Materi Pengembangan Kurikulum

September 12, 2009 at 6:58 am (Bahan Kuliah, Materi Kuliah Pengembangan Kurikulum) BAB I PENDAHULUAN 1. A. PENGERTIAN KURIKULUM. Hingga dewasa ini, definisi kurikulum yang dikemukakan orang banyak sekali , dan antara satu definisi dengan definisi yang lain tidak sama. Walaupun demikian, terdapat dalam studi kurikulum yang telah dilakukan oleh banyak ahli menunjukan bahwa pengertian kurikulum dapat ditinjau dari dua segi yang berbeda, yakni tinjauan menurut menurut pandangan lama dan tinjauan menurut pandangan baru. Pengertian kurikulum menurut pandangan lama atau pandangan tradisional merumuskan bahwa : adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh murid untuk memperoleh ijazah. Definisi-definisi kurikulum yang bersifat tradisional biasanya masih menampakkan adanya kecenderungan penekanan pada rencana pelajaran untuk menyampaikan mata palajaran kepada anak didik yang biasanya berisi kebudayaan (hasil budi daya) masa lampau atau sejumlah ilmu pengetahuan. Anak yang berhasil melewati tahap ini berhak untuk memperoleh ijazah. Kebudayaan atau sejumlah ilmu pengetahuan yang akan disampaikan tersebut bersumber pada buku-buku yang baik atau dianggap bermutu, sehingga kurikulumterutama dalam hal tujuan intruksional dan pemilihan bahan pengajaran lebih banyak ditentukan atau dipengaruhi oleh buku-buku tersebut. Dihubungakan dengan kebutuhan pengalaman anak yang diharapkan terpenuhi melalui kegiatan belajar mengajar disekolah, ternyata hal tersebut kurang menguntungkan karena membatasi pangalaman anak dalam proses belajar mengajar di kelas saja dan kurang memperhatikan pengalaman-pengalaman lain yang diperoleh diluar kelasa. Kurikulum yang seperti ini atau dikenal dengan Subjek Centered Curiculum, yaitu kurikulum yang perpusast pada materi pelajaran dan hanya menekankan aspek intelektual saja dan mengabaikan aspek-aspek yang lain yang juga sangat berpengaruh dalam perkembangan kejiwaan siswa. Sejalan dengan perkembangan jaman dan kebutuhan masyarakat, mulai ditinggalkan orang karena dianggap terlalu sempit dan terbatas dan orang mulai mencari penemuanpenemuan baru. Seperti yang dikemukakan oleh David Pratt dalam Curiculum, Design and Development (1980 ; 4) mendefinisikan kurikulum secara sederhana, yaitu sebagai seperangkat organisasi pendidikan formal atau pusat-pusat latihan. Selanjutnya ia membuat implikasi secara lebih eksplisit tentang definisi yang dikemukakannnya tersebut menjadi enam hal , yaitu 1) Kurikulum adalah suatu rencana, ia mungkin hanya berupa perencanaan (mental) saja, tapi pada umumnya diwujudkan dalam bentuk tulisan;

2)

Kurikulum bukanlah kegiatan, melainkan perencanaan atau rancangan kegiatan;

3) Kurikulum berisi berbagai macam hal seperti masalah apa yang harus dikembangkan pada diri siswa, evaluasi untuk menafsirkan hasil belajar, bahan dan peralatan yang dipergunakan, kualitas guru yang dituntut, dan sebagainya; 4) Kurikulum melibatkan maksud atau pendidikan formal, maka ia sengaja mempromosikan belajar dan menolak sifat ngambang, tanpa rencana atau kegiatan tanpa belajar; 5) Sebagai perangkat organisasi pendidikan, kurikulum menyatukan berbagai komponen seperti tujuan, isi, sistem penilaian dalam satu kesatuan yang tak terpisahkan. Atau dengan kata lain, kurikulum adalah sebuah sistem ; 6) Pendidikan dan latihan dimaksudkan untuk menghindari kesalah pahaman yang terjadi jika suatu hal dilalaikan . Kemudian menurut Romine (1954). Yang juga dapat digolongkan sebagai pendapat baru yaitu : “ Curiculum is interpreted to mean all of the organized courses, activities, and experiences which pupils have under directions of the school, whether in the classroom or not “. Implikasi dari perumusan ini adalah : 1) Tafsiran tentang kurikulum bersifat luas, oleh karena kurikulum bukan saja terdiri dari matapelajaan ( courses ) tetapi meliputi semua kegiatan dan pengalaman yang menjadi tanggung jawab sekolah ; 2) Kegiatan-kegiatan diluar kelas (yang dikenal dengan kegiatan ekstra kurikuler ) sudah tercakup dalam pengertian kurikulum. Jadi tidak ada pemisahan antara ekstra dan intra kurikulum. 3) Pelaksanaan kurikulum tidak dibatasi hanya kepada keempat dinding kelas saja, melainkan dilaksanakan baik didalam maupun diluar kelas, sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai ; 4) Sistem penyampaian yang dilakukan oleh guru disesuaikan dengan kegiatan atau pengalaman yang akan disampaikan. Dari berbagai pengertian diatas, baik kurikulum lama (tradisional) maupun kurikulum modern maka dapat kita bedakan sebagai berikut : 1) Kurikulum lama berorientasi pada masa lampau, yang mana guru mengajarkan pengalaman sebelumnya, sedangkan kurikulum baru berorientasi pada masa sekarang sebagai persiapan untuk masa yang akan datang, pengajaran berdasarkan unit atau topik dari kehidupan masyarakat dan sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa ;

2) Kurikulum lama berdasarkan pada tujuan pendidikan yang mengutamakan perkembangan segi pengetahuan akademik dan ketrampilan, belajar lebih ditekankan pada unsur mengingat dan latihan-latihan belaka, sedangkan kurikulum baru bertujuan untuk mengembangkan keseluruhan pribadi siswa, belajar bertujuan untuk mampu hidup didalam masyarakat ; 3) Kurikulum lama berpusat pada mata pelajaran yang diajarkan secara terpisah-pisah. Kadang-kadang memang dilakukan semacam korelasi, tetapi korelasi itu hanya dilakukan diantara unsur-unsur tertentu saja diantara beberapa mata pelajaran, sedangkan kurikulum baru disusun berdasarkan masalah atau topik dimana siswa belajar dengan mengalami sendiri , merupakan suatu proses dalam memperkuat tingkah laku melalui pengalaman dengan menggunakan matapelajaran . Karena itu kurikulum disusun dalam bentuk bidang studi yang luas yang diintegrasi dari semua matapelajaran; 4) Kurikulum lama semata-mata didasarkan pada buku pelajaran (texbook) sebagai sumber bahan dalam mengajarkan matapelajaran, sedangkan kurikulum baru bertitik tolak pada masalah kehidupan, yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan, minat dan kebutuhan individu . Bahkan sumber yang paling luas adalah masyarakat itu sendiri. 5) Kurikulum lama dikembangkan oleh guru-guru secara perorangan, mereka yang menentukan bahan dan pengalaman yang akan diajarkan dan mereka pula yang menentukan sumber bahan , sedangkan kurikulum baru dikembangkan oleh team guru bersama-sama atau oleh suatu departemen tertentu. Setiap guru terikat pada konsep yang telah disusun oleh team atau oleh departemen dengan tidak mengurangi kebebasan guru untuk mengadakan beberapa penyesuaian dalam batas-batas tertentu. 1. PERANAN KURIKULUM. Kurikulum sebagai program pendidikan yang telah direncanakan secara sistematis menggemban peranan yang sangat penting bagi pendidikan para siswa. Disini kita dapat menentukan 3 (tiga) jenis peranan kurikulum yang dinilai sangat penting yaitu (1). Peranan konservatif ; (2). Peranan Kritis atau Evaluatif, (3). Peranan Kreatif. Ketiga peranan ini sama pentingnya dan diantara ketiganya perlu dilaksanakan secara berkesinambungan. (1). Peranan Konservatif. Salah satu tanggung jawab kurikulum adalah mentranspormasikan dan mentransmisikan warisan sosial (kebudayaan) kepada generasi muda. Dengan demikian sekolah sebagai suatu lembaga sosial dapat membina tingkah laku siswa yang sesuai dengan nilai-nilai sosial di masyarakat. Dan juga karena pendidikan itu sendiri pada hakekatnya berfungsi untuk menjembatani antara siswa dengan orang dewasa didalam suatu proses pembudayaan yang semakin berkembang. Karena adanya peranan konservatif ini, maka sesungguhnya kurikulum itu berorientasi pada masa lampau , namun demikian peranan ini sangat mendasar sifatnya.

kurikulum dijadikan pedoman untuk mengatur kegiatankegiatan pendidikan yang dilaksanakan disekolah misalnya telah ditentukan macammacam bidang studi. Dengan demikian kurikulum akan dapat memenuhi tuntutan waktu dan keadaan dalam membawa para siswa menuju kebudayaan masa depan. Tujuan pendidikan yang akan dicapai tersebut disusun secara berjenjang mulai tujuan pendidikan yang bersifat nasional sampai tujuan intruksional. fungsi bagi sekolah tingkat atasnya. (3). Nilai-nilai yang tidak sesuai lagi dengan keadaan masa mendatang dihilangkan atau dimodifikasikan. Jika tujuan intruksional tercapai (hasilnya langsung dapat diukur melalui kegiatan belajar mengajar dikelas) yang pada gilirannya akan tercapai pula tujuan-tujuan pada jenjang diatasnya. Dalam hal ini . memilih kebudayaan yang akan diwariskan. pokok bahasan. dilaksanakan sebagai program pengajaran. Kurikulum melakukan kegiatan-kegiatan kreatif dalam arti mencipta dan menyusun sesuatu yang baru sesuai dengan kebutuhan masa sekarang dan masa mendatang dalam masyarakat. FUNGSI KURIKULUM. metode dan cara mengajar.(2). sumber bahan. melainkan juga menilai. Dalam lingkup pendidikan formal kegiatan merancang. Fungsi kurikulum bagi sekolah yang bersangkutan dapat disebutkan menjadi dua macam . melaksanakan dan menilai kurikulum tersebut yaitu yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan . Pertama. juga mempunyai fungsi kurikulum yang secara umum dapat kita bagi menjadi tiga segi yaitu fungsi bagi sekolah yang bersangkutan. alokasi waktu. pengalaman. Setiap lembaga pendidikan formal maupun nonformal dalam menyelenggaraka pendidikan sehari-hari harus berlandaskan pada kurikulum. cara berpikir. Disamping kurikulum mempunyai peranan. Guna membantu semua individu dalam mengebangkan semua potensi yang ada padanya maka kurikulum menciptakan pelajaran. sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang diinginkan. 1. kurikulum harus turut aktif berpartisifasi dalam kontrol sosial dan menekankan pada unsur-unsur berpikir kritis. alat dan media yang diperlukan disamping itu kurikulum juga mengatur . Setiap kurikulum sekolah didalamnya pasti tercantum tujuan-tujuan pendidikan yang harus dicapai melalui kegiatan pengajaran. Peranan Kritis atau Evaluatif. Ketiga peranan tersebut berjalan secara seimbang. Sekolah tidak hanya mewariskan kebudayaan yang ada . 1. dengan demikian kurikulum perlu mengadakan pilihan yang tepat atas dasar kriteria tertentu. kemampuan dan ketrampilan yang baru. Fungsi Bagi Sekolah Yang bersangkutan. C. dan fungsi bagi masyarakat (Winarno Surahmad). Peranan Kreatif. Kebudayaan senantiasa berubah dan bertambah. dalam arti yang memberi manfaat dalam masyarakat. dalam arti terdapat keharmonisan diantara ketiganya. Kedua.

