P. 1
Metode Ceramah

Metode Ceramah

|Views: 899|Likes:
Published by Niesy

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Niesy on Oct 19, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/07/2013

pdf

text

original

Metode Ceramah (Preaching Method

)
Pendahuluan
Metode ceramah telah lama dipergunakan untuk menyampaikan infomasi kepada sekelompok pendengar. Orang -orang Yunani, Hindu, dan China misalnya, sejak beberapa abad yang silam, telah menggunakan ceramah sebagai alat utama untuk menyampaikan informasi (Suprihadi, 1993:143). Dalam tradisi pembelajaran, ceramah juga telah lama menjadi alat yang dipergunakan untuk menyampaikan ilmu pengetahuan kepada siswa. Mc Leish (1976) memperkirakan usia penggunaan metode ceramah sudah lebih dari dua ribu tahun. Sampai saat ini, metode ceramah masih dominan dalam pembelajaran di sekolah. Terlebih ketika bahan-bahan belajar yang tercetak belum banyak diterbitkan, ceramah menjadi andalan dalam sistem pembelajaran. Ceramah adalah penerangan secara lisan atas bahan pembelajaran kepada sekelompok pendengar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam jumlah yang relatif besar. Seperti ditunjukkan oleh Mc Leish (1976), melalui ceramah dapat dicapai beberapa tujuan. Dengan metode ceramah, guru dapat mendorong timbulnya inspirasi bagi pendengarnya. Demikian pula ceramah dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan antar ide atau konsep yang dicermahkan atau menjelaskan hubungan antara teori dan hasil hasil penelitian. Gage dan Berliner (1981:457), menyatakan metode ceramah cocok untuk digunakan dalam pembelajaran dengan ciri-ciri tertentu. Ceramah cocok untuk penyampaian bahan belajar yang berupa informasi dan jika bahan belajar tersebut sukar didapatkan. Tetapi jika bahan tersebut banyak dan mudah diperoleh, penggunaan ceramah kurang efisien. Demikian pula untuk penyampaian bahan yang mempunyai struktur yang kompleks dan abstraks, penggunaan metode ceramah juga tidak tepat. Untuk tujuan belajar yang berupa kognitif tingkat tinggi seperti kemampuan analisis, sintesis, evaluasi dan tujuan yang berupa keterampilan, metode ceramah tidak efektif. Ceramah cocok untuk pembangkitan minat dan motivasi belajar. Penggunaan ceramah secara terus menerus tanpa divariasikan dengan teknikteknik yang lain dapat menurunkan konsentrasi siswa. Hasil penelitian membuktikan bahwa konsentrasi siswa menurun dengan cepat setelah lebih dari 20 menit guru menggunakan ceramah secara terus-menerus (Budiardjo, 1994 :15). Demikian pula, untuk pembelajaran yang memerlukan retensi jangka panjang, ceramah tidak efektif. Mc Leish (1966) mencatat bahwa seusai ceramah, daya ingat anak terhadap bahan ceramah hanya mencapai 40%,

sedangkan setelah satu minggu ingatan siswa terhadap bahan ceramah menurun tinggal 15-20 %. Menurut Head (1974) atas dasar penelitian Trenaman (Sudiran, Ed, 1989: 5), tent ang pendidikan orang dewasa menyebutkan bahwa orang dewasa yang mendengarkan ceramah melalui siaran radio, memperlihatkan bahwa mereka yang mendengarkan ceramah dengan waktu 15 menit dapat mengingat kembali 41 % fakta yang diceramahkan. Sementara mereka yang mendengarkan ceramah dengan waktu dengar selama 30 menit, hasil tes bahkan hanya mencapai 25 %. Ini berarti ceramah tidak tepat digunakan untuk waktu yang lama. Untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam kelas, ceramah juga tidak tepat. Oleh karena ceramah memang metode pembelajaran yang bersifat one way communication.

Pengertian
Metode ceramah yaitu sebuah metode mengajar dengan menyampaikaninformasi dan pengetahuan saecara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif (Muhibbin Syah, 2000). Metode ceramah dapat dikatakan sebagai satu-satunya metode yang paling ekonomis untuk menyampaikan informasi dan paling efektif dalam mengatasi kelangkaan literatur atau rujukan yang sesuai dengan jangkauan daya beli dan paham siswa. Ceramah adalah penuturan atau penerangan secara lisan oleh guru terhada kelas. p Alat interaksi yang utama dalam hal ini adalah ³berbicara". Dalam ceramahnya kemungki an n guru menyelipkan pertanyaan -pertanyaan, akan tetapi kegiatan belajar siswa yang utama yaitu mendengarkan dengan teliti dan mencatat pokok pokok penting yang dikemukakan oleh guru.

Tujuan Penggunaan Metode Ceramah
Penggunaan metode ceramah memiliki beberapa tujuan. Tujuan penggunaan metode ceramah untuk pembelajaran adalah berikut ini (Turney, dalam Moedjiono, dkk, 1996). 1. Untuk mengarahkan siswa memperoleh pemahaman yang jelas tentang masalah yang dihadapi. 2. Untuk membantu siswa memahami generalisasi, rules, prinsip berda penalaran dan sar objektivitas. 3. Untuk melibatkan siswa dalam berpikir melalui pemecahan masalah . 4. Memperoleh umpan balik dari siswa tentang kualitas pemahamannya dan mengatasi kesalah pahaman.

5. Untuk membantu siswa dalam apresiasi dan memperoses penalaran serta penggunaanbukti dalam memecahkan keraguan.

Keterampilan Dasar Berceramah
Agar ceramah dapat mencapai tujuan secara efektif, maka guru perlu menguasai keterampilan dasar berceramah. Keterampilan berceramah memilki komponen pokok i sebagai berikut: 1. Komponen Kejelasan Bahasa yang digunakan guru harus lugas, sederhana, dan tepat. Pengungkapan pernyataan-pernyataannya dari berbagai seginya, baik dari segi pilihan kata, pengucapan maupun volume dan intonasi suara (prosodi), hendaknya tepat. Pilihan katanya perlu disesuaikan dengan perkembangan bahasa dan kemampuan daya nalar siswa. Kelancaran dalam pengungkapan pernyataan sangat dibut hkan untuk memudahkan siswa dalam u menangkap keutuhan makna yang diceramahkan. Kalimat-kalimat yang dipakai sebaiknya menggunakan kata dan istilah yang lugas. Penggunaan kalimat yang tidak logis dan tidak gramatikal perlu dihindari. Demikian pula gunakan s truktur kalimat yang sederhana dan menhindari sedapat mungkin penggunaan kalimat kompleks. Struktur penyampaian bahan ceramah merupakan b agian yang tak kalah pentingnya, agar pesan yang disampaikan dapat dipahami anak dengan baik. Penyaji dapat menggunakan berbagai pilihan struktur penyampaian dengan pertimbangan tertentu yang matang. Struktur penyajian dapat berupa: (1) bertolak dari yang mudah ke yang sukar, (2) bertolak dari yang dekat dengan anak, (3) penyajian secara induktif, (4) penyajian secara deduktif, (5) berangkat dari bahan yang memprasyarati untuk memahami konsep di atasnya yang lebih tinggi, (6) bertolak dari konsep kongkrit ke yang abstrak. 2. Penggunaan Contoh Pemahaman siswa tentang konsep yang tidak lazim dan sulit dapat ditingkatkan dengan menghubungkan konsep itu dengan situasi situasi yang dialami siswa. Menggunakan bermacam contoh: padanan -padanan verbal sederhana, diagram, sketsa gambar, benda, model, media audio visual dan sebagainya. 3. Penggunaan Penekanan Selama memberikan penjelasan guru harus memusatkan perhatian siswa pada rincian rincian masalah yang esensial dan mengurangi sedikit mungkin informasi yang tidak esensial. Misalnya menggunakan tanda-tanda verbal yang penting: "pertama", "utamanya",

"penting", "vital", "dengarkan baik-baik", "jangan lupa", dan "kesimpulan pokok adalah ...". 4. Pemberian Umpan Balik Guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan

pemahamannya atau memberi penjelasan hal yang membingungkan siswa. Hal ini dapat dilakukan guru dengan memberi kesempatan siswa bertanya atau menjawab pertanyaan guru.

Prinsip-prinsip Penggunaan Metode Ceramah
Agar pelaksanaan metode ceramah efektif, ada beberapa prinsp yang perlu i diperhatikan guru, yaitu: 1. Penyiapan bahan ceramah secara matang. 2. Pemberitahuan kepada siswa tujuan belajar yang akan dicapai. 3. Penggunaan bahan pengait untuk memahamkan anak tentang keterkaitan bahan ceramah dengan pengetahuan yang telah dipahami anak sebelumnya. 4. Penyajian penjelasan awal secara garis besar (review) materi yang akan diceramahkan. 5. Penjajagan pengetahuan prasyarat yang telah dikuasai siswa. 6. Penyajian bahan ceramah diselingi tanya jawab, penggunaan peraga, ilustrasi dan contoh yang relevan. 7. Penilaian secara bertahap pada setiap satuan bahasan. 8. Pemberian kesempatan kepada anak untuk mengajukan pertanyaan, tanggapan dan kritik. 9. Penciptaan hubungan guru dengan siswa secara harmonis, terbuka, penuh humor, dan kegembiraan. 10. Penciptaan iklim sosio-emosional kelas secara hangat. 11. Memberikan rangkuman atau kesimpulan pada setiap akhir satuan bahasan dan akhir ceramah. 12. Memberikan tugas-tugas lanjutan kepada siswa.

Perencanaan Ceramah
Wilkins (1982:28) mengajukan beberapa gagasan mengenai persiapan ceramah yang perlu diperhatikan guru. Hal yang perlu menjadi perhatian guru adalah penyiapan struktur dan subtansi isi ceramah. Selain hal itu, tidak boleh dilupakan adalah pengelolaan perhatian anak.

Persiapan umum berikut ini perlu dilakukan guru. 1. Siapkan rencana jenis bahan pengait yang akan digunakan. 2. Tuliskan ide-ide pokok dan ide-ide penjelas masing-masing ide pokok. 3. Mendesain bahan pengait untuk dijadikan kerangka fikir anak dalam memahami bahan yang diceramahkan. 4. Pikirkan contoh dan ilustrasi untuk memudahkan anak dalam mengklarifikasi konsep. 5. Pikirkan cara-cara untuk menghubungkan bahan ceramah dengan pengalaman nyata yang diketahui anak. 6. Rencanakan alat bantu-alat bantu yang diperlukan. 7. Siapkan tindak lanjutnya setelah ceramah berakhir. Moedjiono Dkk (1986) menyebutkan persiapan ceramah menyangkut penulisan bahan ceramah, penggunaan alat bantu, dan pengorganisasian kelas. Berkenaan dengan itu, persiapan ceramah meliputi hal-hal berikut: 1. Persiapkan secara cermat segala sesuatu yang diperlukan untuk mendukung keefektifan penggunaan ceramah. Ceramah yang baik jika dipersiapkan secara baik keseluruhan aspek yang diperlukan sejak awal ceramah sampai dengan akhir ceramah. 2. Siapkan bahan pengait untuk memulai ceramah. 3. Tuliskan ide-ide pokok dengan tebal sebagai topik inti. 4. Hubungkan tiap-tiap ide pokok dengan bahan pengait. 5. Susunlah contoh dan ilustrasi untuk masing -masing satuan sajian. 6. Urutkan ide-ide pokok secara logis dan sitematis. 7. Berilah tanda bagi ide pokok yang penyajiannya membutuhkan penggunaan alat bantu. 8. Berikan tanda pada bagian sajian yang kiranya dapat digunakan untuk memancing partisipasi siswa. 9. Kembangkan simpulan secara ringkas poin-poin dan hubungkan dengan bahan pengait. 10. Susunan fisik kelas perlu diperhatikan agar setiap anak dapat mendengar dan melihat guru dengan baik. Struktur Penyajian atau Prosedur Berceramah Teknik-teknik penyajian ceramah secara prosedural dapat dila kukan dengan teknik berikut ini: 1. Memperkenalkan topik ceramah. 2. Membuka ceramah dengan memperkenalkan bahan pengait. 3. Sebutkan tujuan pembelajaran secara singkat tetapi jelas bagi siswa. 4. Sebutkan garis besar materi ceramah dalam bentuk ide-ide pokok atau topik inti.

5. Ceramahkan topik inti secara berurutan mulai pertama dan dan selanjutnya dengan selalu mengaitkan dengan bahan pengait yang relevan. Jelaskan rincian masing masing materi dengan disertai contoh dan ilustrasi dan alat bantu untuk topik -topik yang memerlukan. 6. Susunlah rangkuman atau ringkasan tiap-tiap sajian topik inti dan jangan lupa pertanyaan atau pemberian kesempatan bertanya untuk siswa sebagai masukan guru. 7. Gunakan teknik membuka yang benar tiap -tiap akan memulai topik inti yang baru dan diakhiri dengan rangkuman dan pertanyaan. 8. Rangkuman menyeluruh setelah akhir ceramah sangat diperlukan untuk membulatkan pemahaman anak terhadap bahan ceramah secara menyeluruh. Pengelolaan Perhatian Anak Tantangan terbesar dalam pembelajaran dengan metode ceramah adalah menjaga perhatian anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, perhatian anak cenderung menurun tajam untuk mendengarkan ceramah yang disampaikan guru dalam waktu lebih dari dua puluh menit (Budiardjo, 1994:15). Mengingat hal itu, guru memerlukan teknik-teknik khusus dalam berceramah agar perhatian anak tetap terjaga. Untuk mempertahankan perhatian anak terhadap materi ceramah, guru dapat memvariasikan gaya mengajarnya. Gaya mengajar yang dapat divariasikan meliputi berikut. 1. Variasi gerak dan perubahan posisi guru selama ceramah berlangsung. Guru selama berceramah perlu bergerak dan mengubah -ubah posisi secara dinamis. Guru berceramah dengan diam di tempat, cenderung membosankan anak, sehingga dapat menurunkan perhatiannya. 2. Variasi suara guru untuk menghindari kemonotonan. Suara guru yang monoton, tidak menarik perhatian anak. Oleh karena itu, suara guru dalam berceramah perlu divariasikan nada dan tekanannya agar tidak membosankan anak. 3. Menjaga kontak pandang dengan anak secara merata, sehingga setiap anak merasa memperloreh perhatian. 4. Penggunaan teknik diam sejenak manakala ada gejala anak meninggalkan perhatiannya terhadap ceramah yang disampakan guru. Hilangnya perhatian anak biasanya ditandai dengan munculnya pembicaraan anak dengan teman dekatnya tentang halhal diluar materi yang diceramahkan guru. Untuk mengembalikan perhatian anak akibat kasus tersebut, guru dapat menggunakan teknik diam sejenak. Dengan teknik tersebut, siswa akan memperbarui perhatiannya kembali.

5. Penggunaan teknik gestural. Selama berceramah guru perlu memanfaatkan anggota tubuhnya seperti tangan, kepala dan tubuh untuk memvisualisasikan konsepkonsep tertentu yang sedang diceramahkan. 6. Mengekspresikan mimik dengan ekspresi tertentu yang menggambarkan makna tertentu. Ekspresi mimik dapat digunakan pula untuk menggambarkan antusiasme dan keyakinan guru terhadap materi yang diceramahkan. Gage dan Berliner (1984:473-477) menyebutkan, untuk menjaga perhatian anak terhadap ceramah guru dapat menggunakan berbagai teknik diantaranya adalah berikut ini.
1. Variasi stimulus. Gage dan Berliner (1984:473) menyebutkan variasi stimulus

mempunyai pengaruh terhadap motivasi. Macam variasi stimulus yang dapat dipadukan dalam berceramah mencakup va riasi nada dan tekanan suara, penggunaan gerak dan gestural, variasi struktur gramatikal (panjang -pendeknya kalimat). Rosenshine, (1971) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa variasi bentuk gerakan dan gestural berkorelasi positif dengan prest si siswa. Hal ini diperkuat pula oleh a Wyckoff (1973) yang juga menyebutkan bahwa variasi stimulus berkorelasi secara linier dengan prestasi anak (Gage dan Berliner, 1984-473). 2. Perubahan saluran komunikasi. Bentuk lain untuk mempertahankan perhatian anak dalam mengikuti ceramah adalah dengan memadukan ceramah dengan penggunaan variasi saluran komunikasi. Hal ini dapat dilakukan guru dengan meman faatkan media seperti slide, grafik, gambar, papan tulis, OHP, dan media visual yang lain. Dengan mengubah saluran komunikasi dari penuturan lisan kepenggunaan media visual dapat menjaga perhatian anak. Dalam hasil penelitian Stevenson dan Sigel (1969) menunjukkan bahwa perhatian siswa relatif tinggi terhadap informasi visual dari pada informasi audio (Gage dan Berliner, 1984:474). 3. Penggunaan humor yang diintegrasikan dalam penyampaian bahan ceramah dapat menjaga perhatian anak. Namun yang harus diingat dalam penggunaannya, guru perlu membatasinya agar humor yang digunakan guru tidak menenggelamkan pemerolehan makna dari materi yang diceramahkan. Humor berfungsi untuk mempertahankan perhatian. Oleh karena itu, apabila perhatian anak telah terpusat pada guru, maka penyampian materi pokok segera dilanjutkan. Di samping itu, penggunaan humor berfungsi untuk selingan agar siswa tidak mudah bosan dengan ceramah guru. Jadi penggunaan humor bukan tujuan utama, melainkan alat yang dapat dipakai guru untuk

mempertahankan dan memperbarui perhatian anak terhadap penyajian materi pembelajaran. 4. Menunjukan antusiasme. Hasil penelitian Rosenshine (1971) menujukkan bahwa antusiasme guru dalam berceramah berkorelasi sekitar 0,37-0,58 dengan pencapaian prestasi belajar anak (Gage dan Berliner, 1984: 475). Antusiasme guru dalam penyampaian bahan ceramah dapat mendorong motivasi anak. Guru y ang memperlihatkan antusiame yang tinggi dalam berceramah, menjadikan ceramah lebih dinamis dan hidup. Berbeda dengan guru yang tidak antusias dalam berceramah. Siswa dapat mengingat lebih banyak materi yang disajikan secara dinamis dari pada materi yang disajikan secara statis (Coats dan Smidchen dalam Gage dan Berliner, 1984:476). 5. Penggunaan pertanyaan untuk selingan ceramah dapat memancing respon anak. Sehingga dengan selingan pertanyaan dapat meningkatkan perhatian.

Kelebihan dan kelemahan metode ceramah
Beberapa kelebihan metode ceramah adalah: a. Guru mudah menguasai kelas. Pada metode ceramah hanya guru yang berbicara, maka ia dapat menentukan sendiri arah pembicaraan. b. Guru mudah menerangkan bahan pelajaran berjumlah besar. c. Dapat diikuti anak didik dalam jumlah besar. d. Mudah dilaksanakan. (Syaiful Bahri Djamarah, 2000) e. Dalam metode ceramah organisasi kelas sederhana. Dengan ceramah, persiapan satu satunya bagi pengajar adalah buku catata nnya. Pada seluruh jam pelajaran ia berbicara sambil berdiri atau kadang-kadang duduk. Cara ini paling sederhana dalam pengaturan kelas. Beberapa kelemahan metode ceramah adalah: a. Membuat siswa pasif. b. Mengandung unsur paksaan kepada siswa . c. Mengandung daya kritis siswa ( Daradjat, 1985) d. Anak didik yang lebih tanggap dari visi visual akan menjadi rugi dan anak didik yang lebih tanggap auditifnya dapat lebih besar menerimanya. e. Sukar mengontrol sejauh mana pemerolehan belajar anak didik. f. Kegiatan pengajaran menjadi verbalisme (pengertian kata -kata). g. Bila terlalu lama membosankan. (Syaiful Bahri Djamarah, 2000)

h. Guru tidak dapat mengetahui sampai di mana siswa telah mengerti pembicaraannya. Kadang-kadang guru beranggapan bahwa kalau para siswa duduk diam mendngarkan e atau sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, berarti mereka telah mengerti apa yang diterangkan guru. Padahal anggapan tersebut sering meleset, walaupun siswa

memperlihatkan reaksi seolah-olah mengerti, akan tetapi guru tidak mengetahui sejauh mana penguasaan siswa terhadap pelajaran itu. i. Kata-kata yang diucapkan guru, ditafsirkan lain oleh siswa. Dapat terjadi bahwa siswa memberikan pengertian yang berlainan dengan apa yang dimaksud oleh guru. Kiranya perlu kita sadari bahwa tidak ada arti yang mutlak untuk setiap kata terten tu. Beberapa saran untuk memperbaiki metode ceramah: Membangun minat 1. Kemukakan cerita atau visual yang menarik. Sajikan anekdot, cerita fiksi, kartun atau grafik yang dapat memenuhi perhatian peserta didik terhadap apa yangdikerjakan. 2. Buatlah kasus masalah, kemukakan suatu masalah di sekitar ceramah yang kan a disampaikan. 3. Tes pertanyaan, berilah peserta didik sebuah pertanyaan, untuk mencari tahu apakah mereka sebelumnya telah memiliki sedikit pengetahuan tentangnya sehingga mereka akan termotivasi untuk mendengarkan ceramah yang akan disampaikan. Memaksimalkan pemahaman dan ingatan 1. Headlines, beri poin-poin utama pada kata-kata kunci yang berfungsi sebagai sub hiding verbal atau alat bantu ingatan. 2. Contoh dan analogi, kemukakan ilustrasi kehidupan nyata mengenai gagasan dalam ceramah dan jika mungkin buatlah perbandingan antara materi dan pengetahuan dengan pengalaman yang telah peserta didik alami . 3. Alat bantu visual, gunakan flip-chart, transparansi, handout singkat dan demonstrasi yang membantu siswa melihat dan mendengarkan apa yang disampaikan. Melibatkan peserta didik selama ceramah 1. Tantangan spot, hentikan ceramah secara periodik dan tantanglah peserta didik untuk memberi contoh dari konsep yang disajikan untuk menjawab pertanyaan ku spot. is 2. Latihan-latihan yang memperjelas seluruh penyajian, selingi aktifitas-aktifitas singkat yang memperjelas poin-poin yang telah dibuat. Memberi daya penguat ceramah

1. Apli

i

l

j

l

t

pert

pada peserta didi

untuk

diselesaikan dengan didasarkan pada informasi yang di erikan waktu ceramah . 2. Review/mengulas siswa, perintahkan siswa untuk saling mengulas ceramah satu dengan yang lainnya, atau berilah mereka tes ulasan dengan menilai sendiri.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->