ISSN 1693-7139

Jurnal Lektur Keagamaan
Vol. 7, No. 1, Tahun 2009/No. Akreditasi: 48/Akred-LIPI/P2MBI/12/2006

Daftar Isi
Kajian Naskah, Sejarah, dan Arkeologi Teks, Islam dan Sejarah: Setali Tiga Uang Fuad Jabali Perang dan Damai di Aceh: Kajian Manuskrip Aceh Tentang Konflik dan Solusinya Fakhriati 1 — 20

21 — 52

Beberapa Aspek Kodikologi Naskah Keagamaan Islam di Bali: Sebuah Penelusuran Awal Asep Saefullah dan M. Adib Misbachul Islam 53 — 90 Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua dalam Naskah-Naskah Tarekat Syattariyah di Minangkabau Pramono dan Bahren

91 — 108

Peran Penting Pernaskahan dan Benda Khazanah Keislaman Lainnya dalam Kajian Arkeologi Islam di Indonesia Agus Aris Munandar 109 — 132 Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara Irmawati M-Johan Tokoh K.H. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual 133 — 146

Discourse, and His Work Collection
Usep Abdul Matin Telaah Buku Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Tinjauan Buku “Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Teks dan Konteks”, karya Oman Fathurahman Uka Tjandrasasmita 165 — 174 147 — 164

i

ISSN 1693-7139

Jurnal Lektur Keagamaan
Vol. 7, No. 1, Tahun 2009/No. Akreditasi: 48/Akred-LIPI/P2MBI/12/2006
PEMBINA PEMIMPIN UMUM REDAKTUR AHLI (MITRA BESTARI) M Atho Mudzhar Maidir Harun Uka Tjandrasasmita (UIN Syahid Jakarta); Nabilah Lubis (UIN Syahid Jakarta); Abdul Hadi WM (Universitas Paramadina); Achadiati Ikram (Universitas Indonesia); Badri Yatim (UIN Syahid Jakarta); Oman Fathurahman (UIN Syahid Jakarta); Tommy Christomy (Universitas Indonesia); Titik Pudjiastuti (Universitas Indonesia); Sudarnoto Abdul Hakim (UIN Syahid Jakarta) Asep Saefullah Masmedia Pinem E. Badri Yunardi, Harisun Arsyad, Ahmad Rahman, Muchlis, Andi Bahruddin Malik, Dazrizal, M. Syatibi, AH, Ali Akbar, Muchlis M. Hanafi, Ridwan Bustamam, Munawiroh Ibnu Hasyir, Nurman Kholis, Muhammad Salim, Ida Swidaningsih, Umi Kulsum Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI Gedung Bayt al-Qur’an & Museum Istiqlal, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta 13560 Telp./Faks. (021) 87794220 E-mail: puslitbang_lektur@yahoo.co.id

PEMIMPIN REDAKSI SEKRETARIS REDAKSI DEWAN REDAKSI

TATA USAHA ALAMAT REDAKSI

* Kulit depan: Naskah MS Serangan 01, h. 56, milik H. Baharuddin, Kampung Serangan, Denpasar, Bali; dan Halaman Awal Naskah Hiyakaye milik Syik Jah Amut, Geulumpang Miyeunk, Pidie, Aceh. *

Berdasarkan SK Kepala LIPI No. 1563/D/2006 tanggal 18 Desember 2006, Jurnal Lektur Keagamaan telah terakreditasi A ii

dan Telaah Buku/Kitab serta materi yang berkaitan dengan kebijakan. sedangkan golongan kedua lebih pada konteks tetapi teks yang dihasilkannya cenderung labil. Tulisan pertama menyajikan tentang Islam. membaca teksteks dari Timur Tengah nampaknya lebih ‘mudah’ dibanding membaca dokumen sejenis di Indonesia. Telaah Dokumen. Konflik internal maupun eksternal telah terjadi dalam periode-periode yang berbeda. Tulisan ini menjelaskan hubungan yang erat antara Islam sebagai sebuah sistem nilai. Kajian Lektur Kontemporer. Salah satu sumber yang sangat penting digunakan untuk mengkaji sejarah kehidupan orang Aceh adalah naskah kuno yang menjadi tulisan iii .Pengantar Redaksi Sejak tahun 2008. teks dimana sistem nilai itu diekspresikan. teks-teks yang lahir dalam dunia Islam. Pada tulisan kedua diulas mengenai perang dan damai di Aceh melalui kajian atas manuskrip Aceh tentang konflik dan solusinya. kepada kelompok mana teks itu dihubungkan. Sampai batas tertentu. yaitu: 1) teks-teks yang dilahirkan oleh kalangan skripturalis/fundamentalis. Perang dan damai telah mewarnai daerah ini sepanjang sejarahnya. Khazanah Budaya Keagamaan. Pada Nomor ini. setidaknya dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori besar. dan sejarah (ruang dan waktu) sebagai konteks dimana sistem nilai itu diturunkan dalam teks. Arkeologi dan Sejarah. Islam. Cakupan tersebut meliputi Kajian Naskah Klasik. teks dan sejarah. Di sinilah kejelian seorang filolog diuji. redaksi menampilkan delapan tulisan. Golongan pertama lebih menekankan teks dan cenderung menghasilkan teks yang stabil. Secara garis besar. teks dan sejarah adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. dan 2) teks-teks yang dilahirkan oleh kalangan esensialis. Aceh adalah sebuah daerah yang memiliki penduduk yang kehidupan mereka cukup berfluktuatif. Jurnal Lektur Keagamaan telah memperluas wilayah cakupannya yang disesuaikan dengan tugas dan fungsi Puslitbang Lektur Keagamaan. Obituari/Tokoh.

Bagi para penganut tarekat Syattariyah. doa. Tulisan ketiga menyajikan hasil penelusuran awal tentang beberapa aspek kodikologi naskah keagamaan Islam di Provinsi Bali. Secara kultural. Karenanya. mengetahui riwayat guru adalah sebuah keharusan karena bermakna penghormatan kepada guru. Al-Qur’an. Tulisan ini berupaya memberikan penafsiran atas naskah-naskah lokal di Minangkabau. dan lontar. dan 3) Naskah Al-Qur’an sebanyak 14 naskah. naskah-naskah tersebut memiliki arti penting karena berkaitan dengan kebutuhan keagamaan sehari-hari bagi para pengikut Tarekat Syattariyah di Minangkabau. kertas Eropa. dan Bali. karena di dalamnya mengandung informasi asli tentang Aceh. tidak terawat dan kurang mendapat perhatian. bahasa (nahwu-saraf). 2) Bahasa dan aksara yang digunakan meliputi Arab. Makalah ini mencoba menemukan dan menganalisa sumber-sumber primer ini dalam hubungannya dengan perang dan damai yang terjadi dalam sejarah kehidupan orang Aceh. untuk kemudian menjadi teladan bagi kehidupannya. dan bahkan tidak utuh lagi. 2) Naskah lontar sebanyak 12 naskah. mulai dari abad ke-17 hingga abad ke-20 M. dan obatobatan. khususnya terkait dengan Tarekat Syattariyah. Tulisan keempat tentang kepemimpinan Islam di kalangan Kaum Tua dalam naskah-naskah Tarekat Syattariyah di Minangkabau.mereka sendiri. Para iv . Sebagian besar naskah sudah rusak. tasawuf. tauhid. Dari aspek kodikologi. wirid. dan bagaimana karater serta sikap mereka pada masa lalu. dan menjelaskan sikap dan tingkah laku orang Aceh secara langsung. adab kepada guru. Pertanyaan utama yang perlu dibahas adalah bagaimana cara orang Aceh mengatasi konflik dalam kehidupan mereka. generasi sekarang dapat membaca dan memahami langsung tentang tulisan orang Aceh yang menjadi sumber utama. Kondisi naskah keagamaan Islam di Bali pada umumnya sangat memprihatinkan. Bugis. 4) Isi naskah antara lain mencakup fikih. Tulisan ini merupakan hasil penelusuran naskah keagamaan Islam di Bali tahun 2008 yang lalu. dapat dicatat beberapa hal: 1) bahan yang digunakan beragam. yaitu dluang. kertas modern bergaris. Melayu (Jawi). dan geguritan (cerita). dan yang tertua tahun 1035 H/1625 M. 3) Waktu penyalinan antara abad ke-17–19 M. Naskah yang ditemukan sebanyak 38 buah dengan perincian sebagai berikut: 1) Naskah keagamaan berbahan kertas sebanyak 12 naskah.

K. Mereka dihormati. Selanjutnya adalah tulisan tentang tokoh. karya Oman Fathurahman. yaitu K. Buku ini merupakan hasil kajian filologi dengan v .H. ditemukan kurang lebih seratus dua puluh dua (122) karya K.H. dan (d) Memperkaya interpretasi untuk dapat mengembangkan historiografi. khususnya naskah klasik keagamaan (Islam) dalam studi arkeologi religi (Islam). Ahmad Sanusi telah menulis selama hidupnya 480 karya tulis. Sedangkan tulisan kedua membahas peran arkeologi dalam kajian Islam Nusantara. Selain itu. Tulisan ini menjelaskan bagaimana peran arkeologi dalam kajian Islam di Nusantara dan hal-hal apa saja yang menjadi kajian arkeologi. riwayat dan ajarannya ditulis dan disebarkan. Dua tulisan lain selanjutnya membahas hubungan naskah dengan arkeologi. (b) Memperluas pemahaman tentang kedudukan dan peranan artefak dalam masyarakat sezaman. Ahmad Sanusi (1888-1950). Namun. dan apa saja kiranya buku-buku yang telah beliau tulis. Dalam kesulitan itu. Tulisan terakhir merupakan telaah buku yang judul “Tarekat Syattariyah di Minangkabau Teks dan Konteks”. Tulisan ini bertujuan untuk berbagi pendapat tentang siapa K. Departmen Agama RI tahun 1986.H. Menurut Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur Agama (Skr. (c) Data dari sumber tertulis dapat menjadi dasar penelitian dan kerangka acuan kajian arkeologi Islam. tingkah lakunya diikuti. Puslitbang Lektur Keagamaan) Badan Litbang dan Diklat. Tulisan ini membahas wacana keagamaan dan karya-karya K. sebagai penerang di dunia bahkan sampai di akhirat. Suaranya didengar. Ahmad Sanusi.ulama pemimpin Kaum Tua berperan tidak hanya di bidang keagamaan. tetapi juga di bidang sosial-budaya dan politik. Ahmad Sanusi itu. sebagian besar dari karyanya tidak tersimpan di satu tempat. Ahmad Sanusi. dikemukakan pula berbagai penelitian yang telah dilakukan selama ini yang berkait dengan Islam di Nusantara. Tulisan ini membahas tentang posisi penting data tertulis. bahkan sulit ditemukan. Peranan data dari sumber tertulis dalam kajian arkeologi Islam antara lain sebagai berikut: (a) Pendukung kajian terhadap data artefaktual. Tulisan pertama menyajikan peran penting pernaskahan dan benda khazanah keislaman lainnya dalam kajian arkeologi Islam di Indonesia.H.H.

redaksi mengucapkan terima kasih secara khusus kepada Lukman Hakim—Staf Ahli pada Jurnal Penamas. kenyataannya. dan kepada Usep Abdul Matin—Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta—atas kontribusinya mengedit abstrak berbahasa Inggris. Jakarta—yang telah menerjemahkan semua abstrak ke dalam bahasa Inggris. Balai Litbang Agama. Uraian yang didasarkan pada naskah-naskah Syattariyah Minangkabau. Tarekat Syattariyah yang diajarkan Syekh Burhanuddin Ulakan sampai masa berikutnya bersikap lumer. Padahal. Pembahasan dalam buku telah mengalami perluasan dengan tambahan analisis terhadap representasi naskah Sunda “versi Kuningan” dan dua naskah Jawa “versi Cirebon” dan “versi Girilaya”. selamat membaca. menggambarkan adanya perbedaan paham antara Tarekat Syattariyah dengan Tarekat Naqsyabandiyah.pendekatan sejarah sosial-intelektual yang masih jarang dilakukan di antara ahli filologi pribumi. dan semoga bermanfaat. Tarekat Syattariyah dianggap oleh kelompok masyarakat penganut Tarekat Naqsyabandiyah mengajarkan hal-hal wujudiyah. Terakhir. Redaksi vi . Demikian.

Jakarta. S2 (Magister Humaniora). 2006). Ia dapat dihubungi di Jalan Garuda IV Blok D. Sawangan Permai.ac. atau email: agus. adalah Peneliti di Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI. Konstitusionalis Pertama yang Prosais”. dan S2 di perguruang tinggi yang sama tahun 2000 pada Program Studi Sejarah Peradaban Islam. Pada vii . Jakarta” Jurnal Lektur Keagamaan. Ponsel 0816 1447887. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia). Sawangan Depok 16519. UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 1997.) karya Joel L. Jawa Barat. (terj. 1. UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2001. bidang Arkeologi) dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Karya-karyanya antara lain “Ibnul Muqaffa. 2007. S3 (Doktor Arkeologi). lulus tahun 1984 dengan judul Skripsi “Beberapa Data Historis dari Parasasti Mula-Malurung”. M. Pernah menjadi fasilitator pada Pelatihan Filologi Nasional yang diselenggarakan oleh Yayasan Naskah Nusantara (YANASSA) bekerja sama dengan The Toyota Foundation dan PPIM UIN Jakarta. Departemen Arkeologi. 2003). Menyelesaikan pendidikan S1 (Sarjana Sastra.Para Penulis Agus Aris Munandar adalah Staf Pengajar Program Studi Arkeologi Indonesia. No.) karya Tallal Alie Turfe (Bandung: Mizania. Departemen Agama RI. mengikuti International Course on the Handling and Cataloguing of Islamic Manuscripts. Fakultas Pascasarjana Universitas Indonesia. (terj. Saat ini Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. lulus tahun 1990 dengan judul tesis “Kegiatan Keagamaan di Gunung Pawitra: Gunung Suci di Jawa Timur Abad ke-14--15”. dan S 2 di Program Studi Ilmu Susastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia tahun 2005. Tahun 2006. (021) 98284951. Mukjizat Sabar.id Asep Saefullah lahir di Kuningan. Jakarta 1993. “Ragam Hiasan Mushaf Kuno Koleksi Bayt al-Qur’an dan Museum Istiqlal. Ia menyelesaikan S1 pada Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam IAIN (skr.aris@ui. di Kuala Lumpur Malaysia. 5. Tahun 2007 mengikuti Diklat Penelitian Naskah Keagamaan. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI). Adib Misbachul Islam menyelesaikan studi S1 di Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab IAIN (skr. Vol. Pelita. No. lulus tahun 1999 dengan judul disertasi “Pelebahan: Upaya Pemberian Makna para Puri-puri Bali abad ke14—19”. 11-25 Juli 2004. dan lain-lain. 18 Oktober 1971. Manajer Penelitian dan Pengabdian Masyarakat FIB UI (2008—sekarang). Kraemer (Bandung: Mizan.8/30. Renaisans Islam: Kebangkitan Intelektual dan Budaya pada Abad Pertengahan.

Konsultan Projek Kerjasama Luar Negeri (Indonesia-Canada Social Equity Project). Jakarta: RajaGrafindo Persada. dan Sarjana dalam bidang Sejarah dan Peradaban Islam dari Fakultas Adab IAIN (sekarang Fakultas Adab dan Humaniora UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta (1989). Montreal-Jakarta: ICIHEP. dia adalah Deputi Direktur Bidang Akademik Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 1. dan (2) Bagaimana tradisi Islam klasik tersebut digunakan atau disalahgunakan oleh masyarakat Muslim kontemporer untuk menjustifikasi posisi/aliran keberagamaan mereka. sedangkan The Asian Foundation for Research and Consultancy viii . London. Karya tulisnya antara lain. Selain mengajar. Di antara karya-karya tulisnya adalah IAIN: Modernisasi Islam di Indonesia (Co-editor Jamhari). Benturan Peradaban: Sikap Islamis Indonesia Terhadap Amerika Serikat (Co-author). selama tiga minggu mengikuti International Course in the Handling and Cataloguing of Islamic Manuscripts di Kuala Lumpur. Jakarta: Nalar. Keragaman Iman: Studi Komparatif Masyarakat Muslim (co-translator). Jurnal Lektur Keagamaan. The Foreign Fulbright Grant telah memberikan beasiswa kepadanya untuk program S2 di Duke. Sejak 2007 hingga sekarang menjadi Ketua Departemen Arkeologi dan Ketua Program Pascasarjana Departemen Arkeologi FIB UI. Jakarta: RajaGrafindo Persada. Editor Studia Islamika. Fuad Jabali. International Journal for South East Asian Islam. bekerja sama dengan International Islamic University Malaysia (IIUM). The Comnpanions of the Prophet: A Study of Geographical Distribution and Political Alignments. 2008. 2002. 2006. McGill University (1999). dosen di Fakultas Adab dan Humaniora dan di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. “Relasi Tuhan dan Alam: Pandangan Sufistik Syaikh Yusuf Makassar dalam Naskah Sirr al-Asrar”. Riaz Hasan. Departemen Agama. 3. Peta Pendidikan Islam di Indonesia (Making Modern Muslims: Map of Islamic Education in Indonesia). Leiden: E. 2005. Irmawati M-Johan sejak tahun 1981-sekarang menjadi dosen di Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI). J. Vol 6. yang diselenggarakan oleh al-Furqan Islamic Heritage Foundation. Mencetak Muslim Modern. “Membangun Pesantren di Ranah Sunda: Belajar dari Darul Arqam” dalam Jajat Burhanuddin and Dina Afrianty. 2006. Jakarta: Logos. Brill. Minat keilmuannya terfokus pada dua hal: (1) Tradisi Islam klasik. 2002. 2003.bulan Maret-April 2006. mendapatkan gelar Doktor dengan predikat Dean Honour List dari Institute of Islamic Studies. Menjadi Sekretaris Departemen Arkeologi FIB UI sejak 2004-2007. Vol. No. No. Islam in Indonesia: Islamic Studies and Social Transformation (Co-editor Jamhari). Malaysia. 2005. Jurnal Lektur Keagamaan. 2. MA dalam Islamic Societies and Cultures dari School of Oriental and African Studies (SOAS) University of London (1992). “Menguak Sufisme Tuang Rappang”. Usep Abdul Matin memperoleh gelar MA di bidang Kajian Islam dari Duke University pada tanggal 26 Mei 2008 di Amerika Serikat dan satu lagi dari Leiden University di Belanda (cum laude) pada tanggal 22 Februari 2001.

Jawa Barat pada 8 Oktober 1930. Sejak S2 sampai sekarang. seperti “Theorizing the 9/11 atrocity: Its ubiquitous persistence” (09/15/2008). Selain itu. Tulisantulisannya yang lain dalam bahasa Inggris juga sudah dimuat di koran The Jakarta Post. Sejak tahun 1995 mengajar di IAIN Ar-Raniry dan mulai tahun 1998 mengajar di IAIN Sumatera Utara. Beliau sekarang dosen dan sekertaris jurusan untuk program SPI FAH UIN Jakarta. Strata dua (S2) pada Program Studi Filologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Bali. 14 Juni 1970.) di Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam (SPI) Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada bulan Februari 1996 (cum laude). dua penelitian telah dilakukan. Kuningan. life to pursue heaven” (01/24/2006). Tulisan ilmiah populernya pernah di muat di beberapa surat kabar lokal Sumatra Barat dan Riau.(AFRC) representative for Islamic Studies (INIS) memberikan beasiswa kepadanya untuk program S2 di Leiden. Lebih dari itu. dan “Terrorists ignore God. Saat ini menjadi dosen dan peneliti di Universitas Andalas. penelitian tertuju pada naskah-naskah kuno khususnya naskah Aceh. Ia termasuk penulis yang produktif dan pernah menjadi chief editor UIN News dalam bahasa Inggris dari 2005 sampai 2008. menyelesaikan studi S1 di IAIN ArRaniry jurusan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah pada tahun 1993.Ag. Tahun 1994. dan S3 di Universitas Indonesia jurusan Filologi pada tahun 2007. Menamatkan studi Strata 1 (S1) di Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Universitas Andalas. tulisannya dalam bahasa Inggris yang berjudul “Suicide Bombing: A Sociological Approach to 9/11” sudah diterbitkan oleh Penerbit Mitra dalam Sociologi: Sebuah Pengantar Tinjauan Pemikiran Sosiologi Perspektif Islam (September 2008: 270-284). Jurusan Ilmu ix . Bahren lahir di Padang 06 Pebruari 1979. Beliau memperoleh Sarjana Agama (S. yaitu Identifying and Preserving Acehnese Manuscripts Located in Pidie and Aceh Besar didanai oleh British Library. Aceh. Fakhriati lahir di Pidie. Kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI). mengikuti program pembibitan calon dosen IAIN se-Indonesia di Jakarta. Uka Tjandrasasmita lahir di Subang. “We are religious but also corrupt” (08/14/2008). untuk tahun ini buku yang telah terbit adalah Menelusuri Tarekat Syattariyah di Aceh lewat Naskah. dan Katalog Naskah Awe Geutah bekerjasama dengan Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama. Pramono lahir di Medan 12 Desember 1979. Berbagai tulisan ilmiah dan esainya pernah di muat di beberapa jurnal dan terbitan lokal Sumatra Barat. Dalam tahun ini. S2 di Leiden University pada tahun 1998. Pada tahun 2008 bergabung di UIN Jakarta dan tahun 2009 bulan juni mulai aktif di Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama. serta perna menjadi staff rektor UIN Jakarta. Menamatkan studi Strata Sat (S1) di Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Universitas Andalas. Saat ini menjadi dosen dan peneliti di Universitas Andalas Padang.

Di antara jabatan yang pernah didudukinya adalah Kepala Dinas Arkeologi Islam pada Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional Departemen P dan K (19861974). selesai tahun 1960. juga sebagai dosen Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta. dan lainlain. dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 1998.C. Memperoleh gelar Doktor H. konsultan The Project of Cultural Tourism Development in Central Java and Yogyakarta (UNESCO) tahun 1992.Purbakala dan Sejarah Kuno. Saat ini. x . Pernah menjadi anggota (mewakili pemerintah RI) International Commission for the Preservation of Islamic Cultural Haritage (OKI) tahun 1982-1990. di samping sebagai dosen tetap di Universitas Pakuan Bogor. Direktur Sejarah dan Purbakala Departemen P dan K (1974-1979). Direktur Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Departemen P dan K (1979-1990).

kata kunci. artikel setara hasil penelitian. Jakarta: LP3ES. Dalam hal penggunaan transliterasi Arab-Latin. literatur kontemporer. biodata singkat dalam bentuk esai. font Times New Roman 12. xi .Ketentuan Pengiriman Tulisan Jurnal Lektur Keagamaan terbit dua kali setahun. Menteri Agama RI Nomor 158 tahun 1987 dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 0543 b/u/1987 tentang Pedoman Transliterasi Arab–Latin. antara lain tentang naskah klasik. dan alamat lengkap. dan diserahkan dalam bentuk print out dan file dalam format Microsoft Word. Deliar. (Jakarta: LP3ES. dan Daftar Pustaka ditulis: Noer.5 spasi. 109. Penulis harap menyertakan abstrak dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Redaksi menerima tulisan mengenai kelekturan. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. 1980). Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Panjang tulisan antara 15-25 halaman kuarto 1. kajian tokoh (obituari) maupun telaah kitab atau tinjauan buku. penulis hendaknya berpedoman pada Pedoman Transliterasi ArabLatin SKB Dua Menteri. Tulisan dapat berupa ringkasan hasil penelitian. h. Sumber rujukan menggunakan footnote (catatan kaki) yang ditulis seperti contoh berikut: Deliar Noer. dan khazanah budaya keagamaan. Tulisan wajib memperhatikan kaidah-kaidah penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang berlaku serta menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar berdasarkan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). 1980.

Badan Litbang dan Diklat.Redaksi berhak menyunting naskah tanpa mengurangi maksud tulisan./Faks.id Atau melalui pos ke alamat: Puslitbang Lektur Keagamaan. xii . tulisan yang dimuat tidak selalu mencerminkan pandangan Redaksi. Gedung Bayt al-Qur’an & Museum Istiqlal. Dan.web. Jakarta 13560 Telp. Taman Mini Indonesia Indah. Departemen Agama RI. Tulisan dapat dikirimkan melalui e-mail: jurnal.lektur@depag. (021) 87794220 Bagi lembaga yang ingin mendapatkan jurnal ini dapat menghubungi alamat di atas.

Islam dan Sejarah: Setali Tiga Uang Fuad Jabali Perang dan Damai di Aceh: Kajian Manuskrip Aceh Tentang Konflik dan Solusinya Fakhriati Beberapa Aspek Kodikologi Naskah Keagamaan Islam di Bali: Sebuah Penelusuran Awal Asep Saefullah dan M. karya Oman Fathurahman Uka Tjandrasasmita xiii . Adib Misbachul Islam Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua dalam Naskah-Naskah Tarekat Syattariyah di Minangkabau Pramono dan Bahren Peran Penting Pernaskahan dan Benda Khazanah Keislaman Lainnya dalam Kajian Arkeologi Islam di Indonesia Agus Aris Munandar Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara Irmawati M-Johan K.Judul-judul untuk back cover Teks.H. and His Work Collection Usep Abdul Matin Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Tinjauan Buku “Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Teks dan Konteks”. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse.

esensialis Teks dan Islam Teks menempati posisi yang sangat penting dalam Islam. This paper classifies text into two catagories. yaitu Al-Qur’an dan hadis. teks. In other word. which are written in Indonesian by Indonesian scholars.Islam. 26-28 Juli 2004. Wisma Syahida UIN Jakarta. This category challenges philologist to investigate. Ajaran-ajaran utama Islam ada dalam bentuk teks. The first category refers to the fact that the scripturalists or fundamentalists produce text. For this reason. For example. and history are interconnected each other. the Islamic texts. The former group stresses the importance of the text and tend to make it stable. the biographical texts in Arabic offer information of diverse people. which are written in Arabic by scholars of the Middle East. are incomplete. the Islamic texts. Teks. Orang-orang Islam sangat bangga menyebut dirinya * Tulisan ini semula merupakan Makalah yang disampaikan pada Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara VIII. The latter group creates the context. filologi. In contrast. This paper explains that Islam. konteks. text. this second group make the text unstable. and history as both time and space contexts of the textual system value. Revisi terakhir 14 Juni 2009. Kata kunci: Al-Qur’an. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali Islam. Jakarta This paper describes a strong relationship between Islam as a value system. are easy to read as they provide complete information of an issue that we look for. The second category would be: the essentialists make the text. hadis. the text as an expression of system. Indonesian philologists are to trace such complete biography in Indonesian literature. In this regard. 1 . Teks dan Sejarah: Setali Tiga Uang* Fuad Jabali UIN Syarif Hidayatullah. skripturalis.

sebagai Ahlul Kitab karena. 7. No. secara sederhana. Al-Qur’an.Jurnal Lektur Keagamaan. Hadis kini menjadi teks terpeting kedua setelah Al-Qur’an. signified). akal. menjadi rujukan utama setelah Al-Qur’an. maka hadis. setiap kata atau kalimat yang ada dalam Al-Qur’an disebut ayat atau ‘tanda. yang jumlah ayatnya hanya sekitar 6600. sebagai halnya umat Islam. ijma’ dan hadis—sama-sama dipakai oleh masyarakat Muslim secara bervariasi dalam tingkat yang berbeda-beda. signifier) dari madlul (‘yang ditunjuk’.’ Tanda dari suatu makna abadi. 2009: 1 . bukanlah sebuah teks yang bisa menjelaskan semua realitas atau ajaran dengan sangat detil. percisnya. seperti yang ada dalam mazhab Hanafi.20 sebagai Ahlul Kitab ‘orang-orang yang sangat menghormati kitab’ atau. seperti yang dikembangkan oleh Syafi’i. ada juga yang merujuk pada catatan dari kata-kata dan perbuatan Nabi yang kemudian disebut hadis. Bagi Ahlul Kitab. 1. maka wajar kalau ada kecenderungan untuk melihat keislaman 2 . seperti yang nampak pada mazhab Maliki (yang sangat mementingkan tradisi dan praktek lokal Madinah). yaitu makna abadi yang ada di dalam diri Tuhan. Teks adalah dal (‘yang menunjuk’. ada yang merujuk pada akal. Vol. ayah kauniyah ‘tanda-tanda alam’). Rujukan-rujukan tadi—yaitu tradisi lokal. ‘masyarakat teks’. Bagi orang Islam. tetapi ayat yang paling utama adalah teks Al-Qur’an. Masyarakat Islam sebagai masyarakat yang eksistensinya bergantung pada teks diperkuat oleh hadis. yaitu kesepakatan masyarakat Muslim dalam memahami teks. Bisa dikatakan bahwa tanpa teks ini tidak ada Islam dan masyarakat Muslim. Al-Qur’an juga menyebut para pengikut agama lain. Memang benar bahwa makna abadi itu bisa diketahui lewat ciptaan Tuhan. Ada yang merujuk pada tradisi atau konteks lokal sebagai penjelas. terutama Yahudi dan Kristen. dunia langit hanya bisa diketahui lewat teks yang dibawa oleh para Nabi. Kalau tidak jelas. kemana mereka harus mencari kejelasan? Berbagai jawaban dikemukakan. ada juga yang merujuk pada ijma’. Kalau teks menempati posisi yang demikian penting dalam Islam. mereka juga menjadikan teks (kitab suci) sebagai pusat dari kesadaran beragama mereka. terutama yang dikumpulkan oleh Bukhari dan Muslim. Tetapi ketika hadis dibukukan pada abad ke 3 H/9 M. seperti gunung dan langit (benda-benda ciptaan ini juga disebut ayat atau.

Semakin dekat dianggap semakin saleh. terutama di Baghdad. Geschichte der arabischen Litteratur (Leiden: Brill. teks-teks tersebut adalah warisan yang sangat berharga. Penghormatan yang demikian tinggi pada teks Al-Qur’an dan hadis menjadi landasan yang kuat bagi masyarakat Muslim untuk memproduk banyak sekali teks. terutama di Timur Tengah dan Eropa (termasuk Turki). Dalam kajian sejarah. 1937-42. 310 H / 923 M). yang sudah hilang. Teks menjadi media yang sangat penting dalam memahami Al-Qur’an dan hadis.Islam. bahkan pernah disebut kafir. 2 jilid dan 3 jilid supplement. yang hidup pada abad ke-2 H/8 M dan ke-3 H/9 M. 9 jilid. pada masa itu yang juga sebagian sudah hilang. sangat penting karena dia banyak mengutip karya-karya yang ditulis oleh sejarawan sebelumnya. buku karya al-Tabari (wafat th. Walaupun demikian banyak sekali teks-teks yang berhasil diselamatkan yang kini tersebar di berbagai negara. Banyak sekali teks yang sudah musnah. 1943-1949). karena menggunakan teks hadis dengan sangat minimal ketika menafsirkan teks Al-Qur’an. Kelompok pendukung hadis (ahl al-hadits) menyebut diri mereka sendiri sebagai umat yang terbaik (khair ummah) karena keteguhannya dalam mengikuti dan memegang teks hadis. namun sikap mereka terhadap teks-teks tersebut berbeda tergantung pada cara mereka memandang. menanti sentuhan tangan filolog. juga penting karena di dalamnya ada resensi buku-buku yang beredar di dunia Islam. 1 3 . semakin jauh semakin sesat. Gerschichte des arabischen Schrifttums (Leiden: Brill. 1967 .). Tarikh al-Rusul wa al-Muluk (diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris The History of al-Tabari dalam 39 jilid atas sponsor UNESCO). Fuat Sezgin. Kelompok rasionalis dikritik dengan tajam. Ada masyakat Muslim yang membatasi penghormatan mereka pada Al-Qur’an Untuk mendapatkan gambaran tentang jumlah dan jenis buku yang diproduk masyarakat Muslim yang sudah hilang tetapi dikutip secara meluas lihat Carl Brockelmann. Pemahaman masyarakat Muslim terhadap Al-Qur’an dan hadis tersebut dituangkan dalam bentuk teks yang jumlahnya tak terhingga. misalnya. seorang penjual buku di Baghdad pada abad ke-4 H/10 M. 1 Buku al-Fihrist karya Ibn al-Nadim. Bagi masyarakat Muslim. yang hanya diketahui lewat kutipankutipan atau resensi yang ditulis belakangan. Teks. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali seseorang lewat kedekatannya (atau kejauhannya) dengan teks.

Vol. Islam dari waktu ke waktu. Bagi Muhammadiyah. NU menjawab setiap pertanyaan dengan cara terlebih dahulu memasuki teks-teks yang diwariskan ulama-ulama sebelumnya. Perbedaan pemahaman terhadap Islam. Buku yang ditulis oleh seorang Sufi besar. Kalangan Muhammadiyah.20 dan hadis. sebagian besar akan bergantung pada perbedaan teks yang diwariskan. anak-anak NU bisa menjadi “filolog” yang potensial. Muhammadiyah dan NU merepresentasikan kedua kecenderungan tersebut. bisa jadi mendapatkan penghormatan dan perlakuan yang hampir sama dengan Al-Qur’an dan hadis. tidak mesti dibaca. misalnya. Sementara kelompok lain menantangnya. Demikian juga 4 . Semua persoalan segera dicari dalam teks Al-Qur’an. Sebaliknya NU. Sebagian mereka berpendapat bahwa keberadaan teks-teks di luar Al-Qur’an dan hadis tadi menjadi benteng penghalang bagi umat Islam untuk memasuki kedua sumber ini. NU lebih terbiasa dengan teks dibanding Muhammadiyah. maka sudah sewajarnya kalau teks juga memegang peranan penting dalam transmisi Islam. Mereka adalah kelompok yang sangat menghormati teks-teks di luar Al-Qur’an dan hadis. Berbeda dengan Muhammadiyah.Jurnal Lektur Keagamaan. dari generasi ke generasi. Dalam fatwa-fatwa NU. adalah pembaca teks Al-Qur’an yang paling tekun dan juga paling tidak sabar. No. 2009: 1 . sementara kelompok lainnya melebarkan penghormatan tersebut kepada teks-teks di luar keduanya. dalam memecahkan masalahmasalah kontemporer. atau perbedaan warna Islam. teksteks ini sangat dominan. Di Indonesia. buku-buku yang ditiulis para pendiri mazhablah yang harus dihormati dan diikuti. Mereka membaca Al-Qur’an dan hadis melalui teks-teks lain yang tersusun secara hirarkhis. karena bisa jadi awalnya mereka hanya diperkenalkan kepada teks dari mazhab ini saja. walupun tingkatannya berbeda-beda dari satu kelompok ke kelompok lain. yang segera memasuki teks Al-Qur’an dan hadis. 1. tidak mengikat dan. Dikenalkan dengan keragaman teks sejak dini. Mengapa orang-orang menganut mazhab Syafi’i. Teks dan Transmisi Islam Kalau teks dan Islam berhubungan demikian erat. Bagi kelompok masyarakat lain. diwariskan lewat teks. kalau perlu secara literal. teks-teks selain AlQur’an dan hadis sifatnya relatif. 7. bahkan tidak jarang teks Al-Qur’an-nya sendiri tidak dirujuk. bahkan terkadang.

Perbedaan ciri khas pesantren ditentutkan oleh perbedaan jenis teks yang dikaji. sampai sekarang masih mempertahankan ciri khas ini. Bahwa teks memegang peranan kunci dalam penyebaran Islam juga bisa dilihat di dalam lembaga-lembaga yang terlibat dalam penyebaran Islam. kiai dan santri tersebut sedemikian penting sehingga di kalangan pesantren ada semacam keyakinan bahwa “Barang siapa yang membaca teks tanpa guru.Islam. Hubungan murid-guru dibangun di atas teks. Mayoritas pesantren di Indonesia. Filologi di Kalangan Ulama Ketika mesin cetak belum ditemukan. maka gurunya adalah setan.” Dengan kata lain. atau semacam lisensi. seperti tafsir. Teks inilah yang akan menjadi modal utama santri-santri tersebut ketika kelak keluar dari pesantren. yaitu pesantren. Dalam kajian teks tersebut. demikian seterusnya. tidak ada teks tanpa kiai dan. maka dia harus menyalinnya sendiri atau meminta orang lain untuk melakukannya. Dalam tradisi sorogan. sang guru akan memberikan ijazah. transmisi teks dilakukan secara manual. seorang kiai akan membaca teks tertentu di hadapan santri-santrinya. sebaliknya. Guru akan mengajarkan teks tertentu kepeda murid-muridnya dan ketika muridnya sudah dipandang mampu. kalau ada yang ingin memiliki buku. Tidak mungkin santri belajar Islam tanpa teks dan tanpa kiai. Perbedaan teks. Artinya. telah melahirkan perbedaan kelompok beragama. untuk mengungkapkannya secara sederhana. kepada sang murid untuk mengajarkan teks tersebut. Kegiatan pesantren (terutama di pesantren salaf yang belum terkena modernisasi) terpusat pada kajian teks yang terkenal dengan ‘kitab kuning’. pimpinan pesantren atau kiai memainkan peranan kunci. Di dunia Islam secara keseluruhan hubungan antara teks dengan ulama dalam transmisi Islam bukanlah hal yang istimewa. nahwu dan hadis. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali dalam sufisme dan teologi. Dan. Rentetan pengijazahan dari satu guru ke murid yang lain ini biasanya dicatat di awal teks dalam bentuk silsilah. Kita mengenal ada beberapa orang yang persis bekerja sebagai penyalin buku dan menjadikannya sebagai sumber 5 . terutama di Jawa. Hubungan antara teks. tidak ada kiai tanpa teks. Teks.

No.). Ketiga. Pertama. Vol. 4 Ibn Hajar al-‘Asqalani. n. Menyalin buku menjadi perkerjaan yang bisa jadi tidak nyaman. Tetapi bisa jadi. listrik. Rabi’ah menjadi Adam b. Kualitas penerangan yang kurang membuat mata cepat lelah. dia ternyata lahir pada saat ‘Usman terbunuh (yaitu tahun 35 H/656 M). 5 Perubahan tanggal lahir itu bisa jadi karena kelalaian penulis atau penyalin teks. ta dan £a. Teks yang dihasilkan menjadi bebeda antara satu dengan yang lainnya. Tetapi. Iklim yang demikian panas membatasi orang untuk bekerja maksimal. Tabaqat. Kedua. 1. Menjadi orang yang dilahirkan pada masa Nabi jauh lebih penting dari orang yang dilahirkan pada masa ‘Usman. al-Isabah. yang menurut Ibn Hajar (wafat 852 H/1449 M) lebih kuat. 2009: 1 . dan AC pada masa itu. mungkin karena penulisnya ngantuk. stabilitas sosial politik pada masa itu tidak sebaik seperti sekarang. Rabi’ah 3 dan Aqram menjadi Arqam. 4:386.4 Faktor-faktor lain bisa membuat kesalahan tersebut semakin sering dilakukan. 4:343. menurut informasi lain dari beberapa jalur yang berbeda. Kitab al-Tabaqat al-Kubra (Beirut: Dar al-Sadir. faktor perkembangan bahasa. Paling tidak konsentrasi mereka terganggu. Ibn Sa’d. 1:130. Hisyam bisa dengan mudah tertulis Hasyim 2 atau.d. Dam b. Gigi dan titik belum dipakai secara konsisten sehingga sulit dibedakan mana ba. karena jarangnya orang yang bisa menulis.Jurnal Lektur Keagamaan. Perbedaan baca di antara para penyalin menjadi hal yang tak terelakkan. teknologi yang sangat terbatas. al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah (Beirut: Dar alKitab al-‘Arabi. 5 Ibn Hajar. Keempat. Dikatakan bahwa Asy’ab b Ummu Humaidah lahir pada tahun 9 H/630 M atau pada masa Nabi. Tidak ada komputer. Bukankah Nabi pernah menyampaikan bahwa masa yang terbaik adalah masa Nabi itu sendiri kemudian masa sesudahnya kemudian masa Ibn Sa’d. 7. tetapi bisa jadi juga lebih dari itu. n.t). Para penyalin ikut menjadi korban peperangan. faktor idiologis juga berperan penting dalam perubahan teks. misalnya. Ini menurut informasi dari Abu al-Faraj. Bahasa Arab pada masa itu adalah bahasa Arab yang masih dalam proses perkembangan. ada saat-saat dimana para penyalin menjadi sangat sibuk sehingga terbuka untuk melakukan kesalahan. 1:125.20 penghidupan. telepon. 3 2 6 .

Kajian antarteks menjadi suatu keniscayaan. harus sangat hati-hati dalam memilih dan membaca teks. Abi Rabiah ke dalam daftar orang-orang yang ikut hijrah tersebut. yaitu Bukhari dan Muslim. Lewat kajian antarteks. Adalah juga kehendak untuk mendapatkan teks yang benar-benar bersih para ulama mengembangkan berbagai disiplin ilmu. Sahih (Cairo: Maktabat ‘Abd al-Hamid Ahmad Hanafi. informasi yang ada dalam satu buku dicek di buku yang lain. Ishak (wafat 150 H/767 M) dan Muhammad b. Dia mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan yang kebenarannya sangat bergantung pada ketepatan teks dan kebenaran membacanya. Ibn Al-Bukhari. 6 7 . maka pada dasarnya setiap ulama pada masa itu adalah seorang filolog. 3: 171. adanya ‘kutub al-sittah’ atau ‘buku yang enam’ dan ‘kutub al-arba’ah’ atau ‘buku yang empat. 9. Teks. 8: 91. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali sesudahnya? 6 Lahir pada masa Nabi bukan hanya penting karena dia lahir pada masa yang terbaik tetapi juga.’ Suatu hadis yang ditemukan dalam keenam buku hadis lebih kuat dari pada hadis yang hanya ditemukan dalam empat buku hadis.Islam. Sebut saja misalnya jarh wa al-ta‘dil dan rijal al-hadits. tt. Kita mengenal dalam hadis. dengan demikian. Dalam hadis juga dikenal dengan ‘rawahu al-syaikhan’’ atau ‘diriwayatkan oleh dua orang syaikh’. 1: 8. pusat verifikasi teks. yaitu suatu disiplin ilmu yang dikembangkan untuk menilai kualitas informasi dan akurasi teks berdasar pada penilaian kritis terhadap orang-orang yang terlibat dalam transmisi informasi dan teks tersebut. Istilah-istilah ini hanya mungkin kalau kajian antarteks sudah berkembang kuat. dalam periwayatan hadis.). ‘Umar (wafat 207 H/822 M) menulis buku tentang orang-orang yang hijrah ke Habasyah (Ethiopia) (hijrah Nabi yang pertama). dan bisa jadi masyarakat awam meyakini bahwa masuk surga atau tidaknya mereka akan bergantung kepada para ulama ini. Dia adalah tempat bertanya masyarakat. dan memasukkan nama ‘Ayyasy b. mana di antara teks-teks yang ada itu yang paling bisa dipercaya. menjadi pusat produksi dan reproduksi ilmu. dia menjadi mungkin bisa bertemu dengan sahabat-sahabat besar bahkan bisa meriwayatkan hadis dari mereka. Berbagai versi harus dibaca dan dibandingkan. Muhammad b. 141-2. Para ulama. Kalau keragaman teks tidak bisa dihindarkan. misalnya.

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 1 - 20

Sa‘d (wafat 230 H/845 M) lalu mengecek nama tersebut di buku yang ditulis oleh Musa b. ‘Uqbah (wafat 141 H/758 M) dan Abu Ma’syar (wafat 170 H/786 M), dan nama ‘Ayyash ternyata tidak ada. 7 Dengan cara yang sama (kali ini membandingkan teks yang ditulis oleh Musa b. ‘Uqbah, Muhammad b. Ishaq dan Muhammad b. ‘Umar), Ibn Sa’d juga menemukan bahwa Musa b. ‘Uqbah melakukan kesalahan penulisan nama, yang semestinya al-Aswad b. Naufal b. Khuwailid ditulis menjadi Naufal b. Khuwailid. Ibn Sa’d juga tahu bahwa nama ini tidak muncul dalam buku Abu Ma’syar.8 Skripturalis/Fundamentalis dan Filolog Di atas dikatakan bahwa Al-Qur’an dan hadis sebagai teks kunci telah melahirkan banyak teks. Teks satu dengan teks yang lainnya ini terhubungkan dengan seorang figur dan silsilah (geneologi). Ada geneologi guru dan ada geneologi teks, dan kualitasnya berbeda-beda. Buku yang diwariskan lewat guru A-B-C misalnya lebih baik daripada buku yang diwariskan lewat A-B-D. Tekanan yang demikian besar terhadap geneologi mengisyaratkan bahwa dalam transmisi teks tersebut ada sesuatu yang stabil, yang harus dijaga keasliannya. Prinsip ini sangat menolong bagi filolog sebab sekali dia mampu mengidentifikasi apa ‘yang stabil’ atau apa ‘yang harus senantiasa dijaga keasliannya’ tersebut maka dia akan mudah membaca teks yang sangat korup sekalipun. ‘Yang stabil’ akan selalu ditemui dalam berbagai teks. Memang benar bahwa ‘apa yang stabil’ jenis dan kadarnya akan berbeda-beda dari satu kelompok ke kelompok lain. Tetapi, sekali ditemukan dalam satu kelompok tertentu, maka filolog akan terbantu dalam membaca teks yang ditulis atau menjadi ciri dari kelompok tersebut. Di dunia Islam, baik masa lalu maupun sekarang, dikenal adanya dua kelompok besar: skripturalis atau fundamentalis dan esensialis. Kelompok skripturalis adalah mereka yang berkeyakinan bahwa (1) Islam adalah agama yang sempurna dan jelas yang mengatur semua aspek kehidupan kita dan, oleh karena itu, tidak diperlukan adanya penafsiran ulang; (2) Memang masyarakat selalu
7 8

Ibn Sa’d, Tabaqat, 4:383. Ibn Sa’d, Tabaqat, 4:379.

8

Islam, Teks, dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali

berubah-ubah, tetapi perubahan itu harus senantiasa dicocokkan dengan Al-Qur’an dan hadis, bukan Al-Qur’an dan hadis yang harus dicocokkan dengan perubahan masyarakat; (3) Al-Qur’an dan hadis adalah sumber utama Islam dan semua persoalan harus benarbenar sesuai dengan Al-Qur’an dan hadis; (4) Akal dan tradisi lokal sifatnya nisbi dan, oleh karena itu, tidak bisa dipakai sebagai sumber nilai; (5) Masa Nabi dan para sahabatnya adalah masa yang paling sempurna yang harus dijadikan model bagi setiap masyarakat Muslim kapan pun dan dimana pun. Pandangan kelompok esensialis berbeda sama sekali dengan pandangan kelompok ini. Mereka percaya bahwa (1) Islam memang agama sempurna tetapi kesempurnaannya bersifat minimal dan untuk memaksimalkannya diperlukan usaha dan pikiran masyarakat Muslim, (2) Masyarakat selalu berubah-ubah dan oleh karena itu Islam harus dilihat secara dinamis, (3) Al-Qur’an dan hadis adalah kebenaran yang diekspresikan dalam ruang dan waktu tertentu dan oleh karena itu harus dilihat konteksnya, (4) Akal dan tradisi lokal harus dipakai sebagai sumber yang berharga dalam formulasi hukum dan ajaran Islam, (5) Masa Nabi dan para sahabatnya adalah masa yang paling sempurna untuk zamannya dan tidak boleh dipahami secara literal. Perbedaan pandangan di antara kedua kelompok di atas melahirkan teks yang sama sekali berbeda sifatnya. Teks di kalangan skripturalis relatif stabil. Karena Islam dipandang sempurna, karena Al-Qur’an dan hadis dianggap selesai, dan karena masa Nabi dan sahabatnya dipandang ideal, maka yang ditemukan dalam teks yang diproduk oleh kelompok ini adalah potongan-potongan informasi yang diambil dari Al-Qur’an, hadis dan sirah (perjalanan hidup) Nabi dalam jumlah besar. Akibat dari tekanan terhadap penafsiran dan tradisi lokal yang begitu besar, maka unsur baru dalam teks menjadi minimal. Walaupun ditulis dalam waktu dan tempat yang berbeda, bisa diasumsikan bahwa teks di kalangan kelompok ini relatif sama. Kutipan-kutipan Al-Qur’an, hadis dan sirah Nabi dan para sahabatnya akan dominan dan setiap ketidakjelasan yang ada dalam teks yang korup bisa segera diisi oleh filolog dengan membaca teks standard (Al-Qur’an, hadis dan sirah Nabi). Kalau kadar stabililitas dalam teks-teks tradiosionalis sangat tinggi, maka teks yang diproduk oleh kalangan esensialis sangat 9

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 1 - 20

labil. Dia lebih beragam baik di tingkat kelompok maupun individu. Mu’tazilah, kelompom rasional Muslim yang terkenal dalam sejarah Islam, misalnya, terdiri dari banyak sub kelompok yang berbeda satu sama lain, dan pada sub kelompok tersebut perbedaan antar individu sangat kentara. Masing-masing mereka melihat Islam, AlQur’an dan hadis serta sirah Nabi sebagai suatu teks yang sangat terbuka. Berbeda dengan kalangan skripturalis, yang memandang makna sebagai ‘sesuatu yang diberikan oleh teks’, kalangan rasional memandang makna lebih sebagai ‘sesuatu yang harus dicari dan diberikan oleh pembaca’. Membaca bukanlah proses menerima teks secara pasif, tetapi lebih merupakan proses intrograsi yang sangat cair, dimana pembaca dan teks bisa ditempatkan secara sejajar dan oleh karena itu dialog antara teks dan pembaca menjadi sangat intens. Hasil dari dialog itu adalah warisan teks yang sangat dinamis dan beragam. Sesunggunya kalangan skripturalis/fundamentalis telah membuat pekerjaan filolog lebih mudah. Filolog yang ingin cepat selesai diusulkan untuk tidak memilih teks-teks yang ditulis oleh kalangan rasionalis. Studi Kasus: Membaca Dokumen Ikrar Abad ke-14 di Jerusalem Disebutkan di atas bahwa salah satu cara membaca teks yang sudah korup adalah dengan cara menggunakan teks yang sudah established sebagai patokan. Tentu saja Al-Qur’an dan hadis adalah teks Islam yang paling stabil. Tidak terlalu sulit untuk mentranskrip naskah Al-Qur’an atau hadis, atau teks yang mengadung banyak sekali kutipan Al-Qur’an dan hadis. Teks berikutnya yang relatif lebih mudah digarap adalah teks yang ditulis oleh kelompok sripturalis atau fundamentalis. Dibanding teks yang ditulis kalangan esensialis, teks yang mereka buat relatif lebih mapan dan lebih seragam dari satu periode ke periode lain dan dari satu tempat ke tempat lain sehingga lebih mudah dibandingkan. Prinsip yang sama bisa dipakai untuk membaca teks-teks Islam pada umumnya. Teks-teks Islam bisa diklasifikasi ke dalam lima kelompok besar: 1) sejarah, 2) teologi, 3) sufisme, 4) filsafat dan 5) hukum. Di antara kelima kelompok tadi, yang paling tegas dan rinci adalah hukum. Hukum Islam diformulasikan dan dirumuskan oleh para ulama sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan kebi10

hendaklah kamu menuliskannya. atau tidak mampu mendiktekan sendiri. Hukum cenderung rinci dan kaku. Bagi filolog. agar jika yang seorang lupa. maka yang seorang lagi mengingatkannya. Tuhannya. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali ngungan dan mudah diikuti. maka ayat ini (yang sengaja dikutip secara keseluruhan) contoh yang baik bagaimana 11 . dan lebih mendekatkan kamu kepada ketidakraguan. dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. maka tidak ada dosa bagi kamu jika kamu tidak menuliskannya. Al-Qur’an menegaskan perlunya catatan dalam transaksi: Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan. (2) teks yang ditulis oleh ahli hukum relatif lebih mudah dibaca karena lebih stabil. hal itu suatu kefasikan pada kamu. Jika tidak ada (saksi) dua orang laki-laki. teks yang ditulis oleh kalangan ahli hukum juga lebih stabil.Islam. Dan bertakwalah kepada Allah. lebih dapat menguatkan kesaksian. Dua contoh teks akan dikemukakan di sini untuk menunjukkan: (1) bahwa Islam (seperti halnya agama lain) sangat instrumental dalam melahirkan teks. Yang demikian itu. maka hendaklah walinya mendiktekannya dengan benar. seperti halnya buku-buku yang ditulis oleh kalangan fundamentalis. maka sungguh. dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah.S. untuk batas waktunya baik (utang itu) kecil maupun besar. Dan ambillah saksi apabila kamu berjual beli. Jika yang berutang itu orang yang kurang akalnya atau lemah (keadaannya). ini adalah berita baik. maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan di antara orang-orang yang kamu sukai dari para saksi (yang ada). Dan janganlah kamu bosan menuliskannya. Al-Baqarah/2:282) Kalau bagian pertama tulisan ini menegaskan hubungan antara Islam dengan teks pada level yang lebih besar. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki di antara kamu. (Q. dan janganlah penulis dipersulit dan begitu juga saksi. Allah memberikan pengajaran kepadamu. kecuali jika hal itu merupakan perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu. Janganlah penulis menolak untuk menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya. dan janganlah dia mengurangi sedikit pun daripadanya. Teks. maka hendaklah dia menuliskan. homogen dan rinci. Dan hendaklah orang yang berutang itu mendiktekan. Jika kamu lakukan (yang demikian). lebih adil di sisi Allah. Dan janganlah saksi-saksi itu menolak apabila dipanggil. Tidak heran kalau. Orang-orang skripturalis dan fundamentalis cenderung menekankan pentingnya aspek hukum ini sehingga mereka dikenal dengan ‘legal minded Muslims’. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Teks yang mereka dapatkan akan lebih mudah ditranskrip.

10 yaitu suatu bentuk pengakuan atau pernyataan yang dibuat oleh seseorang yang secara hukum mengikat bagi orang tersebut. 9 12 .J. guru besar di Institute of Islamic Studies. Vol. ‘Ikrar’ dalam The Encyclopaedia of Islam (Leiden: E. Oleh karena itu. New Edition).9 Salah satu blanko kontrak yang dibuat para ahli hukum Islam dalam buku-buku syurut tersebut adalah blanko untuk membuat ikrar. yaitu sejenis manual yang bisa dijadikan pegangan bagi para notaris dalam melakukan fungsinya. Yang dilakukan oleh para notaris adalah memilih mana di antara blanko-blanko tersebut yang cocok dengan kasus yang dia hadapi dan mengisi bagian-bagian kosong yang sudah disediakan dan meminta dua saksi untuk menandatanganinya (seperti tuntutan ayat Al-Qur’an di atas). Linant de Bellefonds. 1. Kontrakkontrak tersebut sebetulnya lebih berupa sebuah blanko atau formulir yang dibuat sedetil mungkin sehingga semua syarat dan tuntutan syariah Islam bisa dipenuhi. 2009: 1 . No. Mereka mengembangkan satu jenis literatur yang disebut syurut. bentuk dan isi ikrar relatif stabil. tetapi para ahli hukum Islam memberikan perhatian yang serius terhadap cara membuat dan menggunakan dokumen-dokumen tertulis untuk kepentingan hukum. 10. di dalam hukum Islam tradisional. McGill Jeanette A. Memang benar. The Function of Documents in Islamic Law (New York: University of New York Press. Ia berisi berbagai jenis kontrak yang bisa dipilih oleh para notaris sesuai dengan kebutuhan. kesaksian lisan lebih penting dari kesaksian tulis. Donald P. 1972). Penemuan ini merupakan salah satu penemuan terpenting dokumen Islam abad pertengahan. Wakin. di Museum Islam di al-Haram al-Syarif di al-Quds ditemukan sekitar 900 lembar kertas transaksi atau catatan pengadilan yang berasal dari abad ke-14 M di Jerusalem. 10 Lihat Y.20 hubungan Islam dengan teks tersebut juga bekerja pada level yang lebih kecil dan detil: Al-Qur’an meminta penganutnya untuk melakukan transaksi secara tertulis. Little. sejajar dengan penemuan manuskrip di Geniza Cairo dan St Catherine bukit Sinai. Pada tanggal 19 Agustus 1974-5. Dalam manual syurut tersebut para ahli hukum lalu merinci dengan detil apa syarat-syarat membuat ikrar dan kata-kata apa saja yang harus dicantumkan dalam dokumen oleh si pembuat ikrar.Jurnal Lektur Keagamaan. 7. Brill.

mantan suami Nasiruddin Muhammad al-Hamawi penduduk al-Quds al-Syarif. 289 berisi pengakuan Fatimah bt. Tanpa bantuan literatur syurut. Di antara lembaran-lembaran kertas tadi ada dokumen ikrar (yang jumlahnya sekitar 90 lembar). Beberapa tahun kemudian Little menerbitkan katalog dokumen tersebut: menjelaskan isi masing-masing dokumen secara garis besar dan mengklasifikasikannya. Saya juga pernah meminta bantuan seorang Arab (yang kebetulan berasal dari Huda Lutfi. Dokumen no. dokumen-dokumen ini sangat sulit dibaca. Salma dan Sarah. Sulaiman. Ikrar ini dibuat pada tanggal 2 Ramadan 789/14 Agustus 1389) di hadapan dua orang saksi ‘Ali b. Muhammad al-Muwwa’ani. Fatimah juga mengakui bahwa mantan suaminya tersebut telah memberinya sejumlah uang untuk biaya anak selama tiga bulan setengah sesuai dengan tuntutan syariah. 184 adalah dua di antara enam dokumen ikrar yang dibaca dan dianalisa oleh Huda Lutfi. Muhammad bahwa dia tidak memiliki klaim apa-apa lagi terhadap mantan suaminya Syeikh Burhanuddin Ibrahim b.” in Journal of the Economic and Social History of the Orient. 289 dan no. ‘Abdullah bt. 11 13 . Zainuddin Rizqullah.Islam. Saya sendiri pernah ikut membaca dokumen-dokumen itu dan adakalnya saya membutuhkan lebih dari seminggu hanya untuk membaca satu baris teks dalam sebuah dokumen. Dokumen 184 berisi pengakuan Fatimah bt. Zainuddin ‘Umar al-Hamawiyyah. yang dibayar secara bertahap dari uang wakaf sekolah al-Salahiyyah. Selain berikrar bahwa dia tidak punya hak apa-apa lagi— termasuk maskawin dan biaya pakaian. bahwa dia menerima uang perak sejumlah 375 dirham dari mantan suaminya untuk biaya ketiga anak mereka Ahmad. ‘Ilwi Muhammad dan Ahmad b. Fakhruddin ‘Usman b. Ikrar ini dibuat di depan saksi pada tanggal 4 Syawal 782 (atau 2 Januari 1380) di depan dua orang saksi Ahmad al-ªaki dan Abdullah b. salah seorang murid Little di McGill University. Teks. 25: 246-294. 11 Secara garis besar dokumen no. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali University datang ke Jerusalem dengan sebuah tim untuk mendokumentasikan dan membuat mikrofilm-nya. salah seorang sufi di Khanqah al-Salahiyyah di al-Quds al-Syarif. “A Study of Six Fourteenth Century Iqrars from al-Quds Relating to Muslim Women.

yang hidup di Mesir pada abad 9 H/15 M. Pengalaman membaca dokumendokumen tersebut menunjukkan bahwa. Kalau dia perempuan. Dalam buku manualnya. 1. dalam buku tersebut berusaha menggambarkan praktek administrasi hukum yang berlaku pada masanya. Ini adalah isyarat bahwa memang buku-buku hukum relatif lebih stabil. bagaimana membayarnya. Dia juga tidak bisa. 1955). Benda atau persoalan yang diikrarkan harus dinyatakan dengan jelas (jika uang berapa jumlahnya. Saya tidak bisa membayangkan begaimana Little bisa membaca hampir 900 dokumen serupa dan menganalisa isinya satu persatu. dan seterusnya). No. Vol. setidakjelas apa pun. dia menyatakan bahwa dokumen harus diawali dengan basmalah (menulis ‘Bismillahir-rahmanir-rahim’) dan diakhiri dengan hamdalah (menulis ‘Alhamdu lillahi rabbil-‘alamin’). walaupun terpisahkan selama satu abad dan. 2009: 1 . 7. Al-Asyuti. maka nama suaminya atau mantan suaminya harus dicantumkan. pasti basmallah. Kalimat pertama. Setelah itu pasti 14 . nama kehormatannya dan seterusnya. walaupun al-Asyuti hidup di tempat yang relatif jauh dari Jerusalem. Antara lain.Jurnal Lektur Keagamaan. Dua minggu kemudian. al-Asyuti memberikan beberapa petunjuk tentang tata cara membuat dokumen ikrar. Bimbingan al-Asyuti tersebut sangat membantu ketika kita membaca dokumen ikrar tadi. Ikrar harus dibuat dalam bentuk orang ketiga (harus aqarra kalau laki-laki dan aqarrat kalau perempuan). walaupun hanya dalam garis besar. 2 jilid (Kairo. Seperti dijelaskan di muka. baru saya tahu bahwa dalam membaca dokumendokumen tersebut dia sangat terbantu oleh buku syurut yang ditulis oleh al-Asyuti. Jawahir al-‘Uqud wa Mu‘in al-Qudat wa alSyuhud. Dokumen harus mencantumkan tanggalnya dan ditandatangani oleh dua orang saksi. Kata pertama setelah basmallah adalah aqarrat (karena yang membuat ikrar perempuan). dokumen-dokumen ini pada dasarnya merupakan catatan transaksi dan peristiwa yang terjadi di Jerusalem pada abad ke-14 atau satu abad sebelum al-Asyuti menulis kitab manualnya.20 Palestina tempat dokumen tersebut ditemukan) untuk membacanya. Nama si pengikrar harus dicantumkan dengan jelas termasuk nama bapak dan kakeknya. blanko dokumen hukum yang dibuat alAsyuti sangat cocok dengan dokumen-dokumen yang ditemukan di Jerusalem tersebut.

Teks.” Kedua ungkapan ini ditemukan dalam dokumen no. Bias politik dan kultural dari para penulis 15 .. Mungkin karena terlalu banyak pesanan (karena jumlah yang bisa menulis sangat terbatas).. tulisan tidak mesti bagus. sumber penulisan sejarah Islam Timur Tengah masih didominasi oleh buku-buku sastera (literary soursces).. Dalam menuliskan runtutan isi dokumen tersebut ada katakata hukum yang baku yang pasti muncul dalam ikrar..” Walaupun al-Asyuti menegaskan bahwa setiap dokumen harus ditulis dengan tulisan yang bagus agar mudah dibaca. karena orang awam itu tidak bisa membaca. Para penulis itu mungkin berpikir bahwa. maka orang awam yang ingin menuliskan ikrarnya harus meminta bantuan orang lain. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali nama orang yang membuat ikrar. yaitu “iqraran syar’iyyan fi sihhatin minha wa salamah wa jawazi amr (ikrar yang sesuai dengan tuntunan syara’. Mungkin harus diingat bahwa pada abad ke-14 di Jerusalem buta huruf masih tinggi. tidak dalam keadaan terpaksa] setelah syar’iyyan). Tetapi bisa juga karena sebab lain. para penulis itu bekerja sembarangan. Untuk itu. Bagian akhir pasti terdiri dari tanggal. 289 dan 184 (dengan satu kata tambahan. Dengan kata lain.. aktor mana yang akan ditonjolkan dan informasi dari siapa yang harus dipakai. Sangat mungkin pada masa itu ada orang-orang yang memang pekerjaannya menuliskan dokumen (dengan berpedoman pada manual syurut). Karena tidak banyak orang yang bisa menulis. bi dhalik (telah bersaksi atas . Bagian berikutnya adalah yang paling sulit dibaca: persoalan atau benda yang sedang diikrarkan. pada akhirnya para penulis itu juga yang harus membacakannya di pengadilan (kalau terjadi apa-apa dan perkaranya sampai ke pengadilan). ditulis dengan tulisan tangan yang sangat jelek. yaitu tau’an [artinya. dibuat dalam keadaan sehat jasmani dan rohani dan secara hukum dalam keadaan mampu melakukan transaksi). dengan hal itu). para penulis itu pada dasarnya menulis tidak untuk dibaca oleh orang yang memiliki dokumen tetapi untuk dibaca oleh mereka atau kawan-kawan seprofesi mereka sendiri. Tanda tangan saksi diawali dengan “syahida ‘ala . dan semua dokumen yang ditemukan di Jerusalem ini. hamdallah dan nama dua saksi.Islam. dokumen 289 dan 184. Para penulis buku ini menyodorkan realitas kepada kita secara subjektif. Sampai saat ini.. Merekalah yang memilih buat kita peristiwa apa yang akan dimunculkan.

ada tantangan lain yang harus dihadapi ilmuan kalau dia ingin menulis sejarah dengan menggunakan dokumen. Kitalah yang menseleksi dan menafsirkan data-data tersebut. tidak banyak dokumen yang tersedia dan juga tidak banyak ilmuan yang tertarik menghabiskan waktunya berminggu-minggu hanya untuk membaca dua atau tiga buah dokumen. buah-buahan atau tanaman apa saja yang ditanam. bagaimana sistem pembagiannya. 184 disebutkan bahwa nafkah anak-anak dari perkawinan Fatimah dengan Nasiruddin dibayar oleh dana wakaf? Apakah karena dia miskin? Bukankah dia bergelar al-sitt al-masunah. bagaimana sistem administrasinya. jumlah anak yang dimiliki suatu keluarga dan model distribusi wakaf. 1. dokumen bisa memberikan informasi yang sangat berharga. dan dalam rentang waktu yang panjang. yang mengisyaratkan bahwa dia berasal dari keluarga terpandang? Dokumen-dokumen yang saya baca berhubungan dengan pengelolaan tanah wakaf: bagaimana dikelola. No. Misalnya tentang jumlah nafkah yang diberikan suami kepada mantan istrinya. Berasal dari tempat yang sama. 7. setelah membaca ratusan atau ribuan dokumen.D Goitein yang 16 . Misalnya. dan seterusnya.Jurnal Lektur Keagamaan. Dari dua dokumen yang kita baca. Dibaca secara keseluruhan. Selain kondisi dokumen yang biasanya sulit dibaca. Dari potongan-potongan informasi yang ditemukan di setiap dokumen. Sayangnya. kemungkinan besar akan ada nama-nama yang berkali-kali muncul sehingga kita bisa meruntut sejarah kehidupan mereka dengan baik. berapa kali panen dan dapat berapa kilo sekali panen. Vol. Untuk mengkonstruk sebuah realitas diperlukan banyak sekali dokumen (bisa ratusan kadang ribuan lembar). Berbeda dengan sumber-sumber sastera. bagaimana mekanismenya kalau terjadi konflik pembagian hasil. 2009: 1 . dokumen Jerusalem bisa dijadikan bahan untuk mengkonstruk realitas sosial masyarakat al-Quds al-Syarif di Jerusalem. Banyak pertanyaan bisa dikembangkan. berapa rata-rata anak yang dimiliki satu keluarga di Palestina pada abad ke-14? Berapa rata-rata penghasilan keluarga? Mengapa dalam dokumen no. Mirip seperti yang dilakukan oleh S.20 tersebut sangat berpengaruh terhadap mutu gambar sejarah yang dimunculkan. akhirnya kita bisa menulis sejarah sosial yang sangat bagus. ada beberapa informasi yang menarik. dalam dokumen kita disodorkan data mentah. Dalam konteks ini.

walaupun sulit. Secara umum bisa dikatakan bahwa teks yang diproduk oleh kalangan skripturalis/fundamentalis. dalam banyak hal mencerminkan sikap atau pandangan keagamaan tertetu. masyarakat Muslim dan. dan dalam kadar tertentu tradisionalis. dokumen Geniza berbahasa Yahudi yang ditulis dalam tulisan Arab. Bagi seorang filolog adalah penting untuk terlebih dahulu mengidentifikasi teks dengan kelompok-kelompok keberagamaan yang ada dalam Islam. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali menulis A Mediteranian Society: The Jewish Communities of the Arab World as Potrayed in the Documents of Cairo Geniza (Berkeley: University of California Press. Catatan Pamungkas Pertama. Menjadi Muslim berarti mereka terhubungkan dengan relitas dan ajaran yang mendasari lahirnya teks dan dokumen.Islam. terutama. tetapi saya punya kesan bahwa ada jenis-jenis literatur yang sangat membantu dalam membaca dokumen (atau 17 . Ketiga. membaca dokumen di Timur Tengah nampaknya lebih ‘mudah’ dibanding membaca dokumen sejenis di Indonesia. Hubungan model ini sangat penting dimiliki filolog untuk bisa menghayati dan memahami teks. Ini membuat pekerjaan filolog lebih sulit lagi. Pengetahuan saya tentang kekayaan manuskrip Melayu sangat terbatas. mulai dari yang sangat stabil sampai ke yang sangat labil. 1967-78). Hanya mereka yang menguasai bahasa Yahudi dan bahasa Arablah yang bisa membacanya. Kedua. teks. dan keluarga (jilid 3). dia susun menjadi 3 jilid narasi tentang ekonomi (jilid 1). Dalam tradisi Islam. jauh lebih stabil dibanding teks yang ditulis oleh kalangan rasional. Potongan informasi yang dia temukan dalam ribuan lembar dokumen. masyarakat (jilid 2). Teks. Dalam jumlah yang sangat besar. lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam memiliki peluang yang sangat besar untuk menggali manuskrip dan dokumen yang berkenaan dengan masyarakat Islam yang kini masih belum tersentuh baik yang tersimpan di perpustakaan-perpustakaan di dalam dan di luar negeri maupun yang masih tersebar di kalangan masyarakat. sebuah teks harus ditempatkan dalam konteks besar yang melahirkannya. Karya-karya yang ditulis oleh para ahli hukum Islam juga relatif lebih stabil dibanding karya-karya yang ditulis para filosof atau sufi misalnya.

Jamharat al-Nasab). satu potong dokumen yang ditemukan di Musium Islam Jerusalem sesungguhnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari tradisi keilmuan atau sistem informasi yang kaya dan mapan. Di samping banyak sekali literatur yang diproduk oleh kalangan sarjana Muslim sendiri. Tidak mudah memang. Kajian Islam di Indonesia belum mencapai tahapan ini. Keempat. dan yang berhubungan dengan tempat (misalnya karya Yaqut. 2009: 1 . Kalau kita membaca dokumen yang ada di Hijaz. Vol. keahlian. keadaan fisik. kualitas orang. Artinya. 7.’ Jika kita ragu tentang bacaan kata ini. kita bisa melihat di buku Yaqut. Sayangnya literatur bantu semacam ini tidak tumbuh di Nusantara. Misalnya. kita akan menemukan nama-nama tempat dan desa yang ada di Palestina sehingga ‘gambar’ kata di dokumen itu bisa diidentifikasi.Jurnal Lektur Keagamaan. dan seterusnya. kita bisa mencari nama daftar nama suku yang ada di wilayah ini. 1. Mu’jam al-Buldan). No.20 manuskrip) yang tidak ditemukan di dalam literatur yang tumbuh di Nusantara. ada kata ‘al-Khaliliyah.[] 18 . Demikian juga kalau kita kesulitan membaca kata yang ada di ujung nama orang yang ada dalam sebuah dokumen. sarjana-sarjana modern (baik di Barat maupun di Timur) juga banyak menghasilkan karya-karya penting dalam jumlah besar. Kemungkinan besar dia adalah nama suku orang itu. tempat tinggal. tapi tetap sangat membantu. Literatur-literatur ini sangat menolong untuk mengidentifikasi katakata yang ada dalam dokumen yang sangat sulit dibaca. Dalam dokumen no. yang berhubungan dengan suku dan geneologi (kalau ingin tahu nama-nama suku yang ada di Hijaz misalnya bisa dilihat di Ibn al-Kalbi. baik yang hidup pada masa klasik maupun modern. di dunia Islam Timur Tengah berkembang literatur yang berhubungan dengan biografi orang (Rijal atau Tabaqat) yang jumlahnya sangat besar dan beragam. Dikepung oleh banyak informasi. Dalam bahasan tentang ‘Palestina’. yang disusun berdasarkan tahun wafat. misalnya. kajian Islam di Timur Tengah sudah berusia lanjut. Bahwa model dokumen yang ditemukan dalam buku al-Asyuti ternyata sangat cocok dengan model dokumen yang ditemukan di Palestina adalah salah satu contoh yang baik bagaimana kekayaan tradisi keilmuan bisa membantu membaca suatu kalimat dalam sebuah dokumen. 289. sepotong dokumen itu akhirnya tidak sendirian lagi.

Geschichte des arabischen Schrifttums (Leiden: Brill. 193742. 9 jilid. Brill. Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi Brockelmann. 2 jilid dan 3 jilid supplement. New York: University of New York Press. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali Daftar Pustaka al-‘Asqalani. Kitab al-Tabaqat al-Kubra. New Edition.). 25. The Function of Documents in Islamic Law. 1967 . Ibn Sa’d. Lutfi. Leiden: E. Fuat.Islam.” in Journal of the Economic and Social History of the Orient.t.t. No. Beirut: Dar al-Sadir. Geschichte der arabischen Litteratur. 1972. Sezgin. Teks. de Bellefonds. (Leiden: Brill. 19 . Huda. Carl. Sahih. Jeanette A. Al-Bukhari. Y.J. Ibn Hajar. ‘Ikrar’ dalam The Encyclopaedia of Islam. “A Study of Six Fourteenth Century Iqrars from al-Quds Relating to Muslim Women. 1943-1949).t. Wakin. T. Linant. Kairo: Maktabat ‘Abd al-Hamid Ahmad Hanafi. T. al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah. T.

Jurnal Lektur Keagamaan.html 20 . Survey of Islamic Culture Pengarang : Abu 'l Faraj Muhammad ibn Ishaq al Nadim Penerjemah (Inggris) : Bayard Dodge Penerbit : Great Books of the Islamic World. 7.D. Jilid: Hardcover Sumber: http://islamicbookstore. 1. Kazi Publications Jumlah halaman : 1149.com/b7581. Vol. 2009: 1 .20 The Fihrist: A 10th Century A. No.

Fanatic in their religion is an important factor to push to the situation. sebagai koordinator konferensi ini yang telah mengundang Penulis untuk hadir dan mempresentasikan paper ini pada konferensi tersebut. the new generation can directly read and understand on the Acehnese writings as primary sources. The main question that should be answered is how the Acehnese solve their conflict in life. 1 21 . Jihad.. Ulama.. This paper tries to find and analyse these primary sources in relation with war and peace occurred in the life history of the Acehnese. Consequently. and what their character and behaviour were in the past. the way of the Acehnese associated with the others becomes a factor to create peace in Aceh land. Jakarta Aceh is a region which has a number of populations with their life fluctuation. protective to their ethnics and fatherland is another factor to motivate and to defend themselves from any other threat come from. Penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada Prof. — Fakhriati Perang dan Damai di Aceh: Kajian atas Manuskrip Aceh tenang Konflik dan Solusinya1 Fakhriati Puslitbang Lektur Keagamaan. di Banda Aceh. Kata kunci: Manuskrip. yang dikelola oleh Asia Research Institute (ARI). These sources become by far the most important sources since they provide the original information. konflik Pendahuluan Sejarah Aceh adalah cerita panjang tentang perjalanan suatu suku bangsa yang diwarnai pergolakan demi pergolakan di antara cerita kebesaran dan kejayaan yang pernah dicapainya. Apart from this. Afterward. These situations have strong connection with character and behaviour of the Acehnese. from 17th to 20th centuries. Letak Artikel ini telah dipresentasikan pada Konferensi International tentang Aceh and Indian Ocean Studies II Civil Conflict and Its Remedies. behaviour and attitude from the Acehnese. Their life had been colorized by peace and war which can be regarded as part of their life history. One of the sources for those above life history of the Acehnese is manuscripts as their own writing. Anthony Reid. Internal and external conflicts were appeared in different period. Islam. 23–24 Februari 2009.Perang dan Damai di Aceh. National University of Singapore (NUS) bekerjasama dengan International Center for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS).

telah mampu memberikan kemakmuran dan kenyamanan tidak saja bagi masyarakat Aceh. No. bermasyarakat hingga bernegara. 1. Masuknya para pedagang Arab dan Gujarat selain dipandang telah membawa agama sebagai pedoman hidup bagi masyarakat Aceh.Jurnal Lektur Keagamaan. Rakyat Aceh menjadi sedemikian menyatu dengan Islam dan (tentunya) dengan dunia Arab. gangguan dari kalangan internal kerajaan juga turut menggerogoti wibawa pemerintah. rakyat Aceh tidak hanya merasa berhutang budi karena para orang asing tersebut telah mendorong perkembangan perdagangan. 7. Posisi wilayah yang demikian terbuka memberikan akses yang mudah untuk membangun hubungan dengan dunia luar. Situasi ini tidak saja berdampak politis. tetapi juga karena telah mengembangkan Islam di kalangan masyarakat Aceh yang berfungsi sebagai pedoman hidup mulai dari tingkat individu. 1958:78). khususnya dengan para pedagang Arab dan Gujarat. Berkat dorongan para ulama. Puncak kejayaan Kerajaan Aceh pada masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda. Pada tahap awal hubungan Aceh dengan dunia luar. terbuka. ramah.52 geografis wilayah Aceh yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia di sebelah barat. Vol. demikian juga kekayaan alam serta kesuburan tanahnya memberi andil besar bagi kemajuan Aceh. Iskandar. Dinamika perjalanan panjang sejarah Aceh tersebut berjalan sedemikian rupa seraya semakin mempertegas karakter masyarakat Aceh yang terkenal fanatik. kehadiran mereka juga turut mendorong semaraknya perdagangan yang memajukan perekonomian Aceh. Asia Selatan serta Selat Malaka di bagian utara dan timur memberikan nilai tersendiri secara ekonomis maupun politik bagi kerajaan-kerajaan Aceh masa lampau. Hal ini semakin menambah 22 . tetapi juga bagi masyarakat luar Aceh di bawah kekuasaannya (T. Kekuatan politik pemerintah secara perlahan mulai memudar dengan masuknya kekuatan asing. Setelah itu tiba saatnya kejayaan tersebut mengalami kemunduran seiring dengan banyaknya ancaman dari luar maupun gangguan dari dalam. tetapi juga mempengaruhi kinerja bidang ekonomi serta dunia pendidikan bersama hilangnya sejumlah besar intelektual agama (ulama) yang disegani dan menjadi panutan masyarakat. dunia keilmuan maju sedemikian pesat. Bahkan tidak itu saja. 1961:299-305). 2009: 21 . saat mana wilayah kekuasaan Kerajaan Aceh melampaui tanah Aceh (Zainuddin. tetapi keras.

Salah satu penghargaan mereka terhadap Islam adalah keyakinan mereka bahwa budaya Aceh adalah budaya Islam dan mereka berusaha komitmen terhadapnya.. sehingga di hampir setiap daerah kecil memiliki ulama kebanggaan tersendiri. Dengan 23 . Siapa saja yang dinilai berusaha menggerogotinya akan dicap sebagai musuh bangsa Aceh dan juga musuh Tuhan. Namun demikian.. Namun kajiannya hanya berfokus kepada perang melawan Belanda. Seperti halnya Belanda dengan gigihnya melaporkan segala kejadian harian pada saat mereka berada di daerah Aceh. Salah satu kebesaran Aceh yang dapat disaksikan hingga kini adalah bahwa suku bangsa ini mampu merekam sendiri setiap tahap perkembangan yang terjadi pada dirinya. Pemilihan periode ini didasarkan atas tiga alasan. Banyak dokumen dan arsip yang telah merekam kejadian-kejadian penting yang terjadi pada pada momen-momen penting masa silam. Dokumen dan arsip yang kaya tentang Aceh sekarang banyak yang disimpan di negeri Belanda. Aceh dalam rentang waktu ini berada pada masa perang yang cukup panjang. ada sisi lain yang perlu mendapat perhatian serius dari para peneliti untuk melihat dan mengkaji lebih intensif dan detail adalah tentang karya-karya tulis yang dihasilkan dan dimiliki oleh orang Aceh sendiri. Pertama. sejauh ini banyak ditemukan manuskrip berkisar pada periode ini.Perang dan Damai di Aceh. Sehingga pengalaman langsung dari setiap peristiwa yang terjadi di bumi Aceh dan sikap dari orang pribumi menghadapi dan mengatasi kejadian-kejadian yang ada dapat diketahui dengan jelas. Sejauh ini belum ada karya yang menjadikan manuskrip sebagai bahan analisis dasar untuk mengkaji konflik yang terjadi di Aceh. Tulisan ini mencoba mengisi kekosongan ini dengan melihat dan menganalisis manuskrip Aceh. Salah satu karya yang menjadikan tulisan orang Aceh asli sebagai sumber primer adalah kajian Alfian Ibrahim pada tahun 1998 yang berjudul Perang di Jalan Allah. Studi ini mencoba menjelajahi perjalanan sejarah Aceh dari abad ke-17 sampai abad ke-20 M. Ketiga. untuk mengetahui sikap dan prilaku orang Aceh yang tertulis dalam tulisan mereka sendiri. — Fakhriati hormatnya masyarakat kepada para ulama. termasuk berbagai peristiwa perang dan pergolakan lainnya. Kedua. konflik internal dan eksternal mulai tumbuh dan berkepanjangan.

Saling dorongmendorong ini pada akhirnya menciptakan perkelahian dan tidak boleh dibantu oleh siapa pun agar permainannya murni dan keberhasilan yang dicapai adalah atas usaha sendiri si pemain. sehingga dinyatakan kalah. satu kelompok berusaha mendorong kelompok yang lain yang dianggap sebagai lawan untuk menjatuhkan ke tanah. Vol II. permainan ini biasanya tidak dapat dilepaskan begitu saja oleh pihak yang berwenang. Permainan meukrueng-krueng. sebagian besar di antaranya memiliki unsur heroisme. b. Mereka dilengkapi dengan senjata tiruan yang dibuat dari pelepah kelapa untuk rencong dan pedang. No. Karena itu permainan ini harus disaksikan oleh para pemuka masyarakat yang sekaligus bertindak sebagai wasit untuk mencegah perkelahian (Hurgronje. dan bedil 24 . yaitu permainan bentuk lain yang mendidik para pemain untuk bisa berperan menjadi prajurit dalam perang. Vol. yaitu permainan yang dilakukan oleh kaum muda laki-laki dengan mengambil lokasi di pinggir sungai. Perdebatan dan perlawanan yang mendidik para pemainnya untuk mempertahankan dan membela diri adalah salah satu unsur yang dapat mendorong perlawanan bila mereka diganggu oleh pihak lain. 1997:145). 1. Permainan dan Hiburan Rakyat Dari sejumlah permainan rakyat yang dimiliki orang Aceh. Permainan ini terdiri dari dua kelompok–biasanya terdiri dari kaum muda dari dua kampung—yang berdiri pada sisi yang berlawanan. Namun demikian. Dalam permainan ini. dan tentang sikap mereka dalam menghadapinya untuk mencapai kedamaian. 7. 2009: 21 . Budaya Orang Aceh 1. Berikut beberapa permainan yang bersifat mendidik untuk bela diri dan berperang.Jurnal Lektur Keagamaan. Di lain pihak lawannya harus menangkap pendorong untuk dijatuhkan juga sehingga salah satu harus ada yang tidak bisa kembali ke garis pembatas awal. Permaian prajuritan.52 demikian makalah ini diharapkan dapat memberi wawasan yang lebih luas dan mendalam tentang kondisi perang dan damai yang dialami langsung oleh orang Aceh pada masa lalu. karena dapat menciptakan perkelahian yang serius dan menimbulkan peperangan yang lebih luas. a.

Vol II. c. para penari dari waktu ke waktu bertambah semangat dengan isi bacaan yang semakin hangat. Karena itu kemarahan terjadi dari pihak lawan dan keduanya mulai melakukan meulho. Pertandingan menjadi seru bila kedua belah pihak dapat melukai salah satunya dan akhirnya dapat menjatuhkan lawan (Hurgronje. Hurgronje. Sementara dalam tarian seudati. karena daun tersebut mengandung makna sesuatu yang berharga telah diletakkan di atas kepala lawan lalu dengan serta merta kepalanya ditempatkan di bawah. Isi bacaan dalam setiap tarian tersebut pada umumnya mengandung doa dan ajaran akan pentingnya berperang di jalan Allah. rapa’i. peserta yang melakukan rapa’i menggunakan senjata tajam yang pada waktu ektasi dapat melukai diri sendiri. isi dan gerak yang dilakukan di dalamnya. Permainan meulho (bergulat). — Fakhriati dari pelepah palem. penari membaca doa memohon kepada Allah agar mereka memperoleh kemenangan dalam perang sabil.Perang dan Damai di Aceh. Bila diperhatikan. Tarian-tarian yang dilakukan orang Aceh juga mengandung unsur heroik di dalamnya.. 25 . 1934:648-649. Vol. d. 1997:158-184). Tarian yang cukup populer di kalangan rakyat Aceh adalah tarian seudati. 1997:140). Permainan ini dilakukan dengan cara memancing lawan.. pemain duduk untuk membacakan isi seudati yang semakin lama semakin cepat bacaan dan gerak mereka (Djajadiningrat. Kemudian mereka saling mengadukan kemampuan berperang sehingga ada yang mengalah karena kelelahan. Sedangkan dalam tari saman. Kepala adalah sesuatu yang harus berada di atas bukan di bawah. untuk pembelaan agama dan tanah air. Dalam isi ratib rapa’i terlihat bahwa setelah dimulai dengan pujian kepada Allah dan syekh sufi. peserta duduk membaca isi ratib saman. yaitu dengan meletakkan daun di kepala pemain lalu dijatuhkan. II. Tarian-tarian ini berpangkal pada praktik tarekat dalam ajaran tasawuf dan kemudian berkembang menjadi hiburan tarian yang disenangi rakyat banyak. Dalam rapa’i. lama-kelamaan bacaan menjadi semakin cepat dan tubuh peserta mulai bergerak ke sekeliling peserta lainnya. Hal ini mengandung makna penghinaan telah dilakukan oleh pihak lawan. dan saman.

Ya Allah untuk perang sabil”. 1992:65-66. 26 . Kaum bangsawan (uleebalang). p. Mereka banyak berperan dalam hal penyumbangan dana untuk kemaslahatan sosial. dengan gelar teuku bagi laki-laki dan cut bagi perempuan. Keturunan Nabi (habib). c. Cod. Keuchik memiliki peran sebagai pemimpin yang memelihara akan adat. Vol. Masyarakat umum. keturunan dari Mekah. yaitu keuchik (kepala kampung). e. yaitu. Sementara ureung tuha adalah sekelompok orang tua yang 2 Manuskrip. Kaum hartawan (orang kaya). 7. yaitu terdiri dari beberapa keluarga inti. dan mengembangkan kehidupan beragama di kalangan rakyat. Selain susunan lapisan sosial di atas. a. yaitu orang Aceh yang memiliki leluhur sultan dan uleebalang. Lapisan sosial pada masyarakat Aceh dibangun berdasarkan nostalgia kesejarahan dan berdasarkan peran mereka dalam masyarakat. 1.52 Ja Allah prang thabilellah – ja bantu prang thabilellah2 “Ya Allah di sana ada perang sabil kami mohon bantuan-Mu. 1978:144. Kaum cendikiawan agama (ulama). Dalam gampong terdapat tiga bentuk pemimpin. 2.Jurnal Lektur Keagamaan. mereka berasal dari rakyat biasa. mereka yang memiliki banyak harta. No. Lapisan Sosial Masyarakat Aceh tidak dibangun di atas strata sosial berdasarkan tingkat kemuliaan keturunan dan penghormatan kepadanya. d. maka mereka mendapat gelar teungku. teungku. yaitu mereka yang datang ke tanah Aceh menyebarkan Islam. Sulaiman dkk. mereka adalah rakyat biasa. Peran mereka sangat diharapkan masyarakat untuk dapat menyelesaikan masalah masyarakat dalam kaitannya dengan agama (Syamsuddin dkk. 2000:3). Karena mereka berhasil mendapatkan ilmu agama selama merantau. masyarakat Aceh hidup dalam kelompok-kelompok yang disebut dengan gampong. Mereka dan keturunannya bergelar habib dan syarifah. Tippe. Or. Sedangkan teungku berperan dalam menegakkan hukum Islam dan mengajarkan umat untuk ilmu-ilmu agama. 2009: 21 . dan ureung tuha (tuha peut). 8184 (1). 57. b.

Di antara struktur masyarakat Aceh tersebut yang masih bertahan hingga sekarang adalah gampong dan mukim. Agama Islam telah masuk ke Aceh tidak lama setelah agama ini berkembang di Arab. 27 . di atas nanggroe. Sagoe hanya dimiliki oleh daerah Aceh Besar.. 2003:45). Mukim ini dipimpin oleh seorang imuem dan qadi yang diangkat oleh uleebalang. orang Aceh membuat pepatah: 3 Di samping nanggroe. terutama oleh pemimpin gampong dan bahkan uleebalang yang memimpin nanggroe (Vleer. Ia tidak memimpin secara otonom.. Gampong kemudian tunduk kepada kelompok yang lebih besar yang disebut dengan mukim. wilayah uleebalang sendiri adalah nanggroe yang terdiri dari tiga mukim atau lebih. (Usman. sementara yang lain sudah tidak ada lagi. 3. militer. Kehadirannya yang selektif dan adaptif atas unsur-unsur adat istiadat yang dinilai tidak menyalahi ajaran Islam membuat masuknya agama ini cukup berhasil di Aceh. 3 Kemudian. 1980:43-44). 2003:45). maupun agama. Wewenang sagoe hanya terbatas pada kepentingan bersama antara beberapa orang uleebalang. Mereka menjadi tumpuan pemimpin dalam masyarakat dalam penyelesaian segala masalah yang dihadapi dalam gampong. terdapat sagoe di bawah pimpinan panglima sagoe yang merupakan federasi dari beberapa nanggroe.Perang dan Damai di Aceh. Raliby. Ia dibantu oleh qadi nanggroe. baik peradilan. 1978:4-5). Keputusan mereka sangat diharapkan oleh berbagai pihak. Fungsi panglima saggoe hanya bersifat memberi masukan kepada uleeblang. dalam arti wilayahnya tetap berada di bawah kekuasaan uleebalang. Untuk menggambarkan kesatuan agama dan adat ini. Selanjutnya. 1992: 66-68. — Fakhriati dihormati masyarakat yang berperan sebagai penasehat (Sulaiman dkk. Masuknya Islam di wilayah ini dikenal jalan damai melalui para pedagang. Orang Aceh telah berhasil menyatukan agama dengan adat sehingga dalam setiap adat selalu terdapat nilai-nilai keislaman. Kelompok ureung tuha ini terdiri dari empat atau lebih orang pemuka masyakarat yang di dalamnya termasuk teungku yang banyak mengetahui bidang agama. terdapat kerajaan yang dipimpin oleh seorang sultan dibantu oleh seorang qadi didasarkan kepada undang-undang Aceh yang bersumber pada ajaran Islam dan berciri khas keislaman yang tinggi (Usman.

hlm. Sikap yang pertama sekali ditunjukkan adalah sikap ramah dan berteman kepada siapa saja yang datang. Syekh Muhammad Jailani ibn Muhammad Hamid dari Gujarat mengajarkan Logika dan Ilmu Fikih (Ar28 . Bahkan berlandaskan pada sebuah hadis. Dalam manuskrip I‘l±m al-Muttaq³n karya Teungku Muhammad Khatib Langgien (salah seorang tokoh tasawuf abad ke-19 yang menjadi panutan masyarakat) terdapat penjelasan tentang perlunya memuliakan tamu. Fanatisme agama merupakan suatu tradisi yang sudah turun temurun untuk melangkah sesuai dengan ajaran agama. 1. Vol. sedangkan ulama adalah unsur utama yang mendukung dan memperjuangkan peranan agama (Sjamsuddin. Di antara para pendatang dari Arab dan sekitarnya terdapat ulama-ulama yang mengabdikan dirinya untuk mengajar di Aceh.Jurnal Lektur Keagamaan. dalam arti segala adat istiadat berlandaskan agama. Mereka telah berhasil menjadikan adat dan agama sebagai pilar bagi kehidupan Aceh. Tidak sedikit di antara pedagang-pedagang Arab dan Gujarat yang juga telah membawa agama Islam memilih menetap di sana dan menjalin hubungan kekeluargaan dengan rakyat Aceh. Para pengunjung dari berbagai negara telah datang ke Aceh dengan tujuan yang berbeda-beda. 4. Sikap terhadap Orang Asing Orang Aceh memiliki sikap tersendiri dalam menghadapi orang asing yang datang ke negeri dan wilayahnya. sehingga kemudian orang Aceh mengklaim adat mereka sebagai adat yang Islami. Sultan dan uleebalang adalah dua unsur utama yang mendukung kehidupan adat. Islam mengalami penguatan citra melampaui adat istiadat.52 adat ngon hukom lagee zat ngen sifeut “adat dengan hukum (agama) adalah seperti zat dengan sifat” Pepatah ini mengandung pengertian bahwa adat sebagai ciptaan manusia dan hukum Tuhan (agama) adalah dua unsur yang tidak bisa dipisahkan. 1999:1). 7. Selanjutnya sikap seperti ini terus dipertahankan bila tamunya tetap berperilaku baik dan menjadi teman dalam bersosialisasi. Adat harus selalu beriringan dengan agama. No. ia menegaskan bahwa tidak menghormati tamu sama dengan perilaku syaitan (I‘l±m al-Muttaq³n. Dalam perjalanannya. 2009: 21 . seperti Syekh Muhammad Yamani yang dikenal dengan ulama Ilmu Usul. 18).

maka orang Aceh mulai bertindak dengan tegas. Hal ini ditandai dengan terdapatnya sejumlah manuskrip yang masih tersimpan baik di dalam maupun di luar negeri. Universitas Indonesia. Budaya Tulis Baca Masyarakat Aceh pada Masa Lampau Masyarakat Aceh pada masa lampau memiliki budaya yang tinggi dalam hal tulis baca. Pusat Manuskrip Melayu Perpustakaan Negara Malaysia. Orang Aceh selalu menentang dan melawan mereka meskipun secara kasat mata dengan persenjataan yang tidak seimbang. Seperti halnya kedatangan orang Portugis ke Aceh pada awalnya diterima dengan baik. penulis sudah mengidentifikasi lebih dari 400 manuskrip yang terdapat di Aceh Besar dan Pidie. manuskrip Aceh tersebar di Perpustakaan Nasional. — Fakhriati Raniri. Kemudian. dan Univeristas Antar Bangsa Malaysia.Perang dan Damai di Aceh. Orang Aceh dan Manuskrip 1. di antara lembaga yang menyimpan manuskrip Aceh adalah Perpustakan Universitas Leiden Belanda. bila pendatang ingin menguasai dan dinilai merugikan Islam dan martabat bangsa Aceh. yang ditempatkan di lembaga formal. Selain itu. Penulis bersama team peneliti Puslitbang 29 . Di dalam negeri. Mereka tidak pernah dapat hidup tenang dan aman selama di Aceh. maka dengan tegas dan tidak segan-segan mereka akan bertindak menegur. 2005:2). yaitu menangkap mereka dan mengadili mereka (Mohammad Said. Sultan Ali Mughayat Syah bersama rakyat dan kerajaan-kerajaan pantai timur lainnya bersatu menggalang kekuatan untuk mengusir Portugis dari wilayahnya (Reid.. Museum Aceh. KITLV Belanda. dan Dayah Tanoh Abee. koleksi dan simpanan individu masyarakat Aceh sendiri masih sangat banyak. terjadilah perang sabil melawan Portugis. British Library. bahkan memerangi dan membunuhnya. Bahkan orang non-Muslim yang datang ke Aceh pun tetap disambut dengan baik. Sedangkan di luar negeri. baik secara kelompok maupun individu. namun ketika gerak geriknya kelihatan sudah mencurigakan. dalam Bust±n as-Salat³n:33). 1961:89). Sejauh ini. informal ataupun dikoleksi dan disimpan oleh masyarakat setempat.. memarahi atau mengusir. Pustaka Ali Hasymi. Demikian juga dengan Belanda yang datang ke Aceh untuk tujuan membentuk wilayah jajahan. Sebaliknya. meskipun mereka menetap di wilayah ini dalam waktu yang relatif lama.

Vol. Balitbang dan Diklat Departemen Agama juga telah berhasil mengidentifikasi 49 manuskrip yang terdapat di Dayah Awe Geutah. jimat. seperti gempa bumi. penyimpan mengangap bahwa dengan keberadaan manuskrip di rumahnya menjadikan rumahnya aman dari segala bahaya. Demikian banyaknya ragam manuskrip baik isi maupun gaya sajiannya adalah bukti telah tumbuhnya tradisi menulis pada bangsa Aceh pada masa lampau. (wawancara dengan beberapa kolektor di wilayah Pidie dan Aceh Besar). hanya saja mereka tetap menyimpannya karena dinilai sebagai warisan yang sangat berharga bagi keberlangsungan hidup mereka. 2009: 21 . Pertama peyimpan yang murni menyimpan karena mengangap sebagai sesuatu yang berharga dan bernilai untuk kehidupan mereka. selain tempat-tempat yang disebutkan di atas. di kabupaten-kabupaten lain juga masih terdapat banyak manuskrip hasil karya pendahulu-pendahulu Aceh. terutama bahaya alamiyah. mengingat sejumlah harta warisan kita dibawa ke luar negeri. Para penulis manuskrip-manuskrip ini tidak segan-segan mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk 4 Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada dua kategori penyimpanan manuskrip dilakukan oleh masyarakat setempat. 1. 7. dan berbagai macam ilmu pengetahuan tertuang di dalam tulisan mereka. Hampir semua pengoleksi dan penyimpan manuskrip tidak mengerti cara merawat manuskrip yang benar.52 Lektur Keagamaan. seperti Surat Keputusan Sultan yang disebut dengan Sarakata. 1997:4). Seperti kasus di wilayah Samahani Aceh Besar.Jurnal Lektur Keagamaan. Kondisi manuskrip rata-rata sangat memprihatinkan karena peyimpanan dan perawatan yang dilakukan masyarakat belum memenuhi standar perawatan manuskrip.4 Adalah hal yang kurang tepat jika dikatakan bahwa orang Aceh adalah bangsa yang tidak suka menulis (Hurgronje. selawatan. Merupakan sesuatu yang sangat prihatin bagi kita semua. 30 . penyimpan seperti ini perlu mendapat penanganan khusus untuk dijadikan museum pribadi di rumah penyimpannya. Dewasa ini. Keragaman gaya sajian maupun jenis tulisan sepertinya ditujukan untuk merangsang minat para pembaca untuk membaca tulisannya. II. cerita fiksi dan non-fiksi yang biasanya dituang dalam bentuk hikayat. dan masih banyak lagi manuskrip yang belum tersusun rapi dan teridentifikasi khususnya di dayah ini. sebagian besar manuskrip dibeli oleh orang Malaysia dengan harga yang tinggi untuk disimpan di negaranya. Kedua adalah kolektor yang tujuan mengoleksi manuskripnya adalah untuk menjual kembali manuskrip yang dimilikinya. Penulis juga sangat yakin. surat-surat. Menurut penulis. obatobatan. Aceh Utara. Vol. No.

ia peduli terhadap ilmu lain yang dibutuhkan oleh masyarakat di lingkungannya. 2008). karena ia yang pertama sekali menyebarkan tarekat ini kepada masyarakat di Nusantara. bahkan kadang mereka tidak segan-segan mengeluarkan biaya besar untuk menulis dengan menggunakan tinta emas sekalipun. hingga masalah kepentingan umat secara umum. yang dikenal sebagai tokoh utama dalam tarekat Syattariah. demi untuk menarik minat pembacanya. ternyata Abdurrauf adalah ulama yang berasal dari Fansur atau lebih dikenal dengan Barus. Salah satu contoh tokoh intelektual sufi yang turut mempedulikan setiap kepentingan negara dan umatnya adalah Abdurrauf al-Fansuri. kemudian menulis dengan tinta yang pada umumnya menggunakan tinta hitam dan merah untuk mengungkapkan kata-kata atau hal-hal yang penting. yaitu Hamzah Fansuri. sehingga banyak buku yang terbit sebagai hasil studi para ilmuan terhadap mereka. kemajuan ilmu pengetahuan ditandai dengan hadirnya tokoh-tokoh intelektual sufi. Selain itu.. Penulis manuskrip Dala’il al-Khairat menggunakan tinta emas untuk gambar peta Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Salah satu contoh manuskrip yang ditulis dengan tinta emas adalah Surat Sultan Iskandar Muda. mempelajari. Pada abad ke-16 dan ke-17 M. ilmu fikih. Selain menyebarkan ajarannya. ilmu filsafat.Perang dan Damai di Aceh.. dan berkerja meniti karirnya di Aceh (Lihat Fakhriati. yang berjudul Tarjuman alPenulis cenderung menyebutnya Abdurrauf al-Fansuri dari pada Abdurrauf Singkel. dan Abdurrauf alFansuri 5 . Selain ia menulis tentang tasawuf yang berkisar seputar masalah tarekat Syattariyah. Para peneliti menunjukkan perhatian serius dengan memperhatikan. dan ilmu-ilmu lain. dan meneliti segala aspek tentang mereka. 5 31 . Syamsuddin as-Sumatrani. ia juga menulis karya lain seperti tafsir Al-Qur’an. — Fakhriati melahirkan sebuah karya yang nantinya akan bermanfaat bagi pembacanya. saya juga pernah menemukan Al-Qur’an yang gambar iluminasinya ditulis dengan tinta emas. dan sebagian manuskrip Dala’il al-Khairat. Mereka menuangkan ide mereka. karena setelah diteliti. ar-Raniri. Para ulama tersebut melahirkan berbagai karya yang mencakup berbagai bentuk ilmu pengetahuan dari ilmu tasawuf. serta tanda-tanda yang menunjukkan berakhirnya sebuah kalimat. Tulisan-tulisan tentang mereka dan karya-karya mereka sudah banyak diterbitkan.

Faqih Jalaluddin telah menulis berbagai karya yang menyangkut berbagai masalah.52 Mustaf³d. Ia telah membangun dayah yang sampai sekarang tetap berjaya dengan pendidikan dan penyimpanan kitabkitab lama hasil karya para ulama Aceh dan luar Aceh. No. Abad ke-19. Namun demikian. seperti Bid±yat alMujtah³d. di antara tulisannya adalah Asr±r as-Sulµk dan Manzal al-Ajl±. para peneliti dan ilmuwan kurang menaruh perhatian pada penulis-penulis Aceh. seorang ulama hasil didikan Baba Daud yang telah melakukan sesuatu yang sangat berharga bagi umatnya adalah Syekh Nayyan. adalah abad yang cukup menderita untuk rakyat Aceh. murid langsung dari Abdurrauf al-Fansuri. karya Teungku Ismail tentang sejarah Syekh Nayyan). Vol. meskipun kondisi negeri pada saat itu kurang mendukung 6 . Selanjutnya. ia juga peduli dengan pemerintahan yang berkembang saat itu. Faqih Jalaluddin dan Baba Daud. Tarjuman alMustafid dan juga menulis tentang Fikih.Jurnal Lektur Keagamaan. dan penjelasan terhadap hadis-hadis. 7. Mir’at at-°ull±b. pada abad-abad berikutnya. yang berjudul Hadis al-Arba‘in. Sedangkan Baba Daud telah berhasil menyempurnakan karya gurunya. Pada abad ke-18. orang Aceh yang cinta tulis menulis terus menuangkan pikiran dan pengalamannya yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. yaitu Sultanah Safiyatuddin (1641-1676 M) adalah pemerintah yang sah dan benar dalam hukum Islam (Lihat Azra. pada masa ini karya-karya hasil tulisan orang Aceh bukan Kondisi kerajaan yang secara perlahan mulai melemah berikut masuknya kekuatan asing yang berusaha meruntuhkan kekuatan kerajaan serta timbulnya persoalan di dalam negeri antara ulama dan uleebalang memberi pengaruh memudarnya semangat keilmuan. 1. Perhatian lebih banyak tertuju pada usaha menghimpun kekuatan membela diri dan mengusir penjajah. karena harus menghadapi penjajah Belanda. ia memberi fatwa bahwa pemerintah yang berkuasa pada saat itu. Di antara para ulama yang telah menghasilkan karyanya pada abad ke-18 M. 6 32 . 1995). 2009: 21 . Di samping itu. yakni Dayah Tanoh Abee (Baca manuskrip. Sangat sedikit hasil kajian terhadap sosok ulama Aceh dan karyakarya mereka pada masa ini muncul. Kendati demikian. Mereka bahkan menggunakan kesempatan menulis untuk membakar semangat perjuangan melawan kebatilan yang mereka sebut sebagai kafee untuk memperjuangkan agama dan bangsanya.

melainkan bangkit kembali dengan semakin banyaknya karya yang muncul dalam berbagai bentuk. Pada abad ke-20. 7 Damai 33 . muncul ulama besar yang bernama Teungku Muhammad Ali Irsyad. di antaranya adalah yang berbentuk cerita dalam bentuk hikayat yang mengajak umat untuk berperang melawan penjajah. meski tidak merujuk kepada Abdurrauf al-Fansuri sebagai silsilahnya. di samping ia juga menjadi tempat berpijak dan bertindak. Ia adalah salah satu penulis yang giat menuangkan pikirannya untuk kepentingan murid dan masyarakatnya. Merupakan suatu kenikmatan tersendiri baginya untuk membuat buku baru sebagai hasil karyanya sendiri daripada menyalin kembali hasil para ulama di masa yang silam. 8 Sampai sekarang masih bisa dijumpai manuskrip-manuskripnya yang dikoleksikan oleh keturunannya. melainkan juga ilmu-ilmu lain seperti fikih dan bahasa Arab. Ia juga menjadi Qadi untuk pemerintah yang berkuasa pada saat itu (Lihat Fakhriati 2005).Perang dan Damai di Aceh. lihat Fakhriati 2008.. Ia adalah tokoh tarekat. Karya-karyanya tidak hanya berkisar tentang tasawuf. — Fakhriati semakin tenggelam. Di antara para ulama yang gemar menulis dan cukup produktif pada masa ini adalah Teungku Khatib Langgien. 2. seperti Mi’r±j as-S±lik³n yang menceritakan tentang praktik tarekat dan pemahaman filosofi tentang makna tasawuf. dan Daw±’ al-Qulµb yang menjelaskan tentang obat hati yang perlu dimiliki oleh setiap orang. Salah satu karyanya adalah Fa‘lam annahu l± il±ha illall±h.7 Ia menulis berbagai masalah. Bid±yat alUntuk penjelasan pergeseran silsilah yang terjadi dalam tubuh tarekat Syattariyah di Aceh. Teungku di Pulo adalah sosok yang cukup berpengaruh untuk masyarakatnya di Aceh. Karya-karya para ulama menjadi pegangan bagi umatnya. Teungku Amiruddin Hasan Meunasah Kruet Teumpeun. lantunan hikayat menjadi kesenangan bagi masyarakat banyak.. Ia memiliki juru tulis khusus bernama Teungku Rahman yang bertugas dengan setia melakukan segala perintahnya dalam menulis. Peran Manuskrip bagi Masyarakat dalam Perang dan Manuskrip telah memberi daya tarik tersendiri pada masyarakatnya. Ia telah menjadi teman setia bagi pembacanya di sepanjang masa. Ia lebih cenderung menjadikan karya-karya pendahulunya sebagai rujukan daripada menyalin kembali. 8 Selain itu.

orang Aceh tidak pernah menyerah. Hikayat Prang Sabi. p.Jurnal Lektur Keagamaan. (Kern Papieren. Meskipun mereka kalah dan tidak bisa lagi melakukan penyerangan secara berkelompok. misalnya. Para ulama dan orang yang berbakat membuat hikayat pun dengan segala senang hati menciptakan berbagai hikayat untuk dibaca di hadapan khalayak ramai. 1979:25-27). (Kiefer. di meunasah. Dalam peperangan melawan Belanda. atau di perkumpulan-perkumpulan kecil di kedai kopi. misalnya. mereka masih tetap melakukan penyerangan secara individu yang dimotivasi oleh semangat prang sabi. di Pilipina misalnya. dijadikan sebagai kitab wajib di setiap pesanren (dayah) bagi para pemula. Vol II. Snouck Hurgronje menyatakan bahwa hikayat adalah salah satu bentuk hiburan rohani yang disenangi oleh berbagai lapisan masyarakat. kaum Muslim Tausug melaksanakan jihad yang dikenal dengan Parrang Sabbil melawan kolonial Spanyol. Persiapan ini menunjukkan bahwa orang yang melakukan jihad adalah orang yang akan kembali ke Hari Akhir. muda. No. 7. Di lain pihak. misalnya. 34 .52 Mujtah³d. Vol. Sebelum melakukan jihad mereka harus melaksanakan upacara mandi yang kelakukannya sama seperti mandi yang dilakukan untuk orang yang mau dikuburkan. Kern. telah mendorong para pembaca dan pendengarnya untuk bertindak secara langsung terjun ke lapangan mempraktikkan apa yang diceritakan dalam hikayat. 234. 1. No. C. 1997:201).9 9 Perlawanan secara individu juga terjadi di tempat lain selain di Aceh. Isi hikayat pada umumnya bersifat mendidik dan mengajari hal-hal yang bermanfaat bagi pembaca dan pendengarnya. (Hurgronje. sehingga menjadi darah daging pelaksananya. 1973: 109-123). seperti di lapangan. dan anak-anak sekalipun. Salah satu contoh bentuk penyerangan individual yang populer sejak tahun 1910 tersebut adalah peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh seorang pemuda Aceh terhadap tentara Belanda pada tahun 1917 di Langsa. Hikayat-hikayat yang dibaca dengan intonasi nyanyian khas Aceh dapat memberi kesan dan pengaruh yang sangat kuat kepada para pendengarnya untuk bertindak dan bersikap seperti yang dikatakan dalam hikayat. Ilmu fikih yang tetuang dalam kitab tersebut kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. 23-24. 2009: 21 . baik rakyat biasa maupun para pemimpin. Motivasi pembunuhan bermula dari membaca Hikayat Prang Sabi di rumahnya. orang tua. Mereka melakukannya secara individu. kesenangan mendengar hikayat di kalangan orang Aceh telah terjadi secara turun temurun.

Isinya yang mengajarkan umat sesuai dengan ajaran Islam dan mengajak mereka untuk menegakkan perang adalah unsur yang mau tidak mau harus dipatuhi oleh orang yang cinta kepada agama dan bangsanya. Salah seorang penyimpan manuskrip. Cinta kedamaian adalah sesuatu yang lain yang diinginkan setiap insan. 33)..Perang dan Damai di Aceh. terlebih setelah sekian lama berprofesi sebagai penjual beli manuskrip dengan untung yang besar namun hasilnya tidak berkah (habis begitu saja tanpa termanfaatkan dengan baik). 35 . meskipun sebagian mereka tidak memahami isinya. 3. Dalam manuskrip Hikayat Prang Sabi sendiri terdapat harapan untuk mewujudkan negeri Aceh menjadi negeri yang aman dan damai. Tidak selamanya setiap insan yang normal jiwanya di dunia ini ingin berperang. Untuk memimpin Aceh. truh lee siat naggroe mulia (Hikayat Prang Sabi miliki Syik Jah.. sehingga negeri Aceh menjadi mulia”.. Selain isi manuskrip tentang ajakan untuk berperang di jalan Allah. “Nabi bersabda agar orang Belanda yang masih tinggal di daerah Aceh diislamkan agar tidak masuk ke dalam neraka. Para pemilik manuskrip–khususnya–menyimpan manuskrip sebagai sesuatu yang berharga. bahkan tidak dapat membaca tulisan di dalamnya. Kak Putri misalnya. memiliki keinginan menyimpan manuskrip karena ada kepercayaan dapat berlindung dari gempa bumi. maka kehidupan dapat berkah dan dapat terhindar dari malapetaka.. terdapat juga isi manuskrip lainnya yang mengharap adanya suasana damai. sementara rumah di sekelilingnya sudah hancur berantakan. Sabda Nabi neu yu peu Islam kafe belanda yang na tinggai dara ngen agam nak bek karam u nuraka neuboh raja lein geulanto peutimang naggro mat neraca. Nabi mengangkat raja lain yang dapat memimpin dan membina negeri Aceh. Mereka mengangap manuskrip sebagai sesuatu yang dapat memberi makna mistis dalam kehidupan mereka. Dengan menyimpan manuskrip. kecuali harus melaksanakannya.. hlm. Manuskrip Aceh pada Masa Kini Manuskrip memiliki arti penting bagi generasi sekarang di Aceh. — Fakhriati Hikayat Prang Sabi telah membangkitkan semangat jihad melawan musuh yang dianggap sebagai kafir yang merongrong Islam dan bangsa Aceh dan karenanya harus dimusnahkan..

Vol. Bentuk-Bentuk Perang yang Terjadi di Aceh 1. Ia mendapat wasiat dari kakeknya agar tiga manuskrip yang ia miliki hendaknya selalu dibaca dan diamalkan. 7. manuskrip juga dianggap sebagai barang warisan yang berharga dari nenek moyang mereka. Ketiga-tiga manuskrip tersebut adalah manuskrip pemompa semangat untuk berjihad dan mengajarkan cara menghilangkan diri dari musuh. Sehingga mereka membiarkan manuskrip ada di rumahnya dengan menyimpan di dalam karung-karung atau peti dan meletakkan di loteng-loteng. Padahal rumah di sekelilingnya sudah disisir semuanya. yaitu manuskrip yang isinya dapat membuat musuh tidak dapat melihat orang yang mengamalkan isi kitab tersebut. atau mereka memindahtangankan (mereka menghindari istilah menjual) dengan cara barter. Konflik Internal Secara internal. dalam tubuh masyarakat Aceh telah terjadi beberapa kali konflik yang menelan sejumlah korban dari berbagai 36 . merasa bahwa menyimpan manuskrip-manuskrip yang ia miliki sebagai warisan dari leluhurnya lebih baik daripada menyimpan sesuatu yang berharga lainnya. ia dan keluarganya telah memperoleh hikmah. Ia dan keluarganya berkeyakinan bahwa pengalaman tersebut adalah berkat dari menyimpan. 2009: 21 . Namun demikian. Syik Jah Amut misalnya. No. bukan berarti tidak ada orang yang perduli terhadap manuskrip. seperti baju dan uang.52 Selain itu. dan Hikayat Nuri. Tidak ada satu pun dari pasukan kedua belah pihak yang terlibat konflik berusaha masuk ke rumahnya. Pada umumnya penduduk desa yang seperti ini tidak berani menjualnya karena takut mendapat bencana meskipun ada yang berhasrat membelinya. Hikayat Prang Sabi. Ia yakin dengan kepatuhannya kepada wasiat kakeknya tersebut. Ia lebih mementingkan keamanan manuskrip dibandingkan dengan yang lain. Wasiat pendahulu-pendahulu mereka terus dipelihara dan dijaga. Adapun tiga manuskrip tersebut adalah manuskrip Hiyakaye.Jurnal Lektur Keagamaan. membaca. yaitu ia dan keluarganya terhindar dari serangan musuh ketika konflik Aceh terjadi. meskipun ia dan keluarga berada di tengah-tengah perang dan dikelilingi oleh pihakpihak yang berseteru. dan mengamalkan manuskrip. Sering kali ketidakperdulian ini disebabkan mereka tidak dapat membaca dan memahami isinya. 1.

.Perang dan Damai di Aceh. Pembangkangan ini ternyata disambut oleh Belanda yang ingin ikut campur ke dalam pemerintahan kerajaan Aceh. Perlawanan ulama ini digambarkan oleh Teungku Muhammad Ali sebagai berikut: Keusalah drou hantem leumah sebab that ku’eh kafeee Ulanda Hate jih seupot beurangkajan iblih ngen syaithan di dalam dada Han jitem deunge pengajaran agama Tuhan bak Rasul Anbiya Kalam Tuhan han jitem pateh ji peusalah dum anbiya..” 37 . Para uleebalang mulai menunjukkan sikap tidak patuh kepada aturan-aturan sultan yang tertuang dalam sarakata. Sebelum kemerdekaan konflik telah terjadi antara ulama dan uleebalang. malah menyalahkan semua para anbiya. Uleebalang pada umumnya senang dengan perlakuan Belanda tersebut sehingga ikut-ikutan untuk menekan dan menghalanghalangi gerak para ulama terutama dalam melaksanakan tugasnya menyebarkan dan melaksanakan ajaran agama. Belanda berusaha melenyapkan kekuasaan sultan dan mengangkat kedudukan uleebalang sebagai penguasa wilayah. 11).. — Fakhriati pihak. h. Ia membagi-bagi wilayah kecil dengan penguasa uleebalang yang harus tunduk di bawah kekuasan Belanda.. Pembagian hasil upeti yang didapat tidak dilakukan. Para ulama tidak menerima tindakan demikian. “Kesalahan diri sendiri tidak pernah nampak karena sangat jahat kafir Belanda Hatinya sudah gelap sehingga kapan saja jin dan syaitan dapat masuk ke dalam dada mereka Tidak mau mendengar pengajaran agama Tuhan pada Rasul Anbiya Mereka tidak mau mematuhi kalam Tuhan. (Sir±judd³n. Di sisi lain. sehingga konflik pun muncul ke atas permukaan. sesudah kemerdekaan konflik juga timbul antara mereka. Pada masa sebelum Belanda campur tangan ke dalam wilayah Aceh. kekuasaan sultan sudah mulai melemah. Perilaku koruptif dengan tidak memberitahukan kepada sultan hasil pajak yang sebenarnya mulai merebak. Politik saling mencurigai antara sesama atau lebih dikenal dengan politik devide at impera selalu menjadi acuan Belanda dalam usaha memperluas wilayah jajahannya... Perbedaannya hanya terletak pada faktor penyebabnya. Belanda menekan kedudukan ulama agar tidak ikut campur dalam mengelola sistem pemerintahan.

. 13-14). “Semua kita wahai saudara harus ikut pekerjaan Rasul Selain itu jangan ikuti karena begitulah seharusnya. Geutanyo bandum wahe ado bak buet Rasul ikut gata Laen bak Rasul bek ta ikot meunan patot dum peutua. jangan berteman dengan orang jahil yang suka kepada dunia takutlah hai salik kepada orang yang seperti itu orang jahil pun takut kepada orang salik yang bertapa orang yang mengikuti perintah Allah disalahkan semua karena mereka tidak salat wajib yang lima waktu tak pernah mendengar firman Tuhan dalam al-Quran mulia mereka tidak pernah mendengar firman Tuhan dalam al-Quran barangsiapa menyebut nama Tuhan dan salatlah kalian orang yang mengucap kalimah yang baik mereka itulah orang yang baik dan taat”. Banyak di antara mereka harus lari dan pergi 38 .. Para ulama tidak memberi kesempatan kepada uleebalang untuk mengatur dan memerintah sementara mereka juga menginginkan kekuasaan sehingga terjadilah perang. Korban telah banyak berjatuhan dari kedua belah pihak. h. Mereka mengajak pengikutnya untuk mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya. 1. 2009: 21 . agar selamat hidup di dunia dan akhirat. Bek tamuerakan wahe ado ngen ureung jahe aso donya Beutatakot hai ureung salek keu ureung ulok jahe donya Di ureung jahe pih jitakot keuureung salek duk lam tapa Padum-dum oreung jahe jipeujahat sabe ureung tapa Ureung yang pubuet suroh Allah jipeusalah dum ji rata Seubab hana ji sumayang wate limeung jiyu plihara Hantem jideungo firman Tuhan dalam Quran yang that mulia So na seubot nama Tuhan yanke tolan semayang gata Ureung yang na kheun kalimah tayibah yanke yang jroh taat gata (Sir±judd³n. Para uleebalang ingin mendapatkan kembali posisi di atas dalam pemerintahan sebagaimana telah mereka alami pada masa Belanda. terutama di pihak uleebalang.Jurnal Lektur Keagamaan. 7. yaitu setelah kemerdekaan. terjadi kembali perang saudara antara ulama dan uleebalang yang dikenal dengan perang cumbok.52 Berpegang teguh pada ajaran agama menjadi kewajiban bagi para ulama untuk mempertahankannya. Pada akhir tahun 1945. No.. Vol.

Perang melawan Jepang. Mereka mengikutinya. Orang Aceh sangat senang atas kemenangan ini. Para pemuda Aceh menyambut gembira harapan yang diberikan Jepang. Usman. menggantikan posisi uleebalang. Mereka melawan Jepang meski dengan senjata yang tidak sebanding sekalipun. juga berkisah tentang peristiwa berkecamuknya peperangan serta menggambarkan bagaimana semangat juang pasukan bersama rakyat Aceh dalam perang mengusir penjajah yang menelan banyak korban di kedua belah pihak. Sehingga gerak mereka tidak lepas dari pantauan para petinggi ulama. Setelah merasa bahwa janji-janji Jepang hanyalah tipuan belaka. karena keberhasilan ada di tangan mereka dan jendral Kohler tewas terbunuh oleh rencong Aceh. Konflik Eksternal Perang melawan orang asing yang datang ke tanah Aceh terjadi pertama kali dengan pasukan Portugis yang ingin menguasai wilayah Aceh. 1979:200-204. Pada awalnya... Dengan kegigihannya. — Fakhriati meninggalkan Aceh agar selamat dari serangan dan pembunuhan (Reid. Aceh mencari bantuan ke Turki untuk persiapan menghadapi mereka. maka rakyat Aceh mulai mengerakkan seluruh kemampuannya untuk berperang menghadapi Jepang.Perang dan Damai di Aceh. 2003:119-124). Semangat jihad 39 . sehingga lahir hikayat tentang tewasnya jendral Kohler. Mereka tetap menjadikan rujukan dan membina hubungan erat dengan para ulama setempat. Jepang menjanjikan angin surga untuk bersama orang Aceh melawan Belanda dan berada di pihak orang Aceh untuk membangun Aceh. namun mereka juga tetap waspada apa yang akan terjadi ke depan. Sangat beruntung bagi orang Aceh. Para pemuda Aceh direkrut untuk berada di tangga pemimpin negeri. 2. dan Pasai (Zainuddin 1961:267. Kemudian perang kembali berkecamuk ketika Belanda melakukan agresi pertama ke wilayah Aceh pada tahun 1873. pasukan Aceh di bawah komando Kuemala Hayati telah berhasil mengalahkan Portugis yang berada di bawah pimpinan Admiral Die d’Lopez Sequeira yang berusaha menguasai wilayah Aceh Besar. Pidie. Pada tahun 1509 M. (1942-1945) adalah perang lain yang harus dihadapi orang Aceh. Usman. Hikayat tersebut selain menceritakan kemenangan pasukan Aceh dengan tewasnya jenderal Kohler. 2003:115).

7. (Abdullah. sehingga ajarannya juga diamalkan. Dalam sebuah doa. tidak terlihat munculnya karya-karya para ulama pada saat ini. kemungkinan besar karena selain masa perang melawan Jepang yang demikian singkat. meski tekanan hidup lebih parah daripada yang dialami pada masa Belanda. 2009: 21 . Orang Aceh sangat menghormati dan menghargai keagungan Abdurrauf al-Fansuri. Kondisi-Kondisi yang Menyebabkan Perang Dari hasil pemetaan di atas dapat dianalisis berdasarkan manuskrip yang ada bahwa terjadinya perang di Aceh adalah karena faktor-faktor penjajahan. Karena itu ia mengajak kaum Muslimin untuk bersungguh-sungguh melaksanakan perang sabil dan bercita-cita untuk mati syahid. dan perebutan kekuasaan. Dalam kitab Wa¡iyyat Syeikh Abdurrauf al-Fansuri 10 terdapat ajaran Abdurrauf tentang kewajiban perang sabil. juga karena seluruh kemampuan jiwa dan raga orang Aceh tercurah ke dalam perang menghadapi Jepang. 10 40 .52 kembali berkobar. Pada jangka waktu perang yang singkat dengan Jepang. Ia menyebut bahwa memerangi orang kafir adalah berbentuk perang sabil yang diridai oleh Allah. Manuskrip ini disimpan di Pusat Manuskrip Melayu dengan nomor kelas MS 1314. Ia mengatakan bahwa Allah melarang orang Islam untuk tunduk di bawah pemerintah kafir dan mengambil orang kafir sebagai teman. Vol.Jurnal Lektur Keagamaan. No. Akhirnya. Jepang pergi sendiri meninggalkan Aceh setelah dikalahkan oleh Amerika dengan jatuhnya bom di Hirosima dan Nagasaki. terdapat semangat jihad dengan mengharapkan berkat dari Abdurrauf al-Fansuri dalam berjuang melawan Belanda. Hal ini terjadi. Mereka hanya menggunakan kitab-kitab lama untuk dibaca dan direnungi serta diamalkan. Hikayat Prang Sabi kembali dikumandangkan dari berbagai tempat dan sudut untuk membakar semangat rakyat berjuang melawan Jepang sebagai kafir. Untuk itu Allah mewajibkan umat Islam untuk melakukan perang sabil. Ia mengajarkan bahwa perang melawan orang kafir yang menjajah wilayah kaum Muslimin adalah wajib. Abdurrauf al-Fansuri adalah tokoh yang sangat kuat memperjuangkan negara melawan penjajah. beda agama. 1. 1991:131).

Perkumpulan kaum Muslimin di Mekah juga menjadi kondisi lain untuk mendorong orang Aceh bergerak lebih radikal terhadap Buku ini berisi pahala yang dicapai oleh orang yang melakukan jihad. beutalo kafe. Agar Allah usir kafir Belanda”. dorongan kuat dari tokoh luar Aceh juga menjadi kondisi membangkitnya semangat orang Aceh dalam menggerakkan perang melawan penjajah Belanda. tidak heran kalau sampai sekarang manuskrip al-Palembani masih disimpan dan dikoleksi oleh orang Aceh. ia berjuang dengan giat melawan Belanda. khususnya Aceh. — Fakhriati L±’il±ha’ill±h. firman Allah neuyou prang kafe. hati harus putih bersih dan iman harus kuat. Kemudian.Perang dan Damai di Aceh. Berkat Teungku Syiah Kuala.. dan jihad yang hanya wajib dilakukan secara berkelompok bila orang kafir masuk ke dalam wilayah mereka. kalah kafir. Cod. 7992 (5): 3) “Tiada Tuhan selain Allah. 20. Or. 11 41 . Salah satu manuskrip yang mengambil rujukan pada buku tersebut adalah Nasihat Ureung Meuprang dan Hikayat Prang Sabi. Beureukat Teungku Syiah Kuala. (Manuskrip. Bukunya tentang kewajiban melakukan jihad bagi setiap Muslim yang sedang menghadapi musuh yang berjudul Na¡³¥ah al. (Manuskrip. firman Allah disuruh perangi kafir. dan penghapusan dosa selama di dunia. Beureukat syufa’at Nabi Muhammad bak meunang umat.Muslim³na wa Ta©kirah al-Mu’min³na f³ fa«±’il al-Ji¥±di f³ Sab³lill±h wa Kar±mah al-Muj±hid³na f³ Sab³lill±h 11 telah menjadi rujukan bagi rakyat dalam berperang.. Kemudian dilanjutkan dengan anjuran kepada orang yang melaksankan jihad agar membaca l± ¥awla wa l± quwwata ill± bill±h tujuh kali. Boh beudee jife bek jimeusu. Masyarakat Aceh menggunakan buku tersebut sebagai pedoman mereka menulis. Setelah tahun 1789 M) adalah tokoh dari Palembang (Sumatera Selatan) yang telah membakar semangat jihad untuk wilayah Nusantara. Or. berkat syafaat Nabi Muhammad agar menang umat. Cod. Keluar peluru jangan bersuara. Hatee bak puteh. penjelasan tentang peraturan berjihad yang terdiri dari jihad yang wajib dilakukan oleh setiap individu bila orang kafir menguasai daerah orang Muslim. Selain itu. Di akhir buku ini tertulis doa yang berisi permohonan kepada Allah agar Allah melindungi orang yang melakukan jihad. iman bak teugoh. Karena itu. A. Sebagai penganut dan penyebar tarekat Samaniyyah di wilayah Nusantara. C). Abdussamad al-Palembani (w. Bak Allah beh kafee Ulanda.

sebagai tokoh Syattariyah tidak luput mengulas sifat dan sikap uleebalang dan kafir Belanda yang menghalang-halangi kaum tarekat dalam beribadah. Mereka yang memiliki cukup biaya pergi ke Mekah dan bahkan sebagian mereka menetap di sana berpuluh-puluh tahun guna menuntut ilmu agama dari para guru di tanah suci. No. Ia kemudian pulang ke Aceh dan mengabdi kepada agama dan bangsanya dengan berbagai macam cara. manuskrip-manuskrip tentang hal tersebut masih disimpan oleh penduduk setempat. seperti di Arab dan di Mesir. 14 Sampai sekarang. (Bruinessen. Ureung salik ji peusalah menan fitnah ureng celaka (Sir±judd³n. Isi manuskrip tersebut adalah penjelasan perang yang terjadi di berbagai negara Muslim di dunia. Konsekwensinya mereka menciptakan gerakan melawan penjajah di daerah mereka sendiri. 13 Sehingga semangat yang berapi-api mereka bawa pulang serta. Di antaranya adalah dengan menuangkan ilmunya ke dalam tulisannya. 1. Meunan Peurintah Huleebalang dum sibarang yang peutua. Salah satunya adalah simpanan Teungku Ainal Mardhiah Teupin Raya.52 kaum non-Muslim. 11) Pergi ke Mekah khususnya untuk melaksakan haji telah menjadi suatu tradisi bagi orang Aceh khususnya dan Nusantara pada umumnya. Sehingga perkumpulan tersebut membuat komitmen untuk memberantas kolonial di wilayah mereka. 8-12). 10) Han jibri peubut tarekat sufi seubab that dengki si celaka. Salah satu cara mereka merangkul rakyatnya adalah dengan menulis informasi yang mereka peroleh di Mekah dalam bahasa Aceh dan berbentuk hikayat. 12 42 .. dan mengajak rakyatnya untuk ikut serta. 1990: 42-49).. Mereka mendengar akan kesuksesan saudara mereka dalam memperjuangkan negara mereka. misalnya. Mereka saling mendapat dorongan untuk mencapai satu tujuan yang sama. adalah seorang intelektual yang selama dua puluh tahun berada di Mekah untuk menuntut ilmu-ilmu agama. 2009: 21 . 1972: 193210: Holt. 1980: 337-347. (Sir±judd³n.. 13 Lihat misalnya keberhasilan Mahdi Sudan dalam Dekmejian. Manuskrip ini ditulis dalam bahasa Aceh dan dalam bentuk hikayat. Orang Aceh yang berada di Mekah 12 mendapatkan informasi tentang kekejaman kolonial di setiap negara Muslim lainnya di dunia. Vol. Teungku Muhammad Ali yang berdomisili di daerah Leungputu. Keusalah drou hantem leumah that kueh kafee Ulanda (Sir±judd³n. h.. hlm.14 Manuskrip Teungku Ali Muhammad Pulo Peub yang ditulis pada abad ke-19 M adalah salah contoh manuskrip yang menarik dikaji untuk melihat kondisi yang menyebabkan terjadinya perang di Aceh. hlm.Jurnal Lektur Keagamaan. Ia. sehingga rakyat antusias membaca dan mendengarkannya. 7.

Akibatnya. Orang salik disalahkan demikian bentuk fitnah orang celaka Tidak diizinkan melaksanakan tarekat sufi karena mereka sangat dengki. Ia menulis kitab tasawuf dengan judul Tanb³h al-Masy³ yang di antara isinya adalah upaya untuk menetralkan pemahaman tasawuf yang telah simpangsiur pada saat itu.. Bismill±hirra¥m±nirra¥³m Q±lal faq³ru ilall±hil malikil jal³lil syaykhi ‘abdur ra’µfi anna ‘alayya wa lamma wa¡altu ila ar«il Asy³ wa k±na l³ f³h± rajulun yu¡±¥ibun³ wa yataraddadu ilayya ka£³ran wa raaytu annahu yatakallamu f³ wa¥datil wujµdi ‘ala khil±fi m± qarrarahu sayyid³ wa syaykh³l ‘±limir rabb±niyyil munfaridi f³ aw±nihi bil± £±n³ A¥mad bin Mu¥ammadil Madan³l An¡±r³yyi¡ ¢amad±n³yyisy Syah³ri bil Qusy±sy³ wa khal³fatul ‘±lamil ‘al±matil ¥ibril ba¥ril fahh±mati wahua syaykhun± Burh±nudd³ni Mul± Ibrah³m ibni ¦asanil Kµr±n³ 43 .Perang dan Damai di Aceh. Bahkan ia sangat takut bila seseorang akan menuduhnya berada pada garis yang salah dalam tasawuf.. ia tidak setuju dengan pandangan yang mengatakan penyatuan makhluk dengan Tuhannya yang tidak ada perbedaan sama sekali. tidak berdasarkan ajaran dari gurunya. — Fakhriati “Demikian perintah uleebalang sebagai pemimpin. Ia memilih bersikap moderat dan cukup hati-hati dalam menghadapi konflik yang ada pada saat itu. Upaya-Upaya Damai Dalam manuskrip. Abdurrauf al-Fansuri dengan bijaksana menyikapi perbedaan-perbedaan pandangan antara kaum sufi yang sebelumnya telah mengarah kepada kekerasan. hubungan ketidakharmonisan kedua pihak yang bersaudara setanah air semakin tidak terelakkan dan bahkan semakin meruncing... Kesalahan sediri tidak pernah kelihatan sangat jahat kafir Belanda” Uraian Teungku Muhammad Ali Pulo Pueb tentang ketidaksetujuan dan sikap uleebalang terhadap ketaatan kaum tarekat dalam beribadah menunjukkan bahwa uleebalang pada masa itu telah berhasil dipandu dan didikte oleh Belanda dalam mengatur negara dan mengesampingkan para ulama. Di satu sisi. terdapat upaya-upaya damai yang dapat dilihat agar setiap masyarakat dapat menikmati hidup dengan tenang dan dapat melaksanakan segala aktivitas sehari-hari demi kemajuan bangsa... Untuk menciptakan perdamaian di kalangan masyarakat dan juga di tingkat pemerintahan.

Di sisi lain. Dalam karangannya yang lain. dan jangan engkau mengutuk saudaramu yang Muslim. (Tanbih al-Masyi yang disimpan di Tanoh Abee. padahal saya tidak ada hubungan dengan masalah tersebut. ia juga menulis: Dan tiadalah harus kita mengkafirkan dia. niscaya kembali kata itu kepada diri kita. ada seseorang datang kepada saya berkali-kali. No.Jurnal Lektur Keagamaan. Vol. karena engkau akan termasuk golongan orang yang dimurkai Allah atau golongan orang yang memenggal leher saudaranya”. karena engkau akan termasuk golongan orang-orang yang berdosa pada hari kiamat. ia melarang menuduh atau mengklaim dengan kutukan yang menyakitkan si pendengar yang mengakibatkan akan menjerumuskan diri sendiri ke dalam kata-kata yang pernah diucapkan tersebut. Dan jikalau tiada ia kafir. 1. h. saya melihat ia berbicara tentang wa¥datul wujµd yang berbeda dengan apa yang telah diajarkan syekh saya Ahmad bin Mu¥ammad al-Madan³ al-An¡±r³ as-¢amad±n³ yang dikenal dengan al-Qusy±sy³ dan khalifah Alam yang luas pemahamannya yaitu syekh kami Burh±nudd³n Mul± Ibrah³m bin Hasan al-Kµr±n³ semoga Allah merahmati keduanya. sehingga orang mengkafirkan saya setelah saya wafat. 7.1). 392). “Peliharalah lidahmu dari perbuatan g³bah dan mengkafirkan orang lain. dan jangan pula engkau memujinya. karena sesungguhnya pada keduanya terdapat kesalahan besar di sisi Tuhanmu. Maka saya buat risalah ini dengan mengharap bantuan dari Allah dan menyadari akan sedikitnya perbendaharaan dan banyak kelemahan dan saya namakan buku ini dengan Tanb³hul M±sy³ ala Tar³qatil Qusy±sy³ dan saya mengucapkan Bismillahirra¥m±nirra¥³m”. karena jikalau ada ia kafir. 32).52 ra¥imanallahu bihim± wa ©±lika min ¥ay£u annar rajula lam yumayyiz baynal mur±tibi wa lam yarji’ ila taqr³ril mu¯±biqi lisyar³‘ati faakh±fu ayyunsama taqr³rur rajuli wa i‘tiq±duhu ila taqr³r³ wa i‘tiq±d³ ¥atta yukaffirun³ ba‘da waf±t³ wa ana bar³un minhu fajami‘tu h±©ihir ris±lata mustaq³nan bill±hi wa mu‘tarifan biqillatil bi«±‘ati wan na«±¥ati wa sammaytuh± bitanb³hil m±sy³ ala ¯ar³qatil qusy±syi wa faqultu bismill±hir ra¥m±nir ra¥³mi “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Syekh Abdurrauf al-Fansuri berkata: bahwa ketika saya sampai di Aceh. 44 . (Tanb³h al-M±sy³ versi Tanoh Abee. 2009: 21 . (Daq±’iq al-¦uruf. Wa¥fa§ lis±naka ‘anil g³bati wa takfir fa’innahu kha¯aran ‘a§³man ‘inda rabbikal kab³r wa l± tula‘‘in akh±kal muslima fatakun minal mujrim³na yaumal qiy±mati wa l± tamda¥¥uhu ay«an fatakun minal mabgµ«³na aw mina« «±rib³na ‘unuqa akh³him. maka tiadalah perkataan dalamnya. Bahwa orang tersebut tidak membedakan antara tingkatan-tingkatan dan tidak merujuk kepada ketentuan syariat. hlm. saya khawatir ketentuan dan keyakinan orang tersebut dinisbahkan kepada ketentuan dan keyakinan saya.

. Abdurrauf al-Fansuri menjelaskan: . maka disuruh raja akan mereka itu membawa tobat daripada iktikad yang kufur itu.. maka sekali-kali tiada ia mau tobat.Perang dan Damai di Aceh. yaitu dengan penguraian kata-kata sejelas mungkin dan lebih hati..15 Pada abad selanjutnya... berlindung kiranya kita kepada Allah dari pada kufur itu. MS dikutip dari Azra 1995:182. Dari ungkapan-ungkapan Abdurrauf al-Fansuri yang dituangkan dalam tulisannya seperti tersebut di atas. hingga berperanglah mereka itu dengan penyuruh raja. al-Fath al-Mubin. Ia sangat mengharapkan agar istrinya selalu 15 Ar-Raniri. huwa al-‘alam. 392). ia selalu mengharapkan agar dapat kembali dan bersama keluarganya lagi. maka sungguh dapat dilihat bahwa pandangan Abdurrauf al-Fansuri sangat jauh berbeda dengan pandangan ar-Raniri yang pengikut Hamzah Fansuri sebagai pengikut wujudiyah yang sesat sehingga perlu dimusnahkan berikut kitab-kitabnya karena menurutnya mereka sudah berada pada jalan yang salah menurut agama. Dalam salah satu manuskrip yang disimpan oleh salah seorang penduduk Pidie terdapat tulisan tentang uraian sebuah harapan dari seorang pemuda yang pergi berjihad untuk dapat kembali hidup bersama isterinya lagi.dan inilah bahaya mengkafirkan itu. Sultan Iskandar Stani sangat mendukung sikap ar-Raniri. sehingga tidak ada kesalahpahaman di antara pembaca.. abad ke-18 M. dan disuruhnya himpunkan segala kitab karangan guru mereka di tengah medan masjid yang bernama Bayt Al-Rahman. ar-Raniri menjelaskan: . (Daq±’iq al-¦urµf. Dalam kitabnya Fath al-Mubin. tulisan Faqih Jalaluddin Asr±r al-Sulµk juga mengandung unsur pemeliharan perdamaian dan mencegah terjadi konflik di antara pengikut tarekat yang ia dalami. Ketika seorang prajurit Aceh pergi ke medan perang. Maka dengan beberapa kali disuruh raja akan mereka itu membawa tobat. bahwa alam itu Allah dan Allah itu alam. Setelah sudah demikian itu. pada halaman yang sama. Maka disuruh oleh raja bunuh akan mereka itu. — Fakhriati Seterusnya. sehingga ia memerintahkan pekerjapekerja kerajaan melakukan pembunuhan terhadap pengikut Hamzah Fansuri.dan lagi kata mereka itu: al-‘alam huwa Allah. Maka disuruh oleh raja tunukan segala kitab itu. 45 .

Ia sempat mendapat pengikut banyak untuk melaksanakan ajarannya. Dalam salah satu tulisannya ia menyebutkan: 46 . Ia berusaha untuk tidak menciptakan konflik terhadap pemahaman yang berbeda dari pemikirannya yang ia tuangkan dalam tulisan.Jurnal Lektur Keagamaan. yaitu uleebalang dan Belanda. 1. Ia juga membuat perumpamaanperumpamaan sebagai salah satu caranya untuk menjelaskan sesuatu yang masih kurang jelas untuk pembacanya. 1961:16. Ia menjelaskan segala hal yang menyangkut filosofi tasawuf dengan sangat hati-hati. Sehingga untuk meluruskan jalan pemahaman umat. Dalam masa penjajahan Belanda Teungku Id ibn Ustman masih sempat menyelesaikan tulisannya tentang bagaimana memahami tasawuf dengan benar. Seperti menjelaskan tentang perbedaan mengenal gajah dengan mengenal manusia karena berbeda bentuk dan akal. dalam kitabnya Mi‘r±j as-S±lik³n menyajikan ajaran yang mengandung unsur perdamaian. salah seorang ulama yang cukup produktif pada masanya. demikian juga dalam hal mengenal Tuhan tidak bisa disamakan dengan makhluknya. (Poerwa. 7. (Manuskrip Laut Makrofat Allah).52 menjaga diri dan berdoa agar mereka dapat hidup bersama lagi membangun keluarga yang sakinah sepanjang hidup mereka. Vol. Ia lebih memilih jalan menjauhkan diri dari ancaman mereka dan mengajak umatnya untuk tetap berada pada jalan yang benar. Dalam tulisan Teungku Muhammad Khatib Langgien. No. 1993:4). Menurutnya cara-cara tasawuf yang benar adalah cara pelaksanaan yang ditawarkan oleh Hamzah Fansuri. ia kemudian diusir dan bahkan dibunuh oleh masyarakat setempat. Namun ajarannya ini kemudian ditentang oleh Teungku di Pulo dan kawan-kawannya. Ishak. Karya Teungku Muhammad Ali Pulo Peub memancarkan keinginan untuk berdamai dengan lawannya. Hal ini dimaksudkan untuk menghindarkan rakyat dari perpecahan yang meluas akibat menyebarkan dua faham yang saling bertentangan sebagaimana yang terjadi pada masa Sultan Iskandar Tsani pada abad ke-17 M. yaitu jalan agama yang diridai Tuhan. 2009: 21 . Kendatipun ia sangat tidak menyukai cara-cara uleebalang dan Belanda. tetapi berusaha untuk tidak secara gamblang menyebut perilaku uleebalang sebagai perilaku musuh yang perlu diperangi.

Isi manuskrip ini mengajak pembaca untuk selalu menghafal dan mengamalkan ayat-ayat tertentu agar kehidupan di dunia selamat dari kecaman apa pun. Manuskrip Hiyakaye adalah sebuah manuskrip yang dikemas untuk memberi semangat hidup bagi para pembacanya.Perang dan Damai di Aceh. Ia dicaci maki. Sifat-sifat yang tercela dihindarkan dan sifat-sifat yang baik digunakan.. h.dan lagi yang demikian itu tempat tergelincir kebanyakan manusia yang tiada makrifat baginya hai salik adalah segala alam makrifat yang telah kunyatakan kepadamu ialah alam makrifat yang indah-indah dan ia yang terlebih sukar paham segala orang awam. Ia mengadakan pembelaan terhadap dirinya. ia juga menjelaskan bahwa tingkat ini diperuntukkan kepada ahli sufi yang berada pada tingkat tinggi. Mengatasi masalah ini.. dan ia memberi peringatan kepada pembacanya agar hati-hati dalam menafsirkan karena dapat menyesatkan pemahaman. karena kasih akan dunia ibu segala kejahatan (Dawa’ al-Qulµb.. Akibat dari sifat ini. h. (Mi‘r±j as-S±lik³n. Dalam menjelaskan hal-hal yang berbentuk filosofi seperti di atas. Ia mengalami berbagai cobaan dan penderitaan dalam liku-liku hidupnya. Selanjutnya. ia juga menulis tentang obat hati. 28-29)..( Mi‘r±j as-S±lik³n. dijauhi dan tidak perlakukan sebagaimana karabat lain. dan hanya menyerahkan diri kepada Allah. Manuskrip ini menguraikan cerita fiksi berjudul Hikayat Abdurrahman. karena tuduhan-tuduhan dari sepihak yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya. seperti . bila 47 . dicemohi. 27). Isinya menjelaskan tentang kehidupan sebuah keluarga yang bernama Abdurrahman dan seorang anak perempuan yang salehah bernama Siti Hazanah.. Salah satu sifat yang perlu dihindarkan adalah hubb ad-dunya. — Fakhriati Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu karena mustahil dikata umpama barangsiapa mengenal ia akan gajah maka sanya ia mengenal akan manusia. tenang dalam menjalani hidup dalam keadaan apapun... 28). seseorang akan terlena dengan dunianya dan tidak mau bersegera mencari bekal untuk akhirat. yang perlu diamalkan oleh pembacanya agar dapat hidup lebih tenang baik di dunia maupun akhirat. diam. Kisah perjalanan hidup Siti Hazanah setelah ditinggal mati keluarganya menjadi sorotan utama dalam manuskrip ini. h.. ia lebih memilih cara sabar. Satu contoh lain adalah manuskrip Hikayat Abdurrahman.

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 21 - 52

ia mendapat kesempatan. Ia tidak pernah menyakiti orang lain. Akhirnya pembelaan dari pihak yang tidak diduga, yaitu dari makhluk Allah selain manusia, untuk menyatakan bahwa dia adalah orang benar dan tidak pernah bersalah. Dalam perjalanan hidupnya, akhirnya, ia mencapai tingkat sufi yang paling tinggi, yaitu makrifat Allah. Ia memperoleh kesenangan yang sangat tinggi dan selalu diidam-idamkan selama hidupnya, yaitu melihat Tuhannya. Seperti tersebut dalam teks;
Rupa po yang takalen Hate heran leumah Tuhan yankeu iman dengan makrifat Yan alamat takwa hanban. (Manuskrip Hikayat Abdurrahman, hlm. 45). “Wujud Tuhan yang terlihat Itulah iman dengan makrifat Hati menjadi heran akan hadirnya Tuhan pertanda hasil takwa yang sangat tinggi”

Penutup Catatan sejarah Aceh adalah bagian dari cerita panjang tentang perang dan damai, di samping cerita tentang kemajuan dan kemundurannya. Orang Aceh sesungguhnya adalah manusia-manusia yang ramah, terbuka, dan suka pada kedamaian dan ketenangan. Mereka dapat menerima kehadiran siapapun tanpa memandang ras dan agama selama ia sendiri tidak merusak hubungan baik dengan penduduk dan masyarakat Aceh. Namun, di balik keramahtamahan dan keterbukaan itu tersimpan sikap yang sangat tegas dan tidak mau tunduk atas setiap kehendak asing yang ingin menguasai atau merusak citra Aceh baik wilayah, harga diri, terlebih agamanya. Sejarah perang Aceh selalu terkait dengan upaya mempertahankan wilayah, agama, dan harga diri. Untuk urusan seperti ini, orang Aceh memiliki semangat jihad atas nama agama yang sulit diredam, kecuali apa yang mereka tuju telah tercapai. Ulama bagi masyarakat Aceh memiliki posisi sentral sebagai panutan dalam beragama, bermasyarakat, dan berjuang f³ sab³lill±h. Selain komando untuk mengusir penjajah, pada umumnya ulama yang menulis manuskrip-manuskrip Aceh mengajarkan agar mendorong terciptanya perdamaian dalam hidup, meskipun sedang berada pada posisi menghadapi musuh. Permusuhan dan pertikaian tidak boleh diciptakan dan dimulai, tapi mempertahankan diri dan agama adalah wajib. Salah satu usaha mempertahankan diri adalah 48

Perang dan Damai di Aceh... — Fakhriati

dengan doa-doa mujarabat, yaitu doa-doa yang ampuh untuk dibawa kemana saja dan dapat mengalahkan segala keinginan jahat yang bertebaran di luar diri pemegang doa tersebut. Doa-doa tersebut menjadi alat pelindung bagi pemegangnya bila ia dihafal, diamalkan, dan dilaksanakan sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku. Dan, ia tidak akan bermanfaat bila hanya tertulis dalam secarik kertas untuk dikantongi dan dibawa-bawa si pemegang.[]

Daftar Pustaka
Azra, Azyumardi, 1995, Jaringan Ulama: Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII, Bandung: Mizan. Bruinessen, Martin, 1990, “Seeking Knowledge and Merit: Indonesians on the Hajj” dalam Ulumul Quran, Vol. II, No.5, Jakarta. Dekmejian, H. Richard dan Margaret J. Wyszomirski, 1972, ‘Charismatic Leadership in Islam: The Mahdi Sudan’ dalam Comperative Studies in Society and Theory. Djajadiningrat, Hoesein, 1934, Atjehsch-Nederlandsch Woordenboek, Vol. 2, Batavia: Landsdrukkerij. Fakhriati, 2005, New Light on the Life and Work of Teungku di Pulo: An Achehnese Intellectual in the Late 19th and Early 20th Centuries, Makalah dipresentasikan pada SEASREP Conference, Chiang Mai, Thailand, 8-9 Desember 2005. -----------, 2008, Menelusuri Tarekat Syattariyah di Aceh Lewat Naskah, Jakarta: Balitbang dan Diklat Departemen Agama RI. Holt, P. M., 1980, ‘Islamica Milleniarism and the Fulfillment of the Prophecy’ dalam The Prophecy and Milleniarism, diedit oleh Ann Williams, London. Hurgronje, Snouck, C., 1997, Aceh: Rakyat dan adat istiadatnya, INIS. Ishak, Otto Syamsuddin, 1993, ‘Dinamika Pemikiran Keagamaan di Aceh’, dalam Serambi Indonesia, Jum’at, 15 Januari 1993. Iskandar, Teuku, 1958, ‘De Hikayat Atjeh’ dalam BKI XXVI. Keifer, Thomas M., 1973, ‘Parrang Sabbil: Ritual Suicide among the Tausug of Jolo’ dalam BKI, Vol. 129. Kern Papieren, No. C. 234, Bajlagen 4, Weltevreden Desember 16, 1921, Koleksi KITLV, No. 414.

49

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 21 - 52

Kern, R. A., 1979, Hasil Penyelidikan Tentang Sebab Musabab Terjadinya Pembunuhan, diterjemahkan oleh Aboe Bakar, Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. Poerwa, Aziz, 1961, ‘Tumbuhnya Agama Baru Indonesia’ in Sketsmasa, No. 17, Tahun IV. Raliby, Osman, 1980, ‘Aceh, Sejarah, dan Kebudayaannya, dalam Bunga rampai tentang Aceh, Jakarta: Penerbit Bhratara Karya Aksara. Reid, Anthony, 1979, The Blood of The People: Revolution and The End of Traditional Rule in Northen Sumatra, Oxford University Press. ---------, 2007, Asal Mula Konflik Aceh: Dari Perebutan Pantai Timur Sumatera hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Said, Mohammad, 1961, Atjeh Sepandjang Abad, Medan. Sjamsuddin, Nazaruddin, 1999, Revolusi di Serambi Mekah; Perjuangan Kemerdekaan dan Pertarungan Politik di Aceh 1945-1949, UI Press. Syamsuddin, T., dkk, 1978, Adat Istiadat Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. Sulaiman, Nasruddin, dkk, 1992, Aceh: Manusia, Masyarakat, Adat, dan Budaya, Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. Tippe, Syarifudin, 2000, Aceh di Persimpangan Jalan, Jakarta: Pustaka Cidesindo. Usman, Rani, 2003, Sejarah Peradaban Aceh, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Vleer, A. J., 1978, Kedudukan “Tuha Peut” dalam Susunan Pemerintahan Negeri di Aceh, alih aksara oleh Aboe Bakar, Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. Zainuddin, H. M., 1961, Tarich Atjeh dan Nusantara, Medan, Penerbit Iskandar Muda.

50

— Fakhriati Lampiran: Gambar 1: Foto Halaman Awal Naskah Hiyakaye milik Syik Jah Amut. Aceh 51 .. Pidie.Perang dan Damai di Aceh. Aceh Gambar 2: Foto Halaman Awal Naskah Teungku Khatib Langgien milik Teungku Amir Meunasah Kruet Teumpeun. Teupin Raya. Pidie.. Geulumpang Miyeunk.

Jurnal Lektur Keagamaan. Teupin Raya Aceh 52 .52 Gambar 2: Foto Halaman Awal Naskah Sarakata milik Cut Manfarijah Dayah Tanoh. 7. No. 2009: 21 . Vol. 1.

Agama. Kata kunci: kodikologi. — Asep Saefullah dan Adib M. Dari sisi lain. Second.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . 22-24 Desember 2008. Jakarta Asep Saefullah dan M. this Islamic manuscript adopts Arabic. In regard to Islamic literature in Bali. and the oldest manuscript was written in 1625 AD (1035 AH). Badan Litbang dan Diklat. prayer. like dluang. European paper. Malay (Jawi). Third. two of them about Hinduism. remembrance of God. The third category is about fourteen Qur’anic manuscripts. lontar. dari satu sisi dapat dianggap sebagai salah satu representasi dari lokalitas dan kekhasan wilayah bersangkutan. and palm leaf. dluang. Bugese. We have discovered thirty-eight manuscripts that we can classify into three categories. In terms of codicology. and Balinese. *) 53 . medicines. First. mysticism. Bali Pengantar Keberadaan naskah tulisan tangan (manuskrip) di suatu wilayah. Arabic grammar. Most of this category of manuscript was torn away. this Islamic manuscript uses diverse tools. kertas Eropa. we can write four important things as follows. this category is unfortunately not taken care well. Adib Misbachul Islam This paper is a result of our research of Islamic literature in Bali in 2008. divinity. modern lined paper. Dep. Fourth. The fitst category refers to tweleve manuscripts made of paper. this Islamic manuscrip was written between the seventeenth and nineteenth century. and story.. Hal ini Tulisan ini semula merupakan Makalah disajikan dalam “Seminar Hasil Penelitian Naskah Klasik Keagamaan” Puslitbang Lektur Keagamaan. this manuscript includes jurisprudence. Cisarua-Bogor.. ia dapat juga menjadi bukti adanya hubungan dengan wilayah lain jika ditemukan bukti-bukti lain yang menunjukkan ke arah itu. Qur’an. The second category is tweleve manuscripts made of palm leaf: nine of them deal with Islam. Islam Beberapa Aspek Kodikologi Naskah Keagamaan Islam di Bali: Sebuah Penelusuran Awal*) Puslitbang Lektur Keagamaan dan UIN Syahid. and one of them is difficult to read. Hotel Permata Alam.

Dengan demikian. Vol. upaya penelusuran naskah-naskah di masyarakat mutlak diperlukan sebagai upaya konservasi untuk kemudian dilestarikan dan dimanfaatkan. naskah-naskah yang ditulis dalam bahasa Arab. Sebagian naskahnaskah tersebut sudah tersimpan dengan baik di berbagai perpustakaan dan museum. Sebagian besar naskah di luar negeri yang sudah terinventarisasi antara lain tersimpan di Malaysia. 2009: 53 . 2005: vii). (Chambert-Loir dan Fathurahman: 1999). Belanda. baik di dalam maupun di luar negeri. Rusia dan di berbagai negeri yang lain. Bugis-Makassar. Dalam proses ini telah terjadi transmisi keilmuan. keberadaan naskah tersebut dapat dikaitkan dengan proses islamisasi atau perkembangan Islam yang banyak melibatkan para ulama produktif di zamannya. Aceh.Jurnal Lektur Keagamaan. Srilangka. tidaklah mengherankan jika di Indonesia banyak ditemukan naskah-naskah berbahasa Arab dan juga bahasa daerah seperti Melayu. banyaknya data penting berkaitan dengan fenomena keagamaan yang terdapat dalam naskah-naskah tersebut. 7. Jawa. Jika hal ini terus berlarut. Pentingnya upaya konservasi ini setidaknya disebabkan oleh dua hal: Pertama. dikhawatirkan naskahnaskah tersebut akan punah atau pindah tangan. Jerman. sudah semakin rapuhnya kondisi fisik naskah-naskah tersebut seiring dengan berjalannya waktu (Bafadal dan Saefullah [Eds. adalah bagaimana kondisi naskah-naskah yang masih di tangan masyarakat tersebut. dengan demikian. yang menurut Oman Fathurahman (2003: 1-2) membentuk pola dua kelompok bahasa naskah: Pertama. Sunda. diperkirakan ditulis pada sekitar abad ke-1719 M dan umumnya terbuat dari kertas yang secara fisik tidak akan tahan lama. 1. Bali. Persoalannya. Afrika Selatan. yang pada akhirnya 54 . tetapi sebagian besar lagi diduga masih tersebar di tangan masyarakat. Inggris. dan yang kedua naskah-naskah yang ditulis dalam bahasa-bahasa daerah.90 dapat ditelusuri dari berbagai informasi yang terkandung di dalam naskah itu atau dari fisik naskah. dan lain-lain. Dalam konteks kajian keislaman di Indonesia. No. dan kedua. Perancis. Batak. Masalah ini tergolong serius karena umumnya naskah-naskah tersebut kurang terawat dan sangat tua. khususnya bagi penelitian lebih lanjut atau dalam rangka mengkaji nilai-nilai yang terkandung di dalamnya untuk merajut budaya bangsa menuju kerukunan umat beragama. Dengan demikian.].

Beberapa Aspek Kodikologi Naskah ... — Asep Saefullah dan Adib M. Islam

hilang juga informasi dan sumber penting tentang khazanah kebudayaan Indonesia. Berdasarkan permasalahan di atas, Puslitbang Lektur Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat, Departemen Agama RI melakukan upaya penelusuran naskah klasik keagamaan khusus milik perorangan. Hasil temuan naskah tersebut terutama dideskripsikan dan dikaji beberapa aspek kodikologinya (istilah “kodikologi” akan dijelaskan di bawah). Buku tentang kodikologi Nusantara, terlebih naskah keagamaan, tergolong masih sedikit.1 Sehubungan dengan hal tersebut, penelitian ini merupakan bagian dari grand design—jika dapat dikatakan demikian—program konservasi naskah klasik keagamaan Indonesia yang sedang digalakkan oleh Puslitbang Lektur Keagamaan. Penelitian dilakukan di Provinsi Bali dan sasarannya adalah naskah-naskah keagamaan Islam.2 Dalam makalah ini akan dibahas dua masalah berikut: 1. Seberapa banyak naskah keagamaan Islam di Provinsi Bali yang masih berada di tangan masyarakat atau milik perorangan? 2. Dari aspek kodikologi, bagaimana kondisi naskah-naskah tersebut dan hal-hal apa saja yang dapat diungkapkan dari temuan naskah-naskah tersebut? Adapun tujuannya, pertama, untuk mengetahui jumlah naskah keagamaan Islam di Provinsi Bali yang masih berada di tangan masyarakat, khususnya milik perorangan, dan kedua, membuat deskripsi naskah-naskah tersebut dan mengungkapkan beberapa aspek kodikologinya serta sedapat mungkin mengungkapkan halhal menarik dari temuan naskah tersebut. Dari segi kebijakan, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu upaya penyelamatan naskah keagamaan di masyarakat dan selanjutnya dapat
Beberapa yang dapat disebut antara lain Kodokologi Melayu di Indonesia, karya Sri Wulan Rujiati Mulyadi (1994), Penelusuran penyalinan naskah-naskah Riau abad XIX: Sebuah Kajian kodikologi, karya Mu'jizah dan Maria Indra Rukmi (1998), Penyalinan Naskah Melayu di Jakarta pada Abad XIX: Naskah Algemeene Secretarie Kajian dari Segi Kodikologi, karya Maria Indra Rukmi (1997), atau beberapa tulisan berupa artikel atau tesis, seperti “Penyalinan Naskah Melayu di Palembang”, karya Maria Indra Rukmi, makalah dalam Seminar Tradisi Naskah, Lisan dan Sejarah di FIB UI (2005). 2 Pilihan ini dilakukan karena naskah-naskah lontar dipandang relatif terpelihara dengan baik.
1

55

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 53 - 90

menjadi bahan penelitian lebih lanjut, terutama kajian terhadap isi teks dan kontekstualisasinya. Secara metodologis, penelitian ini sebagian besar bersifat penelitian lapangan, yakni berupa penelusuran atas naskah-naskah keagamaan Islam di Provinsi Bali. Data primer dalam penelitian ini berupa naskah-naskah kuno yang disimpan perorangan dan lembaga-lembaga sosial keagamaan Adapun naskah-naskah koleksi perpustakaan, museum, maupun pusat dokumentasi dalam penelitian ini tidak menjadi sasaran penelusuran karena naskah-naskahnya dipandang relatif aman dan terpelihara. Penelusuran dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan naskah-naskah yang belum diinventarisasi. Dalam menyajikan data digunakan pendekatan kodikologi.3 Secara sederhana, kodikologi dapat dikatakan sebagai ilmu kodeks (bahan tulisan tangan), yaitu ilmu yang mempelajari seluk beluk semua aspek naskah, antara lain bahan, umur, tempat penulisan, dan perkiraan penulis naskah (Mulyadi, 1994:2). Dalam wilayah kajian kodikologi dikenal istilah deskripsi. Secara ringkas, deskripsi adalah upaya menjelaskan seluk-beluk naskah secara fisik. Dalam makalah ini akan disajikan pengklasifikasian naskah-naskah yang ditemukan di lapangan, misalnya dari segi pemilik dan tempat penyimpanan, bidang kajian (isi naskah), bahan, usia naskah, kolofon, ilustrasi dan iluminasi, dan beberapa ciri khusus yang dapat diidentifikasi. Dengan kata lain, makalah ini hanya menyajikan beberapa aspek kodikologi dari naskah-naskah keagamaan Islam yang ditemukan di Provinsi Bali. Pernaskahan di Bali Henri Chambert-Loir dan Fathurahman (1999:51) mengatakan, “Pulau Bali terkenal sebagai gudang sastra Jawa Kuna karena sastra Jawa yang ditulis di berbagai kerajaan beragama Hindu-Buddha di
Tentang kodikologi di Indonesia dapat dibaca antara lain dalam Sri Wulan Rujiati Mulyadi, Kodikologi Melayu di Indonesia, (Depok: Fakultas Sastra UI, 1994). Ada juga buku yang sangat menarik dan relatif baru tentang kodikologi Islam, yaitu Francois Deroche, Islamic Codicology, An Introduction to the Study of Manuscripts in Arabic Script, (London: Al-Furqan Islamic Heritage Foundation, 2006), dan ada juga dalam edisi Arabnya yang terbit tahun 2005.
3

56

Beberapa Aspek Kodikologi Naskah ... — Asep Saefullah dan Adib M. Islam

Jawa Tengah dan Jawa Timur antara abad ke-10 dan ke-15, dan yang hampir punah setelah kedatangan agama Islam, masih berlanjut di Bali, bahkan hidup sampai kini.” Pernyataan ini terbukti dengan adanya sejumlah lembaga seperti museum dan perguruan tinggi di wilayah ini yang memiliki ribuan koleksi naskah. Lembaga-lembaga tersebut antara lain Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali, Denpasar mengoleksi sekitar 1.416 naskah, Museum Negeri Provinsi Bali, Denpasar menyimpan 266 naskah, Universitas Hindu Indonesia, Denpasar memiliki 148 naskah, Kirtiya Liefrinck-van der Tuuk (Gedong Kirtiya), Singaraja memiliki tidak kurang dari 3000 naskah, Fakultas Sastra Universitas Udayana mempunyai 740 naskah, dan Balai Penelitian Bahasa, Denpasar mempunyai 156 naskah, serta Balai Arkeologi Denpasar juga menyimpan tiga naskah (ChambertLoir dan Fathurahman, 1999:54-60; terutama berdasarkan Katalog Lontar yang Tersimpan pada Instansi Pemerintah dan Swasta yang diterbitkan oleh Kantor Dokumentasi Budaya Bali Provinsi Bali, tahun 1998). Jumlah ini belum termasuk naskah yang tersimpan pada koleksi pribadi yang diduga masih ribuan jumlahnya, terutama di puri (kediaman keluarga keturunan raja), griya (kediaman keluarga brahmana), dan kalangan ‘profesional’ (pemangku, dalang, balian usada atau orang-orang terdidik) (Chambert-Loir dan Fathurahman, 1999:56). Hampir seluruh naskah tersebut ditulis di atas bahan lontar sehingga sering pula disebut naskah lontar. Di tengah “samudra koleksi naskah lontar” tersebut, di daerahdaerah tertentu di Bali ditemukan sejumlah naskah keagamaan Islam dan Mushaf Al-Qur’an kuno. Beberapa di antaranya ditulis di atas bahan dluang (kertas dari kulis kayu). Pada bulan Oktober 2008 yang lalu kami melakukan penelusuran ke pelosok-polosok pulau dewata ini. Kami menemukan 24 naskah keagamaan Islam yang terdiri atas 12 naskah ditulis di atas dluang, kertas Eropa, maupun kertas bergaris modern, dan 12 naskah lontar (naskah lontar berbentuk geguritan; 9 naskah berisi cerita tentang tokoh Islam dan ajaran moral Islam, 2 cerita Hindu, dan 1 tidak terbaca). Di samping itu, ditemukan pula 14 Mushaf Al-Qur’an kuno, termasuk satu Mushaf ditulis di atas dluang. Naskah-naskah tersebut tersebar di beberapa kabupaten di Bali, antara lain Denpasar, Buleleng, Jembrana, dan 57

4 Lokasi-lokasi yang selanjutnya didatangi adalah: Kampung Bugis Kepaon Denpasar dengan Masjid Al-Muhajirin. Jembrana. Dengan demikian. Soleh. Perlu disebutkan bahwa dalam penelusuran naskah keagamaan Islam di Bali. Sebagaimana disebutkan. Kampung Islam Gelgel. seperti fikih. Haji. Gianyar. Drs. Gedong Kirtya-Singaraja-Buleleng. serta hikayat yang terutama ditulis di atas bahan lontar yang disebut geguritan. Ghufron. Kami mendapatkan informasi awal. termasuk 14 naskah Al-Qur’an. Masjid Asy-Syuhada Kampung Bugis Serangan Denpasar. Selanjutnya penelusuran dilakukan sampai dengan 2 Nopember 2008. Kampung Islam Buitan Sidemen Karang Asem.Jurnal Lektur Keagamaan. Wawancara. Informan lain Drs. Pegayaman Singaraja Buleleng. Kabid Bimas Islam & P. Pesantren Al-Hidayah Bedugul. wirid dan doa. Di samping itu ditemukan juga naskah-naskah Al-Qur’an kuno yang sejauh ini belum pernah didata. 28 Oktober 2008. 1. Budakeling. H. baik dari pejabat maupun pegawai Departemen Agama Provinsi Bali tentang lokasi-lokasi dan orang-orang yang diduga menyimpan dan atau mempunyai naskah keagamaan Islam. Loloan Timur. 7. Kasubag Umum. SH. Drs. Vol. Karang Asem-Tradisi Tulis Lontar. H. 2009: 53 . M. dan Bangli. Kabid. Temuan Naskah dan Tempat Penyimpanannya Naskah keagamaan Islam di Bali yang berhasil ditelusuri terdiri atas naskah pelajaran agama. tasawuf. H. hasil penelusuran di lapangan ditemukan 38 naskah. dan juga obat-obatan yang disertai doa-doa. Penamas. Pendidikan Islam dan Pemberdayaan Masjid. kami melakukan kontak dengan pihak yang dipandang otoritatif dalam bidang keagamaan. No. Mereka menyarankan kami mendatangi Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali. yaitu Kanwil Departemen Agama Provinsi Bali. 4 58 . Masjid Agung Jami’ Singaraja Buleleng. Musta’in. Berikut temuan naskah berdasarkan lokasi atau tempat ditemukannya naskah. Ida Bagus Nyana.90 Karang Asem. Beberapa informan awal yang kami datangi di Kanwil Departemen Agama Provinsi Bali adalah Ketut Ariawan. Kasi. Staf Urusan Agama Hindu. dan Masjid Baitul Qadim. Selanjutnya kami mendapat banyak informasi dari Drs. jumlah naskah yang kami temukan sebanyak 38 naskah. Negara.

dua di antaranya beraksara dan berbahasa Bugis. di Bedugul. — Asep Saefullah dan Adib M. Kampung Islam di pedalaman dekat Singaraja ditemukan 3 (tiga) naskah milik Drs. dan 1 (satu) Al-Qur’an Kuno milik Bapak Marjui. 6 Mushaf ini sangat tidak terawat. Oleh karena itu. 59 . Menurut informasi salah seorang ustadz di PP alHidayah. Denpasar. Shaleh Saidi. Wawancara. masing-masing satu naskah Al-Qur’an. Dr. 29 Oktober 2008. Bali. 1. 9 Semua naskah lontar koleksi Yayasan an-Nur hanya disebutkan judulnya. 1-18. Meski sudah tersimpan di Perpustakaan Yayasan. Burhanuddin. Kondisinya tidak lengkap lagi.8 naskah lontar yang tersimpan di Yayasan AnNur. Badri Yunardi. Denpasar Di Kampung Bugis Serangan. 2007. Jurnal Lektur Kegamaan. Badri Yunardi. Musthafa Amin. 8 Hadiman. dan beberapa di antaranya dijelaskan juga ukuran lontarnya. dalam laporan penelitian ini naskah-naskah lontar koleksi Yayasan Masjid An-Nur penting untuk didata dan disampaikan. 2. h. Tetapi.5 Di Kampung Bugis Kepaon. naskah-naskah lontar tersebut belum dikaji secara kodikologis9. salah seorang Guru Besar di Universitas Udayana. 5. Wawancara dengan beliau pada 2 November 2008 di Loloan Timur. ditemukan 12 naskah lontar. Sebelumnya. “Beberapa Mushaf Kuno dari Provinsi Bali”. No. Suharto. dan Kampung Jawa. 1-18. Denpasar ditemukan 3 (tiga) naskah milik H. No. Singaraja. Vol. Islam 1. merujuk identifikasi Annabel Teh Gallop (2004) termasuk tipe Pantai Timur Melayu. Buleleng Wilayah yang didatangi di Buleleng meliputi Pegayaman.. naskah ini disimpan di rumah H. Jurnal Lektur Kegamaan.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . “Beberapa Mushaf Kuno dari Provinsi Bali”. 5. pada awalnya merupakan koleksi Prof. dan 1 (satu) naskah Al-Qur’an kuno di Masjid Al-Muhajirin. 6 Di Masjid AlMu’awanatul Khairiyah Kampung Bugis Suwung. di Yayasan An-Nur. Husen Abdul Jabbar. Pattani atau Trengganu. mushaf ini sangat menarik terutama dari segi iluminasinya yang indah dan. dekat Masjid Asy-Syuhada. 2007. 7 Kedua naskah ini juga sudah diteliti oleh E. dan ditumpuk dengan Al-Qur’an lain cetakan zaman sekarang. Bedugul. Denpasar. Denpasar ditemukan 6 (enam) naskah milik H. Di sini ditemukan pula 1 (satu) Al-Qur’an kuno milik I 5 Naskah ini telah diteliti oleh E. h.. 1. 7 Di samping itu. Vol. Di Pegayaman.

yang ternyata seluruhnya Al-Qur’an kuno sebanyak tujuh mushaf. dan Agus. Jembrana Di Masjid Bait al-Qadim. Hidayat.13 Menurut Bapak Drs. sejauh ini koleksi lain yang tersimpan di dalam lemari kaca belum pernah dilihat. ditemukan banyak naskah Al-Qur’an kuno. dan yang terpenting mempunyai kolofon yang sangat tua. 1. ditemukan satu buah naskah Al-Qur’an. 12 Para ustadz di Pesantren Al-Hidayah.10 Di Singaraja. 30 Oktober 2008 di Masjid Agung Singaraja. “Beberapa Mushaf Kuno dari Provinsi Bali”. yaitu di Masjid Agung Jami’. tidak jauh dari Masjid Agung Singaraja. yaitu tahun 1035 H. Syarifuddin. Wawancara dengan beliau pada 2 November 2008 di Loloan Timur. 1-18. Vol. Jurnal Lektur Kegamaan. antara lain H. 11 Sementara di Bedugul. Wawancara. Loloan Timur. Al-Qur’an kuno ini masih lengkap. H. Badri Yunardi. Di Kampung Jawa. dan H. 12 konon ada naskah semacam Barzanji. Jembrana. Gunawan. Sebelumnya. Negara. Vol. sehingga seluruhnya ada delapan Al-Qur’an kuno. antara DenpasarSingaraja. Akan tetapi. ditemukan 1 (satu) AlQur’an Kuno milik Bapak M. 13 Naskah ini juga sudah diteliti oleh E. menurut Hadiman. Zen Usman. ditulis dengan khat Naskhi yang indah. karena selain ditulis pada bahan dluang. H. H. dan beberapa Pengurus Masjid. h. No. yang dipandang mushaf tertua di Buleleng. tapi tidak berhasil ditemukan karena pemiliknya tidak ada di tempat dan tidak berhasil dijumpai. 2009: 53 .Jurnal Lektur Keagamaan. Abdurrahman Said. Husen Abdul Jabbar. bahwa masjid ini sering didatangi wartawan dari berbagai media massa dan meliput salah satu Al-Qur’an kuno di sana. 29 Oktober 2008. Mushaf ini sangat menarik. 11 Bunyi kolofon tersebut: “tamma al-qur’±n f³ yaum al-kh±mis min syahr al-mu¥arram f³ hil±li i¥d± wa ‘isyr³na ba‘da alfi sanah khamsin wa £al±£µna alhijrah an-nabawiyyah “ (Al-Qur’an ini selesai [ditulis] pada hari Kamis dari bulan Muharram pada malam dua puluh satu pada tahun seribu tiga puluh lima [21 Muharram 1035] Hijrah Nabi). naskah ini disimpan di rumah H. 2007.90 Wayan Ma’ruf. No. Naskah Al-Qur’an ini konon merupakan wakaf dari Encik Ya’qub dari Trengganu. Di masjid ini ditemukan 8 (delapan) Al-Qur’an kuno (satu satu di antaranya merupakan litograf yang iluminasinya diberi pewarnaan). 7. Abdurrahman Alawi. 10 60 . 1. Hasyim Zaki. Lurah Kampung Bugis dan juga Ketua Ta’mir Masjid Agung Singaraja. 5. Wawancara. 3. Muchlis Sanusi. sekitar 1625 M. Bedugul.

Karangsem. jadi “ha©a al-¥aq. 1320 H/1902 M). Teks dalam kitab ini juga bertuliskan “al-salam” (‫ . jilid 1 dan 2. atau bias juga tetap dibaca “as-Salam” sebagaimana bahasa Arab. Syarah atas Matan Umm al-Barahin karya Sanusi. dan di tepinya ada Kitab Sirat al-Mustaqim. dan f) Kitab Tajwid al-Qur’an. antara lain: 1) Kitab Sabil al-Muhtadin karya Syaikh Muhammad Arsyad bin Abdullah AlBanjari. h.” bisa diartikan “ini kepunyaan…” 15 14 61 . 44. (diterbitkan di Mesir. dan di piasnya ada Hamisy Risalah Diya al-Murid. Catatan kedua pada Daftar Isi Kitab Miftah al-Jannah. 2) Kumpulan kitab dalam satu bundel terdiri dari empat kitab. b) Kitab Usul al-Tahqiq juga tentang Usuluddin. Konon di sini pernah ada naskah beraksara Bugis. naskah-naskah tersebut dibuang. peneliti hanya mendatangi Kampung Islam Buitan—sebuah kampung kecil yang hanya berpenduduk 25 keluarga. Ke-6 (diterbitkan di Mekah. Teks ini juga terdapat pada Kitab Sabil al-Muhtadin Juz I.. Naskah yang tersisa adalah kitab-kitab cetakan sekitar tahun 1300-an Hijriah.)اﻟﺴﻼم‬tapi bisa jadi dibaca “Selam”. Islam 4.. a) Kitab Miftah al-Jannah tentang Usuluddin karangan Muhammad Tayyib bin Mas’ud alBanjari. dan pada pias halaman ada Hamisy Kitab Asrar al-Dini. 3) Kitab Siraj al-Huda karangan Muhammad Zain al-Din bin Muhammad Badawi al-Sumbawa’i. 16 Kata “¥aq” kadang diartikan “kepunyaan”. Maktabah al-Kutub alArabiyyah al-Kubra. yaitu catatan pemiliknya. Karang Asem Di Karang Asem. “Tanda keterangan haza al-haq 16 Pak Muhammad Sa’id bin Mukhammad Ali Kusamba. Ada yang menarik dari kitab-kitab ini. al-Matba’ah al-Miriyah al-Ka’inah. antara lain pada sampul dalam Kitab Siraj al-Huda terdapat tulisan.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . 1321 H/1903 M). tentang ilmu fikih karangan Nuruddin Al-Raniri (diterbitkan di Mekah. c) Kitab Mau’i§ah li al-N±s tentang tata cara sembahyang.t. t. “Haza al-Kitab ini yang empunya Bapak Abd al-Rahman negeri Bali. — Asep Saefullah dan Adib M. berbunyi. 14 Kampung Biutan As-Salam 15 adanya”. Kampung Islam Pasuruan. bisa jadi maksudnya Karang Asem? Sebagian orang Bali menyebut “Kampung Islam” dengan bunyi ucapan yang terdengar adalah “Kampung Selam”. dan membeli pada bulan Ramadan tanggal 15 hari Ahad pada tahun Zai Hijrah Nabi Teks aslinya: kaf-ra-ng-syin-mim. yang maksudnya “Islam” sebagaimana kebiasaan sebagian orang Bali. Cet. terjemahan Dawud bin Abdullah Fatani.. tetapi karena sudah hancur. pengarang ketiga kitab ini tidak disebutkan.). al-Matba’ah al-Miriyah al-Ka’inah.

Musthafa Amin. dan dua naskah lainnya milik Drs. wirid. yaitu “Kitab Nikah” milik H. dan obat-obatan. Musthafa Amin. doa. Vol. Kampung Islam Buitan. satu naskah milik H. kandungan isi naskah-naskah keislaman di Bali setidaknya meliputi: Fikih. juga berasal dari Madura. Musthafa Amin (MA 01). dan sebagian keluarga di sana. selain berasal dari Bugis. Suharto juga berisi teks lain yang berisi masalah fikih. Dua naskah lainnya milik H. no. Fikih: Dalam bidang fikih hanya ditemukan satu naskah. nomor MA 05 dan MA 06. Doa. yang berisi tentang sifat-sifat Allah. 1. Tauhid. obat-obatan. 4. bisa jadi Kitab Miftah al-Jannah khususnya dibeli di Pasuruan. mustahil. satu naskah beraksara dan berbahasa Bugis milik H. 3. milsanya tentang taharah [bersuci]. dan ini pun bagian pertama dari kumpulan teks lain yang berisi tentang obat-obatan disertai doa dan wirid. No. adalah para leluhurnya. Tasawuf. wajib. dan jaiz (satu dari dua naskah milik Drs. 7. 2 November 2008. 62 . yaitu milik H. juga berisi wifiq. Nama-nama di atas. Tauhid/Teologi: Dalam bidang ini ada empat naskah. menurut Abdullah. Bidang Kajian (Isi Naskah) Dilihat dari segi bidang kajiannya. Musthafa Amin. MA 03 dan MA 04 yang dalam teksnya tidak disebutkan judulnya. Wirid. Burhanuddin. Burhanuddin. Tahun 1334 H adalah sekitar tahun 1915 M. wirid. antara lain berisi tanya jawab tentang Uluhiyah (ketuhanan). Al-Qur’an.90 Sallallahu ‘alaihi wa sallam 1334 H”. Karang Asem. tata bahasa Arab (nashwu-saraf). 2. terdapat dua naskah. 2009: 53 . tetapi naskah ini sudah bercerai berai dan tidak berjilid). dan geguritan (cerita). 17 salah seorang yang dituakan di Buitan. yaitu Khazinah al-Asrar serta satu naskah beraksara dan berbahasa Bugis milik H. 1. Dalam 17 Wawancara. Naskah MA 04 ditulis dalam buku Letjes. Tasawuf/Akhlak: Naskah dalam bidang ini ada empat. Jika demikian. dan Obat-obatan: Naskah yang berisi doa.Jurnal Lektur Keagamaan. Suharto di Pegayaman.

Suharto. Pegayaman. tetapi temuan ini penting karena banyak naskah baru yang ditemukan. 7. Ini dapat dilihat dari beberapa naskah lontar yang ditemukan di lapangan. Bahasa: Dalam bidang bahasa ditemukan satu buah naskah tanpa judul. 18 sembilan di antaranya menunjukkan adanya pengaruh Islam dalam tradisi kesusastraan Bali. Ke-14 naskah tersebut adalah delapan naskah AlQur’an di Masjid Agung Jami’ Singaraja. Pembacaan naskah lontar oleh Made Suparta. 11 di antaranya belum pernah diinventarisasi. Dari 12 naskah lontar yang berhasil ditemukan. satu naskah di Kampung Jawa Singaraja. 19 Dari 12 naskah lontar. Kampung Serangan Denpasar. ditulis di atas dluang. FIB Universitas Indonesia.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Meskipun demikian. Al-Qur’an: Meskipun naskah Al-Qur’an tidak sepenuhnya menjadi sasaran dalam penelitian ini. Geguritan: Sebagaimana yang dikenal secara luas oleh masyarakat.. hasil penelitian lapangan terhadap naskah-naskah lontar di Bali berhasil memberikan informasi lain terkait dengan tradisi pernaskahan di Pulau Dewata tersebut. berisi tentang morfologi bahasa Arab atau ilmu sharaf. banyaknya suku kata dalam tiap baris. t.t. pupuh diikat oleh beberapa kaidah yang mencakup: banyaknya baris dalam tiap bait. dan satu naskah di Masjid Muhajirin Kapaon Denpasar. dosen pada Program Studi Jawa. satu naskah milik Bapak Marjui. dan semuanya dalam bentuk geguritan. — Asep Saefullah dan Adib M. Sementara itu. yang terletak setelah “Kitab al-Nikah”. Denpasar. Bali memang identik dengan Hindu. 63 .. 6.: 155). satu naskah di Masjid Al-Mu’awanatul Khairiyah Kampung Bugis Suwung. ada satu naskah yang tidak dapat dibaca. dan bunyi akhir tiaptiap baris (Agastia. dan karenanya tradisi pernaskahan di sana pun dengan sendirinya juga tidak dapat dilepaskan dari Hindu. dan satu naskah di Masjid Bait al-Qodim Loloan Timur. satu naskah di Pegayaman. Dari 14 naskah AlQur’an yang ditemukan. Islam naskah MA 01 juga terdapat naskah jenis ini. 5. Berikut ini gambaran mengenai isi 1119 naskah lontar yang berhasil ditemukan: 18 Geguritan adalah karya sastra Bali yang dibangun di atas pupuh. milik Drs.

Geguritan Amir Hamzah. 9). beserta dua saudaranya: Bagenda Sulaiman dan Bagendha Alah. 7. teks ini juga berisi cerita tentang proses islamisasi di Bali. 2). Di samping itu.Jurnal Lektur Keagamaan. Geguritan Sebun Bangkung. Geguritan Jayengrana. Teks ini berisi filsafat moral Hindu yang disampaikan secara naratif. yakni 1923 isaka atau 2001. semua kolofon 20 yang terdapat dalam naskah lontar itu menginformasikan adanya tahun penyalinan yang sama. b. Geguritan Semaun.90 a. 1. yaitu: Geguritan Siti Badariyah. 7). Geguritan Amir Hamzah. dan satu naskah yang tidak dapat diidentifikasi baik judul maupun isinya karena kondisi fisiknya yang sudah lapuk. sebab deskripsi kodikologis terhadap naskah-naskah lontar di atas menunjukkan bahwa naskah-naskah lontar tersebut memang masih muda. Teks ini berisi cerita tentang kehidupan Nabi. 8). 6). empat di antaranya tidak bertanggal. Teks ini berisi konsep dharma dalam agama Hindu. Geguritan Pan Bongkling. Geguritan Bagendhali. 5). 2009: 53 . geguritan Jayengrana. 2). Gambaran isi naskah lontar di atas secara jelas memperlihatkan adanya pengaruh Islam dalam tradisi kesusastraan Bali. Geguritan Siti Badariyah. 4). Dari 12 naskah lontar di atas. Kidung Tuwan Semeru. Teks ini berisi cerita mengenai tokoh heroik yang bernama Sema’un pada masa-masa awal islamisasi 3). Vol. Pepalihan Gama Selam Bali. Teks ini menceritakan proses islamisasi di Bali. Teks ini berisi cerita tentang peran Amir Hamzah dalam proses islamisasi di Nusantara. Teks ini tentang kehidupan keluarga kerajaan di negeri Arab. Geguritan Krama Selam. Cerita Hindu 1). meskipun kapan dan dari mana awal mula masuknya pengaruh Islam tersebut masih perlu diteliti lebih jauh lagi. Tidak banyak berbeda dengan teks Pepalihan Gama Selam. 20 64 . Cerita Islam 1). No. Teks ini menceritakan sosok pahlawan muslim dalam melawan raja kafir. teks ini juga banyak mengandung ajaran moral dan etika Islam. Teks ini menceritakan tokoh Bagendhali yang sangat sakti. Geguritan Jimat Teks ini berisi mistik Islam. Yang menarik.

di Kepaon Denpasar. seperti mushaf kuno milik M. Lurah Kampung Islam. Naskah-naskah yang ditemukan di rumah H. juga terdokumentasi dengan baik sebagaimana dijelaskan di atas. Kondisi naskah di Masjid Singaraja dan milik M. seperti mushaf koleksi Masjid Singaraja. dan H. Hasyim Zaki. 30 Oktober 2008.. di samping telah banyak dikaji. Sebagian besar mushaf itu juga tidak lengkap dan banyak lembarannya yang sudah terlepas. Zen Usman. Abdurrahman Alawi. H. dan di dalam lemari kaca. Meskipun telah disimpan dalam kotak kayu khusus. dan dua naskah lainnya yang ditulis di atas dluang telah robek. Demikian juga di Kampung Bugis Serangan. Di Pegayaman pun demikian. ada empat naskah yang relatif terbaca. satu naskah tercerai berai. Islam Beberapa Aspek Kodikologi Naskah Islam di Bali 1. karena sebagian di antaranya disalin ulang pada tahun 2000-an. Kondisi Naskah Naskah keagamaan Islam di Bali kurang mendapat perhatian. Zen Usman relatif baik. 21 dan mushaf milik M. terutama pada halaman belakang. kecuali mushaf yang diduga ditulis oleh Gusti Ngurah Ketut Jelantik Selagi. Singaraja. tidak seperti naskah lontar yang. Satu buah naskah berlubang dimakan rayap dan satu lagi tinggal setengahnya. seperti Al-Qur’an kuno di Masjid Al-Muhajirin Kepaon. Buleleng. Muhlis Sanusi. 21 Wawancara dengan Drs. Kondisi naskah lontar di Yayasan An-Nur memang mendapatkan perawatan. Zen Usman yang lengkap dan kondisinya bagus. Hidayat. tetapi naskah-naskah lontar itu termasuk baru. 65 . Naskah-naskah keagamaan Islam yang ditemukan pada masyarakat umumnya tidak terpelihara dan bahkan tak terperhatikan sama sekali. dari empat naskah yang ditemukan. empat naskah yang ditemukan sudah lapuk semua. satu naskah Al-Qur’an tidak lengkap lagi dan tengahnya berlubang dimakan serangga. satu naskah di antaranya dari bahan kertas modern bergaris. seperti cengkih atau kapur barus. yaitu H. — Asep Saefullah dan Adib M. Musthafa Amin. salah seorang keturunan Raja Buleleng yang masuk Islam (MAJS/NQ/01).. tetapi hampir semuanya tidak ada yang lengkap.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . dari enam naskah yang dimilikinya. di dalam tempat penyimpanan naskah itu tidak terlihat ada bahan penangkal serangga. Hadir pula beberapa pengurus Ta’mir Masjid Agung yang lain. tetapi tidak utuh.

Sebagian besar naskah lainnya ditulis di atas kertas Eropa. Beberapa cap kertas (watermark) dan cap tandingan (countermark) yang berhasil diidentifikasi antara lain kelompok Crescent. bahkan ia merupakan naskah Al-Qur’an tertua ketiga di Asia Tenggara.Jurnal Lektur Keagamaan. Pro Patria. Musthafa Amin. pada 7 Zulqa’dah 1005 H/1597 M. milik M. Naskah yang ditulis di atas kertas Eropa berjumlah tujuh naskah. Denpasar. 2009: 53 . Musthafa Amin di Kepaon (MA 04) dan H. berangka tahun Jumadil Awwal 993/1585 dan kedua adalah mushaf dari Ternate. 11 naskah menggunakan bahasa dan aksara Bali. Semua naskah lontar tersebut milik Yayasan An-Nur. mushaf ini selesai ditulis pada malam Ahad. 21 Muharram 1035 H atau sekitar tahun 1625 M. Dari 38 naskah.90 2. (Bafadal dan Anwar. serta satu naskah lain ditulis di atas kertas bergaris bukan Letjes milik H. Vol. No. yang ditulis oleh Al-Faqih al. dan satu naskah menggunakan bahasa Melayu dengan aksara Bali. 22 Naskah-naskah lain pada umumnya ditulis pada abad ke-13 H atau sekitar abad ke-18-19 M. Naskah ditulis di atas kertas modern bergaris (Letjes) ada dua. yaitu: dua naskah milik Drs. b) Kertas Eropa. Berdasarkan kolofonnya. dan Horn (tertera angka tahun 1825 pada mushaf di Masjid al-Muhajirin. keduanya di Denpasar. Bahan lontar digunakan untuk menyalin 12 naskah geguritan. Maluku Utara. Zen Usman termasuk naskah yang paling tua. Bahan Bahan yang digunakan untuk menulis naskah-naskah keagamaan Islam di Bali dapat dikelompokkan ke dalam empat jenis: a) Dluang. 1. 7. yaitu milik H.Salih Afifuddin Abdul Baqi bin Abdullah Al-Adni. terdapat tiga naskah yang ditulis di atas dluang. Kepaon). Britania. naskah Al-Qur’an dari Kampung Jawa. milik M. Musthafa Amin menyebutkan angka Mushaf tertua konon mushaf nomor MS 12716 koleksi William Marsden di Perpustakaan School of Oriental and African Studies (SOAS). Usia Naskah Dilihat berdasarkan usia naskah. Burhanuddin di Serangan. c) Kertas modern bergaris. University of London. lengkap 30 juz. Misalnya naskah Kitab Al-Nikah dan Obat-obatan (MA 01) milik H. 3. Suharto di Pegayaman dan satu mushaf AlQur’an. dan d) lontar. 2005: vii-viii) 22 66 . Zen Usman di Kampung Jawa Singaraja.

Bahasa dan Aksara Naskah-naskah keagamaan Islam di Bali setidaknya menggunakan empat aksara dan empat bahasa.. misalnya ketika mengartikan kata “uluhiyah” dan “ilah” pada h. Kolofon yang agak tua terdapat pada naskah Al-Qur’an MAJS/NQ/03 koleksi Masjid Agung Jami’ Singaraja. Horn. Cap kertas yang terlihat pada naskah MA 03 yang termasuk kelompok Names dengan cap kertas berupa: tulisan nama I Pigoizard. dan dalam naskah MA 01 milik H. Selain Al-Qur’an yang berjumlah 14 naskah. Serangan Denpasar. atau Crescent. Setidaknya ada enam naskah yang berkolofon. Aksara yang digunakan adalah Arab. dan Bali. Melayu. 67 . 10r-10v disebutkan demikian. atau sekitar delapan naskah lainnya menggunakan bahasa Melayu dengan aksara Jawi. Misalnya. Bugis. Demikian juga dilihat dari kertas Eropa yang digunakan. Kolofon Dari 38 naskah yang diinventarisasi. Naskah yang menggunakan aksara dan bahasa Bugis ada dua. sedangkan bahasanya adalah Arab. Musthafa Amin terdapat dua kolofon. Islam tahun 1287 H/1870 M dan 1288 H/1871 M. Burhanuddin. dalam naskah MA 02 disebut “bahasa Jawi”. dari daftar cap kertas yang disusun Heawood diketahui bahwa kertas dengan cap kertas kelompok Pro Patria diproduksi pertengahan abad ke-17 M (Heawood. “… dan arti uluhiyah pada bahasa Jawi ketuhanan dan arti Ilah pada bahasa Jawi Tuhan…” 5. dan Bali. naskah berbahasa Arab hanya dua. Britania. Bugis. 4. Jawi. — Asep Saefullah dan Adib M. diproduksi sekitar tahun 1737 atau sesudahnya. menurut Heawood (1986:140). yaitu milik H. yaitu bulan Zulqa’dah 1265 H/1848 M. pada umumnya diproduksi antara pertengahan abad ke-17 M sampai abad ke-19 M.. Kertas Eropa yang memiliki cap kertas pada kelompok Pro Patria. Sementara aksara dan bahasa Bali hanya digunakan pada 12 naskah lontar koleksi Yayasan An-Nur. 1986: 145-146). yaitu naskah tentang morfologi Arab (saraf) dan sifat-sifat Allah dari Pegayaman. tidak banyak ditemukan naskah yang mempunyai kolofon.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Selebihnya. Tentang istilah Jawi.

Agak sulit menghubungkan kedua kolofon yang terdapat dalam satu naskah ini. di Pabeyan. yang bisa dipastikan di Palembang sebab yang mengambil ijazah untuk amalan dalam teks ini adalah Haji Hasan Palimbangi.Jurnal Lektur Keagamaan. Kepaon. Bunyi kolofon tersebut sebagai berikut: Haza [al-]Kitab al-Nikah [ter] Hijrah al-Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam seribu dua ratus delapan puluh tujuh (1287) pada tahun Ba alif(?) pada malam ahad waktu jim(?) pada pukul delapan pada delapan hari bulan Rabi’ al-Awwal pada ketika itulah hamba Pa Abdul A’raf sudah selesai menyuruh ini kitab di dalam negeri Badung Bali Badung adanya Kampung Kepaon 1287 Tamma wa sallallahu ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa sahbihi wa sallam Pada teks kedua h. Naskah ini tergolong masih baik karena tulisannya dapat dibaca. Kolofon pertama menyebutkan tempat penulisan di negeri Badung. kolofonnya berbunyi: Telah mengambil ijazah faqir a-haqir ila Allah Ta’ala Haji Hasan ibn alMarhum al-Haj Muhammad Amin al-Din Palimbangi akan mengamalkan laqad ja’akum serta doa yang kemudian kepada Syaikhuna wa ustazuna wa wasilatuna ila Allah Ta’ala al-Arif bi Allah sayyidi al-Syaikh Muhammad Azhari ibn al-Mukarram al-Marhum Kemas Muhammad Haji Abdullah Palimbangi Nafa’ana Allah bi barakatihi wa barakat ‘ulumihi. Kampung Kepaon. Badung. yakni “Kitab Nikah” dan waktu penyalinannya. Amin 1288 H di Ampenan Syahr [al-]Shafar. 2009: 53 . 10v: “…tammat. Nama Kepaon juga disebut dalam naskah MA 02. Dalam kolofonnya disebutkan bahwa teks ditulis oleh Haji Dawud. Berikut bunyi kutipan kolofon pada h. Satu hal yang dapat diduga adalah telah terjadi hubungan antara Palembang dan Bali sekitar tahun 1287-1288 H/1870-1871 M. 1. namanya orang menyurat ini Haji Dawud dari negeri Badung Kepaon tatkala menyurat ini di negeri Pabeyan rumah bapak Tayid23 tamat alkalam” 23 Ba-pa-alif ta-alif-ya-dal (‫)ﺑﻔﺄ ﺗﺎﻳﺪ‬ 68 . Bali. 41v.90 Pada naskah MA 01. h. walaupun jilidnya sudah lepas. yang terdiri dari beberapa teks. sedangkan kolofon kedua menyebutkan Ampenan. orang Palembang. No. Vol. 33v bagian akhir teks pertama terdapat nama kitab. 7.

yakni pada Mushaf milik Zain Usman. bahwa di Bali ditemukan juga kolofon yang menyebutkan angka yang sangat tua. ada yang masih baik. Dari segi penjilidan. Angka tahun ini menerangkan selesainya pencetakan naskah. Kolofon ini ditulis dalam bahasa Arab. Islam Kolofon lain ditemukan dalam mushaf Kuno nomor MAJS/NQ/03 koleksi Masjid Agung Jami’ Singaraja. artinya 1200-an lebih. Kolofon ini juga ditulis dalam bahasa Arab.. dan angka tahun yang tertulis adalah 1265 H.. Burhanuddin. mushaf ini ditulis oleh Abd Shafiyyuddin pada hari Kamis tanggal 21 Muharram 1035 H. Berikut ini kutipan kolofon: “kana al-farag al-kha¯¯ ¥ajj Mu¥ammad Ja‘far yauma arba‘ wa f³ waqti a««u¥± f³ syahri ©i al-qa‘dah f³ sanah alfi taqw³m £al±£24 hijrah an-nab³ 1265 “ Penting dicatat. Penjilidan Aspek lain dalam kodikologi adalah bagian penjilidan. Pare-pare. Kampung Jawa Singaraja. Selain itu disebutkan pula nama dan tempat percetakan serta pemilik percetakannya. mushaf ini disebutkan selesai ditulis oleh Haji Muhammad Ja’far pada waktu duha hari Rabu bulan Zulqa’dah 1265 H/1848 M. bunyinya demikian: “tamma al-qur’±n f³ yaum al-kh±mis min syahr al-mu¥arram f³ hil±li i¥d± wa ‘isyr³na ba‘da alfi sanah khamsin wa £al±£µna al-hijrah an-nabawiyyah “ Pada naskah Litrograf beraksara Bugis milik H. Serangan. — Asep Saefullah dan Adib M. Letak kolofon ini di pias halaman bagian akhir mushaf setelah Surah al-Nas dan sebelum doa khatm Al-Qur’an.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . sama dengan 1848 M. ditemukan angka tahun 1373 H/1885 M pada halaman sampul. Pada kolofonnya disebutkan. 69 . bisa jadi berarti tahun seribu masuk ratusan ketiga. Dalam kolofonnya. 1035 H/1625 M. ada yang sudah lapuk. kondisi naskah-naskah Bali beragam. dalam bahasa Arab yang berbunyi sebagai berikut: “tubi‘a bima¯ba‘ah al-Tauf³q li ¡±¥ibih± al-¥±jj Mu¥ammad ‘Abduh pepajah bi Pare-pare 1373” 6. percetakan at-Taufiq milik Haji Muhammad Abduh. dan ada juga yang sudah terlepas dari 24 sanah alfi taqw³m £al±£.

khususnya di Nusantara. Dari segi bahan sampul. Pena yang digunakan biasanya dimiringkan mata penanya sehingga ketika ditarik menyamping miring kanan ke bawah akan membentuk titik belah ketupat ( ). 2007: 47). jilidan aslinya sudah tidak ada. Kaligrafi Selain naskah lontar. dan satu mushaf di masjid al-Muhajirin. naskah-naskah Bali cukup bervariasi. Adapun untuk naskah mushaf. yaitu: Alif. Rumusan ini diciptakan oleh Ibnu Muqlah (Sirojuddin. dan ada juga yang terbuat dari karton. Mushaf dari Kampung Jawa Singaraja sudah menggunakan khat Naskhi yang indah dan mendekati standar apalagi jika dilihat masa penulisannya—walaupun belum menggunakan pena khat untuk membentuk tipis-tebalnya huruf—. belum banyak ditemukan naskah yang Kuras adalah istilah yang mengacu pada sejumlah lembar kertas/perkamen yang dilipat dan dijahit untuk kepentingan penjilidan (Francois Deroche. walaupun masih sangat sederhana dan belum dapat dikatakan standar. Pada masa ini. 27 Berbeda dengan yang lainnya. 7. hampir semua bahan sampulnya terbuat dari kulit tebal dengan motif floral serta menggunakan amplop. No.Jurnal Lektur Keagamaan. Naskah-naskah AlQur’an umumnya menggunakan jenis kaligrafi atau khat Naskhi. lima titik belah ketupat. 2009: 53 .90 ikatan kuras naskah. 7. seperti yang terlihat pada satu mushaf di Masjid asy-Syuhada. titik belah ketupat. Loloan Timur. yaitu tahun 1035 H/1625 M (Gambar 01). ada yang bahan sampulnya terbuat dari kulit. seluruh naskah ditulis dalam aksara Arab dan Jawi. Vol. 27 Kaligrafi Arab standar dalam bahasa Arab disebut Al-Kha¯¯ al-Mansµb mempunyai tiga alat ukur. kebanyakan bahan sampul naskahnya adalah kertas karton tipis. Selain naskah mushaf.25 Bahkan sebagian di antaranya lepas jilidannya. Tinggi alif pada jenis Naskhi standar. Pada dua mushaf ini. 2005: 122). misalnya. Oleh karena itu. Kepaon. dan lingkaran. menarik juga untuk dilihat model-model tulisannya atau yang lazim disebut kaligrafi. misalnya beberapa naskah di Bayt al-Qur’an dan Museum Istiqlal TMII Jakarta (Saefullah. 1992:86-99) 25 70 . 26 Naskah lain adalah yang ditulis di atas kertas bergaris dalam buku Letjes dengan sampul kertas berwarna biru khas Letjes. 1. namun untuk mushaf koleksi masjid asy-Syuhada sudah diganti dengan sampul dari kertas karton. 26 Sampul seperti ini banyak ditemukan di Nusantara.

Islam disalin dengan khat Naskhi yang indah. Farisi. bahkan untuk naskah keagamaan lainnya digunakan Khat Farisi atau Riq’ah. dan tidak berkaitan langsung dengan teks. kecuali dalam naskah Al-Qur’an. Ilustrasi dan Iluminasi Ilustrasi adalah sebuah gambar atau hiasan yang ada hubungannya dengan teks. 11r. — Asep Saefullah dan Adib M.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Pada naskah MA 04. baik yang cenderung ke Naskhi maupun Farisi. sapuan pada beberapa huruf.. h.. Dalam naskah MA 03. Jika dikelompokkan ke dalam jenis-jenis khat. ta. yang berasal dari kata illumination. Jenis Farisi misalnya ditemukan pada Naskah MA 03 dari Kepaon. khususnya sin dan kaf memperlihatkan gaya Farisi. misalnya naskah dari Pegayaman. dan wifiq. dan di sekelilingnya terdapat penjelasan sehingga membentuk semacam concept map (peta konsep). Namun demikian. Jenis Naskhi yang ditemukan memang sangat sederhana. yang berarti menerangi. 8. kata “Il±h” diletakkan dalam kotak belah ketupat dan segi empat. Ilustrasi yang ditemukan pun hanya sedikit. Sementara jenis Khat Riq’ah yang biasanya tipis-tipis dan condong ke kiri ditemukan dalam banyak naskah. yang agak meliuk-liuk dan memanjang. terdapat ilustrasi tentang sifat-sifat Allah berdasarkan kalimat L± Il±ha Ill± All±h yang dibagi ke dalam empat kategori “L±”. 17v. “Ill±”. Akan tetapi secara umum dapat dikatakan Riq’ah. Karakter tulisannya condong ke kanan dan sapuansapuan pada sin dan gigi ba. yaitu Naskhi. maka naskahnaskah yang ditemukan dapat dikelompokkan ke dalam tiga jenis khat. dan biasanya digunakan untuk memberikan penjelasan lebih lengkap dari teks bersangkutan. tipis tebal goresan aksaranya sudah nampak dan memperlihatkan bentuk Naskhi yang cukup indah (Gambar 02). walaupun masih sederhana dan ada kesan Riq’ah karena sebagian hurufnya condong ke kanan (Gambar 04). khususnya naskah MA 06 (Gambar 03). 71 . dan “All±h” (Gambar 05). “Il±ha”. wirid. dan Riq’ah. atau ya. Dalam naskah-naskah keagamaan Islam di Bali tidak ditemukan iluminasi. h. Sedangkan iluminasi. a. £a. Ilustrasi Ilustrasi terdapat pada naskah tasawuf dan masalah doa. biasanya lebih berfungsi sebagai hiasan.

Bagi yang mempercayainya. b. dan lain-lain (Gambar 06). kalimat L± Il±ha ill± All±h Mu¥ammad Rasµl Allah”. Iluminasi Iluminasi hanya ditemukan dalam naskah-naskah Al-Qur’an. dan juga dapat dikaji secara kodikologis. yang terdapat pada bagian tengah mushaf. atau akhir. Contoh ilustrasi terakhir adalah tentang wifiq. 28 Dalam naskah wirid dan doa MA 05. 7. Bahkan satu mushaf di Masjid Agung Singaraja (MAJS/NQ/01) sangat khas. Dalam hal penempatan 28 Wifiq: suatu formula yang terdiri atas susunan bilangan atau angka Arab tertentu yang mengandung rahasia-rahasia spiritual. yakni iluminasi dalam bentuk arabesk (pola geometris yang disalin bersilangan) dari kalimat L± Il±ha ill± All±h Mu¥ammad Rasµl Allah sebagai bingkai hiasan yang mengelilingi bidang teks ayat-ayat Al-Qur’an. tengah.90 terkait dengan ilmu ma’rifah. dan di atas-bawahnya terdapat penjelasan yang diduga terkait dengan zikir (Gambar 07). ditemukan di Bali. yang diletakkan dalam blok hitam. sahabat. Meskipun naskah Al-Qur’an terkadang dikhususkan dalam klasifikasi kajian naskah klasik. Pada naskah Serangan 01 yang berbahasa dan beraksara Bugis. tetapi karena pentingnya temuan ini. dan disebut juga nama-nama malaikat. misalnya kata “Allah” dan “Muhammad” dalam satu kotak. kata “All±h”. Karakter kedaerahan iluminasi dapat juga dilihat dari penempatan halaman berhias pada awal. Ada dua blok yang semuanya berisi kata “All±h”. tentang tasawuf. No. Desain hiasan yang menurut identifikasi Annabel Teh Gallop (2004) sebagai tipe Aceh. dan Jawa. terdapat ilustrasi lafa§ al-jal±lah.Jurnal Lektur Keagamaan. masingmasing dalam satu kotak. pengetahuan mengenai formula tersebut merupakan hikmah ilahiyah. 12v-13r. dan simbol-simbol huruf hijaiah yang dirangkai sedemikian rupa dan diletakkan dalam satu kotak (Gambar 08). Iluminasi dalam mushaf-mushaf kuno yang ditemukan di Bali sangat luar biasa. h. unik. 2009: 53 . kata “Muhammad” dan “Ilah”. terdapat simbol-simbol yang diletakkan dalam bingkai garis. Vol. dan menarik. 1. ada perbedaan kedaerahan yang konsisten dan mencolok. Sulawesi. hasilnya disajikan di sini. 72 . Pantai Timur Semenanjung Melayu atau Pattani dan Trengganu.

Sampul naskah memakai tutup (plop). Rangkaian dari kalimat L± Il±ha Ill± All±h Mu¥ammad Rasµl All±h yang didekor sedemikian rupa sehingga menciptakan bingkai hiasan berbentuk arabesq yang mengelilingi teks ayat Al-Qur’an. Bahkan. Penempatan ini dapat ditemukan pula pada mushaf-mushaf Bali. Bagian dalam sampul naskah dilapisi kain saten. kode MAJS/NQ/0129 yang sejauh pengetahuan kami memiliki keistimewaan yang luar biasa. 30 Oktober 2008. desa di mana Masjid Agung Singaraja berada pun bernama Kampung Bugis. Pada bagian tertentu. salah seorang keturunan Raja Buleleng yang masuk Islam. digunakan tinta berwarna merah. Tinta yang digunakan berwarna hitam. Pantai Timur Melayu biasanya pada permulaan juz 15 atau awal Surah al-Isra’. sementara ukuran teksnya adalah 18 X 14. awal juz. yaitu Sulawesi dan Aceh. Demikian juga dengan bahannya. Hasyim Zaki. Islam iluminasi tengah: Aceh selalu bagian tengah Al-Qur’an. 2004: 132). Teks ditulis dengan menggunakan khat naskhi. “paper used by Denham in Africa” (Heawood. Naskah berukuran 27 X 21 cm. 1986: 85). yakni iluminasi bagian tengah. naskah mushaf ini ditulis oleh Gusti Ngurah Ketut Jelantik Selagi. Di bawah ini akan diuraikan secara singkat keempat tipe atau desain hiasan tersebut. Hasan (penduduk setempat). Menurut keterangan pengurus takmir masjid. H. mengapa dapat sampai ke Bali. 1).Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Wawancara dengan H. 5 cm. atau tanda baca. Pada halaman pelindung terdapat catatan yang tertulis: “h±©a alwaqf mu¡¥af masjid jam³‘”. Sampul naskah berukuran 33. — Asep Saefullah dan Adib M. 29 73 .5 X22 cm yang terbuat dari kulit berwarna merah maron dengan motif floral. setiap halaman terdiri atas 14 baris. Belum lagi desain hiasannya dan motif pewarnaannya yang memiliki unsur-unsur daerah lain.. Abdurrahman Alawi (Pengurus Ta’mir Masjid). dapat dijelaskan dengan kenyataan bahwa orang-orang Bugis pada masa lalu telah banyak bermukim di Bali. dan H. adalah kertas yang umumnya digunakan di Afrika. Pada naskah ini terdapat bingkai teks berupa tiga buah garis tipis berwarna hitam dan merah. kecuali halaman awal yang terdiri atas 7 baris. yaitu awal juz 16 atau bagian tengah Surah al-Kahf.. 30 Tentang bahan kertas yang biasanya digunakan di Afrika. dan di Jawa hampir selalu ditemukan pada permulaan surah al-Kahf (Gallop. seperti kepala surah. meskipun berupa kertas Eropa tetapi berdasarkan cap kertas (water mark)-nya yang termasuk kelompok Cressent. 30 Tebal naskah 682 halaman. Tipe Aceh dan Istimewa: Iluminasi Kalimat L± Il±ha Ill± All±h Mu¥ammad Rasµl All±h Di Masjid Jami’ Agung Singaraja terdapat mushaf.

bahwa di wilayah ini pernah kedatangan orang-orang dari Aceh. yang mengapit bidang teks pada masing-masing halaman. mushaf ini sama dengan mushaf-mushaf dari Aceh yang selalu menempatkan awal juz 16 atau bagian tengah Surah al-Kahf.90 Merujuk pada identifikasi yang pernah dibuat Annabel Teh Gallop (2004) tentang ragam hias mushaf. namun menampilkan latar belakang kertas itu sendiri. kuning dan hitam. Iluminasi mushaf Aceh mudah dikenali dengan “garis bingkai vertikal. yang dapat berbentuk sulur lembut yang tipis ataupun berukuran lebih besar. memanjang ke atas dan ke bawah. ada garis melengkung sampai ke tepi. pewarnaan dan detail hiasan bingkai (Gallop. leluhur mereka ada yang berasal dari Aceh. yang dekat ke Sulawesi. jejaknya bisa ditemukan bahwa salah seorang pengurus ta’mir masjid sendiri. terutama merah. sementara lengkungan pada sisi vertikal diapit oleh dua ‘sayap’ kecil. Wawancara dengan H. Segi empat berhias di sekitar bidang teks pada pola Aceh yang sering diisi dengan sulur Bagaimana pola Aceh terdapat dalam mushaf ini? Berdasarkan keterangan pengurus Ta’mir masjid dan penduduk setempat. 30 Oktober 2008. Hasyim Zaki. Warna dasar keempat dalam naskah beriluminasi dari Aceh adalah warna putih. 2004: 129). 7. 1. yang memang berwarna putih. H.Jurnal Lektur Keagamaan. tetapi di bagian kiri dan kanan garis tegak tersebut terdapat bentuk segitiga. Dari segi teks ayat pada bagian tengah yang beriluminasi. dan mushaf ini menempatkan awal juz 16.31 Sedangkan iluminasi yang istimewa terdapat pada bagian tengah mushaf. namun terbatas. dan H. Vol. Hasan (penduduk setempat). di satu sisi memperlihatkan pola Aceh dengan “sepasang garis tegak kirikanan”. hanya saja tidak diketahui siapa dan kapan hal itu terjadi. 2009: 53 . Hasyim Zaki. Abdurrahman Alawi (Pengurus Ta’mir Masjid). Bapak H. dan miring ke dalam pada ujung atas dan bawah. No. Segi empat berhias di sekitar bidang teks sering diisi dengan sulur ikal warna putih. dan di bagian-bagian tertentu sering terdapat motif jalinan. Ciri kedaerahan pada umumnya dapat dilihat pada pola. adalah seorang Muslim Bali yang memiliki darah Aceh. salah satu mushaf AlQur’an di Masjid Jami’ Agung Singaraja memiliki unsur-unsur yang umumnya terdapat di Aceh dan Sulawesi. Di ketiga sisi luar bidang teks. Sepasang bingkai berhias dari Aceh ini dicirikan dengan pewarnaan yang kuat. H. Hasan. Akan tetapi. 31 74 . walaupun tidak terlalu jelas sebab salah satu ciri kedaerahan iluminasi Sulawesi adalah garis lurus. Desain seperti diuraikan di atas jelas sekali terlihat pada iluminasi bagian awal mushaf ini (MAJS/NQ/01). Menurut kakaknya.

bercirikan bentukbentuk geometris yang kuat. Gambar 12. Dua buah garis vertikal di kiri-kanan paling luar. Tipe Sulawesi Tipe Sulawesi ditemukan pada mushaf dari Pegayaman. bukan segi tiga tetapi lengkunganlengkungan yang membentuk semi segitiga yang di dalamnya dihiasai desain floral dengan pewarnaan merah. Iluminasi mushaf dari Pattani bercirikan. milik Bapak I Wayan Ma’ruf. hitam. yakni dua bingkai yang diletakkan secara berhadapan dengan ciri khas garis-garis tegak. Iluminasi hiasan mushaf dari Sulawesi yang menurut Gallop (2005) “Sulawesi Diaspora”. Akan tetapi. dalam mushaf MAJS/NQ/01. yakni garis-garis vertikal. Islam ikal warna putih. misalnya dari Pattani dan Trengganu (Gallop. bahwa di bagian luar bingkai pada mushaf Pegayaman ini. di samping putih yang merupakan warna dasar kertas. bandingkan dengan Gambar 10a). bandingkan dengan Gambar 12a). — Asep Saefullah dan Adib M..Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . 2). Sedikit berbeda. dua bidang empat persegi panjang yang mengapit teks ayat. Tipe Pantai Timur Semenanjung Malaya Ciri khas iluminasi mushaf dari Pantai Timur Semenanjung Malaya adalah “Lengkungan luar bingkai berhias sering ditutup dengan rangkaian ‘ombak-ombak’ atau ‘dedaunan’ kecil”. dan pinggir luar bingkai. bawah. segitiga di tengah bagian pinggir menghadap keluar. masih terdapat surah Al-Fatihah yang diletakkan dalam bingkai berhias melengkapi sepasang hiasan akhir mushaf (Gambar 11. Di bagian akhir mushaf. desainnya sama dengan desain yang umumnya ditemukan di Sulawesi. “lengkungan pada bingkai berhias kadang75 . 3). dan beberapa bentuk setengah lingkaran di atas. dua bidang persegi panjang di atas membingkai kepala surah dan di bawah membingkai keterangan surah. horizontal dan diagonal. berupa jalinan kalimat L± Il±ha Ill± All±h Mu¥ammad Rasµl All±h yang membentuk pola arabesq dan sedikit motif floral. Mushaf ini sudah tidak lengkap lagi dan sebagian besar sudah dimakan serangga. dan kuning. 2004:130). Warna yang dominan adalah merah dan hitam (Gambar 09 dan 10. dan tidak memiliki garis-garis lengkung bergelombang. dan keduanya mengapit teks ayat di atas dan di bawah. dan di bagian-bagian tertentu sering terdapat motif jalinan.. dari iluminasi yang masih bisa dilihat pada bagian awal dan bagian tengah.

yakni di atas-bawah dan pinggir bingkai teks ayat. Ketika garis-garis dan ombak disepuh. Jumlah garis tipis dalam 1 cm 9 buah. 5 X 11. menimbulkan efek ‘stalagnit-stalaktit’. dan luar biasa adalah mushaf yang ditemukan di Kampung Jawa Singaraja milik M. 2004:130). hitam.Jurnal Lektur Keagamaan. Teks ditulis dengan menggunakan garis panduan yang ditekan. 4).90 kadang terdiri dari dua ombak yang saling berpautan yang ditutup dengan semacam kubah”. Vol. Pola hiasan pada Al-Qur’an kuno dari Masjid Al-Muhajirin Kepaon Denpasar32 memperlihatkan tipe Pantai Timur Semenanjung Malaya. awal Juz ke-30 (juz ‘amma) 76 . Penomoran halaman tidak ada. dalam kertas terdapat angka 1825. 5 cm. 1. dan emas sering digunakan” (Gallop. Zen 32 Naskah ini berukuran 30 X 19 cm. Dalam kertas ini terlihat adanya garis bayang tebal dan garis tipis. meliputi warna-warna muda seperti biru dan hijau maupun warna-warna tua yang lebih menggetarkan. naskah sudah lapuk dan tidak lengkap. Tipe Jawa dan Mushaf Tertua Ketiga di Nusantara: Tahun 1035 H/1625 M Mushaf lain yang menarik. Jarak garis tebal pertama sampai ke-6 13 cm. Tinta yang digunakan berwarna hitam. hijau. Bingkai teks berupa tiga buah garis tipis berwarna hitam dan merah. Pewarnaan hiasan bingkai Pantai Timur lebih luas daripada yang ditemukan di Aceh. dan kuning emas. ukuran teksnya 19. Sementara Trengganu lebih bercirikan pembatas beriluminasi yang memenuhi tepi luar kertas. dan bingkai kedua halaman tersebut disatukan dalam bingkai luar. Sampul naskah sudah tidak ada. Lengkungan-lengkungan dan riak-riak gelombang tergambar dengan jelas dalam mushaf ini. Teks yang masih ada dimulai bagian tengah surat al-Baqarah dan berakhir pada surah al-Naba. Teks ditulis dengan menggunakan khat Naskhi. secara keseluruhan efeknya adalah pancaran emas yang cemerlang. merah muda. Di beberapa halaman verso terdapat kata alihan. “Dari pembatas luar ini banyak garis atau sulur kecil mengarah ke dalam seakanakan bertemu dengan ‘ombak-ombak’ yang muncul dari lengkungan. Alas naskah yang digunakan adalah kertas Eropa. Selain itu. 2009: 53 . unik. No. Pewarnaannya terdiri atas merah. Secara umum. Bingkai teks ayat berupa empat persegi panjang agak lebar mengelilingi bidang teks dan diisi dengan hiasan bermotif daun dan dipadukan dengan lengkungan setengah lingkaran. bandingkan dengan Gambar 13a). di samping warna putih yang merupakan warna dasar kertas (Gambar 13. 7. Dua buah bingkai diletakkan secara berhadapan di halaman kiri-kanan.

Islam Usman. Untuk bagian yang berisi keterangan awal surah tinta dan awal juz digunakan berwarna merah. terdapat segi tiga yang juga berhiaskan bentuk arabesq. yang berbunyi: “tamma al-qur’±n f³ yaum al-kh±mis min syahr al-mu¥arram f³ hil±li i¥d± wa ‘isyr³na ba‘da alfi sanah khamsin wa £al±£µna al-hijrah an-nabawiyyah “. dan untuk kepala surah masih berupa Sulus sederhana. mushaf ini masih baik. di tiga sisinya.. Teks ditulis dengan menggunakan khat Naskhi. dari segi kaligrafinya. dan kolofonnya dalam bahasa Arab. jika merujuk identifikasi Gallop (2004). kedua bingkai yang berhadapan pada dua halaman kiri-kanan ini disatukan oleh bingkai garis yang memotong setiap ujung segitiga pada setiap sisinya. tetapi lengkungan-lengkungan yang mengelilingi teks ayat lazim ditemukan di Turki Usmani. dan ukuran teksnya adalah 16 X 11 cm. mushaf ini ditulis di atas dluang. Iluminasi pada mushaf ini terdapat pada bagian awal yang membingkai Surah al-Fatihah dan awal Surah al-Baqarah. atas-bawah dan pinggir. dan di atasbawahnya diapit juga oleh blok empat persegi panjang. blok atas membingkai nama surah Al-Fatihah. sebuah masa yang tua. Bidang teks ayat diapit di kiri-kanan oleh blok empat persegi panjang yang dihiasi dengan pola arabesq. Kedua. yakni pada pewarnaan yang cenderung menggunakan warna biru (Gallop. Alas tulis dari bahan dasar kulit kayu ini pada umumnya tergolong tua karena kertas ini umumnya telah ada sebelum kertas Eropa masuk ke Nusantara. Ketiga. Selanjutnya. Sampulnya terbuat dari kulit berwarna coklat motif floral. oleh Abd al-Sufi al-Din.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . dan blok bawah mengbingkai keterangan surah. Sementara itu. Jumlah baris setiap halaman 13. naskah ini memiliki kolofon yang menunjukkan waktu penyalinannya pada Kamis. mushaf ini memperlihatkan goresan seorang khattat (ahli kaligrafi) Arab dengan khat Naskhi yang indah walaupun tidak dengan kalam khat yang tipis-tebal. Tinta yang digunakan berwarna hitam. Keempat. Tebal naskah 769 halaman yang terdiri atas 754 halaman isi. hanya beberapa halaman yang tampak lapuk. — Asep Saefullah dan Adib M. 2004: 130). Desain hiasan ini menunjukkan salah satu karakter khas Jawa. kecuali halaman awal yang terdiri atas 7 baris dan halaman akhir yang terdiri atas 10 baris. Bagian dalam bingkai ini pun Secara umum. 33 Dikatakan demikian karena beberapa alasan: Pertama. Mushaf ini berukuran 24 X 16 cm. Tulisan rapi dan jelas. 21 Muharram 1035 H (23 Oktober 1625 M).. iluminasinya memperlihatkan unsur Jawa. 33 77 . bingkai teks berupa tiga buah garis berwarna hitam.

bandingkan dengan Gambar 14a). keberadaan mushaf ini di sebuah tempat yang disebut Kampung Jawa. 2009: 53 . dan bahkan tidak utuh lagi. 78 . Sebagian besar naskah sudah rusak.90 diberi hiasan berbentuk arabesq yang dipadukan dengan pola dedaunan (Gambar 14. 21 Muharram 1035 H/1625 M (Gambar 15). seperti Palembang dan Pasuruan. misalnya tentang nama tokoh al-Haj Muhammad Amin al-Din Palimbangi dan Muhammad Sa’id bin Muhammad Ali Kusamba. Sulawesi. Penutup 1.Jurnal Lektur Keagamaan. Penelusuran awal naskah-naskah keagamaan Islam di Bali berhasil menemukan 38 naskah yang tersebar di berbagai daerah di pulau Dewata ini. keberadaan 35 naskah keislaman itu dapat menunjukkan mata rantai Islamisasi di Indonesia dan jaringan keilmuan dan keulamaan Islam Nusantara. 2005: vii-viii). b. Vol. Setidaknya mushaf ini menjadi mushaf tertua ketiga setelah Mushaf kode MS 12716 di University of London yang ditulis Jumadil Awwal 993/1585 dan mushaf dari Ternate yang ditulis pada 7 Zulqa’dah 1005 H/1597 M (Bafadal dan Anwar. Lebih dari itu. Pemiliknya tidak mengetahui secara pasti asal usul mushaf ini kecuali bahwa ia mendapatkannya dari orang tuanya dan konon telah dimilikinya secara turun temurun. tidak terawat dan kurang mendapat perhatian. Kesimpulan a. terutama dari beberapa unsur yang terdapat pada pola hiasannya. 35 di antaranya merupakan naskah keagamaan Islam. 7. 1. Walaupun jumlahnya tidak begitu signifikan dibandingkan dengan naskah non keislaman yang biasanya ditulis di atas lontar. bisa diduga bahwa asal-usulnya berkaitan dengan Pulau Jawa. dan Jawa. mushaf ini menambah koleksi dan informasi mushaf tertua di Nusantara. serta iluminasi mushaf yang memperlihatkan empat tipe Aceh. Dari 38 naskah tersebut. Namun demikian. No. atau tempat. 1) Kondisi naskah keagamaan Islam di Bali pada umumnya sangat memprihatinkan. yakni ditulis pada Kamis. Pantai Timur Malaya.

Analisis terhadap isi teks dan penjelasannya secara kontekstual perlu diteliti lebih lanjut. tauhid. Melayu (Jawi). Wa All±h a‘lam…[] 79 . doa.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Dari aspek kodikologi. wirid. tasawuf. Rekomendasi a. dan geguritan (cerita). dan bagaimana posisi Bali dalam proses Islamisasi maupun dalam jaringan transmisi keilmuan dalam Dunia Islam. kertas Eropa. 2. Islam 2. Kondisi naskah keagamaan Islam di Bali yang memprihatikan perlu mendapatkan perhatian serius dan perlu segera dilakukan upaya konservasi lebih lanjut. c) Waktu penyalinan antara abad ke-17–19 M. setidaknya untuk melihat bagaimana hubungan Islam-Hindu di Bali. dan untuk itu perlu pembuktian melalui penelitian secara lebih mendalam. adanya naskah lontar yang mengandung unsur keislaman membuktikan bahwa hubungan antarumat beragama. dan Bali.Lebih dari itu. b) Bahasa dan aksara yang digunakan meliputi Arab. c. Keberadaan naskah keagamaan Islam di Bali yang tersebar di berbagai kabupaten memungkinkan masih ada naskahnaskah lain yang belum tersentuh sehingga penelusuran lebih lanjut perlu segera dilakukan. kertas bergaris modern. antara lain dengan penelusuran naskah dan digitalisasi. dan obat-obatan. dapat dicatat beberapa hal: a) bahan yang digunakan beragam. — Asep Saefullah dan Adib M.. dan lontar. Al-Qur’an. Bugis.. 4) Isi naskah antara lain mencakup fikih. yaitu dluang. bahasa (nahwu-saraf). dan yang tertua tahun 1035 H/1625 M. b. khususnya Islam-Hindu di Bali terjalin dengan baik.

1996. h. An Introduction to the Study of Manuscripts in Arabic Script. Keadaan dan Perkembangan Bahasa. Illuminations. Vol. 2005. tanpa tahun. Heawood. Lisan dan Sejarah di FIB UI . “Jenis-jenis ‘Naskah Bali’” dalam Soedarsono (Ed). Vol. Islamic Codicology. 1-10. Fadhal AR. Tatakrama. Oman. Jakarta: Ecole francaise d’Extreme-Orient-Yayasan Obor Indonesia Deroche. 2006. dan Saefullah. 1994. Bafadal. V. Jurnal Lektur Keagamaan. The Writing Traditions of Indonesia. Fadhal AR.). Khazanah Naskah: Panduan Koleksi Naskah-Naskah Indonesia Sedunia. Jakarta. 2009: 53 . Ann dan McGlynn. 2. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Weatherhill Inc. Adelaide: Art Gallery of South Australia. Bafadal. Rukmi. Asep (Eds. 2.Jurnal Lektur Keagamaan. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. Annabel Teh. h. 1986. Francois. Gallop. “Penyalinan Naskah Melayu di Palembang”. Rukmi. 2005. dan Sunda. Mushaf-Mushaf Kuno di Indonesia. 2003. Sri Wulan Rujiati. London: Al-Furqan Islamic Heritage Foundation. 121143. 2004. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. h. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. 1. Chambert-Loir. 2005. Etika. Depok: Fakultas Sastra UI. New York dan Tokyo.. Hilversum: The Paper Publications Society. Vol. Oman. Gallop. Annabel Teh. John H. Mulyadi. Kumar. diterjemahkan ke Bahasa Arab oleh Ayman Fuad Sayyid. Watermarks: Mainly of the 17th and 18th Centuries. Ada Bagus Gede. Penyalinan Naskah Melayu di Jakarta pada Abad XIX: Naskah Algemeene Secretarie Kajian dari Segi Kodikologi. Edisi bahasa Arab diteritkan tahun 2005 oleh penerbit yang sama dengan judul al-Madkhal ila ‘Ilm al-Kitab al-Makhtut bi al-Harf al‘Arabi. No. 1. 7. “Islamic Manuscript art of Southeast Asia”. Fathurahman. Jurnal Lektur Keagamaan.). Depok. 1997. Maria Indra. dan Anwar. “Pentingnya Memelihara. Rosehan. No. Kodikologi Melayu di Indonesia. Bali. Crescent Moon: Islamic Art & Civilisation in Southeast Asia. Henri & Fathurahman. 1. Melestarikan. dan Seni Pertunjukan Jawa. Maria Indra. “Seni Mushaf di Asia Tenggara”. dalam James Bennett (Ed. dan Memanfaatkan Khazanah Naskah Islam: Sebuah Refleksi”. 80 . 156-183. 1999. The Lontar Foundation. Edward. Depok: Fakultas Sastra UI. No. 2005.90 Daftar Pustaka Agastia. makalah dalam Seminar Tradisi Naskah. Cet. Naskah Klasik Keagamaan Nusantara 1. Sastra.

Sekretaris MUI Sngaraja (No. Husen Abdul Jabbar. Ketua Dewan Penasehat MUI Singaraja. Vol. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. Bali Drs. Haji. Badri. 7-11) Wawancara. Islam Saefullah. Kabid. 4. 13. — Asep Saefullah dan Adib M. Ketua MUI Singaraja H. Soleh. Jurnal Lektur Kegamaan. Ghufron. H. Agama Prov. No. Wawancara. Hadiman. Hasan. 1992. H. Vol. Jakarta: Multi Kreasi Singgasana. 8. Kanwil Dep. H. yang dituakan di Kampung Islam Buitan. 6. Bali (No. Kabid Bimas Islam & P. Bali Drs. Sirojuddin AR. 2007. 2007. H. SH. Muchlis Sanusi. dan Agus.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Hidayat. 11. E. 1. Pengurus Harian Masjid Agung Jami’ Singaraja H. H. Asep. h. Kanwil Dep. Ida Bagus Nyana. Kanwil Dep. 14. 10. penduduk Singaraja yang bekerja di Denpasar. 5. No. Penamas. Wawancara. Abdullah. 1. 1-5) Wawancara di ruang kerja masing-masing pada 28 Oktober 2008. Musta’in. 81 . Syafruddin. dalam Jurnal Lektur Keagamaan. 1-18. Wawancara. H. Bali Drs. 3. H. Kanwil Dep. Drs. 30 Oktober 2008. Bedugul. para ustadz di Pesantren AlHidayah. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. Seni Kaligrafi Islam. secara terpisah pada 29-30 Desember 2008 di Masjid Agung Singaraja maupun di kantor MUI Singaraja. Informan: 1. Kasi.. Wawancara pada 2 Nopember 2008 di Loloan Timur. “Beberapa Mushaf Kuno dari Provinsi Bali”. H. Kasubag Umum. 29 Oktober 2008. “Ragam Hiasan Mushaf Kuno Koleksi Bayt al-Qur’an dan Museum Istiqlal Jakarta”. 2. Agama Prov. M. Ketut Ariawan. 5. 5. Agama Prov. Agama Prov. 12. Abdurrahman Alawi. Abdurrahman Said. 2 Nopember 2008.. Bali Drs. 39-62. Kanwil Dep. Staf Urusan Agama Hindu. Gunawan. Yunardi. 7. Agama Prov. Karang Asem. 9. Pendidikan Islam dan Pemberdayaan Masjid. Hasyim Zaki. h. Lurah Kampung Bugis dan juga Ketua Ta’mir Masjid Agung Singaraja.

860. yakni pembahasan tentang tuduhan suami bahwa istrinya berzina. Tinta yang digunakan berwarna hitam. sementara rubrikasi berwarna merah. Halaman 1r-33v: Teks kitab nikah. Akan tetapi cap kertas hanya terlihat sebagian. Adapun bunyi kalimat pertama (1r) adalah sebagai berikut: Terpelihara dirinya daripada had ta-waw-kaf-sin karena jikalau ia tia(da) mau bersumpah maka dipukul ia delapan puluh kali demikian lagi disuruh bersumpah istrinya di atas mimbar lima kali supaya terpelihara ia daripada had zina maka apabila sudah bersumpah keduanya jatuhlah talaknya itu talak bain kubra … Alas naskah yang digunakan adalah kertas Eropa. 82 . No. tampaknya cap kertas ini mirip dengan contoh no. Teks ditulis dengan menggunakan bahasa Melayu dan aksara Jawi dengan menggunakan garis panduan yang ditekan. naskah ini merupakan kumpulan teks. kertas dengan cap kertas nomor tersebut tidak bertanggal. 7. Menurut Heawood (1986: 84). Wirid dan Doa Bhs. Sebagaimana disebutkan. Arab dan Jawi 24x16 cm Prosa Kertas Eropa Naskah ini merupakan kumpulan teks yang terdiri atas beberapa bidang kajian. Arab dan Melayu 19 baris/hlm. Kalimat pertama teks ini berbunyi: Sebagai lagi (obat) supaya bincar(?) buang air seni ambil limau nipis tiga biji ditaruh gula batu maka embunkan pagi2 minum insya Allah ‘afiyah berturut-turut tiga pagi. Bunyi kolofon tersebut sebagai berikut: Haza [al-]Kitab al-Nikah [ter] Hijrah al-Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam seribu dua ratus delapan puluh tujuh (1287) pada tahun Ba alif(?) pada malam ahad waktu jim(?) pada pukul delapan pada delapan hari bulan Rabi’ al-Awwal pada ketika itulah hamba Pa Abdul A’raf sudah selesai menyuruh ini kitab di dalam negeri Badung Bali Badung adanya Kampung Kepaon 1287. Tamma wa sallallahu ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa sahbihi wa sallam. namun dimungkinkan diproduksi pada masa modern. 2. Contoh Deskripsi Naskah Milik Musthafa al-Amin. Jarak antarbaris di setiap halaman 7 mm. yang terdiri atas: 1.Jurnal Lektur Keagamaan. Denpasar Fk/Bali MA 01 98 hlm. Obat-obatan. Tebal naskah 98 halaman (49 lembar) dengan jumlah baris 19 per halaman. dalam kolofon teks ini disebutkan “Kitab Nikah”. tetapi tidak disebutkan judulnya. Vol. Naskah berukuran 24 X 16 cm. yang termasuk kelompok Crescent. Aks. Halaman 33v-41v: Teks obat-obatan. Kitab Nikah.90 Lampiran: 1. Naskah sudah tidak bersampul dan bagian awal teks yang berisi Kitab Nikah sudah tidak lengkap. Sepertinya bagian awal teks dimulai dari “Had al-Qa©af”. 1. Setelah dicocokkan dengan daftar cap kertas yang disusun oleh Heawood (1986). 2009: 53 . sementara ukuran teksnya adalah 19 X 11 cm.

Naskah berukuran 40. 5 cm. Kampung Bugis. pias kiri berukuran 3 cm. penanggalan. Halaman 47v-48v: Teks Li °³bat Aqli al-Ins±n. Denpasar. Pias kanan berukuran 3 cm. Halaman 41v-47r: Teks berisi berbagai macam masalah.5 cm Puisi Lontar Berdasarkan informasi di luar teks. naskah ini berjudul Pepalihan Gama Selam Bali. Teks ditulis di atas lontar dengan menggunakan bahasa dan aksara Bali.5 x 3... Islam Kalimat terakhir berbunyi: Telah mengambil ijazah faqir a-haqir ila Allah Ta’ala Haji Hasan ibn al-Marhum al-Haj Muhammad Amin al-Din Palembangi akan mengamalkan laqad ja’akum serta doa yang kemudian kepada Syaikhuna wa ustazuna wa wasilatuna ila Allah Ta’ala al-Arif bi Allah sayyidi al-Syaikh Muhammad Azhari ibn al-Mukarram al-Marhum Kemas Muhammad Haji Abdullah Palimbangi Nafa’ana Allah bi barakatihi wa barakat ‘ulumihi. Di bawah setiap baris teks terdapat garis panduan tipis berwarna hitam. Tulisan tampak rapi dan jelas. Denpasar 83 . Kondisi lontar masih baik. 2. Pemilik naskah: Yayasan An-Nur. Musthofa Amin. Bali. Denpasar Gg/Bali YN 02 9 lempir Pepalihan Gama Selam Bali Bhs. — Asep Saefullah dan Adib M. Teks ini berisi cerita proses islamisasi di Bali. sedangkan ukuran teksnya adalah 34 X 2. Jarak antarbaris tiap lempir adalah 0. Contoh Deskripsi Naskah Lontar Milik Yayasan An-Nur. Ukuran kotak tempat menyimpan naskah ini adalah 46 X 8. Tebal naskah 9 lempir dengan jumlah baris 4 per lempir. dan teks khutbah nikah. Kepaon. Bali 4 baris/lempir Aks. 4.5 cm. wirid dan doa. Amin 1288 H di Ampenan Syahr [al-]Shafar. Teks dibagi dalam dua kolom.5 cm. Naskah di tempatkan dalam kotak yang terbuat dari kayu jati berwarna coklat.5 X 3. 3.5 cm. Bali 40. Pemilik Naskah: H. Tinta yang digunakan berwarna hitam. antara lain kitab waris.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah .

Beberapa Jenis Kaligrafi Gambar 01: Khat Naskhi pada Mushaf kuno dari Kampung Jawa. Suharto Gambar 03: Khat Riq’ah pada MS MA 06.Jurnal Lektur Keagamaan. Vol. Musthafa Amin. 7.90 Lampiran II: Gambar-Gambar A. naskah koleksi H. Kepaon. milik Drs. h. Denpasar 84 . Denpasar Gambar 04: Khat Farisi MS MA 01. Ilustrasi Gambar 05: MS MA 03. Kepaon. Musthafa Amin. milik H. 1. Denpasar Gambar 06: MS MA 04. No. Singaraja Gambar 02: Khat Naskhi pada naskah tauhid dari Pegayaman Singaraja. Musthafa Amin. 17v. koleksi H. Musthafa Amin. Denpasar B. Kepaon. 11r. naskah koleksi H. 2009: 53 . Kepaon. h.

— Asep Saefullah dan Adib M. h.. Musthafa Amin. Serangan. Kp.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Iluminasi halaman awal pada Mushaf Kuno koleksi Masjid Jami’ Agung Singaraja 85 . Kepaon. Islam Gambar 07: MS Serangan 01. Baharuddin. h. 12v-13r.. naskah milik H. Denpasar C. Iluminasi pada Mushaf Gambar 09: MS MAJS/NQ/01. Denpasar. milik H. Gambar 08: MS MA 03. 56.

koleksi Perpustakaan Nasional Jakarta.Jurnal Lektur Keagamaan. 1. McGlynn. dalam Ann Kumar dan John H. 7. Iluminasi halaman tengah pada Mushaf Kuno koleksi Masjid Jami’ Agung Singaraja Gambar 10a: Tipe Iluminasi mushaf halaman tengah dari Aceh. Vol. h 46 dan 87. 2009: 53 .. 1996. No. Illuminations. 86 .90 Gambar 10: MS MAJS/NQ/01.

— Asep Saefullah dan Adib M. pada di halaman kiri terdapat surah Al-Fatihah.. 59 87 . sepertinya Tafsir Jalalain.. dalam Ann Kumar dan John H. Gambar 12a: Tipe Iluminasi halaman tengah tipe Sulawesi juga terdapat pada Tafsir AlQur’an. 1996. milik I Wayan Ma’ruf. Koleksi Perpustakaan Nasional Jakarta. McGlynn.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Islam Gambar 11: Iluminasi bagian akhir pada mushaf kuno dari Pegayaman. h. Tampak tidak utuh lagi kerena dimakan serangga. milik I Wayan Ma’ruf. Illuminations. Gambar 12: Iluminasi bagian awal pada mushaf kuno dari Pegayaman.

h. Illuminations. Iluminasi ini terdapat pada again awal surah alFatihah dan awal al-Baqarah. Denpasar. Bandung. Al-Qur’an kuno koleksi Museum Sri Baduga. dalam Ann Kumar dan John H. 1996.Jurnal Lektur Keagamaan. McGlynn. 2009: 53 . Kepaon.90 Gambar 13: Iluminasi bagian tengah pada mushaf kuno dari Masjid Al-Muhajirin. tetapi Al-Qur’an ini berasal dari Cirebon. 1. 114 88 . No. Jawa Barat. Gambar 13a: Tipe Iluminasi mushaf seperti ini umum ditemukan di Pantai Timur Semenanjung Malaya. 7. Vol.

1996.. dalam Ann Kumar dan John H. Zen Usman. koleksi Widya Budaya. Gambar 14a: Tipe Iluminasi mushaf halaman tengah dari Jawa. McGlynn. Illuminations. Jawa Singaraja. Kraton Yogyakarta. Islam Gambar 14: Iluminasi bagian awal pada mushaf kuno dari Kp.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah .. milik H. — Asep Saefullah dan Adib M. h. Mushaf disalin di Surakarta pada 1797-1798 M oleh Ki Atmaparwita. 35 89 .

7. Zen Usman.90 Gambar 15: Kolofon pada mushaf kuno dari Kampung Jawa. Ditulis di atas dluang. Singaraja. pada Kamis. Vol. 2009: 53 . 21 Muharram 1035 H/1625 M oleh Abd al-Shufi al-Din 90 . milik H. 1.Jurnal Lektur Keagamaan. No.

Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. The manuscripts are culturally important that is related to the daily religious needs of the disciples of the order of Syattariyah in Minangkabau. Manuskrip. dibandingkan suku bangsa-suku bangsa yang lain di Indonesia. otherwise it will be considered blasphemy or haram. The ideological perspective is influenced by the surau teaching system based on the doctrines and books of the teachers. it is found that one way to reflect the disciples’ respect for the guru(-s) has been done through writing the biography of the respective teachers and understanding their teaching. Minangkabau Pendahuluan Minangkabau merupakan suku bangsa di Indonesia yang mendiami sebagian besar wilayah Provinsi Sumatera Barat. Padang Pramono dan Bahren This article focus on discussing efforts to intreprate local Islam manuscripts of Minangkabau. Keunikan tersebut tampak pada penyatuan antara adat dan agama Islam.. dalam hal hubungannya antara sosio-kultural dan Islam. his story can not be written in Latin texts. Kata Kunci: Surau. — Pramono dan Bahren Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua dalam Naskah-Naskah Tarekat Syattariyah di Minangkabau Fakultas Sastra Universitas Andalas. This is related to the beliefs that to know about the guru. the guru of the order of Syattariyah are essential. Tarekat Syattariyah. or to listen to the stories about the ulama. topik mengenai hubungan sosial-kultural dan Islam di Minangkabau tetap menarik untuk didiskusikan. 91 . Because the guru is considered holy man.. particularly the order of Syattariyah in Minangkabau. to posses the book. Oleh karena itu. By means of social context analyses of the texts. Etnis ini memiliki karakteristik yang unik.

Oleh karena itu. yaitu Kaum Tua dan Kaum Muda. Kaum Tua di Minangkabau memiliki empat kriteria atau hakikat. 1. 2009: 91 . mereka menganut mazhab Imam Syafi’i semata-mata. Dalam praktik pengamalan ajaran Islam. Golongan ini juga berpendapat bahwa tidak ada ulama. Sedang istilah yang banyak dipakai sekarang ini adalah “Kaum Tradisional” untuk Kaum Tua dan “Kaum Modernis” untuk Kaum Muda. Akan tetapi. bukan masalah perbedaan itu yang akan diulas dalam tulisan ini. Akan tetapi. Organisasi-organisasi serta lembaga-lembaga pendidikan agama yang didirikan oleh masing-masingnya pun masih ada. Pertama. Para ulama golongan ini memiliki pandangan bahwa hanya Alquran dan hadits Nabi yang sahihlah yang benar.108 Dalam konteks hubungannya dengan Islam. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan pendapat antara kedua golongan itu masih tetap hidup dan berpengaruh dalam masyarakat Minangkabau. 1988: 135). Pem92 . termasuk para ulama mazhab sekali pun. 7. mereka ingin tetap mempertahankan tradisi. Tuhan telah menganugerahkan akal kepada setiap manusia untuk dapat berijtihad setiap saat (Fathurahman. Ketiga. No. Apalagi. dan oleh karenanya pandangan keagamaannya tidak dapat diikuti secara mutlak. Perbedaan-perbedaan dalam berbagai amalan dan perilaku keagamaan di antara kedua kelompok itu hingga sekarang masih tetap ada. yang luput dari kekeliruan. kedua sumber itulah yang boleh dijadikan pedoman umat Islam dalam menjalankan praktikpraktik keagamaannya. di Minangkabau timbul dua macam aliran keagamaan. menurut penilaian mereka). 2003: 99). Kedua. Paham keagamaan tersebut berbeda dengan paham keagamaan yang diyakini oleh kalangan Kaum Muda. Keempat.Jurnal Lektur Keagamaan. adat kebiasaan yang telah melekat dalam berbagai macam amalan keagamaan (Latief. dalam bidang syari’ah. Vol. Persoalan lain yang menarik dan kurang mendapat perhatian adalah persoalan pola kepemimpinan Kaum Tua. mereka membenarkan dan merasa berkewajiban untuk mempertahankan aliran-aliran tarekat yang mu’tabarah (sah dan boleh diamalkan. diketahui bahwa pada awal abad ke-19 hingga awal abad ke-20. mereka adalah penganut aliran Ahlu Sunah wal Jama’ah. dalam bidang aqidah. sekarang ini kedua istilah tersebut mungkin sudah terasa asing dalam pendengaran kita.

1984: 138). pemerintah Belanda mengerahkan beberapa orang sarjananya untuk mengadakan penelitian tentang tarekat yang ada di Sumatera Barat. melainkan terletak pada kepatuhan yang mutlak dari para anggotanya kepada pada syekh yang memang menuntut kepatuhan itu sebagai 93 . bahaya dari aliran-aliran tarekat bukanlah terletak pada unsur fanatismenya. adaik dibao turun. Akan tetapi. Dalam perjalanan sejarahnya. masuknya Islam dari wilayah rantau ke darek ini digambarkan dalam pepatah: syarak mandaki. — Pramono dan Bahren bicaraan akan difokuskan pada peran pemimpin Kaum Tua dan bentuk penghormatan terhadap mereka. Kondisi seperti itu mempengaruhi masyarakat Minangkabau tentang persepsinya terhadap sosok ulama. Upaya penyesuaian berbagai nilai Islam dengan adat di kalangan masyarakat Minangkabau ini tampaknya telah dimulai sejak orang Minang menerima Islam sebagai agamanya (Hamka.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. agama Islam misalnya. dari waktu ke waktu. khususnya ulama pemimpin Kaum Tua tidak hanya memiliki peran keagamaan saja.. sosok ulama Minangkabau. ulama pemimpin Kaum Tua di Minangkabau juga berperan di bidang sosial-budaya dan politik. S. Ulama bagi mereka tidak hanya penerang masa hidup di dunia. Peranan Ulama Pemimpin Kaum Tua Bagi masyarakat Minangkabau. syarak dibawa naik’. 1988: 210) antara lain menyebutkan dalam laporannya pada tahun 1916 bahwa. Salah seorang di antaranya adalah Ph. masyarakat Minang berusaha menyesuaikan adat dan tradisi kemasyarakatannya dengan Islam. Dengan demikian. maka secara sosial mereka dapat dikucilkan. ketika Islam mulai masuk dari wilayah pesisir (rantau) ke daerah pedalaman (darek). adat menurun’. atau keluar dari. “menjadi orang Minang berarti menjadi Muslim”. Besarnya peran ulama pemimpin Kaum Tua di Minangkabau sempat mendapat perhatian khusus oleh pemerintah Belanda pada masa penjajahan. Dalam kosa-kata Minang. Pada masa penjajahan. Van Ronkel. adaik manurun ‘syarak mendaki. Persesuaian Islam dengan adat tersebut awalnya terjadi secara bertahap. Ronkel (dalam Latief. atau seperti yang ditulis Yusuf (2004: 4). tetapi juga penyelamat untuk kehidupan di akhirat. Jika ada orang Minang yang tidak memeluk.. syarak dibao naik ‘adat dibawa turun.

dapat mengganggu kelancaran pemerintahan Belanda nantinya. mengadakan pengawasan yang ketat terhadap segala aktivitas yang dilakukan oleh kaum tarekat (Syattariyah). Dalam hal ini pemerintah Belanda menempatkan seorang pengawas kelas tiga yang punya latar belakang ilmu budaya. No. Golongan penganut tarekat Syattariyah yang terpengaruh oleh ide-ide pembaharuan itu karena tidak puas dengan ulama Ulakan yang dinilai tidak memiliki komitmen untuk memerangi Belanda. tidak jarang merupakan sesuatu yang amat berbahaya bagi pemerintahan Belanda. Vol. dengan mendekati. Dalam konteks ini.Jurnal Lektur Keagamaan. Belanda menempatkan seorang posthouder di Ulakan sejak tahun 1844 (Suryadi. Dengan adanya ancaman tersebut. Untuk kasus pusat tarekat Syattariyah di Ulakan Pariman. menyebabkan mereka cenderung menghindari konfrontasi dengan Belanda (Suryadi. Sedang tokoh-tokoh tarekat yang dianggap berbahaya dan tidak mempan dibujuk. lalu diusir dari daerah ini atau dibunuh dengan berbagai cara yang licik (Latief. dengan harapan agar mereka lebih memusatkan perhatian pada aktivitas kesufian. kemudian pemerintah Belanda membuat strategi khusus untuk mengantisipasi potensi perlawanan dari kaum tarekat di Sumatera Barat. 7. suka mengejar-ngejar kekuasaan. Hal ini dapat dicermati pada paroh pertama abad ke-19.108 haknya. 94 . Pertama. Khusus mengenai kaum Syattariyah. Dengan demikian. 2004: 117 dan 92). menjadi lawan bagi setiap aliran lainnya. Apabila terdapat kejadian-kejadian tertentu yang mereka cetuskan. Apalagi dalam kenyataanya Ulakan sebagai salah satu pusat tarekat Syattariyah tidak pernah benar-benar menunjukkan penentangannya atau setidaknya bersikap tegas terhadap Belanda yang dianggap kafir. 2009: 91 . 1988: 213-214). setidaknya ada dua strategi yang dibuat oleh pemerintah Belanda. semangat jihad mereka yang sering menggangu kolonial akan dapat diredam. Dengan demikian. di mana banyak pengikut tarekat Syattariyah di Ulakan Pariaman terpengaruh oleh gerakan pembaharu Islam di Sumatera Barat. Boleh jadi karena sifat tarekat Syattariyah (di Ulakan) yang suka pada harmoni. Kedua. ia menyebutkan bahwa para pemimpin tarekat Syattariyah itu biasanya adalah orangorang yang tangguh pengetahuannya. 2004: 117). 1. membujuk dan memuji-muji para guru tarekat. agaknya strategi Belanda ini berhasil. menjauhi urusan dunia.

Hal ini akan diterangkan lebih jauh di bagian selanjutnya. Gambaran perlawanan ulama tarekat Syattariyah tersebut dapat ditemui dalam naskah Sejarah Surau Baru dan naskah Sejarah Syekh Paseban karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib. Ketika rakyat Koto Tangah dan Pauh. Kondisi di atas sangat berbeda dengan ulama-ulama tarekat Syattariyah di Koto Tangah. Padang. Padang kepada Belanda di bawah pimpinan Pakih Mudo.. perspektif postkolonial mencoba mengungkap akibat-akibat negatif yang ditimbulkan oleh kolonialisme. yakni perlawanan ke Belanda yang dinamakan Perang Paderi yang dipimpin oleh Imam Bonjol. menarik jika dilihat dengan perspektif postkolonial. Dalam naskah Sejarah Syekh Surau Baru misalnya.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. Dalam masa tawanan itulah Syekh Surau Baru wafat dan tidak ada lagi yang melawan Belanda hingga ratusan tahun kemudian. Lubuk Begalung dan sekitarnya. Pakih Mudo adalah murid Syekh Surau Baru yang diutus untuk mengislamkan rakyat Pauh. Akibatakibat yang ditimbulkan lebih bersifat sebagai degradasi mentalitas dibandingkan dengan kerusakan material. akibat-akibat yang dimaksud tidak berhenti secara serta merta setelah kolonialisme berakhir. Di mana. Politik Belanda terhadap ulama tarekat Syattariyah di Ulakan. dkk. Perang terjadi atas komando dan dorongan Syekh Surau Baru. Peperangan itu menyebabkan Syekh Surau Baru ditawan Belanda. Di wilayah ini Belanda mendapat perlawanan yang tajam dari mereka. Padang berperang dengan Belanda yang dibantu oleh orang Kota Padang... maka Pakih Mudo mengomando rakyat Koto Tangah dan Pauh dalam peperangan itu. Oleh karena itulah. Padang Pariaman dengan cara memberikan penghargaan dan banyak pujian telah membuat mereka bersikap kompromi dengan Belanda. misalnya kekuatan Golkar yang telah mampu mendekati para ulama itu untuk berafiliasi ke dalam partai tersebut. Penawanan itu dilaksanakan dengan alasan bahwa Pakih Mudo adalah murid Syekh Surau Baru. melainkan berlangsung sampai sekarang. 2006: 74). bahkan mungkin puluhan atau ratusan tahun (Ratna. Secara mentalitas berbekas hingga hari ini. Kisah ini dapat ditemukan dalam kutipan teks berikut ini. diceritakan tentang pemberontakan rakyat Koto Tangah dan Pauh. — Pramono dan Bahren Dalam konteks itu. 95 .

Pauh. Dalam konteks perlawanan tersebut. Perlawanan Syekh Paseban. dalam naskah Sejarah Ringkas Syekh Paseben Asyattari Rahimahullah Taala Anhu.: 51-52). ia ditangkap dan dipenjarakan oleh Belanda. Syekh Surau Baru inilah yang mengislamkan Negeri Kota Tengah. dan sekitarnya. No. Air Dingin. terjadi berkali-kali peperangan di Pauh dan Koto Tangah antara rakyat dengan tentara Belanda yang dibantu oleh laskar Padang yang telah takluk di bawah kekuasaan kompeni Belanda. penghargaan itu ditolak oleh Syekh Paseban. Setelah Syekh Surau Baru wafat ditawan kompeni Belanda barulah habis perlawanan rakyat terhadap kompeni Belanda. Beliau sama pergi menuntut ilmu dengan Syekh Burhanuddin ke Aceh kepada Syekh Abdurrauf (Syekh Kuala).Jurnal Lektur Keagamaan. Selain Syekh Surau Baru. Kota Tengah. 1. tidak Belanda. Dalam salah satu bagian teks disebutkan bahwa. Padang. Vol. 2001: 29. Selain itu. Syekh Paseban selalu mengadakan ziarah ke makam Syekh Surau Baru di Batusingka. Penghargaan tersebut berupa bintang jasa yang oleh Belanda dikatakan bahwa Syekh Paseban berhak menerima karena ia adalah ulama besar yang telah banyak berjasa bagi kaumnya. 34). t. 2009: 91 .. Lubuk Bagalung (Negeri yang dua puluh) dan Negri Padang. (kedua) adalah di suatu makam Syekh Muhammad Natsir (Syekh Surau Baru). “kata Syekh Paseban (al-Khatib. Juga beliaulah. Padang yaitu. Akan tetapi. Syekh Surau Baru ini adalah orang Kota Panjang.. 7. Syekh Surau Baru yang mula-mula melawan penjajah Belanda yang akan menginjakkan telapak kakinya di Pantai Minangkabau pada tahun 1658 Masehi (1076 Hijrat) yang bermaksud menjajah Minangkabau. Pauh. “Yang akan memberi saya bintang adalah Tuhan. Ziarah tersebut ia lakukan karena. pernah suatu kali Belanda dengan taktiknya akan memberikan penghargaan kepada Syekh Paseban. (ketiga) Jasa beliau Syekh Surau Ba96 . Oleh karena perbuatannya tersebut. Maka amanlah Belanda di Padang sampai 170 tahun kemudian barulah ada kembali perlawanan terhadap Belanda yang (di)kepalai oleh Tuanku Imam Bonjol yang dinamai Perang Paderi mulai tahun 1803 berakhir tahun 1837 (al-Khatib.108 Beginilah riwayat ringkas perjalanan hidup beliau Tuan Syekh Surau Baru yang telah mengislamkan Koto Tangah. Koto Tangah. Beliaulah. pada waktu itu adalah dengan tidak bersedia membayar pajak kepada pemerintahan Belanda di Kota Padang. Padang. penulisnya kembali menegaskan tentang kepahlawanan Syekh Surau Baru.t. Syekh Paseban. perlawanan terhadap Belanda juga dilakukan oleh ulama tarekat Syattariyah di Koto Tangah.

Salah satu organisasi sosial yang berikutnya menjadi sebuah partai di Sumatera Barat adalah Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti). Setelah Indonesia merdeka. Agaknya penulis naskah ingin mempertegas bahwa Syekh Surau Baru. ulama tarekat Syattariyah di Koto Tangah. Syekh Surau Baru melawan Belanda waktu Belanda akan menjejakkan kakinya di Pantai Padang sedangkan Tuanku Imam Bonjol mengusir Belanda yang telah menduduki Minangkabau. 2001: 39). memaklumatkan agar menumbuhkan berbagai organisasi dan partai. maka banyaklah lahir parta-partai di negeri ini. Padang. 2002: 899). 170 tahun (seratus tujuh puluh tahun) sebelum Tuanku Imam Bonjol.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. termasuk juga di Sumatera Barat (Nasution. Oleh karenanya. Itu perbedaan perjuangan Syekh Surau Baru dengan Syekh Paseban. Syekh Muhammad Jamil Jaho Padangpanjang dan Syekh Abdul Wahid Tabekgadang. Hatta. Syekh Muhammad Abbas al-Kadi Bukittinggi. pengikutnya harus menghormatinya. — Pramono dan Bahren ru. Sejak 22 Nopember organisasi sosial ini berubah menjadi partai politik dengan nama Partai Politik Islam Perti (Nasution. Wakil Presiden Republik Indonesia. Perti mengikuti aliran Ahlul Sunnah wal Jamaah dalam itikad dan mazhab Syafi’i dalam syariat dan ibadat. penduduk Koto Tangah sudah tujuh puluh lima persen masuk ke dalam Partai Islam Perti. Perti adalah organisasi sosial yang didirikan pada tanggal 5 Mei 1930 di Candung. beliaulah yang mulanya melawan Belanda di Minangkabau ini. Hal ini dikarenakan ulama-ulama yang berwiba97 . Beliau Syekh Surau Baru dapat ditawan Belanda dimasukkannya ke dalam rajam dan wafat di situ dan Tuanku Imam Bonjol ditawan Belanda dibuangnya ke Manado dan wafat di situ (al-Khatib. 2002: 899). Setelah adanya maklumat ini. Pada awalnya. menjelang Pemilihan Umum pertama 1955. Padang adalah benar-benar berjiwa pahlawan. Padang selain orang alim juga anti penjajah.. agar beroleh berkah. Bukittinggi. Hal ini juga sekaligus mempertegas bahwa ulama tarekat Syattariyah di Koto Tangah.. Kondisi seperti itu juga ikut mempengaruhi pandangan ideologis tarekat Syattariyah di Koto Tangah. M. Hal ini untuk menolak tudingan Belanda bahwa Indonesia bukanlah negera yang sah. Dalam naskah otobiografi Sejarah Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib disebutkan bahwa. Pendirinya adalah para ulama yang terdiri dari Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung.

Pada waktu itu pemerintah melalui Wakil Presiden Muhammad Hatta menganjurkan bahwa setiap warga masyarakat untuk masuk ke dalam salah satu partai. dan pemerintah tidak menjamin keamanan orang seperti itu. 2002: 47-57). Sebab partai ini berdasarkan mazhab Syafi’i dan beritikad ahlu sunah waljamaah” (al-Khatib. Oleh karena itu. 2002: 47). No. Dalam konteks kepartaian tersebut. Partai Sarikat Islam. Hal ini ia lakukan tidak lain karena menginginkan pilihan penduduk Koto Tangah. maka orang tualang ‘orang lepas. 2002: 6). Di satu sisi. padahal ia bukanlah pengurus atau pejabat dalam tubuh Partai Islam Perti itu. dengan banyak pertimbangan dan dari hasil pengamatan Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib. ia juga menempelkan poster-poster itu di berbagai tempat di Koto Tangah. Jika tidak masuk ke dalam salah satu partai. Padang. Padang tidak salah. Menarik dikemukakan bahwa.setelah saya selidiki beberapa partai Islam seperti Masyumi. Tidak hanya itu. Dalam hal ini ia mengatakan bahwa: “. Menurut penuturannya. Partai Islam Perti-lah yang sesuai dengan paham tarekat Syattariyah. 7. Nah«atul Ulama. Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib pernah giat memperjuangkan Partai Islam Perti di Koto Tangah.. Hal itu dimungkinkan karena Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib benar-benar terhimbau oleh anjuran pemerintah pada waktu itu. maka jatuhlah pilihan saya kepada Perti. 1. Padang yang dilakukannya sendiri. 2009: 91 . pada waktu menjelang Pemilihan Umum pertama 1955. yakni partai Islam yang sesuai dengan paham tarekat Syattariyah. Poster-poster dan simbol-simbol partai ia buat sendiri dan dengan biaya sendiri.Jurnal Lektur Keagamaan. Angku Talaok bergabung dengan Partai 98 . dan Partai Islam Perti.108 wa—termasuk Imam Maulana Abdul manaf Amin al-Khatib—tarekat Syattariyah di Koto Tangah telah masuk ke dalam partai itu (alKhatib.. orang yang tanpa ikatan sebuah sistem aturan (pemerintah)’ namanya. Vol. ia giat mengampanyekan Partai Islam Perti. Hal ini memang terlihat agak berlebihan. menjelang Pemilihan Umum pertama tahun 1955—saat di mana masing-masing partai gencar berkampanye mencari dukungan—terjadi ketegangan hubungan antara Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib dengan Angku Talaok akibat perbedaan pilihan partai di antara mereka (al-Khatib.

dan beberapa surau lain di sekelilingnya. pendiri organisasi ini yang masih hidup pada waktu itu.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. Angku Inyik Adam mengajaknya untuk masuk ke dalam Partai Golkar. sementara di sisi lain. adapun Beliau ini (Syekh Surau Baru–pen. Dalam hal ini menarik disimak penolakan ajakan untuk masuk ke partai Golkar oleh Angku Inyik Adam berikut ini: “Begini Inyik.. Syekh Sulaiman ar-Rasuli. bergerak di bidang sosial. agar mudah mendapat bantuan dari pemerintah untuk renovasi makam Syekh Surau Baru di Batusingka. banyak dan bahkan sebagian besar pengikut tarekat Syattariyah di Sumatera Barat yang masuk ke partai Gokar setelah Perti kembali berstatus organisasi nonpolitik. 2002: 63). Imam Maulana Abdul Manaf Amin menjadi anggota Partai Islam Perti. yang sebetulnya merupakan kawan seperguruan Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib sendiri ketika belajar dengan Syekh Paseban.H. Polemik tentang partai juga dialami oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib di era Orde Baru. Kemelut yang kurang terbenahi ini sangat merugikan bagi tujuan semula organisasi.. Bersyafar ini adalah atas nama kaum muslimin. Penting dikemukakan di sini bahwa. bukan pula ziarah bersama ini (bersyafar) tidak atas nama partai. yang telah lebih dahulu mengajar di surau Batang Kabung. adalah Imam Maulana Abdul Manaf Amin. Burhanuddin ar99 . Ia pernah bersilang pendapat dengan Angku Inyik Adam. Maka pada tahun 1969. Saat itu. tidak dihitung partainya. mendekritkan agar kembali kepada khitah semula. Kalau saya masuk Golkar berarti ziarah bersama (bersyafar) ini tentu Syafar orang Golkar kata orang” (al-Khatib.. ajakan itu ditolak oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin.. Angku Talaok pernah diminta oleh para penganut tarekat Syattariyah di Batang Kabung dan sekitarnya untuk membantu mengajar di beberapa surau mereka. Akan tetapi.) bukan orang partai. — Pramono dan Bahren Islam Indonesia (PII). Padang. khalifah tarekat Syattariyah dari Syekh Paseban. Dekrit ini hanya diterima oleh sebagian saja yang dipimpin oleh putranya K. Pengelolaan bidang pendidikan dan dakwah seolah-olah terlupakan kalau tidak dapat dikatakan terabaikan sama sekali. yaitu status nonpolitik. Saat itu. Pada awal tahun 1950-an. Koto Tangah. Perti mengalami perpecahan di dalam tubuh organisasinya dengan adanya pro dan kontra terhadap gagasan Nasakom yang dicetuskan oleh Soekarno.

2003: 268). ulama yang mencampuradukkan diri dengan politik itu adalah khianat pada tugas keulamaannya (Samad. akan lebih mudah untuk memberikan pelajaran tarekat kepada orangorang yang berada di dalam Golkar. yang banyak sekuler dan bercampur agamanya (Samad. Menurut ulama ini. menurut mereka pilihan guru kepada Golkar adalah petunjuk Allah yang harus diterima. Padang Pariaman yang lama mengajar di Batang Kabung. Akan tetapi. Hal ini jika dikaitkan dengan kecenderungan pendapat ulama dalam tarekat Syattariyah yang besar pengaruhnya terhadap sikap kaumnya. Vol. Bagi orang awam. mereka mengajukan dalil. 7. Dalam konteks penghargaan ulama pemimpin Minangkabau dalam bentuk penulisan riwayat hidupnya dan penyebaran buku-buku hasil karyanya banyak ditemukan di Minangkabau. Bagi yang sedikit maju dan cerdas. yakni Golkar. penulisan riwayat hidupnya. Bentuk penghargaan yang lain terlihat juga dalam pelestarian cita-cita dan perjuangan ulama terdahulu. Ada lagi alasan ulama bahwa merubah dan memperbaiki dari dalam jauh lebih mudah daripada memperbaiki dari luar. Bentuk penghargaan yang terakhir ini sangat menarik dan penting untuk dijelaskan. 2009: 91 . penghormatan kepada ulama-ulama pemimpin mereka terlihat pada gelar-gelar yang diberikan. 1. 2003: 266). No. Penghormatan terhadap Ulama Pemimpin Kaum Tua Di kalangan Kaum Tua di Minangkabau.108 Rasuli. Berbagai argumen muncul dari ulama-ulama tarekat Syattariyah yang bergabung ke dalam partai Golkar. Dengan masuk ke dalam Golkar. Ia banyak menulis sejarah para 100 . Sangat dimungkinkan bahwa Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib yang juga menolak ajakan masuk ke Golkar karena terpengaruh sikap Tuanku Salif ini. Inyiek. Koto Tangah. Misalnya. ada juga ulama tarekat Syattariyah yang dengan tegas menolak bergabung dengan Golkar. Padang. penyebaran buku-buku hasil karyanya. misalnya sebutan Tuanku. dan kemudian dalam menyalurkan aspirasi politiknya bergabung dengan Golkar. Salah satu bentuk penghargaan itu adalah naskah-naskah karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib. daripada kita menumpang kapal kecil lebik baik naik kapal besar. almarhum Tuanku Salif dari Sungai Sarik.Jurnal Lektur Keagamaan. Syekh dan Maulana. menurut mereka.

yaitu orang yang menghormati dan memuliakan ulama dan mudah-mudahan Allah memberi berkat atas usaha saya. “. dan Syekh Surau Baru. amin ya rabbil ‘alamin. maka saya termasuk orang yang dianjurkan Nabi tadi.M menyuruh kita menghormati dan memuliakan ulama. maka akan mendapat berkah dan keselamatan baik di dunia maupun di akhirat. Dalam teks yang terdapat dalam hampir seluruh naskah karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin alKhatib menempatkan guru sebagai orang yang harus dihormati.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. apakah bilangan yang beliau pakai untuk menentukan tanggal satu hari bulan Arab.. maka harus diluruskan. Demikianlah supaya kita berhati-hati menerima sejarah dan menerima tarekat dari guru tarekat. Tentu kita lebih menghormati ulama dari pada mereka. Batang Kabung. yang dimaksud dengan “ketiga buku sejarah ini” dalam kutipan di atas oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib adalah teks sejarah Syekh Abdurrauf. Saya yang menulis adalah salah seorang dari murid beliau yang bernama Haji Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib.. — Pramono dan Bahren syekh dan ajaran-ajarannya. akhir-akhir ini banyak pula keluar di surat-surat kabar dan majalah-majalah yang memutarbalikkan sejarah beliau yang berdua ini yang jauh berbeda dengan yang dalam buku ini. Dengan menulis sejarah guru atau syekh.dengan adanya ketiga buku sejarah ini dapatlah saudara-saudara yang menjadi pengikut dan pencinta Syekh Abdurrauf dan Syekh Burhanuddin mengetahui bagaimana beliau-beliau ini mengembangkan agama Islam dan dapat kejelasan apakah mazhab beliau. yang kesimpulannya penghuni langit dan bumi menghormati ulama. Tidak surat-surat kabar dan majalah saja yang memutarbalikkan sejarah beliau-beliau ini. Begitu pula ikan-ikan dalam laut.. Padang” (al-Khatib. Amin.sudah jelas oleh kita bahwa Nabi kita Muhammad S.. Tetapi juga guru-guru tarekat kampung memutarbalikkan pula sejarah Syekh Abdurrauf dan sejarah Syekh Burhanuddin. Penulisnya mengharapkan 101 . Sebab. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut ini: “.. Syekh Burhanuddin. supaya tarekatnya diterima oleh orang kampung yang buta ilmu pengetahuan agama. Berikut ini dapat dilihat gambaran tentang bantahan terhadap kritikan dari pihak luar. 1936: 5). jangan asal dimasuki saja” (al-Khatib.. Perlu dijelaskan di sini bahwa. Jika ada golongan lain mengkritik ajaran guru. Syekh Paseban ini. Mudah-mudahan dengan menulis sejarah beliau. 2001: 12-13). Ajaran guru adalah sesuatu yang benar dan tidak boleh dibantah.

karena menurut fatwa gurunya yang benar adalah mengerjakan salat tarawih itu dua puluh tiga rakaat. 1. Menghormati guru juga diyakini berimplikasi terhadap cepatnya pemahaman ilmu yang diajarkan oleh sang guru. Dalam teks sejarah Syekh Abdurrauf Singkil misalnya. yaitu pagi-pagi didukung guru di hulu dari tempat tinggalnya ke tempat dia mengajar. dikisahkan tentang bagaimana bentuk penghormatannya kepada gurunya. Untuk menentukan awal bulan Ramadan dilakukan dengan ru’yah (melihat bulan) terlebih dahulu. Tambahan lagi. paham gurulah yang benar.. sebagai mengkhidmati guru beliau tetap mendukung guru dari tempat tinggalnya kepada tempat dia mengajar ilmu di Masjid Nabawi. sebagian besar pengikut tarekat Syattariyah tidak akan salat Jumat apabila khutbah dilaksanakan tidak menggunakan bahasa Arab. Artinya itu-itu saja pelajaran yang diberikan oleh Syekh Ahmad al-Qusyasyi hingga sampai kepada masa akan kembali pulang. Namun. Sangat patuh dan sangat hormat kepada guru apa yang diperintahkannya oleh guru ti- 102 . Jika patuh dan hormat terhadap guru. Beliau tetap hormat dan khidmat serta patuh terhadap guru beliau. bagaimana mereka menentukan awal bulan Arab. di dukung pula ke tempat tinggal beliau. Syekh Ahmad al-Qusyasyi.108 bahwa dengan adanya ketiga sejarah syekh tersebut. Mereka tidak akan ikut salat tarawih di bulan Ramadan.tetapi pelajaran [bang] yang [berikan] diberikan oleh Syekh Ahmad Qusyasyi hanya surah al-Baqarah saja. 2009: 91 . Begitulah kerja beliau Syekh Abdurrauf tiap-tiap harinya. No. Sudah itu terus pergi gembala unta ke tengah padang. maka pengikut tarekat Syattariyah akan memahami bagaimana ketiganya beramal ibadah. Misalnya. begitu hati beliau terhadap guru tidak menaruh bosan dan berkecil hati. Selain menuntut ilmu juga kerja beliau Syekh Abdurrauf di Madinah adalah mengembalakan unta Tuan Syekh Ahmad al-Qusyasyi tiap-tiap hari. dan seterusnya.Jurnal Lektur Keagamaan. Vol. 7. Oleh karena suatu paham tidak sesuai atau berlainan dengan fatwa guru yang diterimanya. jika salatnya dilakukan sebanyak sebelas rakaat. maka pemahaman ilmu akan datang dengan tidak disangka-sangka. tidak birasak-birasak sekedar lamanya. Begitu pula petang-petangnya setelah memasukkan unta ke kandanganya maka pergi pula menjemput guru ke mesjid. Malahan beliau terima hal yang demikian dengan hati yang ikhlas dan bertawakal kepada Allah swt.. walaupun pemerintah telah mengumumkan awal memasuki puasa Ramadan. maka tidak boleh mengikut paham tersebut. seperti berikuit ini: “.

banyak sedikitnya memperlihatkan pandangan tentang hubungan guru-murid yang secara eksplisit mengarahkan agar para murid dan pengikut tarekat Syattariyah merasa (ataupun diwajibkan) mengenal riwayat syekh yang menjadi gurunya atau guru dari gurunya. yaitu kambing tiap-tiap hari. Kedua kutipan di atas. Amanat “tidak kenal menyerah” itu senantiasa terwaris dari guru yang satu ke guru berikutnya. menggambarkan sekaligus mendorong kepatuhan murid kepada guru. Selain mendukung guru juga Burhanuddin menggembalakan ternak Syekh Abdurrauf.. untuk kemudian menjadi suri teladan bagi kehidupannya.. 1992: 20-21). membaca ataupun mendengar orang membacakan riwayat gurunya. kedua kutipan tersebut juga berpesan kepada pembacanya bahwa sebuah ilmu tidaklah diperoleh dengan mudah. Di samping itu.. sehingga pelajaran diperoleh dengan mudah dan sempurna.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. agar ilmu yang didapat beroleh berkah. — Pramono dan Bahren dak pernah membantah dan waktu bersalam mencium tangan guru” (alKhatib. Dalam teks sejarah Syekh Burhanuddin juga dikisahkan tentang bentuk penghormatan yang dilakukan kepada gurunya. 1936:8-9). dan lagi menggali tebat (kolam) ikan di sekeliling masjid. adab kepada guru. 103 . memuliakan guru agar mendapat syafaatnya (limpahan rahmat). Teks-teks yang terkandung dalam naskah-naskah karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib. yaitu di masjid. Kepatuhan itu akan membawa berkah. Ia harus diperoleh dengan perjuangan yang sungguh-sungguh tidak kenal menyerah.” (al-Khatib. yaitu mendukung guru dari tempat tinggalnya ke tempat mengajar. Oleh karena itu orang berusaha untuk memiliki. Syekh Abdurrauf Singkil. seperti berikut ini: “Adapun kaji yang diberikan yang diberikan oleh Syekh Abdurrauf kepada Burhanuddin adalah surah al-Fatihah saja tidak berasak-asak sekedar lamanya. mengetahui riwayat guru adalah sebuah keharusan karena itu bermakna penghormatan kepada guru. Adapun adab dan tertib Burhanuddin kepada gurunya Syekh Abdurrauf di dalam menuntut ilmu tidak ada ubahnya seperti adab dan tertib Syekh Abdurrauf pula terhadap gurunya. Bagi para penganut tarekat Syattariyah.. Syekh Ahmad al-Qusyasyi. Begitulah kerja Burhanuddin selama menuntut ilmu di Aceh dalam masa tiga puluh tahun.

di kalangan Syattariyah berlaku ungkapan bahwa ”seorang murid di hadapan guru ibarat sesosok mayat di tangan orang yang memandikannya” (Samad. dapat memperlakukan muridnya sesuai dengan aturan yang ditetapkan. 1. Karena itu. Selain itu.108 Oleh karena merasa “wajib” untuk mengetahui riwayat dan ajaran para syekh tersebut. No. maka banyak kalangan penganut tarekat Syattariyah. apalagi membantah guru. Syekh Burhanuddin. penghormatan dan penghargaan terhadap guru. ada tiga hal yang akan terjadi bagi seorang murid yang durhaka kepada gurunya. 2003: 147-148). Setidaknya menurut keyakinan mereka. Sebaliknya.Jurnal Lektur Keagamaan. Vol. Perihal banyaknya peminat naskah-naskah karyanya itu. yaitu: 1) Allah akan menyempitkan rezekinya di dunia. Dari naskah-naskah itu jelas bahwa syekh sebagai pemimpin menjadi sentral dalam pembentukan ideologi penganut tarekat Syattariyah Kaum Tua) di Minangkabau. sebagai sumpah setia murid kepada gurunya. Sebaliknya. menarik untuk dipaparkan tentang sejarah teks yang menceritakan sejarah Syekh Abdurrauf. 7. Seorang guru melalui prosesi bai’ah yang sudah dilakukan sebelumnya. mereka selalu berziarah mengunjungi makam untuk mendapatkan berkah sekaligus sebagai bukti kesetiaan terhadap guru tersebut. murid secara sukarela harus menerima dan mematuhi segala bentuk aturan yang telah ditetapkan guru kepadanya. 2009: 91 . dalam pengajian tarekat Syattariyah dilakukan atas dasar pandangan bahwa guru adalah orang yang suci dan dekat kepada Allah. Kedurhakaan terhadap syekh akan berakibat luas terhadap kehidupan murid. Oleh karena itu. Dalam pandangan mereka roh seorang syekh yang sudah meninggal masih dapat memberikan pertolongan kepada murid-muridnya. kedurhakaan terhadap syekh akan menimbulkan malapetaka bagi murid-murid. 2) Allah akan mencabut berkat ilmu yang telah dipelajarinya dari sang guru. khususnya di Koto Tangah. baik secara duniawi maupun setelah ia meninggal. Murid tidak boleh banyak mempertanyakan tentang “mengapa” dan “apa sebabnya”. Perintah dan larangan guru bersifat mutlak dan mengikat. dan Syekh Surau Baru. Padang yang ingin memiliki naskah-naskah karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib. Bahkan penghormatan yang demikian masih terus berlangsung meskipun guru yang bersangkutan telah meninggal dunia. 3) Tatkala jiwa akan berpisah dengan badan (me- 104 .

Dr. sehingga dia mati dalam keadaan tidak beriman (al-Khatib. — Pramono dan Bahren ninggal). penghormatan terhadap pemimpin memberikan tauladan agar murid pun harus berperilaku (beribadah) seperti sang guru: pola hidup sederhana (zuhud)dan tidak ambisius (qan±’ah). khususnya pada golongan Kaum Tua. Penutup Pertemuan Islam dengan budaya lokal Minangkabau telah menjadikan corak kepemimpinan yang khas. Tulisan itu memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi kemajuan ummat. Nyoman Kutha. Depok: Pascasarjana UI. “Gerakan Kaum Tua di Minangkabau”. 1984. Ensiklopedi Islam Indonesia (Jilid 3 O-Z). Harun (Ketua Tim). Pertama. Islam dan adat Minangkabau. Latief. 1988. khususnya dalam membangun kepribadian dan moral. Laporan Penelitian. “Postkolonialisme Indonesia”. Denpasar : Program Pascasarjana Program Doktor (S3) Kajian Budaya Universitas Udayana. Kekhasannya ini tampak pada pola kepemimpinannya. Nasution. Mereka dihormati. tidak hanya masalah keagamaan tetapi juga masalah sosial budaya serta politik yang mereka hadapi. Prof. riwayat dan ajarannya dijadikan rujukan untuk pengambil keputusan. Para ulama pemimpin Kaum Tua itu berperan tidak hanya di bidang keagamaan saja. Desertasi. Jakarta: IAIN Syarif Hidayatullah. Jakarta: Pustaka Panjimas. riwayat dan ajarannya ditulis dan disebarkan. Allah akan mencabut iman yang ada di dada murid. 2002.[] Daftar Pustaka Fathurahman. Hamka. Suaranya didengar. 105 . Di antara sumbangannya yang dapat dicatat adalah sebagai berikut ini. Jakarta : Djambatan. Kedua. (Disertasi S3). sebagai penerang di dunia bahkan sampai di akhirat. tingkah lakunya diikuti. tetapi juga di bidang sosial-budaya dan politik. 1992: 30). “Tarekat Syattariyah di Dunia Melayu-Indonesia: Kajian Atas Dinamika dan Perkembangannya Melalui Naskah-Naskah di Sumatera Barat”..Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. M. H. Oman. 2003. Sanusi. Ratna.. 2006. dkk.

Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah. tt. M dkk. 1. 2002. 2004. naskah tulisan tangan koleksi Imam Maulana Abdul Manaf Amin. dan Dinamika Tarekat di Minangkabau” (disertasi). 1936. Padang Sumatra Barat. Sejarah Ringkas Syekh Paseban al-Syatari Rahimahulallahu Taala. Padang Sumatra Barat.108 Samad. Duski. naskah tulisan tangan koleksi Imam Maulana Abdul Manaf Amin. No. Syair Sunur: Teks dan Konteks Otobiografi Seorang Ulama Minangkabau Abad Ke-19. Imam Maulana Abdul Manaf Amin. naskah tulisan tangan koleksi Imam Maulana Abdul Manaf Amin. Batang Kabung. Padang Sumatra Barat ------. Koto Tangah. ------. Koto Tangah. Vol. Suryadi. Perubahan. Koto Tangah. 2004. Kitab Riwayat Hidup Imam Maulana Abdul Manaf Amin. naskah tulisan tangan koleksi Imam Maulana Abdul Manaf Amin. Padang Sumatra Barat. Batang Kabung. ------. “Manuskrip dan Skriptorium Minangkabau. 7. Inilah Sejarah Ringkas Auliyaullah al-Salihin Syekh Abdurrauf (Syekh Kuala) Pengembang Agama Islam di Aceh. 1992. Laporan Penelitian Kelompok Kajian Puitika Fakultas Sastra Unand. Batang Kabung. ------. 106 . Inilah Sejarah Ringkas Auliyaullah al-Salihin Syekh Burhanuddin Ulakan yang Mengembangkan Agama Islam di Daerah Minangkabau. Koto Tangah. Padang : Citra Budaya. 2003. “Tradisionalisme Islam di Tengah Modernisme: Kajian Tentang Kontinuitas. 2001. Batang Kabung. Sejarah Ringkas Shaikh Muhammad Nasir (Syekh Surau Baru). naskah tulisan tangan koleksi Imam Maulana Abdul Manaf Amin. 2009: 91 . Manuskrip al-Khatib. Yusuf. Padang Sumatra Barat. Koto Tangah.Jurnal Lektur Keagamaan. Batang Kabung.

.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua.. 2006) dan Naskah-naskah Tulisannya Gambar 2: Naskah Sejarah Ringkas Auliyaullah al-Salihin Syekh Burhanuddin Ulakan yang Mengembangkan Agama Islam di Daerah Minangkabau (1992: 2) 107 . — Pramono dan Bahren Lampiran: Gambar 1: Imam Maulana Abdul Manaf Amin Al-Khatib (w.

108 Gambar 3: Naskah Sejarah Ringkas Auliya’ullah al-Salihin. 2009: 91 . No. Vol. Pengembang Agama Islam di Aceh (1936: 1) 108 .Jurnal Lektur Keagamaan. Syekh Abdurrauf (Syekh Kuala). 1. 7.

Peran Penting Pernaskahan... — Agus Aris Munandar

Peran Penting Pernaskahan dan Benda Khazanah Keislaman Lainnya dalam Kajian
Arkeologi Islam di Indonesia *
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, Depok

Agus Aris Munandar

This writing is studying the important position of the written data, particularly related to the Islamic classical manuscripts in Islamic archeology. The written data from the written sources in the study of Islamic archeology are as follow: (a) It functions as the supporting study toward the artefactual data; (b) To widen good understanding on the position and the role of the artefact in society at the period; (c) Data from written sources could be the basic of the research and a framework for the study of Islamic archeology; and (d) To encrich interpretation to develop historiography. The position of the written sources is getting more and more important in the stage of historiography as some parts of the archeological studies which are remain unknown can be helped by the study from the written sources. In the end, this effort will be able to open new insight and interpretation and to widen historiographical narration in order to make the study of archeology to be more and more dynamics. Kata kunci: Arkeologi-religi, artefak, naskah, khazanah, historiografi

Pengantar Perkembangan Islam di wilayah Nusantara berdasarkan bukti arkeologis telah terjadi sejak abad ke-11 M. Hal itu didasarkan dengan penemuan nisan Fatimah binti Maimun bin Hibatullah di daerah Leran Gresik Jawa Timur, pada nisan itu dipahatkan angka tahun 475 H atau 1082 (Tjandrasasmita 1986: 2). Berdasarkan hal
Tulisan ini pada mulanya merupakan makalah yang disampaikan dalam Diskusi Pengembangan Wawasan SDM Tenaga Fungsional Puslitbang Lektur Keagamaan, 24 Februari 2009 di Ruang Sidang Badan Litbang Lektur Keagamaan, Jakarta.
*

109

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 109 - 132

itu terdapat dua kemungkinan yang mengemukan, yaitu: (1) tokoh Fatimah yang dimakamkan itu adalah orang Jawa yang telah memeluk Islam, atau (2) ia muslimah pendatang yang karena suatu sebab meninggal dan dimakamkan di Gresik. Selain nisan, dalam kajian para ahli Belanda dahulu tidak melaporkan adanya temuan serta lainnya dari situs nisan Fatimah binti Maimun. Akibatnya tidak ada lagi data yang dapat menyokong terjadinya interpretasi baru atas kasus temuan nisan Fatimah binti Maimun. Masalah nisan Fatimah binti Maimun sebenarnya hanya salah satu contoh saja dari banyak permasalahan kajian arkeologi Islam di Indonesia. Suatu kajian terhadap bentuk religi harus pula menjelaskan 4 hal yang berkenaan dengan eksistensi religi tersebut, yaitu: a. Historical explanations, yaitu usaha untuk menjelaskan keberadaan suatu agama pada suatu masa sejak agama itu mulai ada, bertahan, dan berkembang dalam tahap selanjunya. b. Structural explanations, upaya untuk menjelaskan keberadaan suatu agama berkenaan dengan para penentu perkembangan agama, menjelaskan hal-hal penting yang menjadi dasar terbentuknya masyarakat pemeluk agama. c. Causal explanations, upaya menjelaskan keadaan agama dalam masyarakat dengan mengacu kepada kondisi dan suasana masyarakat sebelum agama itu timbul. d. Functional explanations, menjelaskan suatu keadaan sehingga agama tersebut mempunyai fungsi dalam masyarakat (Spiro 1977: 99—101). Keempat fokus utama kajian agama tersebut kiranya dapat dikerjakan secara baik bilamana berkenaan dengan keadaan agama yang masih hidup di masa sekarang, yang masih ada masyarakat pemeluknya, dan dalam pertalian kekinian. Akan sukar kiranya jika keempat kajian tersebut diterapkan untuk meneliti kehidupan agama yang pernah berkembang di masa silam. Walaupun agama yang dimaksudkan itu sampai sekarang masih ada pemeluknya, namun pemeluk agama masa lalu tentu sudah tiada dan juga secara sosiologis akan berbeda kondisi mereka dengan pemeluk agama masa sekarang. Oleh karena itu kajian keagamaan masa lalu niscaya tidak akan sempurna lengkap, pasti ada yang rumpang. Hal itu bukan karena 110

Peran Penting Pernaskahan... — Agus Aris Munandar

ketidakmampuan peneliti menarik sintesa dan tafsiran, melainkan memang datanya yang terbatas. Data kajian perkembangan agama Islam pada tahap awalnya, tentu bertumpu kepada sumber-sumber tertulis dan data artefaktual yang bersifat fisik. Jika kedua macam data itu dalam kondisi bagus tentu akan membantu memperlancar proses kajian, tetapi seringkali kondisi data yang ada itu telah rusak sebagian, atau hilang. Begitupun dari data yang ada dan masih bertahan hingga kini belum tentu juga dapat dipergunakan dalam kajian, karena memang tidak sesuai dengan permasalahan yang akan dipecahkan. Dalam membahas perkembangan agama dari suatu lingkup kebudayaan, menurut disiplin antropologi sebaiknya harus memperhatikan lima butir unsur agama yang saling berkaitan satu sama lain. Kelima butir itu selayaknya diperhatikan sesuai dengan proporsi data yang tersedia, tergantung pada zamannya serta kualtitas dan kuantitas data yang tersedia. Bagan yang memperlihatkan lima butir unsur religi adalah sebagai berikut:
Bagan I: Unsur-Unsur Religi
SISTEM KEPERCAYAAN

UMAT AGAMA

EMOSI KEAGAMAAN

PERALATAN RITUS & UPACARA

SISTEM RITUS & UPACARA

[Koentjaraningrat, 1980: 80—3]

Apabila dikembalikan kepada ketersediaan data sudah tentu tidak semua butir tersebut dapat dikaji secara baik. Jika membicarakan perkembangan agama di masa silam, tentunya yang masih dapat diamati secara langsung adalah sisa peralatan ritus dan upacara. Sistem kepercayaan yang mungkin termaktub dalam kitab-kitab keagamaan, dan sedikit tentang sistem ritus dan upacara 111

Kontak-kontak dengan para musafir dari India dan Cina sangat mungkin mulai terjadi di awal tarikh Masehi. Sang pemimpin didampingi oleh seseorang yang dituakan. kepada tokoh itulah masyarakat bertanya perihal berbagai hal. fenomena alam. Walaupun demikian ahli para peminat sejarah kebudayaan harus berupaya semampunya dengan --berdasarkan data yang ada-. masih mungkin untuk dikaji. apalagi emosi keaagamaan agak sukar untuk dikemukakan dan dikaji. Nenek moyang bangsa Indonesia merasa tertarik dan 112 . Vol. Kemudian terdapat masyarakat biasa yang menjadi rakyatnya. Jadi mereka tidak mungkin datang ke wilayah-wilayah yang sepi penduduknya. Penduduk kepulauan Indonesia masa itu telah menetap dan membentuk perkampungan. Bantuan analogi itu dilakukan dengan syarat masyarakat yang dijadikan bahan komparasi masih melaksanakan praktek keagaaman yang mirip dengan agama-agama masa silam. langkah kehidupan dan lain-lain. apabila tidak maka tiada mungkin dilakukan. No.132 yang dalam penafsirannya harus meminta bantuan analogi pada masyarakat masa kini. dianggap mempunyai banyak pengalaman. Sedangkan gambaran umat agama. Babakan Perkembangan Kebudayaan di Indonesia Perkembangan kebudayaan Indonesia diawali dan didasari pada kebudayaan prasejarah. emosi keagamaannya pun sukar digali kembali. 7. 2009: 109 . sebab masyarakatnya telah tiada. Tahapan prasejarah yang paling penting di Indonesia adalah masa bercocok tanam tingkat lanjut yang bersamaan dengan berkembangnya kepandaian perundagian. dan luas wawasannya. Masa tersebut sangat mungkin dimulai sekitar tahun 500 SM hingga ditemukannya aksara pertama dalam prasasti di wilayah Indonesia (sekitar abad ke-4 atau 5 M). Dalam periode tersebut mulailah terbentuk komunitas-komunitas yang teratur dipimpin oleh ketua kelompok. Dalam kondisi peradaban masyarakat yang relatif maju seperti itulah pengaruh kebudayaan luar mulai diperkenalkan oleh para musafir India. Agaknya para niagawan dari India atau Cina tersebut berkunjung ke komunitaskominitas nenek moyang bangsa Indonesia yang dapat dianggap berinteraksi.untuk tetap mencoba menjelaskan pula butir-butir tersebut. 1. rumah-rumah mereka panggung.Jurnal Lektur Keagamaan.

bangunan pe-tirtha-an (bangunan air suci). Hanya tiga anasir budaya saja yang sebenarnya diterima dari kebudayaan India. dan di bagian-bagian lain Indonesia mungkin masih dalam zaman proto-sejarah (beberapa daerah telah dicantumkan dalam kakawin Nāgarakrtāgama yang selesai digubah oleh Mpu Prapanca tahun 1365 M).Peran Penting Pernaskahan. dan (3) sistem penghitungan tahun Saka. Zaman berkembangnya pengaruh India dalam masyarakat Indonesia kuna lazim dinamakan dengan zaman Hindu-Buddha atau zaman Klasik Indonesia. Berlandaskan ajaran agama Hindu-Buddha berkembanglah sistem pemerintahan kerajaan. Sumber tradisi juga menyebutkan adanya peranan para ulama dari wilayah Sumatra Barat yang aktif menyebarkan Islam di Sulawesi Selatan. Ketiganya benar-benar merupakan sesuatu yang baru. Berdasarkan sumber-sumber tradisi dapat diketahui bahwa wilayah Indonesia Timur (Nusa Tenggara dan Maluku) menerima Islam karena upaya para mubalig dari pesantren-pesantren di Jawa Timur. dan wilayah Kalimantan Timur.. namun perkembangannya semakin merata mulai abad ke-15 M. dan bangunan pahat batu (rock-cut) yang digarap secara baik. dalam hal ini raja dianggap sebagai dewa yang menjelma ke dunia. bahkan niagawan itu sendiri adalah ulama penyebar Islam. artinya tidak pernah dimiliki sebelumnya oleh masyarakat masa itu. Sekitar pertengahan abad ke-13 M. dalam hal ini bentuk-bentuk arsitektur candi yang tidak pernah sama antara satu bangunan dengan lainnya (unikum). di wilayah Sumatra bagian utara telah berdiri kerajaan Islam pertama di Nusantara. Islam tidak berkembang dalam kurun waktu yang bersamaan di Nusantara. Hubungan niaga yang ramai antara wilayah Indonesia barat dan timur turut mempercepat proses penyebaran agama Islam.. — Agus Aris Munandar perlu untuk menerima kebudayaan dari India oleh karena itu mereka menerimanya. Kemajuan arsitektur bangunan suci juga didasarkan pada kaidah keagamaan Hindu atau Buddha. (2) aksara Pallava. Seraya itu di Pulau Jawa masih berdiri kerajaan Singhasari yang bercorak Hindu-Buddha. Sebelum kedatangan Islam di wilayah-wilayah tersebut telah ada komunitas-komunitas membentuk sistem pemerintahan tradi113 .Dalam jalur niaga tersebut turut serta para ulama penyebar Islam. yaitu (1) agama HinduBuddha. bernama Samudra Pasai.

Di beberapa wilayah terdapat pula masyarakat yang masih mempertahankan aspek-aspek kebudayaan Hindu-Buddha yang telah dipadukan dengan anasir dari agama Islam. bunga teratai dan lainnya lagi pada kepurbakalaan Islam seperti pada bangunan cungkup makam. 7. Aspek kebudayaan hasil perpaduan tersebut dirasakan sangat dominan dalam masyarakat tertentu. tapak dara. tanpa melalui sistem kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha sebagaimana halnya di Jawa. 2009: 109 . antara lain terlihat pada penggunaan atap tumpang pada masjid-masjid kuna yang sebelumnya dipergunakan untuk menaungi candi-candi zaman Majapahit. sehingga hampir-hampir menutupi agama Islam yang secara resmi dipeluk dalam masyarakat.132 sional yang masih bercorak tradisi perundagian. selain ajaran agama itu sendiri terdapat beberapa perolehan lainnya. No. Di beberapa wilayah Nusantara terdapat masyarakat yang sampai sekarang memeluk agama Islam secara taat. tempat merebaknya kebudayaan HinduBuddha yang relatif lama. 1.Jurnal Lektur Keagamaan. 114 . Ornamenornamen masa Hindu-Buddha juga masih dipertahankan di kompleks keraton Islam di Jawa. tubuh makam (jirat) dan juga pada nisannya. cara berpakaian yang hampir menutup seluruh tubuh. misalnya digunakannya huruf Arab. diperkenalkannya sistem persenjataan dengan mesiu. Cukup banyak peradaban Nusantara yang mendapat pembaharuan dalam zaman awal perkembangan agama Islam. dikenalnya tahun Hijriah. Walaupun demikian di Jawa juga terdapat daerah-daerah yang keislamannya relatif menonjol dengan sedikitnya pengaruh dari tradisi lama. Religi yang berkembang pun secara hipotetis masih merupakan pemuliaan terhadap arwah nenek moyang. Lain halnya di Jawa. Penggunaan ragam hias dari masa Hindu-Buddha seperti sulur-daun. maka terdapat fenomena adanya bentukbentuk akulturasi antara Islam dengan tradisi yang telah dikenal dalam agama Hindu-Buddha. Wacana Bentuk akulturasi ketika agama Islam sudah berkembang di Jawa dengan tradisi yang telah dikenal sebelumnya. Dengan demikian perkembangan kebudayaannya dapat dinyatakan dari masa prasejarah protosejarah sejarah dengan masuknya Islam. dan terbentuknya kota-kota pelabuhan baru tempat bermukimnya masyarakat yang telah memeluk agama Islam. Dalam proses dinamika kebudayaan bentuk-bentuk akulturasi tersebut sebenarnya turut memperkaya khazanah peradaban yang ada. Vol. bentuk meander. tanpa adanya bentuk akulturasi dengan kebudayaan yang berkembang sebelumnya.

Akan halnya di wilayah Jawa bagian barat. karya sastra-karya sastra umumnya ditulis dengan aksara Arab atau aksara Jawa dengan bahasa Melayu.Peran Penting Pernaskahan. dan lain-lain. tentang berdirinya suatu kota. Dengan demikian proses akulturasi yang terjadi antara peradaban Eropa barat yang dibawa Belanda dengan kebudayaan daerah-daerah setempat tentunya berbeda dalam hal rentang waktu dan intensitasnya. yaitu Demak (sekitar tahun 1500 M) yang menurut sumber tradisi merupakan penerus kerajaan Majapahit. babad kisah sejarah dari sudut pandang tradisional. — Agus Aris Munandar Dalam bidang kesusastraan masa Islam juga cukup maju. lontara. Begitupun masuknya kekuatan kolonial Belanda di wilayahwilayah Indonesia tidak dalam periode yang sama. dan Arab. dalam masa itu banyak kerajaan Islam di kepulauan Indonesia yang silih berganti tumbuh dan berkembang. tetapi Bali adalah daerah terakhir yang diduduki kekuatan Belanda setelah puputam Klungkung 1906 M.. tambo. tidak seluruh wilayah Indonesia mengalami perkembangan kebudayaan 115 . hanya beberapa saja yang dalam perkembangan kebudayaannya tidak mendapat pengaruh Islam. Jawa. peperangan. salasilah. juga dikenal bentuk suluk yang berisikan ajaran-ajaran tasawuf. Di Jawa selain dikenal bentuk kidung (puisi karya etnis Jawa). dan jatuhnya istana Pakuwan Pajajaran sebagai ibu kota kerajaan Sunda pada sekitar tahun 1579/1580 M. Di luar Jawa dikenal karya sastra dalam bentuk hikayat.. ada daerah yang lebih dahulu berkenalan dengan orang-orang Belanda. mungkin ditandai dengan berdirinya Kesultanan Cirebon. atau kalaupun ada hanya bersifat tipis saja. Hampir seluruh wilayah Nusantara mempunyai lapisan kebudayaan yang dipengaruhi oleh agama Islam. Masa pertumbuhan kerajaan Islam terentang antara abad ke13 hingga 17 M. masuk dan berkembangnya Islam terjadi lebih kemudian. Dengan demikian diskusi tentang pembabakan dalam sejarah kebudayaan Indonesia merupakan hal yang agak rumit. Di wilayah Jawa Tengah perkembangan Islam ditandai dengan berdirinya kerajaan Islam pertamanya. Setelah pertumbuhan kebudayaan Hindu-Buddha menyusul kemudian masuk dan berkembangnya Islam yang berbeda-beda di tiap wilayah. dan lain-lain lagi. Akibatnya dapat dipahami apabila di wilayah tertentu Indonesia pengaruh kebudayaan Eropa (Belanda) jauh lebih kentara. kerajaan.

2. 4. maka di Pulau Dewata masa proto-sejarahnya relatif lebih lama daripada yang berlangsung di Jawa. Sebagai contoh berikut diuraikan bagan perkembangan kebudayaan di Jawa. 2009: 109 . hal itu sangat mungkin terjadi karena: 1. Terdapatnya etnis yang secara sadar menolak adanya pembaruan akibat pergaulan dengan kebudayaan luar tersebut. Berdasarkan adanya macam perbedaan tersebut.Jurnal Lektur Keagamaan. Perkembangan kebudayaan di Bali terlihat dalam bagan berikut: Bagan III : Perkembangan Kebudayaan di Bali Apabila menelisik data sejarah dan arkeologi. 7. Wilayah-wilayah tertentu mempunyai corak kebudayaan yang berbeda dari yang lainnya. namun prasasti yang ditemukan di Bali sendiri baru 116 . Intensitas “pergaulan” yang relatif mendalam. Pulau Bali telah disebut-sebut keberadaannya oleh berita Cina dinasti T’ang dan prasasti-prasasti di Jawa dalam abad ke-8. sebab Bali mempunyai perkembangan kebudayaan yang tidak banyak dipengaruhi anasir budaya luar. 1. pengaruh itu terjadi baru awal abad ke-20 M. No.132 dalam tahap-tahap yang sama. Vol. maka garis perkembangan kebudayaan di wilayah-wilayah Indonesia menjadi bervariasi. 3. Masa “pergaulan” dengan kebudayaan luar berlangsung cukup lama. Sedikitnya pengaruh kebudayaan luar. Bagan II : Perkembangan Kebudayaan di Jawa Garis tersebut akan berbeda apabila dibandingkan dengan kebudayaan yang berkembang di Pulau Bali. walaupun terdapat beberapa daerah yang memiliki perkembangan yang hampir mirip.

1980) Masa protosejarah di wilayah Maluku utara agaknya berlangsung cukup lama (antara awal tarikh Masehi hingga sekitar abad ke14 M)... Begitupun di Bali tidak pernah berdiri kerajaan Islam sebagaimana di Jawa atau Sulawesi selatan. secara ringkas dapat terlihat pada bagan berikut: Bagan IV : Perkembangan Kebudayaan di Wilayah Maluku Utara (Putuhena. Sudah tentu wilayah-wilayah lainnya di Indonesia akan mempunyai tahapan perkembangan kebudayaan yang berbeda-beda pula. hal itulah yang sebenarnya menjadi salah satu masalah yang harus diperhatikan manakala hendak disusun suatu historiografi tentang kebudayaan. Masa kolonial lebih awal terjadi di daerah tersebut. sebab tercatat penguasa pertama di Ternate ialah Sultan Zainal Abidin (1486-1500 M). — Agus Aris Munandar dijumpai dalam tahun 835 S (913 M) dalam masa pemerintahan Sri Kesari Warmadewa (Goris 1965: 9). Mengwi dan lain-lain. Sementara itu bukti tertulis lokal yang menceritakan perihal daerah itu sendiri baru didapatkan pada paruh pertama abad ke-15 M. ketika daerah tersebut telah dikenal dalam catatan para pendatang dan sumber-sumber tertulis etnis lain di Indonesia. Buleleng. Di wilayah Maluku utara perkembangan kebudayaannya pun berbeda pula dengan daerah lainnya. pada waktu yang bersamaan dengan tumbuh kembangnya kesultanan-kesultanan Islam. karena politik perdagangan cengkeh bangsa-bangsa barat yang berebutan untuk menguasai Maluku Utara. Karangasem. tokoh inilah yang mengalami masa transisi dalam sistem pemerintahannya.Peran Penting Pernaskahan. seperti Klungkung. di Bali berkembang kerajaan-kerajaan kecil dengan latar belakang Hindu-Bali. Walaupun demikian tahap perkembangan kebudayaan 117 . semula dari sistem tradisional kolano ke bentuk kesultanan (Putuhena 1980: 268). Tahapan perkembangan kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha tidak dimiliki di wilayah Maluku Utara.

132 seperti itu harus dijadikan acuan kronologis demi untuk memudahkan penulisan dan agar pembicaraan tidak berkembang menjadi tidak terarah. Sebab kronologi seperti itu merupakan kerangka besar yang dapat dijadikan patokan untuk penulisan sejarah kebudayaan Indonesia secara garis besar. Nilai teori (ilmu 118 . Beberapa nilai yang dijadikan sudut pandang adalah: (1) nilai teori. No. pemimpin hanya melaksanakannya saja. (2) nilai agama. Berdasarkan data yang ada. (3) nilai seni. diagram perkembangan kebudayaan di wilayah Indonesia sebelum masuknya pengaruh asing (baca: India) adalah sebagai berikut: Bagan V: Perkembangan Kebudayaan di Wilayah Indonesia sebelum Masuknya Pengaruh Asing Dalam diagram yang memperlihatkan masa prasejarah dan protosejarah tersebut terlihat nilai kuasa cukup rendah bersebrangan dengan nilai solidaritas yang tinggi. Nilai-nilai Penting dalam Kebudayaan Indonesia Sutan Takdir Alisjahbana (1982) pernah mengemukakan beberapa diagram yang berkenaan dengan perkembangan kebudayaan di Indonesia dipandang dari segi nilai-nilai. 7.Jurnal Lektur Keagamaan. 1. 2009: 109 . Semua aspek kebudayaan yang ditelaah dalam suatu historiografi kebudayaan sudah sewajarnya apabila mengikuti kronologi yang dapat dianggap “seragam” sejak masa prasejarah hingga zaman Kemerdekaan. Vol. dan (6) nilai solidaritas. Maklum masa itu rasa kebersamaan dari masyarakat manusia yang menghuni suatu permukiman sangat nyata. (4) nilai ekonomi. keputusan diambil dengan musyawarah warga. (5) nilai kuasa.

dan Cina selatan. kebudayaan manusia berada dalam tahapan mitos. — Agus Aris Munandar pengetahuan) masih rendah. Asia Tenggara. berlabuh di berbagai bandar antara India. sedangkan nilai religi tinggi sebab masyarakat manusia masa itu kehidupannya masih diliputi oleh suasana religius. karena itu bentuk-bentuk kesenian awal yang mengandung anasir estetika telah dibuat. Gambarannya sebagai berikut: Bagan VI: Perkembangan Kebudayaan di Wilayah Indonesia pada Masa Kearajaan-Kerajaan Islam Dalam Bagan VI diperlihatkan bahwa nilai seni tidak terlalu berkembang. yang ada adalah ekonomi barter yang setara. Nilai seni belum begitu berkembang. Diagram-diagram itu pada dasarnya hendak menunjukkan secara visual bahwa perkembangan kebudayaan di Indonesia berbeda pada tiap periode. Nusantara. sedangkan nilai ekonomi pada masa perkembangan Islam di Nusantara cukup tinggi. karena manusia masa itu mungkin belum mengerti tentang konsep untung dan rugi. Diagram itu berbeda bentuknya ketika diterapkan dalam kebudayaan masa perkembangan dan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia.. Gagasan berestetika sudah barangtentu telah mulai muncul.. bahkan ada beberapa pembatasan berkesenian.Peran Penting Pernaskahan. Banyak niagawan Islam yang berlalu-lalang membawa barang dagangan dalam kapal-kapal niaga mereka. Nilai ekonomi pun rendah. sebab data yang tersedianya pun berbeda pula. Oleh karena itu tiap periode dalam mempunyai 119 . walaupun bentuk-bentuk awal berkesenian telah dirintis oleh masyarakat manusia.

teka-teki. baik sejarah ataupun arkeologi. dan bangun penafsiran yang diharapkannya. yaitu berita tradisi lisan seringkali diabaikan.akan ditemukan data yang dapat menyokong sumber tertulis dan data arkeologis. 3. 2.Jurnal Lektur Keagamaan. Arkeologi Islam Indonesia Sebagai Arkeologi-Sejarah Dalam kajian arkeologi terdapat data utama yang penting. misalnya dalam prasasti (piagem) karya-karya sastra. Vol. pastinya akan berbeda-beda dalam setiap masa. yaitu : 1. Tradisi lisan yang masih mungkin mengendap dan merupakan ingatan bersama (collective memory) dalam masyarakat baik di Jawa ataupun di Bali. berbagai ornamen dan sebagainya. peribahasa dan lainnya. Data yang sudah sewajarnya diperhatikan dalam mengkaji arkeologi-religi masa perkembangan Islam di Indonesia dapat dibagi dalam tiga jenis. No. atap ketiga (puncak) dahulu hancur karena tersambar oleh tongkat Sunan Gunung Jati. goa pertapaan. Contoh data dalam bentuk tradisi lisan adalah dongeng. dan dalam setiap perkembangan masyarakat yang mengusung kebudayaan sezaman. menara.132 kekhasan dan fokus perhatian yang berbeda-beda apabila hendak dituangkan dalam suatu kajian ilmu masa lalu. kolam wudu. Artefak secara sederhana dapat diberi batasan sebagai benda hasil karya manusia masa 120 . legenda. Wacana Dalam melakukan kajian jenis data ketiga. sisa istana. Para peneliti hendaknya mampu menggunakan ketiga macam data tersebut sesuai dengan tujuan studi. 2009: 109 . yaitu data kebendaan yang lazim disebut artefak. dan lain-lain. permainan rakyat. mushalla. 1. Tradisi lisan memang dipandang mutunya lebih rendah daripada kedua data lainnya. Sebab tidak semua macam data itu tersedia dalam bobot yang sama. Data arkeologis seperti bangunan masjid. 7. mitos. berita asing. Data yang tersirat dalam berbagai sumber tertulis. walaupun demikian tetap perlu diperhatikan mengingat di dalamnya -jika dicermati dengan baik. Misalnya di Cirebon terdapat legenda bahwa atap tumpang masjid Sang Cipta Rasa hanya dua.

piagem. Oleh sebab itu. surat-surat kerajaan atau pribadi.. maka kajian arkeologi-sejarah selain bertumpu kepada kajian artefak. Walaupun telah ada bukti tertulis kajian arkeologi-sejarah tetap mendasarkan data utamanya kepada objekobjek kebendaan (artefak). Bagan VII: Unsur-Unsur Arkeologi Islam 121 . Apabila kajian prasejarah sepenuhnya mempelajari artefak melalui berbagai metode untuk menelaah artefak. dan bentuknya bermacam-macam sesuai dengan keperluan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kajian arkeologi-sejarah di Indonesia meliputi masa perkembangan agama Hindu-Buddha dan juga masa perkembangan Islam. arsip. yaitu Arkeologi-Prasejarah dan Arkeologi-Sejarah (historical archaeology). dan lain sebagainya. naskah-naskah kuno. Jadi pada prinsipnya kajian arkeologisejarah berada dalam periode ketika di suatu bangsa telah mengenal bukti-bukti tertulis. lalu untuk pemahaman lebih lanjut tentang sesuatu artefak.. Sebagaimana diketahui bahwa ilmu arkeologi terbagi dalam dua ranah besar. — Agus Aris Munandar lalu. dinamakan arkeologi sejarah yang berarti kajian arkeologi yang memanfaatkan juga sumber-sumber sejarah. dipergunakanlah data dari berbagai sumber tertulis sezaman yang mungkin mendukung kajian terhadap artefak. juga memanfaatkan data informasi sumber tertulis berbentuk prasasti. dan sudah barang tentu masa kolonial dan masa selanjutnya dalam era Republik Indonesia. yaitu berbagai berita tertulis. berita asing dokumen. peta kuno.Peran Penting Pernaskahan.

batik. Apabila data tertulis yang digarap terlebih dahulu. pahatan stilasi. No. Peninggalan khazanah keislaman itu antara lain berupa: 1. b. kereta. Keramik asing ataupun lokal. Alun-alun sebagai pusat kota. 1. 3. Artefak bergerak. wayang. 2. Makam dan kompleks makam. jadi bukannya data tertulis. h. kursi. c. Penataan istana yang linear. Furniture: meja. b.Jurnal Lektur Keagamaan. Taman dan bangunan air. Masjid kuno. 2009: 109 . b. Monumen terbagi menjadi: a. i. f. lambang. konsentris. dipan. rak. Maksurah. j. Menara masjid. g. f. c. e. Sistem perbentengan. Kepurbakalaan itulah yang merupakan data kajian utama arkeologi Islam. perahu. Istana dan bangunan-bangunan di dalamnya. artefaktual merupakan data utama yang penting. Cungkup makam. Hiasan bangunan. i. untuk mengungkapkan pencapaian peradaban yang telah direngkuh oleh masyarakat pada masanya. kentongan dan waditra lainnya. Heraldik: panjí-panji. dan menyebar. 7. 122 . Senjata. tenun. Gapura dan pagar keliling.132 Secara prinsipil terdapat beberapa kepurbakalaan masa silam yang dapat dihubungkan dengan periode perkembangan dan kerajaan-kerajaan Islam Nusantara. sketsel. Bedug. terdiri dari: a. g. e. dan benda-benda penanda kebesaran raja/sultan. c. dan lain-lain. Vol. Hasil seni kriya: ukiran. d. Tugu peringatan. topeng.Tata Kota & Penataan Istana a. d. h. Dalam kajian arkeologi Islam banyak data yang berupa kebendaan. Jalan sebagai acuan kota. Mimbar kayu. Alat transportasi: palangka.

Pada dinding penyekat tersebut terdapat sembilan pintu rendah (tiga pintu di sisi utara. Kelompok pengguna yang memanfaatkan dan mengapresiasi bangunan-bangunan tersebut. 4.. — Agus Aris Munandar maka kajian itu bukan lagi arkeologi. terutama dalam hal latar belakang pembangunan monumen dan juga beberapa keistimewaannya. 3. Selain pemahaman umum tersebut. apabila melakukan studi terhadap suatu monumen. masjid ini mempunyai empat Soko Guru 2. timur. (c) sejarah dan peranannya dalam proses penyebaran Islam. Sebagaimana masjid kuno lainnya. terdapat pula pemahaman yang lebih khusus lagi. adanya penggunaan tiang-tiang dengan gaya ukiran Majapahit pada serambi depan masjid. Bahan yang digunakan pada bangunan-bangunan tersebut. dan lain-lain 3. menara. 123 . Demikianlah beberapa pemahaman umum yang mungkin dihasilkan dalam ranah arkeologi-sejarah. gapura. Masjid Sang Cipta Rasa di Cirebon mempunyai keistimewaan sebagai berikut: 1..Peran Penting Pernaskahan. melainkan sejarah atau filologi. istana. terdapat relief yang menggambarkan sepasang “halilintar” pada daun pintu tengah masjid. salah satu dari keempat soko gurunya merupakan tatal (serpihan kayu yang disatukan). Kajian secara umum terhadap kepurbakalaan monumental dari masa awal perkembangan Islam dan masa kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia dapat membawa kepada pemahaman akan: 1. Bentuk arsitektur masjid. (b) bahan. Langgam arsitektur bangunan masjid. Dalam telah arkeologi. menara. istana. makam dan lainnya 2. maka dapat diketahui tentang (a) bentuk arsitektur. (d) keistimewaannya: antara lain adanya figur bulus (kura-kura) pada dinding belakang mihrab yang berbobot angka tahun 1401 Saka. dan selatan). tidak sebagai penopang atap. maka sang peneliti harus mampu mengungkapkan kehadiran data arkeologis dalam konteks sejarah kebudayaan Islam di suatu daerah dan pada suatu masa tertentu. Misalnya kajian terhadap Masjid Demak. gapura. Dinding tembok hanya berfungsi sebagai penyekat antara ruang dalam dan ruang serambi masjid.

Kompleks makam Sunan Bayat di Klaten. Terdapat beberapa keraton yang dikelilingi tembok benteng (Surasowan di Banten dan Kuto Besak di Palembang) Kajian terhadap pintu gerbang (gapura): (1) dapat diketahui bahwa gapura yang berbentuk Candi Bentar (di Cirebon disebut Lawang Seketeng) selalu terletak di halaman paling depan. 7. mislanya bangunan persemayaman raja dan keluarganya dan bangunan induk keraton (Keraton Kasepuhan dan Kanoman di Cirebon. bukit. Pada bagian bingkai atas ceruk (ruang) mihrab terdapat ornamen yang merupakan stilasi dari bentuk kala-makara. 2. 4. Keraton umumnya terbagi ke dalam tiga penataan halaman. Semula di bagian depan pintu masjid yang terletak di sisi timur terdapat kolam untuk mengambil air wudlu. Kompleks makam Sunan Gunung Jati di Gunung Sembung. Keraton-keraton luar Jawa umumnya berupa bangunan panggung dengan ukuran besar. adapun gapura beratap (di Bali dinamakan Kori Agung. Adapun kajian terhadap keraton di Jawa dapat diungkap adanya beberapa pengetahuan lain di luar pengetahuan utama. Vol. 3. Kompleks makam tokoh-tokoh yang berhubungan dengan penyebaran agama Islam (para wali) dan juga pemakaman keluarga raja. Bangunan-bangunan penting terdapat di halaman paling belakang. Kasultanan di Yogjakarta dan Kasunanan di Surakarta). Kompleks makam yang terletak di lokasi ketinggian antara lain adalah: 1. yaitu: 1.132 3. Kompleks makam Sunan Drajat di Gunung Muria. 1. di Cirebon disebut Lawang Bledeg) terdapat di lingkungan dalam. 2009: 109 . yaitu halaman depan. Kompleks makam Sunan Giri di Gresik.Jurnal Lektur Keagamaan. 2. 4. No. 3. memilih dataran tinggi. antara lain. mengarah ke daerah inti istana atau kompleks makam. 4. (2) Kedua bentuk gapura tersebut merupakan kelanjutan bentuk-bentuk pintu gerbang yang telah dikenal dalam zaman perkembangan kebudayaan Hindu-Buddha di Jawa. Hal ini dapat diketahui berkat adanya kajian arkeologi Islam terhadap kompleks-kompleks makam yang masih ada hingga sekarang. dan belakang. tengah. 124 . atau lereng pegunungan sebagai lokasinya.

Dalam zaman prasejarah ada penjelasan yang menyatakan bahwa tempat-tempat tinggi adalah lokasi yang layak bagi persemayaman arwah leluhur (Parahyangan. namun nama kelompok pengrajinnya. bermata ganda (dwisula). Telaah arkeologi terhadap senjata yang dipergunakan dalam masa perkembangan Islam menghasilkan kepada bentuk-bentuk senjata tajam yang pernah digunakan masyarakat. Penggunaan dalam masyarakat pendukungnya. Konsep itu terus bertahan ketika agama HinduBuddha berkembang. khususnya meriam. Di-Hyang. Selain keris senjata tajam lainnya misalnya tombak bermata tunggal. Bentuk dan bahan artefak bergerak. Studi terhadap berbagai meriam dari era kerajaan Islam di Nusantara di masa mendatang akan membawa kepada pengetahuan tentang sistem persenjataan berat 125 . Tentu saja di Jawa senjata yang paling populer adalah keris. 4. Kompleks makam Imogiri di Yogjakarta. meriam Si Jagur di Museum Fatahillah.. golok. 3. Konsepsi itu agaknya terus bertahan ketika Islam berkembang di Tanah Jawa. dan meriam Ki Amuk di Banten Lama.. oleh karena itu tokoh-tokoh yang telah wafat dimuliakan dalam kompleks makam yang terletak di ketinggian. Iyang). Maka dikenal adanya meriam buatan local seperti meriam Pancawura yang ada di keraton Kasunanan Solo. bermata tiga (trisula). dan sebagainya Dalam masa perkembangan Islam di Indonesia. apa lagi diperkuat dengan kepercayaan bahwa tempat tinggi adalah simbol Gunung Mahameru yang dipuncaknya bersemayam para dewa dalam Swarloka. Secara konsepsi hal ini agaknya dapat dijelaskan bahwa adanya kesinambungan penghormatan kepada tempat-tempat tinggi yang dianggap sebagai tempat keramat. setidaknya bukan nama diri seniman. Kompleks makam Sunan Sendang di Bojonegoro. Pembuat artefak tersebut. senjata api telah pula digunakan.Peran Penting Pernaskahan. keris juga dikenal di berbagai etnik lain di Nusantara dan telah banyak buku yang dihasilkan para peneliti dan peminat tentang keris. 2. Asal gaya seni artefak tersebut. Kajian kepada kepurbakalaan yang berupa artefak bergerak akan membawa kepada pemahaman: 1. 6. pedang. perisai. — Agus Aris Munandar 5.

gagasan. jika tidak karya seni tidak mendapat penghargaan dalam masyarakat. sehingga ada keterkaitan antara seniman.132 dari kerajaan-kerajaan itu. Demikian pula dalam mengekspresikan gagasan berkeseniannya seniman harus memilih bahan/media apa yang digunakan. Adakah jumlah meriam yang dimiliki menandakan kebesaran dan kejayaan kerajaan tersebut? Dari masa perkembangan Islam di Jawa banyak dihasilkan karya seni. 1. media dan hasil karya seni. Keutuhan lima unsur kesenian dalam karya seni keislaman agaknya cukup diperhatikan oleh para penghasil karya seni keislaman di masa silam. misalnya antara seniman dan masyarakat harus berada dalam “satu bahasa dan satu gagasan” apabila hendak mengapresiasi suatu karya seni. baik seni rupa ataupun seni pertunjukan.Jurnal Lektur Keagamaan. terutama dalam sejarah perkembangan Islam di Nusantara. No. Salah satu bentuk seni rupa yang sederhana namun memerlukan kecermatan adalah seni kriya. Bentuk seni kriya dalam masa per126 . jadi tidak ada satu unsurpun yang diabaikan. Vol. 7. karena memang gagasan itu yang mendasari keempat unsur lainnya. Dalam bagan terlihat gagasan berada di bagian tengah. Sebenarnya dalam kesenian dapat dinyatakan sebenarnya terdapat lima unsur yang saling berkaitan sebagai berikut: Bagan VIII: Unsur-Unsur Kesenian Kelima unsur itu saling berkaitan dan mengisi dalam menghasilkan suatu karya seni. 2009: 109 .

Pola seperti ini terus diikuti oleh kota-kota kerajaan lainnya seperti Cirebon. bagian utara terdapat pasar tempat orang berniaga. sisi barat alun-alun berdiri masjid agung. contoh yang baik adalah figur-figur wayang kulit dan wayang golek Cepak gaya Cirebonan. lukisan kaca. kemudian bangunan bagian tengah kompleks 127 . figur wayang kulit gaya lama dari era Majapahit telah “dirombak” dan distilirisasi untuk disesuaikan dengan kaidah kesenian Islam. Dari lingkup kesenian Islam masa Kesultanan Cirebon dikenal adanya bentuk-bentuk pahatan kayu yang mengambil figur dewa-dewa Hindu atau tokoh wayang yang telah sangat distilasi dengan gabungan bentuk mega mendung dan juga bentuk-bentuk wadasan (karang laut). batik. Taman Sunyaragi. — Agus Aris Munandar kembangan Islam banyak yang bertahan hingga sekarang.. di sisi selatannya terdapat bangunan kedaton atau istana. Seni kriya lainnya yang sering menjadi data kajian arkeologi Islam adalah pahatan kayu baik dalam bentuk relief atau ornamen lainnya. Bahkan kota-kota kabupaten di Jawa dalam masa kolonial pun banyak yang tetap mempertahankan pola penataan pusat kota demikian. dapat dijumpai sebagai komponen hiasan keraton. dan penjara. Bentuk hiasan khas Cirebon yang merupakan gabungan antara motif awan mendung dan batu-batu karang tersebut dikenal meluas dalam bermacam karya seni rupa. dan Jogjakarta. Penataan kota-kota Islam di Jawa agaknya mempunyai pola yang telah baku. dimulai dari sisi paling utara merupakan bangunan-bangunan penyongsong tamu. Prototipe penataan kota Islam di Jawa itu sangat mungkin terjadi di kota Demak kuno (Adrisijanti M. Mengenai tata kota dan penataan kompleks istana terdapat kajian tersendiri dalam bidang arkeologi Islam. bahkan sebagai iluminasi pada naskah-naskah Cirebon. Surakarta.Peran Penting Pernaskahan. Banten. Dalam penataan itu pusat kota adalah tanah lapang (alun-alun). Wayang kulit itu lebih mirip kepada simbol-simbol yang tidak sesuai dengan figur manusia sebenarnya.. dan ceritanya pun telah direkaulang untuk keperluan Islamisasi. kereta milik sultan. Sebagaimana telah diketahui bahwa bentuk wayang kulit sekarang ini adalah gubahan Sunan Kali Jaga. Romli 2008: 19-20). dan di tepi bagian timur alun-alun berdirilah bangunan-bangunan peradilan seperti kejaksan. Bangunan dalam kompleks istana umumnya digambarkan linear.

1. (e) dan lainnya. sultan. Bahasa juga beraneka. (c) Melayu. misalnya di Kutai Kertanegara. (b) tarikh nabi-nabi dan sahabatnya. 3. (e) dan berbagai bahasa daerah lainnya. (j) dan lainnya. 2. (e) kisah binatang (f) kisah penglipur lara/jenaka (g) undang-undang. 2009: 109 . Sambas. (d) Bugis. Adapun pola penataan menyebar atau menghadap ke sungai terjadi pada istana-istana kerajaan Islam yang terdapat di luar Jawa. (c) Lampung. Tujuan penulisan naskah-naskah Nusantara itu antara lain untuk: 1. Sajarah). antara lain (a) Jawa. keraton Surakarta dan Yogjakarta dan juga di kompleks Keraton Sumenep di Madura. Memberikan legitimasi tentang kuasa yang dimiliki oleh para raja. 4. Pola penataan bangunan keraton memusat misalnya terdapat di kompleks keraton Surasowan dan keraton Kaibon. Berikut data penting tentang manuskrip masa Islam: Aksara yang digunakan antara lain: (a) Arab dan keturunannya. dan Pontianak. Mengingat dan mengakumulasi pengetahuan tertentu yang telah diketahui oleh penggubah atau masyarakat sekitarnya. (i) uraian tentang mistik dan tasawuf. Peranan data dari sumber tertulis dalam kajian arkeologi Islam dapat dijelaskan sebagai berikut: 128 . (b) Sunda.Jurnal Lektur Keagamaan. Tambo. dan kaum kerabatnya. (d) Bugis. Hikayat. begitupun juga mengenai isinya. 7. Dalam hal khazanah naskah Islam di Nusantara. 5.132 yang merupakan pendukung aktivitas istana. Semua bangunan keraton dilingkungi tembok benteng dan semuanya terintegrasi dalam suatu area kedaton. Bentuknya dalam prosa ataupun puisi dengan aturan prosodi tertentu. (b) Jawa. No. Pola seperti ini terlihat di kompleks keraton Kasepuhan dan Kanoman Cirebon. Vol. Isi yang dikandung tentang (a) ajaran agama Islam. Penyusunan kisah sejarah tradisional dengan berbagai sebutannya (Babad. Sebagai upaya untuk menyebarkan ajaran keagamaan Islam. dan paling dalam adalah bangunan-bangunan utama dan tempat tinggal raja dan kerabatnya sehari-hari. bentuk dan ragamnya sangat beraneka. Pengungkapan ekspresi estetika para penggubahnya. Legenda. Banten Lama. (c) babad/sejarah tradisional (d) kisah wayang. (h) obat-obatan.

Peran Penting Pernaskahan. jika kajian hanya menyandarkan diri kepada data arkeologi. Misalnya dari Babad Demak diuraikan bahwa di kota Kerajaan Demak terdapat pula kedaton tempat bersemayamnya para penguasa. kecuali masjid agungnya yang masih berdiri megah hingga kini. (b) Memperluas pemahaman tentang kedudukan dan peranan artefak dalam masyarakat sezaman Merupakan suatu keniscayaan yang terjadi. maka pemahaman pun terbatas. Pada akhirnya dapat membuka interpretasi baru dan 129 . Dengan menelisik sumber-sumber tertulis maka diperoleh lagi pemahaman yang lebih luas tentang sesuatu artefak. sebab menurut berita Cina dalam masa kejayaan Majapahit pun telah banyak orang-orang Islam yang bermukim dan berniaga di kota itu. (c) Data dari sumber tertulis dapat menjadi dasar penelitian dan kerangka acuan kajian arkeologi Islam Uraian dari sumber tertulis ada yang dapat dijadikan pegangan bagi kajian arkeologi di lapangan. (d) Memperkaya interpretasi untuk dapat mengembangkan historiografi Kajian arkeologi-sejarah atau pun sejarah diakhiri dengan tahap historiografi. menurut uraian penduduk adalah makam putri Champa. Contoh: dapat dipahami bahwa di situs Trowulan peninggalan Majapahit terdapat kompleks pemakaman Islam Troloyo. namun kajian arkeologi hingga sekarang masih belum dapat membuktikan di mana lokasi tepatnya kedaton tersebut. Peranan data dari sumber tertulis menjadi penting dalam tahap historiografi.. Dalam naskah Babad Tanah Jawi terdapat penjelasan bahwa salah seorang Raja Majapahit masa akhir telah menikah dengan putri Champa yang memeluk Islam. dapat dibantu diterangi lewat kajian dari sumber tertulis. — Agus Aris Munandar (a) Pendukung kajian terhadap data artefaktual Dalam hal ini data dari sumber tertulis tersebut dijadikan bahan untuk membantu “menjelaskan” artefak dari masa perkembangan Islam. Contohnya dalam kajian arkeologi Islam ditemukan makam Islam kuno. tahapan ini sudah tentu memadukan data dari berbagai sumber.. Temuan dari naskah dapat juga menjadi kerangka acuan yang harus dibuktikan oleh para arkeolog. karena bagian-bagian yang berdasarkan telaah arkeologi masih gelap.

oleh karena itu hasilnya adalah bangunan baru sama sekali tanpa menyikan unsurunsur kunonya. makam. atau perlu dilakukan kajian ulang atau interpretasi baru. tetapi banyak temuan baru yang terus bermunculan hingga kini dan menunggu untuk dikaji. istana. dan gapura. dan (b) living monument. Misalnya kajian data arkeologi terhadap monumen Gunongan yang dibangun dalam masa Kesultanan Aceh telah cukup memadai. Kecenderungan meluas justru terjadi “pemugaran” terhadap masjid-masjid tua oleh masyarakat penggunanya sendiri. No. Akan tetapi kajian terhadap peranan dan fungsi monumen tersebut dalam masanya masih dapat diperbincangkan lagi. Dewasa ini terdapat kecenderungan masyarakat untuk memperbaiki monumen-monumen kuno Islam yang dipandang sudah lapuk atau rusak. misalnya terhadap masjid-masjid kuno. mungkin terdapat makna lain yang mendalam dan bukan sekedar bangunan untuk melengkapi Taman Raja. penambahan. 7. Kedua prinsip itu jelas harus berjalan berdampingan dengan aspek pemanfaat dan aktualisasi zaman. istana. Masjid kuno.Jurnal Lektur Keagamaan. Dalam pada itu data arkeologi Islam yang terdahulu pun banyak yang masih belum dikaji secara tuntas. makam. memang para peneliti Belanda telah merintis kajian tersebut sejak awal abad ke-20 M. dan monumen lainnya dari masa perkembangan Islam masih dipergunakan dan dirawat oleh para pendukungnya. oleh karena itu lumrah saja apabila mereka melakukan perbaikan-perbaikan. 1. Jadi apabila telah terjadi “pemugaran” terhadap suatu masjid kuno oleh masyarakat dengan mengabaikan 130 . Dalam melakukan perbaikan atau pemugaran tersebut kerapkali kaidah keilmuan (ilmu arkeologi) diabaikan. 2009: 109 . Hal ini sebenarnya merupakan permasalahan lama. bahkan telah dipugar secara baik. para arkeolog telah membagi dua macam munumen. Epilog Kajian arkeologi Islam di Nusantara sudah pasti dapat dikembangkan lagi. Vol. yaitu (a) dead monument.132 memperluas narasi historiografi untuk dapat dijadikan bahan diskusi lebih lanjut. bahkan pembangunan baru. Hal yang perlu dikemukakan kepada masyarakat pendukung living monument adalah prinsip pelestarian dan kepentingan ilmu pengetahuan yang juga harus dijaga.

hal itu terjadi karena ketidaktahuan masyarakat tentang studi arkeologi Islam. Sejarah Teori Antropologi I. — Agus Aris Munandar prinsip pelestarian dan ilmu pengetahuan.2. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. Antropological Approaches to the Study of Religion. Maret. 3: 263—76. Spiro. Melford E. dalam Michael Bunton (Penyunting).. Udayana University. No.. Denpasar: Faculty of Letters. Takdir.Peran Penting Pernaskahan. Jakarta: Sekar Budaya Nusantara & FIB UI. Langkah-langkah di masa mendatang untuk memajukan kajian arkeologi Islam dan menjaga data khazanah artefak serta manuskrip keislaman lainnya. Goris. “Religion: Problems of Definition and Explanation”. Kuntowijoyo. 1982. 2008. Romli. 1980. Metodologi Sejarah.4 No. Jika saja hal itu terjadi. 1977. 1965. Ancient History of Bali.. sehingga bukti-bukti masa awal perkembangan Islam di wilayah Nusantara tidak terkikis habis oleh pembangunan dan modernisasi. “Sejarah Agama Islam di Ternate”. S. Shaleh A. R. Sejarah Kebudayaan Indonesia: Dilihat dari Segi Nilai-nilai. Jakarta: Dian Rakyat. Jakarta: Bhratara. Putuhena. London: Tavistock Publications. Halaman 85—126. M. Desember. mungkin hal itu bukan akibat kesalahan masyarakat semata. Yogjakarta: Tiara Wacana. dalam Majalah Ilmu-Ilmu Sastra Indonesia (MISI). tidak hanya harus dilakukan oleh pemerintah dan pihak-pihak terkait. padahal dunia telah mengakui bahwa Indonesia adalah negara Islam dengan penduduk terbesar di dunia. Perhatian dan apresiasi terhadap pengembangan arkeologi Islam itu harus juga ditularkan kepada warga masyarakat oleh siapapun yang berminat dalam arkeologi Islam. 131 . 1980. dalam Majalah Budaya Bende Vol. Halaman 18—21. Jilid VIII.[] Daftar Pustaka Adrisijanti M. “Puncak-puncak Prestasi Kesultanan Demak dalam Bidang Budaya”. maka bangsa Indonesia telah melupakan jatidiri sejarah keislaman dan bukti-bukti kehadiran agama Islam pada awalnya. Koentjaraningrat. 1994. Alisjahbana.

Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.Jurnal Lektur Keagamaan. Uka. 1. 2009: 109 . 1986. 7. Sepintas Mengenai Peninggalan Kepurbakalaan Islam di Pesisir Utara Jawa.132 Tjandrasasmita. 3. Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 132 . No. Vol.

Bisides that. porcelains and so on. some archeologists try to develop the study of Islamic sites as the branch or archeolgy through excavation.Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara Irmawati M-Johan Universitas Indonesia. Sebagai ilmu. the building of palaces. This archeological study tries to dismantle the history of the past humankind by using material culture. Kata kunci: Arkeologi. In addition to that. nisan. keraton Pendahuluan Tujuan dari tulisan ini adalah menjelaskan bagaimana peran arkeologi dalam kajian Islam di Nusantara dan hal-hal apa saja yang menjadi kajian arkeologi. situs. material culture. arkeologi merupakan ilmu yang mempelajari manusia dan masyarakat masa lalu melalui tinggalan budaya materi 133 . mesjid kuno. efigrafi. ornamen. Sebelum lebih jauh menyampaikan apa peran arkeologi dalam kajian Islam di Nusantara. The material culture this writing means are the gravestones. keraton (also palace) and ancient mosques as well as Islamic sites such as the Old Banten (Banten Lama) and Lobu Tua. This article also explains the aspects that become the object of the study of archeology. the buildings of the mosque. Selain itu. Depok This article explains about how archeology has its own role in the study of Islam in Indonesia. palaces. some researches that have been conducted on Islam in Indonesia will be presented too. Some researches that have ever been conducted are dealing with Islamic epigraphy such as ancient gravestones. artefacts such as the coins. akan dikemukakan pula berbagai penelitian yang telah dilakukan selama ini yang berkait dengan Islam di Nusantara. terlebih dahulu akan dijelaskan apa yang menjadi perhatian arkeologi dan apa yang sebenarnya dikaji dalam penelitian-penelitian arkeologi.

ada pula yang mengembangkan kajian situs Islam sebagai kajian arkeologi melalui ekskavasi.Jurnal Lektur Keagamaan. yaitu sistem teknologi dan lingkungan.Di mulai pada tahun 1910 yang dilakukan oleh Van Ronkel yang membaca nisan kubur Malik Ibrahim di Gresik yang mencantumkan angka tahun wafatnya yaitu 1511 M (Ronkel. bangunan masjid. Moquette pada tahun 1912 mengkaji nisan kubur di Samudra Pasai dan nisan kubur Malik Ibrahim di Gresik yang dianggap memiliki persamaan dalam cara menuliskan huruf dan kalimat-kalimat dengan nisan Umar bin Ahmad al-Kazaruni di Cambay (Moquette. Vol. Setelah itu. 2003: 456-552). Epigrafi Kajian tentang nisan sudah sejak awal telah dilakukan terutama para ahli kebangsaaan Belanda. 1. Colin Renfrew dan Paul Bahn (2003) menyebut arkeologi sebagai bentuk past-tense dari antropologi budaya yang juga mempelajari masyarakat dan kebudayaan manusia. 1. 1977: 108). sistem sosial dan sistem simbol dan ideologi (Sharer & Ashmore. artefak seperti. Dalam usahanya memahami kehidupan manusia masa lalu. No. 2003: 12-3). Material Culture Ada beberapa jenis material culture dari masa Islam yang menjadi perhatian para arkeolog Indonesia. Selain itu arkeologi juga merupakan bagian dari science karena menggunakan kaidah-kaidah ilmu pengetahuan dan metode yang scientific dalam menganalisis dari penggunaan carbon dating hingga studi tentang residu makanan (Renfrew & Bahn. alat-alat dan artefak lainnya. 1910: 596-600. bangunan istana. mata uang.146 (material culture) seperti bangunan-bangunan. antara lain nisan-kubur. 1912: 536-548). 7. arkeologi mencoba menganalisa data yang diperoleh dari penelitiannya untuk merekonstruksi berbagai hal. Karena mempelajari masa lalu maka arkeologi juga merupakan bagian dari sejarah. Nisan Kubur a. Untuk itu kita dapat melihat selintas kajian-kajian apa yang telah dilakukan terhadap tinggalan budaya Islam. tembikar dan lain-lain. 2009: 133 . yaitu sejarah manusia secara luas yang dimulai sejak tiga juta tahun yang lalu. Menurut Sharer & Ashmore (2003) ada tiga hal yang direkonstruksi oleh arkeologi. Pendapatnya ditegaskan lagi 134 . Tjandrasasmita. Selain itu.

dan lain-lain yang dikaitkan dengan sumber tertulis Kitab Bustanus-Salatin dan Tajus-Salatin (Moquette. Tjandrasasmita.J Krom dan memberikan penafsiran baru terhadap nisan-nisan yang ada. 1920: 44-47. 1977: 111).Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan dalam penelitiannya pada tahun 1920 dan mengatakan bahwa nisannisan di Samudra Pasai dan Gersik berasal dari Cambay (Gujarat ) (Moquette. Sultan Ali Ri’ayat Syah (987 H/1579 M). Damais tentang nisan-nisan di Troloyo. Sultan Ala’udin al-Khahar (979 H/1571 M). Keberadaan makam-makam ini membuktikan bahwa pada masa Majapahit yaitu pada masa kejayaan Hayam Wuruk di Jawa sudah ada orang-orang Islam yang dimakamkan dalam lingkungan yang dekat dengan 135 . 1914: 73. Jawa Timur. 1977: 111). Ia membaca ulang hasil pembacaan para ahli terdahulu N. Penelitian pada tahun 1955 selanjutnya di lakukan L. Tjandrasasmita. 1921: 391-399. Menurut hasil penelitiannya angka tahun yang tertua adalah 1296 S (1376 M) dan yang angka tahun termuda adalah 1533 S (1611 M).80). Pembacaan nisan-nisan yang terdapat di Samudra Pasai juga dilakukan oleh J.P Moqutte pada tahun 1913 yaitu pada nisan Sultan Malik as-Salih yang mencantumkan angka tahun wafatnya pada tahun 696 H (1297 M ) dan nisan Sultan Malik az-Zahir putra Sultan Malik as-Salih yang wafat pada tahun 726 H (1326 M). Sumbangan penelitian Moquette yang penting adalah mengidentifikasikan bahwa Sultan Malik As-saleh adalah Sultan pertama di Samudra Pasai yang dikaitkan dengan Sejarah Melayu dan Hikayat Raja-Raja Pasai (Moquette.P Moquette yang lain adalah penelitiannya tahun 1914 ke Kuta-Raja Aceh. Paul Ravaisse (1925) telah melakukan kajian tentang makam Malik Ibrahim dengan melakukan pembacaan inskripsi yang terdapat pada nisan serta mencoba untuk “membaca” beberapa ornament lampu yang terdapat pada nisan tersebut dan mengatakannya bahwa ornament ini adalah symbol dari surat An-Nur (cahaya) (Ravaisse. 1925: 668-703). 1913. Pada tahun 1919 Moquette menyampaikan hasil penelitiannya tentang makam tertua di Jawa yaitu Fatimah binti Maimun bin Hibatullah yang wafat 495 H (1102 M) berhuruf Kufi (Moquette. 1977: 108). dan menemukan makam raja-raja yang pernah memerintah Aceh seperti Sultan Ali Mughayat Syah yang wafat 936 H (1530 M). Tjandrasasmita.C. Sumbangan J.

Hal ini merupakan data penting bagi perkembangan sejarah Islam di Indonesia (Ambary. Vol. satu di antaranya dapat langsung dibaca angka tahunnya yang berangka tahun 1290 S (1368 M). Keberadaan makam ini merupakan bukti bahwa di Barus telah ada pemukiman Islam (Ambary. No. Huruf yang lebih banyak dipakai di Nusantara adalah gaya sulus atau gaya naskh (Ambary. Peneliti terdahulu antara lain N. 2009: 133 .129). Menurut Damais ketika mengunjungi makam Putri Cempa di Trowulan ia menemukan dua makam lain yang berprasasti. catatan kaki no. 7. Untuk itu Damais mengatakan bahwa harus dilakukan penelitian yang sistematis tentang makam-makam kuno yang ada di Trowulan agar dapat diperoleh data baru tentang penyebaran agama Islam di Jawa Timur (Damais. 1995: 223-289. 1998: 174). Nisan Fatimah binti Maimun bin Hibatullah yang ditulis dalam huruf Kufi ornamental yang bagian ujungnya dibentuk ikal di Leran telah dibaca oleh Paul Ravaisse memiliki penanggalan 475 H (1082 M).J. Lebih lanjut Damais mengatakan bahwa mengingat stratifikasi sosial pada masyarakat Jawa Kuno yang sangat hiarakis maka bukanlah tidak mungkin bahwa mereka adalah keluarga istana. Keengganan Krom menurut Damais mungkin juga karena Nagarakartagama tidak berbicara tentang agama baru tersebut. Berdasarkan penelitian epigrafi pada nisan-nisan kubur dapat diketahui bahwa Sultan Malik as-Saleh adalah Sultan pertama di Samudra Pasai dan atas dasar angka tahun pula maka dapat dikatakan bahwa Samudra Pasai adalah kerajaan Islam pertama. Nisan ini merupakan data penting bahwa di Leran pada abad ke-11 sudah terdapat masyarakat muslim yang kemungkinan merupakan masyarakat pedagang yang diterima oleh masyarakat 136 . terutama dari Gujarat sebagaimana yang terdapat pada nisan Malik Ibrahim dan Fatimah binti Maimun.146 keraton.Jurnal Lektur Keagamaan. 1. 1988: 174) Penelitian di Barus telah memperoleh data penting yaitu makam dari Tuhar Amisuri yang wafat pada 602 H (1203 M) memperlihatkan bahwa makam ini lebih tua dari makam Sultan Malik asSaleh (1297 M). 1998: 57). Krom yang telah meneliti nisan Trowulan enggan mengakui bahwa sudah ada orang-orang Islam yang berhak dimakamkan dekat dengan lingkungan istana pada akhir abad ke 13 Saka di Jawa. Penggunaan huruf Kufi hanya terdapat pada nisan-nisan yang diimport dari luar Nusantara.

lalu berkembang bentuk persegí panjang dan silindrik pada fase ke dua abad 17M-19M (Ambary. Dengan demikian hal ini dapat memperkuat bahwa nisan-nisan yang memiliki ornament ini memang bukan berasal dari Nusantara (Marwoto. Lingkaran cahaya ini di Jawa dan Bali melingkari seluruh tubuh tokoh atau benda yang dianggap memiliki sifat supernatural (Damais. 1996: 1-8 ). Di Semenanjung Malaysia. 1998: 239-241).. maka dilakukan penelitian bahwa nisan-nisan impor seperti Malik Ibrahim. tetapi unsur bentuk dan juga ornamennya.243. Menurut Damais. Perkembangannya dimulai dari bentuk bucrane pada abad 16-17 M. Hasan Muarif Ambary (1984) dalam disertasinya telah melakukan penelitian tentang bentuk-bentuk nisan di Nusantara dan menggolongkannya menjadi 4 tipe yaitu tipe Demak-Troloyo. Pada nisan-nisan di Troloyo telah dikaji pula ornamen medalion sinar Majapahit yang disinggung pertama kali oleh Knebel yag disebutnya sebagai Cap Matahari. Bentuk lampu seperti itu adalah lampu-lampu dari dunia Islam di Timur Tengah. Yang menarik bahwa motif surya Majapahit ini ternyata 137 . Medalion Sinar Majapahit mirip dengan halo pada patung-patung yang dianggap tokoh suci pada agama Kristen.Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan setempat yang berada di bawah kerajaan Hindu-Buddha sebelum Kadiri (Tjandrasasmita. India. 1995: 242. Di dalam peninggalan budaya materi di Nusantara motif atau jenis lampu yang tergantung dalam mihrab tidak pernah dikenal. 1993: 278). Tipe Aceh (bucrane) misalnya selain terdapat di Pasai dan Aceh ditemukan juga di situs kubur di Barus dan beberapa situs lain di Sumatra Barat hingga Lampung. Naina Hisamuddin di Aceh. b. Atas dasar tipe –tipe tersebut ditelusuri persebarannya di Nusantara dan Asia Tenggara. Bentuk Nisan dan Ornamen Studi tentang nisan tidak hanya dilakukan berdasarkan unsur tulisan saja. Banten dan Yakarta. Persia. 68: 301). kaki no. tipe Bugis Macasar dan tipe Ternate. Jawa Timur (terutama pantai utara). Sulawesi Selatan. Bintan. Setelah abad ke 17. Berdasarkan pendapat Paul Ravaisse tentang nisan Leran dari Fatimah binti Maimun bahwa ornamen lampu yang tergantung di dalam mihrab adalah simbol dari Surah An-Nur. cat. tipe Aceh. nisan papan Tinggi di Barus hampir semua memiliki ornamen ini. bentuk nisan Aceh ditemukan di Kalimantan Selatan.

Sumatera Barat. Tjandrasasmita 1977: 111). Blora.146 penggunaannya terus berlanjut pada masa-masa selanjutnya sebagaimana kita temukan pada nisan-nisan di sepanjang pantai utara Jawa. oleh N. Selain itu ia melakukan penelitian pola-pola ornamennya dan dibandingkan dengan ornamen di candi-candi (Steinmann 1934: 89-97. 2009: 133 . Jasinga. 1977: 112). Masjid Kajian tentang masjid kuno di Indonesia khususnya di Jawa mulai dilakukan pada tahun 1920. Cirebon. sampai ke Madura bahkan saat ini Muhammadiah juga menggunakan lambang surya Majapahit.Jurnal Lektur Keagamaan. G. Penelitian dalam bentuk skripsi tentang bentuk-bentuk nisan dan ornamen telah dilakukan di berbagai situs seperti Jakarta. Kalimantan Timur. Setelah itu penelitian di Kudus di lanjutkan oleh J. 2.F Pijper pada tahun 1947 dan Pijper menyampaikan bahwa masjid kuno di Indonesia pada umumnya tidak memiliki menara. Menara di masjid Kudus bukan menara asalnya melainkan bagunan dari jaman Hindu yang digunakan kembali sebagai tempat kulkul.E Jasper pada tahun 1922 yang mengkhususkan pada penelitian seni ukir dan seni bangunan. dan telah menghasilkan sembilan buah skripsi Program Studi Arkeologi S1. tesis lima buah dan satu buah disertasi. Tentang bangunan masjid kuno ia menyampaikan bahwa bentuknya mengikuti bentuk arsitektur lokal dengan beberapa ciri 138 . 7. penelitian tentang jenis tanaman sangat penting untuk mengetahui keragaman tumbuhan yang ada pada masa itu. Vol. Brunai.J Krom yaitu tentang menara Kudus yang diperkirakan berasal dari abad ke 16M dan dianggap merupakan gaya bangunan peralihan dari gaya bangunan Majapahit yang mengingatkan pada bangunan candi (Krom 1920: 294-295. Troloyo. Berdasarkan penelitianya seni ukir dan seni bangunan di Kudus merupakan seni bangunan Jawa-Hindu Majapahit (Jasper 1922: 3-30. Menurutnya. Tjandrasasmita. Tjandrasasmita 1977: 115). No. Samudra Pasai. Penelitian tentang menara dan masjid kuno di Indonesia dilakukan oleh Dr. 1. Palembang. Steinmann pada tahun 1934 melakukan penelitian ornamen yang terdapat pada masjid Mantingan dan makam Ratu Kalinyamat.

Jakarta. Masjid ini dibangun dengan bentuk yang baru pada tanggal 9 Oktober 1879 yang dibuat oleh seorang arsitek Belanda bernama Bruins (Kreemer 1920-21: 69-87. Padang. Ornamen pada bagian atas mimbar 139 . Banten. arah hadap dan pola keletakan untuk masjid Istana berada di sebelah barat alun-alun. Sumenep. 1947-48: 289). Manonjaya. D. Banyumas. Tjandrasasmita 1977:112). Pada perkembangan selanjutnya studi tentang masjid kuno terus dilakukan baik dalam bentuk paper ataupun skripsi kurang lebih berjumlah 23 buah di Progam studi Arkeologi UI yang mencakup masjid kuno di Palembang. Pendapat Stutterheim disangkal oleh Prof Sutjipto Wiryosuparto.J de Graaf yang mengatakan bahwa masjid kuno di Jawa mendapat pengaruh bentuk masjid dari Sumatera yaitu masjid Taluk di Sumatera Barat yang merupakan prototipo masjid Malabar (Graaf. Atas dasar penelitian terhadap bangunan masjid kuno di Indonesia Maka dapat diketahui pola-pola bangunan seperti denah masjid.R. Tentang asal usul bangunan masjid kuno telah dibahas oleh beberapa ahli seperti H.Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan seperti denah segi empat dan pejal. atapnya bertingkat-tingkat (Pijper. Selanjutnya jika bagunan tempat menyambung ayam sebagai bangunan yang semiprofan tidak mungkin dijadikan dasar pembuatan masjid dan yang lainnya adalah tidak memiliki loteng. 1947: 274-283). Penelitian di Aceh dilakukan oleh J Kreemer di Masjid Raya di Kutaraja yang menurut penelitiannya bahwa Masjid Raya itu asalnya bernama masjid Bait ar-Rahman yang didirikan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636M). Pada sisi barat laut terdapat mihrab yang umumnya menjadi tempat yang paling raya ornamennya. jadi berbeda dan yang sama hanya pada bentuk atap. Cirebon. Sutjipto lalu mengajukan bangunan mandapa atau pendapa yang menjadi asal mula bentuk masjid kuno (Wiryosuparto 1961-62:7-8).F Stutterheim mengajukan pendapatnya bahwa masjid kuno di Indonesia mendapat pengaruh dari bangunan tempat menyambung ayam di Bali (Stutterheim 1935: 135-140). bentuk denah masjid Taluk adalah segi empat dan dikelilingi air sedangkan masjid Malabar denahnya persegipanjang tidak dikelilingi air.dan Medan. di sisi kanan mihrab terdapat mimbar yang umumnya berbentuk seperti kursi dan memiliki anak tangga. W. Taluk.

Keraton Banda Aceh dari masa Sultan Iskandar Muda abad ke 17 M. 1. 140 . Atap masjid merupakan atap tumpang yang bertingkat-tingkat dalam jumlah yang ganjil. 3. Pada masjid-masjid tertentu selain ada tempat bedug juga terdapat makam-makam raja atau tokoh-tokoh penting seperti Masjid Demak dan Masjid Banten. antefiks dan binatang yang distilir seperti di masjid Mantingan. Keraton Keraton atau istana merupakan pusat kota dari sebuah kerajaan. Motif Interlace ini bila kita amati menyebar sampai ke Madura terutama pada makammakam kuno (Marwoto 2003:152-312). Keraton Samudera Pasai besar kemungkinan menghadap ke utara yaitu menghadap ke Selat Malaka. seperti Keraton Kasepuhan dan Kanoman di Cirebon. Penelitian mengenai ornamen masjid memperlihatkan bahwa masih banyak digunakan motif-motif yang berasal dari masa sebelum Islam seperti kala makara. ular. Selain penggunaan motifmotif dari masa sebelum Islam dan berbagai motif binatang ternyata ditemukan pula penggunaan motif-motif Islam seperti Interlace atau yang dikenal dengan Arabesque terdapat di Masjid Sang Ciptarasa Cirebon) dan Masjid Mantingan. kambing pada soko guru dan Masjid Demak dengan tempelan porselin yang memiliki berbagai motif binatang seperti anjing dan burung dan kura-kura. Vol.146 biasanya motif kala terkadang dengan makara. Ornamen-ornamen makhluk hidup yang selama ini dianggap tidak boleh dilakukan tidak sepenuhnya dihindari sebagaimana terdapat pada Masjid Trusmi di Cirebon yang mengambarkan berbagai bentuk binatang seperti binatang anjing. sulur-suluran. Keraton Surosowan di Banten. Bentuk bangunan masjid yang telah mengikuti gaya bangunan Timur Tengah dengan kubah di tengahnya adalah masjid-masjid yang kemudian dibanguan oleh Belanda seperti masjid Raya Aceh dan Masjid Agung Medan. Demikian pula dengan keratonkeraton dari abad ke 18 seperti Yogyakarta dan Surakarta di arahkan ke utara. 7. 2009: 133 .Jurnal Lektur Keagamaan. Ornamen pada masjid-masjid di luar Jawa memperlihatkan bahwa ornamen banyak menggunakan motif-motif lokal sehingga dapat dilakukan studi yang mendalam tentang motif-motif lokal dari seluruh masjid Indonesia. No. Tata letak keraton-keraton Islam di Jawa pada umumnya mengarah ke utara.

Banten lama berdasarkan sumber sejarah adalah pusat kota dan bandar utama Kerajaan Banten yang berkembang sejak abad ke 16 hingga abad ke 19 M. Samudra Pasai. Situs Pamarican. Selain itu juga memperlihatkan pembagian ruang antara yang profan dan yang sakral (Johan. Situs-Situs Islam a. Makasar dan Mataram (lihat Untoro. Kompleks bangunan keraton pada umumnya memiliki tembok keliling yang memisahkan keraton dari bangunan lainnya. Situs Kadiri. Banten juga berperan sebagai tempat perdagangan antar bangsa. Maimun dan Sumenep. meliputi Keraton Kasepuhan. Di Keraton Aceh. Hasil penelitian 141 . termasuk di dalamnya situs Kraton Surosowan. Kota Banten tumbuh sebagai pusat dagang dengan aneka ragam komoditas perdagangan yang didatangkan dari berbagai wilayah dan diperdagangkan di Banten. Penelitian tentang Keraton dalam bentuk skripsi di program studi S1 Arkeologi ada 11 buah. jadi hampir ke utara (Poesponegoro 1984:219).Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan berdasarkan berita asing diarahkan ke barat Laut. 1984: 221). Banten. Untuk itu Sartono Kartodirdjo mengkategorikan Banten sebagai emporium seperti juga Aceh. Berdasarkan penelitian tentang keraton maka dapat diketahui pola tata letak keraton. Yogyakarta. Situs Pabean. 2007: 238-246). Banten Lama Penelitian situs-situs Islam telah dilakukan di beberapa tempat seperti: Kawasan Banten Lama. dan lain-lain. Situs Kraton Kaibon. Kanoman. Cirebon. bagian-bagian keraton dan fungsinya dan ornamen yang digunakan di keraton. 2007: 9). 4. Penelitian tentang makna ruang pada situs keraton Kasepuhan yang melihat antara penempatan ruang bagi yang hidup dan yang mati memperlihatkan bahwa Cirebon memisahkan dengan tegas ruang antara yang hidup (di Keraton) dan yang mati (di Gunung Jati). Situs Karang Antu. Situs Jembatan Rante. Mataram dan Samboapu sebagaimana diberitakan oleh sumber tulis asing susunan halaman untuk sampai ke bagian “dalem” adalah tiga yang mengingatkan akan bangunan halaman candi dan pura di Bali (Poesponegoro. Bagian yang merupakan tempat tinggal raja biasa disebut “dalem”.

Kraton Kaibon. sebagian di udara terbuka sebagian dalam cetakan. Warna kaca sebagian besar berwarna hijau pucat. No. Sumber tulisan kuno dari Timur Dekat menyebut nama Barus serta adanya pedagang dari Oman di Nusantara sekurang-kurangnya sejak abad ke 10 M. 2009: 133 . Aden. Keadaan keraton Surosowan dan Kaibon yang telah dipugar sekarang terbengkalai. Selain itu memugar sisa-sisa Kraton Surosowan. Sohar (Oman) dan Kilwa (Tanzania) dapat dikaitkan dengan adanya kelompok perdagangan dari Oman yang bernama Ibadi. Banten lama adalah satu-satunya kawasan perkotaan Islam yang tersisa hingga saat ini. 1. termasuk Makran.Jurnal Lektur Keagamaan. coklat. 7. biru kobalt. 2002: 157-168).146 arkeologi di Banten yang dimulai pada tahun1977 antara lain adalah ditemukannya situs industri logam dan industri tembikar serta temuan barang-barang perdagangan seperti keramik Asing dari berbagai negara. Menara Pacinan (Ambary 1998:124). Di duga bahwa beberapa temuan menunjukan dua daerah asal yaitu Iran dan 142 . berslip terang berhiaskan goresan dan glasirnya percikan-percikan. Kelompok ini Sangat berperan aktif di wilayah Teluk Persia. penelitian arkeologis banyak menghadapi kendala terutama dengan makin penuhnya penduduk yang menempati kawasan sehingga tidak lagi dapat dikendalikan. Pola hiasannya buga-bunga. b. geometris abstrak atau kaligrafi dengan huruf kufi. merah ungu dan turkuas. Vol. Ciri-cirinya adalah bahannya berwarna merah jambu. Lobu Tua Pada tahun 1995 dan 1996 dilakukan penggalian di Situs Lobu Tua dekat Barus oleh tim Indonesia Perancis dan ditemukan 600 pecahan tembikar berglasir asal Timur Dekat yang dikenal dengan “later Sgraffiato ware”. Keberadaan tembikar Sgraffiato di Lobu Tua membuktikan bahwa Labo Tua termasuk dalam jaringan perdagangan dari Teluk Persia (Perret. Selain temuan tembikar ditemukan pula artefak kaca yang kebanyakan dibuat dengan tehnik tiup. hijau tua. mata uang VOC. mata uang cina. Bambhore dan pesisir Timur Afrika. Bukan merupakan kaca yang berkwalitas bagus tetapi lebih merupakan barang sehari-hari. kuning pucat dan biru pucat. Jenis “later Sgarffiato ware” Lobu Tua memiliki persamaan dengan temuan sejenis di Makran (Iran). Benteng Spelwijk. khususnya di Basrah dan di pesisir lautan Hindia.

Serahi kecil (kaca merah jingga berhias gaya bulu) berasal dari Mesir abad 11 dan awal 12 M. serta bagian timur Laut Tengah. Sebagaimana penemuan angka tahun Tuhar Amisuri di Barus dengan angka tahun wafatnya 1203 M. maka dapat dikemukakan beberapa bentuk utuhnya yaitu: Karaf (botol kaca dengan bibir bulat datar) dari abad 9-10 M. Contoh lain tentang penelitian epigrafi Islam yang sudah dilakukan juga mengungkap cukup banyak hal penting tentang raja-raja yang memerintah di kerjaan-kerajaan yang bercorak Islam yang selama ini hanya diketahui atas dasar sumber tertulis berupa naskah ataupun sebaliknya. Penelitian nisan-nisan kuna di pantai utara Jawa sebagai tempat awal Islamisasi belum secara menyeluruh dilakukan. Selain itu berdasarkan angka tahun yang terdapat pada nisan dapat pula diketahui bilamana orang-orang Islam sudah datang dan menetap di Nusantara. Penutup Beberapa contoh penelitian arkeologi sebagaimana diuraikan di atas diharapkan dapat memberikan gambaran singkat bagaimana arkeologi memberikan makna pada material culture Islam sebagai usaha untuk memahami kehidupan dan perilaku manusia. Kaca berhias garis yang diukir diduga dari Iran abad ke 10 dan awal abad 11 M (Guillot. Artinya masih 700 abkltas yang belum terbaca. penelitian masih dilakukan secara parsial. 94 tahun lebih tua dari Malik as-Saleh di Pasai. 2002: 179-195). Temuan angka tahun ini bila dikaitkan dengan penelitian arkeologi di Lobu Tua Barus berupa artefak kaca dan tembikar yang diduga berasal dari abad ke 9-10 merupakan hal yang tidak mengejutkan. Seperti yang dikatakan Damais bahwa dari 1500 abkalts yang ada di Direktorat Sejarah dan Purbakala baru terbaca 800 abklats. fungsinya belum jelas. 143 . Tempayan Miniatur jenis Serahi dari Timur Tengah. Walaupun demikian penelitian tentang nisan-nisan kuno masih menyisakan banyak hal yang perlu dilakukan. piala silinder diduga berasal dari Iran abad 9-10 M. Demikian pula dengan studi tentang masjid kuno dan keraton. Setelah direkonstruksi artefak kaca. Barang-barang dari Laut Tengah nampaknya diimpor sejak awal abad 11 M.Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan Mesopotamia. Bagaimana perkembangan gaya tulisan dan ornamen dalam nisan-nisan kunopun belum pernah dilakukan dalam skala yang luas.

Inleideng tot de Hindoe-Javaansce Kunst” S’Gravenhage.146 Seiring dengan perkembangan jaman maka kajian-kajian arkeologi Islam tentunya harus diperluas dengan mengembangkan isue-isue yang relevan dengan masa kini dan menggunakan pendekatan atau teori-teori baru dan yang lebih penting untuk dilakukan adalah menyampaikan hasil-hasil penelitian tentang Islam di Indonesia kepada masyarakat luas. Johan. Jakarta:EFEO De Graaf.E.L. Vol.N. Seni Dekoratif pada Bangunan di Pantai Utara Jawa Abad 15-17.J.J. Disertasi Program Pascasarjana FIB-UI.2003.294-295.Hal: 238-246. 2009: 133 . “De Groote Moskee te Koeta-Radja” NION. 1920-1921. 1920.T Logos Wacana Ilmu Damais. 1922. 1947-1949. “De Oorsprong der Javaanse Moskee” Indonesie.1922. Menemukan Peradaban. hal. hal:69-87. J. Statu Masalah Penenda KeIslaman.van Hoeve-s’ Gravenhage. “Het Stadje Koedoes en zijn oude Kunst “NION. 2002. 1912.Pusat Penelitian Arkeologi. Ciputat : P. Sebuah Tinjauan Simbolik”. Pilihan Karya L.Hal:179-214. H.tweeman delijks Tijdschrift Gewijd aan het Indonesisch Cultuurgebied. 1988. Marwoto. Jasper. Epigrafi dan Sejarah Nusantara.J. Boundedness dan Polusi pada Situs Islam Cirebon Abad XVI-XVIII.Jurnal Lektur Keagamaan. Temuan Kaca di Lobu Tua:Tinjauan Awal.C.P. 1955.2 Oktober.1. Irmawati M. Lobu Tua Sejarah Awal Barus. 7. Kreemer. Wacana vol9 no. Hasan Mu’arif. “Ornamen Mihrab dan Lampu pada beberapa Makam.NV Uirgeverij W. Moquete. hal:208-214 144 .hal:3-30. Jakarta: EFEO.Claude& Sonny Ch. PIA VII.Yayasan Obor.vifde jaargang.Wibisono. 2007.Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia. Krom..[] Daftar Pustaka Ambary. Cipanas ------. 1996.7e jaargang. 1. “De Datum op den grafsteen van Malik Ibrahim te Gresik” TBG 54.1912.J.19201921.hal:291299 Guillot.Claude Guillot. afl.C Damais. Irmawati.1e Jrg. No. ed.

UI.1910. J.Lobu Tua Sejarah Awal Barus. Jakarta: EFEO.Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan Moquete. 1977. L’inscription coufique de Leran a’ Java. Majapahit dan kedatangan Islam Serta Prosesnya. no. Ph. 2007. Tjandrasasmita. Depbudpar. Heriyanti Ongkodharmo. Wirjosuparto. “De Islam en Zijn komst in den Archipel”. TBG 1925.80. hal. Marwati Djuned. “Bij de afbeelding van het graf van Malik Ibrahim te Gresik”.P. Riwayat Penyelidikan Kepurbakalaan Islam di Indonesia.van.2 bijlage. 2002. hal: 7-8 145 . Kesultanan Banten 1522-1684 Kajian Arkeologi Ekonomi. Fadjar.Method and Practice. Sejarah Nasional Indonesia.hal:275-290. kwt.86 Moquete. ed. 1925. “Verslag van mijn voorlopig onderzoek deer Mohammedaansche oudheden in Aceh en Onderhoogrigheden” OV.Yayasan Obor Poesponegoro. 1914. Archaeology Discoveryng Our Past. 21. Kapitalisme Pribumi Awal. Archaeology:Theories. Perre. 2003.Pusat Penelitian Arkeologi.Claude Guillot.1912 hal:536-548 OV. Jakarta: Puslit Arkenas Tjandrasasmita. Colin& Paul Bahn.S. 1914.135-140. Uka.Berhiaskan goresa dan Berglasir Percikan-Percikan Asal Timur Dekat di Lobu Tua.52. “De Grafsteen te Pase en Grissee vergeleken met dergelijke Monumenten uit Hindoestan” TBG. 1910. Sutjipto. 54. Daniel & Sugeng Riyanto.hal:596-600 Sharer. GrooningenBatavia.hal:157-178. hal:73. hal:107-135. Jakarta: Balai Pustaka Ravaisse. O. 700 Tahun Majapahit Statu Bunga Rampai. “Sejarah Pertumbuhan Bangunan Mesjid Indonesia”. Thames & Hudson Ronkel. Stutterheim.P. 50 tahun Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional.Tinjauan Awal. Robert&Wendy Ashmore. 1984. Hal:668-703. Tembikar Berslip.F. TBG. kwt. 1912. J. New York: Mc Graw Hill Company Inc. hal. 1935. Jakarta: FIB.komunitas Bambu. Surabaya: CV Bunga Rampai Untoro.4. Deel LXI Renfrew. 1961. tahun III. Jilid III. 2003. 1993. Uka. Paul.W. 1912.

Keraton seluas lebih kurang 3. 2009: 133 .org/ 146 .5 hektar itu merupakan kediaman para sultan Banten yang dibangun sekitar tahun 1552. 1.com Gambar 2: Pintu gerbang timur ‘Benteng Keraton Surosowan’ Sumber: http://www. 7. Vol. Sumber: http://cetak.iai-banten.146 Lampiran: Gambar 1: Sisa reruntuhan Keraton Surosowan. No.kompas.Jurnal Lektur Keagamaan.

Kata kunci: Ahmad Sanusi. — Usep Abdul Matin K. and His Work Collection Usep Abdul Matin UIN Syarif Hidayatullah. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . these Indonesian `ulam±--in particular from Malay--were involved in the network.. Dalam kesulitan itu. They developed the nature of freedom of joining differences in theology. Departmen Agama Republik Indonesia (1986). Sukabumi. Ahmad Sanusi telah menulis selama hidupnya sekitar 480 karya tulis. in jurisprudence. Introduction The network of `ulam± (Muslim learned men) in Haramayn (Mecca and Medina) has been starting to exist since the sixteenth century.H. Haramain. fatwa. sebagian besar dari karyanya tidak tersimpan di satu tempat.H. The core of the network was the degree to which a number of the famous `ulam± came to learn and to teach in the Haramayn. tulisan ini bertujuan untuk berbagi pendadapat tentang siapa K. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse. syariah Islam. They handed down this nature and their religious sciences to the later generation of `ulam± of 147 . bahkan sulit ditemukan.H.K. Namun. Karena itu. dan apa saja kiranya buku-buku yang telah beliau tulis.. In the second half of the seventeenth century.H. Islam dan negara. Ahmad Sanusi. K.H. They came from the various corners of the Muslim world. penulis telah berhasil mencari dan menemukan kurang lebih seratus dua puluh dua (122) karya K. Jakarta Menurut Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur Agama (Skr. and in mysticism. Puslitbang Lektur Keagamaan) Badan Litban dan Diklat. Ahmad Sanusi itu.

and 7. (Majalengka: Pengurus Besar “Persatuan Ummat Islam” Majlis Penyiaran dan Da`wah. — Usep Abdul Matin Indonesia. The religious sciences. He told me that in December 22.. Here was he appointed to be the adviser of the Party of Syarekat Islam.K. 3 See Mohammad Iskandar. Cantayan in Sukabumi. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . 74-75. (Amsterdam: Vrije Universiteit. he became a member of the Party of Syarekat Islam. 1999). West Java. went to Mecca together with his wife to perform hajj (pilgrimage) and to deepen his Islamic studies under the `ulam± from Malay. 1900-1942. 1991).H. S. K. 1998). pp. second edition. KH Ahmad Sanusi dan Perjoangannya. and was the secretary to K. see his speech translated into Dutch entitled “Dit Boek Nahratoe`ddhargam (De Gebiedende Leeuwenstem) Dienende tot Wering van de Aanvallen Veragtelijke Menschen Gericht tegen de S. for lending me this book. which Sanusi studied. Para Pengemban Amanah: Kyai dan Ulama dalam Perubahan Sosial–Politik di Priangan c. Sanusi went back to his home country. 1 148 .3 These facts signify Sanusi’s involvement in the Southeast Asian Connection.1 K. Siapa?: Lukisan tentang Pemimpin-pemimpin. 58-59. 2 M.H. In 1915.4 Azyumardi Azra. 19 Februari 1940). Ahmad Sanusi’s Religio-Intellectual Discourse In the beginning of the twentieth century.H. about the Arabic thought in the liberal age dated from 1798 to 1939. 54. this later group started establishing a Southeast Asian Connection in the beginning of the nineteenth century. a santri (religious student) from Sukabumi. see Rijk Universiteit Leiden.” . I am grateful to Mr. Ahmad Sanusi. 90-91. (Boenoet: “Pemerintah” Soekaboemi. 1991). 148-149. Later on. an unpublished thesis. pp.I. like physics. Studiegids Islamologie 1998/1999. 4 About Sanusi`s speech of Syarekat Islam. Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana & Kekuasaan. Rasyid Ridho. p. said Josep. Indonesia. Wanta. by Taufik Abdullah. pp. Sipahoetar. 3. Introd. During his stay in Mecca. in Proces Verbal. included the intellectual currents of the Arabic thought in the liberal age (1798 – 1939). when Sanusi was still in the Haramayn. (Leiden: Rijk Universiteit Leiden. precisely 1910. Ahmad Sanusi. 2001 in his house.2 such as those of Jamaluddin al-Afghani. Muhammad Abduh. pp. In 1913. The author is still alive.H. Gunung Jaya-Sukabumi.a. he studied not only the religious sciences but the general ones.. where he returned to his home town. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya. which is available in the KITLV Leiden University. Yosep Aspat Alamsyah.

Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . viz. 2001. 200 boekoe ketjil dan besar). K. Nevertheless. Sanusi was not able to break himself free from political affairs. According to my late father. Loc. — Usep Abdul Matin In the following year.H. therefore. 8 Ibid. he had been known as a famous religious teacher. Cit. To advocate this organization. K. In contrast. in my house in Sukabumi December 12.I/Islamic Association) in 1931. Interview with late K. Wanta. since 1922. he withdrew from this political organization5 and turned to assist his father. he had written two hundred (200) books both in small and big pieces (in Indonesian. which is also located in Sukabumi.I. during eleven years of his exile (in Indonesian. Pekauman Corps were the religious leaders who worked in the mosques in Sukabumi for benefit of the Dutch colonial government. Hence. Op. 91. His students in this pesantren came not only from Sukabumi but also from outside of West Java.8 His fame increased after he had established a religious association (in Indonesian. 7 .H. the Dutch had often put him in jail from 1919 to 1939. perkoempoelan agama).000) followers. al-Ittih±diyyat alIsl±miyyah (A.K. diinterner: 1928-1939). According to A.6 For their support. in 1922.H. who interviewed Sanusi face to face. Ahmad Sanusi had been a very productive writer.. people are used to calling it Pesantren Cantayan. the Dutch government gave them money. Therefore. Dudu Abdullah Hamidi... and attracted some twenty thousand (20. to teach his santris in his own pesantren (Islamic School) in Cantayan. when he was still with me.M. Sipahoetar. 6 5 149 .7 Sanusi’s intellectual productivity is also discernible in his establishment of a pesantren at Genteng. my father. especially in West Java. the colonial government regarded Sanusi to be their enemy. Abdurrahim. During that exile. therefore. Sanusi substituted its name with Persatuan Umat Mohammad Iskandar. he did not want to cooperate with the colonial Dutch government to make Indonesia independent. Dudu Abdullah Hamidi. This political role of Sanusi was unlike the other indigenous `ulam± who supported the Dutch colonial authority. p..H. Sipahoetar. Loc. these `ulam± were the members of the Politiesche Economisch Bond (PEB) and Pekauman Corps. Cit. Cit.M. S.

West Java.”. 1935). 12 Sanusi wrote this fatwâ in Malay language and Arabic characters on two wide and long pages of paper without title and year.9 Moreover. 89. Mindarat al-Islâm wa-alÎmân. This book was famous in Indonesia i. — Usep Abdul Matin Islam (PUI/The Association of Muslim Community)..10 This explains to us why Sanusi`s fame all over Nusantara grew after the publication of his Tamshiyya in 1934. as a threat to their influence among their religious students (in Indonesian. Abdullah ibn Husain. 11 Ibid. they banned this association. Borneo. Ambon. When Japan came to occupy Indonesia. Sanusi depended his Tamshiyya by giving a fatw± that encouraged its use. in Ensiklopedi Islam. (Jakarta: PT Intermasa.H. Vol. (Sukabumi: al-Ittihâd..K. On the basis of Perak`s fatw±. Bangka. Such sentiment was resulted in a way that the`ulam±s of Pekauman published their legal formal opinion (fatw±) that discourages from using of the Tamshiyya by reasoning that Latin characters were prohibited from writing the Qur`anic verses. Tażkirat al-Ikhwân bi-mâ fî Âkhir al-Zamân. Celebes. the colonial government considered this book to be a threat to their power. in October 1934. Menado. 1935). 1955). 9 150 . and I thank Ajengan Oyon Gunung Puyuh who allowed me to copy his Tamshiyya number 28. (Sukabumi: Kantor Cetak Sukabumi. Sumatra. (Pabuaran Sukabumi: no publisher`s name. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . he published a Qur`anic exegesis entitled Tamshiyyat al-Muslimin fi Tafsir Kalam Rabb al-`±lamin.e Java. Mohammad Iskandar who were willing to give my parents the copy of the fatwâ. and no one argued against this typescript. Madura. Sumbawa. Acep Zarkasih (about 80 years old) who lent me this book. 1993). santris). KH. see ibid. and Dr. I wish also to thank him for allowing me to copy his Tamsyiyyah numbered from 2 to 35. the `ulam±s of Pekauman discouraged the people from using the Tamshiyya. Nevertheless. p. I wish to thank to Hasan Husen Basri. West Java. as well as Johor and Singapore. Tahdîr al-Afkâr. Sanusi published the Qur`anic verses in this Tamshiyya not only in the Arabic language but also in the Latin characters. including the advantage of the Latin characters. pp. It was also deemed by the PEB and the `ulam±s of Pekauman in Sukabumi. Flores. 1.12 “Ahmad Sanusi. 1-5. I am thankful to H. He was the student of Ahmad Sanusi. See also Ahmad Sanusi. One of these `ulam± was Haji Oesman Perak from Bogor.11 To argue against this fatw±. This fatwâ was published by Kantor Cetak al-Ittihad Sukabumi. 10 Muhammad Misybâh ibn Haji Syafe`i Sukabumi. Vol 3.

which prohibited the official collectors of the tithe from collecting it forcefully from common people. Sanusi was also a member of Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan/BPUPKI/Committee Inspecting to Organize the Independence of Indonesia). As a result. tithe in rice or money paid on first day of fasting month.H. he empowered Indonesian Muslim youths. he gave a fatw± in 1936. Sanusi collaborated with Japan. Sanusi moved to Jakarta to cooperate with Muslim leaders in Jakarta to arrange a more stronger military power. the Japanese administrator disqualified him from this BPUPKI. “Zakat Fithrah”. Likewise. He left three wives and seventeen children. and in general other Indonesian youths. After the Indonesian independence. In this case. s.. in West Java. in particular those who lived in Sukabumi. His father was a close friend of Sanusi. In this colaboration. (Buitenzorg: Ang Tjio Drukkerij.. like other Indonesian political leaders.13 When Japan occupied Indonesia in the beginnings of 1940s. H. When the Nicagurkha occupied Sukabumi in West Java. Sanusi returned to Gunung Puyuh in Sukabumi. in 1944. — Usep Abdul Matin Sanusi’s intellectual debate with the `ulam± of Pekauman in Sukabumi. is also noticeable in the case of zakat fitrah viz. Sanusi keept encouraging PETA to drive out not only the occupation of Dutch but also that of Japan. to become soldiers of Hizbullah (Troop of God) and National Army of Indonesia (Tentara Nasional Indonesia/TNI). However. Ahm. West Java.a. According to the Puslitbang Lektur of the Department of National Religious 13 See his fatwâ in form of bulletin. In the beginning of 1950. In turn. he agreed with Japan to establish Pembela Tanah Air (PETA/Fatherland Protector) organization. the Japanese administrator in Indonesia appointed Sanusi to become a Japanese vice resident in Bogor. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . Sanoesi. and unified them into Hizbullah to expel the English Nicagurkha soldiers from Indonesia. 151 .. due to Sanusi’s strong leaning to Islam.). I wish to thank Mr Muflih for lending me this bulletin. in particular those who became AII members. where he died in the same year. Sanusi motivated all Muslim people in West Java. This colaboration helped him strengthen Indonesian Muslim community that he established in 1934 to drive the Ducth occupation out of Indonesia.K. two pages.

Mr. political. but also an active leader in diverse debates on religion. According to deceased Ajengan Dadun Abdul Qahar. I found about one hundred and twenty-two (122) of Sanusi’s works from some generous people. Oking had ever put some works written by Ahmad Sanusi into a bamboo in his house. 16 Interview with Mr. said to me that. After he died. before his death. Badan Litbang Agama.H. For instance. — Usep Abdul Matin Affairs in Jakarta. In addition. they would put him or her into a jail” (in Sundanese. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse .. 15 Interview with Ajengan Dadun in his house in Cibadak-Sukabumi. 2001. Therefore. In 14 Puslitbang Lektur Agama. the study on Sanusi is worthy conducting. then he buried them into a ground. on December 20. Oking (about 80 years old). 152 . However. as a result. This work is in form of micro film which is available in KITLV library. December 12. 2001. Cit. the dying exhortation of Ahmad Sanusi given to late Ajengan Dadun and the fear as felt by Mr. Oking just mentioned are the reasons of why his books are now disappearing and extremely difficult to find. and intellectualism in his time. a little brother of Ahmad Sanusi..K. and intellectual discourse. It has probably connection to such link in Indonesia today.. Oking explained to me that he did so because “if the Dutch administrators found someone possessing Sanusi’s works. The reason is the degree to which he is a Muslim who is not only a productive writer. in the colonial period of Indonesia. this article of mine may give us a portrait of his social. To me.15 In addition.16 Perhaps. 31-33. society. a student of Ahmad Sanusi. the study on Sanusi has its significant information of the relationship between Islam and state in Sanusi’s period. pp.. Leiden University. When I interviewed him. Sanusi was advocating to reinforce Islamic law in Indonesia. I had been working for five years to look for Sanusi’s writings. Sanusi had given him a dying exhortation (in Sundanese: wasiat) to suppress his works on masalah-masalah furu` (cases of ethics based on different principles of Islam). the Netherlands. bakal dibui). he was at the age of 80. politics. Op.14 These works are now scattered and difficult to discover. Oking at his house in Cigunung-Sukabumi. in particular his work collection. Sanusi left four hundred and eighty (480) pieces of works that he compiled by himself.

— Usep Abdul Matin 1998. 6. campaigned for shari`a in Sukabumi in West Java. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”.H. Ahmad Sanusi`s works which I have collected so far as follows. (Batavia: Hoefd Bestuur A. It was published by Kantor Cetak al-Ittih±d Sukabumi. late Dadun Abdul Qahhar. sambungan nomer 17] [four pages]. 5. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”.I. One of Qahhar’s students was an officer who was in charge of Cianjur regency (Bupati) in West Java.H. Bulletin and Magazine: 2. 11. This man reinforced also the Islamic law in this region (Cianjur). pangajaran al-Ittihad ka 17 Oktober 1933 no 4 [four pages]. dicetak di kantor cetak “al-Ittih±d” Punjul Tanah 153 . The fatw± of K. 9. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . Without title.I.H. 1 bulan sakali bulan Februari 1932 di Batavia [2 pages].. Ahmad Sanusi’s Work Collection I will mention K. his little brother. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. 10. Al-Isy±rah f³-al-Farq bayn al-Şadaqah wa-al-Diy±fah. dinukil jisim kuring Ahmad Sanusi bin Haji `Abd al-Rahim. 1. Tamshiyya]. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. January.H. 7. 8. 1932. K. 1 bulan skali bulan Februari 1932 di Batavia [2 pages].I. pangajaran nomor 2 di kaloearkeun koe Hoefd Bestuur A.I. pangajaran nomor 5 tahun 1932 [four pages].I. pangajaran nomor 3 telat dua bulan lantaran nunggu kantor cetakna di kaloearkeun koe Hoefd Bestuur A. 1932) [four pages].I.K. and without identity of publication [four pages]. 3. without title and year of publication. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. pangajaran al-Ittihad nomor 18 19 Janwari [probably. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. pangajaran nomor 7 Oktober tahun 1932 [four pages]. Wasidi Swastomo. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”.. Hartina Nuduhken kana Bedana antara Aya Şadaqah rejeng diy±fah dina Syara1. Ahmad Sanusi [on the use of Latin letters in his Qur`anic Exegesis.

— Usep Abdul Matin Tinggi Senin Batavia Centrum. Batavia Kramat. Ahmad Sanusi Gang Kampung Bali Kecil 6 Tanah Abang Weltevreden Betawi. Ris±lat Tashq³q al-Awham f³-al-Radd `an al-Tugam li-n±qil³h±. 13. because no 29 is dated to that year).K. akhir Bulan Syawwal 1347 (dan Haknya menyetak pun sudah jadi miliknya) (Cetakan ketigakalinya) Tercetak di kantor cetak dan toko kitab al-Sayyid `Ali al-`Idrus Keramat 38 Batavia Centrum). probably 1934. 27 Jumada al-Ula 1347. Tanah Tinggi. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . Ris±lat Tahd³r al-`Aw±m min Muftaray±t Cahaya Islam Hartina Mere Inget ka sakabeh Jalma Awam Kudu Sien tina sakabeh Jijieunan Bohongna kaom Surat Kabar Cahaya Islam dikumpulken ku jisim kuring anu kacida do`ifna Haji Ahmad Sanusi ibn Haji Abd al-Rahman di Tanah Tinggi Senen nomor 191 Weltevreden Batavia Kantor Cetak Harun ibn `Ali Ibrahim 3 Pakojan Betawi Telepon 1850 [72 pages]. no 19. my note] Bahasa Soenda oleh H.20. 16. No 23 24 Maanblad Juni (year is not clear. Fada`il Kasb al-Ikhtiy±r f³ Ilz±m Afwah al-Wu`az al-Gid±r Artinya Menyatakan segala Kelebihan Mencahari dan Berusaha 154 . Senen. Ahmad Sanoesi bin H. 14. Tafs³r Bahasa Soenda Februari 1932 Tahoen ka II diterbitkan saboelan sekali oleh Hadji Ahmad Sanoesi bin Hadji Ahmad Sanoesi bin Hadji Abdurrahim Tanah Tinggi Senen no 191 Batavia Kramat Harga langganan 2 boelan f 1. Abdurrahim T. Jilid tahun ka I kanggi nomor 1 September 1931 September 1931. Tafs³r Boechori dikloearken 1 boelan sekali oleh H. Maanblad Januari Februari no 30-31 1934. Weltevreden 8 november 1928 (Dicetak di Kantor Sayyid Yahya ibn Usman Tanah Abang). Pangadjaran [Tafsir ku. 15.. 17. Tinggi Senen no 191. 12.H. Ahmad Sanoesi bin Hadji Abdoerrahim. Ris±lat Tashq³q al-Awham f³-al-Radd `an al-Tagam Artinya Inilah Suatu Pembelah segala Sangkaan yang Salah di dalam Menolak Tukang Menyesatkan kepada Orang-orang Bodo karangan hamba yang doif Haji Ahmad Sanusi ibn Haji `Abd al-Rahim Gunung Puyuh Sukabumi Tercetak atas usaha Sayyid `Ali al-`Idrus Kampung Bali Keramat nomor 38 Batavia. 18..

without the name of publisher. s. (Batavia Centrum: al-Sayyid al-`Idrµs. s.a.a. 20 Romadhan 1347).a. (Tanah Abang-Weltevreden Batavia: Sayyid Yahya bin `Usman.). because no 31 is dated to 1934).). Ujang Sholehuddin. Al-Mufhim±t fi Daf`i al-Khayal±t. probably 1934.a). s. s.a. No. 10. without the name of the publisher. s. Al-Tamshiyyath al-Isl±miyyah f³ Man±qib Im±m al-Sh±fi`i. — Usep Abdul Matin Kehidupan di dalam […/not clear] segala Mulut si Tukang Ngajar yang selalu Menipu Orang dikeluarkan oleh hamba yang [ …/not clear] Haji Ahmad Sanusi bin Haji `Abd al-Rahim di Tanah Tinggi 191 Batavia Centrum. Number 47.a. From the beginning of December to the beginning of January 2002. (without place of the publisher.a). Tażkirat al-Th³libin fi Bayan Sunniyat al-Talq³n.a. 6. (Sukabumi: al-Ittih±d. Nµr al-Yaq³n f³ Mahw Madzhab al-La`³n min al-Mutanabbiyy³n wa-al-Mutabaddi`³n. 7.). Kanz al-Rahmah wa-al-Lutf f³ Tafs³r Sµrat al-Kahf. (Tanah Abang:Sayyid Yahya. There are tweleve works of Sanusi that I found from deceased Ahmad Djunaedi Ma`ruf17: 1. (Gunung PuyuhSukabumi: without the name of publisher. s. I had copied a number works composed by Ajengan Ahmad Sanusi as follows. Tarbiyyat al-Isl±m. Shir±j al-Ażkiy±` f³ Tarjamat al-Azkiy±`. 2. for helping me find this collection of late Ma`ruf. I am grateful to my friend.K. Mr. Kit±b Mift±h al-Jannah f³ Bay±n Firqat Ahl al-Sunnah wa-alJam±`ah.). 4. 9. and s.. Tercetak diterbitkan alIttihad Tanah Tinggi 191 Punjul Batavia Centrum. 5. 17 155 .).. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . 8. s. (without place of the publication. (Tanah Tinggi-Senen-Batavia Centrum: al-Ittihad. Al-Kalimat al-Mabniyyah f³ Qasy³dat ibn Hajjah. Tamshiyyat al-Muslimin f³ Kalami Rabb al-`Alam³n. 29 Maanblad December (year is not clear.).H. 3. (Panarakan Kaler-Bogor: Ikhtiyar.

s. 14. (Babakan Sirna-Karang Tengah Cibadak-Sukabumi.).a. s. 12. 156 .K. 13. 6. (without place of the publication. 4. 1. 11. Ǐq±d al-himam f³ ta`l³q al-hikam 5.a. (Sukabumi: alIttih±d. nor year of the publication). s. s.a). 8. 2. Iskandar Sanusi for introducing me to Mr. Jawharat al-wah³d (Pekojan-Betawi: Kantor cetak sareng Toko Buku Harun bin Ali Ibrahim. Lujj±m al-Gudd±r al-Qa`ilin bi-anna Abaway al-Nabiyy min Ahl al-N±r.a). s.). (Cibadak Sukabumi: without the name of publisher. Bahr al-madad f³ tarjamat ayyuh± al-walad (Vogelwegsukabumi: no publisher.`Tawh³d al-muslim³n wa`aq±`id al-mu`min³n (Tanah TinggiPunjul-Batavia: Kantor Cetak al-Ittihad. Vol. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . T³j±n al-gilm±n f³ tafs³r al-Qur’±n (Petamburan-Batavia: alSayyid `Abdullah putra al-Sayyid `Ushman.H.). There are nineteen (19) works of Sanusi that I found from Mr. 12.. Oking.a. s.a). Hid±yat al-siby±n f³ fad±’il sµrat tab±rak al-mulk min alQur’±n (Tanah Abang: Sayyid Yahya. 9. 10.). — Usep Abdul Matin 11. Min majmµ`at durµs al-`ulµm (Tanah Abang: Kantor Cetak Sayyid Yahya. Oking18: 1.). s. It includes the list of Sanusi`s works. Al-Sh±fiyat al-W±fiyah f³ Fadh±`il Sµrat al-F±tihah. Al-Sh±fiyat al-w±fiyah f³ fad±`il sµrat al-F±tihah 7. Tawh³d al-muslim³n wa `aq±`id al-mu`min³n (Bg [Bandung]: Sukma Rat. Al-Kaw±kib al-Durriyah fi-al-Ad`iyyah al-Nabawiyyah.a). s. (Tanah Abang: Kantor Cetak Sayyid Yahya. 3. s. Al-Kaw±kib al-Durriyyah f³ al-Ad`iyyat al-nabawiyyah (Tanah Abang: Kantor Cetak Sayyid Yahya.a).a. s. Al-Aqw±l al-Muf³dah f³-al-Umµr al-Muwhamah. s. without the name of publisher.. Jumad al-Awwal 1352).a. s. Hilyat al-`aql wa-al-fikr (Tanah Abang: Kantor Cetak Sayyid Yahya. no name of the publisher. 18 I thank Mr.a). Kashf al-Sa`±dah f³ Tafs³r Sµrat al-W±qi`ah.a).

(no place of publication: no publisher`s name. 3. Al-Muf³d (Vogelweg Sukabumi: no publisher`s name.a).a). s. Min majmµ`at durµs al-`ulµm. 9. 2. (no place of publication: no publisher`s name. (no place of publication. There are nine (9) works of Sanusi that I obtained from H. “Kabagjaan Islam”. (Gunung Puyuh-Sukabmi. 8. 1 November 1931).a). 3. (Tanah Tinggi Betawi: Kantor Cetak Al-Ittih±d. (Tanah Abang Weltevreden: Sayyid Yahya. Ahmad Muflih.a. 19. Hilyat al-siby±n f³ bay±n sawm ramaz±n (No place of publication: no publisher`s name. 17.a).a). 6. Vol 1. Ǐq±d al-himam f³ ta`l³q al-hikam. s. Tanw³r al-dal±m fi Furuq al-Isl±m. 7.). no publisher`s name. no. There is one (1) book of Sanusi that I gained from Mr. (Pekojan-Betawi: Toko Buku Harun bin `Ali Ibrahim. s. 3. s. Tafs³r Malja` al-T±lib³n. Vol.a). — Usep Abdul Matin 15. no. 4. Acep Zarkasyih in Sukabumi. 18. “Kabagjaan Islam”. “Al-Tabl³g al-Isl±m³ (Embaran Kaislaman)”.a. 16. s. no. Ahmad Muflih19: I wish again to thank Mr. 1. “Mu`±hadah Perjanjian Allah Ta`ala ka Nabi Adam”.).. s. 19 157 . in “Kabagjaan Islam”. 3rd edition. 5. 18. and s. 2. (Tanah Tinggi Betawi: Kantor Cetak Al-Ittih±d. s.H. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse .). Al-mutahhir±t min al-Mukaffir±t.a). no name of publisher.a. (Gunung Puyuh-Sukabumi: al-Ittihad. Tafs³r Malja` al-T±lib³n. (Sukabumi: alIttihad.. Ujang to introduce me to his father. (Gunung Puyuh-Sukabumi: without publisher`s name. 1935). s. West Java: 1. 28 January 1931/9 Ramadlan 1349). This piece of work is printed in 16 combined pages. s. October 1935). Mr. Vol.K. (no place of the publication: no publisher`s name. Tafs³r Malja` al-T±lib³n. Al-Jaw±hir al-B±hiyyah f³ Adab al-Mar`ah al-Mutazawwijah.

.a. (Cantayan: no publisher.a). s. Malja` al-T±lib³n f³ Tafsir Kal±m Rabb al-`±lamin. s. s. because the writer “just started to learn how to write to follow the footsteps of professional writers” (diajar tutulisan tuturuti ka anu tukang ngarang). (no place of publication: no name of publisher. 158 . s. “Al-Mufid: `Ilm al-Tawh³d”.). 2nd edition. 2. the author says that he asks the pardons of his readers if they find some some mistakes in this book because the writer was still learning (anu nulisna diajar). 5. There are thirty-seven (37) books of Sanusi that I copied from Dr.a). (no place of publication: no year of publication.K. 28 January 1931/9 Ramadhan 1349). On the title-page of this work.a). (Babakan Sirna: no publisher. Tafr³h Sudµr al-Mu`minin f³ Mawlid Sayyid al-Mursal³n. — Usep Abdul Matin 1. s. Hilyat al-Siby±n f³ Bay±n Saum Ramad±n.. the author mentioned that he asked the pardons of his pardons if they find his bad expressions of his words (kirang sae prak-prakannana). On the title-page of this book. Al-Ad±wiyyah al-S±fiyah f³ Bay±n S±l±t al-H±jah wa-alIstikh±rah wa Daf`i al-Kurb±t. s. (VogelwegGunung Puyuh-Sukabumi: no publisher. (Pekojan-Betawi: Ahl al-Sunnah wa-al-Jam±`ah. 7. Thirty-seven of them are books written by Ahmad Sanusi as listed above. Oman Fathurrahman20: 1. (Vogelweg 100 Sukabumi: no publisher. 4. 6. Vol. Tafs³r Sµrat al-Mulk: Hid±yat Qulµb al-Siby±n f³ Fad±`il Sµrat Tab±rak al-Mulk min al-Qur`±n. 3. Oman Fathurrahman for allowing me to copy about 63 works from his collection. (Kampung Petamburan-Tanah Abang-Betawi: Tuan Sayyid `Abd All±h bin Sayyid `U£m±n. Jawharat al-Marfiyyah fi Mukhtasar Ma©hab al-Sh±fi`iyyah. (Tanah Abang Weltevreden: Sayyid Yahya. 9.a).a.).a). Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . Manzµmat al-Rij±l li-Sayyid `Al³ Zayn al-`±bid³n. s.a). s. Al-Lu`lu` al-Nadlid fi Masa`il al-Tauhid. Qal±`id al-Durar f³ Bay±n `Aqd al-Jauhar.1.H. 22 Rabi` al-Awwal 1348). (Gunung Puyuh-Sukabumi: no publisher. 8. 20 I am once again grateful to Dr.

). 20. 19. Tafsir Boechari. (Tanah Tinggi-Senen No 191 Batavia Kramat: no publisher. (Senen-Batavia Centrum: Harun bin `Ali Nur. 7. 16.a. 21. s. — Usep Abdul Matin 10.a. 3. 28 March 1931). 3. 2. Pangajaran dengen Bahasa Soenda. 28 August 1931). Vol. Tafsir Bahasa Soenda. No. 18. maanblad.. Tafsir Bahasa Soenda. (Jatinegara: no publisher. Al-Matlab al-Aśna f³-al-Asm±` al-Husna. 191: Harun bin `Ali. February 1932). 28 July 1931). 26 Rajab 1347). No.). (Tanah Tinggi-Senen No 191 Batavia Kramat: al-Ittihad. 23. 13. 12. s. the author mentioned the right of the publication: Pasal (section) 11 tina undang-undang (of the law) dated to 1912 number 600. 11. 1 October 1931). (Tanah Tinggi-Senen Batavia Kramat: al-Ittihad. 17. 24. (Pekojan-Betawi No. (Tanah Tinggi-Senen No 191 Batavia Kramat: no publisher. the scriber is al-Sayyid Muhammad bin Yahya. January-February. year III).). 5. 159 . 1. No. s. Mift±¥ al-Mad±d. Tawh³d al-Muslim³n wa `Aqa`id al-Mu`min³n. No. 8. Tafsir Bahasa Soenda. Tafsir Bahasa Soenda. No.). (Gunung PuyuhSukabumi: no publisher. No. (Gunung PuyuhSukabumi: without publisher. (Vogelweg-Sukabumi: without publisher. Kashf al-Awham wa-al-Zunµn f³ Bay±n Qaulih Ta`±l± l± Yamassuhµ ill± al-Mutahharµn. No. “Miftahoelmadad: Kaifiat Ngajarken Zoebad Ilmoe Tauhid Fiqih Tashaoef”. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse .K. 22. (Vogelweg-Sukabumi: without publisher. mandblad. 15. no 191. 19-20.a. Mei 1936). “Tuntunan Budi”. number 1.H. On the title page. Qaw±n³n al-D³niyyah wa-al-Duny±wiyyah f³ Umµr al-Zak±h wa-al-Fitrah. (Tanah Tinggi-Senen No 191 Batavia Kramat: no publisher. 14. 28 May 1931/10 Muharram 1350).. Tafsir Bahasa Soenda. s. 2. (De Vogelweg no 100 Soekaboemi: al-Ittihad. s. 28 April 1931). No. (Senen: Pak Haji Harun bin `Ali Ibrahim.). The author is Ahmad Sanusi.a.a. (Tanah Abang Weltevrede: Sayyid Yahya. without publisher. 4. Vol. Tafsir Bahasa Soenda.

(PekojanBetawi: Harun Ibn `Ali Ibrahim. 34. (without the place of publisher: without the publisher`s name.Igtir±r bi-Żal±lat wa-Iftir±y±t Tasyfiyyat al-Afk±r. 29. (Cantayan-Sukabumi: without publisher. 16. Mr. Vol. — Usep Abdul Matin 25. (Tanah Abang Weltevreden: Sayyid Yahya. Epon (the wife of late Haji Tamim. Tamshiyyat al-Wild±n f³ Tafs³r al-Qur`±n. 20 Muharram 1348). 28. 1912). (Tanah Tinggi Punjul 65 Batavia Kramat: al-Ittihad. Ujang Suhud. (Sukabumi: Al-Ittih±d.a). (no place of publisher: without the name of publisher.. Al-Fiqh al-Akbar Im±m Hanaf³. Sir±j al-Ummah f³ Khasy±`isy al-Jum`ah. s. This collection belonged to her late husband. s.. 32. 27. Ris±lat Tahd³r al-`Aw±m min Muftaray±t Cahaya Islam. (Sukabumi: Kutamas.K. my grandfa). s. Al-Suyµf al-Sy±rimah f³-al-Radd `al± al-Fat±w± al-B±tilah. 8 Rabi`u al-Akhir 1349). s. Hilyat al-`Aql wa-al-Fikr f³ Bay±n Muqtaday±t al-Shirk wa-alFikr.). 16. J±mi`u al-Durar f³ Tabd³d Awham Haji Bodor.). 31. s. Sillah al-B±sil fi-al-Darb `al± Taz±hiq al-B±til.a.). 6. Tafr³h sudµr al-mu`min³n f³ mawlid sayyid al-mursal³n. 160 . Vol. 3. 35. 37. (Sukabumi: Kutamas. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . She gave them to me as a gift.a). Tanb³h al-Hayr±n f³ Tafs³r Sµrat al-Dukh±n. 1935). (Pekojan-Betawi: Harun ibn `Ali Ibrahim. Ris±lat al-Jawharah al-Mardiyyah f³ Mukhtasyar al-Furµ`iyyah al-Sh±fi`iyyah. It is as follows: 1. (Tanah Abang: Sayyid Yahya. Hid±yat Qulµb al-Shiby±n f³ Fad±`il Sµrat Tab±raka al-Mulk min al-Qur`±n. (Tanah Abang: Sayyid Yahya. 1929/6 Ramadhan 1347). (Gunung Puyuh Sukabumi: no publisher`s name. 26. (Tanaha Abang Weltevreden Betawi: Sayyid Yahya bin Ustman. 1912). 2. [1931]). Rawdat al-`irf± f³ ma`rifat al-Qur’±n. (8 Rab³` al-±khir 1348/3 October 1929).). s. 24 Ramadhan 1347). 36.a.a). Tahdir al-Afk±r min al. Rawdat al-`irf± f³ ma`rifat al-Qur’±n. (Babakan Sirna: without publisher.a.H. 33. 2. There are nine (9) books of Sanusi that I received from Mrs.a. Al-Sir±j al-Wahh±j fi-al-Isr±` wa-al-Mi`r±j. s. 30.

Mamih Ijong. (De Vogelweg Sukabumi: No publisher`s name.a. (no place of publication: no publisher`s name. (Tanah Tinggi Betawi: no publisher`s name. s. s.a. (Djl. (no place of publication: no publisher`s name. s. 2. 161 . 28 March 1931).a. Tafs³r malja` al-t±lib³n.. 6. 28 April 1931). s. ‫( .K. It contais the Quranic exegesis of the verse Al `Imr±n. 5. Tafs³r malja` al-t±lib³n. Vol. (Tanah Tinggi Senen 191 Batavia Keramat: no publisher`s name. 30. 1 September 1931. Uking`s collection. Rawdat al-`irf±n f³ ma`rifat al-Qur’±n. 1912). s. On the last page of the book. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . Tafs³r malja` al-t±lib³n. Tjagak Tjisaat – Sukabumi: H. Zainal Abidin Toko kitab dan Petji Merk “Sedjati”. 4. Vol. and some corrections of the author of some words mentioned in previous volumes of this exegesis. 8. 7.). (Tanah Abang Weltevreden Betawi: Kantor Cetak Sayyid Yahya bin `Usman.H. (no place of publication: no publisher`s name.). 100 Sukabumi: no publisher`s name.a. Rawdat al-`irf± f³ ma`rifat al-Qur’±n.اﻟﻤﻄﻬﺮات ﻣﻦ اﻟﻤﻜﻔﺮ١ت‬De Vogelweg No.). Jawharat al-mardiyyah f³ mukhtasar maż±hib al-Sh±fi`iyyah. I found the cover of this book from Mr. Vol. This book starts from the verse alNaba` to the verse al-N±s and ends at the Du`a` Khatm alQur`±n. Tafs³r malja` al-t±lib³n. Vol. 2. Tamshiyyat al-dar±r³. I write them in the Arabic script as follows: 1.). K. 3rd edition. there is a list of the people who died. tahun ka 1). Rawdat al-`irf± f³ ma`rifat al-Qur’±n. Vol. 9. On the last page of the book there is the list of the people who just died.). There are eleven (11) books of Sanusi that I received from Mrs. (Tanah Tinggi Senen Keramat No. M. — Usep Abdul Matin 4. There are three (3) books of Sanusi that I received from my late father. 10 Syawwal 1349/28 February 1931). 3.H. 4 Pekojan Betawi: Kantor Cetak Harun bin `Ali.. 1.a. 3. Dudu Abdullah Hamidi: 1.

a. 5: Percetakan “al-`Usmaniyyah” Sayyid Hasan bin Usman bin ….. In addition.a.ﺟﻮهﺮة اﻟﻤﺮﺿﻴﺔ ﻓﻲ ﻣﺨﺘﺼﺮ ﻣﺪاهﺐ اﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ‬No place of the publication: no publisher`s name. which says that he received anything to publish this book in a cheap cost. He said that Tafsir Raudhat al`Irfan is worth reading for both old people (sepuh) and teenagers (murangkalih). Tafsir Yasin (Tafrih Qulub al-Mu`minin).اﻟﺴﻼح اﻟﻤﺎﺣﻴﺔ ﻟﻄﺮق اﻟﻔﺮق اﻟﻤﺒﺘﺪﻋﺔ‬Gunung Puyuh Sukabumi: no publisher`s name.اﻟﺪﻳﺎر اﻷﺳﻼﻣﻴﺔ ﻓﻲ اﻟﺴﻌﺎدة اﻷﺑﺪﻳﺔ : دار ﻷﺳﻼم دﻧﺎ آﺎﺑﻜﺠﺎ‬ (Kramat 38 Jakarta: Sd. s. 2. ‫” اﻧﺎﻧﻮ ﻣﻌﻤﻮر .). 5.آﺸﻒ اﻟﺴﻌﺎدة ﻓﻲ ﺗﻔﺴﻴﺮ ﺳﻮرة اﻟﻮاﻗﻌﺔ‬Babakan Sirna Sukabumi.اﻳﻘﺎظ اﻟﻬﻤﻢ ﻓﻲ ﺗﻌﻠﻴﻖ اﻟﺤﻜﻢ‬No place of the publication: no publisher`s name.).). s.).a. 20 Muharram 1348). s. 9. s. like al-Wajiz by 162 .H. there is a stample named by Muhammad Sanusi. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . ‫( .a.ﺗﺎج اﻟﻤﻔﺎﺧﺮ ﻓﻲ ﺗﻔﺮﻳﺢ اﻟﺨﺎﻃﺮ ﻓﻲ ﻣﻨﺎﻗﺐ اﻟﺴﻴﺪ ﻋﺒﺪ اﻟﻘﺎدر ﺟﻴﻼﻧﻰ‬Tanah Abang Weltevereden: Kantor Cetak Sayyid Yahya. 4.). the author warned the readers that his works entitled: 1. 7. (De Vogelweg Sukabumi: Al-Ittihad.a. ‫( . Tafsir Dukhan (Tanbih al-Hayran).a. 3. 11.a. 3.ﺗﻴﺠﺎن اﻟﻐﻠﻤﺎن ﻓﻲ ﺗﻔﺴﻴﺮ اﻟﻘﺮأن‬Cantayan Sukabumi. ‫ . On the last page of this book. 1 Rajab 1347/13 December 1928). s. 10.. s. — Usep Abdul Matin 2. s. 2. ‫ .هﺪاﻳﺔ اﻟﺼﻤﺪ ﻓﻰ ﻣﺘﻦ اﻟﺰﺑﺪ‬Gunung Puyuh Sukabumi: No publisher`s name.اﻟﻤﻄﻬﺮات ﻣﻦ اﻟﻤﻜﻔﺮات‬no place of the publication: No publisher`s name.). ‫( . ‫ : ﻣﻨﻈﻮﻣﺔ اﻟﺮﺟﺎل ﻟﺴﻴﺪى ﻋﻠﻰ زﻳﻦ اﻟﻌﺎﺑﺪﻳﻦ‬Ieu Nadlam Qashidah Tawassul kalawan Sakabeh Awliya` Allah. 26 Rajab 1347).ا ﻟﺸﺮاج اﻟﻮهﺎج ﻓﻰ اﻷﺳﺮاء واﻟﻤﻌﺮاج‬Tanah Abang Kecil No.K. ‫( . sayyid Yahya. were published by Musa bin `Ali Patekwan Betawi without the author`s permission.a.). ‫( . ‫( . On the back-cover title-page of this book. s. 6. Ali Alaydroes. On the title-page of this book. ‫ . there is announcement of the publisher. ‫( .آﺸﻒ اﻷوهﺎم واﻟﻈﻨﻮن ﻓﻲ ﺑﻴﺎن ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻲ ﻻﻳﻤﺴﻪ اﻻ اﻟﻤﻄﻬﺮون‬Tanah Abang: Kantor Cetak Sayyid Yahya. 13 Jumadi al-Awwal 1361/29 Mei 2602 Nippon (1942). he prohibited the readers from reading the fake works (kitab-kitab tiruan). 8. Friday. (Tanah Abang Weltevreden: Boekhandel en Steendrukkerij Sajid Yahya.). (Petamburan Betawi: Cetakan Sayyid `Abdullah putra Sayyid Usman.

in particular the students of Islamic History and Civilization. to study further on Sanusi in a more deeply way. [] Bibliography Alamsyah. I could draw a conclusion that KH. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. On this paper.K. Gunung JayaSukabumi.a. Introd. he qouted the prophet`s statement: “Man Gassana fa laysa minna” (whoever performed a back bitting is not from us). Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana & Kekuasaan. such as Muhammad `Abduh and Jamaluddin Al-Afghani. Ahmad Sanusi: K. thereby prohibiting Indonesians from having and reading Sanusi’s works. December 22. by Taufik Abdullah. I have a good luck to find more than one hundred writings authored by Sanusi. Yosep Aspat. He warned them that whoever was involved in this case would be expelled by God from Islam. Then.H.H. He was a Sundanese reformer Muslim whose ideas were influenced very much by notorious Muslim reformers. I dedicate this work to my late parents.. 163 . who lived from the last nineteenth to the first twentieth century. and my grandfa who became the adjutant to the late father of K. Ahmad Sanusi. Mr. I hope that this article inspires the readers. 2001 in his house. Azra. is a prolific writer whose works are now dfficult to discover for the reason that the Dutch colonial government regarded him as a dangerous man to them.. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse .H. 1999.). Conclusion On the basis of the above-mentioned details. (Gunung Puyuh Sukabumi: no publisher`s name. since he traveled to the Haramayn (Mecca and Medina) to learn and to teach. — Usep Abdul Matin Haji Muhammad Juwayni bin Haji `Abdurrahim Parakan Salak published by Sayyid `Ali al-`Idrusiy in the Keramat Batavia Centrum. Abdurrahim. Sukabumi: Misb±h al-Fal±h f³ Awrad al-Mas` wa-al-Syab±h. Azyumardi. There is one book of Sanusi that I found from a santri of Syams al-`Ulum in Gunung Puyuh. s.

Interview with late K. Jakarta: Bagian Proyek Penelitian dan Pengembangan Lektur Agama Departemen Agama. Siapa?: Lukisan tentang Pemimpin-pemimpin. Mohammad. Jakarta: PT Intermasa. [This work is in form of micro film which is available in the KITLV library. Leiden University. When I interviewed him.I. 1. 2001. Mindharat al-Islam wa-alIman. Sukabumi. Proyek Penelitian Keagamaan. 1993. Oking in his house in Cigunung. Sukabumi: al-Ittih±d. Leiden. ibn Husain. Kantor Cetak al-Ittihad Sukabumi. Iskandar. Tadhkirat al-Ikhw±n bi-m± fî ±khir al-Zam±n. — Usep Abdul Matin Ensiklopedi Islam. Badan Litbang Agama. Ibn Haji Syafe`i Sukabumi. Sanusi. Fatw±.” s. 164 .a. ---------. in Proces Verbal. 1991. KH. 1998 Leiden: Rijk Universiteit Leiden. 1935.. Muhammad Misbah. Tahdîr al-Afk±r. ---------. Studiegids Islamologie 1998/1999. An unpublished thesis. Sukabumi. my father. on December 20.H. Rijk Universiteit. Sukabumi: Kantor Cetak Sukabumi.H. Biografi K.. 1955.a.K. ---------. KH Ahmad Sanusi dan Perjoangannya. KITLV. Buitenzorg: Ang Tjio Drukkerij. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . Puslitbang Lektur Agama. [Fatw±] “Zakat Fithrah. Para Pengemban Amanah: Kyai dan Ulama dalam Perubahan Sosial – Politik di Priangan c. 1991. Amsterdam: Vrije Universiteit. 3.” . Majalengka: Pengurus Besar “Persatuan Ummat Islam” Majlis Penyiaran dan Da`wah. Wanta. 1986. Dudu Abdullah Hamidi. 2001. Second edition. West Java. [Sanusi`s speech of Syarekat Islam] “Dit Boek Nahratoe`ddhargam (De Gebiedende Leeuwenstem) Dienende tot Wering van de Aanvallen Veragtelijke Menschen Gericht tegen de S. 2001. The Netherlands]. Interview: Interview with late Ajengan Dadun in his house in Cibadak. 1935. Ahmad. Interview with Mr. 1900-1942.H. Leiden University. 19 Februari 1940. Sipahoetar. Abdullah. Ahmad Sanusi. Vol.. he was at the age of 80. in our house in Sukabumi December 12. M. December 12. Boenoet: “Pemerintah” Soekaboemi. Vol.

Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Teks dan Konteks. Moreover. karya Oman Fathurahman Uka Tjandrasasmita UIN Syarif Hidayatullah. Kajian filologi semacam ini mensyaratkan para filolog untuk memperkaya wawasannya dengan pengetahuan tentang sejarah sosial-intelektual tersebut. this study is hoped to motivate other local philologist to conduct such study. illustrate the existing difference between the order of Syattariyah and the order of Naqsyabandiyah. Therefore. tarekat Syattariyah. The explanation which is based on the manuscripts of the Syattariyah Minangkabau. it was clear that the teaching of monisme or unity of being was eliminated and the teaching was adjusted to the teaching of Islam which is based on the creed of Ahlus Sunnah wal Jamaah Kata kunci: Filologi. An interesting thing is that this book is a result of the philological study with the approach of sociointellectual history which the local philologists are still rare to use.Tarekat Syattariyah di Minangkabau — Uka Tjandrasasmita Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Tinjauan Buku “Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Teks dan Konteks”. Burhanuddin Ulakan. with its seven grades teaching. In fact. Minangkabau Pendahuluan Kajian filologi dengan pendekatan sejarah sosial-intelektual masih jarang dilakukan oleh ahli filologi Indonesia. Buku karya Oman Fathurahman. The order of Syattariyah is considered by a group of Naqsyabandiyah to teach the wujudiyah (monism or unity of being). the order of Syattariyah Syekh Burhanuddin Ulakan tought in the following period was flexible. Tarekat Syattariyah di 165 . The study of the book has been extended by additional analysis on the representation of the Sundanese manuscript with Kuningan version dan two other Javanese manuscripts – Cirebon version and Girilaya version. Jakarta This writing is an overview of the book written by Oman Fathurahman.

Vol. No. 2009: 165 . 166 . untuk kasus di Minangkabau (Sumatera Barat). Buku yang akan kita tinjau ini merupakan kajian filologis dengan pendekatan sejarah sosial-intelektual. surau merupakan pusat penulisan dan penyalinan naskah-naskah keislaman tersebut. tidak sebatas Minangkabau. Cakupan pembahasan dalam buku ini sudah mengalami perluasan. ”Apresiasi Warisan Intelektual Islam di Surau Minangkabau”. dipakai sebagai bahan perbandingan untuk melihat sejauh mana kekhasan dinamika dan perkembangan tarekat Syattariyah di Sumatera Barat yang tetap menjadi perhatian utamanya. 1. Jika diadakan perbandingan dengan naskah-naskah yang mengandung keagamaan Islam di daerah lainnya di Nusantara atau dengan naskah-naskah Islam yang berkembang di wilayah asalnya di Tanah Arab.174 Minangkabau: Teks dan Konteks. merupakan karya yang berasal dari disertasi untuk memperoleh gelar doktor pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia tahun 2003. Naskah dan Pendekatan Interdisipliner Buku karya Oman Fathurahman ini dapat dikatakan telah teruji bobot keilmiahannya karena merupakan hasil disertasi yang dinyatakan lulus dengan pujian cumlaude oleh dewan pengujinya.Jurnal Lektur Keagamaan. Betapa pentingnya buku karya Oman Fathurahman ini telah ditandaskan oleh Azyumardi Azra dalam Kata Pengantarnya. Ketiga naskah tersebut menurut Oman Fathurahman. Diharapkan kehadiran buku ini dapat mendorong para ahli filologi Indonesia lainnya untuk mengadakan kajian semacam itu. melainkan juga analisis terhadap representasi naskah Sunda “versi Kuningan” dan dua naskah Jawa “versi Cirebon” dan “versi Girilaya”. 7. Azra mengatakan bahwa dari segi kajian naskah-naskah (manuscripts) keislaman yang tersebar di Nusantara. Naskah-naskah lokal di Minangkabau menunjukkan ekspresi Islam lokal. Hal ini menunjukkan bahwa surau merupakan pusat pewarisan intelektual Islam. naskah-naskah Minangkabau memperlihatkan kekhasannya tersendiri yang menunjukkan ekpresi Islam di Indonesia di mana terdapat unsur-unsur budaya lokal.

J. de Graaf dan lain-lain (Uka Tjandrasasmita: Kajian Naskah-Naskah Klasik.D. Disertasi yang sangat penting artinya bagi pengembangan sejarah pemikiran keagamaan ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Mengenai hal ini pernah saya kemukakan dalam suatu risalah sebagai kontribusi memperingati usia ke-80 tahun R. secara khusus kami juga telah menyampaikan makalah tentang bagaimana hubungannya antara Filologi dan Pendekatan Interdisipliner di 167 . kajian naskah dapat juga memberikan kontribusi pada kajian arkeologi. ekonomi.P. dan kebudayaan bahkan perobatan.A. di Columbia University tahun 1992 dengan judul The Transmission of Islamic Reformation to Indonesia Networks of Middle Eastern and Malay-Indonesian Ulama in the Seventeenth and Eighteenth Centuries. yaitu Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Melacak Akar-Akar Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia. Buku ini diharapkan mendorong para ahli filologi pribumi lainnya untuk mengadakan kajian semacam itu.. bahkan H. adat. Sebenarnya kajian terhadap naskah dengan pendekatan sejarah sosio-intelektual telah dipelopori oleh Azyumardi Azra melalui disertasinya untuk memperoleh Ph. Karyanya telah saya contoh untuk membedakan ahli-ahli filologi masa lampau yang menggunakan kajiannya dengan pendekatan sejarah-politik konvensional sempit seperti R. politik. Hans Overbeck. pada umumnya mengandung informasi berlimpah yang meliputi kehidupan sosial.471).. 2006: 43-52). Kecuali itu. Kecuali dapat dimanfaatkan bagi penulisan sejarah. Soejono. Contribution of Islamic Manuscripts for the Study of Islamic Archaeology (Uka Tjandrasasmita. Saya sendiri telah mencoba menguraikan permasalahan ini dalam buku yang baru saya sebutkan di atas. A. Cense. baik yang bernuansa keagamaan Islam maupun yang bukan. Mengingat naskah-naskah atau manuskrip khazanah budaya bangsa Indonesia.. 2006: 459-. Hoesein Djajadiningrat.A.Tarekat Syattariyah di Minangkabau — Uka Tjandrasasmita Hal yang menarik perhatian kita adalah bahwa buku Oman Fathurahman ini merupakan hasil kajian filologi dengan pendekatan sejarah sosial-intelektual yang masih jarang dilakukan di antara ahli filologi pribumi. maka selayaknya filologi juga memakai pernaskahan itu dengan pendekatan sejarah dan ilmu-ilmu sosial lainnya. hukum.

Deram (w. mengingat begitu luasnya kandungan pernaskahan kuno yang dapat dikaitkan dengan kajian berbagai ilmu. 7. yaitu Abdurrauf ibn Ali al-Jawi al-Fansuridi antaranya ialah Tanbīh al-Māsyī al168 . Naskahnaskah tersebut merupakan karya tulis tiga orang ulama yaitu: Imam Maulana Abdul Manaf Amin (1922-2006). Karya guru Syekh Burhanuddin Ulakan.Jurnal Lektur Keagamaan. Kedua ahli tasawuf ini adalah guru Abdurrauf ibn Ali al-Jawi al-Fansuri. Isi pokoknya dapat dibaca dalam ringkasannya yang antara lain mengemukakan tentang sumber primernya yang berdasarkan 10 judul naskah-naskah Syattariyah dari Sumatera Barat. Oman Fathurahman dalam penelitiannya menggunakan dua sumber Arab yaitu kitab al-Sim¥ al-Majīd sebuah karangan tasawuf Syekh A¥mad al-Qusyāsyī dan It¥āf al-ª±ki bi Syar¥ al-Tu¥fah alMursalah ilā Rū¥ al-Nabī karangan Ibrāhīm al-Kūrānī.174 Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama pada tanggal 14 Nopember 2008. Untuk mengukur sampai dimana dinamika tarekat Syattariyah yang dibentangkan dalam naskah-naskah dari Sumatera Barat atau Minangkabau itu. H. No. 2009: 165 . 2000). K. Bahkan naskah-naskah yang membicarakan hal-hal pengobatan tradisional dengan bermacam tumbuhan dapat dikaji dari segi ilmu kedokteran modern. Vol. Karya Abdurrauf kemudian ditransmisikan kepada Syekh Burhanuddin Ulakan yang meneruskan dan mengembangkan ajaran tarekat Syattariyah di Sumatera Barat. 1. Pribumisasi Tarekat Syattariyah di Sumatera Barat Kembali mengenai tinjauan terhadap buku karya Oman Fathurahman. sehingga tidak mengherankan kalau karya-karya Abdurrauf merujuk pada kitab-kitab kedua ahli tasawuf tersebut. dan Tuanku Bagindo Abbas Ulakan. khususnya tentang Tarekat Syattariyah di Minangkabau. Selanjutnya juga diturunkan kepada muridmuridnya di Minangkabau sampai pada tiga orang ahli tarekat Syattariyah abad ke-20 yang namanya telah disebut di atas dan karangannya menjadi sumber primer bagi penelitian tarekat di Sumatera Barat/Minangkabau. dapat dikatakan bahwa cakupan yang dibicarakannya cukup banyak dan sangat bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.

Persoalan yang diangkat dalam karangan tersebut ialah masalah Wujudiyah yang pada abad ke-17 menjadi ajang pertentangan antara Hamzah al-Fansuri dan muridnya asSumatrani. hal tersebut sudah dibahas dengan teliti dalam subjudul “Zikir Tarekat Syattariyah dalam Tanbīh al-Māsyī dan Kifāyah al-Muhtājīn” (h. Namun. teks Tanbīh al-Māsyī yang aslinya ditulis dalam bahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. menurut pembacaan saya. yaitu Nuruddin al-Raniri sehingga atas anjurannya kitab-kitab karangan kedua ahli tasawuf Wujudiyah itu dibakar. 64-69 dan 7072). Bila Nuruddin al-Raniri yang pada waktu itu menjadi penentang keras terhadap Wujudiyah maka Abdurrauf al-Singkili bersikap moderat yang dapat kita simak dari kitab Tanbīh al-Māsyī dan kitab-kitab lainnya. Kitab tafsirnya yang berjudul Tarjumān al-Mustafīd merupakan tafsir Al-Qur’an pertama di dunia Islam dalam bahasa Melayu. Oman Fathurahman menyebutkan tidak kurang dari 23 buah karya Abdurrauf di bidang tasawuf. Ada perbedaan antara tujuan zikir Abdurrauf dalam Tanbīh alMāsyī yang merujuk kepada karya Syekh al-Qusyāsyī dengan Syattariyah di Sumatera Barat.Tarekat Syattariyah di Minangkabau — Uka Tjandrasasmita Mansūb il± °arīq al-Qusyāsyī (Pedoman bagi orang yang menempuh tarekat al-Qusyāsyī). Kitab-kitab di bidang hadis yang dicatat Oman Fathurahman ada dua buah. sedangkan untuk kitab yang menjadi objek kajiannya. khususnya mengenai amalan-amalan Syattariyah yang mengandung rumus-rumus atau simbol-simbol zikir dan cukup penting. dijumpai empat salinan naskah yang disalin dalam rentang waktu berbeda. serta dianggap ajaran yang sesat oleh lawannya. Kitab Abdurrauf ini sebenarnya pernah dikaji dan diterbitkan Oman Fathurahman dengan judul Menyoal Wahdatul Wujud: Kasus Abdurrauf Singkel di Aceh Abad ke-17 (Fathurahman. Pada bab IV. yaitu Tanbīh al-Māsyī. kata Azyumardi Azra. Meskipun demikian. 10 buah di bidang fikih. Abdurrauf mewacanakan bahwa tujuan akhir zikir tarekat Syattariyah ialah 169 . Dalam naskah-naskahnya. dan satu buah di bidang tafsir. 1999). sayang dalam buku ini ajaran-ajaran zikir Syattariyah Abdurrauf yang terdapat dalam teks itu. belum mendapat porsi yang cukup memadai dalam pembahasannya karena baru diungkap secara sepintas.

Sikap dari para penganut tarekat Syattariyah di Sumatera Barat/Minangkabau tersebut oleh Oman dibahas berdasarkan naskah-naskah primer yang ditulis. yang dalam buku ini dikemukakan pada bagian keenam (h. 7. No. 111-129). sejumlah naskah Minangkabau menjelaskan adanya upaya pelucutan doktrin Wujudiyah dari keseluruhan ajaran tareakat Syattariyah. padahal kenyataannya tarekat Syattariyah yang diajarkan Syekh Burhanuddin Ulakan sampai masa berikutnya senantiasa mendasarkan pada prinsip-prinsip al-Quran dan Hadis Nabi. 1.174 konsep fana. Tarekat Syattariyah dianggap oleh kelompok masyarakat penganut tarekat Naqsyabandiyah mengajarkan doktrin Wujudiyah yang dianggap berlebihan dan menyimpang. yaitu apa bedanya dengan upacara tabuik yang biasanya dilakukan 170 .Jurnal Lektur Keagamaan. Orang yang mengikuti upacara ritual ini bukan hanya penganut tarekat Syattariyah tetapi juga penganut Islam pada umumnya. Hal lain yang juga menarik perhatian kita adalah uraian yang didasarkan pada naskah-naskah dari Minangkabau/Sumatera Barat yang mengandung gambaran adanya perbedaan paham antara tarekat Syattariyah dengan tarekat Naqsyabandiyah. Vol. 2009: 165 . Ada pertanyaan yang perlu dikemukakan. disalin dan diwariskan oleh para guru tarekat Syattariyah dari surau sebagai skriptorium pernaskahan. Bulan Safar tersebut dikaitkan dengan anggapan masa wafatnya Syekh Burhanuddin Ulakan sendiri. sedangkan dalam teks-teks di Sumatra Barat lebih banyak disebutkan bahwa. tujuan akhir zikir hanya “sekadar” untuk membersihkan jiwa agar memperoleh kedekatan dengan Tuhan dan untuk membuka rasa agar memperoleh keyakinan dan kesaksian akan hakikat dan wujud-Nya. Ritual Basapa ialah upacara berziarah ke makam Syekh Burhanuddin Ulakan sebagai ulama besar tarekat Syattariyah di Sumatera Barat yang dilakukan setiap tahun pada tanggal 10 Safar. 130-149). dengan alasan bertentangan dengan prinsip-prinsip ahlussunnah wal-jamaah. Di dalamnya dibahas serta diberikan contoh pula adanya pribumisasi tarekat Syattariyah yang antara lain berwujud dalam kesenian upacara ritual kesenian yang disebut Basapa dan kesenian Salawat Dulang (h. Dalam level tertentu. Jelas ini merupakan bagian dari dinamika tarekat Syattariyah di Sumatera Barat.

penelusurannya akan semakin lengkap jika dikaitkan pula dengan ajaran tarekat Syattariyah yang semula dianut oleh Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah. “Cirebon”. tarekat Syattariyah ketiga versi tersebut dikatakannya. Tarekat Syattariyah versi “Kuningan”. baik dari Kuningan maupun dari Mertasinga Cirebon yang ditulis pada abad 18-19 M. karena hal itu mungkin disebabkan adanya hubungan silsilah guru-guru tarekat Syattariyah yang juga sering mencantumkan tokoh Ali bin Abu Thalib panutan utama aliran Syiah.Tarekat Syattariyah di Minangkabau — Uka Tjandrasasmita oleh penganut Syiah di Pariaman dan tempat lainnya? Ini bisa bersamaan atau hampir bersamaan. sebelum diterbitkan dalam bentuk buku. tarekat di Kuningan. dan Girilaya cenderung kepada tarekat Syattariyah Abdurrauf dari Aceh dengan tidak menolak sama sekali tasawuf Wujudiyah walaupun tetap mengajarkan Martabat Tujuh yang diterima oleh Syekh Abdul Muhyi (Pamijahan) dari gurunya Abdurrauf al-Singkili. pertama kalinya upacara itu dilakukan pada masa hidupnya Syekh Burhanuddin Ulakan yang pernah menyaksikan upacara kesenian di Aceh dengan menggunakan rebana. dan berbagai lagu-lagu lainnya. Kalau Oman Fathurahman mengambil contoh naskah versi Kuningan. dan “Girilaya” Untuk melengkapi disertasinya. Menurut tradisi. Oman Fathurahman telah memperluas pembahasan tentang dinamika tarekat Syattariyah di Minangkabau melalui perbandingan dengan “versi Kuningan”. “versi Cirebon”. Cirebon. Salawat Dulang atau Salawat Talam sampai kini dilakukan oleh masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat. Berbeda dengan tarekat Syattariyah Sumatera Barat. Demikian di antaranya pribumisasi tarekat Syattariyah di Sumatera Barat. Dalam upacaya ini biasanya terdiri dari dua grup yang dilaksanakan dengan cara berdialog tentang keagamaan Islam. dan “versi Girilaya”. yaitu kesenian yang menggunakan antara lain dulang atau talam dengan cara dipukul-pukul sambil membacakan salawat Nabi. Selain itu disisi pula dengan khutbah. Sunan Gunung Jati atau Syekh 171 . Kecuali itu pribumisasi tarekat Syattariyah terekspresi dalam upacara kesenian Salawat Dulang. Karena berdasarkan pemberitaan dalam naskah. naskah yang berasal dari Kiai Maolani.

Jurnal Lektur Keagamaan. Sayidina Ali. menurut cerita. Penutup Hasil kajian yang telah dilakukan Oman Fathurahman melalui bukunya ini. Cirebon dan Kuningan. makamnya ada di kompleks makam Kiai Mojo di Kampung Jawa. Sayidina Zainal Abidin. Muhammad Magrib dan seterusnya secara turun temurun sampai pada ulama-ulama di Jawa. Wahyu. Kabupaten Minahasa. Dalam naskah Kuningan lebih rinci lagi ajaran tasawuf dengan tarekat-tarekatnya terutama tarekat Syattariyah seperti disebut dalam silsilah Mursyidnya: dari mulai Nabi Muhammad. Masalah tarekat-tarekat ini dapat dibaca dalam Amman N. 7. Naqsyabandiyah. masyarakat Kuningan menyebut Kiai Maolani atau Lengkong itu dengan Embah Manado. ke Sayidina Husein. ia pernah ke Cirebon dan mengajarkan tarekat Syattariyah.174 Syarif Hidayatullah berguru tasawuf tarekat Kubrawiyah. sampai terakhir pada Kiai Mas Demang wedana pensiun Atmawijaya. yang terkenal sebagai pujangga besar Sunda dengan banyaknya karangan mengenai adat istiadat dan lain sebagainya. Kini. Vol. bagaimanapun. Kecamatan Tondano. 2009: 165 . Tambahan lain yang perlu dimasukkan adalah bagaimana hubungan tarekat Syattariah dengan Martabat Tujuh yang ditulis oleh Haji Hasan Mustafa. dan Satoriyah (Syattariyah). telah memberikan sumbangan besar bagi perkembangan studi filologi dengan pendekatan sejarah sosio172 . Imam Ja’far as-Sidik. Sebab. Hal ini perlu diadakan penelitian lebih jauh. 2005) dan (Naskah Kuningan. No. Juga bagaimana kelak jika telah dipelajari tarekat Syattariyah yang diajarkan di Buton dan mungkin tempat-tempat lainnya yang sudah tentu akan memberikan gambaran yang luas sekali tentang keberadaan tarekat Syattariyah di Nusantara ini. Abi Yazid al-Bisthami. Kecuali itu bagaimana kaitan ajaran tarekat Syekh Abdul Muhyi dari Pamijahan dengan yang berada di Cirebon. Oleh karena itu. 1. Sejarah Wali: Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati (Naskah Mertasinga. 2007). apakah ada hubungannya dengan naskah tarekat Syattariyah dari Haji Maolani-Lengkong-KuninganJawa Barat yang diasingkan Pemerintah Hindia-Belanda semasa Perang Diponegoro ke Menado. Sayidina Muhammad al-Baqir.

Hasil kajian seperti itu akan mendorong semangat terutama bagi siapapun yang berkecimpung. [] Daftar Pustaka Azra. 173 . Chambert-Loir. terutama yang termasuk ilmu-ilmu sosial.F. 1999. perlu menyadari untuk mengadakan penelitian naskah-naskah yang bernuansa keagamaan.Tarekat Syattariyah di Minangkabau — Uka Tjandrasasmita intelektual atau pemikiran Islam karya cendekiawan Muslim masa lampau di Indonesia. Henri & Oman Fathurahman.O. Centre de Jakarta. Buku karya Oman Fathurahman ini dapat semakin menegaskan bahwa naskah kuno keagamaan memiliki arti yang sangat penting untuk studi-studi keagamaan.O. 1994. baik UIN Syarif Hidayatullah atau di perguruan tinggi agama lainnya. Semoga buku ini mencapai tujuannya untuk menambah wawasan para pembacanya dan juga untuk memperkaya khazanah kepustkaan Indonesia pada umumnya dan kepustakaan Islam Indonesia pada khususnya. yang tidak terbatas pada kajian filologi. Bandung: Mizan.E. Panduan Koleksi Naskah Naskah Indonesia Sedunia/ World Guide to Indonesian Manuscript Collections. bahkan ilmu-ilmu lainnya seperti kedokteran dan teknologi. Fathurahman.E. Demikian pula bagi para mahasiswa yang tengah menuntut ilmu di berbagai jurusan dengan bidangnya masing-masing dapat menyentuh nuraninya untuk mempelajari filologi atau pernaskahan. Jakarta: E.-Yayasan Obor Indonesia.F. Melalui kajian semacam itu dapat diyakini betapa tingginya nilainilai keintelektualan para ulama kita di masa lampau yang telah mewariskan ratusan bahkan ribuan naskah sebagai warisan khazanah budaya bangsa. Azyumardi. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII Melaacak Akar-Akar Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia. Penerbit Mizan. Tanbih Al-Masyi Menyoal Wahdatul Wujud Kasus Abdurrauf Singkel di Aceh Abad 17. baik dalam bidang filologi maupun di bidang ilmu-ilmu lainnya. Lebih-lebih bagi mahasiswa-mahasiswa Fakultas Adab dan Humanaiora. Jakarta dan Bandung: E. Oman. 1999.

I. Sejarah Wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati (Naskah Mertasinga). Uka. 1998. Kajian Naskah-Naskah Klasik dan Penerapannya bagi Kajian Sejarah Islam di Indonesia. 4 November. 7. Sejarah Wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. “Pendekatan Interdisipliner Dalam Kajian Filologi”.Jurnal Lektur Keagamaan. Disampaikan dalam Diklat Penelitian Naskah Keagamaan Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan Departemen Agama RI.P. R. 2006. Tgl. h.174 Tjandrasasmita. ----------. (Naskah Kuningan). 2008. 2006.Alih aksara dan bahasa. “The Contribution of Islamic Manuscripts for the Study of Islamic Archaeology”. No. 1426 H/1995 M. Bandung: Penerbit Pustaka. Archaeology Indonesia Perspective. Alih aksara dan bahasa. 459-471 ----------. Kajian Sejarah dan Arkeologi Islam di Indonesia: Pemanfaatan: Hasil Kajian Filologi. Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama R. 174 . Amman N. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. Jakarta: Pidato Penganugerahan Gelar Doktor Honoris Causa oleh IAIN Syarif Hidayatullah. Vol. Indonesian Institute for Sciences: International Center for Prehistoric and Austronesian Studies. Soejono’s Fest Script. 2009: 165 . 2007. Wahju. ----------. Bandung: Penerbit Pustaka ----------. 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful