ISSN 1693-7139

Jurnal Lektur Keagamaan
Vol. 7, No. 1, Tahun 2009/No. Akreditasi: 48/Akred-LIPI/P2MBI/12/2006

Daftar Isi
Kajian Naskah, Sejarah, dan Arkeologi Teks, Islam dan Sejarah: Setali Tiga Uang Fuad Jabali Perang dan Damai di Aceh: Kajian Manuskrip Aceh Tentang Konflik dan Solusinya Fakhriati 1 — 20

21 — 52

Beberapa Aspek Kodikologi Naskah Keagamaan Islam di Bali: Sebuah Penelusuran Awal Asep Saefullah dan M. Adib Misbachul Islam 53 — 90 Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua dalam Naskah-Naskah Tarekat Syattariyah di Minangkabau Pramono dan Bahren

91 — 108

Peran Penting Pernaskahan dan Benda Khazanah Keislaman Lainnya dalam Kajian Arkeologi Islam di Indonesia Agus Aris Munandar 109 — 132 Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara Irmawati M-Johan Tokoh K.H. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual 133 — 146

Discourse, and His Work Collection
Usep Abdul Matin Telaah Buku Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Tinjauan Buku “Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Teks dan Konteks”, karya Oman Fathurahman Uka Tjandrasasmita 165 — 174 147 — 164

i

ISSN 1693-7139

Jurnal Lektur Keagamaan
Vol. 7, No. 1, Tahun 2009/No. Akreditasi: 48/Akred-LIPI/P2MBI/12/2006
PEMBINA PEMIMPIN UMUM REDAKTUR AHLI (MITRA BESTARI) M Atho Mudzhar Maidir Harun Uka Tjandrasasmita (UIN Syahid Jakarta); Nabilah Lubis (UIN Syahid Jakarta); Abdul Hadi WM (Universitas Paramadina); Achadiati Ikram (Universitas Indonesia); Badri Yatim (UIN Syahid Jakarta); Oman Fathurahman (UIN Syahid Jakarta); Tommy Christomy (Universitas Indonesia); Titik Pudjiastuti (Universitas Indonesia); Sudarnoto Abdul Hakim (UIN Syahid Jakarta) Asep Saefullah Masmedia Pinem E. Badri Yunardi, Harisun Arsyad, Ahmad Rahman, Muchlis, Andi Bahruddin Malik, Dazrizal, M. Syatibi, AH, Ali Akbar, Muchlis M. Hanafi, Ridwan Bustamam, Munawiroh Ibnu Hasyir, Nurman Kholis, Muhammad Salim, Ida Swidaningsih, Umi Kulsum Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI Gedung Bayt al-Qur’an & Museum Istiqlal, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta 13560 Telp./Faks. (021) 87794220 E-mail: puslitbang_lektur@yahoo.co.id

PEMIMPIN REDAKSI SEKRETARIS REDAKSI DEWAN REDAKSI

TATA USAHA ALAMAT REDAKSI

* Kulit depan: Naskah MS Serangan 01, h. 56, milik H. Baharuddin, Kampung Serangan, Denpasar, Bali; dan Halaman Awal Naskah Hiyakaye milik Syik Jah Amut, Geulumpang Miyeunk, Pidie, Aceh. *

Berdasarkan SK Kepala LIPI No. 1563/D/2006 tanggal 18 Desember 2006, Jurnal Lektur Keagamaan telah terakreditasi A ii

Islam. Salah satu sumber yang sangat penting digunakan untuk mengkaji sejarah kehidupan orang Aceh adalah naskah kuno yang menjadi tulisan iii . redaksi menampilkan delapan tulisan. Sampai batas tertentu. setidaknya dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori besar. Khazanah Budaya Keagamaan. Konflik internal maupun eksternal telah terjadi dalam periode-periode yang berbeda. Pada Nomor ini. Jurnal Lektur Keagamaan telah memperluas wilayah cakupannya yang disesuaikan dengan tugas dan fungsi Puslitbang Lektur Keagamaan. teks dan sejarah. teks dan sejarah adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. yaitu: 1) teks-teks yang dilahirkan oleh kalangan skripturalis/fundamentalis. Tulisan pertama menyajikan tentang Islam. Perang dan damai telah mewarnai daerah ini sepanjang sejarahnya. Di sinilah kejelian seorang filolog diuji. Telaah Dokumen. Golongan pertama lebih menekankan teks dan cenderung menghasilkan teks yang stabil. kepada kelompok mana teks itu dihubungkan. Obituari/Tokoh. dan 2) teks-teks yang dilahirkan oleh kalangan esensialis.Pengantar Redaksi Sejak tahun 2008. Tulisan ini menjelaskan hubungan yang erat antara Islam sebagai sebuah sistem nilai. Kajian Lektur Kontemporer. teks-teks yang lahir dalam dunia Islam. dan sejarah (ruang dan waktu) sebagai konteks dimana sistem nilai itu diturunkan dalam teks. Pada tulisan kedua diulas mengenai perang dan damai di Aceh melalui kajian atas manuskrip Aceh tentang konflik dan solusinya. sedangkan golongan kedua lebih pada konteks tetapi teks yang dihasilkannya cenderung labil. teks dimana sistem nilai itu diekspresikan. Cakupan tersebut meliputi Kajian Naskah Klasik. Secara garis besar. Arkeologi dan Sejarah. membaca teksteks dari Timur Tengah nampaknya lebih ‘mudah’ dibanding membaca dokumen sejenis di Indonesia. Aceh adalah sebuah daerah yang memiliki penduduk yang kehidupan mereka cukup berfluktuatif. dan Telaah Buku/Kitab serta materi yang berkaitan dengan kebijakan.

naskah-naskah tersebut memiliki arti penting karena berkaitan dengan kebutuhan keagamaan sehari-hari bagi para pengikut Tarekat Syattariyah di Minangkabau. Secara kultural. Dari aspek kodikologi. Kondisi naskah keagamaan Islam di Bali pada umumnya sangat memprihatinkan. wirid. doa. dan Bali. Pertanyaan utama yang perlu dibahas adalah bagaimana cara orang Aceh mengatasi konflik dalam kehidupan mereka. kertas Eropa. khususnya terkait dengan Tarekat Syattariyah. Bagi para penganut tarekat Syattariyah. 4) Isi naskah antara lain mencakup fikih. Tulisan ketiga menyajikan hasil penelusuran awal tentang beberapa aspek kodikologi naskah keagamaan Islam di Provinsi Bali. Tulisan keempat tentang kepemimpinan Islam di kalangan Kaum Tua dalam naskah-naskah Tarekat Syattariyah di Minangkabau. Sebagian besar naskah sudah rusak.mereka sendiri. dan geguritan (cerita). dan menjelaskan sikap dan tingkah laku orang Aceh secara langsung. adab kepada guru. Naskah yang ditemukan sebanyak 38 buah dengan perincian sebagai berikut: 1) Naskah keagamaan berbahan kertas sebanyak 12 naskah. Para iv . dan yang tertua tahun 1035 H/1625 M. 3) Waktu penyalinan antara abad ke-17–19 M. bahasa (nahwu-saraf). tidak terawat dan kurang mendapat perhatian. mengetahui riwayat guru adalah sebuah keharusan karena bermakna penghormatan kepada guru. dapat dicatat beberapa hal: 1) bahan yang digunakan beragam. dan obatobatan. 2) Naskah lontar sebanyak 12 naskah. Makalah ini mencoba menemukan dan menganalisa sumber-sumber primer ini dalam hubungannya dengan perang dan damai yang terjadi dalam sejarah kehidupan orang Aceh. mulai dari abad ke-17 hingga abad ke-20 M. dan bagaimana karater serta sikap mereka pada masa lalu. tauhid. Tulisan ini berupaya memberikan penafsiran atas naskah-naskah lokal di Minangkabau. dan lontar. generasi sekarang dapat membaca dan memahami langsung tentang tulisan orang Aceh yang menjadi sumber utama. dan 3) Naskah Al-Qur’an sebanyak 14 naskah. Al-Qur’an. Bugis. karena di dalamnya mengandung informasi asli tentang Aceh. kertas modern bergaris. Tulisan ini merupakan hasil penelusuran naskah keagamaan Islam di Bali tahun 2008 yang lalu. dan bahkan tidak utuh lagi. untuk kemudian menjadi teladan bagi kehidupannya. tasawuf. 2) Bahasa dan aksara yang digunakan meliputi Arab. yaitu dluang. Melayu (Jawi). Karenanya.

riwayat dan ajarannya ditulis dan disebarkan. Tulisan terakhir merupakan telaah buku yang judul “Tarekat Syattariyah di Minangkabau Teks dan Konteks”. Tulisan pertama menyajikan peran penting pernaskahan dan benda khazanah keislaman lainnya dalam kajian arkeologi Islam di Indonesia. Dua tulisan lain selanjutnya membahas hubungan naskah dengan arkeologi. Peranan data dari sumber tertulis dalam kajian arkeologi Islam antara lain sebagai berikut: (a) Pendukung kajian terhadap data artefaktual. Namun. karya Oman Fathurahman. Menurut Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur Agama (Skr. Tulisan ini menjelaskan bagaimana peran arkeologi dalam kajian Islam di Nusantara dan hal-hal apa saja yang menjadi kajian arkeologi. (c) Data dari sumber tertulis dapat menjadi dasar penelitian dan kerangka acuan kajian arkeologi Islam. Sedangkan tulisan kedua membahas peran arkeologi dalam kajian Islam Nusantara.H.H. Ahmad Sanusi itu. dan (d) Memperkaya interpretasi untuk dapat mengembangkan historiografi. Suaranya didengar.H. Tulisan ini membahas wacana keagamaan dan karya-karya K. Departmen Agama RI tahun 1986. sebagian besar dari karyanya tidak tersimpan di satu tempat. tetapi juga di bidang sosial-budaya dan politik.H. bahkan sulit ditemukan. dan apa saja kiranya buku-buku yang telah beliau tulis.H. Ahmad Sanusi (1888-1950). tingkah lakunya diikuti. Tulisan ini membahas tentang posisi penting data tertulis. Selain itu. Tulisan ini bertujuan untuk berbagi pendapat tentang siapa K. Mereka dihormati. (b) Memperluas pemahaman tentang kedudukan dan peranan artefak dalam masyarakat sezaman. dikemukakan pula berbagai penelitian yang telah dilakukan selama ini yang berkait dengan Islam di Nusantara. khususnya naskah klasik keagamaan (Islam) dalam studi arkeologi religi (Islam). ditemukan kurang lebih seratus dua puluh dua (122) karya K. Puslitbang Lektur Keagamaan) Badan Litbang dan Diklat.ulama pemimpin Kaum Tua berperan tidak hanya di bidang keagamaan. yaitu K. Buku ini merupakan hasil kajian filologi dengan v . Selanjutnya adalah tulisan tentang tokoh. sebagai penerang di dunia bahkan sampai di akhirat. Ahmad Sanusi telah menulis selama hidupnya 480 karya tulis. Ahmad Sanusi. K. Dalam kesulitan itu. Ahmad Sanusi.

Jakarta—yang telah menerjemahkan semua abstrak ke dalam bahasa Inggris. selamat membaca.pendekatan sejarah sosial-intelektual yang masih jarang dilakukan di antara ahli filologi pribumi. Pembahasan dalam buku telah mengalami perluasan dengan tambahan analisis terhadap representasi naskah Sunda “versi Kuningan” dan dua naskah Jawa “versi Cirebon” dan “versi Girilaya”. dan semoga bermanfaat. redaksi mengucapkan terima kasih secara khusus kepada Lukman Hakim—Staf Ahli pada Jurnal Penamas. menggambarkan adanya perbedaan paham antara Tarekat Syattariyah dengan Tarekat Naqsyabandiyah. Terakhir. Redaksi vi . Uraian yang didasarkan pada naskah-naskah Syattariyah Minangkabau. Balai Litbang Agama. Tarekat Syattariyah dianggap oleh kelompok masyarakat penganut Tarekat Naqsyabandiyah mengajarkan hal-hal wujudiyah. dan kepada Usep Abdul Matin—Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta—atas kontribusinya mengedit abstrak berbahasa Inggris. Demikian. kenyataannya. Tarekat Syattariyah yang diajarkan Syekh Burhanuddin Ulakan sampai masa berikutnya bersikap lumer. Padahal.

(terj. Manajer Penelitian dan Pengabdian Masyarakat FIB UI (2008—sekarang). Tahun 2006. bidang Arkeologi) dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia. lulus tahun 1999 dengan judul disertasi “Pelebahan: Upaya Pemberian Makna para Puri-puri Bali abad ke14—19”. S2 (Magister Humaniora). di Kuala Lumpur Malaysia. “Ragam Hiasan Mushaf Kuno Koleksi Bayt al-Qur’an dan Museum Istiqlal. No. atau email: agus. lulus tahun 1990 dengan judul tesis “Kegiatan Keagamaan di Gunung Pawitra: Gunung Suci di Jawa Timur Abad ke-14--15”. Sawangan Depok 16519. Sawangan Permai. 2003). Fakultas Pascasarjana Universitas Indonesia. UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2001. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia). Kraemer (Bandung: Mizan. Departemen Agama RI. 11-25 Juli 2004. dan S 2 di Program Studi Ilmu Susastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia tahun 2005.8/30.) karya Joel L. Pelita.ac. Mukjizat Sabar. 5. Jakarta 1993. Jakarta” Jurnal Lektur Keagamaan. mengikuti International Course on the Handling and Cataloguing of Islamic Manuscripts. Adib Misbachul Islam menyelesaikan studi S1 di Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab IAIN (skr. 2007. 18 Oktober 1971. (021) 98284951. Vol. 1. Konstitusionalis Pertama yang Prosais”. Ponsel 0816 1447887. Ia menyelesaikan S1 pada Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam IAIN (skr. S3 (Doktor Arkeologi). M. Departemen Arkeologi. Jakarta. Pada vii . Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI). Pernah menjadi fasilitator pada Pelatihan Filologi Nasional yang diselenggarakan oleh Yayasan Naskah Nusantara (YANASSA) bekerja sama dengan The Toyota Foundation dan PPIM UIN Jakarta. Jawa Barat. Saat ini Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tahun 2007 mengikuti Diklat Penelitian Naskah Keagamaan. 2006).id Asep Saefullah lahir di Kuningan. No. dan S2 di perguruang tinggi yang sama tahun 2000 pada Program Studi Sejarah Peradaban Islam. Karya-karyanya antara lain “Ibnul Muqaffa. dan lain-lain. Ia dapat dihubungi di Jalan Garuda IV Blok D. adalah Peneliti di Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI.Para Penulis Agus Aris Munandar adalah Staf Pengajar Program Studi Arkeologi Indonesia. lulus tahun 1984 dengan judul Skripsi “Beberapa Data Historis dari Parasasti Mula-Malurung”. Renaisans Islam: Kebangkitan Intelektual dan Budaya pada Abad Pertengahan. Menyelesaikan pendidikan S1 (Sarjana Sastra.aris@ui. UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 1997. (terj.) karya Tallal Alie Turfe (Bandung: Mizania.

MA dalam Islamic Societies and Cultures dari School of Oriental and African Studies (SOAS) University of London (1992). Usep Abdul Matin memperoleh gelar MA di bidang Kajian Islam dari Duke University pada tanggal 26 Mei 2008 di Amerika Serikat dan satu lagi dari Leiden University di Belanda (cum laude) pada tanggal 22 Februari 2001. “Menguak Sufisme Tuang Rappang”. Islam in Indonesia: Islamic Studies and Social Transformation (Co-editor Jamhari). London. dan Sarjana dalam bidang Sejarah dan Peradaban Islam dari Fakultas Adab IAIN (sekarang Fakultas Adab dan Humaniora UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta (1989). Menjadi Sekretaris Departemen Arkeologi FIB UI sejak 2004-2007. Karya tulisnya antara lain. 2002. yang diselenggarakan oleh al-Furqan Islamic Heritage Foundation. Jakarta: Logos. Mencetak Muslim Modern. 2008. Sejak 2007 hingga sekarang menjadi Ketua Departemen Arkeologi dan Ketua Program Pascasarjana Departemen Arkeologi FIB UI. Konsultan Projek Kerjasama Luar Negeri (Indonesia-Canada Social Equity Project).bulan Maret-April 2006. Minat keilmuannya terfokus pada dua hal: (1) Tradisi Islam klasik. Vol 6. Malaysia. Jakarta: Nalar. Riaz Hasan. Jakarta: RajaGrafindo Persada. Brill. 2005. dosen di Fakultas Adab dan Humaniora dan di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Irmawati M-Johan sejak tahun 1981-sekarang menjadi dosen di Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI). mendapatkan gelar Doktor dengan predikat Dean Honour List dari Institute of Islamic Studies. No. 3. sedangkan The Asian Foundation for Research and Consultancy viii . Fuad Jabali. Peta Pendidikan Islam di Indonesia (Making Modern Muslims: Map of Islamic Education in Indonesia). dia adalah Deputi Direktur Bidang Akademik Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. The Comnpanions of the Prophet: A Study of Geographical Distribution and Political Alignments. No. The Foreign Fulbright Grant telah memberikan beasiswa kepadanya untuk program S2 di Duke. 2. McGill University (1999). International Journal for South East Asian Islam. Leiden: E. bekerja sama dengan International Islamic University Malaysia (IIUM). Montreal-Jakarta: ICIHEP. “Relasi Tuhan dan Alam: Pandangan Sufistik Syaikh Yusuf Makassar dalam Naskah Sirr al-Asrar”. “Membangun Pesantren di Ranah Sunda: Belajar dari Darul Arqam” dalam Jajat Burhanuddin and Dina Afrianty. J. Jurnal Lektur Keagamaan. 2005. selama tiga minggu mengikuti International Course in the Handling and Cataloguing of Islamic Manuscripts di Kuala Lumpur. 2002. Editor Studia Islamika. 2006. Departemen Agama. Di antara karya-karya tulisnya adalah IAIN: Modernisasi Islam di Indonesia (Co-editor Jamhari). Selain mengajar. Jakarta: RajaGrafindo Persada. Keragaman Iman: Studi Komparatif Masyarakat Muslim (co-translator). Benturan Peradaban: Sikap Islamis Indonesia Terhadap Amerika Serikat (Co-author). 2003. dan (2) Bagaimana tradisi Islam klasik tersebut digunakan atau disalahgunakan oleh masyarakat Muslim kontemporer untuk menjustifikasi posisi/aliran keberagamaan mereka. Jurnal Lektur Keagamaan. Vol. 2006. 1.

Saat ini menjadi dosen dan peneliti di Universitas Andalas Padang. 14 Juni 1970. Saat ini menjadi dosen dan peneliti di Universitas Andalas. Tulisantulisannya yang lain dalam bahasa Inggris juga sudah dimuat di koran The Jakarta Post. untuk tahun ini buku yang telah terbit adalah Menelusuri Tarekat Syattariyah di Aceh lewat Naskah. Berbagai tulisan ilmiah dan esainya pernah di muat di beberapa jurnal dan terbitan lokal Sumatra Barat. Ia termasuk penulis yang produktif dan pernah menjadi chief editor UIN News dalam bahasa Inggris dari 2005 sampai 2008. Pada tahun 2008 bergabung di UIN Jakarta dan tahun 2009 bulan juni mulai aktif di Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama.Ag.) di Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam (SPI) Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada bulan Februari 1996 (cum laude). Jawa Barat pada 8 Oktober 1930. Kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI). Selain itu. life to pursue heaven” (01/24/2006). dan “Terrorists ignore God. Aceh. mengikuti program pembibitan calon dosen IAIN se-Indonesia di Jakarta. Menamatkan studi Strata Sat (S1) di Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Universitas Andalas. Strata dua (S2) pada Program Studi Filologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Bali. Sejak S2 sampai sekarang. Fakhriati lahir di Pidie. dan Katalog Naskah Awe Geutah bekerjasama dengan Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama. Bahren lahir di Padang 06 Pebruari 1979. serta perna menjadi staff rektor UIN Jakarta. Tulisan ilmiah populernya pernah di muat di beberapa surat kabar lokal Sumatra Barat dan Riau. Uka Tjandrasasmita lahir di Subang. dua penelitian telah dilakukan. Tahun 1994. Dalam tahun ini. Beliau sekarang dosen dan sekertaris jurusan untuk program SPI FAH UIN Jakarta. Sejak tahun 1995 mengajar di IAIN Ar-Raniry dan mulai tahun 1998 mengajar di IAIN Sumatera Utara. dan S3 di Universitas Indonesia jurusan Filologi pada tahun 2007. yaitu Identifying and Preserving Acehnese Manuscripts Located in Pidie and Aceh Besar didanai oleh British Library. seperti “Theorizing the 9/11 atrocity: Its ubiquitous persistence” (09/15/2008). S2 di Leiden University pada tahun 1998. Pramono lahir di Medan 12 Desember 1979. menyelesaikan studi S1 di IAIN ArRaniry jurusan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah pada tahun 1993. Lebih dari itu. Menamatkan studi Strata 1 (S1) di Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Universitas Andalas.(AFRC) representative for Islamic Studies (INIS) memberikan beasiswa kepadanya untuk program S2 di Leiden. Kuningan. Beliau memperoleh Sarjana Agama (S. “We are religious but also corrupt” (08/14/2008). penelitian tertuju pada naskah-naskah kuno khususnya naskah Aceh. tulisannya dalam bahasa Inggris yang berjudul “Suicide Bombing: A Sociological Approach to 9/11” sudah diterbitkan oleh Penerbit Mitra dalam Sociologi: Sebuah Pengantar Tinjauan Pemikiran Sosiologi Perspektif Islam (September 2008: 270-284). Jurusan Ilmu ix .

selesai tahun 1960.C. x . Pernah menjadi anggota (mewakili pemerintah RI) International Commission for the Preservation of Islamic Cultural Haritage (OKI) tahun 1982-1990. Direktur Sejarah dan Purbakala Departemen P dan K (1974-1979). dan lainlain. Saat ini. di samping sebagai dosen tetap di Universitas Pakuan Bogor. Di antara jabatan yang pernah didudukinya adalah Kepala Dinas Arkeologi Islam pada Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional Departemen P dan K (19861974). Memperoleh gelar Doktor H.Purbakala dan Sejarah Kuno. dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 1998. konsultan The Project of Cultural Tourism Development in Central Java and Yogyakarta (UNESCO) tahun 1992. Direktur Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Departemen P dan K (1979-1990). juga sebagai dosen Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta.

biodata singkat dalam bentuk esai. 1980. Panjang tulisan antara 15-25 halaman kuarto 1. dan khazanah budaya keagamaan. Deliar. Tulisan dapat berupa ringkasan hasil penelitian.5 spasi. dan alamat lengkap. artikel setara hasil penelitian. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Redaksi menerima tulisan mengenai kelekturan. Tulisan wajib memperhatikan kaidah-kaidah penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang berlaku serta menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar berdasarkan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Sumber rujukan menggunakan footnote (catatan kaki) yang ditulis seperti contoh berikut: Deliar Noer. antara lain tentang naskah klasik. penulis hendaknya berpedoman pada Pedoman Transliterasi ArabLatin SKB Dua Menteri. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. kata kunci. (Jakarta: LP3ES.Ketentuan Pengiriman Tulisan Jurnal Lektur Keagamaan terbit dua kali setahun. dan diserahkan dalam bentuk print out dan file dalam format Microsoft Word. literatur kontemporer. h. Dalam hal penggunaan transliterasi Arab-Latin. xi . 109. Jakarta: LP3ES. 1980). kajian tokoh (obituari) maupun telaah kitab atau tinjauan buku. Menteri Agama RI Nomor 158 tahun 1987 dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 0543 b/u/1987 tentang Pedoman Transliterasi Arab–Latin. dan Daftar Pustaka ditulis: Noer. Penulis harap menyertakan abstrak dalam bahasa Indonesia dan Inggris. font Times New Roman 12.

Gedung Bayt al-Qur’an & Museum Istiqlal.lektur@depag. Badan Litbang dan Diklat. xii ./Faks.id Atau melalui pos ke alamat: Puslitbang Lektur Keagamaan. Tulisan dapat dikirimkan melalui e-mail: jurnal. Dan. Departemen Agama RI. (021) 87794220 Bagi lembaga yang ingin mendapatkan jurnal ini dapat menghubungi alamat di atas.Redaksi berhak menyunting naskah tanpa mengurangi maksud tulisan. tulisan yang dimuat tidak selalu mencerminkan pandangan Redaksi. Jakarta 13560 Telp.web. Taman Mini Indonesia Indah.

Adib Misbachul Islam Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua dalam Naskah-Naskah Tarekat Syattariyah di Minangkabau Pramono dan Bahren Peran Penting Pernaskahan dan Benda Khazanah Keislaman Lainnya dalam Kajian Arkeologi Islam di Indonesia Agus Aris Munandar Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara Irmawati M-Johan K. and His Work Collection Usep Abdul Matin Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Tinjauan Buku “Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Teks dan Konteks”. Islam dan Sejarah: Setali Tiga Uang Fuad Jabali Perang dan Damai di Aceh: Kajian Manuskrip Aceh Tentang Konflik dan Solusinya Fakhriati Beberapa Aspek Kodikologi Naskah Keagamaan Islam di Bali: Sebuah Penelusuran Awal Asep Saefullah dan M.Judul-judul untuk back cover Teks.H. karya Oman Fathurahman Uka Tjandrasasmita xiii . Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse.

yaitu Al-Qur’an dan hadis. the text as an expression of system. teks. In this regard. Teks dan Sejarah: Setali Tiga Uang* Fuad Jabali UIN Syarif Hidayatullah. esensialis Teks dan Islam Teks menempati posisi yang sangat penting dalam Islam. 1 . Kata kunci: Al-Qur’an. In contrast. the biographical texts in Arabic offer information of diverse people. This category challenges philologist to investigate. the Islamic texts. The latter group creates the context. This paper explains that Islam. and history are interconnected each other. are easy to read as they provide complete information of an issue that we look for. text. konteks. This paper classifies text into two catagories. Wisma Syahida UIN Jakarta. For this reason. The second category would be: the essentialists make the text. which are written in Arabic by scholars of the Middle East.Islam. Teks. Jakarta This paper describes a strong relationship between Islam as a value system. The first category refers to the fact that the scripturalists or fundamentalists produce text. Orang-orang Islam sangat bangga menyebut dirinya * Tulisan ini semula merupakan Makalah yang disampaikan pada Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara VIII. The former group stresses the importance of the text and tend to make it stable. 26-28 Juli 2004. hadis. this second group make the text unstable. and history as both time and space contexts of the textual system value. Indonesian philologists are to trace such complete biography in Indonesian literature. the Islamic texts. Revisi terakhir 14 Juni 2009. filologi. In other word. skripturalis. are incomplete. Ajaran-ajaran utama Islam ada dalam bentuk teks. For example. which are written in Indonesian by Indonesian scholars. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali Islam.

tetapi ayat yang paling utama adalah teks Al-Qur’an. terutama Yahudi dan Kristen. 1. yaitu makna abadi yang ada di dalam diri Tuhan. menjadi rujukan utama setelah Al-Qur’an. mereka juga menjadikan teks (kitab suci) sebagai pusat dari kesadaran beragama mereka. ‘masyarakat teks’. yang jumlah ayatnya hanya sekitar 6600. Vol. Masyarakat Islam sebagai masyarakat yang eksistensinya bergantung pada teks diperkuat oleh hadis. bukanlah sebuah teks yang bisa menjelaskan semua realitas atau ajaran dengan sangat detil. sebagai Ahlul Kitab karena. dunia langit hanya bisa diketahui lewat teks yang dibawa oleh para Nabi.’ Tanda dari suatu makna abadi. seperti yang nampak pada mazhab Maliki (yang sangat mementingkan tradisi dan praktek lokal Madinah).Jurnal Lektur Keagamaan. 7. Bagi orang Islam. Bagi Ahlul Kitab. seperti gunung dan langit (benda-benda ciptaan ini juga disebut ayat atau. setiap kata atau kalimat yang ada dalam Al-Qur’an disebut ayat atau ‘tanda. maka wajar kalau ada kecenderungan untuk melihat keislaman 2 . Kalau teks menempati posisi yang demikian penting dalam Islam. Ada yang merujuk pada tradisi atau konteks lokal sebagai penjelas. sebagai halnya umat Islam. Al-Qur’an juga menyebut para pengikut agama lain. Hadis kini menjadi teks terpeting kedua setelah Al-Qur’an. Rujukan-rujukan tadi—yaitu tradisi lokal. Bisa dikatakan bahwa tanpa teks ini tidak ada Islam dan masyarakat Muslim. 2009: 1 . yaitu kesepakatan masyarakat Muslim dalam memahami teks. Teks adalah dal (‘yang menunjuk’. maka hadis. seperti yang ada dalam mazhab Hanafi.20 sebagai Ahlul Kitab ‘orang-orang yang sangat menghormati kitab’ atau. signified). secara sederhana. percisnya. Memang benar bahwa makna abadi itu bisa diketahui lewat ciptaan Tuhan. akal. ayah kauniyah ‘tanda-tanda alam’). No. signifier) dari madlul (‘yang ditunjuk’. ada juga yang merujuk pada catatan dari kata-kata dan perbuatan Nabi yang kemudian disebut hadis. Tetapi ketika hadis dibukukan pada abad ke 3 H/9 M. Kalau tidak jelas. Al-Qur’an. ada yang merujuk pada akal. seperti yang dikembangkan oleh Syafi’i. ada juga yang merujuk pada ijma’. terutama yang dikumpulkan oleh Bukhari dan Muslim. kemana mereka harus mencari kejelasan? Berbagai jawaban dikemukakan. ijma’ dan hadis—sama-sama dipakai oleh masyarakat Muslim secara bervariasi dalam tingkat yang berbeda-beda.

Semakin dekat dianggap semakin saleh. 1 3 .). Kelompok rasionalis dikritik dengan tajam. Bagi masyarakat Muslim. juga penting karena di dalamnya ada resensi buku-buku yang beredar di dunia Islam. terutama di Timur Tengah dan Eropa (termasuk Turki). Pemahaman masyarakat Muslim terhadap Al-Qur’an dan hadis tersebut dituangkan dalam bentuk teks yang jumlahnya tak terhingga. yang hanya diketahui lewat kutipankutipan atau resensi yang ditulis belakangan. yang hidup pada abad ke-2 H/8 M dan ke-3 H/9 M. Banyak sekali teks yang sudah musnah. Geschichte der arabischen Litteratur (Leiden: Brill. sangat penting karena dia banyak mengutip karya-karya yang ditulis oleh sejarawan sebelumnya.Islam. misalnya. Dalam kajian sejarah. Walaupun demikian banyak sekali teks-teks yang berhasil diselamatkan yang kini tersebar di berbagai negara. 1937-42. seorang penjual buku di Baghdad pada abad ke-4 H/10 M. 9 jilid. 2 jilid dan 3 jilid supplement. terutama di Baghdad. menanti sentuhan tangan filolog. bahkan pernah disebut kafir. Ada masyakat Muslim yang membatasi penghormatan mereka pada Al-Qur’an Untuk mendapatkan gambaran tentang jumlah dan jenis buku yang diproduk masyarakat Muslim yang sudah hilang tetapi dikutip secara meluas lihat Carl Brockelmann. Fuat Sezgin. Penghormatan yang demikian tinggi pada teks Al-Qur’an dan hadis menjadi landasan yang kuat bagi masyarakat Muslim untuk memproduk banyak sekali teks. buku karya al-Tabari (wafat th. Teks menjadi media yang sangat penting dalam memahami Al-Qur’an dan hadis. Kelompok pendukung hadis (ahl al-hadits) menyebut diri mereka sendiri sebagai umat yang terbaik (khair ummah) karena keteguhannya dalam mengikuti dan memegang teks hadis. 310 H / 923 M). 1967 . pada masa itu yang juga sebagian sudah hilang. 1943-1949). Gerschichte des arabischen Schrifttums (Leiden: Brill. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali seseorang lewat kedekatannya (atau kejauhannya) dengan teks. Teks. namun sikap mereka terhadap teks-teks tersebut berbeda tergantung pada cara mereka memandang. karena menggunakan teks hadis dengan sangat minimal ketika menafsirkan teks Al-Qur’an. semakin jauh semakin sesat. 1 Buku al-Fihrist karya Ibn al-Nadim. Tarikh al-Rusul wa al-Muluk (diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris The History of al-Tabari dalam 39 jilid atas sponsor UNESCO). teks-teks tersebut adalah warisan yang sangat berharga. yang sudah hilang.

teks-teks selain AlQur’an dan hadis sifatnya relatif. Buku yang ditulis oleh seorang Sufi besar. adalah pembaca teks Al-Qur’an yang paling tekun dan juga paling tidak sabar. Semua persoalan segera dicari dalam teks Al-Qur’an. Sebagian mereka berpendapat bahwa keberadaan teks-teks di luar Al-Qur’an dan hadis tadi menjadi benteng penghalang bagi umat Islam untuk memasuki kedua sumber ini. Mereka adalah kelompok yang sangat menghormati teks-teks di luar Al-Qur’an dan hadis. Mengapa orang-orang menganut mazhab Syafi’i. bahkan tidak jarang teks Al-Qur’an-nya sendiri tidak dirujuk. Perbedaan pemahaman terhadap Islam. Sementara kelompok lain menantangnya. Vol. bisa jadi mendapatkan penghormatan dan perlakuan yang hampir sama dengan Al-Qur’an dan hadis. yang segera memasuki teks Al-Qur’an dan hadis. Demikian juga 4 . 2009: 1 . dalam memecahkan masalahmasalah kontemporer. Bagi kelompok masyarakat lain. Muhammadiyah dan NU merepresentasikan kedua kecenderungan tersebut. Teks dan Transmisi Islam Kalau teks dan Islam berhubungan demikian erat. bahkan terkadang. tidak mesti dibaca. Bagi Muhammadiyah. atau perbedaan warna Islam. karena bisa jadi awalnya mereka hanya diperkenalkan kepada teks dari mazhab ini saja. diwariskan lewat teks. teksteks ini sangat dominan. sementara kelompok lainnya melebarkan penghormatan tersebut kepada teks-teks di luar keduanya. anak-anak NU bisa menjadi “filolog” yang potensial.Jurnal Lektur Keagamaan. dari generasi ke generasi. No. Dalam fatwa-fatwa NU. Di Indonesia. tidak mengikat dan. kalau perlu secara literal. Sebaliknya NU. Islam dari waktu ke waktu. 7. Mereka membaca Al-Qur’an dan hadis melalui teks-teks lain yang tersusun secara hirarkhis. 1. Dikenalkan dengan keragaman teks sejak dini. sebagian besar akan bergantung pada perbedaan teks yang diwariskan. NU menjawab setiap pertanyaan dengan cara terlebih dahulu memasuki teks-teks yang diwariskan ulama-ulama sebelumnya.20 dan hadis. Kalangan Muhammadiyah. misalnya. Berbeda dengan Muhammadiyah. NU lebih terbiasa dengan teks dibanding Muhammadiyah. buku-buku yang ditiulis para pendiri mazhablah yang harus dihormati dan diikuti. walupun tingkatannya berbeda-beda dari satu kelompok ke kelompok lain. maka sudah sewajarnya kalau teks juga memegang peranan penting dalam transmisi Islam.

pimpinan pesantren atau kiai memainkan peranan kunci. kalau ada yang ingin memiliki buku. tidak ada teks tanpa kiai dan. Rentetan pengijazahan dari satu guru ke murid yang lain ini biasanya dicatat di awal teks dalam bentuk silsilah. Dalam kajian teks tersebut. Bahwa teks memegang peranan kunci dalam penyebaran Islam juga bisa dilihat di dalam lembaga-lembaga yang terlibat dalam penyebaran Islam. Guru akan mengajarkan teks tertentu kepeda murid-muridnya dan ketika muridnya sudah dipandang mampu. Teks inilah yang akan menjadi modal utama santri-santri tersebut ketika kelak keluar dari pesantren.” Dengan kata lain.Islam. untuk mengungkapkannya secara sederhana. yaitu pesantren. Dan. maka dia harus menyalinnya sendiri atau meminta orang lain untuk melakukannya. Mayoritas pesantren di Indonesia. Perbedaan teks. Di dunia Islam secara keseluruhan hubungan antara teks dengan ulama dalam transmisi Islam bukanlah hal yang istimewa. tidak ada kiai tanpa teks. sang guru akan memberikan ijazah. Kegiatan pesantren (terutama di pesantren salaf yang belum terkena modernisasi) terpusat pada kajian teks yang terkenal dengan ‘kitab kuning’. atau semacam lisensi. seorang kiai akan membaca teks tertentu di hadapan santri-santrinya. nahwu dan hadis. Hubungan antara teks. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali dalam sufisme dan teologi. Artinya. Teks. telah melahirkan perbedaan kelompok beragama. sebaliknya. Tidak mungkin santri belajar Islam tanpa teks dan tanpa kiai. Filologi di Kalangan Ulama Ketika mesin cetak belum ditemukan. demikian seterusnya. kiai dan santri tersebut sedemikian penting sehingga di kalangan pesantren ada semacam keyakinan bahwa “Barang siapa yang membaca teks tanpa guru. Hubungan murid-guru dibangun di atas teks. sampai sekarang masih mempertahankan ciri khas ini. seperti tafsir. maka gurunya adalah setan. transmisi teks dilakukan secara manual. Perbedaan ciri khas pesantren ditentutkan oleh perbedaan jenis teks yang dikaji. terutama di Jawa. Dalam tradisi sorogan. kepada sang murid untuk mengajarkan teks tersebut. Kita mengenal ada beberapa orang yang persis bekerja sebagai penyalin buku dan menjadikannya sebagai sumber 5 .

Keempat. tetapi bisa jadi juga lebih dari itu. misalnya. Perbedaan baca di antara para penyalin menjadi hal yang tak terelakkan. Bahasa Arab pada masa itu adalah bahasa Arab yang masih dalam proses perkembangan. Kitab al-Tabaqat al-Kubra (Beirut: Dar al-Sadir. 3 2 6 . 2009: 1 . faktor perkembangan bahasa. n. dan AC pada masa itu. stabilitas sosial politik pada masa itu tidak sebaik seperti sekarang. 4:343. menurut informasi lain dari beberapa jalur yang berbeda.20 penghidupan.t). al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah (Beirut: Dar alKitab al-‘Arabi. faktor idiologis juga berperan penting dalam perubahan teks. 4:386. listrik. karena jarangnya orang yang bisa menulis. telepon. Para penyalin ikut menjadi korban peperangan. Ibn Sa’d. teknologi yang sangat terbatas. Iklim yang demikian panas membatasi orang untuk bekerja maksimal. n. Tetapi. Bukankah Nabi pernah menyampaikan bahwa masa yang terbaik adalah masa Nabi itu sendiri kemudian masa sesudahnya kemudian masa Ibn Sa’d. 4 Ibn Hajar al-‘Asqalani. Gigi dan titik belum dipakai secara konsisten sehingga sulit dibedakan mana ba. 5 Ibn Hajar. 7. No.d.). Vol. ada saat-saat dimana para penyalin menjadi sangat sibuk sehingga terbuka untuk melakukan kesalahan. Tabaqat. Dam b. 5 Perubahan tanggal lahir itu bisa jadi karena kelalaian penulis atau penyalin teks. dia ternyata lahir pada saat ‘Usman terbunuh (yaitu tahun 35 H/656 M). mungkin karena penulisnya ngantuk. 1:125. Menjadi orang yang dilahirkan pada masa Nabi jauh lebih penting dari orang yang dilahirkan pada masa ‘Usman. Paling tidak konsentrasi mereka terganggu. al-Isabah. Ketiga. ta dan £a. Ini menurut informasi dari Abu al-Faraj.4 Faktor-faktor lain bisa membuat kesalahan tersebut semakin sering dilakukan. Teks yang dihasilkan menjadi bebeda antara satu dengan yang lainnya. Hisyam bisa dengan mudah tertulis Hasyim 2 atau. 1.Jurnal Lektur Keagamaan. Kualitas penerangan yang kurang membuat mata cepat lelah. Kedua. Rabi’ah 3 dan Aqram menjadi Arqam. 1:130. yang menurut Ibn Hajar (wafat 852 H/1449 M) lebih kuat. Rabi’ah menjadi Adam b. Menyalin buku menjadi perkerjaan yang bisa jadi tidak nyaman. Tetapi bisa jadi. Tidak ada komputer. Dikatakan bahwa Asy’ab b Ummu Humaidah lahir pada tahun 9 H/630 M atau pada masa Nabi. Pertama.

‘Umar (wafat 207 H/822 M) menulis buku tentang orang-orang yang hijrah ke Habasyah (Ethiopia) (hijrah Nabi yang pertama). menjadi pusat produksi dan reproduksi ilmu.). Muhammad b. maka pada dasarnya setiap ulama pada masa itu adalah seorang filolog. Kalau keragaman teks tidak bisa dihindarkan. dan bisa jadi masyarakat awam meyakini bahwa masuk surga atau tidaknya mereka akan bergantung kepada para ulama ini. 141-2. 8: 91. misalnya. Dia adalah tempat bertanya masyarakat. Teks. 1: 8. dia menjadi mungkin bisa bertemu dengan sahabat-sahabat besar bahkan bisa meriwayatkan hadis dari mereka. harus sangat hati-hati dalam memilih dan membaca teks. dalam periwayatan hadis. yaitu Bukhari dan Muslim. yaitu suatu disiplin ilmu yang dikembangkan untuk menilai kualitas informasi dan akurasi teks berdasar pada penilaian kritis terhadap orang-orang yang terlibat dalam transmisi informasi dan teks tersebut. 6 7 .’ Suatu hadis yang ditemukan dalam keenam buku hadis lebih kuat dari pada hadis yang hanya ditemukan dalam empat buku hadis. Ibn Al-Bukhari. pusat verifikasi teks. Dalam hadis juga dikenal dengan ‘rawahu al-syaikhan’’ atau ‘diriwayatkan oleh dua orang syaikh’. Kajian antarteks menjadi suatu keniscayaan. Sahih (Cairo: Maktabat ‘Abd al-Hamid Ahmad Hanafi. Lewat kajian antarteks. Adalah juga kehendak untuk mendapatkan teks yang benar-benar bersih para ulama mengembangkan berbagai disiplin ilmu. 3: 171. Ishak (wafat 150 H/767 M) dan Muhammad b. informasi yang ada dalam satu buku dicek di buku yang lain. mana di antara teks-teks yang ada itu yang paling bisa dipercaya. Abi Rabiah ke dalam daftar orang-orang yang ikut hijrah tersebut. adanya ‘kutub al-sittah’ atau ‘buku yang enam’ dan ‘kutub al-arba’ah’ atau ‘buku yang empat. Dia mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan yang kebenarannya sangat bergantung pada ketepatan teks dan kebenaran membacanya. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali sesudahnya? 6 Lahir pada masa Nabi bukan hanya penting karena dia lahir pada masa yang terbaik tetapi juga. Kita mengenal dalam hadis. dan memasukkan nama ‘Ayyasy b. Berbagai versi harus dibaca dan dibandingkan. Istilah-istilah ini hanya mungkin kalau kajian antarteks sudah berkembang kuat. Sebut saja misalnya jarh wa al-ta‘dil dan rijal al-hadits. tt. dengan demikian. 9.Islam. Para ulama.

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 1 - 20

Sa‘d (wafat 230 H/845 M) lalu mengecek nama tersebut di buku yang ditulis oleh Musa b. ‘Uqbah (wafat 141 H/758 M) dan Abu Ma’syar (wafat 170 H/786 M), dan nama ‘Ayyash ternyata tidak ada. 7 Dengan cara yang sama (kali ini membandingkan teks yang ditulis oleh Musa b. ‘Uqbah, Muhammad b. Ishaq dan Muhammad b. ‘Umar), Ibn Sa’d juga menemukan bahwa Musa b. ‘Uqbah melakukan kesalahan penulisan nama, yang semestinya al-Aswad b. Naufal b. Khuwailid ditulis menjadi Naufal b. Khuwailid. Ibn Sa’d juga tahu bahwa nama ini tidak muncul dalam buku Abu Ma’syar.8 Skripturalis/Fundamentalis dan Filolog Di atas dikatakan bahwa Al-Qur’an dan hadis sebagai teks kunci telah melahirkan banyak teks. Teks satu dengan teks yang lainnya ini terhubungkan dengan seorang figur dan silsilah (geneologi). Ada geneologi guru dan ada geneologi teks, dan kualitasnya berbeda-beda. Buku yang diwariskan lewat guru A-B-C misalnya lebih baik daripada buku yang diwariskan lewat A-B-D. Tekanan yang demikian besar terhadap geneologi mengisyaratkan bahwa dalam transmisi teks tersebut ada sesuatu yang stabil, yang harus dijaga keasliannya. Prinsip ini sangat menolong bagi filolog sebab sekali dia mampu mengidentifikasi apa ‘yang stabil’ atau apa ‘yang harus senantiasa dijaga keasliannya’ tersebut maka dia akan mudah membaca teks yang sangat korup sekalipun. ‘Yang stabil’ akan selalu ditemui dalam berbagai teks. Memang benar bahwa ‘apa yang stabil’ jenis dan kadarnya akan berbeda-beda dari satu kelompok ke kelompok lain. Tetapi, sekali ditemukan dalam satu kelompok tertentu, maka filolog akan terbantu dalam membaca teks yang ditulis atau menjadi ciri dari kelompok tersebut. Di dunia Islam, baik masa lalu maupun sekarang, dikenal adanya dua kelompok besar: skripturalis atau fundamentalis dan esensialis. Kelompok skripturalis adalah mereka yang berkeyakinan bahwa (1) Islam adalah agama yang sempurna dan jelas yang mengatur semua aspek kehidupan kita dan, oleh karena itu, tidak diperlukan adanya penafsiran ulang; (2) Memang masyarakat selalu
7 8

Ibn Sa’d, Tabaqat, 4:383. Ibn Sa’d, Tabaqat, 4:379.

8

Islam, Teks, dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali

berubah-ubah, tetapi perubahan itu harus senantiasa dicocokkan dengan Al-Qur’an dan hadis, bukan Al-Qur’an dan hadis yang harus dicocokkan dengan perubahan masyarakat; (3) Al-Qur’an dan hadis adalah sumber utama Islam dan semua persoalan harus benarbenar sesuai dengan Al-Qur’an dan hadis; (4) Akal dan tradisi lokal sifatnya nisbi dan, oleh karena itu, tidak bisa dipakai sebagai sumber nilai; (5) Masa Nabi dan para sahabatnya adalah masa yang paling sempurna yang harus dijadikan model bagi setiap masyarakat Muslim kapan pun dan dimana pun. Pandangan kelompok esensialis berbeda sama sekali dengan pandangan kelompok ini. Mereka percaya bahwa (1) Islam memang agama sempurna tetapi kesempurnaannya bersifat minimal dan untuk memaksimalkannya diperlukan usaha dan pikiran masyarakat Muslim, (2) Masyarakat selalu berubah-ubah dan oleh karena itu Islam harus dilihat secara dinamis, (3) Al-Qur’an dan hadis adalah kebenaran yang diekspresikan dalam ruang dan waktu tertentu dan oleh karena itu harus dilihat konteksnya, (4) Akal dan tradisi lokal harus dipakai sebagai sumber yang berharga dalam formulasi hukum dan ajaran Islam, (5) Masa Nabi dan para sahabatnya adalah masa yang paling sempurna untuk zamannya dan tidak boleh dipahami secara literal. Perbedaan pandangan di antara kedua kelompok di atas melahirkan teks yang sama sekali berbeda sifatnya. Teks di kalangan skripturalis relatif stabil. Karena Islam dipandang sempurna, karena Al-Qur’an dan hadis dianggap selesai, dan karena masa Nabi dan sahabatnya dipandang ideal, maka yang ditemukan dalam teks yang diproduk oleh kelompok ini adalah potongan-potongan informasi yang diambil dari Al-Qur’an, hadis dan sirah (perjalanan hidup) Nabi dalam jumlah besar. Akibat dari tekanan terhadap penafsiran dan tradisi lokal yang begitu besar, maka unsur baru dalam teks menjadi minimal. Walaupun ditulis dalam waktu dan tempat yang berbeda, bisa diasumsikan bahwa teks di kalangan kelompok ini relatif sama. Kutipan-kutipan Al-Qur’an, hadis dan sirah Nabi dan para sahabatnya akan dominan dan setiap ketidakjelasan yang ada dalam teks yang korup bisa segera diisi oleh filolog dengan membaca teks standard (Al-Qur’an, hadis dan sirah Nabi). Kalau kadar stabililitas dalam teks-teks tradiosionalis sangat tinggi, maka teks yang diproduk oleh kalangan esensialis sangat 9

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 1 - 20

labil. Dia lebih beragam baik di tingkat kelompok maupun individu. Mu’tazilah, kelompom rasional Muslim yang terkenal dalam sejarah Islam, misalnya, terdiri dari banyak sub kelompok yang berbeda satu sama lain, dan pada sub kelompok tersebut perbedaan antar individu sangat kentara. Masing-masing mereka melihat Islam, AlQur’an dan hadis serta sirah Nabi sebagai suatu teks yang sangat terbuka. Berbeda dengan kalangan skripturalis, yang memandang makna sebagai ‘sesuatu yang diberikan oleh teks’, kalangan rasional memandang makna lebih sebagai ‘sesuatu yang harus dicari dan diberikan oleh pembaca’. Membaca bukanlah proses menerima teks secara pasif, tetapi lebih merupakan proses intrograsi yang sangat cair, dimana pembaca dan teks bisa ditempatkan secara sejajar dan oleh karena itu dialog antara teks dan pembaca menjadi sangat intens. Hasil dari dialog itu adalah warisan teks yang sangat dinamis dan beragam. Sesunggunya kalangan skripturalis/fundamentalis telah membuat pekerjaan filolog lebih mudah. Filolog yang ingin cepat selesai diusulkan untuk tidak memilih teks-teks yang ditulis oleh kalangan rasionalis. Studi Kasus: Membaca Dokumen Ikrar Abad ke-14 di Jerusalem Disebutkan di atas bahwa salah satu cara membaca teks yang sudah korup adalah dengan cara menggunakan teks yang sudah established sebagai patokan. Tentu saja Al-Qur’an dan hadis adalah teks Islam yang paling stabil. Tidak terlalu sulit untuk mentranskrip naskah Al-Qur’an atau hadis, atau teks yang mengadung banyak sekali kutipan Al-Qur’an dan hadis. Teks berikutnya yang relatif lebih mudah digarap adalah teks yang ditulis oleh kelompok sripturalis atau fundamentalis. Dibanding teks yang ditulis kalangan esensialis, teks yang mereka buat relatif lebih mapan dan lebih seragam dari satu periode ke periode lain dan dari satu tempat ke tempat lain sehingga lebih mudah dibandingkan. Prinsip yang sama bisa dipakai untuk membaca teks-teks Islam pada umumnya. Teks-teks Islam bisa diklasifikasi ke dalam lima kelompok besar: 1) sejarah, 2) teologi, 3) sufisme, 4) filsafat dan 5) hukum. Di antara kelima kelompok tadi, yang paling tegas dan rinci adalah hukum. Hukum Islam diformulasikan dan dirumuskan oleh para ulama sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan kebi10

ini adalah berita baik. maka yang seorang lagi mengingatkannya. Al-Qur’an menegaskan perlunya catatan dalam transaksi: Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan.Islam. untuk batas waktunya baik (utang itu) kecil maupun besar. lebih adil di sisi Allah. Dan janganlah saksi-saksi itu menolak apabila dipanggil. Jika kamu lakukan (yang demikian). lebih dapat menguatkan kesaksian. Teks yang mereka dapatkan akan lebih mudah ditranskrip. seperti halnya buku-buku yang ditulis oleh kalangan fundamentalis.S. Al-Baqarah/2:282) Kalau bagian pertama tulisan ini menegaskan hubungan antara Islam dengan teks pada level yang lebih besar. maka ayat ini (yang sengaja dikutip secara keseluruhan) contoh yang baik bagaimana 11 . Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Yang demikian itu. Allah memberikan pengajaran kepadamu. maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan di antara orang-orang yang kamu sukai dari para saksi (yang ada). Orang-orang skripturalis dan fundamentalis cenderung menekankan pentingnya aspek hukum ini sehingga mereka dikenal dengan ‘legal minded Muslims’. kecuali jika hal itu merupakan perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu. Dan hendaklah orang yang berutang itu mendiktekan. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali ngungan dan mudah diikuti. dan janganlah penulis dipersulit dan begitu juga saksi. Jika tidak ada (saksi) dua orang laki-laki. agar jika yang seorang lupa. Teks. (2) teks yang ditulis oleh ahli hukum relatif lebih mudah dibaca karena lebih stabil. dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. maka sungguh. Dan bertakwalah kepada Allah. (Q. atau tidak mampu mendiktekan sendiri. dan lebih mendekatkan kamu kepada ketidakraguan. hal itu suatu kefasikan pada kamu. teks yang ditulis oleh kalangan ahli hukum juga lebih stabil. Dan ambillah saksi apabila kamu berjual beli. maka tidak ada dosa bagi kamu jika kamu tidak menuliskannya. Dan janganlah kamu bosan menuliskannya. homogen dan rinci. Janganlah penulis menolak untuk menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya. Tidak heran kalau. dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah. Tuhannya. maka hendaklah dia menuliskan. Hukum cenderung rinci dan kaku. Dua contoh teks akan dikemukakan di sini untuk menunjukkan: (1) bahwa Islam (seperti halnya agama lain) sangat instrumental dalam melahirkan teks. hendaklah kamu menuliskannya. maka hendaklah walinya mendiktekannya dengan benar. Bagi filolog. dan janganlah dia mengurangi sedikit pun daripadanya. Jika yang berutang itu orang yang kurang akalnya atau lemah (keadaannya). Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki di antara kamu.

10 Lihat Y.Jurnal Lektur Keagamaan. 1. New Edition). Mereka mengembangkan satu jenis literatur yang disebut syurut. kesaksian lisan lebih penting dari kesaksian tulis. yaitu sejenis manual yang bisa dijadikan pegangan bagi para notaris dalam melakukan fungsinya.20 hubungan Islam dengan teks tersebut juga bekerja pada level yang lebih kecil dan detil: Al-Qur’an meminta penganutnya untuk melakukan transaksi secara tertulis. di Museum Islam di al-Haram al-Syarif di al-Quds ditemukan sekitar 900 lembar kertas transaksi atau catatan pengadilan yang berasal dari abad ke-14 M di Jerusalem. Dalam manual syurut tersebut para ahli hukum lalu merinci dengan detil apa syarat-syarat membuat ikrar dan kata-kata apa saja yang harus dicantumkan dalam dokumen oleh si pembuat ikrar. Brill. 7. Wakin. 2009: 1 . sejajar dengan penemuan manuskrip di Geniza Cairo dan St Catherine bukit Sinai. Donald P. tetapi para ahli hukum Islam memberikan perhatian yang serius terhadap cara membuat dan menggunakan dokumen-dokumen tertulis untuk kepentingan hukum. Little. di dalam hukum Islam tradisional. The Function of Documents in Islamic Law (New York: University of New York Press. Yang dilakukan oleh para notaris adalah memilih mana di antara blanko-blanko tersebut yang cocok dengan kasus yang dia hadapi dan mengisi bagian-bagian kosong yang sudah disediakan dan meminta dua saksi untuk menandatanganinya (seperti tuntutan ayat Al-Qur’an di atas). Oleh karena itu.9 Salah satu blanko kontrak yang dibuat para ahli hukum Islam dalam buku-buku syurut tersebut adalah blanko untuk membuat ikrar. Memang benar. Linant de Bellefonds. McGill Jeanette A. 9 12 . Kontrakkontrak tersebut sebetulnya lebih berupa sebuah blanko atau formulir yang dibuat sedetil mungkin sehingga semua syarat dan tuntutan syariah Islam bisa dipenuhi. Ia berisi berbagai jenis kontrak yang bisa dipilih oleh para notaris sesuai dengan kebutuhan. Vol. Pada tanggal 19 Agustus 1974-5. bentuk dan isi ikrar relatif stabil. ‘Ikrar’ dalam The Encyclopaedia of Islam (Leiden: E. 1972).J. 10 yaitu suatu bentuk pengakuan atau pernyataan yang dibuat oleh seseorang yang secara hukum mengikat bagi orang tersebut. Penemuan ini merupakan salah satu penemuan terpenting dokumen Islam abad pertengahan. guru besar di Institute of Islamic Studies. 10. No.

‘Ilwi Muhammad dan Ahmad b. bahwa dia menerima uang perak sejumlah 375 dirham dari mantan suaminya untuk biaya ketiga anak mereka Ahmad. salah seorang sufi di Khanqah al-Salahiyyah di al-Quds al-Syarif. dokumen-dokumen ini sangat sulit dibaca. ‘Abdullah bt. Beberapa tahun kemudian Little menerbitkan katalog dokumen tersebut: menjelaskan isi masing-masing dokumen secara garis besar dan mengklasifikasikannya. 11 13 . Fakhruddin ‘Usman b. Dokumen no. Zainuddin Rizqullah.Islam. mantan suami Nasiruddin Muhammad al-Hamawi penduduk al-Quds al-Syarif. 11 Secara garis besar dokumen no. salah seorang murid Little di McGill University. Saya sendiri pernah ikut membaca dokumen-dokumen itu dan adakalnya saya membutuhkan lebih dari seminggu hanya untuk membaca satu baris teks dalam sebuah dokumen. Selain berikrar bahwa dia tidak punya hak apa-apa lagi— termasuk maskawin dan biaya pakaian. Muhammad bahwa dia tidak memiliki klaim apa-apa lagi terhadap mantan suaminya Syeikh Burhanuddin Ibrahim b. Fatimah juga mengakui bahwa mantan suaminya tersebut telah memberinya sejumlah uang untuk biaya anak selama tiga bulan setengah sesuai dengan tuntutan syariah. Muhammad al-Muwwa’ani. Di antara lembaran-lembaran kertas tadi ada dokumen ikrar (yang jumlahnya sekitar 90 lembar). Salma dan Sarah. Ikrar ini dibuat di depan saksi pada tanggal 4 Syawal 782 (atau 2 Januari 1380) di depan dua orang saksi Ahmad al-ªaki dan Abdullah b.” in Journal of the Economic and Social History of the Orient. “A Study of Six Fourteenth Century Iqrars from al-Quds Relating to Muslim Women. Zainuddin ‘Umar al-Hamawiyyah. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali University datang ke Jerusalem dengan sebuah tim untuk mendokumentasikan dan membuat mikrofilm-nya. Teks. Saya juga pernah meminta bantuan seorang Arab (yang kebetulan berasal dari Huda Lutfi. 184 adalah dua di antara enam dokumen ikrar yang dibaca dan dianalisa oleh Huda Lutfi. Dokumen 184 berisi pengakuan Fatimah bt. 289 berisi pengakuan Fatimah bt. 25: 246-294. yang dibayar secara bertahap dari uang wakaf sekolah al-Salahiyyah. Sulaiman. Tanpa bantuan literatur syurut. 289 dan no. Ikrar ini dibuat pada tanggal 2 Ramadan 789/14 Agustus 1389) di hadapan dua orang saksi ‘Ali b.

Jawahir al-‘Uqud wa Mu‘in al-Qudat wa alSyuhud. No. walaupun hanya dalam garis besar. 1955). Dalam buku manualnya. 1. Vol. blanko dokumen hukum yang dibuat alAsyuti sangat cocok dengan dokumen-dokumen yang ditemukan di Jerusalem tersebut. walaupun terpisahkan selama satu abad dan. Setelah itu pasti 14 . Al-Asyuti. Pengalaman membaca dokumendokumen tersebut menunjukkan bahwa. dia menyatakan bahwa dokumen harus diawali dengan basmalah (menulis ‘Bismillahir-rahmanir-rahim’) dan diakhiri dengan hamdalah (menulis ‘Alhamdu lillahi rabbil-‘alamin’). Seperti dijelaskan di muka. Dia juga tidak bisa. Bimbingan al-Asyuti tersebut sangat membantu ketika kita membaca dokumen ikrar tadi. al-Asyuti memberikan beberapa petunjuk tentang tata cara membuat dokumen ikrar. setidakjelas apa pun. Dua minggu kemudian. 2009: 1 . pasti basmallah. baru saya tahu bahwa dalam membaca dokumendokumen tersebut dia sangat terbantu oleh buku syurut yang ditulis oleh al-Asyuti. Saya tidak bisa membayangkan begaimana Little bisa membaca hampir 900 dokumen serupa dan menganalisa isinya satu persatu. Benda atau persoalan yang diikrarkan harus dinyatakan dengan jelas (jika uang berapa jumlahnya. nama kehormatannya dan seterusnya. 7. Kalimat pertama. Kata pertama setelah basmallah adalah aqarrat (karena yang membuat ikrar perempuan).20 Palestina tempat dokumen tersebut ditemukan) untuk membacanya.Jurnal Lektur Keagamaan. Antara lain. Dokumen harus mencantumkan tanggalnya dan ditandatangani oleh dua orang saksi. yang hidup di Mesir pada abad 9 H/15 M. Ikrar harus dibuat dalam bentuk orang ketiga (harus aqarra kalau laki-laki dan aqarrat kalau perempuan). bagaimana membayarnya. dan seterusnya). Nama si pengikrar harus dicantumkan dengan jelas termasuk nama bapak dan kakeknya. Ini adalah isyarat bahwa memang buku-buku hukum relatif lebih stabil. 2 jilid (Kairo. walaupun al-Asyuti hidup di tempat yang relatif jauh dari Jerusalem. maka nama suaminya atau mantan suaminya harus dicantumkan. dalam buku tersebut berusaha menggambarkan praktek administrasi hukum yang berlaku pada masanya. dokumen-dokumen ini pada dasarnya merupakan catatan transaksi dan peristiwa yang terjadi di Jerusalem pada abad ke-14 atau satu abad sebelum al-Asyuti menulis kitab manualnya. Kalau dia perempuan.

. para penulis itu pada dasarnya menulis tidak untuk dibaca oleh orang yang memiliki dokumen tetapi untuk dibaca oleh mereka atau kawan-kawan seprofesi mereka sendiri. bi dhalik (telah bersaksi atas . Mungkin karena terlalu banyak pesanan (karena jumlah yang bisa menulis sangat terbatas). Merekalah yang memilih buat kita peristiwa apa yang akan dimunculkan. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali nama orang yang membuat ikrar. sumber penulisan sejarah Islam Timur Tengah masih didominasi oleh buku-buku sastera (literary soursces)... Para penulis buku ini menyodorkan realitas kepada kita secara subjektif. para penulis itu bekerja sembarangan.” Walaupun al-Asyuti menegaskan bahwa setiap dokumen harus ditulis dengan tulisan yang bagus agar mudah dibaca. Bagian akhir pasti terdiri dari tanggal. Dengan kata lain.. ditulis dengan tulisan tangan yang sangat jelek. Tetapi bisa juga karena sebab lain. dibuat dalam keadaan sehat jasmani dan rohani dan secara hukum dalam keadaan mampu melakukan transaksi).Islam. dengan hal itu). tulisan tidak mesti bagus. Mungkin harus diingat bahwa pada abad ke-14 di Jerusalem buta huruf masih tinggi.. Untuk itu. Teks. yaitu tau’an [artinya.” Kedua ungkapan ini ditemukan dalam dokumen no. tidak dalam keadaan terpaksa] setelah syar’iyyan). Sampai saat ini. pada akhirnya para penulis itu juga yang harus membacakannya di pengadilan (kalau terjadi apa-apa dan perkaranya sampai ke pengadilan). Sangat mungkin pada masa itu ada orang-orang yang memang pekerjaannya menuliskan dokumen (dengan berpedoman pada manual syurut). Bias politik dan kultural dari para penulis 15 . Bagian berikutnya adalah yang paling sulit dibaca: persoalan atau benda yang sedang diikrarkan.. Dalam menuliskan runtutan isi dokumen tersebut ada katakata hukum yang baku yang pasti muncul dalam ikrar. dokumen 289 dan 184. karena orang awam itu tidak bisa membaca. 289 dan 184 (dengan satu kata tambahan. hamdallah dan nama dua saksi. Karena tidak banyak orang yang bisa menulis. Tanda tangan saksi diawali dengan “syahida ‘ala . yaitu “iqraran syar’iyyan fi sihhatin minha wa salamah wa jawazi amr (ikrar yang sesuai dengan tuntunan syara’. dan semua dokumen yang ditemukan di Jerusalem ini. aktor mana yang akan ditonjolkan dan informasi dari siapa yang harus dipakai. Para penulis itu mungkin berpikir bahwa. maka orang awam yang ingin menuliskan ikrarnya harus meminta bantuan orang lain.

ada beberapa informasi yang menarik. Selain kondisi dokumen yang biasanya sulit dibaca. buah-buahan atau tanaman apa saja yang ditanam. Dalam konteks ini. yang mengisyaratkan bahwa dia berasal dari keluarga terpandang? Dokumen-dokumen yang saya baca berhubungan dengan pengelolaan tanah wakaf: bagaimana dikelola. bagaimana mekanismenya kalau terjadi konflik pembagian hasil. bagaimana sistem administrasinya. berapa rata-rata anak yang dimiliki satu keluarga di Palestina pada abad ke-14? Berapa rata-rata penghasilan keluarga? Mengapa dalam dokumen no. Dari dua dokumen yang kita baca. Misalnya tentang jumlah nafkah yang diberikan suami kepada mantan istrinya.Jurnal Lektur Keagamaan. 1. 7. jumlah anak yang dimiliki suatu keluarga dan model distribusi wakaf. Banyak pertanyaan bisa dikembangkan. dalam dokumen kita disodorkan data mentah. dokumen Jerusalem bisa dijadikan bahan untuk mengkonstruk realitas sosial masyarakat al-Quds al-Syarif di Jerusalem. setelah membaca ratusan atau ribuan dokumen. ada tantangan lain yang harus dihadapi ilmuan kalau dia ingin menulis sejarah dengan menggunakan dokumen. dan dalam rentang waktu yang panjang. Berasal dari tempat yang sama. berapa kali panen dan dapat berapa kilo sekali panen. dan seterusnya. tidak banyak dokumen yang tersedia dan juga tidak banyak ilmuan yang tertarik menghabiskan waktunya berminggu-minggu hanya untuk membaca dua atau tiga buah dokumen. 184 disebutkan bahwa nafkah anak-anak dari perkawinan Fatimah dengan Nasiruddin dibayar oleh dana wakaf? Apakah karena dia miskin? Bukankah dia bergelar al-sitt al-masunah. Dibaca secara keseluruhan. bagaimana sistem pembagiannya. Mirip seperti yang dilakukan oleh S. Misalnya.D Goitein yang 16 . Vol. kemungkinan besar akan ada nama-nama yang berkali-kali muncul sehingga kita bisa meruntut sejarah kehidupan mereka dengan baik. Untuk mengkonstruk sebuah realitas diperlukan banyak sekali dokumen (bisa ratusan kadang ribuan lembar). 2009: 1 . Berbeda dengan sumber-sumber sastera. dokumen bisa memberikan informasi yang sangat berharga. Dari potongan-potongan informasi yang ditemukan di setiap dokumen. No. akhirnya kita bisa menulis sejarah sosial yang sangat bagus. Kitalah yang menseleksi dan menafsirkan data-data tersebut.20 tersebut sangat berpengaruh terhadap mutu gambar sejarah yang dimunculkan. Sayangnya.

dan keluarga (jilid 3). masyarakat Muslim dan. sebuah teks harus ditempatkan dalam konteks besar yang melahirkannya. Catatan Pamungkas Pertama. Dalam tradisi Islam. Ini membuat pekerjaan filolog lebih sulit lagi. jauh lebih stabil dibanding teks yang ditulis oleh kalangan rasional. walaupun sulit. Karya-karya yang ditulis oleh para ahli hukum Islam juga relatif lebih stabil dibanding karya-karya yang ditulis para filosof atau sufi misalnya. Potongan informasi yang dia temukan dalam ribuan lembar dokumen. Hubungan model ini sangat penting dimiliki filolog untuk bisa menghayati dan memahami teks. Secara umum bisa dikatakan bahwa teks yang diproduk oleh kalangan skripturalis/fundamentalis. membaca dokumen di Timur Tengah nampaknya lebih ‘mudah’ dibanding membaca dokumen sejenis di Indonesia. dan dalam kadar tertentu tradisionalis. Hanya mereka yang menguasai bahasa Yahudi dan bahasa Arablah yang bisa membacanya. terutama. teks. Menjadi Muslim berarti mereka terhubungkan dengan relitas dan ajaran yang mendasari lahirnya teks dan dokumen. Teks. masyarakat (jilid 2). tetapi saya punya kesan bahwa ada jenis-jenis literatur yang sangat membantu dalam membaca dokumen (atau 17 . dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali menulis A Mediteranian Society: The Jewish Communities of the Arab World as Potrayed in the Documents of Cairo Geniza (Berkeley: University of California Press. dia susun menjadi 3 jilid narasi tentang ekonomi (jilid 1). dalam banyak hal mencerminkan sikap atau pandangan keagamaan tertetu. Ketiga. Dalam jumlah yang sangat besar. Bagi seorang filolog adalah penting untuk terlebih dahulu mengidentifikasi teks dengan kelompok-kelompok keberagamaan yang ada dalam Islam. Pengetahuan saya tentang kekayaan manuskrip Melayu sangat terbatas. 1967-78). mulai dari yang sangat stabil sampai ke yang sangat labil.Islam. lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam memiliki peluang yang sangat besar untuk menggali manuskrip dan dokumen yang berkenaan dengan masyarakat Islam yang kini masih belum tersentuh baik yang tersimpan di perpustakaan-perpustakaan di dalam dan di luar negeri maupun yang masih tersebar di kalangan masyarakat. dokumen Geniza berbahasa Yahudi yang ditulis dalam tulisan Arab. Kedua.

sepotong dokumen itu akhirnya tidak sendirian lagi. keadaan fisik. kita akan menemukan nama-nama tempat dan desa yang ada di Palestina sehingga ‘gambar’ kata di dokumen itu bisa diidentifikasi. Kemungkinan besar dia adalah nama suku orang itu. 7. Keempat. Kajian Islam di Indonesia belum mencapai tahapan ini. satu potong dokumen yang ditemukan di Musium Islam Jerusalem sesungguhnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari tradisi keilmuan atau sistem informasi yang kaya dan mapan. kajian Islam di Timur Tengah sudah berusia lanjut. Dalam dokumen no. Misalnya. Tidak mudah memang. baik yang hidup pada masa klasik maupun modern.[] 18 . yang berhubungan dengan suku dan geneologi (kalau ingin tahu nama-nama suku yang ada di Hijaz misalnya bisa dilihat di Ibn al-Kalbi. dan seterusnya. Dikepung oleh banyak informasi. Dalam bahasan tentang ‘Palestina’. kualitas orang. Artinya. tapi tetap sangat membantu. di dunia Islam Timur Tengah berkembang literatur yang berhubungan dengan biografi orang (Rijal atau Tabaqat) yang jumlahnya sangat besar dan beragam. sarjana-sarjana modern (baik di Barat maupun di Timur) juga banyak menghasilkan karya-karya penting dalam jumlah besar. Di samping banyak sekali literatur yang diproduk oleh kalangan sarjana Muslim sendiri. Literatur-literatur ini sangat menolong untuk mengidentifikasi katakata yang ada dalam dokumen yang sangat sulit dibaca. ada kata ‘al-Khaliliyah. Sayangnya literatur bantu semacam ini tidak tumbuh di Nusantara. Jamharat al-Nasab). dan yang berhubungan dengan tempat (misalnya karya Yaqut. Kalau kita membaca dokumen yang ada di Hijaz. misalnya. yang disusun berdasarkan tahun wafat. kita bisa melihat di buku Yaqut.Jurnal Lektur Keagamaan. keahlian.20 manuskrip) yang tidak ditemukan di dalam literatur yang tumbuh di Nusantara. Bahwa model dokumen yang ditemukan dalam buku al-Asyuti ternyata sangat cocok dengan model dokumen yang ditemukan di Palestina adalah salah satu contoh yang baik bagaimana kekayaan tradisi keilmuan bisa membantu membaca suatu kalimat dalam sebuah dokumen. tempat tinggal. Mu’jam al-Buldan). Demikian juga kalau kita kesulitan membaca kata yang ada di ujung nama orang yang ada dalam sebuah dokumen. kita bisa mencari nama daftar nama suku yang ada di wilayah ini. 1. 2009: 1 . 289.’ Jika kita ragu tentang bacaan kata ini. No. Vol.

Beirut: Dar al-Sadir.” in Journal of the Economic and Social History of the Orient.t. Brill. Kitab al-Tabaqat al-Kubra. Carl. New Edition. No. Al-Bukhari. Geschichte des arabischen Schrifttums (Leiden: Brill. 193742. Fuat. 1943-1949). 25. Teks. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali Daftar Pustaka al-‘Asqalani. “A Study of Six Fourteenth Century Iqrars from al-Quds Relating to Muslim Women. New York: University of New York Press. 2 jilid dan 3 jilid supplement. Wakin.Islam. Ibn Hajar. Huda. 19 .t. Y. T. 9 jilid. de Bellefonds. Sahih. al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah. Jeanette A. (Leiden: Brill. Leiden: E. 1967 . Geschichte der arabischen Litteratur. 1972.). Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi Brockelmann.t. Kairo: Maktabat ‘Abd al-Hamid Ahmad Hanafi. Lutfi. Ibn Sa’d. The Function of Documents in Islamic Law. Sezgin. Linant. T. T. ‘Ikrar’ dalam The Encyclopaedia of Islam.J.

2009: 1 .Jurnal Lektur Keagamaan.html 20 . No.com/b7581. Kazi Publications Jumlah halaman : 1149. Jilid: Hardcover Sumber: http://islamicbookstore.20 The Fihrist: A 10th Century A.D. 1. Survey of Islamic Culture Pengarang : Abu 'l Faraj Muhammad ibn Ishaq al Nadim Penerjemah (Inggris) : Bayard Dodge Penerbit : Great Books of the Islamic World. Vol. 7.

— Fakhriati Perang dan Damai di Aceh: Kajian atas Manuskrip Aceh tenang Konflik dan Solusinya1 Fakhriati Puslitbang Lektur Keagamaan. One of the sources for those above life history of the Acehnese is manuscripts as their own writing. Letak Artikel ini telah dipresentasikan pada Konferensi International tentang Aceh and Indian Ocean Studies II Civil Conflict and Its Remedies.. protective to their ethnics and fatherland is another factor to motivate and to defend themselves from any other threat come from. di Banda Aceh.Perang dan Damai di Aceh. Afterward. from 17th to 20th centuries. Islam. konflik Pendahuluan Sejarah Aceh adalah cerita panjang tentang perjalanan suatu suku bangsa yang diwarnai pergolakan demi pergolakan di antara cerita kebesaran dan kejayaan yang pernah dicapainya. These situations have strong connection with character and behaviour of the Acehnese. The main question that should be answered is how the Acehnese solve their conflict in life. National University of Singapore (NUS) bekerjasama dengan International Center for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS). Ulama. This paper tries to find and analyse these primary sources in relation with war and peace occurred in the life history of the Acehnese. the way of the Acehnese associated with the others becomes a factor to create peace in Aceh land. the new generation can directly read and understand on the Acehnese writings as primary sources. sebagai koordinator konferensi ini yang telah mengundang Penulis untuk hadir dan mempresentasikan paper ini pada konferensi tersebut. Consequently.. Anthony Reid. behaviour and attitude from the Acehnese. Internal and external conflicts were appeared in different period. Jihad. Fanatic in their religion is an important factor to push to the situation. Apart from this. Kata kunci: Manuskrip. and what their character and behaviour were in the past. These sources become by far the most important sources since they provide the original information. 1 21 . Their life had been colorized by peace and war which can be regarded as part of their life history. Jakarta Aceh is a region which has a number of populations with their life fluctuation. yang dikelola oleh Asia Research Institute (ARI). 23–24 Februari 2009. Penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada Prof.

7. rakyat Aceh tidak hanya merasa berhutang budi karena para orang asing tersebut telah mendorong perkembangan perdagangan. Posisi wilayah yang demikian terbuka memberikan akses yang mudah untuk membangun hubungan dengan dunia luar. demikian juga kekayaan alam serta kesuburan tanahnya memberi andil besar bagi kemajuan Aceh. tetapi keras. Asia Selatan serta Selat Malaka di bagian utara dan timur memberikan nilai tersendiri secara ekonomis maupun politik bagi kerajaan-kerajaan Aceh masa lampau.52 geografis wilayah Aceh yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia di sebelah barat. terbuka. gangguan dari kalangan internal kerajaan juga turut menggerogoti wibawa pemerintah. Puncak kejayaan Kerajaan Aceh pada masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda. Bahkan tidak itu saja. 1961:299-305). tetapi juga karena telah mengembangkan Islam di kalangan masyarakat Aceh yang berfungsi sebagai pedoman hidup mulai dari tingkat individu. Iskandar. Hal ini semakin menambah 22 . khususnya dengan para pedagang Arab dan Gujarat. Dinamika perjalanan panjang sejarah Aceh tersebut berjalan sedemikian rupa seraya semakin mempertegas karakter masyarakat Aceh yang terkenal fanatik. tetapi juga mempengaruhi kinerja bidang ekonomi serta dunia pendidikan bersama hilangnya sejumlah besar intelektual agama (ulama) yang disegani dan menjadi panutan masyarakat. 1. tetapi juga bagi masyarakat luar Aceh di bawah kekuasaannya (T. dunia keilmuan maju sedemikian pesat. 2009: 21 . Vol. Situasi ini tidak saja berdampak politis. Masuknya para pedagang Arab dan Gujarat selain dipandang telah membawa agama sebagai pedoman hidup bagi masyarakat Aceh. kehadiran mereka juga turut mendorong semaraknya perdagangan yang memajukan perekonomian Aceh. No. Berkat dorongan para ulama. bermasyarakat hingga bernegara. 1958:78). Pada tahap awal hubungan Aceh dengan dunia luar. Kekuatan politik pemerintah secara perlahan mulai memudar dengan masuknya kekuatan asing. ramah. Rakyat Aceh menjadi sedemikian menyatu dengan Islam dan (tentunya) dengan dunia Arab. saat mana wilayah kekuasaan Kerajaan Aceh melampaui tanah Aceh (Zainuddin. telah mampu memberikan kemakmuran dan kenyamanan tidak saja bagi masyarakat Aceh.Jurnal Lektur Keagamaan. Setelah itu tiba saatnya kejayaan tersebut mengalami kemunduran seiring dengan banyaknya ancaman dari luar maupun gangguan dari dalam.

Namun kajiannya hanya berfokus kepada perang melawan Belanda. Sehingga pengalaman langsung dari setiap peristiwa yang terjadi di bumi Aceh dan sikap dari orang pribumi menghadapi dan mengatasi kejadian-kejadian yang ada dapat diketahui dengan jelas. Salah satu kebesaran Aceh yang dapat disaksikan hingga kini adalah bahwa suku bangsa ini mampu merekam sendiri setiap tahap perkembangan yang terjadi pada dirinya. Kedua. ada sisi lain yang perlu mendapat perhatian serius dari para peneliti untuk melihat dan mengkaji lebih intensif dan detail adalah tentang karya-karya tulis yang dihasilkan dan dimiliki oleh orang Aceh sendiri. Banyak dokumen dan arsip yang telah merekam kejadian-kejadian penting yang terjadi pada pada momen-momen penting masa silam. Tulisan ini mencoba mengisi kekosongan ini dengan melihat dan menganalisis manuskrip Aceh. Salah satu penghargaan mereka terhadap Islam adalah keyakinan mereka bahwa budaya Aceh adalah budaya Islam dan mereka berusaha komitmen terhadapnya. Seperti halnya Belanda dengan gigihnya melaporkan segala kejadian harian pada saat mereka berada di daerah Aceh. Ketiga.. Sejauh ini belum ada karya yang menjadikan manuskrip sebagai bahan analisis dasar untuk mengkaji konflik yang terjadi di Aceh..Perang dan Damai di Aceh. termasuk berbagai peristiwa perang dan pergolakan lainnya. Dengan 23 . Dokumen dan arsip yang kaya tentang Aceh sekarang banyak yang disimpan di negeri Belanda. — Fakhriati hormatnya masyarakat kepada para ulama. untuk mengetahui sikap dan prilaku orang Aceh yang tertulis dalam tulisan mereka sendiri. sejauh ini banyak ditemukan manuskrip berkisar pada periode ini. sehingga di hampir setiap daerah kecil memiliki ulama kebanggaan tersendiri. konflik internal dan eksternal mulai tumbuh dan berkepanjangan. Aceh dalam rentang waktu ini berada pada masa perang yang cukup panjang. Pertama. Siapa saja yang dinilai berusaha menggerogotinya akan dicap sebagai musuh bangsa Aceh dan juga musuh Tuhan. Studi ini mencoba menjelajahi perjalanan sejarah Aceh dari abad ke-17 sampai abad ke-20 M. Namun demikian. Salah satu karya yang menjadikan tulisan orang Aceh asli sebagai sumber primer adalah kajian Alfian Ibrahim pada tahun 1998 yang berjudul Perang di Jalan Allah. Pemilihan periode ini didasarkan atas tiga alasan.

52 demikian makalah ini diharapkan dapat memberi wawasan yang lebih luas dan mendalam tentang kondisi perang dan damai yang dialami langsung oleh orang Aceh pada masa lalu. Vol II. No. Permaian prajuritan. Budaya Orang Aceh 1. Permainan ini terdiri dari dua kelompok–biasanya terdiri dari kaum muda dari dua kampung—yang berdiri pada sisi yang berlawanan. 7. Perdebatan dan perlawanan yang mendidik para pemainnya untuk mempertahankan dan membela diri adalah salah satu unsur yang dapat mendorong perlawanan bila mereka diganggu oleh pihak lain. a. satu kelompok berusaha mendorong kelompok yang lain yang dianggap sebagai lawan untuk menjatuhkan ke tanah. 1. 2009: 21 . Vol. Berikut beberapa permainan yang bersifat mendidik untuk bela diri dan berperang. yaitu permainan bentuk lain yang mendidik para pemain untuk bisa berperan menjadi prajurit dalam perang. dan tentang sikap mereka dalam menghadapinya untuk mencapai kedamaian. dan bedil 24 . Dalam permainan ini. sehingga dinyatakan kalah. sebagian besar di antaranya memiliki unsur heroisme. Saling dorongmendorong ini pada akhirnya menciptakan perkelahian dan tidak boleh dibantu oleh siapa pun agar permainannya murni dan keberhasilan yang dicapai adalah atas usaha sendiri si pemain. karena dapat menciptakan perkelahian yang serius dan menimbulkan peperangan yang lebih luas. Karena itu permainan ini harus disaksikan oleh para pemuka masyarakat yang sekaligus bertindak sebagai wasit untuk mencegah perkelahian (Hurgronje. b. yaitu permainan yang dilakukan oleh kaum muda laki-laki dengan mengambil lokasi di pinggir sungai. Permainan dan Hiburan Rakyat Dari sejumlah permainan rakyat yang dimiliki orang Aceh. permainan ini biasanya tidak dapat dilepaskan begitu saja oleh pihak yang berwenang. Di lain pihak lawannya harus menangkap pendorong untuk dijatuhkan juga sehingga salah satu harus ada yang tidak bisa kembali ke garis pembatas awal.Jurnal Lektur Keagamaan. 1997:145). Namun demikian. Permainan meukrueng-krueng. Mereka dilengkapi dengan senjata tiruan yang dibuat dari pelepah kelapa untuk rencong dan pedang.

25 . c.Perang dan Damai di Aceh. Vol. para penari dari waktu ke waktu bertambah semangat dengan isi bacaan yang semakin hangat. — Fakhriati dari pelepah palem. II. Permainan meulho (bergulat). 1997:140). Hurgronje. 1934:648-649.. yaitu dengan meletakkan daun di kepala pemain lalu dijatuhkan. isi dan gerak yang dilakukan di dalamnya. Tarian-tarian ini berpangkal pada praktik tarekat dalam ajaran tasawuf dan kemudian berkembang menjadi hiburan tarian yang disenangi rakyat banyak. Karena itu kemarahan terjadi dari pihak lawan dan keduanya mulai melakukan meulho. Bila diperhatikan. Tarian yang cukup populer di kalangan rakyat Aceh adalah tarian seudati. dan saman. Kepala adalah sesuatu yang harus berada di atas bukan di bawah. peserta duduk membaca isi ratib saman. pemain duduk untuk membacakan isi seudati yang semakin lama semakin cepat bacaan dan gerak mereka (Djajadiningrat. penari membaca doa memohon kepada Allah agar mereka memperoleh kemenangan dalam perang sabil. lama-kelamaan bacaan menjadi semakin cepat dan tubuh peserta mulai bergerak ke sekeliling peserta lainnya. Isi bacaan dalam setiap tarian tersebut pada umumnya mengandung doa dan ajaran akan pentingnya berperang di jalan Allah. 1997:158-184). Kemudian mereka saling mengadukan kemampuan berperang sehingga ada yang mengalah karena kelelahan. Sementara dalam tarian seudati. Sedangkan dalam tari saman. Dalam rapa’i. Hal ini mengandung makna penghinaan telah dilakukan oleh pihak lawan. Vol II. Tarian-tarian yang dilakukan orang Aceh juga mengandung unsur heroik di dalamnya. karena daun tersebut mengandung makna sesuatu yang berharga telah diletakkan di atas kepala lawan lalu dengan serta merta kepalanya ditempatkan di bawah. peserta yang melakukan rapa’i menggunakan senjata tajam yang pada waktu ektasi dapat melukai diri sendiri. Pertandingan menjadi seru bila kedua belah pihak dapat melukai salah satunya dan akhirnya dapat menjatuhkan lawan (Hurgronje. untuk pembelaan agama dan tanah air.. d. Permainan ini dilakukan dengan cara memancing lawan. rapa’i. Dalam isi ratib rapa’i terlihat bahwa setelah dimulai dengan pujian kepada Allah dan syekh sufi.

c. keturunan dari Mekah. Keturunan Nabi (habib). dengan gelar teuku bagi laki-laki dan cut bagi perempuan. maka mereka mendapat gelar teungku. 1978:144. Sedangkan teungku berperan dalam menegakkan hukum Islam dan mengajarkan umat untuk ilmu-ilmu agama. Or. Cod. Tippe. Mereka dan keturunannya bergelar habib dan syarifah. Keuchik memiliki peran sebagai pemimpin yang memelihara akan adat. Masyarakat umum. 26 . yaitu. Kaum hartawan (orang kaya). Lapisan Sosial Masyarakat Aceh tidak dibangun di atas strata sosial berdasarkan tingkat kemuliaan keturunan dan penghormatan kepadanya. yaitu orang Aceh yang memiliki leluhur sultan dan uleebalang. d. Sulaiman dkk. Kaum bangsawan (uleebalang). Sementara ureung tuha adalah sekelompok orang tua yang 2 Manuskrip. yaitu keuchik (kepala kampung). Ya Allah untuk perang sabil”. No. 7. mereka adalah rakyat biasa. 2. Lapisan sosial pada masyarakat Aceh dibangun berdasarkan nostalgia kesejarahan dan berdasarkan peran mereka dalam masyarakat. Mereka banyak berperan dalam hal penyumbangan dana untuk kemaslahatan sosial. Peran mereka sangat diharapkan masyarakat untuk dapat menyelesaikan masalah masyarakat dalam kaitannya dengan agama (Syamsuddin dkk. 57. b.52 Ja Allah prang thabilellah – ja bantu prang thabilellah2 “Ya Allah di sana ada perang sabil kami mohon bantuan-Mu. e. Selain susunan lapisan sosial di atas. yaitu terdiri dari beberapa keluarga inti. Kaum cendikiawan agama (ulama). 1992:65-66. Dalam gampong terdapat tiga bentuk pemimpin. teungku. a. masyarakat Aceh hidup dalam kelompok-kelompok yang disebut dengan gampong. 1. 2009: 21 . mereka yang memiliki banyak harta.Jurnal Lektur Keagamaan. 2000:3). mereka berasal dari rakyat biasa. Vol. p. yaitu mereka yang datang ke tanah Aceh menyebarkan Islam. dan mengembangkan kehidupan beragama di kalangan rakyat. dan ureung tuha (tuha peut). Karena mereka berhasil mendapatkan ilmu agama selama merantau. 8184 (1).

dalam arti wilayahnya tetap berada di bawah kekuasaan uleebalang. terdapat sagoe di bawah pimpinan panglima sagoe yang merupakan federasi dari beberapa nanggroe. 2003:45). 1978:4-5). Agama Islam telah masuk ke Aceh tidak lama setelah agama ini berkembang di Arab. Mukim ini dipimpin oleh seorang imuem dan qadi yang diangkat oleh uleebalang. Wewenang sagoe hanya terbatas pada kepentingan bersama antara beberapa orang uleebalang. militer. Orang Aceh telah berhasil menyatukan agama dengan adat sehingga dalam setiap adat selalu terdapat nilai-nilai keislaman. 1980:43-44). Mereka menjadi tumpuan pemimpin dalam masyarakat dalam penyelesaian segala masalah yang dihadapi dalam gampong. Sagoe hanya dimiliki oleh daerah Aceh Besar. Fungsi panglima saggoe hanya bersifat memberi masukan kepada uleeblang. orang Aceh membuat pepatah: 3 Di samping nanggroe. baik peradilan. 2003:45). Keputusan mereka sangat diharapkan oleh berbagai pihak. Masuknya Islam di wilayah ini dikenal jalan damai melalui para pedagang. 3 Kemudian.. 3. di atas nanggroe. 27 . sementara yang lain sudah tidak ada lagi.Perang dan Damai di Aceh. 1992: 66-68. Gampong kemudian tunduk kepada kelompok yang lebih besar yang disebut dengan mukim. Kehadirannya yang selektif dan adaptif atas unsur-unsur adat istiadat yang dinilai tidak menyalahi ajaran Islam membuat masuknya agama ini cukup berhasil di Aceh. Ia tidak memimpin secara otonom. — Fakhriati dihormati masyarakat yang berperan sebagai penasehat (Sulaiman dkk. (Usman. terutama oleh pemimpin gampong dan bahkan uleebalang yang memimpin nanggroe (Vleer. Kelompok ureung tuha ini terdiri dari empat atau lebih orang pemuka masyakarat yang di dalamnya termasuk teungku yang banyak mengetahui bidang agama. maupun agama. Di antara struktur masyarakat Aceh tersebut yang masih bertahan hingga sekarang adalah gampong dan mukim. Selanjutnya. Ia dibantu oleh qadi nanggroe. terdapat kerajaan yang dipimpin oleh seorang sultan dibantu oleh seorang qadi didasarkan kepada undang-undang Aceh yang bersumber pada ajaran Islam dan berciri khas keislaman yang tinggi (Usman.. Raliby. Untuk menggambarkan kesatuan agama dan adat ini. wilayah uleebalang sendiri adalah nanggroe yang terdiri dari tiga mukim atau lebih.

Dalam perjalanannya. 2009: 21 . Di antara para pendatang dari Arab dan sekitarnya terdapat ulama-ulama yang mengabdikan dirinya untuk mengajar di Aceh. Sikap terhadap Orang Asing Orang Aceh memiliki sikap tersendiri dalam menghadapi orang asing yang datang ke negeri dan wilayahnya. Mereka telah berhasil menjadikan adat dan agama sebagai pilar bagi kehidupan Aceh. Syekh Muhammad Jailani ibn Muhammad Hamid dari Gujarat mengajarkan Logika dan Ilmu Fikih (Ar28 . Sultan dan uleebalang adalah dua unsur utama yang mendukung kehidupan adat. dalam arti segala adat istiadat berlandaskan agama. 4. No. Bahkan berlandaskan pada sebuah hadis. Islam mengalami penguatan citra melampaui adat istiadat. Para pengunjung dari berbagai negara telah datang ke Aceh dengan tujuan yang berbeda-beda. Vol. 18). hlm. Dalam manuskrip I‘l±m al-Muttaq³n karya Teungku Muhammad Khatib Langgien (salah seorang tokoh tasawuf abad ke-19 yang menjadi panutan masyarakat) terdapat penjelasan tentang perlunya memuliakan tamu. Tidak sedikit di antara pedagang-pedagang Arab dan Gujarat yang juga telah membawa agama Islam memilih menetap di sana dan menjalin hubungan kekeluargaan dengan rakyat Aceh.52 adat ngon hukom lagee zat ngen sifeut “adat dengan hukum (agama) adalah seperti zat dengan sifat” Pepatah ini mengandung pengertian bahwa adat sebagai ciptaan manusia dan hukum Tuhan (agama) adalah dua unsur yang tidak bisa dipisahkan. Sikap yang pertama sekali ditunjukkan adalah sikap ramah dan berteman kepada siapa saja yang datang. sehingga kemudian orang Aceh mengklaim adat mereka sebagai adat yang Islami. sedangkan ulama adalah unsur utama yang mendukung dan memperjuangkan peranan agama (Sjamsuddin. Selanjutnya sikap seperti ini terus dipertahankan bila tamunya tetap berperilaku baik dan menjadi teman dalam bersosialisasi. 7. Adat harus selalu beriringan dengan agama. 1999:1). ia menegaskan bahwa tidak menghormati tamu sama dengan perilaku syaitan (I‘l±m al-Muttaq³n.Jurnal Lektur Keagamaan. 1. Fanatisme agama merupakan suatu tradisi yang sudah turun temurun untuk melangkah sesuai dengan ajaran agama. seperti Syekh Muhammad Yamani yang dikenal dengan ulama Ilmu Usul.

bahkan memerangi dan membunuhnya. dalam Bust±n as-Salat³n:33). Bahkan orang non-Muslim yang datang ke Aceh pun tetap disambut dengan baik.. Sebaliknya. informal ataupun dikoleksi dan disimpan oleh masyarakat setempat.Perang dan Damai di Aceh. namun ketika gerak geriknya kelihatan sudah mencurigakan. Budaya Tulis Baca Masyarakat Aceh pada Masa Lampau Masyarakat Aceh pada masa lampau memiliki budaya yang tinggi dalam hal tulis baca. memarahi atau mengusir. Sejauh ini. 1961:89). Universitas Indonesia. Sedangkan di luar negeri. Pustaka Ali Hasymi. Orang Aceh dan Manuskrip 1. Orang Aceh selalu menentang dan melawan mereka meskipun secara kasat mata dengan persenjataan yang tidak seimbang. Di dalam negeri. Sultan Ali Mughayat Syah bersama rakyat dan kerajaan-kerajaan pantai timur lainnya bersatu menggalang kekuatan untuk mengusir Portugis dari wilayahnya (Reid. dan Dayah Tanoh Abee.. penulis sudah mengidentifikasi lebih dari 400 manuskrip yang terdapat di Aceh Besar dan Pidie. dan Univeristas Antar Bangsa Malaysia. KITLV Belanda. yang ditempatkan di lembaga formal. meskipun mereka menetap di wilayah ini dalam waktu yang relatif lama. Kemudian. Seperti halnya kedatangan orang Portugis ke Aceh pada awalnya diterima dengan baik. Mereka tidak pernah dapat hidup tenang dan aman selama di Aceh. bila pendatang ingin menguasai dan dinilai merugikan Islam dan martabat bangsa Aceh. Penulis bersama team peneliti Puslitbang 29 . manuskrip Aceh tersebar di Perpustakaan Nasional. baik secara kelompok maupun individu. British Library. maka dengan tegas dan tidak segan-segan mereka akan bertindak menegur. koleksi dan simpanan individu masyarakat Aceh sendiri masih sangat banyak. Hal ini ditandai dengan terdapatnya sejumlah manuskrip yang masih tersimpan baik di dalam maupun di luar negeri. Museum Aceh. — Fakhriati Raniri. Demikian juga dengan Belanda yang datang ke Aceh untuk tujuan membentuk wilayah jajahan. di antara lembaga yang menyimpan manuskrip Aceh adalah Perpustakan Universitas Leiden Belanda. Selain itu. Pusat Manuskrip Melayu Perpustakaan Negara Malaysia. maka orang Aceh mulai bertindak dengan tegas. yaitu menangkap mereka dan mengadili mereka (Mohammad Said. terjadilah perang sabil melawan Portugis. 2005:2).

penyimpan mengangap bahwa dengan keberadaan manuskrip di rumahnya menjadikan rumahnya aman dari segala bahaya. Para penulis manuskrip-manuskrip ini tidak segan-segan mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk 4 Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada dua kategori penyimpanan manuskrip dilakukan oleh masyarakat setempat.52 Lektur Keagamaan. Kondisi manuskrip rata-rata sangat memprihatinkan karena peyimpanan dan perawatan yang dilakukan masyarakat belum memenuhi standar perawatan manuskrip. Demikian banyaknya ragam manuskrip baik isi maupun gaya sajiannya adalah bukti telah tumbuhnya tradisi menulis pada bangsa Aceh pada masa lampau. Seperti kasus di wilayah Samahani Aceh Besar. seperti Surat Keputusan Sultan yang disebut dengan Sarakata. 2009: 21 . mengingat sejumlah harta warisan kita dibawa ke luar negeri. Merupakan sesuatu yang sangat prihatin bagi kita semua. Hampir semua pengoleksi dan penyimpan manuskrip tidak mengerti cara merawat manuskrip yang benar. dan masih banyak lagi manuskrip yang belum tersusun rapi dan teridentifikasi khususnya di dayah ini. Penulis juga sangat yakin. jimat. Aceh Utara. selain tempat-tempat yang disebutkan di atas. Dewasa ini. seperti gempa bumi. Menurut penulis. selawatan. terutama bahaya alamiyah. Vol. obatobatan. surat-surat. dan berbagai macam ilmu pengetahuan tertuang di dalam tulisan mereka. 30 . Kedua adalah kolektor yang tujuan mengoleksi manuskripnya adalah untuk menjual kembali manuskrip yang dimilikinya. penyimpan seperti ini perlu mendapat penanganan khusus untuk dijadikan museum pribadi di rumah penyimpannya.4 Adalah hal yang kurang tepat jika dikatakan bahwa orang Aceh adalah bangsa yang tidak suka menulis (Hurgronje. Keragaman gaya sajian maupun jenis tulisan sepertinya ditujukan untuk merangsang minat para pembaca untuk membaca tulisannya. cerita fiksi dan non-fiksi yang biasanya dituang dalam bentuk hikayat. hanya saja mereka tetap menyimpannya karena dinilai sebagai warisan yang sangat berharga bagi keberlangsungan hidup mereka. 1. Balitbang dan Diklat Departemen Agama juga telah berhasil mengidentifikasi 49 manuskrip yang terdapat di Dayah Awe Geutah. Vol. No. di kabupaten-kabupaten lain juga masih terdapat banyak manuskrip hasil karya pendahulu-pendahulu Aceh. (wawancara dengan beberapa kolektor di wilayah Pidie dan Aceh Besar). II. 7. 1997:4). sebagian besar manuskrip dibeli oleh orang Malaysia dengan harga yang tinggi untuk disimpan di negaranya. Pertama peyimpan yang murni menyimpan karena mengangap sebagai sesuatu yang berharga dan bernilai untuk kehidupan mereka.Jurnal Lektur Keagamaan.

dan Abdurrauf alFansuri 5 . ar-Raniri. hingga masalah kepentingan umat secara umum. kemudian menulis dengan tinta yang pada umumnya menggunakan tinta hitam dan merah untuk mengungkapkan kata-kata atau hal-hal yang penting. ilmu fikih. yang dikenal sebagai tokoh utama dalam tarekat Syattariah. Para peneliti menunjukkan perhatian serius dengan memperhatikan. Mereka menuangkan ide mereka. 2008). Selain menyebarkan ajarannya. dan meneliti segala aspek tentang mereka. karena setelah diteliti.. Salah satu contoh tokoh intelektual sufi yang turut mempedulikan setiap kepentingan negara dan umatnya adalah Abdurrauf al-Fansuri.. 5 31 . dan berkerja meniti karirnya di Aceh (Lihat Fakhriati. Salah satu contoh manuskrip yang ditulis dengan tinta emas adalah Surat Sultan Iskandar Muda. demi untuk menarik minat pembacanya. sehingga banyak buku yang terbit sebagai hasil studi para ilmuan terhadap mereka. ia peduli terhadap ilmu lain yang dibutuhkan oleh masyarakat di lingkungannya. karena ia yang pertama sekali menyebarkan tarekat ini kepada masyarakat di Nusantara. ternyata Abdurrauf adalah ulama yang berasal dari Fansur atau lebih dikenal dengan Barus. Para ulama tersebut melahirkan berbagai karya yang mencakup berbagai bentuk ilmu pengetahuan dari ilmu tasawuf. dan sebagian manuskrip Dala’il al-Khairat. ilmu filsafat. ia juga menulis karya lain seperti tafsir Al-Qur’an. Tulisan-tulisan tentang mereka dan karya-karya mereka sudah banyak diterbitkan. Syamsuddin as-Sumatrani. kemajuan ilmu pengetahuan ditandai dengan hadirnya tokoh-tokoh intelektual sufi. yang berjudul Tarjuman alPenulis cenderung menyebutnya Abdurrauf al-Fansuri dari pada Abdurrauf Singkel. Selain itu. saya juga pernah menemukan Al-Qur’an yang gambar iluminasinya ditulis dengan tinta emas. Selain ia menulis tentang tasawuf yang berkisar seputar masalah tarekat Syattariyah. yaitu Hamzah Fansuri. dan ilmu-ilmu lain. serta tanda-tanda yang menunjukkan berakhirnya sebuah kalimat. — Fakhriati melahirkan sebuah karya yang nantinya akan bermanfaat bagi pembacanya. Penulis manuskrip Dala’il al-Khairat menggunakan tinta emas untuk gambar peta Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.Perang dan Damai di Aceh. bahkan kadang mereka tidak segan-segan mengeluarkan biaya besar untuk menulis dengan menggunakan tinta emas sekalipun. Pada abad ke-16 dan ke-17 M. mempelajari.

2009: 21 . orang Aceh yang cinta tulis menulis terus menuangkan pikiran dan pengalamannya yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.52 Mustaf³d. Sedangkan Baba Daud telah berhasil menyempurnakan karya gurunya. ia memberi fatwa bahwa pemerintah yang berkuasa pada saat itu. pada masa ini karya-karya hasil tulisan orang Aceh bukan Kondisi kerajaan yang secara perlahan mulai melemah berikut masuknya kekuatan asing yang berusaha meruntuhkan kekuatan kerajaan serta timbulnya persoalan di dalam negeri antara ulama dan uleebalang memberi pengaruh memudarnya semangat keilmuan. pada abad-abad berikutnya. yakni Dayah Tanoh Abee (Baca manuskrip. Mir’at at-°ull±b. Tarjuman alMustafid dan juga menulis tentang Fikih. Sangat sedikit hasil kajian terhadap sosok ulama Aceh dan karyakarya mereka pada masa ini muncul. Abad ke-19. 6 32 . yaitu Sultanah Safiyatuddin (1641-1676 M) adalah pemerintah yang sah dan benar dalam hukum Islam (Lihat Azra. 1. ia juga peduli dengan pemerintahan yang berkembang saat itu. Kendati demikian. Perhatian lebih banyak tertuju pada usaha menghimpun kekuatan membela diri dan mengusir penjajah. dan penjelasan terhadap hadis-hadis. Mereka bahkan menggunakan kesempatan menulis untuk membakar semangat perjuangan melawan kebatilan yang mereka sebut sebagai kafee untuk memperjuangkan agama dan bangsanya. di antara tulisannya adalah Asr±r as-Sulµk dan Manzal al-Ajl±. Faqih Jalaluddin dan Baba Daud. Vol.Jurnal Lektur Keagamaan. seperti Bid±yat alMujtah³d. para peneliti dan ilmuwan kurang menaruh perhatian pada penulis-penulis Aceh. Selanjutnya. yang berjudul Hadis al-Arba‘in. Faqih Jalaluddin telah menulis berbagai karya yang menyangkut berbagai masalah. seorang ulama hasil didikan Baba Daud yang telah melakukan sesuatu yang sangat berharga bagi umatnya adalah Syekh Nayyan. Di samping itu. Ia telah membangun dayah yang sampai sekarang tetap berjaya dengan pendidikan dan penyimpanan kitabkitab lama hasil karya para ulama Aceh dan luar Aceh. Namun demikian. 1995). karena harus menghadapi penjajah Belanda. Di antara para ulama yang telah menghasilkan karyanya pada abad ke-18 M. meskipun kondisi negeri pada saat itu kurang mendukung 6 . adalah abad yang cukup menderita untuk rakyat Aceh. Pada abad ke-18. karya Teungku Ismail tentang sejarah Syekh Nayyan). 7. No. murid langsung dari Abdurrauf al-Fansuri.

Ia memiliki juru tulis khusus bernama Teungku Rahman yang bertugas dengan setia melakukan segala perintahnya dalam menulis. Ia lebih cenderung menjadikan karya-karya pendahulunya sebagai rujukan daripada menyalin kembali. Ia adalah tokoh tarekat. Salah satu karyanya adalah Fa‘lam annahu l± il±ha illall±h. Karya-karyanya tidak hanya berkisar tentang tasawuf. 8 Sampai sekarang masih bisa dijumpai manuskrip-manuskripnya yang dikoleksikan oleh keturunannya.. di antaranya adalah yang berbentuk cerita dalam bentuk hikayat yang mengajak umat untuk berperang melawan penjajah. — Fakhriati semakin tenggelam..7 Ia menulis berbagai masalah. meski tidak merujuk kepada Abdurrauf al-Fansuri sebagai silsilahnya. Merupakan suatu kenikmatan tersendiri baginya untuk membuat buku baru sebagai hasil karyanya sendiri daripada menyalin kembali hasil para ulama di masa yang silam. Teungku di Pulo adalah sosok yang cukup berpengaruh untuk masyarakatnya di Aceh. di samping ia juga menjadi tempat berpijak dan bertindak. Pada abad ke-20. melainkan juga ilmu-ilmu lain seperti fikih dan bahasa Arab. melainkan bangkit kembali dengan semakin banyaknya karya yang muncul dalam berbagai bentuk. Ia juga menjadi Qadi untuk pemerintah yang berkuasa pada saat itu (Lihat Fakhriati 2005). Di antara para ulama yang gemar menulis dan cukup produktif pada masa ini adalah Teungku Khatib Langgien. Ia adalah salah satu penulis yang giat menuangkan pikirannya untuk kepentingan murid dan masyarakatnya. muncul ulama besar yang bernama Teungku Muhammad Ali Irsyad. 7 Damai 33 . seperti Mi’r±j as-S±lik³n yang menceritakan tentang praktik tarekat dan pemahaman filosofi tentang makna tasawuf.Perang dan Damai di Aceh. lantunan hikayat menjadi kesenangan bagi masyarakat banyak. Teungku Amiruddin Hasan Meunasah Kruet Teumpeun. dan Daw±’ al-Qulµb yang menjelaskan tentang obat hati yang perlu dimiliki oleh setiap orang. Peran Manuskrip bagi Masyarakat dalam Perang dan Manuskrip telah memberi daya tarik tersendiri pada masyarakatnya. 2. Ia telah menjadi teman setia bagi pembacanya di sepanjang masa. Karya-karya para ulama menjadi pegangan bagi umatnya. 8 Selain itu. Bid±yat alUntuk penjelasan pergeseran silsilah yang terjadi dalam tubuh tarekat Syattariyah di Aceh. lihat Fakhriati 2008.

9 9 Perlawanan secara individu juga terjadi di tempat lain selain di Aceh. C. Hikayat-hikayat yang dibaca dengan intonasi nyanyian khas Aceh dapat memberi kesan dan pengaruh yang sangat kuat kepada para pendengarnya untuk bertindak dan bersikap seperti yang dikatakan dalam hikayat. Salah satu contoh bentuk penyerangan individual yang populer sejak tahun 1910 tersebut adalah peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh seorang pemuda Aceh terhadap tentara Belanda pada tahun 1917 di Langsa. kaum Muslim Tausug melaksanakan jihad yang dikenal dengan Parrang Sabbil melawan kolonial Spanyol. (Kiefer. dijadikan sebagai kitab wajib di setiap pesanren (dayah) bagi para pemula. misalnya. Dalam peperangan melawan Belanda. sehingga menjadi darah daging pelaksananya. 23-24. muda. dan anak-anak sekalipun. misalnya.Jurnal Lektur Keagamaan. No. mereka masih tetap melakukan penyerangan secara individu yang dimotivasi oleh semangat prang sabi. Vol. 34 . baik rakyat biasa maupun para pemimpin. (Hurgronje. Hikayat Prang Sabi. 1973: 109-123). orang Aceh tidak pernah menyerah. Sebelum melakukan jihad mereka harus melaksanakan upacara mandi yang kelakukannya sama seperti mandi yang dilakukan untuk orang yang mau dikuburkan. Motivasi pembunuhan bermula dari membaca Hikayat Prang Sabi di rumahnya. orang tua. Snouck Hurgronje menyatakan bahwa hikayat adalah salah satu bentuk hiburan rohani yang disenangi oleh berbagai lapisan masyarakat. kesenangan mendengar hikayat di kalangan orang Aceh telah terjadi secara turun temurun. Para ulama dan orang yang berbakat membuat hikayat pun dengan segala senang hati menciptakan berbagai hikayat untuk dibaca di hadapan khalayak ramai. 7. Di lain pihak. No. 1. 1997:201). Persiapan ini menunjukkan bahwa orang yang melakukan jihad adalah orang yang akan kembali ke Hari Akhir. atau di perkumpulan-perkumpulan kecil di kedai kopi. di meunasah. Mereka melakukannya secara individu. Isi hikayat pada umumnya bersifat mendidik dan mengajari hal-hal yang bermanfaat bagi pembaca dan pendengarnya. misalnya.52 Mujtah³d. seperti di lapangan. Meskipun mereka kalah dan tidak bisa lagi melakukan penyerangan secara berkelompok. di Pilipina misalnya. p. telah mendorong para pembaca dan pendengarnya untuk bertindak secara langsung terjun ke lapangan mempraktikkan apa yang diceritakan dalam hikayat. 1979:25-27). 234. Vol II. (Kern Papieren. Ilmu fikih yang tetuang dalam kitab tersebut kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. 2009: 21 . Kern.

. 35 . Dengan menyimpan manuskrip. Mereka mengangap manuskrip sebagai sesuatu yang dapat memberi makna mistis dalam kehidupan mereka. — Fakhriati Hikayat Prang Sabi telah membangkitkan semangat jihad melawan musuh yang dianggap sebagai kafir yang merongrong Islam dan bangsa Aceh dan karenanya harus dimusnahkan. terdapat juga isi manuskrip lainnya yang mengharap adanya suasana damai. Para pemilik manuskrip–khususnya–menyimpan manuskrip sebagai sesuatu yang berharga. Sabda Nabi neu yu peu Islam kafe belanda yang na tinggai dara ngen agam nak bek karam u nuraka neuboh raja lein geulanto peutimang naggro mat neraca. “Nabi bersabda agar orang Belanda yang masih tinggal di daerah Aceh diislamkan agar tidak masuk ke dalam neraka. 33). Selain isi manuskrip tentang ajakan untuk berperang di jalan Allah. Untuk memimpin Aceh. Nabi mengangkat raja lain yang dapat memimpin dan membina negeri Aceh.. hlm. sehingga negeri Aceh menjadi mulia”. Isinya yang mengajarkan umat sesuai dengan ajaran Islam dan mengajak mereka untuk menegakkan perang adalah unsur yang mau tidak mau harus dipatuhi oleh orang yang cinta kepada agama dan bangsanya. Kak Putri misalnya.. kecuali harus melaksanakannya. Tidak selamanya setiap insan yang normal jiwanya di dunia ini ingin berperang. sementara rumah di sekelilingnya sudah hancur berantakan. bahkan tidak dapat membaca tulisan di dalamnya. maka kehidupan dapat berkah dan dapat terhindar dari malapetaka... Cinta kedamaian adalah sesuatu yang lain yang diinginkan setiap insan. meskipun sebagian mereka tidak memahami isinya. memiliki keinginan menyimpan manuskrip karena ada kepercayaan dapat berlindung dari gempa bumi. Manuskrip Aceh pada Masa Kini Manuskrip memiliki arti penting bagi generasi sekarang di Aceh. truh lee siat naggroe mulia (Hikayat Prang Sabi miliki Syik Jah. Dalam manuskrip Hikayat Prang Sabi sendiri terdapat harapan untuk mewujudkan negeri Aceh menjadi negeri yang aman dan damai. Salah seorang penyimpan manuskrip.Perang dan Damai di Aceh. 3. terlebih setelah sekian lama berprofesi sebagai penjual beli manuskrip dengan untung yang besar namun hasilnya tidak berkah (habis begitu saja tanpa termanfaatkan dengan baik)..

Sering kali ketidakperdulian ini disebabkan mereka tidak dapat membaca dan memahami isinya. Ia dan keluarganya berkeyakinan bahwa pengalaman tersebut adalah berkat dari menyimpan. Ketiga-tiga manuskrip tersebut adalah manuskrip pemompa semangat untuk berjihad dan mengajarkan cara menghilangkan diri dari musuh. atau mereka memindahtangankan (mereka menghindari istilah menjual) dengan cara barter. Ia lebih mementingkan keamanan manuskrip dibandingkan dengan yang lain. Sehingga mereka membiarkan manuskrip ada di rumahnya dengan menyimpan di dalam karung-karung atau peti dan meletakkan di loteng-loteng. Padahal rumah di sekelilingnya sudah disisir semuanya. 7. yaitu ia dan keluarganya terhindar dari serangan musuh ketika konflik Aceh terjadi. meskipun ia dan keluarga berada di tengah-tengah perang dan dikelilingi oleh pihakpihak yang berseteru.Jurnal Lektur Keagamaan. Namun demikian. merasa bahwa menyimpan manuskrip-manuskrip yang ia miliki sebagai warisan dari leluhurnya lebih baik daripada menyimpan sesuatu yang berharga lainnya. Ia mendapat wasiat dari kakeknya agar tiga manuskrip yang ia miliki hendaknya selalu dibaca dan diamalkan. Bentuk-Bentuk Perang yang Terjadi di Aceh 1. dan Hikayat Nuri. Ia yakin dengan kepatuhannya kepada wasiat kakeknya tersebut. Konflik Internal Secara internal. 2009: 21 . Hikayat Prang Sabi.52 Selain itu. 1. No. Tidak ada satu pun dari pasukan kedua belah pihak yang terlibat konflik berusaha masuk ke rumahnya. manuskrip juga dianggap sebagai barang warisan yang berharga dari nenek moyang mereka. Adapun tiga manuskrip tersebut adalah manuskrip Hiyakaye. ia dan keluarganya telah memperoleh hikmah. yaitu manuskrip yang isinya dapat membuat musuh tidak dapat melihat orang yang mengamalkan isi kitab tersebut. Vol. Pada umumnya penduduk desa yang seperti ini tidak berani menjualnya karena takut mendapat bencana meskipun ada yang berhasrat membelinya. seperti baju dan uang. bukan berarti tidak ada orang yang perduli terhadap manuskrip. membaca. dalam tubuh masyarakat Aceh telah terjadi beberapa kali konflik yang menelan sejumlah korban dari berbagai 36 . Wasiat pendahulu-pendahulu mereka terus dipelihara dan dijaga. dan mengamalkan manuskrip. Syik Jah Amut misalnya.

Sebelum kemerdekaan konflik telah terjadi antara ulama dan uleebalang.Perang dan Damai di Aceh. Belanda menekan kedudukan ulama agar tidak ikut campur dalam mengelola sistem pemerintahan. Pembangkangan ini ternyata disambut oleh Belanda yang ingin ikut campur ke dalam pemerintahan kerajaan Aceh.. Para ulama tidak menerima tindakan demikian. sesudah kemerdekaan konflik juga timbul antara mereka. “Kesalahan diri sendiri tidak pernah nampak karena sangat jahat kafir Belanda Hatinya sudah gelap sehingga kapan saja jin dan syaitan dapat masuk ke dalam dada mereka Tidak mau mendengar pengajaran agama Tuhan pada Rasul Anbiya Mereka tidak mau mematuhi kalam Tuhan. Pada masa sebelum Belanda campur tangan ke dalam wilayah Aceh. Uleebalang pada umumnya senang dengan perlakuan Belanda tersebut sehingga ikut-ikutan untuk menekan dan menghalanghalangi gerak para ulama terutama dalam melaksanakan tugasnya menyebarkan dan melaksanakan ajaran agama. Pembagian hasil upeti yang didapat tidak dilakukan.. — Fakhriati pihak.. h..” 37 .. kekuasaan sultan sudah mulai melemah. 11). malah menyalahkan semua para anbiya.. Di sisi lain. Para uleebalang mulai menunjukkan sikap tidak patuh kepada aturan-aturan sultan yang tertuang dalam sarakata. (Sir±judd³n. Perbedaannya hanya terletak pada faktor penyebabnya. sehingga konflik pun muncul ke atas permukaan. Belanda berusaha melenyapkan kekuasaan sultan dan mengangkat kedudukan uleebalang sebagai penguasa wilayah. Perlawanan ulama ini digambarkan oleh Teungku Muhammad Ali sebagai berikut: Keusalah drou hantem leumah sebab that ku’eh kafeee Ulanda Hate jih seupot beurangkajan iblih ngen syaithan di dalam dada Han jitem deunge pengajaran agama Tuhan bak Rasul Anbiya Kalam Tuhan han jitem pateh ji peusalah dum anbiya. Ia membagi-bagi wilayah kecil dengan penguasa uleebalang yang harus tunduk di bawah kekuasan Belanda. Politik saling mencurigai antara sesama atau lebih dikenal dengan politik devide at impera selalu menjadi acuan Belanda dalam usaha memperluas wilayah jajahannya. Perilaku koruptif dengan tidak memberitahukan kepada sultan hasil pajak yang sebenarnya mulai merebak.

Banyak di antara mereka harus lari dan pergi 38 . terjadi kembali perang saudara antara ulama dan uleebalang yang dikenal dengan perang cumbok. No.. Geutanyo bandum wahe ado bak buet Rasul ikut gata Laen bak Rasul bek ta ikot meunan patot dum peutua. jangan berteman dengan orang jahil yang suka kepada dunia takutlah hai salik kepada orang yang seperti itu orang jahil pun takut kepada orang salik yang bertapa orang yang mengikuti perintah Allah disalahkan semua karena mereka tidak salat wajib yang lima waktu tak pernah mendengar firman Tuhan dalam al-Quran mulia mereka tidak pernah mendengar firman Tuhan dalam al-Quran barangsiapa menyebut nama Tuhan dan salatlah kalian orang yang mengucap kalimah yang baik mereka itulah orang yang baik dan taat”.52 Berpegang teguh pada ajaran agama menjadi kewajiban bagi para ulama untuk mempertahankannya. 1. yaitu setelah kemerdekaan. Para uleebalang ingin mendapatkan kembali posisi di atas dalam pemerintahan sebagaimana telah mereka alami pada masa Belanda. Vol. 2009: 21 .. terutama di pihak uleebalang. Pada akhir tahun 1945. “Semua kita wahai saudara harus ikut pekerjaan Rasul Selain itu jangan ikuti karena begitulah seharusnya. Korban telah banyak berjatuhan dari kedua belah pihak.Jurnal Lektur Keagamaan. Bek tamuerakan wahe ado ngen ureung jahe aso donya Beutatakot hai ureung salek keu ureung ulok jahe donya Di ureung jahe pih jitakot keuureung salek duk lam tapa Padum-dum oreung jahe jipeujahat sabe ureung tapa Ureung yang pubuet suroh Allah jipeusalah dum ji rata Seubab hana ji sumayang wate limeung jiyu plihara Hantem jideungo firman Tuhan dalam Quran yang that mulia So na seubot nama Tuhan yanke tolan semayang gata Ureung yang na kheun kalimah tayibah yanke yang jroh taat gata (Sir±judd³n.. Mereka mengajak pengikutnya untuk mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya. 7. h. 13-14). agar selamat hidup di dunia dan akhirat. Para ulama tidak memberi kesempatan kepada uleebalang untuk mengatur dan memerintah sementara mereka juga menginginkan kekuasaan sehingga terjadilah perang.

Aceh mencari bantuan ke Turki untuk persiapan menghadapi mereka.. Perang melawan Jepang. menggantikan posisi uleebalang. Usman. Dengan kegigihannya. Mereka melawan Jepang meski dengan senjata yang tidak sebanding sekalipun. dan Pasai (Zainuddin 1961:267. Para pemuda Aceh direkrut untuk berada di tangga pemimpin negeri. Usman. Setelah merasa bahwa janji-janji Jepang hanyalah tipuan belaka. (1942-1945) adalah perang lain yang harus dihadapi orang Aceh. 1979:200-204. karena keberhasilan ada di tangan mereka dan jendral Kohler tewas terbunuh oleh rencong Aceh. Pada tahun 1509 M. Kemudian perang kembali berkecamuk ketika Belanda melakukan agresi pertama ke wilayah Aceh pada tahun 1873.. Jepang menjanjikan angin surga untuk bersama orang Aceh melawan Belanda dan berada di pihak orang Aceh untuk membangun Aceh. Hikayat tersebut selain menceritakan kemenangan pasukan Aceh dengan tewasnya jenderal Kohler. juga berkisah tentang peristiwa berkecamuknya peperangan serta menggambarkan bagaimana semangat juang pasukan bersama rakyat Aceh dalam perang mengusir penjajah yang menelan banyak korban di kedua belah pihak.Perang dan Damai di Aceh. Orang Aceh sangat senang atas kemenangan ini. Mereka mengikutinya. 2003:119-124). Sangat beruntung bagi orang Aceh. Mereka tetap menjadikan rujukan dan membina hubungan erat dengan para ulama setempat. Para pemuda Aceh menyambut gembira harapan yang diberikan Jepang. Pada awalnya. sehingga lahir hikayat tentang tewasnya jendral Kohler. pasukan Aceh di bawah komando Kuemala Hayati telah berhasil mengalahkan Portugis yang berada di bawah pimpinan Admiral Die d’Lopez Sequeira yang berusaha menguasai wilayah Aceh Besar. 2. maka rakyat Aceh mulai mengerakkan seluruh kemampuannya untuk berperang menghadapi Jepang. 2003:115). — Fakhriati meninggalkan Aceh agar selamat dari serangan dan pembunuhan (Reid. namun mereka juga tetap waspada apa yang akan terjadi ke depan. Semangat jihad 39 . Konflik Eksternal Perang melawan orang asing yang datang ke tanah Aceh terjadi pertama kali dengan pasukan Portugis yang ingin menguasai wilayah Aceh. Pidie. Sehingga gerak mereka tidak lepas dari pantauan para petinggi ulama.

beda agama. meski tekanan hidup lebih parah daripada yang dialami pada masa Belanda. Vol. Dalam sebuah doa. No. terdapat semangat jihad dengan mengharapkan berkat dari Abdurrauf al-Fansuri dalam berjuang melawan Belanda. Abdurrauf al-Fansuri adalah tokoh yang sangat kuat memperjuangkan negara melawan penjajah.Jurnal Lektur Keagamaan. 10 40 .52 kembali berkobar. Karena itu ia mengajak kaum Muslimin untuk bersungguh-sungguh melaksanakan perang sabil dan bercita-cita untuk mati syahid. Hikayat Prang Sabi kembali dikumandangkan dari berbagai tempat dan sudut untuk membakar semangat rakyat berjuang melawan Jepang sebagai kafir. 7. 1991:131). kemungkinan besar karena selain masa perang melawan Jepang yang demikian singkat. juga karena seluruh kemampuan jiwa dan raga orang Aceh tercurah ke dalam perang menghadapi Jepang. Manuskrip ini disimpan di Pusat Manuskrip Melayu dengan nomor kelas MS 1314. Hal ini terjadi. Mereka hanya menggunakan kitab-kitab lama untuk dibaca dan direnungi serta diamalkan. Dalam kitab Wa¡iyyat Syeikh Abdurrauf al-Fansuri 10 terdapat ajaran Abdurrauf tentang kewajiban perang sabil. Orang Aceh sangat menghormati dan menghargai keagungan Abdurrauf al-Fansuri. Ia menyebut bahwa memerangi orang kafir adalah berbentuk perang sabil yang diridai oleh Allah. Pada jangka waktu perang yang singkat dengan Jepang. sehingga ajarannya juga diamalkan. Ia mengatakan bahwa Allah melarang orang Islam untuk tunduk di bawah pemerintah kafir dan mengambil orang kafir sebagai teman. tidak terlihat munculnya karya-karya para ulama pada saat ini. (Abdullah. Untuk itu Allah mewajibkan umat Islam untuk melakukan perang sabil. dan perebutan kekuasaan. Ia mengajarkan bahwa perang melawan orang kafir yang menjajah wilayah kaum Muslimin adalah wajib. 2009: 21 . Akhirnya. Jepang pergi sendiri meninggalkan Aceh setelah dikalahkan oleh Amerika dengan jatuhnya bom di Hirosima dan Nagasaki. 1. Kondisi-Kondisi yang Menyebabkan Perang Dari hasil pemetaan di atas dapat dianalisis berdasarkan manuskrip yang ada bahwa terjadinya perang di Aceh adalah karena faktor-faktor penjajahan.

Cod. C). Setelah tahun 1789 M) adalah tokoh dari Palembang (Sumatera Selatan) yang telah membakar semangat jihad untuk wilayah Nusantara.Perang dan Damai di Aceh. Boh beudee jife bek jimeusu.. Di akhir buku ini tertulis doa yang berisi permohonan kepada Allah agar Allah melindungi orang yang melakukan jihad. Masyarakat Aceh menggunakan buku tersebut sebagai pedoman mereka menulis. dorongan kuat dari tokoh luar Aceh juga menjadi kondisi membangkitnya semangat orang Aceh dalam menggerakkan perang melawan penjajah Belanda. A. Abdussamad al-Palembani (w. tidak heran kalau sampai sekarang manuskrip al-Palembani masih disimpan dan dikoleksi oleh orang Aceh. 20. Agar Allah usir kafir Belanda”. firman Allah neuyou prang kafe. iman bak teugoh. firman Allah disuruh perangi kafir.Muslim³na wa Ta©kirah al-Mu’min³na f³ fa«±’il al-Ji¥±di f³ Sab³lill±h wa Kar±mah al-Muj±hid³na f³ Sab³lill±h 11 telah menjadi rujukan bagi rakyat dalam berperang. Selain itu. 7992 (5): 3) “Tiada Tuhan selain Allah. kalah kafir. dan penghapusan dosa selama di dunia. berkat syafaat Nabi Muhammad agar menang umat. beutalo kafe. (Manuskrip. 11 41 . Keluar peluru jangan bersuara. Karena itu. Kemudian dilanjutkan dengan anjuran kepada orang yang melaksankan jihad agar membaca l± ¥awla wa l± quwwata ill± bill±h tujuh kali. — Fakhriati L±’il±ha’ill±h. Bukunya tentang kewajiban melakukan jihad bagi setiap Muslim yang sedang menghadapi musuh yang berjudul Na¡³¥ah al. khususnya Aceh. Hatee bak puteh. Sebagai penganut dan penyebar tarekat Samaniyyah di wilayah Nusantara. Or. Bak Allah beh kafee Ulanda.. Perkumpulan kaum Muslimin di Mekah juga menjadi kondisi lain untuk mendorong orang Aceh bergerak lebih radikal terhadap Buku ini berisi pahala yang dicapai oleh orang yang melakukan jihad. Berkat Teungku Syiah Kuala. dan jihad yang hanya wajib dilakukan secara berkelompok bila orang kafir masuk ke dalam wilayah mereka. (Manuskrip. hati harus putih bersih dan iman harus kuat. Salah satu manuskrip yang mengambil rujukan pada buku tersebut adalah Nasihat Ureung Meuprang dan Hikayat Prang Sabi. ia berjuang dengan giat melawan Belanda. Beureukat syufa’at Nabi Muhammad bak meunang umat. Kemudian. Cod. penjelasan tentang peraturan berjihad yang terdiri dari jihad yang wajib dilakukan oleh setiap individu bila orang kafir menguasai daerah orang Muslim. Or. Beureukat Teungku Syiah Kuala.

Ia kemudian pulang ke Aceh dan mengabdi kepada agama dan bangsanya dengan berbagai macam cara. 14 Sampai sekarang.14 Manuskrip Teungku Ali Muhammad Pulo Peub yang ditulis pada abad ke-19 M adalah salah contoh manuskrip yang menarik dikaji untuk melihat kondisi yang menyebabkan terjadinya perang di Aceh.. Salah satunya adalah simpanan Teungku Ainal Mardhiah Teupin Raya. Vol.. Orang Aceh yang berada di Mekah 12 mendapatkan informasi tentang kekejaman kolonial di setiap negara Muslim lainnya di dunia. 10) Han jibri peubut tarekat sufi seubab that dengki si celaka.. Di antaranya adalah dengan menuangkan ilmunya ke dalam tulisannya. (Bruinessen. Ia.Jurnal Lektur Keagamaan. 1980: 337-347.52 kaum non-Muslim. Keusalah drou hantem leumah that kueh kafee Ulanda (Sir±judd³n.. No. 1972: 193210: Holt. Isi manuskrip tersebut adalah penjelasan perang yang terjadi di berbagai negara Muslim di dunia. hlm. Ureung salik ji peusalah menan fitnah ureng celaka (Sir±judd³n. adalah seorang intelektual yang selama dua puluh tahun berada di Mekah untuk menuntut ilmu-ilmu agama. h. Mereka mendengar akan kesuksesan saudara mereka dalam memperjuangkan negara mereka. hlm. manuskrip-manuskrip tentang hal tersebut masih disimpan oleh penduduk setempat. 2009: 21 . sebagai tokoh Syattariyah tidak luput mengulas sifat dan sikap uleebalang dan kafir Belanda yang menghalang-halangi kaum tarekat dalam beribadah. dan mengajak rakyatnya untuk ikut serta. Mereka yang memiliki cukup biaya pergi ke Mekah dan bahkan sebagian mereka menetap di sana berpuluh-puluh tahun guna menuntut ilmu agama dari para guru di tanah suci. Mereka saling mendapat dorongan untuk mencapai satu tujuan yang sama. sehingga rakyat antusias membaca dan mendengarkannya. 1990: 42-49). misalnya. 11) Pergi ke Mekah khususnya untuk melaksakan haji telah menjadi suatu tradisi bagi orang Aceh khususnya dan Nusantara pada umumnya. seperti di Arab dan di Mesir. Teungku Muhammad Ali yang berdomisili di daerah Leungputu. 7. Manuskrip ini ditulis dalam bahasa Aceh dan dalam bentuk hikayat. Salah satu cara mereka merangkul rakyatnya adalah dengan menulis informasi yang mereka peroleh di Mekah dalam bahasa Aceh dan berbentuk hikayat. 1. 12 42 . 13 Lihat misalnya keberhasilan Mahdi Sudan dalam Dekmejian. (Sir±judd³n. Sehingga perkumpulan tersebut membuat komitmen untuk memberantas kolonial di wilayah mereka. 13 Sehingga semangat yang berapi-api mereka bawa pulang serta. Konsekwensinya mereka menciptakan gerakan melawan penjajah di daerah mereka sendiri. Meunan Peurintah Huleebalang dum sibarang yang peutua. 8-12).

Untuk menciptakan perdamaian di kalangan masyarakat dan juga di tingkat pemerintahan.. Upaya-Upaya Damai Dalam manuskrip. Orang salik disalahkan demikian bentuk fitnah orang celaka Tidak diizinkan melaksanakan tarekat sufi karena mereka sangat dengki. Di satu sisi.. Bahkan ia sangat takut bila seseorang akan menuduhnya berada pada garis yang salah dalam tasawuf... terdapat upaya-upaya damai yang dapat dilihat agar setiap masyarakat dapat menikmati hidup dengan tenang dan dapat melaksanakan segala aktivitas sehari-hari demi kemajuan bangsa.. Bismill±hirra¥m±nirra¥³m Q±lal faq³ru ilall±hil malikil jal³lil syaykhi ‘abdur ra’µfi anna ‘alayya wa lamma wa¡altu ila ar«il Asy³ wa k±na l³ f³h± rajulun yu¡±¥ibun³ wa yataraddadu ilayya ka£³ran wa raaytu annahu yatakallamu f³ wa¥datil wujµdi ‘ala khil±fi m± qarrarahu sayyid³ wa syaykh³l ‘±limir rabb±niyyil munfaridi f³ aw±nihi bil± £±n³ A¥mad bin Mu¥ammadil Madan³l An¡±r³yyi¡ ¢amad±n³yyisy Syah³ri bil Qusy±sy³ wa khal³fatul ‘±lamil ‘al±matil ¥ibril ba¥ril fahh±mati wahua syaykhun± Burh±nudd³ni Mul± Ibrah³m ibni ¦asanil Kµr±n³ 43 . Akibatnya. Abdurrauf al-Fansuri dengan bijaksana menyikapi perbedaan-perbedaan pandangan antara kaum sufi yang sebelumnya telah mengarah kepada kekerasan.Perang dan Damai di Aceh. Ia menulis kitab tasawuf dengan judul Tanb³h al-Masy³ yang di antara isinya adalah upaya untuk menetralkan pemahaman tasawuf yang telah simpangsiur pada saat itu. hubungan ketidakharmonisan kedua pihak yang bersaudara setanah air semakin tidak terelakkan dan bahkan semakin meruncing. ia tidak setuju dengan pandangan yang mengatakan penyatuan makhluk dengan Tuhannya yang tidak ada perbedaan sama sekali. Ia memilih bersikap moderat dan cukup hati-hati dalam menghadapi konflik yang ada pada saat itu. — Fakhriati “Demikian perintah uleebalang sebagai pemimpin.. tidak berdasarkan ajaran dari gurunya. Kesalahan sediri tidak pernah kelihatan sangat jahat kafir Belanda” Uraian Teungku Muhammad Ali Pulo Pueb tentang ketidaksetujuan dan sikap uleebalang terhadap ketaatan kaum tarekat dalam beribadah menunjukkan bahwa uleebalang pada masa itu telah berhasil dipandu dan didikte oleh Belanda dalam mengatur negara dan mengesampingkan para ulama.

karena jikalau ada ia kafir. padahal saya tidak ada hubungan dengan masalah tersebut. (Tanb³h al-M±sy³ versi Tanoh Abee. Wa¥fa§ lis±naka ‘anil g³bati wa takfir fa’innahu kha¯aran ‘a§³man ‘inda rabbikal kab³r wa l± tula‘‘in akh±kal muslima fatakun minal mujrim³na yaumal qiy±mati wa l± tamda¥¥uhu ay«an fatakun minal mabgµ«³na aw mina« «±rib³na ‘unuqa akh³him. 44 . (Tanbih al-Masyi yang disimpan di Tanoh Abee. sehingga orang mengkafirkan saya setelah saya wafat.52 ra¥imanallahu bihim± wa ©±lika min ¥ay£u annar rajula lam yumayyiz baynal mur±tibi wa lam yarji’ ila taqr³ril mu¯±biqi lisyar³‘ati faakh±fu ayyunsama taqr³rur rajuli wa i‘tiq±duhu ila taqr³r³ wa i‘tiq±d³ ¥atta yukaffirun³ ba‘da waf±t³ wa ana bar³un minhu fajami‘tu h±©ihir ris±lata mustaq³nan bill±hi wa mu‘tarifan biqillatil bi«±‘ati wan na«±¥ati wa sammaytuh± bitanb³hil m±sy³ ala ¯ar³qatil qusy±syi wa faqultu bismill±hir ra¥m±nir ra¥³mi “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Syekh Abdurrauf al-Fansuri berkata: bahwa ketika saya sampai di Aceh. Vol.1). No. 1. hlm. karena sesungguhnya pada keduanya terdapat kesalahan besar di sisi Tuhanmu. 7. saya khawatir ketentuan dan keyakinan orang tersebut dinisbahkan kepada ketentuan dan keyakinan saya. Bahwa orang tersebut tidak membedakan antara tingkatan-tingkatan dan tidak merujuk kepada ketentuan syariat. h. “Peliharalah lidahmu dari perbuatan g³bah dan mengkafirkan orang lain. 2009: 21 . karena engkau akan termasuk golongan orang-orang yang berdosa pada hari kiamat. niscaya kembali kata itu kepada diri kita. dan jangan engkau mengutuk saudaramu yang Muslim. 32). ia melarang menuduh atau mengklaim dengan kutukan yang menyakitkan si pendengar yang mengakibatkan akan menjerumuskan diri sendiri ke dalam kata-kata yang pernah diucapkan tersebut. dan jangan pula engkau memujinya. ada seseorang datang kepada saya berkali-kali. (Daq±’iq al-¦uruf. maka tiadalah perkataan dalamnya. 392). karena engkau akan termasuk golongan orang yang dimurkai Allah atau golongan orang yang memenggal leher saudaranya”. Di sisi lain. ia juga menulis: Dan tiadalah harus kita mengkafirkan dia. Dalam karangannya yang lain. saya melihat ia berbicara tentang wa¥datul wujµd yang berbeda dengan apa yang telah diajarkan syekh saya Ahmad bin Mu¥ammad al-Madan³ al-An¡±r³ as-¢amad±n³ yang dikenal dengan al-Qusy±sy³ dan khalifah Alam yang luas pemahamannya yaitu syekh kami Burh±nudd³n Mul± Ibrah³m bin Hasan al-Kµr±n³ semoga Allah merahmati keduanya. Dan jikalau tiada ia kafir. Maka saya buat risalah ini dengan mengharap bantuan dari Allah dan menyadari akan sedikitnya perbendaharaan dan banyak kelemahan dan saya namakan buku ini dengan Tanb³hul M±sy³ ala Tar³qatil Qusy±sy³ dan saya mengucapkan Bismillahirra¥m±nirra¥³m”.Jurnal Lektur Keagamaan.

Ketika seorang prajurit Aceh pergi ke medan perang. Maka disuruh oleh raja bunuh akan mereka itu. Sultan Iskandar Stani sangat mendukung sikap ar-Raniri. hingga berperanglah mereka itu dengan penyuruh raja.dan lagi kata mereka itu: al-‘alam huwa Allah. bahwa alam itu Allah dan Allah itu alam. Dalam kitabnya Fath al-Mubin. 45 .. Ia sangat mengharapkan agar istrinya selalu 15 Ar-Raniri. al-Fath al-Mubin..dan inilah bahaya mengkafirkan itu.Perang dan Damai di Aceh. berlindung kiranya kita kepada Allah dari pada kufur itu. maka sekali-kali tiada ia mau tobat. Dalam salah satu manuskrip yang disimpan oleh salah seorang penduduk Pidie terdapat tulisan tentang uraian sebuah harapan dari seorang pemuda yang pergi berjihad untuk dapat kembali hidup bersama isterinya lagi. — Fakhriati Seterusnya. 392).15 Pada abad selanjutnya. Maka dengan beberapa kali disuruh raja akan mereka itu membawa tobat. (Daq±’iq al-¦urµf. ar-Raniri menjelaskan: .. MS dikutip dari Azra 1995:182.. Dari ungkapan-ungkapan Abdurrauf al-Fansuri yang dituangkan dalam tulisannya seperti tersebut di atas.. sehingga tidak ada kesalahpahaman di antara pembaca. Abdurrauf al-Fansuri menjelaskan: . maka sungguh dapat dilihat bahwa pandangan Abdurrauf al-Fansuri sangat jauh berbeda dengan pandangan ar-Raniri yang pengikut Hamzah Fansuri sebagai pengikut wujudiyah yang sesat sehingga perlu dimusnahkan berikut kitab-kitabnya karena menurutnya mereka sudah berada pada jalan yang salah menurut agama. maka disuruh raja akan mereka itu membawa tobat daripada iktikad yang kufur itu. huwa al-‘alam. Maka disuruh oleh raja tunukan segala kitab itu. ia selalu mengharapkan agar dapat kembali dan bersama keluarganya lagi. Setelah sudah demikian itu. dan disuruhnya himpunkan segala kitab karangan guru mereka di tengah medan masjid yang bernama Bayt Al-Rahman. pada halaman yang sama.. yaitu dengan penguraian kata-kata sejelas mungkin dan lebih hati. tulisan Faqih Jalaluddin Asr±r al-Sulµk juga mengandung unsur pemeliharan perdamaian dan mencegah terjadi konflik di antara pengikut tarekat yang ia dalami. sehingga ia memerintahkan pekerjapekerja kerajaan melakukan pembunuhan terhadap pengikut Hamzah Fansuri. abad ke-18 M.

Ia sempat mendapat pengikut banyak untuk melaksanakan ajarannya. No. 1993:4). Ia juga membuat perumpamaanperumpamaan sebagai salah satu caranya untuk menjelaskan sesuatu yang masih kurang jelas untuk pembacanya. 7. 2009: 21 . Dalam masa penjajahan Belanda Teungku Id ibn Ustman masih sempat menyelesaikan tulisannya tentang bagaimana memahami tasawuf dengan benar.52 menjaga diri dan berdoa agar mereka dapat hidup bersama lagi membangun keluarga yang sakinah sepanjang hidup mereka. yaitu jalan agama yang diridai Tuhan. 1. Menurutnya cara-cara tasawuf yang benar adalah cara pelaksanaan yang ditawarkan oleh Hamzah Fansuri. Dalam tulisan Teungku Muhammad Khatib Langgien. Seperti menjelaskan tentang perbedaan mengenal gajah dengan mengenal manusia karena berbeda bentuk dan akal. Kendatipun ia sangat tidak menyukai cara-cara uleebalang dan Belanda. Hal ini dimaksudkan untuk menghindarkan rakyat dari perpecahan yang meluas akibat menyebarkan dua faham yang saling bertentangan sebagaimana yang terjadi pada masa Sultan Iskandar Tsani pada abad ke-17 M. dalam kitabnya Mi‘r±j as-S±lik³n menyajikan ajaran yang mengandung unsur perdamaian. Vol. demikian juga dalam hal mengenal Tuhan tidak bisa disamakan dengan makhluknya. Namun ajarannya ini kemudian ditentang oleh Teungku di Pulo dan kawan-kawannya. 1961:16. ia kemudian diusir dan bahkan dibunuh oleh masyarakat setempat. Ia berusaha untuk tidak menciptakan konflik terhadap pemahaman yang berbeda dari pemikirannya yang ia tuangkan dalam tulisan. Sehingga untuk meluruskan jalan pemahaman umat. Dalam salah satu tulisannya ia menyebutkan: 46 . (Poerwa. Karya Teungku Muhammad Ali Pulo Peub memancarkan keinginan untuk berdamai dengan lawannya. Ishak. yaitu uleebalang dan Belanda. tetapi berusaha untuk tidak secara gamblang menyebut perilaku uleebalang sebagai perilaku musuh yang perlu diperangi. Ia lebih memilih jalan menjauhkan diri dari ancaman mereka dan mengajak umatnya untuk tetap berada pada jalan yang benar. salah seorang ulama yang cukup produktif pada masanya. Ia menjelaskan segala hal yang menyangkut filosofi tasawuf dengan sangat hati-hati.Jurnal Lektur Keagamaan. (Manuskrip Laut Makrofat Allah).

seseorang akan terlena dengan dunianya dan tidak mau bersegera mencari bekal untuk akhirat. h... 28). dicemohi. Selanjutnya.dan lagi yang demikian itu tempat tergelincir kebanyakan manusia yang tiada makrifat baginya hai salik adalah segala alam makrifat yang telah kunyatakan kepadamu ialah alam makrifat yang indah-indah dan ia yang terlebih sukar paham segala orang awam. Manuskrip ini menguraikan cerita fiksi berjudul Hikayat Abdurrahman. ia juga menjelaskan bahwa tingkat ini diperuntukkan kepada ahli sufi yang berada pada tingkat tinggi. Ia mengadakan pembelaan terhadap dirinya. 27). Akibat dari sifat ini. Dalam menjelaskan hal-hal yang berbentuk filosofi seperti di atas. tenang dalam menjalani hidup dalam keadaan apapun. Ia dicaci maki. diam. ia lebih memilih cara sabar. h. Ia mengalami berbagai cobaan dan penderitaan dalam liku-liku hidupnya. karena tuduhan-tuduhan dari sepihak yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Satu contoh lain adalah manuskrip Hikayat Abdurrahman.. Kisah perjalanan hidup Siti Hazanah setelah ditinggal mati keluarganya menjadi sorotan utama dalam manuskrip ini. yang perlu diamalkan oleh pembacanya agar dapat hidup lebih tenang baik di dunia maupun akhirat. karena kasih akan dunia ibu segala kejahatan (Dawa’ al-Qulµb. Manuskrip Hiyakaye adalah sebuah manuskrip yang dikemas untuk memberi semangat hidup bagi para pembacanya. (Mi‘r±j as-S±lik³n. dan hanya menyerahkan diri kepada Allah. ia juga menulis tentang obat hati. — Fakhriati Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu karena mustahil dikata umpama barangsiapa mengenal ia akan gajah maka sanya ia mengenal akan manusia... Salah satu sifat yang perlu dihindarkan adalah hubb ad-dunya. Sifat-sifat yang tercela dihindarkan dan sifat-sifat yang baik digunakan.. Isinya menjelaskan tentang kehidupan sebuah keluarga yang bernama Abdurrahman dan seorang anak perempuan yang salehah bernama Siti Hazanah. Isi manuskrip ini mengajak pembaca untuk selalu menghafal dan mengamalkan ayat-ayat tertentu agar kehidupan di dunia selamat dari kecaman apa pun. dan ia memberi peringatan kepada pembacanya agar hati-hati dalam menafsirkan karena dapat menyesatkan pemahaman. 28-29). h. bila 47 . dijauhi dan tidak perlakukan sebagaimana karabat lain. seperti . Mengatasi masalah ini.Perang dan Damai di Aceh.( Mi‘r±j as-S±lik³n...

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 21 - 52

ia mendapat kesempatan. Ia tidak pernah menyakiti orang lain. Akhirnya pembelaan dari pihak yang tidak diduga, yaitu dari makhluk Allah selain manusia, untuk menyatakan bahwa dia adalah orang benar dan tidak pernah bersalah. Dalam perjalanan hidupnya, akhirnya, ia mencapai tingkat sufi yang paling tinggi, yaitu makrifat Allah. Ia memperoleh kesenangan yang sangat tinggi dan selalu diidam-idamkan selama hidupnya, yaitu melihat Tuhannya. Seperti tersebut dalam teks;
Rupa po yang takalen Hate heran leumah Tuhan yankeu iman dengan makrifat Yan alamat takwa hanban. (Manuskrip Hikayat Abdurrahman, hlm. 45). “Wujud Tuhan yang terlihat Itulah iman dengan makrifat Hati menjadi heran akan hadirnya Tuhan pertanda hasil takwa yang sangat tinggi”

Penutup Catatan sejarah Aceh adalah bagian dari cerita panjang tentang perang dan damai, di samping cerita tentang kemajuan dan kemundurannya. Orang Aceh sesungguhnya adalah manusia-manusia yang ramah, terbuka, dan suka pada kedamaian dan ketenangan. Mereka dapat menerima kehadiran siapapun tanpa memandang ras dan agama selama ia sendiri tidak merusak hubungan baik dengan penduduk dan masyarakat Aceh. Namun, di balik keramahtamahan dan keterbukaan itu tersimpan sikap yang sangat tegas dan tidak mau tunduk atas setiap kehendak asing yang ingin menguasai atau merusak citra Aceh baik wilayah, harga diri, terlebih agamanya. Sejarah perang Aceh selalu terkait dengan upaya mempertahankan wilayah, agama, dan harga diri. Untuk urusan seperti ini, orang Aceh memiliki semangat jihad atas nama agama yang sulit diredam, kecuali apa yang mereka tuju telah tercapai. Ulama bagi masyarakat Aceh memiliki posisi sentral sebagai panutan dalam beragama, bermasyarakat, dan berjuang f³ sab³lill±h. Selain komando untuk mengusir penjajah, pada umumnya ulama yang menulis manuskrip-manuskrip Aceh mengajarkan agar mendorong terciptanya perdamaian dalam hidup, meskipun sedang berada pada posisi menghadapi musuh. Permusuhan dan pertikaian tidak boleh diciptakan dan dimulai, tapi mempertahankan diri dan agama adalah wajib. Salah satu usaha mempertahankan diri adalah 48

Perang dan Damai di Aceh... — Fakhriati

dengan doa-doa mujarabat, yaitu doa-doa yang ampuh untuk dibawa kemana saja dan dapat mengalahkan segala keinginan jahat yang bertebaran di luar diri pemegang doa tersebut. Doa-doa tersebut menjadi alat pelindung bagi pemegangnya bila ia dihafal, diamalkan, dan dilaksanakan sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku. Dan, ia tidak akan bermanfaat bila hanya tertulis dalam secarik kertas untuk dikantongi dan dibawa-bawa si pemegang.[]

Daftar Pustaka
Azra, Azyumardi, 1995, Jaringan Ulama: Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII, Bandung: Mizan. Bruinessen, Martin, 1990, “Seeking Knowledge and Merit: Indonesians on the Hajj” dalam Ulumul Quran, Vol. II, No.5, Jakarta. Dekmejian, H. Richard dan Margaret J. Wyszomirski, 1972, ‘Charismatic Leadership in Islam: The Mahdi Sudan’ dalam Comperative Studies in Society and Theory. Djajadiningrat, Hoesein, 1934, Atjehsch-Nederlandsch Woordenboek, Vol. 2, Batavia: Landsdrukkerij. Fakhriati, 2005, New Light on the Life and Work of Teungku di Pulo: An Achehnese Intellectual in the Late 19th and Early 20th Centuries, Makalah dipresentasikan pada SEASREP Conference, Chiang Mai, Thailand, 8-9 Desember 2005. -----------, 2008, Menelusuri Tarekat Syattariyah di Aceh Lewat Naskah, Jakarta: Balitbang dan Diklat Departemen Agama RI. Holt, P. M., 1980, ‘Islamica Milleniarism and the Fulfillment of the Prophecy’ dalam The Prophecy and Milleniarism, diedit oleh Ann Williams, London. Hurgronje, Snouck, C., 1997, Aceh: Rakyat dan adat istiadatnya, INIS. Ishak, Otto Syamsuddin, 1993, ‘Dinamika Pemikiran Keagamaan di Aceh’, dalam Serambi Indonesia, Jum’at, 15 Januari 1993. Iskandar, Teuku, 1958, ‘De Hikayat Atjeh’ dalam BKI XXVI. Keifer, Thomas M., 1973, ‘Parrang Sabbil: Ritual Suicide among the Tausug of Jolo’ dalam BKI, Vol. 129. Kern Papieren, No. C. 234, Bajlagen 4, Weltevreden Desember 16, 1921, Koleksi KITLV, No. 414.

49

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 21 - 52

Kern, R. A., 1979, Hasil Penyelidikan Tentang Sebab Musabab Terjadinya Pembunuhan, diterjemahkan oleh Aboe Bakar, Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. Poerwa, Aziz, 1961, ‘Tumbuhnya Agama Baru Indonesia’ in Sketsmasa, No. 17, Tahun IV. Raliby, Osman, 1980, ‘Aceh, Sejarah, dan Kebudayaannya, dalam Bunga rampai tentang Aceh, Jakarta: Penerbit Bhratara Karya Aksara. Reid, Anthony, 1979, The Blood of The People: Revolution and The End of Traditional Rule in Northen Sumatra, Oxford University Press. ---------, 2007, Asal Mula Konflik Aceh: Dari Perebutan Pantai Timur Sumatera hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Said, Mohammad, 1961, Atjeh Sepandjang Abad, Medan. Sjamsuddin, Nazaruddin, 1999, Revolusi di Serambi Mekah; Perjuangan Kemerdekaan dan Pertarungan Politik di Aceh 1945-1949, UI Press. Syamsuddin, T., dkk, 1978, Adat Istiadat Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. Sulaiman, Nasruddin, dkk, 1992, Aceh: Manusia, Masyarakat, Adat, dan Budaya, Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. Tippe, Syarifudin, 2000, Aceh di Persimpangan Jalan, Jakarta: Pustaka Cidesindo. Usman, Rani, 2003, Sejarah Peradaban Aceh, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Vleer, A. J., 1978, Kedudukan “Tuha Peut” dalam Susunan Pemerintahan Negeri di Aceh, alih aksara oleh Aboe Bakar, Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. Zainuddin, H. M., 1961, Tarich Atjeh dan Nusantara, Medan, Penerbit Iskandar Muda.

50

Pidie. — Fakhriati Lampiran: Gambar 1: Foto Halaman Awal Naskah Hiyakaye milik Syik Jah Amut.Perang dan Damai di Aceh.. Aceh Gambar 2: Foto Halaman Awal Naskah Teungku Khatib Langgien milik Teungku Amir Meunasah Kruet Teumpeun. Aceh 51 . Pidie. Teupin Raya. Geulumpang Miyeunk..

Jurnal Lektur Keagamaan. Teupin Raya Aceh 52 . 2009: 21 . 1. Vol. 7. No.52 Gambar 2: Foto Halaman Awal Naskah Sarakata milik Cut Manfarijah Dayah Tanoh.

Agama. this Islamic manuscript adopts Arabic. Hotel Permata Alam. and Balinese. Badan Litbang dan Diklat. The third category is about fourteen Qur’anic manuscripts. In terms of codicology. kertas Eropa.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . and palm leaf. Bali Pengantar Keberadaan naskah tulisan tangan (manuskrip) di suatu wilayah. Fourth. 22-24 Desember 2008. we can write four important things as follows. Qur’an. this Islamic manuscrip was written between the seventeenth and nineteenth century. this Islamic manuscript uses diverse tools. Adib Misbachul Islam This paper is a result of our research of Islamic literature in Bali in 2008.. European paper. In regard to Islamic literature in Bali. ia dapat juga menjadi bukti adanya hubungan dengan wilayah lain jika ditemukan bukti-bukti lain yang menunjukkan ke arah itu. dari satu sisi dapat dianggap sebagai salah satu representasi dari lokalitas dan kekhasan wilayah bersangkutan.. We have discovered thirty-eight manuscripts that we can classify into three categories. Arabic grammar. Most of this category of manuscript was torn away. this category is unfortunately not taken care well. prayer. Dep. Third. and story. Kata kunci: kodikologi. Second. Dari sisi lain. The fitst category refers to tweleve manuscripts made of paper. Hal ini Tulisan ini semula merupakan Makalah disajikan dalam “Seminar Hasil Penelitian Naskah Klasik Keagamaan” Puslitbang Lektur Keagamaan. *) 53 . Islam Beberapa Aspek Kodikologi Naskah Keagamaan Islam di Bali: Sebuah Penelusuran Awal*) Puslitbang Lektur Keagamaan dan UIN Syahid. dluang. like dluang. and the oldest manuscript was written in 1625 AD (1035 AH). — Asep Saefullah dan Adib M. Cisarua-Bogor. divinity. The second category is tweleve manuscripts made of palm leaf: nine of them deal with Islam. Malay (Jawi). modern lined paper. Jakarta Asep Saefullah dan M. mysticism. and one of them is difficult to read. Bugese. this manuscript includes jurisprudence. lontar. remembrance of God. medicines. First. two of them about Hinduism.

khususnya bagi penelitian lebih lanjut atau dalam rangka mengkaji nilai-nilai yang terkandung di dalamnya untuk merajut budaya bangsa menuju kerukunan umat beragama. banyaknya data penting berkaitan dengan fenomena keagamaan yang terdapat dalam naskah-naskah tersebut. tidaklah mengherankan jika di Indonesia banyak ditemukan naskah-naskah berbahasa Arab dan juga bahasa daerah seperti Melayu. Dalam proses ini telah terjadi transmisi keilmuan. Batak. Sebagian besar naskah di luar negeri yang sudah terinventarisasi antara lain tersimpan di Malaysia. upaya penelusuran naskah-naskah di masyarakat mutlak diperlukan sebagai upaya konservasi untuk kemudian dilestarikan dan dimanfaatkan. dikhawatirkan naskahnaskah tersebut akan punah atau pindah tangan. dengan demikian. yang pada akhirnya 54 . 7. Sunda. Afrika Selatan. Dengan demikian. Vol. Rusia dan di berbagai negeri yang lain. Jawa. dan yang kedua naskah-naskah yang ditulis dalam bahasa-bahasa daerah. dan kedua. Jika hal ini terus berlarut. Bugis-Makassar. sudah semakin rapuhnya kondisi fisik naskah-naskah tersebut seiring dengan berjalannya waktu (Bafadal dan Saefullah [Eds. Perancis. Masalah ini tergolong serius karena umumnya naskah-naskah tersebut kurang terawat dan sangat tua. Srilangka. 1.90 dapat ditelusuri dari berbagai informasi yang terkandung di dalam naskah itu atau dari fisik naskah. (Chambert-Loir dan Fathurahman: 1999). Jerman. keberadaan naskah tersebut dapat dikaitkan dengan proses islamisasi atau perkembangan Islam yang banyak melibatkan para ulama produktif di zamannya. Aceh. Bali. Inggris.]. Persoalannya. Dalam konteks kajian keislaman di Indonesia. No. diperkirakan ditulis pada sekitar abad ke-1719 M dan umumnya terbuat dari kertas yang secara fisik tidak akan tahan lama. Pentingnya upaya konservasi ini setidaknya disebabkan oleh dua hal: Pertama. naskah-naskah yang ditulis dalam bahasa Arab.Jurnal Lektur Keagamaan. Sebagian naskahnaskah tersebut sudah tersimpan dengan baik di berbagai perpustakaan dan museum. adalah bagaimana kondisi naskah-naskah yang masih di tangan masyarakat tersebut. Belanda. tetapi sebagian besar lagi diduga masih tersebar di tangan masyarakat. 2005: vii). yang menurut Oman Fathurahman (2003: 1-2) membentuk pola dua kelompok bahasa naskah: Pertama. Dengan demikian. 2009: 53 . dan lain-lain. baik di dalam maupun di luar negeri.

Beberapa Aspek Kodikologi Naskah ... — Asep Saefullah dan Adib M. Islam

hilang juga informasi dan sumber penting tentang khazanah kebudayaan Indonesia. Berdasarkan permasalahan di atas, Puslitbang Lektur Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat, Departemen Agama RI melakukan upaya penelusuran naskah klasik keagamaan khusus milik perorangan. Hasil temuan naskah tersebut terutama dideskripsikan dan dikaji beberapa aspek kodikologinya (istilah “kodikologi” akan dijelaskan di bawah). Buku tentang kodikologi Nusantara, terlebih naskah keagamaan, tergolong masih sedikit.1 Sehubungan dengan hal tersebut, penelitian ini merupakan bagian dari grand design—jika dapat dikatakan demikian—program konservasi naskah klasik keagamaan Indonesia yang sedang digalakkan oleh Puslitbang Lektur Keagamaan. Penelitian dilakukan di Provinsi Bali dan sasarannya adalah naskah-naskah keagamaan Islam.2 Dalam makalah ini akan dibahas dua masalah berikut: 1. Seberapa banyak naskah keagamaan Islam di Provinsi Bali yang masih berada di tangan masyarakat atau milik perorangan? 2. Dari aspek kodikologi, bagaimana kondisi naskah-naskah tersebut dan hal-hal apa saja yang dapat diungkapkan dari temuan naskah-naskah tersebut? Adapun tujuannya, pertama, untuk mengetahui jumlah naskah keagamaan Islam di Provinsi Bali yang masih berada di tangan masyarakat, khususnya milik perorangan, dan kedua, membuat deskripsi naskah-naskah tersebut dan mengungkapkan beberapa aspek kodikologinya serta sedapat mungkin mengungkapkan halhal menarik dari temuan naskah tersebut. Dari segi kebijakan, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu upaya penyelamatan naskah keagamaan di masyarakat dan selanjutnya dapat
Beberapa yang dapat disebut antara lain Kodokologi Melayu di Indonesia, karya Sri Wulan Rujiati Mulyadi (1994), Penelusuran penyalinan naskah-naskah Riau abad XIX: Sebuah Kajian kodikologi, karya Mu'jizah dan Maria Indra Rukmi (1998), Penyalinan Naskah Melayu di Jakarta pada Abad XIX: Naskah Algemeene Secretarie Kajian dari Segi Kodikologi, karya Maria Indra Rukmi (1997), atau beberapa tulisan berupa artikel atau tesis, seperti “Penyalinan Naskah Melayu di Palembang”, karya Maria Indra Rukmi, makalah dalam Seminar Tradisi Naskah, Lisan dan Sejarah di FIB UI (2005). 2 Pilihan ini dilakukan karena naskah-naskah lontar dipandang relatif terpelihara dengan baik.
1

55

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 53 - 90

menjadi bahan penelitian lebih lanjut, terutama kajian terhadap isi teks dan kontekstualisasinya. Secara metodologis, penelitian ini sebagian besar bersifat penelitian lapangan, yakni berupa penelusuran atas naskah-naskah keagamaan Islam di Provinsi Bali. Data primer dalam penelitian ini berupa naskah-naskah kuno yang disimpan perorangan dan lembaga-lembaga sosial keagamaan Adapun naskah-naskah koleksi perpustakaan, museum, maupun pusat dokumentasi dalam penelitian ini tidak menjadi sasaran penelusuran karena naskah-naskahnya dipandang relatif aman dan terpelihara. Penelusuran dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan naskah-naskah yang belum diinventarisasi. Dalam menyajikan data digunakan pendekatan kodikologi.3 Secara sederhana, kodikologi dapat dikatakan sebagai ilmu kodeks (bahan tulisan tangan), yaitu ilmu yang mempelajari seluk beluk semua aspek naskah, antara lain bahan, umur, tempat penulisan, dan perkiraan penulis naskah (Mulyadi, 1994:2). Dalam wilayah kajian kodikologi dikenal istilah deskripsi. Secara ringkas, deskripsi adalah upaya menjelaskan seluk-beluk naskah secara fisik. Dalam makalah ini akan disajikan pengklasifikasian naskah-naskah yang ditemukan di lapangan, misalnya dari segi pemilik dan tempat penyimpanan, bidang kajian (isi naskah), bahan, usia naskah, kolofon, ilustrasi dan iluminasi, dan beberapa ciri khusus yang dapat diidentifikasi. Dengan kata lain, makalah ini hanya menyajikan beberapa aspek kodikologi dari naskah-naskah keagamaan Islam yang ditemukan di Provinsi Bali. Pernaskahan di Bali Henri Chambert-Loir dan Fathurahman (1999:51) mengatakan, “Pulau Bali terkenal sebagai gudang sastra Jawa Kuna karena sastra Jawa yang ditulis di berbagai kerajaan beragama Hindu-Buddha di
Tentang kodikologi di Indonesia dapat dibaca antara lain dalam Sri Wulan Rujiati Mulyadi, Kodikologi Melayu di Indonesia, (Depok: Fakultas Sastra UI, 1994). Ada juga buku yang sangat menarik dan relatif baru tentang kodikologi Islam, yaitu Francois Deroche, Islamic Codicology, An Introduction to the Study of Manuscripts in Arabic Script, (London: Al-Furqan Islamic Heritage Foundation, 2006), dan ada juga dalam edisi Arabnya yang terbit tahun 2005.
3

56

Beberapa Aspek Kodikologi Naskah ... — Asep Saefullah dan Adib M. Islam

Jawa Tengah dan Jawa Timur antara abad ke-10 dan ke-15, dan yang hampir punah setelah kedatangan agama Islam, masih berlanjut di Bali, bahkan hidup sampai kini.” Pernyataan ini terbukti dengan adanya sejumlah lembaga seperti museum dan perguruan tinggi di wilayah ini yang memiliki ribuan koleksi naskah. Lembaga-lembaga tersebut antara lain Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali, Denpasar mengoleksi sekitar 1.416 naskah, Museum Negeri Provinsi Bali, Denpasar menyimpan 266 naskah, Universitas Hindu Indonesia, Denpasar memiliki 148 naskah, Kirtiya Liefrinck-van der Tuuk (Gedong Kirtiya), Singaraja memiliki tidak kurang dari 3000 naskah, Fakultas Sastra Universitas Udayana mempunyai 740 naskah, dan Balai Penelitian Bahasa, Denpasar mempunyai 156 naskah, serta Balai Arkeologi Denpasar juga menyimpan tiga naskah (ChambertLoir dan Fathurahman, 1999:54-60; terutama berdasarkan Katalog Lontar yang Tersimpan pada Instansi Pemerintah dan Swasta yang diterbitkan oleh Kantor Dokumentasi Budaya Bali Provinsi Bali, tahun 1998). Jumlah ini belum termasuk naskah yang tersimpan pada koleksi pribadi yang diduga masih ribuan jumlahnya, terutama di puri (kediaman keluarga keturunan raja), griya (kediaman keluarga brahmana), dan kalangan ‘profesional’ (pemangku, dalang, balian usada atau orang-orang terdidik) (Chambert-Loir dan Fathurahman, 1999:56). Hampir seluruh naskah tersebut ditulis di atas bahan lontar sehingga sering pula disebut naskah lontar. Di tengah “samudra koleksi naskah lontar” tersebut, di daerahdaerah tertentu di Bali ditemukan sejumlah naskah keagamaan Islam dan Mushaf Al-Qur’an kuno. Beberapa di antaranya ditulis di atas bahan dluang (kertas dari kulis kayu). Pada bulan Oktober 2008 yang lalu kami melakukan penelusuran ke pelosok-polosok pulau dewata ini. Kami menemukan 24 naskah keagamaan Islam yang terdiri atas 12 naskah ditulis di atas dluang, kertas Eropa, maupun kertas bergaris modern, dan 12 naskah lontar (naskah lontar berbentuk geguritan; 9 naskah berisi cerita tentang tokoh Islam dan ajaran moral Islam, 2 cerita Hindu, dan 1 tidak terbaca). Di samping itu, ditemukan pula 14 Mushaf Al-Qur’an kuno, termasuk satu Mushaf ditulis di atas dluang. Naskah-naskah tersebut tersebar di beberapa kabupaten di Bali, antara lain Denpasar, Buleleng, Jembrana, dan 57

Di samping itu ditemukan juga naskah-naskah Al-Qur’an kuno yang sejauh ini belum pernah didata. Mereka menyarankan kami mendatangi Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali. tasawuf. serta hikayat yang terutama ditulis di atas bahan lontar yang disebut geguritan. No. wirid dan doa. yaitu Kanwil Departemen Agama Provinsi Bali. Selanjutnya kami mendapat banyak informasi dari Drs. Ida Bagus Nyana.4 Lokasi-lokasi yang selanjutnya didatangi adalah: Kampung Bugis Kepaon Denpasar dengan Masjid Al-Muhajirin. kami melakukan kontak dengan pihak yang dipandang otoritatif dalam bidang keagamaan. Kabid Bimas Islam & P. Jembrana. Dengan demikian. seperti fikih. hasil penelusuran di lapangan ditemukan 38 naskah. 1. M. 2009: 53 . Pesantren Al-Hidayah Bedugul. Perlu disebutkan bahwa dalam penelusuran naskah keagamaan Islam di Bali. Karang Asem-Tradisi Tulis Lontar. Kami mendapatkan informasi awal. H.Jurnal Lektur Keagamaan. Pegayaman Singaraja Buleleng. Kasi. Masjid Asy-Syuhada Kampung Bugis Serangan Denpasar.90 Karang Asem. Kampung Islam Gelgel. Kampung Islam Buitan Sidemen Karang Asem. Negara. Informan lain Drs. Penamas. Temuan Naskah dan Tempat Penyimpanannya Naskah keagamaan Islam di Bali yang berhasil ditelusuri terdiri atas naskah pelajaran agama. Gedong Kirtya-Singaraja-Buleleng. Musta’in. Haji. Loloan Timur. Berikut temuan naskah berdasarkan lokasi atau tempat ditemukannya naskah. Ghufron. Gianyar. Beberapa informan awal yang kami datangi di Kanwil Departemen Agama Provinsi Bali adalah Ketut Ariawan. 28 Oktober 2008. termasuk 14 naskah Al-Qur’an. Drs. Kasubag Umum. H. baik dari pejabat maupun pegawai Departemen Agama Provinsi Bali tentang lokasi-lokasi dan orang-orang yang diduga menyimpan dan atau mempunyai naskah keagamaan Islam. dan Bangli. H. dan Masjid Baitul Qadim. SH. dan juga obat-obatan yang disertai doa-doa. Kabid. 4 58 . jumlah naskah yang kami temukan sebanyak 38 naskah. Budakeling. Drs. 7. Vol. Selanjutnya penelusuran dilakukan sampai dengan 2 Nopember 2008. Sebagaimana disebutkan. Wawancara. Soleh. Pendidikan Islam dan Pemberdayaan Masjid. Masjid Agung Jami’ Singaraja Buleleng. Staf Urusan Agama Hindu.

Shaleh Saidi. No. Jurnal Lektur Kegamaan. dua di antaranya beraksara dan berbahasa Bugis. 29 Oktober 2008. No. Di sini ditemukan pula 1 (satu) Al-Qur’an kuno milik I 5 Naskah ini telah diteliti oleh E. Suharto. 5. salah seorang Guru Besar di Universitas Udayana. “Beberapa Mushaf Kuno dari Provinsi Bali”. Wawancara. Islam 1. Denpasar ditemukan 6 (enam) naskah milik H. Di Pegayaman. 6 Mushaf ini sangat tidak terawat. 5. Bali. 2. — Asep Saefullah dan Adib M. merujuk identifikasi Annabel Teh Gallop (2004) termasuk tipe Pantai Timur Melayu. Vol. 2007. pada awalnya merupakan koleksi Prof. Kondisinya tidak lengkap lagi. dan 1 (satu) naskah Al-Qur’an kuno di Masjid Al-Muhajirin. Buleleng Wilayah yang didatangi di Buleleng meliputi Pegayaman. dan 1 (satu) Al-Qur’an Kuno milik Bapak Marjui. masing-masing satu naskah Al-Qur’an. naskah-naskah lontar tersebut belum dikaji secara kodikologis9. Burhanuddin.. Denpasar. 9 Semua naskah lontar koleksi Yayasan an-Nur hanya disebutkan judulnya. 1. dan Kampung Jawa. “Beberapa Mushaf Kuno dari Provinsi Bali”.. dekat Masjid Asy-Syuhada. Musthafa Amin.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Oleh karena itu. h. Singaraja. 7 Di samping itu. Meski sudah tersimpan di Perpustakaan Yayasan. Dr. 7 Kedua naskah ini juga sudah diteliti oleh E. Bedugul. Badri Yunardi. 1-18. Vol. Badri Yunardi. Denpasar. Menurut informasi salah seorang ustadz di PP alHidayah. Pattani atau Trengganu. 8 Hadiman. di Bedugul. 1. dan ditumpuk dengan Al-Qur’an lain cetakan zaman sekarang. 59 . dalam laporan penelitian ini naskah-naskah lontar koleksi Yayasan Masjid An-Nur penting untuk didata dan disampaikan. Wawancara dengan beliau pada 2 November 2008 di Loloan Timur. h. Kampung Islam di pedalaman dekat Singaraja ditemukan 3 (tiga) naskah milik Drs. 2007. di Yayasan An-Nur. Jurnal Lektur Kegamaan. 6 Di Masjid AlMu’awanatul Khairiyah Kampung Bugis Suwung. Sebelumnya.8 naskah lontar yang tersimpan di Yayasan AnNur. dan beberapa di antaranya dijelaskan juga ukuran lontarnya. mushaf ini sangat menarik terutama dari segi iluminasinya yang indah dan. Tetapi. Denpasar ditemukan 3 (tiga) naskah milik H. Husen Abdul Jabbar. Denpasar Di Kampung Bugis Serangan.5 Di Kampung Bugis Kepaon. 1-18. naskah ini disimpan di rumah H. ditemukan 12 naskah lontar.

tapi tidak berhasil ditemukan karena pemiliknya tidak ada di tempat dan tidak berhasil dijumpai. 2007. Jembrana Di Masjid Bait al-Qadim. yang dipandang mushaf tertua di Buleleng. Gunawan. 30 Oktober 2008 di Masjid Agung Singaraja. 5.Jurnal Lektur Keagamaan. Hidayat. Mushaf ini sangat menarik. “Beberapa Mushaf Kuno dari Provinsi Bali”. 11 Sementara di Bedugul. Zen Usman. ditulis dengan khat Naskhi yang indah. Hasyim Zaki. No. H. h. bahwa masjid ini sering didatangi wartawan dari berbagai media massa dan meliput salah satu Al-Qur’an kuno di sana. 3. No. 12 konon ada naskah semacam Barzanji. 11 Bunyi kolofon tersebut: “tamma al-qur’±n f³ yaum al-kh±mis min syahr al-mu¥arram f³ hil±li i¥d± wa ‘isyr³na ba‘da alfi sanah khamsin wa £al±£µna alhijrah an-nabawiyyah “ (Al-Qur’an ini selesai [ditulis] pada hari Kamis dari bulan Muharram pada malam dua puluh satu pada tahun seribu tiga puluh lima [21 Muharram 1035] Hijrah Nabi). antara DenpasarSingaraja. yang ternyata seluruhnya Al-Qur’an kuno sebanyak tujuh mushaf. tidak jauh dari Masjid Agung Singaraja. dan Agus. Bedugul. Wawancara. Lurah Kampung Bugis dan juga Ketua Ta’mir Masjid Agung Singaraja. Badri Yunardi. Di masjid ini ditemukan 8 (delapan) Al-Qur’an kuno (satu satu di antaranya merupakan litograf yang iluminasinya diberi pewarnaan). 1. 10 60 . sehingga seluruhnya ada delapan Al-Qur’an kuno. 12 Para ustadz di Pesantren Al-Hidayah. H. Wawancara. Loloan Timur. Vol. Muchlis Sanusi. naskah ini disimpan di rumah H. sejauh ini koleksi lain yang tersimpan di dalam lemari kaca belum pernah dilihat. Abdurrahman Alawi. dan beberapa Pengurus Masjid.90 Wayan Ma’ruf. sekitar 1625 M. 1. 29 Oktober 2008. yaitu tahun 1035 H. ditemukan satu buah naskah Al-Qur’an. 13 Naskah ini juga sudah diteliti oleh E. menurut Hadiman. Abdurrahman Said. Di Kampung Jawa. 2009: 53 .13 Menurut Bapak Drs.10 Di Singaraja. Negara. Husen Abdul Jabbar. 1-18. Jurnal Lektur Kegamaan. karena selain ditulis pada bahan dluang. Wawancara dengan beliau pada 2 November 2008 di Loloan Timur. dan yang terpenting mempunyai kolofon yang sangat tua. dan H. Al-Qur’an kuno ini masih lengkap. yaitu di Masjid Agung Jami’. Syarifuddin. Vol. Sebelumnya. H. Naskah Al-Qur’an ini konon merupakan wakaf dari Encik Ya’qub dari Trengganu. antara lain H. Jembrana. ditemukan 1 (satu) AlQur’an Kuno milik Bapak M. 7. ditemukan banyak naskah Al-Qur’an kuno. Akan tetapi.

Syarah atas Matan Umm al-Barahin karya Sanusi. h. b) Kitab Usul al-Tahqiq juga tentang Usuluddin. 44. 1321 H/1903 M).Beberapa Aspek Kodikologi Naskah .” bisa diartikan “ini kepunyaan…” 15 14 61 . Kampung Islam Pasuruan. a) Kitab Miftah al-Jannah tentang Usuluddin karangan Muhammad Tayyib bin Mas’ud alBanjari. c) Kitab Mau’i§ah li al-N±s tentang tata cara sembahyang.)اﻟﺴﻼم‬tapi bisa jadi dibaca “Selam”. Ke-6 (diterbitkan di Mekah. dan membeli pada bulan Ramadan tanggal 15 hari Ahad pada tahun Zai Hijrah Nabi Teks aslinya: kaf-ra-ng-syin-mim. Teks dalam kitab ini juga bertuliskan “al-salam” (‫ . Konon di sini pernah ada naskah beraksara Bugis... yang maksudnya “Islam” sebagaimana kebiasaan sebagian orang Bali. 3) Kitab Siraj al-Huda karangan Muhammad Zain al-Din bin Muhammad Badawi al-Sumbawa’i. atau bias juga tetap dibaca “as-Salam” sebagaimana bahasa Arab. (diterbitkan di Mesir. — Asep Saefullah dan Adib M. pengarang ketiga kitab ini tidak disebutkan. 16 Kata “¥aq” kadang diartikan “kepunyaan”. “Tanda keterangan haza al-haq 16 Pak Muhammad Sa’id bin Mukhammad Ali Kusamba. dan di tepinya ada Kitab Sirat al-Mustaqim. tentang ilmu fikih karangan Nuruddin Al-Raniri (diterbitkan di Mekah. 14 Kampung Biutan As-Salam 15 adanya”. Karang Asem Di Karang Asem. “Haza al-Kitab ini yang empunya Bapak Abd al-Rahman negeri Bali. bisa jadi maksudnya Karang Asem? Sebagian orang Bali menyebut “Kampung Islam” dengan bunyi ucapan yang terdengar adalah “Kampung Selam”. terjemahan Dawud bin Abdullah Fatani. antara lain pada sampul dalam Kitab Siraj al-Huda terdapat tulisan. Ada yang menarik dari kitab-kitab ini. jadi “ha©a al-¥aq.. t. Islam 4. Naskah yang tersisa adalah kitab-kitab cetakan sekitar tahun 1300-an Hijriah. tetapi karena sudah hancur. 1320 H/1902 M). Teks ini juga terdapat pada Kitab Sabil al-Muhtadin Juz I. naskah-naskah tersebut dibuang. dan pada pias halaman ada Hamisy Kitab Asrar al-Dini. al-Matba’ah al-Miriyah al-Ka’inah. Karangsem. Cet. antara lain: 1) Kitab Sabil al-Muhtadin karya Syaikh Muhammad Arsyad bin Abdullah AlBanjari. 2) Kumpulan kitab dalam satu bundel terdiri dari empat kitab. al-Matba’ah al-Miriyah al-Ka’inah. dan di piasnya ada Hamisy Risalah Diya al-Murid. Catatan kedua pada Daftar Isi Kitab Miftah al-Jannah. Maktabah al-Kutub alArabiyyah al-Kubra.t. yaitu catatan pemiliknya. berbunyi. peneliti hanya mendatangi Kampung Islam Buitan—sebuah kampung kecil yang hanya berpenduduk 25 keluarga. jilid 1 dan 2.). dan f) Kitab Tajwid al-Qur’an.

dan jaiz (satu dari dua naskah milik Drs. dan sebagian keluarga di sana. juga berisi wifiq. terdapat dua naskah. adalah para leluhurnya. kandungan isi naskah-naskah keislaman di Bali setidaknya meliputi: Fikih. 1. wajib. Musthafa Amin (MA 01). satu naskah milik H. doa. tata bahasa Arab (nashwu-saraf). Jika demikian. Suharto juga berisi teks lain yang berisi masalah fikih. wirid. no. Al-Qur’an. Burhanuddin. Naskah MA 04 ditulis dalam buku Letjes. Doa. No. Musthafa Amin. 62 . 1. Karang Asem. antara lain berisi tanya jawab tentang Uluhiyah (ketuhanan). juga berasal dari Madura. dan Obat-obatan: Naskah yang berisi doa. Fikih: Dalam bidang fikih hanya ditemukan satu naskah. 3. selain berasal dari Bugis. yang berisi tentang sifat-sifat Allah. obat-obatan. satu naskah beraksara dan berbahasa Bugis milik H. 7. Dua naskah lainnya milik H. 17 salah seorang yang dituakan di Buitan.Jurnal Lektur Keagamaan. MA 03 dan MA 04 yang dalam teksnya tidak disebutkan judulnya. Tauhid. Wirid. nomor MA 05 dan MA 06. Musthafa Amin. dan dua naskah lainnya milik Drs. Suharto di Pegayaman. Tasawuf/Akhlak: Naskah dalam bidang ini ada empat. dan geguritan (cerita). 4. Vol. yaitu milik H. Nama-nama di atas. 2009: 53 . Tahun 1334 H adalah sekitar tahun 1915 M. Kampung Islam Buitan. dan ini pun bagian pertama dari kumpulan teks lain yang berisi tentang obat-obatan disertai doa dan wirid. mustahil. Bidang Kajian (Isi Naskah) Dilihat dari segi bidang kajiannya. yaitu “Kitab Nikah” milik H. menurut Abdullah. Musthafa Amin. tetapi naskah ini sudah bercerai berai dan tidak berjilid). dan obat-obatan. yaitu Khazinah al-Asrar serta satu naskah beraksara dan berbahasa Bugis milik H.90 Sallallahu ‘alaihi wa sallam 1334 H”. 2. Tauhid/Teologi: Dalam bidang ini ada empat naskah. 2 November 2008. Dalam 17 Wawancara. Burhanuddin. Tasawuf. milsanya tentang taharah [bersuci]. bisa jadi Kitab Miftah al-Jannah khususnya dibeli di Pasuruan. wirid.

hasil penelitian lapangan terhadap naskah-naskah lontar di Bali berhasil memberikan informasi lain terkait dengan tradisi pernaskahan di Pulau Dewata tersebut. Pegayaman. Pembacaan naskah lontar oleh Made Suparta. 19 Dari 12 naskah lontar. 7.: 155). dan bunyi akhir tiaptiap baris (Agastia. satu naskah di Kampung Jawa Singaraja. tetapi temuan ini penting karena banyak naskah baru yang ditemukan.t. dan karenanya tradisi pernaskahan di sana pun dengan sendirinya juga tidak dapat dilepaskan dari Hindu. Bahasa: Dalam bidang bahasa ditemukan satu buah naskah tanpa judul. yang terletak setelah “Kitab al-Nikah”. Meskipun demikian.. berisi tentang morfologi bahasa Arab atau ilmu sharaf. Denpasar. 18 sembilan di antaranya menunjukkan adanya pengaruh Islam dalam tradisi kesusastraan Bali. satu naskah milik Bapak Marjui. — Asep Saefullah dan Adib M. Geguritan: Sebagaimana yang dikenal secara luas oleh masyarakat. pupuh diikat oleh beberapa kaidah yang mencakup: banyaknya baris dalam tiap bait. dosen pada Program Studi Jawa. 5. banyaknya suku kata dalam tiap baris. Sementara itu. Suharto. FIB Universitas Indonesia. 63 . dan satu naskah di Masjid Bait al-Qodim Loloan Timur. 6. Ini dapat dilihat dari beberapa naskah lontar yang ditemukan di lapangan. Berikut ini gambaran mengenai isi 1119 naskah lontar yang berhasil ditemukan: 18 Geguritan adalah karya sastra Bali yang dibangun di atas pupuh.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Kampung Serangan Denpasar. 11 di antaranya belum pernah diinventarisasi. Dari 12 naskah lontar yang berhasil ditemukan.. Islam naskah MA 01 juga terdapat naskah jenis ini. Ke-14 naskah tersebut adalah delapan naskah AlQur’an di Masjid Agung Jami’ Singaraja. dan satu naskah di Masjid Muhajirin Kapaon Denpasar. t. dan semuanya dalam bentuk geguritan. Al-Qur’an: Meskipun naskah Al-Qur’an tidak sepenuhnya menjadi sasaran dalam penelitian ini. ada satu naskah yang tidak dapat dibaca. satu naskah di Pegayaman. Bali memang identik dengan Hindu. ditulis di atas dluang. Dari 14 naskah AlQur’an yang ditemukan. milik Drs. satu naskah di Masjid Al-Mu’awanatul Khairiyah Kampung Bugis Suwung.

6). 8). beserta dua saudaranya: Bagenda Sulaiman dan Bagendha Alah. Teks ini menceritakan sosok pahlawan muslim dalam melawan raja kafir. 7. teks ini juga banyak mengandung ajaran moral dan etika Islam. Geguritan Pan Bongkling. 2).Jurnal Lektur Keagamaan. Teks ini berisi cerita tentang peran Amir Hamzah dalam proses islamisasi di Nusantara. Geguritan Amir Hamzah. meskipun kapan dan dari mana awal mula masuknya pengaruh Islam tersebut masih perlu diteliti lebih jauh lagi. 9). b. dan satu naskah yang tidak dapat diidentifikasi baik judul maupun isinya karena kondisi fisiknya yang sudah lapuk. 2). No. Geguritan Jimat Teks ini berisi mistik Islam. Geguritan Semaun. Cerita Islam 1).90 a. Geguritan Sebun Bangkung. semua kolofon 20 yang terdapat dalam naskah lontar itu menginformasikan adanya tahun penyalinan yang sama. Pepalihan Gama Selam Bali. Teks ini berisi cerita mengenai tokoh heroik yang bernama Sema’un pada masa-masa awal islamisasi 3). Kidung Tuwan Semeru. Yang menarik. Geguritan Amir Hamzah. 2009: 53 . 20 64 . Geguritan Krama Selam. 7). 4). Teks ini berisi filsafat moral Hindu yang disampaikan secara naratif. sebab deskripsi kodikologis terhadap naskah-naskah lontar di atas menunjukkan bahwa naskah-naskah lontar tersebut memang masih muda. Geguritan Bagendhali. Di samping itu. Cerita Hindu 1). Teks ini menceritakan tokoh Bagendhali yang sangat sakti. 5). Gambaran isi naskah lontar di atas secara jelas memperlihatkan adanya pengaruh Islam dalam tradisi kesusastraan Bali. Geguritan Jayengrana. empat di antaranya tidak bertanggal. teks ini juga berisi cerita tentang proses islamisasi di Bali. Teks ini berisi cerita tentang kehidupan Nabi. Teks ini tentang kehidupan keluarga kerajaan di negeri Arab. Tidak banyak berbeda dengan teks Pepalihan Gama Selam. 1. geguritan Jayengrana. Dari 12 naskah lontar di atas. Vol. yaitu: Geguritan Siti Badariyah. Geguritan Siti Badariyah. yakni 1923 isaka atau 2001. Teks ini berisi konsep dharma dalam agama Hindu. Teks ini menceritakan proses islamisasi di Bali.

dari empat naskah yang ditemukan. satu naskah tercerai berai. Singaraja. Zen Usman relatif baik. Buleleng. 30 Oktober 2008. dari enam naskah yang dimilikinya. Naskah-naskah keagamaan Islam yang ditemukan pada masyarakat umumnya tidak terpelihara dan bahkan tak terperhatikan sama sekali. Zen Usman. dan di dalam lemari kaca. H. salah seorang keturunan Raja Buleleng yang masuk Islam (MAJS/NQ/01). karena sebagian di antaranya disalin ulang pada tahun 2000-an. Abdurrahman Alawi. Muhlis Sanusi. di samping telah banyak dikaji. Hadir pula beberapa pengurus Ta’mir Masjid Agung yang lain. seperti mushaf koleksi Masjid Singaraja. 65 . di dalam tempat penyimpanan naskah itu tidak terlihat ada bahan penangkal serangga. satu naskah di antaranya dari bahan kertas modern bergaris. 21 Wawancara dengan Drs. Meskipun telah disimpan dalam kotak kayu khusus. terutama pada halaman belakang. seperti mushaf kuno milik M. yaitu H. Sebagian besar mushaf itu juga tidak lengkap dan banyak lembarannya yang sudah terlepas. Hasyim Zaki. Islam Beberapa Aspek Kodikologi Naskah Islam di Bali 1. tetapi hampir semuanya tidak ada yang lengkap. Musthafa Amin.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Di Pegayaman pun demikian. di Kepaon Denpasar. Satu buah naskah berlubang dimakan rayap dan satu lagi tinggal setengahnya. empat naskah yang ditemukan sudah lapuk semua. juga terdokumentasi dengan baik sebagaimana dijelaskan di atas. seperti cengkih atau kapur barus. Lurah Kampung Islam. Kondisi naskah lontar di Yayasan An-Nur memang mendapatkan perawatan. dan H. Naskah-naskah yang ditemukan di rumah H. Zen Usman yang lengkap dan kondisinya bagus. Hidayat. — Asep Saefullah dan Adib M. Kondisi naskah di Masjid Singaraja dan milik M. kecuali mushaf yang diduga ditulis oleh Gusti Ngurah Ketut Jelantik Selagi. 21 dan mushaf milik M. tidak seperti naskah lontar yang. tetapi tidak utuh. ada empat naskah yang relatif terbaca. Kondisi Naskah Naskah keagamaan Islam di Bali kurang mendapat perhatian. dan dua naskah lainnya yang ditulis di atas dluang telah robek. satu naskah Al-Qur’an tidak lengkap lagi dan tengahnya berlubang dimakan serangga. tetapi naskah-naskah lontar itu termasuk baru.. Demikian juga di Kampung Bugis Serangan. seperti Al-Qur’an kuno di Masjid Al-Muhajirin Kepaon..

Zen Usman termasuk naskah yang paling tua. yaitu milik H. University of London. lengkap 30 juz. yaitu: dua naskah milik Drs. Bahan Bahan yang digunakan untuk menulis naskah-naskah keagamaan Islam di Bali dapat dikelompokkan ke dalam empat jenis: a) Dluang.Salih Afifuddin Abdul Baqi bin Abdullah Al-Adni. Sebagian besar naskah lainnya ditulis di atas kertas Eropa. 11 naskah menggunakan bahasa dan aksara Bali. Musthafa Amin menyebutkan angka Mushaf tertua konon mushaf nomor MS 12716 koleksi William Marsden di Perpustakaan School of Oriental and African Studies (SOAS). Musthafa Amin. Pro Patria. Usia Naskah Dilihat berdasarkan usia naskah. (Bafadal dan Anwar. b) Kertas Eropa. Dari 38 naskah. Semua naskah lontar tersebut milik Yayasan An-Nur. No. serta satu naskah lain ditulis di atas kertas bergaris bukan Letjes milik H. dan Horn (tertera angka tahun 1825 pada mushaf di Masjid al-Muhajirin. Bahan lontar digunakan untuk menyalin 12 naskah geguritan. berangka tahun Jumadil Awwal 993/1585 dan kedua adalah mushaf dari Ternate. c) Kertas modern bergaris. Naskah yang ditulis di atas kertas Eropa berjumlah tujuh naskah. milik M. 21 Muharram 1035 H atau sekitar tahun 1625 M. 22 Naskah-naskah lain pada umumnya ditulis pada abad ke-13 H atau sekitar abad ke-18-19 M. dan satu naskah menggunakan bahasa Melayu dengan aksara Bali. Kepaon). Burhanuddin di Serangan. Denpasar. Misalnya naskah Kitab Al-Nikah dan Obat-obatan (MA 01) milik H. Suharto di Pegayaman dan satu mushaf AlQur’an. mushaf ini selesai ditulis pada malam Ahad.90 2. Maluku Utara. milik M. keduanya di Denpasar. 7. 1. dan d) lontar. terdapat tiga naskah yang ditulis di atas dluang. Berdasarkan kolofonnya. naskah Al-Qur’an dari Kampung Jawa. 2005: vii-viii) 22 66 . Beberapa cap kertas (watermark) dan cap tandingan (countermark) yang berhasil diidentifikasi antara lain kelompok Crescent.Jurnal Lektur Keagamaan. 3. yang ditulis oleh Al-Faqih al. Naskah ditulis di atas kertas modern bergaris (Letjes) ada dua. Vol. 2009: 53 . Zen Usman di Kampung Jawa Singaraja. bahkan ia merupakan naskah Al-Qur’an tertua ketiga di Asia Tenggara. Musthafa Amin di Kepaon (MA 04) dan H. Britania. pada 7 Zulqa’dah 1005 H/1597 M.

Selain Al-Qur’an yang berjumlah 14 naskah. Aksara yang digunakan adalah Arab. Demikian juga dilihat dari kertas Eropa yang digunakan. “… dan arti uluhiyah pada bahasa Jawi ketuhanan dan arti Ilah pada bahasa Jawi Tuhan…” 5. dan Bali. dari daftar cap kertas yang disusun Heawood diketahui bahwa kertas dengan cap kertas kelompok Pro Patria diproduksi pertengahan abad ke-17 M (Heawood. misalnya ketika mengartikan kata “uluhiyah” dan “ilah” pada h. yaitu milik H. dan dalam naskah MA 01 milik H. 4. tidak banyak ditemukan naskah yang mempunyai kolofon. dan Bali. Cap kertas yang terlihat pada naskah MA 03 yang termasuk kelompok Names dengan cap kertas berupa: tulisan nama I Pigoizard. Bahasa dan Aksara Naskah-naskah keagamaan Islam di Bali setidaknya menggunakan empat aksara dan empat bahasa. Setidaknya ada enam naskah yang berkolofon. Serangan Denpasar. Melayu. sedangkan bahasanya adalah Arab. Burhanuddin.. Naskah yang menggunakan aksara dan bahasa Bugis ada dua.. Britania. Sementara aksara dan bahasa Bali hanya digunakan pada 12 naskah lontar koleksi Yayasan An-Nur. Musthafa Amin terdapat dua kolofon. Horn. dalam naskah MA 02 disebut “bahasa Jawi”. atau Crescent. Kertas Eropa yang memiliki cap kertas pada kelompok Pro Patria. Misalnya. naskah berbahasa Arab hanya dua. 10r-10v disebutkan demikian. Tentang istilah Jawi. Islam tahun 1287 H/1870 M dan 1288 H/1871 M. Jawi.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . 1986: 145-146). menurut Heawood (1986:140). Kolofon Dari 38 naskah yang diinventarisasi. Bugis. diproduksi sekitar tahun 1737 atau sesudahnya. atau sekitar delapan naskah lainnya menggunakan bahasa Melayu dengan aksara Jawi. yaitu bulan Zulqa’dah 1265 H/1848 M. Kolofon yang agak tua terdapat pada naskah Al-Qur’an MAJS/NQ/03 koleksi Masjid Agung Jami’ Singaraja. pada umumnya diproduksi antara pertengahan abad ke-17 M sampai abad ke-19 M. Bugis. Selebihnya. 67 . — Asep Saefullah dan Adib M. yaitu naskah tentang morfologi Arab (saraf) dan sifat-sifat Allah dari Pegayaman.

2009: 53 . orang Palembang. 10v: “…tammat.Jurnal Lektur Keagamaan. namanya orang menyurat ini Haji Dawud dari negeri Badung Kepaon tatkala menyurat ini di negeri Pabeyan rumah bapak Tayid23 tamat alkalam” 23 Ba-pa-alif ta-alif-ya-dal (‫)ﺑﻔﺄ ﺗﺎﻳﺪ‬ 68 . walaupun jilidnya sudah lepas. Berikut bunyi kutipan kolofon pada h. kolofonnya berbunyi: Telah mengambil ijazah faqir a-haqir ila Allah Ta’ala Haji Hasan ibn alMarhum al-Haj Muhammad Amin al-Din Palimbangi akan mengamalkan laqad ja’akum serta doa yang kemudian kepada Syaikhuna wa ustazuna wa wasilatuna ila Allah Ta’ala al-Arif bi Allah sayyidi al-Syaikh Muhammad Azhari ibn al-Mukarram al-Marhum Kemas Muhammad Haji Abdullah Palimbangi Nafa’ana Allah bi barakatihi wa barakat ‘ulumihi. Dalam kolofonnya disebutkan bahwa teks ditulis oleh Haji Dawud. sedangkan kolofon kedua menyebutkan Ampenan. yang terdiri dari beberapa teks. Amin 1288 H di Ampenan Syahr [al-]Shafar.90 Pada naskah MA 01. Satu hal yang dapat diduga adalah telah terjadi hubungan antara Palembang dan Bali sekitar tahun 1287-1288 H/1870-1871 M. Bunyi kolofon tersebut sebagai berikut: Haza [al-]Kitab al-Nikah [ter] Hijrah al-Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam seribu dua ratus delapan puluh tujuh (1287) pada tahun Ba alif(?) pada malam ahad waktu jim(?) pada pukul delapan pada delapan hari bulan Rabi’ al-Awwal pada ketika itulah hamba Pa Abdul A’raf sudah selesai menyuruh ini kitab di dalam negeri Badung Bali Badung adanya Kampung Kepaon 1287 Tamma wa sallallahu ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa sahbihi wa sallam Pada teks kedua h. Kolofon pertama menyebutkan tempat penulisan di negeri Badung. 33v bagian akhir teks pertama terdapat nama kitab. di Pabeyan. 7. 41v. 1. Badung. No. Vol. Kampung Kepaon. Naskah ini tergolong masih baik karena tulisannya dapat dibaca. yakni “Kitab Nikah” dan waktu penyalinannya. Agak sulit menghubungkan kedua kolofon yang terdapat dalam satu naskah ini. h. Kepaon. yang bisa dipastikan di Palembang sebab yang mengambil ijazah untuk amalan dalam teks ini adalah Haji Hasan Palimbangi. Nama Kepaon juga disebut dalam naskah MA 02. Bali.

mushaf ini disebutkan selesai ditulis oleh Haji Muhammad Ja’far pada waktu duha hari Rabu bulan Zulqa’dah 1265 H/1848 M. Islam Kolofon lain ditemukan dalam mushaf Kuno nomor MAJS/NQ/03 koleksi Masjid Agung Jami’ Singaraja.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Dalam kolofonnya. Dari segi penjilidan. percetakan at-Taufiq milik Haji Muhammad Abduh. sama dengan 1848 M. kondisi naskah-naskah Bali beragam. 69 . Burhanuddin. Angka tahun ini menerangkan selesainya pencetakan naskah. Letak kolofon ini di pias halaman bagian akhir mushaf setelah Surah al-Nas dan sebelum doa khatm Al-Qur’an. Selain itu disebutkan pula nama dan tempat percetakan serta pemilik percetakannya. bahwa di Bali ditemukan juga kolofon yang menyebutkan angka yang sangat tua. Kolofon ini juga ditulis dalam bahasa Arab. — Asep Saefullah dan Adib M. bisa jadi berarti tahun seribu masuk ratusan ketiga. Penjilidan Aspek lain dalam kodikologi adalah bagian penjilidan. yakni pada Mushaf milik Zain Usman... Pada kolofonnya disebutkan. dalam bahasa Arab yang berbunyi sebagai berikut: “tubi‘a bima¯ba‘ah al-Tauf³q li ¡±¥ibih± al-¥±jj Mu¥ammad ‘Abduh pepajah bi Pare-pare 1373” 6. 1035 H/1625 M. ada yang sudah lapuk. artinya 1200-an lebih. bunyinya demikian: “tamma al-qur’±n f³ yaum al-kh±mis min syahr al-mu¥arram f³ hil±li i¥d± wa ‘isyr³na ba‘da alfi sanah khamsin wa £al±£µna al-hijrah an-nabawiyyah “ Pada naskah Litrograf beraksara Bugis milik H. dan angka tahun yang tertulis adalah 1265 H. ditemukan angka tahun 1373 H/1885 M pada halaman sampul. Kampung Jawa Singaraja. Berikut ini kutipan kolofon: “kana al-farag al-kha¯¯ ¥ajj Mu¥ammad Ja‘far yauma arba‘ wa f³ waqti a««u¥± f³ syahri ©i al-qa‘dah f³ sanah alfi taqw³m £al±£24 hijrah an-nab³ 1265 “ Penting dicatat. ada yang masih baik. dan ada juga yang sudah terlepas dari 24 sanah alfi taqw³m £al±£. Kolofon ini ditulis dalam bahasa Arab. mushaf ini ditulis oleh Abd Shafiyyuddin pada hari Kamis tanggal 21 Muharram 1035 H. Serangan. Pare-pare.

walaupun masih sangat sederhana dan belum dapat dikatakan standar. 27 Berbeda dengan yang lainnya. Kaligrafi Selain naskah lontar. dan satu mushaf di masjid al-Muhajirin. Loloan Timur. belum banyak ditemukan naskah yang Kuras adalah istilah yang mengacu pada sejumlah lembar kertas/perkamen yang dilipat dan dijahit untuk kepentingan penjilidan (Francois Deroche. dan ada juga yang terbuat dari karton. khususnya di Nusantara.90 ikatan kuras naskah. 1992:86-99) 25 70 . namun untuk mushaf koleksi masjid asy-Syuhada sudah diganti dengan sampul dari kertas karton. Pena yang digunakan biasanya dimiringkan mata penanya sehingga ketika ditarik menyamping miring kanan ke bawah akan membentuk titik belah ketupat ( ). Mushaf dari Kampung Jawa Singaraja sudah menggunakan khat Naskhi yang indah dan mendekati standar apalagi jika dilihat masa penulisannya—walaupun belum menggunakan pena khat untuk membentuk tipis-tebalnya huruf—. ada yang bahan sampulnya terbuat dari kulit. kebanyakan bahan sampul naskahnya adalah kertas karton tipis. hampir semua bahan sampulnya terbuat dari kulit tebal dengan motif floral serta menggunakan amplop. naskah-naskah Bali cukup bervariasi. 2007: 47). yaitu: Alif. misalnya. Selain naskah mushaf. Dari segi bahan sampul. Pada masa ini. Rumusan ini diciptakan oleh Ibnu Muqlah (Sirojuddin. Tinggi alif pada jenis Naskhi standar. 26 Sampul seperti ini banyak ditemukan di Nusantara. dan lingkaran. misalnya beberapa naskah di Bayt al-Qur’an dan Museum Istiqlal TMII Jakarta (Saefullah. Vol. No. menarik juga untuk dilihat model-model tulisannya atau yang lazim disebut kaligrafi. 7. 2009: 53 . lima titik belah ketupat.25 Bahkan sebagian di antaranya lepas jilidannya. titik belah ketupat. Pada dua mushaf ini. Oleh karena itu.Jurnal Lektur Keagamaan. yaitu tahun 1035 H/1625 M (Gambar 01). 26 Naskah lain adalah yang ditulis di atas kertas bergaris dalam buku Letjes dengan sampul kertas berwarna biru khas Letjes. Adapun untuk naskah mushaf. 7. 27 Kaligrafi Arab standar dalam bahasa Arab disebut Al-Kha¯¯ al-Mansµb mempunyai tiga alat ukur. 2005: 122). seluruh naskah ditulis dalam aksara Arab dan Jawi. jilidan aslinya sudah tidak ada. Kepaon. 1. Naskah-naskah AlQur’an umumnya menggunakan jenis kaligrafi atau khat Naskhi. seperti yang terlihat pada satu mushaf di Masjid asy-Syuhada.

. Dalam naskah MA 03. dan “All±h” (Gambar 05). walaupun masih sederhana dan ada kesan Riq’ah karena sebagian hurufnya condong ke kanan (Gambar 04).. dan biasanya digunakan untuk memberikan penjelasan lebih lengkap dari teks bersangkutan. Jenis Naskhi yang ditemukan memang sangat sederhana. h. baik yang cenderung ke Naskhi maupun Farisi. dan wifiq. atau ya. 71 . “Ill±”. Sedangkan iluminasi. Pada naskah MA 04. bahkan untuk naskah keagamaan lainnya digunakan Khat Farisi atau Riq’ah. £a. khususnya naskah MA 06 (Gambar 03). Dalam naskah-naskah keagamaan Islam di Bali tidak ditemukan iluminasi. yaitu Naskhi. yang berarti menerangi. sapuan pada beberapa huruf. 8. Sementara jenis Khat Riq’ah yang biasanya tipis-tipis dan condong ke kiri ditemukan dalam banyak naskah. Jika dikelompokkan ke dalam jenis-jenis khat. kata “Il±h” diletakkan dalam kotak belah ketupat dan segi empat. Namun demikian. tipis tebal goresan aksaranya sudah nampak dan memperlihatkan bentuk Naskhi yang cukup indah (Gambar 02). ta. “Il±ha”. yang berasal dari kata illumination. Akan tetapi secara umum dapat dikatakan Riq’ah. Ilustrasi yang ditemukan pun hanya sedikit. 17v. 11r. biasanya lebih berfungsi sebagai hiasan. Ilustrasi dan Iluminasi Ilustrasi adalah sebuah gambar atau hiasan yang ada hubungannya dengan teks. Karakter tulisannya condong ke kanan dan sapuansapuan pada sin dan gigi ba. a. — Asep Saefullah dan Adib M. maka naskahnaskah yang ditemukan dapat dikelompokkan ke dalam tiga jenis khat. dan di sekelilingnya terdapat penjelasan sehingga membentuk semacam concept map (peta konsep). wirid. Islam disalin dengan khat Naskhi yang indah. dan Riq’ah. Ilustrasi Ilustrasi terdapat pada naskah tasawuf dan masalah doa. misalnya naskah dari Pegayaman. khususnya sin dan kaf memperlihatkan gaya Farisi. yang agak meliuk-liuk dan memanjang. Farisi. dan tidak berkaitan langsung dengan teks. h. terdapat ilustrasi tentang sifat-sifat Allah berdasarkan kalimat L± Il±ha Ill± All±h yang dibagi ke dalam empat kategori “L±”.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Jenis Farisi misalnya ditemukan pada Naskah MA 03 dari Kepaon. kecuali dalam naskah Al-Qur’an.

tetapi karena pentingnya temuan ini. Iluminasi dalam mushaf-mushaf kuno yang ditemukan di Bali sangat luar biasa. Bagi yang mempercayainya. terdapat simbol-simbol yang diletakkan dalam bingkai garis. terdapat ilustrasi lafa§ al-jal±lah. 1. ada perbedaan kedaerahan yang konsisten dan mencolok. Dalam hal penempatan 28 Wifiq: suatu formula yang terdiri atas susunan bilangan atau angka Arab tertentu yang mengandung rahasia-rahasia spiritual. yang terdapat pada bagian tengah mushaf. tengah. Karakter kedaerahan iluminasi dapat juga dilihat dari penempatan halaman berhias pada awal. dan Jawa. unik. dan disebut juga nama-nama malaikat. b. 12v-13r. dan di atas-bawahnya terdapat penjelasan yang diduga terkait dengan zikir (Gambar 07). Desain hiasan yang menurut identifikasi Annabel Teh Gallop (2004) sebagai tipe Aceh. Vol. pengetahuan mengenai formula tersebut merupakan hikmah ilahiyah. ditemukan di Bali. No. masingmasing dalam satu kotak. dan juga dapat dikaji secara kodikologis. yang diletakkan dalam blok hitam. kalimat L± Il±ha ill± All±h Mu¥ammad Rasµl Allah”. dan lain-lain (Gambar 06). atau akhir. kata “Muhammad” dan “Ilah”. Bahkan satu mushaf di Masjid Agung Singaraja (MAJS/NQ/01) sangat khas. Iluminasi Iluminasi hanya ditemukan dalam naskah-naskah Al-Qur’an. h.Jurnal Lektur Keagamaan. Meskipun naskah Al-Qur’an terkadang dikhususkan dalam klasifikasi kajian naskah klasik. 72 . Pantai Timur Semenanjung Melayu atau Pattani dan Trengganu. Pada naskah Serangan 01 yang berbahasa dan beraksara Bugis. kata “All±h”. 2009: 53 . tentang tasawuf. misalnya kata “Allah” dan “Muhammad” dalam satu kotak. 7. Contoh ilustrasi terakhir adalah tentang wifiq. dan menarik. Ada dua blok yang semuanya berisi kata “All±h”. Sulawesi. dan simbol-simbol huruf hijaiah yang dirangkai sedemikian rupa dan diletakkan dalam satu kotak (Gambar 08). yakni iluminasi dalam bentuk arabesk (pola geometris yang disalin bersilangan) dari kalimat L± Il±ha ill± All±h Mu¥ammad Rasµl Allah sebagai bingkai hiasan yang mengelilingi bidang teks ayat-ayat Al-Qur’an. sahabat.90 terkait dengan ilmu ma’rifah. hasilnya disajikan di sini. 28 Dalam naskah wirid dan doa MA 05.

Belum lagi desain hiasannya dan motif pewarnaannya yang memiliki unsur-unsur daerah lain. dapat dijelaskan dengan kenyataan bahwa orang-orang Bugis pada masa lalu telah banyak bermukim di Bali. 30 Tentang bahan kertas yang biasanya digunakan di Afrika. — Asep Saefullah dan Adib M. Teks ditulis dengan menggunakan khat naskhi. adalah kertas yang umumnya digunakan di Afrika. Abdurrahman Alawi (Pengurus Ta’mir Masjid). Sampul naskah memakai tutup (plop).. seperti kepala surah. setiap halaman terdiri atas 14 baris. 1). yakni iluminasi bagian tengah. H. “paper used by Denham in Africa” (Heawood. Menurut keterangan pengurus takmir masjid. meskipun berupa kertas Eropa tetapi berdasarkan cap kertas (water mark)-nya yang termasuk kelompok Cressent. Pada halaman pelindung terdapat catatan yang tertulis: “h±©a alwaqf mu¡¥af masjid jam³‘”. Di bawah ini akan diuraikan secara singkat keempat tipe atau desain hiasan tersebut. Pada bagian tertentu. Islam iluminasi tengah: Aceh selalu bagian tengah Al-Qur’an. desa di mana Masjid Agung Singaraja berada pun bernama Kampung Bugis. 30 Tebal naskah 682 halaman. 1986: 85). Bahkan. kode MAJS/NQ/0129 yang sejauh pengetahuan kami memiliki keistimewaan yang luar biasa. dan di Jawa hampir selalu ditemukan pada permulaan surah al-Kahf (Gallop. Hasyim Zaki. Tipe Aceh dan Istimewa: Iluminasi Kalimat L± Il±ha Ill± All±h Mu¥ammad Rasµl All±h Di Masjid Jami’ Agung Singaraja terdapat mushaf. salah seorang keturunan Raja Buleleng yang masuk Islam. 5 cm. Demikian juga dengan bahannya. Bagian dalam sampul naskah dilapisi kain saten. 2004: 132). Hasan (penduduk setempat). kecuali halaman awal yang terdiri atas 7 baris. dan H. Pantai Timur Melayu biasanya pada permulaan juz 15 atau awal Surah al-Isra’.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . 29 73 . atau tanda baca. Sampul naskah berukuran 33. sementara ukuran teksnya adalah 18 X 14. awal juz. 30 Oktober 2008.5 X22 cm yang terbuat dari kulit berwarna merah maron dengan motif floral. mengapa dapat sampai ke Bali. Rangkaian dari kalimat L± Il±ha Ill± All±h Mu¥ammad Rasµl All±h yang didekor sedemikian rupa sehingga menciptakan bingkai hiasan berbentuk arabesq yang mengelilingi teks ayat Al-Qur’an. digunakan tinta berwarna merah. Pada naskah ini terdapat bingkai teks berupa tiga buah garis tipis berwarna hitam dan merah. yaitu Sulawesi dan Aceh. Wawancara dengan H. Naskah berukuran 27 X 21 cm. naskah mushaf ini ditulis oleh Gusti Ngurah Ketut Jelantik Selagi.. Tinta yang digunakan berwarna hitam. yaitu awal juz 16 atau bagian tengah Surah al-Kahf. Penempatan ini dapat ditemukan pula pada mushaf-mushaf Bali.

dan miring ke dalam pada ujung atas dan bawah. terutama merah. salah satu mushaf AlQur’an di Masjid Jami’ Agung Singaraja memiliki unsur-unsur yang umumnya terdapat di Aceh dan Sulawesi. mushaf ini sama dengan mushaf-mushaf dari Aceh yang selalu menempatkan awal juz 16 atau bagian tengah Surah al-Kahf. yang dekat ke Sulawesi. Akan tetapi. No. Bapak H. dan H. namun menampilkan latar belakang kertas itu sendiri. yang dapat berbentuk sulur lembut yang tipis ataupun berukuran lebih besar. adalah seorang Muslim Bali yang memiliki darah Aceh. 1. Hasyim Zaki. Hasan (penduduk setempat). 2009: 53 . Ciri kedaerahan pada umumnya dapat dilihat pada pola. jejaknya bisa ditemukan bahwa salah seorang pengurus ta’mir masjid sendiri. namun terbatas. sementara lengkungan pada sisi vertikal diapit oleh dua ‘sayap’ kecil.31 Sedangkan iluminasi yang istimewa terdapat pada bagian tengah mushaf. di satu sisi memperlihatkan pola Aceh dengan “sepasang garis tegak kirikanan”. Desain seperti diuraikan di atas jelas sekali terlihat pada iluminasi bagian awal mushaf ini (MAJS/NQ/01). Segi empat berhias di sekitar bidang teks sering diisi dengan sulur ikal warna putih. Wawancara dengan H. Dari segi teks ayat pada bagian tengah yang beriluminasi.Jurnal Lektur Keagamaan. dan di bagian-bagian tertentu sering terdapat motif jalinan. H. 7. yang mengapit bidang teks pada masing-masing halaman. 2004: 129). dan mushaf ini menempatkan awal juz 16. ada garis melengkung sampai ke tepi. yang memang berwarna putih. leluhur mereka ada yang berasal dari Aceh. Hasyim Zaki. 31 74 . Menurut kakaknya. bahwa di wilayah ini pernah kedatangan orang-orang dari Aceh. memanjang ke atas dan ke bawah. Hasan. Iluminasi mushaf Aceh mudah dikenali dengan “garis bingkai vertikal. Abdurrahman Alawi (Pengurus Ta’mir Masjid). walaupun tidak terlalu jelas sebab salah satu ciri kedaerahan iluminasi Sulawesi adalah garis lurus. 30 Oktober 2008. Di ketiga sisi luar bidang teks. pewarnaan dan detail hiasan bingkai (Gallop. kuning dan hitam. Segi empat berhias di sekitar bidang teks pada pola Aceh yang sering diisi dengan sulur Bagaimana pola Aceh terdapat dalam mushaf ini? Berdasarkan keterangan pengurus Ta’mir masjid dan penduduk setempat. Warna dasar keempat dalam naskah beriluminasi dari Aceh adalah warna putih. H. tetapi di bagian kiri dan kanan garis tegak tersebut terdapat bentuk segitiga.90 Merujuk pada identifikasi yang pernah dibuat Annabel Teh Gallop (2004) tentang ragam hias mushaf. Vol. hanya saja tidak diketahui siapa dan kapan hal itu terjadi. Sepasang bingkai berhias dari Aceh ini dicirikan dengan pewarnaan yang kuat.

Tipe Pantai Timur Semenanjung Malaya Ciri khas iluminasi mushaf dari Pantai Timur Semenanjung Malaya adalah “Lengkungan luar bingkai berhias sering ditutup dengan rangkaian ‘ombak-ombak’ atau ‘dedaunan’ kecil”. horizontal dan diagonal. dua bidang persegi panjang di atas membingkai kepala surah dan di bawah membingkai keterangan surah. dalam mushaf MAJS/NQ/01.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Iluminasi mushaf dari Pattani bercirikan. “lengkungan pada bingkai berhias kadang75 . bandingkan dengan Gambar 10a). dan keduanya mengapit teks ayat di atas dan di bawah. — Asep Saefullah dan Adib M. 3). di samping putih yang merupakan warna dasar kertas. yakni dua bingkai yang diletakkan secara berhadapan dengan ciri khas garis-garis tegak. Mushaf ini sudah tidak lengkap lagi dan sebagian besar sudah dimakan serangga. hitam. Tipe Sulawesi Tipe Sulawesi ditemukan pada mushaf dari Pegayaman. milik Bapak I Wayan Ma’ruf. dan beberapa bentuk setengah lingkaran di atas. bandingkan dengan Gambar 12a). bawah. Gambar 12. Akan tetapi. misalnya dari Pattani dan Trengganu (Gallop. Di bagian akhir mushaf. yakni garis-garis vertikal. dan kuning. berupa jalinan kalimat L± Il±ha Ill± All±h Mu¥ammad Rasµl All±h yang membentuk pola arabesq dan sedikit motif floral. dan pinggir luar bingkai. 2004:130). 2). Dua buah garis vertikal di kiri-kanan paling luar. Warna yang dominan adalah merah dan hitam (Gambar 09 dan 10. segitiga di tengah bagian pinggir menghadap keluar. bukan segi tiga tetapi lengkunganlengkungan yang membentuk semi segitiga yang di dalamnya dihiasai desain floral dengan pewarnaan merah. dan tidak memiliki garis-garis lengkung bergelombang. dan di bagian-bagian tertentu sering terdapat motif jalinan. dua bidang empat persegi panjang yang mengapit teks ayat. desainnya sama dengan desain yang umumnya ditemukan di Sulawesi. bercirikan bentukbentuk geometris yang kuat. dari iluminasi yang masih bisa dilihat pada bagian awal dan bagian tengah... Sedikit berbeda. Islam ikal warna putih. Iluminasi hiasan mushaf dari Sulawesi yang menurut Gallop (2005) “Sulawesi Diaspora”. bahwa di bagian luar bingkai pada mushaf Pegayaman ini. masih terdapat surah Al-Fatihah yang diletakkan dalam bingkai berhias melengkapi sepasang hiasan akhir mushaf (Gambar 11.

hitam. unik. Sampul naskah sudah tidak ada. 5 X 11. 2009: 53 .90 kadang terdiri dari dua ombak yang saling berpautan yang ditutup dengan semacam kubah”. Lengkungan-lengkungan dan riak-riak gelombang tergambar dengan jelas dalam mushaf ini. 5 cm. merah muda. Dalam kertas ini terlihat adanya garis bayang tebal dan garis tipis. Zen 32 Naskah ini berukuran 30 X 19 cm. Bingkai teks ayat berupa empat persegi panjang agak lebar mengelilingi bidang teks dan diisi dengan hiasan bermotif daun dan dipadukan dengan lengkungan setengah lingkaran. 1. dan emas sering digunakan” (Gallop. Sementara Trengganu lebih bercirikan pembatas beriluminasi yang memenuhi tepi luar kertas. Pewarnaan hiasan bingkai Pantai Timur lebih luas daripada yang ditemukan di Aceh. dalam kertas terdapat angka 1825. Alas naskah yang digunakan adalah kertas Eropa. Tinta yang digunakan berwarna hitam. awal Juz ke-30 (juz ‘amma) 76 . dan luar biasa adalah mushaf yang ditemukan di Kampung Jawa Singaraja milik M. Secara umum. Pola hiasan pada Al-Qur’an kuno dari Masjid Al-Muhajirin Kepaon Denpasar32 memperlihatkan tipe Pantai Timur Semenanjung Malaya. Tipe Jawa dan Mushaf Tertua Ketiga di Nusantara: Tahun 1035 H/1625 M Mushaf lain yang menarik. di samping warna putih yang merupakan warna dasar kertas (Gambar 13. Bingkai teks berupa tiga buah garis tipis berwarna hitam dan merah. 2004:130). No. Teks ditulis dengan menggunakan khat Naskhi. naskah sudah lapuk dan tidak lengkap.Jurnal Lektur Keagamaan. Vol. Selain itu. dan kuning emas. 7. bandingkan dengan Gambar 13a). Jarak garis tebal pertama sampai ke-6 13 cm. 4). menimbulkan efek ‘stalagnit-stalaktit’. yakni di atas-bawah dan pinggir bingkai teks ayat. dan bingkai kedua halaman tersebut disatukan dalam bingkai luar. Penomoran halaman tidak ada. hijau. Teks ditulis dengan menggunakan garis panduan yang ditekan. Teks yang masih ada dimulai bagian tengah surat al-Baqarah dan berakhir pada surah al-Naba. ukuran teksnya 19. secara keseluruhan efeknya adalah pancaran emas yang cemerlang. Jumlah garis tipis dalam 1 cm 9 buah. “Dari pembatas luar ini banyak garis atau sulur kecil mengarah ke dalam seakanakan bertemu dengan ‘ombak-ombak’ yang muncul dari lengkungan. meliputi warna-warna muda seperti biru dan hijau maupun warna-warna tua yang lebih menggetarkan. Di beberapa halaman verso terdapat kata alihan. Dua buah bingkai diletakkan secara berhadapan di halaman kiri-kanan. Ketika garis-garis dan ombak disepuh. Pewarnaannya terdiri atas merah.

sebuah masa yang tua. mushaf ini memperlihatkan goresan seorang khattat (ahli kaligrafi) Arab dengan khat Naskhi yang indah walaupun tidak dengan kalam khat yang tipis-tebal. Selanjutnya. dan ukuran teksnya adalah 16 X 11 cm. Desain hiasan ini menunjukkan salah satu karakter khas Jawa. oleh Abd al-Sufi al-Din. dan untuk kepala surah masih berupa Sulus sederhana. yakni pada pewarnaan yang cenderung menggunakan warna biru (Gallop. jika merujuk identifikasi Gallop (2004). kedua bingkai yang berhadapan pada dua halaman kiri-kanan ini disatukan oleh bingkai garis yang memotong setiap ujung segitiga pada setiap sisinya. Tebal naskah 769 halaman yang terdiri atas 754 halaman isi. Bagian dalam bingkai ini pun Secara umum. dan kolofonnya dalam bahasa Arab. yang berbunyi: “tamma al-qur’±n f³ yaum al-kh±mis min syahr al-mu¥arram f³ hil±li i¥d± wa ‘isyr³na ba‘da alfi sanah khamsin wa £al±£µna al-hijrah an-nabawiyyah “. iluminasinya memperlihatkan unsur Jawa. Untuk bagian yang berisi keterangan awal surah tinta dan awal juz digunakan berwarna merah. 33 Dikatakan demikian karena beberapa alasan: Pertama. 2004: 130). dan blok bawah mengbingkai keterangan surah. 21 Muharram 1035 H (23 Oktober 1625 M).. 33 77 . Alas tulis dari bahan dasar kulit kayu ini pada umumnya tergolong tua karena kertas ini umumnya telah ada sebelum kertas Eropa masuk ke Nusantara. Jumlah baris setiap halaman 13. mushaf ini masih baik. Ketiga. Bidang teks ayat diapit di kiri-kanan oleh blok empat persegi panjang yang dihiasi dengan pola arabesq. Keempat. Iluminasi pada mushaf ini terdapat pada bagian awal yang membingkai Surah al-Fatihah dan awal Surah al-Baqarah. hanya beberapa halaman yang tampak lapuk. di tiga sisinya. atas-bawah dan pinggir. tetapi lengkungan-lengkungan yang mengelilingi teks ayat lazim ditemukan di Turki Usmani. Islam Usman. Teks ditulis dengan menggunakan khat Naskhi. Sementara itu. blok atas membingkai nama surah Al-Fatihah. dan di atasbawahnya diapit juga oleh blok empat persegi panjang.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . — Asep Saefullah dan Adib M. Kedua.. kecuali halaman awal yang terdiri atas 7 baris dan halaman akhir yang terdiri atas 10 baris. dari segi kaligrafinya. bingkai teks berupa tiga buah garis berwarna hitam. Sampulnya terbuat dari kulit berwarna coklat motif floral. Tinta yang digunakan berwarna hitam. terdapat segi tiga yang juga berhiaskan bentuk arabesq. Mushaf ini berukuran 24 X 16 cm. Tulisan rapi dan jelas. mushaf ini ditulis di atas dluang. naskah ini memiliki kolofon yang menunjukkan waktu penyalinannya pada Kamis.

Sulawesi. Dari 38 naskah tersebut. Setidaknya mushaf ini menjadi mushaf tertua ketiga setelah Mushaf kode MS 12716 di University of London yang ditulis Jumadil Awwal 993/1585 dan mushaf dari Ternate yang ditulis pada 7 Zulqa’dah 1005 H/1597 M (Bafadal dan Anwar. Pantai Timur Malaya.90 diberi hiasan berbentuk arabesq yang dipadukan dengan pola dedaunan (Gambar 14. bandingkan dengan Gambar 14a). Penelusuran awal naskah-naskah keagamaan Islam di Bali berhasil menemukan 38 naskah yang tersebar di berbagai daerah di pulau Dewata ini. Pemiliknya tidak mengetahui secara pasti asal usul mushaf ini kecuali bahwa ia mendapatkannya dari orang tuanya dan konon telah dimilikinya secara turun temurun. 1. misalnya tentang nama tokoh al-Haj Muhammad Amin al-Din Palimbangi dan Muhammad Sa’id bin Muhammad Ali Kusamba. keberadaan mushaf ini di sebuah tempat yang disebut Kampung Jawa. seperti Palembang dan Pasuruan. Namun demikian. 1) Kondisi naskah keagamaan Islam di Bali pada umumnya sangat memprihatinkan. Lebih dari itu. No. atau tempat. Sebagian besar naskah sudah rusak. 35 di antaranya merupakan naskah keagamaan Islam. tidak terawat dan kurang mendapat perhatian. dan bahkan tidak utuh lagi. Penutup 1. serta iluminasi mushaf yang memperlihatkan empat tipe Aceh. Vol. keberadaan 35 naskah keislaman itu dapat menunjukkan mata rantai Islamisasi di Indonesia dan jaringan keilmuan dan keulamaan Islam Nusantara. 2005: vii-viii). yakni ditulis pada Kamis. b. 7. 78 . 21 Muharram 1035 H/1625 M (Gambar 15).Jurnal Lektur Keagamaan. terutama dari beberapa unsur yang terdapat pada pola hiasannya. Walaupun jumlahnya tidak begitu signifikan dibandingkan dengan naskah non keislaman yang biasanya ditulis di atas lontar. dan Jawa. bisa diduga bahwa asal-usulnya berkaitan dengan Pulau Jawa. Kesimpulan a. mushaf ini menambah koleksi dan informasi mushaf tertua di Nusantara. 2009: 53 .

.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Analisis terhadap isi teks dan penjelasannya secara kontekstual perlu diteliti lebih lanjut. tasawuf. dan geguritan (cerita). dapat dicatat beberapa hal: a) bahan yang digunakan beragam. kertas bergaris modern. b. yaitu dluang. 2. dan untuk itu perlu pembuktian melalui penelitian secara lebih mendalam. Rekomendasi a. Bugis. dan lontar. dan obat-obatan. doa. Kondisi naskah keagamaan Islam di Bali yang memprihatikan perlu mendapatkan perhatian serius dan perlu segera dilakukan upaya konservasi lebih lanjut. b) Bahasa dan aksara yang digunakan meliputi Arab.. Al-Qur’an. setidaknya untuk melihat bagaimana hubungan Islam-Hindu di Bali. khususnya Islam-Hindu di Bali terjalin dengan baik. dan Bali. wirid. Wa All±h a‘lam…[] 79 . c. Dari aspek kodikologi. Melayu (Jawi). 4) Isi naskah antara lain mencakup fikih. antara lain dengan penelusuran naskah dan digitalisasi. tauhid. bahasa (nahwu-saraf). — Asep Saefullah dan Adib M. kertas Eropa. c) Waktu penyalinan antara abad ke-17–19 M.Lebih dari itu. dan bagaimana posisi Bali dalam proses Islamisasi maupun dalam jaringan transmisi keilmuan dalam Dunia Islam. adanya naskah lontar yang mengandung unsur keislaman membuktikan bahwa hubungan antarumat beragama. dan yang tertua tahun 1035 H/1625 M. Islam 2. Keberadaan naskah keagamaan Islam di Bali yang tersebar di berbagai kabupaten memungkinkan masih ada naskahnaskah lain yang belum tersentuh sehingga penelusuran lebih lanjut perlu segera dilakukan.

Vol. V. “Seni Mushaf di Asia Tenggara”. Bali. John H. Rukmi. Francois. h. 1996. 1999. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. Kodikologi Melayu di Indonesia. Bafadal.90 Daftar Pustaka Agastia. 2003. Rosehan. Fadhal AR. 1-10. Islamic Codicology. An Introduction to the Study of Manuscripts in Arabic Script. 2006. New York dan Tokyo. Weatherhill Inc. Fadhal AR. 80 . 2005. 1997. Jurnal Lektur Keagamaan. Watermarks: Mainly of the 17th and 18th Centuries. 2004. Mulyadi. Chambert-Loir. 2005.. Henri & Fathurahman.). The Writing Traditions of Indonesia. dalam James Bennett (Ed. Maria Indra. makalah dalam Seminar Tradisi Naskah. dan Anwar. dan Sunda. Vol. dan Saefullah. h. dan Seni Pertunjukan Jawa. Ada Bagus Gede. Sri Wulan Rujiati. Depok: Fakultas Sastra UI. dan Memanfaatkan Khazanah Naskah Islam: Sebuah Refleksi”. Heawood. “Pentingnya Memelihara. London: Al-Furqan Islamic Heritage Foundation. Kumar. No. Fathurahman. Gallop. 1994. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. Sastra. Jakarta. Gallop. tanpa tahun. 121143. Naskah Klasik Keagamaan Nusantara 1. Jurnal Lektur Keagamaan. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. Adelaide: Art Gallery of South Australia. Khazanah Naskah: Panduan Koleksi Naskah-Naskah Indonesia Sedunia. h.Jurnal Lektur Keagamaan. Etika. Depok: Fakultas Sastra UI. 2005. “Islamic Manuscript art of Southeast Asia”. Lisan dan Sejarah di FIB UI . Hilversum: The Paper Publications Society. Oman. 2. 1. Rukmi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1. Edward. Keadaan dan Perkembangan Bahasa. Edisi bahasa Arab diteritkan tahun 2005 oleh penerbit yang sama dengan judul al-Madkhal ila ‘Ilm al-Kitab al-Makhtut bi al-Harf al‘Arabi. Melestarikan. Oman. Annabel Teh. Crescent Moon: Islamic Art & Civilisation in Southeast Asia. Jakarta: Ecole francaise d’Extreme-Orient-Yayasan Obor Indonesia Deroche. Vol.). 156-183. 2005. Penyalinan Naskah Melayu di Jakarta pada Abad XIX: Naskah Algemeene Secretarie Kajian dari Segi Kodikologi. diterjemahkan ke Bahasa Arab oleh Ayman Fuad Sayyid. 7. No. 2009: 53 . “Jenis-jenis ‘Naskah Bali’” dalam Soedarsono (Ed). 2. Maria Indra. The Lontar Foundation. 1986. Depok. No. Tatakrama. Annabel Teh. Ann dan McGlynn. 1. Bafadal. Cet. Asep (Eds. “Penyalinan Naskah Melayu di Palembang”. Illuminations. Mushaf-Mushaf Kuno di Indonesia.

Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. 5. Islam Saefullah. Karang Asem. Soleh. H. Vol. 5. 11. 3. No. Kasi. SH. Kanwil Dep. 1. 13.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . dalam Jurnal Lektur Keagamaan. Kabid. Bali Drs. 2007. dan Agus. Kasubag Umum. Sekretaris MUI Sngaraja (No. H. Badri. 29 Oktober 2008. Wawancara. 2. Bali (No. Hasyim Zaki. 10. Abdurrahman Alawi. Kanwil Dep.. Hidayat. 1-5) Wawancara di ruang kerja masing-masing pada 28 Oktober 2008. 2007. Muchlis Sanusi. Sirojuddin AR. Yunardi. 2 Nopember 2008. Ida Bagus Nyana. penduduk Singaraja yang bekerja di Denpasar. 14. Kanwil Dep. H. secara terpisah pada 29-30 Desember 2008 di Masjid Agung Singaraja maupun di kantor MUI Singaraja. 1. 9. H. Hasan. Abdullah. para ustadz di Pesantren AlHidayah. Staf Urusan Agama Hindu. Jakarta: Multi Kreasi Singgasana. Abdurrahman Said. 6. Vol. yang dituakan di Kampung Islam Buitan. H. Ketua Dewan Penasehat MUI Singaraja. Bali Drs. Drs. — Asep Saefullah dan Adib M. Agama Prov. 12. 7. M. 8. Seni Kaligrafi Islam. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. 30 Oktober 2008. Jurnal Lektur Kegamaan. Kanwil Dep.. H. Ketua MUI Singaraja H. Informan: 1. 39-62. Pengurus Harian Masjid Agung Jami’ Singaraja H. H. No. Husen Abdul Jabbar. “Ragam Hiasan Mushaf Kuno Koleksi Bayt al-Qur’an dan Museum Istiqlal Jakarta”. 7-11) Wawancara. Wawancara. Wawancara pada 2 Nopember 2008 di Loloan Timur. 4. Haji. h. Agama Prov. Bali Drs. Wawancara. 1992. “Beberapa Mushaf Kuno dari Provinsi Bali”. Agama Prov. 81 . Pendidikan Islam dan Pemberdayaan Masjid. Agama Prov. Asep. Musta’in. Bali Drs. Gunawan. H. Kanwil Dep. Penamas. Ketut Ariawan. Bedugul. Agama Prov. h. Syafruddin. Lurah Kampung Bugis dan juga Ketua Ta’mir Masjid Agung Singaraja. 5. Hadiman. Ghufron. Kabid Bimas Islam & P. E. 1-18.

yang termasuk kelompok Crescent. kertas dengan cap kertas nomor tersebut tidak bertanggal. Aks. Tinta yang digunakan berwarna hitam. sementara rubrikasi berwarna merah. Tamma wa sallallahu ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa sahbihi wa sallam. Tebal naskah 98 halaman (49 lembar) dengan jumlah baris 19 per halaman. Halaman 33v-41v: Teks obat-obatan. No. 2. Arab dan Melayu 19 baris/hlm. dalam kolofon teks ini disebutkan “Kitab Nikah”. Contoh Deskripsi Naskah Milik Musthafa al-Amin. Adapun bunyi kalimat pertama (1r) adalah sebagai berikut: Terpelihara dirinya daripada had ta-waw-kaf-sin karena jikalau ia tia(da) mau bersumpah maka dipukul ia delapan puluh kali demikian lagi disuruh bersumpah istrinya di atas mimbar lima kali supaya terpelihara ia daripada had zina maka apabila sudah bersumpah keduanya jatuhlah talaknya itu talak bain kubra … Alas naskah yang digunakan adalah kertas Eropa. Vol. Wirid dan Doa Bhs. yakni pembahasan tentang tuduhan suami bahwa istrinya berzina. Obat-obatan. tetapi tidak disebutkan judulnya. Teks ditulis dengan menggunakan bahasa Melayu dan aksara Jawi dengan menggunakan garis panduan yang ditekan. Akan tetapi cap kertas hanya terlihat sebagian. 82 . 1. sementara ukuran teksnya adalah 19 X 11 cm.Jurnal Lektur Keagamaan. Sepertinya bagian awal teks dimulai dari “Had al-Qa©af”. Menurut Heawood (1986: 84). Halaman 1r-33v: Teks kitab nikah. Naskah sudah tidak bersampul dan bagian awal teks yang berisi Kitab Nikah sudah tidak lengkap. 2009: 53 .90 Lampiran: 1. Arab dan Jawi 24x16 cm Prosa Kertas Eropa Naskah ini merupakan kumpulan teks yang terdiri atas beberapa bidang kajian. 860. Kitab Nikah. tampaknya cap kertas ini mirip dengan contoh no. namun dimungkinkan diproduksi pada masa modern. Setelah dicocokkan dengan daftar cap kertas yang disusun oleh Heawood (1986). naskah ini merupakan kumpulan teks. 7. Jarak antarbaris di setiap halaman 7 mm. Denpasar Fk/Bali MA 01 98 hlm. Sebagaimana disebutkan. Naskah berukuran 24 X 16 cm. Bunyi kolofon tersebut sebagai berikut: Haza [al-]Kitab al-Nikah [ter] Hijrah al-Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam seribu dua ratus delapan puluh tujuh (1287) pada tahun Ba alif(?) pada malam ahad waktu jim(?) pada pukul delapan pada delapan hari bulan Rabi’ al-Awwal pada ketika itulah hamba Pa Abdul A’raf sudah selesai menyuruh ini kitab di dalam negeri Badung Bali Badung adanya Kampung Kepaon 1287. yang terdiri atas: 1. Kalimat pertama teks ini berbunyi: Sebagai lagi (obat) supaya bincar(?) buang air seni ambil limau nipis tiga biji ditaruh gula batu maka embunkan pagi2 minum insya Allah ‘afiyah berturut-turut tiga pagi.

Teks ini berisi cerita proses islamisasi di Bali. Islam Kalimat terakhir berbunyi: Telah mengambil ijazah faqir a-haqir ila Allah Ta’ala Haji Hasan ibn al-Marhum al-Haj Muhammad Amin al-Din Palembangi akan mengamalkan laqad ja’akum serta doa yang kemudian kepada Syaikhuna wa ustazuna wa wasilatuna ila Allah Ta’ala al-Arif bi Allah sayyidi al-Syaikh Muhammad Azhari ibn al-Mukarram al-Marhum Kemas Muhammad Haji Abdullah Palimbangi Nafa’ana Allah bi barakatihi wa barakat ‘ulumihi. Bali.5 cm.5 cm. sedangkan ukuran teksnya adalah 34 X 2. penanggalan. Bali 40. Naskah berukuran 40. Halaman 41v-47r: Teks berisi berbagai macam masalah. 5 cm. Denpasar. Pemilik Naskah: H.5 x 3. Amin 1288 H di Ampenan Syahr [al-]Shafar.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Ukuran kotak tempat menyimpan naskah ini adalah 46 X 8.. Bali 4 baris/lempir Aks. antara lain kitab waris. — Asep Saefullah dan Adib M. pias kiri berukuran 3 cm. Jarak antarbaris tiap lempir adalah 0. Di bawah setiap baris teks terdapat garis panduan tipis berwarna hitam.5 cm. Naskah di tempatkan dalam kotak yang terbuat dari kayu jati berwarna coklat. Tinta yang digunakan berwarna hitam. Kepaon. Teks dibagi dalam dua kolom. 4.5 cm Puisi Lontar Berdasarkan informasi di luar teks. Kondisi lontar masih baik. Contoh Deskripsi Naskah Lontar Milik Yayasan An-Nur. naskah ini berjudul Pepalihan Gama Selam Bali. dan teks khutbah nikah.5 X 3. Pias kanan berukuran 3 cm. Tebal naskah 9 lempir dengan jumlah baris 4 per lempir. Halaman 47v-48v: Teks Li °³bat Aqli al-Ins±n. Musthofa Amin. Tulisan tampak rapi dan jelas. 3. Teks ditulis di atas lontar dengan menggunakan bahasa dan aksara Bali. Kampung Bugis. wirid dan doa. Denpasar Gg/Bali YN 02 9 lempir Pepalihan Gama Selam Bali Bhs. Pemilik naskah: Yayasan An-Nur.. Denpasar 83 . 2.

2009: 53 . Denpasar 84 . Beberapa Jenis Kaligrafi Gambar 01: Khat Naskhi pada Mushaf kuno dari Kampung Jawa. Kepaon. Denpasar Gambar 04: Khat Farisi MS MA 01. Musthafa Amin. naskah koleksi H. Singaraja Gambar 02: Khat Naskhi pada naskah tauhid dari Pegayaman Singaraja. Musthafa Amin. No. Musthafa Amin. h. h. Kepaon.Jurnal Lektur Keagamaan. Kepaon. Suharto Gambar 03: Khat Riq’ah pada MS MA 06. 11r.90 Lampiran II: Gambar-Gambar A. 7. Denpasar Gambar 06: MS MA 04. milik Drs. naskah koleksi H. Kepaon. Denpasar B. koleksi H. Musthafa Amin. 17v. Vol. Ilustrasi Gambar 05: MS MA 03. milik H. 1.

56.. Denpasar C.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . h. milik H. Denpasar. Iluminasi halaman awal pada Mushaf Kuno koleksi Masjid Jami’ Agung Singaraja 85 . Iluminasi pada Mushaf Gambar 09: MS MAJS/NQ/01. h. naskah milik H.. — Asep Saefullah dan Adib M. Islam Gambar 07: MS Serangan 01. Musthafa Amin. Serangan. Gambar 08: MS MA 03. Kepaon. 12v-13r. Kp. Baharuddin.

90 Gambar 10: MS MAJS/NQ/01. Illuminations. h 46 dan 87. koleksi Perpustakaan Nasional Jakarta. 2009: 53 . 1996.. Vol.Jurnal Lektur Keagamaan. Iluminasi halaman tengah pada Mushaf Kuno koleksi Masjid Jami’ Agung Singaraja Gambar 10a: Tipe Iluminasi mushaf halaman tengah dari Aceh. 7. 86 . No. McGlynn. dalam Ann Kumar dan John H. 1.

dalam Ann Kumar dan John H. Gambar 12a: Tipe Iluminasi halaman tengah tipe Sulawesi juga terdapat pada Tafsir AlQur’an. — Asep Saefullah dan Adib M. Koleksi Perpustakaan Nasional Jakarta.. milik I Wayan Ma’ruf. 1996. milik I Wayan Ma’ruf.. Tampak tidak utuh lagi kerena dimakan serangga. sepertinya Tafsir Jalalain. McGlynn. Gambar 12: Iluminasi bagian awal pada mushaf kuno dari Pegayaman. h. pada di halaman kiri terdapat surah Al-Fatihah. 59 87 . Islam Gambar 11: Iluminasi bagian akhir pada mushaf kuno dari Pegayaman.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Illuminations.

Al-Qur’an kuno koleksi Museum Sri Baduga. Iluminasi ini terdapat pada again awal surah alFatihah dan awal al-Baqarah. h. 114 88 . 2009: 53 . Bandung.90 Gambar 13: Iluminasi bagian tengah pada mushaf kuno dari Masjid Al-Muhajirin. No. Gambar 13a: Tipe Iluminasi mushaf seperti ini umum ditemukan di Pantai Timur Semenanjung Malaya. 7. Denpasar. Jawa Barat. Kepaon. dalam Ann Kumar dan John H. tetapi Al-Qur’an ini berasal dari Cirebon. Vol.Jurnal Lektur Keagamaan. Illuminations. 1996. 1. McGlynn.

— Asep Saefullah dan Adib M. McGlynn. Jawa Singaraja. 35 89 .. Kraton Yogyakarta.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . koleksi Widya Budaya. milik H. 1996. Gambar 14a: Tipe Iluminasi mushaf halaman tengah dari Jawa. dalam Ann Kumar dan John H. h. Islam Gambar 14: Iluminasi bagian awal pada mushaf kuno dari Kp. Mushaf disalin di Surakarta pada 1797-1798 M oleh Ki Atmaparwita. Illuminations. Zen Usman..

pada Kamis. 1. Ditulis di atas dluang. Singaraja.90 Gambar 15: Kolofon pada mushaf kuno dari Kampung Jawa. Vol. 7. Zen Usman. No.Jurnal Lektur Keagamaan. 21 Muharram 1035 H/1625 M oleh Abd al-Shufi al-Din 90 . milik H. 2009: 53 .

Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. his story can not be written in Latin texts. Oleh karena itu. Because the guru is considered holy man. it is found that one way to reflect the disciples’ respect for the guru(-s) has been done through writing the biography of the respective teachers and understanding their teaching. topik mengenai hubungan sosial-kultural dan Islam di Minangkabau tetap menarik untuk didiskusikan. Padang Pramono dan Bahren This article focus on discussing efforts to intreprate local Islam manuscripts of Minangkabau. Manuskrip. — Pramono dan Bahren Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua dalam Naskah-Naskah Tarekat Syattariyah di Minangkabau Fakultas Sastra Universitas Andalas. Kata Kunci: Surau.. dalam hal hubungannya antara sosio-kultural dan Islam. Keunikan tersebut tampak pada penyatuan antara adat dan agama Islam. particularly the order of Syattariyah in Minangkabau. The manuscripts are culturally important that is related to the daily religious needs of the disciples of the order of Syattariyah in Minangkabau. By means of social context analyses of the texts. 91 . This is related to the beliefs that to know about the guru.. Tarekat Syattariyah. Minangkabau Pendahuluan Minangkabau merupakan suku bangsa di Indonesia yang mendiami sebagian besar wilayah Provinsi Sumatera Barat. the guru of the order of Syattariyah are essential. to posses the book. otherwise it will be considered blasphemy or haram. dibandingkan suku bangsa-suku bangsa yang lain di Indonesia. or to listen to the stories about the ulama. Etnis ini memiliki karakteristik yang unik. The ideological perspective is influenced by the surau teaching system based on the doctrines and books of the teachers.

bukan masalah perbedaan itu yang akan diulas dalam tulisan ini. Akan tetapi. yang luput dari kekeliruan. Dalam praktik pengamalan ajaran Islam. Pertama. menurut penilaian mereka). Oleh karena itu. mereka menganut mazhab Imam Syafi’i semata-mata. sekarang ini kedua istilah tersebut mungkin sudah terasa asing dalam pendengaran kita. Persoalan lain yang menarik dan kurang mendapat perhatian adalah persoalan pola kepemimpinan Kaum Tua. Akan tetapi. Kaum Tua di Minangkabau memiliki empat kriteria atau hakikat. 2009: 91 . Apalagi. 7. dan oleh karenanya pandangan keagamaannya tidak dapat diikuti secara mutlak. Paham keagamaan tersebut berbeda dengan paham keagamaan yang diyakini oleh kalangan Kaum Muda. Vol. 1.Jurnal Lektur Keagamaan. diketahui bahwa pada awal abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Pem92 . Golongan ini juga berpendapat bahwa tidak ada ulama. Keempat. Para ulama golongan ini memiliki pandangan bahwa hanya Alquran dan hadits Nabi yang sahihlah yang benar. dalam bidang aqidah. adat kebiasaan yang telah melekat dalam berbagai macam amalan keagamaan (Latief. Ketiga. 2003: 99). Tuhan telah menganugerahkan akal kepada setiap manusia untuk dapat berijtihad setiap saat (Fathurahman. Sedang istilah yang banyak dipakai sekarang ini adalah “Kaum Tradisional” untuk Kaum Tua dan “Kaum Modernis” untuk Kaum Muda. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan pendapat antara kedua golongan itu masih tetap hidup dan berpengaruh dalam masyarakat Minangkabau. yaitu Kaum Tua dan Kaum Muda. dalam bidang syari’ah. mereka membenarkan dan merasa berkewajiban untuk mempertahankan aliran-aliran tarekat yang mu’tabarah (sah dan boleh diamalkan. Organisasi-organisasi serta lembaga-lembaga pendidikan agama yang didirikan oleh masing-masingnya pun masih ada. mereka ingin tetap mempertahankan tradisi. mereka adalah penganut aliran Ahlu Sunah wal Jama’ah. termasuk para ulama mazhab sekali pun.108 Dalam konteks hubungannya dengan Islam. 1988: 135). Kedua. No. Perbedaan-perbedaan dalam berbagai amalan dan perilaku keagamaan di antara kedua kelompok itu hingga sekarang masih tetap ada. di Minangkabau timbul dua macam aliran keagamaan. kedua sumber itulah yang boleh dijadikan pedoman umat Islam dalam menjalankan praktikpraktik keagamaannya.

ketika Islam mulai masuk dari wilayah pesisir (rantau) ke daerah pedalaman (darek). khususnya ulama pemimpin Kaum Tua tidak hanya memiliki peran keagamaan saja. syarak dibawa naik’. Kondisi seperti itu mempengaruhi masyarakat Minangkabau tentang persepsinya terhadap sosok ulama. maka secara sosial mereka dapat dikucilkan. atau seperti yang ditulis Yusuf (2004: 4). Ronkel (dalam Latief. ulama pemimpin Kaum Tua di Minangkabau juga berperan di bidang sosial-budaya dan politik. Akan tetapi. Van Ronkel. atau keluar dari. Dengan demikian. Upaya penyesuaian berbagai nilai Islam dengan adat di kalangan masyarakat Minangkabau ini tampaknya telah dimulai sejak orang Minang menerima Islam sebagai agamanya (Hamka. “menjadi orang Minang berarti menjadi Muslim”. sosok ulama Minangkabau. Dalam kosa-kata Minang. — Pramono dan Bahren bicaraan akan difokuskan pada peran pemimpin Kaum Tua dan bentuk penghormatan terhadap mereka. 1988: 210) antara lain menyebutkan dalam laporannya pada tahun 1916 bahwa. Besarnya peran ulama pemimpin Kaum Tua di Minangkabau sempat mendapat perhatian khusus oleh pemerintah Belanda pada masa penjajahan.. adat menurun’. Dalam perjalanan sejarahnya. adaik dibao turun. syarak dibao naik ‘adat dibawa turun. dari waktu ke waktu. Jika ada orang Minang yang tidak memeluk. Persesuaian Islam dengan adat tersebut awalnya terjadi secara bertahap. 1984: 138). masuknya Islam dari wilayah rantau ke darek ini digambarkan dalam pepatah: syarak mandaki.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. adaik manurun ‘syarak mendaki. melainkan terletak pada kepatuhan yang mutlak dari para anggotanya kepada pada syekh yang memang menuntut kepatuhan itu sebagai 93 . Ulama bagi mereka tidak hanya penerang masa hidup di dunia. Peranan Ulama Pemimpin Kaum Tua Bagi masyarakat Minangkabau. agama Islam misalnya. pemerintah Belanda mengerahkan beberapa orang sarjananya untuk mengadakan penelitian tentang tarekat yang ada di Sumatera Barat. masyarakat Minang berusaha menyesuaikan adat dan tradisi kemasyarakatannya dengan Islam. tetapi juga penyelamat untuk kehidupan di akhirat. S. Salah seorang di antaranya adalah Ph. Pada masa penjajahan.. bahaya dari aliran-aliran tarekat bukanlah terletak pada unsur fanatismenya.

suka mengejar-ngejar kekuasaan. kemudian pemerintah Belanda membuat strategi khusus untuk mengantisipasi potensi perlawanan dari kaum tarekat di Sumatera Barat. Khusus mengenai kaum Syattariyah. Boleh jadi karena sifat tarekat Syattariyah (di Ulakan) yang suka pada harmoni. menyebabkan mereka cenderung menghindari konfrontasi dengan Belanda (Suryadi. 2004: 117). Dengan demikian. lalu diusir dari daerah ini atau dibunuh dengan berbagai cara yang licik (Latief. dapat mengganggu kelancaran pemerintahan Belanda nantinya. Dengan adanya ancaman tersebut. No. di mana banyak pengikut tarekat Syattariyah di Ulakan Pariaman terpengaruh oleh gerakan pembaharu Islam di Sumatera Barat. Vol.108 haknya. menjauhi urusan dunia. Hal ini dapat dicermati pada paroh pertama abad ke-19. Sedang tokoh-tokoh tarekat yang dianggap berbahaya dan tidak mempan dibujuk. Dengan demikian. Golongan penganut tarekat Syattariyah yang terpengaruh oleh ide-ide pembaharuan itu karena tidak puas dengan ulama Ulakan yang dinilai tidak memiliki komitmen untuk memerangi Belanda.Jurnal Lektur Keagamaan. Untuk kasus pusat tarekat Syattariyah di Ulakan Pariman. Dalam konteks ini. agaknya strategi Belanda ini berhasil. Kedua. Apalagi dalam kenyataanya Ulakan sebagai salah satu pusat tarekat Syattariyah tidak pernah benar-benar menunjukkan penentangannya atau setidaknya bersikap tegas terhadap Belanda yang dianggap kafir. mengadakan pengawasan yang ketat terhadap segala aktivitas yang dilakukan oleh kaum tarekat (Syattariyah). 2004: 117 dan 92). 7. dengan mendekati. Belanda menempatkan seorang posthouder di Ulakan sejak tahun 1844 (Suryadi. dengan harapan agar mereka lebih memusatkan perhatian pada aktivitas kesufian. 94 . membujuk dan memuji-muji para guru tarekat. 2009: 91 . semangat jihad mereka yang sering menggangu kolonial akan dapat diredam. setidaknya ada dua strategi yang dibuat oleh pemerintah Belanda. 1988: 213-214). Pertama. Dalam hal ini pemerintah Belanda menempatkan seorang pengawas kelas tiga yang punya latar belakang ilmu budaya. 1. menjadi lawan bagi setiap aliran lainnya. ia menyebutkan bahwa para pemimpin tarekat Syattariyah itu biasanya adalah orangorang yang tangguh pengetahuannya. Apabila terdapat kejadian-kejadian tertentu yang mereka cetuskan. tidak jarang merupakan sesuatu yang amat berbahaya bagi pemerintahan Belanda.

Lubuk Begalung dan sekitarnya. Padang. Di wilayah ini Belanda mendapat perlawanan yang tajam dari mereka. — Pramono dan Bahren Dalam konteks itu. Padang kepada Belanda di bawah pimpinan Pakih Mudo. Pakih Mudo adalah murid Syekh Surau Baru yang diutus untuk mengislamkan rakyat Pauh. Perang terjadi atas komando dan dorongan Syekh Surau Baru. maka Pakih Mudo mengomando rakyat Koto Tangah dan Pauh dalam peperangan itu. Dalam naskah Sejarah Syekh Surau Baru misalnya. 95 . yakni perlawanan ke Belanda yang dinamakan Perang Paderi yang dipimpin oleh Imam Bonjol. diceritakan tentang pemberontakan rakyat Koto Tangah dan Pauh.. Penawanan itu dilaksanakan dengan alasan bahwa Pakih Mudo adalah murid Syekh Surau Baru. Dalam masa tawanan itulah Syekh Surau Baru wafat dan tidak ada lagi yang melawan Belanda hingga ratusan tahun kemudian. akibat-akibat yang dimaksud tidak berhenti secara serta merta setelah kolonialisme berakhir. Akibatakibat yang ditimbulkan lebih bersifat sebagai degradasi mentalitas dibandingkan dengan kerusakan material. perspektif postkolonial mencoba mengungkap akibat-akibat negatif yang ditimbulkan oleh kolonialisme. Ketika rakyat Koto Tangah dan Pauh. Di mana. misalnya kekuatan Golkar yang telah mampu mendekati para ulama itu untuk berafiliasi ke dalam partai tersebut. Hal ini akan diterangkan lebih jauh di bagian selanjutnya. bahkan mungkin puluhan atau ratusan tahun (Ratna. Kisah ini dapat ditemukan dalam kutipan teks berikut ini. Kondisi di atas sangat berbeda dengan ulama-ulama tarekat Syattariyah di Koto Tangah. Politik Belanda terhadap ulama tarekat Syattariyah di Ulakan. Peperangan itu menyebabkan Syekh Surau Baru ditawan Belanda.. melainkan berlangsung sampai sekarang.. menarik jika dilihat dengan perspektif postkolonial. Gambaran perlawanan ulama tarekat Syattariyah tersebut dapat ditemui dalam naskah Sejarah Surau Baru dan naskah Sejarah Syekh Paseban karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib. Secara mentalitas berbekas hingga hari ini. Oleh karena itulah. Padang Pariaman dengan cara memberikan penghargaan dan banyak pujian telah membuat mereka bersikap kompromi dengan Belanda. Padang berperang dengan Belanda yang dibantu oleh orang Kota Padang. dkk.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. 2006: 74).

(ketiga) Jasa beliau Syekh Surau Ba96 . No. Selain Syekh Surau Baru. tidak Belanda. 7. Perlawanan Syekh Paseban. Syekh Surau Baru yang mula-mula melawan penjajah Belanda yang akan menginjakkan telapak kakinya di Pantai Minangkabau pada tahun 1658 Masehi (1076 Hijrat) yang bermaksud menjajah Minangkabau. penulisnya kembali menegaskan tentang kepahlawanan Syekh Surau Baru. (kedua) adalah di suatu makam Syekh Muhammad Natsir (Syekh Surau Baru). Kota Tengah. pernah suatu kali Belanda dengan taktiknya akan memberikan penghargaan kepada Syekh Paseban. “Yang akan memberi saya bintang adalah Tuhan. Pauh. 34). perlawanan terhadap Belanda juga dilakukan oleh ulama tarekat Syattariyah di Koto Tangah. 1. penghargaan itu ditolak oleh Syekh Paseban. dalam naskah Sejarah Ringkas Syekh Paseben Asyattari Rahimahullah Taala Anhu. Koto Tangah. t. Padang. Penghargaan tersebut berupa bintang jasa yang oleh Belanda dikatakan bahwa Syekh Paseban berhak menerima karena ia adalah ulama besar yang telah banyak berjasa bagi kaumnya. Padang yaitu. Syekh Paseban. “kata Syekh Paseban (al-Khatib. Beliaulah. Pauh. Vol. pada waktu itu adalah dengan tidak bersedia membayar pajak kepada pemerintahan Belanda di Kota Padang. Dalam salah satu bagian teks disebutkan bahwa. dan sekitarnya. Syekh Paseban selalu mengadakan ziarah ke makam Syekh Surau Baru di Batusingka.. Setelah Syekh Surau Baru wafat ditawan kompeni Belanda barulah habis perlawanan rakyat terhadap kompeni Belanda. Lubuk Bagalung (Negeri yang dua puluh) dan Negri Padang. Ziarah tersebut ia lakukan karena. ia ditangkap dan dipenjarakan oleh Belanda.108 Beginilah riwayat ringkas perjalanan hidup beliau Tuan Syekh Surau Baru yang telah mengislamkan Koto Tangah. Padang. 2009: 91 . terjadi berkali-kali peperangan di Pauh dan Koto Tangah antara rakyat dengan tentara Belanda yang dibantu oleh laskar Padang yang telah takluk di bawah kekuasaan kompeni Belanda.t. Selain itu. Syekh Surau Baru inilah yang mengislamkan Negeri Kota Tengah.. Beliau sama pergi menuntut ilmu dengan Syekh Burhanuddin ke Aceh kepada Syekh Abdurrauf (Syekh Kuala). Akan tetapi. Syekh Surau Baru ini adalah orang Kota Panjang. Oleh karena perbuatannya tersebut.Jurnal Lektur Keagamaan. Air Dingin. Juga beliaulah.: 51-52). 2001: 29. Maka amanlah Belanda di Padang sampai 170 tahun kemudian barulah ada kembali perlawanan terhadap Belanda yang (di)kepalai oleh Tuanku Imam Bonjol yang dinamai Perang Paderi mulai tahun 1803 berakhir tahun 1837 (al-Khatib. Dalam konteks perlawanan tersebut.

agar beroleh berkah. 2001: 39).. Pada awalnya. menjelang Pemilihan Umum pertama 1955. Oleh karenanya. Pendirinya adalah para ulama yang terdiri dari Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung. Padang. Kondisi seperti itu juga ikut mempengaruhi pandangan ideologis tarekat Syattariyah di Koto Tangah. Hal ini juga sekaligus mempertegas bahwa ulama tarekat Syattariyah di Koto Tangah. Setelah Indonesia merdeka. M. 2002: 899). termasuk juga di Sumatera Barat (Nasution. Syekh Muhammad Jamil Jaho Padangpanjang dan Syekh Abdul Wahid Tabekgadang.. Syekh Surau Baru melawan Belanda waktu Belanda akan menjejakkan kakinya di Pantai Padang sedangkan Tuanku Imam Bonjol mengusir Belanda yang telah menduduki Minangkabau. Sejak 22 Nopember organisasi sosial ini berubah menjadi partai politik dengan nama Partai Politik Islam Perti (Nasution. Dalam naskah otobiografi Sejarah Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib disebutkan bahwa. Beliau Syekh Surau Baru dapat ditawan Belanda dimasukkannya ke dalam rajam dan wafat di situ dan Tuanku Imam Bonjol ditawan Belanda dibuangnya ke Manado dan wafat di situ (al-Khatib. Hatta.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. Wakil Presiden Republik Indonesia. memaklumatkan agar menumbuhkan berbagai organisasi dan partai. Hal ini untuk menolak tudingan Belanda bahwa Indonesia bukanlah negera yang sah. Syekh Muhammad Abbas al-Kadi Bukittinggi. Agaknya penulis naskah ingin mempertegas bahwa Syekh Surau Baru. Perti adalah organisasi sosial yang didirikan pada tanggal 5 Mei 1930 di Candung. beliaulah yang mulanya melawan Belanda di Minangkabau ini. Salah satu organisasi sosial yang berikutnya menjadi sebuah partai di Sumatera Barat adalah Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti). ulama tarekat Syattariyah di Koto Tangah. Bukittinggi. Padang selain orang alim juga anti penjajah. — Pramono dan Bahren ru. maka banyaklah lahir parta-partai di negeri ini. Padang adalah benar-benar berjiwa pahlawan. Itu perbedaan perjuangan Syekh Surau Baru dengan Syekh Paseban. penduduk Koto Tangah sudah tujuh puluh lima persen masuk ke dalam Partai Islam Perti. Setelah adanya maklumat ini. 2002: 899). 170 tahun (seratus tujuh puluh tahun) sebelum Tuanku Imam Bonjol. Hal ini dikarenakan ulama-ulama yang berwiba97 . pengikutnya harus menghormatinya. Perti mengikuti aliran Ahlul Sunnah wal Jamaah dalam itikad dan mazhab Syafi’i dalam syariat dan ibadat.

Tidak hanya itu. maka jatuhlah pilihan saya kepada Perti. 1. Pada waktu itu pemerintah melalui Wakil Presiden Muhammad Hatta menganjurkan bahwa setiap warga masyarakat untuk masuk ke dalam salah satu partai. Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib pernah giat memperjuangkan Partai Islam Perti di Koto Tangah. pada waktu menjelang Pemilihan Umum pertama 1955. Vol. Partai Sarikat Islam. dan Partai Islam Perti.108 wa—termasuk Imam Maulana Abdul manaf Amin al-Khatib—tarekat Syattariyah di Koto Tangah telah masuk ke dalam partai itu (alKhatib. Padang tidak salah. Menarik dikemukakan bahwa. Sebab partai ini berdasarkan mazhab Syafi’i dan beritikad ahlu sunah waljamaah” (al-Khatib. Poster-poster dan simbol-simbol partai ia buat sendiri dan dengan biaya sendiri. 2002: 47-57). Padang yang dilakukannya sendiri.setelah saya selidiki beberapa partai Islam seperti Masyumi. dan pemerintah tidak menjamin keamanan orang seperti itu. orang yang tanpa ikatan sebuah sistem aturan (pemerintah)’ namanya. 2009: 91 . Nah«atul Ulama. padahal ia bukanlah pengurus atau pejabat dalam tubuh Partai Islam Perti itu. 2002: 6). Oleh karena itu. Menurut penuturannya. Hal ini ia lakukan tidak lain karena menginginkan pilihan penduduk Koto Tangah. yakni partai Islam yang sesuai dengan paham tarekat Syattariyah.Jurnal Lektur Keagamaan. Padang. Dalam hal ini ia mengatakan bahwa: “. Jika tidak masuk ke dalam salah satu partai. Hal itu dimungkinkan karena Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib benar-benar terhimbau oleh anjuran pemerintah pada waktu itu. Dalam konteks kepartaian tersebut. dengan banyak pertimbangan dan dari hasil pengamatan Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib. Partai Islam Perti-lah yang sesuai dengan paham tarekat Syattariyah.. Angku Talaok bergabung dengan Partai 98 . 2002: 47). ia juga menempelkan poster-poster itu di berbagai tempat di Koto Tangah. ia giat mengampanyekan Partai Islam Perti. 7. Hal ini memang terlihat agak berlebihan. maka orang tualang ‘orang lepas. menjelang Pemilihan Umum pertama tahun 1955—saat di mana masing-masing partai gencar berkampanye mencari dukungan—terjadi ketegangan hubungan antara Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib dengan Angku Talaok akibat perbedaan pilihan partai di antara mereka (al-Khatib.. No. Di satu sisi.

agar mudah mendapat bantuan dari pemerintah untuk renovasi makam Syekh Surau Baru di Batusingka. Bersyafar ini adalah atas nama kaum muslimin.H. 2002: 63). Pada awal tahun 1950-an. dan beberapa surau lain di sekelilingnya...) bukan orang partai. Angku Talaok pernah diminta oleh para penganut tarekat Syattariyah di Batang Kabung dan sekitarnya untuk membantu mengajar di beberapa surau mereka. adalah Imam Maulana Abdul Manaf Amin. pendiri organisasi ini yang masih hidup pada waktu itu. Koto Tangah. Ia pernah bersilang pendapat dengan Angku Inyik Adam. ajakan itu ditolak oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin. Dekrit ini hanya diterima oleh sebagian saja yang dipimpin oleh putranya K. tidak dihitung partainya. Padang. bukan pula ziarah bersama ini (bersyafar) tidak atas nama partai. sementara di sisi lain. banyak dan bahkan sebagian besar pengikut tarekat Syattariyah di Sumatera Barat yang masuk ke partai Gokar setelah Perti kembali berstatus organisasi nonpolitik. Imam Maulana Abdul Manaf Amin menjadi anggota Partai Islam Perti. Dalam hal ini menarik disimak penolakan ajakan untuk masuk ke partai Golkar oleh Angku Inyik Adam berikut ini: “Begini Inyik. mendekritkan agar kembali kepada khitah semula.. Kalau saya masuk Golkar berarti ziarah bersama (bersyafar) ini tentu Syafar orang Golkar kata orang” (al-Khatib. Polemik tentang partai juga dialami oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib di era Orde Baru. Kemelut yang kurang terbenahi ini sangat merugikan bagi tujuan semula organisasi.. Saat itu. Burhanuddin ar99 . Akan tetapi. bergerak di bidang sosial.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. Saat itu. Maka pada tahun 1969. yang telah lebih dahulu mengajar di surau Batang Kabung. Perti mengalami perpecahan di dalam tubuh organisasinya dengan adanya pro dan kontra terhadap gagasan Nasakom yang dicetuskan oleh Soekarno. — Pramono dan Bahren Islam Indonesia (PII). Penting dikemukakan di sini bahwa. Syekh Sulaiman ar-Rasuli. Angku Inyik Adam mengajaknya untuk masuk ke dalam Partai Golkar. adapun Beliau ini (Syekh Surau Baru–pen. yaitu status nonpolitik. yang sebetulnya merupakan kawan seperguruan Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib sendiri ketika belajar dengan Syekh Paseban. khalifah tarekat Syattariyah dari Syekh Paseban. Pengelolaan bidang pendidikan dan dakwah seolah-olah terlupakan kalau tidak dapat dikatakan terabaikan sama sekali.

Berbagai argumen muncul dari ulama-ulama tarekat Syattariyah yang bergabung ke dalam partai Golkar. Menurut ulama ini. dan kemudian dalam menyalurkan aspirasi politiknya bergabung dengan Golkar. ulama yang mencampuradukkan diri dengan politik itu adalah khianat pada tugas keulamaannya (Samad. Bagi orang awam.Jurnal Lektur Keagamaan. 7. Bentuk penghargaan yang terakhir ini sangat menarik dan penting untuk dijelaskan. ada juga ulama tarekat Syattariyah yang dengan tegas menolak bergabung dengan Golkar. Bentuk penghargaan yang lain terlihat juga dalam pelestarian cita-cita dan perjuangan ulama terdahulu. penyebaran buku-buku hasil karyanya. 1. Bagi yang sedikit maju dan cerdas. Syekh dan Maulana. yakni Golkar. Dalam konteks penghargaan ulama pemimpin Minangkabau dalam bentuk penulisan riwayat hidupnya dan penyebaran buku-buku hasil karyanya banyak ditemukan di Minangkabau. Sangat dimungkinkan bahwa Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib yang juga menolak ajakan masuk ke Golkar karena terpengaruh sikap Tuanku Salif ini. almarhum Tuanku Salif dari Sungai Sarik. Padang Pariaman yang lama mengajar di Batang Kabung. Ia banyak menulis sejarah para 100 . yang banyak sekuler dan bercampur agamanya (Samad. penghormatan kepada ulama-ulama pemimpin mereka terlihat pada gelar-gelar yang diberikan. akan lebih mudah untuk memberikan pelajaran tarekat kepada orangorang yang berada di dalam Golkar. menurut mereka pilihan guru kepada Golkar adalah petunjuk Allah yang harus diterima. misalnya sebutan Tuanku. No. Koto Tangah. daripada kita menumpang kapal kecil lebik baik naik kapal besar. Ada lagi alasan ulama bahwa merubah dan memperbaiki dari dalam jauh lebih mudah daripada memperbaiki dari luar. 2003: 266). mereka mengajukan dalil. Misalnya. Vol. 2003: 268). Akan tetapi. Hal ini jika dikaitkan dengan kecenderungan pendapat ulama dalam tarekat Syattariyah yang besar pengaruhnya terhadap sikap kaumnya. 2009: 91 . Dengan masuk ke dalam Golkar. Inyiek. Padang. penulisan riwayat hidupnya. menurut mereka.108 Rasuli. Penghormatan terhadap Ulama Pemimpin Kaum Tua Di kalangan Kaum Tua di Minangkabau. Salah satu bentuk penghargaan itu adalah naskah-naskah karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib.

maka harus diluruskan. Jika ada golongan lain mengkritik ajaran guru. Mudah-mudahan dengan menulis sejarah beliau. Tetapi juga guru-guru tarekat kampung memutarbalikkan pula sejarah Syekh Abdurrauf dan sejarah Syekh Burhanuddin.. Amin. Berikut ini dapat dilihat gambaran tentang bantahan terhadap kritikan dari pihak luar. yang kesimpulannya penghuni langit dan bumi menghormati ulama. apakah bilangan yang beliau pakai untuk menentukan tanggal satu hari bulan Arab. Batang Kabung. 2001: 12-13). dan Syekh Surau Baru.M menyuruh kita menghormati dan memuliakan ulama. Syekh Burhanuddin. Begitu pula ikan-ikan dalam laut. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut ini: “. jangan asal dimasuki saja” (al-Khatib. 1936: 5).Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. Tentu kita lebih menghormati ulama dari pada mereka.... maka saya termasuk orang yang dianjurkan Nabi tadi. Sebab. Ajaran guru adalah sesuatu yang benar dan tidak boleh dibantah.dengan adanya ketiga buku sejarah ini dapatlah saudara-saudara yang menjadi pengikut dan pencinta Syekh Abdurrauf dan Syekh Burhanuddin mengetahui bagaimana beliau-beliau ini mengembangkan agama Islam dan dapat kejelasan apakah mazhab beliau.. Demikianlah supaya kita berhati-hati menerima sejarah dan menerima tarekat dari guru tarekat. “. Penulisnya mengharapkan 101 . Tidak surat-surat kabar dan majalah saja yang memutarbalikkan sejarah beliau-beliau ini. Padang” (al-Khatib. Syekh Paseban ini. Dalam teks yang terdapat dalam hampir seluruh naskah karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin alKhatib menempatkan guru sebagai orang yang harus dihormati. — Pramono dan Bahren syekh dan ajaran-ajarannya.sudah jelas oleh kita bahwa Nabi kita Muhammad S. Perlu dijelaskan di sini bahwa. Saya yang menulis adalah salah seorang dari murid beliau yang bernama Haji Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib. akhir-akhir ini banyak pula keluar di surat-surat kabar dan majalah-majalah yang memutarbalikkan sejarah beliau yang berdua ini yang jauh berbeda dengan yang dalam buku ini. yang dimaksud dengan “ketiga buku sejarah ini” dalam kutipan di atas oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib adalah teks sejarah Syekh Abdurrauf. maka akan mendapat berkah dan keselamatan baik di dunia maupun di akhirat.. yaitu orang yang menghormati dan memuliakan ulama dan mudah-mudahan Allah memberi berkat atas usaha saya. supaya tarekatnya diterima oleh orang kampung yang buta ilmu pengetahuan agama. Dengan menulis sejarah guru atau syekh. amin ya rabbil ‘alamin.

dikisahkan tentang bagaimana bentuk penghormatannya kepada gurunya. Begitu pula petang-petangnya setelah memasukkan unta ke kandanganya maka pergi pula menjemput guru ke mesjid. 7. Namun. Sudah itu terus pergi gembala unta ke tengah padang.. 2009: 91 .Jurnal Lektur Keagamaan. jika salatnya dilakukan sebanyak sebelas rakaat. Artinya itu-itu saja pelajaran yang diberikan oleh Syekh Ahmad al-Qusyasyi hingga sampai kepada masa akan kembali pulang. maka tidak boleh mengikut paham tersebut. dan seterusnya. Selain menuntut ilmu juga kerja beliau Syekh Abdurrauf di Madinah adalah mengembalakan unta Tuan Syekh Ahmad al-Qusyasyi tiap-tiap hari. Oleh karena suatu paham tidak sesuai atau berlainan dengan fatwa guru yang diterimanya. di dukung pula ke tempat tinggal beliau. Begitulah kerja beliau Syekh Abdurrauf tiap-tiap harinya. walaupun pemerintah telah mengumumkan awal memasuki puasa Ramadan. bagaimana mereka menentukan awal bulan Arab. Untuk menentukan awal bulan Ramadan dilakukan dengan ru’yah (melihat bulan) terlebih dahulu.108 bahwa dengan adanya ketiga sejarah syekh tersebut. tidak birasak-birasak sekedar lamanya. karena menurut fatwa gurunya yang benar adalah mengerjakan salat tarawih itu dua puluh tiga rakaat. Syekh Ahmad al-Qusyasyi. maka pemahaman ilmu akan datang dengan tidak disangka-sangka.. sebagian besar pengikut tarekat Syattariyah tidak akan salat Jumat apabila khutbah dilaksanakan tidak menggunakan bahasa Arab. Vol. Sangat patuh dan sangat hormat kepada guru apa yang diperintahkannya oleh guru ti- 102 . maka pengikut tarekat Syattariyah akan memahami bagaimana ketiganya beramal ibadah. paham gurulah yang benar.tetapi pelajaran [bang] yang [berikan] diberikan oleh Syekh Ahmad Qusyasyi hanya surah al-Baqarah saja. Dalam teks sejarah Syekh Abdurrauf Singkil misalnya. Misalnya. 1. No. Tambahan lagi. Beliau tetap hormat dan khidmat serta patuh terhadap guru beliau. Menghormati guru juga diyakini berimplikasi terhadap cepatnya pemahaman ilmu yang diajarkan oleh sang guru. begitu hati beliau terhadap guru tidak menaruh bosan dan berkecil hati. Malahan beliau terima hal yang demikian dengan hati yang ikhlas dan bertawakal kepada Allah swt. Mereka tidak akan ikut salat tarawih di bulan Ramadan. seperti berikuit ini: “. yaitu pagi-pagi didukung guru di hulu dari tempat tinggalnya ke tempat dia mengajar. sebagai mengkhidmati guru beliau tetap mendukung guru dari tempat tinggalnya kepada tempat dia mengajar ilmu di Masjid Nabawi. Jika patuh dan hormat terhadap guru.

membaca ataupun mendengar orang membacakan riwayat gurunya. Ia harus diperoleh dengan perjuangan yang sungguh-sungguh tidak kenal menyerah. Oleh karena itu orang berusaha untuk memiliki. Dalam teks sejarah Syekh Burhanuddin juga dikisahkan tentang bentuk penghormatan yang dilakukan kepada gurunya. 103 . agar ilmu yang didapat beroleh berkah. Adapun adab dan tertib Burhanuddin kepada gurunya Syekh Abdurrauf di dalam menuntut ilmu tidak ada ubahnya seperti adab dan tertib Syekh Abdurrauf pula terhadap gurunya. adab kepada guru. Kepatuhan itu akan membawa berkah. Kedua kutipan di atas.. sehingga pelajaran diperoleh dengan mudah dan sempurna. memuliakan guru agar mendapat syafaatnya (limpahan rahmat). Begitulah kerja Burhanuddin selama menuntut ilmu di Aceh dalam masa tiga puluh tahun. dan lagi menggali tebat (kolam) ikan di sekeliling masjid. yaitu kambing tiap-tiap hari. menggambarkan sekaligus mendorong kepatuhan murid kepada guru. Di samping itu. Teks-teks yang terkandung dalam naskah-naskah karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib. mengetahui riwayat guru adalah sebuah keharusan karena itu bermakna penghormatan kepada guru. — Pramono dan Bahren dak pernah membantah dan waktu bersalam mencium tangan guru” (alKhatib. 1992: 20-21). Bagi para penganut tarekat Syattariyah. yaitu mendukung guru dari tempat tinggalnya ke tempat mengajar... seperti berikut ini: “Adapun kaji yang diberikan yang diberikan oleh Syekh Abdurrauf kepada Burhanuddin adalah surah al-Fatihah saja tidak berasak-asak sekedar lamanya. banyak sedikitnya memperlihatkan pandangan tentang hubungan guru-murid yang secara eksplisit mengarahkan agar para murid dan pengikut tarekat Syattariyah merasa (ataupun diwajibkan) mengenal riwayat syekh yang menjadi gurunya atau guru dari gurunya. Syekh Abdurrauf Singkil. 1936:8-9).Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. kedua kutipan tersebut juga berpesan kepada pembacanya bahwa sebuah ilmu tidaklah diperoleh dengan mudah. Amanat “tidak kenal menyerah” itu senantiasa terwaris dari guru yang satu ke guru berikutnya.” (al-Khatib. yaitu di masjid. untuk kemudian menjadi suri teladan bagi kehidupannya. Syekh Ahmad al-Qusyasyi.. Selain mendukung guru juga Burhanuddin menggembalakan ternak Syekh Abdurrauf.

Seorang guru melalui prosesi bai’ah yang sudah dilakukan sebelumnya. baik secara duniawi maupun setelah ia meninggal. Kedurhakaan terhadap syekh akan berakibat luas terhadap kehidupan murid. di kalangan Syattariyah berlaku ungkapan bahwa ”seorang murid di hadapan guru ibarat sesosok mayat di tangan orang yang memandikannya” (Samad. Murid tidak boleh banyak mempertanyakan tentang “mengapa” dan “apa sebabnya”. apalagi membantah guru. yaitu: 1) Allah akan menyempitkan rezekinya di dunia.108 Oleh karena merasa “wajib” untuk mengetahui riwayat dan ajaran para syekh tersebut. Dalam pandangan mereka roh seorang syekh yang sudah meninggal masih dapat memberikan pertolongan kepada murid-muridnya. mereka selalu berziarah mengunjungi makam untuk mendapatkan berkah sekaligus sebagai bukti kesetiaan terhadap guru tersebut. Dari naskah-naskah itu jelas bahwa syekh sebagai pemimpin menjadi sentral dalam pembentukan ideologi penganut tarekat Syattariyah Kaum Tua) di Minangkabau. Perintah dan larangan guru bersifat mutlak dan mengikat. Perihal banyaknya peminat naskah-naskah karyanya itu. khususnya di Koto Tangah. Bahkan penghormatan yang demikian masih terus berlangsung meskipun guru yang bersangkutan telah meninggal dunia. murid secara sukarela harus menerima dan mematuhi segala bentuk aturan yang telah ditetapkan guru kepadanya. maka banyak kalangan penganut tarekat Syattariyah. 7.Jurnal Lektur Keagamaan. dan Syekh Surau Baru. 2) Allah akan mencabut berkat ilmu yang telah dipelajarinya dari sang guru. kedurhakaan terhadap syekh akan menimbulkan malapetaka bagi murid-murid. dapat memperlakukan muridnya sesuai dengan aturan yang ditetapkan. Sebaliknya. No. Vol. 2009: 91 . 2003: 147-148). 3) Tatkala jiwa akan berpisah dengan badan (me- 104 . ada tiga hal yang akan terjadi bagi seorang murid yang durhaka kepada gurunya. Oleh karena itu. Padang yang ingin memiliki naskah-naskah karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib. Karena itu. penghormatan dan penghargaan terhadap guru. menarik untuk dipaparkan tentang sejarah teks yang menceritakan sejarah Syekh Abdurrauf. dalam pengajian tarekat Syattariyah dilakukan atas dasar pandangan bahwa guru adalah orang yang suci dan dekat kepada Allah. Selain itu. Setidaknya menurut keyakinan mereka. Sebaliknya. sebagai sumpah setia murid kepada gurunya. 1. Syekh Burhanuddin.

H. 2003. “Tarekat Syattariyah di Dunia Melayu-Indonesia: Kajian Atas Dinamika dan Perkembangannya Melalui Naskah-Naskah di Sumatera Barat”. riwayat dan ajarannya dijadikan rujukan untuk pengambil keputusan. dkk. Ratna. sebagai penerang di dunia bahkan sampai di akhirat. Oman. Nyoman Kutha. — Pramono dan Bahren ninggal). Latief. Laporan Penelitian. Pertama. Jakarta : Djambatan. Kedua. Suaranya didengar. tetapi juga di bidang sosial-budaya dan politik. (Disertasi S3).Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua.. Nasution. Denpasar : Program Pascasarjana Program Doktor (S3) Kajian Budaya Universitas Udayana. Sanusi. tidak hanya masalah keagamaan tetapi juga masalah sosial budaya serta politik yang mereka hadapi. Hamka. “Gerakan Kaum Tua di Minangkabau”. Harun (Ketua Tim). Allah akan mencabut iman yang ada di dada murid. Tulisan itu memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi kemajuan ummat. Islam dan adat Minangkabau.. 1988. Desertasi. Depok: Pascasarjana UI.[] Daftar Pustaka Fathurahman. riwayat dan ajarannya ditulis dan disebarkan. Jakarta: IAIN Syarif Hidayatullah. Para ulama pemimpin Kaum Tua itu berperan tidak hanya di bidang keagamaan saja. tingkah lakunya diikuti. 2002. Penutup Pertemuan Islam dengan budaya lokal Minangkabau telah menjadikan corak kepemimpinan yang khas. Kekhasannya ini tampak pada pola kepemimpinannya. 105 . penghormatan terhadap pemimpin memberikan tauladan agar murid pun harus berperilaku (beribadah) seperti sang guru: pola hidup sederhana (zuhud)dan tidak ambisius (qan±’ah). Ensiklopedi Islam Indonesia (Jilid 3 O-Z). “Postkolonialisme Indonesia”. M. khususnya dalam membangun kepribadian dan moral. Dr. Mereka dihormati. 1984. Di antara sumbangannya yang dapat dicatat adalah sebagai berikut ini. Jakarta: Pustaka Panjimas. sehingga dia mati dalam keadaan tidak beriman (al-Khatib. 2006. khususnya pada golongan Kaum Tua. 1992: 30). Prof.

Koto Tangah. Koto Tangah. naskah tulisan tangan koleksi Imam Maulana Abdul Manaf Amin. Syair Sunur: Teks dan Konteks Otobiografi Seorang Ulama Minangkabau Abad Ke-19. Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah. Batang Kabung. Koto Tangah. 2003. Padang Sumatra Barat. Koto Tangah. Imam Maulana Abdul Manaf Amin. 2002. Padang : Citra Budaya.108 Samad. dan Dinamika Tarekat di Minangkabau” (disertasi). Batang Kabung. Inilah Sejarah Ringkas Auliyaullah al-Salihin Syekh Burhanuddin Ulakan yang Mengembangkan Agama Islam di Daerah Minangkabau. 1. Suryadi. Laporan Penelitian Kelompok Kajian Puitika Fakultas Sastra Unand. 2004. 1936. Padang Sumatra Barat. Perubahan. Batang Kabung. Batang Kabung. No. Inilah Sejarah Ringkas Auliyaullah al-Salihin Syekh Abdurrauf (Syekh Kuala) Pengembang Agama Islam di Aceh. Sejarah Ringkas Shaikh Muhammad Nasir (Syekh Surau Baru). Padang Sumatra Barat. Duski. 106 . Koto Tangah. naskah tulisan tangan koleksi Imam Maulana Abdul Manaf Amin. “Tradisionalisme Islam di Tengah Modernisme: Kajian Tentang Kontinuitas. Padang Sumatra Barat ------. ------. Vol. Yusuf. naskah tulisan tangan koleksi Imam Maulana Abdul Manaf Amin. Manuskrip al-Khatib. 1992. naskah tulisan tangan koleksi Imam Maulana Abdul Manaf Amin. M dkk.Jurnal Lektur Keagamaan. 7. 2001. Batang Kabung. Kitab Riwayat Hidup Imam Maulana Abdul Manaf Amin. Padang Sumatra Barat. “Manuskrip dan Skriptorium Minangkabau. ------. naskah tulisan tangan koleksi Imam Maulana Abdul Manaf Amin. 2009: 91 . ------. Sejarah Ringkas Syekh Paseban al-Syatari Rahimahulallahu Taala. tt. 2004.

2006) dan Naskah-naskah Tulisannya Gambar 2: Naskah Sejarah Ringkas Auliyaullah al-Salihin Syekh Burhanuddin Ulakan yang Mengembangkan Agama Islam di Daerah Minangkabau (1992: 2) 107 ..Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. — Pramono dan Bahren Lampiran: Gambar 1: Imam Maulana Abdul Manaf Amin Al-Khatib (w..

108 Gambar 3: Naskah Sejarah Ringkas Auliya’ullah al-Salihin. Pengembang Agama Islam di Aceh (1936: 1) 108 . 7. No. 1. Syekh Abdurrauf (Syekh Kuala). 2009: 91 .Jurnal Lektur Keagamaan. Vol.

Peran Penting Pernaskahan... — Agus Aris Munandar

Peran Penting Pernaskahan dan Benda Khazanah Keislaman Lainnya dalam Kajian
Arkeologi Islam di Indonesia *
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, Depok

Agus Aris Munandar

This writing is studying the important position of the written data, particularly related to the Islamic classical manuscripts in Islamic archeology. The written data from the written sources in the study of Islamic archeology are as follow: (a) It functions as the supporting study toward the artefactual data; (b) To widen good understanding on the position and the role of the artefact in society at the period; (c) Data from written sources could be the basic of the research and a framework for the study of Islamic archeology; and (d) To encrich interpretation to develop historiography. The position of the written sources is getting more and more important in the stage of historiography as some parts of the archeological studies which are remain unknown can be helped by the study from the written sources. In the end, this effort will be able to open new insight and interpretation and to widen historiographical narration in order to make the study of archeology to be more and more dynamics. Kata kunci: Arkeologi-religi, artefak, naskah, khazanah, historiografi

Pengantar Perkembangan Islam di wilayah Nusantara berdasarkan bukti arkeologis telah terjadi sejak abad ke-11 M. Hal itu didasarkan dengan penemuan nisan Fatimah binti Maimun bin Hibatullah di daerah Leran Gresik Jawa Timur, pada nisan itu dipahatkan angka tahun 475 H atau 1082 (Tjandrasasmita 1986: 2). Berdasarkan hal
Tulisan ini pada mulanya merupakan makalah yang disampaikan dalam Diskusi Pengembangan Wawasan SDM Tenaga Fungsional Puslitbang Lektur Keagamaan, 24 Februari 2009 di Ruang Sidang Badan Litbang Lektur Keagamaan, Jakarta.
*

109

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 109 - 132

itu terdapat dua kemungkinan yang mengemukan, yaitu: (1) tokoh Fatimah yang dimakamkan itu adalah orang Jawa yang telah memeluk Islam, atau (2) ia muslimah pendatang yang karena suatu sebab meninggal dan dimakamkan di Gresik. Selain nisan, dalam kajian para ahli Belanda dahulu tidak melaporkan adanya temuan serta lainnya dari situs nisan Fatimah binti Maimun. Akibatnya tidak ada lagi data yang dapat menyokong terjadinya interpretasi baru atas kasus temuan nisan Fatimah binti Maimun. Masalah nisan Fatimah binti Maimun sebenarnya hanya salah satu contoh saja dari banyak permasalahan kajian arkeologi Islam di Indonesia. Suatu kajian terhadap bentuk religi harus pula menjelaskan 4 hal yang berkenaan dengan eksistensi religi tersebut, yaitu: a. Historical explanations, yaitu usaha untuk menjelaskan keberadaan suatu agama pada suatu masa sejak agama itu mulai ada, bertahan, dan berkembang dalam tahap selanjunya. b. Structural explanations, upaya untuk menjelaskan keberadaan suatu agama berkenaan dengan para penentu perkembangan agama, menjelaskan hal-hal penting yang menjadi dasar terbentuknya masyarakat pemeluk agama. c. Causal explanations, upaya menjelaskan keadaan agama dalam masyarakat dengan mengacu kepada kondisi dan suasana masyarakat sebelum agama itu timbul. d. Functional explanations, menjelaskan suatu keadaan sehingga agama tersebut mempunyai fungsi dalam masyarakat (Spiro 1977: 99—101). Keempat fokus utama kajian agama tersebut kiranya dapat dikerjakan secara baik bilamana berkenaan dengan keadaan agama yang masih hidup di masa sekarang, yang masih ada masyarakat pemeluknya, dan dalam pertalian kekinian. Akan sukar kiranya jika keempat kajian tersebut diterapkan untuk meneliti kehidupan agama yang pernah berkembang di masa silam. Walaupun agama yang dimaksudkan itu sampai sekarang masih ada pemeluknya, namun pemeluk agama masa lalu tentu sudah tiada dan juga secara sosiologis akan berbeda kondisi mereka dengan pemeluk agama masa sekarang. Oleh karena itu kajian keagamaan masa lalu niscaya tidak akan sempurna lengkap, pasti ada yang rumpang. Hal itu bukan karena 110

Peran Penting Pernaskahan... — Agus Aris Munandar

ketidakmampuan peneliti menarik sintesa dan tafsiran, melainkan memang datanya yang terbatas. Data kajian perkembangan agama Islam pada tahap awalnya, tentu bertumpu kepada sumber-sumber tertulis dan data artefaktual yang bersifat fisik. Jika kedua macam data itu dalam kondisi bagus tentu akan membantu memperlancar proses kajian, tetapi seringkali kondisi data yang ada itu telah rusak sebagian, atau hilang. Begitupun dari data yang ada dan masih bertahan hingga kini belum tentu juga dapat dipergunakan dalam kajian, karena memang tidak sesuai dengan permasalahan yang akan dipecahkan. Dalam membahas perkembangan agama dari suatu lingkup kebudayaan, menurut disiplin antropologi sebaiknya harus memperhatikan lima butir unsur agama yang saling berkaitan satu sama lain. Kelima butir itu selayaknya diperhatikan sesuai dengan proporsi data yang tersedia, tergantung pada zamannya serta kualtitas dan kuantitas data yang tersedia. Bagan yang memperlihatkan lima butir unsur religi adalah sebagai berikut:
Bagan I: Unsur-Unsur Religi
SISTEM KEPERCAYAAN

UMAT AGAMA

EMOSI KEAGAMAAN

PERALATAN RITUS & UPACARA

SISTEM RITUS & UPACARA

[Koentjaraningrat, 1980: 80—3]

Apabila dikembalikan kepada ketersediaan data sudah tentu tidak semua butir tersebut dapat dikaji secara baik. Jika membicarakan perkembangan agama di masa silam, tentunya yang masih dapat diamati secara langsung adalah sisa peralatan ritus dan upacara. Sistem kepercayaan yang mungkin termaktub dalam kitab-kitab keagamaan, dan sedikit tentang sistem ritus dan upacara 111

Babakan Perkembangan Kebudayaan di Indonesia Perkembangan kebudayaan Indonesia diawali dan didasari pada kebudayaan prasejarah. Sang pemimpin didampingi oleh seseorang yang dituakan. Walaupun demikian ahli para peminat sejarah kebudayaan harus berupaya semampunya dengan --berdasarkan data yang ada-.untuk tetap mencoba menjelaskan pula butir-butir tersebut. rumah-rumah mereka panggung. Sedangkan gambaran umat agama. Dalam kondisi peradaban masyarakat yang relatif maju seperti itulah pengaruh kebudayaan luar mulai diperkenalkan oleh para musafir India. Penduduk kepulauan Indonesia masa itu telah menetap dan membentuk perkampungan. No. Nenek moyang bangsa Indonesia merasa tertarik dan 112 . sebab masyarakatnya telah tiada.Jurnal Lektur Keagamaan. Masa tersebut sangat mungkin dimulai sekitar tahun 500 SM hingga ditemukannya aksara pertama dalam prasasti di wilayah Indonesia (sekitar abad ke-4 atau 5 M). 7. Bantuan analogi itu dilakukan dengan syarat masyarakat yang dijadikan bahan komparasi masih melaksanakan praktek keagaaman yang mirip dengan agama-agama masa silam. Agaknya para niagawan dari India atau Cina tersebut berkunjung ke komunitaskominitas nenek moyang bangsa Indonesia yang dapat dianggap berinteraksi. Kontak-kontak dengan para musafir dari India dan Cina sangat mungkin mulai terjadi di awal tarikh Masehi. apalagi emosi keaagamaan agak sukar untuk dikemukakan dan dikaji.132 yang dalam penafsirannya harus meminta bantuan analogi pada masyarakat masa kini. Kemudian terdapat masyarakat biasa yang menjadi rakyatnya. Tahapan prasejarah yang paling penting di Indonesia adalah masa bercocok tanam tingkat lanjut yang bersamaan dengan berkembangnya kepandaian perundagian. kepada tokoh itulah masyarakat bertanya perihal berbagai hal. dan luas wawasannya. Jadi mereka tidak mungkin datang ke wilayah-wilayah yang sepi penduduknya. 2009: 109 . langkah kehidupan dan lain-lain. emosi keagamaannya pun sukar digali kembali. Vol. dianggap mempunyai banyak pengalaman. Dalam periode tersebut mulailah terbentuk komunitas-komunitas yang teratur dipimpin oleh ketua kelompok. apabila tidak maka tiada mungkin dilakukan. 1. fenomena alam. masih mungkin untuk dikaji.

Sebelum kedatangan Islam di wilayah-wilayah tersebut telah ada komunitas-komunitas membentuk sistem pemerintahan tradi113 . dalam hal ini raja dianggap sebagai dewa yang menjelma ke dunia. Ketiganya benar-benar merupakan sesuatu yang baru. artinya tidak pernah dimiliki sebelumnya oleh masyarakat masa itu. dalam hal ini bentuk-bentuk arsitektur candi yang tidak pernah sama antara satu bangunan dengan lainnya (unikum). bahkan niagawan itu sendiri adalah ulama penyebar Islam. dan di bagian-bagian lain Indonesia mungkin masih dalam zaman proto-sejarah (beberapa daerah telah dicantumkan dalam kakawin Nāgarakrtāgama yang selesai digubah oleh Mpu Prapanca tahun 1365 M). di wilayah Sumatra bagian utara telah berdiri kerajaan Islam pertama di Nusantara. namun perkembangannya semakin merata mulai abad ke-15 M. dan (3) sistem penghitungan tahun Saka.. Berlandaskan ajaran agama Hindu-Buddha berkembanglah sistem pemerintahan kerajaan. bernama Samudra Pasai. (2) aksara Pallava.. Hubungan niaga yang ramai antara wilayah Indonesia barat dan timur turut mempercepat proses penyebaran agama Islam. — Agus Aris Munandar perlu untuk menerima kebudayaan dari India oleh karena itu mereka menerimanya. Zaman berkembangnya pengaruh India dalam masyarakat Indonesia kuna lazim dinamakan dengan zaman Hindu-Buddha atau zaman Klasik Indonesia. Berdasarkan sumber-sumber tradisi dapat diketahui bahwa wilayah Indonesia Timur (Nusa Tenggara dan Maluku) menerima Islam karena upaya para mubalig dari pesantren-pesantren di Jawa Timur. Sekitar pertengahan abad ke-13 M.Peran Penting Pernaskahan. Hanya tiga anasir budaya saja yang sebenarnya diterima dari kebudayaan India. Islam tidak berkembang dalam kurun waktu yang bersamaan di Nusantara. Seraya itu di Pulau Jawa masih berdiri kerajaan Singhasari yang bercorak Hindu-Buddha. Kemajuan arsitektur bangunan suci juga didasarkan pada kaidah keagamaan Hindu atau Buddha. dan wilayah Kalimantan Timur. dan bangunan pahat batu (rock-cut) yang digarap secara baik. yaitu (1) agama HinduBuddha. bangunan pe-tirtha-an (bangunan air suci). Sumber tradisi juga menyebutkan adanya peranan para ulama dari wilayah Sumatra Barat yang aktif menyebarkan Islam di Sulawesi Selatan.Dalam jalur niaga tersebut turut serta para ulama penyebar Islam.

Di beberapa wilayah Nusantara terdapat masyarakat yang sampai sekarang memeluk agama Islam secara taat. cara berpakaian yang hampir menutup seluruh tubuh. bunga teratai dan lainnya lagi pada kepurbakalaan Islam seperti pada bangunan cungkup makam.132 sional yang masih bercorak tradisi perundagian. Wacana Bentuk akulturasi ketika agama Islam sudah berkembang di Jawa dengan tradisi yang telah dikenal sebelumnya. dikenalnya tahun Hijriah. Penggunaan ragam hias dari masa Hindu-Buddha seperti sulur-daun. tapak dara. bentuk meander. Dengan demikian perkembangan kebudayaannya dapat dinyatakan dari masa prasejarah protosejarah sejarah dengan masuknya Islam. Dalam proses dinamika kebudayaan bentuk-bentuk akulturasi tersebut sebenarnya turut memperkaya khazanah peradaban yang ada. tempat merebaknya kebudayaan HinduBuddha yang relatif lama. Religi yang berkembang pun secara hipotetis masih merupakan pemuliaan terhadap arwah nenek moyang. selain ajaran agama itu sendiri terdapat beberapa perolehan lainnya. 7. sehingga hampir-hampir menutupi agama Islam yang secara resmi dipeluk dalam masyarakat. antara lain terlihat pada penggunaan atap tumpang pada masjid-masjid kuna yang sebelumnya dipergunakan untuk menaungi candi-candi zaman Majapahit. diperkenalkannya sistem persenjataan dengan mesiu. 114 . Walaupun demikian di Jawa juga terdapat daerah-daerah yang keislamannya relatif menonjol dengan sedikitnya pengaruh dari tradisi lama. dan terbentuknya kota-kota pelabuhan baru tempat bermukimnya masyarakat yang telah memeluk agama Islam. tubuh makam (jirat) dan juga pada nisannya. 2009: 109 .Jurnal Lektur Keagamaan. 1. No. Ornamenornamen masa Hindu-Buddha juga masih dipertahankan di kompleks keraton Islam di Jawa. Cukup banyak peradaban Nusantara yang mendapat pembaharuan dalam zaman awal perkembangan agama Islam. Di beberapa wilayah terdapat pula masyarakat yang masih mempertahankan aspek-aspek kebudayaan Hindu-Buddha yang telah dipadukan dengan anasir dari agama Islam. maka terdapat fenomena adanya bentukbentuk akulturasi antara Islam dengan tradisi yang telah dikenal dalam agama Hindu-Buddha. Vol. tanpa melalui sistem kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha sebagaimana halnya di Jawa. Lain halnya di Jawa. tanpa adanya bentuk akulturasi dengan kebudayaan yang berkembang sebelumnya. misalnya digunakannya huruf Arab. Aspek kebudayaan hasil perpaduan tersebut dirasakan sangat dominan dalam masyarakat tertentu.

Akan halnya di wilayah Jawa bagian barat. tetapi Bali adalah daerah terakhir yang diduduki kekuatan Belanda setelah puputam Klungkung 1906 M. kerajaan. — Agus Aris Munandar Dalam bidang kesusastraan masa Islam juga cukup maju. tentang berdirinya suatu kota. Dengan demikian diskusi tentang pembabakan dalam sejarah kebudayaan Indonesia merupakan hal yang agak rumit. Di luar Jawa dikenal karya sastra dalam bentuk hikayat. masuk dan berkembangnya Islam terjadi lebih kemudian. babad kisah sejarah dari sudut pandang tradisional. salasilah. dan Arab. peperangan. dalam masa itu banyak kerajaan Islam di kepulauan Indonesia yang silih berganti tumbuh dan berkembang. hanya beberapa saja yang dalam perkembangan kebudayaannya tidak mendapat pengaruh Islam. juga dikenal bentuk suluk yang berisikan ajaran-ajaran tasawuf.. Jawa. atau kalaupun ada hanya bersifat tipis saja. dan lain-lain. Di wilayah Jawa Tengah perkembangan Islam ditandai dengan berdirinya kerajaan Islam pertamanya. yaitu Demak (sekitar tahun 1500 M) yang menurut sumber tradisi merupakan penerus kerajaan Majapahit.. Dengan demikian proses akulturasi yang terjadi antara peradaban Eropa barat yang dibawa Belanda dengan kebudayaan daerah-daerah setempat tentunya berbeda dalam hal rentang waktu dan intensitasnya. karya sastra-karya sastra umumnya ditulis dengan aksara Arab atau aksara Jawa dengan bahasa Melayu. Hampir seluruh wilayah Nusantara mempunyai lapisan kebudayaan yang dipengaruhi oleh agama Islam. Masa pertumbuhan kerajaan Islam terentang antara abad ke13 hingga 17 M. Di Jawa selain dikenal bentuk kidung (puisi karya etnis Jawa). mungkin ditandai dengan berdirinya Kesultanan Cirebon.Peran Penting Pernaskahan. tidak seluruh wilayah Indonesia mengalami perkembangan kebudayaan 115 . dan jatuhnya istana Pakuwan Pajajaran sebagai ibu kota kerajaan Sunda pada sekitar tahun 1579/1580 M. lontara. Akibatnya dapat dipahami apabila di wilayah tertentu Indonesia pengaruh kebudayaan Eropa (Belanda) jauh lebih kentara. tambo. Begitupun masuknya kekuatan kolonial Belanda di wilayahwilayah Indonesia tidak dalam periode yang sama. dan lain-lain lagi. Setelah pertumbuhan kebudayaan Hindu-Buddha menyusul kemudian masuk dan berkembangnya Islam yang berbeda-beda di tiap wilayah. ada daerah yang lebih dahulu berkenalan dengan orang-orang Belanda.

4. Pulau Bali telah disebut-sebut keberadaannya oleh berita Cina dinasti T’ang dan prasasti-prasasti di Jawa dalam abad ke-8. Terdapatnya etnis yang secara sadar menolak adanya pembaruan akibat pergaulan dengan kebudayaan luar tersebut. Bagan II : Perkembangan Kebudayaan di Jawa Garis tersebut akan berbeda apabila dibandingkan dengan kebudayaan yang berkembang di Pulau Bali. 1. Masa “pergaulan” dengan kebudayaan luar berlangsung cukup lama. Intensitas “pergaulan” yang relatif mendalam.Jurnal Lektur Keagamaan. hal itu sangat mungkin terjadi karena: 1. Perkembangan kebudayaan di Bali terlihat dalam bagan berikut: Bagan III : Perkembangan Kebudayaan di Bali Apabila menelisik data sejarah dan arkeologi. pengaruh itu terjadi baru awal abad ke-20 M. maka di Pulau Dewata masa proto-sejarahnya relatif lebih lama daripada yang berlangsung di Jawa.132 dalam tahap-tahap yang sama. Vol. 2009: 109 . 3. maka garis perkembangan kebudayaan di wilayah-wilayah Indonesia menjadi bervariasi. Sebagai contoh berikut diuraikan bagan perkembangan kebudayaan di Jawa. Wilayah-wilayah tertentu mempunyai corak kebudayaan yang berbeda dari yang lainnya. 7. walaupun terdapat beberapa daerah yang memiliki perkembangan yang hampir mirip. No. 2. namun prasasti yang ditemukan di Bali sendiri baru 116 . Sedikitnya pengaruh kebudayaan luar. Berdasarkan adanya macam perbedaan tersebut. sebab Bali mempunyai perkembangan kebudayaan yang tidak banyak dipengaruhi anasir budaya luar.

pada waktu yang bersamaan dengan tumbuh kembangnya kesultanan-kesultanan Islam. Begitupun di Bali tidak pernah berdiri kerajaan Islam sebagaimana di Jawa atau Sulawesi selatan. Tahapan perkembangan kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha tidak dimiliki di wilayah Maluku Utara. tokoh inilah yang mengalami masa transisi dalam sistem pemerintahannya. seperti Klungkung. hal itulah yang sebenarnya menjadi salah satu masalah yang harus diperhatikan manakala hendak disusun suatu historiografi tentang kebudayaan. Karangasem.Peran Penting Pernaskahan. Sudah tentu wilayah-wilayah lainnya di Indonesia akan mempunyai tahapan perkembangan kebudayaan yang berbeda-beda pula. sebab tercatat penguasa pertama di Ternate ialah Sultan Zainal Abidin (1486-1500 M). di Bali berkembang kerajaan-kerajaan kecil dengan latar belakang Hindu-Bali. Masa kolonial lebih awal terjadi di daerah tersebut. semula dari sistem tradisional kolano ke bentuk kesultanan (Putuhena 1980: 268). Walaupun demikian tahap perkembangan kebudayaan 117 . Mengwi dan lain-lain. Sementara itu bukti tertulis lokal yang menceritakan perihal daerah itu sendiri baru didapatkan pada paruh pertama abad ke-15 M.. 1980) Masa protosejarah di wilayah Maluku utara agaknya berlangsung cukup lama (antara awal tarikh Masehi hingga sekitar abad ke14 M). karena politik perdagangan cengkeh bangsa-bangsa barat yang berebutan untuk menguasai Maluku Utara. Di wilayah Maluku utara perkembangan kebudayaannya pun berbeda pula dengan daerah lainnya.. Buleleng. secara ringkas dapat terlihat pada bagan berikut: Bagan IV : Perkembangan Kebudayaan di Wilayah Maluku Utara (Putuhena. ketika daerah tersebut telah dikenal dalam catatan para pendatang dan sumber-sumber tertulis etnis lain di Indonesia. — Agus Aris Munandar dijumpai dalam tahun 835 S (913 M) dalam masa pemerintahan Sri Kesari Warmadewa (Goris 1965: 9).

(2) nilai agama. Nilai teori (ilmu 118 .132 seperti itu harus dijadikan acuan kronologis demi untuk memudahkan penulisan dan agar pembicaraan tidak berkembang menjadi tidak terarah. Beberapa nilai yang dijadikan sudut pandang adalah: (1) nilai teori. Vol. 1. Maklum masa itu rasa kebersamaan dari masyarakat manusia yang menghuni suatu permukiman sangat nyata. diagram perkembangan kebudayaan di wilayah Indonesia sebelum masuknya pengaruh asing (baca: India) adalah sebagai berikut: Bagan V: Perkembangan Kebudayaan di Wilayah Indonesia sebelum Masuknya Pengaruh Asing Dalam diagram yang memperlihatkan masa prasejarah dan protosejarah tersebut terlihat nilai kuasa cukup rendah bersebrangan dengan nilai solidaritas yang tinggi. 7. 2009: 109 . Nilai-nilai Penting dalam Kebudayaan Indonesia Sutan Takdir Alisjahbana (1982) pernah mengemukakan beberapa diagram yang berkenaan dengan perkembangan kebudayaan di Indonesia dipandang dari segi nilai-nilai.Jurnal Lektur Keagamaan. Berdasarkan data yang ada. keputusan diambil dengan musyawarah warga. (3) nilai seni. (5) nilai kuasa. No. pemimpin hanya melaksanakannya saja. Semua aspek kebudayaan yang ditelaah dalam suatu historiografi kebudayaan sudah sewajarnya apabila mengikuti kronologi yang dapat dianggap “seragam” sejak masa prasejarah hingga zaman Kemerdekaan. dan (6) nilai solidaritas. (4) nilai ekonomi. Sebab kronologi seperti itu merupakan kerangka besar yang dapat dijadikan patokan untuk penulisan sejarah kebudayaan Indonesia secara garis besar.

Nilai ekonomi pun rendah. yang ada adalah ekonomi barter yang setara. karena itu bentuk-bentuk kesenian awal yang mengandung anasir estetika telah dibuat. Diagram-diagram itu pada dasarnya hendak menunjukkan secara visual bahwa perkembangan kebudayaan di Indonesia berbeda pada tiap periode. Diagram itu berbeda bentuknya ketika diterapkan dalam kebudayaan masa perkembangan dan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. berlabuh di berbagai bandar antara India. bahkan ada beberapa pembatasan berkesenian. Gambarannya sebagai berikut: Bagan VI: Perkembangan Kebudayaan di Wilayah Indonesia pada Masa Kearajaan-Kerajaan Islam Dalam Bagan VI diperlihatkan bahwa nilai seni tidak terlalu berkembang. Asia Tenggara. — Agus Aris Munandar pengetahuan) masih rendah. walaupun bentuk-bentuk awal berkesenian telah dirintis oleh masyarakat manusia. Oleh karena itu tiap periode dalam mempunyai 119 .. Nilai seni belum begitu berkembang. karena manusia masa itu mungkin belum mengerti tentang konsep untung dan rugi. sebab data yang tersedianya pun berbeda pula. sedangkan nilai ekonomi pada masa perkembangan Islam di Nusantara cukup tinggi. Nusantara.. kebudayaan manusia berada dalam tahapan mitos. dan Cina selatan. Banyak niagawan Islam yang berlalu-lalang membawa barang dagangan dalam kapal-kapal niaga mereka. sedangkan nilai religi tinggi sebab masyarakat manusia masa itu kehidupannya masih diliputi oleh suasana religius. Gagasan berestetika sudah barangtentu telah mulai muncul.Peran Penting Pernaskahan.

1. peribahasa dan lainnya. Sebab tidak semua macam data itu tersedia dalam bobot yang sama. yaitu data kebendaan yang lazim disebut artefak. mushalla. sisa istana. dan lain-lain. Tradisi lisan memang dipandang mutunya lebih rendah daripada kedua data lainnya. walaupun demikian tetap perlu diperhatikan mengingat di dalamnya -jika dicermati dengan baik. 2.Jurnal Lektur Keagamaan. 3. teka-teki. misalnya dalam prasasti (piagem) karya-karya sastra. Vol. menara. pastinya akan berbeda-beda dalam setiap masa. Para peneliti hendaknya mampu menggunakan ketiga macam data tersebut sesuai dengan tujuan studi. 7. Artefak secara sederhana dapat diberi batasan sebagai benda hasil karya manusia masa 120 . goa pertapaan. baik sejarah ataupun arkeologi. 2009: 109 . berbagai ornamen dan sebagainya.132 kekhasan dan fokus perhatian yang berbeda-beda apabila hendak dituangkan dalam suatu kajian ilmu masa lalu. Arkeologi Islam Indonesia Sebagai Arkeologi-Sejarah Dalam kajian arkeologi terdapat data utama yang penting. legenda.akan ditemukan data yang dapat menyokong sumber tertulis dan data arkeologis. Contoh data dalam bentuk tradisi lisan adalah dongeng. Tradisi lisan yang masih mungkin mengendap dan merupakan ingatan bersama (collective memory) dalam masyarakat baik di Jawa ataupun di Bali. permainan rakyat. yaitu : 1. No. kolam wudu. dan bangun penafsiran yang diharapkannya. Data yang tersirat dalam berbagai sumber tertulis. Data arkeologis seperti bangunan masjid. dan dalam setiap perkembangan masyarakat yang mengusung kebudayaan sezaman. Misalnya di Cirebon terdapat legenda bahwa atap tumpang masjid Sang Cipta Rasa hanya dua. Wacana Dalam melakukan kajian jenis data ketiga. mitos. atap ketiga (puncak) dahulu hancur karena tersambar oleh tongkat Sunan Gunung Jati. yaitu berita tradisi lisan seringkali diabaikan. Data yang sudah sewajarnya diperhatikan dalam mengkaji arkeologi-religi masa perkembangan Islam di Indonesia dapat dibagi dalam tiga jenis. berita asing.

Jadi pada prinsipnya kajian arkeologisejarah berada dalam periode ketika di suatu bangsa telah mengenal bukti-bukti tertulis. lalu untuk pemahaman lebih lanjut tentang sesuatu artefak. Apabila kajian prasejarah sepenuhnya mempelajari artefak melalui berbagai metode untuk menelaah artefak. Oleh sebab itu. surat-surat kerajaan atau pribadi. yaitu berbagai berita tertulis. dan bentuknya bermacam-macam sesuai dengan keperluan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.. juga memanfaatkan data informasi sumber tertulis berbentuk prasasti. maka kajian arkeologi-sejarah selain bertumpu kepada kajian artefak. Sebagaimana diketahui bahwa ilmu arkeologi terbagi dalam dua ranah besar. peta kuno. naskah-naskah kuno. dan sudah barang tentu masa kolonial dan masa selanjutnya dalam era Republik Indonesia. dipergunakanlah data dari berbagai sumber tertulis sezaman yang mungkin mendukung kajian terhadap artefak. Walaupun telah ada bukti tertulis kajian arkeologi-sejarah tetap mendasarkan data utamanya kepada objekobjek kebendaan (artefak). dinamakan arkeologi sejarah yang berarti kajian arkeologi yang memanfaatkan juga sumber-sumber sejarah.. berita asing dokumen. Kajian arkeologi-sejarah di Indonesia meliputi masa perkembangan agama Hindu-Buddha dan juga masa perkembangan Islam. Bagan VII: Unsur-Unsur Arkeologi Islam 121 . piagem. yaitu Arkeologi-Prasejarah dan Arkeologi-Sejarah (historical archaeology).Peran Penting Pernaskahan. — Agus Aris Munandar lalu. dan lain sebagainya. arsip.

Jurnal Lektur Keagamaan. untuk mengungkapkan pencapaian peradaban yang telah direngkuh oleh masyarakat pada masanya. Hasil seni kriya: ukiran. Artefak bergerak. h. Furniture: meja. rak. c. Mimbar kayu. kentongan dan waditra lainnya. Heraldik: panjí-panji. Tugu peringatan. Dalam kajian arkeologi Islam banyak data yang berupa kebendaan. e. Masjid kuno. Alat transportasi: palangka. Cungkup makam. kursi. Peninggalan khazanah keislaman itu antara lain berupa: 1. d. f. tenun. topeng. wayang. Alun-alun sebagai pusat kota. 7. dipan. konsentris. Sistem perbentengan. batik. Keramik asing ataupun lokal. Monumen terbagi menjadi: a. c. dan benda-benda penanda kebesaran raja/sultan. b. Istana dan bangunan-bangunan di dalamnya.132 Secara prinsipil terdapat beberapa kepurbakalaan masa silam yang dapat dihubungkan dengan periode perkembangan dan kerajaan-kerajaan Islam Nusantara. terdiri dari: a. Makam dan kompleks makam. b. d. 2009: 109 . sketsel. i. c. Bedug. dan menyebar. Kepurbakalaan itulah yang merupakan data kajian utama arkeologi Islam. Hiasan bangunan. kereta. f. 122 . 1. g. 2.Tata Kota & Penataan Istana a. Penataan istana yang linear. Gapura dan pagar keliling. Jalan sebagai acuan kota. dan lain-lain. e. No. Taman dan bangunan air. 3. pahatan stilasi. jadi bukannya data tertulis. h. Menara masjid. Apabila data tertulis yang digarap terlebih dahulu. i. artefaktual merupakan data utama yang penting. perahu. Vol. g. j. Maksurah. Senjata. b. lambang.

4.. istana. gapura. Masjid Sang Cipta Rasa di Cirebon mempunyai keistimewaan sebagai berikut: 1.Peran Penting Pernaskahan. menara. dan selatan).. (c) sejarah dan peranannya dalam proses penyebaran Islam. menara. Kajian secara umum terhadap kepurbakalaan monumental dari masa awal perkembangan Islam dan masa kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia dapat membawa kepada pemahaman akan: 1. — Agus Aris Munandar maka kajian itu bukan lagi arkeologi. Demikianlah beberapa pemahaman umum yang mungkin dihasilkan dalam ranah arkeologi-sejarah. (d) keistimewaannya: antara lain adanya figur bulus (kura-kura) pada dinding belakang mihrab yang berbobot angka tahun 1401 Saka. 123 . dan lain-lain 3. Bentuk arsitektur masjid. Bahan yang digunakan pada bangunan-bangunan tersebut. istana. melainkan sejarah atau filologi. Kelompok pengguna yang memanfaatkan dan mengapresiasi bangunan-bangunan tersebut. salah satu dari keempat soko gurunya merupakan tatal (serpihan kayu yang disatukan). Langgam arsitektur bangunan masjid. apabila melakukan studi terhadap suatu monumen. terdapat pula pemahaman yang lebih khusus lagi. Misalnya kajian terhadap Masjid Demak. Pada dinding penyekat tersebut terdapat sembilan pintu rendah (tiga pintu di sisi utara. 3. tidak sebagai penopang atap. maka sang peneliti harus mampu mengungkapkan kehadiran data arkeologis dalam konteks sejarah kebudayaan Islam di suatu daerah dan pada suatu masa tertentu. maka dapat diketahui tentang (a) bentuk arsitektur. terdapat relief yang menggambarkan sepasang “halilintar” pada daun pintu tengah masjid. Sebagaimana masjid kuno lainnya. Selain pemahaman umum tersebut. terutama dalam hal latar belakang pembangunan monumen dan juga beberapa keistimewaannya. masjid ini mempunyai empat Soko Guru 2. timur. Dalam telah arkeologi. gapura. adanya penggunaan tiang-tiang dengan gaya ukiran Majapahit pada serambi depan masjid. makam dan lainnya 2. (b) bahan. Dinding tembok hanya berfungsi sebagai penyekat antara ruang dalam dan ruang serambi masjid.

3. No. Terdapat beberapa keraton yang dikelilingi tembok benteng (Surasowan di Banten dan Kuto Besak di Palembang) Kajian terhadap pintu gerbang (gapura): (1) dapat diketahui bahwa gapura yang berbentuk Candi Bentar (di Cirebon disebut Lawang Seketeng) selalu terletak di halaman paling depan. Kompleks makam Sunan Gunung Jati di Gunung Sembung. antara lain. Kompleks makam tokoh-tokoh yang berhubungan dengan penyebaran agama Islam (para wali) dan juga pemakaman keluarga raja. 2. yaitu halaman depan. Bangunan-bangunan penting terdapat di halaman paling belakang. 2. yaitu: 1. 2009: 109 . dan belakang. Pada bagian bingkai atas ceruk (ruang) mihrab terdapat ornamen yang merupakan stilasi dari bentuk kala-makara. Kasultanan di Yogjakarta dan Kasunanan di Surakarta).Jurnal Lektur Keagamaan. Adapun kajian terhadap keraton di Jawa dapat diungkap adanya beberapa pengetahuan lain di luar pengetahuan utama. Kompleks makam Sunan Giri di Gresik. 4. adapun gapura beratap (di Bali dinamakan Kori Agung.132 3. 1. tengah. bukit. mislanya bangunan persemayaman raja dan keluarganya dan bangunan induk keraton (Keraton Kasepuhan dan Kanoman di Cirebon. memilih dataran tinggi. Vol. mengarah ke daerah inti istana atau kompleks makam. Kompleks makam Sunan Bayat di Klaten. 4. 4. atau lereng pegunungan sebagai lokasinya. (2) Kedua bentuk gapura tersebut merupakan kelanjutan bentuk-bentuk pintu gerbang yang telah dikenal dalam zaman perkembangan kebudayaan Hindu-Buddha di Jawa. Hal ini dapat diketahui berkat adanya kajian arkeologi Islam terhadap kompleks-kompleks makam yang masih ada hingga sekarang. Kompleks makam yang terletak di lokasi ketinggian antara lain adalah: 1. 124 . Keraton-keraton luar Jawa umumnya berupa bangunan panggung dengan ukuran besar. di Cirebon disebut Lawang Bledeg) terdapat di lingkungan dalam. Semula di bagian depan pintu masjid yang terletak di sisi timur terdapat kolam untuk mengambil air wudlu. Kompleks makam Sunan Drajat di Gunung Muria. Keraton umumnya terbagi ke dalam tiga penataan halaman. 3. 7.

apa lagi diperkuat dengan kepercayaan bahwa tempat tinggi adalah simbol Gunung Mahameru yang dipuncaknya bersemayam para dewa dalam Swarloka. Iyang). Studi terhadap berbagai meriam dari era kerajaan Islam di Nusantara di masa mendatang akan membawa kepada pengetahuan tentang sistem persenjataan berat 125 . oleh karena itu tokoh-tokoh yang telah wafat dimuliakan dalam kompleks makam yang terletak di ketinggian.. Konsep itu terus bertahan ketika agama HinduBuddha berkembang. dan sebagainya Dalam masa perkembangan Islam di Indonesia. Kompleks makam Imogiri di Yogjakarta. pedang. Telaah arkeologi terhadap senjata yang dipergunakan dalam masa perkembangan Islam menghasilkan kepada bentuk-bentuk senjata tajam yang pernah digunakan masyarakat. Konsepsi itu agaknya terus bertahan ketika Islam berkembang di Tanah Jawa. bermata ganda (dwisula). perisai. Kompleks makam Sunan Sendang di Bojonegoro. Secara konsepsi hal ini agaknya dapat dijelaskan bahwa adanya kesinambungan penghormatan kepada tempat-tempat tinggi yang dianggap sebagai tempat keramat. 6. 2. 3. senjata api telah pula digunakan.Peran Penting Pernaskahan. bermata tiga (trisula). Di-Hyang. Penggunaan dalam masyarakat pendukungnya. keris juga dikenal di berbagai etnik lain di Nusantara dan telah banyak buku yang dihasilkan para peneliti dan peminat tentang keris.. namun nama kelompok pengrajinnya. Maka dikenal adanya meriam buatan local seperti meriam Pancawura yang ada di keraton Kasunanan Solo. Selain keris senjata tajam lainnya misalnya tombak bermata tunggal. Tentu saja di Jawa senjata yang paling populer adalah keris. dan meriam Ki Amuk di Banten Lama. Kajian kepada kepurbakalaan yang berupa artefak bergerak akan membawa kepada pemahaman: 1. khususnya meriam. Pembuat artefak tersebut. 4. meriam Si Jagur di Museum Fatahillah. Dalam zaman prasejarah ada penjelasan yang menyatakan bahwa tempat-tempat tinggi adalah lokasi yang layak bagi persemayaman arwah leluhur (Parahyangan. Asal gaya seni artefak tersebut. setidaknya bukan nama diri seniman. Bentuk dan bahan artefak bergerak. golok. — Agus Aris Munandar 5.

baik seni rupa ataupun seni pertunjukan. Keutuhan lima unsur kesenian dalam karya seni keislaman agaknya cukup diperhatikan oleh para penghasil karya seni keislaman di masa silam. No. 2009: 109 . Dalam bagan terlihat gagasan berada di bagian tengah. sehingga ada keterkaitan antara seniman. Demikian pula dalam mengekspresikan gagasan berkeseniannya seniman harus memilih bahan/media apa yang digunakan. 7. jadi tidak ada satu unsurpun yang diabaikan. Bentuk seni kriya dalam masa per126 .132 dari kerajaan-kerajaan itu. terutama dalam sejarah perkembangan Islam di Nusantara. Salah satu bentuk seni rupa yang sederhana namun memerlukan kecermatan adalah seni kriya. jika tidak karya seni tidak mendapat penghargaan dalam masyarakat. misalnya antara seniman dan masyarakat harus berada dalam “satu bahasa dan satu gagasan” apabila hendak mengapresiasi suatu karya seni. Adakah jumlah meriam yang dimiliki menandakan kebesaran dan kejayaan kerajaan tersebut? Dari masa perkembangan Islam di Jawa banyak dihasilkan karya seni. gagasan. 1. Vol. Sebenarnya dalam kesenian dapat dinyatakan sebenarnya terdapat lima unsur yang saling berkaitan sebagai berikut: Bagan VIII: Unsur-Unsur Kesenian Kelima unsur itu saling berkaitan dan mengisi dalam menghasilkan suatu karya seni. media dan hasil karya seni. karena memang gagasan itu yang mendasari keempat unsur lainnya.Jurnal Lektur Keagamaan.

dan penjara. Sebagaimana telah diketahui bahwa bentuk wayang kulit sekarang ini adalah gubahan Sunan Kali Jaga. Penataan kota-kota Islam di Jawa agaknya mempunyai pola yang telah baku. Romli 2008: 19-20). batik. Bahkan kota-kota kabupaten di Jawa dalam masa kolonial pun banyak yang tetap mempertahankan pola penataan pusat kota demikian. Taman Sunyaragi.. Mengenai tata kota dan penataan kompleks istana terdapat kajian tersendiri dalam bidang arkeologi Islam. Dari lingkup kesenian Islam masa Kesultanan Cirebon dikenal adanya bentuk-bentuk pahatan kayu yang mengambil figur dewa-dewa Hindu atau tokoh wayang yang telah sangat distilasi dengan gabungan bentuk mega mendung dan juga bentuk-bentuk wadasan (karang laut). figur wayang kulit gaya lama dari era Majapahit telah “dirombak” dan distilirisasi untuk disesuaikan dengan kaidah kesenian Islam. Pola seperti ini terus diikuti oleh kota-kota kerajaan lainnya seperti Cirebon. Prototipe penataan kota Islam di Jawa itu sangat mungkin terjadi di kota Demak kuno (Adrisijanti M. di sisi selatannya terdapat bangunan kedaton atau istana. Seni kriya lainnya yang sering menjadi data kajian arkeologi Islam adalah pahatan kayu baik dalam bentuk relief atau ornamen lainnya. dapat dijumpai sebagai komponen hiasan keraton. — Agus Aris Munandar kembangan Islam banyak yang bertahan hingga sekarang. lukisan kaca.Peran Penting Pernaskahan. dan ceritanya pun telah direkaulang untuk keperluan Islamisasi. dan Jogjakarta. kemudian bangunan bagian tengah kompleks 127 . dimulai dari sisi paling utara merupakan bangunan-bangunan penyongsong tamu. Bentuk hiasan khas Cirebon yang merupakan gabungan antara motif awan mendung dan batu-batu karang tersebut dikenal meluas dalam bermacam karya seni rupa. Bangunan dalam kompleks istana umumnya digambarkan linear. dan di tepi bagian timur alun-alun berdirilah bangunan-bangunan peradilan seperti kejaksan. bagian utara terdapat pasar tempat orang berniaga. Wayang kulit itu lebih mirip kepada simbol-simbol yang tidak sesuai dengan figur manusia sebenarnya.. Dalam penataan itu pusat kota adalah tanah lapang (alun-alun). sisi barat alun-alun berdiri masjid agung. Banten. kereta milik sultan. bahkan sebagai iluminasi pada naskah-naskah Cirebon. Surakarta. contoh yang baik adalah figur-figur wayang kulit dan wayang golek Cepak gaya Cirebonan.

No. (j) dan lainnya. 3. (e) dan berbagai bahasa daerah lainnya. Penyusunan kisah sejarah tradisional dengan berbagai sebutannya (Babad. (b) Jawa. dan Pontianak. sultan. 4. (h) obat-obatan. (e) kisah binatang (f) kisah penglipur lara/jenaka (g) undang-undang. (b) Sunda. Sambas. Isi yang dikandung tentang (a) ajaran agama Islam. Banten Lama. Dalam hal khazanah naskah Islam di Nusantara. Peranan data dari sumber tertulis dalam kajian arkeologi Islam dapat dijelaskan sebagai berikut: 128 . Berikut data penting tentang manuskrip masa Islam: Aksara yang digunakan antara lain: (a) Arab dan keturunannya. Sebagai upaya untuk menyebarkan ajaran keagamaan Islam. bentuk dan ragamnya sangat beraneka. Pengungkapan ekspresi estetika para penggubahnya. (c) Melayu. (d) Bugis. dan kaum kerabatnya. dan paling dalam adalah bangunan-bangunan utama dan tempat tinggal raja dan kerabatnya sehari-hari. Sajarah). 2. misalnya di Kutai Kertanegara. Vol. begitupun juga mengenai isinya. (c) babad/sejarah tradisional (d) kisah wayang.Jurnal Lektur Keagamaan. (c) Lampung. Semua bangunan keraton dilingkungi tembok benteng dan semuanya terintegrasi dalam suatu area kedaton. Bentuknya dalam prosa ataupun puisi dengan aturan prosodi tertentu. 1. (b) tarikh nabi-nabi dan sahabatnya. Pola penataan bangunan keraton memusat misalnya terdapat di kompleks keraton Surasowan dan keraton Kaibon. Pola seperti ini terlihat di kompleks keraton Kasepuhan dan Kanoman Cirebon. Memberikan legitimasi tentang kuasa yang dimiliki oleh para raja. Mengingat dan mengakumulasi pengetahuan tertentu yang telah diketahui oleh penggubah atau masyarakat sekitarnya. Legenda. (d) Bugis. (i) uraian tentang mistik dan tasawuf.132 yang merupakan pendukung aktivitas istana. Bahasa juga beraneka. Adapun pola penataan menyebar atau menghadap ke sungai terjadi pada istana-istana kerajaan Islam yang terdapat di luar Jawa. Hikayat. (e) dan lainnya. antara lain (a) Jawa. Tambo. 7. 2009: 109 . 5. keraton Surakarta dan Yogjakarta dan juga di kompleks Keraton Sumenep di Madura. Tujuan penulisan naskah-naskah Nusantara itu antara lain untuk: 1.

Peran Penting Pernaskahan. — Agus Aris Munandar (a) Pendukung kajian terhadap data artefaktual Dalam hal ini data dari sumber tertulis tersebut dijadikan bahan untuk membantu “menjelaskan” artefak dari masa perkembangan Islam. karena bagian-bagian yang berdasarkan telaah arkeologi masih gelap. (c) Data dari sumber tertulis dapat menjadi dasar penelitian dan kerangka acuan kajian arkeologi Islam Uraian dari sumber tertulis ada yang dapat dijadikan pegangan bagi kajian arkeologi di lapangan. Peranan data dari sumber tertulis menjadi penting dalam tahap historiografi. sebab menurut berita Cina dalam masa kejayaan Majapahit pun telah banyak orang-orang Islam yang bermukim dan berniaga di kota itu... maka pemahaman pun terbatas. Pada akhirnya dapat membuka interpretasi baru dan 129 . (b) Memperluas pemahaman tentang kedudukan dan peranan artefak dalam masyarakat sezaman Merupakan suatu keniscayaan yang terjadi. (d) Memperkaya interpretasi untuk dapat mengembangkan historiografi Kajian arkeologi-sejarah atau pun sejarah diakhiri dengan tahap historiografi. tahapan ini sudah tentu memadukan data dari berbagai sumber. jika kajian hanya menyandarkan diri kepada data arkeologi. dapat dibantu diterangi lewat kajian dari sumber tertulis. namun kajian arkeologi hingga sekarang masih belum dapat membuktikan di mana lokasi tepatnya kedaton tersebut. menurut uraian penduduk adalah makam putri Champa. Dalam naskah Babad Tanah Jawi terdapat penjelasan bahwa salah seorang Raja Majapahit masa akhir telah menikah dengan putri Champa yang memeluk Islam. kecuali masjid agungnya yang masih berdiri megah hingga kini. Temuan dari naskah dapat juga menjadi kerangka acuan yang harus dibuktikan oleh para arkeolog. Contohnya dalam kajian arkeologi Islam ditemukan makam Islam kuno. Contoh: dapat dipahami bahwa di situs Trowulan peninggalan Majapahit terdapat kompleks pemakaman Islam Troloyo. Dengan menelisik sumber-sumber tertulis maka diperoleh lagi pemahaman yang lebih luas tentang sesuatu artefak. Misalnya dari Babad Demak diuraikan bahwa di kota Kerajaan Demak terdapat pula kedaton tempat bersemayamnya para penguasa.

1. Hal ini sebenarnya merupakan permasalahan lama.132 memperluas narasi historiografi untuk dapat dijadikan bahan diskusi lebih lanjut. Misalnya kajian data arkeologi terhadap monumen Gunongan yang dibangun dalam masa Kesultanan Aceh telah cukup memadai. misalnya terhadap masjid-masjid kuno. tetapi banyak temuan baru yang terus bermunculan hingga kini dan menunggu untuk dikaji. Dalam pada itu data arkeologi Islam yang terdahulu pun banyak yang masih belum dikaji secara tuntas. Kedua prinsip itu jelas harus berjalan berdampingan dengan aspek pemanfaat dan aktualisasi zaman. Kecenderungan meluas justru terjadi “pemugaran” terhadap masjid-masjid tua oleh masyarakat penggunanya sendiri. dan (b) living monument. istana. Masjid kuno. 7. Dalam melakukan perbaikan atau pemugaran tersebut kerapkali kaidah keilmuan (ilmu arkeologi) diabaikan. No. Hal yang perlu dikemukakan kepada masyarakat pendukung living monument adalah prinsip pelestarian dan kepentingan ilmu pengetahuan yang juga harus dijaga. Epilog Kajian arkeologi Islam di Nusantara sudah pasti dapat dikembangkan lagi. bahkan pembangunan baru. oleh karena itu lumrah saja apabila mereka melakukan perbaikan-perbaikan. para arkeolog telah membagi dua macam munumen. dan gapura. istana. makam. 2009: 109 . yaitu (a) dead monument. Jadi apabila telah terjadi “pemugaran” terhadap suatu masjid kuno oleh masyarakat dengan mengabaikan 130 . Dewasa ini terdapat kecenderungan masyarakat untuk memperbaiki monumen-monumen kuno Islam yang dipandang sudah lapuk atau rusak. penambahan.Jurnal Lektur Keagamaan. dan monumen lainnya dari masa perkembangan Islam masih dipergunakan dan dirawat oleh para pendukungnya. oleh karena itu hasilnya adalah bangunan baru sama sekali tanpa menyikan unsurunsur kunonya. Akan tetapi kajian terhadap peranan dan fungsi monumen tersebut dalam masanya masih dapat diperbincangkan lagi. mungkin terdapat makna lain yang mendalam dan bukan sekedar bangunan untuk melengkapi Taman Raja. atau perlu dilakukan kajian ulang atau interpretasi baru. makam. memang para peneliti Belanda telah merintis kajian tersebut sejak awal abad ke-20 M. bahkan telah dipugar secara baik. Vol.

Udayana University. Langkah-langkah di masa mendatang untuk memajukan kajian arkeologi Islam dan menjaga data khazanah artefak serta manuskrip keislaman lainnya. Melford E. Halaman 85—126. Putuhena.2. Jilid VIII. tidak hanya harus dilakukan oleh pemerintah dan pihak-pihak terkait. Jakarta: Dian Rakyat. dalam Majalah Budaya Bende Vol.. “Religion: Problems of Definition and Explanation”. Sejarah Teori Antropologi I. 131 . 1980. Romli.. padahal dunia telah mengakui bahwa Indonesia adalah negara Islam dengan penduduk terbesar di dunia. 1965.Peran Penting Pernaskahan.. Metodologi Sejarah. 1994.4 No. mungkin hal itu bukan akibat kesalahan masyarakat semata. Jika saja hal itu terjadi. “Sejarah Agama Islam di Ternate”. 1980. dalam Majalah Ilmu-Ilmu Sastra Indonesia (MISI). Antropological Approaches to the Study of Religion. Perhatian dan apresiasi terhadap pengembangan arkeologi Islam itu harus juga ditularkan kepada warga masyarakat oleh siapapun yang berminat dalam arkeologi Islam. dalam Michael Bunton (Penyunting). Halaman 18—21. Spiro. No. Jakarta: Sekar Budaya Nusantara & FIB UI. 2008. Jakarta: Bhratara. London: Tavistock Publications. Kuntowijoyo.[] Daftar Pustaka Adrisijanti M. “Puncak-puncak Prestasi Kesultanan Demak dalam Bidang Budaya”. maka bangsa Indonesia telah melupakan jatidiri sejarah keislaman dan bukti-bukti kehadiran agama Islam pada awalnya. Alisjahbana. 3: 263—76. Maret. Takdir. R. Ancient History of Bali. 1982. Goris. — Agus Aris Munandar prinsip pelestarian dan ilmu pengetahuan. 1977. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. Yogjakarta: Tiara Wacana. Desember. Koentjaraningrat. Shaleh A. Sejarah Kebudayaan Indonesia: Dilihat dari Segi Nilai-nilai. M. S. sehingga bukti-bukti masa awal perkembangan Islam di wilayah Nusantara tidak terkikis habis oleh pembangunan dan modernisasi. hal itu terjadi karena ketidaktahuan masyarakat tentang studi arkeologi Islam. Denpasar: Faculty of Letters.

Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. 1986. 2009: 109 . Uka. Vol. 1. 3. No. 132 . Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No.132 Tjandrasasmita. Sepintas Mengenai Peninggalan Kepurbakalaan Islam di Pesisir Utara Jawa. 7.Jurnal Lektur Keagamaan.

some researches that have been conducted on Islam in Indonesia will be presented too. palaces. situs. Bisides that. mesjid kuno. the buildings of the mosque. This archeological study tries to dismantle the history of the past humankind by using material culture. the building of palaces. porcelains and so on. efigrafi. In addition to that. material culture. Some researches that have ever been conducted are dealing with Islamic epigraphy such as ancient gravestones. artefacts such as the coins. nisan. Depok This article explains about how archeology has its own role in the study of Islam in Indonesia. Sebagai ilmu. The material culture this writing means are the gravestones. Selain itu. This article also explains the aspects that become the object of the study of archeology. terlebih dahulu akan dijelaskan apa yang menjadi perhatian arkeologi dan apa yang sebenarnya dikaji dalam penelitian-penelitian arkeologi. keraton (also palace) and ancient mosques as well as Islamic sites such as the Old Banten (Banten Lama) and Lobu Tua. Sebelum lebih jauh menyampaikan apa peran arkeologi dalam kajian Islam di Nusantara. keraton Pendahuluan Tujuan dari tulisan ini adalah menjelaskan bagaimana peran arkeologi dalam kajian Islam di Nusantara dan hal-hal apa saja yang menjadi kajian arkeologi. Kata kunci: Arkeologi.Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara Irmawati M-Johan Universitas Indonesia. ornamen. some archeologists try to develop the study of Islamic sites as the branch or archeolgy through excavation. akan dikemukakan pula berbagai penelitian yang telah dilakukan selama ini yang berkait dengan Islam di Nusantara. arkeologi merupakan ilmu yang mempelajari manusia dan masyarakat masa lalu melalui tinggalan budaya materi 133 .

2003: 456-552). Untuk itu kita dapat melihat selintas kajian-kajian apa yang telah dilakukan terhadap tinggalan budaya Islam. tembikar dan lain-lain. Epigrafi Kajian tentang nisan sudah sejak awal telah dilakukan terutama para ahli kebangsaaan Belanda. arkeologi mencoba menganalisa data yang diperoleh dari penelitiannya untuk merekonstruksi berbagai hal. Selain itu arkeologi juga merupakan bagian dari science karena menggunakan kaidah-kaidah ilmu pengetahuan dan metode yang scientific dalam menganalisis dari penggunaan carbon dating hingga studi tentang residu makanan (Renfrew & Bahn. 2003: 12-3). bangunan masjid. Colin Renfrew dan Paul Bahn (2003) menyebut arkeologi sebagai bentuk past-tense dari antropologi budaya yang juga mempelajari masyarakat dan kebudayaan manusia. Dalam usahanya memahami kehidupan manusia masa lalu. No. Setelah itu. sistem sosial dan sistem simbol dan ideologi (Sharer & Ashmore. antara lain nisan-kubur. 1912: 536-548). Selain itu. 1. Vol. Tjandrasasmita. alat-alat dan artefak lainnya. artefak seperti. Karena mempelajari masa lalu maka arkeologi juga merupakan bagian dari sejarah. 1977: 108). Pendapatnya ditegaskan lagi 134 . yaitu sistem teknologi dan lingkungan.146 (material culture) seperti bangunan-bangunan. yaitu sejarah manusia secara luas yang dimulai sejak tiga juta tahun yang lalu. mata uang. Menurut Sharer & Ashmore (2003) ada tiga hal yang direkonstruksi oleh arkeologi. ada pula yang mengembangkan kajian situs Islam sebagai kajian arkeologi melalui ekskavasi. 2009: 133 . Nisan Kubur a. 1910: 596-600. bangunan istana. Material Culture Ada beberapa jenis material culture dari masa Islam yang menjadi perhatian para arkeolog Indonesia.Di mulai pada tahun 1910 yang dilakukan oleh Van Ronkel yang membaca nisan kubur Malik Ibrahim di Gresik yang mencantumkan angka tahun wafatnya yaitu 1511 M (Ronkel. 7. Moquette pada tahun 1912 mengkaji nisan kubur di Samudra Pasai dan nisan kubur Malik Ibrahim di Gresik yang dianggap memiliki persamaan dalam cara menuliskan huruf dan kalimat-kalimat dengan nisan Umar bin Ahmad al-Kazaruni di Cambay (Moquette. 1.Jurnal Lektur Keagamaan.

Pembacaan nisan-nisan yang terdapat di Samudra Pasai juga dilakukan oleh J. Jawa Timur. Pada tahun 1919 Moquette menyampaikan hasil penelitiannya tentang makam tertua di Jawa yaitu Fatimah binti Maimun bin Hibatullah yang wafat 495 H (1102 M) berhuruf Kufi (Moquette. Damais tentang nisan-nisan di Troloyo. Sumbangan penelitian Moquette yang penting adalah mengidentifikasikan bahwa Sultan Malik As-saleh adalah Sultan pertama di Samudra Pasai yang dikaitkan dengan Sejarah Melayu dan Hikayat Raja-Raja Pasai (Moquette. 1977: 111). dan lain-lain yang dikaitkan dengan sumber tertulis Kitab Bustanus-Salatin dan Tajus-Salatin (Moquette. Ia membaca ulang hasil pembacaan para ahli terdahulu N. Tjandrasasmita. 1921: 391-399. Sultan Ali Ri’ayat Syah (987 H/1579 M).Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan dalam penelitiannya pada tahun 1920 dan mengatakan bahwa nisannisan di Samudra Pasai dan Gersik berasal dari Cambay (Gujarat ) (Moquette. 1913.P Moqutte pada tahun 1913 yaitu pada nisan Sultan Malik as-Salih yang mencantumkan angka tahun wafatnya pada tahun 696 H (1297 M ) dan nisan Sultan Malik az-Zahir putra Sultan Malik as-Salih yang wafat pada tahun 726 H (1326 M). Penelitian pada tahun 1955 selanjutnya di lakukan L. 1977: 111). Paul Ravaisse (1925) telah melakukan kajian tentang makam Malik Ibrahim dengan melakukan pembacaan inskripsi yang terdapat pada nisan serta mencoba untuk “membaca” beberapa ornament lampu yang terdapat pada nisan tersebut dan mengatakannya bahwa ornament ini adalah symbol dari surat An-Nur (cahaya) (Ravaisse. 1914: 73. 1925: 668-703). Keberadaan makam-makam ini membuktikan bahwa pada masa Majapahit yaitu pada masa kejayaan Hayam Wuruk di Jawa sudah ada orang-orang Islam yang dimakamkan dalam lingkungan yang dekat dengan 135 . Sultan Ala’udin al-Khahar (979 H/1571 M).80). Menurut hasil penelitiannya angka tahun yang tertua adalah 1296 S (1376 M) dan yang angka tahun termuda adalah 1533 S (1611 M).P Moquette yang lain adalah penelitiannya tahun 1914 ke Kuta-Raja Aceh. 1920: 44-47.C. 1977: 108). Tjandrasasmita. dan menemukan makam raja-raja yang pernah memerintah Aceh seperti Sultan Ali Mughayat Syah yang wafat 936 H (1530 M).J Krom dan memberikan penafsiran baru terhadap nisan-nisan yang ada. Tjandrasasmita. Sumbangan J.

Keberadaan makam ini merupakan bukti bahwa di Barus telah ada pemukiman Islam (Ambary. No.J. 7. Lebih lanjut Damais mengatakan bahwa mengingat stratifikasi sosial pada masyarakat Jawa Kuno yang sangat hiarakis maka bukanlah tidak mungkin bahwa mereka adalah keluarga istana. Hal ini merupakan data penting bagi perkembangan sejarah Islam di Indonesia (Ambary. Penggunaan huruf Kufi hanya terdapat pada nisan-nisan yang diimport dari luar Nusantara. Peneliti terdahulu antara lain N. 2009: 133 . Vol. Krom yang telah meneliti nisan Trowulan enggan mengakui bahwa sudah ada orang-orang Islam yang berhak dimakamkan dekat dengan lingkungan istana pada akhir abad ke 13 Saka di Jawa.129). Menurut Damais ketika mengunjungi makam Putri Cempa di Trowulan ia menemukan dua makam lain yang berprasasti.146 keraton. catatan kaki no. Nisan ini merupakan data penting bahwa di Leran pada abad ke-11 sudah terdapat masyarakat muslim yang kemungkinan merupakan masyarakat pedagang yang diterima oleh masyarakat 136 . 1998: 57). 1. Huruf yang lebih banyak dipakai di Nusantara adalah gaya sulus atau gaya naskh (Ambary. Nisan Fatimah binti Maimun bin Hibatullah yang ditulis dalam huruf Kufi ornamental yang bagian ujungnya dibentuk ikal di Leran telah dibaca oleh Paul Ravaisse memiliki penanggalan 475 H (1082 M). 1998: 174). 1995: 223-289. satu di antaranya dapat langsung dibaca angka tahunnya yang berangka tahun 1290 S (1368 M). 1988: 174) Penelitian di Barus telah memperoleh data penting yaitu makam dari Tuhar Amisuri yang wafat pada 602 H (1203 M) memperlihatkan bahwa makam ini lebih tua dari makam Sultan Malik asSaleh (1297 M). Keengganan Krom menurut Damais mungkin juga karena Nagarakartagama tidak berbicara tentang agama baru tersebut.Jurnal Lektur Keagamaan. terutama dari Gujarat sebagaimana yang terdapat pada nisan Malik Ibrahim dan Fatimah binti Maimun. Untuk itu Damais mengatakan bahwa harus dilakukan penelitian yang sistematis tentang makam-makam kuno yang ada di Trowulan agar dapat diperoleh data baru tentang penyebaran agama Islam di Jawa Timur (Damais. Berdasarkan penelitian epigrafi pada nisan-nisan kubur dapat diketahui bahwa Sultan Malik as-Saleh adalah Sultan pertama di Samudra Pasai dan atas dasar angka tahun pula maka dapat dikatakan bahwa Samudra Pasai adalah kerajaan Islam pertama.

Tipe Aceh (bucrane) misalnya selain terdapat di Pasai dan Aceh ditemukan juga di situs kubur di Barus dan beberapa situs lain di Sumatra Barat hingga Lampung. Sulawesi Selatan. Medalion Sinar Majapahit mirip dengan halo pada patung-patung yang dianggap tokoh suci pada agama Kristen. India. Menurut Damais. Banten dan Yakarta. Bentuk lampu seperti itu adalah lampu-lampu dari dunia Islam di Timur Tengah. 1998: 239-241). Hasan Muarif Ambary (1984) dalam disertasinya telah melakukan penelitian tentang bentuk-bentuk nisan di Nusantara dan menggolongkannya menjadi 4 tipe yaitu tipe Demak-Troloyo. Persia. Dengan demikian hal ini dapat memperkuat bahwa nisan-nisan yang memiliki ornament ini memang bukan berasal dari Nusantara (Marwoto. tipe Aceh. b. Setelah abad ke 17. Naina Hisamuddin di Aceh. Berdasarkan pendapat Paul Ravaisse tentang nisan Leran dari Fatimah binti Maimun bahwa ornamen lampu yang tergantung di dalam mihrab adalah simbol dari Surah An-Nur. maka dilakukan penelitian bahwa nisan-nisan impor seperti Malik Ibrahim. 68: 301). cat. bentuk nisan Aceh ditemukan di Kalimantan Selatan. Jawa Timur (terutama pantai utara). nisan papan Tinggi di Barus hampir semua memiliki ornamen ini. Perkembangannya dimulai dari bentuk bucrane pada abad 16-17 M. 1995: 242. Di Semenanjung Malaysia. Pada nisan-nisan di Troloyo telah dikaji pula ornamen medalion sinar Majapahit yang disinggung pertama kali oleh Knebel yag disebutnya sebagai Cap Matahari. Bintan. lalu berkembang bentuk persegí panjang dan silindrik pada fase ke dua abad 17M-19M (Ambary. Bentuk Nisan dan Ornamen Studi tentang nisan tidak hanya dilakukan berdasarkan unsur tulisan saja.Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan setempat yang berada di bawah kerajaan Hindu-Buddha sebelum Kadiri (Tjandrasasmita.. kaki no. tetapi unsur bentuk dan juga ornamennya. Di dalam peninggalan budaya materi di Nusantara motif atau jenis lampu yang tergantung dalam mihrab tidak pernah dikenal. 1993: 278).243. tipe Bugis Macasar dan tipe Ternate. Yang menarik bahwa motif surya Majapahit ini ternyata 137 . Atas dasar tipe –tipe tersebut ditelusuri persebarannya di Nusantara dan Asia Tenggara. Lingkaran cahaya ini di Jawa dan Bali melingkari seluruh tubuh tokoh atau benda yang dianggap memiliki sifat supernatural (Damais. 1996: 1-8 ).

Menara di masjid Kudus bukan menara asalnya melainkan bagunan dari jaman Hindu yang digunakan kembali sebagai tempat kulkul. No. Kalimantan Timur. Brunai. G. Jasinga. Selain itu ia melakukan penelitian pola-pola ornamennya dan dibandingkan dengan ornamen di candi-candi (Steinmann 1934: 89-97. Tjandrasasmita.E Jasper pada tahun 1922 yang mengkhususkan pada penelitian seni ukir dan seni bangunan. 7. Troloyo. Blora. Steinmann pada tahun 1934 melakukan penelitian ornamen yang terdapat pada masjid Mantingan dan makam Ratu Kalinyamat. penelitian tentang jenis tanaman sangat penting untuk mengetahui keragaman tumbuhan yang ada pada masa itu. 1. 2009: 133 . Sumatera Barat. Tentang bangunan masjid kuno ia menyampaikan bahwa bentuknya mengikuti bentuk arsitektur lokal dengan beberapa ciri 138 .Jurnal Lektur Keagamaan. Berdasarkan penelitianya seni ukir dan seni bangunan di Kudus merupakan seni bangunan Jawa-Hindu Majapahit (Jasper 1922: 3-30. Palembang. dan telah menghasilkan sembilan buah skripsi Program Studi Arkeologi S1. 1977: 112).146 penggunaannya terus berlanjut pada masa-masa selanjutnya sebagaimana kita temukan pada nisan-nisan di sepanjang pantai utara Jawa. Cirebon. 2. Tjandrasasmita 1977: 111). Samudra Pasai. Tjandrasasmita 1977: 115).J Krom yaitu tentang menara Kudus yang diperkirakan berasal dari abad ke 16M dan dianggap merupakan gaya bangunan peralihan dari gaya bangunan Majapahit yang mengingatkan pada bangunan candi (Krom 1920: 294-295. Penelitian dalam bentuk skripsi tentang bentuk-bentuk nisan dan ornamen telah dilakukan di berbagai situs seperti Jakarta. Vol. Masjid Kajian tentang masjid kuno di Indonesia khususnya di Jawa mulai dilakukan pada tahun 1920. Setelah itu penelitian di Kudus di lanjutkan oleh J. Menurutnya. Penelitian tentang menara dan masjid kuno di Indonesia dilakukan oleh Dr. sampai ke Madura bahkan saat ini Muhammadiah juga menggunakan lambang surya Majapahit.F Pijper pada tahun 1947 dan Pijper menyampaikan bahwa masjid kuno di Indonesia pada umumnya tidak memiliki menara. tesis lima buah dan satu buah disertasi. oleh N.

atapnya bertingkat-tingkat (Pijper. Banyumas.J de Graaf yang mengatakan bahwa masjid kuno di Jawa mendapat pengaruh bentuk masjid dari Sumatera yaitu masjid Taluk di Sumatera Barat yang merupakan prototipo masjid Malabar (Graaf. Ornamen pada bagian atas mimbar 139 . Manonjaya. Pada perkembangan selanjutnya studi tentang masjid kuno terus dilakukan baik dalam bentuk paper ataupun skripsi kurang lebih berjumlah 23 buah di Progam studi Arkeologi UI yang mencakup masjid kuno di Palembang. Pendapat Stutterheim disangkal oleh Prof Sutjipto Wiryosuparto. 1947-48: 289). Atas dasar penelitian terhadap bangunan masjid kuno di Indonesia Maka dapat diketahui pola-pola bangunan seperti denah masjid. Penelitian di Aceh dilakukan oleh J Kreemer di Masjid Raya di Kutaraja yang menurut penelitiannya bahwa Masjid Raya itu asalnya bernama masjid Bait ar-Rahman yang didirikan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636M). 1947: 274-283). D. Sumenep. Tjandrasasmita 1977:112). arah hadap dan pola keletakan untuk masjid Istana berada di sebelah barat alun-alun. Taluk. Jakarta. Tentang asal usul bangunan masjid kuno telah dibahas oleh beberapa ahli seperti H.R. di sisi kanan mihrab terdapat mimbar yang umumnya berbentuk seperti kursi dan memiliki anak tangga.Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan seperti denah segi empat dan pejal. Banten. jadi berbeda dan yang sama hanya pada bentuk atap. W. Sutjipto lalu mengajukan bangunan mandapa atau pendapa yang menjadi asal mula bentuk masjid kuno (Wiryosuparto 1961-62:7-8). Pada sisi barat laut terdapat mihrab yang umumnya menjadi tempat yang paling raya ornamennya. bentuk denah masjid Taluk adalah segi empat dan dikelilingi air sedangkan masjid Malabar denahnya persegipanjang tidak dikelilingi air. Selanjutnya jika bagunan tempat menyambung ayam sebagai bangunan yang semiprofan tidak mungkin dijadikan dasar pembuatan masjid dan yang lainnya adalah tidak memiliki loteng.F Stutterheim mengajukan pendapatnya bahwa masjid kuno di Indonesia mendapat pengaruh dari bangunan tempat menyambung ayam di Bali (Stutterheim 1935: 135-140). Masjid ini dibangun dengan bentuk yang baru pada tanggal 9 Oktober 1879 yang dibuat oleh seorang arsitek Belanda bernama Bruins (Kreemer 1920-21: 69-87. Padang.dan Medan. Cirebon.

140 . Penelitian mengenai ornamen masjid memperlihatkan bahwa masih banyak digunakan motif-motif yang berasal dari masa sebelum Islam seperti kala makara. Demikian pula dengan keratonkeraton dari abad ke 18 seperti Yogyakarta dan Surakarta di arahkan ke utara. Atap masjid merupakan atap tumpang yang bertingkat-tingkat dalam jumlah yang ganjil. sulur-suluran. 1. Keraton Samudera Pasai besar kemungkinan menghadap ke utara yaitu menghadap ke Selat Malaka. Ornamen-ornamen makhluk hidup yang selama ini dianggap tidak boleh dilakukan tidak sepenuhnya dihindari sebagaimana terdapat pada Masjid Trusmi di Cirebon yang mengambarkan berbagai bentuk binatang seperti binatang anjing. Pada masjid-masjid tertentu selain ada tempat bedug juga terdapat makam-makam raja atau tokoh-tokoh penting seperti Masjid Demak dan Masjid Banten. 3. seperti Keraton Kasepuhan dan Kanoman di Cirebon. ular. antefiks dan binatang yang distilir seperti di masjid Mantingan.146 biasanya motif kala terkadang dengan makara. Keraton Banda Aceh dari masa Sultan Iskandar Muda abad ke 17 M. Ornamen pada masjid-masjid di luar Jawa memperlihatkan bahwa ornamen banyak menggunakan motif-motif lokal sehingga dapat dilakukan studi yang mendalam tentang motif-motif lokal dari seluruh masjid Indonesia. Bentuk bangunan masjid yang telah mengikuti gaya bangunan Timur Tengah dengan kubah di tengahnya adalah masjid-masjid yang kemudian dibanguan oleh Belanda seperti masjid Raya Aceh dan Masjid Agung Medan. Vol.Jurnal Lektur Keagamaan. Motif Interlace ini bila kita amati menyebar sampai ke Madura terutama pada makammakam kuno (Marwoto 2003:152-312). kambing pada soko guru dan Masjid Demak dengan tempelan porselin yang memiliki berbagai motif binatang seperti anjing dan burung dan kura-kura. Keraton Keraton atau istana merupakan pusat kota dari sebuah kerajaan. 2009: 133 . 7. Tata letak keraton-keraton Islam di Jawa pada umumnya mengarah ke utara. Keraton Surosowan di Banten. No. Selain penggunaan motifmotif dari masa sebelum Islam dan berbagai motif binatang ternyata ditemukan pula penggunaan motif-motif Islam seperti Interlace atau yang dikenal dengan Arabesque terdapat di Masjid Sang Ciptarasa Cirebon) dan Masjid Mantingan.

Situs Karang Antu. 2007: 9). Banten. Situs Kadiri. Hasil penelitian 141 . Samudra Pasai. Maimun dan Sumenep.Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan berdasarkan berita asing diarahkan ke barat Laut. Di Keraton Aceh. Banten Lama Penelitian situs-situs Islam telah dilakukan di beberapa tempat seperti: Kawasan Banten Lama. bagian-bagian keraton dan fungsinya dan ornamen yang digunakan di keraton. meliputi Keraton Kasepuhan. Banten lama berdasarkan sumber sejarah adalah pusat kota dan bandar utama Kerajaan Banten yang berkembang sejak abad ke 16 hingga abad ke 19 M. Kota Banten tumbuh sebagai pusat dagang dengan aneka ragam komoditas perdagangan yang didatangkan dari berbagai wilayah dan diperdagangkan di Banten. jadi hampir ke utara (Poesponegoro 1984:219). 4. Penelitian tentang makna ruang pada situs keraton Kasepuhan yang melihat antara penempatan ruang bagi yang hidup dan yang mati memperlihatkan bahwa Cirebon memisahkan dengan tegas ruang antara yang hidup (di Keraton) dan yang mati (di Gunung Jati). Makasar dan Mataram (lihat Untoro. Situs-Situs Islam a. Penelitian tentang Keraton dalam bentuk skripsi di program studi S1 Arkeologi ada 11 buah. Banten juga berperan sebagai tempat perdagangan antar bangsa. Situs Pabean. Kompleks bangunan keraton pada umumnya memiliki tembok keliling yang memisahkan keraton dari bangunan lainnya. Yogyakarta. Situs Kraton Kaibon. Situs Jembatan Rante. Mataram dan Samboapu sebagaimana diberitakan oleh sumber tulis asing susunan halaman untuk sampai ke bagian “dalem” adalah tiga yang mengingatkan akan bangunan halaman candi dan pura di Bali (Poesponegoro. termasuk di dalamnya situs Kraton Surosowan. 1984: 221). 2007: 238-246). Untuk itu Sartono Kartodirdjo mengkategorikan Banten sebagai emporium seperti juga Aceh. Selain itu juga memperlihatkan pembagian ruang antara yang profan dan yang sakral (Johan. Situs Pamarican. Bagian yang merupakan tempat tinggal raja biasa disebut “dalem”. Kanoman. dan lain-lain. Berdasarkan penelitian tentang keraton maka dapat diketahui pola tata letak keraton. Cirebon.

hijau tua. Keadaan keraton Surosowan dan Kaibon yang telah dipugar sekarang terbengkalai. Kelompok ini Sangat berperan aktif di wilayah Teluk Persia. Aden. Selain temuan tembikar ditemukan pula artefak kaca yang kebanyakan dibuat dengan tehnik tiup. sebagian di udara terbuka sebagian dalam cetakan. kuning pucat dan biru pucat. Bukan merupakan kaca yang berkwalitas bagus tetapi lebih merupakan barang sehari-hari. Menara Pacinan (Ambary 1998:124). Keberadaan tembikar Sgraffiato di Lobu Tua membuktikan bahwa Labo Tua termasuk dalam jaringan perdagangan dari Teluk Persia (Perret. mata uang cina. Di duga bahwa beberapa temuan menunjukan dua daerah asal yaitu Iran dan 142 . biru kobalt. merah ungu dan turkuas. 2002: 157-168). 7. Kraton Kaibon. Sumber tulisan kuno dari Timur Dekat menyebut nama Barus serta adanya pedagang dari Oman di Nusantara sekurang-kurangnya sejak abad ke 10 M. Sohar (Oman) dan Kilwa (Tanzania) dapat dikaitkan dengan adanya kelompok perdagangan dari Oman yang bernama Ibadi. termasuk Makran.146 arkeologi di Banten yang dimulai pada tahun1977 antara lain adalah ditemukannya situs industri logam dan industri tembikar serta temuan barang-barang perdagangan seperti keramik Asing dari berbagai negara. Bambhore dan pesisir Timur Afrika. Pola hiasannya buga-bunga. Ciri-cirinya adalah bahannya berwarna merah jambu. Warna kaca sebagian besar berwarna hijau pucat. Selain itu memugar sisa-sisa Kraton Surosowan. Banten lama adalah satu-satunya kawasan perkotaan Islam yang tersisa hingga saat ini. Lobu Tua Pada tahun 1995 dan 1996 dilakukan penggalian di Situs Lobu Tua dekat Barus oleh tim Indonesia Perancis dan ditemukan 600 pecahan tembikar berglasir asal Timur Dekat yang dikenal dengan “later Sgraffiato ware”. Benteng Spelwijk. penelitian arkeologis banyak menghadapi kendala terutama dengan makin penuhnya penduduk yang menempati kawasan sehingga tidak lagi dapat dikendalikan.Jurnal Lektur Keagamaan. berslip terang berhiaskan goresan dan glasirnya percikan-percikan. Vol. 1. coklat. No. 2009: 133 . b. mata uang VOC. khususnya di Basrah dan di pesisir lautan Hindia. geometris abstrak atau kaligrafi dengan huruf kufi. Jenis “later Sgarffiato ware” Lobu Tua memiliki persamaan dengan temuan sejenis di Makran (Iran).

Walaupun demikian penelitian tentang nisan-nisan kuno masih menyisakan banyak hal yang perlu dilakukan. piala silinder diduga berasal dari Iran abad 9-10 M.Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan Mesopotamia. Contoh lain tentang penelitian epigrafi Islam yang sudah dilakukan juga mengungkap cukup banyak hal penting tentang raja-raja yang memerintah di kerjaan-kerajaan yang bercorak Islam yang selama ini hanya diketahui atas dasar sumber tertulis berupa naskah ataupun sebaliknya. Penutup Beberapa contoh penelitian arkeologi sebagaimana diuraikan di atas diharapkan dapat memberikan gambaran singkat bagaimana arkeologi memberikan makna pada material culture Islam sebagai usaha untuk memahami kehidupan dan perilaku manusia. 2002: 179-195). Penelitian nisan-nisan kuna di pantai utara Jawa sebagai tempat awal Islamisasi belum secara menyeluruh dilakukan. Setelah direkonstruksi artefak kaca. serta bagian timur Laut Tengah. fungsinya belum jelas. Selain itu berdasarkan angka tahun yang terdapat pada nisan dapat pula diketahui bilamana orang-orang Islam sudah datang dan menetap di Nusantara. Tempayan Miniatur jenis Serahi dari Timur Tengah. Temuan angka tahun ini bila dikaitkan dengan penelitian arkeologi di Lobu Tua Barus berupa artefak kaca dan tembikar yang diduga berasal dari abad ke 9-10 merupakan hal yang tidak mengejutkan. Seperti yang dikatakan Damais bahwa dari 1500 abkalts yang ada di Direktorat Sejarah dan Purbakala baru terbaca 800 abklats. penelitian masih dilakukan secara parsial. Bagaimana perkembangan gaya tulisan dan ornamen dalam nisan-nisan kunopun belum pernah dilakukan dalam skala yang luas. Serahi kecil (kaca merah jingga berhias gaya bulu) berasal dari Mesir abad 11 dan awal 12 M. Barang-barang dari Laut Tengah nampaknya diimpor sejak awal abad 11 M. Sebagaimana penemuan angka tahun Tuhar Amisuri di Barus dengan angka tahun wafatnya 1203 M. Artinya masih 700 abkltas yang belum terbaca. Kaca berhias garis yang diukir diduga dari Iran abad ke 10 dan awal abad 11 M (Guillot. 143 . maka dapat dikemukakan beberapa bentuk utuhnya yaitu: Karaf (botol kaca dengan bibir bulat datar) dari abad 9-10 M. Demikian pula dengan studi tentang masjid kuno dan keraton. 94 tahun lebih tua dari Malik as-Saleh di Pasai.

PIA VII.P. Wacana vol9 no. Moquete.Hal: 238-246. Irmawati M. Seni Dekoratif pada Bangunan di Pantai Utara Jawa Abad 15-17. J.T Logos Wacana Ilmu Damais. Pilihan Karya L.J.J.C Damais. Lobu Tua Sejarah Awal Barus. Jakarta: EFEO.1912. No.Yayasan Obor.hal:3-30. 1912.146 Seiring dengan perkembangan jaman maka kajian-kajian arkeologi Islam tentunya harus diperluas dengan mengembangkan isue-isue yang relevan dengan masa kini dan menggunakan pendekatan atau teori-teori baru dan yang lebih penting untuk dilakukan adalah menyampaikan hasil-hasil penelitian tentang Islam di Indonesia kepada masyarakat luas. Ciputat : P. Sebuah Tinjauan Simbolik”. 1922. 1996. Johan.Wibisono. Disertasi Program Pascasarjana FIB-UI. Jakarta:EFEO De Graaf. 2009: 133 . Irmawati.Claude Guillot. ed.Hal:179-214. Cipanas ------. “De Groote Moskee te Koeta-Radja” NION.294-295.2 Oktober. 1920. Statu Masalah Penenda KeIslaman.N. 2002. “Ornamen Mihrab dan Lampu pada beberapa Makam. afl. 1955.J. 1947-1949. H. Boundedness dan Polusi pada Situs Islam Cirebon Abad XVI-XVIII. “Het Stadje Koedoes en zijn oude Kunst “NION. hal:208-214 144 ..vifde jaargang. Inleideng tot de Hindoe-Javaansce Kunst” S’Gravenhage. Menemukan Peradaban.Claude& Sonny Ch. 2007.19201921. 7.hal:291299 Guillot.van Hoeve-s’ Gravenhage. Jasper.2003.Jurnal Lektur Keagamaan. hal:69-87.J.Pusat Penelitian Arkeologi. Vol. “De Datum op den grafsteen van Malik Ibrahim te Gresik” TBG 54. 1988.Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia. Krom. Kreemer.E.tweeman delijks Tijdschrift Gewijd aan het Indonesisch Cultuurgebied.1.1e Jrg. 1. hal.1922.L. Epigrafi dan Sejarah Nusantara. Hasan Mu’arif. Marwoto.C. Temuan Kaca di Lobu Tua:Tinjauan Awal. “De Oorsprong der Javaanse Moskee” Indonesie.[] Daftar Pustaka Ambary.7e jaargang. 1920-1921.NV Uirgeverij W.

Berhiaskan goresa dan Berglasir Percikan-Percikan Asal Timur Dekat di Lobu Tua.Tinjauan Awal. O. TBG 1925. Jakarta: FIB. Heriyanti Ongkodharmo.2 bijlage. Ph.hal:275-290. kwt. Archaeology:Theories. Jakarta: Balai Pustaka Ravaisse. Depbudpar.Pusat Penelitian Arkeologi.1910. Surabaya: CV Bunga Rampai Untoro. 700 Tahun Majapahit Statu Bunga Rampai. 1912. Deel LXI Renfrew. 1935. “De Islam en Zijn komst in den Archipel”. 54. 1914. Daniel & Sugeng Riyanto.hal:596-600 Sharer. Majapahit dan kedatangan Islam Serta Prosesnya. TBG. Archaeology Discoveryng Our Past.86 Moquete. GrooningenBatavia.135-140.1912 hal:536-548 OV. 2003. New York: Mc Graw Hill Company Inc. Colin& Paul Bahn.P. 1910. hal: 7-8 145 . Uka. Marwati Djuned.komunitas Bambu.52. L’inscription coufique de Leran a’ Java. 1961. hal:73. Jilid III.Method and Practice. 1977. 21. “Verslag van mijn voorlopig onderzoek deer Mohammedaansche oudheden in Aceh en Onderhoogrigheden” OV. Hal:668-703. Tjandrasasmita.Yayasan Obor Poesponegoro. Fadjar. Kesultanan Banten 1522-1684 Kajian Arkeologi Ekonomi.W. 1993. 50 tahun Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional.van. Robert&Wendy Ashmore. Jakarta: EFEO. Kapitalisme Pribumi Awal. 1914. “Bij de afbeelding van het graf van Malik Ibrahim te Gresik”.4. 1925. Sutjipto. Tembikar Berslip. ed.hal:157-178. 1984. Paul. 2003.Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan Moquete. Jakarta: Puslit Arkenas Tjandrasasmita. Riwayat Penyelidikan Kepurbakalaan Islam di Indonesia. Perre. Wirjosuparto. Uka. Stutterheim. J.Lobu Tua Sejarah Awal Barus. kwt.S. hal. J. tahun III. 2007.F.Claude Guillot. “De Grafsteen te Pase en Grissee vergeleken met dergelijke Monumenten uit Hindoestan” TBG. hal.P. 1912. no. hal:107-135. Sejarah Nasional Indonesia.UI. 2002. “Sejarah Pertumbuhan Bangunan Mesjid Indonesia”.80. Thames & Hudson Ronkel.

146 Lampiran: Gambar 1: Sisa reruntuhan Keraton Surosowan.Jurnal Lektur Keagamaan. Keraton seluas lebih kurang 3. Sumber: http://cetak.org/ 146 . No.com Gambar 2: Pintu gerbang timur ‘Benteng Keraton Surosowan’ Sumber: http://www.5 hektar itu merupakan kediaman para sultan Banten yang dibangun sekitar tahun 1552. Vol.kompas.iai-banten. 2009: 133 . 7. 1.

Puslitbang Lektur Keagamaan) Badan Litban dan Diklat. sebagian besar dari karyanya tidak tersimpan di satu tempat. Sukabumi. penulis telah berhasil mencari dan menemukan kurang lebih seratus dua puluh dua (122) karya K. In the second half of the seventeenth century.H. Islam dan negara. — Usep Abdul Matin K. Departmen Agama Republik Indonesia (1986). Ahmad Sanusi. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . and His Work Collection Usep Abdul Matin UIN Syarif Hidayatullah. K.. Dalam kesulitan itu. in jurisprudence. and in mysticism. tulisan ini bertujuan untuk berbagi pendadapat tentang siapa K. bahkan sulit ditemukan. Kata kunci: Ahmad Sanusi.K. The core of the network was the degree to which a number of the famous `ulam± came to learn and to teach in the Haramayn. Namun. They came from the various corners of the Muslim world.H. dan apa saja kiranya buku-buku yang telah beliau tulis. They handed down this nature and their religious sciences to the later generation of `ulam± of 147 . fatwa. syariah Islam.. Jakarta Menurut Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur Agama (Skr. Ahmad Sanusi itu. They developed the nature of freedom of joining differences in theology. Karena itu.H. Introduction The network of `ulam± (Muslim learned men) in Haramayn (Mecca and Medina) has been starting to exist since the sixteenth century. these Indonesian `ulam±--in particular from Malay--were involved in the network.H.H. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse. Ahmad Sanusi telah menulis selama hidupnya sekitar 480 karya tulis. Haramain.

4 Azyumardi Azra. (Amsterdam: Vrije Universiteit. 3 See Mohammad Iskandar. Para Pengemban Amanah: Kyai dan Ulama dalam Perubahan Sosial–Politik di Priangan c.H. 54. West Java. he became a member of the Party of Syarekat Islam. when Sanusi was still in the Haramayn. like physics. In 1913. 2001 in his house.1 K. a santri (religious student) from Sukabumi. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Rasyid Ridho.H. In 1915.a. an unpublished thesis. Here was he appointed to be the adviser of the Party of Syarekat Islam. 1991). S. which Sanusi studied. said Josep. pp.3 These facts signify Sanusi’s involvement in the Southeast Asian Connection. Sanusi went back to his home country.H..K. 1 148 . included the intellectual currents of the Arabic thought in the liberal age (1798 – 1939). Studiegids Islamologie 1998/1999. Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana & Kekuasaan. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . second edition. pp. 1999). this later group started establishing a Southeast Asian Connection in the beginning of the nineteenth century. and 7. pp. Cantayan in Sukabumi. Later on. Gunung Jaya-Sukabumi. Ahmad Sanusi. precisely 1910. 4 About Sanusi`s speech of Syarekat Islam. Introd. I am grateful to Mr.H. went to Mecca together with his wife to perform hajj (pilgrimage) and to deepen his Islamic studies under the `ulam± from Malay. (Majalengka: Pengurus Besar “Persatuan Ummat Islam” Majlis Penyiaran dan Da`wah. Muhammad Abduh. Yosep Aspat Alamsyah. He told me that in December 22. see his speech translated into Dutch entitled “Dit Boek Nahratoe`ddhargam (De Gebiedende Leeuwenstem) Dienende tot Wering van de Aanvallen Veragtelijke Menschen Gericht tegen de S. 2 M.” . he studied not only the religious sciences but the general ones. Wanta. (Boenoet: “Pemerintah” Soekaboemi. 19 Februari 1940). 58-59. The religious sciences. 90-91.2 such as those of Jamaluddin al-Afghani. Siapa?: Lukisan tentang Pemimpin-pemimpin. — Usep Abdul Matin Indonesia. in Proces Verbal. see Rijk Universiteit Leiden. 1991). K. about the Arabic thought in the liberal age dated from 1798 to 1939. by Taufik Abdullah. 74-75. 3. for lending me this book. (Leiden: Rijk Universiteit Leiden. Ahmad Sanusi’s Religio-Intellectual Discourse In the beginning of the twentieth century. 148-149. Sipahoetar. The author is still alive. Indonesia. Ahmad Sanusi. which is available in the KITLV Leiden University.. 1998). and was the secretary to K.I. p. pp. where he returned to his home town. KH Ahmad Sanusi dan Perjoangannya. During his stay in Mecca. 1900-1942.

2001. during eleven years of his exile (in Indonesian.K. al-Ittih±diyyat alIsl±miyyah (A. therefore.000) followers. these `ulam± were the members of the Politiesche Economisch Bond (PEB) and Pekauman Corps.M.8 His fame increased after he had established a religious association (in Indonesian.. This political role of Sanusi was unlike the other indigenous `ulam± who supported the Dutch colonial authority. 91. especially in West Java. people are used to calling it Pesantren Cantayan. Loc.H.M. when he was still with me. According to A.7 Sanusi’s intellectual productivity is also discernible in his establishment of a pesantren at Genteng.6 For their support. he withdrew from this political organization5 and turned to assist his father. His students in this pesantren came not only from Sukabumi but also from outside of West Java. Sanusi was not able to break himself free from political affairs. To advocate this organization. Interview with late K. Cit. since 1922. Pekauman Corps were the religious leaders who worked in the mosques in Sukabumi for benefit of the Dutch colonial government. Ahmad Sanusi had been a very productive writer. During that exile. According to my late father. Op. and attracted some twenty thousand (20. he had written two hundred (200) books both in small and big pieces (in Indonesian. Hence. who interviewed Sanusi face to face. my father.H. Sipahoetar. — Usep Abdul Matin In the following year. viz..H. in my house in Sukabumi December 12.H. the Dutch government gave them money. 6 5 149 . Cit.I. 200 boekoe ketjil dan besar). Wanta. S.I/Islamic Association) in 1931. In contrast. p. Loc.. diinterner: 1928-1939). Therefore. therefore. 8 Ibid. Abdurrahim. the colonial government regarded Sanusi to be their enemy. K. the Dutch had often put him in jail from 1919 to 1939. 7 . Sanusi substituted its name with Persatuan Umat Mohammad Iskandar. Cit. K. Dudu Abdullah Hamidi. which is also located in Sukabumi. Nevertheless. Dudu Abdullah Hamidi. to teach his santris in his own pesantren (Islamic School) in Cantayan. Sipahoetar.. in 1922. he did not want to cooperate with the colonial Dutch government to make Indonesia independent. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . perkoempoelan agama). he had been known as a famous religious teacher.

Menado. Ambon. Sanusi depended his Tamshiyya by giving a fatw± that encouraged its use. santris). See also Ahmad Sanusi. West Java. and Dr.”. (Sukabumi: al-Ittihâd. Mindarat al-Islâm wa-alÎmân. Mohammad Iskandar who were willing to give my parents the copy of the fatwâ. the `ulam±s of Pekauman discouraged the people from using the Tamshiyya. Vol. Such sentiment was resulted in a way that the`ulam±s of Pekauman published their legal formal opinion (fatw±) that discourages from using of the Tamshiyya by reasoning that Latin characters were prohibited from writing the Qur`anic verses. It was also deemed by the PEB and the `ulam±s of Pekauman in Sukabumi. p.9 Moreover. I wish to thank to Hasan Husen Basri. (Sukabumi: Kantor Cetak Sukabumi. On the basis of Perak`s fatw±. 10 Muhammad Misybâh ibn Haji Syafe`i Sukabumi. (Pabuaran Sukabumi: no publisher`s name. He was the student of Ahmad Sanusi. One of these `ulam± was Haji Oesman Perak from Bogor. Sumatra. This fatwâ was published by Kantor Cetak al-Ittihad Sukabumi.. 12 Sanusi wrote this fatwâ in Malay language and Arabic characters on two wide and long pages of paper without title and year. 89. pp. When Japan came to occupy Indonesia. 1955). see ibid. in October 1934. KH. I am thankful to H. he published a Qur`anic exegesis entitled Tamshiyyat al-Muslimin fi Tafsir Kalam Rabb al-`±lamin. Bangka. I wish also to thank him for allowing me to copy his Tamsyiyyah numbered from 2 to 35. This book was famous in Indonesia i. 1-5. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse .e Java.H.10 This explains to us why Sanusi`s fame all over Nusantara grew after the publication of his Tamshiyya in 1934. 1935). Sumbawa.11 To argue against this fatw±. Borneo. Celebes. Tahdîr al-Afkâr. they banned this association. 1935). 1993). 11 Ibid. Madura. including the advantage of the Latin characters.K. the colonial government considered this book to be a threat to their power. Nevertheless. 1. Vol 3.12 “Ahmad Sanusi. as a threat to their influence among their religious students (in Indonesian. and I thank Ajengan Oyon Gunung Puyuh who allowed me to copy his Tamshiyya number 28. (Jakarta: PT Intermasa. Sanusi published the Qur`anic verses in this Tamshiyya not only in the Arabic language but also in the Latin characters.. as well as Johor and Singapore. Flores. Tażkirat al-Ikhwân bi-mâ fî Âkhir al-Zamân. Abdullah ibn Husain. in Ensiklopedi Islam. — Usep Abdul Matin Islam (PUI/The Association of Muslim Community). 9 150 . and no one argued against this typescript. West Java. Acep Zarkasih (about 80 years old) who lent me this book.

s. Ahm. in particular those who became AII members. His father was a close friend of Sanusi.13 When Japan occupied Indonesia in the beginnings of 1940s. He left three wives and seventeen children. in West Java. Sanusi keept encouraging PETA to drive out not only the occupation of Dutch but also that of Japan. like other Indonesian political leaders.. However. Sanoesi. In this colaboration.a.H. and in general other Indonesian youths.K. Sanusi motivated all Muslim people in West Java. H. In the beginning of 1950. West Java. in 1944. Sanusi was also a member of Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan/BPUPKI/Committee Inspecting to Organize the Independence of Indonesia). After the Indonesian independence. Likewise. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse .). When the Nicagurkha occupied Sukabumi in West Java. he gave a fatw± in 1936. (Buitenzorg: Ang Tjio Drukkerij. — Usep Abdul Matin Sanusi’s intellectual debate with the `ulam± of Pekauman in Sukabumi. where he died in the same year. and unified them into Hizbullah to expel the English Nicagurkha soldiers from Indonesia. In turn.. In this case. Sanusi returned to Gunung Puyuh in Sukabumi. in particular those who lived in Sukabumi. According to the Puslitbang Lektur of the Department of National Religious 13 See his fatwâ in form of bulletin. which prohibited the official collectors of the tithe from collecting it forcefully from common people. he agreed with Japan to establish Pembela Tanah Air (PETA/Fatherland Protector) organization. two pages. Sanusi collaborated with Japan. As a result. 151 .. to become soldiers of Hizbullah (Troop of God) and National Army of Indonesia (Tentara Nasional Indonesia/TNI). tithe in rice or money paid on first day of fasting month. he empowered Indonesian Muslim youths. the Japanese administrator in Indonesia appointed Sanusi to become a Japanese vice resident in Bogor. is also noticeable in the case of zakat fitrah viz. “Zakat Fithrah”. Sanusi moved to Jakarta to cooperate with Muslim leaders in Jakarta to arrange a more stronger military power. the Japanese administrator disqualified him from this BPUPKI. due to Sanusi’s strong leaning to Islam. I wish to thank Mr Muflih for lending me this bulletin. This colaboration helped him strengthen Indonesian Muslim community that he established in 1934 to drive the Ducth occupation out of Indonesia.

2001. pp. Oking had ever put some works written by Ahmad Sanusi into a bamboo in his house. political. I had been working for five years to look for Sanusi’s writings. the Netherlands. the study on Sanusi is worthy conducting. and intellectualism in his time. Sanusi was advocating to reinforce Islamic law in Indonesia. To me.. they would put him or her into a jail” (in Sundanese. as a result.H. society. Badan Litbang Agama. a student of Ahmad Sanusi. December 12. The reason is the degree to which he is a Muslim who is not only a productive writer. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . However. and intellectual discourse.K. the dying exhortation of Ahmad Sanusi given to late Ajengan Dadun and the fear as felt by Mr. 2001. a little brother of Ahmad Sanusi. then he buried them into a ground. 31-33. After he died. the study on Sanusi has its significant information of the relationship between Islam and state in Sanusi’s period. Oking at his house in Cigunung-Sukabumi. in the colonial period of Indonesia. on December 20.. This work is in form of micro film which is available in KITLV library. Mr.15 In addition. bakal dibui). Op. When I interviewed him. Sanusi had given him a dying exhortation (in Sundanese: wasiat) to suppress his works on masalah-masalah furu` (cases of ethics based on different principles of Islam). Therefore. I found about one hundred and twenty-two (122) of Sanusi’s works from some generous people. but also an active leader in diverse debates on religion. 15 Interview with Ajengan Dadun in his house in Cibadak-Sukabumi. Cit. this article of mine may give us a portrait of his social. Oking (about 80 years old). before his death. Oking explained to me that he did so because “if the Dutch administrators found someone possessing Sanusi’s works. 16 Interview with Mr. he was at the age of 80. politics. — Usep Abdul Matin Affairs in Jakarta. For instance.. In addition. Leiden University. 152 .16 Perhaps. in particular his work collection. Oking just mentioned are the reasons of why his books are now disappearing and extremely difficult to find. Sanusi left four hundred and eighty (480) pieces of works that he compiled by himself. said to me that. In 14 Puslitbang Lektur Agama. It has probably connection to such link in Indonesia today.. According to deceased Ajengan Dadun Abdul Qahar.14 These works are now scattered and difficult to discover.

9. pangajaran nomor 2 di kaloearkeun koe Hoefd Bestuur A.H. 6. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. K. dicetak di kantor cetak “al-Ittih±d” Punjul Tanah 153 . 1 bulan skali bulan Februari 1932 di Batavia [2 pages]. 1. 3. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. 10. Hartina Nuduhken kana Bedana antara Aya Şadaqah rejeng diy±fah dina Syara1.I.H.. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. Al-Isy±rah f³-al-Farq bayn al-Şadaqah wa-al-Diy±fah. and without identity of publication [four pages]. Without title. pangajaran nomor 5 tahun 1932 [four pages]. January. dinukil jisim kuring Ahmad Sanusi bin Haji `Abd al-Rahim.H. 1932.I. (Batavia: Hoefd Bestuur A. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. campaigned for shari`a in Sukabumi in West Java. pangajaran al-Ittihad ka 17 Oktober 1933 no 4 [four pages].I. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. pangajaran al-Ittihad nomor 18 19 Janwari [probably. One of Qahhar’s students was an officer who was in charge of Cianjur regency (Bupati) in West Java. 5. It was published by Kantor Cetak al-Ittih±d Sukabumi. his little brother. Bulletin and Magazine: 2. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . pangajaran nomor 3 telat dua bulan lantaran nunggu kantor cetakna di kaloearkeun koe Hoefd Bestuur A.. The fatw± of K. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. 8. Ahmad Sanusi`s works which I have collected so far as follows. 1 bulan sakali bulan Februari 1932 di Batavia [2 pages]. pangajaran nomor 7 Oktober tahun 1932 [four pages]. late Dadun Abdul Qahhar.H. without title and year of publication. Ahmad Sanusi [on the use of Latin letters in his Qur`anic Exegesis. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. 1932) [four pages]. Wasidi Swastomo. sambungan nomer 17] [four pages]. 11.I. Tamshiyya].I. 7. — Usep Abdul Matin 1998.K. This man reinforced also the Islamic law in this region (Cianjur).I. Ahmad Sanusi’s Work Collection I will mention K.

— Usep Abdul Matin Tinggi Senin Batavia Centrum. 15..K. akhir Bulan Syawwal 1347 (dan Haknya menyetak pun sudah jadi miliknya) (Cetakan ketigakalinya) Tercetak di kantor cetak dan toko kitab al-Sayyid `Ali al-`Idrus Keramat 38 Batavia Centrum). Weltevreden 8 november 1928 (Dicetak di Kantor Sayyid Yahya ibn Usman Tanah Abang). No 23 24 Maanblad Juni (year is not clear. 14. Ahmad Sanoesi bin Hadji Abdoerrahim. Pangadjaran [Tafsir ku..H. Tafs³r Boechori dikloearken 1 boelan sekali oleh H. 27 Jumada al-Ula 1347. Senen. no 19. Ris±lat Tahd³r al-`Aw±m min Muftaray±t Cahaya Islam Hartina Mere Inget ka sakabeh Jalma Awam Kudu Sien tina sakabeh Jijieunan Bohongna kaom Surat Kabar Cahaya Islam dikumpulken ku jisim kuring anu kacida do`ifna Haji Ahmad Sanusi ibn Haji Abd al-Rahman di Tanah Tinggi Senen nomor 191 Weltevreden Batavia Kantor Cetak Harun ibn `Ali Ibrahim 3 Pakojan Betawi Telepon 1850 [72 pages]. Ris±lat Tashq³q al-Awham f³-al-Radd `an al-Tugam li-n±qil³h±. 17. 12. Fada`il Kasb al-Ikhtiy±r f³ Ilz±m Afwah al-Wu`az al-Gid±r Artinya Menyatakan segala Kelebihan Mencahari dan Berusaha 154 . Jilid tahun ka I kanggi nomor 1 September 1931 September 1931. 18.20. Abdurrahim T. probably 1934. Ahmad Sanusi Gang Kampung Bali Kecil 6 Tanah Abang Weltevreden Betawi. Maanblad Januari Februari no 30-31 1934. because no 29 is dated to that year). Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . Ahmad Sanoesi bin H. Tanah Tinggi. Tinggi Senen no 191. Batavia Kramat. Ris±lat Tashq³q al-Awham f³-al-Radd `an al-Tagam Artinya Inilah Suatu Pembelah segala Sangkaan yang Salah di dalam Menolak Tukang Menyesatkan kepada Orang-orang Bodo karangan hamba yang doif Haji Ahmad Sanusi ibn Haji `Abd al-Rahim Gunung Puyuh Sukabumi Tercetak atas usaha Sayyid `Ali al-`Idrus Kampung Bali Keramat nomor 38 Batavia. 13. 16. my note] Bahasa Soenda oleh H. Tafs³r Bahasa Soenda Februari 1932 Tahoen ka II diterbitkan saboelan sekali oleh Hadji Ahmad Sanoesi bin Hadji Ahmad Sanoesi bin Hadji Abdurrahim Tanah Tinggi Senen no 191 Batavia Kramat Harga langganan 2 boelan f 1.

without the name of publisher. 17 155 .K. s. probably 1934.a. 5. Number 47. (Sukabumi: al-Ittih±d.a). 4. Nµr al-Yaq³n f³ Mahw Madzhab al-La`³n min al-Mutanabbiyy³n wa-al-Mutabaddi`³n. 2.a. (without place of the publisher.a. 20 Romadhan 1347). Al-Tamshiyyath al-Isl±miyyah f³ Man±qib Im±m al-Sh±fi`i. Al-Kalimat al-Mabniyyah f³ Qasy³dat ibn Hajjah. Shir±j al-Ażkiy±` f³ Tarjamat al-Azkiy±`.. 10. without the name of the publisher.a. s. There are tweleve works of Sanusi that I found from deceased Ahmad Djunaedi Ma`ruf17: 1. 9..a. Al-Mufhim±t fi Daf`i al-Khayal±t.H.). 3. s. s. Tarbiyyat al-Isl±m. 7.). s. No. I had copied a number works composed by Ajengan Ahmad Sanusi as follows. From the beginning of December to the beginning of January 2002. I am grateful to my friend. Kanz al-Rahmah wa-al-Lutf f³ Tafs³r Sµrat al-Kahf. (Tanah Tinggi-Senen-Batavia Centrum: al-Ittihad.). and s. Tercetak diterbitkan alIttihad Tanah Tinggi 191 Punjul Batavia Centrum. (Batavia Centrum: al-Sayyid al-`Idrµs.a. Ujang Sholehuddin. Mr. for helping me find this collection of late Ma`ruf. Kit±b Mift±h al-Jannah f³ Bay±n Firqat Ahl al-Sunnah wa-alJam±`ah. s. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . Tażkirat al-Th³libin fi Bayan Sunniyat al-Talq³n. (Tanah Abang-Weltevreden Batavia: Sayyid Yahya bin `Usman. Tamshiyyat al-Muslimin f³ Kalami Rabb al-`Alam³n. 29 Maanblad December (year is not clear. (Tanah Abang:Sayyid Yahya. 6. s.). (Gunung PuyuhSukabumi: without the name of publisher.). because no 31 is dated to 1934). — Usep Abdul Matin Kehidupan di dalam […/not clear] segala Mulut si Tukang Ngajar yang selalu Menipu Orang dikeluarkan oleh hamba yang [ …/not clear] Haji Ahmad Sanusi bin Haji `Abd al-Rahim di Tanah Tinggi 191 Batavia Centrum. (Panarakan Kaler-Bogor: Ikhtiyar.a). (without place of the publication. 8.).

Al-Kaw±kib al-Durriyah fi-al-Ad`iyyah al-Nabawiyyah. s. 12. 14.. Al-Kaw±kib al-Durriyyah f³ al-Ad`iyyat al-nabawiyyah (Tanah Abang: Kantor Cetak Sayyid Yahya. 9. T³j±n al-gilm±n f³ tafs³r al-Qur’±n (Petamburan-Batavia: alSayyid `Abdullah putra al-Sayyid `Ushman. 4.a). 11. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . Hilyat al-`aql wa-al-fikr (Tanah Abang: Kantor Cetak Sayyid Yahya. Al-Sh±fiyat al-W±fiyah f³ Fadh±`il Sµrat al-F±tihah. 6.). Iskandar Sanusi for introducing me to Mr. Lujj±m al-Gudd±r al-Qa`ilin bi-anna Abaway al-Nabiyy min Ahl al-N±r.H.. s.).a). s. s.a.). — Usep Abdul Matin 11.). Jumad al-Awwal 1352). Ǐq±d al-himam f³ ta`l³q al-hikam 5. Hid±yat al-siby±n f³ fad±’il sµrat tab±rak al-mulk min alQur’±n (Tanah Abang: Sayyid Yahya.a). There are nineteen (19) works of Sanusi that I found from Mr. Al-Aqw±l al-Muf³dah f³-al-Umµr al-Muwhamah.`Tawh³d al-muslim³n wa`aq±`id al-mu`min³n (Tanah TinggiPunjul-Batavia: Kantor Cetak al-Ittihad. Oking. 1. Al-Sh±fiyat al-w±fiyah f³ fad±`il sµrat al-F±tihah 7.a). Oking18: 1. s. 18 I thank Mr. 10. no name of the publisher. (Sukabumi: alIttih±d. (Tanah Abang: Kantor Cetak Sayyid Yahya. 8. 156 . s. s. Jawharat al-wah³d (Pekojan-Betawi: Kantor cetak sareng Toko Buku Harun bin Ali Ibrahim. It includes the list of Sanusi`s works.a). Min majmµ`at durµs al-`ulµm (Tanah Abang: Kantor Cetak Sayyid Yahya. without the name of publisher.a).a. 13. s.). Vol. Tawh³d al-muslim³n wa `aq±`id al-mu`min³n (Bg [Bandung]: Sukma Rat. (Cibadak Sukabumi: without the name of publisher.a.a. nor year of the publication).a. s. Bahr al-madad f³ tarjamat ayyuh± al-walad (Vogelwegsukabumi: no publisher.K. (Babakan Sirna-Karang Tengah Cibadak-Sukabumi. (without place of the publication. s.a). 12. s. s. 2. Kashf al-Sa`±dah f³ Tafs³r Sµrat al-W±qi`ah. 3.

2. “Kabagjaan Islam”. 3. Al-Muf³d (Vogelweg Sukabumi: no publisher`s name. no. Tafs³r Malja` al-T±lib³n. (Gunung Puyuh-Sukabmi. 4. no. Min majmµ`at durµs al-`ulµm. Ahmad Muflih19: I wish again to thank Mr. (Tanah Tinggi Betawi: Kantor Cetak Al-Ittih±d. — Usep Abdul Matin 15.). no.a). 6. (Pekojan-Betawi: Toko Buku Harun bin `Ali Ibrahim. There is one (1) book of Sanusi that I gained from Mr. s.). s. Tafs³r Malja` al-T±lib³n. Mr. Al-mutahhir±t min al-Mukaffir±t..a). (Tanah Abang Weltevreden: Sayyid Yahya. no publisher`s name. (no place of publication: no publisher`s name. 8. “Mu`±hadah Perjanjian Allah Ta`ala ka Nabi Adam”. Al-Jaw±hir al-B±hiyyah f³ Adab al-Mar`ah al-Mutazawwijah. s. “Al-Tabl³g al-Isl±m³ (Embaran Kaislaman)”. 17. 18. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . West Java: 1. 19. 3. s. no name of publisher. Vol. Vol 1. “Kabagjaan Islam”.H. and s. s. s. (Tanah Tinggi Betawi: Kantor Cetak Al-Ittih±d.a). (Gunung Puyuh-Sukabumi: al-Ittihad. This piece of work is printed in 16 combined pages. October 1935). (no place of publication. 18. 28 January 1931/9 Ramadlan 1349).K. Acep Zarkasyih in Sukabumi. Ahmad Muflih.a). 3. 1935). 1.a). s. 16. Tafs³r Malja` al-T±lib³n. 3rd edition. s.a. (Sukabumi: alIttihad. (Gunung Puyuh-Sukabumi: without publisher`s name.a. Vol. Hilyat al-siby±n f³ bay±n sawm ramaz±n (No place of publication: no publisher`s name. s. There are nine (9) works of Sanusi that I obtained from H. 9. Ujang to introduce me to his father.a). 2. 19 157 . 5.). Ǐq±d al-himam f³ ta`l³q al-hikam.a).. (no place of the publication: no publisher`s name. Tanw³r al-dal±m fi Furuq al-Isl±m. in “Kabagjaan Islam”. 1 November 1931). 7.a. (no place of publication: no publisher`s name.

s. 2nd edition. Tafs³r Sµrat al-Mulk: Hid±yat Qulµb al-Siby±n f³ Fad±`il Sµrat Tab±rak al-Mulk min al-Qur`±n. the author says that he asks the pardons of his readers if they find some some mistakes in this book because the writer was still learning (anu nulisna diajar). the author mentioned that he asked the pardons of his pardons if they find his bad expressions of his words (kirang sae prak-prakannana). 22 Rabi` al-Awwal 1348).a). Oman Fathurrahman20: 1.). (Cantayan: no publisher.. On the title-page of this work.a. (Pekojan-Betawi: Ahl al-Sunnah wa-al-Jam±`ah. Oman Fathurrahman for allowing me to copy about 63 works from his collection.a). 9. (no place of publication: no year of publication. 20 I am once again grateful to Dr. 2. 4.K. s.. (Gunung Puyuh-Sukabumi: no publisher. (Tanah Abang Weltevreden: Sayyid Yahya. Tafr³h Sudµr al-Mu`minin f³ Mawlid Sayyid al-Mursal³n. Al-Lu`lu` al-Nadlid fi Masa`il al-Tauhid. s. s. because the writer “just started to learn how to write to follow the footsteps of professional writers” (diajar tutulisan tuturuti ka anu tukang ngarang).a). 7. “Al-Mufid: `Ilm al-Tawh³d”.a). 158 . 8. s. (no place of publication: no name of publisher. Jawharat al-Marfiyyah fi Mukhtasar Ma©hab al-Sh±fi`iyyah. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . s.a). 28 January 1931/9 Ramadhan 1349). Hilyat al-Siby±n f³ Bay±n Saum Ramad±n.a. (VogelwegGunung Puyuh-Sukabumi: no publisher. Al-Ad±wiyyah al-S±fiyah f³ Bay±n S±l±t al-H±jah wa-alIstikh±rah wa Daf`i al-Kurb±t. There are thirty-seven (37) books of Sanusi that I copied from Dr.H.1. — Usep Abdul Matin 1. Manzµmat al-Rij±l li-Sayyid `Al³ Zayn al-`±bid³n. 3. (Vogelweg 100 Sukabumi: no publisher. 6. On the title-page of this book. Vol.a). s. (Kampung Petamburan-Tanah Abang-Betawi: Tuan Sayyid `Abd All±h bin Sayyid `U£m±n. Malja` al-T±lib³n f³ Tafsir Kal±m Rabb al-`±lamin. Thirty-seven of them are books written by Ahmad Sanusi as listed above. Qal±`id al-Durar f³ Bay±n `Aqd al-Jauhar. 5. (Babakan Sirna: no publisher. s.).

“Tuntunan Budi”. Tafsir Bahasa Soenda. Tafsir Bahasa Soenda. — Usep Abdul Matin 10. Mift±¥ al-Mad±d. Pangajaran dengen Bahasa Soenda. Kashf al-Awham wa-al-Zunµn f³ Bay±n Qaulih Ta`±l± l± Yamassuhµ ill± al-Mutahharµn. 5.). No. 19. 191: Harun bin `Ali. (Gunung PuyuhSukabumi: without publisher. 22. (Tanah Tinggi-Senen No 191 Batavia Kramat: no publisher. (Senen-Batavia Centrum: Harun bin `Ali Nur. year III). (Tanah Abang Weltevrede: Sayyid Yahya. 24. (Jatinegara: no publisher. No. No. 15.K. 19-20.a.). s. mandblad. Vol. 1. no 191. Tafsir Bahasa Soenda. the scriber is al-Sayyid Muhammad bin Yahya.). 11. 1 October 1931). 2. (Pekojan-Betawi No. 8. (Gunung PuyuhSukabumi: no publisher. 23. (Tanah Tinggi-Senen No 191 Batavia Kramat: no publisher.H. Tafsir Bahasa Soenda. 18.a.. (De Vogelweg no 100 Soekaboemi: al-Ittihad. Tafsir Bahasa Soenda. s. No. 28 August 1931). 26 Rajab 1347). Tawh³d al-Muslim³n wa `Aqa`id al-Mu`min³n. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . January-February. 28 April 1931). 16. 14. without publisher. 3. s. “Miftahoelmadad: Kaifiat Ngajarken Zoebad Ilmoe Tauhid Fiqih Tashaoef”. 4. No.).a. 17. (Vogelweg-Sukabumi: without publisher. 7. The author is Ahmad Sanusi. the author mentioned the right of the publication: Pasal (section) 11 tina undang-undang (of the law) dated to 1912 number 600. number 1. Mei 1936). 159 . (Senen: Pak Haji Harun bin `Ali Ibrahim. Vol.). 28 May 1931/10 Muharram 1350).a. (Tanah Tinggi-Senen No 191 Batavia Kramat: no publisher. 20. Al-Matlab al-Aśna f³-al-Asm±` al-Husna. No. 28 July 1931). No. Tafsir Boechari. 13. 21. s. (Vogelweg-Sukabumi: without publisher. Qaw±n³n al-D³niyyah wa-al-Duny±wiyyah f³ Umµr al-Zak±h wa-al-Fitrah.a. 28 March 1931). 2. 3. 12. s. maanblad. (Tanah Tinggi-Senen Batavia Kramat: al-Ittihad. (Tanah Tinggi-Senen No 191 Batavia Kramat: al-Ittihad. February 1932). On the title page.. No. Tafsir Bahasa Soenda.

24 Ramadhan 1347).). (Tanah Abang Weltevreden: Sayyid Yahya. Al-Suyµf al-Sy±rimah f³-al-Radd `al± al-Fat±w± al-B±tilah.a). Sillah al-B±sil fi-al-Darb `al± Taz±hiq al-B±til. (Cantayan-Sukabumi: without publisher. s. (without the place of publisher: without the publisher`s name. 35. 36. Ris±lat Tahd³r al-`Aw±m min Muftaray±t Cahaya Islam. 1912). 33. (Tanah Abang: Sayyid Yahya. Vol. s. 1935). (Tanah Tinggi Punjul 65 Batavia Kramat: al-Ittihad. (Pekojan-Betawi: Harun ibn `Ali Ibrahim. (Babakan Sirna: without publisher. [1931]). There are nine (9) books of Sanusi that I received from Mrs. (PekojanBetawi: Harun Ibn `Ali Ibrahim. Hid±yat Qulµb al-Shiby±n f³ Fad±`il Sµrat Tab±raka al-Mulk min al-Qur`±n. (Gunung Puyuh Sukabumi: no publisher`s name. 32. 1912). She gave them to me as a gift. s.). 29. Tahdir al-Afk±r min al. 160 . 27.a). 8 Rabi`u al-Akhir 1349). Sir±j al-Ummah f³ Khasy±`isy al-Jum`ah. Tanb³h al-Hayr±n f³ Tafs³r Sµrat al-Dukh±n. (8 Rab³` al-±khir 1348/3 October 1929). s. It is as follows: 1. 31. 16. Epon (the wife of late Haji Tamim. Rawdat al-`irf± f³ ma`rifat al-Qur’±n. 20 Muharram 1348). Al-Fiqh al-Akbar Im±m Hanaf³.). s.H. Mr. Ris±lat al-Jawharah al-Mardiyyah f³ Mukhtasyar al-Furµ`iyyah al-Sh±fi`iyyah. 34. s. 3.a. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . (Sukabumi: Al-Ittih±d. Hilyat al-`Aql wa-al-Fikr f³ Bay±n Muqtaday±t al-Shirk wa-alFikr. (Tanaha Abang Weltevreden Betawi: Sayyid Yahya bin Ustman. 30.a. my grandfa). 26.a. 37..Igtir±r bi-Żal±lat wa-Iftir±y±t Tasyfiyyat al-Afk±r. (Sukabumi: Kutamas. (no place of publisher: without the name of publisher. — Usep Abdul Matin 25.).K.a). 2. Al-Sir±j al-Wahh±j fi-al-Isr±` wa-al-Mi`r±j. 6. (Sukabumi: Kutamas. Tafr³h sudµr al-mu`min³n f³ mawlid sayyid al-mursal³n. 16. s. (Tanah Abang: Sayyid Yahya. Rawdat al-`irf± f³ ma`rifat al-Qur’±n. 28. This collection belonged to her late husband.a. 2.. Vol. Ujang Suhud. J±mi`u al-Durar f³ Tabd³d Awham Haji Bodor. Tamshiyyat al-Wild±n f³ Tafs³r al-Qur`±n. 1929/6 Ramadhan 1347).

(no place of publication: no publisher`s name. I write them in the Arabic script as follows: 1. (no place of publication: no publisher`s name.H. 1912). Uking`s collection. (Tanah Abang Weltevreden Betawi: Kantor Cetak Sayyid Yahya bin `Usman.a. and some corrections of the author of some words mentioned in previous volumes of this exegesis.a. Vol. Rawdat al-`irf±n f³ ma`rifat al-Qur’±n.H. It contais the Quranic exegesis of the verse Al `Imr±n.). Zainal Abidin Toko kitab dan Petji Merk “Sedjati”. There are eleven (11) books of Sanusi that I received from Mrs. On the last page of the book there is the list of the people who just died. 2. 30. K. Tafs³r malja` al-t±lib³n. 3. Vol. (Tanah Tinggi Senen Keramat No. 7. — Usep Abdul Matin 4. Tafs³r malja` al-t±lib³n. Tafs³r malja` al-t±lib³n. 100 Sukabumi: no publisher`s name. (no place of publication: no publisher`s name. s. (Djl. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse .a. s.اﻟﻤﻄﻬﺮات ﻣﻦ اﻟﻤﻜﻔﺮ١ت‬De Vogelweg No. 3. s.). 4 Pekojan Betawi: Kantor Cetak Harun bin `Ali. Rawdat al-`irf± f³ ma`rifat al-Qur’±n. Tafs³r malja` al-t±lib³n. (Tanah Tinggi Betawi: no publisher`s name.. I found the cover of this book from Mr. There are three (3) books of Sanusi that I received from my late father. This book starts from the verse alNaba` to the verse al-N±s and ends at the Du`a` Khatm alQur`±n.). 4. Mamih Ijong. On the last page of the book.a. 10 Syawwal 1349/28 February 1931). Dudu Abdullah Hamidi: 1. 1. 28 April 1931). 9. M.). tahun ka 1). 5. 161 . (De Vogelweg Sukabumi: No publisher`s name. Vol. Vol. Jawharat al-mardiyyah f³ mukhtasar maż±hib al-Sh±fi`iyyah. 6. 8. Tamshiyyat al-dar±r³. 3rd edition. ‫( .a.. Vol. 1 September 1931. Tjagak Tjisaat – Sukabumi: H. there is a list of the people who died. 2.). s.K. (Tanah Tinggi Senen 191 Batavia Keramat: no publisher`s name. 28 March 1931). s. Rawdat al-`irf± f³ ma`rifat al-Qur’±n.

Tafsir Dukhan (Tanbih al-Hayran). 5. ‫( . s.ﺗﻴﺠﺎن اﻟﻐﻠﻤﺎن ﻓﻲ ﺗﻔﺴﻴﺮ اﻟﻘﺮأن‬Cantayan Sukabumi. ‫” اﻧﺎﻧﻮ ﻣﻌﻤﻮر .). 2.). s. ‫( . ‫( .a. 10. Friday.a. Tafsir Yasin (Tafrih Qulub al-Mu`minin). 20 Muharram 1348). 4. ‫ : ﻣﻨﻈﻮﻣﺔ اﻟﺮﺟﺎل ﻟﺴﻴﺪى ﻋﻠﻰ زﻳﻦ اﻟﻌﺎﺑﺪﻳﻦ‬Ieu Nadlam Qashidah Tawassul kalawan Sakabeh Awliya` Allah. there is announcement of the publisher.اﻟﺴﻼح اﻟﻤﺎﺣﻴﺔ ﻟﻄﺮق اﻟﻔﺮق اﻟﻤﺒﺘﺪﻋﺔ‬Gunung Puyuh Sukabumi: no publisher`s name. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . 3.K. there is a stample named by Muhammad Sanusi. 13 Jumadi al-Awwal 1361/29 Mei 2602 Nippon (1942).).a.هﺪاﻳﺔ اﻟﺼﻤﺪ ﻓﻰ ﻣﺘﻦ اﻟﺰﺑﺪ‬Gunung Puyuh Sukabumi: No publisher`s name. On the back-cover title-page of this book. (Petamburan Betawi: Cetakan Sayyid `Abdullah putra Sayyid Usman. s.).a. 11. sayyid Yahya.a.a.). s.H.). 5: Percetakan “al-`Usmaniyyah” Sayyid Hasan bin Usman bin ….). — Usep Abdul Matin 2.. s. ‫ . On the last page of this book. 9. the author warned the readers that his works entitled: 1. s. On the title-page of this book. Ali Alaydroes. ‫ .ﺟﻮهﺮة اﻟﻤﺮﺿﻴﺔ ﻓﻲ ﻣﺨﺘﺼﺮ ﻣﺪاهﺐ اﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ‬No place of the publication: no publisher`s name.آﺸﻒ اﻟﺴﻌﺎدة ﻓﻲ ﺗﻔﺴﻴﺮ ﺳﻮرة اﻟﻮاﻗﻌﺔ‬Babakan Sirna Sukabumi.a.ا ﻟﺸﺮاج اﻟﻮهﺎج ﻓﻰ اﻷﺳﺮاء واﻟﻤﻌﺮاج‬Tanah Abang Kecil No.اﻟﺪﻳﺎر اﻷﺳﻼﻣﻴﺔ ﻓﻲ اﻟﺴﻌﺎدة اﻷﺑﺪﻳﺔ : دار ﻷﺳﻼم دﻧﺎ آﺎﺑﻜﺠﺎ‬ (Kramat 38 Jakarta: Sd. like al-Wajiz by 162 .اﻟﻤﻄﻬﺮات ﻣﻦ اﻟﻤﻜﻔﺮات‬no place of the publication: No publisher`s name. (De Vogelweg Sukabumi: Al-Ittihad. He said that Tafsir Raudhat al`Irfan is worth reading for both old people (sepuh) and teenagers (murangkalih). 3. 26 Rajab 1347).). which says that he received anything to publish this book in a cheap cost. ‫ . 2. (Tanah Abang Weltevreden: Boekhandel en Steendrukkerij Sajid Yahya.اﻳﻘﺎظ اﻟﻬﻤﻢ ﻓﻲ ﺗﻌﻠﻴﻖ اﻟﺤﻜﻢ‬No place of the publication: no publisher`s name. ‫( . 1 Rajab 1347/13 December 1928). s. ‫( . ‫( ..ﺗﺎج اﻟﻤﻔﺎﺧﺮ ﻓﻲ ﺗﻔﺮﻳﺢ اﻟﺨﺎﻃﺮ ﻓﻲ ﻣﻨﺎﻗﺐ اﻟﺴﻴﺪ ﻋﺒﺪ اﻟﻘﺎدر ﺟﻴﻼﻧﻰ‬Tanah Abang Weltevereden: Kantor Cetak Sayyid Yahya. ‫( .a.آﺸﻒ اﻷوهﺎم واﻟﻈﻨﻮن ﻓﻲ ﺑﻴﺎن ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻲ ﻻﻳﻤﺴﻪ اﻻ اﻟﻤﻄﻬﺮون‬Tanah Abang: Kantor Cetak Sayyid Yahya. he prohibited the readers from reading the fake works (kitab-kitab tiruan). In addition. s. were published by Musa bin `Ali Patekwan Betawi without the author`s permission. 8. 7. 6.

He warned them that whoever was involved in this case would be expelled by God from Islam. December 22. and my grandfa who became the adjutant to the late father of K. Gunung JayaSukabumi. — Usep Abdul Matin Haji Muhammad Juwayni bin Haji `Abdurrahim Parakan Salak published by Sayyid `Ali al-`Idrusiy in the Keramat Batavia Centrum. by Taufik Abdullah. 2001 in his house. Conclusion On the basis of the above-mentioned details. 163 ..K. I hope that this article inspires the readers. who lived from the last nineteenth to the first twentieth century. s.). in particular the students of Islamic History and Civilization. Azyumardi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Then. he qouted the prophet`s statement: “Man Gassana fa laysa minna” (whoever performed a back bitting is not from us). I dedicate this work to my late parents. Introd. is a prolific writer whose works are now dfficult to discover for the reason that the Dutch colonial government regarded him as a dangerous man to them. to study further on Sanusi in a more deeply way.a.. There is one book of Sanusi that I found from a santri of Syams al-`Ulum in Gunung Puyuh. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . thereby prohibiting Indonesians from having and reading Sanusi’s works. Azra. Ahmad Sanusi: K. Yosep Aspat. Ahmad Sanusi. I could draw a conclusion that KH. (Gunung Puyuh Sukabumi: no publisher`s name. Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana & Kekuasaan. 1999. He was a Sundanese reformer Muslim whose ideas were influenced very much by notorious Muslim reformers. since he traveled to the Haramayn (Mecca and Medina) to learn and to teach. Sukabumi: Misb±h al-Fal±h f³ Awrad al-Mas` wa-al-Syab±h. On this paper.H.H.H. I have a good luck to find more than one hundred writings authored by Sanusi. Mr. Abdurrahim. such as Muhammad `Abduh and Jamaluddin Al-Afghani. [] Bibliography Alamsyah.

Leiden. 2001. 3. Dudu Abdullah Hamidi. Kantor Cetak al-Ittihad Sukabumi. Ibn Haji Syafe`i Sukabumi.a. ---------. Proyek Penelitian Keagamaan. in Proces Verbal. Iskandar. Sukabumi: Kantor Cetak Sukabumi. When I interviewed him. he was at the age of 80.K. 1993.. Muhammad Misbah. Vol. KH Ahmad Sanusi dan Perjoangannya. Vol. — Usep Abdul Matin Ensiklopedi Islam. [Sanusi`s speech of Syarekat Islam] “Dit Boek Nahratoe`ddhargam (De Gebiedende Leeuwenstem) Dienende tot Wering van de Aanvallen Veragtelijke Menschen Gericht tegen de S. Wanta. Ahmad. on December 20. Jakarta: PT Intermasa.a. ibn Husain. ---------. West Java. 1935.I. 2001. An unpublished thesis. 1986.. Rijk Universiteit.” .H. Sanusi. 19 Februari 1940. Amsterdam: Vrije Universiteit. Majalengka: Pengurus Besar “Persatuan Ummat Islam” Majlis Penyiaran dan Da`wah. 1998 Leiden: Rijk Universiteit Leiden. Sukabumi. 164 . Interview: Interview with late Ajengan Dadun in his house in Cibadak. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . Leiden University. in our house in Sukabumi December 12. Sipahoetar. Buitenzorg: Ang Tjio Drukkerij. [Fatw±] “Zakat Fithrah. 1. 1935. Studiegids Islamologie 1998/1999. The Netherlands]. Siapa?: Lukisan tentang Pemimpin-pemimpin. Mohammad. December 12. Fatw±. Sukabumi. Mindharat al-Islam wa-alIman. KITLV. Second edition. Jakarta: Bagian Proyek Penelitian dan Pengembangan Lektur Agama Departemen Agama. 1991. Ahmad Sanusi. Oking in his house in Cigunung. Biografi K. 1900-1942. 1955.” s. my father. M.H. Puslitbang Lektur Agama.H. Interview with Mr.. 2001. 1991. KH. Tahdîr al-Afk±r. Badan Litbang Agama. Interview with late K. Boenoet: “Pemerintah” Soekaboemi. Abdullah. Sukabumi: al-Ittih±d. Leiden University. [This work is in form of micro film which is available in the KITLV library. Para Pengemban Amanah: Kyai dan Ulama dalam Perubahan Sosial – Politik di Priangan c. ---------. Tadhkirat al-Ikhw±n bi-m± fî ±khir al-Zam±n.

the order of Syattariyah Syekh Burhanuddin Ulakan tought in the following period was flexible. Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Teks dan Konteks. Kajian filologi semacam ini mensyaratkan para filolog untuk memperkaya wawasannya dengan pengetahuan tentang sejarah sosial-intelektual tersebut.Tarekat Syattariyah di Minangkabau — Uka Tjandrasasmita Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Tinjauan Buku “Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Teks dan Konteks”. The order of Syattariyah is considered by a group of Naqsyabandiyah to teach the wujudiyah (monism or unity of being). Moreover. An interesting thing is that this book is a result of the philological study with the approach of sociointellectual history which the local philologists are still rare to use. Tarekat Syattariyah di 165 . The study of the book has been extended by additional analysis on the representation of the Sundanese manuscript with Kuningan version dan two other Javanese manuscripts – Cirebon version and Girilaya version. with its seven grades teaching. this study is hoped to motivate other local philologist to conduct such study. Minangkabau Pendahuluan Kajian filologi dengan pendekatan sejarah sosial-intelektual masih jarang dilakukan oleh ahli filologi Indonesia. The explanation which is based on the manuscripts of the Syattariyah Minangkabau. In fact. tarekat Syattariyah. illustrate the existing difference between the order of Syattariyah and the order of Naqsyabandiyah. karya Oman Fathurahman Uka Tjandrasasmita UIN Syarif Hidayatullah. Burhanuddin Ulakan. Buku karya Oman Fathurahman. Jakarta This writing is an overview of the book written by Oman Fathurahman. Therefore. it was clear that the teaching of monisme or unity of being was eliminated and the teaching was adjusted to the teaching of Islam which is based on the creed of Ahlus Sunnah wal Jamaah Kata kunci: Filologi.

untuk kasus di Minangkabau (Sumatera Barat). naskah-naskah Minangkabau memperlihatkan kekhasannya tersendiri yang menunjukkan ekpresi Islam di Indonesia di mana terdapat unsur-unsur budaya lokal. Naskah-naskah lokal di Minangkabau menunjukkan ekspresi Islam lokal. 1. 2009: 165 . Ketiga naskah tersebut menurut Oman Fathurahman. Hal ini menunjukkan bahwa surau merupakan pusat pewarisan intelektual Islam. Azra mengatakan bahwa dari segi kajian naskah-naskah (manuscripts) keislaman yang tersebar di Nusantara. Jika diadakan perbandingan dengan naskah-naskah yang mengandung keagamaan Islam di daerah lainnya di Nusantara atau dengan naskah-naskah Islam yang berkembang di wilayah asalnya di Tanah Arab. tidak sebatas Minangkabau. Naskah dan Pendekatan Interdisipliner Buku karya Oman Fathurahman ini dapat dikatakan telah teruji bobot keilmiahannya karena merupakan hasil disertasi yang dinyatakan lulus dengan pujian cumlaude oleh dewan pengujinya.Jurnal Lektur Keagamaan. Cakupan pembahasan dalam buku ini sudah mengalami perluasan. Diharapkan kehadiran buku ini dapat mendorong para ahli filologi Indonesia lainnya untuk mengadakan kajian semacam itu. ”Apresiasi Warisan Intelektual Islam di Surau Minangkabau”. Betapa pentingnya buku karya Oman Fathurahman ini telah ditandaskan oleh Azyumardi Azra dalam Kata Pengantarnya. Buku yang akan kita tinjau ini merupakan kajian filologis dengan pendekatan sejarah sosial-intelektual. 166 . melainkan juga analisis terhadap representasi naskah Sunda “versi Kuningan” dan dua naskah Jawa “versi Cirebon” dan “versi Girilaya”. surau merupakan pusat penulisan dan penyalinan naskah-naskah keislaman tersebut. 7.174 Minangkabau: Teks dan Konteks. Vol. merupakan karya yang berasal dari disertasi untuk memperoleh gelar doktor pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia tahun 2003. No. dipakai sebagai bahan perbandingan untuk melihat sejauh mana kekhasan dinamika dan perkembangan tarekat Syattariyah di Sumatera Barat yang tetap menjadi perhatian utamanya.

2006: 43-52). politik. secara khusus kami juga telah menyampaikan makalah tentang bagaimana hubungannya antara Filologi dan Pendekatan Interdisipliner di 167 .. dan kebudayaan bahkan perobatan. Buku ini diharapkan mendorong para ahli filologi pribumi lainnya untuk mengadakan kajian semacam itu.Tarekat Syattariyah di Minangkabau — Uka Tjandrasasmita Hal yang menarik perhatian kita adalah bahwa buku Oman Fathurahman ini merupakan hasil kajian filologi dengan pendekatan sejarah sosial-intelektual yang masih jarang dilakukan di antara ahli filologi pribumi. Hoesein Djajadiningrat. Disertasi yang sangat penting artinya bagi pengembangan sejarah pemikiran keagamaan ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.J. bahkan H. yaitu Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Melacak Akar-Akar Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia. Saya sendiri telah mencoba menguraikan permasalahan ini dalam buku yang baru saya sebutkan di atas.. Karyanya telah saya contoh untuk membedakan ahli-ahli filologi masa lampau yang menggunakan kajiannya dengan pendekatan sejarah-politik konvensional sempit seperti R. baik yang bernuansa keagamaan Islam maupun yang bukan. adat. A.A. Contribution of Islamic Manuscripts for the Study of Islamic Archaeology (Uka Tjandrasasmita. 2006: 459-. Mengenai hal ini pernah saya kemukakan dalam suatu risalah sebagai kontribusi memperingati usia ke-80 tahun R.. Soejono. Kecuali dapat dimanfaatkan bagi penulisan sejarah. ekonomi. Cense. Sebenarnya kajian terhadap naskah dengan pendekatan sejarah sosio-intelektual telah dipelopori oleh Azyumardi Azra melalui disertasinya untuk memperoleh Ph.D. Hans Overbeck. hukum.A. Kecuali itu. de Graaf dan lain-lain (Uka Tjandrasasmita: Kajian Naskah-Naskah Klasik. pada umumnya mengandung informasi berlimpah yang meliputi kehidupan sosial. di Columbia University tahun 1992 dengan judul The Transmission of Islamic Reformation to Indonesia Networks of Middle Eastern and Malay-Indonesian Ulama in the Seventeenth and Eighteenth Centuries. maka selayaknya filologi juga memakai pernaskahan itu dengan pendekatan sejarah dan ilmu-ilmu sosial lainnya. kajian naskah dapat juga memberikan kontribusi pada kajian arkeologi.471).P. Mengingat naskah-naskah atau manuskrip khazanah budaya bangsa Indonesia.

Bahkan naskah-naskah yang membicarakan hal-hal pengobatan tradisional dengan bermacam tumbuhan dapat dikaji dari segi ilmu kedokteran modern. dan Tuanku Bagindo Abbas Ulakan.174 Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama pada tanggal 14 Nopember 2008. Selanjutnya juga diturunkan kepada muridmuridnya di Minangkabau sampai pada tiga orang ahli tarekat Syattariyah abad ke-20 yang namanya telah disebut di atas dan karangannya menjadi sumber primer bagi penelitian tarekat di Sumatera Barat/Minangkabau. K. Isi pokoknya dapat dibaca dalam ringkasannya yang antara lain mengemukakan tentang sumber primernya yang berdasarkan 10 judul naskah-naskah Syattariyah dari Sumatera Barat. yaitu Abdurrauf ibn Ali al-Jawi al-Fansuridi antaranya ialah Tanbīh al-Māsyī al168 . Karya guru Syekh Burhanuddin Ulakan. 7. Naskahnaskah tersebut merupakan karya tulis tiga orang ulama yaitu: Imam Maulana Abdul Manaf Amin (1922-2006). Oman Fathurahman dalam penelitiannya menggunakan dua sumber Arab yaitu kitab al-Sim¥ al-Majīd sebuah karangan tasawuf Syekh A¥mad al-Qusyāsyī dan It¥āf al-ª±ki bi Syar¥ al-Tu¥fah alMursalah ilā Rū¥ al-Nabī karangan Ibrāhīm al-Kūrānī. Deram (w. 1. Pribumisasi Tarekat Syattariyah di Sumatera Barat Kembali mengenai tinjauan terhadap buku karya Oman Fathurahman. H. Kedua ahli tasawuf ini adalah guru Abdurrauf ibn Ali al-Jawi al-Fansuri. mengingat begitu luasnya kandungan pernaskahan kuno yang dapat dikaitkan dengan kajian berbagai ilmu.Jurnal Lektur Keagamaan. 2000). dapat dikatakan bahwa cakupan yang dibicarakannya cukup banyak dan sangat bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Vol. No. sehingga tidak mengherankan kalau karya-karya Abdurrauf merujuk pada kitab-kitab kedua ahli tasawuf tersebut. Untuk mengukur sampai dimana dinamika tarekat Syattariyah yang dibentangkan dalam naskah-naskah dari Sumatera Barat atau Minangkabau itu. 2009: 165 . Karya Abdurrauf kemudian ditransmisikan kepada Syekh Burhanuddin Ulakan yang meneruskan dan mengembangkan ajaran tarekat Syattariyah di Sumatera Barat. khususnya tentang Tarekat Syattariyah di Minangkabau.

kata Azyumardi Azra. Namun. 1999). menurut pembacaan saya. sayang dalam buku ini ajaran-ajaran zikir Syattariyah Abdurrauf yang terdapat dalam teks itu. yaitu Nuruddin al-Raniri sehingga atas anjurannya kitab-kitab karangan kedua ahli tasawuf Wujudiyah itu dibakar. yaitu Tanbīh al-Māsyī. hal tersebut sudah dibahas dengan teliti dalam subjudul “Zikir Tarekat Syattariyah dalam Tanbīh al-Māsyī dan Kifāyah al-Muhtājīn” (h. Kitab tafsirnya yang berjudul Tarjumān al-Mustafīd merupakan tafsir Al-Qur’an pertama di dunia Islam dalam bahasa Melayu. Ada perbedaan antara tujuan zikir Abdurrauf dalam Tanbīh alMāsyī yang merujuk kepada karya Syekh al-Qusyāsyī dengan Syattariyah di Sumatera Barat. Pada bab IV. dan satu buah di bidang tafsir. 64-69 dan 7072). Persoalan yang diangkat dalam karangan tersebut ialah masalah Wujudiyah yang pada abad ke-17 menjadi ajang pertentangan antara Hamzah al-Fansuri dan muridnya asSumatrani. belum mendapat porsi yang cukup memadai dalam pembahasannya karena baru diungkap secara sepintas. Meskipun demikian. dijumpai empat salinan naskah yang disalin dalam rentang waktu berbeda.Tarekat Syattariyah di Minangkabau — Uka Tjandrasasmita Mansūb il± °arīq al-Qusyāsyī (Pedoman bagi orang yang menempuh tarekat al-Qusyāsyī). serta dianggap ajaran yang sesat oleh lawannya. 10 buah di bidang fikih. Bila Nuruddin al-Raniri yang pada waktu itu menjadi penentang keras terhadap Wujudiyah maka Abdurrauf al-Singkili bersikap moderat yang dapat kita simak dari kitab Tanbīh al-Māsyī dan kitab-kitab lainnya. Abdurrauf mewacanakan bahwa tujuan akhir zikir tarekat Syattariyah ialah 169 . sedangkan untuk kitab yang menjadi objek kajiannya. Oman Fathurahman menyebutkan tidak kurang dari 23 buah karya Abdurrauf di bidang tasawuf. Kitab Abdurrauf ini sebenarnya pernah dikaji dan diterbitkan Oman Fathurahman dengan judul Menyoal Wahdatul Wujud: Kasus Abdurrauf Singkel di Aceh Abad ke-17 (Fathurahman. Kitab-kitab di bidang hadis yang dicatat Oman Fathurahman ada dua buah. Dalam naskah-naskahnya. khususnya mengenai amalan-amalan Syattariyah yang mengandung rumus-rumus atau simbol-simbol zikir dan cukup penting. teks Tanbīh al-Māsyī yang aslinya ditulis dalam bahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Jelas ini merupakan bagian dari dinamika tarekat Syattariyah di Sumatera Barat. padahal kenyataannya tarekat Syattariyah yang diajarkan Syekh Burhanuddin Ulakan sampai masa berikutnya senantiasa mendasarkan pada prinsip-prinsip al-Quran dan Hadis Nabi. Bulan Safar tersebut dikaitkan dengan anggapan masa wafatnya Syekh Burhanuddin Ulakan sendiri. sejumlah naskah Minangkabau menjelaskan adanya upaya pelucutan doktrin Wujudiyah dari keseluruhan ajaran tareakat Syattariyah. disalin dan diwariskan oleh para guru tarekat Syattariyah dari surau sebagai skriptorium pernaskahan. dengan alasan bertentangan dengan prinsip-prinsip ahlussunnah wal-jamaah. Hal lain yang juga menarik perhatian kita adalah uraian yang didasarkan pada naskah-naskah dari Minangkabau/Sumatera Barat yang mengandung gambaran adanya perbedaan paham antara tarekat Syattariyah dengan tarekat Naqsyabandiyah. Sikap dari para penganut tarekat Syattariyah di Sumatera Barat/Minangkabau tersebut oleh Oman dibahas berdasarkan naskah-naskah primer yang ditulis. 111-129). No. Vol. Tarekat Syattariyah dianggap oleh kelompok masyarakat penganut tarekat Naqsyabandiyah mengajarkan doktrin Wujudiyah yang dianggap berlebihan dan menyimpang. Dalam level tertentu. yang dalam buku ini dikemukakan pada bagian keenam (h. sedangkan dalam teks-teks di Sumatra Barat lebih banyak disebutkan bahwa. Ada pertanyaan yang perlu dikemukakan. Di dalamnya dibahas serta diberikan contoh pula adanya pribumisasi tarekat Syattariyah yang antara lain berwujud dalam kesenian upacara ritual kesenian yang disebut Basapa dan kesenian Salawat Dulang (h. Orang yang mengikuti upacara ritual ini bukan hanya penganut tarekat Syattariyah tetapi juga penganut Islam pada umumnya. tujuan akhir zikir hanya “sekadar” untuk membersihkan jiwa agar memperoleh kedekatan dengan Tuhan dan untuk membuka rasa agar memperoleh keyakinan dan kesaksian akan hakikat dan wujud-Nya. Ritual Basapa ialah upacara berziarah ke makam Syekh Burhanuddin Ulakan sebagai ulama besar tarekat Syattariyah di Sumatera Barat yang dilakukan setiap tahun pada tanggal 10 Safar. 130-149). 2009: 165 . yaitu apa bedanya dengan upacara tabuik yang biasanya dilakukan 170 .174 konsep fana. 1. 7.Jurnal Lektur Keagamaan.

Kalau Oman Fathurahman mengambil contoh naskah versi Kuningan. dan “Girilaya” Untuk melengkapi disertasinya. sebelum diterbitkan dalam bentuk buku. Dalam upacaya ini biasanya terdiri dari dua grup yang dilaksanakan dengan cara berdialog tentang keagamaan Islam. Berbeda dengan tarekat Syattariyah Sumatera Barat. Selain itu disisi pula dengan khutbah. dan Girilaya cenderung kepada tarekat Syattariyah Abdurrauf dari Aceh dengan tidak menolak sama sekali tasawuf Wujudiyah walaupun tetap mengajarkan Martabat Tujuh yang diterima oleh Syekh Abdul Muhyi (Pamijahan) dari gurunya Abdurrauf al-Singkili. karena hal itu mungkin disebabkan adanya hubungan silsilah guru-guru tarekat Syattariyah yang juga sering mencantumkan tokoh Ali bin Abu Thalib panutan utama aliran Syiah. dan “versi Girilaya”. “versi Cirebon”. tarekat di Kuningan. Demikian di antaranya pribumisasi tarekat Syattariyah di Sumatera Barat. Menurut tradisi. yaitu kesenian yang menggunakan antara lain dulang atau talam dengan cara dipukul-pukul sambil membacakan salawat Nabi. Oman Fathurahman telah memperluas pembahasan tentang dinamika tarekat Syattariyah di Minangkabau melalui perbandingan dengan “versi Kuningan”. dan berbagai lagu-lagu lainnya. penelusurannya akan semakin lengkap jika dikaitkan pula dengan ajaran tarekat Syattariyah yang semula dianut oleh Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah. Salawat Dulang atau Salawat Talam sampai kini dilakukan oleh masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat. “Cirebon”.Tarekat Syattariyah di Minangkabau — Uka Tjandrasasmita oleh penganut Syiah di Pariaman dan tempat lainnya? Ini bisa bersamaan atau hampir bersamaan. pertama kalinya upacara itu dilakukan pada masa hidupnya Syekh Burhanuddin Ulakan yang pernah menyaksikan upacara kesenian di Aceh dengan menggunakan rebana. Cirebon. Tarekat Syattariyah versi “Kuningan”. Karena berdasarkan pemberitaan dalam naskah. Sunan Gunung Jati atau Syekh 171 . baik dari Kuningan maupun dari Mertasinga Cirebon yang ditulis pada abad 18-19 M. tarekat Syattariyah ketiga versi tersebut dikatakannya. Kecuali itu pribumisasi tarekat Syattariyah terekspresi dalam upacara kesenian Salawat Dulang. naskah yang berasal dari Kiai Maolani.

Masalah tarekat-tarekat ini dapat dibaca dalam Amman N. Dalam naskah Kuningan lebih rinci lagi ajaran tasawuf dengan tarekat-tarekatnya terutama tarekat Syattariyah seperti disebut dalam silsilah Mursyidnya: dari mulai Nabi Muhammad. Sebab. ia pernah ke Cirebon dan mengajarkan tarekat Syattariyah.174 Syarif Hidayatullah berguru tasawuf tarekat Kubrawiyah. Tambahan lain yang perlu dimasukkan adalah bagaimana hubungan tarekat Syattariah dengan Martabat Tujuh yang ditulis oleh Haji Hasan Mustafa. Imam Ja’far as-Sidik. 2007). 7. Sayidina Ali. Juga bagaimana kelak jika telah dipelajari tarekat Syattariyah yang diajarkan di Buton dan mungkin tempat-tempat lainnya yang sudah tentu akan memberikan gambaran yang luas sekali tentang keberadaan tarekat Syattariyah di Nusantara ini. Cirebon dan Kuningan. Muhammad Magrib dan seterusnya secara turun temurun sampai pada ulama-ulama di Jawa. Oleh karena itu. Kecamatan Tondano. Abi Yazid al-Bisthami. makamnya ada di kompleks makam Kiai Mojo di Kampung Jawa. Naqsyabandiyah. Kecuali itu bagaimana kaitan ajaran tarekat Syekh Abdul Muhyi dari Pamijahan dengan yang berada di Cirebon. Wahyu. yang terkenal sebagai pujangga besar Sunda dengan banyaknya karangan mengenai adat istiadat dan lain sebagainya. Vol.Jurnal Lektur Keagamaan. Sayidina Zainal Abidin. ke Sayidina Husein. apakah ada hubungannya dengan naskah tarekat Syattariyah dari Haji Maolani-Lengkong-KuninganJawa Barat yang diasingkan Pemerintah Hindia-Belanda semasa Perang Diponegoro ke Menado. bagaimanapun. Sayidina Muhammad al-Baqir. menurut cerita. dan Satoriyah (Syattariyah). Kabupaten Minahasa. sampai terakhir pada Kiai Mas Demang wedana pensiun Atmawijaya. Kini. 1. 2009: 165 . No. Hal ini perlu diadakan penelitian lebih jauh. Penutup Hasil kajian yang telah dilakukan Oman Fathurahman melalui bukunya ini. Sejarah Wali: Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati (Naskah Mertasinga. masyarakat Kuningan menyebut Kiai Maolani atau Lengkong itu dengan Embah Manado. telah memberikan sumbangan besar bagi perkembangan studi filologi dengan pendekatan sejarah sosio172 . 2005) dan (Naskah Kuningan.

Fathurahman. Melalui kajian semacam itu dapat diyakini betapa tingginya nilainilai keintelektualan para ulama kita di masa lampau yang telah mewariskan ratusan bahkan ribuan naskah sebagai warisan khazanah budaya bangsa. Centre de Jakarta. 1999.F. Demikian pula bagi para mahasiswa yang tengah menuntut ilmu di berbagai jurusan dengan bidangnya masing-masing dapat menyentuh nuraninya untuk mempelajari filologi atau pernaskahan. perlu menyadari untuk mengadakan penelitian naskah-naskah yang bernuansa keagamaan. Jakarta: E. Lebih-lebih bagi mahasiswa-mahasiswa Fakultas Adab dan Humanaiora. Tanbih Al-Masyi Menyoal Wahdatul Wujud Kasus Abdurrauf Singkel di Aceh Abad 17. [] Daftar Pustaka Azra. Bandung: Mizan. bahkan ilmu-ilmu lainnya seperti kedokteran dan teknologi.Tarekat Syattariyah di Minangkabau — Uka Tjandrasasmita intelektual atau pemikiran Islam karya cendekiawan Muslim masa lampau di Indonesia. baik UIN Syarif Hidayatullah atau di perguruan tinggi agama lainnya. yang tidak terbatas pada kajian filologi. Azyumardi. Henri & Oman Fathurahman. 1999. 1994.E. Buku karya Oman Fathurahman ini dapat semakin menegaskan bahwa naskah kuno keagamaan memiliki arti yang sangat penting untuk studi-studi keagamaan. 173 .-Yayasan Obor Indonesia. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII Melaacak Akar-Akar Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia. Penerbit Mizan.F. Hasil kajian seperti itu akan mendorong semangat terutama bagi siapapun yang berkecimpung. Panduan Koleksi Naskah Naskah Indonesia Sedunia/ World Guide to Indonesian Manuscript Collections. baik dalam bidang filologi maupun di bidang ilmu-ilmu lainnya.E. Jakarta dan Bandung: E. Chambert-Loir. Oman.O. Semoga buku ini mencapai tujuannya untuk menambah wawasan para pembacanya dan juga untuk memperkaya khazanah kepustkaan Indonesia pada umumnya dan kepustakaan Islam Indonesia pada khususnya. terutama yang termasuk ilmu-ilmu sosial.O.

1426 H/1995 M. 4 November. Kajian Naskah-Naskah Klasik dan Penerapannya bagi Kajian Sejarah Islam di Indonesia. ----------. ----------. Bandung: Penerbit Pustaka ----------. Indonesian Institute for Sciences: International Center for Prehistoric and Austronesian Studies. 174 . (Naskah Kuningan). No. Tgl. 1998. Amman N. “Pendekatan Interdisipliner Dalam Kajian Filologi”. Bandung: Penerbit Pustaka. Kajian Sejarah dan Arkeologi Islam di Indonesia: Pemanfaatan: Hasil Kajian Filologi. Soejono’s Fest Script.I. Disampaikan dalam Diklat Penelitian Naskah Keagamaan Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan Departemen Agama RI. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. Jakarta: Pidato Penganugerahan Gelar Doktor Honoris Causa oleh IAIN Syarif Hidayatullah. R. 7. 2006. Alih aksara dan bahasa. h. 1. Uka. “The Contribution of Islamic Manuscripts for the Study of Islamic Archaeology”. 459-471 ----------. 2009: 165 .Alih aksara dan bahasa. Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama R.Jurnal Lektur Keagamaan. Wahju. Sejarah Wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati (Naskah Mertasinga). Archaeology Indonesia Perspective.P. 2008.174 Tjandrasasmita. Sejarah Wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. 2006. 2007. Vol.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful