ISSN 1693-7139

Jurnal Lektur Keagamaan
Vol. 7, No. 1, Tahun 2009/No. Akreditasi: 48/Akred-LIPI/P2MBI/12/2006

Daftar Isi
Kajian Naskah, Sejarah, dan Arkeologi Teks, Islam dan Sejarah: Setali Tiga Uang Fuad Jabali Perang dan Damai di Aceh: Kajian Manuskrip Aceh Tentang Konflik dan Solusinya Fakhriati 1 — 20

21 — 52

Beberapa Aspek Kodikologi Naskah Keagamaan Islam di Bali: Sebuah Penelusuran Awal Asep Saefullah dan M. Adib Misbachul Islam 53 — 90 Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua dalam Naskah-Naskah Tarekat Syattariyah di Minangkabau Pramono dan Bahren

91 — 108

Peran Penting Pernaskahan dan Benda Khazanah Keislaman Lainnya dalam Kajian Arkeologi Islam di Indonesia Agus Aris Munandar 109 — 132 Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara Irmawati M-Johan Tokoh K.H. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual 133 — 146

Discourse, and His Work Collection
Usep Abdul Matin Telaah Buku Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Tinjauan Buku “Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Teks dan Konteks”, karya Oman Fathurahman Uka Tjandrasasmita 165 — 174 147 — 164

i

ISSN 1693-7139

Jurnal Lektur Keagamaan
Vol. 7, No. 1, Tahun 2009/No. Akreditasi: 48/Akred-LIPI/P2MBI/12/2006
PEMBINA PEMIMPIN UMUM REDAKTUR AHLI (MITRA BESTARI) M Atho Mudzhar Maidir Harun Uka Tjandrasasmita (UIN Syahid Jakarta); Nabilah Lubis (UIN Syahid Jakarta); Abdul Hadi WM (Universitas Paramadina); Achadiati Ikram (Universitas Indonesia); Badri Yatim (UIN Syahid Jakarta); Oman Fathurahman (UIN Syahid Jakarta); Tommy Christomy (Universitas Indonesia); Titik Pudjiastuti (Universitas Indonesia); Sudarnoto Abdul Hakim (UIN Syahid Jakarta) Asep Saefullah Masmedia Pinem E. Badri Yunardi, Harisun Arsyad, Ahmad Rahman, Muchlis, Andi Bahruddin Malik, Dazrizal, M. Syatibi, AH, Ali Akbar, Muchlis M. Hanafi, Ridwan Bustamam, Munawiroh Ibnu Hasyir, Nurman Kholis, Muhammad Salim, Ida Swidaningsih, Umi Kulsum Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI Gedung Bayt al-Qur’an & Museum Istiqlal, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta 13560 Telp./Faks. (021) 87794220 E-mail: puslitbang_lektur@yahoo.co.id

PEMIMPIN REDAKSI SEKRETARIS REDAKSI DEWAN REDAKSI

TATA USAHA ALAMAT REDAKSI

* Kulit depan: Naskah MS Serangan 01, h. 56, milik H. Baharuddin, Kampung Serangan, Denpasar, Bali; dan Halaman Awal Naskah Hiyakaye milik Syik Jah Amut, Geulumpang Miyeunk, Pidie, Aceh. *

Berdasarkan SK Kepala LIPI No. 1563/D/2006 tanggal 18 Desember 2006, Jurnal Lektur Keagamaan telah terakreditasi A ii

Aceh adalah sebuah daerah yang memiliki penduduk yang kehidupan mereka cukup berfluktuatif. teks dimana sistem nilai itu diekspresikan. Obituari/Tokoh. Sampai batas tertentu. Kajian Lektur Kontemporer. Jurnal Lektur Keagamaan telah memperluas wilayah cakupannya yang disesuaikan dengan tugas dan fungsi Puslitbang Lektur Keagamaan. sedangkan golongan kedua lebih pada konteks tetapi teks yang dihasilkannya cenderung labil. dan sejarah (ruang dan waktu) sebagai konteks dimana sistem nilai itu diturunkan dalam teks. Perang dan damai telah mewarnai daerah ini sepanjang sejarahnya. Tulisan pertama menyajikan tentang Islam. teks dan sejarah adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Islam. Secara garis besar. setidaknya dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori besar. Tulisan ini menjelaskan hubungan yang erat antara Islam sebagai sebuah sistem nilai. Cakupan tersebut meliputi Kajian Naskah Klasik. redaksi menampilkan delapan tulisan. Salah satu sumber yang sangat penting digunakan untuk mengkaji sejarah kehidupan orang Aceh adalah naskah kuno yang menjadi tulisan iii . Telaah Dokumen. membaca teksteks dari Timur Tengah nampaknya lebih ‘mudah’ dibanding membaca dokumen sejenis di Indonesia. Khazanah Budaya Keagamaan. Pada Nomor ini. dan 2) teks-teks yang dilahirkan oleh kalangan esensialis. kepada kelompok mana teks itu dihubungkan. Konflik internal maupun eksternal telah terjadi dalam periode-periode yang berbeda. Pada tulisan kedua diulas mengenai perang dan damai di Aceh melalui kajian atas manuskrip Aceh tentang konflik dan solusinya. Di sinilah kejelian seorang filolog diuji. dan Telaah Buku/Kitab serta materi yang berkaitan dengan kebijakan. teks dan sejarah. teks-teks yang lahir dalam dunia Islam.Pengantar Redaksi Sejak tahun 2008. yaitu: 1) teks-teks yang dilahirkan oleh kalangan skripturalis/fundamentalis. Golongan pertama lebih menekankan teks dan cenderung menghasilkan teks yang stabil. Arkeologi dan Sejarah.

untuk kemudian menjadi teladan bagi kehidupannya. dan lontar. 4) Isi naskah antara lain mencakup fikih. khususnya terkait dengan Tarekat Syattariyah. dan 3) Naskah Al-Qur’an sebanyak 14 naskah.mereka sendiri. kertas Eropa. dan bahkan tidak utuh lagi. tauhid. Naskah yang ditemukan sebanyak 38 buah dengan perincian sebagai berikut: 1) Naskah keagamaan berbahan kertas sebanyak 12 naskah. yaitu dluang. Bugis. bahasa (nahwu-saraf). Tulisan ini berupaya memberikan penafsiran atas naskah-naskah lokal di Minangkabau. Tulisan ini merupakan hasil penelusuran naskah keagamaan Islam di Bali tahun 2008 yang lalu. Tulisan ketiga menyajikan hasil penelusuran awal tentang beberapa aspek kodikologi naskah keagamaan Islam di Provinsi Bali. wirid. mulai dari abad ke-17 hingga abad ke-20 M. generasi sekarang dapat membaca dan memahami langsung tentang tulisan orang Aceh yang menjadi sumber utama. Sebagian besar naskah sudah rusak. Karenanya. dan obatobatan. naskah-naskah tersebut memiliki arti penting karena berkaitan dengan kebutuhan keagamaan sehari-hari bagi para pengikut Tarekat Syattariyah di Minangkabau. Para iv . dan menjelaskan sikap dan tingkah laku orang Aceh secara langsung. dapat dicatat beberapa hal: 1) bahan yang digunakan beragam. karena di dalamnya mengandung informasi asli tentang Aceh. 3) Waktu penyalinan antara abad ke-17–19 M. Dari aspek kodikologi. adab kepada guru. dan yang tertua tahun 1035 H/1625 M. Tulisan keempat tentang kepemimpinan Islam di kalangan Kaum Tua dalam naskah-naskah Tarekat Syattariyah di Minangkabau. Pertanyaan utama yang perlu dibahas adalah bagaimana cara orang Aceh mengatasi konflik dalam kehidupan mereka. tasawuf. dan bagaimana karater serta sikap mereka pada masa lalu. tidak terawat dan kurang mendapat perhatian. dan Bali. Kondisi naskah keagamaan Islam di Bali pada umumnya sangat memprihatinkan. kertas modern bergaris. Bagi para penganut tarekat Syattariyah. doa. 2) Bahasa dan aksara yang digunakan meliputi Arab. Al-Qur’an. Melayu (Jawi). mengetahui riwayat guru adalah sebuah keharusan karena bermakna penghormatan kepada guru. dan geguritan (cerita). Makalah ini mencoba menemukan dan menganalisa sumber-sumber primer ini dalam hubungannya dengan perang dan damai yang terjadi dalam sejarah kehidupan orang Aceh. 2) Naskah lontar sebanyak 12 naskah. Secara kultural.

H. khususnya naskah klasik keagamaan (Islam) dalam studi arkeologi religi (Islam). Tulisan ini menjelaskan bagaimana peran arkeologi dalam kajian Islam di Nusantara dan hal-hal apa saja yang menjadi kajian arkeologi. K. tingkah lakunya diikuti. sebagai penerang di dunia bahkan sampai di akhirat.H.ulama pemimpin Kaum Tua berperan tidak hanya di bidang keagamaan. tetapi juga di bidang sosial-budaya dan politik. dan apa saja kiranya buku-buku yang telah beliau tulis. Departmen Agama RI tahun 1986. bahkan sulit ditemukan. Ahmad Sanusi. yaitu K. sebagian besar dari karyanya tidak tersimpan di satu tempat. Peranan data dari sumber tertulis dalam kajian arkeologi Islam antara lain sebagai berikut: (a) Pendukung kajian terhadap data artefaktual. Tulisan ini membahas tentang posisi penting data tertulis. Namun. Ahmad Sanusi (1888-1950). Suaranya didengar. Ahmad Sanusi itu.H. dikemukakan pula berbagai penelitian yang telah dilakukan selama ini yang berkait dengan Islam di Nusantara.H. riwayat dan ajarannya ditulis dan disebarkan. Mereka dihormati. Puslitbang Lektur Keagamaan) Badan Litbang dan Diklat. Menurut Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur Agama (Skr. dan (d) Memperkaya interpretasi untuk dapat mengembangkan historiografi. Dua tulisan lain selanjutnya membahas hubungan naskah dengan arkeologi. Tulisan ini membahas wacana keagamaan dan karya-karya K. Buku ini merupakan hasil kajian filologi dengan v . Selanjutnya adalah tulisan tentang tokoh. karya Oman Fathurahman. ditemukan kurang lebih seratus dua puluh dua (122) karya K. (b) Memperluas pemahaman tentang kedudukan dan peranan artefak dalam masyarakat sezaman. Tulisan pertama menyajikan peran penting pernaskahan dan benda khazanah keislaman lainnya dalam kajian arkeologi Islam di Indonesia. Tulisan ini bertujuan untuk berbagi pendapat tentang siapa K. Ahmad Sanusi telah menulis selama hidupnya 480 karya tulis. (c) Data dari sumber tertulis dapat menjadi dasar penelitian dan kerangka acuan kajian arkeologi Islam. Dalam kesulitan itu. Ahmad Sanusi. Sedangkan tulisan kedua membahas peran arkeologi dalam kajian Islam Nusantara.H. Tulisan terakhir merupakan telaah buku yang judul “Tarekat Syattariyah di Minangkabau Teks dan Konteks”. Selain itu.

menggambarkan adanya perbedaan paham antara Tarekat Syattariyah dengan Tarekat Naqsyabandiyah.pendekatan sejarah sosial-intelektual yang masih jarang dilakukan di antara ahli filologi pribumi. Padahal. kenyataannya. Terakhir. dan semoga bermanfaat. Demikian. Uraian yang didasarkan pada naskah-naskah Syattariyah Minangkabau. Redaksi vi . Tarekat Syattariyah dianggap oleh kelompok masyarakat penganut Tarekat Naqsyabandiyah mengajarkan hal-hal wujudiyah. dan kepada Usep Abdul Matin—Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta—atas kontribusinya mengedit abstrak berbahasa Inggris. selamat membaca. Tarekat Syattariyah yang diajarkan Syekh Burhanuddin Ulakan sampai masa berikutnya bersikap lumer. redaksi mengucapkan terima kasih secara khusus kepada Lukman Hakim—Staf Ahli pada Jurnal Penamas. Pembahasan dalam buku telah mengalami perluasan dengan tambahan analisis terhadap representasi naskah Sunda “versi Kuningan” dan dua naskah Jawa “versi Cirebon” dan “versi Girilaya”. Balai Litbang Agama. Jakarta—yang telah menerjemahkan semua abstrak ke dalam bahasa Inggris.

No. dan lain-lain. Pelita. Sawangan Permai. (021) 98284951. 5. 1.8/30. 2006). Mukjizat Sabar. “Ragam Hiasan Mushaf Kuno Koleksi Bayt al-Qur’an dan Museum Istiqlal. Jakarta” Jurnal Lektur Keagamaan. (terj. 11-25 Juli 2004. Menyelesaikan pendidikan S1 (Sarjana Sastra.) karya Tallal Alie Turfe (Bandung: Mizania. Tahun 2006.ac. Pernah menjadi fasilitator pada Pelatihan Filologi Nasional yang diselenggarakan oleh Yayasan Naskah Nusantara (YANASSA) bekerja sama dengan The Toyota Foundation dan PPIM UIN Jakarta. 18 Oktober 1971. Saat ini Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia dapat dihubungi di Jalan Garuda IV Blok D. UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 1997. S2 (Magister Humaniora).) karya Joel L. No. mengikuti International Course on the Handling and Cataloguing of Islamic Manuscripts. adalah Peneliti di Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI. Departemen Agama RI. Karya-karyanya antara lain “Ibnul Muqaffa. Adib Misbachul Islam menyelesaikan studi S1 di Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab IAIN (skr. Sawangan Depok 16519. M. lulus tahun 1999 dengan judul disertasi “Pelebahan: Upaya Pemberian Makna para Puri-puri Bali abad ke14—19”. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI).Para Penulis Agus Aris Munandar adalah Staf Pengajar Program Studi Arkeologi Indonesia. Kraemer (Bandung: Mizan. Ponsel 0816 1447887. dan S 2 di Program Studi Ilmu Susastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia tahun 2005. Konstitusionalis Pertama yang Prosais”. S3 (Doktor Arkeologi). Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia). atau email: agus. lulus tahun 1984 dengan judul Skripsi “Beberapa Data Historis dari Parasasti Mula-Malurung”. Vol. Jawa Barat. Pada vii .id Asep Saefullah lahir di Kuningan. Fakultas Pascasarjana Universitas Indonesia. Tahun 2007 mengikuti Diklat Penelitian Naskah Keagamaan. Ia menyelesaikan S1 pada Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam IAIN (skr. (terj. bidang Arkeologi) dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia. 2007. 2003). Renaisans Islam: Kebangkitan Intelektual dan Budaya pada Abad Pertengahan. Jakarta.aris@ui. Departemen Arkeologi. Jakarta 1993. dan S2 di perguruang tinggi yang sama tahun 2000 pada Program Studi Sejarah Peradaban Islam. lulus tahun 1990 dengan judul tesis “Kegiatan Keagamaan di Gunung Pawitra: Gunung Suci di Jawa Timur Abad ke-14--15”. Manajer Penelitian dan Pengabdian Masyarakat FIB UI (2008—sekarang). di Kuala Lumpur Malaysia. UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2001.

No. bekerja sama dengan International Islamic University Malaysia (IIUM). dia adalah Deputi Direktur Bidang Akademik Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2002. Keragaman Iman: Studi Komparatif Masyarakat Muslim (co-translator). 2006. dosen di Fakultas Adab dan Humaniora dan di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Jurnal Lektur Keagamaan. 1. Jakarta: Logos. Mencetak Muslim Modern. “Membangun Pesantren di Ranah Sunda: Belajar dari Darul Arqam” dalam Jajat Burhanuddin and Dina Afrianty. J. Jakarta: RajaGrafindo Persada. 2. mendapatkan gelar Doktor dengan predikat Dean Honour List dari Institute of Islamic Studies. International Journal for South East Asian Islam. The Foreign Fulbright Grant telah memberikan beasiswa kepadanya untuk program S2 di Duke. Sejak 2007 hingga sekarang menjadi Ketua Departemen Arkeologi dan Ketua Program Pascasarjana Departemen Arkeologi FIB UI. Editor Studia Islamika. McGill University (1999). Jakarta: RajaGrafindo Persada. selama tiga minggu mengikuti International Course in the Handling and Cataloguing of Islamic Manuscripts di Kuala Lumpur. Benturan Peradaban: Sikap Islamis Indonesia Terhadap Amerika Serikat (Co-author). Leiden: E. Montreal-Jakarta: ICIHEP. “Menguak Sufisme Tuang Rappang”. Vol 6. yang diselenggarakan oleh al-Furqan Islamic Heritage Foundation. Fuad Jabali. 2008.bulan Maret-April 2006. Jurnal Lektur Keagamaan. Peta Pendidikan Islam di Indonesia (Making Modern Muslims: Map of Islamic Education in Indonesia). Riaz Hasan. Departemen Agama. Brill. Vol. 2005. The Comnpanions of the Prophet: A Study of Geographical Distribution and Political Alignments. Malaysia. Irmawati M-Johan sejak tahun 1981-sekarang menjadi dosen di Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI). Minat keilmuannya terfokus pada dua hal: (1) Tradisi Islam klasik. No. Jakarta: Nalar. Usep Abdul Matin memperoleh gelar MA di bidang Kajian Islam dari Duke University pada tanggal 26 Mei 2008 di Amerika Serikat dan satu lagi dari Leiden University di Belanda (cum laude) pada tanggal 22 Februari 2001. Selain mengajar. 2006. Di antara karya-karya tulisnya adalah IAIN: Modernisasi Islam di Indonesia (Co-editor Jamhari). 2005. 3. sedangkan The Asian Foundation for Research and Consultancy viii . 2002. Islam in Indonesia: Islamic Studies and Social Transformation (Co-editor Jamhari). “Relasi Tuhan dan Alam: Pandangan Sufistik Syaikh Yusuf Makassar dalam Naskah Sirr al-Asrar”. 2003. Karya tulisnya antara lain. dan (2) Bagaimana tradisi Islam klasik tersebut digunakan atau disalahgunakan oleh masyarakat Muslim kontemporer untuk menjustifikasi posisi/aliran keberagamaan mereka. dan Sarjana dalam bidang Sejarah dan Peradaban Islam dari Fakultas Adab IAIN (sekarang Fakultas Adab dan Humaniora UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta (1989). MA dalam Islamic Societies and Cultures dari School of Oriental and African Studies (SOAS) University of London (1992). Konsultan Projek Kerjasama Luar Negeri (Indonesia-Canada Social Equity Project). Menjadi Sekretaris Departemen Arkeologi FIB UI sejak 2004-2007. London.

yaitu Identifying and Preserving Acehnese Manuscripts Located in Pidie and Aceh Besar didanai oleh British Library. Beliau sekarang dosen dan sekertaris jurusan untuk program SPI FAH UIN Jakarta. Aceh.Ag. Sejak S2 sampai sekarang. dua penelitian telah dilakukan. Strata dua (S2) pada Program Studi Filologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Bali. dan Katalog Naskah Awe Geutah bekerjasama dengan Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama. Tulisan ilmiah populernya pernah di muat di beberapa surat kabar lokal Sumatra Barat dan Riau. penelitian tertuju pada naskah-naskah kuno khususnya naskah Aceh. Menamatkan studi Strata 1 (S1) di Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Universitas Andalas. life to pursue heaven” (01/24/2006). Beliau memperoleh Sarjana Agama (S. “We are religious but also corrupt” (08/14/2008).(AFRC) representative for Islamic Studies (INIS) memberikan beasiswa kepadanya untuk program S2 di Leiden. Kuningan. untuk tahun ini buku yang telah terbit adalah Menelusuri Tarekat Syattariyah di Aceh lewat Naskah. tulisannya dalam bahasa Inggris yang berjudul “Suicide Bombing: A Sociological Approach to 9/11” sudah diterbitkan oleh Penerbit Mitra dalam Sociologi: Sebuah Pengantar Tinjauan Pemikiran Sosiologi Perspektif Islam (September 2008: 270-284). Berbagai tulisan ilmiah dan esainya pernah di muat di beberapa jurnal dan terbitan lokal Sumatra Barat. mengikuti program pembibitan calon dosen IAIN se-Indonesia di Jakarta. Pada tahun 2008 bergabung di UIN Jakarta dan tahun 2009 bulan juni mulai aktif di Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama. Ia termasuk penulis yang produktif dan pernah menjadi chief editor UIN News dalam bahasa Inggris dari 2005 sampai 2008. Saat ini menjadi dosen dan peneliti di Universitas Andalas. Jurusan Ilmu ix . dan S3 di Universitas Indonesia jurusan Filologi pada tahun 2007. Tulisantulisannya yang lain dalam bahasa Inggris juga sudah dimuat di koran The Jakarta Post. Saat ini menjadi dosen dan peneliti di Universitas Andalas Padang. Fakhriati lahir di Pidie. Selain itu. 14 Juni 1970. Pramono lahir di Medan 12 Desember 1979. Tahun 1994. Lebih dari itu. Dalam tahun ini. Jawa Barat pada 8 Oktober 1930. S2 di Leiden University pada tahun 1998. Kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI). dan “Terrorists ignore God. Bahren lahir di Padang 06 Pebruari 1979. Uka Tjandrasasmita lahir di Subang. Sejak tahun 1995 mengajar di IAIN Ar-Raniry dan mulai tahun 1998 mengajar di IAIN Sumatera Utara. Menamatkan studi Strata Sat (S1) di Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Universitas Andalas.) di Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam (SPI) Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada bulan Februari 1996 (cum laude). serta perna menjadi staff rektor UIN Jakarta. menyelesaikan studi S1 di IAIN ArRaniry jurusan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah pada tahun 1993. seperti “Theorizing the 9/11 atrocity: Its ubiquitous persistence” (09/15/2008).

Direktur Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Departemen P dan K (1979-1990). juga sebagai dosen Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta. konsultan The Project of Cultural Tourism Development in Central Java and Yogyakarta (UNESCO) tahun 1992. di samping sebagai dosen tetap di Universitas Pakuan Bogor. dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 1998. Saat ini.Purbakala dan Sejarah Kuno.C. x . Di antara jabatan yang pernah didudukinya adalah Kepala Dinas Arkeologi Islam pada Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional Departemen P dan K (19861974). Direktur Sejarah dan Purbakala Departemen P dan K (1974-1979). selesai tahun 1960. Memperoleh gelar Doktor H. dan lainlain. Pernah menjadi anggota (mewakili pemerintah RI) International Commission for the Preservation of Islamic Cultural Haritage (OKI) tahun 1982-1990.

Sumber rujukan menggunakan footnote (catatan kaki) yang ditulis seperti contoh berikut: Deliar Noer. dan khazanah budaya keagamaan. dan Daftar Pustaka ditulis: Noer. artikel setara hasil penelitian. Tulisan dapat berupa ringkasan hasil penelitian. Tulisan wajib memperhatikan kaidah-kaidah penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang berlaku serta menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar berdasarkan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).5 spasi. Jakarta: LP3ES. dan alamat lengkap. h. 1980. literatur kontemporer.Ketentuan Pengiriman Tulisan Jurnal Lektur Keagamaan terbit dua kali setahun. (Jakarta: LP3ES. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Deliar. kata kunci. Menteri Agama RI Nomor 158 tahun 1987 dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 0543 b/u/1987 tentang Pedoman Transliterasi Arab–Latin. kajian tokoh (obituari) maupun telaah kitab atau tinjauan buku. 1980). penulis hendaknya berpedoman pada Pedoman Transliterasi ArabLatin SKB Dua Menteri. Redaksi menerima tulisan mengenai kelekturan. Panjang tulisan antara 15-25 halaman kuarto 1. dan diserahkan dalam bentuk print out dan file dalam format Microsoft Word. xi . antara lain tentang naskah klasik. font Times New Roman 12. biodata singkat dalam bentuk esai. 109. Penulis harap menyertakan abstrak dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Dalam hal penggunaan transliterasi Arab-Latin.

lektur@depag. Badan Litbang dan Diklat. (021) 87794220 Bagi lembaga yang ingin mendapatkan jurnal ini dapat menghubungi alamat di atas. xii . Departemen Agama RI./Faks.web. Dan. tulisan yang dimuat tidak selalu mencerminkan pandangan Redaksi. Jakarta 13560 Telp.id Atau melalui pos ke alamat: Puslitbang Lektur Keagamaan.Redaksi berhak menyunting naskah tanpa mengurangi maksud tulisan. Gedung Bayt al-Qur’an & Museum Istiqlal. Tulisan dapat dikirimkan melalui e-mail: jurnal. Taman Mini Indonesia Indah.

and His Work Collection Usep Abdul Matin Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Tinjauan Buku “Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Teks dan Konteks”. Islam dan Sejarah: Setali Tiga Uang Fuad Jabali Perang dan Damai di Aceh: Kajian Manuskrip Aceh Tentang Konflik dan Solusinya Fakhriati Beberapa Aspek Kodikologi Naskah Keagamaan Islam di Bali: Sebuah Penelusuran Awal Asep Saefullah dan M. karya Oman Fathurahman Uka Tjandrasasmita xiii . Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse.Judul-judul untuk back cover Teks.H. Adib Misbachul Islam Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua dalam Naskah-Naskah Tarekat Syattariyah di Minangkabau Pramono dan Bahren Peran Penting Pernaskahan dan Benda Khazanah Keislaman Lainnya dalam Kajian Arkeologi Islam di Indonesia Agus Aris Munandar Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara Irmawati M-Johan K.

skripturalis. The former group stresses the importance of the text and tend to make it stable. and history are interconnected each other. Ajaran-ajaran utama Islam ada dalam bentuk teks. In contrast. This paper explains that Islam. konteks. 1 . the biographical texts in Arabic offer information of diverse people. are incomplete. yaitu Al-Qur’an dan hadis. In this regard. Teks. In other word. this second group make the text unstable. 26-28 Juli 2004. which are written in Arabic by scholars of the Middle East. The latter group creates the context. Teks dan Sejarah: Setali Tiga Uang* Fuad Jabali UIN Syarif Hidayatullah. Indonesian philologists are to trace such complete biography in Indonesian literature. hadis. Kata kunci: Al-Qur’an. Revisi terakhir 14 Juni 2009. Jakarta This paper describes a strong relationship between Islam as a value system. and history as both time and space contexts of the textual system value. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali Islam. filologi.Islam. For this reason. The first category refers to the fact that the scripturalists or fundamentalists produce text. Wisma Syahida UIN Jakarta. text. the Islamic texts. which are written in Indonesian by Indonesian scholars. the text as an expression of system. Orang-orang Islam sangat bangga menyebut dirinya * Tulisan ini semula merupakan Makalah yang disampaikan pada Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara VIII. teks. are easy to read as they provide complete information of an issue that we look for. This category challenges philologist to investigate. This paper classifies text into two catagories. For example. the Islamic texts. esensialis Teks dan Islam Teks menempati posisi yang sangat penting dalam Islam. The second category would be: the essentialists make the text.

signified). menjadi rujukan utama setelah Al-Qur’an. Masyarakat Islam sebagai masyarakat yang eksistensinya bergantung pada teks diperkuat oleh hadis. terutama yang dikumpulkan oleh Bukhari dan Muslim. bukanlah sebuah teks yang bisa menjelaskan semua realitas atau ajaran dengan sangat detil. 1.Jurnal Lektur Keagamaan. 2009: 1 . seperti yang nampak pada mazhab Maliki (yang sangat mementingkan tradisi dan praktek lokal Madinah). sebagai halnya umat Islam. tetapi ayat yang paling utama adalah teks Al-Qur’an. kemana mereka harus mencari kejelasan? Berbagai jawaban dikemukakan. ijma’ dan hadis—sama-sama dipakai oleh masyarakat Muslim secara bervariasi dalam tingkat yang berbeda-beda. Rujukan-rujukan tadi—yaitu tradisi lokal. Tetapi ketika hadis dibukukan pada abad ke 3 H/9 M. terutama Yahudi dan Kristen. ada yang merujuk pada akal. Hadis kini menjadi teks terpeting kedua setelah Al-Qur’an. signifier) dari madlul (‘yang ditunjuk’. Kalau tidak jelas. Al-Qur’an juga menyebut para pengikut agama lain. ‘masyarakat teks’. mereka juga menjadikan teks (kitab suci) sebagai pusat dari kesadaran beragama mereka. percisnya. maka wajar kalau ada kecenderungan untuk melihat keislaman 2 . Bagi Ahlul Kitab. dunia langit hanya bisa diketahui lewat teks yang dibawa oleh para Nabi. ada juga yang merujuk pada catatan dari kata-kata dan perbuatan Nabi yang kemudian disebut hadis. Ada yang merujuk pada tradisi atau konteks lokal sebagai penjelas. 7. seperti yang ada dalam mazhab Hanafi. Bagi orang Islam. seperti yang dikembangkan oleh Syafi’i. Memang benar bahwa makna abadi itu bisa diketahui lewat ciptaan Tuhan. secara sederhana. setiap kata atau kalimat yang ada dalam Al-Qur’an disebut ayat atau ‘tanda. ada juga yang merujuk pada ijma’.20 sebagai Ahlul Kitab ‘orang-orang yang sangat menghormati kitab’ atau. yaitu makna abadi yang ada di dalam diri Tuhan. yang jumlah ayatnya hanya sekitar 6600. Al-Qur’an. No. Vol. sebagai Ahlul Kitab karena. maka hadis. Kalau teks menempati posisi yang demikian penting dalam Islam. seperti gunung dan langit (benda-benda ciptaan ini juga disebut ayat atau. ayah kauniyah ‘tanda-tanda alam’). akal. Bisa dikatakan bahwa tanpa teks ini tidak ada Islam dan masyarakat Muslim. yaitu kesepakatan masyarakat Muslim dalam memahami teks.’ Tanda dari suatu makna abadi. Teks adalah dal (‘yang menunjuk’.

sangat penting karena dia banyak mengutip karya-karya yang ditulis oleh sejarawan sebelumnya. menanti sentuhan tangan filolog. Gerschichte des arabischen Schrifttums (Leiden: Brill. Fuat Sezgin. Kelompok rasionalis dikritik dengan tajam. Bagi masyarakat Muslim. yang hanya diketahui lewat kutipankutipan atau resensi yang ditulis belakangan. Pemahaman masyarakat Muslim terhadap Al-Qur’an dan hadis tersebut dituangkan dalam bentuk teks yang jumlahnya tak terhingga. buku karya al-Tabari (wafat th. misalnya. 2 jilid dan 3 jilid supplement. Walaupun demikian banyak sekali teks-teks yang berhasil diselamatkan yang kini tersebar di berbagai negara. Ada masyakat Muslim yang membatasi penghormatan mereka pada Al-Qur’an Untuk mendapatkan gambaran tentang jumlah dan jenis buku yang diproduk masyarakat Muslim yang sudah hilang tetapi dikutip secara meluas lihat Carl Brockelmann. 310 H / 923 M). Semakin dekat dianggap semakin saleh. 1967 . 1943-1949). 9 jilid. 1937-42. semakin jauh semakin sesat.). dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali seseorang lewat kedekatannya (atau kejauhannya) dengan teks. bahkan pernah disebut kafir. 1 3 . juga penting karena di dalamnya ada resensi buku-buku yang beredar di dunia Islam. terutama di Timur Tengah dan Eropa (termasuk Turki). yang hidup pada abad ke-2 H/8 M dan ke-3 H/9 M. Banyak sekali teks yang sudah musnah. Teks menjadi media yang sangat penting dalam memahami Al-Qur’an dan hadis. namun sikap mereka terhadap teks-teks tersebut berbeda tergantung pada cara mereka memandang. seorang penjual buku di Baghdad pada abad ke-4 H/10 M. Teks. yang sudah hilang. Penghormatan yang demikian tinggi pada teks Al-Qur’an dan hadis menjadi landasan yang kuat bagi masyarakat Muslim untuk memproduk banyak sekali teks. pada masa itu yang juga sebagian sudah hilang.Islam. 1 Buku al-Fihrist karya Ibn al-Nadim. Kelompok pendukung hadis (ahl al-hadits) menyebut diri mereka sendiri sebagai umat yang terbaik (khair ummah) karena keteguhannya dalam mengikuti dan memegang teks hadis. teks-teks tersebut adalah warisan yang sangat berharga. Dalam kajian sejarah. terutama di Baghdad. Geschichte der arabischen Litteratur (Leiden: Brill. karena menggunakan teks hadis dengan sangat minimal ketika menafsirkan teks Al-Qur’an. Tarikh al-Rusul wa al-Muluk (diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris The History of al-Tabari dalam 39 jilid atas sponsor UNESCO).

walupun tingkatannya berbeda-beda dari satu kelompok ke kelompok lain. 7. Dalam fatwa-fatwa NU. adalah pembaca teks Al-Qur’an yang paling tekun dan juga paling tidak sabar. bahkan terkadang. No. teks-teks selain AlQur’an dan hadis sifatnya relatif. tidak mesti dibaca. dari generasi ke generasi. Demikian juga 4 . Berbeda dengan Muhammadiyah. karena bisa jadi awalnya mereka hanya diperkenalkan kepada teks dari mazhab ini saja. anak-anak NU bisa menjadi “filolog” yang potensial. Perbedaan pemahaman terhadap Islam. buku-buku yang ditiulis para pendiri mazhablah yang harus dihormati dan diikuti. teksteks ini sangat dominan. Vol. Sebagian mereka berpendapat bahwa keberadaan teks-teks di luar Al-Qur’an dan hadis tadi menjadi benteng penghalang bagi umat Islam untuk memasuki kedua sumber ini. dalam memecahkan masalahmasalah kontemporer. Dikenalkan dengan keragaman teks sejak dini. 2009: 1 . atau perbedaan warna Islam. kalau perlu secara literal. Kalangan Muhammadiyah. Bagi kelompok masyarakat lain. 1. maka sudah sewajarnya kalau teks juga memegang peranan penting dalam transmisi Islam. sebagian besar akan bergantung pada perbedaan teks yang diwariskan. NU lebih terbiasa dengan teks dibanding Muhammadiyah. Sementara kelompok lain menantangnya. sementara kelompok lainnya melebarkan penghormatan tersebut kepada teks-teks di luar keduanya. Mengapa orang-orang menganut mazhab Syafi’i. Islam dari waktu ke waktu. Sebaliknya NU. Bagi Muhammadiyah. bahkan tidak jarang teks Al-Qur’an-nya sendiri tidak dirujuk. Semua persoalan segera dicari dalam teks Al-Qur’an. diwariskan lewat teks. NU menjawab setiap pertanyaan dengan cara terlebih dahulu memasuki teks-teks yang diwariskan ulama-ulama sebelumnya.20 dan hadis. Mereka membaca Al-Qur’an dan hadis melalui teks-teks lain yang tersusun secara hirarkhis. Buku yang ditulis oleh seorang Sufi besar. Mereka adalah kelompok yang sangat menghormati teks-teks di luar Al-Qur’an dan hadis. bisa jadi mendapatkan penghormatan dan perlakuan yang hampir sama dengan Al-Qur’an dan hadis. yang segera memasuki teks Al-Qur’an dan hadis. tidak mengikat dan. Muhammadiyah dan NU merepresentasikan kedua kecenderungan tersebut. Di Indonesia. misalnya.Jurnal Lektur Keagamaan. Teks dan Transmisi Islam Kalau teks dan Islam berhubungan demikian erat.

Dan. seperti tafsir. Rentetan pengijazahan dari satu guru ke murid yang lain ini biasanya dicatat di awal teks dalam bentuk silsilah. sebaliknya. pimpinan pesantren atau kiai memainkan peranan kunci. Dalam tradisi sorogan. Kita mengenal ada beberapa orang yang persis bekerja sebagai penyalin buku dan menjadikannya sebagai sumber 5 . Perbedaan teks. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali dalam sufisme dan teologi. Filologi di Kalangan Ulama Ketika mesin cetak belum ditemukan. Guru akan mengajarkan teks tertentu kepeda murid-muridnya dan ketika muridnya sudah dipandang mampu. Bahwa teks memegang peranan kunci dalam penyebaran Islam juga bisa dilihat di dalam lembaga-lembaga yang terlibat dalam penyebaran Islam. Artinya.Islam. Mayoritas pesantren di Indonesia. Perbedaan ciri khas pesantren ditentutkan oleh perbedaan jenis teks yang dikaji. Hubungan antara teks. maka gurunya adalah setan. Tidak mungkin santri belajar Islam tanpa teks dan tanpa kiai. yaitu pesantren. sang guru akan memberikan ijazah. atau semacam lisensi. tidak ada kiai tanpa teks. untuk mengungkapkannya secara sederhana. kalau ada yang ingin memiliki buku. terutama di Jawa. kiai dan santri tersebut sedemikian penting sehingga di kalangan pesantren ada semacam keyakinan bahwa “Barang siapa yang membaca teks tanpa guru. Dalam kajian teks tersebut. telah melahirkan perbedaan kelompok beragama. transmisi teks dilakukan secara manual.” Dengan kata lain. seorang kiai akan membaca teks tertentu di hadapan santri-santrinya. Teks inilah yang akan menjadi modal utama santri-santri tersebut ketika kelak keluar dari pesantren. Di dunia Islam secara keseluruhan hubungan antara teks dengan ulama dalam transmisi Islam bukanlah hal yang istimewa. Hubungan murid-guru dibangun di atas teks. sampai sekarang masih mempertahankan ciri khas ini. Teks. maka dia harus menyalinnya sendiri atau meminta orang lain untuk melakukannya. tidak ada teks tanpa kiai dan. kepada sang murid untuk mengajarkan teks tersebut. Kegiatan pesantren (terutama di pesantren salaf yang belum terkena modernisasi) terpusat pada kajian teks yang terkenal dengan ‘kitab kuning’. nahwu dan hadis. demikian seterusnya.

n. Dam b. n. 3 2 6 . Teks yang dihasilkan menjadi bebeda antara satu dengan yang lainnya. misalnya. 4 Ibn Hajar al-‘Asqalani. dan AC pada masa itu. dia ternyata lahir pada saat ‘Usman terbunuh (yaitu tahun 35 H/656 M).Jurnal Lektur Keagamaan. Tetapi bisa jadi. tetapi bisa jadi juga lebih dari itu. Tetapi. Ketiga. Keempat. menurut informasi lain dari beberapa jalur yang berbeda.t). 1:130. 2009: 1 . No. 1:125. Menjadi orang yang dilahirkan pada masa Nabi jauh lebih penting dari orang yang dilahirkan pada masa ‘Usman. Rabi’ah 3 dan Aqram menjadi Arqam. faktor idiologis juga berperan penting dalam perubahan teks. Ibn Sa’d. mungkin karena penulisnya ngantuk. Bahasa Arab pada masa itu adalah bahasa Arab yang masih dalam proses perkembangan. Paling tidak konsentrasi mereka terganggu. 4:343. Para penyalin ikut menjadi korban peperangan. ta dan £a. Perbedaan baca di antara para penyalin menjadi hal yang tak terelakkan. faktor perkembangan bahasa. Rabi’ah menjadi Adam b. Tabaqat. Kitab al-Tabaqat al-Kubra (Beirut: Dar al-Sadir. 1.). telepon. karena jarangnya orang yang bisa menulis. al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah (Beirut: Dar alKitab al-‘Arabi. 5 Ibn Hajar. Hisyam bisa dengan mudah tertulis Hasyim 2 atau. Kualitas penerangan yang kurang membuat mata cepat lelah.4 Faktor-faktor lain bisa membuat kesalahan tersebut semakin sering dilakukan. Gigi dan titik belum dipakai secara konsisten sehingga sulit dibedakan mana ba. yang menurut Ibn Hajar (wafat 852 H/1449 M) lebih kuat. Bukankah Nabi pernah menyampaikan bahwa masa yang terbaik adalah masa Nabi itu sendiri kemudian masa sesudahnya kemudian masa Ibn Sa’d. Kedua. teknologi yang sangat terbatas. Ini menurut informasi dari Abu al-Faraj.20 penghidupan. 5 Perubahan tanggal lahir itu bisa jadi karena kelalaian penulis atau penyalin teks. listrik. al-Isabah. ada saat-saat dimana para penyalin menjadi sangat sibuk sehingga terbuka untuk melakukan kesalahan. 4:386. Dikatakan bahwa Asy’ab b Ummu Humaidah lahir pada tahun 9 H/630 M atau pada masa Nabi. stabilitas sosial politik pada masa itu tidak sebaik seperti sekarang.d. Menyalin buku menjadi perkerjaan yang bisa jadi tidak nyaman. Tidak ada komputer. Vol. Iklim yang demikian panas membatasi orang untuk bekerja maksimal. 7. Pertama.

Islam. tt. Teks. Ibn Al-Bukhari. 9. Sebut saja misalnya jarh wa al-ta‘dil dan rijal al-hadits. dalam periwayatan hadis. Istilah-istilah ini hanya mungkin kalau kajian antarteks sudah berkembang kuat. Kita mengenal dalam hadis. maka pada dasarnya setiap ulama pada masa itu adalah seorang filolog. pusat verifikasi teks. dan memasukkan nama ‘Ayyasy b. 141-2. Dia mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan yang kebenarannya sangat bergantung pada ketepatan teks dan kebenaran membacanya. Ishak (wafat 150 H/767 M) dan Muhammad b. Adalah juga kehendak untuk mendapatkan teks yang benar-benar bersih para ulama mengembangkan berbagai disiplin ilmu. misalnya. 3: 171. dia menjadi mungkin bisa bertemu dengan sahabat-sahabat besar bahkan bisa meriwayatkan hadis dari mereka. Dalam hadis juga dikenal dengan ‘rawahu al-syaikhan’’ atau ‘diriwayatkan oleh dua orang syaikh’. Para ulama. Kalau keragaman teks tidak bisa dihindarkan.’ Suatu hadis yang ditemukan dalam keenam buku hadis lebih kuat dari pada hadis yang hanya ditemukan dalam empat buku hadis. Dia adalah tempat bertanya masyarakat. harus sangat hati-hati dalam memilih dan membaca teks. Sahih (Cairo: Maktabat ‘Abd al-Hamid Ahmad Hanafi.). menjadi pusat produksi dan reproduksi ilmu. Lewat kajian antarteks. Berbagai versi harus dibaca dan dibandingkan. 6 7 . ‘Umar (wafat 207 H/822 M) menulis buku tentang orang-orang yang hijrah ke Habasyah (Ethiopia) (hijrah Nabi yang pertama). Muhammad b. Abi Rabiah ke dalam daftar orang-orang yang ikut hijrah tersebut. yaitu suatu disiplin ilmu yang dikembangkan untuk menilai kualitas informasi dan akurasi teks berdasar pada penilaian kritis terhadap orang-orang yang terlibat dalam transmisi informasi dan teks tersebut. informasi yang ada dalam satu buku dicek di buku yang lain. 1: 8. Kajian antarteks menjadi suatu keniscayaan. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali sesudahnya? 6 Lahir pada masa Nabi bukan hanya penting karena dia lahir pada masa yang terbaik tetapi juga. dengan demikian. yaitu Bukhari dan Muslim. mana di antara teks-teks yang ada itu yang paling bisa dipercaya. dan bisa jadi masyarakat awam meyakini bahwa masuk surga atau tidaknya mereka akan bergantung kepada para ulama ini. 8: 91. adanya ‘kutub al-sittah’ atau ‘buku yang enam’ dan ‘kutub al-arba’ah’ atau ‘buku yang empat.

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 1 - 20

Sa‘d (wafat 230 H/845 M) lalu mengecek nama tersebut di buku yang ditulis oleh Musa b. ‘Uqbah (wafat 141 H/758 M) dan Abu Ma’syar (wafat 170 H/786 M), dan nama ‘Ayyash ternyata tidak ada. 7 Dengan cara yang sama (kali ini membandingkan teks yang ditulis oleh Musa b. ‘Uqbah, Muhammad b. Ishaq dan Muhammad b. ‘Umar), Ibn Sa’d juga menemukan bahwa Musa b. ‘Uqbah melakukan kesalahan penulisan nama, yang semestinya al-Aswad b. Naufal b. Khuwailid ditulis menjadi Naufal b. Khuwailid. Ibn Sa’d juga tahu bahwa nama ini tidak muncul dalam buku Abu Ma’syar.8 Skripturalis/Fundamentalis dan Filolog Di atas dikatakan bahwa Al-Qur’an dan hadis sebagai teks kunci telah melahirkan banyak teks. Teks satu dengan teks yang lainnya ini terhubungkan dengan seorang figur dan silsilah (geneologi). Ada geneologi guru dan ada geneologi teks, dan kualitasnya berbeda-beda. Buku yang diwariskan lewat guru A-B-C misalnya lebih baik daripada buku yang diwariskan lewat A-B-D. Tekanan yang demikian besar terhadap geneologi mengisyaratkan bahwa dalam transmisi teks tersebut ada sesuatu yang stabil, yang harus dijaga keasliannya. Prinsip ini sangat menolong bagi filolog sebab sekali dia mampu mengidentifikasi apa ‘yang stabil’ atau apa ‘yang harus senantiasa dijaga keasliannya’ tersebut maka dia akan mudah membaca teks yang sangat korup sekalipun. ‘Yang stabil’ akan selalu ditemui dalam berbagai teks. Memang benar bahwa ‘apa yang stabil’ jenis dan kadarnya akan berbeda-beda dari satu kelompok ke kelompok lain. Tetapi, sekali ditemukan dalam satu kelompok tertentu, maka filolog akan terbantu dalam membaca teks yang ditulis atau menjadi ciri dari kelompok tersebut. Di dunia Islam, baik masa lalu maupun sekarang, dikenal adanya dua kelompok besar: skripturalis atau fundamentalis dan esensialis. Kelompok skripturalis adalah mereka yang berkeyakinan bahwa (1) Islam adalah agama yang sempurna dan jelas yang mengatur semua aspek kehidupan kita dan, oleh karena itu, tidak diperlukan adanya penafsiran ulang; (2) Memang masyarakat selalu
7 8

Ibn Sa’d, Tabaqat, 4:383. Ibn Sa’d, Tabaqat, 4:379.

8

Islam, Teks, dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali

berubah-ubah, tetapi perubahan itu harus senantiasa dicocokkan dengan Al-Qur’an dan hadis, bukan Al-Qur’an dan hadis yang harus dicocokkan dengan perubahan masyarakat; (3) Al-Qur’an dan hadis adalah sumber utama Islam dan semua persoalan harus benarbenar sesuai dengan Al-Qur’an dan hadis; (4) Akal dan tradisi lokal sifatnya nisbi dan, oleh karena itu, tidak bisa dipakai sebagai sumber nilai; (5) Masa Nabi dan para sahabatnya adalah masa yang paling sempurna yang harus dijadikan model bagi setiap masyarakat Muslim kapan pun dan dimana pun. Pandangan kelompok esensialis berbeda sama sekali dengan pandangan kelompok ini. Mereka percaya bahwa (1) Islam memang agama sempurna tetapi kesempurnaannya bersifat minimal dan untuk memaksimalkannya diperlukan usaha dan pikiran masyarakat Muslim, (2) Masyarakat selalu berubah-ubah dan oleh karena itu Islam harus dilihat secara dinamis, (3) Al-Qur’an dan hadis adalah kebenaran yang diekspresikan dalam ruang dan waktu tertentu dan oleh karena itu harus dilihat konteksnya, (4) Akal dan tradisi lokal harus dipakai sebagai sumber yang berharga dalam formulasi hukum dan ajaran Islam, (5) Masa Nabi dan para sahabatnya adalah masa yang paling sempurna untuk zamannya dan tidak boleh dipahami secara literal. Perbedaan pandangan di antara kedua kelompok di atas melahirkan teks yang sama sekali berbeda sifatnya. Teks di kalangan skripturalis relatif stabil. Karena Islam dipandang sempurna, karena Al-Qur’an dan hadis dianggap selesai, dan karena masa Nabi dan sahabatnya dipandang ideal, maka yang ditemukan dalam teks yang diproduk oleh kelompok ini adalah potongan-potongan informasi yang diambil dari Al-Qur’an, hadis dan sirah (perjalanan hidup) Nabi dalam jumlah besar. Akibat dari tekanan terhadap penafsiran dan tradisi lokal yang begitu besar, maka unsur baru dalam teks menjadi minimal. Walaupun ditulis dalam waktu dan tempat yang berbeda, bisa diasumsikan bahwa teks di kalangan kelompok ini relatif sama. Kutipan-kutipan Al-Qur’an, hadis dan sirah Nabi dan para sahabatnya akan dominan dan setiap ketidakjelasan yang ada dalam teks yang korup bisa segera diisi oleh filolog dengan membaca teks standard (Al-Qur’an, hadis dan sirah Nabi). Kalau kadar stabililitas dalam teks-teks tradiosionalis sangat tinggi, maka teks yang diproduk oleh kalangan esensialis sangat 9

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 1 - 20

labil. Dia lebih beragam baik di tingkat kelompok maupun individu. Mu’tazilah, kelompom rasional Muslim yang terkenal dalam sejarah Islam, misalnya, terdiri dari banyak sub kelompok yang berbeda satu sama lain, dan pada sub kelompok tersebut perbedaan antar individu sangat kentara. Masing-masing mereka melihat Islam, AlQur’an dan hadis serta sirah Nabi sebagai suatu teks yang sangat terbuka. Berbeda dengan kalangan skripturalis, yang memandang makna sebagai ‘sesuatu yang diberikan oleh teks’, kalangan rasional memandang makna lebih sebagai ‘sesuatu yang harus dicari dan diberikan oleh pembaca’. Membaca bukanlah proses menerima teks secara pasif, tetapi lebih merupakan proses intrograsi yang sangat cair, dimana pembaca dan teks bisa ditempatkan secara sejajar dan oleh karena itu dialog antara teks dan pembaca menjadi sangat intens. Hasil dari dialog itu adalah warisan teks yang sangat dinamis dan beragam. Sesunggunya kalangan skripturalis/fundamentalis telah membuat pekerjaan filolog lebih mudah. Filolog yang ingin cepat selesai diusulkan untuk tidak memilih teks-teks yang ditulis oleh kalangan rasionalis. Studi Kasus: Membaca Dokumen Ikrar Abad ke-14 di Jerusalem Disebutkan di atas bahwa salah satu cara membaca teks yang sudah korup adalah dengan cara menggunakan teks yang sudah established sebagai patokan. Tentu saja Al-Qur’an dan hadis adalah teks Islam yang paling stabil. Tidak terlalu sulit untuk mentranskrip naskah Al-Qur’an atau hadis, atau teks yang mengadung banyak sekali kutipan Al-Qur’an dan hadis. Teks berikutnya yang relatif lebih mudah digarap adalah teks yang ditulis oleh kelompok sripturalis atau fundamentalis. Dibanding teks yang ditulis kalangan esensialis, teks yang mereka buat relatif lebih mapan dan lebih seragam dari satu periode ke periode lain dan dari satu tempat ke tempat lain sehingga lebih mudah dibandingkan. Prinsip yang sama bisa dipakai untuk membaca teks-teks Islam pada umumnya. Teks-teks Islam bisa diklasifikasi ke dalam lima kelompok besar: 1) sejarah, 2) teologi, 3) sufisme, 4) filsafat dan 5) hukum. Di antara kelima kelompok tadi, yang paling tegas dan rinci adalah hukum. Hukum Islam diformulasikan dan dirumuskan oleh para ulama sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan kebi10

lebih dapat menguatkan kesaksian. Jika yang berutang itu orang yang kurang akalnya atau lemah (keadaannya). Tuhannya. Orang-orang skripturalis dan fundamentalis cenderung menekankan pentingnya aspek hukum ini sehingga mereka dikenal dengan ‘legal minded Muslims’. dan janganlah dia mengurangi sedikit pun daripadanya. Al-Baqarah/2:282) Kalau bagian pertama tulisan ini menegaskan hubungan antara Islam dengan teks pada level yang lebih besar. (Q. kecuali jika hal itu merupakan perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu. Dan janganlah saksi-saksi itu menolak apabila dipanggil. teks yang ditulis oleh kalangan ahli hukum juga lebih stabil. Dua contoh teks akan dikemukakan di sini untuk menunjukkan: (1) bahwa Islam (seperti halnya agama lain) sangat instrumental dalam melahirkan teks. Jika kamu lakukan (yang demikian). agar jika yang seorang lupa. hal itu suatu kefasikan pada kamu. seperti halnya buku-buku yang ditulis oleh kalangan fundamentalis. Teks. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali ngungan dan mudah diikuti. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki di antara kamu. Dan janganlah kamu bosan menuliskannya. maka tidak ada dosa bagi kamu jika kamu tidak menuliskannya. Tidak heran kalau. maka ayat ini (yang sengaja dikutip secara keseluruhan) contoh yang baik bagaimana 11 . Hukum cenderung rinci dan kaku. (2) teks yang ditulis oleh ahli hukum relatif lebih mudah dibaca karena lebih stabil. Al-Qur’an menegaskan perlunya catatan dalam transaksi: Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan. maka sungguh. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. maka yang seorang lagi mengingatkannya. dan janganlah penulis dipersulit dan begitu juga saksi. hendaklah kamu menuliskannya. maka hendaklah walinya mendiktekannya dengan benar. maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan di antara orang-orang yang kamu sukai dari para saksi (yang ada).S. ini adalah berita baik. homogen dan rinci. maka hendaklah dia menuliskan. Bagi filolog. dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. lebih adil di sisi Allah. Dan hendaklah orang yang berutang itu mendiktekan. untuk batas waktunya baik (utang itu) kecil maupun besar. dan lebih mendekatkan kamu kepada ketidakraguan. Allah memberikan pengajaran kepadamu. dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah. Dan bertakwalah kepada Allah. Yang demikian itu.Islam. Janganlah penulis menolak untuk menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya. Teks yang mereka dapatkan akan lebih mudah ditranskrip. atau tidak mampu mendiktekan sendiri. Dan ambillah saksi apabila kamu berjual beli. Jika tidak ada (saksi) dua orang laki-laki.

