ISSN 1693-7139

Jurnal Lektur Keagamaan
Vol. 7, No. 1, Tahun 2009/No. Akreditasi: 48/Akred-LIPI/P2MBI/12/2006

Daftar Isi
Kajian Naskah, Sejarah, dan Arkeologi Teks, Islam dan Sejarah: Setali Tiga Uang Fuad Jabali Perang dan Damai di Aceh: Kajian Manuskrip Aceh Tentang Konflik dan Solusinya Fakhriati 1 — 20

21 — 52

Beberapa Aspek Kodikologi Naskah Keagamaan Islam di Bali: Sebuah Penelusuran Awal Asep Saefullah dan M. Adib Misbachul Islam 53 — 90 Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua dalam Naskah-Naskah Tarekat Syattariyah di Minangkabau Pramono dan Bahren

91 — 108

Peran Penting Pernaskahan dan Benda Khazanah Keislaman Lainnya dalam Kajian Arkeologi Islam di Indonesia Agus Aris Munandar 109 — 132 Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara Irmawati M-Johan Tokoh K.H. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual 133 — 146

Discourse, and His Work Collection
Usep Abdul Matin Telaah Buku Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Tinjauan Buku “Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Teks dan Konteks”, karya Oman Fathurahman Uka Tjandrasasmita 165 — 174 147 — 164

i

ISSN 1693-7139

Jurnal Lektur Keagamaan
Vol. 7, No. 1, Tahun 2009/No. Akreditasi: 48/Akred-LIPI/P2MBI/12/2006
PEMBINA PEMIMPIN UMUM REDAKTUR AHLI (MITRA BESTARI) M Atho Mudzhar Maidir Harun Uka Tjandrasasmita (UIN Syahid Jakarta); Nabilah Lubis (UIN Syahid Jakarta); Abdul Hadi WM (Universitas Paramadina); Achadiati Ikram (Universitas Indonesia); Badri Yatim (UIN Syahid Jakarta); Oman Fathurahman (UIN Syahid Jakarta); Tommy Christomy (Universitas Indonesia); Titik Pudjiastuti (Universitas Indonesia); Sudarnoto Abdul Hakim (UIN Syahid Jakarta) Asep Saefullah Masmedia Pinem E. Badri Yunardi, Harisun Arsyad, Ahmad Rahman, Muchlis, Andi Bahruddin Malik, Dazrizal, M. Syatibi, AH, Ali Akbar, Muchlis M. Hanafi, Ridwan Bustamam, Munawiroh Ibnu Hasyir, Nurman Kholis, Muhammad Salim, Ida Swidaningsih, Umi Kulsum Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI Gedung Bayt al-Qur’an & Museum Istiqlal, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta 13560 Telp./Faks. (021) 87794220 E-mail: puslitbang_lektur@yahoo.co.id

PEMIMPIN REDAKSI SEKRETARIS REDAKSI DEWAN REDAKSI

TATA USAHA ALAMAT REDAKSI

* Kulit depan: Naskah MS Serangan 01, h. 56, milik H. Baharuddin, Kampung Serangan, Denpasar, Bali; dan Halaman Awal Naskah Hiyakaye milik Syik Jah Amut, Geulumpang Miyeunk, Pidie, Aceh. *

Berdasarkan SK Kepala LIPI No. 1563/D/2006 tanggal 18 Desember 2006, Jurnal Lektur Keagamaan telah terakreditasi A ii

Cakupan tersebut meliputi Kajian Naskah Klasik. teks dimana sistem nilai itu diekspresikan. Tulisan ini menjelaskan hubungan yang erat antara Islam sebagai sebuah sistem nilai. Kajian Lektur Kontemporer.Pengantar Redaksi Sejak tahun 2008. Pada Nomor ini. Obituari/Tokoh. Telaah Dokumen. yaitu: 1) teks-teks yang dilahirkan oleh kalangan skripturalis/fundamentalis. Sampai batas tertentu. Pada tulisan kedua diulas mengenai perang dan damai di Aceh melalui kajian atas manuskrip Aceh tentang konflik dan solusinya. teks dan sejarah. setidaknya dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori besar. Arkeologi dan Sejarah. Golongan pertama lebih menekankan teks dan cenderung menghasilkan teks yang stabil. Perang dan damai telah mewarnai daerah ini sepanjang sejarahnya. dan Telaah Buku/Kitab serta materi yang berkaitan dengan kebijakan. redaksi menampilkan delapan tulisan. Jurnal Lektur Keagamaan telah memperluas wilayah cakupannya yang disesuaikan dengan tugas dan fungsi Puslitbang Lektur Keagamaan. teks dan sejarah adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Aceh adalah sebuah daerah yang memiliki penduduk yang kehidupan mereka cukup berfluktuatif. kepada kelompok mana teks itu dihubungkan. Khazanah Budaya Keagamaan. Islam. dan 2) teks-teks yang dilahirkan oleh kalangan esensialis. Di sinilah kejelian seorang filolog diuji. Secara garis besar. Tulisan pertama menyajikan tentang Islam. sedangkan golongan kedua lebih pada konteks tetapi teks yang dihasilkannya cenderung labil. Salah satu sumber yang sangat penting digunakan untuk mengkaji sejarah kehidupan orang Aceh adalah naskah kuno yang menjadi tulisan iii . Konflik internal maupun eksternal telah terjadi dalam periode-periode yang berbeda. membaca teksteks dari Timur Tengah nampaknya lebih ‘mudah’ dibanding membaca dokumen sejenis di Indonesia. dan sejarah (ruang dan waktu) sebagai konteks dimana sistem nilai itu diturunkan dalam teks. teks-teks yang lahir dalam dunia Islam.

generasi sekarang dapat membaca dan memahami langsung tentang tulisan orang Aceh yang menjadi sumber utama. Tulisan ini berupaya memberikan penafsiran atas naskah-naskah lokal di Minangkabau. naskah-naskah tersebut memiliki arti penting karena berkaitan dengan kebutuhan keagamaan sehari-hari bagi para pengikut Tarekat Syattariyah di Minangkabau.mereka sendiri. dan yang tertua tahun 1035 H/1625 M. tauhid. kertas modern bergaris. Tulisan ketiga menyajikan hasil penelusuran awal tentang beberapa aspek kodikologi naskah keagamaan Islam di Provinsi Bali. wirid. untuk kemudian menjadi teladan bagi kehidupannya. Karenanya. mengetahui riwayat guru adalah sebuah keharusan karena bermakna penghormatan kepada guru. Tulisan keempat tentang kepemimpinan Islam di kalangan Kaum Tua dalam naskah-naskah Tarekat Syattariyah di Minangkabau. dan bahkan tidak utuh lagi. dan obatobatan. Makalah ini mencoba menemukan dan menganalisa sumber-sumber primer ini dalam hubungannya dengan perang dan damai yang terjadi dalam sejarah kehidupan orang Aceh. yaitu dluang. dan menjelaskan sikap dan tingkah laku orang Aceh secara langsung. karena di dalamnya mengandung informasi asli tentang Aceh. Al-Qur’an. Para iv . tidak terawat dan kurang mendapat perhatian. dan bagaimana karater serta sikap mereka pada masa lalu. Melayu (Jawi). Kondisi naskah keagamaan Islam di Bali pada umumnya sangat memprihatinkan. kertas Eropa. khususnya terkait dengan Tarekat Syattariyah. mulai dari abad ke-17 hingga abad ke-20 M. tasawuf. adab kepada guru. dan geguritan (cerita). Pertanyaan utama yang perlu dibahas adalah bagaimana cara orang Aceh mengatasi konflik dalam kehidupan mereka. dapat dicatat beberapa hal: 1) bahan yang digunakan beragam. doa. Tulisan ini merupakan hasil penelusuran naskah keagamaan Islam di Bali tahun 2008 yang lalu. dan 3) Naskah Al-Qur’an sebanyak 14 naskah. 4) Isi naskah antara lain mencakup fikih. 2) Bahasa dan aksara yang digunakan meliputi Arab. Bugis. dan Bali. 3) Waktu penyalinan antara abad ke-17–19 M. Bagi para penganut tarekat Syattariyah. Secara kultural. bahasa (nahwu-saraf). dan lontar. Sebagian besar naskah sudah rusak. Dari aspek kodikologi. 2) Naskah lontar sebanyak 12 naskah. Naskah yang ditemukan sebanyak 38 buah dengan perincian sebagai berikut: 1) Naskah keagamaan berbahan kertas sebanyak 12 naskah.

H. Ahmad Sanusi. tetapi juga di bidang sosial-budaya dan politik.H. Ahmad Sanusi telah menulis selama hidupnya 480 karya tulis. Dalam kesulitan itu. Namun. tingkah lakunya diikuti. Dua tulisan lain selanjutnya membahas hubungan naskah dengan arkeologi. sebagai penerang di dunia bahkan sampai di akhirat. Tulisan ini menjelaskan bagaimana peran arkeologi dalam kajian Islam di Nusantara dan hal-hal apa saja yang menjadi kajian arkeologi. Tulisan terakhir merupakan telaah buku yang judul “Tarekat Syattariyah di Minangkabau Teks dan Konteks”. Ahmad Sanusi (1888-1950). Tulisan ini membahas wacana keagamaan dan karya-karya K. Mereka dihormati. K. dikemukakan pula berbagai penelitian yang telah dilakukan selama ini yang berkait dengan Islam di Nusantara. (c) Data dari sumber tertulis dapat menjadi dasar penelitian dan kerangka acuan kajian arkeologi Islam. Puslitbang Lektur Keagamaan) Badan Litbang dan Diklat. Sedangkan tulisan kedua membahas peran arkeologi dalam kajian Islam Nusantara. karya Oman Fathurahman. Buku ini merupakan hasil kajian filologi dengan v .H.H. Tulisan ini membahas tentang posisi penting data tertulis. (b) Memperluas pemahaman tentang kedudukan dan peranan artefak dalam masyarakat sezaman. Menurut Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur Agama (Skr. Selanjutnya adalah tulisan tentang tokoh. Peranan data dari sumber tertulis dalam kajian arkeologi Islam antara lain sebagai berikut: (a) Pendukung kajian terhadap data artefaktual. Selain itu. riwayat dan ajarannya ditulis dan disebarkan. Ahmad Sanusi itu. dan apa saja kiranya buku-buku yang telah beliau tulis. Ahmad Sanusi. Tulisan ini bertujuan untuk berbagi pendapat tentang siapa K.H. Departmen Agama RI tahun 1986. yaitu K. sebagian besar dari karyanya tidak tersimpan di satu tempat. dan (d) Memperkaya interpretasi untuk dapat mengembangkan historiografi. bahkan sulit ditemukan. khususnya naskah klasik keagamaan (Islam) dalam studi arkeologi religi (Islam). Suaranya didengar.ulama pemimpin Kaum Tua berperan tidak hanya di bidang keagamaan. ditemukan kurang lebih seratus dua puluh dua (122) karya K. Tulisan pertama menyajikan peran penting pernaskahan dan benda khazanah keislaman lainnya dalam kajian arkeologi Islam di Indonesia.

dan kepada Usep Abdul Matin—Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta—atas kontribusinya mengedit abstrak berbahasa Inggris. Tarekat Syattariyah yang diajarkan Syekh Burhanuddin Ulakan sampai masa berikutnya bersikap lumer. Redaksi vi . menggambarkan adanya perbedaan paham antara Tarekat Syattariyah dengan Tarekat Naqsyabandiyah. Demikian. kenyataannya. Padahal. Uraian yang didasarkan pada naskah-naskah Syattariyah Minangkabau. redaksi mengucapkan terima kasih secara khusus kepada Lukman Hakim—Staf Ahli pada Jurnal Penamas. Balai Litbang Agama. Terakhir. dan semoga bermanfaat. Tarekat Syattariyah dianggap oleh kelompok masyarakat penganut Tarekat Naqsyabandiyah mengajarkan hal-hal wujudiyah. selamat membaca. Pembahasan dalam buku telah mengalami perluasan dengan tambahan analisis terhadap representasi naskah Sunda “versi Kuningan” dan dua naskah Jawa “versi Cirebon” dan “versi Girilaya”.pendekatan sejarah sosial-intelektual yang masih jarang dilakukan di antara ahli filologi pribumi. Jakarta—yang telah menerjemahkan semua abstrak ke dalam bahasa Inggris.

S2 (Magister Humaniora). Pada vii . Departemen Agama RI. Tahun 2006. atau email: agus. 11-25 Juli 2004. dan S2 di perguruang tinggi yang sama tahun 2000 pada Program Studi Sejarah Peradaban Islam. “Ragam Hiasan Mushaf Kuno Koleksi Bayt al-Qur’an dan Museum Istiqlal. No. Manajer Penelitian dan Pengabdian Masyarakat FIB UI (2008—sekarang). di Kuala Lumpur Malaysia. Jawa Barat. Renaisans Islam: Kebangkitan Intelektual dan Budaya pada Abad Pertengahan. dan lain-lain. Saat ini Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. mengikuti International Course on the Handling and Cataloguing of Islamic Manuscripts. adalah Peneliti di Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI. Sawangan Depok 16519. lulus tahun 1999 dengan judul disertasi “Pelebahan: Upaya Pemberian Makna para Puri-puri Bali abad ke14—19”. Departemen Arkeologi. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI). Ia menyelesaikan S1 pada Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam IAIN (skr. Sawangan Permai. (terj. (terj. Konstitusionalis Pertama yang Prosais”. 2007. M. bidang Arkeologi) dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Fakultas Pascasarjana Universitas Indonesia. Kraemer (Bandung: Mizan.id Asep Saefullah lahir di Kuningan. 1. Jakarta 1993. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia). (021) 98284951. 2006). Ia dapat dihubungi di Jalan Garuda IV Blok D. lulus tahun 1990 dengan judul tesis “Kegiatan Keagamaan di Gunung Pawitra: Gunung Suci di Jawa Timur Abad ke-14--15”. Karya-karyanya antara lain “Ibnul Muqaffa. Adib Misbachul Islam menyelesaikan studi S1 di Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab IAIN (skr. S3 (Doktor Arkeologi). Pernah menjadi fasilitator pada Pelatihan Filologi Nasional yang diselenggarakan oleh Yayasan Naskah Nusantara (YANASSA) bekerja sama dengan The Toyota Foundation dan PPIM UIN Jakarta. Pelita. Jakarta” Jurnal Lektur Keagamaan. lulus tahun 1984 dengan judul Skripsi “Beberapa Data Historis dari Parasasti Mula-Malurung”. Menyelesaikan pendidikan S1 (Sarjana Sastra. Mukjizat Sabar.8/30. Ponsel 0816 1447887.ac. Vol. No. UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 1997.) karya Tallal Alie Turfe (Bandung: Mizania. 5. Jakarta. Tahun 2007 mengikuti Diklat Penelitian Naskah Keagamaan.) karya Joel L. dan S 2 di Program Studi Ilmu Susastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia tahun 2005. UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2001.Para Penulis Agus Aris Munandar adalah Staf Pengajar Program Studi Arkeologi Indonesia.aris@ui. 18 Oktober 1971. 2003).

2005. Montreal-Jakarta: ICIHEP. Menjadi Sekretaris Departemen Arkeologi FIB UI sejak 2004-2007. Leiden: E. 2006. International Journal for South East Asian Islam. dosen di Fakultas Adab dan Humaniora dan di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. J. selama tiga minggu mengikuti International Course in the Handling and Cataloguing of Islamic Manuscripts di Kuala Lumpur. 2003. dan (2) Bagaimana tradisi Islam klasik tersebut digunakan atau disalahgunakan oleh masyarakat Muslim kontemporer untuk menjustifikasi posisi/aliran keberagamaan mereka. The Foreign Fulbright Grant telah memberikan beasiswa kepadanya untuk program S2 di Duke. “Menguak Sufisme Tuang Rappang”. Mencetak Muslim Modern. Jakarta: RajaGrafindo Persada. Vol 6. “Membangun Pesantren di Ranah Sunda: Belajar dari Darul Arqam” dalam Jajat Burhanuddin and Dina Afrianty. Riaz Hasan. Islam in Indonesia: Islamic Studies and Social Transformation (Co-editor Jamhari). Irmawati M-Johan sejak tahun 1981-sekarang menjadi dosen di Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI). Departemen Agama. bekerja sama dengan International Islamic University Malaysia (IIUM). mendapatkan gelar Doktor dengan predikat Dean Honour List dari Institute of Islamic Studies. Peta Pendidikan Islam di Indonesia (Making Modern Muslims: Map of Islamic Education in Indonesia). Jakarta: Logos. sedangkan The Asian Foundation for Research and Consultancy viii . Jurnal Lektur Keagamaan. 2005. Editor Studia Islamika. Benturan Peradaban: Sikap Islamis Indonesia Terhadap Amerika Serikat (Co-author). Karya tulisnya antara lain. Keragaman Iman: Studi Komparatif Masyarakat Muslim (co-translator). Jakarta: RajaGrafindo Persada. The Comnpanions of the Prophet: A Study of Geographical Distribution and Political Alignments. yang diselenggarakan oleh al-Furqan Islamic Heritage Foundation. Konsultan Projek Kerjasama Luar Negeri (Indonesia-Canada Social Equity Project). MA dalam Islamic Societies and Cultures dari School of Oriental and African Studies (SOAS) University of London (1992). Di antara karya-karya tulisnya adalah IAIN: Modernisasi Islam di Indonesia (Co-editor Jamhari).bulan Maret-April 2006. No. Jurnal Lektur Keagamaan. 2002. 2002. Jakarta: Nalar. Minat keilmuannya terfokus pada dua hal: (1) Tradisi Islam klasik. “Relasi Tuhan dan Alam: Pandangan Sufistik Syaikh Yusuf Makassar dalam Naskah Sirr al-Asrar”. Usep Abdul Matin memperoleh gelar MA di bidang Kajian Islam dari Duke University pada tanggal 26 Mei 2008 di Amerika Serikat dan satu lagi dari Leiden University di Belanda (cum laude) pada tanggal 22 Februari 2001. Fuad Jabali. 3. Brill. McGill University (1999). Malaysia. No. Sejak 2007 hingga sekarang menjadi Ketua Departemen Arkeologi dan Ketua Program Pascasarjana Departemen Arkeologi FIB UI. Vol. Selain mengajar. dia adalah Deputi Direktur Bidang Akademik Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. dan Sarjana dalam bidang Sejarah dan Peradaban Islam dari Fakultas Adab IAIN (sekarang Fakultas Adab dan Humaniora UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta (1989). London. 2. 2008. 1. 2006.

Ia termasuk penulis yang produktif dan pernah menjadi chief editor UIN News dalam bahasa Inggris dari 2005 sampai 2008. menyelesaikan studi S1 di IAIN ArRaniry jurusan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah pada tahun 1993. dan Katalog Naskah Awe Geutah bekerjasama dengan Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama. Kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI). Uka Tjandrasasmita lahir di Subang. dua penelitian telah dilakukan. yaitu Identifying and Preserving Acehnese Manuscripts Located in Pidie and Aceh Besar didanai oleh British Library. Tulisantulisannya yang lain dalam bahasa Inggris juga sudah dimuat di koran The Jakarta Post.(AFRC) representative for Islamic Studies (INIS) memberikan beasiswa kepadanya untuk program S2 di Leiden. Jurusan Ilmu ix . Menamatkan studi Strata Sat (S1) di Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Universitas Andalas. Saat ini menjadi dosen dan peneliti di Universitas Andalas Padang. Pramono lahir di Medan 12 Desember 1979. dan S3 di Universitas Indonesia jurusan Filologi pada tahun 2007. penelitian tertuju pada naskah-naskah kuno khususnya naskah Aceh.) di Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam (SPI) Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada bulan Februari 1996 (cum laude). Jawa Barat pada 8 Oktober 1930. Dalam tahun ini. serta perna menjadi staff rektor UIN Jakarta.Ag. Beliau memperoleh Sarjana Agama (S. Kuningan. mengikuti program pembibitan calon dosen IAIN se-Indonesia di Jakarta. Beliau sekarang dosen dan sekertaris jurusan untuk program SPI FAH UIN Jakarta. 14 Juni 1970. Aceh. Sejak tahun 1995 mengajar di IAIN Ar-Raniry dan mulai tahun 1998 mengajar di IAIN Sumatera Utara. seperti “Theorizing the 9/11 atrocity: Its ubiquitous persistence” (09/15/2008). dan “Terrorists ignore God. Bahren lahir di Padang 06 Pebruari 1979. Sejak S2 sampai sekarang. untuk tahun ini buku yang telah terbit adalah Menelusuri Tarekat Syattariyah di Aceh lewat Naskah. Fakhriati lahir di Pidie. Saat ini menjadi dosen dan peneliti di Universitas Andalas. Menamatkan studi Strata 1 (S1) di Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Universitas Andalas. Tahun 1994. Berbagai tulisan ilmiah dan esainya pernah di muat di beberapa jurnal dan terbitan lokal Sumatra Barat. life to pursue heaven” (01/24/2006). tulisannya dalam bahasa Inggris yang berjudul “Suicide Bombing: A Sociological Approach to 9/11” sudah diterbitkan oleh Penerbit Mitra dalam Sociologi: Sebuah Pengantar Tinjauan Pemikiran Sosiologi Perspektif Islam (September 2008: 270-284). “We are religious but also corrupt” (08/14/2008). Selain itu. Pada tahun 2008 bergabung di UIN Jakarta dan tahun 2009 bulan juni mulai aktif di Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama. Tulisan ilmiah populernya pernah di muat di beberapa surat kabar lokal Sumatra Barat dan Riau. Lebih dari itu. S2 di Leiden University pada tahun 1998. Strata dua (S2) pada Program Studi Filologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Bali.

x . selesai tahun 1960. Di antara jabatan yang pernah didudukinya adalah Kepala Dinas Arkeologi Islam pada Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional Departemen P dan K (19861974). dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 1998. Saat ini. Direktur Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Departemen P dan K (1979-1990). dan lainlain.Purbakala dan Sejarah Kuno.C. Direktur Sejarah dan Purbakala Departemen P dan K (1974-1979). konsultan The Project of Cultural Tourism Development in Central Java and Yogyakarta (UNESCO) tahun 1992. di samping sebagai dosen tetap di Universitas Pakuan Bogor. Memperoleh gelar Doktor H. juga sebagai dosen Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta. Pernah menjadi anggota (mewakili pemerintah RI) International Commission for the Preservation of Islamic Cultural Haritage (OKI) tahun 1982-1990.

Menteri Agama RI Nomor 158 tahun 1987 dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 0543 b/u/1987 tentang Pedoman Transliterasi Arab–Latin. 1980). kata kunci. dan diserahkan dalam bentuk print out dan file dalam format Microsoft Word. Jakarta: LP3ES. Penulis harap menyertakan abstrak dalam bahasa Indonesia dan Inggris. literatur kontemporer. Panjang tulisan antara 15-25 halaman kuarto 1. kajian tokoh (obituari) maupun telaah kitab atau tinjauan buku. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. 109. dan khazanah budaya keagamaan. Deliar. penulis hendaknya berpedoman pada Pedoman Transliterasi ArabLatin SKB Dua Menteri. Sumber rujukan menggunakan footnote (catatan kaki) yang ditulis seperti contoh berikut: Deliar Noer. h. 1980. xi . dan alamat lengkap. Dalam hal penggunaan transliterasi Arab-Latin. artikel setara hasil penelitian. dan Daftar Pustaka ditulis: Noer. antara lain tentang naskah klasik. Tulisan wajib memperhatikan kaidah-kaidah penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang berlaku serta menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar berdasarkan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Tulisan dapat berupa ringkasan hasil penelitian. font Times New Roman 12. biodata singkat dalam bentuk esai.Ketentuan Pengiriman Tulisan Jurnal Lektur Keagamaan terbit dua kali setahun. Redaksi menerima tulisan mengenai kelekturan.5 spasi. (Jakarta: LP3ES.

Badan Litbang dan Diklat. Jakarta 13560 Telp. Dan.Redaksi berhak menyunting naskah tanpa mengurangi maksud tulisan. (021) 87794220 Bagi lembaga yang ingin mendapatkan jurnal ini dapat menghubungi alamat di atas. Gedung Bayt al-Qur’an & Museum Istiqlal. Departemen Agama RI.lektur@depag. Tulisan dapat dikirimkan melalui e-mail: jurnal./Faks. tulisan yang dimuat tidak selalu mencerminkan pandangan Redaksi. xii .id Atau melalui pos ke alamat: Puslitbang Lektur Keagamaan.web. Taman Mini Indonesia Indah.

Islam dan Sejarah: Setali Tiga Uang Fuad Jabali Perang dan Damai di Aceh: Kajian Manuskrip Aceh Tentang Konflik dan Solusinya Fakhriati Beberapa Aspek Kodikologi Naskah Keagamaan Islam di Bali: Sebuah Penelusuran Awal Asep Saefullah dan M. and His Work Collection Usep Abdul Matin Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Tinjauan Buku “Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Teks dan Konteks”.H. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse. karya Oman Fathurahman Uka Tjandrasasmita xiii .Judul-judul untuk back cover Teks. Adib Misbachul Islam Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua dalam Naskah-Naskah Tarekat Syattariyah di Minangkabau Pramono dan Bahren Peran Penting Pernaskahan dan Benda Khazanah Keislaman Lainnya dalam Kajian Arkeologi Islam di Indonesia Agus Aris Munandar Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara Irmawati M-Johan K.

the Islamic texts. konteks. The former group stresses the importance of the text and tend to make it stable. Wisma Syahida UIN Jakarta. esensialis Teks dan Islam Teks menempati posisi yang sangat penting dalam Islam. Kata kunci: Al-Qur’an. are easy to read as they provide complete information of an issue that we look for. Teks. skripturalis.Islam. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali Islam. this second group make the text unstable. In this regard. This paper explains that Islam. The latter group creates the context. Jakarta This paper describes a strong relationship between Islam as a value system. The first category refers to the fact that the scripturalists or fundamentalists produce text. Revisi terakhir 14 Juni 2009. In contrast. Orang-orang Islam sangat bangga menyebut dirinya * Tulisan ini semula merupakan Makalah yang disampaikan pada Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara VIII. teks. For example. which are written in Indonesian by Indonesian scholars. and history as both time and space contexts of the textual system value. In other word. the Islamic texts. yaitu Al-Qur’an dan hadis. the text as an expression of system. Indonesian philologists are to trace such complete biography in Indonesian literature. This category challenges philologist to investigate. hadis. Teks dan Sejarah: Setali Tiga Uang* Fuad Jabali UIN Syarif Hidayatullah. For this reason. and history are interconnected each other. which are written in Arabic by scholars of the Middle East. text. 1 . Ajaran-ajaran utama Islam ada dalam bentuk teks. The second category would be: the essentialists make the text. the biographical texts in Arabic offer information of diverse people. This paper classifies text into two catagories. are incomplete. filologi. 26-28 Juli 2004.

Vol. seperti gunung dan langit (benda-benda ciptaan ini juga disebut ayat atau. ijma’ dan hadis—sama-sama dipakai oleh masyarakat Muslim secara bervariasi dalam tingkat yang berbeda-beda. maka hadis. 2009: 1 .’ Tanda dari suatu makna abadi. yaitu kesepakatan masyarakat Muslim dalam memahami teks. bukanlah sebuah teks yang bisa menjelaskan semua realitas atau ajaran dengan sangat detil. seperti yang dikembangkan oleh Syafi’i. Bagi orang Islam. Kalau tidak jelas. 7. Hadis kini menjadi teks terpeting kedua setelah Al-Qur’an. ada juga yang merujuk pada catatan dari kata-kata dan perbuatan Nabi yang kemudian disebut hadis. Memang benar bahwa makna abadi itu bisa diketahui lewat ciptaan Tuhan. Al-Qur’an. ada yang merujuk pada akal. percisnya. Bagi Ahlul Kitab. Masyarakat Islam sebagai masyarakat yang eksistensinya bergantung pada teks diperkuat oleh hadis.Jurnal Lektur Keagamaan. yang jumlah ayatnya hanya sekitar 6600. Ada yang merujuk pada tradisi atau konteks lokal sebagai penjelas. dunia langit hanya bisa diketahui lewat teks yang dibawa oleh para Nabi. akal. ayah kauniyah ‘tanda-tanda alam’). No. seperti yang ada dalam mazhab Hanafi. kemana mereka harus mencari kejelasan? Berbagai jawaban dikemukakan. yaitu makna abadi yang ada di dalam diri Tuhan. Rujukan-rujukan tadi—yaitu tradisi lokal. sebagai halnya umat Islam. 1. ‘masyarakat teks’. seperti yang nampak pada mazhab Maliki (yang sangat mementingkan tradisi dan praktek lokal Madinah). tetapi ayat yang paling utama adalah teks Al-Qur’an. secara sederhana.20 sebagai Ahlul Kitab ‘orang-orang yang sangat menghormati kitab’ atau. menjadi rujukan utama setelah Al-Qur’an. Bisa dikatakan bahwa tanpa teks ini tidak ada Islam dan masyarakat Muslim. Kalau teks menempati posisi yang demikian penting dalam Islam. Tetapi ketika hadis dibukukan pada abad ke 3 H/9 M. terutama yang dikumpulkan oleh Bukhari dan Muslim. ada juga yang merujuk pada ijma’. terutama Yahudi dan Kristen. setiap kata atau kalimat yang ada dalam Al-Qur’an disebut ayat atau ‘tanda. signified). maka wajar kalau ada kecenderungan untuk melihat keislaman 2 . signifier) dari madlul (‘yang ditunjuk’. sebagai Ahlul Kitab karena. mereka juga menjadikan teks (kitab suci) sebagai pusat dari kesadaran beragama mereka. Al-Qur’an juga menyebut para pengikut agama lain. Teks adalah dal (‘yang menunjuk’.

1 Buku al-Fihrist karya Ibn al-Nadim. 2 jilid dan 3 jilid supplement. karena menggunakan teks hadis dengan sangat minimal ketika menafsirkan teks Al-Qur’an. Pemahaman masyarakat Muslim terhadap Al-Qur’an dan hadis tersebut dituangkan dalam bentuk teks yang jumlahnya tak terhingga. Kelompok rasionalis dikritik dengan tajam. seorang penjual buku di Baghdad pada abad ke-4 H/10 M. Penghormatan yang demikian tinggi pada teks Al-Qur’an dan hadis menjadi landasan yang kuat bagi masyarakat Muslim untuk memproduk banyak sekali teks. Walaupun demikian banyak sekali teks-teks yang berhasil diselamatkan yang kini tersebar di berbagai negara. buku karya al-Tabari (wafat th. yang hanya diketahui lewat kutipankutipan atau resensi yang ditulis belakangan. Kelompok pendukung hadis (ahl al-hadits) menyebut diri mereka sendiri sebagai umat yang terbaik (khair ummah) karena keteguhannya dalam mengikuti dan memegang teks hadis. sangat penting karena dia banyak mengutip karya-karya yang ditulis oleh sejarawan sebelumnya. Ada masyakat Muslim yang membatasi penghormatan mereka pada Al-Qur’an Untuk mendapatkan gambaran tentang jumlah dan jenis buku yang diproduk masyarakat Muslim yang sudah hilang tetapi dikutip secara meluas lihat Carl Brockelmann. Bagi masyarakat Muslim. Dalam kajian sejarah. Semakin dekat dianggap semakin saleh. Geschichte der arabischen Litteratur (Leiden: Brill. 310 H / 923 M). yang sudah hilang.Islam. teks-teks tersebut adalah warisan yang sangat berharga. Teks. Banyak sekali teks yang sudah musnah. semakin jauh semakin sesat. terutama di Baghdad. juga penting karena di dalamnya ada resensi buku-buku yang beredar di dunia Islam. 1943-1949). Gerschichte des arabischen Schrifttums (Leiden: Brill. 1967 . pada masa itu yang juga sebagian sudah hilang. Tarikh al-Rusul wa al-Muluk (diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris The History of al-Tabari dalam 39 jilid atas sponsor UNESCO). yang hidup pada abad ke-2 H/8 M dan ke-3 H/9 M. bahkan pernah disebut kafir. 1 3 . terutama di Timur Tengah dan Eropa (termasuk Turki). namun sikap mereka terhadap teks-teks tersebut berbeda tergantung pada cara mereka memandang. 9 jilid. Fuat Sezgin. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali seseorang lewat kedekatannya (atau kejauhannya) dengan teks. misalnya. menanti sentuhan tangan filolog. Teks menjadi media yang sangat penting dalam memahami Al-Qur’an dan hadis.). 1937-42.

Perbedaan pemahaman terhadap Islam. Mengapa orang-orang menganut mazhab Syafi’i. NU lebih terbiasa dengan teks dibanding Muhammadiyah. Sebagian mereka berpendapat bahwa keberadaan teks-teks di luar Al-Qur’an dan hadis tadi menjadi benteng penghalang bagi umat Islam untuk memasuki kedua sumber ini. Bagi Muhammadiyah. bahkan tidak jarang teks Al-Qur’an-nya sendiri tidak dirujuk. anak-anak NU bisa menjadi “filolog” yang potensial. misalnya. Kalangan Muhammadiyah. tidak mengikat dan. Demikian juga 4 . maka sudah sewajarnya kalau teks juga memegang peranan penting dalam transmisi Islam. teks-teks selain AlQur’an dan hadis sifatnya relatif. teksteks ini sangat dominan. Berbeda dengan Muhammadiyah. Dalam fatwa-fatwa NU. Mereka membaca Al-Qur’an dan hadis melalui teks-teks lain yang tersusun secara hirarkhis. atau perbedaan warna Islam. yang segera memasuki teks Al-Qur’an dan hadis. buku-buku yang ditiulis para pendiri mazhablah yang harus dihormati dan diikuti. dari generasi ke generasi. Sementara kelompok lain menantangnya. Semua persoalan segera dicari dalam teks Al-Qur’an. bahkan terkadang. karena bisa jadi awalnya mereka hanya diperkenalkan kepada teks dari mazhab ini saja.20 dan hadis. Sebaliknya NU.Jurnal Lektur Keagamaan. walupun tingkatannya berbeda-beda dari satu kelompok ke kelompok lain. sebagian besar akan bergantung pada perbedaan teks yang diwariskan. Teks dan Transmisi Islam Kalau teks dan Islam berhubungan demikian erat. bisa jadi mendapatkan penghormatan dan perlakuan yang hampir sama dengan Al-Qur’an dan hadis. Muhammadiyah dan NU merepresentasikan kedua kecenderungan tersebut. Mereka adalah kelompok yang sangat menghormati teks-teks di luar Al-Qur’an dan hadis. Dikenalkan dengan keragaman teks sejak dini. 7. dalam memecahkan masalahmasalah kontemporer. sementara kelompok lainnya melebarkan penghormatan tersebut kepada teks-teks di luar keduanya. Vol. kalau perlu secara literal. NU menjawab setiap pertanyaan dengan cara terlebih dahulu memasuki teks-teks yang diwariskan ulama-ulama sebelumnya. Islam dari waktu ke waktu. Bagi kelompok masyarakat lain. diwariskan lewat teks. 2009: 1 . No. 1. Di Indonesia. Buku yang ditulis oleh seorang Sufi besar. adalah pembaca teks Al-Qur’an yang paling tekun dan juga paling tidak sabar. tidak mesti dibaca.

demikian seterusnya. Filologi di Kalangan Ulama Ketika mesin cetak belum ditemukan. maka gurunya adalah setan. terutama di Jawa. Artinya. Kegiatan pesantren (terutama di pesantren salaf yang belum terkena modernisasi) terpusat pada kajian teks yang terkenal dengan ‘kitab kuning’. Guru akan mengajarkan teks tertentu kepeda murid-muridnya dan ketika muridnya sudah dipandang mampu. Kita mengenal ada beberapa orang yang persis bekerja sebagai penyalin buku dan menjadikannya sebagai sumber 5 . tidak ada teks tanpa kiai dan. Dalam tradisi sorogan. Mayoritas pesantren di Indonesia. sang guru akan memberikan ijazah. kepada sang murid untuk mengajarkan teks tersebut. seperti tafsir. sampai sekarang masih mempertahankan ciri khas ini. Dan. tidak ada kiai tanpa teks. pimpinan pesantren atau kiai memainkan peranan kunci. Di dunia Islam secara keseluruhan hubungan antara teks dengan ulama dalam transmisi Islam bukanlah hal yang istimewa. Perbedaan teks. sebaliknya. maka dia harus menyalinnya sendiri atau meminta orang lain untuk melakukannya. telah melahirkan perbedaan kelompok beragama. seorang kiai akan membaca teks tertentu di hadapan santri-santrinya. untuk mengungkapkannya secara sederhana. Teks inilah yang akan menjadi modal utama santri-santri tersebut ketika kelak keluar dari pesantren. Rentetan pengijazahan dari satu guru ke murid yang lain ini biasanya dicatat di awal teks dalam bentuk silsilah.Islam. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali dalam sufisme dan teologi. Hubungan murid-guru dibangun di atas teks. nahwu dan hadis. Dalam kajian teks tersebut. kalau ada yang ingin memiliki buku. Bahwa teks memegang peranan kunci dalam penyebaran Islam juga bisa dilihat di dalam lembaga-lembaga yang terlibat dalam penyebaran Islam. Tidak mungkin santri belajar Islam tanpa teks dan tanpa kiai. Perbedaan ciri khas pesantren ditentutkan oleh perbedaan jenis teks yang dikaji. Teks. transmisi teks dilakukan secara manual. yaitu pesantren. atau semacam lisensi.” Dengan kata lain. Hubungan antara teks. kiai dan santri tersebut sedemikian penting sehingga di kalangan pesantren ada semacam keyakinan bahwa “Barang siapa yang membaca teks tanpa guru.

Para penyalin ikut menjadi korban peperangan. Perbedaan baca di antara para penyalin menjadi hal yang tak terelakkan. karena jarangnya orang yang bisa menulis. Kitab al-Tabaqat al-Kubra (Beirut: Dar al-Sadir. Rabi’ah 3 dan Aqram menjadi Arqam. Paling tidak konsentrasi mereka terganggu. 7. Tetapi. listrik. menurut informasi lain dari beberapa jalur yang berbeda. 1. yang menurut Ibn Hajar (wafat 852 H/1449 M) lebih kuat. ada saat-saat dimana para penyalin menjadi sangat sibuk sehingga terbuka untuk melakukan kesalahan. Vol. 4 Ibn Hajar al-‘Asqalani. ta dan £a. Menjadi orang yang dilahirkan pada masa Nabi jauh lebih penting dari orang yang dilahirkan pada masa ‘Usman. 5 Ibn Hajar. faktor idiologis juga berperan penting dalam perubahan teks. Menyalin buku menjadi perkerjaan yang bisa jadi tidak nyaman. dan AC pada masa itu. 5 Perubahan tanggal lahir itu bisa jadi karena kelalaian penulis atau penyalin teks. Ibn Sa’d. Tetapi bisa jadi.d. Keempat. dia ternyata lahir pada saat ‘Usman terbunuh (yaitu tahun 35 H/656 M). Pertama. 3 2 6 . 1:130. misalnya. n. No. Bukankah Nabi pernah menyampaikan bahwa masa yang terbaik adalah masa Nabi itu sendiri kemudian masa sesudahnya kemudian masa Ibn Sa’d. teknologi yang sangat terbatas.Jurnal Lektur Keagamaan. Rabi’ah menjadi Adam b.). Hisyam bisa dengan mudah tertulis Hasyim 2 atau.20 penghidupan. 1:125. Ini menurut informasi dari Abu al-Faraj. Dikatakan bahwa Asy’ab b Ummu Humaidah lahir pada tahun 9 H/630 M atau pada masa Nabi. Bahasa Arab pada masa itu adalah bahasa Arab yang masih dalam proses perkembangan. Ketiga. Gigi dan titik belum dipakai secara konsisten sehingga sulit dibedakan mana ba. Kedua.4 Faktor-faktor lain bisa membuat kesalahan tersebut semakin sering dilakukan. 4:343. Tidak ada komputer. Teks yang dihasilkan menjadi bebeda antara satu dengan yang lainnya. Iklim yang demikian panas membatasi orang untuk bekerja maksimal. mungkin karena penulisnya ngantuk. telepon. tetapi bisa jadi juga lebih dari itu. n. stabilitas sosial politik pada masa itu tidak sebaik seperti sekarang. 4:386. Dam b. al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah (Beirut: Dar alKitab al-‘Arabi. Tabaqat. faktor perkembangan bahasa. Kualitas penerangan yang kurang membuat mata cepat lelah. 2009: 1 .t). al-Isabah.

yaitu Bukhari dan Muslim. Sebut saja misalnya jarh wa al-ta‘dil dan rijal al-hadits. dan bisa jadi masyarakat awam meyakini bahwa masuk surga atau tidaknya mereka akan bergantung kepada para ulama ini. yaitu suatu disiplin ilmu yang dikembangkan untuk menilai kualitas informasi dan akurasi teks berdasar pada penilaian kritis terhadap orang-orang yang terlibat dalam transmisi informasi dan teks tersebut. Ishak (wafat 150 H/767 M) dan Muhammad b. Lewat kajian antarteks. Dia adalah tempat bertanya masyarakat.Islam. Teks. mana di antara teks-teks yang ada itu yang paling bisa dipercaya. Sahih (Cairo: Maktabat ‘Abd al-Hamid Ahmad Hanafi. Kalau keragaman teks tidak bisa dihindarkan. dia menjadi mungkin bisa bertemu dengan sahabat-sahabat besar bahkan bisa meriwayatkan hadis dari mereka. Dalam hadis juga dikenal dengan ‘rawahu al-syaikhan’’ atau ‘diriwayatkan oleh dua orang syaikh’. Ibn Al-Bukhari. 1: 8. tt. harus sangat hati-hati dalam memilih dan membaca teks. misalnya.). 6 7 .’ Suatu hadis yang ditemukan dalam keenam buku hadis lebih kuat dari pada hadis yang hanya ditemukan dalam empat buku hadis. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali sesudahnya? 6 Lahir pada masa Nabi bukan hanya penting karena dia lahir pada masa yang terbaik tetapi juga. 3: 171. dengan demikian. dalam periwayatan hadis. Para ulama. 8: 91. Dia mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan yang kebenarannya sangat bergantung pada ketepatan teks dan kebenaran membacanya. dan memasukkan nama ‘Ayyasy b. Kajian antarteks menjadi suatu keniscayaan. adanya ‘kutub al-sittah’ atau ‘buku yang enam’ dan ‘kutub al-arba’ah’ atau ‘buku yang empat. pusat verifikasi teks. Abi Rabiah ke dalam daftar orang-orang yang ikut hijrah tersebut. menjadi pusat produksi dan reproduksi ilmu. Kita mengenal dalam hadis. 9. 141-2. Berbagai versi harus dibaca dan dibandingkan. Istilah-istilah ini hanya mungkin kalau kajian antarteks sudah berkembang kuat. informasi yang ada dalam satu buku dicek di buku yang lain. Adalah juga kehendak untuk mendapatkan teks yang benar-benar bersih para ulama mengembangkan berbagai disiplin ilmu. ‘Umar (wafat 207 H/822 M) menulis buku tentang orang-orang yang hijrah ke Habasyah (Ethiopia) (hijrah Nabi yang pertama). Muhammad b. maka pada dasarnya setiap ulama pada masa itu adalah seorang filolog.

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 1 - 20

Sa‘d (wafat 230 H/845 M) lalu mengecek nama tersebut di buku yang ditulis oleh Musa b. ‘Uqbah (wafat 141 H/758 M) dan Abu Ma’syar (wafat 170 H/786 M), dan nama ‘Ayyash ternyata tidak ada. 7 Dengan cara yang sama (kali ini membandingkan teks yang ditulis oleh Musa b. ‘Uqbah, Muhammad b. Ishaq dan Muhammad b. ‘Umar), Ibn Sa’d juga menemukan bahwa Musa b. ‘Uqbah melakukan kesalahan penulisan nama, yang semestinya al-Aswad b. Naufal b. Khuwailid ditulis menjadi Naufal b. Khuwailid. Ibn Sa’d juga tahu bahwa nama ini tidak muncul dalam buku Abu Ma’syar.8 Skripturalis/Fundamentalis dan Filolog Di atas dikatakan bahwa Al-Qur’an dan hadis sebagai teks kunci telah melahirkan banyak teks. Teks satu dengan teks yang lainnya ini terhubungkan dengan seorang figur dan silsilah (geneologi). Ada geneologi guru dan ada geneologi teks, dan kualitasnya berbeda-beda. Buku yang diwariskan lewat guru A-B-C misalnya lebih baik daripada buku yang diwariskan lewat A-B-D. Tekanan yang demikian besar terhadap geneologi mengisyaratkan bahwa dalam transmisi teks tersebut ada sesuatu yang stabil, yang harus dijaga keasliannya. Prinsip ini sangat menolong bagi filolog sebab sekali dia mampu mengidentifikasi apa ‘yang stabil’ atau apa ‘yang harus senantiasa dijaga keasliannya’ tersebut maka dia akan mudah membaca teks yang sangat korup sekalipun. ‘Yang stabil’ akan selalu ditemui dalam berbagai teks. Memang benar bahwa ‘apa yang stabil’ jenis dan kadarnya akan berbeda-beda dari satu kelompok ke kelompok lain. Tetapi, sekali ditemukan dalam satu kelompok tertentu, maka filolog akan terbantu dalam membaca teks yang ditulis atau menjadi ciri dari kelompok tersebut. Di dunia Islam, baik masa lalu maupun sekarang, dikenal adanya dua kelompok besar: skripturalis atau fundamentalis dan esensialis. Kelompok skripturalis adalah mereka yang berkeyakinan bahwa (1) Islam adalah agama yang sempurna dan jelas yang mengatur semua aspek kehidupan kita dan, oleh karena itu, tidak diperlukan adanya penafsiran ulang; (2) Memang masyarakat selalu
7 8

Ibn Sa’d, Tabaqat, 4:383. Ibn Sa’d, Tabaqat, 4:379.

8

Islam, Teks, dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali

berubah-ubah, tetapi perubahan itu harus senantiasa dicocokkan dengan Al-Qur’an dan hadis, bukan Al-Qur’an dan hadis yang harus dicocokkan dengan perubahan masyarakat; (3) Al-Qur’an dan hadis adalah sumber utama Islam dan semua persoalan harus benarbenar sesuai dengan Al-Qur’an dan hadis; (4) Akal dan tradisi lokal sifatnya nisbi dan, oleh karena itu, tidak bisa dipakai sebagai sumber nilai; (5) Masa Nabi dan para sahabatnya adalah masa yang paling sempurna yang harus dijadikan model bagi setiap masyarakat Muslim kapan pun dan dimana pun. Pandangan kelompok esensialis berbeda sama sekali dengan pandangan kelompok ini. Mereka percaya bahwa (1) Islam memang agama sempurna tetapi kesempurnaannya bersifat minimal dan untuk memaksimalkannya diperlukan usaha dan pikiran masyarakat Muslim, (2) Masyarakat selalu berubah-ubah dan oleh karena itu Islam harus dilihat secara dinamis, (3) Al-Qur’an dan hadis adalah kebenaran yang diekspresikan dalam ruang dan waktu tertentu dan oleh karena itu harus dilihat konteksnya, (4) Akal dan tradisi lokal harus dipakai sebagai sumber yang berharga dalam formulasi hukum dan ajaran Islam, (5) Masa Nabi dan para sahabatnya adalah masa yang paling sempurna untuk zamannya dan tidak boleh dipahami secara literal. Perbedaan pandangan di antara kedua kelompok di atas melahirkan teks yang sama sekali berbeda sifatnya. Teks di kalangan skripturalis relatif stabil. Karena Islam dipandang sempurna, karena Al-Qur’an dan hadis dianggap selesai, dan karena masa Nabi dan sahabatnya dipandang ideal, maka yang ditemukan dalam teks yang diproduk oleh kelompok ini adalah potongan-potongan informasi yang diambil dari Al-Qur’an, hadis dan sirah (perjalanan hidup) Nabi dalam jumlah besar. Akibat dari tekanan terhadap penafsiran dan tradisi lokal yang begitu besar, maka unsur baru dalam teks menjadi minimal. Walaupun ditulis dalam waktu dan tempat yang berbeda, bisa diasumsikan bahwa teks di kalangan kelompok ini relatif sama. Kutipan-kutipan Al-Qur’an, hadis dan sirah Nabi dan para sahabatnya akan dominan dan setiap ketidakjelasan yang ada dalam teks yang korup bisa segera diisi oleh filolog dengan membaca teks standard (Al-Qur’an, hadis dan sirah Nabi). Kalau kadar stabililitas dalam teks-teks tradiosionalis sangat tinggi, maka teks yang diproduk oleh kalangan esensialis sangat 9

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 1 - 20

labil. Dia lebih beragam baik di tingkat kelompok maupun individu. Mu’tazilah, kelompom rasional Muslim yang terkenal dalam sejarah Islam, misalnya, terdiri dari banyak sub kelompok yang berbeda satu sama lain, dan pada sub kelompok tersebut perbedaan antar individu sangat kentara. Masing-masing mereka melihat Islam, AlQur’an dan hadis serta sirah Nabi sebagai suatu teks yang sangat terbuka. Berbeda dengan kalangan skripturalis, yang memandang makna sebagai ‘sesuatu yang diberikan oleh teks’, kalangan rasional memandang makna lebih sebagai ‘sesuatu yang harus dicari dan diberikan oleh pembaca’. Membaca bukanlah proses menerima teks secara pasif, tetapi lebih merupakan proses intrograsi yang sangat cair, dimana pembaca dan teks bisa ditempatkan secara sejajar dan oleh karena itu dialog antara teks dan pembaca menjadi sangat intens. Hasil dari dialog itu adalah warisan teks yang sangat dinamis dan beragam. Sesunggunya kalangan skripturalis/fundamentalis telah membuat pekerjaan filolog lebih mudah. Filolog yang ingin cepat selesai diusulkan untuk tidak memilih teks-teks yang ditulis oleh kalangan rasionalis. Studi Kasus: Membaca Dokumen Ikrar Abad ke-14 di Jerusalem Disebutkan di atas bahwa salah satu cara membaca teks yang sudah korup adalah dengan cara menggunakan teks yang sudah established sebagai patokan. Tentu saja Al-Qur’an dan hadis adalah teks Islam yang paling stabil. Tidak terlalu sulit untuk mentranskrip naskah Al-Qur’an atau hadis, atau teks yang mengadung banyak sekali kutipan Al-Qur’an dan hadis. Teks berikutnya yang relatif lebih mudah digarap adalah teks yang ditulis oleh kelompok sripturalis atau fundamentalis. Dibanding teks yang ditulis kalangan esensialis, teks yang mereka buat relatif lebih mapan dan lebih seragam dari satu periode ke periode lain dan dari satu tempat ke tempat lain sehingga lebih mudah dibandingkan. Prinsip yang sama bisa dipakai untuk membaca teks-teks Islam pada umumnya. Teks-teks Islam bisa diklasifikasi ke dalam lima kelompok besar: 1) sejarah, 2) teologi, 3) sufisme, 4) filsafat dan 5) hukum. Di antara kelima kelompok tadi, yang paling tegas dan rinci adalah hukum. Hukum Islam diformulasikan dan dirumuskan oleh para ulama sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan kebi10

Jika tidak ada (saksi) dua orang laki-laki. untuk batas waktunya baik (utang itu) kecil maupun besar. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki di antara kamu. Bagi filolog. maka sungguh. Al-Baqarah/2:282) Kalau bagian pertama tulisan ini menegaskan hubungan antara Islam dengan teks pada level yang lebih besar. Dan janganlah saksi-saksi itu menolak apabila dipanggil. Dua contoh teks akan dikemukakan di sini untuk menunjukkan: (1) bahwa Islam (seperti halnya agama lain) sangat instrumental dalam melahirkan teks. Teks yang mereka dapatkan akan lebih mudah ditranskrip. Allah memberikan pengajaran kepadamu. dan janganlah penulis dipersulit dan begitu juga saksi. dan janganlah dia mengurangi sedikit pun daripadanya. Tidak heran kalau. ini adalah berita baik. Jika kamu lakukan (yang demikian). Tuhannya. atau tidak mampu mendiktekan sendiri. Teks. maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan di antara orang-orang yang kamu sukai dari para saksi (yang ada). kecuali jika hal itu merupakan perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu. Hukum cenderung rinci dan kaku. lebih adil di sisi Allah. maka ayat ini (yang sengaja dikutip secara keseluruhan) contoh yang baik bagaimana 11 . Dan ambillah saksi apabila kamu berjual beli. maka yang seorang lagi mengingatkannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. maka tidak ada dosa bagi kamu jika kamu tidak menuliskannya.S. Dan hendaklah orang yang berutang itu mendiktekan. lebih dapat menguatkan kesaksian. Jika yang berutang itu orang yang kurang akalnya atau lemah (keadaannya). homogen dan rinci. (Q.Islam. Dan janganlah kamu bosan menuliskannya. Janganlah penulis menolak untuk menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya. hendaklah kamu menuliskannya. dan lebih mendekatkan kamu kepada ketidakraguan. agar jika yang seorang lupa. teks yang ditulis oleh kalangan ahli hukum juga lebih stabil. Orang-orang skripturalis dan fundamentalis cenderung menekankan pentingnya aspek hukum ini sehingga mereka dikenal dengan ‘legal minded Muslims’. maka hendaklah walinya mendiktekannya dengan benar. hal itu suatu kefasikan pada kamu. seperti halnya buku-buku yang ditulis oleh kalangan fundamentalis. dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan bertakwalah kepada Allah. Al-Qur’an menegaskan perlunya catatan dalam transaksi: Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan. dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah. Yang demikian itu. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali ngungan dan mudah diikuti. maka hendaklah dia menuliskan. (2) teks yang ditulis oleh ahli hukum relatif lebih mudah dibaca karena lebih stabil.