mengenai hubungan dengan jenis program . maka kurikulum pada tingkat diatasnya dapat mengadakan penyesuaian yang mana jika suatu bidang studi telah diberikan pada kurikulum sekolah ditingkat bawahnya. Fungsi Pengintegrasian (the integrating function) 3. cara penyelenggaraan. 3. 4. Fungsi Diagnostik (the diagnostic function) 1) Fungsi Penyesuaian. Alexander Inglis. Fungsi Penyesuaian ( the adjustive of adaptive function) 2. harus dipertimbangkan lagi pemilihan bahan pelajaran. Penyesuaian bahan tersebut dimaksudkan untuk menghindari keterulangan materi yang menyebabkan pemborosan waktu. 5. Lingkungan senantiasa berubah. Fungsi bagi Masyarakat. mengingat seringnya terjadi kenyataan bahwa lulusan sekolah belum siap pakai atau tidak sesuai dengan tenaga yang dibutuhkan dalam lapangan pekerjaan. Dalam hal ini kurikulum dapat mengontrol atau memelihara kesimbangan proses pendidikan. 6. Untuk itu perlu diadakan kerja sama antara pihak sekolah dengan “pihak luar” dalam hal pembenahan kurikulum yang diharapkan. Fungsi Persiapan (the propaedeutic function) 5. 1. Fungsi Deferensiasi (the defferentiating function) 4. 2. Oleh karena itu kurikulum sekolah haruslah mengetahui atau mencerminkan hal-hal yang menjadi kebutuhan masyarakat atau para pemakai keluaran sekolah. . Disamping ketiga fungsi umum diatas. dan lebih penting lagi untuk menjaga kesinambungan bahan pengajaran itu. bersifat dinamis. dalam bukunya Principle of secondary education (1981) menyatakan bahwa fungsi kurikulum adalah sebagai berikut 1. Dan dibalik itu lingkungan juga disesuaikan dengan kondisi perorangan. Dengan mengetahui kurikulum sekolah pada tingkat tertentu . Fungsi Bagi Sekolah Yang diatasnya. strategi pelaksanaan. 1. maka individu-individu harus memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri secara dinamis. Fungsi Pemilihan (the selective function) 6. 2) Fungsi Pengintegrasian. Dewasa ini kesesuaian antara program kurikulum dengan kebutuhan masyarakat harus benar-benar diusahakan. Para tamatan sekolah memang dipersiapkan untuk terjun dimasyarakat atau tegasnya untuk bekerja sesuai dengan ketrampilan profesi yang dimilikinya. Individu hidup dalam lingkungan yang mana individu tersebut harus mampu menyesuaikan dirinya terhadap lingkungannya secara menyeluruh. penanggung jawab dan sebagainya.

Mempersiapkan keampuan untuk belajar lebih lanjut ini sangat diperlukan mengingat sekolah tidak mungkin memberikan semua apa yang diperlukan oleh siswa atau memberikan semua apa yang menarik minat mereka. Antara keperbedaan (deferensiasi) dengan pemilihan (seleksi) adalah dua hal yang erat sekali hubungannya . Fungsi-fungsi tersebut dilaksanakan oleh kurikulum secara keseluruhan. 1. pengakuan atas keperbedaan berarti pula diberikannya kesempatan bagi seseorang untuk memilih apa yang diinginkannya dan menarik minatnya. Fungsi Diagnostik.Kurikulum berfungsi mendidik pribadi-pribadi yang terintegrasi . Salah satu segi pelayanan pendidikan ialah membantu dan mengarahkan para siswa agar mereka mampu memahami dan menerima dirinya sehingga dapat mengembangkan semua potensi yang dimilikinya. untuk mengembangkan kemapuan-kemampuan tersebut . 5). Fungsi Persiapan. Pada dasarnya deferensiasi akan mendorong kemajuan sosial dalam masyarakat. D. Fungsi-fungsi itu memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan para siswa sejalan dengan arah dari filsafat pendidikan dan tujuan pendidikan yang diharapkan oleh institusi pendidikan yang bersangkutan. PENDEKATAN STUDI KURIKULUM. 4). Akan tetapi tidak berarti bahwa dengan adanya deferensiasi kita mengabaikan solidaritas sosial .Fungsi Pemilihan. Kedua hal tersebut merupakan kebutuhan bagi masyarakat yang menganut sistem demokrasi . maka pribadi yang terintegrasi itu akan memberikan sumbangan dalam rangka pembentukan / pengintegrasian dalam masyarakat. Fungsi yang demikian ini merupakan salah satu fungsi kurikulum dalam mengdiagnosa dan membimbing para siswa agar dapat berkembang secara optimal. 6). Sehingga selanjutnya dia sendiri yang memperbaiki kelemahan itu dan mengembangkan sendiri kekuatan yang ada. Kurikulum perlu memberikan pelayanan terhadap perbedaan-perbedaan perorangan dalam masyarakat. maka kurikulum perlu disusun secara luas dan bersifat fleksibel atau luwes. Kurikulum berfungsi mempersiapkan siswa agar mampu melanjutkan studi lebih lanjut untuk suatu jangkauan yang jauh. 3) Fungsi Deferensiasi. Ini dapat dilakukan apabila mereka menyadari semua kelemahan dan kekuatan yang dimilikinya. oleh karena pribadi itu sendiri merupakan bagian integral dari masyarakat. . melainkan deferensiasi itu sendiri juga untuk menghindarkan terjadinya stagnasi sosial.

melainkan sejumlah matapelajaran yang memiliki ciri-ciri yang sama dipadukan menjadi suatu bidang studi . Bahkan terdapat kecenderungan dimana setiap matapelajaran itu menganggap dirinya yang paling penting. Pendekatan Matapelajaran. Pendekatan ini bertitik tolak dari matapelajaran (Subject matter) seperti sejarah. maka para ahli berpendapat .Studi tentang kurikulum sering mempertanyakan tentang jenis pendekatan apa yang dipergunakan dalam pembahasan atau dalam penyusunan kurikulum tersebut. tersimpan dalam kotak-kotak matapelajaran. dalam hal Ilmu Pengetahuan Sosial. pendekatan integratif. Ilmu Pengetahuan Sosial. Itu sebabnya pola kurikulum merupakan kurikulum yang terpisah-pisah. Keempat pendekatan ini masing-masing memiliki penekanan sendirisendiri. Matapelajaran itu terlepas satu sama lain. Menurut perkembangannya. ekonomi. Suatu peristiwa dalam masyarakat akan mempengaruhi segi-segi kehidupan lainnya. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan diatas. Bahasa dan lain-lain. tidak ada hubungannya satu sama lain. 1. bahwa sebaiknya kurikulum sekolah tidak disusun berdasarkan mata-mata pelajaran yang terpisah. Pendekatan Inter disipliner. inilah yang mengembangkan kurikulum matapelajaran . Berdasarkan masalah- . Sistem pembagian tanggung jawab guru adalah “ guru matapelajaran “ contohnya matapelajaran Biologi. Itu sebabnya kita tidak mungkin meninjaunya hanya dari satu segi saja. Pendekatan Struktural bertitik tolak dari suatu struktur tertentu yang terdiri dari suatu disiplin ilmu yang mempelajari berbagai macam disiplin ilmu-ilmu yang lain contohnya kita mempelajari topik ilmu bumi. Matematika. ialah pendekatan strukturil. ekonominya. matematika dan lain-lain . Pendekatan Fungsional bertitik tolak dari suatu masalah tertentu didalam masyarakat atau lingkungan sekolah. Masalah dipilih dan akan dipelajari tersebut adalah masalahmasalah yang berfungsi dan bermakna bagi kehidupan manusia. pendekatan fungsional dan pendekatan daerah. juga tidak mungkin dibahas hanya dengan menggunakan satu matapelajaran melainkan harus ditinjau dari berbagai macam segi ilmu pengetahuan. antropologi yang tentu saja berada dalam suatu bidang studi yang sama. kemudian dipelajarilah dari segi sejarahnya. pendekatan inter disipliner. setiap matapelajaran masing-masing berdiri sendiri sebagai suatu disiplin ilmu. Pendekatan inter-disipliner terdiri dari tiga jenis pendekatan . ilmu biologi dan sebagainya . yakni : pendekatan matapelajaran. dapat dikembalikan kedalam empat teori pendekatan. pendekatan demikian dewasa ini disebut dengan pendekatan inter-disipliner yang berdasarkan pada bidang studi sepeti Ilmu Pengetahuan Alam. 1. Penggunaan sesuatu jenis pendekatan (approach) atau orientasi pada umumnya menentukan bentuk dan pola yang dipergunakan oleh kurikulum tersebut. dan pendekatan sistem.

yang dinilai relevan dengan masalah yang sedang dipelajari. Pendekatan Sistem . Pendekatan Daerah. 1. Pendekatan Integratif. pendidikan dalam rangka pembentukan pribadi yang terintegrasi. berdasarkan daerah tersebut kemudian dipelajari tentang ekonominya. Dari uraian diatas. antropologinya. melainkan beberapa jenis pendekatan dapat saja dipegunakan sekaligus. Bahkan pendekatan sistem dewasa ini dikembangkan juga dalam rangka pembaharuan pendidikan. arti. 1. Bertitik tolak dari pemilihan suatu daerah tertentu sebagai subjek pelajaran. perumusan tujuan-tujuan yang diinginkan. Langkahlangkah yang diikuti melalui proses . indentifikasi dan merumuskan masalah. PERANAN GURU DALAM PEMBINAAN KURIKULUM. Pendekatan ini bertitik tolak dari suatu keseluruhan atau suatu kesatuan yang bermakna dan berstruktur. adat-istiadanya dan sebagainya. faedah. Hal-hal yang dipelajari tentu saja adalah hal-hal yang relevandengan daerah tersebut dan berada dalam bidang studi yang sama. dan langkah yang terakhir yakni evaluasi. yang merupakan totalitas yang memiliki maknanya sendiri. dalam masyarakat yang senantiasa berkembang pula. Pendekatan sistem dipergunakan juga sebagai suatu sistem berpikir. yang bulat dengan mempertimbangkan bahwa anak adalah potensial dan sedang berkembang dan merupakan suatu organisme yang hidup. Bermakna berarti bahwa setiap suatu keseluruhan itu memiliki makna. yang seimbang. Tinjauan ini berasumsi bahwa setiap bagian yang ada dalam keseluruhan itu berada dan berfungsi dalam suatu struktur tertentu.masalah tersebut maka dipelajarilah aspek-aspek dari berbagai disiplin yang berada didalam suatu bidang studi yang sama. Namun demikian tidaklah berarti bahwa dalam penyusunan kurikulum hanya digunakan suatu pendekatan saja . disebabkan oleh karena guru mengemban peranan yang penting dalam berhasil atau tidaknya proses pendidikan. maka jelasnya bahwa dalam penyusunan suatu program pendidikan dan kurikulum sangatlah penting ditentukan terlebih dahulu jenis pendekatan apa yang akan dipergunakan . penentuan melalui suatu analisis/esperimen . Bahkan pandangan . Dalam studi tentang ilmu mengajar dan kurikulum. Pendidikan anak adalah pendidikan yang seluruhnya . E. hal mana dapat kita temukan dalam pembinaan kurikulum tahun 1975. Sistem adalah suatu totalitas yang terdiri sejumlah komponen atau bagian-bagian . maka masalah guru senatiasa mendapat temapt dalam pembahasannya. selanjutnya kesalahan tersebut direvisi . penentuan alternatif jawaban. komponen-komponen itu saling berhubungan dan saling berpengaruh satu sama lain. Karena itu kurikulum harus disusun sedemikian rupa sehingga mampu mengembangkan pribadi yang utuh . geografinya. 1.

tantangan-tantangan yang dihadapi oleh seorang guru propesional. Apakah kurikulum disesuaikan dengan minat dan kebutuhan perorangan atau minat dan kebutuhan yang bersifat umum ? 5. Oleh sebab itu maka masalah profesi keguruan. beberapa masalah dan tantangan perlu dihadapi secara seksama. seperti : 1. Dalam hubungan dengan pembinaan dan pengembangan kurikulum itu. baik kepribadian. Pengakuan terhadap profesi ini sudah meluas dan mendapatkan tempat tersendiri dalam ruang lingkup kehidupan profesional dalam masyarakat. Apakah kurikulum bermaksud mempersiapkan siswa untuk masa depannya atau untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang dirasakan sekarang ? 4. Bagaimanakah tujuan-tujuan diperbaiki guna mencapai hasil-hasil pendidikan yang lebih baik ? (2) Masalah-masalah yang berhubungan dengan isi dan organisasi kurikulum. Seorang guru tidak hanya harus memenuhi berbagai kualifikasi. terutama kurikulum dari sekolah dimana ia bertugas.mutakhir menyatakan bahwa “ betapapun bagus dan indahnya suatu kurikulum. Jenis-jenis kegiatan dan pengalaman-pengalaman apakah yang terdapat dalam kurikuler ? 4. seperti masalah-masalah sebagai berikut : (1) Masalah-masalah dalam hubungan dengan tujuan dan hasil –hasil kurikulum yang duharapkan oleh sekolah. Apakah kurikulum itu bermaksud mendidik siswa agar mampu menyesuaikan diri atau agar mereka mampu mengikuti perubahan sosial ? 3. Profesi guru dan tantangan-tantangan yang dihadapi. kemampuan mengajar. Guru yang profsional adalah guru yang memiliki keahlian sebagai guru. maka berhasil atau gagalnya kurikulum tersebut pada akhirnya terletak ditangan pribadi guru “. yang keahlian mana yang tidak dimiliki oleh profesi manapun. Apakah kurikulum disusun berdasarkan mata pelajaran dan apakah diusahakan diadakan korelasi ? 3. Bahwa jabatan guru adalah suatu jabatan yang profesional. Ukuran apa yang digunakan untuk memilih bahan dan pengalaman-pengalaman kurikuler ? 2. Pengalaman-pengalaman apakah yang diwajibkan dan yang mana yang bersifat pilihan ? 5. Bagaimana cara memperbaiki seleksi dan organisasi bahan-bahan pelajaran dan pengalaman-pengalaman ? . seperti : 1. kiranya sudah bukan merupakan persoalan lagi . penguasaan spesialisasi dalam bidang studi tertentu tetapi juga harus memiliki kemampuan dalam rangka pembinaan kurikulum. Karena itu sebagai suatu profesi tentulah harus berbagai persyaratan khusus. peranan guru dalam pembiaan kurikulum dan masalah pendidikan guru sangat perlu kita bahas. Untuk siapa kurikulum itu disediakan / 2.

rencana permulaan mengajar. manager. Setiap guru mengemban tanggung jawab secara aktif dalam perencanaan. Mulai dari mana kurikulum disusun dan direvisi ? 2. pelaksanaan. sehingga kualitas dan kuantitas hasil pengajaran yang diberikannya mencapai target yang dikehendaki. 1. .? Kurikulum disusun oleh suatu lembaga tertentu (diIndonesia kurikulum disusun oleh BP3K). Bagaimana cara memperbaiki proses penyusunan kurikulum ? Kemudian kita akan melihat dari segi peranan guru dalam pembinaan kurikulum. dan rencana harian). c. d. baik dalam bentuk perencanaan unit maupun dalam pembuatan model satuan pelajaran. umumnya kurikulum dirancang oleh seorang ahli kurikulum dengan bantuan ahli psikologi belajar dan ahli dalam bidang studi. rencana bulanan.(3) Masalah-masalah dalam hubungan dengan proses penyusunan kurikulum dan revisi kurikulum. Bagaimana Peranan Guru Sebagai Penggelola Kurikulum ? Sebagai penggelola kurikulum. Guru hendaknya dapat melakukan penyesuaian seperlunya dengan kebutuhan setempat. Langkah-langkah apa yang akan dilakukan dalam mengadakan perubahan (revisi) kurikulum secara menyeluruh ? 4. isi dan organisasi serta sistem penyampaian . Tanggung jawab ini menuntut kepada guru agar memahami sebaik mungkin tentang tujuan. dimana pembinaan kurikulum melibatkan banyak pihak. Sehinggan kurikulum yang baru disusun akan cocok dengan kebutuhan sekolah dan tanggung jawab guru. baik secara keseluruhan maupun tugas sebagai penyampaian bidang studi /matapelajaran sesuai dengan Garis-Garis Besar Program Pengajaran yang telah dirancang dalam kurikulum itu. penilaian. juga diikut sertakan dalam penyusunan kurikulum. Sejauh mana guru terlibat didalamnya akan turut menentukan keberhasilan pengajaran disekolah. yang sekaligus menunjang pembinaan dan pengembangan kurikulum disekolah. guru bertanggung jawab membuat perencanaan mengajar (rencana tahunan. Sejauh Manakah Peranan Guru Dalam Perencanaan Kurikulum. Tugas sebagai penggelola kurikulum sejalan dengan peranan-peranan lainnya. para guru bidang studi yang telah dipandang telah memiliki pengalaman yang luas dan berpandangan luas. pengadministrasian dan perubahan kurikulum. Keberhasilan Kurikulum Sebagaian Besar Terletak Di Tangan Guru Selaku Pelaksanaan Kurikulum. Para guru bertanggung jawab sepenuhnya dalam pelaksanaan kurikulum . Sumber-sumber informasi apa yang dapat dimanfaatkan untuk menyusun kurikulum ? 3. terutama guru yang bertugas dikelas. Karena itu peranannya baik selaku pengajar. maupun selaku ilmuwan dan selaku pribadi perlu dicurahkan sedemikian rupa sehingga kurikulum tersebut berhasil pelaksanaannya dikelas atau disekolah. pembimbing.

Filsafat sebagai produk kegiatan berfikir murni manusia. Dewasa ini kata filsafat kini mengandung dua pengertian. pengalaman guu yang bersangkutan dalam rangka perubahan kurikulum. mau tidak mau tentu telibat dalam pembaharuan kurikulum yang dilakukan. Perubahan kurikulum memandang perlu memperoleh berbagai input berupa saran . yaitu : (1). DAN KURIKULUM 1. Guru selaku komponen pendidikan. Dengan demikian filsafat dalam arti ini adalah sebagai bentuk perbendaharaan yang terorganisasi yang memiliki sistematika tertentu Filsafat merupakan suatu ilmu yang tertua yang mendahului ilmu-ilmu pengetahuan yang lain. Pada dasarnya sebagaian besar ilmu dewasa ini berasal dari filsafat. Jadi guru harus ikut aktif dalam usaha perubahan kurikulum. Filsafat sebagai aktivitas pikiran murni . Pengertian filsafat itu sendiri sulit didefinisikan apalagi karena ia bersifat abstrak. TUJUAN PENDIDIKAN. dan bahkan telah menjangkau masa depan dalam bentuk bentuk idiologi. Jadi pengertian filsafat disini adalahberfilsafat.Peranan Apakah Yang Dilakukan Oleh Guru Dalam Perubahan Kurikulum ? Perubahan kurikulum merupakan bagian daripada usaha pembaharuan dalam pendidikan. melainkan juga karena ajaran filsafat telah menguasai kehidupan manusia masa kini. Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani Filos dan Sofia yang berarti “ Cinta Kebijaksanaan “ atau “ Belajar “ . BAB II FILSAFAT PENDIDIKAN. Bahkan sejumlah guru yang berpengalaman sering diikut sertakan dalam panitia pembaharuan kurikulum bersama-sama dengan para pejabat yang berwenang dan ditunjuk oleh Departemen Pendidikan. Filsafat dalam kehidupan manusia merupakan sesuatu yang tak terpisahkan. karena itu sudah tentu melibatkan banyak pihak yang terlibat dalam proses pendidikan. A. kegiatan akal manusia dalam usaha untuk mengerti secara mendalam tentang segala sesuatu. Filsafat sebagai suatu wujud ilmu sebagai hasil pemikiran dan penyelidikan kegiatan berfilsafat tersebut. TENTANG FILSAFAT. umunya dalam langkah pertama dilakukan penilaian terhadap kurikulum yang sedang berjalan guna melihat kebaikan-kebaikan dan kelemahan-kelemahan yang ada dari berbagai aspek. Hal itu bukan saja disebabkan sejarahnya yang panjang. (2). Ia merupakan suatu daya pikir manusia yang bertingkat tinggi atau bahkan tertinggi. .

Akan tetapi persoalan sesungguhnya tidaklah sesederhana itu. benar-salah apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindarkan . 1. Sarana yang paling praktis dan efektif untuk mewariskan ide-ide filsafat kepada generasi penerus bangsa adalah melalui pendidikan. PENGERTIAN FILSAFAT PENDIDIKAN. sosialis. Oleh karena itu terdapat perbedaan pandangan hidup antara tiap bangsa. Hal itu dimaksudkan untuk menjaga kelestarian kehidupan bermasyarakat. Filsafat menjangkau semua persoalan dalam daya pikir manusia.Filsafat merupakan suatu lapangan pemikiran dan penyelidikan manusia yang amat luas. dan pengertian pendidikan sebagai ilmu dan lembaga pembinaan manusia sedemikian luas lingkup dan permasalahannya. pendeknya ia merupakan sumber hukum yang berlaku. menganalisis. Dalam hal ini tiap filsafat negara berarti pula dasar filsafat pendidikan bangsa itu. ia akan melahirkan kesimpulan-kesimpulan yang hakiki walau juga bersifat relatif dan subjektif . adanya perbedaan ajaran filsafat disebabkan adanya nilai relatif dan subyektif manusia . Karena pendidikan adalah lembaga yang melaksanakan pembinaan manusia baik sebagai warga negaramaupun sebagai pribadi. setelah itu barulah dimaksudkan untuk membina aspek-aspek pengetahuan dan kecakapan-kecakapan yang lain. menilai. Pandangan hidup yang telah diyakini kebenarannya oleh suatu bangsa biasanya diwariskan kepada generasi berikutnya. pancasila dan sebagainya. ia mencoba mengerti . B. Pengertian filsafat pendidikan secara sederhana sudah dapat dimengerti dari namanya sendiri. setiap bangsa yang melaksanakan aktivitas pendidikan secara prinsipal adalah untuk membina nilai-nilai filosofis bangsa itu . melainkan suatu manisfestasi hasrat kreatif untuk menyumbangkan perbendaharaan kultural bagi kesejahteraan umat manusia. Seperti dikemukan diatas . Ajaran filsafat yang kemudian dijadikan pandangan hidup suatu bangsa didunia ini dapat disebutkan kapitalis. Bidang ilmu pendidikan dengan segala cabangnya merupakan landasan ilmiah bagi pelaksanaan pendidikan yang terus berkembang secara dinamis dan terus menerus. maka apa yang dianggap dan diyakini kebenarannya oleh suatu bangsa belum tentu diperlukan sama oleh bangsa lain. Tiap ideologi itu masing-masing mengandung sistem nilai yang berisi pandangan tentang baik-buruk. berbangsa dan bernegara. dilihat dari segi ini sebenarnya adanya perbedaan pendapat itu tidak disebabkan oleh maksud buruk manusia . Sistem nilai itu merupakan sesuatu yang telah diyakini betul kebenarannya oleh suatu bangsa. yaitu filsafat yang dijadikan dasar pandangan bagi pelaksanaan pendidikan. Pengertian filsafat sebagai ilmu yang paling komprehensif. Pendidikan harus mampu melaksanakan tugas mengamankan dan mewariskan secara konsekuen nilai-nilai filsafat bangsa dan negara demi kelangsungan hidup dan eksistensi bangsa itu . dan menyimpulkan semua persoalan dalam menjangkau pemikiran manusia secara kritis dan mendalam. . komunisme.

Dalam Modern Philosophies Of Education (1962). Filsafat berperanan menetapkan ide-ide. Timbulah berbagai pemikiran tentang adanya hal-hal yang mempengaruhi proses kedewasaan dan kematangan tersebut. Antara filsafat dan pendidikan terdapat suatu pertalian yang tak terpisahkan. seperti ada tokoh yang mengatakan bahwa perkembangan manusia mutlak ditentukan oleh faktor (Nativis). dan menyakini betul nilai-nilai yang menjadi pandangan hidup bangsa. FUNGSI FILSAFAT PENDIDIKAN. gambaran tentang tingkah laku individu atau masyarakat yang diharapkan. dapat disimpulkan bahwa dalam filsafat pendidikan terkandung nilai-nilai. berperasaan. Kedua hal tersebut harus menjadi pengetahuan dasar bagi setiap pelaksana pendidikan. Hal itu disebabkan tugas guru yang harus membantu mengarahkan anak-anak untuk membentuk filsafat hidupnya yang sehat yang mencerminkan isi filsafat pendidikan. yaitu Pancasila. Brubarcher mengemukakan fungsifungsi filsafat pendidikan dalam empat kategori sebagai berikut : (1) Fungsi Spekulatif : Filsapat pendidikan berusaha mengerti keseluruhan persoalan pendidikan dan mencoba merumuskan dalam satu gambaran pokok sebagai pelengkap bagi data-datayang telah ada dari segi ilmiah. filsafat pendidikan dijadikan dasar orientasi kegiatan sistem pendidikan. Aktivitas pendidikan pada hakekatnya adalah membantu manusia untuk mencapai kedewasaan dan kematangan. cita-cita. nilai-nilai. dan bertingkah laku harus dapat mencerminkan atau merupakan manifestasi gambaran tentang masyarakat yang diharapkan terwujud. iA berusaha mengerti segala persoalan pendidikan dan hubungannya dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pendidikan. Seorang pendidik harus memiliki “Filsafat” yang sistematis-logis. sebaliknya ada tokoh yang mengatakan bahwa pengaruh mutlak berasal dari lingkungan atau pendidikan (Empiris). yaitu macam atau keadaan masyarakat seperti apa yang secara ideal diharapkan khususnya yang berkaitan dengan norma-norma . Akan tetapi kita melihat kenyataan bahwa tidak semua manusia dapat berkembang sebagaimana yang diharapkan. (2) Fungsi Normatif : Filsafat pendidikan menentukan arah dan maksud pendidikan. Peranan filsafat pendidikan adalah sebagai pendorong dilakukannya aktivitas pendidikan. Cara berpikir. cita-cita. 1. Hal itu mempunyai dampak bagi seorang pendidik sebagai pelaksana pendidikan. dan ada pendapat yang mengabungkan antara bakat dan pendidikan (Konvergensi). dijadikan arah dan tujuan kegiatan pendidikan yang dijalankan. Potensi manusia yang paling alamiah adalah tumbuh dan berkembang untuk menuju kedua hal itu. bersikap. Dengan demikian . sedang pendidikan bertugas merealisasikan ide-ide dalam ajaran filsafat tersebut menjadi kenyataan dalam bentuk tingkah laku dan kepribadian. C.Filsafat pendidikan sesuai dengan peranannya merupakan landasan filosofis yang menjiwai seluruh kebijaksanaan dan pelaksanaan pendidikan. Azas ini tersimpul dalam tujuan pendidikan . Dari pembicaraan diatas.

Setiap lembaga pendidikan memiliki tujuannya sendiri yang berbeda satu sama lainnya sesuai dengan fungsi lembaga pendidikan bersangkutan. Karena tujuan pendidikan nasional ini dijadikan pedoman bagi semua kegiatan pendidikan dan lembaga-lembaga pendidikan di negara kita. bagaimana menetapkan klasifikasi prestasi itu secara tepat dengan data-data objektif. maka perumusan tujuan tersebut haruslah disusun oleh suatu lembaga yang berfungsi menggariskan kebijaksanaan-kebijaksanaan pada tingkat nasional. yakni Majelis Permusyawaratan Rakyat. Filsafat pendidikan memberikan prinsifprinsif umum bagi suatu kegiatan praktik khususnya praktik dalam dunia pendidikan. Dalam tujuan ini terkandung rumusan yang bersifat umum yang mengambarkan kualifikasi umum lulusan setiap lembaga pendidikan. TUJUAN PENDIDIKAN DAN TUJUAN KURIKULUM. (4) Fungsi Teoritis : Semua ide. Tujuan pendidikan terdiri dari dua jenis tujuan.moral. 3) Tujuan Kurikuler. D. ia juga menetapkan asumsi dan hipotesis yang lebih masuk akal. teori itu dapat dijadikan dasar pijakan bagi pelaksanaan pendidikan. . 1) Tujuan Pendidikan Nasional merupakan tujuan pendidikan yang didasarkan pada falsafah negara yaitu Pancasila bersifat umum dan luas yang hendak dicapai dalam jangka waktu yang lama (Jangka Panjang) yang merupakan dasar bagi tujuan pendidikan di Indonesia. 1. Disamping itu. data pengukuran analisis evaluasi baik kepribadian maupun prestasi . Pada giliran selanjutnya. Tujuan nasional merupakan landasan bagi semua tujuan pendidikan dari semua institusi pendidikan. Filsafat pendidikan memberikan norma-norma dan pertimbangan-pertimbangan bagi kenyataan-kenyataan normatif ilmiah. konsepsi. informal maupun non formal. Perumusan Tujuan-tujuan institusional berpedoman pada tujuan pendidikan nasional. baik pendidikan formal. sehingga menjadi pedoman dalam penyusunan program mengajar dan belajar disekolah tersebut. (3) Fungsi Kritik : Filsafat pendidikan memberikan dasar bagi pengertian kritis dan rasional dalam mempertimbangkan dan menafsirkan data-data ilmiah . karena tujuan ini merupakan tujuan akhir dalam pendidikan. 2) Tujuan Pendidikan Kelembagaan atau tujuan Institusional. keinginan dan cita-cita masyarakat dan bangsa secara keseluruhan. yakni tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendidikan yang secara bertingkat mendasari tujuan pendidikan institusional. tujuan kurikuler dan tujuan instruksional. misalnya. analisis dan kesimpulan filsafat pendidikan adalah berfungsi teoritis. yang mewakili semua aspirasi.

tujuan institusional maupun tujuan nasional. Tujuan yang dimaksud adalah tujuan Intruksional yaitu tujuan yang pencapaiannya dibebankan kepada tiap pokok bahasan yang terdapat dalam tiap bidang studi. 4) Tujuan Intruksional Tujuan kurikuler tiap bidang studi biasanya masih cukup komplek dan abstrak. kurikulum harus mampu menjalankan fungsi mengikat tujuan-tujuan instruksional yang telah dicapai siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Kegiatan apapun yang dilakukan agar tidak kehilangan arah dan pegangan harus mempunyai tujuan yang jelas . sehingga pelajaran untuk bidang pelajaran bersangkutan betul-betul singkron dengan tujuan umum pendidikan. Kurikulum atau pengajaran tanpa tujuan diibaratkan akan memulai perjalanan tanpa atau bahkan tanpa mempunyai arah. kemampuan berpikir dan ketrampilan dalam hal-hal yang sedang dipelajari. tujuan-tujuan yang telah ditentukan itulah yang harus dijadikan dasar orientasi atau acuan dalam pencapaian tujuan tersebut. Citra yang ingin dicapai dari tujuan instruksional adalah siswa dapat mengembangkan kepribadian. Tujuan Intruksional inilah yang lazim disebut sebagai tujuan pengajaran karena pencapaian tujuan itu langsung dapat diketahui pada setiap kegiatan pengajaran yang dilakukan. Untuk mencapai tujuan pendidikan yang bersifat seutuhnya. berilmu pengetahuan dan berketrampilan dalam berbagai macam mata pelajaran. maka dalam pelaksanaan pengajaran disekolah ia masih dijabarkan menjadi tujuan yang benar-benar operasional yang disebut dengan tujuan instruksional Khusus. perumusan suatu tujuan-tujuan kurikuler ini didasarkan kepada tujuan institusional. Tujuan ini tertuang dalam GBPP tiap bidang studi. Oleh karena itu. Dengan demikian pada diri siswa diharapkan terbentuk menjadi seseorang yang dapat dideskripsikan baik oleh tujuan kurikuler. Penanggung jawab terhadap tujuan kurikuler ini adalah guru bidang studi. Perumusan tujuan instruksional ini umunya masih belum operasional. Dalam usaha pengembangan kurikulum sekolah kitapun harus medasarkan diri pada tujuan yang berisi gambaran keluaran pendidikan yang diharapkan. Peranan atau manfaat tujuan dalam kegiatan pengembangan kurikulum disekolah dapat disebutkan sebagai berikut : . MANFAAT TUJUAN. Secara struktural tujuan instruksional dibawahi langsung oleh tujuan kurikuler.Tujuan Kurikuler adalah tujuan yang pencapaiannya dibebankan kepada program suatu bidang pelajaran . maka kemudian ia dijabarkan lagi menjadi tujuan-tujuan yang lebih kongkret dan operasional. masalah tujuan itu termasuk dalam kerangka perencanaan dan penilaian dalam pengembangan kurikulum sekolah dan pengajaran. Citra terhadap tujuan kurikuler ini adalah terbentuknya siswa yang berkepribadian . 1. Tujuan inilah yang paling konkrit dan hasilnya langsung dapat diukur dengan tingkah laku yang operasional.

KRITERIA TUJUAN KURIKULUM. mengajarkan atau mewariskan nilainilai . 2) Tujuan harus tepat. Tujuan harus menunjukan secara jelas tentang apa yang akan dicapai setelah melaksanakan suatu kegiatn belajar. 1. seksama. F. dan teliti Tujuan hanya berguna jika dirumuskan secara teliti dan tepat sehinggan memungkinkan orang mempunyai kesamaan pengertian terhadapnya. karena tujuan merupakan faktor yang menetukan . 3) Tujaun akan memberikan pegangan bagi guru sebagai pelaksana kegiatan pengajaran untuk mengkreasikan pengalaman-pengalaman belajar. yaitu yang berisi pandangan hidup bangsa yang diyakini betul kebenarannya kepada anak didik. 4) Tujuan memberikan informasi kepada siswa tentang apa yang diharapkan dari kegiatan belajar mereka. 2) Tujuan sebagai sarana untuk memberikan . 4) Tujuan bersifat Relevan . 6) Tujuan akan memungkinkan masyarakat mengetahui secara pasti tentang apa yang akan dicapai (atau misi) oleh suatu sekolah. Kurikulum sekolah yang disusun bagaimanapun juga dimaksudkan agar dapat dilaksanakan dengan efektip dan efisien. 3) Tujuan harus diiddentifikasikan secara spesifik yang mengambarkan keluaran belajar yang dimaksudkan. 5) Tujuan memungkinkan orang melakukan evaluasi terhadap keberhasilan program kegitan (Belajat mengajar) yang telah dilakukan. Tujuan yang bersifat penjabaran dari suatu tujuan yang lebih tinggi jenjangnya harus sesuai dengan atau tidak bertentangan dengan hal-hal yang diisyaratkan oleh tujuan tersebut. penyusunan tujuan-tujuan itu harus benar-benar dipertimbangkan dengan cermat yaitu melalui suatu kriteria-kriteria dalam penyusunan kurikulum yaitu : 1) Tujuan harus selalu konsisten dengan tujuan tingkat atasnya. Pratt : 145). atau tentang apa yang harus dipelajari.1) Tujuan akan menjadi pengangan atau membimbing para pengembang kurikulum dalam mendesain materi pelajaran pada kurikulum yang baru yang dirasa lebih efektif (Davies : 73.

Beberapa teori tersebut akan kita bahas berikut ini . Fsikologi Daya. BAB III TEORI BELAJAR DAN KURIKULUM 1. 1. tingkah laku itu dapat meliputi pengetahuan. perasaan. kemampuan. PENGERTIAN BELAJAR. 1980 . 6) Tujuan Harus memenuhi kriteria kepantasan. Tidak berbeda dengan pengertian tersebut adalah pengertian belajar yang dikemukakan oleh Kimble dan Garmezy (Brown. individu. Setiap teori mempunyai implikasinya sendiri terhadap penyusunan kurikulum. Atau belajar adalah usaha mendapatkan pengetahuan melalui pengalaman (Bower dan Hilgard. melainkan juga sekolah. 5) Tujuan Harus mempunyai kemungkinan untuk dicapai. sikap. Tafsiran tentang belajar ada bermacam-macam tergantung pada para ahli yang memuat rumusan itu. Pada hakekatnya. masyarakat. 1981. ketrampilan. Tujuan ini yaitu menyarankan pada kegiatan memilih tujuan yang dianggap lebih memiliki potensi. perubahan tingkah laku juga berarti perubahan kepribadian pada diri si belajar. interaksi sosial dan sebagainya. bukan semata-mata berupa buku pelajaran. alam. 7) menurutnya belajar adalah suatu kecenderungan dalam pengubahan tingkah laku yang secara relatif bersifat fermanen dan sebagai hasil dari praktek yang bersifat menguatkan. kebudayaan dan sebagainya. . Menurut pandangan tradisional. kebiasaan-kebiasaan. Dalam fsikologi belajar kita akan mengenal beberapa aliran yang masing-masing mempunyai konsep tentang belajar. dan lebih bernilai dari tujuan-tujuan yang lain. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa belajar adalah pengubahan tingkah laku yang disebabkan adanya interaksi dengan lingkungan. bersifat mendidik. orang tua. Tujuan yang dirumuskan harus memungkinkan orang . Seseorang dikatakan telah mengalami peristiwa belajar jika ia mengalami perubahan dari tidak tahu menjadi tahu serta mengalami suatu perubahan peningkatan kualitas dari cara sebelum ia belajar. belajar sekedar diartikan sebagai usaha memperoleh dan mengumpulkan sejumlah ilmu pengetahuan. Lingkungan disini dikatakan sangat luas.Tujuan harus mempunyai relevansi baik terhadap kemampuan personal maupun pada kemampuan sosial. pelaksana kurikulum untuk mencapainya sesuai dengan kemampuan yang ada. 2). dalam hal mana sangat ditentukan oleh aliran fsikologi yang dianutnya.

berpikir. Kelakuan itu adalah sebagai jawaban terhadap perangsangperangsang atau stimulus dari luar. Teori Mental State (Fsikologi assosiasi ala J. seperti mengingat. merasakan. latihan dan penggunaan hasil belajar. FAKTOR-FAKTOR BELAJAR. Kesan-kesan itu akan bertambah dalam tertanam dalam kesadaran apabila melalui latihan-latihan. Latihan dan ulangan Didalam kurikulum diperlukan suatu alokasi waktu yang memadai sehingga memungkinkan untuk diberikan ulangan. nilai-nilai yang baik. Kelakuan itulah yang dapat menjelaskan segala sesuatu tentang jiwa manusia. bahwa kurikulum harus menyediakan matapelajaran-matapelajaran yang dapat mengembangkan daya-daya itu. dan kemudian berassosiasi satu sama lain yang kemudian membentuk mental/kesadaran manusia. Dalam penyusunan kurikulum juga perlu kita perhatikan beberapa faktor belajar . 1. Aliran ini bertitik tolak dari anggapan . berkehendak dan sebagainya. . maka dapat disusun suatu program pendidikan yang serasi dan memuaskan. Implikasi adalah bahwa dengan mempelajari kelakuam-kelakuan manusia. Matapelajaran –matapelajaran itu disusun dalam organisasi yang terpisah satu sama lain. Belajar memerlukan banyak kegiatan yang mana pengajaran yang efektif ialah apabila anak yang aktif sedangkan guru bertindak selaku pembimbing. tetapi kelakuan jasmaniah dapat diamati. faktorfaktor tersebut adalah : 1. Implikasinya . Jika manusia tidak dapat diamati . Fsikologi Behaviorisme . secara efisien dan ekonomis 1. dimana daya-daya tersebut harus dilatih agar dapat berfungsi . bahwa kesan-kesan dan ingatan sesungguhnya adalah merupakan kegiatan-kegiatan organisme. 1. B. Implikasinya adalah kurikulum harus disusun dari sejumlah matapelajaran yang mengandung pengetahuan yang luas. bahwa dalam diri manusia terdapat berbagai daya . karena belajar berarti melatih daya-daya . Kegiatan Belajar. Tekanannya bukan terletak pada materinya melainkan terletak dari segi peranan matapelajaran guna pembentukan daya-daya. Belajar berarti menanamkan bahan pelajaran sebanyak-banyaknya dan yang memiliki nilai ethis.Pandangan ini berpendapat. Jiwa manusia sesungguhnya terdiri dari kesan-kesan/tanggapan-tanggapan yang masuk melalui alat indria. Herbart).

Belajar dengan penuh minat akan lebih mendorong untuk belajar lebih baik dan akan meningkatkan hasil gelajar. harus diasosiasikan agar menjadi suatu kesatuan. 1. 1. sosial. Psikologis. Kemajuan belajar juga ditentukan oleh tingkat perkembangan intelegensia. Kesiapan dan Kesedian Belajar. 1. emosional dan fisik. Minat dan Usaha. 1. Intelegensi atau kecerdasan. juga kepuasan akan muncul apabila siswa mengetahui akan perkembangan belajarnya. antara pengalaman lama dengan pengalaman baru. 1. Pengalaman masa lampau. Kepuasan dan Kesenangan Kurikulum harus disusun sedemikian rupa sehingga menyenangkan para siswa dalam melakukan kegiatan belajar. Pengalaman dan pengertian yang telah dimiliki oleh siswa . Pengalaman –pengalaman yang diperoleh . Minat belajar akan timbul apabila siswa merasa tertarik terhadap apa yang akan dipelajari . Kesehatan dan keseimbangan jasmani siswa perlu mendapat perhatian sepenuhnya . 1. kegiatan dan hasil belajar. Belajar dan Implikasinya terhadap penyusunan kurikulum adalah : 1. Faktor kesiapan turut serta menentukan hasil belajar. Perenncanaan kurikulum harus bersifat fleksibel (luwes) dan menyediakan suatu program yang luas guna pengembangannya pangalaman-pengalaman belajar. Kesiapan akan memudahkan siswa belajar dan akan lebih berhasil. Asosiasi dan Transfer. sehingga kurikulum harus disusun berdasarkan tingkat intelengensi siswa. Kesiapan mengandung arti kesiapan mental. . oleh sebab itu kondisi fisikologis ini akan berpengaruh pada kosentrasi. akan memudahkan menerima pengalaman –pengalaman baru.1. Pengalaman dan suatu situasi perlu diasosiakan dengan pengalaman dan situasi lain sehinggan mudah untuk transfer hasil belajar.

B. bukan hanya berupa ide-ide atau konsep. 7. Pengembangan kurikulum hendaknya memberikan pengalaman-pengalaman yang serasi dengan kebutuhan-kebutuhan penyesuaian diri dan mengembangkan kepribadian yang terintegrasi. sifat mewakili dan yang dipergunakan untuk mempermudah proses belajar. Jadi bahan kurikulum adalah sesuatu yang mempunyai sifat fisik . . Penyusunan kurikulum hendaknya disertai dengan kegiatan evaluasi yang merupakan faktor penting yang mempengaruhi proses dan hasil belajar. secara bendanya itu sendiri tak mempunyai pengertian pengajaran. misalnya buku sejarah. Karakteristik bahan kurikulum yang lain adalah bahan itu secara sungguh-sungguh memberikan fasilitas belajar . Pengembangan dan pelaksanaan kurikulum hendaknya memungkinkan partisifasi aktif dan tanggung jawab para siswa baik secara perorangan maupun secara berkelompok. used to facilitate the learning process (Gall. Kurikulum harus dikembangkan berdasarkan latar belakang siswa dan keseluruhan lingkungannya agar pengalaman belajar yang diperolehnya bermakna dan bertujuan. Proses penyusunan dan pelaksanaan kurikulum hendaknya berusaha memberikan serangkaian pengalaman dimana para guru dan siswa terlibat bersama-sama yang mendorong keberhasilan belajar para siswa itu. 6. HUBUNGAN PENGEMBANGAN KURIKULUM DAN PENYELEKSIAN BAHAN. 5.2. Buku sejarah tersebut dianggap sebagai bahan pengajaran karena ia menyampaikan kejadiankejadian sejarah serta pemikiran tentang peristiwa tersebut. 3. 1981: 5 ). 8. Bahan yang bersifat representational dimaksudkan bahan kurikulum yang dapat menyampaikan sesuatu yang lain lebih dari sekedar barangnya itu sendiri. jadi bahan tersebut memang secara sengaja dirancang dan dibuat untuk maksud pengajaran. Kurikulum disusun dan dilaksanakan dengan memperhatikan kesiapan para siswa. Lebih lanjut dijelaskan yang dimaksud dengan entitiss fisik (Physical entities) adalah bahan kurikulum itu merupakan objek yang dapat diobservasi . 4. karena hal ini mempengaruhi proses pendidikan. Penyusunan kurikulum hendaknya merupakan unit-unit yang luas dan menyeluruh serta memadukan pola-pola pengalaman yang bermakna dan bertujuan. Gall mendefinisikan bahan kurikulum sebagai : “ Curriculum materials are physikal enttities. representational in nature. BAB IV PENGEMBANGAN BAHAN KURIKULUM A. dan sebagai objek nyata ia dapat dipandang sebagai sejumlah kertas yang berisi tulisan cetak. SEKITAR BAHAN KURIKULUM Apa sebenarnya yang dimaksud dengan bahan kurikulum itu ? secara lebih teknis . 1.

hal itu dapat ditempuh melalui proses pengambilan . 1. pengembangan bahan kurikulum merupakan salah satu bagian dari pengembangan kurikulum secara keseluruhan. Jika bahan diseleksi lepas dari hubungannya yang lebih besar. Proses penyeleksian bahan kurikulum yang bersifat formal terdiri dari sejumlah tahap. Adanya penggantian kurikulum yang berlaku biasanya juga dimaksudkan untuk memajukan sekolah. penganalisisan. 6. Dengan demikian . Merumuskan misi kurikulum Menentukan anggaran pembiayaan Membentuk tim penyeleksi Mendapatkan susunan bahan Menganalisis bahan . dan penilaian bahan. penyeleksian bahan kurikulum tak dapat dipisahkan dengan usaha pengembangan kurikulum maupun sekolah itu sendiri. Penyeleksian bahan kurikulum baik oleh tim pengembang kurikulum maupun oleh guru secara individual . kita harus bersifat dan bertindak formal dengan mengikuti-tahap-tahap tertentu yang dapat dipertanggung jawabkan. Perumusan tujuan kurikulum pada umumnya didasarkan pada konsep-konsep sifat belajar. ia harus sistematik dan dapat dipertanggung jawabkan. Dipihak lain pandangan rekontruksi sosial menekankan pada pembaharuan masyarakat dan kebudayaan. Pandangan Humanis. yaitu . Mc. 2. harus secara cermat dilihat dari segi relevansinya dengan kurikulum yang dikembangkan. Rekontruksi Sosial. Jika kita menyeleksi bahan untuk diri sendiri sebagai penerima dan kemudian mempergunakannya . TAHAP – TAHAP PROSES ADOPSI BAHAN KURIKULUM. Neil (1977) mengemukakan adanya empat perbedaan konsep yang mempengaruhi pengembangan kurikulum dewasa ini. Dalam hal ini biasanya dibentuk panitia penyeleksi bahan. Identifikasi kebutuhan. tetapi jika penyeleksian bahan itu untuk orang lain . Teknologi intruksional. ia akan menghasilkan sesuatu yang tak ada hubungannya dengan program pengajaran. pelajar. 5. dan disiplin Akademis. walau penyeleksian itu tidak bersifat formal dengan setiap langkah didukomentasikan dan dicek orang lain. 3.Seperti dikemukakan diatas. dan masyarakat. dan itu berarti menghilangkan kemungkinan siswa untuk menghubungankan dengan hal-hal lain. Bahan pengajaran yang dimaksud harus terlebih dahulu diseleksi dan disesuaikan dengan tujuanpengajaran disekolah itu secara keseluruhan. 4. Kurikulum yang dikembangkan atas dasar pandangan humanis misalnya. Gall (18 – 25) mengemukakan ada sembilan tahap yang harus dilalui yaitu : 1. Proses adopsi bahan memuncak pada keputusan untuk memilih atau merekomendasikan tentang penyeleksian terhadap seperangkat bahan yang khusus. cenderung merumuskan tujuan pendidikan dengan menekankan pada kebutuhan individual demi pertumbuhan dan integritas personal.

dan tidak dibenarkan jika mengaitkannya. Separate Subject Curriculum Kurikulum yang disusun dalam bentuk ini menyajikan bahan pelajaran dalam bentuk subjek atau mata-mata pelajaran tertentu. Struktur Horizontal berhubungan dengan masalah pengorganisasian atau penyusunan bahan pelajaran kedalam pola atau bentuk tertentu. Membuat keputusan adopsi 9. kegiatan selanjutnya adalah penyebaran bahan itu kesekolah-sekolah dan kemudian memonitor bagaimana pelaksanaan dan hasilnya sebagai umpan balik. sedangkan struktur Vertikal berhubungan dengan masalah sistem-sistem pelaksanaan kurikulum sekolah. Setelah keputusan adopsi ditetapkan. . Menilai bahan 8. A. Dalam pembicaraan ini akan dibahas tiga macam bentuk penyusunan kurikulum. yaitu : Separate Subject Curriculum Correlated Curriculum Integrated Curriculum Sebenarnya pemisahan ini hanyalah bersifat teoritis saja. STRUKTUR HORIZONTAL Seperti dikemukakan diatas. struktur horizontal dalam pengorganisasian kurikulum adalah suatu bentuk penyusunan bahan pelajaran yang akan disampaikan kepada siswa. BAB V ORGANISASI KURIKULUM Organisasi Kurikulum adalah struktur program kurikulum yang berupa kerangka umum program-program pengajaran yang akan disampaikan kepada siswa. mempergunakan dan memonitor penggunaan bahan. Menyebarkan. 1. Tiap mata pelajaran tersebut satu dengan yang lainnya bersifat terpisah-pisah. termasuk didalamnya sistim pengalokasian waktu. 1. Struktur program dapat dibedakan menjadi dua yaitu struktur horizontal dan struktur vertikal. maka selesailah tugas penyeleksian bahan kurikulum sekolah . karena pada kenyataannya tidak ada kurikulum yang secara mutlak mendasarkan diri pada salah satunya tanpa mengaitkan dengan yang lain.7. Masalah pengorganisasian ini sangatlah penting karena disamping bertalian erat dengan tujuan pendidikan juga akan menentukan isi pelajaran dan mempengaruhi cara atau strategi pnyampaiannya.

Kurikulum bentuk ini memudahkan para guru sebagai pelaksana kurikulum. 1. sistematis dan berkesinambungan. Organisasi kurikulum bentuk ini sangat sederhana. karena sifatnya yang demikian maka kurikulum ini sangat dimungkinkan keseragamannya diseluruh negara. mudah direncanakan. Maka ujian nasional dengan soal yang sama dapat dilakukan secara serentak. Skope bahan pelajaran atau luas bahan pelajaran yang harus diberikan kepada anak disekolah.Mata pelajaran itu biasanya berupa pengetahuan yang telah disusun secara logis dan sistematis yang kemudian disajikan kepada siswa. Ada beberapa kekurangan dan keunggulan yang dapat dikemukakan dalam kurikulum bentuk Subject currikulum ini yaitu : Keunggulan : Bahan pelajaran dapat disajikan secara logis . Dengan demikian. biasanya telah disusun dan ditentukan oleh tim pengembang kurikulum yang terdiri dari para ahli. Karena disamping bahan pelajaran memang sudah disusun secara terurai. Jadi dalam bahan pelajaran itu sendiri sudah diadakan batas-batas yang memisahkannya untuk disajikan pada kelas-kelas tertentu yang harus diselsaikan tepat pada waktunya. Correlated Subject Kurikulum . guru hanya mngajar bahan-bahan pelajaran tertentu sesuai dengan bidang studinya. Tim pengembang kurikulum ini biasanya merupakan Tim tingkat nasional. misalnya di SMA dilakukan dengan kelompok kelas-kelas yang selanjutnya dibedakan lagi dalam kelompok semester demi semester. Tim pengembang tersebut disamping menentukan skope yang harus dipelajari juga menentukan kapan suatu bahan harus disajikan. Bahan pelajaran biasanya dibedakan sesuai dengan perbedaan tingkat dan jenis. Dalam kurikulum bentuk terpisah ini sangat menekankan pada pembentukan intelektual dan kurang mengutamakan pembentukan kepribadian anak secara keseluruhan. Pengurutan bahan pelajaran tersebut harus disusun sedemikian rupa agar dapat menjamin kesinambungan bahan dan dapat mencegah kemungkinan adanya keterulangan bahan yang telah dipelajari sebelumnya atau sebaliknya ada bahan yang terlewatkan. . Hal itu disebabkan tiap bahan telah disusun dan diuraikan dengan mengikuti urutan yang tepat. mudah dilaksanakan dan mudah untuk diadakan suatu perubahan. dan jumlah mata pelajaran yang diberikan cukup berpariasi tergantung tingkat dan jenis sekolah yang bersangkutan. pendidikan yang diselenggarakan menjalani kurikulum yang sama diseluruh negara.

Usaha – usaha memberikan korelasi antara mata pelajaran yang satu dengan . Adanya korelasi antara berbagai mata pelajaran dapat menopang kebulatan pengalaman dan pengetahuan murid berhubung mereka menerimannya tidak secara terpisah-pisah. kurikulum bentuk integrated ini benar-benar menghilangkan batas-batas diantara berbagai mata pelajaran itu. melainkan kita juga tetap mempertahankan adanya batas-batas yang ada. Kurikulum bentuk ini pada hakekatnya masih bersifat subject contered dan belum memilih bahan yang langsung berkaitan dengan minat dan kebutuhan anak.Adanya suatu usaha untuk menghubungkan antara berbagai mata pelajaran.menghubungkan beberapa mata pelajaran dengan menghilangkan batas-batas yang ada. Ini tidak berarti kita harus memaksakan adanya hubungan antara mata pelajaran tersebut.menghubungkan antara dua mata pelajaran atau lebih secara insedental. antara pelajaran yang satu dengan yang lain. jika hal itu memang memungkinkan. dan kesemuanya ini merupakan satu kesatuan. Adanya korelasi antara berbagai mata pelajaran memungkinkan murid untuk menerapkan pengetahuan dan pengalamannya secara fungsional. 1. . . Kelemahan. Didalam unit harus terdapat hubungan antara berbagai kegiatan anak. 1. 3. Berbeda halnya dengan bentuk correlated Subject yang hanya menghubungkan antara beberapa mata pelajaran dan masing-masing mempertahankan atau menampakkan eksistensinya.ainnya tersebut dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut : . Mata pelajaran tersebut dilebur menjadi satu keseluruhan dan dissajikan dalam bentuk unit. Penggabungan beberapa mata pelajaran menjadi satu kesatuan dengan lingkup yang luas tidak memberikan pengetahuan yang sistematis dan tidak mendalam. 2. serta memberikan bahan pelajaran atau pengalaman pendidikan yang ada sangkut pautnya dengan yang lain inilah yang dikenal dengan Correlated Subject Kurikulum.menghubungkan secara lebih erat jika terdapat suatu pokok bahasan atau masalah tertentu yang dibicarakan dalam berbagai mata pelajaran. . 2. Organisasi dalam bentuk Correlated Subject mempunyai beberapa keunggulan dan kelemahan yaitu : Keunggulan. Integrated Curriculum.

.Keunggulan 1. Dengan kurikulum bentuk unit . maka jika mereka disuruh melaksanakan kurikulum ini. Faktor yang menyatukan adalah masalah-masalah yang diselidiki dan dipecahkan oleh murid. Unit merupakan satu kesatuan bulat ari seluruh bahan pelajaran. 2. STRUKTUR VERTIKAL Struktur vertikal berhubungan dengan masalah sistem-sistem pelaksanaan kurikulum sekolah. Bahan pelajaran tidak dapat ditentukan terlebih dahulu secara sepihak oleh guru atau lembaga. Dalam unit anak dihadapkan pada berbagai situasi yang mengandung permasalahan yang biasanya berhubungan dengan pelajaran-pelajaran disekolah sesuai dengan tingkat kemampuan anak. B. 3. Unit didasarkan pada kebutuhan anak baik yang bersifat pribadi maupun sosial. . tidak memungkinkan untuk melaksanakan ujian secara bersama-sama karena permasalahan yang dihadapi setiap sekolah tidak sama. melainkan harus dirancang secara bersama-sama dengan murid. Kurikulum ini sesuai dengan teori baru tentang belajar yang mendasarkan berbagai kegiatan pada pengalaman . yaitu apakah kurikulum itu dijalankan dengan sistem kelas atau tanpa kelas. Kurikulum bentuk unit ini mempunyai beberapa keunggulan dan kelemahan. 2. 1.Kelemahan 1. kesanggupan. 3. Unit mempergunakan dorongan-dorongan sewajarnya pada diri anak dengan melandaskan diri pada teori-teori belajar. Para guru tidak dipersiapkan untuk menjalankan kurikulum bentuk unit. Anak tidak hanya mempelajari fakta-fakta yang lepas dan kurang fungsional untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi. sistem unit waktu yang dipergunakan dan masalah pembagian waktu untuk masingmasing bidang studi pada tiap tingkatan. Segala hal yang dipelajari dalam kurikulum unit bertalian erat satu dengan yang lain. kematangan dan minat siswa. kiranya hal ini sangat memberatkannya. baik yang menyangkut kejasmanian maupun kerohanian. Kebutuhan anak biasanya ditentukan oleh latar belakang kemasyarakatannya. Organisasi bentuk ini tidak mempunyaqi organisasi yang logisdan sistematis.Kurikulum bentuk unit ini mempunyai ciri-ciri sevagai berikut : 1. 2. 3. 4. Dengan demikian unit menghilangkan batas-batas diantara berbagai mata pelajaran. . Kurikulum ini lebih memungkinkan adanya hubungan yang lebih erat antara sekolah dan masyarakat karena masyarakat dapat dijadikan laboratorium temapt anak melakukan kegiatan pra ktek.

Dalam kurikulum tersebut sudah ditentukan bahan apa saja yang harus diajarkan yang mencakup beberapa luas dan dalam serta bagaimana urutannya untuk disajikan pada tiaptiap kelas itu. Setiap anak diberikan kebebasan untuk berpindah program setiap waktu tanpa harus menunggu kawan yang lain. Adapun kelemahan sistem kelas ini antara lain dapat menimbulkan efek fisikologis bagi murid yang tidak naik kelas. satu tahun dibagi menjadi tiga unit waktu masingmasing selama 4 bualn. Adapun keunggulan dari pada sistem kelas ini dapat dilihat dari kelogisan. II. Sebagai konsekwensi adanya sistem kelas adalah adanya kenaikan yang diadakan setiap tahun pada setiap akhir tahun ajaran secara serempak. 1. Sistem unit waktu yang lain dapat dijumpai pada sistem semester. Sistem Tanpa Kelas. Tiap semester yang berlangsung enam bulan tersebut merupakan satuan waktu pelaksanaan . Kurikulum yang dikembangkan menuntut dilaksanakan melalui kelas-kelas tertentu. kesistematisan dan ketepatan perjenjangan bahan pelajaran yang harus diajarkan. dalam sistem semester ini satu tahun dibagi menjadi dua unit waktu masing-masing selama enam bulan. Kepada anak diberikan nilai hasil belajarnya selama tiga kali dalam setiap tahun. Sistem tanpa kelas ini biasanya dapat dilihat pada kursus-kursus . Pelaksanaan sistem tanpa kelas tidak mengenal adanya jenjang-jenjang tertentu dan yang ada hanyalah tingkat-tingkat program tertentu. Pelaksanaan Kurikulum Melalui Sistem Kelas. III.1. Sistem Unit Waktu Yang dipergunakan. Juga memudahkan penyusunan. anak boleh memilih tingkat-tingkat program yang sesuai dengan kemampuannya. Kelemahan sistem ini sulit untuk scope tiap program untuk mencegah adanya keterulangan materi. juga adanya muncul faktor-faktor subjektif oleh pihak-pihak tertentu yang dapat merugikan siswa. Penyusunan kurikulum disesuaikan dengan pembagian unit waktu pada tiap tingkatan. Dengan sistem unit catur wulan. Hal itu mungkin saja dilaksanakan jika seseorang siswa telah merasa mampu atau menguasai tingkat program tertentu. pengembangan dan penilaian-penilaian. yaitu dikenal dengan catur wulan I. Dalam sistem unit waktu yang digunakan ini adanya sistem catur wulan dan semester. 1. juga memberikan pegangan yang kokoh pada guru. Keunggulan sistem ini terletak pada kebebasan siswa dan cukup demokratis.

Siswa dibiasakan untuk tidak hanya menerima saja. Mempelajari. Dari pelaksanaan pengajaran inilah hasil suatu proses belajar mengajar dinilaiu berhasil atau tidaknya. menemukan dan mengembangkan sendiri masalah-masalah pengetahuan dan tidak hanya terbiasa mengantungkan penemuan-penemuan orang lain. melainkan merupakan komunikasi dua arah. pelaksanaan pengajaran merupakan yang sangat penting dalam hubungannya dengan strategi pelaksanaan kurikulum. Bahan pelajaran yang disusun dalam kurikulum pun dibedakan kedalam semester-semester tersebut. STRATEGI PELAKSANAAN KURIKULUM Strategi pelaksanaan kurikulum adalah cara-cara yang harus ditempuh untuk melaksanakan suatu kurikulum sekolah. Pelibatan siswa yang dimaksud antara lain dapat berupa pemberian kesempatan untuk : 1. 1. Termasuk dalam bagian pelaksanaan pengajaran ini adalah masalah pemilihan metode dan alat media pendidikan yang dipergunakan. mencobakan sendiri dan mengembangkan konsep dan nilai tertentu. 5. dan pengaturan kegiatan sekolah secara keseluruhan. 3. 1. Dengan pelaksanaan pengajaran melalui pendekatan ketrampilan proses. Strategi tersebut dapat meliputi pelaksanaan pengajaran . mengembangkan rasa ingin tahu. Dalam setiap jenis kurikulum sekolah biasanya sudah ditentukan tentang bagaimana caracara pelaksanaan pengajaran yang dikehendaki. hasil penemuan dan penghayatan nilai-nilai baik secara lisan. jujur. Pendekatan Ketrampilan Proses. siswa harus dilibatkan baik secara fisik. melainkan diajak untuk belajar mendapatkan sendiri informasi. 1. diharapkan siswa akan berlatih mencari. Dalam proses pengajaran dengan komunikasi dua arah baik guru maupun siswa dituntut untuk sama-sama aktif . mengalami dan menemukan sendiri bagaimana menemukan suatu pengetahuan. 4. mempergunakan dan mengkomunikasikan perolehannya itu. tertulis.pengajaran. disiplin dan kreatif. C. mengelola. . 2. Mempelajari sendiri kegunaan. Memikirkan. Pelaksanaan Pengajaran. Mempelajari materi atau konsep dengan penuh pemahaman melalui perbuatan. Kurikulum adalah suatu program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan. Kurikulum tahun 1984 menyarankan agar kegiatan pengajaran yang dilaksanakan tidak hanya merupakan komunikasi satu arah saja. gambar maupun berupa penampilan diri. Menunjukan kemampuan untuk mengkomunikasikan cara berfikir. mental maupun berupa penampilan diri.

Relevansi pendidikan kaitannya dengan tuntutan pekerjaan 3. BAB VI PENGEMBANGAN KURIKULUM 1. Prinsip Relevansi Relevansi dalam dunia pendidikan dimaksudkan adanya kesesuaian antara hasil pendidikan (lulusan) dengan tuntutan kehidupan yang ada dimasyarakat. Relevansi pendidikan dengan perkembangan kehidupan masa kini dan masa yang akan datang. 7. Relevansi pendidikan dengan lingkungan murid dan masyarakat 2. PRINSIP DASAR. 8. baik oleh sekolah. 1. orang tua . 6.Untuk itu guru diharapkan memiliki kemampuan untuk bertanya. murid. Masalah efektifitas tersebut dapat ditinjau dari segi : .2. 4. mengaktifkan siswa. 5. Masalah relevansi pendidikan dengan kehidupan dimasyarakat paling tidak dapat ditinjau dari tiga segi : 1. menjawab pertanyaan siswa dan mengorganisasikan kelas. Prinsip Relevansi Prinsip Efektifitas Prinsip Efisiensi Prinsip Kesinambungan Prinsip Fleksibelitas Prinsip Berorientasi Pada Tujuan Prinsip Pendidikan Seumur Hidup Prinsip Sinkronisasi. 3. 1. Adapun prinsip-prinsip dasar yang sering digunakan sebagai landasan pengembangan kurikulum adalah : 1. Prinsip Efektifitas.1. masyarakat maupun pemerintah. Prinsip inilah yang menjadikan landasan atau pedoman yang menjiwai usaha pengembangan kurikulum yang dilakukan. 2. Efektifitas daloam suatu kegiatan berhubungan dengan masalah sejauh mana hal-hal yang direncanakan dapat terlaksana. Dalam usaha pengembangan kurikulu. terdapat sejumlah prinsip dasar yang menjadi landasan agar kurikulum yang dihasilkan memenuhi keinginan yang diharapkan.

1. ketrampilan dan sikap. Dengan istilah kesinambungan dimaksudkan adanya hubungan yang saling menjalin berbagai tingkatan dan jenis program pendidikan. Dalam efisiensi ini pula termasuk didalamnya masalah efesiensi pembagian waktu . sedangkan bagi guru kebebasan untuk mengembangkan program pengajaran yang akan dilakukan.7. tenaga dan biaya. Jika hasil yang dicapai sesuai dengan usaha atau biaya yang dikeluarkan bisa dikatakan bahwa kegiatan tersebut sudah cukup efesien. Kesinambungan ini meliputi kesinambungan program pengajaran antara berbagai tingkatan juga terdapat kesinambungan antara berbagai bidang studi. mengembangkan kemampuan dan kepribadian melalui program belajar.5.3. Dimaksudkan adanya semacam ruang gerak yang memberikan sedikit kebebasan dalam bertindak atau mengambil kegiatan yang akan dilaksanakan. Dalam efesiensi dipermasalahkan perbandingan antara hasil yang dicapai dengan usaha yang dijalankan atau biaya yang dikeluarkan. Efektifitas mengajar guru 2. 1. Dalam kurikulum sekolah pengertian fleksibelitas itu mencakup kebebasan murid untuk memilih program pendidikan yang disenangi. 1. . Dengan prinsip ini dimaksudkan agar semua kegiatan pengajaran didasarkan dan berkiblat pada tujuan yang akan dicapai. Perumusan tujuan hendaknya meliputi aspek pengetahuan.8. Prinsip Efesiensi.1.6.4. Prinsip Kesinambungan. Prinsip Pendidikan Seumur Hidup. Prinsip Sinkronisasi. Prinsip fleksibelitas. Efektifitas belajar siswa 1. 1. 1. Tujuan-tujuan pengajaran tersebut harus diketahui dan dirumuskan terlebih dahulu secara jelas. Prinsip Berorientasi Pada Tujuan. terutama mengenai bahan pengajaran. Prinsip ini dimaksudkan adanya kesadaran dan kemauan setipa manusia Indonesia untuk selalu membuka diri. agar kegiatan belajar mengajar mempunyai arah yang jelas.

Pengembangan Program Setiap Mata Pelajaran. Kegiatan menetapkan isi dan struktur program dilakukan setelah perumusan tujuan institusional selesai. Strategi pelaksanaan kurikulum berkaitan dengan pelaksanaan kurikulum dilapangan atau disekolah yang termasuk dalam strategi ini adalah masalah pengajaran yang berupa paket-paket pelajaran. pengembangan program tiap mata pelajaran. dan pengembangan program pengajaran disekolah. Langkah –langkah pengembangan program tiap mata pelajaran mencakup beberapa kegiatan yaitu : 1. Penetapan isi program berupa penetapan mata pelajaran yang akan diajarkan disekolah yang dapat menopang untuk mencapai tujuan . Pengembangan kurikulum di Indonesia . Pemilihan suatu model haruslah didahului dengan pengkajian situasi kerja serta keperluan kita. serta penyusunan strategi pelaksanaan kurikulum secara keseluruhan. khususnya yang berorientasi pada tujuan. Tahap-tahap pengembangan kurikulum yang dibahas adalah merupakan suatu model pengembangan kurikulum yang diterapkan diIndonesia. TAHAP-TAHAP PENGEMBANGAN KURIKULUM. Penetapan Isi dan Struktur Program. 1. maka kita akan memilih beberapa model tersebut sekaligus yaitu dengan mengambungkan beberapa model tersebut secara sekaligus. Pengembangan program tingkat lembaga meliputi tiga kegiatan pokok. setujuan pada semua kegiatan yang disarankan oleh Kurikulum. 1. 1. Pengembangan Program Tingkat Lembaga. Tujuan intruksional dimaksudkan tujuan yang diharapkan dikuasai para lulusan suatu jenis dan tingkatan sekolah setelah mereka menyelesaikan pendidikan sekolah 1. searah. 1. Penyusunan Strategi Pelaksanaan Kurikulum. kemudian apa metode dan media yang dipergunakan. apabila kita dihadapkan kepada beberapa alternatif pilihan. akan melalui tahap-tahap perkembangan pada tingkat lembaga. Merumuskan Tujuan Kurikuler. pelaksanaan pengajaran dengan model SP atau modul. .Dengan prinsip sinkronisasi dimaksudkan adanya sifat yang seirama. penetapan isi dan struktus program. Seperti yang umum terjadi. Perumusan Tujuan Institusional. yaitu perumusan tujuan Intruksional. B.

Hal ini disebabkan penetapan pokok bahasan harus mendasarkan diri pada tujuan karena pada hakekatnya pokok-pokok bahasan itulah yang dipakai sebagai sarana untuk mencapai tujuan itu. Pengembangan Program Pengajaran di Kelas. Tujuan Intruksional khusus (TIK) 3. DAFTAR PUSTAKA . 1. Pemilihan metode. Perumusan tujuan kurikuler harus mendasarkan diri pada tujuan instituasional yang telah dirumuskan. Uraian Bahan Pelajaran 4. kegiatan berikutnya adalah menyusun GBPP yang merupakan pedoman pengajaran disekolah oleh para staf pengajar dan untuk menyusun buku pelajaran.Dalam tujuan kurikuler dirumuskan tujuan-tujuan yang mencakup aspek pengetahuan . Perumusan tujuan instruksional adalah tujuan instruksional umu. Perencanaan Kegiatan Belajar mengajar 5. Jika tiga kegiatan telah selesai. Merumuskan Tujuan Instruksional. ketrampilan dan sikap-sikap serta nilai yang diharapkan dimiliki oleh setiap mata pelajaran. tujuan intruksional. 1. alat atau media 6. Penilaian.Tujuan Intruksional Umum (TIU) 2. 1. poko-pokok bahasan dan uraian-uraian pelajaran. 1. yaitu tujuan yang diharapkan dimiliki oleh siswa untuk tiap pokok bahasan setelah mereka menyelesaikan program tersebut. Kegiatan pengembangan kurikulum yang berupa program pengajaran dikelas dilakukan oleh masing-masing guru mata pelajaran yang berupa pembuatan satuan pelajaran (SP) yang terdiri dari : 1. Dalam setiap GBPP akan dijumpai rumusan tujuan-tujuan kurikuler. Menyusun Garis-garis Besar Program Pengajaran. Menetapkan pokok dan sub Pokok Bahasan Kegiatan menetapkan pokok dan sub pokok bahasan dilakukan setelah perumusan tujuan instruksional.

1. 3. 4. 3. Oemar Hamalik. “Pengembangan Kurikulum” . “ Garis-Garis Besar Haluan Negara. Penerbit “karunia” Surabaya : 1973. . 1988. 2. MPR. DR. Burhan Nurgiyantoro “ Dasar-dasar pengembangan kurikulum sekolah (Sebuah Pengantar teoritis dan pelaksanaan) “ penerbit BPFE Yogyakarta . Mandar Maju Bandung . (Dasar-dasar dan perkembangannya) Penerbit CV. Winarno Surahmad “ Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum “ Proyek Penggadaan Buku Sekolah Pendidikan Guru Jakarta . 1977. 4. 1990. 2. 1.