jurnal lektur

ISSN 1693-7139

Jurnal Lektur Keagamaan
Vol. 7, No. 1, Tahun 2009/No. Akreditasi: 48/Akred-LIPI/P2MBI/12/2006

Daftar Isi
Kajian Naskah, Sejarah, dan Arkeologi Teks, Islam dan Sejarah: Setali Tiga Uang Fuad Jabali Perang dan Damai di Aceh: Kajian Manuskrip Aceh Tentang Konflik dan Solusinya Fakhriati 1 — 20

21 — 52

Beberapa Aspek Kodikologi Naskah Keagamaan Islam di Bali: Sebuah Penelusuran Awal Asep Saefullah dan M. Adib Misbachul Islam 53 — 90 Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua dalam Naskah-Naskah Tarekat Syattariyah di Minangkabau Pramono dan Bahren

91 — 108

Peran Penting Pernaskahan dan Benda Khazanah Keislaman Lainnya dalam Kajian Arkeologi Islam di Indonesia Agus Aris Munandar 109 — 132 Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara Irmawati M-Johan Tokoh K.H. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual 133 — 146

Discourse, and His Work Collection
Usep Abdul Matin Telaah Buku Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Tinjauan Buku “Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Teks dan Konteks”, karya Oman Fathurahman Uka Tjandrasasmita 165 — 174 147 — 164

i

ISSN 1693-7139

Jurnal Lektur Keagamaan
Vol. 7, No. 1, Tahun 2009/No. Akreditasi: 48/Akred-LIPI/P2MBI/12/2006
PEMBINA PEMIMPIN UMUM REDAKTUR AHLI (MITRA BESTARI) M Atho Mudzhar Maidir Harun Uka Tjandrasasmita (UIN Syahid Jakarta); Nabilah Lubis (UIN Syahid Jakarta); Abdul Hadi WM (Universitas Paramadina); Achadiati Ikram (Universitas Indonesia); Badri Yatim (UIN Syahid Jakarta); Oman Fathurahman (UIN Syahid Jakarta); Tommy Christomy (Universitas Indonesia); Titik Pudjiastuti (Universitas Indonesia); Sudarnoto Abdul Hakim (UIN Syahid Jakarta) Asep Saefullah Masmedia Pinem E. Badri Yunardi, Harisun Arsyad, Ahmad Rahman, Muchlis, Andi Bahruddin Malik, Dazrizal, M. Syatibi, AH, Ali Akbar, Muchlis M. Hanafi, Ridwan Bustamam, Munawiroh Ibnu Hasyir, Nurman Kholis, Muhammad Salim, Ida Swidaningsih, Umi Kulsum Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI Gedung Bayt al-Qur’an & Museum Istiqlal, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta 13560 Telp./Faks. (021) 87794220 E-mail: puslitbang_lektur@yahoo.co.id

PEMIMPIN REDAKSI SEKRETARIS REDAKSI DEWAN REDAKSI

TATA USAHA ALAMAT REDAKSI

* Kulit depan: Naskah MS Serangan 01, h. 56, milik H. Baharuddin, Kampung Serangan, Denpasar, Bali; dan Halaman Awal Naskah Hiyakaye milik Syik Jah Amut, Geulumpang Miyeunk, Pidie, Aceh. *

Berdasarkan SK Kepala LIPI No. 1563/D/2006 tanggal 18 Desember 2006, Jurnal Lektur Keagamaan telah terakreditasi A ii

Jurnal Lektur Keagamaan telah memperluas wilayah cakupannya yang disesuaikan dengan tugas dan fungsi Puslitbang Lektur Keagamaan. teks dimana sistem nilai itu diekspresikan. Golongan pertama lebih menekankan teks dan cenderung menghasilkan teks yang stabil. Telaah Dokumen. Salah satu sumber yang sangat penting digunakan untuk mengkaji sejarah kehidupan orang Aceh adalah naskah kuno yang menjadi tulisan iii . dan sejarah (ruang dan waktu) sebagai konteks dimana sistem nilai itu diturunkan dalam teks. Islam. Khazanah Budaya Keagamaan. Arkeologi dan Sejarah. kepada kelompok mana teks itu dihubungkan. teks dan sejarah. teks dan sejarah adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Cakupan tersebut meliputi Kajian Naskah Klasik. setidaknya dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori besar. dan Telaah Buku/Kitab serta materi yang berkaitan dengan kebijakan. Pada tulisan kedua diulas mengenai perang dan damai di Aceh melalui kajian atas manuskrip Aceh tentang konflik dan solusinya. Konflik internal maupun eksternal telah terjadi dalam periode-periode yang berbeda. yaitu: 1) teks-teks yang dilahirkan oleh kalangan skripturalis/fundamentalis. redaksi menampilkan delapan tulisan.Pengantar Redaksi Sejak tahun 2008. Kajian Lektur Kontemporer. membaca teksteks dari Timur Tengah nampaknya lebih ‘mudah’ dibanding membaca dokumen sejenis di Indonesia. Tulisan pertama menyajikan tentang Islam. Di sinilah kejelian seorang filolog diuji. sedangkan golongan kedua lebih pada konteks tetapi teks yang dihasilkannya cenderung labil. Secara garis besar. Obituari/Tokoh. Perang dan damai telah mewarnai daerah ini sepanjang sejarahnya. Tulisan ini menjelaskan hubungan yang erat antara Islam sebagai sebuah sistem nilai. Aceh adalah sebuah daerah yang memiliki penduduk yang kehidupan mereka cukup berfluktuatif. teks-teks yang lahir dalam dunia Islam. Pada Nomor ini. Sampai batas tertentu. dan 2) teks-teks yang dilahirkan oleh kalangan esensialis.

doa. dan bahkan tidak utuh lagi. dan menjelaskan sikap dan tingkah laku orang Aceh secara langsung. dan geguritan (cerita). 4) Isi naskah antara lain mencakup fikih. Melayu (Jawi). Dari aspek kodikologi. untuk kemudian menjadi teladan bagi kehidupannya. Kondisi naskah keagamaan Islam di Bali pada umumnya sangat memprihatinkan. dan lontar. dan obatobatan. naskah-naskah tersebut memiliki arti penting karena berkaitan dengan kebutuhan keagamaan sehari-hari bagi para pengikut Tarekat Syattariyah di Minangkabau. dapat dicatat beberapa hal: 1) bahan yang digunakan beragam. dan 3) Naskah Al-Qur’an sebanyak 14 naskah.mereka sendiri. tidak terawat dan kurang mendapat perhatian. Sebagian besar naskah sudah rusak. Tulisan keempat tentang kepemimpinan Islam di kalangan Kaum Tua dalam naskah-naskah Tarekat Syattariyah di Minangkabau. tasawuf. dan yang tertua tahun 1035 H/1625 M. Tulisan ini berupaya memberikan penafsiran atas naskah-naskah lokal di Minangkabau. Al-Qur’an. yaitu dluang. 2) Naskah lontar sebanyak 12 naskah. Secara kultural. bahasa (nahwu-saraf). Karenanya. 3) Waktu penyalinan antara abad ke-17–19 M. Naskah yang ditemukan sebanyak 38 buah dengan perincian sebagai berikut: 1) Naskah keagamaan berbahan kertas sebanyak 12 naskah. Makalah ini mencoba menemukan dan menganalisa sumber-sumber primer ini dalam hubungannya dengan perang dan damai yang terjadi dalam sejarah kehidupan orang Aceh. kertas Eropa. generasi sekarang dapat membaca dan memahami langsung tentang tulisan orang Aceh yang menjadi sumber utama. mulai dari abad ke-17 hingga abad ke-20 M. Para iv . wirid. Bugis. Tulisan ketiga menyajikan hasil penelusuran awal tentang beberapa aspek kodikologi naskah keagamaan Islam di Provinsi Bali. dan bagaimana karater serta sikap mereka pada masa lalu. Bagi para penganut tarekat Syattariyah. 2) Bahasa dan aksara yang digunakan meliputi Arab. dan Bali. tauhid. adab kepada guru. kertas modern bergaris. mengetahui riwayat guru adalah sebuah keharusan karena bermakna penghormatan kepada guru. Tulisan ini merupakan hasil penelusuran naskah keagamaan Islam di Bali tahun 2008 yang lalu. Pertanyaan utama yang perlu dibahas adalah bagaimana cara orang Aceh mengatasi konflik dalam kehidupan mereka. khususnya terkait dengan Tarekat Syattariyah. karena di dalamnya mengandung informasi asli tentang Aceh.

H. khususnya naskah klasik keagamaan (Islam) dalam studi arkeologi religi (Islam).H. (c) Data dari sumber tertulis dapat menjadi dasar penelitian dan kerangka acuan kajian arkeologi Islam. sebagai penerang di dunia bahkan sampai di akhirat. Menurut Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur Agama (Skr. karya Oman Fathurahman.H. Departmen Agama RI tahun 1986. Dua tulisan lain selanjutnya membahas hubungan naskah dengan arkeologi. Ahmad Sanusi itu. Ahmad Sanusi. Selain itu. Buku ini merupakan hasil kajian filologi dengan v . bahkan sulit ditemukan. sebagian besar dari karyanya tidak tersimpan di satu tempat. Mereka dihormati. tetapi juga di bidang sosial-budaya dan politik. Tulisan pertama menyajikan peran penting pernaskahan dan benda khazanah keislaman lainnya dalam kajian arkeologi Islam di Indonesia. Dalam kesulitan itu. Tulisan ini menjelaskan bagaimana peran arkeologi dalam kajian Islam di Nusantara dan hal-hal apa saja yang menjadi kajian arkeologi.ulama pemimpin Kaum Tua berperan tidak hanya di bidang keagamaan. Ahmad Sanusi (1888-1950).H. Ahmad Sanusi. Tulisan ini bertujuan untuk berbagi pendapat tentang siapa K. (b) Memperluas pemahaman tentang kedudukan dan peranan artefak dalam masyarakat sezaman. yaitu K. dan (d) Memperkaya interpretasi untuk dapat mengembangkan historiografi. riwayat dan ajarannya ditulis dan disebarkan. Selanjutnya adalah tulisan tentang tokoh. dan apa saja kiranya buku-buku yang telah beliau tulis. Ahmad Sanusi telah menulis selama hidupnya 480 karya tulis. dikemukakan pula berbagai penelitian yang telah dilakukan selama ini yang berkait dengan Islam di Nusantara. Suaranya didengar. Puslitbang Lektur Keagamaan) Badan Litbang dan Diklat. Sedangkan tulisan kedua membahas peran arkeologi dalam kajian Islam Nusantara. Tulisan ini membahas tentang posisi penting data tertulis. Tulisan terakhir merupakan telaah buku yang judul “Tarekat Syattariyah di Minangkabau Teks dan Konteks”. ditemukan kurang lebih seratus dua puluh dua (122) karya K. K. tingkah lakunya diikuti.H. Peranan data dari sumber tertulis dalam kajian arkeologi Islam antara lain sebagai berikut: (a) Pendukung kajian terhadap data artefaktual. Tulisan ini membahas wacana keagamaan dan karya-karya K. Namun.

Tarekat Syattariyah yang diajarkan Syekh Burhanuddin Ulakan sampai masa berikutnya bersikap lumer. selamat membaca. redaksi mengucapkan terima kasih secara khusus kepada Lukman Hakim—Staf Ahli pada Jurnal Penamas. Jakarta—yang telah menerjemahkan semua abstrak ke dalam bahasa Inggris. Uraian yang didasarkan pada naskah-naskah Syattariyah Minangkabau. kenyataannya. dan semoga bermanfaat. Padahal. Tarekat Syattariyah dianggap oleh kelompok masyarakat penganut Tarekat Naqsyabandiyah mengajarkan hal-hal wujudiyah. menggambarkan adanya perbedaan paham antara Tarekat Syattariyah dengan Tarekat Naqsyabandiyah. Balai Litbang Agama. dan kepada Usep Abdul Matin—Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta—atas kontribusinya mengedit abstrak berbahasa Inggris. Terakhir. Redaksi vi . Pembahasan dalam buku telah mengalami perluasan dengan tambahan analisis terhadap representasi naskah Sunda “versi Kuningan” dan dua naskah Jawa “versi Cirebon” dan “versi Girilaya”.pendekatan sejarah sosial-intelektual yang masih jarang dilakukan di antara ahli filologi pribumi. Demikian.

Pernah menjadi fasilitator pada Pelatihan Filologi Nasional yang diselenggarakan oleh Yayasan Naskah Nusantara (YANASSA) bekerja sama dengan The Toyota Foundation dan PPIM UIN Jakarta. Saat ini Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada vii . Jawa Barat.id Asep Saefullah lahir di Kuningan. Renaisans Islam: Kebangkitan Intelektual dan Budaya pada Abad Pertengahan. mengikuti International Course on the Handling and Cataloguing of Islamic Manuscripts. Mukjizat Sabar. (terj. 18 Oktober 1971. Konstitusionalis Pertama yang Prosais”. S3 (Doktor Arkeologi). lulus tahun 1999 dengan judul disertasi “Pelebahan: Upaya Pemberian Makna para Puri-puri Bali abad ke14—19”. Departemen Arkeologi. UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2001. Tahun 2007 mengikuti Diklat Penelitian Naskah Keagamaan. Sawangan Permai. UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 1997. No.) karya Tallal Alie Turfe (Bandung: Mizania. dan lain-lain. Ponsel 0816 1447887. di Kuala Lumpur Malaysia. Jakarta 1993.aris@ui. Tahun 2006. Jakarta. Vol. 2007. 5. 2006). lulus tahun 1990 dengan judul tesis “Kegiatan Keagamaan di Gunung Pawitra: Gunung Suci di Jawa Timur Abad ke-14--15”. Sawangan Depok 16519. Jakarta” Jurnal Lektur Keagamaan. lulus tahun 1984 dengan judul Skripsi “Beberapa Data Historis dari Parasasti Mula-Malurung”. dan S 2 di Program Studi Ilmu Susastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia tahun 2005. S2 (Magister Humaniora). Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI). (021) 98284951. atau email: agus.ac. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia). Kraemer (Bandung: Mizan. Ia dapat dihubungi di Jalan Garuda IV Blok D. Menyelesaikan pendidikan S1 (Sarjana Sastra. (terj. Ia menyelesaikan S1 pada Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam IAIN (skr. adalah Peneliti di Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI.8/30. Karya-karyanya antara lain “Ibnul Muqaffa. Departemen Agama RI. bidang Arkeologi) dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia. No. Pelita.) karya Joel L. 2003). dan S2 di perguruang tinggi yang sama tahun 2000 pada Program Studi Sejarah Peradaban Islam. 11-25 Juli 2004.Para Penulis Agus Aris Munandar adalah Staf Pengajar Program Studi Arkeologi Indonesia. Manajer Penelitian dan Pengabdian Masyarakat FIB UI (2008—sekarang). Adib Misbachul Islam menyelesaikan studi S1 di Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab IAIN (skr. 1. Fakultas Pascasarjana Universitas Indonesia. “Ragam Hiasan Mushaf Kuno Koleksi Bayt al-Qur’an dan Museum Istiqlal. M.

J. 2006. Jakarta: Logos. Peta Pendidikan Islam di Indonesia (Making Modern Muslims: Map of Islamic Education in Indonesia). No. Islam in Indonesia: Islamic Studies and Social Transformation (Co-editor Jamhari). MA dalam Islamic Societies and Cultures dari School of Oriental and African Studies (SOAS) University of London (1992). Karya tulisnya antara lain. Jurnal Lektur Keagamaan. No. 2002. “Menguak Sufisme Tuang Rappang”. 2003. McGill University (1999). Di antara karya-karya tulisnya adalah IAIN: Modernisasi Islam di Indonesia (Co-editor Jamhari). Jakarta: RajaGrafindo Persada. Mencetak Muslim Modern. dan (2) Bagaimana tradisi Islam klasik tersebut digunakan atau disalahgunakan oleh masyarakat Muslim kontemporer untuk menjustifikasi posisi/aliran keberagamaan mereka. Vol. London. bekerja sama dengan International Islamic University Malaysia (IIUM). 2008. Malaysia. “Relasi Tuhan dan Alam: Pandangan Sufistik Syaikh Yusuf Makassar dalam Naskah Sirr al-Asrar”. Menjadi Sekretaris Departemen Arkeologi FIB UI sejak 2004-2007. yang diselenggarakan oleh al-Furqan Islamic Heritage Foundation. 2002. Irmawati M-Johan sejak tahun 1981-sekarang menjadi dosen di Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI). Keragaman Iman: Studi Komparatif Masyarakat Muslim (co-translator). Jakarta: RajaGrafindo Persada. Selain mengajar. 2005. Jurnal Lektur Keagamaan. Usep Abdul Matin memperoleh gelar MA di bidang Kajian Islam dari Duke University pada tanggal 26 Mei 2008 di Amerika Serikat dan satu lagi dari Leiden University di Belanda (cum laude) pada tanggal 22 Februari 2001. Leiden: E. Minat keilmuannya terfokus pada dua hal: (1) Tradisi Islam klasik. 2005. Riaz Hasan. Sejak 2007 hingga sekarang menjadi Ketua Departemen Arkeologi dan Ketua Program Pascasarjana Departemen Arkeologi FIB UI. 1. Montreal-Jakarta: ICIHEP. Jakarta: Nalar. 2. Brill. 2006. The Comnpanions of the Prophet: A Study of Geographical Distribution and Political Alignments. International Journal for South East Asian Islam. sedangkan The Asian Foundation for Research and Consultancy viii . Vol 6. Departemen Agama.bulan Maret-April 2006. Benturan Peradaban: Sikap Islamis Indonesia Terhadap Amerika Serikat (Co-author). Fuad Jabali. “Membangun Pesantren di Ranah Sunda: Belajar dari Darul Arqam” dalam Jajat Burhanuddin and Dina Afrianty. 3. mendapatkan gelar Doktor dengan predikat Dean Honour List dari Institute of Islamic Studies. dan Sarjana dalam bidang Sejarah dan Peradaban Islam dari Fakultas Adab IAIN (sekarang Fakultas Adab dan Humaniora UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta (1989). selama tiga minggu mengikuti International Course in the Handling and Cataloguing of Islamic Manuscripts di Kuala Lumpur. Konsultan Projek Kerjasama Luar Negeri (Indonesia-Canada Social Equity Project). dia adalah Deputi Direktur Bidang Akademik Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. dosen di Fakultas Adab dan Humaniora dan di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. The Foreign Fulbright Grant telah memberikan beasiswa kepadanya untuk program S2 di Duke. Editor Studia Islamika.

Menamatkan studi Strata 1 (S1) di Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Universitas Andalas. dan Katalog Naskah Awe Geutah bekerjasama dengan Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama. 14 Juni 1970. Bahren lahir di Padang 06 Pebruari 1979. Sejak S2 sampai sekarang. Saat ini menjadi dosen dan peneliti di Universitas Andalas. untuk tahun ini buku yang telah terbit adalah Menelusuri Tarekat Syattariyah di Aceh lewat Naskah. Jawa Barat pada 8 Oktober 1930. Beliau memperoleh Sarjana Agama (S. Selain itu. “We are religious but also corrupt” (08/14/2008). Menamatkan studi Strata Sat (S1) di Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Universitas Andalas. Tulisan ilmiah populernya pernah di muat di beberapa surat kabar lokal Sumatra Barat dan Riau. Beliau sekarang dosen dan sekertaris jurusan untuk program SPI FAH UIN Jakarta. mengikuti program pembibitan calon dosen IAIN se-Indonesia di Jakarta. Tulisantulisannya yang lain dalam bahasa Inggris juga sudah dimuat di koran The Jakarta Post. S2 di Leiden University pada tahun 1998. penelitian tertuju pada naskah-naskah kuno khususnya naskah Aceh.(AFRC) representative for Islamic Studies (INIS) memberikan beasiswa kepadanya untuk program S2 di Leiden. Uka Tjandrasasmita lahir di Subang. Fakhriati lahir di Pidie.Ag. Saat ini menjadi dosen dan peneliti di Universitas Andalas Padang. dan “Terrorists ignore God. Kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI). serta perna menjadi staff rektor UIN Jakarta. Kuningan. seperti “Theorizing the 9/11 atrocity: Its ubiquitous persistence” (09/15/2008). dua penelitian telah dilakukan. Pada tahun 2008 bergabung di UIN Jakarta dan tahun 2009 bulan juni mulai aktif di Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama. Berbagai tulisan ilmiah dan esainya pernah di muat di beberapa jurnal dan terbitan lokal Sumatra Barat. Ia termasuk penulis yang produktif dan pernah menjadi chief editor UIN News dalam bahasa Inggris dari 2005 sampai 2008. Jurusan Ilmu ix . Dalam tahun ini. menyelesaikan studi S1 di IAIN ArRaniry jurusan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah pada tahun 1993. Aceh.) di Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam (SPI) Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada bulan Februari 1996 (cum laude). Pramono lahir di Medan 12 Desember 1979. life to pursue heaven” (01/24/2006). Lebih dari itu. Sejak tahun 1995 mengajar di IAIN Ar-Raniry dan mulai tahun 1998 mengajar di IAIN Sumatera Utara. Strata dua (S2) pada Program Studi Filologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Bali. tulisannya dalam bahasa Inggris yang berjudul “Suicide Bombing: A Sociological Approach to 9/11” sudah diterbitkan oleh Penerbit Mitra dalam Sociologi: Sebuah Pengantar Tinjauan Pemikiran Sosiologi Perspektif Islam (September 2008: 270-284). dan S3 di Universitas Indonesia jurusan Filologi pada tahun 2007. yaitu Identifying and Preserving Acehnese Manuscripts Located in Pidie and Aceh Besar didanai oleh British Library. Tahun 1994.

Purbakala dan Sejarah Kuno. dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 1998. selesai tahun 1960.C. Direktur Sejarah dan Purbakala Departemen P dan K (1974-1979). x . Pernah menjadi anggota (mewakili pemerintah RI) International Commission for the Preservation of Islamic Cultural Haritage (OKI) tahun 1982-1990. juga sebagai dosen Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta. konsultan The Project of Cultural Tourism Development in Central Java and Yogyakarta (UNESCO) tahun 1992. Memperoleh gelar Doktor H. Direktur Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Departemen P dan K (1979-1990). dan lainlain. Di antara jabatan yang pernah didudukinya adalah Kepala Dinas Arkeologi Islam pada Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional Departemen P dan K (19861974). di samping sebagai dosen tetap di Universitas Pakuan Bogor. Saat ini.

xi . font Times New Roman 12. 1980). Menteri Agama RI Nomor 158 tahun 1987 dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 0543 b/u/1987 tentang Pedoman Transliterasi Arab–Latin. Redaksi menerima tulisan mengenai kelekturan. dan khazanah budaya keagamaan. penulis hendaknya berpedoman pada Pedoman Transliterasi ArabLatin SKB Dua Menteri. Dalam hal penggunaan transliterasi Arab-Latin. antara lain tentang naskah klasik. dan diserahkan dalam bentuk print out dan file dalam format Microsoft Word. (Jakarta: LP3ES. Jakarta: LP3ES. dan alamat lengkap. Tulisan dapat berupa ringkasan hasil penelitian. kata kunci. literatur kontemporer. Tulisan wajib memperhatikan kaidah-kaidah penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang berlaku serta menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar berdasarkan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. artikel setara hasil penelitian. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. h. Deliar. Penulis harap menyertakan abstrak dalam bahasa Indonesia dan Inggris. 109.Ketentuan Pengiriman Tulisan Jurnal Lektur Keagamaan terbit dua kali setahun. Sumber rujukan menggunakan footnote (catatan kaki) yang ditulis seperti contoh berikut: Deliar Noer. Panjang tulisan antara 15-25 halaman kuarto 1. dan Daftar Pustaka ditulis: Noer.5 spasi. kajian tokoh (obituari) maupun telaah kitab atau tinjauan buku. 1980. biodata singkat dalam bentuk esai.

Tulisan dapat dikirimkan melalui e-mail: jurnal. Dan./Faks.id Atau melalui pos ke alamat: Puslitbang Lektur Keagamaan. Departemen Agama RI. tulisan yang dimuat tidak selalu mencerminkan pandangan Redaksi. (021) 87794220 Bagi lembaga yang ingin mendapatkan jurnal ini dapat menghubungi alamat di atas.lektur@depag.web. xii . Jakarta 13560 Telp. Badan Litbang dan Diklat. Gedung Bayt al-Qur’an & Museum Istiqlal.Redaksi berhak menyunting naskah tanpa mengurangi maksud tulisan. Taman Mini Indonesia Indah.

Adib Misbachul Islam Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua dalam Naskah-Naskah Tarekat Syattariyah di Minangkabau Pramono dan Bahren Peran Penting Pernaskahan dan Benda Khazanah Keislaman Lainnya dalam Kajian Arkeologi Islam di Indonesia Agus Aris Munandar Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara Irmawati M-Johan K. karya Oman Fathurahman Uka Tjandrasasmita xiii . and His Work Collection Usep Abdul Matin Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Tinjauan Buku “Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Teks dan Konteks”.Judul-judul untuk back cover Teks. Islam dan Sejarah: Setali Tiga Uang Fuad Jabali Perang dan Damai di Aceh: Kajian Manuskrip Aceh Tentang Konflik dan Solusinya Fakhriati Beberapa Aspek Kodikologi Naskah Keagamaan Islam di Bali: Sebuah Penelusuran Awal Asep Saefullah dan M.H. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse.

Kata kunci: Al-Qur’an. filologi. are incomplete. the biographical texts in Arabic offer information of diverse people. Indonesian philologists are to trace such complete biography in Indonesian literature. which are written in Indonesian by Indonesian scholars. Teks. the text as an expression of system. esensialis Teks dan Islam Teks menempati posisi yang sangat penting dalam Islam. Jakarta This paper describes a strong relationship between Islam as a value system. and history are interconnected each other. This paper explains that Islam. which are written in Arabic by scholars of the Middle East. Wisma Syahida UIN Jakarta. 26-28 Juli 2004. konteks. In contrast. In this regard. The first category refers to the fact that the scripturalists or fundamentalists produce text. text. Orang-orang Islam sangat bangga menyebut dirinya * Tulisan ini semula merupakan Makalah yang disampaikan pada Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara VIII. teks. the Islamic texts. Teks dan Sejarah: Setali Tiga Uang* Fuad Jabali UIN Syarif Hidayatullah. In other word. For this reason. are easy to read as they provide complete information of an issue that we look for.Islam. For example. hadis. Revisi terakhir 14 Juni 2009. this second group make the text unstable. The latter group creates the context. The second category would be: the essentialists make the text. Ajaran-ajaran utama Islam ada dalam bentuk teks. The former group stresses the importance of the text and tend to make it stable. skripturalis. and history as both time and space contexts of the textual system value. This category challenges philologist to investigate. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali Islam. This paper classifies text into two catagories. 1 . yaitu Al-Qur’an dan hadis. the Islamic texts.

kemana mereka harus mencari kejelasan? Berbagai jawaban dikemukakan. akal. Masyarakat Islam sebagai masyarakat yang eksistensinya bergantung pada teks diperkuat oleh hadis. yaitu kesepakatan masyarakat Muslim dalam memahami teks.Jurnal Lektur Keagamaan. terutama yang dikumpulkan oleh Bukhari dan Muslim. percisnya. Bagi Ahlul Kitab. dunia langit hanya bisa diketahui lewat teks yang dibawa oleh para Nabi. seperti gunung dan langit (benda-benda ciptaan ini juga disebut ayat atau. Memang benar bahwa makna abadi itu bisa diketahui lewat ciptaan Tuhan. ada juga yang merujuk pada ijma’. maka hadis. signifier) dari madlul (‘yang ditunjuk’. ayah kauniyah ‘tanda-tanda alam’). 7. Kalau tidak jelas. Bagi orang Islam. seperti yang dikembangkan oleh Syafi’i. secara sederhana. sebagai halnya umat Islam. Rujukan-rujukan tadi—yaitu tradisi lokal. menjadi rujukan utama setelah Al-Qur’an. yang jumlah ayatnya hanya sekitar 6600. yaitu makna abadi yang ada di dalam diri Tuhan. setiap kata atau kalimat yang ada dalam Al-Qur’an disebut ayat atau ‘tanda. ada juga yang merujuk pada catatan dari kata-kata dan perbuatan Nabi yang kemudian disebut hadis. Teks adalah dal (‘yang menunjuk’. terutama Yahudi dan Kristen. 2009: 1 . seperti yang ada dalam mazhab Hanafi. Ada yang merujuk pada tradisi atau konteks lokal sebagai penjelas. Al-Qur’an juga menyebut para pengikut agama lain. tetapi ayat yang paling utama adalah teks Al-Qur’an. maka wajar kalau ada kecenderungan untuk melihat keislaman 2 . Bisa dikatakan bahwa tanpa teks ini tidak ada Islam dan masyarakat Muslim. mereka juga menjadikan teks (kitab suci) sebagai pusat dari kesadaran beragama mereka. seperti yang nampak pada mazhab Maliki (yang sangat mementingkan tradisi dan praktek lokal Madinah). ‘masyarakat teks’. ada yang merujuk pada akal. Al-Qur’an. 1. Hadis kini menjadi teks terpeting kedua setelah Al-Qur’an. No.20 sebagai Ahlul Kitab ‘orang-orang yang sangat menghormati kitab’ atau. ijma’ dan hadis—sama-sama dipakai oleh masyarakat Muslim secara bervariasi dalam tingkat yang berbeda-beda. bukanlah sebuah teks yang bisa menjelaskan semua realitas atau ajaran dengan sangat detil. Vol. sebagai Ahlul Kitab karena. signified). Kalau teks menempati posisi yang demikian penting dalam Islam.’ Tanda dari suatu makna abadi. Tetapi ketika hadis dibukukan pada abad ke 3 H/9 M.

juga penting karena di dalamnya ada resensi buku-buku yang beredar di dunia Islam. semakin jauh semakin sesat. teks-teks tersebut adalah warisan yang sangat berharga. bahkan pernah disebut kafir. namun sikap mereka terhadap teks-teks tersebut berbeda tergantung pada cara mereka memandang. Pemahaman masyarakat Muslim terhadap Al-Qur’an dan hadis tersebut dituangkan dalam bentuk teks yang jumlahnya tak terhingga. Geschichte der arabischen Litteratur (Leiden: Brill. buku karya al-Tabari (wafat th. Semakin dekat dianggap semakin saleh. 1943-1949). terutama di Baghdad. 1967 . yang hidup pada abad ke-2 H/8 M dan ke-3 H/9 M. 9 jilid. 1 Buku al-Fihrist karya Ibn al-Nadim. terutama di Timur Tengah dan Eropa (termasuk Turki). dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali seseorang lewat kedekatannya (atau kejauhannya) dengan teks. Bagi masyarakat Muslim. Kelompok pendukung hadis (ahl al-hadits) menyebut diri mereka sendiri sebagai umat yang terbaik (khair ummah) karena keteguhannya dalam mengikuti dan memegang teks hadis. 1 3 . Penghormatan yang demikian tinggi pada teks Al-Qur’an dan hadis menjadi landasan yang kuat bagi masyarakat Muslim untuk memproduk banyak sekali teks. yang hanya diketahui lewat kutipankutipan atau resensi yang ditulis belakangan. Ada masyakat Muslim yang membatasi penghormatan mereka pada Al-Qur’an Untuk mendapatkan gambaran tentang jumlah dan jenis buku yang diproduk masyarakat Muslim yang sudah hilang tetapi dikutip secara meluas lihat Carl Brockelmann. Banyak sekali teks yang sudah musnah.Islam. Kelompok rasionalis dikritik dengan tajam. Tarikh al-Rusul wa al-Muluk (diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris The History of al-Tabari dalam 39 jilid atas sponsor UNESCO). Teks. 1937-42. Gerschichte des arabischen Schrifttums (Leiden: Brill. Teks menjadi media yang sangat penting dalam memahami Al-Qur’an dan hadis. 310 H / 923 M). pada masa itu yang juga sebagian sudah hilang. seorang penjual buku di Baghdad pada abad ke-4 H/10 M.). sangat penting karena dia banyak mengutip karya-karya yang ditulis oleh sejarawan sebelumnya. Fuat Sezgin. karena menggunakan teks hadis dengan sangat minimal ketika menafsirkan teks Al-Qur’an. misalnya. menanti sentuhan tangan filolog. Dalam kajian sejarah. yang sudah hilang. 2 jilid dan 3 jilid supplement. Walaupun demikian banyak sekali teks-teks yang berhasil diselamatkan yang kini tersebar di berbagai negara.

teksteks ini sangat dominan. diwariskan lewat teks. anak-anak NU bisa menjadi “filolog” yang potensial.20 dan hadis. yang segera memasuki teks Al-Qur’an dan hadis. Kalangan Muhammadiyah. Demikian juga 4 . Mereka adalah kelompok yang sangat menghormati teks-teks di luar Al-Qur’an dan hadis. karena bisa jadi awalnya mereka hanya diperkenalkan kepada teks dari mazhab ini saja. 2009: 1 . Di Indonesia. Sementara kelompok lain menantangnya. NU lebih terbiasa dengan teks dibanding Muhammadiyah. dalam memecahkan masalahmasalah kontemporer. Mereka membaca Al-Qur’an dan hadis melalui teks-teks lain yang tersusun secara hirarkhis. bahkan terkadang. Dikenalkan dengan keragaman teks sejak dini. tidak mengikat dan. No. Semua persoalan segera dicari dalam teks Al-Qur’an. Mengapa orang-orang menganut mazhab Syafi’i. bahkan tidak jarang teks Al-Qur’an-nya sendiri tidak dirujuk. 7. walupun tingkatannya berbeda-beda dari satu kelompok ke kelompok lain. Bagi kelompok masyarakat lain. adalah pembaca teks Al-Qur’an yang paling tekun dan juga paling tidak sabar. tidak mesti dibaca. Sebagian mereka berpendapat bahwa keberadaan teks-teks di luar Al-Qur’an dan hadis tadi menjadi benteng penghalang bagi umat Islam untuk memasuki kedua sumber ini. dari generasi ke generasi. Dalam fatwa-fatwa NU. Sebaliknya NU. kalau perlu secara literal. bisa jadi mendapatkan penghormatan dan perlakuan yang hampir sama dengan Al-Qur’an dan hadis. buku-buku yang ditiulis para pendiri mazhablah yang harus dihormati dan diikuti. teks-teks selain AlQur’an dan hadis sifatnya relatif. Bagi Muhammadiyah. sementara kelompok lainnya melebarkan penghormatan tersebut kepada teks-teks di luar keduanya. misalnya. NU menjawab setiap pertanyaan dengan cara terlebih dahulu memasuki teks-teks yang diwariskan ulama-ulama sebelumnya. maka sudah sewajarnya kalau teks juga memegang peranan penting dalam transmisi Islam. Berbeda dengan Muhammadiyah. 1. atau perbedaan warna Islam. Perbedaan pemahaman terhadap Islam. Muhammadiyah dan NU merepresentasikan kedua kecenderungan tersebut. Islam dari waktu ke waktu.Jurnal Lektur Keagamaan. Teks dan Transmisi Islam Kalau teks dan Islam berhubungan demikian erat. Buku yang ditulis oleh seorang Sufi besar. sebagian besar akan bergantung pada perbedaan teks yang diwariskan. Vol.

sampai sekarang masih mempertahankan ciri khas ini. Dalam tradisi sorogan. sebaliknya.” Dengan kata lain. untuk mengungkapkannya secara sederhana.Islam. transmisi teks dilakukan secara manual. maka dia harus menyalinnya sendiri atau meminta orang lain untuk melakukannya. Dan. nahwu dan hadis. kiai dan santri tersebut sedemikian penting sehingga di kalangan pesantren ada semacam keyakinan bahwa “Barang siapa yang membaca teks tanpa guru. telah melahirkan perbedaan kelompok beragama. terutama di Jawa. Kegiatan pesantren (terutama di pesantren salaf yang belum terkena modernisasi) terpusat pada kajian teks yang terkenal dengan ‘kitab kuning’. kepada sang murid untuk mengajarkan teks tersebut. atau semacam lisensi. Hubungan murid-guru dibangun di atas teks. sang guru akan memberikan ijazah. maka gurunya adalah setan. Bahwa teks memegang peranan kunci dalam penyebaran Islam juga bisa dilihat di dalam lembaga-lembaga yang terlibat dalam penyebaran Islam. kalau ada yang ingin memiliki buku. Kita mengenal ada beberapa orang yang persis bekerja sebagai penyalin buku dan menjadikannya sebagai sumber 5 . Filologi di Kalangan Ulama Ketika mesin cetak belum ditemukan. Tidak mungkin santri belajar Islam tanpa teks dan tanpa kiai. Perbedaan teks. Di dunia Islam secara keseluruhan hubungan antara teks dengan ulama dalam transmisi Islam bukanlah hal yang istimewa. Teks. demikian seterusnya. tidak ada kiai tanpa teks. Perbedaan ciri khas pesantren ditentutkan oleh perbedaan jenis teks yang dikaji. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali dalam sufisme dan teologi. tidak ada teks tanpa kiai dan. Mayoritas pesantren di Indonesia. Artinya. seorang kiai akan membaca teks tertentu di hadapan santri-santrinya. pimpinan pesantren atau kiai memainkan peranan kunci. Dalam kajian teks tersebut. Hubungan antara teks. seperti tafsir. Guru akan mengajarkan teks tertentu kepeda murid-muridnya dan ketika muridnya sudah dipandang mampu. Rentetan pengijazahan dari satu guru ke murid yang lain ini biasanya dicatat di awal teks dalam bentuk silsilah. yaitu pesantren. Teks inilah yang akan menjadi modal utama santri-santri tersebut ketika kelak keluar dari pesantren.

4:386. Para penyalin ikut menjadi korban peperangan. Vol. Pertama. 4:343. al-Isabah. listrik. Menjadi orang yang dilahirkan pada masa Nabi jauh lebih penting dari orang yang dilahirkan pada masa ‘Usman.4 Faktor-faktor lain bisa membuat kesalahan tersebut semakin sering dilakukan. ada saat-saat dimana para penyalin menjadi sangat sibuk sehingga terbuka untuk melakukan kesalahan. telepon. faktor idiologis juga berperan penting dalam perubahan teks. Rabi’ah 3 dan Aqram menjadi Arqam. Hisyam bisa dengan mudah tertulis Hasyim 2 atau. Kualitas penerangan yang kurang membuat mata cepat lelah. teknologi yang sangat terbatas. 1.20 penghidupan. Perbedaan baca di antara para penyalin menjadi hal yang tak terelakkan. Rabi’ah menjadi Adam b. 7. Bukankah Nabi pernah menyampaikan bahwa masa yang terbaik adalah masa Nabi itu sendiri kemudian masa sesudahnya kemudian masa Ibn Sa’d. dan AC pada masa itu. faktor perkembangan bahasa. al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah (Beirut: Dar alKitab al-‘Arabi. Keempat. Kitab al-Tabaqat al-Kubra (Beirut: Dar al-Sadir. yang menurut Ibn Hajar (wafat 852 H/1449 M) lebih kuat. Tetapi. Paling tidak konsentrasi mereka terganggu. Dam b. Ibn Sa’d. 5 Ibn Hajar. Iklim yang demikian panas membatasi orang untuk bekerja maksimal. menurut informasi lain dari beberapa jalur yang berbeda. n. 4 Ibn Hajar al-‘Asqalani. mungkin karena penulisnya ngantuk. tetapi bisa jadi juga lebih dari itu. Tabaqat. 5 Perubahan tanggal lahir itu bisa jadi karena kelalaian penulis atau penyalin teks. Dikatakan bahwa Asy’ab b Ummu Humaidah lahir pada tahun 9 H/630 M atau pada masa Nabi. No. Tetapi bisa jadi. misalnya. Kedua. n. karena jarangnya orang yang bisa menulis.Jurnal Lektur Keagamaan. stabilitas sosial politik pada masa itu tidak sebaik seperti sekarang. 3 2 6 . Teks yang dihasilkan menjadi bebeda antara satu dengan yang lainnya.t). Gigi dan titik belum dipakai secara konsisten sehingga sulit dibedakan mana ba. 1:130. Ini menurut informasi dari Abu al-Faraj. 2009: 1 . Ketiga. 1:125. Bahasa Arab pada masa itu adalah bahasa Arab yang masih dalam proses perkembangan. Tidak ada komputer. Menyalin buku menjadi perkerjaan yang bisa jadi tidak nyaman. ta dan £a. dia ternyata lahir pada saat ‘Usman terbunuh (yaitu tahun 35 H/656 M).).d.

Dalam hadis juga dikenal dengan ‘rawahu al-syaikhan’’ atau ‘diriwayatkan oleh dua orang syaikh’. Istilah-istilah ini hanya mungkin kalau kajian antarteks sudah berkembang kuat. 3: 171. Muhammad b. Kajian antarteks menjadi suatu keniscayaan. Lewat kajian antarteks. Sahih (Cairo: Maktabat ‘Abd al-Hamid Ahmad Hanafi. dan memasukkan nama ‘Ayyasy b. harus sangat hati-hati dalam memilih dan membaca teks. ‘Umar (wafat 207 H/822 M) menulis buku tentang orang-orang yang hijrah ke Habasyah (Ethiopia) (hijrah Nabi yang pertama). yaitu Bukhari dan Muslim. 8: 91.Islam. yaitu suatu disiplin ilmu yang dikembangkan untuk menilai kualitas informasi dan akurasi teks berdasar pada penilaian kritis terhadap orang-orang yang terlibat dalam transmisi informasi dan teks tersebut. adanya ‘kutub al-sittah’ atau ‘buku yang enam’ dan ‘kutub al-arba’ah’ atau ‘buku yang empat. Dia adalah tempat bertanya masyarakat. dalam periwayatan hadis. informasi yang ada dalam satu buku dicek di buku yang lain. Kita mengenal dalam hadis. Adalah juga kehendak untuk mendapatkan teks yang benar-benar bersih para ulama mengembangkan berbagai disiplin ilmu. mana di antara teks-teks yang ada itu yang paling bisa dipercaya. Abi Rabiah ke dalam daftar orang-orang yang ikut hijrah tersebut. Teks. pusat verifikasi teks. 1: 8. dan bisa jadi masyarakat awam meyakini bahwa masuk surga atau tidaknya mereka akan bergantung kepada para ulama ini. Sebut saja misalnya jarh wa al-ta‘dil dan rijal al-hadits. tt. Kalau keragaman teks tidak bisa dihindarkan. Dia mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan yang kebenarannya sangat bergantung pada ketepatan teks dan kebenaran membacanya. Ibn Al-Bukhari. Berbagai versi harus dibaca dan dibandingkan. 9. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali sesudahnya? 6 Lahir pada masa Nabi bukan hanya penting karena dia lahir pada masa yang terbaik tetapi juga. 141-2. Para ulama. 6 7 . menjadi pusat produksi dan reproduksi ilmu. dia menjadi mungkin bisa bertemu dengan sahabat-sahabat besar bahkan bisa meriwayatkan hadis dari mereka. maka pada dasarnya setiap ulama pada masa itu adalah seorang filolog.). dengan demikian.’ Suatu hadis yang ditemukan dalam keenam buku hadis lebih kuat dari pada hadis yang hanya ditemukan dalam empat buku hadis. misalnya. Ishak (wafat 150 H/767 M) dan Muhammad b.

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 1 - 20

Sa‘d (wafat 230 H/845 M) lalu mengecek nama tersebut di buku yang ditulis oleh Musa b. ‘Uqbah (wafat 141 H/758 M) dan Abu Ma’syar (wafat 170 H/786 M), dan nama ‘Ayyash ternyata tidak ada. 7 Dengan cara yang sama (kali ini membandingkan teks yang ditulis oleh Musa b. ‘Uqbah, Muhammad b. Ishaq dan Muhammad b. ‘Umar), Ibn Sa’d juga menemukan bahwa Musa b. ‘Uqbah melakukan kesalahan penulisan nama, yang semestinya al-Aswad b. Naufal b. Khuwailid ditulis menjadi Naufal b. Khuwailid. Ibn Sa’d juga tahu bahwa nama ini tidak muncul dalam buku Abu Ma’syar.8 Skripturalis/Fundamentalis dan Filolog Di atas dikatakan bahwa Al-Qur’an dan hadis sebagai teks kunci telah melahirkan banyak teks. Teks satu dengan teks yang lainnya ini terhubungkan dengan seorang figur dan silsilah (geneologi). Ada geneologi guru dan ada geneologi teks, dan kualitasnya berbeda-beda. Buku yang diwariskan lewat guru A-B-C misalnya lebih baik daripada buku yang diwariskan lewat A-B-D. Tekanan yang demikian besar terhadap geneologi mengisyaratkan bahwa dalam transmisi teks tersebut ada sesuatu yang stabil, yang harus dijaga keasliannya. Prinsip ini sangat menolong bagi filolog sebab sekali dia mampu mengidentifikasi apa ‘yang stabil’ atau apa ‘yang harus senantiasa dijaga keasliannya’ tersebut maka dia akan mudah membaca teks yang sangat korup sekalipun. ‘Yang stabil’ akan selalu ditemui dalam berbagai teks. Memang benar bahwa ‘apa yang stabil’ jenis dan kadarnya akan berbeda-beda dari satu kelompok ke kelompok lain. Tetapi, sekali ditemukan dalam satu kelompok tertentu, maka filolog akan terbantu dalam membaca teks yang ditulis atau menjadi ciri dari kelompok tersebut. Di dunia Islam, baik masa lalu maupun sekarang, dikenal adanya dua kelompok besar: skripturalis atau fundamentalis dan esensialis. Kelompok skripturalis adalah mereka yang berkeyakinan bahwa (1) Islam adalah agama yang sempurna dan jelas yang mengatur semua aspek kehidupan kita dan, oleh karena itu, tidak diperlukan adanya penafsiran ulang; (2) Memang masyarakat selalu
7 8

Ibn Sa’d, Tabaqat, 4:383. Ibn Sa’d, Tabaqat, 4:379.

8

Islam, Teks, dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali

berubah-ubah, tetapi perubahan itu harus senantiasa dicocokkan dengan Al-Qur’an dan hadis, bukan Al-Qur’an dan hadis yang harus dicocokkan dengan perubahan masyarakat; (3) Al-Qur’an dan hadis adalah sumber utama Islam dan semua persoalan harus benarbenar sesuai dengan Al-Qur’an dan hadis; (4) Akal dan tradisi lokal sifatnya nisbi dan, oleh karena itu, tidak bisa dipakai sebagai sumber nilai; (5) Masa Nabi dan para sahabatnya adalah masa yang paling sempurna yang harus dijadikan model bagi setiap masyarakat Muslim kapan pun dan dimana pun. Pandangan kelompok esensialis berbeda sama sekali dengan pandangan kelompok ini. Mereka percaya bahwa (1) Islam memang agama sempurna tetapi kesempurnaannya bersifat minimal dan untuk memaksimalkannya diperlukan usaha dan pikiran masyarakat Muslim, (2) Masyarakat selalu berubah-ubah dan oleh karena itu Islam harus dilihat secara dinamis, (3) Al-Qur’an dan hadis adalah kebenaran yang diekspresikan dalam ruang dan waktu tertentu dan oleh karena itu harus dilihat konteksnya, (4) Akal dan tradisi lokal harus dipakai sebagai sumber yang berharga dalam formulasi hukum dan ajaran Islam, (5) Masa Nabi dan para sahabatnya adalah masa yang paling sempurna untuk zamannya dan tidak boleh dipahami secara literal. Perbedaan pandangan di antara kedua kelompok di atas melahirkan teks yang sama sekali berbeda sifatnya. Teks di kalangan skripturalis relatif stabil. Karena Islam dipandang sempurna, karena Al-Qur’an dan hadis dianggap selesai, dan karena masa Nabi dan sahabatnya dipandang ideal, maka yang ditemukan dalam teks yang diproduk oleh kelompok ini adalah potongan-potongan informasi yang diambil dari Al-Qur’an, hadis dan sirah (perjalanan hidup) Nabi dalam jumlah besar. Akibat dari tekanan terhadap penafsiran dan tradisi lokal yang begitu besar, maka unsur baru dalam teks menjadi minimal. Walaupun ditulis dalam waktu dan tempat yang berbeda, bisa diasumsikan bahwa teks di kalangan kelompok ini relatif sama. Kutipan-kutipan Al-Qur’an, hadis dan sirah Nabi dan para sahabatnya akan dominan dan setiap ketidakjelasan yang ada dalam teks yang korup bisa segera diisi oleh filolog dengan membaca teks standard (Al-Qur’an, hadis dan sirah Nabi). Kalau kadar stabililitas dalam teks-teks tradiosionalis sangat tinggi, maka teks yang diproduk oleh kalangan esensialis sangat 9

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 1 - 20

labil. Dia lebih beragam baik di tingkat kelompok maupun individu. Mu’tazilah, kelompom rasional Muslim yang terkenal dalam sejarah Islam, misalnya, terdiri dari banyak sub kelompok yang berbeda satu sama lain, dan pada sub kelompok tersebut perbedaan antar individu sangat kentara. Masing-masing mereka melihat Islam, AlQur’an dan hadis serta sirah Nabi sebagai suatu teks yang sangat terbuka. Berbeda dengan kalangan skripturalis, yang memandang makna sebagai ‘sesuatu yang diberikan oleh teks’, kalangan rasional memandang makna lebih sebagai ‘sesuatu yang harus dicari dan diberikan oleh pembaca’. Membaca bukanlah proses menerima teks secara pasif, tetapi lebih merupakan proses intrograsi yang sangat cair, dimana pembaca dan teks bisa ditempatkan secara sejajar dan oleh karena itu dialog antara teks dan pembaca menjadi sangat intens. Hasil dari dialog itu adalah warisan teks yang sangat dinamis dan beragam. Sesunggunya kalangan skripturalis/fundamentalis telah membuat pekerjaan filolog lebih mudah. Filolog yang ingin cepat selesai diusulkan untuk tidak memilih teks-teks yang ditulis oleh kalangan rasionalis. Studi Kasus: Membaca Dokumen Ikrar Abad ke-14 di Jerusalem Disebutkan di atas bahwa salah satu cara membaca teks yang sudah korup adalah dengan cara menggunakan teks yang sudah established sebagai patokan. Tentu saja Al-Qur’an dan hadis adalah teks Islam yang paling stabil. Tidak terlalu sulit untuk mentranskrip naskah Al-Qur’an atau hadis, atau teks yang mengadung banyak sekali kutipan Al-Qur’an dan hadis. Teks berikutnya yang relatif lebih mudah digarap adalah teks yang ditulis oleh kelompok sripturalis atau fundamentalis. Dibanding teks yang ditulis kalangan esensialis, teks yang mereka buat relatif lebih mapan dan lebih seragam dari satu periode ke periode lain dan dari satu tempat ke tempat lain sehingga lebih mudah dibandingkan. Prinsip yang sama bisa dipakai untuk membaca teks-teks Islam pada umumnya. Teks-teks Islam bisa diklasifikasi ke dalam lima kelompok besar: 1) sejarah, 2) teologi, 3) sufisme, 4) filsafat dan 5) hukum. Di antara kelima kelompok tadi, yang paling tegas dan rinci adalah hukum. Hukum Islam diformulasikan dan dirumuskan oleh para ulama sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan kebi10

Dan bertakwalah kepada Allah. dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (2) teks yang ditulis oleh ahli hukum relatif lebih mudah dibaca karena lebih stabil. (Q. Dua contoh teks akan dikemukakan di sini untuk menunjukkan: (1) bahwa Islam (seperti halnya agama lain) sangat instrumental dalam melahirkan teks. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali ngungan dan mudah diikuti. Orang-orang skripturalis dan fundamentalis cenderung menekankan pentingnya aspek hukum ini sehingga mereka dikenal dengan ‘legal minded Muslims’. untuk batas waktunya baik (utang itu) kecil maupun besar. maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan di antara orang-orang yang kamu sukai dari para saksi (yang ada). Jika kamu lakukan (yang demikian). kecuali jika hal itu merupakan perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu. lebih dapat menguatkan kesaksian. Tuhannya. maka yang seorang lagi mengingatkannya. dan lebih mendekatkan kamu kepada ketidakraguan. atau tidak mampu mendiktekan sendiri. teks yang ditulis oleh kalangan ahli hukum juga lebih stabil. Dan hendaklah orang yang berutang itu mendiktekan.Islam. maka hendaklah dia menuliskan. maka tidak ada dosa bagi kamu jika kamu tidak menuliskannya. seperti halnya buku-buku yang ditulis oleh kalangan fundamentalis. lebih adil di sisi Allah. hal itu suatu kefasikan pada kamu. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki di antara kamu. dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah. dan janganlah penulis dipersulit dan begitu juga saksi. maka ayat ini (yang sengaja dikutip secara keseluruhan) contoh yang baik bagaimana 11 . ini adalah berita baik. Dan ambillah saksi apabila kamu berjual beli. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Hukum cenderung rinci dan kaku. Janganlah penulis menolak untuk menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya. Jika yang berutang itu orang yang kurang akalnya atau lemah (keadaannya). dan janganlah dia mengurangi sedikit pun daripadanya. Yang demikian itu. Al-Baqarah/2:282) Kalau bagian pertama tulisan ini menegaskan hubungan antara Islam dengan teks pada level yang lebih besar. Bagi filolog. Al-Qur’an menegaskan perlunya catatan dalam transaksi: Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan. homogen dan rinci. Dan janganlah kamu bosan menuliskannya. agar jika yang seorang lupa. Jika tidak ada (saksi) dua orang laki-laki. Dan janganlah saksi-saksi itu menolak apabila dipanggil. Tidak heran kalau.S. Teks. maka sungguh. Teks yang mereka dapatkan akan lebih mudah ditranskrip. hendaklah kamu menuliskannya. maka hendaklah walinya mendiktekannya dengan benar. Allah memberikan pengajaran kepadamu.

1972). ‘Ikrar’ dalam The Encyclopaedia of Islam (Leiden: E. New Edition).9 Salah satu blanko kontrak yang dibuat para ahli hukum Islam dalam buku-buku syurut tersebut adalah blanko untuk membuat ikrar. tetapi para ahli hukum Islam memberikan perhatian yang serius terhadap cara membuat dan menggunakan dokumen-dokumen tertulis untuk kepentingan hukum. Donald P. 10. 9 12 .Jurnal Lektur Keagamaan. Vol. Little. Pada tanggal 19 Agustus 1974-5. Ia berisi berbagai jenis kontrak yang bisa dipilih oleh para notaris sesuai dengan kebutuhan. bentuk dan isi ikrar relatif stabil. 10 yaitu suatu bentuk pengakuan atau pernyataan yang dibuat oleh seseorang yang secara hukum mengikat bagi orang tersebut. di Museum Islam di al-Haram al-Syarif di al-Quds ditemukan sekitar 900 lembar kertas transaksi atau catatan pengadilan yang berasal dari abad ke-14 M di Jerusalem. kesaksian lisan lebih penting dari kesaksian tulis. McGill Jeanette A. 7.J. 1. Yang dilakukan oleh para notaris adalah memilih mana di antara blanko-blanko tersebut yang cocok dengan kasus yang dia hadapi dan mengisi bagian-bagian kosong yang sudah disediakan dan meminta dua saksi untuk menandatanganinya (seperti tuntutan ayat Al-Qur’an di atas). No. 10 Lihat Y. Kontrakkontrak tersebut sebetulnya lebih berupa sebuah blanko atau formulir yang dibuat sedetil mungkin sehingga semua syarat dan tuntutan syariah Islam bisa dipenuhi. Mereka mengembangkan satu jenis literatur yang disebut syurut. Memang benar. guru besar di Institute of Islamic Studies. Linant de Bellefonds. Brill. Penemuan ini merupakan salah satu penemuan terpenting dokumen Islam abad pertengahan. The Function of Documents in Islamic Law (New York: University of New York Press. Oleh karena itu. sejajar dengan penemuan manuskrip di Geniza Cairo dan St Catherine bukit Sinai.20 hubungan Islam dengan teks tersebut juga bekerja pada level yang lebih kecil dan detil: Al-Qur’an meminta penganutnya untuk melakukan transaksi secara tertulis. di dalam hukum Islam tradisional. yaitu sejenis manual yang bisa dijadikan pegangan bagi para notaris dalam melakukan fungsinya. Dalam manual syurut tersebut para ahli hukum lalu merinci dengan detil apa syarat-syarat membuat ikrar dan kata-kata apa saja yang harus dicantumkan dalam dokumen oleh si pembuat ikrar. 2009: 1 . Wakin.

25: 246-294. Muhammad al-Muwwa’ani. 289 dan no. Zainuddin Rizqullah. Di antara lembaran-lembaran kertas tadi ada dokumen ikrar (yang jumlahnya sekitar 90 lembar). yang dibayar secara bertahap dari uang wakaf sekolah al-Salahiyyah. Zainuddin ‘Umar al-Hamawiyyah. salah seorang sufi di Khanqah al-Salahiyyah di al-Quds al-Syarif.” in Journal of the Economic and Social History of the Orient. Fakhruddin ‘Usman b. Ikrar ini dibuat di depan saksi pada tanggal 4 Syawal 782 (atau 2 Januari 1380) di depan dua orang saksi Ahmad al-ªaki dan Abdullah b. Sulaiman. Saya sendiri pernah ikut membaca dokumen-dokumen itu dan adakalnya saya membutuhkan lebih dari seminggu hanya untuk membaca satu baris teks dalam sebuah dokumen. Muhammad bahwa dia tidak memiliki klaim apa-apa lagi terhadap mantan suaminya Syeikh Burhanuddin Ibrahim b. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali University datang ke Jerusalem dengan sebuah tim untuk mendokumentasikan dan membuat mikrofilm-nya. Fatimah juga mengakui bahwa mantan suaminya tersebut telah memberinya sejumlah uang untuk biaya anak selama tiga bulan setengah sesuai dengan tuntutan syariah. ‘Ilwi Muhammad dan Ahmad b. Dokumen no. “A Study of Six Fourteenth Century Iqrars from al-Quds Relating to Muslim Women. dokumen-dokumen ini sangat sulit dibaca. 11 13 . Tanpa bantuan literatur syurut. Selain berikrar bahwa dia tidak punya hak apa-apa lagi— termasuk maskawin dan biaya pakaian.Islam. Ikrar ini dibuat pada tanggal 2 Ramadan 789/14 Agustus 1389) di hadapan dua orang saksi ‘Ali b. 184 adalah dua di antara enam dokumen ikrar yang dibaca dan dianalisa oleh Huda Lutfi. ‘Abdullah bt. 11 Secara garis besar dokumen no. Teks. Saya juga pernah meminta bantuan seorang Arab (yang kebetulan berasal dari Huda Lutfi. mantan suami Nasiruddin Muhammad al-Hamawi penduduk al-Quds al-Syarif. salah seorang murid Little di McGill University. Beberapa tahun kemudian Little menerbitkan katalog dokumen tersebut: menjelaskan isi masing-masing dokumen secara garis besar dan mengklasifikasikannya. bahwa dia menerima uang perak sejumlah 375 dirham dari mantan suaminya untuk biaya ketiga anak mereka Ahmad. 289 berisi pengakuan Fatimah bt. Dokumen 184 berisi pengakuan Fatimah bt. Salma dan Sarah.

Benda atau persoalan yang diikrarkan harus dinyatakan dengan jelas (jika uang berapa jumlahnya. setidakjelas apa pun. Bimbingan al-Asyuti tersebut sangat membantu ketika kita membaca dokumen ikrar tadi. Dalam buku manualnya. Vol. Dia juga tidak bisa. Saya tidak bisa membayangkan begaimana Little bisa membaca hampir 900 dokumen serupa dan menganalisa isinya satu persatu. walaupun hanya dalam garis besar.20 Palestina tempat dokumen tersebut ditemukan) untuk membacanya. Al-Asyuti. dan seterusnya). nama kehormatannya dan seterusnya. walaupun al-Asyuti hidup di tempat yang relatif jauh dari Jerusalem. Ikrar harus dibuat dalam bentuk orang ketiga (harus aqarra kalau laki-laki dan aqarrat kalau perempuan). dia menyatakan bahwa dokumen harus diawali dengan basmalah (menulis ‘Bismillahir-rahmanir-rahim’) dan diakhiri dengan hamdalah (menulis ‘Alhamdu lillahi rabbil-‘alamin’). 1955). 1. Jawahir al-‘Uqud wa Mu‘in al-Qudat wa alSyuhud. Antara lain. baru saya tahu bahwa dalam membaca dokumendokumen tersebut dia sangat terbantu oleh buku syurut yang ditulis oleh al-Asyuti. dalam buku tersebut berusaha menggambarkan praktek administrasi hukum yang berlaku pada masanya. Setelah itu pasti 14 . 2 jilid (Kairo. 7. Dokumen harus mencantumkan tanggalnya dan ditandatangani oleh dua orang saksi. al-Asyuti memberikan beberapa petunjuk tentang tata cara membuat dokumen ikrar. Kalimat pertama. Nama si pengikrar harus dicantumkan dengan jelas termasuk nama bapak dan kakeknya. Kalau dia perempuan. dokumen-dokumen ini pada dasarnya merupakan catatan transaksi dan peristiwa yang terjadi di Jerusalem pada abad ke-14 atau satu abad sebelum al-Asyuti menulis kitab manualnya. Pengalaman membaca dokumendokumen tersebut menunjukkan bahwa. Ini adalah isyarat bahwa memang buku-buku hukum relatif lebih stabil. 2009: 1 . maka nama suaminya atau mantan suaminya harus dicantumkan. walaupun terpisahkan selama satu abad dan. No. Kata pertama setelah basmallah adalah aqarrat (karena yang membuat ikrar perempuan). pasti basmallah.Jurnal Lektur Keagamaan. bagaimana membayarnya. blanko dokumen hukum yang dibuat alAsyuti sangat cocok dengan dokumen-dokumen yang ditemukan di Jerusalem tersebut. yang hidup di Mesir pada abad 9 H/15 M. Seperti dijelaskan di muka. Dua minggu kemudian.

dibuat dalam keadaan sehat jasmani dan rohani dan secara hukum dalam keadaan mampu melakukan transaksi). tidak dalam keadaan terpaksa] setelah syar’iyyan).” Kedua ungkapan ini ditemukan dalam dokumen no. yaitu tau’an [artinya. Bias politik dan kultural dari para penulis 15 . aktor mana yang akan ditonjolkan dan informasi dari siapa yang harus dipakai. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali nama orang yang membuat ikrar. tulisan tidak mesti bagus. para penulis itu bekerja sembarangan. Dengan kata lain. dengan hal itu). Para penulis buku ini menyodorkan realitas kepada kita secara subjektif. Tanda tangan saksi diawali dengan “syahida ‘ala . Karena tidak banyak orang yang bisa menulis.. Mungkin karena terlalu banyak pesanan (karena jumlah yang bisa menulis sangat terbatas).. Sangat mungkin pada masa itu ada orang-orang yang memang pekerjaannya menuliskan dokumen (dengan berpedoman pada manual syurut). dan semua dokumen yang ditemukan di Jerusalem ini. sumber penulisan sejarah Islam Timur Tengah masih didominasi oleh buku-buku sastera (literary soursces). hamdallah dan nama dua saksi.” Walaupun al-Asyuti menegaskan bahwa setiap dokumen harus ditulis dengan tulisan yang bagus agar mudah dibaca. para penulis itu pada dasarnya menulis tidak untuk dibaca oleh orang yang memiliki dokumen tetapi untuk dibaca oleh mereka atau kawan-kawan seprofesi mereka sendiri. Para penulis itu mungkin berpikir bahwa. Dalam menuliskan runtutan isi dokumen tersebut ada katakata hukum yang baku yang pasti muncul dalam ikrar. Tetapi bisa juga karena sebab lain. pada akhirnya para penulis itu juga yang harus membacakannya di pengadilan (kalau terjadi apa-apa dan perkaranya sampai ke pengadilan). Bagian berikutnya adalah yang paling sulit dibaca: persoalan atau benda yang sedang diikrarkan. Sampai saat ini... Bagian akhir pasti terdiri dari tanggal. Untuk itu. Mungkin harus diingat bahwa pada abad ke-14 di Jerusalem buta huruf masih tinggi. Merekalah yang memilih buat kita peristiwa apa yang akan dimunculkan.. Teks. ditulis dengan tulisan tangan yang sangat jelek.Islam. maka orang awam yang ingin menuliskan ikrarnya harus meminta bantuan orang lain. karena orang awam itu tidak bisa membaca. dokumen 289 dan 184.. yaitu “iqraran syar’iyyan fi sihhatin minha wa salamah wa jawazi amr (ikrar yang sesuai dengan tuntunan syara’. 289 dan 184 (dengan satu kata tambahan. bi dhalik (telah bersaksi atas .

Banyak pertanyaan bisa dikembangkan. Sayangnya. dan dalam rentang waktu yang panjang.D Goitein yang 16 . Dalam konteks ini. Mirip seperti yang dilakukan oleh S. 184 disebutkan bahwa nafkah anak-anak dari perkawinan Fatimah dengan Nasiruddin dibayar oleh dana wakaf? Apakah karena dia miskin? Bukankah dia bergelar al-sitt al-masunah. bagaimana sistem pembagiannya. No. dalam dokumen kita disodorkan data mentah. dokumen bisa memberikan informasi yang sangat berharga. setelah membaca ratusan atau ribuan dokumen. Dibaca secara keseluruhan. dan seterusnya. dokumen Jerusalem bisa dijadikan bahan untuk mengkonstruk realitas sosial masyarakat al-Quds al-Syarif di Jerusalem. Selain kondisi dokumen yang biasanya sulit dibaca. Untuk mengkonstruk sebuah realitas diperlukan banyak sekali dokumen (bisa ratusan kadang ribuan lembar). Berasal dari tempat yang sama. Dari potongan-potongan informasi yang ditemukan di setiap dokumen. berapa kali panen dan dapat berapa kilo sekali panen. Dari dua dokumen yang kita baca. Kitalah yang menseleksi dan menafsirkan data-data tersebut. kemungkinan besar akan ada nama-nama yang berkali-kali muncul sehingga kita bisa meruntut sejarah kehidupan mereka dengan baik. jumlah anak yang dimiliki suatu keluarga dan model distribusi wakaf.20 tersebut sangat berpengaruh terhadap mutu gambar sejarah yang dimunculkan. bagaimana mekanismenya kalau terjadi konflik pembagian hasil. ada beberapa informasi yang menarik. bagaimana sistem administrasinya. buah-buahan atau tanaman apa saja yang ditanam. Berbeda dengan sumber-sumber sastera. ada tantangan lain yang harus dihadapi ilmuan kalau dia ingin menulis sejarah dengan menggunakan dokumen. 7. 1. Vol. tidak banyak dokumen yang tersedia dan juga tidak banyak ilmuan yang tertarik menghabiskan waktunya berminggu-minggu hanya untuk membaca dua atau tiga buah dokumen. Misalnya. 2009: 1 .Jurnal Lektur Keagamaan. yang mengisyaratkan bahwa dia berasal dari keluarga terpandang? Dokumen-dokumen yang saya baca berhubungan dengan pengelolaan tanah wakaf: bagaimana dikelola. Misalnya tentang jumlah nafkah yang diberikan suami kepada mantan istrinya. berapa rata-rata anak yang dimiliki satu keluarga di Palestina pada abad ke-14? Berapa rata-rata penghasilan keluarga? Mengapa dalam dokumen no. akhirnya kita bisa menulis sejarah sosial yang sangat bagus.

membaca dokumen di Timur Tengah nampaknya lebih ‘mudah’ dibanding membaca dokumen sejenis di Indonesia. walaupun sulit. dalam banyak hal mencerminkan sikap atau pandangan keagamaan tertetu. terutama. jauh lebih stabil dibanding teks yang ditulis oleh kalangan rasional. dan keluarga (jilid 3). Kedua. sebuah teks harus ditempatkan dalam konteks besar yang melahirkannya. masyarakat Muslim dan. Karya-karya yang ditulis oleh para ahli hukum Islam juga relatif lebih stabil dibanding karya-karya yang ditulis para filosof atau sufi misalnya. Hubungan model ini sangat penting dimiliki filolog untuk bisa menghayati dan memahami teks. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali menulis A Mediteranian Society: The Jewish Communities of the Arab World as Potrayed in the Documents of Cairo Geniza (Berkeley: University of California Press. 1967-78). Secara umum bisa dikatakan bahwa teks yang diproduk oleh kalangan skripturalis/fundamentalis. mulai dari yang sangat stabil sampai ke yang sangat labil. Dalam jumlah yang sangat besar. dan dalam kadar tertentu tradisionalis. tetapi saya punya kesan bahwa ada jenis-jenis literatur yang sangat membantu dalam membaca dokumen (atau 17 . Ketiga. Catatan Pamungkas Pertama. dia susun menjadi 3 jilid narasi tentang ekonomi (jilid 1). lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam memiliki peluang yang sangat besar untuk menggali manuskrip dan dokumen yang berkenaan dengan masyarakat Islam yang kini masih belum tersentuh baik yang tersimpan di perpustakaan-perpustakaan di dalam dan di luar negeri maupun yang masih tersebar di kalangan masyarakat. Ini membuat pekerjaan filolog lebih sulit lagi. Bagi seorang filolog adalah penting untuk terlebih dahulu mengidentifikasi teks dengan kelompok-kelompok keberagamaan yang ada dalam Islam. Menjadi Muslim berarti mereka terhubungkan dengan relitas dan ajaran yang mendasari lahirnya teks dan dokumen. Dalam tradisi Islam. Pengetahuan saya tentang kekayaan manuskrip Melayu sangat terbatas.Islam. Potongan informasi yang dia temukan dalam ribuan lembar dokumen. teks. dokumen Geniza berbahasa Yahudi yang ditulis dalam tulisan Arab. Hanya mereka yang menguasai bahasa Yahudi dan bahasa Arablah yang bisa membacanya. masyarakat (jilid 2). Teks.

Literatur-literatur ini sangat menolong untuk mengidentifikasi katakata yang ada dalam dokumen yang sangat sulit dibaca. dan yang berhubungan dengan tempat (misalnya karya Yaqut. 2009: 1 . tempat tinggal. kita bisa mencari nama daftar nama suku yang ada di wilayah ini. satu potong dokumen yang ditemukan di Musium Islam Jerusalem sesungguhnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari tradisi keilmuan atau sistem informasi yang kaya dan mapan. kita bisa melihat di buku Yaqut.Jurnal Lektur Keagamaan. Dalam bahasan tentang ‘Palestina’.20 manuskrip) yang tidak ditemukan di dalam literatur yang tumbuh di Nusantara. keahlian. yang berhubungan dengan suku dan geneologi (kalau ingin tahu nama-nama suku yang ada di Hijaz misalnya bisa dilihat di Ibn al-Kalbi.’ Jika kita ragu tentang bacaan kata ini. tapi tetap sangat membantu. Dalam dokumen no. sepotong dokumen itu akhirnya tidak sendirian lagi. kualitas orang. kita akan menemukan nama-nama tempat dan desa yang ada di Palestina sehingga ‘gambar’ kata di dokumen itu bisa diidentifikasi. yang disusun berdasarkan tahun wafat. Kemungkinan besar dia adalah nama suku orang itu. misalnya. Demikian juga kalau kita kesulitan membaca kata yang ada di ujung nama orang yang ada dalam sebuah dokumen. Keempat. Di samping banyak sekali literatur yang diproduk oleh kalangan sarjana Muslim sendiri. kajian Islam di Timur Tengah sudah berusia lanjut. Mu’jam al-Buldan). Jamharat al-Nasab). Kalau kita membaca dokumen yang ada di Hijaz. Artinya. Kajian Islam di Indonesia belum mencapai tahapan ini. di dunia Islam Timur Tengah berkembang literatur yang berhubungan dengan biografi orang (Rijal atau Tabaqat) yang jumlahnya sangat besar dan beragam. baik yang hidup pada masa klasik maupun modern. Bahwa model dokumen yang ditemukan dalam buku al-Asyuti ternyata sangat cocok dengan model dokumen yang ditemukan di Palestina adalah salah satu contoh yang baik bagaimana kekayaan tradisi keilmuan bisa membantu membaca suatu kalimat dalam sebuah dokumen. 7. dan seterusnya. ada kata ‘al-Khaliliyah. Sayangnya literatur bantu semacam ini tidak tumbuh di Nusantara. 1. Dikepung oleh banyak informasi. keadaan fisik. Misalnya. Tidak mudah memang. No. 289.[] 18 . Vol. sarjana-sarjana modern (baik di Barat maupun di Timur) juga banyak menghasilkan karya-karya penting dalam jumlah besar.

9 jilid. Kairo: Maktabat ‘Abd al-Hamid Ahmad Hanafi. Kitab al-Tabaqat al-Kubra. Geschichte des arabischen Schrifttums (Leiden: Brill. T. Al-Bukhari. (Leiden: Brill. Teks. “A Study of Six Fourteenth Century Iqrars from al-Quds Relating to Muslim Women. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali Daftar Pustaka al-‘Asqalani. Ibn Sa’d. No.” in Journal of the Economic and Social History of the Orient. Ibn Hajar. Sezgin. 1943-1949). New York: University of New York Press. Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi Brockelmann. Lutfi. 25. Linant. 1967 .Islam. 2 jilid dan 3 jilid supplement. ‘Ikrar’ dalam The Encyclopaedia of Islam.t. New Edition.). 193742.t. The Function of Documents in Islamic Law. Huda. Sahih. Y. Beirut: Dar al-Sadir. 19 . T. Leiden: E. Fuat. Jeanette A. T. al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah. Wakin.J. 1972. de Bellefonds. Brill. Carl. Geschichte der arabischen Litteratur.t.

Kazi Publications Jumlah halaman : 1149. No.20 The Fihrist: A 10th Century A.D.com/b7581. Vol. 2009: 1 . Jilid: Hardcover Sumber: http://islamicbookstore. 7.html 20 . Survey of Islamic Culture Pengarang : Abu 'l Faraj Muhammad ibn Ishaq al Nadim Penerjemah (Inggris) : Bayard Dodge Penerbit : Great Books of the Islamic World. 1.Jurnal Lektur Keagamaan.

Jakarta Aceh is a region which has a number of populations with their life fluctuation. 23–24 Februari 2009. Their life had been colorized by peace and war which can be regarded as part of their life history. — Fakhriati Perang dan Damai di Aceh: Kajian atas Manuskrip Aceh tenang Konflik dan Solusinya1 Fakhriati Puslitbang Lektur Keagamaan. sebagai koordinator konferensi ini yang telah mengundang Penulis untuk hadir dan mempresentasikan paper ini pada konferensi tersebut. the new generation can directly read and understand on the Acehnese writings as primary sources. Apart from this. 1 21 . These situations have strong connection with character and behaviour of the Acehnese. This paper tries to find and analyse these primary sources in relation with war and peace occurred in the life history of the Acehnese. Internal and external conflicts were appeared in different period. Fanatic in their religion is an important factor to push to the situation.. konflik Pendahuluan Sejarah Aceh adalah cerita panjang tentang perjalanan suatu suku bangsa yang diwarnai pergolakan demi pergolakan di antara cerita kebesaran dan kejayaan yang pernah dicapainya. Letak Artikel ini telah dipresentasikan pada Konferensi International tentang Aceh and Indian Ocean Studies II Civil Conflict and Its Remedies. National University of Singapore (NUS) bekerjasama dengan International Center for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS). Kata kunci: Manuskrip. Ulama. the way of the Acehnese associated with the others becomes a factor to create peace in Aceh land. Islam. from 17th to 20th centuries. behaviour and attitude from the Acehnese. Afterward. One of the sources for those above life history of the Acehnese is manuscripts as their own writing. protective to their ethnics and fatherland is another factor to motivate and to defend themselves from any other threat come from.Perang dan Damai di Aceh. Anthony Reid. Penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada Prof. di Banda Aceh. These sources become by far the most important sources since they provide the original information. Consequently. and what their character and behaviour were in the past. Jihad. The main question that should be answered is how the Acehnese solve their conflict in life.. yang dikelola oleh Asia Research Institute (ARI).

Situasi ini tidak saja berdampak politis. saat mana wilayah kekuasaan Kerajaan Aceh melampaui tanah Aceh (Zainuddin. telah mampu memberikan kemakmuran dan kenyamanan tidak saja bagi masyarakat Aceh.Jurnal Lektur Keagamaan. tetapi juga mempengaruhi kinerja bidang ekonomi serta dunia pendidikan bersama hilangnya sejumlah besar intelektual agama (ulama) yang disegani dan menjadi panutan masyarakat. 7. ramah. demikian juga kekayaan alam serta kesuburan tanahnya memberi andil besar bagi kemajuan Aceh. dunia keilmuan maju sedemikian pesat. rakyat Aceh tidak hanya merasa berhutang budi karena para orang asing tersebut telah mendorong perkembangan perdagangan. Pada tahap awal hubungan Aceh dengan dunia luar. Posisi wilayah yang demikian terbuka memberikan akses yang mudah untuk membangun hubungan dengan dunia luar.52 geografis wilayah Aceh yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia di sebelah barat. Hal ini semakin menambah 22 . 1. Bahkan tidak itu saja. gangguan dari kalangan internal kerajaan juga turut menggerogoti wibawa pemerintah. bermasyarakat hingga bernegara. Kekuatan politik pemerintah secara perlahan mulai memudar dengan masuknya kekuatan asing. tetapi juga karena telah mengembangkan Islam di kalangan masyarakat Aceh yang berfungsi sebagai pedoman hidup mulai dari tingkat individu. Asia Selatan serta Selat Malaka di bagian utara dan timur memberikan nilai tersendiri secara ekonomis maupun politik bagi kerajaan-kerajaan Aceh masa lampau. 2009: 21 . Rakyat Aceh menjadi sedemikian menyatu dengan Islam dan (tentunya) dengan dunia Arab. 1961:299-305). tetapi keras. terbuka. Iskandar. Setelah itu tiba saatnya kejayaan tersebut mengalami kemunduran seiring dengan banyaknya ancaman dari luar maupun gangguan dari dalam. 1958:78). Masuknya para pedagang Arab dan Gujarat selain dipandang telah membawa agama sebagai pedoman hidup bagi masyarakat Aceh. kehadiran mereka juga turut mendorong semaraknya perdagangan yang memajukan perekonomian Aceh. Dinamika perjalanan panjang sejarah Aceh tersebut berjalan sedemikian rupa seraya semakin mempertegas karakter masyarakat Aceh yang terkenal fanatik. Berkat dorongan para ulama. No. khususnya dengan para pedagang Arab dan Gujarat. tetapi juga bagi masyarakat luar Aceh di bawah kekuasaannya (T. Puncak kejayaan Kerajaan Aceh pada masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda. Vol.

Studi ini mencoba menjelajahi perjalanan sejarah Aceh dari abad ke-17 sampai abad ke-20 M.. Sejauh ini belum ada karya yang menjadikan manuskrip sebagai bahan analisis dasar untuk mengkaji konflik yang terjadi di Aceh. Kedua. Salah satu kebesaran Aceh yang dapat disaksikan hingga kini adalah bahwa suku bangsa ini mampu merekam sendiri setiap tahap perkembangan yang terjadi pada dirinya. Dokumen dan arsip yang kaya tentang Aceh sekarang banyak yang disimpan di negeri Belanda. Siapa saja yang dinilai berusaha menggerogotinya akan dicap sebagai musuh bangsa Aceh dan juga musuh Tuhan. Ketiga. Namun demikian. Seperti halnya Belanda dengan gigihnya melaporkan segala kejadian harian pada saat mereka berada di daerah Aceh.Perang dan Damai di Aceh. Aceh dalam rentang waktu ini berada pada masa perang yang cukup panjang. Banyak dokumen dan arsip yang telah merekam kejadian-kejadian penting yang terjadi pada pada momen-momen penting masa silam. — Fakhriati hormatnya masyarakat kepada para ulama. ada sisi lain yang perlu mendapat perhatian serius dari para peneliti untuk melihat dan mengkaji lebih intensif dan detail adalah tentang karya-karya tulis yang dihasilkan dan dimiliki oleh orang Aceh sendiri. Tulisan ini mencoba mengisi kekosongan ini dengan melihat dan menganalisis manuskrip Aceh. Pemilihan periode ini didasarkan atas tiga alasan. Sehingga pengalaman langsung dari setiap peristiwa yang terjadi di bumi Aceh dan sikap dari orang pribumi menghadapi dan mengatasi kejadian-kejadian yang ada dapat diketahui dengan jelas. termasuk berbagai peristiwa perang dan pergolakan lainnya. konflik internal dan eksternal mulai tumbuh dan berkepanjangan. sejauh ini banyak ditemukan manuskrip berkisar pada periode ini. Dengan 23 .. Pertama. Salah satu karya yang menjadikan tulisan orang Aceh asli sebagai sumber primer adalah kajian Alfian Ibrahim pada tahun 1998 yang berjudul Perang di Jalan Allah. sehingga di hampir setiap daerah kecil memiliki ulama kebanggaan tersendiri. untuk mengetahui sikap dan prilaku orang Aceh yang tertulis dalam tulisan mereka sendiri. Salah satu penghargaan mereka terhadap Islam adalah keyakinan mereka bahwa budaya Aceh adalah budaya Islam dan mereka berusaha komitmen terhadapnya. Namun kajiannya hanya berfokus kepada perang melawan Belanda.

Jurnal Lektur Keagamaan. Mereka dilengkapi dengan senjata tiruan yang dibuat dari pelepah kelapa untuk rencong dan pedang. 1997:145). karena dapat menciptakan perkelahian yang serius dan menimbulkan peperangan yang lebih luas. Permainan ini terdiri dari dua kelompok–biasanya terdiri dari kaum muda dari dua kampung—yang berdiri pada sisi yang berlawanan. 2009: 21 . Perdebatan dan perlawanan yang mendidik para pemainnya untuk mempertahankan dan membela diri adalah salah satu unsur yang dapat mendorong perlawanan bila mereka diganggu oleh pihak lain. satu kelompok berusaha mendorong kelompok yang lain yang dianggap sebagai lawan untuk menjatuhkan ke tanah. Karena itu permainan ini harus disaksikan oleh para pemuka masyarakat yang sekaligus bertindak sebagai wasit untuk mencegah perkelahian (Hurgronje. Budaya Orang Aceh 1. No. Saling dorongmendorong ini pada akhirnya menciptakan perkelahian dan tidak boleh dibantu oleh siapa pun agar permainannya murni dan keberhasilan yang dicapai adalah atas usaha sendiri si pemain. sehingga dinyatakan kalah. Vol. Dalam permainan ini. b. Berikut beberapa permainan yang bersifat mendidik untuk bela diri dan berperang. Vol II. Permainan meukrueng-krueng. Namun demikian. yaitu permainan yang dilakukan oleh kaum muda laki-laki dengan mengambil lokasi di pinggir sungai. Permaian prajuritan. a. 7. Di lain pihak lawannya harus menangkap pendorong untuk dijatuhkan juga sehingga salah satu harus ada yang tidak bisa kembali ke garis pembatas awal. sebagian besar di antaranya memiliki unsur heroisme. dan bedil 24 . permainan ini biasanya tidak dapat dilepaskan begitu saja oleh pihak yang berwenang. 1. dan tentang sikap mereka dalam menghadapinya untuk mencapai kedamaian. Permainan dan Hiburan Rakyat Dari sejumlah permainan rakyat yang dimiliki orang Aceh.52 demikian makalah ini diharapkan dapat memberi wawasan yang lebih luas dan mendalam tentang kondisi perang dan damai yang dialami langsung oleh orang Aceh pada masa lalu. yaitu permainan bentuk lain yang mendidik para pemain untuk bisa berperan menjadi prajurit dalam perang.

Vol II.Perang dan Damai di Aceh. Kemudian mereka saling mengadukan kemampuan berperang sehingga ada yang mengalah karena kelelahan. 1997:158-184). untuk pembelaan agama dan tanah air.. Dalam isi ratib rapa’i terlihat bahwa setelah dimulai dengan pujian kepada Allah dan syekh sufi. karena daun tersebut mengandung makna sesuatu yang berharga telah diletakkan di atas kepala lawan lalu dengan serta merta kepalanya ditempatkan di bawah. para penari dari waktu ke waktu bertambah semangat dengan isi bacaan yang semakin hangat. peserta duduk membaca isi ratib saman. Hal ini mengandung makna penghinaan telah dilakukan oleh pihak lawan. II. 1934:648-649. Pertandingan menjadi seru bila kedua belah pihak dapat melukai salah satunya dan akhirnya dapat menjatuhkan lawan (Hurgronje. c. isi dan gerak yang dilakukan di dalamnya. pemain duduk untuk membacakan isi seudati yang semakin lama semakin cepat bacaan dan gerak mereka (Djajadiningrat. penari membaca doa memohon kepada Allah agar mereka memperoleh kemenangan dalam perang sabil. Permainan ini dilakukan dengan cara memancing lawan. rapa’i. lama-kelamaan bacaan menjadi semakin cepat dan tubuh peserta mulai bergerak ke sekeliling peserta lainnya. dan saman. peserta yang melakukan rapa’i menggunakan senjata tajam yang pada waktu ektasi dapat melukai diri sendiri. Hurgronje. — Fakhriati dari pelepah palem. 1997:140). Tarian-tarian ini berpangkal pada praktik tarekat dalam ajaran tasawuf dan kemudian berkembang menjadi hiburan tarian yang disenangi rakyat banyak. Vol. d. Dalam rapa’i. Permainan meulho (bergulat). Sementara dalam tarian seudati. Karena itu kemarahan terjadi dari pihak lawan dan keduanya mulai melakukan meulho. Tarian-tarian yang dilakukan orang Aceh juga mengandung unsur heroik di dalamnya. Sedangkan dalam tari saman. Bila diperhatikan. Isi bacaan dalam setiap tarian tersebut pada umumnya mengandung doa dan ajaran akan pentingnya berperang di jalan Allah. Kepala adalah sesuatu yang harus berada di atas bukan di bawah. yaitu dengan meletakkan daun di kepala pemain lalu dijatuhkan. 25 .. Tarian yang cukup populer di kalangan rakyat Aceh adalah tarian seudati.

Tippe. 7. 1992:65-66. masyarakat Aceh hidup dalam kelompok-kelompok yang disebut dengan gampong. Sementara ureung tuha adalah sekelompok orang tua yang 2 Manuskrip. Masyarakat umum. Keuchik memiliki peran sebagai pemimpin yang memelihara akan adat. Lapisan sosial pada masyarakat Aceh dibangun berdasarkan nostalgia kesejarahan dan berdasarkan peran mereka dalam masyarakat. Cod. Ya Allah untuk perang sabil”. Sedangkan teungku berperan dalam menegakkan hukum Islam dan mengajarkan umat untuk ilmu-ilmu agama. Karena mereka berhasil mendapatkan ilmu agama selama merantau. Lapisan Sosial Masyarakat Aceh tidak dibangun di atas strata sosial berdasarkan tingkat kemuliaan keturunan dan penghormatan kepadanya. mereka yang memiliki banyak harta. mereka berasal dari rakyat biasa. Sulaiman dkk. No. Dalam gampong terdapat tiga bentuk pemimpin. 2009: 21 . Mereka banyak berperan dalam hal penyumbangan dana untuk kemaslahatan sosial. Peran mereka sangat diharapkan masyarakat untuk dapat menyelesaikan masalah masyarakat dalam kaitannya dengan agama (Syamsuddin dkk. keturunan dari Mekah. Keturunan Nabi (habib). dengan gelar teuku bagi laki-laki dan cut bagi perempuan. teungku. 57. 1978:144. 2. Kaum hartawan (orang kaya). dan mengembangkan kehidupan beragama di kalangan rakyat. dan ureung tuha (tuha peut). a. Or. yaitu mereka yang datang ke tanah Aceh menyebarkan Islam.Jurnal Lektur Keagamaan. c. Mereka dan keturunannya bergelar habib dan syarifah. yaitu. 8184 (1). Kaum cendikiawan agama (ulama). yaitu keuchik (kepala kampung). Selain susunan lapisan sosial di atas.52 Ja Allah prang thabilellah – ja bantu prang thabilellah2 “Ya Allah di sana ada perang sabil kami mohon bantuan-Mu. yaitu orang Aceh yang memiliki leluhur sultan dan uleebalang. 1. 26 . 2000:3). d. maka mereka mendapat gelar teungku. Vol. Kaum bangsawan (uleebalang). b. mereka adalah rakyat biasa. p. yaitu terdiri dari beberapa keluarga inti. e.

wilayah uleebalang sendiri adalah nanggroe yang terdiri dari tiga mukim atau lebih. Agama Islam telah masuk ke Aceh tidak lama setelah agama ini berkembang di Arab.. (Usman. Sagoe hanya dimiliki oleh daerah Aceh Besar. Selanjutnya. Masuknya Islam di wilayah ini dikenal jalan damai melalui para pedagang. Raliby. dalam arti wilayahnya tetap berada di bawah kekuasaan uleebalang. Mukim ini dipimpin oleh seorang imuem dan qadi yang diangkat oleh uleebalang. maupun agama. 1978:4-5). Keputusan mereka sangat diharapkan oleh berbagai pihak. Fungsi panglima saggoe hanya bersifat memberi masukan kepada uleeblang. orang Aceh membuat pepatah: 3 Di samping nanggroe. Untuk menggambarkan kesatuan agama dan adat ini. 27 . Di antara struktur masyarakat Aceh tersebut yang masih bertahan hingga sekarang adalah gampong dan mukim.Perang dan Damai di Aceh. terutama oleh pemimpin gampong dan bahkan uleebalang yang memimpin nanggroe (Vleer. Kehadirannya yang selektif dan adaptif atas unsur-unsur adat istiadat yang dinilai tidak menyalahi ajaran Islam membuat masuknya agama ini cukup berhasil di Aceh. sementara yang lain sudah tidak ada lagi. baik peradilan. Ia tidak memimpin secara otonom. Ia dibantu oleh qadi nanggroe. terdapat sagoe di bawah pimpinan panglima sagoe yang merupakan federasi dari beberapa nanggroe. terdapat kerajaan yang dipimpin oleh seorang sultan dibantu oleh seorang qadi didasarkan kepada undang-undang Aceh yang bersumber pada ajaran Islam dan berciri khas keislaman yang tinggi (Usman. 2003:45).. 3 Kemudian. Kelompok ureung tuha ini terdiri dari empat atau lebih orang pemuka masyakarat yang di dalamnya termasuk teungku yang banyak mengetahui bidang agama. Mereka menjadi tumpuan pemimpin dalam masyarakat dalam penyelesaian segala masalah yang dihadapi dalam gampong. militer. 3. 1992: 66-68. — Fakhriati dihormati masyarakat yang berperan sebagai penasehat (Sulaiman dkk. Wewenang sagoe hanya terbatas pada kepentingan bersama antara beberapa orang uleebalang. 1980:43-44). Gampong kemudian tunduk kepada kelompok yang lebih besar yang disebut dengan mukim. 2003:45). di atas nanggroe. Orang Aceh telah berhasil menyatukan agama dengan adat sehingga dalam setiap adat selalu terdapat nilai-nilai keislaman.

2009: 21 . sedangkan ulama adalah unsur utama yang mendukung dan memperjuangkan peranan agama (Sjamsuddin. 1999:1). hlm. Fanatisme agama merupakan suatu tradisi yang sudah turun temurun untuk melangkah sesuai dengan ajaran agama. seperti Syekh Muhammad Yamani yang dikenal dengan ulama Ilmu Usul. Syekh Muhammad Jailani ibn Muhammad Hamid dari Gujarat mengajarkan Logika dan Ilmu Fikih (Ar28 . No. Dalam manuskrip I‘l±m al-Muttaq³n karya Teungku Muhammad Khatib Langgien (salah seorang tokoh tasawuf abad ke-19 yang menjadi panutan masyarakat) terdapat penjelasan tentang perlunya memuliakan tamu. Sikap terhadap Orang Asing Orang Aceh memiliki sikap tersendiri dalam menghadapi orang asing yang datang ke negeri dan wilayahnya. Para pengunjung dari berbagai negara telah datang ke Aceh dengan tujuan yang berbeda-beda. ia menegaskan bahwa tidak menghormati tamu sama dengan perilaku syaitan (I‘l±m al-Muttaq³n. Sikap yang pertama sekali ditunjukkan adalah sikap ramah dan berteman kepada siapa saja yang datang. Adat harus selalu beriringan dengan agama.Jurnal Lektur Keagamaan. Di antara para pendatang dari Arab dan sekitarnya terdapat ulama-ulama yang mengabdikan dirinya untuk mengajar di Aceh. 1. Mereka telah berhasil menjadikan adat dan agama sebagai pilar bagi kehidupan Aceh. Bahkan berlandaskan pada sebuah hadis. 7. sehingga kemudian orang Aceh mengklaim adat mereka sebagai adat yang Islami. Vol. dalam arti segala adat istiadat berlandaskan agama. Islam mengalami penguatan citra melampaui adat istiadat. Selanjutnya sikap seperti ini terus dipertahankan bila tamunya tetap berperilaku baik dan menjadi teman dalam bersosialisasi. Sultan dan uleebalang adalah dua unsur utama yang mendukung kehidupan adat. 18). Dalam perjalanannya. 4.52 adat ngon hukom lagee zat ngen sifeut “adat dengan hukum (agama) adalah seperti zat dengan sifat” Pepatah ini mengandung pengertian bahwa adat sebagai ciptaan manusia dan hukum Tuhan (agama) adalah dua unsur yang tidak bisa dipisahkan. Tidak sedikit di antara pedagang-pedagang Arab dan Gujarat yang juga telah membawa agama Islam memilih menetap di sana dan menjalin hubungan kekeluargaan dengan rakyat Aceh.

Hal ini ditandai dengan terdapatnya sejumlah manuskrip yang masih tersimpan baik di dalam maupun di luar negeri. Selain itu. Pusat Manuskrip Melayu Perpustakaan Negara Malaysia. 2005:2). yang ditempatkan di lembaga formal.. memarahi atau mengusir. Museum Aceh. yaitu menangkap mereka dan mengadili mereka (Mohammad Said. Penulis bersama team peneliti Puslitbang 29 . manuskrip Aceh tersebar di Perpustakaan Nasional. koleksi dan simpanan individu masyarakat Aceh sendiri masih sangat banyak. Sebaliknya. Di dalam negeri. — Fakhriati Raniri. di antara lembaga yang menyimpan manuskrip Aceh adalah Perpustakan Universitas Leiden Belanda. dan Univeristas Antar Bangsa Malaysia. informal ataupun dikoleksi dan disimpan oleh masyarakat setempat. Orang Aceh selalu menentang dan melawan mereka meskipun secara kasat mata dengan persenjataan yang tidak seimbang. Kemudian. Seperti halnya kedatangan orang Portugis ke Aceh pada awalnya diterima dengan baik. meskipun mereka menetap di wilayah ini dalam waktu yang relatif lama. Orang Aceh dan Manuskrip 1. Bahkan orang non-Muslim yang datang ke Aceh pun tetap disambut dengan baik. dalam Bust±n as-Salat³n:33). maka dengan tegas dan tidak segan-segan mereka akan bertindak menegur. maka orang Aceh mulai bertindak dengan tegas. bahkan memerangi dan membunuhnya. dan Dayah Tanoh Abee. baik secara kelompok maupun individu. bila pendatang ingin menguasai dan dinilai merugikan Islam dan martabat bangsa Aceh. British Library. Sultan Ali Mughayat Syah bersama rakyat dan kerajaan-kerajaan pantai timur lainnya bersatu menggalang kekuatan untuk mengusir Portugis dari wilayahnya (Reid. 1961:89). Sejauh ini. Universitas Indonesia. penulis sudah mengidentifikasi lebih dari 400 manuskrip yang terdapat di Aceh Besar dan Pidie. KITLV Belanda. Pustaka Ali Hasymi. namun ketika gerak geriknya kelihatan sudah mencurigakan..Perang dan Damai di Aceh. Mereka tidak pernah dapat hidup tenang dan aman selama di Aceh. Budaya Tulis Baca Masyarakat Aceh pada Masa Lampau Masyarakat Aceh pada masa lampau memiliki budaya yang tinggi dalam hal tulis baca. Demikian juga dengan Belanda yang datang ke Aceh untuk tujuan membentuk wilayah jajahan. Sedangkan di luar negeri. terjadilah perang sabil melawan Portugis.

selain tempat-tempat yang disebutkan di atas. Aceh Utara. II. 7. (wawancara dengan beberapa kolektor di wilayah Pidie dan Aceh Besar). sebagian besar manuskrip dibeli oleh orang Malaysia dengan harga yang tinggi untuk disimpan di negaranya. Vol. Hampir semua pengoleksi dan penyimpan manuskrip tidak mengerti cara merawat manuskrip yang benar. 1997:4). Merupakan sesuatu yang sangat prihatin bagi kita semua. cerita fiksi dan non-fiksi yang biasanya dituang dalam bentuk hikayat. Dewasa ini.Jurnal Lektur Keagamaan. 30 . Kedua adalah kolektor yang tujuan mengoleksi manuskripnya adalah untuk menjual kembali manuskrip yang dimilikinya. Seperti kasus di wilayah Samahani Aceh Besar. hanya saja mereka tetap menyimpannya karena dinilai sebagai warisan yang sangat berharga bagi keberlangsungan hidup mereka. Keragaman gaya sajian maupun jenis tulisan sepertinya ditujukan untuk merangsang minat para pembaca untuk membaca tulisannya. Vol.4 Adalah hal yang kurang tepat jika dikatakan bahwa orang Aceh adalah bangsa yang tidak suka menulis (Hurgronje. Demikian banyaknya ragam manuskrip baik isi maupun gaya sajiannya adalah bukti telah tumbuhnya tradisi menulis pada bangsa Aceh pada masa lampau. surat-surat. di kabupaten-kabupaten lain juga masih terdapat banyak manuskrip hasil karya pendahulu-pendahulu Aceh. Kondisi manuskrip rata-rata sangat memprihatinkan karena peyimpanan dan perawatan yang dilakukan masyarakat belum memenuhi standar perawatan manuskrip. dan berbagai macam ilmu pengetahuan tertuang di dalam tulisan mereka. penyimpan seperti ini perlu mendapat penanganan khusus untuk dijadikan museum pribadi di rumah penyimpannya. Penulis juga sangat yakin. Pertama peyimpan yang murni menyimpan karena mengangap sebagai sesuatu yang berharga dan bernilai untuk kehidupan mereka. Balitbang dan Diklat Departemen Agama juga telah berhasil mengidentifikasi 49 manuskrip yang terdapat di Dayah Awe Geutah. No. Menurut penulis. 2009: 21 . Para penulis manuskrip-manuskrip ini tidak segan-segan mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk 4 Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada dua kategori penyimpanan manuskrip dilakukan oleh masyarakat setempat. penyimpan mengangap bahwa dengan keberadaan manuskrip di rumahnya menjadikan rumahnya aman dari segala bahaya. jimat. dan masih banyak lagi manuskrip yang belum tersusun rapi dan teridentifikasi khususnya di dayah ini.52 Lektur Keagamaan. selawatan. mengingat sejumlah harta warisan kita dibawa ke luar negeri. terutama bahaya alamiyah. 1. obatobatan. seperti gempa bumi. seperti Surat Keputusan Sultan yang disebut dengan Sarakata.

sehingga banyak buku yang terbit sebagai hasil studi para ilmuan terhadap mereka. bahkan kadang mereka tidak segan-segan mengeluarkan biaya besar untuk menulis dengan menggunakan tinta emas sekalipun. hingga masalah kepentingan umat secara umum. Syamsuddin as-Sumatrani. dan ilmu-ilmu lain.. saya juga pernah menemukan Al-Qur’an yang gambar iluminasinya ditulis dengan tinta emas. karena ia yang pertama sekali menyebarkan tarekat ini kepada masyarakat di Nusantara. Selain itu. ternyata Abdurrauf adalah ulama yang berasal dari Fansur atau lebih dikenal dengan Barus. Para ulama tersebut melahirkan berbagai karya yang mencakup berbagai bentuk ilmu pengetahuan dari ilmu tasawuf. 2008). yang berjudul Tarjuman alPenulis cenderung menyebutnya Abdurrauf al-Fansuri dari pada Abdurrauf Singkel.Perang dan Damai di Aceh. Para peneliti menunjukkan perhatian serius dengan memperhatikan.. ilmu fikih. demi untuk menarik minat pembacanya. karena setelah diteliti. ar-Raniri. serta tanda-tanda yang menunjukkan berakhirnya sebuah kalimat. yaitu Hamzah Fansuri. Mereka menuangkan ide mereka. yang dikenal sebagai tokoh utama dalam tarekat Syattariah. dan sebagian manuskrip Dala’il al-Khairat. ilmu filsafat. ia peduli terhadap ilmu lain yang dibutuhkan oleh masyarakat di lingkungannya. kemajuan ilmu pengetahuan ditandai dengan hadirnya tokoh-tokoh intelektual sufi. Pada abad ke-16 dan ke-17 M. ia juga menulis karya lain seperti tafsir Al-Qur’an. Salah satu contoh manuskrip yang ditulis dengan tinta emas adalah Surat Sultan Iskandar Muda. — Fakhriati melahirkan sebuah karya yang nantinya akan bermanfaat bagi pembacanya. Penulis manuskrip Dala’il al-Khairat menggunakan tinta emas untuk gambar peta Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Selain ia menulis tentang tasawuf yang berkisar seputar masalah tarekat Syattariyah. mempelajari. dan berkerja meniti karirnya di Aceh (Lihat Fakhriati. Tulisan-tulisan tentang mereka dan karya-karya mereka sudah banyak diterbitkan. dan Abdurrauf alFansuri 5 . 5 31 . dan meneliti segala aspek tentang mereka. Salah satu contoh tokoh intelektual sufi yang turut mempedulikan setiap kepentingan negara dan umatnya adalah Abdurrauf al-Fansuri. Selain menyebarkan ajarannya. kemudian menulis dengan tinta yang pada umumnya menggunakan tinta hitam dan merah untuk mengungkapkan kata-kata atau hal-hal yang penting.

seperti Bid±yat alMujtah³d. 7. ia memberi fatwa bahwa pemerintah yang berkuasa pada saat itu. Mir’at at-°ull±b. pada abad-abad berikutnya.52 Mustaf³d. Faqih Jalaluddin telah menulis berbagai karya yang menyangkut berbagai masalah. yakni Dayah Tanoh Abee (Baca manuskrip. Abad ke-19. Selanjutnya. Mereka bahkan menggunakan kesempatan menulis untuk membakar semangat perjuangan melawan kebatilan yang mereka sebut sebagai kafee untuk memperjuangkan agama dan bangsanya. Faqih Jalaluddin dan Baba Daud. di antara tulisannya adalah Asr±r as-Sulµk dan Manzal al-Ajl±. Pada abad ke-18. para peneliti dan ilmuwan kurang menaruh perhatian pada penulis-penulis Aceh. Tarjuman alMustafid dan juga menulis tentang Fikih. 2009: 21 . yaitu Sultanah Safiyatuddin (1641-1676 M) adalah pemerintah yang sah dan benar dalam hukum Islam (Lihat Azra. Sedangkan Baba Daud telah berhasil menyempurnakan karya gurunya. Kendati demikian. yang berjudul Hadis al-Arba‘in. ia juga peduli dengan pemerintahan yang berkembang saat itu. 1995). 1. dan penjelasan terhadap hadis-hadis. meskipun kondisi negeri pada saat itu kurang mendukung 6 . Vol. karena harus menghadapi penjajah Belanda. Ia telah membangun dayah yang sampai sekarang tetap berjaya dengan pendidikan dan penyimpanan kitabkitab lama hasil karya para ulama Aceh dan luar Aceh.Jurnal Lektur Keagamaan. 6 32 . Namun demikian. pada masa ini karya-karya hasil tulisan orang Aceh bukan Kondisi kerajaan yang secara perlahan mulai melemah berikut masuknya kekuatan asing yang berusaha meruntuhkan kekuatan kerajaan serta timbulnya persoalan di dalam negeri antara ulama dan uleebalang memberi pengaruh memudarnya semangat keilmuan. No. adalah abad yang cukup menderita untuk rakyat Aceh. Di antara para ulama yang telah menghasilkan karyanya pada abad ke-18 M. seorang ulama hasil didikan Baba Daud yang telah melakukan sesuatu yang sangat berharga bagi umatnya adalah Syekh Nayyan. Di samping itu. Sangat sedikit hasil kajian terhadap sosok ulama Aceh dan karyakarya mereka pada masa ini muncul. karya Teungku Ismail tentang sejarah Syekh Nayyan). Perhatian lebih banyak tertuju pada usaha menghimpun kekuatan membela diri dan mengusir penjajah. orang Aceh yang cinta tulis menulis terus menuangkan pikiran dan pengalamannya yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. murid langsung dari Abdurrauf al-Fansuri.

muncul ulama besar yang bernama Teungku Muhammad Ali Irsyad. Ia adalah salah satu penulis yang giat menuangkan pikirannya untuk kepentingan murid dan masyarakatnya. di antaranya adalah yang berbentuk cerita dalam bentuk hikayat yang mengajak umat untuk berperang melawan penjajah. Bid±yat alUntuk penjelasan pergeseran silsilah yang terjadi dalam tubuh tarekat Syattariyah di Aceh. lihat Fakhriati 2008.. Ia juga menjadi Qadi untuk pemerintah yang berkuasa pada saat itu (Lihat Fakhriati 2005).7 Ia menulis berbagai masalah. 7 Damai 33 . Ia adalah tokoh tarekat. melainkan juga ilmu-ilmu lain seperti fikih dan bahasa Arab. 8 Selain itu. Merupakan suatu kenikmatan tersendiri baginya untuk membuat buku baru sebagai hasil karyanya sendiri daripada menyalin kembali hasil para ulama di masa yang silam. meski tidak merujuk kepada Abdurrauf al-Fansuri sebagai silsilahnya.. — Fakhriati semakin tenggelam. Pada abad ke-20. Ia lebih cenderung menjadikan karya-karya pendahulunya sebagai rujukan daripada menyalin kembali. 2. Karya-karya para ulama menjadi pegangan bagi umatnya. Teungku Amiruddin Hasan Meunasah Kruet Teumpeun. melainkan bangkit kembali dengan semakin banyaknya karya yang muncul dalam berbagai bentuk. Teungku di Pulo adalah sosok yang cukup berpengaruh untuk masyarakatnya di Aceh. Salah satu karyanya adalah Fa‘lam annahu l± il±ha illall±h. 8 Sampai sekarang masih bisa dijumpai manuskrip-manuskripnya yang dikoleksikan oleh keturunannya. seperti Mi’r±j as-S±lik³n yang menceritakan tentang praktik tarekat dan pemahaman filosofi tentang makna tasawuf. Ia telah menjadi teman setia bagi pembacanya di sepanjang masa. Karya-karyanya tidak hanya berkisar tentang tasawuf. Ia memiliki juru tulis khusus bernama Teungku Rahman yang bertugas dengan setia melakukan segala perintahnya dalam menulis. Di antara para ulama yang gemar menulis dan cukup produktif pada masa ini adalah Teungku Khatib Langgien. Peran Manuskrip bagi Masyarakat dalam Perang dan Manuskrip telah memberi daya tarik tersendiri pada masyarakatnya.Perang dan Damai di Aceh. dan Daw±’ al-Qulµb yang menjelaskan tentang obat hati yang perlu dimiliki oleh setiap orang. di samping ia juga menjadi tempat berpijak dan bertindak. lantunan hikayat menjadi kesenangan bagi masyarakat banyak.

misalnya. (Kern Papieren. Hikayat Prang Sabi. Meskipun mereka kalah dan tidak bisa lagi melakukan penyerangan secara berkelompok. (Kiefer. Hikayat-hikayat yang dibaca dengan intonasi nyanyian khas Aceh dapat memberi kesan dan pengaruh yang sangat kuat kepada para pendengarnya untuk bertindak dan bersikap seperti yang dikatakan dalam hikayat. Mereka melakukannya secara individu.Jurnal Lektur Keagamaan. di Pilipina misalnya. Salah satu contoh bentuk penyerangan individual yang populer sejak tahun 1910 tersebut adalah peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh seorang pemuda Aceh terhadap tentara Belanda pada tahun 1917 di Langsa. Isi hikayat pada umumnya bersifat mendidik dan mengajari hal-hal yang bermanfaat bagi pembaca dan pendengarnya. 23-24. muda. orang Aceh tidak pernah menyerah. No. dijadikan sebagai kitab wajib di setiap pesanren (dayah) bagi para pemula. p. orang tua.52 Mujtah³d. (Hurgronje. 234. Di lain pihak. Vol. Snouck Hurgronje menyatakan bahwa hikayat adalah salah satu bentuk hiburan rohani yang disenangi oleh berbagai lapisan masyarakat. telah mendorong para pembaca dan pendengarnya untuk bertindak secara langsung terjun ke lapangan mempraktikkan apa yang diceritakan dalam hikayat. 1997:201). baik rakyat biasa maupun para pemimpin. misalnya. Kern. 7. 1. Persiapan ini menunjukkan bahwa orang yang melakukan jihad adalah orang yang akan kembali ke Hari Akhir. Ilmu fikih yang tetuang dalam kitab tersebut kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.9 9 Perlawanan secara individu juga terjadi di tempat lain selain di Aceh. 1973: 109-123). di meunasah. Para ulama dan orang yang berbakat membuat hikayat pun dengan segala senang hati menciptakan berbagai hikayat untuk dibaca di hadapan khalayak ramai. sehingga menjadi darah daging pelaksananya. 2009: 21 . Motivasi pembunuhan bermula dari membaca Hikayat Prang Sabi di rumahnya. kesenangan mendengar hikayat di kalangan orang Aceh telah terjadi secara turun temurun. C. kaum Muslim Tausug melaksanakan jihad yang dikenal dengan Parrang Sabbil melawan kolonial Spanyol. 34 . No. misalnya. atau di perkumpulan-perkumpulan kecil di kedai kopi. dan anak-anak sekalipun. Dalam peperangan melawan Belanda. Vol II. 1979:25-27). seperti di lapangan. Sebelum melakukan jihad mereka harus melaksanakan upacara mandi yang kelakukannya sama seperti mandi yang dilakukan untuk orang yang mau dikuburkan. mereka masih tetap melakukan penyerangan secara individu yang dimotivasi oleh semangat prang sabi.

kecuali harus melaksanakannya. Para pemilik manuskrip–khususnya–menyimpan manuskrip sebagai sesuatu yang berharga. Kak Putri misalnya. — Fakhriati Hikayat Prang Sabi telah membangkitkan semangat jihad melawan musuh yang dianggap sebagai kafir yang merongrong Islam dan bangsa Aceh dan karenanya harus dimusnahkan. Cinta kedamaian adalah sesuatu yang lain yang diinginkan setiap insan. Isinya yang mengajarkan umat sesuai dengan ajaran Islam dan mengajak mereka untuk menegakkan perang adalah unsur yang mau tidak mau harus dipatuhi oleh orang yang cinta kepada agama dan bangsanya. Mereka mengangap manuskrip sebagai sesuatu yang dapat memberi makna mistis dalam kehidupan mereka. Salah seorang penyimpan manuskrip.. Untuk memimpin Aceh. Selain isi manuskrip tentang ajakan untuk berperang di jalan Allah. “Nabi bersabda agar orang Belanda yang masih tinggal di daerah Aceh diislamkan agar tidak masuk ke dalam neraka. Manuskrip Aceh pada Masa Kini Manuskrip memiliki arti penting bagi generasi sekarang di Aceh. Nabi mengangkat raja lain yang dapat memimpin dan membina negeri Aceh.. terlebih setelah sekian lama berprofesi sebagai penjual beli manuskrip dengan untung yang besar namun hasilnya tidak berkah (habis begitu saja tanpa termanfaatkan dengan baik). truh lee siat naggroe mulia (Hikayat Prang Sabi miliki Syik Jah. memiliki keinginan menyimpan manuskrip karena ada kepercayaan dapat berlindung dari gempa bumi. meskipun sebagian mereka tidak memahami isinya..Perang dan Damai di Aceh.. Sabda Nabi neu yu peu Islam kafe belanda yang na tinggai dara ngen agam nak bek karam u nuraka neuboh raja lein geulanto peutimang naggro mat neraca. terdapat juga isi manuskrip lainnya yang mengharap adanya suasana damai.. sehingga negeri Aceh menjadi mulia”. Dalam manuskrip Hikayat Prang Sabi sendiri terdapat harapan untuk mewujudkan negeri Aceh menjadi negeri yang aman dan damai. 35 . maka kehidupan dapat berkah dan dapat terhindar dari malapetaka. hlm. Tidak selamanya setiap insan yang normal jiwanya di dunia ini ingin berperang. sementara rumah di sekelilingnya sudah hancur berantakan. 3. Dengan menyimpan manuskrip. 33).. bahkan tidak dapat membaca tulisan di dalamnya.

Vol. 7. 1. seperti baju dan uang. dalam tubuh masyarakat Aceh telah terjadi beberapa kali konflik yang menelan sejumlah korban dari berbagai 36 . Ia mendapat wasiat dari kakeknya agar tiga manuskrip yang ia miliki hendaknya selalu dibaca dan diamalkan. merasa bahwa menyimpan manuskrip-manuskrip yang ia miliki sebagai warisan dari leluhurnya lebih baik daripada menyimpan sesuatu yang berharga lainnya. Namun demikian. Ketiga-tiga manuskrip tersebut adalah manuskrip pemompa semangat untuk berjihad dan mengajarkan cara menghilangkan diri dari musuh. bukan berarti tidak ada orang yang perduli terhadap manuskrip. Wasiat pendahulu-pendahulu mereka terus dipelihara dan dijaga. Ia yakin dengan kepatuhannya kepada wasiat kakeknya tersebut. manuskrip juga dianggap sebagai barang warisan yang berharga dari nenek moyang mereka. Konflik Internal Secara internal. Sering kali ketidakperdulian ini disebabkan mereka tidak dapat membaca dan memahami isinya. Padahal rumah di sekelilingnya sudah disisir semuanya. meskipun ia dan keluarga berada di tengah-tengah perang dan dikelilingi oleh pihakpihak yang berseteru. Adapun tiga manuskrip tersebut adalah manuskrip Hiyakaye. yaitu manuskrip yang isinya dapat membuat musuh tidak dapat melihat orang yang mengamalkan isi kitab tersebut. Tidak ada satu pun dari pasukan kedua belah pihak yang terlibat konflik berusaha masuk ke rumahnya. Syik Jah Amut misalnya. dan mengamalkan manuskrip. membaca. Sehingga mereka membiarkan manuskrip ada di rumahnya dengan menyimpan di dalam karung-karung atau peti dan meletakkan di loteng-loteng. 2009: 21 . Hikayat Prang Sabi. Pada umumnya penduduk desa yang seperti ini tidak berani menjualnya karena takut mendapat bencana meskipun ada yang berhasrat membelinya. Bentuk-Bentuk Perang yang Terjadi di Aceh 1.52 Selain itu. ia dan keluarganya telah memperoleh hikmah. atau mereka memindahtangankan (mereka menghindari istilah menjual) dengan cara barter. No. dan Hikayat Nuri. yaitu ia dan keluarganya terhindar dari serangan musuh ketika konflik Aceh terjadi. Ia dan keluarganya berkeyakinan bahwa pengalaman tersebut adalah berkat dari menyimpan. Ia lebih mementingkan keamanan manuskrip dibandingkan dengan yang lain.Jurnal Lektur Keagamaan.

Belanda menekan kedudukan ulama agar tidak ikut campur dalam mengelola sistem pemerintahan. Para uleebalang mulai menunjukkan sikap tidak patuh kepada aturan-aturan sultan yang tertuang dalam sarakata. Uleebalang pada umumnya senang dengan perlakuan Belanda tersebut sehingga ikut-ikutan untuk menekan dan menghalanghalangi gerak para ulama terutama dalam melaksanakan tugasnya menyebarkan dan melaksanakan ajaran agama. Perlawanan ulama ini digambarkan oleh Teungku Muhammad Ali sebagai berikut: Keusalah drou hantem leumah sebab that ku’eh kafeee Ulanda Hate jih seupot beurangkajan iblih ngen syaithan di dalam dada Han jitem deunge pengajaran agama Tuhan bak Rasul Anbiya Kalam Tuhan han jitem pateh ji peusalah dum anbiya. Politik saling mencurigai antara sesama atau lebih dikenal dengan politik devide at impera selalu menjadi acuan Belanda dalam usaha memperluas wilayah jajahannya.. h. Belanda berusaha melenyapkan kekuasaan sultan dan mengangkat kedudukan uleebalang sebagai penguasa wilayah. kekuasaan sultan sudah mulai melemah. sesudah kemerdekaan konflik juga timbul antara mereka.. malah menyalahkan semua para anbiya.. (Sir±judd³n.. Sebelum kemerdekaan konflik telah terjadi antara ulama dan uleebalang.Perang dan Damai di Aceh. Perbedaannya hanya terletak pada faktor penyebabnya. sehingga konflik pun muncul ke atas permukaan.. “Kesalahan diri sendiri tidak pernah nampak karena sangat jahat kafir Belanda Hatinya sudah gelap sehingga kapan saja jin dan syaitan dapat masuk ke dalam dada mereka Tidak mau mendengar pengajaran agama Tuhan pada Rasul Anbiya Mereka tidak mau mematuhi kalam Tuhan. Para ulama tidak menerima tindakan demikian..” 37 . Di sisi lain. Perilaku koruptif dengan tidak memberitahukan kepada sultan hasil pajak yang sebenarnya mulai merebak. — Fakhriati pihak. Pada masa sebelum Belanda campur tangan ke dalam wilayah Aceh. Pembagian hasil upeti yang didapat tidak dilakukan. Pembangkangan ini ternyata disambut oleh Belanda yang ingin ikut campur ke dalam pemerintahan kerajaan Aceh. 11). Ia membagi-bagi wilayah kecil dengan penguasa uleebalang yang harus tunduk di bawah kekuasan Belanda.

Para uleebalang ingin mendapatkan kembali posisi di atas dalam pemerintahan sebagaimana telah mereka alami pada masa Belanda. No.. Korban telah banyak berjatuhan dari kedua belah pihak. Bek tamuerakan wahe ado ngen ureung jahe aso donya Beutatakot hai ureung salek keu ureung ulok jahe donya Di ureung jahe pih jitakot keuureung salek duk lam tapa Padum-dum oreung jahe jipeujahat sabe ureung tapa Ureung yang pubuet suroh Allah jipeusalah dum ji rata Seubab hana ji sumayang wate limeung jiyu plihara Hantem jideungo firman Tuhan dalam Quran yang that mulia So na seubot nama Tuhan yanke tolan semayang gata Ureung yang na kheun kalimah tayibah yanke yang jroh taat gata (Sir±judd³n.. “Semua kita wahai saudara harus ikut pekerjaan Rasul Selain itu jangan ikuti karena begitulah seharusnya. Vol. terutama di pihak uleebalang. yaitu setelah kemerdekaan.. 1.Jurnal Lektur Keagamaan. Mereka mengajak pengikutnya untuk mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya. jangan berteman dengan orang jahil yang suka kepada dunia takutlah hai salik kepada orang yang seperti itu orang jahil pun takut kepada orang salik yang bertapa orang yang mengikuti perintah Allah disalahkan semua karena mereka tidak salat wajib yang lima waktu tak pernah mendengar firman Tuhan dalam al-Quran mulia mereka tidak pernah mendengar firman Tuhan dalam al-Quran barangsiapa menyebut nama Tuhan dan salatlah kalian orang yang mengucap kalimah yang baik mereka itulah orang yang baik dan taat”. h. Para ulama tidak memberi kesempatan kepada uleebalang untuk mengatur dan memerintah sementara mereka juga menginginkan kekuasaan sehingga terjadilah perang. 2009: 21 . Pada akhir tahun 1945. Banyak di antara mereka harus lari dan pergi 38 .52 Berpegang teguh pada ajaran agama menjadi kewajiban bagi para ulama untuk mempertahankannya. 7. terjadi kembali perang saudara antara ulama dan uleebalang yang dikenal dengan perang cumbok. Geutanyo bandum wahe ado bak buet Rasul ikut gata Laen bak Rasul bek ta ikot meunan patot dum peutua. 13-14). agar selamat hidup di dunia dan akhirat.

Hikayat tersebut selain menceritakan kemenangan pasukan Aceh dengan tewasnya jenderal Kohler. sehingga lahir hikayat tentang tewasnya jendral Kohler. Usman. — Fakhriati meninggalkan Aceh agar selamat dari serangan dan pembunuhan (Reid. Jepang menjanjikan angin surga untuk bersama orang Aceh melawan Belanda dan berada di pihak orang Aceh untuk membangun Aceh. maka rakyat Aceh mulai mengerakkan seluruh kemampuannya untuk berperang menghadapi Jepang. menggantikan posisi uleebalang. Sangat beruntung bagi orang Aceh. karena keberhasilan ada di tangan mereka dan jendral Kohler tewas terbunuh oleh rencong Aceh. Aceh mencari bantuan ke Turki untuk persiapan menghadapi mereka. Mereka tetap menjadikan rujukan dan membina hubungan erat dengan para ulama setempat. Sehingga gerak mereka tidak lepas dari pantauan para petinggi ulama. (1942-1945) adalah perang lain yang harus dihadapi orang Aceh. Konflik Eksternal Perang melawan orang asing yang datang ke tanah Aceh terjadi pertama kali dengan pasukan Portugis yang ingin menguasai wilayah Aceh. juga berkisah tentang peristiwa berkecamuknya peperangan serta menggambarkan bagaimana semangat juang pasukan bersama rakyat Aceh dalam perang mengusir penjajah yang menelan banyak korban di kedua belah pihak.. Para pemuda Aceh menyambut gembira harapan yang diberikan Jepang. Kemudian perang kembali berkecamuk ketika Belanda melakukan agresi pertama ke wilayah Aceh pada tahun 1873. Semangat jihad 39 . Setelah merasa bahwa janji-janji Jepang hanyalah tipuan belaka. pasukan Aceh di bawah komando Kuemala Hayati telah berhasil mengalahkan Portugis yang berada di bawah pimpinan Admiral Die d’Lopez Sequeira yang berusaha menguasai wilayah Aceh Besar. Pidie. Usman. Mereka melawan Jepang meski dengan senjata yang tidak sebanding sekalipun. Dengan kegigihannya.. 2003:119-124). Mereka mengikutinya. 2. Pada awalnya. 1979:200-204. Para pemuda Aceh direkrut untuk berada di tangga pemimpin negeri.Perang dan Damai di Aceh. 2003:115). Orang Aceh sangat senang atas kemenangan ini. dan Pasai (Zainuddin 1961:267. Perang melawan Jepang. Pada tahun 1509 M. namun mereka juga tetap waspada apa yang akan terjadi ke depan.

52 kembali berkobar. kemungkinan besar karena selain masa perang melawan Jepang yang demikian singkat. Abdurrauf al-Fansuri adalah tokoh yang sangat kuat memperjuangkan negara melawan penjajah. Dalam kitab Wa¡iyyat Syeikh Abdurrauf al-Fansuri 10 terdapat ajaran Abdurrauf tentang kewajiban perang sabil. Mereka hanya menggunakan kitab-kitab lama untuk dibaca dan direnungi serta diamalkan. sehingga ajarannya juga diamalkan. Jepang pergi sendiri meninggalkan Aceh setelah dikalahkan oleh Amerika dengan jatuhnya bom di Hirosima dan Nagasaki. Akhirnya. Pada jangka waktu perang yang singkat dengan Jepang. Ia menyebut bahwa memerangi orang kafir adalah berbentuk perang sabil yang diridai oleh Allah. Vol. meski tekanan hidup lebih parah daripada yang dialami pada masa Belanda. 1. beda agama. Karena itu ia mengajak kaum Muslimin untuk bersungguh-sungguh melaksanakan perang sabil dan bercita-cita untuk mati syahid. (Abdullah. Kondisi-Kondisi yang Menyebabkan Perang Dari hasil pemetaan di atas dapat dianalisis berdasarkan manuskrip yang ada bahwa terjadinya perang di Aceh adalah karena faktor-faktor penjajahan. Dalam sebuah doa. Hal ini terjadi. terdapat semangat jihad dengan mengharapkan berkat dari Abdurrauf al-Fansuri dalam berjuang melawan Belanda. dan perebutan kekuasaan. Ia mengatakan bahwa Allah melarang orang Islam untuk tunduk di bawah pemerintah kafir dan mengambil orang kafir sebagai teman. No. Hikayat Prang Sabi kembali dikumandangkan dari berbagai tempat dan sudut untuk membakar semangat rakyat berjuang melawan Jepang sebagai kafir.Jurnal Lektur Keagamaan. Ia mengajarkan bahwa perang melawan orang kafir yang menjajah wilayah kaum Muslimin adalah wajib. 7. Untuk itu Allah mewajibkan umat Islam untuk melakukan perang sabil. 1991:131). Manuskrip ini disimpan di Pusat Manuskrip Melayu dengan nomor kelas MS 1314. juga karena seluruh kemampuan jiwa dan raga orang Aceh tercurah ke dalam perang menghadapi Jepang. tidak terlihat munculnya karya-karya para ulama pada saat ini. Orang Aceh sangat menghormati dan menghargai keagungan Abdurrauf al-Fansuri. 2009: 21 . 10 40 .

Perang dan Damai di Aceh. Beureukat Teungku Syiah Kuala. Sebagai penganut dan penyebar tarekat Samaniyyah di wilayah Nusantara. Keluar peluru jangan bersuara. Di akhir buku ini tertulis doa yang berisi permohonan kepada Allah agar Allah melindungi orang yang melakukan jihad. dan jihad yang hanya wajib dilakukan secara berkelompok bila orang kafir masuk ke dalam wilayah mereka. dorongan kuat dari tokoh luar Aceh juga menjadi kondisi membangkitnya semangat orang Aceh dalam menggerakkan perang melawan penjajah Belanda. Selain itu. Beureukat syufa’at Nabi Muhammad bak meunang umat. Cod. 7992 (5): 3) “Tiada Tuhan selain Allah. 11 41 . Boh beudee jife bek jimeusu. firman Allah disuruh perangi kafir. iman bak teugoh.. — Fakhriati L±’il±ha’ill±h. firman Allah neuyou prang kafe. 20. (Manuskrip. Agar Allah usir kafir Belanda”. Setelah tahun 1789 M) adalah tokoh dari Palembang (Sumatera Selatan) yang telah membakar semangat jihad untuk wilayah Nusantara. tidak heran kalau sampai sekarang manuskrip al-Palembani masih disimpan dan dikoleksi oleh orang Aceh. ia berjuang dengan giat melawan Belanda. A. Abdussamad al-Palembani (w. Salah satu manuskrip yang mengambil rujukan pada buku tersebut adalah Nasihat Ureung Meuprang dan Hikayat Prang Sabi.. kalah kafir. Perkumpulan kaum Muslimin di Mekah juga menjadi kondisi lain untuk mendorong orang Aceh bergerak lebih radikal terhadap Buku ini berisi pahala yang dicapai oleh orang yang melakukan jihad. berkat syafaat Nabi Muhammad agar menang umat. Masyarakat Aceh menggunakan buku tersebut sebagai pedoman mereka menulis. dan penghapusan dosa selama di dunia. khususnya Aceh. penjelasan tentang peraturan berjihad yang terdiri dari jihad yang wajib dilakukan oleh setiap individu bila orang kafir menguasai daerah orang Muslim. Or. beutalo kafe.Muslim³na wa Ta©kirah al-Mu’min³na f³ fa«±’il al-Ji¥±di f³ Sab³lill±h wa Kar±mah al-Muj±hid³na f³ Sab³lill±h 11 telah menjadi rujukan bagi rakyat dalam berperang. (Manuskrip. Or. Berkat Teungku Syiah Kuala. Kemudian dilanjutkan dengan anjuran kepada orang yang melaksankan jihad agar membaca l± ¥awla wa l± quwwata ill± bill±h tujuh kali. C). Bak Allah beh kafee Ulanda. Kemudian. hati harus putih bersih dan iman harus kuat. Hatee bak puteh. Cod. Karena itu. Bukunya tentang kewajiban melakukan jihad bagi setiap Muslim yang sedang menghadapi musuh yang berjudul Na¡³¥ah al.

12 42 . 10) Han jibri peubut tarekat sufi seubab that dengki si celaka. 11) Pergi ke Mekah khususnya untuk melaksakan haji telah menjadi suatu tradisi bagi orang Aceh khususnya dan Nusantara pada umumnya. adalah seorang intelektual yang selama dua puluh tahun berada di Mekah untuk menuntut ilmu-ilmu agama. sehingga rakyat antusias membaca dan mendengarkannya. 1990: 42-49).. Meunan Peurintah Huleebalang dum sibarang yang peutua. (Sir±judd³n..52 kaum non-Muslim. 1972: 193210: Holt. Ia kemudian pulang ke Aceh dan mengabdi kepada agama dan bangsanya dengan berbagai macam cara. 1980: 337-347. Konsekwensinya mereka menciptakan gerakan melawan penjajah di daerah mereka sendiri. misalnya. seperti di Arab dan di Mesir. Ureung salik ji peusalah menan fitnah ureng celaka (Sir±judd³n. h. (Bruinessen. sebagai tokoh Syattariyah tidak luput mengulas sifat dan sikap uleebalang dan kafir Belanda yang menghalang-halangi kaum tarekat dalam beribadah. 2009: 21 . Ia. No. Isi manuskrip tersebut adalah penjelasan perang yang terjadi di berbagai negara Muslim di dunia. Keusalah drou hantem leumah that kueh kafee Ulanda (Sir±judd³n. 8-12). Teungku Muhammad Ali yang berdomisili di daerah Leungputu.14 Manuskrip Teungku Ali Muhammad Pulo Peub yang ditulis pada abad ke-19 M adalah salah contoh manuskrip yang menarik dikaji untuk melihat kondisi yang menyebabkan terjadinya perang di Aceh. hlm. Orang Aceh yang berada di Mekah 12 mendapatkan informasi tentang kekejaman kolonial di setiap negara Muslim lainnya di dunia. 13 Lihat misalnya keberhasilan Mahdi Sudan dalam Dekmejian. Salah satunya adalah simpanan Teungku Ainal Mardhiah Teupin Raya. Mereka mendengar akan kesuksesan saudara mereka dalam memperjuangkan negara mereka. Vol. Manuskrip ini ditulis dalam bahasa Aceh dan dalam bentuk hikayat. 13 Sehingga semangat yang berapi-api mereka bawa pulang serta. Mereka saling mendapat dorongan untuk mencapai satu tujuan yang sama. Mereka yang memiliki cukup biaya pergi ke Mekah dan bahkan sebagian mereka menetap di sana berpuluh-puluh tahun guna menuntut ilmu agama dari para guru di tanah suci. dan mengajak rakyatnya untuk ikut serta. manuskrip-manuskrip tentang hal tersebut masih disimpan oleh penduduk setempat.. 14 Sampai sekarang.. 1. Di antaranya adalah dengan menuangkan ilmunya ke dalam tulisannya. hlm. Sehingga perkumpulan tersebut membuat komitmen untuk memberantas kolonial di wilayah mereka. Salah satu cara mereka merangkul rakyatnya adalah dengan menulis informasi yang mereka peroleh di Mekah dalam bahasa Aceh dan berbentuk hikayat.Jurnal Lektur Keagamaan. 7.

Bismill±hirra¥m±nirra¥³m Q±lal faq³ru ilall±hil malikil jal³lil syaykhi ‘abdur ra’µfi anna ‘alayya wa lamma wa¡altu ila ar«il Asy³ wa k±na l³ f³h± rajulun yu¡±¥ibun³ wa yataraddadu ilayya ka£³ran wa raaytu annahu yatakallamu f³ wa¥datil wujµdi ‘ala khil±fi m± qarrarahu sayyid³ wa syaykh³l ‘±limir rabb±niyyil munfaridi f³ aw±nihi bil± £±n³ A¥mad bin Mu¥ammadil Madan³l An¡±r³yyi¡ ¢amad±n³yyisy Syah³ri bil Qusy±sy³ wa khal³fatul ‘±lamil ‘al±matil ¥ibril ba¥ril fahh±mati wahua syaykhun± Burh±nudd³ni Mul± Ibrah³m ibni ¦asanil Kµr±n³ 43 . hubungan ketidakharmonisan kedua pihak yang bersaudara setanah air semakin tidak terelakkan dan bahkan semakin meruncing. terdapat upaya-upaya damai yang dapat dilihat agar setiap masyarakat dapat menikmati hidup dengan tenang dan dapat melaksanakan segala aktivitas sehari-hari demi kemajuan bangsa. Ia menulis kitab tasawuf dengan judul Tanb³h al-Masy³ yang di antara isinya adalah upaya untuk menetralkan pemahaman tasawuf yang telah simpangsiur pada saat itu. Orang salik disalahkan demikian bentuk fitnah orang celaka Tidak diizinkan melaksanakan tarekat sufi karena mereka sangat dengki. tidak berdasarkan ajaran dari gurunya. Abdurrauf al-Fansuri dengan bijaksana menyikapi perbedaan-perbedaan pandangan antara kaum sufi yang sebelumnya telah mengarah kepada kekerasan... Untuk menciptakan perdamaian di kalangan masyarakat dan juga di tingkat pemerintahan.. Ia memilih bersikap moderat dan cukup hati-hati dalam menghadapi konflik yang ada pada saat itu. Bahkan ia sangat takut bila seseorang akan menuduhnya berada pada garis yang salah dalam tasawuf.. Di satu sisi. — Fakhriati “Demikian perintah uleebalang sebagai pemimpin..Perang dan Damai di Aceh. Akibatnya. ia tidak setuju dengan pandangan yang mengatakan penyatuan makhluk dengan Tuhannya yang tidak ada perbedaan sama sekali.. Upaya-Upaya Damai Dalam manuskrip. Kesalahan sediri tidak pernah kelihatan sangat jahat kafir Belanda” Uraian Teungku Muhammad Ali Pulo Pueb tentang ketidaksetujuan dan sikap uleebalang terhadap ketaatan kaum tarekat dalam beribadah menunjukkan bahwa uleebalang pada masa itu telah berhasil dipandu dan didikte oleh Belanda dalam mengatur negara dan mengesampingkan para ulama.

Jurnal Lektur Keagamaan. maka tiadalah perkataan dalamnya. karena jikalau ada ia kafir. Dalam karangannya yang lain. dan jangan pula engkau memujinya. hlm. Maka saya buat risalah ini dengan mengharap bantuan dari Allah dan menyadari akan sedikitnya perbendaharaan dan banyak kelemahan dan saya namakan buku ini dengan Tanb³hul M±sy³ ala Tar³qatil Qusy±sy³ dan saya mengucapkan Bismillahirra¥m±nirra¥³m”. (Daq±’iq al-¦uruf. saya khawatir ketentuan dan keyakinan orang tersebut dinisbahkan kepada ketentuan dan keyakinan saya.1). ada seseorang datang kepada saya berkali-kali. (Tanb³h al-M±sy³ versi Tanoh Abee. 2009: 21 . Vol. Di sisi lain. 7. 1. padahal saya tidak ada hubungan dengan masalah tersebut. No. 44 .52 ra¥imanallahu bihim± wa ©±lika min ¥ay£u annar rajula lam yumayyiz baynal mur±tibi wa lam yarji’ ila taqr³ril mu¯±biqi lisyar³‘ati faakh±fu ayyunsama taqr³rur rajuli wa i‘tiq±duhu ila taqr³r³ wa i‘tiq±d³ ¥atta yukaffirun³ ba‘da waf±t³ wa ana bar³un minhu fajami‘tu h±©ihir ris±lata mustaq³nan bill±hi wa mu‘tarifan biqillatil bi«±‘ati wan na«±¥ati wa sammaytuh± bitanb³hil m±sy³ ala ¯ar³qatil qusy±syi wa faqultu bismill±hir ra¥m±nir ra¥³mi “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Syekh Abdurrauf al-Fansuri berkata: bahwa ketika saya sampai di Aceh. karena sesungguhnya pada keduanya terdapat kesalahan besar di sisi Tuhanmu. ia melarang menuduh atau mengklaim dengan kutukan yang menyakitkan si pendengar yang mengakibatkan akan menjerumuskan diri sendiri ke dalam kata-kata yang pernah diucapkan tersebut. “Peliharalah lidahmu dari perbuatan g³bah dan mengkafirkan orang lain. sehingga orang mengkafirkan saya setelah saya wafat. (Tanbih al-Masyi yang disimpan di Tanoh Abee. ia juga menulis: Dan tiadalah harus kita mengkafirkan dia. h. dan jangan engkau mengutuk saudaramu yang Muslim. Wa¥fa§ lis±naka ‘anil g³bati wa takfir fa’innahu kha¯aran ‘a§³man ‘inda rabbikal kab³r wa l± tula‘‘in akh±kal muslima fatakun minal mujrim³na yaumal qiy±mati wa l± tamda¥¥uhu ay«an fatakun minal mabgµ«³na aw mina« «±rib³na ‘unuqa akh³him. saya melihat ia berbicara tentang wa¥datul wujµd yang berbeda dengan apa yang telah diajarkan syekh saya Ahmad bin Mu¥ammad al-Madan³ al-An¡±r³ as-¢amad±n³ yang dikenal dengan al-Qusy±sy³ dan khalifah Alam yang luas pemahamannya yaitu syekh kami Burh±nudd³n Mul± Ibrah³m bin Hasan al-Kµr±n³ semoga Allah merahmati keduanya. karena engkau akan termasuk golongan orang yang dimurkai Allah atau golongan orang yang memenggal leher saudaranya”. niscaya kembali kata itu kepada diri kita. Bahwa orang tersebut tidak membedakan antara tingkatan-tingkatan dan tidak merujuk kepada ketentuan syariat. 392). 32). Dan jikalau tiada ia kafir. karena engkau akan termasuk golongan orang-orang yang berdosa pada hari kiamat.

maka sekali-kali tiada ia mau tobat. Maka dengan beberapa kali disuruh raja akan mereka itu membawa tobat. Ketika seorang prajurit Aceh pergi ke medan perang. maka disuruh raja akan mereka itu membawa tobat daripada iktikad yang kufur itu. MS dikutip dari Azra 1995:182. Sultan Iskandar Stani sangat mendukung sikap ar-Raniri. sehingga ia memerintahkan pekerjapekerja kerajaan melakukan pembunuhan terhadap pengikut Hamzah Fansuri. 392). huwa al-‘alam. Dari ungkapan-ungkapan Abdurrauf al-Fansuri yang dituangkan dalam tulisannya seperti tersebut di atas. Ia sangat mengharapkan agar istrinya selalu 15 Ar-Raniri. Maka disuruh oleh raja tunukan segala kitab itu. pada halaman yang sama. dan disuruhnya himpunkan segala kitab karangan guru mereka di tengah medan masjid yang bernama Bayt Al-Rahman. sehingga tidak ada kesalahpahaman di antara pembaca. tulisan Faqih Jalaluddin Asr±r al-Sulµk juga mengandung unsur pemeliharan perdamaian dan mencegah terjadi konflik di antara pengikut tarekat yang ia dalami. hingga berperanglah mereka itu dengan penyuruh raja... Dalam kitabnya Fath al-Mubin.15 Pada abad selanjutnya. yaitu dengan penguraian kata-kata sejelas mungkin dan lebih hati.. ar-Raniri menjelaskan: . Dalam salah satu manuskrip yang disimpan oleh salah seorang penduduk Pidie terdapat tulisan tentang uraian sebuah harapan dari seorang pemuda yang pergi berjihad untuk dapat kembali hidup bersama isterinya lagi. Setelah sudah demikian itu. al-Fath al-Mubin.. berlindung kiranya kita kepada Allah dari pada kufur itu. — Fakhriati Seterusnya. ia selalu mengharapkan agar dapat kembali dan bersama keluarganya lagi. maka sungguh dapat dilihat bahwa pandangan Abdurrauf al-Fansuri sangat jauh berbeda dengan pandangan ar-Raniri yang pengikut Hamzah Fansuri sebagai pengikut wujudiyah yang sesat sehingga perlu dimusnahkan berikut kitab-kitabnya karena menurutnya mereka sudah berada pada jalan yang salah menurut agama.. (Daq±’iq al-¦urµf. 45 . Abdurrauf al-Fansuri menjelaskan: . bahwa alam itu Allah dan Allah itu alam..dan lagi kata mereka itu: al-‘alam huwa Allah. Maka disuruh oleh raja bunuh akan mereka itu.dan inilah bahaya mengkafirkan itu.Perang dan Damai di Aceh. abad ke-18 M.

demikian juga dalam hal mengenal Tuhan tidak bisa disamakan dengan makhluknya. Karya Teungku Muhammad Ali Pulo Peub memancarkan keinginan untuk berdamai dengan lawannya. Ia menjelaskan segala hal yang menyangkut filosofi tasawuf dengan sangat hati-hati. Ia sempat mendapat pengikut banyak untuk melaksanakan ajarannya. yaitu jalan agama yang diridai Tuhan. Sehingga untuk meluruskan jalan pemahaman umat. Kendatipun ia sangat tidak menyukai cara-cara uleebalang dan Belanda.52 menjaga diri dan berdoa agar mereka dapat hidup bersama lagi membangun keluarga yang sakinah sepanjang hidup mereka. dalam kitabnya Mi‘r±j as-S±lik³n menyajikan ajaran yang mengandung unsur perdamaian. (Poerwa. 1993:4). salah seorang ulama yang cukup produktif pada masanya. Menurutnya cara-cara tasawuf yang benar adalah cara pelaksanaan yang ditawarkan oleh Hamzah Fansuri. Dalam salah satu tulisannya ia menyebutkan: 46 . 1. Vol. tetapi berusaha untuk tidak secara gamblang menyebut perilaku uleebalang sebagai perilaku musuh yang perlu diperangi. Ia lebih memilih jalan menjauhkan diri dari ancaman mereka dan mengajak umatnya untuk tetap berada pada jalan yang benar. Ia juga membuat perumpamaanperumpamaan sebagai salah satu caranya untuk menjelaskan sesuatu yang masih kurang jelas untuk pembacanya. 2009: 21 . 1961:16. Dalam tulisan Teungku Muhammad Khatib Langgien. Ishak. Dalam masa penjajahan Belanda Teungku Id ibn Ustman masih sempat menyelesaikan tulisannya tentang bagaimana memahami tasawuf dengan benar. Seperti menjelaskan tentang perbedaan mengenal gajah dengan mengenal manusia karena berbeda bentuk dan akal. No. Hal ini dimaksudkan untuk menghindarkan rakyat dari perpecahan yang meluas akibat menyebarkan dua faham yang saling bertentangan sebagaimana yang terjadi pada masa Sultan Iskandar Tsani pada abad ke-17 M. Namun ajarannya ini kemudian ditentang oleh Teungku di Pulo dan kawan-kawannya. 7. yaitu uleebalang dan Belanda.Jurnal Lektur Keagamaan. Ia berusaha untuk tidak menciptakan konflik terhadap pemahaman yang berbeda dari pemikirannya yang ia tuangkan dalam tulisan. (Manuskrip Laut Makrofat Allah). ia kemudian diusir dan bahkan dibunuh oleh masyarakat setempat.

karena kasih akan dunia ibu segala kejahatan (Dawa’ al-Qulµb. dan hanya menyerahkan diri kepada Allah. ia juga menjelaskan bahwa tingkat ini diperuntukkan kepada ahli sufi yang berada pada tingkat tinggi.. Satu contoh lain adalah manuskrip Hikayat Abdurrahman.dan lagi yang demikian itu tempat tergelincir kebanyakan manusia yang tiada makrifat baginya hai salik adalah segala alam makrifat yang telah kunyatakan kepadamu ialah alam makrifat yang indah-indah dan ia yang terlebih sukar paham segala orang awam. seperti .( Mi‘r±j as-S±lik³n... (Mi‘r±j as-S±lik³n. Kisah perjalanan hidup Siti Hazanah setelah ditinggal mati keluarganya menjadi sorotan utama dalam manuskrip ini. 28). karena tuduhan-tuduhan dari sepihak yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya.. Ia mengalami berbagai cobaan dan penderitaan dalam liku-liku hidupnya. Manuskrip ini menguraikan cerita fiksi berjudul Hikayat Abdurrahman. Mengatasi masalah ini. Sifat-sifat yang tercela dihindarkan dan sifat-sifat yang baik digunakan. Selanjutnya.Perang dan Damai di Aceh. 27). h. Isi manuskrip ini mengajak pembaca untuk selalu menghafal dan mengamalkan ayat-ayat tertentu agar kehidupan di dunia selamat dari kecaman apa pun. h. Isinya menjelaskan tentang kehidupan sebuah keluarga yang bernama Abdurrahman dan seorang anak perempuan yang salehah bernama Siti Hazanah. yang perlu diamalkan oleh pembacanya agar dapat hidup lebih tenang baik di dunia maupun akhirat. Salah satu sifat yang perlu dihindarkan adalah hubb ad-dunya. h. ia lebih memilih cara sabar. bila 47 . ia juga menulis tentang obat hati... 28-29).. dan ia memberi peringatan kepada pembacanya agar hati-hati dalam menafsirkan karena dapat menyesatkan pemahaman. diam. tenang dalam menjalani hidup dalam keadaan apapun. Manuskrip Hiyakaye adalah sebuah manuskrip yang dikemas untuk memberi semangat hidup bagi para pembacanya. dicemohi. seseorang akan terlena dengan dunianya dan tidak mau bersegera mencari bekal untuk akhirat.. dijauhi dan tidak perlakukan sebagaimana karabat lain. Ia mengadakan pembelaan terhadap dirinya. Ia dicaci maki. Akibat dari sifat ini. Dalam menjelaskan hal-hal yang berbentuk filosofi seperti di atas. — Fakhriati Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu karena mustahil dikata umpama barangsiapa mengenal ia akan gajah maka sanya ia mengenal akan manusia.

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 21 - 52

ia mendapat kesempatan. Ia tidak pernah menyakiti orang lain. Akhirnya pembelaan dari pihak yang tidak diduga, yaitu dari makhluk Allah selain manusia, untuk menyatakan bahwa dia adalah orang benar dan tidak pernah bersalah. Dalam perjalanan hidupnya, akhirnya, ia mencapai tingkat sufi yang paling tinggi, yaitu makrifat Allah. Ia memperoleh kesenangan yang sangat tinggi dan selalu diidam-idamkan selama hidupnya, yaitu melihat Tuhannya. Seperti tersebut dalam teks;
Rupa po yang takalen Hate heran leumah Tuhan yankeu iman dengan makrifat Yan alamat takwa hanban. (Manuskrip Hikayat Abdurrahman, hlm. 45). “Wujud Tuhan yang terlihat Itulah iman dengan makrifat Hati menjadi heran akan hadirnya Tuhan pertanda hasil takwa yang sangat tinggi”

Penutup Catatan sejarah Aceh adalah bagian dari cerita panjang tentang perang dan damai, di samping cerita tentang kemajuan dan kemundurannya. Orang Aceh sesungguhnya adalah manusia-manusia yang ramah, terbuka, dan suka pada kedamaian dan ketenangan. Mereka dapat menerima kehadiran siapapun tanpa memandang ras dan agama selama ia sendiri tidak merusak hubungan baik dengan penduduk dan masyarakat Aceh. Namun, di balik keramahtamahan dan keterbukaan itu tersimpan sikap yang sangat tegas dan tidak mau tunduk atas setiap kehendak asing yang ingin menguasai atau merusak citra Aceh baik wilayah, harga diri, terlebih agamanya. Sejarah perang Aceh selalu terkait dengan upaya mempertahankan wilayah, agama, dan harga diri. Untuk urusan seperti ini, orang Aceh memiliki semangat jihad atas nama agama yang sulit diredam, kecuali apa yang mereka tuju telah tercapai. Ulama bagi masyarakat Aceh memiliki posisi sentral sebagai panutan dalam beragama, bermasyarakat, dan berjuang f³ sab³lill±h. Selain komando untuk mengusir penjajah, pada umumnya ulama yang menulis manuskrip-manuskrip Aceh mengajarkan agar mendorong terciptanya perdamaian dalam hidup, meskipun sedang berada pada posisi menghadapi musuh. Permusuhan dan pertikaian tidak boleh diciptakan dan dimulai, tapi mempertahankan diri dan agama adalah wajib. Salah satu usaha mempertahankan diri adalah 48

Perang dan Damai di Aceh... — Fakhriati

dengan doa-doa mujarabat, yaitu doa-doa yang ampuh untuk dibawa kemana saja dan dapat mengalahkan segala keinginan jahat yang bertebaran di luar diri pemegang doa tersebut. Doa-doa tersebut menjadi alat pelindung bagi pemegangnya bila ia dihafal, diamalkan, dan dilaksanakan sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku. Dan, ia tidak akan bermanfaat bila hanya tertulis dalam secarik kertas untuk dikantongi dan dibawa-bawa si pemegang.[]

Daftar Pustaka
Azra, Azyumardi, 1995, Jaringan Ulama: Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII, Bandung: Mizan. Bruinessen, Martin, 1990, “Seeking Knowledge and Merit: Indonesians on the Hajj” dalam Ulumul Quran, Vol. II, No.5, Jakarta. Dekmejian, H. Richard dan Margaret J. Wyszomirski, 1972, ‘Charismatic Leadership in Islam: The Mahdi Sudan’ dalam Comperative Studies in Society and Theory. Djajadiningrat, Hoesein, 1934, Atjehsch-Nederlandsch Woordenboek, Vol. 2, Batavia: Landsdrukkerij. Fakhriati, 2005, New Light on the Life and Work of Teungku di Pulo: An Achehnese Intellectual in the Late 19th and Early 20th Centuries, Makalah dipresentasikan pada SEASREP Conference, Chiang Mai, Thailand, 8-9 Desember 2005. -----------, 2008, Menelusuri Tarekat Syattariyah di Aceh Lewat Naskah, Jakarta: Balitbang dan Diklat Departemen Agama RI. Holt, P. M., 1980, ‘Islamica Milleniarism and the Fulfillment of the Prophecy’ dalam The Prophecy and Milleniarism, diedit oleh Ann Williams, London. Hurgronje, Snouck, C., 1997, Aceh: Rakyat dan adat istiadatnya, INIS. Ishak, Otto Syamsuddin, 1993, ‘Dinamika Pemikiran Keagamaan di Aceh’, dalam Serambi Indonesia, Jum’at, 15 Januari 1993. Iskandar, Teuku, 1958, ‘De Hikayat Atjeh’ dalam BKI XXVI. Keifer, Thomas M., 1973, ‘Parrang Sabbil: Ritual Suicide among the Tausug of Jolo’ dalam BKI, Vol. 129. Kern Papieren, No. C. 234, Bajlagen 4, Weltevreden Desember 16, 1921, Koleksi KITLV, No. 414.

49

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 21 - 52

Kern, R. A., 1979, Hasil Penyelidikan Tentang Sebab Musabab Terjadinya Pembunuhan, diterjemahkan oleh Aboe Bakar, Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. Poerwa, Aziz, 1961, ‘Tumbuhnya Agama Baru Indonesia’ in Sketsmasa, No. 17, Tahun IV. Raliby, Osman, 1980, ‘Aceh, Sejarah, dan Kebudayaannya, dalam Bunga rampai tentang Aceh, Jakarta: Penerbit Bhratara Karya Aksara. Reid, Anthony, 1979, The Blood of The People: Revolution and The End of Traditional Rule in Northen Sumatra, Oxford University Press. ---------, 2007, Asal Mula Konflik Aceh: Dari Perebutan Pantai Timur Sumatera hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Said, Mohammad, 1961, Atjeh Sepandjang Abad, Medan. Sjamsuddin, Nazaruddin, 1999, Revolusi di Serambi Mekah; Perjuangan Kemerdekaan dan Pertarungan Politik di Aceh 1945-1949, UI Press. Syamsuddin, T., dkk, 1978, Adat Istiadat Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. Sulaiman, Nasruddin, dkk, 1992, Aceh: Manusia, Masyarakat, Adat, dan Budaya, Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. Tippe, Syarifudin, 2000, Aceh di Persimpangan Jalan, Jakarta: Pustaka Cidesindo. Usman, Rani, 2003, Sejarah Peradaban Aceh, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Vleer, A. J., 1978, Kedudukan “Tuha Peut” dalam Susunan Pemerintahan Negeri di Aceh, alih aksara oleh Aboe Bakar, Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. Zainuddin, H. M., 1961, Tarich Atjeh dan Nusantara, Medan, Penerbit Iskandar Muda.

50

. Geulumpang Miyeunk. Pidie. Aceh 51 . Pidie. Aceh Gambar 2: Foto Halaman Awal Naskah Teungku Khatib Langgien milik Teungku Amir Meunasah Kruet Teumpeun. Teupin Raya. — Fakhriati Lampiran: Gambar 1: Foto Halaman Awal Naskah Hiyakaye milik Syik Jah Amut.Perang dan Damai di Aceh..

Jurnal Lektur Keagamaan. 1. 7. Teupin Raya Aceh 52 . No.52 Gambar 2: Foto Halaman Awal Naskah Sarakata milik Cut Manfarijah Dayah Tanoh. Vol. 2009: 21 .

The fitst category refers to tweleve manuscripts made of paper. — Asep Saefullah dan Adib M. Bali Pengantar Keberadaan naskah tulisan tangan (manuskrip) di suatu wilayah. Adib Misbachul Islam This paper is a result of our research of Islamic literature in Bali in 2008. We have discovered thirty-eight manuscripts that we can classify into three categories. remembrance of God. this Islamic manuscrip was written between the seventeenth and nineteenth century. and one of them is difficult to read. mysticism. The third category is about fourteen Qur’anic manuscripts. prayer. The second category is tweleve manuscripts made of palm leaf: nine of them deal with Islam. Dep. Badan Litbang dan Diklat. we can write four important things as follows. lontar. and story. dluang. Most of this category of manuscript was torn away. and palm leaf. and Balinese. kertas Eropa. Islam Beberapa Aspek Kodikologi Naskah Keagamaan Islam di Bali: Sebuah Penelusuran Awal*) Puslitbang Lektur Keagamaan dan UIN Syahid. Dari sisi lain. this manuscript includes jurisprudence. In regard to Islamic literature in Bali.. 22-24 Desember 2008. dari satu sisi dapat dianggap sebagai salah satu representasi dari lokalitas dan kekhasan wilayah bersangkutan. this category is unfortunately not taken care well. Jakarta Asep Saefullah dan M.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Agama. this Islamic manuscript adopts Arabic. modern lined paper. Cisarua-Bogor. divinity. Hal ini Tulisan ini semula merupakan Makalah disajikan dalam “Seminar Hasil Penelitian Naskah Klasik Keagamaan” Puslitbang Lektur Keagamaan. European paper. First. In terms of codicology. Arabic grammar. like dluang. Malay (Jawi). and the oldest manuscript was written in 1625 AD (1035 AH).. Third. *) 53 . this Islamic manuscript uses diverse tools. Kata kunci: kodikologi. two of them about Hinduism. Hotel Permata Alam. ia dapat juga menjadi bukti adanya hubungan dengan wilayah lain jika ditemukan bukti-bukti lain yang menunjukkan ke arah itu. Second. Fourth. medicines. Bugese. Qur’an.

tetapi sebagian besar lagi diduga masih tersebar di tangan masyarakat. Persoalannya. baik di dalam maupun di luar negeri. dan yang kedua naskah-naskah yang ditulis dalam bahasa-bahasa daerah.]. Jerman. Bugis-Makassar. Bali. Masalah ini tergolong serius karena umumnya naskah-naskah tersebut kurang terawat dan sangat tua. tidaklah mengherankan jika di Indonesia banyak ditemukan naskah-naskah berbahasa Arab dan juga bahasa daerah seperti Melayu. sudah semakin rapuhnya kondisi fisik naskah-naskah tersebut seiring dengan berjalannya waktu (Bafadal dan Saefullah [Eds. Jika hal ini terus berlarut. Pentingnya upaya konservasi ini setidaknya disebabkan oleh dua hal: Pertama. Sunda. yang pada akhirnya 54 . Afrika Selatan. yang menurut Oman Fathurahman (2003: 1-2) membentuk pola dua kelompok bahasa naskah: Pertama. (Chambert-Loir dan Fathurahman: 1999).90 dapat ditelusuri dari berbagai informasi yang terkandung di dalam naskah itu atau dari fisik naskah. Belanda. 1. Dengan demikian. upaya penelusuran naskah-naskah di masyarakat mutlak diperlukan sebagai upaya konservasi untuk kemudian dilestarikan dan dimanfaatkan. khususnya bagi penelitian lebih lanjut atau dalam rangka mengkaji nilai-nilai yang terkandung di dalamnya untuk merajut budaya bangsa menuju kerukunan umat beragama. adalah bagaimana kondisi naskah-naskah yang masih di tangan masyarakat tersebut. naskah-naskah yang ditulis dalam bahasa Arab. Inggris. Dengan demikian. Srilangka. Sebagian besar naskah di luar negeri yang sudah terinventarisasi antara lain tersimpan di Malaysia.Jurnal Lektur Keagamaan. 7. Sebagian naskahnaskah tersebut sudah tersimpan dengan baik di berbagai perpustakaan dan museum. keberadaan naskah tersebut dapat dikaitkan dengan proses islamisasi atau perkembangan Islam yang banyak melibatkan para ulama produktif di zamannya. Vol. Aceh. dikhawatirkan naskahnaskah tersebut akan punah atau pindah tangan. Dalam proses ini telah terjadi transmisi keilmuan. dan lain-lain. dan kedua. 2009: 53 . Dalam konteks kajian keislaman di Indonesia. No. banyaknya data penting berkaitan dengan fenomena keagamaan yang terdapat dalam naskah-naskah tersebut. dengan demikian. 2005: vii). Batak. diperkirakan ditulis pada sekitar abad ke-1719 M dan umumnya terbuat dari kertas yang secara fisik tidak akan tahan lama. Jawa. Rusia dan di berbagai negeri yang lain. Perancis.

Beberapa Aspek Kodikologi Naskah ... — Asep Saefullah dan Adib M. Islam

hilang juga informasi dan sumber penting tentang khazanah kebudayaan Indonesia. Berdasarkan permasalahan di atas, Puslitbang Lektur Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat, Departemen Agama RI melakukan upaya penelusuran naskah klasik keagamaan khusus milik perorangan. Hasil temuan naskah tersebut terutama dideskripsikan dan dikaji beberapa aspek kodikologinya (istilah “kodikologi” akan dijelaskan di bawah). Buku tentang kodikologi Nusantara, terlebih naskah keagamaan, tergolong masih sedikit.1 Sehubungan dengan hal tersebut, penelitian ini merupakan bagian dari grand design—jika dapat dikatakan demikian—program konservasi naskah klasik keagamaan Indonesia yang sedang digalakkan oleh Puslitbang Lektur Keagamaan. Penelitian dilakukan di Provinsi Bali dan sasarannya adalah naskah-naskah keagamaan Islam.2 Dalam makalah ini akan dibahas dua masalah berikut: 1. Seberapa banyak naskah keagamaan Islam di Provinsi Bali yang masih berada di tangan masyarakat atau milik perorangan? 2. Dari aspek kodikologi, bagaimana kondisi naskah-naskah tersebut dan hal-hal apa saja yang dapat diungkapkan dari temuan naskah-naskah tersebut? Adapun tujuannya, pertama, untuk mengetahui jumlah naskah keagamaan Islam di Provinsi Bali yang masih berada di tangan masyarakat, khususnya milik perorangan, dan kedua, membuat deskripsi naskah-naskah tersebut dan mengungkapkan beberapa aspek kodikologinya serta sedapat mungkin mengungkapkan halhal menarik dari temuan naskah tersebut. Dari segi kebijakan, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu upaya penyelamatan naskah keagamaan di masyarakat dan selanjutnya dapat
Beberapa yang dapat disebut antara lain Kodokologi Melayu di Indonesia, karya Sri Wulan Rujiati Mulyadi (1994), Penelusuran penyalinan naskah-naskah Riau abad XIX: Sebuah Kajian kodikologi, karya Mu'jizah dan Maria Indra Rukmi (1998), Penyalinan Naskah Melayu di Jakarta pada Abad XIX: Naskah Algemeene Secretarie Kajian dari Segi Kodikologi, karya Maria Indra Rukmi (1997), atau beberapa tulisan berupa artikel atau tesis, seperti “Penyalinan Naskah Melayu di Palembang”, karya Maria Indra Rukmi, makalah dalam Seminar Tradisi Naskah, Lisan dan Sejarah di FIB UI (2005). 2 Pilihan ini dilakukan karena naskah-naskah lontar dipandang relatif terpelihara dengan baik.
1

55

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 53 - 90

menjadi bahan penelitian lebih lanjut, terutama kajian terhadap isi teks dan kontekstualisasinya. Secara metodologis, penelitian ini sebagian besar bersifat penelitian lapangan, yakni berupa penelusuran atas naskah-naskah keagamaan Islam di Provinsi Bali. Data primer dalam penelitian ini berupa naskah-naskah kuno yang disimpan perorangan dan lembaga-lembaga sosial keagamaan Adapun naskah-naskah koleksi perpustakaan, museum, maupun pusat dokumentasi dalam penelitian ini tidak menjadi sasaran penelusuran karena naskah-naskahnya dipandang relatif aman dan terpelihara. Penelusuran dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan naskah-naskah yang belum diinventarisasi. Dalam menyajikan data digunakan pendekatan kodikologi.3 Secara sederhana, kodikologi dapat dikatakan sebagai ilmu kodeks (bahan tulisan tangan), yaitu ilmu yang mempelajari seluk beluk semua aspek naskah, antara lain bahan, umur, tempat penulisan, dan perkiraan penulis naskah (Mulyadi, 1994:2). Dalam wilayah kajian kodikologi dikenal istilah deskripsi. Secara ringkas, deskripsi adalah upaya menjelaskan seluk-beluk naskah secara fisik. Dalam makalah ini akan disajikan pengklasifikasian naskah-naskah yang ditemukan di lapangan, misalnya dari segi pemilik dan tempat penyimpanan, bidang kajian (isi naskah), bahan, usia naskah, kolofon, ilustrasi dan iluminasi, dan beberapa ciri khusus yang dapat diidentifikasi. Dengan kata lain, makalah ini hanya menyajikan beberapa aspek kodikologi dari naskah-naskah keagamaan Islam yang ditemukan di Provinsi Bali. Pernaskahan di Bali Henri Chambert-Loir dan Fathurahman (1999:51) mengatakan, “Pulau Bali terkenal sebagai gudang sastra Jawa Kuna karena sastra Jawa yang ditulis di berbagai kerajaan beragama Hindu-Buddha di
Tentang kodikologi di Indonesia dapat dibaca antara lain dalam Sri Wulan Rujiati Mulyadi, Kodikologi Melayu di Indonesia, (Depok: Fakultas Sastra UI, 1994). Ada juga buku yang sangat menarik dan relatif baru tentang kodikologi Islam, yaitu Francois Deroche, Islamic Codicology, An Introduction to the Study of Manuscripts in Arabic Script, (London: Al-Furqan Islamic Heritage Foundation, 2006), dan ada juga dalam edisi Arabnya yang terbit tahun 2005.
3

56

Beberapa Aspek Kodikologi Naskah ... — Asep Saefullah dan Adib M. Islam

Jawa Tengah dan Jawa Timur antara abad ke-10 dan ke-15, dan yang hampir punah setelah kedatangan agama Islam, masih berlanjut di Bali, bahkan hidup sampai kini.” Pernyataan ini terbukti dengan adanya sejumlah lembaga seperti museum dan perguruan tinggi di wilayah ini yang memiliki ribuan koleksi naskah. Lembaga-lembaga tersebut antara lain Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali, Denpasar mengoleksi sekitar 1.416 naskah, Museum Negeri Provinsi Bali, Denpasar menyimpan 266 naskah, Universitas Hindu Indonesia, Denpasar memiliki 148 naskah, Kirtiya Liefrinck-van der Tuuk (Gedong Kirtiya), Singaraja memiliki tidak kurang dari 3000 naskah, Fakultas Sastra Universitas Udayana mempunyai 740 naskah, dan Balai Penelitian Bahasa, Denpasar mempunyai 156 naskah, serta Balai Arkeologi Denpasar juga menyimpan tiga naskah (ChambertLoir dan Fathurahman, 1999:54-60; terutama berdasarkan Katalog Lontar yang Tersimpan pada Instansi Pemerintah dan Swasta yang diterbitkan oleh Kantor Dokumentasi Budaya Bali Provinsi Bali, tahun 1998). Jumlah ini belum termasuk naskah yang tersimpan pada koleksi pribadi yang diduga masih ribuan jumlahnya, terutama di puri (kediaman keluarga keturunan raja), griya (kediaman keluarga brahmana), dan kalangan ‘profesional’ (pemangku, dalang, balian usada atau orang-orang terdidik) (Chambert-Loir dan Fathurahman, 1999:56). Hampir seluruh naskah tersebut ditulis di atas bahan lontar sehingga sering pula disebut naskah lontar. Di tengah “samudra koleksi naskah lontar” tersebut, di daerahdaerah tertentu di Bali ditemukan sejumlah naskah keagamaan Islam dan Mushaf Al-Qur’an kuno. Beberapa di antaranya ditulis di atas bahan dluang (kertas dari kulis kayu). Pada bulan Oktober 2008 yang lalu kami melakukan penelusuran ke pelosok-polosok pulau dewata ini. Kami menemukan 24 naskah keagamaan Islam yang terdiri atas 12 naskah ditulis di atas dluang, kertas Eropa, maupun kertas bergaris modern, dan 12 naskah lontar (naskah lontar berbentuk geguritan; 9 naskah berisi cerita tentang tokoh Islam dan ajaran moral Islam, 2 cerita Hindu, dan 1 tidak terbaca). Di samping itu, ditemukan pula 14 Mushaf Al-Qur’an kuno, termasuk satu Mushaf ditulis di atas dluang. Naskah-naskah tersebut tersebar di beberapa kabupaten di Bali, antara lain Denpasar, Buleleng, Jembrana, dan 57

Ghufron. Selanjutnya kami mendapat banyak informasi dari Drs. Berikut temuan naskah berdasarkan lokasi atau tempat ditemukannya naskah. wirid dan doa. Kampung Islam Gelgel. Masjid Asy-Syuhada Kampung Bugis Serangan Denpasar. 1. Kami mendapatkan informasi awal. 28 Oktober 2008. Kabid. Kasi. Haji. Drs. Gedong Kirtya-Singaraja-Buleleng.4 Lokasi-lokasi yang selanjutnya didatangi adalah: Kampung Bugis Kepaon Denpasar dengan Masjid Al-Muhajirin. H. M. hasil penelusuran di lapangan ditemukan 38 naskah. Mereka menyarankan kami mendatangi Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali. Karang Asem-Tradisi Tulis Lontar. Pesantren Al-Hidayah Bedugul. Wawancara. Vol. dan Masjid Baitul Qadim. Selanjutnya penelusuran dilakukan sampai dengan 2 Nopember 2008. termasuk 14 naskah Al-Qur’an. No. Loloan Timur. Sebagaimana disebutkan. Di samping itu ditemukan juga naskah-naskah Al-Qur’an kuno yang sejauh ini belum pernah didata.Jurnal Lektur Keagamaan. kami melakukan kontak dengan pihak yang dipandang otoritatif dalam bidang keagamaan. Drs. jumlah naskah yang kami temukan sebanyak 38 naskah. Kabid Bimas Islam & P. Kasubag Umum. Temuan Naskah dan Tempat Penyimpanannya Naskah keagamaan Islam di Bali yang berhasil ditelusuri terdiri atas naskah pelajaran agama. Dengan demikian. Musta’in. Pendidikan Islam dan Pemberdayaan Masjid. Ida Bagus Nyana. baik dari pejabat maupun pegawai Departemen Agama Provinsi Bali tentang lokasi-lokasi dan orang-orang yang diduga menyimpan dan atau mempunyai naskah keagamaan Islam. Gianyar. 2009: 53 . Budakeling. Negara. yaitu Kanwil Departemen Agama Provinsi Bali. H. H. Pegayaman Singaraja Buleleng. SH. Masjid Agung Jami’ Singaraja Buleleng. serta hikayat yang terutama ditulis di atas bahan lontar yang disebut geguritan. seperti fikih. Soleh. dan juga obat-obatan yang disertai doa-doa. Perlu disebutkan bahwa dalam penelusuran naskah keagamaan Islam di Bali. Jembrana. Staf Urusan Agama Hindu. 7.90 Karang Asem. Kampung Islam Buitan Sidemen Karang Asem. tasawuf. Beberapa informan awal yang kami datangi di Kanwil Departemen Agama Provinsi Bali adalah Ketut Ariawan. 4 58 . Informan lain Drs. dan Bangli. Penamas.

dan Kampung Jawa. Tetapi. Jurnal Lektur Kegamaan. Vol. Jurnal Lektur Kegamaan. “Beberapa Mushaf Kuno dari Provinsi Bali”. dua di antaranya beraksara dan berbahasa Bugis. dan ditumpuk dengan Al-Qur’an lain cetakan zaman sekarang. 2007. Denpasar. salah seorang Guru Besar di Universitas Udayana.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . 8 Hadiman. No. Wawancara. Burhanuddin. mushaf ini sangat menarik terutama dari segi iluminasinya yang indah dan. Pattani atau Trengganu. naskah ini disimpan di rumah H. masing-masing satu naskah Al-Qur’an. 6 Di Masjid AlMu’awanatul Khairiyah Kampung Bugis Suwung. Bedugul. Denpasar. 29 Oktober 2008. dekat Masjid Asy-Syuhada. Buleleng Wilayah yang didatangi di Buleleng meliputi Pegayaman. 6 Mushaf ini sangat tidak terawat. Badri Yunardi. Sebelumnya. 7 Di samping itu. 2007. Denpasar ditemukan 3 (tiga) naskah milik H. Di Pegayaman. Singaraja. merujuk identifikasi Annabel Teh Gallop (2004) termasuk tipe Pantai Timur Melayu. pada awalnya merupakan koleksi Prof. Badri Yunardi..8 naskah lontar yang tersimpan di Yayasan AnNur.5 Di Kampung Bugis Kepaon. Di sini ditemukan pula 1 (satu) Al-Qur’an kuno milik I 5 Naskah ini telah diteliti oleh E. 1-18. Islam 1. Meski sudah tersimpan di Perpustakaan Yayasan. Vol.. 1-18. Kondisinya tidak lengkap lagi. 5. 59 . No. h. 7 Kedua naskah ini juga sudah diteliti oleh E. Husen Abdul Jabbar. ditemukan 12 naskah lontar. Menurut informasi salah seorang ustadz di PP alHidayah. “Beberapa Mushaf Kuno dari Provinsi Bali”. di Yayasan An-Nur. 5. 1. Suharto. Bali. h. Denpasar Di Kampung Bugis Serangan. Dr. di Bedugul. dan 1 (satu) Al-Qur’an Kuno milik Bapak Marjui. naskah-naskah lontar tersebut belum dikaji secara kodikologis9. Oleh karena itu. 2. dan beberapa di antaranya dijelaskan juga ukuran lontarnya. Musthafa Amin. 9 Semua naskah lontar koleksi Yayasan an-Nur hanya disebutkan judulnya. dan 1 (satu) naskah Al-Qur’an kuno di Masjid Al-Muhajirin. 1. Shaleh Saidi. Denpasar ditemukan 6 (enam) naskah milik H. dalam laporan penelitian ini naskah-naskah lontar koleksi Yayasan Masjid An-Nur penting untuk didata dan disampaikan. Wawancara dengan beliau pada 2 November 2008 di Loloan Timur. — Asep Saefullah dan Adib M. Kampung Islam di pedalaman dekat Singaraja ditemukan 3 (tiga) naskah milik Drs.

Lurah Kampung Bugis dan juga Ketua Ta’mir Masjid Agung Singaraja. Akan tetapi. sehingga seluruhnya ada delapan Al-Qur’an kuno. karena selain ditulis pada bahan dluang. Badri Yunardi.Jurnal Lektur Keagamaan. 12 konon ada naskah semacam Barzanji. 30 Oktober 2008 di Masjid Agung Singaraja. Zen Usman. Jembrana Di Masjid Bait al-Qadim. 29 Oktober 2008. Wawancara. sejauh ini koleksi lain yang tersimpan di dalam lemari kaca belum pernah dilihat. h. Sebelumnya. ditemukan banyak naskah Al-Qur’an kuno. 3. No. 13 Naskah ini juga sudah diteliti oleh E. Vol. Al-Qur’an kuno ini masih lengkap. 1-18.90 Wayan Ma’ruf. dan beberapa Pengurus Masjid. Husen Abdul Jabbar. yaitu di Masjid Agung Jami’. Wawancara. 1. Hasyim Zaki. sekitar 1625 M. dan Agus. 11 Bunyi kolofon tersebut: “tamma al-qur’±n f³ yaum al-kh±mis min syahr al-mu¥arram f³ hil±li i¥d± wa ‘isyr³na ba‘da alfi sanah khamsin wa £al±£µna alhijrah an-nabawiyyah “ (Al-Qur’an ini selesai [ditulis] pada hari Kamis dari bulan Muharram pada malam dua puluh satu pada tahun seribu tiga puluh lima [21 Muharram 1035] Hijrah Nabi). H. antara DenpasarSingaraja. 2007. dan yang terpenting mempunyai kolofon yang sangat tua. bahwa masjid ini sering didatangi wartawan dari berbagai media massa dan meliput salah satu Al-Qur’an kuno di sana. 10 60 . 11 Sementara di Bedugul. “Beberapa Mushaf Kuno dari Provinsi Bali”. Muchlis Sanusi. yang dipandang mushaf tertua di Buleleng. dan H. Vol. Gunawan. antara lain H. yaitu tahun 1035 H. tapi tidak berhasil ditemukan karena pemiliknya tidak ada di tempat dan tidak berhasil dijumpai. H. 5. H. Di masjid ini ditemukan 8 (delapan) Al-Qur’an kuno (satu satu di antaranya merupakan litograf yang iluminasinya diberi pewarnaan). 12 Para ustadz di Pesantren Al-Hidayah. 2009: 53 . Bedugul. yang ternyata seluruhnya Al-Qur’an kuno sebanyak tujuh mushaf. Naskah Al-Qur’an ini konon merupakan wakaf dari Encik Ya’qub dari Trengganu. Wawancara dengan beliau pada 2 November 2008 di Loloan Timur. naskah ini disimpan di rumah H. Di Kampung Jawa.13 Menurut Bapak Drs. menurut Hadiman. Hidayat. Mushaf ini sangat menarik.10 Di Singaraja. ditemukan satu buah naskah Al-Qur’an. Jurnal Lektur Kegamaan. Negara. Abdurrahman Said. ditulis dengan khat Naskhi yang indah. ditemukan 1 (satu) AlQur’an Kuno milik Bapak M. tidak jauh dari Masjid Agung Singaraja. Loloan Timur. 1. Syarifuddin. 7. Jembrana. Abdurrahman Alawi. No.

Naskah yang tersisa adalah kitab-kitab cetakan sekitar tahun 1300-an Hijriah. tentang ilmu fikih karangan Nuruddin Al-Raniri (diterbitkan di Mekah.)اﻟﺴﻼم‬tapi bisa jadi dibaca “Selam”. yaitu catatan pemiliknya. 1320 H/1902 M). Cet. Karang Asem Di Karang Asem. yang maksudnya “Islam” sebagaimana kebiasaan sebagian orang Bali. Teks dalam kitab ini juga bertuliskan “al-salam” (‫ .Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . antara lain pada sampul dalam Kitab Siraj al-Huda terdapat tulisan. dan membeli pada bulan Ramadan tanggal 15 hari Ahad pada tahun Zai Hijrah Nabi Teks aslinya: kaf-ra-ng-syin-mim... Kampung Islam Pasuruan. t. terjemahan Dawud bin Abdullah Fatani. atau bias juga tetap dibaca “as-Salam” sebagaimana bahasa Arab. al-Matba’ah al-Miriyah al-Ka’inah. Maktabah al-Kutub alArabiyyah al-Kubra. Konon di sini pernah ada naskah beraksara Bugis. c) Kitab Mau’i§ah li al-N±s tentang tata cara sembahyang. 3) Kitab Siraj al-Huda karangan Muhammad Zain al-Din bin Muhammad Badawi al-Sumbawa’i. Catatan kedua pada Daftar Isi Kitab Miftah al-Jannah.” bisa diartikan “ini kepunyaan…” 15 14 61 . Syarah atas Matan Umm al-Barahin karya Sanusi. bisa jadi maksudnya Karang Asem? Sebagian orang Bali menyebut “Kampung Islam” dengan bunyi ucapan yang terdengar adalah “Kampung Selam”. dan di tepinya ada Kitab Sirat al-Mustaqim. dan di piasnya ada Hamisy Risalah Diya al-Murid. h.. 1321 H/1903 M). 16 Kata “¥aq” kadang diartikan “kepunyaan”. “Tanda keterangan haza al-haq 16 Pak Muhammad Sa’id bin Mukhammad Ali Kusamba. — Asep Saefullah dan Adib M. Teks ini juga terdapat pada Kitab Sabil al-Muhtadin Juz I. Islam 4. 2) Kumpulan kitab dalam satu bundel terdiri dari empat kitab. dan f) Kitab Tajwid al-Qur’an. Ada yang menarik dari kitab-kitab ini. b) Kitab Usul al-Tahqiq juga tentang Usuluddin. berbunyi. Ke-6 (diterbitkan di Mekah. peneliti hanya mendatangi Kampung Islam Buitan—sebuah kampung kecil yang hanya berpenduduk 25 keluarga. 14 Kampung Biutan As-Salam 15 adanya”. Karangsem. antara lain: 1) Kitab Sabil al-Muhtadin karya Syaikh Muhammad Arsyad bin Abdullah AlBanjari.).t. pengarang ketiga kitab ini tidak disebutkan. (diterbitkan di Mesir. al-Matba’ah al-Miriyah al-Ka’inah. jilid 1 dan 2. naskah-naskah tersebut dibuang. a) Kitab Miftah al-Jannah tentang Usuluddin karangan Muhammad Tayyib bin Mas’ud alBanjari. dan pada pias halaman ada Hamisy Kitab Asrar al-Dini. 44. jadi “ha©a al-¥aq. tetapi karena sudah hancur. “Haza al-Kitab ini yang empunya Bapak Abd al-Rahman negeri Bali.

juga berasal dari Madura. Musthafa Amin. Karang Asem. milsanya tentang taharah [bersuci]. 1. 2009: 53 . terdapat dua naskah. Burhanuddin. tata bahasa Arab (nashwu-saraf). Tasawuf. Wirid. Burhanuddin. Suharto juga berisi teks lain yang berisi masalah fikih. No. obat-obatan. yang berisi tentang sifat-sifat Allah. yaitu “Kitab Nikah” milik H. selain berasal dari Bugis.90 Sallallahu ‘alaihi wa sallam 1334 H”. nomor MA 05 dan MA 06. 1. adalah para leluhurnya. dan obat-obatan. Nama-nama di atas. juga berisi wifiq. Al-Qur’an. dan dua naskah lainnya milik Drs. Dua naskah lainnya milik H. Musthafa Amin. Jika demikian. mustahil. 7. dan geguritan (cerita). wirid. Dalam 17 Wawancara. Fikih: Dalam bidang fikih hanya ditemukan satu naskah. yaitu Khazinah al-Asrar serta satu naskah beraksara dan berbahasa Bugis milik H. Tasawuf/Akhlak: Naskah dalam bidang ini ada empat. Musthafa Amin (MA 01).Jurnal Lektur Keagamaan. 3. doa. satu naskah beraksara dan berbahasa Bugis milik H. bisa jadi Kitab Miftah al-Jannah khususnya dibeli di Pasuruan. 4. 17 salah seorang yang dituakan di Buitan. Kampung Islam Buitan. Naskah MA 04 ditulis dalam buku Letjes. kandungan isi naskah-naskah keislaman di Bali setidaknya meliputi: Fikih. Tahun 1334 H adalah sekitar tahun 1915 M. 62 . wajib. Tauhid. Doa. Suharto di Pegayaman. dan jaiz (satu dari dua naskah milik Drs. yaitu milik H. Vol. Tauhid/Teologi: Dalam bidang ini ada empat naskah. 2. MA 03 dan MA 04 yang dalam teksnya tidak disebutkan judulnya. dan ini pun bagian pertama dari kumpulan teks lain yang berisi tentang obat-obatan disertai doa dan wirid. wirid. tetapi naskah ini sudah bercerai berai dan tidak berjilid). Bidang Kajian (Isi Naskah) Dilihat dari segi bidang kajiannya. antara lain berisi tanya jawab tentang Uluhiyah (ketuhanan). 2 November 2008. dan Obat-obatan: Naskah yang berisi doa. satu naskah milik H. dan sebagian keluarga di sana. Musthafa Amin. menurut Abdullah. no.

satu naskah milik Bapak Marjui. Ini dapat dilihat dari beberapa naskah lontar yang ditemukan di lapangan. — Asep Saefullah dan Adib M. FIB Universitas Indonesia. Islam naskah MA 01 juga terdapat naskah jenis ini. 18 sembilan di antaranya menunjukkan adanya pengaruh Islam dalam tradisi kesusastraan Bali. satu naskah di Masjid Al-Mu’awanatul Khairiyah Kampung Bugis Suwung. pupuh diikat oleh beberapa kaidah yang mencakup: banyaknya baris dalam tiap bait. hasil penelitian lapangan terhadap naskah-naskah lontar di Bali berhasil memberikan informasi lain terkait dengan tradisi pernaskahan di Pulau Dewata tersebut.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . dan karenanya tradisi pernaskahan di sana pun dengan sendirinya juga tidak dapat dilepaskan dari Hindu.t. 63 . Ke-14 naskah tersebut adalah delapan naskah AlQur’an di Masjid Agung Jami’ Singaraja. dan semuanya dalam bentuk geguritan. Al-Qur’an: Meskipun naskah Al-Qur’an tidak sepenuhnya menjadi sasaran dalam penelitian ini. 6. Berikut ini gambaran mengenai isi 1119 naskah lontar yang berhasil ditemukan: 18 Geguritan adalah karya sastra Bali yang dibangun di atas pupuh. dosen pada Program Studi Jawa. milik Drs. ditulis di atas dluang. Dari 12 naskah lontar yang berhasil ditemukan. Geguritan: Sebagaimana yang dikenal secara luas oleh masyarakat. Bahasa: Dalam bidang bahasa ditemukan satu buah naskah tanpa judul. 11 di antaranya belum pernah diinventarisasi. dan satu naskah di Masjid Muhajirin Kapaon Denpasar. tetapi temuan ini penting karena banyak naskah baru yang ditemukan. Pegayaman. Kampung Serangan Denpasar.: 155). Denpasar. satu naskah di Pegayaman. dan satu naskah di Masjid Bait al-Qodim Loloan Timur. berisi tentang morfologi bahasa Arab atau ilmu sharaf. 19 Dari 12 naskah lontar.. Bali memang identik dengan Hindu. Pembacaan naskah lontar oleh Made Suparta. Suharto.. satu naskah di Kampung Jawa Singaraja. Meskipun demikian. ada satu naskah yang tidak dapat dibaca. Sementara itu. yang terletak setelah “Kitab al-Nikah”. Dari 14 naskah AlQur’an yang ditemukan. t. banyaknya suku kata dalam tiap baris. 7. 5. dan bunyi akhir tiaptiap baris (Agastia.

5). Teks ini berisi konsep dharma dalam agama Hindu. Dari 12 naskah lontar di atas. Teks ini menceritakan proses islamisasi di Bali. Teks ini menceritakan sosok pahlawan muslim dalam melawan raja kafir. dan satu naskah yang tidak dapat diidentifikasi baik judul maupun isinya karena kondisi fisiknya yang sudah lapuk. 8). Geguritan Amir Hamzah. Teks ini berisi filsafat moral Hindu yang disampaikan secara naratif. 4). Geguritan Sebun Bangkung. No. Gambaran isi naskah lontar di atas secara jelas memperlihatkan adanya pengaruh Islam dalam tradisi kesusastraan Bali. Geguritan Jimat Teks ini berisi mistik Islam. Teks ini berisi cerita mengenai tokoh heroik yang bernama Sema’un pada masa-masa awal islamisasi 3). 6).Jurnal Lektur Keagamaan. 1. teks ini juga berisi cerita tentang proses islamisasi di Bali. yaitu: Geguritan Siti Badariyah. 2009: 53 . 7). Teks ini tentang kehidupan keluarga kerajaan di negeri Arab. empat di antaranya tidak bertanggal. sebab deskripsi kodikologis terhadap naskah-naskah lontar di atas menunjukkan bahwa naskah-naskah lontar tersebut memang masih muda. Teks ini menceritakan tokoh Bagendhali yang sangat sakti. Geguritan Krama Selam. teks ini juga banyak mengandung ajaran moral dan etika Islam. Geguritan Siti Badariyah. Geguritan Semaun. Kidung Tuwan Semeru. beserta dua saudaranya: Bagenda Sulaiman dan Bagendha Alah. Cerita Islam 1). Teks ini berisi cerita tentang peran Amir Hamzah dalam proses islamisasi di Nusantara. Geguritan Amir Hamzah. Geguritan Pan Bongkling. Vol. 2). meskipun kapan dan dari mana awal mula masuknya pengaruh Islam tersebut masih perlu diteliti lebih jauh lagi. 7. b. 2).90 a. 20 64 . Geguritan Bagendhali. Di samping itu. 9). yakni 1923 isaka atau 2001. geguritan Jayengrana. Cerita Hindu 1). semua kolofon 20 yang terdapat dalam naskah lontar itu menginformasikan adanya tahun penyalinan yang sama. Yang menarik. Tidak banyak berbeda dengan teks Pepalihan Gama Selam. Pepalihan Gama Selam Bali. Teks ini berisi cerita tentang kehidupan Nabi. Geguritan Jayengrana.

Demikian juga di Kampung Bugis Serangan. empat naskah yang ditemukan sudah lapuk semua. Lurah Kampung Islam. seperti mushaf koleksi Masjid Singaraja. tetapi tidak utuh. — Asep Saefullah dan Adib M. Buleleng. dari enam naskah yang dimilikinya. juga terdokumentasi dengan baik sebagaimana dijelaskan di atas. dan dua naskah lainnya yang ditulis di atas dluang telah robek. Naskah-naskah yang ditemukan di rumah H. Hasyim Zaki. seperti Al-Qur’an kuno di Masjid Al-Muhajirin Kepaon. kecuali mushaf yang diduga ditulis oleh Gusti Ngurah Ketut Jelantik Selagi. seperti mushaf kuno milik M. H. Zen Usman yang lengkap dan kondisinya bagus. dan H. Meskipun telah disimpan dalam kotak kayu khusus. salah seorang keturunan Raja Buleleng yang masuk Islam (MAJS/NQ/01). Kondisi naskah di Masjid Singaraja dan milik M. Satu buah naskah berlubang dimakan rayap dan satu lagi tinggal setengahnya. Kondisi naskah lontar di Yayasan An-Nur memang mendapatkan perawatan. Zen Usman relatif baik. Sebagian besar mushaf itu juga tidak lengkap dan banyak lembarannya yang sudah terlepas.. terutama pada halaman belakang. Naskah-naskah keagamaan Islam yang ditemukan pada masyarakat umumnya tidak terpelihara dan bahkan tak terperhatikan sama sekali. dan di dalam lemari kaca. Kondisi Naskah Naskah keagamaan Islam di Bali kurang mendapat perhatian. di dalam tempat penyimpanan naskah itu tidak terlihat ada bahan penangkal serangga. tidak seperti naskah lontar yang. 21 Wawancara dengan Drs. tetapi naskah-naskah lontar itu termasuk baru. Abdurrahman Alawi. Singaraja. di Kepaon Denpasar. 21 dan mushaf milik M. ada empat naskah yang relatif terbaca. Islam Beberapa Aspek Kodikologi Naskah Islam di Bali 1. dari empat naskah yang ditemukan. satu naskah tercerai berai. di samping telah banyak dikaji.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Hadir pula beberapa pengurus Ta’mir Masjid Agung yang lain.. 65 . 30 Oktober 2008. Muhlis Sanusi. seperti cengkih atau kapur barus. Musthafa Amin. yaitu H. satu naskah Al-Qur’an tidak lengkap lagi dan tengahnya berlubang dimakan serangga. Hidayat. karena sebagian di antaranya disalin ulang pada tahun 2000-an. Di Pegayaman pun demikian. satu naskah di antaranya dari bahan kertas modern bergaris. Zen Usman. tetapi hampir semuanya tidak ada yang lengkap.

Musthafa Amin di Kepaon (MA 04) dan H. terdapat tiga naskah yang ditulis di atas dluang. (Bafadal dan Anwar. bahkan ia merupakan naskah Al-Qur’an tertua ketiga di Asia Tenggara. Vol. 11 naskah menggunakan bahasa dan aksara Bali. Misalnya naskah Kitab Al-Nikah dan Obat-obatan (MA 01) milik H. Zen Usman di Kampung Jawa Singaraja. Zen Usman termasuk naskah yang paling tua.Jurnal Lektur Keagamaan. Denpasar. Kepaon). Sebagian besar naskah lainnya ditulis di atas kertas Eropa. yang ditulis oleh Al-Faqih al. No. 2005: vii-viii) 22 66 . berangka tahun Jumadil Awwal 993/1585 dan kedua adalah mushaf dari Ternate. 21 Muharram 1035 H atau sekitar tahun 1625 M. Musthafa Amin menyebutkan angka Mushaf tertua konon mushaf nomor MS 12716 koleksi William Marsden di Perpustakaan School of Oriental and African Studies (SOAS). dan satu naskah menggunakan bahasa Melayu dengan aksara Bali. mushaf ini selesai ditulis pada malam Ahad. Naskah yang ditulis di atas kertas Eropa berjumlah tujuh naskah. serta satu naskah lain ditulis di atas kertas bergaris bukan Letjes milik H. 1. pada 7 Zulqa’dah 1005 H/1597 M. yaitu milik H. 3.Salih Afifuddin Abdul Baqi bin Abdullah Al-Adni. Dari 38 naskah. b) Kertas Eropa. University of London. dan d) lontar. Beberapa cap kertas (watermark) dan cap tandingan (countermark) yang berhasil diidentifikasi antara lain kelompok Crescent. milik M. Usia Naskah Dilihat berdasarkan usia naskah. c) Kertas modern bergaris. 7. dan Horn (tertera angka tahun 1825 pada mushaf di Masjid al-Muhajirin. Semua naskah lontar tersebut milik Yayasan An-Nur. Burhanuddin di Serangan. Pro Patria. yaitu: dua naskah milik Drs. Britania. 2009: 53 . Bahan lontar digunakan untuk menyalin 12 naskah geguritan. Suharto di Pegayaman dan satu mushaf AlQur’an. milik M. Bahan Bahan yang digunakan untuk menulis naskah-naskah keagamaan Islam di Bali dapat dikelompokkan ke dalam empat jenis: a) Dluang. Musthafa Amin. 22 Naskah-naskah lain pada umumnya ditulis pada abad ke-13 H atau sekitar abad ke-18-19 M. lengkap 30 juz. Berdasarkan kolofonnya. naskah Al-Qur’an dari Kampung Jawa.90 2. Naskah ditulis di atas kertas modern bergaris (Letjes) ada dua. keduanya di Denpasar. Maluku Utara.

dalam naskah MA 02 disebut “bahasa Jawi”. Islam tahun 1287 H/1870 M dan 1288 H/1871 M. Britania. dari daftar cap kertas yang disusun Heawood diketahui bahwa kertas dengan cap kertas kelompok Pro Patria diproduksi pertengahan abad ke-17 M (Heawood. Cap kertas yang terlihat pada naskah MA 03 yang termasuk kelompok Names dengan cap kertas berupa: tulisan nama I Pigoizard. Kertas Eropa yang memiliki cap kertas pada kelompok Pro Patria. 67 . Bugis. “… dan arti uluhiyah pada bahasa Jawi ketuhanan dan arti Ilah pada bahasa Jawi Tuhan…” 5.. menurut Heawood (1986:140). Melayu. dan Bali. yaitu bulan Zulqa’dah 1265 H/1848 M. dan dalam naskah MA 01 milik H. 1986: 145-146). yaitu milik H. Misalnya. Burhanuddin. Horn. Musthafa Amin terdapat dua kolofon. misalnya ketika mengartikan kata “uluhiyah” dan “ilah” pada h. Sementara aksara dan bahasa Bali hanya digunakan pada 12 naskah lontar koleksi Yayasan An-Nur. dan Bali. Selain Al-Qur’an yang berjumlah 14 naskah. Aksara yang digunakan adalah Arab. sedangkan bahasanya adalah Arab. Naskah yang menggunakan aksara dan bahasa Bugis ada dua. pada umumnya diproduksi antara pertengahan abad ke-17 M sampai abad ke-19 M. diproduksi sekitar tahun 1737 atau sesudahnya. — Asep Saefullah dan Adib M. Demikian juga dilihat dari kertas Eropa yang digunakan. yaitu naskah tentang morfologi Arab (saraf) dan sifat-sifat Allah dari Pegayaman. Kolofon yang agak tua terdapat pada naskah Al-Qur’an MAJS/NQ/03 koleksi Masjid Agung Jami’ Singaraja. Jawi. atau Crescent. Kolofon Dari 38 naskah yang diinventarisasi. Serangan Denpasar. Tentang istilah Jawi. Setidaknya ada enam naskah yang berkolofon.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . naskah berbahasa Arab hanya dua. atau sekitar delapan naskah lainnya menggunakan bahasa Melayu dengan aksara Jawi. Selebihnya. tidak banyak ditemukan naskah yang mempunyai kolofon. 10r-10v disebutkan demikian. Bahasa dan Aksara Naskah-naskah keagamaan Islam di Bali setidaknya menggunakan empat aksara dan empat bahasa. Bugis.. 4.

Bunyi kolofon tersebut sebagai berikut: Haza [al-]Kitab al-Nikah [ter] Hijrah al-Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam seribu dua ratus delapan puluh tujuh (1287) pada tahun Ba alif(?) pada malam ahad waktu jim(?) pada pukul delapan pada delapan hari bulan Rabi’ al-Awwal pada ketika itulah hamba Pa Abdul A’raf sudah selesai menyuruh ini kitab di dalam negeri Badung Bali Badung adanya Kampung Kepaon 1287 Tamma wa sallallahu ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa sahbihi wa sallam Pada teks kedua h.Jurnal Lektur Keagamaan. Satu hal yang dapat diduga adalah telah terjadi hubungan antara Palembang dan Bali sekitar tahun 1287-1288 H/1870-1871 M. sedangkan kolofon kedua menyebutkan Ampenan. yakni “Kitab Nikah” dan waktu penyalinannya. Vol. Nama Kepaon juga disebut dalam naskah MA 02. h. Kolofon pertama menyebutkan tempat penulisan di negeri Badung. Badung. namanya orang menyurat ini Haji Dawud dari negeri Badung Kepaon tatkala menyurat ini di negeri Pabeyan rumah bapak Tayid23 tamat alkalam” 23 Ba-pa-alif ta-alif-ya-dal (‫)ﺑﻔﺄ ﺗﺎﻳﺪ‬ 68 . 2009: 53 . orang Palembang. 33v bagian akhir teks pertama terdapat nama kitab. walaupun jilidnya sudah lepas. Berikut bunyi kutipan kolofon pada h. Kampung Kepaon. di Pabeyan. 7. Agak sulit menghubungkan kedua kolofon yang terdapat dalam satu naskah ini. kolofonnya berbunyi: Telah mengambil ijazah faqir a-haqir ila Allah Ta’ala Haji Hasan ibn alMarhum al-Haj Muhammad Amin al-Din Palimbangi akan mengamalkan laqad ja’akum serta doa yang kemudian kepada Syaikhuna wa ustazuna wa wasilatuna ila Allah Ta’ala al-Arif bi Allah sayyidi al-Syaikh Muhammad Azhari ibn al-Mukarram al-Marhum Kemas Muhammad Haji Abdullah Palimbangi Nafa’ana Allah bi barakatihi wa barakat ‘ulumihi. Kepaon. Amin 1288 H di Ampenan Syahr [al-]Shafar. Dalam kolofonnya disebutkan bahwa teks ditulis oleh Haji Dawud. yang terdiri dari beberapa teks. No. 1. 10v: “…tammat. Naskah ini tergolong masih baik karena tulisannya dapat dibaca. Bali.90 Pada naskah MA 01. yang bisa dipastikan di Palembang sebab yang mengambil ijazah untuk amalan dalam teks ini adalah Haji Hasan Palimbangi. 41v.

sama dengan 1848 M. mushaf ini disebutkan selesai ditulis oleh Haji Muhammad Ja’far pada waktu duha hari Rabu bulan Zulqa’dah 1265 H/1848 M. kondisi naskah-naskah Bali beragam. — Asep Saefullah dan Adib M. 69 . Dalam kolofonnya. Serangan. bunyinya demikian: “tamma al-qur’±n f³ yaum al-kh±mis min syahr al-mu¥arram f³ hil±li i¥d± wa ‘isyr³na ba‘da alfi sanah khamsin wa £al±£µna al-hijrah an-nabawiyyah “ Pada naskah Litrograf beraksara Bugis milik H. ada yang masih baik. dan ada juga yang sudah terlepas dari 24 sanah alfi taqw³m £al±£. dalam bahasa Arab yang berbunyi sebagai berikut: “tubi‘a bima¯ba‘ah al-Tauf³q li ¡±¥ibih± al-¥±jj Mu¥ammad ‘Abduh pepajah bi Pare-pare 1373” 6. Letak kolofon ini di pias halaman bagian akhir mushaf setelah Surah al-Nas dan sebelum doa khatm Al-Qur’an. Islam Kolofon lain ditemukan dalam mushaf Kuno nomor MAJS/NQ/03 koleksi Masjid Agung Jami’ Singaraja. Dari segi penjilidan. dan angka tahun yang tertulis adalah 1265 H. Burhanuddin.. bisa jadi berarti tahun seribu masuk ratusan ketiga. ditemukan angka tahun 1373 H/1885 M pada halaman sampul.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Selain itu disebutkan pula nama dan tempat percetakan serta pemilik percetakannya. Berikut ini kutipan kolofon: “kana al-farag al-kha¯¯ ¥ajj Mu¥ammad Ja‘far yauma arba‘ wa f³ waqti a««u¥± f³ syahri ©i al-qa‘dah f³ sanah alfi taqw³m £al±£24 hijrah an-nab³ 1265 “ Penting dicatat. percetakan at-Taufiq milik Haji Muhammad Abduh. Pada kolofonnya disebutkan. Kampung Jawa Singaraja. Kolofon ini juga ditulis dalam bahasa Arab. Pare-pare. Penjilidan Aspek lain dalam kodikologi adalah bagian penjilidan. bahwa di Bali ditemukan juga kolofon yang menyebutkan angka yang sangat tua. 1035 H/1625 M. Angka tahun ini menerangkan selesainya pencetakan naskah. mushaf ini ditulis oleh Abd Shafiyyuddin pada hari Kamis tanggal 21 Muharram 1035 H. yakni pada Mushaf milik Zain Usman. artinya 1200-an lebih. Kolofon ini ditulis dalam bahasa Arab. ada yang sudah lapuk..

25 Bahkan sebagian di antaranya lepas jilidannya. seperti yang terlihat pada satu mushaf di Masjid asy-Syuhada. Kaligrafi Selain naskah lontar. 27 Kaligrafi Arab standar dalam bahasa Arab disebut Al-Kha¯¯ al-Mansµb mempunyai tiga alat ukur. Kepaon. 1. lima titik belah ketupat. seluruh naskah ditulis dalam aksara Arab dan Jawi. Dari segi bahan sampul. Adapun untuk naskah mushaf. ada yang bahan sampulnya terbuat dari kulit. 7. 26 Sampul seperti ini banyak ditemukan di Nusantara. dan lingkaran. misalnya. menarik juga untuk dilihat model-model tulisannya atau yang lazim disebut kaligrafi. 27 Berbeda dengan yang lainnya. belum banyak ditemukan naskah yang Kuras adalah istilah yang mengacu pada sejumlah lembar kertas/perkamen yang dilipat dan dijahit untuk kepentingan penjilidan (Francois Deroche. walaupun masih sangat sederhana dan belum dapat dikatakan standar. jilidan aslinya sudah tidak ada. misalnya beberapa naskah di Bayt al-Qur’an dan Museum Istiqlal TMII Jakarta (Saefullah. Rumusan ini diciptakan oleh Ibnu Muqlah (Sirojuddin. 7. Naskah-naskah AlQur’an umumnya menggunakan jenis kaligrafi atau khat Naskhi. Pada dua mushaf ini. Loloan Timur. khususnya di Nusantara. Pada masa ini. kebanyakan bahan sampul naskahnya adalah kertas karton tipis.90 ikatan kuras naskah. Vol. Pena yang digunakan biasanya dimiringkan mata penanya sehingga ketika ditarik menyamping miring kanan ke bawah akan membentuk titik belah ketupat ( ). namun untuk mushaf koleksi masjid asy-Syuhada sudah diganti dengan sampul dari kertas karton. 26 Naskah lain adalah yang ditulis di atas kertas bergaris dalam buku Letjes dengan sampul kertas berwarna biru khas Letjes. Selain naskah mushaf. dan ada juga yang terbuat dari karton. No. dan satu mushaf di masjid al-Muhajirin. hampir semua bahan sampulnya terbuat dari kulit tebal dengan motif floral serta menggunakan amplop. 2005: 122). 2009: 53 . titik belah ketupat. naskah-naskah Bali cukup bervariasi. Tinggi alif pada jenis Naskhi standar. yaitu: Alif. Oleh karena itu. 2007: 47). Mushaf dari Kampung Jawa Singaraja sudah menggunakan khat Naskhi yang indah dan mendekati standar apalagi jika dilihat masa penulisannya—walaupun belum menggunakan pena khat untuk membentuk tipis-tebalnya huruf—. yaitu tahun 1035 H/1625 M (Gambar 01).Jurnal Lektur Keagamaan. 1992:86-99) 25 70 .

Farisi. walaupun masih sederhana dan ada kesan Riq’ah karena sebagian hurufnya condong ke kanan (Gambar 04). kecuali dalam naskah Al-Qur’an. 17v. — Asep Saefullah dan Adib M. misalnya naskah dari Pegayaman. yaitu Naskhi. 11r. baik yang cenderung ke Naskhi maupun Farisi. Sementara jenis Khat Riq’ah yang biasanya tipis-tipis dan condong ke kiri ditemukan dalam banyak naskah. Sedangkan iluminasi. Akan tetapi secara umum dapat dikatakan Riq’ah. “Il±ha”.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . £a. Dalam naskah-naskah keagamaan Islam di Bali tidak ditemukan iluminasi. yang berarti menerangi. dan di sekelilingnya terdapat penjelasan sehingga membentuk semacam concept map (peta konsep). khususnya sin dan kaf memperlihatkan gaya Farisi. maka naskahnaskah yang ditemukan dapat dikelompokkan ke dalam tiga jenis khat. Jenis Naskhi yang ditemukan memang sangat sederhana. Pada naskah MA 04. a. biasanya lebih berfungsi sebagai hiasan. wirid. kata “Il±h” diletakkan dalam kotak belah ketupat dan segi empat. dan biasanya digunakan untuk memberikan penjelasan lebih lengkap dari teks bersangkutan. “Ill±”. yang berasal dari kata illumination.. tipis tebal goresan aksaranya sudah nampak dan memperlihatkan bentuk Naskhi yang cukup indah (Gambar 02). bahkan untuk naskah keagamaan lainnya digunakan Khat Farisi atau Riq’ah. Jika dikelompokkan ke dalam jenis-jenis khat. 8. sapuan pada beberapa huruf. 71 . Ilustrasi dan Iluminasi Ilustrasi adalah sebuah gambar atau hiasan yang ada hubungannya dengan teks. dan Riq’ah. dan “All±h” (Gambar 05). h. yang agak meliuk-liuk dan memanjang. Jenis Farisi misalnya ditemukan pada Naskah MA 03 dari Kepaon. Namun demikian.. atau ya. Ilustrasi Ilustrasi terdapat pada naskah tasawuf dan masalah doa. khususnya naskah MA 06 (Gambar 03). Dalam naskah MA 03. dan wifiq. terdapat ilustrasi tentang sifat-sifat Allah berdasarkan kalimat L± Il±ha Ill± All±h yang dibagi ke dalam empat kategori “L±”. ta. Islam disalin dengan khat Naskhi yang indah. Karakter tulisannya condong ke kanan dan sapuansapuan pada sin dan gigi ba. Ilustrasi yang ditemukan pun hanya sedikit. dan tidak berkaitan langsung dengan teks. h.

90 terkait dengan ilmu ma’rifah. ada perbedaan kedaerahan yang konsisten dan mencolok. dan Jawa. dan simbol-simbol huruf hijaiah yang dirangkai sedemikian rupa dan diletakkan dalam satu kotak (Gambar 08). kata “Muhammad” dan “Ilah”. dan disebut juga nama-nama malaikat. Sulawesi. 7. h. misalnya kata “Allah” dan “Muhammad” dalam satu kotak. Pantai Timur Semenanjung Melayu atau Pattani dan Trengganu.Jurnal Lektur Keagamaan. Iluminasi dalam mushaf-mushaf kuno yang ditemukan di Bali sangat luar biasa. No. kalimat L± Il±ha ill± All±h Mu¥ammad Rasµl Allah”. dan juga dapat dikaji secara kodikologis. sahabat. masingmasing dalam satu kotak. unik. terdapat simbol-simbol yang diletakkan dalam bingkai garis. Iluminasi Iluminasi hanya ditemukan dalam naskah-naskah Al-Qur’an. 28 Dalam naskah wirid dan doa MA 05. ditemukan di Bali. Bagi yang mempercayainya. atau akhir. Vol. terdapat ilustrasi lafa§ al-jal±lah. Meskipun naskah Al-Qur’an terkadang dikhususkan dalam klasifikasi kajian naskah klasik. hasilnya disajikan di sini. kata “All±h”. Desain hiasan yang menurut identifikasi Annabel Teh Gallop (2004) sebagai tipe Aceh. 1. Contoh ilustrasi terakhir adalah tentang wifiq. yang diletakkan dalam blok hitam. Pada naskah Serangan 01 yang berbahasa dan beraksara Bugis. Ada dua blok yang semuanya berisi kata “All±h”. tentang tasawuf. Bahkan satu mushaf di Masjid Agung Singaraja (MAJS/NQ/01) sangat khas. yakni iluminasi dalam bentuk arabesk (pola geometris yang disalin bersilangan) dari kalimat L± Il±ha ill± All±h Mu¥ammad Rasµl Allah sebagai bingkai hiasan yang mengelilingi bidang teks ayat-ayat Al-Qur’an. b. 72 . pengetahuan mengenai formula tersebut merupakan hikmah ilahiyah. Dalam hal penempatan 28 Wifiq: suatu formula yang terdiri atas susunan bilangan atau angka Arab tertentu yang mengandung rahasia-rahasia spiritual. 2009: 53 . dan di atas-bawahnya terdapat penjelasan yang diduga terkait dengan zikir (Gambar 07). tetapi karena pentingnya temuan ini. 12v-13r. dan lain-lain (Gambar 06). dan menarik. Karakter kedaerahan iluminasi dapat juga dilihat dari penempatan halaman berhias pada awal. tengah. yang terdapat pada bagian tengah mushaf.

— Asep Saefullah dan Adib M. Rangkaian dari kalimat L± Il±ha Ill± All±h Mu¥ammad Rasµl All±h yang didekor sedemikian rupa sehingga menciptakan bingkai hiasan berbentuk arabesq yang mengelilingi teks ayat Al-Qur’an. 1). Pada halaman pelindung terdapat catatan yang tertulis: “h±©a alwaqf mu¡¥af masjid jam³‘”. Abdurrahman Alawi (Pengurus Ta’mir Masjid). Tipe Aceh dan Istimewa: Iluminasi Kalimat L± Il±ha Ill± All±h Mu¥ammad Rasµl All±h Di Masjid Jami’ Agung Singaraja terdapat mushaf.5 X22 cm yang terbuat dari kulit berwarna merah maron dengan motif floral. atau tanda baca. Sampul naskah berukuran 33. Pada bagian tertentu. 5 cm. yaitu awal juz 16 atau bagian tengah Surah al-Kahf. Pantai Timur Melayu biasanya pada permulaan juz 15 atau awal Surah al-Isra’. Bahkan. dapat dijelaskan dengan kenyataan bahwa orang-orang Bugis pada masa lalu telah banyak bermukim di Bali. “paper used by Denham in Africa” (Heawood.. sementara ukuran teksnya adalah 18 X 14. yaitu Sulawesi dan Aceh. 30 Tebal naskah 682 halaman. Islam iluminasi tengah: Aceh selalu bagian tengah Al-Qur’an. 1986: 85). awal juz. naskah mushaf ini ditulis oleh Gusti Ngurah Ketut Jelantik Selagi. Pada naskah ini terdapat bingkai teks berupa tiga buah garis tipis berwarna hitam dan merah. seperti kepala surah. kode MAJS/NQ/0129 yang sejauh pengetahuan kami memiliki keistimewaan yang luar biasa. Belum lagi desain hiasannya dan motif pewarnaannya yang memiliki unsur-unsur daerah lain. dan H. Di bawah ini akan diuraikan secara singkat keempat tipe atau desain hiasan tersebut. 30 Tentang bahan kertas yang biasanya digunakan di Afrika. adalah kertas yang umumnya digunakan di Afrika. 30 Oktober 2008. Hasan (penduduk setempat). dan di Jawa hampir selalu ditemukan pada permulaan surah al-Kahf (Gallop. salah seorang keturunan Raja Buleleng yang masuk Islam. mengapa dapat sampai ke Bali. Tinta yang digunakan berwarna hitam. 2004: 132).Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Bagian dalam sampul naskah dilapisi kain saten.. Hasyim Zaki. digunakan tinta berwarna merah. Teks ditulis dengan menggunakan khat naskhi. Demikian juga dengan bahannya. Sampul naskah memakai tutup (plop). setiap halaman terdiri atas 14 baris. H. kecuali halaman awal yang terdiri atas 7 baris. 29 73 . Penempatan ini dapat ditemukan pula pada mushaf-mushaf Bali. yakni iluminasi bagian tengah. Wawancara dengan H. desa di mana Masjid Agung Singaraja berada pun bernama Kampung Bugis. Naskah berukuran 27 X 21 cm. Menurut keterangan pengurus takmir masjid. meskipun berupa kertas Eropa tetapi berdasarkan cap kertas (water mark)-nya yang termasuk kelompok Cressent.

ada garis melengkung sampai ke tepi. Hasyim Zaki. dan di bagian-bagian tertentu sering terdapat motif jalinan.Jurnal Lektur Keagamaan. Dari segi teks ayat pada bagian tengah yang beriluminasi. 1. hanya saja tidak diketahui siapa dan kapan hal itu terjadi. Hasyim Zaki. Abdurrahman Alawi (Pengurus Ta’mir Masjid). memanjang ke atas dan ke bawah. sementara lengkungan pada sisi vertikal diapit oleh dua ‘sayap’ kecil. dan mushaf ini menempatkan awal juz 16. tetapi di bagian kiri dan kanan garis tegak tersebut terdapat bentuk segitiga. bahwa di wilayah ini pernah kedatangan orang-orang dari Aceh. Di ketiga sisi luar bidang teks. yang dapat berbentuk sulur lembut yang tipis ataupun berukuran lebih besar. No. Ciri kedaerahan pada umumnya dapat dilihat pada pola. Hasan (penduduk setempat). Menurut kakaknya. yang dekat ke Sulawesi. 31 74 . Desain seperti diuraikan di atas jelas sekali terlihat pada iluminasi bagian awal mushaf ini (MAJS/NQ/01). pewarnaan dan detail hiasan bingkai (Gallop. Bapak H. Wawancara dengan H. Segi empat berhias di sekitar bidang teks pada pola Aceh yang sering diisi dengan sulur Bagaimana pola Aceh terdapat dalam mushaf ini? Berdasarkan keterangan pengurus Ta’mir masjid dan penduduk setempat. kuning dan hitam. Sepasang bingkai berhias dari Aceh ini dicirikan dengan pewarnaan yang kuat. 2009: 53 . yang memang berwarna putih. dan miring ke dalam pada ujung atas dan bawah. di satu sisi memperlihatkan pola Aceh dengan “sepasang garis tegak kirikanan”. Vol. H. yang mengapit bidang teks pada masing-masing halaman. Iluminasi mushaf Aceh mudah dikenali dengan “garis bingkai vertikal. namun menampilkan latar belakang kertas itu sendiri. terutama merah. salah satu mushaf AlQur’an di Masjid Jami’ Agung Singaraja memiliki unsur-unsur yang umumnya terdapat di Aceh dan Sulawesi. Segi empat berhias di sekitar bidang teks sering diisi dengan sulur ikal warna putih. Hasan. namun terbatas.90 Merujuk pada identifikasi yang pernah dibuat Annabel Teh Gallop (2004) tentang ragam hias mushaf. walaupun tidak terlalu jelas sebab salah satu ciri kedaerahan iluminasi Sulawesi adalah garis lurus. 7. H. adalah seorang Muslim Bali yang memiliki darah Aceh. leluhur mereka ada yang berasal dari Aceh. mushaf ini sama dengan mushaf-mushaf dari Aceh yang selalu menempatkan awal juz 16 atau bagian tengah Surah al-Kahf. Warna dasar keempat dalam naskah beriluminasi dari Aceh adalah warna putih. 2004: 129).31 Sedangkan iluminasi yang istimewa terdapat pada bagian tengah mushaf. 30 Oktober 2008. jejaknya bisa ditemukan bahwa salah seorang pengurus ta’mir masjid sendiri. dan H. Akan tetapi.

Gambar 12. masih terdapat surah Al-Fatihah yang diletakkan dalam bingkai berhias melengkapi sepasang hiasan akhir mushaf (Gambar 11. dan beberapa bentuk setengah lingkaran di atas. Akan tetapi. Iluminasi mushaf dari Pattani bercirikan. yakni dua bingkai yang diletakkan secara berhadapan dengan ciri khas garis-garis tegak. yakni garis-garis vertikal. bandingkan dengan Gambar 10a). milik Bapak I Wayan Ma’ruf. bercirikan bentukbentuk geometris yang kuat. Iluminasi hiasan mushaf dari Sulawesi yang menurut Gallop (2005) “Sulawesi Diaspora”. bawah. 2004:130).Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . segitiga di tengah bagian pinggir menghadap keluar. Tipe Pantai Timur Semenanjung Malaya Ciri khas iluminasi mushaf dari Pantai Timur Semenanjung Malaya adalah “Lengkungan luar bingkai berhias sering ditutup dengan rangkaian ‘ombak-ombak’ atau ‘dedaunan’ kecil”. 3). horizontal dan diagonal. misalnya dari Pattani dan Trengganu (Gallop. Mushaf ini sudah tidak lengkap lagi dan sebagian besar sudah dimakan serangga. dan di bagian-bagian tertentu sering terdapat motif jalinan. hitam. dan pinggir luar bingkai. desainnya sama dengan desain yang umumnya ditemukan di Sulawesi. Tipe Sulawesi Tipe Sulawesi ditemukan pada mushaf dari Pegayaman. dua bidang persegi panjang di atas membingkai kepala surah dan di bawah membingkai keterangan surah. — Asep Saefullah dan Adib M. dua bidang empat persegi panjang yang mengapit teks ayat. bandingkan dengan Gambar 12a). dan kuning. berupa jalinan kalimat L± Il±ha Ill± All±h Mu¥ammad Rasµl All±h yang membentuk pola arabesq dan sedikit motif floral. Di bagian akhir mushaf.. dalam mushaf MAJS/NQ/01. 2). “lengkungan pada bingkai berhias kadang75 . bukan segi tiga tetapi lengkunganlengkungan yang membentuk semi segitiga yang di dalamnya dihiasai desain floral dengan pewarnaan merah.. di samping putih yang merupakan warna dasar kertas. Warna yang dominan adalah merah dan hitam (Gambar 09 dan 10. dan tidak memiliki garis-garis lengkung bergelombang. Dua buah garis vertikal di kiri-kanan paling luar. dari iluminasi yang masih bisa dilihat pada bagian awal dan bagian tengah. Islam ikal warna putih. dan keduanya mengapit teks ayat di atas dan di bawah. bahwa di bagian luar bingkai pada mushaf Pegayaman ini. Sedikit berbeda.

secara keseluruhan efeknya adalah pancaran emas yang cemerlang. merah muda.90 kadang terdiri dari dua ombak yang saling berpautan yang ditutup dengan semacam kubah”. Teks yang masih ada dimulai bagian tengah surat al-Baqarah dan berakhir pada surah al-Naba. Bingkai teks berupa tiga buah garis tipis berwarna hitam dan merah. Sampul naskah sudah tidak ada. 2004:130). 5 cm. Jarak garis tebal pertama sampai ke-6 13 cm. 7. 4). dan luar biasa adalah mushaf yang ditemukan di Kampung Jawa Singaraja milik M. Alas naskah yang digunakan adalah kertas Eropa. Pewarnaannya terdiri atas merah. dan kuning emas. hijau. unik. 5 X 11. Pewarnaan hiasan bingkai Pantai Timur lebih luas daripada yang ditemukan di Aceh. “Dari pembatas luar ini banyak garis atau sulur kecil mengarah ke dalam seakanakan bertemu dengan ‘ombak-ombak’ yang muncul dari lengkungan. Teks ditulis dengan menggunakan garis panduan yang ditekan. awal Juz ke-30 (juz ‘amma) 76 . menimbulkan efek ‘stalagnit-stalaktit’. dan bingkai kedua halaman tersebut disatukan dalam bingkai luar. Pola hiasan pada Al-Qur’an kuno dari Masjid Al-Muhajirin Kepaon Denpasar32 memperlihatkan tipe Pantai Timur Semenanjung Malaya. Dua buah bingkai diletakkan secara berhadapan di halaman kiri-kanan. Dalam kertas ini terlihat adanya garis bayang tebal dan garis tipis. meliputi warna-warna muda seperti biru dan hijau maupun warna-warna tua yang lebih menggetarkan. dalam kertas terdapat angka 1825. 2009: 53 . Selain itu. ukuran teksnya 19. dan emas sering digunakan” (Gallop. Bingkai teks ayat berupa empat persegi panjang agak lebar mengelilingi bidang teks dan diisi dengan hiasan bermotif daun dan dipadukan dengan lengkungan setengah lingkaran. Tipe Jawa dan Mushaf Tertua Ketiga di Nusantara: Tahun 1035 H/1625 M Mushaf lain yang menarik. Di beberapa halaman verso terdapat kata alihan. Secara umum. Tinta yang digunakan berwarna hitam. No. Sementara Trengganu lebih bercirikan pembatas beriluminasi yang memenuhi tepi luar kertas.Jurnal Lektur Keagamaan. Jumlah garis tipis dalam 1 cm 9 buah. Vol. Zen 32 Naskah ini berukuran 30 X 19 cm. hitam. di samping warna putih yang merupakan warna dasar kertas (Gambar 13. Ketika garis-garis dan ombak disepuh. bandingkan dengan Gambar 13a). Lengkungan-lengkungan dan riak-riak gelombang tergambar dengan jelas dalam mushaf ini. 1. Teks ditulis dengan menggunakan khat Naskhi. Penomoran halaman tidak ada. yakni di atas-bawah dan pinggir bingkai teks ayat. naskah sudah lapuk dan tidak lengkap.

Keempat. Selanjutnya. Alas tulis dari bahan dasar kulit kayu ini pada umumnya tergolong tua karena kertas ini umumnya telah ada sebelum kertas Eropa masuk ke Nusantara. 2004: 130). oleh Abd al-Sufi al-Din. atas-bawah dan pinggir. mushaf ini ditulis di atas dluang. Bagian dalam bingkai ini pun Secara umum. Sementara itu. Tinta yang digunakan berwarna hitam. dan ukuran teksnya adalah 16 X 11 cm. dan kolofonnya dalam bahasa Arab. Mushaf ini berukuran 24 X 16 cm. Kedua. Sampulnya terbuat dari kulit berwarna coklat motif floral. blok atas membingkai nama surah Al-Fatihah. mushaf ini masih baik.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . iluminasinya memperlihatkan unsur Jawa. 33 Dikatakan demikian karena beberapa alasan: Pertama. Tebal naskah 769 halaman yang terdiri atas 754 halaman isi. kedua bingkai yang berhadapan pada dua halaman kiri-kanan ini disatukan oleh bingkai garis yang memotong setiap ujung segitiga pada setiap sisinya. hanya beberapa halaman yang tampak lapuk. Iluminasi pada mushaf ini terdapat pada bagian awal yang membingkai Surah al-Fatihah dan awal Surah al-Baqarah. Bidang teks ayat diapit di kiri-kanan oleh blok empat persegi panjang yang dihiasi dengan pola arabesq. terdapat segi tiga yang juga berhiaskan bentuk arabesq. Desain hiasan ini menunjukkan salah satu karakter khas Jawa. tetapi lengkungan-lengkungan yang mengelilingi teks ayat lazim ditemukan di Turki Usmani. Untuk bagian yang berisi keterangan awal surah tinta dan awal juz digunakan berwarna merah. sebuah masa yang tua.. 21 Muharram 1035 H (23 Oktober 1625 M). yang berbunyi: “tamma al-qur’±n f³ yaum al-kh±mis min syahr al-mu¥arram f³ hil±li i¥d± wa ‘isyr³na ba‘da alfi sanah khamsin wa £al±£µna al-hijrah an-nabawiyyah “. yakni pada pewarnaan yang cenderung menggunakan warna biru (Gallop. di tiga sisinya. Teks ditulis dengan menggunakan khat Naskhi. naskah ini memiliki kolofon yang menunjukkan waktu penyalinannya pada Kamis. bingkai teks berupa tiga buah garis berwarna hitam. dan blok bawah mengbingkai keterangan surah. Ketiga.. dan di atasbawahnya diapit juga oleh blok empat persegi panjang. dan untuk kepala surah masih berupa Sulus sederhana. Tulisan rapi dan jelas. — Asep Saefullah dan Adib M. Jumlah baris setiap halaman 13. jika merujuk identifikasi Gallop (2004). dari segi kaligrafinya. 33 77 . kecuali halaman awal yang terdiri atas 7 baris dan halaman akhir yang terdiri atas 10 baris. mushaf ini memperlihatkan goresan seorang khattat (ahli kaligrafi) Arab dengan khat Naskhi yang indah walaupun tidak dengan kalam khat yang tipis-tebal. Islam Usman.

terutama dari beberapa unsur yang terdapat pada pola hiasannya. No. Sebagian besar naskah sudah rusak. 2009: 53 . seperti Palembang dan Pasuruan. serta iluminasi mushaf yang memperlihatkan empat tipe Aceh. dan bahkan tidak utuh lagi. Pantai Timur Malaya.Jurnal Lektur Keagamaan. b. atau tempat. Sulawesi. tidak terawat dan kurang mendapat perhatian. Lebih dari itu. Dari 38 naskah tersebut. Kesimpulan a. Penelusuran awal naskah-naskah keagamaan Islam di Bali berhasil menemukan 38 naskah yang tersebar di berbagai daerah di pulau Dewata ini. mushaf ini menambah koleksi dan informasi mushaf tertua di Nusantara. 7. Walaupun jumlahnya tidak begitu signifikan dibandingkan dengan naskah non keislaman yang biasanya ditulis di atas lontar. 35 di antaranya merupakan naskah keagamaan Islam. Setidaknya mushaf ini menjadi mushaf tertua ketiga setelah Mushaf kode MS 12716 di University of London yang ditulis Jumadil Awwal 993/1585 dan mushaf dari Ternate yang ditulis pada 7 Zulqa’dah 1005 H/1597 M (Bafadal dan Anwar. yakni ditulis pada Kamis. 1) Kondisi naskah keagamaan Islam di Bali pada umumnya sangat memprihatinkan. 1. keberadaan 35 naskah keislaman itu dapat menunjukkan mata rantai Islamisasi di Indonesia dan jaringan keilmuan dan keulamaan Islam Nusantara. bisa diduga bahwa asal-usulnya berkaitan dengan Pulau Jawa.90 diberi hiasan berbentuk arabesq yang dipadukan dengan pola dedaunan (Gambar 14. Penutup 1. 21 Muharram 1035 H/1625 M (Gambar 15). 2005: vii-viii). dan Jawa. Vol. Pemiliknya tidak mengetahui secara pasti asal usul mushaf ini kecuali bahwa ia mendapatkannya dari orang tuanya dan konon telah dimilikinya secara turun temurun. bandingkan dengan Gambar 14a). keberadaan mushaf ini di sebuah tempat yang disebut Kampung Jawa. Namun demikian. 78 . misalnya tentang nama tokoh al-Haj Muhammad Amin al-Din Palimbangi dan Muhammad Sa’id bin Muhammad Ali Kusamba.

Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . dan untuk itu perlu pembuktian melalui penelitian secara lebih mendalam. tasawuf. Dari aspek kodikologi. kertas bergaris modern. Wa All±h a‘lam…[] 79 . setidaknya untuk melihat bagaimana hubungan Islam-Hindu di Bali. Al-Qur’an. dan lontar. dan bagaimana posisi Bali dalam proses Islamisasi maupun dalam jaringan transmisi keilmuan dalam Dunia Islam. yaitu dluang. kertas Eropa. Islam 2. b. — Asep Saefullah dan Adib M. 2. Rekomendasi a. khususnya Islam-Hindu di Bali terjalin dengan baik. tauhid. Keberadaan naskah keagamaan Islam di Bali yang tersebar di berbagai kabupaten memungkinkan masih ada naskahnaskah lain yang belum tersentuh sehingga penelusuran lebih lanjut perlu segera dilakukan.Lebih dari itu. adanya naskah lontar yang mengandung unsur keislaman membuktikan bahwa hubungan antarumat beragama. c. 4) Isi naskah antara lain mencakup fikih.. dan yang tertua tahun 1035 H/1625 M. Analisis terhadap isi teks dan penjelasannya secara kontekstual perlu diteliti lebih lanjut. dan obat-obatan. bahasa (nahwu-saraf). antara lain dengan penelusuran naskah dan digitalisasi. c) Waktu penyalinan antara abad ke-17–19 M.. Bugis. dan geguritan (cerita). Melayu (Jawi). wirid. dan Bali. dapat dicatat beberapa hal: a) bahan yang digunakan beragam. Kondisi naskah keagamaan Islam di Bali yang memprihatikan perlu mendapatkan perhatian serius dan perlu segera dilakukan upaya konservasi lebih lanjut. doa. b) Bahasa dan aksara yang digunakan meliputi Arab.

. Vol. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. Oman. Adelaide: Art Gallery of South Australia. h. 1986. 121143. Naskah Klasik Keagamaan Nusantara 1. Fadhal AR. Annabel Teh. dan Saefullah. V. h. Etika. Jurnal Lektur Keagamaan. John H. Sastra. Francois. Depok: Fakultas Sastra UI. 1. Heawood. 1. tanpa tahun. Edward. 2003. diterjemahkan ke Bahasa Arab oleh Ayman Fuad Sayyid. Chambert-Loir.Jurnal Lektur Keagamaan. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. 1994. “Pentingnya Memelihara. Islamic Codicology. Mulyadi. Bafadal. h. 156-183. No. Jakarta. 1999. makalah dalam Seminar Tradisi Naskah. Weatherhill Inc. Cet. “Penyalinan Naskah Melayu di Palembang”. dan Seni Pertunjukan Jawa. Ann dan McGlynn. dan Memanfaatkan Khazanah Naskah Islam: Sebuah Refleksi”. Ada Bagus Gede. Depok: Fakultas Sastra UI. Crescent Moon: Islamic Art & Civilisation in Southeast Asia. dalam James Bennett (Ed. Fadhal AR.). Penyalinan Naskah Melayu di Jakarta pada Abad XIX: Naskah Algemeene Secretarie Kajian dari Segi Kodikologi. 7. “Seni Mushaf di Asia Tenggara”. Edisi bahasa Arab diteritkan tahun 2005 oleh penerbit yang sama dengan judul al-Madkhal ila ‘Ilm al-Kitab al-Makhtut bi al-Harf al‘Arabi. 1. Rosehan. Vol. The Writing Traditions of Indonesia. Annabel Teh. No. Illuminations. Kodikologi Melayu di Indonesia. 2. Sri Wulan Rujiati. The Lontar Foundation. 2006. Depok. 2. Fathurahman. Rukmi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 80 . Henri & Fathurahman. dan Sunda. 2004. Melestarikan. 2005. Jurnal Lektur Keagamaan. “Islamic Manuscript art of Southeast Asia”. Hilversum: The Paper Publications Society. Keadaan dan Perkembangan Bahasa. 2009: 53 . Oman. Lisan dan Sejarah di FIB UI . Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. Khazanah Naskah: Panduan Koleksi Naskah-Naskah Indonesia Sedunia. Gallop. 1996. 1997.90 Daftar Pustaka Agastia. New York dan Tokyo. Gallop. Mushaf-Mushaf Kuno di Indonesia. Kumar. 1-10.). Asep (Eds. 2005. 2005. Tatakrama. Maria Indra. Jakarta: Ecole francaise d’Extreme-Orient-Yayasan Obor Indonesia Deroche. Vol. London: Al-Furqan Islamic Heritage Foundation. 2005. “Jenis-jenis ‘Naskah Bali’” dalam Soedarsono (Ed). No. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. Maria Indra. Rukmi. Watermarks: Mainly of the 17th and 18th Centuries. An Introduction to the Study of Manuscripts in Arabic Script. Bali. dan Anwar. Bafadal.

yang dituakan di Kampung Islam Buitan. dan Agus. Bedugul. 2007. Kabid. Bali Drs. 29 Oktober 2008. Bali Drs. 30 Oktober 2008. Hasan. H. 5. 39-62. Jurnal Lektur Kegamaan. Hasyim Zaki. Agama Prov. Haji. 10. No. Ida Bagus Nyana. H. 81 . H. Vol. dalam Jurnal Lektur Keagamaan. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. Agama Prov. Badri. para ustadz di Pesantren AlHidayah. Wawancara pada 2 Nopember 2008 di Loloan Timur. Kanwil Dep. h. h. Agama Prov. Muchlis Sanusi. 2. Kanwil Dep. Ketut Ariawan. 6. Kasi. Kanwil Dep. Soleh. Informan: 1. 1-5) Wawancara di ruang kerja masing-masing pada 28 Oktober 2008. 7-11) Wawancara. 1. Kabid Bimas Islam & P. Agama Prov. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. Husen Abdul Jabbar. Ghufron.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . No. 5.. Penamas. penduduk Singaraja yang bekerja di Denpasar. Seni Kaligrafi Islam.. Agama Prov. 1-18. Kasubag Umum. Kanwil Dep. Abdullah. E. Bali (No. Vol. 14. H. Asep. Pengurus Harian Masjid Agung Jami’ Singaraja H. 13. Ketua Dewan Penasehat MUI Singaraja. Pendidikan Islam dan Pemberdayaan Masjid. “Beberapa Mushaf Kuno dari Provinsi Bali”. 8. “Ragam Hiasan Mushaf Kuno Koleksi Bayt al-Qur’an dan Museum Istiqlal Jakarta”. SH. Yunardi. Sirojuddin AR. H. 11. Abdurrahman Said. Karang Asem. Kanwil Dep. 3. Drs. 7. Wawancara. Jakarta: Multi Kreasi Singgasana. secara terpisah pada 29-30 Desember 2008 di Masjid Agung Singaraja maupun di kantor MUI Singaraja. Lurah Kampung Bugis dan juga Ketua Ta’mir Masjid Agung Singaraja. — Asep Saefullah dan Adib M. Syafruddin. Hidayat. 1992. Musta’in. 12. Bali Drs. M. 2007. 2 Nopember 2008. Islam Saefullah. H. Bali Drs. Hadiman. H. Wawancara. Wawancara. Abdurrahman Alawi. Gunawan. Sekretaris MUI Sngaraja (No. 5. Ketua MUI Singaraja H. 4. 9. H. 1. Staf Urusan Agama Hindu.

Tebal naskah 98 halaman (49 lembar) dengan jumlah baris 19 per halaman. Teks ditulis dengan menggunakan bahasa Melayu dan aksara Jawi dengan menggunakan garis panduan yang ditekan. Setelah dicocokkan dengan daftar cap kertas yang disusun oleh Heawood (1986).90 Lampiran: 1. naskah ini merupakan kumpulan teks. 2. Kalimat pertama teks ini berbunyi: Sebagai lagi (obat) supaya bincar(?) buang air seni ambil limau nipis tiga biji ditaruh gula batu maka embunkan pagi2 minum insya Allah ‘afiyah berturut-turut tiga pagi. Adapun bunyi kalimat pertama (1r) adalah sebagai berikut: Terpelihara dirinya daripada had ta-waw-kaf-sin karena jikalau ia tia(da) mau bersumpah maka dipukul ia delapan puluh kali demikian lagi disuruh bersumpah istrinya di atas mimbar lima kali supaya terpelihara ia daripada had zina maka apabila sudah bersumpah keduanya jatuhlah talaknya itu talak bain kubra … Alas naskah yang digunakan adalah kertas Eropa. Arab dan Jawi 24x16 cm Prosa Kertas Eropa Naskah ini merupakan kumpulan teks yang terdiri atas beberapa bidang kajian. yang termasuk kelompok Crescent. Halaman 33v-41v: Teks obat-obatan. Aks. yakni pembahasan tentang tuduhan suami bahwa istrinya berzina. Wirid dan Doa Bhs. tetapi tidak disebutkan judulnya. 1. kertas dengan cap kertas nomor tersebut tidak bertanggal. sementara ukuran teksnya adalah 19 X 11 cm. dalam kolofon teks ini disebutkan “Kitab Nikah”. Tamma wa sallallahu ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa sahbihi wa sallam. Arab dan Melayu 19 baris/hlm. Naskah sudah tidak bersampul dan bagian awal teks yang berisi Kitab Nikah sudah tidak lengkap. Kitab Nikah. Tinta yang digunakan berwarna hitam. Vol. yang terdiri atas: 1. Sepertinya bagian awal teks dimulai dari “Had al-Qa©af”. tampaknya cap kertas ini mirip dengan contoh no. Akan tetapi cap kertas hanya terlihat sebagian. Naskah berukuran 24 X 16 cm. namun dimungkinkan diproduksi pada masa modern. Denpasar Fk/Bali MA 01 98 hlm. 2009: 53 . 860. Bunyi kolofon tersebut sebagai berikut: Haza [al-]Kitab al-Nikah [ter] Hijrah al-Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam seribu dua ratus delapan puluh tujuh (1287) pada tahun Ba alif(?) pada malam ahad waktu jim(?) pada pukul delapan pada delapan hari bulan Rabi’ al-Awwal pada ketika itulah hamba Pa Abdul A’raf sudah selesai menyuruh ini kitab di dalam negeri Badung Bali Badung adanya Kampung Kepaon 1287. No. Sebagaimana disebutkan. Jarak antarbaris di setiap halaman 7 mm. Contoh Deskripsi Naskah Milik Musthafa al-Amin. 7. 82 . sementara rubrikasi berwarna merah. Menurut Heawood (1986: 84). Obat-obatan. Halaman 1r-33v: Teks kitab nikah.Jurnal Lektur Keagamaan.

Tulisan tampak rapi dan jelas.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Ukuran kotak tempat menyimpan naskah ini adalah 46 X 8. Naskah di tempatkan dalam kotak yang terbuat dari kayu jati berwarna coklat. Jarak antarbaris tiap lempir adalah 0. Amin 1288 H di Ampenan Syahr [al-]Shafar. sedangkan ukuran teksnya adalah 34 X 2. Teks ditulis di atas lontar dengan menggunakan bahasa dan aksara Bali. wirid dan doa. penanggalan. 4. pias kiri berukuran 3 cm. Bali 4 baris/lempir Aks. Teks ini berisi cerita proses islamisasi di Bali. Tinta yang digunakan berwarna hitam. Pemilik naskah: Yayasan An-Nur. Pemilik Naskah: H. Naskah berukuran 40. Halaman 41v-47r: Teks berisi berbagai macam masalah.5 x 3.5 X 3. 2. Denpasar. Kondisi lontar masih baik. Pias kanan berukuran 3 cm.. Di bawah setiap baris teks terdapat garis panduan tipis berwarna hitam. Kepaon. Islam Kalimat terakhir berbunyi: Telah mengambil ijazah faqir a-haqir ila Allah Ta’ala Haji Hasan ibn al-Marhum al-Haj Muhammad Amin al-Din Palembangi akan mengamalkan laqad ja’akum serta doa yang kemudian kepada Syaikhuna wa ustazuna wa wasilatuna ila Allah Ta’ala al-Arif bi Allah sayyidi al-Syaikh Muhammad Azhari ibn al-Mukarram al-Marhum Kemas Muhammad Haji Abdullah Palimbangi Nafa’ana Allah bi barakatihi wa barakat ‘ulumihi. — Asep Saefullah dan Adib M. 5 cm. naskah ini berjudul Pepalihan Gama Selam Bali. Bali. dan teks khutbah nikah. Musthofa Amin. Tebal naskah 9 lempir dengan jumlah baris 4 per lempir. Teks dibagi dalam dua kolom. 3. Contoh Deskripsi Naskah Lontar Milik Yayasan An-Nur.. Denpasar 83 . Bali 40.5 cm Puisi Lontar Berdasarkan informasi di luar teks. Halaman 47v-48v: Teks Li °³bat Aqli al-Ins±n.5 cm.5 cm. Denpasar Gg/Bali YN 02 9 lempir Pepalihan Gama Selam Bali Bhs. antara lain kitab waris. Kampung Bugis.5 cm.

Musthafa Amin. Kepaon. 1. Kepaon. Musthafa Amin. Ilustrasi Gambar 05: MS MA 03. Kepaon. Denpasar B. naskah koleksi H. milik Drs. Singaraja Gambar 02: Khat Naskhi pada naskah tauhid dari Pegayaman Singaraja. Kepaon. No. Denpasar Gambar 06: MS MA 04. Beberapa Jenis Kaligrafi Gambar 01: Khat Naskhi pada Mushaf kuno dari Kampung Jawa. naskah koleksi H. h. 11r. h. Denpasar Gambar 04: Khat Farisi MS MA 01.90 Lampiran II: Gambar-Gambar A.Jurnal Lektur Keagamaan. koleksi H. Denpasar 84 . Vol. Suharto Gambar 03: Khat Riq’ah pada MS MA 06. 2009: 53 . 17v. Musthafa Amin. Musthafa Amin. milik H. 7.

Musthafa Amin. Kepaon. Serangan. Denpasar. Kp. — Asep Saefullah dan Adib M. Iluminasi pada Mushaf Gambar 09: MS MAJS/NQ/01. Denpasar C.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . 12v-13r. Iluminasi halaman awal pada Mushaf Kuno koleksi Masjid Jami’ Agung Singaraja 85 . h.. Baharuddin. Gambar 08: MS MA 03. 56. milik H. naskah milik H. h.. Islam Gambar 07: MS Serangan 01.

90 Gambar 10: MS MAJS/NQ/01.. Iluminasi halaman tengah pada Mushaf Kuno koleksi Masjid Jami’ Agung Singaraja Gambar 10a: Tipe Iluminasi mushaf halaman tengah dari Aceh. 2009: 53 .Jurnal Lektur Keagamaan. Vol. Illuminations. 7. No. dalam Ann Kumar dan John H. 1. McGlynn. 1996. 86 . h 46 dan 87. koleksi Perpustakaan Nasional Jakarta.

h. Koleksi Perpustakaan Nasional Jakarta. milik I Wayan Ma’ruf. pada di halaman kiri terdapat surah Al-Fatihah.. Gambar 12: Iluminasi bagian awal pada mushaf kuno dari Pegayaman. sepertinya Tafsir Jalalain. 1996.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Islam Gambar 11: Iluminasi bagian akhir pada mushaf kuno dari Pegayaman. Tampak tidak utuh lagi kerena dimakan serangga. Gambar 12a: Tipe Iluminasi halaman tengah tipe Sulawesi juga terdapat pada Tafsir AlQur’an. Illuminations.. milik I Wayan Ma’ruf. 59 87 . McGlynn. dalam Ann Kumar dan John H. — Asep Saefullah dan Adib M.

h. 1. Gambar 13a: Tipe Iluminasi mushaf seperti ini umum ditemukan di Pantai Timur Semenanjung Malaya. dalam Ann Kumar dan John H. Vol. 7. Bandung. Illuminations. 2009: 53 . tetapi Al-Qur’an ini berasal dari Cirebon.Jurnal Lektur Keagamaan. Jawa Barat. Al-Qur’an kuno koleksi Museum Sri Baduga. Denpasar.90 Gambar 13: Iluminasi bagian tengah pada mushaf kuno dari Masjid Al-Muhajirin. 114 88 . 1996. Iluminasi ini terdapat pada again awal surah alFatihah dan awal al-Baqarah. Kepaon. McGlynn. No.

h. koleksi Widya Budaya. 1996. McGlynn. 35 89 . Kraton Yogyakarta. Zen Usman. Gambar 14a: Tipe Iluminasi mushaf halaman tengah dari Jawa. milik H. Mushaf disalin di Surakarta pada 1797-1798 M oleh Ki Atmaparwita. Illuminations.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . dalam Ann Kumar dan John H... — Asep Saefullah dan Adib M. Jawa Singaraja. Islam Gambar 14: Iluminasi bagian awal pada mushaf kuno dari Kp.

pada Kamis.90 Gambar 15: Kolofon pada mushaf kuno dari Kampung Jawa. Ditulis di atas dluang. Zen Usman. Singaraja. 2009: 53 . No. Vol. 1. 7. milik H.Jurnal Lektur Keagamaan. 21 Muharram 1035 H/1625 M oleh Abd al-Shufi al-Din 90 .

or to listen to the stories about the ulama.. The manuscripts are culturally important that is related to the daily religious needs of the disciples of the order of Syattariyah in Minangkabau. Manuskrip. dibandingkan suku bangsa-suku bangsa yang lain di Indonesia.. to posses the book. Minangkabau Pendahuluan Minangkabau merupakan suku bangsa di Indonesia yang mendiami sebagian besar wilayah Provinsi Sumatera Barat. otherwise it will be considered blasphemy or haram. 91 . dalam hal hubungannya antara sosio-kultural dan Islam. it is found that one way to reflect the disciples’ respect for the guru(-s) has been done through writing the biography of the respective teachers and understanding their teaching. — Pramono dan Bahren Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua dalam Naskah-Naskah Tarekat Syattariyah di Minangkabau Fakultas Sastra Universitas Andalas. By means of social context analyses of the texts. Padang Pramono dan Bahren This article focus on discussing efforts to intreprate local Islam manuscripts of Minangkabau. Oleh karena itu. This is related to the beliefs that to know about the guru. the guru of the order of Syattariyah are essential. Tarekat Syattariyah. Etnis ini memiliki karakteristik yang unik. Keunikan tersebut tampak pada penyatuan antara adat dan agama Islam. his story can not be written in Latin texts. Kata Kunci: Surau. Because the guru is considered holy man. particularly the order of Syattariyah in Minangkabau. The ideological perspective is influenced by the surau teaching system based on the doctrines and books of the teachers. topik mengenai hubungan sosial-kultural dan Islam di Minangkabau tetap menarik untuk didiskusikan.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua.

108 Dalam konteks hubungannya dengan Islam. kedua sumber itulah yang boleh dijadikan pedoman umat Islam dalam menjalankan praktikpraktik keagamaannya. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan pendapat antara kedua golongan itu masih tetap hidup dan berpengaruh dalam masyarakat Minangkabau. mereka ingin tetap mempertahankan tradisi. dalam bidang syari’ah. mereka membenarkan dan merasa berkewajiban untuk mempertahankan aliran-aliran tarekat yang mu’tabarah (sah dan boleh diamalkan. Organisasi-organisasi serta lembaga-lembaga pendidikan agama yang didirikan oleh masing-masingnya pun masih ada. Dalam praktik pengamalan ajaran Islam. dalam bidang aqidah. Akan tetapi. No.Jurnal Lektur Keagamaan. Kedua. 1988: 135). yaitu Kaum Tua dan Kaum Muda. Akan tetapi. Pertama. Golongan ini juga berpendapat bahwa tidak ada ulama. Tuhan telah menganugerahkan akal kepada setiap manusia untuk dapat berijtihad setiap saat (Fathurahman. menurut penilaian mereka). sekarang ini kedua istilah tersebut mungkin sudah terasa asing dalam pendengaran kita. Para ulama golongan ini memiliki pandangan bahwa hanya Alquran dan hadits Nabi yang sahihlah yang benar. Perbedaan-perbedaan dalam berbagai amalan dan perilaku keagamaan di antara kedua kelompok itu hingga sekarang masih tetap ada. bukan masalah perbedaan itu yang akan diulas dalam tulisan ini. dan oleh karenanya pandangan keagamaannya tidak dapat diikuti secara mutlak. Persoalan lain yang menarik dan kurang mendapat perhatian adalah persoalan pola kepemimpinan Kaum Tua. Keempat. 2003: 99). Ketiga. Oleh karena itu. Sedang istilah yang banyak dipakai sekarang ini adalah “Kaum Tradisional” untuk Kaum Tua dan “Kaum Modernis” untuk Kaum Muda. Pem92 . 2009: 91 . mereka adalah penganut aliran Ahlu Sunah wal Jama’ah. diketahui bahwa pada awal abad ke-19 hingga awal abad ke-20. 7. termasuk para ulama mazhab sekali pun. yang luput dari kekeliruan. Paham keagamaan tersebut berbeda dengan paham keagamaan yang diyakini oleh kalangan Kaum Muda. mereka menganut mazhab Imam Syafi’i semata-mata. Kaum Tua di Minangkabau memiliki empat kriteria atau hakikat. adat kebiasaan yang telah melekat dalam berbagai macam amalan keagamaan (Latief. Vol. di Minangkabau timbul dua macam aliran keagamaan. Apalagi. 1.

atau keluar dari. pemerintah Belanda mengerahkan beberapa orang sarjananya untuk mengadakan penelitian tentang tarekat yang ada di Sumatera Barat. syarak dibawa naik’. Upaya penyesuaian berbagai nilai Islam dengan adat di kalangan masyarakat Minangkabau ini tampaknya telah dimulai sejak orang Minang menerima Islam sebagai agamanya (Hamka. — Pramono dan Bahren bicaraan akan difokuskan pada peran pemimpin Kaum Tua dan bentuk penghormatan terhadap mereka. ulama pemimpin Kaum Tua di Minangkabau juga berperan di bidang sosial-budaya dan politik. syarak dibao naik ‘adat dibawa turun. Pada masa penjajahan. adaik manurun ‘syarak mendaki. S. Dengan demikian. Akan tetapi. Kondisi seperti itu mempengaruhi masyarakat Minangkabau tentang persepsinya terhadap sosok ulama. maka secara sosial mereka dapat dikucilkan. melainkan terletak pada kepatuhan yang mutlak dari para anggotanya kepada pada syekh yang memang menuntut kepatuhan itu sebagai 93 . Dalam kosa-kata Minang. masuknya Islam dari wilayah rantau ke darek ini digambarkan dalam pepatah: syarak mandaki. khususnya ulama pemimpin Kaum Tua tidak hanya memiliki peran keagamaan saja. Besarnya peran ulama pemimpin Kaum Tua di Minangkabau sempat mendapat perhatian khusus oleh pemerintah Belanda pada masa penjajahan. 1988: 210) antara lain menyebutkan dalam laporannya pada tahun 1916 bahwa. Jika ada orang Minang yang tidak memeluk. 1984: 138). atau seperti yang ditulis Yusuf (2004: 4). dari waktu ke waktu. agama Islam misalnya. Ronkel (dalam Latief. tetapi juga penyelamat untuk kehidupan di akhirat. Salah seorang di antaranya adalah Ph. “menjadi orang Minang berarti menjadi Muslim”. sosok ulama Minangkabau. Dalam perjalanan sejarahnya. adaik dibao turun. Van Ronkel. Persesuaian Islam dengan adat tersebut awalnya terjadi secara bertahap.. bahaya dari aliran-aliran tarekat bukanlah terletak pada unsur fanatismenya. adat menurun’.. ketika Islam mulai masuk dari wilayah pesisir (rantau) ke daerah pedalaman (darek). Ulama bagi mereka tidak hanya penerang masa hidup di dunia.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. masyarakat Minang berusaha menyesuaikan adat dan tradisi kemasyarakatannya dengan Islam. Peranan Ulama Pemimpin Kaum Tua Bagi masyarakat Minangkabau.

Untuk kasus pusat tarekat Syattariyah di Ulakan Pariman. 7. Dengan adanya ancaman tersebut. lalu diusir dari daerah ini atau dibunuh dengan berbagai cara yang licik (Latief. Dengan demikian. menjauhi urusan dunia. 1988: 213-214). Apabila terdapat kejadian-kejadian tertentu yang mereka cetuskan. Golongan penganut tarekat Syattariyah yang terpengaruh oleh ide-ide pembaharuan itu karena tidak puas dengan ulama Ulakan yang dinilai tidak memiliki komitmen untuk memerangi Belanda. Pertama. menjadi lawan bagi setiap aliran lainnya. membujuk dan memuji-muji para guru tarekat. setidaknya ada dua strategi yang dibuat oleh pemerintah Belanda. suka mengejar-ngejar kekuasaan. 2004: 117 dan 92). ia menyebutkan bahwa para pemimpin tarekat Syattariyah itu biasanya adalah orangorang yang tangguh pengetahuannya. Dalam hal ini pemerintah Belanda menempatkan seorang pengawas kelas tiga yang punya latar belakang ilmu budaya. dengan harapan agar mereka lebih memusatkan perhatian pada aktivitas kesufian. kemudian pemerintah Belanda membuat strategi khusus untuk mengantisipasi potensi perlawanan dari kaum tarekat di Sumatera Barat. No. agaknya strategi Belanda ini berhasil. Vol. Dalam konteks ini. dapat mengganggu kelancaran pemerintahan Belanda nantinya. 2004: 117).108 haknya. Belanda menempatkan seorang posthouder di Ulakan sejak tahun 1844 (Suryadi. mengadakan pengawasan yang ketat terhadap segala aktivitas yang dilakukan oleh kaum tarekat (Syattariyah). Kedua. Dengan demikian. Boleh jadi karena sifat tarekat Syattariyah (di Ulakan) yang suka pada harmoni. Hal ini dapat dicermati pada paroh pertama abad ke-19. Khusus mengenai kaum Syattariyah. tidak jarang merupakan sesuatu yang amat berbahaya bagi pemerintahan Belanda. 94 . di mana banyak pengikut tarekat Syattariyah di Ulakan Pariaman terpengaruh oleh gerakan pembaharu Islam di Sumatera Barat. dengan mendekati. semangat jihad mereka yang sering menggangu kolonial akan dapat diredam. Apalagi dalam kenyataanya Ulakan sebagai salah satu pusat tarekat Syattariyah tidak pernah benar-benar menunjukkan penentangannya atau setidaknya bersikap tegas terhadap Belanda yang dianggap kafir.Jurnal Lektur Keagamaan. 2009: 91 . Sedang tokoh-tokoh tarekat yang dianggap berbahaya dan tidak mempan dibujuk. menyebabkan mereka cenderung menghindari konfrontasi dengan Belanda (Suryadi. 1.

Peperangan itu menyebabkan Syekh Surau Baru ditawan Belanda. menarik jika dilihat dengan perspektif postkolonial.. bahkan mungkin puluhan atau ratusan tahun (Ratna.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. Hal ini akan diterangkan lebih jauh di bagian selanjutnya. Kondisi di atas sangat berbeda dengan ulama-ulama tarekat Syattariyah di Koto Tangah. Penawanan itu dilaksanakan dengan alasan bahwa Pakih Mudo adalah murid Syekh Surau Baru. Dalam masa tawanan itulah Syekh Surau Baru wafat dan tidak ada lagi yang melawan Belanda hingga ratusan tahun kemudian. Dalam naskah Sejarah Syekh Surau Baru misalnya. Padang kepada Belanda di bawah pimpinan Pakih Mudo. Padang Pariaman dengan cara memberikan penghargaan dan banyak pujian telah membuat mereka bersikap kompromi dengan Belanda. dkk. Politik Belanda terhadap ulama tarekat Syattariyah di Ulakan. Secara mentalitas berbekas hingga hari ini. — Pramono dan Bahren Dalam konteks itu. Di mana. yakni perlawanan ke Belanda yang dinamakan Perang Paderi yang dipimpin oleh Imam Bonjol. melainkan berlangsung sampai sekarang. Kisah ini dapat ditemukan dalam kutipan teks berikut ini. Padang. diceritakan tentang pemberontakan rakyat Koto Tangah dan Pauh. 95 .. Perang terjadi atas komando dan dorongan Syekh Surau Baru. Lubuk Begalung dan sekitarnya.. Di wilayah ini Belanda mendapat perlawanan yang tajam dari mereka. Ketika rakyat Koto Tangah dan Pauh. Padang berperang dengan Belanda yang dibantu oleh orang Kota Padang. Oleh karena itulah. akibat-akibat yang dimaksud tidak berhenti secara serta merta setelah kolonialisme berakhir. maka Pakih Mudo mengomando rakyat Koto Tangah dan Pauh dalam peperangan itu. misalnya kekuatan Golkar yang telah mampu mendekati para ulama itu untuk berafiliasi ke dalam partai tersebut. Gambaran perlawanan ulama tarekat Syattariyah tersebut dapat ditemui dalam naskah Sejarah Surau Baru dan naskah Sejarah Syekh Paseban karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib. 2006: 74). perspektif postkolonial mencoba mengungkap akibat-akibat negatif yang ditimbulkan oleh kolonialisme. Akibatakibat yang ditimbulkan lebih bersifat sebagai degradasi mentalitas dibandingkan dengan kerusakan material. Pakih Mudo adalah murid Syekh Surau Baru yang diutus untuk mengislamkan rakyat Pauh.

Setelah Syekh Surau Baru wafat ditawan kompeni Belanda barulah habis perlawanan rakyat terhadap kompeni Belanda. Syekh Surau Baru ini adalah orang Kota Panjang. “kata Syekh Paseban (al-Khatib. Pauh. Syekh Surau Baru yang mula-mula melawan penjajah Belanda yang akan menginjakkan telapak kakinya di Pantai Minangkabau pada tahun 1658 Masehi (1076 Hijrat) yang bermaksud menjajah Minangkabau. ia ditangkap dan dipenjarakan oleh Belanda. Perlawanan Syekh Paseban. Koto Tangah. Syekh Paseban selalu mengadakan ziarah ke makam Syekh Surau Baru di Batusingka. tidak Belanda.t. Dalam konteks perlawanan tersebut.: 51-52). (kedua) adalah di suatu makam Syekh Muhammad Natsir (Syekh Surau Baru). t. penghargaan itu ditolak oleh Syekh Paseban. Dalam salah satu bagian teks disebutkan bahwa.108 Beginilah riwayat ringkas perjalanan hidup beliau Tuan Syekh Surau Baru yang telah mengislamkan Koto Tangah. Penghargaan tersebut berupa bintang jasa yang oleh Belanda dikatakan bahwa Syekh Paseban berhak menerima karena ia adalah ulama besar yang telah banyak berjasa bagi kaumnya. Beliaulah. Beliau sama pergi menuntut ilmu dengan Syekh Burhanuddin ke Aceh kepada Syekh Abdurrauf (Syekh Kuala). “Yang akan memberi saya bintang adalah Tuhan. Juga beliaulah. dan sekitarnya. Selain Syekh Surau Baru. Oleh karena perbuatannya tersebut. penulisnya kembali menegaskan tentang kepahlawanan Syekh Surau Baru. pada waktu itu adalah dengan tidak bersedia membayar pajak kepada pemerintahan Belanda di Kota Padang. 1. dalam naskah Sejarah Ringkas Syekh Paseben Asyattari Rahimahullah Taala Anhu. Kota Tengah. 2001: 29. Syekh Surau Baru inilah yang mengislamkan Negeri Kota Tengah. perlawanan terhadap Belanda juga dilakukan oleh ulama tarekat Syattariyah di Koto Tangah. (ketiga) Jasa beliau Syekh Surau Ba96 . 7. Padang. Selain itu.Jurnal Lektur Keagamaan. Padang. pernah suatu kali Belanda dengan taktiknya akan memberikan penghargaan kepada Syekh Paseban. No. 34).. Vol. Ziarah tersebut ia lakukan karena. terjadi berkali-kali peperangan di Pauh dan Koto Tangah antara rakyat dengan tentara Belanda yang dibantu oleh laskar Padang yang telah takluk di bawah kekuasaan kompeni Belanda.. 2009: 91 . Maka amanlah Belanda di Padang sampai 170 tahun kemudian barulah ada kembali perlawanan terhadap Belanda yang (di)kepalai oleh Tuanku Imam Bonjol yang dinamai Perang Paderi mulai tahun 1803 berakhir tahun 1837 (al-Khatib. Syekh Paseban. Akan tetapi. Padang yaitu. Lubuk Bagalung (Negeri yang dua puluh) dan Negri Padang. Pauh. Air Dingin.

Dalam naskah otobiografi Sejarah Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib disebutkan bahwa. beliaulah yang mulanya melawan Belanda di Minangkabau ini. M. Padang adalah benar-benar berjiwa pahlawan.. Itu perbedaan perjuangan Syekh Surau Baru dengan Syekh Paseban. Padang. Hal ini juga sekaligus mempertegas bahwa ulama tarekat Syattariyah di Koto Tangah. Hatta. 2001: 39). Pendirinya adalah para ulama yang terdiri dari Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung. Setelah Indonesia merdeka. menjelang Pemilihan Umum pertama 1955. memaklumatkan agar menumbuhkan berbagai organisasi dan partai. Perti adalah organisasi sosial yang didirikan pada tanggal 5 Mei 1930 di Candung. 2002: 899). Hal ini dikarenakan ulama-ulama yang berwiba97 . Wakil Presiden Republik Indonesia. termasuk juga di Sumatera Barat (Nasution. Salah satu organisasi sosial yang berikutnya menjadi sebuah partai di Sumatera Barat adalah Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti). Beliau Syekh Surau Baru dapat ditawan Belanda dimasukkannya ke dalam rajam dan wafat di situ dan Tuanku Imam Bonjol ditawan Belanda dibuangnya ke Manado dan wafat di situ (al-Khatib. Kondisi seperti itu juga ikut mempengaruhi pandangan ideologis tarekat Syattariyah di Koto Tangah. Padang selain orang alim juga anti penjajah. Pada awalnya. 170 tahun (seratus tujuh puluh tahun) sebelum Tuanku Imam Bonjol. Bukittinggi. Sejak 22 Nopember organisasi sosial ini berubah menjadi partai politik dengan nama Partai Politik Islam Perti (Nasution. 2002: 899). agar beroleh berkah. Setelah adanya maklumat ini. Hal ini untuk menolak tudingan Belanda bahwa Indonesia bukanlah negera yang sah.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. pengikutnya harus menghormatinya. Syekh Muhammad Abbas al-Kadi Bukittinggi. penduduk Koto Tangah sudah tujuh puluh lima persen masuk ke dalam Partai Islam Perti. maka banyaklah lahir parta-partai di negeri ini. Agaknya penulis naskah ingin mempertegas bahwa Syekh Surau Baru. Syekh Muhammad Jamil Jaho Padangpanjang dan Syekh Abdul Wahid Tabekgadang. Perti mengikuti aliran Ahlul Sunnah wal Jamaah dalam itikad dan mazhab Syafi’i dalam syariat dan ibadat. Oleh karenanya. — Pramono dan Bahren ru. ulama tarekat Syattariyah di Koto Tangah.. Syekh Surau Baru melawan Belanda waktu Belanda akan menjejakkan kakinya di Pantai Padang sedangkan Tuanku Imam Bonjol mengusir Belanda yang telah menduduki Minangkabau.

7. Partai Islam Perti-lah yang sesuai dengan paham tarekat Syattariyah.. Sebab partai ini berdasarkan mazhab Syafi’i dan beritikad ahlu sunah waljamaah” (al-Khatib. 2002: 47-57).setelah saya selidiki beberapa partai Islam seperti Masyumi. Dalam konteks kepartaian tersebut. Vol. Padang tidak salah. Angku Talaok bergabung dengan Partai 98 .. 2002: 6). Hal itu dimungkinkan karena Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib benar-benar terhimbau oleh anjuran pemerintah pada waktu itu. 1. Di satu sisi.Jurnal Lektur Keagamaan. Dalam hal ini ia mengatakan bahwa: “. ia juga menempelkan poster-poster itu di berbagai tempat di Koto Tangah. maka orang tualang ‘orang lepas. Pada waktu itu pemerintah melalui Wakil Presiden Muhammad Hatta menganjurkan bahwa setiap warga masyarakat untuk masuk ke dalam salah satu partai. yakni partai Islam yang sesuai dengan paham tarekat Syattariyah. orang yang tanpa ikatan sebuah sistem aturan (pemerintah)’ namanya. pada waktu menjelang Pemilihan Umum pertama 1955. dan pemerintah tidak menjamin keamanan orang seperti itu.108 wa—termasuk Imam Maulana Abdul manaf Amin al-Khatib—tarekat Syattariyah di Koto Tangah telah masuk ke dalam partai itu (alKhatib. Menurut penuturannya. Menarik dikemukakan bahwa. dengan banyak pertimbangan dan dari hasil pengamatan Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib. 2002: 47). maka jatuhlah pilihan saya kepada Perti. Oleh karena itu. Padang yang dilakukannya sendiri. ia giat mengampanyekan Partai Islam Perti. Poster-poster dan simbol-simbol partai ia buat sendiri dan dengan biaya sendiri. padahal ia bukanlah pengurus atau pejabat dalam tubuh Partai Islam Perti itu. Tidak hanya itu. Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib pernah giat memperjuangkan Partai Islam Perti di Koto Tangah. Jika tidak masuk ke dalam salah satu partai. menjelang Pemilihan Umum pertama tahun 1955—saat di mana masing-masing partai gencar berkampanye mencari dukungan—terjadi ketegangan hubungan antara Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib dengan Angku Talaok akibat perbedaan pilihan partai di antara mereka (al-Khatib. Padang. Hal ini ia lakukan tidak lain karena menginginkan pilihan penduduk Koto Tangah. Hal ini memang terlihat agak berlebihan. Nah«atul Ulama. Partai Sarikat Islam. 2009: 91 . dan Partai Islam Perti. No.

Perti mengalami perpecahan di dalam tubuh organisasinya dengan adanya pro dan kontra terhadap gagasan Nasakom yang dicetuskan oleh Soekarno. Kalau saya masuk Golkar berarti ziarah bersama (bersyafar) ini tentu Syafar orang Golkar kata orang” (al-Khatib. Maka pada tahun 1969. Padang. Dalam hal ini menarik disimak penolakan ajakan untuk masuk ke partai Golkar oleh Angku Inyik Adam berikut ini: “Begini Inyik. Angku Talaok pernah diminta oleh para penganut tarekat Syattariyah di Batang Kabung dan sekitarnya untuk membantu mengajar di beberapa surau mereka. Akan tetapi. agar mudah mendapat bantuan dari pemerintah untuk renovasi makam Syekh Surau Baru di Batusingka.. Pada awal tahun 1950-an.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. bergerak di bidang sosial. adapun Beliau ini (Syekh Surau Baru–pen. banyak dan bahkan sebagian besar pengikut tarekat Syattariyah di Sumatera Barat yang masuk ke partai Gokar setelah Perti kembali berstatus organisasi nonpolitik. mendekritkan agar kembali kepada khitah semula. pendiri organisasi ini yang masih hidup pada waktu itu. 2002: 63).. Pengelolaan bidang pendidikan dan dakwah seolah-olah terlupakan kalau tidak dapat dikatakan terabaikan sama sekali.H. yang sebetulnya merupakan kawan seperguruan Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib sendiri ketika belajar dengan Syekh Paseban. yang telah lebih dahulu mengajar di surau Batang Kabung. Koto Tangah.) bukan orang partai. Kemelut yang kurang terbenahi ini sangat merugikan bagi tujuan semula organisasi. Penting dikemukakan di sini bahwa. Angku Inyik Adam mengajaknya untuk masuk ke dalam Partai Golkar. adalah Imam Maulana Abdul Manaf Amin. Dekrit ini hanya diterima oleh sebagian saja yang dipimpin oleh putranya K. Syekh Sulaiman ar-Rasuli. Ia pernah bersilang pendapat dengan Angku Inyik Adam.. Imam Maulana Abdul Manaf Amin menjadi anggota Partai Islam Perti. Saat itu. sementara di sisi lain. bukan pula ziarah bersama ini (bersyafar) tidak atas nama partai. Burhanuddin ar99 . khalifah tarekat Syattariyah dari Syekh Paseban.. Polemik tentang partai juga dialami oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib di era Orde Baru. Saat itu. dan beberapa surau lain di sekelilingnya. tidak dihitung partainya. ajakan itu ditolak oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin. yaitu status nonpolitik. — Pramono dan Bahren Islam Indonesia (PII). Bersyafar ini adalah atas nama kaum muslimin.

Dengan masuk ke dalam Golkar. 2003: 266). Berbagai argumen muncul dari ulama-ulama tarekat Syattariyah yang bergabung ke dalam partai Golkar. mereka mengajukan dalil. yakni Golkar. 1. penulisan riwayat hidupnya. akan lebih mudah untuk memberikan pelajaran tarekat kepada orangorang yang berada di dalam Golkar. Ia banyak menulis sejarah para 100 . misalnya sebutan Tuanku. 2009: 91 . Padang.108 Rasuli. Inyiek. Bagi yang sedikit maju dan cerdas. Bagi orang awam. yang banyak sekuler dan bercampur agamanya (Samad. ada juga ulama tarekat Syattariyah yang dengan tegas menolak bergabung dengan Golkar. ulama yang mencampuradukkan diri dengan politik itu adalah khianat pada tugas keulamaannya (Samad. Misalnya. Ada lagi alasan ulama bahwa merubah dan memperbaiki dari dalam jauh lebih mudah daripada memperbaiki dari luar. 2003: 268). Penghormatan terhadap Ulama Pemimpin Kaum Tua Di kalangan Kaum Tua di Minangkabau. Akan tetapi. almarhum Tuanku Salif dari Sungai Sarik. Menurut ulama ini. penyebaran buku-buku hasil karyanya. Padang Pariaman yang lama mengajar di Batang Kabung. Salah satu bentuk penghargaan itu adalah naskah-naskah karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib. 7. Bentuk penghargaan yang lain terlihat juga dalam pelestarian cita-cita dan perjuangan ulama terdahulu. dan kemudian dalam menyalurkan aspirasi politiknya bergabung dengan Golkar. Hal ini jika dikaitkan dengan kecenderungan pendapat ulama dalam tarekat Syattariyah yang besar pengaruhnya terhadap sikap kaumnya. No.Jurnal Lektur Keagamaan. menurut mereka pilihan guru kepada Golkar adalah petunjuk Allah yang harus diterima. daripada kita menumpang kapal kecil lebik baik naik kapal besar. Dalam konteks penghargaan ulama pemimpin Minangkabau dalam bentuk penulisan riwayat hidupnya dan penyebaran buku-buku hasil karyanya banyak ditemukan di Minangkabau. Syekh dan Maulana. menurut mereka. Bentuk penghargaan yang terakhir ini sangat menarik dan penting untuk dijelaskan. Vol. Koto Tangah. Sangat dimungkinkan bahwa Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib yang juga menolak ajakan masuk ke Golkar karena terpengaruh sikap Tuanku Salif ini. penghormatan kepada ulama-ulama pemimpin mereka terlihat pada gelar-gelar yang diberikan.

supaya tarekatnya diterima oleh orang kampung yang buta ilmu pengetahuan agama. amin ya rabbil ‘alamin.dengan adanya ketiga buku sejarah ini dapatlah saudara-saudara yang menjadi pengikut dan pencinta Syekh Abdurrauf dan Syekh Burhanuddin mengetahui bagaimana beliau-beliau ini mengembangkan agama Islam dan dapat kejelasan apakah mazhab beliau. Berikut ini dapat dilihat gambaran tentang bantahan terhadap kritikan dari pihak luar. 2001: 12-13). Penulisnya mengharapkan 101 .. apakah bilangan yang beliau pakai untuk menentukan tanggal satu hari bulan Arab. yang dimaksud dengan “ketiga buku sejarah ini” dalam kutipan di atas oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib adalah teks sejarah Syekh Abdurrauf.. yaitu orang yang menghormati dan memuliakan ulama dan mudah-mudahan Allah memberi berkat atas usaha saya. akhir-akhir ini banyak pula keluar di surat-surat kabar dan majalah-majalah yang memutarbalikkan sejarah beliau yang berdua ini yang jauh berbeda dengan yang dalam buku ini. Syekh Burhanuddin. Amin. Batang Kabung. Mudah-mudahan dengan menulis sejarah beliau.. Syekh Paseban ini. maka akan mendapat berkah dan keselamatan baik di dunia maupun di akhirat. Begitu pula ikan-ikan dalam laut.M menyuruh kita menghormati dan memuliakan ulama. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut ini: “. Tidak surat-surat kabar dan majalah saja yang memutarbalikkan sejarah beliau-beliau ini. — Pramono dan Bahren syekh dan ajaran-ajarannya. maka saya termasuk orang yang dianjurkan Nabi tadi. Jika ada golongan lain mengkritik ajaran guru. dan Syekh Surau Baru. Sebab. Dengan menulis sejarah guru atau syekh.. jangan asal dimasuki saja” (al-Khatib. yang kesimpulannya penghuni langit dan bumi menghormati ulama. Demikianlah supaya kita berhati-hati menerima sejarah dan menerima tarekat dari guru tarekat.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. Ajaran guru adalah sesuatu yang benar dan tidak boleh dibantah. Padang” (al-Khatib.. Tetapi juga guru-guru tarekat kampung memutarbalikkan pula sejarah Syekh Abdurrauf dan sejarah Syekh Burhanuddin. 1936: 5). Saya yang menulis adalah salah seorang dari murid beliau yang bernama Haji Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib.sudah jelas oleh kita bahwa Nabi kita Muhammad S. “. Tentu kita lebih menghormati ulama dari pada mereka. Perlu dijelaskan di sini bahwa. maka harus diluruskan.. Dalam teks yang terdapat dalam hampir seluruh naskah karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin alKhatib menempatkan guru sebagai orang yang harus dihormati.

paham gurulah yang benar. maka tidak boleh mengikut paham tersebut. yaitu pagi-pagi didukung guru di hulu dari tempat tinggalnya ke tempat dia mengajar. seperti berikuit ini: “. Selain menuntut ilmu juga kerja beliau Syekh Abdurrauf di Madinah adalah mengembalakan unta Tuan Syekh Ahmad al-Qusyasyi tiap-tiap hari. Mereka tidak akan ikut salat tarawih di bulan Ramadan.. walaupun pemerintah telah mengumumkan awal memasuki puasa Ramadan. Jika patuh dan hormat terhadap guru. karena menurut fatwa gurunya yang benar adalah mengerjakan salat tarawih itu dua puluh tiga rakaat.108 bahwa dengan adanya ketiga sejarah syekh tersebut. Menghormati guru juga diyakini berimplikasi terhadap cepatnya pemahaman ilmu yang diajarkan oleh sang guru. Dalam teks sejarah Syekh Abdurrauf Singkil misalnya. Syekh Ahmad al-Qusyasyi. Untuk menentukan awal bulan Ramadan dilakukan dengan ru’yah (melihat bulan) terlebih dahulu. Namun. No. Beliau tetap hormat dan khidmat serta patuh terhadap guru beliau. Misalnya. Sangat patuh dan sangat hormat kepada guru apa yang diperintahkannya oleh guru ti- 102 . 2009: 91 .. Begitulah kerja beliau Syekh Abdurrauf tiap-tiap harinya. sebagian besar pengikut tarekat Syattariyah tidak akan salat Jumat apabila khutbah dilaksanakan tidak menggunakan bahasa Arab. jika salatnya dilakukan sebanyak sebelas rakaat.Jurnal Lektur Keagamaan. Malahan beliau terima hal yang demikian dengan hati yang ikhlas dan bertawakal kepada Allah swt. 7. tidak birasak-birasak sekedar lamanya. begitu hati beliau terhadap guru tidak menaruh bosan dan berkecil hati. di dukung pula ke tempat tinggal beliau. Oleh karena suatu paham tidak sesuai atau berlainan dengan fatwa guru yang diterimanya. Vol. Sudah itu terus pergi gembala unta ke tengah padang. Begitu pula petang-petangnya setelah memasukkan unta ke kandanganya maka pergi pula menjemput guru ke mesjid. Tambahan lagi. sebagai mengkhidmati guru beliau tetap mendukung guru dari tempat tinggalnya kepada tempat dia mengajar ilmu di Masjid Nabawi. Artinya itu-itu saja pelajaran yang diberikan oleh Syekh Ahmad al-Qusyasyi hingga sampai kepada masa akan kembali pulang. 1. maka pemahaman ilmu akan datang dengan tidak disangka-sangka. maka pengikut tarekat Syattariyah akan memahami bagaimana ketiganya beramal ibadah. dikisahkan tentang bagaimana bentuk penghormatannya kepada gurunya.tetapi pelajaran [bang] yang [berikan] diberikan oleh Syekh Ahmad Qusyasyi hanya surah al-Baqarah saja. bagaimana mereka menentukan awal bulan Arab. dan seterusnya.

1936:8-9). Dalam teks sejarah Syekh Burhanuddin juga dikisahkan tentang bentuk penghormatan yang dilakukan kepada gurunya. Kepatuhan itu akan membawa berkah. Teks-teks yang terkandung dalam naskah-naskah karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib. seperti berikut ini: “Adapun kaji yang diberikan yang diberikan oleh Syekh Abdurrauf kepada Burhanuddin adalah surah al-Fatihah saja tidak berasak-asak sekedar lamanya.. Bagi para penganut tarekat Syattariyah. Begitulah kerja Burhanuddin selama menuntut ilmu di Aceh dalam masa tiga puluh tahun. agar ilmu yang didapat beroleh berkah. Syekh Abdurrauf Singkil. — Pramono dan Bahren dak pernah membantah dan waktu bersalam mencium tangan guru” (alKhatib. memuliakan guru agar mendapat syafaatnya (limpahan rahmat). yaitu mendukung guru dari tempat tinggalnya ke tempat mengajar. mengetahui riwayat guru adalah sebuah keharusan karena itu bermakna penghormatan kepada guru. membaca ataupun mendengar orang membacakan riwayat gurunya. yaitu di masjid. Ia harus diperoleh dengan perjuangan yang sungguh-sungguh tidak kenal menyerah. Amanat “tidak kenal menyerah” itu senantiasa terwaris dari guru yang satu ke guru berikutnya. Syekh Ahmad al-Qusyasyi. yaitu kambing tiap-tiap hari. untuk kemudian menjadi suri teladan bagi kehidupannya. dan lagi menggali tebat (kolam) ikan di sekeliling masjid.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. 103 . Adapun adab dan tertib Burhanuddin kepada gurunya Syekh Abdurrauf di dalam menuntut ilmu tidak ada ubahnya seperti adab dan tertib Syekh Abdurrauf pula terhadap gurunya. Di samping itu.” (al-Khatib. banyak sedikitnya memperlihatkan pandangan tentang hubungan guru-murid yang secara eksplisit mengarahkan agar para murid dan pengikut tarekat Syattariyah merasa (ataupun diwajibkan) mengenal riwayat syekh yang menjadi gurunya atau guru dari gurunya.. Kedua kutipan di atas... kedua kutipan tersebut juga berpesan kepada pembacanya bahwa sebuah ilmu tidaklah diperoleh dengan mudah. 1992: 20-21). Selain mendukung guru juga Burhanuddin menggembalakan ternak Syekh Abdurrauf. Oleh karena itu orang berusaha untuk memiliki. menggambarkan sekaligus mendorong kepatuhan murid kepada guru. adab kepada guru. sehingga pelajaran diperoleh dengan mudah dan sempurna.

7. Bahkan penghormatan yang demikian masih terus berlangsung meskipun guru yang bersangkutan telah meninggal dunia. Dalam pandangan mereka roh seorang syekh yang sudah meninggal masih dapat memberikan pertolongan kepada murid-muridnya. dalam pengajian tarekat Syattariyah dilakukan atas dasar pandangan bahwa guru adalah orang yang suci dan dekat kepada Allah. Oleh karena itu. Perintah dan larangan guru bersifat mutlak dan mengikat. dapat memperlakukan muridnya sesuai dengan aturan yang ditetapkan. 1. No. Syekh Burhanuddin. 3) Tatkala jiwa akan berpisah dengan badan (me- 104 . Vol. kedurhakaan terhadap syekh akan menimbulkan malapetaka bagi murid-murid. baik secara duniawi maupun setelah ia meninggal. Sebaliknya. Seorang guru melalui prosesi bai’ah yang sudah dilakukan sebelumnya. apalagi membantah guru. Sebaliknya. Kedurhakaan terhadap syekh akan berakibat luas terhadap kehidupan murid. di kalangan Syattariyah berlaku ungkapan bahwa ”seorang murid di hadapan guru ibarat sesosok mayat di tangan orang yang memandikannya” (Samad. dan Syekh Surau Baru.108 Oleh karena merasa “wajib” untuk mengetahui riwayat dan ajaran para syekh tersebut. Dari naskah-naskah itu jelas bahwa syekh sebagai pemimpin menjadi sentral dalam pembentukan ideologi penganut tarekat Syattariyah Kaum Tua) di Minangkabau. murid secara sukarela harus menerima dan mematuhi segala bentuk aturan yang telah ditetapkan guru kepadanya. Selain itu.Jurnal Lektur Keagamaan. yaitu: 1) Allah akan menyempitkan rezekinya di dunia. Karena itu. 2009: 91 . menarik untuk dipaparkan tentang sejarah teks yang menceritakan sejarah Syekh Abdurrauf. Murid tidak boleh banyak mempertanyakan tentang “mengapa” dan “apa sebabnya”. Padang yang ingin memiliki naskah-naskah karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib. sebagai sumpah setia murid kepada gurunya. penghormatan dan penghargaan terhadap guru. Setidaknya menurut keyakinan mereka. 2003: 147-148). 2) Allah akan mencabut berkat ilmu yang telah dipelajarinya dari sang guru. ada tiga hal yang akan terjadi bagi seorang murid yang durhaka kepada gurunya. mereka selalu berziarah mengunjungi makam untuk mendapatkan berkah sekaligus sebagai bukti kesetiaan terhadap guru tersebut. Perihal banyaknya peminat naskah-naskah karyanya itu. maka banyak kalangan penganut tarekat Syattariyah. khususnya di Koto Tangah.

penghormatan terhadap pemimpin memberikan tauladan agar murid pun harus berperilaku (beribadah) seperti sang guru: pola hidup sederhana (zuhud)dan tidak ambisius (qan±’ah). Penutup Pertemuan Islam dengan budaya lokal Minangkabau telah menjadikan corak kepemimpinan yang khas. 2006. Dr. “Gerakan Kaum Tua di Minangkabau”. M. Latief. Jakarta: IAIN Syarif Hidayatullah. Depok: Pascasarjana UI. sehingga dia mati dalam keadaan tidak beriman (al-Khatib. H. riwayat dan ajarannya ditulis dan disebarkan. 2002. — Pramono dan Bahren ninggal). 1984. Desertasi. Tulisan itu memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi kemajuan ummat. Hamka. tetapi juga di bidang sosial-budaya dan politik. khususnya pada golongan Kaum Tua. Harun (Ketua Tim). Nasution. 1988. 105 . riwayat dan ajarannya dijadikan rujukan untuk pengambil keputusan. Prof. 1992: 30). Mereka dihormati. tidak hanya masalah keagamaan tetapi juga masalah sosial budaya serta politik yang mereka hadapi. “Postkolonialisme Indonesia”.[] Daftar Pustaka Fathurahman. Jakarta: Pustaka Panjimas. Islam dan adat Minangkabau. khususnya dalam membangun kepribadian dan moral. Allah akan mencabut iman yang ada di dada murid.. dkk. Kekhasannya ini tampak pada pola kepemimpinannya. (Disertasi S3). Sanusi. Di antara sumbangannya yang dapat dicatat adalah sebagai berikut ini. Laporan Penelitian. tingkah lakunya diikuti. Jakarta : Djambatan. 2003. Pertama.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. Para ulama pemimpin Kaum Tua itu berperan tidak hanya di bidang keagamaan saja. Oman. Suaranya didengar. Nyoman Kutha. Ratna.. Denpasar : Program Pascasarjana Program Doktor (S3) Kajian Budaya Universitas Udayana. sebagai penerang di dunia bahkan sampai di akhirat. “Tarekat Syattariyah di Dunia Melayu-Indonesia: Kajian Atas Dinamika dan Perkembangannya Melalui Naskah-Naskah di Sumatera Barat”. Ensiklopedi Islam Indonesia (Jilid 3 O-Z). Kedua.

Koto Tangah. Syair Sunur: Teks dan Konteks Otobiografi Seorang Ulama Minangkabau Abad Ke-19. Manuskrip al-Khatib. Duski. Batang Kabung. Padang Sumatra Barat. Batang Kabung. Sejarah Ringkas Syekh Paseban al-Syatari Rahimahulallahu Taala. Padang Sumatra Barat. M dkk. 7. naskah tulisan tangan koleksi Imam Maulana Abdul Manaf Amin. Laporan Penelitian Kelompok Kajian Puitika Fakultas Sastra Unand. ------. “Manuskrip dan Skriptorium Minangkabau. 2004. 2001. Perubahan. Koto Tangah. 106 . Batang Kabung. Koto Tangah. 1992. Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah. naskah tulisan tangan koleksi Imam Maulana Abdul Manaf Amin. Koto Tangah. dan Dinamika Tarekat di Minangkabau” (disertasi). “Tradisionalisme Islam di Tengah Modernisme: Kajian Tentang Kontinuitas. Vol. Padang Sumatra Barat ------. Imam Maulana Abdul Manaf Amin. Batang Kabung. Padang Sumatra Barat.Jurnal Lektur Keagamaan. 1936. Suryadi. Inilah Sejarah Ringkas Auliyaullah al-Salihin Syekh Abdurrauf (Syekh Kuala) Pengembang Agama Islam di Aceh. ------. 2003. Kitab Riwayat Hidup Imam Maulana Abdul Manaf Amin. ------. 2002. Inilah Sejarah Ringkas Auliyaullah al-Salihin Syekh Burhanuddin Ulakan yang Mengembangkan Agama Islam di Daerah Minangkabau. tt. Batang Kabung. naskah tulisan tangan koleksi Imam Maulana Abdul Manaf Amin. Yusuf. Sejarah Ringkas Shaikh Muhammad Nasir (Syekh Surau Baru). Padang Sumatra Barat. 1. naskah tulisan tangan koleksi Imam Maulana Abdul Manaf Amin. naskah tulisan tangan koleksi Imam Maulana Abdul Manaf Amin. No. Koto Tangah. 2009: 91 . Padang : Citra Budaya. 2004.108 Samad.

— Pramono dan Bahren Lampiran: Gambar 1: Imam Maulana Abdul Manaf Amin Al-Khatib (w.. 2006) dan Naskah-naskah Tulisannya Gambar 2: Naskah Sejarah Ringkas Auliyaullah al-Salihin Syekh Burhanuddin Ulakan yang Mengembangkan Agama Islam di Daerah Minangkabau (1992: 2) 107 .Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua..

Jurnal Lektur Keagamaan. Pengembang Agama Islam di Aceh (1936: 1) 108 . No. Syekh Abdurrauf (Syekh Kuala).108 Gambar 3: Naskah Sejarah Ringkas Auliya’ullah al-Salihin. 7. Vol. 1. 2009: 91 .

Peran Penting Pernaskahan... — Agus Aris Munandar

Peran Penting Pernaskahan dan Benda Khazanah Keislaman Lainnya dalam Kajian
Arkeologi Islam di Indonesia *
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, Depok

Agus Aris Munandar

This writing is studying the important position of the written data, particularly related to the Islamic classical manuscripts in Islamic archeology. The written data from the written sources in the study of Islamic archeology are as follow: (a) It functions as the supporting study toward the artefactual data; (b) To widen good understanding on the position and the role of the artefact in society at the period; (c) Data from written sources could be the basic of the research and a framework for the study of Islamic archeology; and (d) To encrich interpretation to develop historiography. The position of the written sources is getting more and more important in the stage of historiography as some parts of the archeological studies which are remain unknown can be helped by the study from the written sources. In the end, this effort will be able to open new insight and interpretation and to widen historiographical narration in order to make the study of archeology to be more and more dynamics. Kata kunci: Arkeologi-religi, artefak, naskah, khazanah, historiografi

Pengantar Perkembangan Islam di wilayah Nusantara berdasarkan bukti arkeologis telah terjadi sejak abad ke-11 M. Hal itu didasarkan dengan penemuan nisan Fatimah binti Maimun bin Hibatullah di daerah Leran Gresik Jawa Timur, pada nisan itu dipahatkan angka tahun 475 H atau 1082 (Tjandrasasmita 1986: 2). Berdasarkan hal
Tulisan ini pada mulanya merupakan makalah yang disampaikan dalam Diskusi Pengembangan Wawasan SDM Tenaga Fungsional Puslitbang Lektur Keagamaan, 24 Februari 2009 di Ruang Sidang Badan Litbang Lektur Keagamaan, Jakarta.
*

109

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 109 - 132

itu terdapat dua kemungkinan yang mengemukan, yaitu: (1) tokoh Fatimah yang dimakamkan itu adalah orang Jawa yang telah memeluk Islam, atau (2) ia muslimah pendatang yang karena suatu sebab meninggal dan dimakamkan di Gresik. Selain nisan, dalam kajian para ahli Belanda dahulu tidak melaporkan adanya temuan serta lainnya dari situs nisan Fatimah binti Maimun. Akibatnya tidak ada lagi data yang dapat menyokong terjadinya interpretasi baru atas kasus temuan nisan Fatimah binti Maimun. Masalah nisan Fatimah binti Maimun sebenarnya hanya salah satu contoh saja dari banyak permasalahan kajian arkeologi Islam di Indonesia. Suatu kajian terhadap bentuk religi harus pula menjelaskan 4 hal yang berkenaan dengan eksistensi religi tersebut, yaitu: a. Historical explanations, yaitu usaha untuk menjelaskan keberadaan suatu agama pada suatu masa sejak agama itu mulai ada, bertahan, dan berkembang dalam tahap selanjunya. b. Structural explanations, upaya untuk menjelaskan keberadaan suatu agama berkenaan dengan para penentu perkembangan agama, menjelaskan hal-hal penting yang menjadi dasar terbentuknya masyarakat pemeluk agama. c. Causal explanations, upaya menjelaskan keadaan agama dalam masyarakat dengan mengacu kepada kondisi dan suasana masyarakat sebelum agama itu timbul. d. Functional explanations, menjelaskan suatu keadaan sehingga agama tersebut mempunyai fungsi dalam masyarakat (Spiro 1977: 99—101). Keempat fokus utama kajian agama tersebut kiranya dapat dikerjakan secara baik bilamana berkenaan dengan keadaan agama yang masih hidup di masa sekarang, yang masih ada masyarakat pemeluknya, dan dalam pertalian kekinian. Akan sukar kiranya jika keempat kajian tersebut diterapkan untuk meneliti kehidupan agama yang pernah berkembang di masa silam. Walaupun agama yang dimaksudkan itu sampai sekarang masih ada pemeluknya, namun pemeluk agama masa lalu tentu sudah tiada dan juga secara sosiologis akan berbeda kondisi mereka dengan pemeluk agama masa sekarang. Oleh karena itu kajian keagamaan masa lalu niscaya tidak akan sempurna lengkap, pasti ada yang rumpang. Hal itu bukan karena 110

Peran Penting Pernaskahan... — Agus Aris Munandar

ketidakmampuan peneliti menarik sintesa dan tafsiran, melainkan memang datanya yang terbatas. Data kajian perkembangan agama Islam pada tahap awalnya, tentu bertumpu kepada sumber-sumber tertulis dan data artefaktual yang bersifat fisik. Jika kedua macam data itu dalam kondisi bagus tentu akan membantu memperlancar proses kajian, tetapi seringkali kondisi data yang ada itu telah rusak sebagian, atau hilang. Begitupun dari data yang ada dan masih bertahan hingga kini belum tentu juga dapat dipergunakan dalam kajian, karena memang tidak sesuai dengan permasalahan yang akan dipecahkan. Dalam membahas perkembangan agama dari suatu lingkup kebudayaan, menurut disiplin antropologi sebaiknya harus memperhatikan lima butir unsur agama yang saling berkaitan satu sama lain. Kelima butir itu selayaknya diperhatikan sesuai dengan proporsi data yang tersedia, tergantung pada zamannya serta kualtitas dan kuantitas data yang tersedia. Bagan yang memperlihatkan lima butir unsur religi adalah sebagai berikut:
Bagan I: Unsur-Unsur Religi
SISTEM KEPERCAYAAN

UMAT AGAMA

EMOSI KEAGAMAAN

PERALATAN RITUS & UPACARA

SISTEM RITUS & UPACARA

[Koentjaraningrat, 1980: 80—3]

Apabila dikembalikan kepada ketersediaan data sudah tentu tidak semua butir tersebut dapat dikaji secara baik. Jika membicarakan perkembangan agama di masa silam, tentunya yang masih dapat diamati secara langsung adalah sisa peralatan ritus dan upacara. Sistem kepercayaan yang mungkin termaktub dalam kitab-kitab keagamaan, dan sedikit tentang sistem ritus dan upacara 111

Sedangkan gambaran umat agama. Kemudian terdapat masyarakat biasa yang menjadi rakyatnya. langkah kehidupan dan lain-lain. 1. Dalam kondisi peradaban masyarakat yang relatif maju seperti itulah pengaruh kebudayaan luar mulai diperkenalkan oleh para musafir India. Penduduk kepulauan Indonesia masa itu telah menetap dan membentuk perkampungan. dan luas wawasannya. Dalam periode tersebut mulailah terbentuk komunitas-komunitas yang teratur dipimpin oleh ketua kelompok. Sang pemimpin didampingi oleh seseorang yang dituakan.132 yang dalam penafsirannya harus meminta bantuan analogi pada masyarakat masa kini. Bantuan analogi itu dilakukan dengan syarat masyarakat yang dijadikan bahan komparasi masih melaksanakan praktek keagaaman yang mirip dengan agama-agama masa silam. Nenek moyang bangsa Indonesia merasa tertarik dan 112 . apalagi emosi keaagamaan agak sukar untuk dikemukakan dan dikaji. emosi keagamaannya pun sukar digali kembali.Jurnal Lektur Keagamaan. rumah-rumah mereka panggung. fenomena alam. Babakan Perkembangan Kebudayaan di Indonesia Perkembangan kebudayaan Indonesia diawali dan didasari pada kebudayaan prasejarah. Kontak-kontak dengan para musafir dari India dan Cina sangat mungkin mulai terjadi di awal tarikh Masehi. apabila tidak maka tiada mungkin dilakukan. 7. Walaupun demikian ahli para peminat sejarah kebudayaan harus berupaya semampunya dengan --berdasarkan data yang ada-. Jadi mereka tidak mungkin datang ke wilayah-wilayah yang sepi penduduknya. No. Tahapan prasejarah yang paling penting di Indonesia adalah masa bercocok tanam tingkat lanjut yang bersamaan dengan berkembangnya kepandaian perundagian.untuk tetap mencoba menjelaskan pula butir-butir tersebut. dianggap mempunyai banyak pengalaman. 2009: 109 . Masa tersebut sangat mungkin dimulai sekitar tahun 500 SM hingga ditemukannya aksara pertama dalam prasasti di wilayah Indonesia (sekitar abad ke-4 atau 5 M). kepada tokoh itulah masyarakat bertanya perihal berbagai hal. sebab masyarakatnya telah tiada. Vol. masih mungkin untuk dikaji. Agaknya para niagawan dari India atau Cina tersebut berkunjung ke komunitaskominitas nenek moyang bangsa Indonesia yang dapat dianggap berinteraksi.

artinya tidak pernah dimiliki sebelumnya oleh masyarakat masa itu. Hanya tiga anasir budaya saja yang sebenarnya diterima dari kebudayaan India. Zaman berkembangnya pengaruh India dalam masyarakat Indonesia kuna lazim dinamakan dengan zaman Hindu-Buddha atau zaman Klasik Indonesia. yaitu (1) agama HinduBuddha. bernama Samudra Pasai. Sebelum kedatangan Islam di wilayah-wilayah tersebut telah ada komunitas-komunitas membentuk sistem pemerintahan tradi113 . Hubungan niaga yang ramai antara wilayah Indonesia barat dan timur turut mempercepat proses penyebaran agama Islam. dan (3) sistem penghitungan tahun Saka.Dalam jalur niaga tersebut turut serta para ulama penyebar Islam. bangunan pe-tirtha-an (bangunan air suci).Peran Penting Pernaskahan. Islam tidak berkembang dalam kurun waktu yang bersamaan di Nusantara. dan di bagian-bagian lain Indonesia mungkin masih dalam zaman proto-sejarah (beberapa daerah telah dicantumkan dalam kakawin Nāgarakrtāgama yang selesai digubah oleh Mpu Prapanca tahun 1365 M). dan wilayah Kalimantan Timur. Sumber tradisi juga menyebutkan adanya peranan para ulama dari wilayah Sumatra Barat yang aktif menyebarkan Islam di Sulawesi Selatan. namun perkembangannya semakin merata mulai abad ke-15 M. (2) aksara Pallava. Kemajuan arsitektur bangunan suci juga didasarkan pada kaidah keagamaan Hindu atau Buddha. Berlandaskan ajaran agama Hindu-Buddha berkembanglah sistem pemerintahan kerajaan.. — Agus Aris Munandar perlu untuk menerima kebudayaan dari India oleh karena itu mereka menerimanya. Seraya itu di Pulau Jawa masih berdiri kerajaan Singhasari yang bercorak Hindu-Buddha. dalam hal ini bentuk-bentuk arsitektur candi yang tidak pernah sama antara satu bangunan dengan lainnya (unikum). dan bangunan pahat batu (rock-cut) yang digarap secara baik. Ketiganya benar-benar merupakan sesuatu yang baru. di wilayah Sumatra bagian utara telah berdiri kerajaan Islam pertama di Nusantara. dalam hal ini raja dianggap sebagai dewa yang menjelma ke dunia. Sekitar pertengahan abad ke-13 M. bahkan niagawan itu sendiri adalah ulama penyebar Islam.. Berdasarkan sumber-sumber tradisi dapat diketahui bahwa wilayah Indonesia Timur (Nusa Tenggara dan Maluku) menerima Islam karena upaya para mubalig dari pesantren-pesantren di Jawa Timur.

Dalam proses dinamika kebudayaan bentuk-bentuk akulturasi tersebut sebenarnya turut memperkaya khazanah peradaban yang ada. selain ajaran agama itu sendiri terdapat beberapa perolehan lainnya. Di beberapa wilayah Nusantara terdapat masyarakat yang sampai sekarang memeluk agama Islam secara taat. Religi yang berkembang pun secara hipotetis masih merupakan pemuliaan terhadap arwah nenek moyang. diperkenalkannya sistem persenjataan dengan mesiu. 7. bentuk meander. misalnya digunakannya huruf Arab. Di beberapa wilayah terdapat pula masyarakat yang masih mempertahankan aspek-aspek kebudayaan Hindu-Buddha yang telah dipadukan dengan anasir dari agama Islam. Walaupun demikian di Jawa juga terdapat daerah-daerah yang keislamannya relatif menonjol dengan sedikitnya pengaruh dari tradisi lama. dan terbentuknya kota-kota pelabuhan baru tempat bermukimnya masyarakat yang telah memeluk agama Islam. dikenalnya tahun Hijriah. Vol. tanpa melalui sistem kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha sebagaimana halnya di Jawa. Cukup banyak peradaban Nusantara yang mendapat pembaharuan dalam zaman awal perkembangan agama Islam. bunga teratai dan lainnya lagi pada kepurbakalaan Islam seperti pada bangunan cungkup makam. cara berpakaian yang hampir menutup seluruh tubuh. tempat merebaknya kebudayaan HinduBuddha yang relatif lama. 114 .132 sional yang masih bercorak tradisi perundagian. Dengan demikian perkembangan kebudayaannya dapat dinyatakan dari masa prasejarah protosejarah sejarah dengan masuknya Islam. No.Jurnal Lektur Keagamaan. maka terdapat fenomena adanya bentukbentuk akulturasi antara Islam dengan tradisi yang telah dikenal dalam agama Hindu-Buddha. 2009: 109 . tapak dara. tanpa adanya bentuk akulturasi dengan kebudayaan yang berkembang sebelumnya. sehingga hampir-hampir menutupi agama Islam yang secara resmi dipeluk dalam masyarakat. antara lain terlihat pada penggunaan atap tumpang pada masjid-masjid kuna yang sebelumnya dipergunakan untuk menaungi candi-candi zaman Majapahit. Ornamenornamen masa Hindu-Buddha juga masih dipertahankan di kompleks keraton Islam di Jawa. Lain halnya di Jawa. Wacana Bentuk akulturasi ketika agama Islam sudah berkembang di Jawa dengan tradisi yang telah dikenal sebelumnya. Aspek kebudayaan hasil perpaduan tersebut dirasakan sangat dominan dalam masyarakat tertentu. 1. tubuh makam (jirat) dan juga pada nisannya. Penggunaan ragam hias dari masa Hindu-Buddha seperti sulur-daun.

ada daerah yang lebih dahulu berkenalan dengan orang-orang Belanda. juga dikenal bentuk suluk yang berisikan ajaran-ajaran tasawuf. dan lain-lain lagi. kerajaan. Masa pertumbuhan kerajaan Islam terentang antara abad ke13 hingga 17 M. Akan halnya di wilayah Jawa bagian barat.Peran Penting Pernaskahan. tentang berdirinya suatu kota. Dengan demikian proses akulturasi yang terjadi antara peradaban Eropa barat yang dibawa Belanda dengan kebudayaan daerah-daerah setempat tentunya berbeda dalam hal rentang waktu dan intensitasnya. dan jatuhnya istana Pakuwan Pajajaran sebagai ibu kota kerajaan Sunda pada sekitar tahun 1579/1580 M. salasilah. lontara. babad kisah sejarah dari sudut pandang tradisional. dalam masa itu banyak kerajaan Islam di kepulauan Indonesia yang silih berganti tumbuh dan berkembang. mungkin ditandai dengan berdirinya Kesultanan Cirebon. dan Arab. yaitu Demak (sekitar tahun 1500 M) yang menurut sumber tradisi merupakan penerus kerajaan Majapahit.. Di wilayah Jawa Tengah perkembangan Islam ditandai dengan berdirinya kerajaan Islam pertamanya. Hampir seluruh wilayah Nusantara mempunyai lapisan kebudayaan yang dipengaruhi oleh agama Islam. tambo. Jawa. Di luar Jawa dikenal karya sastra dalam bentuk hikayat. dan lain-lain. tetapi Bali adalah daerah terakhir yang diduduki kekuatan Belanda setelah puputam Klungkung 1906 M. hanya beberapa saja yang dalam perkembangan kebudayaannya tidak mendapat pengaruh Islam. masuk dan berkembangnya Islam terjadi lebih kemudian. Setelah pertumbuhan kebudayaan Hindu-Buddha menyusul kemudian masuk dan berkembangnya Islam yang berbeda-beda di tiap wilayah. — Agus Aris Munandar Dalam bidang kesusastraan masa Islam juga cukup maju. Dengan demikian diskusi tentang pembabakan dalam sejarah kebudayaan Indonesia merupakan hal yang agak rumit. Di Jawa selain dikenal bentuk kidung (puisi karya etnis Jawa). Akibatnya dapat dipahami apabila di wilayah tertentu Indonesia pengaruh kebudayaan Eropa (Belanda) jauh lebih kentara. Begitupun masuknya kekuatan kolonial Belanda di wilayahwilayah Indonesia tidak dalam periode yang sama. karya sastra-karya sastra umumnya ditulis dengan aksara Arab atau aksara Jawa dengan bahasa Melayu. atau kalaupun ada hanya bersifat tipis saja. tidak seluruh wilayah Indonesia mengalami perkembangan kebudayaan 115 .. peperangan.

No. 7. Masa “pergaulan” dengan kebudayaan luar berlangsung cukup lama. Wilayah-wilayah tertentu mempunyai corak kebudayaan yang berbeda dari yang lainnya. Bagan II : Perkembangan Kebudayaan di Jawa Garis tersebut akan berbeda apabila dibandingkan dengan kebudayaan yang berkembang di Pulau Bali. walaupun terdapat beberapa daerah yang memiliki perkembangan yang hampir mirip. sebab Bali mempunyai perkembangan kebudayaan yang tidak banyak dipengaruhi anasir budaya luar.Jurnal Lektur Keagamaan. 4. maka di Pulau Dewata masa proto-sejarahnya relatif lebih lama daripada yang berlangsung di Jawa. namun prasasti yang ditemukan di Bali sendiri baru 116 . Terdapatnya etnis yang secara sadar menolak adanya pembaruan akibat pergaulan dengan kebudayaan luar tersebut. Berdasarkan adanya macam perbedaan tersebut. Sebagai contoh berikut diuraikan bagan perkembangan kebudayaan di Jawa. Intensitas “pergaulan” yang relatif mendalam. Perkembangan kebudayaan di Bali terlihat dalam bagan berikut: Bagan III : Perkembangan Kebudayaan di Bali Apabila menelisik data sejarah dan arkeologi. Vol.132 dalam tahap-tahap yang sama. 1. pengaruh itu terjadi baru awal abad ke-20 M. Pulau Bali telah disebut-sebut keberadaannya oleh berita Cina dinasti T’ang dan prasasti-prasasti di Jawa dalam abad ke-8. Sedikitnya pengaruh kebudayaan luar. 3. hal itu sangat mungkin terjadi karena: 1. 2. maka garis perkembangan kebudayaan di wilayah-wilayah Indonesia menjadi bervariasi. 2009: 109 .

semula dari sistem tradisional kolano ke bentuk kesultanan (Putuhena 1980: 268). Sudah tentu wilayah-wilayah lainnya di Indonesia akan mempunyai tahapan perkembangan kebudayaan yang berbeda-beda pula. pada waktu yang bersamaan dengan tumbuh kembangnya kesultanan-kesultanan Islam.. Mengwi dan lain-lain. tokoh inilah yang mengalami masa transisi dalam sistem pemerintahannya. karena politik perdagangan cengkeh bangsa-bangsa barat yang berebutan untuk menguasai Maluku Utara. Karangasem. Buleleng. — Agus Aris Munandar dijumpai dalam tahun 835 S (913 M) dalam masa pemerintahan Sri Kesari Warmadewa (Goris 1965: 9). Sementara itu bukti tertulis lokal yang menceritakan perihal daerah itu sendiri baru didapatkan pada paruh pertama abad ke-15 M. Masa kolonial lebih awal terjadi di daerah tersebut. Tahapan perkembangan kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha tidak dimiliki di wilayah Maluku Utara. Di wilayah Maluku utara perkembangan kebudayaannya pun berbeda pula dengan daerah lainnya. di Bali berkembang kerajaan-kerajaan kecil dengan latar belakang Hindu-Bali.Peran Penting Pernaskahan. sebab tercatat penguasa pertama di Ternate ialah Sultan Zainal Abidin (1486-1500 M). Walaupun demikian tahap perkembangan kebudayaan 117 . secara ringkas dapat terlihat pada bagan berikut: Bagan IV : Perkembangan Kebudayaan di Wilayah Maluku Utara (Putuhena. seperti Klungkung. 1980) Masa protosejarah di wilayah Maluku utara agaknya berlangsung cukup lama (antara awal tarikh Masehi hingga sekitar abad ke14 M). ketika daerah tersebut telah dikenal dalam catatan para pendatang dan sumber-sumber tertulis etnis lain di Indonesia.. Begitupun di Bali tidak pernah berdiri kerajaan Islam sebagaimana di Jawa atau Sulawesi selatan. hal itulah yang sebenarnya menjadi salah satu masalah yang harus diperhatikan manakala hendak disusun suatu historiografi tentang kebudayaan.

(2) nilai agama. Semua aspek kebudayaan yang ditelaah dalam suatu historiografi kebudayaan sudah sewajarnya apabila mengikuti kronologi yang dapat dianggap “seragam” sejak masa prasejarah hingga zaman Kemerdekaan. Berdasarkan data yang ada. 1.Jurnal Lektur Keagamaan.132 seperti itu harus dijadikan acuan kronologis demi untuk memudahkan penulisan dan agar pembicaraan tidak berkembang menjadi tidak terarah. 2009: 109 . 7. No. (3) nilai seni. (5) nilai kuasa. diagram perkembangan kebudayaan di wilayah Indonesia sebelum masuknya pengaruh asing (baca: India) adalah sebagai berikut: Bagan V: Perkembangan Kebudayaan di Wilayah Indonesia sebelum Masuknya Pengaruh Asing Dalam diagram yang memperlihatkan masa prasejarah dan protosejarah tersebut terlihat nilai kuasa cukup rendah bersebrangan dengan nilai solidaritas yang tinggi. (4) nilai ekonomi. Nilai-nilai Penting dalam Kebudayaan Indonesia Sutan Takdir Alisjahbana (1982) pernah mengemukakan beberapa diagram yang berkenaan dengan perkembangan kebudayaan di Indonesia dipandang dari segi nilai-nilai. Maklum masa itu rasa kebersamaan dari masyarakat manusia yang menghuni suatu permukiman sangat nyata. Sebab kronologi seperti itu merupakan kerangka besar yang dapat dijadikan patokan untuk penulisan sejarah kebudayaan Indonesia secara garis besar. dan (6) nilai solidaritas. pemimpin hanya melaksanakannya saja. Vol. Beberapa nilai yang dijadikan sudut pandang adalah: (1) nilai teori. keputusan diambil dengan musyawarah warga. Nilai teori (ilmu 118 .

karena itu bentuk-bentuk kesenian awal yang mengandung anasir estetika telah dibuat. sebab data yang tersedianya pun berbeda pula. dan Cina selatan. Diagram itu berbeda bentuknya ketika diterapkan dalam kebudayaan masa perkembangan dan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Nusantara. yang ada adalah ekonomi barter yang setara. Diagram-diagram itu pada dasarnya hendak menunjukkan secara visual bahwa perkembangan kebudayaan di Indonesia berbeda pada tiap periode. Nilai seni belum begitu berkembang. karena manusia masa itu mungkin belum mengerti tentang konsep untung dan rugi.Peran Penting Pernaskahan.. Asia Tenggara. berlabuh di berbagai bandar antara India. — Agus Aris Munandar pengetahuan) masih rendah. walaupun bentuk-bentuk awal berkesenian telah dirintis oleh masyarakat manusia.. Banyak niagawan Islam yang berlalu-lalang membawa barang dagangan dalam kapal-kapal niaga mereka. bahkan ada beberapa pembatasan berkesenian. sedangkan nilai religi tinggi sebab masyarakat manusia masa itu kehidupannya masih diliputi oleh suasana religius. Gambarannya sebagai berikut: Bagan VI: Perkembangan Kebudayaan di Wilayah Indonesia pada Masa Kearajaan-Kerajaan Islam Dalam Bagan VI diperlihatkan bahwa nilai seni tidak terlalu berkembang. sedangkan nilai ekonomi pada masa perkembangan Islam di Nusantara cukup tinggi. Oleh karena itu tiap periode dalam mempunyai 119 . kebudayaan manusia berada dalam tahapan mitos. Nilai ekonomi pun rendah. Gagasan berestetika sudah barangtentu telah mulai muncul.

sisa istana. yaitu data kebendaan yang lazim disebut artefak. 1. teka-teki. Para peneliti hendaknya mampu menggunakan ketiga macam data tersebut sesuai dengan tujuan studi. atap ketiga (puncak) dahulu hancur karena tersambar oleh tongkat Sunan Gunung Jati. 2009: 109 . 3. Tradisi lisan yang masih mungkin mengendap dan merupakan ingatan bersama (collective memory) dalam masyarakat baik di Jawa ataupun di Bali. 7. dan bangun penafsiran yang diharapkannya. Sebab tidak semua macam data itu tersedia dalam bobot yang sama. No. berbagai ornamen dan sebagainya. Data yang sudah sewajarnya diperhatikan dalam mengkaji arkeologi-religi masa perkembangan Islam di Indonesia dapat dibagi dalam tiga jenis. misalnya dalam prasasti (piagem) karya-karya sastra. baik sejarah ataupun arkeologi. Misalnya di Cirebon terdapat legenda bahwa atap tumpang masjid Sang Cipta Rasa hanya dua. Data arkeologis seperti bangunan masjid. permainan rakyat. Artefak secara sederhana dapat diberi batasan sebagai benda hasil karya manusia masa 120 . peribahasa dan lainnya. Wacana Dalam melakukan kajian jenis data ketiga.Jurnal Lektur Keagamaan. yaitu berita tradisi lisan seringkali diabaikan. goa pertapaan. Tradisi lisan memang dipandang mutunya lebih rendah daripada kedua data lainnya.akan ditemukan data yang dapat menyokong sumber tertulis dan data arkeologis. Data yang tersirat dalam berbagai sumber tertulis. legenda. berita asing. mitos. menara. Arkeologi Islam Indonesia Sebagai Arkeologi-Sejarah Dalam kajian arkeologi terdapat data utama yang penting. dan lain-lain. 2. Contoh data dalam bentuk tradisi lisan adalah dongeng. yaitu : 1.132 kekhasan dan fokus perhatian yang berbeda-beda apabila hendak dituangkan dalam suatu kajian ilmu masa lalu. pastinya akan berbeda-beda dalam setiap masa. kolam wudu. dan dalam setiap perkembangan masyarakat yang mengusung kebudayaan sezaman. mushalla. walaupun demikian tetap perlu diperhatikan mengingat di dalamnya -jika dicermati dengan baik. Vol.

yaitu Arkeologi-Prasejarah dan Arkeologi-Sejarah (historical archaeology). juga memanfaatkan data informasi sumber tertulis berbentuk prasasti. Apabila kajian prasejarah sepenuhnya mempelajari artefak melalui berbagai metode untuk menelaah artefak. Oleh sebab itu. Walaupun telah ada bukti tertulis kajian arkeologi-sejarah tetap mendasarkan data utamanya kepada objekobjek kebendaan (artefak). yaitu berbagai berita tertulis. arsip. dinamakan arkeologi sejarah yang berarti kajian arkeologi yang memanfaatkan juga sumber-sumber sejarah. Bagan VII: Unsur-Unsur Arkeologi Islam 121 . dan lain sebagainya. naskah-naskah kuno.. Jadi pada prinsipnya kajian arkeologisejarah berada dalam periode ketika di suatu bangsa telah mengenal bukti-bukti tertulis. maka kajian arkeologi-sejarah selain bertumpu kepada kajian artefak. piagem.Peran Penting Pernaskahan. dipergunakanlah data dari berbagai sumber tertulis sezaman yang mungkin mendukung kajian terhadap artefak. surat-surat kerajaan atau pribadi. dan sudah barang tentu masa kolonial dan masa selanjutnya dalam era Republik Indonesia. berita asing dokumen. peta kuno. dan bentuknya bermacam-macam sesuai dengan keperluan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. lalu untuk pemahaman lebih lanjut tentang sesuatu artefak. Sebagaimana diketahui bahwa ilmu arkeologi terbagi dalam dua ranah besar. Kajian arkeologi-sejarah di Indonesia meliputi masa perkembangan agama Hindu-Buddha dan juga masa perkembangan Islam. — Agus Aris Munandar lalu..

b.Jurnal Lektur Keagamaan. Sistem perbentengan. terdiri dari: a. dan menyebar. Gapura dan pagar keliling. Menara masjid.132 Secara prinsipil terdapat beberapa kepurbakalaan masa silam yang dapat dihubungkan dengan periode perkembangan dan kerajaan-kerajaan Islam Nusantara. g. Taman dan bangunan air. b. Hasil seni kriya: ukiran. c. 3. Cungkup makam. j. kereta. konsentris. 1. Artefak bergerak. Hiasan bangunan.Tata Kota & Penataan Istana a. Istana dan bangunan-bangunan di dalamnya. batik. Maksurah. f. Alat transportasi: palangka. b. i. dan lain-lain. Vol. dipan. h. 2009: 109 . rak. lambang. sketsel. Makam dan kompleks makam. e. Mimbar kayu. c. c. artefaktual merupakan data utama yang penting. untuk mengungkapkan pencapaian peradaban yang telah direngkuh oleh masyarakat pada masanya. 7. dan benda-benda penanda kebesaran raja/sultan. d. Monumen terbagi menjadi: a. jadi bukannya data tertulis. Heraldik: panjí-panji. topeng. 122 . Senjata. Tugu peringatan. f. pahatan stilasi. Keramik asing ataupun lokal. Penataan istana yang linear. Dalam kajian arkeologi Islam banyak data yang berupa kebendaan. Masjid kuno. Jalan sebagai acuan kota. d. Peninggalan khazanah keislaman itu antara lain berupa: 1. tenun. g. Kepurbakalaan itulah yang merupakan data kajian utama arkeologi Islam. 2. i. perahu. h. Apabila data tertulis yang digarap terlebih dahulu. kursi. wayang. Furniture: meja. Alun-alun sebagai pusat kota. kentongan dan waditra lainnya. Bedug. e. No.

makam dan lainnya 2. Pada dinding penyekat tersebut terdapat sembilan pintu rendah (tiga pintu di sisi utara. Selain pemahaman umum tersebut. menara. Dalam telah arkeologi. (c) sejarah dan peranannya dalam proses penyebaran Islam. Dinding tembok hanya berfungsi sebagai penyekat antara ruang dalam dan ruang serambi masjid. 123 . menara. Langgam arsitektur bangunan masjid. Masjid Sang Cipta Rasa di Cirebon mempunyai keistimewaan sebagai berikut: 1.. melainkan sejarah atau filologi. Bahan yang digunakan pada bangunan-bangunan tersebut. Kelompok pengguna yang memanfaatkan dan mengapresiasi bangunan-bangunan tersebut. Kajian secara umum terhadap kepurbakalaan monumental dari masa awal perkembangan Islam dan masa kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia dapat membawa kepada pemahaman akan: 1. Sebagaimana masjid kuno lainnya. maka dapat diketahui tentang (a) bentuk arsitektur. dan lain-lain 3. apabila melakukan studi terhadap suatu monumen. istana. terdapat pula pemahaman yang lebih khusus lagi. masjid ini mempunyai empat Soko Guru 2. tidak sebagai penopang atap. maka sang peneliti harus mampu mengungkapkan kehadiran data arkeologis dalam konteks sejarah kebudayaan Islam di suatu daerah dan pada suatu masa tertentu.. istana. Demikianlah beberapa pemahaman umum yang mungkin dihasilkan dalam ranah arkeologi-sejarah. adanya penggunaan tiang-tiang dengan gaya ukiran Majapahit pada serambi depan masjid. (d) keistimewaannya: antara lain adanya figur bulus (kura-kura) pada dinding belakang mihrab yang berbobot angka tahun 1401 Saka. Misalnya kajian terhadap Masjid Demak. terdapat relief yang menggambarkan sepasang “halilintar” pada daun pintu tengah masjid.Peran Penting Pernaskahan. terutama dalam hal latar belakang pembangunan monumen dan juga beberapa keistimewaannya. dan selatan). gapura. (b) bahan. timur. — Agus Aris Munandar maka kajian itu bukan lagi arkeologi. salah satu dari keempat soko gurunya merupakan tatal (serpihan kayu yang disatukan). 3. 4. Bentuk arsitektur masjid. gapura.

Kompleks makam Sunan Bayat di Klaten. Pada bagian bingkai atas ceruk (ruang) mihrab terdapat ornamen yang merupakan stilasi dari bentuk kala-makara. Hal ini dapat diketahui berkat adanya kajian arkeologi Islam terhadap kompleks-kompleks makam yang masih ada hingga sekarang. atau lereng pegunungan sebagai lokasinya. (2) Kedua bentuk gapura tersebut merupakan kelanjutan bentuk-bentuk pintu gerbang yang telah dikenal dalam zaman perkembangan kebudayaan Hindu-Buddha di Jawa. 4. antara lain. 3. Terdapat beberapa keraton yang dikelilingi tembok benteng (Surasowan di Banten dan Kuto Besak di Palembang) Kajian terhadap pintu gerbang (gapura): (1) dapat diketahui bahwa gapura yang berbentuk Candi Bentar (di Cirebon disebut Lawang Seketeng) selalu terletak di halaman paling depan. di Cirebon disebut Lawang Bledeg) terdapat di lingkungan dalam. memilih dataran tinggi. Semula di bagian depan pintu masjid yang terletak di sisi timur terdapat kolam untuk mengambil air wudlu. tengah. 124 . dan belakang. Bangunan-bangunan penting terdapat di halaman paling belakang. Kompleks makam tokoh-tokoh yang berhubungan dengan penyebaran agama Islam (para wali) dan juga pemakaman keluarga raja. Keraton umumnya terbagi ke dalam tiga penataan halaman. Adapun kajian terhadap keraton di Jawa dapat diungkap adanya beberapa pengetahuan lain di luar pengetahuan utama. 2. Kasultanan di Yogjakarta dan Kasunanan di Surakarta).Jurnal Lektur Keagamaan. Kompleks makam Sunan Drajat di Gunung Muria. No. bukit. 4. 1. Vol.132 3. 3. mislanya bangunan persemayaman raja dan keluarganya dan bangunan induk keraton (Keraton Kasepuhan dan Kanoman di Cirebon. 4. 2009: 109 . 2. adapun gapura beratap (di Bali dinamakan Kori Agung. Kompleks makam Sunan Gunung Jati di Gunung Sembung. mengarah ke daerah inti istana atau kompleks makam. 7. Kompleks makam Sunan Giri di Gresik. yaitu: 1. Kompleks makam yang terletak di lokasi ketinggian antara lain adalah: 1. yaitu halaman depan. Keraton-keraton luar Jawa umumnya berupa bangunan panggung dengan ukuran besar.

Tentu saja di Jawa senjata yang paling populer adalah keris. setidaknya bukan nama diri seniman. Dalam zaman prasejarah ada penjelasan yang menyatakan bahwa tempat-tempat tinggi adalah lokasi yang layak bagi persemayaman arwah leluhur (Parahyangan. Kajian kepada kepurbakalaan yang berupa artefak bergerak akan membawa kepada pemahaman: 1. Telaah arkeologi terhadap senjata yang dipergunakan dalam masa perkembangan Islam menghasilkan kepada bentuk-bentuk senjata tajam yang pernah digunakan masyarakat. bermata tiga (trisula).Peran Penting Pernaskahan. 2. Pembuat artefak tersebut. pedang. Asal gaya seni artefak tersebut. khususnya meriam. dan meriam Ki Amuk di Banten Lama.. keris juga dikenal di berbagai etnik lain di Nusantara dan telah banyak buku yang dihasilkan para peneliti dan peminat tentang keris. 3. 6. Studi terhadap berbagai meriam dari era kerajaan Islam di Nusantara di masa mendatang akan membawa kepada pengetahuan tentang sistem persenjataan berat 125 . meriam Si Jagur di Museum Fatahillah.. namun nama kelompok pengrajinnya. Kompleks makam Sunan Sendang di Bojonegoro. dan sebagainya Dalam masa perkembangan Islam di Indonesia. 4. Selain keris senjata tajam lainnya misalnya tombak bermata tunggal. — Agus Aris Munandar 5. Penggunaan dalam masyarakat pendukungnya. bermata ganda (dwisula). oleh karena itu tokoh-tokoh yang telah wafat dimuliakan dalam kompleks makam yang terletak di ketinggian. senjata api telah pula digunakan. perisai. Secara konsepsi hal ini agaknya dapat dijelaskan bahwa adanya kesinambungan penghormatan kepada tempat-tempat tinggi yang dianggap sebagai tempat keramat. Konsep itu terus bertahan ketika agama HinduBuddha berkembang. Konsepsi itu agaknya terus bertahan ketika Islam berkembang di Tanah Jawa. Di-Hyang. Bentuk dan bahan artefak bergerak. Maka dikenal adanya meriam buatan local seperti meriam Pancawura yang ada di keraton Kasunanan Solo. Kompleks makam Imogiri di Yogjakarta. apa lagi diperkuat dengan kepercayaan bahwa tempat tinggi adalah simbol Gunung Mahameru yang dipuncaknya bersemayam para dewa dalam Swarloka. golok. Iyang).

Dalam bagan terlihat gagasan berada di bagian tengah. Bentuk seni kriya dalam masa per126 . 1. sehingga ada keterkaitan antara seniman. baik seni rupa ataupun seni pertunjukan. karena memang gagasan itu yang mendasari keempat unsur lainnya. gagasan. Adakah jumlah meriam yang dimiliki menandakan kebesaran dan kejayaan kerajaan tersebut? Dari masa perkembangan Islam di Jawa banyak dihasilkan karya seni. Salah satu bentuk seni rupa yang sederhana namun memerlukan kecermatan adalah seni kriya. Keutuhan lima unsur kesenian dalam karya seni keislaman agaknya cukup diperhatikan oleh para penghasil karya seni keislaman di masa silam. 2009: 109 . No. Demikian pula dalam mengekspresikan gagasan berkeseniannya seniman harus memilih bahan/media apa yang digunakan.Jurnal Lektur Keagamaan.132 dari kerajaan-kerajaan itu. jika tidak karya seni tidak mendapat penghargaan dalam masyarakat. jadi tidak ada satu unsurpun yang diabaikan. Vol. Sebenarnya dalam kesenian dapat dinyatakan sebenarnya terdapat lima unsur yang saling berkaitan sebagai berikut: Bagan VIII: Unsur-Unsur Kesenian Kelima unsur itu saling berkaitan dan mengisi dalam menghasilkan suatu karya seni. misalnya antara seniman dan masyarakat harus berada dalam “satu bahasa dan satu gagasan” apabila hendak mengapresiasi suatu karya seni. media dan hasil karya seni. 7. terutama dalam sejarah perkembangan Islam di Nusantara.

lukisan kaca. kereta milik sultan. Seni kriya lainnya yang sering menjadi data kajian arkeologi Islam adalah pahatan kayu baik dalam bentuk relief atau ornamen lainnya. Bentuk hiasan khas Cirebon yang merupakan gabungan antara motif awan mendung dan batu-batu karang tersebut dikenal meluas dalam bermacam karya seni rupa. Taman Sunyaragi. Pola seperti ini terus diikuti oleh kota-kota kerajaan lainnya seperti Cirebon. Bangunan dalam kompleks istana umumnya digambarkan linear. Mengenai tata kota dan penataan kompleks istana terdapat kajian tersendiri dalam bidang arkeologi Islam. batik. kemudian bangunan bagian tengah kompleks 127 . bagian utara terdapat pasar tempat orang berniaga. sisi barat alun-alun berdiri masjid agung. Banten.. dimulai dari sisi paling utara merupakan bangunan-bangunan penyongsong tamu. dan Jogjakarta. Sebagaimana telah diketahui bahwa bentuk wayang kulit sekarang ini adalah gubahan Sunan Kali Jaga. Romli 2008: 19-20). Surakarta. figur wayang kulit gaya lama dari era Majapahit telah “dirombak” dan distilirisasi untuk disesuaikan dengan kaidah kesenian Islam. dan di tepi bagian timur alun-alun berdirilah bangunan-bangunan peradilan seperti kejaksan. Dari lingkup kesenian Islam masa Kesultanan Cirebon dikenal adanya bentuk-bentuk pahatan kayu yang mengambil figur dewa-dewa Hindu atau tokoh wayang yang telah sangat distilasi dengan gabungan bentuk mega mendung dan juga bentuk-bentuk wadasan (karang laut). dan ceritanya pun telah direkaulang untuk keperluan Islamisasi. Prototipe penataan kota Islam di Jawa itu sangat mungkin terjadi di kota Demak kuno (Adrisijanti M. Dalam penataan itu pusat kota adalah tanah lapang (alun-alun). Bahkan kota-kota kabupaten di Jawa dalam masa kolonial pun banyak yang tetap mempertahankan pola penataan pusat kota demikian.. — Agus Aris Munandar kembangan Islam banyak yang bertahan hingga sekarang. Wayang kulit itu lebih mirip kepada simbol-simbol yang tidak sesuai dengan figur manusia sebenarnya. dan penjara. bahkan sebagai iluminasi pada naskah-naskah Cirebon. dapat dijumpai sebagai komponen hiasan keraton.Peran Penting Pernaskahan. di sisi selatannya terdapat bangunan kedaton atau istana. contoh yang baik adalah figur-figur wayang kulit dan wayang golek Cepak gaya Cirebonan. Penataan kota-kota Islam di Jawa agaknya mempunyai pola yang telah baku.

(b) Sunda. (e) kisah binatang (f) kisah penglipur lara/jenaka (g) undang-undang. Sebagai upaya untuk menyebarkan ajaran keagamaan Islam. bentuk dan ragamnya sangat beraneka. Tambo. Tujuan penulisan naskah-naskah Nusantara itu antara lain untuk: 1.132 yang merupakan pendukung aktivitas istana. Banten Lama. 5. (h) obat-obatan. Memberikan legitimasi tentang kuasa yang dimiliki oleh para raja. Pengungkapan ekspresi estetika para penggubahnya. Bentuknya dalam prosa ataupun puisi dengan aturan prosodi tertentu. (d) Bugis. (c) Lampung. Semua bangunan keraton dilingkungi tembok benteng dan semuanya terintegrasi dalam suatu area kedaton. Mengingat dan mengakumulasi pengetahuan tertentu yang telah diketahui oleh penggubah atau masyarakat sekitarnya. (e) dan berbagai bahasa daerah lainnya. Vol. 7. Berikut data penting tentang manuskrip masa Islam: Aksara yang digunakan antara lain: (a) Arab dan keturunannya. sultan. antara lain (a) Jawa.Jurnal Lektur Keagamaan. Legenda. Adapun pola penataan menyebar atau menghadap ke sungai terjadi pada istana-istana kerajaan Islam yang terdapat di luar Jawa. (j) dan lainnya. Isi yang dikandung tentang (a) ajaran agama Islam. Peranan data dari sumber tertulis dalam kajian arkeologi Islam dapat dijelaskan sebagai berikut: 128 . Bahasa juga beraneka. keraton Surakarta dan Yogjakarta dan juga di kompleks Keraton Sumenep di Madura. dan paling dalam adalah bangunan-bangunan utama dan tempat tinggal raja dan kerabatnya sehari-hari. (c) Melayu. 2009: 109 . Sajarah). (i) uraian tentang mistik dan tasawuf. dan kaum kerabatnya. Hikayat. No. Sambas. Penyusunan kisah sejarah tradisional dengan berbagai sebutannya (Babad. (b) tarikh nabi-nabi dan sahabatnya. (b) Jawa. misalnya di Kutai Kertanegara. (d) Bugis. Dalam hal khazanah naskah Islam di Nusantara. (c) babad/sejarah tradisional (d) kisah wayang. 4. 3. 1. Pola penataan bangunan keraton memusat misalnya terdapat di kompleks keraton Surasowan dan keraton Kaibon. (e) dan lainnya. 2. dan Pontianak. begitupun juga mengenai isinya. Pola seperti ini terlihat di kompleks keraton Kasepuhan dan Kanoman Cirebon.

. Pada akhirnya dapat membuka interpretasi baru dan 129 . Dalam naskah Babad Tanah Jawi terdapat penjelasan bahwa salah seorang Raja Majapahit masa akhir telah menikah dengan putri Champa yang memeluk Islam. Peranan data dari sumber tertulis menjadi penting dalam tahap historiografi. Contohnya dalam kajian arkeologi Islam ditemukan makam Islam kuno. Contoh: dapat dipahami bahwa di situs Trowulan peninggalan Majapahit terdapat kompleks pemakaman Islam Troloyo. Dengan menelisik sumber-sumber tertulis maka diperoleh lagi pemahaman yang lebih luas tentang sesuatu artefak. — Agus Aris Munandar (a) Pendukung kajian terhadap data artefaktual Dalam hal ini data dari sumber tertulis tersebut dijadikan bahan untuk membantu “menjelaskan” artefak dari masa perkembangan Islam. maka pemahaman pun terbatas. (c) Data dari sumber tertulis dapat menjadi dasar penelitian dan kerangka acuan kajian arkeologi Islam Uraian dari sumber tertulis ada yang dapat dijadikan pegangan bagi kajian arkeologi di lapangan. Misalnya dari Babad Demak diuraikan bahwa di kota Kerajaan Demak terdapat pula kedaton tempat bersemayamnya para penguasa.. jika kajian hanya menyandarkan diri kepada data arkeologi.Peran Penting Pernaskahan. sebab menurut berita Cina dalam masa kejayaan Majapahit pun telah banyak orang-orang Islam yang bermukim dan berniaga di kota itu. tahapan ini sudah tentu memadukan data dari berbagai sumber. Temuan dari naskah dapat juga menjadi kerangka acuan yang harus dibuktikan oleh para arkeolog. dapat dibantu diterangi lewat kajian dari sumber tertulis. menurut uraian penduduk adalah makam putri Champa. (d) Memperkaya interpretasi untuk dapat mengembangkan historiografi Kajian arkeologi-sejarah atau pun sejarah diakhiri dengan tahap historiografi. (b) Memperluas pemahaman tentang kedudukan dan peranan artefak dalam masyarakat sezaman Merupakan suatu keniscayaan yang terjadi. namun kajian arkeologi hingga sekarang masih belum dapat membuktikan di mana lokasi tepatnya kedaton tersebut. karena bagian-bagian yang berdasarkan telaah arkeologi masih gelap. kecuali masjid agungnya yang masih berdiri megah hingga kini.

Dewasa ini terdapat kecenderungan masyarakat untuk memperbaiki monumen-monumen kuno Islam yang dipandang sudah lapuk atau rusak. Misalnya kajian data arkeologi terhadap monumen Gunongan yang dibangun dalam masa Kesultanan Aceh telah cukup memadai. atau perlu dilakukan kajian ulang atau interpretasi baru. 2009: 109 . makam. Epilog Kajian arkeologi Islam di Nusantara sudah pasti dapat dikembangkan lagi. tetapi banyak temuan baru yang terus bermunculan hingga kini dan menunggu untuk dikaji. 7. bahkan pembangunan baru. Jadi apabila telah terjadi “pemugaran” terhadap suatu masjid kuno oleh masyarakat dengan mengabaikan 130 . Masjid kuno. Hal yang perlu dikemukakan kepada masyarakat pendukung living monument adalah prinsip pelestarian dan kepentingan ilmu pengetahuan yang juga harus dijaga. Dalam pada itu data arkeologi Islam yang terdahulu pun banyak yang masih belum dikaji secara tuntas. Kecenderungan meluas justru terjadi “pemugaran” terhadap masjid-masjid tua oleh masyarakat penggunanya sendiri. misalnya terhadap masjid-masjid kuno. memang para peneliti Belanda telah merintis kajian tersebut sejak awal abad ke-20 M. penambahan. dan gapura.132 memperluas narasi historiografi untuk dapat dijadikan bahan diskusi lebih lanjut. yaitu (a) dead monument. para arkeolog telah membagi dua macam munumen. Kedua prinsip itu jelas harus berjalan berdampingan dengan aspek pemanfaat dan aktualisasi zaman. Dalam melakukan perbaikan atau pemugaran tersebut kerapkali kaidah keilmuan (ilmu arkeologi) diabaikan. 1. oleh karena itu lumrah saja apabila mereka melakukan perbaikan-perbaikan. Vol. Hal ini sebenarnya merupakan permasalahan lama. dan (b) living monument. No. oleh karena itu hasilnya adalah bangunan baru sama sekali tanpa menyikan unsurunsur kunonya. istana. Akan tetapi kajian terhadap peranan dan fungsi monumen tersebut dalam masanya masih dapat diperbincangkan lagi. istana. mungkin terdapat makna lain yang mendalam dan bukan sekedar bangunan untuk melengkapi Taman Raja.Jurnal Lektur Keagamaan. dan monumen lainnya dari masa perkembangan Islam masih dipergunakan dan dirawat oleh para pendukungnya. bahkan telah dipugar secara baik. makam.

Koentjaraningrat. 1980. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. S.. dalam Majalah Ilmu-Ilmu Sastra Indonesia (MISI). Putuhena. Jakarta: Dian Rakyat. “Religion: Problems of Definition and Explanation”.. Denpasar: Faculty of Letters. R. Sejarah Kebudayaan Indonesia: Dilihat dari Segi Nilai-nilai. Langkah-langkah di masa mendatang untuk memajukan kajian arkeologi Islam dan menjaga data khazanah artefak serta manuskrip keislaman lainnya.. 1994. Jilid VIII. dalam Majalah Budaya Bende Vol. sehingga bukti-bukti masa awal perkembangan Islam di wilayah Nusantara tidak terkikis habis oleh pembangunan dan modernisasi. Halaman 18—21. Alisjahbana. Ancient History of Bali.[] Daftar Pustaka Adrisijanti M. London: Tavistock Publications. Melford E. 3: 263—76. Metodologi Sejarah. 1980. Takdir.Peran Penting Pernaskahan. Jika saja hal itu terjadi. Goris. 1977. Shaleh A. maka bangsa Indonesia telah melupakan jatidiri sejarah keislaman dan bukti-bukti kehadiran agama Islam pada awalnya. Desember. dalam Michael Bunton (Penyunting). Yogjakarta: Tiara Wacana. hal itu terjadi karena ketidaktahuan masyarakat tentang studi arkeologi Islam. Halaman 85—126. Udayana University. tidak hanya harus dilakukan oleh pemerintah dan pihak-pihak terkait. No.4 No. Jakarta: Bhratara. M. “Puncak-puncak Prestasi Kesultanan Demak dalam Bidang Budaya”. 131 . Romli. mungkin hal itu bukan akibat kesalahan masyarakat semata. “Sejarah Agama Islam di Ternate”. 1982. 1965. Perhatian dan apresiasi terhadap pengembangan arkeologi Islam itu harus juga ditularkan kepada warga masyarakat oleh siapapun yang berminat dalam arkeologi Islam.2. Kuntowijoyo. Spiro. Sejarah Teori Antropologi I. Antropological Approaches to the Study of Religion. Jakarta: Sekar Budaya Nusantara & FIB UI. 2008. padahal dunia telah mengakui bahwa Indonesia adalah negara Islam dengan penduduk terbesar di dunia. — Agus Aris Munandar prinsip pelestarian dan ilmu pengetahuan. Maret.

Sepintas Mengenai Peninggalan Kepurbakalaan Islam di Pesisir Utara Jawa. No. Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 1. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.132 Tjandrasasmita. Vol. 132 . 1986. 3.Jurnal Lektur Keagamaan. 2009: 109 . 7. Uka.

The material culture this writing means are the gravestones. nisan. keraton (also palace) and ancient mosques as well as Islamic sites such as the Old Banten (Banten Lama) and Lobu Tua. terlebih dahulu akan dijelaskan apa yang menjadi perhatian arkeologi dan apa yang sebenarnya dikaji dalam penelitian-penelitian arkeologi. This article also explains the aspects that become the object of the study of archeology. Sebelum lebih jauh menyampaikan apa peran arkeologi dalam kajian Islam di Nusantara. Depok This article explains about how archeology has its own role in the study of Islam in Indonesia. palaces. Some researches that have ever been conducted are dealing with Islamic epigraphy such as ancient gravestones. Sebagai ilmu. some archeologists try to develop the study of Islamic sites as the branch or archeolgy through excavation. artefacts such as the coins. arkeologi merupakan ilmu yang mempelajari manusia dan masyarakat masa lalu melalui tinggalan budaya materi 133 . Selain itu. mesjid kuno. efigrafi. porcelains and so on. Bisides that. keraton Pendahuluan Tujuan dari tulisan ini adalah menjelaskan bagaimana peran arkeologi dalam kajian Islam di Nusantara dan hal-hal apa saja yang menjadi kajian arkeologi. ornamen. the buildings of the mosque. some researches that have been conducted on Islam in Indonesia will be presented too.Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara Irmawati M-Johan Universitas Indonesia. situs. This archeological study tries to dismantle the history of the past humankind by using material culture. material culture. In addition to that. Kata kunci: Arkeologi. akan dikemukakan pula berbagai penelitian yang telah dilakukan selama ini yang berkait dengan Islam di Nusantara. the building of palaces.

1. Selain itu.Jurnal Lektur Keagamaan.Di mulai pada tahun 1910 yang dilakukan oleh Van Ronkel yang membaca nisan kubur Malik Ibrahim di Gresik yang mencantumkan angka tahun wafatnya yaitu 1511 M (Ronkel. Material Culture Ada beberapa jenis material culture dari masa Islam yang menjadi perhatian para arkeolog Indonesia. tembikar dan lain-lain. ada pula yang mengembangkan kajian situs Islam sebagai kajian arkeologi melalui ekskavasi. artefak seperti. mata uang. No. 1977: 108). bangunan masjid. 2003: 456-552). Dalam usahanya memahami kehidupan manusia masa lalu. 1912: 536-548). Menurut Sharer & Ashmore (2003) ada tiga hal yang direkonstruksi oleh arkeologi. 2009: 133 . alat-alat dan artefak lainnya. Karena mempelajari masa lalu maka arkeologi juga merupakan bagian dari sejarah. arkeologi mencoba menganalisa data yang diperoleh dari penelitiannya untuk merekonstruksi berbagai hal. Tjandrasasmita. Colin Renfrew dan Paul Bahn (2003) menyebut arkeologi sebagai bentuk past-tense dari antropologi budaya yang juga mempelajari masyarakat dan kebudayaan manusia. Nisan Kubur a. Setelah itu. bangunan istana. Untuk itu kita dapat melihat selintas kajian-kajian apa yang telah dilakukan terhadap tinggalan budaya Islam. Pendapatnya ditegaskan lagi 134 . 1. Vol. 1910: 596-600. 7. Epigrafi Kajian tentang nisan sudah sejak awal telah dilakukan terutama para ahli kebangsaaan Belanda. Moquette pada tahun 1912 mengkaji nisan kubur di Samudra Pasai dan nisan kubur Malik Ibrahim di Gresik yang dianggap memiliki persamaan dalam cara menuliskan huruf dan kalimat-kalimat dengan nisan Umar bin Ahmad al-Kazaruni di Cambay (Moquette. yaitu sejarah manusia secara luas yang dimulai sejak tiga juta tahun yang lalu. yaitu sistem teknologi dan lingkungan. 2003: 12-3). antara lain nisan-kubur. sistem sosial dan sistem simbol dan ideologi (Sharer & Ashmore.146 (material culture) seperti bangunan-bangunan. Selain itu arkeologi juga merupakan bagian dari science karena menggunakan kaidah-kaidah ilmu pengetahuan dan metode yang scientific dalam menganalisis dari penggunaan carbon dating hingga studi tentang residu makanan (Renfrew & Bahn.

Paul Ravaisse (1925) telah melakukan kajian tentang makam Malik Ibrahim dengan melakukan pembacaan inskripsi yang terdapat pada nisan serta mencoba untuk “membaca” beberapa ornament lampu yang terdapat pada nisan tersebut dan mengatakannya bahwa ornament ini adalah symbol dari surat An-Nur (cahaya) (Ravaisse. 1977: 111).J Krom dan memberikan penafsiran baru terhadap nisan-nisan yang ada. Damais tentang nisan-nisan di Troloyo. Sultan Ala’udin al-Khahar (979 H/1571 M). Tjandrasasmita. Menurut hasil penelitiannya angka tahun yang tertua adalah 1296 S (1376 M) dan yang angka tahun termuda adalah 1533 S (1611 M). Pada tahun 1919 Moquette menyampaikan hasil penelitiannya tentang makam tertua di Jawa yaitu Fatimah binti Maimun bin Hibatullah yang wafat 495 H (1102 M) berhuruf Kufi (Moquette. 1914: 73. 1925: 668-703). Penelitian pada tahun 1955 selanjutnya di lakukan L. 1977: 111). dan menemukan makam raja-raja yang pernah memerintah Aceh seperti Sultan Ali Mughayat Syah yang wafat 936 H (1530 M). 1913. Sultan Ali Ri’ayat Syah (987 H/1579 M). Keberadaan makam-makam ini membuktikan bahwa pada masa Majapahit yaitu pada masa kejayaan Hayam Wuruk di Jawa sudah ada orang-orang Islam yang dimakamkan dalam lingkungan yang dekat dengan 135 .C. Tjandrasasmita. 1921: 391-399. Sumbangan penelitian Moquette yang penting adalah mengidentifikasikan bahwa Sultan Malik As-saleh adalah Sultan pertama di Samudra Pasai yang dikaitkan dengan Sejarah Melayu dan Hikayat Raja-Raja Pasai (Moquette.P Moqutte pada tahun 1913 yaitu pada nisan Sultan Malik as-Salih yang mencantumkan angka tahun wafatnya pada tahun 696 H (1297 M ) dan nisan Sultan Malik az-Zahir putra Sultan Malik as-Salih yang wafat pada tahun 726 H (1326 M). Ia membaca ulang hasil pembacaan para ahli terdahulu N.P Moquette yang lain adalah penelitiannya tahun 1914 ke Kuta-Raja Aceh. 1920: 44-47. Pembacaan nisan-nisan yang terdapat di Samudra Pasai juga dilakukan oleh J. dan lain-lain yang dikaitkan dengan sumber tertulis Kitab Bustanus-Salatin dan Tajus-Salatin (Moquette. Jawa Timur.80). Tjandrasasmita.Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan dalam penelitiannya pada tahun 1920 dan mengatakan bahwa nisannisan di Samudra Pasai dan Gersik berasal dari Cambay (Gujarat ) (Moquette. Sumbangan J. 1977: 108).

Krom yang telah meneliti nisan Trowulan enggan mengakui bahwa sudah ada orang-orang Islam yang berhak dimakamkan dekat dengan lingkungan istana pada akhir abad ke 13 Saka di Jawa. Menurut Damais ketika mengunjungi makam Putri Cempa di Trowulan ia menemukan dua makam lain yang berprasasti. Huruf yang lebih banyak dipakai di Nusantara adalah gaya sulus atau gaya naskh (Ambary.J.146 keraton. No. Lebih lanjut Damais mengatakan bahwa mengingat stratifikasi sosial pada masyarakat Jawa Kuno yang sangat hiarakis maka bukanlah tidak mungkin bahwa mereka adalah keluarga istana. Vol. 1995: 223-289. Penggunaan huruf Kufi hanya terdapat pada nisan-nisan yang diimport dari luar Nusantara. 1998: 57). Peneliti terdahulu antara lain N. 1998: 174). catatan kaki no. Nisan Fatimah binti Maimun bin Hibatullah yang ditulis dalam huruf Kufi ornamental yang bagian ujungnya dibentuk ikal di Leran telah dibaca oleh Paul Ravaisse memiliki penanggalan 475 H (1082 M). terutama dari Gujarat sebagaimana yang terdapat pada nisan Malik Ibrahim dan Fatimah binti Maimun. 1988: 174) Penelitian di Barus telah memperoleh data penting yaitu makam dari Tuhar Amisuri yang wafat pada 602 H (1203 M) memperlihatkan bahwa makam ini lebih tua dari makam Sultan Malik asSaleh (1297 M). Untuk itu Damais mengatakan bahwa harus dilakukan penelitian yang sistematis tentang makam-makam kuno yang ada di Trowulan agar dapat diperoleh data baru tentang penyebaran agama Islam di Jawa Timur (Damais. Berdasarkan penelitian epigrafi pada nisan-nisan kubur dapat diketahui bahwa Sultan Malik as-Saleh adalah Sultan pertama di Samudra Pasai dan atas dasar angka tahun pula maka dapat dikatakan bahwa Samudra Pasai adalah kerajaan Islam pertama.Jurnal Lektur Keagamaan. 1. satu di antaranya dapat langsung dibaca angka tahunnya yang berangka tahun 1290 S (1368 M). 7. Nisan ini merupakan data penting bahwa di Leran pada abad ke-11 sudah terdapat masyarakat muslim yang kemungkinan merupakan masyarakat pedagang yang diterima oleh masyarakat 136 . 2009: 133 . Hal ini merupakan data penting bagi perkembangan sejarah Islam di Indonesia (Ambary.129). Keengganan Krom menurut Damais mungkin juga karena Nagarakartagama tidak berbicara tentang agama baru tersebut. Keberadaan makam ini merupakan bukti bahwa di Barus telah ada pemukiman Islam (Ambary.

1996: 1-8 ). 1993: 278). tipe Aceh. 68: 301). b. Di Semenanjung Malaysia. Yang menarik bahwa motif surya Majapahit ini ternyata 137 . Sulawesi Selatan. India. Banten dan Yakarta. Hasan Muarif Ambary (1984) dalam disertasinya telah melakukan penelitian tentang bentuk-bentuk nisan di Nusantara dan menggolongkannya menjadi 4 tipe yaitu tipe Demak-Troloyo. Berdasarkan pendapat Paul Ravaisse tentang nisan Leran dari Fatimah binti Maimun bahwa ornamen lampu yang tergantung di dalam mihrab adalah simbol dari Surah An-Nur. Menurut Damais.243. 1998: 239-241). Setelah abad ke 17. lalu berkembang bentuk persegí panjang dan silindrik pada fase ke dua abad 17M-19M (Ambary. Bentuk Nisan dan Ornamen Studi tentang nisan tidak hanya dilakukan berdasarkan unsur tulisan saja. Lingkaran cahaya ini di Jawa dan Bali melingkari seluruh tubuh tokoh atau benda yang dianggap memiliki sifat supernatural (Damais. Atas dasar tipe –tipe tersebut ditelusuri persebarannya di Nusantara dan Asia Tenggara. Di dalam peninggalan budaya materi di Nusantara motif atau jenis lampu yang tergantung dalam mihrab tidak pernah dikenal. maka dilakukan penelitian bahwa nisan-nisan impor seperti Malik Ibrahim. tipe Bugis Macasar dan tipe Ternate. Jawa Timur (terutama pantai utara). Dengan demikian hal ini dapat memperkuat bahwa nisan-nisan yang memiliki ornament ini memang bukan berasal dari Nusantara (Marwoto. Pada nisan-nisan di Troloyo telah dikaji pula ornamen medalion sinar Majapahit yang disinggung pertama kali oleh Knebel yag disebutnya sebagai Cap Matahari.. Naina Hisamuddin di Aceh.Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan setempat yang berada di bawah kerajaan Hindu-Buddha sebelum Kadiri (Tjandrasasmita. kaki no. nisan papan Tinggi di Barus hampir semua memiliki ornamen ini. Tipe Aceh (bucrane) misalnya selain terdapat di Pasai dan Aceh ditemukan juga di situs kubur di Barus dan beberapa situs lain di Sumatra Barat hingga Lampung. 1995: 242. Perkembangannya dimulai dari bentuk bucrane pada abad 16-17 M. bentuk nisan Aceh ditemukan di Kalimantan Selatan. Medalion Sinar Majapahit mirip dengan halo pada patung-patung yang dianggap tokoh suci pada agama Kristen. cat. Bentuk lampu seperti itu adalah lampu-lampu dari dunia Islam di Timur Tengah. tetapi unsur bentuk dan juga ornamennya. Persia. Bintan.

146 penggunaannya terus berlanjut pada masa-masa selanjutnya sebagaimana kita temukan pada nisan-nisan di sepanjang pantai utara Jawa. Palembang. Jasinga. Menara di masjid Kudus bukan menara asalnya melainkan bagunan dari jaman Hindu yang digunakan kembali sebagai tempat kulkul. Tjandrasasmita 1977: 115).Jurnal Lektur Keagamaan. Troloyo. penelitian tentang jenis tanaman sangat penting untuk mengetahui keragaman tumbuhan yang ada pada masa itu.J Krom yaitu tentang menara Kudus yang diperkirakan berasal dari abad ke 16M dan dianggap merupakan gaya bangunan peralihan dari gaya bangunan Majapahit yang mengingatkan pada bangunan candi (Krom 1920: 294-295. Berdasarkan penelitianya seni ukir dan seni bangunan di Kudus merupakan seni bangunan Jawa-Hindu Majapahit (Jasper 1922: 3-30. 1. No. Tentang bangunan masjid kuno ia menyampaikan bahwa bentuknya mengikuti bentuk arsitektur lokal dengan beberapa ciri 138 . Vol. Steinmann pada tahun 1934 melakukan penelitian ornamen yang terdapat pada masjid Mantingan dan makam Ratu Kalinyamat. 2009: 133 .F Pijper pada tahun 1947 dan Pijper menyampaikan bahwa masjid kuno di Indonesia pada umumnya tidak memiliki menara. Samudra Pasai. Masjid Kajian tentang masjid kuno di Indonesia khususnya di Jawa mulai dilakukan pada tahun 1920. Tjandrasasmita. tesis lima buah dan satu buah disertasi. Kalimantan Timur. dan telah menghasilkan sembilan buah skripsi Program Studi Arkeologi S1. Cirebon. sampai ke Madura bahkan saat ini Muhammadiah juga menggunakan lambang surya Majapahit. oleh N. Penelitian dalam bentuk skripsi tentang bentuk-bentuk nisan dan ornamen telah dilakukan di berbagai situs seperti Jakarta. Tjandrasasmita 1977: 111). 1977: 112). 2. Blora. Brunai. Setelah itu penelitian di Kudus di lanjutkan oleh J. 7. Sumatera Barat. Selain itu ia melakukan penelitian pola-pola ornamennya dan dibandingkan dengan ornamen di candi-candi (Steinmann 1934: 89-97. Menurutnya. G. Penelitian tentang menara dan masjid kuno di Indonesia dilakukan oleh Dr.E Jasper pada tahun 1922 yang mengkhususkan pada penelitian seni ukir dan seni bangunan.

jadi berbeda dan yang sama hanya pada bentuk atap. Atas dasar penelitian terhadap bangunan masjid kuno di Indonesia Maka dapat diketahui pola-pola bangunan seperti denah masjid. Taluk. Jakarta. Padang. 1947-48: 289). atapnya bertingkat-tingkat (Pijper. Masjid ini dibangun dengan bentuk yang baru pada tanggal 9 Oktober 1879 yang dibuat oleh seorang arsitek Belanda bernama Bruins (Kreemer 1920-21: 69-87. Tjandrasasmita 1977:112). Pada sisi barat laut terdapat mihrab yang umumnya menjadi tempat yang paling raya ornamennya. di sisi kanan mihrab terdapat mimbar yang umumnya berbentuk seperti kursi dan memiliki anak tangga. arah hadap dan pola keletakan untuk masjid Istana berada di sebelah barat alun-alun. Tentang asal usul bangunan masjid kuno telah dibahas oleh beberapa ahli seperti H. Sumenep. Pada perkembangan selanjutnya studi tentang masjid kuno terus dilakukan baik dalam bentuk paper ataupun skripsi kurang lebih berjumlah 23 buah di Progam studi Arkeologi UI yang mencakup masjid kuno di Palembang.F Stutterheim mengajukan pendapatnya bahwa masjid kuno di Indonesia mendapat pengaruh dari bangunan tempat menyambung ayam di Bali (Stutterheim 1935: 135-140).Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan seperti denah segi empat dan pejal. Cirebon. bentuk denah masjid Taluk adalah segi empat dan dikelilingi air sedangkan masjid Malabar denahnya persegipanjang tidak dikelilingi air. Manonjaya. Sutjipto lalu mengajukan bangunan mandapa atau pendapa yang menjadi asal mula bentuk masjid kuno (Wiryosuparto 1961-62:7-8). Banyumas. D.dan Medan. Penelitian di Aceh dilakukan oleh J Kreemer di Masjid Raya di Kutaraja yang menurut penelitiannya bahwa Masjid Raya itu asalnya bernama masjid Bait ar-Rahman yang didirikan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636M). Banten. 1947: 274-283). Pendapat Stutterheim disangkal oleh Prof Sutjipto Wiryosuparto.R.J de Graaf yang mengatakan bahwa masjid kuno di Jawa mendapat pengaruh bentuk masjid dari Sumatera yaitu masjid Taluk di Sumatera Barat yang merupakan prototipo masjid Malabar (Graaf. Ornamen pada bagian atas mimbar 139 . Selanjutnya jika bagunan tempat menyambung ayam sebagai bangunan yang semiprofan tidak mungkin dijadikan dasar pembuatan masjid dan yang lainnya adalah tidak memiliki loteng. W.

Jurnal Lektur Keagamaan. Motif Interlace ini bila kita amati menyebar sampai ke Madura terutama pada makammakam kuno (Marwoto 2003:152-312). Keraton Surosowan di Banten. Vol. Ornamen pada masjid-masjid di luar Jawa memperlihatkan bahwa ornamen banyak menggunakan motif-motif lokal sehingga dapat dilakukan studi yang mendalam tentang motif-motif lokal dari seluruh masjid Indonesia. 7. 140 . Penelitian mengenai ornamen masjid memperlihatkan bahwa masih banyak digunakan motif-motif yang berasal dari masa sebelum Islam seperti kala makara. 1. Tata letak keraton-keraton Islam di Jawa pada umumnya mengarah ke utara. Pada masjid-masjid tertentu selain ada tempat bedug juga terdapat makam-makam raja atau tokoh-tokoh penting seperti Masjid Demak dan Masjid Banten. Keraton Samudera Pasai besar kemungkinan menghadap ke utara yaitu menghadap ke Selat Malaka. kambing pada soko guru dan Masjid Demak dengan tempelan porselin yang memiliki berbagai motif binatang seperti anjing dan burung dan kura-kura. ular. No. Selain penggunaan motifmotif dari masa sebelum Islam dan berbagai motif binatang ternyata ditemukan pula penggunaan motif-motif Islam seperti Interlace atau yang dikenal dengan Arabesque terdapat di Masjid Sang Ciptarasa Cirebon) dan Masjid Mantingan.146 biasanya motif kala terkadang dengan makara. Demikian pula dengan keratonkeraton dari abad ke 18 seperti Yogyakarta dan Surakarta di arahkan ke utara. Keraton Keraton atau istana merupakan pusat kota dari sebuah kerajaan. Bentuk bangunan masjid yang telah mengikuti gaya bangunan Timur Tengah dengan kubah di tengahnya adalah masjid-masjid yang kemudian dibanguan oleh Belanda seperti masjid Raya Aceh dan Masjid Agung Medan. 2009: 133 . 3. Keraton Banda Aceh dari masa Sultan Iskandar Muda abad ke 17 M. sulur-suluran. Atap masjid merupakan atap tumpang yang bertingkat-tingkat dalam jumlah yang ganjil. seperti Keraton Kasepuhan dan Kanoman di Cirebon. antefiks dan binatang yang distilir seperti di masjid Mantingan. Ornamen-ornamen makhluk hidup yang selama ini dianggap tidak boleh dilakukan tidak sepenuhnya dihindari sebagaimana terdapat pada Masjid Trusmi di Cirebon yang mengambarkan berbagai bentuk binatang seperti binatang anjing.

Yogyakarta. Situs Karang Antu. Kanoman. termasuk di dalamnya situs Kraton Surosowan. bagian-bagian keraton dan fungsinya dan ornamen yang digunakan di keraton. Di Keraton Aceh. Bagian yang merupakan tempat tinggal raja biasa disebut “dalem”. Hasil penelitian 141 . dan lain-lain. Banten. Berdasarkan penelitian tentang keraton maka dapat diketahui pola tata letak keraton. jadi hampir ke utara (Poesponegoro 1984:219). Penelitian tentang Keraton dalam bentuk skripsi di program studi S1 Arkeologi ada 11 buah. Situs Kadiri. 2007: 238-246). 1984: 221). Situs Pamarican. Cirebon. Maimun dan Sumenep. Selain itu juga memperlihatkan pembagian ruang antara yang profan dan yang sakral (Johan. Samudra Pasai. meliputi Keraton Kasepuhan. Banten Lama Penelitian situs-situs Islam telah dilakukan di beberapa tempat seperti: Kawasan Banten Lama.Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan berdasarkan berita asing diarahkan ke barat Laut. Penelitian tentang makna ruang pada situs keraton Kasepuhan yang melihat antara penempatan ruang bagi yang hidup dan yang mati memperlihatkan bahwa Cirebon memisahkan dengan tegas ruang antara yang hidup (di Keraton) dan yang mati (di Gunung Jati). Situs Pabean. 4. Banten lama berdasarkan sumber sejarah adalah pusat kota dan bandar utama Kerajaan Banten yang berkembang sejak abad ke 16 hingga abad ke 19 M. Kota Banten tumbuh sebagai pusat dagang dengan aneka ragam komoditas perdagangan yang didatangkan dari berbagai wilayah dan diperdagangkan di Banten. Untuk itu Sartono Kartodirdjo mengkategorikan Banten sebagai emporium seperti juga Aceh. Situs-Situs Islam a. Banten juga berperan sebagai tempat perdagangan antar bangsa. Kompleks bangunan keraton pada umumnya memiliki tembok keliling yang memisahkan keraton dari bangunan lainnya. 2007: 9). Situs Jembatan Rante. Mataram dan Samboapu sebagaimana diberitakan oleh sumber tulis asing susunan halaman untuk sampai ke bagian “dalem” adalah tiga yang mengingatkan akan bangunan halaman candi dan pura di Bali (Poesponegoro. Situs Kraton Kaibon. Makasar dan Mataram (lihat Untoro.

7. Bambhore dan pesisir Timur Afrika.146 arkeologi di Banten yang dimulai pada tahun1977 antara lain adalah ditemukannya situs industri logam dan industri tembikar serta temuan barang-barang perdagangan seperti keramik Asing dari berbagai negara. Kelompok ini Sangat berperan aktif di wilayah Teluk Persia. Kraton Kaibon. Lobu Tua Pada tahun 1995 dan 1996 dilakukan penggalian di Situs Lobu Tua dekat Barus oleh tim Indonesia Perancis dan ditemukan 600 pecahan tembikar berglasir asal Timur Dekat yang dikenal dengan “later Sgraffiato ware”. berslip terang berhiaskan goresan dan glasirnya percikan-percikan. hijau tua. termasuk Makran. Di duga bahwa beberapa temuan menunjukan dua daerah asal yaitu Iran dan 142 . coklat. Vol. penelitian arkeologis banyak menghadapi kendala terutama dengan makin penuhnya penduduk yang menempati kawasan sehingga tidak lagi dapat dikendalikan. Bukan merupakan kaca yang berkwalitas bagus tetapi lebih merupakan barang sehari-hari. Ciri-cirinya adalah bahannya berwarna merah jambu. mata uang cina. sebagian di udara terbuka sebagian dalam cetakan. Selain itu memugar sisa-sisa Kraton Surosowan. Keberadaan tembikar Sgraffiato di Lobu Tua membuktikan bahwa Labo Tua termasuk dalam jaringan perdagangan dari Teluk Persia (Perret. Pola hiasannya buga-bunga. Banten lama adalah satu-satunya kawasan perkotaan Islam yang tersisa hingga saat ini. kuning pucat dan biru pucat. b. Warna kaca sebagian besar berwarna hijau pucat. 1. No. Keadaan keraton Surosowan dan Kaibon yang telah dipugar sekarang terbengkalai. mata uang VOC. Jenis “later Sgarffiato ware” Lobu Tua memiliki persamaan dengan temuan sejenis di Makran (Iran). khususnya di Basrah dan di pesisir lautan Hindia.Jurnal Lektur Keagamaan. Sohar (Oman) dan Kilwa (Tanzania) dapat dikaitkan dengan adanya kelompok perdagangan dari Oman yang bernama Ibadi. Benteng Spelwijk. 2002: 157-168). Aden. Sumber tulisan kuno dari Timur Dekat menyebut nama Barus serta adanya pedagang dari Oman di Nusantara sekurang-kurangnya sejak abad ke 10 M. Selain temuan tembikar ditemukan pula artefak kaca yang kebanyakan dibuat dengan tehnik tiup. geometris abstrak atau kaligrafi dengan huruf kufi. Menara Pacinan (Ambary 1998:124). merah ungu dan turkuas. 2009: 133 . biru kobalt.

Sebagaimana penemuan angka tahun Tuhar Amisuri di Barus dengan angka tahun wafatnya 1203 M. piala silinder diduga berasal dari Iran abad 9-10 M. Bagaimana perkembangan gaya tulisan dan ornamen dalam nisan-nisan kunopun belum pernah dilakukan dalam skala yang luas. Contoh lain tentang penelitian epigrafi Islam yang sudah dilakukan juga mengungkap cukup banyak hal penting tentang raja-raja yang memerintah di kerjaan-kerajaan yang bercorak Islam yang selama ini hanya diketahui atas dasar sumber tertulis berupa naskah ataupun sebaliknya. Setelah direkonstruksi artefak kaca. penelitian masih dilakukan secara parsial. Tempayan Miniatur jenis Serahi dari Timur Tengah. Walaupun demikian penelitian tentang nisan-nisan kuno masih menyisakan banyak hal yang perlu dilakukan. Barang-barang dari Laut Tengah nampaknya diimpor sejak awal abad 11 M. Temuan angka tahun ini bila dikaitkan dengan penelitian arkeologi di Lobu Tua Barus berupa artefak kaca dan tembikar yang diduga berasal dari abad ke 9-10 merupakan hal yang tidak mengejutkan. Penelitian nisan-nisan kuna di pantai utara Jawa sebagai tempat awal Islamisasi belum secara menyeluruh dilakukan. Seperti yang dikatakan Damais bahwa dari 1500 abkalts yang ada di Direktorat Sejarah dan Purbakala baru terbaca 800 abklats. Demikian pula dengan studi tentang masjid kuno dan keraton. fungsinya belum jelas. 94 tahun lebih tua dari Malik as-Saleh di Pasai. Artinya masih 700 abkltas yang belum terbaca. Serahi kecil (kaca merah jingga berhias gaya bulu) berasal dari Mesir abad 11 dan awal 12 M. Selain itu berdasarkan angka tahun yang terdapat pada nisan dapat pula diketahui bilamana orang-orang Islam sudah datang dan menetap di Nusantara. Penutup Beberapa contoh penelitian arkeologi sebagaimana diuraikan di atas diharapkan dapat memberikan gambaran singkat bagaimana arkeologi memberikan makna pada material culture Islam sebagai usaha untuk memahami kehidupan dan perilaku manusia. serta bagian timur Laut Tengah. 143 . maka dapat dikemukakan beberapa bentuk utuhnya yaitu: Karaf (botol kaca dengan bibir bulat datar) dari abad 9-10 M.Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan Mesopotamia. 2002: 179-195). Kaca berhias garis yang diukir diduga dari Iran abad ke 10 dan awal abad 11 M (Guillot.

tweeman delijks Tijdschrift Gewijd aan het Indonesisch Cultuurgebied. Wacana vol9 no.1.N. Marwoto.[] Daftar Pustaka Ambary.C Damais. Vol. Hasan Mu’arif.Wibisono. PIA VII.van Hoeve-s’ Gravenhage. 2002. Irmawati M.Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia.vifde jaargang.P.C. “De Oorsprong der Javaanse Moskee” Indonesie. Jasper. “De Groote Moskee te Koeta-Radja” NION. “Het Stadje Koedoes en zijn oude Kunst “NION. Jakarta: EFEO.L.1e Jrg. H. Pilihan Karya L. 1996. 1. No. Statu Masalah Penenda KeIslaman. “Ornamen Mihrab dan Lampu pada beberapa Makam. 1922. 7. Seni Dekoratif pada Bangunan di Pantai Utara Jawa Abad 15-17. 2007. 1912. 1955.Claude Guillot.1922. afl. Krom.hal:3-30. ed.J. Moquete. “De Datum op den grafsteen van Malik Ibrahim te Gresik” TBG 54. hal:208-214 144 . Jakarta:EFEO De Graaf.Hal: 238-246. 1988. hal:69-87.Hal:179-214. 1920.Claude& Sonny Ch. 1920-1921.2003.294-295.Yayasan Obor.T Logos Wacana Ilmu Damais. 2009: 133 . Cipanas ------.2 Oktober.19201921.J. hal.Jurnal Lektur Keagamaan.hal:291299 Guillot. Kreemer. Ciputat : P.E.146 Seiring dengan perkembangan jaman maka kajian-kajian arkeologi Islam tentunya harus diperluas dengan mengembangkan isue-isue yang relevan dengan masa kini dan menggunakan pendekatan atau teori-teori baru dan yang lebih penting untuk dilakukan adalah menyampaikan hasil-hasil penelitian tentang Islam di Indonesia kepada masyarakat luas. Lobu Tua Sejarah Awal Barus.NV Uirgeverij W.7e jaargang. Epigrafi dan Sejarah Nusantara. Sebuah Tinjauan Simbolik”.1912. Temuan Kaca di Lobu Tua:Tinjauan Awal. Menemukan Peradaban.J. Johan. 1947-1949.J. Irmawati.Pusat Penelitian Arkeologi. Inleideng tot de Hindoe-Javaansce Kunst” S’Gravenhage. J. Disertasi Program Pascasarjana FIB-UI.. Boundedness dan Polusi pada Situs Islam Cirebon Abad XVI-XVIII.

4. New York: Mc Graw Hill Company Inc.Claude Guillot. 50 tahun Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional.UI. Jakarta: Balai Pustaka Ravaisse. 1984.86 Moquete. Jilid III.80.van. Riwayat Penyelidikan Kepurbakalaan Islam di Indonesia. “De Grafsteen te Pase en Grissee vergeleken met dergelijke Monumenten uit Hindoestan” TBG. Jakarta: EFEO. Depbudpar. Tjandrasasmita. 1993. TBG 1925.hal:157-178. Heriyanti Ongkodharmo. hal: 7-8 145 .Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan Moquete.2 bijlage. 700 Tahun Majapahit Statu Bunga Rampai.Pusat Penelitian Arkeologi. GrooningenBatavia. 1910.1910. 1912. Fadjar. Wirjosuparto. Robert&Wendy Ashmore. kwt. tahun III.135-140.P. “Sejarah Pertumbuhan Bangunan Mesjid Indonesia”. 1914.Method and Practice. hal.Tinjauan Awal. Jakarta: FIB. 1912. 1925. kwt. 1977. Deel LXI Renfrew. Kapitalisme Pribumi Awal. O. Kesultanan Banten 1522-1684 Kajian Arkeologi Ekonomi. “De Islam en Zijn komst in den Archipel”. Majapahit dan kedatangan Islam Serta Prosesnya. 2002.komunitas Bambu. J.1912 hal:536-548 OV.hal:275-290. hal:73. no. ed. 1935.Yayasan Obor Poesponegoro.hal:596-600 Sharer. Jakarta: Puslit Arkenas Tjandrasasmita. Ph. 2003. 1961. 54. “Verslag van mijn voorlopig onderzoek deer Mohammedaansche oudheden in Aceh en Onderhoogrigheden” OV. 21. Uka. Tembikar Berslip.Berhiaskan goresa dan Berglasir Percikan-Percikan Asal Timur Dekat di Lobu Tua. 1914. Marwati Djuned. 2007. 2003. L’inscription coufique de Leran a’ Java. Sutjipto.Lobu Tua Sejarah Awal Barus.F. Hal:668-703.S.W. hal:107-135. Daniel & Sugeng Riyanto. Archaeology Discoveryng Our Past. Sejarah Nasional Indonesia.P. Stutterheim. hal. Colin& Paul Bahn. J. Archaeology:Theories. Thames & Hudson Ronkel. TBG. “Bij de afbeelding van het graf van Malik Ibrahim te Gresik”.52. Surabaya: CV Bunga Rampai Untoro. Uka. Perre. Paul.

iai-banten.146 Lampiran: Gambar 1: Sisa reruntuhan Keraton Surosowan. Sumber: http://cetak.com Gambar 2: Pintu gerbang timur ‘Benteng Keraton Surosowan’ Sumber: http://www.5 hektar itu merupakan kediaman para sultan Banten yang dibangun sekitar tahun 1552. 2009: 133 . 1. No. Keraton seluas lebih kurang 3.org/ 146 . 7. Vol.kompas.Jurnal Lektur Keagamaan.

Haramain. They developed the nature of freedom of joining differences in theology. Namun. syariah Islam.H.H. Ahmad Sanusi itu. bahkan sulit ditemukan. They came from the various corners of the Muslim world. Puslitbang Lektur Keagamaan) Badan Litban dan Diklat. Introduction The network of `ulam± (Muslim learned men) in Haramayn (Mecca and Medina) has been starting to exist since the sixteenth century. Jakarta Menurut Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur Agama (Skr. K. Islam dan negara. The core of the network was the degree to which a number of the famous `ulam± came to learn and to teach in the Haramayn.K. Karena itu. and His Work Collection Usep Abdul Matin UIN Syarif Hidayatullah. penulis telah berhasil mencari dan menemukan kurang lebih seratus dua puluh dua (122) karya K. fatwa. Sukabumi. and in mysticism. Ahmad Sanusi telah menulis selama hidupnya sekitar 480 karya tulis. In the second half of the seventeenth century. Departmen Agama Republik Indonesia (1986). Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse. Kata kunci: Ahmad Sanusi. Dalam kesulitan itu. dan apa saja kiranya buku-buku yang telah beliau tulis. They handed down this nature and their religious sciences to the later generation of `ulam± of 147 . tulisan ini bertujuan untuk berbagi pendadapat tentang siapa K.H... — Usep Abdul Matin K. in jurisprudence. Ahmad Sanusi. these Indonesian `ulam±--in particular from Malay--were involved in the network. sebagian besar dari karyanya tidak tersimpan di satu tempat.H.H.

H.” .. went to Mecca together with his wife to perform hajj (pilgrimage) and to deepen his Islamic studies under the `ulam± from Malay. Rasyid Ridho. p. Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana & Kekuasaan. The religious sciences.K. Here was he appointed to be the adviser of the Party of Syarekat Islam. Ahmad Sanusi. — Usep Abdul Matin Indonesia. 1 148 . 58-59.a. 3 See Mohammad Iskandar. said Josep. 4 About Sanusi`s speech of Syarekat Islam. like physics. 90-91. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse .. Yosep Aspat Alamsyah. Introd.4 Azyumardi Azra. about the Arabic thought in the liberal age dated from 1798 to 1939. K. and 7. (Amsterdam: Vrije Universiteit. 2 M. In 1915. 2001 in his house. Muhammad Abduh. 148-149. Siapa?: Lukisan tentang Pemimpin-pemimpin. Wanta.I. (Leiden: Rijk Universiteit Leiden. Sipahoetar. He told me that in December 22.2 such as those of Jamaluddin al-Afghani. second edition. a santri (religious student) from Sukabumi. 74-75. 3. Gunung Jaya-Sukabumi. 1991).H. this later group started establishing a Southeast Asian Connection in the beginning of the nineteenth century. he studied not only the religious sciences but the general ones. an unpublished thesis. included the intellectual currents of the Arabic thought in the liberal age (1798 – 1939). During his stay in Mecca. In 1913. by Taufik Abdullah. Sanusi went back to his home country. precisely 1910. in Proces Verbal. pp. Para Pengemban Amanah: Kyai dan Ulama dalam Perubahan Sosial–Politik di Priangan c. Indonesia. The author is still alive. and was the secretary to K. where he returned to his home town. pp. for lending me this book. Ahmad Sanusi. I am grateful to Mr. pp. S. 1999).H. pp. which Sanusi studied. Studiegids Islamologie 1998/1999. 54. see Rijk Universiteit Leiden. he became a member of the Party of Syarekat Islam. 1998). 1991).1 K. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya. which is available in the KITLV Leiden University. Ahmad Sanusi’s Religio-Intellectual Discourse In the beginning of the twentieth century. Later on. KH Ahmad Sanusi dan Perjoangannya. Cantayan in Sukabumi. (Majalengka: Pengurus Besar “Persatuan Ummat Islam” Majlis Penyiaran dan Da`wah. 1900-1942. (Boenoet: “Pemerintah” Soekaboemi.3 These facts signify Sanusi’s involvement in the Southeast Asian Connection. see his speech translated into Dutch entitled “Dit Boek Nahratoe`ddhargam (De Gebiedende Leeuwenstem) Dienende tot Wering van de Aanvallen Veragtelijke Menschen Gericht tegen de S. 19 Februari 1940).H. when Sanusi was still in the Haramayn. West Java.

he had written two hundred (200) books both in small and big pieces (in Indonesian. To advocate this organization. to teach his santris in his own pesantren (Islamic School) in Cantayan. Ahmad Sanusi had been a very productive writer. therefore. K.8 His fame increased after he had established a religious association (in Indonesian. the Dutch government gave them money. he did not want to cooperate with the colonial Dutch government to make Indonesia independent. Pekauman Corps were the religious leaders who worked in the mosques in Sukabumi for benefit of the Dutch colonial government.M. my father. Op. Cit. 6 5 149 . His students in this pesantren came not only from Sukabumi but also from outside of West Java. al-Ittih±diyyat alIsl±miyyah (A. According to A. In contrast.I/Islamic Association) in 1931. Abdurrahim. 91. S. — Usep Abdul Matin In the following year. the Dutch had often put him in jail from 1919 to 1939. Hence. in 1922.H. During that exile. perkoempoelan agama). which is also located in Sukabumi. 200 boekoe ketjil dan besar).H. therefore. the colonial government regarded Sanusi to be their enemy. Sipahoetar. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . Cit.6 For their support.I. Therefore. Sanusi was not able to break himself free from political affairs. Wanta. Nevertheless. when he was still with me. Sanusi substituted its name with Persatuan Umat Mohammad Iskandar. he had been known as a famous religious teacher. especially in West Java. viz. Loc. and attracted some twenty thousand (20. people are used to calling it Pesantren Cantayan.H. in my house in Sukabumi December 12.K. 7 ..7 Sanusi’s intellectual productivity is also discernible in his establishment of a pesantren at Genteng. he withdrew from this political organization5 and turned to assist his father.. Interview with late K. According to my late father. who interviewed Sanusi face to face. 8 Ibid. these `ulam± were the members of the Politiesche Economisch Bond (PEB) and Pekauman Corps. Dudu Abdullah Hamidi. Cit. during eleven years of his exile (in Indonesian. Loc.M. This political role of Sanusi was unlike the other indigenous `ulam± who supported the Dutch colonial authority.. since 1922. K.H. p. Sipahoetar. Dudu Abdullah Hamidi.000) followers.. 2001. diinterner: 1928-1939).

Sumbawa. Mohammad Iskandar who were willing to give my parents the copy of the fatwâ.e Java. (Pabuaran Sukabumi: no publisher`s name.9 Moreover.12 “Ahmad Sanusi. 1993). Menado. I wish to thank to Hasan Husen Basri. 89. Borneo. see ibid. 1-5. in October 1934. Vol. KH. Mindarat al-Islâm wa-alÎmân. West Java. Sumatra. Acep Zarkasih (about 80 years old) who lent me this book. West Java. as well as Johor and Singapore. 12 Sanusi wrote this fatwâ in Malay language and Arabic characters on two wide and long pages of paper without title and year. Tahdîr al-Afkâr. p. It was also deemed by the PEB and the `ulam±s of Pekauman in Sukabumi. Ambon.11 To argue against this fatw±. pp. 1935). This fatwâ was published by Kantor Cetak al-Ittihad Sukabumi. 10 Muhammad Misybâh ibn Haji Syafe`i Sukabumi. This book was famous in Indonesia i.. 9 150 . 1935). Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . When Japan came to occupy Indonesia. in Ensiklopedi Islam. and I thank Ajengan Oyon Gunung Puyuh who allowed me to copy his Tamshiyya number 28. Celebes. Vol 3. santris). (Sukabumi: al-Ittihâd. I am thankful to H. 11 Ibid. Sanusi published the Qur`anic verses in this Tamshiyya not only in the Arabic language but also in the Latin characters. including the advantage of the Latin characters. Flores.K. Tażkirat al-Ikhwân bi-mâ fî Âkhir al-Zamân. 1955). (Jakarta: PT Intermasa.. the `ulam±s of Pekauman discouraged the people from using the Tamshiyya. 1. — Usep Abdul Matin Islam (PUI/The Association of Muslim Community). Bangka. Abdullah ibn Husain. Nevertheless. as a threat to their influence among their religious students (in Indonesian. they banned this association.”. On the basis of Perak`s fatw±. Madura.10 This explains to us why Sanusi`s fame all over Nusantara grew after the publication of his Tamshiyya in 1934. and Dr. the colonial government considered this book to be a threat to their power. One of these `ulam± was Haji Oesman Perak from Bogor. He was the student of Ahmad Sanusi. See also Ahmad Sanusi.H. I wish also to thank him for allowing me to copy his Tamsyiyyah numbered from 2 to 35. Sanusi depended his Tamshiyya by giving a fatw± that encouraged its use. (Sukabumi: Kantor Cetak Sukabumi. he published a Qur`anic exegesis entitled Tamshiyyat al-Muslimin fi Tafsir Kalam Rabb al-`±lamin. and no one argued against this typescript. Such sentiment was resulted in a way that the`ulam±s of Pekauman published their legal formal opinion (fatw±) that discourages from using of the Tamshiyya by reasoning that Latin characters were prohibited from writing the Qur`anic verses.

Sanusi keept encouraging PETA to drive out not only the occupation of Dutch but also that of Japan.H. in West Java. In this colaboration. tithe in rice or money paid on first day of fasting month. In this case. like other Indonesian political leaders. Sanoesi. s. In the beginning of 1950. As a result. According to the Puslitbang Lektur of the Department of National Religious 13 See his fatwâ in form of bulletin. he agreed with Japan to establish Pembela Tanah Air (PETA/Fatherland Protector) organization. due to Sanusi’s strong leaning to Islam. in particular those who became AII members. Sanusi moved to Jakarta to cooperate with Muslim leaders in Jakarta to arrange a more stronger military power. In turn. which prohibited the official collectors of the tithe from collecting it forcefully from common people. After the Indonesian independence. Ahm.). Sanusi motivated all Muslim people in West Java. Likewise. to become soldiers of Hizbullah (Troop of God) and National Army of Indonesia (Tentara Nasional Indonesia/TNI). When the Nicagurkha occupied Sukabumi in West Java. in particular those who lived in Sukabumi. West Java. 151 . where he died in the same year.K. (Buitenzorg: Ang Tjio Drukkerij. He left three wives and seventeen children. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . His father was a close friend of Sanusi. is also noticeable in the case of zakat fitrah viz. and unified them into Hizbullah to expel the English Nicagurkha soldiers from Indonesia.. However. in 1944. two pages. he gave a fatw± in 1936. he empowered Indonesian Muslim youths.a. Sanusi was also a member of Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan/BPUPKI/Committee Inspecting to Organize the Independence of Indonesia). the Japanese administrator in Indonesia appointed Sanusi to become a Japanese vice resident in Bogor. H. Sanusi returned to Gunung Puyuh in Sukabumi. the Japanese administrator disqualified him from this BPUPKI... This colaboration helped him strengthen Indonesian Muslim community that he established in 1934 to drive the Ducth occupation out of Indonesia. “Zakat Fithrah”. — Usep Abdul Matin Sanusi’s intellectual debate with the `ulam± of Pekauman in Sukabumi.13 When Japan occupied Indonesia in the beginnings of 1940s. Sanusi collaborated with Japan. I wish to thank Mr Muflih for lending me this bulletin. and in general other Indonesian youths.

152 . he was at the age of 80. they would put him or her into a jail” (in Sundanese. 31-33. a student of Ahmad Sanusi. After he died. 15 Interview with Ajengan Dadun in his house in Cibadak-Sukabumi. In addition. Leiden University. Sanusi was advocating to reinforce Islamic law in Indonesia. the Netherlands. and intellectual discourse. According to deceased Ajengan Dadun Abdul Qahar. Sanusi had given him a dying exhortation (in Sundanese: wasiat) to suppress his works on masalah-masalah furu` (cases of ethics based on different principles of Islam). political. and intellectualism in his time. a little brother of Ahmad Sanusi.14 These works are now scattered and difficult to discover.. bakal dibui). However. Op. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . For instance.K. 16 Interview with Mr.. on December 20. the study on Sanusi has its significant information of the relationship between Islam and state in Sanusi’s period. before his death. in particular his work collection. The reason is the degree to which he is a Muslim who is not only a productive writer. as a result.16 Perhaps. In 14 Puslitbang Lektur Agama. in the colonial period of Indonesia.H. pp. December 12. Oking (about 80 years old). this article of mine may give us a portrait of his social. Oking explained to me that he did so because “if the Dutch administrators found someone possessing Sanusi’s works. — Usep Abdul Matin Affairs in Jakarta. It has probably connection to such link in Indonesia today. To me. Oking just mentioned are the reasons of why his books are now disappearing and extremely difficult to find. When I interviewed him. the dying exhortation of Ahmad Sanusi given to late Ajengan Dadun and the fear as felt by Mr. 2001. Cit. Therefore. politics. This work is in form of micro film which is available in KITLV library. I found about one hundred and twenty-two (122) of Sanusi’s works from some generous people. then he buried them into a ground. Sanusi left four hundred and eighty (480) pieces of works that he compiled by himself. but also an active leader in diverse debates on religion. Mr. Oking had ever put some works written by Ahmad Sanusi into a bamboo in his house. Oking at his house in Cigunung-Sukabumi.. I had been working for five years to look for Sanusi’s writings. 2001. said to me that.15 In addition. society. the study on Sanusi is worthy conducting.. Badan Litbang Agama.

dicetak di kantor cetak “al-Ittih±d” Punjul Tanah 153 . pangajaran nomor 7 Oktober tahun 1932 [four pages]. Al-Isy±rah f³-al-Farq bayn al-Şadaqah wa-al-Diy±fah. 6. Tamshiyya]. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . pangajaran al-Ittihad nomor 18 19 Janwari [probably.I.H. late Dadun Abdul Qahhar. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. 10.K. and without identity of publication [four pages].I. It was published by Kantor Cetak al-Ittih±d Sukabumi.. Without title. sambungan nomer 17] [four pages]. — Usep Abdul Matin 1998. Hartina Nuduhken kana Bedana antara Aya Şadaqah rejeng diy±fah dina Syara1. 1 bulan skali bulan Februari 1932 di Batavia [2 pages].I. 3. 8. 11.H. One of Qahhar’s students was an officer who was in charge of Cianjur regency (Bupati) in West Java. K. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. (Batavia: Hoefd Bestuur A. pangajaran al-Ittihad ka 17 Oktober 1933 no 4 [four pages]. 1932) [four pages]. Bulletin and Magazine: 2. pangajaran nomor 5 tahun 1932 [four pages]. Ahmad Sanusi [on the use of Latin letters in his Qur`anic Exegesis. 7. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. 1 bulan sakali bulan Februari 1932 di Batavia [2 pages]. Ahmad Sanusi`s works which I have collected so far as follows. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”.I. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”.I. dinukil jisim kuring Ahmad Sanusi bin Haji `Abd al-Rahim. his little brother.. 5. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. pangajaran nomor 2 di kaloearkeun koe Hoefd Bestuur A. The fatw± of K. without title and year of publication. 1932. Ahmad Sanusi’s Work Collection I will mention K.H. This man reinforced also the Islamic law in this region (Cianjur). January. pangajaran nomor 3 telat dua bulan lantaran nunggu kantor cetakna di kaloearkeun koe Hoefd Bestuur A. 1. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. 9. Wasidi Swastomo.I.H. campaigned for shari`a in Sukabumi in West Java.

15. 14.. Senen. Tafs³r Boechori dikloearken 1 boelan sekali oleh H.H. Ahmad Sanoesi bin H. 16. Maanblad Januari Februari no 30-31 1934. 13. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . Weltevreden 8 november 1928 (Dicetak di Kantor Sayyid Yahya ibn Usman Tanah Abang). 18. Tafs³r Bahasa Soenda Februari 1932 Tahoen ka II diterbitkan saboelan sekali oleh Hadji Ahmad Sanoesi bin Hadji Ahmad Sanoesi bin Hadji Abdurrahim Tanah Tinggi Senen no 191 Batavia Kramat Harga langganan 2 boelan f 1. Jilid tahun ka I kanggi nomor 1 September 1931 September 1931. 12. No 23 24 Maanblad Juni (year is not clear. Ahmad Sanusi Gang Kampung Bali Kecil 6 Tanah Abang Weltevreden Betawi. Ahmad Sanoesi bin Hadji Abdoerrahim. no 19. Fada`il Kasb al-Ikhtiy±r f³ Ilz±m Afwah al-Wu`az al-Gid±r Artinya Menyatakan segala Kelebihan Mencahari dan Berusaha 154 . Ris±lat Tashq³q al-Awham f³-al-Radd `an al-Tagam Artinya Inilah Suatu Pembelah segala Sangkaan yang Salah di dalam Menolak Tukang Menyesatkan kepada Orang-orang Bodo karangan hamba yang doif Haji Ahmad Sanusi ibn Haji `Abd al-Rahim Gunung Puyuh Sukabumi Tercetak atas usaha Sayyid `Ali al-`Idrus Kampung Bali Keramat nomor 38 Batavia. — Usep Abdul Matin Tinggi Senin Batavia Centrum. probably 1934. Ris±lat Tashq³q al-Awham f³-al-Radd `an al-Tugam li-n±qil³h±.20. 17. 27 Jumada al-Ula 1347. Ris±lat Tahd³r al-`Aw±m min Muftaray±t Cahaya Islam Hartina Mere Inget ka sakabeh Jalma Awam Kudu Sien tina sakabeh Jijieunan Bohongna kaom Surat Kabar Cahaya Islam dikumpulken ku jisim kuring anu kacida do`ifna Haji Ahmad Sanusi ibn Haji Abd al-Rahman di Tanah Tinggi Senen nomor 191 Weltevreden Batavia Kantor Cetak Harun ibn `Ali Ibrahim 3 Pakojan Betawi Telepon 1850 [72 pages].. Tanah Tinggi. Batavia Kramat. my note] Bahasa Soenda oleh H. Tinggi Senen no 191. akhir Bulan Syawwal 1347 (dan Haknya menyetak pun sudah jadi miliknya) (Cetakan ketigakalinya) Tercetak di kantor cetak dan toko kitab al-Sayyid `Ali al-`Idrus Keramat 38 Batavia Centrum). because no 29 is dated to that year). Pangadjaran [Tafsir ku. Abdurrahim T.K.

).. Tarbiyyat al-Isl±m. (Tanah Tinggi-Senen-Batavia Centrum: al-Ittihad. and s. No. 10.a. 5. Tażkirat al-Th³libin fi Bayan Sunniyat al-Talq³n. without the name of publisher.a).). 4. Mr. (Sukabumi: al-Ittih±d. 17 155 .a). Nµr al-Yaq³n f³ Mahw Madzhab al-La`³n min al-Mutanabbiyy³n wa-al-Mutabaddi`³n. probably 1934. 9. (Tanah Abang-Weltevreden Batavia: Sayyid Yahya bin `Usman. 2. s. I am grateful to my friend. Al-Tamshiyyath al-Isl±miyyah f³ Man±qib Im±m al-Sh±fi`i.).H. 8. (Batavia Centrum: al-Sayyid al-`Idrµs.a. 6. 20 Romadhan 1347).K. s.). 7. (Tanah Abang:Sayyid Yahya. — Usep Abdul Matin Kehidupan di dalam […/not clear] segala Mulut si Tukang Ngajar yang selalu Menipu Orang dikeluarkan oleh hamba yang [ …/not clear] Haji Ahmad Sanusi bin Haji `Abd al-Rahim di Tanah Tinggi 191 Batavia Centrum. without the name of the publisher. Al-Mufhim±t fi Daf`i al-Khayal±t. s.a. Ujang Sholehuddin. Tercetak diterbitkan alIttihad Tanah Tinggi 191 Punjul Batavia Centrum. From the beginning of December to the beginning of January 2002.).a. Shir±j al-Ażkiy±` f³ Tarjamat al-Azkiy±`. 3.a. Al-Kalimat al-Mabniyyah f³ Qasy³dat ibn Hajjah. s.a. because no 31 is dated to 1934).. Tamshiyyat al-Muslimin f³ Kalami Rabb al-`Alam³n. Kit±b Mift±h al-Jannah f³ Bay±n Firqat Ahl al-Sunnah wa-alJam±`ah. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . s. 29 Maanblad December (year is not clear. s. I had copied a number works composed by Ajengan Ahmad Sanusi as follows. (without place of the publication. (Gunung PuyuhSukabumi: without the name of publisher. (without place of the publisher. There are tweleve works of Sanusi that I found from deceased Ahmad Djunaedi Ma`ruf17: 1. Kanz al-Rahmah wa-al-Lutf f³ Tafs³r Sµrat al-Kahf.). Number 47. for helping me find this collection of late Ma`ruf. (Panarakan Kaler-Bogor: Ikhtiyar. s.

.a. Al-Sh±fiyat al-W±fiyah f³ Fadh±`il Sµrat al-F±tihah. 12.).). There are nineteen (19) works of Sanusi that I found from Mr. 10.K. nor year of the publication).). Tawh³d al-muslim³n wa `aq±`id al-mu`min³n (Bg [Bandung]: Sukma Rat. s. s.a).H. 2.a). Hilyat al-`aql wa-al-fikr (Tanah Abang: Kantor Cetak Sayyid Yahya. 4. 6. 9. Oking18: 1.a). Al-Sh±fiyat al-w±fiyah f³ fad±`il sµrat al-F±tihah 7. s.. 8. s.a. (Babakan Sirna-Karang Tengah Cibadak-Sukabumi. no name of the publisher. 14.a). Al-Aqw±l al-Muf³dah f³-al-Umµr al-Muwhamah. T³j±n al-gilm±n f³ tafs³r al-Qur’±n (Petamburan-Batavia: alSayyid `Abdullah putra al-Sayyid `Ushman. — Usep Abdul Matin 11. Jumad al-Awwal 1352). s.). Al-Kaw±kib al-Durriyah fi-al-Ad`iyyah al-Nabawiyyah. It includes the list of Sanusi`s works. 11. (Sukabumi: alIttih±d. Jawharat al-wah³d (Pekojan-Betawi: Kantor cetak sareng Toko Buku Harun bin Ali Ibrahim. without the name of publisher. 12. 18 I thank Mr.a). s. s. Bahr al-madad f³ tarjamat ayyuh± al-walad (Vogelwegsukabumi: no publisher. Iskandar Sanusi for introducing me to Mr.`Tawh³d al-muslim³n wa`aq±`id al-mu`min³n (Tanah TinggiPunjul-Batavia: Kantor Cetak al-Ittihad. s. s.a. s. s. Oking. Lujj±m al-Gudd±r al-Qa`ilin bi-anna Abaway al-Nabiyy min Ahl al-N±r. Kashf al-Sa`±dah f³ Tafs³r Sµrat al-W±qi`ah.). 156 . 13. (Tanah Abang: Kantor Cetak Sayyid Yahya.a. Vol. (Cibadak Sukabumi: without the name of publisher. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse .a.a). 1. Min majmµ`at durµs al-`ulµm (Tanah Abang: Kantor Cetak Sayyid Yahya. s.a). (without place of the publication. Al-Kaw±kib al-Durriyyah f³ al-Ad`iyyat al-nabawiyyah (Tanah Abang: Kantor Cetak Sayyid Yahya. 3. Hid±yat al-siby±n f³ fad±’il sµrat tab±rak al-mulk min alQur’±n (Tanah Abang: Sayyid Yahya. Ǐq±d al-himam f³ ta`l³q al-hikam 5.

). Ahmad Muflih. s. in “Kabagjaan Islam”. October 1935).a).a. no. (no place of publication. There is one (1) book of Sanusi that I gained from Mr.a). 1. 3rd edition.a). Al-mutahhir±t min al-Mukaffir±t. s. “Kabagjaan Islam”. (Gunung Puyuh-Sukabmi. Tanw³r al-dal±m fi Furuq al-Isl±m. 2. This piece of work is printed in 16 combined pages.a). Tafs³r Malja` al-T±lib³n. (no place of the publication: no publisher`s name. 3. Al-Jaw±hir al-B±hiyyah f³ Adab al-Mar`ah al-Mutazawwijah. Al-Muf³d (Vogelweg Sukabumi: no publisher`s name. 3. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . Acep Zarkasyih in Sukabumi. 19 157 . (Pekojan-Betawi: Toko Buku Harun bin `Ali Ibrahim. (Tanah Abang Weltevreden: Sayyid Yahya. Tafs³r Malja` al-T±lib³n.a). (Tanah Tinggi Betawi: Kantor Cetak Al-Ittih±d. (Gunung Puyuh-Sukabumi: al-Ittihad. 1 November 1931).a. (Sukabumi: alIttihad. Vol 1. no. 7. 18. 9. Vol. no publisher`s name. s. Ǐq±d al-himam f³ ta`l³q al-hikam. 16. (no place of publication: no publisher`s name. s. and s. “Mu`±hadah Perjanjian Allah Ta`ala ka Nabi Adam”. 18.a). s. Min majmµ`at durµs al-`ulµm. 2. 5. s. Hilyat al-siby±n f³ bay±n sawm ramaz±n (No place of publication: no publisher`s name.. s. s.K. no. (Gunung Puyuh-Sukabumi: without publisher`s name. 19. West Java: 1. 1935).. s. Vol. 17. “Kabagjaan Islam”. Ahmad Muflih19: I wish again to thank Mr.H. There are nine (9) works of Sanusi that I obtained from H. 4. 6.). 8. Tafs³r Malja` al-T±lib³n. Ujang to introduce me to his father.). 28 January 1931/9 Ramadlan 1349). no name of publisher. “Al-Tabl³g al-Isl±m³ (Embaran Kaislaman)”. Mr. 3. — Usep Abdul Matin 15. (no place of publication: no publisher`s name.a.a). (Tanah Tinggi Betawi: Kantor Cetak Al-Ittih±d.

“Al-Mufid: `Ilm al-Tawh³d”. (Tanah Abang Weltevreden: Sayyid Yahya. 158 . s.H. (Kampung Petamburan-Tanah Abang-Betawi: Tuan Sayyid `Abd All±h bin Sayyid `U£m±n. Qal±`id al-Durar f³ Bay±n `Aqd al-Jauhar.a). s. There are thirty-seven (37) books of Sanusi that I copied from Dr. the author says that he asks the pardons of his readers if they find some some mistakes in this book because the writer was still learning (anu nulisna diajar). Thirty-seven of them are books written by Ahmad Sanusi as listed above. s.a. (Gunung Puyuh-Sukabumi: no publisher. s.1. because the writer “just started to learn how to write to follow the footsteps of professional writers” (diajar tutulisan tuturuti ka anu tukang ngarang). Hilyat al-Siby±n f³ Bay±n Saum Ramad±n. 22 Rabi` al-Awwal 1348).a). Manzµmat al-Rij±l li-Sayyid `Al³ Zayn al-`±bid³n. s. Oman Fathurrahman for allowing me to copy about 63 works from his collection. On the title-page of this work. 9. 3. (no place of publication: no name of publisher. 7. Malja` al-T±lib³n f³ Tafsir Kal±m Rabb al-`±lamin. (VogelwegGunung Puyuh-Sukabumi: no publisher. Al-Ad±wiyyah al-S±fiyah f³ Bay±n S±l±t al-H±jah wa-alIstikh±rah wa Daf`i al-Kurb±t. Tafr³h Sudµr al-Mu`minin f³ Mawlid Sayyid al-Mursal³n.).a. (Babakan Sirna: no publisher.). Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . (Vogelweg 100 Sukabumi: no publisher. 8. Tafs³r Sµrat al-Mulk: Hid±yat Qulµb al-Siby±n f³ Fad±`il Sµrat Tab±rak al-Mulk min al-Qur`±n. (Pekojan-Betawi: Ahl al-Sunnah wa-al-Jam±`ah. s. 28 January 1931/9 Ramadhan 1349). 2nd edition. — Usep Abdul Matin 1. 4. s. Jawharat al-Marfiyyah fi Mukhtasar Ma©hab al-Sh±fi`iyyah.a).K. 2. s. 20 I am once again grateful to Dr..a). Vol. 6. On the title-page of this book.a).. (no place of publication: no year of publication. (Cantayan: no publisher. Oman Fathurrahman20: 1. 5. the author mentioned that he asked the pardons of his pardons if they find his bad expressions of his words (kirang sae prak-prakannana). Al-Lu`lu` al-Nadlid fi Masa`il al-Tauhid.a).

19. (Senen-Batavia Centrum: Harun bin `Ali Nur. s. Tafsir Bahasa Soenda. (Vogelweg-Sukabumi: without publisher. 4. 18. 191: Harun bin `Ali. “Tuntunan Budi”. No. s. year III).. without publisher. February 1932). (Tanah Tinggi-Senen Batavia Kramat: al-Ittihad. Mei 1936). 28 August 1931). 20.H. 2. Mift±¥ al-Mad±d.K. 24. 2. 16. 17. (Tanah Tinggi-Senen No 191 Batavia Kramat: no publisher. (Pekojan-Betawi No. The author is Ahmad Sanusi. No. the author mentioned the right of the publication: Pasal (section) 11 tina undang-undang (of the law) dated to 1912 number 600. (De Vogelweg no 100 Soekaboemi: al-Ittihad. 1. mandblad. Vol. No. Pangajaran dengen Bahasa Soenda. Tafsir Bahasa Soenda. 28 March 1931).a. (Gunung PuyuhSukabumi: without publisher. s. (Jatinegara: no publisher. No.).a. (Vogelweg-Sukabumi: without publisher. s. 5. 26 Rajab 1347). Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . 28 April 1931). — Usep Abdul Matin 10.). No. 22. No. 28 July 1931). 21. 15. 28 May 1931/10 Muharram 1350).). 7. On the title page.. Qaw±n³n al-D³niyyah wa-al-Duny±wiyyah f³ Umµr al-Zak±h wa-al-Fitrah.a. the scriber is al-Sayyid Muhammad bin Yahya. January-February. 14. 3. (Tanah Tinggi-Senen No 191 Batavia Kramat: no publisher.a. 19-20. (Tanah Abang Weltevrede: Sayyid Yahya. no 191. Tafsir Bahasa Soenda. (Tanah Tinggi-Senen No 191 Batavia Kramat: no publisher. s. Vol. No. “Miftahoelmadad: Kaifiat Ngajarken Zoebad Ilmoe Tauhid Fiqih Tashaoef”. 159 . No.a. 12. 11. 8. (Tanah Tinggi-Senen No 191 Batavia Kramat: al-Ittihad. 1 October 1931). 3.). (Gunung PuyuhSukabumi: no publisher. 23. Tawh³d al-Muslim³n wa `Aqa`id al-Mu`min³n. Kashf al-Awham wa-al-Zunµn f³ Bay±n Qaulih Ta`±l± l± Yamassuhµ ill± al-Mutahharµn. 13. Tafsir Bahasa Soenda. (Senen: Pak Haji Harun bin `Ali Ibrahim. Al-Matlab al-Aśna f³-al-Asm±` al-Husna. Tafsir Bahasa Soenda. Tafsir Bahasa Soenda. number 1.). maanblad. Tafsir Boechari.

1935). s. 1929/6 Ramadhan 1347). (Tanah Abang: Sayyid Yahya. She gave them to me as a gift.a).Igtir±r bi-Żal±lat wa-Iftir±y±t Tasyfiyyat al-Afk±r.. s. (Sukabumi: Kutamas. Al-Sir±j al-Wahh±j fi-al-Isr±` wa-al-Mi`r±j. It is as follows: 1. (Sukabumi: Al-Ittih±d. 33. Al-Suyµf al-Sy±rimah f³-al-Radd `al± al-Fat±w± al-B±tilah. 16.). Ris±lat al-Jawharah al-Mardiyyah f³ Mukhtasyar al-Furµ`iyyah al-Sh±fi`iyyah. (without the place of publisher: without the publisher`s name. 2. 29. 3. Hilyat al-`Aql wa-al-Fikr f³ Bay±n Muqtaday±t al-Shirk wa-alFikr. (Gunung Puyuh Sukabumi: no publisher`s name. s. (Cantayan-Sukabumi: without publisher. 36. 32.a). 34. (Sukabumi: Kutamas. 160 . Vol. Tamshiyyat al-Wild±n f³ Tafs³r al-Qur`±n.a. 1912). Rawdat al-`irf± f³ ma`rifat al-Qur’±n. Ris±lat Tahd³r al-`Aw±m min Muftaray±t Cahaya Islam. Tafr³h sudµr al-mu`min³n f³ mawlid sayyid al-mursal³n. Sillah al-B±sil fi-al-Darb `al± Taz±hiq al-B±til.a. 8 Rabi`u al-Akhir 1349). s.). 30. (8 Rab³` al-±khir 1348/3 October 1929). Al-Fiqh al-Akbar Im±m Hanaf³. Epon (the wife of late Haji Tamim. Rawdat al-`irf± f³ ma`rifat al-Qur’±n.a. (Tanah Tinggi Punjul 65 Batavia Kramat: al-Ittihad. Sir±j al-Ummah f³ Khasy±`isy al-Jum`ah.H. (Tanaha Abang Weltevreden Betawi: Sayyid Yahya bin Ustman. Tahdir al-Afk±r min al. (PekojanBetawi: Harun Ibn `Ali Ibrahim. 2. Tanb³h al-Hayr±n f³ Tafs³r Sµrat al-Dukh±n. 26. Mr. 35. 24 Ramadhan 1347).a. s. J±mi`u al-Durar f³ Tabd³d Awham Haji Bodor. 6.). Vol. 1912). s. (no place of publisher: without the name of publisher. 28. (Tanah Abang: Sayyid Yahya. s. 16. There are nine (9) books of Sanusi that I received from Mrs. (Pekojan-Betawi: Harun ibn `Ali Ibrahim.. (Tanah Abang Weltevreden: Sayyid Yahya. — Usep Abdul Matin 25. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . (Babakan Sirna: without publisher.). [1931]). This collection belonged to her late husband. Ujang Suhud.a). 20 Muharram 1348). 37.K. my grandfa). Hid±yat Qulµb al-Shiby±n f³ Fad±`il Sµrat Tab±raka al-Mulk min al-Qur`±n. 27. 31.

5.a. (Tanah Tinggi Senen Keramat No. 1912). Tafs³r malja` al-t±lib³n. (Djl. s. there is a list of the people who died. 3.a. Rawdat al-`irf± f³ ma`rifat al-Qur’±n. s.).a. 30. Vol.). 10 Syawwal 1349/28 February 1931). ‫( .). 3rd edition. Rawdat al-`irf±n f³ ma`rifat al-Qur’±n. 2. 6. Rawdat al-`irf± f³ ma`rifat al-Qur’±n. Tjagak Tjisaat – Sukabumi: H. On the last page of the book. (no place of publication: no publisher`s name. s.H.a. 3. (De Vogelweg Sukabumi: No publisher`s name. There are eleven (11) books of Sanusi that I received from Mrs. 100 Sukabumi: no publisher`s name. Vol. 28 April 1931).اﻟﻤﻄﻬﺮات ﻣﻦ اﻟﻤﻜﻔﺮ١ت‬De Vogelweg No.H.).. Tafs³r malja` al-t±lib³n. On the last page of the book there is the list of the people who just died. 2. Vol. s. 1. (no place of publication: no publisher`s name. 4. There are three (3) books of Sanusi that I received from my late father. Tafs³r malja` al-t±lib³n. 28 March 1931).K. Vol. and some corrections of the author of some words mentioned in previous volumes of this exegesis. 161 . Dudu Abdullah Hamidi: 1. 4 Pekojan Betawi: Kantor Cetak Harun bin `Ali. 8. Vol. It contais the Quranic exegesis of the verse Al `Imr±n. (Tanah Tinggi Betawi: no publisher`s name. This book starts from the verse alNaba` to the verse al-N±s and ends at the Du`a` Khatm alQur`±n. Uking`s collection. — Usep Abdul Matin 4. (no place of publication: no publisher`s name.). I write them in the Arabic script as follows: 1. M. I found the cover of this book from Mr. (Tanah Tinggi Senen 191 Batavia Keramat: no publisher`s name. 9. (Tanah Abang Weltevreden Betawi: Kantor Cetak Sayyid Yahya bin `Usman. Tafs³r malja` al-t±lib³n. K. s.. Zainal Abidin Toko kitab dan Petji Merk “Sedjati”. Tamshiyyat al-dar±r³. Jawharat al-mardiyyah f³ mukhtasar maż±hib al-Sh±fi`iyyah. 7.a. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . tahun ka 1). Mamih Ijong. 1 September 1931.

In addition. 20 Muharram 1348). — Usep Abdul Matin 2. 4. ‫ . 7.a.a.هﺪاﻳﺔ اﻟﺼﻤﺪ ﻓﻰ ﻣﺘﻦ اﻟﺰﺑﺪ‬Gunung Puyuh Sukabumi: No publisher`s name. like al-Wajiz by 162 . (De Vogelweg Sukabumi: Al-Ittihad.اﻟﺪﻳﺎر اﻷﺳﻼﻣﻴﺔ ﻓﻲ اﻟﺴﻌﺎدة اﻷﺑﺪﻳﺔ : دار ﻷﺳﻼم دﻧﺎ آﺎﺑﻜﺠﺎ‬ (Kramat 38 Jakarta: Sd. s.ﺗﺎج اﻟﻤﻔﺎﺧﺮ ﻓﻲ ﺗﻔﺮﻳﺢ اﻟﺨﺎﻃﺮ ﻓﻲ ﻣﻨﺎﻗﺐ اﻟﺴﻴﺪ ﻋﺒﺪ اﻟﻘﺎدر ﺟﻴﻼﻧﻰ‬Tanah Abang Weltevereden: Kantor Cetak Sayyid Yahya.a. s.). On the title-page of this book. 10. s. 5.K.. On the back-cover title-page of this book. 2.). s.a. 5: Percetakan “al-`Usmaniyyah” Sayyid Hasan bin Usman bin …. ‫( . Friday. 11.). 13 Jumadi al-Awwal 1361/29 Mei 2602 Nippon (1942).اﻳﻘﺎظ اﻟﻬﻤﻢ ﻓﻲ ﺗﻌﻠﻴﻖ اﻟﺤﻜﻢ‬No place of the publication: no publisher`s name. 2. (Tanah Abang Weltevreden: Boekhandel en Steendrukkerij Sajid Yahya.اﻟﺴﻼح اﻟﻤﺎﺣﻴﺔ ﻟﻄﺮق اﻟﻔﺮق اﻟﻤﺒﺘﺪﻋﺔ‬Gunung Puyuh Sukabumi: no publisher`s name. ‫( . there is announcement of the publisher. Ali Alaydroes. 1 Rajab 1347/13 December 1928). he prohibited the readers from reading the fake works (kitab-kitab tiruan). 6.). (Petamburan Betawi: Cetakan Sayyid `Abdullah putra Sayyid Usman. there is a stample named by Muhammad Sanusi. 26 Rajab 1347).a. s. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse .آﺸﻒ اﻷوهﺎم واﻟﻈﻨﻮن ﻓﻲ ﺑﻴﺎن ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻲ ﻻﻳﻤﺴﻪ اﻻ اﻟﻤﻄﻬﺮون‬Tanah Abang: Kantor Cetak Sayyid Yahya. ‫( .a. s.H. 9. ‫( .ﺟﻮهﺮة اﻟﻤﺮﺿﻴﺔ ﻓﻲ ﻣﺨﺘﺼﺮ ﻣﺪاهﺐ اﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ‬No place of the publication: no publisher`s name.). 3.a. He said that Tafsir Raudhat al`Irfan is worth reading for both old people (sepuh) and teenagers (murangkalih). ‫( .اﻟﻤﻄﻬﺮات ﻣﻦ اﻟﻤﻜﻔﺮات‬no place of the publication: No publisher`s name.ﺗﻴﺠﺎن اﻟﻐﻠﻤﺎن ﻓﻲ ﺗﻔﺴﻴﺮ اﻟﻘﺮأن‬Cantayan Sukabumi. sayyid Yahya.). ‫ . ‫( . ‫ . ‫” اﻧﺎﻧﻮ ﻣﻌﻤﻮر .). which says that he received anything to publish this book in a cheap cost.a. 8. ‫ : ﻣﻨﻈﻮﻣﺔ اﻟﺮﺟﺎل ﻟﺴﻴﺪى ﻋﻠﻰ زﻳﻦ اﻟﻌﺎﺑﺪﻳﻦ‬Ieu Nadlam Qashidah Tawassul kalawan Sakabeh Awliya` Allah. s.. s. Tafsir Yasin (Tafrih Qulub al-Mu`minin). ‫( .ا ﻟﺸﺮاج اﻟﻮهﺎج ﻓﻰ اﻷﺳﺮاء واﻟﻤﻌﺮاج‬Tanah Abang Kecil No.آﺸﻒ اﻟﺴﻌﺎدة ﻓﻲ ﺗﻔﺴﻴﺮ ﺳﻮرة اﻟﻮاﻗﻌﺔ‬Babakan Sirna Sukabumi. were published by Musa bin `Ali Patekwan Betawi without the author`s permission. 3.). the author warned the readers that his works entitled: 1. On the last page of this book. Tafsir Dukhan (Tanbih al-Hayran).

such as Muhammad `Abduh and Jamaluddin Al-Afghani.H. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Mr. There is one book of Sanusi that I found from a santri of Syams al-`Ulum in Gunung Puyuh. (Gunung Puyuh Sukabumi: no publisher`s name. since he traveled to the Haramayn (Mecca and Medina) to learn and to teach. December 22. He was a Sundanese reformer Muslim whose ideas were influenced very much by notorious Muslim reformers. by Taufik Abdullah. s. Gunung JayaSukabumi. I could draw a conclusion that KH.. I hope that this article inspires the readers. Sukabumi: Misb±h al-Fal±h f³ Awrad al-Mas` wa-al-Syab±h.H. Ahmad Sanusi. Azra. to study further on Sanusi in a more deeply way. I have a good luck to find more than one hundred writings authored by Sanusi. Yosep Aspat. is a prolific writer whose works are now dfficult to discover for the reason that the Dutch colonial government regarded him as a dangerous man to them. 163 . I dedicate this work to my late parents. On this paper. Then. Abdurrahim. — Usep Abdul Matin Haji Muhammad Juwayni bin Haji `Abdurrahim Parakan Salak published by Sayyid `Ali al-`Idrusiy in the Keramat Batavia Centrum. He warned them that whoever was involved in this case would be expelled by God from Islam. [] Bibliography Alamsyah.K. Introd.H. Azyumardi. thereby prohibiting Indonesians from having and reading Sanusi’s works. and my grandfa who became the adjutant to the late father of K. in particular the students of Islamic History and Civilization. Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana & Kekuasaan. Ahmad Sanusi: K..a. 2001 in his house. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . Conclusion On the basis of the above-mentioned details.). he qouted the prophet`s statement: “Man Gassana fa laysa minna” (whoever performed a back bitting is not from us). 1999. who lived from the last nineteenth to the first twentieth century.

H. ---------. Vol. KH Ahmad Sanusi dan Perjoangannya. 2001. Para Pengemban Amanah: Kyai dan Ulama dalam Perubahan Sosial – Politik di Priangan c. KH. Jakarta: Bagian Proyek Penelitian dan Pengembangan Lektur Agama Departemen Agama. 164 . 1955. Sukabumi: al-Ittih±d. Proyek Penelitian Keagamaan. Sanusi. Iskandar. Leiden. Dudu Abdullah Hamidi. in Proces Verbal. West Java. [Fatw±] “Zakat Fithrah. my father. December 12. 1. Interview with Mr. M.. — Usep Abdul Matin Ensiklopedi Islam. 1991. 1998 Leiden: Rijk Universiteit Leiden. ---------. KITLV. Abdullah. Biografi K. 1935.a. Puslitbang Lektur Agama. Tadhkirat al-Ikhw±n bi-m± fî ±khir al-Zam±n. Buitenzorg: Ang Tjio Drukkerij. on December 20. Sukabumi. 2001. Vol. 2001. Oking in his house in Cigunung.. Ibn Haji Syafe`i Sukabumi. he was at the age of 80. Leiden University.” . Studiegids Islamologie 1998/1999. ibn Husain. Fatw±. Muhammad Misbah. Sipahoetar. in our house in Sukabumi December 12. 1900-1942. Kantor Cetak al-Ittihad Sukabumi. Sukabumi: Kantor Cetak Sukabumi. [This work is in form of micro film which is available in the KITLV library. Badan Litbang Agama. 19 Februari 1940. Majalengka: Pengurus Besar “Persatuan Ummat Islam” Majlis Penyiaran dan Da`wah.H.I. 1935. ---------. Ahmad Sanusi. 1986. Siapa?: Lukisan tentang Pemimpin-pemimpin. Mohammad. An unpublished thesis. When I interviewed him. The Netherlands]. Wanta.K. Second edition. Ahmad.H. Leiden University.. Boenoet: “Pemerintah” Soekaboemi. 3. Sukabumi. 1991. Interview with late K. [Sanusi`s speech of Syarekat Islam] “Dit Boek Nahratoe`ddhargam (De Gebiedende Leeuwenstem) Dienende tot Wering van de Aanvallen Veragtelijke Menschen Gericht tegen de S. Rijk Universiteit. 1993. Tahdîr al-Afk±r. Mindharat al-Islam wa-alIman. Amsterdam: Vrije Universiteit.a. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . Jakarta: PT Intermasa.” s. Interview: Interview with late Ajengan Dadun in his house in Cibadak.

Tarekat Syattariyah di 165 . Kajian filologi semacam ini mensyaratkan para filolog untuk memperkaya wawasannya dengan pengetahuan tentang sejarah sosial-intelektual tersebut. with its seven grades teaching. Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Teks dan Konteks. Moreover. In fact. Burhanuddin Ulakan. The study of the book has been extended by additional analysis on the representation of the Sundanese manuscript with Kuningan version dan two other Javanese manuscripts – Cirebon version and Girilaya version. Jakarta This writing is an overview of the book written by Oman Fathurahman. The explanation which is based on the manuscripts of the Syattariyah Minangkabau. it was clear that the teaching of monisme or unity of being was eliminated and the teaching was adjusted to the teaching of Islam which is based on the creed of Ahlus Sunnah wal Jamaah Kata kunci: Filologi. Minangkabau Pendahuluan Kajian filologi dengan pendekatan sejarah sosial-intelektual masih jarang dilakukan oleh ahli filologi Indonesia.Tarekat Syattariyah di Minangkabau — Uka Tjandrasasmita Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Tinjauan Buku “Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Teks dan Konteks”. karya Oman Fathurahman Uka Tjandrasasmita UIN Syarif Hidayatullah. The order of Syattariyah is considered by a group of Naqsyabandiyah to teach the wujudiyah (monism or unity of being). An interesting thing is that this book is a result of the philological study with the approach of sociointellectual history which the local philologists are still rare to use. illustrate the existing difference between the order of Syattariyah and the order of Naqsyabandiyah. the order of Syattariyah Syekh Burhanuddin Ulakan tought in the following period was flexible. Therefore. this study is hoped to motivate other local philologist to conduct such study. Buku karya Oman Fathurahman. tarekat Syattariyah.

1. Hal ini menunjukkan bahwa surau merupakan pusat pewarisan intelektual Islam. dipakai sebagai bahan perbandingan untuk melihat sejauh mana kekhasan dinamika dan perkembangan tarekat Syattariyah di Sumatera Barat yang tetap menjadi perhatian utamanya. Diharapkan kehadiran buku ini dapat mendorong para ahli filologi Indonesia lainnya untuk mengadakan kajian semacam itu. Azra mengatakan bahwa dari segi kajian naskah-naskah (manuscripts) keislaman yang tersebar di Nusantara. tidak sebatas Minangkabau. Ketiga naskah tersebut menurut Oman Fathurahman.174 Minangkabau: Teks dan Konteks. merupakan karya yang berasal dari disertasi untuk memperoleh gelar doktor pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia tahun 2003. 166 . Cakupan pembahasan dalam buku ini sudah mengalami perluasan.Jurnal Lektur Keagamaan. Vol. Naskah-naskah lokal di Minangkabau menunjukkan ekspresi Islam lokal. Buku yang akan kita tinjau ini merupakan kajian filologis dengan pendekatan sejarah sosial-intelektual. ”Apresiasi Warisan Intelektual Islam di Surau Minangkabau”. surau merupakan pusat penulisan dan penyalinan naskah-naskah keislaman tersebut. Naskah dan Pendekatan Interdisipliner Buku karya Oman Fathurahman ini dapat dikatakan telah teruji bobot keilmiahannya karena merupakan hasil disertasi yang dinyatakan lulus dengan pujian cumlaude oleh dewan pengujinya. 2009: 165 . 7. untuk kasus di Minangkabau (Sumatera Barat). Jika diadakan perbandingan dengan naskah-naskah yang mengandung keagamaan Islam di daerah lainnya di Nusantara atau dengan naskah-naskah Islam yang berkembang di wilayah asalnya di Tanah Arab. naskah-naskah Minangkabau memperlihatkan kekhasannya tersendiri yang menunjukkan ekpresi Islam di Indonesia di mana terdapat unsur-unsur budaya lokal. No. Betapa pentingnya buku karya Oman Fathurahman ini telah ditandaskan oleh Azyumardi Azra dalam Kata Pengantarnya. melainkan juga analisis terhadap representasi naskah Sunda “versi Kuningan” dan dua naskah Jawa “versi Cirebon” dan “versi Girilaya”.

. baik yang bernuansa keagamaan Islam maupun yang bukan. adat.. Mengingat naskah-naskah atau manuskrip khazanah budaya bangsa Indonesia. A. yaitu Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Melacak Akar-Akar Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia. Kecuali dapat dimanfaatkan bagi penulisan sejarah. Buku ini diharapkan mendorong para ahli filologi pribumi lainnya untuk mengadakan kajian semacam itu. politik. Karyanya telah saya contoh untuk membedakan ahli-ahli filologi masa lampau yang menggunakan kajiannya dengan pendekatan sejarah-politik konvensional sempit seperti R. Hans Overbeck. pada umumnya mengandung informasi berlimpah yang meliputi kehidupan sosial. Disertasi yang sangat penting artinya bagi pengembangan sejarah pemikiran keagamaan ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Contribution of Islamic Manuscripts for the Study of Islamic Archaeology (Uka Tjandrasasmita. 2006: 43-52). Sebenarnya kajian terhadap naskah dengan pendekatan sejarah sosio-intelektual telah dipelopori oleh Azyumardi Azra melalui disertasinya untuk memperoleh Ph. Saya sendiri telah mencoba menguraikan permasalahan ini dalam buku yang baru saya sebutkan di atas. ekonomi.J. de Graaf dan lain-lain (Uka Tjandrasasmita: Kajian Naskah-Naskah Klasik. maka selayaknya filologi juga memakai pernaskahan itu dengan pendekatan sejarah dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Soejono. bahkan H. di Columbia University tahun 1992 dengan judul The Transmission of Islamic Reformation to Indonesia Networks of Middle Eastern and Malay-Indonesian Ulama in the Seventeenth and Eighteenth Centuries.P. Kecuali itu.471). 2006: 459-. kajian naskah dapat juga memberikan kontribusi pada kajian arkeologi.A. hukum.Tarekat Syattariyah di Minangkabau — Uka Tjandrasasmita Hal yang menarik perhatian kita adalah bahwa buku Oman Fathurahman ini merupakan hasil kajian filologi dengan pendekatan sejarah sosial-intelektual yang masih jarang dilakukan di antara ahli filologi pribumi.. secara khusus kami juga telah menyampaikan makalah tentang bagaimana hubungannya antara Filologi dan Pendekatan Interdisipliner di 167 . Mengenai hal ini pernah saya kemukakan dalam suatu risalah sebagai kontribusi memperingati usia ke-80 tahun R. dan kebudayaan bahkan perobatan. Hoesein Djajadiningrat.A.D. Cense.

sehingga tidak mengherankan kalau karya-karya Abdurrauf merujuk pada kitab-kitab kedua ahli tasawuf tersebut. mengingat begitu luasnya kandungan pernaskahan kuno yang dapat dikaitkan dengan kajian berbagai ilmu.174 Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama pada tanggal 14 Nopember 2008. khususnya tentang Tarekat Syattariyah di Minangkabau. No. Pribumisasi Tarekat Syattariyah di Sumatera Barat Kembali mengenai tinjauan terhadap buku karya Oman Fathurahman. dan Tuanku Bagindo Abbas Ulakan. yaitu Abdurrauf ibn Ali al-Jawi al-Fansuridi antaranya ialah Tanbīh al-Māsyī al168 . H. Selanjutnya juga diturunkan kepada muridmuridnya di Minangkabau sampai pada tiga orang ahli tarekat Syattariyah abad ke-20 yang namanya telah disebut di atas dan karangannya menjadi sumber primer bagi penelitian tarekat di Sumatera Barat/Minangkabau.Jurnal Lektur Keagamaan. 7. Vol. Naskahnaskah tersebut merupakan karya tulis tiga orang ulama yaitu: Imam Maulana Abdul Manaf Amin (1922-2006). 2009: 165 . Deram (w. 1. dapat dikatakan bahwa cakupan yang dibicarakannya cukup banyak dan sangat bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Kedua ahli tasawuf ini adalah guru Abdurrauf ibn Ali al-Jawi al-Fansuri. Oman Fathurahman dalam penelitiannya menggunakan dua sumber Arab yaitu kitab al-Sim¥ al-Majīd sebuah karangan tasawuf Syekh A¥mad al-Qusyāsyī dan It¥āf al-ª±ki bi Syar¥ al-Tu¥fah alMursalah ilā Rū¥ al-Nabī karangan Ibrāhīm al-Kūrānī. Karya Abdurrauf kemudian ditransmisikan kepada Syekh Burhanuddin Ulakan yang meneruskan dan mengembangkan ajaran tarekat Syattariyah di Sumatera Barat. Isi pokoknya dapat dibaca dalam ringkasannya yang antara lain mengemukakan tentang sumber primernya yang berdasarkan 10 judul naskah-naskah Syattariyah dari Sumatera Barat. 2000). Bahkan naskah-naskah yang membicarakan hal-hal pengobatan tradisional dengan bermacam tumbuhan dapat dikaji dari segi ilmu kedokteran modern. Untuk mengukur sampai dimana dinamika tarekat Syattariyah yang dibentangkan dalam naskah-naskah dari Sumatera Barat atau Minangkabau itu. K. Karya guru Syekh Burhanuddin Ulakan.

10 buah di bidang fikih. Ada perbedaan antara tujuan zikir Abdurrauf dalam Tanbīh alMāsyī yang merujuk kepada karya Syekh al-Qusyāsyī dengan Syattariyah di Sumatera Barat.Tarekat Syattariyah di Minangkabau — Uka Tjandrasasmita Mansūb il± °arīq al-Qusyāsyī (Pedoman bagi orang yang menempuh tarekat al-Qusyāsyī). teks Tanbīh al-Māsyī yang aslinya ditulis dalam bahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. sayang dalam buku ini ajaran-ajaran zikir Syattariyah Abdurrauf yang terdapat dalam teks itu. Meskipun demikian. Oman Fathurahman menyebutkan tidak kurang dari 23 buah karya Abdurrauf di bidang tasawuf. dan satu buah di bidang tafsir. Kitab tafsirnya yang berjudul Tarjumān al-Mustafīd merupakan tafsir Al-Qur’an pertama di dunia Islam dalam bahasa Melayu. Pada bab IV. Kitab-kitab di bidang hadis yang dicatat Oman Fathurahman ada dua buah. menurut pembacaan saya. yaitu Tanbīh al-Māsyī. Namun. Bila Nuruddin al-Raniri yang pada waktu itu menjadi penentang keras terhadap Wujudiyah maka Abdurrauf al-Singkili bersikap moderat yang dapat kita simak dari kitab Tanbīh al-Māsyī dan kitab-kitab lainnya. serta dianggap ajaran yang sesat oleh lawannya. 64-69 dan 7072). Persoalan yang diangkat dalam karangan tersebut ialah masalah Wujudiyah yang pada abad ke-17 menjadi ajang pertentangan antara Hamzah al-Fansuri dan muridnya asSumatrani. sedangkan untuk kitab yang menjadi objek kajiannya. dijumpai empat salinan naskah yang disalin dalam rentang waktu berbeda. hal tersebut sudah dibahas dengan teliti dalam subjudul “Zikir Tarekat Syattariyah dalam Tanbīh al-Māsyī dan Kifāyah al-Muhtājīn” (h. khususnya mengenai amalan-amalan Syattariyah yang mengandung rumus-rumus atau simbol-simbol zikir dan cukup penting. belum mendapat porsi yang cukup memadai dalam pembahasannya karena baru diungkap secara sepintas. Kitab Abdurrauf ini sebenarnya pernah dikaji dan diterbitkan Oman Fathurahman dengan judul Menyoal Wahdatul Wujud: Kasus Abdurrauf Singkel di Aceh Abad ke-17 (Fathurahman. Abdurrauf mewacanakan bahwa tujuan akhir zikir tarekat Syattariyah ialah 169 . Dalam naskah-naskahnya. yaitu Nuruddin al-Raniri sehingga atas anjurannya kitab-kitab karangan kedua ahli tasawuf Wujudiyah itu dibakar. kata Azyumardi Azra. 1999).

130-149).Jurnal Lektur Keagamaan. Ritual Basapa ialah upacara berziarah ke makam Syekh Burhanuddin Ulakan sebagai ulama besar tarekat Syattariyah di Sumatera Barat yang dilakukan setiap tahun pada tanggal 10 Safar. Orang yang mengikuti upacara ritual ini bukan hanya penganut tarekat Syattariyah tetapi juga penganut Islam pada umumnya. yang dalam buku ini dikemukakan pada bagian keenam (h. sedangkan dalam teks-teks di Sumatra Barat lebih banyak disebutkan bahwa. Jelas ini merupakan bagian dari dinamika tarekat Syattariyah di Sumatera Barat. disalin dan diwariskan oleh para guru tarekat Syattariyah dari surau sebagai skriptorium pernaskahan. Tarekat Syattariyah dianggap oleh kelompok masyarakat penganut tarekat Naqsyabandiyah mengajarkan doktrin Wujudiyah yang dianggap berlebihan dan menyimpang. Ada pertanyaan yang perlu dikemukakan. Sikap dari para penganut tarekat Syattariyah di Sumatera Barat/Minangkabau tersebut oleh Oman dibahas berdasarkan naskah-naskah primer yang ditulis. 2009: 165 . Di dalamnya dibahas serta diberikan contoh pula adanya pribumisasi tarekat Syattariyah yang antara lain berwujud dalam kesenian upacara ritual kesenian yang disebut Basapa dan kesenian Salawat Dulang (h. 7. padahal kenyataannya tarekat Syattariyah yang diajarkan Syekh Burhanuddin Ulakan sampai masa berikutnya senantiasa mendasarkan pada prinsip-prinsip al-Quran dan Hadis Nabi. yaitu apa bedanya dengan upacara tabuik yang biasanya dilakukan 170 . sejumlah naskah Minangkabau menjelaskan adanya upaya pelucutan doktrin Wujudiyah dari keseluruhan ajaran tareakat Syattariyah. Vol. Bulan Safar tersebut dikaitkan dengan anggapan masa wafatnya Syekh Burhanuddin Ulakan sendiri. tujuan akhir zikir hanya “sekadar” untuk membersihkan jiwa agar memperoleh kedekatan dengan Tuhan dan untuk membuka rasa agar memperoleh keyakinan dan kesaksian akan hakikat dan wujud-Nya. Hal lain yang juga menarik perhatian kita adalah uraian yang didasarkan pada naskah-naskah dari Minangkabau/Sumatera Barat yang mengandung gambaran adanya perbedaan paham antara tarekat Syattariyah dengan tarekat Naqsyabandiyah. 1. 111-129). dengan alasan bertentangan dengan prinsip-prinsip ahlussunnah wal-jamaah.174 konsep fana. No. Dalam level tertentu.

Berbeda dengan tarekat Syattariyah Sumatera Barat. yaitu kesenian yang menggunakan antara lain dulang atau talam dengan cara dipukul-pukul sambil membacakan salawat Nabi. Menurut tradisi. Demikian di antaranya pribumisasi tarekat Syattariyah di Sumatera Barat. Tarekat Syattariyah versi “Kuningan”. Kalau Oman Fathurahman mengambil contoh naskah versi Kuningan. Sunan Gunung Jati atau Syekh 171 . baik dari Kuningan maupun dari Mertasinga Cirebon yang ditulis pada abad 18-19 M. tarekat Syattariyah ketiga versi tersebut dikatakannya. Kecuali itu pribumisasi tarekat Syattariyah terekspresi dalam upacara kesenian Salawat Dulang. dan “versi Girilaya”. Cirebon. Oman Fathurahman telah memperluas pembahasan tentang dinamika tarekat Syattariyah di Minangkabau melalui perbandingan dengan “versi Kuningan”. “versi Cirebon”. Salawat Dulang atau Salawat Talam sampai kini dilakukan oleh masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat. naskah yang berasal dari Kiai Maolani. dan berbagai lagu-lagu lainnya. penelusurannya akan semakin lengkap jika dikaitkan pula dengan ajaran tarekat Syattariyah yang semula dianut oleh Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah. tarekat di Kuningan. dan “Girilaya” Untuk melengkapi disertasinya. dan Girilaya cenderung kepada tarekat Syattariyah Abdurrauf dari Aceh dengan tidak menolak sama sekali tasawuf Wujudiyah walaupun tetap mengajarkan Martabat Tujuh yang diterima oleh Syekh Abdul Muhyi (Pamijahan) dari gurunya Abdurrauf al-Singkili. Selain itu disisi pula dengan khutbah. sebelum diterbitkan dalam bentuk buku. Dalam upacaya ini biasanya terdiri dari dua grup yang dilaksanakan dengan cara berdialog tentang keagamaan Islam.Tarekat Syattariyah di Minangkabau — Uka Tjandrasasmita oleh penganut Syiah di Pariaman dan tempat lainnya? Ini bisa bersamaan atau hampir bersamaan. Karena berdasarkan pemberitaan dalam naskah. “Cirebon”. karena hal itu mungkin disebabkan adanya hubungan silsilah guru-guru tarekat Syattariyah yang juga sering mencantumkan tokoh Ali bin Abu Thalib panutan utama aliran Syiah. pertama kalinya upacara itu dilakukan pada masa hidupnya Syekh Burhanuddin Ulakan yang pernah menyaksikan upacara kesenian di Aceh dengan menggunakan rebana.

Juga bagaimana kelak jika telah dipelajari tarekat Syattariyah yang diajarkan di Buton dan mungkin tempat-tempat lainnya yang sudah tentu akan memberikan gambaran yang luas sekali tentang keberadaan tarekat Syattariyah di Nusantara ini. Hal ini perlu diadakan penelitian lebih jauh. Wahyu. yang terkenal sebagai pujangga besar Sunda dengan banyaknya karangan mengenai adat istiadat dan lain sebagainya. Kecuali itu bagaimana kaitan ajaran tarekat Syekh Abdul Muhyi dari Pamijahan dengan yang berada di Cirebon. Kabupaten Minahasa. Cirebon dan Kuningan.Jurnal Lektur Keagamaan. 7. Masalah tarekat-tarekat ini dapat dibaca dalam Amman N. Sebab. Tambahan lain yang perlu dimasukkan adalah bagaimana hubungan tarekat Syattariah dengan Martabat Tujuh yang ditulis oleh Haji Hasan Mustafa. telah memberikan sumbangan besar bagi perkembangan studi filologi dengan pendekatan sejarah sosio172 . menurut cerita. Penutup Hasil kajian yang telah dilakukan Oman Fathurahman melalui bukunya ini. Vol. Kecamatan Tondano. 2005) dan (Naskah Kuningan. dan Satoriyah (Syattariyah). Sejarah Wali: Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati (Naskah Mertasinga. No.174 Syarif Hidayatullah berguru tasawuf tarekat Kubrawiyah. 2009: 165 . Sayidina Zainal Abidin. Sayidina Muhammad al-Baqir. 2007). Sayidina Ali. ia pernah ke Cirebon dan mengajarkan tarekat Syattariyah. 1. Abi Yazid al-Bisthami. Dalam naskah Kuningan lebih rinci lagi ajaran tasawuf dengan tarekat-tarekatnya terutama tarekat Syattariyah seperti disebut dalam silsilah Mursyidnya: dari mulai Nabi Muhammad. Naqsyabandiyah. Muhammad Magrib dan seterusnya secara turun temurun sampai pada ulama-ulama di Jawa. Oleh karena itu. bagaimanapun. Imam Ja’far as-Sidik. masyarakat Kuningan menyebut Kiai Maolani atau Lengkong itu dengan Embah Manado. Kini. ke Sayidina Husein. sampai terakhir pada Kiai Mas Demang wedana pensiun Atmawijaya. makamnya ada di kompleks makam Kiai Mojo di Kampung Jawa. apakah ada hubungannya dengan naskah tarekat Syattariyah dari Haji Maolani-Lengkong-KuninganJawa Barat yang diasingkan Pemerintah Hindia-Belanda semasa Perang Diponegoro ke Menado.

Buku karya Oman Fathurahman ini dapat semakin menegaskan bahwa naskah kuno keagamaan memiliki arti yang sangat penting untuk studi-studi keagamaan. Chambert-Loir. 173 . [] Daftar Pustaka Azra. Demikian pula bagi para mahasiswa yang tengah menuntut ilmu di berbagai jurusan dengan bidangnya masing-masing dapat menyentuh nuraninya untuk mempelajari filologi atau pernaskahan.E. baik UIN Syarif Hidayatullah atau di perguruan tinggi agama lainnya. Oman. bahkan ilmu-ilmu lainnya seperti kedokteran dan teknologi.Tarekat Syattariyah di Minangkabau — Uka Tjandrasasmita intelektual atau pemikiran Islam karya cendekiawan Muslim masa lampau di Indonesia.E. Henri & Oman Fathurahman.F. Tanbih Al-Masyi Menyoal Wahdatul Wujud Kasus Abdurrauf Singkel di Aceh Abad 17.F. terutama yang termasuk ilmu-ilmu sosial. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII Melaacak Akar-Akar Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia. baik dalam bidang filologi maupun di bidang ilmu-ilmu lainnya. Azyumardi. 1999. Panduan Koleksi Naskah Naskah Indonesia Sedunia/ World Guide to Indonesian Manuscript Collections.-Yayasan Obor Indonesia. Fathurahman. Jakarta: E. Semoga buku ini mencapai tujuannya untuk menambah wawasan para pembacanya dan juga untuk memperkaya khazanah kepustkaan Indonesia pada umumnya dan kepustakaan Islam Indonesia pada khususnya. Jakarta dan Bandung: E. Melalui kajian semacam itu dapat diyakini betapa tingginya nilainilai keintelektualan para ulama kita di masa lampau yang telah mewariskan ratusan bahkan ribuan naskah sebagai warisan khazanah budaya bangsa. Lebih-lebih bagi mahasiswa-mahasiswa Fakultas Adab dan Humanaiora. Penerbit Mizan. Centre de Jakarta. yang tidak terbatas pada kajian filologi.O.O. Hasil kajian seperti itu akan mendorong semangat terutama bagi siapapun yang berkecimpung. perlu menyadari untuk mengadakan penelitian naskah-naskah yang bernuansa keagamaan. 1999. Bandung: Mizan. 1994.

Archaeology Indonesia Perspective. Indonesian Institute for Sciences: International Center for Prehistoric and Austronesian Studies.Alih aksara dan bahasa. 2008. Tgl. Vol. h. 1998. Bandung: Penerbit Pustaka ----------. Soejono’s Fest Script. “The Contribution of Islamic Manuscripts for the Study of Islamic Archaeology”. Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama R. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. 7. ----------. No. Sejarah Wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati (Naskah Mertasinga). Alih aksara dan bahasa. 1426 H/1995 M. “Pendekatan Interdisipliner Dalam Kajian Filologi”. 174 . 459-471 ----------.Jurnal Lektur Keagamaan. 2006.P. 4 November. Amman N. 2009: 165 . Bandung: Penerbit Pustaka. Disampaikan dalam Diklat Penelitian Naskah Keagamaan Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan Departemen Agama RI. Wahju. 2007. Uka. ----------. Sejarah Wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. Kajian Naskah-Naskah Klasik dan Penerapannya bagi Kajian Sejarah Islam di Indonesia. Kajian Sejarah dan Arkeologi Islam di Indonesia: Pemanfaatan: Hasil Kajian Filologi.174 Tjandrasasmita. 1. R. Jakarta: Pidato Penganugerahan Gelar Doktor Honoris Causa oleh IAIN Syarif Hidayatullah.I. (Naskah Kuningan). 2006.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful