan meningkat secara konstan) berbagai jenis barang. 5 6 7 . 2001. Konsumerisme parasitik merupakan salah satu dari empat kategorisasi masyarakat berdasarkan dimensi konsumerisme dan produserisme. Dalam istilah Wells. Lihat Baudrillard dalam Kurniawan. hal. kategori perkembangan asketik. dan terakhir. berhasil melahirkan masyarakat yang disebutnya sebagai masyarakat konsumer 6 . cit. (3) ekspansi kegiatan belanja sebagai hobi mengisi waktu senggang. dicirikan dengan orientasi produserisme tinggi. mulai dari pemesanan lewat pos. Lihat Adorno dalam Armando. hal. akhirnya.

152-153. Konsep pasar bebas sebagai anak kandung paham neoliberalisme yang terkandung dalam globalisasi. Namun. 8 9 Celia Lury. Krisnawan. ternyata dapat ditemui kesesuaian dengan sejumlah pemikiran pakar sosial di atas. Globalisasi yang menggaung sejak awal abad ke-20 merupakan titik awal berseminya konsumerisme di Indonesia. disebut-sebut menjadi dalang semua ini. Untuk itu. kapitalis Barat menilai perlu adanya lobi terhadap oknum-oknum teknokrat yang bercokol pada jajaran pemerintahan Indonesia.perubahan makna yang mengikuti mengenai utang-piutang. ataupun foto-foto 8 . (11) munculnya minat dalam koleksi pribadi atau kolektif. Berkembangnya konsumerisme di Indonesia ini tidaklah tanpa sebab. Budaya Konsumen (Jakarta. hal. jika kita melihat negara kita. Menilik konsumerisme Indonesia Usai melihat pemaparan tersebut. (9) serangan periklanan dalam kehidupan sehari-hari. khususnya kaum elite menengahke atasnya. Tujuannya tak lain untuk melicinkan para kapitalis Barat masuk ke pasar Indonesia. pertumbuhan konsumsi masyarakat Indonesia yang signifikan ini tidak diimbangi dengan peningkatan produktivitas mereka 10 . serta kompleks-kompleks rekreasi dan gaya hidup rekreatif. seperti merebaknya mal-mal. apakah itu karya seni. cit. dan pembelian barang-barang konsunmen. op.. masyarakat Indonesia. (10) peningkatan penekanan pada gaya. 44-54. (8) makin pentingnya pengemasan dan promosi dalam pembuatan. perangko. pembuatan catalog dan tampilan barang-barang materi. barang antik. Armando. peningkatan lahan penjualan eceran. menurut Nina Mutmainnah Armando. 1998). Indonesia. hal.. (7) pertumbuhan tempat-tempat untuk pembelian dan konsumsi. dan penampilan barang-barang. cit. hal. Karakter konsumsi mereka pun menunjukkan karakter konsumsi modern seperti yang diinventarisasi Lury berkaitan dengan ciri masyarakat konsumer. desain. tampilan. op. 10 . 51. rekaman musik. sejak masa Orde Baru. Neoliberalisme yang tidak percaya pada pengaturan pemerintah terhadap pasar mengakibatkan terjadi banyak deregulasi pada berbagai sektor. Melalui kacamata Krisnawan. mulai menampakkan gejala konsumerisme 9 .

sebagai unit-unit bisnisnya. khususnya Amerika. Mari Menjual Negara (Jakarta. v. pebisnis domestik yang mulai menerapkan nalar eknomi dengan prinsip optimalisasi keuntungan. Kucuran dana tersebut. Akan tetapi. mulai mengembangkan diri dengan merambah bisnis media yang juga berlisensi barat. MRA Group merupakan singkatan dari nama perusahaan PT Mugi Rekso Abadi Holding yang kini bergerak pada bisnis media. Mereka tercatat memiliki Hard Rock Café. Setelah berhasil menguasai pemerintahnya. semisal World Bank. dan WTO. Amien Rais berujar. Majalah Cosmopolitan. Ini sesuai dengan yang diutarakan Amien Rais dalam kata pengantar buku yang berjudul Mari Menjual Negara. MRA Group yang mengawali bisnisnya dengan membuka Hard Rock Café dengan lisensi dari Barat. MRA Group menanamkan ideologi plesir (pleasure) kepada masyarakat Indonesia. Melalui beragam media tersebut. 12 11 . pihak asing makin mudah merangsek masuk dan menguasai pasar Indonesia. karena dengan kehadiran deregulasi tersebut. para kapitalis menanamkan beragam nilai-nilai dari ideologi mereka yang bermuara pada pembentukan kesadaran palsu masyarakat Indonesia. Legiman Misdiyono. perluasan bisnis berkelanjutan yang dilakukan MRA Group dipandangnya sebagai bentuk hegemoni. Di sisi lain. Harper’s Bazaar. Autocar. Berbekal keduanya. I-Radio. Lihat Amien Rais dalam Guntur Subagja. pada beberapa tahun setelahnya. mau tidak mau harus menghamba pada kekuatan kapital Barat dengan menuruti apapun yang didiktekan Barat pada mereka. Radio Hard Rock FM (di Surabaya. Four Seasons Resort & Hotel Ubud (Bali). Contohnya adalah MRA Group 12 . dana yang diberikan pada Indonesia saat itu bagi Barat. semuanya dimiliki MRA Group. serta usaha property Wisma Chita Kirana. merupakan kunci utama merasuki pemerintahan Indonesia. kapitalis Barat dengan licik mulai menggencarkan ekspansi pasar ke Indonesia. Radio Hard Rock FM dan MTV Sky. Deregulasi ialah salah satu bentuk pelolosan kepentingan asing tersebut. Dalam kajian yang dilakukan Andini Wijendaru. MTV On Sky. awalnya dipahami banyak pihak sebagai satu bentuk murni bantuan finansial. Cosmogirl. majalah Cosmopolitan maupun Cosmo Girl. hal. IMF. Teknokrat-teknokrat yang ada dalam pemerintahan Indonesia saat itu.Di masa Orde Baru berkuasa. Bandung. sebenarnya. Gempuran film dan iklan Barat dalam media Indonesia pun turut andil mengokohkan kuasa kapitalis Barat di Indonesia. mengucur deras ke kantong pemerintah. Gendis Wangi Building. “birokrat-birokrat Indonesia yang bercokol pada birokrasi pemerintahan telah dirasuki antek-antek asing sehingga mau bermanuver keras untuk meloloskan kepentingan asing dalam pembuatan kebijakan pemerintah” 11 . pun mulai menggila dengan terus-menerus mengembangkan bisnis yang berlisensi Barat. bantuan utang dari lembaga keuangan internasional. Endro Cahyono. 2002). Four Seasons Resort & Hotel Jimbaran (Bali). dan Bali).

yang dimuat di Kompas. Lihat Marcuse dalam Krisnawan. Dengan peneguhan ideologi tersebut.. Sementara lainnya. Vol. Ini. op. konsumerisme yang tumbuh tak terkontrol di tengah masyarakat menyebabkan adanya relative deprivation (kemiskinan relatif). hal. III.khususnya kalangan menengah-ke atas. memudar daya kritisnya. Eksistensi kebutuhan semu ini. sekelompok masyarakat merasa miskin bukan karena keadaan riil materi dan finansialnya yang anjlok. Ketiga hal inilah yang menandai konsumerisme. serta gemar menafikkan proses (menyukai hal-hal yang berbau instan dan cepat). Hegemoni. etika bagi seorang kapitalis adalah bagaimana menciptakan sebuah keyakinan sehingga orang yang dieksploitasi tidak merasakan sakitnya 14 . “Spasialisasi. kemudian membuat masyarakat Indonesia senang menikmati dan mengeruk apa saja. yang menduduki kelas menengah-ke atas dalam suatu masyarakat. 15 16 . yang pada dasarnya tidak terlalu dibutuhkan 15 . op. Munculnya perasaan miskin ini umumnya bermuara pada frustasi. merupakan etika kapitalis. hal.. 14 13 Soerawidjaja. 1/Januari-April 2004. Akibatnya. dan Budaya Pop (Studi Kasus Penyebaran Budaya Pop oleh MRA Group”. dalam hal ini masyarakat kelas menengah-ke bawah tidak dapat merasakan pola konsumsi serupa. karakter konsumsi modern seperti dilansir di atas hanya dapat diterapkan masyarakat tertentu. Alexis de Tocqueville seperti dikutip Armando dalam tesisnya. Lihat Tocqueville dalam Armando. Dampak sosial dari konsumerisme pun tidak terelakkan terjadi pada masyarakat Indonesia. dalam hemat Soerawidjaja. Dasty nekat gantung diri karena dirinya merasa Andini Wijendaru. Dia menulis. 2 Juli 2009 silam merupakan satu contoh tragis dari frustasi karena perasaan miskin yang menderanya. menurut Herbert Marcuse. 18. No. Thesis: Jurnal Penelitian Ilmu Komunikasi. cit. seorang pemikir kritis sekolah Frankfurt. 90-117. cit. loc. dengan pengukuhan hiburan sebagai salah satu kebutuhan manusia dalam mengisi waktu luang. Maksudnya. maka terbentuklah kesadaran palsu masyarakat dalam bentuk hasrat konsumsi berlebihan atas artifak-artifak budaya pop Barat yang ditawarkan MRA Group sebagai barang dagangannya. hal. 42. dan bisa saja berujung kematian. Masyarakat pun tidak sadar bila di sisi lain mereka sedang dieksploitasi secara ekonomi 13 . cit. Hal ini mengingat. Kisah Dasty. mengutarakan. di dalam masyarakat Indonesia muncul kebutuhan-kebutuhan semu. seorang ibu rumah tangga asal Cilegon. tapi karena membandingkan kehidupannya dengan kehidupan kelompok masyarakat lain yang menurutnya jauh lebih nikmat 16 .

Media mempunyai pengaruh kuat bagi masyarakat. 27. Kurniawan. konsumerisme bersemi tidak mungkin tanpa media 19 . pihak yang tidak bisa lepas tanggung jawab dari bertumbuhnya konsumerisme di Indonesia ialah media. Media: si penabur bibit konsumerisme Kurniawan menyatakan. Pejabat Riau Pamer Kemewahan”. Dasty mengalami depresi berat akibat keadaan ekonomi keluarganya yang carut-marut 17 . Mentalitas konsumtif ini selanjutnya yang menggerakkan konsumerisme. Kompas.miskin. krisis listrik. yang pada 17 “Bunuh Diri karena Miskin”. baik media cetak maupun elektronik. hal.96%. ketua DPRD Riau Djohar Firdaus mendapat jatah mobil dinas Toyota Royal Crown yang berbanderol harga mencapai Rp 1. Jumlah penduduk miskin dan pengangguran di Riau masih tinggi mencapai angka 9. 18 19 . warga di sekelilingnya mengatakan. sebelum kita terjun langsung. dan keterbatasan infrastruktur pun masih terjadi di sana 18 . Dari perspektif personal penulis dengan dukungan pandangan Armando. “Rakyat Menderita. integrasi sosial maupun nasional bisa-bisa terancam. kita perlu menganalisis siapa yang paling terkait dengan merebaknya konsumerisme di Indonesia.48% dan 8. Lain Dasty. Berbagai iklan dan film Barat yang memenuhi ruang-ruang. lain pula pejabat Riau. Jika ini terjadi. Pun. air bersih. Media Indonesia.3 M. Kemewahan yang dipertontonkan para petinggi Riau ini terasa tak berada di tempatnya manakala kita melongok rakyatnya. Rusli Zainal. 26 Oktober 2009. 2 Juli 2009. 1. kita harus semakin berhati-hati dan mulai beraksi memeranginya. mendapat satu unit Toyota Crown Majesta seharga Rp 1. Dijelaskan dalam Media Indonesia tanggal 26 Oktober 2009 lalu. Kehidupan yang mewah yang diumbar pejabat Riau ini. hal.8 M untuk sarana transportasi ke tempat kerja sehari-hari (baca: mobil dinas). dalam jangka waktu lama akan semakin membuka jurang pemisah dalam masyarakatnya. melalui media pulalah para kapitalis menyerang mental masyarakat kita dan memasung mereka untuk senantiasa berkonsumsi. Selain itu. Sedangkan Gubernur Riau. dituduh menjadi penyebab munculnya mentalitas konsumtif masyarakat. Selama tiga bulan sebelum akhirnya dia bunuh diri. Namun. Melihat dampak konsumerisme yang besar ini. loc. cit.

Lihat rubrik FOKUS dalam Kompas. dan bahkan Dubai. merujuk pada pernyataan Marcuse. kolumnis Kompas ‘bermimpi’ mencanangkan Jakarta sebagai pusat belanja dunia. 20 21 22 Lihat Marcuse dalam Krisnawan. menelurkan masyarakat berdimensi satu. yakni keuntungan semaksimal mungkin melalui operasionalisasi pusat perbelanjaan besar yang mereka harap dapat menyerap seluruh produk mereka. Yang pertama. Abun Sanda. hal. dan Pasific Place. Singapura. Padahal. Di rubrik ini. kolumnis yang menulis artikel tersebut. Artikel yang berjudul “Jadikan Jakarta Pusat Belanja Dunia” itu terasa amat mendukung kapitalis. 1 Mei 2009. tuduhan para pengamat sosial yang dialamatkan pada media sebagai penyebab konsumerisme boleh dikatakan benar. Hongkong. Pada edisi Kompas lainnya. pada Kompas terbitan tanggal 25 Juni 2009. 48. menjadikan Jakarta pusat belanja dunia 21 . namun porsinya yang kecil dalam tulisannya tersebut seolah terjajah dan ditenggelamkan gagasan-gagasan konsumsi yang ditawarkannya guna mewujudkan mimpinya (dan segenap kapitalis). serupa Grand Indonesia. Plaza Indonesia. yang tujuan kehidupannya hanyalah untuk melanggengkan kapitalisme 20 . tepatnya yang terbit pada tanggal 1 Mei 2009.. cit. hal. Abun Sanda. “Jadikan Jakarta Pusat Belanja Dunia”. penulis mengamati dua edisi Kompas. kolumnis mengajak pembaca untuk berkunjung dan tentunya berbelanja ke mal-mal besar Jakarta. Paris. Kompas menitikberatkan bahasan pada konsumerisme (atau dalam istilah mereka. 25 Juni 2009. harian ini menghadirkan satu rubrik khusus yang bertajuk FOKUS 22 . 33-36. misalnya dengan menambah jumlah mal dan plaza berkelas dunia di Jakarta. Sebagai contoh. Di dalam kolom yang sama pula. eksistensi pasar tradisional pun mau tidak mau terancam. Kompas. pasar tradisional inilah yang seharusnya dijaga dan dilestarikan. . op. Mal Pondok Indah. Pun. Plaza Senayan. menghendaki pemerintah DKI Jakarta untuk menggencarkan pembangunan pusat perbelanjaan modern. kendati Sanda sempat mengingatkan pembacanya agar nafsu belanjanya tidak kebablasan. Jika ini dibiarkan terus berlanjut. Deregulasi pasar yang diterapkan pemerintah.muaranya. hal. Jakarta diandaikan sejajar dengan New York. London. Dari analisis yang penulis lakukan terhadap sejumlah media tanah air. di kolom propertinya. 63. Senayan City. Kehendak seperti itu sejatinya merupakan naluri kaum kapitalis. membuat mereka jauh lebih leluasa mewujudkan impian mendasar mereka. konsumtivisme).

Di satu titik. Dari sisi media siar. 167-192. Secara tersirat. hal. Herry Priyono. Mengapa? karena menurutnya. 8 Maret 2003 menjelaskan bagaimana faktor psikologis dimainkan para pembuat iklan.Empat artikel berkaitan dengan topik disuguhkan dengan judul antara lain. Krisnawan beranggapan. Keempat artikel tersebut. pernyataan ini memang benar. Obral Jadi Pilihan”. memainkan insting privilese dan status. op. B. keempatnya sebenarnya mendukung konsumerisme masyarakat kini dengan dalih-dalih ekonomi sebagai sarana justifikasi. “…Dalam satu dari puluhan wawancara dengan pelaku bisnis pertengahan tahun 1998. munculnya jurnalisme gaya hidup di berbagai media cetak di Indonesia juga kian mencetak mentalitas konsumtif bangsa ini 23 . menurut pengamatan Soerawidjaja. Psikologi akhirnya ditemukan sebagai kunci jawaban untuk memahami konsumerisme yang terkandung dalam iklan. sampai Kapan?”. saya ajukan pertanyaan sampingan kepada seorang direktur perusahaan yang sudah 16 tahun menggeluti dunia iklan. tetapi psikologi adalah kuncinya. dan “Dominasi Konsumsi. “Menuju Titik Nadir Peradaban?”. Pengalaman yang ditulis B. memainkan daya tarik romantisme-sensualitas…” 24 23 24 Krisnawan. “Bolehkah saya tahu bagaimana pesan yang dicitrakan kebanyakan iklan menjadi stimuli yang menentukan pola konsumsi?” Ia diam sejenak. “Sebenarnya soal teknis bisa diserahkan kepada orang desain. 8 Maret 2003. tingkat konsumsi ini tidak merepresentasikan sama sekali pertumbuhan ekonomi masyarakat. memainkan insting nafsu pemilikan. Tiga. Ada tiga insting manusia yang menjadi sasaran utama strategi iklan dan itu luas dilakukan. Dua. Kompas. “Konsumerisme”. “Anggaran Tertekan. Tapi. Semakin ke sini. . Di samping analisis yang secara mandiri penulis lakukan ini. bertujuan membahas secara komprehensif konsumerisme sebagai satu gejala sosial masyarakat paling mutakhir.. Satu di antaranya menjelaskan. pembuat iklan makin piawai menaklukkan masyarakat dengan mengusik alam bawah sadar mereka guna membeli dan mengonsumsi barang yang mereka iklankan. konsumsi masyarakat dapat meningkatkan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia. hasil konsumsi yang didahului adanya penarikan investasi ini akan berujung pada pemilik modal (baca: kapitalis) yang tidak representatif terhadap kondisi mayoritas masyarakat Indonesia. lalu bicara. “Tidak Ada Krisis untuk Konsumtivisme”. Satu. Herry Priyono dalam sebuah artikel yang dimuat di Kompas. gempuran iklan yang menguasai setengah siaran televisi sadar tidak sadar telah menyentuh saraf konsumsi masyarakat dari berbagai kalangan. cit.

Hubungan media dan masyarakat Di atas. Psikologi Komunikasi (Bandung. Asumsinya. Dennis McQuail dalam bukunya yang berjudul Mass Communication Theory menawarkan empat model hubungan antara media dan masyarakat. Para pemilik. sehingga iklan lebih menguasai siaran ketimbang program yang sesungguhnya disiarkan. 79-80. dalam konteks media sebagai bagian dari struktur masyarakat dengan basis ekonomi dan kekuasaan 26 . 2005). yang tak lain juga pemilik modal. hal. mampu dikalahkan. Jumlah terpaan iklan yang membombardir ini tak heran mampu menaklukkan masyarakat untuk terus melakukan konsumsi yang berlebihan. . kita bedah jalinan hubungan antara media dan masyarakat. Tapi. Dennis McQuail. untuk memperdalam pemahaman kita tentang media dan konsumerisme. 25 26 Djalaluddin Rakhmat. Bisa-bisa alokasi waktu iklannya diperlebar. Apalagi kalau sinetronnya punya rating tinggi karena digandrungi ibu-ibu dan pembantu. tayangan sinetronnya per babak beralokasi waktu 5 hingga 7 menit. telah dijabarkan bagaimana media berperan dalam menyokong keberlangsungan konsumerisme. Ego. Media modern yang telah terkontaminasi dampak globalisasi telah menampakkan gejala serupa. saat kita menonton program televisi. pemilik media di sini dianggap punya kekuasaan untuk melakukan gatekeeping dan memilih isi media yang sejalan dengan agendanya. Porsi iklan yang diselipkan di sela-sela program nyata-nyata menempati ruang mayoritas bila dibandingkan dengan ruang yang tersedia bagi program siaran itu sendiri. Kini. 19-20. Id ini dirangsang agar Superego.Jika dianalisis dengan teori psikoanalisis Sigmund Freud. Pertama. Mass Communication Theory 5th Edition (London. hal. semisal sinetron. pengiklan berusaha menundukkan satu subsistem dalam kepribadian manusia yang menggerakkan nafsu dan insting––Id. bisa meloloskan nafsu konsumsi yang digenerasi Id 25 . 2000). hubungan materialisme. iklannya? kebanyakan sama lama dengan sinetronnya. Lihat saja. Jika menggunakan terminologi komunikasi. pemilik media dapat memilih ataupun membatasi kinerja media. Sehingga pada akhirnya. Model ini menerapkan perspektif budaya serba tergantung pada struktur ekonomi dan dan kekuasaan masyarakat. subsistem kepribadian manusia lainnya.

Hubungan ini memandang media dan masyarakat berada dalam kondisi saling berinteraksi dan saling mempenngaruhi secara berkelanjutan. yang membentuk kebutuhan baru untuk komunikasi. pemilik modal yang berada dalam jajaran organisasi media. model hubungan autonomy. Model ini tidak determinis. Kedua. merupakan contoh yang paling tepat mendeskripsikan hubungan ini berkenaan dengan konsumerisme. Inilah yang penulis duga membuat media pro-konsumerisme. dan perilaku. modernisasi. Dalam tesisnya. maka kelangsungan hidup media sebagai institusi komersial pun terancam. Serangan bertubi-tubi iklan dan perubahan konsumsi masyarakat seperti diungkapkan di atas. Nilai-nilai yang terkandung dalam media berpotensi menggerakkan perubahan sosial dalam masyarakat. Media. Ketiga. Sementara semua institusi bisnis membutuhkan media massa untuk memasarkan produk atau memanipulasi kesadaran orang menjadi konsumen produk yang ditawarkan sebagaimana tampak dalam iklan. hubungan idealisme. sebab masyarakat mau tidak mau selalu membutuhkan media untuk memenuhi keinginan mengekspresikan dirinya. dan Konsumerisme Dengan landasan berpikir merujuk pada model hubungan ketiga di atas.berhak menentukan mana yang layak dan tidak layak muat berdasarkan sistem nilai dan ideologinya. Jika tidak. dan tentunya konsumerisme. . Berkaitan dengan model pertama. Modernisasi. dapat menjadi kerangka berpikir yang paling komprehensif dalam upaya menelusuri konsumerisme dan media. hubungan interdependence. Armando menjelaskan. serta merangsang inovasi dan berkontribusi terhadap gerak perubahan sosial budaya. dan malah terkesan skeptis terhadap pandangan akan kekuasaan media untuk mempengaruhi gagasan. Terakhir. Model ini . nilai. Media massa dalam nuansa ekonomi kapitalis dipaksa menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial budaya masyarakatnya. pada bagian ini akan kita bahas keterkaitan media. Isi yang telah mengalami filtrasi ideologis ini kemudian diserap masyarakat. tentu berperan utama menentukan do’s dan don’t’s medianya dengan lebih dahulu menyimak selera pasar (masyarakat) dan kehendak pengiklannya. menekankan pada signifikansi isi media. Media sebagai industri budaya merespon kebutuhan masyarakat terhadap informasi dan hiburan. dalam hemat penulis. kaum modernis yang notabene berasal dari negara maju. Fokus model hubungan ini. Media diasumsikan memiliki otonominya sendiri dalam masyarakat.

yakni kehidupan masyarakat negara maju. realitas yang terjadi justru berkebalikan. hal. konsumeris. agar negara berkembang bisa sama maju dengan negara mereka. Implikasi lain malah datang bertubi-tubi mengancam negara berkembang yang menjadi sasaran modernisasi. mereka yakini mampu menyentuh saraf-saraf produktif masyarakat negara berkembang 28 . masyarakat negara berkembang mampu menyaksikan pengalaman tersebut.. Sehingga melaluinya. Masyarakat negara berkembang malah menjadi pasif.. Ibid. . Akan tetapi yang terjadi. op. Tapi. cit. 23-24. Jika kita harus menyerah ketika diminta mengubah media dengan sistem nilai yang diterapkannya. Pada akhirnya. Penghadiran visualisasi dambaan kehidupan yang ideal. di sini berfungsi sebagai mediator yang memediasi pengalaman kehidupan. Masyarakat 27 28 29 30 Armando. Melihat ini. dan kontra-produktif. 12-13. hal. Tujuan awalnya mulia. Globalisasi dan kapitalisme yang berjalan beriringan merupakan tantangan terberat karena tentunya sulit merombak tatanan masyarakat pada taraf global atau internasional. Ibid. seperti dijelaskan pada bagian sebelumnya. seperti televisi.bermaksud mengembuskan nafas-nafas modernisasi pada negara berkembang 27 . maka yang masih bisa kita sentuh adalah masyarakatnya.. Serang dengan gagasan-gagasan kreatif Mengenyahkan konsumerisme bukanlah perkara mudah. kepada masyarakat negara berkembang. Media massa. tujuan ideal modernisasi ini benar-benar hanya berhenti sebatas mimpi di siang bolong. Ibid. Dan media tidak bisa begitu saja lepas dari tanggung jawab. kaum modernis berniat cuci tangan dengan mengatakan masyarakat negara berkembang melakukan salah peniruan dan ini merupakan unintended consequences dari modernisasi yang mereka gerakkan 29 . Dominasi Barat dan konsumerisme parasitik merupakan dua hal yang dilansir Armando sebagai akibat dari gagalnya modernisasi di negara berkembang 30 . dan menstimulasi kerja keras guna meraih kehidupan serupa. masih ada celah di sini. 25-28. Media yang telah dirasuki roh kapitalis pun berat dihadapi. hal.

ketika masyarakat tahu tetek-bengek media. perlu ada kelas revolusioner yang memicu 32 . hal. masyarakat tak gampang lagi terkecoh dan terangsang untuk membeli dan membeli lagi. masyarakat yang diterpa media komunitas serupa. op. maupun pakar komunikasi yang mengerti media dan berkomitmen kuat mau mencerdaskan masyarakat Indonesia. dengan daya pancar rendah. akan bisa mempengaruhi sampai taraf behavioralnya. 205. Lihat Marcuse dalam Krisnawan. yang penulis maksudkan ialah lembaga penyiaran komunitas. 32 Tahun 2002 ialah ‘lembaga penyiaran yang berbentuk badan hukum Indonesia. bagaimana caranya? Usaha Kecil Mikro (UKM) yang dirintis kaum intelektual muda merupakan jalan yang penulis rekomendasikan. nafsu konsumsi yang berlebihan dari masyarakat dapat tertahan usai menyadari kesadaran riil yang menumbangkan kesadaran palsu yang dibentuk para kapitalis melalui media.. gagasan media literacy perlu dengan segera disosialisasikan. Lalu. serta untuk melayani kepentingan komunitasnya’ 31 . bersifat independen. Pendidikan dan sosialisasi media literacy ini. Program-program berbasis media literacy yang digaungkan media komunitas semacam ini tentu membawa angin segar berupa nilai-nilai baru yang ketika mengisi ruangruang kognisi masyarakat. cit. dalam hemat penulis akan semakin mengena bila ada media lain yang berperan sebagai counter media terhadap media arus utama. sehingga dengan begitu. Selanjutnya.Indonesia perlu dicerdaskan dan ‘dibukakan matanya’ berkenaan dengan media beserta isinya. dalam kaitannya dengan konsumerisme. Dalam hal ini. didirikan oleh komunitas tertentu. terkait dengan asas operasionalnya yang 31 32 Lihat Pasal 21 ayat 1 Undang-undang No. 32 tahun 2002. . Jika kita kaitkan dengan konsumerisme. untuk menggugah produktivitas masyarakat. merujuk gagasan yang dilontarkan Herbert Marcuse. Usaha apapun yang digerakkan kaum muda. Lembaga penyiaran komunitas di sini penulis harapkan didirikan LSM pemerhati media. luas jangkauan wilayah terbatas. akademisi. Sektor ini pun mampu menyerap sumber daya manusia yang lebih besar. penulis asumsikan dapat lebih memutar roda perekonomian Indonesia dan membebaskan masyarakat dari belenggu konsumerisme yang melilit mereka kini. Tak pelak. Harapannya. Intelektual muda ialah yang dimaksud Marcuse sebagai kalangan yang menggagas revolusi itu. Lembaga penyiaran komunitas menurut UU Penyiaran No. dan tidak komersial. diasumsikan akan memiliki pemahaman lebih tentang performa dan latar belakang produksi media yang kapitalistik dan pro-konsumerisme.

Tentu dengan penuh semangat. baik secara langsung maupun tidak. UKM dalam hemat penulis mampu memberi efek penularan sosial (social contagion). seperti yang dibahas sebelumnya. Langkah pertama yang mungkin bisa diambil adalah menyoroti penguasaan iklan. akademisi. penulis ingin menegaskan. bukan padat modal. kadang perlu sosok yang menjadi teladan. konsumerisme dapat ditekan dengan penguatan daya kerja regulasi. model konsumsi yang berlebihan dan mengabaikan aspek fungsionalitas barang konsumsilah (baca: konsumerisme) yang ingin penulis perangi. . dan pengamat yang mengerti regulasi media mutlak diperlukan. Intelektual muda yang merintis usaha-usaha tersebut bisa menjadi pemimpin perubahan yang menggelitik rekannya. ornop media watch. untuk mengikuti jalur perubahan yang diambilnya. realisasinya. 32 tahun 2002. Padahal iklanlah yang menurut pengamatan beberapa pakar ilmu sosial mampu merangsang hasrat konsumerisme. Jika UKM bersemi di Indonesia. pakar. tulisan ini bukan untuk melarang konsumsi. UU Penyiaran memperbolehkan mereka menyiarkan iklan niaga hanya 20% dari keseluruhan waktu siarannya 33 . Sebagai pungkasan. terutama televisi-televisi komersial. Selain bisa menggugah produktivitas dan dapat menyerap sumber daya manusia lebih. WE CAN!” 33 Lihat Pasal 46 ayat 8 Undang-undang Penyiaran No. Pelanggaran telah banyak lembaga penyiaran. Ambil tindakan dan lakukan perubahan. Tapi. Masyarakat Indonesia yang latah. Terakhir. ternyata iklan niaga yang ditayangkan sudah jauh melebihi batas itu. berkenaan dengan porsi iklan. Kerjasama antara berbagai pihak di antaranya.padat karya. seperti yang dijalankan perusahaan-perusahaan multinasional raksasa dewasa ini. Tapi. “YES. seperti yang digelorakan Barrack Obama dalam jargonnya. maka konsumerisme bisa ditekan dan diganti dengan apa yang disebut Wells produserisme.

McQuail. 1/Januari-April 2004. Guntur. “Perang Melawan Konsumerisme” (http://www. Koran Priyono. dan Endro Cahyono. Mari Menjual Negara. Sanda.php?ArtID=67&page=1. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.00). Herry B. 2005. . Pejabat Riau Pamer Kemewahan”. diakses pada 24 Okt. 17. diakses pada 24 Okt. Thesis: Jurnal Penelitian Ilmu Komunikasi. 2002.DAFTAR PUSTAKA Armando.net/wmview.17. Tesis Magister Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Krisnawan. Mass Communication Theory 5th Edition. Kompas. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Melawan Konsumerisme” (http://www. Vol. Subagja. 2001. Rakhmat. Hegemoni. Kompas. 26 Oktober 2009. N. Djalaluddin.rayakultura. 25 Juni 2009. Legiman Misdiyono. 8 Maret 2003. Lury.php?f=1&t=28683. London: Sage Publication. 2 Juli 2009. dan Budaya Pop (Studi Kritis Penyebaran Budaya Pop oleh MRA Group)”. No.apakabar. Inc. “Konsumerisme”. “Jadikan Jakarta Pusat Belanja Dunia”. “Bunuh Diri karena Miskin”. 1998. Nina Mutmainnah. “Kritik Konsumerisme dalam Masyarakat Satu Dimensi (Studi Teori Kritis Kebutuhan-kebutuhan Semu Menurut Herbert Marcuse Dalam Masyarakat Konsumen di Indonesia)”.00). Wijendaru. Sigit.ws/forums/viewtopic. III. Dennis. Internet Kurniawan. Jakarta: Global Mahardika Netama.. Tesis Magister Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Budaya Konsumen. 2009. 2006. Kompas. Soerawidjaja. 2005. Media Indonesia. Depok. Abun. 2009. Psikologi Komunikasi. Yohanes. Celia. “Spasialisasi. Andini. “Konsumerisme pada Majalah Remaja (Studi Analisis Wacana Kritis terhadap Majalah Gadis)”. “Berpikir Fungsional. Depok. “Rakyat Menderita.

DEPOK.reffi@gmail. DESA RANDUAGUNG. telp/handphone e-mail web/blog pendidikan : 085655355969 / 02193688057 : gilang.wordpress.com/ : MAHASISWA (S1) . 23 MEI 1990 alamat rumah : JALAN RAYA BENGAWAN SOLO NO. 61121 alamat sekarang : ASRAMA MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA. 36. JAWA BARAT.DATA DIRI nama : GILANG REFFI HERNANDA tempat.com : http://langitdipucukdaun. JAWA TIMUR. GEDUNG D1/125. DUSUN SETINGI. GRESIK. 16424 no.com / gilank_gwanteng_2@yahoo. tanggal lahir : GRESIK. RT 02 RW VI.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful