P. 1
asuhan keperawatan glaukoma

asuhan keperawatan glaukoma

|Views: 648|Likes:
Published by ahmad nuril hidayat

More info:

Published by: ahmad nuril hidayat on Oct 19, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/07/2012

pdf

text

original

BAB II TINJAUN PUSTAKA A.

Definisi Glaukoma merupakan penyakit kronis yang terus berkembang dengan lambat dan kadang-kadang berkembang tanpa disadari penderita sehingga mencapai tingkat lanjut (Vaughan D & Riodan P, 2000). Glaukoma adalah peningkatan abnormal tekanan intraokuler (lebih besar dari 20 mmHg).Tekanan yang sangat tinggi, kadang-kadang mencapai 60-70mmHg (Elizabeth, 2000). Glaukoma merupakan salahsatu penyebap kebutaan paling umum. Tekanan intra okuler normal kurang leih 15 mmHg, dengan rentan 12-20 mmHg (Guiton, 1991). B. Fisiologi Pembentukan dan Aliran Humor Akuos Tekanan intraokular ditentukan oleh kecepatan pembentukan humor akuos dan tahanan terhadap aliran keluarnya dari mata. Humor akuos adalah suatu cairan yang jernih yang mengisi kamera okuli anterior dan posterior mata. Volumenya adalah sekitar 250 µL. Humor akuos diproduksi oleh korpus siliare melalui mekanisme transfer aktif dan pasif. Cairan ini masuk ke kamera okuli posterior dan mengalir ke kamera okuli anterior melalui pupil. Kemudian mengalami proses drainase melalui aliran trabekular dan uveoskleral (melalui sela-sela sklera). Sebagian besar cairan ini keluar melalui jalinan trabekular menuju kanal Schlemm dan dilanjutkan ke vena episklera. Humor akuos memiliki peranan penting, yaitu sebagai nutrisi dan juga berfungsi untuk mengeluarkan sisa metabolismenya, selain itu berfungsi untuk menjaga bentuk bola mata dan mempertahankan TIO agar tetap berada dalam batas normal10–24 mmHg (Vaughan D & Riodan P, 2000).

B. Patofisiologi Glaukoma Penelitian yang lebih cermat pada tahap awal memperlihatkan adanya remisi dan eksaserbasi dari gangguan aliran keluar dan peninggian tekanan intraocular. Penyebab tersering terjadinya glaukoma adalah TIO > 24 mmHg. Peninggian TIO terjadi apabila: 1. Korpus siliare memproduksi terlalu banyak humor akuos sedangkan pengeluaran pada jaringan trabekular normal 2. Hambatan pengaliran pupil sewaktu pengaliran dari kamera okuli posterior ke kamera okuli anterior 3. Pengeluaran di sudut bilik mata terganggu. Menyebapkan penekanan pada saraf optikus sewaktu saraf tersebut keluar dari bola mata sehingga terjadi kematian sel-sel saraf. Mula-mula timbul penglihatan perifer yang di ikuti gangguan penglihatan sentral. Kebutaan akibat glaucoma biasanya timbul secara bertahap, tetapi dapat berkembang haya dalam beberapa hari apabila tekanan intraokuler mendadak menjadi sangat tinggi Tekanan intraokular yang meninggi dapat menyebabkan iskemia (jaringan kekurangan nutrisi dan oksigen) karena darah tidak mengalir dengan baik di daerah saraf mata serta penekanan langsung terhadap saraf optik mata. saraf mata berfungsi meneruskan bayangan yang dilihat ke otak. Di otak, bayangan tersebut akan bergabung di pusat penglihatan dan membentuk suatu benda. Mekanisme utama penurunan penglihatan pada glaukoma adalah atrofi sel ganglion difus, yang menyebabkan penipisan lapisan serat saraf dan inti bagian dalam retina dan berkurangnya akson di serat optikus. Diskus optikus menjadi atrofi disertai pembesaran cekungan optikus. Iris dan korpus siliare juga menjadi atrofi dan prosesus siliaris memperlihatkan degenerasi hialin (Vaughan D & Riodan P, 2000).

C. Gambaran klinis 1. Glaukoma akut di tandai oleh nyeri mata hebat dan kekaburan penglihatan mendadak. Pupil tetap berdilatasi dan tidak berespon terhadap cahaya. 2. Glaukoma kronik di tandai oleh penurunan secara lambat ketajaman penglihatan dan kekaburan, yang di mulai di penglihatan periver. Dapat timbul nyeri kepala dan nyeri mata seiring dengan perburukan keadaan (Elizabeth, 2000). — D. Faktor Risiko Glaukoma —-Berikut ini adalah faktor risiko terjadinya glaukoma, yaitu: 1. Umur. Risiko glaukoma bertambah tinggi dengan bertambahnya usia. 2. Riwayat anggota keluarga. Memiliki keluarga yang menderita glaukoma. 3. Obat-obatan. Pemakaian steroid secara rutin menyebabkan terjadinya glaukoma. 4. Riwayat trauma. Cedera kontusio pada bola mata biasanya dapat disertai dengan peningkatan TIO akibat terjadinya hifema. 5. Penderita hipermetropia yang sangat tinggi 6. Riwayat penyakit lain seperti riwayat diabetes dan hipertensi (Vaughan D & Riodan P, 2000). E. Klasifikasi Glaukoma Berikut ini adalah klasifikasi glaucoma menurut Brunner dan Suddarth tahun 2001, secara skematis berdasarkan etiologinya. 1. glaucoma primer a. Glaukoma sudut terbuka Glaukoma sudut terbuka primer adalah bentuk glaukoma yang sering dijumpai dan biasanya ditemukan tanpa sengaja. Gambaran patologik utama pada glaukoma sudut terbuka primer adalah proses degeneratif di jalinan trabekular, termasuk pengendapan bahan ekstrasel di dalalm jalinan dan di bawah lapisan endotel kanalis Schlemm.

Akibatnya adalah terjadinya penurunan drainase humor akuos yang menyebabkan peningkatan TIO. Diagnosis glaukoma sudut terbuka primer ditegakkan apabila ditemukan kelainankelainan glaukomatosa pada diskus optikus dan lapanga pandang disertai peningkatan TIO, sudut kamera okuli anterior terbuka dan tampak normal, dan tidak terdapat sebab lain yang menyebabkan peningkatan TIO. Sekitar 50% pasien glaukoma sudut terbuka primer memperlihatkan TIO normal saat pertama kali pemeriksaan, sehingga untuk menegakkan diagnosis diperlukan pemeriksaan berulang. b. Glaukoma sudut tertutup (sudut sempit) Disebut sudut tertutup karena ruang anterior secara anatomis menyempit sehingga iris terdorong ke depan, menempel ke jaringan trabekular dan menghambat humor aqueous mengalir ke saluran schlemm. Pergerakan iris ke depan dapat karena peningkatan tekanan vitreus, penambahan cairan di ruang posterior atau lensa yang mengeras karena usia tua. Gejala yang timbul dari penutupan yang tiba- tiba dan meningkatnya TIO, dapat berupa nyeri mata yang berat, penglihatan yang kabur dan terlihat hal. Penempelan iris menyebabkan dilatasi pupil, bila tidak segera ditangani akan terjadi kebutaan dan nyeri yang hebat. 1. Glaukoma penutupan-sudut akut Glaukoma penutupan-sudut akut merupakan kagawatanmedis yang cukup jarang yang dapat mengakibatkan kehilangan penglihatan yang bermakna. Pasien biasanya mengeluh nyeri mata umum dan berat. peningkatan tekanan mengganggu fungsi dehidrasi permukaan endotel kornea, mengakibatkan edema kornea. Iris sentral biasanya melekat di atas permukaan anterior lensa , yang dapat mengakibatkan sedikit tahanan terhadap aliran humor aqueos dari kemera posterior melelui pupil ke kamera anterior.ketika aliran melalui pupil terhambat (sumbatan pupiler) oleh lensa, penigkatan tekanan dikamera posterior yang diakibatkannya akan menggenbungkan iris perifer ke depan dan mengadakan kontak dengan jaring-jaring trabekula. Temuan dinamakan iria bombe. Keadaan

ini akan mempersempit atau bahkan menutup sama sekali sudut kamera anterior dan menyebabkan peningkatan TIO 2. Glaukoma skunder Glaukoma dianggap sebagai sekunder bila penyebabnya jelas dan berhubungan dengan kelainan yang bertanggung jawab pada peningkatan TIO.secara khas glaukoma jenis ini biasanya unilateral. Dapat terjadi dengan sudut terbuka atau tertutup maupun kombinasi keduanya. a. Glaukoma sudut terbuka Pada glaukoma sudut terbuka skunder, peningkatan TIO disebabkan oleh peningkatan tahanan aliran keluar humor aqueos melalui jaring-jaring trabekuler, kanalis Schlemm, dan sistem vena episkleral. Pori-pori trabekula dapat tersumbat oleh setiap jenis debris, darah, pis atau bahan lainnya. Peningkatan tahanan tersebut dapat diakibatkan oleh penggunaan kartikosteroid jangka lama, tumor interaokuler, uvetis akibat penyakit seperti herpes simpleks atau herpes zoster, atau penyumbatan jaringjaring trabekula oleh material lensa, bahan viskoelastik (digunakan pada pembedhan katarak), darah, atau pigmen. Peninggian tekanan vena episkleral akibat keadaan seperti luka bakar, kimia, tumor retrobulber, penyakit tiroid, fistula arteriovenosa jugularis superior vena kava, atau sumbatan vena pulmonal juga dapat mengakibatkan peningkatan TIO. Selain itu, glaukoma sudut terbuka dapat terjadi setelah ekstraksi katarak, omplantasi TIO (khususnya lensa kamera anterior ), penguncian sklera, vitrektomi, kapsulotomi posterior,atau trauma. b. glaukoma penutupan-sudut Pada glaukoma penutupan-sudut ekunder, peningkatan tahanan aliran humor aqueos disebabkan oleh penyumbatan jaring-jaring trabekula oleh iris perifer . kondisi ini biasanya disebabkan oleh perubahan aliran humor aqueos setelah menderita penyakit atau pembedahan. Keterlibatan anterior terjadi setelah terbentuknya membrana pada glaukoma neovaskuler , trauma, aniridia, dan penyakit endotel. Penyabab posterior terjadi pada penyumbatan pupil akibat lensa atau IOL menghanbat aliran humor aques ke kamera anteroir

3. Glaukoma Tegangan-Normal dan Hipertensi Okuler Derajat TIO normal ditentukan berdasar statistik populasi. pada beberapa orang, TIO dengan batas normal bisa saja terlalu tinggi untuk kesehatan saraf optikusuntuk jangka lama. Pada batas skala sebaliknya terdapat berbagai contoh peninggian TIO tanpa tanda kerusakan saraf, dimana kaput saraf optikus nampaknya tahan terhadap tekanan yang lebih tinggi dari normal. tentu saja kerusakan yang berhubungan dengan glaukoma akhirnya terjadi juga pada beberapa dari mereka. 4. Glaukoma mekanisme-kombinasi Glaukoma mekanisme-kombinasi adalah kombinasi dua atau lebih bentuk kelompok ini. Gllaukoma sudut sudut terbuka yang mengalami komplikasi glaukoma penutupan-sudut (atau penyempitan sudut yang menghambat aliran humor aqueus) adalah bentuk yang paling sering pada glaukoma mekanisme-kombinasi. F. komplikasi Pada semua jenis glaukoma dapat menimbulkan kebutaan. Glaukoma sudut tertutup akut adalah suatu kedaruratan medis (Elizabeth, 2000). G. Evaluasi diagnostik Penegakan diagnostik glaukoma meliputi pemeriksaan mata dengan oftalmoskop untuk mengkaji kerusakan saraf optokus, tonometri untuk mengukur TIO, perimetri untuk mengukur luas lapang pandang, dan riwayat okuler dan medis. Glaukoma sudut terbuka primer merupakan tipe glaukoma yang paling sering, namun paling sulit di ketahui lebih awal karena pasien tak menunjukan gejala sampai pada perjalanan penyakit lebih lanjut. Awitannya insividius, progreif lambat, dan kehilangan lapang pandang perifer tidak di rasakan. Ketika kehilangan lapang pandang menjadi jelas bagi pasien, kerusakan ireversibel, ekstensif saraf optikus biasanya sudah terjadi. Pemeriksaan oftamologis sangant di perlikan untuk mendiagnosis penyakit ini seawal mungkin agar dapat di berikan terapi seawal mungkin agar dapat terapi yang memadai untuk mencegah kehilangan penglihatan yang bermakna dan kebutaan.

Glaukoma sudut terbuka primer mempunyai prevalensi yang sangat tinggi sehingga pengkajian glaukoma harus dilakukan sebagai pemeriksaan penyarig pada usia baya dan sebagai pemeriksaan oftalik umum. Glaukoma sudu terbuka primer merupakan penyakit bilatera, tetapi kerusakannya sering asimetris. Salah satu mata biasanya terpengaruh lebih awal dan lebih berat dari yang lainya (Brunner & Suddarth, 2001). H. Penatalaksaan Tujuan penatalaksaan glaukoma adalah menurunkan TIO ke tingkat yang konsisten dengan mempertahankan penglihatan. Penatalaksaan bisa berbeda bergantung pada klasifikasi penyakit dan responnya terhadap terapi. Terapi obat, pembedahan laser, pembadahan konvensional dapat dipergunakan untuk mengontrol kerusakan progresif yang di sebapkan oleh glaukoma (Brunner & Suddarth, 2001). I. Farmakoterapi Kebanyakan obat mempunyai efek samping, yang biasanya menghilang 1 atau 2 minggu. Namun pada beberapa kasus, obat perlu di hentikan karena pasien tidak dapat mentoleransinya. Efek samping yang biasa pada pemakayan obat topikal adalah pandangan kabur; pandangan meremang, khususnya menjelang malam; dan kesulitan memfouskan pandangan. Kadang-kadang frekuensi denyut jantung dan respirasi juga berpengaruh. Obat sistemik dapat menyebapkan rasa kesemutan pada jari dan jari kaki, pusing, kehilangan nafsu makan, defekasi tidak teratur, dan, kadang batu ginjal. Antagonis Beta- adrenregik. Antagonis Beta- adrenregik topikal kini merupakan bahan hipotensif yang paling banyak digunakan karena efektivitasnya pada berbagai macam glaukoma dan tidak menyebapkan efek samping yang bisa disebapkan oleh obat lain. Antagonis Beta- adrenregik menurunkan tekanan TIO dengan mengurangi pembentukan humor aqueus. Menghambat beta-adrenergik nonseletif mengenai baik reseptor beta-1 maupun beta-2 penghambat beta yang umum adalah timolol, levobunolol (Betagen), dan optipranolol (Metipranolol), bahan selektif-beta, seperti batak solo (Betoptic), hanya mempengaruhi tempat reseptor beta tertentu. Dengan menggunakan obat ini dapat mempengaruhi efek

samping kardiopulmonal yang sering di jumpai pada obat non-selaktif beta seperti distres pernapasan, blok jantung, dan hipotensi. Bahan kolinerjik. Bahan kolinerjik topikal (misal, pilokarpin hidrokorida, 1%-4%, asetil kolin klorida, karbakol) di gunakan pada glaukoma jangka pendek dengan penyumbatan pupil akibat efek langsungnya pada reseptor parasimpatis iris dan badan silier. Sebagai akibatnya, sfingter pupil akan berkontraksi, iris mengencang, volume jaringan iri pada sudut akan berkurang. Dan iris akan tertarik mejauhi jaring-jaring trabekula. Perubahan ini memungkinan humor aqueus mencapai saluran keluar dan akibatnya terjadi penurunan TIO. Agonis adrenergik, Agonis adrenergik digunakan bersamaan penghambat beta-adrenergik. Berfungsi salig sinergis bukan berlawanan. Agonis adrenergik menurunkan IOP dengan meningkatkan aliran keluar humor aqueus, memperkuat dilatasi pupil, menurunkan produksi humor aqueus, dan menyebapkan kotriksi pembuluh darah konjungtiva. Contoh epinefrin, neosynehprine. Inhibitor adrenasi karbonat. Inhibitor adrenasi karbonat, misalnya asetazolamid (Diamoks), diberikan secara sistemik untuk menurunkan IOP dengan menurunkan pembuatan humor aqueus. Di gunakan untuk menangani glaukoma sudut terbuka (jangka panjang) menangani glaukoma penutupan sudut (jangka pendek). Diuretika osmotik. Diuretika osmotik merupakan bahan hiperosotik oral, dapat menurunkan IOP dengan meningkatkan osmolaritas plasma dan menarik air mata dalam peredaran darah. Digunakan dalam penanganan jangka pendek glaukoma akut. Digunakan untuk menurunkan TIO preoperatif sehingga pembedahan dapat dilakukan dengan tekanan mata yang lebih normal. 2. Badah laser untuk glaukoma Pembedahan laser untuk memperbaiki aliran humor aqueus dan menurunka TIO dan dapat di indikasikan sebagai penanganan primer untuk glaucoma, atau bisa juga di gunakan bila obat terapi tidak bisa lagi di toleransi, atau tidak dapat menurunkan TIO dengan adekuat.

3. Bedah konvensional Prosedur bedah konvensional di lakukan bila teknik laser tidak berhasil. Iridektomi perifer atau sektoral di lakukan untuk mengangkat sebagian iris untuk memungkinkan aliran humor aqueus dari kamera posterior ke kamera anterior. Di indikasikan pada penanganan glaukoma dengan penyumbatan pupil bila pembedahan laser tidak berhasil atau tidak tersedia. Trabekulektomi di lakukan untuk menciptakan saluran pengaluran baru melalui sklera (Brunner & Suddarth, 2001). I. ASUHAN KEPARAWATAN. 1. Pengkajian a. Pengkajian 1. Aktivitas / Istirahat penglihatan. 2. Makanan / Cairan Mual, muntah (glaukoma akut) 3. Neurosensori : Gangguan penglihatan (kabur/tidak jelas), sinar terang menyebabkan silau dengan kehilangan bertahap penglihatan perifer, kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat/merasa di ruang gelap (katarak). Penglihatan berawan/kabur, tampak lingkaran cahaya/pelangi sekitar sinar, kehilangan penglihatan perifer, fotofobia(glaukoma akut). Perubahan kacamata/pengobatan tidak memperbaiki penglihatan. Tanda Peningkatan air mata. 4. Nyeri / Kenyamanan : Ketidaknyamanan ringan/mata berair (glaukoma kronis) Nyeri tiba-tiba/berat menetap atau tekanan pada dan sekitar mata, sakit kepala (glaukoma akut). : Papil menyempit dan merah/mata keras dengan kornea berawan. : : sehubungan dengan gangguan Perubahan aktivitas biasanya / hobi

5. Penyuluhan / Pembelajaran Riwayat keluarga glaukoma, DM, gangguan sistem vaskuler. Riwayat stres, alergi, gangguan vasomotor (contoh: peningkatan tekanan vena), ketidakseimbangan endokrin. Terpajan pada radiasi, steroid/toksisitas fenotiazin. b. Pemeriksaan Diagnostik 1. Kartu mata Snellen/mesin Telebinokular (tes ketajaman penglihatan dan sentral penglihatan): Mungkin terganggu dengan kerusakan kornea, lensa, aquous atau vitreus humor, kesalahan refraksi, atau penyakit syaraf atau penglihatan ke retina atau jalan optik. 2. Lapang penglihatan: Penurunan mungkin disebabkan CSV, massa tumor pada hipofisis/otak, karotis atau patologis arteri serebral atau glaukoma. 3. Pengukuran tonografi: Mengkaji intraokuler (TIO) (normal 12-25 mmHg) 4. Pengukuran gonioskopi: Membantu membedakan sudut terbuka dari sudut tertutup glaukoma. 5. Tes Provokatif: digunakan dalam menentukan tipe glaukoma jika TIO normal atau hanya meningkat ringan. 6. Pemeriksaan oftalmoskopi: Mengkaji struktur internal okuler, mencatat atrofi lempeng optik, papiledema, perdarahan retina, dan mikroaneurisma. 7. Darah lengkap, LED: Menunjukkan anemia sistemik/infeksi. 8. EKG, kolesterol serum, dan pemeriksaan lipid: Memastikan aterosklerosisi,PAK. 9. Tes Toleransi Glukosa: menentukan adanya DM.

2. Diagnosa keperawatan. 1. ketakutan atau ansietas yang berhubungn dengan kerusakan sensori dan kurangnya pengalaman mengenai perawatan pasca operasi danpemberian obat. 2. resiko terhadap cedera yang berhubungan dengan kerusakan penglihatan atau kurang pengetahuan 3. Nyeri: berhubungan dengan peingatan tekanan intra okuler. 3. Intervesi 1. ketakutan atau ansietas yang berhubungn dengan kerusakan sensori dan kurangnya pengalaman mengenai perawatan pasca operasi danpemberian obat. Sasaran: menurunkan stress emosional, ketakutan dan depresi, penerimaan dan pemahaman instruksi a.kaji derajat dan durasi kangguan visual. Dorong percakapan untuk mengetahui perhatian pasien, perasaan dan tingkat pemahaman. Jawab pertanyaan, memberi dukungan, membantu pasien melengkapi dengan metode koping. Rasional: informasi dapat menghilangkan ketakutan yang tak di kehahui, mekanisme koping dapat membantu pasien berkompromi dengan kegusaran, ketakutan depresi, tegang, keputusasaan, kemarahan dan penolakan. b. Orientasilan pasien dengan lingkunganyang baru. Rasional: mengenal terhadap lingkunganmembantu mengurangi ansietas dan meningkatkan keamanan. c.Jalaskanrutinitas preoperatif. Preoperatif: Tingkat aktifitas, pembatasan diet, obat-obatan. Intra operatif: Pentingnya berbaring diam selama pembedahan atau memberi peringatan kepada ahli bedah ketika terasa akan batuk atau akan berganti posis. Moka di tutup dengan kain, dan di berikan O2. suara bising

dari peralatan yang tak biasa. Pemantauan, dan pengukuran tekanan darah yang sering. Pasca opersi: pemberianposisi, pembalutan, tingkat aktivitas, pentingnya bantuan untuk ambulasi sampau stabil danadekuat secara visual. Rasional: pasien yang telah mendapat banyak informasi lebih mudah menerima penanganan dan mematuhi instruksi. d. Jelaskan intervensi sedetil-detilnya; perkenalkan diri anda padasetiap interaksi; terjemahkan setiap suara asing, pergunakan sentuhan untuk membantu komunikasi verbal. Rasional: pasien yang mengalami gangguan visual bergantung pada masukan indra yang lain untuk mendapatkan informasi. Dorong untuk menjalankan kebiasaan hidup sehari-hari bila mampu. Pesan makan yang bisa dimakan dengan tangan bagi mereka yang tak dapat melihat dengan baik atau tak mempunyai keterampilan koping untuk mempergunakan peralatan makan. Rasional: perawatan diri dan kemandirian akan meningkatkan rasa sehat. Dorong partisipasi keluarga atau orang yang berarti dalam perawatan pasien. Rasional: pasien mungkin tidak mampu melakukan semua tugas sehubungan dengan perawatan diri. Dorong partisipasi dalam aktivitas sosial dan pengalihan bila memungkinkan. Rasiona: isolasi sosial dan waktu luang yang terlalu lama dapat menimbulkan perasaan negatuf. 2. resiko terhadap cedera yang berhubungan dengan kerusakan penglihatan atau kurang pengetahuan Sasaran: pencegahan cedera. 1. membantu pasien ketika mampu melakukan ambulasi pasca

operasi sampaistabil dan mencapai penglihatan dan keterampilan koping

yang memadai (ingat bahwa balutan bilateral menjadikan pasien tak dapat meluhat), menggunakan teknik bimbingan penglihatan. Rasional: menurunkan resiko jatuh atau cedera ketika langkah sepoyangan atau tidak mempunyai keterampilan koping untuk kerusakanpenglihatan. 2. bantu pasien menata lingkungan janganbengubah peralatan meja kursi tanpa pasien diorientasi terlebih dahulu Rasional: memfasilitasi kemandirian dan menurunkan resiko cidera. 3. 4. Orientasikan pasien terhadap ruangan janganmemberikan takanan pada mata yang terkena trauma Rasional: meningkatkan keamanan mobilitas dalam lingkungan Rasional: tekanan pada bola mata dapat mengakibatkan kerusakan serius lebih lanjut. 5. gunakan prosedur yang memadai ketika memberikanobat mata. Rasional: cedera dapat terjadi bila wadah obat menyentuh mata. 3. Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial. Sasaran: mengurangi nyeri dan TIO a.berikan obat untuk mengontrol nyeri dan TIO sesuai resep. Rasional: pemakaiyan obat sesuai resep akan mengurangi nyeri dan TIO dan meningkatkan rasa nyaman. b. Berikan kompres dingin sesuai permintaan untuk trauma tumpul. Rasional: Mengurangi edema akan mengurangi nyeri c.Kurangi tingkat pencahayaan, cahaya di redupkan, di ber tirai atau kain. Rasinal: tingkatkan pencahayaan yang lebih rendah yang lebih nyaman setelah pembedahan. d. Dorong pengguanaan kaca mata hitam pada cahaya kuat. Cahaya yang kuat menyebapan rasa tak nyaman setelah penggunaan tetes matadilaator e.Jaga teknik aseptok ketat, lakukan cuci tangan sesering mugkin.

Rasional: akan meminimalkan infeksi f. Awasi dan laporkan segera, adanya tanda dan gejala komplikasi misalnya perdarahan, paningkatan TIO (nyeri dahi mendadak); infeksi (merah, edem, cairan purulen); nyeri tak berkurang dengan obat yang di redepkan; kilatan cahaya, perbahan/ penurunan fingsi visual, perubahan strutur mata (prolaps iris, pupil berbentuk pir, dehisensi lika); reaksi samping obat. Rasional: penemuan awal komplikasi dapat mengurangi resiko kehilangan penglihatan permanen g. Jelaskan posisi yang dianjurkan Rasional: Peninggian kepala dan menghindari brbaring pada sisi yang di operasi dapat mengurangi edema. Memperahankan posisi yang di resepkan bila gelembung udara telah di letakkan dalam badan vitreus dapat memperbaiki perlengketan kembali retina. h. instrksikan pasien mengenai pembatasan aktivitas baring, dengan pembatasan aktivitas di resepkan untuk mempercapat keleluasaan kekamar mandi, peningkatan aktivitas bertahap sesuai toleransi. Rasional: pertumbuhan dan menghindai kerusakan lebih lanjut pada mata yang cedera. i. Jelaskan tindakan yang harus di hindari, seperti yang di resepkan: batu, bersin, muntah (mintak obat yang untuk itu; membungkuk, mengejan brlebihan saat BAB, mengangkat benda berat (> 9Kg), menutup mata dengan keras menggosok mata, menggekan kepala dengan cepat, dan kasar. Rasional: Dapat mengakibatkan komplikasi seperti prolaps vireus atau devisiensi luka akibat peningkatan tegangan luka pada jahitan yang sangat halus j. Berikan obat sesuai resep, sesuia tekni yang di resepkan Rasional: Obat yang di berikan dengan cara yag tidak sesuia dengan resep dapat mengganggu penyyembuha atau mengebapka mplikasi. Bila wadah sampai megenai mata, akan terjadi peningkatan resiko infesi dari obat yang erkomta minasi.

Daftar pustaka Vaughan D & Riodan P, (2000), Ophtalmology Umum, Ed. 14, Jakarta: Widya Medika, 220-37. Crowin, E, (2000), patofisiologi, jakarta: EGC, 219-220. Brunner & suddarth, (2000), Keperawatan Medikal Bedah,Ed. 8, jakata: EGC, 2001-2003 dan 2006-2009.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->