Makalah PL 4202 Manajemen Pembangunan

EVALUASI KEBIJAKAN PUBLIK

Tujuan Instruksional Khusus: Memahami metoda dan teknik evaluasi kinerja kebijakan

Oleh: M ALI ICHWANI NIM 15403029

PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA SEKOLAH ARSITEKTUR, PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN KEBIJAKAN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2007

EVALUASI KEBIJAKAN PUBLIK Oleh: M Ali Ichwani Pendahuluan Menurut William N Dunn dalam Publik Policy Analisis: An Introduction menjelaskan bahwa evaluasi merupakan salah satu dari proses ataupun siklus kebijakan publik setelah perumusan masalah kebijakan, implementasi kebijakan, dan monitoring atau pengawasan terhadap implementasi kebijakan. Pada dasarnya, evaluasi kebijakan bertujuan untuk menilai apakah tujuan dari kebijakan yang dibuat dan dilaksanakan tersebut telah tercapai atau tidak. Tetapi evaluasi tidak hanya sekedar mengahasilkan sebuah kesimpulan mengenai tercapai atau tidaknya sebuah kebijakan atau masalah telah terselesaikan, tetapi evaluasi juga berfungsi sebagai klarifikasi dan kritik terhadap nilai-nilai yang mendasari kebijakan, membantu dalam penyesuaian dan perumusan masalah pada proses kebijakan selanjutnya. Pengertian Kebijakan Publik Menurut Thomas R Dye dalam Understanding Public Policy, kebijakan publik adalah “whatever governments choose to do or not to do” (apapun pilihan pemerintah untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Atau menurut Anderson yang dikutip melalui situs Badan Kepegawaian Nasional (BKN), kebijakan publik adalah “those policies developed by governmental bodies and officials” (kebijakan-kebijakan yang dikembangkan oleh badan-badan dan pejabat-pejabat pemerintah). Sedangkan menurut Easton yang dikutip pada situs yang sama, menyebutkan bahwa kebijakan publik adalah “the autoritative allocation of values for the whole society” (pengalokasian nilai-nilai secara sah kepada seluruh anggota masyarakat). Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kebijakan publik adalah: • • • Kebijakan publik dibuat oleh pemerintah yang berupa tindakan-tindakan pemerintah Kebijakan publik baik untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu itu mempunyai tujuan tertentu Kebijakan publik ditujukan untuk kepentingan masyarakat.

umumnya melalui suatu proses pemilihan untuk bertindak atas nama rakyat banyak. yakni mereka yang menerima mandat dari publik atau orang banyak. yang merupakan segala sesuatu yang bisa dilakukan oleh negara untuk mempertahankan atau meningkatkan kualitas kehidupan orang banyak. prediksi (peramalan). Analisis Kebijakan yang berorientasi pada masalah Rekomendasi . Selanjutnya. Kinerja Kebijakan Evaluasi Peramalan Hasil Kebijakan Masalah Kebijakan Perumusan Masalah Perumusan Masalah Perumusan Masalah Perumusan Masalah Masa Depan Kebijakan Evaluasi Aksi Kebijakan Gambar 1. Metodologi analisis kebijakan publik pada hakikatnya menggabungkan lima prosedur umum yang lazim dipakai dalam pemecahan masalah manusia yaitu definisi (perumusan masalah). Fokus utama kebijakan publik dalam negara modern adalah pelayanan publik. Sebagai keputusan yang mengikat publik maka kebijakan publik haruslah dibuat oleh otoritas politik.Kebijakan publik adalah keputusan-keputusan yang mengikat bagi orang banyak pada tataran strategis atau bersifat garis besar yang dibuat oleh pemegang otoritas publik. Evaluasi Seperti telah dikemukakan pada bagian pendahuluan bahwa evaluasi merupakan salah satu dari prosedur dalam analisis kebijakan publik. Ke lima prosedur tersebut dapa dilihat pada gambar 1. dan evaluasi yang mempunyai nama sama dengan yang dipakai dalam bahasa sehari-hari yang berfungsi menyediakan informasi mengenai nilai atau kegunaan dari konsekuensi pemecahan masalah atau pengatasan masalah. preskripsi (rekomendasi). kebijakan publik akan dilaksanakan oleh administrasi negara yang di jalankan oleh birokrasi pemerintah.

evaluasi dilakukan pada akhir pelaksanaan suatu program. kata-kata yang menyatakan usaha untuk menganalisis hasil kebijakan dalam arti satuan nilai. evaluasi berkenaan dengan produksi informasi mengenai nilai atau manfaat hasil kebijakan. Sedangkan evaluasi akhir menjawab persoalan tentang perubahan-perubahan apa yang terjadi. Sehingga konsekuensi dari perbedaan fungsi ini terdapat perbedaan pada informasi yang dihasilkan. peluang dan/atau memecahkan permasalahan. Atau menurut Said Zainal Abidin dalam Kebijakan Publik (2004). Dalam arti yang spesifik. dan mengukur seberapa jauh telah terjadi penyimpangan dan ketidakpastian. Monitoring menghasilkan informasi yang sifatnya empiris. Siagian dalam bukunya Filsafat Administrasi mengemukakan bahwa monitoring ialah proses pengamatan dari pelaksanaan seluruh pelaksanaan kebijakan untuk menjamin agar pelaksanaannya berjalan sesuai dengan rencana atau tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Dengan demikian Evaluasi kebijakan. .15) mendefinisikan evaluasi kebijaksanaan sebagai suatu pengkajian secara sistematik. tidak lain adalah mengukur kesesuaian antara rencana dan pelaksanaan. Baik pengawasan maupun evaluasi dilaksanakan sebagai upaya untuk melakukan perbaikan atas segala kegiatan. pemberian angka (rating) dan penilaian (assessment). Jadi.Mengenai pengertian Evaluasi Vackmias. empiris terhadap akibat-akibat dari suatu kebijaksanaan dan program pemerintah yang sedang berjalan dan kesesuaiannya dengan tujuan-tujuan yang hendak dicapai oleh bebijaksanaan tersebut. Evaluasi adalah upaya yang berkenaan dengan produksi informasi mengenai nilai atau manfaat hasil kebijakan. Sehingga tujuan evaluasi adalah untuk menilai secara keseluruhan pengaruh dan dampak pada akhir program. Sedangkan evaluasi didefinisikan sebagai proses pengukuran dan pembandingan dari hasil-hasil pekerjaan yang nyatanya dicapai dengan hasil-hasil yang seharusnya di capai. Oleh karena itu kita perlu membedakan antara monitoring dan evaluasi. Sedangkan Dunn (1998:608) menyamakan evaluasi dengan penaksiran (appraisal). bagaimana terjadinya dan mengapa terjadi. 2003:268). seperti dikutip Howlett and Ramesh (1995:14. monitoring ditujukan untuk menjawab pertanyaan tentang apaa yang terjadi dalam proses pelaksanaan. yang akan menjadi landasan untuk meningkatkan atau menyempurnakan kebijakan berkenaan dengan program/kebijakan berikutnya (Riyadi. sedangkan evaluasi menghasilkan informasi yang bersifat penilaian dalam memenuhi kebutuhan.

atau oleh Bintoro (1988) disebut juga dengan mid term evaluation. evaluasi seperti ini berbentuk seperti laporan triwulan. Dalam prakteknya. yakni evaluasi yang dilakukan pada saat program belum berjalan/beroperasi pada tahap perencanaan. walaupun belum bisa dilakukan penilaian terhadap keseluruhan proses program. 3. Di sini pertanyaan utamanya bukan mengenai fakta (Apa yang . yang dikenal dengan on going evaluation atau in operation evaluation. Evaluasi pada periode ini biasanya meliputi aspek keuangan dan analisis ekonomis dari suatu kegiatan (cost and benefit analysis). Evaluasi pada periode ini biasanya difokuskan pada masalah-masalah persiapan dari suatu kegiatan. Evaluasi pada periode ini biasanya difokuskan pada penilaian dari setiap tahap kegiatan yang sudah dilaksanakan. Atau dapat pula merupakan sebuah studi kelayakan (feasibility) dari sebuah program untuk dilaksanakan. sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan dalam rumusan sasarn atau tujuan program. Pada evaluasi ini dilakukan penilaian terhadap seluruh tahapan program yang dikaitkan dengan tingkat keberhasilannya. Pra Evaluasi.Secara konseptual ada pandangan yang menyatakan bahwa evaluasi dapat dilakukan pada seluruh periode kegiatan. dan setelah kegiatan dilaksanakan (Riyadi. artinya dapat dilakukan pada saat kegiatan belum dilaksanakan. Sifat Evaluasi Gambaran utama evaluasi adalah bahwa evaluasi menghasilkan tuntutan-tuntutan yang bersifat evaluatif. Evaluasi pada saat program tengah berjalan. Evaluasi setelah program selesai atau setelah program berakhir. semester. 2003:268). evaluasi dapat dibedakan menjadi: 1. Pada saat program atau kegiatan tengah berjalan analisis evaluasi bersumber pada hasil pemantauan yang dilaksanakan pada tahapan-tahapan kegiatan secara berkelanjutan dan akan memberikan umpan balik untuk perencana dan pelaksana pembangunan. Evaluasi ini biasa disebut ex post evaluation. evaluasi pada saat kegiatan berjalan. Oleh karena itu berdasarkan pandangan tersebut. atau tahunan (untuk kegiatan jangka menengah). 2. Dapat pula evaluasi itu didasarkan pada hasil-hasil pelaksanaan kegiatan sebelumnya yang secara substansial memiliki keterkaitan dengan kegiatan yang akan dilaksanakan.

ketimbang hasil di masa depan. 3. kesehatan) dapat dianggap sebagai intrinsik (diperlukan bagi dirinya) ataupun ekstrinsik (diperlukan karena hal itu mempengaruhi pencapaian tujuan-tujuan lain). Evaluasi terutama merupakan usaha untuk menentukan manfaat atau kegunaan sosial kebijakan atau program. diarahkan pada hasil sekarang dan masa lalu.terjadi?). Dualitas nilai. Karena itu evaluasi mempunyai sejumlah karakteristik yang membedakannya dari metode-metode analisis kebijakan lainnya : 1. hasil evaluasi tidak hanya tergantung pada buktibukti (fakta) tetapi juga terhadap nilai. untuk menyatakan demikian. berbeda dengan tuntutan-tuntutan advokatif. Nilai-nilai sering ditata di dalam suatu hirarki yang merefleksikan kepentingan relatif dan saling ketergantungan antar tujuan dan sasaran. Tuntutan evaluatif. karena mereka dipandang sebagai tujuan dan sekaligus cara. 4. dan bukan sekedar usaha untuk mengumpulkan informasi mengenai hasil aksi kebijaksanaan. harus didukung oleh bukti bahwa hasil-hasil kebijakan secara aktual merupakan bagi evaluasi. Evaluasi sama dengan rekomendasi sejauh berkenaan dengan nilai yang ada (misalnya. 2. Nilai-nilai yang mendasari tuntutan evaluasi mempunyai kualitas ganda. evaluasi ditujukan kepada pemberian nilai terhadap manfaat atau kegunaan dari suatu kegiatan. Interdependensi Fakta-Nilai. bersifat prospektif dan dibuat sebelum aksi-aksi dilakukan (ex ante). atau penyebab (Mengapa terjadi?) tetapi nilai (Berapa nilainya?). proses (Bagaimana terjadinya?). Tuntutan evaluasi tergantung baik “fakta” maupun “nilai”. evaluasi mempersoalkan hasil sekarang dan masa lalu. Orientasi masa kini dan masa lalu. konsekuensi dari aksi-aksi yang dilakukan untuk memecahkan masalah tertentu. kelompok atau seluruh masyarakat. Karena ketepatan tujuan dan sasaran kebijakan dapat selalu dipertanyakan. program atau kebijakan. Rekomendasi yang juga mencakup premis-preinis nilai. Fokus nilai. pemantauan merupakan prasyarat . Evaluasi bersifat retrospektif dan setelah aksi-aksi dilakukan (ex post). Oleh karena itu. evaluasi mencakup prosedur untuk mengevaluasi tujuan dan sasaran itu sendiri. tidak Untuk hanya menyatakan bahwa bahwa kebijakan kebijakan atau program bagi tertentu telah mencapai tingkat kinerja yang tertinggi (atau rendah) diperlukan hasil-hasil berharga sejumlah individu.

Karena itu. Sebab itu suatu kebijakan tidak boleh merasa cukup sekedar berakhir hanya pada selesainya pelaksanaan saja. Hal yang paling penting dari fungsi evaluasi adalah memberikan informasi yang valid dan dapat dipercaya mengenai kinerja kebijakan. Dampak dari kebijakan tidak selalu sama seperti yang direncanakan semula. Nilai-nilai yang digunakan sebagai dasar pemilihan tujuan dan sasaran tersebut dapat diperjelas dengan mendefinisikan dan mengoperasikan tujuan dan target serta dikritik dengan . Dampak atas kelompok sasaran atau lingkungan 2. 2. Thomas R Dye mengelompokkan dampak atas lima komponen berikut: 1. Dampak atas masa depan 4. fokusnya adalah penilaian atas dampak atau kinerja (outcomes) dari suatu kebijakan. Dampak atas kelompok lain (spillover effects) 3. evaluasi memiliki beberapa arti penting. Dampak atas biaya langsung 5. sebelum ada evaluasi akhir atas dampak yang dihasilkan. melainkan hanya salah satu dari sekian banyak kekuatan yang mempengaruhi perubahan dalam masyarakat. sekalipun evaluasi mencakup keseluruhan proses kebijakan. Menurut William N Dunn (1998) fungsi utama dari evaluasi dalama anlisis kebijakan adalah: 1. Ini berhubungan dengan ketidakpastiaan lingkungan dan kemampuan administrasi dalam melaksanakan suatu kebijakan. Memberi sumbangan pada klarifikasi dan kritik terhadap nilai-nilai yang mendasari pemilihan tujuan dan sasaran.Berbeda dengan Dunn. nilai dan kesempatan telah dapat dicapai melalui tindakan publik. Dalam praktek selalu ada keterbatasan untuk memahami sesuatu isu secara utuh. Dampak atas biaya tidak langusung. Hal ini dapat dipahami mengingat ada perbedaan antara hasil langsung berupa target yang dihasilkan suatu kebijakan (policy outputs) dengan dampak yang diharapkan terjadi dalam masyarakat (policy impact). Sementara itu juga perlu disadari bahwa kebijakan pemerintah bukanlah satu-satunya kekuatan. Sejalan dengan pendapat Hogwood. Hogwood dalam Said Zainal Abidin (2004) melihat evaluasi dalam hubungan dengan masyarakat yang diharapkan terjadi sebagai dampak atau outcomes dari suatu kebijakan. Yang dimaksudkan dalam hal ini adalah mengungkapkan seberapa jauh tujuantujuan dan sasaran-sasaran telah dicapai yang berkaitan seberapa jauh kebutuhan. Fungsi Evaluasi Di dalam analisis kebijakan.

yaitu: 1. 3. 2. Dalam menanyakan kepantasan tujuan dan sasaran. Informasi tentang tidak memadainya kinerja kebijakan dapat memberi sumbangan pada perumusan ulang masalah kebijakan. Kebijakan yang mencapai efektivitas tertinggi dengan biaya terkecil dinamakan efisien. dan substantif. Adequacy atau kecukupan. yaitu berkenaan dengan jumlah usaha yang diperlukan untuk menghasilkan tingkat efektivitas tertentu. yaitu yang berkenaan dengan seberapa jauh suatu tingkat efektivitas memuaskan kebutuhan. mungkin saja banyak memiliki perbedaan pendapat. nilai. ekonomis. Effectiveness atau keefektifan. Oleh karena itu dalam menghasilkan informasi mengenai kinerja kebijakan. atau mencapai tujuan dari diadakannya tindakan. analis dapat menguji alternatif sumber nilai dari berbagai kepentingan kelompok maupun landasan mereka dalam berbagai bentuk rasionalitas seperti aspek teknis. dan pada akhirnya diukur berdasarkan biaya yang dikeluarkan per unit kebijakan. Efisiensi merupakan hubungan antara efektivitas dan usaha. Kriteria Evaluasi Untuk menyatakan sebuah kebijakan publik berhasil atau tidak berhasil. Evaluasi memberi sumbangan pada aplikasi metode-metode analisis kebijakan lainnya. Efektivitas selalu diukur dari kualitas hasil sebuah kebijakan. maka digunakan beberapa kriteria yang berbeda untuk mengevaluasi hasil kebijakan.menanyakan secara sistematis kepantasan tujuan dan sasaran dalam hubungan dengan masalah yang dituju. Hal ini karena untuk menyatakan sebuah kebijakan tersebut berhasil atau tidak berhasil dapat dilihat dari berbagai banyak sisi atau sudut pandang. 3. legal. yaitu berkenaan dengan apakah suatu alternatif mencapai hasil (akibat) yang diharapkan. atau kesempatan yang menumbuhkan adanya masalah atau dengan kata lain apakah tingkat pencapaian hasil tepat menyelesaikan masalah yang dimaksud. Menurut William N Dunn (1998) terdapat enam kriteria yang dapat digunakan untuk menilai sebuah kinerja berhasil atau tidak berhasil. sosial. . termasuk perumusan masalah dan rekomendasi. Evaluasi dapat pula menyumbang pada definisi alternatif kebijakan yang baru atau revisi kebijakan dengan menunjukkan bahwa alternatif kebijakan yang diunggulakan sebelumnya perlu dihapus dan diganti dengan yang lain. Efficiency atau efisiensi.

Evaluasi Semu (psuedo evaluation) Merupakan pendekatan yang menggunakan metode-metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang valid dan dapat dipercaya mengenai hasil kebijakan. Responsiveness atau ketanggapan. maka menjadi sangat penting untuk membedakan beberapa pendekatan dalam evaluasi kebijakan. Namun banyak aktivitas yang dikatakan sebagai evaluasi dalam analisis kebijakan. Kebijakan yang dirancang untuk mendistribusikan pendapatan. 1. kesempatan pendidikan. Mengingat kurang jelasnya arti evaluasi di dalam analisis kebijakan. evaluasi formal. preferensi. Selanjutnya kedua aspek tersebut menunjukkan adanya fakta dan premis nilai dalam setiap tuntutan evaluatif. Pentingya kriteria ini adalah karena analis yang dapat memuaskan semua kriteria lainnya masih gagal jika belum menanggapi kebutuhan aktual dari kelompok yang semestinya diuntungka dari adanya suatu kebijakan. Appropriatness atau ketepatgunaan. 6. atau pelayanan publik kadang-kadang direkomendasikan atas dasar kriteria ini. yaitu yang berhubungan dengan rasionalitas substantif. Pendekatan Evaluasi Evaluasi mempunyai dua aspek yang saling berhubungan. yaitu erat berhubungan dengan rasionalitas legal dan sosial dan menunjuk pada distribusi akibat dan usaha antara kelompokkelompok yang berbeda dalam masyarakat.4. Aspek pertama adalah penggunaan berbagai metoda untuk memantau hasil kebijakan publik dan aspek kedua adalah aplikasi serangkaian nilai yang digunakan untuk menentukan kegunaan hasil kebijakan publik terhadap beberapa orang. yaitu berkenaan dengan seberapa jauh suatu kebijakan dapat memuaskan kebutuhan. tanpa berusaha untuk menanyakan tentang manfaat atau nilai dari hasil-hasil tersebut terhadap individu atau kelompok masyarakat secara . yaitu evaluasi semu. dan decision theory evaluation (DTE). Equity atau kesamaan. atau nilai masyarakat. Kriteria ini merujuk pada nilai atau harga dari tujuan program dan kepada kuatnya asumsi yang melandasi tujuan-tujuan tersebut atau dengan kata lain adalah apakah hasil yang diinginkan benar-benar layak atau berharga. kesejahteraan. tetapi sebenarnya bukan evaluasi karena tidak memperhatikan tuntutan evaluatif dan hanya sebagai tuntutan faktual. karena pertanyaan tentang hal ini tidak berkenaan dengan satuan kriteria individu tetapi dua atau lebih kriteria secara bersamasama. 5. kelompok atau masyarakat secara keseluruhan.

Asumsi utama dari pendekatan ini adalah bahwa tujuan dan target diumumkan secara formal adalah merupakan ukuran yang tepat untuk manfaat atau nilai kebijakan program. dan wawancara dengan pembuat kebijakan dan administrator untuk mengidentifikasikan. Artinya evaluasi dapat mempunyai satu atau lebih karakteristik .keseluruhan. Evaluasi sumatif diciptakan untuk menilai produk-produk kebijakan dan program publik yang stabil dan mantap. Meskipun demikiam perbedaanya adalah bahwa evaluasi formal menggunakan undang-undang. Asumsi utama dari pendekatan ini adalah bahwa ukuran manfaat atau nilai merupakan sesuatu yang dapat terbukti sendiri (self evident) atau tidak kontroversial. Evaluasi Formal (formal evaluation) Merupakan pendekatan yang menggunakan metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang valid dan dapat dipercaya mengenai hasil kebijakan tetapi mengevaluasi hasil tersebut atas dasar tujuan program kebijakan yang telah diumumkan secara formal oleh pembuat kebijakan dan admininistrator program. Kelayakan dari tujuan dan target yang diumumkan secara formal tersebut tidak ditanyakan. Evaluasi formatif merupakan evaluasi yang meliputi usaha-usaha untuk secara terus menerus memantau pencapaian tujuan-tujuan dan sasaran formal. atau karakteristik kelompok sasaran. mendefinisikan dan menspesifikasikan tujuan dan target kebijakan. Dalam evaluasi formal digunakan berbagai macam metode yang sama seperti yang dipakai dalam evaluasi semu dan tujuannya adalah identik yaitu untuk menghasilkan informasi yang valid dan dapat dipercaya mengenai variasivariasi hasil kebijakan dan dampak yang dapat dilacak dari masukan dan proses kebijakan. Jadi perbedaan keduanya adalah persolan derajat. Dalam evaluasi langsung evaluator dapat memanipulasi secara langsung tingkat pengeluaran. Lalu selain evaluasi sumatif ada juga evaluasi formatif. 2. tetapi juga dapat meliputi kontrol langsung maupun tidak langsung terhadap masukan kebijakan dan proses-proses. dokumen-dokumen program. Evaluasi formal dapat bersifat sumatif atau formatif. campuran program. Salah satu tipe utama evaluas formal adalah evaluasi sumatif yang meliputi usah untuk memantau pencapaian tujuan dan sasaran formal setelah suatu kebijakan atau program diterapkan untuk jangka waktu tertentu.

Masukan dan proses tersebut harus dianalisis secara retrospektif berdasarkan pada aksi-aksi yang telah dilakukan. Sedangkan dalam kasus evalausi tidak langsung. Tipe-tipe Evaluasi Formal. yang tidak terjadi selama kebijakan memperkenankan dilakukannya manipulasi langsung terhadap masukan (misalnya pengeluaran) dan proses (misalnya sistem pelayanan alternatif). yang cenderung dipusatkan pada masalah-masalah implementasi dan kendala-kendala dan program. Evaluasi perkembangan. dapat digunakan untuk mengadaptasi secara langsung pengalaman baru yang diperoleh melalui manipulasi yang sistematis terhadap variabel masukan dan proses. yang sering sulit untuk diciptakan. masukan dan proses kebijakan tidak dapat secara langsung dimanipulasi.eksperimentasi sosial sebagai pendekatan terhadap monitoring. b. . KONTROL TERHADAP AKSI KEBIJAKAN Langsung Tidak langsung ORIENTASI TERHADAP PROSES KEBIJAKAN Formatif Sumatif Evaluasi perkembangan Evaluasi eksperimental Evaluasi proses retrospektif Evaluasi hasil retrospektif Kemudian terdapat beberapa variasi dari evaluasi formal yaitu: a. Evaluasi proses retrospektif mensyaratkan adanya sistem pelaporan internal yang mantap yang memungkinkan pemunculan yang berkelanjutan informasi yang berhubungan dengan program. Evaluasi Proses retrospektif Evaluasi proses retrospektif. Evaluasi proses retrospektif mensyaratkan sistem informasi yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Evaluasi perkembangan berguna untuk mengalihkan staf dari kelemahan yang baru dimulai atau kegagalan yang tidak diharapkan dari program dan untuk meyakinkan layak tidaknya operasi yang dilakukan mereka yang bertanggung jawab terhadap operasinya. karena bersifat formatif dan meliputi kontrol secara langsung. Evaluasi perkembangan Evaluasi perkembangan menunjuk pada kegiatan-kegiatan/aktivitas evaluasi yang secara eksplisit diciptakan untuk melayani kebutuhan sehari-hari staf program.

masukan. dan ditujukan sebagai "eksperimental semu". d. 3. Paling jauh adalah kontrol secara tidak langsung atau kontrol statistik yaitu evaluator berusaha mengisolasi pengaruh dari banyak faktor lainnya dengan menggunakan metode kuantitatif. (4) sistem pemantauan yang menghasilkan data yang reliable tentang hubungan timbal balik antar kondisi awal yang kompleks. Decision Theoritic Evaluation Decision-Theoretic Evaluation metode-metode diskriptif untuk adalah pendekatan yang menggunakan menghasilkan informasi yang dapat dipertanggung-jawabkan dan valid mengenai hasil-hasil kebijakan yang secara eksplisit dinilai oleh berbagai macam pelaku kebijakan. kejadian-kejadian yang tidak tampak.Theoretic Evaluation di satu sisi. proses. Karena persyaratan metodologis yang diharapkan ini jarang terpenuhi evaluasi eksperimental biasanya tidak mencapai tingkat eksperimen murni. (2) strategi evaluasi yang memungkinkan dirumuskannya kesimpulan yang dapat digeneralisasikan secara maksimum menyangkut kinerja terhadap kelompok target atau sasaran yang sejenis (validitas eksternal). Evaluasi eksperimental Evaluasi eksperimental harus memenuhi persyaratan yang agak berat sebelum rancangan tersebut dapat diterapkan: (1) serangkaian variabel-variabel "treatment" yang dimanipulasi secara langsung dan terdefinisikan secara jelas dan yang dirumuskan secara operasional.c. dan evaluasi semu dan evaluasi formal di sisi lainnya. adalah bahwa Decision-Theoretic Evaluation berusaha untuk memunculkan dan membuat eksplisit tujuan dan target dari . (3) strategi avaluasi yang dapat mengurangi kesalan sekecil mungkin dalam menginterpretasikan kineria kebijakan sebagai hasil masukan dan proses kebijakan yang dimanipulasi (validitas internal). Evaluasi hasil retrospektif Evaluasi hasil retrospektif juga meliputi pemantauan dan evalusi hasil tetapi tidak disertai dengan kontrol langsung terhadap masukanmasukan dan proses kebijakan yang dapat dimanipulasi. keluaran dan efek samping dan efek ganda. Perbedaan pokok antara Decision.

Dalam kenyataan. Tujuan dan target kebijakan dan program-program publik tidak dapat secara memuaskan diciptakan dengan memusatkan pada nilai-nilai salah satu atau beberapa pihak (misalnya kongres. berbagai pelaku kebijakan dengan tujuandan target yang saling berlawanan nampak dalamk hampir semua kondisi/situasi yang memerlukan evaluasi. Ini berarti bahwa tujuan dan target dari para pembuat kebijakan dan administrator merupakan salah satu sumber nilai. karena semua pihak yang mempunyai andil dalam memformulasikan dan mengimplementasikan kebijakan (sebagai contoh. Salah satu tujuan dari evaluasi keputusan teoritis adalah mtuk mengurangi kekaburan tujuan dan menciptakan konflik antar tujuan spesifik atau target. Ini berarti bahwa tujuan umum yang sama misalnya untuk meningkatkan kesehatan dan mendorong konservasi energi yang lebih baik dapat menghasilkan tujuan spesifik yang saling bertentangan satu terhadap lainnya. efisiensi. Decision-Theoretic Evaluation berusaha untuk . Untuk sebagian hal ini karena evaluasi tidak cukup responsif terhadap tujuan dan target dari pihak-pihak yang mempunyai andil dalam perumusan dan implementasi kebijakan dan program. pegawai pada badan-badan lainnya. kelompok klien) dilibatkan dalam merumuskan tujuan dan target di mana kinerja nantinya akan diukur. perbaikan kesehatan) dapat dioperasionalkan ke dalam paling sedikit enam macam kriteria evaluasi: efektivitas.pelaku kebijakan baik yang tersembunyi atau dinyatakan. Sebagian besar informasi yang dihasilkan melalui evaluasi kurang digunakan atau tidak pernah digunakan untuk memperbaiki pembuatan kebijakan. • Tujuan. kesamaan. Decision-Theoretic Evaluation merupakan cara untuk mengatasi beberapa kekurangan dari evaluasi semu dan evaluasi formal. Ini dapat terjadi jika diingat bahwa tujuan yang sama (misalnya. • Ambiguitas kinerja tujuan. kecukupan. responsivitas dan kelayakan. yaitu : • Kurang dan tidak dimanfaatkannya informasi kinerja. staf tingkat menengah dan bawah.tujuan yang saling bertentangan. kelompok klien yang dominan atau kepala administrator). Banyak tujuan dan program publik yang kabur.

Theoretic Evaluation adalah untuk menghubungkan informasi mengenai basil-hasil kebijakan dengan nilai-nilai dari berbagai pelaku kebijakan. Spesifikasi program-kebijakan. tujuan atau konsekuensi yang dirumuskan secara jelas. keduanya berusaha mengubungkan informasi mengenai hasil kebijakan dengan nilai dari berbagai pelaku kebijakan. Penaksiran evaluabilitas (evaluability assessment) merupakan serangkaian prosedur yang dibuat untuk menganalisis sistem pembuatan keputusan yang diharapkan dapat diiperoleh dari informasi kinerja dan dapat memperjelas tujuan. dari sudut pandang pemakai informasi kinerja yang dituju? Asumsi-asumsi kausal apa yang menghubungkan aksi dengan hasil? . dan asumsi-asumsi yang mendasarinya? Modeling program. 1. Salah satu tujuan utama dari Decision. Dua bentuk utama dari Decision-Theoretic Evaluation adalah penaksiran evaluabilitas dan analisis utilitas multiatribut. Koleksi informasi program-kebijakan.kebijakan. kegiatan-kegiatan. Model apa yang paling baik menerangkan program dan tujuan suatu kegiatan yang berhubungan. untuk mengidentifikasikan tujuan-tujuan program kebijakan. Apakah kegiatan-kegiatan federal. dan serangkaian asumsi yang eksplisit yang menghubungkan aksi atau konsekuensi. sasaran dan asumsi-asumsi dengan mana kinerja akan diukur. negara bagian atau lokal dan apakah tujuan dan sasaran yang melandasi program? 2. Asumsi dari Decision-Theoretic Evaluation adalah bahwa tujuan dan sasaran dari pelaku kebijakan baik yang dinyatakan secara formal maupun secara tersembunyi merupakan ukuran yang layak terhadap manfaat atau nilai kebijakan dan program.mengidentifikasi berbagai pelaku kebijakan ini dan menampakkan tujuantujuan mereka. Informasi apa yang harus dikumpulkan 3. Pertanyaan mendasar dalam penaksiran evaluabilitas adalah apakah suatu kebijakan atau program dapat sama sekali dievaluasi. Dalam melakukan penaksiran evaluabilitas. Suatu kebijakan atau program agar dapat dievaluasi paling tidak tiga kondisi harus ada: satu kebijakan atau program yang diartikulasikan secara jelas. analis mengikuti serangkaian langkah yang memperjelas suatu kebijakan atau program dari sudut pandang pemakai informasi kinerja yang dituju dan evaluator itu sendiri.

.Theoretic Evaluation. Umpan balik penaksiran evaluabilitas untuk pemakai. apakah yang mungkin menjadi langkah berikutnya yang harus (atau tidak harus) diambil untuk mengevaluasi kinerja kebijakan? Metoda dan Teknik Evaluasi Kinerja Kebijakan Publik Berdasarkan William N Dunn (1998) terdapat 16 teknik dalam mengevaluasi kinerja kebijakan dengan menggunakan tiga pendekatan seperti yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya yaitu evaluasi semu. Intepretasi palsu ini karena variabel besarnya kebakaran tidak diperhitungkan. hampir keseluruhannya digunakan dalam hubungannya dengan metoda-metoda analisis kebijakan lainnya. karena tidak peduli berapa pun alat yang tersedia. rekomendasi. yaitu suatu situasi di mana dua variabel tampak berkorelasi tapi sebenarnya keduanya berkorelasi dengan variabel lain. dan evaluasi di dalam analisis kebijakan. peramalan. Sajian grafik dapat digunakan untuk melukiskan sebuah variabel pada satu titik waktu atau lebih. Korelasi yang diperoleh berdasarkan pengamatan ini dapat dipakai untuk menegaskan bahwa jumlah alat pemadam kebakaran yang dipakai tidak mengurangi kerusakan karena kebakaran. berkesimpulan bahwa jumlah alat pemadam kebakaran yang tersedia dalam setiap kebakaran berkorelasi positif dengan jumlah kerusakan. Kesulitan yang biasa dijumpai dalam menggunakan grafik adalah intepretasi palsu. yaitu gambar yang mewakili nilai dari satu atau lebih variabel tindakan atau hasil.4. Apakah model program kebijakan secara mencukupi tidak ambigu untuk membuat evaluasi bermanfaat? Tipe studi evaluasi apakah yang paling berguna? 5. berdasarkan atas observasinya terhadap data kegiatan pemadam kebakaran kota. 1. evaluasi formal. Sajian Grafik Banyak informasi tentang hasil kebijakan disajikan dalam bentukgrafik. jumlah kerusakan tetap saja berada pada tingkat yang ajeg. dan Decision. Hal ini sebenarnya menunjukkan sifat saling ketergantungan dari perumusan masalah. Penaksiran evaluabilitas program-kebijakan. pemantauan. atau untuk merangkum hubungan antara dua variabel. Setelah menyajikan kesimpulan mengenai evaluabilitas program-kebijakan bagi pemakai yang diinginkan. Dari metoda dan tekni tersebut. Contoh yang baik dari intepretasi yang palsu ini adalah bahwa analis yang mengamati.

Misalnya perubahan dalam harga item-item konsumen dirangkum dalam bentuk Indeks Harga Konsumen. polusi. dan lain-lain. prosedur pembobotan yang eksplisit seringkali kurang tepat. meliputi angka-angka indeks untuk memantau perubahan dalam harga barang konsumen.2. Karena tindakan kebijakan terbatas pada kelompok sasaran. 3. Tampilan tabel Cara lain yang berguna untuk mengevaluasi hasil kebijakan adalah dengan tampilan tabel. peningkatan kejahatan. Dalam situasi ini satu-satunya dasar komparasi adalah catatan tentang hasil kebijakan pada tahun-tahun sebelumnya. Angka indeks berbeda-beda dalam fokusnya. komplesitasnya. pelayanan kesehatan. Indeks Angka indeks adalah alat yang mengukur seberapa besar nilai suatu indikator atau seperangkat indikator berubah antarwaktu secara relatif dihadapkan pada waktu tertentu. Pertama. Angka indeks mempunyai beberapa keterbatasan. produksi industri. sedangkan perubahan dalam jumlah polutan diukur dengan berbagai indeks polusi udara.000 penduduk). sukar diperoleh data sampel untuk mengindeks data yang berharga bagi semua kelompok masyarakat. Interrupted time series analysis Merupakan suatu prosedur untuk menunjukkan akibat dari tindakan kebijakan terhadap hasil kebijakan dalam bentuk grafik. Angka indeks sederhana adalah angka yang hanya mengadung satu indikator (misalnya jumlah kejahatan per 1. dan daya jelasnya. Teknik penggunaannya hampir mirip dengan pelaksanaan monitoring. sedangkan angka indeks padat mengandung banyak indikator yang berbeda. Angka indeks mungkin berfokus pada perubahan harga. Grafik yang dibuat dari metoda ini merupakan alat yang ampuh untuk menguji akibat dari intervensi kebijakan terhadap beberapa segi dari suatu hasil kebijakan. Kedua. kualitas hidup. Sebuah tabel dimaksudkan untuk merangkum gambaran penting dari sebuah variabel atau lebih sehingga dapat diketahui hubungan antar variabel. . jumlah dan nilai. Metoda ini sudah memadai untuk masalah-masalah di mana sebuah badan memulai suatu tindakan yang menimbulkan akibat pada seluruh kelompok sasaran. Angka indeks banyak digunakan dalam analisis kebijakan publik. maka tidak ada peluang untuk membandingkan hasil kebijakan dengan kelompok sasaran lain atau di antara kategori yang berbeda dari kelompok sasaran. 4.

8. Regression-Discontinuity Analysis Metoda yang digunakan merupakan suatu grafik dan prosedur statistik yang digunakan untuk menghitung dan membandingkan berbagai ramalan tentang hasil-hasil tindakan kebijakan di antara dua kelompok atau lebih. yang salah satunya memperoleh sentuhan kebijakan sedangkan yang lain tidak. Dengan adanya klarifikasi nilai maka cara ini akan memungkinkan kita untuk keluar dari analisis tujuan jika ternyata tujuan-tujuan .5. Kebutuhan untuk memperjelas nilai dalam mengevaluasi kebijakan sering dibuktikan ketika kita membandingkannya dengan berbagai kriteria. Kelebihan dari analisis ini adalah bahwa analisis ini memungkinkan kita untuk memantau akibat dari penyediaan suatu sumberdaya yang terbatas bagi anggota populasi target yang paling membutuhkan. Teknik ini digunakan untuk menyusun tujuan dan sasaran dan hubungannya dengan alternatif kebijakan. Analisis ini lebih membantu secara cermat menentukan validitas kesimpulan tentang akibat tindakan kebijakan terhadap hasilnya karena didukung oleh data berkala yang terkontrol. Logikan dari analisis ini sama dengan sebelumnya. Metoda ini cocok untuk melakukan evaluasi yang menggunakan krietria equity dan bermanfaat untuk memantau hasil dari eksperimen sosial yang bermaksud mendistribusikan sumberdaya yang sangat terbatas. Klarifikasi Nilai Merupakan prosedur untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan premis nilai atas dasar seleksi terhadap sasaran kebijakan. Dengan melakukan pemetaaan sasaran maka dapat diketahui kegiatan mana saja yang telah mencapai sasaran untuk selanjutnya menilai apakah tujuan utama kebijakan tersebut sudah dipenuhi atau tidak. Control-series Analysis Metoda atau teknik ini memanfaatkan satu atau lebih kelompok kontrol bagi suatu desain seri waktu yang terinterupsi. Perbedaannya adalah bahwa sebuah atau beberapa kelompok yang tidak tersentuh oleh tindakan kebijakan ditampilkan pula dalam grafik. Pemetaan Sasaran Pemetaan sasaran merupakan metoda yang digunakan dalam membuat rekomendasi. Hal ini untuk menentukan apakah karakteristik dari kelompok menimbulkan akibat independen terhadap hasil kebijakan. 6. 7. terpisah dari tindakan kebijakannya sendiri.

politik. 10. Pemetaan Hambatan Pemetaan hambatan adalah suatu prosedur untuk mengidentifikasi keterbatasan dan hambatan yang menghadang jalan untuk mencapai sasaran kebijakan dan program. 9. cara ini memungkinkan kita untuk melakukan debat etik yang bernalar tentang pertanyaan semacam itu daripada sekedar mengharapkan analisis cost benefit dengan jawaban yang tidak sesuai. konteks. Hambatan tersebut bisa berupa hambatan fisik. Oleh karena itu metoda ini cocok untuk mengevaluasi kriteria efisiensi. Cross Impact Analysis Cross-impact analysis adalah suatu teknik yang menghasilkan penilaian atas dasar informasi tentang probabilitas kejadian dari peristiwa masa depan dengan berbasis pada terjadi atau tidak terjadinya peristiwa-peristiwa yang terkait. Tujuan dari analisis ini adalah untuk mengidentifikasi peristiwa yang akan mendukung . organisasional. hukum. distributif dan anggaran. Meskipun kritik nilai pada akhirnya tidak dapat menjawab pertanyaan tentang seberapa banyak efisiensi seharusnya dikorbankan untuk meningkatkan keadilan sosial. Klarifikasi nilai memusatkan perhatiannya pada tujuan-tujuan dan nilai-nilai yang mendasari setiap pelaku kebijakan dan pada kualitas yang bersifat statis. dan fungsinya. Kritik Nilai Kritik nilai adalah serangkaian prosedur untuk menguji mana yang lebih meyakinkan antara argumen-argumen yang saling berlawanan dalam suatu debat mengenai tujuan kebijakan.tersebut tidak lebih dari pencerminan dari keinginan dan selera beberapa kelompok atau individu. Sebaliknya kritik nilai memusatkan perhatiannya pada konflik mengenai tujuan dan nilai-nilai yang mendasari setiap pelaku kebijakan dan pada perubahan nilai yang dihasilkan oleh debat yang argumentatif. Cara yang efektif untuk mengidentifikasikan hambatan adalah dengan membuat pohon hambatan (constraints tree)yaitu merupakan tampilan grafis tentang keterbatasan dan hambatan yang menghalangi pencapaian tujuan. maka kritik nilai memungkinkan kita untuk menguji peran dari nilai dalam debat tentang argumen kebijakan. Karena dalam konteks ini Ilmu ekonomi tidak lagi menjadi etika dan harga telah menjadi nilai. Jika klarifikasi nilai memungkinkan kita untuk mengklasifikasikan nilai sesuai dengan bentuk. 11.

Cross Impact Analysis bekerja atas prinsip-prinsip probabilitas kondisional yang menyatakan bahwa kemungkinan terjadinya suatu peristiwa tergantung pada terjadinya suatu peristiwa lain. metoda ini sangat cocok untuk digunakan pada ex ante evaluation. dekade) diantara berlangsungnya peristiwa-peristiwa yang terkait. yang paling penting adalah penerapan analisis ini sekarang mendapat penekanan yang tidak realistik terhadap konsensus di antara para pakar. Banyak kebijakan dan program menghasilkan berbagai perbedaan dalam tingkatan biaya dan manfaat sesuai dengan perjalanan waktu. • Kekuatan kaitan Mengindikasikan seberapa kuat peristiwa-peristiwa itu terkait baik dalam mode penguatan maupun pelemahan. terdapat beberapa keterbatasan di dalam teknik ini yaitu kita tidak pernah dapat yakin bahwa semua peristiwa yang berpotensi untuk saling mempengaruhi telah dicakup dalam analisisnya. Namun. prosesnya sangat mahal dan membuang waktu. Lalu pembentukan dan permainan sebuah matriks dampak silang adalah proses yang sangat mahal dan membuang waktu. • Jangka waktu kaitan Mengindikasikan jumlah waktu (minggu. tahun.Analisis ini memperhatikan tiga aspek yaitu: • Mode kaitan Mengindikasikan apakah sebuah peristiwa mempengaruhi berlangsungnya peristiwa yang lain. 12. Discounting adalah prosedur Discounting merupakan cara untuk menghitung dampak waktu ketika membuat rekomendasi suatu kebijakan. Discounting Merupakan prosedur untuk memperkirakan nilai saat ini dari biaya dan manfaat yang akan diperoleh pada masa mendatang.berlangsungnya suatu peristiwa terkait. . Dan terakhir.Kelebihan dari teknik ini adalah untuk mengungkapkan dan menganalisis interdependensi yang kopleks seperti sebagai masalah yang rumit (ill-structured problem) dan memungkinkan dilakukannya revisi yang terus-menerus terhadap probabilitas awal atas dasar asumsi atau bukti baru. dan apakah arah pengaruh bersifat positif (penguatan) atau negatif (pelemahan). Dalam konteks evaluasi.

Fokusnya pada kelompok-kelompok yang banyak mengetahui ketimbang para ahli dan aktivitasnya dinilai berdasarkan konsensus diantara anggota-anggota kelompok. dan . dukungan dan bantahan. Untuk menghindari masalah ini. Analisis ini difokuskan pada kelompok. menukar. penerapan awal teknik ini memperkenalkan lima prinsip dasar yaitu: • Anonimitas Semua pakar atau orang yang berpengetahuan memberikan tanggapan secara terpisah dan anonimitas (saling tidak mengenal di antara mereka) benarbenar dijaga • Iterasi tujuan-tujuan jangka pendek. dan proses kelompok yang lain. 15. dan membuat opini tentang peristiwa di masa depan. panel ahli. Teknik ini dirancang untuk menghindari berbagai sumber distrorsi komunikasi pada kelompok-kelompok itu seperti dominasi terhadap kelompok oleh satu atau beberapa orang. Policy Delphi Teknik Delphi adalah prosedur peramalan pendapat untuk memperoleh. Keterbatasan utamanya yaitu tidak menyediakan prosedur yang eksplisit untuk mempromosikan penggunaan konflik yang kreatif dalam perumusan masalahmasalah kebijakan sehingga konfli ditekan yang dapat menutup kesempatan untuk menghasilkan dan mengevaluasi ide-ide. Penerapannya pada awalnya didorong oleh kepedulian terhadap tidak efektifnya kerja panitia. tujuan-tujuan jangka pendek. Analisis Argumentasi Analisis Argumentasi adalah suatu teknik yang digunakan dalam hubungannya dengan analisis asumsi untuk menyatakan suatu urgensi dari pembenaran. Brainstorming Brainstorming adalah metode untuk menghasilkan ide-ide. strategi-strategi yang layak. Kegiatan brainstorming mencakup aktivitas-aktivitas baik terstruktur atau tidak terstruktur tergantung pada tujuan-tujuan analis dan hambatan-hambatan praktis terhadap praktisi.13. 14. individu atau keduanya untuk menyatakan suatu argumennya terhadap suatu kebijakan dengan mensintesiskannya secara kreatif. dan strategi-strategi yang membantu mengidentifikasi dan mengkonseptualisasikan kondisi-kondisi permasalahan.

Policy Delphi memperkenalkan beberapa prinsip baru yaitu: • Anonimitas yang selektif Partisipan tetap anonim hanya selama putaran awal dari upaya peramalan itu. disperse (interkuartil). • Advokasi ganda orang-orang yang berpengetahuan Proses untuk menyeleksi partisipan didasarkan pada kriteria minat dan tingkat pengetahuan bukan kepakaran semata-mata. dan distribusi frekuensi (histogram dan polygon frekuensi). • Tanggapan terpolarisasi secara statistik Dalam merangkum penilaian atau pendapat pakar. • Tanggapan balik yang terkontrol Pengkomunikasian penilaian dilakukan dalam bentuk rangkuman jawaban terhadap kuesioner • Jawaban statistik Rangkuman dari tanggapan setiap orang disampaikan dalam bentuk tendensi sentral (biasanya median). investigator berusaha menyeleksi wakil dari suatu kelompok advokat yang berpengetahuan dan mungkin ada dalam situasi tertentu. partisipan diminta untuk memperdebatkan pandangan mereka secara terbuka. sehingga berlangsung proses belajar sosial dan dimungkinkan berubahnya penilaian awal. • Konflik yang terstruktur . digunakan cara-cara yang menekankan ketidaksepakatan dan konflik menggunakan ukuran-ukuran statistik. • Konsensus Untuk menciptakan konsensus di antara para pakar Kemudian prinsip-prinsip konvensional ini dikembangkan menjadi prinsip Policy Delphi karena tidak menyediakan suatu cara yang sistematik untuk mengungkapkan asumsi dan argumen yang melandasi suatu penilaian subyektif.Penilaian setiap individu dihimpun dan dikomunikasikan kembali kepada semua pakar yang ikut berkomentar dalam dua putaran atau lebih. Dalam menyusun kelompok. Setelah argumen-argumen tandingan tentang alternative bermunculan.

Instrumen utama untuk mengumpulkan informasi adalah melalui wawancara formal dengan sejumlah pertanyaan terbuka. Menurut Dye. 3. User-Survey Analysis Analisis survai-pemakai adalah serangkaian prosedur untuk mengumpulkan informasi mengenai evaluabilitas suatu kebijakan atau program dari calon pengguna dan pelaku-pelaku kebijakan lainnya. apakah mereka mempunya staff yang kompeten. Tanggapan terhadap pertanyaan tersebut memberi informasi yang diperlukan untuk melengkapi beberapa tahap dalam penaksiran evaluabilitas. Program Measures . dan apakah target group yang dimaksud puas dengan pelayanan yang diberikan. Tetapi keterangan dan laporan dari administrator tersebut adakalanya tidak objektif dan mereka sering membesarkan keuntungan dan meminimalkan biaya dari program. Keterbatasan dari metode ini yaitu tidak mempertimbangkan hubungan potensial antara peristiwa yang munngkin saling menguatkan atau saling eksklusif. apakah program tersebut mengikuti petunjuk yang telah dibuat. Site Visit Dengan melakukan kunjungan ke lapangan atau lokasi dimana sebuah program dijalankan. Teknisnya kebanyakan dijalankan dengan cara adiministrator pemerintahan ditanya oleh kepala eksekutif atau legislatif untuk memberikan keterangan baik secara formal maupun informal mengenai pencapaian program mereka.Diasumsikan bahwa konflik adalah sesuatu yang wajar dalam isu kebijakan. 2. Hearing and reports Hal ini merupakan jenis paling umum yang dilakukan untuk program review. yaitu: 1. terdapat beberapa teknik dalam melakukan evaluasi kebijakan publik. maka dapat diambil kesan mengenai bagaimana program dijalankan. jadi berbagai upaya dilakukan untuk menggunakan ketidaksepakatan dan pertentangan untuk secara kreatif mengeksplorasi alternative-alternatif dan konsekuensi mereka. 16. • Konferensi melalui komputer Konsultasi lewat komputer dipakai untuk merancang suatu proses anonim yang terus-menerus antar individu yang secara fisik terpisah.

Tetapi kendala yang dihadapi dalam metoda ini adalah adakalanya komplain yang disampaikan oleh masyarakat bukan untuk mewakili seluruh elemen masyarakat secara menyeluruh. pemerintah dapat menggunakan standar yang telah ada tersebut untuk menilai apakah output program atau kebijakan yang sudah dilaksanakan telah mendekati kondisi yang ideal tersebut. 5. Karena adanya komplain tersebut dapat diasumsikan bahwa program yang sudah dilaksanakan belum merata. Comparison with Professional Standar Seperti kita ketahui bahwa ada beberapa asosiasi keprofesian yang telah mempunyai standar terhadap profesi yang biasanya mereka lakukan. Oleh karena itu dibutuhkan pengukuran terhadap dampak dari program yang dirasakan oleh masyarakat. Standar tersebut menggambarkan tingkatan output yang sebenarnya diinginkan yaitu merupakan sebuah ukuran untuk menciptakan kondisi yang ideal. . 4. Evaluation of Citizen Complaint Metoda ini adalah dengan melakukan analisis terhadap komplain dari masyarakat. Oleh karen itu.Yang dimaksud dengan program measures adalah bahwa kadangkala ukuran yang dibuat oleh pelaksana program atau secara umum adalah pemerintah jarang mengindikasikan dampak yang sebenarnya dimiliki oleh masyarakat.

metoda. penilaian yang demikian . Adanya unsur politis Hampir semua instansi di berbagai negara.Critical Review terhadap Evaluasi Kinerja Kebijakan Publik dan Penerapannya di Indonesia Seperti telah dijelaskan diatas bahwa evaluasi bertujuan untuk menilai apakah tujuan dari kebijakan yang dibuat dan dilaksanakan tersebut telah tercapai atau tidak. Keterbatasan wewenang untuk melakukan evaluasi Kegiatan evaluasi sangat berkaitan dengan kedudukan dan wewenang dari pejabat atau instansi yang melakukan evaluasi. Evaluasi muncul karena adanya kebutuhan untuk melakukan klarifikasi dan kritik terhadap nilai-nilai yang mendasari kebijakan. Sebagai contoh paling mudah adalah masalah penataan ruang. 3. Bagi pemerintah yang sedang berkuasa. dan teknik seperti yang telah dijelaskan di atas sering terdapat kendala-kendala sehingga evaluasi yang dilakukan menjadi tidak maksimal. 2. persoalan kemudian menjadi berbeda. Namun dalam melaksanakan evaluasi menggunakan pendekatan. Di satu pihak karena evaluasi memberi kemungkinan adanya penilaian yang negatif atas kinerja pemerintah. Sebab itu perlu dikembangkan evaluasi non struktural dari masyarakat daerah agar evaluasi kinerja pemerintah daerah tidak semata-mata bersifat lokal internal dan tertutup. Di sini letak kesulitan dalam pengembangan kebijakan publik. sebagai konsekuensinya timbul kesulitan dalam merekomendasikan perbaikan dan pengembangan kebijakan. Artinya. Ada batasan-batasan yang harus diindahkan dan perlu diatur secara jelas. Tetapi begitu kedudukan yang dievaluasi secara hirarkis tidak berada di bawah pihak yang mengevaluasi. program evaluasi tidak mendapat prioritas yang sama dengan program lain dalam fungsi pelaksanaan. Berkaitan dengan wewenang evaluasi ini. Semua instansi merasa berhak untuk melakukan evaluasi terhadap penataan ruang. Tumpang tindih fungsi antar instansi Tumpang tindih antar instansi terjadi bila suatu fungsi ditangani atau berada dalam wewenang dua atau lebih instansi. evaluasi dapat berjalan dengan baik kalau dilakukan oleh atasan kepada bawahan. Pengawasan intern sesungguhnya adalah evaluasi dengan tujuan untuk mengembangkan kebijakan. Kendala-kendala tersebut antara lain: 1. dewasa ini sering ada keluhan karena kinerja pemerintahan daerah tidak dapat dilakukan lagi secara mudah oleh aparat pengawasan internal pemerintah pusat.

tentu saja tidak dapat menguntungkan. ketiga. diperlukan adanya kontrol publik. Di lain pihak. Artinya. sehingga penjabaran di atas tidak berjalan. yakni mekanisme yang memungkinkan publik mengetahui apakah kebijakan ini dalam pelaksanaannya mengalami penyimpangan atau tidak. 5. karena “orang lebih senang melihat ke depan. Atau evaluasi dianggap sebagai ancaman. Biaya Evaluasi yang baik tentu saja merupakan hal yang mahal dalam segi waktu maupun biaya. di mana orang mudah melihat evaluasi sebagai sarana mengkritik orang lain atau mengungguli kekuasan orang lain. sebenarnya selain melakukan evaluasi yang baik juga diperlukan beberapa hal yang sangat penting dan mendasar. Dalam masyarakat autoriter kebijakan publik adalah keinginan penguasa semata. Beberapa hal yang diperlukan adalah: pertama. adanya perangkat hukum berupa peraturan perundang-undangan sehingga dapat diketahui publik apa yang telah diputuskan. Tetapi dalam masyarakat demokratis. Tidak adanya proses lanjutan atau follow up ini merupakan salah satu dampak adanya anggapan bahwa evaluasi adalah sebuah hal yang tidak penting. atau bahkan hanya sebagai formalitas saja tanpa melihat sisi baik dari evaluasi. maka untuk mewujudkan kebijakan yang baik. seperti apa yang telah dijelaskan pada bagian di atas. yang kerap menjadi persoalan adalah bagaimana menyerap opini publik dan membangun suatu kebijakan yang mendapat dukungan publik. Adalah naif untuk mengharapkan bahwa ada pemerintahan yang bisa memuaskan seluruh . daripada memandang ke belakang”. 4. kebanyakan orang masih menganggap evaluasi itu tidak penting. tetapi sama pentingnya adalah kemampuan para pemimpin untuk menjelaskan pada masyarakat kenapa suatu keinginan tidak bisa dipenuhi. adanya anggapan bahwa evaluasi merupakan sebuah hal yang tidak penting. Tidak adanya proses lanjutan atau follow up Hal ini menjadikan evaluasi sebagai suatu hal yang sia-sia jika kita melihat tujuan evaluasi yaitu memberikan rekomendasi perbaikan terhadap pelaksanaan kebijakan dalam proses berikutnya. Selain itu. Kemampuan para pemimpin politik untuk berkomunikasi dengan masyarakat untuk menampung keinginan mereka adalah satu hal. kebijakan ini juga harus jelas struktur pelaksana dan pembiayaannya. kedua. Dari pembahasan di atas. maka dana yang tersedia untuk evaluasi relatif terbatas di bandingkan dengan dan untuk program-program pelaksanaan.

kesetaraan. Hal ini sejalan dengan kriteria evaluasi menurut William N Dunn. Hal ini berkaitan dengan tuntutan terwujudnya Good Governance. Sedangkan yang dimaksud dengan kesetaraan adalah semua warga masyarakat mempunyai kesempatan memperbaiki atau mempertahankan kesejahteraan mereka. Bergulirnya reformasi mengakibatkan semakin banyak tuntutan akan adanya transparansi mengenai kebijakan yang dibuat. maka kebutuhan akan evaluasi kinerja kebijakan menjadi semakin penting. Bergulirnya reformasi pada tahun 1998. serta kapasitas untuk berpartisipasi secara konstruktif. konsumsi pemerintah 44% PDB. di mana pada saat itu PDB yang anjlok. maka penilaian terhadap kinerja melalui evaluasi kinerja kebijakan adalah merupakan sebuah proses yang harus untuk dilaksanakan. menjalankan disiplin anggaran serta penciptaan legal dan political framework bagi tumbuhnya aktivitas usaha (World Bank) atau secara umum diartikan sebagai pengelolaan pemerintahan yang baik sesuai dengan prinsip-prinsip Good Governance.masyarakat setiap saat. baik secara langsung maupun melalui lembaga-lembaga perwakilan sah yang mewakili kepentingan mereka. dan keefektifan serta keefisienan. penghindaran salah alokasi dana investasi. Adapun prinsip Good Governance yang dimaksud antara lain adalah partisipasi masyarakat. Partisipasi Masyarakat adalah semua warga masyarakat mempunyai suara dalam pengambilan keputusan. tetapi adalah otoriter suatu pemerintahan yang tidak memperhatikan dengan sungguh-sungguh aspirasi dan berusaha mengkomunikasikan kebijakan yang berjalan maupun yang akan dijalankannya. Dan efektifitas dan efisiensi adalah proses-proses pemerintahan dan lembaga-lembaga membuahkan hasil sesuai kebutuhan warga masyarakat dan dengan menggunakan sumber-sumber daya yang ada seoptimal mungkin. yaitu suatu penyelenggaraan manajemen pembangunan yang solid dan bertanggungjawab yang sejalan dengan prinsip demokrasi dan pasar yang efisien. Contoh Evaluasi di Inggris Cikal bakal evaluasi di Inggris terjadi pada tahun 1980-an. sehingga dapat disimpulkan bahwa jika ingin mengetahui mengenai keberjalanan kinerja pemerintah sebagaimana yang dimaksud dalam prinsip Good Governance. Partisipasi menyeluruh tersebut dibangun berdasarkan kebebasan berkumpul dan mengungkapkan pendapat. dan dominasi ekonomi yang besar unefisiennya. Untuk memerangi pemborosan dan melakukan efisiensi maka dilakukan . dan pencegahan korupsi baik secara politik maupun administrasi.

efektivitas. Evaluasi kebijakan/program merupakan salah satu sumber penting dalam penyediaan informasi seperti itu. Dari 223 audit efisiensi yang telah dilakukan dihasilkan penghapusan terhadap 12. memiliki kunci keberhasilan antara lain penyediaan informasi.audit efisiensi oleh unit efisiensi. Pada prisnsipnya strategi ini mendorong para pimpinan untuk tidak hanya sekedar menekan biaya dan merampingkan organisasi. Evaluasi memiliki peran yang kritikal kepada penciptaan inovasi dan perbaikan kebijakan. Prakarsa manajemen baru yang berhasil menyusun lebih dari 1. Kemudian jawaban atas permasalahan tersebut maka dilakukan reformasi dalam bentuk “Citizen Charter”. . Namun demikian. dan kinerja kebijakan publik. dan obyektif jika ingin perbaikan yang senyatanya dalam proses pembuatan keputusan tercapai. Namun juga membangun kepercayaan publik melalui penciptaan akuntabilitas melalui strategi yang berorientasi kepada hasil. tetapi sangat sedikit perbaikan efektifitas. Artinya adalah tidak ada efek domino yang terjadi. Jajaran pimpinan memerlukan informasi yang andal. Lalu dilakukan pula privatisasi badan usaha pemerintah. Tidak tercipta aturan yang menjaga kebun bebas dari rumput liar. Kemudian pada tahun 1988 Unit Efisiensi memperkenalkan strategi baru sebagaimana yang tertian dalam dokumen “Improving Management in Government: The Next Steps”. Evaluasi diakui sebagai suatu hal yang penting dalam mengembangkan manajemen yang berorientasi kepada hasil karena evaluasi memberikan umpan balik kepada efisiensi. Strategi ini dan uji pasar memang menciptakan perbaikan internal manajemen dan mempertinggi efisiensi. relevan. Atau dibutuhkan strategi lebih dari sekedar privatisasi dan pengawasan efisiensi. Namun strategi ini dirasakan masih cukup dangkal. Mereka dimnta untuk merumuskan sasaran serta memperbaiki kinerja melalui kegiatan survey kepada pelanggan. Kemudian dibentuk pula Audit Commision yang bertujuan meningkatkan efisiensi. artinya dibutuhkan usaha yang lebih jauh dari pada itu. upaya habis-habisan tersebut ibarat menyiangi kebun sepetak demi sepetak saja.000 posisi dan penghematan tahunan yang berulang sebesar 180 juta pound. Meningkatkan akuntabilitas. Kesimpulan yang dapat ditarik dari pengalaman di atas adalah bahwa reformasi sektor pelayanan publik tidak hanya berhenti pada memerangi pemborosan melalui efisiensi. termasuk di dalamnya memperbaiki proses pembuatan kebijakan/program serta penentuan prioritas. kecil sekali pengruhnya terhadap perilaku pegawai negeri.800 sasaran kinerja pun mengecewakan.

William N. Jakarta.bpkp. 2004. Perencanaan Pembangunan Daerah.id/penelitian/buku%20penelitian%202004/monitoring %20jabatan%20analis/bab%202. Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Understanding Public Policy. 1992. Abidin.go. 1997. Ginandjar.htm . Kartasasmita.Daftar Pustaka • • • • • • • Dunn. Yayasan Pancur Siwah. Prentice Hall. http://www. Riyadi. Dye. 2003.go. Jakarta. Administrasi Pembangunan dan Praktiknya di Indonesia.id/unit/Pusat/PraktikEvaluasidiBeberapaNegara. LP3ES. 1998. Yogyakarta. New Jersey. Gadjah Mada University Press.pdf http://www. Thomas R. Zainal Said. Jakarta.bkn. Kebijakan Publik. Gramedia Pustaka Utama.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful