P. 1
makalahpengolahankompos

makalahpengolahankompos

|Views: 117|Likes:
Published by hz_1

More info:

Published by: hz_1 on Oct 18, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/08/2013

pdf

text

original

MOTTO

:

Mempunyai ide itu baik, tetapi menerapkan ide menjadi suatu bentuk kreativitas adalah jauh lebih baik.

i

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim Puji syukur Alhamdulillah atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik serta hidayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Pengolahan Sampah Komposting” ini. Dengan adanya makalah ini kami bisa saling bertukar pikiran antara satu pengalaman dengan pengalaman yang lain agar bisa saling melengkapi. Meskipun kami menyadari bahwa ibarat pepatah “Tiada gading yang tak retak”. Untuk itu mungkin dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, dan kami selaku pembuat makalah ini mengharapkan kritik dan saran untuk menyempurnakannya. Akhirnya hanya kepada Allah kami mohon hidayah dan taufik-Nya agar selalu dalam lindungan-Nya dan semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin. !

Banda Aceh, 13 Juni 2009 Kelompok V

ii

........ A......................................................... Dasar-dasar Pengomposan........................................................ Pengertian Kompos dan Proses Pengomposan............................... A.......DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL...... Prosedur Pengomposan................................................... D......... MOTTO....................................... B................................................ Strategi Mempercepat Proses Pengomposan.............................. DAFTAR ISI............................ KATA PENGANTAR........... E..................................... B.................................. Kesimpulan.............................................................................................. A................ Teknologi Pengomposan.............. B......... Rumusan Masalah.......................................................................................... BAB III PENUTUP......................................................................................................................................................................................................... Manfaat Kompos........... Latar Belakang ...... BAB I PENDAHULUAN... DAFTAR PUSTAKA........................... C........ BAB II PEMBAHASAN............................... F................................................................................... i iv iii v 1 1 1 2 2 2 3 9 11 12 15 15 15 16 iii ............................................................................... Saran ....................................................................................................................................................................................................................................................

Tekhnologi pengomposan sangat beragam. dan bagaimana meningkatkan kualitas kompos. iv . BioPos. EM4. Baik pengomposan dengan teknologi sederhana. sedang.BAB I PENDAHULUAN A. SuperDec. limbah organik industri. AntiComp. seperti untuk mengatasi masalah sampah di kota-kota besar. khususnya pengomposan aerobik. Teknologi pengomposan saat ini menjadi sangat penting artinya terutama untuk mengatasi permasalahan limbah organic. OrgaDec. serta limbah pertanian dan perkebunan. Untuk mempercepat proses pengomposan ini telah banyak dikembangkan teknologiteknologi pengomposan. Dalam proses composting ini setiap activator memiliki keunggulan sendiri-sendiri. Pada prinsipnya pengembangan teknologi pengomposan didasarkan pada proses penguraian bahan organic yang terjadi secara alami. maupun teknologi tinggi. dengan atau tanpa activator pengomposan. Dalam makalah ini akan disampaikan tentang prinsip dasar pengomposan limbah padat organik. Aktivator pengomposan yang sudah banyak beredar antara lain PROMI (Promoting Microbes). Green Phoskko Organic Decompesor dan SUPERFAR atau dapat juga mengunakan cacing tanah untuk mendapatkan kompos. beberapa teknologi pengomposan. Namun proses pengomposan yang terjadi secara alami berlangsung lama dan lambat. baik secara aerobic maupun secara anaerobic. Proses penguraian dioptimalkan sedemikian rupa sehingga pengomposan dapat berjalan dengan lebih cepat dan efisien. Latar Belakang Secara alami bahan-bahan organik akan mengalami penguraian di alam dengan bantuan mikroba maupun biota tanah lainnya. prosedur pengomposan.

tulisan ini secara khusus akan membahas permasalahan : 1) 2) Apa saja teknik.B. teknologi dan metode pengomposan yang baik ? Bagaimana meningkatkan kualitas hasil kompos ? v . Rumusan Masalah Berdasarkan uraian tersebut diatas.

dan penambahan aktivator pengomposan. Sedangkan proses pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis. pemberian air yang cukup. Membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat. dan lebih enak.H. khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Pengertian Kompos dan Proses Pengomposan Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat. Aktivitas mikroba tanah yang bermanfaat bagi tanaman akan meningkat dengan penambahan kompos. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang. Crawford. dan aerobik atau anaerobic (J. Kompos memperbaiki struktur tanah dengan meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan akan meningkatkan kemampuan tanah untuk mempertahankan kandungan air tanah. Aktivitas mikroba tanah juga diketahui dapat membantu tanaman menghadapi serangan penyakit. 2003). misal: hasil panen lebih tahan disimpan. Kompos akan meningkatkan kesuburan tanah dan merangsang perakaran yang sehat. lebih berat. vi . lembab.BAB II PEMBAHASAN A. B. pengaturan aerasi. Manfaat Kompos Kompos ibarat multivitamin untuk tanah pertanian. lebih segar. Aktivitas mikroba ini membantu tanaman untuk menyerap unsur hara dari tanah dan menghasilkan senyawa yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Tanaman yang dipupuk dengan kompos juga cenderung lebih baik kualitasnya daripada tanaman yang dipupuk dengan pupuk kimia.

Pada Bahan-bahan yang Dapat Dikomposkan dasarnya semua bahan-bahan organik padat dapat dikomposkan.Kompos memiliki banyak manfaat yang ditinjau dari beberapa aspek :  Aspek Ekonomi : 1. limbah-limbah pertanian. limbah-limbah agroindustri. Menekan pertumbuhan/serangan penyakit tanaman 8. misalnya : limbah organik rumah tangga. 2. Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman 7. Meningkatkan kualitas hasil panen (rasa. dll. kertas. sampah-sampah organik pasar/kota. kotoran/limbah peternakan. Meningkatkan kapasitas serap air tanah 4. Dasar-Dasar Pengomposan 1. Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah 3. nilai gizi. dan jumlah panen) 6. Mengurangi kebutuhan lahan untuk penimbunan  Aspek bagi tanah/tanaman : 1. Meningkatkan aktivitas mikroba tanah 5. Mengurangi volume/ukuran limbah 3. Meningkatkan retensi/ketersediaan hara di dalam tanah C. Proses pengomposan secara sederhana dapat dibagi vii . Proses Pengomposan Memahami dengan baik proses pengomposan sangat penting untuk dapat membuat kompos dengan kualitas baik. Menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah 2. Proses pengomposan akan segera berlangsung setelah bahan-bahan mentah dicampur. limbah pabrik kertas. limbah pabrik gula. Meningkatkan kesuburan tanah 2. limbah pabrik kelapa sawit. Mengurangi polusi udara karena pembakaran limbah 2. Memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya  Aspek Lingkungan : 1.

asam butirat. seperti: asam-asam organik (asam asetat. Setelah sebagian besar bahan telah terurai. Proses aerobik akan menghasilkan senyawa-senyawa yang berbau tidak sedap.menjadi dua tahap. Selama proses pengomposan akan terjadi penyusutan volume maupun biomassa bahan. oksigen dan senyawa-senyawa yang mudah terdegradasi akan segera dimanfaatkan oleh mikroba mesofilik. Proses dekomposisi dapat juga terjadi tanpa menggunakan oksigen yang disebut proses anaerobik. Suhu akan tetap tinggi selama waktu tertentu. Mikrobamikroba di dalam kompos dengan menggunakan oksigen akan menguraikan bahan organik menjadi CO2. Namun. yaitu tahap aktif dan tahap pematangan. Pada saat ini terjadi dekomposisi/penguraian bahan organik yang sangat aktif. Proses yang dijelaskan sebelumnya adalah proses aerobik. Mikroba yang aktif pada kondisi ini adalah mikroba Termofilik. Suhu tumpukan kompos akan meningkat dengan cepat. yaitu mikroba yang aktif pada suhu tinggi. yaitu pembentukan komplek liat humus. asam valerat. dimana mikroba menggunakan oksigen dalam proses dekomposisi bahan organik. viii . puttrecine). Selama tahaptahap awal proses. maka suhu akan berangsur-angsur mengalami penurunan. amonia. uap air dan panas. Proses pengomposan dapat terjadi secara aerobik (menggunakan oksigen) atau anaerobik (tidak ada oksigen). Pada saat ini terjadi pematangan kompos tingkat lanjut. dan H2S. Demikian pula akan diikuti dengan peningkatan pH kompos. proses ini tidak diinginkan selama proses pengomposan karena akan dihasilkan bau yang tidak sedap. Pengurangan ini dapat mencapai 30 – 40% dari volume/bobot awal bahan. Suhu akan meningkat hingga di atas 50o 70o C.

Apabila kondisinya kurang sesuai atau tidak sesuai.Gambar 1. Metode pengomposan yang dilakukan 3. maka organisme tersebut akan dorman. Apabila kondisinya sesuai. Proses Umum Pengomposan Limbah Padat Organik Gambar 2. Perubahan suhu dan jumlah mikroba selama proses pengomposan Proses pengomposan tergantung pada : 1. atau bahkan ix . Faktor yang mempengaruhi proses Pengomposan Setiap organisme pendegradasi bahan organik membutuhkan kondisi lingkungan dan bahan yang berbeda-beda. maka dekomposer tersebut akan bekerja giat untuk mendekomposisi limbah padat organik. Aktivator pengomposan yang dipergunakan 3. Karakteristik bahan yang dikomposkan 2. pindah ke tempat lain.

Apabila rasio C/N terlalu tinggi. Pada rasio C/N di antara 30 s/d 40 mikroba mendapatkan cukup C untuk energi dan N untuk sintesis protein. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pengomposan antara lain :  Rasio C/N Rasio C/N yang efektif untuk proses pengomposan berkisar antara 30:1 hingga 40:1. Aerasi ditentukan oleh porositas dan kandungan air bahan(kelembaban). Permukaan area yang lebih luas akan meningkatkan kontak antara mikroba dengan bahan dan proses dekomposisi akan berjalan lebih cepat.mati.  Aerasi Pengomposan yang cepat dapat terjadi dalam kondisi yang cukup oksigen (aerob). maka akan terjadi proses anaerob yang akan menghasilkan bau yang tidak sedap. Apabila aerasi terhambat. Mikroba memecah senyawa C sebagai sumber energi dan menggunakan N untuk sintesis protein. Aerasi secara alami akan terjadi pada saat terjadi peningkatan suhu yang menyebabkan udara hangat keluar dan udara yang lebih dingin masuk ke dalam tumpukan kompos. Aerasi dapat ditingkatkan dengan melakukan pembalikan atau mengalirkan udara di dalam tumpukan kompos. x . Menciptakan kondisi yang optimum untuk proses pengomposan sangat menentukan keberhasilan proses pengomposan itu sendiri. mikroba akan kekurangan N untuk sintesis protein sehingga dekomposisi berjalan lambat.  Ukuran Partikel Aktivitas mikroba berada diantara permukaan area dan udara. Ukuran partikel juga menentukan besarnya ruang antar bahan (porositas). Untuk meningkatkan luas permukaan dapat dilakukan dengan memperkecil ukuran partikel bahan tersebut.

 Temperatur Panas dihasilkan dari aktivitas mikroba. Semakin tinggi temperatur akan semakin banyak konsumsi oksigen dan akan semakin cepat pula proses dekomposisi. Porositas dihitung dengan mengukur volume rongga dibagi dengan volume total. Porositas Porositas adalah ruang diantara partikel di dalam tumpukan kompos. Peningkatan suhu dapat terjadi dengan cepat pada tumpukan kompos. volume udara berkurang. Temperatur yang berkisar antara 30 60o C menunjukkan aktivitas pengomposan yang cepat. Mikrooranisme dapat memanfaatkan bahan organik apabila bahan organik tersebut larut di dalam air. akibatnya aktivitas mikroba akan menurun dan akan terjadi fermentasi anaerobik yang menimbulkan bau tidak sedap. Apabila kelembaban di bawah 40%.  Kelembaban (Moisture content) Kelembaban memegang peranan yang sangat penting dalam proses metabolisme mikroba dan secara tidak langsung berpengaruh pada suplai oksigen. Rongga-rongga ini akan diisi oleh air dan udara. Kelembaban 40 60 % adalah kisaran optimum untuk metabolisme mikroba. Apabila kelembaban lebih besar dari 60%. Udara akan mensuplai Oksigen untuk proses pengomposan. aktivitas mikroba akan mengalami penurunan dan akan lebih rendah lagi pada kelembaban 15%. xi . hara akan tercuci. Suhu yang tinggi juga akan membunuh mikroba-mikroba patogen tanaman dan benih-benih gulma. Ada hubungan langsung antara peningkatan suhu dengan konsumsi oksigen. maka pasokan oksigen akan berkurang dan proses pengomposan juga akan terganggu. Suhu yang lebih tinggi dari 60o C akan membunuh sebagian mikroba dan hanya mikroba thermofilik saja yang akan tetap bertahan hidup. Apabila rongga dijenuhi oleh air.

8 hingga 7.5. pH kotoran ternak umumnya berkisar antara 6. Secara alami pengomposan akan berlangsung dalam waktu beberapa minggu sampai 2 tahun hingga kompos benar-benar matang.  Kandungan hara Kandungan P dan K juga penting dalam proses pengomposan dan biasanya terdapat di dalam kompos-kompos dari peternakan. proses pelepasan asam. pH yang optimum untuk proses pengomposan berkisar antara 6. pH Proses pengomposan dapat terjadi pada kisaran pH yang lebar. Zn. sedangkan produksi amonia dari senyawa-senyawa yang mengandung nitrogen akan meningkatkan pH pada fase-fase awal pengomposan. Logam-logam berat seperti Mg.4. secara temporer atau lokal. Logam-logam berat akan mengalami imobilisasi selama proses pengomposan. 4.  Kandungan bahan berbahaya Beberapa bahan organik mungkin mengandung bahan-bahan yang berbahaya bagi kehidupan mikroba. Cr adalah beberapa bahan yang termasuk kategori ini.5 sampai 7. Nickel. metode pengomposan yang dipergunakan dan dengan atau tanpa penambahan aktivator pengomposan. pH kompos yang sudah matang biasanya mendekati netral. akan menyebabkan penurunan pH (pengasaman). Lama pengomposan Lama waktu pengomposan tergantung pada karakteristik bahan yang dikomposkan. xii . Hara ini akan dimanfaatkan oleh mikroba selama proses pengomposan. Cu. Proses pengomposan sendiri akan menyebabkan perubahan pada bahan organik dan pH bahan itu sendiri. Sebagai contoh.

Sebagai contoh.D. Kondisi atau faktor-faktor pengomposan dibuat seoptimum mungkin. Organisme yang sudah banyak dimanfaatkan misalnya cacing tanah. Menambahkan Organisme yang dapat mempercepat pengomposan: mikroba pendegradasi bahan organik dan vermikompos (cacing). seperti kotoran ternak. yaitu : 1. proses 3. Proses pengomposannya disebut vermikompos dan kompos yang dihasilkan dikenal dengan sebutan Menggunakan Aktivator Memanipulasi kondisi/faktor-faktor yang berpengaruh pada proses pengomposan. rasio C/N yang optimum adalah 2535:1. Pengomposan Strategi ini banyak dilakukan di awal-awal berkembangnya teknologi pengomposan. Menggabungkan strategi pertama dan kedua. 2. 1. Bahan yang terlalu kering diberi tambahan air atau bahan yang terlalu basah dikeringkan terlebih dahulu sebelum proses pengomposan. Strategi Mempercepat Proses Pengomposan Pengomposan dapat dipercepat dengan beberapa strategi. Untuk membuat kondisi ini bahan-bahan yang mengandung rasio C/N tinggi dicampur dengan bahan yang mengandung rasio C/N rendah. Memanipulasi Kondisi xiii . Pengomposan Strategi yang lebih maju adalah dengan memanfaatkan organisme yang dapat mempercepat proses pengomposan. Secara umum strategi untuk mempercepat proses pengomposan dapat dikelompokkan menjadi tiga. 2. Ukuran bahan yang besar-besar dicacah sehingga ukurannya cukup kecil dan ideal untuk proses pengomposan. Demikian pula untuk faktor-faktor lainnya.

Biaya yang diperlukan dan hasil yang dapat dicapai.kascing. dll. Pholyota sp. Starbio. OrgaDec. Seringkali tidak dapat menerapkan seluruh strategi pengomposan di atas dalam waktu yang bersamaan. d. misalnya : Promi. Organisme lain yang banyak dipergunakan adalah mikroba. Namun. maupun kapang/cendawan. Agraily sp dan FPP (fungi pelapuk putih). Menambahkan Aktivator Pengomposan Strategi proses pengomposan yang saat ini banyak dikembangkan adalah menggabungkan dua strategi di atas. dan ActiComp adalah hasil penelitian Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI) dan saat ini telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Aktivator yang dikembangkan oleh BPBPI tidak memerlukan tambahan bahanbahan lain dan tanpa pengadukan secara berkala. Waktu yang tersedia untuk pembuatan kompos. 3. Promi. Aktivator pengomposan ini menggunakan mikroba-mikroba terpilih yang memiliki kemampuan tinggi dalam mendegradasi limbah-limbah padat organik. b. Trichoderma harzianum. SuperDec. Cytopaga sp. Kondisi pengomposan dibuat seoptimal mungkin dengan menambahkan aktivator pengomposan. Pengomposan dapat dipercepat hingga 2 minggu untuk bahan-bahan lunak/mudah dikomposkan hingga 2 bulan untuk bahan-bahan keras/sulit dikomposkan. SuperDec. Karakteristik bahan yang akan dikomposkan. yaitu: Trichoderma pseudokoningii. ActiComp. actinomicetes. Ada beberapa pertimbangan yang dapat digunakan untuk menentukan strategi pengomposan : a. c. OrgaDec. baik bakteri. Stardec. EM4. kompos perlu ditutup/sungkup untuk mempertahankan suhu dan kelembaban agar proses pengomposan berjalan optimal dan cepat. Mikroba ini bekerja aktif pada suhu tinggi (termofilik). Tingkat kesulitan pembuatan kompos Memanipulasi Kondisi dan xiv . Saat ini di pasaran banyak sekali beredar aktivator-aktivator pengomposan.

xv .

xvi . Kompos ditumpuk dalam barisan tumpukan yang disusun sejajar. Teknologi Pengomposan Metode atau teknologi pengomposan dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok berdasarkan tingkat teknologi yang dibutuhkan. Pengomposan dengan teknologi tinggi (High – Technology) 1. Tumpukan kompos ditutup dengan terpal plastik. • Aerated compost bins : bak/kotak kompos dengan aerasi Pengomposan dilakukan di dalam bak-bak yang di bawahnya diberi aerasi. menurunkan suhu apabila suhu terlalu tinggi. 2. Teknik ini dapat mempersingkat waktu pengomposan hingga 3 – 5 minggu. Seringkali ditambahkan pula cacing (vermikompos). • Pengomposan dengan Teknologi Sedang Aerated static pile : gundukan kompos diaerasi statis Pengomposan dengan teknologi sedang antara lain adalah : Tumpukan/gundukan kompos (seperti windrow system) diberi aerasi dengan menggunakan blower mekanik. dan menurunkan kelembaban kompos. Pengomposan dengan teknologi sedang (Mid – Technology) 3. Lama pengomposan kurang lebih 2 – 3 minggu dan kompos akan matang dalam waktu 2 bulan. yang tergantung pada karakteristik bahan yang dikomposkan. Pengomposan dengan Teknologi Rendah Teknik pengomposan yang termasuk kelompok ini adalah Windrow Composting. Tumpukan secara berkala dibolak-balik untuk meningkatkan aerasi. Pengomposan dengan teknologi rendah (Low – Technology) 2. Teknik ini sesuai untuk pengomposan skala yang besar. yaitu : 1.E. Lama pengomposan berkisar antara 3 hingga 6 bulan. Aerasi juga dilakukan dengan menggunakan blower/pompa udara.

Drum akan berputar untuk mengaduk dan memberi aearasi pada kompos. • Box/Tunnel Composting System Pengomposan dilakukan dalam kotak-kotak/bak skala besar. Sebagian dikontrol dengan menggunakan komputer. dan CEPAT.3. F. Bak pengomposan dibagi menjadi dua zona. Prosedur Pengomposan Teknik pengomposan yang disampaikan dalam bab ini adalah teknik pengomposan bahan-bahan organic padat sederhana. Terdapat panel-panel untuk mengatur kondisi pengomposan dan lebih banyak dilakukan secara mekanis. MURAH. zona pertama untuk bahan yang masih mentah dan selanjutnya diaduk secara mekanik dan diberi aerasi. Prinsipnya adalah MUDAH. Kompos akan masuk ke bak zona ke dua dan proses pematangan kompos dilanjutkan. Pengomposan dengan Teknologi Tinggi Pengomposan dengan menggunakan peralatan yang dibuat khusus untuk mempercepat proses pengomposan. Tahaptahap pengomposan berjalan di dalam beberapa bak/kotak sebelum akhirnya menjadi produk kompos yang telah matang. Bahan-bahan mentah dihaluskan dan dicampur pada saat dimasukkan ke dalam drum. dan tidak memerlukan biaya besar. Tahapan-tahapan pengomposan mudah dilakukan. • Mechanical Compost Bins Sebuah drum khusus dibuat untuk pengomposan limbah rumah tangga. Contoh-contoh pengomposan dengan teknologi tinggi antara lain : • Rotary Drum Composter Pengomposan dilakukan di dalam drum berputar yang dirancang khusus untuk proses pengomposan. Bahanbahan mentah akan dihaluskan dan dicampur secara mekanik. proses pengomposannya cepat. Kompos yang xvii . peralatan yang dibutuhkan mudah diperoleh dan murah.

Pemilihan lokasi ini akan menghemat biaya transportasi dan biaya tenaga kerja. ember untuk menyiram. 1. Untuk memperkecil ukuran bahan dapat dilakukan dengan menggunakan parang atau dengan mesin pencacah. dan cetakan kompos (jika diperlukan). Cetakan kompos dapat dibuat dari bambu atau kayu.dihasilkan berkualitas baik. Tahapan Pengomposan Memperkecil ukuran bahan. ember/bak plastik untuk menampung air. dua bagian berukuran kurang lebih 2 x 1 m dan dua lainnya berukuran 1 x 1 m. plastik penutup. 3. Aktivator Aktivator Pengomposan yang digunakan adalah PROMI. 4. Alat-alat yang dibutuhkan Peralatan antara lain: parang/sabit. a. Plastik penutup dapat menggunakan plastik mulsa yang berwarna hitam. Lokasi Pengomposan Pengomposan sebaiknya dilakukan di dekat kebun yang akan diaplikasi kompos atau di dekat sumber bahan baku yang akan dibuat kompos. Karena apabila jauh dengan sumber air akan menyulitkan proses pengomposan. 2. dapat langsung digunakan oleh petani atau diolah dan dijual ke pasaran. sekop garpu/cangkul. Lokasi juga dipilih dekat dengan sumber air. tali. xviii . Panjang plastik disesuaikan dengan banyaknya bahan yang akan dikomposkan. Belah plastik tersebut sehingga lebarnya menjadi 2 m. Cetakan ini terdiri dari 4 bagian terpisah. Jika aktivator pengomposan sulit diperoleh dapat menggunakan kotoran ternak atau rumen sapi untuk mempercepat proses pengomposan.

pengomposan. buka cetakan dan tutup tumpukan kulit buah kakao dengan plastik. Dalam setiap lapisan siramkan aktivator xix .b. Aktivator (Orgadec atau Promi) dilarutkan ke dalam air sesuai dosis Pemasangan cetakan. c. Injak-injak bahan tersebut agar memadat sambil disiram dengan aktivator pengomposan. Menyiapkan aktivator pengomposan. e. d. f. Memasukkan bahan ke dalam cetakan selapis demi selapis. Setelah cetakan penuh. yang dibutuhkan. Tinggi lapisan kurang lebih seperlima dari tinggi cetakan.

kandungan hara. maka kompos yang sudah jadi bisa dijadikan sumber mata pencaharian yang menjanjikan dengan jalan dikemas sebelum dipasarkan. dan aerobik atau anaerobik. xx . B. Jika produk ini telah didaftarkan ke Departemen Pertanian. lembab. Ukuran kemasan dapat bervariasi mulai dari 1 kg hingga 25 kg. nama produsen atau distributor. Saran Setelah pengolahan kompos selesai. Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat. ukuran kemasan disesuaikan dengan target pasar penjualan. dan spesifikasi lainnya. Sedangkan proses pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis. khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Apabila kompos akan dijual. perlu juga dicantumkan nomor ijinnya. Kesimpulan Salah satu cara mengatasi permasalahan sampah adalah dengan membuatnya menjadi kompos. Pada plastik/kantong kemasan perlu dicantumkan nama produk.BAB III PENUTUP A. kompos bisa juga dipasarkan. Selain untuk dimanfaatkan sendiri dengan mengaplikasikan ke lahan pertanian. tanggal kadaluwarsa. Biasanya dicantumkan pula tanggal produksi.

kompos_dan_proses_pengomposan diakses Maret 2008. 2006. xxi . Surabaya : Penebar Swadaya www. Mengelola Sampah Kota.google.com//isroi. Sudrajat.DAFTAR PUSTAKA Sofian. Seri Agriteknologi. Surabaya : Agromedia Pustaka. 2006. Sukses Membuat Kompos dari Sampah.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->