ISSN 1693-7139

Jurnal Lektur Keagamaan
Vol. 7, No. 1, Tahun 2009/No. Akreditasi: 48/Akred-LIPI/P2MBI/12/2006

Daftar Isi
Kajian Naskah, Sejarah, dan Arkeologi Teks, Islam dan Sejarah: Setali Tiga Uang Fuad Jabali Perang dan Damai di Aceh: Kajian Manuskrip Aceh Tentang Konflik dan Solusinya Fakhriati 1 — 20

21 — 52

Beberapa Aspek Kodikologi Naskah Keagamaan Islam di Bali: Sebuah Penelusuran Awal Asep Saefullah dan M. Adib Misbachul Islam 53 — 90 Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua dalam Naskah-Naskah Tarekat Syattariyah di Minangkabau Pramono dan Bahren

91 — 108

Peran Penting Pernaskahan dan Benda Khazanah Keislaman Lainnya dalam Kajian Arkeologi Islam di Indonesia Agus Aris Munandar 109 — 132 Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara Irmawati M-Johan Tokoh K.H. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual 133 — 146

Discourse, and His Work Collection
Usep Abdul Matin Telaah Buku Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Tinjauan Buku “Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Teks dan Konteks”, karya Oman Fathurahman Uka Tjandrasasmita 165 — 174 147 — 164

i

ISSN 1693-7139

Jurnal Lektur Keagamaan
Vol. 7, No. 1, Tahun 2009/No. Akreditasi: 48/Akred-LIPI/P2MBI/12/2006
PEMBINA PEMIMPIN UMUM REDAKTUR AHLI (MITRA BESTARI) M Atho Mudzhar Maidir Harun Uka Tjandrasasmita (UIN Syahid Jakarta); Nabilah Lubis (UIN Syahid Jakarta); Abdul Hadi WM (Universitas Paramadina); Achadiati Ikram (Universitas Indonesia); Badri Yatim (UIN Syahid Jakarta); Oman Fathurahman (UIN Syahid Jakarta); Tommy Christomy (Universitas Indonesia); Titik Pudjiastuti (Universitas Indonesia); Sudarnoto Abdul Hakim (UIN Syahid Jakarta) Asep Saefullah Masmedia Pinem E. Badri Yunardi, Harisun Arsyad, Ahmad Rahman, Muchlis, Andi Bahruddin Malik, Dazrizal, M. Syatibi, AH, Ali Akbar, Muchlis M. Hanafi, Ridwan Bustamam, Munawiroh Ibnu Hasyir, Nurman Kholis, Muhammad Salim, Ida Swidaningsih, Umi Kulsum Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI Gedung Bayt al-Qur’an & Museum Istiqlal, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta 13560 Telp./Faks. (021) 87794220 E-mail: puslitbang_lektur@yahoo.co.id

PEMIMPIN REDAKSI SEKRETARIS REDAKSI DEWAN REDAKSI

TATA USAHA ALAMAT REDAKSI

* Kulit depan: Naskah MS Serangan 01, h. 56, milik H. Baharuddin, Kampung Serangan, Denpasar, Bali; dan Halaman Awal Naskah Hiyakaye milik Syik Jah Amut, Geulumpang Miyeunk, Pidie, Aceh. *

Berdasarkan SK Kepala LIPI No. 1563/D/2006 tanggal 18 Desember 2006, Jurnal Lektur Keagamaan telah terakreditasi A ii

teks-teks yang lahir dalam dunia Islam. Cakupan tersebut meliputi Kajian Naskah Klasik. dan sejarah (ruang dan waktu) sebagai konteks dimana sistem nilai itu diturunkan dalam teks. yaitu: 1) teks-teks yang dilahirkan oleh kalangan skripturalis/fundamentalis. teks dan sejarah. Tulisan ini menjelaskan hubungan yang erat antara Islam sebagai sebuah sistem nilai. dan Telaah Buku/Kitab serta materi yang berkaitan dengan kebijakan. Pada tulisan kedua diulas mengenai perang dan damai di Aceh melalui kajian atas manuskrip Aceh tentang konflik dan solusinya. Telaah Dokumen. Kajian Lektur Kontemporer. Aceh adalah sebuah daerah yang memiliki penduduk yang kehidupan mereka cukup berfluktuatif. Secara garis besar. Golongan pertama lebih menekankan teks dan cenderung menghasilkan teks yang stabil. dan 2) teks-teks yang dilahirkan oleh kalangan esensialis. Khazanah Budaya Keagamaan. Tulisan pertama menyajikan tentang Islam. teks dan sejarah adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Salah satu sumber yang sangat penting digunakan untuk mengkaji sejarah kehidupan orang Aceh adalah naskah kuno yang menjadi tulisan iii . Islam. Obituari/Tokoh. Arkeologi dan Sejarah. Sampai batas tertentu. kepada kelompok mana teks itu dihubungkan. membaca teksteks dari Timur Tengah nampaknya lebih ‘mudah’ dibanding membaca dokumen sejenis di Indonesia. Di sinilah kejelian seorang filolog diuji.Pengantar Redaksi Sejak tahun 2008. teks dimana sistem nilai itu diekspresikan. setidaknya dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori besar. redaksi menampilkan delapan tulisan. Perang dan damai telah mewarnai daerah ini sepanjang sejarahnya. Pada Nomor ini. Konflik internal maupun eksternal telah terjadi dalam periode-periode yang berbeda. sedangkan golongan kedua lebih pada konteks tetapi teks yang dihasilkannya cenderung labil. Jurnal Lektur Keagamaan telah memperluas wilayah cakupannya yang disesuaikan dengan tugas dan fungsi Puslitbang Lektur Keagamaan.

Secara kultural. mulai dari abad ke-17 hingga abad ke-20 M. Al-Qur’an. 2) Bahasa dan aksara yang digunakan meliputi Arab. dan menjelaskan sikap dan tingkah laku orang Aceh secara langsung. kertas modern bergaris. Para iv . khususnya terkait dengan Tarekat Syattariyah. 2) Naskah lontar sebanyak 12 naskah. adab kepada guru. Tulisan keempat tentang kepemimpinan Islam di kalangan Kaum Tua dalam naskah-naskah Tarekat Syattariyah di Minangkabau. dan geguritan (cerita). Kondisi naskah keagamaan Islam di Bali pada umumnya sangat memprihatinkan. dapat dicatat beberapa hal: 1) bahan yang digunakan beragam.mereka sendiri. dan bagaimana karater serta sikap mereka pada masa lalu. tasawuf. tauhid. Makalah ini mencoba menemukan dan menganalisa sumber-sumber primer ini dalam hubungannya dengan perang dan damai yang terjadi dalam sejarah kehidupan orang Aceh. Tulisan ketiga menyajikan hasil penelusuran awal tentang beberapa aspek kodikologi naskah keagamaan Islam di Provinsi Bali. Tulisan ini merupakan hasil penelusuran naskah keagamaan Islam di Bali tahun 2008 yang lalu. mengetahui riwayat guru adalah sebuah keharusan karena bermakna penghormatan kepada guru. generasi sekarang dapat membaca dan memahami langsung tentang tulisan orang Aceh yang menjadi sumber utama. dan obatobatan. 3) Waktu penyalinan antara abad ke-17–19 M. dan lontar. doa. Dari aspek kodikologi. wirid. untuk kemudian menjadi teladan bagi kehidupannya. Melayu (Jawi). Karenanya. Bugis. Sebagian besar naskah sudah rusak. yaitu dluang. karena di dalamnya mengandung informasi asli tentang Aceh. dan 3) Naskah Al-Qur’an sebanyak 14 naskah. 4) Isi naskah antara lain mencakup fikih. dan bahkan tidak utuh lagi. Tulisan ini berupaya memberikan penafsiran atas naskah-naskah lokal di Minangkabau. Naskah yang ditemukan sebanyak 38 buah dengan perincian sebagai berikut: 1) Naskah keagamaan berbahan kertas sebanyak 12 naskah. tidak terawat dan kurang mendapat perhatian. kertas Eropa. naskah-naskah tersebut memiliki arti penting karena berkaitan dengan kebutuhan keagamaan sehari-hari bagi para pengikut Tarekat Syattariyah di Minangkabau. Bagi para penganut tarekat Syattariyah. dan Bali. bahasa (nahwu-saraf). dan yang tertua tahun 1035 H/1625 M. Pertanyaan utama yang perlu dibahas adalah bagaimana cara orang Aceh mengatasi konflik dalam kehidupan mereka.

Selanjutnya adalah tulisan tentang tokoh. Tulisan ini menjelaskan bagaimana peran arkeologi dalam kajian Islam di Nusantara dan hal-hal apa saja yang menjadi kajian arkeologi. Buku ini merupakan hasil kajian filologi dengan v . khususnya naskah klasik keagamaan (Islam) dalam studi arkeologi religi (Islam). Dalam kesulitan itu. sebagai penerang di dunia bahkan sampai di akhirat. Ahmad Sanusi (1888-1950). tingkah lakunya diikuti. Departmen Agama RI tahun 1986. riwayat dan ajarannya ditulis dan disebarkan. Tulisan ini membahas tentang posisi penting data tertulis. Tulisan terakhir merupakan telaah buku yang judul “Tarekat Syattariyah di Minangkabau Teks dan Konteks”. Namun. Tulisan ini membahas wacana keagamaan dan karya-karya K. Selain itu. dan (d) Memperkaya interpretasi untuk dapat mengembangkan historiografi. tetapi juga di bidang sosial-budaya dan politik. Sedangkan tulisan kedua membahas peran arkeologi dalam kajian Islam Nusantara. ditemukan kurang lebih seratus dua puluh dua (122) karya K. Menurut Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur Agama (Skr.H. Mereka dihormati. dan apa saja kiranya buku-buku yang telah beliau tulis. Ahmad Sanusi. K.H. Puslitbang Lektur Keagamaan) Badan Litbang dan Diklat. bahkan sulit ditemukan. sebagian besar dari karyanya tidak tersimpan di satu tempat.H. Ahmad Sanusi. Tulisan pertama menyajikan peran penting pernaskahan dan benda khazanah keislaman lainnya dalam kajian arkeologi Islam di Indonesia. Peranan data dari sumber tertulis dalam kajian arkeologi Islam antara lain sebagai berikut: (a) Pendukung kajian terhadap data artefaktual. karya Oman Fathurahman. Dua tulisan lain selanjutnya membahas hubungan naskah dengan arkeologi. (c) Data dari sumber tertulis dapat menjadi dasar penelitian dan kerangka acuan kajian arkeologi Islam.ulama pemimpin Kaum Tua berperan tidak hanya di bidang keagamaan. Ahmad Sanusi telah menulis selama hidupnya 480 karya tulis.H. Ahmad Sanusi itu. yaitu K. Tulisan ini bertujuan untuk berbagi pendapat tentang siapa K.H. Suaranya didengar. dikemukakan pula berbagai penelitian yang telah dilakukan selama ini yang berkait dengan Islam di Nusantara. (b) Memperluas pemahaman tentang kedudukan dan peranan artefak dalam masyarakat sezaman.

redaksi mengucapkan terima kasih secara khusus kepada Lukman Hakim—Staf Ahli pada Jurnal Penamas. Demikian. Redaksi vi . Balai Litbang Agama. Jakarta—yang telah menerjemahkan semua abstrak ke dalam bahasa Inggris. dan semoga bermanfaat. Tarekat Syattariyah dianggap oleh kelompok masyarakat penganut Tarekat Naqsyabandiyah mengajarkan hal-hal wujudiyah. Pembahasan dalam buku telah mengalami perluasan dengan tambahan analisis terhadap representasi naskah Sunda “versi Kuningan” dan dua naskah Jawa “versi Cirebon” dan “versi Girilaya”. menggambarkan adanya perbedaan paham antara Tarekat Syattariyah dengan Tarekat Naqsyabandiyah.pendekatan sejarah sosial-intelektual yang masih jarang dilakukan di antara ahli filologi pribumi. kenyataannya. Terakhir. selamat membaca. Tarekat Syattariyah yang diajarkan Syekh Burhanuddin Ulakan sampai masa berikutnya bersikap lumer. Padahal. Uraian yang didasarkan pada naskah-naskah Syattariyah Minangkabau. dan kepada Usep Abdul Matin—Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta—atas kontribusinya mengedit abstrak berbahasa Inggris.

Adib Misbachul Islam menyelesaikan studi S1 di Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab IAIN (skr. Jawa Barat. Mukjizat Sabar.) karya Tallal Alie Turfe (Bandung: Mizania. No. Konstitusionalis Pertama yang Prosais”.) karya Joel L. dan lain-lain. di Kuala Lumpur Malaysia. Ia menyelesaikan S1 pada Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam IAIN (skr. Ia dapat dihubungi di Jalan Garuda IV Blok D. UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2001. 11-25 Juli 2004. Sawangan Depok 16519. 2006).8/30. Pada vii . “Ragam Hiasan Mushaf Kuno Koleksi Bayt al-Qur’an dan Museum Istiqlal. Karya-karyanya antara lain “Ibnul Muqaffa. (terj. Departemen Arkeologi. (terj. lulus tahun 1984 dengan judul Skripsi “Beberapa Data Historis dari Parasasti Mula-Malurung”. Ponsel 0816 1447887. lulus tahun 1990 dengan judul tesis “Kegiatan Keagamaan di Gunung Pawitra: Gunung Suci di Jawa Timur Abad ke-14--15”. Menyelesaikan pendidikan S1 (Sarjana Sastra.Para Penulis Agus Aris Munandar adalah Staf Pengajar Program Studi Arkeologi Indonesia. Saat ini Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.ac. 2003). Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI). UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 1997. (021) 98284951. Fakultas Pascasarjana Universitas Indonesia. Kraemer (Bandung: Mizan. Vol. Renaisans Islam: Kebangkitan Intelektual dan Budaya pada Abad Pertengahan. dan S 2 di Program Studi Ilmu Susastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia tahun 2005. dan S2 di perguruang tinggi yang sama tahun 2000 pada Program Studi Sejarah Peradaban Islam. 18 Oktober 1971. atau email: agus. 1. Manajer Penelitian dan Pengabdian Masyarakat FIB UI (2008—sekarang). No.id Asep Saefullah lahir di Kuningan. S3 (Doktor Arkeologi). bidang Arkeologi) dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia. M. adalah Peneliti di Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI.aris@ui. Tahun 2007 mengikuti Diklat Penelitian Naskah Keagamaan. S2 (Magister Humaniora). 2007. Pernah menjadi fasilitator pada Pelatihan Filologi Nasional yang diselenggarakan oleh Yayasan Naskah Nusantara (YANASSA) bekerja sama dengan The Toyota Foundation dan PPIM UIN Jakarta. mengikuti International Course on the Handling and Cataloguing of Islamic Manuscripts. Tahun 2006. 5. Sawangan Permai. Departemen Agama RI. Jakarta 1993. lulus tahun 1999 dengan judul disertasi “Pelebahan: Upaya Pemberian Makna para Puri-puri Bali abad ke14—19”. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia). Jakarta. Pelita. Jakarta” Jurnal Lektur Keagamaan.

Vol 6. McGill University (1999). dia adalah Deputi Direktur Bidang Akademik Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Islam in Indonesia: Islamic Studies and Social Transformation (Co-editor Jamhari). Irmawati M-Johan sejak tahun 1981-sekarang menjadi dosen di Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI). Editor Studia Islamika. No. Riaz Hasan. No. Jakarta: Nalar. 2002. 2002. mendapatkan gelar Doktor dengan predikat Dean Honour List dari Institute of Islamic Studies. Jurnal Lektur Keagamaan. Di antara karya-karya tulisnya adalah IAIN: Modernisasi Islam di Indonesia (Co-editor Jamhari).bulan Maret-April 2006. yang diselenggarakan oleh al-Furqan Islamic Heritage Foundation. Montreal-Jakarta: ICIHEP. 2006. 2003. International Journal for South East Asian Islam. The Foreign Fulbright Grant telah memberikan beasiswa kepadanya untuk program S2 di Duke. sedangkan The Asian Foundation for Research and Consultancy viii . Vol. Jurnal Lektur Keagamaan. MA dalam Islamic Societies and Cultures dari School of Oriental and African Studies (SOAS) University of London (1992). dosen di Fakultas Adab dan Humaniora dan di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Karya tulisnya antara lain. “Membangun Pesantren di Ranah Sunda: Belajar dari Darul Arqam” dalam Jajat Burhanuddin and Dina Afrianty. London. Mencetak Muslim Modern. Fuad Jabali. Malaysia. bekerja sama dengan International Islamic University Malaysia (IIUM). 1. Peta Pendidikan Islam di Indonesia (Making Modern Muslims: Map of Islamic Education in Indonesia). Benturan Peradaban: Sikap Islamis Indonesia Terhadap Amerika Serikat (Co-author). selama tiga minggu mengikuti International Course in the Handling and Cataloguing of Islamic Manuscripts di Kuala Lumpur. dan Sarjana dalam bidang Sejarah dan Peradaban Islam dari Fakultas Adab IAIN (sekarang Fakultas Adab dan Humaniora UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta (1989). 2006. Departemen Agama. Jakarta: RajaGrafindo Persada. 3. 2005. “Menguak Sufisme Tuang Rappang”. Menjadi Sekretaris Departemen Arkeologi FIB UI sejak 2004-2007. Usep Abdul Matin memperoleh gelar MA di bidang Kajian Islam dari Duke University pada tanggal 26 Mei 2008 di Amerika Serikat dan satu lagi dari Leiden University di Belanda (cum laude) pada tanggal 22 Februari 2001. Jakarta: Logos. 2005. Konsultan Projek Kerjasama Luar Negeri (Indonesia-Canada Social Equity Project). J. “Relasi Tuhan dan Alam: Pandangan Sufistik Syaikh Yusuf Makassar dalam Naskah Sirr al-Asrar”. Selain mengajar. 2008. 2. dan (2) Bagaimana tradisi Islam klasik tersebut digunakan atau disalahgunakan oleh masyarakat Muslim kontemporer untuk menjustifikasi posisi/aliran keberagamaan mereka. The Comnpanions of the Prophet: A Study of Geographical Distribution and Political Alignments. Jakarta: RajaGrafindo Persada. Sejak 2007 hingga sekarang menjadi Ketua Departemen Arkeologi dan Ketua Program Pascasarjana Departemen Arkeologi FIB UI. Keragaman Iman: Studi Komparatif Masyarakat Muslim (co-translator). Brill. Minat keilmuannya terfokus pada dua hal: (1) Tradisi Islam klasik. Leiden: E.

Jurusan Ilmu ix . Saat ini menjadi dosen dan peneliti di Universitas Andalas. dan “Terrorists ignore God. yaitu Identifying and Preserving Acehnese Manuscripts Located in Pidie and Aceh Besar didanai oleh British Library. mengikuti program pembibitan calon dosen IAIN se-Indonesia di Jakarta. Menamatkan studi Strata 1 (S1) di Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Universitas Andalas. Fakhriati lahir di Pidie.) di Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam (SPI) Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada bulan Februari 1996 (cum laude). Berbagai tulisan ilmiah dan esainya pernah di muat di beberapa jurnal dan terbitan lokal Sumatra Barat. Saat ini menjadi dosen dan peneliti di Universitas Andalas Padang. Ia termasuk penulis yang produktif dan pernah menjadi chief editor UIN News dalam bahasa Inggris dari 2005 sampai 2008. Tahun 1994. Sejak S2 sampai sekarang.Ag. S2 di Leiden University pada tahun 1998. Kuningan. menyelesaikan studi S1 di IAIN ArRaniry jurusan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah pada tahun 1993. Sejak tahun 1995 mengajar di IAIN Ar-Raniry dan mulai tahun 1998 mengajar di IAIN Sumatera Utara. serta perna menjadi staff rektor UIN Jakarta. Menamatkan studi Strata Sat (S1) di Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Universitas Andalas. Pada tahun 2008 bergabung di UIN Jakarta dan tahun 2009 bulan juni mulai aktif di Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama. Beliau sekarang dosen dan sekertaris jurusan untuk program SPI FAH UIN Jakarta. seperti “Theorizing the 9/11 atrocity: Its ubiquitous persistence” (09/15/2008). 14 Juni 1970. “We are religious but also corrupt” (08/14/2008). dua penelitian telah dilakukan. untuk tahun ini buku yang telah terbit adalah Menelusuri Tarekat Syattariyah di Aceh lewat Naskah. Bahren lahir di Padang 06 Pebruari 1979. Aceh. penelitian tertuju pada naskah-naskah kuno khususnya naskah Aceh. Lebih dari itu. tulisannya dalam bahasa Inggris yang berjudul “Suicide Bombing: A Sociological Approach to 9/11” sudah diterbitkan oleh Penerbit Mitra dalam Sociologi: Sebuah Pengantar Tinjauan Pemikiran Sosiologi Perspektif Islam (September 2008: 270-284). Tulisantulisannya yang lain dalam bahasa Inggris juga sudah dimuat di koran The Jakarta Post. Pramono lahir di Medan 12 Desember 1979. Dalam tahun ini. life to pursue heaven” (01/24/2006). dan Katalog Naskah Awe Geutah bekerjasama dengan Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama. Jawa Barat pada 8 Oktober 1930. Strata dua (S2) pada Program Studi Filologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Bali. dan S3 di Universitas Indonesia jurusan Filologi pada tahun 2007. Uka Tjandrasasmita lahir di Subang. Beliau memperoleh Sarjana Agama (S. Kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI). Selain itu. Tulisan ilmiah populernya pernah di muat di beberapa surat kabar lokal Sumatra Barat dan Riau.(AFRC) representative for Islamic Studies (INIS) memberikan beasiswa kepadanya untuk program S2 di Leiden.

konsultan The Project of Cultural Tourism Development in Central Java and Yogyakarta (UNESCO) tahun 1992. selesai tahun 1960. Direktur Sejarah dan Purbakala Departemen P dan K (1974-1979).Purbakala dan Sejarah Kuno.C. juga sebagai dosen Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta. di samping sebagai dosen tetap di Universitas Pakuan Bogor. x . Di antara jabatan yang pernah didudukinya adalah Kepala Dinas Arkeologi Islam pada Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional Departemen P dan K (19861974). Pernah menjadi anggota (mewakili pemerintah RI) International Commission for the Preservation of Islamic Cultural Haritage (OKI) tahun 1982-1990. dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 1998. Memperoleh gelar Doktor H. Direktur Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Departemen P dan K (1979-1990). dan lainlain. Saat ini.

Tulisan wajib memperhatikan kaidah-kaidah penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang berlaku serta menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar berdasarkan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). dan Daftar Pustaka ditulis: Noer. Jakarta: LP3ES. font Times New Roman 12. Penulis harap menyertakan abstrak dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Redaksi menerima tulisan mengenai kelekturan. penulis hendaknya berpedoman pada Pedoman Transliterasi ArabLatin SKB Dua Menteri. Menteri Agama RI Nomor 158 tahun 1987 dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 0543 b/u/1987 tentang Pedoman Transliterasi Arab–Latin. 1980). dan alamat lengkap. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. xi . Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Sumber rujukan menggunakan footnote (catatan kaki) yang ditulis seperti contoh berikut: Deliar Noer. artikel setara hasil penelitian.Ketentuan Pengiriman Tulisan Jurnal Lektur Keagamaan terbit dua kali setahun. dan khazanah budaya keagamaan. 109. antara lain tentang naskah klasik. 1980.5 spasi. Tulisan dapat berupa ringkasan hasil penelitian. kata kunci. kajian tokoh (obituari) maupun telaah kitab atau tinjauan buku. dan diserahkan dalam bentuk print out dan file dalam format Microsoft Word. biodata singkat dalam bentuk esai. literatur kontemporer. Panjang tulisan antara 15-25 halaman kuarto 1. h. Dalam hal penggunaan transliterasi Arab-Latin. Deliar. (Jakarta: LP3ES.

lektur@depag. Gedung Bayt al-Qur’an & Museum Istiqlal. xii . Badan Litbang dan Diklat. (021) 87794220 Bagi lembaga yang ingin mendapatkan jurnal ini dapat menghubungi alamat di atas./Faks.id Atau melalui pos ke alamat: Puslitbang Lektur Keagamaan. Dan. Departemen Agama RI. tulisan yang dimuat tidak selalu mencerminkan pandangan Redaksi. Tulisan dapat dikirimkan melalui e-mail: jurnal. Jakarta 13560 Telp.Redaksi berhak menyunting naskah tanpa mengurangi maksud tulisan. Taman Mini Indonesia Indah.web.

Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse. Adib Misbachul Islam Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua dalam Naskah-Naskah Tarekat Syattariyah di Minangkabau Pramono dan Bahren Peran Penting Pernaskahan dan Benda Khazanah Keislaman Lainnya dalam Kajian Arkeologi Islam di Indonesia Agus Aris Munandar Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara Irmawati M-Johan K.H. Islam dan Sejarah: Setali Tiga Uang Fuad Jabali Perang dan Damai di Aceh: Kajian Manuskrip Aceh Tentang Konflik dan Solusinya Fakhriati Beberapa Aspek Kodikologi Naskah Keagamaan Islam di Bali: Sebuah Penelusuran Awal Asep Saefullah dan M. karya Oman Fathurahman Uka Tjandrasasmita xiii .Judul-judul untuk back cover Teks. and His Work Collection Usep Abdul Matin Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Tinjauan Buku “Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Teks dan Konteks”.

1 . this second group make the text unstable. Kata kunci: Al-Qur’an. Ajaran-ajaran utama Islam ada dalam bentuk teks. This paper explains that Islam. the Islamic texts. The second category would be: the essentialists make the text. the biographical texts in Arabic offer information of diverse people. Teks. which are written in Arabic by scholars of the Middle East. skripturalis. filologi. This paper classifies text into two catagories. esensialis Teks dan Islam Teks menempati posisi yang sangat penting dalam Islam. teks. Teks dan Sejarah: Setali Tiga Uang* Fuad Jabali UIN Syarif Hidayatullah. Jakarta This paper describes a strong relationship between Islam as a value system. yaitu Al-Qur’an dan hadis. The latter group creates the context.Islam. and history as both time and space contexts of the textual system value. Wisma Syahida UIN Jakarta. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali Islam. which are written in Indonesian by Indonesian scholars. are easy to read as they provide complete information of an issue that we look for. Indonesian philologists are to trace such complete biography in Indonesian literature. konteks. For example. In contrast. text. 26-28 Juli 2004. the text as an expression of system. The first category refers to the fact that the scripturalists or fundamentalists produce text. are incomplete. hadis. In other word. The former group stresses the importance of the text and tend to make it stable. In this regard. and history are interconnected each other. Revisi terakhir 14 Juni 2009. For this reason. Orang-orang Islam sangat bangga menyebut dirinya * Tulisan ini semula merupakan Makalah yang disampaikan pada Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara VIII. This category challenges philologist to investigate. the Islamic texts.

Memang benar bahwa makna abadi itu bisa diketahui lewat ciptaan Tuhan. seperti yang ada dalam mazhab Hanafi. Teks adalah dal (‘yang menunjuk’. seperti gunung dan langit (benda-benda ciptaan ini juga disebut ayat atau. Vol. ada juga yang merujuk pada catatan dari kata-kata dan perbuatan Nabi yang kemudian disebut hadis. sebagai Ahlul Kitab karena. bukanlah sebuah teks yang bisa menjelaskan semua realitas atau ajaran dengan sangat detil.Jurnal Lektur Keagamaan. signifier) dari madlul (‘yang ditunjuk’. percisnya. Kalau teks menempati posisi yang demikian penting dalam Islam. kemana mereka harus mencari kejelasan? Berbagai jawaban dikemukakan. ‘masyarakat teks’. Bisa dikatakan bahwa tanpa teks ini tidak ada Islam dan masyarakat Muslim.20 sebagai Ahlul Kitab ‘orang-orang yang sangat menghormati kitab’ atau. Bagi Ahlul Kitab. ada juga yang merujuk pada ijma’. yang jumlah ayatnya hanya sekitar 6600. ada yang merujuk pada akal. 1. Hadis kini menjadi teks terpeting kedua setelah Al-Qur’an. akal.’ Tanda dari suatu makna abadi. setiap kata atau kalimat yang ada dalam Al-Qur’an disebut ayat atau ‘tanda. sebagai halnya umat Islam. seperti yang nampak pada mazhab Maliki (yang sangat mementingkan tradisi dan praktek lokal Madinah). Kalau tidak jelas. terutama yang dikumpulkan oleh Bukhari dan Muslim. yaitu makna abadi yang ada di dalam diri Tuhan. dunia langit hanya bisa diketahui lewat teks yang dibawa oleh para Nabi. yaitu kesepakatan masyarakat Muslim dalam memahami teks. tetapi ayat yang paling utama adalah teks Al-Qur’an. 7. Masyarakat Islam sebagai masyarakat yang eksistensinya bergantung pada teks diperkuat oleh hadis. signified). seperti yang dikembangkan oleh Syafi’i. Al-Qur’an. Ada yang merujuk pada tradisi atau konteks lokal sebagai penjelas. terutama Yahudi dan Kristen. secara sederhana. Rujukan-rujukan tadi—yaitu tradisi lokal. ayah kauniyah ‘tanda-tanda alam’). maka wajar kalau ada kecenderungan untuk melihat keislaman 2 . Al-Qur’an juga menyebut para pengikut agama lain. menjadi rujukan utama setelah Al-Qur’an. maka hadis. mereka juga menjadikan teks (kitab suci) sebagai pusat dari kesadaran beragama mereka. No. ijma’ dan hadis—sama-sama dipakai oleh masyarakat Muslim secara bervariasi dalam tingkat yang berbeda-beda. 2009: 1 . Bagi orang Islam. Tetapi ketika hadis dibukukan pada abad ke 3 H/9 M.

310 H / 923 M). Semakin dekat dianggap semakin saleh. Fuat Sezgin. 1967 . teks-teks tersebut adalah warisan yang sangat berharga. 1 Buku al-Fihrist karya Ibn al-Nadim. Pemahaman masyarakat Muslim terhadap Al-Qur’an dan hadis tersebut dituangkan dalam bentuk teks yang jumlahnya tak terhingga. Gerschichte des arabischen Schrifttums (Leiden: Brill. karena menggunakan teks hadis dengan sangat minimal ketika menafsirkan teks Al-Qur’an. menanti sentuhan tangan filolog. namun sikap mereka terhadap teks-teks tersebut berbeda tergantung pada cara mereka memandang. Teks. Kelompok rasionalis dikritik dengan tajam. semakin jauh semakin sesat. yang sudah hilang.Islam. 1 3 . Penghormatan yang demikian tinggi pada teks Al-Qur’an dan hadis menjadi landasan yang kuat bagi masyarakat Muslim untuk memproduk banyak sekali teks. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali seseorang lewat kedekatannya (atau kejauhannya) dengan teks. yang hanya diketahui lewat kutipankutipan atau resensi yang ditulis belakangan. Teks menjadi media yang sangat penting dalam memahami Al-Qur’an dan hadis. bahkan pernah disebut kafir. seorang penjual buku di Baghdad pada abad ke-4 H/10 M. 9 jilid. Kelompok pendukung hadis (ahl al-hadits) menyebut diri mereka sendiri sebagai umat yang terbaik (khair ummah) karena keteguhannya dalam mengikuti dan memegang teks hadis. buku karya al-Tabari (wafat th. juga penting karena di dalamnya ada resensi buku-buku yang beredar di dunia Islam. terutama di Baghdad.). 2 jilid dan 3 jilid supplement. sangat penting karena dia banyak mengutip karya-karya yang ditulis oleh sejarawan sebelumnya. pada masa itu yang juga sebagian sudah hilang. Geschichte der arabischen Litteratur (Leiden: Brill. Bagi masyarakat Muslim. Dalam kajian sejarah. 1943-1949). terutama di Timur Tengah dan Eropa (termasuk Turki). Walaupun demikian banyak sekali teks-teks yang berhasil diselamatkan yang kini tersebar di berbagai negara. misalnya. Tarikh al-Rusul wa al-Muluk (diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris The History of al-Tabari dalam 39 jilid atas sponsor UNESCO). Banyak sekali teks yang sudah musnah. Ada masyakat Muslim yang membatasi penghormatan mereka pada Al-Qur’an Untuk mendapatkan gambaran tentang jumlah dan jenis buku yang diproduk masyarakat Muslim yang sudah hilang tetapi dikutip secara meluas lihat Carl Brockelmann. 1937-42. yang hidup pada abad ke-2 H/8 M dan ke-3 H/9 M.

sementara kelompok lainnya melebarkan penghormatan tersebut kepada teks-teks di luar keduanya. bahkan tidak jarang teks Al-Qur’an-nya sendiri tidak dirujuk. tidak mesti dibaca.20 dan hadis. NU menjawab setiap pertanyaan dengan cara terlebih dahulu memasuki teks-teks yang diwariskan ulama-ulama sebelumnya. Buku yang ditulis oleh seorang Sufi besar. buku-buku yang ditiulis para pendiri mazhablah yang harus dihormati dan diikuti. Sebagian mereka berpendapat bahwa keberadaan teks-teks di luar Al-Qur’an dan hadis tadi menjadi benteng penghalang bagi umat Islam untuk memasuki kedua sumber ini. Mereka adalah kelompok yang sangat menghormati teks-teks di luar Al-Qur’an dan hadis. Dikenalkan dengan keragaman teks sejak dini. 2009: 1 . Vol. Demikian juga 4 . atau perbedaan warna Islam. yang segera memasuki teks Al-Qur’an dan hadis. Bagi Muhammadiyah. dalam memecahkan masalahmasalah kontemporer. diwariskan lewat teks. Dalam fatwa-fatwa NU. Berbeda dengan Muhammadiyah. misalnya. dari generasi ke generasi. 7. teks-teks selain AlQur’an dan hadis sifatnya relatif. Mereka membaca Al-Qur’an dan hadis melalui teks-teks lain yang tersusun secara hirarkhis. kalau perlu secara literal. Perbedaan pemahaman terhadap Islam. adalah pembaca teks Al-Qur’an yang paling tekun dan juga paling tidak sabar. Di Indonesia. No. 1. karena bisa jadi awalnya mereka hanya diperkenalkan kepada teks dari mazhab ini saja. tidak mengikat dan. maka sudah sewajarnya kalau teks juga memegang peranan penting dalam transmisi Islam. NU lebih terbiasa dengan teks dibanding Muhammadiyah. Kalangan Muhammadiyah. Semua persoalan segera dicari dalam teks Al-Qur’an. Islam dari waktu ke waktu. walupun tingkatannya berbeda-beda dari satu kelompok ke kelompok lain. bisa jadi mendapatkan penghormatan dan perlakuan yang hampir sama dengan Al-Qur’an dan hadis. bahkan terkadang.Jurnal Lektur Keagamaan. teksteks ini sangat dominan. Bagi kelompok masyarakat lain. sebagian besar akan bergantung pada perbedaan teks yang diwariskan. Muhammadiyah dan NU merepresentasikan kedua kecenderungan tersebut. Teks dan Transmisi Islam Kalau teks dan Islam berhubungan demikian erat. Mengapa orang-orang menganut mazhab Syafi’i. Sementara kelompok lain menantangnya. Sebaliknya NU. anak-anak NU bisa menjadi “filolog” yang potensial.

Perbedaan teks. nahwu dan hadis. sang guru akan memberikan ijazah. atau semacam lisensi. Dan. pimpinan pesantren atau kiai memainkan peranan kunci.Islam. Hubungan antara teks. telah melahirkan perbedaan kelompok beragama. kepada sang murid untuk mengajarkan teks tersebut. Kegiatan pesantren (terutama di pesantren salaf yang belum terkena modernisasi) terpusat pada kajian teks yang terkenal dengan ‘kitab kuning’. Artinya. untuk mengungkapkannya secara sederhana. sebaliknya. Kita mengenal ada beberapa orang yang persis bekerja sebagai penyalin buku dan menjadikannya sebagai sumber 5 . Perbedaan ciri khas pesantren ditentutkan oleh perbedaan jenis teks yang dikaji. terutama di Jawa. Guru akan mengajarkan teks tertentu kepeda murid-muridnya dan ketika muridnya sudah dipandang mampu.” Dengan kata lain. Dalam kajian teks tersebut. Dalam tradisi sorogan. Mayoritas pesantren di Indonesia. transmisi teks dilakukan secara manual. seperti tafsir. kiai dan santri tersebut sedemikian penting sehingga di kalangan pesantren ada semacam keyakinan bahwa “Barang siapa yang membaca teks tanpa guru. seorang kiai akan membaca teks tertentu di hadapan santri-santrinya. sampai sekarang masih mempertahankan ciri khas ini. maka dia harus menyalinnya sendiri atau meminta orang lain untuk melakukannya. kalau ada yang ingin memiliki buku. Di dunia Islam secara keseluruhan hubungan antara teks dengan ulama dalam transmisi Islam bukanlah hal yang istimewa. yaitu pesantren. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali dalam sufisme dan teologi. Teks. Teks inilah yang akan menjadi modal utama santri-santri tersebut ketika kelak keluar dari pesantren. Filologi di Kalangan Ulama Ketika mesin cetak belum ditemukan. tidak ada teks tanpa kiai dan. tidak ada kiai tanpa teks. Bahwa teks memegang peranan kunci dalam penyebaran Islam juga bisa dilihat di dalam lembaga-lembaga yang terlibat dalam penyebaran Islam. Rentetan pengijazahan dari satu guru ke murid yang lain ini biasanya dicatat di awal teks dalam bentuk silsilah. demikian seterusnya. Tidak mungkin santri belajar Islam tanpa teks dan tanpa kiai. Hubungan murid-guru dibangun di atas teks. maka gurunya adalah setan.

karena jarangnya orang yang bisa menulis. ada saat-saat dimana para penyalin menjadi sangat sibuk sehingga terbuka untuk melakukan kesalahan. No. Teks yang dihasilkan menjadi bebeda antara satu dengan yang lainnya. Hisyam bisa dengan mudah tertulis Hasyim 2 atau.d. 7. Bukankah Nabi pernah menyampaikan bahwa masa yang terbaik adalah masa Nabi itu sendiri kemudian masa sesudahnya kemudian masa Ibn Sa’d. misalnya. Tetapi bisa jadi. Ini menurut informasi dari Abu al-Faraj. Kitab al-Tabaqat al-Kubra (Beirut: Dar al-Sadir. Dam b. al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah (Beirut: Dar alKitab al-‘Arabi. 5 Perubahan tanggal lahir itu bisa jadi karena kelalaian penulis atau penyalin teks. faktor perkembangan bahasa. Rabi’ah menjadi Adam b. al-Isabah. 1:130.4 Faktor-faktor lain bisa membuat kesalahan tersebut semakin sering dilakukan. Kualitas penerangan yang kurang membuat mata cepat lelah.t).). 4:343. Ketiga. Pertama. 2009: 1 . dia ternyata lahir pada saat ‘Usman terbunuh (yaitu tahun 35 H/656 M). Tabaqat. Vol. mungkin karena penulisnya ngantuk. Rabi’ah 3 dan Aqram menjadi Arqam. listrik. ta dan £a.Jurnal Lektur Keagamaan. 1:125.20 penghidupan. dan AC pada masa itu. Gigi dan titik belum dipakai secara konsisten sehingga sulit dibedakan mana ba. Perbedaan baca di antara para penyalin menjadi hal yang tak terelakkan. Para penyalin ikut menjadi korban peperangan. Dikatakan bahwa Asy’ab b Ummu Humaidah lahir pada tahun 9 H/630 M atau pada masa Nabi. 5 Ibn Hajar. Bahasa Arab pada masa itu adalah bahasa Arab yang masih dalam proses perkembangan. Kedua. tetapi bisa jadi juga lebih dari itu. Ibn Sa’d. Paling tidak konsentrasi mereka terganggu. n. teknologi yang sangat terbatas. Iklim yang demikian panas membatasi orang untuk bekerja maksimal. Tetapi. Menyalin buku menjadi perkerjaan yang bisa jadi tidak nyaman. 1. yang menurut Ibn Hajar (wafat 852 H/1449 M) lebih kuat. 4 Ibn Hajar al-‘Asqalani. faktor idiologis juga berperan penting dalam perubahan teks. stabilitas sosial politik pada masa itu tidak sebaik seperti sekarang. 4:386. Tidak ada komputer. n. Keempat. menurut informasi lain dari beberapa jalur yang berbeda. telepon. 3 2 6 . Menjadi orang yang dilahirkan pada masa Nabi jauh lebih penting dari orang yang dilahirkan pada masa ‘Usman.

6 7 . misalnya. Istilah-istilah ini hanya mungkin kalau kajian antarteks sudah berkembang kuat. dalam periwayatan hadis. 141-2. 3: 171. Teks. adanya ‘kutub al-sittah’ atau ‘buku yang enam’ dan ‘kutub al-arba’ah’ atau ‘buku yang empat. Para ulama. tt. Dalam hadis juga dikenal dengan ‘rawahu al-syaikhan’’ atau ‘diriwayatkan oleh dua orang syaikh’. Dia mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan yang kebenarannya sangat bergantung pada ketepatan teks dan kebenaran membacanya. Dia adalah tempat bertanya masyarakat. Lewat kajian antarteks.Islam. 9. dan memasukkan nama ‘Ayyasy b. mana di antara teks-teks yang ada itu yang paling bisa dipercaya. 8: 91. menjadi pusat produksi dan reproduksi ilmu. Kajian antarteks menjadi suatu keniscayaan. Sahih (Cairo: Maktabat ‘Abd al-Hamid Ahmad Hanafi. dengan demikian. Ibn Al-Bukhari.’ Suatu hadis yang ditemukan dalam keenam buku hadis lebih kuat dari pada hadis yang hanya ditemukan dalam empat buku hadis. informasi yang ada dalam satu buku dicek di buku yang lain. 1: 8. dia menjadi mungkin bisa bertemu dengan sahabat-sahabat besar bahkan bisa meriwayatkan hadis dari mereka. ‘Umar (wafat 207 H/822 M) menulis buku tentang orang-orang yang hijrah ke Habasyah (Ethiopia) (hijrah Nabi yang pertama). Kalau keragaman teks tidak bisa dihindarkan.). Kita mengenal dalam hadis. Ishak (wafat 150 H/767 M) dan Muhammad b. harus sangat hati-hati dalam memilih dan membaca teks. maka pada dasarnya setiap ulama pada masa itu adalah seorang filolog. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali sesudahnya? 6 Lahir pada masa Nabi bukan hanya penting karena dia lahir pada masa yang terbaik tetapi juga. yaitu suatu disiplin ilmu yang dikembangkan untuk menilai kualitas informasi dan akurasi teks berdasar pada penilaian kritis terhadap orang-orang yang terlibat dalam transmisi informasi dan teks tersebut. dan bisa jadi masyarakat awam meyakini bahwa masuk surga atau tidaknya mereka akan bergantung kepada para ulama ini. Sebut saja misalnya jarh wa al-ta‘dil dan rijal al-hadits. Abi Rabiah ke dalam daftar orang-orang yang ikut hijrah tersebut. Berbagai versi harus dibaca dan dibandingkan. Muhammad b. yaitu Bukhari dan Muslim. Adalah juga kehendak untuk mendapatkan teks yang benar-benar bersih para ulama mengembangkan berbagai disiplin ilmu. pusat verifikasi teks.

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 1 - 20

Sa‘d (wafat 230 H/845 M) lalu mengecek nama tersebut di buku yang ditulis oleh Musa b. ‘Uqbah (wafat 141 H/758 M) dan Abu Ma’syar (wafat 170 H/786 M), dan nama ‘Ayyash ternyata tidak ada. 7 Dengan cara yang sama (kali ini membandingkan teks yang ditulis oleh Musa b. ‘Uqbah, Muhammad b. Ishaq dan Muhammad b. ‘Umar), Ibn Sa’d juga menemukan bahwa Musa b. ‘Uqbah melakukan kesalahan penulisan nama, yang semestinya al-Aswad b. Naufal b. Khuwailid ditulis menjadi Naufal b. Khuwailid. Ibn Sa’d juga tahu bahwa nama ini tidak muncul dalam buku Abu Ma’syar.8 Skripturalis/Fundamentalis dan Filolog Di atas dikatakan bahwa Al-Qur’an dan hadis sebagai teks kunci telah melahirkan banyak teks. Teks satu dengan teks yang lainnya ini terhubungkan dengan seorang figur dan silsilah (geneologi). Ada geneologi guru dan ada geneologi teks, dan kualitasnya berbeda-beda. Buku yang diwariskan lewat guru A-B-C misalnya lebih baik daripada buku yang diwariskan lewat A-B-D. Tekanan yang demikian besar terhadap geneologi mengisyaratkan bahwa dalam transmisi teks tersebut ada sesuatu yang stabil, yang harus dijaga keasliannya. Prinsip ini sangat menolong bagi filolog sebab sekali dia mampu mengidentifikasi apa ‘yang stabil’ atau apa ‘yang harus senantiasa dijaga keasliannya’ tersebut maka dia akan mudah membaca teks yang sangat korup sekalipun. ‘Yang stabil’ akan selalu ditemui dalam berbagai teks. Memang benar bahwa ‘apa yang stabil’ jenis dan kadarnya akan berbeda-beda dari satu kelompok ke kelompok lain. Tetapi, sekali ditemukan dalam satu kelompok tertentu, maka filolog akan terbantu dalam membaca teks yang ditulis atau menjadi ciri dari kelompok tersebut. Di dunia Islam, baik masa lalu maupun sekarang, dikenal adanya dua kelompok besar: skripturalis atau fundamentalis dan esensialis. Kelompok skripturalis adalah mereka yang berkeyakinan bahwa (1) Islam adalah agama yang sempurna dan jelas yang mengatur semua aspek kehidupan kita dan, oleh karena itu, tidak diperlukan adanya penafsiran ulang; (2) Memang masyarakat selalu
7 8

Ibn Sa’d, Tabaqat, 4:383. Ibn Sa’d, Tabaqat, 4:379.

8

Islam, Teks, dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali

berubah-ubah, tetapi perubahan itu harus senantiasa dicocokkan dengan Al-Qur’an dan hadis, bukan Al-Qur’an dan hadis yang harus dicocokkan dengan perubahan masyarakat; (3) Al-Qur’an dan hadis adalah sumber utama Islam dan semua persoalan harus benarbenar sesuai dengan Al-Qur’an dan hadis; (4) Akal dan tradisi lokal sifatnya nisbi dan, oleh karena itu, tidak bisa dipakai sebagai sumber nilai; (5) Masa Nabi dan para sahabatnya adalah masa yang paling sempurna yang harus dijadikan model bagi setiap masyarakat Muslim kapan pun dan dimana pun. Pandangan kelompok esensialis berbeda sama sekali dengan pandangan kelompok ini. Mereka percaya bahwa (1) Islam memang agama sempurna tetapi kesempurnaannya bersifat minimal dan untuk memaksimalkannya diperlukan usaha dan pikiran masyarakat Muslim, (2) Masyarakat selalu berubah-ubah dan oleh karena itu Islam harus dilihat secara dinamis, (3) Al-Qur’an dan hadis adalah kebenaran yang diekspresikan dalam ruang dan waktu tertentu dan oleh karena itu harus dilihat konteksnya, (4) Akal dan tradisi lokal harus dipakai sebagai sumber yang berharga dalam formulasi hukum dan ajaran Islam, (5) Masa Nabi dan para sahabatnya adalah masa yang paling sempurna untuk zamannya dan tidak boleh dipahami secara literal. Perbedaan pandangan di antara kedua kelompok di atas melahirkan teks yang sama sekali berbeda sifatnya. Teks di kalangan skripturalis relatif stabil. Karena Islam dipandang sempurna, karena Al-Qur’an dan hadis dianggap selesai, dan karena masa Nabi dan sahabatnya dipandang ideal, maka yang ditemukan dalam teks yang diproduk oleh kelompok ini adalah potongan-potongan informasi yang diambil dari Al-Qur’an, hadis dan sirah (perjalanan hidup) Nabi dalam jumlah besar. Akibat dari tekanan terhadap penafsiran dan tradisi lokal yang begitu besar, maka unsur baru dalam teks menjadi minimal. Walaupun ditulis dalam waktu dan tempat yang berbeda, bisa diasumsikan bahwa teks di kalangan kelompok ini relatif sama. Kutipan-kutipan Al-Qur’an, hadis dan sirah Nabi dan para sahabatnya akan dominan dan setiap ketidakjelasan yang ada dalam teks yang korup bisa segera diisi oleh filolog dengan membaca teks standard (Al-Qur’an, hadis dan sirah Nabi). Kalau kadar stabililitas dalam teks-teks tradiosionalis sangat tinggi, maka teks yang diproduk oleh kalangan esensialis sangat 9

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 1 - 20

labil. Dia lebih beragam baik di tingkat kelompok maupun individu. Mu’tazilah, kelompom rasional Muslim yang terkenal dalam sejarah Islam, misalnya, terdiri dari banyak sub kelompok yang berbeda satu sama lain, dan pada sub kelompok tersebut perbedaan antar individu sangat kentara. Masing-masing mereka melihat Islam, AlQur’an dan hadis serta sirah Nabi sebagai suatu teks yang sangat terbuka. Berbeda dengan kalangan skripturalis, yang memandang makna sebagai ‘sesuatu yang diberikan oleh teks’, kalangan rasional memandang makna lebih sebagai ‘sesuatu yang harus dicari dan diberikan oleh pembaca’. Membaca bukanlah proses menerima teks secara pasif, tetapi lebih merupakan proses intrograsi yang sangat cair, dimana pembaca dan teks bisa ditempatkan secara sejajar dan oleh karena itu dialog antara teks dan pembaca menjadi sangat intens. Hasil dari dialog itu adalah warisan teks yang sangat dinamis dan beragam. Sesunggunya kalangan skripturalis/fundamentalis telah membuat pekerjaan filolog lebih mudah. Filolog yang ingin cepat selesai diusulkan untuk tidak memilih teks-teks yang ditulis oleh kalangan rasionalis. Studi Kasus: Membaca Dokumen Ikrar Abad ke-14 di Jerusalem Disebutkan di atas bahwa salah satu cara membaca teks yang sudah korup adalah dengan cara menggunakan teks yang sudah established sebagai patokan. Tentu saja Al-Qur’an dan hadis adalah teks Islam yang paling stabil. Tidak terlalu sulit untuk mentranskrip naskah Al-Qur’an atau hadis, atau teks yang mengadung banyak sekali kutipan Al-Qur’an dan hadis. Teks berikutnya yang relatif lebih mudah digarap adalah teks yang ditulis oleh kelompok sripturalis atau fundamentalis. Dibanding teks yang ditulis kalangan esensialis, teks yang mereka buat relatif lebih mapan dan lebih seragam dari satu periode ke periode lain dan dari satu tempat ke tempat lain sehingga lebih mudah dibandingkan. Prinsip yang sama bisa dipakai untuk membaca teks-teks Islam pada umumnya. Teks-teks Islam bisa diklasifikasi ke dalam lima kelompok besar: 1) sejarah, 2) teologi, 3) sufisme, 4) filsafat dan 5) hukum. Di antara kelima kelompok tadi, yang paling tegas dan rinci adalah hukum. Hukum Islam diformulasikan dan dirumuskan oleh para ulama sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan kebi10

maka sungguh. maka tidak ada dosa bagi kamu jika kamu tidak menuliskannya. Yang demikian itu. ini adalah berita baik. Hukum cenderung rinci dan kaku. lebih adil di sisi Allah. Dan ambillah saksi apabila kamu berjual beli. seperti halnya buku-buku yang ditulis oleh kalangan fundamentalis. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki di antara kamu. Allah memberikan pengajaran kepadamu. Jika tidak ada (saksi) dua orang laki-laki. Teks. Bagi filolog. untuk batas waktunya baik (utang itu) kecil maupun besar. Orang-orang skripturalis dan fundamentalis cenderung menekankan pentingnya aspek hukum ini sehingga mereka dikenal dengan ‘legal minded Muslims’. (Q. Al-Qur’an menegaskan perlunya catatan dalam transaksi: Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan. maka hendaklah walinya mendiktekannya dengan benar. maka yang seorang lagi mengingatkannya. Dan janganlah saksi-saksi itu menolak apabila dipanggil. Al-Baqarah/2:282) Kalau bagian pertama tulisan ini menegaskan hubungan antara Islam dengan teks pada level yang lebih besar.S. maka ayat ini (yang sengaja dikutip secara keseluruhan) contoh yang baik bagaimana 11 . Janganlah penulis menolak untuk menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya. dan janganlah penulis dipersulit dan begitu juga saksi. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali ngungan dan mudah diikuti. (2) teks yang ditulis oleh ahli hukum relatif lebih mudah dibaca karena lebih stabil. Jika kamu lakukan (yang demikian). agar jika yang seorang lupa. Dan hendaklah orang yang berutang itu mendiktekan. Dua contoh teks akan dikemukakan di sini untuk menunjukkan: (1) bahwa Islam (seperti halnya agama lain) sangat instrumental dalam melahirkan teks. dan lebih mendekatkan kamu kepada ketidakraguan. dan janganlah dia mengurangi sedikit pun daripadanya. hendaklah kamu menuliskannya. dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. hal itu suatu kefasikan pada kamu. Tidak heran kalau.Islam. lebih dapat menguatkan kesaksian. Tuhannya. maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan di antara orang-orang yang kamu sukai dari para saksi (yang ada). homogen dan rinci. atau tidak mampu mendiktekan sendiri. teks yang ditulis oleh kalangan ahli hukum juga lebih stabil. Jika yang berutang itu orang yang kurang akalnya atau lemah (keadaannya). Teks yang mereka dapatkan akan lebih mudah ditranskrip. dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah. Dan janganlah kamu bosan menuliskannya. kecuali jika hal itu merupakan perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu. maka hendaklah dia menuliskan. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan bertakwalah kepada Allah.

Donald P. No. 1. Brill. 7. Vol. Memang benar. 2009: 1 . Mereka mengembangkan satu jenis literatur yang disebut syurut. Linant de Bellefonds. bentuk dan isi ikrar relatif stabil. di dalam hukum Islam tradisional. tetapi para ahli hukum Islam memberikan perhatian yang serius terhadap cara membuat dan menggunakan dokumen-dokumen tertulis untuk kepentingan hukum. 1972). Ia berisi berbagai jenis kontrak yang bisa dipilih oleh para notaris sesuai dengan kebutuhan. ‘Ikrar’ dalam The Encyclopaedia of Islam (Leiden: E. 10 yaitu suatu bentuk pengakuan atau pernyataan yang dibuat oleh seseorang yang secara hukum mengikat bagi orang tersebut.20 hubungan Islam dengan teks tersebut juga bekerja pada level yang lebih kecil dan detil: Al-Qur’an meminta penganutnya untuk melakukan transaksi secara tertulis. kesaksian lisan lebih penting dari kesaksian tulis. Kontrakkontrak tersebut sebetulnya lebih berupa sebuah blanko atau formulir yang dibuat sedetil mungkin sehingga semua syarat dan tuntutan syariah Islam bisa dipenuhi. The Function of Documents in Islamic Law (New York: University of New York Press. 10 Lihat Y. Oleh karena itu.Jurnal Lektur Keagamaan. New Edition). yaitu sejenis manual yang bisa dijadikan pegangan bagi para notaris dalam melakukan fungsinya. Wakin. 9 12 . Little. Yang dilakukan oleh para notaris adalah memilih mana di antara blanko-blanko tersebut yang cocok dengan kasus yang dia hadapi dan mengisi bagian-bagian kosong yang sudah disediakan dan meminta dua saksi untuk menandatanganinya (seperti tuntutan ayat Al-Qur’an di atas). Pada tanggal 19 Agustus 1974-5. McGill Jeanette A. Dalam manual syurut tersebut para ahli hukum lalu merinci dengan detil apa syarat-syarat membuat ikrar dan kata-kata apa saja yang harus dicantumkan dalam dokumen oleh si pembuat ikrar. di Museum Islam di al-Haram al-Syarif di al-Quds ditemukan sekitar 900 lembar kertas transaksi atau catatan pengadilan yang berasal dari abad ke-14 M di Jerusalem. guru besar di Institute of Islamic Studies. sejajar dengan penemuan manuskrip di Geniza Cairo dan St Catherine bukit Sinai.9 Salah satu blanko kontrak yang dibuat para ahli hukum Islam dalam buku-buku syurut tersebut adalah blanko untuk membuat ikrar.J. Penemuan ini merupakan salah satu penemuan terpenting dokumen Islam abad pertengahan. 10.

bahwa dia menerima uang perak sejumlah 375 dirham dari mantan suaminya untuk biaya ketiga anak mereka Ahmad. mantan suami Nasiruddin Muhammad al-Hamawi penduduk al-Quds al-Syarif. Di antara lembaran-lembaran kertas tadi ada dokumen ikrar (yang jumlahnya sekitar 90 lembar).Islam. Saya sendiri pernah ikut membaca dokumen-dokumen itu dan adakalnya saya membutuhkan lebih dari seminggu hanya untuk membaca satu baris teks dalam sebuah dokumen. dokumen-dokumen ini sangat sulit dibaca. Fatimah juga mengakui bahwa mantan suaminya tersebut telah memberinya sejumlah uang untuk biaya anak selama tiga bulan setengah sesuai dengan tuntutan syariah. Ikrar ini dibuat di depan saksi pada tanggal 4 Syawal 782 (atau 2 Januari 1380) di depan dua orang saksi Ahmad al-ªaki dan Abdullah b. 25: 246-294. Dokumen 184 berisi pengakuan Fatimah bt. Tanpa bantuan literatur syurut. 11 13 . Zainuddin Rizqullah. Ikrar ini dibuat pada tanggal 2 Ramadan 789/14 Agustus 1389) di hadapan dua orang saksi ‘Ali b. Dokumen no. Beberapa tahun kemudian Little menerbitkan katalog dokumen tersebut: menjelaskan isi masing-masing dokumen secara garis besar dan mengklasifikasikannya. Muhammad bahwa dia tidak memiliki klaim apa-apa lagi terhadap mantan suaminya Syeikh Burhanuddin Ibrahim b. salah seorang sufi di Khanqah al-Salahiyyah di al-Quds al-Syarif. yang dibayar secara bertahap dari uang wakaf sekolah al-Salahiyyah. 184 adalah dua di antara enam dokumen ikrar yang dibaca dan dianalisa oleh Huda Lutfi. Fakhruddin ‘Usman b. Salma dan Sarah. 289 dan no. ‘Ilwi Muhammad dan Ahmad b. Saya juga pernah meminta bantuan seorang Arab (yang kebetulan berasal dari Huda Lutfi. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali University datang ke Jerusalem dengan sebuah tim untuk mendokumentasikan dan membuat mikrofilm-nya. Teks. salah seorang murid Little di McGill University. Zainuddin ‘Umar al-Hamawiyyah. 11 Secara garis besar dokumen no. 289 berisi pengakuan Fatimah bt. ‘Abdullah bt. Selain berikrar bahwa dia tidak punya hak apa-apa lagi— termasuk maskawin dan biaya pakaian. “A Study of Six Fourteenth Century Iqrars from al-Quds Relating to Muslim Women. Muhammad al-Muwwa’ani. Sulaiman.” in Journal of the Economic and Social History of the Orient.

Saya tidak bisa membayangkan begaimana Little bisa membaca hampir 900 dokumen serupa dan menganalisa isinya satu persatu. Nama si pengikrar harus dicantumkan dengan jelas termasuk nama bapak dan kakeknya. Pengalaman membaca dokumendokumen tersebut menunjukkan bahwa. nama kehormatannya dan seterusnya. Vol. No. pasti basmallah. 2009: 1 . al-Asyuti memberikan beberapa petunjuk tentang tata cara membuat dokumen ikrar. blanko dokumen hukum yang dibuat alAsyuti sangat cocok dengan dokumen-dokumen yang ditemukan di Jerusalem tersebut.20 Palestina tempat dokumen tersebut ditemukan) untuk membacanya. Jawahir al-‘Uqud wa Mu‘in al-Qudat wa alSyuhud.Jurnal Lektur Keagamaan. yang hidup di Mesir pada abad 9 H/15 M. Kalau dia perempuan. dalam buku tersebut berusaha menggambarkan praktek administrasi hukum yang berlaku pada masanya. dia menyatakan bahwa dokumen harus diawali dengan basmalah (menulis ‘Bismillahir-rahmanir-rahim’) dan diakhiri dengan hamdalah (menulis ‘Alhamdu lillahi rabbil-‘alamin’). 2 jilid (Kairo. Ini adalah isyarat bahwa memang buku-buku hukum relatif lebih stabil. Dokumen harus mencantumkan tanggalnya dan ditandatangani oleh dua orang saksi. baru saya tahu bahwa dalam membaca dokumendokumen tersebut dia sangat terbantu oleh buku syurut yang ditulis oleh al-Asyuti. Ikrar harus dibuat dalam bentuk orang ketiga (harus aqarra kalau laki-laki dan aqarrat kalau perempuan). 7. walaupun al-Asyuti hidup di tempat yang relatif jauh dari Jerusalem. Kata pertama setelah basmallah adalah aqarrat (karena yang membuat ikrar perempuan). Setelah itu pasti 14 . Dia juga tidak bisa. Seperti dijelaskan di muka. walaupun terpisahkan selama satu abad dan. Al-Asyuti. Dua minggu kemudian. Benda atau persoalan yang diikrarkan harus dinyatakan dengan jelas (jika uang berapa jumlahnya. Bimbingan al-Asyuti tersebut sangat membantu ketika kita membaca dokumen ikrar tadi. Antara lain. Kalimat pertama. maka nama suaminya atau mantan suaminya harus dicantumkan. dan seterusnya). 1955). setidakjelas apa pun. bagaimana membayarnya. dokumen-dokumen ini pada dasarnya merupakan catatan transaksi dan peristiwa yang terjadi di Jerusalem pada abad ke-14 atau satu abad sebelum al-Asyuti menulis kitab manualnya. 1. Dalam buku manualnya. walaupun hanya dalam garis besar.

Merekalah yang memilih buat kita peristiwa apa yang akan dimunculkan. Bias politik dan kultural dari para penulis 15 . Karena tidak banyak orang yang bisa menulis. Mungkin karena terlalu banyak pesanan (karena jumlah yang bisa menulis sangat terbatas). tulisan tidak mesti bagus. Sampai saat ini.” Walaupun al-Asyuti menegaskan bahwa setiap dokumen harus ditulis dengan tulisan yang bagus agar mudah dibaca.. 289 dan 184 (dengan satu kata tambahan. Mungkin harus diingat bahwa pada abad ke-14 di Jerusalem buta huruf masih tinggi. dibuat dalam keadaan sehat jasmani dan rohani dan secara hukum dalam keadaan mampu melakukan transaksi).. Para penulis buku ini menyodorkan realitas kepada kita secara subjektif. pada akhirnya para penulis itu juga yang harus membacakannya di pengadilan (kalau terjadi apa-apa dan perkaranya sampai ke pengadilan).. Para penulis itu mungkin berpikir bahwa. Untuk itu.Islam. hamdallah dan nama dua saksi. dengan hal itu). Sangat mungkin pada masa itu ada orang-orang yang memang pekerjaannya menuliskan dokumen (dengan berpedoman pada manual syurut). sumber penulisan sejarah Islam Timur Tengah masih didominasi oleh buku-buku sastera (literary soursces). Dengan kata lain. dokumen 289 dan 184. Tanda tangan saksi diawali dengan “syahida ‘ala . dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali nama orang yang membuat ikrar. Bagian akhir pasti terdiri dari tanggal.. Dalam menuliskan runtutan isi dokumen tersebut ada katakata hukum yang baku yang pasti muncul dalam ikrar. bi dhalik (telah bersaksi atas . yaitu tau’an [artinya. karena orang awam itu tidak bisa membaca.. para penulis itu pada dasarnya menulis tidak untuk dibaca oleh orang yang memiliki dokumen tetapi untuk dibaca oleh mereka atau kawan-kawan seprofesi mereka sendiri. Bagian berikutnya adalah yang paling sulit dibaca: persoalan atau benda yang sedang diikrarkan. dan semua dokumen yang ditemukan di Jerusalem ini. Tetapi bisa juga karena sebab lain. ditulis dengan tulisan tangan yang sangat jelek.” Kedua ungkapan ini ditemukan dalam dokumen no. aktor mana yang akan ditonjolkan dan informasi dari siapa yang harus dipakai. Teks.. tidak dalam keadaan terpaksa] setelah syar’iyyan). para penulis itu bekerja sembarangan. yaitu “iqraran syar’iyyan fi sihhatin minha wa salamah wa jawazi amr (ikrar yang sesuai dengan tuntunan syara’. maka orang awam yang ingin menuliskan ikrarnya harus meminta bantuan orang lain.

tidak banyak dokumen yang tersedia dan juga tidak banyak ilmuan yang tertarik menghabiskan waktunya berminggu-minggu hanya untuk membaca dua atau tiga buah dokumen. 184 disebutkan bahwa nafkah anak-anak dari perkawinan Fatimah dengan Nasiruddin dibayar oleh dana wakaf? Apakah karena dia miskin? Bukankah dia bergelar al-sitt al-masunah. yang mengisyaratkan bahwa dia berasal dari keluarga terpandang? Dokumen-dokumen yang saya baca berhubungan dengan pengelolaan tanah wakaf: bagaimana dikelola. setelah membaca ratusan atau ribuan dokumen. ada tantangan lain yang harus dihadapi ilmuan kalau dia ingin menulis sejarah dengan menggunakan dokumen. Untuk mengkonstruk sebuah realitas diperlukan banyak sekali dokumen (bisa ratusan kadang ribuan lembar). jumlah anak yang dimiliki suatu keluarga dan model distribusi wakaf. Mirip seperti yang dilakukan oleh S. Dalam konteks ini. bagaimana mekanismenya kalau terjadi konflik pembagian hasil. 2009: 1 . dan dalam rentang waktu yang panjang. Dari potongan-potongan informasi yang ditemukan di setiap dokumen. 1. dalam dokumen kita disodorkan data mentah.Jurnal Lektur Keagamaan.D Goitein yang 16 . Kitalah yang menseleksi dan menafsirkan data-data tersebut. dan seterusnya. Banyak pertanyaan bisa dikembangkan. berapa kali panen dan dapat berapa kilo sekali panen. Berasal dari tempat yang sama. No. Vol. ada beberapa informasi yang menarik. Dibaca secara keseluruhan. bagaimana sistem pembagiannya. Selain kondisi dokumen yang biasanya sulit dibaca. berapa rata-rata anak yang dimiliki satu keluarga di Palestina pada abad ke-14? Berapa rata-rata penghasilan keluarga? Mengapa dalam dokumen no. 7. Misalnya. dokumen Jerusalem bisa dijadikan bahan untuk mengkonstruk realitas sosial masyarakat al-Quds al-Syarif di Jerusalem. akhirnya kita bisa menulis sejarah sosial yang sangat bagus. buah-buahan atau tanaman apa saja yang ditanam. bagaimana sistem administrasinya. Berbeda dengan sumber-sumber sastera. kemungkinan besar akan ada nama-nama yang berkali-kali muncul sehingga kita bisa meruntut sejarah kehidupan mereka dengan baik. Dari dua dokumen yang kita baca. Sayangnya. dokumen bisa memberikan informasi yang sangat berharga. Misalnya tentang jumlah nafkah yang diberikan suami kepada mantan istrinya.20 tersebut sangat berpengaruh terhadap mutu gambar sejarah yang dimunculkan.

Bagi seorang filolog adalah penting untuk terlebih dahulu mengidentifikasi teks dengan kelompok-kelompok keberagamaan yang ada dalam Islam. Hubungan model ini sangat penting dimiliki filolog untuk bisa menghayati dan memahami teks. sebuah teks harus ditempatkan dalam konteks besar yang melahirkannya. Kedua. masyarakat (jilid 2). mulai dari yang sangat stabil sampai ke yang sangat labil. Teks. 1967-78). jauh lebih stabil dibanding teks yang ditulis oleh kalangan rasional. terutama. Ini membuat pekerjaan filolog lebih sulit lagi. tetapi saya punya kesan bahwa ada jenis-jenis literatur yang sangat membantu dalam membaca dokumen (atau 17 . lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam memiliki peluang yang sangat besar untuk menggali manuskrip dan dokumen yang berkenaan dengan masyarakat Islam yang kini masih belum tersentuh baik yang tersimpan di perpustakaan-perpustakaan di dalam dan di luar negeri maupun yang masih tersebar di kalangan masyarakat. Karya-karya yang ditulis oleh para ahli hukum Islam juga relatif lebih stabil dibanding karya-karya yang ditulis para filosof atau sufi misalnya. Dalam jumlah yang sangat besar. walaupun sulit. Catatan Pamungkas Pertama. membaca dokumen di Timur Tengah nampaknya lebih ‘mudah’ dibanding membaca dokumen sejenis di Indonesia. Potongan informasi yang dia temukan dalam ribuan lembar dokumen. dalam banyak hal mencerminkan sikap atau pandangan keagamaan tertetu.Islam. Ketiga. dan dalam kadar tertentu tradisionalis. teks. Pengetahuan saya tentang kekayaan manuskrip Melayu sangat terbatas. dia susun menjadi 3 jilid narasi tentang ekonomi (jilid 1). Menjadi Muslim berarti mereka terhubungkan dengan relitas dan ajaran yang mendasari lahirnya teks dan dokumen. dan keluarga (jilid 3). dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali menulis A Mediteranian Society: The Jewish Communities of the Arab World as Potrayed in the Documents of Cairo Geniza (Berkeley: University of California Press. Hanya mereka yang menguasai bahasa Yahudi dan bahasa Arablah yang bisa membacanya. dokumen Geniza berbahasa Yahudi yang ditulis dalam tulisan Arab. Secara umum bisa dikatakan bahwa teks yang diproduk oleh kalangan skripturalis/fundamentalis. masyarakat Muslim dan. Dalam tradisi Islam.

kita bisa melihat di buku Yaqut. dan yang berhubungan dengan tempat (misalnya karya Yaqut.[] 18 . Literatur-literatur ini sangat menolong untuk mengidentifikasi katakata yang ada dalam dokumen yang sangat sulit dibaca. Vol. misalnya.Jurnal Lektur Keagamaan. 289. No. Jamharat al-Nasab). 7. Tidak mudah memang. kita bisa mencari nama daftar nama suku yang ada di wilayah ini. Dikepung oleh banyak informasi. ada kata ‘al-Khaliliyah. dan seterusnya. di dunia Islam Timur Tengah berkembang literatur yang berhubungan dengan biografi orang (Rijal atau Tabaqat) yang jumlahnya sangat besar dan beragam. baik yang hidup pada masa klasik maupun modern. kita akan menemukan nama-nama tempat dan desa yang ada di Palestina sehingga ‘gambar’ kata di dokumen itu bisa diidentifikasi. Misalnya. Demikian juga kalau kita kesulitan membaca kata yang ada di ujung nama orang yang ada dalam sebuah dokumen. sarjana-sarjana modern (baik di Barat maupun di Timur) juga banyak menghasilkan karya-karya penting dalam jumlah besar. Dalam bahasan tentang ‘Palestina’. Artinya. Sayangnya literatur bantu semacam ini tidak tumbuh di Nusantara. Kajian Islam di Indonesia belum mencapai tahapan ini. Di samping banyak sekali literatur yang diproduk oleh kalangan sarjana Muslim sendiri. Bahwa model dokumen yang ditemukan dalam buku al-Asyuti ternyata sangat cocok dengan model dokumen yang ditemukan di Palestina adalah salah satu contoh yang baik bagaimana kekayaan tradisi keilmuan bisa membantu membaca suatu kalimat dalam sebuah dokumen. 1. satu potong dokumen yang ditemukan di Musium Islam Jerusalem sesungguhnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari tradisi keilmuan atau sistem informasi yang kaya dan mapan.’ Jika kita ragu tentang bacaan kata ini. tempat tinggal. Kemungkinan besar dia adalah nama suku orang itu. Mu’jam al-Buldan). Kalau kita membaca dokumen yang ada di Hijaz. Keempat. yang berhubungan dengan suku dan geneologi (kalau ingin tahu nama-nama suku yang ada di Hijaz misalnya bisa dilihat di Ibn al-Kalbi. kajian Islam di Timur Tengah sudah berusia lanjut. keadaan fisik. yang disusun berdasarkan tahun wafat.20 manuskrip) yang tidak ditemukan di dalam literatur yang tumbuh di Nusantara. kualitas orang. keahlian. tapi tetap sangat membantu. sepotong dokumen itu akhirnya tidak sendirian lagi. Dalam dokumen no. 2009: 1 .

25. The Function of Documents in Islamic Law. 193742. Carl.Islam. Y. Teks.t. 1943-1949). Al-Bukhari. No. New York: University of New York Press. “A Study of Six Fourteenth Century Iqrars from al-Quds Relating to Muslim Women. Geschichte der arabischen Litteratur. Beirut: Dar al-Sadir. 2 jilid dan 3 jilid supplement. Lutfi. Leiden: E. 9 jilid. T. Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi Brockelmann. T. Geschichte des arabischen Schrifttums (Leiden: Brill. de Bellefonds. Sezgin. 19 .).t.J. (Leiden: Brill. Sahih. Fuat.” in Journal of the Economic and Social History of the Orient. 1972. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali Daftar Pustaka al-‘Asqalani. Kitab al-Tabaqat al-Kubra. Ibn Sa’d. Jeanette A. Kairo: Maktabat ‘Abd al-Hamid Ahmad Hanafi. 1967 . Wakin. Brill. New Edition. Linant. Ibn Hajar. Huda.t. al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah. T. ‘Ikrar’ dalam The Encyclopaedia of Islam.

Jilid: Hardcover Sumber: http://islamicbookstore. 7. Vol. 2009: 1 .com/b7581.Jurnal Lektur Keagamaan.html 20 . No. Kazi Publications Jumlah halaman : 1149.20 The Fihrist: A 10th Century A. Survey of Islamic Culture Pengarang : Abu 'l Faraj Muhammad ibn Ishaq al Nadim Penerjemah (Inggris) : Bayard Dodge Penerbit : Great Books of the Islamic World. 1.D.

Consequently. Letak Artikel ini telah dipresentasikan pada Konferensi International tentang Aceh and Indian Ocean Studies II Civil Conflict and Its Remedies. National University of Singapore (NUS) bekerjasama dengan International Center for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS). This paper tries to find and analyse these primary sources in relation with war and peace occurred in the life history of the Acehnese. from 17th to 20th centuries. di Banda Aceh. Islam. the way of the Acehnese associated with the others becomes a factor to create peace in Aceh land. Jihad. and what their character and behaviour were in the past. Kata kunci: Manuskrip. These situations have strong connection with character and behaviour of the Acehnese. protective to their ethnics and fatherland is another factor to motivate and to defend themselves from any other threat come from. the new generation can directly read and understand on the Acehnese writings as primary sources. Ulama. Fanatic in their religion is an important factor to push to the situation. Anthony Reid.. 1 21 .Perang dan Damai di Aceh. 23–24 Februari 2009. yang dikelola oleh Asia Research Institute (ARI). These sources become by far the most important sources since they provide the original information. Internal and external conflicts were appeared in different period. One of the sources for those above life history of the Acehnese is manuscripts as their own writing. — Fakhriati Perang dan Damai di Aceh: Kajian atas Manuskrip Aceh tenang Konflik dan Solusinya1 Fakhriati Puslitbang Lektur Keagamaan.. behaviour and attitude from the Acehnese. Their life had been colorized by peace and war which can be regarded as part of their life history. The main question that should be answered is how the Acehnese solve their conflict in life. sebagai koordinator konferensi ini yang telah mengundang Penulis untuk hadir dan mempresentasikan paper ini pada konferensi tersebut. Jakarta Aceh is a region which has a number of populations with their life fluctuation. Penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada Prof. konflik Pendahuluan Sejarah Aceh adalah cerita panjang tentang perjalanan suatu suku bangsa yang diwarnai pergolakan demi pergolakan di antara cerita kebesaran dan kejayaan yang pernah dicapainya. Apart from this. Afterward.

1961:299-305). Puncak kejayaan Kerajaan Aceh pada masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda.Jurnal Lektur Keagamaan. Posisi wilayah yang demikian terbuka memberikan akses yang mudah untuk membangun hubungan dengan dunia luar. Bahkan tidak itu saja.52 geografis wilayah Aceh yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia di sebelah barat. Dinamika perjalanan panjang sejarah Aceh tersebut berjalan sedemikian rupa seraya semakin mempertegas karakter masyarakat Aceh yang terkenal fanatik. ramah. 1. tetapi juga mempengaruhi kinerja bidang ekonomi serta dunia pendidikan bersama hilangnya sejumlah besar intelektual agama (ulama) yang disegani dan menjadi panutan masyarakat. No. gangguan dari kalangan internal kerajaan juga turut menggerogoti wibawa pemerintah. Asia Selatan serta Selat Malaka di bagian utara dan timur memberikan nilai tersendiri secara ekonomis maupun politik bagi kerajaan-kerajaan Aceh masa lampau. saat mana wilayah kekuasaan Kerajaan Aceh melampaui tanah Aceh (Zainuddin. Rakyat Aceh menjadi sedemikian menyatu dengan Islam dan (tentunya) dengan dunia Arab. khususnya dengan para pedagang Arab dan Gujarat. bermasyarakat hingga bernegara. terbuka. Vol. Masuknya para pedagang Arab dan Gujarat selain dipandang telah membawa agama sebagai pedoman hidup bagi masyarakat Aceh. 2009: 21 . dunia keilmuan maju sedemikian pesat. Setelah itu tiba saatnya kejayaan tersebut mengalami kemunduran seiring dengan banyaknya ancaman dari luar maupun gangguan dari dalam. tetapi juga karena telah mengembangkan Islam di kalangan masyarakat Aceh yang berfungsi sebagai pedoman hidup mulai dari tingkat individu. Kekuatan politik pemerintah secara perlahan mulai memudar dengan masuknya kekuatan asing. telah mampu memberikan kemakmuran dan kenyamanan tidak saja bagi masyarakat Aceh. kehadiran mereka juga turut mendorong semaraknya perdagangan yang memajukan perekonomian Aceh. Iskandar. demikian juga kekayaan alam serta kesuburan tanahnya memberi andil besar bagi kemajuan Aceh. rakyat Aceh tidak hanya merasa berhutang budi karena para orang asing tersebut telah mendorong perkembangan perdagangan. tetapi juga bagi masyarakat luar Aceh di bawah kekuasaannya (T. Berkat dorongan para ulama. tetapi keras. Situasi ini tidak saja berdampak politis. 1958:78). 7. Pada tahap awal hubungan Aceh dengan dunia luar. Hal ini semakin menambah 22 .

Dokumen dan arsip yang kaya tentang Aceh sekarang banyak yang disimpan di negeri Belanda. Namun demikian. Seperti halnya Belanda dengan gigihnya melaporkan segala kejadian harian pada saat mereka berada di daerah Aceh. Sehingga pengalaman langsung dari setiap peristiwa yang terjadi di bumi Aceh dan sikap dari orang pribumi menghadapi dan mengatasi kejadian-kejadian yang ada dapat diketahui dengan jelas. ada sisi lain yang perlu mendapat perhatian serius dari para peneliti untuk melihat dan mengkaji lebih intensif dan detail adalah tentang karya-karya tulis yang dihasilkan dan dimiliki oleh orang Aceh sendiri. Namun kajiannya hanya berfokus kepada perang melawan Belanda. — Fakhriati hormatnya masyarakat kepada para ulama. konflik internal dan eksternal mulai tumbuh dan berkepanjangan. Ketiga. Pemilihan periode ini didasarkan atas tiga alasan. Salah satu kebesaran Aceh yang dapat disaksikan hingga kini adalah bahwa suku bangsa ini mampu merekam sendiri setiap tahap perkembangan yang terjadi pada dirinya. Studi ini mencoba menjelajahi perjalanan sejarah Aceh dari abad ke-17 sampai abad ke-20 M. Siapa saja yang dinilai berusaha menggerogotinya akan dicap sebagai musuh bangsa Aceh dan juga musuh Tuhan. sehingga di hampir setiap daerah kecil memiliki ulama kebanggaan tersendiri.. Pertama. Salah satu penghargaan mereka terhadap Islam adalah keyakinan mereka bahwa budaya Aceh adalah budaya Islam dan mereka berusaha komitmen terhadapnya. Banyak dokumen dan arsip yang telah merekam kejadian-kejadian penting yang terjadi pada pada momen-momen penting masa silam. sejauh ini banyak ditemukan manuskrip berkisar pada periode ini. Tulisan ini mencoba mengisi kekosongan ini dengan melihat dan menganalisis manuskrip Aceh. Salah satu karya yang menjadikan tulisan orang Aceh asli sebagai sumber primer adalah kajian Alfian Ibrahim pada tahun 1998 yang berjudul Perang di Jalan Allah. Dengan 23 . termasuk berbagai peristiwa perang dan pergolakan lainnya. untuk mengetahui sikap dan prilaku orang Aceh yang tertulis dalam tulisan mereka sendiri.. Aceh dalam rentang waktu ini berada pada masa perang yang cukup panjang.Perang dan Damai di Aceh. Kedua. Sejauh ini belum ada karya yang menjadikan manuskrip sebagai bahan analisis dasar untuk mengkaji konflik yang terjadi di Aceh.

7. Permainan dan Hiburan Rakyat Dari sejumlah permainan rakyat yang dimiliki orang Aceh. Di lain pihak lawannya harus menangkap pendorong untuk dijatuhkan juga sehingga salah satu harus ada yang tidak bisa kembali ke garis pembatas awal. Permaian prajuritan. 1. Perdebatan dan perlawanan yang mendidik para pemainnya untuk mempertahankan dan membela diri adalah salah satu unsur yang dapat mendorong perlawanan bila mereka diganggu oleh pihak lain. Mereka dilengkapi dengan senjata tiruan yang dibuat dari pelepah kelapa untuk rencong dan pedang.Jurnal Lektur Keagamaan. b. Berikut beberapa permainan yang bersifat mendidik untuk bela diri dan berperang. sebagian besar di antaranya memiliki unsur heroisme. No. 2009: 21 . yaitu permainan yang dilakukan oleh kaum muda laki-laki dengan mengambil lokasi di pinggir sungai. Budaya Orang Aceh 1. Namun demikian. 1997:145). Karena itu permainan ini harus disaksikan oleh para pemuka masyarakat yang sekaligus bertindak sebagai wasit untuk mencegah perkelahian (Hurgronje. sehingga dinyatakan kalah. yaitu permainan bentuk lain yang mendidik para pemain untuk bisa berperan menjadi prajurit dalam perang. Vol II. Saling dorongmendorong ini pada akhirnya menciptakan perkelahian dan tidak boleh dibantu oleh siapa pun agar permainannya murni dan keberhasilan yang dicapai adalah atas usaha sendiri si pemain. Permainan meukrueng-krueng. dan tentang sikap mereka dalam menghadapinya untuk mencapai kedamaian. a. Permainan ini terdiri dari dua kelompok–biasanya terdiri dari kaum muda dari dua kampung—yang berdiri pada sisi yang berlawanan. dan bedil 24 . Vol.52 demikian makalah ini diharapkan dapat memberi wawasan yang lebih luas dan mendalam tentang kondisi perang dan damai yang dialami langsung oleh orang Aceh pada masa lalu. karena dapat menciptakan perkelahian yang serius dan menimbulkan peperangan yang lebih luas. permainan ini biasanya tidak dapat dilepaskan begitu saja oleh pihak yang berwenang. Dalam permainan ini. satu kelompok berusaha mendorong kelompok yang lain yang dianggap sebagai lawan untuk menjatuhkan ke tanah.

Isi bacaan dalam setiap tarian tersebut pada umumnya mengandung doa dan ajaran akan pentingnya berperang di jalan Allah. Hurgronje. lama-kelamaan bacaan menjadi semakin cepat dan tubuh peserta mulai bergerak ke sekeliling peserta lainnya. Sedangkan dalam tari saman. c. isi dan gerak yang dilakukan di dalamnya. II.Perang dan Damai di Aceh. d. penari membaca doa memohon kepada Allah agar mereka memperoleh kemenangan dalam perang sabil. dan saman.. — Fakhriati dari pelepah palem. Tarian-tarian yang dilakukan orang Aceh juga mengandung unsur heroik di dalamnya. 1997:158-184). 25 . Karena itu kemarahan terjadi dari pihak lawan dan keduanya mulai melakukan meulho. Pertandingan menjadi seru bila kedua belah pihak dapat melukai salah satunya dan akhirnya dapat menjatuhkan lawan (Hurgronje. karena daun tersebut mengandung makna sesuatu yang berharga telah diletakkan di atas kepala lawan lalu dengan serta merta kepalanya ditempatkan di bawah. 1997:140). Vol. rapa’i. Bila diperhatikan. Dalam rapa’i. Dalam isi ratib rapa’i terlihat bahwa setelah dimulai dengan pujian kepada Allah dan syekh sufi. Tarian yang cukup populer di kalangan rakyat Aceh adalah tarian seudati. Kepala adalah sesuatu yang harus berada di atas bukan di bawah. 1934:648-649. Sementara dalam tarian seudati. peserta yang melakukan rapa’i menggunakan senjata tajam yang pada waktu ektasi dapat melukai diri sendiri. para penari dari waktu ke waktu bertambah semangat dengan isi bacaan yang semakin hangat. Permainan meulho (bergulat). Kemudian mereka saling mengadukan kemampuan berperang sehingga ada yang mengalah karena kelelahan.. Tarian-tarian ini berpangkal pada praktik tarekat dalam ajaran tasawuf dan kemudian berkembang menjadi hiburan tarian yang disenangi rakyat banyak. Vol II. Permainan ini dilakukan dengan cara memancing lawan. untuk pembelaan agama dan tanah air. pemain duduk untuk membacakan isi seudati yang semakin lama semakin cepat bacaan dan gerak mereka (Djajadiningrat. yaitu dengan meletakkan daun di kepala pemain lalu dijatuhkan. peserta duduk membaca isi ratib saman. Hal ini mengandung makna penghinaan telah dilakukan oleh pihak lawan.

Keturunan Nabi (habib). mereka berasal dari rakyat biasa. Selain susunan lapisan sosial di atas. 2000:3). 2009: 21 . yaitu terdiri dari beberapa keluarga inti. mereka yang memiliki banyak harta. p. 1992:65-66.52 Ja Allah prang thabilellah – ja bantu prang thabilellah2 “Ya Allah di sana ada perang sabil kami mohon bantuan-Mu. Vol. b. mereka adalah rakyat biasa. Kaum hartawan (orang kaya). yaitu keuchik (kepala kampung). Or. 7.Jurnal Lektur Keagamaan. Peran mereka sangat diharapkan masyarakat untuk dapat menyelesaikan masalah masyarakat dalam kaitannya dengan agama (Syamsuddin dkk. dan mengembangkan kehidupan beragama di kalangan rakyat. 1. Masyarakat umum. Lapisan Sosial Masyarakat Aceh tidak dibangun di atas strata sosial berdasarkan tingkat kemuliaan keturunan dan penghormatan kepadanya. yaitu mereka yang datang ke tanah Aceh menyebarkan Islam. Kaum cendikiawan agama (ulama). d. Mereka dan keturunannya bergelar habib dan syarifah. yaitu orang Aceh yang memiliki leluhur sultan dan uleebalang. masyarakat Aceh hidup dalam kelompok-kelompok yang disebut dengan gampong. c. 8184 (1). Kaum bangsawan (uleebalang). Ya Allah untuk perang sabil”. Sulaiman dkk. 26 . a. e. 2. Dalam gampong terdapat tiga bentuk pemimpin. Tippe. Lapisan sosial pada masyarakat Aceh dibangun berdasarkan nostalgia kesejarahan dan berdasarkan peran mereka dalam masyarakat. 1978:144. maka mereka mendapat gelar teungku. teungku. Sementara ureung tuha adalah sekelompok orang tua yang 2 Manuskrip. Mereka banyak berperan dalam hal penyumbangan dana untuk kemaslahatan sosial. Keuchik memiliki peran sebagai pemimpin yang memelihara akan adat. dan ureung tuha (tuha peut). 57. Karena mereka berhasil mendapatkan ilmu agama selama merantau. Sedangkan teungku berperan dalam menegakkan hukum Islam dan mengajarkan umat untuk ilmu-ilmu agama. keturunan dari Mekah. Cod. yaitu. dengan gelar teuku bagi laki-laki dan cut bagi perempuan. No.

Kehadirannya yang selektif dan adaptif atas unsur-unsur adat istiadat yang dinilai tidak menyalahi ajaran Islam membuat masuknya agama ini cukup berhasil di Aceh. Mukim ini dipimpin oleh seorang imuem dan qadi yang diangkat oleh uleebalang. Raliby. 2003:45). 2003:45). Masuknya Islam di wilayah ini dikenal jalan damai melalui para pedagang. 3 Kemudian. Selanjutnya. — Fakhriati dihormati masyarakat yang berperan sebagai penasehat (Sulaiman dkk.Perang dan Damai di Aceh. baik peradilan.. di atas nanggroe. Keputusan mereka sangat diharapkan oleh berbagai pihak. 1980:43-44). Sagoe hanya dimiliki oleh daerah Aceh Besar. Agama Islam telah masuk ke Aceh tidak lama setelah agama ini berkembang di Arab. 27 . (Usman. Di antara struktur masyarakat Aceh tersebut yang masih bertahan hingga sekarang adalah gampong dan mukim. 1992: 66-68. militer. orang Aceh membuat pepatah: 3 Di samping nanggroe. Orang Aceh telah berhasil menyatukan agama dengan adat sehingga dalam setiap adat selalu terdapat nilai-nilai keislaman. Untuk menggambarkan kesatuan agama dan adat ini. Ia tidak memimpin secara otonom. sementara yang lain sudah tidak ada lagi. maupun agama. Mereka menjadi tumpuan pemimpin dalam masyarakat dalam penyelesaian segala masalah yang dihadapi dalam gampong. terutama oleh pemimpin gampong dan bahkan uleebalang yang memimpin nanggroe (Vleer. 3.. Ia dibantu oleh qadi nanggroe. 1978:4-5). Gampong kemudian tunduk kepada kelompok yang lebih besar yang disebut dengan mukim. Fungsi panglima saggoe hanya bersifat memberi masukan kepada uleeblang. Kelompok ureung tuha ini terdiri dari empat atau lebih orang pemuka masyakarat yang di dalamnya termasuk teungku yang banyak mengetahui bidang agama. terdapat kerajaan yang dipimpin oleh seorang sultan dibantu oleh seorang qadi didasarkan kepada undang-undang Aceh yang bersumber pada ajaran Islam dan berciri khas keislaman yang tinggi (Usman. terdapat sagoe di bawah pimpinan panglima sagoe yang merupakan federasi dari beberapa nanggroe. dalam arti wilayahnya tetap berada di bawah kekuasaan uleebalang. wilayah uleebalang sendiri adalah nanggroe yang terdiri dari tiga mukim atau lebih. Wewenang sagoe hanya terbatas pada kepentingan bersama antara beberapa orang uleebalang.

Bahkan berlandaskan pada sebuah hadis. 4. seperti Syekh Muhammad Yamani yang dikenal dengan ulama Ilmu Usul. Di antara para pendatang dari Arab dan sekitarnya terdapat ulama-ulama yang mengabdikan dirinya untuk mengajar di Aceh. Tidak sedikit di antara pedagang-pedagang Arab dan Gujarat yang juga telah membawa agama Islam memilih menetap di sana dan menjalin hubungan kekeluargaan dengan rakyat Aceh. ia menegaskan bahwa tidak menghormati tamu sama dengan perilaku syaitan (I‘l±m al-Muttaq³n. 2009: 21 . sehingga kemudian orang Aceh mengklaim adat mereka sebagai adat yang Islami. Dalam perjalanannya. dalam arti segala adat istiadat berlandaskan agama. Selanjutnya sikap seperti ini terus dipertahankan bila tamunya tetap berperilaku baik dan menjadi teman dalam bersosialisasi. 1999:1). 1.52 adat ngon hukom lagee zat ngen sifeut “adat dengan hukum (agama) adalah seperti zat dengan sifat” Pepatah ini mengandung pengertian bahwa adat sebagai ciptaan manusia dan hukum Tuhan (agama) adalah dua unsur yang tidak bisa dipisahkan. No. Adat harus selalu beriringan dengan agama. Syekh Muhammad Jailani ibn Muhammad Hamid dari Gujarat mengajarkan Logika dan Ilmu Fikih (Ar28 . Vol. Dalam manuskrip I‘l±m al-Muttaq³n karya Teungku Muhammad Khatib Langgien (salah seorang tokoh tasawuf abad ke-19 yang menjadi panutan masyarakat) terdapat penjelasan tentang perlunya memuliakan tamu.Jurnal Lektur Keagamaan. 7. Mereka telah berhasil menjadikan adat dan agama sebagai pilar bagi kehidupan Aceh. Islam mengalami penguatan citra melampaui adat istiadat. hlm. sedangkan ulama adalah unsur utama yang mendukung dan memperjuangkan peranan agama (Sjamsuddin. Sultan dan uleebalang adalah dua unsur utama yang mendukung kehidupan adat. Sikap terhadap Orang Asing Orang Aceh memiliki sikap tersendiri dalam menghadapi orang asing yang datang ke negeri dan wilayahnya. Fanatisme agama merupakan suatu tradisi yang sudah turun temurun untuk melangkah sesuai dengan ajaran agama. Sikap yang pertama sekali ditunjukkan adalah sikap ramah dan berteman kepada siapa saja yang datang. 18). Para pengunjung dari berbagai negara telah datang ke Aceh dengan tujuan yang berbeda-beda.

Selain itu. di antara lembaga yang menyimpan manuskrip Aceh adalah Perpustakan Universitas Leiden Belanda. Sedangkan di luar negeri. manuskrip Aceh tersebar di Perpustakaan Nasional. Kemudian. Sejauh ini. 2005:2). — Fakhriati Raniri. bahkan memerangi dan membunuhnya. baik secara kelompok maupun individu. Pustaka Ali Hasymi. Penulis bersama team peneliti Puslitbang 29 .. Demikian juga dengan Belanda yang datang ke Aceh untuk tujuan membentuk wilayah jajahan. meskipun mereka menetap di wilayah ini dalam waktu yang relatif lama. dan Univeristas Antar Bangsa Malaysia. dan Dayah Tanoh Abee. penulis sudah mengidentifikasi lebih dari 400 manuskrip yang terdapat di Aceh Besar dan Pidie. maka dengan tegas dan tidak segan-segan mereka akan bertindak menegur. yang ditempatkan di lembaga formal. Hal ini ditandai dengan terdapatnya sejumlah manuskrip yang masih tersimpan baik di dalam maupun di luar negeri.Perang dan Damai di Aceh. 1961:89). bila pendatang ingin menguasai dan dinilai merugikan Islam dan martabat bangsa Aceh. Budaya Tulis Baca Masyarakat Aceh pada Masa Lampau Masyarakat Aceh pada masa lampau memiliki budaya yang tinggi dalam hal tulis baca. informal ataupun dikoleksi dan disimpan oleh masyarakat setempat. Sebaliknya. Pusat Manuskrip Melayu Perpustakaan Negara Malaysia. KITLV Belanda. koleksi dan simpanan individu masyarakat Aceh sendiri masih sangat banyak. Di dalam negeri. Seperti halnya kedatangan orang Portugis ke Aceh pada awalnya diterima dengan baik. Universitas Indonesia. dalam Bust±n as-Salat³n:33). Orang Aceh selalu menentang dan melawan mereka meskipun secara kasat mata dengan persenjataan yang tidak seimbang. Mereka tidak pernah dapat hidup tenang dan aman selama di Aceh. terjadilah perang sabil melawan Portugis. Museum Aceh.. Bahkan orang non-Muslim yang datang ke Aceh pun tetap disambut dengan baik. British Library. maka orang Aceh mulai bertindak dengan tegas. yaitu menangkap mereka dan mengadili mereka (Mohammad Said. memarahi atau mengusir. namun ketika gerak geriknya kelihatan sudah mencurigakan. Orang Aceh dan Manuskrip 1. Sultan Ali Mughayat Syah bersama rakyat dan kerajaan-kerajaan pantai timur lainnya bersatu menggalang kekuatan untuk mengusir Portugis dari wilayahnya (Reid.

cerita fiksi dan non-fiksi yang biasanya dituang dalam bentuk hikayat. Demikian banyaknya ragam manuskrip baik isi maupun gaya sajiannya adalah bukti telah tumbuhnya tradisi menulis pada bangsa Aceh pada masa lampau. Hampir semua pengoleksi dan penyimpan manuskrip tidak mengerti cara merawat manuskrip yang benar. Menurut penulis. surat-surat. penyimpan seperti ini perlu mendapat penanganan khusus untuk dijadikan museum pribadi di rumah penyimpannya.52 Lektur Keagamaan. 7. Vol.4 Adalah hal yang kurang tepat jika dikatakan bahwa orang Aceh adalah bangsa yang tidak suka menulis (Hurgronje.Jurnal Lektur Keagamaan. Vol. penyimpan mengangap bahwa dengan keberadaan manuskrip di rumahnya menjadikan rumahnya aman dari segala bahaya. 30 . seperti Surat Keputusan Sultan yang disebut dengan Sarakata. obatobatan. Kondisi manuskrip rata-rata sangat memprihatinkan karena peyimpanan dan perawatan yang dilakukan masyarakat belum memenuhi standar perawatan manuskrip. Penulis juga sangat yakin. sebagian besar manuskrip dibeli oleh orang Malaysia dengan harga yang tinggi untuk disimpan di negaranya. 2009: 21 . Dewasa ini. terutama bahaya alamiyah. II. Seperti kasus di wilayah Samahani Aceh Besar. Keragaman gaya sajian maupun jenis tulisan sepertinya ditujukan untuk merangsang minat para pembaca untuk membaca tulisannya. mengingat sejumlah harta warisan kita dibawa ke luar negeri. Merupakan sesuatu yang sangat prihatin bagi kita semua. jimat. 1997:4). hanya saja mereka tetap menyimpannya karena dinilai sebagai warisan yang sangat berharga bagi keberlangsungan hidup mereka. Kedua adalah kolektor yang tujuan mengoleksi manuskripnya adalah untuk menjual kembali manuskrip yang dimilikinya. dan berbagai macam ilmu pengetahuan tertuang di dalam tulisan mereka. 1. selawatan. Balitbang dan Diklat Departemen Agama juga telah berhasil mengidentifikasi 49 manuskrip yang terdapat di Dayah Awe Geutah. Aceh Utara. Para penulis manuskrip-manuskrip ini tidak segan-segan mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk 4 Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada dua kategori penyimpanan manuskrip dilakukan oleh masyarakat setempat. di kabupaten-kabupaten lain juga masih terdapat banyak manuskrip hasil karya pendahulu-pendahulu Aceh. Pertama peyimpan yang murni menyimpan karena mengangap sebagai sesuatu yang berharga dan bernilai untuk kehidupan mereka. (wawancara dengan beberapa kolektor di wilayah Pidie dan Aceh Besar). No. seperti gempa bumi. selain tempat-tempat yang disebutkan di atas. dan masih banyak lagi manuskrip yang belum tersusun rapi dan teridentifikasi khususnya di dayah ini.

. yaitu Hamzah Fansuri. bahkan kadang mereka tidak segan-segan mengeluarkan biaya besar untuk menulis dengan menggunakan tinta emas sekalipun. kemajuan ilmu pengetahuan ditandai dengan hadirnya tokoh-tokoh intelektual sufi. dan meneliti segala aspek tentang mereka. dan ilmu-ilmu lain. serta tanda-tanda yang menunjukkan berakhirnya sebuah kalimat. Tulisan-tulisan tentang mereka dan karya-karya mereka sudah banyak diterbitkan. Salah satu contoh manuskrip yang ditulis dengan tinta emas adalah Surat Sultan Iskandar Muda. Selain ia menulis tentang tasawuf yang berkisar seputar masalah tarekat Syattariyah. ar-Raniri. Syamsuddin as-Sumatrani. ilmu filsafat.. Mereka menuangkan ide mereka. kemudian menulis dengan tinta yang pada umumnya menggunakan tinta hitam dan merah untuk mengungkapkan kata-kata atau hal-hal yang penting. Pada abad ke-16 dan ke-17 M. Selain menyebarkan ajarannya. Selain itu. mempelajari. 5 31 . karena setelah diteliti. Para peneliti menunjukkan perhatian serius dengan memperhatikan. Salah satu contoh tokoh intelektual sufi yang turut mempedulikan setiap kepentingan negara dan umatnya adalah Abdurrauf al-Fansuri. sehingga banyak buku yang terbit sebagai hasil studi para ilmuan terhadap mereka. Penulis manuskrip Dala’il al-Khairat menggunakan tinta emas untuk gambar peta Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. — Fakhriati melahirkan sebuah karya yang nantinya akan bermanfaat bagi pembacanya. demi untuk menarik minat pembacanya.Perang dan Damai di Aceh. karena ia yang pertama sekali menyebarkan tarekat ini kepada masyarakat di Nusantara. hingga masalah kepentingan umat secara umum. saya juga pernah menemukan Al-Qur’an yang gambar iluminasinya ditulis dengan tinta emas. ilmu fikih. dan berkerja meniti karirnya di Aceh (Lihat Fakhriati. ternyata Abdurrauf adalah ulama yang berasal dari Fansur atau lebih dikenal dengan Barus. yang dikenal sebagai tokoh utama dalam tarekat Syattariah. dan sebagian manuskrip Dala’il al-Khairat. 2008). dan Abdurrauf alFansuri 5 . Para ulama tersebut melahirkan berbagai karya yang mencakup berbagai bentuk ilmu pengetahuan dari ilmu tasawuf. yang berjudul Tarjuman alPenulis cenderung menyebutnya Abdurrauf al-Fansuri dari pada Abdurrauf Singkel. ia juga menulis karya lain seperti tafsir Al-Qur’an. ia peduli terhadap ilmu lain yang dibutuhkan oleh masyarakat di lingkungannya.

Sedangkan Baba Daud telah berhasil menyempurnakan karya gurunya. 7. Perhatian lebih banyak tertuju pada usaha menghimpun kekuatan membela diri dan mengusir penjajah. seperti Bid±yat alMujtah³d. ia juga peduli dengan pemerintahan yang berkembang saat itu. seorang ulama hasil didikan Baba Daud yang telah melakukan sesuatu yang sangat berharga bagi umatnya adalah Syekh Nayyan. yakni Dayah Tanoh Abee (Baca manuskrip. 6 32 . Faqih Jalaluddin telah menulis berbagai karya yang menyangkut berbagai masalah. Mereka bahkan menggunakan kesempatan menulis untuk membakar semangat perjuangan melawan kebatilan yang mereka sebut sebagai kafee untuk memperjuangkan agama dan bangsanya. yang berjudul Hadis al-Arba‘in. No. Selanjutnya. Ia telah membangun dayah yang sampai sekarang tetap berjaya dengan pendidikan dan penyimpanan kitabkitab lama hasil karya para ulama Aceh dan luar Aceh. murid langsung dari Abdurrauf al-Fansuri. Kendati demikian. pada masa ini karya-karya hasil tulisan orang Aceh bukan Kondisi kerajaan yang secara perlahan mulai melemah berikut masuknya kekuatan asing yang berusaha meruntuhkan kekuatan kerajaan serta timbulnya persoalan di dalam negeri antara ulama dan uleebalang memberi pengaruh memudarnya semangat keilmuan. 2009: 21 . di antara tulisannya adalah Asr±r as-Sulµk dan Manzal al-Ajl±. 1995). Faqih Jalaluddin dan Baba Daud. pada abad-abad berikutnya. Pada abad ke-18. para peneliti dan ilmuwan kurang menaruh perhatian pada penulis-penulis Aceh. karena harus menghadapi penjajah Belanda.52 Mustaf³d. Sangat sedikit hasil kajian terhadap sosok ulama Aceh dan karyakarya mereka pada masa ini muncul. meskipun kondisi negeri pada saat itu kurang mendukung 6 . adalah abad yang cukup menderita untuk rakyat Aceh. yaitu Sultanah Safiyatuddin (1641-1676 M) adalah pemerintah yang sah dan benar dalam hukum Islam (Lihat Azra. Namun demikian. orang Aceh yang cinta tulis menulis terus menuangkan pikiran dan pengalamannya yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Abad ke-19. Tarjuman alMustafid dan juga menulis tentang Fikih. dan penjelasan terhadap hadis-hadis. Mir’at at-°ull±b. 1. Di samping itu. Vol.Jurnal Lektur Keagamaan. karya Teungku Ismail tentang sejarah Syekh Nayyan). ia memberi fatwa bahwa pemerintah yang berkuasa pada saat itu. Di antara para ulama yang telah menghasilkan karyanya pada abad ke-18 M.

— Fakhriati semakin tenggelam. melainkan bangkit kembali dengan semakin banyaknya karya yang muncul dalam berbagai bentuk. Ia memiliki juru tulis khusus bernama Teungku Rahman yang bertugas dengan setia melakukan segala perintahnya dalam menulis. 8 Sampai sekarang masih bisa dijumpai manuskrip-manuskripnya yang dikoleksikan oleh keturunannya. Pada abad ke-20. Di antara para ulama yang gemar menulis dan cukup produktif pada masa ini adalah Teungku Khatib Langgien. Ia adalah tokoh tarekat.. muncul ulama besar yang bernama Teungku Muhammad Ali Irsyad. melainkan juga ilmu-ilmu lain seperti fikih dan bahasa Arab. meski tidak merujuk kepada Abdurrauf al-Fansuri sebagai silsilahnya.. lantunan hikayat menjadi kesenangan bagi masyarakat banyak. Ia adalah salah satu penulis yang giat menuangkan pikirannya untuk kepentingan murid dan masyarakatnya. Merupakan suatu kenikmatan tersendiri baginya untuk membuat buku baru sebagai hasil karyanya sendiri daripada menyalin kembali hasil para ulama di masa yang silam. di antaranya adalah yang berbentuk cerita dalam bentuk hikayat yang mengajak umat untuk berperang melawan penjajah. Karya-karya para ulama menjadi pegangan bagi umatnya. Bid±yat alUntuk penjelasan pergeseran silsilah yang terjadi dalam tubuh tarekat Syattariyah di Aceh.Perang dan Damai di Aceh. di samping ia juga menjadi tempat berpijak dan bertindak. seperti Mi’r±j as-S±lik³n yang menceritakan tentang praktik tarekat dan pemahaman filosofi tentang makna tasawuf. Peran Manuskrip bagi Masyarakat dalam Perang dan Manuskrip telah memberi daya tarik tersendiri pada masyarakatnya. 2. lihat Fakhriati 2008. dan Daw±’ al-Qulµb yang menjelaskan tentang obat hati yang perlu dimiliki oleh setiap orang. Ia telah menjadi teman setia bagi pembacanya di sepanjang masa. Salah satu karyanya adalah Fa‘lam annahu l± il±ha illall±h. Karya-karyanya tidak hanya berkisar tentang tasawuf. Teungku di Pulo adalah sosok yang cukup berpengaruh untuk masyarakatnya di Aceh. 8 Selain itu. Ia juga menjadi Qadi untuk pemerintah yang berkuasa pada saat itu (Lihat Fakhriati 2005). Ia lebih cenderung menjadikan karya-karya pendahulunya sebagai rujukan daripada menyalin kembali. Teungku Amiruddin Hasan Meunasah Kruet Teumpeun.7 Ia menulis berbagai masalah. 7 Damai 33 .

Mereka melakukannya secara individu. misalnya. Hikayat-hikayat yang dibaca dengan intonasi nyanyian khas Aceh dapat memberi kesan dan pengaruh yang sangat kuat kepada para pendengarnya untuk bertindak dan bersikap seperti yang dikatakan dalam hikayat. 1997:201). Vol. kaum Muslim Tausug melaksanakan jihad yang dikenal dengan Parrang Sabbil melawan kolonial Spanyol. Persiapan ini menunjukkan bahwa orang yang melakukan jihad adalah orang yang akan kembali ke Hari Akhir. telah mendorong para pembaca dan pendengarnya untuk bertindak secara langsung terjun ke lapangan mempraktikkan apa yang diceritakan dalam hikayat. 23-24. kesenangan mendengar hikayat di kalangan orang Aceh telah terjadi secara turun temurun. (Kern Papieren. sehingga menjadi darah daging pelaksananya. Kern. Dalam peperangan melawan Belanda. mereka masih tetap melakukan penyerangan secara individu yang dimotivasi oleh semangat prang sabi. misalnya. di meunasah. Para ulama dan orang yang berbakat membuat hikayat pun dengan segala senang hati menciptakan berbagai hikayat untuk dibaca di hadapan khalayak ramai. p. di Pilipina misalnya. Motivasi pembunuhan bermula dari membaca Hikayat Prang Sabi di rumahnya. 234.Jurnal Lektur Keagamaan. Vol II. Salah satu contoh bentuk penyerangan individual yang populer sejak tahun 1910 tersebut adalah peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh seorang pemuda Aceh terhadap tentara Belanda pada tahun 1917 di Langsa.9 9 Perlawanan secara individu juga terjadi di tempat lain selain di Aceh. 1973: 109-123). Snouck Hurgronje menyatakan bahwa hikayat adalah salah satu bentuk hiburan rohani yang disenangi oleh berbagai lapisan masyarakat. Di lain pihak. baik rakyat biasa maupun para pemimpin. 1979:25-27). 1. Hikayat Prang Sabi. atau di perkumpulan-perkumpulan kecil di kedai kopi. muda. Meskipun mereka kalah dan tidak bisa lagi melakukan penyerangan secara berkelompok. orang tua. Sebelum melakukan jihad mereka harus melaksanakan upacara mandi yang kelakukannya sama seperti mandi yang dilakukan untuk orang yang mau dikuburkan. No. (Kiefer. 34 . 7. dan anak-anak sekalipun. seperti di lapangan. dijadikan sebagai kitab wajib di setiap pesanren (dayah) bagi para pemula. (Hurgronje.52 Mujtah³d. 2009: 21 . orang Aceh tidak pernah menyerah. Ilmu fikih yang tetuang dalam kitab tersebut kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. No. C. misalnya. Isi hikayat pada umumnya bersifat mendidik dan mengajari hal-hal yang bermanfaat bagi pembaca dan pendengarnya.

bahkan tidak dapat membaca tulisan di dalamnya. memiliki keinginan menyimpan manuskrip karena ada kepercayaan dapat berlindung dari gempa bumi. terlebih setelah sekian lama berprofesi sebagai penjual beli manuskrip dengan untung yang besar namun hasilnya tidak berkah (habis begitu saja tanpa termanfaatkan dengan baik).. 33). Untuk memimpin Aceh.. terdapat juga isi manuskrip lainnya yang mengharap adanya suasana damai. Mereka mengangap manuskrip sebagai sesuatu yang dapat memberi makna mistis dalam kehidupan mereka. sementara rumah di sekelilingnya sudah hancur berantakan. Isinya yang mengajarkan umat sesuai dengan ajaran Islam dan mengajak mereka untuk menegakkan perang adalah unsur yang mau tidak mau harus dipatuhi oleh orang yang cinta kepada agama dan bangsanya.. Dalam manuskrip Hikayat Prang Sabi sendiri terdapat harapan untuk mewujudkan negeri Aceh menjadi negeri yang aman dan damai. kecuali harus melaksanakannya. Nabi mengangkat raja lain yang dapat memimpin dan membina negeri Aceh. — Fakhriati Hikayat Prang Sabi telah membangkitkan semangat jihad melawan musuh yang dianggap sebagai kafir yang merongrong Islam dan bangsa Aceh dan karenanya harus dimusnahkan. Sabda Nabi neu yu peu Islam kafe belanda yang na tinggai dara ngen agam nak bek karam u nuraka neuboh raja lein geulanto peutimang naggro mat neraca..Perang dan Damai di Aceh. maka kehidupan dapat berkah dan dapat terhindar dari malapetaka. Dengan menyimpan manuskrip. Salah seorang penyimpan manuskrip. 3. sehingga negeri Aceh menjadi mulia”. hlm. Selain isi manuskrip tentang ajakan untuk berperang di jalan Allah. Para pemilik manuskrip–khususnya–menyimpan manuskrip sebagai sesuatu yang berharga. “Nabi bersabda agar orang Belanda yang masih tinggal di daerah Aceh diislamkan agar tidak masuk ke dalam neraka. Manuskrip Aceh pada Masa Kini Manuskrip memiliki arti penting bagi generasi sekarang di Aceh.. Cinta kedamaian adalah sesuatu yang lain yang diinginkan setiap insan. truh lee siat naggroe mulia (Hikayat Prang Sabi miliki Syik Jah. meskipun sebagian mereka tidak memahami isinya.. Tidak selamanya setiap insan yang normal jiwanya di dunia ini ingin berperang. Kak Putri misalnya. 35 .

Padahal rumah di sekelilingnya sudah disisir semuanya. merasa bahwa menyimpan manuskrip-manuskrip yang ia miliki sebagai warisan dari leluhurnya lebih baik daripada menyimpan sesuatu yang berharga lainnya.52 Selain itu. dan mengamalkan manuskrip. Hikayat Prang Sabi. Adapun tiga manuskrip tersebut adalah manuskrip Hiyakaye. atau mereka memindahtangankan (mereka menghindari istilah menjual) dengan cara barter. Konflik Internal Secara internal. Tidak ada satu pun dari pasukan kedua belah pihak yang terlibat konflik berusaha masuk ke rumahnya. Ia yakin dengan kepatuhannya kepada wasiat kakeknya tersebut. bukan berarti tidak ada orang yang perduli terhadap manuskrip. dalam tubuh masyarakat Aceh telah terjadi beberapa kali konflik yang menelan sejumlah korban dari berbagai 36 . Ketiga-tiga manuskrip tersebut adalah manuskrip pemompa semangat untuk berjihad dan mengajarkan cara menghilangkan diri dari musuh. Bentuk-Bentuk Perang yang Terjadi di Aceh 1. Wasiat pendahulu-pendahulu mereka terus dipelihara dan dijaga. No. yaitu manuskrip yang isinya dapat membuat musuh tidak dapat melihat orang yang mengamalkan isi kitab tersebut. meskipun ia dan keluarga berada di tengah-tengah perang dan dikelilingi oleh pihakpihak yang berseteru. Ia mendapat wasiat dari kakeknya agar tiga manuskrip yang ia miliki hendaknya selalu dibaca dan diamalkan. 1. 7. Sering kali ketidakperdulian ini disebabkan mereka tidak dapat membaca dan memahami isinya. Ia dan keluarganya berkeyakinan bahwa pengalaman tersebut adalah berkat dari menyimpan. yaitu ia dan keluarganya terhindar dari serangan musuh ketika konflik Aceh terjadi. ia dan keluarganya telah memperoleh hikmah. 2009: 21 . Ia lebih mementingkan keamanan manuskrip dibandingkan dengan yang lain. Namun demikian. manuskrip juga dianggap sebagai barang warisan yang berharga dari nenek moyang mereka. seperti baju dan uang. Syik Jah Amut misalnya. membaca.Jurnal Lektur Keagamaan. dan Hikayat Nuri. Pada umumnya penduduk desa yang seperti ini tidak berani menjualnya karena takut mendapat bencana meskipun ada yang berhasrat membelinya. Sehingga mereka membiarkan manuskrip ada di rumahnya dengan menyimpan di dalam karung-karung atau peti dan meletakkan di loteng-loteng. Vol.

— Fakhriati pihak. Pada masa sebelum Belanda campur tangan ke dalam wilayah Aceh. “Kesalahan diri sendiri tidak pernah nampak karena sangat jahat kafir Belanda Hatinya sudah gelap sehingga kapan saja jin dan syaitan dapat masuk ke dalam dada mereka Tidak mau mendengar pengajaran agama Tuhan pada Rasul Anbiya Mereka tidak mau mematuhi kalam Tuhan. Para uleebalang mulai menunjukkan sikap tidak patuh kepada aturan-aturan sultan yang tertuang dalam sarakata. kekuasaan sultan sudah mulai melemah.. sehingga konflik pun muncul ke atas permukaan.. Di sisi lain.” 37 . Perilaku koruptif dengan tidak memberitahukan kepada sultan hasil pajak yang sebenarnya mulai merebak. Perlawanan ulama ini digambarkan oleh Teungku Muhammad Ali sebagai berikut: Keusalah drou hantem leumah sebab that ku’eh kafeee Ulanda Hate jih seupot beurangkajan iblih ngen syaithan di dalam dada Han jitem deunge pengajaran agama Tuhan bak Rasul Anbiya Kalam Tuhan han jitem pateh ji peusalah dum anbiya. (Sir±judd³n. Belanda berusaha melenyapkan kekuasaan sultan dan mengangkat kedudukan uleebalang sebagai penguasa wilayah. Uleebalang pada umumnya senang dengan perlakuan Belanda tersebut sehingga ikut-ikutan untuk menekan dan menghalanghalangi gerak para ulama terutama dalam melaksanakan tugasnya menyebarkan dan melaksanakan ajaran agama. Para ulama tidak menerima tindakan demikian...Perang dan Damai di Aceh. malah menyalahkan semua para anbiya. h. Ia membagi-bagi wilayah kecil dengan penguasa uleebalang yang harus tunduk di bawah kekuasan Belanda. Pembangkangan ini ternyata disambut oleh Belanda yang ingin ikut campur ke dalam pemerintahan kerajaan Aceh. Pembagian hasil upeti yang didapat tidak dilakukan. sesudah kemerdekaan konflik juga timbul antara mereka. Politik saling mencurigai antara sesama atau lebih dikenal dengan politik devide at impera selalu menjadi acuan Belanda dalam usaha memperluas wilayah jajahannya. Belanda menekan kedudukan ulama agar tidak ikut campur dalam mengelola sistem pemerintahan... Perbedaannya hanya terletak pada faktor penyebabnya. Sebelum kemerdekaan konflik telah terjadi antara ulama dan uleebalang. 11).

Para ulama tidak memberi kesempatan kepada uleebalang untuk mengatur dan memerintah sementara mereka juga menginginkan kekuasaan sehingga terjadilah perang.. 2009: 21 . yaitu setelah kemerdekaan. terutama di pihak uleebalang. agar selamat hidup di dunia dan akhirat. 7. Para uleebalang ingin mendapatkan kembali posisi di atas dalam pemerintahan sebagaimana telah mereka alami pada masa Belanda. h. Pada akhir tahun 1945. Bek tamuerakan wahe ado ngen ureung jahe aso donya Beutatakot hai ureung salek keu ureung ulok jahe donya Di ureung jahe pih jitakot keuureung salek duk lam tapa Padum-dum oreung jahe jipeujahat sabe ureung tapa Ureung yang pubuet suroh Allah jipeusalah dum ji rata Seubab hana ji sumayang wate limeung jiyu plihara Hantem jideungo firman Tuhan dalam Quran yang that mulia So na seubot nama Tuhan yanke tolan semayang gata Ureung yang na kheun kalimah tayibah yanke yang jroh taat gata (Sir±judd³n. jangan berteman dengan orang jahil yang suka kepada dunia takutlah hai salik kepada orang yang seperti itu orang jahil pun takut kepada orang salik yang bertapa orang yang mengikuti perintah Allah disalahkan semua karena mereka tidak salat wajib yang lima waktu tak pernah mendengar firman Tuhan dalam al-Quran mulia mereka tidak pernah mendengar firman Tuhan dalam al-Quran barangsiapa menyebut nama Tuhan dan salatlah kalian orang yang mengucap kalimah yang baik mereka itulah orang yang baik dan taat”.. 13-14). Geutanyo bandum wahe ado bak buet Rasul ikut gata Laen bak Rasul bek ta ikot meunan patot dum peutua.. No. 1. Mereka mengajak pengikutnya untuk mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya. “Semua kita wahai saudara harus ikut pekerjaan Rasul Selain itu jangan ikuti karena begitulah seharusnya.52 Berpegang teguh pada ajaran agama menjadi kewajiban bagi para ulama untuk mempertahankannya. Vol. Banyak di antara mereka harus lari dan pergi 38 . Korban telah banyak berjatuhan dari kedua belah pihak.Jurnal Lektur Keagamaan. terjadi kembali perang saudara antara ulama dan uleebalang yang dikenal dengan perang cumbok.

sehingga lahir hikayat tentang tewasnya jendral Kohler. 2003:119-124).. 1979:200-204. Orang Aceh sangat senang atas kemenangan ini. Dengan kegigihannya. Pada tahun 1509 M. Para pemuda Aceh menyambut gembira harapan yang diberikan Jepang. Pidie.Perang dan Damai di Aceh. Usman. Sangat beruntung bagi orang Aceh. dan Pasai (Zainuddin 1961:267. pasukan Aceh di bawah komando Kuemala Hayati telah berhasil mengalahkan Portugis yang berada di bawah pimpinan Admiral Die d’Lopez Sequeira yang berusaha menguasai wilayah Aceh Besar. 2. Jepang menjanjikan angin surga untuk bersama orang Aceh melawan Belanda dan berada di pihak orang Aceh untuk membangun Aceh. Sehingga gerak mereka tidak lepas dari pantauan para petinggi ulama. (1942-1945) adalah perang lain yang harus dihadapi orang Aceh. Setelah merasa bahwa janji-janji Jepang hanyalah tipuan belaka. karena keberhasilan ada di tangan mereka dan jendral Kohler tewas terbunuh oleh rencong Aceh. Usman. Aceh mencari bantuan ke Turki untuk persiapan menghadapi mereka. namun mereka juga tetap waspada apa yang akan terjadi ke depan. Mereka tetap menjadikan rujukan dan membina hubungan erat dengan para ulama setempat. Semangat jihad 39 . Pada awalnya. Perang melawan Jepang. Konflik Eksternal Perang melawan orang asing yang datang ke tanah Aceh terjadi pertama kali dengan pasukan Portugis yang ingin menguasai wilayah Aceh. Mereka melawan Jepang meski dengan senjata yang tidak sebanding sekalipun. maka rakyat Aceh mulai mengerakkan seluruh kemampuannya untuk berperang menghadapi Jepang. Kemudian perang kembali berkecamuk ketika Belanda melakukan agresi pertama ke wilayah Aceh pada tahun 1873. menggantikan posisi uleebalang. Mereka mengikutinya. Para pemuda Aceh direkrut untuk berada di tangga pemimpin negeri.. Hikayat tersebut selain menceritakan kemenangan pasukan Aceh dengan tewasnya jenderal Kohler. — Fakhriati meninggalkan Aceh agar selamat dari serangan dan pembunuhan (Reid. 2003:115). juga berkisah tentang peristiwa berkecamuknya peperangan serta menggambarkan bagaimana semangat juang pasukan bersama rakyat Aceh dalam perang mengusir penjajah yang menelan banyak korban di kedua belah pihak.

beda agama. Orang Aceh sangat menghormati dan menghargai keagungan Abdurrauf al-Fansuri. (Abdullah. Karena itu ia mengajak kaum Muslimin untuk bersungguh-sungguh melaksanakan perang sabil dan bercita-cita untuk mati syahid. Ia mengajarkan bahwa perang melawan orang kafir yang menjajah wilayah kaum Muslimin adalah wajib. Dalam kitab Wa¡iyyat Syeikh Abdurrauf al-Fansuri 10 terdapat ajaran Abdurrauf tentang kewajiban perang sabil. terdapat semangat jihad dengan mengharapkan berkat dari Abdurrauf al-Fansuri dalam berjuang melawan Belanda. Akhirnya. kemungkinan besar karena selain masa perang melawan Jepang yang demikian singkat. juga karena seluruh kemampuan jiwa dan raga orang Aceh tercurah ke dalam perang menghadapi Jepang. No. 2009: 21 . Hal ini terjadi. meski tekanan hidup lebih parah daripada yang dialami pada masa Belanda.52 kembali berkobar. Untuk itu Allah mewajibkan umat Islam untuk melakukan perang sabil. Kondisi-Kondisi yang Menyebabkan Perang Dari hasil pemetaan di atas dapat dianalisis berdasarkan manuskrip yang ada bahwa terjadinya perang di Aceh adalah karena faktor-faktor penjajahan.Jurnal Lektur Keagamaan. Ia menyebut bahwa memerangi orang kafir adalah berbentuk perang sabil yang diridai oleh Allah. Vol. Mereka hanya menggunakan kitab-kitab lama untuk dibaca dan direnungi serta diamalkan. Jepang pergi sendiri meninggalkan Aceh setelah dikalahkan oleh Amerika dengan jatuhnya bom di Hirosima dan Nagasaki. 7. sehingga ajarannya juga diamalkan. tidak terlihat munculnya karya-karya para ulama pada saat ini. Pada jangka waktu perang yang singkat dengan Jepang. Dalam sebuah doa. dan perebutan kekuasaan. 1. 1991:131). 10 40 . Abdurrauf al-Fansuri adalah tokoh yang sangat kuat memperjuangkan negara melawan penjajah. Hikayat Prang Sabi kembali dikumandangkan dari berbagai tempat dan sudut untuk membakar semangat rakyat berjuang melawan Jepang sebagai kafir. Manuskrip ini disimpan di Pusat Manuskrip Melayu dengan nomor kelas MS 1314. Ia mengatakan bahwa Allah melarang orang Islam untuk tunduk di bawah pemerintah kafir dan mengambil orang kafir sebagai teman.

. Bak Allah beh kafee Ulanda. Cod. Sebagai penganut dan penyebar tarekat Samaniyyah di wilayah Nusantara. Kemudian. Or. Hatee bak puteh. Selain itu. firman Allah disuruh perangi kafir. Cod.. firman Allah neuyou prang kafe. iman bak teugoh. Boh beudee jife bek jimeusu. tidak heran kalau sampai sekarang manuskrip al-Palembani masih disimpan dan dikoleksi oleh orang Aceh. 11 41 . (Manuskrip. ia berjuang dengan giat melawan Belanda. Perkumpulan kaum Muslimin di Mekah juga menjadi kondisi lain untuk mendorong orang Aceh bergerak lebih radikal terhadap Buku ini berisi pahala yang dicapai oleh orang yang melakukan jihad.Muslim³na wa Ta©kirah al-Mu’min³na f³ fa«±’il al-Ji¥±di f³ Sab³lill±h wa Kar±mah al-Muj±hid³na f³ Sab³lill±h 11 telah menjadi rujukan bagi rakyat dalam berperang. Keluar peluru jangan bersuara. Karena itu. 20. Kemudian dilanjutkan dengan anjuran kepada orang yang melaksankan jihad agar membaca l± ¥awla wa l± quwwata ill± bill±h tujuh kali. Salah satu manuskrip yang mengambil rujukan pada buku tersebut adalah Nasihat Ureung Meuprang dan Hikayat Prang Sabi. (Manuskrip. berkat syafaat Nabi Muhammad agar menang umat. kalah kafir. Beureukat syufa’at Nabi Muhammad bak meunang umat. dan penghapusan dosa selama di dunia. Abdussamad al-Palembani (w. khususnya Aceh. — Fakhriati L±’il±ha’ill±h. Masyarakat Aceh menggunakan buku tersebut sebagai pedoman mereka menulis. Or. Di akhir buku ini tertulis doa yang berisi permohonan kepada Allah agar Allah melindungi orang yang melakukan jihad. Bukunya tentang kewajiban melakukan jihad bagi setiap Muslim yang sedang menghadapi musuh yang berjudul Na¡³¥ah al. Berkat Teungku Syiah Kuala. beutalo kafe. penjelasan tentang peraturan berjihad yang terdiri dari jihad yang wajib dilakukan oleh setiap individu bila orang kafir menguasai daerah orang Muslim. A. C). 7992 (5): 3) “Tiada Tuhan selain Allah. dorongan kuat dari tokoh luar Aceh juga menjadi kondisi membangkitnya semangat orang Aceh dalam menggerakkan perang melawan penjajah Belanda. Agar Allah usir kafir Belanda”. Setelah tahun 1789 M) adalah tokoh dari Palembang (Sumatera Selatan) yang telah membakar semangat jihad untuk wilayah Nusantara.Perang dan Damai di Aceh. dan jihad yang hanya wajib dilakukan secara berkelompok bila orang kafir masuk ke dalam wilayah mereka. Beureukat Teungku Syiah Kuala. hati harus putih bersih dan iman harus kuat.

Sehingga perkumpulan tersebut membuat komitmen untuk memberantas kolonial di wilayah mereka. 8-12). seperti di Arab dan di Mesir. Mereka saling mendapat dorongan untuk mencapai satu tujuan yang sama. No. Salah satunya adalah simpanan Teungku Ainal Mardhiah Teupin Raya. 13 Sehingga semangat yang berapi-api mereka bawa pulang serta. Meunan Peurintah Huleebalang dum sibarang yang peutua. (Bruinessen.14 Manuskrip Teungku Ali Muhammad Pulo Peub yang ditulis pada abad ke-19 M adalah salah contoh manuskrip yang menarik dikaji untuk melihat kondisi yang menyebabkan terjadinya perang di Aceh. sebagai tokoh Syattariyah tidak luput mengulas sifat dan sikap uleebalang dan kafir Belanda yang menghalang-halangi kaum tarekat dalam beribadah. 1990: 42-49). sehingga rakyat antusias membaca dan mendengarkannya. Vol. Orang Aceh yang berada di Mekah 12 mendapatkan informasi tentang kekejaman kolonial di setiap negara Muslim lainnya di dunia. 10) Han jibri peubut tarekat sufi seubab that dengki si celaka. h. Manuskrip ini ditulis dalam bahasa Aceh dan dalam bentuk hikayat. hlm.Jurnal Lektur Keagamaan. Di antaranya adalah dengan menuangkan ilmunya ke dalam tulisannya. 1972: 193210: Holt.. Salah satu cara mereka merangkul rakyatnya adalah dengan menulis informasi yang mereka peroleh di Mekah dalam bahasa Aceh dan berbentuk hikayat. 11) Pergi ke Mekah khususnya untuk melaksakan haji telah menjadi suatu tradisi bagi orang Aceh khususnya dan Nusantara pada umumnya. (Sir±judd³n. Mereka mendengar akan kesuksesan saudara mereka dalam memperjuangkan negara mereka. 1. 14 Sampai sekarang. dan mengajak rakyatnya untuk ikut serta. Ia kemudian pulang ke Aceh dan mengabdi kepada agama dan bangsanya dengan berbagai macam cara.52 kaum non-Muslim. 7. misalnya. 13 Lihat misalnya keberhasilan Mahdi Sudan dalam Dekmejian. Teungku Muhammad Ali yang berdomisili di daerah Leungputu. Keusalah drou hantem leumah that kueh kafee Ulanda (Sir±judd³n. manuskrip-manuskrip tentang hal tersebut masih disimpan oleh penduduk setempat. 1980: 337-347. 12 42 .. 2009: 21 . adalah seorang intelektual yang selama dua puluh tahun berada di Mekah untuk menuntut ilmu-ilmu agama. Ureung salik ji peusalah menan fitnah ureng celaka (Sir±judd³n. Mereka yang memiliki cukup biaya pergi ke Mekah dan bahkan sebagian mereka menetap di sana berpuluh-puluh tahun guna menuntut ilmu agama dari para guru di tanah suci. Konsekwensinya mereka menciptakan gerakan melawan penjajah di daerah mereka sendiri.. hlm.. Isi manuskrip tersebut adalah penjelasan perang yang terjadi di berbagai negara Muslim di dunia. Ia.

Kesalahan sediri tidak pernah kelihatan sangat jahat kafir Belanda” Uraian Teungku Muhammad Ali Pulo Pueb tentang ketidaksetujuan dan sikap uleebalang terhadap ketaatan kaum tarekat dalam beribadah menunjukkan bahwa uleebalang pada masa itu telah berhasil dipandu dan didikte oleh Belanda dalam mengatur negara dan mengesampingkan para ulama. Ia menulis kitab tasawuf dengan judul Tanb³h al-Masy³ yang di antara isinya adalah upaya untuk menetralkan pemahaman tasawuf yang telah simpangsiur pada saat itu.. — Fakhriati “Demikian perintah uleebalang sebagai pemimpin. Bismill±hirra¥m±nirra¥³m Q±lal faq³ru ilall±hil malikil jal³lil syaykhi ‘abdur ra’µfi anna ‘alayya wa lamma wa¡altu ila ar«il Asy³ wa k±na l³ f³h± rajulun yu¡±¥ibun³ wa yataraddadu ilayya ka£³ran wa raaytu annahu yatakallamu f³ wa¥datil wujµdi ‘ala khil±fi m± qarrarahu sayyid³ wa syaykh³l ‘±limir rabb±niyyil munfaridi f³ aw±nihi bil± £±n³ A¥mad bin Mu¥ammadil Madan³l An¡±r³yyi¡ ¢amad±n³yyisy Syah³ri bil Qusy±sy³ wa khal³fatul ‘±lamil ‘al±matil ¥ibril ba¥ril fahh±mati wahua syaykhun± Burh±nudd³ni Mul± Ibrah³m ibni ¦asanil Kµr±n³ 43 . Upaya-Upaya Damai Dalam manuskrip. Abdurrauf al-Fansuri dengan bijaksana menyikapi perbedaan-perbedaan pandangan antara kaum sufi yang sebelumnya telah mengarah kepada kekerasan. hubungan ketidakharmonisan kedua pihak yang bersaudara setanah air semakin tidak terelakkan dan bahkan semakin meruncing... terdapat upaya-upaya damai yang dapat dilihat agar setiap masyarakat dapat menikmati hidup dengan tenang dan dapat melaksanakan segala aktivitas sehari-hari demi kemajuan bangsa.Perang dan Damai di Aceh. Di satu sisi. Bahkan ia sangat takut bila seseorang akan menuduhnya berada pada garis yang salah dalam tasawuf.. Ia memilih bersikap moderat dan cukup hati-hati dalam menghadapi konflik yang ada pada saat itu. tidak berdasarkan ajaran dari gurunya... Untuk menciptakan perdamaian di kalangan masyarakat dan juga di tingkat pemerintahan. Akibatnya. ia tidak setuju dengan pandangan yang mengatakan penyatuan makhluk dengan Tuhannya yang tidak ada perbedaan sama sekali. Orang salik disalahkan demikian bentuk fitnah orang celaka Tidak diizinkan melaksanakan tarekat sufi karena mereka sangat dengki.

Vol. Dan jikalau tiada ia kafir. sehingga orang mengkafirkan saya setelah saya wafat. saya melihat ia berbicara tentang wa¥datul wujµd yang berbeda dengan apa yang telah diajarkan syekh saya Ahmad bin Mu¥ammad al-Madan³ al-An¡±r³ as-¢amad±n³ yang dikenal dengan al-Qusy±sy³ dan khalifah Alam yang luas pemahamannya yaitu syekh kami Burh±nudd³n Mul± Ibrah³m bin Hasan al-Kµr±n³ semoga Allah merahmati keduanya. (Daq±’iq al-¦uruf. ia melarang menuduh atau mengklaim dengan kutukan yang menyakitkan si pendengar yang mengakibatkan akan menjerumuskan diri sendiri ke dalam kata-kata yang pernah diucapkan tersebut. ia juga menulis: Dan tiadalah harus kita mengkafirkan dia. (Tanb³h al-M±sy³ versi Tanoh Abee. saya khawatir ketentuan dan keyakinan orang tersebut dinisbahkan kepada ketentuan dan keyakinan saya. Wa¥fa§ lis±naka ‘anil g³bati wa takfir fa’innahu kha¯aran ‘a§³man ‘inda rabbikal kab³r wa l± tula‘‘in akh±kal muslima fatakun minal mujrim³na yaumal qiy±mati wa l± tamda¥¥uhu ay«an fatakun minal mabgµ«³na aw mina« «±rib³na ‘unuqa akh³him. padahal saya tidak ada hubungan dengan masalah tersebut. dan jangan engkau mengutuk saudaramu yang Muslim. niscaya kembali kata itu kepada diri kita. ada seseorang datang kepada saya berkali-kali. karena sesungguhnya pada keduanya terdapat kesalahan besar di sisi Tuhanmu. “Peliharalah lidahmu dari perbuatan g³bah dan mengkafirkan orang lain.1). Di sisi lain. Dalam karangannya yang lain. No. karena engkau akan termasuk golongan orang-orang yang berdosa pada hari kiamat.Jurnal Lektur Keagamaan. karena engkau akan termasuk golongan orang yang dimurkai Allah atau golongan orang yang memenggal leher saudaranya”. 2009: 21 . Maka saya buat risalah ini dengan mengharap bantuan dari Allah dan menyadari akan sedikitnya perbendaharaan dan banyak kelemahan dan saya namakan buku ini dengan Tanb³hul M±sy³ ala Tar³qatil Qusy±sy³ dan saya mengucapkan Bismillahirra¥m±nirra¥³m”. 1. 44 . Bahwa orang tersebut tidak membedakan antara tingkatan-tingkatan dan tidak merujuk kepada ketentuan syariat. 392). 32). karena jikalau ada ia kafir. maka tiadalah perkataan dalamnya.52 ra¥imanallahu bihim± wa ©±lika min ¥ay£u annar rajula lam yumayyiz baynal mur±tibi wa lam yarji’ ila taqr³ril mu¯±biqi lisyar³‘ati faakh±fu ayyunsama taqr³rur rajuli wa i‘tiq±duhu ila taqr³r³ wa i‘tiq±d³ ¥atta yukaffirun³ ba‘da waf±t³ wa ana bar³un minhu fajami‘tu h±©ihir ris±lata mustaq³nan bill±hi wa mu‘tarifan biqillatil bi«±‘ati wan na«±¥ati wa sammaytuh± bitanb³hil m±sy³ ala ¯ar³qatil qusy±syi wa faqultu bismill±hir ra¥m±nir ra¥³mi “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Syekh Abdurrauf al-Fansuri berkata: bahwa ketika saya sampai di Aceh. h. dan jangan pula engkau memujinya. (Tanbih al-Masyi yang disimpan di Tanoh Abee. hlm. 7.

45 . Maka dengan beberapa kali disuruh raja akan mereka itu membawa tobat. (Daq±’iq al-¦urµf. hingga berperanglah mereka itu dengan penyuruh raja. ar-Raniri menjelaskan: .. tulisan Faqih Jalaluddin Asr±r al-Sulµk juga mengandung unsur pemeliharan perdamaian dan mencegah terjadi konflik di antara pengikut tarekat yang ia dalami. maka disuruh raja akan mereka itu membawa tobat daripada iktikad yang kufur itu. huwa al-‘alam. Abdurrauf al-Fansuri menjelaskan: . MS dikutip dari Azra 1995:182. abad ke-18 M. — Fakhriati Seterusnya. yaitu dengan penguraian kata-kata sejelas mungkin dan lebih hati. Maka disuruh oleh raja bunuh akan mereka itu. Dalam salah satu manuskrip yang disimpan oleh salah seorang penduduk Pidie terdapat tulisan tentang uraian sebuah harapan dari seorang pemuda yang pergi berjihad untuk dapat kembali hidup bersama isterinya lagi. Ketika seorang prajurit Aceh pergi ke medan perang. berlindung kiranya kita kepada Allah dari pada kufur itu. Setelah sudah demikian itu. Ia sangat mengharapkan agar istrinya selalu 15 Ar-Raniri.dan lagi kata mereka itu: al-‘alam huwa Allah. ia selalu mengharapkan agar dapat kembali dan bersama keluarganya lagi. al-Fath al-Mubin.15 Pada abad selanjutnya. Dalam kitabnya Fath al-Mubin.... dan disuruhnya himpunkan segala kitab karangan guru mereka di tengah medan masjid yang bernama Bayt Al-Rahman. bahwa alam itu Allah dan Allah itu alam. pada halaman yang sama.dan inilah bahaya mengkafirkan itu. sehingga ia memerintahkan pekerjapekerja kerajaan melakukan pembunuhan terhadap pengikut Hamzah Fansuri. sehingga tidak ada kesalahpahaman di antara pembaca. Sultan Iskandar Stani sangat mendukung sikap ar-Raniri.. maka sungguh dapat dilihat bahwa pandangan Abdurrauf al-Fansuri sangat jauh berbeda dengan pandangan ar-Raniri yang pengikut Hamzah Fansuri sebagai pengikut wujudiyah yang sesat sehingga perlu dimusnahkan berikut kitab-kitabnya karena menurutnya mereka sudah berada pada jalan yang salah menurut agama. Dari ungkapan-ungkapan Abdurrauf al-Fansuri yang dituangkan dalam tulisannya seperti tersebut di atas. 392).. maka sekali-kali tiada ia mau tobat.Perang dan Damai di Aceh. Maka disuruh oleh raja tunukan segala kitab itu.

Karya Teungku Muhammad Ali Pulo Peub memancarkan keinginan untuk berdamai dengan lawannya. Namun ajarannya ini kemudian ditentang oleh Teungku di Pulo dan kawan-kawannya. Kendatipun ia sangat tidak menyukai cara-cara uleebalang dan Belanda.52 menjaga diri dan berdoa agar mereka dapat hidup bersama lagi membangun keluarga yang sakinah sepanjang hidup mereka. (Manuskrip Laut Makrofat Allah). 1. No. tetapi berusaha untuk tidak secara gamblang menyebut perilaku uleebalang sebagai perilaku musuh yang perlu diperangi. Sehingga untuk meluruskan jalan pemahaman umat. salah seorang ulama yang cukup produktif pada masanya. Dalam tulisan Teungku Muhammad Khatib Langgien. Seperti menjelaskan tentang perbedaan mengenal gajah dengan mengenal manusia karena berbeda bentuk dan akal. (Poerwa. Ia juga membuat perumpamaanperumpamaan sebagai salah satu caranya untuk menjelaskan sesuatu yang masih kurang jelas untuk pembacanya. Dalam salah satu tulisannya ia menyebutkan: 46 . yaitu jalan agama yang diridai Tuhan. Ia berusaha untuk tidak menciptakan konflik terhadap pemahaman yang berbeda dari pemikirannya yang ia tuangkan dalam tulisan. dalam kitabnya Mi‘r±j as-S±lik³n menyajikan ajaran yang mengandung unsur perdamaian. 1993:4). Dalam masa penjajahan Belanda Teungku Id ibn Ustman masih sempat menyelesaikan tulisannya tentang bagaimana memahami tasawuf dengan benar. yaitu uleebalang dan Belanda. 2009: 21 . Ishak. ia kemudian diusir dan bahkan dibunuh oleh masyarakat setempat. 1961:16. Hal ini dimaksudkan untuk menghindarkan rakyat dari perpecahan yang meluas akibat menyebarkan dua faham yang saling bertentangan sebagaimana yang terjadi pada masa Sultan Iskandar Tsani pada abad ke-17 M. Ia sempat mendapat pengikut banyak untuk melaksanakan ajarannya. Ia menjelaskan segala hal yang menyangkut filosofi tasawuf dengan sangat hati-hati. Menurutnya cara-cara tasawuf yang benar adalah cara pelaksanaan yang ditawarkan oleh Hamzah Fansuri. demikian juga dalam hal mengenal Tuhan tidak bisa disamakan dengan makhluknya. Vol. 7.Jurnal Lektur Keagamaan. Ia lebih memilih jalan menjauhkan diri dari ancaman mereka dan mengajak umatnya untuk tetap berada pada jalan yang benar.

yang perlu diamalkan oleh pembacanya agar dapat hidup lebih tenang baik di dunia maupun akhirat. Ia mengalami berbagai cobaan dan penderitaan dalam liku-liku hidupnya. Selanjutnya. Dalam menjelaskan hal-hal yang berbentuk filosofi seperti di atas. ia lebih memilih cara sabar. Satu contoh lain adalah manuskrip Hikayat Abdurrahman.dan lagi yang demikian itu tempat tergelincir kebanyakan manusia yang tiada makrifat baginya hai salik adalah segala alam makrifat yang telah kunyatakan kepadamu ialah alam makrifat yang indah-indah dan ia yang terlebih sukar paham segala orang awam. Kisah perjalanan hidup Siti Hazanah setelah ditinggal mati keluarganya menjadi sorotan utama dalam manuskrip ini. Akibat dari sifat ini. Isi manuskrip ini mengajak pembaca untuk selalu menghafal dan mengamalkan ayat-ayat tertentu agar kehidupan di dunia selamat dari kecaman apa pun... Ia dicaci maki. 28). dicemohi.( Mi‘r±j as-S±lik³n. karena kasih akan dunia ibu segala kejahatan (Dawa’ al-Qulµb. ia juga menulis tentang obat hati. h. ia juga menjelaskan bahwa tingkat ini diperuntukkan kepada ahli sufi yang berada pada tingkat tinggi.. Mengatasi masalah ini. 28-29).. Manuskrip ini menguraikan cerita fiksi berjudul Hikayat Abdurrahman. dijauhi dan tidak perlakukan sebagaimana karabat lain. dan hanya menyerahkan diri kepada Allah... tenang dalam menjalani hidup dalam keadaan apapun. diam. Salah satu sifat yang perlu dihindarkan adalah hubb ad-dunya. Sifat-sifat yang tercela dihindarkan dan sifat-sifat yang baik digunakan. 27). h.Perang dan Damai di Aceh. (Mi‘r±j as-S±lik³n. Manuskrip Hiyakaye adalah sebuah manuskrip yang dikemas untuk memberi semangat hidup bagi para pembacanya. karena tuduhan-tuduhan dari sepihak yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya.. bila 47 . seseorang akan terlena dengan dunianya dan tidak mau bersegera mencari bekal untuk akhirat. seperti . Ia mengadakan pembelaan terhadap dirinya. h.. — Fakhriati Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu karena mustahil dikata umpama barangsiapa mengenal ia akan gajah maka sanya ia mengenal akan manusia. dan ia memberi peringatan kepada pembacanya agar hati-hati dalam menafsirkan karena dapat menyesatkan pemahaman. Isinya menjelaskan tentang kehidupan sebuah keluarga yang bernama Abdurrahman dan seorang anak perempuan yang salehah bernama Siti Hazanah.

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 21 - 52

ia mendapat kesempatan. Ia tidak pernah menyakiti orang lain. Akhirnya pembelaan dari pihak yang tidak diduga, yaitu dari makhluk Allah selain manusia, untuk menyatakan bahwa dia adalah orang benar dan tidak pernah bersalah. Dalam perjalanan hidupnya, akhirnya, ia mencapai tingkat sufi yang paling tinggi, yaitu makrifat Allah. Ia memperoleh kesenangan yang sangat tinggi dan selalu diidam-idamkan selama hidupnya, yaitu melihat Tuhannya. Seperti tersebut dalam teks;
Rupa po yang takalen Hate heran leumah Tuhan yankeu iman dengan makrifat Yan alamat takwa hanban. (Manuskrip Hikayat Abdurrahman, hlm. 45). “Wujud Tuhan yang terlihat Itulah iman dengan makrifat Hati menjadi heran akan hadirnya Tuhan pertanda hasil takwa yang sangat tinggi”

Penutup Catatan sejarah Aceh adalah bagian dari cerita panjang tentang perang dan damai, di samping cerita tentang kemajuan dan kemundurannya. Orang Aceh sesungguhnya adalah manusia-manusia yang ramah, terbuka, dan suka pada kedamaian dan ketenangan. Mereka dapat menerima kehadiran siapapun tanpa memandang ras dan agama selama ia sendiri tidak merusak hubungan baik dengan penduduk dan masyarakat Aceh. Namun, di balik keramahtamahan dan keterbukaan itu tersimpan sikap yang sangat tegas dan tidak mau tunduk atas setiap kehendak asing yang ingin menguasai atau merusak citra Aceh baik wilayah, harga diri, terlebih agamanya. Sejarah perang Aceh selalu terkait dengan upaya mempertahankan wilayah, agama, dan harga diri. Untuk urusan seperti ini, orang Aceh memiliki semangat jihad atas nama agama yang sulit diredam, kecuali apa yang mereka tuju telah tercapai. Ulama bagi masyarakat Aceh memiliki posisi sentral sebagai panutan dalam beragama, bermasyarakat, dan berjuang f³ sab³lill±h. Selain komando untuk mengusir penjajah, pada umumnya ulama yang menulis manuskrip-manuskrip Aceh mengajarkan agar mendorong terciptanya perdamaian dalam hidup, meskipun sedang berada pada posisi menghadapi musuh. Permusuhan dan pertikaian tidak boleh diciptakan dan dimulai, tapi mempertahankan diri dan agama adalah wajib. Salah satu usaha mempertahankan diri adalah 48

Perang dan Damai di Aceh... — Fakhriati

dengan doa-doa mujarabat, yaitu doa-doa yang ampuh untuk dibawa kemana saja dan dapat mengalahkan segala keinginan jahat yang bertebaran di luar diri pemegang doa tersebut. Doa-doa tersebut menjadi alat pelindung bagi pemegangnya bila ia dihafal, diamalkan, dan dilaksanakan sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku. Dan, ia tidak akan bermanfaat bila hanya tertulis dalam secarik kertas untuk dikantongi dan dibawa-bawa si pemegang.[]

Daftar Pustaka
Azra, Azyumardi, 1995, Jaringan Ulama: Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII, Bandung: Mizan. Bruinessen, Martin, 1990, “Seeking Knowledge and Merit: Indonesians on the Hajj” dalam Ulumul Quran, Vol. II, No.5, Jakarta. Dekmejian, H. Richard dan Margaret J. Wyszomirski, 1972, ‘Charismatic Leadership in Islam: The Mahdi Sudan’ dalam Comperative Studies in Society and Theory. Djajadiningrat, Hoesein, 1934, Atjehsch-Nederlandsch Woordenboek, Vol. 2, Batavia: Landsdrukkerij. Fakhriati, 2005, New Light on the Life and Work of Teungku di Pulo: An Achehnese Intellectual in the Late 19th and Early 20th Centuries, Makalah dipresentasikan pada SEASREP Conference, Chiang Mai, Thailand, 8-9 Desember 2005. -----------, 2008, Menelusuri Tarekat Syattariyah di Aceh Lewat Naskah, Jakarta: Balitbang dan Diklat Departemen Agama RI. Holt, P. M., 1980, ‘Islamica Milleniarism and the Fulfillment of the Prophecy’ dalam The Prophecy and Milleniarism, diedit oleh Ann Williams, London. Hurgronje, Snouck, C., 1997, Aceh: Rakyat dan adat istiadatnya, INIS. Ishak, Otto Syamsuddin, 1993, ‘Dinamika Pemikiran Keagamaan di Aceh’, dalam Serambi Indonesia, Jum’at, 15 Januari 1993. Iskandar, Teuku, 1958, ‘De Hikayat Atjeh’ dalam BKI XXVI. Keifer, Thomas M., 1973, ‘Parrang Sabbil: Ritual Suicide among the Tausug of Jolo’ dalam BKI, Vol. 129. Kern Papieren, No. C. 234, Bajlagen 4, Weltevreden Desember 16, 1921, Koleksi KITLV, No. 414.

49

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 21 - 52

Kern, R. A., 1979, Hasil Penyelidikan Tentang Sebab Musabab Terjadinya Pembunuhan, diterjemahkan oleh Aboe Bakar, Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. Poerwa, Aziz, 1961, ‘Tumbuhnya Agama Baru Indonesia’ in Sketsmasa, No. 17, Tahun IV. Raliby, Osman, 1980, ‘Aceh, Sejarah, dan Kebudayaannya, dalam Bunga rampai tentang Aceh, Jakarta: Penerbit Bhratara Karya Aksara. Reid, Anthony, 1979, The Blood of The People: Revolution and The End of Traditional Rule in Northen Sumatra, Oxford University Press. ---------, 2007, Asal Mula Konflik Aceh: Dari Perebutan Pantai Timur Sumatera hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Said, Mohammad, 1961, Atjeh Sepandjang Abad, Medan. Sjamsuddin, Nazaruddin, 1999, Revolusi di Serambi Mekah; Perjuangan Kemerdekaan dan Pertarungan Politik di Aceh 1945-1949, UI Press. Syamsuddin, T., dkk, 1978, Adat Istiadat Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. Sulaiman, Nasruddin, dkk, 1992, Aceh: Manusia, Masyarakat, Adat, dan Budaya, Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. Tippe, Syarifudin, 2000, Aceh di Persimpangan Jalan, Jakarta: Pustaka Cidesindo. Usman, Rani, 2003, Sejarah Peradaban Aceh, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Vleer, A. J., 1978, Kedudukan “Tuha Peut” dalam Susunan Pemerintahan Negeri di Aceh, alih aksara oleh Aboe Bakar, Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. Zainuddin, H. M., 1961, Tarich Atjeh dan Nusantara, Medan, Penerbit Iskandar Muda.

50

— Fakhriati Lampiran: Gambar 1: Foto Halaman Awal Naskah Hiyakaye milik Syik Jah Amut. Aceh Gambar 2: Foto Halaman Awal Naskah Teungku Khatib Langgien milik Teungku Amir Meunasah Kruet Teumpeun. Pidie. Teupin Raya. Pidie.. Geulumpang Miyeunk.. Aceh 51 .Perang dan Damai di Aceh.

7. 1. Vol.Jurnal Lektur Keagamaan. No. 2009: 21 .52 Gambar 2: Foto Halaman Awal Naskah Sarakata milik Cut Manfarijah Dayah Tanoh. Teupin Raya Aceh 52 .

kertas Eropa. In terms of codicology. lontar. modern lined paper. European paper. The fitst category refers to tweleve manuscripts made of paper. remembrance of God. In regard to Islamic literature in Bali. Hal ini Tulisan ini semula merupakan Makalah disajikan dalam “Seminar Hasil Penelitian Naskah Klasik Keagamaan” Puslitbang Lektur Keagamaan. Fourth. this Islamic manuscript uses diverse tools. Bugese. Dari sisi lain. and the oldest manuscript was written in 1625 AD (1035 AH). First. Cisarua-Bogor. Agama. We have discovered thirty-eight manuscripts that we can classify into three categories. 22-24 Desember 2008. mysticism. Dep. and one of them is difficult to read. Hotel Permata Alam. *) 53 . like dluang. Second. Most of this category of manuscript was torn away. The second category is tweleve manuscripts made of palm leaf: nine of them deal with Islam. medicines.. — Asep Saefullah dan Adib M. dari satu sisi dapat dianggap sebagai salah satu representasi dari lokalitas dan kekhasan wilayah bersangkutan. Malay (Jawi). Badan Litbang dan Diklat. Islam Beberapa Aspek Kodikologi Naskah Keagamaan Islam di Bali: Sebuah Penelusuran Awal*) Puslitbang Lektur Keagamaan dan UIN Syahid. this Islamic manuscrip was written between the seventeenth and nineteenth century. two of them about Hinduism. ia dapat juga menjadi bukti adanya hubungan dengan wilayah lain jika ditemukan bukti-bukti lain yang menunjukkan ke arah itu.. this category is unfortunately not taken care well. Arabic grammar.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . and story. this Islamic manuscript adopts Arabic. dluang. and Balinese. we can write four important things as follows. Adib Misbachul Islam This paper is a result of our research of Islamic literature in Bali in 2008. Jakarta Asep Saefullah dan M. divinity. The third category is about fourteen Qur’anic manuscripts. this manuscript includes jurisprudence. Kata kunci: kodikologi. Third. and palm leaf. prayer. Bali Pengantar Keberadaan naskah tulisan tangan (manuskrip) di suatu wilayah. Qur’an.

Sunda. 2005: vii). Aceh. 2009: 53 . Dengan demikian. dan kedua.Jurnal Lektur Keagamaan. Srilangka. Dalam proses ini telah terjadi transmisi keilmuan. Dengan demikian. tetapi sebagian besar lagi diduga masih tersebar di tangan masyarakat. dan lain-lain. (Chambert-Loir dan Fathurahman: 1999). dan yang kedua naskah-naskah yang ditulis dalam bahasa-bahasa daerah. 7. adalah bagaimana kondisi naskah-naskah yang masih di tangan masyarakat tersebut. khususnya bagi penelitian lebih lanjut atau dalam rangka mengkaji nilai-nilai yang terkandung di dalamnya untuk merajut budaya bangsa menuju kerukunan umat beragama.90 dapat ditelusuri dari berbagai informasi yang terkandung di dalam naskah itu atau dari fisik naskah. No. tidaklah mengherankan jika di Indonesia banyak ditemukan naskah-naskah berbahasa Arab dan juga bahasa daerah seperti Melayu. Persoalannya. Masalah ini tergolong serius karena umumnya naskah-naskah tersebut kurang terawat dan sangat tua.]. dengan demikian. Jika hal ini terus berlarut. Inggris. Belanda. Bali. Batak. yang pada akhirnya 54 . Jawa. Sebagian naskahnaskah tersebut sudah tersimpan dengan baik di berbagai perpustakaan dan museum. Perancis. sudah semakin rapuhnya kondisi fisik naskah-naskah tersebut seiring dengan berjalannya waktu (Bafadal dan Saefullah [Eds. Sebagian besar naskah di luar negeri yang sudah terinventarisasi antara lain tersimpan di Malaysia. Dalam konteks kajian keislaman di Indonesia. dikhawatirkan naskahnaskah tersebut akan punah atau pindah tangan. yang menurut Oman Fathurahman (2003: 1-2) membentuk pola dua kelompok bahasa naskah: Pertama. Afrika Selatan. baik di dalam maupun di luar negeri. Pentingnya upaya konservasi ini setidaknya disebabkan oleh dua hal: Pertama. Rusia dan di berbagai negeri yang lain. Bugis-Makassar. banyaknya data penting berkaitan dengan fenomena keagamaan yang terdapat dalam naskah-naskah tersebut. 1. naskah-naskah yang ditulis dalam bahasa Arab. Vol. upaya penelusuran naskah-naskah di masyarakat mutlak diperlukan sebagai upaya konservasi untuk kemudian dilestarikan dan dimanfaatkan. diperkirakan ditulis pada sekitar abad ke-1719 M dan umumnya terbuat dari kertas yang secara fisik tidak akan tahan lama. Jerman. keberadaan naskah tersebut dapat dikaitkan dengan proses islamisasi atau perkembangan Islam yang banyak melibatkan para ulama produktif di zamannya.

Beberapa Aspek Kodikologi Naskah ... — Asep Saefullah dan Adib M. Islam

hilang juga informasi dan sumber penting tentang khazanah kebudayaan Indonesia. Berdasarkan permasalahan di atas, Puslitbang Lektur Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat, Departemen Agama RI melakukan upaya penelusuran naskah klasik keagamaan khusus milik perorangan. Hasil temuan naskah tersebut terutama dideskripsikan dan dikaji beberapa aspek kodikologinya (istilah “kodikologi” akan dijelaskan di bawah). Buku tentang kodikologi Nusantara, terlebih naskah keagamaan, tergolong masih sedikit.1 Sehubungan dengan hal tersebut, penelitian ini merupakan bagian dari grand design—jika dapat dikatakan demikian—program konservasi naskah klasik keagamaan Indonesia yang sedang digalakkan oleh Puslitbang Lektur Keagamaan. Penelitian dilakukan di Provinsi Bali dan sasarannya adalah naskah-naskah keagamaan Islam.2 Dalam makalah ini akan dibahas dua masalah berikut: 1. Seberapa banyak naskah keagamaan Islam di Provinsi Bali yang masih berada di tangan masyarakat atau milik perorangan? 2. Dari aspek kodikologi, bagaimana kondisi naskah-naskah tersebut dan hal-hal apa saja yang dapat diungkapkan dari temuan naskah-naskah tersebut? Adapun tujuannya, pertama, untuk mengetahui jumlah naskah keagamaan Islam di Provinsi Bali yang masih berada di tangan masyarakat, khususnya milik perorangan, dan kedua, membuat deskripsi naskah-naskah tersebut dan mengungkapkan beberapa aspek kodikologinya serta sedapat mungkin mengungkapkan halhal menarik dari temuan naskah tersebut. Dari segi kebijakan, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu upaya penyelamatan naskah keagamaan di masyarakat dan selanjutnya dapat
Beberapa yang dapat disebut antara lain Kodokologi Melayu di Indonesia, karya Sri Wulan Rujiati Mulyadi (1994), Penelusuran penyalinan naskah-naskah Riau abad XIX: Sebuah Kajian kodikologi, karya Mu'jizah dan Maria Indra Rukmi (1998), Penyalinan Naskah Melayu di Jakarta pada Abad XIX: Naskah Algemeene Secretarie Kajian dari Segi Kodikologi, karya Maria Indra Rukmi (1997), atau beberapa tulisan berupa artikel atau tesis, seperti “Penyalinan Naskah Melayu di Palembang”, karya Maria Indra Rukmi, makalah dalam Seminar Tradisi Naskah, Lisan dan Sejarah di FIB UI (2005). 2 Pilihan ini dilakukan karena naskah-naskah lontar dipandang relatif terpelihara dengan baik.
1

55

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 53 - 90

menjadi bahan penelitian lebih lanjut, terutama kajian terhadap isi teks dan kontekstualisasinya. Secara metodologis, penelitian ini sebagian besar bersifat penelitian lapangan, yakni berupa penelusuran atas naskah-naskah keagamaan Islam di Provinsi Bali. Data primer dalam penelitian ini berupa naskah-naskah kuno yang disimpan perorangan dan lembaga-lembaga sosial keagamaan Adapun naskah-naskah koleksi perpustakaan, museum, maupun pusat dokumentasi dalam penelitian ini tidak menjadi sasaran penelusuran karena naskah-naskahnya dipandang relatif aman dan terpelihara. Penelusuran dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan naskah-naskah yang belum diinventarisasi. Dalam menyajikan data digunakan pendekatan kodikologi.3 Secara sederhana, kodikologi dapat dikatakan sebagai ilmu kodeks (bahan tulisan tangan), yaitu ilmu yang mempelajari seluk beluk semua aspek naskah, antara lain bahan, umur, tempat penulisan, dan perkiraan penulis naskah (Mulyadi, 1994:2). Dalam wilayah kajian kodikologi dikenal istilah deskripsi. Secara ringkas, deskripsi adalah upaya menjelaskan seluk-beluk naskah secara fisik. Dalam makalah ini akan disajikan pengklasifikasian naskah-naskah yang ditemukan di lapangan, misalnya dari segi pemilik dan tempat penyimpanan, bidang kajian (isi naskah), bahan, usia naskah, kolofon, ilustrasi dan iluminasi, dan beberapa ciri khusus yang dapat diidentifikasi. Dengan kata lain, makalah ini hanya menyajikan beberapa aspek kodikologi dari naskah-naskah keagamaan Islam yang ditemukan di Provinsi Bali. Pernaskahan di Bali Henri Chambert-Loir dan Fathurahman (1999:51) mengatakan, “Pulau Bali terkenal sebagai gudang sastra Jawa Kuna karena sastra Jawa yang ditulis di berbagai kerajaan beragama Hindu-Buddha di
Tentang kodikologi di Indonesia dapat dibaca antara lain dalam Sri Wulan Rujiati Mulyadi, Kodikologi Melayu di Indonesia, (Depok: Fakultas Sastra UI, 1994). Ada juga buku yang sangat menarik dan relatif baru tentang kodikologi Islam, yaitu Francois Deroche, Islamic Codicology, An Introduction to the Study of Manuscripts in Arabic Script, (London: Al-Furqan Islamic Heritage Foundation, 2006), dan ada juga dalam edisi Arabnya yang terbit tahun 2005.
3

56

Beberapa Aspek Kodikologi Naskah ... — Asep Saefullah dan Adib M. Islam

Jawa Tengah dan Jawa Timur antara abad ke-10 dan ke-15, dan yang hampir punah setelah kedatangan agama Islam, masih berlanjut di Bali, bahkan hidup sampai kini.” Pernyataan ini terbukti dengan adanya sejumlah lembaga seperti museum dan perguruan tinggi di wilayah ini yang memiliki ribuan koleksi naskah. Lembaga-lembaga tersebut antara lain Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali, Denpasar mengoleksi sekitar 1.416 naskah, Museum Negeri Provinsi Bali, Denpasar menyimpan 266 naskah, Universitas Hindu Indonesia, Denpasar memiliki 148 naskah, Kirtiya Liefrinck-van der Tuuk (Gedong Kirtiya), Singaraja memiliki tidak kurang dari 3000 naskah, Fakultas Sastra Universitas Udayana mempunyai 740 naskah, dan Balai Penelitian Bahasa, Denpasar mempunyai 156 naskah, serta Balai Arkeologi Denpasar juga menyimpan tiga naskah (ChambertLoir dan Fathurahman, 1999:54-60; terutama berdasarkan Katalog Lontar yang Tersimpan pada Instansi Pemerintah dan Swasta yang diterbitkan oleh Kantor Dokumentasi Budaya Bali Provinsi Bali, tahun 1998). Jumlah ini belum termasuk naskah yang tersimpan pada koleksi pribadi yang diduga masih ribuan jumlahnya, terutama di puri (kediaman keluarga keturunan raja), griya (kediaman keluarga brahmana), dan kalangan ‘profesional’ (pemangku, dalang, balian usada atau orang-orang terdidik) (Chambert-Loir dan Fathurahman, 1999:56). Hampir seluruh naskah tersebut ditulis di atas bahan lontar sehingga sering pula disebut naskah lontar. Di tengah “samudra koleksi naskah lontar” tersebut, di daerahdaerah tertentu di Bali ditemukan sejumlah naskah keagamaan Islam dan Mushaf Al-Qur’an kuno. Beberapa di antaranya ditulis di atas bahan dluang (kertas dari kulis kayu). Pada bulan Oktober 2008 yang lalu kami melakukan penelusuran ke pelosok-polosok pulau dewata ini. Kami menemukan 24 naskah keagamaan Islam yang terdiri atas 12 naskah ditulis di atas dluang, kertas Eropa, maupun kertas bergaris modern, dan 12 naskah lontar (naskah lontar berbentuk geguritan; 9 naskah berisi cerita tentang tokoh Islam dan ajaran moral Islam, 2 cerita Hindu, dan 1 tidak terbaca). Di samping itu, ditemukan pula 14 Mushaf Al-Qur’an kuno, termasuk satu Mushaf ditulis di atas dluang. Naskah-naskah tersebut tersebar di beberapa kabupaten di Bali, antara lain Denpasar, Buleleng, Jembrana, dan 57

Vol. dan juga obat-obatan yang disertai doa-doa.90 Karang Asem. 1. wirid dan doa. 2009: 53 . yaitu Kanwil Departemen Agama Provinsi Bali. Pendidikan Islam dan Pemberdayaan Masjid. 7. No. Gedong Kirtya-Singaraja-Buleleng. Perlu disebutkan bahwa dalam penelusuran naskah keagamaan Islam di Bali. Negara. Ida Bagus Nyana. Beberapa informan awal yang kami datangi di Kanwil Departemen Agama Provinsi Bali adalah Ketut Ariawan. Karang Asem-Tradisi Tulis Lontar. Kampung Islam Gelgel. Di samping itu ditemukan juga naskah-naskah Al-Qur’an kuno yang sejauh ini belum pernah didata. H. Kasi. Wawancara. Musta’in. hasil penelusuran di lapangan ditemukan 38 naskah. Haji. seperti fikih. 28 Oktober 2008.Jurnal Lektur Keagamaan. Kasubag Umum. Pegayaman Singaraja Buleleng. Kabid Bimas Islam & P. H. Selanjutnya penelusuran dilakukan sampai dengan 2 Nopember 2008. Kabid. Staf Urusan Agama Hindu. dan Masjid Baitul Qadim. Informan lain Drs. tasawuf. Budakeling. Temuan Naskah dan Tempat Penyimpanannya Naskah keagamaan Islam di Bali yang berhasil ditelusuri terdiri atas naskah pelajaran agama. termasuk 14 naskah Al-Qur’an. Masjid Asy-Syuhada Kampung Bugis Serangan Denpasar. Selanjutnya kami mendapat banyak informasi dari Drs. Dengan demikian. Ghufron. Soleh. serta hikayat yang terutama ditulis di atas bahan lontar yang disebut geguritan. dan Bangli. Berikut temuan naskah berdasarkan lokasi atau tempat ditemukannya naskah. Sebagaimana disebutkan. Gianyar. SH. Penamas. Loloan Timur. Masjid Agung Jami’ Singaraja Buleleng. Drs. M. 4 58 . kami melakukan kontak dengan pihak yang dipandang otoritatif dalam bidang keagamaan. baik dari pejabat maupun pegawai Departemen Agama Provinsi Bali tentang lokasi-lokasi dan orang-orang yang diduga menyimpan dan atau mempunyai naskah keagamaan Islam. jumlah naskah yang kami temukan sebanyak 38 naskah. Kami mendapatkan informasi awal.4 Lokasi-lokasi yang selanjutnya didatangi adalah: Kampung Bugis Kepaon Denpasar dengan Masjid Al-Muhajirin. Kampung Islam Buitan Sidemen Karang Asem. Jembrana. Drs. H. Pesantren Al-Hidayah Bedugul. Mereka menyarankan kami mendatangi Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali.

Menurut informasi salah seorang ustadz di PP alHidayah. masing-masing satu naskah Al-Qur’an. Denpasar Di Kampung Bugis Serangan. 7 Di samping itu. dan 1 (satu) naskah Al-Qur’an kuno di Masjid Al-Muhajirin. Burhanuddin. 2. Vol. No. Di sini ditemukan pula 1 (satu) Al-Qur’an kuno milik I 5 Naskah ini telah diteliti oleh E. 2007. 6 Mushaf ini sangat tidak terawat.. Buleleng Wilayah yang didatangi di Buleleng meliputi Pegayaman. 1-18. di Bedugul. di Yayasan An-Nur. ditemukan 12 naskah lontar. Vol. Pattani atau Trengganu. Suharto.8 naskah lontar yang tersimpan di Yayasan AnNur. 5. Denpasar ditemukan 3 (tiga) naskah milik H. 1. Dr. dan ditumpuk dengan Al-Qur’an lain cetakan zaman sekarang. 2007. h. 5. 29 Oktober 2008. Denpasar. Di Pegayaman. Denpasar ditemukan 6 (enam) naskah milik H. Oleh karena itu. 9 Semua naskah lontar koleksi Yayasan an-Nur hanya disebutkan judulnya. Islam 1. dan beberapa di antaranya dijelaskan juga ukuran lontarnya. No. merujuk identifikasi Annabel Teh Gallop (2004) termasuk tipe Pantai Timur Melayu. Tetapi. 1. Husen Abdul Jabbar. — Asep Saefullah dan Adib M. dan 1 (satu) Al-Qur’an Kuno milik Bapak Marjui. Wawancara. pada awalnya merupakan koleksi Prof. Denpasar. Singaraja. Jurnal Lektur Kegamaan.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . 8 Hadiman. Badri Yunardi. Musthafa Amin. Wawancara dengan beliau pada 2 November 2008 di Loloan Timur.. dan Kampung Jawa. Kampung Islam di pedalaman dekat Singaraja ditemukan 3 (tiga) naskah milik Drs. 6 Di Masjid AlMu’awanatul Khairiyah Kampung Bugis Suwung. Shaleh Saidi. Bali. h. mushaf ini sangat menarik terutama dari segi iluminasinya yang indah dan. naskah ini disimpan di rumah H. naskah-naskah lontar tersebut belum dikaji secara kodikologis9. Bedugul. 59 . Kondisinya tidak lengkap lagi. Meski sudah tersimpan di Perpustakaan Yayasan. “Beberapa Mushaf Kuno dari Provinsi Bali”. Jurnal Lektur Kegamaan. dalam laporan penelitian ini naskah-naskah lontar koleksi Yayasan Masjid An-Nur penting untuk didata dan disampaikan.5 Di Kampung Bugis Kepaon. “Beberapa Mushaf Kuno dari Provinsi Bali”. dekat Masjid Asy-Syuhada. Badri Yunardi. 1-18. 7 Kedua naskah ini juga sudah diteliti oleh E. salah seorang Guru Besar di Universitas Udayana. dua di antaranya beraksara dan berbahasa Bugis. Sebelumnya.

13 Menurut Bapak Drs. No. 1. dan H. Negara. antara lain H. 30 Oktober 2008 di Masjid Agung Singaraja. Akan tetapi. bahwa masjid ini sering didatangi wartawan dari berbagai media massa dan meliput salah satu Al-Qur’an kuno di sana. Gunawan. ditemukan 1 (satu) AlQur’an Kuno milik Bapak M. Bedugul. Abdurrahman Said. menurut Hadiman. yang ternyata seluruhnya Al-Qur’an kuno sebanyak tujuh mushaf. 12 Para ustadz di Pesantren Al-Hidayah. tidak jauh dari Masjid Agung Singaraja. Lurah Kampung Bugis dan juga Ketua Ta’mir Masjid Agung Singaraja. 2009: 53 . Naskah Al-Qur’an ini konon merupakan wakaf dari Encik Ya’qub dari Trengganu. Zen Usman. Muchlis Sanusi. Badri Yunardi. sejauh ini koleksi lain yang tersimpan di dalam lemari kaca belum pernah dilihat. h. 11 Sementara di Bedugul. karena selain ditulis pada bahan dluang.90 Wayan Ma’ruf. 3. Syarifuddin. 1-18. Hidayat. dan yang terpenting mempunyai kolofon yang sangat tua. naskah ini disimpan di rumah H. Di masjid ini ditemukan 8 (delapan) Al-Qur’an kuno (satu satu di antaranya merupakan litograf yang iluminasinya diberi pewarnaan). Wawancara dengan beliau pada 2 November 2008 di Loloan Timur. H. 5. Jurnal Lektur Kegamaan. antara DenpasarSingaraja. 12 konon ada naskah semacam Barzanji. Wawancara. Sebelumnya. yaitu tahun 1035 H. Jembrana Di Masjid Bait al-Qadim. H. 7. ditemukan satu buah naskah Al-Qur’an. 29 Oktober 2008. sekitar 1625 M. Vol. 10 60 . Loloan Timur. ditulis dengan khat Naskhi yang indah. ditemukan banyak naskah Al-Qur’an kuno. Hasyim Zaki. 1. 2007. dan Agus. dan beberapa Pengurus Masjid. Vol. yaitu di Masjid Agung Jami’. sehingga seluruhnya ada delapan Al-Qur’an kuno.10 Di Singaraja.Jurnal Lektur Keagamaan. Jembrana. Abdurrahman Alawi. H. 11 Bunyi kolofon tersebut: “tamma al-qur’±n f³ yaum al-kh±mis min syahr al-mu¥arram f³ hil±li i¥d± wa ‘isyr³na ba‘da alfi sanah khamsin wa £al±£µna alhijrah an-nabawiyyah “ (Al-Qur’an ini selesai [ditulis] pada hari Kamis dari bulan Muharram pada malam dua puluh satu pada tahun seribu tiga puluh lima [21 Muharram 1035] Hijrah Nabi). Wawancara. Al-Qur’an kuno ini masih lengkap. tapi tidak berhasil ditemukan karena pemiliknya tidak ada di tempat dan tidak berhasil dijumpai. 13 Naskah ini juga sudah diteliti oleh E. “Beberapa Mushaf Kuno dari Provinsi Bali”. Husen Abdul Jabbar. yang dipandang mushaf tertua di Buleleng. Di Kampung Jawa. No. Mushaf ini sangat menarik.

1321 H/1903 M). berbunyi. naskah-naskah tersebut dibuang. al-Matba’ah al-Miriyah al-Ka’inah.)اﻟﺴﻼم‬tapi bisa jadi dibaca “Selam”. Islam 4. pengarang ketiga kitab ini tidak disebutkan. Teks dalam kitab ini juga bertuliskan “al-salam” (‫ . Catatan kedua pada Daftar Isi Kitab Miftah al-Jannah. atau bias juga tetap dibaca “as-Salam” sebagaimana bahasa Arab. Karang Asem Di Karang Asem. c) Kitab Mau’i§ah li al-N±s tentang tata cara sembahyang. 44.. 3) Kitab Siraj al-Huda karangan Muhammad Zain al-Din bin Muhammad Badawi al-Sumbawa’i. a) Kitab Miftah al-Jannah tentang Usuluddin karangan Muhammad Tayyib bin Mas’ud alBanjari. Ke-6 (diterbitkan di Mekah. “Tanda keterangan haza al-haq 16 Pak Muhammad Sa’id bin Mukhammad Ali Kusamba. dan membeli pada bulan Ramadan tanggal 15 hari Ahad pada tahun Zai Hijrah Nabi Teks aslinya: kaf-ra-ng-syin-mim. tentang ilmu fikih karangan Nuruddin Al-Raniri (diterbitkan di Mekah. h. peneliti hanya mendatangi Kampung Islam Buitan—sebuah kampung kecil yang hanya berpenduduk 25 keluarga. dan f) Kitab Tajwid al-Qur’an. antara lain: 1) Kitab Sabil al-Muhtadin karya Syaikh Muhammad Arsyad bin Abdullah AlBanjari. 1320 H/1902 M). Kampung Islam Pasuruan. “Haza al-Kitab ini yang empunya Bapak Abd al-Rahman negeri Bali. Naskah yang tersisa adalah kitab-kitab cetakan sekitar tahun 1300-an Hijriah. Syarah atas Matan Umm al-Barahin karya Sanusi. terjemahan Dawud bin Abdullah Fatani. 16 Kata “¥aq” kadang diartikan “kepunyaan”. Ada yang menarik dari kitab-kitab ini. Maktabah al-Kutub alArabiyyah al-Kubra. Cet. (diterbitkan di Mesir.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah .). 2) Kumpulan kitab dalam satu bundel terdiri dari empat kitab. 14 Kampung Biutan As-Salam 15 adanya”.” bisa diartikan “ini kepunyaan…” 15 14 61 .. Teks ini juga terdapat pada Kitab Sabil al-Muhtadin Juz I. yang maksudnya “Islam” sebagaimana kebiasaan sebagian orang Bali. antara lain pada sampul dalam Kitab Siraj al-Huda terdapat tulisan. bisa jadi maksudnya Karang Asem? Sebagian orang Bali menyebut “Kampung Islam” dengan bunyi ucapan yang terdengar adalah “Kampung Selam”. Karangsem. b) Kitab Usul al-Tahqiq juga tentang Usuluddin. jadi “ha©a al-¥aq. jilid 1 dan 2. tetapi karena sudah hancur. dan di tepinya ada Kitab Sirat al-Mustaqim. dan pada pias halaman ada Hamisy Kitab Asrar al-Dini. dan di piasnya ada Hamisy Risalah Diya al-Murid. Konon di sini pernah ada naskah beraksara Bugis.. al-Matba’ah al-Miriyah al-Ka’inah. t. — Asep Saefullah dan Adib M.t. yaitu catatan pemiliknya.

Tauhid/Teologi: Dalam bidang ini ada empat naskah. kandungan isi naskah-naskah keislaman di Bali setidaknya meliputi: Fikih. Musthafa Amin. Musthafa Amin (MA 01). Kampung Islam Buitan. wirid. dan ini pun bagian pertama dari kumpulan teks lain yang berisi tentang obat-obatan disertai doa dan wirid. Suharto di Pegayaman. dan jaiz (satu dari dua naskah milik Drs. Suharto juga berisi teks lain yang berisi masalah fikih. terdapat dua naskah. juga berasal dari Madura. selain berasal dari Bugis. Burhanuddin. Naskah MA 04 ditulis dalam buku Letjes. mustahil. Vol. yaitu “Kitab Nikah” milik H. Nama-nama di atas. satu naskah milik H. No. bisa jadi Kitab Miftah al-Jannah khususnya dibeli di Pasuruan. Dalam 17 Wawancara. 2 November 2008. 2009: 53 . dan Obat-obatan: Naskah yang berisi doa. dan geguritan (cerita). Tauhid. milsanya tentang taharah [bersuci]. yaitu Khazinah al-Asrar serta satu naskah beraksara dan berbahasa Bugis milik H. Musthafa Amin. Al-Qur’an. Jika demikian. 1. obat-obatan. wajib. no. adalah para leluhurnya. yang berisi tentang sifat-sifat Allah. 1. Doa. yaitu milik H. Burhanuddin. doa. 3. tata bahasa Arab (nashwu-saraf). Fikih: Dalam bidang fikih hanya ditemukan satu naskah. satu naskah beraksara dan berbahasa Bugis milik H. 17 salah seorang yang dituakan di Buitan. 2. menurut Abdullah. tetapi naskah ini sudah bercerai berai dan tidak berjilid). wirid. dan dua naskah lainnya milik Drs. 4. 7. Musthafa Amin. Dua naskah lainnya milik H. Tasawuf/Akhlak: Naskah dalam bidang ini ada empat. Bidang Kajian (Isi Naskah) Dilihat dari segi bidang kajiannya. nomor MA 05 dan MA 06. antara lain berisi tanya jawab tentang Uluhiyah (ketuhanan). MA 03 dan MA 04 yang dalam teksnya tidak disebutkan judulnya. dan obat-obatan. Karang Asem. Tasawuf. juga berisi wifiq.Jurnal Lektur Keagamaan. 62 . Wirid. Tahun 1334 H adalah sekitar tahun 1915 M.90 Sallallahu ‘alaihi wa sallam 1334 H”. dan sebagian keluarga di sana.

Beberapa Aspek Kodikologi Naskah .. Denpasar. tetapi temuan ini penting karena banyak naskah baru yang ditemukan. 63 . hasil penelitian lapangan terhadap naskah-naskah lontar di Bali berhasil memberikan informasi lain terkait dengan tradisi pernaskahan di Pulau Dewata tersebut. milik Drs. 7. Suharto. — Asep Saefullah dan Adib M. 5. Kampung Serangan Denpasar. Bali memang identik dengan Hindu. Dari 12 naskah lontar yang berhasil ditemukan. dan karenanya tradisi pernaskahan di sana pun dengan sendirinya juga tidak dapat dilepaskan dari Hindu. Pembacaan naskah lontar oleh Made Suparta. Sementara itu. Meskipun demikian. dan semuanya dalam bentuk geguritan.. ada satu naskah yang tidak dapat dibaca. dan bunyi akhir tiaptiap baris (Agastia. Geguritan: Sebagaimana yang dikenal secara luas oleh masyarakat. yang terletak setelah “Kitab al-Nikah”. Berikut ini gambaran mengenai isi 1119 naskah lontar yang berhasil ditemukan: 18 Geguritan adalah karya sastra Bali yang dibangun di atas pupuh. 6. pupuh diikat oleh beberapa kaidah yang mencakup: banyaknya baris dalam tiap bait. satu naskah milik Bapak Marjui. satu naskah di Masjid Al-Mu’awanatul Khairiyah Kampung Bugis Suwung. t. dan satu naskah di Masjid Muhajirin Kapaon Denpasar. 19 Dari 12 naskah lontar. dan satu naskah di Masjid Bait al-Qodim Loloan Timur.: 155).t. dosen pada Program Studi Jawa. FIB Universitas Indonesia. berisi tentang morfologi bahasa Arab atau ilmu sharaf. banyaknya suku kata dalam tiap baris. satu naskah di Pegayaman. Islam naskah MA 01 juga terdapat naskah jenis ini. 18 sembilan di antaranya menunjukkan adanya pengaruh Islam dalam tradisi kesusastraan Bali. Dari 14 naskah AlQur’an yang ditemukan. ditulis di atas dluang. 11 di antaranya belum pernah diinventarisasi. Ini dapat dilihat dari beberapa naskah lontar yang ditemukan di lapangan. Bahasa: Dalam bidang bahasa ditemukan satu buah naskah tanpa judul. Pegayaman. satu naskah di Kampung Jawa Singaraja. Ke-14 naskah tersebut adalah delapan naskah AlQur’an di Masjid Agung Jami’ Singaraja. Al-Qur’an: Meskipun naskah Al-Qur’an tidak sepenuhnya menjadi sasaran dalam penelitian ini.

Teks ini berisi filsafat moral Hindu yang disampaikan secara naratif. 20 64 . Teks ini berisi cerita tentang peran Amir Hamzah dalam proses islamisasi di Nusantara.Jurnal Lektur Keagamaan. Teks ini berisi cerita tentang kehidupan Nabi. teks ini juga berisi cerita tentang proses islamisasi di Bali. Cerita Islam 1). 5). 6). geguritan Jayengrana. Gambaran isi naskah lontar di atas secara jelas memperlihatkan adanya pengaruh Islam dalam tradisi kesusastraan Bali. meskipun kapan dan dari mana awal mula masuknya pengaruh Islam tersebut masih perlu diteliti lebih jauh lagi. Teks ini tentang kehidupan keluarga kerajaan di negeri Arab. Geguritan Krama Selam. Geguritan Amir Hamzah. Geguritan Amir Hamzah. Dari 12 naskah lontar di atas. 2). teks ini juga banyak mengandung ajaran moral dan etika Islam. empat di antaranya tidak bertanggal. Teks ini menceritakan tokoh Bagendhali yang sangat sakti. Teks ini menceritakan sosok pahlawan muslim dalam melawan raja kafir. Geguritan Semaun. 4). Geguritan Pan Bongkling. Pepalihan Gama Selam Bali. Geguritan Sebun Bangkung. semua kolofon 20 yang terdapat dalam naskah lontar itu menginformasikan adanya tahun penyalinan yang sama. Teks ini menceritakan proses islamisasi di Bali. Teks ini berisi konsep dharma dalam agama Hindu. yakni 1923 isaka atau 2001. Vol. Geguritan Siti Badariyah. 1. b. dan satu naskah yang tidak dapat diidentifikasi baik judul maupun isinya karena kondisi fisiknya yang sudah lapuk. beserta dua saudaranya: Bagenda Sulaiman dan Bagendha Alah. Geguritan Bagendhali. 2009: 53 . Di samping itu. Kidung Tuwan Semeru. 7). 2). Cerita Hindu 1). Yang menarik. No. 8). Geguritan Jayengrana. Tidak banyak berbeda dengan teks Pepalihan Gama Selam. 7. Geguritan Jimat Teks ini berisi mistik Islam. yaitu: Geguritan Siti Badariyah. sebab deskripsi kodikologis terhadap naskah-naskah lontar di atas menunjukkan bahwa naskah-naskah lontar tersebut memang masih muda. Teks ini berisi cerita mengenai tokoh heroik yang bernama Sema’un pada masa-masa awal islamisasi 3). 9).90 a.

— Asep Saefullah dan Adib M. H. Lurah Kampung Islam. ada empat naskah yang relatif terbaca. dan H. Abdurrahman Alawi. satu naskah tercerai berai. Sebagian besar mushaf itu juga tidak lengkap dan banyak lembarannya yang sudah terlepas. 21 dan mushaf milik M. empat naskah yang ditemukan sudah lapuk semua. dan dua naskah lainnya yang ditulis di atas dluang telah robek. seperti mushaf koleksi Masjid Singaraja. Singaraja. karena sebagian di antaranya disalin ulang pada tahun 2000-an. 65 . Islam Beberapa Aspek Kodikologi Naskah Islam di Bali 1. Buleleng. dan di dalam lemari kaca. seperti Al-Qur’an kuno di Masjid Al-Muhajirin Kepaon. Demikian juga di Kampung Bugis Serangan. yaitu H.. Meskipun telah disimpan dalam kotak kayu khusus. Kondisi naskah lontar di Yayasan An-Nur memang mendapatkan perawatan. Zen Usman. Kondisi Naskah Naskah keagamaan Islam di Bali kurang mendapat perhatian. juga terdokumentasi dengan baik sebagaimana dijelaskan di atas. terutama pada halaman belakang. 21 Wawancara dengan Drs. Naskah-naskah yang ditemukan di rumah H. seperti cengkih atau kapur barus. tetapi tidak utuh. dari enam naskah yang dimilikinya. Satu buah naskah berlubang dimakan rayap dan satu lagi tinggal setengahnya. Hadir pula beberapa pengurus Ta’mir Masjid Agung yang lain. tetapi naskah-naskah lontar itu termasuk baru. dari empat naskah yang ditemukan. di Kepaon Denpasar. Hasyim Zaki. satu naskah di antaranya dari bahan kertas modern bergaris. Kondisi naskah di Masjid Singaraja dan milik M. tidak seperti naskah lontar yang. Di Pegayaman pun demikian. 30 Oktober 2008. kecuali mushaf yang diduga ditulis oleh Gusti Ngurah Ketut Jelantik Selagi. seperti mushaf kuno milik M. Hidayat. di samping telah banyak dikaji. Musthafa Amin..Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Muhlis Sanusi. Naskah-naskah keagamaan Islam yang ditemukan pada masyarakat umumnya tidak terpelihara dan bahkan tak terperhatikan sama sekali. satu naskah Al-Qur’an tidak lengkap lagi dan tengahnya berlubang dimakan serangga. di dalam tempat penyimpanan naskah itu tidak terlihat ada bahan penangkal serangga. Zen Usman relatif baik. salah seorang keturunan Raja Buleleng yang masuk Islam (MAJS/NQ/01). Zen Usman yang lengkap dan kondisinya bagus. tetapi hampir semuanya tidak ada yang lengkap.

terdapat tiga naskah yang ditulis di atas dluang. Bahan Bahan yang digunakan untuk menulis naskah-naskah keagamaan Islam di Bali dapat dikelompokkan ke dalam empat jenis: a) Dluang. Maluku Utara. 2005: vii-viii) 22 66 .Salih Afifuddin Abdul Baqi bin Abdullah Al-Adni. (Bafadal dan Anwar. University of London. naskah Al-Qur’an dari Kampung Jawa. 1. dan satu naskah menggunakan bahasa Melayu dengan aksara Bali. yaitu milik H. No. Usia Naskah Dilihat berdasarkan usia naskah. pada 7 Zulqa’dah 1005 H/1597 M. dan d) lontar. Dari 38 naskah. Musthafa Amin menyebutkan angka Mushaf tertua konon mushaf nomor MS 12716 koleksi William Marsden di Perpustakaan School of Oriental and African Studies (SOAS). Britania. dan Horn (tertera angka tahun 1825 pada mushaf di Masjid al-Muhajirin. Pro Patria. Burhanuddin di Serangan. Kepaon). keduanya di Denpasar. 7. Suharto di Pegayaman dan satu mushaf AlQur’an. Sebagian besar naskah lainnya ditulis di atas kertas Eropa. lengkap 30 juz. yaitu: dua naskah milik Drs.90 2. Beberapa cap kertas (watermark) dan cap tandingan (countermark) yang berhasil diidentifikasi antara lain kelompok Crescent. Zen Usman di Kampung Jawa Singaraja. b) Kertas Eropa. Naskah yang ditulis di atas kertas Eropa berjumlah tujuh naskah. Musthafa Amin di Kepaon (MA 04) dan H. c) Kertas modern bergaris. Denpasar. Naskah ditulis di atas kertas modern bergaris (Letjes) ada dua. berangka tahun Jumadil Awwal 993/1585 dan kedua adalah mushaf dari Ternate. 21 Muharram 1035 H atau sekitar tahun 1625 M. Vol. Musthafa Amin.Jurnal Lektur Keagamaan. yang ditulis oleh Al-Faqih al. Zen Usman termasuk naskah yang paling tua. 3. milik M. 11 naskah menggunakan bahasa dan aksara Bali. serta satu naskah lain ditulis di atas kertas bergaris bukan Letjes milik H. Semua naskah lontar tersebut milik Yayasan An-Nur. Berdasarkan kolofonnya. 2009: 53 . Misalnya naskah Kitab Al-Nikah dan Obat-obatan (MA 01) milik H. 22 Naskah-naskah lain pada umumnya ditulis pada abad ke-13 H atau sekitar abad ke-18-19 M. Bahan lontar digunakan untuk menyalin 12 naskah geguritan. mushaf ini selesai ditulis pada malam Ahad. bahkan ia merupakan naskah Al-Qur’an tertua ketiga di Asia Tenggara. milik M.

yaitu bulan Zulqa’dah 1265 H/1848 M. Melayu. Islam tahun 1287 H/1870 M dan 1288 H/1871 M. Jawi. Selebihnya. Selain Al-Qur’an yang berjumlah 14 naskah. dan Bali.. dari daftar cap kertas yang disusun Heawood diketahui bahwa kertas dengan cap kertas kelompok Pro Patria diproduksi pertengahan abad ke-17 M (Heawood. Sementara aksara dan bahasa Bali hanya digunakan pada 12 naskah lontar koleksi Yayasan An-Nur.. Kolofon yang agak tua terdapat pada naskah Al-Qur’an MAJS/NQ/03 koleksi Masjid Agung Jami’ Singaraja. — Asep Saefullah dan Adib M. Misalnya. naskah berbahasa Arab hanya dua. Musthafa Amin terdapat dua kolofon. Bahasa dan Aksara Naskah-naskah keagamaan Islam di Bali setidaknya menggunakan empat aksara dan empat bahasa. Serangan Denpasar. atau sekitar delapan naskah lainnya menggunakan bahasa Melayu dengan aksara Jawi. 67 . Tentang istilah Jawi. Aksara yang digunakan adalah Arab. Setidaknya ada enam naskah yang berkolofon. Bugis. Naskah yang menggunakan aksara dan bahasa Bugis ada dua. Cap kertas yang terlihat pada naskah MA 03 yang termasuk kelompok Names dengan cap kertas berupa: tulisan nama I Pigoizard. yaitu naskah tentang morfologi Arab (saraf) dan sifat-sifat Allah dari Pegayaman. 4. dan Bali. Bugis. Kertas Eropa yang memiliki cap kertas pada kelompok Pro Patria. menurut Heawood (1986:140). dalam naskah MA 02 disebut “bahasa Jawi”. diproduksi sekitar tahun 1737 atau sesudahnya. 10r-10v disebutkan demikian. Horn. Britania. misalnya ketika mengartikan kata “uluhiyah” dan “ilah” pada h. Burhanuddin. yaitu milik H. pada umumnya diproduksi antara pertengahan abad ke-17 M sampai abad ke-19 M. atau Crescent. “… dan arti uluhiyah pada bahasa Jawi ketuhanan dan arti Ilah pada bahasa Jawi Tuhan…” 5.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Demikian juga dilihat dari kertas Eropa yang digunakan. sedangkan bahasanya adalah Arab. dan dalam naskah MA 01 milik H. tidak banyak ditemukan naskah yang mempunyai kolofon. Kolofon Dari 38 naskah yang diinventarisasi. 1986: 145-146).

10v: “…tammat. No. Kampung Kepaon. 33v bagian akhir teks pertama terdapat nama kitab. Nama Kepaon juga disebut dalam naskah MA 02. Satu hal yang dapat diduga adalah telah terjadi hubungan antara Palembang dan Bali sekitar tahun 1287-1288 H/1870-1871 M. namanya orang menyurat ini Haji Dawud dari negeri Badung Kepaon tatkala menyurat ini di negeri Pabeyan rumah bapak Tayid23 tamat alkalam” 23 Ba-pa-alif ta-alif-ya-dal (‫)ﺑﻔﺄ ﺗﺎﻳﺪ‬ 68 . walaupun jilidnya sudah lepas. Bali. yang terdiri dari beberapa teks. Agak sulit menghubungkan kedua kolofon yang terdapat dalam satu naskah ini. Kepaon. di Pabeyan. Bunyi kolofon tersebut sebagai berikut: Haza [al-]Kitab al-Nikah [ter] Hijrah al-Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam seribu dua ratus delapan puluh tujuh (1287) pada tahun Ba alif(?) pada malam ahad waktu jim(?) pada pukul delapan pada delapan hari bulan Rabi’ al-Awwal pada ketika itulah hamba Pa Abdul A’raf sudah selesai menyuruh ini kitab di dalam negeri Badung Bali Badung adanya Kampung Kepaon 1287 Tamma wa sallallahu ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa sahbihi wa sallam Pada teks kedua h.90 Pada naskah MA 01. Badung. Dalam kolofonnya disebutkan bahwa teks ditulis oleh Haji Dawud. Vol. Amin 1288 H di Ampenan Syahr [al-]Shafar.Jurnal Lektur Keagamaan. yakni “Kitab Nikah” dan waktu penyalinannya. Kolofon pertama menyebutkan tempat penulisan di negeri Badung. yang bisa dipastikan di Palembang sebab yang mengambil ijazah untuk amalan dalam teks ini adalah Haji Hasan Palimbangi. 41v. sedangkan kolofon kedua menyebutkan Ampenan. 7. 2009: 53 . orang Palembang. Berikut bunyi kutipan kolofon pada h. Naskah ini tergolong masih baik karena tulisannya dapat dibaca. h. kolofonnya berbunyi: Telah mengambil ijazah faqir a-haqir ila Allah Ta’ala Haji Hasan ibn alMarhum al-Haj Muhammad Amin al-Din Palimbangi akan mengamalkan laqad ja’akum serta doa yang kemudian kepada Syaikhuna wa ustazuna wa wasilatuna ila Allah Ta’ala al-Arif bi Allah sayyidi al-Syaikh Muhammad Azhari ibn al-Mukarram al-Marhum Kemas Muhammad Haji Abdullah Palimbangi Nafa’ana Allah bi barakatihi wa barakat ‘ulumihi. 1.

ada yang masih baik. bisa jadi berarti tahun seribu masuk ratusan ketiga. ada yang sudah lapuk. Dalam kolofonnya. dalam bahasa Arab yang berbunyi sebagai berikut: “tubi‘a bima¯ba‘ah al-Tauf³q li ¡±¥ibih± al-¥±jj Mu¥ammad ‘Abduh pepajah bi Pare-pare 1373” 6. Kampung Jawa Singaraja. Letak kolofon ini di pias halaman bagian akhir mushaf setelah Surah al-Nas dan sebelum doa khatm Al-Qur’an. Islam Kolofon lain ditemukan dalam mushaf Kuno nomor MAJS/NQ/03 koleksi Masjid Agung Jami’ Singaraja. 69 . dan ada juga yang sudah terlepas dari 24 sanah alfi taqw³m £al±£. 1035 H/1625 M. dan angka tahun yang tertulis adalah 1265 H. Penjilidan Aspek lain dalam kodikologi adalah bagian penjilidan.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Pada kolofonnya disebutkan. Kolofon ini ditulis dalam bahasa Arab. yakni pada Mushaf milik Zain Usman. — Asep Saefullah dan Adib M. mushaf ini disebutkan selesai ditulis oleh Haji Muhammad Ja’far pada waktu duha hari Rabu bulan Zulqa’dah 1265 H/1848 M. Dari segi penjilidan. percetakan at-Taufiq milik Haji Muhammad Abduh. bahwa di Bali ditemukan juga kolofon yang menyebutkan angka yang sangat tua.. Burhanuddin. kondisi naskah-naskah Bali beragam. sama dengan 1848 M. Selain itu disebutkan pula nama dan tempat percetakan serta pemilik percetakannya. Serangan. Pare-pare. Kolofon ini juga ditulis dalam bahasa Arab.. artinya 1200-an lebih. Angka tahun ini menerangkan selesainya pencetakan naskah. Berikut ini kutipan kolofon: “kana al-farag al-kha¯¯ ¥ajj Mu¥ammad Ja‘far yauma arba‘ wa f³ waqti a««u¥± f³ syahri ©i al-qa‘dah f³ sanah alfi taqw³m £al±£24 hijrah an-nab³ 1265 “ Penting dicatat. mushaf ini ditulis oleh Abd Shafiyyuddin pada hari Kamis tanggal 21 Muharram 1035 H. ditemukan angka tahun 1373 H/1885 M pada halaman sampul. bunyinya demikian: “tamma al-qur’±n f³ yaum al-kh±mis min syahr al-mu¥arram f³ hil±li i¥d± wa ‘isyr³na ba‘da alfi sanah khamsin wa £al±£µna al-hijrah an-nabawiyyah “ Pada naskah Litrograf beraksara Bugis milik H.

Adapun untuk naskah mushaf. Pada dua mushaf ini. misalnya. lima titik belah ketupat. naskah-naskah Bali cukup bervariasi. ada yang bahan sampulnya terbuat dari kulit. 2005: 122). yaitu: Alif. yaitu tahun 1035 H/1625 M (Gambar 01). Pena yang digunakan biasanya dimiringkan mata penanya sehingga ketika ditarik menyamping miring kanan ke bawah akan membentuk titik belah ketupat ( ). titik belah ketupat. Tinggi alif pada jenis Naskhi standar. Mushaf dari Kampung Jawa Singaraja sudah menggunakan khat Naskhi yang indah dan mendekati standar apalagi jika dilihat masa penulisannya—walaupun belum menggunakan pena khat untuk membentuk tipis-tebalnya huruf—. 7.Jurnal Lektur Keagamaan. Naskah-naskah AlQur’an umumnya menggunakan jenis kaligrafi atau khat Naskhi. dan lingkaran. seluruh naskah ditulis dalam aksara Arab dan Jawi. jilidan aslinya sudah tidak ada. Kaligrafi Selain naskah lontar. dan satu mushaf di masjid al-Muhajirin. Oleh karena itu. 7. No. Kepaon.90 ikatan kuras naskah. dan ada juga yang terbuat dari karton. Loloan Timur. Pada masa ini. Rumusan ini diciptakan oleh Ibnu Muqlah (Sirojuddin. 1. Dari segi bahan sampul. 27 Berbeda dengan yang lainnya. misalnya beberapa naskah di Bayt al-Qur’an dan Museum Istiqlal TMII Jakarta (Saefullah. khususnya di Nusantara. namun untuk mushaf koleksi masjid asy-Syuhada sudah diganti dengan sampul dari kertas karton. 2009: 53 . menarik juga untuk dilihat model-model tulisannya atau yang lazim disebut kaligrafi. 2007: 47). hampir semua bahan sampulnya terbuat dari kulit tebal dengan motif floral serta menggunakan amplop. 27 Kaligrafi Arab standar dalam bahasa Arab disebut Al-Kha¯¯ al-Mansµb mempunyai tiga alat ukur. kebanyakan bahan sampul naskahnya adalah kertas karton tipis. Selain naskah mushaf. 1992:86-99) 25 70 . 26 Naskah lain adalah yang ditulis di atas kertas bergaris dalam buku Letjes dengan sampul kertas berwarna biru khas Letjes. seperti yang terlihat pada satu mushaf di Masjid asy-Syuhada. Vol. 26 Sampul seperti ini banyak ditemukan di Nusantara. belum banyak ditemukan naskah yang Kuras adalah istilah yang mengacu pada sejumlah lembar kertas/perkamen yang dilipat dan dijahit untuk kepentingan penjilidan (Francois Deroche. walaupun masih sangat sederhana dan belum dapat dikatakan standar.25 Bahkan sebagian di antaranya lepas jilidannya.

dan wifiq. 11r. terdapat ilustrasi tentang sifat-sifat Allah berdasarkan kalimat L± Il±ha Ill± All±h yang dibagi ke dalam empat kategori “L±”. Sementara jenis Khat Riq’ah yang biasanya tipis-tipis dan condong ke kiri ditemukan dalam banyak naskah. £a. Islam disalin dengan khat Naskhi yang indah. Akan tetapi secara umum dapat dikatakan Riq’ah.. khususnya sin dan kaf memperlihatkan gaya Farisi. dan Riq’ah. 17v. dan di sekelilingnya terdapat penjelasan sehingga membentuk semacam concept map (peta konsep). Dalam naskah MA 03. “Ill±”. khususnya naskah MA 06 (Gambar 03). — Asep Saefullah dan Adib M. kecuali dalam naskah Al-Qur’an. yang agak meliuk-liuk dan memanjang. sapuan pada beberapa huruf. Ilustrasi yang ditemukan pun hanya sedikit. Dalam naskah-naskah keagamaan Islam di Bali tidak ditemukan iluminasi. Jenis Naskhi yang ditemukan memang sangat sederhana. Jika dikelompokkan ke dalam jenis-jenis khat. dan “All±h” (Gambar 05). biasanya lebih berfungsi sebagai hiasan. h. Farisi. Sedangkan iluminasi. yang berarti menerangi. 71 . maka naskahnaskah yang ditemukan dapat dikelompokkan ke dalam tiga jenis khat. baik yang cenderung ke Naskhi maupun Farisi. Namun demikian. yaitu Naskhi.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . atau ya. kata “Il±h” diletakkan dalam kotak belah ketupat dan segi empat. “Il±ha”. wirid. Ilustrasi Ilustrasi terdapat pada naskah tasawuf dan masalah doa.. 8. dan biasanya digunakan untuk memberikan penjelasan lebih lengkap dari teks bersangkutan. Jenis Farisi misalnya ditemukan pada Naskah MA 03 dari Kepaon. misalnya naskah dari Pegayaman. Ilustrasi dan Iluminasi Ilustrasi adalah sebuah gambar atau hiasan yang ada hubungannya dengan teks. walaupun masih sederhana dan ada kesan Riq’ah karena sebagian hurufnya condong ke kanan (Gambar 04). Pada naskah MA 04. dan tidak berkaitan langsung dengan teks. h. tipis tebal goresan aksaranya sudah nampak dan memperlihatkan bentuk Naskhi yang cukup indah (Gambar 02). a. yang berasal dari kata illumination. ta. Karakter tulisannya condong ke kanan dan sapuansapuan pada sin dan gigi ba. bahkan untuk naskah keagamaan lainnya digunakan Khat Farisi atau Riq’ah.

Pantai Timur Semenanjung Melayu atau Pattani dan Trengganu. yang diletakkan dalam blok hitam. dan menarik. misalnya kata “Allah” dan “Muhammad” dalam satu kotak.Jurnal Lektur Keagamaan. Contoh ilustrasi terakhir adalah tentang wifiq. dan di atas-bawahnya terdapat penjelasan yang diduga terkait dengan zikir (Gambar 07). Pada naskah Serangan 01 yang berbahasa dan beraksara Bugis. yang terdapat pada bagian tengah mushaf. 12v-13r. terdapat simbol-simbol yang diletakkan dalam bingkai garis. dan disebut juga nama-nama malaikat. Ada dua blok yang semuanya berisi kata “All±h”. unik. 72 . pengetahuan mengenai formula tersebut merupakan hikmah ilahiyah. atau akhir. sahabat. kalimat L± Il±ha ill± All±h Mu¥ammad Rasµl Allah”. ada perbedaan kedaerahan yang konsisten dan mencolok. ditemukan di Bali. yakni iluminasi dalam bentuk arabesk (pola geometris yang disalin bersilangan) dari kalimat L± Il±ha ill± All±h Mu¥ammad Rasµl Allah sebagai bingkai hiasan yang mengelilingi bidang teks ayat-ayat Al-Qur’an. 2009: 53 . dan lain-lain (Gambar 06). tengah. Dalam hal penempatan 28 Wifiq: suatu formula yang terdiri atas susunan bilangan atau angka Arab tertentu yang mengandung rahasia-rahasia spiritual.90 terkait dengan ilmu ma’rifah. dan juga dapat dikaji secara kodikologis. hasilnya disajikan di sini. 1. terdapat ilustrasi lafa§ al-jal±lah. No. kata “Muhammad” dan “Ilah”. h. Bagi yang mempercayainya. Vol. tentang tasawuf. Bahkan satu mushaf di Masjid Agung Singaraja (MAJS/NQ/01) sangat khas. Meskipun naskah Al-Qur’an terkadang dikhususkan dalam klasifikasi kajian naskah klasik. b. Karakter kedaerahan iluminasi dapat juga dilihat dari penempatan halaman berhias pada awal. dan Jawa. masingmasing dalam satu kotak. Desain hiasan yang menurut identifikasi Annabel Teh Gallop (2004) sebagai tipe Aceh. 7. kata “All±h”. Sulawesi. Iluminasi Iluminasi hanya ditemukan dalam naskah-naskah Al-Qur’an. 28 Dalam naskah wirid dan doa MA 05. dan simbol-simbol huruf hijaiah yang dirangkai sedemikian rupa dan diletakkan dalam satu kotak (Gambar 08). tetapi karena pentingnya temuan ini. Iluminasi dalam mushaf-mushaf kuno yang ditemukan di Bali sangat luar biasa.

5 cm.. Pada bagian tertentu. mengapa dapat sampai ke Bali. dan H. Sampul naskah berukuran 33. Penempatan ini dapat ditemukan pula pada mushaf-mushaf Bali. sementara ukuran teksnya adalah 18 X 14. kode MAJS/NQ/0129 yang sejauh pengetahuan kami memiliki keistimewaan yang luar biasa. 1). yaitu awal juz 16 atau bagian tengah Surah al-Kahf. Menurut keterangan pengurus takmir masjid. Teks ditulis dengan menggunakan khat naskhi. naskah mushaf ini ditulis oleh Gusti Ngurah Ketut Jelantik Selagi. yaitu Sulawesi dan Aceh. Bahkan. kecuali halaman awal yang terdiri atas 7 baris. dapat dijelaskan dengan kenyataan bahwa orang-orang Bugis pada masa lalu telah banyak bermukim di Bali. Abdurrahman Alawi (Pengurus Ta’mir Masjid). Bagian dalam sampul naskah dilapisi kain saten. Sampul naskah memakai tutup (plop). 30 Tebal naskah 682 halaman. awal juz. Pantai Timur Melayu biasanya pada permulaan juz 15 atau awal Surah al-Isra’. Tinta yang digunakan berwarna hitam. adalah kertas yang umumnya digunakan di Afrika. Hasan (penduduk setempat).. digunakan tinta berwarna merah.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Pada naskah ini terdapat bingkai teks berupa tiga buah garis tipis berwarna hitam dan merah. “paper used by Denham in Africa” (Heawood. 1986: 85). desa di mana Masjid Agung Singaraja berada pun bernama Kampung Bugis. Rangkaian dari kalimat L± Il±ha Ill± All±h Mu¥ammad Rasµl All±h yang didekor sedemikian rupa sehingga menciptakan bingkai hiasan berbentuk arabesq yang mengelilingi teks ayat Al-Qur’an. 2004: 132). Pada halaman pelindung terdapat catatan yang tertulis: “h±©a alwaqf mu¡¥af masjid jam³‘”. H. Demikian juga dengan bahannya. Di bawah ini akan diuraikan secara singkat keempat tipe atau desain hiasan tersebut. Tipe Aceh dan Istimewa: Iluminasi Kalimat L± Il±ha Ill± All±h Mu¥ammad Rasµl All±h Di Masjid Jami’ Agung Singaraja terdapat mushaf. Belum lagi desain hiasannya dan motif pewarnaannya yang memiliki unsur-unsur daerah lain. yakni iluminasi bagian tengah. dan di Jawa hampir selalu ditemukan pada permulaan surah al-Kahf (Gallop. Hasyim Zaki. setiap halaman terdiri atas 14 baris. 29 73 .5 X22 cm yang terbuat dari kulit berwarna merah maron dengan motif floral. Islam iluminasi tengah: Aceh selalu bagian tengah Al-Qur’an. 30 Tentang bahan kertas yang biasanya digunakan di Afrika. 30 Oktober 2008. meskipun berupa kertas Eropa tetapi berdasarkan cap kertas (water mark)-nya yang termasuk kelompok Cressent. seperti kepala surah. Naskah berukuran 27 X 21 cm. atau tanda baca. Wawancara dengan H. salah seorang keturunan Raja Buleleng yang masuk Islam. — Asep Saefullah dan Adib M.

Bapak H.90 Merujuk pada identifikasi yang pernah dibuat Annabel Teh Gallop (2004) tentang ragam hias mushaf. H. 2009: 53 . terutama merah. Menurut kakaknya. leluhur mereka ada yang berasal dari Aceh. hanya saja tidak diketahui siapa dan kapan hal itu terjadi. Ciri kedaerahan pada umumnya dapat dilihat pada pola. Hasyim Zaki. mushaf ini sama dengan mushaf-mushaf dari Aceh yang selalu menempatkan awal juz 16 atau bagian tengah Surah al-Kahf. H. yang dapat berbentuk sulur lembut yang tipis ataupun berukuran lebih besar. Hasan. Akan tetapi. ada garis melengkung sampai ke tepi. Vol. No. dan mushaf ini menempatkan awal juz 16. namun menampilkan latar belakang kertas itu sendiri. salah satu mushaf AlQur’an di Masjid Jami’ Agung Singaraja memiliki unsur-unsur yang umumnya terdapat di Aceh dan Sulawesi. 31 74 . dan di bagian-bagian tertentu sering terdapat motif jalinan. Warna dasar keempat dalam naskah beriluminasi dari Aceh adalah warna putih. dan miring ke dalam pada ujung atas dan bawah. Desain seperti diuraikan di atas jelas sekali terlihat pada iluminasi bagian awal mushaf ini (MAJS/NQ/01). Dari segi teks ayat pada bagian tengah yang beriluminasi. 7. kuning dan hitam.Jurnal Lektur Keagamaan. namun terbatas. Segi empat berhias di sekitar bidang teks sering diisi dengan sulur ikal warna putih. tetapi di bagian kiri dan kanan garis tegak tersebut terdapat bentuk segitiga. 2004: 129). Di ketiga sisi luar bidang teks. walaupun tidak terlalu jelas sebab salah satu ciri kedaerahan iluminasi Sulawesi adalah garis lurus. pewarnaan dan detail hiasan bingkai (Gallop. bahwa di wilayah ini pernah kedatangan orang-orang dari Aceh. Sepasang bingkai berhias dari Aceh ini dicirikan dengan pewarnaan yang kuat. yang mengapit bidang teks pada masing-masing halaman. sementara lengkungan pada sisi vertikal diapit oleh dua ‘sayap’ kecil. dan H. memanjang ke atas dan ke bawah. Segi empat berhias di sekitar bidang teks pada pola Aceh yang sering diisi dengan sulur Bagaimana pola Aceh terdapat dalam mushaf ini? Berdasarkan keterangan pengurus Ta’mir masjid dan penduduk setempat. di satu sisi memperlihatkan pola Aceh dengan “sepasang garis tegak kirikanan”. 1. yang memang berwarna putih. Wawancara dengan H. jejaknya bisa ditemukan bahwa salah seorang pengurus ta’mir masjid sendiri. adalah seorang Muslim Bali yang memiliki darah Aceh.31 Sedangkan iluminasi yang istimewa terdapat pada bagian tengah mushaf. Hasan (penduduk setempat). Iluminasi mushaf Aceh mudah dikenali dengan “garis bingkai vertikal. Hasyim Zaki. Abdurrahman Alawi (Pengurus Ta’mir Masjid). 30 Oktober 2008. yang dekat ke Sulawesi.

bukan segi tiga tetapi lengkunganlengkungan yang membentuk semi segitiga yang di dalamnya dihiasai desain floral dengan pewarnaan merah. bawah. — Asep Saefullah dan Adib M. dua bidang empat persegi panjang yang mengapit teks ayat. Iluminasi hiasan mushaf dari Sulawesi yang menurut Gallop (2005) “Sulawesi Diaspora”. di samping putih yang merupakan warna dasar kertas. dua bidang persegi panjang di atas membingkai kepala surah dan di bawah membingkai keterangan surah. dan beberapa bentuk setengah lingkaran di atas. yakni dua bingkai yang diletakkan secara berhadapan dengan ciri khas garis-garis tegak. milik Bapak I Wayan Ma’ruf. bandingkan dengan Gambar 10a). Sedikit berbeda. “lengkungan pada bingkai berhias kadang75 .. hitam. dan kuning. horizontal dan diagonal. Di bagian akhir mushaf. Islam ikal warna putih. bahwa di bagian luar bingkai pada mushaf Pegayaman ini. Tipe Sulawesi Tipe Sulawesi ditemukan pada mushaf dari Pegayaman. misalnya dari Pattani dan Trengganu (Gallop. segitiga di tengah bagian pinggir menghadap keluar. yakni garis-garis vertikal. dan pinggir luar bingkai. dari iluminasi yang masih bisa dilihat pada bagian awal dan bagian tengah. Warna yang dominan adalah merah dan hitam (Gambar 09 dan 10. desainnya sama dengan desain yang umumnya ditemukan di Sulawesi. 3). masih terdapat surah Al-Fatihah yang diletakkan dalam bingkai berhias melengkapi sepasang hiasan akhir mushaf (Gambar 11. dan di bagian-bagian tertentu sering terdapat motif jalinan. dalam mushaf MAJS/NQ/01. 2004:130). Gambar 12. 2).. Mushaf ini sudah tidak lengkap lagi dan sebagian besar sudah dimakan serangga. dan tidak memiliki garis-garis lengkung bergelombang. berupa jalinan kalimat L± Il±ha Ill± All±h Mu¥ammad Rasµl All±h yang membentuk pola arabesq dan sedikit motif floral. bandingkan dengan Gambar 12a). dan keduanya mengapit teks ayat di atas dan di bawah. Dua buah garis vertikal di kiri-kanan paling luar. Akan tetapi. Iluminasi mushaf dari Pattani bercirikan. bercirikan bentukbentuk geometris yang kuat.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Tipe Pantai Timur Semenanjung Malaya Ciri khas iluminasi mushaf dari Pantai Timur Semenanjung Malaya adalah “Lengkungan luar bingkai berhias sering ditutup dengan rangkaian ‘ombak-ombak’ atau ‘dedaunan’ kecil”.

90 kadang terdiri dari dua ombak yang saling berpautan yang ditutup dengan semacam kubah”. secara keseluruhan efeknya adalah pancaran emas yang cemerlang. Penomoran halaman tidak ada. Jumlah garis tipis dalam 1 cm 9 buah. Pola hiasan pada Al-Qur’an kuno dari Masjid Al-Muhajirin Kepaon Denpasar32 memperlihatkan tipe Pantai Timur Semenanjung Malaya. 7. Sampul naskah sudah tidak ada. Bingkai teks berupa tiga buah garis tipis berwarna hitam dan merah. Ketika garis-garis dan ombak disepuh. Tinta yang digunakan berwarna hitam. dan bingkai kedua halaman tersebut disatukan dalam bingkai luar. Teks ditulis dengan menggunakan khat Naskhi. Alas naskah yang digunakan adalah kertas Eropa. Jarak garis tebal pertama sampai ke-6 13 cm. dalam kertas terdapat angka 1825. 5 X 11. 4). 1. bandingkan dengan Gambar 13a). No.Jurnal Lektur Keagamaan. Tipe Jawa dan Mushaf Tertua Ketiga di Nusantara: Tahun 1035 H/1625 M Mushaf lain yang menarik. Teks ditulis dengan menggunakan garis panduan yang ditekan. awal Juz ke-30 (juz ‘amma) 76 . hitam. Teks yang masih ada dimulai bagian tengah surat al-Baqarah dan berakhir pada surah al-Naba. Di beberapa halaman verso terdapat kata alihan. dan luar biasa adalah mushaf yang ditemukan di Kampung Jawa Singaraja milik M. naskah sudah lapuk dan tidak lengkap. Pewarnaannya terdiri atas merah. yakni di atas-bawah dan pinggir bingkai teks ayat. Selain itu. “Dari pembatas luar ini banyak garis atau sulur kecil mengarah ke dalam seakanakan bertemu dengan ‘ombak-ombak’ yang muncul dari lengkungan. Vol. Secara umum. 2004:130). meliputi warna-warna muda seperti biru dan hijau maupun warna-warna tua yang lebih menggetarkan. dan kuning emas. hijau. merah muda. Sementara Trengganu lebih bercirikan pembatas beriluminasi yang memenuhi tepi luar kertas. Bingkai teks ayat berupa empat persegi panjang agak lebar mengelilingi bidang teks dan diisi dengan hiasan bermotif daun dan dipadukan dengan lengkungan setengah lingkaran. Zen 32 Naskah ini berukuran 30 X 19 cm. unik. Lengkungan-lengkungan dan riak-riak gelombang tergambar dengan jelas dalam mushaf ini. Pewarnaan hiasan bingkai Pantai Timur lebih luas daripada yang ditemukan di Aceh. menimbulkan efek ‘stalagnit-stalaktit’. 5 cm. di samping warna putih yang merupakan warna dasar kertas (Gambar 13. ukuran teksnya 19. dan emas sering digunakan” (Gallop. Dalam kertas ini terlihat adanya garis bayang tebal dan garis tipis. 2009: 53 . Dua buah bingkai diletakkan secara berhadapan di halaman kiri-kanan.

naskah ini memiliki kolofon yang menunjukkan waktu penyalinannya pada Kamis. terdapat segi tiga yang juga berhiaskan bentuk arabesq. yakni pada pewarnaan yang cenderung menggunakan warna biru (Gallop. 33 Dikatakan demikian karena beberapa alasan: Pertama. Teks ditulis dengan menggunakan khat Naskhi. atas-bawah dan pinggir. di tiga sisinya. Ketiga. Sampulnya terbuat dari kulit berwarna coklat motif floral. oleh Abd al-Sufi al-Din. Bidang teks ayat diapit di kiri-kanan oleh blok empat persegi panjang yang dihiasi dengan pola arabesq. Islam Usman. Untuk bagian yang berisi keterangan awal surah tinta dan awal juz digunakan berwarna merah. dan ukuran teksnya adalah 16 X 11 cm. mushaf ini ditulis di atas dluang. Desain hiasan ini menunjukkan salah satu karakter khas Jawa. 33 77 . dan untuk kepala surah masih berupa Sulus sederhana. hanya beberapa halaman yang tampak lapuk.. Iluminasi pada mushaf ini terdapat pada bagian awal yang membingkai Surah al-Fatihah dan awal Surah al-Baqarah. dan di atasbawahnya diapit juga oleh blok empat persegi panjang. sebuah masa yang tua. tetapi lengkungan-lengkungan yang mengelilingi teks ayat lazim ditemukan di Turki Usmani.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . blok atas membingkai nama surah Al-Fatihah. kecuali halaman awal yang terdiri atas 7 baris dan halaman akhir yang terdiri atas 10 baris. Mushaf ini berukuran 24 X 16 cm. dari segi kaligrafinya. jika merujuk identifikasi Gallop (2004). Jumlah baris setiap halaman 13. Alas tulis dari bahan dasar kulit kayu ini pada umumnya tergolong tua karena kertas ini umumnya telah ada sebelum kertas Eropa masuk ke Nusantara.. Keempat. iluminasinya memperlihatkan unsur Jawa. dan kolofonnya dalam bahasa Arab. Tulisan rapi dan jelas. Bagian dalam bingkai ini pun Secara umum. Tinta yang digunakan berwarna hitam. — Asep Saefullah dan Adib M. 21 Muharram 1035 H (23 Oktober 1625 M). Kedua. mushaf ini memperlihatkan goresan seorang khattat (ahli kaligrafi) Arab dengan khat Naskhi yang indah walaupun tidak dengan kalam khat yang tipis-tebal. 2004: 130). Sementara itu. Selanjutnya. mushaf ini masih baik. yang berbunyi: “tamma al-qur’±n f³ yaum al-kh±mis min syahr al-mu¥arram f³ hil±li i¥d± wa ‘isyr³na ba‘da alfi sanah khamsin wa £al±£µna al-hijrah an-nabawiyyah “. kedua bingkai yang berhadapan pada dua halaman kiri-kanan ini disatukan oleh bingkai garis yang memotong setiap ujung segitiga pada setiap sisinya. bingkai teks berupa tiga buah garis berwarna hitam. Tebal naskah 769 halaman yang terdiri atas 754 halaman isi. dan blok bawah mengbingkai keterangan surah.

terutama dari beberapa unsur yang terdapat pada pola hiasannya. Setidaknya mushaf ini menjadi mushaf tertua ketiga setelah Mushaf kode MS 12716 di University of London yang ditulis Jumadil Awwal 993/1585 dan mushaf dari Ternate yang ditulis pada 7 Zulqa’dah 1005 H/1597 M (Bafadal dan Anwar. keberadaan mushaf ini di sebuah tempat yang disebut Kampung Jawa. No.90 diberi hiasan berbentuk arabesq yang dipadukan dengan pola dedaunan (Gambar 14. atau tempat. tidak terawat dan kurang mendapat perhatian. Sulawesi. bandingkan dengan Gambar 14a). Kesimpulan a. Vol. 2009: 53 . 78 .Jurnal Lektur Keagamaan. Dari 38 naskah tersebut. yakni ditulis pada Kamis. dan bahkan tidak utuh lagi. 21 Muharram 1035 H/1625 M (Gambar 15). serta iluminasi mushaf yang memperlihatkan empat tipe Aceh. b. 1) Kondisi naskah keagamaan Islam di Bali pada umumnya sangat memprihatinkan. 1. 35 di antaranya merupakan naskah keagamaan Islam. Namun demikian. Penutup 1. seperti Palembang dan Pasuruan. Lebih dari itu. keberadaan 35 naskah keislaman itu dapat menunjukkan mata rantai Islamisasi di Indonesia dan jaringan keilmuan dan keulamaan Islam Nusantara. misalnya tentang nama tokoh al-Haj Muhammad Amin al-Din Palimbangi dan Muhammad Sa’id bin Muhammad Ali Kusamba. bisa diduga bahwa asal-usulnya berkaitan dengan Pulau Jawa. Walaupun jumlahnya tidak begitu signifikan dibandingkan dengan naskah non keislaman yang biasanya ditulis di atas lontar. Pemiliknya tidak mengetahui secara pasti asal usul mushaf ini kecuali bahwa ia mendapatkannya dari orang tuanya dan konon telah dimilikinya secara turun temurun. Sebagian besar naskah sudah rusak. Pantai Timur Malaya. Penelusuran awal naskah-naskah keagamaan Islam di Bali berhasil menemukan 38 naskah yang tersebar di berbagai daerah di pulau Dewata ini. 7. 2005: vii-viii). dan Jawa. mushaf ini menambah koleksi dan informasi mushaf tertua di Nusantara.

Keberadaan naskah keagamaan Islam di Bali yang tersebar di berbagai kabupaten memungkinkan masih ada naskahnaskah lain yang belum tersentuh sehingga penelusuran lebih lanjut perlu segera dilakukan. Kondisi naskah keagamaan Islam di Bali yang memprihatikan perlu mendapatkan perhatian serius dan perlu segera dilakukan upaya konservasi lebih lanjut.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . kertas bergaris modern. c) Waktu penyalinan antara abad ke-17–19 M. 2. c. b. tasawuf. doa. tauhid. antara lain dengan penelusuran naskah dan digitalisasi. wirid. dan untuk itu perlu pembuktian melalui penelitian secara lebih mendalam. Bugis. 4) Isi naskah antara lain mencakup fikih. adanya naskah lontar yang mengandung unsur keislaman membuktikan bahwa hubungan antarumat beragama. dan Bali... dan lontar. Wa All±h a‘lam…[] 79 . Dari aspek kodikologi. b) Bahasa dan aksara yang digunakan meliputi Arab. Al-Qur’an. dan bagaimana posisi Bali dalam proses Islamisasi maupun dalam jaringan transmisi keilmuan dalam Dunia Islam. yaitu dluang.Lebih dari itu. Melayu (Jawi). — Asep Saefullah dan Adib M. dan yang tertua tahun 1035 H/1625 M. Rekomendasi a. dan obat-obatan. dapat dicatat beberapa hal: a) bahan yang digunakan beragam. Analisis terhadap isi teks dan penjelasannya secara kontekstual perlu diteliti lebih lanjut. setidaknya untuk melihat bagaimana hubungan Islam-Hindu di Bali. khususnya Islam-Hindu di Bali terjalin dengan baik. bahasa (nahwu-saraf). kertas Eropa. dan geguritan (cerita). Islam 2.

Etika. dan Sunda. Vol. Maria Indra. Fathurahman. Vol. Chambert-Loir. Bafadal. Islamic Codicology. Lisan dan Sejarah di FIB UI . Kumar. Heawood. Jakarta: Ecole francaise d’Extreme-Orient-Yayasan Obor Indonesia Deroche. Watermarks: Mainly of the 17th and 18th Centuries. h. Henri & Fathurahman. dan Memanfaatkan Khazanah Naskah Islam: Sebuah Refleksi”.Jurnal Lektur Keagamaan. 1986. Sastra. 1. 7. 2005. 1999. Bafadal. Edward. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. dalam James Bennett (Ed. Rukmi. 1. 2004. Khazanah Naskah: Panduan Koleksi Naskah-Naskah Indonesia Sedunia. “Jenis-jenis ‘Naskah Bali’” dalam Soedarsono (Ed). John H. 2006. No. 1-10. The Lontar Foundation. Oman. Kodikologi Melayu di Indonesia. tanpa tahun. Naskah Klasik Keagamaan Nusantara 1. 2009: 53 . diterjemahkan ke Bahasa Arab oleh Ayman Fuad Sayyid. The Writing Traditions of Indonesia. Depok: Fakultas Sastra UI. Jurnal Lektur Keagamaan. An Introduction to the Study of Manuscripts in Arabic Script. Penyalinan Naskah Melayu di Jakarta pada Abad XIX: Naskah Algemeene Secretarie Kajian dari Segi Kodikologi. Melestarikan. 80 . Hilversum: The Paper Publications Society. “Islamic Manuscript art of Southeast Asia”. Gallop. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. Asep (Eds. 156-183. “Seni Mushaf di Asia Tenggara”. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. dan Seni Pertunjukan Jawa. Edisi bahasa Arab diteritkan tahun 2005 oleh penerbit yang sama dengan judul al-Madkhal ila ‘Ilm al-Kitab al-Makhtut bi al-Harf al‘Arabi. Illuminations. V. Mushaf-Mushaf Kuno di Indonesia. Ann dan McGlynn. 2005. h. Francois. Rukmi. Keadaan dan Perkembangan Bahasa. makalah dalam Seminar Tradisi Naskah.90 Daftar Pustaka Agastia. Fadhal AR. Crescent Moon: Islamic Art & Civilisation in Southeast Asia. Bali. No. Gallop. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. London: Al-Furqan Islamic Heritage Foundation.. Tatakrama. Fadhal AR. Ada Bagus Gede. “Penyalinan Naskah Melayu di Palembang”.). 121143. Jakarta. dan Anwar. Vol. Depok. Sri Wulan Rujiati. 2005. Annabel Teh. h. 1994. 2005. dan Saefullah. Weatherhill Inc. Maria Indra. Jurnal Lektur Keagamaan. Adelaide: Art Gallery of South Australia. Oman. Depok: Fakultas Sastra UI. Rosehan. Cet.). 1996. 1997. 2. Mulyadi. “Pentingnya Memelihara. New York dan Tokyo. 2. No. 2003. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. Annabel Teh. 1.

Musta’in. Kasi. secara terpisah pada 29-30 Desember 2008 di Masjid Agung Singaraja maupun di kantor MUI Singaraja. Kanwil Dep. Hasan. Sirojuddin AR. — Asep Saefullah dan Adib M. Kabid.. E. 1992. Kanwil Dep. Kanwil Dep. Ida Bagus Nyana. Pendidikan Islam dan Pemberdayaan Masjid. Kasubag Umum. 1. Ketut Ariawan. 5. Bali Drs. 9. H. 1-5) Wawancara di ruang kerja masing-masing pada 28 Oktober 2008. 30 Oktober 2008. 39-62. Wawancara. Penamas. 13. Sekretaris MUI Sngaraja (No. 4. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. Seni Kaligrafi Islam. penduduk Singaraja yang bekerja di Denpasar. Ketua MUI Singaraja H. Wawancara pada 2 Nopember 2008 di Loloan Timur. 5. Ketua Dewan Penasehat MUI Singaraja. h. 12. “Ragam Hiasan Mushaf Kuno Koleksi Bayt al-Qur’an dan Museum Istiqlal Jakarta”. Kabid Bimas Islam & P.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Bali Drs. Ghufron. Haji. 29 Oktober 2008.. Jakarta: Multi Kreasi Singgasana. Kanwil Dep. Hidayat. Wawancara. Agama Prov. Bali (No. M. 2 Nopember 2008. Soleh. 8. Karang Asem. Agama Prov. 2. Bali Drs. 1-18. h. 14. Vol. 81 . 1. Bedugul. Syafruddin. Wawancara. Hasyim Zaki. Abdullah. dan Agus. H. Jurnal Lektur Kegamaan. Yunardi. 7-11) Wawancara. H. 10. 6. Gunawan. Abdurrahman Said. Bali Drs. Pengurus Harian Masjid Agung Jami’ Singaraja H. 7. No. 5. Drs. Vol. Agama Prov. H. Hadiman. 2007. 2007. No. H. H. dalam Jurnal Lektur Keagamaan. Islam Saefullah. Asep. Kanwil Dep. Agama Prov. Husen Abdul Jabbar. H. Staf Urusan Agama Hindu. 3. Informan: 1. Agama Prov. Lurah Kampung Bugis dan juga Ketua Ta’mir Masjid Agung Singaraja. 11. Badri. Abdurrahman Alawi. SH. “Beberapa Mushaf Kuno dari Provinsi Bali”. yang dituakan di Kampung Islam Buitan. H. Muchlis Sanusi. para ustadz di Pesantren AlHidayah.

sementara rubrikasi berwarna merah. No. Aks. Sebagaimana disebutkan. Bunyi kolofon tersebut sebagai berikut: Haza [al-]Kitab al-Nikah [ter] Hijrah al-Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam seribu dua ratus delapan puluh tujuh (1287) pada tahun Ba alif(?) pada malam ahad waktu jim(?) pada pukul delapan pada delapan hari bulan Rabi’ al-Awwal pada ketika itulah hamba Pa Abdul A’raf sudah selesai menyuruh ini kitab di dalam negeri Badung Bali Badung adanya Kampung Kepaon 1287. yang terdiri atas: 1. Denpasar Fk/Bali MA 01 98 hlm.Jurnal Lektur Keagamaan. Adapun bunyi kalimat pertama (1r) adalah sebagai berikut: Terpelihara dirinya daripada had ta-waw-kaf-sin karena jikalau ia tia(da) mau bersumpah maka dipukul ia delapan puluh kali demikian lagi disuruh bersumpah istrinya di atas mimbar lima kali supaya terpelihara ia daripada had zina maka apabila sudah bersumpah keduanya jatuhlah talaknya itu talak bain kubra … Alas naskah yang digunakan adalah kertas Eropa. namun dimungkinkan diproduksi pada masa modern. Tinta yang digunakan berwarna hitam. Arab dan Jawi 24x16 cm Prosa Kertas Eropa Naskah ini merupakan kumpulan teks yang terdiri atas beberapa bidang kajian. 2. Halaman 33v-41v: Teks obat-obatan. yakni pembahasan tentang tuduhan suami bahwa istrinya berzina. Akan tetapi cap kertas hanya terlihat sebagian. Sepertinya bagian awal teks dimulai dari “Had al-Qa©af”. 82 . naskah ini merupakan kumpulan teks. kertas dengan cap kertas nomor tersebut tidak bertanggal. yang termasuk kelompok Crescent. Menurut Heawood (1986: 84). Kalimat pertama teks ini berbunyi: Sebagai lagi (obat) supaya bincar(?) buang air seni ambil limau nipis tiga biji ditaruh gula batu maka embunkan pagi2 minum insya Allah ‘afiyah berturut-turut tiga pagi. Tebal naskah 98 halaman (49 lembar) dengan jumlah baris 19 per halaman. Arab dan Melayu 19 baris/hlm. Naskah sudah tidak bersampul dan bagian awal teks yang berisi Kitab Nikah sudah tidak lengkap. Kitab Nikah. 1. 7. sementara ukuran teksnya adalah 19 X 11 cm. tetapi tidak disebutkan judulnya. Jarak antarbaris di setiap halaman 7 mm. Naskah berukuran 24 X 16 cm. Obat-obatan. dalam kolofon teks ini disebutkan “Kitab Nikah”. 860.90 Lampiran: 1. Tamma wa sallallahu ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa sahbihi wa sallam. Wirid dan Doa Bhs. Setelah dicocokkan dengan daftar cap kertas yang disusun oleh Heawood (1986). 2009: 53 . Contoh Deskripsi Naskah Milik Musthafa al-Amin. Teks ditulis dengan menggunakan bahasa Melayu dan aksara Jawi dengan menggunakan garis panduan yang ditekan. Vol. Halaman 1r-33v: Teks kitab nikah. tampaknya cap kertas ini mirip dengan contoh no.

5 X 3. Pemilik Naskah: H. 2. naskah ini berjudul Pepalihan Gama Selam Bali. Islam Kalimat terakhir berbunyi: Telah mengambil ijazah faqir a-haqir ila Allah Ta’ala Haji Hasan ibn al-Marhum al-Haj Muhammad Amin al-Din Palembangi akan mengamalkan laqad ja’akum serta doa yang kemudian kepada Syaikhuna wa ustazuna wa wasilatuna ila Allah Ta’ala al-Arif bi Allah sayyidi al-Syaikh Muhammad Azhari ibn al-Mukarram al-Marhum Kemas Muhammad Haji Abdullah Palimbangi Nafa’ana Allah bi barakatihi wa barakat ‘ulumihi. Bali 4 baris/lempir Aks.5 cm Puisi Lontar Berdasarkan informasi di luar teks. Kondisi lontar masih baik. Teks ini berisi cerita proses islamisasi di Bali. Tebal naskah 9 lempir dengan jumlah baris 4 per lempir. penanggalan. Bali. — Asep Saefullah dan Adib M. Jarak antarbaris tiap lempir adalah 0. Kampung Bugis.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . wirid dan doa. Bali 40.. pias kiri berukuran 3 cm. 3. Naskah berukuran 40. Di bawah setiap baris teks terdapat garis panduan tipis berwarna hitam. Tinta yang digunakan berwarna hitam.. Kepaon. Denpasar 83 . Naskah di tempatkan dalam kotak yang terbuat dari kayu jati berwarna coklat. Pemilik naskah: Yayasan An-Nur. sedangkan ukuran teksnya adalah 34 X 2. Ukuran kotak tempat menyimpan naskah ini adalah 46 X 8.5 x 3. Amin 1288 H di Ampenan Syahr [al-]Shafar. Musthofa Amin. dan teks khutbah nikah. Tulisan tampak rapi dan jelas. Halaman 47v-48v: Teks Li °³bat Aqli al-Ins±n. 5 cm. antara lain kitab waris. Teks ditulis di atas lontar dengan menggunakan bahasa dan aksara Bali.5 cm. Pias kanan berukuran 3 cm. Halaman 41v-47r: Teks berisi berbagai macam masalah. Denpasar. Contoh Deskripsi Naskah Lontar Milik Yayasan An-Nur. 4.5 cm.5 cm. Denpasar Gg/Bali YN 02 9 lempir Pepalihan Gama Selam Bali Bhs. Teks dibagi dalam dua kolom.

2009: 53 . Kepaon. 1. Denpasar Gambar 04: Khat Farisi MS MA 01. Kepaon. naskah koleksi H. Ilustrasi Gambar 05: MS MA 03. Musthafa Amin. naskah koleksi H. 17v. milik H. koleksi H. Kepaon. milik Drs. Denpasar Gambar 06: MS MA 04. 7. Denpasar B. Beberapa Jenis Kaligrafi Gambar 01: Khat Naskhi pada Mushaf kuno dari Kampung Jawa.90 Lampiran II: Gambar-Gambar A. Kepaon. h. No. Musthafa Amin. Denpasar 84 . h. Vol. 11r. Singaraja Gambar 02: Khat Naskhi pada naskah tauhid dari Pegayaman Singaraja. Suharto Gambar 03: Khat Riq’ah pada MS MA 06. Musthafa Amin.Jurnal Lektur Keagamaan. Musthafa Amin.

milik H. Iluminasi pada Mushaf Gambar 09: MS MAJS/NQ/01. Kepaon.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah .. — Asep Saefullah dan Adib M. 56. Musthafa Amin. Kp. Baharuddin. Denpasar C. Islam Gambar 07: MS Serangan 01. 12v-13r. Iluminasi halaman awal pada Mushaf Kuno koleksi Masjid Jami’ Agung Singaraja 85 . naskah milik H. h. Gambar 08: MS MA 03. Denpasar.. Serangan. h.

h 46 dan 87. Iluminasi halaman tengah pada Mushaf Kuno koleksi Masjid Jami’ Agung Singaraja Gambar 10a: Tipe Iluminasi mushaf halaman tengah dari Aceh. 2009: 53 . McGlynn. Vol.. 1996. koleksi Perpustakaan Nasional Jakarta. 86 . 1. dalam Ann Kumar dan John H. No.90 Gambar 10: MS MAJS/NQ/01.Jurnal Lektur Keagamaan. Illuminations. 7.

h. Gambar 12: Iluminasi bagian awal pada mushaf kuno dari Pegayaman. dalam Ann Kumar dan John H. Gambar 12a: Tipe Iluminasi halaman tengah tipe Sulawesi juga terdapat pada Tafsir AlQur’an.. sepertinya Tafsir Jalalain. milik I Wayan Ma’ruf. Koleksi Perpustakaan Nasional Jakarta. pada di halaman kiri terdapat surah Al-Fatihah. 59 87 .Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . McGlynn. milik I Wayan Ma’ruf. 1996. Tampak tidak utuh lagi kerena dimakan serangga.. Islam Gambar 11: Iluminasi bagian akhir pada mushaf kuno dari Pegayaman. Illuminations. — Asep Saefullah dan Adib M.

1. Bandung.90 Gambar 13: Iluminasi bagian tengah pada mushaf kuno dari Masjid Al-Muhajirin. tetapi Al-Qur’an ini berasal dari Cirebon. Jawa Barat. 7. McGlynn.Jurnal Lektur Keagamaan. dalam Ann Kumar dan John H. Vol. 1996. 2009: 53 . Denpasar. 114 88 . Al-Qur’an kuno koleksi Museum Sri Baduga. Illuminations. h. Kepaon. Gambar 13a: Tipe Iluminasi mushaf seperti ini umum ditemukan di Pantai Timur Semenanjung Malaya. Iluminasi ini terdapat pada again awal surah alFatihah dan awal al-Baqarah. No.

. — Asep Saefullah dan Adib M. 1996. Zen Usman. Gambar 14a: Tipe Iluminasi mushaf halaman tengah dari Jawa. Jawa Singaraja. Mushaf disalin di Surakarta pada 1797-1798 M oleh Ki Atmaparwita.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Illuminations. 35 89 . McGlynn. Kraton Yogyakarta. koleksi Widya Budaya. dalam Ann Kumar dan John H. h. milik H. Islam Gambar 14: Iluminasi bagian awal pada mushaf kuno dari Kp..

pada Kamis. 7. Ditulis di atas dluang. No.90 Gambar 15: Kolofon pada mushaf kuno dari Kampung Jawa. 2009: 53 . 21 Muharram 1035 H/1625 M oleh Abd al-Shufi al-Din 90 . milik H. Zen Usman. Singaraja.Jurnal Lektur Keagamaan. 1. Vol.

. dibandingkan suku bangsa-suku bangsa yang lain di Indonesia. Kata Kunci: Surau. 91 . — Pramono dan Bahren Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua dalam Naskah-Naskah Tarekat Syattariyah di Minangkabau Fakultas Sastra Universitas Andalas. or to listen to the stories about the ulama. The manuscripts are culturally important that is related to the daily religious needs of the disciples of the order of Syattariyah in Minangkabau. otherwise it will be considered blasphemy or haram. the guru of the order of Syattariyah are essential. Oleh karena itu. Padang Pramono dan Bahren This article focus on discussing efforts to intreprate local Islam manuscripts of Minangkabau. topik mengenai hubungan sosial-kultural dan Islam di Minangkabau tetap menarik untuk didiskusikan. particularly the order of Syattariyah in Minangkabau. The ideological perspective is influenced by the surau teaching system based on the doctrines and books of the teachers. By means of social context analyses of the texts. Because the guru is considered holy man. Etnis ini memiliki karakteristik yang unik. it is found that one way to reflect the disciples’ respect for the guru(-s) has been done through writing the biography of the respective teachers and understanding their teaching. This is related to the beliefs that to know about the guru. dalam hal hubungannya antara sosio-kultural dan Islam. Tarekat Syattariyah. his story can not be written in Latin texts.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. to posses the book. Manuskrip. Minangkabau Pendahuluan Minangkabau merupakan suku bangsa di Indonesia yang mendiami sebagian besar wilayah Provinsi Sumatera Barat. Keunikan tersebut tampak pada penyatuan antara adat dan agama Islam..

2009: 91 . Kedua. sekarang ini kedua istilah tersebut mungkin sudah terasa asing dalam pendengaran kita. Tuhan telah menganugerahkan akal kepada setiap manusia untuk dapat berijtihad setiap saat (Fathurahman. 1. Ketiga. Perbedaan-perbedaan dalam berbagai amalan dan perilaku keagamaan di antara kedua kelompok itu hingga sekarang masih tetap ada. Organisasi-organisasi serta lembaga-lembaga pendidikan agama yang didirikan oleh masing-masingnya pun masih ada.108 Dalam konteks hubungannya dengan Islam. Dalam praktik pengamalan ajaran Islam. yaitu Kaum Tua dan Kaum Muda. adat kebiasaan yang telah melekat dalam berbagai macam amalan keagamaan (Latief. Pem92 . Oleh karena itu. menurut penilaian mereka). mereka ingin tetap mempertahankan tradisi.Jurnal Lektur Keagamaan. di Minangkabau timbul dua macam aliran keagamaan. Keempat. No. kedua sumber itulah yang boleh dijadikan pedoman umat Islam dalam menjalankan praktikpraktik keagamaannya. diketahui bahwa pada awal abad ke-19 hingga awal abad ke-20. 2003: 99). mereka menganut mazhab Imam Syafi’i semata-mata. Golongan ini juga berpendapat bahwa tidak ada ulama. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan pendapat antara kedua golongan itu masih tetap hidup dan berpengaruh dalam masyarakat Minangkabau. Sedang istilah yang banyak dipakai sekarang ini adalah “Kaum Tradisional” untuk Kaum Tua dan “Kaum Modernis” untuk Kaum Muda. 1988: 135). dalam bidang aqidah. bukan masalah perbedaan itu yang akan diulas dalam tulisan ini. Akan tetapi. Para ulama golongan ini memiliki pandangan bahwa hanya Alquran dan hadits Nabi yang sahihlah yang benar. mereka adalah penganut aliran Ahlu Sunah wal Jama’ah. Vol. Apalagi. Persoalan lain yang menarik dan kurang mendapat perhatian adalah persoalan pola kepemimpinan Kaum Tua. termasuk para ulama mazhab sekali pun. Kaum Tua di Minangkabau memiliki empat kriteria atau hakikat. Paham keagamaan tersebut berbeda dengan paham keagamaan yang diyakini oleh kalangan Kaum Muda. Pertama. Akan tetapi. dalam bidang syari’ah. mereka membenarkan dan merasa berkewajiban untuk mempertahankan aliran-aliran tarekat yang mu’tabarah (sah dan boleh diamalkan. yang luput dari kekeliruan. dan oleh karenanya pandangan keagamaannya tidak dapat diikuti secara mutlak. 7.

adat menurun’. adaik manurun ‘syarak mendaki. khususnya ulama pemimpin Kaum Tua tidak hanya memiliki peran keagamaan saja. adaik dibao turun.. maka secara sosial mereka dapat dikucilkan. Ronkel (dalam Latief. S. “menjadi orang Minang berarti menjadi Muslim”. agama Islam misalnya. Kondisi seperti itu mempengaruhi masyarakat Minangkabau tentang persepsinya terhadap sosok ulama. ketika Islam mulai masuk dari wilayah pesisir (rantau) ke daerah pedalaman (darek). atau keluar dari. Akan tetapi. sosok ulama Minangkabau. 1984: 138). Besarnya peran ulama pemimpin Kaum Tua di Minangkabau sempat mendapat perhatian khusus oleh pemerintah Belanda pada masa penjajahan. syarak dibawa naik’. Jika ada orang Minang yang tidak memeluk. Persesuaian Islam dengan adat tersebut awalnya terjadi secara bertahap. Dengan demikian. pemerintah Belanda mengerahkan beberapa orang sarjananya untuk mengadakan penelitian tentang tarekat yang ada di Sumatera Barat. 1988: 210) antara lain menyebutkan dalam laporannya pada tahun 1916 bahwa. Salah seorang di antaranya adalah Ph. Upaya penyesuaian berbagai nilai Islam dengan adat di kalangan masyarakat Minangkabau ini tampaknya telah dimulai sejak orang Minang menerima Islam sebagai agamanya (Hamka. syarak dibao naik ‘adat dibawa turun. Peranan Ulama Pemimpin Kaum Tua Bagi masyarakat Minangkabau. ulama pemimpin Kaum Tua di Minangkabau juga berperan di bidang sosial-budaya dan politik. Ulama bagi mereka tidak hanya penerang masa hidup di dunia. masyarakat Minang berusaha menyesuaikan adat dan tradisi kemasyarakatannya dengan Islam. bahaya dari aliran-aliran tarekat bukanlah terletak pada unsur fanatismenya. — Pramono dan Bahren bicaraan akan difokuskan pada peran pemimpin Kaum Tua dan bentuk penghormatan terhadap mereka. Van Ronkel. Dalam kosa-kata Minang.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. masuknya Islam dari wilayah rantau ke darek ini digambarkan dalam pepatah: syarak mandaki. dari waktu ke waktu. melainkan terletak pada kepatuhan yang mutlak dari para anggotanya kepada pada syekh yang memang menuntut kepatuhan itu sebagai 93 . Dalam perjalanan sejarahnya. tetapi juga penyelamat untuk kehidupan di akhirat.. Pada masa penjajahan. atau seperti yang ditulis Yusuf (2004: 4).

Belanda menempatkan seorang posthouder di Ulakan sejak tahun 1844 (Suryadi. Apabila terdapat kejadian-kejadian tertentu yang mereka cetuskan. dengan harapan agar mereka lebih memusatkan perhatian pada aktivitas kesufian. membujuk dan memuji-muji para guru tarekat. menjadi lawan bagi setiap aliran lainnya. Khusus mengenai kaum Syattariyah.108 haknya. 1. 2009: 91 . 94 . Untuk kasus pusat tarekat Syattariyah di Ulakan Pariman. 2004: 117 dan 92). Boleh jadi karena sifat tarekat Syattariyah (di Ulakan) yang suka pada harmoni. di mana banyak pengikut tarekat Syattariyah di Ulakan Pariaman terpengaruh oleh gerakan pembaharu Islam di Sumatera Barat. Golongan penganut tarekat Syattariyah yang terpengaruh oleh ide-ide pembaharuan itu karena tidak puas dengan ulama Ulakan yang dinilai tidak memiliki komitmen untuk memerangi Belanda. Dengan adanya ancaman tersebut. Vol. Pertama. Sedang tokoh-tokoh tarekat yang dianggap berbahaya dan tidak mempan dibujuk. Dengan demikian. ia menyebutkan bahwa para pemimpin tarekat Syattariyah itu biasanya adalah orangorang yang tangguh pengetahuannya. dapat mengganggu kelancaran pemerintahan Belanda nantinya. Hal ini dapat dicermati pada paroh pertama abad ke-19.Jurnal Lektur Keagamaan. Dalam hal ini pemerintah Belanda menempatkan seorang pengawas kelas tiga yang punya latar belakang ilmu budaya. suka mengejar-ngejar kekuasaan. lalu diusir dari daerah ini atau dibunuh dengan berbagai cara yang licik (Latief. No. Dalam konteks ini. menjauhi urusan dunia. setidaknya ada dua strategi yang dibuat oleh pemerintah Belanda. semangat jihad mereka yang sering menggangu kolonial akan dapat diredam. tidak jarang merupakan sesuatu yang amat berbahaya bagi pemerintahan Belanda. mengadakan pengawasan yang ketat terhadap segala aktivitas yang dilakukan oleh kaum tarekat (Syattariyah). 7. Dengan demikian. 2004: 117). kemudian pemerintah Belanda membuat strategi khusus untuk mengantisipasi potensi perlawanan dari kaum tarekat di Sumatera Barat. Apalagi dalam kenyataanya Ulakan sebagai salah satu pusat tarekat Syattariyah tidak pernah benar-benar menunjukkan penentangannya atau setidaknya bersikap tegas terhadap Belanda yang dianggap kafir. 1988: 213-214). dengan mendekati. menyebabkan mereka cenderung menghindari konfrontasi dengan Belanda (Suryadi. agaknya strategi Belanda ini berhasil. Kedua.

Peperangan itu menyebabkan Syekh Surau Baru ditawan Belanda. Secara mentalitas berbekas hingga hari ini. dkk. Di wilayah ini Belanda mendapat perlawanan yang tajam dari mereka... diceritakan tentang pemberontakan rakyat Koto Tangah dan Pauh. Dalam masa tawanan itulah Syekh Surau Baru wafat dan tidak ada lagi yang melawan Belanda hingga ratusan tahun kemudian. melainkan berlangsung sampai sekarang. akibat-akibat yang dimaksud tidak berhenti secara serta merta setelah kolonialisme berakhir.. misalnya kekuatan Golkar yang telah mampu mendekati para ulama itu untuk berafiliasi ke dalam partai tersebut. perspektif postkolonial mencoba mengungkap akibat-akibat negatif yang ditimbulkan oleh kolonialisme. Lubuk Begalung dan sekitarnya. maka Pakih Mudo mengomando rakyat Koto Tangah dan Pauh dalam peperangan itu. Akibatakibat yang ditimbulkan lebih bersifat sebagai degradasi mentalitas dibandingkan dengan kerusakan material. Padang kepada Belanda di bawah pimpinan Pakih Mudo. menarik jika dilihat dengan perspektif postkolonial. Politik Belanda terhadap ulama tarekat Syattariyah di Ulakan.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. bahkan mungkin puluhan atau ratusan tahun (Ratna. yakni perlawanan ke Belanda yang dinamakan Perang Paderi yang dipimpin oleh Imam Bonjol. Dalam naskah Sejarah Syekh Surau Baru misalnya. Kisah ini dapat ditemukan dalam kutipan teks berikut ini. — Pramono dan Bahren Dalam konteks itu. Padang berperang dengan Belanda yang dibantu oleh orang Kota Padang. Oleh karena itulah. 95 . Di mana. Padang. Padang Pariaman dengan cara memberikan penghargaan dan banyak pujian telah membuat mereka bersikap kompromi dengan Belanda. Pakih Mudo adalah murid Syekh Surau Baru yang diutus untuk mengislamkan rakyat Pauh. 2006: 74). Penawanan itu dilaksanakan dengan alasan bahwa Pakih Mudo adalah murid Syekh Surau Baru. Kondisi di atas sangat berbeda dengan ulama-ulama tarekat Syattariyah di Koto Tangah. Gambaran perlawanan ulama tarekat Syattariyah tersebut dapat ditemui dalam naskah Sejarah Surau Baru dan naskah Sejarah Syekh Paseban karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib. Perang terjadi atas komando dan dorongan Syekh Surau Baru. Ketika rakyat Koto Tangah dan Pauh. Hal ini akan diterangkan lebih jauh di bagian selanjutnya.

(kedua) adalah di suatu makam Syekh Muhammad Natsir (Syekh Surau Baru). “Yang akan memberi saya bintang adalah Tuhan. perlawanan terhadap Belanda juga dilakukan oleh ulama tarekat Syattariyah di Koto Tangah. (ketiga) Jasa beliau Syekh Surau Ba96 . Syekh Paseban. Syekh Surau Baru ini adalah orang Kota Panjang. 2001: 29. Selain itu.Jurnal Lektur Keagamaan.t. Pauh. pada waktu itu adalah dengan tidak bersedia membayar pajak kepada pemerintahan Belanda di Kota Padang. Akan tetapi. Padang. Dalam salah satu bagian teks disebutkan bahwa. 2009: 91 . Maka amanlah Belanda di Padang sampai 170 tahun kemudian barulah ada kembali perlawanan terhadap Belanda yang (di)kepalai oleh Tuanku Imam Bonjol yang dinamai Perang Paderi mulai tahun 1803 berakhir tahun 1837 (al-Khatib. 34). Dalam konteks perlawanan tersebut. 7. ia ditangkap dan dipenjarakan oleh Belanda. Padang yaitu. pernah suatu kali Belanda dengan taktiknya akan memberikan penghargaan kepada Syekh Paseban. Vol. 1. Perlawanan Syekh Paseban. Penghargaan tersebut berupa bintang jasa yang oleh Belanda dikatakan bahwa Syekh Paseban berhak menerima karena ia adalah ulama besar yang telah banyak berjasa bagi kaumnya. Padang.108 Beginilah riwayat ringkas perjalanan hidup beliau Tuan Syekh Surau Baru yang telah mengislamkan Koto Tangah. Syekh Surau Baru inilah yang mengislamkan Negeri Kota Tengah. Beliaulah. Juga beliaulah. Kota Tengah. Ziarah tersebut ia lakukan karena. penulisnya kembali menegaskan tentang kepahlawanan Syekh Surau Baru.: 51-52). “kata Syekh Paseban (al-Khatib.. Koto Tangah. Pauh. Syekh Surau Baru yang mula-mula melawan penjajah Belanda yang akan menginjakkan telapak kakinya di Pantai Minangkabau pada tahun 1658 Masehi (1076 Hijrat) yang bermaksud menjajah Minangkabau. terjadi berkali-kali peperangan di Pauh dan Koto Tangah antara rakyat dengan tentara Belanda yang dibantu oleh laskar Padang yang telah takluk di bawah kekuasaan kompeni Belanda. dalam naskah Sejarah Ringkas Syekh Paseben Asyattari Rahimahullah Taala Anhu. Oleh karena perbuatannya tersebut. Air Dingin. Selain Syekh Surau Baru. tidak Belanda. Syekh Paseban selalu mengadakan ziarah ke makam Syekh Surau Baru di Batusingka. t. Setelah Syekh Surau Baru wafat ditawan kompeni Belanda barulah habis perlawanan rakyat terhadap kompeni Belanda. Beliau sama pergi menuntut ilmu dengan Syekh Burhanuddin ke Aceh kepada Syekh Abdurrauf (Syekh Kuala). dan sekitarnya. penghargaan itu ditolak oleh Syekh Paseban. Lubuk Bagalung (Negeri yang dua puluh) dan Negri Padang. No..

Perti mengikuti aliran Ahlul Sunnah wal Jamaah dalam itikad dan mazhab Syafi’i dalam syariat dan ibadat. Hal ini dikarenakan ulama-ulama yang berwiba97 . 170 tahun (seratus tujuh puluh tahun) sebelum Tuanku Imam Bonjol. Wakil Presiden Republik Indonesia. maka banyaklah lahir parta-partai di negeri ini. Syekh Muhammad Abbas al-Kadi Bukittinggi. Padang. Oleh karenanya.. — Pramono dan Bahren ru. Syekh Surau Baru melawan Belanda waktu Belanda akan menjejakkan kakinya di Pantai Padang sedangkan Tuanku Imam Bonjol mengusir Belanda yang telah menduduki Minangkabau. 2002: 899). Hatta. Beliau Syekh Surau Baru dapat ditawan Belanda dimasukkannya ke dalam rajam dan wafat di situ dan Tuanku Imam Bonjol ditawan Belanda dibuangnya ke Manado dan wafat di situ (al-Khatib. Agaknya penulis naskah ingin mempertegas bahwa Syekh Surau Baru. Itu perbedaan perjuangan Syekh Surau Baru dengan Syekh Paseban. menjelang Pemilihan Umum pertama 1955. Bukittinggi. Kondisi seperti itu juga ikut mempengaruhi pandangan ideologis tarekat Syattariyah di Koto Tangah. memaklumatkan agar menumbuhkan berbagai organisasi dan partai. Pendirinya adalah para ulama yang terdiri dari Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung. Setelah Indonesia merdeka. Sejak 22 Nopember organisasi sosial ini berubah menjadi partai politik dengan nama Partai Politik Islam Perti (Nasution. Perti adalah organisasi sosial yang didirikan pada tanggal 5 Mei 1930 di Candung. beliaulah yang mulanya melawan Belanda di Minangkabau ini. agar beroleh berkah. Salah satu organisasi sosial yang berikutnya menjadi sebuah partai di Sumatera Barat adalah Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti). Pada awalnya. Padang adalah benar-benar berjiwa pahlawan.. 2002: 899). Syekh Muhammad Jamil Jaho Padangpanjang dan Syekh Abdul Wahid Tabekgadang. Dalam naskah otobiografi Sejarah Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib disebutkan bahwa. M. Hal ini untuk menolak tudingan Belanda bahwa Indonesia bukanlah negera yang sah. Setelah adanya maklumat ini. pengikutnya harus menghormatinya. 2001: 39). Padang selain orang alim juga anti penjajah. termasuk juga di Sumatera Barat (Nasution. Hal ini juga sekaligus mempertegas bahwa ulama tarekat Syattariyah di Koto Tangah. ulama tarekat Syattariyah di Koto Tangah.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. penduduk Koto Tangah sudah tujuh puluh lima persen masuk ke dalam Partai Islam Perti.

Padang tidak salah. ia giat mengampanyekan Partai Islam Perti. menjelang Pemilihan Umum pertama tahun 1955—saat di mana masing-masing partai gencar berkampanye mencari dukungan—terjadi ketegangan hubungan antara Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib dengan Angku Talaok akibat perbedaan pilihan partai di antara mereka (al-Khatib.. Nah«atul Ulama. Jika tidak masuk ke dalam salah satu partai. Hal ini ia lakukan tidak lain karena menginginkan pilihan penduduk Koto Tangah. maka jatuhlah pilihan saya kepada Perti. Tidak hanya itu. Vol. Menarik dikemukakan bahwa.setelah saya selidiki beberapa partai Islam seperti Masyumi. 2002: 47-57). 1. Hal ini memang terlihat agak berlebihan. Menurut penuturannya. Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib pernah giat memperjuangkan Partai Islam Perti di Koto Tangah. dan Partai Islam Perti. Padang. 2002: 6). maka orang tualang ‘orang lepas. ia juga menempelkan poster-poster itu di berbagai tempat di Koto Tangah. Partai Sarikat Islam. Pada waktu itu pemerintah melalui Wakil Presiden Muhammad Hatta menganjurkan bahwa setiap warga masyarakat untuk masuk ke dalam salah satu partai. padahal ia bukanlah pengurus atau pejabat dalam tubuh Partai Islam Perti itu. Di satu sisi. dengan banyak pertimbangan dan dari hasil pengamatan Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib. Dalam konteks kepartaian tersebut. 2002: 47). 7.. No. Dalam hal ini ia mengatakan bahwa: “. Partai Islam Perti-lah yang sesuai dengan paham tarekat Syattariyah. Poster-poster dan simbol-simbol partai ia buat sendiri dan dengan biaya sendiri. pada waktu menjelang Pemilihan Umum pertama 1955. dan pemerintah tidak menjamin keamanan orang seperti itu.Jurnal Lektur Keagamaan. Hal itu dimungkinkan karena Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib benar-benar terhimbau oleh anjuran pemerintah pada waktu itu. Sebab partai ini berdasarkan mazhab Syafi’i dan beritikad ahlu sunah waljamaah” (al-Khatib.108 wa—termasuk Imam Maulana Abdul manaf Amin al-Khatib—tarekat Syattariyah di Koto Tangah telah masuk ke dalam partai itu (alKhatib. Padang yang dilakukannya sendiri. Angku Talaok bergabung dengan Partai 98 . Oleh karena itu. orang yang tanpa ikatan sebuah sistem aturan (pemerintah)’ namanya. yakni partai Islam yang sesuai dengan paham tarekat Syattariyah. 2009: 91 .

2002: 63). Polemik tentang partai juga dialami oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib di era Orde Baru. adalah Imam Maulana Abdul Manaf Amin.. pendiri organisasi ini yang masih hidup pada waktu itu. Dekrit ini hanya diterima oleh sebagian saja yang dipimpin oleh putranya K. sementara di sisi lain. Dalam hal ini menarik disimak penolakan ajakan untuk masuk ke partai Golkar oleh Angku Inyik Adam berikut ini: “Begini Inyik.. dan beberapa surau lain di sekelilingnya. Maka pada tahun 1969..H.. bukan pula ziarah bersama ini (bersyafar) tidak atas nama partai. mendekritkan agar kembali kepada khitah semula.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. Pada awal tahun 1950-an. Padang. Syekh Sulaiman ar-Rasuli. tidak dihitung partainya. Pengelolaan bidang pendidikan dan dakwah seolah-olah terlupakan kalau tidak dapat dikatakan terabaikan sama sekali. bergerak di bidang sosial. agar mudah mendapat bantuan dari pemerintah untuk renovasi makam Syekh Surau Baru di Batusingka.) bukan orang partai. yaitu status nonpolitik. Bersyafar ini adalah atas nama kaum muslimin. adapun Beliau ini (Syekh Surau Baru–pen. Saat itu. Saat itu. Burhanuddin ar99 . Angku Inyik Adam mengajaknya untuk masuk ke dalam Partai Golkar. banyak dan bahkan sebagian besar pengikut tarekat Syattariyah di Sumatera Barat yang masuk ke partai Gokar setelah Perti kembali berstatus organisasi nonpolitik. Angku Talaok pernah diminta oleh para penganut tarekat Syattariyah di Batang Kabung dan sekitarnya untuk membantu mengajar di beberapa surau mereka. Akan tetapi. yang telah lebih dahulu mengajar di surau Batang Kabung. Kemelut yang kurang terbenahi ini sangat merugikan bagi tujuan semula organisasi. Ia pernah bersilang pendapat dengan Angku Inyik Adam. — Pramono dan Bahren Islam Indonesia (PII). yang sebetulnya merupakan kawan seperguruan Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib sendiri ketika belajar dengan Syekh Paseban. Perti mengalami perpecahan di dalam tubuh organisasinya dengan adanya pro dan kontra terhadap gagasan Nasakom yang dicetuskan oleh Soekarno. Kalau saya masuk Golkar berarti ziarah bersama (bersyafar) ini tentu Syafar orang Golkar kata orang” (al-Khatib. ajakan itu ditolak oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin. Imam Maulana Abdul Manaf Amin menjadi anggota Partai Islam Perti. Koto Tangah. khalifah tarekat Syattariyah dari Syekh Paseban. Penting dikemukakan di sini bahwa.

menurut mereka pilihan guru kepada Golkar adalah petunjuk Allah yang harus diterima. yang banyak sekuler dan bercampur agamanya (Samad. Hal ini jika dikaitkan dengan kecenderungan pendapat ulama dalam tarekat Syattariyah yang besar pengaruhnya terhadap sikap kaumnya. 2003: 268). ulama yang mencampuradukkan diri dengan politik itu adalah khianat pada tugas keulamaannya (Samad. menurut mereka. almarhum Tuanku Salif dari Sungai Sarik. akan lebih mudah untuk memberikan pelajaran tarekat kepada orangorang yang berada di dalam Golkar. daripada kita menumpang kapal kecil lebik baik naik kapal besar. Padang Pariaman yang lama mengajar di Batang Kabung. Penghormatan terhadap Ulama Pemimpin Kaum Tua Di kalangan Kaum Tua di Minangkabau. Misalnya. Dalam konteks penghargaan ulama pemimpin Minangkabau dalam bentuk penulisan riwayat hidupnya dan penyebaran buku-buku hasil karyanya banyak ditemukan di Minangkabau. Vol. Dengan masuk ke dalam Golkar. 2003: 266).Jurnal Lektur Keagamaan.108 Rasuli. dan kemudian dalam menyalurkan aspirasi politiknya bergabung dengan Golkar. ada juga ulama tarekat Syattariyah yang dengan tegas menolak bergabung dengan Golkar. Inyiek. Bentuk penghargaan yang terakhir ini sangat menarik dan penting untuk dijelaskan. penyebaran buku-buku hasil karyanya. 1. yakni Golkar. Menurut ulama ini. Syekh dan Maulana. Padang. Ada lagi alasan ulama bahwa merubah dan memperbaiki dari dalam jauh lebih mudah daripada memperbaiki dari luar. Sangat dimungkinkan bahwa Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib yang juga menolak ajakan masuk ke Golkar karena terpengaruh sikap Tuanku Salif ini. penghormatan kepada ulama-ulama pemimpin mereka terlihat pada gelar-gelar yang diberikan. Bagi orang awam. mereka mengajukan dalil. Bagi yang sedikit maju dan cerdas. penulisan riwayat hidupnya. Salah satu bentuk penghargaan itu adalah naskah-naskah karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib. misalnya sebutan Tuanku. No. 2009: 91 . Ia banyak menulis sejarah para 100 . Berbagai argumen muncul dari ulama-ulama tarekat Syattariyah yang bergabung ke dalam partai Golkar. Koto Tangah. Akan tetapi. 7. Bentuk penghargaan yang lain terlihat juga dalam pelestarian cita-cita dan perjuangan ulama terdahulu.

Tetapi juga guru-guru tarekat kampung memutarbalikkan pula sejarah Syekh Abdurrauf dan sejarah Syekh Burhanuddin. yaitu orang yang menghormati dan memuliakan ulama dan mudah-mudahan Allah memberi berkat atas usaha saya. Berikut ini dapat dilihat gambaran tentang bantahan terhadap kritikan dari pihak luar.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua.. yang kesimpulannya penghuni langit dan bumi menghormati ulama. Demikianlah supaya kita berhati-hati menerima sejarah dan menerima tarekat dari guru tarekat. Perlu dijelaskan di sini bahwa.M menyuruh kita menghormati dan memuliakan ulama. Tidak surat-surat kabar dan majalah saja yang memutarbalikkan sejarah beliau-beliau ini. Padang” (al-Khatib. “. jangan asal dimasuki saja” (al-Khatib. Amin. apakah bilangan yang beliau pakai untuk menentukan tanggal satu hari bulan Arab..sudah jelas oleh kita bahwa Nabi kita Muhammad S.. 2001: 12-13). Tentu kita lebih menghormati ulama dari pada mereka. Saya yang menulis adalah salah seorang dari murid beliau yang bernama Haji Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib. maka harus diluruskan. Ajaran guru adalah sesuatu yang benar dan tidak boleh dibantah. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut ini: “. amin ya rabbil ‘alamin.dengan adanya ketiga buku sejarah ini dapatlah saudara-saudara yang menjadi pengikut dan pencinta Syekh Abdurrauf dan Syekh Burhanuddin mengetahui bagaimana beliau-beliau ini mengembangkan agama Islam dan dapat kejelasan apakah mazhab beliau. Batang Kabung.. akhir-akhir ini banyak pula keluar di surat-surat kabar dan majalah-majalah yang memutarbalikkan sejarah beliau yang berdua ini yang jauh berbeda dengan yang dalam buku ini. supaya tarekatnya diterima oleh orang kampung yang buta ilmu pengetahuan agama. Syekh Paseban ini. dan Syekh Surau Baru. Begitu pula ikan-ikan dalam laut. maka akan mendapat berkah dan keselamatan baik di dunia maupun di akhirat. — Pramono dan Bahren syekh dan ajaran-ajarannya.. Dalam teks yang terdapat dalam hampir seluruh naskah karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin alKhatib menempatkan guru sebagai orang yang harus dihormati. 1936: 5). yang dimaksud dengan “ketiga buku sejarah ini” dalam kutipan di atas oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib adalah teks sejarah Syekh Abdurrauf. Penulisnya mengharapkan 101 . Dengan menulis sejarah guru atau syekh. Sebab. maka saya termasuk orang yang dianjurkan Nabi tadi. Syekh Burhanuddin.. Mudah-mudahan dengan menulis sejarah beliau. Jika ada golongan lain mengkritik ajaran guru.

Tambahan lagi. walaupun pemerintah telah mengumumkan awal memasuki puasa Ramadan. Sangat patuh dan sangat hormat kepada guru apa yang diperintahkannya oleh guru ti- 102 . Syekh Ahmad al-Qusyasyi.tetapi pelajaran [bang] yang [berikan] diberikan oleh Syekh Ahmad Qusyasyi hanya surah al-Baqarah saja. dan seterusnya. dikisahkan tentang bagaimana bentuk penghormatannya kepada gurunya. maka pemahaman ilmu akan datang dengan tidak disangka-sangka. Vol. yaitu pagi-pagi didukung guru di hulu dari tempat tinggalnya ke tempat dia mengajar. jika salatnya dilakukan sebanyak sebelas rakaat. seperti berikuit ini: “. maka tidak boleh mengikut paham tersebut. Jika patuh dan hormat terhadap guru. Begitulah kerja beliau Syekh Abdurrauf tiap-tiap harinya. Sudah itu terus pergi gembala unta ke tengah padang. Misalnya. paham gurulah yang benar. Untuk menentukan awal bulan Ramadan dilakukan dengan ru’yah (melihat bulan) terlebih dahulu..Jurnal Lektur Keagamaan. bagaimana mereka menentukan awal bulan Arab. tidak birasak-birasak sekedar lamanya. sebagai mengkhidmati guru beliau tetap mendukung guru dari tempat tinggalnya kepada tempat dia mengajar ilmu di Masjid Nabawi. Selain menuntut ilmu juga kerja beliau Syekh Abdurrauf di Madinah adalah mengembalakan unta Tuan Syekh Ahmad al-Qusyasyi tiap-tiap hari. begitu hati beliau terhadap guru tidak menaruh bosan dan berkecil hati. Begitu pula petang-petangnya setelah memasukkan unta ke kandanganya maka pergi pula menjemput guru ke mesjid. 1. Namun. Mereka tidak akan ikut salat tarawih di bulan Ramadan. Oleh karena suatu paham tidak sesuai atau berlainan dengan fatwa guru yang diterimanya.108 bahwa dengan adanya ketiga sejarah syekh tersebut. maka pengikut tarekat Syattariyah akan memahami bagaimana ketiganya beramal ibadah. di dukung pula ke tempat tinggal beliau. Dalam teks sejarah Syekh Abdurrauf Singkil misalnya. 7. karena menurut fatwa gurunya yang benar adalah mengerjakan salat tarawih itu dua puluh tiga rakaat. Menghormati guru juga diyakini berimplikasi terhadap cepatnya pemahaman ilmu yang diajarkan oleh sang guru. Artinya itu-itu saja pelajaran yang diberikan oleh Syekh Ahmad al-Qusyasyi hingga sampai kepada masa akan kembali pulang. Beliau tetap hormat dan khidmat serta patuh terhadap guru beliau. Malahan beliau terima hal yang demikian dengan hati yang ikhlas dan bertawakal kepada Allah swt.. sebagian besar pengikut tarekat Syattariyah tidak akan salat Jumat apabila khutbah dilaksanakan tidak menggunakan bahasa Arab. No. 2009: 91 .

.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. Kepatuhan itu akan membawa berkah. sehingga pelajaran diperoleh dengan mudah dan sempurna. untuk kemudian menjadi suri teladan bagi kehidupannya.. Bagi para penganut tarekat Syattariyah. Syekh Ahmad al-Qusyasyi. — Pramono dan Bahren dak pernah membantah dan waktu bersalam mencium tangan guru” (alKhatib. Selain mendukung guru juga Burhanuddin menggembalakan ternak Syekh Abdurrauf. Dalam teks sejarah Syekh Burhanuddin juga dikisahkan tentang bentuk penghormatan yang dilakukan kepada gurunya. yaitu kambing tiap-tiap hari..” (al-Khatib. yaitu di masjid. kedua kutipan tersebut juga berpesan kepada pembacanya bahwa sebuah ilmu tidaklah diperoleh dengan mudah. seperti berikut ini: “Adapun kaji yang diberikan yang diberikan oleh Syekh Abdurrauf kepada Burhanuddin adalah surah al-Fatihah saja tidak berasak-asak sekedar lamanya. mengetahui riwayat guru adalah sebuah keharusan karena itu bermakna penghormatan kepada guru. 1992: 20-21). Kedua kutipan di atas.. Teks-teks yang terkandung dalam naskah-naskah karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib. Adapun adab dan tertib Burhanuddin kepada gurunya Syekh Abdurrauf di dalam menuntut ilmu tidak ada ubahnya seperti adab dan tertib Syekh Abdurrauf pula terhadap gurunya. 1936:8-9). Di samping itu. yaitu mendukung guru dari tempat tinggalnya ke tempat mengajar. banyak sedikitnya memperlihatkan pandangan tentang hubungan guru-murid yang secara eksplisit mengarahkan agar para murid dan pengikut tarekat Syattariyah merasa (ataupun diwajibkan) mengenal riwayat syekh yang menjadi gurunya atau guru dari gurunya. Amanat “tidak kenal menyerah” itu senantiasa terwaris dari guru yang satu ke guru berikutnya. membaca ataupun mendengar orang membacakan riwayat gurunya. agar ilmu yang didapat beroleh berkah. Syekh Abdurrauf Singkil. memuliakan guru agar mendapat syafaatnya (limpahan rahmat). Oleh karena itu orang berusaha untuk memiliki. Ia harus diperoleh dengan perjuangan yang sungguh-sungguh tidak kenal menyerah. dan lagi menggali tebat (kolam) ikan di sekeliling masjid. Begitulah kerja Burhanuddin selama menuntut ilmu di Aceh dalam masa tiga puluh tahun. adab kepada guru. menggambarkan sekaligus mendorong kepatuhan murid kepada guru. 103 .

Sebaliknya. 7. di kalangan Syattariyah berlaku ungkapan bahwa ”seorang murid di hadapan guru ibarat sesosok mayat di tangan orang yang memandikannya” (Samad. 2) Allah akan mencabut berkat ilmu yang telah dipelajarinya dari sang guru. maka banyak kalangan penganut tarekat Syattariyah. 3) Tatkala jiwa akan berpisah dengan badan (me- 104 . baik secara duniawi maupun setelah ia meninggal. Sebaliknya. Perintah dan larangan guru bersifat mutlak dan mengikat. 1. Setidaknya menurut keyakinan mereka. dapat memperlakukan muridnya sesuai dengan aturan yang ditetapkan. Murid tidak boleh banyak mempertanyakan tentang “mengapa” dan “apa sebabnya”. murid secara sukarela harus menerima dan mematuhi segala bentuk aturan yang telah ditetapkan guru kepadanya.Jurnal Lektur Keagamaan. yaitu: 1) Allah akan menyempitkan rezekinya di dunia. Vol. Seorang guru melalui prosesi bai’ah yang sudah dilakukan sebelumnya. menarik untuk dipaparkan tentang sejarah teks yang menceritakan sejarah Syekh Abdurrauf. Syekh Burhanuddin. Selain itu. Bahkan penghormatan yang demikian masih terus berlangsung meskipun guru yang bersangkutan telah meninggal dunia. Karena itu. apalagi membantah guru. Dari naskah-naskah itu jelas bahwa syekh sebagai pemimpin menjadi sentral dalam pembentukan ideologi penganut tarekat Syattariyah Kaum Tua) di Minangkabau. Padang yang ingin memiliki naskah-naskah karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib. 2003: 147-148). Oleh karena itu. sebagai sumpah setia murid kepada gurunya. 2009: 91 . khususnya di Koto Tangah. No. Kedurhakaan terhadap syekh akan berakibat luas terhadap kehidupan murid.108 Oleh karena merasa “wajib” untuk mengetahui riwayat dan ajaran para syekh tersebut. Perihal banyaknya peminat naskah-naskah karyanya itu. kedurhakaan terhadap syekh akan menimbulkan malapetaka bagi murid-murid. penghormatan dan penghargaan terhadap guru. dan Syekh Surau Baru. mereka selalu berziarah mengunjungi makam untuk mendapatkan berkah sekaligus sebagai bukti kesetiaan terhadap guru tersebut. Dalam pandangan mereka roh seorang syekh yang sudah meninggal masih dapat memberikan pertolongan kepada murid-muridnya. dalam pengajian tarekat Syattariyah dilakukan atas dasar pandangan bahwa guru adalah orang yang suci dan dekat kepada Allah. ada tiga hal yang akan terjadi bagi seorang murid yang durhaka kepada gurunya.

Mereka dihormati. — Pramono dan Bahren ninggal). Prof. H. dkk. sehingga dia mati dalam keadaan tidak beriman (al-Khatib. Kedua. Latief. Depok: Pascasarjana UI. 2006. Tulisan itu memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi kemajuan ummat. “Tarekat Syattariyah di Dunia Melayu-Indonesia: Kajian Atas Dinamika dan Perkembangannya Melalui Naskah-Naskah di Sumatera Barat”. 105 . Laporan Penelitian. Denpasar : Program Pascasarjana Program Doktor (S3) Kajian Budaya Universitas Udayana. Para ulama pemimpin Kaum Tua itu berperan tidak hanya di bidang keagamaan saja. Hamka. Harun (Ketua Tim). “Postkolonialisme Indonesia”. khususnya dalam membangun kepribadian dan moral. Jakarta: Pustaka Panjimas. riwayat dan ajarannya dijadikan rujukan untuk pengambil keputusan. Ensiklopedi Islam Indonesia (Jilid 3 O-Z). Jakarta: IAIN Syarif Hidayatullah. Desertasi. Oman.[] Daftar Pustaka Fathurahman. 1988. Nyoman Kutha. khususnya pada golongan Kaum Tua. Di antara sumbangannya yang dapat dicatat adalah sebagai berikut ini. Jakarta : Djambatan. riwayat dan ajarannya ditulis dan disebarkan. Ratna. Allah akan mencabut iman yang ada di dada murid. Suaranya didengar. Pertama.. (Disertasi S3). “Gerakan Kaum Tua di Minangkabau”. tingkah lakunya diikuti. 1992: 30). 2002. Dr. penghormatan terhadap pemimpin memberikan tauladan agar murid pun harus berperilaku (beribadah) seperti sang guru: pola hidup sederhana (zuhud)dan tidak ambisius (qan±’ah). tidak hanya masalah keagamaan tetapi juga masalah sosial budaya serta politik yang mereka hadapi. M. sebagai penerang di dunia bahkan sampai di akhirat. Nasution. 1984.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. 2003. Islam dan adat Minangkabau. Penutup Pertemuan Islam dengan budaya lokal Minangkabau telah menjadikan corak kepemimpinan yang khas.. Kekhasannya ini tampak pada pola kepemimpinannya. tetapi juga di bidang sosial-budaya dan politik. Sanusi.

1936. Syair Sunur: Teks dan Konteks Otobiografi Seorang Ulama Minangkabau Abad Ke-19.108 Samad. Padang Sumatra Barat ------. naskah tulisan tangan koleksi Imam Maulana Abdul Manaf Amin. M dkk. 2003. Koto Tangah. tt. Batang Kabung. Sejarah Ringkas Syekh Paseban al-Syatari Rahimahulallahu Taala. Batang Kabung. naskah tulisan tangan koleksi Imam Maulana Abdul Manaf Amin. Manuskrip al-Khatib. 7. Inilah Sejarah Ringkas Auliyaullah al-Salihin Syekh Burhanuddin Ulakan yang Mengembangkan Agama Islam di Daerah Minangkabau. Koto Tangah. naskah tulisan tangan koleksi Imam Maulana Abdul Manaf Amin. Kitab Riwayat Hidup Imam Maulana Abdul Manaf Amin. Batang Kabung. Batang Kabung. Inilah Sejarah Ringkas Auliyaullah al-Salihin Syekh Abdurrauf (Syekh Kuala) Pengembang Agama Islam di Aceh. ------. “Manuskrip dan Skriptorium Minangkabau. 2002. “Tradisionalisme Islam di Tengah Modernisme: Kajian Tentang Kontinuitas. Batang Kabung. Padang Sumatra Barat. Yusuf. Sejarah Ringkas Shaikh Muhammad Nasir (Syekh Surau Baru). 106 . naskah tulisan tangan koleksi Imam Maulana Abdul Manaf Amin. Padang : Citra Budaya. Perubahan. Koto Tangah. Padang Sumatra Barat. 2004. 1992. Padang Sumatra Barat. ------. Duski. 1. Vol. No. Koto Tangah. naskah tulisan tangan koleksi Imam Maulana Abdul Manaf Amin. Imam Maulana Abdul Manaf Amin. Koto Tangah. Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah. dan Dinamika Tarekat di Minangkabau” (disertasi). 2004. Suryadi. 2009: 91 . ------.Jurnal Lektur Keagamaan. Padang Sumatra Barat. 2001. Laporan Penelitian Kelompok Kajian Puitika Fakultas Sastra Unand.

. 2006) dan Naskah-naskah Tulisannya Gambar 2: Naskah Sejarah Ringkas Auliyaullah al-Salihin Syekh Burhanuddin Ulakan yang Mengembangkan Agama Islam di Daerah Minangkabau (1992: 2) 107 .. — Pramono dan Bahren Lampiran: Gambar 1: Imam Maulana Abdul Manaf Amin Al-Khatib (w.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua.

Vol. 7. 2009: 91 .108 Gambar 3: Naskah Sejarah Ringkas Auliya’ullah al-Salihin. No. Pengembang Agama Islam di Aceh (1936: 1) 108 . 1. Syekh Abdurrauf (Syekh Kuala).Jurnal Lektur Keagamaan.

Peran Penting Pernaskahan... — Agus Aris Munandar

Peran Penting Pernaskahan dan Benda Khazanah Keislaman Lainnya dalam Kajian
Arkeologi Islam di Indonesia *
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, Depok

Agus Aris Munandar

This writing is studying the important position of the written data, particularly related to the Islamic classical manuscripts in Islamic archeology. The written data from the written sources in the study of Islamic archeology are as follow: (a) It functions as the supporting study toward the artefactual data; (b) To widen good understanding on the position and the role of the artefact in society at the period; (c) Data from written sources could be the basic of the research and a framework for the study of Islamic archeology; and (d) To encrich interpretation to develop historiography. The position of the written sources is getting more and more important in the stage of historiography as some parts of the archeological studies which are remain unknown can be helped by the study from the written sources. In the end, this effort will be able to open new insight and interpretation and to widen historiographical narration in order to make the study of archeology to be more and more dynamics. Kata kunci: Arkeologi-religi, artefak, naskah, khazanah, historiografi

Pengantar Perkembangan Islam di wilayah Nusantara berdasarkan bukti arkeologis telah terjadi sejak abad ke-11 M. Hal itu didasarkan dengan penemuan nisan Fatimah binti Maimun bin Hibatullah di daerah Leran Gresik Jawa Timur, pada nisan itu dipahatkan angka tahun 475 H atau 1082 (Tjandrasasmita 1986: 2). Berdasarkan hal
Tulisan ini pada mulanya merupakan makalah yang disampaikan dalam Diskusi Pengembangan Wawasan SDM Tenaga Fungsional Puslitbang Lektur Keagamaan, 24 Februari 2009 di Ruang Sidang Badan Litbang Lektur Keagamaan, Jakarta.
*

109

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 109 - 132

itu terdapat dua kemungkinan yang mengemukan, yaitu: (1) tokoh Fatimah yang dimakamkan itu adalah orang Jawa yang telah memeluk Islam, atau (2) ia muslimah pendatang yang karena suatu sebab meninggal dan dimakamkan di Gresik. Selain nisan, dalam kajian para ahli Belanda dahulu tidak melaporkan adanya temuan serta lainnya dari situs nisan Fatimah binti Maimun. Akibatnya tidak ada lagi data yang dapat menyokong terjadinya interpretasi baru atas kasus temuan nisan Fatimah binti Maimun. Masalah nisan Fatimah binti Maimun sebenarnya hanya salah satu contoh saja dari banyak permasalahan kajian arkeologi Islam di Indonesia. Suatu kajian terhadap bentuk religi harus pula menjelaskan 4 hal yang berkenaan dengan eksistensi religi tersebut, yaitu: a. Historical explanations, yaitu usaha untuk menjelaskan keberadaan suatu agama pada suatu masa sejak agama itu mulai ada, bertahan, dan berkembang dalam tahap selanjunya. b. Structural explanations, upaya untuk menjelaskan keberadaan suatu agama berkenaan dengan para penentu perkembangan agama, menjelaskan hal-hal penting yang menjadi dasar terbentuknya masyarakat pemeluk agama. c. Causal explanations, upaya menjelaskan keadaan agama dalam masyarakat dengan mengacu kepada kondisi dan suasana masyarakat sebelum agama itu timbul. d. Functional explanations, menjelaskan suatu keadaan sehingga agama tersebut mempunyai fungsi dalam masyarakat (Spiro 1977: 99—101). Keempat fokus utama kajian agama tersebut kiranya dapat dikerjakan secara baik bilamana berkenaan dengan keadaan agama yang masih hidup di masa sekarang, yang masih ada masyarakat pemeluknya, dan dalam pertalian kekinian. Akan sukar kiranya jika keempat kajian tersebut diterapkan untuk meneliti kehidupan agama yang pernah berkembang di masa silam. Walaupun agama yang dimaksudkan itu sampai sekarang masih ada pemeluknya, namun pemeluk agama masa lalu tentu sudah tiada dan juga secara sosiologis akan berbeda kondisi mereka dengan pemeluk agama masa sekarang. Oleh karena itu kajian keagamaan masa lalu niscaya tidak akan sempurna lengkap, pasti ada yang rumpang. Hal itu bukan karena 110

Peran Penting Pernaskahan... — Agus Aris Munandar

ketidakmampuan peneliti menarik sintesa dan tafsiran, melainkan memang datanya yang terbatas. Data kajian perkembangan agama Islam pada tahap awalnya, tentu bertumpu kepada sumber-sumber tertulis dan data artefaktual yang bersifat fisik. Jika kedua macam data itu dalam kondisi bagus tentu akan membantu memperlancar proses kajian, tetapi seringkali kondisi data yang ada itu telah rusak sebagian, atau hilang. Begitupun dari data yang ada dan masih bertahan hingga kini belum tentu juga dapat dipergunakan dalam kajian, karena memang tidak sesuai dengan permasalahan yang akan dipecahkan. Dalam membahas perkembangan agama dari suatu lingkup kebudayaan, menurut disiplin antropologi sebaiknya harus memperhatikan lima butir unsur agama yang saling berkaitan satu sama lain. Kelima butir itu selayaknya diperhatikan sesuai dengan proporsi data yang tersedia, tergantung pada zamannya serta kualtitas dan kuantitas data yang tersedia. Bagan yang memperlihatkan lima butir unsur religi adalah sebagai berikut:
Bagan I: Unsur-Unsur Religi
SISTEM KEPERCAYAAN

UMAT AGAMA

EMOSI KEAGAMAAN

PERALATAN RITUS & UPACARA

SISTEM RITUS & UPACARA

[Koentjaraningrat, 1980: 80—3]

Apabila dikembalikan kepada ketersediaan data sudah tentu tidak semua butir tersebut dapat dikaji secara baik. Jika membicarakan perkembangan agama di masa silam, tentunya yang masih dapat diamati secara langsung adalah sisa peralatan ritus dan upacara. Sistem kepercayaan yang mungkin termaktub dalam kitab-kitab keagamaan, dan sedikit tentang sistem ritus dan upacara 111

untuk tetap mencoba menjelaskan pula butir-butir tersebut. masih mungkin untuk dikaji. Tahapan prasejarah yang paling penting di Indonesia adalah masa bercocok tanam tingkat lanjut yang bersamaan dengan berkembangnya kepandaian perundagian. 7. apalagi emosi keaagamaan agak sukar untuk dikemukakan dan dikaji. langkah kehidupan dan lain-lain. Dalam periode tersebut mulailah terbentuk komunitas-komunitas yang teratur dipimpin oleh ketua kelompok. Jadi mereka tidak mungkin datang ke wilayah-wilayah yang sepi penduduknya.Jurnal Lektur Keagamaan. 1. kepada tokoh itulah masyarakat bertanya perihal berbagai hal. Dalam kondisi peradaban masyarakat yang relatif maju seperti itulah pengaruh kebudayaan luar mulai diperkenalkan oleh para musafir India. Walaupun demikian ahli para peminat sejarah kebudayaan harus berupaya semampunya dengan --berdasarkan data yang ada-. No. Kemudian terdapat masyarakat biasa yang menjadi rakyatnya. 2009: 109 . emosi keagamaannya pun sukar digali kembali. sebab masyarakatnya telah tiada. dianggap mempunyai banyak pengalaman. apabila tidak maka tiada mungkin dilakukan. dan luas wawasannya. Agaknya para niagawan dari India atau Cina tersebut berkunjung ke komunitaskominitas nenek moyang bangsa Indonesia yang dapat dianggap berinteraksi. rumah-rumah mereka panggung.132 yang dalam penafsirannya harus meminta bantuan analogi pada masyarakat masa kini. Vol. Penduduk kepulauan Indonesia masa itu telah menetap dan membentuk perkampungan. Masa tersebut sangat mungkin dimulai sekitar tahun 500 SM hingga ditemukannya aksara pertama dalam prasasti di wilayah Indonesia (sekitar abad ke-4 atau 5 M). Babakan Perkembangan Kebudayaan di Indonesia Perkembangan kebudayaan Indonesia diawali dan didasari pada kebudayaan prasejarah. fenomena alam. Sedangkan gambaran umat agama. Nenek moyang bangsa Indonesia merasa tertarik dan 112 . Bantuan analogi itu dilakukan dengan syarat masyarakat yang dijadikan bahan komparasi masih melaksanakan praktek keagaaman yang mirip dengan agama-agama masa silam. Sang pemimpin didampingi oleh seseorang yang dituakan. Kontak-kontak dengan para musafir dari India dan Cina sangat mungkin mulai terjadi di awal tarikh Masehi.

. di wilayah Sumatra bagian utara telah berdiri kerajaan Islam pertama di Nusantara. Berdasarkan sumber-sumber tradisi dapat diketahui bahwa wilayah Indonesia Timur (Nusa Tenggara dan Maluku) menerima Islam karena upaya para mubalig dari pesantren-pesantren di Jawa Timur. Kemajuan arsitektur bangunan suci juga didasarkan pada kaidah keagamaan Hindu atau Buddha. dan wilayah Kalimantan Timur. dan di bagian-bagian lain Indonesia mungkin masih dalam zaman proto-sejarah (beberapa daerah telah dicantumkan dalam kakawin Nāgarakrtāgama yang selesai digubah oleh Mpu Prapanca tahun 1365 M). dan bangunan pahat batu (rock-cut) yang digarap secara baik. Islam tidak berkembang dalam kurun waktu yang bersamaan di Nusantara. Zaman berkembangnya pengaruh India dalam masyarakat Indonesia kuna lazim dinamakan dengan zaman Hindu-Buddha atau zaman Klasik Indonesia. Hubungan niaga yang ramai antara wilayah Indonesia barat dan timur turut mempercepat proses penyebaran agama Islam. bangunan pe-tirtha-an (bangunan air suci). Sekitar pertengahan abad ke-13 M. Hanya tiga anasir budaya saja yang sebenarnya diterima dari kebudayaan India. Ketiganya benar-benar merupakan sesuatu yang baru. yaitu (1) agama HinduBuddha. (2) aksara Pallava. bernama Samudra Pasai. dan (3) sistem penghitungan tahun Saka. artinya tidak pernah dimiliki sebelumnya oleh masyarakat masa itu. Sebelum kedatangan Islam di wilayah-wilayah tersebut telah ada komunitas-komunitas membentuk sistem pemerintahan tradi113 . Seraya itu di Pulau Jawa masih berdiri kerajaan Singhasari yang bercorak Hindu-Buddha. namun perkembangannya semakin merata mulai abad ke-15 M. dalam hal ini raja dianggap sebagai dewa yang menjelma ke dunia. Sumber tradisi juga menyebutkan adanya peranan para ulama dari wilayah Sumatra Barat yang aktif menyebarkan Islam di Sulawesi Selatan. dalam hal ini bentuk-bentuk arsitektur candi yang tidak pernah sama antara satu bangunan dengan lainnya (unikum). bahkan niagawan itu sendiri adalah ulama penyebar Islam. — Agus Aris Munandar perlu untuk menerima kebudayaan dari India oleh karena itu mereka menerimanya. Berlandaskan ajaran agama Hindu-Buddha berkembanglah sistem pemerintahan kerajaan..Peran Penting Pernaskahan.Dalam jalur niaga tersebut turut serta para ulama penyebar Islam.

Walaupun demikian di Jawa juga terdapat daerah-daerah yang keislamannya relatif menonjol dengan sedikitnya pengaruh dari tradisi lama.Jurnal Lektur Keagamaan. tempat merebaknya kebudayaan HinduBuddha yang relatif lama. 2009: 109 . Aspek kebudayaan hasil perpaduan tersebut dirasakan sangat dominan dalam masyarakat tertentu. Di beberapa wilayah terdapat pula masyarakat yang masih mempertahankan aspek-aspek kebudayaan Hindu-Buddha yang telah dipadukan dengan anasir dari agama Islam. 1. maka terdapat fenomena adanya bentukbentuk akulturasi antara Islam dengan tradisi yang telah dikenal dalam agama Hindu-Buddha. misalnya digunakannya huruf Arab. cara berpakaian yang hampir menutup seluruh tubuh. Penggunaan ragam hias dari masa Hindu-Buddha seperti sulur-daun. Cukup banyak peradaban Nusantara yang mendapat pembaharuan dalam zaman awal perkembangan agama Islam. No. Dalam proses dinamika kebudayaan bentuk-bentuk akulturasi tersebut sebenarnya turut memperkaya khazanah peradaban yang ada. Lain halnya di Jawa. tubuh makam (jirat) dan juga pada nisannya. tanpa adanya bentuk akulturasi dengan kebudayaan yang berkembang sebelumnya. 114 . bunga teratai dan lainnya lagi pada kepurbakalaan Islam seperti pada bangunan cungkup makam. diperkenalkannya sistem persenjataan dengan mesiu. Wacana Bentuk akulturasi ketika agama Islam sudah berkembang di Jawa dengan tradisi yang telah dikenal sebelumnya. antara lain terlihat pada penggunaan atap tumpang pada masjid-masjid kuna yang sebelumnya dipergunakan untuk menaungi candi-candi zaman Majapahit. 7. dikenalnya tahun Hijriah. Religi yang berkembang pun secara hipotetis masih merupakan pemuliaan terhadap arwah nenek moyang. Di beberapa wilayah Nusantara terdapat masyarakat yang sampai sekarang memeluk agama Islam secara taat. sehingga hampir-hampir menutupi agama Islam yang secara resmi dipeluk dalam masyarakat.132 sional yang masih bercorak tradisi perundagian. Ornamenornamen masa Hindu-Buddha juga masih dipertahankan di kompleks keraton Islam di Jawa. Vol. selain ajaran agama itu sendiri terdapat beberapa perolehan lainnya. bentuk meander. dan terbentuknya kota-kota pelabuhan baru tempat bermukimnya masyarakat yang telah memeluk agama Islam. tanpa melalui sistem kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha sebagaimana halnya di Jawa. tapak dara. Dengan demikian perkembangan kebudayaannya dapat dinyatakan dari masa prasejarah protosejarah sejarah dengan masuknya Islam.

lontara. Hampir seluruh wilayah Nusantara mempunyai lapisan kebudayaan yang dipengaruhi oleh agama Islam. salasilah. dan lain-lain. Di wilayah Jawa Tengah perkembangan Islam ditandai dengan berdirinya kerajaan Islam pertamanya. tambo. dan Arab. Akibatnya dapat dipahami apabila di wilayah tertentu Indonesia pengaruh kebudayaan Eropa (Belanda) jauh lebih kentara. Setelah pertumbuhan kebudayaan Hindu-Buddha menyusul kemudian masuk dan berkembangnya Islam yang berbeda-beda di tiap wilayah.. Masa pertumbuhan kerajaan Islam terentang antara abad ke13 hingga 17 M. yaitu Demak (sekitar tahun 1500 M) yang menurut sumber tradisi merupakan penerus kerajaan Majapahit. Dengan demikian proses akulturasi yang terjadi antara peradaban Eropa barat yang dibawa Belanda dengan kebudayaan daerah-daerah setempat tentunya berbeda dalam hal rentang waktu dan intensitasnya. atau kalaupun ada hanya bersifat tipis saja. Di luar Jawa dikenal karya sastra dalam bentuk hikayat. Begitupun masuknya kekuatan kolonial Belanda di wilayahwilayah Indonesia tidak dalam periode yang sama. kerajaan. tetapi Bali adalah daerah terakhir yang diduduki kekuatan Belanda setelah puputam Klungkung 1906 M.Peran Penting Pernaskahan. hanya beberapa saja yang dalam perkembangan kebudayaannya tidak mendapat pengaruh Islam. tentang berdirinya suatu kota. karya sastra-karya sastra umumnya ditulis dengan aksara Arab atau aksara Jawa dengan bahasa Melayu. Di Jawa selain dikenal bentuk kidung (puisi karya etnis Jawa). ada daerah yang lebih dahulu berkenalan dengan orang-orang Belanda. tidak seluruh wilayah Indonesia mengalami perkembangan kebudayaan 115 . babad kisah sejarah dari sudut pandang tradisional. Jawa. masuk dan berkembangnya Islam terjadi lebih kemudian.. mungkin ditandai dengan berdirinya Kesultanan Cirebon. juga dikenal bentuk suluk yang berisikan ajaran-ajaran tasawuf. dan lain-lain lagi. Dengan demikian diskusi tentang pembabakan dalam sejarah kebudayaan Indonesia merupakan hal yang agak rumit. dan jatuhnya istana Pakuwan Pajajaran sebagai ibu kota kerajaan Sunda pada sekitar tahun 1579/1580 M. peperangan. Akan halnya di wilayah Jawa bagian barat. — Agus Aris Munandar Dalam bidang kesusastraan masa Islam juga cukup maju. dalam masa itu banyak kerajaan Islam di kepulauan Indonesia yang silih berganti tumbuh dan berkembang.

7. Wilayah-wilayah tertentu mempunyai corak kebudayaan yang berbeda dari yang lainnya. walaupun terdapat beberapa daerah yang memiliki perkembangan yang hampir mirip. 3. No. maka garis perkembangan kebudayaan di wilayah-wilayah Indonesia menjadi bervariasi. Sebagai contoh berikut diuraikan bagan perkembangan kebudayaan di Jawa. Pulau Bali telah disebut-sebut keberadaannya oleh berita Cina dinasti T’ang dan prasasti-prasasti di Jawa dalam abad ke-8. Sedikitnya pengaruh kebudayaan luar. 4. pengaruh itu terjadi baru awal abad ke-20 M. Intensitas “pergaulan” yang relatif mendalam. Bagan II : Perkembangan Kebudayaan di Jawa Garis tersebut akan berbeda apabila dibandingkan dengan kebudayaan yang berkembang di Pulau Bali. 2009: 109 . 2. sebab Bali mempunyai perkembangan kebudayaan yang tidak banyak dipengaruhi anasir budaya luar. 1. Vol. namun prasasti yang ditemukan di Bali sendiri baru 116 . maka di Pulau Dewata masa proto-sejarahnya relatif lebih lama daripada yang berlangsung di Jawa. Masa “pergaulan” dengan kebudayaan luar berlangsung cukup lama. Berdasarkan adanya macam perbedaan tersebut.Jurnal Lektur Keagamaan. Terdapatnya etnis yang secara sadar menolak adanya pembaruan akibat pergaulan dengan kebudayaan luar tersebut. hal itu sangat mungkin terjadi karena: 1. Perkembangan kebudayaan di Bali terlihat dalam bagan berikut: Bagan III : Perkembangan Kebudayaan di Bali Apabila menelisik data sejarah dan arkeologi.132 dalam tahap-tahap yang sama.

secara ringkas dapat terlihat pada bagan berikut: Bagan IV : Perkembangan Kebudayaan di Wilayah Maluku Utara (Putuhena. Di wilayah Maluku utara perkembangan kebudayaannya pun berbeda pula dengan daerah lainnya. tokoh inilah yang mengalami masa transisi dalam sistem pemerintahannya. 1980) Masa protosejarah di wilayah Maluku utara agaknya berlangsung cukup lama (antara awal tarikh Masehi hingga sekitar abad ke14 M). sebab tercatat penguasa pertama di Ternate ialah Sultan Zainal Abidin (1486-1500 M). pada waktu yang bersamaan dengan tumbuh kembangnya kesultanan-kesultanan Islam. Tahapan perkembangan kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha tidak dimiliki di wilayah Maluku Utara. Buleleng. hal itulah yang sebenarnya menjadi salah satu masalah yang harus diperhatikan manakala hendak disusun suatu historiografi tentang kebudayaan. Begitupun di Bali tidak pernah berdiri kerajaan Islam sebagaimana di Jawa atau Sulawesi selatan. Masa kolonial lebih awal terjadi di daerah tersebut. seperti Klungkung. — Agus Aris Munandar dijumpai dalam tahun 835 S (913 M) dalam masa pemerintahan Sri Kesari Warmadewa (Goris 1965: 9).. semula dari sistem tradisional kolano ke bentuk kesultanan (Putuhena 1980: 268). ketika daerah tersebut telah dikenal dalam catatan para pendatang dan sumber-sumber tertulis etnis lain di Indonesia. karena politik perdagangan cengkeh bangsa-bangsa barat yang berebutan untuk menguasai Maluku Utara. Mengwi dan lain-lain.Peran Penting Pernaskahan.. Walaupun demikian tahap perkembangan kebudayaan 117 . Karangasem. Sementara itu bukti tertulis lokal yang menceritakan perihal daerah itu sendiri baru didapatkan pada paruh pertama abad ke-15 M. di Bali berkembang kerajaan-kerajaan kecil dengan latar belakang Hindu-Bali. Sudah tentu wilayah-wilayah lainnya di Indonesia akan mempunyai tahapan perkembangan kebudayaan yang berbeda-beda pula.

Nilai teori (ilmu 118 . Beberapa nilai yang dijadikan sudut pandang adalah: (1) nilai teori. (3) nilai seni. Semua aspek kebudayaan yang ditelaah dalam suatu historiografi kebudayaan sudah sewajarnya apabila mengikuti kronologi yang dapat dianggap “seragam” sejak masa prasejarah hingga zaman Kemerdekaan. (4) nilai ekonomi. (5) nilai kuasa.Jurnal Lektur Keagamaan. keputusan diambil dengan musyawarah warga. Sebab kronologi seperti itu merupakan kerangka besar yang dapat dijadikan patokan untuk penulisan sejarah kebudayaan Indonesia secara garis besar. diagram perkembangan kebudayaan di wilayah Indonesia sebelum masuknya pengaruh asing (baca: India) adalah sebagai berikut: Bagan V: Perkembangan Kebudayaan di Wilayah Indonesia sebelum Masuknya Pengaruh Asing Dalam diagram yang memperlihatkan masa prasejarah dan protosejarah tersebut terlihat nilai kuasa cukup rendah bersebrangan dengan nilai solidaritas yang tinggi. (2) nilai agama. pemimpin hanya melaksanakannya saja.132 seperti itu harus dijadikan acuan kronologis demi untuk memudahkan penulisan dan agar pembicaraan tidak berkembang menjadi tidak terarah. 2009: 109 . 7. Maklum masa itu rasa kebersamaan dari masyarakat manusia yang menghuni suatu permukiman sangat nyata. Vol. No. 1. Berdasarkan data yang ada. Nilai-nilai Penting dalam Kebudayaan Indonesia Sutan Takdir Alisjahbana (1982) pernah mengemukakan beberapa diagram yang berkenaan dengan perkembangan kebudayaan di Indonesia dipandang dari segi nilai-nilai. dan (6) nilai solidaritas.

karena manusia masa itu mungkin belum mengerti tentang konsep untung dan rugi. berlabuh di berbagai bandar antara India.Peran Penting Pernaskahan. Nilai seni belum begitu berkembang. yang ada adalah ekonomi barter yang setara. sedangkan nilai ekonomi pada masa perkembangan Islam di Nusantara cukup tinggi. Nusantara. karena itu bentuk-bentuk kesenian awal yang mengandung anasir estetika telah dibuat. Diagram itu berbeda bentuknya ketika diterapkan dalam kebudayaan masa perkembangan dan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia.. sedangkan nilai religi tinggi sebab masyarakat manusia masa itu kehidupannya masih diliputi oleh suasana religius. Banyak niagawan Islam yang berlalu-lalang membawa barang dagangan dalam kapal-kapal niaga mereka. Gagasan berestetika sudah barangtentu telah mulai muncul. dan Cina selatan. — Agus Aris Munandar pengetahuan) masih rendah. Gambarannya sebagai berikut: Bagan VI: Perkembangan Kebudayaan di Wilayah Indonesia pada Masa Kearajaan-Kerajaan Islam Dalam Bagan VI diperlihatkan bahwa nilai seni tidak terlalu berkembang. Diagram-diagram itu pada dasarnya hendak menunjukkan secara visual bahwa perkembangan kebudayaan di Indonesia berbeda pada tiap periode. bahkan ada beberapa pembatasan berkesenian. Oleh karena itu tiap periode dalam mempunyai 119 . Nilai ekonomi pun rendah. sebab data yang tersedianya pun berbeda pula. kebudayaan manusia berada dalam tahapan mitos.. walaupun bentuk-bentuk awal berkesenian telah dirintis oleh masyarakat manusia. Asia Tenggara.

pastinya akan berbeda-beda dalam setiap masa. menara.132 kekhasan dan fokus perhatian yang berbeda-beda apabila hendak dituangkan dalam suatu kajian ilmu masa lalu. berbagai ornamen dan sebagainya. mitos. dan lain-lain. legenda. baik sejarah ataupun arkeologi. Para peneliti hendaknya mampu menggunakan ketiga macam data tersebut sesuai dengan tujuan studi. Tradisi lisan memang dipandang mutunya lebih rendah daripada kedua data lainnya. 3. Arkeologi Islam Indonesia Sebagai Arkeologi-Sejarah Dalam kajian arkeologi terdapat data utama yang penting. Contoh data dalam bentuk tradisi lisan adalah dongeng. Sebab tidak semua macam data itu tersedia dalam bobot yang sama. misalnya dalam prasasti (piagem) karya-karya sastra. mushalla. peribahasa dan lainnya. Wacana Dalam melakukan kajian jenis data ketiga.Jurnal Lektur Keagamaan. atap ketiga (puncak) dahulu hancur karena tersambar oleh tongkat Sunan Gunung Jati. Data arkeologis seperti bangunan masjid. kolam wudu. yaitu data kebendaan yang lazim disebut artefak.akan ditemukan data yang dapat menyokong sumber tertulis dan data arkeologis. Data yang tersirat dalam berbagai sumber tertulis. 2. 7. sisa istana. goa pertapaan. Vol. teka-teki. dan dalam setiap perkembangan masyarakat yang mengusung kebudayaan sezaman. 1. dan bangun penafsiran yang diharapkannya. 2009: 109 . berita asing. yaitu berita tradisi lisan seringkali diabaikan. Artefak secara sederhana dapat diberi batasan sebagai benda hasil karya manusia masa 120 . No. Misalnya di Cirebon terdapat legenda bahwa atap tumpang masjid Sang Cipta Rasa hanya dua. walaupun demikian tetap perlu diperhatikan mengingat di dalamnya -jika dicermati dengan baik. Tradisi lisan yang masih mungkin mengendap dan merupakan ingatan bersama (collective memory) dalam masyarakat baik di Jawa ataupun di Bali. permainan rakyat. yaitu : 1. Data yang sudah sewajarnya diperhatikan dalam mengkaji arkeologi-religi masa perkembangan Islam di Indonesia dapat dibagi dalam tiga jenis.

piagem. Kajian arkeologi-sejarah di Indonesia meliputi masa perkembangan agama Hindu-Buddha dan juga masa perkembangan Islam. arsip. Walaupun telah ada bukti tertulis kajian arkeologi-sejarah tetap mendasarkan data utamanya kepada objekobjek kebendaan (artefak). Oleh sebab itu. juga memanfaatkan data informasi sumber tertulis berbentuk prasasti. Bagan VII: Unsur-Unsur Arkeologi Islam 121 .Peran Penting Pernaskahan. naskah-naskah kuno. Jadi pada prinsipnya kajian arkeologisejarah berada dalam periode ketika di suatu bangsa telah mengenal bukti-bukti tertulis. dan bentuknya bermacam-macam sesuai dengan keperluan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.. dinamakan arkeologi sejarah yang berarti kajian arkeologi yang memanfaatkan juga sumber-sumber sejarah. dipergunakanlah data dari berbagai sumber tertulis sezaman yang mungkin mendukung kajian terhadap artefak. Apabila kajian prasejarah sepenuhnya mempelajari artefak melalui berbagai metode untuk menelaah artefak. surat-surat kerajaan atau pribadi. — Agus Aris Munandar lalu. yaitu Arkeologi-Prasejarah dan Arkeologi-Sejarah (historical archaeology). peta kuno. maka kajian arkeologi-sejarah selain bertumpu kepada kajian artefak.. yaitu berbagai berita tertulis. dan lain sebagainya. lalu untuk pemahaman lebih lanjut tentang sesuatu artefak. Sebagaimana diketahui bahwa ilmu arkeologi terbagi dalam dua ranah besar. dan sudah barang tentu masa kolonial dan masa selanjutnya dalam era Republik Indonesia. berita asing dokumen.

No. dan menyebar. c. Artefak bergerak. f. wayang. dan lain-lain. Peninggalan khazanah keislaman itu antara lain berupa: 1. kereta. kursi. i. c. d. jadi bukannya data tertulis. Cungkup makam. terdiri dari: a. rak. Jalan sebagai acuan kota. Alat transportasi: palangka. 7. Sistem perbentengan. artefaktual merupakan data utama yang penting. 122 . Alun-alun sebagai pusat kota. b.Jurnal Lektur Keagamaan. dipan. Dalam kajian arkeologi Islam banyak data yang berupa kebendaan. Hasil seni kriya: ukiran. 2009: 109 . Gapura dan pagar keliling. Tugu peringatan. konsentris. dan benda-benda penanda kebesaran raja/sultan. Istana dan bangunan-bangunan di dalamnya. Hiasan bangunan. pahatan stilasi. h. topeng. tenun. Taman dan bangunan air. i. d. Senjata. Keramik asing ataupun lokal. Bedug. sketsel. 2. perahu. Vol. Furniture: meja. untuk mengungkapkan pencapaian peradaban yang telah direngkuh oleh masyarakat pada masanya. Apabila data tertulis yang digarap terlebih dahulu. e. g. 1. Heraldik: panjí-panji. Maksurah. Makam dan kompleks makam. g. Penataan istana yang linear. kentongan dan waditra lainnya. e. Menara masjid.132 Secara prinsipil terdapat beberapa kepurbakalaan masa silam yang dapat dihubungkan dengan periode perkembangan dan kerajaan-kerajaan Islam Nusantara. h.Tata Kota & Penataan Istana a. c. Masjid kuno. lambang. Kepurbakalaan itulah yang merupakan data kajian utama arkeologi Islam. Monumen terbagi menjadi: a. Mimbar kayu. b. 3. batik. f. j. b.

Dalam telah arkeologi. — Agus Aris Munandar maka kajian itu bukan lagi arkeologi.. Kelompok pengguna yang memanfaatkan dan mengapresiasi bangunan-bangunan tersebut. istana. Misalnya kajian terhadap Masjid Demak. menara. 3. gapura. menara. gapura. terdapat relief yang menggambarkan sepasang “halilintar” pada daun pintu tengah masjid. (c) sejarah dan peranannya dalam proses penyebaran Islam. Dinding tembok hanya berfungsi sebagai penyekat antara ruang dalam dan ruang serambi masjid. melainkan sejarah atau filologi. Masjid Sang Cipta Rasa di Cirebon mempunyai keistimewaan sebagai berikut: 1. dan selatan). (d) keistimewaannya: antara lain adanya figur bulus (kura-kura) pada dinding belakang mihrab yang berbobot angka tahun 1401 Saka. 123 . istana. maka sang peneliti harus mampu mengungkapkan kehadiran data arkeologis dalam konteks sejarah kebudayaan Islam di suatu daerah dan pada suatu masa tertentu.. Sebagaimana masjid kuno lainnya. makam dan lainnya 2. timur. Kajian secara umum terhadap kepurbakalaan monumental dari masa awal perkembangan Islam dan masa kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia dapat membawa kepada pemahaman akan: 1. 4. adanya penggunaan tiang-tiang dengan gaya ukiran Majapahit pada serambi depan masjid. Bentuk arsitektur masjid. terutama dalam hal latar belakang pembangunan monumen dan juga beberapa keistimewaannya. salah satu dari keempat soko gurunya merupakan tatal (serpihan kayu yang disatukan).Peran Penting Pernaskahan. dan lain-lain 3. maka dapat diketahui tentang (a) bentuk arsitektur. terdapat pula pemahaman yang lebih khusus lagi. tidak sebagai penopang atap. Pada dinding penyekat tersebut terdapat sembilan pintu rendah (tiga pintu di sisi utara. masjid ini mempunyai empat Soko Guru 2. Selain pemahaman umum tersebut. apabila melakukan studi terhadap suatu monumen. Bahan yang digunakan pada bangunan-bangunan tersebut. Demikianlah beberapa pemahaman umum yang mungkin dihasilkan dalam ranah arkeologi-sejarah. (b) bahan. Langgam arsitektur bangunan masjid.

2. Keraton umumnya terbagi ke dalam tiga penataan halaman. Kompleks makam tokoh-tokoh yang berhubungan dengan penyebaran agama Islam (para wali) dan juga pemakaman keluarga raja. 2009: 109 . 4. dan belakang. (2) Kedua bentuk gapura tersebut merupakan kelanjutan bentuk-bentuk pintu gerbang yang telah dikenal dalam zaman perkembangan kebudayaan Hindu-Buddha di Jawa. 2.132 3. Kompleks makam Sunan Drajat di Gunung Muria. Bangunan-bangunan penting terdapat di halaman paling belakang. Terdapat beberapa keraton yang dikelilingi tembok benteng (Surasowan di Banten dan Kuto Besak di Palembang) Kajian terhadap pintu gerbang (gapura): (1) dapat diketahui bahwa gapura yang berbentuk Candi Bentar (di Cirebon disebut Lawang Seketeng) selalu terletak di halaman paling depan. tengah. adapun gapura beratap (di Bali dinamakan Kori Agung. 3. atau lereng pegunungan sebagai lokasinya. yaitu halaman depan. antara lain. Pada bagian bingkai atas ceruk (ruang) mihrab terdapat ornamen yang merupakan stilasi dari bentuk kala-makara. Hal ini dapat diketahui berkat adanya kajian arkeologi Islam terhadap kompleks-kompleks makam yang masih ada hingga sekarang. Keraton-keraton luar Jawa umumnya berupa bangunan panggung dengan ukuran besar. di Cirebon disebut Lawang Bledeg) terdapat di lingkungan dalam. Kompleks makam yang terletak di lokasi ketinggian antara lain adalah: 1. 3. 7. 4. Kasultanan di Yogjakarta dan Kasunanan di Surakarta). Kompleks makam Sunan Giri di Gresik. yaitu: 1. memilih dataran tinggi. Adapun kajian terhadap keraton di Jawa dapat diungkap adanya beberapa pengetahuan lain di luar pengetahuan utama.Jurnal Lektur Keagamaan. 1. bukit. 4. 124 . mislanya bangunan persemayaman raja dan keluarganya dan bangunan induk keraton (Keraton Kasepuhan dan Kanoman di Cirebon. Semula di bagian depan pintu masjid yang terletak di sisi timur terdapat kolam untuk mengambil air wudlu. No. mengarah ke daerah inti istana atau kompleks makam. Kompleks makam Sunan Bayat di Klaten. Kompleks makam Sunan Gunung Jati di Gunung Sembung. Vol.

4. dan sebagainya Dalam masa perkembangan Islam di Indonesia. 6. Di-Hyang. dan meriam Ki Amuk di Banten Lama. 2. khususnya meriam. pedang.. apa lagi diperkuat dengan kepercayaan bahwa tempat tinggi adalah simbol Gunung Mahameru yang dipuncaknya bersemayam para dewa dalam Swarloka. Kompleks makam Imogiri di Yogjakarta. Selain keris senjata tajam lainnya misalnya tombak bermata tunggal. keris juga dikenal di berbagai etnik lain di Nusantara dan telah banyak buku yang dihasilkan para peneliti dan peminat tentang keris. 3. Konsepsi itu agaknya terus bertahan ketika Islam berkembang di Tanah Jawa. Secara konsepsi hal ini agaknya dapat dijelaskan bahwa adanya kesinambungan penghormatan kepada tempat-tempat tinggi yang dianggap sebagai tempat keramat. bermata tiga (trisula). setidaknya bukan nama diri seniman. Kompleks makam Sunan Sendang di Bojonegoro. Kajian kepada kepurbakalaan yang berupa artefak bergerak akan membawa kepada pemahaman: 1. — Agus Aris Munandar 5. Asal gaya seni artefak tersebut. Konsep itu terus bertahan ketika agama HinduBuddha berkembang. bermata ganda (dwisula). namun nama kelompok pengrajinnya. Pembuat artefak tersebut. Studi terhadap berbagai meriam dari era kerajaan Islam di Nusantara di masa mendatang akan membawa kepada pengetahuan tentang sistem persenjataan berat 125 . oleh karena itu tokoh-tokoh yang telah wafat dimuliakan dalam kompleks makam yang terletak di ketinggian. Tentu saja di Jawa senjata yang paling populer adalah keris.Peran Penting Pernaskahan. golok. Maka dikenal adanya meriam buatan local seperti meriam Pancawura yang ada di keraton Kasunanan Solo. Telaah arkeologi terhadap senjata yang dipergunakan dalam masa perkembangan Islam menghasilkan kepada bentuk-bentuk senjata tajam yang pernah digunakan masyarakat. Penggunaan dalam masyarakat pendukungnya. Iyang). Dalam zaman prasejarah ada penjelasan yang menyatakan bahwa tempat-tempat tinggi adalah lokasi yang layak bagi persemayaman arwah leluhur (Parahyangan. perisai. senjata api telah pula digunakan.. meriam Si Jagur di Museum Fatahillah. Bentuk dan bahan artefak bergerak.

Bentuk seni kriya dalam masa per126 . Dalam bagan terlihat gagasan berada di bagian tengah. karena memang gagasan itu yang mendasari keempat unsur lainnya. jika tidak karya seni tidak mendapat penghargaan dalam masyarakat.132 dari kerajaan-kerajaan itu. 2009: 109 . Sebenarnya dalam kesenian dapat dinyatakan sebenarnya terdapat lima unsur yang saling berkaitan sebagai berikut: Bagan VIII: Unsur-Unsur Kesenian Kelima unsur itu saling berkaitan dan mengisi dalam menghasilkan suatu karya seni. gagasan. 1. 7. Vol. sehingga ada keterkaitan antara seniman. baik seni rupa ataupun seni pertunjukan.Jurnal Lektur Keagamaan. No. jadi tidak ada satu unsurpun yang diabaikan. Salah satu bentuk seni rupa yang sederhana namun memerlukan kecermatan adalah seni kriya. Keutuhan lima unsur kesenian dalam karya seni keislaman agaknya cukup diperhatikan oleh para penghasil karya seni keislaman di masa silam. terutama dalam sejarah perkembangan Islam di Nusantara. Demikian pula dalam mengekspresikan gagasan berkeseniannya seniman harus memilih bahan/media apa yang digunakan. media dan hasil karya seni. misalnya antara seniman dan masyarakat harus berada dalam “satu bahasa dan satu gagasan” apabila hendak mengapresiasi suatu karya seni. Adakah jumlah meriam yang dimiliki menandakan kebesaran dan kejayaan kerajaan tersebut? Dari masa perkembangan Islam di Jawa banyak dihasilkan karya seni.

bahkan sebagai iluminasi pada naskah-naskah Cirebon. batik.Peran Penting Pernaskahan. sisi barat alun-alun berdiri masjid agung. Bahkan kota-kota kabupaten di Jawa dalam masa kolonial pun banyak yang tetap mempertahankan pola penataan pusat kota demikian.. Seni kriya lainnya yang sering menjadi data kajian arkeologi Islam adalah pahatan kayu baik dalam bentuk relief atau ornamen lainnya. kereta milik sultan. Bangunan dalam kompleks istana umumnya digambarkan linear. Wayang kulit itu lebih mirip kepada simbol-simbol yang tidak sesuai dengan figur manusia sebenarnya. Surakarta. dimulai dari sisi paling utara merupakan bangunan-bangunan penyongsong tamu. figur wayang kulit gaya lama dari era Majapahit telah “dirombak” dan distilirisasi untuk disesuaikan dengan kaidah kesenian Islam. dan penjara. Mengenai tata kota dan penataan kompleks istana terdapat kajian tersendiri dalam bidang arkeologi Islam. contoh yang baik adalah figur-figur wayang kulit dan wayang golek Cepak gaya Cirebonan. — Agus Aris Munandar kembangan Islam banyak yang bertahan hingga sekarang. dapat dijumpai sebagai komponen hiasan keraton. lukisan kaca. dan Jogjakarta. Dalam penataan itu pusat kota adalah tanah lapang (alun-alun). Taman Sunyaragi.. bagian utara terdapat pasar tempat orang berniaga. Romli 2008: 19-20). Penataan kota-kota Islam di Jawa agaknya mempunyai pola yang telah baku. Bentuk hiasan khas Cirebon yang merupakan gabungan antara motif awan mendung dan batu-batu karang tersebut dikenal meluas dalam bermacam karya seni rupa. Banten. dan di tepi bagian timur alun-alun berdirilah bangunan-bangunan peradilan seperti kejaksan. Prototipe penataan kota Islam di Jawa itu sangat mungkin terjadi di kota Demak kuno (Adrisijanti M. Pola seperti ini terus diikuti oleh kota-kota kerajaan lainnya seperti Cirebon. kemudian bangunan bagian tengah kompleks 127 . dan ceritanya pun telah direkaulang untuk keperluan Islamisasi. Sebagaimana telah diketahui bahwa bentuk wayang kulit sekarang ini adalah gubahan Sunan Kali Jaga. Dari lingkup kesenian Islam masa Kesultanan Cirebon dikenal adanya bentuk-bentuk pahatan kayu yang mengambil figur dewa-dewa Hindu atau tokoh wayang yang telah sangat distilasi dengan gabungan bentuk mega mendung dan juga bentuk-bentuk wadasan (karang laut). di sisi selatannya terdapat bangunan kedaton atau istana.

bentuk dan ragamnya sangat beraneka. Vol. 5. Sajarah). Pengungkapan ekspresi estetika para penggubahnya. (b) Sunda. misalnya di Kutai Kertanegara. 3. (c) babad/sejarah tradisional (d) kisah wayang. (d) Bugis. Legenda. Isi yang dikandung tentang (a) ajaran agama Islam. Adapun pola penataan menyebar atau menghadap ke sungai terjadi pada istana-istana kerajaan Islam yang terdapat di luar Jawa. (d) Bugis. Berikut data penting tentang manuskrip masa Islam: Aksara yang digunakan antara lain: (a) Arab dan keturunannya. (h) obat-obatan. Tujuan penulisan naskah-naskah Nusantara itu antara lain untuk: 1. 1. Banten Lama. Bahasa juga beraneka. Mengingat dan mengakumulasi pengetahuan tertentu yang telah diketahui oleh penggubah atau masyarakat sekitarnya. Tambo. 2009: 109 . Bentuknya dalam prosa ataupun puisi dengan aturan prosodi tertentu. (b) tarikh nabi-nabi dan sahabatnya. dan paling dalam adalah bangunan-bangunan utama dan tempat tinggal raja dan kerabatnya sehari-hari. Pola penataan bangunan keraton memusat misalnya terdapat di kompleks keraton Surasowan dan keraton Kaibon. begitupun juga mengenai isinya. (c) Melayu. 7. Sambas. (e) dan lainnya. (b) Jawa. No. (c) Lampung. Hikayat. dan kaum kerabatnya. (e) dan berbagai bahasa daerah lainnya. Penyusunan kisah sejarah tradisional dengan berbagai sebutannya (Babad. Sebagai upaya untuk menyebarkan ajaran keagamaan Islam. dan Pontianak. sultan. Memberikan legitimasi tentang kuasa yang dimiliki oleh para raja. Peranan data dari sumber tertulis dalam kajian arkeologi Islam dapat dijelaskan sebagai berikut: 128 . Pola seperti ini terlihat di kompleks keraton Kasepuhan dan Kanoman Cirebon. keraton Surakarta dan Yogjakarta dan juga di kompleks Keraton Sumenep di Madura.Jurnal Lektur Keagamaan. (e) kisah binatang (f) kisah penglipur lara/jenaka (g) undang-undang. Semua bangunan keraton dilingkungi tembok benteng dan semuanya terintegrasi dalam suatu area kedaton. antara lain (a) Jawa. 4.132 yang merupakan pendukung aktivitas istana. (j) dan lainnya. 2. (i) uraian tentang mistik dan tasawuf. Dalam hal khazanah naskah Islam di Nusantara.

tahapan ini sudah tentu memadukan data dari berbagai sumber. (c) Data dari sumber tertulis dapat menjadi dasar penelitian dan kerangka acuan kajian arkeologi Islam Uraian dari sumber tertulis ada yang dapat dijadikan pegangan bagi kajian arkeologi di lapangan.. dapat dibantu diterangi lewat kajian dari sumber tertulis. (d) Memperkaya interpretasi untuk dapat mengembangkan historiografi Kajian arkeologi-sejarah atau pun sejarah diakhiri dengan tahap historiografi.Peran Penting Pernaskahan. maka pemahaman pun terbatas. Peranan data dari sumber tertulis menjadi penting dalam tahap historiografi. (b) Memperluas pemahaman tentang kedudukan dan peranan artefak dalam masyarakat sezaman Merupakan suatu keniscayaan yang terjadi. Contoh: dapat dipahami bahwa di situs Trowulan peninggalan Majapahit terdapat kompleks pemakaman Islam Troloyo. Contohnya dalam kajian arkeologi Islam ditemukan makam Islam kuno. jika kajian hanya menyandarkan diri kepada data arkeologi. Dalam naskah Babad Tanah Jawi terdapat penjelasan bahwa salah seorang Raja Majapahit masa akhir telah menikah dengan putri Champa yang memeluk Islam. kecuali masjid agungnya yang masih berdiri megah hingga kini. Dengan menelisik sumber-sumber tertulis maka diperoleh lagi pemahaman yang lebih luas tentang sesuatu artefak. Temuan dari naskah dapat juga menjadi kerangka acuan yang harus dibuktikan oleh para arkeolog.. namun kajian arkeologi hingga sekarang masih belum dapat membuktikan di mana lokasi tepatnya kedaton tersebut. Misalnya dari Babad Demak diuraikan bahwa di kota Kerajaan Demak terdapat pula kedaton tempat bersemayamnya para penguasa. karena bagian-bagian yang berdasarkan telaah arkeologi masih gelap. — Agus Aris Munandar (a) Pendukung kajian terhadap data artefaktual Dalam hal ini data dari sumber tertulis tersebut dijadikan bahan untuk membantu “menjelaskan” artefak dari masa perkembangan Islam. Pada akhirnya dapat membuka interpretasi baru dan 129 . menurut uraian penduduk adalah makam putri Champa. sebab menurut berita Cina dalam masa kejayaan Majapahit pun telah banyak orang-orang Islam yang bermukim dan berniaga di kota itu.

misalnya terhadap masjid-masjid kuno. atau perlu dilakukan kajian ulang atau interpretasi baru. Hal yang perlu dikemukakan kepada masyarakat pendukung living monument adalah prinsip pelestarian dan kepentingan ilmu pengetahuan yang juga harus dijaga. mungkin terdapat makna lain yang mendalam dan bukan sekedar bangunan untuk melengkapi Taman Raja.Jurnal Lektur Keagamaan. memang para peneliti Belanda telah merintis kajian tersebut sejak awal abad ke-20 M. Dalam pada itu data arkeologi Islam yang terdahulu pun banyak yang masih belum dikaji secara tuntas. bahkan telah dipugar secara baik. Masjid kuno. bahkan pembangunan baru. Misalnya kajian data arkeologi terhadap monumen Gunongan yang dibangun dalam masa Kesultanan Aceh telah cukup memadai. Vol. Hal ini sebenarnya merupakan permasalahan lama. tetapi banyak temuan baru yang terus bermunculan hingga kini dan menunggu untuk dikaji. No. 2009: 109 . Kedua prinsip itu jelas harus berjalan berdampingan dengan aspek pemanfaat dan aktualisasi zaman. dan (b) living monument. istana. oleh karena itu hasilnya adalah bangunan baru sama sekali tanpa menyikan unsurunsur kunonya. Akan tetapi kajian terhadap peranan dan fungsi monumen tersebut dalam masanya masih dapat diperbincangkan lagi. para arkeolog telah membagi dua macam munumen. Dalam melakukan perbaikan atau pemugaran tersebut kerapkali kaidah keilmuan (ilmu arkeologi) diabaikan. oleh karena itu lumrah saja apabila mereka melakukan perbaikan-perbaikan.132 memperluas narasi historiografi untuk dapat dijadikan bahan diskusi lebih lanjut. dan gapura. Kecenderungan meluas justru terjadi “pemugaran” terhadap masjid-masjid tua oleh masyarakat penggunanya sendiri. yaitu (a) dead monument. dan monumen lainnya dari masa perkembangan Islam masih dipergunakan dan dirawat oleh para pendukungnya. Jadi apabila telah terjadi “pemugaran” terhadap suatu masjid kuno oleh masyarakat dengan mengabaikan 130 . Dewasa ini terdapat kecenderungan masyarakat untuk memperbaiki monumen-monumen kuno Islam yang dipandang sudah lapuk atau rusak. makam. Epilog Kajian arkeologi Islam di Nusantara sudah pasti dapat dikembangkan lagi. penambahan. 1. istana. 7. makam.

“Sejarah Agama Islam di Ternate”. Jika saja hal itu terjadi. 1994. Metodologi Sejarah. Shaleh A.2. Alisjahbana. Yogjakarta: Tiara Wacana. M. London: Tavistock Publications.. Perhatian dan apresiasi terhadap pengembangan arkeologi Islam itu harus juga ditularkan kepada warga masyarakat oleh siapapun yang berminat dalam arkeologi Islam. sehingga bukti-bukti masa awal perkembangan Islam di wilayah Nusantara tidak terkikis habis oleh pembangunan dan modernisasi.. Putuhena. Jakarta: Dian Rakyat. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. No. “Religion: Problems of Definition and Explanation”. Jakarta: Sekar Budaya Nusantara & FIB UI. dalam Majalah Budaya Bende Vol. 131 . S. Romli. Takdir.[] Daftar Pustaka Adrisijanti M. R. Maret. Sejarah Teori Antropologi I. — Agus Aris Munandar prinsip pelestarian dan ilmu pengetahuan. Spiro. Ancient History of Bali. Antropological Approaches to the Study of Religion. Sejarah Kebudayaan Indonesia: Dilihat dari Segi Nilai-nilai. Goris. 1980. Kuntowijoyo. “Puncak-puncak Prestasi Kesultanan Demak dalam Bidang Budaya”. Langkah-langkah di masa mendatang untuk memajukan kajian arkeologi Islam dan menjaga data khazanah artefak serta manuskrip keislaman lainnya.. 2008. dalam Michael Bunton (Penyunting). hal itu terjadi karena ketidaktahuan masyarakat tentang studi arkeologi Islam. 1977. Udayana University. tidak hanya harus dilakukan oleh pemerintah dan pihak-pihak terkait. maka bangsa Indonesia telah melupakan jatidiri sejarah keislaman dan bukti-bukti kehadiran agama Islam pada awalnya. Jakarta: Bhratara. 1980. Denpasar: Faculty of Letters. 1982. 1965. dalam Majalah Ilmu-Ilmu Sastra Indonesia (MISI). Halaman 18—21. mungkin hal itu bukan akibat kesalahan masyarakat semata. Desember. Halaman 85—126. Koentjaraningrat. padahal dunia telah mengakui bahwa Indonesia adalah negara Islam dengan penduduk terbesar di dunia. 3: 263—76. Melford E.4 No.Peran Penting Pernaskahan. Jilid VIII.

2009: 109 . No. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. 1986. Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 132 . Uka. Sepintas Mengenai Peninggalan Kepurbakalaan Islam di Pesisir Utara Jawa. 1. 7. Vol. 3.132 Tjandrasasmita.Jurnal Lektur Keagamaan.

Sebagai ilmu. ornamen. Kata kunci: Arkeologi. Selain itu. nisan. keraton (also palace) and ancient mosques as well as Islamic sites such as the Old Banten (Banten Lama) and Lobu Tua. artefacts such as the coins. situs. Depok This article explains about how archeology has its own role in the study of Islam in Indonesia. This archeological study tries to dismantle the history of the past humankind by using material culture. material culture.Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara Irmawati M-Johan Universitas Indonesia. akan dikemukakan pula berbagai penelitian yang telah dilakukan selama ini yang berkait dengan Islam di Nusantara. Bisides that. some researches that have been conducted on Islam in Indonesia will be presented too. Sebelum lebih jauh menyampaikan apa peran arkeologi dalam kajian Islam di Nusantara. terlebih dahulu akan dijelaskan apa yang menjadi perhatian arkeologi dan apa yang sebenarnya dikaji dalam penelitian-penelitian arkeologi. Some researches that have ever been conducted are dealing with Islamic epigraphy such as ancient gravestones. mesjid kuno. porcelains and so on. In addition to that. keraton Pendahuluan Tujuan dari tulisan ini adalah menjelaskan bagaimana peran arkeologi dalam kajian Islam di Nusantara dan hal-hal apa saja yang menjadi kajian arkeologi. efigrafi. arkeologi merupakan ilmu yang mempelajari manusia dan masyarakat masa lalu melalui tinggalan budaya materi 133 . some archeologists try to develop the study of Islamic sites as the branch or archeolgy through excavation. This article also explains the aspects that become the object of the study of archeology. the buildings of the mosque. palaces. The material culture this writing means are the gravestones. the building of palaces.

Setelah itu. 2003: 456-552).146 (material culture) seperti bangunan-bangunan. tembikar dan lain-lain. Selain itu. Material Culture Ada beberapa jenis material culture dari masa Islam yang menjadi perhatian para arkeolog Indonesia. Colin Renfrew dan Paul Bahn (2003) menyebut arkeologi sebagai bentuk past-tense dari antropologi budaya yang juga mempelajari masyarakat dan kebudayaan manusia.Jurnal Lektur Keagamaan. No. ada pula yang mengembangkan kajian situs Islam sebagai kajian arkeologi melalui ekskavasi. 1912: 536-548). alat-alat dan artefak lainnya. Dalam usahanya memahami kehidupan manusia masa lalu. Moquette pada tahun 1912 mengkaji nisan kubur di Samudra Pasai dan nisan kubur Malik Ibrahim di Gresik yang dianggap memiliki persamaan dalam cara menuliskan huruf dan kalimat-kalimat dengan nisan Umar bin Ahmad al-Kazaruni di Cambay (Moquette. 2003: 12-3). Tjandrasasmita. yaitu sejarah manusia secara luas yang dimulai sejak tiga juta tahun yang lalu. Karena mempelajari masa lalu maka arkeologi juga merupakan bagian dari sejarah. 7. Vol. 2009: 133 . Pendapatnya ditegaskan lagi 134 . sistem sosial dan sistem simbol dan ideologi (Sharer & Ashmore.Di mulai pada tahun 1910 yang dilakukan oleh Van Ronkel yang membaca nisan kubur Malik Ibrahim di Gresik yang mencantumkan angka tahun wafatnya yaitu 1511 M (Ronkel. Menurut Sharer & Ashmore (2003) ada tiga hal yang direkonstruksi oleh arkeologi. bangunan istana. yaitu sistem teknologi dan lingkungan. arkeologi mencoba menganalisa data yang diperoleh dari penelitiannya untuk merekonstruksi berbagai hal. Untuk itu kita dapat melihat selintas kajian-kajian apa yang telah dilakukan terhadap tinggalan budaya Islam. mata uang. bangunan masjid. antara lain nisan-kubur. 1910: 596-600. Nisan Kubur a. Selain itu arkeologi juga merupakan bagian dari science karena menggunakan kaidah-kaidah ilmu pengetahuan dan metode yang scientific dalam menganalisis dari penggunaan carbon dating hingga studi tentang residu makanan (Renfrew & Bahn. 1977: 108). artefak seperti. 1. Epigrafi Kajian tentang nisan sudah sejak awal telah dilakukan terutama para ahli kebangsaaan Belanda. 1.

Sumbangan J. Tjandrasasmita. Tjandrasasmita. Pada tahun 1919 Moquette menyampaikan hasil penelitiannya tentang makam tertua di Jawa yaitu Fatimah binti Maimun bin Hibatullah yang wafat 495 H (1102 M) berhuruf Kufi (Moquette. Jawa Timur. Paul Ravaisse (1925) telah melakukan kajian tentang makam Malik Ibrahim dengan melakukan pembacaan inskripsi yang terdapat pada nisan serta mencoba untuk “membaca” beberapa ornament lampu yang terdapat pada nisan tersebut dan mengatakannya bahwa ornament ini adalah symbol dari surat An-Nur (cahaya) (Ravaisse. dan lain-lain yang dikaitkan dengan sumber tertulis Kitab Bustanus-Salatin dan Tajus-Salatin (Moquette. Sultan Ala’udin al-Khahar (979 H/1571 M). dan menemukan makam raja-raja yang pernah memerintah Aceh seperti Sultan Ali Mughayat Syah yang wafat 936 H (1530 M).P Moqutte pada tahun 1913 yaitu pada nisan Sultan Malik as-Salih yang mencantumkan angka tahun wafatnya pada tahun 696 H (1297 M ) dan nisan Sultan Malik az-Zahir putra Sultan Malik as-Salih yang wafat pada tahun 726 H (1326 M).80). Sultan Ali Ri’ayat Syah (987 H/1579 M). 1977: 108). Tjandrasasmita. Pembacaan nisan-nisan yang terdapat di Samudra Pasai juga dilakukan oleh J. Penelitian pada tahun 1955 selanjutnya di lakukan L. 1921: 391-399. 1925: 668-703). Sumbangan penelitian Moquette yang penting adalah mengidentifikasikan bahwa Sultan Malik As-saleh adalah Sultan pertama di Samudra Pasai yang dikaitkan dengan Sejarah Melayu dan Hikayat Raja-Raja Pasai (Moquette. 1913. 1914: 73.Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan dalam penelitiannya pada tahun 1920 dan mengatakan bahwa nisannisan di Samudra Pasai dan Gersik berasal dari Cambay (Gujarat ) (Moquette. Damais tentang nisan-nisan di Troloyo.J Krom dan memberikan penafsiran baru terhadap nisan-nisan yang ada. 1977: 111).P Moquette yang lain adalah penelitiannya tahun 1914 ke Kuta-Raja Aceh. Keberadaan makam-makam ini membuktikan bahwa pada masa Majapahit yaitu pada masa kejayaan Hayam Wuruk di Jawa sudah ada orang-orang Islam yang dimakamkan dalam lingkungan yang dekat dengan 135 . Ia membaca ulang hasil pembacaan para ahli terdahulu N. Menurut hasil penelitiannya angka tahun yang tertua adalah 1296 S (1376 M) dan yang angka tahun termuda adalah 1533 S (1611 M).C. 1920: 44-47. 1977: 111).

Hal ini merupakan data penting bagi perkembangan sejarah Islam di Indonesia (Ambary. 1998: 174).146 keraton. 1995: 223-289. No. Nisan Fatimah binti Maimun bin Hibatullah yang ditulis dalam huruf Kufi ornamental yang bagian ujungnya dibentuk ikal di Leran telah dibaca oleh Paul Ravaisse memiliki penanggalan 475 H (1082 M). 2009: 133 .J. Lebih lanjut Damais mengatakan bahwa mengingat stratifikasi sosial pada masyarakat Jawa Kuno yang sangat hiarakis maka bukanlah tidak mungkin bahwa mereka adalah keluarga istana. Krom yang telah meneliti nisan Trowulan enggan mengakui bahwa sudah ada orang-orang Islam yang berhak dimakamkan dekat dengan lingkungan istana pada akhir abad ke 13 Saka di Jawa.129). Untuk itu Damais mengatakan bahwa harus dilakukan penelitian yang sistematis tentang makam-makam kuno yang ada di Trowulan agar dapat diperoleh data baru tentang penyebaran agama Islam di Jawa Timur (Damais. Vol. 1998: 57). Huruf yang lebih banyak dipakai di Nusantara adalah gaya sulus atau gaya naskh (Ambary. satu di antaranya dapat langsung dibaca angka tahunnya yang berangka tahun 1290 S (1368 M). Menurut Damais ketika mengunjungi makam Putri Cempa di Trowulan ia menemukan dua makam lain yang berprasasti. 7. terutama dari Gujarat sebagaimana yang terdapat pada nisan Malik Ibrahim dan Fatimah binti Maimun. Peneliti terdahulu antara lain N. Nisan ini merupakan data penting bahwa di Leran pada abad ke-11 sudah terdapat masyarakat muslim yang kemungkinan merupakan masyarakat pedagang yang diterima oleh masyarakat 136 . 1. Keengganan Krom menurut Damais mungkin juga karena Nagarakartagama tidak berbicara tentang agama baru tersebut.Jurnal Lektur Keagamaan. 1988: 174) Penelitian di Barus telah memperoleh data penting yaitu makam dari Tuhar Amisuri yang wafat pada 602 H (1203 M) memperlihatkan bahwa makam ini lebih tua dari makam Sultan Malik asSaleh (1297 M). Berdasarkan penelitian epigrafi pada nisan-nisan kubur dapat diketahui bahwa Sultan Malik as-Saleh adalah Sultan pertama di Samudra Pasai dan atas dasar angka tahun pula maka dapat dikatakan bahwa Samudra Pasai adalah kerajaan Islam pertama. Keberadaan makam ini merupakan bukti bahwa di Barus telah ada pemukiman Islam (Ambary. catatan kaki no. Penggunaan huruf Kufi hanya terdapat pada nisan-nisan yang diimport dari luar Nusantara.

243. Atas dasar tipe –tipe tersebut ditelusuri persebarannya di Nusantara dan Asia Tenggara. maka dilakukan penelitian bahwa nisan-nisan impor seperti Malik Ibrahim. Naina Hisamuddin di Aceh. tetapi unsur bentuk dan juga ornamennya. nisan papan Tinggi di Barus hampir semua memiliki ornamen ini. Jawa Timur (terutama pantai utara). Yang menarik bahwa motif surya Majapahit ini ternyata 137 . Medalion Sinar Majapahit mirip dengan halo pada patung-patung yang dianggap tokoh suci pada agama Kristen.. tipe Aceh. Lingkaran cahaya ini di Jawa dan Bali melingkari seluruh tubuh tokoh atau benda yang dianggap memiliki sifat supernatural (Damais. lalu berkembang bentuk persegí panjang dan silindrik pada fase ke dua abad 17M-19M (Ambary. Bentuk lampu seperti itu adalah lampu-lampu dari dunia Islam di Timur Tengah. Dengan demikian hal ini dapat memperkuat bahwa nisan-nisan yang memiliki ornament ini memang bukan berasal dari Nusantara (Marwoto. b. 1996: 1-8 ). Hasan Muarif Ambary (1984) dalam disertasinya telah melakukan penelitian tentang bentuk-bentuk nisan di Nusantara dan menggolongkannya menjadi 4 tipe yaitu tipe Demak-Troloyo. 1995: 242. 1993: 278). Pada nisan-nisan di Troloyo telah dikaji pula ornamen medalion sinar Majapahit yang disinggung pertama kali oleh Knebel yag disebutnya sebagai Cap Matahari. tipe Bugis Macasar dan tipe Ternate. India. Bentuk Nisan dan Ornamen Studi tentang nisan tidak hanya dilakukan berdasarkan unsur tulisan saja. Setelah abad ke 17.Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan setempat yang berada di bawah kerajaan Hindu-Buddha sebelum Kadiri (Tjandrasasmita. 68: 301). kaki no. Tipe Aceh (bucrane) misalnya selain terdapat di Pasai dan Aceh ditemukan juga di situs kubur di Barus dan beberapa situs lain di Sumatra Barat hingga Lampung. Perkembangannya dimulai dari bentuk bucrane pada abad 16-17 M. bentuk nisan Aceh ditemukan di Kalimantan Selatan. Banten dan Yakarta. cat. Sulawesi Selatan. Persia. Di dalam peninggalan budaya materi di Nusantara motif atau jenis lampu yang tergantung dalam mihrab tidak pernah dikenal. Menurut Damais. Di Semenanjung Malaysia. 1998: 239-241). Berdasarkan pendapat Paul Ravaisse tentang nisan Leran dari Fatimah binti Maimun bahwa ornamen lampu yang tergantung di dalam mihrab adalah simbol dari Surah An-Nur. Bintan.

Samudra Pasai. Sumatera Barat. Jasinga. sampai ke Madura bahkan saat ini Muhammadiah juga menggunakan lambang surya Majapahit. Tentang bangunan masjid kuno ia menyampaikan bahwa bentuknya mengikuti bentuk arsitektur lokal dengan beberapa ciri 138 . Palembang. Kalimantan Timur. Cirebon. Tjandrasasmita 1977: 111). Masjid Kajian tentang masjid kuno di Indonesia khususnya di Jawa mulai dilakukan pada tahun 1920.146 penggunaannya terus berlanjut pada masa-masa selanjutnya sebagaimana kita temukan pada nisan-nisan di sepanjang pantai utara Jawa. Menurutnya. Selain itu ia melakukan penelitian pola-pola ornamennya dan dibandingkan dengan ornamen di candi-candi (Steinmann 1934: 89-97. Troloyo. 2. Penelitian dalam bentuk skripsi tentang bentuk-bentuk nisan dan ornamen telah dilakukan di berbagai situs seperti Jakarta. tesis lima buah dan satu buah disertasi. Tjandrasasmita 1977: 115).J Krom yaitu tentang menara Kudus yang diperkirakan berasal dari abad ke 16M dan dianggap merupakan gaya bangunan peralihan dari gaya bangunan Majapahit yang mengingatkan pada bangunan candi (Krom 1920: 294-295. Menara di masjid Kudus bukan menara asalnya melainkan bagunan dari jaman Hindu yang digunakan kembali sebagai tempat kulkul. Blora. No. Berdasarkan penelitianya seni ukir dan seni bangunan di Kudus merupakan seni bangunan Jawa-Hindu Majapahit (Jasper 1922: 3-30. Setelah itu penelitian di Kudus di lanjutkan oleh J. 1.E Jasper pada tahun 1922 yang mengkhususkan pada penelitian seni ukir dan seni bangunan. Penelitian tentang menara dan masjid kuno di Indonesia dilakukan oleh Dr. penelitian tentang jenis tanaman sangat penting untuk mengetahui keragaman tumbuhan yang ada pada masa itu. 1977: 112). Brunai. Vol. oleh N.F Pijper pada tahun 1947 dan Pijper menyampaikan bahwa masjid kuno di Indonesia pada umumnya tidak memiliki menara. 2009: 133 . Steinmann pada tahun 1934 melakukan penelitian ornamen yang terdapat pada masjid Mantingan dan makam Ratu Kalinyamat. G. dan telah menghasilkan sembilan buah skripsi Program Studi Arkeologi S1. 7.Jurnal Lektur Keagamaan. Tjandrasasmita.

Banyumas. di sisi kanan mihrab terdapat mimbar yang umumnya berbentuk seperti kursi dan memiliki anak tangga. Tentang asal usul bangunan masjid kuno telah dibahas oleh beberapa ahli seperti H. 1947-48: 289). Masjid ini dibangun dengan bentuk yang baru pada tanggal 9 Oktober 1879 yang dibuat oleh seorang arsitek Belanda bernama Bruins (Kreemer 1920-21: 69-87. Pendapat Stutterheim disangkal oleh Prof Sutjipto Wiryosuparto. atapnya bertingkat-tingkat (Pijper.R. Tjandrasasmita 1977:112). Penelitian di Aceh dilakukan oleh J Kreemer di Masjid Raya di Kutaraja yang menurut penelitiannya bahwa Masjid Raya itu asalnya bernama masjid Bait ar-Rahman yang didirikan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636M). bentuk denah masjid Taluk adalah segi empat dan dikelilingi air sedangkan masjid Malabar denahnya persegipanjang tidak dikelilingi air. 1947: 274-283). Banten. Jakarta.Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan seperti denah segi empat dan pejal. Taluk. arah hadap dan pola keletakan untuk masjid Istana berada di sebelah barat alun-alun.F Stutterheim mengajukan pendapatnya bahwa masjid kuno di Indonesia mendapat pengaruh dari bangunan tempat menyambung ayam di Bali (Stutterheim 1935: 135-140). Padang. Selanjutnya jika bagunan tempat menyambung ayam sebagai bangunan yang semiprofan tidak mungkin dijadikan dasar pembuatan masjid dan yang lainnya adalah tidak memiliki loteng. jadi berbeda dan yang sama hanya pada bentuk atap. Manonjaya.dan Medan. W. Atas dasar penelitian terhadap bangunan masjid kuno di Indonesia Maka dapat diketahui pola-pola bangunan seperti denah masjid. Ornamen pada bagian atas mimbar 139 .J de Graaf yang mengatakan bahwa masjid kuno di Jawa mendapat pengaruh bentuk masjid dari Sumatera yaitu masjid Taluk di Sumatera Barat yang merupakan prototipo masjid Malabar (Graaf. Pada perkembangan selanjutnya studi tentang masjid kuno terus dilakukan baik dalam bentuk paper ataupun skripsi kurang lebih berjumlah 23 buah di Progam studi Arkeologi UI yang mencakup masjid kuno di Palembang. Pada sisi barat laut terdapat mihrab yang umumnya menjadi tempat yang paling raya ornamennya. Sutjipto lalu mengajukan bangunan mandapa atau pendapa yang menjadi asal mula bentuk masjid kuno (Wiryosuparto 1961-62:7-8). Cirebon. D. Sumenep.

Ornamen-ornamen makhluk hidup yang selama ini dianggap tidak boleh dilakukan tidak sepenuhnya dihindari sebagaimana terdapat pada Masjid Trusmi di Cirebon yang mengambarkan berbagai bentuk binatang seperti binatang anjing. 7. Demikian pula dengan keratonkeraton dari abad ke 18 seperti Yogyakarta dan Surakarta di arahkan ke utara.Jurnal Lektur Keagamaan. seperti Keraton Kasepuhan dan Kanoman di Cirebon. kambing pada soko guru dan Masjid Demak dengan tempelan porselin yang memiliki berbagai motif binatang seperti anjing dan burung dan kura-kura. Selain penggunaan motifmotif dari masa sebelum Islam dan berbagai motif binatang ternyata ditemukan pula penggunaan motif-motif Islam seperti Interlace atau yang dikenal dengan Arabesque terdapat di Masjid Sang Ciptarasa Cirebon) dan Masjid Mantingan. sulur-suluran. 140 . Keraton Keraton atau istana merupakan pusat kota dari sebuah kerajaan. Keraton Banda Aceh dari masa Sultan Iskandar Muda abad ke 17 M. Ornamen pada masjid-masjid di luar Jawa memperlihatkan bahwa ornamen banyak menggunakan motif-motif lokal sehingga dapat dilakukan studi yang mendalam tentang motif-motif lokal dari seluruh masjid Indonesia. Vol. Penelitian mengenai ornamen masjid memperlihatkan bahwa masih banyak digunakan motif-motif yang berasal dari masa sebelum Islam seperti kala makara. Atap masjid merupakan atap tumpang yang bertingkat-tingkat dalam jumlah yang ganjil. antefiks dan binatang yang distilir seperti di masjid Mantingan. Keraton Surosowan di Banten. 2009: 133 . Tata letak keraton-keraton Islam di Jawa pada umumnya mengarah ke utara. 3. Pada masjid-masjid tertentu selain ada tempat bedug juga terdapat makam-makam raja atau tokoh-tokoh penting seperti Masjid Demak dan Masjid Banten. Bentuk bangunan masjid yang telah mengikuti gaya bangunan Timur Tengah dengan kubah di tengahnya adalah masjid-masjid yang kemudian dibanguan oleh Belanda seperti masjid Raya Aceh dan Masjid Agung Medan. 1. ular. Motif Interlace ini bila kita amati menyebar sampai ke Madura terutama pada makammakam kuno (Marwoto 2003:152-312).146 biasanya motif kala terkadang dengan makara. Keraton Samudera Pasai besar kemungkinan menghadap ke utara yaitu menghadap ke Selat Malaka. No.

Samudra Pasai. Makasar dan Mataram (lihat Untoro. Situs Karang Antu. Hasil penelitian 141 . Situs Pabean. Situs Kadiri. termasuk di dalamnya situs Kraton Surosowan. Untuk itu Sartono Kartodirdjo mengkategorikan Banten sebagai emporium seperti juga Aceh. Selain itu juga memperlihatkan pembagian ruang antara yang profan dan yang sakral (Johan. Cirebon. 1984: 221). 2007: 238-246). Penelitian tentang makna ruang pada situs keraton Kasepuhan yang melihat antara penempatan ruang bagi yang hidup dan yang mati memperlihatkan bahwa Cirebon memisahkan dengan tegas ruang antara yang hidup (di Keraton) dan yang mati (di Gunung Jati). Mataram dan Samboapu sebagaimana diberitakan oleh sumber tulis asing susunan halaman untuk sampai ke bagian “dalem” adalah tiga yang mengingatkan akan bangunan halaman candi dan pura di Bali (Poesponegoro. Situs Kraton Kaibon. Situs Pamarican. Penelitian tentang Keraton dalam bentuk skripsi di program studi S1 Arkeologi ada 11 buah. 2007: 9). bagian-bagian keraton dan fungsinya dan ornamen yang digunakan di keraton. Banten lama berdasarkan sumber sejarah adalah pusat kota dan bandar utama Kerajaan Banten yang berkembang sejak abad ke 16 hingga abad ke 19 M. Banten juga berperan sebagai tempat perdagangan antar bangsa. Berdasarkan penelitian tentang keraton maka dapat diketahui pola tata letak keraton. jadi hampir ke utara (Poesponegoro 1984:219). 4. Bagian yang merupakan tempat tinggal raja biasa disebut “dalem”. Banten. Maimun dan Sumenep. Banten Lama Penelitian situs-situs Islam telah dilakukan di beberapa tempat seperti: Kawasan Banten Lama. Kota Banten tumbuh sebagai pusat dagang dengan aneka ragam komoditas perdagangan yang didatangkan dari berbagai wilayah dan diperdagangkan di Banten. Di Keraton Aceh.Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan berdasarkan berita asing diarahkan ke barat Laut. Situs-Situs Islam a. dan lain-lain. Situs Jembatan Rante. Kanoman. meliputi Keraton Kasepuhan. Yogyakarta. Kompleks bangunan keraton pada umumnya memiliki tembok keliling yang memisahkan keraton dari bangunan lainnya.

Kelompok ini Sangat berperan aktif di wilayah Teluk Persia. khususnya di Basrah dan di pesisir lautan Hindia. Bambhore dan pesisir Timur Afrika. merah ungu dan turkuas. 2002: 157-168). Ciri-cirinya adalah bahannya berwarna merah jambu. berslip terang berhiaskan goresan dan glasirnya percikan-percikan. Selain temuan tembikar ditemukan pula artefak kaca yang kebanyakan dibuat dengan tehnik tiup. geometris abstrak atau kaligrafi dengan huruf kufi.146 arkeologi di Banten yang dimulai pada tahun1977 antara lain adalah ditemukannya situs industri logam dan industri tembikar serta temuan barang-barang perdagangan seperti keramik Asing dari berbagai negara. Aden. coklat. b. 7. Warna kaca sebagian besar berwarna hijau pucat. penelitian arkeologis banyak menghadapi kendala terutama dengan makin penuhnya penduduk yang menempati kawasan sehingga tidak lagi dapat dikendalikan. Keberadaan tembikar Sgraffiato di Lobu Tua membuktikan bahwa Labo Tua termasuk dalam jaringan perdagangan dari Teluk Persia (Perret. hijau tua. mata uang cina. Pola hiasannya buga-bunga. sebagian di udara terbuka sebagian dalam cetakan. Bukan merupakan kaca yang berkwalitas bagus tetapi lebih merupakan barang sehari-hari.Jurnal Lektur Keagamaan. Keadaan keraton Surosowan dan Kaibon yang telah dipugar sekarang terbengkalai. 2009: 133 . Jenis “later Sgarffiato ware” Lobu Tua memiliki persamaan dengan temuan sejenis di Makran (Iran). 1. Di duga bahwa beberapa temuan menunjukan dua daerah asal yaitu Iran dan 142 . Vol. Benteng Spelwijk. Sohar (Oman) dan Kilwa (Tanzania) dapat dikaitkan dengan adanya kelompok perdagangan dari Oman yang bernama Ibadi. Selain itu memugar sisa-sisa Kraton Surosowan. Kraton Kaibon. No. Sumber tulisan kuno dari Timur Dekat menyebut nama Barus serta adanya pedagang dari Oman di Nusantara sekurang-kurangnya sejak abad ke 10 M. termasuk Makran. Menara Pacinan (Ambary 1998:124). mata uang VOC. biru kobalt. Banten lama adalah satu-satunya kawasan perkotaan Islam yang tersisa hingga saat ini. kuning pucat dan biru pucat. Lobu Tua Pada tahun 1995 dan 1996 dilakukan penggalian di Situs Lobu Tua dekat Barus oleh tim Indonesia Perancis dan ditemukan 600 pecahan tembikar berglasir asal Timur Dekat yang dikenal dengan “later Sgraffiato ware”.

Bagaimana perkembangan gaya tulisan dan ornamen dalam nisan-nisan kunopun belum pernah dilakukan dalam skala yang luas. Sebagaimana penemuan angka tahun Tuhar Amisuri di Barus dengan angka tahun wafatnya 1203 M. fungsinya belum jelas. Penutup Beberapa contoh penelitian arkeologi sebagaimana diuraikan di atas diharapkan dapat memberikan gambaran singkat bagaimana arkeologi memberikan makna pada material culture Islam sebagai usaha untuk memahami kehidupan dan perilaku manusia. piala silinder diduga berasal dari Iran abad 9-10 M. Seperti yang dikatakan Damais bahwa dari 1500 abkalts yang ada di Direktorat Sejarah dan Purbakala baru terbaca 800 abklats. Setelah direkonstruksi artefak kaca. Tempayan Miniatur jenis Serahi dari Timur Tengah.Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan Mesopotamia. 143 . Demikian pula dengan studi tentang masjid kuno dan keraton. Artinya masih 700 abkltas yang belum terbaca. Kaca berhias garis yang diukir diduga dari Iran abad ke 10 dan awal abad 11 M (Guillot. Contoh lain tentang penelitian epigrafi Islam yang sudah dilakukan juga mengungkap cukup banyak hal penting tentang raja-raja yang memerintah di kerjaan-kerajaan yang bercorak Islam yang selama ini hanya diketahui atas dasar sumber tertulis berupa naskah ataupun sebaliknya. 2002: 179-195). 94 tahun lebih tua dari Malik as-Saleh di Pasai. Penelitian nisan-nisan kuna di pantai utara Jawa sebagai tempat awal Islamisasi belum secara menyeluruh dilakukan. serta bagian timur Laut Tengah. Temuan angka tahun ini bila dikaitkan dengan penelitian arkeologi di Lobu Tua Barus berupa artefak kaca dan tembikar yang diduga berasal dari abad ke 9-10 merupakan hal yang tidak mengejutkan. Barang-barang dari Laut Tengah nampaknya diimpor sejak awal abad 11 M. Serahi kecil (kaca merah jingga berhias gaya bulu) berasal dari Mesir abad 11 dan awal 12 M. Walaupun demikian penelitian tentang nisan-nisan kuno masih menyisakan banyak hal yang perlu dilakukan. penelitian masih dilakukan secara parsial. maka dapat dikemukakan beberapa bentuk utuhnya yaitu: Karaf (botol kaca dengan bibir bulat datar) dari abad 9-10 M. Selain itu berdasarkan angka tahun yang terdapat pada nisan dapat pula diketahui bilamana orang-orang Islam sudah datang dan menetap di Nusantara.

Jakarta: EFEO. “Het Stadje Koedoes en zijn oude Kunst “NION. Ciputat : P.J. ed. Pilihan Karya L. Epigrafi dan Sejarah Nusantara. Irmawati. 1922. Marwoto. 2007. Temuan Kaca di Lobu Tua:Tinjauan Awal.Jurnal Lektur Keagamaan.C. Lobu Tua Sejarah Awal Barus. Jakarta:EFEO De Graaf. 1988. Menemukan Peradaban. Disertasi Program Pascasarjana FIB-UI. Krom.Hal:179-214.N. Statu Masalah Penenda KeIslaman.1. Inleideng tot de Hindoe-Javaansce Kunst” S’Gravenhage.7e jaargang.Wibisono.E. J. H. PIA VII. Sebuah Tinjauan Simbolik”. 1947-1949.Claude Guillot. 1955.Yayasan Obor.tweeman delijks Tijdschrift Gewijd aan het Indonesisch Cultuurgebied. afl. Vol. hal:69-87.19201921.J.NV Uirgeverij W.T Logos Wacana Ilmu Damais.. Wacana vol9 no.van Hoeve-s’ Gravenhage. “De Groote Moskee te Koeta-Radja” NION. “De Oorsprong der Javaanse Moskee” Indonesie.Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia. Cipanas ------.C Damais.J. 1. Seni Dekoratif pada Bangunan di Pantai Utara Jawa Abad 15-17.Claude& Sonny Ch.Pusat Penelitian Arkeologi.L. hal.1922.1e Jrg.vifde jaargang. 7. 1912. 1996. 2009: 133 . Jasper. Hasan Mu’arif.294-295.J.[] Daftar Pustaka Ambary. Boundedness dan Polusi pada Situs Islam Cirebon Abad XVI-XVIII.2003. Moquete. 1920-1921.hal:291299 Guillot. “Ornamen Mihrab dan Lampu pada beberapa Makam. hal:208-214 144 . 2002.146 Seiring dengan perkembangan jaman maka kajian-kajian arkeologi Islam tentunya harus diperluas dengan mengembangkan isue-isue yang relevan dengan masa kini dan menggunakan pendekatan atau teori-teori baru dan yang lebih penting untuk dilakukan adalah menyampaikan hasil-hasil penelitian tentang Islam di Indonesia kepada masyarakat luas.P.2 Oktober.Hal: 238-246. “De Datum op den grafsteen van Malik Ibrahim te Gresik” TBG 54. Kreemer.hal:3-30. Irmawati M. No. Johan.1912. 1920.

Marwati Djuned. 1912. Tembikar Berslip. Stutterheim. Majapahit dan kedatangan Islam Serta Prosesnya. “Verslag van mijn voorlopig onderzoek deer Mohammedaansche oudheden in Aceh en Onderhoogrigheden” OV. Thames & Hudson Ronkel.135-140. Jakarta: Balai Pustaka Ravaisse. New York: Mc Graw Hill Company Inc. hal: 7-8 145 . Kesultanan Banten 1522-1684 Kajian Arkeologi Ekonomi. “De Grafsteen te Pase en Grissee vergeleken met dergelijke Monumenten uit Hindoestan” TBG.komunitas Bambu.P. Riwayat Penyelidikan Kepurbakalaan Islam di Indonesia.S. L’inscription coufique de Leran a’ Java.van. 1914. 1977.P. TBG.2 bijlage. Sutjipto.4. hal.52. GrooningenBatavia. Surabaya: CV Bunga Rampai Untoro.UI. Archaeology Discoveryng Our Past.Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan Moquete.Tinjauan Awal. Deel LXI Renfrew. Jakarta: FIB.Pusat Penelitian Arkeologi. Jakarta: EFEO. Wirjosuparto. 1914. Tjandrasasmita. 54.Yayasan Obor Poesponegoro. Perre. TBG 1925. Depbudpar. Fadjar.Lobu Tua Sejarah Awal Barus.80. 1935. J. 700 Tahun Majapahit Statu Bunga Rampai. 1925. kwt.Claude Guillot.1912 hal:536-548 OV. “Sejarah Pertumbuhan Bangunan Mesjid Indonesia”. ed. Uka. Jilid III. 1912.hal:157-178. Colin& Paul Bahn. 1910.86 Moquete. hal:73. J.Berhiaskan goresa dan Berglasir Percikan-Percikan Asal Timur Dekat di Lobu Tua. Daniel & Sugeng Riyanto.Method and Practice. Paul. tahun III. 1993.hal:596-600 Sharer. Uka. kwt. 2007. Archaeology:Theories. 2003. Sejarah Nasional Indonesia. “De Islam en Zijn komst in den Archipel”. 1984. 2002. hal. 1961.1910. Kapitalisme Pribumi Awal. Ph. 21. no. hal:107-135. Robert&Wendy Ashmore. 2003.W. O.hal:275-290. Hal:668-703. “Bij de afbeelding van het graf van Malik Ibrahim te Gresik”. Heriyanti Ongkodharmo. Jakarta: Puslit Arkenas Tjandrasasmita. 50 tahun Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional.F.

org/ 146 .com Gambar 2: Pintu gerbang timur ‘Benteng Keraton Surosowan’ Sumber: http://www.kompas. Sumber: http://cetak. 2009: 133 .146 Lampiran: Gambar 1: Sisa reruntuhan Keraton Surosowan.iai-banten. 1.Jurnal Lektur Keagamaan. No. 7. Vol.5 hektar itu merupakan kediaman para sultan Banten yang dibangun sekitar tahun 1552. Keraton seluas lebih kurang 3.

syariah Islam.H. in jurisprudence. dan apa saja kiranya buku-buku yang telah beliau tulis.K. Ahmad Sanusi itu. They handed down this nature and their religious sciences to the later generation of `ulam± of 147 . sebagian besar dari karyanya tidak tersimpan di satu tempat. Ahmad Sanusi telah menulis selama hidupnya sekitar 480 karya tulis. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse.H. Islam dan negara. these Indonesian `ulam±--in particular from Malay--were involved in the network. They developed the nature of freedom of joining differences in theology. bahkan sulit ditemukan. Sukabumi. In the second half of the seventeenth century. The core of the network was the degree to which a number of the famous `ulam± came to learn and to teach in the Haramayn. Puslitbang Lektur Keagamaan) Badan Litban dan Diklat. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . fatwa.H. Ahmad Sanusi.. Namun. Haramain. and His Work Collection Usep Abdul Matin UIN Syarif Hidayatullah.H. penulis telah berhasil mencari dan menemukan kurang lebih seratus dua puluh dua (122) karya K. Karena itu. tulisan ini bertujuan untuk berbagi pendadapat tentang siapa K. K. They came from the various corners of the Muslim world. — Usep Abdul Matin K. Jakarta Menurut Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur Agama (Skr. Introduction The network of `ulam± (Muslim learned men) in Haramayn (Mecca and Medina) has been starting to exist since the sixteenth century.H. and in mysticism. Dalam kesulitan itu.. Kata kunci: Ahmad Sanusi. Departmen Agama Republik Indonesia (1986).

I. Ahmad Sanusi’s Religio-Intellectual Discourse In the beginning of the twentieth century. pp. Here was he appointed to be the adviser of the Party of Syarekat Islam. 3 See Mohammad Iskandar. — Usep Abdul Matin Indonesia. In 1915. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse .. 1998). (Leiden: Rijk Universiteit Leiden. pp. Siapa?: Lukisan tentang Pemimpin-pemimpin. like physics. which is available in the KITLV Leiden University. The religious sciences. in Proces Verbal. 4 About Sanusi`s speech of Syarekat Islam. he studied not only the religious sciences but the general ones. During his stay in Mecca. see his speech translated into Dutch entitled “Dit Boek Nahratoe`ddhargam (De Gebiedende Leeuwenstem) Dienende tot Wering van de Aanvallen Veragtelijke Menschen Gericht tegen de S. 1900-1942. (Majalengka: Pengurus Besar “Persatuan Ummat Islam” Majlis Penyiaran dan Da`wah. (Amsterdam: Vrije Universiteit. an unpublished thesis. about the Arabic thought in the liberal age dated from 1798 to 1939.3 These facts signify Sanusi’s involvement in the Southeast Asian Connection. 90-91. p. 2 M. went to Mecca together with his wife to perform hajj (pilgrimage) and to deepen his Islamic studies under the `ulam± from Malay. Yosep Aspat Alamsyah. for lending me this book.H. 1991). Rasyid Ridho. precisely 1910. 1999). said Josep.K. (Boenoet: “Pemerintah” Soekaboemi. second edition.H. In 1913. this later group started establishing a Southeast Asian Connection in the beginning of the nineteenth century. Introd. which Sanusi studied. He told me that in December 22. Indonesia. KH Ahmad Sanusi dan Perjoangannya. Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana & Kekuasaan.a.2 such as those of Jamaluddin al-Afghani. see Rijk Universiteit Leiden. pp. Para Pengemban Amanah: Kyai dan Ulama dalam Perubahan Sosial–Politik di Priangan c. S.1 K. 1991). a santri (religious student) from Sukabumi. Wanta. Later on. Cantayan in Sukabumi. 19 Februari 1940). The author is still alive.” .H. by Taufik Abdullah. Studiegids Islamologie 1998/1999. 3.H. he became a member of the Party of Syarekat Islam. Sipahoetar. Ahmad Sanusi. and 7. 58-59. 148-149. Muhammad Abduh. pp. included the intellectual currents of the Arabic thought in the liberal age (1798 – 1939). 54. and was the secretary to K. 74-75. West Java. Ahmad Sanusi. Sanusi went back to his home country. I am grateful to Mr. 1 148 . when Sanusi was still in the Haramayn. Gunung Jaya-Sukabumi. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya. where he returned to his home town.4 Azyumardi Azra.. K. 2001 in his house.

His students in this pesantren came not only from Sukabumi but also from outside of West Java. in 1922. Sanusi was not able to break himself free from political affairs. Abdurrahim. During that exile. the Dutch government gave them money. 200 boekoe ketjil dan besar). who interviewed Sanusi face to face.000) followers. Dudu Abdullah Hamidi.8 His fame increased after he had established a religious association (in Indonesian. Loc. Wanta. Loc. Hence. in my house in Sukabumi December 12. he withdrew from this political organization5 and turned to assist his father. viz. and attracted some twenty thousand (20. Cit. diinterner: 1928-1939). therefore. Interview with late K. the Dutch had often put him in jail from 1919 to 1939.H. In contrast. Sipahoetar. especially in West Java. According to A. my father. perkoempoelan agama). 7 . he had written two hundred (200) books both in small and big pieces (in Indonesian.H.. Cit. since 1922. This political role of Sanusi was unlike the other indigenous `ulam± who supported the Dutch colonial authority. Sanusi substituted its name with Persatuan Umat Mohammad Iskandar. K. Nevertheless. p. therefore.. al-Ittih±diyyat alIsl±miyyah (A. Sipahoetar. Pekauman Corps were the religious leaders who worked in the mosques in Sukabumi for benefit of the Dutch colonial government. he had been known as a famous religious teacher. Dudu Abdullah Hamidi. he did not want to cooperate with the colonial Dutch government to make Indonesia independent. According to my late father.. 2001. 6 5 149 . Ahmad Sanusi had been a very productive writer. To advocate this organization. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse .K. 8 Ibid.H. these `ulam± were the members of the Politiesche Economisch Bond (PEB) and Pekauman Corps.6 For their support. people are used to calling it Pesantren Cantayan. during eleven years of his exile (in Indonesian.M. Therefore.I. which is also located in Sukabumi.H. to teach his santris in his own pesantren (Islamic School) in Cantayan..I/Islamic Association) in 1931. Cit.M. the colonial government regarded Sanusi to be their enemy. when he was still with me. — Usep Abdul Matin In the following year. S. Op.7 Sanusi’s intellectual productivity is also discernible in his establishment of a pesantren at Genteng. 91. K.

Menado. 1935). 1. pp. Nevertheless. Abdullah ibn Husain. (Jakarta: PT Intermasa. Celebes. (Sukabumi: Kantor Cetak Sukabumi. I am thankful to H. 1-5. including the advantage of the Latin characters.e Java.10 This explains to us why Sanusi`s fame all over Nusantara grew after the publication of his Tamshiyya in 1934. 1955). the `ulam±s of Pekauman discouraged the people from using the Tamshiyya. 1935).”. Vol. On the basis of Perak`s fatw±. (Pabuaran Sukabumi: no publisher`s name. 89. Mindarat al-Islâm wa-alÎmân. 1993). the colonial government considered this book to be a threat to their power. Borneo.. (Sukabumi: al-Ittihâd. Bangka. Sumatra.11 To argue against this fatw±..9 Moreover. and no one argued against this typescript. KH. Sumbawa. One of these `ulam± was Haji Oesman Perak from Bogor. as a threat to their influence among their religious students (in Indonesian. Ambon. p. Sanusi published the Qur`anic verses in this Tamshiyya not only in the Arabic language but also in the Latin characters. and I thank Ajengan Oyon Gunung Puyuh who allowed me to copy his Tamshiyya number 28. 9 150 . Acep Zarkasih (about 80 years old) who lent me this book. Tażkirat al-Ikhwân bi-mâ fî Âkhir al-Zamân. santris). West Java. This book was famous in Indonesia i. they banned this association. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . in Ensiklopedi Islam. I wish also to thank him for allowing me to copy his Tamsyiyyah numbered from 2 to 35. in October 1934. West Java. — Usep Abdul Matin Islam (PUI/The Association of Muslim Community). Such sentiment was resulted in a way that the`ulam±s of Pekauman published their legal formal opinion (fatw±) that discourages from using of the Tamshiyya by reasoning that Latin characters were prohibited from writing the Qur`anic verses. see ibid. I wish to thank to Hasan Husen Basri. He was the student of Ahmad Sanusi. It was also deemed by the PEB and the `ulam±s of Pekauman in Sukabumi. Vol 3. Madura. 12 Sanusi wrote this fatwâ in Malay language and Arabic characters on two wide and long pages of paper without title and year. Sanusi depended his Tamshiyya by giving a fatw± that encouraged its use. and Dr. 10 Muhammad Misybâh ibn Haji Syafe`i Sukabumi. When Japan came to occupy Indonesia. 11 Ibid.12 “Ahmad Sanusi.K. as well as Johor and Singapore. Tahdîr al-Afkâr. he published a Qur`anic exegesis entitled Tamshiyyat al-Muslimin fi Tafsir Kalam Rabb al-`±lamin.H. This fatwâ was published by Kantor Cetak al-Ittihad Sukabumi. Mohammad Iskandar who were willing to give my parents the copy of the fatwâ. See also Ahmad Sanusi. Flores.

— Usep Abdul Matin Sanusi’s intellectual debate with the `ulam± of Pekauman in Sukabumi..). he empowered Indonesian Muslim youths. and unified them into Hizbullah to expel the English Nicagurkha soldiers from Indonesia. Sanusi moved to Jakarta to cooperate with Muslim leaders in Jakarta to arrange a more stronger military power. He left three wives and seventeen children. Sanoesi. (Buitenzorg: Ang Tjio Drukkerij. West Java. As a result. two pages. Sanusi keept encouraging PETA to drive out not only the occupation of Dutch but also that of Japan. in particular those who became AII members. In the beginning of 1950. tithe in rice or money paid on first day of fasting month.. he agreed with Japan to establish Pembela Tanah Air (PETA/Fatherland Protector) organization. Likewise. is also noticeable in the case of zakat fitrah viz. where he died in the same year. In turn. His father was a close friend of Sanusi. After the Indonesian independence. the Japanese administrator disqualified him from this BPUPKI. In this colaboration. In this case. When the Nicagurkha occupied Sukabumi in West Java. This colaboration helped him strengthen Indonesian Muslim community that he established in 1934 to drive the Ducth occupation out of Indonesia.K..13 When Japan occupied Indonesia in the beginnings of 1940s. which prohibited the official collectors of the tithe from collecting it forcefully from common people. s. H. in 1944. Ahm. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . and in general other Indonesian youths. Sanusi returned to Gunung Puyuh in Sukabumi. to become soldiers of Hizbullah (Troop of God) and National Army of Indonesia (Tentara Nasional Indonesia/TNI). Sanusi collaborated with Japan.H. Sanusi was also a member of Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan/BPUPKI/Committee Inspecting to Organize the Independence of Indonesia). “Zakat Fithrah”. However. like other Indonesian political leaders. in West Java. the Japanese administrator in Indonesia appointed Sanusi to become a Japanese vice resident in Bogor. I wish to thank Mr Muflih for lending me this bulletin. due to Sanusi’s strong leaning to Islam. According to the Puslitbang Lektur of the Department of National Religious 13 See his fatwâ in form of bulletin. Sanusi motivated all Muslim people in West Java. in particular those who lived in Sukabumi.a. he gave a fatw± in 1936. 151 .

but also an active leader in diverse debates on religion. pp.14 These works are now scattered and difficult to discover. Sanusi left four hundred and eighty (480) pieces of works that he compiled by himself. before his death. Op. Cit. 15 Interview with Ajengan Dadun in his house in Cibadak-Sukabumi. Oking had ever put some works written by Ahmad Sanusi into a bamboo in his house. Oking at his house in Cigunung-Sukabumi. Oking explained to me that he did so because “if the Dutch administrators found someone possessing Sanusi’s works. they would put him or her into a jail” (in Sundanese. a little brother of Ahmad Sanusi.. However. bakal dibui). a student of Ahmad Sanusi. Oking just mentioned are the reasons of why his books are now disappearing and extremely difficult to find.H. 152 . In 14 Puslitbang Lektur Agama. The reason is the degree to which he is a Muslim who is not only a productive writer. It has probably connection to such link in Indonesia today. the study on Sanusi has its significant information of the relationship between Islam and state in Sanusi’s period. political. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . the dying exhortation of Ahmad Sanusi given to late Ajengan Dadun and the fear as felt by Mr. For instance.. 2001. 2001. December 12.. Oking (about 80 years old). in the colonial period of Indonesia. and intellectualism in his time.16 Perhaps. According to deceased Ajengan Dadun Abdul Qahar. in particular his work collection. politics.. Therefore. When I interviewed him. This work is in form of micro film which is available in KITLV library. this article of mine may give us a portrait of his social. 16 Interview with Mr. Mr. the study on Sanusi is worthy conducting. he was at the age of 80. Badan Litbang Agama. as a result. In addition. To me. I found about one hundred and twenty-two (122) of Sanusi’s works from some generous people. Leiden University. and intellectual discourse. the Netherlands. on December 20. After he died.K. said to me that.15 In addition. 31-33. Sanusi had given him a dying exhortation (in Sundanese: wasiat) to suppress his works on masalah-masalah furu` (cases of ethics based on different principles of Islam). Sanusi was advocating to reinforce Islamic law in Indonesia. I had been working for five years to look for Sanusi’s writings. then he buried them into a ground. — Usep Abdul Matin Affairs in Jakarta. society.

. Bulletin and Magazine: 2. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . 7. late Dadun Abdul Qahhar. 1. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. and without identity of publication [four pages]. 5. 1 bulan sakali bulan Februari 1932 di Batavia [2 pages].H. pangajaran nomor 5 tahun 1932 [four pages]. Ahmad Sanusi`s works which I have collected so far as follows. sambungan nomer 17] [four pages]. (Batavia: Hoefd Bestuur A. 11.K. Wasidi Swastomo. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. pangajaran al-Ittihad nomor 18 19 Janwari [probably. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. This man reinforced also the Islamic law in this region (Cianjur). 1932) [four pages]. pangajaran al-Ittihad ka 17 Oktober 1933 no 4 [four pages].H. Without title. 9. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. Al-Isy±rah f³-al-Farq bayn al-Şadaqah wa-al-Diy±fah. Tamshiyya]. 3. pangajaran nomor 7 Oktober tahun 1932 [four pages]. K. pangajaran nomor 3 telat dua bulan lantaran nunggu kantor cetakna di kaloearkeun koe Hoefd Bestuur A. 1 bulan skali bulan Februari 1932 di Batavia [2 pages]. without title and year of publication. Hartina Nuduhken kana Bedana antara Aya Şadaqah rejeng diy±fah dina Syara1. It was published by Kantor Cetak al-Ittih±d Sukabumi. campaigned for shari`a in Sukabumi in West Java. Ahmad Sanusi’s Work Collection I will mention K. 8.I. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”.H. dicetak di kantor cetak “al-Ittih±d” Punjul Tanah 153 .I.. 1932.I. pangajaran nomor 2 di kaloearkeun koe Hoefd Bestuur A. — Usep Abdul Matin 1998. his little brother. Ahmad Sanusi [on the use of Latin letters in his Qur`anic Exegesis. 10. The fatw± of K.I.I. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. One of Qahhar’s students was an officer who was in charge of Cianjur regency (Bupati) in West Java. January. dinukil jisim kuring Ahmad Sanusi bin Haji `Abd al-Rahim.H. 6.I.

H. Tinggi Senen no 191. Ris±lat Tashq³q al-Awham f³-al-Radd `an al-Tagam Artinya Inilah Suatu Pembelah segala Sangkaan yang Salah di dalam Menolak Tukang Menyesatkan kepada Orang-orang Bodo karangan hamba yang doif Haji Ahmad Sanusi ibn Haji `Abd al-Rahim Gunung Puyuh Sukabumi Tercetak atas usaha Sayyid `Ali al-`Idrus Kampung Bali Keramat nomor 38 Batavia. because no 29 is dated to that year). Tanah Tinggi. 12. 13. Jilid tahun ka I kanggi nomor 1 September 1931 September 1931. Abdurrahim T. my note] Bahasa Soenda oleh H. — Usep Abdul Matin Tinggi Senin Batavia Centrum. Maanblad Januari Februari no 30-31 1934. akhir Bulan Syawwal 1347 (dan Haknya menyetak pun sudah jadi miliknya) (Cetakan ketigakalinya) Tercetak di kantor cetak dan toko kitab al-Sayyid `Ali al-`Idrus Keramat 38 Batavia Centrum). Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . 18. Ris±lat Tahd³r al-`Aw±m min Muftaray±t Cahaya Islam Hartina Mere Inget ka sakabeh Jalma Awam Kudu Sien tina sakabeh Jijieunan Bohongna kaom Surat Kabar Cahaya Islam dikumpulken ku jisim kuring anu kacida do`ifna Haji Ahmad Sanusi ibn Haji Abd al-Rahman di Tanah Tinggi Senen nomor 191 Weltevreden Batavia Kantor Cetak Harun ibn `Ali Ibrahim 3 Pakojan Betawi Telepon 1850 [72 pages]. Pangadjaran [Tafsir ku. Tafs³r Bahasa Soenda Februari 1932 Tahoen ka II diterbitkan saboelan sekali oleh Hadji Ahmad Sanoesi bin Hadji Ahmad Sanoesi bin Hadji Abdurrahim Tanah Tinggi Senen no 191 Batavia Kramat Harga langganan 2 boelan f 1.20. Ahmad Sanoesi bin Hadji Abdoerrahim. Weltevreden 8 november 1928 (Dicetak di Kantor Sayyid Yahya ibn Usman Tanah Abang). Batavia Kramat. 17. 27 Jumada al-Ula 1347. Senen. 16. Fada`il Kasb al-Ikhtiy±r f³ Ilz±m Afwah al-Wu`az al-Gid±r Artinya Menyatakan segala Kelebihan Mencahari dan Berusaha 154 . Ris±lat Tashq³q al-Awham f³-al-Radd `an al-Tugam li-n±qil³h±. 15. Ahmad Sanusi Gang Kampung Bali Kecil 6 Tanah Abang Weltevreden Betawi. No 23 24 Maanblad Juni (year is not clear.K.. Tafs³r Boechori dikloearken 1 boelan sekali oleh H. probably 1934. 14. Ahmad Sanoesi bin H. no 19..

— Usep Abdul Matin Kehidupan di dalam […/not clear] segala Mulut si Tukang Ngajar yang selalu Menipu Orang dikeluarkan oleh hamba yang [ …/not clear] Haji Ahmad Sanusi bin Haji `Abd al-Rahim di Tanah Tinggi 191 Batavia Centrum.a). 17 155 . 29 Maanblad December (year is not clear.). Al-Tamshiyyath al-Isl±miyyah f³ Man±qib Im±m al-Sh±fi`i. without the name of the publisher.). Kanz al-Rahmah wa-al-Lutf f³ Tafs³r Sµrat al-Kahf. Tarbiyyat al-Isl±m.). s. Shir±j al-Ażkiy±` f³ Tarjamat al-Azkiy±`. 10. without the name of publisher. Al-Kalimat al-Mabniyyah f³ Qasy³dat ibn Hajjah. s. s. I had copied a number works composed by Ajengan Ahmad Sanusi as follows.a). 20 Romadhan 1347). Nµr al-Yaq³n f³ Mahw Madzhab al-La`³n min al-Mutanabbiyy³n wa-al-Mutabaddi`³n. (Tanah Tinggi-Senen-Batavia Centrum: al-Ittihad. (Tanah Abang-Weltevreden Batavia: Sayyid Yahya bin `Usman. Kit±b Mift±h al-Jannah f³ Bay±n Firqat Ahl al-Sunnah wa-alJam±`ah. 2. 6. s. and s. No. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse ..). 4.a. s. Tercetak diterbitkan alIttihad Tanah Tinggi 191 Punjul Batavia Centrum. Ujang Sholehuddin.). 9.a. Tażkirat al-Th³libin fi Bayan Sunniyat al-Talq³n.a. From the beginning of December to the beginning of January 2002. 7. for helping me find this collection of late Ma`ruf. probably 1934. Tamshiyyat al-Muslimin f³ Kalami Rabb al-`Alam³n. because no 31 is dated to 1934). 8. (without place of the publisher.. 5.K. s. I am grateful to my friend. Number 47. (Batavia Centrum: al-Sayyid al-`Idrµs. (without place of the publication. (Tanah Abang:Sayyid Yahya.a. Mr. (Panarakan Kaler-Bogor: Ikhtiyar. 3. Al-Mufhim±t fi Daf`i al-Khayal±t. (Sukabumi: al-Ittih±d. (Gunung PuyuhSukabumi: without the name of publisher.H. s.a.a.). There are tweleve works of Sanusi that I found from deceased Ahmad Djunaedi Ma`ruf17: 1.

. Al-Aqw±l al-Muf³dah f³-al-Umµr al-Muwhamah. Min majmµ`at durµs al-`ulµm (Tanah Abang: Kantor Cetak Sayyid Yahya. T³j±n al-gilm±n f³ tafs³r al-Qur’±n (Petamburan-Batavia: alSayyid `Abdullah putra al-Sayyid `Ushman. Al-Sh±fiyat al-w±fiyah f³ fad±`il sµrat al-F±tihah 7. 12. (Tanah Abang: Kantor Cetak Sayyid Yahya. Hilyat al-`aql wa-al-fikr (Tanah Abang: Kantor Cetak Sayyid Yahya. Oking18: 1. s.a).K. Tawh³d al-muslim³n wa `aq±`id al-mu`min³n (Bg [Bandung]: Sukma Rat. It includes the list of Sanusi`s works. Kashf al-Sa`±dah f³ Tafs³r Sµrat al-W±qi`ah. s. Al-Kaw±kib al-Durriyah fi-al-Ad`iyyah al-Nabawiyyah.a. Lujj±m al-Gudd±r al-Qa`ilin bi-anna Abaway al-Nabiyy min Ahl al-N±r. 4. 14. Bahr al-madad f³ tarjamat ayyuh± al-walad (Vogelwegsukabumi: no publisher.a. Al-Sh±fiyat al-W±fiyah f³ Fadh±`il Sµrat al-F±tihah.). nor year of the publication). s. 6. 156 .a). (Cibadak Sukabumi: without the name of publisher. Oking. s. (Babakan Sirna-Karang Tengah Cibadak-Sukabumi.a). There are nineteen (19) works of Sanusi that I found from Mr.). s.. 10. 18 I thank Mr.). 1. no name of the publisher. Jumad al-Awwal 1352). 9. — Usep Abdul Matin 11.). s. Vol. without the name of publisher.`Tawh³d al-muslim³n wa`aq±`id al-mu`min³n (Tanah TinggiPunjul-Batavia: Kantor Cetak al-Ittihad. (Sukabumi: alIttih±d. 11.a.a). (without place of the publication. s. 13. 2.a. s. 12.).a). Jawharat al-wah³d (Pekojan-Betawi: Kantor cetak sareng Toko Buku Harun bin Ali Ibrahim. s.a). Hid±yat al-siby±n f³ fad±’il sµrat tab±rak al-mulk min alQur’±n (Tanah Abang: Sayyid Yahya. Iskandar Sanusi for introducing me to Mr. s. Al-Kaw±kib al-Durriyyah f³ al-Ad`iyyat al-nabawiyyah (Tanah Abang: Kantor Cetak Sayyid Yahya.H.a). s. 8. Ǐq±d al-himam f³ ta`l³q al-hikam 5. s. 3. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse .a.

Al-mutahhir±t min al-Mukaffir±t. s. “Kabagjaan Islam”. s.a. (no place of publication. s. s. 2. Tanw³r al-dal±m fi Furuq al-Isl±m.). Min majmµ`at durµs al-`ulµm. 19 157 ..a).K. 3.).a). Tafs³r Malja` al-T±lib³n. 3. Acep Zarkasyih in Sukabumi. (no place of the publication: no publisher`s name. (Tanah Tinggi Betawi: Kantor Cetak Al-Ittih±d. Al-Muf³d (Vogelweg Sukabumi: no publisher`s name. s. Ahmad Muflih. s. (Gunung Puyuh-Sukabumi: without publisher`s name. Ahmad Muflih19: I wish again to thank Mr. Al-Jaw±hir al-B±hiyyah f³ Adab al-Mar`ah al-Mutazawwijah. (Tanah Abang Weltevreden: Sayyid Yahya. 6. October 1935). Tafs³r Malja` al-T±lib³n. no. (Tanah Tinggi Betawi: Kantor Cetak Al-Ittih±d. 19.a. 17. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse .a). Mr. 7.H. 3rd edition. 16. There is one (1) book of Sanusi that I gained from Mr. West Java: 1. 9. Vol. 18. 28 January 1931/9 Ramadlan 1349). 5. 4. Vol 1. s. s. Ujang to introduce me to his father. (no place of publication: no publisher`s name. 1. “Al-Tabl³g al-Isl±m³ (Embaran Kaislaman)”. and s. Hilyat al-siby±n f³ bay±n sawm ramaz±n (No place of publication: no publisher`s name. (Gunung Puyuh-Sukabmi. 3. (Sukabumi: alIttihad. Tafs³r Malja` al-T±lib³n. Ǐq±d al-himam f³ ta`l³q al-hikam. (Pekojan-Betawi: Toko Buku Harun bin `Ali Ibrahim. no. 18. This piece of work is printed in 16 combined pages. no. no name of publisher. There are nine (9) works of Sanusi that I obtained from H. 8. — Usep Abdul Matin 15. 1935). (no place of publication: no publisher`s name. in “Kabagjaan Islam”. (Gunung Puyuh-Sukabumi: al-Ittihad.a.a). “Mu`±hadah Perjanjian Allah Ta`ala ka Nabi Adam”. 2. no publisher`s name. 1 November 1931).a). s..a).a). “Kabagjaan Islam”.). Vol.

Malja` al-T±lib³n f³ Tafsir Kal±m Rabb al-`±lamin.a).a. Oman Fathurrahman20: 1. 28 January 1931/9 Ramadhan 1349). Oman Fathurrahman for allowing me to copy about 63 works from his collection. 20 I am once again grateful to Dr. Al-Lu`lu` al-Nadlid fi Masa`il al-Tauhid. s. “Al-Mufid: `Ilm al-Tawh³d”. 6.1. 3. (Pekojan-Betawi: Ahl al-Sunnah wa-al-Jam±`ah. 4. 8.a).a). 5. s. Al-Ad±wiyyah al-S±fiyah f³ Bay±n S±l±t al-H±jah wa-alIstikh±rah wa Daf`i al-Kurb±t. (Cantayan: no publisher. s.). On the title-page of this work. Manzµmat al-Rij±l li-Sayyid `Al³ Zayn al-`±bid³n. 2.. (no place of publication: no year of publication. (Kampung Petamburan-Tanah Abang-Betawi: Tuan Sayyid `Abd All±h bin Sayyid `U£m±n.a).).H. because the writer “just started to learn how to write to follow the footsteps of professional writers” (diajar tutulisan tuturuti ka anu tukang ngarang). Vol.a). 158 . the author says that he asks the pardons of his readers if they find some some mistakes in this book because the writer was still learning (anu nulisna diajar). Qal±`id al-Durar f³ Bay±n `Aqd al-Jauhar.K. s. 2nd edition. s. Tafs³r Sµrat al-Mulk: Hid±yat Qulµb al-Siby±n f³ Fad±`il Sµrat Tab±rak al-Mulk min al-Qur`±n. (VogelwegGunung Puyuh-Sukabumi: no publisher. (Tanah Abang Weltevreden: Sayyid Yahya. Tafr³h Sudµr al-Mu`minin f³ Mawlid Sayyid al-Mursal³n. the author mentioned that he asked the pardons of his pardons if they find his bad expressions of his words (kirang sae prak-prakannana). Hilyat al-Siby±n f³ Bay±n Saum Ramad±n. (Gunung Puyuh-Sukabumi: no publisher. s. — Usep Abdul Matin 1. (Vogelweg 100 Sukabumi: no publisher. Jawharat al-Marfiyyah fi Mukhtasar Ma©hab al-Sh±fi`iyyah.a). There are thirty-seven (37) books of Sanusi that I copied from Dr. 9.a. 22 Rabi` al-Awwal 1348). (Babakan Sirna: no publisher. 7. On the title-page of this book. s. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . Thirty-seven of them are books written by Ahmad Sanusi as listed above. (no place of publication: no name of publisher.. s.

24. Tawh³d al-Muslim³n wa `Aqa`id al-Mu`min³n. No. 28 May 1931/10 Muharram 1350). Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . Mei 1936). (Gunung PuyuhSukabumi: no publisher. Tafsir Bahasa Soenda. Qaw±n³n al-D³niyyah wa-al-Duny±wiyyah f³ Umµr al-Zak±h wa-al-Fitrah. Pangajaran dengen Bahasa Soenda. (Jatinegara: no publisher. 28 July 1931). (Gunung PuyuhSukabumi: without publisher. 3. Kashf al-Awham wa-al-Zunµn f³ Bay±n Qaulih Ta`±l± l± Yamassuhµ ill± al-Mutahharµn.a. 13. February 1932).).a.a. 16. maanblad. 21. No. 26 Rajab 1347). s. — Usep Abdul Matin 10. Tafsir Bahasa Soenda. s. (Tanah Tinggi-Senen No 191 Batavia Kramat: no publisher. (Vogelweg-Sukabumi: without publisher. 20. s. Al-Matlab al-Aśna f³-al-Asm±` al-Husna. On the title page. Vol. number 1. s. 12. 17. 28 April 1931). No. 19. (Tanah Tinggi-Senen No 191 Batavia Kramat: no publisher. (Tanah Tinggi-Senen No 191 Batavia Kramat: no publisher. No. 22.a. Vol.). 5. 1 October 1931). (Senen: Pak Haji Harun bin `Ali Ibrahim.). 28 August 1931). Tafsir Bahasa Soenda. Tafsir Bahasa Soenda. 8. 15.a. Tafsir Bahasa Soenda.). No. “Tuntunan Budi”. no 191. 4. “Miftahoelmadad: Kaifiat Ngajarken Zoebad Ilmoe Tauhid Fiqih Tashaoef”. Mift±¥ al-Mad±d. 2. (Vogelweg-Sukabumi: without publisher. 11. mandblad. (Tanah Abang Weltevrede: Sayyid Yahya. Tafsir Boechari. (Pekojan-Betawi No. The author is Ahmad Sanusi. s. 7. (Tanah Tinggi-Senen Batavia Kramat: al-Ittihad. (Tanah Tinggi-Senen No 191 Batavia Kramat: al-Ittihad. 2. the scriber is al-Sayyid Muhammad bin Yahya.). 18. 23. (De Vogelweg no 100 Soekaboemi: al-Ittihad. 1. (Senen-Batavia Centrum: Harun bin `Ali Nur.. Tafsir Bahasa Soenda. year III). 3. No. No. 191: Harun bin `Ali. No. 19-20. 14.. 159 . without publisher. 28 March 1931). the author mentioned the right of the publication: Pasal (section) 11 tina undang-undang (of the law) dated to 1912 number 600.K.H. January-February.

(Pekojan-Betawi: Harun ibn `Ali Ibrahim.). (Tanah Tinggi Punjul 65 Batavia Kramat: al-Ittihad. my grandfa). 27. Al-Sir±j al-Wahh±j fi-al-Isr±` wa-al-Mi`r±j. 6. (Babakan Sirna: without publisher. (Tanaha Abang Weltevreden Betawi: Sayyid Yahya bin Ustman. 24 Ramadhan 1347). Tafr³h sudµr al-mu`min³n f³ mawlid sayyid al-mursal³n. (Tanah Abang Weltevreden: Sayyid Yahya. Ris±lat Tahd³r al-`Aw±m min Muftaray±t Cahaya Islam.a. 160 . s. 30. (Tanah Abang: Sayyid Yahya. s. Epon (the wife of late Haji Tamim. Ujang Suhud. Rawdat al-`irf± f³ ma`rifat al-Qur’±n. 2. (Gunung Puyuh Sukabumi: no publisher`s name.H. 29.. s.a. 36. Sir±j al-Ummah f³ Khasy±`isy al-Jum`ah. (Tanah Abang: Sayyid Yahya.Igtir±r bi-Żal±lat wa-Iftir±y±t Tasyfiyyat al-Afk±r. Vol. s. Tanb³h al-Hayr±n f³ Tafs³r Sµrat al-Dukh±n. 28.). Mr. Rawdat al-`irf± f³ ma`rifat al-Qur’±n.). 2. 34. Ris±lat al-Jawharah al-Mardiyyah f³ Mukhtasyar al-Furµ`iyyah al-Sh±fi`iyyah. (Sukabumi: Kutamas. (8 Rab³` al-±khir 1348/3 October 1929). (without the place of publisher: without the publisher`s name.).K. (Sukabumi: Al-Ittih±d. It is as follows: 1. 1935). (PekojanBetawi: Harun Ibn `Ali Ibrahim.a. s. 37.a). 8 Rabi`u al-Akhir 1349). Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse .a). She gave them to me as a gift. (no place of publisher: without the name of publisher. Al-Suyµf al-Sy±rimah f³-al-Radd `al± al-Fat±w± al-B±tilah. Hid±yat Qulµb al-Shiby±n f³ Fad±`il Sµrat Tab±raka al-Mulk min al-Qur`±n. s. Hilyat al-`Aql wa-al-Fikr f³ Bay±n Muqtaday±t al-Shirk wa-alFikr. 1912). This collection belonged to her late husband. 20 Muharram 1348). Tahdir al-Afk±r min al.a. [1931]). J±mi`u al-Durar f³ Tabd³d Awham Haji Bodor. 3. 32. (Cantayan-Sukabumi: without publisher.. 16. (Sukabumi: Kutamas. s. 33. 1912). — Usep Abdul Matin 25.a). Tamshiyyat al-Wild±n f³ Tafs³r al-Qur`±n. Al-Fiqh al-Akbar Im±m Hanaf³. 16. 26. 31. Vol. Sillah al-B±sil fi-al-Darb `al± Taz±hiq al-B±til. There are nine (9) books of Sanusi that I received from Mrs. 1929/6 Ramadhan 1347). 35.

tahun ka 1). Tamshiyyat al-dar±r³. s. 161 . Rawdat al-`irf± f³ ma`rifat al-Qur’±n. Rawdat al-`irf± f³ ma`rifat al-Qur’±n. 10 Syawwal 1349/28 February 1931). 4. I found the cover of this book from Mr. 1912). On the last page of the book there is the list of the people who just died. 5.). 6.H. M. Tjagak Tjisaat – Sukabumi: H. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . Tafs³r malja` al-t±lib³n. It contais the Quranic exegesis of the verse Al `Imr±n. Jawharat al-mardiyyah f³ mukhtasar maż±hib al-Sh±fi`iyyah. s. — Usep Abdul Matin 4.H.اﻟﻤﻄﻬﺮات ﻣﻦ اﻟﻤﻜﻔﺮ١ت‬De Vogelweg No. Tafs³r malja` al-t±lib³n.). 2. Dudu Abdullah Hamidi: 1. I write them in the Arabic script as follows: 1.a. There are eleven (11) books of Sanusi that I received from Mrs. 3rd edition. Zainal Abidin Toko kitab dan Petji Merk “Sedjati”. On the last page of the book. (Tanah Tinggi Senen Keramat No.K.).a. Uking`s collection.). s.. 100 Sukabumi: no publisher`s name. 3. (De Vogelweg Sukabumi: No publisher`s name. Vol. 28 March 1931). Tafs³r malja` al-t±lib³n.a. ‫( . This book starts from the verse alNaba` to the verse al-N±s and ends at the Du`a` Khatm alQur`±n.). 1 September 1931. There are three (3) books of Sanusi that I received from my late father. (Tanah Abang Weltevreden Betawi: Kantor Cetak Sayyid Yahya bin `Usman. 7. (Tanah Tinggi Betawi: no publisher`s name. Mamih Ijong. Vol.a. (no place of publication: no publisher`s name. 28 April 1931). Vol. Tafs³r malja` al-t±lib³n. (no place of publication: no publisher`s name. 9. K. and some corrections of the author of some words mentioned in previous volumes of this exegesis. s. s. (no place of publication: no publisher`s name. 1. (Tanah Tinggi Senen 191 Batavia Keramat: no publisher`s name. 2. there is a list of the people who died.. 4 Pekojan Betawi: Kantor Cetak Harun bin `Ali. 3. (Djl. Vol. Vol. 30.a. Rawdat al-`irf±n f³ ma`rifat al-Qur’±n. 8.

ا ﻟﺸﺮاج اﻟﻮهﺎج ﻓﻰ اﻷﺳﺮاء واﻟﻤﻌﺮاج‬Tanah Abang Kecil No. In addition.. 2. Ali Alaydroes. 7. (Tanah Abang Weltevreden: Boekhandel en Steendrukkerij Sajid Yahya.).). 9. (Petamburan Betawi: Cetakan Sayyid `Abdullah putra Sayyid Usman. 26 Rajab 1347)..). ‫( . s. like al-Wajiz by 162 .). Friday. 13 Jumadi al-Awwal 1361/29 Mei 2602 Nippon (1942). 3. s.اﻟﺪﻳﺎر اﻷﺳﻼﻣﻴﺔ ﻓﻲ اﻟﺴﻌﺎدة اﻷﺑﺪﻳﺔ : دار ﻷﺳﻼم دﻧﺎ آﺎﺑﻜﺠﺎ‬ (Kramat 38 Jakarta: Sd. ‫( .). On the last page of this book. 11. 1 Rajab 1347/13 December 1928). ‫ . Tafsir Dukhan (Tanbih al-Hayran).a. there is announcement of the publisher. which says that he received anything to publish this book in a cheap cost.اﻟﺴﻼح اﻟﻤﺎﺣﻴﺔ ﻟﻄﺮق اﻟﻔﺮق اﻟﻤﺒﺘﺪﻋﺔ‬Gunung Puyuh Sukabumi: no publisher`s name.a.a. Tafsir Yasin (Tafrih Qulub al-Mu`minin).ﺟﻮهﺮة اﻟﻤﺮﺿﻴﺔ ﻓﻲ ﻣﺨﺘﺼﺮ ﻣﺪاهﺐ اﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ‬No place of the publication: no publisher`s name. On the back-cover title-page of this book.ﺗﻴﺠﺎن اﻟﻐﻠﻤﺎن ﻓﻲ ﺗﻔﺴﻴﺮ اﻟﻘﺮأن‬Cantayan Sukabumi. 2.آﺸﻒ اﻷوهﺎم واﻟﻈﻨﻮن ﻓﻲ ﺑﻴﺎن ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻲ ﻻﻳﻤﺴﻪ اﻻ اﻟﻤﻄﻬﺮون‬Tanah Abang: Kantor Cetak Sayyid Yahya. ‫ . s.اﻟﻤﻄﻬﺮات ﻣﻦ اﻟﻤﻜﻔﺮات‬no place of the publication: No publisher`s name. 4.). 20 Muharram 1348). were published by Musa bin `Ali Patekwan Betawi without the author`s permission. 6. s. ‫( . there is a stample named by Muhammad Sanusi.ﺗﺎج اﻟﻤﻔﺎﺧﺮ ﻓﻲ ﺗﻔﺮﻳﺢ اﻟﺨﺎﻃﺮ ﻓﻲ ﻣﻨﺎﻗﺐ اﻟﺴﻴﺪ ﻋﺒﺪ اﻟﻘﺎدر ﺟﻴﻼﻧﻰ‬Tanah Abang Weltevereden: Kantor Cetak Sayyid Yahya. ‫( .a. — Usep Abdul Matin 2.هﺪاﻳﺔ اﻟﺼﻤﺪ ﻓﻰ ﻣﺘﻦ اﻟﺰﺑﺪ‬Gunung Puyuh Sukabumi: No publisher`s name. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . ‫ : ﻣﻨﻈﻮﻣﺔ اﻟﺮﺟﺎل ﻟﺴﻴﺪى ﻋﻠﻰ زﻳﻦ اﻟﻌﺎﺑﺪﻳﻦ‬Ieu Nadlam Qashidah Tawassul kalawan Sakabeh Awliya` Allah.H.K. s. (De Vogelweg Sukabumi: Al-Ittihad. ‫( . ‫” اﻧﺎﻧﻮ ﻣﻌﻤﻮر .a. ‫( . On the title-page of this book. s. sayyid Yahya.آﺸﻒ اﻟﺴﻌﺎدة ﻓﻲ ﺗﻔﺴﻴﺮ ﺳﻮرة اﻟﻮاﻗﻌﺔ‬Babakan Sirna Sukabumi. ‫( . the author warned the readers that his works entitled: 1.). s. 5.). ‫ . 5: Percetakan “al-`Usmaniyyah” Sayyid Hasan bin Usman bin …. s. 3.a. He said that Tafsir Raudhat al`Irfan is worth reading for both old people (sepuh) and teenagers (murangkalih). 8. 10.a.اﻳﻘﺎظ اﻟﻬﻤﻢ ﻓﻲ ﺗﻌﻠﻴﻖ اﻟﺤﻜﻢ‬No place of the publication: no publisher`s name. he prohibited the readers from reading the fake works (kitab-kitab tiruan).a.

1999. I could draw a conclusion that KH. 2001 in his house. Abdurrahim. On this paper. Azyumardi. I have a good luck to find more than one hundred writings authored by Sanusi. I dedicate this work to my late parents.a.H. s. Then. he qouted the prophet`s statement: “Man Gassana fa laysa minna” (whoever performed a back bitting is not from us). Ahmad Sanusi. December 22.. Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana & Kekuasaan. He warned them that whoever was involved in this case would be expelled by God from Islam. [] Bibliography Alamsyah. There is one book of Sanusi that I found from a santri of Syams al-`Ulum in Gunung Puyuh. Yosep Aspat.). to study further on Sanusi in a more deeply way. such as Muhammad `Abduh and Jamaluddin Al-Afghani. Sukabumi: Misb±h al-Fal±h f³ Awrad al-Mas` wa-al-Syab±h.H.H. Azra.K. I hope that this article inspires the readers. (Gunung Puyuh Sukabumi: no publisher`s name. Gunung JayaSukabumi. 163 . Introd. in particular the students of Islamic History and Civilization. Conclusion On the basis of the above-mentioned details. He was a Sundanese reformer Muslim whose ideas were influenced very much by notorious Muslim reformers. thereby prohibiting Indonesians from having and reading Sanusi’s works. by Taufik Abdullah. is a prolific writer whose works are now dfficult to discover for the reason that the Dutch colonial government regarded him as a dangerous man to them. Mr. — Usep Abdul Matin Haji Muhammad Juwayni bin Haji `Abdurrahim Parakan Salak published by Sayyid `Ali al-`Idrusiy in the Keramat Batavia Centrum.. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. and my grandfa who became the adjutant to the late father of K. Ahmad Sanusi: K. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . since he traveled to the Haramayn (Mecca and Medina) to learn and to teach. who lived from the last nineteenth to the first twentieth century.

.I.. Oking in his house in Cigunung. Interview: Interview with late Ajengan Dadun in his house in Cibadak. An unpublished thesis. 1993. 19 Februari 1940. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . Biografi K. Abdullah. Vol. 1998 Leiden: Rijk Universiteit Leiden. Proyek Penelitian Keagamaan. December 12. ---------.” . Ahmad. ---------. 1935. Tadhkirat al-Ikhw±n bi-m± fî ±khir al-Zam±n. Boenoet: “Pemerintah” Soekaboemi. Siapa?: Lukisan tentang Pemimpin-pemimpin. 1935. Badan Litbang Agama. Sukabumi: al-Ittih±d. Wanta. Leiden University.. he was at the age of 80. in our house in Sukabumi December 12. Amsterdam: Vrije Universiteit. Majalengka: Pengurus Besar “Persatuan Ummat Islam” Majlis Penyiaran dan Da`wah. Tahdîr al-Afk±r. Leiden University. Kantor Cetak al-Ittihad Sukabumi. [This work is in form of micro film which is available in the KITLV library. Puslitbang Lektur Agama. The Netherlands]. Iskandar. Interview with Mr. 3. KH. Fatw±. Ahmad Sanusi. ibn Husain. Buitenzorg: Ang Tjio Drukkerij. 1. in Proces Verbal. Sukabumi. Mindharat al-Islam wa-alIman. 1991. M. Sipahoetar. 1955. 164 . Dudu Abdullah Hamidi.H.H. Jakarta: Bagian Proyek Penelitian dan Pengembangan Lektur Agama Departemen Agama. KH Ahmad Sanusi dan Perjoangannya. Leiden. 1991. [Sanusi`s speech of Syarekat Islam] “Dit Boek Nahratoe`ddhargam (De Gebiedende Leeuwenstem) Dienende tot Wering van de Aanvallen Veragtelijke Menschen Gericht tegen de S. Sukabumi. Sukabumi: Kantor Cetak Sukabumi.H. When I interviewed him. 2001. Muhammad Misbah. Ibn Haji Syafe`i Sukabumi. 2001. Studiegids Islamologie 1998/1999. Rijk Universiteit. Vol. Mohammad. my father.a. West Java.K. Para Pengemban Amanah: Kyai dan Ulama dalam Perubahan Sosial – Politik di Priangan c. 1900-1942. 1986. Interview with late K. — Usep Abdul Matin Ensiklopedi Islam. [Fatw±] “Zakat Fithrah.a. Jakarta: PT Intermasa. KITLV. Second edition. on December 20. Sanusi. 2001.” s. ---------.

Therefore. Jakarta This writing is an overview of the book written by Oman Fathurahman. In fact. Kajian filologi semacam ini mensyaratkan para filolog untuk memperkaya wawasannya dengan pengetahuan tentang sejarah sosial-intelektual tersebut. it was clear that the teaching of monisme or unity of being was eliminated and the teaching was adjusted to the teaching of Islam which is based on the creed of Ahlus Sunnah wal Jamaah Kata kunci: Filologi.Tarekat Syattariyah di Minangkabau — Uka Tjandrasasmita Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Tinjauan Buku “Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Teks dan Konteks”. The explanation which is based on the manuscripts of the Syattariyah Minangkabau. Minangkabau Pendahuluan Kajian filologi dengan pendekatan sejarah sosial-intelektual masih jarang dilakukan oleh ahli filologi Indonesia. The study of the book has been extended by additional analysis on the representation of the Sundanese manuscript with Kuningan version dan two other Javanese manuscripts – Cirebon version and Girilaya version. with its seven grades teaching. karya Oman Fathurahman Uka Tjandrasasmita UIN Syarif Hidayatullah. Buku karya Oman Fathurahman. tarekat Syattariyah. illustrate the existing difference between the order of Syattariyah and the order of Naqsyabandiyah. Burhanuddin Ulakan. the order of Syattariyah Syekh Burhanuddin Ulakan tought in the following period was flexible. this study is hoped to motivate other local philologist to conduct such study. Tarekat Syattariyah di 165 . The order of Syattariyah is considered by a group of Naqsyabandiyah to teach the wujudiyah (monism or unity of being). An interesting thing is that this book is a result of the philological study with the approach of sociointellectual history which the local philologists are still rare to use. Moreover. Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Teks dan Konteks.

Betapa pentingnya buku karya Oman Fathurahman ini telah ditandaskan oleh Azyumardi Azra dalam Kata Pengantarnya. Vol. ”Apresiasi Warisan Intelektual Islam di Surau Minangkabau”. Ketiga naskah tersebut menurut Oman Fathurahman. Azra mengatakan bahwa dari segi kajian naskah-naskah (manuscripts) keislaman yang tersebar di Nusantara. Naskah-naskah lokal di Minangkabau menunjukkan ekspresi Islam lokal. Naskah dan Pendekatan Interdisipliner Buku karya Oman Fathurahman ini dapat dikatakan telah teruji bobot keilmiahannya karena merupakan hasil disertasi yang dinyatakan lulus dengan pujian cumlaude oleh dewan pengujinya. Cakupan pembahasan dalam buku ini sudah mengalami perluasan. Buku yang akan kita tinjau ini merupakan kajian filologis dengan pendekatan sejarah sosial-intelektual. Jika diadakan perbandingan dengan naskah-naskah yang mengandung keagamaan Islam di daerah lainnya di Nusantara atau dengan naskah-naskah Islam yang berkembang di wilayah asalnya di Tanah Arab. 1. melainkan juga analisis terhadap representasi naskah Sunda “versi Kuningan” dan dua naskah Jawa “versi Cirebon” dan “versi Girilaya”. 7. tidak sebatas Minangkabau. merupakan karya yang berasal dari disertasi untuk memperoleh gelar doktor pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia tahun 2003.174 Minangkabau: Teks dan Konteks. 166 . No. Hal ini menunjukkan bahwa surau merupakan pusat pewarisan intelektual Islam.Jurnal Lektur Keagamaan. 2009: 165 . untuk kasus di Minangkabau (Sumatera Barat). surau merupakan pusat penulisan dan penyalinan naskah-naskah keislaman tersebut. naskah-naskah Minangkabau memperlihatkan kekhasannya tersendiri yang menunjukkan ekpresi Islam di Indonesia di mana terdapat unsur-unsur budaya lokal. Diharapkan kehadiran buku ini dapat mendorong para ahli filologi Indonesia lainnya untuk mengadakan kajian semacam itu. dipakai sebagai bahan perbandingan untuk melihat sejauh mana kekhasan dinamika dan perkembangan tarekat Syattariyah di Sumatera Barat yang tetap menjadi perhatian utamanya.

pada umumnya mengandung informasi berlimpah yang meliputi kehidupan sosial. hukum..A.A. secara khusus kami juga telah menyampaikan makalah tentang bagaimana hubungannya antara Filologi dan Pendekatan Interdisipliner di 167 .. Sebenarnya kajian terhadap naskah dengan pendekatan sejarah sosio-intelektual telah dipelopori oleh Azyumardi Azra melalui disertasinya untuk memperoleh Ph.P. di Columbia University tahun 1992 dengan judul The Transmission of Islamic Reformation to Indonesia Networks of Middle Eastern and Malay-Indonesian Ulama in the Seventeenth and Eighteenth Centuries. baik yang bernuansa keagamaan Islam maupun yang bukan. Hans Overbeck. politik. adat.. Mengenai hal ini pernah saya kemukakan dalam suatu risalah sebagai kontribusi memperingati usia ke-80 tahun R. maka selayaknya filologi juga memakai pernaskahan itu dengan pendekatan sejarah dan ilmu-ilmu sosial lainnya.J. Kecuali itu. 2006: 43-52). ekonomi. Contribution of Islamic Manuscripts for the Study of Islamic Archaeology (Uka Tjandrasasmita. bahkan H. A. de Graaf dan lain-lain (Uka Tjandrasasmita: Kajian Naskah-Naskah Klasik. Buku ini diharapkan mendorong para ahli filologi pribumi lainnya untuk mengadakan kajian semacam itu. Hoesein Djajadiningrat. Disertasi yang sangat penting artinya bagi pengembangan sejarah pemikiran keagamaan ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. 2006: 459-.Tarekat Syattariyah di Minangkabau — Uka Tjandrasasmita Hal yang menarik perhatian kita adalah bahwa buku Oman Fathurahman ini merupakan hasil kajian filologi dengan pendekatan sejarah sosial-intelektual yang masih jarang dilakukan di antara ahli filologi pribumi. yaitu Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Melacak Akar-Akar Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia.471). Mengingat naskah-naskah atau manuskrip khazanah budaya bangsa Indonesia. Karyanya telah saya contoh untuk membedakan ahli-ahli filologi masa lampau yang menggunakan kajiannya dengan pendekatan sejarah-politik konvensional sempit seperti R.D. Cense. kajian naskah dapat juga memberikan kontribusi pada kajian arkeologi. dan kebudayaan bahkan perobatan. Saya sendiri telah mencoba menguraikan permasalahan ini dalam buku yang baru saya sebutkan di atas. Soejono. Kecuali dapat dimanfaatkan bagi penulisan sejarah.

Vol. Kedua ahli tasawuf ini adalah guru Abdurrauf ibn Ali al-Jawi al-Fansuri. dapat dikatakan bahwa cakupan yang dibicarakannya cukup banyak dan sangat bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Pribumisasi Tarekat Syattariyah di Sumatera Barat Kembali mengenai tinjauan terhadap buku karya Oman Fathurahman. 2000). sehingga tidak mengherankan kalau karya-karya Abdurrauf merujuk pada kitab-kitab kedua ahli tasawuf tersebut. K. Karya Abdurrauf kemudian ditransmisikan kepada Syekh Burhanuddin Ulakan yang meneruskan dan mengembangkan ajaran tarekat Syattariyah di Sumatera Barat. Karya guru Syekh Burhanuddin Ulakan. mengingat begitu luasnya kandungan pernaskahan kuno yang dapat dikaitkan dengan kajian berbagai ilmu. Oman Fathurahman dalam penelitiannya menggunakan dua sumber Arab yaitu kitab al-Sim¥ al-Majīd sebuah karangan tasawuf Syekh A¥mad al-Qusyāsyī dan It¥āf al-ª±ki bi Syar¥ al-Tu¥fah alMursalah ilā Rū¥ al-Nabī karangan Ibrāhīm al-Kūrānī.174 Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama pada tanggal 14 Nopember 2008. 7.Jurnal Lektur Keagamaan. Naskahnaskah tersebut merupakan karya tulis tiga orang ulama yaitu: Imam Maulana Abdul Manaf Amin (1922-2006). 1. H. Isi pokoknya dapat dibaca dalam ringkasannya yang antara lain mengemukakan tentang sumber primernya yang berdasarkan 10 judul naskah-naskah Syattariyah dari Sumatera Barat. Selanjutnya juga diturunkan kepada muridmuridnya di Minangkabau sampai pada tiga orang ahli tarekat Syattariyah abad ke-20 yang namanya telah disebut di atas dan karangannya menjadi sumber primer bagi penelitian tarekat di Sumatera Barat/Minangkabau. yaitu Abdurrauf ibn Ali al-Jawi al-Fansuridi antaranya ialah Tanbīh al-Māsyī al168 . khususnya tentang Tarekat Syattariyah di Minangkabau. dan Tuanku Bagindo Abbas Ulakan. Deram (w. 2009: 165 . Bahkan naskah-naskah yang membicarakan hal-hal pengobatan tradisional dengan bermacam tumbuhan dapat dikaji dari segi ilmu kedokteran modern. Untuk mengukur sampai dimana dinamika tarekat Syattariyah yang dibentangkan dalam naskah-naskah dari Sumatera Barat atau Minangkabau itu. No.

Pada bab IV. Abdurrauf mewacanakan bahwa tujuan akhir zikir tarekat Syattariyah ialah 169 . Oman Fathurahman menyebutkan tidak kurang dari 23 buah karya Abdurrauf di bidang tasawuf. dan satu buah di bidang tafsir.Tarekat Syattariyah di Minangkabau — Uka Tjandrasasmita Mansūb il± °arīq al-Qusyāsyī (Pedoman bagi orang yang menempuh tarekat al-Qusyāsyī). Dalam naskah-naskahnya. hal tersebut sudah dibahas dengan teliti dalam subjudul “Zikir Tarekat Syattariyah dalam Tanbīh al-Māsyī dan Kifāyah al-Muhtājīn” (h. teks Tanbīh al-Māsyī yang aslinya ditulis dalam bahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kitab-kitab di bidang hadis yang dicatat Oman Fathurahman ada dua buah. Bila Nuruddin al-Raniri yang pada waktu itu menjadi penentang keras terhadap Wujudiyah maka Abdurrauf al-Singkili bersikap moderat yang dapat kita simak dari kitab Tanbīh al-Māsyī dan kitab-kitab lainnya. 64-69 dan 7072). menurut pembacaan saya. Kitab Abdurrauf ini sebenarnya pernah dikaji dan diterbitkan Oman Fathurahman dengan judul Menyoal Wahdatul Wujud: Kasus Abdurrauf Singkel di Aceh Abad ke-17 (Fathurahman. yaitu Tanbīh al-Māsyī. sedangkan untuk kitab yang menjadi objek kajiannya. Kitab tafsirnya yang berjudul Tarjumān al-Mustafīd merupakan tafsir Al-Qur’an pertama di dunia Islam dalam bahasa Melayu. 1999). Ada perbedaan antara tujuan zikir Abdurrauf dalam Tanbīh alMāsyī yang merujuk kepada karya Syekh al-Qusyāsyī dengan Syattariyah di Sumatera Barat. dijumpai empat salinan naskah yang disalin dalam rentang waktu berbeda. belum mendapat porsi yang cukup memadai dalam pembahasannya karena baru diungkap secara sepintas. Namun. kata Azyumardi Azra. khususnya mengenai amalan-amalan Syattariyah yang mengandung rumus-rumus atau simbol-simbol zikir dan cukup penting. 10 buah di bidang fikih. Meskipun demikian. serta dianggap ajaran yang sesat oleh lawannya. Persoalan yang diangkat dalam karangan tersebut ialah masalah Wujudiyah yang pada abad ke-17 menjadi ajang pertentangan antara Hamzah al-Fansuri dan muridnya asSumatrani. yaitu Nuruddin al-Raniri sehingga atas anjurannya kitab-kitab karangan kedua ahli tasawuf Wujudiyah itu dibakar. sayang dalam buku ini ajaran-ajaran zikir Syattariyah Abdurrauf yang terdapat dalam teks itu.

Ritual Basapa ialah upacara berziarah ke makam Syekh Burhanuddin Ulakan sebagai ulama besar tarekat Syattariyah di Sumatera Barat yang dilakukan setiap tahun pada tanggal 10 Safar. 1. Ada pertanyaan yang perlu dikemukakan. 7. tujuan akhir zikir hanya “sekadar” untuk membersihkan jiwa agar memperoleh kedekatan dengan Tuhan dan untuk membuka rasa agar memperoleh keyakinan dan kesaksian akan hakikat dan wujud-Nya. No. sejumlah naskah Minangkabau menjelaskan adanya upaya pelucutan doktrin Wujudiyah dari keseluruhan ajaran tareakat Syattariyah. yang dalam buku ini dikemukakan pada bagian keenam (h. Hal lain yang juga menarik perhatian kita adalah uraian yang didasarkan pada naskah-naskah dari Minangkabau/Sumatera Barat yang mengandung gambaran adanya perbedaan paham antara tarekat Syattariyah dengan tarekat Naqsyabandiyah.Jurnal Lektur Keagamaan. Sikap dari para penganut tarekat Syattariyah di Sumatera Barat/Minangkabau tersebut oleh Oman dibahas berdasarkan naskah-naskah primer yang ditulis. yaitu apa bedanya dengan upacara tabuik yang biasanya dilakukan 170 . Di dalamnya dibahas serta diberikan contoh pula adanya pribumisasi tarekat Syattariyah yang antara lain berwujud dalam kesenian upacara ritual kesenian yang disebut Basapa dan kesenian Salawat Dulang (h. Jelas ini merupakan bagian dari dinamika tarekat Syattariyah di Sumatera Barat. Dalam level tertentu. 130-149). Tarekat Syattariyah dianggap oleh kelompok masyarakat penganut tarekat Naqsyabandiyah mengajarkan doktrin Wujudiyah yang dianggap berlebihan dan menyimpang. dengan alasan bertentangan dengan prinsip-prinsip ahlussunnah wal-jamaah. padahal kenyataannya tarekat Syattariyah yang diajarkan Syekh Burhanuddin Ulakan sampai masa berikutnya senantiasa mendasarkan pada prinsip-prinsip al-Quran dan Hadis Nabi. disalin dan diwariskan oleh para guru tarekat Syattariyah dari surau sebagai skriptorium pernaskahan. Orang yang mengikuti upacara ritual ini bukan hanya penganut tarekat Syattariyah tetapi juga penganut Islam pada umumnya. 111-129). sedangkan dalam teks-teks di Sumatra Barat lebih banyak disebutkan bahwa.174 konsep fana. 2009: 165 . Vol. Bulan Safar tersebut dikaitkan dengan anggapan masa wafatnya Syekh Burhanuddin Ulakan sendiri.

Menurut tradisi. Salawat Dulang atau Salawat Talam sampai kini dilakukan oleh masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat. Dalam upacaya ini biasanya terdiri dari dua grup yang dilaksanakan dengan cara berdialog tentang keagamaan Islam. Selain itu disisi pula dengan khutbah. Sunan Gunung Jati atau Syekh 171 . pertama kalinya upacara itu dilakukan pada masa hidupnya Syekh Burhanuddin Ulakan yang pernah menyaksikan upacara kesenian di Aceh dengan menggunakan rebana. yaitu kesenian yang menggunakan antara lain dulang atau talam dengan cara dipukul-pukul sambil membacakan salawat Nabi. Tarekat Syattariyah versi “Kuningan”. sebelum diterbitkan dalam bentuk buku. “Cirebon”. penelusurannya akan semakin lengkap jika dikaitkan pula dengan ajaran tarekat Syattariyah yang semula dianut oleh Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah. Oman Fathurahman telah memperluas pembahasan tentang dinamika tarekat Syattariyah di Minangkabau melalui perbandingan dengan “versi Kuningan”. Kalau Oman Fathurahman mengambil contoh naskah versi Kuningan. tarekat Syattariyah ketiga versi tersebut dikatakannya. Demikian di antaranya pribumisasi tarekat Syattariyah di Sumatera Barat. Berbeda dengan tarekat Syattariyah Sumatera Barat. baik dari Kuningan maupun dari Mertasinga Cirebon yang ditulis pada abad 18-19 M. Cirebon.Tarekat Syattariyah di Minangkabau — Uka Tjandrasasmita oleh penganut Syiah di Pariaman dan tempat lainnya? Ini bisa bersamaan atau hampir bersamaan. karena hal itu mungkin disebabkan adanya hubungan silsilah guru-guru tarekat Syattariyah yang juga sering mencantumkan tokoh Ali bin Abu Thalib panutan utama aliran Syiah. dan Girilaya cenderung kepada tarekat Syattariyah Abdurrauf dari Aceh dengan tidak menolak sama sekali tasawuf Wujudiyah walaupun tetap mengajarkan Martabat Tujuh yang diterima oleh Syekh Abdul Muhyi (Pamijahan) dari gurunya Abdurrauf al-Singkili. dan “versi Girilaya”. naskah yang berasal dari Kiai Maolani. dan “Girilaya” Untuk melengkapi disertasinya. Karena berdasarkan pemberitaan dalam naskah. dan berbagai lagu-lagu lainnya. “versi Cirebon”. Kecuali itu pribumisasi tarekat Syattariyah terekspresi dalam upacara kesenian Salawat Dulang. tarekat di Kuningan.

7. sampai terakhir pada Kiai Mas Demang wedana pensiun Atmawijaya. Sejarah Wali: Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati (Naskah Mertasinga. Masalah tarekat-tarekat ini dapat dibaca dalam Amman N. masyarakat Kuningan menyebut Kiai Maolani atau Lengkong itu dengan Embah Manado. Imam Ja’far as-Sidik.Jurnal Lektur Keagamaan. Sayidina Ali. Vol.174 Syarif Hidayatullah berguru tasawuf tarekat Kubrawiyah. Sebab. bagaimanapun. Tambahan lain yang perlu dimasukkan adalah bagaimana hubungan tarekat Syattariah dengan Martabat Tujuh yang ditulis oleh Haji Hasan Mustafa. No. Wahyu. ia pernah ke Cirebon dan mengajarkan tarekat Syattariyah. 2009: 165 . Sayidina Muhammad al-Baqir. Sayidina Zainal Abidin. Kini. Muhammad Magrib dan seterusnya secara turun temurun sampai pada ulama-ulama di Jawa. 1. Oleh karena itu. 2005) dan (Naskah Kuningan. Dalam naskah Kuningan lebih rinci lagi ajaran tasawuf dengan tarekat-tarekatnya terutama tarekat Syattariyah seperti disebut dalam silsilah Mursyidnya: dari mulai Nabi Muhammad. ke Sayidina Husein. Kecuali itu bagaimana kaitan ajaran tarekat Syekh Abdul Muhyi dari Pamijahan dengan yang berada di Cirebon. Kecamatan Tondano. Hal ini perlu diadakan penelitian lebih jauh. Naqsyabandiyah. makamnya ada di kompleks makam Kiai Mojo di Kampung Jawa. Abi Yazid al-Bisthami. Penutup Hasil kajian yang telah dilakukan Oman Fathurahman melalui bukunya ini. apakah ada hubungannya dengan naskah tarekat Syattariyah dari Haji Maolani-Lengkong-KuninganJawa Barat yang diasingkan Pemerintah Hindia-Belanda semasa Perang Diponegoro ke Menado. Kabupaten Minahasa. 2007). telah memberikan sumbangan besar bagi perkembangan studi filologi dengan pendekatan sejarah sosio172 . Cirebon dan Kuningan. yang terkenal sebagai pujangga besar Sunda dengan banyaknya karangan mengenai adat istiadat dan lain sebagainya. Juga bagaimana kelak jika telah dipelajari tarekat Syattariyah yang diajarkan di Buton dan mungkin tempat-tempat lainnya yang sudah tentu akan memberikan gambaran yang luas sekali tentang keberadaan tarekat Syattariyah di Nusantara ini. menurut cerita. dan Satoriyah (Syattariyah).

Henri & Oman Fathurahman. Chambert-Loir. baik dalam bidang filologi maupun di bidang ilmu-ilmu lainnya. Melalui kajian semacam itu dapat diyakini betapa tingginya nilainilai keintelektualan para ulama kita di masa lampau yang telah mewariskan ratusan bahkan ribuan naskah sebagai warisan khazanah budaya bangsa. terutama yang termasuk ilmu-ilmu sosial. perlu menyadari untuk mengadakan penelitian naskah-naskah yang bernuansa keagamaan.-Yayasan Obor Indonesia. baik UIN Syarif Hidayatullah atau di perguruan tinggi agama lainnya. Penerbit Mizan. 1999. Buku karya Oman Fathurahman ini dapat semakin menegaskan bahwa naskah kuno keagamaan memiliki arti yang sangat penting untuk studi-studi keagamaan. Fathurahman. Demikian pula bagi para mahasiswa yang tengah menuntut ilmu di berbagai jurusan dengan bidangnya masing-masing dapat menyentuh nuraninya untuk mempelajari filologi atau pernaskahan. Jakarta dan Bandung: E. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII Melaacak Akar-Akar Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia. Oman.O. Panduan Koleksi Naskah Naskah Indonesia Sedunia/ World Guide to Indonesian Manuscript Collections. Semoga buku ini mencapai tujuannya untuk menambah wawasan para pembacanya dan juga untuk memperkaya khazanah kepustkaan Indonesia pada umumnya dan kepustakaan Islam Indonesia pada khususnya.F.O. Azyumardi.Tarekat Syattariyah di Minangkabau — Uka Tjandrasasmita intelektual atau pemikiran Islam karya cendekiawan Muslim masa lampau di Indonesia. bahkan ilmu-ilmu lainnya seperti kedokteran dan teknologi. Bandung: Mizan. 1994. Tanbih Al-Masyi Menyoal Wahdatul Wujud Kasus Abdurrauf Singkel di Aceh Abad 17. 1999.F.E. 173 . Jakarta: E. [] Daftar Pustaka Azra. Hasil kajian seperti itu akan mendorong semangat terutama bagi siapapun yang berkecimpung. yang tidak terbatas pada kajian filologi.E. Centre de Jakarta. Lebih-lebih bagi mahasiswa-mahasiswa Fakultas Adab dan Humanaiora.

Sejarah Wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati (Naskah Mertasinga). 1. (Naskah Kuningan). Sejarah Wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. Kajian Sejarah dan Arkeologi Islam di Indonesia: Pemanfaatan: Hasil Kajian Filologi. Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama R. Bandung: Penerbit Pustaka ----------. Amman N. 2007.Jurnal Lektur Keagamaan. h. No. “The Contribution of Islamic Manuscripts for the Study of Islamic Archaeology”.P. Uka. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. Jakarta: Pidato Penganugerahan Gelar Doktor Honoris Causa oleh IAIN Syarif Hidayatullah. Indonesian Institute for Sciences: International Center for Prehistoric and Austronesian Studies. ----------. Alih aksara dan bahasa. ----------. 2006. R. Tgl. Soejono’s Fest Script. Vol. 1998. 2009: 165 . 174 . 7. Archaeology Indonesia Perspective.I. 2008. Kajian Naskah-Naskah Klasik dan Penerapannya bagi Kajian Sejarah Islam di Indonesia. 4 November. 459-471 ----------. “Pendekatan Interdisipliner Dalam Kajian Filologi”. Wahju. 1426 H/1995 M.174 Tjandrasasmita.Alih aksara dan bahasa. Disampaikan dalam Diklat Penelitian Naskah Keagamaan Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan Departemen Agama RI. 2006. Bandung: Penerbit Pustaka.