Donald P. di dalam hukum Islam tradisional. 10 Lihat Y. guru besar di Institute of Islamic Studies. Little.9 Salah satu blanko kontrak yang dibuat para ahli hukum Islam dalam buku-buku syurut tersebut adalah blanko untuk membuat ikrar. 10. ‘Ikrar’ dalam The Encyclopaedia of Islam (Leiden: E.Jurnal Lektur Keagamaan. kesaksian lisan lebih penting dari kesaksian tulis. Penemuan ini merupakan salah satu penemuan terpenting dokumen Islam abad pertengahan. Vol. 1.J. Pada tanggal 19 Agustus 1974-5. 10 yaitu suatu bentuk pengakuan atau pernyataan yang dibuat oleh seseorang yang secara hukum mengikat bagi orang tersebut. Brill. McGill Jeanette A. tetapi para ahli hukum Islam memberikan perhatian yang serius terhadap cara membuat dan menggunakan dokumen-dokumen tertulis untuk kepentingan hukum. yaitu sejenis manual yang bisa dijadikan pegangan bagi para notaris dalam melakukan fungsinya. 2009: 1 . Oleh karena itu. The Function of Documents in Islamic Law (New York: University of New York Press. bentuk dan isi ikrar relatif stabil. Linant de Bellefonds. sejajar dengan penemuan manuskrip di Geniza Cairo dan St Catherine bukit Sinai. 9 12 . Yang dilakukan oleh para notaris adalah memilih mana di antara blanko-blanko tersebut yang cocok dengan kasus yang dia hadapi dan mengisi bagian-bagian kosong yang sudah disediakan dan meminta dua saksi untuk menandatanganinya (seperti tuntutan ayat Al-Qur’an di atas). No.20 hubungan Islam dengan teks tersebut juga bekerja pada level yang lebih kecil dan detil: Al-Qur’an meminta penganutnya untuk melakukan transaksi secara tertulis. Memang benar. Wakin. Dalam manual syurut tersebut para ahli hukum lalu merinci dengan detil apa syarat-syarat membuat ikrar dan kata-kata apa saja yang harus dicantumkan dalam dokumen oleh si pembuat ikrar. New Edition). Mereka mengembangkan satu jenis literatur yang disebut syurut. Ia berisi berbagai jenis kontrak yang bisa dipilih oleh para notaris sesuai dengan kebutuhan. 1972). di Museum Islam di al-Haram al-Syarif di al-Quds ditemukan sekitar 900 lembar kertas transaksi atau catatan pengadilan yang berasal dari abad ke-14 M di Jerusalem. 7. Kontrakkontrak tersebut sebetulnya lebih berupa sebuah blanko atau formulir yang dibuat sedetil mungkin sehingga semua syarat dan tuntutan syariah Islam bisa dipenuhi.

salah seorang murid Little di McGill University. bahwa dia menerima uang perak sejumlah 375 dirham dari mantan suaminya untuk biaya ketiga anak mereka Ahmad. Dokumen no. Selain berikrar bahwa dia tidak punya hak apa-apa lagi— termasuk maskawin dan biaya pakaian. Teks. 289 berisi pengakuan Fatimah bt. Muhammad bahwa dia tidak memiliki klaim apa-apa lagi terhadap mantan suaminya Syeikh Burhanuddin Ibrahim b. 11 Secara garis besar dokumen no. Saya sendiri pernah ikut membaca dokumen-dokumen itu dan adakalnya saya membutuhkan lebih dari seminggu hanya untuk membaca satu baris teks dalam sebuah dokumen. 289 dan no. Zainuddin Rizqullah. ‘Ilwi Muhammad dan Ahmad b. Sulaiman. Muhammad al-Muwwa’ani. yang dibayar secara bertahap dari uang wakaf sekolah al-Salahiyyah. Ikrar ini dibuat di depan saksi pada tanggal 4 Syawal 782 (atau 2 Januari 1380) di depan dua orang saksi Ahmad al-ªaki dan Abdullah b. salah seorang sufi di Khanqah al-Salahiyyah di al-Quds al-Syarif. Fatimah juga mengakui bahwa mantan suaminya tersebut telah memberinya sejumlah uang untuk biaya anak selama tiga bulan setengah sesuai dengan tuntutan syariah. Zainuddin ‘Umar al-Hamawiyyah. 11 13 . Dokumen 184 berisi pengakuan Fatimah bt. Fakhruddin ‘Usman b. dokumen-dokumen ini sangat sulit dibaca. 184 adalah dua di antara enam dokumen ikrar yang dibaca dan dianalisa oleh Huda Lutfi. Salma dan Sarah. Di antara lembaran-lembaran kertas tadi ada dokumen ikrar (yang jumlahnya sekitar 90 lembar). dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali University datang ke Jerusalem dengan sebuah tim untuk mendokumentasikan dan membuat mikrofilm-nya.Islam. 25: 246-294. “A Study of Six Fourteenth Century Iqrars from al-Quds Relating to Muslim Women.” in Journal of the Economic and Social History of the Orient. Ikrar ini dibuat pada tanggal 2 Ramadan 789/14 Agustus 1389) di hadapan dua orang saksi ‘Ali b. Beberapa tahun kemudian Little menerbitkan katalog dokumen tersebut: menjelaskan isi masing-masing dokumen secara garis besar dan mengklasifikasikannya. Tanpa bantuan literatur syurut. Saya juga pernah meminta bantuan seorang Arab (yang kebetulan berasal dari Huda Lutfi. mantan suami Nasiruddin Muhammad al-Hamawi penduduk al-Quds al-Syarif. ‘Abdullah bt.

Dalam buku manualnya. Vol. 7. Kalimat pertama. 2009: 1 . Bimbingan al-Asyuti tersebut sangat membantu ketika kita membaca dokumen ikrar tadi. Jawahir al-‘Uqud wa Mu‘in al-Qudat wa alSyuhud. setidakjelas apa pun. yang hidup di Mesir pada abad 9 H/15 M. Al-Asyuti. No. dia menyatakan bahwa dokumen harus diawali dengan basmalah (menulis ‘Bismillahir-rahmanir-rahim’) dan diakhiri dengan hamdalah (menulis ‘Alhamdu lillahi rabbil-‘alamin’). bagaimana membayarnya. dokumen-dokumen ini pada dasarnya merupakan catatan transaksi dan peristiwa yang terjadi di Jerusalem pada abad ke-14 atau satu abad sebelum al-Asyuti menulis kitab manualnya. pasti basmallah.20 Palestina tempat dokumen tersebut ditemukan) untuk membacanya. Kalau dia perempuan. 1. Ini adalah isyarat bahwa memang buku-buku hukum relatif lebih stabil. dalam buku tersebut berusaha menggambarkan praktek administrasi hukum yang berlaku pada masanya. Antara lain. 2 jilid (Kairo. baru saya tahu bahwa dalam membaca dokumendokumen tersebut dia sangat terbantu oleh buku syurut yang ditulis oleh al-Asyuti. Saya tidak bisa membayangkan begaimana Little bisa membaca hampir 900 dokumen serupa dan menganalisa isinya satu persatu. al-Asyuti memberikan beberapa petunjuk tentang tata cara membuat dokumen ikrar. walaupun hanya dalam garis besar. blanko dokumen hukum yang dibuat alAsyuti sangat cocok dengan dokumen-dokumen yang ditemukan di Jerusalem tersebut. walaupun terpisahkan selama satu abad dan. Pengalaman membaca dokumendokumen tersebut menunjukkan bahwa.Jurnal Lektur Keagamaan. walaupun al-Asyuti hidup di tempat yang relatif jauh dari Jerusalem. Dia juga tidak bisa. dan seterusnya). Kata pertama setelah basmallah adalah aqarrat (karena yang membuat ikrar perempuan). Dua minggu kemudian. Benda atau persoalan yang diikrarkan harus dinyatakan dengan jelas (jika uang berapa jumlahnya. Nama si pengikrar harus dicantumkan dengan jelas termasuk nama bapak dan kakeknya. Setelah itu pasti 14 . Dokumen harus mencantumkan tanggalnya dan ditandatangani oleh dua orang saksi. nama kehormatannya dan seterusnya. maka nama suaminya atau mantan suaminya harus dicantumkan. 1955). Ikrar harus dibuat dalam bentuk orang ketiga (harus aqarra kalau laki-laki dan aqarrat kalau perempuan). Seperti dijelaskan di muka.

Bias politik dan kultural dari para penulis 15 . karena orang awam itu tidak bisa membaca. Mungkin harus diingat bahwa pada abad ke-14 di Jerusalem buta huruf masih tinggi. bi dhalik (telah bersaksi atas . hamdallah dan nama dua saksi. para penulis itu bekerja sembarangan. Merekalah yang memilih buat kita peristiwa apa yang akan dimunculkan. tidak dalam keadaan terpaksa] setelah syar’iyyan). Bagian berikutnya adalah yang paling sulit dibaca: persoalan atau benda yang sedang diikrarkan. 289 dan 184 (dengan satu kata tambahan. Teks. Tanda tangan saksi diawali dengan “syahida ‘ala . Para penulis buku ini menyodorkan realitas kepada kita secara subjektif. Para penulis itu mungkin berpikir bahwa. Tetapi bisa juga karena sebab lain. Sangat mungkin pada masa itu ada orang-orang yang memang pekerjaannya menuliskan dokumen (dengan berpedoman pada manual syurut). tulisan tidak mesti bagus. maka orang awam yang ingin menuliskan ikrarnya harus meminta bantuan orang lain.. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali nama orang yang membuat ikrar. dokumen 289 dan 184. Dengan kata lain.. pada akhirnya para penulis itu juga yang harus membacakannya di pengadilan (kalau terjadi apa-apa dan perkaranya sampai ke pengadilan). Karena tidak banyak orang yang bisa menulis. dengan hal itu).. Mungkin karena terlalu banyak pesanan (karena jumlah yang bisa menulis sangat terbatas). dibuat dalam keadaan sehat jasmani dan rohani dan secara hukum dalam keadaan mampu melakukan transaksi). sumber penulisan sejarah Islam Timur Tengah masih didominasi oleh buku-buku sastera (literary soursces). Sampai saat ini. aktor mana yang akan ditonjolkan dan informasi dari siapa yang harus dipakai. Bagian akhir pasti terdiri dari tanggal. yaitu “iqraran syar’iyyan fi sihhatin minha wa salamah wa jawazi amr (ikrar yang sesuai dengan tuntunan syara’. dan semua dokumen yang ditemukan di Jerusalem ini. ditulis dengan tulisan tangan yang sangat jelek...” Kedua ungkapan ini ditemukan dalam dokumen no. Dalam menuliskan runtutan isi dokumen tersebut ada katakata hukum yang baku yang pasti muncul dalam ikrar. Untuk itu. yaitu tau’an [artinya.” Walaupun al-Asyuti menegaskan bahwa setiap dokumen harus ditulis dengan tulisan yang bagus agar mudah dibaca.Islam.. para penulis itu pada dasarnya menulis tidak untuk dibaca oleh orang yang memiliki dokumen tetapi untuk dibaca oleh mereka atau kawan-kawan seprofesi mereka sendiri.

buah-buahan atau tanaman apa saja yang ditanam. Vol. berapa rata-rata anak yang dimiliki satu keluarga di Palestina pada abad ke-14? Berapa rata-rata penghasilan keluarga? Mengapa dalam dokumen no. bagaimana sistem administrasinya. berapa kali panen dan dapat berapa kilo sekali panen.20 tersebut sangat berpengaruh terhadap mutu gambar sejarah yang dimunculkan. dokumen Jerusalem bisa dijadikan bahan untuk mengkonstruk realitas sosial masyarakat al-Quds al-Syarif di Jerusalem. tidak banyak dokumen yang tersedia dan juga tidak banyak ilmuan yang tertarik menghabiskan waktunya berminggu-minggu hanya untuk membaca dua atau tiga buah dokumen. bagaimana sistem pembagiannya. Untuk mengkonstruk sebuah realitas diperlukan banyak sekali dokumen (bisa ratusan kadang ribuan lembar). ada tantangan lain yang harus dihadapi ilmuan kalau dia ingin menulis sejarah dengan menggunakan dokumen. Dari dua dokumen yang kita baca.D Goitein yang 16 . Misalnya tentang jumlah nafkah yang diberikan suami kepada mantan istrinya. dan seterusnya. Misalnya. Dari potongan-potongan informasi yang ditemukan di setiap dokumen. Mirip seperti yang dilakukan oleh S. dan dalam rentang waktu yang panjang. No.Jurnal Lektur Keagamaan. ada beberapa informasi yang menarik. Dalam konteks ini. 1. dokumen bisa memberikan informasi yang sangat berharga. akhirnya kita bisa menulis sejarah sosial yang sangat bagus. setelah membaca ratusan atau ribuan dokumen. Kitalah yang menseleksi dan menafsirkan data-data tersebut. dalam dokumen kita disodorkan data mentah. 184 disebutkan bahwa nafkah anak-anak dari perkawinan Fatimah dengan Nasiruddin dibayar oleh dana wakaf? Apakah karena dia miskin? Bukankah dia bergelar al-sitt al-masunah. kemungkinan besar akan ada nama-nama yang berkali-kali muncul sehingga kita bisa meruntut sejarah kehidupan mereka dengan baik. Berasal dari tempat yang sama. bagaimana mekanismenya kalau terjadi konflik pembagian hasil. Banyak pertanyaan bisa dikembangkan. 2009: 1 . Berbeda dengan sumber-sumber sastera. yang mengisyaratkan bahwa dia berasal dari keluarga terpandang? Dokumen-dokumen yang saya baca berhubungan dengan pengelolaan tanah wakaf: bagaimana dikelola. 7. Dibaca secara keseluruhan. Selain kondisi dokumen yang biasanya sulit dibaca. jumlah anak yang dimiliki suatu keluarga dan model distribusi wakaf. Sayangnya.

Teks. Pengetahuan saya tentang kekayaan manuskrip Melayu sangat terbatas. terutama.Islam. tetapi saya punya kesan bahwa ada jenis-jenis literatur yang sangat membantu dalam membaca dokumen (atau 17 . Bagi seorang filolog adalah penting untuk terlebih dahulu mengidentifikasi teks dengan kelompok-kelompok keberagamaan yang ada dalam Islam. dan keluarga (jilid 3). masyarakat (jilid 2). dokumen Geniza berbahasa Yahudi yang ditulis dalam tulisan Arab. walaupun sulit. jauh lebih stabil dibanding teks yang ditulis oleh kalangan rasional. dia susun menjadi 3 jilid narasi tentang ekonomi (jilid 1). Hubungan model ini sangat penting dimiliki filolog untuk bisa menghayati dan memahami teks. sebuah teks harus ditempatkan dalam konteks besar yang melahirkannya. Ini membuat pekerjaan filolog lebih sulit lagi. Ketiga. lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam memiliki peluang yang sangat besar untuk menggali manuskrip dan dokumen yang berkenaan dengan masyarakat Islam yang kini masih belum tersentuh baik yang tersimpan di perpustakaan-perpustakaan di dalam dan di luar negeri maupun yang masih tersebar di kalangan masyarakat. Secara umum bisa dikatakan bahwa teks yang diproduk oleh kalangan skripturalis/fundamentalis. Catatan Pamungkas Pertama. membaca dokumen di Timur Tengah nampaknya lebih ‘mudah’ dibanding membaca dokumen sejenis di Indonesia. masyarakat Muslim dan. Kedua. Menjadi Muslim berarti mereka terhubungkan dengan relitas dan ajaran yang mendasari lahirnya teks dan dokumen. Karya-karya yang ditulis oleh para ahli hukum Islam juga relatif lebih stabil dibanding karya-karya yang ditulis para filosof atau sufi misalnya. Potongan informasi yang dia temukan dalam ribuan lembar dokumen. Dalam jumlah yang sangat besar. dalam banyak hal mencerminkan sikap atau pandangan keagamaan tertetu. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali menulis A Mediteranian Society: The Jewish Communities of the Arab World as Potrayed in the Documents of Cairo Geniza (Berkeley: University of California Press. Hanya mereka yang menguasai bahasa Yahudi dan bahasa Arablah yang bisa membacanya. 1967-78). teks. mulai dari yang sangat stabil sampai ke yang sangat labil. dan dalam kadar tertentu tradisionalis. Dalam tradisi Islam.

keahlian. Sayangnya literatur bantu semacam ini tidak tumbuh di Nusantara. No. kita bisa melihat di buku Yaqut. tapi tetap sangat membantu. 289. kita akan menemukan nama-nama tempat dan desa yang ada di Palestina sehingga ‘gambar’ kata di dokumen itu bisa diidentifikasi. sarjana-sarjana modern (baik di Barat maupun di Timur) juga banyak menghasilkan karya-karya penting dalam jumlah besar.’ Jika kita ragu tentang bacaan kata ini. Dalam dokumen no. Keempat. Artinya. Jamharat al-Nasab). 1. dan seterusnya. kita bisa mencari nama daftar nama suku yang ada di wilayah ini. Dikepung oleh banyak informasi. misalnya.20 manuskrip) yang tidak ditemukan di dalam literatur yang tumbuh di Nusantara. ada kata ‘al-Khaliliyah. Misalnya. satu potong dokumen yang ditemukan di Musium Islam Jerusalem sesungguhnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari tradisi keilmuan atau sistem informasi yang kaya dan mapan. 2009: 1 . Tidak mudah memang.[] 18 . Mu’jam al-Buldan). yang disusun berdasarkan tahun wafat. sepotong dokumen itu akhirnya tidak sendirian lagi. yang berhubungan dengan suku dan geneologi (kalau ingin tahu nama-nama suku yang ada di Hijaz misalnya bisa dilihat di Ibn al-Kalbi. Bahwa model dokumen yang ditemukan dalam buku al-Asyuti ternyata sangat cocok dengan model dokumen yang ditemukan di Palestina adalah salah satu contoh yang baik bagaimana kekayaan tradisi keilmuan bisa membantu membaca suatu kalimat dalam sebuah dokumen. Kajian Islam di Indonesia belum mencapai tahapan ini. Vol. kualitas orang. 7.Jurnal Lektur Keagamaan. Demikian juga kalau kita kesulitan membaca kata yang ada di ujung nama orang yang ada dalam sebuah dokumen. tempat tinggal. kajian Islam di Timur Tengah sudah berusia lanjut. Kalau kita membaca dokumen yang ada di Hijaz. Literatur-literatur ini sangat menolong untuk mengidentifikasi katakata yang ada dalam dokumen yang sangat sulit dibaca. Kemungkinan besar dia adalah nama suku orang itu. dan yang berhubungan dengan tempat (misalnya karya Yaqut. di dunia Islam Timur Tengah berkembang literatur yang berhubungan dengan biografi orang (Rijal atau Tabaqat) yang jumlahnya sangat besar dan beragam. keadaan fisik. Dalam bahasan tentang ‘Palestina’. baik yang hidup pada masa klasik maupun modern. Di samping banyak sekali literatur yang diproduk oleh kalangan sarjana Muslim sendiri.

Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi Brockelmann. Ibn Sa’d. Sahih. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali Daftar Pustaka al-‘Asqalani. No. de Bellefonds. “A Study of Six Fourteenth Century Iqrars from al-Quds Relating to Muslim Women. Teks.t. Kitab al-Tabaqat al-Kubra. Beirut: Dar al-Sadir.). Leiden: E. al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah. Jeanette A.” in Journal of the Economic and Social History of the Orient. Linant. Geschichte des arabischen Schrifttums (Leiden: Brill. Wakin. 193742. The Function of Documents in Islamic Law. 25. New Edition. 19 . Y. 1967 . Lutfi.J.t. Geschichte der arabischen Litteratur. 2 jilid dan 3 jilid supplement. Kairo: Maktabat ‘Abd al-Hamid Ahmad Hanafi. New York: University of New York Press. Sezgin. Carl. Al-Bukhari. Brill. Fuat. T. 1972.t. ‘Ikrar’ dalam The Encyclopaedia of Islam. 1943-1949). 9 jilid. Ibn Hajar. T. Huda.Islam. T. (Leiden: Brill.

html 20 . Jilid: Hardcover Sumber: http://islamicbookstore. 1. Survey of Islamic Culture Pengarang : Abu 'l Faraj Muhammad ibn Ishaq al Nadim Penerjemah (Inggris) : Bayard Dodge Penerbit : Great Books of the Islamic World.Jurnal Lektur Keagamaan.20 The Fihrist: A 10th Century A. No.com/b7581. Kazi Publications Jumlah halaman : 1149. Vol. 7.D. 2009: 1 .

the new generation can directly read and understand on the Acehnese writings as primary sources. Jihad.. The main question that should be answered is how the Acehnese solve their conflict in life. Internal and external conflicts were appeared in different period. behaviour and attitude from the Acehnese. These sources become by far the most important sources since they provide the original information. Afterward. konflik Pendahuluan Sejarah Aceh adalah cerita panjang tentang perjalanan suatu suku bangsa yang diwarnai pergolakan demi pergolakan di antara cerita kebesaran dan kejayaan yang pernah dicapainya. National University of Singapore (NUS) bekerjasama dengan International Center for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS). and what their character and behaviour were in the past. One of the sources for those above life history of the Acehnese is manuscripts as their own writing. These situations have strong connection with character and behaviour of the Acehnese. Letak Artikel ini telah dipresentasikan pada Konferensi International tentang Aceh and Indian Ocean Studies II Civil Conflict and Its Remedies. Jakarta Aceh is a region which has a number of populations with their life fluctuation. the way of the Acehnese associated with the others becomes a factor to create peace in Aceh land. Ulama. 23–24 Februari 2009. Apart from this. Fanatic in their religion is an important factor to push to the situation. 1 21 . — Fakhriati Perang dan Damai di Aceh: Kajian atas Manuskrip Aceh tenang Konflik dan Solusinya1 Fakhriati Puslitbang Lektur Keagamaan. di Banda Aceh. Penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada Prof. from 17th to 20th centuries. Islam. Consequently. Anthony Reid.. yang dikelola oleh Asia Research Institute (ARI). This paper tries to find and analyse these primary sources in relation with war and peace occurred in the life history of the Acehnese. protective to their ethnics and fatherland is another factor to motivate and to defend themselves from any other threat come from. Kata kunci: Manuskrip. Their life had been colorized by peace and war which can be regarded as part of their life history. sebagai koordinator konferensi ini yang telah mengundang Penulis untuk hadir dan mempresentasikan paper ini pada konferensi tersebut.Perang dan Damai di Aceh.

dunia keilmuan maju sedemikian pesat. demikian juga kekayaan alam serta kesuburan tanahnya memberi andil besar bagi kemajuan Aceh. bermasyarakat hingga bernegara. Pada tahap awal hubungan Aceh dengan dunia luar. Dinamika perjalanan panjang sejarah Aceh tersebut berjalan sedemikian rupa seraya semakin mempertegas karakter masyarakat Aceh yang terkenal fanatik. tetapi juga karena telah mengembangkan Islam di kalangan masyarakat Aceh yang berfungsi sebagai pedoman hidup mulai dari tingkat individu. saat mana wilayah kekuasaan Kerajaan Aceh melampaui tanah Aceh (Zainuddin. Posisi wilayah yang demikian terbuka memberikan akses yang mudah untuk membangun hubungan dengan dunia luar. 1958:78). gangguan dari kalangan internal kerajaan juga turut menggerogoti wibawa pemerintah. No. Vol.52 geografis wilayah Aceh yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia di sebelah barat. 7. Situasi ini tidak saja berdampak politis. Hal ini semakin menambah 22 . tetapi juga mempengaruhi kinerja bidang ekonomi serta dunia pendidikan bersama hilangnya sejumlah besar intelektual agama (ulama) yang disegani dan menjadi panutan masyarakat.Jurnal Lektur Keagamaan. Asia Selatan serta Selat Malaka di bagian utara dan timur memberikan nilai tersendiri secara ekonomis maupun politik bagi kerajaan-kerajaan Aceh masa lampau. telah mampu memberikan kemakmuran dan kenyamanan tidak saja bagi masyarakat Aceh. Berkat dorongan para ulama. 2009: 21 . khususnya dengan para pedagang Arab dan Gujarat. Setelah itu tiba saatnya kejayaan tersebut mengalami kemunduran seiring dengan banyaknya ancaman dari luar maupun gangguan dari dalam. Masuknya para pedagang Arab dan Gujarat selain dipandang telah membawa agama sebagai pedoman hidup bagi masyarakat Aceh. Puncak kejayaan Kerajaan Aceh pada masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda. terbuka. 1961:299-305). Rakyat Aceh menjadi sedemikian menyatu dengan Islam dan (tentunya) dengan dunia Arab. kehadiran mereka juga turut mendorong semaraknya perdagangan yang memajukan perekonomian Aceh. Iskandar. Bahkan tidak itu saja. Kekuatan politik pemerintah secara perlahan mulai memudar dengan masuknya kekuatan asing. tetapi keras. ramah. tetapi juga bagi masyarakat luar Aceh di bawah kekuasaannya (T. 1. rakyat Aceh tidak hanya merasa berhutang budi karena para orang asing tersebut telah mendorong perkembangan perdagangan.

Tulisan ini mencoba mengisi kekosongan ini dengan melihat dan menganalisis manuskrip Aceh. Namun demikian. Siapa saja yang dinilai berusaha menggerogotinya akan dicap sebagai musuh bangsa Aceh dan juga musuh Tuhan. Dokumen dan arsip yang kaya tentang Aceh sekarang banyak yang disimpan di negeri Belanda. Sejauh ini belum ada karya yang menjadikan manuskrip sebagai bahan analisis dasar untuk mengkaji konflik yang terjadi di Aceh. Pertama. Ketiga. untuk mengetahui sikap dan prilaku orang Aceh yang tertulis dalam tulisan mereka sendiri. konflik internal dan eksternal mulai tumbuh dan berkepanjangan. Namun kajiannya hanya berfokus kepada perang melawan Belanda.. Banyak dokumen dan arsip yang telah merekam kejadian-kejadian penting yang terjadi pada pada momen-momen penting masa silam. Salah satu penghargaan mereka terhadap Islam adalah keyakinan mereka bahwa budaya Aceh adalah budaya Islam dan mereka berusaha komitmen terhadapnya.Perang dan Damai di Aceh. ada sisi lain yang perlu mendapat perhatian serius dari para peneliti untuk melihat dan mengkaji lebih intensif dan detail adalah tentang karya-karya tulis yang dihasilkan dan dimiliki oleh orang Aceh sendiri. termasuk berbagai peristiwa perang dan pergolakan lainnya. — Fakhriati hormatnya masyarakat kepada para ulama.. Dengan 23 . Sehingga pengalaman langsung dari setiap peristiwa yang terjadi di bumi Aceh dan sikap dari orang pribumi menghadapi dan mengatasi kejadian-kejadian yang ada dapat diketahui dengan jelas. Seperti halnya Belanda dengan gigihnya melaporkan segala kejadian harian pada saat mereka berada di daerah Aceh. Aceh dalam rentang waktu ini berada pada masa perang yang cukup panjang. Pemilihan periode ini didasarkan atas tiga alasan. Studi ini mencoba menjelajahi perjalanan sejarah Aceh dari abad ke-17 sampai abad ke-20 M. Salah satu karya yang menjadikan tulisan orang Aceh asli sebagai sumber primer adalah kajian Alfian Ibrahim pada tahun 1998 yang berjudul Perang di Jalan Allah. sejauh ini banyak ditemukan manuskrip berkisar pada periode ini. Kedua. Salah satu kebesaran Aceh yang dapat disaksikan hingga kini adalah bahwa suku bangsa ini mampu merekam sendiri setiap tahap perkembangan yang terjadi pada dirinya. sehingga di hampir setiap daerah kecil memiliki ulama kebanggaan tersendiri.

7. Karena itu permainan ini harus disaksikan oleh para pemuka masyarakat yang sekaligus bertindak sebagai wasit untuk mencegah perkelahian (Hurgronje. 1. sehingga dinyatakan kalah. Vol. Permainan meukrueng-krueng. sebagian besar di antaranya memiliki unsur heroisme. yaitu permainan yang dilakukan oleh kaum muda laki-laki dengan mengambil lokasi di pinggir sungai. Saling dorongmendorong ini pada akhirnya menciptakan perkelahian dan tidak boleh dibantu oleh siapa pun agar permainannya murni dan keberhasilan yang dicapai adalah atas usaha sendiri si pemain. No. satu kelompok berusaha mendorong kelompok yang lain yang dianggap sebagai lawan untuk menjatuhkan ke tanah. Di lain pihak lawannya harus menangkap pendorong untuk dijatuhkan juga sehingga salah satu harus ada yang tidak bisa kembali ke garis pembatas awal. yaitu permainan bentuk lain yang mendidik para pemain untuk bisa berperan menjadi prajurit dalam perang.52 demikian makalah ini diharapkan dapat memberi wawasan yang lebih luas dan mendalam tentang kondisi perang dan damai yang dialami langsung oleh orang Aceh pada masa lalu. Dalam permainan ini. Permainan ini terdiri dari dua kelompok–biasanya terdiri dari kaum muda dari dua kampung—yang berdiri pada sisi yang berlawanan. Permainan dan Hiburan Rakyat Dari sejumlah permainan rakyat yang dimiliki orang Aceh. Budaya Orang Aceh 1. dan bedil 24 . b. Vol II. permainan ini biasanya tidak dapat dilepaskan begitu saja oleh pihak yang berwenang.Jurnal Lektur Keagamaan. karena dapat menciptakan perkelahian yang serius dan menimbulkan peperangan yang lebih luas. Namun demikian. 1997:145). a. Mereka dilengkapi dengan senjata tiruan yang dibuat dari pelepah kelapa untuk rencong dan pedang. Perdebatan dan perlawanan yang mendidik para pemainnya untuk mempertahankan dan membela diri adalah salah satu unsur yang dapat mendorong perlawanan bila mereka diganggu oleh pihak lain. dan tentang sikap mereka dalam menghadapinya untuk mencapai kedamaian. Berikut beberapa permainan yang bersifat mendidik untuk bela diri dan berperang. Permaian prajuritan. 2009: 21 .

Sementara dalam tarian seudati. Permainan ini dilakukan dengan cara memancing lawan. d. II.. peserta duduk membaca isi ratib saman. dan saman. Tarian-tarian yang dilakukan orang Aceh juga mengandung unsur heroik di dalamnya. 1997:140). Bila diperhatikan. penari membaca doa memohon kepada Allah agar mereka memperoleh kemenangan dalam perang sabil. peserta yang melakukan rapa’i menggunakan senjata tajam yang pada waktu ektasi dapat melukai diri sendiri. Karena itu kemarahan terjadi dari pihak lawan dan keduanya mulai melakukan meulho. — Fakhriati dari pelepah palem. untuk pembelaan agama dan tanah air. Hurgronje. rapa’i. Pertandingan menjadi seru bila kedua belah pihak dapat melukai salah satunya dan akhirnya dapat menjatuhkan lawan (Hurgronje. c. 25 . Tarian yang cukup populer di kalangan rakyat Aceh adalah tarian seudati. Kemudian mereka saling mengadukan kemampuan berperang sehingga ada yang mengalah karena kelelahan. Dalam isi ratib rapa’i terlihat bahwa setelah dimulai dengan pujian kepada Allah dan syekh sufi. para penari dari waktu ke waktu bertambah semangat dengan isi bacaan yang semakin hangat. 1934:648-649. Vol. Sedangkan dalam tari saman. yaitu dengan meletakkan daun di kepala pemain lalu dijatuhkan. Dalam rapa’i. karena daun tersebut mengandung makna sesuatu yang berharga telah diletakkan di atas kepala lawan lalu dengan serta merta kepalanya ditempatkan di bawah. Tarian-tarian ini berpangkal pada praktik tarekat dalam ajaran tasawuf dan kemudian berkembang menjadi hiburan tarian yang disenangi rakyat banyak. Kepala adalah sesuatu yang harus berada di atas bukan di bawah. Hal ini mengandung makna penghinaan telah dilakukan oleh pihak lawan. Isi bacaan dalam setiap tarian tersebut pada umumnya mengandung doa dan ajaran akan pentingnya berperang di jalan Allah.. Permainan meulho (bergulat).Perang dan Damai di Aceh. isi dan gerak yang dilakukan di dalamnya. 1997:158-184). Vol II. pemain duduk untuk membacakan isi seudati yang semakin lama semakin cepat bacaan dan gerak mereka (Djajadiningrat. lama-kelamaan bacaan menjadi semakin cepat dan tubuh peserta mulai bergerak ke sekeliling peserta lainnya.

teungku. 8184 (1). yaitu orang Aceh yang memiliki leluhur sultan dan uleebalang. 7. yaitu. p. mereka yang memiliki banyak harta. Ya Allah untuk perang sabil”. mereka berasal dari rakyat biasa. Sulaiman dkk. Vol. d. Mereka banyak berperan dalam hal penyumbangan dana untuk kemaslahatan sosial. Mereka dan keturunannya bergelar habib dan syarifah. 1978:144. yaitu keuchik (kepala kampung). 26 . Keturunan Nabi (habib). b. No. Sedangkan teungku berperan dalam menegakkan hukum Islam dan mengajarkan umat untuk ilmu-ilmu agama. 2. yaitu mereka yang datang ke tanah Aceh menyebarkan Islam.Jurnal Lektur Keagamaan. yaitu terdiri dari beberapa keluarga inti.52 Ja Allah prang thabilellah – ja bantu prang thabilellah2 “Ya Allah di sana ada perang sabil kami mohon bantuan-Mu. Cod. masyarakat Aceh hidup dalam kelompok-kelompok yang disebut dengan gampong. 57. a. Or. c. Sementara ureung tuha adalah sekelompok orang tua yang 2 Manuskrip. 1992:65-66. e. dan ureung tuha (tuha peut). Karena mereka berhasil mendapatkan ilmu agama selama merantau. 2009: 21 . Masyarakat umum. Dalam gampong terdapat tiga bentuk pemimpin. Lapisan Sosial Masyarakat Aceh tidak dibangun di atas strata sosial berdasarkan tingkat kemuliaan keturunan dan penghormatan kepadanya. Tippe. Lapisan sosial pada masyarakat Aceh dibangun berdasarkan nostalgia kesejarahan dan berdasarkan peran mereka dalam masyarakat. Kaum bangsawan (uleebalang). Kaum hartawan (orang kaya). Kaum cendikiawan agama (ulama). 2000:3). mereka adalah rakyat biasa. dengan gelar teuku bagi laki-laki dan cut bagi perempuan. maka mereka mendapat gelar teungku. Keuchik memiliki peran sebagai pemimpin yang memelihara akan adat. Selain susunan lapisan sosial di atas. dan mengembangkan kehidupan beragama di kalangan rakyat. 1. keturunan dari Mekah. Peran mereka sangat diharapkan masyarakat untuk dapat menyelesaikan masalah masyarakat dalam kaitannya dengan agama (Syamsuddin dkk.

Ia dibantu oleh qadi nanggroe. militer. Agama Islam telah masuk ke Aceh tidak lama setelah agama ini berkembang di Arab. — Fakhriati dihormati masyarakat yang berperan sebagai penasehat (Sulaiman dkk. 3. 2003:45). Mereka menjadi tumpuan pemimpin dalam masyarakat dalam penyelesaian segala masalah yang dihadapi dalam gampong. Orang Aceh telah berhasil menyatukan agama dengan adat sehingga dalam setiap adat selalu terdapat nilai-nilai keislaman. terdapat sagoe di bawah pimpinan panglima sagoe yang merupakan federasi dari beberapa nanggroe. (Usman. terutama oleh pemimpin gampong dan bahkan uleebalang yang memimpin nanggroe (Vleer. sementara yang lain sudah tidak ada lagi. Gampong kemudian tunduk kepada kelompok yang lebih besar yang disebut dengan mukim.. Mukim ini dipimpin oleh seorang imuem dan qadi yang diangkat oleh uleebalang. 3 Kemudian.. 27 . dalam arti wilayahnya tetap berada di bawah kekuasaan uleebalang. 1980:43-44). Sagoe hanya dimiliki oleh daerah Aceh Besar. wilayah uleebalang sendiri adalah nanggroe yang terdiri dari tiga mukim atau lebih. Ia tidak memimpin secara otonom. Kelompok ureung tuha ini terdiri dari empat atau lebih orang pemuka masyakarat yang di dalamnya termasuk teungku yang banyak mengetahui bidang agama. 2003:45). 1992: 66-68. Keputusan mereka sangat diharapkan oleh berbagai pihak. 1978:4-5). Selanjutnya. Untuk menggambarkan kesatuan agama dan adat ini. maupun agama. orang Aceh membuat pepatah: 3 Di samping nanggroe. Di antara struktur masyarakat Aceh tersebut yang masih bertahan hingga sekarang adalah gampong dan mukim. Masuknya Islam di wilayah ini dikenal jalan damai melalui para pedagang.Perang dan Damai di Aceh. Kehadirannya yang selektif dan adaptif atas unsur-unsur adat istiadat yang dinilai tidak menyalahi ajaran Islam membuat masuknya agama ini cukup berhasil di Aceh. terdapat kerajaan yang dipimpin oleh seorang sultan dibantu oleh seorang qadi didasarkan kepada undang-undang Aceh yang bersumber pada ajaran Islam dan berciri khas keislaman yang tinggi (Usman. Raliby. baik peradilan. Wewenang sagoe hanya terbatas pada kepentingan bersama antara beberapa orang uleebalang. di atas nanggroe. Fungsi panglima saggoe hanya bersifat memberi masukan kepada uleeblang.

2009: 21 . Para pengunjung dari berbagai negara telah datang ke Aceh dengan tujuan yang berbeda-beda. Sultan dan uleebalang adalah dua unsur utama yang mendukung kehidupan adat. sedangkan ulama adalah unsur utama yang mendukung dan memperjuangkan peranan agama (Sjamsuddin. Vol. Dalam perjalanannya. ia menegaskan bahwa tidak menghormati tamu sama dengan perilaku syaitan (I‘l±m al-Muttaq³n. Dalam manuskrip I‘l±m al-Muttaq³n karya Teungku Muhammad Khatib Langgien (salah seorang tokoh tasawuf abad ke-19 yang menjadi panutan masyarakat) terdapat penjelasan tentang perlunya memuliakan tamu. Adat harus selalu beriringan dengan agama. Sikap terhadap Orang Asing Orang Aceh memiliki sikap tersendiri dalam menghadapi orang asing yang datang ke negeri dan wilayahnya.52 adat ngon hukom lagee zat ngen sifeut “adat dengan hukum (agama) adalah seperti zat dengan sifat” Pepatah ini mengandung pengertian bahwa adat sebagai ciptaan manusia dan hukum Tuhan (agama) adalah dua unsur yang tidak bisa dipisahkan. 7. Mereka telah berhasil menjadikan adat dan agama sebagai pilar bagi kehidupan Aceh. 1. Fanatisme agama merupakan suatu tradisi yang sudah turun temurun untuk melangkah sesuai dengan ajaran agama. No. sehingga kemudian orang Aceh mengklaim adat mereka sebagai adat yang Islami. Sikap yang pertama sekali ditunjukkan adalah sikap ramah dan berteman kepada siapa saja yang datang. Di antara para pendatang dari Arab dan sekitarnya terdapat ulama-ulama yang mengabdikan dirinya untuk mengajar di Aceh. Tidak sedikit di antara pedagang-pedagang Arab dan Gujarat yang juga telah membawa agama Islam memilih menetap di sana dan menjalin hubungan kekeluargaan dengan rakyat Aceh. 1999:1). Syekh Muhammad Jailani ibn Muhammad Hamid dari Gujarat mengajarkan Logika dan Ilmu Fikih (Ar28 . Bahkan berlandaskan pada sebuah hadis. Selanjutnya sikap seperti ini terus dipertahankan bila tamunya tetap berperilaku baik dan menjadi teman dalam bersosialisasi. Islam mengalami penguatan citra melampaui adat istiadat. dalam arti segala adat istiadat berlandaskan agama. 4. 18). seperti Syekh Muhammad Yamani yang dikenal dengan ulama Ilmu Usul.Jurnal Lektur Keagamaan. hlm.

Seperti halnya kedatangan orang Portugis ke Aceh pada awalnya diterima dengan baik. meskipun mereka menetap di wilayah ini dalam waktu yang relatif lama. namun ketika gerak geriknya kelihatan sudah mencurigakan. 1961:89). Budaya Tulis Baca Masyarakat Aceh pada Masa Lampau Masyarakat Aceh pada masa lampau memiliki budaya yang tinggi dalam hal tulis baca. British Library. Museum Aceh. di antara lembaga yang menyimpan manuskrip Aceh adalah Perpustakan Universitas Leiden Belanda. Orang Aceh selalu menentang dan melawan mereka meskipun secara kasat mata dengan persenjataan yang tidak seimbang. yang ditempatkan di lembaga formal. maka dengan tegas dan tidak segan-segan mereka akan bertindak menegur. Universitas Indonesia. manuskrip Aceh tersebar di Perpustakaan Nasional. Di dalam negeri. Mereka tidak pernah dapat hidup tenang dan aman selama di Aceh. informal ataupun dikoleksi dan disimpan oleh masyarakat setempat. Penulis bersama team peneliti Puslitbang 29 . koleksi dan simpanan individu masyarakat Aceh sendiri masih sangat banyak. yaitu menangkap mereka dan mengadili mereka (Mohammad Said. Bahkan orang non-Muslim yang datang ke Aceh pun tetap disambut dengan baik. Selain itu. Sejauh ini. dan Univeristas Antar Bangsa Malaysia. dan Dayah Tanoh Abee.Perang dan Damai di Aceh. Sebaliknya. Pustaka Ali Hasymi. Sultan Ali Mughayat Syah bersama rakyat dan kerajaan-kerajaan pantai timur lainnya bersatu menggalang kekuatan untuk mengusir Portugis dari wilayahnya (Reid. Orang Aceh dan Manuskrip 1. Pusat Manuskrip Melayu Perpustakaan Negara Malaysia. bila pendatang ingin menguasai dan dinilai merugikan Islam dan martabat bangsa Aceh. penulis sudah mengidentifikasi lebih dari 400 manuskrip yang terdapat di Aceh Besar dan Pidie. Hal ini ditandai dengan terdapatnya sejumlah manuskrip yang masih tersimpan baik di dalam maupun di luar negeri. bahkan memerangi dan membunuhnya. baik secara kelompok maupun individu. KITLV Belanda. maka orang Aceh mulai bertindak dengan tegas. — Fakhriati Raniri. Demikian juga dengan Belanda yang datang ke Aceh untuk tujuan membentuk wilayah jajahan. dalam Bust±n as-Salat³n:33). memarahi atau mengusir.. Sedangkan di luar negeri.. terjadilah perang sabil melawan Portugis. 2005:2). Kemudian.

Demikian banyaknya ragam manuskrip baik isi maupun gaya sajiannya adalah bukti telah tumbuhnya tradisi menulis pada bangsa Aceh pada masa lampau. Vol. selawatan. sebagian besar manuskrip dibeli oleh orang Malaysia dengan harga yang tinggi untuk disimpan di negaranya. surat-surat. Penulis juga sangat yakin. Balitbang dan Diklat Departemen Agama juga telah berhasil mengidentifikasi 49 manuskrip yang terdapat di Dayah Awe Geutah. Kondisi manuskrip rata-rata sangat memprihatinkan karena peyimpanan dan perawatan yang dilakukan masyarakat belum memenuhi standar perawatan manuskrip. dan berbagai macam ilmu pengetahuan tertuang di dalam tulisan mereka. selain tempat-tempat yang disebutkan di atas. (wawancara dengan beberapa kolektor di wilayah Pidie dan Aceh Besar). Pertama peyimpan yang murni menyimpan karena mengangap sebagai sesuatu yang berharga dan bernilai untuk kehidupan mereka. Para penulis manuskrip-manuskrip ini tidak segan-segan mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk 4 Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada dua kategori penyimpanan manuskrip dilakukan oleh masyarakat setempat. hanya saja mereka tetap menyimpannya karena dinilai sebagai warisan yang sangat berharga bagi keberlangsungan hidup mereka. 30 . penyimpan seperti ini perlu mendapat penanganan khusus untuk dijadikan museum pribadi di rumah penyimpannya. II.4 Adalah hal yang kurang tepat jika dikatakan bahwa orang Aceh adalah bangsa yang tidak suka menulis (Hurgronje. di kabupaten-kabupaten lain juga masih terdapat banyak manuskrip hasil karya pendahulu-pendahulu Aceh.52 Lektur Keagamaan. 7. seperti gempa bumi. Hampir semua pengoleksi dan penyimpan manuskrip tidak mengerti cara merawat manuskrip yang benar. Dewasa ini. jimat. dan masih banyak lagi manuskrip yang belum tersusun rapi dan teridentifikasi khususnya di dayah ini. penyimpan mengangap bahwa dengan keberadaan manuskrip di rumahnya menjadikan rumahnya aman dari segala bahaya. seperti Surat Keputusan Sultan yang disebut dengan Sarakata. Vol. terutama bahaya alamiyah. Menurut penulis.Jurnal Lektur Keagamaan. No. Keragaman gaya sajian maupun jenis tulisan sepertinya ditujukan untuk merangsang minat para pembaca untuk membaca tulisannya. Merupakan sesuatu yang sangat prihatin bagi kita semua. cerita fiksi dan non-fiksi yang biasanya dituang dalam bentuk hikayat. obatobatan. Aceh Utara. Kedua adalah kolektor yang tujuan mengoleksi manuskripnya adalah untuk menjual kembali manuskrip yang dimilikinya. 1997:4). Seperti kasus di wilayah Samahani Aceh Besar. 2009: 21 . 1. mengingat sejumlah harta warisan kita dibawa ke luar negeri.

— Fakhriati melahirkan sebuah karya yang nantinya akan bermanfaat bagi pembacanya. 2008).. kemajuan ilmu pengetahuan ditandai dengan hadirnya tokoh-tokoh intelektual sufi. demi untuk menarik minat pembacanya. Mereka menuangkan ide mereka. Tulisan-tulisan tentang mereka dan karya-karya mereka sudah banyak diterbitkan. karena ia yang pertama sekali menyebarkan tarekat ini kepada masyarakat di Nusantara. Salah satu contoh manuskrip yang ditulis dengan tinta emas adalah Surat Sultan Iskandar Muda. dan sebagian manuskrip Dala’il al-Khairat. Selain itu. serta tanda-tanda yang menunjukkan berakhirnya sebuah kalimat. ilmu filsafat. yaitu Hamzah Fansuri. dan berkerja meniti karirnya di Aceh (Lihat Fakhriati. Para peneliti menunjukkan perhatian serius dengan memperhatikan. yang dikenal sebagai tokoh utama dalam tarekat Syattariah. kemudian menulis dengan tinta yang pada umumnya menggunakan tinta hitam dan merah untuk mengungkapkan kata-kata atau hal-hal yang penting. Para ulama tersebut melahirkan berbagai karya yang mencakup berbagai bentuk ilmu pengetahuan dari ilmu tasawuf. Pada abad ke-16 dan ke-17 M. ia juga menulis karya lain seperti tafsir Al-Qur’an. 5 31 . Penulis manuskrip Dala’il al-Khairat menggunakan tinta emas untuk gambar peta Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. mempelajari. Salah satu contoh tokoh intelektual sufi yang turut mempedulikan setiap kepentingan negara dan umatnya adalah Abdurrauf al-Fansuri. dan meneliti segala aspek tentang mereka. ilmu fikih. saya juga pernah menemukan Al-Qur’an yang gambar iluminasinya ditulis dengan tinta emas.Perang dan Damai di Aceh. hingga masalah kepentingan umat secara umum. dan ilmu-ilmu lain. bahkan kadang mereka tidak segan-segan mengeluarkan biaya besar untuk menulis dengan menggunakan tinta emas sekalipun. Syamsuddin as-Sumatrani. ia peduli terhadap ilmu lain yang dibutuhkan oleh masyarakat di lingkungannya. dan Abdurrauf alFansuri 5 . sehingga banyak buku yang terbit sebagai hasil studi para ilmuan terhadap mereka. ar-Raniri. Selain menyebarkan ajarannya. yang berjudul Tarjuman alPenulis cenderung menyebutnya Abdurrauf al-Fansuri dari pada Abdurrauf Singkel. ternyata Abdurrauf adalah ulama yang berasal dari Fansur atau lebih dikenal dengan Barus.. karena setelah diteliti. Selain ia menulis tentang tasawuf yang berkisar seputar masalah tarekat Syattariyah.

Jurnal Lektur Keagamaan. Selanjutnya. karena harus menghadapi penjajah Belanda. yang berjudul Hadis al-Arba‘in. 1995). Ia telah membangun dayah yang sampai sekarang tetap berjaya dengan pendidikan dan penyimpanan kitabkitab lama hasil karya para ulama Aceh dan luar Aceh. dan penjelasan terhadap hadis-hadis. Namun demikian. Faqih Jalaluddin dan Baba Daud. Perhatian lebih banyak tertuju pada usaha menghimpun kekuatan membela diri dan mengusir penjajah. murid langsung dari Abdurrauf al-Fansuri. Faqih Jalaluddin telah menulis berbagai karya yang menyangkut berbagai masalah. No. Tarjuman alMustafid dan juga menulis tentang Fikih. 2009: 21 . 1. para peneliti dan ilmuwan kurang menaruh perhatian pada penulis-penulis Aceh. 6 32 . meskipun kondisi negeri pada saat itu kurang mendukung 6 . Vol. adalah abad yang cukup menderita untuk rakyat Aceh. seperti Bid±yat alMujtah³d. Pada abad ke-18. 7. di antara tulisannya adalah Asr±r as-Sulµk dan Manzal al-Ajl±. orang Aceh yang cinta tulis menulis terus menuangkan pikiran dan pengalamannya yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Di antara para ulama yang telah menghasilkan karyanya pada abad ke-18 M. ia memberi fatwa bahwa pemerintah yang berkuasa pada saat itu. seorang ulama hasil didikan Baba Daud yang telah melakukan sesuatu yang sangat berharga bagi umatnya adalah Syekh Nayyan. Di samping itu. Sangat sedikit hasil kajian terhadap sosok ulama Aceh dan karyakarya mereka pada masa ini muncul. Sedangkan Baba Daud telah berhasil menyempurnakan karya gurunya. karya Teungku Ismail tentang sejarah Syekh Nayyan). yakni Dayah Tanoh Abee (Baca manuskrip. pada abad-abad berikutnya. pada masa ini karya-karya hasil tulisan orang Aceh bukan Kondisi kerajaan yang secara perlahan mulai melemah berikut masuknya kekuatan asing yang berusaha meruntuhkan kekuatan kerajaan serta timbulnya persoalan di dalam negeri antara ulama dan uleebalang memberi pengaruh memudarnya semangat keilmuan. yaitu Sultanah Safiyatuddin (1641-1676 M) adalah pemerintah yang sah dan benar dalam hukum Islam (Lihat Azra.52 Mustaf³d. Abad ke-19. Mereka bahkan menggunakan kesempatan menulis untuk membakar semangat perjuangan melawan kebatilan yang mereka sebut sebagai kafee untuk memperjuangkan agama dan bangsanya. ia juga peduli dengan pemerintahan yang berkembang saat itu. Kendati demikian. Mir’at at-°ull±b.

Ia telah menjadi teman setia bagi pembacanya di sepanjang masa. Di antara para ulama yang gemar menulis dan cukup produktif pada masa ini adalah Teungku Khatib Langgien. Salah satu karyanya adalah Fa‘lam annahu l± il±ha illall±h. Teungku Amiruddin Hasan Meunasah Kruet Teumpeun. lihat Fakhriati 2008. Peran Manuskrip bagi Masyarakat dalam Perang dan Manuskrip telah memberi daya tarik tersendiri pada masyarakatnya. Merupakan suatu kenikmatan tersendiri baginya untuk membuat buku baru sebagai hasil karyanya sendiri daripada menyalin kembali hasil para ulama di masa yang silam. Pada abad ke-20. di antaranya adalah yang berbentuk cerita dalam bentuk hikayat yang mengajak umat untuk berperang melawan penjajah. Ia memiliki juru tulis khusus bernama Teungku Rahman yang bertugas dengan setia melakukan segala perintahnya dalam menulis. 8 Selain itu. Ia lebih cenderung menjadikan karya-karya pendahulunya sebagai rujukan daripada menyalin kembali. melainkan bangkit kembali dengan semakin banyaknya karya yang muncul dalam berbagai bentuk. Karya-karyanya tidak hanya berkisar tentang tasawuf. meski tidak merujuk kepada Abdurrauf al-Fansuri sebagai silsilahnya. 8 Sampai sekarang masih bisa dijumpai manuskrip-manuskripnya yang dikoleksikan oleh keturunannya.. muncul ulama besar yang bernama Teungku Muhammad Ali Irsyad. dan Daw±’ al-Qulµb yang menjelaskan tentang obat hati yang perlu dimiliki oleh setiap orang. seperti Mi’r±j as-S±lik³n yang menceritakan tentang praktik tarekat dan pemahaman filosofi tentang makna tasawuf. Bid±yat alUntuk penjelasan pergeseran silsilah yang terjadi dalam tubuh tarekat Syattariyah di Aceh.Perang dan Damai di Aceh. Teungku di Pulo adalah sosok yang cukup berpengaruh untuk masyarakatnya di Aceh. Ia adalah tokoh tarekat. melainkan juga ilmu-ilmu lain seperti fikih dan bahasa Arab. Karya-karya para ulama menjadi pegangan bagi umatnya. Ia adalah salah satu penulis yang giat menuangkan pikirannya untuk kepentingan murid dan masyarakatnya. Ia juga menjadi Qadi untuk pemerintah yang berkuasa pada saat itu (Lihat Fakhriati 2005). 2.. lantunan hikayat menjadi kesenangan bagi masyarakat banyak. — Fakhriati semakin tenggelam. di samping ia juga menjadi tempat berpijak dan bertindak.7 Ia menulis berbagai masalah. 7 Damai 33 .

Jurnal Lektur Keagamaan. 1. misalnya. sehingga menjadi darah daging pelaksananya. di meunasah. Para ulama dan orang yang berbakat membuat hikayat pun dengan segala senang hati menciptakan berbagai hikayat untuk dibaca di hadapan khalayak ramai. 2009: 21 . Vol II. di Pilipina misalnya. Ilmu fikih yang tetuang dalam kitab tersebut kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam peperangan melawan Belanda. (Kern Papieren. Meskipun mereka kalah dan tidak bisa lagi melakukan penyerangan secara berkelompok.9 9 Perlawanan secara individu juga terjadi di tempat lain selain di Aceh. atau di perkumpulan-perkumpulan kecil di kedai kopi. 7. 234.52 Mujtah³d. Mereka melakukannya secara individu. No. 1979:25-27). 23-24. 1997:201). Isi hikayat pada umumnya bersifat mendidik dan mengajari hal-hal yang bermanfaat bagi pembaca dan pendengarnya. kaum Muslim Tausug melaksanakan jihad yang dikenal dengan Parrang Sabbil melawan kolonial Spanyol. Sebelum melakukan jihad mereka harus melaksanakan upacara mandi yang kelakukannya sama seperti mandi yang dilakukan untuk orang yang mau dikuburkan. muda. mereka masih tetap melakukan penyerangan secara individu yang dimotivasi oleh semangat prang sabi. 34 . dijadikan sebagai kitab wajib di setiap pesanren (dayah) bagi para pemula. Salah satu contoh bentuk penyerangan individual yang populer sejak tahun 1910 tersebut adalah peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh seorang pemuda Aceh terhadap tentara Belanda pada tahun 1917 di Langsa. dan anak-anak sekalipun. (Kiefer. 1973: 109-123). Persiapan ini menunjukkan bahwa orang yang melakukan jihad adalah orang yang akan kembali ke Hari Akhir. Snouck Hurgronje menyatakan bahwa hikayat adalah salah satu bentuk hiburan rohani yang disenangi oleh berbagai lapisan masyarakat. kesenangan mendengar hikayat di kalangan orang Aceh telah terjadi secara turun temurun. No. Di lain pihak. misalnya. orang Aceh tidak pernah menyerah. misalnya. (Hurgronje. Hikayat Prang Sabi. orang tua. p. telah mendorong para pembaca dan pendengarnya untuk bertindak secara langsung terjun ke lapangan mempraktikkan apa yang diceritakan dalam hikayat. Vol. Hikayat-hikayat yang dibaca dengan intonasi nyanyian khas Aceh dapat memberi kesan dan pengaruh yang sangat kuat kepada para pendengarnya untuk bertindak dan bersikap seperti yang dikatakan dalam hikayat. Kern. seperti di lapangan. C. Motivasi pembunuhan bermula dari membaca Hikayat Prang Sabi di rumahnya. baik rakyat biasa maupun para pemimpin.

Manuskrip Aceh pada Masa Kini Manuskrip memiliki arti penting bagi generasi sekarang di Aceh. Mereka mengangap manuskrip sebagai sesuatu yang dapat memberi makna mistis dalam kehidupan mereka. Dengan menyimpan manuskrip. sehingga negeri Aceh menjadi mulia”. Sabda Nabi neu yu peu Islam kafe belanda yang na tinggai dara ngen agam nak bek karam u nuraka neuboh raja lein geulanto peutimang naggro mat neraca. Cinta kedamaian adalah sesuatu yang lain yang diinginkan setiap insan. kecuali harus melaksanakannya. truh lee siat naggroe mulia (Hikayat Prang Sabi miliki Syik Jah. Isinya yang mengajarkan umat sesuai dengan ajaran Islam dan mengajak mereka untuk menegakkan perang adalah unsur yang mau tidak mau harus dipatuhi oleh orang yang cinta kepada agama dan bangsanya. “Nabi bersabda agar orang Belanda yang masih tinggal di daerah Aceh diislamkan agar tidak masuk ke dalam neraka. 33). terdapat juga isi manuskrip lainnya yang mengharap adanya suasana damai. terlebih setelah sekian lama berprofesi sebagai penjual beli manuskrip dengan untung yang besar namun hasilnya tidak berkah (habis begitu saja tanpa termanfaatkan dengan baik). meskipun sebagian mereka tidak memahami isinya. — Fakhriati Hikayat Prang Sabi telah membangkitkan semangat jihad melawan musuh yang dianggap sebagai kafir yang merongrong Islam dan bangsa Aceh dan karenanya harus dimusnahkan. Tidak selamanya setiap insan yang normal jiwanya di dunia ini ingin berperang. Dalam manuskrip Hikayat Prang Sabi sendiri terdapat harapan untuk mewujudkan negeri Aceh menjadi negeri yang aman dan damai. hlm. bahkan tidak dapat membaca tulisan di dalamnya. 3.Perang dan Damai di Aceh. Nabi mengangkat raja lain yang dapat memimpin dan membina negeri Aceh. maka kehidupan dapat berkah dan dapat terhindar dari malapetaka.. sementara rumah di sekelilingnya sudah hancur berantakan. Selain isi manuskrip tentang ajakan untuk berperang di jalan Allah. Untuk memimpin Aceh.. Kak Putri misalnya.. Salah seorang penyimpan manuskrip. Para pemilik manuskrip–khususnya–menyimpan manuskrip sebagai sesuatu yang berharga. memiliki keinginan menyimpan manuskrip karena ada kepercayaan dapat berlindung dari gempa bumi.. 35 ...

meskipun ia dan keluarga berada di tengah-tengah perang dan dikelilingi oleh pihakpihak yang berseteru. Hikayat Prang Sabi. No. Sering kali ketidakperdulian ini disebabkan mereka tidak dapat membaca dan memahami isinya. membaca. Adapun tiga manuskrip tersebut adalah manuskrip Hiyakaye. 2009: 21 . Ketiga-tiga manuskrip tersebut adalah manuskrip pemompa semangat untuk berjihad dan mengajarkan cara menghilangkan diri dari musuh. Namun demikian. dan Hikayat Nuri. Ia yakin dengan kepatuhannya kepada wasiat kakeknya tersebut. dalam tubuh masyarakat Aceh telah terjadi beberapa kali konflik yang menelan sejumlah korban dari berbagai 36 . yaitu ia dan keluarganya terhindar dari serangan musuh ketika konflik Aceh terjadi. Pada umumnya penduduk desa yang seperti ini tidak berani menjualnya karena takut mendapat bencana meskipun ada yang berhasrat membelinya. Ia lebih mementingkan keamanan manuskrip dibandingkan dengan yang lain. ia dan keluarganya telah memperoleh hikmah. yaitu manuskrip yang isinya dapat membuat musuh tidak dapat melihat orang yang mengamalkan isi kitab tersebut. dan mengamalkan manuskrip. Sehingga mereka membiarkan manuskrip ada di rumahnya dengan menyimpan di dalam karung-karung atau peti dan meletakkan di loteng-loteng. Tidak ada satu pun dari pasukan kedua belah pihak yang terlibat konflik berusaha masuk ke rumahnya. Padahal rumah di sekelilingnya sudah disisir semuanya. Konflik Internal Secara internal. merasa bahwa menyimpan manuskrip-manuskrip yang ia miliki sebagai warisan dari leluhurnya lebih baik daripada menyimpan sesuatu yang berharga lainnya.52 Selain itu. Ia dan keluarganya berkeyakinan bahwa pengalaman tersebut adalah berkat dari menyimpan.Jurnal Lektur Keagamaan. Wasiat pendahulu-pendahulu mereka terus dipelihara dan dijaga. 1. manuskrip juga dianggap sebagai barang warisan yang berharga dari nenek moyang mereka. seperti baju dan uang. atau mereka memindahtangankan (mereka menghindari istilah menjual) dengan cara barter. Vol. bukan berarti tidak ada orang yang perduli terhadap manuskrip. Ia mendapat wasiat dari kakeknya agar tiga manuskrip yang ia miliki hendaknya selalu dibaca dan diamalkan. Syik Jah Amut misalnya. 7. Bentuk-Bentuk Perang yang Terjadi di Aceh 1.

Perang dan Damai di Aceh.” 37 . Sebelum kemerdekaan konflik telah terjadi antara ulama dan uleebalang. Perbedaannya hanya terletak pada faktor penyebabnya. Belanda menekan kedudukan ulama agar tidak ikut campur dalam mengelola sistem pemerintahan. sehingga konflik pun muncul ke atas permukaan. sesudah kemerdekaan konflik juga timbul antara mereka.. malah menyalahkan semua para anbiya. Pada masa sebelum Belanda campur tangan ke dalam wilayah Aceh. Di sisi lain. Para ulama tidak menerima tindakan demikian. Pembangkangan ini ternyata disambut oleh Belanda yang ingin ikut campur ke dalam pemerintahan kerajaan Aceh. “Kesalahan diri sendiri tidak pernah nampak karena sangat jahat kafir Belanda Hatinya sudah gelap sehingga kapan saja jin dan syaitan dapat masuk ke dalam dada mereka Tidak mau mendengar pengajaran agama Tuhan pada Rasul Anbiya Mereka tidak mau mematuhi kalam Tuhan. — Fakhriati pihak. 11). Belanda berusaha melenyapkan kekuasaan sultan dan mengangkat kedudukan uleebalang sebagai penguasa wilayah. Perlawanan ulama ini digambarkan oleh Teungku Muhammad Ali sebagai berikut: Keusalah drou hantem leumah sebab that ku’eh kafeee Ulanda Hate jih seupot beurangkajan iblih ngen syaithan di dalam dada Han jitem deunge pengajaran agama Tuhan bak Rasul Anbiya Kalam Tuhan han jitem pateh ji peusalah dum anbiya. Para uleebalang mulai menunjukkan sikap tidak patuh kepada aturan-aturan sultan yang tertuang dalam sarakata.. Politik saling mencurigai antara sesama atau lebih dikenal dengan politik devide at impera selalu menjadi acuan Belanda dalam usaha memperluas wilayah jajahannya. (Sir±judd³n. Uleebalang pada umumnya senang dengan perlakuan Belanda tersebut sehingga ikut-ikutan untuk menekan dan menghalanghalangi gerak para ulama terutama dalam melaksanakan tugasnya menyebarkan dan melaksanakan ajaran agama.... Pembagian hasil upeti yang didapat tidak dilakukan. kekuasaan sultan sudah mulai melemah. Ia membagi-bagi wilayah kecil dengan penguasa uleebalang yang harus tunduk di bawah kekuasan Belanda. h.. Perilaku koruptif dengan tidak memberitahukan kepada sultan hasil pajak yang sebenarnya mulai merebak.

13-14). agar selamat hidup di dunia dan akhirat. jangan berteman dengan orang jahil yang suka kepada dunia takutlah hai salik kepada orang yang seperti itu orang jahil pun takut kepada orang salik yang bertapa orang yang mengikuti perintah Allah disalahkan semua karena mereka tidak salat wajib yang lima waktu tak pernah mendengar firman Tuhan dalam al-Quran mulia mereka tidak pernah mendengar firman Tuhan dalam al-Quran barangsiapa menyebut nama Tuhan dan salatlah kalian orang yang mengucap kalimah yang baik mereka itulah orang yang baik dan taat”. h. 7.. Geutanyo bandum wahe ado bak buet Rasul ikut gata Laen bak Rasul bek ta ikot meunan patot dum peutua. Bek tamuerakan wahe ado ngen ureung jahe aso donya Beutatakot hai ureung salek keu ureung ulok jahe donya Di ureung jahe pih jitakot keuureung salek duk lam tapa Padum-dum oreung jahe jipeujahat sabe ureung tapa Ureung yang pubuet suroh Allah jipeusalah dum ji rata Seubab hana ji sumayang wate limeung jiyu plihara Hantem jideungo firman Tuhan dalam Quran yang that mulia So na seubot nama Tuhan yanke tolan semayang gata Ureung yang na kheun kalimah tayibah yanke yang jroh taat gata (Sir±judd³n.Jurnal Lektur Keagamaan. Korban telah banyak berjatuhan dari kedua belah pihak. Banyak di antara mereka harus lari dan pergi 38 . No. 1. Mereka mengajak pengikutnya untuk mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya..52 Berpegang teguh pada ajaran agama menjadi kewajiban bagi para ulama untuk mempertahankannya. “Semua kita wahai saudara harus ikut pekerjaan Rasul Selain itu jangan ikuti karena begitulah seharusnya. terjadi kembali perang saudara antara ulama dan uleebalang yang dikenal dengan perang cumbok. Para uleebalang ingin mendapatkan kembali posisi di atas dalam pemerintahan sebagaimana telah mereka alami pada masa Belanda. Pada akhir tahun 1945. Para ulama tidak memberi kesempatan kepada uleebalang untuk mengatur dan memerintah sementara mereka juga menginginkan kekuasaan sehingga terjadilah perang.. 2009: 21 . Vol. terutama di pihak uleebalang. yaitu setelah kemerdekaan.

Mereka tetap menjadikan rujukan dan membina hubungan erat dengan para ulama setempat. Usman. — Fakhriati meninggalkan Aceh agar selamat dari serangan dan pembunuhan (Reid. sehingga lahir hikayat tentang tewasnya jendral Kohler. Usman.. 2. Para pemuda Aceh direkrut untuk berada di tangga pemimpin negeri. Mereka mengikutinya. menggantikan posisi uleebalang. Semangat jihad 39 . Para pemuda Aceh menyambut gembira harapan yang diberikan Jepang. pasukan Aceh di bawah komando Kuemala Hayati telah berhasil mengalahkan Portugis yang berada di bawah pimpinan Admiral Die d’Lopez Sequeira yang berusaha menguasai wilayah Aceh Besar. Mereka melawan Jepang meski dengan senjata yang tidak sebanding sekalipun.. Perang melawan Jepang. Pidie. dan Pasai (Zainuddin 1961:267. 1979:200-204. Dengan kegigihannya.Perang dan Damai di Aceh. namun mereka juga tetap waspada apa yang akan terjadi ke depan. juga berkisah tentang peristiwa berkecamuknya peperangan serta menggambarkan bagaimana semangat juang pasukan bersama rakyat Aceh dalam perang mengusir penjajah yang menelan banyak korban di kedua belah pihak. Hikayat tersebut selain menceritakan kemenangan pasukan Aceh dengan tewasnya jenderal Kohler. Jepang menjanjikan angin surga untuk bersama orang Aceh melawan Belanda dan berada di pihak orang Aceh untuk membangun Aceh. Setelah merasa bahwa janji-janji Jepang hanyalah tipuan belaka. Sangat beruntung bagi orang Aceh. maka rakyat Aceh mulai mengerakkan seluruh kemampuannya untuk berperang menghadapi Jepang. 2003:119-124). Aceh mencari bantuan ke Turki untuk persiapan menghadapi mereka. (1942-1945) adalah perang lain yang harus dihadapi orang Aceh. 2003:115). Kemudian perang kembali berkecamuk ketika Belanda melakukan agresi pertama ke wilayah Aceh pada tahun 1873. Orang Aceh sangat senang atas kemenangan ini. Konflik Eksternal Perang melawan orang asing yang datang ke tanah Aceh terjadi pertama kali dengan pasukan Portugis yang ingin menguasai wilayah Aceh. Pada awalnya. Sehingga gerak mereka tidak lepas dari pantauan para petinggi ulama. Pada tahun 1509 M. karena keberhasilan ada di tangan mereka dan jendral Kohler tewas terbunuh oleh rencong Aceh.

kemungkinan besar karena selain masa perang melawan Jepang yang demikian singkat. Ia mengatakan bahwa Allah melarang orang Islam untuk tunduk di bawah pemerintah kafir dan mengambil orang kafir sebagai teman. juga karena seluruh kemampuan jiwa dan raga orang Aceh tercurah ke dalam perang menghadapi Jepang. Ia mengajarkan bahwa perang melawan orang kafir yang menjajah wilayah kaum Muslimin adalah wajib. Karena itu ia mengajak kaum Muslimin untuk bersungguh-sungguh melaksanakan perang sabil dan bercita-cita untuk mati syahid. Kondisi-Kondisi yang Menyebabkan Perang Dari hasil pemetaan di atas dapat dianalisis berdasarkan manuskrip yang ada bahwa terjadinya perang di Aceh adalah karena faktor-faktor penjajahan. Pada jangka waktu perang yang singkat dengan Jepang. tidak terlihat munculnya karya-karya para ulama pada saat ini. Dalam kitab Wa¡iyyat Syeikh Abdurrauf al-Fansuri 10 terdapat ajaran Abdurrauf tentang kewajiban perang sabil. Untuk itu Allah mewajibkan umat Islam untuk melakukan perang sabil. 2009: 21 . Abdurrauf al-Fansuri adalah tokoh yang sangat kuat memperjuangkan negara melawan penjajah.Jurnal Lektur Keagamaan.52 kembali berkobar. Hikayat Prang Sabi kembali dikumandangkan dari berbagai tempat dan sudut untuk membakar semangat rakyat berjuang melawan Jepang sebagai kafir. Manuskrip ini disimpan di Pusat Manuskrip Melayu dengan nomor kelas MS 1314. Vol. 7. dan perebutan kekuasaan. No. Mereka hanya menggunakan kitab-kitab lama untuk dibaca dan direnungi serta diamalkan. sehingga ajarannya juga diamalkan. terdapat semangat jihad dengan mengharapkan berkat dari Abdurrauf al-Fansuri dalam berjuang melawan Belanda. 10 40 . Dalam sebuah doa. 1. (Abdullah. beda agama. Jepang pergi sendiri meninggalkan Aceh setelah dikalahkan oleh Amerika dengan jatuhnya bom di Hirosima dan Nagasaki. Hal ini terjadi. Akhirnya. Orang Aceh sangat menghormati dan menghargai keagungan Abdurrauf al-Fansuri. meski tekanan hidup lebih parah daripada yang dialami pada masa Belanda. 1991:131). Ia menyebut bahwa memerangi orang kafir adalah berbentuk perang sabil yang diridai oleh Allah.

dorongan kuat dari tokoh luar Aceh juga menjadi kondisi membangkitnya semangat orang Aceh dalam menggerakkan perang melawan penjajah Belanda. Sebagai penganut dan penyebar tarekat Samaniyyah di wilayah Nusantara. (Manuskrip. ia berjuang dengan giat melawan Belanda. Keluar peluru jangan bersuara. khususnya Aceh. firman Allah disuruh perangi kafir.Muslim³na wa Ta©kirah al-Mu’min³na f³ fa«±’il al-Ji¥±di f³ Sab³lill±h wa Kar±mah al-Muj±hid³na f³ Sab³lill±h 11 telah menjadi rujukan bagi rakyat dalam berperang. beutalo kafe. Boh beudee jife bek jimeusu.Perang dan Damai di Aceh. kalah kafir. Selain itu. Or. 20. Hatee bak puteh. penjelasan tentang peraturan berjihad yang terdiri dari jihad yang wajib dilakukan oleh setiap individu bila orang kafir menguasai daerah orang Muslim. iman bak teugoh. Cod. C). Di akhir buku ini tertulis doa yang berisi permohonan kepada Allah agar Allah melindungi orang yang melakukan jihad. hati harus putih bersih dan iman harus kuat. Agar Allah usir kafir Belanda”. (Manuskrip. 11 41 . Salah satu manuskrip yang mengambil rujukan pada buku tersebut adalah Nasihat Ureung Meuprang dan Hikayat Prang Sabi. dan penghapusan dosa selama di dunia. tidak heran kalau sampai sekarang manuskrip al-Palembani masih disimpan dan dikoleksi oleh orang Aceh. Perkumpulan kaum Muslimin di Mekah juga menjadi kondisi lain untuk mendorong orang Aceh bergerak lebih radikal terhadap Buku ini berisi pahala yang dicapai oleh orang yang melakukan jihad. Cod. Setelah tahun 1789 M) adalah tokoh dari Palembang (Sumatera Selatan) yang telah membakar semangat jihad untuk wilayah Nusantara. Berkat Teungku Syiah Kuala. Beureukat Teungku Syiah Kuala. Or. Beureukat syufa’at Nabi Muhammad bak meunang umat. 7992 (5): 3) “Tiada Tuhan selain Allah. Kemudian.. Masyarakat Aceh menggunakan buku tersebut sebagai pedoman mereka menulis. berkat syafaat Nabi Muhammad agar menang umat. Karena itu. firman Allah neuyou prang kafe. dan jihad yang hanya wajib dilakukan secara berkelompok bila orang kafir masuk ke dalam wilayah mereka. Kemudian dilanjutkan dengan anjuran kepada orang yang melaksankan jihad agar membaca l± ¥awla wa l± quwwata ill± bill±h tujuh kali. — Fakhriati L±’il±ha’ill±h. A.. Bukunya tentang kewajiban melakukan jihad bagi setiap Muslim yang sedang menghadapi musuh yang berjudul Na¡³¥ah al. Bak Allah beh kafee Ulanda. Abdussamad al-Palembani (w.

adalah seorang intelektual yang selama dua puluh tahun berada di Mekah untuk menuntut ilmu-ilmu agama. Orang Aceh yang berada di Mekah 12 mendapatkan informasi tentang kekejaman kolonial di setiap negara Muslim lainnya di dunia. Vol.. Meunan Peurintah Huleebalang dum sibarang yang peutua. No. Salah satunya adalah simpanan Teungku Ainal Mardhiah Teupin Raya. 1990: 42-49). Ia kemudian pulang ke Aceh dan mengabdi kepada agama dan bangsanya dengan berbagai macam cara. 2009: 21 . 1972: 193210: Holt. manuskrip-manuskrip tentang hal tersebut masih disimpan oleh penduduk setempat. Ureung salik ji peusalah menan fitnah ureng celaka (Sir±judd³n. Sehingga perkumpulan tersebut membuat komitmen untuk memberantas kolonial di wilayah mereka. dan mengajak rakyatnya untuk ikut serta. 11) Pergi ke Mekah khususnya untuk melaksakan haji telah menjadi suatu tradisi bagi orang Aceh khususnya dan Nusantara pada umumnya.. Mereka yang memiliki cukup biaya pergi ke Mekah dan bahkan sebagian mereka menetap di sana berpuluh-puluh tahun guna menuntut ilmu agama dari para guru di tanah suci. (Bruinessen. 7. misalnya. Konsekwensinya mereka menciptakan gerakan melawan penjajah di daerah mereka sendiri.14 Manuskrip Teungku Ali Muhammad Pulo Peub yang ditulis pada abad ke-19 M adalah salah contoh manuskrip yang menarik dikaji untuk melihat kondisi yang menyebabkan terjadinya perang di Aceh. 13 Sehingga semangat yang berapi-api mereka bawa pulang serta. Mereka saling mendapat dorongan untuk mencapai satu tujuan yang sama. hlm. Ia.Jurnal Lektur Keagamaan.. Teungku Muhammad Ali yang berdomisili di daerah Leungputu. seperti di Arab dan di Mesir. 1980: 337-347. Keusalah drou hantem leumah that kueh kafee Ulanda (Sir±judd³n.. 14 Sampai sekarang.52 kaum non-Muslim. Mereka mendengar akan kesuksesan saudara mereka dalam memperjuangkan negara mereka. Isi manuskrip tersebut adalah penjelasan perang yang terjadi di berbagai negara Muslim di dunia. Manuskrip ini ditulis dalam bahasa Aceh dan dalam bentuk hikayat. 10) Han jibri peubut tarekat sufi seubab that dengki si celaka. 13 Lihat misalnya keberhasilan Mahdi Sudan dalam Dekmejian. (Sir±judd³n. Salah satu cara mereka merangkul rakyatnya adalah dengan menulis informasi yang mereka peroleh di Mekah dalam bahasa Aceh dan berbentuk hikayat. 1. sehingga rakyat antusias membaca dan mendengarkannya. Di antaranya adalah dengan menuangkan ilmunya ke dalam tulisannya. 8-12). 12 42 . hlm. h. sebagai tokoh Syattariyah tidak luput mengulas sifat dan sikap uleebalang dan kafir Belanda yang menghalang-halangi kaum tarekat dalam beribadah.

Di satu sisi. Ia memilih bersikap moderat dan cukup hati-hati dalam menghadapi konflik yang ada pada saat itu. Akibatnya... Upaya-Upaya Damai Dalam manuskrip. Kesalahan sediri tidak pernah kelihatan sangat jahat kafir Belanda” Uraian Teungku Muhammad Ali Pulo Pueb tentang ketidaksetujuan dan sikap uleebalang terhadap ketaatan kaum tarekat dalam beribadah menunjukkan bahwa uleebalang pada masa itu telah berhasil dipandu dan didikte oleh Belanda dalam mengatur negara dan mengesampingkan para ulama. Untuk menciptakan perdamaian di kalangan masyarakat dan juga di tingkat pemerintahan.Perang dan Damai di Aceh. — Fakhriati “Demikian perintah uleebalang sebagai pemimpin. hubungan ketidakharmonisan kedua pihak yang bersaudara setanah air semakin tidak terelakkan dan bahkan semakin meruncing. tidak berdasarkan ajaran dari gurunya. ia tidak setuju dengan pandangan yang mengatakan penyatuan makhluk dengan Tuhannya yang tidak ada perbedaan sama sekali. Orang salik disalahkan demikian bentuk fitnah orang celaka Tidak diizinkan melaksanakan tarekat sufi karena mereka sangat dengki... Bismill±hirra¥m±nirra¥³m Q±lal faq³ru ilall±hil malikil jal³lil syaykhi ‘abdur ra’µfi anna ‘alayya wa lamma wa¡altu ila ar«il Asy³ wa k±na l³ f³h± rajulun yu¡±¥ibun³ wa yataraddadu ilayya ka£³ran wa raaytu annahu yatakallamu f³ wa¥datil wujµdi ‘ala khil±fi m± qarrarahu sayyid³ wa syaykh³l ‘±limir rabb±niyyil munfaridi f³ aw±nihi bil± £±n³ A¥mad bin Mu¥ammadil Madan³l An¡±r³yyi¡ ¢amad±n³yyisy Syah³ri bil Qusy±sy³ wa khal³fatul ‘±lamil ‘al±matil ¥ibril ba¥ril fahh±mati wahua syaykhun± Burh±nudd³ni Mul± Ibrah³m ibni ¦asanil Kµr±n³ 43 . terdapat upaya-upaya damai yang dapat dilihat agar setiap masyarakat dapat menikmati hidup dengan tenang dan dapat melaksanakan segala aktivitas sehari-hari demi kemajuan bangsa.. Abdurrauf al-Fansuri dengan bijaksana menyikapi perbedaan-perbedaan pandangan antara kaum sufi yang sebelumnya telah mengarah kepada kekerasan. Ia menulis kitab tasawuf dengan judul Tanb³h al-Masy³ yang di antara isinya adalah upaya untuk menetralkan pemahaman tasawuf yang telah simpangsiur pada saat itu. Bahkan ia sangat takut bila seseorang akan menuduhnya berada pada garis yang salah dalam tasawuf..

(Tanbih al-Masyi yang disimpan di Tanoh Abee. “Peliharalah lidahmu dari perbuatan g³bah dan mengkafirkan orang lain. maka tiadalah perkataan dalamnya. 7. 44 . dan jangan engkau mengutuk saudaramu yang Muslim. No. 2009: 21 . Vol. sehingga orang mengkafirkan saya setelah saya wafat. 1. ia juga menulis: Dan tiadalah harus kita mengkafirkan dia. (Daq±’iq al-¦uruf. 32). karena engkau akan termasuk golongan orang-orang yang berdosa pada hari kiamat. Dalam karangannya yang lain. hlm. saya melihat ia berbicara tentang wa¥datul wujµd yang berbeda dengan apa yang telah diajarkan syekh saya Ahmad bin Mu¥ammad al-Madan³ al-An¡±r³ as-¢amad±n³ yang dikenal dengan al-Qusy±sy³ dan khalifah Alam yang luas pemahamannya yaitu syekh kami Burh±nudd³n Mul± Ibrah³m bin Hasan al-Kµr±n³ semoga Allah merahmati keduanya. Bahwa orang tersebut tidak membedakan antara tingkatan-tingkatan dan tidak merujuk kepada ketentuan syariat.Jurnal Lektur Keagamaan. 392).52 ra¥imanallahu bihim± wa ©±lika min ¥ay£u annar rajula lam yumayyiz baynal mur±tibi wa lam yarji’ ila taqr³ril mu¯±biqi lisyar³‘ati faakh±fu ayyunsama taqr³rur rajuli wa i‘tiq±duhu ila taqr³r³ wa i‘tiq±d³ ¥atta yukaffirun³ ba‘da waf±t³ wa ana bar³un minhu fajami‘tu h±©ihir ris±lata mustaq³nan bill±hi wa mu‘tarifan biqillatil bi«±‘ati wan na«±¥ati wa sammaytuh± bitanb³hil m±sy³ ala ¯ar³qatil qusy±syi wa faqultu bismill±hir ra¥m±nir ra¥³mi “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Syekh Abdurrauf al-Fansuri berkata: bahwa ketika saya sampai di Aceh. h. saya khawatir ketentuan dan keyakinan orang tersebut dinisbahkan kepada ketentuan dan keyakinan saya. padahal saya tidak ada hubungan dengan masalah tersebut. karena engkau akan termasuk golongan orang yang dimurkai Allah atau golongan orang yang memenggal leher saudaranya”. Dan jikalau tiada ia kafir. dan jangan pula engkau memujinya.1). Di sisi lain. ia melarang menuduh atau mengklaim dengan kutukan yang menyakitkan si pendengar yang mengakibatkan akan menjerumuskan diri sendiri ke dalam kata-kata yang pernah diucapkan tersebut. karena sesungguhnya pada keduanya terdapat kesalahan besar di sisi Tuhanmu. niscaya kembali kata itu kepada diri kita. karena jikalau ada ia kafir. (Tanb³h al-M±sy³ versi Tanoh Abee. Wa¥fa§ lis±naka ‘anil g³bati wa takfir fa’innahu kha¯aran ‘a§³man ‘inda rabbikal kab³r wa l± tula‘‘in akh±kal muslima fatakun minal mujrim³na yaumal qiy±mati wa l± tamda¥¥uhu ay«an fatakun minal mabgµ«³na aw mina« «±rib³na ‘unuqa akh³him. Maka saya buat risalah ini dengan mengharap bantuan dari Allah dan menyadari akan sedikitnya perbendaharaan dan banyak kelemahan dan saya namakan buku ini dengan Tanb³hul M±sy³ ala Tar³qatil Qusy±sy³ dan saya mengucapkan Bismillahirra¥m±nirra¥³m”. ada seseorang datang kepada saya berkali-kali.

pada halaman yang sama. — Fakhriati Seterusnya. ar-Raniri menjelaskan: . al-Fath al-Mubin. (Daq±’iq al-¦urµf.... MS dikutip dari Azra 1995:182. yaitu dengan penguraian kata-kata sejelas mungkin dan lebih hati. tulisan Faqih Jalaluddin Asr±r al-Sulµk juga mengandung unsur pemeliharan perdamaian dan mencegah terjadi konflik di antara pengikut tarekat yang ia dalami.Perang dan Damai di Aceh. abad ke-18 M.dan inilah bahaya mengkafirkan itu..15 Pada abad selanjutnya. hingga berperanglah mereka itu dengan penyuruh raja. bahwa alam itu Allah dan Allah itu alam. sehingga tidak ada kesalahpahaman di antara pembaca. Dari ungkapan-ungkapan Abdurrauf al-Fansuri yang dituangkan dalam tulisannya seperti tersebut di atas. berlindung kiranya kita kepada Allah dari pada kufur itu. Dalam kitabnya Fath al-Mubin. sehingga ia memerintahkan pekerjapekerja kerajaan melakukan pembunuhan terhadap pengikut Hamzah Fansuri. huwa al-‘alam..dan lagi kata mereka itu: al-‘alam huwa Allah. Maka disuruh oleh raja tunukan segala kitab itu. maka sekali-kali tiada ia mau tobat. maka disuruh raja akan mereka itu membawa tobat daripada iktikad yang kufur itu. Dalam salah satu manuskrip yang disimpan oleh salah seorang penduduk Pidie terdapat tulisan tentang uraian sebuah harapan dari seorang pemuda yang pergi berjihad untuk dapat kembali hidup bersama isterinya lagi. Setelah sudah demikian itu. 45 . Ia sangat mengharapkan agar istrinya selalu 15 Ar-Raniri. maka sungguh dapat dilihat bahwa pandangan Abdurrauf al-Fansuri sangat jauh berbeda dengan pandangan ar-Raniri yang pengikut Hamzah Fansuri sebagai pengikut wujudiyah yang sesat sehingga perlu dimusnahkan berikut kitab-kitabnya karena menurutnya mereka sudah berada pada jalan yang salah menurut agama. Ketika seorang prajurit Aceh pergi ke medan perang. Maka disuruh oleh raja bunuh akan mereka itu. Abdurrauf al-Fansuri menjelaskan: . ia selalu mengharapkan agar dapat kembali dan bersama keluarganya lagi. Maka dengan beberapa kali disuruh raja akan mereka itu membawa tobat. Sultan Iskandar Stani sangat mendukung sikap ar-Raniri. 392). dan disuruhnya himpunkan segala kitab karangan guru mereka di tengah medan masjid yang bernama Bayt Al-Rahman..

52 menjaga diri dan berdoa agar mereka dapat hidup bersama lagi membangun keluarga yang sakinah sepanjang hidup mereka. 2009: 21 . Sehingga untuk meluruskan jalan pemahaman umat. 7. Seperti menjelaskan tentang perbedaan mengenal gajah dengan mengenal manusia karena berbeda bentuk dan akal. dalam kitabnya Mi‘r±j as-S±lik³n menyajikan ajaran yang mengandung unsur perdamaian. Ia berusaha untuk tidak menciptakan konflik terhadap pemahaman yang berbeda dari pemikirannya yang ia tuangkan dalam tulisan. Ishak. Karya Teungku Muhammad Ali Pulo Peub memancarkan keinginan untuk berdamai dengan lawannya. Hal ini dimaksudkan untuk menghindarkan rakyat dari perpecahan yang meluas akibat menyebarkan dua faham yang saling bertentangan sebagaimana yang terjadi pada masa Sultan Iskandar Tsani pada abad ke-17 M. Dalam masa penjajahan Belanda Teungku Id ibn Ustman masih sempat menyelesaikan tulisannya tentang bagaimana memahami tasawuf dengan benar. Dalam tulisan Teungku Muhammad Khatib Langgien. Ia lebih memilih jalan menjauhkan diri dari ancaman mereka dan mengajak umatnya untuk tetap berada pada jalan yang benar. Menurutnya cara-cara tasawuf yang benar adalah cara pelaksanaan yang ditawarkan oleh Hamzah Fansuri. tetapi berusaha untuk tidak secara gamblang menyebut perilaku uleebalang sebagai perilaku musuh yang perlu diperangi. (Poerwa. 1961:16. 1993:4). Ia menjelaskan segala hal yang menyangkut filosofi tasawuf dengan sangat hati-hati. yaitu uleebalang dan Belanda. demikian juga dalam hal mengenal Tuhan tidak bisa disamakan dengan makhluknya. yaitu jalan agama yang diridai Tuhan. Kendatipun ia sangat tidak menyukai cara-cara uleebalang dan Belanda. Namun ajarannya ini kemudian ditentang oleh Teungku di Pulo dan kawan-kawannya. Ia sempat mendapat pengikut banyak untuk melaksanakan ajarannya.Jurnal Lektur Keagamaan. Vol. 1. (Manuskrip Laut Makrofat Allah). salah seorang ulama yang cukup produktif pada masanya. Ia juga membuat perumpamaanperumpamaan sebagai salah satu caranya untuk menjelaskan sesuatu yang masih kurang jelas untuk pembacanya. No. ia kemudian diusir dan bahkan dibunuh oleh masyarakat setempat. Dalam salah satu tulisannya ia menyebutkan: 46 .

. Satu contoh lain adalah manuskrip Hikayat Abdurrahman. Akibat dari sifat ini.. Manuskrip Hiyakaye adalah sebuah manuskrip yang dikemas untuk memberi semangat hidup bagi para pembacanya. dicemohi. 28-29). Sifat-sifat yang tercela dihindarkan dan sifat-sifat yang baik digunakan. karena kasih akan dunia ibu segala kejahatan (Dawa’ al-Qulµb. (Mi‘r±j as-S±lik³n. Salah satu sifat yang perlu dihindarkan adalah hubb ad-dunya. seperti . seseorang akan terlena dengan dunianya dan tidak mau bersegera mencari bekal untuk akhirat. Manuskrip ini menguraikan cerita fiksi berjudul Hikayat Abdurrahman. Selanjutnya. Ia dicaci maki.. dijauhi dan tidak perlakukan sebagaimana karabat lain. karena tuduhan-tuduhan dari sepihak yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya. bila 47 . diam. h. dan ia memberi peringatan kepada pembacanya agar hati-hati dalam menafsirkan karena dapat menyesatkan pemahaman. h. ia lebih memilih cara sabar.dan lagi yang demikian itu tempat tergelincir kebanyakan manusia yang tiada makrifat baginya hai salik adalah segala alam makrifat yang telah kunyatakan kepadamu ialah alam makrifat yang indah-indah dan ia yang terlebih sukar paham segala orang awam.. 28). ia juga menulis tentang obat hati.. Isi manuskrip ini mengajak pembaca untuk selalu menghafal dan mengamalkan ayat-ayat tertentu agar kehidupan di dunia selamat dari kecaman apa pun. ia juga menjelaskan bahwa tingkat ini diperuntukkan kepada ahli sufi yang berada pada tingkat tinggi. — Fakhriati Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu karena mustahil dikata umpama barangsiapa mengenal ia akan gajah maka sanya ia mengenal akan manusia. Dalam menjelaskan hal-hal yang berbentuk filosofi seperti di atas. 27).( Mi‘r±j as-S±lik³n. Kisah perjalanan hidup Siti Hazanah setelah ditinggal mati keluarganya menjadi sorotan utama dalam manuskrip ini. dan hanya menyerahkan diri kepada Allah... tenang dalam menjalani hidup dalam keadaan apapun.Perang dan Damai di Aceh. Ia mengadakan pembelaan terhadap dirinya. h. Ia mengalami berbagai cobaan dan penderitaan dalam liku-liku hidupnya.. Mengatasi masalah ini. Isinya menjelaskan tentang kehidupan sebuah keluarga yang bernama Abdurrahman dan seorang anak perempuan yang salehah bernama Siti Hazanah. yang perlu diamalkan oleh pembacanya agar dapat hidup lebih tenang baik di dunia maupun akhirat.

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 21 - 52

ia mendapat kesempatan. Ia tidak pernah menyakiti orang lain. Akhirnya pembelaan dari pihak yang tidak diduga, yaitu dari makhluk Allah selain manusia, untuk menyatakan bahwa dia adalah orang benar dan tidak pernah bersalah. Dalam perjalanan hidupnya, akhirnya, ia mencapai tingkat sufi yang paling tinggi, yaitu makrifat Allah. Ia memperoleh kesenangan yang sangat tinggi dan selalu diidam-idamkan selama hidupnya, yaitu melihat Tuhannya. Seperti tersebut dalam teks;
Rupa po yang takalen Hate heran leumah Tuhan yankeu iman dengan makrifat Yan alamat takwa hanban. (Manuskrip Hikayat Abdurrahman, hlm. 45). “Wujud Tuhan yang terlihat Itulah iman dengan makrifat Hati menjadi heran akan hadirnya Tuhan pertanda hasil takwa yang sangat tinggi”

Penutup Catatan sejarah Aceh adalah bagian dari cerita panjang tentang perang dan damai, di samping cerita tentang kemajuan dan kemundurannya. Orang Aceh sesungguhnya adalah manusia-manusia yang ramah, terbuka, dan suka pada kedamaian dan ketenangan. Mereka dapat menerima kehadiran siapapun tanpa memandang ras dan agama selama ia sendiri tidak merusak hubungan baik dengan penduduk dan masyarakat Aceh. Namun, di balik keramahtamahan dan keterbukaan itu tersimpan sikap yang sangat tegas dan tidak mau tunduk atas setiap kehendak asing yang ingin menguasai atau merusak citra Aceh baik wilayah, harga diri, terlebih agamanya. Sejarah perang Aceh selalu terkait dengan upaya mempertahankan wilayah, agama, dan harga diri. Untuk urusan seperti ini, orang Aceh memiliki semangat jihad atas nama agama yang sulit diredam, kecuali apa yang mereka tuju telah tercapai. Ulama bagi masyarakat Aceh memiliki posisi sentral sebagai panutan dalam beragama, bermasyarakat, dan berjuang f³ sab³lill±h. Selain komando untuk mengusir penjajah, pada umumnya ulama yang menulis manuskrip-manuskrip Aceh mengajarkan agar mendorong terciptanya perdamaian dalam hidup, meskipun sedang berada pada posisi menghadapi musuh. Permusuhan dan pertikaian tidak boleh diciptakan dan dimulai, tapi mempertahankan diri dan agama adalah wajib. Salah satu usaha mempertahankan diri adalah 48

Perang dan Damai di Aceh... — Fakhriati

dengan doa-doa mujarabat, yaitu doa-doa yang ampuh untuk dibawa kemana saja dan dapat mengalahkan segala keinginan jahat yang bertebaran di luar diri pemegang doa tersebut. Doa-doa tersebut menjadi alat pelindung bagi pemegangnya bila ia dihafal, diamalkan, dan dilaksanakan sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku. Dan, ia tidak akan bermanfaat bila hanya tertulis dalam secarik kertas untuk dikantongi dan dibawa-bawa si pemegang.[]

Daftar Pustaka
Azra, Azyumardi, 1995, Jaringan Ulama: Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII, Bandung: Mizan. Bruinessen, Martin, 1990, “Seeking Knowledge and Merit: Indonesians on the Hajj” dalam Ulumul Quran, Vol. II, No.5, Jakarta. Dekmejian, H. Richard dan Margaret J. Wyszomirski, 1972, ‘Charismatic Leadership in Islam: The Mahdi Sudan’ dalam Comperative Studies in Society and Theory. Djajadiningrat, Hoesein, 1934, Atjehsch-Nederlandsch Woordenboek, Vol. 2, Batavia: Landsdrukkerij. Fakhriati, 2005, New Light on the Life and Work of Teungku di Pulo: An Achehnese Intellectual in the Late 19th and Early 20th Centuries, Makalah dipresentasikan pada SEASREP Conference, Chiang Mai, Thailand, 8-9 Desember 2005. -----------, 2008, Menelusuri Tarekat Syattariyah di Aceh Lewat Naskah, Jakarta: Balitbang dan Diklat Departemen Agama RI. Holt, P. M., 1980, ‘Islamica Milleniarism and the Fulfillment of the Prophecy’ dalam The Prophecy and Milleniarism, diedit oleh Ann Williams, London. Hurgronje, Snouck, C., 1997, Aceh: Rakyat dan adat istiadatnya, INIS. Ishak, Otto Syamsuddin, 1993, ‘Dinamika Pemikiran Keagamaan di Aceh’, dalam Serambi Indonesia, Jum’at, 15 Januari 1993. Iskandar, Teuku, 1958, ‘De Hikayat Atjeh’ dalam BKI XXVI. Keifer, Thomas M., 1973, ‘Parrang Sabbil: Ritual Suicide among the Tausug of Jolo’ dalam BKI, Vol. 129. Kern Papieren, No. C. 234, Bajlagen 4, Weltevreden Desember 16, 1921, Koleksi KITLV, No. 414.

49

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 21 - 52

Kern, R. A., 1979, Hasil Penyelidikan Tentang Sebab Musabab Terjadinya Pembunuhan, diterjemahkan oleh Aboe Bakar, Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. Poerwa, Aziz, 1961, ‘Tumbuhnya Agama Baru Indonesia’ in Sketsmasa, No. 17, Tahun IV. Raliby, Osman, 1980, ‘Aceh, Sejarah, dan Kebudayaannya, dalam Bunga rampai tentang Aceh, Jakarta: Penerbit Bhratara Karya Aksara. Reid, Anthony, 1979, The Blood of The People: Revolution and The End of Traditional Rule in Northen Sumatra, Oxford University Press. ---------, 2007, Asal Mula Konflik Aceh: Dari Perebutan Pantai Timur Sumatera hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Said, Mohammad, 1961, Atjeh Sepandjang Abad, Medan. Sjamsuddin, Nazaruddin, 1999, Revolusi di Serambi Mekah; Perjuangan Kemerdekaan dan Pertarungan Politik di Aceh 1945-1949, UI Press. Syamsuddin, T., dkk, 1978, Adat Istiadat Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. Sulaiman, Nasruddin, dkk, 1992, Aceh: Manusia, Masyarakat, Adat, dan Budaya, Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. Tippe, Syarifudin, 2000, Aceh di Persimpangan Jalan, Jakarta: Pustaka Cidesindo. Usman, Rani, 2003, Sejarah Peradaban Aceh, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Vleer, A. J., 1978, Kedudukan “Tuha Peut” dalam Susunan Pemerintahan Negeri di Aceh, alih aksara oleh Aboe Bakar, Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. Zainuddin, H. M., 1961, Tarich Atjeh dan Nusantara, Medan, Penerbit Iskandar Muda.

50

. — Fakhriati Lampiran: Gambar 1: Foto Halaman Awal Naskah Hiyakaye milik Syik Jah Amut. Aceh Gambar 2: Foto Halaman Awal Naskah Teungku Khatib Langgien milik Teungku Amir Meunasah Kruet Teumpeun. Teupin Raya. Pidie. Aceh 51 ..Perang dan Damai di Aceh. Pidie. Geulumpang Miyeunk.

1. 7. Vol. No. 2009: 21 .Jurnal Lektur Keagamaan. Teupin Raya Aceh 52 .52 Gambar 2: Foto Halaman Awal Naskah Sarakata milik Cut Manfarijah Dayah Tanoh.

and palm leaf. Cisarua-Bogor. Second. Most of this category of manuscript was torn away. and the oldest manuscript was written in 1625 AD (1035 AH). Jakarta Asep Saefullah dan M. dluang. ia dapat juga menjadi bukti adanya hubungan dengan wilayah lain jika ditemukan bukti-bukti lain yang menunjukkan ke arah itu. Islam Beberapa Aspek Kodikologi Naskah Keagamaan Islam di Bali: Sebuah Penelusuran Awal*) Puslitbang Lektur Keagamaan dan UIN Syahid. The fitst category refers to tweleve manuscripts made of paper. and story. Agama. Badan Litbang dan Diklat. medicines. In terms of codicology. Arabic grammar. we can write four important things as follows. this manuscript includes jurisprudence. mysticism. kertas Eropa. European paper. this Islamic manuscript adopts Arabic. Third. Dep. The second category is tweleve manuscripts made of palm leaf: nine of them deal with Islam. divinity. — Asep Saefullah dan Adib M... modern lined paper. dari satu sisi dapat dianggap sebagai salah satu representasi dari lokalitas dan kekhasan wilayah bersangkutan. Qur’an. like dluang. remembrance of God. In regard to Islamic literature in Bali. Bali Pengantar Keberadaan naskah tulisan tangan (manuskrip) di suatu wilayah. this Islamic manuscrip was written between the seventeenth and nineteenth century. Fourth. 22-24 Desember 2008. Hotel Permata Alam. Malay (Jawi). The third category is about fourteen Qur’anic manuscripts. We have discovered thirty-eight manuscripts that we can classify into three categories. and one of them is difficult to read. First. Adib Misbachul Islam This paper is a result of our research of Islamic literature in Bali in 2008.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . prayer. *) 53 . lontar. this category is unfortunately not taken care well. and Balinese. Dari sisi lain. Bugese. Hal ini Tulisan ini semula merupakan Makalah disajikan dalam “Seminar Hasil Penelitian Naskah Klasik Keagamaan” Puslitbang Lektur Keagamaan. two of them about Hinduism. Kata kunci: kodikologi. this Islamic manuscript uses diverse tools.

khususnya bagi penelitian lebih lanjut atau dalam rangka mengkaji nilai-nilai yang terkandung di dalamnya untuk merajut budaya bangsa menuju kerukunan umat beragama. banyaknya data penting berkaitan dengan fenomena keagamaan yang terdapat dalam naskah-naskah tersebut. 2005: vii). Sebagian naskahnaskah tersebut sudah tersimpan dengan baik di berbagai perpustakaan dan museum. Sebagian besar naskah di luar negeri yang sudah terinventarisasi antara lain tersimpan di Malaysia. Persoalannya. Pentingnya upaya konservasi ini setidaknya disebabkan oleh dua hal: Pertama. Srilangka. Bali. Rusia dan di berbagai negeri yang lain. 7. baik di dalam maupun di luar negeri. Masalah ini tergolong serius karena umumnya naskah-naskah tersebut kurang terawat dan sangat tua. Sunda. adalah bagaimana kondisi naskah-naskah yang masih di tangan masyarakat tersebut. Jerman. diperkirakan ditulis pada sekitar abad ke-1719 M dan umumnya terbuat dari kertas yang secara fisik tidak akan tahan lama. Vol. Dengan demikian. Jawa. dan kedua. Batak. (Chambert-Loir dan Fathurahman: 1999). dengan demikian. 1. sudah semakin rapuhnya kondisi fisik naskah-naskah tersebut seiring dengan berjalannya waktu (Bafadal dan Saefullah [Eds. dikhawatirkan naskahnaskah tersebut akan punah atau pindah tangan. tetapi sebagian besar lagi diduga masih tersebar di tangan masyarakat. Belanda. 2009: 53 . dan lain-lain. naskah-naskah yang ditulis dalam bahasa Arab. Dalam konteks kajian keislaman di Indonesia.90 dapat ditelusuri dari berbagai informasi yang terkandung di dalam naskah itu atau dari fisik naskah. Aceh. Afrika Selatan. upaya penelusuran naskah-naskah di masyarakat mutlak diperlukan sebagai upaya konservasi untuk kemudian dilestarikan dan dimanfaatkan. Bugis-Makassar.]. Dengan demikian. yang pada akhirnya 54 . keberadaan naskah tersebut dapat dikaitkan dengan proses islamisasi atau perkembangan Islam yang banyak melibatkan para ulama produktif di zamannya. Jika hal ini terus berlarut. tidaklah mengherankan jika di Indonesia banyak ditemukan naskah-naskah berbahasa Arab dan juga bahasa daerah seperti Melayu. dan yang kedua naskah-naskah yang ditulis dalam bahasa-bahasa daerah. yang menurut Oman Fathurahman (2003: 1-2) membentuk pola dua kelompok bahasa naskah: Pertama. No. Dalam proses ini telah terjadi transmisi keilmuan. Perancis.Jurnal Lektur Keagamaan. Inggris.

Beberapa Aspek Kodikologi Naskah ... — Asep Saefullah dan Adib M. Islam

hilang juga informasi dan sumber penting tentang khazanah kebudayaan Indonesia. Berdasarkan permasalahan di atas, Puslitbang Lektur Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat, Departemen Agama RI melakukan upaya penelusuran naskah klasik keagamaan khusus milik perorangan. Hasil temuan naskah tersebut terutama dideskripsikan dan dikaji beberapa aspek kodikologinya (istilah “kodikologi” akan dijelaskan di bawah). Buku tentang kodikologi Nusantara, terlebih naskah keagamaan, tergolong masih sedikit.1 Sehubungan dengan hal tersebut, penelitian ini merupakan bagian dari grand design—jika dapat dikatakan demikian—program konservasi naskah klasik keagamaan Indonesia yang sedang digalakkan oleh Puslitbang Lektur Keagamaan. Penelitian dilakukan di Provinsi Bali dan sasarannya adalah naskah-naskah keagamaan Islam.2 Dalam makalah ini akan dibahas dua masalah berikut: 1. Seberapa banyak naskah keagamaan Islam di Provinsi Bali yang masih berada di tangan masyarakat atau milik perorangan? 2. Dari aspek kodikologi, bagaimana kondisi naskah-naskah tersebut dan hal-hal apa saja yang dapat diungkapkan dari temuan naskah-naskah tersebut? Adapun tujuannya, pertama, untuk mengetahui jumlah naskah keagamaan Islam di Provinsi Bali yang masih berada di tangan masyarakat, khususnya milik perorangan, dan kedua, membuat deskripsi naskah-naskah tersebut dan mengungkapkan beberapa aspek kodikologinya serta sedapat mungkin mengungkapkan halhal menarik dari temuan naskah tersebut. Dari segi kebijakan, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu upaya penyelamatan naskah keagamaan di masyarakat dan selanjutnya dapat
Beberapa yang dapat disebut antara lain Kodokologi Melayu di Indonesia, karya Sri Wulan Rujiati Mulyadi (1994), Penelusuran penyalinan naskah-naskah Riau abad XIX: Sebuah Kajian kodikologi, karya Mu'jizah dan Maria Indra Rukmi (1998), Penyalinan Naskah Melayu di Jakarta pada Abad XIX: Naskah Algemeene Secretarie Kajian dari Segi Kodikologi, karya Maria Indra Rukmi (1997), atau beberapa tulisan berupa artikel atau tesis, seperti “Penyalinan Naskah Melayu di Palembang”, karya Maria Indra Rukmi, makalah dalam Seminar Tradisi Naskah, Lisan dan Sejarah di FIB UI (2005). 2 Pilihan ini dilakukan karena naskah-naskah lontar dipandang relatif terpelihara dengan baik.
1

55

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 53 - 90

menjadi bahan penelitian lebih lanjut, terutama kajian terhadap isi teks dan kontekstualisasinya. Secara metodologis, penelitian ini sebagian besar bersifat penelitian lapangan, yakni berupa penelusuran atas naskah-naskah keagamaan Islam di Provinsi Bali. Data primer dalam penelitian ini berupa naskah-naskah kuno yang disimpan perorangan dan lembaga-lembaga sosial keagamaan Adapun naskah-naskah koleksi perpustakaan, museum, maupun pusat dokumentasi dalam penelitian ini tidak menjadi sasaran penelusuran karena naskah-naskahnya dipandang relatif aman dan terpelihara. Penelusuran dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan naskah-naskah yang belum diinventarisasi. Dalam menyajikan data digunakan pendekatan kodikologi.3 Secara sederhana, kodikologi dapat dikatakan sebagai ilmu kodeks (bahan tulisan tangan), yaitu ilmu yang mempelajari seluk beluk semua aspek naskah, antara lain bahan, umur, tempat penulisan, dan perkiraan penulis naskah (Mulyadi, 1994:2). Dalam wilayah kajian kodikologi dikenal istilah deskripsi. Secara ringkas, deskripsi adalah upaya menjelaskan seluk-beluk naskah secara fisik. Dalam makalah ini akan disajikan pengklasifikasian naskah-naskah yang ditemukan di lapangan, misalnya dari segi pemilik dan tempat penyimpanan, bidang kajian (isi naskah), bahan, usia naskah, kolofon, ilustrasi dan iluminasi, dan beberapa ciri khusus yang dapat diidentifikasi. Dengan kata lain, makalah ini hanya menyajikan beberapa aspek kodikologi dari naskah-naskah keagamaan Islam yang ditemukan di Provinsi Bali. Pernaskahan di Bali Henri Chambert-Loir dan Fathurahman (1999:51) mengatakan, “Pulau Bali terkenal sebagai gudang sastra Jawa Kuna karena sastra Jawa yang ditulis di berbagai kerajaan beragama Hindu-Buddha di
Tentang kodikologi di Indonesia dapat dibaca antara lain dalam Sri Wulan Rujiati Mulyadi, Kodikologi Melayu di Indonesia, (Depok: Fakultas Sastra UI, 1994). Ada juga buku yang sangat menarik dan relatif baru tentang kodikologi Islam, yaitu Francois Deroche, Islamic Codicology, An Introduction to the Study of Manuscripts in Arabic Script, (London: Al-Furqan Islamic Heritage Foundation, 2006), dan ada juga dalam edisi Arabnya yang terbit tahun 2005.
3

56

Beberapa Aspek Kodikologi Naskah ... — Asep Saefullah dan Adib M. Islam

Jawa Tengah dan Jawa Timur antara abad ke-10 dan ke-15, dan yang hampir punah setelah kedatangan agama Islam, masih berlanjut di Bali, bahkan hidup sampai kini.” Pernyataan ini terbukti dengan adanya sejumlah lembaga seperti museum dan perguruan tinggi di wilayah ini yang memiliki ribuan koleksi naskah. Lembaga-lembaga tersebut antara lain Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali, Denpasar mengoleksi sekitar 1.416 naskah, Museum Negeri Provinsi Bali, Denpasar menyimpan 266 naskah, Universitas Hindu Indonesia, Denpasar memiliki 148 naskah, Kirtiya Liefrinck-van der Tuuk (Gedong Kirtiya), Singaraja memiliki tidak kurang dari 3000 naskah, Fakultas Sastra Universitas Udayana mempunyai 740 naskah, dan Balai Penelitian Bahasa, Denpasar mempunyai 156 naskah, serta Balai Arkeologi Denpasar juga menyimpan tiga naskah (ChambertLoir dan Fathurahman, 1999:54-60; terutama berdasarkan Katalog Lontar yang Tersimpan pada Instansi Pemerintah dan Swasta yang diterbitkan oleh Kantor Dokumentasi Budaya Bali Provinsi Bali, tahun 1998). Jumlah ini belum termasuk naskah yang tersimpan pada koleksi pribadi yang diduga masih ribuan jumlahnya, terutama di puri (kediaman keluarga keturunan raja), griya (kediaman keluarga brahmana), dan kalangan ‘profesional’ (pemangku, dalang, balian usada atau orang-orang terdidik) (Chambert-Loir dan Fathurahman, 1999:56). Hampir seluruh naskah tersebut ditulis di atas bahan lontar sehingga sering pula disebut naskah lontar. Di tengah “samudra koleksi naskah lontar” tersebut, di daerahdaerah tertentu di Bali ditemukan sejumlah naskah keagamaan Islam dan Mushaf Al-Qur’an kuno. Beberapa di antaranya ditulis di atas bahan dluang (kertas dari kulis kayu). Pada bulan Oktober 2008 yang lalu kami melakukan penelusuran ke pelosok-polosok pulau dewata ini. Kami menemukan 24 naskah keagamaan Islam yang terdiri atas 12 naskah ditulis di atas dluang, kertas Eropa, maupun kertas bergaris modern, dan 12 naskah lontar (naskah lontar berbentuk geguritan; 9 naskah berisi cerita tentang tokoh Islam dan ajaran moral Islam, 2 cerita Hindu, dan 1 tidak terbaca). Di samping itu, ditemukan pula 14 Mushaf Al-Qur’an kuno, termasuk satu Mushaf ditulis di atas dluang. Naskah-naskah tersebut tersebar di beberapa kabupaten di Bali, antara lain Denpasar, Buleleng, Jembrana, dan 57

Pendidikan Islam dan Pemberdayaan Masjid. Budakeling. Ida Bagus Nyana. Soleh. 7. hasil penelusuran di lapangan ditemukan 38 naskah. 4 58 . Karang Asem-Tradisi Tulis Lontar. 2009: 53 . jumlah naskah yang kami temukan sebanyak 38 naskah. Ghufron. SH. Negara. 28 Oktober 2008. Kasubag Umum. dan juga obat-obatan yang disertai doa-doa. Perlu disebutkan bahwa dalam penelusuran naskah keagamaan Islam di Bali. H. termasuk 14 naskah Al-Qur’an. seperti fikih. Temuan Naskah dan Tempat Penyimpanannya Naskah keagamaan Islam di Bali yang berhasil ditelusuri terdiri atas naskah pelajaran agama.90 Karang Asem. Vol. baik dari pejabat maupun pegawai Departemen Agama Provinsi Bali tentang lokasi-lokasi dan orang-orang yang diduga menyimpan dan atau mempunyai naskah keagamaan Islam. Beberapa informan awal yang kami datangi di Kanwil Departemen Agama Provinsi Bali adalah Ketut Ariawan. Staf Urusan Agama Hindu. Informan lain Drs. 1. M. Kampung Islam Buitan Sidemen Karang Asem. Musta’in. H.4 Lokasi-lokasi yang selanjutnya didatangi adalah: Kampung Bugis Kepaon Denpasar dengan Masjid Al-Muhajirin. No. Kabid. Masjid Agung Jami’ Singaraja Buleleng. dan Bangli. Mereka menyarankan kami mendatangi Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali. Kasi. yaitu Kanwil Departemen Agama Provinsi Bali. H. kami melakukan kontak dengan pihak yang dipandang otoritatif dalam bidang keagamaan. Selanjutnya penelusuran dilakukan sampai dengan 2 Nopember 2008. wirid dan doa.Jurnal Lektur Keagamaan. Masjid Asy-Syuhada Kampung Bugis Serangan Denpasar. Pesantren Al-Hidayah Bedugul. tasawuf. Gedong Kirtya-Singaraja-Buleleng. Gianyar. serta hikayat yang terutama ditulis di atas bahan lontar yang disebut geguritan. Berikut temuan naskah berdasarkan lokasi atau tempat ditemukannya naskah. Kampung Islam Gelgel. dan Masjid Baitul Qadim. Kabid Bimas Islam & P. Di samping itu ditemukan juga naskah-naskah Al-Qur’an kuno yang sejauh ini belum pernah didata. Dengan demikian. Selanjutnya kami mendapat banyak informasi dari Drs. Loloan Timur. Sebagaimana disebutkan. Pegayaman Singaraja Buleleng. Haji. Kami mendapatkan informasi awal. Jembrana. Penamas. Drs. Wawancara. Drs.

Vol.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . dan 1 (satu) naskah Al-Qur’an kuno di Masjid Al-Muhajirin. ditemukan 12 naskah lontar. Oleh karena itu. Dr. “Beberapa Mushaf Kuno dari Provinsi Bali”. dan ditumpuk dengan Al-Qur’an lain cetakan zaman sekarang. dan 1 (satu) Al-Qur’an Kuno milik Bapak Marjui. Jurnal Lektur Kegamaan. Sebelumnya. No. Di sini ditemukan pula 1 (satu) Al-Qur’an kuno milik I 5 Naskah ini telah diteliti oleh E. 7 Kedua naskah ini juga sudah diteliti oleh E. pada awalnya merupakan koleksi Prof. Di Pegayaman. Husen Abdul Jabbar. Islam 1. Denpasar ditemukan 6 (enam) naskah milik H. 5.. salah seorang Guru Besar di Universitas Udayana. 7 Di samping itu. 1-18. Menurut informasi salah seorang ustadz di PP alHidayah. Shaleh Saidi. dalam laporan penelitian ini naskah-naskah lontar koleksi Yayasan Masjid An-Nur penting untuk didata dan disampaikan. 6 Di Masjid AlMu’awanatul Khairiyah Kampung Bugis Suwung. Denpasar. di Yayasan An-Nur. Tetapi. 59 . dua di antaranya beraksara dan berbahasa Bugis. Denpasar Di Kampung Bugis Serangan. Jurnal Lektur Kegamaan. 9 Semua naskah lontar koleksi Yayasan an-Nur hanya disebutkan judulnya. Bedugul. 2007. 1. 1. 8 Hadiman. h.. Singaraja. Meski sudah tersimpan di Perpustakaan Yayasan. Wawancara. 2. Denpasar. Musthafa Amin. 6 Mushaf ini sangat tidak terawat. Pattani atau Trengganu. Vol. Buleleng Wilayah yang didatangi di Buleleng meliputi Pegayaman. h. Burhanuddin. Suharto.8 naskah lontar yang tersimpan di Yayasan AnNur. Badri Yunardi. “Beberapa Mushaf Kuno dari Provinsi Bali”. Badri Yunardi. Wawancara dengan beliau pada 2 November 2008 di Loloan Timur. 5. Denpasar ditemukan 3 (tiga) naskah milik H. Kampung Islam di pedalaman dekat Singaraja ditemukan 3 (tiga) naskah milik Drs. Kondisinya tidak lengkap lagi. 1-18. 2007. di Bedugul. No. dan Kampung Jawa. Bali. — Asep Saefullah dan Adib M. merujuk identifikasi Annabel Teh Gallop (2004) termasuk tipe Pantai Timur Melayu.5 Di Kampung Bugis Kepaon. naskah-naskah lontar tersebut belum dikaji secara kodikologis9. masing-masing satu naskah Al-Qur’an. mushaf ini sangat menarik terutama dari segi iluminasinya yang indah dan. dekat Masjid Asy-Syuhada. dan beberapa di antaranya dijelaskan juga ukuran lontarnya. 29 Oktober 2008. naskah ini disimpan di rumah H.

Jurnal Lektur Keagamaan. yang ternyata seluruhnya Al-Qur’an kuno sebanyak tujuh mushaf. 7. No. naskah ini disimpan di rumah H. menurut Hadiman. H. Sebelumnya. H. Negara. Wawancara. H. dan H. 12 konon ada naskah semacam Barzanji. Badri Yunardi. 30 Oktober 2008 di Masjid Agung Singaraja. ditulis dengan khat Naskhi yang indah. 10 60 . 1. sejauh ini koleksi lain yang tersimpan di dalam lemari kaca belum pernah dilihat. Jembrana Di Masjid Bait al-Qadim.90 Wayan Ma’ruf. ditemukan satu buah naskah Al-Qur’an. Zen Usman. ditemukan 1 (satu) AlQur’an Kuno milik Bapak M. sekitar 1625 M. Abdurrahman Alawi. No. Lurah Kampung Bugis dan juga Ketua Ta’mir Masjid Agung Singaraja. tidak jauh dari Masjid Agung Singaraja. karena selain ditulis pada bahan dluang. Mushaf ini sangat menarik. Al-Qur’an kuno ini masih lengkap. Wawancara. 29 Oktober 2008. Gunawan. yaitu di Masjid Agung Jami’. sehingga seluruhnya ada delapan Al-Qur’an kuno. Jurnal Lektur Kegamaan.10 Di Singaraja. Vol. 11 Sementara di Bedugul. tapi tidak berhasil ditemukan karena pemiliknya tidak ada di tempat dan tidak berhasil dijumpai.13 Menurut Bapak Drs. 5. Muchlis Sanusi. Di Kampung Jawa. 2009: 53 . h. dan yang terpenting mempunyai kolofon yang sangat tua. 13 Naskah ini juga sudah diteliti oleh E. Bedugul. Di masjid ini ditemukan 8 (delapan) Al-Qur’an kuno (satu satu di antaranya merupakan litograf yang iluminasinya diberi pewarnaan). bahwa masjid ini sering didatangi wartawan dari berbagai media massa dan meliput salah satu Al-Qur’an kuno di sana. antara lain H. dan beberapa Pengurus Masjid. Jembrana. Naskah Al-Qur’an ini konon merupakan wakaf dari Encik Ya’qub dari Trengganu. Abdurrahman Said. Husen Abdul Jabbar. 3. 11 Bunyi kolofon tersebut: “tamma al-qur’±n f³ yaum al-kh±mis min syahr al-mu¥arram f³ hil±li i¥d± wa ‘isyr³na ba‘da alfi sanah khamsin wa £al±£µna alhijrah an-nabawiyyah “ (Al-Qur’an ini selesai [ditulis] pada hari Kamis dari bulan Muharram pada malam dua puluh satu pada tahun seribu tiga puluh lima [21 Muharram 1035] Hijrah Nabi). Syarifuddin. “Beberapa Mushaf Kuno dari Provinsi Bali”. ditemukan banyak naskah Al-Qur’an kuno. Wawancara dengan beliau pada 2 November 2008 di Loloan Timur. Loloan Timur. dan Agus. 12 Para ustadz di Pesantren Al-Hidayah. Hidayat. 2007. Vol. antara DenpasarSingaraja. Akan tetapi. yang dipandang mushaf tertua di Buleleng. yaitu tahun 1035 H. 1. 1-18. Hasyim Zaki.

terjemahan Dawud bin Abdullah Fatani. t. jilid 1 dan 2. dan di piasnya ada Hamisy Risalah Diya al-Murid. b) Kitab Usul al-Tahqiq juga tentang Usuluddin. 44. Karang Asem Di Karang Asem. Islam 4. 3) Kitab Siraj al-Huda karangan Muhammad Zain al-Din bin Muhammad Badawi al-Sumbawa’i.. Teks ini juga terdapat pada Kitab Sabil al-Muhtadin Juz I. (diterbitkan di Mesir.. naskah-naskah tersebut dibuang. c) Kitab Mau’i§ah li al-N±s tentang tata cara sembahyang.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . 1320 H/1902 M). dan pada pias halaman ada Hamisy Kitab Asrar al-Dini. 2) Kumpulan kitab dalam satu bundel terdiri dari empat kitab. 16 Kata “¥aq” kadang diartikan “kepunyaan”. Maktabah al-Kutub alArabiyyah al-Kubra. Syarah atas Matan Umm al-Barahin karya Sanusi. Ada yang menarik dari kitab-kitab ini.t. Kampung Islam Pasuruan. al-Matba’ah al-Miriyah al-Ka’inah. tentang ilmu fikih karangan Nuruddin Al-Raniri (diterbitkan di Mekah. pengarang ketiga kitab ini tidak disebutkan. peneliti hanya mendatangi Kampung Islam Buitan—sebuah kampung kecil yang hanya berpenduduk 25 keluarga. dan f) Kitab Tajwid al-Qur’an. al-Matba’ah al-Miriyah al-Ka’inah. yang maksudnya “Islam” sebagaimana kebiasaan sebagian orang Bali. Konon di sini pernah ada naskah beraksara Bugis. — Asep Saefullah dan Adib M. Teks dalam kitab ini juga bertuliskan “al-salam” (‫ . antara lain: 1) Kitab Sabil al-Muhtadin karya Syaikh Muhammad Arsyad bin Abdullah AlBanjari. 14 Kampung Biutan As-Salam 15 adanya”. Cet. “Haza al-Kitab ini yang empunya Bapak Abd al-Rahman negeri Bali. bisa jadi maksudnya Karang Asem? Sebagian orang Bali menyebut “Kampung Islam” dengan bunyi ucapan yang terdengar adalah “Kampung Selam”. 1321 H/1903 M). yaitu catatan pemiliknya.)اﻟﺴﻼم‬tapi bisa jadi dibaca “Selam”. antara lain pada sampul dalam Kitab Siraj al-Huda terdapat tulisan.). tetapi karena sudah hancur. Ke-6 (diterbitkan di Mekah. dan di tepinya ada Kitab Sirat al-Mustaqim. atau bias juga tetap dibaca “as-Salam” sebagaimana bahasa Arab..” bisa diartikan “ini kepunyaan…” 15 14 61 . Naskah yang tersisa adalah kitab-kitab cetakan sekitar tahun 1300-an Hijriah. h. jadi “ha©a al-¥aq. Catatan kedua pada Daftar Isi Kitab Miftah al-Jannah. a) Kitab Miftah al-Jannah tentang Usuluddin karangan Muhammad Tayyib bin Mas’ud alBanjari. Karangsem. dan membeli pada bulan Ramadan tanggal 15 hari Ahad pada tahun Zai Hijrah Nabi Teks aslinya: kaf-ra-ng-syin-mim. “Tanda keterangan haza al-haq 16 Pak Muhammad Sa’id bin Mukhammad Ali Kusamba. berbunyi.

Nama-nama di atas. wajib. dan Obat-obatan: Naskah yang berisi doa. dan geguritan (cerita). Kampung Islam Buitan. Burhanuddin. 4. Doa. nomor MA 05 dan MA 06. Tasawuf/Akhlak: Naskah dalam bidang ini ada empat. doa. 1. MA 03 dan MA 04 yang dalam teksnya tidak disebutkan judulnya. Musthafa Amin (MA 01). No. Suharto di Pegayaman. wirid. Tauhid/Teologi: Dalam bidang ini ada empat naskah. dan obat-obatan. Wirid. Burhanuddin.90 Sallallahu ‘alaihi wa sallam 1334 H”. no. kandungan isi naskah-naskah keislaman di Bali setidaknya meliputi: Fikih. bisa jadi Kitab Miftah al-Jannah khususnya dibeli di Pasuruan. Musthafa Amin. Suharto juga berisi teks lain yang berisi masalah fikih. Tauhid. terdapat dua naskah. 3. Naskah MA 04 ditulis dalam buku Letjes. yaitu milik H. Vol. satu naskah milik H. 1. 2009: 53 . 62 . milsanya tentang taharah [bersuci]. tetapi naskah ini sudah bercerai berai dan tidak berjilid). antara lain berisi tanya jawab tentang Uluhiyah (ketuhanan). selain berasal dari Bugis. 2 November 2008. mustahil. Dalam 17 Wawancara. Bidang Kajian (Isi Naskah) Dilihat dari segi bidang kajiannya. Tasawuf. adalah para leluhurnya. dan dua naskah lainnya milik Drs. menurut Abdullah. yaitu “Kitab Nikah” milik H. Dua naskah lainnya milik H. satu naskah beraksara dan berbahasa Bugis milik H. wirid. 17 salah seorang yang dituakan di Buitan. yaitu Khazinah al-Asrar serta satu naskah beraksara dan berbahasa Bugis milik H. Musthafa Amin. 2. dan ini pun bagian pertama dari kumpulan teks lain yang berisi tentang obat-obatan disertai doa dan wirid. dan sebagian keluarga di sana. Karang Asem. Jika demikian. Musthafa Amin. yang berisi tentang sifat-sifat Allah. Al-Qur’an. obat-obatan. juga berasal dari Madura. tata bahasa Arab (nashwu-saraf).Jurnal Lektur Keagamaan. Fikih: Dalam bidang fikih hanya ditemukan satu naskah. 7. juga berisi wifiq. dan jaiz (satu dari dua naskah milik Drs. Tahun 1334 H adalah sekitar tahun 1915 M.

dan bunyi akhir tiaptiap baris (Agastia. Geguritan: Sebagaimana yang dikenal secara luas oleh masyarakat. pupuh diikat oleh beberapa kaidah yang mencakup: banyaknya baris dalam tiap bait. Bali memang identik dengan Hindu. Dari 14 naskah AlQur’an yang ditemukan. Al-Qur’an: Meskipun naskah Al-Qur’an tidak sepenuhnya menjadi sasaran dalam penelitian ini. 7. Kampung Serangan Denpasar. yang terletak setelah “Kitab al-Nikah”.: 155). berisi tentang morfologi bahasa Arab atau ilmu sharaf. 18 sembilan di antaranya menunjukkan adanya pengaruh Islam dalam tradisi kesusastraan Bali. Islam naskah MA 01 juga terdapat naskah jenis ini. FIB Universitas Indonesia. dan satu naskah di Masjid Muhajirin Kapaon Denpasar. ditulis di atas dluang. Suharto. 63 . tetapi temuan ini penting karena banyak naskah baru yang ditemukan. t. satu naskah di Kampung Jawa Singaraja. hasil penelitian lapangan terhadap naskah-naskah lontar di Bali berhasil memberikan informasi lain terkait dengan tradisi pernaskahan di Pulau Dewata tersebut. Berikut ini gambaran mengenai isi 1119 naskah lontar yang berhasil ditemukan: 18 Geguritan adalah karya sastra Bali yang dibangun di atas pupuh. satu naskah milik Bapak Marjui. Bahasa: Dalam bidang bahasa ditemukan satu buah naskah tanpa judul. 11 di antaranya belum pernah diinventarisasi. Meskipun demikian.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Sementara itu. satu naskah di Masjid Al-Mu’awanatul Khairiyah Kampung Bugis Suwung. Ke-14 naskah tersebut adalah delapan naskah AlQur’an di Masjid Agung Jami’ Singaraja. ada satu naskah yang tidak dapat dibaca. Denpasar. Dari 12 naskah lontar yang berhasil ditemukan. Pembacaan naskah lontar oleh Made Suparta.. dan karenanya tradisi pernaskahan di sana pun dengan sendirinya juga tidak dapat dilepaskan dari Hindu. dosen pada Program Studi Jawa. banyaknya suku kata dalam tiap baris. satu naskah di Pegayaman. — Asep Saefullah dan Adib M. 5. Ini dapat dilihat dari beberapa naskah lontar yang ditemukan di lapangan. dan semuanya dalam bentuk geguritan. milik Drs. Pegayaman.t. 6.. 19 Dari 12 naskah lontar. dan satu naskah di Masjid Bait al-Qodim Loloan Timur.

Geguritan Sebun Bangkung. 7. 2). Teks ini berisi cerita mengenai tokoh heroik yang bernama Sema’un pada masa-masa awal islamisasi 3). Vol. Geguritan Amir Hamzah. 9). Geguritan Pan Bongkling. Teks ini tentang kehidupan keluarga kerajaan di negeri Arab. Geguritan Jimat Teks ini berisi mistik Islam. 6). yaitu: Geguritan Siti Badariyah. 2). beserta dua saudaranya: Bagenda Sulaiman dan Bagendha Alah. No. Geguritan Siti Badariyah. 5). Kidung Tuwan Semeru.Jurnal Lektur Keagamaan. Teks ini menceritakan sosok pahlawan muslim dalam melawan raja kafir. 20 64 . Gambaran isi naskah lontar di atas secara jelas memperlihatkan adanya pengaruh Islam dalam tradisi kesusastraan Bali. geguritan Jayengrana. yakni 1923 isaka atau 2001. Teks ini berisi cerita tentang peran Amir Hamzah dalam proses islamisasi di Nusantara. Teks ini berisi filsafat moral Hindu yang disampaikan secara naratif. 7). Geguritan Krama Selam. teks ini juga banyak mengandung ajaran moral dan etika Islam. Cerita Hindu 1). Teks ini berisi cerita tentang kehidupan Nabi. semua kolofon 20 yang terdapat dalam naskah lontar itu menginformasikan adanya tahun penyalinan yang sama. empat di antaranya tidak bertanggal. Di samping itu. Teks ini menceritakan tokoh Bagendhali yang sangat sakti. 2009: 53 . Geguritan Semaun.90 a. dan satu naskah yang tidak dapat diidentifikasi baik judul maupun isinya karena kondisi fisiknya yang sudah lapuk. 1. Yang menarik. 8). Cerita Islam 1). Geguritan Amir Hamzah. 4). Pepalihan Gama Selam Bali. b. Teks ini menceritakan proses islamisasi di Bali. Dari 12 naskah lontar di atas. teks ini juga berisi cerita tentang proses islamisasi di Bali. Tidak banyak berbeda dengan teks Pepalihan Gama Selam. Geguritan Jayengrana. sebab deskripsi kodikologis terhadap naskah-naskah lontar di atas menunjukkan bahwa naskah-naskah lontar tersebut memang masih muda. meskipun kapan dan dari mana awal mula masuknya pengaruh Islam tersebut masih perlu diteliti lebih jauh lagi. Teks ini berisi konsep dharma dalam agama Hindu. Geguritan Bagendhali.

Satu buah naskah berlubang dimakan rayap dan satu lagi tinggal setengahnya. Naskah-naskah keagamaan Islam yang ditemukan pada masyarakat umumnya tidak terpelihara dan bahkan tak terperhatikan sama sekali. 65 . Singaraja. Islam Beberapa Aspek Kodikologi Naskah Islam di Bali 1. yaitu H. Hadir pula beberapa pengurus Ta’mir Masjid Agung yang lain. dari empat naskah yang ditemukan. Lurah Kampung Islam. dan dua naskah lainnya yang ditulis di atas dluang telah robek. tidak seperti naskah lontar yang. satu naskah di antaranya dari bahan kertas modern bergaris. empat naskah yang ditemukan sudah lapuk semua. satu naskah tercerai berai. karena sebagian di antaranya disalin ulang pada tahun 2000-an. Kondisi naskah lontar di Yayasan An-Nur memang mendapatkan perawatan. kecuali mushaf yang diduga ditulis oleh Gusti Ngurah Ketut Jelantik Selagi. Hidayat. Musthafa Amin. tetapi hampir semuanya tidak ada yang lengkap. Di Pegayaman pun demikian. terutama pada halaman belakang. tetapi tidak utuh. satu naskah Al-Qur’an tidak lengkap lagi dan tengahnya berlubang dimakan serangga. Hasyim Zaki. 30 Oktober 2008. salah seorang keturunan Raja Buleleng yang masuk Islam (MAJS/NQ/01). seperti mushaf koleksi Masjid Singaraja. Abdurrahman Alawi. Meskipun telah disimpan dalam kotak kayu khusus. dari enam naskah yang dimilikinya. Zen Usman yang lengkap dan kondisinya bagus.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . di samping telah banyak dikaji. H. di Kepaon Denpasar. juga terdokumentasi dengan baik sebagaimana dijelaskan di atas.. — Asep Saefullah dan Adib M.. Zen Usman relatif baik. 21 Wawancara dengan Drs. ada empat naskah yang relatif terbaca. seperti Al-Qur’an kuno di Masjid Al-Muhajirin Kepaon. seperti mushaf kuno milik M. dan H. Naskah-naskah yang ditemukan di rumah H. Kondisi Naskah Naskah keagamaan Islam di Bali kurang mendapat perhatian. Kondisi naskah di Masjid Singaraja dan milik M. Muhlis Sanusi. di dalam tempat penyimpanan naskah itu tidak terlihat ada bahan penangkal serangga. seperti cengkih atau kapur barus. dan di dalam lemari kaca. Sebagian besar mushaf itu juga tidak lengkap dan banyak lembarannya yang sudah terlepas. Zen Usman. 21 dan mushaf milik M. Demikian juga di Kampung Bugis Serangan. Buleleng. tetapi naskah-naskah lontar itu termasuk baru.

keduanya di Denpasar. Suharto di Pegayaman dan satu mushaf AlQur’an. mushaf ini selesai ditulis pada malam Ahad. lengkap 30 juz. Britania. Beberapa cap kertas (watermark) dan cap tandingan (countermark) yang berhasil diidentifikasi antara lain kelompok Crescent. Denpasar. Pro Patria. Zen Usman termasuk naskah yang paling tua. Berdasarkan kolofonnya. berangka tahun Jumadil Awwal 993/1585 dan kedua adalah mushaf dari Ternate. Musthafa Amin di Kepaon (MA 04) dan H. Musthafa Amin menyebutkan angka Mushaf tertua konon mushaf nomor MS 12716 koleksi William Marsden di Perpustakaan School of Oriental and African Studies (SOAS). Sebagian besar naskah lainnya ditulis di atas kertas Eropa. Zen Usman di Kampung Jawa Singaraja. milik M. Burhanuddin di Serangan. terdapat tiga naskah yang ditulis di atas dluang. Naskah yang ditulis di atas kertas Eropa berjumlah tujuh naskah. milik M. 1. Bahan Bahan yang digunakan untuk menulis naskah-naskah keagamaan Islam di Bali dapat dikelompokkan ke dalam empat jenis: a) Dluang. pada 7 Zulqa’dah 1005 H/1597 M. 2005: vii-viii) 22 66 . dan Horn (tertera angka tahun 1825 pada mushaf di Masjid al-Muhajirin. b) Kertas Eropa. (Bafadal dan Anwar. Misalnya naskah Kitab Al-Nikah dan Obat-obatan (MA 01) milik H. 11 naskah menggunakan bahasa dan aksara Bali. bahkan ia merupakan naskah Al-Qur’an tertua ketiga di Asia Tenggara. Semua naskah lontar tersebut milik Yayasan An-Nur. Maluku Utara. 22 Naskah-naskah lain pada umumnya ditulis pada abad ke-13 H atau sekitar abad ke-18-19 M. yang ditulis oleh Al-Faqih al. 21 Muharram 1035 H atau sekitar tahun 1625 M.90 2. Bahan lontar digunakan untuk menyalin 12 naskah geguritan. yaitu milik H. Musthafa Amin. dan satu naskah menggunakan bahasa Melayu dengan aksara Bali. University of London.Jurnal Lektur Keagamaan. Naskah ditulis di atas kertas modern bergaris (Letjes) ada dua. Kepaon). dan d) lontar.Salih Afifuddin Abdul Baqi bin Abdullah Al-Adni. yaitu: dua naskah milik Drs. 7. No. c) Kertas modern bergaris. Dari 38 naskah. 2009: 53 . Usia Naskah Dilihat berdasarkan usia naskah. serta satu naskah lain ditulis di atas kertas bergaris bukan Letjes milik H. 3. naskah Al-Qur’an dari Kampung Jawa. Vol.

Melayu. atau sekitar delapan naskah lainnya menggunakan bahasa Melayu dengan aksara Jawi. Cap kertas yang terlihat pada naskah MA 03 yang termasuk kelompok Names dengan cap kertas berupa: tulisan nama I Pigoizard. sedangkan bahasanya adalah Arab. Serangan Denpasar. yaitu bulan Zulqa’dah 1265 H/1848 M. Setidaknya ada enam naskah yang berkolofon.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Jawi. pada umumnya diproduksi antara pertengahan abad ke-17 M sampai abad ke-19 M. Selain Al-Qur’an yang berjumlah 14 naskah. atau Crescent. tidak banyak ditemukan naskah yang mempunyai kolofon. Bugis. 1986: 145-146). yaitu milik H. dan Bali. — Asep Saefullah dan Adib M. dari daftar cap kertas yang disusun Heawood diketahui bahwa kertas dengan cap kertas kelompok Pro Patria diproduksi pertengahan abad ke-17 M (Heawood. Kolofon yang agak tua terdapat pada naskah Al-Qur’an MAJS/NQ/03 koleksi Masjid Agung Jami’ Singaraja. Misalnya. yaitu naskah tentang morfologi Arab (saraf) dan sifat-sifat Allah dari Pegayaman.. 10r-10v disebutkan demikian. dalam naskah MA 02 disebut “bahasa Jawi”. Kolofon Dari 38 naskah yang diinventarisasi. dan dalam naskah MA 01 milik H. Britania. Bahasa dan Aksara Naskah-naskah keagamaan Islam di Bali setidaknya menggunakan empat aksara dan empat bahasa. Musthafa Amin terdapat dua kolofon. Horn. Islam tahun 1287 H/1870 M dan 1288 H/1871 M. Naskah yang menggunakan aksara dan bahasa Bugis ada dua. Kertas Eropa yang memiliki cap kertas pada kelompok Pro Patria. Aksara yang digunakan adalah Arab. Bugis. Burhanuddin. Sementara aksara dan bahasa Bali hanya digunakan pada 12 naskah lontar koleksi Yayasan An-Nur. menurut Heawood (1986:140). Demikian juga dilihat dari kertas Eropa yang digunakan. 67 . 4. naskah berbahasa Arab hanya dua. “… dan arti uluhiyah pada bahasa Jawi ketuhanan dan arti Ilah pada bahasa Jawi Tuhan…” 5. dan Bali. misalnya ketika mengartikan kata “uluhiyah” dan “ilah” pada h. Selebihnya. diproduksi sekitar tahun 1737 atau sesudahnya. Tentang istilah Jawi..

yang bisa dipastikan di Palembang sebab yang mengambil ijazah untuk amalan dalam teks ini adalah Haji Hasan Palimbangi. yang terdiri dari beberapa teks.90 Pada naskah MA 01. sedangkan kolofon kedua menyebutkan Ampenan. Agak sulit menghubungkan kedua kolofon yang terdapat dalam satu naskah ini. 7. Kampung Kepaon. No. Satu hal yang dapat diduga adalah telah terjadi hubungan antara Palembang dan Bali sekitar tahun 1287-1288 H/1870-1871 M. namanya orang menyurat ini Haji Dawud dari negeri Badung Kepaon tatkala menyurat ini di negeri Pabeyan rumah bapak Tayid23 tamat alkalam” 23 Ba-pa-alif ta-alif-ya-dal (‫)ﺑﻔﺄ ﺗﺎﻳﺪ‬ 68 . Bali.Jurnal Lektur Keagamaan. 41v. yakni “Kitab Nikah” dan waktu penyalinannya. Berikut bunyi kutipan kolofon pada h. di Pabeyan. Amin 1288 H di Ampenan Syahr [al-]Shafar. 10v: “…tammat. kolofonnya berbunyi: Telah mengambil ijazah faqir a-haqir ila Allah Ta’ala Haji Hasan ibn alMarhum al-Haj Muhammad Amin al-Din Palimbangi akan mengamalkan laqad ja’akum serta doa yang kemudian kepada Syaikhuna wa ustazuna wa wasilatuna ila Allah Ta’ala al-Arif bi Allah sayyidi al-Syaikh Muhammad Azhari ibn al-Mukarram al-Marhum Kemas Muhammad Haji Abdullah Palimbangi Nafa’ana Allah bi barakatihi wa barakat ‘ulumihi. walaupun jilidnya sudah lepas. Vol. 1. Bunyi kolofon tersebut sebagai berikut: Haza [al-]Kitab al-Nikah [ter] Hijrah al-Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam seribu dua ratus delapan puluh tujuh (1287) pada tahun Ba alif(?) pada malam ahad waktu jim(?) pada pukul delapan pada delapan hari bulan Rabi’ al-Awwal pada ketika itulah hamba Pa Abdul A’raf sudah selesai menyuruh ini kitab di dalam negeri Badung Bali Badung adanya Kampung Kepaon 1287 Tamma wa sallallahu ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa sahbihi wa sallam Pada teks kedua h. 33v bagian akhir teks pertama terdapat nama kitab. Naskah ini tergolong masih baik karena tulisannya dapat dibaca. Nama Kepaon juga disebut dalam naskah MA 02. Dalam kolofonnya disebutkan bahwa teks ditulis oleh Haji Dawud. orang Palembang. Kepaon. 2009: 53 . h. Badung. Kolofon pertama menyebutkan tempat penulisan di negeri Badung.

Serangan. Kolofon ini juga ditulis dalam bahasa Arab. Angka tahun ini menerangkan selesainya pencetakan naskah. bisa jadi berarti tahun seribu masuk ratusan ketiga. Letak kolofon ini di pias halaman bagian akhir mushaf setelah Surah al-Nas dan sebelum doa khatm Al-Qur’an.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Berikut ini kutipan kolofon: “kana al-farag al-kha¯¯ ¥ajj Mu¥ammad Ja‘far yauma arba‘ wa f³ waqti a««u¥± f³ syahri ©i al-qa‘dah f³ sanah alfi taqw³m £al±£24 hijrah an-nab³ 1265 “ Penting dicatat. ada yang sudah lapuk. percetakan at-Taufiq milik Haji Muhammad Abduh. bunyinya demikian: “tamma al-qur’±n f³ yaum al-kh±mis min syahr al-mu¥arram f³ hil±li i¥d± wa ‘isyr³na ba‘da alfi sanah khamsin wa £al±£µna al-hijrah an-nabawiyyah “ Pada naskah Litrograf beraksara Bugis milik H. kondisi naskah-naskah Bali beragam. dan ada juga yang sudah terlepas dari 24 sanah alfi taqw³m £al±£. yakni pada Mushaf milik Zain Usman. dan angka tahun yang tertulis adalah 1265 H. Pada kolofonnya disebutkan. mushaf ini ditulis oleh Abd Shafiyyuddin pada hari Kamis tanggal 21 Muharram 1035 H. Selain itu disebutkan pula nama dan tempat percetakan serta pemilik percetakannya. ditemukan angka tahun 1373 H/1885 M pada halaman sampul. artinya 1200-an lebih. 1035 H/1625 M. Pare-pare. Dalam kolofonnya. sama dengan 1848 M. Penjilidan Aspek lain dalam kodikologi adalah bagian penjilidan.. Burhanuddin. Dari segi penjilidan. Kampung Jawa Singaraja. dalam bahasa Arab yang berbunyi sebagai berikut: “tubi‘a bima¯ba‘ah al-Tauf³q li ¡±¥ibih± al-¥±jj Mu¥ammad ‘Abduh pepajah bi Pare-pare 1373” 6. Kolofon ini ditulis dalam bahasa Arab. Islam Kolofon lain ditemukan dalam mushaf Kuno nomor MAJS/NQ/03 koleksi Masjid Agung Jami’ Singaraja. — Asep Saefullah dan Adib M. mushaf ini disebutkan selesai ditulis oleh Haji Muhammad Ja’far pada waktu duha hari Rabu bulan Zulqa’dah 1265 H/1848 M.. 69 . ada yang masih baik. bahwa di Bali ditemukan juga kolofon yang menyebutkan angka yang sangat tua.

dan ada juga yang terbuat dari karton. Tinggi alif pada jenis Naskhi standar.Jurnal Lektur Keagamaan. yaitu tahun 1035 H/1625 M (Gambar 01). Pada dua mushaf ini. Mushaf dari Kampung Jawa Singaraja sudah menggunakan khat Naskhi yang indah dan mendekati standar apalagi jika dilihat masa penulisannya—walaupun belum menggunakan pena khat untuk membentuk tipis-tebalnya huruf—. kebanyakan bahan sampul naskahnya adalah kertas karton tipis. Adapun untuk naskah mushaf. 2009: 53 . Kepaon. 26 Sampul seperti ini banyak ditemukan di Nusantara. Kaligrafi Selain naskah lontar. Rumusan ini diciptakan oleh Ibnu Muqlah (Sirojuddin. titik belah ketupat. 2007: 47). seperti yang terlihat pada satu mushaf di Masjid asy-Syuhada. naskah-naskah Bali cukup bervariasi. menarik juga untuk dilihat model-model tulisannya atau yang lazim disebut kaligrafi. seluruh naskah ditulis dalam aksara Arab dan Jawi. 27 Kaligrafi Arab standar dalam bahasa Arab disebut Al-Kha¯¯ al-Mansµb mempunyai tiga alat ukur. 27 Berbeda dengan yang lainnya. Oleh karena itu. Pada masa ini. namun untuk mushaf koleksi masjid asy-Syuhada sudah diganti dengan sampul dari kertas karton. Vol. dan satu mushaf di masjid al-Muhajirin.25 Bahkan sebagian di antaranya lepas jilidannya. 1992:86-99) 25 70 . dan lingkaran. 1. Naskah-naskah AlQur’an umumnya menggunakan jenis kaligrafi atau khat Naskhi. misalnya beberapa naskah di Bayt al-Qur’an dan Museum Istiqlal TMII Jakarta (Saefullah. jilidan aslinya sudah tidak ada. Loloan Timur. No. hampir semua bahan sampulnya terbuat dari kulit tebal dengan motif floral serta menggunakan amplop. 7. 2005: 122). khususnya di Nusantara. 7. belum banyak ditemukan naskah yang Kuras adalah istilah yang mengacu pada sejumlah lembar kertas/perkamen yang dilipat dan dijahit untuk kepentingan penjilidan (Francois Deroche. Selain naskah mushaf. Dari segi bahan sampul. Pena yang digunakan biasanya dimiringkan mata penanya sehingga ketika ditarik menyamping miring kanan ke bawah akan membentuk titik belah ketupat ( ). ada yang bahan sampulnya terbuat dari kulit. yaitu: Alif. 26 Naskah lain adalah yang ditulis di atas kertas bergaris dalam buku Letjes dengan sampul kertas berwarna biru khas Letjes.90 ikatan kuras naskah. walaupun masih sangat sederhana dan belum dapat dikatakan standar. misalnya. lima titik belah ketupat.

8. 71 . sapuan pada beberapa huruf. Ilustrasi yang ditemukan pun hanya sedikit. Namun demikian. misalnya naskah dari Pegayaman. yang berarti menerangi. h. yang berasal dari kata illumination. Ilustrasi dan Iluminasi Ilustrasi adalah sebuah gambar atau hiasan yang ada hubungannya dengan teks. a. 17v. Pada naskah MA 04. walaupun masih sederhana dan ada kesan Riq’ah karena sebagian hurufnya condong ke kanan (Gambar 04). Dalam naskah-naskah keagamaan Islam di Bali tidak ditemukan iluminasi. Sedangkan iluminasi. terdapat ilustrasi tentang sifat-sifat Allah berdasarkan kalimat L± Il±ha Ill± All±h yang dibagi ke dalam empat kategori “L±”. tipis tebal goresan aksaranya sudah nampak dan memperlihatkan bentuk Naskhi yang cukup indah (Gambar 02). “Il±ha”. h. khususnya sin dan kaf memperlihatkan gaya Farisi. dan tidak berkaitan langsung dengan teks. — Asep Saefullah dan Adib M.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Islam disalin dengan khat Naskhi yang indah. Ilustrasi Ilustrasi terdapat pada naskah tasawuf dan masalah doa. kata “Il±h” diletakkan dalam kotak belah ketupat dan segi empat. Jenis Naskhi yang ditemukan memang sangat sederhana. baik yang cenderung ke Naskhi maupun Farisi. Sementara jenis Khat Riq’ah yang biasanya tipis-tipis dan condong ke kiri ditemukan dalam banyak naskah. yang agak meliuk-liuk dan memanjang. khususnya naskah MA 06 (Gambar 03). dan wifiq. maka naskahnaskah yang ditemukan dapat dikelompokkan ke dalam tiga jenis khat. Karakter tulisannya condong ke kanan dan sapuansapuan pada sin dan gigi ba. Jenis Farisi misalnya ditemukan pada Naskah MA 03 dari Kepaon. atau ya. dan Riq’ah. £a. dan “All±h” (Gambar 05). “Ill±”. ta. Farisi. biasanya lebih berfungsi sebagai hiasan. bahkan untuk naskah keagamaan lainnya digunakan Khat Farisi atau Riq’ah. dan biasanya digunakan untuk memberikan penjelasan lebih lengkap dari teks bersangkutan. wirid. Dalam naskah MA 03.. Jika dikelompokkan ke dalam jenis-jenis khat. Akan tetapi secara umum dapat dikatakan Riq’ah. yaitu Naskhi. kecuali dalam naskah Al-Qur’an. 11r. dan di sekelilingnya terdapat penjelasan sehingga membentuk semacam concept map (peta konsep)..

atau akhir. dan di atas-bawahnya terdapat penjelasan yang diduga terkait dengan zikir (Gambar 07). sahabat. ditemukan di Bali. dan lain-lain (Gambar 06). b. Dalam hal penempatan 28 Wifiq: suatu formula yang terdiri atas susunan bilangan atau angka Arab tertentu yang mengandung rahasia-rahasia spiritual. tengah. Sulawesi. kata “All±h”.90 terkait dengan ilmu ma’rifah. yang diletakkan dalam blok hitam. 12v-13r. yakni iluminasi dalam bentuk arabesk (pola geometris yang disalin bersilangan) dari kalimat L± Il±ha ill± All±h Mu¥ammad Rasµl Allah sebagai bingkai hiasan yang mengelilingi bidang teks ayat-ayat Al-Qur’an. Contoh ilustrasi terakhir adalah tentang wifiq. dan juga dapat dikaji secara kodikologis. tentang tasawuf. dan simbol-simbol huruf hijaiah yang dirangkai sedemikian rupa dan diletakkan dalam satu kotak (Gambar 08). unik. 2009: 53 .Jurnal Lektur Keagamaan. Karakter kedaerahan iluminasi dapat juga dilihat dari penempatan halaman berhias pada awal. 1. Desain hiasan yang menurut identifikasi Annabel Teh Gallop (2004) sebagai tipe Aceh. Ada dua blok yang semuanya berisi kata “All±h”. Vol. yang terdapat pada bagian tengah mushaf. ada perbedaan kedaerahan yang konsisten dan mencolok. Meskipun naskah Al-Qur’an terkadang dikhususkan dalam klasifikasi kajian naskah klasik. Bagi yang mempercayainya. misalnya kata “Allah” dan “Muhammad” dalam satu kotak. pengetahuan mengenai formula tersebut merupakan hikmah ilahiyah. 7. 28 Dalam naskah wirid dan doa MA 05. 72 . h. tetapi karena pentingnya temuan ini. Iluminasi dalam mushaf-mushaf kuno yang ditemukan di Bali sangat luar biasa. terdapat ilustrasi lafa§ al-jal±lah. dan disebut juga nama-nama malaikat. dan menarik. Bahkan satu mushaf di Masjid Agung Singaraja (MAJS/NQ/01) sangat khas. Pantai Timur Semenanjung Melayu atau Pattani dan Trengganu. kalimat L± Il±ha ill± All±h Mu¥ammad Rasµl Allah”. terdapat simbol-simbol yang diletakkan dalam bingkai garis. dan Jawa. No. kata “Muhammad” dan “Ilah”. Pada naskah Serangan 01 yang berbahasa dan beraksara Bugis. Iluminasi Iluminasi hanya ditemukan dalam naskah-naskah Al-Qur’an. masingmasing dalam satu kotak. hasilnya disajikan di sini.

Tinta yang digunakan berwarna hitam. Pada bagian tertentu. atau tanda baca. Pada naskah ini terdapat bingkai teks berupa tiga buah garis tipis berwarna hitam dan merah. Sampul naskah berukuran 33.. 29 73 . adalah kertas yang umumnya digunakan di Afrika. dapat dijelaskan dengan kenyataan bahwa orang-orang Bugis pada masa lalu telah banyak bermukim di Bali. digunakan tinta berwarna merah. Bahkan. 30 Tebal naskah 682 halaman. kecuali halaman awal yang terdiri atas 7 baris. 30 Oktober 2008. Islam iluminasi tengah: Aceh selalu bagian tengah Al-Qur’an. Hasan (penduduk setempat). dan H. Penempatan ini dapat ditemukan pula pada mushaf-mushaf Bali. 2004: 132).Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Di bawah ini akan diuraikan secara singkat keempat tipe atau desain hiasan tersebut. yaitu Sulawesi dan Aceh. Pada halaman pelindung terdapat catatan yang tertulis: “h±©a alwaqf mu¡¥af masjid jam³‘”. awal juz. 1986: 85). salah seorang keturunan Raja Buleleng yang masuk Islam. Teks ditulis dengan menggunakan khat naskhi. setiap halaman terdiri atas 14 baris. 1). sementara ukuran teksnya adalah 18 X 14. desa di mana Masjid Agung Singaraja berada pun bernama Kampung Bugis. Menurut keterangan pengurus takmir masjid. seperti kepala surah. yakni iluminasi bagian tengah. Pantai Timur Melayu biasanya pada permulaan juz 15 atau awal Surah al-Isra’. Sampul naskah memakai tutup (plop). 5 cm. mengapa dapat sampai ke Bali. H. Bagian dalam sampul naskah dilapisi kain saten. 30 Tentang bahan kertas yang biasanya digunakan di Afrika. Rangkaian dari kalimat L± Il±ha Ill± All±h Mu¥ammad Rasµl All±h yang didekor sedemikian rupa sehingga menciptakan bingkai hiasan berbentuk arabesq yang mengelilingi teks ayat Al-Qur’an. yaitu awal juz 16 atau bagian tengah Surah al-Kahf. Demikian juga dengan bahannya.. — Asep Saefullah dan Adib M. Tipe Aceh dan Istimewa: Iluminasi Kalimat L± Il±ha Ill± All±h Mu¥ammad Rasµl All±h Di Masjid Jami’ Agung Singaraja terdapat mushaf. meskipun berupa kertas Eropa tetapi berdasarkan cap kertas (water mark)-nya yang termasuk kelompok Cressent. Hasyim Zaki. kode MAJS/NQ/0129 yang sejauh pengetahuan kami memiliki keistimewaan yang luar biasa. naskah mushaf ini ditulis oleh Gusti Ngurah Ketut Jelantik Selagi. “paper used by Denham in Africa” (Heawood. Wawancara dengan H. dan di Jawa hampir selalu ditemukan pada permulaan surah al-Kahf (Gallop. Abdurrahman Alawi (Pengurus Ta’mir Masjid). Naskah berukuran 27 X 21 cm. Belum lagi desain hiasannya dan motif pewarnaannya yang memiliki unsur-unsur daerah lain.5 X22 cm yang terbuat dari kulit berwarna merah maron dengan motif floral.

jejaknya bisa ditemukan bahwa salah seorang pengurus ta’mir masjid sendiri. Sepasang bingkai berhias dari Aceh ini dicirikan dengan pewarnaan yang kuat. dan miring ke dalam pada ujung atas dan bawah. Wawancara dengan H. Segi empat berhias di sekitar bidang teks pada pola Aceh yang sering diisi dengan sulur Bagaimana pola Aceh terdapat dalam mushaf ini? Berdasarkan keterangan pengurus Ta’mir masjid dan penduduk setempat. yang mengapit bidang teks pada masing-masing halaman. 7. Hasan (penduduk setempat). sementara lengkungan pada sisi vertikal diapit oleh dua ‘sayap’ kecil. namun terbatas. Hasan. salah satu mushaf AlQur’an di Masjid Jami’ Agung Singaraja memiliki unsur-unsur yang umumnya terdapat di Aceh dan Sulawesi. Segi empat berhias di sekitar bidang teks sering diisi dengan sulur ikal warna putih. dan di bagian-bagian tertentu sering terdapat motif jalinan. 1. dan mushaf ini menempatkan awal juz 16. di satu sisi memperlihatkan pola Aceh dengan “sepasang garis tegak kirikanan”. 30 Oktober 2008. 2004: 129).Jurnal Lektur Keagamaan. Di ketiga sisi luar bidang teks. yang dekat ke Sulawesi. walaupun tidak terlalu jelas sebab salah satu ciri kedaerahan iluminasi Sulawesi adalah garis lurus. kuning dan hitam. namun menampilkan latar belakang kertas itu sendiri. memanjang ke atas dan ke bawah. pewarnaan dan detail hiasan bingkai (Gallop. H. H. dan H. ada garis melengkung sampai ke tepi. Dari segi teks ayat pada bagian tengah yang beriluminasi. Desain seperti diuraikan di atas jelas sekali terlihat pada iluminasi bagian awal mushaf ini (MAJS/NQ/01).31 Sedangkan iluminasi yang istimewa terdapat pada bagian tengah mushaf. yang memang berwarna putih. Hasyim Zaki. Abdurrahman Alawi (Pengurus Ta’mir Masjid). Hasyim Zaki. Iluminasi mushaf Aceh mudah dikenali dengan “garis bingkai vertikal. tetapi di bagian kiri dan kanan garis tegak tersebut terdapat bentuk segitiga. bahwa di wilayah ini pernah kedatangan orang-orang dari Aceh.90 Merujuk pada identifikasi yang pernah dibuat Annabel Teh Gallop (2004) tentang ragam hias mushaf. Menurut kakaknya. Vol. hanya saja tidak diketahui siapa dan kapan hal itu terjadi. 31 74 . leluhur mereka ada yang berasal dari Aceh. yang dapat berbentuk sulur lembut yang tipis ataupun berukuran lebih besar. Ciri kedaerahan pada umumnya dapat dilihat pada pola. Bapak H. 2009: 53 . Akan tetapi. adalah seorang Muslim Bali yang memiliki darah Aceh. No. Warna dasar keempat dalam naskah beriluminasi dari Aceh adalah warna putih. terutama merah. mushaf ini sama dengan mushaf-mushaf dari Aceh yang selalu menempatkan awal juz 16 atau bagian tengah Surah al-Kahf.

dari iluminasi yang masih bisa dilihat pada bagian awal dan bagian tengah.. 3). dan di bagian-bagian tertentu sering terdapat motif jalinan. dua bidang empat persegi panjang yang mengapit teks ayat. dan pinggir luar bingkai. bandingkan dengan Gambar 10a). Iluminasi hiasan mushaf dari Sulawesi yang menurut Gallop (2005) “Sulawesi Diaspora”. dan kuning. bahwa di bagian luar bingkai pada mushaf Pegayaman ini. berupa jalinan kalimat L± Il±ha Ill± All±h Mu¥ammad Rasµl All±h yang membentuk pola arabesq dan sedikit motif floral. Mushaf ini sudah tidak lengkap lagi dan sebagian besar sudah dimakan serangga. horizontal dan diagonal. Tipe Sulawesi Tipe Sulawesi ditemukan pada mushaf dari Pegayaman. dan beberapa bentuk setengah lingkaran di atas. masih terdapat surah Al-Fatihah yang diletakkan dalam bingkai berhias melengkapi sepasang hiasan akhir mushaf (Gambar 11. “lengkungan pada bingkai berhias kadang75 . bawah. Akan tetapi. Iluminasi mushaf dari Pattani bercirikan. Gambar 12.. 2004:130). bercirikan bentukbentuk geometris yang kuat. Dua buah garis vertikal di kiri-kanan paling luar. desainnya sama dengan desain yang umumnya ditemukan di Sulawesi. — Asep Saefullah dan Adib M. hitam. dua bidang persegi panjang di atas membingkai kepala surah dan di bawah membingkai keterangan surah. segitiga di tengah bagian pinggir menghadap keluar. yakni dua bingkai yang diletakkan secara berhadapan dengan ciri khas garis-garis tegak. dan tidak memiliki garis-garis lengkung bergelombang. Islam ikal warna putih.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . bukan segi tiga tetapi lengkunganlengkungan yang membentuk semi segitiga yang di dalamnya dihiasai desain floral dengan pewarnaan merah. dalam mushaf MAJS/NQ/01. di samping putih yang merupakan warna dasar kertas. bandingkan dengan Gambar 12a). yakni garis-garis vertikal. misalnya dari Pattani dan Trengganu (Gallop. dan keduanya mengapit teks ayat di atas dan di bawah. Tipe Pantai Timur Semenanjung Malaya Ciri khas iluminasi mushaf dari Pantai Timur Semenanjung Malaya adalah “Lengkungan luar bingkai berhias sering ditutup dengan rangkaian ‘ombak-ombak’ atau ‘dedaunan’ kecil”. 2). Warna yang dominan adalah merah dan hitam (Gambar 09 dan 10. milik Bapak I Wayan Ma’ruf. Di bagian akhir mushaf. Sedikit berbeda.

dalam kertas terdapat angka 1825. yakni di atas-bawah dan pinggir bingkai teks ayat. Bingkai teks berupa tiga buah garis tipis berwarna hitam dan merah. 5 cm. di samping warna putih yang merupakan warna dasar kertas (Gambar 13. merah muda. “Dari pembatas luar ini banyak garis atau sulur kecil mengarah ke dalam seakanakan bertemu dengan ‘ombak-ombak’ yang muncul dari lengkungan. Tinta yang digunakan berwarna hitam. 2009: 53 . unik. Teks ditulis dengan menggunakan khat Naskhi. dan emas sering digunakan” (Gallop. 2004:130). Teks yang masih ada dimulai bagian tengah surat al-Baqarah dan berakhir pada surah al-Naba. Pola hiasan pada Al-Qur’an kuno dari Masjid Al-Muhajirin Kepaon Denpasar32 memperlihatkan tipe Pantai Timur Semenanjung Malaya. hijau. Penomoran halaman tidak ada. hitam.Jurnal Lektur Keagamaan. No. Jarak garis tebal pertama sampai ke-6 13 cm. 5 X 11. Teks ditulis dengan menggunakan garis panduan yang ditekan. Bingkai teks ayat berupa empat persegi panjang agak lebar mengelilingi bidang teks dan diisi dengan hiasan bermotif daun dan dipadukan dengan lengkungan setengah lingkaran. Selain itu. Dalam kertas ini terlihat adanya garis bayang tebal dan garis tipis. Di beberapa halaman verso terdapat kata alihan. dan luar biasa adalah mushaf yang ditemukan di Kampung Jawa Singaraja milik M. Secara umum. Sementara Trengganu lebih bercirikan pembatas beriluminasi yang memenuhi tepi luar kertas. naskah sudah lapuk dan tidak lengkap. bandingkan dengan Gambar 13a). Sampul naskah sudah tidak ada. Jumlah garis tipis dalam 1 cm 9 buah. 1. Pewarnaannya terdiri atas merah.90 kadang terdiri dari dua ombak yang saling berpautan yang ditutup dengan semacam kubah”. ukuran teksnya 19. Tipe Jawa dan Mushaf Tertua Ketiga di Nusantara: Tahun 1035 H/1625 M Mushaf lain yang menarik. 4). meliputi warna-warna muda seperti biru dan hijau maupun warna-warna tua yang lebih menggetarkan. 7. Pewarnaan hiasan bingkai Pantai Timur lebih luas daripada yang ditemukan di Aceh. awal Juz ke-30 (juz ‘amma) 76 . dan bingkai kedua halaman tersebut disatukan dalam bingkai luar. Lengkungan-lengkungan dan riak-riak gelombang tergambar dengan jelas dalam mushaf ini. secara keseluruhan efeknya adalah pancaran emas yang cemerlang. Zen 32 Naskah ini berukuran 30 X 19 cm. Vol. Alas naskah yang digunakan adalah kertas Eropa. Dua buah bingkai diletakkan secara berhadapan di halaman kiri-kanan. menimbulkan efek ‘stalagnit-stalaktit’. dan kuning emas. Ketika garis-garis dan ombak disepuh.

dan kolofonnya dalam bahasa Arab. yang berbunyi: “tamma al-qur’±n f³ yaum al-kh±mis min syahr al-mu¥arram f³ hil±li i¥d± wa ‘isyr³na ba‘da alfi sanah khamsin wa £al±£µna al-hijrah an-nabawiyyah “. Sampulnya terbuat dari kulit berwarna coklat motif floral. Keempat.. Tinta yang digunakan berwarna hitam. yakni pada pewarnaan yang cenderung menggunakan warna biru (Gallop. — Asep Saefullah dan Adib M. mushaf ini masih baik. dan ukuran teksnya adalah 16 X 11 cm. Bagian dalam bingkai ini pun Secara umum. Desain hiasan ini menunjukkan salah satu karakter khas Jawa. kedua bingkai yang berhadapan pada dua halaman kiri-kanan ini disatukan oleh bingkai garis yang memotong setiap ujung segitiga pada setiap sisinya. Tulisan rapi dan jelas. dan di atasbawahnya diapit juga oleh blok empat persegi panjang. Untuk bagian yang berisi keterangan awal surah tinta dan awal juz digunakan berwarna merah.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . hanya beberapa halaman yang tampak lapuk. Kedua. di tiga sisinya. atas-bawah dan pinggir. 33 77 . Jumlah baris setiap halaman 13. sebuah masa yang tua. Bidang teks ayat diapit di kiri-kanan oleh blok empat persegi panjang yang dihiasi dengan pola arabesq. Teks ditulis dengan menggunakan khat Naskhi.. Islam Usman. Selanjutnya. dari segi kaligrafinya. Mushaf ini berukuran 24 X 16 cm. bingkai teks berupa tiga buah garis berwarna hitam. Ketiga. kecuali halaman awal yang terdiri atas 7 baris dan halaman akhir yang terdiri atas 10 baris. dan untuk kepala surah masih berupa Sulus sederhana. Tebal naskah 769 halaman yang terdiri atas 754 halaman isi. Alas tulis dari bahan dasar kulit kayu ini pada umumnya tergolong tua karena kertas ini umumnya telah ada sebelum kertas Eropa masuk ke Nusantara. Sementara itu. blok atas membingkai nama surah Al-Fatihah. tetapi lengkungan-lengkungan yang mengelilingi teks ayat lazim ditemukan di Turki Usmani. mushaf ini memperlihatkan goresan seorang khattat (ahli kaligrafi) Arab dengan khat Naskhi yang indah walaupun tidak dengan kalam khat yang tipis-tebal. 33 Dikatakan demikian karena beberapa alasan: Pertama. 2004: 130). 21 Muharram 1035 H (23 Oktober 1625 M). mushaf ini ditulis di atas dluang. iluminasinya memperlihatkan unsur Jawa. naskah ini memiliki kolofon yang menunjukkan waktu penyalinannya pada Kamis. jika merujuk identifikasi Gallop (2004). oleh Abd al-Sufi al-Din. terdapat segi tiga yang juga berhiaskan bentuk arabesq. Iluminasi pada mushaf ini terdapat pada bagian awal yang membingkai Surah al-Fatihah dan awal Surah al-Baqarah. dan blok bawah mengbingkai keterangan surah.

7. Dari 38 naskah tersebut. 1. Setidaknya mushaf ini menjadi mushaf tertua ketiga setelah Mushaf kode MS 12716 di University of London yang ditulis Jumadil Awwal 993/1585 dan mushaf dari Ternate yang ditulis pada 7 Zulqa’dah 1005 H/1597 M (Bafadal dan Anwar.Jurnal Lektur Keagamaan. atau tempat. yakni ditulis pada Kamis.90 diberi hiasan berbentuk arabesq yang dipadukan dengan pola dedaunan (Gambar 14. dan Jawa. seperti Palembang dan Pasuruan. Sulawesi. 2009: 53 . tidak terawat dan kurang mendapat perhatian. misalnya tentang nama tokoh al-Haj Muhammad Amin al-Din Palimbangi dan Muhammad Sa’id bin Muhammad Ali Kusamba. Walaupun jumlahnya tidak begitu signifikan dibandingkan dengan naskah non keislaman yang biasanya ditulis di atas lontar. keberadaan 35 naskah keislaman itu dapat menunjukkan mata rantai Islamisasi di Indonesia dan jaringan keilmuan dan keulamaan Islam Nusantara. Namun demikian. Kesimpulan a. 2005: vii-viii). b. Vol. dan bahkan tidak utuh lagi. No. terutama dari beberapa unsur yang terdapat pada pola hiasannya. bisa diduga bahwa asal-usulnya berkaitan dengan Pulau Jawa. serta iluminasi mushaf yang memperlihatkan empat tipe Aceh. 35 di antaranya merupakan naskah keagamaan Islam. Sebagian besar naskah sudah rusak. keberadaan mushaf ini di sebuah tempat yang disebut Kampung Jawa. Pemiliknya tidak mengetahui secara pasti asal usul mushaf ini kecuali bahwa ia mendapatkannya dari orang tuanya dan konon telah dimilikinya secara turun temurun. mushaf ini menambah koleksi dan informasi mushaf tertua di Nusantara. 78 . 1) Kondisi naskah keagamaan Islam di Bali pada umumnya sangat memprihatinkan. Penutup 1. 21 Muharram 1035 H/1625 M (Gambar 15). Penelusuran awal naskah-naskah keagamaan Islam di Bali berhasil menemukan 38 naskah yang tersebar di berbagai daerah di pulau Dewata ini. Pantai Timur Malaya. Lebih dari itu. bandingkan dengan Gambar 14a).

Lebih dari itu. dan lontar. Bugis. Wa All±h a‘lam…[] 79 . tauhid. Islam 2. dan geguritan (cerita). khususnya Islam-Hindu di Bali terjalin dengan baik. setidaknya untuk melihat bagaimana hubungan Islam-Hindu di Bali.. Keberadaan naskah keagamaan Islam di Bali yang tersebar di berbagai kabupaten memungkinkan masih ada naskahnaskah lain yang belum tersentuh sehingga penelusuran lebih lanjut perlu segera dilakukan. kertas bergaris modern. b. Dari aspek kodikologi. dapat dicatat beberapa hal: a) bahan yang digunakan beragam. Rekomendasi a. dan obat-obatan. c) Waktu penyalinan antara abad ke-17–19 M. kertas Eropa. adanya naskah lontar yang mengandung unsur keislaman membuktikan bahwa hubungan antarumat beragama. Melayu (Jawi). Analisis terhadap isi teks dan penjelasannya secara kontekstual perlu diteliti lebih lanjut.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . dan bagaimana posisi Bali dalam proses Islamisasi maupun dalam jaringan transmisi keilmuan dalam Dunia Islam. bahasa (nahwu-saraf). doa. c. dan untuk itu perlu pembuktian melalui penelitian secara lebih mendalam. dan Bali. antara lain dengan penelusuran naskah dan digitalisasi. Kondisi naskah keagamaan Islam di Bali yang memprihatikan perlu mendapatkan perhatian serius dan perlu segera dilakukan upaya konservasi lebih lanjut. Al-Qur’an. dan yang tertua tahun 1035 H/1625 M. wirid. — Asep Saefullah dan Adib M. 4) Isi naskah antara lain mencakup fikih.. 2. yaitu dluang. b) Bahasa dan aksara yang digunakan meliputi Arab. tasawuf.

Weatherhill Inc. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. 2003. dan Sunda. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Fadhal AR. No. dan Anwar. Vol. Gallop. dan Saefullah. 1. Tatakrama. 2. An Introduction to the Study of Manuscripts in Arabic Script. Chambert-Loir. Rosehan. 2009: 53 . Gallop. Francois. No. Depok: Fakultas Sastra UI. Bafadal. Depok: Fakultas Sastra UI. Rukmi. 80 . Etika. The Lontar Foundation. Ann dan McGlynn. 121143. Watermarks: Mainly of the 17th and 18th Centuries. Lisan dan Sejarah di FIB UI . Illuminations.). dan Seni Pertunjukan Jawa. “Jenis-jenis ‘Naskah Bali’” dalam Soedarsono (Ed). Sastra. 1997. Oman. 2. h. h. Melestarikan. 7. London: Al-Furqan Islamic Heritage Foundation.Jurnal Lektur Keagamaan. “Pentingnya Memelihara. “Penyalinan Naskah Melayu di Palembang”. John H. Kodikologi Melayu di Indonesia. Hilversum: The Paper Publications Society. Penyalinan Naskah Melayu di Jakarta pada Abad XIX: Naskah Algemeene Secretarie Kajian dari Segi Kodikologi. Mushaf-Mushaf Kuno di Indonesia. Cet. Adelaide: Art Gallery of South Australia. 1.. 156-183. 1996. Kumar.). dalam James Bennett (Ed. Oman. 2006. Rukmi. makalah dalam Seminar Tradisi Naskah. “Islamic Manuscript art of Southeast Asia”. Jakarta: Ecole francaise d’Extreme-Orient-Yayasan Obor Indonesia Deroche. 2004. Annabel Teh. 2005. 1994. Edward. Khazanah Naskah: Panduan Koleksi Naskah-Naskah Indonesia Sedunia. Crescent Moon: Islamic Art & Civilisation in Southeast Asia. 1999. Vol. New York dan Tokyo.90 Daftar Pustaka Agastia. Fadhal AR. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. 2005. 1-10. 1986. 2005. diterjemahkan ke Bahasa Arab oleh Ayman Fuad Sayyid. Jurnal Lektur Keagamaan. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. Keadaan dan Perkembangan Bahasa. tanpa tahun. Maria Indra. 1. dan Memanfaatkan Khazanah Naskah Islam: Sebuah Refleksi”. Edisi bahasa Arab diteritkan tahun 2005 oleh penerbit yang sama dengan judul al-Madkhal ila ‘Ilm al-Kitab al-Makhtut bi al-Harf al‘Arabi. Bafadal. Ada Bagus Gede. Maria Indra. Asep (Eds. Jurnal Lektur Keagamaan. 2005. Vol. Depok. Islamic Codicology. Henri & Fathurahman. Naskah Klasik Keagamaan Nusantara 1. Jakarta. “Seni Mushaf di Asia Tenggara”. No. Annabel Teh. h. Bali. Heawood. Mulyadi. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. V. Sri Wulan Rujiati. The Writing Traditions of Indonesia. Fathurahman.

10. 29 Oktober 2008. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. Pendidikan Islam dan Pemberdayaan Masjid. Sekretaris MUI Sngaraja (No. Penamas. Wawancara. Wawancara. Soleh. H. Agama Prov. Bali Drs. No. Agama Prov. Lurah Kampung Bugis dan juga Ketua Ta’mir Masjid Agung Singaraja. 6. Agama Prov. Bali Drs.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . 5. Hasan. Husen Abdul Jabbar. 7. Jurnal Lektur Kegamaan. secara terpisah pada 29-30 Desember 2008 di Masjid Agung Singaraja maupun di kantor MUI Singaraja. H. Syafruddin. 5. dan Agus. Karang Asem. SH. Bali Drs. Seni Kaligrafi Islam. Hidayat. Agama Prov. 2007. No. Muchlis Sanusi. Kanwil Dep. Pengurus Harian Masjid Agung Jami’ Singaraja H. Ghufron. Informan: 1. 5. H. Hasyim Zaki. Drs. Bali Drs. yang dituakan di Kampung Islam Buitan. Kabid Bimas Islam & P. “Beberapa Mushaf Kuno dari Provinsi Bali”. Vol. para ustadz di Pesantren AlHidayah. Staf Urusan Agama Hindu. h. 1992. H.. 13. Kanwil Dep. 1-5) Wawancara di ruang kerja masing-masing pada 28 Oktober 2008. 2. 11. Sirojuddin AR. 39-62. 30 Oktober 2008. Yunardi. 1. h. Haji. 3. penduduk Singaraja yang bekerja di Denpasar. Kanwil Dep. Bedugul. 1-18. E. Wawancara. — Asep Saefullah dan Adib M. Wawancara pada 2 Nopember 2008 di Loloan Timur. Musta’in. Kanwil Dep.. Agama Prov. H. 12. Ketua Dewan Penasehat MUI Singaraja. 7-11) Wawancara. Abdurrahman Alawi. dalam Jurnal Lektur Keagamaan. Jakarta: Multi Kreasi Singgasana. Hadiman. Badri. Bali (No. Kanwil Dep. Kasi. Abdurrahman Said. H. 2007. H. M. Ketua MUI Singaraja H. 8. “Ragam Hiasan Mushaf Kuno Koleksi Bayt al-Qur’an dan Museum Istiqlal Jakarta”. Ida Bagus Nyana. Kabid. Kasubag Umum. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. 2 Nopember 2008. Abdullah. Islam Saefullah. 4. 9. 81 . Ketut Ariawan. 1. 14. H. Asep. Gunawan. Vol.

Jurnal Lektur Keagamaan. Halaman 33v-41v: Teks obat-obatan.90 Lampiran: 1. 2009: 53 . Tamma wa sallallahu ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa sahbihi wa sallam. Tebal naskah 98 halaman (49 lembar) dengan jumlah baris 19 per halaman. Jarak antarbaris di setiap halaman 7 mm. No. Teks ditulis dengan menggunakan bahasa Melayu dan aksara Jawi dengan menggunakan garis panduan yang ditekan. Sebagaimana disebutkan. Bunyi kolofon tersebut sebagai berikut: Haza [al-]Kitab al-Nikah [ter] Hijrah al-Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam seribu dua ratus delapan puluh tujuh (1287) pada tahun Ba alif(?) pada malam ahad waktu jim(?) pada pukul delapan pada delapan hari bulan Rabi’ al-Awwal pada ketika itulah hamba Pa Abdul A’raf sudah selesai menyuruh ini kitab di dalam negeri Badung Bali Badung adanya Kampung Kepaon 1287. 2. Kalimat pertama teks ini berbunyi: Sebagai lagi (obat) supaya bincar(?) buang air seni ambil limau nipis tiga biji ditaruh gula batu maka embunkan pagi2 minum insya Allah ‘afiyah berturut-turut tiga pagi. yakni pembahasan tentang tuduhan suami bahwa istrinya berzina. tetapi tidak disebutkan judulnya. Contoh Deskripsi Naskah Milik Musthafa al-Amin. Sepertinya bagian awal teks dimulai dari “Had al-Qa©af”. dalam kolofon teks ini disebutkan “Kitab Nikah”. Akan tetapi cap kertas hanya terlihat sebagian. Halaman 1r-33v: Teks kitab nikah. Setelah dicocokkan dengan daftar cap kertas yang disusun oleh Heawood (1986). tampaknya cap kertas ini mirip dengan contoh no. yang terdiri atas: 1. Arab dan Jawi 24x16 cm Prosa Kertas Eropa Naskah ini merupakan kumpulan teks yang terdiri atas beberapa bidang kajian. Vol. 7. Adapun bunyi kalimat pertama (1r) adalah sebagai berikut: Terpelihara dirinya daripada had ta-waw-kaf-sin karena jikalau ia tia(da) mau bersumpah maka dipukul ia delapan puluh kali demikian lagi disuruh bersumpah istrinya di atas mimbar lima kali supaya terpelihara ia daripada had zina maka apabila sudah bersumpah keduanya jatuhlah talaknya itu talak bain kubra … Alas naskah yang digunakan adalah kertas Eropa. 860. sementara rubrikasi berwarna merah. Naskah berukuran 24 X 16 cm. Naskah sudah tidak bersampul dan bagian awal teks yang berisi Kitab Nikah sudah tidak lengkap. yang termasuk kelompok Crescent. Arab dan Melayu 19 baris/hlm. Wirid dan Doa Bhs. Tinta yang digunakan berwarna hitam. kertas dengan cap kertas nomor tersebut tidak bertanggal. Menurut Heawood (1986: 84). naskah ini merupakan kumpulan teks. Denpasar Fk/Bali MA 01 98 hlm. Obat-obatan. Kitab Nikah. 82 . sementara ukuran teksnya adalah 19 X 11 cm. namun dimungkinkan diproduksi pada masa modern. 1. Aks.

Kampung Bugis. — Asep Saefullah dan Adib M.5 cm. 4. Di bawah setiap baris teks terdapat garis panduan tipis berwarna hitam. Denpasar Gg/Bali YN 02 9 lempir Pepalihan Gama Selam Bali Bhs. Denpasar 83 . Bali 40. Tebal naskah 9 lempir dengan jumlah baris 4 per lempir. Teks ditulis di atas lontar dengan menggunakan bahasa dan aksara Bali. naskah ini berjudul Pepalihan Gama Selam Bali. Ukuran kotak tempat menyimpan naskah ini adalah 46 X 8. Denpasar. Musthofa Amin.5 X 3. Bali 4 baris/lempir Aks. Amin 1288 H di Ampenan Syahr [al-]Shafar. wirid dan doa. pias kiri berukuran 3 cm. 2. Teks ini berisi cerita proses islamisasi di Bali. 3. Tulisan tampak rapi dan jelas. Kondisi lontar masih baik. Halaman 41v-47r: Teks berisi berbagai macam masalah. dan teks khutbah nikah. Tinta yang digunakan berwarna hitam. Naskah di tempatkan dalam kotak yang terbuat dari kayu jati berwarna coklat.5 cm Puisi Lontar Berdasarkan informasi di luar teks.5 cm. antara lain kitab waris. Halaman 47v-48v: Teks Li °³bat Aqli al-Ins±n. Jarak antarbaris tiap lempir adalah 0. penanggalan.5 x 3. Teks dibagi dalam dua kolom. Bali. Pias kanan berukuran 3 cm. Pemilik naskah: Yayasan An-Nur. Islam Kalimat terakhir berbunyi: Telah mengambil ijazah faqir a-haqir ila Allah Ta’ala Haji Hasan ibn al-Marhum al-Haj Muhammad Amin al-Din Palembangi akan mengamalkan laqad ja’akum serta doa yang kemudian kepada Syaikhuna wa ustazuna wa wasilatuna ila Allah Ta’ala al-Arif bi Allah sayyidi al-Syaikh Muhammad Azhari ibn al-Mukarram al-Marhum Kemas Muhammad Haji Abdullah Palimbangi Nafa’ana Allah bi barakatihi wa barakat ‘ulumihi. Contoh Deskripsi Naskah Lontar Milik Yayasan An-Nur. Pemilik Naskah: H. sedangkan ukuran teksnya adalah 34 X 2..Beberapa Aspek Kodikologi Naskah .. Kepaon. 5 cm.5 cm. Naskah berukuran 40.

koleksi H. Kepaon. Singaraja Gambar 02: Khat Naskhi pada naskah tauhid dari Pegayaman Singaraja. Denpasar 84 . Kepaon. Musthafa Amin. Suharto Gambar 03: Khat Riq’ah pada MS MA 06. 2009: 53 . No. Musthafa Amin. milik Drs. Denpasar B. milik H. 17v. 1. 11r.90 Lampiran II: Gambar-Gambar A. Denpasar Gambar 04: Khat Farisi MS MA 01. Musthafa Amin. Kepaon. h. 7. Kepaon. naskah koleksi H. Vol. naskah koleksi H. Denpasar Gambar 06: MS MA 04.Jurnal Lektur Keagamaan. Musthafa Amin. Beberapa Jenis Kaligrafi Gambar 01: Khat Naskhi pada Mushaf kuno dari Kampung Jawa. Ilustrasi Gambar 05: MS MA 03. h.

— Asep Saefullah dan Adib M. Iluminasi pada Mushaf Gambar 09: MS MAJS/NQ/01. Musthafa Amin. Denpasar C. Serangan. Kp. naskah milik H.. milik H. 56. h. 12v-13r. Kepaon. Baharuddin.. Gambar 08: MS MA 03. Islam Gambar 07: MS Serangan 01. Denpasar.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Iluminasi halaman awal pada Mushaf Kuno koleksi Masjid Jami’ Agung Singaraja 85 . h.

McGlynn.. 7. Illuminations. dalam Ann Kumar dan John H.90 Gambar 10: MS MAJS/NQ/01. 2009: 53 . No. Iluminasi halaman tengah pada Mushaf Kuno koleksi Masjid Jami’ Agung Singaraja Gambar 10a: Tipe Iluminasi mushaf halaman tengah dari Aceh. 1. 1996. 86 . h 46 dan 87. Vol.Jurnal Lektur Keagamaan. koleksi Perpustakaan Nasional Jakarta.

Koleksi Perpustakaan Nasional Jakarta. McGlynn. h. Gambar 12: Iluminasi bagian awal pada mushaf kuno dari Pegayaman. dalam Ann Kumar dan John H. Tampak tidak utuh lagi kerena dimakan serangga. milik I Wayan Ma’ruf. sepertinya Tafsir Jalalain. Islam Gambar 11: Iluminasi bagian akhir pada mushaf kuno dari Pegayaman. Illuminations.. pada di halaman kiri terdapat surah Al-Fatihah. 1996.. milik I Wayan Ma’ruf.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . 59 87 . — Asep Saefullah dan Adib M. Gambar 12a: Tipe Iluminasi halaman tengah tipe Sulawesi juga terdapat pada Tafsir AlQur’an.

Illuminations. Iluminasi ini terdapat pada again awal surah alFatihah dan awal al-Baqarah. 1996. 2009: 53 . McGlynn. dalam Ann Kumar dan John H. 114 88 . 1. Jawa Barat.Jurnal Lektur Keagamaan. 7. Al-Qur’an kuno koleksi Museum Sri Baduga. Kepaon. Vol. Gambar 13a: Tipe Iluminasi mushaf seperti ini umum ditemukan di Pantai Timur Semenanjung Malaya. tetapi Al-Qur’an ini berasal dari Cirebon. No. Denpasar. Bandung.90 Gambar 13: Iluminasi bagian tengah pada mushaf kuno dari Masjid Al-Muhajirin. h.

1996.. 35 89 . Kraton Yogyakarta. McGlynn. Jawa Singaraja. Gambar 14a: Tipe Iluminasi mushaf halaman tengah dari Jawa. h. koleksi Widya Budaya. — Asep Saefullah dan Adib M. Islam Gambar 14: Iluminasi bagian awal pada mushaf kuno dari Kp.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Mushaf disalin di Surakarta pada 1797-1798 M oleh Ki Atmaparwita. Illuminations.. milik H. dalam Ann Kumar dan John H. Zen Usman.

1.90 Gambar 15: Kolofon pada mushaf kuno dari Kampung Jawa. Ditulis di atas dluang. 21 Muharram 1035 H/1625 M oleh Abd al-Shufi al-Din 90 . pada Kamis. No. Vol. Zen Usman. 7. Singaraja.Jurnal Lektur Keagamaan. 2009: 53 . milik H.

the guru of the order of Syattariyah are essential. to posses the book. Etnis ini memiliki karakteristik yang unik.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. The manuscripts are culturally important that is related to the daily religious needs of the disciples of the order of Syattariyah in Minangkabau.. Kata Kunci: Surau. This is related to the beliefs that to know about the guru. Minangkabau Pendahuluan Minangkabau merupakan suku bangsa di Indonesia yang mendiami sebagian besar wilayah Provinsi Sumatera Barat. Manuskrip. Padang Pramono dan Bahren This article focus on discussing efforts to intreprate local Islam manuscripts of Minangkabau. 91 . Because the guru is considered holy man. it is found that one way to reflect the disciples’ respect for the guru(-s) has been done through writing the biography of the respective teachers and understanding their teaching.. dibandingkan suku bangsa-suku bangsa yang lain di Indonesia. otherwise it will be considered blasphemy or haram. The ideological perspective is influenced by the surau teaching system based on the doctrines and books of the teachers. Tarekat Syattariyah. — Pramono dan Bahren Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua dalam Naskah-Naskah Tarekat Syattariyah di Minangkabau Fakultas Sastra Universitas Andalas. his story can not be written in Latin texts. Keunikan tersebut tampak pada penyatuan antara adat dan agama Islam. topik mengenai hubungan sosial-kultural dan Islam di Minangkabau tetap menarik untuk didiskusikan. dalam hal hubungannya antara sosio-kultural dan Islam. particularly the order of Syattariyah in Minangkabau. Oleh karena itu. or to listen to the stories about the ulama. By means of social context analyses of the texts.

termasuk para ulama mazhab sekali pun. Akan tetapi. Vol. sekarang ini kedua istilah tersebut mungkin sudah terasa asing dalam pendengaran kita. diketahui bahwa pada awal abad ke-19 hingga awal abad ke-20. mereka ingin tetap mempertahankan tradisi. dalam bidang syari’ah. Para ulama golongan ini memiliki pandangan bahwa hanya Alquran dan hadits Nabi yang sahihlah yang benar. Persoalan lain yang menarik dan kurang mendapat perhatian adalah persoalan pola kepemimpinan Kaum Tua. 2003: 99). 1988: 135). Sedang istilah yang banyak dipakai sekarang ini adalah “Kaum Tradisional” untuk Kaum Tua dan “Kaum Modernis” untuk Kaum Muda. Golongan ini juga berpendapat bahwa tidak ada ulama. No.Jurnal Lektur Keagamaan. mereka adalah penganut aliran Ahlu Sunah wal Jama’ah. mereka membenarkan dan merasa berkewajiban untuk mempertahankan aliran-aliran tarekat yang mu’tabarah (sah dan boleh diamalkan. 1. Pem92 . Dalam praktik pengamalan ajaran Islam. Oleh karena itu. yaitu Kaum Tua dan Kaum Muda. dan oleh karenanya pandangan keagamaannya tidak dapat diikuti secara mutlak. 2009: 91 . menurut penilaian mereka). Tuhan telah menganugerahkan akal kepada setiap manusia untuk dapat berijtihad setiap saat (Fathurahman. adat kebiasaan yang telah melekat dalam berbagai macam amalan keagamaan (Latief. bukan masalah perbedaan itu yang akan diulas dalam tulisan ini. Ketiga. di Minangkabau timbul dua macam aliran keagamaan. Perbedaan-perbedaan dalam berbagai amalan dan perilaku keagamaan di antara kedua kelompok itu hingga sekarang masih tetap ada.108 Dalam konteks hubungannya dengan Islam. Organisasi-organisasi serta lembaga-lembaga pendidikan agama yang didirikan oleh masing-masingnya pun masih ada. yang luput dari kekeliruan. mereka menganut mazhab Imam Syafi’i semata-mata. Pertama. Paham keagamaan tersebut berbeda dengan paham keagamaan yang diyakini oleh kalangan Kaum Muda. Keempat. Apalagi. dalam bidang aqidah. 7. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan pendapat antara kedua golongan itu masih tetap hidup dan berpengaruh dalam masyarakat Minangkabau. Kaum Tua di Minangkabau memiliki empat kriteria atau hakikat. Akan tetapi. Kedua. kedua sumber itulah yang boleh dijadikan pedoman umat Islam dalam menjalankan praktikpraktik keagamaannya.

Peranan Ulama Pemimpin Kaum Tua Bagi masyarakat Minangkabau. maka secara sosial mereka dapat dikucilkan. Ronkel (dalam Latief. adaik manurun ‘syarak mendaki. bahaya dari aliran-aliran tarekat bukanlah terletak pada unsur fanatismenya. tetapi juga penyelamat untuk kehidupan di akhirat. Akan tetapi.. Upaya penyesuaian berbagai nilai Islam dengan adat di kalangan masyarakat Minangkabau ini tampaknya telah dimulai sejak orang Minang menerima Islam sebagai agamanya (Hamka. atau seperti yang ditulis Yusuf (2004: 4). Salah seorang di antaranya adalah Ph. Van Ronkel. Ulama bagi mereka tidak hanya penerang masa hidup di dunia. syarak dibawa naik’. Dalam kosa-kata Minang. Persesuaian Islam dengan adat tersebut awalnya terjadi secara bertahap. Besarnya peran ulama pemimpin Kaum Tua di Minangkabau sempat mendapat perhatian khusus oleh pemerintah Belanda pada masa penjajahan. ulama pemimpin Kaum Tua di Minangkabau juga berperan di bidang sosial-budaya dan politik. khususnya ulama pemimpin Kaum Tua tidak hanya memiliki peran keagamaan saja. adat menurun’. atau keluar dari. dari waktu ke waktu.. masuknya Islam dari wilayah rantau ke darek ini digambarkan dalam pepatah: syarak mandaki. Jika ada orang Minang yang tidak memeluk. — Pramono dan Bahren bicaraan akan difokuskan pada peran pemimpin Kaum Tua dan bentuk penghormatan terhadap mereka. 1984: 138). Pada masa penjajahan. pemerintah Belanda mengerahkan beberapa orang sarjananya untuk mengadakan penelitian tentang tarekat yang ada di Sumatera Barat. syarak dibao naik ‘adat dibawa turun. Kondisi seperti itu mempengaruhi masyarakat Minangkabau tentang persepsinya terhadap sosok ulama. 1988: 210) antara lain menyebutkan dalam laporannya pada tahun 1916 bahwa.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. masyarakat Minang berusaha menyesuaikan adat dan tradisi kemasyarakatannya dengan Islam. Dengan demikian. Dalam perjalanan sejarahnya. sosok ulama Minangkabau. melainkan terletak pada kepatuhan yang mutlak dari para anggotanya kepada pada syekh yang memang menuntut kepatuhan itu sebagai 93 . agama Islam misalnya. “menjadi orang Minang berarti menjadi Muslim”. S. adaik dibao turun. ketika Islam mulai masuk dari wilayah pesisir (rantau) ke daerah pedalaman (darek).

tidak jarang merupakan sesuatu yang amat berbahaya bagi pemerintahan Belanda. Apalagi dalam kenyataanya Ulakan sebagai salah satu pusat tarekat Syattariyah tidak pernah benar-benar menunjukkan penentangannya atau setidaknya bersikap tegas terhadap Belanda yang dianggap kafir. ia menyebutkan bahwa para pemimpin tarekat Syattariyah itu biasanya adalah orangorang yang tangguh pengetahuannya. Dalam konteks ini. Dengan adanya ancaman tersebut. Kedua.Jurnal Lektur Keagamaan. Khusus mengenai kaum Syattariyah. menyebabkan mereka cenderung menghindari konfrontasi dengan Belanda (Suryadi. 2009: 91 . dengan harapan agar mereka lebih memusatkan perhatian pada aktivitas kesufian. Hal ini dapat dicermati pada paroh pertama abad ke-19. Dalam hal ini pemerintah Belanda menempatkan seorang pengawas kelas tiga yang punya latar belakang ilmu budaya. Dengan demikian. semangat jihad mereka yang sering menggangu kolonial akan dapat diredam. agaknya strategi Belanda ini berhasil. dapat mengganggu kelancaran pemerintahan Belanda nantinya. menjadi lawan bagi setiap aliran lainnya. 1988: 213-214). suka mengejar-ngejar kekuasaan.108 haknya. Pertama. Belanda menempatkan seorang posthouder di Ulakan sejak tahun 1844 (Suryadi. membujuk dan memuji-muji para guru tarekat. Sedang tokoh-tokoh tarekat yang dianggap berbahaya dan tidak mempan dibujuk. Vol. 94 . 2004: 117 dan 92). Boleh jadi karena sifat tarekat Syattariyah (di Ulakan) yang suka pada harmoni. Dengan demikian. 1. Untuk kasus pusat tarekat Syattariyah di Ulakan Pariman. di mana banyak pengikut tarekat Syattariyah di Ulakan Pariaman terpengaruh oleh gerakan pembaharu Islam di Sumatera Barat. Apabila terdapat kejadian-kejadian tertentu yang mereka cetuskan. Golongan penganut tarekat Syattariyah yang terpengaruh oleh ide-ide pembaharuan itu karena tidak puas dengan ulama Ulakan yang dinilai tidak memiliki komitmen untuk memerangi Belanda. mengadakan pengawasan yang ketat terhadap segala aktivitas yang dilakukan oleh kaum tarekat (Syattariyah). menjauhi urusan dunia. setidaknya ada dua strategi yang dibuat oleh pemerintah Belanda. 7. dengan mendekati. 2004: 117). kemudian pemerintah Belanda membuat strategi khusus untuk mengantisipasi potensi perlawanan dari kaum tarekat di Sumatera Barat. No. lalu diusir dari daerah ini atau dibunuh dengan berbagai cara yang licik (Latief.

Oleh karena itulah. yakni perlawanan ke Belanda yang dinamakan Perang Paderi yang dipimpin oleh Imam Bonjol. Padang Pariaman dengan cara memberikan penghargaan dan banyak pujian telah membuat mereka bersikap kompromi dengan Belanda. Kisah ini dapat ditemukan dalam kutipan teks berikut ini.. Kondisi di atas sangat berbeda dengan ulama-ulama tarekat Syattariyah di Koto Tangah. diceritakan tentang pemberontakan rakyat Koto Tangah dan Pauh. Dalam masa tawanan itulah Syekh Surau Baru wafat dan tidak ada lagi yang melawan Belanda hingga ratusan tahun kemudian. akibat-akibat yang dimaksud tidak berhenti secara serta merta setelah kolonialisme berakhir. menarik jika dilihat dengan perspektif postkolonial. Ketika rakyat Koto Tangah dan Pauh. Politik Belanda terhadap ulama tarekat Syattariyah di Ulakan. Padang kepada Belanda di bawah pimpinan Pakih Mudo. Hal ini akan diterangkan lebih jauh di bagian selanjutnya. Di mana. Perang terjadi atas komando dan dorongan Syekh Surau Baru. Peperangan itu menyebabkan Syekh Surau Baru ditawan Belanda.. Padang berperang dengan Belanda yang dibantu oleh orang Kota Padang. Pakih Mudo adalah murid Syekh Surau Baru yang diutus untuk mengislamkan rakyat Pauh.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. 95 . melainkan berlangsung sampai sekarang. Penawanan itu dilaksanakan dengan alasan bahwa Pakih Mudo adalah murid Syekh Surau Baru. Secara mentalitas berbekas hingga hari ini. Di wilayah ini Belanda mendapat perlawanan yang tajam dari mereka. Akibatakibat yang ditimbulkan lebih bersifat sebagai degradasi mentalitas dibandingkan dengan kerusakan material. maka Pakih Mudo mengomando rakyat Koto Tangah dan Pauh dalam peperangan itu. bahkan mungkin puluhan atau ratusan tahun (Ratna. Gambaran perlawanan ulama tarekat Syattariyah tersebut dapat ditemui dalam naskah Sejarah Surau Baru dan naskah Sejarah Syekh Paseban karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib. — Pramono dan Bahren Dalam konteks itu. dkk. 2006: 74). Lubuk Begalung dan sekitarnya.. Dalam naskah Sejarah Syekh Surau Baru misalnya. misalnya kekuatan Golkar yang telah mampu mendekati para ulama itu untuk berafiliasi ke dalam partai tersebut. perspektif postkolonial mencoba mengungkap akibat-akibat negatif yang ditimbulkan oleh kolonialisme. Padang.

Penghargaan tersebut berupa bintang jasa yang oleh Belanda dikatakan bahwa Syekh Paseban berhak menerima karena ia adalah ulama besar yang telah banyak berjasa bagi kaumnya. Kota Tengah. Syekh Surau Baru ini adalah orang Kota Panjang. penghargaan itu ditolak oleh Syekh Paseban.t. Beliaulah. Pauh. Syekh Paseban selalu mengadakan ziarah ke makam Syekh Surau Baru di Batusingka. Padang yaitu. Selain itu. pada waktu itu adalah dengan tidak bersedia membayar pajak kepada pemerintahan Belanda di Kota Padang. Air Dingin. (kedua) adalah di suatu makam Syekh Muhammad Natsir (Syekh Surau Baru). Juga beliaulah.. Akan tetapi. Ziarah tersebut ia lakukan karena. Beliau sama pergi menuntut ilmu dengan Syekh Burhanuddin ke Aceh kepada Syekh Abdurrauf (Syekh Kuala).108 Beginilah riwayat ringkas perjalanan hidup beliau Tuan Syekh Surau Baru yang telah mengislamkan Koto Tangah. 1. 2009: 91 . Perlawanan Syekh Paseban. Koto Tangah. Oleh karena perbuatannya tersebut. tidak Belanda. penulisnya kembali menegaskan tentang kepahlawanan Syekh Surau Baru. dalam naskah Sejarah Ringkas Syekh Paseben Asyattari Rahimahullah Taala Anhu.Jurnal Lektur Keagamaan. Syekh Paseban. 34). Dalam konteks perlawanan tersebut. Syekh Surau Baru yang mula-mula melawan penjajah Belanda yang akan menginjakkan telapak kakinya di Pantai Minangkabau pada tahun 1658 Masehi (1076 Hijrat) yang bermaksud menjajah Minangkabau. terjadi berkali-kali peperangan di Pauh dan Koto Tangah antara rakyat dengan tentara Belanda yang dibantu oleh laskar Padang yang telah takluk di bawah kekuasaan kompeni Belanda. “Yang akan memberi saya bintang adalah Tuhan. Selain Syekh Surau Baru. ia ditangkap dan dipenjarakan oleh Belanda. Vol. Setelah Syekh Surau Baru wafat ditawan kompeni Belanda barulah habis perlawanan rakyat terhadap kompeni Belanda. Pauh. dan sekitarnya.. Lubuk Bagalung (Negeri yang dua puluh) dan Negri Padang. No. Syekh Surau Baru inilah yang mengislamkan Negeri Kota Tengah. pernah suatu kali Belanda dengan taktiknya akan memberikan penghargaan kepada Syekh Paseban. 2001: 29. Padang. perlawanan terhadap Belanda juga dilakukan oleh ulama tarekat Syattariyah di Koto Tangah. Maka amanlah Belanda di Padang sampai 170 tahun kemudian barulah ada kembali perlawanan terhadap Belanda yang (di)kepalai oleh Tuanku Imam Bonjol yang dinamai Perang Paderi mulai tahun 1803 berakhir tahun 1837 (al-Khatib. (ketiga) Jasa beliau Syekh Surau Ba96 . Dalam salah satu bagian teks disebutkan bahwa. Padang. 7. “kata Syekh Paseban (al-Khatib. t.: 51-52).

Bukittinggi. Syekh Surau Baru melawan Belanda waktu Belanda akan menjejakkan kakinya di Pantai Padang sedangkan Tuanku Imam Bonjol mengusir Belanda yang telah menduduki Minangkabau. Itu perbedaan perjuangan Syekh Surau Baru dengan Syekh Paseban. Beliau Syekh Surau Baru dapat ditawan Belanda dimasukkannya ke dalam rajam dan wafat di situ dan Tuanku Imam Bonjol ditawan Belanda dibuangnya ke Manado dan wafat di situ (al-Khatib. 2002: 899). maka banyaklah lahir parta-partai di negeri ini. Setelah Indonesia merdeka. Hal ini dikarenakan ulama-ulama yang berwiba97 . Syekh Muhammad Jamil Jaho Padangpanjang dan Syekh Abdul Wahid Tabekgadang. 2002: 899). agar beroleh berkah. Hal ini untuk menolak tudingan Belanda bahwa Indonesia bukanlah negera yang sah. menjelang Pemilihan Umum pertama 1955. Syekh Muhammad Abbas al-Kadi Bukittinggi. Perti mengikuti aliran Ahlul Sunnah wal Jamaah dalam itikad dan mazhab Syafi’i dalam syariat dan ibadat..Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. pengikutnya harus menghormatinya. Perti adalah organisasi sosial yang didirikan pada tanggal 5 Mei 1930 di Candung. Sejak 22 Nopember organisasi sosial ini berubah menjadi partai politik dengan nama Partai Politik Islam Perti (Nasution.. penduduk Koto Tangah sudah tujuh puluh lima persen masuk ke dalam Partai Islam Perti. Padang selain orang alim juga anti penjajah. Oleh karenanya. Dalam naskah otobiografi Sejarah Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib disebutkan bahwa. Kondisi seperti itu juga ikut mempengaruhi pandangan ideologis tarekat Syattariyah di Koto Tangah. 170 tahun (seratus tujuh puluh tahun) sebelum Tuanku Imam Bonjol. Pada awalnya. 2001: 39). — Pramono dan Bahren ru. ulama tarekat Syattariyah di Koto Tangah. beliaulah yang mulanya melawan Belanda di Minangkabau ini. Padang. M. Hal ini juga sekaligus mempertegas bahwa ulama tarekat Syattariyah di Koto Tangah. memaklumatkan agar menumbuhkan berbagai organisasi dan partai. Hatta. Wakil Presiden Republik Indonesia. Padang adalah benar-benar berjiwa pahlawan. termasuk juga di Sumatera Barat (Nasution. Agaknya penulis naskah ingin mempertegas bahwa Syekh Surau Baru. Pendirinya adalah para ulama yang terdiri dari Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung. Salah satu organisasi sosial yang berikutnya menjadi sebuah partai di Sumatera Barat adalah Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti). Setelah adanya maklumat ini.

Hal itu dimungkinkan karena Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib benar-benar terhimbau oleh anjuran pemerintah pada waktu itu. padahal ia bukanlah pengurus atau pejabat dalam tubuh Partai Islam Perti itu. ia juga menempelkan poster-poster itu di berbagai tempat di Koto Tangah. 2002: 47-57). Padang tidak salah. Partai Islam Perti-lah yang sesuai dengan paham tarekat Syattariyah. Menarik dikemukakan bahwa. Hal ini memang terlihat agak berlebihan. Nah«atul Ulama. Di satu sisi. orang yang tanpa ikatan sebuah sistem aturan (pemerintah)’ namanya. Pada waktu itu pemerintah melalui Wakil Presiden Muhammad Hatta menganjurkan bahwa setiap warga masyarakat untuk masuk ke dalam salah satu partai. Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib pernah giat memperjuangkan Partai Islam Perti di Koto Tangah.108 wa—termasuk Imam Maulana Abdul manaf Amin al-Khatib—tarekat Syattariyah di Koto Tangah telah masuk ke dalam partai itu (alKhatib. No. Padang. pada waktu menjelang Pemilihan Umum pertama 1955. Partai Sarikat Islam. 2002: 47). Poster-poster dan simbol-simbol partai ia buat sendiri dan dengan biaya sendiri. 2002: 6). Oleh karena itu. Hal ini ia lakukan tidak lain karena menginginkan pilihan penduduk Koto Tangah. 2009: 91 . 7.setelah saya selidiki beberapa partai Islam seperti Masyumi. dan Partai Islam Perti. maka jatuhlah pilihan saya kepada Perti. Tidak hanya itu. Padang yang dilakukannya sendiri. Vol. Dalam hal ini ia mengatakan bahwa: “. 1. dengan banyak pertimbangan dan dari hasil pengamatan Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib. Dalam konteks kepartaian tersebut. ia giat mengampanyekan Partai Islam Perti. yakni partai Islam yang sesuai dengan paham tarekat Syattariyah. dan pemerintah tidak menjamin keamanan orang seperti itu.. maka orang tualang ‘orang lepas.Jurnal Lektur Keagamaan. Menurut penuturannya. Angku Talaok bergabung dengan Partai 98 . Jika tidak masuk ke dalam salah satu partai. Sebab partai ini berdasarkan mazhab Syafi’i dan beritikad ahlu sunah waljamaah” (al-Khatib.. menjelang Pemilihan Umum pertama tahun 1955—saat di mana masing-masing partai gencar berkampanye mencari dukungan—terjadi ketegangan hubungan antara Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib dengan Angku Talaok akibat perbedaan pilihan partai di antara mereka (al-Khatib.

pendiri organisasi ini yang masih hidup pada waktu itu. adalah Imam Maulana Abdul Manaf Amin. Pada awal tahun 1950-an. Saat itu. Penting dikemukakan di sini bahwa.H. bukan pula ziarah bersama ini (bersyafar) tidak atas nama partai. tidak dihitung partainya. sementara di sisi lain. Maka pada tahun 1969. Syekh Sulaiman ar-Rasuli. Saat itu. adapun Beliau ini (Syekh Surau Baru–pen. Padang. bergerak di bidang sosial. Polemik tentang partai juga dialami oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib di era Orde Baru. 2002: 63).Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. Ia pernah bersilang pendapat dengan Angku Inyik Adam. banyak dan bahkan sebagian besar pengikut tarekat Syattariyah di Sumatera Barat yang masuk ke partai Gokar setelah Perti kembali berstatus organisasi nonpolitik. Imam Maulana Abdul Manaf Amin menjadi anggota Partai Islam Perti. agar mudah mendapat bantuan dari pemerintah untuk renovasi makam Syekh Surau Baru di Batusingka. yang sebetulnya merupakan kawan seperguruan Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib sendiri ketika belajar dengan Syekh Paseban. yang telah lebih dahulu mengajar di surau Batang Kabung. dan beberapa surau lain di sekelilingnya. Pengelolaan bidang pendidikan dan dakwah seolah-olah terlupakan kalau tidak dapat dikatakan terabaikan sama sekali. Kemelut yang kurang terbenahi ini sangat merugikan bagi tujuan semula organisasi. — Pramono dan Bahren Islam Indonesia (PII). Dalam hal ini menarik disimak penolakan ajakan untuk masuk ke partai Golkar oleh Angku Inyik Adam berikut ini: “Begini Inyik. Angku Inyik Adam mengajaknya untuk masuk ke dalam Partai Golkar. Dekrit ini hanya diterima oleh sebagian saja yang dipimpin oleh putranya K. ajakan itu ditolak oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin. Kalau saya masuk Golkar berarti ziarah bersama (bersyafar) ini tentu Syafar orang Golkar kata orang” (al-Khatib. Bersyafar ini adalah atas nama kaum muslimin. Burhanuddin ar99 ... mendekritkan agar kembali kepada khitah semula. Akan tetapi. Perti mengalami perpecahan di dalam tubuh organisasinya dengan adanya pro dan kontra terhadap gagasan Nasakom yang dicetuskan oleh Soekarno. Angku Talaok pernah diminta oleh para penganut tarekat Syattariyah di Batang Kabung dan sekitarnya untuk membantu mengajar di beberapa surau mereka. Koto Tangah.) bukan orang partai.. khalifah tarekat Syattariyah dari Syekh Paseban.. yaitu status nonpolitik.

Bentuk penghargaan yang lain terlihat juga dalam pelestarian cita-cita dan perjuangan ulama terdahulu. Bentuk penghargaan yang terakhir ini sangat menarik dan penting untuk dijelaskan. Padang Pariaman yang lama mengajar di Batang Kabung. daripada kita menumpang kapal kecil lebik baik naik kapal besar. mereka mengajukan dalil. Bagi yang sedikit maju dan cerdas. Salah satu bentuk penghargaan itu adalah naskah-naskah karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib. Koto Tangah. Sangat dimungkinkan bahwa Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib yang juga menolak ajakan masuk ke Golkar karena terpengaruh sikap Tuanku Salif ini. penulisan riwayat hidupnya. Padang. Ia banyak menulis sejarah para 100 . misalnya sebutan Tuanku.Jurnal Lektur Keagamaan. Dengan masuk ke dalam Golkar. penghormatan kepada ulama-ulama pemimpin mereka terlihat pada gelar-gelar yang diberikan. dan kemudian dalam menyalurkan aspirasi politiknya bergabung dengan Golkar. akan lebih mudah untuk memberikan pelajaran tarekat kepada orangorang yang berada di dalam Golkar. ulama yang mencampuradukkan diri dengan politik itu adalah khianat pada tugas keulamaannya (Samad. 7. Penghormatan terhadap Ulama Pemimpin Kaum Tua Di kalangan Kaum Tua di Minangkabau. Menurut ulama ini. Inyiek. menurut mereka. Akan tetapi. 1. 2009: 91 . ada juga ulama tarekat Syattariyah yang dengan tegas menolak bergabung dengan Golkar. No. yakni Golkar. menurut mereka pilihan guru kepada Golkar adalah petunjuk Allah yang harus diterima. Berbagai argumen muncul dari ulama-ulama tarekat Syattariyah yang bergabung ke dalam partai Golkar. penyebaran buku-buku hasil karyanya. 2003: 268). Hal ini jika dikaitkan dengan kecenderungan pendapat ulama dalam tarekat Syattariyah yang besar pengaruhnya terhadap sikap kaumnya. yang banyak sekuler dan bercampur agamanya (Samad. Dalam konteks penghargaan ulama pemimpin Minangkabau dalam bentuk penulisan riwayat hidupnya dan penyebaran buku-buku hasil karyanya banyak ditemukan di Minangkabau.108 Rasuli. Ada lagi alasan ulama bahwa merubah dan memperbaiki dari dalam jauh lebih mudah daripada memperbaiki dari luar. almarhum Tuanku Salif dari Sungai Sarik. Syekh dan Maulana. Vol. 2003: 266). Bagi orang awam. Misalnya.

akhir-akhir ini banyak pula keluar di surat-surat kabar dan majalah-majalah yang memutarbalikkan sejarah beliau yang berdua ini yang jauh berbeda dengan yang dalam buku ini. amin ya rabbil ‘alamin. Tidak surat-surat kabar dan majalah saja yang memutarbalikkan sejarah beliau-beliau ini.. Ajaran guru adalah sesuatu yang benar dan tidak boleh dibantah. Syekh Paseban ini. Jika ada golongan lain mengkritik ajaran guru. Mudah-mudahan dengan menulis sejarah beliau.. Dalam teks yang terdapat dalam hampir seluruh naskah karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin alKhatib menempatkan guru sebagai orang yang harus dihormati. Saya yang menulis adalah salah seorang dari murid beliau yang bernama Haji Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib. Penulisnya mengharapkan 101 . Tentu kita lebih menghormati ulama dari pada mereka. dan Syekh Surau Baru. supaya tarekatnya diterima oleh orang kampung yang buta ilmu pengetahuan agama. Perlu dijelaskan di sini bahwa. Begitu pula ikan-ikan dalam laut. — Pramono dan Bahren syekh dan ajaran-ajarannya. yang kesimpulannya penghuni langit dan bumi menghormati ulama. Sebab.. maka akan mendapat berkah dan keselamatan baik di dunia maupun di akhirat. Padang” (al-Khatib. maka saya termasuk orang yang dianjurkan Nabi tadi.M menyuruh kita menghormati dan memuliakan ulama. Tetapi juga guru-guru tarekat kampung memutarbalikkan pula sejarah Syekh Abdurrauf dan sejarah Syekh Burhanuddin. 2001: 12-13). Dengan menulis sejarah guru atau syekh. Syekh Burhanuddin. yaitu orang yang menghormati dan memuliakan ulama dan mudah-mudahan Allah memberi berkat atas usaha saya.sudah jelas oleh kita bahwa Nabi kita Muhammad S. yang dimaksud dengan “ketiga buku sejarah ini” dalam kutipan di atas oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib adalah teks sejarah Syekh Abdurrauf. maka harus diluruskan... Batang Kabung.. jangan asal dimasuki saja” (al-Khatib. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut ini: “. Demikianlah supaya kita berhati-hati menerima sejarah dan menerima tarekat dari guru tarekat. apakah bilangan yang beliau pakai untuk menentukan tanggal satu hari bulan Arab. “. 1936: 5). Amin.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. Berikut ini dapat dilihat gambaran tentang bantahan terhadap kritikan dari pihak luar.dengan adanya ketiga buku sejarah ini dapatlah saudara-saudara yang menjadi pengikut dan pencinta Syekh Abdurrauf dan Syekh Burhanuddin mengetahui bagaimana beliau-beliau ini mengembangkan agama Islam dan dapat kejelasan apakah mazhab beliau.

seperti berikuit ini: “. Begitu pula petang-petangnya setelah memasukkan unta ke kandanganya maka pergi pula menjemput guru ke mesjid. Menghormati guru juga diyakini berimplikasi terhadap cepatnya pemahaman ilmu yang diajarkan oleh sang guru. maka tidak boleh mengikut paham tersebut. Selain menuntut ilmu juga kerja beliau Syekh Abdurrauf di Madinah adalah mengembalakan unta Tuan Syekh Ahmad al-Qusyasyi tiap-tiap hari. sebagian besar pengikut tarekat Syattariyah tidak akan salat Jumat apabila khutbah dilaksanakan tidak menggunakan bahasa Arab.108 bahwa dengan adanya ketiga sejarah syekh tersebut. jika salatnya dilakukan sebanyak sebelas rakaat. Beliau tetap hormat dan khidmat serta patuh terhadap guru beliau. 7. di dukung pula ke tempat tinggal beliau. Namun. dikisahkan tentang bagaimana bentuk penghormatannya kepada gurunya. Misalnya. dan seterusnya. 2009: 91 . maka pemahaman ilmu akan datang dengan tidak disangka-sangka. Oleh karena suatu paham tidak sesuai atau berlainan dengan fatwa guru yang diterimanya. Mereka tidak akan ikut salat tarawih di bulan Ramadan. Sangat patuh dan sangat hormat kepada guru apa yang diperintahkannya oleh guru ti- 102 . Vol. tidak birasak-birasak sekedar lamanya. Malahan beliau terima hal yang demikian dengan hati yang ikhlas dan bertawakal kepada Allah swt.. Jika patuh dan hormat terhadap guru. maka pengikut tarekat Syattariyah akan memahami bagaimana ketiganya beramal ibadah. Begitulah kerja beliau Syekh Abdurrauf tiap-tiap harinya. sebagai mengkhidmati guru beliau tetap mendukung guru dari tempat tinggalnya kepada tempat dia mengajar ilmu di Masjid Nabawi. Syekh Ahmad al-Qusyasyi. 1. karena menurut fatwa gurunya yang benar adalah mengerjakan salat tarawih itu dua puluh tiga rakaat.. walaupun pemerintah telah mengumumkan awal memasuki puasa Ramadan. paham gurulah yang benar. Sudah itu terus pergi gembala unta ke tengah padang. Tambahan lagi.Jurnal Lektur Keagamaan. bagaimana mereka menentukan awal bulan Arab.tetapi pelajaran [bang] yang [berikan] diberikan oleh Syekh Ahmad Qusyasyi hanya surah al-Baqarah saja. begitu hati beliau terhadap guru tidak menaruh bosan dan berkecil hati. Artinya itu-itu saja pelajaran yang diberikan oleh Syekh Ahmad al-Qusyasyi hingga sampai kepada masa akan kembali pulang. Untuk menentukan awal bulan Ramadan dilakukan dengan ru’yah (melihat bulan) terlebih dahulu. Dalam teks sejarah Syekh Abdurrauf Singkil misalnya. No. yaitu pagi-pagi didukung guru di hulu dari tempat tinggalnya ke tempat dia mengajar.

Di samping itu. agar ilmu yang didapat beroleh berkah. memuliakan guru agar mendapat syafaatnya (limpahan rahmat). adab kepada guru.. Oleh karena itu orang berusaha untuk memiliki. Bagi para penganut tarekat Syattariyah. 1992: 20-21). Kepatuhan itu akan membawa berkah. Syekh Abdurrauf Singkil.. Syekh Ahmad al-Qusyasyi. Kedua kutipan di atas.. yaitu kambing tiap-tiap hari. membaca ataupun mendengar orang membacakan riwayat gurunya. Begitulah kerja Burhanuddin selama menuntut ilmu di Aceh dalam masa tiga puluh tahun. mengetahui riwayat guru adalah sebuah keharusan karena itu bermakna penghormatan kepada guru.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. Dalam teks sejarah Syekh Burhanuddin juga dikisahkan tentang bentuk penghormatan yang dilakukan kepada gurunya. menggambarkan sekaligus mendorong kepatuhan murid kepada guru. yaitu di masjid. untuk kemudian menjadi suri teladan bagi kehidupannya. Ia harus diperoleh dengan perjuangan yang sungguh-sungguh tidak kenal menyerah.. kedua kutipan tersebut juga berpesan kepada pembacanya bahwa sebuah ilmu tidaklah diperoleh dengan mudah. 1936:8-9). sehingga pelajaran diperoleh dengan mudah dan sempurna. dan lagi menggali tebat (kolam) ikan di sekeliling masjid. seperti berikut ini: “Adapun kaji yang diberikan yang diberikan oleh Syekh Abdurrauf kepada Burhanuddin adalah surah al-Fatihah saja tidak berasak-asak sekedar lamanya. Adapun adab dan tertib Burhanuddin kepada gurunya Syekh Abdurrauf di dalam menuntut ilmu tidak ada ubahnya seperti adab dan tertib Syekh Abdurrauf pula terhadap gurunya. banyak sedikitnya memperlihatkan pandangan tentang hubungan guru-murid yang secara eksplisit mengarahkan agar para murid dan pengikut tarekat Syattariyah merasa (ataupun diwajibkan) mengenal riwayat syekh yang menjadi gurunya atau guru dari gurunya. — Pramono dan Bahren dak pernah membantah dan waktu bersalam mencium tangan guru” (alKhatib. Amanat “tidak kenal menyerah” itu senantiasa terwaris dari guru yang satu ke guru berikutnya. 103 . yaitu mendukung guru dari tempat tinggalnya ke tempat mengajar. Selain mendukung guru juga Burhanuddin menggembalakan ternak Syekh Abdurrauf.” (al-Khatib. Teks-teks yang terkandung dalam naskah-naskah karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib.

Perihal banyaknya peminat naskah-naskah karyanya itu. menarik untuk dipaparkan tentang sejarah teks yang menceritakan sejarah Syekh Abdurrauf. apalagi membantah guru. Perintah dan larangan guru bersifat mutlak dan mengikat. khususnya di Koto Tangah. baik secara duniawi maupun setelah ia meninggal. mereka selalu berziarah mengunjungi makam untuk mendapatkan berkah sekaligus sebagai bukti kesetiaan terhadap guru tersebut. dan Syekh Surau Baru. 2) Allah akan mencabut berkat ilmu yang telah dipelajarinya dari sang guru. Setidaknya menurut keyakinan mereka. No. Vol. kedurhakaan terhadap syekh akan menimbulkan malapetaka bagi murid-murid. 3) Tatkala jiwa akan berpisah dengan badan (me- 104 . Selain itu. dalam pengajian tarekat Syattariyah dilakukan atas dasar pandangan bahwa guru adalah orang yang suci dan dekat kepada Allah. 1.108 Oleh karena merasa “wajib” untuk mengetahui riwayat dan ajaran para syekh tersebut. murid secara sukarela harus menerima dan mematuhi segala bentuk aturan yang telah ditetapkan guru kepadanya. Bahkan penghormatan yang demikian masih terus berlangsung meskipun guru yang bersangkutan telah meninggal dunia. Murid tidak boleh banyak mempertanyakan tentang “mengapa” dan “apa sebabnya”. 2003: 147-148). Sebaliknya. yaitu: 1) Allah akan menyempitkan rezekinya di dunia. sebagai sumpah setia murid kepada gurunya. Sebaliknya. Dari naskah-naskah itu jelas bahwa syekh sebagai pemimpin menjadi sentral dalam pembentukan ideologi penganut tarekat Syattariyah Kaum Tua) di Minangkabau. Oleh karena itu. 2009: 91 . Syekh Burhanuddin. maka banyak kalangan penganut tarekat Syattariyah. dapat memperlakukan muridnya sesuai dengan aturan yang ditetapkan. Dalam pandangan mereka roh seorang syekh yang sudah meninggal masih dapat memberikan pertolongan kepada murid-muridnya. Seorang guru melalui prosesi bai’ah yang sudah dilakukan sebelumnya. Karena itu. di kalangan Syattariyah berlaku ungkapan bahwa ”seorang murid di hadapan guru ibarat sesosok mayat di tangan orang yang memandikannya” (Samad.Jurnal Lektur Keagamaan. 7. penghormatan dan penghargaan terhadap guru. Padang yang ingin memiliki naskah-naskah karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib. Kedurhakaan terhadap syekh akan berakibat luas terhadap kehidupan murid. ada tiga hal yang akan terjadi bagi seorang murid yang durhaka kepada gurunya.

M. “Tarekat Syattariyah di Dunia Melayu-Indonesia: Kajian Atas Dinamika dan Perkembangannya Melalui Naskah-Naskah di Sumatera Barat”. Nasution. Denpasar : Program Pascasarjana Program Doktor (S3) Kajian Budaya Universitas Udayana. Latief. Jakarta: IAIN Syarif Hidayatullah. riwayat dan ajarannya dijadikan rujukan untuk pengambil keputusan. Prof. Para ulama pemimpin Kaum Tua itu berperan tidak hanya di bidang keagamaan saja. penghormatan terhadap pemimpin memberikan tauladan agar murid pun harus berperilaku (beribadah) seperti sang guru: pola hidup sederhana (zuhud)dan tidak ambisius (qan±’ah). 2002. Desertasi. Ensiklopedi Islam Indonesia (Jilid 3 O-Z). 2006. Harun (Ketua Tim).. Penutup Pertemuan Islam dengan budaya lokal Minangkabau telah menjadikan corak kepemimpinan yang khas. Ratna. “Postkolonialisme Indonesia”. Pertama. 105 . Allah akan mencabut iman yang ada di dada murid. Sanusi. Hamka.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. riwayat dan ajarannya ditulis dan disebarkan. khususnya pada golongan Kaum Tua. tidak hanya masalah keagamaan tetapi juga masalah sosial budaya serta politik yang mereka hadapi. Tulisan itu memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi kemajuan ummat. 1984. Islam dan adat Minangkabau. sebagai penerang di dunia bahkan sampai di akhirat. H. Laporan Penelitian.. Depok: Pascasarjana UI. 2003. Jakarta: Pustaka Panjimas. Kekhasannya ini tampak pada pola kepemimpinannya. Kedua. dkk. tingkah lakunya diikuti. Di antara sumbangannya yang dapat dicatat adalah sebagai berikut ini.[] Daftar Pustaka Fathurahman. Suaranya didengar. tetapi juga di bidang sosial-budaya dan politik. 1992: 30). Mereka dihormati. khususnya dalam membangun kepribadian dan moral. sehingga dia mati dalam keadaan tidak beriman (al-Khatib. Dr. (Disertasi S3). Oman. — Pramono dan Bahren ninggal). 1988. “Gerakan Kaum Tua di Minangkabau”. Nyoman Kutha. Jakarta : Djambatan.

Padang Sumatra Barat. naskah tulisan tangan koleksi Imam Maulana Abdul Manaf Amin. Suryadi. “Manuskrip dan Skriptorium Minangkabau. ------. Duski. tt. Padang Sumatra Barat ------. Batang Kabung. 106 . Batang Kabung. “Tradisionalisme Islam di Tengah Modernisme: Kajian Tentang Kontinuitas. Padang : Citra Budaya. 2003. Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah. Sejarah Ringkas Syekh Paseban al-Syatari Rahimahulallahu Taala. Laporan Penelitian Kelompok Kajian Puitika Fakultas Sastra Unand. 2004. naskah tulisan tangan koleksi Imam Maulana Abdul Manaf Amin. Inilah Sejarah Ringkas Auliyaullah al-Salihin Syekh Abdurrauf (Syekh Kuala) Pengembang Agama Islam di Aceh. 1992. Yusuf. ------. 7. M dkk.Jurnal Lektur Keagamaan. Imam Maulana Abdul Manaf Amin.108 Samad. 2001. Padang Sumatra Barat. Syair Sunur: Teks dan Konteks Otobiografi Seorang Ulama Minangkabau Abad Ke-19. Padang Sumatra Barat. Koto Tangah. 2002. naskah tulisan tangan koleksi Imam Maulana Abdul Manaf Amin. 2004. Koto Tangah. Kitab Riwayat Hidup Imam Maulana Abdul Manaf Amin. 1. Koto Tangah. ------. Padang Sumatra Barat. Koto Tangah. naskah tulisan tangan koleksi Imam Maulana Abdul Manaf Amin. Perubahan. dan Dinamika Tarekat di Minangkabau” (disertasi). Batang Kabung. 2009: 91 . Sejarah Ringkas Shaikh Muhammad Nasir (Syekh Surau Baru). Koto Tangah. Manuskrip al-Khatib. Batang Kabung. Inilah Sejarah Ringkas Auliyaullah al-Salihin Syekh Burhanuddin Ulakan yang Mengembangkan Agama Islam di Daerah Minangkabau. Batang Kabung. 1936. Vol. No. naskah tulisan tangan koleksi Imam Maulana Abdul Manaf Amin.

Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. 2006) dan Naskah-naskah Tulisannya Gambar 2: Naskah Sejarah Ringkas Auliyaullah al-Salihin Syekh Burhanuddin Ulakan yang Mengembangkan Agama Islam di Daerah Minangkabau (1992: 2) 107 ... — Pramono dan Bahren Lampiran: Gambar 1: Imam Maulana Abdul Manaf Amin Al-Khatib (w.

108 Gambar 3: Naskah Sejarah Ringkas Auliya’ullah al-Salihin. Vol. 2009: 91 . 7. 1. Syekh Abdurrauf (Syekh Kuala).Jurnal Lektur Keagamaan. No. Pengembang Agama Islam di Aceh (1936: 1) 108 .

Peran Penting Pernaskahan... — Agus Aris Munandar

Peran Penting Pernaskahan dan Benda Khazanah Keislaman Lainnya dalam Kajian
Arkeologi Islam di Indonesia *
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, Depok

Agus Aris Munandar

This writing is studying the important position of the written data, particularly related to the Islamic classical manuscripts in Islamic archeology. The written data from the written sources in the study of Islamic archeology are as follow: (a) It functions as the supporting study toward the artefactual data; (b) To widen good understanding on the position and the role of the artefact in society at the period; (c) Data from written sources could be the basic of the research and a framework for the study of Islamic archeology; and (d) To encrich interpretation to develop historiography. The position of the written sources is getting more and more important in the stage of historiography as some parts of the archeological studies which are remain unknown can be helped by the study from the written sources. In the end, this effort will be able to open new insight and interpretation and to widen historiographical narration in order to make the study of archeology to be more and more dynamics. Kata kunci: Arkeologi-religi, artefak, naskah, khazanah, historiografi

Pengantar Perkembangan Islam di wilayah Nusantara berdasarkan bukti arkeologis telah terjadi sejak abad ke-11 M. Hal itu didasarkan dengan penemuan nisan Fatimah binti Maimun bin Hibatullah di daerah Leran Gresik Jawa Timur, pada nisan itu dipahatkan angka tahun 475 H atau 1082 (Tjandrasasmita 1986: 2). Berdasarkan hal
Tulisan ini pada mulanya merupakan makalah yang disampaikan dalam Diskusi Pengembangan Wawasan SDM Tenaga Fungsional Puslitbang Lektur Keagamaan, 24 Februari 2009 di Ruang Sidang Badan Litbang Lektur Keagamaan, Jakarta.
*

109

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 109 - 132

itu terdapat dua kemungkinan yang mengemukan, yaitu: (1) tokoh Fatimah yang dimakamkan itu adalah orang Jawa yang telah memeluk Islam, atau (2) ia muslimah pendatang yang karena suatu sebab meninggal dan dimakamkan di Gresik. Selain nisan, dalam kajian para ahli Belanda dahulu tidak melaporkan adanya temuan serta lainnya dari situs nisan Fatimah binti Maimun. Akibatnya tidak ada lagi data yang dapat menyokong terjadinya interpretasi baru atas kasus temuan nisan Fatimah binti Maimun. Masalah nisan Fatimah binti Maimun sebenarnya hanya salah satu contoh saja dari banyak permasalahan kajian arkeologi Islam di Indonesia. Suatu kajian terhadap bentuk religi harus pula menjelaskan 4 hal yang berkenaan dengan eksistensi religi tersebut, yaitu: a. Historical explanations, yaitu usaha untuk menjelaskan keberadaan suatu agama pada suatu masa sejak agama itu mulai ada, bertahan, dan berkembang dalam tahap selanjunya. b. Structural explanations, upaya untuk menjelaskan keberadaan suatu agama berkenaan dengan para penentu perkembangan agama, menjelaskan hal-hal penting yang menjadi dasar terbentuknya masyarakat pemeluk agama. c. Causal explanations, upaya menjelaskan keadaan agama dalam masyarakat dengan mengacu kepada kondisi dan suasana masyarakat sebelum agama itu timbul. d. Functional explanations, menjelaskan suatu keadaan sehingga agama tersebut mempunyai fungsi dalam masyarakat (Spiro 1977: 99—101). Keempat fokus utama kajian agama tersebut kiranya dapat dikerjakan secara baik bilamana berkenaan dengan keadaan agama yang masih hidup di masa sekarang, yang masih ada masyarakat pemeluknya, dan dalam pertalian kekinian. Akan sukar kiranya jika keempat kajian tersebut diterapkan untuk meneliti kehidupan agama yang pernah berkembang di masa silam. Walaupun agama yang dimaksudkan itu sampai sekarang masih ada pemeluknya, namun pemeluk agama masa lalu tentu sudah tiada dan juga secara sosiologis akan berbeda kondisi mereka dengan pemeluk agama masa sekarang. Oleh karena itu kajian keagamaan masa lalu niscaya tidak akan sempurna lengkap, pasti ada yang rumpang. Hal itu bukan karena 110

Peran Penting Pernaskahan... — Agus Aris Munandar

ketidakmampuan peneliti menarik sintesa dan tafsiran, melainkan memang datanya yang terbatas. Data kajian perkembangan agama Islam pada tahap awalnya, tentu bertumpu kepada sumber-sumber tertulis dan data artefaktual yang bersifat fisik. Jika kedua macam data itu dalam kondisi bagus tentu akan membantu memperlancar proses kajian, tetapi seringkali kondisi data yang ada itu telah rusak sebagian, atau hilang. Begitupun dari data yang ada dan masih bertahan hingga kini belum tentu juga dapat dipergunakan dalam kajian, karena memang tidak sesuai dengan permasalahan yang akan dipecahkan. Dalam membahas perkembangan agama dari suatu lingkup kebudayaan, menurut disiplin antropologi sebaiknya harus memperhatikan lima butir unsur agama yang saling berkaitan satu sama lain. Kelima butir itu selayaknya diperhatikan sesuai dengan proporsi data yang tersedia, tergantung pada zamannya serta kualtitas dan kuantitas data yang tersedia. Bagan yang memperlihatkan lima butir unsur religi adalah sebagai berikut:
Bagan I: Unsur-Unsur Religi
SISTEM KEPERCAYAAN

UMAT AGAMA

EMOSI KEAGAMAAN

PERALATAN RITUS & UPACARA

SISTEM RITUS & UPACARA

[Koentjaraningrat, 1980: 80—3]

Apabila dikembalikan kepada ketersediaan data sudah tentu tidak semua butir tersebut dapat dikaji secara baik. Jika membicarakan perkembangan agama di masa silam, tentunya yang masih dapat diamati secara langsung adalah sisa peralatan ritus dan upacara. Sistem kepercayaan yang mungkin termaktub dalam kitab-kitab keagamaan, dan sedikit tentang sistem ritus dan upacara 111

masih mungkin untuk dikaji. Walaupun demikian ahli para peminat sejarah kebudayaan harus berupaya semampunya dengan --berdasarkan data yang ada-. Dalam kondisi peradaban masyarakat yang relatif maju seperti itulah pengaruh kebudayaan luar mulai diperkenalkan oleh para musafir India. dan luas wawasannya.Jurnal Lektur Keagamaan. langkah kehidupan dan lain-lain. 1. Kontak-kontak dengan para musafir dari India dan Cina sangat mungkin mulai terjadi di awal tarikh Masehi. Babakan Perkembangan Kebudayaan di Indonesia Perkembangan kebudayaan Indonesia diawali dan didasari pada kebudayaan prasejarah. Vol. Masa tersebut sangat mungkin dimulai sekitar tahun 500 SM hingga ditemukannya aksara pertama dalam prasasti di wilayah Indonesia (sekitar abad ke-4 atau 5 M).untuk tetap mencoba menjelaskan pula butir-butir tersebut. sebab masyarakatnya telah tiada. apabila tidak maka tiada mungkin dilakukan. rumah-rumah mereka panggung.132 yang dalam penafsirannya harus meminta bantuan analogi pada masyarakat masa kini. No. apalagi emosi keaagamaan agak sukar untuk dikemukakan dan dikaji. Sedangkan gambaran umat agama. kepada tokoh itulah masyarakat bertanya perihal berbagai hal. 2009: 109 . 7. Kemudian terdapat masyarakat biasa yang menjadi rakyatnya. Penduduk kepulauan Indonesia masa itu telah menetap dan membentuk perkampungan. Nenek moyang bangsa Indonesia merasa tertarik dan 112 . dianggap mempunyai banyak pengalaman. Jadi mereka tidak mungkin datang ke wilayah-wilayah yang sepi penduduknya. Bantuan analogi itu dilakukan dengan syarat masyarakat yang dijadikan bahan komparasi masih melaksanakan praktek keagaaman yang mirip dengan agama-agama masa silam. Dalam periode tersebut mulailah terbentuk komunitas-komunitas yang teratur dipimpin oleh ketua kelompok. Sang pemimpin didampingi oleh seseorang yang dituakan. fenomena alam. Agaknya para niagawan dari India atau Cina tersebut berkunjung ke komunitaskominitas nenek moyang bangsa Indonesia yang dapat dianggap berinteraksi. Tahapan prasejarah yang paling penting di Indonesia adalah masa bercocok tanam tingkat lanjut yang bersamaan dengan berkembangnya kepandaian perundagian. emosi keagamaannya pun sukar digali kembali.

bernama Samudra Pasai. dalam hal ini raja dianggap sebagai dewa yang menjelma ke dunia. namun perkembangannya semakin merata mulai abad ke-15 M. (2) aksara Pallava. di wilayah Sumatra bagian utara telah berdiri kerajaan Islam pertama di Nusantara. — Agus Aris Munandar perlu untuk menerima kebudayaan dari India oleh karena itu mereka menerimanya. dan di bagian-bagian lain Indonesia mungkin masih dalam zaman proto-sejarah (beberapa daerah telah dicantumkan dalam kakawin Nāgarakrtāgama yang selesai digubah oleh Mpu Prapanca tahun 1365 M). artinya tidak pernah dimiliki sebelumnya oleh masyarakat masa itu. Seraya itu di Pulau Jawa masih berdiri kerajaan Singhasari yang bercorak Hindu-Buddha. Zaman berkembangnya pengaruh India dalam masyarakat Indonesia kuna lazim dinamakan dengan zaman Hindu-Buddha atau zaman Klasik Indonesia. dan bangunan pahat batu (rock-cut) yang digarap secara baik. Sebelum kedatangan Islam di wilayah-wilayah tersebut telah ada komunitas-komunitas membentuk sistem pemerintahan tradi113 . dalam hal ini bentuk-bentuk arsitektur candi yang tidak pernah sama antara satu bangunan dengan lainnya (unikum). dan wilayah Kalimantan Timur.Dalam jalur niaga tersebut turut serta para ulama penyebar Islam. Berdasarkan sumber-sumber tradisi dapat diketahui bahwa wilayah Indonesia Timur (Nusa Tenggara dan Maluku) menerima Islam karena upaya para mubalig dari pesantren-pesantren di Jawa Timur.. Islam tidak berkembang dalam kurun waktu yang bersamaan di Nusantara. Sekitar pertengahan abad ke-13 M. bahkan niagawan itu sendiri adalah ulama penyebar Islam. Ketiganya benar-benar merupakan sesuatu yang baru.Peran Penting Pernaskahan. dan (3) sistem penghitungan tahun Saka. Kemajuan arsitektur bangunan suci juga didasarkan pada kaidah keagamaan Hindu atau Buddha. Berlandaskan ajaran agama Hindu-Buddha berkembanglah sistem pemerintahan kerajaan. yaitu (1) agama HinduBuddha. bangunan pe-tirtha-an (bangunan air suci). Hubungan niaga yang ramai antara wilayah Indonesia barat dan timur turut mempercepat proses penyebaran agama Islam.. Sumber tradisi juga menyebutkan adanya peranan para ulama dari wilayah Sumatra Barat yang aktif menyebarkan Islam di Sulawesi Selatan. Hanya tiga anasir budaya saja yang sebenarnya diterima dari kebudayaan India.

selain ajaran agama itu sendiri terdapat beberapa perolehan lainnya. Lain halnya di Jawa. tanpa melalui sistem kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha sebagaimana halnya di Jawa. Dalam proses dinamika kebudayaan bentuk-bentuk akulturasi tersebut sebenarnya turut memperkaya khazanah peradaban yang ada. Penggunaan ragam hias dari masa Hindu-Buddha seperti sulur-daun. tapak dara. tempat merebaknya kebudayaan HinduBuddha yang relatif lama. Dengan demikian perkembangan kebudayaannya dapat dinyatakan dari masa prasejarah protosejarah sejarah dengan masuknya Islam. cara berpakaian yang hampir menutup seluruh tubuh. antara lain terlihat pada penggunaan atap tumpang pada masjid-masjid kuna yang sebelumnya dipergunakan untuk menaungi candi-candi zaman Majapahit. maka terdapat fenomena adanya bentukbentuk akulturasi antara Islam dengan tradisi yang telah dikenal dalam agama Hindu-Buddha. tubuh makam (jirat) dan juga pada nisannya. 114 . diperkenalkannya sistem persenjataan dengan mesiu.132 sional yang masih bercorak tradisi perundagian. Wacana Bentuk akulturasi ketika agama Islam sudah berkembang di Jawa dengan tradisi yang telah dikenal sebelumnya. sehingga hampir-hampir menutupi agama Islam yang secara resmi dipeluk dalam masyarakat. Aspek kebudayaan hasil perpaduan tersebut dirasakan sangat dominan dalam masyarakat tertentu. Ornamenornamen masa Hindu-Buddha juga masih dipertahankan di kompleks keraton Islam di Jawa. Di beberapa wilayah terdapat pula masyarakat yang masih mempertahankan aspek-aspek kebudayaan Hindu-Buddha yang telah dipadukan dengan anasir dari agama Islam. 1. bunga teratai dan lainnya lagi pada kepurbakalaan Islam seperti pada bangunan cungkup makam. Di beberapa wilayah Nusantara terdapat masyarakat yang sampai sekarang memeluk agama Islam secara taat. tanpa adanya bentuk akulturasi dengan kebudayaan yang berkembang sebelumnya. 7. 2009: 109 .Jurnal Lektur Keagamaan. Cukup banyak peradaban Nusantara yang mendapat pembaharuan dalam zaman awal perkembangan agama Islam. Walaupun demikian di Jawa juga terdapat daerah-daerah yang keislamannya relatif menonjol dengan sedikitnya pengaruh dari tradisi lama. bentuk meander. misalnya digunakannya huruf Arab. dikenalnya tahun Hijriah. Religi yang berkembang pun secara hipotetis masih merupakan pemuliaan terhadap arwah nenek moyang. No. Vol. dan terbentuknya kota-kota pelabuhan baru tempat bermukimnya masyarakat yang telah memeluk agama Islam.

. Dengan demikian diskusi tentang pembabakan dalam sejarah kebudayaan Indonesia merupakan hal yang agak rumit. tidak seluruh wilayah Indonesia mengalami perkembangan kebudayaan 115 . juga dikenal bentuk suluk yang berisikan ajaran-ajaran tasawuf. Setelah pertumbuhan kebudayaan Hindu-Buddha menyusul kemudian masuk dan berkembangnya Islam yang berbeda-beda di tiap wilayah. atau kalaupun ada hanya bersifat tipis saja. tambo. mungkin ditandai dengan berdirinya Kesultanan Cirebon. Begitupun masuknya kekuatan kolonial Belanda di wilayahwilayah Indonesia tidak dalam periode yang sama. dan lain-lain. Di Jawa selain dikenal bentuk kidung (puisi karya etnis Jawa). lontara. Dengan demikian proses akulturasi yang terjadi antara peradaban Eropa barat yang dibawa Belanda dengan kebudayaan daerah-daerah setempat tentunya berbeda dalam hal rentang waktu dan intensitasnya. hanya beberapa saja yang dalam perkembangan kebudayaannya tidak mendapat pengaruh Islam. — Agus Aris Munandar Dalam bidang kesusastraan masa Islam juga cukup maju. yaitu Demak (sekitar tahun 1500 M) yang menurut sumber tradisi merupakan penerus kerajaan Majapahit. babad kisah sejarah dari sudut pandang tradisional. peperangan. masuk dan berkembangnya Islam terjadi lebih kemudian. Di wilayah Jawa Tengah perkembangan Islam ditandai dengan berdirinya kerajaan Islam pertamanya. dalam masa itu banyak kerajaan Islam di kepulauan Indonesia yang silih berganti tumbuh dan berkembang. Hampir seluruh wilayah Nusantara mempunyai lapisan kebudayaan yang dipengaruhi oleh agama Islam. karya sastra-karya sastra umumnya ditulis dengan aksara Arab atau aksara Jawa dengan bahasa Melayu. Akan halnya di wilayah Jawa bagian barat. Akibatnya dapat dipahami apabila di wilayah tertentu Indonesia pengaruh kebudayaan Eropa (Belanda) jauh lebih kentara. Jawa. ada daerah yang lebih dahulu berkenalan dengan orang-orang Belanda.Peran Penting Pernaskahan. salasilah. dan jatuhnya istana Pakuwan Pajajaran sebagai ibu kota kerajaan Sunda pada sekitar tahun 1579/1580 M. Masa pertumbuhan kerajaan Islam terentang antara abad ke13 hingga 17 M. tetapi Bali adalah daerah terakhir yang diduduki kekuatan Belanda setelah puputam Klungkung 1906 M. tentang berdirinya suatu kota. dan Arab.. dan lain-lain lagi. kerajaan. Di luar Jawa dikenal karya sastra dalam bentuk hikayat.

Masa “pergaulan” dengan kebudayaan luar berlangsung cukup lama. 7. walaupun terdapat beberapa daerah yang memiliki perkembangan yang hampir mirip. 2009: 109 . maka garis perkembangan kebudayaan di wilayah-wilayah Indonesia menjadi bervariasi. Vol. Intensitas “pergaulan” yang relatif mendalam. Perkembangan kebudayaan di Bali terlihat dalam bagan berikut: Bagan III : Perkembangan Kebudayaan di Bali Apabila menelisik data sejarah dan arkeologi. 1. pengaruh itu terjadi baru awal abad ke-20 M. No. namun prasasti yang ditemukan di Bali sendiri baru 116 . Wilayah-wilayah tertentu mempunyai corak kebudayaan yang berbeda dari yang lainnya. Berdasarkan adanya macam perbedaan tersebut.Jurnal Lektur Keagamaan. Sebagai contoh berikut diuraikan bagan perkembangan kebudayaan di Jawa. Sedikitnya pengaruh kebudayaan luar.132 dalam tahap-tahap yang sama. 2. Bagan II : Perkembangan Kebudayaan di Jawa Garis tersebut akan berbeda apabila dibandingkan dengan kebudayaan yang berkembang di Pulau Bali. 4. Terdapatnya etnis yang secara sadar menolak adanya pembaruan akibat pergaulan dengan kebudayaan luar tersebut. 3. hal itu sangat mungkin terjadi karena: 1. sebab Bali mempunyai perkembangan kebudayaan yang tidak banyak dipengaruhi anasir budaya luar. Pulau Bali telah disebut-sebut keberadaannya oleh berita Cina dinasti T’ang dan prasasti-prasasti di Jawa dalam abad ke-8. maka di Pulau Dewata masa proto-sejarahnya relatif lebih lama daripada yang berlangsung di Jawa.

tokoh inilah yang mengalami masa transisi dalam sistem pemerintahannya. Karangasem. seperti Klungkung. pada waktu yang bersamaan dengan tumbuh kembangnya kesultanan-kesultanan Islam. ketika daerah tersebut telah dikenal dalam catatan para pendatang dan sumber-sumber tertulis etnis lain di Indonesia. Sudah tentu wilayah-wilayah lainnya di Indonesia akan mempunyai tahapan perkembangan kebudayaan yang berbeda-beda pula. Tahapan perkembangan kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha tidak dimiliki di wilayah Maluku Utara. semula dari sistem tradisional kolano ke bentuk kesultanan (Putuhena 1980: 268).. 1980) Masa protosejarah di wilayah Maluku utara agaknya berlangsung cukup lama (antara awal tarikh Masehi hingga sekitar abad ke14 M). hal itulah yang sebenarnya menjadi salah satu masalah yang harus diperhatikan manakala hendak disusun suatu historiografi tentang kebudayaan.. Begitupun di Bali tidak pernah berdiri kerajaan Islam sebagaimana di Jawa atau Sulawesi selatan. secara ringkas dapat terlihat pada bagan berikut: Bagan IV : Perkembangan Kebudayaan di Wilayah Maluku Utara (Putuhena. Walaupun demikian tahap perkembangan kebudayaan 117 . sebab tercatat penguasa pertama di Ternate ialah Sultan Zainal Abidin (1486-1500 M). Mengwi dan lain-lain. Sementara itu bukti tertulis lokal yang menceritakan perihal daerah itu sendiri baru didapatkan pada paruh pertama abad ke-15 M.Peran Penting Pernaskahan. — Agus Aris Munandar dijumpai dalam tahun 835 S (913 M) dalam masa pemerintahan Sri Kesari Warmadewa (Goris 1965: 9). di Bali berkembang kerajaan-kerajaan kecil dengan latar belakang Hindu-Bali. Buleleng. Di wilayah Maluku utara perkembangan kebudayaannya pun berbeda pula dengan daerah lainnya. karena politik perdagangan cengkeh bangsa-bangsa barat yang berebutan untuk menguasai Maluku Utara. Masa kolonial lebih awal terjadi di daerah tersebut.

7. pemimpin hanya melaksanakannya saja. Vol. (2) nilai agama. 2009: 109 . Maklum masa itu rasa kebersamaan dari masyarakat manusia yang menghuni suatu permukiman sangat nyata. (4) nilai ekonomi. dan (6) nilai solidaritas. Nilai-nilai Penting dalam Kebudayaan Indonesia Sutan Takdir Alisjahbana (1982) pernah mengemukakan beberapa diagram yang berkenaan dengan perkembangan kebudayaan di Indonesia dipandang dari segi nilai-nilai. Beberapa nilai yang dijadikan sudut pandang adalah: (1) nilai teori. Nilai teori (ilmu 118 . (3) nilai seni. keputusan diambil dengan musyawarah warga. No. 1. diagram perkembangan kebudayaan di wilayah Indonesia sebelum masuknya pengaruh asing (baca: India) adalah sebagai berikut: Bagan V: Perkembangan Kebudayaan di Wilayah Indonesia sebelum Masuknya Pengaruh Asing Dalam diagram yang memperlihatkan masa prasejarah dan protosejarah tersebut terlihat nilai kuasa cukup rendah bersebrangan dengan nilai solidaritas yang tinggi. Berdasarkan data yang ada. Sebab kronologi seperti itu merupakan kerangka besar yang dapat dijadikan patokan untuk penulisan sejarah kebudayaan Indonesia secara garis besar.132 seperti itu harus dijadikan acuan kronologis demi untuk memudahkan penulisan dan agar pembicaraan tidak berkembang menjadi tidak terarah.Jurnal Lektur Keagamaan. (5) nilai kuasa. Semua aspek kebudayaan yang ditelaah dalam suatu historiografi kebudayaan sudah sewajarnya apabila mengikuti kronologi yang dapat dianggap “seragam” sejak masa prasejarah hingga zaman Kemerdekaan.

Oleh karena itu tiap periode dalam mempunyai 119 . sebab data yang tersedianya pun berbeda pula.Peran Penting Pernaskahan. kebudayaan manusia berada dalam tahapan mitos. Nilai ekonomi pun rendah. sedangkan nilai religi tinggi sebab masyarakat manusia masa itu kehidupannya masih diliputi oleh suasana religius. Nusantara. — Agus Aris Munandar pengetahuan) masih rendah. Gambarannya sebagai berikut: Bagan VI: Perkembangan Kebudayaan di Wilayah Indonesia pada Masa Kearajaan-Kerajaan Islam Dalam Bagan VI diperlihatkan bahwa nilai seni tidak terlalu berkembang.. bahkan ada beberapa pembatasan berkesenian. dan Cina selatan. Nilai seni belum begitu berkembang. sedangkan nilai ekonomi pada masa perkembangan Islam di Nusantara cukup tinggi. Diagram itu berbeda bentuknya ketika diterapkan dalam kebudayaan masa perkembangan dan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Diagram-diagram itu pada dasarnya hendak menunjukkan secara visual bahwa perkembangan kebudayaan di Indonesia berbeda pada tiap periode. Asia Tenggara. berlabuh di berbagai bandar antara India. Banyak niagawan Islam yang berlalu-lalang membawa barang dagangan dalam kapal-kapal niaga mereka. Gagasan berestetika sudah barangtentu telah mulai muncul. yang ada adalah ekonomi barter yang setara. karena itu bentuk-bentuk kesenian awal yang mengandung anasir estetika telah dibuat. karena manusia masa itu mungkin belum mengerti tentang konsep untung dan rugi.. walaupun bentuk-bentuk awal berkesenian telah dirintis oleh masyarakat manusia.

berbagai ornamen dan sebagainya. teka-teki. dan lain-lain. permainan rakyat. Vol. Tradisi lisan yang masih mungkin mengendap dan merupakan ingatan bersama (collective memory) dalam masyarakat baik di Jawa ataupun di Bali. Contoh data dalam bentuk tradisi lisan adalah dongeng. Data yang tersirat dalam berbagai sumber tertulis. mushalla. berita asing. Data yang sudah sewajarnya diperhatikan dalam mengkaji arkeologi-religi masa perkembangan Islam di Indonesia dapat dibagi dalam tiga jenis. yaitu : 1. Tradisi lisan memang dipandang mutunya lebih rendah daripada kedua data lainnya. yaitu berita tradisi lisan seringkali diabaikan. No. menara. Wacana Dalam melakukan kajian jenis data ketiga. goa pertapaan. 2. misalnya dalam prasasti (piagem) karya-karya sastra. Arkeologi Islam Indonesia Sebagai Arkeologi-Sejarah Dalam kajian arkeologi terdapat data utama yang penting. 1. 2009: 109 . kolam wudu. peribahasa dan lainnya. 7.Jurnal Lektur Keagamaan. baik sejarah ataupun arkeologi. walaupun demikian tetap perlu diperhatikan mengingat di dalamnya -jika dicermati dengan baik. Sebab tidak semua macam data itu tersedia dalam bobot yang sama. 3. dan bangun penafsiran yang diharapkannya. yaitu data kebendaan yang lazim disebut artefak. Misalnya di Cirebon terdapat legenda bahwa atap tumpang masjid Sang Cipta Rasa hanya dua. mitos. dan dalam setiap perkembangan masyarakat yang mengusung kebudayaan sezaman.132 kekhasan dan fokus perhatian yang berbeda-beda apabila hendak dituangkan dalam suatu kajian ilmu masa lalu.akan ditemukan data yang dapat menyokong sumber tertulis dan data arkeologis. atap ketiga (puncak) dahulu hancur karena tersambar oleh tongkat Sunan Gunung Jati. Para peneliti hendaknya mampu menggunakan ketiga macam data tersebut sesuai dengan tujuan studi. legenda. Artefak secara sederhana dapat diberi batasan sebagai benda hasil karya manusia masa 120 . sisa istana. pastinya akan berbeda-beda dalam setiap masa. Data arkeologis seperti bangunan masjid.

dan lain sebagainya. juga memanfaatkan data informasi sumber tertulis berbentuk prasasti. surat-surat kerajaan atau pribadi. yaitu berbagai berita tertulis. peta kuno. Walaupun telah ada bukti tertulis kajian arkeologi-sejarah tetap mendasarkan data utamanya kepada objekobjek kebendaan (artefak). berita asing dokumen.. dan bentuknya bermacam-macam sesuai dengan keperluan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. dan sudah barang tentu masa kolonial dan masa selanjutnya dalam era Republik Indonesia. dinamakan arkeologi sejarah yang berarti kajian arkeologi yang memanfaatkan juga sumber-sumber sejarah. lalu untuk pemahaman lebih lanjut tentang sesuatu artefak. Jadi pada prinsipnya kajian arkeologisejarah berada dalam periode ketika di suatu bangsa telah mengenal bukti-bukti tertulis.Peran Penting Pernaskahan. piagem. Bagan VII: Unsur-Unsur Arkeologi Islam 121 . yaitu Arkeologi-Prasejarah dan Arkeologi-Sejarah (historical archaeology). naskah-naskah kuno. Apabila kajian prasejarah sepenuhnya mempelajari artefak melalui berbagai metode untuk menelaah artefak. maka kajian arkeologi-sejarah selain bertumpu kepada kajian artefak. dipergunakanlah data dari berbagai sumber tertulis sezaman yang mungkin mendukung kajian terhadap artefak. Oleh sebab itu. — Agus Aris Munandar lalu.. Sebagaimana diketahui bahwa ilmu arkeologi terbagi dalam dua ranah besar. arsip. Kajian arkeologi-sejarah di Indonesia meliputi masa perkembangan agama Hindu-Buddha dan juga masa perkembangan Islam.

b. Taman dan bangunan air. f. 7. i. pahatan stilasi. untuk mengungkapkan pencapaian peradaban yang telah direngkuh oleh masyarakat pada masanya. g. 122 . c. konsentris. Cungkup makam. c. kentongan dan waditra lainnya. Menara masjid. f. b. Artefak bergerak. Keramik asing ataupun lokal. artefaktual merupakan data utama yang penting. Monumen terbagi menjadi: a. perahu. kursi. h. Gapura dan pagar keliling. tenun. lambang. d. terdiri dari: a. 1. Maksurah. Vol. jadi bukannya data tertulis. 2009: 109 . Makam dan kompleks makam. Bedug. Penataan istana yang linear. d. Sistem perbentengan. sketsel. Apabila data tertulis yang digarap terlebih dahulu. Heraldik: panjí-panji. Peninggalan khazanah keislaman itu antara lain berupa: 1. kereta. e. dan benda-benda penanda kebesaran raja/sultan. b. Hiasan bangunan. Dalam kajian arkeologi Islam banyak data yang berupa kebendaan. e. dan lain-lain. h. Mimbar kayu. Alat transportasi: palangka. Furniture: meja. Hasil seni kriya: ukiran. Masjid kuno. Alun-alun sebagai pusat kota. j. i. dan menyebar. Kepurbakalaan itulah yang merupakan data kajian utama arkeologi Islam. g.Jurnal Lektur Keagamaan. batik. dipan. 2.132 Secara prinsipil terdapat beberapa kepurbakalaan masa silam yang dapat dihubungkan dengan periode perkembangan dan kerajaan-kerajaan Islam Nusantara. wayang. c. 3. Jalan sebagai acuan kota. No. Istana dan bangunan-bangunan di dalamnya.Tata Kota & Penataan Istana a. rak. Senjata. topeng. Tugu peringatan.

maka dapat diketahui tentang (a) bentuk arsitektur. Masjid Sang Cipta Rasa di Cirebon mempunyai keistimewaan sebagai berikut: 1. terutama dalam hal latar belakang pembangunan monumen dan juga beberapa keistimewaannya. Dinding tembok hanya berfungsi sebagai penyekat antara ruang dalam dan ruang serambi masjid. terdapat relief yang menggambarkan sepasang “halilintar” pada daun pintu tengah masjid. dan lain-lain 3. Misalnya kajian terhadap Masjid Demak. Demikianlah beberapa pemahaman umum yang mungkin dihasilkan dalam ranah arkeologi-sejarah. istana. masjid ini mempunyai empat Soko Guru 2. Kajian secara umum terhadap kepurbakalaan monumental dari masa awal perkembangan Islam dan masa kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia dapat membawa kepada pemahaman akan: 1. dan selatan). Dalam telah arkeologi. Bahan yang digunakan pada bangunan-bangunan tersebut. (b) bahan. Pada dinding penyekat tersebut terdapat sembilan pintu rendah (tiga pintu di sisi utara. makam dan lainnya 2. gapura. Bentuk arsitektur masjid. terdapat pula pemahaman yang lebih khusus lagi. 3.Peran Penting Pernaskahan. (c) sejarah dan peranannya dalam proses penyebaran Islam. salah satu dari keempat soko gurunya merupakan tatal (serpihan kayu yang disatukan).. istana. — Agus Aris Munandar maka kajian itu bukan lagi arkeologi. maka sang peneliti harus mampu mengungkapkan kehadiran data arkeologis dalam konteks sejarah kebudayaan Islam di suatu daerah dan pada suatu masa tertentu. menara. (d) keistimewaannya: antara lain adanya figur bulus (kura-kura) pada dinding belakang mihrab yang berbobot angka tahun 1401 Saka. tidak sebagai penopang atap. 4. 123 . apabila melakukan studi terhadap suatu monumen. gapura. melainkan sejarah atau filologi. timur.. Selain pemahaman umum tersebut. Sebagaimana masjid kuno lainnya. adanya penggunaan tiang-tiang dengan gaya ukiran Majapahit pada serambi depan masjid. Langgam arsitektur bangunan masjid. Kelompok pengguna yang memanfaatkan dan mengapresiasi bangunan-bangunan tersebut. menara.

atau lereng pegunungan sebagai lokasinya. dan belakang. Vol. 3. 2. tengah. 2009: 109 . 4. 7. Terdapat beberapa keraton yang dikelilingi tembok benteng (Surasowan di Banten dan Kuto Besak di Palembang) Kajian terhadap pintu gerbang (gapura): (1) dapat diketahui bahwa gapura yang berbentuk Candi Bentar (di Cirebon disebut Lawang Seketeng) selalu terletak di halaman paling depan. di Cirebon disebut Lawang Bledeg) terdapat di lingkungan dalam. 124 . Adapun kajian terhadap keraton di Jawa dapat diungkap adanya beberapa pengetahuan lain di luar pengetahuan utama. (2) Kedua bentuk gapura tersebut merupakan kelanjutan bentuk-bentuk pintu gerbang yang telah dikenal dalam zaman perkembangan kebudayaan Hindu-Buddha di Jawa. 2. Semula di bagian depan pintu masjid yang terletak di sisi timur terdapat kolam untuk mengambil air wudlu. yaitu halaman depan.Jurnal Lektur Keagamaan. Keraton-keraton luar Jawa umumnya berupa bangunan panggung dengan ukuran besar. yaitu: 1. Keraton umumnya terbagi ke dalam tiga penataan halaman. Kompleks makam tokoh-tokoh yang berhubungan dengan penyebaran agama Islam (para wali) dan juga pemakaman keluarga raja. Kompleks makam Sunan Gunung Jati di Gunung Sembung. bukit. No. Kompleks makam Sunan Giri di Gresik. memilih dataran tinggi. mislanya bangunan persemayaman raja dan keluarganya dan bangunan induk keraton (Keraton Kasepuhan dan Kanoman di Cirebon.132 3. Pada bagian bingkai atas ceruk (ruang) mihrab terdapat ornamen yang merupakan stilasi dari bentuk kala-makara. adapun gapura beratap (di Bali dinamakan Kori Agung. antara lain. 1. Kompleks makam Sunan Drajat di Gunung Muria. 3. mengarah ke daerah inti istana atau kompleks makam. Kasultanan di Yogjakarta dan Kasunanan di Surakarta). 4. 4. Kompleks makam yang terletak di lokasi ketinggian antara lain adalah: 1. Kompleks makam Sunan Bayat di Klaten. Bangunan-bangunan penting terdapat di halaman paling belakang. Hal ini dapat diketahui berkat adanya kajian arkeologi Islam terhadap kompleks-kompleks makam yang masih ada hingga sekarang.

Konsepsi itu agaknya terus bertahan ketika Islam berkembang di Tanah Jawa. apa lagi diperkuat dengan kepercayaan bahwa tempat tinggi adalah simbol Gunung Mahameru yang dipuncaknya bersemayam para dewa dalam Swarloka. Kompleks makam Sunan Sendang di Bojonegoro. — Agus Aris Munandar 5. Tentu saja di Jawa senjata yang paling populer adalah keris. pedang. setidaknya bukan nama diri seniman. Maka dikenal adanya meriam buatan local seperti meriam Pancawura yang ada di keraton Kasunanan Solo. bermata ganda (dwisula). golok. dan sebagainya Dalam masa perkembangan Islam di Indonesia. senjata api telah pula digunakan. khususnya meriam. dan meriam Ki Amuk di Banten Lama. perisai. Penggunaan dalam masyarakat pendukungnya. Iyang).. Bentuk dan bahan artefak bergerak. 6. bermata tiga (trisula). meriam Si Jagur di Museum Fatahillah. Secara konsepsi hal ini agaknya dapat dijelaskan bahwa adanya kesinambungan penghormatan kepada tempat-tempat tinggi yang dianggap sebagai tempat keramat. oleh karena itu tokoh-tokoh yang telah wafat dimuliakan dalam kompleks makam yang terletak di ketinggian. Selain keris senjata tajam lainnya misalnya tombak bermata tunggal. 2.. Pembuat artefak tersebut. Dalam zaman prasejarah ada penjelasan yang menyatakan bahwa tempat-tempat tinggi adalah lokasi yang layak bagi persemayaman arwah leluhur (Parahyangan. namun nama kelompok pengrajinnya. Asal gaya seni artefak tersebut. Konsep itu terus bertahan ketika agama HinduBuddha berkembang. Telaah arkeologi terhadap senjata yang dipergunakan dalam masa perkembangan Islam menghasilkan kepada bentuk-bentuk senjata tajam yang pernah digunakan masyarakat. Kompleks makam Imogiri di Yogjakarta.Peran Penting Pernaskahan. Kajian kepada kepurbakalaan yang berupa artefak bergerak akan membawa kepada pemahaman: 1. keris juga dikenal di berbagai etnik lain di Nusantara dan telah banyak buku yang dihasilkan para peneliti dan peminat tentang keris. 3. Studi terhadap berbagai meriam dari era kerajaan Islam di Nusantara di masa mendatang akan membawa kepada pengetahuan tentang sistem persenjataan berat 125 . 4. Di-Hyang.

Adakah jumlah meriam yang dimiliki menandakan kebesaran dan kejayaan kerajaan tersebut? Dari masa perkembangan Islam di Jawa banyak dihasilkan karya seni. baik seni rupa ataupun seni pertunjukan. karena memang gagasan itu yang mendasari keempat unsur lainnya. Demikian pula dalam mengekspresikan gagasan berkeseniannya seniman harus memilih bahan/media apa yang digunakan.132 dari kerajaan-kerajaan itu. Vol. Dalam bagan terlihat gagasan berada di bagian tengah. Salah satu bentuk seni rupa yang sederhana namun memerlukan kecermatan adalah seni kriya. 7. 2009: 109 . Bentuk seni kriya dalam masa per126 .Jurnal Lektur Keagamaan. 1. jika tidak karya seni tidak mendapat penghargaan dalam masyarakat. Sebenarnya dalam kesenian dapat dinyatakan sebenarnya terdapat lima unsur yang saling berkaitan sebagai berikut: Bagan VIII: Unsur-Unsur Kesenian Kelima unsur itu saling berkaitan dan mengisi dalam menghasilkan suatu karya seni. gagasan. Keutuhan lima unsur kesenian dalam karya seni keislaman agaknya cukup diperhatikan oleh para penghasil karya seni keislaman di masa silam. jadi tidak ada satu unsurpun yang diabaikan. No. misalnya antara seniman dan masyarakat harus berada dalam “satu bahasa dan satu gagasan” apabila hendak mengapresiasi suatu karya seni. media dan hasil karya seni. sehingga ada keterkaitan antara seniman. terutama dalam sejarah perkembangan Islam di Nusantara.

dan Jogjakarta. Wayang kulit itu lebih mirip kepada simbol-simbol yang tidak sesuai dengan figur manusia sebenarnya. bagian utara terdapat pasar tempat orang berniaga. Taman Sunyaragi. Surakarta. bahkan sebagai iluminasi pada naskah-naskah Cirebon. Dalam penataan itu pusat kota adalah tanah lapang (alun-alun). kereta milik sultan... dan penjara. Pola seperti ini terus diikuti oleh kota-kota kerajaan lainnya seperti Cirebon. di sisi selatannya terdapat bangunan kedaton atau istana.Peran Penting Pernaskahan. Banten. Seni kriya lainnya yang sering menjadi data kajian arkeologi Islam adalah pahatan kayu baik dalam bentuk relief atau ornamen lainnya. dimulai dari sisi paling utara merupakan bangunan-bangunan penyongsong tamu. Prototipe penataan kota Islam di Jawa itu sangat mungkin terjadi di kota Demak kuno (Adrisijanti M. contoh yang baik adalah figur-figur wayang kulit dan wayang golek Cepak gaya Cirebonan. Romli 2008: 19-20). Penataan kota-kota Islam di Jawa agaknya mempunyai pola yang telah baku. batik. lukisan kaca. Sebagaimana telah diketahui bahwa bentuk wayang kulit sekarang ini adalah gubahan Sunan Kali Jaga. Bangunan dalam kompleks istana umumnya digambarkan linear. dapat dijumpai sebagai komponen hiasan keraton. figur wayang kulit gaya lama dari era Majapahit telah “dirombak” dan distilirisasi untuk disesuaikan dengan kaidah kesenian Islam. Mengenai tata kota dan penataan kompleks istana terdapat kajian tersendiri dalam bidang arkeologi Islam. Bentuk hiasan khas Cirebon yang merupakan gabungan antara motif awan mendung dan batu-batu karang tersebut dikenal meluas dalam bermacam karya seni rupa. kemudian bangunan bagian tengah kompleks 127 . sisi barat alun-alun berdiri masjid agung. dan ceritanya pun telah direkaulang untuk keperluan Islamisasi. Dari lingkup kesenian Islam masa Kesultanan Cirebon dikenal adanya bentuk-bentuk pahatan kayu yang mengambil figur dewa-dewa Hindu atau tokoh wayang yang telah sangat distilasi dengan gabungan bentuk mega mendung dan juga bentuk-bentuk wadasan (karang laut). Bahkan kota-kota kabupaten di Jawa dalam masa kolonial pun banyak yang tetap mempertahankan pola penataan pusat kota demikian. — Agus Aris Munandar kembangan Islam banyak yang bertahan hingga sekarang. dan di tepi bagian timur alun-alun berdirilah bangunan-bangunan peradilan seperti kejaksan.

(e) dan lainnya. (c) Lampung. No. Peranan data dari sumber tertulis dalam kajian arkeologi Islam dapat dijelaskan sebagai berikut: 128 . dan kaum kerabatnya. Tambo. keraton Surakarta dan Yogjakarta dan juga di kompleks Keraton Sumenep di Madura. misalnya di Kutai Kertanegara. Vol. Isi yang dikandung tentang (a) ajaran agama Islam. bentuk dan ragamnya sangat beraneka. Pengungkapan ekspresi estetika para penggubahnya. 3. 2009: 109 . Penyusunan kisah sejarah tradisional dengan berbagai sebutannya (Babad. (j) dan lainnya. Adapun pola penataan menyebar atau menghadap ke sungai terjadi pada istana-istana kerajaan Islam yang terdapat di luar Jawa. dan paling dalam adalah bangunan-bangunan utama dan tempat tinggal raja dan kerabatnya sehari-hari.132 yang merupakan pendukung aktivitas istana. Bentuknya dalam prosa ataupun puisi dengan aturan prosodi tertentu. Legenda. (h) obat-obatan. Berikut data penting tentang manuskrip masa Islam: Aksara yang digunakan antara lain: (a) Arab dan keturunannya. (e) kisah binatang (f) kisah penglipur lara/jenaka (g) undang-undang. Pola penataan bangunan keraton memusat misalnya terdapat di kompleks keraton Surasowan dan keraton Kaibon. Sambas.Jurnal Lektur Keagamaan. (b) Jawa. 4. Memberikan legitimasi tentang kuasa yang dimiliki oleh para raja. 1. begitupun juga mengenai isinya. Dalam hal khazanah naskah Islam di Nusantara. sultan. Tujuan penulisan naskah-naskah Nusantara itu antara lain untuk: 1. 2. Sebagai upaya untuk menyebarkan ajaran keagamaan Islam. (d) Bugis. dan Pontianak. Mengingat dan mengakumulasi pengetahuan tertentu yang telah diketahui oleh penggubah atau masyarakat sekitarnya. (c) Melayu. 5. Banten Lama. Sajarah). Bahasa juga beraneka. (e) dan berbagai bahasa daerah lainnya. Semua bangunan keraton dilingkungi tembok benteng dan semuanya terintegrasi dalam suatu area kedaton. antara lain (a) Jawa. Hikayat. (c) babad/sejarah tradisional (d) kisah wayang. (b) tarikh nabi-nabi dan sahabatnya. 7. (b) Sunda. Pola seperti ini terlihat di kompleks keraton Kasepuhan dan Kanoman Cirebon. (d) Bugis. (i) uraian tentang mistik dan tasawuf.

sebab menurut berita Cina dalam masa kejayaan Majapahit pun telah banyak orang-orang Islam yang bermukim dan berniaga di kota itu. Dalam naskah Babad Tanah Jawi terdapat penjelasan bahwa salah seorang Raja Majapahit masa akhir telah menikah dengan putri Champa yang memeluk Islam. Pada akhirnya dapat membuka interpretasi baru dan 129 .Peran Penting Pernaskahan. Contoh: dapat dipahami bahwa di situs Trowulan peninggalan Majapahit terdapat kompleks pemakaman Islam Troloyo. Dengan menelisik sumber-sumber tertulis maka diperoleh lagi pemahaman yang lebih luas tentang sesuatu artefak. namun kajian arkeologi hingga sekarang masih belum dapat membuktikan di mana lokasi tepatnya kedaton tersebut. Contohnya dalam kajian arkeologi Islam ditemukan makam Islam kuno. (d) Memperkaya interpretasi untuk dapat mengembangkan historiografi Kajian arkeologi-sejarah atau pun sejarah diakhiri dengan tahap historiografi. jika kajian hanya menyandarkan diri kepada data arkeologi. Peranan data dari sumber tertulis menjadi penting dalam tahap historiografi. maka pemahaman pun terbatas. menurut uraian penduduk adalah makam putri Champa. dapat dibantu diterangi lewat kajian dari sumber tertulis.. Misalnya dari Babad Demak diuraikan bahwa di kota Kerajaan Demak terdapat pula kedaton tempat bersemayamnya para penguasa. — Agus Aris Munandar (a) Pendukung kajian terhadap data artefaktual Dalam hal ini data dari sumber tertulis tersebut dijadikan bahan untuk membantu “menjelaskan” artefak dari masa perkembangan Islam. (c) Data dari sumber tertulis dapat menjadi dasar penelitian dan kerangka acuan kajian arkeologi Islam Uraian dari sumber tertulis ada yang dapat dijadikan pegangan bagi kajian arkeologi di lapangan. (b) Memperluas pemahaman tentang kedudukan dan peranan artefak dalam masyarakat sezaman Merupakan suatu keniscayaan yang terjadi.. kecuali masjid agungnya yang masih berdiri megah hingga kini. Temuan dari naskah dapat juga menjadi kerangka acuan yang harus dibuktikan oleh para arkeolog. tahapan ini sudah tentu memadukan data dari berbagai sumber. karena bagian-bagian yang berdasarkan telaah arkeologi masih gelap.

2009: 109 . 7. Akan tetapi kajian terhadap peranan dan fungsi monumen tersebut dalam masanya masih dapat diperbincangkan lagi. No. Dewasa ini terdapat kecenderungan masyarakat untuk memperbaiki monumen-monumen kuno Islam yang dipandang sudah lapuk atau rusak. 1. Jadi apabila telah terjadi “pemugaran” terhadap suatu masjid kuno oleh masyarakat dengan mengabaikan 130 . misalnya terhadap masjid-masjid kuno. makam. yaitu (a) dead monument. Dalam pada itu data arkeologi Islam yang terdahulu pun banyak yang masih belum dikaji secara tuntas. atau perlu dilakukan kajian ulang atau interpretasi baru. istana. istana. dan monumen lainnya dari masa perkembangan Islam masih dipergunakan dan dirawat oleh para pendukungnya. Kecenderungan meluas justru terjadi “pemugaran” terhadap masjid-masjid tua oleh masyarakat penggunanya sendiri. Hal yang perlu dikemukakan kepada masyarakat pendukung living monument adalah prinsip pelestarian dan kepentingan ilmu pengetahuan yang juga harus dijaga. Kedua prinsip itu jelas harus berjalan berdampingan dengan aspek pemanfaat dan aktualisasi zaman. Masjid kuno. penambahan.132 memperluas narasi historiografi untuk dapat dijadikan bahan diskusi lebih lanjut. Vol. memang para peneliti Belanda telah merintis kajian tersebut sejak awal abad ke-20 M. oleh karena itu hasilnya adalah bangunan baru sama sekali tanpa menyikan unsurunsur kunonya.Jurnal Lektur Keagamaan. dan (b) living monument. bahkan telah dipugar secara baik. para arkeolog telah membagi dua macam munumen. bahkan pembangunan baru. dan gapura. mungkin terdapat makna lain yang mendalam dan bukan sekedar bangunan untuk melengkapi Taman Raja. makam. Hal ini sebenarnya merupakan permasalahan lama. Dalam melakukan perbaikan atau pemugaran tersebut kerapkali kaidah keilmuan (ilmu arkeologi) diabaikan. Epilog Kajian arkeologi Islam di Nusantara sudah pasti dapat dikembangkan lagi. tetapi banyak temuan baru yang terus bermunculan hingga kini dan menunggu untuk dikaji. Misalnya kajian data arkeologi terhadap monumen Gunongan yang dibangun dalam masa Kesultanan Aceh telah cukup memadai. oleh karena itu lumrah saja apabila mereka melakukan perbaikan-perbaikan.

Metodologi Sejarah. Halaman 85—126. padahal dunia telah mengakui bahwa Indonesia adalah negara Islam dengan penduduk terbesar di dunia. “Puncak-puncak Prestasi Kesultanan Demak dalam Bidang Budaya”. Spiro. — Agus Aris Munandar prinsip pelestarian dan ilmu pengetahuan. Maret.. Perhatian dan apresiasi terhadap pengembangan arkeologi Islam itu harus juga ditularkan kepada warga masyarakat oleh siapapun yang berminat dalam arkeologi Islam. Takdir. London: Tavistock Publications.4 No. sehingga bukti-bukti masa awal perkembangan Islam di wilayah Nusantara tidak terkikis habis oleh pembangunan dan modernisasi. Kuntowijoyo. Koentjaraningrat. Halaman 18—21. dalam Majalah Budaya Bende Vol. Jika saja hal itu terjadi. Goris. Alisjahbana. Shaleh A. Romli. 131 .[] Daftar Pustaka Adrisijanti M. 1980. 2008.. Udayana University. dalam Majalah Ilmu-Ilmu Sastra Indonesia (MISI). 1980.Peran Penting Pernaskahan. 1965. Langkah-langkah di masa mendatang untuk memajukan kajian arkeologi Islam dan menjaga data khazanah artefak serta manuskrip keislaman lainnya. “Sejarah Agama Islam di Ternate”. Jakarta: Dian Rakyat. Jakarta: Bhratara. Yogjakarta: Tiara Wacana. “Religion: Problems of Definition and Explanation”. Melford E. R. hal itu terjadi karena ketidaktahuan masyarakat tentang studi arkeologi Islam. Denpasar: Faculty of Letters. Jakarta: Sekar Budaya Nusantara & FIB UI. 1982. Antropological Approaches to the Study of Religion. No. 1977. Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. tidak hanya harus dilakukan oleh pemerintah dan pihak-pihak terkait. Putuhena. 1994. Sejarah Kebudayaan Indonesia: Dilihat dari Segi Nilai-nilai. mungkin hal itu bukan akibat kesalahan masyarakat semata. 3: 263—76.. S. M. Ancient History of Bali. maka bangsa Indonesia telah melupakan jatidiri sejarah keislaman dan bukti-bukti kehadiran agama Islam pada awalnya. Jilid VIII. dalam Michael Bunton (Penyunting).2. Desember.

3. Vol. Sepintas Mengenai Peninggalan Kepurbakalaan Islam di Pesisir Utara Jawa. 1986. Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. No. 132 . 1.132 Tjandrasasmita.Jurnal Lektur Keagamaan. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. 7. 2009: 109 . Uka.

terlebih dahulu akan dijelaskan apa yang menjadi perhatian arkeologi dan apa yang sebenarnya dikaji dalam penelitian-penelitian arkeologi. porcelains and so on. some archeologists try to develop the study of Islamic sites as the branch or archeolgy through excavation. keraton (also palace) and ancient mosques as well as Islamic sites such as the Old Banten (Banten Lama) and Lobu Tua.Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara Irmawati M-Johan Universitas Indonesia. material culture. Bisides that. situs. The material culture this writing means are the gravestones. Some researches that have ever been conducted are dealing with Islamic epigraphy such as ancient gravestones. Kata kunci: Arkeologi. Sebagai ilmu. palaces. arkeologi merupakan ilmu yang mempelajari manusia dan masyarakat masa lalu melalui tinggalan budaya materi 133 . efigrafi. This archeological study tries to dismantle the history of the past humankind by using material culture. akan dikemukakan pula berbagai penelitian yang telah dilakukan selama ini yang berkait dengan Islam di Nusantara. ornamen. nisan. Sebelum lebih jauh menyampaikan apa peran arkeologi dalam kajian Islam di Nusantara. some researches that have been conducted on Islam in Indonesia will be presented too. the buildings of the mosque. Selain itu. Depok This article explains about how archeology has its own role in the study of Islam in Indonesia. the building of palaces. keraton Pendahuluan Tujuan dari tulisan ini adalah menjelaskan bagaimana peran arkeologi dalam kajian Islam di Nusantara dan hal-hal apa saja yang menjadi kajian arkeologi. This article also explains the aspects that become the object of the study of archeology. mesjid kuno. artefacts such as the coins. In addition to that.

Moquette pada tahun 1912 mengkaji nisan kubur di Samudra Pasai dan nisan kubur Malik Ibrahim di Gresik yang dianggap memiliki persamaan dalam cara menuliskan huruf dan kalimat-kalimat dengan nisan Umar bin Ahmad al-Kazaruni di Cambay (Moquette. Selain itu arkeologi juga merupakan bagian dari science karena menggunakan kaidah-kaidah ilmu pengetahuan dan metode yang scientific dalam menganalisis dari penggunaan carbon dating hingga studi tentang residu makanan (Renfrew & Bahn. 1. artefak seperti.Jurnal Lektur Keagamaan. Menurut Sharer & Ashmore (2003) ada tiga hal yang direkonstruksi oleh arkeologi. Selain itu. Karena mempelajari masa lalu maka arkeologi juga merupakan bagian dari sejarah. 2003: 12-3). Nisan Kubur a. 1910: 596-600. tembikar dan lain-lain. yaitu sejarah manusia secara luas yang dimulai sejak tiga juta tahun yang lalu. 2009: 133 . bangunan istana. No. antara lain nisan-kubur. bangunan masjid. 1912: 536-548). ada pula yang mengembangkan kajian situs Islam sebagai kajian arkeologi melalui ekskavasi.146 (material culture) seperti bangunan-bangunan. Vol. mata uang.Di mulai pada tahun 1910 yang dilakukan oleh Van Ronkel yang membaca nisan kubur Malik Ibrahim di Gresik yang mencantumkan angka tahun wafatnya yaitu 1511 M (Ronkel. arkeologi mencoba menganalisa data yang diperoleh dari penelitiannya untuk merekonstruksi berbagai hal. Material Culture Ada beberapa jenis material culture dari masa Islam yang menjadi perhatian para arkeolog Indonesia. 7. sistem sosial dan sistem simbol dan ideologi (Sharer & Ashmore. Pendapatnya ditegaskan lagi 134 . Setelah itu. 1977: 108). Dalam usahanya memahami kehidupan manusia masa lalu. 1. yaitu sistem teknologi dan lingkungan. 2003: 456-552). alat-alat dan artefak lainnya. Colin Renfrew dan Paul Bahn (2003) menyebut arkeologi sebagai bentuk past-tense dari antropologi budaya yang juga mempelajari masyarakat dan kebudayaan manusia. Tjandrasasmita. Epigrafi Kajian tentang nisan sudah sejak awal telah dilakukan terutama para ahli kebangsaaan Belanda. Untuk itu kita dapat melihat selintas kajian-kajian apa yang telah dilakukan terhadap tinggalan budaya Islam.

80). dan lain-lain yang dikaitkan dengan sumber tertulis Kitab Bustanus-Salatin dan Tajus-Salatin (Moquette. Sultan Ala’udin al-Khahar (979 H/1571 M).P Moqutte pada tahun 1913 yaitu pada nisan Sultan Malik as-Salih yang mencantumkan angka tahun wafatnya pada tahun 696 H (1297 M ) dan nisan Sultan Malik az-Zahir putra Sultan Malik as-Salih yang wafat pada tahun 726 H (1326 M). dan menemukan makam raja-raja yang pernah memerintah Aceh seperti Sultan Ali Mughayat Syah yang wafat 936 H (1530 M). Sultan Ali Ri’ayat Syah (987 H/1579 M). 1914: 73. 1913. Keberadaan makam-makam ini membuktikan bahwa pada masa Majapahit yaitu pada masa kejayaan Hayam Wuruk di Jawa sudah ada orang-orang Islam yang dimakamkan dalam lingkungan yang dekat dengan 135 . 1977: 111). 1921: 391-399. Damais tentang nisan-nisan di Troloyo. Ia membaca ulang hasil pembacaan para ahli terdahulu N. Menurut hasil penelitiannya angka tahun yang tertua adalah 1296 S (1376 M) dan yang angka tahun termuda adalah 1533 S (1611 M).J Krom dan memberikan penafsiran baru terhadap nisan-nisan yang ada. Paul Ravaisse (1925) telah melakukan kajian tentang makam Malik Ibrahim dengan melakukan pembacaan inskripsi yang terdapat pada nisan serta mencoba untuk “membaca” beberapa ornament lampu yang terdapat pada nisan tersebut dan mengatakannya bahwa ornament ini adalah symbol dari surat An-Nur (cahaya) (Ravaisse. Sumbangan penelitian Moquette yang penting adalah mengidentifikasikan bahwa Sultan Malik As-saleh adalah Sultan pertama di Samudra Pasai yang dikaitkan dengan Sejarah Melayu dan Hikayat Raja-Raja Pasai (Moquette.Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan dalam penelitiannya pada tahun 1920 dan mengatakan bahwa nisannisan di Samudra Pasai dan Gersik berasal dari Cambay (Gujarat ) (Moquette. Pembacaan nisan-nisan yang terdapat di Samudra Pasai juga dilakukan oleh J. Tjandrasasmita. Jawa Timur. 1925: 668-703). Penelitian pada tahun 1955 selanjutnya di lakukan L. 1977: 108).C. 1977: 111).P Moquette yang lain adalah penelitiannya tahun 1914 ke Kuta-Raja Aceh. Tjandrasasmita. 1920: 44-47. Pada tahun 1919 Moquette menyampaikan hasil penelitiannya tentang makam tertua di Jawa yaitu Fatimah binti Maimun bin Hibatullah yang wafat 495 H (1102 M) berhuruf Kufi (Moquette. Tjandrasasmita. Sumbangan J.

Jurnal Lektur Keagamaan. satu di antaranya dapat langsung dibaca angka tahunnya yang berangka tahun 1290 S (1368 M). Krom yang telah meneliti nisan Trowulan enggan mengakui bahwa sudah ada orang-orang Islam yang berhak dimakamkan dekat dengan lingkungan istana pada akhir abad ke 13 Saka di Jawa. Huruf yang lebih banyak dipakai di Nusantara adalah gaya sulus atau gaya naskh (Ambary. Vol.129). Nisan ini merupakan data penting bahwa di Leran pada abad ke-11 sudah terdapat masyarakat muslim yang kemungkinan merupakan masyarakat pedagang yang diterima oleh masyarakat 136 .146 keraton. 1. Untuk itu Damais mengatakan bahwa harus dilakukan penelitian yang sistematis tentang makam-makam kuno yang ada di Trowulan agar dapat diperoleh data baru tentang penyebaran agama Islam di Jawa Timur (Damais. Nisan Fatimah binti Maimun bin Hibatullah yang ditulis dalam huruf Kufi ornamental yang bagian ujungnya dibentuk ikal di Leran telah dibaca oleh Paul Ravaisse memiliki penanggalan 475 H (1082 M). catatan kaki no. Penggunaan huruf Kufi hanya terdapat pada nisan-nisan yang diimport dari luar Nusantara. terutama dari Gujarat sebagaimana yang terdapat pada nisan Malik Ibrahim dan Fatimah binti Maimun.J. Berdasarkan penelitian epigrafi pada nisan-nisan kubur dapat diketahui bahwa Sultan Malik as-Saleh adalah Sultan pertama di Samudra Pasai dan atas dasar angka tahun pula maka dapat dikatakan bahwa Samudra Pasai adalah kerajaan Islam pertama. 1995: 223-289. 2009: 133 . Menurut Damais ketika mengunjungi makam Putri Cempa di Trowulan ia menemukan dua makam lain yang berprasasti. No. 1998: 57). 7. Peneliti terdahulu antara lain N. 1988: 174) Penelitian di Barus telah memperoleh data penting yaitu makam dari Tuhar Amisuri yang wafat pada 602 H (1203 M) memperlihatkan bahwa makam ini lebih tua dari makam Sultan Malik asSaleh (1297 M). Keengganan Krom menurut Damais mungkin juga karena Nagarakartagama tidak berbicara tentang agama baru tersebut. Keberadaan makam ini merupakan bukti bahwa di Barus telah ada pemukiman Islam (Ambary. 1998: 174). Hal ini merupakan data penting bagi perkembangan sejarah Islam di Indonesia (Ambary. Lebih lanjut Damais mengatakan bahwa mengingat stratifikasi sosial pada masyarakat Jawa Kuno yang sangat hiarakis maka bukanlah tidak mungkin bahwa mereka adalah keluarga istana.

kaki no.Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan setempat yang berada di bawah kerajaan Hindu-Buddha sebelum Kadiri (Tjandrasasmita. 1993: 278). Bentuk lampu seperti itu adalah lampu-lampu dari dunia Islam di Timur Tengah. Dengan demikian hal ini dapat memperkuat bahwa nisan-nisan yang memiliki ornament ini memang bukan berasal dari Nusantara (Marwoto. Setelah abad ke 17. Hasan Muarif Ambary (1984) dalam disertasinya telah melakukan penelitian tentang bentuk-bentuk nisan di Nusantara dan menggolongkannya menjadi 4 tipe yaitu tipe Demak-Troloyo. 1998: 239-241). Tipe Aceh (bucrane) misalnya selain terdapat di Pasai dan Aceh ditemukan juga di situs kubur di Barus dan beberapa situs lain di Sumatra Barat hingga Lampung. Bintan. Sulawesi Selatan. Yang menarik bahwa motif surya Majapahit ini ternyata 137 . Lingkaran cahaya ini di Jawa dan Bali melingkari seluruh tubuh tokoh atau benda yang dianggap memiliki sifat supernatural (Damais.. Di dalam peninggalan budaya materi di Nusantara motif atau jenis lampu yang tergantung dalam mihrab tidak pernah dikenal. Jawa Timur (terutama pantai utara). nisan papan Tinggi di Barus hampir semua memiliki ornamen ini. Berdasarkan pendapat Paul Ravaisse tentang nisan Leran dari Fatimah binti Maimun bahwa ornamen lampu yang tergantung di dalam mihrab adalah simbol dari Surah An-Nur. Atas dasar tipe –tipe tersebut ditelusuri persebarannya di Nusantara dan Asia Tenggara. Medalion Sinar Majapahit mirip dengan halo pada patung-patung yang dianggap tokoh suci pada agama Kristen. Pada nisan-nisan di Troloyo telah dikaji pula ornamen medalion sinar Majapahit yang disinggung pertama kali oleh Knebel yag disebutnya sebagai Cap Matahari. Bentuk Nisan dan Ornamen Studi tentang nisan tidak hanya dilakukan berdasarkan unsur tulisan saja. Perkembangannya dimulai dari bentuk bucrane pada abad 16-17 M. Naina Hisamuddin di Aceh. Di Semenanjung Malaysia. tipe Aceh. tipe Bugis Macasar dan tipe Ternate. 1995: 242. Persia. cat. Menurut Damais. lalu berkembang bentuk persegí panjang dan silindrik pada fase ke dua abad 17M-19M (Ambary. 68: 301). tetapi unsur bentuk dan juga ornamennya.243. bentuk nisan Aceh ditemukan di Kalimantan Selatan. 1996: 1-8 ). maka dilakukan penelitian bahwa nisan-nisan impor seperti Malik Ibrahim. b. Banten dan Yakarta. India.

Berdasarkan penelitianya seni ukir dan seni bangunan di Kudus merupakan seni bangunan Jawa-Hindu Majapahit (Jasper 1922: 3-30. Steinmann pada tahun 1934 melakukan penelitian ornamen yang terdapat pada masjid Mantingan dan makam Ratu Kalinyamat. oleh N. Setelah itu penelitian di Kudus di lanjutkan oleh J. Kalimantan Timur. Sumatera Barat. 1977: 112). Troloyo. Tentang bangunan masjid kuno ia menyampaikan bahwa bentuknya mengikuti bentuk arsitektur lokal dengan beberapa ciri 138 .J Krom yaitu tentang menara Kudus yang diperkirakan berasal dari abad ke 16M dan dianggap merupakan gaya bangunan peralihan dari gaya bangunan Majapahit yang mengingatkan pada bangunan candi (Krom 1920: 294-295. Vol. Selain itu ia melakukan penelitian pola-pola ornamennya dan dibandingkan dengan ornamen di candi-candi (Steinmann 1934: 89-97. Brunai. tesis lima buah dan satu buah disertasi. Blora.E Jasper pada tahun 1922 yang mengkhususkan pada penelitian seni ukir dan seni bangunan. 2.F Pijper pada tahun 1947 dan Pijper menyampaikan bahwa masjid kuno di Indonesia pada umumnya tidak memiliki menara. sampai ke Madura bahkan saat ini Muhammadiah juga menggunakan lambang surya Majapahit.Jurnal Lektur Keagamaan. Palembang. penelitian tentang jenis tanaman sangat penting untuk mengetahui keragaman tumbuhan yang ada pada masa itu. G. Menurutnya. 7. No.146 penggunaannya terus berlanjut pada masa-masa selanjutnya sebagaimana kita temukan pada nisan-nisan di sepanjang pantai utara Jawa. Tjandrasasmita 1977: 115). 1. dan telah menghasilkan sembilan buah skripsi Program Studi Arkeologi S1. Cirebon. Penelitian dalam bentuk skripsi tentang bentuk-bentuk nisan dan ornamen telah dilakukan di berbagai situs seperti Jakarta. Samudra Pasai. 2009: 133 . Menara di masjid Kudus bukan menara asalnya melainkan bagunan dari jaman Hindu yang digunakan kembali sebagai tempat kulkul. Jasinga. Tjandrasasmita. Penelitian tentang menara dan masjid kuno di Indonesia dilakukan oleh Dr. Tjandrasasmita 1977: 111). Masjid Kajian tentang masjid kuno di Indonesia khususnya di Jawa mulai dilakukan pada tahun 1920.

J de Graaf yang mengatakan bahwa masjid kuno di Jawa mendapat pengaruh bentuk masjid dari Sumatera yaitu masjid Taluk di Sumatera Barat yang merupakan prototipo masjid Malabar (Graaf. atapnya bertingkat-tingkat (Pijper. Manonjaya. Atas dasar penelitian terhadap bangunan masjid kuno di Indonesia Maka dapat diketahui pola-pola bangunan seperti denah masjid.Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan seperti denah segi empat dan pejal. Cirebon. jadi berbeda dan yang sama hanya pada bentuk atap. Ornamen pada bagian atas mimbar 139 . Jakarta. Sutjipto lalu mengajukan bangunan mandapa atau pendapa yang menjadi asal mula bentuk masjid kuno (Wiryosuparto 1961-62:7-8).R. arah hadap dan pola keletakan untuk masjid Istana berada di sebelah barat alun-alun. W.F Stutterheim mengajukan pendapatnya bahwa masjid kuno di Indonesia mendapat pengaruh dari bangunan tempat menyambung ayam di Bali (Stutterheim 1935: 135-140). Selanjutnya jika bagunan tempat menyambung ayam sebagai bangunan yang semiprofan tidak mungkin dijadikan dasar pembuatan masjid dan yang lainnya adalah tidak memiliki loteng. Taluk. Padang. Tentang asal usul bangunan masjid kuno telah dibahas oleh beberapa ahli seperti H. Pendapat Stutterheim disangkal oleh Prof Sutjipto Wiryosuparto. bentuk denah masjid Taluk adalah segi empat dan dikelilingi air sedangkan masjid Malabar denahnya persegipanjang tidak dikelilingi air. Sumenep. Masjid ini dibangun dengan bentuk yang baru pada tanggal 9 Oktober 1879 yang dibuat oleh seorang arsitek Belanda bernama Bruins (Kreemer 1920-21: 69-87. Banyumas. Pada sisi barat laut terdapat mihrab yang umumnya menjadi tempat yang paling raya ornamennya. 1947-48: 289). Pada perkembangan selanjutnya studi tentang masjid kuno terus dilakukan baik dalam bentuk paper ataupun skripsi kurang lebih berjumlah 23 buah di Progam studi Arkeologi UI yang mencakup masjid kuno di Palembang. di sisi kanan mihrab terdapat mimbar yang umumnya berbentuk seperti kursi dan memiliki anak tangga. Penelitian di Aceh dilakukan oleh J Kreemer di Masjid Raya di Kutaraja yang menurut penelitiannya bahwa Masjid Raya itu asalnya bernama masjid Bait ar-Rahman yang didirikan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636M). Tjandrasasmita 1977:112).dan Medan. 1947: 274-283). Banten. D.

Ornamen pada masjid-masjid di luar Jawa memperlihatkan bahwa ornamen banyak menggunakan motif-motif lokal sehingga dapat dilakukan studi yang mendalam tentang motif-motif lokal dari seluruh masjid Indonesia. Keraton Surosowan di Banten. Ornamen-ornamen makhluk hidup yang selama ini dianggap tidak boleh dilakukan tidak sepenuhnya dihindari sebagaimana terdapat pada Masjid Trusmi di Cirebon yang mengambarkan berbagai bentuk binatang seperti binatang anjing. 2009: 133 .Jurnal Lektur Keagamaan. antefiks dan binatang yang distilir seperti di masjid Mantingan. 3. Pada masjid-masjid tertentu selain ada tempat bedug juga terdapat makam-makam raja atau tokoh-tokoh penting seperti Masjid Demak dan Masjid Banten. ular. Keraton Banda Aceh dari masa Sultan Iskandar Muda abad ke 17 M. Selain penggunaan motifmotif dari masa sebelum Islam dan berbagai motif binatang ternyata ditemukan pula penggunaan motif-motif Islam seperti Interlace atau yang dikenal dengan Arabesque terdapat di Masjid Sang Ciptarasa Cirebon) dan Masjid Mantingan. Motif Interlace ini bila kita amati menyebar sampai ke Madura terutama pada makammakam kuno (Marwoto 2003:152-312). Demikian pula dengan keratonkeraton dari abad ke 18 seperti Yogyakarta dan Surakarta di arahkan ke utara. Penelitian mengenai ornamen masjid memperlihatkan bahwa masih banyak digunakan motif-motif yang berasal dari masa sebelum Islam seperti kala makara. Tata letak keraton-keraton Islam di Jawa pada umumnya mengarah ke utara. sulur-suluran. Vol. Bentuk bangunan masjid yang telah mengikuti gaya bangunan Timur Tengah dengan kubah di tengahnya adalah masjid-masjid yang kemudian dibanguan oleh Belanda seperti masjid Raya Aceh dan Masjid Agung Medan. seperti Keraton Kasepuhan dan Kanoman di Cirebon. 140 . Atap masjid merupakan atap tumpang yang bertingkat-tingkat dalam jumlah yang ganjil. kambing pada soko guru dan Masjid Demak dengan tempelan porselin yang memiliki berbagai motif binatang seperti anjing dan burung dan kura-kura.146 biasanya motif kala terkadang dengan makara. 1. No. Keraton Keraton atau istana merupakan pusat kota dari sebuah kerajaan. 7. Keraton Samudera Pasai besar kemungkinan menghadap ke utara yaitu menghadap ke Selat Malaka.

Situs Kadiri. dan lain-lain. 2007: 238-246). Cirebon.Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan berdasarkan berita asing diarahkan ke barat Laut. Kota Banten tumbuh sebagai pusat dagang dengan aneka ragam komoditas perdagangan yang didatangkan dari berbagai wilayah dan diperdagangkan di Banten. Kompleks bangunan keraton pada umumnya memiliki tembok keliling yang memisahkan keraton dari bangunan lainnya. Penelitian tentang makna ruang pada situs keraton Kasepuhan yang melihat antara penempatan ruang bagi yang hidup dan yang mati memperlihatkan bahwa Cirebon memisahkan dengan tegas ruang antara yang hidup (di Keraton) dan yang mati (di Gunung Jati). meliputi Keraton Kasepuhan. Situs-Situs Islam a. Berdasarkan penelitian tentang keraton maka dapat diketahui pola tata letak keraton. jadi hampir ke utara (Poesponegoro 1984:219). 2007: 9). Situs Pabean. Banten Lama Penelitian situs-situs Islam telah dilakukan di beberapa tempat seperti: Kawasan Banten Lama. Kanoman. Situs Jembatan Rante. Banten. bagian-bagian keraton dan fungsinya dan ornamen yang digunakan di keraton. Untuk itu Sartono Kartodirdjo mengkategorikan Banten sebagai emporium seperti juga Aceh. 4. Banten lama berdasarkan sumber sejarah adalah pusat kota dan bandar utama Kerajaan Banten yang berkembang sejak abad ke 16 hingga abad ke 19 M. Maimun dan Sumenep. Yogyakarta. Bagian yang merupakan tempat tinggal raja biasa disebut “dalem”. Hasil penelitian 141 . Banten juga berperan sebagai tempat perdagangan antar bangsa. Di Keraton Aceh. Situs Pamarican. Situs Karang Antu. Makasar dan Mataram (lihat Untoro. Mataram dan Samboapu sebagaimana diberitakan oleh sumber tulis asing susunan halaman untuk sampai ke bagian “dalem” adalah tiga yang mengingatkan akan bangunan halaman candi dan pura di Bali (Poesponegoro. Selain itu juga memperlihatkan pembagian ruang antara yang profan dan yang sakral (Johan. Penelitian tentang Keraton dalam bentuk skripsi di program studi S1 Arkeologi ada 11 buah. Situs Kraton Kaibon. termasuk di dalamnya situs Kraton Surosowan. 1984: 221). Samudra Pasai.

Sumber tulisan kuno dari Timur Dekat menyebut nama Barus serta adanya pedagang dari Oman di Nusantara sekurang-kurangnya sejak abad ke 10 M. coklat. mata uang VOC. Ciri-cirinya adalah bahannya berwarna merah jambu. hijau tua. biru kobalt. Keadaan keraton Surosowan dan Kaibon yang telah dipugar sekarang terbengkalai. b. Keberadaan tembikar Sgraffiato di Lobu Tua membuktikan bahwa Labo Tua termasuk dalam jaringan perdagangan dari Teluk Persia (Perret. Jenis “later Sgarffiato ware” Lobu Tua memiliki persamaan dengan temuan sejenis di Makran (Iran). Lobu Tua Pada tahun 1995 dan 1996 dilakukan penggalian di Situs Lobu Tua dekat Barus oleh tim Indonesia Perancis dan ditemukan 600 pecahan tembikar berglasir asal Timur Dekat yang dikenal dengan “later Sgraffiato ware”. sebagian di udara terbuka sebagian dalam cetakan. penelitian arkeologis banyak menghadapi kendala terutama dengan makin penuhnya penduduk yang menempati kawasan sehingga tidak lagi dapat dikendalikan. Benteng Spelwijk.Jurnal Lektur Keagamaan. Pola hiasannya buga-bunga. Kraton Kaibon. Sohar (Oman) dan Kilwa (Tanzania) dapat dikaitkan dengan adanya kelompok perdagangan dari Oman yang bernama Ibadi. Kelompok ini Sangat berperan aktif di wilayah Teluk Persia. berslip terang berhiaskan goresan dan glasirnya percikan-percikan. Di duga bahwa beberapa temuan menunjukan dua daerah asal yaitu Iran dan 142 . kuning pucat dan biru pucat. mata uang cina. Banten lama adalah satu-satunya kawasan perkotaan Islam yang tersisa hingga saat ini. Bukan merupakan kaca yang berkwalitas bagus tetapi lebih merupakan barang sehari-hari. 7. Warna kaca sebagian besar berwarna hijau pucat. geometris abstrak atau kaligrafi dengan huruf kufi. Menara Pacinan (Ambary 1998:124). termasuk Makran. 2002: 157-168). Bambhore dan pesisir Timur Afrika. Selain itu memugar sisa-sisa Kraton Surosowan. Aden. Vol. khususnya di Basrah dan di pesisir lautan Hindia. 1.146 arkeologi di Banten yang dimulai pada tahun1977 antara lain adalah ditemukannya situs industri logam dan industri tembikar serta temuan barang-barang perdagangan seperti keramik Asing dari berbagai negara. 2009: 133 . No. merah ungu dan turkuas. Selain temuan tembikar ditemukan pula artefak kaca yang kebanyakan dibuat dengan tehnik tiup.

Walaupun demikian penelitian tentang nisan-nisan kuno masih menyisakan banyak hal yang perlu dilakukan. Contoh lain tentang penelitian epigrafi Islam yang sudah dilakukan juga mengungkap cukup banyak hal penting tentang raja-raja yang memerintah di kerjaan-kerajaan yang bercorak Islam yang selama ini hanya diketahui atas dasar sumber tertulis berupa naskah ataupun sebaliknya. fungsinya belum jelas. Barang-barang dari Laut Tengah nampaknya diimpor sejak awal abad 11 M. penelitian masih dilakukan secara parsial. Bagaimana perkembangan gaya tulisan dan ornamen dalam nisan-nisan kunopun belum pernah dilakukan dalam skala yang luas. Seperti yang dikatakan Damais bahwa dari 1500 abkalts yang ada di Direktorat Sejarah dan Purbakala baru terbaca 800 abklats. Kaca berhias garis yang diukir diduga dari Iran abad ke 10 dan awal abad 11 M (Guillot. Artinya masih 700 abkltas yang belum terbaca. maka dapat dikemukakan beberapa bentuk utuhnya yaitu: Karaf (botol kaca dengan bibir bulat datar) dari abad 9-10 M.Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan Mesopotamia. Selain itu berdasarkan angka tahun yang terdapat pada nisan dapat pula diketahui bilamana orang-orang Islam sudah datang dan menetap di Nusantara. serta bagian timur Laut Tengah. Penelitian nisan-nisan kuna di pantai utara Jawa sebagai tempat awal Islamisasi belum secara menyeluruh dilakukan. 94 tahun lebih tua dari Malik as-Saleh di Pasai. Penutup Beberapa contoh penelitian arkeologi sebagaimana diuraikan di atas diharapkan dapat memberikan gambaran singkat bagaimana arkeologi memberikan makna pada material culture Islam sebagai usaha untuk memahami kehidupan dan perilaku manusia. Serahi kecil (kaca merah jingga berhias gaya bulu) berasal dari Mesir abad 11 dan awal 12 M. Demikian pula dengan studi tentang masjid kuno dan keraton. Setelah direkonstruksi artefak kaca. 143 . Sebagaimana penemuan angka tahun Tuhar Amisuri di Barus dengan angka tahun wafatnya 1203 M. 2002: 179-195). piala silinder diduga berasal dari Iran abad 9-10 M. Temuan angka tahun ini bila dikaitkan dengan penelitian arkeologi di Lobu Tua Barus berupa artefak kaca dan tembikar yang diduga berasal dari abad ke 9-10 merupakan hal yang tidak mengejutkan. Tempayan Miniatur jenis Serahi dari Timur Tengah.

Inleideng tot de Hindoe-Javaansce Kunst” S’Gravenhage.J.hal:3-30.van Hoeve-s’ Gravenhage.294-295. Boundedness dan Polusi pada Situs Islam Cirebon Abad XVI-XVIII.N.[] Daftar Pustaka Ambary.vifde jaargang.Pusat Penelitian Arkeologi. Marwoto. 1955. 1920.P.C Damais.1912. hal:208-214 144 . H.J.Hal:179-214. J. 1920-1921. PIA VII.Hal: 238-246.Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia. Johan.1e Jrg.19201921. No. 2009: 133 .2 Oktober. 1996. 1922. ed. Menemukan Peradaban. 1912. Jasper. 7.Wibisono. Epigrafi dan Sejarah Nusantara. Irmawati.tweeman delijks Tijdschrift Gewijd aan het Indonesisch Cultuurgebied.NV Uirgeverij W.. afl. Jakarta:EFEO De Graaf. 1947-1949.L. Lobu Tua Sejarah Awal Barus.J.E. Cipanas ------. 2007. Krom. Hasan Mu’arif. hal. Kreemer.1922. Statu Masalah Penenda KeIslaman.J.2003.Yayasan Obor. Wacana vol9 no. Disertasi Program Pascasarjana FIB-UI. “De Oorsprong der Javaanse Moskee” Indonesie. Ciputat : P. 2002. hal:69-87. “Het Stadje Koedoes en zijn oude Kunst “NION. Jakarta: EFEO.Jurnal Lektur Keagamaan.1. “De Datum op den grafsteen van Malik Ibrahim te Gresik” TBG 54. “De Groote Moskee te Koeta-Radja” NION.Claude& Sonny Ch.Claude Guillot. “Ornamen Mihrab dan Lampu pada beberapa Makam. Vol. 1988. Seni Dekoratif pada Bangunan di Pantai Utara Jawa Abad 15-17.7e jaargang. Moquete. Pilihan Karya L.C.hal:291299 Guillot. Irmawati M.T Logos Wacana Ilmu Damais.146 Seiring dengan perkembangan jaman maka kajian-kajian arkeologi Islam tentunya harus diperluas dengan mengembangkan isue-isue yang relevan dengan masa kini dan menggunakan pendekatan atau teori-teori baru dan yang lebih penting untuk dilakukan adalah menyampaikan hasil-hasil penelitian tentang Islam di Indonesia kepada masyarakat luas. 1. Temuan Kaca di Lobu Tua:Tinjauan Awal. Sebuah Tinjauan Simbolik”.

Pusat Penelitian Arkeologi. hal:107-135. 1935.80. O. “Verslag van mijn voorlopig onderzoek deer Mohammedaansche oudheden in Aceh en Onderhoogrigheden” OV. Uka. GrooningenBatavia. 2002. Archaeology:Theories. 2003. Jakarta: FIB. Kesultanan Banten 1522-1684 Kajian Arkeologi Ekonomi. “De Islam en Zijn komst in den Archipel”. Sejarah Nasional Indonesia. Heriyanti Ongkodharmo. 2003. Surabaya: CV Bunga Rampai Untoro.Berhiaskan goresa dan Berglasir Percikan-Percikan Asal Timur Dekat di Lobu Tua.S. Marwati Djuned. 1993. Robert&Wendy Ashmore. Paul. 1925.86 Moquete.hal:275-290. Tjandrasasmita.Claude Guillot. Sutjipto. Colin& Paul Bahn. hal.F. Jakarta: Balai Pustaka Ravaisse. “De Grafsteen te Pase en Grissee vergeleken met dergelijke Monumenten uit Hindoestan” TBG. 1977.W. hal: 7-8 145 . ed. tahun III. Majapahit dan kedatangan Islam Serta Prosesnya. hal:73. Kapitalisme Pribumi Awal.135-140. 1914. 21. Daniel & Sugeng Riyanto. hal.1910. 1914. Jakarta: EFEO. Stutterheim.1912 hal:536-548 OV. Archaeology Discoveryng Our Past. New York: Mc Graw Hill Company Inc.hal:157-178. Ph. Jakarta: Puslit Arkenas Tjandrasasmita. 2007. Jilid III.52.Tinjauan Awal. kwt. 700 Tahun Majapahit Statu Bunga Rampai. J. Wirjosuparto. 54. 1984. “Bij de afbeelding van het graf van Malik Ibrahim te Gresik”.P. 1912. Fadjar.Yayasan Obor Poesponegoro.4. 50 tahun Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional.komunitas Bambu. Uka.Method and Practice. 1961. Thames & Hudson Ronkel. Perre. Tembikar Berslip.UI. 1912. Deel LXI Renfrew.2 bijlage. Depbudpar. no.P. kwt.van. Riwayat Penyelidikan Kepurbakalaan Islam di Indonesia. L’inscription coufique de Leran a’ Java. J. Hal:668-703.Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan Moquete. 1910.Lobu Tua Sejarah Awal Barus. “Sejarah Pertumbuhan Bangunan Mesjid Indonesia”. TBG. TBG 1925.hal:596-600 Sharer.

Keraton seluas lebih kurang 3.Jurnal Lektur Keagamaan. Vol. Sumber: http://cetak.kompas. No. 2009: 133 .org/ 146 .iai-banten. 7. 1.146 Lampiran: Gambar 1: Sisa reruntuhan Keraton Surosowan.5 hektar itu merupakan kediaman para sultan Banten yang dibangun sekitar tahun 1552.com Gambar 2: Pintu gerbang timur ‘Benteng Keraton Surosowan’ Sumber: http://www.

The core of the network was the degree to which a number of the famous `ulam± came to learn and to teach in the Haramayn. Kata kunci: Ahmad Sanusi. penulis telah berhasil mencari dan menemukan kurang lebih seratus dua puluh dua (122) karya K. syariah Islam. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse. and in mysticism. They came from the various corners of the Muslim world. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . Departmen Agama Republik Indonesia (1986). bahkan sulit ditemukan. fatwa. Islam dan negara. Karena itu. Puslitbang Lektur Keagamaan) Badan Litban dan Diklat. dan apa saja kiranya buku-buku yang telah beliau tulis. They developed the nature of freedom of joining differences in theology.H.H. Ahmad Sanusi telah menulis selama hidupnya sekitar 480 karya tulis. Ahmad Sanusi itu.H. tulisan ini bertujuan untuk berbagi pendadapat tentang siapa K.K. Haramain. — Usep Abdul Matin K. Introduction The network of `ulam± (Muslim learned men) in Haramayn (Mecca and Medina) has been starting to exist since the sixteenth century.H. and His Work Collection Usep Abdul Matin UIN Syarif Hidayatullah. Dalam kesulitan itu. They handed down this nature and their religious sciences to the later generation of `ulam± of 147 .. Namun.H. sebagian besar dari karyanya tidak tersimpan di satu tempat. Jakarta Menurut Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur Agama (Skr. In the second half of the seventeenth century. Sukabumi. K. these Indonesian `ulam±--in particular from Malay--were involved in the network.. Ahmad Sanusi. in jurisprudence.

Para Pengemban Amanah: Kyai dan Ulama dalam Perubahan Sosial–Politik di Priangan c.2 such as those of Jamaluddin al-Afghani. (Boenoet: “Pemerintah” Soekaboemi. which is available in the KITLV Leiden University. where he returned to his home town. Ahmad Sanusi. included the intellectual currents of the Arabic thought in the liberal age (1798 – 1939). Studiegids Islamologie 1998/1999. 3.3 These facts signify Sanusi’s involvement in the Southeast Asian Connection. Siapa?: Lukisan tentang Pemimpin-pemimpin. pp. Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana & Kekuasaan. Introd. see Rijk Universiteit Leiden.1 K. Here was he appointed to be the adviser of the Party of Syarekat Islam. 1991). Yosep Aspat Alamsyah. he studied not only the religious sciences but the general ones. In 1913. 4 About Sanusi`s speech of Syarekat Islam. I am grateful to Mr. 54. (Leiden: Rijk Universiteit Leiden. he became a member of the Party of Syarekat Islam. The author is still alive. (Majalengka: Pengurus Besar “Persatuan Ummat Islam” Majlis Penyiaran dan Da`wah. for lending me this book. (Amsterdam: Vrije Universiteit. 1991). in Proces Verbal.K.I. said Josep. The religious sciences. Wanta.a. see his speech translated into Dutch entitled “Dit Boek Nahratoe`ddhargam (De Gebiedende Leeuwenstem) Dienende tot Wering van de Aanvallen Veragtelijke Menschen Gericht tegen de S. and 7. pp. p. 1998). an unpublished thesis. about the Arabic thought in the liberal age dated from 1798 to 1939. — Usep Abdul Matin Indonesia. like physics. West Java. when Sanusi was still in the Haramayn.H. 148-149. 1 148 . Cantayan in Sukabumi. Sanusi went back to his home country.H. this later group started establishing a Southeast Asian Connection in the beginning of the nineteenth century. and was the secretary to K. second edition. 2 M. 3 See Mohammad Iskandar. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya.H.4 Azyumardi Azra. KH Ahmad Sanusi dan Perjoangannya. 1900-1942. pp. 90-91. He told me that in December 22. 1999). a santri (religious student) from Sukabumi.H.. Later on. Muhammad Abduh. went to Mecca together with his wife to perform hajj (pilgrimage) and to deepen his Islamic studies under the `ulam± from Malay. Rasyid Ridho. Ahmad Sanusi. 19 Februari 1940). pp. Ahmad Sanusi’s Religio-Intellectual Discourse In the beginning of the twentieth century. Gunung Jaya-Sukabumi. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . K. 58-59. During his stay in Mecca. 2001 in his house. which Sanusi studied. precisely 1910. Sipahoetar. by Taufik Abdullah. In 1915.” . S. 74-75.. Indonesia.

6 For their support.000) followers. when he was still with me. people are used to calling it Pesantren Cantayan.. which is also located in Sukabumi. the colonial government regarded Sanusi to be their enemy. Sipahoetar. p. viz. Therefore. K. 6 5 149 .M. diinterner: 1928-1939). Op. 8 Ibid. Dudu Abdullah Hamidi. 200 boekoe ketjil dan besar). In contrast.. His students in this pesantren came not only from Sukabumi but also from outside of West Java. Interview with late K. perkoempoelan agama). Hence. Loc. therefore. According to A. This political role of Sanusi was unlike the other indigenous `ulam± who supported the Dutch colonial authority.I/Islamic Association) in 1931. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . K. in 1922.8 His fame increased after he had established a religious association (in Indonesian. 7 . Nevertheless. to teach his santris in his own pesantren (Islamic School) in Cantayan. the Dutch government gave them money. During that exile. these `ulam± were the members of the Politiesche Economisch Bond (PEB) and Pekauman Corps. therefore. in my house in Sukabumi December 12. he withdrew from this political organization5 and turned to assist his father. According to my late father. al-Ittih±diyyat alIsl±miyyah (A. S. and attracted some twenty thousand (20.H. Loc.M. who interviewed Sanusi face to face. he did not want to cooperate with the colonial Dutch government to make Indonesia independent. during eleven years of his exile (in Indonesian.7 Sanusi’s intellectual productivity is also discernible in his establishment of a pesantren at Genteng. 91.H. the Dutch had often put him in jail from 1919 to 1939. Cit. To advocate this organization.H. especially in West Java. Cit. my father. Sipahoetar. Sanusi was not able to break himself free from political affairs.. Dudu Abdullah Hamidi.I. 2001. since 1922. Cit.H.K. he had been known as a famous religious teacher. Ahmad Sanusi had been a very productive writer. he had written two hundred (200) books both in small and big pieces (in Indonesian.. Wanta. — Usep Abdul Matin In the following year. Pekauman Corps were the religious leaders who worked in the mosques in Sukabumi for benefit of the Dutch colonial government. Abdurrahim. Sanusi substituted its name with Persatuan Umat Mohammad Iskandar.

1955). 89. they banned this association. in Ensiklopedi Islam. He was the student of Ahmad Sanusi. I wish also to thank him for allowing me to copy his Tamsyiyyah numbered from 2 to 35. pp. When Japan came to occupy Indonesia. This book was famous in Indonesia i. Vol 3. Menado. (Sukabumi: al-Ittihâd. Flores. Mindarat al-Islâm wa-alÎmân. Sanusi published the Qur`anic verses in this Tamshiyya not only in the Arabic language but also in the Latin characters. including the advantage of the Latin characters. the `ulam±s of Pekauman discouraged the people from using the Tamshiyya.12 “Ahmad Sanusi. as well as Johor and Singapore.H. One of these `ulam± was Haji Oesman Perak from Bogor. — Usep Abdul Matin Islam (PUI/The Association of Muslim Community).9 Moreover. Mohammad Iskandar who were willing to give my parents the copy of the fatwâ. Sumbawa. Madura. It was also deemed by the PEB and the `ulam±s of Pekauman in Sukabumi. 11 Ibid. 1. See also Ahmad Sanusi. On the basis of Perak`s fatw±. Tahdîr al-Afkâr. Acep Zarkasih (about 80 years old) who lent me this book. Nevertheless. 10 Muhammad Misybâh ibn Haji Syafe`i Sukabumi.10 This explains to us why Sanusi`s fame all over Nusantara grew after the publication of his Tamshiyya in 1934. 12 Sanusi wrote this fatwâ in Malay language and Arabic characters on two wide and long pages of paper without title and year.11 To argue against this fatw±.. and I thank Ajengan Oyon Gunung Puyuh who allowed me to copy his Tamshiyya number 28. the colonial government considered this book to be a threat to their power. Tażkirat al-Ikhwân bi-mâ fî Âkhir al-Zamân. West Java. 1-5. 1993). KH. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . I wish to thank to Hasan Husen Basri.K. Borneo. (Jakarta: PT Intermasa. in October 1934. Abdullah ibn Husain. santris). 1935). Celebes.”. (Pabuaran Sukabumi: no publisher`s name. (Sukabumi: Kantor Cetak Sukabumi. Vol. see ibid. 1935). Such sentiment was resulted in a way that the`ulam±s of Pekauman published their legal formal opinion (fatw±) that discourages from using of the Tamshiyya by reasoning that Latin characters were prohibited from writing the Qur`anic verses. Bangka. and no one argued against this typescript. he published a Qur`anic exegesis entitled Tamshiyyat al-Muslimin fi Tafsir Kalam Rabb al-`±lamin. p. Ambon. This fatwâ was published by Kantor Cetak al-Ittihad Sukabumi. Sumatra..e Java. I am thankful to H. 9 150 . West Java. as a threat to their influence among their religious students (in Indonesian. and Dr. Sanusi depended his Tamshiyya by giving a fatw± that encouraged its use.

K. in 1944. This colaboration helped him strengthen Indonesian Muslim community that he established in 1934 to drive the Ducth occupation out of Indonesia. and in general other Indonesian youths. Sanusi moved to Jakarta to cooperate with Muslim leaders in Jakarta to arrange a more stronger military power. he gave a fatw± in 1936. Sanusi returned to Gunung Puyuh in Sukabumi. he empowered Indonesian Muslim youths. West Java. he agreed with Japan to establish Pembela Tanah Air (PETA/Fatherland Protector) organization. Sanusi motivated all Muslim people in West Java. Sanusi keept encouraging PETA to drive out not only the occupation of Dutch but also that of Japan. s.H. which prohibited the official collectors of the tithe from collecting it forcefully from common people. 151 . the Japanese administrator disqualified him from this BPUPKI. Sanusi was also a member of Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan/BPUPKI/Committee Inspecting to Organize the Independence of Indonesia). His father was a close friend of Sanusi. where he died in the same year. Ahm..a. In this colaboration. After the Indonesian independence. and unified them into Hizbullah to expel the English Nicagurkha soldiers from Indonesia. Sanoesi. “Zakat Fithrah”. in particular those who became AII members. In this case. to become soldiers of Hizbullah (Troop of God) and National Army of Indonesia (Tentara Nasional Indonesia/TNI). (Buitenzorg: Ang Tjio Drukkerij. — Usep Abdul Matin Sanusi’s intellectual debate with the `ulam± of Pekauman in Sukabumi. in particular those who lived in Sukabumi. Sanusi collaborated with Japan.. When the Nicagurkha occupied Sukabumi in West Java. As a result. Likewise. He left three wives and seventeen children.13 When Japan occupied Indonesia in the beginnings of 1940s. the Japanese administrator in Indonesia appointed Sanusi to become a Japanese vice resident in Bogor. two pages. In turn. However. In the beginning of 1950. in West Java. tithe in rice or money paid on first day of fasting month. According to the Puslitbang Lektur of the Department of National Religious 13 See his fatwâ in form of bulletin. I wish to thank Mr Muflih for lending me this bulletin.).. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . due to Sanusi’s strong leaning to Islam. H. like other Indonesian political leaders. is also noticeable in the case of zakat fitrah viz.

152 . politics. To me. and intellectualism in his time. Op. Badan Litbang Agama. Sanusi was advocating to reinforce Islamic law in Indonesia. I found about one hundred and twenty-two (122) of Sanusi’s works from some generous people. Oking just mentioned are the reasons of why his books are now disappearing and extremely difficult to find. on December 20. Oking explained to me that he did so because “if the Dutch administrators found someone possessing Sanusi’s works. the Netherlands. the dying exhortation of Ahmad Sanusi given to late Ajengan Dadun and the fear as felt by Mr. in the colonial period of Indonesia. in particular his work collection. bakal dibui). he was at the age of 80. this article of mine may give us a portrait of his social. 2001.. before his death. 2001.H. the study on Sanusi has its significant information of the relationship between Islam and state in Sanusi’s period. Oking at his house in Cigunung-Sukabumi.. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . — Usep Abdul Matin Affairs in Jakarta. For instance. This work is in form of micro film which is available in KITLV library.K. a little brother of Ahmad Sanusi. In 14 Puslitbang Lektur Agama. the study on Sanusi is worthy conducting.15 In addition. The reason is the degree to which he is a Muslim who is not only a productive writer. they would put him or her into a jail” (in Sundanese. Mr. Sanusi had given him a dying exhortation (in Sundanese: wasiat) to suppress his works on masalah-masalah furu` (cases of ethics based on different principles of Islam). 31-33. political. a student of Ahmad Sanusi. society. After he died.14 These works are now scattered and difficult to discover. said to me that. 15 Interview with Ajengan Dadun in his house in Cibadak-Sukabumi. then he buried them into a ground. December 12. Oking had ever put some works written by Ahmad Sanusi into a bamboo in his house. as a result. Leiden University. pp. and intellectual discourse.16 Perhaps. 16 Interview with Mr. According to deceased Ajengan Dadun Abdul Qahar. I had been working for five years to look for Sanusi’s writings.. but also an active leader in diverse debates on religion. However. When I interviewed him. In addition. It has probably connection to such link in Indonesia today. Oking (about 80 years old). Cit.. Therefore. Sanusi left four hundred and eighty (480) pieces of works that he compiled by himself.

pangajaran nomor 5 tahun 1932 [four pages]. campaigned for shari`a in Sukabumi in West Java.H. The fatw± of K. 1 bulan sakali bulan Februari 1932 di Batavia [2 pages]. One of Qahhar’s students was an officer who was in charge of Cianjur regency (Bupati) in West Java. 10. late Dadun Abdul Qahhar.. 1 bulan skali bulan Februari 1932 di Batavia [2 pages]. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. January. dinukil jisim kuring Ahmad Sanusi bin Haji `Abd al-Rahim. Ahmad Sanusi`s works which I have collected so far as follows.I.I.H.H. Wasidi Swastomo. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. K. 6. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . — Usep Abdul Matin 1998. 5.I. Hartina Nuduhken kana Bedana antara Aya Şadaqah rejeng diy±fah dina Syara1.I. Bulletin and Magazine: 2. Without title. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”.I. 9.K. dicetak di kantor cetak “al-Ittih±d” Punjul Tanah 153 .. without title and year of publication. Ahmad Sanusi’s Work Collection I will mention K. 11. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. pangajaran al-Ittihad nomor 18 19 Janwari [probably. pangajaran nomor 7 Oktober tahun 1932 [four pages].I. This man reinforced also the Islamic law in this region (Cianjur). sambungan nomer 17] [four pages]. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. and without identity of publication [four pages]. 1932) [four pages]. pangajaran al-Ittihad ka 17 Oktober 1933 no 4 [four pages]. 1932. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. (Batavia: Hoefd Bestuur A. 1. Ahmad Sanusi [on the use of Latin letters in his Qur`anic Exegesis. 7.H. pangajaran nomor 2 di kaloearkeun koe Hoefd Bestuur A. pangajaran nomor 3 telat dua bulan lantaran nunggu kantor cetakna di kaloearkeun koe Hoefd Bestuur A. 8. 3. his little brother. Al-Isy±rah f³-al-Farq bayn al-Şadaqah wa-al-Diy±fah. It was published by Kantor Cetak al-Ittih±d Sukabumi. Tamshiyya]. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”.

probably 1934. 15.H. — Usep Abdul Matin Tinggi Senin Batavia Centrum. akhir Bulan Syawwal 1347 (dan Haknya menyetak pun sudah jadi miliknya) (Cetakan ketigakalinya) Tercetak di kantor cetak dan toko kitab al-Sayyid `Ali al-`Idrus Keramat 38 Batavia Centrum). 14. because no 29 is dated to that year). 18. Maanblad Januari Februari no 30-31 1934. Jilid tahun ka I kanggi nomor 1 September 1931 September 1931. Ahmad Sanoesi bin H. Tinggi Senen no 191. Ahmad Sanusi Gang Kampung Bali Kecil 6 Tanah Abang Weltevreden Betawi. my note] Bahasa Soenda oleh H.K. Weltevreden 8 november 1928 (Dicetak di Kantor Sayyid Yahya ibn Usman Tanah Abang). Fada`il Kasb al-Ikhtiy±r f³ Ilz±m Afwah al-Wu`az al-Gid±r Artinya Menyatakan segala Kelebihan Mencahari dan Berusaha 154 . 17. 12.20. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . 16. Tafs³r Bahasa Soenda Februari 1932 Tahoen ka II diterbitkan saboelan sekali oleh Hadji Ahmad Sanoesi bin Hadji Ahmad Sanoesi bin Hadji Abdurrahim Tanah Tinggi Senen no 191 Batavia Kramat Harga langganan 2 boelan f 1. Ahmad Sanoesi bin Hadji Abdoerrahim. Ris±lat Tashq³q al-Awham f³-al-Radd `an al-Tugam li-n±qil³h±. 13. Ris±lat Tahd³r al-`Aw±m min Muftaray±t Cahaya Islam Hartina Mere Inget ka sakabeh Jalma Awam Kudu Sien tina sakabeh Jijieunan Bohongna kaom Surat Kabar Cahaya Islam dikumpulken ku jisim kuring anu kacida do`ifna Haji Ahmad Sanusi ibn Haji Abd al-Rahman di Tanah Tinggi Senen nomor 191 Weltevreden Batavia Kantor Cetak Harun ibn `Ali Ibrahim 3 Pakojan Betawi Telepon 1850 [72 pages]. 27 Jumada al-Ula 1347... Abdurrahim T. Batavia Kramat. Pangadjaran [Tafsir ku. Tanah Tinggi. Senen. No 23 24 Maanblad Juni (year is not clear. Tafs³r Boechori dikloearken 1 boelan sekali oleh H. Ris±lat Tashq³q al-Awham f³-al-Radd `an al-Tagam Artinya Inilah Suatu Pembelah segala Sangkaan yang Salah di dalam Menolak Tukang Menyesatkan kepada Orang-orang Bodo karangan hamba yang doif Haji Ahmad Sanusi ibn Haji `Abd al-Rahim Gunung Puyuh Sukabumi Tercetak atas usaha Sayyid `Ali al-`Idrus Kampung Bali Keramat nomor 38 Batavia. no 19.

a. From the beginning of December to the beginning of January 2002.. (Sukabumi: al-Ittih±d.K. probably 1934. 7. s. Ujang Sholehuddin.a. (Gunung PuyuhSukabumi: without the name of publisher. There are tweleve works of Sanusi that I found from deceased Ahmad Djunaedi Ma`ruf17: 1. s.a. Tażkirat al-Th³libin fi Bayan Sunniyat al-Talq³n. 5.a). (Panarakan Kaler-Bogor: Ikhtiyar. Number 47. s. Al-Mufhim±t fi Daf`i al-Khayal±t. 2.). No. 9.). and s. — Usep Abdul Matin Kehidupan di dalam […/not clear] segala Mulut si Tukang Ngajar yang selalu Menipu Orang dikeluarkan oleh hamba yang [ …/not clear] Haji Ahmad Sanusi bin Haji `Abd al-Rahim di Tanah Tinggi 191 Batavia Centrum. without the name of the publisher. Tarbiyyat al-Isl±m. Al-Kalimat al-Mabniyyah f³ Qasy³dat ibn Hajjah. Shir±j al-Ażkiy±` f³ Tarjamat al-Azkiy±`. 6. for helping me find this collection of late Ma`ruf.). Nµr al-Yaq³n f³ Mahw Madzhab al-La`³n min al-Mutanabbiyy³n wa-al-Mutabaddi`³n. Tercetak diterbitkan alIttihad Tanah Tinggi 191 Punjul Batavia Centrum. (without place of the publisher.). 4. s. 3. 8.a.a). (Tanah Abang:Sayyid Yahya. without the name of publisher. (Tanah Abang-Weltevreden Batavia: Sayyid Yahya bin `Usman. 20 Romadhan 1347). s.. 29 Maanblad December (year is not clear. Mr.H. 10. because no 31 is dated to 1934). I am grateful to my friend. I had copied a number works composed by Ajengan Ahmad Sanusi as follows. Al-Tamshiyyath al-Isl±miyyah f³ Man±qib Im±m al-Sh±fi`i.a. s.).a. Kit±b Mift±h al-Jannah f³ Bay±n Firqat Ahl al-Sunnah wa-alJam±`ah. s. (Batavia Centrum: al-Sayyid al-`Idrµs. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . 17 155 .). (Tanah Tinggi-Senen-Batavia Centrum: al-Ittihad. Kanz al-Rahmah wa-al-Lutf f³ Tafs³r Sµrat al-Kahf. (without place of the publication. Tamshiyyat al-Muslimin f³ Kalami Rabb al-`Alam³n.

s. s. Ǐq±d al-himam f³ ta`l³q al-hikam 5.a). Jumad al-Awwal 1352). (Sukabumi: alIttih±d. Al-Kaw±kib al-Durriyyah f³ al-Ad`iyyat al-nabawiyyah (Tanah Abang: Kantor Cetak Sayyid Yahya. s. 12. Oking18: 1. nor year of the publication). 4. Vol.a. (Tanah Abang: Kantor Cetak Sayyid Yahya. 12. 8. Hilyat al-`aql wa-al-fikr (Tanah Abang: Kantor Cetak Sayyid Yahya. 18 I thank Mr. Al-Sh±fiyat al-w±fiyah f³ fad±`il sµrat al-F±tihah 7.).a.K..a. 13. Bahr al-madad f³ tarjamat ayyuh± al-walad (Vogelwegsukabumi: no publisher. (Babakan Sirna-Karang Tengah Cibadak-Sukabumi. 14.). Al-Aqw±l al-Muf³dah f³-al-Umµr al-Muwhamah.). s. s. s. There are nineteen (19) works of Sanusi that I found from Mr. s.). Jawharat al-wah³d (Pekojan-Betawi: Kantor cetak sareng Toko Buku Harun bin Ali Ibrahim. Al-Kaw±kib al-Durriyah fi-al-Ad`iyyah al-Nabawiyyah. Min majmµ`at durµs al-`ulµm (Tanah Abang: Kantor Cetak Sayyid Yahya. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . 156 . 2. s. s. s. s.H. no name of the publisher. T³j±n al-gilm±n f³ tafs³r al-Qur’±n (Petamburan-Batavia: alSayyid `Abdullah putra al-Sayyid `Ushman..`Tawh³d al-muslim³n wa`aq±`id al-mu`min³n (Tanah TinggiPunjul-Batavia: Kantor Cetak al-Ittihad. Al-Sh±fiyat al-W±fiyah f³ Fadh±`il Sµrat al-F±tihah.a. s. Tawh³d al-muslim³n wa `aq±`id al-mu`min³n (Bg [Bandung]: Sukma Rat.a). Kashf al-Sa`±dah f³ Tafs³r Sµrat al-W±qi`ah. (Cibadak Sukabumi: without the name of publisher. without the name of publisher. It includes the list of Sanusi`s works.a. — Usep Abdul Matin 11.a).). (without place of the publication.a).a). 1. 3. Iskandar Sanusi for introducing me to Mr.a). 11. 10. Hid±yat al-siby±n f³ fad±’il sµrat tab±rak al-mulk min alQur’±n (Tanah Abang: Sayyid Yahya. 9. Lujj±m al-Gudd±r al-Qa`ilin bi-anna Abaway al-Nabiyy min Ahl al-N±r. Oking.a). 6.

a). 8. 3. Al-Jaw±hir al-B±hiyyah f³ Adab al-Mar`ah al-Mutazawwijah. Al-Muf³d (Vogelweg Sukabumi: no publisher`s name.. 1935). no. (no place of publication.a.a). no publisher`s name. (Tanah Abang Weltevreden: Sayyid Yahya.K.a. s. Mr. (Pekojan-Betawi: Toko Buku Harun bin `Ali Ibrahim. no.). 1 November 1931). s. “Kabagjaan Islam”. (Sukabumi: alIttihad.a). (no place of publication: no publisher`s name.. This piece of work is printed in 16 combined pages. There is one (1) book of Sanusi that I gained from Mr. 1. 2.). West Java: 1. s. Al-mutahhir±t min al-Mukaffir±t. 16. “Kabagjaan Islam”. 18. — Usep Abdul Matin 15. (Tanah Tinggi Betawi: Kantor Cetak Al-Ittih±d. Ujang to introduce me to his father. 3.H. Tanw³r al-dal±m fi Furuq al-Isl±m. s. Tafs³r Malja` al-T±lib³n. Tafs³r Malja` al-T±lib³n. (Gunung Puyuh-Sukabumi: without publisher`s name.a). s. Ahmad Muflih19: I wish again to thank Mr. (Gunung Puyuh-Sukabmi. 2.a). Hilyat al-siby±n f³ bay±n sawm ramaz±n (No place of publication: no publisher`s name. s. no name of publisher. 19. in “Kabagjaan Islam”. Ahmad Muflih. 28 January 1931/9 Ramadlan 1349). Min majmµ`at durµs al-`ulµm. 6. s. Acep Zarkasyih in Sukabumi. 17. 3. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . (Tanah Tinggi Betawi: Kantor Cetak Al-Ittih±d. (no place of publication: no publisher`s name. Ǐq±d al-himam f³ ta`l³q al-hikam. 4. s. (Gunung Puyuh-Sukabumi: al-Ittihad.a.a). 9. “Al-Tabl³g al-Isl±m³ (Embaran Kaislaman)”. Vol.). 19 157 . (no place of the publication: no publisher`s name. s. 3rd edition. Vol 1.a). There are nine (9) works of Sanusi that I obtained from H. 7. and s. October 1935). Tafs³r Malja` al-T±lib³n. no. 18. Vol. “Mu`±hadah Perjanjian Allah Ta`ala ka Nabi Adam”. 5.

Hilyat al-Siby±n f³ Bay±n Saum Ramad±n. 4. Tafs³r Sµrat al-Mulk: Hid±yat Qulµb al-Siby±n f³ Fad±`il Sµrat Tab±rak al-Mulk min al-Qur`±n. 28 January 1931/9 Ramadhan 1349). There are thirty-seven (37) books of Sanusi that I copied from Dr. Vol.H. 8.. Manzµmat al-Rij±l li-Sayyid `Al³ Zayn al-`±bid³n. 6. (Vogelweg 100 Sukabumi: no publisher. Oman Fathurrahman20: 1. Qal±`id al-Durar f³ Bay±n `Aqd al-Jauhar. s. (Gunung Puyuh-Sukabumi: no publisher. Malja` al-T±lib³n f³ Tafsir Kal±m Rabb al-`±lamin. s. On the title-page of this book. Tafr³h Sudµr al-Mu`minin f³ Mawlid Sayyid al-Mursal³n. 5. (no place of publication: no year of publication.a).a. s. 9. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . 20 I am once again grateful to Dr.a). (Cantayan: no publisher. (Pekojan-Betawi: Ahl al-Sunnah wa-al-Jam±`ah. 2. 7. Oman Fathurrahman for allowing me to copy about 63 works from his collection.a). (VogelwegGunung Puyuh-Sukabumi: no publisher. Al-Ad±wiyyah al-S±fiyah f³ Bay±n S±l±t al-H±jah wa-alIstikh±rah wa Daf`i al-Kurb±t.). (Babakan Sirna: no publisher.K. Thirty-seven of them are books written by Ahmad Sanusi as listed above. 22 Rabi` al-Awwal 1348). — Usep Abdul Matin 1.).. (no place of publication: no name of publisher.1.a. 3. (Tanah Abang Weltevreden: Sayyid Yahya. Jawharat al-Marfiyyah fi Mukhtasar Ma©hab al-Sh±fi`iyyah. the author mentioned that he asked the pardons of his pardons if they find his bad expressions of his words (kirang sae prak-prakannana).a). 2nd edition. s. s.a). On the title-page of this work. s. (Kampung Petamburan-Tanah Abang-Betawi: Tuan Sayyid `Abd All±h bin Sayyid `U£m±n. 158 . s.a). s. the author says that he asks the pardons of his readers if they find some some mistakes in this book because the writer was still learning (anu nulisna diajar). because the writer “just started to learn how to write to follow the footsteps of professional writers” (diajar tutulisan tuturuti ka anu tukang ngarang). “Al-Mufid: `Ilm al-Tawh³d”. Al-Lu`lu` al-Nadlid fi Masa`il al-Tauhid.

(Tanah Tinggi-Senen No 191 Batavia Kramat: no publisher. s. 1 October 1931). (Senen: Pak Haji Harun bin `Ali Ibrahim.). the author mentioned the right of the publication: Pasal (section) 11 tina undang-undang (of the law) dated to 1912 number 600. Al-Matlab al-Aśna f³-al-Asm±` al-Husna. 12. No. (De Vogelweg no 100 Soekaboemi: al-Ittihad. — Usep Abdul Matin 10. 14. 16. Tafsir Bahasa Soenda. year III). 23. 26 Rajab 1347). s. the scriber is al-Sayyid Muhammad bin Yahya. 19-20. number 1. Qaw±n³n al-D³niyyah wa-al-Duny±wiyyah f³ Umµr al-Zak±h wa-al-Fitrah. 191: Harun bin `Ali. Tawh³d al-Muslim³n wa `Aqa`id al-Mu`min³n. Tafsir Bahasa Soenda. 159 .K. Mei 1936). (Gunung PuyuhSukabumi: no publisher. 1. Tafsir Bahasa Soenda.. February 1932). (Gunung PuyuhSukabumi: without publisher.a. 11. 3.a. Vol. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . maanblad. (Vogelweg-Sukabumi: without publisher.a. 22. 17.). Tafsir Boechari. 4. Tafsir Bahasa Soenda. Vol. No. 7. “Tuntunan Budi”. 20. 19. (Tanah Tinggi-Senen No 191 Batavia Kramat: no publisher. 15. Tafsir Bahasa Soenda. 24. The author is Ahmad Sanusi. s. (Pekojan-Betawi No. Kashf al-Awham wa-al-Zunµn f³ Bay±n Qaulih Ta`±l± l± Yamassuhµ ill± al-Mutahharµn. On the title page. No. 28 August 1931). 28 July 1931). (Vogelweg-Sukabumi: without publisher. 21.. No. without publisher. 13. No. (Senen-Batavia Centrum: Harun bin `Ali Nur. Pangajaran dengen Bahasa Soenda. no 191.a. Tafsir Bahasa Soenda.a. 28 May 1931/10 Muharram 1350). January-February. No. 5.H. No. 8. s. No. (Tanah Abang Weltevrede: Sayyid Yahya. (Jatinegara: no publisher. 18. mandblad.). “Miftahoelmadad: Kaifiat Ngajarken Zoebad Ilmoe Tauhid Fiqih Tashaoef”. 2. 28 April 1931). s. (Tanah Tinggi-Senen No 191 Batavia Kramat: al-Ittihad. 3. (Tanah Tinggi-Senen No 191 Batavia Kramat: no publisher. Mift±¥ al-Mad±d.). 28 March 1931).). (Tanah Tinggi-Senen Batavia Kramat: al-Ittihad. 2.

32. 33. (Tanah Tinggi Punjul 65 Batavia Kramat: al-Ittihad. Al-Sir±j al-Wahh±j fi-al-Isr±` wa-al-Mi`r±j. s. 24 Ramadhan 1347). 1912). 16. 1935). Vol. 36. (Babakan Sirna: without publisher. s. Sillah al-B±sil fi-al-Darb `al± Taz±hiq al-B±til. J±mi`u al-Durar f³ Tabd³d Awham Haji Bodor. Epon (the wife of late Haji Tamim. Tafr³h sudµr al-mu`min³n f³ mawlid sayyid al-mursal³n. (without the place of publisher: without the publisher`s name. 8 Rabi`u al-Akhir 1349).a). Vol. (8 Rab³` al-±khir 1348/3 October 1929).H.). (Tanah Abang: Sayyid Yahya. Ujang Suhud. (Pekojan-Betawi: Harun ibn `Ali Ibrahim. 30. She gave them to me as a gift. There are nine (9) books of Sanusi that I received from Mrs. 28. — Usep Abdul Matin 25. 3. (no place of publisher: without the name of publisher. 2. 1912).). This collection belonged to her late husband. 34.). s. (Sukabumi: Al-Ittih±d.a. 31. (Sukabumi: Kutamas. Rawdat al-`irf± f³ ma`rifat al-Qur’±n. (Gunung Puyuh Sukabumi: no publisher`s name. s.a.. s.). 35. Tanb³h al-Hayr±n f³ Tafs³r Sµrat al-Dukh±n. Ris±lat Tahd³r al-`Aw±m min Muftaray±t Cahaya Islam. 29. (PekojanBetawi: Harun Ibn `Ali Ibrahim. Ris±lat al-Jawharah al-Mardiyyah f³ Mukhtasyar al-Furµ`iyyah al-Sh±fi`iyyah.a.Igtir±r bi-Żal±lat wa-Iftir±y±t Tasyfiyyat al-Afk±r. my grandfa). 27.a). Tahdir al-Afk±r min al.a. 20 Muharram 1348). 6. s. (Tanah Abang: Sayyid Yahya. 1929/6 Ramadhan 1347). Mr. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . 2. 16. [1931]). 160 . Al-Suyµf al-Sy±rimah f³-al-Radd `al± al-Fat±w± al-B±tilah. (Tanah Abang Weltevreden: Sayyid Yahya. (Cantayan-Sukabumi: without publisher. It is as follows: 1.a). Hid±yat Qulµb al-Shiby±n f³ Fad±`il Sµrat Tab±raka al-Mulk min al-Qur`±n. 26. 37. s. (Sukabumi: Kutamas. Sir±j al-Ummah f³ Khasy±`isy al-Jum`ah. Al-Fiqh al-Akbar Im±m Hanaf³. Tamshiyyat al-Wild±n f³ Tafs³r al-Qur`±n. Hilyat al-`Aql wa-al-Fikr f³ Bay±n Muqtaday±t al-Shirk wa-alFikr.K. Rawdat al-`irf± f³ ma`rifat al-Qur’±n. (Tanaha Abang Weltevreden Betawi: Sayyid Yahya bin Ustman..

Vol. 30.. 10 Syawwal 1349/28 February 1931).. s. Mamih Ijong. 3. Tafs³r malja` al-t±lib³n. s. 1 September 1931.H. Vol. and some corrections of the author of some words mentioned in previous volumes of this exegesis. On the last page of the book there is the list of the people who just died. s.). 100 Sukabumi: no publisher`s name. 28 April 1931).a.اﻟﻤﻄﻬﺮات ﻣﻦ اﻟﻤﻜﻔﺮ١ت‬De Vogelweg No. (no place of publication: no publisher`s name. (Tanah Tinggi Betawi: no publisher`s name.). Tafs³r malja` al-t±lib³n. s. Zainal Abidin Toko kitab dan Petji Merk “Sedjati”. Rawdat al-`irf±n f³ ma`rifat al-Qur’±n. s. 1912). 2. Uking`s collection. 2. 1. (Tanah Tinggi Senen 191 Batavia Keramat: no publisher`s name. There are three (3) books of Sanusi that I received from my late father. there is a list of the people who died. Dudu Abdullah Hamidi: 1. M.a. 5. This book starts from the verse alNaba` to the verse al-N±s and ends at the Du`a` Khatm alQur`±n. 6. (Tanah Tinggi Senen Keramat No. Tamshiyyat al-dar±r³. It contais the Quranic exegesis of the verse Al `Imr±n. Jawharat al-mardiyyah f³ mukhtasar maż±hib al-Sh±fi`iyyah. Tafs³r malja` al-t±lib³n.K.a. (Tanah Abang Weltevreden Betawi: Kantor Cetak Sayyid Yahya bin `Usman.). (Djl.). 161 . — Usep Abdul Matin 4.a. 28 March 1931). Rawdat al-`irf± f³ ma`rifat al-Qur’±n. I write them in the Arabic script as follows: 1. 3rd edition. Vol. Tafs³r malja` al-t±lib³n. Tjagak Tjisaat – Sukabumi: H. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . There are eleven (11) books of Sanusi that I received from Mrs. On the last page of the book.H. tahun ka 1).a. 8. 9. (no place of publication: no publisher`s name. Vol. Vol. 4. Rawdat al-`irf± f³ ma`rifat al-Qur’±n.). K. ‫( . (De Vogelweg Sukabumi: No publisher`s name. I found the cover of this book from Mr. 4 Pekojan Betawi: Kantor Cetak Harun bin `Ali. 7. 3. (no place of publication: no publisher`s name.

In addition. ‫( . ‫( . 5. Ali Alaydroes. the author warned the readers that his works entitled: 1. (De Vogelweg Sukabumi: Al-Ittihad. On the title-page of this book. (Tanah Abang Weltevreden: Boekhandel en Steendrukkerij Sajid Yahya. 4. On the back-cover title-page of this book. 2. Tafsir Dukhan (Tanbih al-Hayran).).ﺗﺎج اﻟﻤﻔﺎﺧﺮ ﻓﻲ ﺗﻔﺮﻳﺢ اﻟﺨﺎﻃﺮ ﻓﻲ ﻣﻨﺎﻗﺐ اﻟﺴﻴﺪ ﻋﺒﺪ اﻟﻘﺎدر ﺟﻴﻼﻧﻰ‬Tanah Abang Weltevereden: Kantor Cetak Sayyid Yahya. 20 Muharram 1348). Tafsir Yasin (Tafrih Qulub al-Mu`minin).اﻳﻘﺎظ اﻟﻬﻤﻢ ﻓﻲ ﺗﻌﻠﻴﻖ اﻟﺤﻜﻢ‬No place of the publication: no publisher`s name. 2.H.ﺟﻮهﺮة اﻟﻤﺮﺿﻴﺔ ﻓﻲ ﻣﺨﺘﺼﺮ ﻣﺪاهﺐ اﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ‬No place of the publication: no publisher`s name. s. 13 Jumadi al-Awwal 1361/29 Mei 2602 Nippon (1942). ‫( .اﻟﺴﻼح اﻟﻤﺎﺣﻴﺔ ﻟﻄﺮق اﻟﻔﺮق اﻟﻤﺒﺘﺪﻋﺔ‬Gunung Puyuh Sukabumi: no publisher`s name. ‫ . which says that he received anything to publish this book in a cheap cost. were published by Musa bin `Ali Patekwan Betawi without the author`s permission. 1 Rajab 1347/13 December 1928).). 5: Percetakan “al-`Usmaniyyah” Sayyid Hasan bin Usman bin ….هﺪاﻳﺔ اﻟﺼﻤﺪ ﻓﻰ ﻣﺘﻦ اﻟﺰﺑﺪ‬Gunung Puyuh Sukabumi: No publisher`s name.).a.).). s.a. ‫ . 6. s. s. he prohibited the readers from reading the fake works (kitab-kitab tiruan). 7. Friday. ‫ .. 3. — Usep Abdul Matin 2. there is announcement of the publisher.آﺸﻒ اﻷوهﺎم واﻟﻈﻨﻮن ﻓﻲ ﺑﻴﺎن ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻲ ﻻﻳﻤﺴﻪ اﻻ اﻟﻤﻄﻬﺮون‬Tanah Abang: Kantor Cetak Sayyid Yahya.a.اﻟﻤﻄﻬﺮات ﻣﻦ اﻟﻤﻜﻔﺮات‬no place of the publication: No publisher`s name. ‫( . 10. ‫( .). 11. On the last page of this book.K. ‫( .). like al-Wajiz by 162 . 8.a.). ‫( . ‫ : ﻣﻨﻈﻮﻣﺔ اﻟﺮﺟﺎل ﻟﺴﻴﺪى ﻋﻠﻰ زﻳﻦ اﻟﻌﺎﺑﺪﻳﻦ‬Ieu Nadlam Qashidah Tawassul kalawan Sakabeh Awliya` Allah. 9.اﻟﺪﻳﺎر اﻷﺳﻼﻣﻴﺔ ﻓﻲ اﻟﺴﻌﺎدة اﻷﺑﺪﻳﺔ : دار ﻷﺳﻼم دﻧﺎ آﺎﺑﻜﺠﺎ‬ (Kramat 38 Jakarta: Sd. ‫” اﻧﺎﻧﻮ ﻣﻌﻤﻮر . Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . 26 Rajab 1347).a. there is a stample named by Muhammad Sanusi. sayyid Yahya. s.ا ﻟﺸﺮاج اﻟﻮهﺎج ﻓﻰ اﻷﺳﺮاء واﻟﻤﻌﺮاج‬Tanah Abang Kecil No.آﺸﻒ اﻟﺴﻌﺎدة ﻓﻲ ﺗﻔﺴﻴﺮ ﺳﻮرة اﻟﻮاﻗﻌﺔ‬Babakan Sirna Sukabumi.a.. s. s.a. s.ﺗﻴﺠﺎن اﻟﻐﻠﻤﺎن ﻓﻲ ﺗﻔﺴﻴﺮ اﻟﻘﺮأن‬Cantayan Sukabumi. 3.a. He said that Tafsir Raudhat al`Irfan is worth reading for both old people (sepuh) and teenagers (murangkalih). (Petamburan Betawi: Cetakan Sayyid `Abdullah putra Sayyid Usman.

Ahmad Sanusi. Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana & Kekuasaan. Yosep Aspat. Azra. — Usep Abdul Matin Haji Muhammad Juwayni bin Haji `Abdurrahim Parakan Salak published by Sayyid `Ali al-`Idrusiy in the Keramat Batavia Centrum. to study further on Sanusi in a more deeply way. he qouted the prophet`s statement: “Man Gassana fa laysa minna” (whoever performed a back bitting is not from us). (Gunung Puyuh Sukabumi: no publisher`s name. Introd. and my grandfa who became the adjutant to the late father of K. Ahmad Sanusi: K.. Abdurrahim. thereby prohibiting Indonesians from having and reading Sanusi’s works. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . On this paper. Azyumardi. who lived from the last nineteenth to the first twentieth century. He was a Sundanese reformer Muslim whose ideas were influenced very much by notorious Muslim reformers. in particular the students of Islamic History and Civilization. I hope that this article inspires the readers. Then.H. is a prolific writer whose works are now dfficult to discover for the reason that the Dutch colonial government regarded him as a dangerous man to them. Gunung JayaSukabumi.H. I dedicate this work to my late parents.K. 163 . 1999. There is one book of Sanusi that I found from a santri of Syams al-`Ulum in Gunung Puyuh. such as Muhammad `Abduh and Jamaluddin Al-Afghani. 2001 in his house. December 22. s.). since he traveled to the Haramayn (Mecca and Medina) to learn and to teach. Conclusion On the basis of the above-mentioned details. I could draw a conclusion that KH. by Taufik Abdullah.H. [] Bibliography Alamsyah. I have a good luck to find more than one hundred writings authored by Sanusi. Sukabumi: Misb±h al-Fal±h f³ Awrad al-Mas` wa-al-Syab±h.. Mr.a. He warned them that whoever was involved in this case would be expelled by God from Islam.

Leiden University.a. Abdullah. Iskandar. Fatw±. [Sanusi`s speech of Syarekat Islam] “Dit Boek Nahratoe`ddhargam (De Gebiedende Leeuwenstem) Dienende tot Wering van de Aanvallen Veragtelijke Menschen Gericht tegen de S. Sukabumi. [This work is in form of micro film which is available in the KITLV library. 1900-1942. KH. Interview with late K. KH Ahmad Sanusi dan Perjoangannya. Amsterdam: Vrije Universiteit.. Ahmad Sanusi. 1955. 2001. Studiegids Islamologie 1998/1999.. When I interviewed him. Para Pengemban Amanah: Kyai dan Ulama dalam Perubahan Sosial – Politik di Priangan c. Sukabumi: al-Ittih±d. An unpublished thesis. Mindharat al-Islam wa-alIman. 1. Ahmad. my father. in our house in Sukabumi December 12. ---------. Tadhkirat al-Ikhw±n bi-m± fî ±khir al-Zam±n. Sanusi. in Proces Verbal. Mohammad.a. 2001. 1935. Jakarta: PT Intermasa. 1998 Leiden: Rijk Universiteit Leiden.I. The Netherlands]. Jakarta: Bagian Proyek Penelitian dan Pengembangan Lektur Agama Departemen Agama.H. ibn Husain. Vol. Proyek Penelitian Keagamaan. Siapa?: Lukisan tentang Pemimpin-pemimpin. Puslitbang Lektur Agama. Badan Litbang Agama. — Usep Abdul Matin Ensiklopedi Islam. Sukabumi: Kantor Cetak Sukabumi. Leiden. Sukabumi. Tahdîr al-Afk±r. Wanta.H. 19 Februari 1940. 1993.H.” s. 1986. Oking in his house in Cigunung. ---------. M. ---------. 2001. 1991. Boenoet: “Pemerintah” Soekaboemi. Interview: Interview with late Ajengan Dadun in his house in Cibadak. Dudu Abdullah Hamidi. KITLV. Biografi K. Vol. 1991. Majalengka: Pengurus Besar “Persatuan Ummat Islam” Majlis Penyiaran dan Da`wah. Kantor Cetak al-Ittihad Sukabumi. West Java.K. Sipahoetar. Ibn Haji Syafe`i Sukabumi. Rijk Universiteit. 1935. [Fatw±] “Zakat Fithrah. 3. Second edition. December 12. Interview with Mr. Muhammad Misbah. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse .. Buitenzorg: Ang Tjio Drukkerij. on December 20. 164 . Leiden University. he was at the age of 80.” .

Jakarta This writing is an overview of the book written by Oman Fathurahman. with its seven grades teaching. karya Oman Fathurahman Uka Tjandrasasmita UIN Syarif Hidayatullah. Therefore. In fact. illustrate the existing difference between the order of Syattariyah and the order of Naqsyabandiyah. Minangkabau Pendahuluan Kajian filologi dengan pendekatan sejarah sosial-intelektual masih jarang dilakukan oleh ahli filologi Indonesia.Tarekat Syattariyah di Minangkabau — Uka Tjandrasasmita Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Tinjauan Buku “Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Teks dan Konteks”. Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Teks dan Konteks. Kajian filologi semacam ini mensyaratkan para filolog untuk memperkaya wawasannya dengan pengetahuan tentang sejarah sosial-intelektual tersebut. tarekat Syattariyah. The explanation which is based on the manuscripts of the Syattariyah Minangkabau. Moreover. Tarekat Syattariyah di 165 . this study is hoped to motivate other local philologist to conduct such study. An interesting thing is that this book is a result of the philological study with the approach of sociointellectual history which the local philologists are still rare to use. the order of Syattariyah Syekh Burhanuddin Ulakan tought in the following period was flexible. it was clear that the teaching of monisme or unity of being was eliminated and the teaching was adjusted to the teaching of Islam which is based on the creed of Ahlus Sunnah wal Jamaah Kata kunci: Filologi. The study of the book has been extended by additional analysis on the representation of the Sundanese manuscript with Kuningan version dan two other Javanese manuscripts – Cirebon version and Girilaya version. Burhanuddin Ulakan. Buku karya Oman Fathurahman. The order of Syattariyah is considered by a group of Naqsyabandiyah to teach the wujudiyah (monism or unity of being).

Diharapkan kehadiran buku ini dapat mendorong para ahli filologi Indonesia lainnya untuk mengadakan kajian semacam itu. Azra mengatakan bahwa dari segi kajian naskah-naskah (manuscripts) keislaman yang tersebar di Nusantara. Hal ini menunjukkan bahwa surau merupakan pusat pewarisan intelektual Islam. Betapa pentingnya buku karya Oman Fathurahman ini telah ditandaskan oleh Azyumardi Azra dalam Kata Pengantarnya. surau merupakan pusat penulisan dan penyalinan naskah-naskah keislaman tersebut.Jurnal Lektur Keagamaan. Ketiga naskah tersebut menurut Oman Fathurahman. 2009: 165 . 166 . Jika diadakan perbandingan dengan naskah-naskah yang mengandung keagamaan Islam di daerah lainnya di Nusantara atau dengan naskah-naskah Islam yang berkembang di wilayah asalnya di Tanah Arab. Vol. dipakai sebagai bahan perbandingan untuk melihat sejauh mana kekhasan dinamika dan perkembangan tarekat Syattariyah di Sumatera Barat yang tetap menjadi perhatian utamanya. 1. No. 7. tidak sebatas Minangkabau. naskah-naskah Minangkabau memperlihatkan kekhasannya tersendiri yang menunjukkan ekpresi Islam di Indonesia di mana terdapat unsur-unsur budaya lokal. Naskah dan Pendekatan Interdisipliner Buku karya Oman Fathurahman ini dapat dikatakan telah teruji bobot keilmiahannya karena merupakan hasil disertasi yang dinyatakan lulus dengan pujian cumlaude oleh dewan pengujinya.174 Minangkabau: Teks dan Konteks. untuk kasus di Minangkabau (Sumatera Barat). Cakupan pembahasan dalam buku ini sudah mengalami perluasan. ”Apresiasi Warisan Intelektual Islam di Surau Minangkabau”. Naskah-naskah lokal di Minangkabau menunjukkan ekspresi Islam lokal. Buku yang akan kita tinjau ini merupakan kajian filologis dengan pendekatan sejarah sosial-intelektual. melainkan juga analisis terhadap representasi naskah Sunda “versi Kuningan” dan dua naskah Jawa “versi Cirebon” dan “versi Girilaya”. merupakan karya yang berasal dari disertasi untuk memperoleh gelar doktor pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia tahun 2003.

2006: 43-52).. Disertasi yang sangat penting artinya bagi pengembangan sejarah pemikiran keagamaan ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.J.A. A. adat.P. baik yang bernuansa keagamaan Islam maupun yang bukan. Mengingat naskah-naskah atau manuskrip khazanah budaya bangsa Indonesia.D. yaitu Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Melacak Akar-Akar Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia. Contribution of Islamic Manuscripts for the Study of Islamic Archaeology (Uka Tjandrasasmita. Soejono. dan kebudayaan bahkan perobatan. Hans Overbeck. bahkan H.Tarekat Syattariyah di Minangkabau — Uka Tjandrasasmita Hal yang menarik perhatian kita adalah bahwa buku Oman Fathurahman ini merupakan hasil kajian filologi dengan pendekatan sejarah sosial-intelektual yang masih jarang dilakukan di antara ahli filologi pribumi.. politik. secara khusus kami juga telah menyampaikan makalah tentang bagaimana hubungannya antara Filologi dan Pendekatan Interdisipliner di 167 . Hoesein Djajadiningrat. Buku ini diharapkan mendorong para ahli filologi pribumi lainnya untuk mengadakan kajian semacam itu. Kecuali itu. ekonomi.A. Mengenai hal ini pernah saya kemukakan dalam suatu risalah sebagai kontribusi memperingati usia ke-80 tahun R. de Graaf dan lain-lain (Uka Tjandrasasmita: Kajian Naskah-Naskah Klasik. kajian naskah dapat juga memberikan kontribusi pada kajian arkeologi. Saya sendiri telah mencoba menguraikan permasalahan ini dalam buku yang baru saya sebutkan di atas. maka selayaknya filologi juga memakai pernaskahan itu dengan pendekatan sejarah dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Cense.. 2006: 459-. Kecuali dapat dimanfaatkan bagi penulisan sejarah. pada umumnya mengandung informasi berlimpah yang meliputi kehidupan sosial. hukum. Karyanya telah saya contoh untuk membedakan ahli-ahli filologi masa lampau yang menggunakan kajiannya dengan pendekatan sejarah-politik konvensional sempit seperti R.471). di Columbia University tahun 1992 dengan judul The Transmission of Islamic Reformation to Indonesia Networks of Middle Eastern and Malay-Indonesian Ulama in the Seventeenth and Eighteenth Centuries. Sebenarnya kajian terhadap naskah dengan pendekatan sejarah sosio-intelektual telah dipelopori oleh Azyumardi Azra melalui disertasinya untuk memperoleh Ph.

H. Karya guru Syekh Burhanuddin Ulakan. Pribumisasi Tarekat Syattariyah di Sumatera Barat Kembali mengenai tinjauan terhadap buku karya Oman Fathurahman. sehingga tidak mengherankan kalau karya-karya Abdurrauf merujuk pada kitab-kitab kedua ahli tasawuf tersebut. Isi pokoknya dapat dibaca dalam ringkasannya yang antara lain mengemukakan tentang sumber primernya yang berdasarkan 10 judul naskah-naskah Syattariyah dari Sumatera Barat. K. 2009: 165 . dapat dikatakan bahwa cakupan yang dibicarakannya cukup banyak dan sangat bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. mengingat begitu luasnya kandungan pernaskahan kuno yang dapat dikaitkan dengan kajian berbagai ilmu.174 Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama pada tanggal 14 Nopember 2008. Karya Abdurrauf kemudian ditransmisikan kepada Syekh Burhanuddin Ulakan yang meneruskan dan mengembangkan ajaran tarekat Syattariyah di Sumatera Barat. 1. Deram (w. Untuk mengukur sampai dimana dinamika tarekat Syattariyah yang dibentangkan dalam naskah-naskah dari Sumatera Barat atau Minangkabau itu. 7. Selanjutnya juga diturunkan kepada muridmuridnya di Minangkabau sampai pada tiga orang ahli tarekat Syattariyah abad ke-20 yang namanya telah disebut di atas dan karangannya menjadi sumber primer bagi penelitian tarekat di Sumatera Barat/Minangkabau. Vol. khususnya tentang Tarekat Syattariyah di Minangkabau. 2000). yaitu Abdurrauf ibn Ali al-Jawi al-Fansuridi antaranya ialah Tanbīh al-Māsyī al168 . No.Jurnal Lektur Keagamaan. dan Tuanku Bagindo Abbas Ulakan. Bahkan naskah-naskah yang membicarakan hal-hal pengobatan tradisional dengan bermacam tumbuhan dapat dikaji dari segi ilmu kedokteran modern. Oman Fathurahman dalam penelitiannya menggunakan dua sumber Arab yaitu kitab al-Sim¥ al-Majīd sebuah karangan tasawuf Syekh A¥mad al-Qusyāsyī dan It¥āf al-ª±ki bi Syar¥ al-Tu¥fah alMursalah ilā Rū¥ al-Nabī karangan Ibrāhīm al-Kūrānī. Naskahnaskah tersebut merupakan karya tulis tiga orang ulama yaitu: Imam Maulana Abdul Manaf Amin (1922-2006). Kedua ahli tasawuf ini adalah guru Abdurrauf ibn Ali al-Jawi al-Fansuri.

Meskipun demikian. khususnya mengenai amalan-amalan Syattariyah yang mengandung rumus-rumus atau simbol-simbol zikir dan cukup penting. teks Tanbīh al-Māsyī yang aslinya ditulis dalam bahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. hal tersebut sudah dibahas dengan teliti dalam subjudul “Zikir Tarekat Syattariyah dalam Tanbīh al-Māsyī dan Kifāyah al-Muhtājīn” (h. Oman Fathurahman menyebutkan tidak kurang dari 23 buah karya Abdurrauf di bidang tasawuf. Persoalan yang diangkat dalam karangan tersebut ialah masalah Wujudiyah yang pada abad ke-17 menjadi ajang pertentangan antara Hamzah al-Fansuri dan muridnya asSumatrani. menurut pembacaan saya. Pada bab IV. kata Azyumardi Azra. serta dianggap ajaran yang sesat oleh lawannya.Tarekat Syattariyah di Minangkabau — Uka Tjandrasasmita Mansūb il± °arīq al-Qusyāsyī (Pedoman bagi orang yang menempuh tarekat al-Qusyāsyī). Namun. sayang dalam buku ini ajaran-ajaran zikir Syattariyah Abdurrauf yang terdapat dalam teks itu. 1999). sedangkan untuk kitab yang menjadi objek kajiannya. yaitu Tanbīh al-Māsyī. Bila Nuruddin al-Raniri yang pada waktu itu menjadi penentang keras terhadap Wujudiyah maka Abdurrauf al-Singkili bersikap moderat yang dapat kita simak dari kitab Tanbīh al-Māsyī dan kitab-kitab lainnya. Kitab Abdurrauf ini sebenarnya pernah dikaji dan diterbitkan Oman Fathurahman dengan judul Menyoal Wahdatul Wujud: Kasus Abdurrauf Singkel di Aceh Abad ke-17 (Fathurahman. Dalam naskah-naskahnya. 10 buah di bidang fikih. dijumpai empat salinan naskah yang disalin dalam rentang waktu berbeda. Abdurrauf mewacanakan bahwa tujuan akhir zikir tarekat Syattariyah ialah 169 . Kitab-kitab di bidang hadis yang dicatat Oman Fathurahman ada dua buah. Kitab tafsirnya yang berjudul Tarjumān al-Mustafīd merupakan tafsir Al-Qur’an pertama di dunia Islam dalam bahasa Melayu. yaitu Nuruddin al-Raniri sehingga atas anjurannya kitab-kitab karangan kedua ahli tasawuf Wujudiyah itu dibakar. dan satu buah di bidang tafsir. 64-69 dan 7072). Ada perbedaan antara tujuan zikir Abdurrauf dalam Tanbīh alMāsyī yang merujuk kepada karya Syekh al-Qusyāsyī dengan Syattariyah di Sumatera Barat. belum mendapat porsi yang cukup memadai dalam pembahasannya karena baru diungkap secara sepintas.

yaitu apa bedanya dengan upacara tabuik yang biasanya dilakukan 170 . 2009: 165 . Hal lain yang juga menarik perhatian kita adalah uraian yang didasarkan pada naskah-naskah dari Minangkabau/Sumatera Barat yang mengandung gambaran adanya perbedaan paham antara tarekat Syattariyah dengan tarekat Naqsyabandiyah. sejumlah naskah Minangkabau menjelaskan adanya upaya pelucutan doktrin Wujudiyah dari keseluruhan ajaran tareakat Syattariyah. padahal kenyataannya tarekat Syattariyah yang diajarkan Syekh Burhanuddin Ulakan sampai masa berikutnya senantiasa mendasarkan pada prinsip-prinsip al-Quran dan Hadis Nabi.Jurnal Lektur Keagamaan. Jelas ini merupakan bagian dari dinamika tarekat Syattariyah di Sumatera Barat. Ritual Basapa ialah upacara berziarah ke makam Syekh Burhanuddin Ulakan sebagai ulama besar tarekat Syattariyah di Sumatera Barat yang dilakukan setiap tahun pada tanggal 10 Safar. tujuan akhir zikir hanya “sekadar” untuk membersihkan jiwa agar memperoleh kedekatan dengan Tuhan dan untuk membuka rasa agar memperoleh keyakinan dan kesaksian akan hakikat dan wujud-Nya. Sikap dari para penganut tarekat Syattariyah di Sumatera Barat/Minangkabau tersebut oleh Oman dibahas berdasarkan naskah-naskah primer yang ditulis. Dalam level tertentu. Di dalamnya dibahas serta diberikan contoh pula adanya pribumisasi tarekat Syattariyah yang antara lain berwujud dalam kesenian upacara ritual kesenian yang disebut Basapa dan kesenian Salawat Dulang (h. sedangkan dalam teks-teks di Sumatra Barat lebih banyak disebutkan bahwa. 130-149). 7. Orang yang mengikuti upacara ritual ini bukan hanya penganut tarekat Syattariyah tetapi juga penganut Islam pada umumnya. No. disalin dan diwariskan oleh para guru tarekat Syattariyah dari surau sebagai skriptorium pernaskahan. Ada pertanyaan yang perlu dikemukakan. Vol. dengan alasan bertentangan dengan prinsip-prinsip ahlussunnah wal-jamaah. yang dalam buku ini dikemukakan pada bagian keenam (h. Bulan Safar tersebut dikaitkan dengan anggapan masa wafatnya Syekh Burhanuddin Ulakan sendiri.174 konsep fana. 1. Tarekat Syattariyah dianggap oleh kelompok masyarakat penganut tarekat Naqsyabandiyah mengajarkan doktrin Wujudiyah yang dianggap berlebihan dan menyimpang. 111-129).

yaitu kesenian yang menggunakan antara lain dulang atau talam dengan cara dipukul-pukul sambil membacakan salawat Nabi. “versi Cirebon”. dan Girilaya cenderung kepada tarekat Syattariyah Abdurrauf dari Aceh dengan tidak menolak sama sekali tasawuf Wujudiyah walaupun tetap mengajarkan Martabat Tujuh yang diterima oleh Syekh Abdul Muhyi (Pamijahan) dari gurunya Abdurrauf al-Singkili. “Cirebon”. Oman Fathurahman telah memperluas pembahasan tentang dinamika tarekat Syattariyah di Minangkabau melalui perbandingan dengan “versi Kuningan”. Menurut tradisi. dan “versi Girilaya”. Selain itu disisi pula dengan khutbah. baik dari Kuningan maupun dari Mertasinga Cirebon yang ditulis pada abad 18-19 M. dan berbagai lagu-lagu lainnya. tarekat Syattariyah ketiga versi tersebut dikatakannya. Kecuali itu pribumisasi tarekat Syattariyah terekspresi dalam upacara kesenian Salawat Dulang. Kalau Oman Fathurahman mengambil contoh naskah versi Kuningan. penelusurannya akan semakin lengkap jika dikaitkan pula dengan ajaran tarekat Syattariyah yang semula dianut oleh Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah. dan “Girilaya” Untuk melengkapi disertasinya. Salawat Dulang atau Salawat Talam sampai kini dilakukan oleh masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat. Karena berdasarkan pemberitaan dalam naskah. naskah yang berasal dari Kiai Maolani. sebelum diterbitkan dalam bentuk buku. Cirebon. Sunan Gunung Jati atau Syekh 171 .Tarekat Syattariyah di Minangkabau — Uka Tjandrasasmita oleh penganut Syiah di Pariaman dan tempat lainnya? Ini bisa bersamaan atau hampir bersamaan. pertama kalinya upacara itu dilakukan pada masa hidupnya Syekh Burhanuddin Ulakan yang pernah menyaksikan upacara kesenian di Aceh dengan menggunakan rebana. Tarekat Syattariyah versi “Kuningan”. Berbeda dengan tarekat Syattariyah Sumatera Barat. karena hal itu mungkin disebabkan adanya hubungan silsilah guru-guru tarekat Syattariyah yang juga sering mencantumkan tokoh Ali bin Abu Thalib panutan utama aliran Syiah. tarekat di Kuningan. Dalam upacaya ini biasanya terdiri dari dua grup yang dilaksanakan dengan cara berdialog tentang keagamaan Islam. Demikian di antaranya pribumisasi tarekat Syattariyah di Sumatera Barat.

Hal ini perlu diadakan penelitian lebih jauh. ke Sayidina Husein. Masalah tarekat-tarekat ini dapat dibaca dalam Amman N. Kecuali itu bagaimana kaitan ajaran tarekat Syekh Abdul Muhyi dari Pamijahan dengan yang berada di Cirebon. ia pernah ke Cirebon dan mengajarkan tarekat Syattariyah. Juga bagaimana kelak jika telah dipelajari tarekat Syattariyah yang diajarkan di Buton dan mungkin tempat-tempat lainnya yang sudah tentu akan memberikan gambaran yang luas sekali tentang keberadaan tarekat Syattariyah di Nusantara ini. menurut cerita. Oleh karena itu. sampai terakhir pada Kiai Mas Demang wedana pensiun Atmawijaya. Naqsyabandiyah. Sejarah Wali: Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati (Naskah Mertasinga. Imam Ja’far as-Sidik. yang terkenal sebagai pujangga besar Sunda dengan banyaknya karangan mengenai adat istiadat dan lain sebagainya. Vol. Sayidina Ali.174 Syarif Hidayatullah berguru tasawuf tarekat Kubrawiyah. Kini.Jurnal Lektur Keagamaan. Penutup Hasil kajian yang telah dilakukan Oman Fathurahman melalui bukunya ini. No. Cirebon dan Kuningan. Abi Yazid al-Bisthami. Sayidina Muhammad al-Baqir. bagaimanapun. 2007). dan Satoriyah (Syattariyah). apakah ada hubungannya dengan naskah tarekat Syattariyah dari Haji Maolani-Lengkong-KuninganJawa Barat yang diasingkan Pemerintah Hindia-Belanda semasa Perang Diponegoro ke Menado. Dalam naskah Kuningan lebih rinci lagi ajaran tasawuf dengan tarekat-tarekatnya terutama tarekat Syattariyah seperti disebut dalam silsilah Mursyidnya: dari mulai Nabi Muhammad. Wahyu. 2005) dan (Naskah Kuningan. Tambahan lain yang perlu dimasukkan adalah bagaimana hubungan tarekat Syattariah dengan Martabat Tujuh yang ditulis oleh Haji Hasan Mustafa. masyarakat Kuningan menyebut Kiai Maolani atau Lengkong itu dengan Embah Manado. Kecamatan Tondano. 2009: 165 . 1. Sayidina Zainal Abidin. telah memberikan sumbangan besar bagi perkembangan studi filologi dengan pendekatan sejarah sosio172 . makamnya ada di kompleks makam Kiai Mojo di Kampung Jawa. Muhammad Magrib dan seterusnya secara turun temurun sampai pada ulama-ulama di Jawa. 7. Sebab. Kabupaten Minahasa.

Chambert-Loir. baik dalam bidang filologi maupun di bidang ilmu-ilmu lainnya. bahkan ilmu-ilmu lainnya seperti kedokteran dan teknologi.E. Jakarta dan Bandung: E.F.O.Tarekat Syattariyah di Minangkabau — Uka Tjandrasasmita intelektual atau pemikiran Islam karya cendekiawan Muslim masa lampau di Indonesia. Azyumardi. Panduan Koleksi Naskah Naskah Indonesia Sedunia/ World Guide to Indonesian Manuscript Collections. terutama yang termasuk ilmu-ilmu sosial. yang tidak terbatas pada kajian filologi. Hasil kajian seperti itu akan mendorong semangat terutama bagi siapapun yang berkecimpung. Bandung: Mizan. 1999.-Yayasan Obor Indonesia. 1994. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII Melaacak Akar-Akar Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia. Fathurahman.O. 1999. Centre de Jakarta. Demikian pula bagi para mahasiswa yang tengah menuntut ilmu di berbagai jurusan dengan bidangnya masing-masing dapat menyentuh nuraninya untuk mempelajari filologi atau pernaskahan. 173 . perlu menyadari untuk mengadakan penelitian naskah-naskah yang bernuansa keagamaan. Tanbih Al-Masyi Menyoal Wahdatul Wujud Kasus Abdurrauf Singkel di Aceh Abad 17.E. Melalui kajian semacam itu dapat diyakini betapa tingginya nilainilai keintelektualan para ulama kita di masa lampau yang telah mewariskan ratusan bahkan ribuan naskah sebagai warisan khazanah budaya bangsa. Lebih-lebih bagi mahasiswa-mahasiswa Fakultas Adab dan Humanaiora. Henri & Oman Fathurahman. Jakarta: E. baik UIN Syarif Hidayatullah atau di perguruan tinggi agama lainnya. Semoga buku ini mencapai tujuannya untuk menambah wawasan para pembacanya dan juga untuk memperkaya khazanah kepustkaan Indonesia pada umumnya dan kepustakaan Islam Indonesia pada khususnya. Buku karya Oman Fathurahman ini dapat semakin menegaskan bahwa naskah kuno keagamaan memiliki arti yang sangat penting untuk studi-studi keagamaan. Penerbit Mizan.F. Oman. [] Daftar Pustaka Azra.

“Pendekatan Interdisipliner Dalam Kajian Filologi”. Disampaikan dalam Diklat Penelitian Naskah Keagamaan Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan Departemen Agama RI. Archaeology Indonesia Perspective. 7. 2009: 165 . 2006. Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama R. Kajian Sejarah dan Arkeologi Islam di Indonesia: Pemanfaatan: Hasil Kajian Filologi. 4 November. No. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. 2007. Uka. Amman N. (Naskah Kuningan). Bandung: Penerbit Pustaka ----------. Sejarah Wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati.Jurnal Lektur Keagamaan. ----------. Sejarah Wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati (Naskah Mertasinga). 2008. Tgl. ----------.Alih aksara dan bahasa. Wahju. Alih aksara dan bahasa. Vol. Jakarta: Pidato Penganugerahan Gelar Doktor Honoris Causa oleh IAIN Syarif Hidayatullah. Kajian Naskah-Naskah Klasik dan Penerapannya bagi Kajian Sejarah Islam di Indonesia. 2006. Indonesian Institute for Sciences: International Center for Prehistoric and Austronesian Studies. 1998. 459-471 ----------. 1426 H/1995 M. Bandung: Penerbit Pustaka. “The Contribution of Islamic Manuscripts for the Study of Islamic Archaeology”. 1.P. 174 . h.174 Tjandrasasmita.I. R. Soejono’s Fest Script.