Oleh karena itu. 10 Lihat Y. Dalam manual syurut tersebut para ahli hukum lalu merinci dengan detil apa syarat-syarat membuat ikrar dan kata-kata apa saja yang harus dicantumkan dalam dokumen oleh si pembuat ikrar. New Edition). 1972).20 hubungan Islam dengan teks tersebut juga bekerja pada level yang lebih kecil dan detil: Al-Qur’an meminta penganutnya untuk melakukan transaksi secara tertulis. Yang dilakukan oleh para notaris adalah memilih mana di antara blanko-blanko tersebut yang cocok dengan kasus yang dia hadapi dan mengisi bagian-bagian kosong yang sudah disediakan dan meminta dua saksi untuk menandatanganinya (seperti tuntutan ayat Al-Qur’an di atas). Brill. ‘Ikrar’ dalam The Encyclopaedia of Islam (Leiden: E. Kontrakkontrak tersebut sebetulnya lebih berupa sebuah blanko atau formulir yang dibuat sedetil mungkin sehingga semua syarat dan tuntutan syariah Islam bisa dipenuhi. 10.9 Salah satu blanko kontrak yang dibuat para ahli hukum Islam dalam buku-buku syurut tersebut adalah blanko untuk membuat ikrar. No. Linant de Bellefonds. Memang benar. di dalam hukum Islam tradisional. 2009: 1 . bentuk dan isi ikrar relatif stabil. 7. 1. yaitu sejenis manual yang bisa dijadikan pegangan bagi para notaris dalam melakukan fungsinya. di Museum Islam di al-Haram al-Syarif di al-Quds ditemukan sekitar 900 lembar kertas transaksi atau catatan pengadilan yang berasal dari abad ke-14 M di Jerusalem. 10 yaitu suatu bentuk pengakuan atau pernyataan yang dibuat oleh seseorang yang secara hukum mengikat bagi orang tersebut. Mereka mengembangkan satu jenis literatur yang disebut syurut. 9 12 . Penemuan ini merupakan salah satu penemuan terpenting dokumen Islam abad pertengahan. The Function of Documents in Islamic Law (New York: University of New York Press. Ia berisi berbagai jenis kontrak yang bisa dipilih oleh para notaris sesuai dengan kebutuhan. McGill Jeanette A.Jurnal Lektur Keagamaan. Donald P. Pada tanggal 19 Agustus 1974-5. kesaksian lisan lebih penting dari kesaksian tulis. Vol.J. Wakin. tetapi para ahli hukum Islam memberikan perhatian yang serius terhadap cara membuat dan menggunakan dokumen-dokumen tertulis untuk kepentingan hukum. Little. sejajar dengan penemuan manuskrip di Geniza Cairo dan St Catherine bukit Sinai. guru besar di Institute of Islamic Studies.

11 13 . yang dibayar secara bertahap dari uang wakaf sekolah al-Salahiyyah. salah seorang murid Little di McGill University. Dokumen 184 berisi pengakuan Fatimah bt. Saya sendiri pernah ikut membaca dokumen-dokumen itu dan adakalnya saya membutuhkan lebih dari seminggu hanya untuk membaca satu baris teks dalam sebuah dokumen. Sulaiman. Zainuddin ‘Umar al-Hamawiyyah. Teks. Tanpa bantuan literatur syurut. ‘Abdullah bt. bahwa dia menerima uang perak sejumlah 375 dirham dari mantan suaminya untuk biaya ketiga anak mereka Ahmad. 289 dan no. 11 Secara garis besar dokumen no. 184 adalah dua di antara enam dokumen ikrar yang dibaca dan dianalisa oleh Huda Lutfi.” in Journal of the Economic and Social History of the Orient. Di antara lembaran-lembaran kertas tadi ada dokumen ikrar (yang jumlahnya sekitar 90 lembar). mantan suami Nasiruddin Muhammad al-Hamawi penduduk al-Quds al-Syarif. Zainuddin Rizqullah. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali University datang ke Jerusalem dengan sebuah tim untuk mendokumentasikan dan membuat mikrofilm-nya. Fatimah juga mengakui bahwa mantan suaminya tersebut telah memberinya sejumlah uang untuk biaya anak selama tiga bulan setengah sesuai dengan tuntutan syariah. Beberapa tahun kemudian Little menerbitkan katalog dokumen tersebut: menjelaskan isi masing-masing dokumen secara garis besar dan mengklasifikasikannya. Muhammad al-Muwwa’ani.Islam. Salma dan Sarah. 289 berisi pengakuan Fatimah bt. Ikrar ini dibuat di depan saksi pada tanggal 4 Syawal 782 (atau 2 Januari 1380) di depan dua orang saksi Ahmad al-ªaki dan Abdullah b. 25: 246-294. Saya juga pernah meminta bantuan seorang Arab (yang kebetulan berasal dari Huda Lutfi. Muhammad bahwa dia tidak memiliki klaim apa-apa lagi terhadap mantan suaminya Syeikh Burhanuddin Ibrahim b. dokumen-dokumen ini sangat sulit dibaca. Ikrar ini dibuat pada tanggal 2 Ramadan 789/14 Agustus 1389) di hadapan dua orang saksi ‘Ali b. Selain berikrar bahwa dia tidak punya hak apa-apa lagi— termasuk maskawin dan biaya pakaian. ‘Ilwi Muhammad dan Ahmad b. “A Study of Six Fourteenth Century Iqrars from al-Quds Relating to Muslim Women. Dokumen no. salah seorang sufi di Khanqah al-Salahiyyah di al-Quds al-Syarif. Fakhruddin ‘Usman b.

Saya tidak bisa membayangkan begaimana Little bisa membaca hampir 900 dokumen serupa dan menganalisa isinya satu persatu. Vol. Ikrar harus dibuat dalam bentuk orang ketiga (harus aqarra kalau laki-laki dan aqarrat kalau perempuan). Benda atau persoalan yang diikrarkan harus dinyatakan dengan jelas (jika uang berapa jumlahnya. Kalimat pertama. Antara lain. Dokumen harus mencantumkan tanggalnya dan ditandatangani oleh dua orang saksi. yang hidup di Mesir pada abad 9 H/15 M. baru saya tahu bahwa dalam membaca dokumendokumen tersebut dia sangat terbantu oleh buku syurut yang ditulis oleh al-Asyuti. No. Dalam buku manualnya. Ini adalah isyarat bahwa memang buku-buku hukum relatif lebih stabil. Bimbingan al-Asyuti tersebut sangat membantu ketika kita membaca dokumen ikrar tadi. dalam buku tersebut berusaha menggambarkan praktek administrasi hukum yang berlaku pada masanya. Kata pertama setelah basmallah adalah aqarrat (karena yang membuat ikrar perempuan). Nama si pengikrar harus dicantumkan dengan jelas termasuk nama bapak dan kakeknya. pasti basmallah. walaupun terpisahkan selama satu abad dan. 7. bagaimana membayarnya. dia menyatakan bahwa dokumen harus diawali dengan basmalah (menulis ‘Bismillahir-rahmanir-rahim’) dan diakhiri dengan hamdalah (menulis ‘Alhamdu lillahi rabbil-‘alamin’). 2009: 1 . dokumen-dokumen ini pada dasarnya merupakan catatan transaksi dan peristiwa yang terjadi di Jerusalem pada abad ke-14 atau satu abad sebelum al-Asyuti menulis kitab manualnya. Setelah itu pasti 14 . maka nama suaminya atau mantan suaminya harus dicantumkan. 1. 2 jilid (Kairo. Dua minggu kemudian. Kalau dia perempuan. walaupun al-Asyuti hidup di tempat yang relatif jauh dari Jerusalem. al-Asyuti memberikan beberapa petunjuk tentang tata cara membuat dokumen ikrar. Jawahir al-‘Uqud wa Mu‘in al-Qudat wa alSyuhud. walaupun hanya dalam garis besar. 1955). Seperti dijelaskan di muka. blanko dokumen hukum yang dibuat alAsyuti sangat cocok dengan dokumen-dokumen yang ditemukan di Jerusalem tersebut. Pengalaman membaca dokumendokumen tersebut menunjukkan bahwa.Jurnal Lektur Keagamaan. dan seterusnya). Al-Asyuti. setidakjelas apa pun.20 Palestina tempat dokumen tersebut ditemukan) untuk membacanya. nama kehormatannya dan seterusnya. Dia juga tidak bisa.

Tanda tangan saksi diawali dengan “syahida ‘ala . Bias politik dan kultural dari para penulis 15 . Mungkin karena terlalu banyak pesanan (karena jumlah yang bisa menulis sangat terbatas).Islam. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali nama orang yang membuat ikrar. Para penulis itu mungkin berpikir bahwa. tidak dalam keadaan terpaksa] setelah syar’iyyan). Dengan kata lain. para penulis itu pada dasarnya menulis tidak untuk dibaca oleh orang yang memiliki dokumen tetapi untuk dibaca oleh mereka atau kawan-kawan seprofesi mereka sendiri.” Kedua ungkapan ini ditemukan dalam dokumen no. Para penulis buku ini menyodorkan realitas kepada kita secara subjektif... pada akhirnya para penulis itu juga yang harus membacakannya di pengadilan (kalau terjadi apa-apa dan perkaranya sampai ke pengadilan). aktor mana yang akan ditonjolkan dan informasi dari siapa yang harus dipakai. ditulis dengan tulisan tangan yang sangat jelek. Sampai saat ini. para penulis itu bekerja sembarangan. Merekalah yang memilih buat kita peristiwa apa yang akan dimunculkan.. Bagian berikutnya adalah yang paling sulit dibaca: persoalan atau benda yang sedang diikrarkan. Sangat mungkin pada masa itu ada orang-orang yang memang pekerjaannya menuliskan dokumen (dengan berpedoman pada manual syurut). yaitu “iqraran syar’iyyan fi sihhatin minha wa salamah wa jawazi amr (ikrar yang sesuai dengan tuntunan syara’.” Walaupun al-Asyuti menegaskan bahwa setiap dokumen harus ditulis dengan tulisan yang bagus agar mudah dibaca. 289 dan 184 (dengan satu kata tambahan. Mungkin harus diingat bahwa pada abad ke-14 di Jerusalem buta huruf masih tinggi. dokumen 289 dan 184. bi dhalik (telah bersaksi atas . karena orang awam itu tidak bisa membaca. maka orang awam yang ingin menuliskan ikrarnya harus meminta bantuan orang lain. Untuk itu. hamdallah dan nama dua saksi. Karena tidak banyak orang yang bisa menulis. Dalam menuliskan runtutan isi dokumen tersebut ada katakata hukum yang baku yang pasti muncul dalam ikrar. Tetapi bisa juga karena sebab lain.. Teks.. tulisan tidak mesti bagus. Bagian akhir pasti terdiri dari tanggal.. dengan hal itu). dan semua dokumen yang ditemukan di Jerusalem ini. yaitu tau’an [artinya. dibuat dalam keadaan sehat jasmani dan rohani dan secara hukum dalam keadaan mampu melakukan transaksi). sumber penulisan sejarah Islam Timur Tengah masih didominasi oleh buku-buku sastera (literary soursces).

Dari dua dokumen yang kita baca. Dalam konteks ini. dan dalam rentang waktu yang panjang. Dibaca secara keseluruhan.20 tersebut sangat berpengaruh terhadap mutu gambar sejarah yang dimunculkan.D Goitein yang 16 . bagaimana mekanismenya kalau terjadi konflik pembagian hasil. 2009: 1 . 7. setelah membaca ratusan atau ribuan dokumen. yang mengisyaratkan bahwa dia berasal dari keluarga terpandang? Dokumen-dokumen yang saya baca berhubungan dengan pengelolaan tanah wakaf: bagaimana dikelola. Misalnya. 1. jumlah anak yang dimiliki suatu keluarga dan model distribusi wakaf.Jurnal Lektur Keagamaan. Kitalah yang menseleksi dan menafsirkan data-data tersebut. Dari potongan-potongan informasi yang ditemukan di setiap dokumen. Selain kondisi dokumen yang biasanya sulit dibaca. Untuk mengkonstruk sebuah realitas diperlukan banyak sekali dokumen (bisa ratusan kadang ribuan lembar). kemungkinan besar akan ada nama-nama yang berkali-kali muncul sehingga kita bisa meruntut sejarah kehidupan mereka dengan baik. akhirnya kita bisa menulis sejarah sosial yang sangat bagus. ada tantangan lain yang harus dihadapi ilmuan kalau dia ingin menulis sejarah dengan menggunakan dokumen. tidak banyak dokumen yang tersedia dan juga tidak banyak ilmuan yang tertarik menghabiskan waktunya berminggu-minggu hanya untuk membaca dua atau tiga buah dokumen. Berasal dari tempat yang sama. dokumen Jerusalem bisa dijadikan bahan untuk mengkonstruk realitas sosial masyarakat al-Quds al-Syarif di Jerusalem. dalam dokumen kita disodorkan data mentah. Sayangnya. 184 disebutkan bahwa nafkah anak-anak dari perkawinan Fatimah dengan Nasiruddin dibayar oleh dana wakaf? Apakah karena dia miskin? Bukankah dia bergelar al-sitt al-masunah. Mirip seperti yang dilakukan oleh S. No. berapa kali panen dan dapat berapa kilo sekali panen. Berbeda dengan sumber-sumber sastera. Misalnya tentang jumlah nafkah yang diberikan suami kepada mantan istrinya. ada beberapa informasi yang menarik. dokumen bisa memberikan informasi yang sangat berharga. bagaimana sistem administrasinya. bagaimana sistem pembagiannya. dan seterusnya. Banyak pertanyaan bisa dikembangkan. berapa rata-rata anak yang dimiliki satu keluarga di Palestina pada abad ke-14? Berapa rata-rata penghasilan keluarga? Mengapa dalam dokumen no. Vol. buah-buahan atau tanaman apa saja yang ditanam.

Ini membuat pekerjaan filolog lebih sulit lagi. Bagi seorang filolog adalah penting untuk terlebih dahulu mengidentifikasi teks dengan kelompok-kelompok keberagamaan yang ada dalam Islam. membaca dokumen di Timur Tengah nampaknya lebih ‘mudah’ dibanding membaca dokumen sejenis di Indonesia. dan dalam kadar tertentu tradisionalis. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali menulis A Mediteranian Society: The Jewish Communities of the Arab World as Potrayed in the Documents of Cairo Geniza (Berkeley: University of California Press.Islam. masyarakat Muslim dan. 1967-78). dan keluarga (jilid 3). Karya-karya yang ditulis oleh para ahli hukum Islam juga relatif lebih stabil dibanding karya-karya yang ditulis para filosof atau sufi misalnya. Hanya mereka yang menguasai bahasa Yahudi dan bahasa Arablah yang bisa membacanya. tetapi saya punya kesan bahwa ada jenis-jenis literatur yang sangat membantu dalam membaca dokumen (atau 17 . masyarakat (jilid 2). jauh lebih stabil dibanding teks yang ditulis oleh kalangan rasional. dokumen Geniza berbahasa Yahudi yang ditulis dalam tulisan Arab. terutama. walaupun sulit. dia susun menjadi 3 jilid narasi tentang ekonomi (jilid 1). Catatan Pamungkas Pertama. Hubungan model ini sangat penting dimiliki filolog untuk bisa menghayati dan memahami teks. Potongan informasi yang dia temukan dalam ribuan lembar dokumen. mulai dari yang sangat stabil sampai ke yang sangat labil. Teks. Menjadi Muslim berarti mereka terhubungkan dengan relitas dan ajaran yang mendasari lahirnya teks dan dokumen. Ketiga. Pengetahuan saya tentang kekayaan manuskrip Melayu sangat terbatas. Dalam tradisi Islam. teks. Dalam jumlah yang sangat besar. lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam memiliki peluang yang sangat besar untuk menggali manuskrip dan dokumen yang berkenaan dengan masyarakat Islam yang kini masih belum tersentuh baik yang tersimpan di perpustakaan-perpustakaan di dalam dan di luar negeri maupun yang masih tersebar di kalangan masyarakat. sebuah teks harus ditempatkan dalam konteks besar yang melahirkannya. Secara umum bisa dikatakan bahwa teks yang diproduk oleh kalangan skripturalis/fundamentalis. Kedua. dalam banyak hal mencerminkan sikap atau pandangan keagamaan tertetu.

ada kata ‘al-Khaliliyah.[] 18 . satu potong dokumen yang ditemukan di Musium Islam Jerusalem sesungguhnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari tradisi keilmuan atau sistem informasi yang kaya dan mapan. Tidak mudah memang. sepotong dokumen itu akhirnya tidak sendirian lagi. Dikepung oleh banyak informasi. Keempat. Kemungkinan besar dia adalah nama suku orang itu. tempat tinggal. 7. Jamharat al-Nasab). yang berhubungan dengan suku dan geneologi (kalau ingin tahu nama-nama suku yang ada di Hijaz misalnya bisa dilihat di Ibn al-Kalbi. Dalam dokumen no. keahlian. dan seterusnya. keadaan fisik. Kajian Islam di Indonesia belum mencapai tahapan ini. kajian Islam di Timur Tengah sudah berusia lanjut.Jurnal Lektur Keagamaan. Artinya. 1. misalnya. Mu’jam al-Buldan). kita akan menemukan nama-nama tempat dan desa yang ada di Palestina sehingga ‘gambar’ kata di dokumen itu bisa diidentifikasi. kualitas orang. kita bisa mencari nama daftar nama suku yang ada di wilayah ini. Vol. 289. Demikian juga kalau kita kesulitan membaca kata yang ada di ujung nama orang yang ada dalam sebuah dokumen. dan yang berhubungan dengan tempat (misalnya karya Yaqut.’ Jika kita ragu tentang bacaan kata ini. Dalam bahasan tentang ‘Palestina’. 2009: 1 . di dunia Islam Timur Tengah berkembang literatur yang berhubungan dengan biografi orang (Rijal atau Tabaqat) yang jumlahnya sangat besar dan beragam. Sayangnya literatur bantu semacam ini tidak tumbuh di Nusantara. kita bisa melihat di buku Yaqut. Di samping banyak sekali literatur yang diproduk oleh kalangan sarjana Muslim sendiri. yang disusun berdasarkan tahun wafat. baik yang hidup pada masa klasik maupun modern. Kalau kita membaca dokumen yang ada di Hijaz.20 manuskrip) yang tidak ditemukan di dalam literatur yang tumbuh di Nusantara. Misalnya. No. tapi tetap sangat membantu. sarjana-sarjana modern (baik di Barat maupun di Timur) juga banyak menghasilkan karya-karya penting dalam jumlah besar. Bahwa model dokumen yang ditemukan dalam buku al-Asyuti ternyata sangat cocok dengan model dokumen yang ditemukan di Palestina adalah salah satu contoh yang baik bagaimana kekayaan tradisi keilmuan bisa membantu membaca suatu kalimat dalam sebuah dokumen. Literatur-literatur ini sangat menolong untuk mengidentifikasi katakata yang ada dalam dokumen yang sangat sulit dibaca.

dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali Daftar Pustaka al-‘Asqalani. Huda.” in Journal of the Economic and Social History of the Orient. Al-Bukhari. Sahih.t. T. “A Study of Six Fourteenth Century Iqrars from al-Quds Relating to Muslim Women. al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah. Y. No.). de Bellefonds. New York: University of New York Press.J. Brill.t. Fuat. Carl. 19 . Wakin. Leiden: E. 9 jilid. Sezgin. Teks. Geschichte der arabischen Litteratur. Linant. 1972. Kairo: Maktabat ‘Abd al-Hamid Ahmad Hanafi. 193742. Kitab al-Tabaqat al-Kubra. Jeanette A. 2 jilid dan 3 jilid supplement. ‘Ikrar’ dalam The Encyclopaedia of Islam. 1967 . Ibn Sa’d. Lutfi. T. Geschichte des arabischen Schrifttums (Leiden: Brill. T.t. 25. 1943-1949). (Leiden: Brill. Ibn Hajar.Islam. Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi Brockelmann. Beirut: Dar al-Sadir. The Function of Documents in Islamic Law. New Edition.

Survey of Islamic Culture Pengarang : Abu 'l Faraj Muhammad ibn Ishaq al Nadim Penerjemah (Inggris) : Bayard Dodge Penerbit : Great Books of the Islamic World. Kazi Publications Jumlah halaman : 1149. Vol.html 20 . Jilid: Hardcover Sumber: http://islamicbookstore.Jurnal Lektur Keagamaan.com/b7581.D. 1. 2009: 1 . No.20 The Fihrist: A 10th Century A. 7.

from 17th to 20th centuries. Anthony Reid. di Banda Aceh. Jihad. 23–24 Februari 2009. Penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada Prof. Internal and external conflicts were appeared in different period. Letak Artikel ini telah dipresentasikan pada Konferensi International tentang Aceh and Indian Ocean Studies II Civil Conflict and Its Remedies. protective to their ethnics and fatherland is another factor to motivate and to defend themselves from any other threat come from. sebagai koordinator konferensi ini yang telah mengundang Penulis untuk hadir dan mempresentasikan paper ini pada konferensi tersebut. The main question that should be answered is how the Acehnese solve their conflict in life. 1 21 .. — Fakhriati Perang dan Damai di Aceh: Kajian atas Manuskrip Aceh tenang Konflik dan Solusinya1 Fakhriati Puslitbang Lektur Keagamaan. Kata kunci: Manuskrip. Fanatic in their religion is an important factor to push to the situation. yang dikelola oleh Asia Research Institute (ARI). Ulama. These sources become by far the most important sources since they provide the original information.. the new generation can directly read and understand on the Acehnese writings as primary sources. konflik Pendahuluan Sejarah Aceh adalah cerita panjang tentang perjalanan suatu suku bangsa yang diwarnai pergolakan demi pergolakan di antara cerita kebesaran dan kejayaan yang pernah dicapainya. Their life had been colorized by peace and war which can be regarded as part of their life history. These situations have strong connection with character and behaviour of the Acehnese. Jakarta Aceh is a region which has a number of populations with their life fluctuation. Islam. Apart from this. and what their character and behaviour were in the past.Perang dan Damai di Aceh. behaviour and attitude from the Acehnese. Consequently. This paper tries to find and analyse these primary sources in relation with war and peace occurred in the life history of the Acehnese. One of the sources for those above life history of the Acehnese is manuscripts as their own writing. Afterward. the way of the Acehnese associated with the others becomes a factor to create peace in Aceh land. National University of Singapore (NUS) bekerjasama dengan International Center for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS).

Pada tahap awal hubungan Aceh dengan dunia luar. Masuknya para pedagang Arab dan Gujarat selain dipandang telah membawa agama sebagai pedoman hidup bagi masyarakat Aceh. Iskandar.Jurnal Lektur Keagamaan. saat mana wilayah kekuasaan Kerajaan Aceh melampaui tanah Aceh (Zainuddin. 2009: 21 . Puncak kejayaan Kerajaan Aceh pada masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda. No. 7. tetapi juga mempengaruhi kinerja bidang ekonomi serta dunia pendidikan bersama hilangnya sejumlah besar intelektual agama (ulama) yang disegani dan menjadi panutan masyarakat. Situasi ini tidak saja berdampak politis. tetapi juga karena telah mengembangkan Islam di kalangan masyarakat Aceh yang berfungsi sebagai pedoman hidup mulai dari tingkat individu. ramah. demikian juga kekayaan alam serta kesuburan tanahnya memberi andil besar bagi kemajuan Aceh. 1. terbuka. 1961:299-305). Hal ini semakin menambah 22 . Dinamika perjalanan panjang sejarah Aceh tersebut berjalan sedemikian rupa seraya semakin mempertegas karakter masyarakat Aceh yang terkenal fanatik. Asia Selatan serta Selat Malaka di bagian utara dan timur memberikan nilai tersendiri secara ekonomis maupun politik bagi kerajaan-kerajaan Aceh masa lampau. tetapi juga bagi masyarakat luar Aceh di bawah kekuasaannya (T. Rakyat Aceh menjadi sedemikian menyatu dengan Islam dan (tentunya) dengan dunia Arab. Posisi wilayah yang demikian terbuka memberikan akses yang mudah untuk membangun hubungan dengan dunia luar. khususnya dengan para pedagang Arab dan Gujarat. gangguan dari kalangan internal kerajaan juga turut menggerogoti wibawa pemerintah.52 geografis wilayah Aceh yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia di sebelah barat. Berkat dorongan para ulama. 1958:78). rakyat Aceh tidak hanya merasa berhutang budi karena para orang asing tersebut telah mendorong perkembangan perdagangan. Vol. tetapi keras. Bahkan tidak itu saja. Kekuatan politik pemerintah secara perlahan mulai memudar dengan masuknya kekuatan asing. kehadiran mereka juga turut mendorong semaraknya perdagangan yang memajukan perekonomian Aceh. Setelah itu tiba saatnya kejayaan tersebut mengalami kemunduran seiring dengan banyaknya ancaman dari luar maupun gangguan dari dalam. dunia keilmuan maju sedemikian pesat. bermasyarakat hingga bernegara. telah mampu memberikan kemakmuran dan kenyamanan tidak saja bagi masyarakat Aceh.

Salah satu penghargaan mereka terhadap Islam adalah keyakinan mereka bahwa budaya Aceh adalah budaya Islam dan mereka berusaha komitmen terhadapnya. konflik internal dan eksternal mulai tumbuh dan berkepanjangan. Kedua.Perang dan Damai di Aceh. Pemilihan periode ini didasarkan atas tiga alasan. Seperti halnya Belanda dengan gigihnya melaporkan segala kejadian harian pada saat mereka berada di daerah Aceh. Studi ini mencoba menjelajahi perjalanan sejarah Aceh dari abad ke-17 sampai abad ke-20 M. Pertama. Aceh dalam rentang waktu ini berada pada masa perang yang cukup panjang. Namun demikian. Dokumen dan arsip yang kaya tentang Aceh sekarang banyak yang disimpan di negeri Belanda. Siapa saja yang dinilai berusaha menggerogotinya akan dicap sebagai musuh bangsa Aceh dan juga musuh Tuhan. Sejauh ini belum ada karya yang menjadikan manuskrip sebagai bahan analisis dasar untuk mengkaji konflik yang terjadi di Aceh. sehingga di hampir setiap daerah kecil memiliki ulama kebanggaan tersendiri. Namun kajiannya hanya berfokus kepada perang melawan Belanda. Ketiga. Sehingga pengalaman langsung dari setiap peristiwa yang terjadi di bumi Aceh dan sikap dari orang pribumi menghadapi dan mengatasi kejadian-kejadian yang ada dapat diketahui dengan jelas. termasuk berbagai peristiwa perang dan pergolakan lainnya... Tulisan ini mencoba mengisi kekosongan ini dengan melihat dan menganalisis manuskrip Aceh. Salah satu karya yang menjadikan tulisan orang Aceh asli sebagai sumber primer adalah kajian Alfian Ibrahim pada tahun 1998 yang berjudul Perang di Jalan Allah. Banyak dokumen dan arsip yang telah merekam kejadian-kejadian penting yang terjadi pada pada momen-momen penting masa silam. sejauh ini banyak ditemukan manuskrip berkisar pada periode ini. Salah satu kebesaran Aceh yang dapat disaksikan hingga kini adalah bahwa suku bangsa ini mampu merekam sendiri setiap tahap perkembangan yang terjadi pada dirinya. Dengan 23 . untuk mengetahui sikap dan prilaku orang Aceh yang tertulis dalam tulisan mereka sendiri. — Fakhriati hormatnya masyarakat kepada para ulama. ada sisi lain yang perlu mendapat perhatian serius dari para peneliti untuk melihat dan mengkaji lebih intensif dan detail adalah tentang karya-karya tulis yang dihasilkan dan dimiliki oleh orang Aceh sendiri.

Namun demikian. Di lain pihak lawannya harus menangkap pendorong untuk dijatuhkan juga sehingga salah satu harus ada yang tidak bisa kembali ke garis pembatas awal. Berikut beberapa permainan yang bersifat mendidik untuk bela diri dan berperang. satu kelompok berusaha mendorong kelompok yang lain yang dianggap sebagai lawan untuk menjatuhkan ke tanah. Perdebatan dan perlawanan yang mendidik para pemainnya untuk mempertahankan dan membela diri adalah salah satu unsur yang dapat mendorong perlawanan bila mereka diganggu oleh pihak lain. 7. Mereka dilengkapi dengan senjata tiruan yang dibuat dari pelepah kelapa untuk rencong dan pedang. 1.Jurnal Lektur Keagamaan. b. 1997:145). Dalam permainan ini. Permaian prajuritan. No. Saling dorongmendorong ini pada akhirnya menciptakan perkelahian dan tidak boleh dibantu oleh siapa pun agar permainannya murni dan keberhasilan yang dicapai adalah atas usaha sendiri si pemain. permainan ini biasanya tidak dapat dilepaskan begitu saja oleh pihak yang berwenang.52 demikian makalah ini diharapkan dapat memberi wawasan yang lebih luas dan mendalam tentang kondisi perang dan damai yang dialami langsung oleh orang Aceh pada masa lalu. Vol. Vol II. yaitu permainan yang dilakukan oleh kaum muda laki-laki dengan mengambil lokasi di pinggir sungai. yaitu permainan bentuk lain yang mendidik para pemain untuk bisa berperan menjadi prajurit dalam perang. dan bedil 24 . Permainan meukrueng-krueng. sehingga dinyatakan kalah. a. karena dapat menciptakan perkelahian yang serius dan menimbulkan peperangan yang lebih luas. Budaya Orang Aceh 1. Permainan ini terdiri dari dua kelompok–biasanya terdiri dari kaum muda dari dua kampung—yang berdiri pada sisi yang berlawanan. sebagian besar di antaranya memiliki unsur heroisme. Permainan dan Hiburan Rakyat Dari sejumlah permainan rakyat yang dimiliki orang Aceh. Karena itu permainan ini harus disaksikan oleh para pemuka masyarakat yang sekaligus bertindak sebagai wasit untuk mencegah perkelahian (Hurgronje. 2009: 21 . dan tentang sikap mereka dalam menghadapinya untuk mencapai kedamaian.

. 1997:140). Kemudian mereka saling mengadukan kemampuan berperang sehingga ada yang mengalah karena kelelahan. rapa’i. Sedangkan dalam tari saman. yaitu dengan meletakkan daun di kepala pemain lalu dijatuhkan. Karena itu kemarahan terjadi dari pihak lawan dan keduanya mulai melakukan meulho. lama-kelamaan bacaan menjadi semakin cepat dan tubuh peserta mulai bergerak ke sekeliling peserta lainnya. Tarian yang cukup populer di kalangan rakyat Aceh adalah tarian seudati. Dalam isi ratib rapa’i terlihat bahwa setelah dimulai dengan pujian kepada Allah dan syekh sufi.Perang dan Damai di Aceh. untuk pembelaan agama dan tanah air. Hal ini mengandung makna penghinaan telah dilakukan oleh pihak lawan. 25 . c. Tarian-tarian ini berpangkal pada praktik tarekat dalam ajaran tasawuf dan kemudian berkembang menjadi hiburan tarian yang disenangi rakyat banyak. Vol. Dalam rapa’i. Hurgronje. — Fakhriati dari pelepah palem. Sementara dalam tarian seudati. II. penari membaca doa memohon kepada Allah agar mereka memperoleh kemenangan dalam perang sabil. peserta duduk membaca isi ratib saman. para penari dari waktu ke waktu bertambah semangat dengan isi bacaan yang semakin hangat. karena daun tersebut mengandung makna sesuatu yang berharga telah diletakkan di atas kepala lawan lalu dengan serta merta kepalanya ditempatkan di bawah. Isi bacaan dalam setiap tarian tersebut pada umumnya mengandung doa dan ajaran akan pentingnya berperang di jalan Allah. isi dan gerak yang dilakukan di dalamnya. Pertandingan menjadi seru bila kedua belah pihak dapat melukai salah satunya dan akhirnya dapat menjatuhkan lawan (Hurgronje. dan saman. 1997:158-184). Vol II. d. 1934:648-649. peserta yang melakukan rapa’i menggunakan senjata tajam yang pada waktu ektasi dapat melukai diri sendiri. pemain duduk untuk membacakan isi seudati yang semakin lama semakin cepat bacaan dan gerak mereka (Djajadiningrat. Tarian-tarian yang dilakukan orang Aceh juga mengandung unsur heroik di dalamnya. Permainan meulho (bergulat).. Bila diperhatikan. Kepala adalah sesuatu yang harus berada di atas bukan di bawah. Permainan ini dilakukan dengan cara memancing lawan.

Tippe. Ya Allah untuk perang sabil”. yaitu orang Aceh yang memiliki leluhur sultan dan uleebalang. yaitu mereka yang datang ke tanah Aceh menyebarkan Islam. 7. yaitu terdiri dari beberapa keluarga inti. dengan gelar teuku bagi laki-laki dan cut bagi perempuan. Selain susunan lapisan sosial di atas. mereka adalah rakyat biasa. Lapisan Sosial Masyarakat Aceh tidak dibangun di atas strata sosial berdasarkan tingkat kemuliaan keturunan dan penghormatan kepadanya. Vol. d. 57.Jurnal Lektur Keagamaan. c. dan mengembangkan kehidupan beragama di kalangan rakyat. 1. 2009: 21 . keturunan dari Mekah. 26 . yaitu. 1992:65-66. Or. 2000:3). dan ureung tuha (tuha peut). Mereka banyak berperan dalam hal penyumbangan dana untuk kemaslahatan sosial. Kaum cendikiawan agama (ulama). Peran mereka sangat diharapkan masyarakat untuk dapat menyelesaikan masalah masyarakat dalam kaitannya dengan agama (Syamsuddin dkk. e. Sedangkan teungku berperan dalam menegakkan hukum Islam dan mengajarkan umat untuk ilmu-ilmu agama. 1978:144. mereka yang memiliki banyak harta. yaitu keuchik (kepala kampung). Keturunan Nabi (habib). p. Keuchik memiliki peran sebagai pemimpin yang memelihara akan adat. maka mereka mendapat gelar teungku. b. Lapisan sosial pada masyarakat Aceh dibangun berdasarkan nostalgia kesejarahan dan berdasarkan peran mereka dalam masyarakat. Dalam gampong terdapat tiga bentuk pemimpin. 2. Sulaiman dkk. mereka berasal dari rakyat biasa. Karena mereka berhasil mendapatkan ilmu agama selama merantau. Cod. masyarakat Aceh hidup dalam kelompok-kelompok yang disebut dengan gampong. No. Kaum bangsawan (uleebalang). a. Mereka dan keturunannya bergelar habib dan syarifah. Sementara ureung tuha adalah sekelompok orang tua yang 2 Manuskrip. teungku. Masyarakat umum. Kaum hartawan (orang kaya). 8184 (1).52 Ja Allah prang thabilellah – ja bantu prang thabilellah2 “Ya Allah di sana ada perang sabil kami mohon bantuan-Mu.

(Usman. 2003:45). terutama oleh pemimpin gampong dan bahkan uleebalang yang memimpin nanggroe (Vleer. Orang Aceh telah berhasil menyatukan agama dengan adat sehingga dalam setiap adat selalu terdapat nilai-nilai keislaman. militer. Wewenang sagoe hanya terbatas pada kepentingan bersama antara beberapa orang uleebalang. 3. Kehadirannya yang selektif dan adaptif atas unsur-unsur adat istiadat yang dinilai tidak menyalahi ajaran Islam membuat masuknya agama ini cukup berhasil di Aceh. maupun agama. Di antara struktur masyarakat Aceh tersebut yang masih bertahan hingga sekarang adalah gampong dan mukim. Masuknya Islam di wilayah ini dikenal jalan damai melalui para pedagang. Sagoe hanya dimiliki oleh daerah Aceh Besar. terdapat sagoe di bawah pimpinan panglima sagoe yang merupakan federasi dari beberapa nanggroe. 3 Kemudian. 1978:4-5). sementara yang lain sudah tidak ada lagi. Mukim ini dipimpin oleh seorang imuem dan qadi yang diangkat oleh uleebalang. 1980:43-44). Untuk menggambarkan kesatuan agama dan adat ini. Kelompok ureung tuha ini terdiri dari empat atau lebih orang pemuka masyakarat yang di dalamnya termasuk teungku yang banyak mengetahui bidang agama. terdapat kerajaan yang dipimpin oleh seorang sultan dibantu oleh seorang qadi didasarkan kepada undang-undang Aceh yang bersumber pada ajaran Islam dan berciri khas keislaman yang tinggi (Usman. orang Aceh membuat pepatah: 3 Di samping nanggroe. 2003:45). Agama Islam telah masuk ke Aceh tidak lama setelah agama ini berkembang di Arab. Keputusan mereka sangat diharapkan oleh berbagai pihak. Selanjutnya.. baik peradilan. Fungsi panglima saggoe hanya bersifat memberi masukan kepada uleeblang. 1992: 66-68.. Mereka menjadi tumpuan pemimpin dalam masyarakat dalam penyelesaian segala masalah yang dihadapi dalam gampong. wilayah uleebalang sendiri adalah nanggroe yang terdiri dari tiga mukim atau lebih. 27 . — Fakhriati dihormati masyarakat yang berperan sebagai penasehat (Sulaiman dkk. Ia dibantu oleh qadi nanggroe. Ia tidak memimpin secara otonom. di atas nanggroe. Gampong kemudian tunduk kepada kelompok yang lebih besar yang disebut dengan mukim. Raliby. dalam arti wilayahnya tetap berada di bawah kekuasaan uleebalang.Perang dan Damai di Aceh.

Syekh Muhammad Jailani ibn Muhammad Hamid dari Gujarat mengajarkan Logika dan Ilmu Fikih (Ar28 . Di antara para pendatang dari Arab dan sekitarnya terdapat ulama-ulama yang mengabdikan dirinya untuk mengajar di Aceh.52 adat ngon hukom lagee zat ngen sifeut “adat dengan hukum (agama) adalah seperti zat dengan sifat” Pepatah ini mengandung pengertian bahwa adat sebagai ciptaan manusia dan hukum Tuhan (agama) adalah dua unsur yang tidak bisa dipisahkan. Tidak sedikit di antara pedagang-pedagang Arab dan Gujarat yang juga telah membawa agama Islam memilih menetap di sana dan menjalin hubungan kekeluargaan dengan rakyat Aceh. 4. Sikap yang pertama sekali ditunjukkan adalah sikap ramah dan berteman kepada siapa saja yang datang. 2009: 21 . Dalam perjalanannya. hlm. 18). Islam mengalami penguatan citra melampaui adat istiadat. 1. Mereka telah berhasil menjadikan adat dan agama sebagai pilar bagi kehidupan Aceh. Selanjutnya sikap seperti ini terus dipertahankan bila tamunya tetap berperilaku baik dan menjadi teman dalam bersosialisasi. Para pengunjung dari berbagai negara telah datang ke Aceh dengan tujuan yang berbeda-beda. Dalam manuskrip I‘l±m al-Muttaq³n karya Teungku Muhammad Khatib Langgien (salah seorang tokoh tasawuf abad ke-19 yang menjadi panutan masyarakat) terdapat penjelasan tentang perlunya memuliakan tamu. Sultan dan uleebalang adalah dua unsur utama yang mendukung kehidupan adat. 1999:1). sedangkan ulama adalah unsur utama yang mendukung dan memperjuangkan peranan agama (Sjamsuddin. ia menegaskan bahwa tidak menghormati tamu sama dengan perilaku syaitan (I‘l±m al-Muttaq³n. Bahkan berlandaskan pada sebuah hadis. seperti Syekh Muhammad Yamani yang dikenal dengan ulama Ilmu Usul. No. Fanatisme agama merupakan suatu tradisi yang sudah turun temurun untuk melangkah sesuai dengan ajaran agama. 7. Vol. dalam arti segala adat istiadat berlandaskan agama.Jurnal Lektur Keagamaan. sehingga kemudian orang Aceh mengklaim adat mereka sebagai adat yang Islami. Adat harus selalu beriringan dengan agama. Sikap terhadap Orang Asing Orang Aceh memiliki sikap tersendiri dalam menghadapi orang asing yang datang ke negeri dan wilayahnya.

Kemudian. Mereka tidak pernah dapat hidup tenang dan aman selama di Aceh.Perang dan Damai di Aceh. British Library. koleksi dan simpanan individu masyarakat Aceh sendiri masih sangat banyak. bila pendatang ingin menguasai dan dinilai merugikan Islam dan martabat bangsa Aceh. memarahi atau mengusir. Sejauh ini. Museum Aceh. Sultan Ali Mughayat Syah bersama rakyat dan kerajaan-kerajaan pantai timur lainnya bersatu menggalang kekuatan untuk mengusir Portugis dari wilayahnya (Reid. dalam Bust±n as-Salat³n:33). 2005:2).. KITLV Belanda. penulis sudah mengidentifikasi lebih dari 400 manuskrip yang terdapat di Aceh Besar dan Pidie. dan Dayah Tanoh Abee. bahkan memerangi dan membunuhnya. Hal ini ditandai dengan terdapatnya sejumlah manuskrip yang masih tersimpan baik di dalam maupun di luar negeri. Di dalam negeri. yaitu menangkap mereka dan mengadili mereka (Mohammad Said. manuskrip Aceh tersebar di Perpustakaan Nasional.. maka orang Aceh mulai bertindak dengan tegas. baik secara kelompok maupun individu. Bahkan orang non-Muslim yang datang ke Aceh pun tetap disambut dengan baik. Universitas Indonesia. Demikian juga dengan Belanda yang datang ke Aceh untuk tujuan membentuk wilayah jajahan. informal ataupun dikoleksi dan disimpan oleh masyarakat setempat. maka dengan tegas dan tidak segan-segan mereka akan bertindak menegur. 1961:89). yang ditempatkan di lembaga formal. Sedangkan di luar negeri. meskipun mereka menetap di wilayah ini dalam waktu yang relatif lama. Selain itu. namun ketika gerak geriknya kelihatan sudah mencurigakan. Orang Aceh selalu menentang dan melawan mereka meskipun secara kasat mata dengan persenjataan yang tidak seimbang. Budaya Tulis Baca Masyarakat Aceh pada Masa Lampau Masyarakat Aceh pada masa lampau memiliki budaya yang tinggi dalam hal tulis baca. di antara lembaga yang menyimpan manuskrip Aceh adalah Perpustakan Universitas Leiden Belanda. Sebaliknya. terjadilah perang sabil melawan Portugis. Pusat Manuskrip Melayu Perpustakaan Negara Malaysia. Seperti halnya kedatangan orang Portugis ke Aceh pada awalnya diterima dengan baik. dan Univeristas Antar Bangsa Malaysia. Orang Aceh dan Manuskrip 1. Pustaka Ali Hasymi. — Fakhriati Raniri. Penulis bersama team peneliti Puslitbang 29 .

sebagian besar manuskrip dibeli oleh orang Malaysia dengan harga yang tinggi untuk disimpan di negaranya. hanya saja mereka tetap menyimpannya karena dinilai sebagai warisan yang sangat berharga bagi keberlangsungan hidup mereka. obatobatan. seperti gempa bumi.52 Lektur Keagamaan. Kondisi manuskrip rata-rata sangat memprihatinkan karena peyimpanan dan perawatan yang dilakukan masyarakat belum memenuhi standar perawatan manuskrip. (wawancara dengan beberapa kolektor di wilayah Pidie dan Aceh Besar). penyimpan seperti ini perlu mendapat penanganan khusus untuk dijadikan museum pribadi di rumah penyimpannya. penyimpan mengangap bahwa dengan keberadaan manuskrip di rumahnya menjadikan rumahnya aman dari segala bahaya. dan berbagai macam ilmu pengetahuan tertuang di dalam tulisan mereka. Demikian banyaknya ragam manuskrip baik isi maupun gaya sajiannya adalah bukti telah tumbuhnya tradisi menulis pada bangsa Aceh pada masa lampau. selawatan.4 Adalah hal yang kurang tepat jika dikatakan bahwa orang Aceh adalah bangsa yang tidak suka menulis (Hurgronje. 1997:4). 1. Keragaman gaya sajian maupun jenis tulisan sepertinya ditujukan untuk merangsang minat para pembaca untuk membaca tulisannya. Seperti kasus di wilayah Samahani Aceh Besar. 7. No. surat-surat. di kabupaten-kabupaten lain juga masih terdapat banyak manuskrip hasil karya pendahulu-pendahulu Aceh. Aceh Utara. Dewasa ini. 2009: 21 . terutama bahaya alamiyah. Pertama peyimpan yang murni menyimpan karena mengangap sebagai sesuatu yang berharga dan bernilai untuk kehidupan mereka. Vol. Balitbang dan Diklat Departemen Agama juga telah berhasil mengidentifikasi 49 manuskrip yang terdapat di Dayah Awe Geutah. Hampir semua pengoleksi dan penyimpan manuskrip tidak mengerti cara merawat manuskrip yang benar. seperti Surat Keputusan Sultan yang disebut dengan Sarakata. II. mengingat sejumlah harta warisan kita dibawa ke luar negeri. dan masih banyak lagi manuskrip yang belum tersusun rapi dan teridentifikasi khususnya di dayah ini. Merupakan sesuatu yang sangat prihatin bagi kita semua. Penulis juga sangat yakin. Menurut penulis. Para penulis manuskrip-manuskrip ini tidak segan-segan mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk 4 Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada dua kategori penyimpanan manuskrip dilakukan oleh masyarakat setempat. jimat. cerita fiksi dan non-fiksi yang biasanya dituang dalam bentuk hikayat. Vol. Kedua adalah kolektor yang tujuan mengoleksi manuskripnya adalah untuk menjual kembali manuskrip yang dimilikinya. 30 .Jurnal Lektur Keagamaan. selain tempat-tempat yang disebutkan di atas.

hingga masalah kepentingan umat secara umum. 5 31 . dan berkerja meniti karirnya di Aceh (Lihat Fakhriati. Pada abad ke-16 dan ke-17 M. ilmu fikih. mempelajari. serta tanda-tanda yang menunjukkan berakhirnya sebuah kalimat. yang dikenal sebagai tokoh utama dalam tarekat Syattariah. ia juga menulis karya lain seperti tafsir Al-Qur’an. saya juga pernah menemukan Al-Qur’an yang gambar iluminasinya ditulis dengan tinta emas. Penulis manuskrip Dala’il al-Khairat menggunakan tinta emas untuk gambar peta Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. demi untuk menarik minat pembacanya.. Syamsuddin as-Sumatrani.Perang dan Damai di Aceh. Selain menyebarkan ajarannya. kemudian menulis dengan tinta yang pada umumnya menggunakan tinta hitam dan merah untuk mengungkapkan kata-kata atau hal-hal yang penting. Para ulama tersebut melahirkan berbagai karya yang mencakup berbagai bentuk ilmu pengetahuan dari ilmu tasawuf. karena setelah diteliti. dan ilmu-ilmu lain. karena ia yang pertama sekali menyebarkan tarekat ini kepada masyarakat di Nusantara. yang berjudul Tarjuman alPenulis cenderung menyebutnya Abdurrauf al-Fansuri dari pada Abdurrauf Singkel. Selain itu. ternyata Abdurrauf adalah ulama yang berasal dari Fansur atau lebih dikenal dengan Barus. dan sebagian manuskrip Dala’il al-Khairat. ar-Raniri. yaitu Hamzah Fansuri. Salah satu contoh manuskrip yang ditulis dengan tinta emas adalah Surat Sultan Iskandar Muda. ia peduli terhadap ilmu lain yang dibutuhkan oleh masyarakat di lingkungannya. Mereka menuangkan ide mereka. Selain ia menulis tentang tasawuf yang berkisar seputar masalah tarekat Syattariyah. Tulisan-tulisan tentang mereka dan karya-karya mereka sudah banyak diterbitkan. dan meneliti segala aspek tentang mereka. — Fakhriati melahirkan sebuah karya yang nantinya akan bermanfaat bagi pembacanya. Para peneliti menunjukkan perhatian serius dengan memperhatikan. bahkan kadang mereka tidak segan-segan mengeluarkan biaya besar untuk menulis dengan menggunakan tinta emas sekalipun. dan Abdurrauf alFansuri 5 . sehingga banyak buku yang terbit sebagai hasil studi para ilmuan terhadap mereka. kemajuan ilmu pengetahuan ditandai dengan hadirnya tokoh-tokoh intelektual sufi.. Salah satu contoh tokoh intelektual sufi yang turut mempedulikan setiap kepentingan negara dan umatnya adalah Abdurrauf al-Fansuri. ilmu filsafat. 2008).

ia memberi fatwa bahwa pemerintah yang berkuasa pada saat itu. yakni Dayah Tanoh Abee (Baca manuskrip. Mereka bahkan menggunakan kesempatan menulis untuk membakar semangat perjuangan melawan kebatilan yang mereka sebut sebagai kafee untuk memperjuangkan agama dan bangsanya. Pada abad ke-18. ia juga peduli dengan pemerintahan yang berkembang saat itu. yaitu Sultanah Safiyatuddin (1641-1676 M) adalah pemerintah yang sah dan benar dalam hukum Islam (Lihat Azra. di antara tulisannya adalah Asr±r as-Sulµk dan Manzal al-Ajl±. Abad ke-19. Kendati demikian. para peneliti dan ilmuwan kurang menaruh perhatian pada penulis-penulis Aceh. seorang ulama hasil didikan Baba Daud yang telah melakukan sesuatu yang sangat berharga bagi umatnya adalah Syekh Nayyan. 7. meskipun kondisi negeri pada saat itu kurang mendukung 6 . Ia telah membangun dayah yang sampai sekarang tetap berjaya dengan pendidikan dan penyimpanan kitabkitab lama hasil karya para ulama Aceh dan luar Aceh. adalah abad yang cukup menderita untuk rakyat Aceh. dan penjelasan terhadap hadis-hadis. Namun demikian. 1995). 1. Sangat sedikit hasil kajian terhadap sosok ulama Aceh dan karyakarya mereka pada masa ini muncul. Di antara para ulama yang telah menghasilkan karyanya pada abad ke-18 M. orang Aceh yang cinta tulis menulis terus menuangkan pikiran dan pengalamannya yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Vol. karena harus menghadapi penjajah Belanda. Di samping itu.Jurnal Lektur Keagamaan.52 Mustaf³d. karya Teungku Ismail tentang sejarah Syekh Nayyan). Faqih Jalaluddin telah menulis berbagai karya yang menyangkut berbagai masalah. seperti Bid±yat alMujtah³d. Mir’at at-°ull±b. murid langsung dari Abdurrauf al-Fansuri. No. Perhatian lebih banyak tertuju pada usaha menghimpun kekuatan membela diri dan mengusir penjajah. yang berjudul Hadis al-Arba‘in. Tarjuman alMustafid dan juga menulis tentang Fikih. 6 32 . pada abad-abad berikutnya. 2009: 21 . Faqih Jalaluddin dan Baba Daud. Selanjutnya. Sedangkan Baba Daud telah berhasil menyempurnakan karya gurunya. pada masa ini karya-karya hasil tulisan orang Aceh bukan Kondisi kerajaan yang secara perlahan mulai melemah berikut masuknya kekuatan asing yang berusaha meruntuhkan kekuatan kerajaan serta timbulnya persoalan di dalam negeri antara ulama dan uleebalang memberi pengaruh memudarnya semangat keilmuan.

melainkan bangkit kembali dengan semakin banyaknya karya yang muncul dalam berbagai bentuk. 7 Damai 33 . lantunan hikayat menjadi kesenangan bagi masyarakat banyak.7 Ia menulis berbagai masalah. Ia telah menjadi teman setia bagi pembacanya di sepanjang masa. di antaranya adalah yang berbentuk cerita dalam bentuk hikayat yang mengajak umat untuk berperang melawan penjajah. meski tidak merujuk kepada Abdurrauf al-Fansuri sebagai silsilahnya. Ia lebih cenderung menjadikan karya-karya pendahulunya sebagai rujukan daripada menyalin kembali. Peran Manuskrip bagi Masyarakat dalam Perang dan Manuskrip telah memberi daya tarik tersendiri pada masyarakatnya. Merupakan suatu kenikmatan tersendiri baginya untuk membuat buku baru sebagai hasil karyanya sendiri daripada menyalin kembali hasil para ulama di masa yang silam. Ia juga menjadi Qadi untuk pemerintah yang berkuasa pada saat itu (Lihat Fakhriati 2005). Ia memiliki juru tulis khusus bernama Teungku Rahman yang bertugas dengan setia melakukan segala perintahnya dalam menulis. 8 Selain itu. — Fakhriati semakin tenggelam. seperti Mi’r±j as-S±lik³n yang menceritakan tentang praktik tarekat dan pemahaman filosofi tentang makna tasawuf. Karya-karyanya tidak hanya berkisar tentang tasawuf.Perang dan Damai di Aceh. muncul ulama besar yang bernama Teungku Muhammad Ali Irsyad. dan Daw±’ al-Qulµb yang menjelaskan tentang obat hati yang perlu dimiliki oleh setiap orang. Ia adalah salah satu penulis yang giat menuangkan pikirannya untuk kepentingan murid dan masyarakatnya.. Pada abad ke-20. melainkan juga ilmu-ilmu lain seperti fikih dan bahasa Arab. lihat Fakhriati 2008. 8 Sampai sekarang masih bisa dijumpai manuskrip-manuskripnya yang dikoleksikan oleh keturunannya. Teungku Amiruddin Hasan Meunasah Kruet Teumpeun. Di antara para ulama yang gemar menulis dan cukup produktif pada masa ini adalah Teungku Khatib Langgien.. Teungku di Pulo adalah sosok yang cukup berpengaruh untuk masyarakatnya di Aceh. Karya-karya para ulama menjadi pegangan bagi umatnya. 2. Ia adalah tokoh tarekat. Salah satu karyanya adalah Fa‘lam annahu l± il±ha illall±h. Bid±yat alUntuk penjelasan pergeseran silsilah yang terjadi dalam tubuh tarekat Syattariyah di Aceh. di samping ia juga menjadi tempat berpijak dan bertindak.

34 . Vol. 1973: 109-123). Salah satu contoh bentuk penyerangan individual yang populer sejak tahun 1910 tersebut adalah peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh seorang pemuda Aceh terhadap tentara Belanda pada tahun 1917 di Langsa. Sebelum melakukan jihad mereka harus melaksanakan upacara mandi yang kelakukannya sama seperti mandi yang dilakukan untuk orang yang mau dikuburkan. kesenangan mendengar hikayat di kalangan orang Aceh telah terjadi secara turun temurun. (Kiefer. Snouck Hurgronje menyatakan bahwa hikayat adalah salah satu bentuk hiburan rohani yang disenangi oleh berbagai lapisan masyarakat. atau di perkumpulan-perkumpulan kecil di kedai kopi. p. muda. Isi hikayat pada umumnya bersifat mendidik dan mengajari hal-hal yang bermanfaat bagi pembaca dan pendengarnya. mereka masih tetap melakukan penyerangan secara individu yang dimotivasi oleh semangat prang sabi. sehingga menjadi darah daging pelaksananya. 1. dijadikan sebagai kitab wajib di setiap pesanren (dayah) bagi para pemula. Meskipun mereka kalah dan tidak bisa lagi melakukan penyerangan secara berkelompok. dan anak-anak sekalipun. orang Aceh tidak pernah menyerah. Hikayat Prang Sabi.9 9 Perlawanan secara individu juga terjadi di tempat lain selain di Aceh. No. Vol II. Kern. misalnya. misalnya. misalnya. Di lain pihak. telah mendorong para pembaca dan pendengarnya untuk bertindak secara langsung terjun ke lapangan mempraktikkan apa yang diceritakan dalam hikayat. No.Jurnal Lektur Keagamaan. baik rakyat biasa maupun para pemimpin. seperti di lapangan. Mereka melakukannya secara individu. Dalam peperangan melawan Belanda. Para ulama dan orang yang berbakat membuat hikayat pun dengan segala senang hati menciptakan berbagai hikayat untuk dibaca di hadapan khalayak ramai. Hikayat-hikayat yang dibaca dengan intonasi nyanyian khas Aceh dapat memberi kesan dan pengaruh yang sangat kuat kepada para pendengarnya untuk bertindak dan bersikap seperti yang dikatakan dalam hikayat. Ilmu fikih yang tetuang dalam kitab tersebut kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. di meunasah. di Pilipina misalnya. C. (Kern Papieren. 23-24. 7. 234. Motivasi pembunuhan bermula dari membaca Hikayat Prang Sabi di rumahnya.52 Mujtah³d. 2009: 21 . orang tua. kaum Muslim Tausug melaksanakan jihad yang dikenal dengan Parrang Sabbil melawan kolonial Spanyol. 1997:201). 1979:25-27). (Hurgronje. Persiapan ini menunjukkan bahwa orang yang melakukan jihad adalah orang yang akan kembali ke Hari Akhir.

Perang dan Damai di Aceh. Kak Putri misalnya.. sehingga negeri Aceh menjadi mulia”. Cinta kedamaian adalah sesuatu yang lain yang diinginkan setiap insan. maka kehidupan dapat berkah dan dapat terhindar dari malapetaka. sementara rumah di sekelilingnya sudah hancur berantakan. Manuskrip Aceh pada Masa Kini Manuskrip memiliki arti penting bagi generasi sekarang di Aceh. Sabda Nabi neu yu peu Islam kafe belanda yang na tinggai dara ngen agam nak bek karam u nuraka neuboh raja lein geulanto peutimang naggro mat neraca. 35 . “Nabi bersabda agar orang Belanda yang masih tinggal di daerah Aceh diislamkan agar tidak masuk ke dalam neraka. Nabi mengangkat raja lain yang dapat memimpin dan membina negeri Aceh. kecuali harus melaksanakannya. Para pemilik manuskrip–khususnya–menyimpan manuskrip sebagai sesuatu yang berharga. Selain isi manuskrip tentang ajakan untuk berperang di jalan Allah. truh lee siat naggroe mulia (Hikayat Prang Sabi miliki Syik Jah. Mereka mengangap manuskrip sebagai sesuatu yang dapat memberi makna mistis dalam kehidupan mereka. meskipun sebagian mereka tidak memahami isinya. terlebih setelah sekian lama berprofesi sebagai penjual beli manuskrip dengan untung yang besar namun hasilnya tidak berkah (habis begitu saja tanpa termanfaatkan dengan baik).. 3. Salah seorang penyimpan manuskrip. — Fakhriati Hikayat Prang Sabi telah membangkitkan semangat jihad melawan musuh yang dianggap sebagai kafir yang merongrong Islam dan bangsa Aceh dan karenanya harus dimusnahkan.. Tidak selamanya setiap insan yang normal jiwanya di dunia ini ingin berperang. Dengan menyimpan manuskrip. memiliki keinginan menyimpan manuskrip karena ada kepercayaan dapat berlindung dari gempa bumi.. Dalam manuskrip Hikayat Prang Sabi sendiri terdapat harapan untuk mewujudkan negeri Aceh menjadi negeri yang aman dan damai. hlm.. 33). bahkan tidak dapat membaca tulisan di dalamnya. Untuk memimpin Aceh. terdapat juga isi manuskrip lainnya yang mengharap adanya suasana damai. Isinya yang mengajarkan umat sesuai dengan ajaran Islam dan mengajak mereka untuk menegakkan perang adalah unsur yang mau tidak mau harus dipatuhi oleh orang yang cinta kepada agama dan bangsanya..

Bentuk-Bentuk Perang yang Terjadi di Aceh 1. 1. merasa bahwa menyimpan manuskrip-manuskrip yang ia miliki sebagai warisan dari leluhurnya lebih baik daripada menyimpan sesuatu yang berharga lainnya. ia dan keluarganya telah memperoleh hikmah. Konflik Internal Secara internal. Pada umumnya penduduk desa yang seperti ini tidak berani menjualnya karena takut mendapat bencana meskipun ada yang berhasrat membelinya.52 Selain itu. yaitu manuskrip yang isinya dapat membuat musuh tidak dapat melihat orang yang mengamalkan isi kitab tersebut. Vol. 7. Wasiat pendahulu-pendahulu mereka terus dipelihara dan dijaga. Ia mendapat wasiat dari kakeknya agar tiga manuskrip yang ia miliki hendaknya selalu dibaca dan diamalkan. No. Sering kali ketidakperdulian ini disebabkan mereka tidak dapat membaca dan memahami isinya. 2009: 21 . Namun demikian. manuskrip juga dianggap sebagai barang warisan yang berharga dari nenek moyang mereka. dalam tubuh masyarakat Aceh telah terjadi beberapa kali konflik yang menelan sejumlah korban dari berbagai 36 . Padahal rumah di sekelilingnya sudah disisir semuanya.Jurnal Lektur Keagamaan. Adapun tiga manuskrip tersebut adalah manuskrip Hiyakaye. Ketiga-tiga manuskrip tersebut adalah manuskrip pemompa semangat untuk berjihad dan mengajarkan cara menghilangkan diri dari musuh. seperti baju dan uang. meskipun ia dan keluarga berada di tengah-tengah perang dan dikelilingi oleh pihakpihak yang berseteru. Tidak ada satu pun dari pasukan kedua belah pihak yang terlibat konflik berusaha masuk ke rumahnya. Syik Jah Amut misalnya. Sehingga mereka membiarkan manuskrip ada di rumahnya dengan menyimpan di dalam karung-karung atau peti dan meletakkan di loteng-loteng. Ia dan keluarganya berkeyakinan bahwa pengalaman tersebut adalah berkat dari menyimpan. Ia lebih mementingkan keamanan manuskrip dibandingkan dengan yang lain. dan Hikayat Nuri. bukan berarti tidak ada orang yang perduli terhadap manuskrip. Ia yakin dengan kepatuhannya kepada wasiat kakeknya tersebut. membaca. dan mengamalkan manuskrip. yaitu ia dan keluarganya terhindar dari serangan musuh ketika konflik Aceh terjadi. atau mereka memindahtangankan (mereka menghindari istilah menjual) dengan cara barter. Hikayat Prang Sabi.

h. Sebelum kemerdekaan konflik telah terjadi antara ulama dan uleebalang. Perlawanan ulama ini digambarkan oleh Teungku Muhammad Ali sebagai berikut: Keusalah drou hantem leumah sebab that ku’eh kafeee Ulanda Hate jih seupot beurangkajan iblih ngen syaithan di dalam dada Han jitem deunge pengajaran agama Tuhan bak Rasul Anbiya Kalam Tuhan han jitem pateh ji peusalah dum anbiya. Di sisi lain.” 37 . Politik saling mencurigai antara sesama atau lebih dikenal dengan politik devide at impera selalu menjadi acuan Belanda dalam usaha memperluas wilayah jajahannya. Perilaku koruptif dengan tidak memberitahukan kepada sultan hasil pajak yang sebenarnya mulai merebak. 11). Ia membagi-bagi wilayah kecil dengan penguasa uleebalang yang harus tunduk di bawah kekuasan Belanda. Pembagian hasil upeti yang didapat tidak dilakukan. malah menyalahkan semua para anbiya. Pembangkangan ini ternyata disambut oleh Belanda yang ingin ikut campur ke dalam pemerintahan kerajaan Aceh. Perbedaannya hanya terletak pada faktor penyebabnya.. kekuasaan sultan sudah mulai melemah. — Fakhriati pihak. Belanda menekan kedudukan ulama agar tidak ikut campur dalam mengelola sistem pemerintahan. (Sir±judd³n. Pada masa sebelum Belanda campur tangan ke dalam wilayah Aceh. sehingga konflik pun muncul ke atas permukaan. Para ulama tidak menerima tindakan demikian.. Belanda berusaha melenyapkan kekuasaan sultan dan mengangkat kedudukan uleebalang sebagai penguasa wilayah. Uleebalang pada umumnya senang dengan perlakuan Belanda tersebut sehingga ikut-ikutan untuk menekan dan menghalanghalangi gerak para ulama terutama dalam melaksanakan tugasnya menyebarkan dan melaksanakan ajaran agama.Perang dan Damai di Aceh. Para uleebalang mulai menunjukkan sikap tidak patuh kepada aturan-aturan sultan yang tertuang dalam sarakata... sesudah kemerdekaan konflik juga timbul antara mereka. “Kesalahan diri sendiri tidak pernah nampak karena sangat jahat kafir Belanda Hatinya sudah gelap sehingga kapan saja jin dan syaitan dapat masuk ke dalam dada mereka Tidak mau mendengar pengajaran agama Tuhan pada Rasul Anbiya Mereka tidak mau mematuhi kalam Tuhan...

Geutanyo bandum wahe ado bak buet Rasul ikut gata Laen bak Rasul bek ta ikot meunan patot dum peutua.Jurnal Lektur Keagamaan. Korban telah banyak berjatuhan dari kedua belah pihak. Para uleebalang ingin mendapatkan kembali posisi di atas dalam pemerintahan sebagaimana telah mereka alami pada masa Belanda. “Semua kita wahai saudara harus ikut pekerjaan Rasul Selain itu jangan ikuti karena begitulah seharusnya.... agar selamat hidup di dunia dan akhirat. yaitu setelah kemerdekaan.52 Berpegang teguh pada ajaran agama menjadi kewajiban bagi para ulama untuk mempertahankannya. terutama di pihak uleebalang. jangan berteman dengan orang jahil yang suka kepada dunia takutlah hai salik kepada orang yang seperti itu orang jahil pun takut kepada orang salik yang bertapa orang yang mengikuti perintah Allah disalahkan semua karena mereka tidak salat wajib yang lima waktu tak pernah mendengar firman Tuhan dalam al-Quran mulia mereka tidak pernah mendengar firman Tuhan dalam al-Quran barangsiapa menyebut nama Tuhan dan salatlah kalian orang yang mengucap kalimah yang baik mereka itulah orang yang baik dan taat”. Banyak di antara mereka harus lari dan pergi 38 . No. Pada akhir tahun 1945. 13-14). 2009: 21 . Para ulama tidak memberi kesempatan kepada uleebalang untuk mengatur dan memerintah sementara mereka juga menginginkan kekuasaan sehingga terjadilah perang. 1. h. Bek tamuerakan wahe ado ngen ureung jahe aso donya Beutatakot hai ureung salek keu ureung ulok jahe donya Di ureung jahe pih jitakot keuureung salek duk lam tapa Padum-dum oreung jahe jipeujahat sabe ureung tapa Ureung yang pubuet suroh Allah jipeusalah dum ji rata Seubab hana ji sumayang wate limeung jiyu plihara Hantem jideungo firman Tuhan dalam Quran yang that mulia So na seubot nama Tuhan yanke tolan semayang gata Ureung yang na kheun kalimah tayibah yanke yang jroh taat gata (Sir±judd³n. Mereka mengajak pengikutnya untuk mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya. 7. terjadi kembali perang saudara antara ulama dan uleebalang yang dikenal dengan perang cumbok. Vol.

Sehingga gerak mereka tidak lepas dari pantauan para petinggi ulama. Orang Aceh sangat senang atas kemenangan ini. Mereka tetap menjadikan rujukan dan membina hubungan erat dengan para ulama setempat. (1942-1945) adalah perang lain yang harus dihadapi orang Aceh. Konflik Eksternal Perang melawan orang asing yang datang ke tanah Aceh terjadi pertama kali dengan pasukan Portugis yang ingin menguasai wilayah Aceh. maka rakyat Aceh mulai mengerakkan seluruh kemampuannya untuk berperang menghadapi Jepang. Setelah merasa bahwa janji-janji Jepang hanyalah tipuan belaka. Jepang menjanjikan angin surga untuk bersama orang Aceh melawan Belanda dan berada di pihak orang Aceh untuk membangun Aceh. Aceh mencari bantuan ke Turki untuk persiapan menghadapi mereka. namun mereka juga tetap waspada apa yang akan terjadi ke depan. Kemudian perang kembali berkecamuk ketika Belanda melakukan agresi pertama ke wilayah Aceh pada tahun 1873. — Fakhriati meninggalkan Aceh agar selamat dari serangan dan pembunuhan (Reid. Usman. Usman. sehingga lahir hikayat tentang tewasnya jendral Kohler.Perang dan Damai di Aceh. Pada awalnya. menggantikan posisi uleebalang. Para pemuda Aceh direkrut untuk berada di tangga pemimpin negeri. juga berkisah tentang peristiwa berkecamuknya peperangan serta menggambarkan bagaimana semangat juang pasukan bersama rakyat Aceh dalam perang mengusir penjajah yang menelan banyak korban di kedua belah pihak. Para pemuda Aceh menyambut gembira harapan yang diberikan Jepang. Mereka mengikutinya. Pada tahun 1509 M.. Dengan kegigihannya.. 2003:119-124). Pidie. pasukan Aceh di bawah komando Kuemala Hayati telah berhasil mengalahkan Portugis yang berada di bawah pimpinan Admiral Die d’Lopez Sequeira yang berusaha menguasai wilayah Aceh Besar. 2. karena keberhasilan ada di tangan mereka dan jendral Kohler tewas terbunuh oleh rencong Aceh. Mereka melawan Jepang meski dengan senjata yang tidak sebanding sekalipun. Perang melawan Jepang. 2003:115). Sangat beruntung bagi orang Aceh. dan Pasai (Zainuddin 1961:267. Hikayat tersebut selain menceritakan kemenangan pasukan Aceh dengan tewasnya jenderal Kohler. Semangat jihad 39 . 1979:200-204.

Mereka hanya menggunakan kitab-kitab lama untuk dibaca dan direnungi serta diamalkan. Pada jangka waktu perang yang singkat dengan Jepang. Karena itu ia mengajak kaum Muslimin untuk bersungguh-sungguh melaksanakan perang sabil dan bercita-cita untuk mati syahid. No. tidak terlihat munculnya karya-karya para ulama pada saat ini. Jepang pergi sendiri meninggalkan Aceh setelah dikalahkan oleh Amerika dengan jatuhnya bom di Hirosima dan Nagasaki. juga karena seluruh kemampuan jiwa dan raga orang Aceh tercurah ke dalam perang menghadapi Jepang. 1991:131). 1. Ia menyebut bahwa memerangi orang kafir adalah berbentuk perang sabil yang diridai oleh Allah. 10 40 . kemungkinan besar karena selain masa perang melawan Jepang yang demikian singkat. meski tekanan hidup lebih parah daripada yang dialami pada masa Belanda. Abdurrauf al-Fansuri adalah tokoh yang sangat kuat memperjuangkan negara melawan penjajah. Manuskrip ini disimpan di Pusat Manuskrip Melayu dengan nomor kelas MS 1314. Akhirnya. Dalam kitab Wa¡iyyat Syeikh Abdurrauf al-Fansuri 10 terdapat ajaran Abdurrauf tentang kewajiban perang sabil. 7. Ia mengajarkan bahwa perang melawan orang kafir yang menjajah wilayah kaum Muslimin adalah wajib. dan perebutan kekuasaan.52 kembali berkobar.Jurnal Lektur Keagamaan. 2009: 21 . Ia mengatakan bahwa Allah melarang orang Islam untuk tunduk di bawah pemerintah kafir dan mengambil orang kafir sebagai teman. Orang Aceh sangat menghormati dan menghargai keagungan Abdurrauf al-Fansuri. Vol. Untuk itu Allah mewajibkan umat Islam untuk melakukan perang sabil. sehingga ajarannya juga diamalkan. Dalam sebuah doa. Hal ini terjadi. Kondisi-Kondisi yang Menyebabkan Perang Dari hasil pemetaan di atas dapat dianalisis berdasarkan manuskrip yang ada bahwa terjadinya perang di Aceh adalah karena faktor-faktor penjajahan. Hikayat Prang Sabi kembali dikumandangkan dari berbagai tempat dan sudut untuk membakar semangat rakyat berjuang melawan Jepang sebagai kafir. (Abdullah. beda agama. terdapat semangat jihad dengan mengharapkan berkat dari Abdurrauf al-Fansuri dalam berjuang melawan Belanda.

11 41 . Or. dorongan kuat dari tokoh luar Aceh juga menjadi kondisi membangkitnya semangat orang Aceh dalam menggerakkan perang melawan penjajah Belanda. 20. Abdussamad al-Palembani (w. dan penghapusan dosa selama di dunia. (Manuskrip. Masyarakat Aceh menggunakan buku tersebut sebagai pedoman mereka menulis. khususnya Aceh. Di akhir buku ini tertulis doa yang berisi permohonan kepada Allah agar Allah melindungi orang yang melakukan jihad. Boh beudee jife bek jimeusu. Beureukat syufa’at Nabi Muhammad bak meunang umat. Perkumpulan kaum Muslimin di Mekah juga menjadi kondisi lain untuk mendorong orang Aceh bergerak lebih radikal terhadap Buku ini berisi pahala yang dicapai oleh orang yang melakukan jihad. kalah kafir.Muslim³na wa Ta©kirah al-Mu’min³na f³ fa«±’il al-Ji¥±di f³ Sab³lill±h wa Kar±mah al-Muj±hid³na f³ Sab³lill±h 11 telah menjadi rujukan bagi rakyat dalam berperang. Selain itu. A. — Fakhriati L±’il±ha’ill±h. Karena itu. dan jihad yang hanya wajib dilakukan secara berkelompok bila orang kafir masuk ke dalam wilayah mereka. Salah satu manuskrip yang mengambil rujukan pada buku tersebut adalah Nasihat Ureung Meuprang dan Hikayat Prang Sabi. Agar Allah usir kafir Belanda”. C).Perang dan Damai di Aceh. Cod. berkat syafaat Nabi Muhammad agar menang umat. iman bak teugoh. Hatee bak puteh. Beureukat Teungku Syiah Kuala. hati harus putih bersih dan iman harus kuat. ia berjuang dengan giat melawan Belanda. Kemudian. Kemudian dilanjutkan dengan anjuran kepada orang yang melaksankan jihad agar membaca l± ¥awla wa l± quwwata ill± bill±h tujuh kali. Or. Keluar peluru jangan bersuara. Setelah tahun 1789 M) adalah tokoh dari Palembang (Sumatera Selatan) yang telah membakar semangat jihad untuk wilayah Nusantara. firman Allah disuruh perangi kafir.. 7992 (5): 3) “Tiada Tuhan selain Allah. firman Allah neuyou prang kafe. tidak heran kalau sampai sekarang manuskrip al-Palembani masih disimpan dan dikoleksi oleh orang Aceh. Bukunya tentang kewajiban melakukan jihad bagi setiap Muslim yang sedang menghadapi musuh yang berjudul Na¡³¥ah al. penjelasan tentang peraturan berjihad yang terdiri dari jihad yang wajib dilakukan oleh setiap individu bila orang kafir menguasai daerah orang Muslim. (Manuskrip. Cod.. Bak Allah beh kafee Ulanda. beutalo kafe. Sebagai penganut dan penyebar tarekat Samaniyyah di wilayah Nusantara. Berkat Teungku Syiah Kuala.

. Teungku Muhammad Ali yang berdomisili di daerah Leungputu. 1972: 193210: Holt.Jurnal Lektur Keagamaan. 8-12). Isi manuskrip tersebut adalah penjelasan perang yang terjadi di berbagai negara Muslim di dunia. 10) Han jibri peubut tarekat sufi seubab that dengki si celaka. dan mengajak rakyatnya untuk ikut serta. (Bruinessen. Ureung salik ji peusalah menan fitnah ureng celaka (Sir±judd³n. (Sir±judd³n. Mereka saling mendapat dorongan untuk mencapai satu tujuan yang sama. 1.. 14 Sampai sekarang. adalah seorang intelektual yang selama dua puluh tahun berada di Mekah untuk menuntut ilmu-ilmu agama. Konsekwensinya mereka menciptakan gerakan melawan penjajah di daerah mereka sendiri. manuskrip-manuskrip tentang hal tersebut masih disimpan oleh penduduk setempat. h. misalnya. Orang Aceh yang berada di Mekah 12 mendapatkan informasi tentang kekejaman kolonial di setiap negara Muslim lainnya di dunia. 7. Salah satu cara mereka merangkul rakyatnya adalah dengan menulis informasi yang mereka peroleh di Mekah dalam bahasa Aceh dan berbentuk hikayat. Mereka mendengar akan kesuksesan saudara mereka dalam memperjuangkan negara mereka. 1990: 42-49). Di antaranya adalah dengan menuangkan ilmunya ke dalam tulisannya. hlm. hlm. Vol. sebagai tokoh Syattariyah tidak luput mengulas sifat dan sikap uleebalang dan kafir Belanda yang menghalang-halangi kaum tarekat dalam beribadah. Salah satunya adalah simpanan Teungku Ainal Mardhiah Teupin Raya. 13 Sehingga semangat yang berapi-api mereka bawa pulang serta. seperti di Arab dan di Mesir.. Mereka yang memiliki cukup biaya pergi ke Mekah dan bahkan sebagian mereka menetap di sana berpuluh-puluh tahun guna menuntut ilmu agama dari para guru di tanah suci. 12 42 . 13 Lihat misalnya keberhasilan Mahdi Sudan dalam Dekmejian.. Meunan Peurintah Huleebalang dum sibarang yang peutua. 1980: 337-347. Sehingga perkumpulan tersebut membuat komitmen untuk memberantas kolonial di wilayah mereka. 2009: 21 . sehingga rakyat antusias membaca dan mendengarkannya. No.14 Manuskrip Teungku Ali Muhammad Pulo Peub yang ditulis pada abad ke-19 M adalah salah contoh manuskrip yang menarik dikaji untuk melihat kondisi yang menyebabkan terjadinya perang di Aceh. Ia kemudian pulang ke Aceh dan mengabdi kepada agama dan bangsanya dengan berbagai macam cara. Ia. 11) Pergi ke Mekah khususnya untuk melaksakan haji telah menjadi suatu tradisi bagi orang Aceh khususnya dan Nusantara pada umumnya. Manuskrip ini ditulis dalam bahasa Aceh dan dalam bentuk hikayat.52 kaum non-Muslim. Keusalah drou hantem leumah that kueh kafee Ulanda (Sir±judd³n.

ia tidak setuju dengan pandangan yang mengatakan penyatuan makhluk dengan Tuhannya yang tidak ada perbedaan sama sekali. — Fakhriati “Demikian perintah uleebalang sebagai pemimpin.. Ia memilih bersikap moderat dan cukup hati-hati dalam menghadapi konflik yang ada pada saat itu. Untuk menciptakan perdamaian di kalangan masyarakat dan juga di tingkat pemerintahan. Akibatnya..... tidak berdasarkan ajaran dari gurunya. Bahkan ia sangat takut bila seseorang akan menuduhnya berada pada garis yang salah dalam tasawuf. Abdurrauf al-Fansuri dengan bijaksana menyikapi perbedaan-perbedaan pandangan antara kaum sufi yang sebelumnya telah mengarah kepada kekerasan. Ia menulis kitab tasawuf dengan judul Tanb³h al-Masy³ yang di antara isinya adalah upaya untuk menetralkan pemahaman tasawuf yang telah simpangsiur pada saat itu.Perang dan Damai di Aceh. Di satu sisi. terdapat upaya-upaya damai yang dapat dilihat agar setiap masyarakat dapat menikmati hidup dengan tenang dan dapat melaksanakan segala aktivitas sehari-hari demi kemajuan bangsa. Kesalahan sediri tidak pernah kelihatan sangat jahat kafir Belanda” Uraian Teungku Muhammad Ali Pulo Pueb tentang ketidaksetujuan dan sikap uleebalang terhadap ketaatan kaum tarekat dalam beribadah menunjukkan bahwa uleebalang pada masa itu telah berhasil dipandu dan didikte oleh Belanda dalam mengatur negara dan mengesampingkan para ulama. hubungan ketidakharmonisan kedua pihak yang bersaudara setanah air semakin tidak terelakkan dan bahkan semakin meruncing.. Bismill±hirra¥m±nirra¥³m Q±lal faq³ru ilall±hil malikil jal³lil syaykhi ‘abdur ra’µfi anna ‘alayya wa lamma wa¡altu ila ar«il Asy³ wa k±na l³ f³h± rajulun yu¡±¥ibun³ wa yataraddadu ilayya ka£³ran wa raaytu annahu yatakallamu f³ wa¥datil wujµdi ‘ala khil±fi m± qarrarahu sayyid³ wa syaykh³l ‘±limir rabb±niyyil munfaridi f³ aw±nihi bil± £±n³ A¥mad bin Mu¥ammadil Madan³l An¡±r³yyi¡ ¢amad±n³yyisy Syah³ri bil Qusy±sy³ wa khal³fatul ‘±lamil ‘al±matil ¥ibril ba¥ril fahh±mati wahua syaykhun± Burh±nudd³ni Mul± Ibrah³m ibni ¦asanil Kµr±n³ 43 . Upaya-Upaya Damai Dalam manuskrip. Orang salik disalahkan demikian bentuk fitnah orang celaka Tidak diizinkan melaksanakan tarekat sufi karena mereka sangat dengki.

7. (Daq±’iq al-¦uruf. hlm. dan jangan engkau mengutuk saudaramu yang Muslim. ada seseorang datang kepada saya berkali-kali. karena engkau akan termasuk golongan orang-orang yang berdosa pada hari kiamat.Jurnal Lektur Keagamaan. 32). Bahwa orang tersebut tidak membedakan antara tingkatan-tingkatan dan tidak merujuk kepada ketentuan syariat. 2009: 21 . (Tanbih al-Masyi yang disimpan di Tanoh Abee. Maka saya buat risalah ini dengan mengharap bantuan dari Allah dan menyadari akan sedikitnya perbendaharaan dan banyak kelemahan dan saya namakan buku ini dengan Tanb³hul M±sy³ ala Tar³qatil Qusy±sy³ dan saya mengucapkan Bismillahirra¥m±nirra¥³m”.52 ra¥imanallahu bihim± wa ©±lika min ¥ay£u annar rajula lam yumayyiz baynal mur±tibi wa lam yarji’ ila taqr³ril mu¯±biqi lisyar³‘ati faakh±fu ayyunsama taqr³rur rajuli wa i‘tiq±duhu ila taqr³r³ wa i‘tiq±d³ ¥atta yukaffirun³ ba‘da waf±t³ wa ana bar³un minhu fajami‘tu h±©ihir ris±lata mustaq³nan bill±hi wa mu‘tarifan biqillatil bi«±‘ati wan na«±¥ati wa sammaytuh± bitanb³hil m±sy³ ala ¯ar³qatil qusy±syi wa faqultu bismill±hir ra¥m±nir ra¥³mi “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Syekh Abdurrauf al-Fansuri berkata: bahwa ketika saya sampai di Aceh. dan jangan pula engkau memujinya. 1. padahal saya tidak ada hubungan dengan masalah tersebut. “Peliharalah lidahmu dari perbuatan g³bah dan mengkafirkan orang lain. karena engkau akan termasuk golongan orang yang dimurkai Allah atau golongan orang yang memenggal leher saudaranya”. ia melarang menuduh atau mengklaim dengan kutukan yang menyakitkan si pendengar yang mengakibatkan akan menjerumuskan diri sendiri ke dalam kata-kata yang pernah diucapkan tersebut. h. No. maka tiadalah perkataan dalamnya. niscaya kembali kata itu kepada diri kita. karena sesungguhnya pada keduanya terdapat kesalahan besar di sisi Tuhanmu. karena jikalau ada ia kafir. Vol. (Tanb³h al-M±sy³ versi Tanoh Abee. Wa¥fa§ lis±naka ‘anil g³bati wa takfir fa’innahu kha¯aran ‘a§³man ‘inda rabbikal kab³r wa l± tula‘‘in akh±kal muslima fatakun minal mujrim³na yaumal qiy±mati wa l± tamda¥¥uhu ay«an fatakun minal mabgµ«³na aw mina« «±rib³na ‘unuqa akh³him. Di sisi lain. ia juga menulis: Dan tiadalah harus kita mengkafirkan dia. 392).1). 44 . saya melihat ia berbicara tentang wa¥datul wujµd yang berbeda dengan apa yang telah diajarkan syekh saya Ahmad bin Mu¥ammad al-Madan³ al-An¡±r³ as-¢amad±n³ yang dikenal dengan al-Qusy±sy³ dan khalifah Alam yang luas pemahamannya yaitu syekh kami Burh±nudd³n Mul± Ibrah³m bin Hasan al-Kµr±n³ semoga Allah merahmati keduanya. sehingga orang mengkafirkan saya setelah saya wafat. saya khawatir ketentuan dan keyakinan orang tersebut dinisbahkan kepada ketentuan dan keyakinan saya. Dan jikalau tiada ia kafir. Dalam karangannya yang lain.

Maka dengan beberapa kali disuruh raja akan mereka itu membawa tobat. tulisan Faqih Jalaluddin Asr±r al-Sulµk juga mengandung unsur pemeliharan perdamaian dan mencegah terjadi konflik di antara pengikut tarekat yang ia dalami. ia selalu mengharapkan agar dapat kembali dan bersama keluarganya lagi. berlindung kiranya kita kepada Allah dari pada kufur itu. Setelah sudah demikian itu. dan disuruhnya himpunkan segala kitab karangan guru mereka di tengah medan masjid yang bernama Bayt Al-Rahman. pada halaman yang sama. Sultan Iskandar Stani sangat mendukung sikap ar-Raniri. al-Fath al-Mubin. yaitu dengan penguraian kata-kata sejelas mungkin dan lebih hati. 392). maka disuruh raja akan mereka itu membawa tobat daripada iktikad yang kufur itu.... Abdurrauf al-Fansuri menjelaskan: . ar-Raniri menjelaskan: . abad ke-18 M.. maka sungguh dapat dilihat bahwa pandangan Abdurrauf al-Fansuri sangat jauh berbeda dengan pandangan ar-Raniri yang pengikut Hamzah Fansuri sebagai pengikut wujudiyah yang sesat sehingga perlu dimusnahkan berikut kitab-kitabnya karena menurutnya mereka sudah berada pada jalan yang salah menurut agama. (Daq±’iq al-¦urµf. MS dikutip dari Azra 1995:182. Ia sangat mengharapkan agar istrinya selalu 15 Ar-Raniri.Perang dan Damai di Aceh.dan lagi kata mereka itu: al-‘alam huwa Allah. huwa al-‘alam. sehingga tidak ada kesalahpahaman di antara pembaca. 45 . maka sekali-kali tiada ia mau tobat. Maka disuruh oleh raja tunukan segala kitab itu.15 Pada abad selanjutnya. Dalam salah satu manuskrip yang disimpan oleh salah seorang penduduk Pidie terdapat tulisan tentang uraian sebuah harapan dari seorang pemuda yang pergi berjihad untuk dapat kembali hidup bersama isterinya lagi. Dari ungkapan-ungkapan Abdurrauf al-Fansuri yang dituangkan dalam tulisannya seperti tersebut di atas. sehingga ia memerintahkan pekerjapekerja kerajaan melakukan pembunuhan terhadap pengikut Hamzah Fansuri.. hingga berperanglah mereka itu dengan penyuruh raja.. Dalam kitabnya Fath al-Mubin. Maka disuruh oleh raja bunuh akan mereka itu. Ketika seorang prajurit Aceh pergi ke medan perang. — Fakhriati Seterusnya.dan inilah bahaya mengkafirkan itu. bahwa alam itu Allah dan Allah itu alam.

yaitu uleebalang dan Belanda. (Manuskrip Laut Makrofat Allah). 1993:4). Sehingga untuk meluruskan jalan pemahaman umat. Menurutnya cara-cara tasawuf yang benar adalah cara pelaksanaan yang ditawarkan oleh Hamzah Fansuri. yaitu jalan agama yang diridai Tuhan. Ia lebih memilih jalan menjauhkan diri dari ancaman mereka dan mengajak umatnya untuk tetap berada pada jalan yang benar. Dalam tulisan Teungku Muhammad Khatib Langgien. Dalam masa penjajahan Belanda Teungku Id ibn Ustman masih sempat menyelesaikan tulisannya tentang bagaimana memahami tasawuf dengan benar. Hal ini dimaksudkan untuk menghindarkan rakyat dari perpecahan yang meluas akibat menyebarkan dua faham yang saling bertentangan sebagaimana yang terjadi pada masa Sultan Iskandar Tsani pada abad ke-17 M. demikian juga dalam hal mengenal Tuhan tidak bisa disamakan dengan makhluknya. Ia menjelaskan segala hal yang menyangkut filosofi tasawuf dengan sangat hati-hati. Kendatipun ia sangat tidak menyukai cara-cara uleebalang dan Belanda. No. Ia berusaha untuk tidak menciptakan konflik terhadap pemahaman yang berbeda dari pemikirannya yang ia tuangkan dalam tulisan. ia kemudian diusir dan bahkan dibunuh oleh masyarakat setempat.Jurnal Lektur Keagamaan.52 menjaga diri dan berdoa agar mereka dapat hidup bersama lagi membangun keluarga yang sakinah sepanjang hidup mereka. Karya Teungku Muhammad Ali Pulo Peub memancarkan keinginan untuk berdamai dengan lawannya. (Poerwa. Ia sempat mendapat pengikut banyak untuk melaksanakan ajarannya. tetapi berusaha untuk tidak secara gamblang menyebut perilaku uleebalang sebagai perilaku musuh yang perlu diperangi. 1961:16. salah seorang ulama yang cukup produktif pada masanya. 2009: 21 . dalam kitabnya Mi‘r±j as-S±lik³n menyajikan ajaran yang mengandung unsur perdamaian. 1. Ia juga membuat perumpamaanperumpamaan sebagai salah satu caranya untuk menjelaskan sesuatu yang masih kurang jelas untuk pembacanya. 7. Ishak. Seperti menjelaskan tentang perbedaan mengenal gajah dengan mengenal manusia karena berbeda bentuk dan akal. Namun ajarannya ini kemudian ditentang oleh Teungku di Pulo dan kawan-kawannya. Dalam salah satu tulisannya ia menyebutkan: 46 . Vol.

Perang dan Damai di Aceh.. Ia dicaci maki. Manuskrip ini menguraikan cerita fiksi berjudul Hikayat Abdurrahman. bila 47 . 28). Mengatasi masalah ini. ia juga menulis tentang obat hati. seperti . Kisah perjalanan hidup Siti Hazanah setelah ditinggal mati keluarganya menjadi sorotan utama dalam manuskrip ini.. — Fakhriati Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu karena mustahil dikata umpama barangsiapa mengenal ia akan gajah maka sanya ia mengenal akan manusia. Sifat-sifat yang tercela dihindarkan dan sifat-sifat yang baik digunakan. Selanjutnya.. seseorang akan terlena dengan dunianya dan tidak mau bersegera mencari bekal untuk akhirat. karena tuduhan-tuduhan dari sepihak yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya. h.( Mi‘r±j as-S±lik³n. dijauhi dan tidak perlakukan sebagaimana karabat lain. yang perlu diamalkan oleh pembacanya agar dapat hidup lebih tenang baik di dunia maupun akhirat.. diam. Satu contoh lain adalah manuskrip Hikayat Abdurrahman. ia lebih memilih cara sabar. Isi manuskrip ini mengajak pembaca untuk selalu menghafal dan mengamalkan ayat-ayat tertentu agar kehidupan di dunia selamat dari kecaman apa pun. h. Isinya menjelaskan tentang kehidupan sebuah keluarga yang bernama Abdurrahman dan seorang anak perempuan yang salehah bernama Siti Hazanah. (Mi‘r±j as-S±lik³n. Salah satu sifat yang perlu dihindarkan adalah hubb ad-dunya.. dicemohi. tenang dalam menjalani hidup dalam keadaan apapun.dan lagi yang demikian itu tempat tergelincir kebanyakan manusia yang tiada makrifat baginya hai salik adalah segala alam makrifat yang telah kunyatakan kepadamu ialah alam makrifat yang indah-indah dan ia yang terlebih sukar paham segala orang awam.. Ia mengalami berbagai cobaan dan penderitaan dalam liku-liku hidupnya. Akibat dari sifat ini. Dalam menjelaskan hal-hal yang berbentuk filosofi seperti di atas. dan hanya menyerahkan diri kepada Allah. 27). ia juga menjelaskan bahwa tingkat ini diperuntukkan kepada ahli sufi yang berada pada tingkat tinggi. 28-29). h.. Ia mengadakan pembelaan terhadap dirinya. dan ia memberi peringatan kepada pembacanya agar hati-hati dalam menafsirkan karena dapat menyesatkan pemahaman. karena kasih akan dunia ibu segala kejahatan (Dawa’ al-Qulµb. Manuskrip Hiyakaye adalah sebuah manuskrip yang dikemas untuk memberi semangat hidup bagi para pembacanya..

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 21 - 52

ia mendapat kesempatan. Ia tidak pernah menyakiti orang lain. Akhirnya pembelaan dari pihak yang tidak diduga, yaitu dari makhluk Allah selain manusia, untuk menyatakan bahwa dia adalah orang benar dan tidak pernah bersalah. Dalam perjalanan hidupnya, akhirnya, ia mencapai tingkat sufi yang paling tinggi, yaitu makrifat Allah. Ia memperoleh kesenangan yang sangat tinggi dan selalu diidam-idamkan selama hidupnya, yaitu melihat Tuhannya. Seperti tersebut dalam teks;
Rupa po yang takalen Hate heran leumah Tuhan yankeu iman dengan makrifat Yan alamat takwa hanban. (Manuskrip Hikayat Abdurrahman, hlm. 45). “Wujud Tuhan yang terlihat Itulah iman dengan makrifat Hati menjadi heran akan hadirnya Tuhan pertanda hasil takwa yang sangat tinggi”

Penutup Catatan sejarah Aceh adalah bagian dari cerita panjang tentang perang dan damai, di samping cerita tentang kemajuan dan kemundurannya. Orang Aceh sesungguhnya adalah manusia-manusia yang ramah, terbuka, dan suka pada kedamaian dan ketenangan. Mereka dapat menerima kehadiran siapapun tanpa memandang ras dan agama selama ia sendiri tidak merusak hubungan baik dengan penduduk dan masyarakat Aceh. Namun, di balik keramahtamahan dan keterbukaan itu tersimpan sikap yang sangat tegas dan tidak mau tunduk atas setiap kehendak asing yang ingin menguasai atau merusak citra Aceh baik wilayah, harga diri, terlebih agamanya. Sejarah perang Aceh selalu terkait dengan upaya mempertahankan wilayah, agama, dan harga diri. Untuk urusan seperti ini, orang Aceh memiliki semangat jihad atas nama agama yang sulit diredam, kecuali apa yang mereka tuju telah tercapai. Ulama bagi masyarakat Aceh memiliki posisi sentral sebagai panutan dalam beragama, bermasyarakat, dan berjuang f³ sab³lill±h. Selain komando untuk mengusir penjajah, pada umumnya ulama yang menulis manuskrip-manuskrip Aceh mengajarkan agar mendorong terciptanya perdamaian dalam hidup, meskipun sedang berada pada posisi menghadapi musuh. Permusuhan dan pertikaian tidak boleh diciptakan dan dimulai, tapi mempertahankan diri dan agama adalah wajib. Salah satu usaha mempertahankan diri adalah 48

Perang dan Damai di Aceh... — Fakhriati

dengan doa-doa mujarabat, yaitu doa-doa yang ampuh untuk dibawa kemana saja dan dapat mengalahkan segala keinginan jahat yang bertebaran di luar diri pemegang doa tersebut. Doa-doa tersebut menjadi alat pelindung bagi pemegangnya bila ia dihafal, diamalkan, dan dilaksanakan sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku. Dan, ia tidak akan bermanfaat bila hanya tertulis dalam secarik kertas untuk dikantongi dan dibawa-bawa si pemegang.[]

Daftar Pustaka
Azra, Azyumardi, 1995, Jaringan Ulama: Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII, Bandung: Mizan. Bruinessen, Martin, 1990, “Seeking Knowledge and Merit: Indonesians on the Hajj” dalam Ulumul Quran, Vol. II, No.5, Jakarta. Dekmejian, H. Richard dan Margaret J. Wyszomirski, 1972, ‘Charismatic Leadership in Islam: The Mahdi Sudan’ dalam Comperative Studies in Society and Theory. Djajadiningrat, Hoesein, 1934, Atjehsch-Nederlandsch Woordenboek, Vol. 2, Batavia: Landsdrukkerij. Fakhriati, 2005, New Light on the Life and Work of Teungku di Pulo: An Achehnese Intellectual in the Late 19th and Early 20th Centuries, Makalah dipresentasikan pada SEASREP Conference, Chiang Mai, Thailand, 8-9 Desember 2005. -----------, 2008, Menelusuri Tarekat Syattariyah di Aceh Lewat Naskah, Jakarta: Balitbang dan Diklat Departemen Agama RI. Holt, P. M., 1980, ‘Islamica Milleniarism and the Fulfillment of the Prophecy’ dalam The Prophecy and Milleniarism, diedit oleh Ann Williams, London. Hurgronje, Snouck, C., 1997, Aceh: Rakyat dan adat istiadatnya, INIS. Ishak, Otto Syamsuddin, 1993, ‘Dinamika Pemikiran Keagamaan di Aceh’, dalam Serambi Indonesia, Jum’at, 15 Januari 1993. Iskandar, Teuku, 1958, ‘De Hikayat Atjeh’ dalam BKI XXVI. Keifer, Thomas M., 1973, ‘Parrang Sabbil: Ritual Suicide among the Tausug of Jolo’ dalam BKI, Vol. 129. Kern Papieren, No. C. 234, Bajlagen 4, Weltevreden Desember 16, 1921, Koleksi KITLV, No. 414.

49

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 21 - 52

Kern, R. A., 1979, Hasil Penyelidikan Tentang Sebab Musabab Terjadinya Pembunuhan, diterjemahkan oleh Aboe Bakar, Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. Poerwa, Aziz, 1961, ‘Tumbuhnya Agama Baru Indonesia’ in Sketsmasa, No. 17, Tahun IV. Raliby, Osman, 1980, ‘Aceh, Sejarah, dan Kebudayaannya, dalam Bunga rampai tentang Aceh, Jakarta: Penerbit Bhratara Karya Aksara. Reid, Anthony, 1979, The Blood of The People: Revolution and The End of Traditional Rule in Northen Sumatra, Oxford University Press. ---------, 2007, Asal Mula Konflik Aceh: Dari Perebutan Pantai Timur Sumatera hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Said, Mohammad, 1961, Atjeh Sepandjang Abad, Medan. Sjamsuddin, Nazaruddin, 1999, Revolusi di Serambi Mekah; Perjuangan Kemerdekaan dan Pertarungan Politik di Aceh 1945-1949, UI Press. Syamsuddin, T., dkk, 1978, Adat Istiadat Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. Sulaiman, Nasruddin, dkk, 1992, Aceh: Manusia, Masyarakat, Adat, dan Budaya, Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. Tippe, Syarifudin, 2000, Aceh di Persimpangan Jalan, Jakarta: Pustaka Cidesindo. Usman, Rani, 2003, Sejarah Peradaban Aceh, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Vleer, A. J., 1978, Kedudukan “Tuha Peut” dalam Susunan Pemerintahan Negeri di Aceh, alih aksara oleh Aboe Bakar, Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. Zainuddin, H. M., 1961, Tarich Atjeh dan Nusantara, Medan, Penerbit Iskandar Muda.

50

Pidie. — Fakhriati Lampiran: Gambar 1: Foto Halaman Awal Naskah Hiyakaye milik Syik Jah Amut. Geulumpang Miyeunk. Teupin Raya.Perang dan Damai di Aceh. Pidie.. Aceh Gambar 2: Foto Halaman Awal Naskah Teungku Khatib Langgien milik Teungku Amir Meunasah Kruet Teumpeun.. Aceh 51 .

52 Gambar 2: Foto Halaman Awal Naskah Sarakata milik Cut Manfarijah Dayah Tanoh. Vol. 7. 2009: 21 .Jurnal Lektur Keagamaan. Teupin Raya Aceh 52 . 1. No.

Kata kunci: kodikologi. Adib Misbachul Islam This paper is a result of our research of Islamic literature in Bali in 2008. and Balinese. European paper. The third category is about fourteen Qur’anic manuscripts. Dari sisi lain. We have discovered thirty-eight manuscripts that we can classify into three categories. Bugese. Dep. and palm leaf. The fitst category refers to tweleve manuscripts made of paper. In terms of codicology.. we can write four important things as follows. Fourth. Agama. First. kertas Eropa. Islam Beberapa Aspek Kodikologi Naskah Keagamaan Islam di Bali: Sebuah Penelusuran Awal*) Puslitbang Lektur Keagamaan dan UIN Syahid.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Hotel Permata Alam. medicines. remembrance of God. this Islamic manuscript adopts Arabic. — Asep Saefullah dan Adib M. Hal ini Tulisan ini semula merupakan Makalah disajikan dalam “Seminar Hasil Penelitian Naskah Klasik Keagamaan” Puslitbang Lektur Keagamaan. *) 53 . Bali Pengantar Keberadaan naskah tulisan tangan (manuskrip) di suatu wilayah. Cisarua-Bogor. Badan Litbang dan Diklat. prayer. this manuscript includes jurisprudence. this Islamic manuscrip was written between the seventeenth and nineteenth century. Qur’an. dluang. modern lined paper.. The second category is tweleve manuscripts made of palm leaf: nine of them deal with Islam. this category is unfortunately not taken care well. Most of this category of manuscript was torn away. and one of them is difficult to read. Third. dari satu sisi dapat dianggap sebagai salah satu representasi dari lokalitas dan kekhasan wilayah bersangkutan. Malay (Jawi). two of them about Hinduism. and story. In regard to Islamic literature in Bali. and the oldest manuscript was written in 1625 AD (1035 AH). Jakarta Asep Saefullah dan M. mysticism. lontar. 22-24 Desember 2008. Second. like dluang. this Islamic manuscript uses diverse tools. Arabic grammar. divinity. ia dapat juga menjadi bukti adanya hubungan dengan wilayah lain jika ditemukan bukti-bukti lain yang menunjukkan ke arah itu.

Jerman. dengan demikian. 2009: 53 . 2005: vii). Persoalannya. dan yang kedua naskah-naskah yang ditulis dalam bahasa-bahasa daerah. Dengan demikian. keberadaan naskah tersebut dapat dikaitkan dengan proses islamisasi atau perkembangan Islam yang banyak melibatkan para ulama produktif di zamannya. Jika hal ini terus berlarut. tidaklah mengherankan jika di Indonesia banyak ditemukan naskah-naskah berbahasa Arab dan juga bahasa daerah seperti Melayu. Aceh. Sunda. dan kedua. naskah-naskah yang ditulis dalam bahasa Arab. Jawa. Dalam proses ini telah terjadi transmisi keilmuan. Perancis. No.Jurnal Lektur Keagamaan. yang pada akhirnya 54 . Rusia dan di berbagai negeri yang lain. (Chambert-Loir dan Fathurahman: 1999). Masalah ini tergolong serius karena umumnya naskah-naskah tersebut kurang terawat dan sangat tua. Dengan demikian. Bali. Batak.90 dapat ditelusuri dari berbagai informasi yang terkandung di dalam naskah itu atau dari fisik naskah. sudah semakin rapuhnya kondisi fisik naskah-naskah tersebut seiring dengan berjalannya waktu (Bafadal dan Saefullah [Eds. 1. dan lain-lain. Dalam konteks kajian keislaman di Indonesia. dikhawatirkan naskahnaskah tersebut akan punah atau pindah tangan. Srilangka. Sebagian besar naskah di luar negeri yang sudah terinventarisasi antara lain tersimpan di Malaysia. banyaknya data penting berkaitan dengan fenomena keagamaan yang terdapat dalam naskah-naskah tersebut. yang menurut Oman Fathurahman (2003: 1-2) membentuk pola dua kelompok bahasa naskah: Pertama. khususnya bagi penelitian lebih lanjut atau dalam rangka mengkaji nilai-nilai yang terkandung di dalamnya untuk merajut budaya bangsa menuju kerukunan umat beragama.]. upaya penelusuran naskah-naskah di masyarakat mutlak diperlukan sebagai upaya konservasi untuk kemudian dilestarikan dan dimanfaatkan. Inggris. Pentingnya upaya konservasi ini setidaknya disebabkan oleh dua hal: Pertama. adalah bagaimana kondisi naskah-naskah yang masih di tangan masyarakat tersebut. diperkirakan ditulis pada sekitar abad ke-1719 M dan umumnya terbuat dari kertas yang secara fisik tidak akan tahan lama. Bugis-Makassar. Afrika Selatan. Vol. 7. tetapi sebagian besar lagi diduga masih tersebar di tangan masyarakat. Sebagian naskahnaskah tersebut sudah tersimpan dengan baik di berbagai perpustakaan dan museum. Belanda. baik di dalam maupun di luar negeri.

Beberapa Aspek Kodikologi Naskah ... — Asep Saefullah dan Adib M. Islam

hilang juga informasi dan sumber penting tentang khazanah kebudayaan Indonesia. Berdasarkan permasalahan di atas, Puslitbang Lektur Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat, Departemen Agama RI melakukan upaya penelusuran naskah klasik keagamaan khusus milik perorangan. Hasil temuan naskah tersebut terutama dideskripsikan dan dikaji beberapa aspek kodikologinya (istilah “kodikologi” akan dijelaskan di bawah). Buku tentang kodikologi Nusantara, terlebih naskah keagamaan, tergolong masih sedikit.1 Sehubungan dengan hal tersebut, penelitian ini merupakan bagian dari grand design—jika dapat dikatakan demikian—program konservasi naskah klasik keagamaan Indonesia yang sedang digalakkan oleh Puslitbang Lektur Keagamaan. Penelitian dilakukan di Provinsi Bali dan sasarannya adalah naskah-naskah keagamaan Islam.2 Dalam makalah ini akan dibahas dua masalah berikut: 1. Seberapa banyak naskah keagamaan Islam di Provinsi Bali yang masih berada di tangan masyarakat atau milik perorangan? 2. Dari aspek kodikologi, bagaimana kondisi naskah-naskah tersebut dan hal-hal apa saja yang dapat diungkapkan dari temuan naskah-naskah tersebut? Adapun tujuannya, pertama, untuk mengetahui jumlah naskah keagamaan Islam di Provinsi Bali yang masih berada di tangan masyarakat, khususnya milik perorangan, dan kedua, membuat deskripsi naskah-naskah tersebut dan mengungkapkan beberapa aspek kodikologinya serta sedapat mungkin mengungkapkan halhal menarik dari temuan naskah tersebut. Dari segi kebijakan, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu upaya penyelamatan naskah keagamaan di masyarakat dan selanjutnya dapat
Beberapa yang dapat disebut antara lain Kodokologi Melayu di Indonesia, karya Sri Wulan Rujiati Mulyadi (1994), Penelusuran penyalinan naskah-naskah Riau abad XIX: Sebuah Kajian kodikologi, karya Mu'jizah dan Maria Indra Rukmi (1998), Penyalinan Naskah Melayu di Jakarta pada Abad XIX: Naskah Algemeene Secretarie Kajian dari Segi Kodikologi, karya Maria Indra Rukmi (1997), atau beberapa tulisan berupa artikel atau tesis, seperti “Penyalinan Naskah Melayu di Palembang”, karya Maria Indra Rukmi, makalah dalam Seminar Tradisi Naskah, Lisan dan Sejarah di FIB UI (2005). 2 Pilihan ini dilakukan karena naskah-naskah lontar dipandang relatif terpelihara dengan baik.
1

55

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 53 - 90

menjadi bahan penelitian lebih lanjut, terutama kajian terhadap isi teks dan kontekstualisasinya. Secara metodologis, penelitian ini sebagian besar bersifat penelitian lapangan, yakni berupa penelusuran atas naskah-naskah keagamaan Islam di Provinsi Bali. Data primer dalam penelitian ini berupa naskah-naskah kuno yang disimpan perorangan dan lembaga-lembaga sosial keagamaan Adapun naskah-naskah koleksi perpustakaan, museum, maupun pusat dokumentasi dalam penelitian ini tidak menjadi sasaran penelusuran karena naskah-naskahnya dipandang relatif aman dan terpelihara. Penelusuran dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan naskah-naskah yang belum diinventarisasi. Dalam menyajikan data digunakan pendekatan kodikologi.3 Secara sederhana, kodikologi dapat dikatakan sebagai ilmu kodeks (bahan tulisan tangan), yaitu ilmu yang mempelajari seluk beluk semua aspek naskah, antara lain bahan, umur, tempat penulisan, dan perkiraan penulis naskah (Mulyadi, 1994:2). Dalam wilayah kajian kodikologi dikenal istilah deskripsi. Secara ringkas, deskripsi adalah upaya menjelaskan seluk-beluk naskah secara fisik. Dalam makalah ini akan disajikan pengklasifikasian naskah-naskah yang ditemukan di lapangan, misalnya dari segi pemilik dan tempat penyimpanan, bidang kajian (isi naskah), bahan, usia naskah, kolofon, ilustrasi dan iluminasi, dan beberapa ciri khusus yang dapat diidentifikasi. Dengan kata lain, makalah ini hanya menyajikan beberapa aspek kodikologi dari naskah-naskah keagamaan Islam yang ditemukan di Provinsi Bali. Pernaskahan di Bali Henri Chambert-Loir dan Fathurahman (1999:51) mengatakan, “Pulau Bali terkenal sebagai gudang sastra Jawa Kuna karena sastra Jawa yang ditulis di berbagai kerajaan beragama Hindu-Buddha di
Tentang kodikologi di Indonesia dapat dibaca antara lain dalam Sri Wulan Rujiati Mulyadi, Kodikologi Melayu di Indonesia, (Depok: Fakultas Sastra UI, 1994). Ada juga buku yang sangat menarik dan relatif baru tentang kodikologi Islam, yaitu Francois Deroche, Islamic Codicology, An Introduction to the Study of Manuscripts in Arabic Script, (London: Al-Furqan Islamic Heritage Foundation, 2006), dan ada juga dalam edisi Arabnya yang terbit tahun 2005.
3

56

Beberapa Aspek Kodikologi Naskah ... — Asep Saefullah dan Adib M. Islam

Jawa Tengah dan Jawa Timur antara abad ke-10 dan ke-15, dan yang hampir punah setelah kedatangan agama Islam, masih berlanjut di Bali, bahkan hidup sampai kini.” Pernyataan ini terbukti dengan adanya sejumlah lembaga seperti museum dan perguruan tinggi di wilayah ini yang memiliki ribuan koleksi naskah. Lembaga-lembaga tersebut antara lain Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali, Denpasar mengoleksi sekitar 1.416 naskah, Museum Negeri Provinsi Bali, Denpasar menyimpan 266 naskah, Universitas Hindu Indonesia, Denpasar memiliki 148 naskah, Kirtiya Liefrinck-van der Tuuk (Gedong Kirtiya), Singaraja memiliki tidak kurang dari 3000 naskah, Fakultas Sastra Universitas Udayana mempunyai 740 naskah, dan Balai Penelitian Bahasa, Denpasar mempunyai 156 naskah, serta Balai Arkeologi Denpasar juga menyimpan tiga naskah (ChambertLoir dan Fathurahman, 1999:54-60; terutama berdasarkan Katalog Lontar yang Tersimpan pada Instansi Pemerintah dan Swasta yang diterbitkan oleh Kantor Dokumentasi Budaya Bali Provinsi Bali, tahun 1998). Jumlah ini belum termasuk naskah yang tersimpan pada koleksi pribadi yang diduga masih ribuan jumlahnya, terutama di puri (kediaman keluarga keturunan raja), griya (kediaman keluarga brahmana), dan kalangan ‘profesional’ (pemangku, dalang, balian usada atau orang-orang terdidik) (Chambert-Loir dan Fathurahman, 1999:56). Hampir seluruh naskah tersebut ditulis di atas bahan lontar sehingga sering pula disebut naskah lontar. Di tengah “samudra koleksi naskah lontar” tersebut, di daerahdaerah tertentu di Bali ditemukan sejumlah naskah keagamaan Islam dan Mushaf Al-Qur’an kuno. Beberapa di antaranya ditulis di atas bahan dluang (kertas dari kulis kayu). Pada bulan Oktober 2008 yang lalu kami melakukan penelusuran ke pelosok-polosok pulau dewata ini. Kami menemukan 24 naskah keagamaan Islam yang terdiri atas 12 naskah ditulis di atas dluang, kertas Eropa, maupun kertas bergaris modern, dan 12 naskah lontar (naskah lontar berbentuk geguritan; 9 naskah berisi cerita tentang tokoh Islam dan ajaran moral Islam, 2 cerita Hindu, dan 1 tidak terbaca). Di samping itu, ditemukan pula 14 Mushaf Al-Qur’an kuno, termasuk satu Mushaf ditulis di atas dluang. Naskah-naskah tersebut tersebar di beberapa kabupaten di Bali, antara lain Denpasar, Buleleng, Jembrana, dan 57

Mereka menyarankan kami mendatangi Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali. Di samping itu ditemukan juga naskah-naskah Al-Qur’an kuno yang sejauh ini belum pernah didata. Negara. Kami mendapatkan informasi awal. dan Bangli. Masjid Asy-Syuhada Kampung Bugis Serangan Denpasar. Karang Asem-Tradisi Tulis Lontar. termasuk 14 naskah Al-Qur’an. M. Kampung Islam Buitan Sidemen Karang Asem. jumlah naskah yang kami temukan sebanyak 38 naskah. Dengan demikian. seperti fikih. Drs. Informan lain Drs. dan Masjid Baitul Qadim. yaitu Kanwil Departemen Agama Provinsi Bali. Pendidikan Islam dan Pemberdayaan Masjid. Pegayaman Singaraja Buleleng. Masjid Agung Jami’ Singaraja Buleleng. 7. H. Gedong Kirtya-Singaraja-Buleleng. serta hikayat yang terutama ditulis di atas bahan lontar yang disebut geguritan. 1. Selanjutnya kami mendapat banyak informasi dari Drs. No.4 Lokasi-lokasi yang selanjutnya didatangi adalah: Kampung Bugis Kepaon Denpasar dengan Masjid Al-Muhajirin. Soleh. Budakeling. Selanjutnya penelusuran dilakukan sampai dengan 2 Nopember 2008.Jurnal Lektur Keagamaan. Kasubag Umum. wirid dan doa. Wawancara. Vol. Perlu disebutkan bahwa dalam penelusuran naskah keagamaan Islam di Bali. Gianyar. Musta’in. Kasi. 2009: 53 . Temuan Naskah dan Tempat Penyimpanannya Naskah keagamaan Islam di Bali yang berhasil ditelusuri terdiri atas naskah pelajaran agama. Haji. Loloan Timur. 4 58 . 28 Oktober 2008. Ghufron. kami melakukan kontak dengan pihak yang dipandang otoritatif dalam bidang keagamaan. Jembrana. Kabid. SH. Staf Urusan Agama Hindu. baik dari pejabat maupun pegawai Departemen Agama Provinsi Bali tentang lokasi-lokasi dan orang-orang yang diduga menyimpan dan atau mempunyai naskah keagamaan Islam. Ida Bagus Nyana. H. hasil penelusuran di lapangan ditemukan 38 naskah. H. Sebagaimana disebutkan. Pesantren Al-Hidayah Bedugul. tasawuf. Drs. Penamas. Berikut temuan naskah berdasarkan lokasi atau tempat ditemukannya naskah. dan juga obat-obatan yang disertai doa-doa. Kampung Islam Gelgel. Beberapa informan awal yang kami datangi di Kanwil Departemen Agama Provinsi Bali adalah Ketut Ariawan.90 Karang Asem. Kabid Bimas Islam & P.

Sebelumnya. Tetapi. Singaraja. pada awalnya merupakan koleksi Prof. Wawancara dengan beliau pada 2 November 2008 di Loloan Timur. Islam 1. dan 1 (satu) Al-Qur’an Kuno milik Bapak Marjui. Musthafa Amin. h. Denpasar. Badri Yunardi. Oleh karena itu. 1. 7 Kedua naskah ini juga sudah diteliti oleh E. Jurnal Lektur Kegamaan. masing-masing satu naskah Al-Qur’an. “Beberapa Mushaf Kuno dari Provinsi Bali”. 5. 2007. Vol. — Asep Saefullah dan Adib M.. Menurut informasi salah seorang ustadz di PP alHidayah. 29 Oktober 2008. mushaf ini sangat menarik terutama dari segi iluminasinya yang indah dan. dan Kampung Jawa. Bali. Shaleh Saidi. Meski sudah tersimpan di Perpustakaan Yayasan. Di Pegayaman. No.8 naskah lontar yang tersimpan di Yayasan AnNur. Di sini ditemukan pula 1 (satu) Al-Qur’an kuno milik I 5 Naskah ini telah diteliti oleh E. Burhanuddin. Buleleng Wilayah yang didatangi di Buleleng meliputi Pegayaman. Kondisinya tidak lengkap lagi. Jurnal Lektur Kegamaan. dan ditumpuk dengan Al-Qur’an lain cetakan zaman sekarang. Suharto. Vol. Denpasar ditemukan 3 (tiga) naskah milik H. ditemukan 12 naskah lontar. naskah-naskah lontar tersebut belum dikaji secara kodikologis9. 6 Di Masjid AlMu’awanatul Khairiyah Kampung Bugis Suwung.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Denpasar Di Kampung Bugis Serangan. di Bedugul. 9 Semua naskah lontar koleksi Yayasan an-Nur hanya disebutkan judulnya. “Beberapa Mushaf Kuno dari Provinsi Bali”. 5. 7 Di samping itu. 1-18. 8 Hadiman. Wawancara. No. naskah ini disimpan di rumah H. 1-18. dan 1 (satu) naskah Al-Qur’an kuno di Masjid Al-Muhajirin. Kampung Islam di pedalaman dekat Singaraja ditemukan 3 (tiga) naskah milik Drs. 1. Badri Yunardi. Denpasar. merujuk identifikasi Annabel Teh Gallop (2004) termasuk tipe Pantai Timur Melayu. 59 . dalam laporan penelitian ini naskah-naskah lontar koleksi Yayasan Masjid An-Nur penting untuk didata dan disampaikan. Denpasar ditemukan 6 (enam) naskah milik H. 6 Mushaf ini sangat tidak terawat. Pattani atau Trengganu. dekat Masjid Asy-Syuhada. Bedugul. dan beberapa di antaranya dijelaskan juga ukuran lontarnya. 2007. di Yayasan An-Nur. h.5 Di Kampung Bugis Kepaon. Dr. salah seorang Guru Besar di Universitas Udayana. dua di antaranya beraksara dan berbahasa Bugis. Husen Abdul Jabbar.. 2.

Sebelumnya. 11 Bunyi kolofon tersebut: “tamma al-qur’±n f³ yaum al-kh±mis min syahr al-mu¥arram f³ hil±li i¥d± wa ‘isyr³na ba‘da alfi sanah khamsin wa £al±£µna alhijrah an-nabawiyyah “ (Al-Qur’an ini selesai [ditulis] pada hari Kamis dari bulan Muharram pada malam dua puluh satu pada tahun seribu tiga puluh lima [21 Muharram 1035] Hijrah Nabi). H. yang dipandang mushaf tertua di Buleleng. Al-Qur’an kuno ini masih lengkap. Jembrana. dan H. 3. Syarifuddin. 2007. 12 konon ada naskah semacam Barzanji. Di Kampung Jawa. Hasyim Zaki. Abdurrahman Alawi. 1. 10 60 .10 Di Singaraja. 1. sehingga seluruhnya ada delapan Al-Qur’an kuno. ditemukan banyak naskah Al-Qur’an kuno. Lurah Kampung Bugis dan juga Ketua Ta’mir Masjid Agung Singaraja. yang ternyata seluruhnya Al-Qur’an kuno sebanyak tujuh mushaf. No. Vol. dan yang terpenting mempunyai kolofon yang sangat tua. Wawancara dengan beliau pada 2 November 2008 di Loloan Timur. Badri Yunardi. 2009: 53 . Naskah Al-Qur’an ini konon merupakan wakaf dari Encik Ya’qub dari Trengganu. 30 Oktober 2008 di Masjid Agung Singaraja. Wawancara. bahwa masjid ini sering didatangi wartawan dari berbagai media massa dan meliput salah satu Al-Qur’an kuno di sana. sejauh ini koleksi lain yang tersimpan di dalam lemari kaca belum pernah dilihat. Abdurrahman Said. karena selain ditulis pada bahan dluang. sekitar 1625 M. antara lain H. Bedugul. dan Agus. Akan tetapi. 5. Di masjid ini ditemukan 8 (delapan) Al-Qur’an kuno (satu satu di antaranya merupakan litograf yang iluminasinya diberi pewarnaan).Jurnal Lektur Keagamaan. Husen Abdul Jabbar. Jembrana Di Masjid Bait al-Qadim. naskah ini disimpan di rumah H. menurut Hadiman. yaitu di Masjid Agung Jami’. tapi tidak berhasil ditemukan karena pemiliknya tidak ada di tempat dan tidak berhasil dijumpai. Zen Usman. 1-18. dan beberapa Pengurus Masjid. Gunawan. Wawancara. yaitu tahun 1035 H. antara DenpasarSingaraja. H. No. Jurnal Lektur Kegamaan. Hidayat. Muchlis Sanusi.90 Wayan Ma’ruf. Mushaf ini sangat menarik. Vol. 11 Sementara di Bedugul. ditemukan satu buah naskah Al-Qur’an.13 Menurut Bapak Drs. ditulis dengan khat Naskhi yang indah. Loloan Timur. 13 Naskah ini juga sudah diteliti oleh E. h. Negara. “Beberapa Mushaf Kuno dari Provinsi Bali”. 29 Oktober 2008. ditemukan 1 (satu) AlQur’an Kuno milik Bapak M. H. tidak jauh dari Masjid Agung Singaraja. 7. 12 Para ustadz di Pesantren Al-Hidayah.

44.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . jilid 1 dan 2. Syarah atas Matan Umm al-Barahin karya Sanusi. Teks dalam kitab ini juga bertuliskan “al-salam” (‫ . (diterbitkan di Mesir. Islam 4. “Tanda keterangan haza al-haq 16 Pak Muhammad Sa’id bin Mukhammad Ali Kusamba. Karang Asem Di Karang Asem. Kampung Islam Pasuruan. atau bias juga tetap dibaca “as-Salam” sebagaimana bahasa Arab. Teks ini juga terdapat pada Kitab Sabil al-Muhtadin Juz I. Karangsem.. naskah-naskah tersebut dibuang. jadi “ha©a al-¥aq. dan di tepinya ada Kitab Sirat al-Mustaqim. al-Matba’ah al-Miriyah al-Ka’inah. Cet.)اﻟﺴﻼم‬tapi bisa jadi dibaca “Selam”. h. Ke-6 (diterbitkan di Mekah. yang maksudnya “Islam” sebagaimana kebiasaan sebagian orang Bali.. terjemahan Dawud bin Abdullah Fatani. antara lain pada sampul dalam Kitab Siraj al-Huda terdapat tulisan. Maktabah al-Kutub alArabiyyah al-Kubra. berbunyi. 14 Kampung Biutan As-Salam 15 adanya”. Catatan kedua pada Daftar Isi Kitab Miftah al-Jannah.). dan pada pias halaman ada Hamisy Kitab Asrar al-Dini. yaitu catatan pemiliknya. t.” bisa diartikan “ini kepunyaan…” 15 14 61 . Ada yang menarik dari kitab-kitab ini. 3) Kitab Siraj al-Huda karangan Muhammad Zain al-Din bin Muhammad Badawi al-Sumbawa’i. dan di piasnya ada Hamisy Risalah Diya al-Murid. bisa jadi maksudnya Karang Asem? Sebagian orang Bali menyebut “Kampung Islam” dengan bunyi ucapan yang terdengar adalah “Kampung Selam”. “Haza al-Kitab ini yang empunya Bapak Abd al-Rahman negeri Bali. b) Kitab Usul al-Tahqiq juga tentang Usuluddin. a) Kitab Miftah al-Jannah tentang Usuluddin karangan Muhammad Tayyib bin Mas’ud alBanjari. Konon di sini pernah ada naskah beraksara Bugis.t. peneliti hanya mendatangi Kampung Islam Buitan—sebuah kampung kecil yang hanya berpenduduk 25 keluarga.. — Asep Saefullah dan Adib M. tetapi karena sudah hancur. 2) Kumpulan kitab dalam satu bundel terdiri dari empat kitab. 16 Kata “¥aq” kadang diartikan “kepunyaan”. al-Matba’ah al-Miriyah al-Ka’inah. antara lain: 1) Kitab Sabil al-Muhtadin karya Syaikh Muhammad Arsyad bin Abdullah AlBanjari. tentang ilmu fikih karangan Nuruddin Al-Raniri (diterbitkan di Mekah. c) Kitab Mau’i§ah li al-N±s tentang tata cara sembahyang. pengarang ketiga kitab ini tidak disebutkan. 1320 H/1902 M). Naskah yang tersisa adalah kitab-kitab cetakan sekitar tahun 1300-an Hijriah. dan membeli pada bulan Ramadan tanggal 15 hari Ahad pada tahun Zai Hijrah Nabi Teks aslinya: kaf-ra-ng-syin-mim. 1321 H/1903 M). dan f) Kitab Tajwid al-Qur’an.

No. mustahil. terdapat dua naskah. Tahun 1334 H adalah sekitar tahun 1915 M. Suharto juga berisi teks lain yang berisi masalah fikih. 2 November 2008. Kampung Islam Buitan. dan sebagian keluarga di sana. obat-obatan. dan geguritan (cerita). dan dua naskah lainnya milik Drs. Musthafa Amin (MA 01). 7. Naskah MA 04 ditulis dalam buku Letjes. dan jaiz (satu dari dua naskah milik Drs. dan obat-obatan. 1. menurut Abdullah. yaitu milik H. Al-Qur’an. no. Tauhid. satu naskah milik H.Jurnal Lektur Keagamaan. selain berasal dari Bugis. juga berisi wifiq. 1. Wirid. antara lain berisi tanya jawab tentang Uluhiyah (ketuhanan). 2009: 53 . milsanya tentang taharah [bersuci]. juga berasal dari Madura. Tauhid/Teologi: Dalam bidang ini ada empat naskah. 2. Musthafa Amin.90 Sallallahu ‘alaihi wa sallam 1334 H”. dan ini pun bagian pertama dari kumpulan teks lain yang berisi tentang obat-obatan disertai doa dan wirid. yang berisi tentang sifat-sifat Allah. Bidang Kajian (Isi Naskah) Dilihat dari segi bidang kajiannya. wirid. Dalam 17 Wawancara. satu naskah beraksara dan berbahasa Bugis milik H. Jika demikian. yaitu “Kitab Nikah” milik H. 62 . Dua naskah lainnya milik H. Nama-nama di atas. bisa jadi Kitab Miftah al-Jannah khususnya dibeli di Pasuruan. wajib. Suharto di Pegayaman. Doa. Vol. Burhanuddin. 4. dan Obat-obatan: Naskah yang berisi doa. Fikih: Dalam bidang fikih hanya ditemukan satu naskah. Karang Asem. 17 salah seorang yang dituakan di Buitan. 3. Tasawuf/Akhlak: Naskah dalam bidang ini ada empat. Burhanuddin. nomor MA 05 dan MA 06. tata bahasa Arab (nashwu-saraf). Tasawuf. MA 03 dan MA 04 yang dalam teksnya tidak disebutkan judulnya. yaitu Khazinah al-Asrar serta satu naskah beraksara dan berbahasa Bugis milik H. tetapi naskah ini sudah bercerai berai dan tidak berjilid). doa. adalah para leluhurnya. Musthafa Amin. wirid. kandungan isi naskah-naskah keislaman di Bali setidaknya meliputi: Fikih. Musthafa Amin.

19 Dari 12 naskah lontar. Ke-14 naskah tersebut adalah delapan naskah AlQur’an di Masjid Agung Jami’ Singaraja. Denpasar. ada satu naskah yang tidak dapat dibaca. Pembacaan naskah lontar oleh Made Suparta. Ini dapat dilihat dari beberapa naskah lontar yang ditemukan di lapangan. tetapi temuan ini penting karena banyak naskah baru yang ditemukan. yang terletak setelah “Kitab al-Nikah”. dan satu naskah di Masjid Bait al-Qodim Loloan Timur. 5. Sementara itu. banyaknya suku kata dalam tiap baris. dosen pada Program Studi Jawa. Kampung Serangan Denpasar. Al-Qur’an: Meskipun naskah Al-Qur’an tidak sepenuhnya menjadi sasaran dalam penelitian ini. 18 sembilan di antaranya menunjukkan adanya pengaruh Islam dalam tradisi kesusastraan Bali. dan satu naskah di Masjid Muhajirin Kapaon Denpasar. satu naskah di Pegayaman..Beberapa Aspek Kodikologi Naskah .: 155). dan semuanya dalam bentuk geguritan. satu naskah milik Bapak Marjui. pupuh diikat oleh beberapa kaidah yang mencakup: banyaknya baris dalam tiap bait. dan bunyi akhir tiaptiap baris (Agastia. Pegayaman. Bahasa: Dalam bidang bahasa ditemukan satu buah naskah tanpa judul. Dari 12 naskah lontar yang berhasil ditemukan. dan karenanya tradisi pernaskahan di sana pun dengan sendirinya juga tidak dapat dilepaskan dari Hindu. berisi tentang morfologi bahasa Arab atau ilmu sharaf. Meskipun demikian. Dari 14 naskah AlQur’an yang ditemukan. satu naskah di Kampung Jawa Singaraja. 11 di antaranya belum pernah diinventarisasi. Geguritan: Sebagaimana yang dikenal secara luas oleh masyarakat. 7. Islam naskah MA 01 juga terdapat naskah jenis ini.. ditulis di atas dluang. satu naskah di Masjid Al-Mu’awanatul Khairiyah Kampung Bugis Suwung. 6. 63 . t. FIB Universitas Indonesia. Suharto. Bali memang identik dengan Hindu. Berikut ini gambaran mengenai isi 1119 naskah lontar yang berhasil ditemukan: 18 Geguritan adalah karya sastra Bali yang dibangun di atas pupuh. milik Drs.t. hasil penelitian lapangan terhadap naskah-naskah lontar di Bali berhasil memberikan informasi lain terkait dengan tradisi pernaskahan di Pulau Dewata tersebut. — Asep Saefullah dan Adib M.

Jurnal Lektur Keagamaan. semua kolofon 20 yang terdapat dalam naskah lontar itu menginformasikan adanya tahun penyalinan yang sama. teks ini juga berisi cerita tentang proses islamisasi di Bali. 7). meskipun kapan dan dari mana awal mula masuknya pengaruh Islam tersebut masih perlu diteliti lebih jauh lagi. beserta dua saudaranya: Bagenda Sulaiman dan Bagendha Alah. Teks ini berisi konsep dharma dalam agama Hindu. Yang menarik. Geguritan Jayengrana. yakni 1923 isaka atau 2001. teks ini juga banyak mengandung ajaran moral dan etika Islam. Geguritan Amir Hamzah. 5). Geguritan Jimat Teks ini berisi mistik Islam. Geguritan Sebun Bangkung. Geguritan Semaun. Dari 12 naskah lontar di atas. Teks ini berisi cerita mengenai tokoh heroik yang bernama Sema’un pada masa-masa awal islamisasi 3). Geguritan Bagendhali. 4). 9). Gambaran isi naskah lontar di atas secara jelas memperlihatkan adanya pengaruh Islam dalam tradisi kesusastraan Bali. 2009: 53 .90 a. Pepalihan Gama Selam Bali. 2). sebab deskripsi kodikologis terhadap naskah-naskah lontar di atas menunjukkan bahwa naskah-naskah lontar tersebut memang masih muda. 20 64 . Tidak banyak berbeda dengan teks Pepalihan Gama Selam. Teks ini berisi filsafat moral Hindu yang disampaikan secara naratif. 2). Kidung Tuwan Semeru. Teks ini berisi cerita tentang kehidupan Nabi. Cerita Islam 1). geguritan Jayengrana. Teks ini menceritakan tokoh Bagendhali yang sangat sakti. dan satu naskah yang tidak dapat diidentifikasi baik judul maupun isinya karena kondisi fisiknya yang sudah lapuk. Cerita Hindu 1). b. 8). yaitu: Geguritan Siti Badariyah. 6). Di samping itu. 7. Vol. Teks ini menceritakan sosok pahlawan muslim dalam melawan raja kafir. empat di antaranya tidak bertanggal. Teks ini menceritakan proses islamisasi di Bali. Geguritan Pan Bongkling. Geguritan Amir Hamzah. No. Geguritan Siti Badariyah. Teks ini berisi cerita tentang peran Amir Hamzah dalam proses islamisasi di Nusantara. Teks ini tentang kehidupan keluarga kerajaan di negeri Arab. Geguritan Krama Selam. 1.

ada empat naskah yang relatif terbaca. satu naskah Al-Qur’an tidak lengkap lagi dan tengahnya berlubang dimakan serangga. dari enam naskah yang dimilikinya. yaitu H. tetapi tidak utuh. satu naskah tercerai berai. tetapi naskah-naskah lontar itu termasuk baru. Kondisi Naskah Naskah keagamaan Islam di Bali kurang mendapat perhatian. — Asep Saefullah dan Adib M. Abdurrahman Alawi. 21 dan mushaf milik M.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Hasyim Zaki. seperti mushaf kuno milik M.. Zen Usman. di samping telah banyak dikaji. seperti Al-Qur’an kuno di Masjid Al-Muhajirin Kepaon. Musthafa Amin. tetapi hampir semuanya tidak ada yang lengkap. tidak seperti naskah lontar yang. Hadir pula beberapa pengurus Ta’mir Masjid Agung yang lain.. dari empat naskah yang ditemukan. Kondisi naskah lontar di Yayasan An-Nur memang mendapatkan perawatan. Islam Beberapa Aspek Kodikologi Naskah Islam di Bali 1. dan dua naskah lainnya yang ditulis di atas dluang telah robek. Buleleng. seperti mushaf koleksi Masjid Singaraja. Hidayat. dan H. Naskah-naskah keagamaan Islam yang ditemukan pada masyarakat umumnya tidak terpelihara dan bahkan tak terperhatikan sama sekali. kecuali mushaf yang diduga ditulis oleh Gusti Ngurah Ketut Jelantik Selagi. 21 Wawancara dengan Drs. Muhlis Sanusi. Lurah Kampung Islam. di Kepaon Denpasar. Di Pegayaman pun demikian. seperti cengkih atau kapur barus. di dalam tempat penyimpanan naskah itu tidak terlihat ada bahan penangkal serangga. Demikian juga di Kampung Bugis Serangan. Zen Usman yang lengkap dan kondisinya bagus. Satu buah naskah berlubang dimakan rayap dan satu lagi tinggal setengahnya. dan di dalam lemari kaca. satu naskah di antaranya dari bahan kertas modern bergaris. Naskah-naskah yang ditemukan di rumah H. Meskipun telah disimpan dalam kotak kayu khusus. terutama pada halaman belakang. H. Singaraja. Sebagian besar mushaf itu juga tidak lengkap dan banyak lembarannya yang sudah terlepas. juga terdokumentasi dengan baik sebagaimana dijelaskan di atas. empat naskah yang ditemukan sudah lapuk semua. Kondisi naskah di Masjid Singaraja dan milik M. karena sebagian di antaranya disalin ulang pada tahun 2000-an. Zen Usman relatif baik. 65 . salah seorang keturunan Raja Buleleng yang masuk Islam (MAJS/NQ/01). 30 Oktober 2008.

Musthafa Amin di Kepaon (MA 04) dan H. Kepaon). Dari 38 naskah. dan Horn (tertera angka tahun 1825 pada mushaf di Masjid al-Muhajirin. dan satu naskah menggunakan bahasa Melayu dengan aksara Bali. c) Kertas modern bergaris. Beberapa cap kertas (watermark) dan cap tandingan (countermark) yang berhasil diidentifikasi antara lain kelompok Crescent. 2009: 53 . dan d) lontar. keduanya di Denpasar. Bahan Bahan yang digunakan untuk menulis naskah-naskah keagamaan Islam di Bali dapat dikelompokkan ke dalam empat jenis: a) Dluang. Semua naskah lontar tersebut milik Yayasan An-Nur. 21 Muharram 1035 H atau sekitar tahun 1625 M. Musthafa Amin. Zen Usman di Kampung Jawa Singaraja. 22 Naskah-naskah lain pada umumnya ditulis pada abad ke-13 H atau sekitar abad ke-18-19 M. pada 7 Zulqa’dah 1005 H/1597 M. (Bafadal dan Anwar. Britania. yang ditulis oleh Al-Faqih al. Berdasarkan kolofonnya. milik M. Burhanuddin di Serangan. berangka tahun Jumadil Awwal 993/1585 dan kedua adalah mushaf dari Ternate.Jurnal Lektur Keagamaan. Misalnya naskah Kitab Al-Nikah dan Obat-obatan (MA 01) milik H. 2005: vii-viii) 22 66 . Bahan lontar digunakan untuk menyalin 12 naskah geguritan. Zen Usman termasuk naskah yang paling tua. 7. mushaf ini selesai ditulis pada malam Ahad. Naskah ditulis di atas kertas modern bergaris (Letjes) ada dua. bahkan ia merupakan naskah Al-Qur’an tertua ketiga di Asia Tenggara. Sebagian besar naskah lainnya ditulis di atas kertas Eropa. Maluku Utara. Pro Patria. terdapat tiga naskah yang ditulis di atas dluang. 1. No. 11 naskah menggunakan bahasa dan aksara Bali. Vol. yaitu milik H.90 2. Musthafa Amin menyebutkan angka Mushaf tertua konon mushaf nomor MS 12716 koleksi William Marsden di Perpustakaan School of Oriental and African Studies (SOAS). Naskah yang ditulis di atas kertas Eropa berjumlah tujuh naskah. lengkap 30 juz.Salih Afifuddin Abdul Baqi bin Abdullah Al-Adni. Usia Naskah Dilihat berdasarkan usia naskah. b) Kertas Eropa. naskah Al-Qur’an dari Kampung Jawa. milik M. Denpasar. 3. yaitu: dua naskah milik Drs. Suharto di Pegayaman dan satu mushaf AlQur’an. serta satu naskah lain ditulis di atas kertas bergaris bukan Letjes milik H. University of London.

Aksara yang digunakan adalah Arab. Demikian juga dilihat dari kertas Eropa yang digunakan. Kolofon yang agak tua terdapat pada naskah Al-Qur’an MAJS/NQ/03 koleksi Masjid Agung Jami’ Singaraja. Kolofon Dari 38 naskah yang diinventarisasi. Bahasa dan Aksara Naskah-naskah keagamaan Islam di Bali setidaknya menggunakan empat aksara dan empat bahasa. Misalnya. Selebihnya. dari daftar cap kertas yang disusun Heawood diketahui bahwa kertas dengan cap kertas kelompok Pro Patria diproduksi pertengahan abad ke-17 M (Heawood. yaitu milik H. menurut Heawood (1986:140). pada umumnya diproduksi antara pertengahan abad ke-17 M sampai abad ke-19 M. diproduksi sekitar tahun 1737 atau sesudahnya. atau sekitar delapan naskah lainnya menggunakan bahasa Melayu dengan aksara Jawi. Horn. Musthafa Amin terdapat dua kolofon. Britania. Bugis. Bugis. 4. Tentang istilah Jawi. naskah berbahasa Arab hanya dua.. Serangan Denpasar. Islam tahun 1287 H/1870 M dan 1288 H/1871 M. “… dan arti uluhiyah pada bahasa Jawi ketuhanan dan arti Ilah pada bahasa Jawi Tuhan…” 5. atau Crescent. Selain Al-Qur’an yang berjumlah 14 naskah. Kertas Eropa yang memiliki cap kertas pada kelompok Pro Patria. Melayu. 1986: 145-146). tidak banyak ditemukan naskah yang mempunyai kolofon. Naskah yang menggunakan aksara dan bahasa Bugis ada dua. Setidaknya ada enam naskah yang berkolofon. Burhanuddin. Jawi.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah .. — Asep Saefullah dan Adib M. dan Bali. dan dalam naskah MA 01 milik H. 67 . yaitu naskah tentang morfologi Arab (saraf) dan sifat-sifat Allah dari Pegayaman. yaitu bulan Zulqa’dah 1265 H/1848 M. dan Bali. Sementara aksara dan bahasa Bali hanya digunakan pada 12 naskah lontar koleksi Yayasan An-Nur. 10r-10v disebutkan demikian. misalnya ketika mengartikan kata “uluhiyah” dan “ilah” pada h. dalam naskah MA 02 disebut “bahasa Jawi”. sedangkan bahasanya adalah Arab. Cap kertas yang terlihat pada naskah MA 03 yang termasuk kelompok Names dengan cap kertas berupa: tulisan nama I Pigoizard.

Naskah ini tergolong masih baik karena tulisannya dapat dibaca. sedangkan kolofon kedua menyebutkan Ampenan. yang terdiri dari beberapa teks. Bali. h. Satu hal yang dapat diduga adalah telah terjadi hubungan antara Palembang dan Bali sekitar tahun 1287-1288 H/1870-1871 M.Jurnal Lektur Keagamaan. Bunyi kolofon tersebut sebagai berikut: Haza [al-]Kitab al-Nikah [ter] Hijrah al-Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam seribu dua ratus delapan puluh tujuh (1287) pada tahun Ba alif(?) pada malam ahad waktu jim(?) pada pukul delapan pada delapan hari bulan Rabi’ al-Awwal pada ketika itulah hamba Pa Abdul A’raf sudah selesai menyuruh ini kitab di dalam negeri Badung Bali Badung adanya Kampung Kepaon 1287 Tamma wa sallallahu ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa sahbihi wa sallam Pada teks kedua h. walaupun jilidnya sudah lepas. namanya orang menyurat ini Haji Dawud dari negeri Badung Kepaon tatkala menyurat ini di negeri Pabeyan rumah bapak Tayid23 tamat alkalam” 23 Ba-pa-alif ta-alif-ya-dal (‫)ﺑﻔﺄ ﺗﺎﻳﺪ‬ 68 . 1.90 Pada naskah MA 01. Agak sulit menghubungkan kedua kolofon yang terdapat dalam satu naskah ini. Kepaon. Vol. 10v: “…tammat. No. Kolofon pertama menyebutkan tempat penulisan di negeri Badung. Kampung Kepaon. 33v bagian akhir teks pertama terdapat nama kitab. 41v. Berikut bunyi kutipan kolofon pada h. 7. di Pabeyan. 2009: 53 . Badung. orang Palembang. Amin 1288 H di Ampenan Syahr [al-]Shafar. Dalam kolofonnya disebutkan bahwa teks ditulis oleh Haji Dawud. kolofonnya berbunyi: Telah mengambil ijazah faqir a-haqir ila Allah Ta’ala Haji Hasan ibn alMarhum al-Haj Muhammad Amin al-Din Palimbangi akan mengamalkan laqad ja’akum serta doa yang kemudian kepada Syaikhuna wa ustazuna wa wasilatuna ila Allah Ta’ala al-Arif bi Allah sayyidi al-Syaikh Muhammad Azhari ibn al-Mukarram al-Marhum Kemas Muhammad Haji Abdullah Palimbangi Nafa’ana Allah bi barakatihi wa barakat ‘ulumihi. Nama Kepaon juga disebut dalam naskah MA 02. yakni “Kitab Nikah” dan waktu penyalinannya. yang bisa dipastikan di Palembang sebab yang mengambil ijazah untuk amalan dalam teks ini adalah Haji Hasan Palimbangi.

1035 H/1625 M. Islam Kolofon lain ditemukan dalam mushaf Kuno nomor MAJS/NQ/03 koleksi Masjid Agung Jami’ Singaraja. ada yang sudah lapuk. Burhanuddin.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah .. mushaf ini ditulis oleh Abd Shafiyyuddin pada hari Kamis tanggal 21 Muharram 1035 H. mushaf ini disebutkan selesai ditulis oleh Haji Muhammad Ja’far pada waktu duha hari Rabu bulan Zulqa’dah 1265 H/1848 M. Serangan. Kampung Jawa Singaraja. percetakan at-Taufiq milik Haji Muhammad Abduh. bunyinya demikian: “tamma al-qur’±n f³ yaum al-kh±mis min syahr al-mu¥arram f³ hil±li i¥d± wa ‘isyr³na ba‘da alfi sanah khamsin wa £al±£µna al-hijrah an-nabawiyyah “ Pada naskah Litrograf beraksara Bugis milik H. Kolofon ini juga ditulis dalam bahasa Arab. Pare-pare. Pada kolofonnya disebutkan. dan ada juga yang sudah terlepas dari 24 sanah alfi taqw³m £al±£. Dari segi penjilidan. dan angka tahun yang tertulis adalah 1265 H. artinya 1200-an lebih. bisa jadi berarti tahun seribu masuk ratusan ketiga. Selain itu disebutkan pula nama dan tempat percetakan serta pemilik percetakannya. dalam bahasa Arab yang berbunyi sebagai berikut: “tubi‘a bima¯ba‘ah al-Tauf³q li ¡±¥ibih± al-¥±jj Mu¥ammad ‘Abduh pepajah bi Pare-pare 1373” 6. 69 . Letak kolofon ini di pias halaman bagian akhir mushaf setelah Surah al-Nas dan sebelum doa khatm Al-Qur’an. sama dengan 1848 M. kondisi naskah-naskah Bali beragam. — Asep Saefullah dan Adib M. bahwa di Bali ditemukan juga kolofon yang menyebutkan angka yang sangat tua. yakni pada Mushaf milik Zain Usman. Kolofon ini ditulis dalam bahasa Arab. Angka tahun ini menerangkan selesainya pencetakan naskah. ada yang masih baik. Penjilidan Aspek lain dalam kodikologi adalah bagian penjilidan. Berikut ini kutipan kolofon: “kana al-farag al-kha¯¯ ¥ajj Mu¥ammad Ja‘far yauma arba‘ wa f³ waqti a««u¥± f³ syahri ©i al-qa‘dah f³ sanah alfi taqw³m £al±£24 hijrah an-nab³ 1265 “ Penting dicatat. Dalam kolofonnya. ditemukan angka tahun 1373 H/1885 M pada halaman sampul..

naskah-naskah Bali cukup bervariasi. yaitu: Alif. Oleh karena itu. Pada masa ini.Jurnal Lektur Keagamaan. 7. Pada dua mushaf ini.90 ikatan kuras naskah. Tinggi alif pada jenis Naskhi standar.25 Bahkan sebagian di antaranya lepas jilidannya. 26 Sampul seperti ini banyak ditemukan di Nusantara. yaitu tahun 1035 H/1625 M (Gambar 01). Vol. walaupun masih sangat sederhana dan belum dapat dikatakan standar. 26 Naskah lain adalah yang ditulis di atas kertas bergaris dalam buku Letjes dengan sampul kertas berwarna biru khas Letjes. 27 Kaligrafi Arab standar dalam bahasa Arab disebut Al-Kha¯¯ al-Mansµb mempunyai tiga alat ukur. namun untuk mushaf koleksi masjid asy-Syuhada sudah diganti dengan sampul dari kertas karton. 7. Pena yang digunakan biasanya dimiringkan mata penanya sehingga ketika ditarik menyamping miring kanan ke bawah akan membentuk titik belah ketupat ( ). Kaligrafi Selain naskah lontar. 2007: 47). Rumusan ini diciptakan oleh Ibnu Muqlah (Sirojuddin. 2009: 53 . Adapun untuk naskah mushaf. ada yang bahan sampulnya terbuat dari kulit. misalnya. seluruh naskah ditulis dalam aksara Arab dan Jawi. Kepaon. misalnya beberapa naskah di Bayt al-Qur’an dan Museum Istiqlal TMII Jakarta (Saefullah. 1. jilidan aslinya sudah tidak ada. Dari segi bahan sampul. Naskah-naskah AlQur’an umumnya menggunakan jenis kaligrafi atau khat Naskhi. khususnya di Nusantara. seperti yang terlihat pada satu mushaf di Masjid asy-Syuhada. Mushaf dari Kampung Jawa Singaraja sudah menggunakan khat Naskhi yang indah dan mendekati standar apalagi jika dilihat masa penulisannya—walaupun belum menggunakan pena khat untuk membentuk tipis-tebalnya huruf—. kebanyakan bahan sampul naskahnya adalah kertas karton tipis. dan lingkaran. Selain naskah mushaf. dan satu mushaf di masjid al-Muhajirin. Loloan Timur. No. titik belah ketupat. menarik juga untuk dilihat model-model tulisannya atau yang lazim disebut kaligrafi. 1992:86-99) 25 70 . belum banyak ditemukan naskah yang Kuras adalah istilah yang mengacu pada sejumlah lembar kertas/perkamen yang dilipat dan dijahit untuk kepentingan penjilidan (Francois Deroche. hampir semua bahan sampulnya terbuat dari kulit tebal dengan motif floral serta menggunakan amplop. 27 Berbeda dengan yang lainnya. 2005: 122). lima titik belah ketupat. dan ada juga yang terbuat dari karton.

yang berarti menerangi. dan tidak berkaitan langsung dengan teks. 11r. yang berasal dari kata illumination. biasanya lebih berfungsi sebagai hiasan. dan biasanya digunakan untuk memberikan penjelasan lebih lengkap dari teks bersangkutan. Karakter tulisannya condong ke kanan dan sapuansapuan pada sin dan gigi ba.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . baik yang cenderung ke Naskhi maupun Farisi. dan “All±h” (Gambar 05). ta. h. £a. Sementara jenis Khat Riq’ah yang biasanya tipis-tipis dan condong ke kiri ditemukan dalam banyak naskah. “Il±ha”. wirid. Jenis Naskhi yang ditemukan memang sangat sederhana. yang agak meliuk-liuk dan memanjang. kecuali dalam naskah Al-Qur’an. Ilustrasi yang ditemukan pun hanya sedikit. Akan tetapi secara umum dapat dikatakan Riq’ah.. Sedangkan iluminasi. Ilustrasi Ilustrasi terdapat pada naskah tasawuf dan masalah doa. — Asep Saefullah dan Adib M. Ilustrasi dan Iluminasi Ilustrasi adalah sebuah gambar atau hiasan yang ada hubungannya dengan teks. 17v. dan Riq’ah. 8. dan wifiq. Dalam naskah MA 03. sapuan pada beberapa huruf. kata “Il±h” diletakkan dalam kotak belah ketupat dan segi empat. Jenis Farisi misalnya ditemukan pada Naskah MA 03 dari Kepaon. Dalam naskah-naskah keagamaan Islam di Bali tidak ditemukan iluminasi. bahkan untuk naskah keagamaan lainnya digunakan Khat Farisi atau Riq’ah. “Ill±”. terdapat ilustrasi tentang sifat-sifat Allah berdasarkan kalimat L± Il±ha Ill± All±h yang dibagi ke dalam empat kategori “L±”. h. dan di sekelilingnya terdapat penjelasan sehingga membentuk semacam concept map (peta konsep). maka naskahnaskah yang ditemukan dapat dikelompokkan ke dalam tiga jenis khat. Jika dikelompokkan ke dalam jenis-jenis khat.. Farisi. tipis tebal goresan aksaranya sudah nampak dan memperlihatkan bentuk Naskhi yang cukup indah (Gambar 02). 71 . atau ya. yaitu Naskhi. a. khususnya sin dan kaf memperlihatkan gaya Farisi. Namun demikian. Islam disalin dengan khat Naskhi yang indah. Pada naskah MA 04. misalnya naskah dari Pegayaman. khususnya naskah MA 06 (Gambar 03). walaupun masih sederhana dan ada kesan Riq’ah karena sebagian hurufnya condong ke kanan (Gambar 04).

yang terdapat pada bagian tengah mushaf. tentang tasawuf. pengetahuan mengenai formula tersebut merupakan hikmah ilahiyah. Vol. Pantai Timur Semenanjung Melayu atau Pattani dan Trengganu. Bagi yang mempercayainya.Jurnal Lektur Keagamaan. Desain hiasan yang menurut identifikasi Annabel Teh Gallop (2004) sebagai tipe Aceh. 2009: 53 . No. Karakter kedaerahan iluminasi dapat juga dilihat dari penempatan halaman berhias pada awal. kata “Muhammad” dan “Ilah”. masingmasing dalam satu kotak. unik. dan lain-lain (Gambar 06). kata “All±h”. hasilnya disajikan di sini. ada perbedaan kedaerahan yang konsisten dan mencolok. dan Jawa. terdapat ilustrasi lafa§ al-jal±lah. Contoh ilustrasi terakhir adalah tentang wifiq. 28 Dalam naskah wirid dan doa MA 05. h. dan disebut juga nama-nama malaikat. 7. yakni iluminasi dalam bentuk arabesk (pola geometris yang disalin bersilangan) dari kalimat L± Il±ha ill± All±h Mu¥ammad Rasµl Allah sebagai bingkai hiasan yang mengelilingi bidang teks ayat-ayat Al-Qur’an. Bahkan satu mushaf di Masjid Agung Singaraja (MAJS/NQ/01) sangat khas. misalnya kata “Allah” dan “Muhammad” dalam satu kotak. 72 . tetapi karena pentingnya temuan ini. Meskipun naskah Al-Qur’an terkadang dikhususkan dalam klasifikasi kajian naskah klasik. Sulawesi. dan juga dapat dikaji secara kodikologis. 12v-13r. kalimat L± Il±ha ill± All±h Mu¥ammad Rasµl Allah”. Iluminasi dalam mushaf-mushaf kuno yang ditemukan di Bali sangat luar biasa. atau akhir. tengah. ditemukan di Bali. Ada dua blok yang semuanya berisi kata “All±h”.90 terkait dengan ilmu ma’rifah. dan simbol-simbol huruf hijaiah yang dirangkai sedemikian rupa dan diletakkan dalam satu kotak (Gambar 08). Iluminasi Iluminasi hanya ditemukan dalam naskah-naskah Al-Qur’an. dan di atas-bawahnya terdapat penjelasan yang diduga terkait dengan zikir (Gambar 07). yang diletakkan dalam blok hitam. b. sahabat. Pada naskah Serangan 01 yang berbahasa dan beraksara Bugis. terdapat simbol-simbol yang diletakkan dalam bingkai garis. Dalam hal penempatan 28 Wifiq: suatu formula yang terdiri atas susunan bilangan atau angka Arab tertentu yang mengandung rahasia-rahasia spiritual. dan menarik. 1.

dapat dijelaskan dengan kenyataan bahwa orang-orang Bugis pada masa lalu telah banyak bermukim di Bali. Pada naskah ini terdapat bingkai teks berupa tiga buah garis tipis berwarna hitam dan merah. 29 73 . Islam iluminasi tengah: Aceh selalu bagian tengah Al-Qur’an. yaitu Sulawesi dan Aceh. yaitu awal juz 16 atau bagian tengah Surah al-Kahf. 1). 30 Oktober 2008. adalah kertas yang umumnya digunakan di Afrika. meskipun berupa kertas Eropa tetapi berdasarkan cap kertas (water mark)-nya yang termasuk kelompok Cressent. 30 Tebal naskah 682 halaman.. seperti kepala surah. “paper used by Denham in Africa” (Heawood. Rangkaian dari kalimat L± Il±ha Ill± All±h Mu¥ammad Rasµl All±h yang didekor sedemikian rupa sehingga menciptakan bingkai hiasan berbentuk arabesq yang mengelilingi teks ayat Al-Qur’an. Belum lagi desain hiasannya dan motif pewarnaannya yang memiliki unsur-unsur daerah lain. yakni iluminasi bagian tengah. Bahkan. Hasyim Zaki. desa di mana Masjid Agung Singaraja berada pun bernama Kampung Bugis. Pantai Timur Melayu biasanya pada permulaan juz 15 atau awal Surah al-Isra’. 5 cm. Pada halaman pelindung terdapat catatan yang tertulis: “h±©a alwaqf mu¡¥af masjid jam³‘”. Wawancara dengan H. Teks ditulis dengan menggunakan khat naskhi. awal juz. mengapa dapat sampai ke Bali.5 X22 cm yang terbuat dari kulit berwarna merah maron dengan motif floral. atau tanda baca. Pada bagian tertentu. Bagian dalam sampul naskah dilapisi kain saten. 2004: 132). Abdurrahman Alawi (Pengurus Ta’mir Masjid). Sampul naskah memakai tutup (plop). salah seorang keturunan Raja Buleleng yang masuk Islam. Sampul naskah berukuran 33. Naskah berukuran 27 X 21 cm. naskah mushaf ini ditulis oleh Gusti Ngurah Ketut Jelantik Selagi. Tinta yang digunakan berwarna hitam. 30 Tentang bahan kertas yang biasanya digunakan di Afrika. — Asep Saefullah dan Adib M. Hasan (penduduk setempat). dan H. kode MAJS/NQ/0129 yang sejauh pengetahuan kami memiliki keistimewaan yang luar biasa. sementara ukuran teksnya adalah 18 X 14. kecuali halaman awal yang terdiri atas 7 baris. dan di Jawa hampir selalu ditemukan pada permulaan surah al-Kahf (Gallop. setiap halaman terdiri atas 14 baris. digunakan tinta berwarna merah. Tipe Aceh dan Istimewa: Iluminasi Kalimat L± Il±ha Ill± All±h Mu¥ammad Rasµl All±h Di Masjid Jami’ Agung Singaraja terdapat mushaf. Penempatan ini dapat ditemukan pula pada mushaf-mushaf Bali.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah .. Menurut keterangan pengurus takmir masjid. Demikian juga dengan bahannya. H. 1986: 85). Di bawah ini akan diuraikan secara singkat keempat tipe atau desain hiasan tersebut.

adalah seorang Muslim Bali yang memiliki darah Aceh. yang memang berwarna putih. salah satu mushaf AlQur’an di Masjid Jami’ Agung Singaraja memiliki unsur-unsur yang umumnya terdapat di Aceh dan Sulawesi. walaupun tidak terlalu jelas sebab salah satu ciri kedaerahan iluminasi Sulawesi adalah garis lurus.90 Merujuk pada identifikasi yang pernah dibuat Annabel Teh Gallop (2004) tentang ragam hias mushaf.31 Sedangkan iluminasi yang istimewa terdapat pada bagian tengah mushaf.Jurnal Lektur Keagamaan. sementara lengkungan pada sisi vertikal diapit oleh dua ‘sayap’ kecil. Menurut kakaknya. Warna dasar keempat dalam naskah beriluminasi dari Aceh adalah warna putih. 2009: 53 . Hasan. kuning dan hitam. 1. Bapak H. Segi empat berhias di sekitar bidang teks pada pola Aceh yang sering diisi dengan sulur Bagaimana pola Aceh terdapat dalam mushaf ini? Berdasarkan keterangan pengurus Ta’mir masjid dan penduduk setempat. leluhur mereka ada yang berasal dari Aceh. Dari segi teks ayat pada bagian tengah yang beriluminasi. dan mushaf ini menempatkan awal juz 16. namun menampilkan latar belakang kertas itu sendiri. Hasan (penduduk setempat). Di ketiga sisi luar bidang teks. Vol. tetapi di bagian kiri dan kanan garis tegak tersebut terdapat bentuk segitiga. 2004: 129). 7. terutama merah. Wawancara dengan H. Abdurrahman Alawi (Pengurus Ta’mir Masjid). Akan tetapi. Ciri kedaerahan pada umumnya dapat dilihat pada pola. memanjang ke atas dan ke bawah. yang dapat berbentuk sulur lembut yang tipis ataupun berukuran lebih besar. Segi empat berhias di sekitar bidang teks sering diisi dengan sulur ikal warna putih. hanya saja tidak diketahui siapa dan kapan hal itu terjadi. pewarnaan dan detail hiasan bingkai (Gallop. ada garis melengkung sampai ke tepi. Desain seperti diuraikan di atas jelas sekali terlihat pada iluminasi bagian awal mushaf ini (MAJS/NQ/01). H. 31 74 . mushaf ini sama dengan mushaf-mushaf dari Aceh yang selalu menempatkan awal juz 16 atau bagian tengah Surah al-Kahf. 30 Oktober 2008. dan H. namun terbatas. bahwa di wilayah ini pernah kedatangan orang-orang dari Aceh. di satu sisi memperlihatkan pola Aceh dengan “sepasang garis tegak kirikanan”. dan miring ke dalam pada ujung atas dan bawah. yang mengapit bidang teks pada masing-masing halaman. Hasyim Zaki. dan di bagian-bagian tertentu sering terdapat motif jalinan. yang dekat ke Sulawesi. H. Iluminasi mushaf Aceh mudah dikenali dengan “garis bingkai vertikal. jejaknya bisa ditemukan bahwa salah seorang pengurus ta’mir masjid sendiri. Hasyim Zaki. Sepasang bingkai berhias dari Aceh ini dicirikan dengan pewarnaan yang kuat. No.

yakni dua bingkai yang diletakkan secara berhadapan dengan ciri khas garis-garis tegak. dan pinggir luar bingkai. dari iluminasi yang masih bisa dilihat pada bagian awal dan bagian tengah. dua bidang empat persegi panjang yang mengapit teks ayat. Akan tetapi. — Asep Saefullah dan Adib M.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . “lengkungan pada bingkai berhias kadang75 . 3). dan di bagian-bagian tertentu sering terdapat motif jalinan. Sedikit berbeda. hitam. Gambar 12. bercirikan bentukbentuk geometris yang kuat. yakni garis-garis vertikal. Iluminasi hiasan mushaf dari Sulawesi yang menurut Gallop (2005) “Sulawesi Diaspora”. bahwa di bagian luar bingkai pada mushaf Pegayaman ini. 2). Tipe Sulawesi Tipe Sulawesi ditemukan pada mushaf dari Pegayaman. Islam ikal warna putih. segitiga di tengah bagian pinggir menghadap keluar. berupa jalinan kalimat L± Il±ha Ill± All±h Mu¥ammad Rasµl All±h yang membentuk pola arabesq dan sedikit motif floral. dan kuning. masih terdapat surah Al-Fatihah yang diletakkan dalam bingkai berhias melengkapi sepasang hiasan akhir mushaf (Gambar 11. Iluminasi mushaf dari Pattani bercirikan. Tipe Pantai Timur Semenanjung Malaya Ciri khas iluminasi mushaf dari Pantai Timur Semenanjung Malaya adalah “Lengkungan luar bingkai berhias sering ditutup dengan rangkaian ‘ombak-ombak’ atau ‘dedaunan’ kecil”. bawah. Mushaf ini sudah tidak lengkap lagi dan sebagian besar sudah dimakan serangga. misalnya dari Pattani dan Trengganu (Gallop. desainnya sama dengan desain yang umumnya ditemukan di Sulawesi. Warna yang dominan adalah merah dan hitam (Gambar 09 dan 10. 2004:130). dan keduanya mengapit teks ayat di atas dan di bawah.. bandingkan dengan Gambar 12a). Di bagian akhir mushaf. di samping putih yang merupakan warna dasar kertas. dan beberapa bentuk setengah lingkaran di atas. dua bidang persegi panjang di atas membingkai kepala surah dan di bawah membingkai keterangan surah. Dua buah garis vertikal di kiri-kanan paling luar.. bukan segi tiga tetapi lengkunganlengkungan yang membentuk semi segitiga yang di dalamnya dihiasai desain floral dengan pewarnaan merah. dan tidak memiliki garis-garis lengkung bergelombang. bandingkan dengan Gambar 10a). horizontal dan diagonal. dalam mushaf MAJS/NQ/01. milik Bapak I Wayan Ma’ruf.

awal Juz ke-30 (juz ‘amma) 76 . dan luar biasa adalah mushaf yang ditemukan di Kampung Jawa Singaraja milik M. Bingkai teks ayat berupa empat persegi panjang agak lebar mengelilingi bidang teks dan diisi dengan hiasan bermotif daun dan dipadukan dengan lengkungan setengah lingkaran.90 kadang terdiri dari dua ombak yang saling berpautan yang ditutup dengan semacam kubah”.Jurnal Lektur Keagamaan. naskah sudah lapuk dan tidak lengkap. merah muda. Teks yang masih ada dimulai bagian tengah surat al-Baqarah dan berakhir pada surah al-Naba. yakni di atas-bawah dan pinggir bingkai teks ayat. Pewarnaan hiasan bingkai Pantai Timur lebih luas daripada yang ditemukan di Aceh. No. Dua buah bingkai diletakkan secara berhadapan di halaman kiri-kanan. “Dari pembatas luar ini banyak garis atau sulur kecil mengarah ke dalam seakanakan bertemu dengan ‘ombak-ombak’ yang muncul dari lengkungan. Ketika garis-garis dan ombak disepuh. Pola hiasan pada Al-Qur’an kuno dari Masjid Al-Muhajirin Kepaon Denpasar32 memperlihatkan tipe Pantai Timur Semenanjung Malaya. dalam kertas terdapat angka 1825. Secara umum. dan emas sering digunakan” (Gallop. ukuran teksnya 19. unik. Pewarnaannya terdiri atas merah. secara keseluruhan efeknya adalah pancaran emas yang cemerlang. Alas naskah yang digunakan adalah kertas Eropa. Tinta yang digunakan berwarna hitam. bandingkan dengan Gambar 13a). Zen 32 Naskah ini berukuran 30 X 19 cm. 5 X 11. Dalam kertas ini terlihat adanya garis bayang tebal dan garis tipis. 5 cm. Jarak garis tebal pertama sampai ke-6 13 cm. 2009: 53 . Jumlah garis tipis dalam 1 cm 9 buah. Selain itu. 4). Teks ditulis dengan menggunakan garis panduan yang ditekan. dan kuning emas. Sampul naskah sudah tidak ada. 1. menimbulkan efek ‘stalagnit-stalaktit’. Bingkai teks berupa tiga buah garis tipis berwarna hitam dan merah. Di beberapa halaman verso terdapat kata alihan. Vol. Sementara Trengganu lebih bercirikan pembatas beriluminasi yang memenuhi tepi luar kertas. 7. hijau. Lengkungan-lengkungan dan riak-riak gelombang tergambar dengan jelas dalam mushaf ini. meliputi warna-warna muda seperti biru dan hijau maupun warna-warna tua yang lebih menggetarkan. dan bingkai kedua halaman tersebut disatukan dalam bingkai luar. Tipe Jawa dan Mushaf Tertua Ketiga di Nusantara: Tahun 1035 H/1625 M Mushaf lain yang menarik. 2004:130). Teks ditulis dengan menggunakan khat Naskhi. di samping warna putih yang merupakan warna dasar kertas (Gambar 13. Penomoran halaman tidak ada. hitam.

Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . yakni pada pewarnaan yang cenderung menggunakan warna biru (Gallop. mushaf ini ditulis di atas dluang. Mushaf ini berukuran 24 X 16 cm. kecuali halaman awal yang terdiri atas 7 baris dan halaman akhir yang terdiri atas 10 baris. Bagian dalam bingkai ini pun Secara umum. dan blok bawah mengbingkai keterangan surah. 33 Dikatakan demikian karena beberapa alasan: Pertama. dari segi kaligrafinya. Ketiga. hanya beberapa halaman yang tampak lapuk. Alas tulis dari bahan dasar kulit kayu ini pada umumnya tergolong tua karena kertas ini umumnya telah ada sebelum kertas Eropa masuk ke Nusantara. Sampulnya terbuat dari kulit berwarna coklat motif floral. Selanjutnya. jika merujuk identifikasi Gallop (2004). Tinta yang digunakan berwarna hitam. 2004: 130). Tulisan rapi dan jelas. di tiga sisinya. atas-bawah dan pinggir. oleh Abd al-Sufi al-Din. Bidang teks ayat diapit di kiri-kanan oleh blok empat persegi panjang yang dihiasi dengan pola arabesq. sebuah masa yang tua. naskah ini memiliki kolofon yang menunjukkan waktu penyalinannya pada Kamis.. iluminasinya memperlihatkan unsur Jawa. Islam Usman. Sementara itu. bingkai teks berupa tiga buah garis berwarna hitam. terdapat segi tiga yang juga berhiaskan bentuk arabesq. mushaf ini masih baik. Desain hiasan ini menunjukkan salah satu karakter khas Jawa.. Jumlah baris setiap halaman 13. Tebal naskah 769 halaman yang terdiri atas 754 halaman isi. — Asep Saefullah dan Adib M. dan di atasbawahnya diapit juga oleh blok empat persegi panjang. Kedua. Teks ditulis dengan menggunakan khat Naskhi. Untuk bagian yang berisi keterangan awal surah tinta dan awal juz digunakan berwarna merah. kedua bingkai yang berhadapan pada dua halaman kiri-kanan ini disatukan oleh bingkai garis yang memotong setiap ujung segitiga pada setiap sisinya. mushaf ini memperlihatkan goresan seorang khattat (ahli kaligrafi) Arab dengan khat Naskhi yang indah walaupun tidak dengan kalam khat yang tipis-tebal. dan kolofonnya dalam bahasa Arab. tetapi lengkungan-lengkungan yang mengelilingi teks ayat lazim ditemukan di Turki Usmani. Iluminasi pada mushaf ini terdapat pada bagian awal yang membingkai Surah al-Fatihah dan awal Surah al-Baqarah. dan untuk kepala surah masih berupa Sulus sederhana. Keempat. dan ukuran teksnya adalah 16 X 11 cm. yang berbunyi: “tamma al-qur’±n f³ yaum al-kh±mis min syahr al-mu¥arram f³ hil±li i¥d± wa ‘isyr³na ba‘da alfi sanah khamsin wa £al±£µna al-hijrah an-nabawiyyah “. 21 Muharram 1035 H (23 Oktober 1625 M). blok atas membingkai nama surah Al-Fatihah. 33 77 .

serta iluminasi mushaf yang memperlihatkan empat tipe Aceh. dan Jawa. 21 Muharram 1035 H/1625 M (Gambar 15).90 diberi hiasan berbentuk arabesq yang dipadukan dengan pola dedaunan (Gambar 14. No. yakni ditulis pada Kamis. Walaupun jumlahnya tidak begitu signifikan dibandingkan dengan naskah non keislaman yang biasanya ditulis di atas lontar. tidak terawat dan kurang mendapat perhatian. Kesimpulan a. dan bahkan tidak utuh lagi. 35 di antaranya merupakan naskah keagamaan Islam. terutama dari beberapa unsur yang terdapat pada pola hiasannya. misalnya tentang nama tokoh al-Haj Muhammad Amin al-Din Palimbangi dan Muhammad Sa’id bin Muhammad Ali Kusamba. Setidaknya mushaf ini menjadi mushaf tertua ketiga setelah Mushaf kode MS 12716 di University of London yang ditulis Jumadil Awwal 993/1585 dan mushaf dari Ternate yang ditulis pada 7 Zulqa’dah 1005 H/1597 M (Bafadal dan Anwar. Sulawesi. Pantai Timur Malaya.Jurnal Lektur Keagamaan. bisa diduga bahwa asal-usulnya berkaitan dengan Pulau Jawa. keberadaan mushaf ini di sebuah tempat yang disebut Kampung Jawa. Penutup 1. 1) Kondisi naskah keagamaan Islam di Bali pada umumnya sangat memprihatinkan. b. 2005: vii-viii). seperti Palembang dan Pasuruan. bandingkan dengan Gambar 14a). Pemiliknya tidak mengetahui secara pasti asal usul mushaf ini kecuali bahwa ia mendapatkannya dari orang tuanya dan konon telah dimilikinya secara turun temurun. 7. mushaf ini menambah koleksi dan informasi mushaf tertua di Nusantara. keberadaan 35 naskah keislaman itu dapat menunjukkan mata rantai Islamisasi di Indonesia dan jaringan keilmuan dan keulamaan Islam Nusantara. 78 . Dari 38 naskah tersebut. Lebih dari itu. Vol. Sebagian besar naskah sudah rusak. 1. 2009: 53 . Penelusuran awal naskah-naskah keagamaan Islam di Bali berhasil menemukan 38 naskah yang tersebar di berbagai daerah di pulau Dewata ini. atau tempat. Namun demikian.

dan geguritan (cerita). wirid. dapat dicatat beberapa hal: a) bahan yang digunakan beragam. Islam 2. Dari aspek kodikologi. yaitu dluang. tasawuf.Lebih dari itu..Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . dan obat-obatan. dan bagaimana posisi Bali dalam proses Islamisasi maupun dalam jaringan transmisi keilmuan dalam Dunia Islam. bahasa (nahwu-saraf). Keberadaan naskah keagamaan Islam di Bali yang tersebar di berbagai kabupaten memungkinkan masih ada naskahnaskah lain yang belum tersentuh sehingga penelusuran lebih lanjut perlu segera dilakukan. Rekomendasi a.. 2. tauhid. dan untuk itu perlu pembuktian melalui penelitian secara lebih mendalam. c) Waktu penyalinan antara abad ke-17–19 M. dan Bali. Al-Qur’an. Bugis. Kondisi naskah keagamaan Islam di Bali yang memprihatikan perlu mendapatkan perhatian serius dan perlu segera dilakukan upaya konservasi lebih lanjut. b) Bahasa dan aksara yang digunakan meliputi Arab. adanya naskah lontar yang mengandung unsur keislaman membuktikan bahwa hubungan antarumat beragama. Melayu (Jawi). kertas bergaris modern. Wa All±h a‘lam…[] 79 . 4) Isi naskah antara lain mencakup fikih. setidaknya untuk melihat bagaimana hubungan Islam-Hindu di Bali. Analisis terhadap isi teks dan penjelasannya secara kontekstual perlu diteliti lebih lanjut. — Asep Saefullah dan Adib M. khususnya Islam-Hindu di Bali terjalin dengan baik. doa. dan lontar. dan yang tertua tahun 1035 H/1625 M. kertas Eropa. b. c. antara lain dengan penelusuran naskah dan digitalisasi.

John H. Francois. Kumar. Mushaf-Mushaf Kuno di Indonesia. Rosehan. An Introduction to the Study of Manuscripts in Arabic Script. Tatakrama.. Gallop. Ada Bagus Gede. Maria Indra. Sastra. Etika. Hilversum: The Paper Publications Society. Lisan dan Sejarah di FIB UI . 2005. 156-183. 1-10. New York dan Tokyo. Fadhal AR. makalah dalam Seminar Tradisi Naskah. Vol. Annabel Teh. dan Anwar. Jakarta: Ecole francaise d’Extreme-Orient-Yayasan Obor Indonesia Deroche. 2005. dan Saefullah. Edisi bahasa Arab diteritkan tahun 2005 oleh penerbit yang sama dengan judul al-Madkhal ila ‘Ilm al-Kitab al-Makhtut bi al-Harf al‘Arabi. Melestarikan. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. Chambert-Loir. 2009: 53 . Henri & Fathurahman. 2005. London: Al-Furqan Islamic Heritage Foundation. h. 2. Khazanah Naskah: Panduan Koleksi Naskah-Naskah Indonesia Sedunia. Bafadal. Jakarta. h. Crescent Moon: Islamic Art & Civilisation in Southeast Asia. 1994. Vol. tanpa tahun. Penyalinan Naskah Melayu di Jakarta pada Abad XIX: Naskah Algemeene Secretarie Kajian dari Segi Kodikologi. No. Bali. “Penyalinan Naskah Melayu di Palembang”. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. Mulyadi. Gallop. “Pentingnya Memelihara. Jurnal Lektur Keagamaan. Adelaide: Art Gallery of South Australia.). Depok: Fakultas Sastra UI. 2. Fadhal AR. “Jenis-jenis ‘Naskah Bali’” dalam Soedarsono (Ed). 2003. Annabel Teh. 1997. dan Sunda. 80 . 2005. Keadaan dan Perkembangan Bahasa. 1. 121143. No. Illuminations. Bafadal. h. dan Seni Pertunjukan Jawa.90 Daftar Pustaka Agastia.). Maria Indra. Rukmi. Weatherhill Inc. The Lontar Foundation. V. Kodikologi Melayu di Indonesia. Islamic Codicology. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. dan Memanfaatkan Khazanah Naskah Islam: Sebuah Refleksi”. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. 7. Naskah Klasik Keagamaan Nusantara 1. 1996. Rukmi. 1. No. Cet. “Islamic Manuscript art of Southeast Asia”. Heawood. Edward. 2006.Jurnal Lektur Keagamaan. Asep (Eds. 1999. The Writing Traditions of Indonesia. dalam James Bennett (Ed. Depok. Fathurahman. “Seni Mushaf di Asia Tenggara”. Ann dan McGlynn. Depok: Fakultas Sastra UI. Sri Wulan Rujiati. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. Vol. Jurnal Lektur Keagamaan. 1. Watermarks: Mainly of the 17th and 18th Centuries. 2004. Oman. diterjemahkan ke Bahasa Arab oleh Ayman Fuad Sayyid. Oman. 1986.

Sekretaris MUI Sngaraja (No. 10. 9. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. M. Yunardi. 5. secara terpisah pada 29-30 Desember 2008 di Masjid Agung Singaraja maupun di kantor MUI Singaraja. 8. Bali Drs. Musta’in. Agama Prov. 2. Bali (No. H. Kabid Bimas Islam & P. dalam Jurnal Lektur Keagamaan. Drs. H. 2007. H. Sirojuddin AR. Kanwil Dep. Hasyim Zaki. Wawancara. 29 Oktober 2008. Kanwil Dep. yang dituakan di Kampung Islam Buitan. 14. Ketua MUI Singaraja H. Wawancara. 11. 2 Nopember 2008.. 5. 1. 39-62. Kabid. Syafruddin. 3. 1-18. Bedugul. No. Vol. Abdurrahman Said. Badri. Soleh. 7. Karang Asem. Hidayat. 81 . H. dan Agus.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . E. Agama Prov. Agama Prov. Informan: 1. Hadiman. Ketua Dewan Penasehat MUI Singaraja. Abdurrahman Alawi. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. Bali Drs. Ida Bagus Nyana. Islam Saefullah. 1-5) Wawancara di ruang kerja masing-masing pada 28 Oktober 2008. No. Staf Urusan Agama Hindu. 13. SH. 2007. Muchlis Sanusi. Kanwil Dep. Agama Prov. Hasan. Gunawan. Seni Kaligrafi Islam. H. Kasubag Umum. 1992. penduduk Singaraja yang bekerja di Denpasar. Kanwil Dep. H. Pengurus Harian Masjid Agung Jami’ Singaraja H. Jurnal Lektur Kegamaan. H. para ustadz di Pesantren AlHidayah. H. 1. 12.. 30 Oktober 2008. Pendidikan Islam dan Pemberdayaan Masjid. 5. Penamas. Ketut Ariawan. Abdullah. Wawancara. Vol. Wawancara pada 2 Nopember 2008 di Loloan Timur. Jakarta: Multi Kreasi Singgasana. Kasi. Kanwil Dep. “Ragam Hiasan Mushaf Kuno Koleksi Bayt al-Qur’an dan Museum Istiqlal Jakarta”. h. Bali Drs. Bali Drs. Haji. Ghufron. Asep. 6. Agama Prov. 4. h. 7-11) Wawancara. — Asep Saefullah dan Adib M. Lurah Kampung Bugis dan juga Ketua Ta’mir Masjid Agung Singaraja. Husen Abdul Jabbar. “Beberapa Mushaf Kuno dari Provinsi Bali”.

Arab dan Melayu 19 baris/hlm. Jarak antarbaris di setiap halaman 7 mm. 2009: 53 . Aks. sementara rubrikasi berwarna merah. Denpasar Fk/Bali MA 01 98 hlm. tampaknya cap kertas ini mirip dengan contoh no. Halaman 1r-33v: Teks kitab nikah. tetapi tidak disebutkan judulnya. Arab dan Jawi 24x16 cm Prosa Kertas Eropa Naskah ini merupakan kumpulan teks yang terdiri atas beberapa bidang kajian. Sepertinya bagian awal teks dimulai dari “Had al-Qa©af”. Wirid dan Doa Bhs. dalam kolofon teks ini disebutkan “Kitab Nikah”. Teks ditulis dengan menggunakan bahasa Melayu dan aksara Jawi dengan menggunakan garis panduan yang ditekan.90 Lampiran: 1. Halaman 33v-41v: Teks obat-obatan. 7. yang terdiri atas: 1. kertas dengan cap kertas nomor tersebut tidak bertanggal. 82 . Contoh Deskripsi Naskah Milik Musthafa al-Amin. Naskah berukuran 24 X 16 cm. Tebal naskah 98 halaman (49 lembar) dengan jumlah baris 19 per halaman. namun dimungkinkan diproduksi pada masa modern. Sebagaimana disebutkan. Menurut Heawood (1986: 84). Obat-obatan. Naskah sudah tidak bersampul dan bagian awal teks yang berisi Kitab Nikah sudah tidak lengkap.Jurnal Lektur Keagamaan. Setelah dicocokkan dengan daftar cap kertas yang disusun oleh Heawood (1986). Adapun bunyi kalimat pertama (1r) adalah sebagai berikut: Terpelihara dirinya daripada had ta-waw-kaf-sin karena jikalau ia tia(da) mau bersumpah maka dipukul ia delapan puluh kali demikian lagi disuruh bersumpah istrinya di atas mimbar lima kali supaya terpelihara ia daripada had zina maka apabila sudah bersumpah keduanya jatuhlah talaknya itu talak bain kubra … Alas naskah yang digunakan adalah kertas Eropa. 1. Vol. yang termasuk kelompok Crescent. Akan tetapi cap kertas hanya terlihat sebagian. Tinta yang digunakan berwarna hitam. sementara ukuran teksnya adalah 19 X 11 cm. No. 2. Kitab Nikah. 860. Kalimat pertama teks ini berbunyi: Sebagai lagi (obat) supaya bincar(?) buang air seni ambil limau nipis tiga biji ditaruh gula batu maka embunkan pagi2 minum insya Allah ‘afiyah berturut-turut tiga pagi. naskah ini merupakan kumpulan teks. Bunyi kolofon tersebut sebagai berikut: Haza [al-]Kitab al-Nikah [ter] Hijrah al-Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam seribu dua ratus delapan puluh tujuh (1287) pada tahun Ba alif(?) pada malam ahad waktu jim(?) pada pukul delapan pada delapan hari bulan Rabi’ al-Awwal pada ketika itulah hamba Pa Abdul A’raf sudah selesai menyuruh ini kitab di dalam negeri Badung Bali Badung adanya Kampung Kepaon 1287. Tamma wa sallallahu ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa sahbihi wa sallam. yakni pembahasan tentang tuduhan suami bahwa istrinya berzina.

5 cm. Teks ditulis di atas lontar dengan menggunakan bahasa dan aksara Bali. Kondisi lontar masih baik. wirid dan doa. Musthofa Amin. Halaman 41v-47r: Teks berisi berbagai macam masalah. Pias kanan berukuran 3 cm. Tebal naskah 9 lempir dengan jumlah baris 4 per lempir. 4. sedangkan ukuran teksnya adalah 34 X 2. Pemilik Naskah: H. Tulisan tampak rapi dan jelas. Amin 1288 H di Ampenan Syahr [al-]Shafar. Contoh Deskripsi Naskah Lontar Milik Yayasan An-Nur.5 X 3. Kepaon. Naskah di tempatkan dalam kotak yang terbuat dari kayu jati berwarna coklat. Jarak antarbaris tiap lempir adalah 0. Islam Kalimat terakhir berbunyi: Telah mengambil ijazah faqir a-haqir ila Allah Ta’ala Haji Hasan ibn al-Marhum al-Haj Muhammad Amin al-Din Palembangi akan mengamalkan laqad ja’akum serta doa yang kemudian kepada Syaikhuna wa ustazuna wa wasilatuna ila Allah Ta’ala al-Arif bi Allah sayyidi al-Syaikh Muhammad Azhari ibn al-Mukarram al-Marhum Kemas Muhammad Haji Abdullah Palimbangi Nafa’ana Allah bi barakatihi wa barakat ‘ulumihi. penanggalan. Bali 4 baris/lempir Aks. naskah ini berjudul Pepalihan Gama Selam Bali. Teks ini berisi cerita proses islamisasi di Bali. Kampung Bugis. Bali 40. Di bawah setiap baris teks terdapat garis panduan tipis berwarna hitam. Denpasar 83 .. Halaman 47v-48v: Teks Li °³bat Aqli al-Ins±n. Bali.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Denpasar Gg/Bali YN 02 9 lempir Pepalihan Gama Selam Bali Bhs. Pemilik naskah: Yayasan An-Nur. 5 cm. antara lain kitab waris. Ukuran kotak tempat menyimpan naskah ini adalah 46 X 8.5 cm Puisi Lontar Berdasarkan informasi di luar teks. Tinta yang digunakan berwarna hitam.5 cm. pias kiri berukuran 3 cm. Naskah berukuran 40. Teks dibagi dalam dua kolom. 2.5 x 3. dan teks khutbah nikah. — Asep Saefullah dan Adib M. 3. Denpasar.5 cm..

1. 17v. Kepaon. Denpasar Gambar 04: Khat Farisi MS MA 01.90 Lampiran II: Gambar-Gambar A. Kepaon. Musthafa Amin. 2009: 53 . Musthafa Amin. Kepaon. h. Beberapa Jenis Kaligrafi Gambar 01: Khat Naskhi pada Mushaf kuno dari Kampung Jawa. 11r. koleksi H. Ilustrasi Gambar 05: MS MA 03. Musthafa Amin. milik Drs. h.Jurnal Lektur Keagamaan. naskah koleksi H. Suharto Gambar 03: Khat Riq’ah pada MS MA 06. Denpasar 84 . milik H. Singaraja Gambar 02: Khat Naskhi pada naskah tauhid dari Pegayaman Singaraja. Musthafa Amin. Kepaon. Denpasar Gambar 06: MS MA 04. Vol. 7. No. naskah koleksi H. Denpasar B.

. Kp. Denpasar. Serangan. Musthafa Amin. Gambar 08: MS MA 03. h. Baharuddin. Iluminasi halaman awal pada Mushaf Kuno koleksi Masjid Jami’ Agung Singaraja 85 . — Asep Saefullah dan Adib M. 12v-13r.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Iluminasi pada Mushaf Gambar 09: MS MAJS/NQ/01.. Kepaon. naskah milik H. Denpasar C. milik H. h. 56. Islam Gambar 07: MS Serangan 01.

Illuminations.Jurnal Lektur Keagamaan. dalam Ann Kumar dan John H. 2009: 53 . 86 . No. 1996. koleksi Perpustakaan Nasional Jakarta. 7. Vol. 1.90 Gambar 10: MS MAJS/NQ/01. h 46 dan 87. McGlynn.. Iluminasi halaman tengah pada Mushaf Kuno koleksi Masjid Jami’ Agung Singaraja Gambar 10a: Tipe Iluminasi mushaf halaman tengah dari Aceh.

Gambar 12a: Tipe Iluminasi halaman tengah tipe Sulawesi juga terdapat pada Tafsir AlQur’an. Koleksi Perpustakaan Nasional Jakarta. McGlynn. milik I Wayan Ma’ruf. 1996. Tampak tidak utuh lagi kerena dimakan serangga. sepertinya Tafsir Jalalain. pada di halaman kiri terdapat surah Al-Fatihah. h. 59 87 .Beberapa Aspek Kodikologi Naskah .. milik I Wayan Ma’ruf. dalam Ann Kumar dan John H.. Illuminations. Gambar 12: Iluminasi bagian awal pada mushaf kuno dari Pegayaman. Islam Gambar 11: Iluminasi bagian akhir pada mushaf kuno dari Pegayaman. — Asep Saefullah dan Adib M.

Denpasar. Kepaon. Illuminations. 114 88 . Bandung. Vol. McGlynn. tetapi Al-Qur’an ini berasal dari Cirebon. dalam Ann Kumar dan John H. 1996. Iluminasi ini terdapat pada again awal surah alFatihah dan awal al-Baqarah. Gambar 13a: Tipe Iluminasi mushaf seperti ini umum ditemukan di Pantai Timur Semenanjung Malaya.90 Gambar 13: Iluminasi bagian tengah pada mushaf kuno dari Masjid Al-Muhajirin. 7.Jurnal Lektur Keagamaan. Al-Qur’an kuno koleksi Museum Sri Baduga. 2009: 53 . 1. No. Jawa Barat. h.

Kraton Yogyakarta. koleksi Widya Budaya. Zen Usman.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . h. Gambar 14a: Tipe Iluminasi mushaf halaman tengah dari Jawa. milik H. Mushaf disalin di Surakarta pada 1797-1798 M oleh Ki Atmaparwita. Illuminations. 35 89 . — Asep Saefullah dan Adib M. dalam Ann Kumar dan John H.. Islam Gambar 14: Iluminasi bagian awal pada mushaf kuno dari Kp. 1996.. Jawa Singaraja. McGlynn.

1. pada Kamis. 21 Muharram 1035 H/1625 M oleh Abd al-Shufi al-Din 90 . No.90 Gambar 15: Kolofon pada mushaf kuno dari Kampung Jawa. 7.Jurnal Lektur Keagamaan. Zen Usman. Singaraja. 2009: 53 . Ditulis di atas dluang. Vol. milik H.

his story can not be written in Latin texts. topik mengenai hubungan sosial-kultural dan Islam di Minangkabau tetap menarik untuk didiskusikan. Tarekat Syattariyah. By means of social context analyses of the texts. This is related to the beliefs that to know about the guru.. Etnis ini memiliki karakteristik yang unik.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. Minangkabau Pendahuluan Minangkabau merupakan suku bangsa di Indonesia yang mendiami sebagian besar wilayah Provinsi Sumatera Barat. Because the guru is considered holy man. otherwise it will be considered blasphemy or haram.. — Pramono dan Bahren Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua dalam Naskah-Naskah Tarekat Syattariyah di Minangkabau Fakultas Sastra Universitas Andalas. dalam hal hubungannya antara sosio-kultural dan Islam. to posses the book. Oleh karena itu. The ideological perspective is influenced by the surau teaching system based on the doctrines and books of the teachers. Manuskrip. or to listen to the stories about the ulama. it is found that one way to reflect the disciples’ respect for the guru(-s) has been done through writing the biography of the respective teachers and understanding their teaching. dibandingkan suku bangsa-suku bangsa yang lain di Indonesia. the guru of the order of Syattariyah are essential. Kata Kunci: Surau. particularly the order of Syattariyah in Minangkabau. 91 . The manuscripts are culturally important that is related to the daily religious needs of the disciples of the order of Syattariyah in Minangkabau. Keunikan tersebut tampak pada penyatuan antara adat dan agama Islam. Padang Pramono dan Bahren This article focus on discussing efforts to intreprate local Islam manuscripts of Minangkabau.

Persoalan lain yang menarik dan kurang mendapat perhatian adalah persoalan pola kepemimpinan Kaum Tua. kedua sumber itulah yang boleh dijadikan pedoman umat Islam dalam menjalankan praktikpraktik keagamaannya. Pem92 . Kedua. No. Ketiga.Jurnal Lektur Keagamaan. Keempat. Pertama. sekarang ini kedua istilah tersebut mungkin sudah terasa asing dalam pendengaran kita. Paham keagamaan tersebut berbeda dengan paham keagamaan yang diyakini oleh kalangan Kaum Muda. mereka adalah penganut aliran Ahlu Sunah wal Jama’ah. yaitu Kaum Tua dan Kaum Muda. yang luput dari kekeliruan. Sedang istilah yang banyak dipakai sekarang ini adalah “Kaum Tradisional” untuk Kaum Tua dan “Kaum Modernis” untuk Kaum Muda. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan pendapat antara kedua golongan itu masih tetap hidup dan berpengaruh dalam masyarakat Minangkabau. mereka ingin tetap mempertahankan tradisi. Akan tetapi. adat kebiasaan yang telah melekat dalam berbagai macam amalan keagamaan (Latief. Apalagi.108 Dalam konteks hubungannya dengan Islam. Kaum Tua di Minangkabau memiliki empat kriteria atau hakikat. mereka membenarkan dan merasa berkewajiban untuk mempertahankan aliran-aliran tarekat yang mu’tabarah (sah dan boleh diamalkan. 2009: 91 . Organisasi-organisasi serta lembaga-lembaga pendidikan agama yang didirikan oleh masing-masingnya pun masih ada. Tuhan telah menganugerahkan akal kepada setiap manusia untuk dapat berijtihad setiap saat (Fathurahman. bukan masalah perbedaan itu yang akan diulas dalam tulisan ini. dalam bidang syari’ah. 7. menurut penilaian mereka). dan oleh karenanya pandangan keagamaannya tidak dapat diikuti secara mutlak. 1. diketahui bahwa pada awal abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Perbedaan-perbedaan dalam berbagai amalan dan perilaku keagamaan di antara kedua kelompok itu hingga sekarang masih tetap ada. 2003: 99). Dalam praktik pengamalan ajaran Islam. termasuk para ulama mazhab sekali pun. mereka menganut mazhab Imam Syafi’i semata-mata. Para ulama golongan ini memiliki pandangan bahwa hanya Alquran dan hadits Nabi yang sahihlah yang benar. Akan tetapi. Oleh karena itu. dalam bidang aqidah. Vol. Golongan ini juga berpendapat bahwa tidak ada ulama. di Minangkabau timbul dua macam aliran keagamaan. 1988: 135).

atau keluar dari. adat menurun’. Dalam perjalanan sejarahnya. 1984: 138). masuknya Islam dari wilayah rantau ke darek ini digambarkan dalam pepatah: syarak mandaki.. Dalam kosa-kata Minang. Van Ronkel. Ronkel (dalam Latief. atau seperti yang ditulis Yusuf (2004: 4). Persesuaian Islam dengan adat tersebut awalnya terjadi secara bertahap. Dengan demikian.. Besarnya peran ulama pemimpin Kaum Tua di Minangkabau sempat mendapat perhatian khusus oleh pemerintah Belanda pada masa penjajahan. Jika ada orang Minang yang tidak memeluk. adaik dibao turun. sosok ulama Minangkabau. Ulama bagi mereka tidak hanya penerang masa hidup di dunia. syarak dibawa naik’. masyarakat Minang berusaha menyesuaikan adat dan tradisi kemasyarakatannya dengan Islam. khususnya ulama pemimpin Kaum Tua tidak hanya memiliki peran keagamaan saja. pemerintah Belanda mengerahkan beberapa orang sarjananya untuk mengadakan penelitian tentang tarekat yang ada di Sumatera Barat. Pada masa penjajahan. dari waktu ke waktu. Upaya penyesuaian berbagai nilai Islam dengan adat di kalangan masyarakat Minangkabau ini tampaknya telah dimulai sejak orang Minang menerima Islam sebagai agamanya (Hamka. Peranan Ulama Pemimpin Kaum Tua Bagi masyarakat Minangkabau. maka secara sosial mereka dapat dikucilkan. Akan tetapi. syarak dibao naik ‘adat dibawa turun. tetapi juga penyelamat untuk kehidupan di akhirat. bahaya dari aliran-aliran tarekat bukanlah terletak pada unsur fanatismenya. 1988: 210) antara lain menyebutkan dalam laporannya pada tahun 1916 bahwa.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. ulama pemimpin Kaum Tua di Minangkabau juga berperan di bidang sosial-budaya dan politik. ketika Islam mulai masuk dari wilayah pesisir (rantau) ke daerah pedalaman (darek). — Pramono dan Bahren bicaraan akan difokuskan pada peran pemimpin Kaum Tua dan bentuk penghormatan terhadap mereka. agama Islam misalnya. Salah seorang di antaranya adalah Ph. adaik manurun ‘syarak mendaki. “menjadi orang Minang berarti menjadi Muslim”. S. Kondisi seperti itu mempengaruhi masyarakat Minangkabau tentang persepsinya terhadap sosok ulama. melainkan terletak pada kepatuhan yang mutlak dari para anggotanya kepada pada syekh yang memang menuntut kepatuhan itu sebagai 93 .

Dengan demikian. Golongan penganut tarekat Syattariyah yang terpengaruh oleh ide-ide pembaharuan itu karena tidak puas dengan ulama Ulakan yang dinilai tidak memiliki komitmen untuk memerangi Belanda. menyebabkan mereka cenderung menghindari konfrontasi dengan Belanda (Suryadi. setidaknya ada dua strategi yang dibuat oleh pemerintah Belanda. kemudian pemerintah Belanda membuat strategi khusus untuk mengantisipasi potensi perlawanan dari kaum tarekat di Sumatera Barat. Kedua. agaknya strategi Belanda ini berhasil. 1. Vol. Untuk kasus pusat tarekat Syattariyah di Ulakan Pariman. dengan mendekati. semangat jihad mereka yang sering menggangu kolonial akan dapat diredam. Khusus mengenai kaum Syattariyah.Jurnal Lektur Keagamaan. Dengan demikian. 1988: 213-214). 2009: 91 . menjadi lawan bagi setiap aliran lainnya.108 haknya. membujuk dan memuji-muji para guru tarekat. tidak jarang merupakan sesuatu yang amat berbahaya bagi pemerintahan Belanda. Apalagi dalam kenyataanya Ulakan sebagai salah satu pusat tarekat Syattariyah tidak pernah benar-benar menunjukkan penentangannya atau setidaknya bersikap tegas terhadap Belanda yang dianggap kafir. dengan harapan agar mereka lebih memusatkan perhatian pada aktivitas kesufian. mengadakan pengawasan yang ketat terhadap segala aktivitas yang dilakukan oleh kaum tarekat (Syattariyah). Apabila terdapat kejadian-kejadian tertentu yang mereka cetuskan. menjauhi urusan dunia. Dalam konteks ini. Dalam hal ini pemerintah Belanda menempatkan seorang pengawas kelas tiga yang punya latar belakang ilmu budaya. 7. lalu diusir dari daerah ini atau dibunuh dengan berbagai cara yang licik (Latief. ia menyebutkan bahwa para pemimpin tarekat Syattariyah itu biasanya adalah orangorang yang tangguh pengetahuannya. Sedang tokoh-tokoh tarekat yang dianggap berbahaya dan tidak mempan dibujuk. dapat mengganggu kelancaran pemerintahan Belanda nantinya. 2004: 117 dan 92). Belanda menempatkan seorang posthouder di Ulakan sejak tahun 1844 (Suryadi. Hal ini dapat dicermati pada paroh pertama abad ke-19. Dengan adanya ancaman tersebut. 94 . Pertama. di mana banyak pengikut tarekat Syattariyah di Ulakan Pariaman terpengaruh oleh gerakan pembaharu Islam di Sumatera Barat. suka mengejar-ngejar kekuasaan. Boleh jadi karena sifat tarekat Syattariyah (di Ulakan) yang suka pada harmoni. 2004: 117). No.

akibat-akibat yang dimaksud tidak berhenti secara serta merta setelah kolonialisme berakhir. Secara mentalitas berbekas hingga hari ini. maka Pakih Mudo mengomando rakyat Koto Tangah dan Pauh dalam peperangan itu.. Di mana.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. dkk. yakni perlawanan ke Belanda yang dinamakan Perang Paderi yang dipimpin oleh Imam Bonjol. Oleh karena itulah. Lubuk Begalung dan sekitarnya. Akibatakibat yang ditimbulkan lebih bersifat sebagai degradasi mentalitas dibandingkan dengan kerusakan material. Dalam naskah Sejarah Syekh Surau Baru misalnya. — Pramono dan Bahren Dalam konteks itu. 95 .. menarik jika dilihat dengan perspektif postkolonial. Ketika rakyat Koto Tangah dan Pauh. Politik Belanda terhadap ulama tarekat Syattariyah di Ulakan. diceritakan tentang pemberontakan rakyat Koto Tangah dan Pauh. Padang kepada Belanda di bawah pimpinan Pakih Mudo. Penawanan itu dilaksanakan dengan alasan bahwa Pakih Mudo adalah murid Syekh Surau Baru. melainkan berlangsung sampai sekarang. Kondisi di atas sangat berbeda dengan ulama-ulama tarekat Syattariyah di Koto Tangah. misalnya kekuatan Golkar yang telah mampu mendekati para ulama itu untuk berafiliasi ke dalam partai tersebut. Hal ini akan diterangkan lebih jauh di bagian selanjutnya. Gambaran perlawanan ulama tarekat Syattariyah tersebut dapat ditemui dalam naskah Sejarah Surau Baru dan naskah Sejarah Syekh Paseban karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib.. Padang berperang dengan Belanda yang dibantu oleh orang Kota Padang. Peperangan itu menyebabkan Syekh Surau Baru ditawan Belanda. Kisah ini dapat ditemukan dalam kutipan teks berikut ini. Di wilayah ini Belanda mendapat perlawanan yang tajam dari mereka. Dalam masa tawanan itulah Syekh Surau Baru wafat dan tidak ada lagi yang melawan Belanda hingga ratusan tahun kemudian. Perang terjadi atas komando dan dorongan Syekh Surau Baru. Padang Pariaman dengan cara memberikan penghargaan dan banyak pujian telah membuat mereka bersikap kompromi dengan Belanda. Pakih Mudo adalah murid Syekh Surau Baru yang diutus untuk mengislamkan rakyat Pauh. perspektif postkolonial mencoba mengungkap akibat-akibat negatif yang ditimbulkan oleh kolonialisme. 2006: 74). bahkan mungkin puluhan atau ratusan tahun (Ratna. Padang.

Maka amanlah Belanda di Padang sampai 170 tahun kemudian barulah ada kembali perlawanan terhadap Belanda yang (di)kepalai oleh Tuanku Imam Bonjol yang dinamai Perang Paderi mulai tahun 1803 berakhir tahun 1837 (al-Khatib. Juga beliaulah. Pauh. t. Syekh Surau Baru ini adalah orang Kota Panjang.: 51-52). Perlawanan Syekh Paseban. perlawanan terhadap Belanda juga dilakukan oleh ulama tarekat Syattariyah di Koto Tangah. Lubuk Bagalung (Negeri yang dua puluh) dan Negri Padang.. 1. Syekh Surau Baru inilah yang mengislamkan Negeri Kota Tengah. dan sekitarnya. No. Setelah Syekh Surau Baru wafat ditawan kompeni Belanda barulah habis perlawanan rakyat terhadap kompeni Belanda.108 Beginilah riwayat ringkas perjalanan hidup beliau Tuan Syekh Surau Baru yang telah mengislamkan Koto Tangah. Syekh Surau Baru yang mula-mula melawan penjajah Belanda yang akan menginjakkan telapak kakinya di Pantai Minangkabau pada tahun 1658 Masehi (1076 Hijrat) yang bermaksud menjajah Minangkabau. 7. Padang. Dalam salah satu bagian teks disebutkan bahwa. pernah suatu kali Belanda dengan taktiknya akan memberikan penghargaan kepada Syekh Paseban. Kota Tengah. Oleh karena perbuatannya tersebut. (kedua) adalah di suatu makam Syekh Muhammad Natsir (Syekh Surau Baru). Syekh Paseban selalu mengadakan ziarah ke makam Syekh Surau Baru di Batusingka. Ziarah tersebut ia lakukan karena. tidak Belanda. dalam naskah Sejarah Ringkas Syekh Paseben Asyattari Rahimahullah Taala Anhu. Air Dingin. “kata Syekh Paseban (al-Khatib.t. terjadi berkali-kali peperangan di Pauh dan Koto Tangah antara rakyat dengan tentara Belanda yang dibantu oleh laskar Padang yang telah takluk di bawah kekuasaan kompeni Belanda. Vol.. Pauh. 34). penghargaan itu ditolak oleh Syekh Paseban. pada waktu itu adalah dengan tidak bersedia membayar pajak kepada pemerintahan Belanda di Kota Padang. Dalam konteks perlawanan tersebut. Padang yaitu. 2001: 29. Akan tetapi. Selain Syekh Surau Baru. Penghargaan tersebut berupa bintang jasa yang oleh Belanda dikatakan bahwa Syekh Paseban berhak menerima karena ia adalah ulama besar yang telah banyak berjasa bagi kaumnya. ia ditangkap dan dipenjarakan oleh Belanda. Beliaulah. 2009: 91 . Selain itu.Jurnal Lektur Keagamaan. Koto Tangah. (ketiga) Jasa beliau Syekh Surau Ba96 . “Yang akan memberi saya bintang adalah Tuhan. penulisnya kembali menegaskan tentang kepahlawanan Syekh Surau Baru. Beliau sama pergi menuntut ilmu dengan Syekh Burhanuddin ke Aceh kepada Syekh Abdurrauf (Syekh Kuala). Syekh Paseban. Padang.

Hatta. Kondisi seperti itu juga ikut mempengaruhi pandangan ideologis tarekat Syattariyah di Koto Tangah. agar beroleh berkah.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. Syekh Muhammad Abbas al-Kadi Bukittinggi. termasuk juga di Sumatera Barat (Nasution. Setelah adanya maklumat ini. M. ulama tarekat Syattariyah di Koto Tangah. 2002: 899). Hal ini juga sekaligus mempertegas bahwa ulama tarekat Syattariyah di Koto Tangah. memaklumatkan agar menumbuhkan berbagai organisasi dan partai. Padang adalah benar-benar berjiwa pahlawan. Salah satu organisasi sosial yang berikutnya menjadi sebuah partai di Sumatera Barat adalah Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti). Padang. Hal ini dikarenakan ulama-ulama yang berwiba97 . Perti mengikuti aliran Ahlul Sunnah wal Jamaah dalam itikad dan mazhab Syafi’i dalam syariat dan ibadat.. penduduk Koto Tangah sudah tujuh puluh lima persen masuk ke dalam Partai Islam Perti. maka banyaklah lahir parta-partai di negeri ini. Sejak 22 Nopember organisasi sosial ini berubah menjadi partai politik dengan nama Partai Politik Islam Perti (Nasution. Dalam naskah otobiografi Sejarah Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib disebutkan bahwa. Setelah Indonesia merdeka. Oleh karenanya. pengikutnya harus menghormatinya. Wakil Presiden Republik Indonesia. 2001: 39). beliaulah yang mulanya melawan Belanda di Minangkabau ini. Agaknya penulis naskah ingin mempertegas bahwa Syekh Surau Baru. Syekh Muhammad Jamil Jaho Padangpanjang dan Syekh Abdul Wahid Tabekgadang. Padang selain orang alim juga anti penjajah. — Pramono dan Bahren ru. Pendirinya adalah para ulama yang terdiri dari Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung. Pada awalnya. Syekh Surau Baru melawan Belanda waktu Belanda akan menjejakkan kakinya di Pantai Padang sedangkan Tuanku Imam Bonjol mengusir Belanda yang telah menduduki Minangkabau. Beliau Syekh Surau Baru dapat ditawan Belanda dimasukkannya ke dalam rajam dan wafat di situ dan Tuanku Imam Bonjol ditawan Belanda dibuangnya ke Manado dan wafat di situ (al-Khatib.. Perti adalah organisasi sosial yang didirikan pada tanggal 5 Mei 1930 di Candung. menjelang Pemilihan Umum pertama 1955. 2002: 899). Itu perbedaan perjuangan Syekh Surau Baru dengan Syekh Paseban. Hal ini untuk menolak tudingan Belanda bahwa Indonesia bukanlah negera yang sah. 170 tahun (seratus tujuh puluh tahun) sebelum Tuanku Imam Bonjol. Bukittinggi.

Padang. Sebab partai ini berdasarkan mazhab Syafi’i dan beritikad ahlu sunah waljamaah” (al-Khatib. dan Partai Islam Perti. Hal itu dimungkinkan karena Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib benar-benar terhimbau oleh anjuran pemerintah pada waktu itu. menjelang Pemilihan Umum pertama tahun 1955—saat di mana masing-masing partai gencar berkampanye mencari dukungan—terjadi ketegangan hubungan antara Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib dengan Angku Talaok akibat perbedaan pilihan partai di antara mereka (al-Khatib. 1.108 wa—termasuk Imam Maulana Abdul manaf Amin al-Khatib—tarekat Syattariyah di Koto Tangah telah masuk ke dalam partai itu (alKhatib. Padang tidak salah. 2002: 47). orang yang tanpa ikatan sebuah sistem aturan (pemerintah)’ namanya. Pada waktu itu pemerintah melalui Wakil Presiden Muhammad Hatta menganjurkan bahwa setiap warga masyarakat untuk masuk ke dalam salah satu partai. Hal ini memang terlihat agak berlebihan. 7. Di satu sisi. 2002: 6). ia juga menempelkan poster-poster itu di berbagai tempat di Koto Tangah. Partai Islam Perti-lah yang sesuai dengan paham tarekat Syattariyah. Nah«atul Ulama. dan pemerintah tidak menjamin keamanan orang seperti itu. maka orang tualang ‘orang lepas. Dalam konteks kepartaian tersebut. Oleh karena itu. maka jatuhlah pilihan saya kepada Perti. Tidak hanya itu.. 2002: 47-57). ia giat mengampanyekan Partai Islam Perti. Jika tidak masuk ke dalam salah satu partai. padahal ia bukanlah pengurus atau pejabat dalam tubuh Partai Islam Perti itu. Vol. 2009: 91 . yakni partai Islam yang sesuai dengan paham tarekat Syattariyah. Menurut penuturannya.Jurnal Lektur Keagamaan. pada waktu menjelang Pemilihan Umum pertama 1955. Hal ini ia lakukan tidak lain karena menginginkan pilihan penduduk Koto Tangah. Angku Talaok bergabung dengan Partai 98 .setelah saya selidiki beberapa partai Islam seperti Masyumi. Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib pernah giat memperjuangkan Partai Islam Perti di Koto Tangah. Dalam hal ini ia mengatakan bahwa: “. dengan banyak pertimbangan dan dari hasil pengamatan Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib. No. Poster-poster dan simbol-simbol partai ia buat sendiri dan dengan biaya sendiri. Partai Sarikat Islam. Padang yang dilakukannya sendiri.. Menarik dikemukakan bahwa.

Polemik tentang partai juga dialami oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib di era Orde Baru.. Bersyafar ini adalah atas nama kaum muslimin. mendekritkan agar kembali kepada khitah semula.) bukan orang partai. sementara di sisi lain.. adalah Imam Maulana Abdul Manaf Amin. pendiri organisasi ini yang masih hidup pada waktu itu. Kalau saya masuk Golkar berarti ziarah bersama (bersyafar) ini tentu Syafar orang Golkar kata orang” (al-Khatib. ajakan itu ditolak oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin. Koto Tangah. Saat itu. — Pramono dan Bahren Islam Indonesia (PII).H. 2002: 63). yang sebetulnya merupakan kawan seperguruan Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib sendiri ketika belajar dengan Syekh Paseban. adapun Beliau ini (Syekh Surau Baru–pen. Akan tetapi. Angku Inyik Adam mengajaknya untuk masuk ke dalam Partai Golkar. agar mudah mendapat bantuan dari pemerintah untuk renovasi makam Syekh Surau Baru di Batusingka. Ia pernah bersilang pendapat dengan Angku Inyik Adam. Dalam hal ini menarik disimak penolakan ajakan untuk masuk ke partai Golkar oleh Angku Inyik Adam berikut ini: “Begini Inyik. Kemelut yang kurang terbenahi ini sangat merugikan bagi tujuan semula organisasi..Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. Maka pada tahun 1969. bukan pula ziarah bersama ini (bersyafar) tidak atas nama partai. Perti mengalami perpecahan di dalam tubuh organisasinya dengan adanya pro dan kontra terhadap gagasan Nasakom yang dicetuskan oleh Soekarno. Dekrit ini hanya diterima oleh sebagian saja yang dipimpin oleh putranya K.. bergerak di bidang sosial. Padang. khalifah tarekat Syattariyah dari Syekh Paseban. banyak dan bahkan sebagian besar pengikut tarekat Syattariyah di Sumatera Barat yang masuk ke partai Gokar setelah Perti kembali berstatus organisasi nonpolitik. Syekh Sulaiman ar-Rasuli. Pengelolaan bidang pendidikan dan dakwah seolah-olah terlupakan kalau tidak dapat dikatakan terabaikan sama sekali. Imam Maulana Abdul Manaf Amin menjadi anggota Partai Islam Perti. Penting dikemukakan di sini bahwa. tidak dihitung partainya. yang telah lebih dahulu mengajar di surau Batang Kabung. Saat itu. Angku Talaok pernah diminta oleh para penganut tarekat Syattariyah di Batang Kabung dan sekitarnya untuk membantu mengajar di beberapa surau mereka. Burhanuddin ar99 . Pada awal tahun 1950-an. yaitu status nonpolitik. dan beberapa surau lain di sekelilingnya.

2009: 91 . Bagi orang awam. penyebaran buku-buku hasil karyanya. Bentuk penghargaan yang terakhir ini sangat menarik dan penting untuk dijelaskan. dan kemudian dalam menyalurkan aspirasi politiknya bergabung dengan Golkar. ulama yang mencampuradukkan diri dengan politik itu adalah khianat pada tugas keulamaannya (Samad. No. ada juga ulama tarekat Syattariyah yang dengan tegas menolak bergabung dengan Golkar. akan lebih mudah untuk memberikan pelajaran tarekat kepada orangorang yang berada di dalam Golkar. Penghormatan terhadap Ulama Pemimpin Kaum Tua Di kalangan Kaum Tua di Minangkabau. Ia banyak menulis sejarah para 100 . penulisan riwayat hidupnya. menurut mereka pilihan guru kepada Golkar adalah petunjuk Allah yang harus diterima. menurut mereka. Salah satu bentuk penghargaan itu adalah naskah-naskah karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib. 2003: 266). yang banyak sekuler dan bercampur agamanya (Samad. Padang.108 Rasuli. Ada lagi alasan ulama bahwa merubah dan memperbaiki dari dalam jauh lebih mudah daripada memperbaiki dari luar. Hal ini jika dikaitkan dengan kecenderungan pendapat ulama dalam tarekat Syattariyah yang besar pengaruhnya terhadap sikap kaumnya. Dengan masuk ke dalam Golkar. 2003: 268). Bagi yang sedikit maju dan cerdas. Koto Tangah.Jurnal Lektur Keagamaan. Inyiek. Akan tetapi. Sangat dimungkinkan bahwa Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib yang juga menolak ajakan masuk ke Golkar karena terpengaruh sikap Tuanku Salif ini. penghormatan kepada ulama-ulama pemimpin mereka terlihat pada gelar-gelar yang diberikan. Misalnya. Bentuk penghargaan yang lain terlihat juga dalam pelestarian cita-cita dan perjuangan ulama terdahulu. Menurut ulama ini. mereka mengajukan dalil. misalnya sebutan Tuanku. Berbagai argumen muncul dari ulama-ulama tarekat Syattariyah yang bergabung ke dalam partai Golkar. Syekh dan Maulana. daripada kita menumpang kapal kecil lebik baik naik kapal besar. 1. Vol. yakni Golkar. Padang Pariaman yang lama mengajar di Batang Kabung. 7. Dalam konteks penghargaan ulama pemimpin Minangkabau dalam bentuk penulisan riwayat hidupnya dan penyebaran buku-buku hasil karyanya banyak ditemukan di Minangkabau. almarhum Tuanku Salif dari Sungai Sarik.

Dengan menulis sejarah guru atau syekh. maka akan mendapat berkah dan keselamatan baik di dunia maupun di akhirat. maka harus diluruskan. Tidak surat-surat kabar dan majalah saja yang memutarbalikkan sejarah beliau-beliau ini. supaya tarekatnya diterima oleh orang kampung yang buta ilmu pengetahuan agama. Saya yang menulis adalah salah seorang dari murid beliau yang bernama Haji Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib. Perlu dijelaskan di sini bahwa. Jika ada golongan lain mengkritik ajaran guru. Ajaran guru adalah sesuatu yang benar dan tidak boleh dibantah. Penulisnya mengharapkan 101 . Sebab. Demikianlah supaya kita berhati-hati menerima sejarah dan menerima tarekat dari guru tarekat. dan Syekh Surau Baru. Berikut ini dapat dilihat gambaran tentang bantahan terhadap kritikan dari pihak luar..Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. Tentu kita lebih menghormati ulama dari pada mereka. 1936: 5). jangan asal dimasuki saja” (al-Khatib. amin ya rabbil ‘alamin. yang kesimpulannya penghuni langit dan bumi menghormati ulama. “. Syekh Burhanuddin. 2001: 12-13). yang dimaksud dengan “ketiga buku sejarah ini” dalam kutipan di atas oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib adalah teks sejarah Syekh Abdurrauf. Padang” (al-Khatib.. Syekh Paseban ini. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut ini: “.sudah jelas oleh kita bahwa Nabi kita Muhammad S.. Batang Kabung.. apakah bilangan yang beliau pakai untuk menentukan tanggal satu hari bulan Arab. — Pramono dan Bahren syekh dan ajaran-ajarannya.. Amin. yaitu orang yang menghormati dan memuliakan ulama dan mudah-mudahan Allah memberi berkat atas usaha saya.. Tetapi juga guru-guru tarekat kampung memutarbalikkan pula sejarah Syekh Abdurrauf dan sejarah Syekh Burhanuddin. akhir-akhir ini banyak pula keluar di surat-surat kabar dan majalah-majalah yang memutarbalikkan sejarah beliau yang berdua ini yang jauh berbeda dengan yang dalam buku ini. Begitu pula ikan-ikan dalam laut. Mudah-mudahan dengan menulis sejarah beliau.M menyuruh kita menghormati dan memuliakan ulama.dengan adanya ketiga buku sejarah ini dapatlah saudara-saudara yang menjadi pengikut dan pencinta Syekh Abdurrauf dan Syekh Burhanuddin mengetahui bagaimana beliau-beliau ini mengembangkan agama Islam dan dapat kejelasan apakah mazhab beliau. Dalam teks yang terdapat dalam hampir seluruh naskah karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin alKhatib menempatkan guru sebagai orang yang harus dihormati. maka saya termasuk orang yang dianjurkan Nabi tadi.

maka tidak boleh mengikut paham tersebut. sebagai mengkhidmati guru beliau tetap mendukung guru dari tempat tinggalnya kepada tempat dia mengajar ilmu di Masjid Nabawi.108 bahwa dengan adanya ketiga sejarah syekh tersebut. Sudah itu terus pergi gembala unta ke tengah padang. seperti berikuit ini: “. maka pengikut tarekat Syattariyah akan memahami bagaimana ketiganya beramal ibadah. Selain menuntut ilmu juga kerja beliau Syekh Abdurrauf di Madinah adalah mengembalakan unta Tuan Syekh Ahmad al-Qusyasyi tiap-tiap hari.Jurnal Lektur Keagamaan. maka pemahaman ilmu akan datang dengan tidak disangka-sangka. 7. Mereka tidak akan ikut salat tarawih di bulan Ramadan. Namun. paham gurulah yang benar.. Misalnya. bagaimana mereka menentukan awal bulan Arab. 2009: 91 . 1. Sangat patuh dan sangat hormat kepada guru apa yang diperintahkannya oleh guru ti- 102 . Tambahan lagi. Malahan beliau terima hal yang demikian dengan hati yang ikhlas dan bertawakal kepada Allah swt. dan seterusnya. yaitu pagi-pagi didukung guru di hulu dari tempat tinggalnya ke tempat dia mengajar. Menghormati guru juga diyakini berimplikasi terhadap cepatnya pemahaman ilmu yang diajarkan oleh sang guru. Beliau tetap hormat dan khidmat serta patuh terhadap guru beliau. jika salatnya dilakukan sebanyak sebelas rakaat. Artinya itu-itu saja pelajaran yang diberikan oleh Syekh Ahmad al-Qusyasyi hingga sampai kepada masa akan kembali pulang. Begitulah kerja beliau Syekh Abdurrauf tiap-tiap harinya. Begitu pula petang-petangnya setelah memasukkan unta ke kandanganya maka pergi pula menjemput guru ke mesjid. Syekh Ahmad al-Qusyasyi. No. Jika patuh dan hormat terhadap guru. Vol.tetapi pelajaran [bang] yang [berikan] diberikan oleh Syekh Ahmad Qusyasyi hanya surah al-Baqarah saja. tidak birasak-birasak sekedar lamanya. dikisahkan tentang bagaimana bentuk penghormatannya kepada gurunya. sebagian besar pengikut tarekat Syattariyah tidak akan salat Jumat apabila khutbah dilaksanakan tidak menggunakan bahasa Arab.. Oleh karena suatu paham tidak sesuai atau berlainan dengan fatwa guru yang diterimanya. Untuk menentukan awal bulan Ramadan dilakukan dengan ru’yah (melihat bulan) terlebih dahulu. Dalam teks sejarah Syekh Abdurrauf Singkil misalnya. di dukung pula ke tempat tinggal beliau. begitu hati beliau terhadap guru tidak menaruh bosan dan berkecil hati. walaupun pemerintah telah mengumumkan awal memasuki puasa Ramadan. karena menurut fatwa gurunya yang benar adalah mengerjakan salat tarawih itu dua puluh tiga rakaat.

Syekh Ahmad al-Qusyasyi. adab kepada guru.” (al-Khatib. Selain mendukung guru juga Burhanuddin menggembalakan ternak Syekh Abdurrauf.. — Pramono dan Bahren dak pernah membantah dan waktu bersalam mencium tangan guru” (alKhatib. memuliakan guru agar mendapat syafaatnya (limpahan rahmat). sehingga pelajaran diperoleh dengan mudah dan sempurna. 1936:8-9). kedua kutipan tersebut juga berpesan kepada pembacanya bahwa sebuah ilmu tidaklah diperoleh dengan mudah. Adapun adab dan tertib Burhanuddin kepada gurunya Syekh Abdurrauf di dalam menuntut ilmu tidak ada ubahnya seperti adab dan tertib Syekh Abdurrauf pula terhadap gurunya.. mengetahui riwayat guru adalah sebuah keharusan karena itu bermakna penghormatan kepada guru. 103 . yaitu kambing tiap-tiap hari. Kedua kutipan di atas. dan lagi menggali tebat (kolam) ikan di sekeliling masjid. Begitulah kerja Burhanuddin selama menuntut ilmu di Aceh dalam masa tiga puluh tahun. Di samping itu. Syekh Abdurrauf Singkil.. 1992: 20-21).. Bagi para penganut tarekat Syattariyah. Dalam teks sejarah Syekh Burhanuddin juga dikisahkan tentang bentuk penghormatan yang dilakukan kepada gurunya. yaitu di masjid. untuk kemudian menjadi suri teladan bagi kehidupannya. agar ilmu yang didapat beroleh berkah. Amanat “tidak kenal menyerah” itu senantiasa terwaris dari guru yang satu ke guru berikutnya. menggambarkan sekaligus mendorong kepatuhan murid kepada guru. Kepatuhan itu akan membawa berkah. banyak sedikitnya memperlihatkan pandangan tentang hubungan guru-murid yang secara eksplisit mengarahkan agar para murid dan pengikut tarekat Syattariyah merasa (ataupun diwajibkan) mengenal riwayat syekh yang menjadi gurunya atau guru dari gurunya. Ia harus diperoleh dengan perjuangan yang sungguh-sungguh tidak kenal menyerah. seperti berikut ini: “Adapun kaji yang diberikan yang diberikan oleh Syekh Abdurrauf kepada Burhanuddin adalah surah al-Fatihah saja tidak berasak-asak sekedar lamanya. yaitu mendukung guru dari tempat tinggalnya ke tempat mengajar. Teks-teks yang terkandung dalam naskah-naskah karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib. Oleh karena itu orang berusaha untuk memiliki.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. membaca ataupun mendengar orang membacakan riwayat gurunya.

Dalam pandangan mereka roh seorang syekh yang sudah meninggal masih dapat memberikan pertolongan kepada murid-muridnya. Sebaliknya. sebagai sumpah setia murid kepada gurunya. maka banyak kalangan penganut tarekat Syattariyah. apalagi membantah guru. Dari naskah-naskah itu jelas bahwa syekh sebagai pemimpin menjadi sentral dalam pembentukan ideologi penganut tarekat Syattariyah Kaum Tua) di Minangkabau. Perihal banyaknya peminat naskah-naskah karyanya itu. Syekh Burhanuddin. Sebaliknya. penghormatan dan penghargaan terhadap guru. kedurhakaan terhadap syekh akan menimbulkan malapetaka bagi murid-murid. Seorang guru melalui prosesi bai’ah yang sudah dilakukan sebelumnya. di kalangan Syattariyah berlaku ungkapan bahwa ”seorang murid di hadapan guru ibarat sesosok mayat di tangan orang yang memandikannya” (Samad. 7. Vol. Selain itu. 2009: 91 . Setidaknya menurut keyakinan mereka. yaitu: 1) Allah akan menyempitkan rezekinya di dunia. khususnya di Koto Tangah. mereka selalu berziarah mengunjungi makam untuk mendapatkan berkah sekaligus sebagai bukti kesetiaan terhadap guru tersebut. dan Syekh Surau Baru. dalam pengajian tarekat Syattariyah dilakukan atas dasar pandangan bahwa guru adalah orang yang suci dan dekat kepada Allah. Oleh karena itu. Murid tidak boleh banyak mempertanyakan tentang “mengapa” dan “apa sebabnya”. 2) Allah akan mencabut berkat ilmu yang telah dipelajarinya dari sang guru. Karena itu. Padang yang ingin memiliki naskah-naskah karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib. dapat memperlakukan muridnya sesuai dengan aturan yang ditetapkan. Kedurhakaan terhadap syekh akan berakibat luas terhadap kehidupan murid. 1. 3) Tatkala jiwa akan berpisah dengan badan (me- 104 . Bahkan penghormatan yang demikian masih terus berlangsung meskipun guru yang bersangkutan telah meninggal dunia. menarik untuk dipaparkan tentang sejarah teks yang menceritakan sejarah Syekh Abdurrauf. 2003: 147-148).108 Oleh karena merasa “wajib” untuk mengetahui riwayat dan ajaran para syekh tersebut. No. ada tiga hal yang akan terjadi bagi seorang murid yang durhaka kepada gurunya. murid secara sukarela harus menerima dan mematuhi segala bentuk aturan yang telah ditetapkan guru kepadanya. Perintah dan larangan guru bersifat mutlak dan mengikat. baik secara duniawi maupun setelah ia meninggal.Jurnal Lektur Keagamaan.

M. penghormatan terhadap pemimpin memberikan tauladan agar murid pun harus berperilaku (beribadah) seperti sang guru: pola hidup sederhana (zuhud)dan tidak ambisius (qan±’ah). Denpasar : Program Pascasarjana Program Doktor (S3) Kajian Budaya Universitas Udayana. Jakarta : Djambatan.. “Postkolonialisme Indonesia”.. Harun (Ketua Tim). Di antara sumbangannya yang dapat dicatat adalah sebagai berikut ini. 2003. Islam dan adat Minangkabau. — Pramono dan Bahren ninggal). Latief. Kedua. Prof. khususnya pada golongan Kaum Tua. Nyoman Kutha. Mereka dihormati. dkk. 1984. Allah akan mencabut iman yang ada di dada murid. Ratna. Nasution. 2002. Hamka. 105 . Jakarta: IAIN Syarif Hidayatullah. Kekhasannya ini tampak pada pola kepemimpinannya. Suaranya didengar. Sanusi. Pertama. (Disertasi S3). 1988. “Gerakan Kaum Tua di Minangkabau”. Tulisan itu memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi kemajuan ummat. Penutup Pertemuan Islam dengan budaya lokal Minangkabau telah menjadikan corak kepemimpinan yang khas. Jakarta: Pustaka Panjimas. Laporan Penelitian. Depok: Pascasarjana UI. Dr.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. riwayat dan ajarannya ditulis dan disebarkan. tetapi juga di bidang sosial-budaya dan politik. 2006. sebagai penerang di dunia bahkan sampai di akhirat. Ensiklopedi Islam Indonesia (Jilid 3 O-Z).[] Daftar Pustaka Fathurahman. “Tarekat Syattariyah di Dunia Melayu-Indonesia: Kajian Atas Dinamika dan Perkembangannya Melalui Naskah-Naskah di Sumatera Barat”. Oman. riwayat dan ajarannya dijadikan rujukan untuk pengambil keputusan. sehingga dia mati dalam keadaan tidak beriman (al-Khatib. Desertasi. H. khususnya dalam membangun kepribadian dan moral. tingkah lakunya diikuti. 1992: 30). tidak hanya masalah keagamaan tetapi juga masalah sosial budaya serta politik yang mereka hadapi. Para ulama pemimpin Kaum Tua itu berperan tidak hanya di bidang keagamaan saja.

Sejarah Ringkas Shaikh Muhammad Nasir (Syekh Surau Baru). Koto Tangah. 2009: 91 . Batang Kabung. Syair Sunur: Teks dan Konteks Otobiografi Seorang Ulama Minangkabau Abad Ke-19. naskah tulisan tangan koleksi Imam Maulana Abdul Manaf Amin. ------. Koto Tangah. 1992. Padang : Citra Budaya. Padang Sumatra Barat. Inilah Sejarah Ringkas Auliyaullah al-Salihin Syekh Abdurrauf (Syekh Kuala) Pengembang Agama Islam di Aceh. Padang Sumatra Barat. dan Dinamika Tarekat di Minangkabau” (disertasi). Manuskrip al-Khatib.Jurnal Lektur Keagamaan. Batang Kabung. 2004. naskah tulisan tangan koleksi Imam Maulana Abdul Manaf Amin. Inilah Sejarah Ringkas Auliyaullah al-Salihin Syekh Burhanuddin Ulakan yang Mengembangkan Agama Islam di Daerah Minangkabau. 1936. 2001. naskah tulisan tangan koleksi Imam Maulana Abdul Manaf Amin. 2002. Koto Tangah.108 Samad. Yusuf. Suryadi. naskah tulisan tangan koleksi Imam Maulana Abdul Manaf Amin. Padang Sumatra Barat ------. M dkk. naskah tulisan tangan koleksi Imam Maulana Abdul Manaf Amin. Laporan Penelitian Kelompok Kajian Puitika Fakultas Sastra Unand. 7. Vol. 106 . ------. Batang Kabung. Padang Sumatra Barat. Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah. “Tradisionalisme Islam di Tengah Modernisme: Kajian Tentang Kontinuitas. Batang Kabung. Imam Maulana Abdul Manaf Amin. 1. No. Duski. Padang Sumatra Barat. tt. ------. Batang Kabung. Sejarah Ringkas Syekh Paseban al-Syatari Rahimahulallahu Taala. “Manuskrip dan Skriptorium Minangkabau. Koto Tangah. Perubahan. 2004. 2003. Koto Tangah. Kitab Riwayat Hidup Imam Maulana Abdul Manaf Amin.

— Pramono dan Bahren Lampiran: Gambar 1: Imam Maulana Abdul Manaf Amin Al-Khatib (w...Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. 2006) dan Naskah-naskah Tulisannya Gambar 2: Naskah Sejarah Ringkas Auliyaullah al-Salihin Syekh Burhanuddin Ulakan yang Mengembangkan Agama Islam di Daerah Minangkabau (1992: 2) 107 .

7. 1. 2009: 91 . Syekh Abdurrauf (Syekh Kuala). Pengembang Agama Islam di Aceh (1936: 1) 108 .108 Gambar 3: Naskah Sejarah Ringkas Auliya’ullah al-Salihin. No. Vol.Jurnal Lektur Keagamaan.

Peran Penting Pernaskahan... — Agus Aris Munandar

Peran Penting Pernaskahan dan Benda Khazanah Keislaman Lainnya dalam Kajian
Arkeologi Islam di Indonesia *
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, Depok

Agus Aris Munandar

This writing is studying the important position of the written data, particularly related to the Islamic classical manuscripts in Islamic archeology. The written data from the written sources in the study of Islamic archeology are as follow: (a) It functions as the supporting study toward the artefactual data; (b) To widen good understanding on the position and the role of the artefact in society at the period; (c) Data from written sources could be the basic of the research and a framework for the study of Islamic archeology; and (d) To encrich interpretation to develop historiography. The position of the written sources is getting more and more important in the stage of historiography as some parts of the archeological studies which are remain unknown can be helped by the study from the written sources. In the end, this effort will be able to open new insight and interpretation and to widen historiographical narration in order to make the study of archeology to be more and more dynamics. Kata kunci: Arkeologi-religi, artefak, naskah, khazanah, historiografi

Pengantar Perkembangan Islam di wilayah Nusantara berdasarkan bukti arkeologis telah terjadi sejak abad ke-11 M. Hal itu didasarkan dengan penemuan nisan Fatimah binti Maimun bin Hibatullah di daerah Leran Gresik Jawa Timur, pada nisan itu dipahatkan angka tahun 475 H atau 1082 (Tjandrasasmita 1986: 2). Berdasarkan hal
Tulisan ini pada mulanya merupakan makalah yang disampaikan dalam Diskusi Pengembangan Wawasan SDM Tenaga Fungsional Puslitbang Lektur Keagamaan, 24 Februari 2009 di Ruang Sidang Badan Litbang Lektur Keagamaan, Jakarta.
*

109

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 109 - 132

itu terdapat dua kemungkinan yang mengemukan, yaitu: (1) tokoh Fatimah yang dimakamkan itu adalah orang Jawa yang telah memeluk Islam, atau (2) ia muslimah pendatang yang karena suatu sebab meninggal dan dimakamkan di Gresik. Selain nisan, dalam kajian para ahli Belanda dahulu tidak melaporkan adanya temuan serta lainnya dari situs nisan Fatimah binti Maimun. Akibatnya tidak ada lagi data yang dapat menyokong terjadinya interpretasi baru atas kasus temuan nisan Fatimah binti Maimun. Masalah nisan Fatimah binti Maimun sebenarnya hanya salah satu contoh saja dari banyak permasalahan kajian arkeologi Islam di Indonesia. Suatu kajian terhadap bentuk religi harus pula menjelaskan 4 hal yang berkenaan dengan eksistensi religi tersebut, yaitu: a. Historical explanations, yaitu usaha untuk menjelaskan keberadaan suatu agama pada suatu masa sejak agama itu mulai ada, bertahan, dan berkembang dalam tahap selanjunya. b. Structural explanations, upaya untuk menjelaskan keberadaan suatu agama berkenaan dengan para penentu perkembangan agama, menjelaskan hal-hal penting yang menjadi dasar terbentuknya masyarakat pemeluk agama. c. Causal explanations, upaya menjelaskan keadaan agama dalam masyarakat dengan mengacu kepada kondisi dan suasana masyarakat sebelum agama itu timbul. d. Functional explanations, menjelaskan suatu keadaan sehingga agama tersebut mempunyai fungsi dalam masyarakat (Spiro 1977: 99—101). Keempat fokus utama kajian agama tersebut kiranya dapat dikerjakan secara baik bilamana berkenaan dengan keadaan agama yang masih hidup di masa sekarang, yang masih ada masyarakat pemeluknya, dan dalam pertalian kekinian. Akan sukar kiranya jika keempat kajian tersebut diterapkan untuk meneliti kehidupan agama yang pernah berkembang di masa silam. Walaupun agama yang dimaksudkan itu sampai sekarang masih ada pemeluknya, namun pemeluk agama masa lalu tentu sudah tiada dan juga secara sosiologis akan berbeda kondisi mereka dengan pemeluk agama masa sekarang. Oleh karena itu kajian keagamaan masa lalu niscaya tidak akan sempurna lengkap, pasti ada yang rumpang. Hal itu bukan karena 110

Peran Penting Pernaskahan... — Agus Aris Munandar

ketidakmampuan peneliti menarik sintesa dan tafsiran, melainkan memang datanya yang terbatas. Data kajian perkembangan agama Islam pada tahap awalnya, tentu bertumpu kepada sumber-sumber tertulis dan data artefaktual yang bersifat fisik. Jika kedua macam data itu dalam kondisi bagus tentu akan membantu memperlancar proses kajian, tetapi seringkali kondisi data yang ada itu telah rusak sebagian, atau hilang. Begitupun dari data yang ada dan masih bertahan hingga kini belum tentu juga dapat dipergunakan dalam kajian, karena memang tidak sesuai dengan permasalahan yang akan dipecahkan. Dalam membahas perkembangan agama dari suatu lingkup kebudayaan, menurut disiplin antropologi sebaiknya harus memperhatikan lima butir unsur agama yang saling berkaitan satu sama lain. Kelima butir itu selayaknya diperhatikan sesuai dengan proporsi data yang tersedia, tergantung pada zamannya serta kualtitas dan kuantitas data yang tersedia. Bagan yang memperlihatkan lima butir unsur religi adalah sebagai berikut:
Bagan I: Unsur-Unsur Religi
SISTEM KEPERCAYAAN

UMAT AGAMA

EMOSI KEAGAMAAN

PERALATAN RITUS & UPACARA

SISTEM RITUS & UPACARA

[Koentjaraningrat, 1980: 80—3]

Apabila dikembalikan kepada ketersediaan data sudah tentu tidak semua butir tersebut dapat dikaji secara baik. Jika membicarakan perkembangan agama di masa silam, tentunya yang masih dapat diamati secara langsung adalah sisa peralatan ritus dan upacara. Sistem kepercayaan yang mungkin termaktub dalam kitab-kitab keagamaan, dan sedikit tentang sistem ritus dan upacara 111

langkah kehidupan dan lain-lain. 7. Kemudian terdapat masyarakat biasa yang menjadi rakyatnya. No. 1. Masa tersebut sangat mungkin dimulai sekitar tahun 500 SM hingga ditemukannya aksara pertama dalam prasasti di wilayah Indonesia (sekitar abad ke-4 atau 5 M). fenomena alam. sebab masyarakatnya telah tiada. Dalam kondisi peradaban masyarakat yang relatif maju seperti itulah pengaruh kebudayaan luar mulai diperkenalkan oleh para musafir India. Bantuan analogi itu dilakukan dengan syarat masyarakat yang dijadikan bahan komparasi masih melaksanakan praktek keagaaman yang mirip dengan agama-agama masa silam.132 yang dalam penafsirannya harus meminta bantuan analogi pada masyarakat masa kini. Penduduk kepulauan Indonesia masa itu telah menetap dan membentuk perkampungan. apabila tidak maka tiada mungkin dilakukan. dianggap mempunyai banyak pengalaman. Kontak-kontak dengan para musafir dari India dan Cina sangat mungkin mulai terjadi di awal tarikh Masehi. rumah-rumah mereka panggung. masih mungkin untuk dikaji. Dalam periode tersebut mulailah terbentuk komunitas-komunitas yang teratur dipimpin oleh ketua kelompok.Jurnal Lektur Keagamaan. Sang pemimpin didampingi oleh seseorang yang dituakan. Nenek moyang bangsa Indonesia merasa tertarik dan 112 . Sedangkan gambaran umat agama. 2009: 109 . emosi keagamaannya pun sukar digali kembali. apalagi emosi keaagamaan agak sukar untuk dikemukakan dan dikaji. Walaupun demikian ahli para peminat sejarah kebudayaan harus berupaya semampunya dengan --berdasarkan data yang ada-. Tahapan prasejarah yang paling penting di Indonesia adalah masa bercocok tanam tingkat lanjut yang bersamaan dengan berkembangnya kepandaian perundagian.untuk tetap mencoba menjelaskan pula butir-butir tersebut. kepada tokoh itulah masyarakat bertanya perihal berbagai hal. Jadi mereka tidak mungkin datang ke wilayah-wilayah yang sepi penduduknya. Vol. dan luas wawasannya. Babakan Perkembangan Kebudayaan di Indonesia Perkembangan kebudayaan Indonesia diawali dan didasari pada kebudayaan prasejarah. Agaknya para niagawan dari India atau Cina tersebut berkunjung ke komunitaskominitas nenek moyang bangsa Indonesia yang dapat dianggap berinteraksi.

yaitu (1) agama HinduBuddha. Islam tidak berkembang dalam kurun waktu yang bersamaan di Nusantara. dan bangunan pahat batu (rock-cut) yang digarap secara baik.Dalam jalur niaga tersebut turut serta para ulama penyebar Islam. namun perkembangannya semakin merata mulai abad ke-15 M. dalam hal ini bentuk-bentuk arsitektur candi yang tidak pernah sama antara satu bangunan dengan lainnya (unikum). Berlandaskan ajaran agama Hindu-Buddha berkembanglah sistem pemerintahan kerajaan. Berdasarkan sumber-sumber tradisi dapat diketahui bahwa wilayah Indonesia Timur (Nusa Tenggara dan Maluku) menerima Islam karena upaya para mubalig dari pesantren-pesantren di Jawa Timur. di wilayah Sumatra bagian utara telah berdiri kerajaan Islam pertama di Nusantara. dalam hal ini raja dianggap sebagai dewa yang menjelma ke dunia. artinya tidak pernah dimiliki sebelumnya oleh masyarakat masa itu. dan di bagian-bagian lain Indonesia mungkin masih dalam zaman proto-sejarah (beberapa daerah telah dicantumkan dalam kakawin Nāgarakrtāgama yang selesai digubah oleh Mpu Prapanca tahun 1365 M). Ketiganya benar-benar merupakan sesuatu yang baru. Sumber tradisi juga menyebutkan adanya peranan para ulama dari wilayah Sumatra Barat yang aktif menyebarkan Islam di Sulawesi Selatan. Zaman berkembangnya pengaruh India dalam masyarakat Indonesia kuna lazim dinamakan dengan zaman Hindu-Buddha atau zaman Klasik Indonesia. (2) aksara Pallava. bernama Samudra Pasai.Peran Penting Pernaskahan. Sekitar pertengahan abad ke-13 M.. Sebelum kedatangan Islam di wilayah-wilayah tersebut telah ada komunitas-komunitas membentuk sistem pemerintahan tradi113 . dan (3) sistem penghitungan tahun Saka.. Kemajuan arsitektur bangunan suci juga didasarkan pada kaidah keagamaan Hindu atau Buddha. bangunan pe-tirtha-an (bangunan air suci). Hubungan niaga yang ramai antara wilayah Indonesia barat dan timur turut mempercepat proses penyebaran agama Islam. Hanya tiga anasir budaya saja yang sebenarnya diterima dari kebudayaan India. bahkan niagawan itu sendiri adalah ulama penyebar Islam. Seraya itu di Pulau Jawa masih berdiri kerajaan Singhasari yang bercorak Hindu-Buddha. — Agus Aris Munandar perlu untuk menerima kebudayaan dari India oleh karena itu mereka menerimanya. dan wilayah Kalimantan Timur.

Religi yang berkembang pun secara hipotetis masih merupakan pemuliaan terhadap arwah nenek moyang. antara lain terlihat pada penggunaan atap tumpang pada masjid-masjid kuna yang sebelumnya dipergunakan untuk menaungi candi-candi zaman Majapahit. Dalam proses dinamika kebudayaan bentuk-bentuk akulturasi tersebut sebenarnya turut memperkaya khazanah peradaban yang ada. tempat merebaknya kebudayaan HinduBuddha yang relatif lama. diperkenalkannya sistem persenjataan dengan mesiu. Cukup banyak peradaban Nusantara yang mendapat pembaharuan dalam zaman awal perkembangan agama Islam. sehingga hampir-hampir menutupi agama Islam yang secara resmi dipeluk dalam masyarakat. tubuh makam (jirat) dan juga pada nisannya. misalnya digunakannya huruf Arab. Aspek kebudayaan hasil perpaduan tersebut dirasakan sangat dominan dalam masyarakat tertentu. dan terbentuknya kota-kota pelabuhan baru tempat bermukimnya masyarakat yang telah memeluk agama Islam. bunga teratai dan lainnya lagi pada kepurbakalaan Islam seperti pada bangunan cungkup makam. No. bentuk meander. 2009: 109 . dikenalnya tahun Hijriah. tanpa melalui sistem kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha sebagaimana halnya di Jawa. cara berpakaian yang hampir menutup seluruh tubuh. 114 . selain ajaran agama itu sendiri terdapat beberapa perolehan lainnya. Ornamenornamen masa Hindu-Buddha juga masih dipertahankan di kompleks keraton Islam di Jawa. Di beberapa wilayah terdapat pula masyarakat yang masih mempertahankan aspek-aspek kebudayaan Hindu-Buddha yang telah dipadukan dengan anasir dari agama Islam.132 sional yang masih bercorak tradisi perundagian.Jurnal Lektur Keagamaan. 7. maka terdapat fenomena adanya bentukbentuk akulturasi antara Islam dengan tradisi yang telah dikenal dalam agama Hindu-Buddha. Penggunaan ragam hias dari masa Hindu-Buddha seperti sulur-daun. tapak dara. tanpa adanya bentuk akulturasi dengan kebudayaan yang berkembang sebelumnya. Walaupun demikian di Jawa juga terdapat daerah-daerah yang keislamannya relatif menonjol dengan sedikitnya pengaruh dari tradisi lama. Dengan demikian perkembangan kebudayaannya dapat dinyatakan dari masa prasejarah protosejarah sejarah dengan masuknya Islam. Di beberapa wilayah Nusantara terdapat masyarakat yang sampai sekarang memeluk agama Islam secara taat. Lain halnya di Jawa. Wacana Bentuk akulturasi ketika agama Islam sudah berkembang di Jawa dengan tradisi yang telah dikenal sebelumnya. Vol. 1.

Di wilayah Jawa Tengah perkembangan Islam ditandai dengan berdirinya kerajaan Islam pertamanya. babad kisah sejarah dari sudut pandang tradisional.. Setelah pertumbuhan kebudayaan Hindu-Buddha menyusul kemudian masuk dan berkembangnya Islam yang berbeda-beda di tiap wilayah. tidak seluruh wilayah Indonesia mengalami perkembangan kebudayaan 115 . atau kalaupun ada hanya bersifat tipis saja. kerajaan. juga dikenal bentuk suluk yang berisikan ajaran-ajaran tasawuf. Dengan demikian proses akulturasi yang terjadi antara peradaban Eropa barat yang dibawa Belanda dengan kebudayaan daerah-daerah setempat tentunya berbeda dalam hal rentang waktu dan intensitasnya. salasilah. dan Arab. Hampir seluruh wilayah Nusantara mempunyai lapisan kebudayaan yang dipengaruhi oleh agama Islam. dan lain-lain. Jawa. Akibatnya dapat dipahami apabila di wilayah tertentu Indonesia pengaruh kebudayaan Eropa (Belanda) jauh lebih kentara. — Agus Aris Munandar Dalam bidang kesusastraan masa Islam juga cukup maju. Begitupun masuknya kekuatan kolonial Belanda di wilayahwilayah Indonesia tidak dalam periode yang sama. Di luar Jawa dikenal karya sastra dalam bentuk hikayat. dan lain-lain lagi. mungkin ditandai dengan berdirinya Kesultanan Cirebon. Masa pertumbuhan kerajaan Islam terentang antara abad ke13 hingga 17 M. lontara. masuk dan berkembangnya Islam terjadi lebih kemudian. dalam masa itu banyak kerajaan Islam di kepulauan Indonesia yang silih berganti tumbuh dan berkembang. tetapi Bali adalah daerah terakhir yang diduduki kekuatan Belanda setelah puputam Klungkung 1906 M. Di Jawa selain dikenal bentuk kidung (puisi karya etnis Jawa). tentang berdirinya suatu kota. tambo. Dengan demikian diskusi tentang pembabakan dalam sejarah kebudayaan Indonesia merupakan hal yang agak rumit. hanya beberapa saja yang dalam perkembangan kebudayaannya tidak mendapat pengaruh Islam.. peperangan. karya sastra-karya sastra umumnya ditulis dengan aksara Arab atau aksara Jawa dengan bahasa Melayu. Akan halnya di wilayah Jawa bagian barat. dan jatuhnya istana Pakuwan Pajajaran sebagai ibu kota kerajaan Sunda pada sekitar tahun 1579/1580 M.Peran Penting Pernaskahan. yaitu Demak (sekitar tahun 1500 M) yang menurut sumber tradisi merupakan penerus kerajaan Majapahit. ada daerah yang lebih dahulu berkenalan dengan orang-orang Belanda.

2. hal itu sangat mungkin terjadi karena: 1. Intensitas “pergaulan” yang relatif mendalam.132 dalam tahap-tahap yang sama. Sebagai contoh berikut diuraikan bagan perkembangan kebudayaan di Jawa. Perkembangan kebudayaan di Bali terlihat dalam bagan berikut: Bagan III : Perkembangan Kebudayaan di Bali Apabila menelisik data sejarah dan arkeologi. maka di Pulau Dewata masa proto-sejarahnya relatif lebih lama daripada yang berlangsung di Jawa. 7. Sedikitnya pengaruh kebudayaan luar. 3. 4. 2009: 109 . maka garis perkembangan kebudayaan di wilayah-wilayah Indonesia menjadi bervariasi. Pulau Bali telah disebut-sebut keberadaannya oleh berita Cina dinasti T’ang dan prasasti-prasasti di Jawa dalam abad ke-8. Terdapatnya etnis yang secara sadar menolak adanya pembaruan akibat pergaulan dengan kebudayaan luar tersebut. pengaruh itu terjadi baru awal abad ke-20 M. No. Masa “pergaulan” dengan kebudayaan luar berlangsung cukup lama. namun prasasti yang ditemukan di Bali sendiri baru 116 . Bagan II : Perkembangan Kebudayaan di Jawa Garis tersebut akan berbeda apabila dibandingkan dengan kebudayaan yang berkembang di Pulau Bali.Jurnal Lektur Keagamaan. walaupun terdapat beberapa daerah yang memiliki perkembangan yang hampir mirip. Vol. sebab Bali mempunyai perkembangan kebudayaan yang tidak banyak dipengaruhi anasir budaya luar. Berdasarkan adanya macam perbedaan tersebut. 1. Wilayah-wilayah tertentu mempunyai corak kebudayaan yang berbeda dari yang lainnya.

pada waktu yang bersamaan dengan tumbuh kembangnya kesultanan-kesultanan Islam.. secara ringkas dapat terlihat pada bagan berikut: Bagan IV : Perkembangan Kebudayaan di Wilayah Maluku Utara (Putuhena. Di wilayah Maluku utara perkembangan kebudayaannya pun berbeda pula dengan daerah lainnya.Peran Penting Pernaskahan. Mengwi dan lain-lain.. 1980) Masa protosejarah di wilayah Maluku utara agaknya berlangsung cukup lama (antara awal tarikh Masehi hingga sekitar abad ke14 M). — Agus Aris Munandar dijumpai dalam tahun 835 S (913 M) dalam masa pemerintahan Sri Kesari Warmadewa (Goris 1965: 9). Karangasem. sebab tercatat penguasa pertama di Ternate ialah Sultan Zainal Abidin (1486-1500 M). ketika daerah tersebut telah dikenal dalam catatan para pendatang dan sumber-sumber tertulis etnis lain di Indonesia. karena politik perdagangan cengkeh bangsa-bangsa barat yang berebutan untuk menguasai Maluku Utara. Walaupun demikian tahap perkembangan kebudayaan 117 . Sudah tentu wilayah-wilayah lainnya di Indonesia akan mempunyai tahapan perkembangan kebudayaan yang berbeda-beda pula. Buleleng. seperti Klungkung. di Bali berkembang kerajaan-kerajaan kecil dengan latar belakang Hindu-Bali. Masa kolonial lebih awal terjadi di daerah tersebut. hal itulah yang sebenarnya menjadi salah satu masalah yang harus diperhatikan manakala hendak disusun suatu historiografi tentang kebudayaan. tokoh inilah yang mengalami masa transisi dalam sistem pemerintahannya. Begitupun di Bali tidak pernah berdiri kerajaan Islam sebagaimana di Jawa atau Sulawesi selatan. semula dari sistem tradisional kolano ke bentuk kesultanan (Putuhena 1980: 268). Tahapan perkembangan kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha tidak dimiliki di wilayah Maluku Utara. Sementara itu bukti tertulis lokal yang menceritakan perihal daerah itu sendiri baru didapatkan pada paruh pertama abad ke-15 M.

Beberapa nilai yang dijadikan sudut pandang adalah: (1) nilai teori. diagram perkembangan kebudayaan di wilayah Indonesia sebelum masuknya pengaruh asing (baca: India) adalah sebagai berikut: Bagan V: Perkembangan Kebudayaan di Wilayah Indonesia sebelum Masuknya Pengaruh Asing Dalam diagram yang memperlihatkan masa prasejarah dan protosejarah tersebut terlihat nilai kuasa cukup rendah bersebrangan dengan nilai solidaritas yang tinggi.132 seperti itu harus dijadikan acuan kronologis demi untuk memudahkan penulisan dan agar pembicaraan tidak berkembang menjadi tidak terarah. Berdasarkan data yang ada.Jurnal Lektur Keagamaan. (4) nilai ekonomi. (2) nilai agama. pemimpin hanya melaksanakannya saja. Semua aspek kebudayaan yang ditelaah dalam suatu historiografi kebudayaan sudah sewajarnya apabila mengikuti kronologi yang dapat dianggap “seragam” sejak masa prasejarah hingga zaman Kemerdekaan. 1. No. Nilai teori (ilmu 118 . 2009: 109 . Vol. (5) nilai kuasa. Sebab kronologi seperti itu merupakan kerangka besar yang dapat dijadikan patokan untuk penulisan sejarah kebudayaan Indonesia secara garis besar. (3) nilai seni. Nilai-nilai Penting dalam Kebudayaan Indonesia Sutan Takdir Alisjahbana (1982) pernah mengemukakan beberapa diagram yang berkenaan dengan perkembangan kebudayaan di Indonesia dipandang dari segi nilai-nilai. Maklum masa itu rasa kebersamaan dari masyarakat manusia yang menghuni suatu permukiman sangat nyata. dan (6) nilai solidaritas. 7. keputusan diambil dengan musyawarah warga.

Gagasan berestetika sudah barangtentu telah mulai muncul. sebab data yang tersedianya pun berbeda pula. walaupun bentuk-bentuk awal berkesenian telah dirintis oleh masyarakat manusia. karena itu bentuk-bentuk kesenian awal yang mengandung anasir estetika telah dibuat. Diagram-diagram itu pada dasarnya hendak menunjukkan secara visual bahwa perkembangan kebudayaan di Indonesia berbeda pada tiap periode.. Nilai ekonomi pun rendah. — Agus Aris Munandar pengetahuan) masih rendah. Gambarannya sebagai berikut: Bagan VI: Perkembangan Kebudayaan di Wilayah Indonesia pada Masa Kearajaan-Kerajaan Islam Dalam Bagan VI diperlihatkan bahwa nilai seni tidak terlalu berkembang.. sedangkan nilai religi tinggi sebab masyarakat manusia masa itu kehidupannya masih diliputi oleh suasana religius. bahkan ada beberapa pembatasan berkesenian. sedangkan nilai ekonomi pada masa perkembangan Islam di Nusantara cukup tinggi. Diagram itu berbeda bentuknya ketika diterapkan dalam kebudayaan masa perkembangan dan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Asia Tenggara. Nusantara. yang ada adalah ekonomi barter yang setara. kebudayaan manusia berada dalam tahapan mitos. dan Cina selatan.Peran Penting Pernaskahan. berlabuh di berbagai bandar antara India. Banyak niagawan Islam yang berlalu-lalang membawa barang dagangan dalam kapal-kapal niaga mereka. karena manusia masa itu mungkin belum mengerti tentang konsep untung dan rugi. Oleh karena itu tiap periode dalam mempunyai 119 . Nilai seni belum begitu berkembang.

Data arkeologis seperti bangunan masjid. dan bangun penafsiran yang diharapkannya.akan ditemukan data yang dapat menyokong sumber tertulis dan data arkeologis. Vol. Sebab tidak semua macam data itu tersedia dalam bobot yang sama. 3. Wacana Dalam melakukan kajian jenis data ketiga. 2009: 109 . peribahasa dan lainnya. teka-teki. Data yang sudah sewajarnya diperhatikan dalam mengkaji arkeologi-religi masa perkembangan Islam di Indonesia dapat dibagi dalam tiga jenis. Tradisi lisan memang dipandang mutunya lebih rendah daripada kedua data lainnya. berita asing. walaupun demikian tetap perlu diperhatikan mengingat di dalamnya -jika dicermati dengan baik. Contoh data dalam bentuk tradisi lisan adalah dongeng.132 kekhasan dan fokus perhatian yang berbeda-beda apabila hendak dituangkan dalam suatu kajian ilmu masa lalu. baik sejarah ataupun arkeologi. mushalla. goa pertapaan. atap ketiga (puncak) dahulu hancur karena tersambar oleh tongkat Sunan Gunung Jati. Artefak secara sederhana dapat diberi batasan sebagai benda hasil karya manusia masa 120 . yaitu : 1. dan lain-lain. yaitu berita tradisi lisan seringkali diabaikan. Arkeologi Islam Indonesia Sebagai Arkeologi-Sejarah Dalam kajian arkeologi terdapat data utama yang penting. sisa istana. 1. 2. No.Jurnal Lektur Keagamaan. 7. berbagai ornamen dan sebagainya. kolam wudu. Misalnya di Cirebon terdapat legenda bahwa atap tumpang masjid Sang Cipta Rasa hanya dua. yaitu data kebendaan yang lazim disebut artefak. legenda. misalnya dalam prasasti (piagem) karya-karya sastra. dan dalam setiap perkembangan masyarakat yang mengusung kebudayaan sezaman. Tradisi lisan yang masih mungkin mengendap dan merupakan ingatan bersama (collective memory) dalam masyarakat baik di Jawa ataupun di Bali. pastinya akan berbeda-beda dalam setiap masa. menara. permainan rakyat. mitos. Para peneliti hendaknya mampu menggunakan ketiga macam data tersebut sesuai dengan tujuan studi. Data yang tersirat dalam berbagai sumber tertulis.

. Sebagaimana diketahui bahwa ilmu arkeologi terbagi dalam dua ranah besar. dan lain sebagainya. arsip. dan sudah barang tentu masa kolonial dan masa selanjutnya dalam era Republik Indonesia. berita asing dokumen. maka kajian arkeologi-sejarah selain bertumpu kepada kajian artefak. surat-surat kerajaan atau pribadi.Peran Penting Pernaskahan. Bagan VII: Unsur-Unsur Arkeologi Islam 121 . lalu untuk pemahaman lebih lanjut tentang sesuatu artefak. peta kuno. piagem. Kajian arkeologi-sejarah di Indonesia meliputi masa perkembangan agama Hindu-Buddha dan juga masa perkembangan Islam. dan bentuknya bermacam-macam sesuai dengan keperluan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh sebab itu. dipergunakanlah data dari berbagai sumber tertulis sezaman yang mungkin mendukung kajian terhadap artefak. Apabila kajian prasejarah sepenuhnya mempelajari artefak melalui berbagai metode untuk menelaah artefak. yaitu Arkeologi-Prasejarah dan Arkeologi-Sejarah (historical archaeology).. Walaupun telah ada bukti tertulis kajian arkeologi-sejarah tetap mendasarkan data utamanya kepada objekobjek kebendaan (artefak). Jadi pada prinsipnya kajian arkeologisejarah berada dalam periode ketika di suatu bangsa telah mengenal bukti-bukti tertulis. yaitu berbagai berita tertulis. dinamakan arkeologi sejarah yang berarti kajian arkeologi yang memanfaatkan juga sumber-sumber sejarah. naskah-naskah kuno. juga memanfaatkan data informasi sumber tertulis berbentuk prasasti. — Agus Aris Munandar lalu.

jadi bukannya data tertulis. No. kursi. pahatan stilasi. dan lain-lain. lambang. Heraldik: panjí-panji.Tata Kota & Penataan Istana a. Alat transportasi: palangka. d. Apabila data tertulis yang digarap terlebih dahulu. tenun. dan menyebar. e. 7. i. g. konsentris. Maksurah.Jurnal Lektur Keagamaan. Penataan istana yang linear. Senjata. d. rak. Peninggalan khazanah keislaman itu antara lain berupa: 1. Keramik asing ataupun lokal. j. Masjid kuno. g. Kepurbakalaan itulah yang merupakan data kajian utama arkeologi Islam. b. batik. Furniture: meja. h. terdiri dari: a. Hasil seni kriya: ukiran. c.132 Secara prinsipil terdapat beberapa kepurbakalaan masa silam yang dapat dihubungkan dengan periode perkembangan dan kerajaan-kerajaan Islam Nusantara. Gapura dan pagar keliling. sketsel. Mimbar kayu. Istana dan bangunan-bangunan di dalamnya. Menara masjid. i. Taman dan bangunan air. 3. Cungkup makam. Alun-alun sebagai pusat kota. Jalan sebagai acuan kota. Artefak bergerak. kereta. Vol. dipan. kentongan dan waditra lainnya. b. Makam dan kompleks makam. Hiasan bangunan. topeng. 2. untuk mengungkapkan pencapaian peradaban yang telah direngkuh oleh masyarakat pada masanya. e. c. 122 . Bedug. dan benda-benda penanda kebesaran raja/sultan. perahu. h. 1. Tugu peringatan. Dalam kajian arkeologi Islam banyak data yang berupa kebendaan. artefaktual merupakan data utama yang penting. f. f. wayang. c. 2009: 109 . b. Monumen terbagi menjadi: a. Sistem perbentengan.

Langgam arsitektur bangunan masjid. dan lain-lain 3... 3. Selain pemahaman umum tersebut. Masjid Sang Cipta Rasa di Cirebon mempunyai keistimewaan sebagai berikut: 1.Peran Penting Pernaskahan. menara. Dinding tembok hanya berfungsi sebagai penyekat antara ruang dalam dan ruang serambi masjid. — Agus Aris Munandar maka kajian itu bukan lagi arkeologi. menara. Kelompok pengguna yang memanfaatkan dan mengapresiasi bangunan-bangunan tersebut. masjid ini mempunyai empat Soko Guru 2. makam dan lainnya 2. Kajian secara umum terhadap kepurbakalaan monumental dari masa awal perkembangan Islam dan masa kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia dapat membawa kepada pemahaman akan: 1. (b) bahan. Pada dinding penyekat tersebut terdapat sembilan pintu rendah (tiga pintu di sisi utara. (c) sejarah dan peranannya dalam proses penyebaran Islam. terutama dalam hal latar belakang pembangunan monumen dan juga beberapa keistimewaannya. salah satu dari keempat soko gurunya merupakan tatal (serpihan kayu yang disatukan). istana. Demikianlah beberapa pemahaman umum yang mungkin dihasilkan dalam ranah arkeologi-sejarah. 4. dan selatan). terdapat relief yang menggambarkan sepasang “halilintar” pada daun pintu tengah masjid. gapura. maka sang peneliti harus mampu mengungkapkan kehadiran data arkeologis dalam konteks sejarah kebudayaan Islam di suatu daerah dan pada suatu masa tertentu. maka dapat diketahui tentang (a) bentuk arsitektur. tidak sebagai penopang atap. Bahan yang digunakan pada bangunan-bangunan tersebut. (d) keistimewaannya: antara lain adanya figur bulus (kura-kura) pada dinding belakang mihrab yang berbobot angka tahun 1401 Saka. 123 . apabila melakukan studi terhadap suatu monumen. melainkan sejarah atau filologi. terdapat pula pemahaman yang lebih khusus lagi. timur. Sebagaimana masjid kuno lainnya. adanya penggunaan tiang-tiang dengan gaya ukiran Majapahit pada serambi depan masjid. gapura. Misalnya kajian terhadap Masjid Demak. istana. Bentuk arsitektur masjid. Dalam telah arkeologi.

4. Kompleks makam Sunan Drajat di Gunung Muria. 4. Kompleks makam tokoh-tokoh yang berhubungan dengan penyebaran agama Islam (para wali) dan juga pemakaman keluarga raja. Terdapat beberapa keraton yang dikelilingi tembok benteng (Surasowan di Banten dan Kuto Besak di Palembang) Kajian terhadap pintu gerbang (gapura): (1) dapat diketahui bahwa gapura yang berbentuk Candi Bentar (di Cirebon disebut Lawang Seketeng) selalu terletak di halaman paling depan. Bangunan-bangunan penting terdapat di halaman paling belakang. Kasultanan di Yogjakarta dan Kasunanan di Surakarta). dan belakang. yaitu halaman depan. 4. tengah. Kompleks makam Sunan Gunung Jati di Gunung Sembung. Keraton-keraton luar Jawa umumnya berupa bangunan panggung dengan ukuran besar. bukit. Kompleks makam Sunan Giri di Gresik. mislanya bangunan persemayaman raja dan keluarganya dan bangunan induk keraton (Keraton Kasepuhan dan Kanoman di Cirebon. adapun gapura beratap (di Bali dinamakan Kori Agung. memilih dataran tinggi. Kompleks makam yang terletak di lokasi ketinggian antara lain adalah: 1. Kompleks makam Sunan Bayat di Klaten. 2. 2. Keraton umumnya terbagi ke dalam tiga penataan halaman. 124 . (2) Kedua bentuk gapura tersebut merupakan kelanjutan bentuk-bentuk pintu gerbang yang telah dikenal dalam zaman perkembangan kebudayaan Hindu-Buddha di Jawa. Semula di bagian depan pintu masjid yang terletak di sisi timur terdapat kolam untuk mengambil air wudlu. di Cirebon disebut Lawang Bledeg) terdapat di lingkungan dalam. Adapun kajian terhadap keraton di Jawa dapat diungkap adanya beberapa pengetahuan lain di luar pengetahuan utama. yaitu: 1. 1. 2009: 109 . Hal ini dapat diketahui berkat adanya kajian arkeologi Islam terhadap kompleks-kompleks makam yang masih ada hingga sekarang. Vol.132 3. antara lain. 7. 3. mengarah ke daerah inti istana atau kompleks makam. atau lereng pegunungan sebagai lokasinya.Jurnal Lektur Keagamaan. Pada bagian bingkai atas ceruk (ruang) mihrab terdapat ornamen yang merupakan stilasi dari bentuk kala-makara. 3. No.

perisai. oleh karena itu tokoh-tokoh yang telah wafat dimuliakan dalam kompleks makam yang terletak di ketinggian. Bentuk dan bahan artefak bergerak. — Agus Aris Munandar 5. Kompleks makam Sunan Sendang di Bojonegoro. Konsepsi itu agaknya terus bertahan ketika Islam berkembang di Tanah Jawa. namun nama kelompok pengrajinnya.. Telaah arkeologi terhadap senjata yang dipergunakan dalam masa perkembangan Islam menghasilkan kepada bentuk-bentuk senjata tajam yang pernah digunakan masyarakat. 2. bermata ganda (dwisula). keris juga dikenal di berbagai etnik lain di Nusantara dan telah banyak buku yang dihasilkan para peneliti dan peminat tentang keris. khususnya meriam. Selain keris senjata tajam lainnya misalnya tombak bermata tunggal. Asal gaya seni artefak tersebut. Kajian kepada kepurbakalaan yang berupa artefak bergerak akan membawa kepada pemahaman: 1. Penggunaan dalam masyarakat pendukungnya. 6. 3. 4. dan sebagainya Dalam masa perkembangan Islam di Indonesia. pedang. Konsep itu terus bertahan ketika agama HinduBuddha berkembang. Kompleks makam Imogiri di Yogjakarta. meriam Si Jagur di Museum Fatahillah. Pembuat artefak tersebut. Tentu saja di Jawa senjata yang paling populer adalah keris. Dalam zaman prasejarah ada penjelasan yang menyatakan bahwa tempat-tempat tinggi adalah lokasi yang layak bagi persemayaman arwah leluhur (Parahyangan. dan meriam Ki Amuk di Banten Lama. apa lagi diperkuat dengan kepercayaan bahwa tempat tinggi adalah simbol Gunung Mahameru yang dipuncaknya bersemayam para dewa dalam Swarloka. Maka dikenal adanya meriam buatan local seperti meriam Pancawura yang ada di keraton Kasunanan Solo. Secara konsepsi hal ini agaknya dapat dijelaskan bahwa adanya kesinambungan penghormatan kepada tempat-tempat tinggi yang dianggap sebagai tempat keramat. setidaknya bukan nama diri seniman. Studi terhadap berbagai meriam dari era kerajaan Islam di Nusantara di masa mendatang akan membawa kepada pengetahuan tentang sistem persenjataan berat 125 . Di-Hyang. senjata api telah pula digunakan. Iyang). bermata tiga (trisula). golok.Peran Penting Pernaskahan..

132 dari kerajaan-kerajaan itu. Keutuhan lima unsur kesenian dalam karya seni keislaman agaknya cukup diperhatikan oleh para penghasil karya seni keislaman di masa silam. 7. Bentuk seni kriya dalam masa per126 . No. sehingga ada keterkaitan antara seniman. baik seni rupa ataupun seni pertunjukan. gagasan. Demikian pula dalam mengekspresikan gagasan berkeseniannya seniman harus memilih bahan/media apa yang digunakan. Dalam bagan terlihat gagasan berada di bagian tengah. 2009: 109 .Jurnal Lektur Keagamaan. 1. media dan hasil karya seni. karena memang gagasan itu yang mendasari keempat unsur lainnya. misalnya antara seniman dan masyarakat harus berada dalam “satu bahasa dan satu gagasan” apabila hendak mengapresiasi suatu karya seni. jika tidak karya seni tidak mendapat penghargaan dalam masyarakat. jadi tidak ada satu unsurpun yang diabaikan. Salah satu bentuk seni rupa yang sederhana namun memerlukan kecermatan adalah seni kriya. Sebenarnya dalam kesenian dapat dinyatakan sebenarnya terdapat lima unsur yang saling berkaitan sebagai berikut: Bagan VIII: Unsur-Unsur Kesenian Kelima unsur itu saling berkaitan dan mengisi dalam menghasilkan suatu karya seni. Vol. terutama dalam sejarah perkembangan Islam di Nusantara. Adakah jumlah meriam yang dimiliki menandakan kebesaran dan kejayaan kerajaan tersebut? Dari masa perkembangan Islam di Jawa banyak dihasilkan karya seni.

— Agus Aris Munandar kembangan Islam banyak yang bertahan hingga sekarang. dan Jogjakarta. Dalam penataan itu pusat kota adalah tanah lapang (alun-alun). batik. Banten. Prototipe penataan kota Islam di Jawa itu sangat mungkin terjadi di kota Demak kuno (Adrisijanti M. Taman Sunyaragi. Wayang kulit itu lebih mirip kepada simbol-simbol yang tidak sesuai dengan figur manusia sebenarnya. sisi barat alun-alun berdiri masjid agung. Dari lingkup kesenian Islam masa Kesultanan Cirebon dikenal adanya bentuk-bentuk pahatan kayu yang mengambil figur dewa-dewa Hindu atau tokoh wayang yang telah sangat distilasi dengan gabungan bentuk mega mendung dan juga bentuk-bentuk wadasan (karang laut). bahkan sebagai iluminasi pada naskah-naskah Cirebon. contoh yang baik adalah figur-figur wayang kulit dan wayang golek Cepak gaya Cirebonan. kereta milik sultan. dan ceritanya pun telah direkaulang untuk keperluan Islamisasi.. lukisan kaca. Bentuk hiasan khas Cirebon yang merupakan gabungan antara motif awan mendung dan batu-batu karang tersebut dikenal meluas dalam bermacam karya seni rupa. dan penjara. Penataan kota-kota Islam di Jawa agaknya mempunyai pola yang telah baku. Mengenai tata kota dan penataan kompleks istana terdapat kajian tersendiri dalam bidang arkeologi Islam. Sebagaimana telah diketahui bahwa bentuk wayang kulit sekarang ini adalah gubahan Sunan Kali Jaga. Seni kriya lainnya yang sering menjadi data kajian arkeologi Islam adalah pahatan kayu baik dalam bentuk relief atau ornamen lainnya.. di sisi selatannya terdapat bangunan kedaton atau istana. dan di tepi bagian timur alun-alun berdirilah bangunan-bangunan peradilan seperti kejaksan. kemudian bangunan bagian tengah kompleks 127 . figur wayang kulit gaya lama dari era Majapahit telah “dirombak” dan distilirisasi untuk disesuaikan dengan kaidah kesenian Islam. Romli 2008: 19-20). Surakarta. Bangunan dalam kompleks istana umumnya digambarkan linear. dimulai dari sisi paling utara merupakan bangunan-bangunan penyongsong tamu. Bahkan kota-kota kabupaten di Jawa dalam masa kolonial pun banyak yang tetap mempertahankan pola penataan pusat kota demikian. bagian utara terdapat pasar tempat orang berniaga. Pola seperti ini terus diikuti oleh kota-kota kerajaan lainnya seperti Cirebon. dapat dijumpai sebagai komponen hiasan keraton.Peran Penting Pernaskahan.

Peranan data dari sumber tertulis dalam kajian arkeologi Islam dapat dijelaskan sebagai berikut: 128 . Pola penataan bangunan keraton memusat misalnya terdapat di kompleks keraton Surasowan dan keraton Kaibon. (b) Jawa. antara lain (a) Jawa. (e) dan berbagai bahasa daerah lainnya. Tujuan penulisan naskah-naskah Nusantara itu antara lain untuk: 1. Sajarah). Pola seperti ini terlihat di kompleks keraton Kasepuhan dan Kanoman Cirebon. (j) dan lainnya. Hikayat. Banten Lama. dan Pontianak. (d) Bugis. misalnya di Kutai Kertanegara. 1. (c) babad/sejarah tradisional (d) kisah wayang. Memberikan legitimasi tentang kuasa yang dimiliki oleh para raja. sultan. Pengungkapan ekspresi estetika para penggubahnya. begitupun juga mengenai isinya. Sebagai upaya untuk menyebarkan ajaran keagamaan Islam. 4. dan paling dalam adalah bangunan-bangunan utama dan tempat tinggal raja dan kerabatnya sehari-hari. Penyusunan kisah sejarah tradisional dengan berbagai sebutannya (Babad. Semua bangunan keraton dilingkungi tembok benteng dan semuanya terintegrasi dalam suatu area kedaton. (c) Lampung. bentuk dan ragamnya sangat beraneka. Adapun pola penataan menyebar atau menghadap ke sungai terjadi pada istana-istana kerajaan Islam yang terdapat di luar Jawa. (e) kisah binatang (f) kisah penglipur lara/jenaka (g) undang-undang. keraton Surakarta dan Yogjakarta dan juga di kompleks Keraton Sumenep di Madura. Bentuknya dalam prosa ataupun puisi dengan aturan prosodi tertentu. (e) dan lainnya. Isi yang dikandung tentang (a) ajaran agama Islam.132 yang merupakan pendukung aktivitas istana. 2009: 109 . Vol. 7. dan kaum kerabatnya. (b) Sunda. Dalam hal khazanah naskah Islam di Nusantara. (d) Bugis. (c) Melayu. 2. No. (h) obat-obatan. (b) tarikh nabi-nabi dan sahabatnya. 3. Bahasa juga beraneka. Berikut data penting tentang manuskrip masa Islam: Aksara yang digunakan antara lain: (a) Arab dan keturunannya. Mengingat dan mengakumulasi pengetahuan tertentu yang telah diketahui oleh penggubah atau masyarakat sekitarnya. Legenda. 5. Sambas. (i) uraian tentang mistik dan tasawuf. Tambo.Jurnal Lektur Keagamaan.

kecuali masjid agungnya yang masih berdiri megah hingga kini. jika kajian hanya menyandarkan diri kepada data arkeologi. maka pemahaman pun terbatas. namun kajian arkeologi hingga sekarang masih belum dapat membuktikan di mana lokasi tepatnya kedaton tersebut. Pada akhirnya dapat membuka interpretasi baru dan 129 . Temuan dari naskah dapat juga menjadi kerangka acuan yang harus dibuktikan oleh para arkeolog. Contoh: dapat dipahami bahwa di situs Trowulan peninggalan Majapahit terdapat kompleks pemakaman Islam Troloyo. Misalnya dari Babad Demak diuraikan bahwa di kota Kerajaan Demak terdapat pula kedaton tempat bersemayamnya para penguasa. (b) Memperluas pemahaman tentang kedudukan dan peranan artefak dalam masyarakat sezaman Merupakan suatu keniscayaan yang terjadi. (d) Memperkaya interpretasi untuk dapat mengembangkan historiografi Kajian arkeologi-sejarah atau pun sejarah diakhiri dengan tahap historiografi. (c) Data dari sumber tertulis dapat menjadi dasar penelitian dan kerangka acuan kajian arkeologi Islam Uraian dari sumber tertulis ada yang dapat dijadikan pegangan bagi kajian arkeologi di lapangan.. sebab menurut berita Cina dalam masa kejayaan Majapahit pun telah banyak orang-orang Islam yang bermukim dan berniaga di kota itu.. Dalam naskah Babad Tanah Jawi terdapat penjelasan bahwa salah seorang Raja Majapahit masa akhir telah menikah dengan putri Champa yang memeluk Islam. Peranan data dari sumber tertulis menjadi penting dalam tahap historiografi. menurut uraian penduduk adalah makam putri Champa. Contohnya dalam kajian arkeologi Islam ditemukan makam Islam kuno. dapat dibantu diterangi lewat kajian dari sumber tertulis. Dengan menelisik sumber-sumber tertulis maka diperoleh lagi pemahaman yang lebih luas tentang sesuatu artefak. — Agus Aris Munandar (a) Pendukung kajian terhadap data artefaktual Dalam hal ini data dari sumber tertulis tersebut dijadikan bahan untuk membantu “menjelaskan” artefak dari masa perkembangan Islam.Peran Penting Pernaskahan. tahapan ini sudah tentu memadukan data dari berbagai sumber. karena bagian-bagian yang berdasarkan telaah arkeologi masih gelap.

Akan tetapi kajian terhadap peranan dan fungsi monumen tersebut dalam masanya masih dapat diperbincangkan lagi. Dewasa ini terdapat kecenderungan masyarakat untuk memperbaiki monumen-monumen kuno Islam yang dipandang sudah lapuk atau rusak. makam. tetapi banyak temuan baru yang terus bermunculan hingga kini dan menunggu untuk dikaji. istana. oleh karena itu lumrah saja apabila mereka melakukan perbaikan-perbaikan. Epilog Kajian arkeologi Islam di Nusantara sudah pasti dapat dikembangkan lagi. Kecenderungan meluas justru terjadi “pemugaran” terhadap masjid-masjid tua oleh masyarakat penggunanya sendiri. 7.132 memperluas narasi historiografi untuk dapat dijadikan bahan diskusi lebih lanjut. bahkan telah dipugar secara baik. dan gapura. Dalam melakukan perbaikan atau pemugaran tersebut kerapkali kaidah keilmuan (ilmu arkeologi) diabaikan. bahkan pembangunan baru. yaitu (a) dead monument. No. 2009: 109 . Vol. makam. oleh karena itu hasilnya adalah bangunan baru sama sekali tanpa menyikan unsurunsur kunonya. mungkin terdapat makna lain yang mendalam dan bukan sekedar bangunan untuk melengkapi Taman Raja. Misalnya kajian data arkeologi terhadap monumen Gunongan yang dibangun dalam masa Kesultanan Aceh telah cukup memadai.Jurnal Lektur Keagamaan. 1. atau perlu dilakukan kajian ulang atau interpretasi baru. Hal ini sebenarnya merupakan permasalahan lama. penambahan. Masjid kuno. istana. Jadi apabila telah terjadi “pemugaran” terhadap suatu masjid kuno oleh masyarakat dengan mengabaikan 130 . para arkeolog telah membagi dua macam munumen. misalnya terhadap masjid-masjid kuno. Hal yang perlu dikemukakan kepada masyarakat pendukung living monument adalah prinsip pelestarian dan kepentingan ilmu pengetahuan yang juga harus dijaga. dan (b) living monument. Kedua prinsip itu jelas harus berjalan berdampingan dengan aspek pemanfaat dan aktualisasi zaman. Dalam pada itu data arkeologi Islam yang terdahulu pun banyak yang masih belum dikaji secara tuntas. dan monumen lainnya dari masa perkembangan Islam masih dipergunakan dan dirawat oleh para pendukungnya. memang para peneliti Belanda telah merintis kajian tersebut sejak awal abad ke-20 M.

2008. 1980. No. “Sejarah Agama Islam di Ternate”. S. Sejarah Kebudayaan Indonesia: Dilihat dari Segi Nilai-nilai. Udayana University. Yogjakarta: Tiara Wacana. Ancient History of Bali. sehingga bukti-bukti masa awal perkembangan Islam di wilayah Nusantara tidak terkikis habis oleh pembangunan dan modernisasi. hal itu terjadi karena ketidaktahuan masyarakat tentang studi arkeologi Islam. dalam Majalah Budaya Bende Vol. maka bangsa Indonesia telah melupakan jatidiri sejarah keislaman dan bukti-bukti kehadiran agama Islam pada awalnya. 1965. Jakarta: Bhratara. Spiro. 131 . Jilid VIII. Putuhena. Romli. Antropological Approaches to the Study of Religion. Alisjahbana. mungkin hal itu bukan akibat kesalahan masyarakat semata. R. M. Kuntowijoyo. Langkah-langkah di masa mendatang untuk memajukan kajian arkeologi Islam dan menjaga data khazanah artefak serta manuskrip keislaman lainnya. padahal dunia telah mengakui bahwa Indonesia adalah negara Islam dengan penduduk terbesar di dunia. dalam Michael Bunton (Penyunting). Halaman 85—126. Koentjaraningrat..Peran Penting Pernaskahan.4 No. Goris. Halaman 18—21. Takdir. Metodologi Sejarah. 1977. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. tidak hanya harus dilakukan oleh pemerintah dan pihak-pihak terkait. “Puncak-puncak Prestasi Kesultanan Demak dalam Bidang Budaya”. Perhatian dan apresiasi terhadap pengembangan arkeologi Islam itu harus juga ditularkan kepada warga masyarakat oleh siapapun yang berminat dalam arkeologi Islam. Jika saja hal itu terjadi. 1980.2. Maret. 1994. Melford E.[] Daftar Pustaka Adrisijanti M.. Jakarta: Sekar Budaya Nusantara & FIB UI. dalam Majalah Ilmu-Ilmu Sastra Indonesia (MISI). “Religion: Problems of Definition and Explanation”. 3: 263—76. — Agus Aris Munandar prinsip pelestarian dan ilmu pengetahuan. London: Tavistock Publications. Shaleh A.. Jakarta: Dian Rakyat. 1982. Denpasar: Faculty of Letters. Desember. Sejarah Teori Antropologi I.

No. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. 132 .Jurnal Lektur Keagamaan. 3. 2009: 109 .132 Tjandrasasmita. 7. Sepintas Mengenai Peninggalan Kepurbakalaan Islam di Pesisir Utara Jawa. 1. 1986. Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. Uka. Vol.

Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara Irmawati M-Johan Universitas Indonesia. terlebih dahulu akan dijelaskan apa yang menjadi perhatian arkeologi dan apa yang sebenarnya dikaji dalam penelitian-penelitian arkeologi. artefacts such as the coins. This article also explains the aspects that become the object of the study of archeology. some archeologists try to develop the study of Islamic sites as the branch or archeolgy through excavation. Bisides that. the building of palaces. nisan. efigrafi. akan dikemukakan pula berbagai penelitian yang telah dilakukan selama ini yang berkait dengan Islam di Nusantara. keraton (also palace) and ancient mosques as well as Islamic sites such as the Old Banten (Banten Lama) and Lobu Tua. keraton Pendahuluan Tujuan dari tulisan ini adalah menjelaskan bagaimana peran arkeologi dalam kajian Islam di Nusantara dan hal-hal apa saja yang menjadi kajian arkeologi. The material culture this writing means are the gravestones. In addition to that. porcelains and so on. mesjid kuno. situs. Selain itu. Sebagai ilmu. material culture. some researches that have been conducted on Islam in Indonesia will be presented too. Kata kunci: Arkeologi. arkeologi merupakan ilmu yang mempelajari manusia dan masyarakat masa lalu melalui tinggalan budaya materi 133 . Depok This article explains about how archeology has its own role in the study of Islam in Indonesia. Sebelum lebih jauh menyampaikan apa peran arkeologi dalam kajian Islam di Nusantara. This archeological study tries to dismantle the history of the past humankind by using material culture. palaces. Some researches that have ever been conducted are dealing with Islamic epigraphy such as ancient gravestones. the buildings of the mosque. ornamen.

2003: 456-552). Dalam usahanya memahami kehidupan manusia masa lalu. 7. 1. 1910: 596-600. Selain itu arkeologi juga merupakan bagian dari science karena menggunakan kaidah-kaidah ilmu pengetahuan dan metode yang scientific dalam menganalisis dari penggunaan carbon dating hingga studi tentang residu makanan (Renfrew & Bahn. 1912: 536-548). arkeologi mencoba menganalisa data yang diperoleh dari penelitiannya untuk merekonstruksi berbagai hal. Vol. 2009: 133 . artefak seperti. bangunan istana. Setelah itu.Di mulai pada tahun 1910 yang dilakukan oleh Van Ronkel yang membaca nisan kubur Malik Ibrahim di Gresik yang mencantumkan angka tahun wafatnya yaitu 1511 M (Ronkel. Material Culture Ada beberapa jenis material culture dari masa Islam yang menjadi perhatian para arkeolog Indonesia. yaitu sejarah manusia secara luas yang dimulai sejak tiga juta tahun yang lalu. mata uang. Tjandrasasmita. Moquette pada tahun 1912 mengkaji nisan kubur di Samudra Pasai dan nisan kubur Malik Ibrahim di Gresik yang dianggap memiliki persamaan dalam cara menuliskan huruf dan kalimat-kalimat dengan nisan Umar bin Ahmad al-Kazaruni di Cambay (Moquette. bangunan masjid. Selain itu. Colin Renfrew dan Paul Bahn (2003) menyebut arkeologi sebagai bentuk past-tense dari antropologi budaya yang juga mempelajari masyarakat dan kebudayaan manusia. 1977: 108). Epigrafi Kajian tentang nisan sudah sejak awal telah dilakukan terutama para ahli kebangsaaan Belanda. antara lain nisan-kubur. tembikar dan lain-lain. sistem sosial dan sistem simbol dan ideologi (Sharer & Ashmore. 2003: 12-3).146 (material culture) seperti bangunan-bangunan. Pendapatnya ditegaskan lagi 134 . No. Untuk itu kita dapat melihat selintas kajian-kajian apa yang telah dilakukan terhadap tinggalan budaya Islam. yaitu sistem teknologi dan lingkungan. ada pula yang mengembangkan kajian situs Islam sebagai kajian arkeologi melalui ekskavasi. alat-alat dan artefak lainnya. Karena mempelajari masa lalu maka arkeologi juga merupakan bagian dari sejarah.Jurnal Lektur Keagamaan. 1. Nisan Kubur a. Menurut Sharer & Ashmore (2003) ada tiga hal yang direkonstruksi oleh arkeologi.

1914: 73. Sultan Ali Ri’ayat Syah (987 H/1579 M). 1913.J Krom dan memberikan penafsiran baru terhadap nisan-nisan yang ada.P Moqutte pada tahun 1913 yaitu pada nisan Sultan Malik as-Salih yang mencantumkan angka tahun wafatnya pada tahun 696 H (1297 M ) dan nisan Sultan Malik az-Zahir putra Sultan Malik as-Salih yang wafat pada tahun 726 H (1326 M). Sumbangan penelitian Moquette yang penting adalah mengidentifikasikan bahwa Sultan Malik As-saleh adalah Sultan pertama di Samudra Pasai yang dikaitkan dengan Sejarah Melayu dan Hikayat Raja-Raja Pasai (Moquette.80). 1977: 111). dan menemukan makam raja-raja yang pernah memerintah Aceh seperti Sultan Ali Mughayat Syah yang wafat 936 H (1530 M). 1921: 391-399.Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan dalam penelitiannya pada tahun 1920 dan mengatakan bahwa nisannisan di Samudra Pasai dan Gersik berasal dari Cambay (Gujarat ) (Moquette. Paul Ravaisse (1925) telah melakukan kajian tentang makam Malik Ibrahim dengan melakukan pembacaan inskripsi yang terdapat pada nisan serta mencoba untuk “membaca” beberapa ornament lampu yang terdapat pada nisan tersebut dan mengatakannya bahwa ornament ini adalah symbol dari surat An-Nur (cahaya) (Ravaisse.C. 1977: 108). Pembacaan nisan-nisan yang terdapat di Samudra Pasai juga dilakukan oleh J. 1977: 111). Tjandrasasmita. Pada tahun 1919 Moquette menyampaikan hasil penelitiannya tentang makam tertua di Jawa yaitu Fatimah binti Maimun bin Hibatullah yang wafat 495 H (1102 M) berhuruf Kufi (Moquette. Penelitian pada tahun 1955 selanjutnya di lakukan L. Ia membaca ulang hasil pembacaan para ahli terdahulu N. Menurut hasil penelitiannya angka tahun yang tertua adalah 1296 S (1376 M) dan yang angka tahun termuda adalah 1533 S (1611 M). Sultan Ala’udin al-Khahar (979 H/1571 M). Damais tentang nisan-nisan di Troloyo. 1920: 44-47. Keberadaan makam-makam ini membuktikan bahwa pada masa Majapahit yaitu pada masa kejayaan Hayam Wuruk di Jawa sudah ada orang-orang Islam yang dimakamkan dalam lingkungan yang dekat dengan 135 .P Moquette yang lain adalah penelitiannya tahun 1914 ke Kuta-Raja Aceh. 1925: 668-703). Sumbangan J. Tjandrasasmita. dan lain-lain yang dikaitkan dengan sumber tertulis Kitab Bustanus-Salatin dan Tajus-Salatin (Moquette. Tjandrasasmita. Jawa Timur.

146 keraton. Vol.J.129). 2009: 133 . Keberadaan makam ini merupakan bukti bahwa di Barus telah ada pemukiman Islam (Ambary. 7. 1988: 174) Penelitian di Barus telah memperoleh data penting yaitu makam dari Tuhar Amisuri yang wafat pada 602 H (1203 M) memperlihatkan bahwa makam ini lebih tua dari makam Sultan Malik asSaleh (1297 M). Nisan ini merupakan data penting bahwa di Leran pada abad ke-11 sudah terdapat masyarakat muslim yang kemungkinan merupakan masyarakat pedagang yang diterima oleh masyarakat 136 . No. 1995: 223-289. Untuk itu Damais mengatakan bahwa harus dilakukan penelitian yang sistematis tentang makam-makam kuno yang ada di Trowulan agar dapat diperoleh data baru tentang penyebaran agama Islam di Jawa Timur (Damais. Penggunaan huruf Kufi hanya terdapat pada nisan-nisan yang diimport dari luar Nusantara. Berdasarkan penelitian epigrafi pada nisan-nisan kubur dapat diketahui bahwa Sultan Malik as-Saleh adalah Sultan pertama di Samudra Pasai dan atas dasar angka tahun pula maka dapat dikatakan bahwa Samudra Pasai adalah kerajaan Islam pertama. Hal ini merupakan data penting bagi perkembangan sejarah Islam di Indonesia (Ambary. catatan kaki no. Huruf yang lebih banyak dipakai di Nusantara adalah gaya sulus atau gaya naskh (Ambary. Nisan Fatimah binti Maimun bin Hibatullah yang ditulis dalam huruf Kufi ornamental yang bagian ujungnya dibentuk ikal di Leran telah dibaca oleh Paul Ravaisse memiliki penanggalan 475 H (1082 M). 1998: 57). Peneliti terdahulu antara lain N. satu di antaranya dapat langsung dibaca angka tahunnya yang berangka tahun 1290 S (1368 M). Menurut Damais ketika mengunjungi makam Putri Cempa di Trowulan ia menemukan dua makam lain yang berprasasti. Keengganan Krom menurut Damais mungkin juga karena Nagarakartagama tidak berbicara tentang agama baru tersebut. Lebih lanjut Damais mengatakan bahwa mengingat stratifikasi sosial pada masyarakat Jawa Kuno yang sangat hiarakis maka bukanlah tidak mungkin bahwa mereka adalah keluarga istana.Jurnal Lektur Keagamaan. 1. terutama dari Gujarat sebagaimana yang terdapat pada nisan Malik Ibrahim dan Fatimah binti Maimun. 1998: 174). Krom yang telah meneliti nisan Trowulan enggan mengakui bahwa sudah ada orang-orang Islam yang berhak dimakamkan dekat dengan lingkungan istana pada akhir abad ke 13 Saka di Jawa.

b. India. Banten dan Yakarta. Tipe Aceh (bucrane) misalnya selain terdapat di Pasai dan Aceh ditemukan juga di situs kubur di Barus dan beberapa situs lain di Sumatra Barat hingga Lampung. Naina Hisamuddin di Aceh. Atas dasar tipe –tipe tersebut ditelusuri persebarannya di Nusantara dan Asia Tenggara. Bintan. Dengan demikian hal ini dapat memperkuat bahwa nisan-nisan yang memiliki ornament ini memang bukan berasal dari Nusantara (Marwoto. Bentuk Nisan dan Ornamen Studi tentang nisan tidak hanya dilakukan berdasarkan unsur tulisan saja. Pada nisan-nisan di Troloyo telah dikaji pula ornamen medalion sinar Majapahit yang disinggung pertama kali oleh Knebel yag disebutnya sebagai Cap Matahari. kaki no. Yang menarik bahwa motif surya Majapahit ini ternyata 137 .Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan setempat yang berada di bawah kerajaan Hindu-Buddha sebelum Kadiri (Tjandrasasmita. Di Semenanjung Malaysia. lalu berkembang bentuk persegí panjang dan silindrik pada fase ke dua abad 17M-19M (Ambary. Medalion Sinar Majapahit mirip dengan halo pada patung-patung yang dianggap tokoh suci pada agama Kristen. Jawa Timur (terutama pantai utara). Bentuk lampu seperti itu adalah lampu-lampu dari dunia Islam di Timur Tengah. 68: 301). tipe Aceh. Berdasarkan pendapat Paul Ravaisse tentang nisan Leran dari Fatimah binti Maimun bahwa ornamen lampu yang tergantung di dalam mihrab adalah simbol dari Surah An-Nur. Di dalam peninggalan budaya materi di Nusantara motif atau jenis lampu yang tergantung dalam mihrab tidak pernah dikenal.243. nisan papan Tinggi di Barus hampir semua memiliki ornamen ini. bentuk nisan Aceh ditemukan di Kalimantan Selatan. tetapi unsur bentuk dan juga ornamennya. Persia. Sulawesi Selatan. Setelah abad ke 17. 1993: 278). Hasan Muarif Ambary (1984) dalam disertasinya telah melakukan penelitian tentang bentuk-bentuk nisan di Nusantara dan menggolongkannya menjadi 4 tipe yaitu tipe Demak-Troloyo.. 1998: 239-241). cat. 1996: 1-8 ). 1995: 242. tipe Bugis Macasar dan tipe Ternate. Menurut Damais. Perkembangannya dimulai dari bentuk bucrane pada abad 16-17 M. Lingkaran cahaya ini di Jawa dan Bali melingkari seluruh tubuh tokoh atau benda yang dianggap memiliki sifat supernatural (Damais. maka dilakukan penelitian bahwa nisan-nisan impor seperti Malik Ibrahim.

Sumatera Barat. 2009: 133 . tesis lima buah dan satu buah disertasi. Tjandrasasmita 1977: 115). No. Berdasarkan penelitianya seni ukir dan seni bangunan di Kudus merupakan seni bangunan Jawa-Hindu Majapahit (Jasper 1922: 3-30. Steinmann pada tahun 1934 melakukan penelitian ornamen yang terdapat pada masjid Mantingan dan makam Ratu Kalinyamat. 7. Tjandrasasmita 1977: 111). Jasinga. Vol. Samudra Pasai. Selain itu ia melakukan penelitian pola-pola ornamennya dan dibandingkan dengan ornamen di candi-candi (Steinmann 1934: 89-97. Menara di masjid Kudus bukan menara asalnya melainkan bagunan dari jaman Hindu yang digunakan kembali sebagai tempat kulkul. Palembang. penelitian tentang jenis tanaman sangat penting untuk mengetahui keragaman tumbuhan yang ada pada masa itu. oleh N. Troloyo. sampai ke Madura bahkan saat ini Muhammadiah juga menggunakan lambang surya Majapahit. Penelitian tentang menara dan masjid kuno di Indonesia dilakukan oleh Dr.J Krom yaitu tentang menara Kudus yang diperkirakan berasal dari abad ke 16M dan dianggap merupakan gaya bangunan peralihan dari gaya bangunan Majapahit yang mengingatkan pada bangunan candi (Krom 1920: 294-295. Tjandrasasmita. Kalimantan Timur. Menurutnya. 2. G. dan telah menghasilkan sembilan buah skripsi Program Studi Arkeologi S1. Penelitian dalam bentuk skripsi tentang bentuk-bentuk nisan dan ornamen telah dilakukan di berbagai situs seperti Jakarta. Tentang bangunan masjid kuno ia menyampaikan bahwa bentuknya mengikuti bentuk arsitektur lokal dengan beberapa ciri 138 .E Jasper pada tahun 1922 yang mengkhususkan pada penelitian seni ukir dan seni bangunan.Jurnal Lektur Keagamaan.146 penggunaannya terus berlanjut pada masa-masa selanjutnya sebagaimana kita temukan pada nisan-nisan di sepanjang pantai utara Jawa. Masjid Kajian tentang masjid kuno di Indonesia khususnya di Jawa mulai dilakukan pada tahun 1920. Brunai. 1977: 112). Setelah itu penelitian di Kudus di lanjutkan oleh J.F Pijper pada tahun 1947 dan Pijper menyampaikan bahwa masjid kuno di Indonesia pada umumnya tidak memiliki menara. Cirebon. 1. Blora.

Sutjipto lalu mengajukan bangunan mandapa atau pendapa yang menjadi asal mula bentuk masjid kuno (Wiryosuparto 1961-62:7-8). W. 1947: 274-283). Tjandrasasmita 1977:112).R. bentuk denah masjid Taluk adalah segi empat dan dikelilingi air sedangkan masjid Malabar denahnya persegipanjang tidak dikelilingi air. di sisi kanan mihrab terdapat mimbar yang umumnya berbentuk seperti kursi dan memiliki anak tangga. Tentang asal usul bangunan masjid kuno telah dibahas oleh beberapa ahli seperti H. Ornamen pada bagian atas mimbar 139 .dan Medan. Cirebon. D. Pendapat Stutterheim disangkal oleh Prof Sutjipto Wiryosuparto. Selanjutnya jika bagunan tempat menyambung ayam sebagai bangunan yang semiprofan tidak mungkin dijadikan dasar pembuatan masjid dan yang lainnya adalah tidak memiliki loteng. Atas dasar penelitian terhadap bangunan masjid kuno di Indonesia Maka dapat diketahui pola-pola bangunan seperti denah masjid. Masjid ini dibangun dengan bentuk yang baru pada tanggal 9 Oktober 1879 yang dibuat oleh seorang arsitek Belanda bernama Bruins (Kreemer 1920-21: 69-87. Sumenep. 1947-48: 289).Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan seperti denah segi empat dan pejal. Penelitian di Aceh dilakukan oleh J Kreemer di Masjid Raya di Kutaraja yang menurut penelitiannya bahwa Masjid Raya itu asalnya bernama masjid Bait ar-Rahman yang didirikan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636M). Banyumas. Pada sisi barat laut terdapat mihrab yang umumnya menjadi tempat yang paling raya ornamennya. arah hadap dan pola keletakan untuk masjid Istana berada di sebelah barat alun-alun. atapnya bertingkat-tingkat (Pijper. Jakarta. Manonjaya. Padang. Banten. Pada perkembangan selanjutnya studi tentang masjid kuno terus dilakukan baik dalam bentuk paper ataupun skripsi kurang lebih berjumlah 23 buah di Progam studi Arkeologi UI yang mencakup masjid kuno di Palembang. jadi berbeda dan yang sama hanya pada bentuk atap. Taluk.J de Graaf yang mengatakan bahwa masjid kuno di Jawa mendapat pengaruh bentuk masjid dari Sumatera yaitu masjid Taluk di Sumatera Barat yang merupakan prototipo masjid Malabar (Graaf.F Stutterheim mengajukan pendapatnya bahwa masjid kuno di Indonesia mendapat pengaruh dari bangunan tempat menyambung ayam di Bali (Stutterheim 1935: 135-140).

Keraton Keraton atau istana merupakan pusat kota dari sebuah kerajaan. Vol. antefiks dan binatang yang distilir seperti di masjid Mantingan. sulur-suluran. ular. Pada masjid-masjid tertentu selain ada tempat bedug juga terdapat makam-makam raja atau tokoh-tokoh penting seperti Masjid Demak dan Masjid Banten. 1.Jurnal Lektur Keagamaan. Bentuk bangunan masjid yang telah mengikuti gaya bangunan Timur Tengah dengan kubah di tengahnya adalah masjid-masjid yang kemudian dibanguan oleh Belanda seperti masjid Raya Aceh dan Masjid Agung Medan. Keraton Samudera Pasai besar kemungkinan menghadap ke utara yaitu menghadap ke Selat Malaka. Tata letak keraton-keraton Islam di Jawa pada umumnya mengarah ke utara. Keraton Banda Aceh dari masa Sultan Iskandar Muda abad ke 17 M. Atap masjid merupakan atap tumpang yang bertingkat-tingkat dalam jumlah yang ganjil. Ornamen-ornamen makhluk hidup yang selama ini dianggap tidak boleh dilakukan tidak sepenuhnya dihindari sebagaimana terdapat pada Masjid Trusmi di Cirebon yang mengambarkan berbagai bentuk binatang seperti binatang anjing. Penelitian mengenai ornamen masjid memperlihatkan bahwa masih banyak digunakan motif-motif yang berasal dari masa sebelum Islam seperti kala makara. Keraton Surosowan di Banten. 7. 3. Ornamen pada masjid-masjid di luar Jawa memperlihatkan bahwa ornamen banyak menggunakan motif-motif lokal sehingga dapat dilakukan studi yang mendalam tentang motif-motif lokal dari seluruh masjid Indonesia. seperti Keraton Kasepuhan dan Kanoman di Cirebon. Motif Interlace ini bila kita amati menyebar sampai ke Madura terutama pada makammakam kuno (Marwoto 2003:152-312).146 biasanya motif kala terkadang dengan makara. Demikian pula dengan keratonkeraton dari abad ke 18 seperti Yogyakarta dan Surakarta di arahkan ke utara. No. kambing pada soko guru dan Masjid Demak dengan tempelan porselin yang memiliki berbagai motif binatang seperti anjing dan burung dan kura-kura. 2009: 133 . Selain penggunaan motifmotif dari masa sebelum Islam dan berbagai motif binatang ternyata ditemukan pula penggunaan motif-motif Islam seperti Interlace atau yang dikenal dengan Arabesque terdapat di Masjid Sang Ciptarasa Cirebon) dan Masjid Mantingan. 140 .

termasuk di dalamnya situs Kraton Surosowan. Situs Kraton Kaibon. Maimun dan Sumenep. Situs-Situs Islam a. Penelitian tentang makna ruang pada situs keraton Kasepuhan yang melihat antara penempatan ruang bagi yang hidup dan yang mati memperlihatkan bahwa Cirebon memisahkan dengan tegas ruang antara yang hidup (di Keraton) dan yang mati (di Gunung Jati). Situs Karang Antu. 1984: 221). Situs Kadiri. Berdasarkan penelitian tentang keraton maka dapat diketahui pola tata letak keraton. Banten lama berdasarkan sumber sejarah adalah pusat kota dan bandar utama Kerajaan Banten yang berkembang sejak abad ke 16 hingga abad ke 19 M. Situs Pamarican. meliputi Keraton Kasepuhan. Hasil penelitian 141 . Banten Lama Penelitian situs-situs Islam telah dilakukan di beberapa tempat seperti: Kawasan Banten Lama. Situs Jembatan Rante. jadi hampir ke utara (Poesponegoro 1984:219). Selain itu juga memperlihatkan pembagian ruang antara yang profan dan yang sakral (Johan. Kompleks bangunan keraton pada umumnya memiliki tembok keliling yang memisahkan keraton dari bangunan lainnya. Makasar dan Mataram (lihat Untoro. Situs Pabean. Kanoman. Penelitian tentang Keraton dalam bentuk skripsi di program studi S1 Arkeologi ada 11 buah. dan lain-lain.Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan berdasarkan berita asing diarahkan ke barat Laut. Samudra Pasai. 4. Banten juga berperan sebagai tempat perdagangan antar bangsa. 2007: 9). bagian-bagian keraton dan fungsinya dan ornamen yang digunakan di keraton. Di Keraton Aceh. Untuk itu Sartono Kartodirdjo mengkategorikan Banten sebagai emporium seperti juga Aceh. Banten. Kota Banten tumbuh sebagai pusat dagang dengan aneka ragam komoditas perdagangan yang didatangkan dari berbagai wilayah dan diperdagangkan di Banten. Yogyakarta. Bagian yang merupakan tempat tinggal raja biasa disebut “dalem”. Mataram dan Samboapu sebagaimana diberitakan oleh sumber tulis asing susunan halaman untuk sampai ke bagian “dalem” adalah tiga yang mengingatkan akan bangunan halaman candi dan pura di Bali (Poesponegoro. 2007: 238-246). Cirebon.

biru kobalt. Aden. sebagian di udara terbuka sebagian dalam cetakan. Lobu Tua Pada tahun 1995 dan 1996 dilakukan penggalian di Situs Lobu Tua dekat Barus oleh tim Indonesia Perancis dan ditemukan 600 pecahan tembikar berglasir asal Timur Dekat yang dikenal dengan “later Sgraffiato ware”. Bambhore dan pesisir Timur Afrika. b. Pola hiasannya buga-bunga. 1. Selain itu memugar sisa-sisa Kraton Surosowan. Kelompok ini Sangat berperan aktif di wilayah Teluk Persia. 7. termasuk Makran. Sumber tulisan kuno dari Timur Dekat menyebut nama Barus serta adanya pedagang dari Oman di Nusantara sekurang-kurangnya sejak abad ke 10 M. Banten lama adalah satu-satunya kawasan perkotaan Islam yang tersisa hingga saat ini. khususnya di Basrah dan di pesisir lautan Hindia. kuning pucat dan biru pucat. 2002: 157-168). 2009: 133 . hijau tua. Warna kaca sebagian besar berwarna hijau pucat. mata uang VOC. Selain temuan tembikar ditemukan pula artefak kaca yang kebanyakan dibuat dengan tehnik tiup. Sohar (Oman) dan Kilwa (Tanzania) dapat dikaitkan dengan adanya kelompok perdagangan dari Oman yang bernama Ibadi. berslip terang berhiaskan goresan dan glasirnya percikan-percikan. Benteng Spelwijk.Jurnal Lektur Keagamaan. merah ungu dan turkuas. Jenis “later Sgarffiato ware” Lobu Tua memiliki persamaan dengan temuan sejenis di Makran (Iran). Bukan merupakan kaca yang berkwalitas bagus tetapi lebih merupakan barang sehari-hari. geometris abstrak atau kaligrafi dengan huruf kufi. Kraton Kaibon.146 arkeologi di Banten yang dimulai pada tahun1977 antara lain adalah ditemukannya situs industri logam dan industri tembikar serta temuan barang-barang perdagangan seperti keramik Asing dari berbagai negara. mata uang cina. Di duga bahwa beberapa temuan menunjukan dua daerah asal yaitu Iran dan 142 . Ciri-cirinya adalah bahannya berwarna merah jambu. penelitian arkeologis banyak menghadapi kendala terutama dengan makin penuhnya penduduk yang menempati kawasan sehingga tidak lagi dapat dikendalikan. Keadaan keraton Surosowan dan Kaibon yang telah dipugar sekarang terbengkalai. No. Keberadaan tembikar Sgraffiato di Lobu Tua membuktikan bahwa Labo Tua termasuk dalam jaringan perdagangan dari Teluk Persia (Perret. Vol. Menara Pacinan (Ambary 1998:124). coklat.

Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan Mesopotamia. Barang-barang dari Laut Tengah nampaknya diimpor sejak awal abad 11 M. maka dapat dikemukakan beberapa bentuk utuhnya yaitu: Karaf (botol kaca dengan bibir bulat datar) dari abad 9-10 M. 94 tahun lebih tua dari Malik as-Saleh di Pasai. Penutup Beberapa contoh penelitian arkeologi sebagaimana diuraikan di atas diharapkan dapat memberikan gambaran singkat bagaimana arkeologi memberikan makna pada material culture Islam sebagai usaha untuk memahami kehidupan dan perilaku manusia. Sebagaimana penemuan angka tahun Tuhar Amisuri di Barus dengan angka tahun wafatnya 1203 M. serta bagian timur Laut Tengah. piala silinder diduga berasal dari Iran abad 9-10 M. fungsinya belum jelas. 143 . 2002: 179-195). Kaca berhias garis yang diukir diduga dari Iran abad ke 10 dan awal abad 11 M (Guillot. Penelitian nisan-nisan kuna di pantai utara Jawa sebagai tempat awal Islamisasi belum secara menyeluruh dilakukan. Selain itu berdasarkan angka tahun yang terdapat pada nisan dapat pula diketahui bilamana orang-orang Islam sudah datang dan menetap di Nusantara. Setelah direkonstruksi artefak kaca. Temuan angka tahun ini bila dikaitkan dengan penelitian arkeologi di Lobu Tua Barus berupa artefak kaca dan tembikar yang diduga berasal dari abad ke 9-10 merupakan hal yang tidak mengejutkan. Serahi kecil (kaca merah jingga berhias gaya bulu) berasal dari Mesir abad 11 dan awal 12 M. Seperti yang dikatakan Damais bahwa dari 1500 abkalts yang ada di Direktorat Sejarah dan Purbakala baru terbaca 800 abklats. Walaupun demikian penelitian tentang nisan-nisan kuno masih menyisakan banyak hal yang perlu dilakukan. Tempayan Miniatur jenis Serahi dari Timur Tengah. Demikian pula dengan studi tentang masjid kuno dan keraton. Bagaimana perkembangan gaya tulisan dan ornamen dalam nisan-nisan kunopun belum pernah dilakukan dalam skala yang luas. Artinya masih 700 abkltas yang belum terbaca. penelitian masih dilakukan secara parsial. Contoh lain tentang penelitian epigrafi Islam yang sudah dilakukan juga mengungkap cukup banyak hal penting tentang raja-raja yang memerintah di kerjaan-kerajaan yang bercorak Islam yang selama ini hanya diketahui atas dasar sumber tertulis berupa naskah ataupun sebaliknya.

2 Oktober. 1. Irmawati.Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia. 1988. Marwoto. Cipanas ------. Ciputat : P. Kreemer. “Het Stadje Koedoes en zijn oude Kunst “NION.Claude& Sonny Ch. Krom.. 1922.tweeman delijks Tijdschrift Gewijd aan het Indonesisch Cultuurgebied.1e Jrg. 1955.1. Jasper.Hal: 238-246. 2009: 133 . Inleideng tot de Hindoe-Javaansce Kunst” S’Gravenhage. hal:208-214 144 . 1920-1921. 2002.Wibisono.L.[] Daftar Pustaka Ambary. Irmawati M.NV Uirgeverij W.19201921.J.P. J. Epigrafi dan Sejarah Nusantara.146 Seiring dengan perkembangan jaman maka kajian-kajian arkeologi Islam tentunya harus diperluas dengan mengembangkan isue-isue yang relevan dengan masa kini dan menggunakan pendekatan atau teori-teori baru dan yang lebih penting untuk dilakukan adalah menyampaikan hasil-hasil penelitian tentang Islam di Indonesia kepada masyarakat luas.Yayasan Obor.294-295. “De Groote Moskee te Koeta-Radja” NION. 1920.J. Seni Dekoratif pada Bangunan di Pantai Utara Jawa Abad 15-17. Johan.C. H. Temuan Kaca di Lobu Tua:Tinjauan Awal.T Logos Wacana Ilmu Damais.Hal:179-214. Boundedness dan Polusi pada Situs Islam Cirebon Abad XVI-XVIII.hal:3-30. 2007. “Ornamen Mihrab dan Lampu pada beberapa Makam.N. No.2003.E. ed.C Damais. hal. Jakarta: EFEO. Statu Masalah Penenda KeIslaman. 7. Pilihan Karya L. Disertasi Program Pascasarjana FIB-UI. Sebuah Tinjauan Simbolik”. 1947-1949.1912. “De Oorsprong der Javaanse Moskee” Indonesie.hal:291299 Guillot.vifde jaargang.Jurnal Lektur Keagamaan. Menemukan Peradaban. “De Datum op den grafsteen van Malik Ibrahim te Gresik” TBG 54. Wacana vol9 no. 1912.J. PIA VII. 1996.van Hoeve-s’ Gravenhage. Jakarta:EFEO De Graaf. afl. Hasan Mu’arif. Vol.Claude Guillot.7e jaargang. hal:69-87. Lobu Tua Sejarah Awal Barus.Pusat Penelitian Arkeologi.J. Moquete.1922.

New York: Mc Graw Hill Company Inc. Uka.hal:157-178. “De Islam en Zijn komst in den Archipel”. 1912.komunitas Bambu. 1925. Sejarah Nasional Indonesia.Method and Practice. 1961. Wirjosuparto. 1912. 2007. Ph. Archaeology Discoveryng Our Past. Perre. “Bij de afbeelding van het graf van Malik Ibrahim te Gresik”. Paul.80. 700 Tahun Majapahit Statu Bunga Rampai. TBG. 1914. Depbudpar. 2003. Fadjar.UI. Heriyanti Ongkodharmo.W. Jakarta: FIB. Robert&Wendy Ashmore. Marwati Djuned. O. 1910. Uka. GrooningenBatavia.hal:596-600 Sharer. ed.F. 54. “De Grafsteen te Pase en Grissee vergeleken met dergelijke Monumenten uit Hindoestan” TBG. hal:73.4. 1984. Kapitalisme Pribumi Awal. Kesultanan Banten 1522-1684 Kajian Arkeologi Ekonomi. Jakarta: Balai Pustaka Ravaisse.2 bijlage.1910. Sutjipto.P.135-140.Yayasan Obor Poesponegoro. 21. tahun III. Deel LXI Renfrew. Colin& Paul Bahn.van. 2003. 1993.Pusat Penelitian Arkeologi. Riwayat Penyelidikan Kepurbakalaan Islam di Indonesia.S. Jilid III. 50 tahun Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional. kwt. 1977. “Sejarah Pertumbuhan Bangunan Mesjid Indonesia”. Tjandrasasmita. hal. hal: 7-8 145 .Tinjauan Awal. Hal:668-703. Jakarta: Puslit Arkenas Tjandrasasmita. kwt. “Verslag van mijn voorlopig onderzoek deer Mohammedaansche oudheden in Aceh en Onderhoogrigheden” OV. L’inscription coufique de Leran a’ Java. 1914. no.Claude Guillot. Daniel & Sugeng Riyanto. 2002.52. J. J. Majapahit dan kedatangan Islam Serta Prosesnya. TBG 1925. Tembikar Berslip. Archaeology:Theories. Surabaya: CV Bunga Rampai Untoro.hal:275-290. Jakarta: EFEO. 1935.Berhiaskan goresa dan Berglasir Percikan-Percikan Asal Timur Dekat di Lobu Tua.86 Moquete.Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan Moquete.1912 hal:536-548 OV.Lobu Tua Sejarah Awal Barus. Stutterheim.P. hal:107-135. Thames & Hudson Ronkel. hal.

com Gambar 2: Pintu gerbang timur ‘Benteng Keraton Surosowan’ Sumber: http://www. 2009: 133 . Sumber: http://cetak.org/ 146 . No.kompas. Vol.Jurnal Lektur Keagamaan.146 Lampiran: Gambar 1: Sisa reruntuhan Keraton Surosowan. Keraton seluas lebih kurang 3. 7. 1.5 hektar itu merupakan kediaman para sultan Banten yang dibangun sekitar tahun 1552.iai-banten.

The core of the network was the degree to which a number of the famous `ulam± came to learn and to teach in the Haramayn. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse. They handed down this nature and their religious sciences to the later generation of `ulam± of 147 .H. sebagian besar dari karyanya tidak tersimpan di satu tempat. bahkan sulit ditemukan. Jakarta Menurut Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur Agama (Skr. in jurisprudence. fatwa.H.H. and in mysticism. K. Ahmad Sanusi. Dalam kesulitan itu. Puslitbang Lektur Keagamaan) Badan Litban dan Diklat. dan apa saja kiranya buku-buku yang telah beliau tulis. Karena itu. They developed the nature of freedom of joining differences in theology..K. Sukabumi..H. In the second half of the seventeenth century. these Indonesian `ulam±--in particular from Malay--were involved in the network.H. Ahmad Sanusi itu. Haramain. Ahmad Sanusi telah menulis selama hidupnya sekitar 480 karya tulis. penulis telah berhasil mencari dan menemukan kurang lebih seratus dua puluh dua (122) karya K. Departmen Agama Republik Indonesia (1986). syariah Islam. Introduction The network of `ulam± (Muslim learned men) in Haramayn (Mecca and Medina) has been starting to exist since the sixteenth century. Islam dan negara. and His Work Collection Usep Abdul Matin UIN Syarif Hidayatullah. They came from the various corners of the Muslim world. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . tulisan ini bertujuan untuk berbagi pendadapat tentang siapa K. Namun. — Usep Abdul Matin K. Kata kunci: Ahmad Sanusi.

pp. I am grateful to Mr. The author is still alive. where he returned to his home town. 1900-1942. (Majalengka: Pengurus Besar “Persatuan Ummat Islam” Majlis Penyiaran dan Da`wah. 1998). p. included the intellectual currents of the Arabic thought in the liberal age (1798 – 1939). and 7. Ahmad Sanusi. 2001 in his house. pp.2 such as those of Jamaluddin al-Afghani. in Proces Verbal. Muhammad Abduh. Yosep Aspat Alamsyah. 4 About Sanusi`s speech of Syarekat Islam. 2 M. Introd. 148-149. Ahmad Sanusi. Later on. S. Here was he appointed to be the adviser of the Party of Syarekat Islam. (Boenoet: “Pemerintah” Soekaboemi. went to Mecca together with his wife to perform hajj (pilgrimage) and to deepen his Islamic studies under the `ulam± from Malay. said Josep. In 1915. pp.H. second edition. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . West Java. 1999).3 These facts signify Sanusi’s involvement in the Southeast Asian Connection. Studiegids Islamologie 1998/1999.1 K. During his stay in Mecca. 1991). pp. The religious sciences. like physics. He told me that in December 22. and was the secretary to K. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Siapa?: Lukisan tentang Pemimpin-pemimpin.H. 3. Rasyid Ridho. Para Pengemban Amanah: Kyai dan Ulama dalam Perubahan Sosial–Politik di Priangan c. 1 148 .H.a. he became a member of the Party of Syarekat Islam. when Sanusi was still in the Haramayn.K. which is available in the KITLV Leiden University. Sipahoetar. an unpublished thesis. Cantayan in Sukabumi.I. by Taufik Abdullah. 74-75.. 19 Februari 1940). KH Ahmad Sanusi dan Perjoangannya. this later group started establishing a Southeast Asian Connection in the beginning of the nineteenth century. precisely 1910. Sanusi went back to his home country.. see his speech translated into Dutch entitled “Dit Boek Nahratoe`ddhargam (De Gebiedende Leeuwenstem) Dienende tot Wering van de Aanvallen Veragtelijke Menschen Gericht tegen de S.” . Indonesia. Wanta. (Amsterdam: Vrije Universiteit. Ahmad Sanusi’s Religio-Intellectual Discourse In the beginning of the twentieth century.4 Azyumardi Azra. for lending me this book. Gunung Jaya-Sukabumi. — Usep Abdul Matin Indonesia. K. 1991). which Sanusi studied. 3 See Mohammad Iskandar. (Leiden: Rijk Universiteit Leiden. a santri (religious student) from Sukabumi. about the Arabic thought in the liberal age dated from 1798 to 1939.H. 58-59. see Rijk Universiteit Leiden. 90-91. Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana & Kekuasaan. he studied not only the religious sciences but the general ones. In 1913. 54.

His students in this pesantren came not only from Sukabumi but also from outside of West Java. 2001.M. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . therefore. in 1922. Loc. In contrast. these `ulam± were the members of the Politiesche Economisch Bond (PEB) and Pekauman Corps. the colonial government regarded Sanusi to be their enemy. when he was still with me.H. Sanusi substituted its name with Persatuan Umat Mohammad Iskandar. Sanusi was not able to break himself free from political affairs. therefore.7 Sanusi’s intellectual productivity is also discernible in his establishment of a pesantren at Genteng. — Usep Abdul Matin In the following year.I/Islamic Association) in 1931.000) followers. p. especially in West Java.I. 91.H. Pekauman Corps were the religious leaders who worked in the mosques in Sukabumi for benefit of the Dutch colonial government. he withdrew from this political organization5 and turned to assist his father.. 7 . and attracted some twenty thousand (20. who interviewed Sanusi face to face. Abdurrahim. Cit. al-Ittih±diyyat alIsl±miyyah (A. during eleven years of his exile (in Indonesian. Interview with late K. According to A. K. perkoempoelan agama). Hence. diinterner: 1928-1939). Dudu Abdullah Hamidi.6 For their support. Cit. K.H. During that exile.. To advocate this organization. he had been known as a famous religious teacher. Wanta. in my house in Sukabumi December 12.. This political role of Sanusi was unlike the other indigenous `ulam± who supported the Dutch colonial authority. people are used to calling it Pesantren Cantayan.8 His fame increased after he had established a religious association (in Indonesian. the Dutch had often put him in jail from 1919 to 1939. Sipahoetar. Therefore. Ahmad Sanusi had been a very productive writer. 6 5 149 . Op. Sipahoetar.M.. According to my late father. the Dutch government gave them money. 200 boekoe ketjil dan besar).H.K. S. my father. since 1922. Dudu Abdullah Hamidi. to teach his santris in his own pesantren (Islamic School) in Cantayan. Cit. which is also located in Sukabumi. he did not want to cooperate with the colonial Dutch government to make Indonesia independent. Nevertheless. viz. he had written two hundred (200) books both in small and big pieces (in Indonesian. Loc. 8 Ibid.

Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . Sanusi depended his Tamshiyya by giving a fatw± that encouraged its use.10 This explains to us why Sanusi`s fame all over Nusantara grew after the publication of his Tamshiyya in 1934. 1955). 10 Muhammad Misybâh ibn Haji Syafe`i Sukabumi. One of these `ulam± was Haji Oesman Perak from Bogor. he published a Qur`anic exegesis entitled Tamshiyyat al-Muslimin fi Tafsir Kalam Rabb al-`±lamin. they banned this association. (Jakarta: PT Intermasa. West Java. and Dr. Celebes. as well as Johor and Singapore. Sumatra. in October 1934. the `ulam±s of Pekauman discouraged the people from using the Tamshiyya.11 To argue against this fatw±. This book was famous in Indonesia i. Sanusi published the Qur`anic verses in this Tamshiyya not only in the Arabic language but also in the Latin characters. On the basis of Perak`s fatw±. Mindarat al-Islâm wa-alÎmân.12 “Ahmad Sanusi. I wish to thank to Hasan Husen Basri.. This fatwâ was published by Kantor Cetak al-Ittihad Sukabumi. Madura. 1935). Sumbawa.e Java.9 Moreover. 1993). including the advantage of the Latin characters. Such sentiment was resulted in a way that the`ulam±s of Pekauman published their legal formal opinion (fatw±) that discourages from using of the Tamshiyya by reasoning that Latin characters were prohibited from writing the Qur`anic verses. Tażkirat al-Ikhwân bi-mâ fî Âkhir al-Zamân. — Usep Abdul Matin Islam (PUI/The Association of Muslim Community). 12 Sanusi wrote this fatwâ in Malay language and Arabic characters on two wide and long pages of paper without title and year. Ambon. Nevertheless. Borneo. as a threat to their influence among their religious students (in Indonesian.H. It was also deemed by the PEB and the `ulam±s of Pekauman in Sukabumi. Vol. I wish also to thank him for allowing me to copy his Tamsyiyyah numbered from 2 to 35. pp. 1935). (Sukabumi: al-Ittihâd. KH. (Pabuaran Sukabumi: no publisher`s name. Tahdîr al-Afkâr. Flores. see ibid. 1. in Ensiklopedi Islam. 1-5.”. (Sukabumi: Kantor Cetak Sukabumi. Menado. and I thank Ajengan Oyon Gunung Puyuh who allowed me to copy his Tamshiyya number 28. Vol 3. p. Bangka. Abdullah ibn Husain.. santris). See also Ahmad Sanusi. and no one argued against this typescript. West Java. Mohammad Iskandar who were willing to give my parents the copy of the fatwâ. He was the student of Ahmad Sanusi. Acep Zarkasih (about 80 years old) who lent me this book.K. 9 150 . 89. When Japan came to occupy Indonesia. 11 Ibid. I am thankful to H. the colonial government considered this book to be a threat to their power.

According to the Puslitbang Lektur of the Department of National Religious 13 See his fatwâ in form of bulletin. 151 . He left three wives and seventeen children. This colaboration helped him strengthen Indonesian Muslim community that he established in 1934 to drive the Ducth occupation out of Indonesia. like other Indonesian political leaders. Sanoesi. to become soldiers of Hizbullah (Troop of God) and National Army of Indonesia (Tentara Nasional Indonesia/TNI). After the Indonesian independence. due to Sanusi’s strong leaning to Islam. Likewise. West Java.. the Japanese administrator disqualified him from this BPUPKI. is also noticeable in the case of zakat fitrah viz.K. which prohibited the official collectors of the tithe from collecting it forcefully from common people. Sanusi was also a member of Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan/BPUPKI/Committee Inspecting to Organize the Independence of Indonesia). Sanusi moved to Jakarta to cooperate with Muslim leaders in Jakarta to arrange a more stronger military power. In this case. As a result. (Buitenzorg: Ang Tjio Drukkerij. and unified them into Hizbullah to expel the English Nicagurkha soldiers from Indonesia. Ahm. However. “Zakat Fithrah”. in 1944. the Japanese administrator in Indonesia appointed Sanusi to become a Japanese vice resident in Bogor.H. In the beginning of 1950. In this colaboration. he gave a fatw± in 1936. where he died in the same year. he empowered Indonesian Muslim youths. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . in particular those who lived in Sukabumi.). H.13 When Japan occupied Indonesia in the beginnings of 1940s. he agreed with Japan to establish Pembela Tanah Air (PETA/Fatherland Protector) organization. and in general other Indonesian youths. s..a. — Usep Abdul Matin Sanusi’s intellectual debate with the `ulam± of Pekauman in Sukabumi. Sanusi returned to Gunung Puyuh in Sukabumi. tithe in rice or money paid on first day of fasting month. Sanusi motivated all Muslim people in West Java. I wish to thank Mr Muflih for lending me this bulletin. When the Nicagurkha occupied Sukabumi in West Java. two pages. In turn. in particular those who became AII members. in West Java. His father was a close friend of Sanusi. Sanusi collaborated with Japan.. Sanusi keept encouraging PETA to drive out not only the occupation of Dutch but also that of Japan.

then he buried them into a ground. To me. Op. and intellectualism in his time. 152 . before his death. However. a little brother of Ahmad Sanusi. and intellectual discourse. on December 20. this article of mine may give us a portrait of his social. This work is in form of micro film which is available in KITLV library. Sanusi was advocating to reinforce Islamic law in Indonesia. Oking had ever put some works written by Ahmad Sanusi into a bamboo in his house. Mr. bakal dibui).K. he was at the age of 80. I had been working for five years to look for Sanusi’s writings. 2001.. — Usep Abdul Matin Affairs in Jakarta. It has probably connection to such link in Indonesia today.16 Perhaps.14 These works are now scattered and difficult to discover. politics. According to deceased Ajengan Dadun Abdul Qahar. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . political. the dying exhortation of Ahmad Sanusi given to late Ajengan Dadun and the fear as felt by Mr. society. In addition. The reason is the degree to which he is a Muslim who is not only a productive writer. the study on Sanusi is worthy conducting. Therefore. When I interviewed him. a student of Ahmad Sanusi. 31-33. Badan Litbang Agama. as a result.H. After he died. Cit. Oking at his house in Cigunung-Sukabumi. Leiden University.. Sanusi had given him a dying exhortation (in Sundanese: wasiat) to suppress his works on masalah-masalah furu` (cases of ethics based on different principles of Islam). In 14 Puslitbang Lektur Agama. December 12. they would put him or her into a jail” (in Sundanese. Sanusi left four hundred and eighty (480) pieces of works that he compiled by himself. 15 Interview with Ajengan Dadun in his house in Cibadak-Sukabumi. Oking explained to me that he did so because “if the Dutch administrators found someone possessing Sanusi’s works. the study on Sanusi has its significant information of the relationship between Islam and state in Sanusi’s period. the Netherlands. Oking (about 80 years old). Oking just mentioned are the reasons of why his books are now disappearing and extremely difficult to find. pp.. 16 Interview with Mr. in the colonial period of Indonesia.. I found about one hundred and twenty-two (122) of Sanusi’s works from some generous people.15 In addition. but also an active leader in diverse debates on religion. 2001. said to me that. For instance. in particular his work collection.

and without identity of publication [four pages]. Ahmad Sanusi [on the use of Latin letters in his Qur`anic Exegesis. Hartina Nuduhken kana Bedana antara Aya Şadaqah rejeng diy±fah dina Syara1.H.H. 11.H. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. 5. his little brother.I. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. pangajaran nomor 5 tahun 1932 [four pages]..I. campaigned for shari`a in Sukabumi in West Java. pangajaran al-Ittihad ka 17 Oktober 1933 no 4 [four pages].I. dicetak di kantor cetak “al-Ittih±d” Punjul Tanah 153 . pangajaran nomor 2 di kaloearkeun koe Hoefd Bestuur A. Ahmad Sanusi’s Work Collection I will mention K. This man reinforced also the Islamic law in this region (Cianjur). The fatw± of K. 1 bulan sakali bulan Februari 1932 di Batavia [2 pages]. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. — Usep Abdul Matin 1998. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. 3. (Batavia: Hoefd Bestuur A. sambungan nomer 17] [four pages]. It was published by Kantor Cetak al-Ittih±d Sukabumi. 8. late Dadun Abdul Qahhar.I. 9. pangajaran al-Ittihad nomor 18 19 Janwari [probably.I. 1. 1932) [four pages]. 1932. One of Qahhar’s students was an officer who was in charge of Cianjur regency (Bupati) in West Java. Wasidi Swastomo. without title and year of publication. 1 bulan skali bulan Februari 1932 di Batavia [2 pages].K. 10. Bulletin and Magazine: 2. January. pangajaran nomor 7 Oktober tahun 1932 [four pages]. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. dinukil jisim kuring Ahmad Sanusi bin Haji `Abd al-Rahim. Ahmad Sanusi`s works which I have collected so far as follows. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. 7.. K. 6. Tamshiyya]. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . Al-Isy±rah f³-al-Farq bayn al-Şadaqah wa-al-Diy±fah. pangajaran nomor 3 telat dua bulan lantaran nunggu kantor cetakna di kaloearkeun koe Hoefd Bestuur A. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. Without title.I.H.

Ris±lat Tashq³q al-Awham f³-al-Radd `an al-Tugam li-n±qil³h±. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . probably 1934. Senen. 15. Ris±lat Tashq³q al-Awham f³-al-Radd `an al-Tagam Artinya Inilah Suatu Pembelah segala Sangkaan yang Salah di dalam Menolak Tukang Menyesatkan kepada Orang-orang Bodo karangan hamba yang doif Haji Ahmad Sanusi ibn Haji `Abd al-Rahim Gunung Puyuh Sukabumi Tercetak atas usaha Sayyid `Ali al-`Idrus Kampung Bali Keramat nomor 38 Batavia. 17. Tafs³r Bahasa Soenda Februari 1932 Tahoen ka II diterbitkan saboelan sekali oleh Hadji Ahmad Sanoesi bin Hadji Ahmad Sanoesi bin Hadji Abdurrahim Tanah Tinggi Senen no 191 Batavia Kramat Harga langganan 2 boelan f 1. Batavia Kramat. 13. — Usep Abdul Matin Tinggi Senin Batavia Centrum.K. Jilid tahun ka I kanggi nomor 1 September 1931 September 1931. 27 Jumada al-Ula 1347. Ahmad Sanoesi bin Hadji Abdoerrahim. Fada`il Kasb al-Ikhtiy±r f³ Ilz±m Afwah al-Wu`az al-Gid±r Artinya Menyatakan segala Kelebihan Mencahari dan Berusaha 154 . no 19. Pangadjaran [Tafsir ku. 12. Maanblad Januari Februari no 30-31 1934. No 23 24 Maanblad Juni (year is not clear. Ahmad Sanusi Gang Kampung Bali Kecil 6 Tanah Abang Weltevreden Betawi.. Tinggi Senen no 191. 14. akhir Bulan Syawwal 1347 (dan Haknya menyetak pun sudah jadi miliknya) (Cetakan ketigakalinya) Tercetak di kantor cetak dan toko kitab al-Sayyid `Ali al-`Idrus Keramat 38 Batavia Centrum). 16. Weltevreden 8 november 1928 (Dicetak di Kantor Sayyid Yahya ibn Usman Tanah Abang).H. my note] Bahasa Soenda oleh H. Tanah Tinggi. because no 29 is dated to that year). Tafs³r Boechori dikloearken 1 boelan sekali oleh H. Abdurrahim T. Ris±lat Tahd³r al-`Aw±m min Muftaray±t Cahaya Islam Hartina Mere Inget ka sakabeh Jalma Awam Kudu Sien tina sakabeh Jijieunan Bohongna kaom Surat Kabar Cahaya Islam dikumpulken ku jisim kuring anu kacida do`ifna Haji Ahmad Sanusi ibn Haji Abd al-Rahman di Tanah Tinggi Senen nomor 191 Weltevreden Batavia Kantor Cetak Harun ibn `Ali Ibrahim 3 Pakojan Betawi Telepon 1850 [72 pages]..20. 18. Ahmad Sanoesi bin H.

3.. (Tanah Abang-Weltevreden Batavia: Sayyid Yahya bin `Usman.a.K. Al-Mufhim±t fi Daf`i al-Khayal±t. 7. 4. Tercetak diterbitkan alIttihad Tanah Tinggi 191 Punjul Batavia Centrum. without the name of publisher. Kit±b Mift±h al-Jannah f³ Bay±n Firqat Ahl al-Sunnah wa-alJam±`ah. — Usep Abdul Matin Kehidupan di dalam […/not clear] segala Mulut si Tukang Ngajar yang selalu Menipu Orang dikeluarkan oleh hamba yang [ …/not clear] Haji Ahmad Sanusi bin Haji `Abd al-Rahim di Tanah Tinggi 191 Batavia Centrum.a. (Gunung PuyuhSukabumi: without the name of publisher. Kanz al-Rahmah wa-al-Lutf f³ Tafs³r Sµrat al-Kahf. Al-Tamshiyyath al-Isl±miyyah f³ Man±qib Im±m al-Sh±fi`i.). I had copied a number works composed by Ajengan Ahmad Sanusi as follows. Tamshiyyat al-Muslimin f³ Kalami Rabb al-`Alam³n. 5.a). (Panarakan Kaler-Bogor: Ikhtiyar.a. From the beginning of December to the beginning of January 2002.H. 2.). Tażkirat al-Th³libin fi Bayan Sunniyat al-Talq³n. (without place of the publication. There are tweleve works of Sanusi that I found from deceased Ahmad Djunaedi Ma`ruf17: 1. Mr. Al-Kalimat al-Mabniyyah f³ Qasy³dat ibn Hajjah. No. 20 Romadhan 1347). Shir±j al-Ażkiy±` f³ Tarjamat al-Azkiy±`. 29 Maanblad December (year is not clear.a. Ujang Sholehuddin. s. (Tanah Abang:Sayyid Yahya. (without place of the publisher.a).a. s.). without the name of the publisher. s. 10. 6. Tarbiyyat al-Isl±m. for helping me find this collection of late Ma`ruf. s.). 17 155 . (Tanah Tinggi-Senen-Batavia Centrum: al-Ittihad. 9. s. Number 47. (Sukabumi: al-Ittih±d. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . 8.).. because no 31 is dated to 1934).). I am grateful to my friend. and s. probably 1934.a. s. (Batavia Centrum: al-Sayyid al-`Idrµs. s. Nµr al-Yaq³n f³ Mahw Madzhab al-La`³n min al-Mutanabbiyy³n wa-al-Mutabaddi`³n.

).a.a. Hilyat al-`aql wa-al-fikr (Tanah Abang: Kantor Cetak Sayyid Yahya. 6. Oking.`Tawh³d al-muslim³n wa`aq±`id al-mu`min³n (Tanah TinggiPunjul-Batavia: Kantor Cetak al-Ittihad. 11. s. (without place of the publication. 12. s. Bahr al-madad f³ tarjamat ayyuh± al-walad (Vogelwegsukabumi: no publisher. — Usep Abdul Matin 11. s. 2. 18 I thank Mr.a). 8. 14..H.a. (Tanah Abang: Kantor Cetak Sayyid Yahya. 4. s. Hid±yat al-siby±n f³ fad±’il sµrat tab±rak al-mulk min alQur’±n (Tanah Abang: Sayyid Yahya.a). 1. Al-Sh±fiyat al-W±fiyah f³ Fadh±`il Sµrat al-F±tihah. s. (Sukabumi: alIttih±d.). Iskandar Sanusi for introducing me to Mr.a).a. (Babakan Sirna-Karang Tengah Cibadak-Sukabumi.K.).a).a). s. 156 .).. s. Lujj±m al-Gudd±r al-Qa`ilin bi-anna Abaway al-Nabiyy min Ahl al-N±r.). Vol. 3. Jawharat al-wah³d (Pekojan-Betawi: Kantor cetak sareng Toko Buku Harun bin Ali Ibrahim. 13. s. Al-Sh±fiyat al-w±fiyah f³ fad±`il sµrat al-F±tihah 7. no name of the publisher. Min majmµ`at durµs al-`ulµm (Tanah Abang: Kantor Cetak Sayyid Yahya. 12. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . Al-Aqw±l al-Muf³dah f³-al-Umµr al-Muwhamah. 9. Kashf al-Sa`±dah f³ Tafs³r Sµrat al-W±qi`ah. s. Al-Kaw±kib al-Durriyah fi-al-Ad`iyyah al-Nabawiyyah. It includes the list of Sanusi`s works.a). s. (Cibadak Sukabumi: without the name of publisher. nor year of the publication). Oking18: 1. Tawh³d al-muslim³n wa `aq±`id al-mu`min³n (Bg [Bandung]: Sukma Rat. T³j±n al-gilm±n f³ tafs³r al-Qur’±n (Petamburan-Batavia: alSayyid `Abdullah putra al-Sayyid `Ushman. Jumad al-Awwal 1352). Ǐq±d al-himam f³ ta`l³q al-hikam 5. 10.a). s. Al-Kaw±kib al-Durriyyah f³ al-Ad`iyyat al-nabawiyyah (Tanah Abang: Kantor Cetak Sayyid Yahya. without the name of publisher.a. s. There are nineteen (19) works of Sanusi that I found from Mr.

Ǐq±d al-himam f³ ta`l³q al-hikam.a). 28 January 1931/9 Ramadlan 1349). Tanw³r al-dal±m fi Furuq al-Isl±m. Acep Zarkasyih in Sukabumi. There are nine (9) works of Sanusi that I obtained from H.a. 18. s.. Ahmad Muflih19: I wish again to thank Mr. 5. Ahmad Muflih. (Gunung Puyuh-Sukabmi. “Kabagjaan Islam”. Tafs³r Malja` al-T±lib³n. Vol. 2. (no place of publication: no publisher`s name.a. Al-Muf³d (Vogelweg Sukabumi: no publisher`s name. s.). Al-Jaw±hir al-B±hiyyah f³ Adab al-Mar`ah al-Mutazawwijah. 19. Tafs³r Malja` al-T±lib³n. s. no. (no place of the publication: no publisher`s name. no name of publisher. “Kabagjaan Islam”. 18. s. (no place of publication: no publisher`s name. 17. 4.K. Min majmµ`at durµs al-`ulµm. 3. (Pekojan-Betawi: Toko Buku Harun bin `Ali Ibrahim.). (Tanah Abang Weltevreden: Sayyid Yahya. (no place of publication. no. 16. Vol 1. 3. 6. (Gunung Puyuh-Sukabumi: without publisher`s name. s. (Tanah Tinggi Betawi: Kantor Cetak Al-Ittih±d.a). in “Kabagjaan Islam”. 8.a). 2.a).a). Tafs³r Malja` al-T±lib³n. s. 9. West Java: 1.a. “Mu`±hadah Perjanjian Allah Ta`ala ka Nabi Adam”.. no publisher`s name. 19 157 . Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . (Gunung Puyuh-Sukabumi: al-Ittihad. There is one (1) book of Sanusi that I gained from Mr.). This piece of work is printed in 16 combined pages. Mr. s. 7. 3. “Al-Tabl³g al-Isl±m³ (Embaran Kaislaman)”. s. Vol.a). s. — Usep Abdul Matin 15. October 1935).a). 1935). 1. 1 November 1931).H. Al-mutahhir±t min al-Mukaffir±t. (Tanah Tinggi Betawi: Kantor Cetak Al-Ittih±d. no. 3rd edition. (Sukabumi: alIttihad. Ujang to introduce me to his father. and s. Hilyat al-siby±n f³ bay±n sawm ramaz±n (No place of publication: no publisher`s name.

Tafs³r Sµrat al-Mulk: Hid±yat Qulµb al-Siby±n f³ Fad±`il Sµrat Tab±rak al-Mulk min al-Qur`±n. Manzµmat al-Rij±l li-Sayyid `Al³ Zayn al-`±bid³n. s.H. Oman Fathurrahman20: 1. On the title-page of this book. 2. (Vogelweg 100 Sukabumi: no publisher.a). s. On the title-page of this work. Qal±`id al-Durar f³ Bay±n `Aqd al-Jauhar. (Pekojan-Betawi: Ahl al-Sunnah wa-al-Jam±`ah.K.a.a). Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . (Gunung Puyuh-Sukabumi: no publisher. 22 Rabi` al-Awwal 1348).a). (Babakan Sirna: no publisher. s. (Kampung Petamburan-Tanah Abang-Betawi: Tuan Sayyid `Abd All±h bin Sayyid `U£m±n. (Tanah Abang Weltevreden: Sayyid Yahya. 3. Al-Ad±wiyyah al-S±fiyah f³ Bay±n S±l±t al-H±jah wa-alIstikh±rah wa Daf`i al-Kurb±t. Tafr³h Sudµr al-Mu`minin f³ Mawlid Sayyid al-Mursal³n. 5. 9. Vol. (VogelwegGunung Puyuh-Sukabumi: no publisher. 20 I am once again grateful to Dr. 8. 4.a).a).). s. Al-Lu`lu` al-Nadlid fi Masa`il al-Tauhid.). 158 . 2nd edition. (Cantayan: no publisher. Hilyat al-Siby±n f³ Bay±n Saum Ramad±n. the author mentioned that he asked the pardons of his pardons if they find his bad expressions of his words (kirang sae prak-prakannana). — Usep Abdul Matin 1..a.1. (no place of publication: no name of publisher. s. because the writer “just started to learn how to write to follow the footsteps of professional writers” (diajar tutulisan tuturuti ka anu tukang ngarang).a). 28 January 1931/9 Ramadhan 1349). Thirty-seven of them are books written by Ahmad Sanusi as listed above. s. the author says that he asks the pardons of his readers if they find some some mistakes in this book because the writer was still learning (anu nulisna diajar). 6. (no place of publication: no year of publication. Malja` al-T±lib³n f³ Tafsir Kal±m Rabb al-`±lamin. s. Jawharat al-Marfiyyah fi Mukhtasar Ma©hab al-Sh±fi`iyyah. Oman Fathurrahman for allowing me to copy about 63 works from his collection. 7.. s. “Al-Mufid: `Ilm al-Tawh³d”. There are thirty-seven (37) books of Sanusi that I copied from Dr.

(Jatinegara: no publisher. 17.a. 18. (Vogelweg-Sukabumi: without publisher. (De Vogelweg no 100 Soekaboemi: al-Ittihad. “Tuntunan Budi”. 13. 24. Tafsir Bahasa Soenda. Tawh³d al-Muslim³n wa `Aqa`id al-Mu`min³n. 2. 3. s. maanblad. No. 22. (Tanah Tinggi-Senen No 191 Batavia Kramat: no publisher. 12. without publisher.). Vol. (Tanah Tinggi-Senen No 191 Batavia Kramat: no publisher. Tafsir Bahasa Soenda. 15. No.). s. 28 July 1931). no 191. 28 March 1931).). “Miftahoelmadad: Kaifiat Ngajarken Zoebad Ilmoe Tauhid Fiqih Tashaoef”. 4. s. 1. 7. 20. the scriber is al-Sayyid Muhammad bin Yahya. 19.). s. (Vogelweg-Sukabumi: without publisher. 5. Tafsir Bahasa Soenda. (Tanah Tinggi-Senen Batavia Kramat: al-Ittihad. Kashf al-Awham wa-al-Zunµn f³ Bay±n Qaulih Ta`±l± l± Yamassuhµ ill± al-Mutahharµn. (Gunung PuyuhSukabumi: without publisher. (Senen: Pak Haji Harun bin `Ali Ibrahim. 23. Tafsir Bahasa Soenda. 26 Rajab 1347). 1 October 1931).. No. Tafsir Bahasa Soenda. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . 2. number 1.K. (Tanah Tinggi-Senen No 191 Batavia Kramat: no publisher. No. No.a. Mei 1936). 19-20. (Senen-Batavia Centrum: Harun bin `Ali Nur. On the title page.a.H. 159 . 28 August 1931). mandblad. No. Tafsir Bahasa Soenda. 28 May 1931/10 Muharram 1350).a. 14. 191: Harun bin `Ali.. February 1932). No.a. 11. Qaw±n³n al-D³niyyah wa-al-Duny±wiyyah f³ Umµr al-Zak±h wa-al-Fitrah. 8. (Gunung PuyuhSukabumi: no publisher. (Tanah Tinggi-Senen No 191 Batavia Kramat: al-Ittihad. Pangajaran dengen Bahasa Soenda. No. s. (Pekojan-Betawi No. January-February. 3. Vol. The author is Ahmad Sanusi. — Usep Abdul Matin 10. the author mentioned the right of the publication: Pasal (section) 11 tina undang-undang (of the law) dated to 1912 number 600. 21. 16. Mift±¥ al-Mad±d. 28 April 1931).). Tafsir Boechari. (Tanah Abang Weltevrede: Sayyid Yahya. year III). Al-Matlab al-Aśna f³-al-Asm±` al-Husna.

s. s. my grandfa).a. Mr. 20 Muharram 1348). This collection belonged to her late husband. Tafr³h sudµr al-mu`min³n f³ mawlid sayyid al-mursal³n. There are nine (9) books of Sanusi that I received from Mrs.a). 27. Al-Sir±j al-Wahh±j fi-al-Isr±` wa-al-Mi`r±j. Vol. 8 Rabi`u al-Akhir 1349). 35. s. 2. (Sukabumi: Kutamas.a). 1929/6 Ramadhan 1347). 37. Sir±j al-Ummah f³ Khasy±`isy al-Jum`ah. 3. 24 Ramadhan 1347). 36. (Tanaha Abang Weltevreden Betawi: Sayyid Yahya bin Ustman. 32. s.a. Tamshiyyat al-Wild±n f³ Tafs³r al-Qur`±n. 30. 34. (Gunung Puyuh Sukabumi: no publisher`s name.). (Tanah Abang Weltevreden: Sayyid Yahya. Epon (the wife of late Haji Tamim. Ris±lat Tahd³r al-`Aw±m min Muftaray±t Cahaya Islam.a. J±mi`u al-Durar f³ Tabd³d Awham Haji Bodor.K. Rawdat al-`irf± f³ ma`rifat al-Qur’±n. (without the place of publisher: without the publisher`s name.).. s. (8 Rab³` al-±khir 1348/3 October 1929). (Pekojan-Betawi: Harun ibn `Ali Ibrahim.). (Tanah Tinggi Punjul 65 Batavia Kramat: al-Ittihad. 16. 1912). 2. [1931]). Tahdir al-Afk±r min al..Igtir±r bi-Żal±lat wa-Iftir±y±t Tasyfiyyat al-Afk±r.H. Tanb³h al-Hayr±n f³ Tafs³r Sµrat al-Dukh±n. 33. It is as follows: 1. Hid±yat Qulµb al-Shiby±n f³ Fad±`il Sµrat Tab±raka al-Mulk min al-Qur`±n. (Cantayan-Sukabumi: without publisher. (Babakan Sirna: without publisher. Ris±lat al-Jawharah al-Mardiyyah f³ Mukhtasyar al-Furµ`iyyah al-Sh±fi`iyyah. (no place of publisher: without the name of publisher. 29.a. (Tanah Abang: Sayyid Yahya. 1912). (Tanah Abang: Sayyid Yahya. 16. Al-Fiqh al-Akbar Im±m Hanaf³. s. Sillah al-B±sil fi-al-Darb `al± Taz±hiq al-B±til. Rawdat al-`irf± f³ ma`rifat al-Qur’±n. Al-Suyµf al-Sy±rimah f³-al-Radd `al± al-Fat±w± al-B±tilah. 31. (Sukabumi: Al-Ittih±d. — Usep Abdul Matin 25. Hilyat al-`Aql wa-al-Fikr f³ Bay±n Muqtaday±t al-Shirk wa-alFikr. (PekojanBetawi: Harun Ibn `Ali Ibrahim. 1935).a). 160 . 26. She gave them to me as a gift. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse .). Ujang Suhud. (Sukabumi: Kutamas. s. Vol. 6. 28.

I write them in the Arabic script as follows: 1.a. Rawdat al-`irf± f³ ma`rifat al-Qur’±n. Tjagak Tjisaat – Sukabumi: H.a..H.a.a. Zainal Abidin Toko kitab dan Petji Merk “Sedjati”. — Usep Abdul Matin 4. Vol. (De Vogelweg Sukabumi: No publisher`s name. (no place of publication: no publisher`s name. I found the cover of this book from Mr. Tafs³r malja` al-t±lib³n. There are eleven (11) books of Sanusi that I received from Mrs. tahun ka 1). Mamih Ijong. ‫( . 6. (Djl.). Tafs³r malja` al-t±lib³n. s.H. Tafs³r malja` al-t±lib³n. 9. s. Vol.). there is a list of the people who died. 1912). Rawdat al-`irf± f³ ma`rifat al-Qur’±n. s. (Tanah Abang Weltevreden Betawi: Kantor Cetak Sayyid Yahya bin `Usman. 3. 5. 28 March 1931). (Tanah Tinggi Betawi: no publisher`s name. 4 Pekojan Betawi: Kantor Cetak Harun bin `Ali. Vol. Tamshiyyat al-dar±r³. 1. (Tanah Tinggi Senen Keramat No. Dudu Abdullah Hamidi: 1. Rawdat al-`irf±n f³ ma`rifat al-Qur’±n.اﻟﻤﻄﻬﺮات ﻣﻦ اﻟﻤﻜﻔﺮ١ت‬De Vogelweg No. K. 7. There are three (3) books of Sanusi that I received from my late father.). It contais the Quranic exegesis of the verse Al `Imr±n.). M. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . 3. 10 Syawwal 1349/28 February 1931). (Tanah Tinggi Senen 191 Batavia Keramat: no publisher`s name.a. Tafs³r malja` al-t±lib³n. Uking`s collection.. and some corrections of the author of some words mentioned in previous volumes of this exegesis. 161 . s.K. 2. 8. Vol. s.). 1 September 1931. Jawharat al-mardiyyah f³ mukhtasar maż±hib al-Sh±fi`iyyah. (no place of publication: no publisher`s name. On the last page of the book there is the list of the people who just died. 2. 100 Sukabumi: no publisher`s name. This book starts from the verse alNaba` to the verse al-N±s and ends at the Du`a` Khatm alQur`±n. (no place of publication: no publisher`s name. 30. 4. On the last page of the book. 28 April 1931). 3rd edition. Vol.

5: Percetakan “al-`Usmaniyyah” Sayyid Hasan bin Usman bin …. 8.). s. 9. sayyid Yahya.a.). 3. ‫” اﻧﺎﻧﻮ ﻣﻌﻤﻮر . there is a stample named by Muhammad Sanusi. s. ‫( .ﺗﺎج اﻟﻤﻔﺎﺧﺮ ﻓﻲ ﺗﻔﺮﻳﺢ اﻟﺨﺎﻃﺮ ﻓﻲ ﻣﻨﺎﻗﺐ اﻟﺴﻴﺪ ﻋﺒﺪ اﻟﻘﺎدر ﺟﻴﻼﻧﻰ‬Tanah Abang Weltevereden: Kantor Cetak Sayyid Yahya.H.a.). 2. he prohibited the readers from reading the fake works (kitab-kitab tiruan). ‫( . were published by Musa bin `Ali Patekwan Betawi without the author`s permission. In addition. Tafsir Yasin (Tafrih Qulub al-Mu`minin).). ‫ .آﺸﻒ اﻟﺴﻌﺎدة ﻓﻲ ﺗﻔﺴﻴﺮ ﺳﻮرة اﻟﻮاﻗﻌﺔ‬Babakan Sirna Sukabumi. s.ﺟﻮهﺮة اﻟﻤﺮﺿﻴﺔ ﻓﻲ ﻣﺨﺘﺼﺮ ﻣﺪاهﺐ اﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ‬No place of the publication: no publisher`s name. — Usep Abdul Matin 2.a.اﻟﻤﻄﻬﺮات ﻣﻦ اﻟﻤﻜﻔﺮات‬no place of the publication: No publisher`s name. He said that Tafsir Raudhat al`Irfan is worth reading for both old people (sepuh) and teenagers (murangkalih). 6.a. there is announcement of the publisher. 7. 1 Rajab 1347/13 December 1928). ‫( . s.). 4. ‫ . On the last page of this book. (Petamburan Betawi: Cetakan Sayyid `Abdullah putra Sayyid Usman.a. 5. ‫ . On the title-page of this book. ‫( . s.). the author warned the readers that his works entitled: 1..اﻟﺪﻳﺎر اﻷﺳﻼﻣﻴﺔ ﻓﻲ اﻟﺴﻌﺎدة اﻷﺑﺪﻳﺔ : دار ﻷﺳﻼم دﻧﺎ آﺎﺑﻜﺠﺎ‬ (Kramat 38 Jakarta: Sd. 10. 3.a.). (De Vogelweg Sukabumi: Al-Ittihad.اﻳﻘﺎظ اﻟﻬﻤﻢ ﻓﻲ ﺗﻌﻠﻴﻖ اﻟﺤﻜﻢ‬No place of the publication: no publisher`s name.اﻟﺴﻼح اﻟﻤﺎﺣﻴﺔ ﻟﻄﺮق اﻟﻔﺮق اﻟﻤﺒﺘﺪﻋﺔ‬Gunung Puyuh Sukabumi: no publisher`s name.). like al-Wajiz by 162 . 13 Jumadi al-Awwal 1361/29 Mei 2602 Nippon (1942).. ‫( . Tafsir Dukhan (Tanbih al-Hayran). Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . 20 Muharram 1348).آﺸﻒ اﻷوهﺎم واﻟﻈﻨﻮن ﻓﻲ ﺑﻴﺎن ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻲ ﻻﻳﻤﺴﻪ اﻻ اﻟﻤﻄﻬﺮون‬Tanah Abang: Kantor Cetak Sayyid Yahya.K. 2. ‫ : ﻣﻨﻈﻮﻣﺔ اﻟﺮﺟﺎل ﻟﺴﻴﺪى ﻋﻠﻰ زﻳﻦ اﻟﻌﺎﺑﺪﻳﻦ‬Ieu Nadlam Qashidah Tawassul kalawan Sakabeh Awliya` Allah. s. ‫( . which says that he received anything to publish this book in a cheap cost.ا ﻟﺸﺮاج اﻟﻮهﺎج ﻓﻰ اﻷﺳﺮاء واﻟﻤﻌﺮاج‬Tanah Abang Kecil No. s. On the back-cover title-page of this book. Friday. s. (Tanah Abang Weltevreden: Boekhandel en Steendrukkerij Sajid Yahya. 26 Rajab 1347). 11.ﺗﻴﺠﺎن اﻟﻐﻠﻤﺎن ﻓﻲ ﺗﻔﺴﻴﺮ اﻟﻘﺮأن‬Cantayan Sukabumi. Ali Alaydroes.a.a. ‫( .هﺪاﻳﺔ اﻟﺼﻤﺪ ﻓﻰ ﻣﺘﻦ اﻟﺰﺑﺪ‬Gunung Puyuh Sukabumi: No publisher`s name.

Yosep Aspat. such as Muhammad `Abduh and Jamaluddin Al-Afghani. is a prolific writer whose works are now dfficult to discover for the reason that the Dutch colonial government regarded him as a dangerous man to them. he qouted the prophet`s statement: “Man Gassana fa laysa minna” (whoever performed a back bitting is not from us). On this paper.a. Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana & Kekuasaan. He was a Sundanese reformer Muslim whose ideas were influenced very much by notorious Muslim reformers. 2001 in his house.H. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . Then. December 22. by Taufik Abdullah. thereby prohibiting Indonesians from having and reading Sanusi’s works. I hope that this article inspires the readers. Sukabumi: Misb±h al-Fal±h f³ Awrad al-Mas` wa-al-Syab±h. Introd. 1999. I could draw a conclusion that KH.). I have a good luck to find more than one hundred writings authored by Sanusi. (Gunung Puyuh Sukabumi: no publisher`s name. who lived from the last nineteenth to the first twentieth century.H. Gunung JayaSukabumi.. since he traveled to the Haramayn (Mecca and Medina) to learn and to teach. Conclusion On the basis of the above-mentioned details. Abdurrahim. — Usep Abdul Matin Haji Muhammad Juwayni bin Haji `Abdurrahim Parakan Salak published by Sayyid `Ali al-`Idrusiy in the Keramat Batavia Centrum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Azra. He warned them that whoever was involved in this case would be expelled by God from Islam. in particular the students of Islamic History and Civilization. [] Bibliography Alamsyah. There is one book of Sanusi that I found from a santri of Syams al-`Ulum in Gunung Puyuh. Ahmad Sanusi: K. Azyumardi.K. s. Ahmad Sanusi. to study further on Sanusi in a more deeply way.. 163 . and my grandfa who became the adjutant to the late father of K. I dedicate this work to my late parents.H. Mr.

Jakarta: PT Intermasa. ---------. Rijk Universiteit. Interview: Interview with late Ajengan Dadun in his house in Cibadak. Fatw±. West Java.I. Amsterdam: Vrije Universiteit. Leiden. Tahdîr al-Afk±r. [Sanusi`s speech of Syarekat Islam] “Dit Boek Nahratoe`ddhargam (De Gebiedende Leeuwenstem) Dienende tot Wering van de Aanvallen Veragtelijke Menschen Gericht tegen de S.H. 19 Februari 1940. Sukabumi. Majalengka: Pengurus Besar “Persatuan Ummat Islam” Majlis Penyiaran dan Da`wah. Interview with Mr. 1986. Second edition. Jakarta: Bagian Proyek Penelitian dan Pengembangan Lektur Agama Departemen Agama.a. Kantor Cetak al-Ittihad Sukabumi. Para Pengemban Amanah: Kyai dan Ulama dalam Perubahan Sosial – Politik di Priangan c. Tadhkirat al-Ikhw±n bi-m± fî ±khir al-Zam±n. 2001. ---------. Dudu Abdullah Hamidi. KH Ahmad Sanusi dan Perjoangannya. December 12. Iskandar. 1. in Proces Verbal. Biografi K.H. Puslitbang Lektur Agama. Badan Litbang Agama. Oking in his house in Cigunung. Leiden University.. 164 . Vol. Sukabumi: al-Ittih±d.a. KH. 1935. 1998 Leiden: Rijk Universiteit Leiden.K. Muhammad Misbah. Siapa?: Lukisan tentang Pemimpin-pemimpin.” . in our house in Sukabumi December 12. 2001. on December 20. [This work is in form of micro film which is available in the KITLV library. Sukabumi: Kantor Cetak Sukabumi.. — Usep Abdul Matin Ensiklopedi Islam. Abdullah. [Fatw±] “Zakat Fithrah.” s. Vol. Sukabumi. Mohammad. 1991. my father. 1900-1942. 1993. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . Proyek Penelitian Keagamaan. Sanusi. ibn Husain. Mindharat al-Islam wa-alIman. 3. M. Ahmad Sanusi.H. he was at the age of 80.. An unpublished thesis. Leiden University. When I interviewed him. Ibn Haji Syafe`i Sukabumi. Boenoet: “Pemerintah” Soekaboemi. Ahmad. Buitenzorg: Ang Tjio Drukkerij. Interview with late K. The Netherlands]. 2001. Studiegids Islamologie 1998/1999. ---------. 1935. 1955. 1991. Sipahoetar. KITLV. Wanta.

The explanation which is based on the manuscripts of the Syattariyah Minangkabau. The order of Syattariyah is considered by a group of Naqsyabandiyah to teach the wujudiyah (monism or unity of being). In fact. Therefore. Burhanuddin Ulakan.Tarekat Syattariyah di Minangkabau — Uka Tjandrasasmita Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Tinjauan Buku “Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Teks dan Konteks”. the order of Syattariyah Syekh Burhanuddin Ulakan tought in the following period was flexible. An interesting thing is that this book is a result of the philological study with the approach of sociointellectual history which the local philologists are still rare to use. it was clear that the teaching of monisme or unity of being was eliminated and the teaching was adjusted to the teaching of Islam which is based on the creed of Ahlus Sunnah wal Jamaah Kata kunci: Filologi. Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Teks dan Konteks. with its seven grades teaching. this study is hoped to motivate other local philologist to conduct such study. Jakarta This writing is an overview of the book written by Oman Fathurahman. Kajian filologi semacam ini mensyaratkan para filolog untuk memperkaya wawasannya dengan pengetahuan tentang sejarah sosial-intelektual tersebut. Minangkabau Pendahuluan Kajian filologi dengan pendekatan sejarah sosial-intelektual masih jarang dilakukan oleh ahli filologi Indonesia. Buku karya Oman Fathurahman. Tarekat Syattariyah di 165 . karya Oman Fathurahman Uka Tjandrasasmita UIN Syarif Hidayatullah. The study of the book has been extended by additional analysis on the representation of the Sundanese manuscript with Kuningan version dan two other Javanese manuscripts – Cirebon version and Girilaya version. tarekat Syattariyah. illustrate the existing difference between the order of Syattariyah and the order of Naqsyabandiyah. Moreover.

melainkan juga analisis terhadap representasi naskah Sunda “versi Kuningan” dan dua naskah Jawa “versi Cirebon” dan “versi Girilaya”. 166 . dipakai sebagai bahan perbandingan untuk melihat sejauh mana kekhasan dinamika dan perkembangan tarekat Syattariyah di Sumatera Barat yang tetap menjadi perhatian utamanya. ”Apresiasi Warisan Intelektual Islam di Surau Minangkabau”. Naskah-naskah lokal di Minangkabau menunjukkan ekspresi Islam lokal. Betapa pentingnya buku karya Oman Fathurahman ini telah ditandaskan oleh Azyumardi Azra dalam Kata Pengantarnya. surau merupakan pusat penulisan dan penyalinan naskah-naskah keislaman tersebut. Buku yang akan kita tinjau ini merupakan kajian filologis dengan pendekatan sejarah sosial-intelektual. 7. 2009: 165 . Jika diadakan perbandingan dengan naskah-naskah yang mengandung keagamaan Islam di daerah lainnya di Nusantara atau dengan naskah-naskah Islam yang berkembang di wilayah asalnya di Tanah Arab. Diharapkan kehadiran buku ini dapat mendorong para ahli filologi Indonesia lainnya untuk mengadakan kajian semacam itu. merupakan karya yang berasal dari disertasi untuk memperoleh gelar doktor pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia tahun 2003. naskah-naskah Minangkabau memperlihatkan kekhasannya tersendiri yang menunjukkan ekpresi Islam di Indonesia di mana terdapat unsur-unsur budaya lokal. tidak sebatas Minangkabau.174 Minangkabau: Teks dan Konteks. Azra mengatakan bahwa dari segi kajian naskah-naskah (manuscripts) keislaman yang tersebar di Nusantara. 1. Cakupan pembahasan dalam buku ini sudah mengalami perluasan. untuk kasus di Minangkabau (Sumatera Barat). Hal ini menunjukkan bahwa surau merupakan pusat pewarisan intelektual Islam. Naskah dan Pendekatan Interdisipliner Buku karya Oman Fathurahman ini dapat dikatakan telah teruji bobot keilmiahannya karena merupakan hasil disertasi yang dinyatakan lulus dengan pujian cumlaude oleh dewan pengujinya. Ketiga naskah tersebut menurut Oman Fathurahman.Jurnal Lektur Keagamaan. Vol. No.

Kecuali dapat dimanfaatkan bagi penulisan sejarah.J..P. politik. maka selayaknya filologi juga memakai pernaskahan itu dengan pendekatan sejarah dan ilmu-ilmu sosial lainnya. dan kebudayaan bahkan perobatan.A. 2006: 43-52). bahkan H.. adat. 2006: 459-.471). Mengingat naskah-naskah atau manuskrip khazanah budaya bangsa Indonesia. Disertasi yang sangat penting artinya bagi pengembangan sejarah pemikiran keagamaan ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.A. Sebenarnya kajian terhadap naskah dengan pendekatan sejarah sosio-intelektual telah dipelopori oleh Azyumardi Azra melalui disertasinya untuk memperoleh Ph. Kecuali itu. Contribution of Islamic Manuscripts for the Study of Islamic Archaeology (Uka Tjandrasasmita. pada umumnya mengandung informasi berlimpah yang meliputi kehidupan sosial. Mengenai hal ini pernah saya kemukakan dalam suatu risalah sebagai kontribusi memperingati usia ke-80 tahun R. secara khusus kami juga telah menyampaikan makalah tentang bagaimana hubungannya antara Filologi dan Pendekatan Interdisipliner di 167 . Buku ini diharapkan mendorong para ahli filologi pribumi lainnya untuk mengadakan kajian semacam itu. Saya sendiri telah mencoba menguraikan permasalahan ini dalam buku yang baru saya sebutkan di atas. Hans Overbeck. Soejono. ekonomi.D. de Graaf dan lain-lain (Uka Tjandrasasmita: Kajian Naskah-Naskah Klasik. Cense. di Columbia University tahun 1992 dengan judul The Transmission of Islamic Reformation to Indonesia Networks of Middle Eastern and Malay-Indonesian Ulama in the Seventeenth and Eighteenth Centuries. A. kajian naskah dapat juga memberikan kontribusi pada kajian arkeologi.. hukum. yaitu Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Melacak Akar-Akar Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia. Karyanya telah saya contoh untuk membedakan ahli-ahli filologi masa lampau yang menggunakan kajiannya dengan pendekatan sejarah-politik konvensional sempit seperti R. Hoesein Djajadiningrat.Tarekat Syattariyah di Minangkabau — Uka Tjandrasasmita Hal yang menarik perhatian kita adalah bahwa buku Oman Fathurahman ini merupakan hasil kajian filologi dengan pendekatan sejarah sosial-intelektual yang masih jarang dilakukan di antara ahli filologi pribumi. baik yang bernuansa keagamaan Islam maupun yang bukan.

Isi pokoknya dapat dibaca dalam ringkasannya yang antara lain mengemukakan tentang sumber primernya yang berdasarkan 10 judul naskah-naskah Syattariyah dari Sumatera Barat. Untuk mengukur sampai dimana dinamika tarekat Syattariyah yang dibentangkan dalam naskah-naskah dari Sumatera Barat atau Minangkabau itu. 1. dapat dikatakan bahwa cakupan yang dibicarakannya cukup banyak dan sangat bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. 7. Deram (w.174 Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama pada tanggal 14 Nopember 2008. 2000).Jurnal Lektur Keagamaan. 2009: 165 . Naskahnaskah tersebut merupakan karya tulis tiga orang ulama yaitu: Imam Maulana Abdul Manaf Amin (1922-2006). H. sehingga tidak mengherankan kalau karya-karya Abdurrauf merujuk pada kitab-kitab kedua ahli tasawuf tersebut. mengingat begitu luasnya kandungan pernaskahan kuno yang dapat dikaitkan dengan kajian berbagai ilmu. Karya Abdurrauf kemudian ditransmisikan kepada Syekh Burhanuddin Ulakan yang meneruskan dan mengembangkan ajaran tarekat Syattariyah di Sumatera Barat. K. Vol. Bahkan naskah-naskah yang membicarakan hal-hal pengobatan tradisional dengan bermacam tumbuhan dapat dikaji dari segi ilmu kedokteran modern. Kedua ahli tasawuf ini adalah guru Abdurrauf ibn Ali al-Jawi al-Fansuri. dan Tuanku Bagindo Abbas Ulakan. Karya guru Syekh Burhanuddin Ulakan. Pribumisasi Tarekat Syattariyah di Sumatera Barat Kembali mengenai tinjauan terhadap buku karya Oman Fathurahman. yaitu Abdurrauf ibn Ali al-Jawi al-Fansuridi antaranya ialah Tanbīh al-Māsyī al168 . Selanjutnya juga diturunkan kepada muridmuridnya di Minangkabau sampai pada tiga orang ahli tarekat Syattariyah abad ke-20 yang namanya telah disebut di atas dan karangannya menjadi sumber primer bagi penelitian tarekat di Sumatera Barat/Minangkabau. khususnya tentang Tarekat Syattariyah di Minangkabau. No. Oman Fathurahman dalam penelitiannya menggunakan dua sumber Arab yaitu kitab al-Sim¥ al-Majīd sebuah karangan tasawuf Syekh A¥mad al-Qusyāsyī dan It¥āf al-ª±ki bi Syar¥ al-Tu¥fah alMursalah ilā Rū¥ al-Nabī karangan Ibrāhīm al-Kūrānī.

yaitu Tanbīh al-Māsyī. khususnya mengenai amalan-amalan Syattariyah yang mengandung rumus-rumus atau simbol-simbol zikir dan cukup penting. sedangkan untuk kitab yang menjadi objek kajiannya. Meskipun demikian. Persoalan yang diangkat dalam karangan tersebut ialah masalah Wujudiyah yang pada abad ke-17 menjadi ajang pertentangan antara Hamzah al-Fansuri dan muridnya asSumatrani. kata Azyumardi Azra. 1999).Tarekat Syattariyah di Minangkabau — Uka Tjandrasasmita Mansūb il± °arīq al-Qusyāsyī (Pedoman bagi orang yang menempuh tarekat al-Qusyāsyī). Ada perbedaan antara tujuan zikir Abdurrauf dalam Tanbīh alMāsyī yang merujuk kepada karya Syekh al-Qusyāsyī dengan Syattariyah di Sumatera Barat. teks Tanbīh al-Māsyī yang aslinya ditulis dalam bahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. yaitu Nuruddin al-Raniri sehingga atas anjurannya kitab-kitab karangan kedua ahli tasawuf Wujudiyah itu dibakar. dijumpai empat salinan naskah yang disalin dalam rentang waktu berbeda. dan satu buah di bidang tafsir. Oman Fathurahman menyebutkan tidak kurang dari 23 buah karya Abdurrauf di bidang tasawuf. Bila Nuruddin al-Raniri yang pada waktu itu menjadi penentang keras terhadap Wujudiyah maka Abdurrauf al-Singkili bersikap moderat yang dapat kita simak dari kitab Tanbīh al-Māsyī dan kitab-kitab lainnya. Kitab-kitab di bidang hadis yang dicatat Oman Fathurahman ada dua buah. 64-69 dan 7072). serta dianggap ajaran yang sesat oleh lawannya. sayang dalam buku ini ajaran-ajaran zikir Syattariyah Abdurrauf yang terdapat dalam teks itu. menurut pembacaan saya. Namun. belum mendapat porsi yang cukup memadai dalam pembahasannya karena baru diungkap secara sepintas. Pada bab IV. Kitab tafsirnya yang berjudul Tarjumān al-Mustafīd merupakan tafsir Al-Qur’an pertama di dunia Islam dalam bahasa Melayu. Abdurrauf mewacanakan bahwa tujuan akhir zikir tarekat Syattariyah ialah 169 . hal tersebut sudah dibahas dengan teliti dalam subjudul “Zikir Tarekat Syattariyah dalam Tanbīh al-Māsyī dan Kifāyah al-Muhtājīn” (h. Kitab Abdurrauf ini sebenarnya pernah dikaji dan diterbitkan Oman Fathurahman dengan judul Menyoal Wahdatul Wujud: Kasus Abdurrauf Singkel di Aceh Abad ke-17 (Fathurahman. Dalam naskah-naskahnya. 10 buah di bidang fikih.

yaitu apa bedanya dengan upacara tabuik yang biasanya dilakukan 170 . Dalam level tertentu. sejumlah naskah Minangkabau menjelaskan adanya upaya pelucutan doktrin Wujudiyah dari keseluruhan ajaran tareakat Syattariyah. No. Vol. 2009: 165 . dengan alasan bertentangan dengan prinsip-prinsip ahlussunnah wal-jamaah. Sikap dari para penganut tarekat Syattariyah di Sumatera Barat/Minangkabau tersebut oleh Oman dibahas berdasarkan naskah-naskah primer yang ditulis. Orang yang mengikuti upacara ritual ini bukan hanya penganut tarekat Syattariyah tetapi juga penganut Islam pada umumnya. 7. Ada pertanyaan yang perlu dikemukakan. 111-129). 1. 130-149). disalin dan diwariskan oleh para guru tarekat Syattariyah dari surau sebagai skriptorium pernaskahan. Hal lain yang juga menarik perhatian kita adalah uraian yang didasarkan pada naskah-naskah dari Minangkabau/Sumatera Barat yang mengandung gambaran adanya perbedaan paham antara tarekat Syattariyah dengan tarekat Naqsyabandiyah.Jurnal Lektur Keagamaan. padahal kenyataannya tarekat Syattariyah yang diajarkan Syekh Burhanuddin Ulakan sampai masa berikutnya senantiasa mendasarkan pada prinsip-prinsip al-Quran dan Hadis Nabi. tujuan akhir zikir hanya “sekadar” untuk membersihkan jiwa agar memperoleh kedekatan dengan Tuhan dan untuk membuka rasa agar memperoleh keyakinan dan kesaksian akan hakikat dan wujud-Nya.174 konsep fana. yang dalam buku ini dikemukakan pada bagian keenam (h. Ritual Basapa ialah upacara berziarah ke makam Syekh Burhanuddin Ulakan sebagai ulama besar tarekat Syattariyah di Sumatera Barat yang dilakukan setiap tahun pada tanggal 10 Safar. sedangkan dalam teks-teks di Sumatra Barat lebih banyak disebutkan bahwa. Tarekat Syattariyah dianggap oleh kelompok masyarakat penganut tarekat Naqsyabandiyah mengajarkan doktrin Wujudiyah yang dianggap berlebihan dan menyimpang. Di dalamnya dibahas serta diberikan contoh pula adanya pribumisasi tarekat Syattariyah yang antara lain berwujud dalam kesenian upacara ritual kesenian yang disebut Basapa dan kesenian Salawat Dulang (h. Jelas ini merupakan bagian dari dinamika tarekat Syattariyah di Sumatera Barat. Bulan Safar tersebut dikaitkan dengan anggapan masa wafatnya Syekh Burhanuddin Ulakan sendiri.

dan “versi Girilaya”. Sunan Gunung Jati atau Syekh 171 . dan “Girilaya” Untuk melengkapi disertasinya. Dalam upacaya ini biasanya terdiri dari dua grup yang dilaksanakan dengan cara berdialog tentang keagamaan Islam. Tarekat Syattariyah versi “Kuningan”. Oman Fathurahman telah memperluas pembahasan tentang dinamika tarekat Syattariyah di Minangkabau melalui perbandingan dengan “versi Kuningan”. Kalau Oman Fathurahman mengambil contoh naskah versi Kuningan. karena hal itu mungkin disebabkan adanya hubungan silsilah guru-guru tarekat Syattariyah yang juga sering mencantumkan tokoh Ali bin Abu Thalib panutan utama aliran Syiah. naskah yang berasal dari Kiai Maolani. Selain itu disisi pula dengan khutbah. tarekat Syattariyah ketiga versi tersebut dikatakannya. Menurut tradisi. Cirebon. yaitu kesenian yang menggunakan antara lain dulang atau talam dengan cara dipukul-pukul sambil membacakan salawat Nabi. tarekat di Kuningan. Salawat Dulang atau Salawat Talam sampai kini dilakukan oleh masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat.Tarekat Syattariyah di Minangkabau — Uka Tjandrasasmita oleh penganut Syiah di Pariaman dan tempat lainnya? Ini bisa bersamaan atau hampir bersamaan. Kecuali itu pribumisasi tarekat Syattariyah terekspresi dalam upacara kesenian Salawat Dulang. penelusurannya akan semakin lengkap jika dikaitkan pula dengan ajaran tarekat Syattariyah yang semula dianut oleh Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah. Berbeda dengan tarekat Syattariyah Sumatera Barat. “Cirebon”. dan berbagai lagu-lagu lainnya. dan Girilaya cenderung kepada tarekat Syattariyah Abdurrauf dari Aceh dengan tidak menolak sama sekali tasawuf Wujudiyah walaupun tetap mengajarkan Martabat Tujuh yang diterima oleh Syekh Abdul Muhyi (Pamijahan) dari gurunya Abdurrauf al-Singkili. baik dari Kuningan maupun dari Mertasinga Cirebon yang ditulis pada abad 18-19 M. pertama kalinya upacara itu dilakukan pada masa hidupnya Syekh Burhanuddin Ulakan yang pernah menyaksikan upacara kesenian di Aceh dengan menggunakan rebana. sebelum diterbitkan dalam bentuk buku. “versi Cirebon”. Karena berdasarkan pemberitaan dalam naskah. Demikian di antaranya pribumisasi tarekat Syattariyah di Sumatera Barat.

Sayidina Muhammad al-Baqir. Hal ini perlu diadakan penelitian lebih jauh. menurut cerita. Sejarah Wali: Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati (Naskah Mertasinga. ia pernah ke Cirebon dan mengajarkan tarekat Syattariyah. bagaimanapun. 1. Sayidina Zainal Abidin. Masalah tarekat-tarekat ini dapat dibaca dalam Amman N. Kecamatan Tondano. Imam Ja’far as-Sidik. apakah ada hubungannya dengan naskah tarekat Syattariyah dari Haji Maolani-Lengkong-KuninganJawa Barat yang diasingkan Pemerintah Hindia-Belanda semasa Perang Diponegoro ke Menado.174 Syarif Hidayatullah berguru tasawuf tarekat Kubrawiyah. dan Satoriyah (Syattariyah). Vol. Tambahan lain yang perlu dimasukkan adalah bagaimana hubungan tarekat Syattariah dengan Martabat Tujuh yang ditulis oleh Haji Hasan Mustafa. ke Sayidina Husein. yang terkenal sebagai pujangga besar Sunda dengan banyaknya karangan mengenai adat istiadat dan lain sebagainya. 2009: 165 . 2007). Abi Yazid al-Bisthami. Wahyu. Cirebon dan Kuningan. Kini. Sebab. No. Kecuali itu bagaimana kaitan ajaran tarekat Syekh Abdul Muhyi dari Pamijahan dengan yang berada di Cirebon. Muhammad Magrib dan seterusnya secara turun temurun sampai pada ulama-ulama di Jawa. masyarakat Kuningan menyebut Kiai Maolani atau Lengkong itu dengan Embah Manado. Sayidina Ali. Oleh karena itu. Dalam naskah Kuningan lebih rinci lagi ajaran tasawuf dengan tarekat-tarekatnya terutama tarekat Syattariyah seperti disebut dalam silsilah Mursyidnya: dari mulai Nabi Muhammad. Kabupaten Minahasa. sampai terakhir pada Kiai Mas Demang wedana pensiun Atmawijaya. telah memberikan sumbangan besar bagi perkembangan studi filologi dengan pendekatan sejarah sosio172 . makamnya ada di kompleks makam Kiai Mojo di Kampung Jawa. 2005) dan (Naskah Kuningan. 7. Naqsyabandiyah. Juga bagaimana kelak jika telah dipelajari tarekat Syattariyah yang diajarkan di Buton dan mungkin tempat-tempat lainnya yang sudah tentu akan memberikan gambaran yang luas sekali tentang keberadaan tarekat Syattariyah di Nusantara ini. Penutup Hasil kajian yang telah dilakukan Oman Fathurahman melalui bukunya ini.Jurnal Lektur Keagamaan.

E. 1999. 1999. Azyumardi.O. Penerbit Mizan.-Yayasan Obor Indonesia.O. Semoga buku ini mencapai tujuannya untuk menambah wawasan para pembacanya dan juga untuk memperkaya khazanah kepustkaan Indonesia pada umumnya dan kepustakaan Islam Indonesia pada khususnya. [] Daftar Pustaka Azra.E. Bandung: Mizan. perlu menyadari untuk mengadakan penelitian naskah-naskah yang bernuansa keagamaan. Jakarta: E. Chambert-Loir. Jakarta dan Bandung: E. Oman. Hasil kajian seperti itu akan mendorong semangat terutama bagi siapapun yang berkecimpung. Henri & Oman Fathurahman. yang tidak terbatas pada kajian filologi. baik dalam bidang filologi maupun di bidang ilmu-ilmu lainnya. Tanbih Al-Masyi Menyoal Wahdatul Wujud Kasus Abdurrauf Singkel di Aceh Abad 17. Fathurahman. terutama yang termasuk ilmu-ilmu sosial.F.Tarekat Syattariyah di Minangkabau — Uka Tjandrasasmita intelektual atau pemikiran Islam karya cendekiawan Muslim masa lampau di Indonesia. bahkan ilmu-ilmu lainnya seperti kedokteran dan teknologi. baik UIN Syarif Hidayatullah atau di perguruan tinggi agama lainnya. Buku karya Oman Fathurahman ini dapat semakin menegaskan bahwa naskah kuno keagamaan memiliki arti yang sangat penting untuk studi-studi keagamaan. Lebih-lebih bagi mahasiswa-mahasiswa Fakultas Adab dan Humanaiora. 173 . Panduan Koleksi Naskah Naskah Indonesia Sedunia/ World Guide to Indonesian Manuscript Collections.F. Demikian pula bagi para mahasiswa yang tengah menuntut ilmu di berbagai jurusan dengan bidangnya masing-masing dapat menyentuh nuraninya untuk mempelajari filologi atau pernaskahan. 1994. Centre de Jakarta. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII Melaacak Akar-Akar Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia. Melalui kajian semacam itu dapat diyakini betapa tingginya nilainilai keintelektualan para ulama kita di masa lampau yang telah mewariskan ratusan bahkan ribuan naskah sebagai warisan khazanah budaya bangsa.

Soejono’s Fest Script. Sejarah Wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati (Naskah Mertasinga).P. 1998. Indonesian Institute for Sciences: International Center for Prehistoric and Austronesian Studies. 1426 H/1995 M. 459-471 ----------. Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama R.Jurnal Lektur Keagamaan. R. “Pendekatan Interdisipliner Dalam Kajian Filologi”. ----------. (Naskah Kuningan). Archaeology Indonesia Perspective. 4 November. 2009: 165 .Alih aksara dan bahasa. Alih aksara dan bahasa. Bandung: Penerbit Pustaka ----------. Kajian Sejarah dan Arkeologi Islam di Indonesia: Pemanfaatan: Hasil Kajian Filologi. 2007.I. 174 . 7. 2008. 2006. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. No. 1.174 Tjandrasasmita. 2006. Kajian Naskah-Naskah Klasik dan Penerapannya bagi Kajian Sejarah Islam di Indonesia. Jakarta: Pidato Penganugerahan Gelar Doktor Honoris Causa oleh IAIN Syarif Hidayatullah. h. Disampaikan dalam Diklat Penelitian Naskah Keagamaan Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan Departemen Agama RI. Tgl. Sejarah Wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. “The Contribution of Islamic Manuscripts for the Study of Islamic Archaeology”. Vol. Wahju. Bandung: Penerbit Pustaka. Uka. Amman N. ----------.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful