P. 1
perjanjian internasional

perjanjian internasional

|Views: 2,515|Likes:
Published by Bonggo Panglimo

More info:

Published by: Bonggo Panglimo on Oct 19, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/27/2013

pdf

text

original

PENDAHULUAN Seperti halnya kaidah-kaidah hukum lainya, hukum internasional juga memiliki sumber yang darinya terlahir

kaidah-kaidah hukum internasional. Secara umum, doktrin membedakan antara sumber-sumber materil (the material sources/less sources matêrielles/ al mahsôdir al mâdiyyah) dan sumber-sumber formil(formal sources/less sources formelles/ al mashôdir al syakliyah). Yang dimaksud dengan sumber hukum materil adalah sebab-sebab, peristiwa-peri stiwa,kebutuhan sosial,dan nilai-nilai yang menyebabkan adanya kaidah hukum internasional. Sedangkan sumber formil adalah sumber-sumber yang mengakibatkan kaidah hukum internasional mempunyai kekuatan memaksa. Namun perlu diingat ketika dikatakan ³sumber hukum internasional´ maka yang dimaksud adalah sumber hukum formil. Hal ini karena doktrin hukum internasional jarang panjang lebar mebahas sumber hukum materil, karena sumber hukum materil sebenarnya sudah lebih dahulu menjadi perhatian hukum secara umum sebelum hukum internasional, maka ia ia lebih tepat masuk dalam kajian ilmu sosiologi hukum atau ilmu filsafat hukum internasional secara umum. Sumber-sumber hukum internasional Menurut Pasal 38 ayat (1) Statuta Mahkamah Internasional, yang dipakai oleh Mahkamah dalam mengadili perkara, adalah: 1.Perjanjian internasional (international conventions/al ittifâqôt al dauliyyah), baik yang bersifat umum, maupun khusus; 2.Kebiasaan internasional (international custom/al µurf al dauli); 3.Prinsip-prinsip hukum umum (general principles of law/ mabâdi al qônûn al µâmmah ) yang diakui oleh negara-negara beradab; 4.Keputusan pengadilan (judicial decision/al qodlô) dan pendapat para ahli (al fiqh) yang telah diakui kepakarannya, yang merupakan sumber hukum internasional tambahan. (Phartiana, 2003; 197) Penyebutan sumber-sumber secara urut dalam pasal ini bukan berarti adanya hierarki dalam sumber-sumber tersebut, namun pasal ini hanya ingin membedakan antara sumber yang pokok (al ashlî) dengan sumber pelengkap (al ihtiyâthi). Yang termasuk dalam sumber pokok adalah perjanjian internasional dan kebiasaan

diantaranya adalah: Traktat (Treaty/traitê/al mu¶âhadah). Berikut ini kita akan mencoba mengulas tentang peristilahan. letter of intents. macam-macam. final act. Process Verbal. serta gugurnya perjanjian internasional. pakta (pacte/al µahdu). doktrin hukum internasional berbeda pandang. statuta (statut/al nidzôm). revisi dan amandeman. Bahasan perjanjian internasional cukup luas. sehingga dengan demikian Hukum Internasional sama sekali tidak dapat dipisahkan dari keberadaan perjanjian-perjanjian internasional yang dibuat oleh negara-negara. atau yang dinamakan dengan sumber pokok. diantara hal mendasar mengenai perjanjian internasional ini adalah definisi. Dari keempat sumber diatas hanya dua sumber yang akan diulas dalam makalah ini yaitu perjanjian internasional dan kebiasaan internasinal. yaitu dengan memasukanya ke dalam sumber-sumber pokok. persetujuan (agreement/accord/al ittifâq). I. ruang lingkup berlaku. deklarasi (declaration/dêclaration/al µilân/al tashrîh). . A. Peristilahan Ada beberapa istilah yang sering dipakai untuk perjanjian internasional. piagam (charter/charte/al mîtsâq). pertukaran nota (exchange of notes/êchange de notes/al mudzâkirôt al mutabâdilah). Memorandum of Understanding. protokol (protocol/al brutûkûl). konstitusi (constitution/al dustûr).internasional. definisi. PERJANJIAN INTERNASIONAL (international treaty/al mu¶âhadah al dauliyyah) Perjanjian Internasional merupakan salah satu sumber hukum internasional utama. macam-macam dan tahapan-tahapan pelaksanaan dan ruang lingkup berlakunya perjanjian internasional. Sedangkan yang termasuk ke dalam sumber pelengkap adalah prinsipprinsip hukum umum serta keputusan pengadilan dan pendapat para ahli. konvensi (convention/al ittifâqiyât). pertukaran surat (êchange de lettres/al khitôbât al mutabâdilah). modus vivendi ( modus vivendu/attaswiyyah al mu¶aqqotah). arrangement (attaswiyyah). Mengenai sumber yang ketiga yaitu prinsip-prinsip hukum umum .

istilah konvensi dapat disamakan dengan pengertian umum treaty. Pengunaan protokol tersebut memiliki berbagai macam keragaman yaitu: a. yaitu: Traktat (Treaty/al mu¶âhadah) Treaty mencakup segala macam bentuk persetujuan internasional. Protocol based on a framework treaty . Protokol (Protocol/ al brutûkûl) Terminologi protokol digunakan untuk perjanjian internasional yang materinya lebih sempit dibanding treaty atau convention. akan tetapi berdasarkan sensus ada beberapa istilah mempunyai makna perjanjian internasional tertentu. Contohnya Treaty of Rome.Walaupun istilah-istilah ini bermakna sama yaitu digunakan untuk menyatakan substansi yang sama yaitu perjanjian internasional. persetujuan (agreement) mencakup seluruh jenis perangkat internasional dan biasanya mempunyai kedudukan yang lebih rendah daripada traktat dan konvensi. Dengan demikian. dan merupakan perjanjian yang paling penting dan sangat formal dalam urusan perjanjian. Optional protocol c. Sebagai contoh perjanjian internasional jenis ini ialah perjanjian persahabatan dan kerja sama di Asia Tenggara (Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia) tertanggal 24 Februari 1976. menurut pengertian umum. 1957. Istilah konvensi digunakan untuk perjanjian-perjanjian multilateral yang beranggotakan banyak pihak. Protocol of signature b. Persetujuan (Agreement/ accord/al ittifâq) Menurut pengertian umum. Sebagai contoh perjanjian internasional jenis ini ialah Konvensi Jenewa tahun 1949 tentang Perlindungan Korban Perang. Konvensi (Convention/al ittifâqiyât) Istilah konvensi mencakup juga pengertian perjanjian internasional secara umum.

Perjanjian ini dilakukan dengan mempertukarkan dua dokumen. istilah charter digunakan sebagai perangkat internasional dalam pembentukan (pendirian) suatu organisasi internasional. Process Verbal . Contohnya ialah Deklarasi ASEAN (ASEAN Declaration) tahun 1967 dan Deklarasi Universal tentang Hak-hak Asasi Manusia (Universal Declaration on Human Rights) tahun 1948.Protokol ini merupakan sebagai tambahan dari perjanjian utamanya. Misalnya. ³each of the parties being in the possession of the one signed by the representative of the other.´ Piagam (Charter/al mîtsâq) Pada umumnya. Misalnya adalah ³the 1987 Montreal Protocol on Substances that Deplete the Ozone Layer adopted on the basis of Arts. Deklarasi (Deklaration dêclaration/al µilân/al tashrîh) Deklarasi merupakan perjanjian yang berisi ketentuan-ketentuan umum dimana para pihak berjanji untuk melakukan kebijaksanaan-kebijaksanaan tertentu di masa yang akan datang. Catatan ini akan digunakan dalam perundingan selanjutnya. Pertukaran Nota (Exchange of Notes/êchange de notes/al mudzâkirôt al mutabâdilah) Pertukaran nota merupakan perjanjian internasional bersifat umum yang memiliki banyak persamaan dengan perjanjian hukum perdata. Agreed Minutes & Summary Records Adalah merupakan catatan mengenai hasil perundingan yang telah disepakati oleh pihakpihak dalam perjanjian. the Charter of the United Nations of 1945 dan the Charter of the Organization of American States of 1952.´ Arrangement /attaswiyyah Adalah suatu perjanjian yang mengatur pelaksanaan teknik operasional suatu perjanjian induk.2 and 8 of the 1985 Vienna Convention for the Protection of the Ozone Layer.

Memorandum of Understanding. Definisi Perjanjian Internasional Perjanjian internasional dalam Konvensi Wina tahun 1969 Pasal 2 (1) (a) diartikan sebagai : ³An International agreement concluded between States in written form and governed by international law. kecuali pernyataan tersebut disertai atau merupakan hasil persetujuan atau kesepakatan pemikiran dari para pihak yang dikehendaki oleh keduanya untuk mengikat. baik dalam bentuk satu dokumen atau lebih dan apapun namanya. Final Act Final Act adalah suatu dokumen yang berisikan ringkasan laporan sidang dari suatu konfensi dan yang juga menyebutkan perjanjian-perjanjian atau konvensi-konvensi yang dihasilkan oleh konfrensi tersebut dengan kadang-kadang disertai anjuran atau harapan yang sekiranya dianggap perlu. II. Sebuah perjanjian yang berisi pernyataan persetujuan tidak langsung atas perjanjian lainnya. suatu perjanjian yang bersifat sementara dengan maksud akan diganti dengan pengaturan yang tetap dan terperinci. Contohnya ialah Final Act General Agreement on Tariff and Trade (GATT) tahun 1994. .Istilah ini dipakai untuk mencatat pertukaran atau penyimpanan piagam pengesahan atau untuk mencatat kesepakatan hal-hal yang bersifat tekhik administratif atau perubahanperubahan kecil dalam suatu persetujuan. whether embodied in a single instrument or in two or more related instruments and whatever its particular designation´ ³ Ittifâqun dauliyyun yu¶qodu baina daulataini au aktsara kitâbatan wa yakhdlo¶u li al qônûn al daulî sawâ¶un tamma tadwînuhu fî watsîqotin wâhidatin au aktsara wa ayyan kânat al tasmiyyah allatî tuthlaqu µalaihi´ Yaitu kesepakatan internasional yang dibuat oleh dua Negara atau lebih dan tunduk terhadap hukum internasional. atau pengikatan kontrak yang sah atas suatu materi yang bersifat informal atau persyaratan yang longgar. Modus Vivendi (modus vivendu/attaswiyyah al mu¶aqqotah) yaitu.

Definisi diatas mengisyaratkan bahwa perjanjian internasional dapat dibuat oleh dua Negara atau lebih . serta karakter kaidah-kaidah dan kewajiban-kewajiban yang tertera dalam perjanjian tersebut. . itu artinya bahwa yang dikategorikan perjanjian internasional hanya terbatas pada kesepakatan yang berlangsung antar lembaga Negara saja.apapun namanya kesepakatan tersebut dan sesuai dengan aturan hukum internasional-dengan tujuan untuk melahirkan akibat-akibat hukum. Dari definisi ini kita dapat menarik kesimpulan bahwa unsur-unsur perjanjian internasional adalah : .Adanya suatu persetujuan internasional. .Dibuat oleh subjek hukum internasional . tidak mempengaruhi kekuatan hukumnya.Didasarkan pada hukum internasional.Memiliki nama apapun.Dibuat dalam instrumen tunggal atau lebih. hal ini yang mendorong para pembuat naskah konvensi untuk meratifikasi konvensi ini dengan meletakan pasal 3 yang mengisyaratkan terjadinya perjanjian internasional antara Negara dengan subjek hukum internasional lainya seperti halnya organisasi internasional. bihadfi ihdâtsi âtsârin qônûniyyah´ Yaitu kesepakatan tertulis antara dua subjek hukum internasional. yang berlaku untuk Negara dan organisasi internasional. . yaitu berdasarkan isi dan kandungan perjanjian. Dengan demikian kita dapat mendefinisikan perjanjian internasional sebagai berikut: ³Ittifâqun maktûbun baina syakhshoini min asykhôsh al qônûn al dauli al µam ayyan kânat al tasmiyyah allatî tuthlaqu µalaihi yatimmu ibrômuhu wafqon li ahkâm al qônûn al dauli. pembedaan ini bisa ditempuh dengan menggunakan prinsip meteril (al asâs al mâdî). Dan bisa juga ditempuh dengan menggunakan prinsip formil (al asâs . doktrin hukum internasional membuat perbedaan antara perjanjian internasional yang satu dengan lainya. . dan juga mengisyaratkan bahwa tidak diterapkannya perjanjian internasional terhadap Negara.Dalam bentuk tertulis . III. selain itu pasal ini juga mengisyaratkan bahwa dapat diterapkanya kaidah-kaidah yang tertera dalam perjanjian internasional terhadap Negara yang memiliki sifat hukum internasional. Macam-Macam Perjanjian Secara teori. .

yang berkenaan dengan pokok suatu permasalahan khusus yang secara eksklusif menyangkut negara-negara itu. Adapun berdasarkan prinsip formil (al asâs al syaklî) maka perjanjian internasional dapat di bedakan dalam bebarapa kelompok.Perbedaan antara perjanjian internasional ³yang detail´ (al mu¶âhadât bi al ma¶na al daqîq) dan kesepakatan internasional dalam bentuk sederhana (executive agreement/ accord en forme simplifîe /al ittifâqôt fi al syakli al mubassith) a. Perjanjian internasional atau traktat-traktat ³yang membuat hukum´ (law making/al mu¶âhadah al syâri¶ah) yaitu perjanjian yang menetapkan kaidah-kaidah. yang berlaku secara universal dan umum. Perjanjian internasional atau traktat-traktat ´kontrak³ (Treaty contracts/al mu¶âhadah al µaqdiyah) yaitu traktat yang tujuannya hanya sekedar melahirkan kewajiban-kewajiban bagi para pihak perjanjian berdasarkan kaidah-kaidah internasional. yaitu: 1. b. Perjanjian internasional ³yang detail´(al mu¶âhadât bi al ma¶na al daqîq) yaitu . itu karena perjanjian´ yang membuat hukum´ bersifat umum dan perjanjian ³kontrak´ bersifat khusus. Misalnya. Bedasarkan prinsip materil doktrin hukum internasional membedakan kelompok perjanjian internasional. Perjanjian internasional ³umum´ (al mu¶âhadah al µâmmah) dan perjanjian internasional ³khusus´ (al khôshshoh). yaitu: 1.al syaklî) yaitu berdasarkan bentuk dan prosedur (tahap pembentukanya) yang dilalui oleh perjanjian internasional.´ Hanya saja pembedaan ini tidak terlepas dari pembadaan yang pertama . 2. suatu traktat antara dua atau hanya beberapa Negara. Hal ini termaktub pada pasal 38/1 (a) dari aturan pokok International Court of justice ketika menjelaskan ³kesepakatan ±kesepakatan internasional umun dan khusus yang dengan jelas menetapkan kaidah-kaidah yang diakui oleh Negara-negara yang bersengketa. Perjanjian internasional ³yang membuat hukum´ (law making/al mu¶âhadah al syâri¶ah) dan Perjanjian internasional´ kontrak ³ (Treaty contracts/al mu¶âhadah al µaqdiyah) a. atau berdasar pada jumlah Negara yang menjadi pihak perjanjian. Doktrin hukum internasional membedakan antara perjanjian umum dan perjanjian khusus.

pembuatan naskah dan penandatanganan (al tahrîr wa al tauqî¶). reservasi (al tahaffudz). b. Secara singkat berikut penjelasan tahapan-tahapan di atas: . 3. ia merupakan tahapan-tahapan yang harus dilalui sampai terlaksananya perjanjian. 2.perjanjian yang tidak mengikat kecuali setelah terlaksananya semua prosedur perjanjian dan telah diratifikasi oleh lembaga yang berwenang di Negara-negara anggota. ratifikasi (al tashdîq).´ seperti halnya kesepakatan-kesepakatan internasional. Itu karena kesepakatan tersebut agar dapat terlaksana tidak harus terlaksananya prosedur-prosedur yang lazim serta tidak tergantung pada ratifikasi dari lembaga yang berwenang. Perjanjian juga dapat dibedakan bedasarkan sifat goegrafis. Sedangkan perjanjian universal sifatnya menyeluruh tidak terbatas pada letak georafik tertentu. dan kalau melibatkan banyak Negara maka namanya adalah perjanjian multilateral. Pelaksanaan Perjanjian Perjanjian internasional berdasarkan bentuk dan tahap pembuatannya kita mengenal pembedaan perjanjian internasional ³yang detail¶ dan perjanjian internasional dalam bentuk sederhana. Kesepakatan internasional dalam bentuk sederhana (executive agreement/ accord en forme simplifîe/al ittifâqôt fi al syakli al mubassith) yaitu semua perjanjian selain perjanjian ³yang detail. IV. Tahapan-tahapan dalam pelaksanaan perjanjian ini adalah negosiasi (al mufâwadloh). sedangkan perjanjian internasional ³yang detail´ berdasarkan definisinya. Perjanjian internasional regional (conventions rêgionales/al mu¶âhadat al iqlîmiyyah) dan perjanjian internasional yang bersifat universal (conventions a vocation universelle/al mu¶âhadat dzâtu al thôbi¶ al µâlamî). Oleh karenanya kita mengenal perjanjian regional dan perjanjian universal. Pembedaan ini adalah berdasarkan banyaknya Negara yang terlibat dalam perjanjian. Maka dari segi bentuk tampaklah perbedaan kedua jenis perjanjian ini. Seperti yang telah diulas bahwa perjanjian internasional dalam bentuk sederhana adalah transaksi sukarela yang tidak mengharuskan prosedur tertentu. Maka seandainya terjadi perjanjian antara dua Negara saja namanya perjanjian bilateral. Perjanjian internasional bilateral (traitês bilatêrux/al mu¶âhadât al tsunâiyyah) dan perjanjian internasional multilateral (traitês plurilatêraux/al mu¶âhadât al jamâiyyah). Perjanjian regional adalah perjanjian yang sifatnya terbatas pada letak geografik tertentu. pendaftaran (al tasjîl).

yaitu sebagai berikut: Mukaddimah/ Konsideran (al dîbâjah/Preambule ) 1. 5. 1. dan sebagainya. Ruang Lingkup. 3. Untuk dikatakan sebuah naskah perjanjian setidak-tidaknya harus terpenuhi dua unsur pokok sebuah naskah perjanjian.Pernyataan maksud kedua pihak untuk menggantikan/ melanjutkan/ menghentikan perjanjian (agreement) yang ada sebelumnya. Definisi. setelah selesai proses perundingan. maka mufakat yang dihasilkan dalam perundingan tersebut dituangkan dalam sebuah naskah yang selanjutnya ditandatangani oleh seluruh pihak.Paragraf teerakhir adalah pernyataan bahwa perjanjian dibuat sesuai UU dan peraturan yang berlaku di kedua negara (dalam perjanjian tertentu bahkan dimuat sesuai dengan kebijakan negara/ pemerintah daerah maupun tradisi setempa Batang Tubuh (sholbu al mu¶âhadah/Body) Memuat Pokok-Pokok masalah yang diperjanji-kan para pihak.Paragraf pertama perlu menyebut ³Para Pihak´ dalam perjanjian. bila memang ada dan dimaksud demikian.Paragraf ini biasanya menyatakan maksud dari Kedua Pihak untuk mencapai mutual benefit. 4. 4. menghormati kedaulatan dan hukum yang berlaku di masing-masing negara. yaitu perbuatan hukum berupa pengesahan lembaga yang berwenang di Negara anggota terhadap perjanjian yang telah berlangsung.Tahap pelaksanaan perjanjian: Negosiasi (negotiation/al mufâwadloh). 3. Maka ada sebagian konstitusi .Paragraf selanjutnya menyebutkan maksud dan tujuan yang akan dicapai dengan perjanjian tersebut (political will). 2. Tujuan. Materi Muatan/ Prosedural Ratifikasi (ratification/al tashdîq). Pembuatan Naskah dan Penandatanganan (al tahrîr(redaction) wa al tauqî¶). yaitu transaksi tawar menawar antara pihak yang bermaksud melangsungkan perjanjian sekitar materi perjanjian dengan tujuan tercapainya mufakat dalam transaksi ini. 2. Konstitusi setiap Negara berbeda-beda dalam memberikan wewenang ratifikasi ini kepada lembaga-lembaga yang ada di dalam Negara.

memberikan hak ini kepada lembaga eksekutif saja. whereby it purports to exclude or to modify the legal effect of certain provisions of the treaty in their application to that State´ ( pernyataan sepihak dari negara.Abdul Ghoni. accepting. Hal ini berdasarkan Pakta PBB pasal 102 yang mewajibkan didaftarkannya perjanjian international di Treaty Room (al amânah al µâmmah)PBB. dan ada juga yang memberikan wewenang ini kepada kedua-duanya. Konvensi Wina 1969 pasal 2 (1/d) mendefinisikan reservasi sebagai berikut ³a unilateral statement. or acceding to a treaty. ratifikasi. ada juga yang memberikan wewenang ini kepada lembaga legislatif saja. persetujuan. maka telahirlah darinya akibat-akibat hukum. Biasanya naskah perjanjian tersebut menjelaskan tata cara pelaksanaan dan tanggal mulai berlakunya. yaitu dengan lahirnya hak-hak dan kewajiban-kewajiban tertentu bagi semua pihak penandatangan . guru besar Hukum Internasional fakultas Syarî¶ah dan Hukum Universitas Al Azhar Cairo menjelaskan bahwa perjanjian internasional ketika sudah masuk pada tahap pelaksanaan (tanfîdz) maka ia menimbulkan akibat-akibat hukum bagi para pihak penandatangan. approving. yaitu dengan mendaftarkan perjanjian di Treaty Room (al amânah al µâmmah) PBB yang kemudian disanalah naskah aslinya di simpan.Dr. ratifying . Reservasi (reservation/rêserves/al tahaffudz). atau bergabung dalam perjanjian. Inilah yang dinamakan ³sifat mengikat sebuah perjanjian internasional terhadap para pihak penandatangan´ . dan hak-hak serta kewajiban-kewajiban ini wajib diperhatikan dan dilaksanakan. made by a State. when signing. Ruang Lingkup Berlakunya Perjanjian Terhadap Pihak Penandatangan dan Pihak Bukan Penandatangan. Pendaftaran Perjanjian (the registration of treaties/enregistrement des traitês/ tasjîl al mu¶âhadah). ketika penandatanganan . penerimaan. however phrased or named. apapun redaksinya atau namanya. Perjanjian internasional apabila sudah terpenuhi syarat-syarat formil dan materilnya. V. dengan maksud menghindari. atau berlaku juga bagi pihak bukan penandatangan? Untuk menjawab pertanyaan ini Prof. atau mengamandemen akibat hukum (al atsar al qônûnî) dari hukum-hukum tertentu dari perjanjian yang berlaku bagi Negara tersebut). Yang jadi pertanyaan adalah apakah akibat-akibat hukum dari perjanjian internasional itu hanya berlaku bagi pihak penandatangan.

3. pelaksanaan dan ruang lingkup berlakunya perjanjian internasional. walaupun terasa ³ngeri´ kritik dan saran tetap dibuka.Adanya pelimpahan kewajiban yang timbul dari perjanjian terhadap negara yang bukan anggota.´ Dari penjelasan diatas maka dapat kita simpulkan bahwa akibat hukum dari perjanjian internasional tidak berlaku bagi selain pihak penandatangan. definisi. Semoga bermanfaat dan mudah-mudahan di masa yang akan datang makalah ini dapat lebih disempurnakan. Dan demi lebih baiknya makalah ini. karena perjanjian tersebut mempunyai karakter yang khusus.Bergabungnya pihak lain dalam perjanjian atau menerima perjanjian. . mengingat cukup luasnya bahasan sumber ini. 2. Artinya perjanjian internasional. Inilah yang dinamakan dengan prinsip nisbiyyatu âtsâri al mu¶âhadah . akibat hukumnya dapat berlaku juga bagi selain pihak perjanjian sebagai pengecualian dari prinsip nisbiyyatu âtsâri al mu¶âhadah . Dalam makalah ini penulis hanya dapat menyampaikan beberapa hal penting saja mengenai dua sumber diatas khususnya tentang peristilahan. hak-hak dan kewajiban-kewajiban ini hanya berlaku bagi pihak dalam perjanjian. serta definisi dan unsur-unsur kebiasaan internasional.Adanya perjanjian yang akibat hukumnya melintas Negara-negara bukan anggota. Namun kesimpulan ini bukanlah harga mati. Selanjutnya beliau menjelaskan:´kaidah umum yang ditetapkan oleh doktrin dan yurisprudensi menerangkan bahwa akibat hukum perjanjian internasional tidak berlaku bagi selain pihak penandatangan. oleh karenanya Negara yang bukan termasuk pihak perjanjian tidak mempunyai hak-hak dan tidak juga menanggung kewajiban-kewajiban yang terlahir dari perjanjian internasional.secara utuh. hal ini karena ada beberapa pengecualian dari prinsip yang terakhir disebutkan. yaitu dalam keadaan-keadaan sebagai berikut: 1. mengingat prinsip tersebut bukanlah prinsip mutlak yang tidak menerima pengecualian . macam-macam.Adanya pensyaratan dalam perjanjian untuk kemaslahatan pihak lain. PENUTUP Bahasan sumber pokok hukum internasional±perjanjian internasional dan kebiasaan internasional. 4. sulit sekali kalau harus dituangkan dalam makalah yang singkat ini.(iktisâb al mu¶âhadah al quwwah al qônûniyyah al mulzimah li athrôfiha).

Wallâhu a¶alam! . Salah dan Khilaf adalah semata-mata kekeliruan dari kami.Kebenaran mutlak hanya milik Yang Maha Kuasa.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->