P. 1
Askep Hapertensi Varises, Deep Vein Thrombosis

Askep Hapertensi Varises, Deep Vein Thrombosis

|Views: 164|Likes:
Published by ian
Askep Hapertensi Varises, Deep Vein Thrombosis
Askep Hapertensi Varises, Deep Vein Thrombosis

More info:

Published by: ian on Oct 18, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/15/2013

pdf

text

original

ASKEP HAPERTINSI, VARISES, DEEP VEIN THROMBOSIS

MAKALAH

disusun untuk memenuhi tugas mata ajaran KMB I

oleh KELAS SANTA TERESA

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SANTO BORROMEUS 2009

A. HIPERTENSI a. Pengertian Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya diatas 140mmHg dan tekanan diastolic diatas 90 mmHg. Pada populasi manula, Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolic 90 mmHg. ( Brunner & Suddarth, ed.8, vol 2, KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH ) Hipertensi adalah tekanan darah atau denyut jantung yang lebih tinggi daripada normal karena penyempitan pembuluh darah atau gangguan lainya. ( KBBI, Jakarta Balai Pustaka 2007 ) b. Etiologi Penyebab pasti dari hipertensi essensial samapai saat ini belum dapat diketahui. Kurang lebih 90 % penderita hipertensi tergolong Hipertensi Essensial sedangkan 10 %nya tergolong hipertensi Sekunder. Beberapa penyebab terjadinya hipertensi Sekunder: 1. penyakit ginjal • stenosis arteri renalis • pielonefritis • glomerolunefritis • tumor-tumor ginjal • ginjal polikista ( biasanya diturunkan ) • trauma pada ginjal / luka • trauma penyinaran yang mengenai ginjal 2. kelainan hormonal • hiperaldosteronisme • sindrom Caushing • feokromositoma 3. obat-obatan • pil KB • kortikosteroid • siklosporin • eritropoetin • kokain • penyalahgunaan alcohol

• penggunaan kayu manis yang berlebihan 4. penyebab lain • koartasio aorta • preeklampsia pada kehamilan • porfiria intermitten akut • keracunan timbale akut Karena golongan terbesar dari penderita hipertensi adalah hipertensi essensial, maka penyelidikan dan pengobatan lebih banyak ditujukan ke penderita hipertensi essensial. Penggunaan obat-obatan seperti golongan kortikosteroid ( kortison ) dan beberapa obat hormone, termasuk beberapa obat anti radang ( anti inflamasi ) secara terus menerus dapat meningkatkan tekanan darah seseorang. Merokok juga merupakan salah satu factor penyebab terjadinya peningkatan tekanan darah tinggi dikarenakan tembakau yang berisi nikotin. Minuman beralkohol juga termasuk factor yang dapat menimbulkan terjadinya tekanan darah tinggi. Factor-factor yang dapat meningkatkan resiko timbulnya hipertensi: 1. Faktor keturunan Pada 70-80% kasus hipertensi essensial didapatkan riwayat hipertensi dalam keluarga, khususnya ayah dan ibu klien. Apabila dalam suatu keluarga terdapat riwayat hipertensi, maka kemungkinan seseorang dalam keluarga itu untuk terkena hipertensi essensial lebih besar. Dan juga banyak dijumpai pada klien yang kembar monozigot ( satu telur ), apabila salah satunya menderita hipertensi. 2. faktor Lingkungan seperti stress, kegemukan / obesitas dan kurang olah raga juga berpengaruh terhadap timbulnya hipertensi essensial. Hubungan antara stress dan hipertensi diduga karena aktivasi saraf simpatis, yang bekerja pada saat kita beraktifitas. Peningkatan aktifitas saraf simpatis dapat meningkatkan tekanan darah secara intermitten / tidak menentu. Bila stress berkepanjangan dapat mengakibatkan tekanan darah menetap tinggi. Hubungan antara obesitas dan hipertensi adalah bahwa daya pompa jantung dan sirkulasi volume darah penderita hipertensi dengan obesitas lebih tinggi dibandingkan dengan penderita yang mempunyai berat badan normal. Olah raga dapat digunakan untuk mengurangi atau mencegah terjadinya obesitas dan mengurangi asupan garam kedalam tubuh yang akan dikeluarkan melalui keringat oleh kulit.

c. Patofisiologi

d. klasifikasi Hipertensi dibagi dalam beberapa jenis, yaitu • menurut WHO, diabgi menjadi 3 yaitu : @ hipertensi derajat I, jika tekanan diastoliknya 95-109 mmHg @ Hipertensi derajat II, jika tekanan diastoliknya 110-119mmHg @ Hipertensi derajat III, jika tekanan diastoliknya > 120mmHg • berdasarkan penyebabnya, dibagi menjadi 2 jenis,yaitu :

Hipertensi Primer / Essensial suatu keadaan hipertensi sebagai akibat dari gaya hidup seseorang, lingkungan dan juga faktor keturunan. @ Hipertensi Sekunder suatu keadaan Hipertensi akibat seseorang mengalami / menderita penyakit lain seperti gagal jantung, gagal ginjal atau kerusakan system hormone tubuh. Sedangkan pada ibu hamil, tekanan darah secara umum meningkat saat kehamilan berusia 20 minggu. Terutama pada wanita hamil yang berat badannya diatas normal. e. Manifestasi Klinis. Hipertensi ringan atau sedang umumnya tidak menimbulkan gejala. Gejala hipertensi baru muncul bila hipertensi menjadi berat atau pada keadaan krisis hipertensi. Gejala-gejalanya berupa : - sakit kepala, pusing, sesak nafas - muntah, , kardiomegali - gelisah, sianosis, dispneu, edema - berat badan turun, heptaomegali - keringat berlebihan, takikardi, ronki - murmur, epistaksis, bising jantung - palpitasi, poliuri, proteinuri, hematuri - retardasi pertumbuhan f. Komplikasi Pada krisis hipertensi dapat timbul komplikasi lanjut pada organ-organ tubuh sebagai berikut : - Otak : dapat menyebabkan Stroke - Mata : dapat menyebabkan retinopati hipertensi dan dapat menimbulkan kebutaan - Jantung : dapat menjadi salah satu faktor Penyakit jantung Koroner, gagal jantung - Ginjal : dapat mengakibatkan penyakit ginjal kronik, gagal ginjal terminal g. Insiden Hipertensi terjadi pada klien dengan pola hidup yang tidak sehat, memiliki riwayat hipertensi dalam keluarga ( faktor herediter ), juga pada klien dengan usia diatas 50 tahun. i. Test Diagnostik Dengan pemeriksaan laboratorium , yakni:

@

-Panel Evaluasi Awal Hipertensi -Panel Hidup Sehat dengan Hipertensi

j. Penatalaksaan Medis
• Penatalaksanaan Non Farmakologis 1. DietPembatasan atau pengurangan konsumsi garam. Penurunan BB dapat menurunkan tekanan darah dibarengi dengan penurunan aktivitas rennin dalam plasma dan kadar adosteron dalam plasma. 2. Aktivitas Klien disarankan untuk berpartisipasi pada kegiatan dan disesuaikan denganbatasan medis dan sesuai dengan kemampuan seperti berjalan, jogging,bersepeda atau berenang. Penatalaksanaan Farmakologis Secara garis besar terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian atau pemilihan obat anti hipertensi yaitu: 1. Mempunyai efektivitas yang tinggi. 2. Mempunyai toksitas dan efek samping yang ringan atau minimal. 3. Memungkinkan penggunaan obat secara oral. 4. Tidak menimbulakn intoleransi. 5. Harga obat relative murah sehingga terjangkau oleh klien. 6. Memungkinkan penggunaan jangka panjang. Golongan obat - obatan yang diberikan pada klien dengan hipertensi sepertigolongan diuretic, golongan betabloker, golongan antagonis kalsium,golongan penghambat konversi rennin angitensin.

k. Asuhan Keperawatan
 Pengkajian • • Aktivitas/ Istirahat o Gejala : kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton. o Tanda :Frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea. Sirkulasi o Gejala :Riwayat Hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner/katup dan penyakit cebrocaskuler, episode palpitasi.

• •

• •

Tanda :Kenaikan TD, Nadi denyutan jelas dari karotis, jugularis,radialis, tikikardi, murmur stenosis valvular, distensi vena jugularis,kulit pucat, sianosis, suhu dingin (vasokontriksi perifer) pengisiankapiler mungkin lambat/ bertunda. Integritas Ego o Gejala :Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, factor stress multiple(hubungan, keuangan, yang berkaitan dengan pekerjaan. o Tanda :Letupan suasana hat, gelisah, penyempitan continue perhatian,tangisan meledak, otot muka tegang, pernafasan menghela, peningkatan pola bicara. Eliminasi o Gejala : Gangguan ginjal saat ini atau (seperti obstruksi atau riwayatpenyakit ginjal pada masa yang lalu). Makanan/cairan o Gejala: Makanan yang disukai yang mencakup makanan tinggi garam, lemak serta kolesterol, mual, muntah dan perubahan BB akhir akhir ini(meningkat/turun) Riowayat penggunaan diuretic o Tanda: Berat badan normal atau obesitas,, adanya edema, glikosuria. Neurosensori o Genjala: Keluhan pening pening/pusing, berdenyu, sakit kepala,subojksipital (terjadi saat bangun dan menghilangkan secara spontansetelah beberapa jam) Gangguan penglihatan (diplobia, penglihatan kabur,epistakis). o Tanda: Status mental, perubahan keterjagaan, orientasi, pola/isi bicara,efek, proses piker, penurunan keuatan genggaman tangan. Nyeri/ ketidaknyaman o Gejala: Angina (penyakit arteri koroner/ keterlibatan jantung),sakitkepala. Pernafasan o Gejala: Dispnea yang berkaitan dari kativitas/kerja takipnea,ortopnea,dispnea, batuk dengan/tanpa pembentukan sputum, riwayat merokok. o Tanda: Distress pernafasan/penggunaan otot aksesori pernafasan bunyinafas tambahan (krakties/mengi), sianosis. Keamanan o Gejala: Gangguan koordinasi/cara berjalan, hipotensi postural. o

 Diagnosa Keperawatan yang Muncul • • • • Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricular. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2. Gangguan rasa nyaman : nyeri ( sakit kepala ) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral. Potensial perubahan perfusi jaringan: serebral, ginjal, jantung berhubungan dengan gangguan sirkulasi.

 Intervensi Diagnosa Keperawatan 1. : Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricular. Tujuan : Afterload tidak meningkat, tidak terjadi vasokonstriksi, tidak terjadi iskemia miokard. Kriteria Hasil : Klien berpartisifasi dalam aktivitas yang menurunkan tekanan darah / bebankerja jantung , mempertahankan TD dalam rentang individu yang dapatditerima, memperlihatkan

norma dan frekwensi jantung stabil dalam rentangnormal pasien. Intervensi : • • • • • • • • • • • • • Pantau TD, ukur pada kedua tangan, gunakan manset dan tehnik yang tepat. Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer. Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas. Amati warna kulit, kelembaban, suhu dan masa pengisian kapiler. Catat edema umum. Berikan lingkungan tenang, nyaman, kurangi aktivitas. Pertahankan pembatasan aktivitas seperti istirahat ditemapt tidur/kursi Bantu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan Lakukan tindakan yang nyaman spt pijatan punggung dan leher Anjurkan tehnik relaksasi, panduan imajinasi, aktivitas pengalihan Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol tekanan darah Berikan pembatasan cairan dan diit natrium sesuai indikasi Kolaborasi untuk pemberian obat-obatan sesuai indikasi.

Diagnosa Keperawatan 2. : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2. Tujuan : Aktivitas pasien terpenuhi. Kriteria Hasil :Klien dapat berpartisipasi dalam aktivitas yang di inginkan / diperlukan,melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur. Intervensi : • Kaji toleransi pasien terhadap aktivitas dengan menggunkan parameter :frekwensi nadi 20 per menit diatas frekwensi istirahat, catat peningkatanTD, dipsnea, atau nyeridada, kelelahan berat dan kelemahan, berkeringat,pusig atau pingsan. (Parameter menunjukan respon fisiologis pasienterhadap stress, aktivitas dan indicator derajat pengaruh kelebihan kerja/ jantung). Kaji kesiapan untuk meningkatkan aktivitas contoh : penurunan kelemahan / kelelahan, TD stabil, frekwensi nadi, peningkatan perhatian padaaktivitas dan perawatan diri. (Stabilitas fisiologis pada istirahatpenting untuk memajukan tingkat aktivitas individual). Dorong memajukan aktivitas / toleransi perawatan diri. (Konsumsioksigen miokardia selama berbagai aktivitas dapat meningkatkan jumlah oksigen yang ada. Kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatantiba-tiba pada kerja jantung). Berikan bantuan sesuai kebutuhan dan anjurkan penggunaan kursi mandi, menyikat gigi / rambut dengan duduk dan sebagainya. (teknik penghematan energi menurunkan penggunaan energi dan sehingga membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen). Dorong pasien untuk partisifasi dalam memilih periode aktivitas.(Seperti jadwal meningkatkan toleransi terhadap kemajuan aktivitas danmencegah kelemahan).

• • •

Diagnosa Keperawatan 3. : Gangguan rasa nyaman : nyeri ( sakit kepala ) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral Tujuan : Tekanan vaskuler serebral tidak meningkat. Kriteria Hasil :Pasien mengungkapkan tidak adanya sakit kepala dan tampak nyaman. Intervensi : • Pertahankan tirah baring, lingkungan yang tenang, sedikit penerangan

• • • • •

Minimalkan gangguan lingkungan dan rangsangan. Batasi aktivitas. Hindari merokok atau menggunkan penggunaan nikotin. Beri obat analgesia dan sedasi sesuai pesanan. Beri tindakan yang menyenangkan sesuai indikasi seperti kompres es, posisi nyaman, tehnik relaksasi, bimbingan imajinasi, hindari konstipasi.

Diagnosa keperawatan 4. : Potensial perubahan perfusi jaringan: serebral, ginjal, jantung berhubungan dengan gangguan sirkulasi. Tujuan : Sirkulasi tubuh tidak terganggu. Kriteria Hasil :Pasien mendemonstrasikan perfusi jaringan yang membaik seperti ditunjukkan dengan : TD dalam batas yang dapat diterima, tidak ada keluhan sakit kepala, pusing, nilai-nilai laboratorium dalam batas normal. Intervensi : • • • • • • • Pertahankan tirah baring; tinggikan kepala tempat tidur. Kaji tekanan darah saat masuk pada kedua lengan; tidur, duduk dengan pemantau tekanan arteri jika tersedia. Pertahankan cairan dan obat-obatan sesuai pesanan. Amati adanya hipotensi mendadak. Ukur masukan dan pengeluaran. Pantau elektrolit, BUN, kreatinin sesuai pesanan. Ambulasi sesuai kemampuan; hindari kelelahan.

C. VARISES

a.

Pengertian

Varises adalah pemanjangan, pelebaran, dan berkelokkeloknya system vena ( pembuluh darah balik ) yang disertai dengan gangguan sirkulasi darah didalamnya. ( www.tanyasaja.detik.com ) Varises adalah pelebaran pembuluh darah balik yang antara lain disebabkan oleh kebiasaan terlalu lama berdiri, biasa diderita wanita yang sedang hamil. ( KBBI , Jakarta Balai Pustaka, 2007 ) b. Etiologi Berkurangnya elastisitas dinding pembuluh vena yang menyebabkan pembuluh vena melemah dan tak mampu mengalirkan darah ek jantung sebagaimana mestinya. Aliran darah dari kaki ke jantung sangat melawan gravitasi bumi, karena itu pembuluh darah harus kuat, begitu juga dengan dinamisasi otot disekitarnya. Rusaknya katup pembuluh vena, padahal katup atau klep ini bertugas menahan darah yang mengalir ke jantung agar tidak keluar kembali. Katup yang rusak membuat darah berkumpul didalam dan menyebabkan gumpalan yang mengganggu aliran darah. Patofisiologi

-

c.

d.

Klasifikasi Jenis Varises dibedakan menjadi 4 yaitu,: 1. Varises Spider Navy Varises ini tergolong ringan, biasanya akibat suhu yang terlalu panas atau dingin, terpapar sinar

matahari terus menerus, sedang hamil, faktor keturunan serta pengobatan hormonal. Varises ini bias terjadi di beberapa tempat, yakni di wajah, pangkal lengan, paha, daerah lutut, pergelangan kaki dan tumit. 2 Varises dalam Kulit Varises ini terjadi pada pembuluh vena yang halus dan tipis didalam kulit bagian kaki. 2. Varises Retikular Varicose Veins Ini adalah varises yang lebih parah, karena terjadi di pembuluh vena bawah kulit. 3. Varises Kronis Varises tahap ini akan memperlihatkan pembuluh darah yang berkelok-kelok di betis. Manifestasi Klinis  Mula-mula kaki dan tungkai terasa berat diikuti otot yang mudah pegal, kaku, panas dan sakit di seputar kaki dan tungkai. Biasanya rasa sakit menjelang malam, akibat tidak lancarnya aliran darah.  Mudah kram, meski kaki dalam kondisi santai  Muncul pelebaran pembuluh darah rambut yang mirip jaringan laba-laba( Spider Navy )  Perubahan warna kulit atau pigmentasi diseputar mata kaki, akibat tidak lancarnya aliran darah. Kadang diikuti dengan luka disekitar mata kaki yang sulit sembuh.  Kaki bengkak / edema karena adanya pembendungan darah.  Perubahan pada pembuluh vena luar, misalnya di betis bagian belakang tampak urat kebiru-biruan dan berkelok-kelok.keadaan ini merupakan gejala varises kronis. f.Insiden Angka insiden dan prevalensi dari penyakit insufisiensi vena bergantung pada umur dan jenis kelamin pada populasi umum. Varises lebih sering terjadi pada wanita dari pada laki-laki pada beberapa tingkat umur. Pada penelitian kesehatan

komunitas Tecumsech, varises ditemukan 72 % pada wanita berumur 60-69 tahun dan hanya 1 % laki-laki pada umur 20-29 tahun. Vasises retikuler yang berukuran lebih kecil telah ada sejak awal kehidupan. Hanya sedikit kasus baru yang berkembang setelah kelahiran. Varises trunkal dan jaring telangiektasia relatif jarang ditemukan pada anak-anak dan kemudian muncul seiring bertambahnya umur. Pemeriksaan serial yang dilakukan pada sekitar 500 anak berumur 10-12 tahun dan setelah 4 dan 8 tahun terlihat adanya gejala sebelum vena abnormal terlihat di permukaan kulit. Pertama terlihat adalah vena retikuler abnormal. Vena retikuler ini diikuti perkembangannya setelah beberapa tahun terjadi inkompeten vena perforata yang akhirnya diikuti oleh munculnya varises tunkal.Angka prevalensi penyakit vena didapatkan lebih tinggi pada Negara barat dan Negara industry dari pada negara kurang berkembang.

B. DEEP VEIN THROMBOSIS a.Pengertian  Trombosis Vena adalah kelainan pembuluh darah dimana didapatkan pembentukan trombus di pembuluh darah.  Vena trombosis adalah kelainan yang tersering pada pembuluh darah. b. Etiologi • Factor resiko utama Imobilitas yang nyata, dehidrasi, keganasan lanjut, diskrasia darah, riwayat DVT, varises vena dan operasi / trauma pada tungkai bawah atau pelvis. Factor predisposisi Pemakaian obat anti hamil yang mengandung esterogen, kehamilan, gagal jantung kongestif kronik, obesitas.

c.Manisfestasi klinis Sekitar 50% penderita tidak menunjukan gejala sama sekali. Jika trmbosis menyebabkan peradangan hebat dan penyumbatan aliran darah, otot betis akan atau betis sewaktumembengkak dan timbul rasa nyeri, nyeri tumpul jika disentuh dan teraba hangat. Pergelangan kaki, kaki atau paha juga bisa membengkak, tergantung pada vena mana yang terkena. Beberapa thrombus mengalami penyembuhan dan berubah menjadi jaringan parut yang bisa merusak katup dalam vena. ( carisehat.blogspot.com) Emboli paru, sebagai petunjuknklinis pertama dari thrombosis Edema dan pembengkakan eks karenaaliran darah tersumbt Nyeri tekan akibat inflamasi Tanda human: nyeri tekan pada betis sewaktu dorsofleksi kaki Tnda lowernburg: nyeri dipaha atau betis sewaktu pengembungan mangset Peningkatan turgor jaringan Kenaikan suhu kulit Bintik-bintik dan sianosis Karen a stagnasi aliran Penurunan hb d.insiden

e.tes diagnostic • • • Dopler USG : Menunjukkan penurunan aliran pada daerah yang obstruksi Phlebografi : Adanya defek pada pembuluh darah I Fibrinogen scan : menunjukkan lokasi dari bekuan darah dan emboli yang mungkin bisa lepas.

f.penatalaksanan medis Tujuan penanganan medis DVT adalah mencegah perkembangan dan pencahaya thrombus beserta risikonya yaitu embolisme paru dan mencegah trombo emboli kambuhan. • • Surgical (jarang dilakukan) Pada DVT ( deep vein trombosis ) dilakukan pemotongan dan liagasi kembali vena. Iliofemoral trombectomy: Dilakukan pada akut ilio femoral trombosi

i. Asuhan keperawatan

c.Patoflow Stasis aliran darah vena Cedera dinding pembuluh darah Hiperkoagulabilitas darah

Peningkatan Stagnasi dan pengumpulan darah di eks. bawah

Pembentukan thrombus Rangsangan thrombosis vena

Me resistensi aliran vena dari eks bawah.

Pengosongan vena terganggu Rangsangan thrombosis vena

Pe

volume dan td vena

Stasi dan penimbunan darah di eks.

Thrombus melekat pada pembuluh darah Resiko embolisasi

Emboli menuju sirkulasi paru

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->