P. 1
jurnal lektur

jurnal lektur

|Views: 928|Likes:
Published by adikurnia

More info:

Published by: adikurnia on Oct 19, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/11/2014

pdf

text

original

ISSN 1693-7139

Jurnal Lektur Keagamaan
Vol. 7, No. 1, Tahun 2009/No. Akreditasi: 48/Akred-LIPI/P2MBI/12/2006

Daftar Isi
Kajian Naskah, Sejarah, dan Arkeologi Teks, Islam dan Sejarah: Setali Tiga Uang Fuad Jabali Perang dan Damai di Aceh: Kajian Manuskrip Aceh Tentang Konflik dan Solusinya Fakhriati 1 — 20

21 — 52

Beberapa Aspek Kodikologi Naskah Keagamaan Islam di Bali: Sebuah Penelusuran Awal Asep Saefullah dan M. Adib Misbachul Islam 53 — 90 Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua dalam Naskah-Naskah Tarekat Syattariyah di Minangkabau Pramono dan Bahren

91 — 108

Peran Penting Pernaskahan dan Benda Khazanah Keislaman Lainnya dalam Kajian Arkeologi Islam di Indonesia Agus Aris Munandar 109 — 132 Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara Irmawati M-Johan Tokoh K.H. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual 133 — 146

Discourse, and His Work Collection
Usep Abdul Matin Telaah Buku Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Tinjauan Buku “Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Teks dan Konteks”, karya Oman Fathurahman Uka Tjandrasasmita 165 — 174 147 — 164

i

ISSN 1693-7139

Jurnal Lektur Keagamaan
Vol. 7, No. 1, Tahun 2009/No. Akreditasi: 48/Akred-LIPI/P2MBI/12/2006
PEMBINA PEMIMPIN UMUM REDAKTUR AHLI (MITRA BESTARI) M Atho Mudzhar Maidir Harun Uka Tjandrasasmita (UIN Syahid Jakarta); Nabilah Lubis (UIN Syahid Jakarta); Abdul Hadi WM (Universitas Paramadina); Achadiati Ikram (Universitas Indonesia); Badri Yatim (UIN Syahid Jakarta); Oman Fathurahman (UIN Syahid Jakarta); Tommy Christomy (Universitas Indonesia); Titik Pudjiastuti (Universitas Indonesia); Sudarnoto Abdul Hakim (UIN Syahid Jakarta) Asep Saefullah Masmedia Pinem E. Badri Yunardi, Harisun Arsyad, Ahmad Rahman, Muchlis, Andi Bahruddin Malik, Dazrizal, M. Syatibi, AH, Ali Akbar, Muchlis M. Hanafi, Ridwan Bustamam, Munawiroh Ibnu Hasyir, Nurman Kholis, Muhammad Salim, Ida Swidaningsih, Umi Kulsum Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI Gedung Bayt al-Qur’an & Museum Istiqlal, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta 13560 Telp./Faks. (021) 87794220 E-mail: puslitbang_lektur@yahoo.co.id

PEMIMPIN REDAKSI SEKRETARIS REDAKSI DEWAN REDAKSI

TATA USAHA ALAMAT REDAKSI

* Kulit depan: Naskah MS Serangan 01, h. 56, milik H. Baharuddin, Kampung Serangan, Denpasar, Bali; dan Halaman Awal Naskah Hiyakaye milik Syik Jah Amut, Geulumpang Miyeunk, Pidie, Aceh. *

Berdasarkan SK Kepala LIPI No. 1563/D/2006 tanggal 18 Desember 2006, Jurnal Lektur Keagamaan telah terakreditasi A ii

kepada kelompok mana teks itu dihubungkan. redaksi menampilkan delapan tulisan. membaca teksteks dari Timur Tengah nampaknya lebih ‘mudah’ dibanding membaca dokumen sejenis di Indonesia. Tulisan ini menjelaskan hubungan yang erat antara Islam sebagai sebuah sistem nilai. teks-teks yang lahir dalam dunia Islam. Perang dan damai telah mewarnai daerah ini sepanjang sejarahnya.Pengantar Redaksi Sejak tahun 2008. yaitu: 1) teks-teks yang dilahirkan oleh kalangan skripturalis/fundamentalis. Konflik internal maupun eksternal telah terjadi dalam periode-periode yang berbeda. Islam. Aceh adalah sebuah daerah yang memiliki penduduk yang kehidupan mereka cukup berfluktuatif. Sampai batas tertentu. Di sinilah kejelian seorang filolog diuji. Salah satu sumber yang sangat penting digunakan untuk mengkaji sejarah kehidupan orang Aceh adalah naskah kuno yang menjadi tulisan iii . Pada Nomor ini. dan Telaah Buku/Kitab serta materi yang berkaitan dengan kebijakan. Arkeologi dan Sejarah. teks dan sejarah. setidaknya dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori besar. Golongan pertama lebih menekankan teks dan cenderung menghasilkan teks yang stabil. Cakupan tersebut meliputi Kajian Naskah Klasik. Telaah Dokumen. sedangkan golongan kedua lebih pada konteks tetapi teks yang dihasilkannya cenderung labil. teks dan sejarah adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Tulisan pertama menyajikan tentang Islam. Secara garis besar. dan sejarah (ruang dan waktu) sebagai konteks dimana sistem nilai itu diturunkan dalam teks. Kajian Lektur Kontemporer. teks dimana sistem nilai itu diekspresikan. Jurnal Lektur Keagamaan telah memperluas wilayah cakupannya yang disesuaikan dengan tugas dan fungsi Puslitbang Lektur Keagamaan. Pada tulisan kedua diulas mengenai perang dan damai di Aceh melalui kajian atas manuskrip Aceh tentang konflik dan solusinya. Khazanah Budaya Keagamaan. dan 2) teks-teks yang dilahirkan oleh kalangan esensialis. Obituari/Tokoh.

tauhid. dan Bali. kertas modern bergaris. dapat dicatat beberapa hal: 1) bahan yang digunakan beragam. tidak terawat dan kurang mendapat perhatian. khususnya terkait dengan Tarekat Syattariyah. Bagi para penganut tarekat Syattariyah. dan geguritan (cerita). Tulisan ketiga menyajikan hasil penelusuran awal tentang beberapa aspek kodikologi naskah keagamaan Islam di Provinsi Bali.mereka sendiri. yaitu dluang. kertas Eropa. Naskah yang ditemukan sebanyak 38 buah dengan perincian sebagai berikut: 1) Naskah keagamaan berbahan kertas sebanyak 12 naskah. 2) Naskah lontar sebanyak 12 naskah. 4) Isi naskah antara lain mencakup fikih. dan yang tertua tahun 1035 H/1625 M. Tulisan ini merupakan hasil penelusuran naskah keagamaan Islam di Bali tahun 2008 yang lalu. Sebagian besar naskah sudah rusak. tasawuf. mulai dari abad ke-17 hingga abad ke-20 M. Al-Qur’an. Para iv . doa. Karenanya. 2) Bahasa dan aksara yang digunakan meliputi Arab. Makalah ini mencoba menemukan dan menganalisa sumber-sumber primer ini dalam hubungannya dengan perang dan damai yang terjadi dalam sejarah kehidupan orang Aceh. Tulisan ini berupaya memberikan penafsiran atas naskah-naskah lokal di Minangkabau. Secara kultural. 3) Waktu penyalinan antara abad ke-17–19 M. adab kepada guru. Melayu (Jawi). wirid. Kondisi naskah keagamaan Islam di Bali pada umumnya sangat memprihatinkan. Tulisan keempat tentang kepemimpinan Islam di kalangan Kaum Tua dalam naskah-naskah Tarekat Syattariyah di Minangkabau. karena di dalamnya mengandung informasi asli tentang Aceh. dan obatobatan. bahasa (nahwu-saraf). dan 3) Naskah Al-Qur’an sebanyak 14 naskah. untuk kemudian menjadi teladan bagi kehidupannya. dan bagaimana karater serta sikap mereka pada masa lalu. Dari aspek kodikologi. mengetahui riwayat guru adalah sebuah keharusan karena bermakna penghormatan kepada guru. dan lontar. dan menjelaskan sikap dan tingkah laku orang Aceh secara langsung. Bugis. dan bahkan tidak utuh lagi. naskah-naskah tersebut memiliki arti penting karena berkaitan dengan kebutuhan keagamaan sehari-hari bagi para pengikut Tarekat Syattariyah di Minangkabau. Pertanyaan utama yang perlu dibahas adalah bagaimana cara orang Aceh mengatasi konflik dalam kehidupan mereka. generasi sekarang dapat membaca dan memahami langsung tentang tulisan orang Aceh yang menjadi sumber utama.

Ahmad Sanusi itu. (b) Memperluas pemahaman tentang kedudukan dan peranan artefak dalam masyarakat sezaman. Mereka dihormati. (c) Data dari sumber tertulis dapat menjadi dasar penelitian dan kerangka acuan kajian arkeologi Islam. bahkan sulit ditemukan.H. Ahmad Sanusi. yaitu K. Menurut Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur Agama (Skr. Ahmad Sanusi. dan (d) Memperkaya interpretasi untuk dapat mengembangkan historiografi. dikemukakan pula berbagai penelitian yang telah dilakukan selama ini yang berkait dengan Islam di Nusantara. Dua tulisan lain selanjutnya membahas hubungan naskah dengan arkeologi. Selanjutnya adalah tulisan tentang tokoh. Ahmad Sanusi telah menulis selama hidupnya 480 karya tulis. Departmen Agama RI tahun 1986. Namun.H. Suaranya didengar. Dalam kesulitan itu.H. Buku ini merupakan hasil kajian filologi dengan v . Tulisan terakhir merupakan telaah buku yang judul “Tarekat Syattariyah di Minangkabau Teks dan Konteks”. ditemukan kurang lebih seratus dua puluh dua (122) karya K. Ahmad Sanusi (1888-1950). Puslitbang Lektur Keagamaan) Badan Litbang dan Diklat. sebagai penerang di dunia bahkan sampai di akhirat. Peranan data dari sumber tertulis dalam kajian arkeologi Islam antara lain sebagai berikut: (a) Pendukung kajian terhadap data artefaktual. tetapi juga di bidang sosial-budaya dan politik. Tulisan ini menjelaskan bagaimana peran arkeologi dalam kajian Islam di Nusantara dan hal-hal apa saja yang menjadi kajian arkeologi. sebagian besar dari karyanya tidak tersimpan di satu tempat. Selain itu.ulama pemimpin Kaum Tua berperan tidak hanya di bidang keagamaan. Tulisan ini bertujuan untuk berbagi pendapat tentang siapa K.H. riwayat dan ajarannya ditulis dan disebarkan.H. K. Tulisan pertama menyajikan peran penting pernaskahan dan benda khazanah keislaman lainnya dalam kajian arkeologi Islam di Indonesia. Tulisan ini membahas tentang posisi penting data tertulis. karya Oman Fathurahman. dan apa saja kiranya buku-buku yang telah beliau tulis. khususnya naskah klasik keagamaan (Islam) dalam studi arkeologi religi (Islam). Tulisan ini membahas wacana keagamaan dan karya-karya K. tingkah lakunya diikuti. Sedangkan tulisan kedua membahas peran arkeologi dalam kajian Islam Nusantara.

menggambarkan adanya perbedaan paham antara Tarekat Syattariyah dengan Tarekat Naqsyabandiyah. Padahal. Redaksi vi . kenyataannya.pendekatan sejarah sosial-intelektual yang masih jarang dilakukan di antara ahli filologi pribumi. Tarekat Syattariyah yang diajarkan Syekh Burhanuddin Ulakan sampai masa berikutnya bersikap lumer. Tarekat Syattariyah dianggap oleh kelompok masyarakat penganut Tarekat Naqsyabandiyah mengajarkan hal-hal wujudiyah. dan semoga bermanfaat. Pembahasan dalam buku telah mengalami perluasan dengan tambahan analisis terhadap representasi naskah Sunda “versi Kuningan” dan dua naskah Jawa “versi Cirebon” dan “versi Girilaya”. redaksi mengucapkan terima kasih secara khusus kepada Lukman Hakim—Staf Ahli pada Jurnal Penamas. Demikian. dan kepada Usep Abdul Matin—Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta—atas kontribusinya mengedit abstrak berbahasa Inggris. Uraian yang didasarkan pada naskah-naskah Syattariyah Minangkabau. Jakarta—yang telah menerjemahkan semua abstrak ke dalam bahasa Inggris. Terakhir. selamat membaca. Balai Litbang Agama.

Konstitusionalis Pertama yang Prosais”.8/30. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia). dan S2 di perguruang tinggi yang sama tahun 2000 pada Program Studi Sejarah Peradaban Islam. Jakarta 1993. 1. UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2001. No.) karya Joel L. Jawa Barat. Jakarta” Jurnal Lektur Keagamaan. 18 Oktober 1971. Tahun 2006. Jakarta. Karya-karyanya antara lain “Ibnul Muqaffa. Kraemer (Bandung: Mizan. Adib Misbachul Islam menyelesaikan studi S1 di Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab IAIN (skr. bidang Arkeologi) dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia.id Asep Saefullah lahir di Kuningan. Ia menyelesaikan S1 pada Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam IAIN (skr. adalah Peneliti di Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI. Manajer Penelitian dan Pengabdian Masyarakat FIB UI (2008—sekarang). Ia dapat dihubungi di Jalan Garuda IV Blok D. S3 (Doktor Arkeologi). Departemen Arkeologi. atau email: agus. 2003). Mukjizat Sabar. lulus tahun 1999 dengan judul disertasi “Pelebahan: Upaya Pemberian Makna para Puri-puri Bali abad ke14—19”. Menyelesaikan pendidikan S1 (Sarjana Sastra. S2 (Magister Humaniora). Departemen Agama RI. dan lain-lain. lulus tahun 1984 dengan judul Skripsi “Beberapa Data Historis dari Parasasti Mula-Malurung”. dan S 2 di Program Studi Ilmu Susastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia tahun 2005.ac. Sawangan Depok 16519. (021) 98284951. 11-25 Juli 2004. Ponsel 0816 1447887. Renaisans Islam: Kebangkitan Intelektual dan Budaya pada Abad Pertengahan. 5. Pelita. 2007.aris@ui. Saat ini Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. mengikuti International Course on the Handling and Cataloguing of Islamic Manuscripts. (terj.Para Penulis Agus Aris Munandar adalah Staf Pengajar Program Studi Arkeologi Indonesia.) karya Tallal Alie Turfe (Bandung: Mizania. Tahun 2007 mengikuti Diklat Penelitian Naskah Keagamaan. M. Fakultas Pascasarjana Universitas Indonesia. lulus tahun 1990 dengan judul tesis “Kegiatan Keagamaan di Gunung Pawitra: Gunung Suci di Jawa Timur Abad ke-14--15”. “Ragam Hiasan Mushaf Kuno Koleksi Bayt al-Qur’an dan Museum Istiqlal. (terj. No. Pernah menjadi fasilitator pada Pelatihan Filologi Nasional yang diselenggarakan oleh Yayasan Naskah Nusantara (YANASSA) bekerja sama dengan The Toyota Foundation dan PPIM UIN Jakarta. Vol. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI). Sawangan Permai. 2006). di Kuala Lumpur Malaysia. UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 1997. Pada vii .

Brill. “Relasi Tuhan dan Alam: Pandangan Sufistik Syaikh Yusuf Makassar dalam Naskah Sirr al-Asrar”. “Menguak Sufisme Tuang Rappang”. Karya tulisnya antara lain. 2002. dosen di Fakultas Adab dan Humaniora dan di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. No. Selain mengajar. 2005. Benturan Peradaban: Sikap Islamis Indonesia Terhadap Amerika Serikat (Co-author). bekerja sama dengan International Islamic University Malaysia (IIUM). 2005. The Foreign Fulbright Grant telah memberikan beasiswa kepadanya untuk program S2 di Duke. Usep Abdul Matin memperoleh gelar MA di bidang Kajian Islam dari Duke University pada tanggal 26 Mei 2008 di Amerika Serikat dan satu lagi dari Leiden University di Belanda (cum laude) pada tanggal 22 Februari 2001. Vol.bulan Maret-April 2006. 3. J. 1. London. Jakarta: RajaGrafindo Persada. Keragaman Iman: Studi Komparatif Masyarakat Muslim (co-translator). The Comnpanions of the Prophet: A Study of Geographical Distribution and Political Alignments. 2002. yang diselenggarakan oleh al-Furqan Islamic Heritage Foundation. Malaysia. Peta Pendidikan Islam di Indonesia (Making Modern Muslims: Map of Islamic Education in Indonesia). Jakarta: Logos. No. Mencetak Muslim Modern. dan Sarjana dalam bidang Sejarah dan Peradaban Islam dari Fakultas Adab IAIN (sekarang Fakultas Adab dan Humaniora UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta (1989). “Membangun Pesantren di Ranah Sunda: Belajar dari Darul Arqam” dalam Jajat Burhanuddin and Dina Afrianty. Jakarta: Nalar. Irmawati M-Johan sejak tahun 1981-sekarang menjadi dosen di Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI). Sejak 2007 hingga sekarang menjadi Ketua Departemen Arkeologi dan Ketua Program Pascasarjana Departemen Arkeologi FIB UI. Konsultan Projek Kerjasama Luar Negeri (Indonesia-Canada Social Equity Project). 2. Di antara karya-karya tulisnya adalah IAIN: Modernisasi Islam di Indonesia (Co-editor Jamhari). Jakarta: RajaGrafindo Persada. McGill University (1999). 2006. Jurnal Lektur Keagamaan. sedangkan The Asian Foundation for Research and Consultancy viii . Riaz Hasan. 2006. Jurnal Lektur Keagamaan. International Journal for South East Asian Islam. Montreal-Jakarta: ICIHEP. Departemen Agama. Editor Studia Islamika. MA dalam Islamic Societies and Cultures dari School of Oriental and African Studies (SOAS) University of London (1992). 2008. Islam in Indonesia: Islamic Studies and Social Transformation (Co-editor Jamhari). selama tiga minggu mengikuti International Course in the Handling and Cataloguing of Islamic Manuscripts di Kuala Lumpur. Fuad Jabali. Vol 6. dan (2) Bagaimana tradisi Islam klasik tersebut digunakan atau disalahgunakan oleh masyarakat Muslim kontemporer untuk menjustifikasi posisi/aliran keberagamaan mereka. 2003. Minat keilmuannya terfokus pada dua hal: (1) Tradisi Islam klasik. dia adalah Deputi Direktur Bidang Akademik Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Menjadi Sekretaris Departemen Arkeologi FIB UI sejak 2004-2007. mendapatkan gelar Doktor dengan predikat Dean Honour List dari Institute of Islamic Studies. Leiden: E.

Pramono lahir di Medan 12 Desember 1979. Fakhriati lahir di Pidie. Jurusan Ilmu ix . Kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI). Uka Tjandrasasmita lahir di Subang.Ag. Lebih dari itu. dan “Terrorists ignore God. Tulisantulisannya yang lain dalam bahasa Inggris juga sudah dimuat di koran The Jakarta Post. tulisannya dalam bahasa Inggris yang berjudul “Suicide Bombing: A Sociological Approach to 9/11” sudah diterbitkan oleh Penerbit Mitra dalam Sociologi: Sebuah Pengantar Tinjauan Pemikiran Sosiologi Perspektif Islam (September 2008: 270-284). Strata dua (S2) pada Program Studi Filologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Bali. 14 Juni 1970. Kuningan. penelitian tertuju pada naskah-naskah kuno khususnya naskah Aceh. Sejak tahun 1995 mengajar di IAIN Ar-Raniry dan mulai tahun 1998 mengajar di IAIN Sumatera Utara. Jawa Barat pada 8 Oktober 1930. Selain itu. dua penelitian telah dilakukan. Tahun 1994. seperti “Theorizing the 9/11 atrocity: Its ubiquitous persistence” (09/15/2008). Sejak S2 sampai sekarang. Dalam tahun ini.) di Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam (SPI) Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada bulan Februari 1996 (cum laude). mengikuti program pembibitan calon dosen IAIN se-Indonesia di Jakarta. Menamatkan studi Strata 1 (S1) di Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Universitas Andalas. Saat ini menjadi dosen dan peneliti di Universitas Andalas. menyelesaikan studi S1 di IAIN ArRaniry jurusan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah pada tahun 1993. Pada tahun 2008 bergabung di UIN Jakarta dan tahun 2009 bulan juni mulai aktif di Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama. “We are religious but also corrupt” (08/14/2008). Berbagai tulisan ilmiah dan esainya pernah di muat di beberapa jurnal dan terbitan lokal Sumatra Barat. Aceh.(AFRC) representative for Islamic Studies (INIS) memberikan beasiswa kepadanya untuk program S2 di Leiden. dan Katalog Naskah Awe Geutah bekerjasama dengan Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama. untuk tahun ini buku yang telah terbit adalah Menelusuri Tarekat Syattariyah di Aceh lewat Naskah. Beliau memperoleh Sarjana Agama (S. Menamatkan studi Strata Sat (S1) di Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Universitas Andalas. life to pursue heaven” (01/24/2006). Tulisan ilmiah populernya pernah di muat di beberapa surat kabar lokal Sumatra Barat dan Riau. Bahren lahir di Padang 06 Pebruari 1979. Ia termasuk penulis yang produktif dan pernah menjadi chief editor UIN News dalam bahasa Inggris dari 2005 sampai 2008. yaitu Identifying and Preserving Acehnese Manuscripts Located in Pidie and Aceh Besar didanai oleh British Library. S2 di Leiden University pada tahun 1998. dan S3 di Universitas Indonesia jurusan Filologi pada tahun 2007. Saat ini menjadi dosen dan peneliti di Universitas Andalas Padang. serta perna menjadi staff rektor UIN Jakarta. Beliau sekarang dosen dan sekertaris jurusan untuk program SPI FAH UIN Jakarta.

Di antara jabatan yang pernah didudukinya adalah Kepala Dinas Arkeologi Islam pada Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional Departemen P dan K (19861974). konsultan The Project of Cultural Tourism Development in Central Java and Yogyakarta (UNESCO) tahun 1992. juga sebagai dosen Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta. selesai tahun 1960. Saat ini. dan lainlain.C.Purbakala dan Sejarah Kuno. Pernah menjadi anggota (mewakili pemerintah RI) International Commission for the Preservation of Islamic Cultural Haritage (OKI) tahun 1982-1990. Memperoleh gelar Doktor H. Direktur Sejarah dan Purbakala Departemen P dan K (1974-1979). Direktur Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Departemen P dan K (1979-1990). di samping sebagai dosen tetap di Universitas Pakuan Bogor. dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 1998. x .

Dalam hal penggunaan transliterasi Arab-Latin. 109. font Times New Roman 12. Redaksi menerima tulisan mengenai kelekturan. dan diserahkan dalam bentuk print out dan file dalam format Microsoft Word. xi . Panjang tulisan antara 15-25 halaman kuarto 1. 1980). Tulisan wajib memperhatikan kaidah-kaidah penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang berlaku serta menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar berdasarkan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Deliar. kata kunci. h. penulis hendaknya berpedoman pada Pedoman Transliterasi ArabLatin SKB Dua Menteri. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Sumber rujukan menggunakan footnote (catatan kaki) yang ditulis seperti contoh berikut: Deliar Noer. antara lain tentang naskah klasik. literatur kontemporer. (Jakarta: LP3ES. Tulisan dapat berupa ringkasan hasil penelitian. biodata singkat dalam bentuk esai.5 spasi. 1980.Ketentuan Pengiriman Tulisan Jurnal Lektur Keagamaan terbit dua kali setahun. dan Daftar Pustaka ditulis: Noer. Penulis harap menyertakan abstrak dalam bahasa Indonesia dan Inggris. artikel setara hasil penelitian. dan alamat lengkap. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Jakarta: LP3ES. kajian tokoh (obituari) maupun telaah kitab atau tinjauan buku. dan khazanah budaya keagamaan. Menteri Agama RI Nomor 158 tahun 1987 dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 0543 b/u/1987 tentang Pedoman Transliterasi Arab–Latin.

Jakarta 13560 Telp.Redaksi berhak menyunting naskah tanpa mengurangi maksud tulisan.web.lektur@depag. (021) 87794220 Bagi lembaga yang ingin mendapatkan jurnal ini dapat menghubungi alamat di atas. Tulisan dapat dikirimkan melalui e-mail: jurnal. Badan Litbang dan Diklat. xii . Dan. Departemen Agama RI./Faks. Gedung Bayt al-Qur’an & Museum Istiqlal. tulisan yang dimuat tidak selalu mencerminkan pandangan Redaksi.id Atau melalui pos ke alamat: Puslitbang Lektur Keagamaan. Taman Mini Indonesia Indah.

Judul-judul untuk back cover Teks. Adib Misbachul Islam Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua dalam Naskah-Naskah Tarekat Syattariyah di Minangkabau Pramono dan Bahren Peran Penting Pernaskahan dan Benda Khazanah Keislaman Lainnya dalam Kajian Arkeologi Islam di Indonesia Agus Aris Munandar Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara Irmawati M-Johan K. karya Oman Fathurahman Uka Tjandrasasmita xiii .H. Islam dan Sejarah: Setali Tiga Uang Fuad Jabali Perang dan Damai di Aceh: Kajian Manuskrip Aceh Tentang Konflik dan Solusinya Fakhriati Beberapa Aspek Kodikologi Naskah Keagamaan Islam di Bali: Sebuah Penelusuran Awal Asep Saefullah dan M. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse. and His Work Collection Usep Abdul Matin Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Tinjauan Buku “Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Teks dan Konteks”.

and history as both time and space contexts of the textual system value. Wisma Syahida UIN Jakarta. are incomplete. the Islamic texts. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali Islam. which are written in Indonesian by Indonesian scholars. the Islamic texts. this second group make the text unstable. The latter group creates the context. The former group stresses the importance of the text and tend to make it stable. Teks dan Sejarah: Setali Tiga Uang* Fuad Jabali UIN Syarif Hidayatullah. teks. and history are interconnected each other. Ajaran-ajaran utama Islam ada dalam bentuk teks. This paper explains that Islam. The first category refers to the fact that the scripturalists or fundamentalists produce text.Islam. 1 . In contrast. are easy to read as they provide complete information of an issue that we look for. yaitu Al-Qur’an dan hadis. the text as an expression of system. skripturalis. the biographical texts in Arabic offer information of diverse people. Orang-orang Islam sangat bangga menyebut dirinya * Tulisan ini semula merupakan Makalah yang disampaikan pada Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara VIII. For example. text. filologi. Indonesian philologists are to trace such complete biography in Indonesian literature. In this regard. This paper classifies text into two catagories. For this reason. Teks. konteks. Kata kunci: Al-Qur’an. which are written in Arabic by scholars of the Middle East. hadis. 26-28 Juli 2004. esensialis Teks dan Islam Teks menempati posisi yang sangat penting dalam Islam. In other word. This category challenges philologist to investigate. The second category would be: the essentialists make the text. Revisi terakhir 14 Juni 2009. Jakarta This paper describes a strong relationship between Islam as a value system.

Al-Qur’an juga menyebut para pengikut agama lain. signified). ada yang merujuk pada akal. ‘masyarakat teks’. Tetapi ketika hadis dibukukan pada abad ke 3 H/9 M. dunia langit hanya bisa diketahui lewat teks yang dibawa oleh para Nabi. seperti gunung dan langit (benda-benda ciptaan ini juga disebut ayat atau. ada juga yang merujuk pada ijma’. sebagai halnya umat Islam. ada juga yang merujuk pada catatan dari kata-kata dan perbuatan Nabi yang kemudian disebut hadis. seperti yang nampak pada mazhab Maliki (yang sangat mementingkan tradisi dan praktek lokal Madinah). Ada yang merujuk pada tradisi atau konteks lokal sebagai penjelas. secara sederhana. maka hadis.Jurnal Lektur Keagamaan. yaitu kesepakatan masyarakat Muslim dalam memahami teks. setiap kata atau kalimat yang ada dalam Al-Qur’an disebut ayat atau ‘tanda. akal. Teks adalah dal (‘yang menunjuk’. Hadis kini menjadi teks terpeting kedua setelah Al-Qur’an. sebagai Ahlul Kitab karena. Bisa dikatakan bahwa tanpa teks ini tidak ada Islam dan masyarakat Muslim. menjadi rujukan utama setelah Al-Qur’an. percisnya. Rujukan-rujukan tadi—yaitu tradisi lokal. Al-Qur’an. ayah kauniyah ‘tanda-tanda alam’). 2009: 1 .20 sebagai Ahlul Kitab ‘orang-orang yang sangat menghormati kitab’ atau. seperti yang ada dalam mazhab Hanafi. bukanlah sebuah teks yang bisa menjelaskan semua realitas atau ajaran dengan sangat detil. Kalau tidak jelas. 1. maka wajar kalau ada kecenderungan untuk melihat keislaman 2 .’ Tanda dari suatu makna abadi. terutama Yahudi dan Kristen. tetapi ayat yang paling utama adalah teks Al-Qur’an. yang jumlah ayatnya hanya sekitar 6600. Bagi Ahlul Kitab. Vol. Memang benar bahwa makna abadi itu bisa diketahui lewat ciptaan Tuhan. 7. Bagi orang Islam. signifier) dari madlul (‘yang ditunjuk’. mereka juga menjadikan teks (kitab suci) sebagai pusat dari kesadaran beragama mereka. terutama yang dikumpulkan oleh Bukhari dan Muslim. kemana mereka harus mencari kejelasan? Berbagai jawaban dikemukakan. No. Kalau teks menempati posisi yang demikian penting dalam Islam. Masyarakat Islam sebagai masyarakat yang eksistensinya bergantung pada teks diperkuat oleh hadis. ijma’ dan hadis—sama-sama dipakai oleh masyarakat Muslim secara bervariasi dalam tingkat yang berbeda-beda. yaitu makna abadi yang ada di dalam diri Tuhan. seperti yang dikembangkan oleh Syafi’i.

Penghormatan yang demikian tinggi pada teks Al-Qur’an dan hadis menjadi landasan yang kuat bagi masyarakat Muslim untuk memproduk banyak sekali teks. Kelompok pendukung hadis (ahl al-hadits) menyebut diri mereka sendiri sebagai umat yang terbaik (khair ummah) karena keteguhannya dalam mengikuti dan memegang teks hadis. Semakin dekat dianggap semakin saleh. 9 jilid. 1937-42. seorang penjual buku di Baghdad pada abad ke-4 H/10 M. 310 H / 923 M). terutama di Timur Tengah dan Eropa (termasuk Turki). Bagi masyarakat Muslim. 1943-1949). Tarikh al-Rusul wa al-Muluk (diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris The History of al-Tabari dalam 39 jilid atas sponsor UNESCO). Teks. yang hidup pada abad ke-2 H/8 M dan ke-3 H/9 M.Islam. Geschichte der arabischen Litteratur (Leiden: Brill. Pemahaman masyarakat Muslim terhadap Al-Qur’an dan hadis tersebut dituangkan dalam bentuk teks yang jumlahnya tak terhingga. Walaupun demikian banyak sekali teks-teks yang berhasil diselamatkan yang kini tersebar di berbagai negara. 1 Buku al-Fihrist karya Ibn al-Nadim. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali seseorang lewat kedekatannya (atau kejauhannya) dengan teks. bahkan pernah disebut kafir.). Gerschichte des arabischen Schrifttums (Leiden: Brill. 1 3 . Ada masyakat Muslim yang membatasi penghormatan mereka pada Al-Qur’an Untuk mendapatkan gambaran tentang jumlah dan jenis buku yang diproduk masyarakat Muslim yang sudah hilang tetapi dikutip secara meluas lihat Carl Brockelmann. Teks menjadi media yang sangat penting dalam memahami Al-Qur’an dan hadis. 2 jilid dan 3 jilid supplement. Kelompok rasionalis dikritik dengan tajam. karena menggunakan teks hadis dengan sangat minimal ketika menafsirkan teks Al-Qur’an. pada masa itu yang juga sebagian sudah hilang. namun sikap mereka terhadap teks-teks tersebut berbeda tergantung pada cara mereka memandang. terutama di Baghdad. yang sudah hilang. Fuat Sezgin. 1967 . Banyak sekali teks yang sudah musnah. misalnya. buku karya al-Tabari (wafat th. semakin jauh semakin sesat. yang hanya diketahui lewat kutipankutipan atau resensi yang ditulis belakangan. Dalam kajian sejarah. teks-teks tersebut adalah warisan yang sangat berharga. juga penting karena di dalamnya ada resensi buku-buku yang beredar di dunia Islam. sangat penting karena dia banyak mengutip karya-karya yang ditulis oleh sejarawan sebelumnya. menanti sentuhan tangan filolog.

Kalangan Muhammadiyah. Vol. Sementara kelompok lain menantangnya. dari generasi ke generasi. buku-buku yang ditiulis para pendiri mazhablah yang harus dihormati dan diikuti. yang segera memasuki teks Al-Qur’an dan hadis. karena bisa jadi awalnya mereka hanya diperkenalkan kepada teks dari mazhab ini saja. misalnya. bisa jadi mendapatkan penghormatan dan perlakuan yang hampir sama dengan Al-Qur’an dan hadis. bahkan terkadang. NU menjawab setiap pertanyaan dengan cara terlebih dahulu memasuki teks-teks yang diwariskan ulama-ulama sebelumnya. Mereka membaca Al-Qur’an dan hadis melalui teks-teks lain yang tersusun secara hirarkhis. Demikian juga 4 . Dalam fatwa-fatwa NU. Muhammadiyah dan NU merepresentasikan kedua kecenderungan tersebut.Jurnal Lektur Keagamaan. teksteks ini sangat dominan. 2009: 1 . Berbeda dengan Muhammadiyah. atau perbedaan warna Islam. walupun tingkatannya berbeda-beda dari satu kelompok ke kelompok lain.20 dan hadis. adalah pembaca teks Al-Qur’an yang paling tekun dan juga paling tidak sabar. Bagi kelompok masyarakat lain. Di Indonesia. kalau perlu secara literal. No. maka sudah sewajarnya kalau teks juga memegang peranan penting dalam transmisi Islam. Mengapa orang-orang menganut mazhab Syafi’i. sebagian besar akan bergantung pada perbedaan teks yang diwariskan. tidak mesti dibaca. dalam memecahkan masalahmasalah kontemporer. Perbedaan pemahaman terhadap Islam. Semua persoalan segera dicari dalam teks Al-Qur’an. Teks dan Transmisi Islam Kalau teks dan Islam berhubungan demikian erat. diwariskan lewat teks. 7. tidak mengikat dan. sementara kelompok lainnya melebarkan penghormatan tersebut kepada teks-teks di luar keduanya. Buku yang ditulis oleh seorang Sufi besar. bahkan tidak jarang teks Al-Qur’an-nya sendiri tidak dirujuk. Islam dari waktu ke waktu. Bagi Muhammadiyah. 1. Sebaliknya NU. Dikenalkan dengan keragaman teks sejak dini. Sebagian mereka berpendapat bahwa keberadaan teks-teks di luar Al-Qur’an dan hadis tadi menjadi benteng penghalang bagi umat Islam untuk memasuki kedua sumber ini. teks-teks selain AlQur’an dan hadis sifatnya relatif. Mereka adalah kelompok yang sangat menghormati teks-teks di luar Al-Qur’an dan hadis. NU lebih terbiasa dengan teks dibanding Muhammadiyah. anak-anak NU bisa menjadi “filolog” yang potensial.

Dan. tidak ada teks tanpa kiai dan. transmisi teks dilakukan secara manual. Dalam tradisi sorogan. sebaliknya. Rentetan pengijazahan dari satu guru ke murid yang lain ini biasanya dicatat di awal teks dalam bentuk silsilah. nahwu dan hadis. seperti tafsir. Hubungan antara teks. terutama di Jawa. maka dia harus menyalinnya sendiri atau meminta orang lain untuk melakukannya. kepada sang murid untuk mengajarkan teks tersebut.” Dengan kata lain. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali dalam sufisme dan teologi. Hubungan murid-guru dibangun di atas teks. kalau ada yang ingin memiliki buku. Tidak mungkin santri belajar Islam tanpa teks dan tanpa kiai. Perbedaan teks. kiai dan santri tersebut sedemikian penting sehingga di kalangan pesantren ada semacam keyakinan bahwa “Barang siapa yang membaca teks tanpa guru. Artinya. tidak ada kiai tanpa teks. Dalam kajian teks tersebut. yaitu pesantren. Perbedaan ciri khas pesantren ditentutkan oleh perbedaan jenis teks yang dikaji. pimpinan pesantren atau kiai memainkan peranan kunci. Bahwa teks memegang peranan kunci dalam penyebaran Islam juga bisa dilihat di dalam lembaga-lembaga yang terlibat dalam penyebaran Islam. sampai sekarang masih mempertahankan ciri khas ini. Filologi di Kalangan Ulama Ketika mesin cetak belum ditemukan. Di dunia Islam secara keseluruhan hubungan antara teks dengan ulama dalam transmisi Islam bukanlah hal yang istimewa. Mayoritas pesantren di Indonesia. maka gurunya adalah setan. Kita mengenal ada beberapa orang yang persis bekerja sebagai penyalin buku dan menjadikannya sebagai sumber 5 . telah melahirkan perbedaan kelompok beragama. atau semacam lisensi. seorang kiai akan membaca teks tertentu di hadapan santri-santrinya. Kegiatan pesantren (terutama di pesantren salaf yang belum terkena modernisasi) terpusat pada kajian teks yang terkenal dengan ‘kitab kuning’. Guru akan mengajarkan teks tertentu kepeda murid-muridnya dan ketika muridnya sudah dipandang mampu. sang guru akan memberikan ijazah.Islam. Teks inilah yang akan menjadi modal utama santri-santri tersebut ketika kelak keluar dari pesantren. Teks. untuk mengungkapkannya secara sederhana. demikian seterusnya.

4:386. Dam b. Ketiga. 4 Ibn Hajar al-‘Asqalani. 1:125.20 penghidupan. Ini menurut informasi dari Abu al-Faraj. 1:130. teknologi yang sangat terbatas. Keempat. Pertama. ada saat-saat dimana para penyalin menjadi sangat sibuk sehingga terbuka untuk melakukan kesalahan. ta dan £a. Kedua. Bahasa Arab pada masa itu adalah bahasa Arab yang masih dalam proses perkembangan.d. Iklim yang demikian panas membatasi orang untuk bekerja maksimal. faktor perkembangan bahasa. Menyalin buku menjadi perkerjaan yang bisa jadi tidak nyaman. faktor idiologis juga berperan penting dalam perubahan teks. Hisyam bisa dengan mudah tertulis Hasyim 2 atau. Paling tidak konsentrasi mereka terganggu. Teks yang dihasilkan menjadi bebeda antara satu dengan yang lainnya. 3 2 6 . 5 Perubahan tanggal lahir itu bisa jadi karena kelalaian penulis atau penyalin teks. stabilitas sosial politik pada masa itu tidak sebaik seperti sekarang. Tabaqat. Dikatakan bahwa Asy’ab b Ummu Humaidah lahir pada tahun 9 H/630 M atau pada masa Nabi. telepon.Jurnal Lektur Keagamaan. Kualitas penerangan yang kurang membuat mata cepat lelah. tetapi bisa jadi juga lebih dari itu. Tetapi bisa jadi. 5 Ibn Hajar. Rabi’ah menjadi Adam b. Kitab al-Tabaqat al-Kubra (Beirut: Dar al-Sadir. Gigi dan titik belum dipakai secara konsisten sehingga sulit dibedakan mana ba. misalnya. Menjadi orang yang dilahirkan pada masa Nabi jauh lebih penting dari orang yang dilahirkan pada masa ‘Usman.4 Faktor-faktor lain bisa membuat kesalahan tersebut semakin sering dilakukan. Tidak ada komputer. Perbedaan baca di antara para penyalin menjadi hal yang tak terelakkan. Ibn Sa’d. karena jarangnya orang yang bisa menulis.t). Para penyalin ikut menjadi korban peperangan. mungkin karena penulisnya ngantuk. 1. 2009: 1 . No. listrik. Rabi’ah 3 dan Aqram menjadi Arqam. yang menurut Ibn Hajar (wafat 852 H/1449 M) lebih kuat. dan AC pada masa itu. dia ternyata lahir pada saat ‘Usman terbunuh (yaitu tahun 35 H/656 M). Bukankah Nabi pernah menyampaikan bahwa masa yang terbaik adalah masa Nabi itu sendiri kemudian masa sesudahnya kemudian masa Ibn Sa’d. 7. n. n. al-Isabah. menurut informasi lain dari beberapa jalur yang berbeda. 4:343. Vol.). Tetapi. al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah (Beirut: Dar alKitab al-‘Arabi.

Islam. Adalah juga kehendak untuk mendapatkan teks yang benar-benar bersih para ulama mengembangkan berbagai disiplin ilmu. mana di antara teks-teks yang ada itu yang paling bisa dipercaya. dalam periwayatan hadis. 9. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali sesudahnya? 6 Lahir pada masa Nabi bukan hanya penting karena dia lahir pada masa yang terbaik tetapi juga. Dalam hadis juga dikenal dengan ‘rawahu al-syaikhan’’ atau ‘diriwayatkan oleh dua orang syaikh’. yaitu Bukhari dan Muslim. Kajian antarteks menjadi suatu keniscayaan. dengan demikian. yaitu suatu disiplin ilmu yang dikembangkan untuk menilai kualitas informasi dan akurasi teks berdasar pada penilaian kritis terhadap orang-orang yang terlibat dalam transmisi informasi dan teks tersebut. harus sangat hati-hati dalam memilih dan membaca teks. pusat verifikasi teks. Istilah-istilah ini hanya mungkin kalau kajian antarteks sudah berkembang kuat. misalnya. Berbagai versi harus dibaca dan dibandingkan. Sebut saja misalnya jarh wa al-ta‘dil dan rijal al-hadits. dia menjadi mungkin bisa bertemu dengan sahabat-sahabat besar bahkan bisa meriwayatkan hadis dari mereka. menjadi pusat produksi dan reproduksi ilmu. Ibn Al-Bukhari.). 3: 171. Kalau keragaman teks tidak bisa dihindarkan. maka pada dasarnya setiap ulama pada masa itu adalah seorang filolog. 8: 91. informasi yang ada dalam satu buku dicek di buku yang lain. 6 7 . Para ulama. Abi Rabiah ke dalam daftar orang-orang yang ikut hijrah tersebut. Ishak (wafat 150 H/767 M) dan Muhammad b. Lewat kajian antarteks. dan memasukkan nama ‘Ayyasy b. 141-2. Muhammad b. adanya ‘kutub al-sittah’ atau ‘buku yang enam’ dan ‘kutub al-arba’ah’ atau ‘buku yang empat. dan bisa jadi masyarakat awam meyakini bahwa masuk surga atau tidaknya mereka akan bergantung kepada para ulama ini. Sahih (Cairo: Maktabat ‘Abd al-Hamid Ahmad Hanafi. Dia mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan yang kebenarannya sangat bergantung pada ketepatan teks dan kebenaran membacanya. Kita mengenal dalam hadis. 1: 8.’ Suatu hadis yang ditemukan dalam keenam buku hadis lebih kuat dari pada hadis yang hanya ditemukan dalam empat buku hadis. ‘Umar (wafat 207 H/822 M) menulis buku tentang orang-orang yang hijrah ke Habasyah (Ethiopia) (hijrah Nabi yang pertama). Dia adalah tempat bertanya masyarakat. tt. Teks.

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 1 - 20

Sa‘d (wafat 230 H/845 M) lalu mengecek nama tersebut di buku yang ditulis oleh Musa b. ‘Uqbah (wafat 141 H/758 M) dan Abu Ma’syar (wafat 170 H/786 M), dan nama ‘Ayyash ternyata tidak ada. 7 Dengan cara yang sama (kali ini membandingkan teks yang ditulis oleh Musa b. ‘Uqbah, Muhammad b. Ishaq dan Muhammad b. ‘Umar), Ibn Sa’d juga menemukan bahwa Musa b. ‘Uqbah melakukan kesalahan penulisan nama, yang semestinya al-Aswad b. Naufal b. Khuwailid ditulis menjadi Naufal b. Khuwailid. Ibn Sa’d juga tahu bahwa nama ini tidak muncul dalam buku Abu Ma’syar.8 Skripturalis/Fundamentalis dan Filolog Di atas dikatakan bahwa Al-Qur’an dan hadis sebagai teks kunci telah melahirkan banyak teks. Teks satu dengan teks yang lainnya ini terhubungkan dengan seorang figur dan silsilah (geneologi). Ada geneologi guru dan ada geneologi teks, dan kualitasnya berbeda-beda. Buku yang diwariskan lewat guru A-B-C misalnya lebih baik daripada buku yang diwariskan lewat A-B-D. Tekanan yang demikian besar terhadap geneologi mengisyaratkan bahwa dalam transmisi teks tersebut ada sesuatu yang stabil, yang harus dijaga keasliannya. Prinsip ini sangat menolong bagi filolog sebab sekali dia mampu mengidentifikasi apa ‘yang stabil’ atau apa ‘yang harus senantiasa dijaga keasliannya’ tersebut maka dia akan mudah membaca teks yang sangat korup sekalipun. ‘Yang stabil’ akan selalu ditemui dalam berbagai teks. Memang benar bahwa ‘apa yang stabil’ jenis dan kadarnya akan berbeda-beda dari satu kelompok ke kelompok lain. Tetapi, sekali ditemukan dalam satu kelompok tertentu, maka filolog akan terbantu dalam membaca teks yang ditulis atau menjadi ciri dari kelompok tersebut. Di dunia Islam, baik masa lalu maupun sekarang, dikenal adanya dua kelompok besar: skripturalis atau fundamentalis dan esensialis. Kelompok skripturalis adalah mereka yang berkeyakinan bahwa (1) Islam adalah agama yang sempurna dan jelas yang mengatur semua aspek kehidupan kita dan, oleh karena itu, tidak diperlukan adanya penafsiran ulang; (2) Memang masyarakat selalu
7 8

Ibn Sa’d, Tabaqat, 4:383. Ibn Sa’d, Tabaqat, 4:379.

8

Islam, Teks, dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali

berubah-ubah, tetapi perubahan itu harus senantiasa dicocokkan dengan Al-Qur’an dan hadis, bukan Al-Qur’an dan hadis yang harus dicocokkan dengan perubahan masyarakat; (3) Al-Qur’an dan hadis adalah sumber utama Islam dan semua persoalan harus benarbenar sesuai dengan Al-Qur’an dan hadis; (4) Akal dan tradisi lokal sifatnya nisbi dan, oleh karena itu, tidak bisa dipakai sebagai sumber nilai; (5) Masa Nabi dan para sahabatnya adalah masa yang paling sempurna yang harus dijadikan model bagi setiap masyarakat Muslim kapan pun dan dimana pun. Pandangan kelompok esensialis berbeda sama sekali dengan pandangan kelompok ini. Mereka percaya bahwa (1) Islam memang agama sempurna tetapi kesempurnaannya bersifat minimal dan untuk memaksimalkannya diperlukan usaha dan pikiran masyarakat Muslim, (2) Masyarakat selalu berubah-ubah dan oleh karena itu Islam harus dilihat secara dinamis, (3) Al-Qur’an dan hadis adalah kebenaran yang diekspresikan dalam ruang dan waktu tertentu dan oleh karena itu harus dilihat konteksnya, (4) Akal dan tradisi lokal harus dipakai sebagai sumber yang berharga dalam formulasi hukum dan ajaran Islam, (5) Masa Nabi dan para sahabatnya adalah masa yang paling sempurna untuk zamannya dan tidak boleh dipahami secara literal. Perbedaan pandangan di antara kedua kelompok di atas melahirkan teks yang sama sekali berbeda sifatnya. Teks di kalangan skripturalis relatif stabil. Karena Islam dipandang sempurna, karena Al-Qur’an dan hadis dianggap selesai, dan karena masa Nabi dan sahabatnya dipandang ideal, maka yang ditemukan dalam teks yang diproduk oleh kelompok ini adalah potongan-potongan informasi yang diambil dari Al-Qur’an, hadis dan sirah (perjalanan hidup) Nabi dalam jumlah besar. Akibat dari tekanan terhadap penafsiran dan tradisi lokal yang begitu besar, maka unsur baru dalam teks menjadi minimal. Walaupun ditulis dalam waktu dan tempat yang berbeda, bisa diasumsikan bahwa teks di kalangan kelompok ini relatif sama. Kutipan-kutipan Al-Qur’an, hadis dan sirah Nabi dan para sahabatnya akan dominan dan setiap ketidakjelasan yang ada dalam teks yang korup bisa segera diisi oleh filolog dengan membaca teks standard (Al-Qur’an, hadis dan sirah Nabi). Kalau kadar stabililitas dalam teks-teks tradiosionalis sangat tinggi, maka teks yang diproduk oleh kalangan esensialis sangat 9

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 1 - 20

labil. Dia lebih beragam baik di tingkat kelompok maupun individu. Mu’tazilah, kelompom rasional Muslim yang terkenal dalam sejarah Islam, misalnya, terdiri dari banyak sub kelompok yang berbeda satu sama lain, dan pada sub kelompok tersebut perbedaan antar individu sangat kentara. Masing-masing mereka melihat Islam, AlQur’an dan hadis serta sirah Nabi sebagai suatu teks yang sangat terbuka. Berbeda dengan kalangan skripturalis, yang memandang makna sebagai ‘sesuatu yang diberikan oleh teks’, kalangan rasional memandang makna lebih sebagai ‘sesuatu yang harus dicari dan diberikan oleh pembaca’. Membaca bukanlah proses menerima teks secara pasif, tetapi lebih merupakan proses intrograsi yang sangat cair, dimana pembaca dan teks bisa ditempatkan secara sejajar dan oleh karena itu dialog antara teks dan pembaca menjadi sangat intens. Hasil dari dialog itu adalah warisan teks yang sangat dinamis dan beragam. Sesunggunya kalangan skripturalis/fundamentalis telah membuat pekerjaan filolog lebih mudah. Filolog yang ingin cepat selesai diusulkan untuk tidak memilih teks-teks yang ditulis oleh kalangan rasionalis. Studi Kasus: Membaca Dokumen Ikrar Abad ke-14 di Jerusalem Disebutkan di atas bahwa salah satu cara membaca teks yang sudah korup adalah dengan cara menggunakan teks yang sudah established sebagai patokan. Tentu saja Al-Qur’an dan hadis adalah teks Islam yang paling stabil. Tidak terlalu sulit untuk mentranskrip naskah Al-Qur’an atau hadis, atau teks yang mengadung banyak sekali kutipan Al-Qur’an dan hadis. Teks berikutnya yang relatif lebih mudah digarap adalah teks yang ditulis oleh kelompok sripturalis atau fundamentalis. Dibanding teks yang ditulis kalangan esensialis, teks yang mereka buat relatif lebih mapan dan lebih seragam dari satu periode ke periode lain dan dari satu tempat ke tempat lain sehingga lebih mudah dibandingkan. Prinsip yang sama bisa dipakai untuk membaca teks-teks Islam pada umumnya. Teks-teks Islam bisa diklasifikasi ke dalam lima kelompok besar: 1) sejarah, 2) teologi, 3) sufisme, 4) filsafat dan 5) hukum. Di antara kelima kelompok tadi, yang paling tegas dan rinci adalah hukum. Hukum Islam diformulasikan dan dirumuskan oleh para ulama sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan kebi10

maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan di antara orang-orang yang kamu sukai dari para saksi (yang ada). Teks. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Yang demikian itu. Al-Qur’an menegaskan perlunya catatan dalam transaksi: Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan. Dan ambillah saksi apabila kamu berjual beli. ini adalah berita baik. atau tidak mampu mendiktekan sendiri. Dan janganlah kamu bosan menuliskannya. Orang-orang skripturalis dan fundamentalis cenderung menekankan pentingnya aspek hukum ini sehingga mereka dikenal dengan ‘legal minded Muslims’. Hukum cenderung rinci dan kaku. lebih dapat menguatkan kesaksian. (Q. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali ngungan dan mudah diikuti. maka sungguh. seperti halnya buku-buku yang ditulis oleh kalangan fundamentalis. (2) teks yang ditulis oleh ahli hukum relatif lebih mudah dibaca karena lebih stabil. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki di antara kamu. teks yang ditulis oleh kalangan ahli hukum juga lebih stabil. maka yang seorang lagi mengingatkannya. Bagi filolog. Dan bertakwalah kepada Allah. Jika yang berutang itu orang yang kurang akalnya atau lemah (keadaannya).Islam. maka hendaklah dia menuliskan. dan lebih mendekatkan kamu kepada ketidakraguan. Jika tidak ada (saksi) dua orang laki-laki. lebih adil di sisi Allah. maka ayat ini (yang sengaja dikutip secara keseluruhan) contoh yang baik bagaimana 11 . Tidak heran kalau. Tuhannya. Dan hendaklah orang yang berutang itu mendiktekan. dan janganlah penulis dipersulit dan begitu juga saksi. maka tidak ada dosa bagi kamu jika kamu tidak menuliskannya. hal itu suatu kefasikan pada kamu. Allah memberikan pengajaran kepadamu. Janganlah penulis menolak untuk menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya.S. agar jika yang seorang lupa. Jika kamu lakukan (yang demikian). maka hendaklah walinya mendiktekannya dengan benar. dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah. dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. untuk batas waktunya baik (utang itu) kecil maupun besar. Al-Baqarah/2:282) Kalau bagian pertama tulisan ini menegaskan hubungan antara Islam dengan teks pada level yang lebih besar. Dan janganlah saksi-saksi itu menolak apabila dipanggil. Teks yang mereka dapatkan akan lebih mudah ditranskrip. dan janganlah dia mengurangi sedikit pun daripadanya. Dua contoh teks akan dikemukakan di sini untuk menunjukkan: (1) bahwa Islam (seperti halnya agama lain) sangat instrumental dalam melahirkan teks. hendaklah kamu menuliskannya. homogen dan rinci. kecuali jika hal itu merupakan perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu.

The Function of Documents in Islamic Law (New York: University of New York Press. Penemuan ini merupakan salah satu penemuan terpenting dokumen Islam abad pertengahan. Yang dilakukan oleh para notaris adalah memilih mana di antara blanko-blanko tersebut yang cocok dengan kasus yang dia hadapi dan mengisi bagian-bagian kosong yang sudah disediakan dan meminta dua saksi untuk menandatanganinya (seperti tuntutan ayat Al-Qur’an di atas). 10. Wakin. 1972). bentuk dan isi ikrar relatif stabil.Jurnal Lektur Keagamaan. Vol. 10 yaitu suatu bentuk pengakuan atau pernyataan yang dibuat oleh seseorang yang secara hukum mengikat bagi orang tersebut.20 hubungan Islam dengan teks tersebut juga bekerja pada level yang lebih kecil dan detil: Al-Qur’an meminta penganutnya untuk melakukan transaksi secara tertulis.9 Salah satu blanko kontrak yang dibuat para ahli hukum Islam dalam buku-buku syurut tersebut adalah blanko untuk membuat ikrar. McGill Jeanette A. guru besar di Institute of Islamic Studies. tetapi para ahli hukum Islam memberikan perhatian yang serius terhadap cara membuat dan menggunakan dokumen-dokumen tertulis untuk kepentingan hukum. 10 Lihat Y. Linant de Bellefonds. 1. di dalam hukum Islam tradisional. sejajar dengan penemuan manuskrip di Geniza Cairo dan St Catherine bukit Sinai. Brill. Mereka mengembangkan satu jenis literatur yang disebut syurut. Memang benar. Oleh karena itu. New Edition). ‘Ikrar’ dalam The Encyclopaedia of Islam (Leiden: E. di Museum Islam di al-Haram al-Syarif di al-Quds ditemukan sekitar 900 lembar kertas transaksi atau catatan pengadilan yang berasal dari abad ke-14 M di Jerusalem. 2009: 1 . kesaksian lisan lebih penting dari kesaksian tulis. Ia berisi berbagai jenis kontrak yang bisa dipilih oleh para notaris sesuai dengan kebutuhan. No. Donald P. yaitu sejenis manual yang bisa dijadikan pegangan bagi para notaris dalam melakukan fungsinya. 9 12 . Kontrakkontrak tersebut sebetulnya lebih berupa sebuah blanko atau formulir yang dibuat sedetil mungkin sehingga semua syarat dan tuntutan syariah Islam bisa dipenuhi. Pada tanggal 19 Agustus 1974-5. Dalam manual syurut tersebut para ahli hukum lalu merinci dengan detil apa syarat-syarat membuat ikrar dan kata-kata apa saja yang harus dicantumkan dalam dokumen oleh si pembuat ikrar. 7. Little.J.

184 adalah dua di antara enam dokumen ikrar yang dibaca dan dianalisa oleh Huda Lutfi. Fakhruddin ‘Usman b. ‘Abdullah bt. Muhammad bahwa dia tidak memiliki klaim apa-apa lagi terhadap mantan suaminya Syeikh Burhanuddin Ibrahim b. 11 13 . Dokumen no. Ikrar ini dibuat di depan saksi pada tanggal 4 Syawal 782 (atau 2 Januari 1380) di depan dua orang saksi Ahmad al-ªaki dan Abdullah b. Salma dan Sarah. salah seorang sufi di Khanqah al-Salahiyyah di al-Quds al-Syarif.Islam. 289 dan no. 11 Secara garis besar dokumen no. Teks. Sulaiman. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali University datang ke Jerusalem dengan sebuah tim untuk mendokumentasikan dan membuat mikrofilm-nya. Beberapa tahun kemudian Little menerbitkan katalog dokumen tersebut: menjelaskan isi masing-masing dokumen secara garis besar dan mengklasifikasikannya. Tanpa bantuan literatur syurut. Ikrar ini dibuat pada tanggal 2 Ramadan 789/14 Agustus 1389) di hadapan dua orang saksi ‘Ali b. ‘Ilwi Muhammad dan Ahmad b. Saya sendiri pernah ikut membaca dokumen-dokumen itu dan adakalnya saya membutuhkan lebih dari seminggu hanya untuk membaca satu baris teks dalam sebuah dokumen. Di antara lembaran-lembaran kertas tadi ada dokumen ikrar (yang jumlahnya sekitar 90 lembar). Zainuddin Rizqullah. mantan suami Nasiruddin Muhammad al-Hamawi penduduk al-Quds al-Syarif. Zainuddin ‘Umar al-Hamawiyyah. “A Study of Six Fourteenth Century Iqrars from al-Quds Relating to Muslim Women. Dokumen 184 berisi pengakuan Fatimah bt. 25: 246-294. Saya juga pernah meminta bantuan seorang Arab (yang kebetulan berasal dari Huda Lutfi. salah seorang murid Little di McGill University. Selain berikrar bahwa dia tidak punya hak apa-apa lagi— termasuk maskawin dan biaya pakaian. 289 berisi pengakuan Fatimah bt. yang dibayar secara bertahap dari uang wakaf sekolah al-Salahiyyah. bahwa dia menerima uang perak sejumlah 375 dirham dari mantan suaminya untuk biaya ketiga anak mereka Ahmad. Fatimah juga mengakui bahwa mantan suaminya tersebut telah memberinya sejumlah uang untuk biaya anak selama tiga bulan setengah sesuai dengan tuntutan syariah. dokumen-dokumen ini sangat sulit dibaca. Muhammad al-Muwwa’ani.” in Journal of the Economic and Social History of the Orient.

Seperti dijelaskan di muka. 1955). dia menyatakan bahwa dokumen harus diawali dengan basmalah (menulis ‘Bismillahir-rahmanir-rahim’) dan diakhiri dengan hamdalah (menulis ‘Alhamdu lillahi rabbil-‘alamin’). No. Kalau dia perempuan. Bimbingan al-Asyuti tersebut sangat membantu ketika kita membaca dokumen ikrar tadi. Kalimat pertama. 7. walaupun terpisahkan selama satu abad dan. yang hidup di Mesir pada abad 9 H/15 M. baru saya tahu bahwa dalam membaca dokumendokumen tersebut dia sangat terbantu oleh buku syurut yang ditulis oleh al-Asyuti. walaupun hanya dalam garis besar. 2009: 1 . pasti basmallah.20 Palestina tempat dokumen tersebut ditemukan) untuk membacanya. Kata pertama setelah basmallah adalah aqarrat (karena yang membuat ikrar perempuan). al-Asyuti memberikan beberapa petunjuk tentang tata cara membuat dokumen ikrar. Pengalaman membaca dokumendokumen tersebut menunjukkan bahwa. Al-Asyuti. dan seterusnya). dalam buku tersebut berusaha menggambarkan praktek administrasi hukum yang berlaku pada masanya. Antara lain. Dia juga tidak bisa. dokumen-dokumen ini pada dasarnya merupakan catatan transaksi dan peristiwa yang terjadi di Jerusalem pada abad ke-14 atau satu abad sebelum al-Asyuti menulis kitab manualnya. maka nama suaminya atau mantan suaminya harus dicantumkan. Ini adalah isyarat bahwa memang buku-buku hukum relatif lebih stabil. Benda atau persoalan yang diikrarkan harus dinyatakan dengan jelas (jika uang berapa jumlahnya. 1. Dokumen harus mencantumkan tanggalnya dan ditandatangani oleh dua orang saksi. blanko dokumen hukum yang dibuat alAsyuti sangat cocok dengan dokumen-dokumen yang ditemukan di Jerusalem tersebut. 2 jilid (Kairo. setidakjelas apa pun. Vol.Jurnal Lektur Keagamaan. walaupun al-Asyuti hidup di tempat yang relatif jauh dari Jerusalem. Dalam buku manualnya. Saya tidak bisa membayangkan begaimana Little bisa membaca hampir 900 dokumen serupa dan menganalisa isinya satu persatu. Jawahir al-‘Uqud wa Mu‘in al-Qudat wa alSyuhud. Dua minggu kemudian. Ikrar harus dibuat dalam bentuk orang ketiga (harus aqarra kalau laki-laki dan aqarrat kalau perempuan). Setelah itu pasti 14 . Nama si pengikrar harus dicantumkan dengan jelas termasuk nama bapak dan kakeknya. bagaimana membayarnya. nama kehormatannya dan seterusnya.

Bagian akhir pasti terdiri dari tanggal...” Kedua ungkapan ini ditemukan dalam dokumen no. dengan hal itu). ditulis dengan tulisan tangan yang sangat jelek. Teks. yaitu tau’an [artinya. Untuk itu. para penulis itu bekerja sembarangan. Mungkin harus diingat bahwa pada abad ke-14 di Jerusalem buta huruf masih tinggi. Dengan kata lain. Para penulis itu mungkin berpikir bahwa. maka orang awam yang ingin menuliskan ikrarnya harus meminta bantuan orang lain. tulisan tidak mesti bagus... pada akhirnya para penulis itu juga yang harus membacakannya di pengadilan (kalau terjadi apa-apa dan perkaranya sampai ke pengadilan). dibuat dalam keadaan sehat jasmani dan rohani dan secara hukum dalam keadaan mampu melakukan transaksi). Sangat mungkin pada masa itu ada orang-orang yang memang pekerjaannya menuliskan dokumen (dengan berpedoman pada manual syurut). Tanda tangan saksi diawali dengan “syahida ‘ala . 289 dan 184 (dengan satu kata tambahan. tidak dalam keadaan terpaksa] setelah syar’iyyan). sumber penulisan sejarah Islam Timur Tengah masih didominasi oleh buku-buku sastera (literary soursces). dokumen 289 dan 184. dan semua dokumen yang ditemukan di Jerusalem ini.. Karena tidak banyak orang yang bisa menulis. Tetapi bisa juga karena sebab lain. hamdallah dan nama dua saksi. Para penulis buku ini menyodorkan realitas kepada kita secara subjektif. Bagian berikutnya adalah yang paling sulit dibaca: persoalan atau benda yang sedang diikrarkan. aktor mana yang akan ditonjolkan dan informasi dari siapa yang harus dipakai. Dalam menuliskan runtutan isi dokumen tersebut ada katakata hukum yang baku yang pasti muncul dalam ikrar. para penulis itu pada dasarnya menulis tidak untuk dibaca oleh orang yang memiliki dokumen tetapi untuk dibaca oleh mereka atau kawan-kawan seprofesi mereka sendiri. yaitu “iqraran syar’iyyan fi sihhatin minha wa salamah wa jawazi amr (ikrar yang sesuai dengan tuntunan syara’.Islam. Sampai saat ini.” Walaupun al-Asyuti menegaskan bahwa setiap dokumen harus ditulis dengan tulisan yang bagus agar mudah dibaca. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali nama orang yang membuat ikrar. karena orang awam itu tidak bisa membaca. Merekalah yang memilih buat kita peristiwa apa yang akan dimunculkan. Bias politik dan kultural dari para penulis 15 . bi dhalik (telah bersaksi atas . Mungkin karena terlalu banyak pesanan (karena jumlah yang bisa menulis sangat terbatas)..

Banyak pertanyaan bisa dikembangkan. Vol. Untuk mengkonstruk sebuah realitas diperlukan banyak sekali dokumen (bisa ratusan kadang ribuan lembar).D Goitein yang 16 .Jurnal Lektur Keagamaan. Selain kondisi dokumen yang biasanya sulit dibaca. dan seterusnya. Dibaca secara keseluruhan. yang mengisyaratkan bahwa dia berasal dari keluarga terpandang? Dokumen-dokumen yang saya baca berhubungan dengan pengelolaan tanah wakaf: bagaimana dikelola. berapa rata-rata anak yang dimiliki satu keluarga di Palestina pada abad ke-14? Berapa rata-rata penghasilan keluarga? Mengapa dalam dokumen no. buah-buahan atau tanaman apa saja yang ditanam. dalam dokumen kita disodorkan data mentah. kemungkinan besar akan ada nama-nama yang berkali-kali muncul sehingga kita bisa meruntut sejarah kehidupan mereka dengan baik. ada tantangan lain yang harus dihadapi ilmuan kalau dia ingin menulis sejarah dengan menggunakan dokumen. 184 disebutkan bahwa nafkah anak-anak dari perkawinan Fatimah dengan Nasiruddin dibayar oleh dana wakaf? Apakah karena dia miskin? Bukankah dia bergelar al-sitt al-masunah. Berasal dari tempat yang sama. dokumen bisa memberikan informasi yang sangat berharga. Dari potongan-potongan informasi yang ditemukan di setiap dokumen. Kitalah yang menseleksi dan menafsirkan data-data tersebut. tidak banyak dokumen yang tersedia dan juga tidak banyak ilmuan yang tertarik menghabiskan waktunya berminggu-minggu hanya untuk membaca dua atau tiga buah dokumen. jumlah anak yang dimiliki suatu keluarga dan model distribusi wakaf. setelah membaca ratusan atau ribuan dokumen. bagaimana sistem administrasinya. 7.20 tersebut sangat berpengaruh terhadap mutu gambar sejarah yang dimunculkan. Mirip seperti yang dilakukan oleh S. Sayangnya. Dari dua dokumen yang kita baca. berapa kali panen dan dapat berapa kilo sekali panen. 2009: 1 . bagaimana sistem pembagiannya. bagaimana mekanismenya kalau terjadi konflik pembagian hasil. Misalnya tentang jumlah nafkah yang diberikan suami kepada mantan istrinya. Dalam konteks ini. ada beberapa informasi yang menarik. Berbeda dengan sumber-sumber sastera. akhirnya kita bisa menulis sejarah sosial yang sangat bagus. Misalnya. 1. No. dokumen Jerusalem bisa dijadikan bahan untuk mengkonstruk realitas sosial masyarakat al-Quds al-Syarif di Jerusalem. dan dalam rentang waktu yang panjang.

Bagi seorang filolog adalah penting untuk terlebih dahulu mengidentifikasi teks dengan kelompok-kelompok keberagamaan yang ada dalam Islam. Catatan Pamungkas Pertama. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali menulis A Mediteranian Society: The Jewish Communities of the Arab World as Potrayed in the Documents of Cairo Geniza (Berkeley: University of California Press. masyarakat (jilid 2). Teks. Dalam jumlah yang sangat besar. 1967-78). lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam memiliki peluang yang sangat besar untuk menggali manuskrip dan dokumen yang berkenaan dengan masyarakat Islam yang kini masih belum tersentuh baik yang tersimpan di perpustakaan-perpustakaan di dalam dan di luar negeri maupun yang masih tersebar di kalangan masyarakat. dan keluarga (jilid 3). jauh lebih stabil dibanding teks yang ditulis oleh kalangan rasional. Ini membuat pekerjaan filolog lebih sulit lagi. masyarakat Muslim dan. Ketiga. Pengetahuan saya tentang kekayaan manuskrip Melayu sangat terbatas. Menjadi Muslim berarti mereka terhubungkan dengan relitas dan ajaran yang mendasari lahirnya teks dan dokumen. Potongan informasi yang dia temukan dalam ribuan lembar dokumen. Hanya mereka yang menguasai bahasa Yahudi dan bahasa Arablah yang bisa membacanya. Secara umum bisa dikatakan bahwa teks yang diproduk oleh kalangan skripturalis/fundamentalis. Dalam tradisi Islam. Kedua. sebuah teks harus ditempatkan dalam konteks besar yang melahirkannya. dan dalam kadar tertentu tradisionalis. membaca dokumen di Timur Tengah nampaknya lebih ‘mudah’ dibanding membaca dokumen sejenis di Indonesia. dalam banyak hal mencerminkan sikap atau pandangan keagamaan tertetu. mulai dari yang sangat stabil sampai ke yang sangat labil. Karya-karya yang ditulis oleh para ahli hukum Islam juga relatif lebih stabil dibanding karya-karya yang ditulis para filosof atau sufi misalnya. teks. tetapi saya punya kesan bahwa ada jenis-jenis literatur yang sangat membantu dalam membaca dokumen (atau 17 . dia susun menjadi 3 jilid narasi tentang ekonomi (jilid 1). dokumen Geniza berbahasa Yahudi yang ditulis dalam tulisan Arab.Islam. Hubungan model ini sangat penting dimiliki filolog untuk bisa menghayati dan memahami teks. walaupun sulit. terutama.

Mu’jam al-Buldan). sarjana-sarjana modern (baik di Barat maupun di Timur) juga banyak menghasilkan karya-karya penting dalam jumlah besar. Keempat. Sayangnya literatur bantu semacam ini tidak tumbuh di Nusantara. kualitas orang. Dalam bahasan tentang ‘Palestina’. yang berhubungan dengan suku dan geneologi (kalau ingin tahu nama-nama suku yang ada di Hijaz misalnya bisa dilihat di Ibn al-Kalbi.Jurnal Lektur Keagamaan. dan yang berhubungan dengan tempat (misalnya karya Yaqut. Di samping banyak sekali literatur yang diproduk oleh kalangan sarjana Muslim sendiri. Dalam dokumen no.[] 18 . kita akan menemukan nama-nama tempat dan desa yang ada di Palestina sehingga ‘gambar’ kata di dokumen itu bisa diidentifikasi. yang disusun berdasarkan tahun wafat. di dunia Islam Timur Tengah berkembang literatur yang berhubungan dengan biografi orang (Rijal atau Tabaqat) yang jumlahnya sangat besar dan beragam. kita bisa melihat di buku Yaqut. kajian Islam di Timur Tengah sudah berusia lanjut. Kalau kita membaca dokumen yang ada di Hijaz. Demikian juga kalau kita kesulitan membaca kata yang ada di ujung nama orang yang ada dalam sebuah dokumen. tempat tinggal. kita bisa mencari nama daftar nama suku yang ada di wilayah ini. 1. Kajian Islam di Indonesia belum mencapai tahapan ini.20 manuskrip) yang tidak ditemukan di dalam literatur yang tumbuh di Nusantara. 7. baik yang hidup pada masa klasik maupun modern. No. Literatur-literatur ini sangat menolong untuk mengidentifikasi katakata yang ada dalam dokumen yang sangat sulit dibaca. satu potong dokumen yang ditemukan di Musium Islam Jerusalem sesungguhnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari tradisi keilmuan atau sistem informasi yang kaya dan mapan. Jamharat al-Nasab). ada kata ‘al-Khaliliyah. misalnya. Dikepung oleh banyak informasi. dan seterusnya. Artinya. Misalnya. Tidak mudah memang. tapi tetap sangat membantu. sepotong dokumen itu akhirnya tidak sendirian lagi. 2009: 1 . Bahwa model dokumen yang ditemukan dalam buku al-Asyuti ternyata sangat cocok dengan model dokumen yang ditemukan di Palestina adalah salah satu contoh yang baik bagaimana kekayaan tradisi keilmuan bisa membantu membaca suatu kalimat dalam sebuah dokumen. Vol. 289.’ Jika kita ragu tentang bacaan kata ini. Kemungkinan besar dia adalah nama suku orang itu. keadaan fisik. keahlian.

Linant. New York: University of New York Press. 2 jilid dan 3 jilid supplement. ‘Ikrar’ dalam The Encyclopaedia of Islam. 1967 . Geschichte des arabischen Schrifttums (Leiden: Brill. Sahih. The Function of Documents in Islamic Law. Ibn Hajar. “A Study of Six Fourteenth Century Iqrars from al-Quds Relating to Muslim Women. Fuat. Huda. Al-Bukhari. Teks.” in Journal of the Economic and Social History of the Orient. de Bellefonds. 25. 193742. Y. Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi Brockelmann. Jeanette A. Ibn Sa’d. 19 . 1943-1949). New Edition.Islam. Leiden: E.). T.J. Wakin. al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah.t. Lutfi. Beirut: Dar al-Sadir. 1972. Geschichte der arabischen Litteratur. Sezgin. T. (Leiden: Brill. Carl.t.t. Kitab al-Tabaqat al-Kubra. T. Brill. dan Sejarah: Setali Tiga Uang — Fuad Jabali Daftar Pustaka al-‘Asqalani. No. 9 jilid. Kairo: Maktabat ‘Abd al-Hamid Ahmad Hanafi.

Jurnal Lektur Keagamaan. Jilid: Hardcover Sumber: http://islamicbookstore. Kazi Publications Jumlah halaman : 1149. 1.D. Vol. Survey of Islamic Culture Pengarang : Abu 'l Faraj Muhammad ibn Ishaq al Nadim Penerjemah (Inggris) : Bayard Dodge Penerbit : Great Books of the Islamic World. No. 2009: 1 . 7.html 20 .com/b7581.20 The Fihrist: A 10th Century A.

the way of the Acehnese associated with the others becomes a factor to create peace in Aceh land. 1 21 . These sources become by far the most important sources since they provide the original information. yang dikelola oleh Asia Research Institute (ARI). Apart from this. Anthony Reid. These situations have strong connection with character and behaviour of the Acehnese.. behaviour and attitude from the Acehnese. Internal and external conflicts were appeared in different period. Letak Artikel ini telah dipresentasikan pada Konferensi International tentang Aceh and Indian Ocean Studies II Civil Conflict and Its Remedies. Fanatic in their religion is an important factor to push to the situation. Their life had been colorized by peace and war which can be regarded as part of their life history. — Fakhriati Perang dan Damai di Aceh: Kajian atas Manuskrip Aceh tenang Konflik dan Solusinya1 Fakhriati Puslitbang Lektur Keagamaan. Islam. Ulama. di Banda Aceh. konflik Pendahuluan Sejarah Aceh adalah cerita panjang tentang perjalanan suatu suku bangsa yang diwarnai pergolakan demi pergolakan di antara cerita kebesaran dan kejayaan yang pernah dicapainya.Perang dan Damai di Aceh. Jakarta Aceh is a region which has a number of populations with their life fluctuation. the new generation can directly read and understand on the Acehnese writings as primary sources. sebagai koordinator konferensi ini yang telah mengundang Penulis untuk hadir dan mempresentasikan paper ini pada konferensi tersebut. Jihad. Consequently. National University of Singapore (NUS) bekerjasama dengan International Center for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS). Penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada Prof. protective to their ethnics and fatherland is another factor to motivate and to defend themselves from any other threat come from. from 17th to 20th centuries. Kata kunci: Manuskrip. One of the sources for those above life history of the Acehnese is manuscripts as their own writing. Afterward. and what their character and behaviour were in the past.. 23–24 Februari 2009. The main question that should be answered is how the Acehnese solve their conflict in life. This paper tries to find and analyse these primary sources in relation with war and peace occurred in the life history of the Acehnese.

Rakyat Aceh menjadi sedemikian menyatu dengan Islam dan (tentunya) dengan dunia Arab. demikian juga kekayaan alam serta kesuburan tanahnya memberi andil besar bagi kemajuan Aceh. Hal ini semakin menambah 22 . gangguan dari kalangan internal kerajaan juga turut menggerogoti wibawa pemerintah. tetapi keras. Setelah itu tiba saatnya kejayaan tersebut mengalami kemunduran seiring dengan banyaknya ancaman dari luar maupun gangguan dari dalam. Dinamika perjalanan panjang sejarah Aceh tersebut berjalan sedemikian rupa seraya semakin mempertegas karakter masyarakat Aceh yang terkenal fanatik. 7. 1. Bahkan tidak itu saja. 1958:78). No.52 geografis wilayah Aceh yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia di sebelah barat. ramah. Berkat dorongan para ulama. tetapi juga mempengaruhi kinerja bidang ekonomi serta dunia pendidikan bersama hilangnya sejumlah besar intelektual agama (ulama) yang disegani dan menjadi panutan masyarakat. Posisi wilayah yang demikian terbuka memberikan akses yang mudah untuk membangun hubungan dengan dunia luar. tetapi juga bagi masyarakat luar Aceh di bawah kekuasaannya (T. khususnya dengan para pedagang Arab dan Gujarat. kehadiran mereka juga turut mendorong semaraknya perdagangan yang memajukan perekonomian Aceh. dunia keilmuan maju sedemikian pesat. Iskandar.Jurnal Lektur Keagamaan. terbuka. 1961:299-305). Puncak kejayaan Kerajaan Aceh pada masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda. bermasyarakat hingga bernegara. 2009: 21 . saat mana wilayah kekuasaan Kerajaan Aceh melampaui tanah Aceh (Zainuddin. rakyat Aceh tidak hanya merasa berhutang budi karena para orang asing tersebut telah mendorong perkembangan perdagangan. tetapi juga karena telah mengembangkan Islam di kalangan masyarakat Aceh yang berfungsi sebagai pedoman hidup mulai dari tingkat individu. Vol. Asia Selatan serta Selat Malaka di bagian utara dan timur memberikan nilai tersendiri secara ekonomis maupun politik bagi kerajaan-kerajaan Aceh masa lampau. telah mampu memberikan kemakmuran dan kenyamanan tidak saja bagi masyarakat Aceh. Masuknya para pedagang Arab dan Gujarat selain dipandang telah membawa agama sebagai pedoman hidup bagi masyarakat Aceh. Kekuatan politik pemerintah secara perlahan mulai memudar dengan masuknya kekuatan asing. Pada tahap awal hubungan Aceh dengan dunia luar. Situasi ini tidak saja berdampak politis.

Dokumen dan arsip yang kaya tentang Aceh sekarang banyak yang disimpan di negeri Belanda. Banyak dokumen dan arsip yang telah merekam kejadian-kejadian penting yang terjadi pada pada momen-momen penting masa silam. — Fakhriati hormatnya masyarakat kepada para ulama. Seperti halnya Belanda dengan gigihnya melaporkan segala kejadian harian pada saat mereka berada di daerah Aceh. Dengan 23 . untuk mengetahui sikap dan prilaku orang Aceh yang tertulis dalam tulisan mereka sendiri. Pertama. sehingga di hampir setiap daerah kecil memiliki ulama kebanggaan tersendiri.. Studi ini mencoba menjelajahi perjalanan sejarah Aceh dari abad ke-17 sampai abad ke-20 M. Salah satu penghargaan mereka terhadap Islam adalah keyakinan mereka bahwa budaya Aceh adalah budaya Islam dan mereka berusaha komitmen terhadapnya. Tulisan ini mencoba mengisi kekosongan ini dengan melihat dan menganalisis manuskrip Aceh.Perang dan Damai di Aceh. Namun kajiannya hanya berfokus kepada perang melawan Belanda. ada sisi lain yang perlu mendapat perhatian serius dari para peneliti untuk melihat dan mengkaji lebih intensif dan detail adalah tentang karya-karya tulis yang dihasilkan dan dimiliki oleh orang Aceh sendiri. Aceh dalam rentang waktu ini berada pada masa perang yang cukup panjang. termasuk berbagai peristiwa perang dan pergolakan lainnya. sejauh ini banyak ditemukan manuskrip berkisar pada periode ini. Sehingga pengalaman langsung dari setiap peristiwa yang terjadi di bumi Aceh dan sikap dari orang pribumi menghadapi dan mengatasi kejadian-kejadian yang ada dapat diketahui dengan jelas. Ketiga. Salah satu kebesaran Aceh yang dapat disaksikan hingga kini adalah bahwa suku bangsa ini mampu merekam sendiri setiap tahap perkembangan yang terjadi pada dirinya. konflik internal dan eksternal mulai tumbuh dan berkepanjangan. Kedua.. Pemilihan periode ini didasarkan atas tiga alasan. Siapa saja yang dinilai berusaha menggerogotinya akan dicap sebagai musuh bangsa Aceh dan juga musuh Tuhan. Sejauh ini belum ada karya yang menjadikan manuskrip sebagai bahan analisis dasar untuk mengkaji konflik yang terjadi di Aceh. Salah satu karya yang menjadikan tulisan orang Aceh asli sebagai sumber primer adalah kajian Alfian Ibrahim pada tahun 1998 yang berjudul Perang di Jalan Allah. Namun demikian.

yaitu permainan bentuk lain yang mendidik para pemain untuk bisa berperan menjadi prajurit dalam perang. Permainan ini terdiri dari dua kelompok–biasanya terdiri dari kaum muda dari dua kampung—yang berdiri pada sisi yang berlawanan. dan tentang sikap mereka dalam menghadapinya untuk mencapai kedamaian. dan bedil 24 . satu kelompok berusaha mendorong kelompok yang lain yang dianggap sebagai lawan untuk menjatuhkan ke tanah. Karena itu permainan ini harus disaksikan oleh para pemuka masyarakat yang sekaligus bertindak sebagai wasit untuk mencegah perkelahian (Hurgronje. No. a. Mereka dilengkapi dengan senjata tiruan yang dibuat dari pelepah kelapa untuk rencong dan pedang. Permaian prajuritan. Vol. Saling dorongmendorong ini pada akhirnya menciptakan perkelahian dan tidak boleh dibantu oleh siapa pun agar permainannya murni dan keberhasilan yang dicapai adalah atas usaha sendiri si pemain. Namun demikian. sehingga dinyatakan kalah. Permainan meukrueng-krueng.52 demikian makalah ini diharapkan dapat memberi wawasan yang lebih luas dan mendalam tentang kondisi perang dan damai yang dialami langsung oleh orang Aceh pada masa lalu. Di lain pihak lawannya harus menangkap pendorong untuk dijatuhkan juga sehingga salah satu harus ada yang tidak bisa kembali ke garis pembatas awal. Berikut beberapa permainan yang bersifat mendidik untuk bela diri dan berperang. sebagian besar di antaranya memiliki unsur heroisme. Permainan dan Hiburan Rakyat Dari sejumlah permainan rakyat yang dimiliki orang Aceh. 2009: 21 . 1997:145). 7. Budaya Orang Aceh 1. Vol II.Jurnal Lektur Keagamaan. karena dapat menciptakan perkelahian yang serius dan menimbulkan peperangan yang lebih luas. permainan ini biasanya tidak dapat dilepaskan begitu saja oleh pihak yang berwenang. 1. Dalam permainan ini. b. Perdebatan dan perlawanan yang mendidik para pemainnya untuk mempertahankan dan membela diri adalah salah satu unsur yang dapat mendorong perlawanan bila mereka diganggu oleh pihak lain. yaitu permainan yang dilakukan oleh kaum muda laki-laki dengan mengambil lokasi di pinggir sungai.

Isi bacaan dalam setiap tarian tersebut pada umumnya mengandung doa dan ajaran akan pentingnya berperang di jalan Allah. peserta duduk membaca isi ratib saman.. Bila diperhatikan. Dalam isi ratib rapa’i terlihat bahwa setelah dimulai dengan pujian kepada Allah dan syekh sufi. II. Kepala adalah sesuatu yang harus berada di atas bukan di bawah. untuk pembelaan agama dan tanah air.Perang dan Damai di Aceh. karena daun tersebut mengandung makna sesuatu yang berharga telah diletakkan di atas kepala lawan lalu dengan serta merta kepalanya ditempatkan di bawah. 1997:158-184). pemain duduk untuk membacakan isi seudati yang semakin lama semakin cepat bacaan dan gerak mereka (Djajadiningrat.. Hurgronje. Dalam rapa’i. Vol. isi dan gerak yang dilakukan di dalamnya. Hal ini mengandung makna penghinaan telah dilakukan oleh pihak lawan. Tarian-tarian yang dilakukan orang Aceh juga mengandung unsur heroik di dalamnya. c. 25 . Permainan ini dilakukan dengan cara memancing lawan. Sedangkan dalam tari saman. dan saman. penari membaca doa memohon kepada Allah agar mereka memperoleh kemenangan dalam perang sabil. 1997:140). Kemudian mereka saling mengadukan kemampuan berperang sehingga ada yang mengalah karena kelelahan. Karena itu kemarahan terjadi dari pihak lawan dan keduanya mulai melakukan meulho. lama-kelamaan bacaan menjadi semakin cepat dan tubuh peserta mulai bergerak ke sekeliling peserta lainnya. Pertandingan menjadi seru bila kedua belah pihak dapat melukai salah satunya dan akhirnya dapat menjatuhkan lawan (Hurgronje. rapa’i. d. Tarian-tarian ini berpangkal pada praktik tarekat dalam ajaran tasawuf dan kemudian berkembang menjadi hiburan tarian yang disenangi rakyat banyak. Permainan meulho (bergulat). Vol II. Tarian yang cukup populer di kalangan rakyat Aceh adalah tarian seudati. — Fakhriati dari pelepah palem. yaitu dengan meletakkan daun di kepala pemain lalu dijatuhkan. Sementara dalam tarian seudati. peserta yang melakukan rapa’i menggunakan senjata tajam yang pada waktu ektasi dapat melukai diri sendiri. 1934:648-649. para penari dari waktu ke waktu bertambah semangat dengan isi bacaan yang semakin hangat.

8184 (1). yaitu mereka yang datang ke tanah Aceh menyebarkan Islam. 1978:144. b.Jurnal Lektur Keagamaan. Masyarakat umum. Sedangkan teungku berperan dalam menegakkan hukum Islam dan mengajarkan umat untuk ilmu-ilmu agama. yaitu terdiri dari beberapa keluarga inti. Mereka banyak berperan dalam hal penyumbangan dana untuk kemaslahatan sosial. Kaum bangsawan (uleebalang). keturunan dari Mekah. a. 2000:3). No. Mereka dan keturunannya bergelar habib dan syarifah. Keturunan Nabi (habib). e. Ya Allah untuk perang sabil”. Tippe. 26 . mereka adalah rakyat biasa. Selain susunan lapisan sosial di atas. Peran mereka sangat diharapkan masyarakat untuk dapat menyelesaikan masalah masyarakat dalam kaitannya dengan agama (Syamsuddin dkk. maka mereka mendapat gelar teungku. masyarakat Aceh hidup dalam kelompok-kelompok yang disebut dengan gampong. 2. mereka yang memiliki banyak harta. mereka berasal dari rakyat biasa. Or. dengan gelar teuku bagi laki-laki dan cut bagi perempuan. yaitu keuchik (kepala kampung). Lapisan Sosial Masyarakat Aceh tidak dibangun di atas strata sosial berdasarkan tingkat kemuliaan keturunan dan penghormatan kepadanya. d. p. Sulaiman dkk. Cod. 1. Dalam gampong terdapat tiga bentuk pemimpin. Karena mereka berhasil mendapatkan ilmu agama selama merantau. Kaum hartawan (orang kaya). 7. dan mengembangkan kehidupan beragama di kalangan rakyat. 57. Kaum cendikiawan agama (ulama). teungku.52 Ja Allah prang thabilellah – ja bantu prang thabilellah2 “Ya Allah di sana ada perang sabil kami mohon bantuan-Mu. Keuchik memiliki peran sebagai pemimpin yang memelihara akan adat. Sementara ureung tuha adalah sekelompok orang tua yang 2 Manuskrip. c. 2009: 21 . yaitu. 1992:65-66. dan ureung tuha (tuha peut). Vol. Lapisan sosial pada masyarakat Aceh dibangun berdasarkan nostalgia kesejarahan dan berdasarkan peran mereka dalam masyarakat. yaitu orang Aceh yang memiliki leluhur sultan dan uleebalang.

1992: 66-68. Masuknya Islam di wilayah ini dikenal jalan damai melalui para pedagang. Ia dibantu oleh qadi nanggroe.. Ia tidak memimpin secara otonom. Mereka menjadi tumpuan pemimpin dalam masyarakat dalam penyelesaian segala masalah yang dihadapi dalam gampong. Selanjutnya. terutama oleh pemimpin gampong dan bahkan uleebalang yang memimpin nanggroe (Vleer. 2003:45). di atas nanggroe. 1978:4-5). Kehadirannya yang selektif dan adaptif atas unsur-unsur adat istiadat yang dinilai tidak menyalahi ajaran Islam membuat masuknya agama ini cukup berhasil di Aceh. Orang Aceh telah berhasil menyatukan agama dengan adat sehingga dalam setiap adat selalu terdapat nilai-nilai keislaman. maupun agama. 1980:43-44). wilayah uleebalang sendiri adalah nanggroe yang terdiri dari tiga mukim atau lebih. 2003:45). — Fakhriati dihormati masyarakat yang berperan sebagai penasehat (Sulaiman dkk. orang Aceh membuat pepatah: 3 Di samping nanggroe. Kelompok ureung tuha ini terdiri dari empat atau lebih orang pemuka masyakarat yang di dalamnya termasuk teungku yang banyak mengetahui bidang agama. dalam arti wilayahnya tetap berada di bawah kekuasaan uleebalang. baik peradilan. Raliby.. Agama Islam telah masuk ke Aceh tidak lama setelah agama ini berkembang di Arab. 3. 27 . terdapat kerajaan yang dipimpin oleh seorang sultan dibantu oleh seorang qadi didasarkan kepada undang-undang Aceh yang bersumber pada ajaran Islam dan berciri khas keislaman yang tinggi (Usman. Untuk menggambarkan kesatuan agama dan adat ini. Wewenang sagoe hanya terbatas pada kepentingan bersama antara beberapa orang uleebalang.Perang dan Damai di Aceh. (Usman. Fungsi panglima saggoe hanya bersifat memberi masukan kepada uleeblang. Mukim ini dipimpin oleh seorang imuem dan qadi yang diangkat oleh uleebalang. Gampong kemudian tunduk kepada kelompok yang lebih besar yang disebut dengan mukim. Keputusan mereka sangat diharapkan oleh berbagai pihak. terdapat sagoe di bawah pimpinan panglima sagoe yang merupakan federasi dari beberapa nanggroe. militer. 3 Kemudian. Sagoe hanya dimiliki oleh daerah Aceh Besar. sementara yang lain sudah tidak ada lagi. Di antara struktur masyarakat Aceh tersebut yang masih bertahan hingga sekarang adalah gampong dan mukim.

ia menegaskan bahwa tidak menghormati tamu sama dengan perilaku syaitan (I‘l±m al-Muttaq³n. Tidak sedikit di antara pedagang-pedagang Arab dan Gujarat yang juga telah membawa agama Islam memilih menetap di sana dan menjalin hubungan kekeluargaan dengan rakyat Aceh. sehingga kemudian orang Aceh mengklaim adat mereka sebagai adat yang Islami. No. hlm. Vol. 2009: 21 . seperti Syekh Muhammad Yamani yang dikenal dengan ulama Ilmu Usul. 4. Fanatisme agama merupakan suatu tradisi yang sudah turun temurun untuk melangkah sesuai dengan ajaran agama.52 adat ngon hukom lagee zat ngen sifeut “adat dengan hukum (agama) adalah seperti zat dengan sifat” Pepatah ini mengandung pengertian bahwa adat sebagai ciptaan manusia dan hukum Tuhan (agama) adalah dua unsur yang tidak bisa dipisahkan. Dalam manuskrip I‘l±m al-Muttaq³n karya Teungku Muhammad Khatib Langgien (salah seorang tokoh tasawuf abad ke-19 yang menjadi panutan masyarakat) terdapat penjelasan tentang perlunya memuliakan tamu. Sikap yang pertama sekali ditunjukkan adalah sikap ramah dan berteman kepada siapa saja yang datang. 1. Dalam perjalanannya. sedangkan ulama adalah unsur utama yang mendukung dan memperjuangkan peranan agama (Sjamsuddin. Adat harus selalu beriringan dengan agama. dalam arti segala adat istiadat berlandaskan agama. 18). Para pengunjung dari berbagai negara telah datang ke Aceh dengan tujuan yang berbeda-beda. Selanjutnya sikap seperti ini terus dipertahankan bila tamunya tetap berperilaku baik dan menjadi teman dalam bersosialisasi. Syekh Muhammad Jailani ibn Muhammad Hamid dari Gujarat mengajarkan Logika dan Ilmu Fikih (Ar28 . 1999:1). Mereka telah berhasil menjadikan adat dan agama sebagai pilar bagi kehidupan Aceh. 7. Bahkan berlandaskan pada sebuah hadis.Jurnal Lektur Keagamaan. Di antara para pendatang dari Arab dan sekitarnya terdapat ulama-ulama yang mengabdikan dirinya untuk mengajar di Aceh. Sultan dan uleebalang adalah dua unsur utama yang mendukung kehidupan adat. Sikap terhadap Orang Asing Orang Aceh memiliki sikap tersendiri dalam menghadapi orang asing yang datang ke negeri dan wilayahnya. Islam mengalami penguatan citra melampaui adat istiadat.

bahkan memerangi dan membunuhnya. dan Univeristas Antar Bangsa Malaysia. Pustaka Ali Hasymi. Sebaliknya. — Fakhriati Raniri. bila pendatang ingin menguasai dan dinilai merugikan Islam dan martabat bangsa Aceh. Demikian juga dengan Belanda yang datang ke Aceh untuk tujuan membentuk wilayah jajahan. Kemudian. maka orang Aceh mulai bertindak dengan tegas. KITLV Belanda. 1961:89). British Library. terjadilah perang sabil melawan Portugis. Sedangkan di luar negeri.. Sejauh ini. baik secara kelompok maupun individu. Penulis bersama team peneliti Puslitbang 29 . Budaya Tulis Baca Masyarakat Aceh pada Masa Lampau Masyarakat Aceh pada masa lampau memiliki budaya yang tinggi dalam hal tulis baca. memarahi atau mengusir. Selain itu. Mereka tidak pernah dapat hidup tenang dan aman selama di Aceh. penulis sudah mengidentifikasi lebih dari 400 manuskrip yang terdapat di Aceh Besar dan Pidie.Perang dan Damai di Aceh. Pusat Manuskrip Melayu Perpustakaan Negara Malaysia. dan Dayah Tanoh Abee.. informal ataupun dikoleksi dan disimpan oleh masyarakat setempat. koleksi dan simpanan individu masyarakat Aceh sendiri masih sangat banyak. maka dengan tegas dan tidak segan-segan mereka akan bertindak menegur. Seperti halnya kedatangan orang Portugis ke Aceh pada awalnya diterima dengan baik. Orang Aceh selalu menentang dan melawan mereka meskipun secara kasat mata dengan persenjataan yang tidak seimbang. Sultan Ali Mughayat Syah bersama rakyat dan kerajaan-kerajaan pantai timur lainnya bersatu menggalang kekuatan untuk mengusir Portugis dari wilayahnya (Reid. namun ketika gerak geriknya kelihatan sudah mencurigakan. Hal ini ditandai dengan terdapatnya sejumlah manuskrip yang masih tersimpan baik di dalam maupun di luar negeri. di antara lembaga yang menyimpan manuskrip Aceh adalah Perpustakan Universitas Leiden Belanda. meskipun mereka menetap di wilayah ini dalam waktu yang relatif lama. Universitas Indonesia. dalam Bust±n as-Salat³n:33). Di dalam negeri. 2005:2). Museum Aceh. manuskrip Aceh tersebar di Perpustakaan Nasional. Bahkan orang non-Muslim yang datang ke Aceh pun tetap disambut dengan baik. yang ditempatkan di lembaga formal. yaitu menangkap mereka dan mengadili mereka (Mohammad Said. Orang Aceh dan Manuskrip 1.

dan berbagai macam ilmu pengetahuan tertuang di dalam tulisan mereka. Dewasa ini. di kabupaten-kabupaten lain juga masih terdapat banyak manuskrip hasil karya pendahulu-pendahulu Aceh. dan masih banyak lagi manuskrip yang belum tersusun rapi dan teridentifikasi khususnya di dayah ini. seperti gempa bumi. mengingat sejumlah harta warisan kita dibawa ke luar negeri. No. 1. jimat. Para penulis manuskrip-manuskrip ini tidak segan-segan mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk 4 Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada dua kategori penyimpanan manuskrip dilakukan oleh masyarakat setempat. Hampir semua pengoleksi dan penyimpan manuskrip tidak mengerti cara merawat manuskrip yang benar. obatobatan. Merupakan sesuatu yang sangat prihatin bagi kita semua. 2009: 21 .52 Lektur Keagamaan. Balitbang dan Diklat Departemen Agama juga telah berhasil mengidentifikasi 49 manuskrip yang terdapat di Dayah Awe Geutah. selain tempat-tempat yang disebutkan di atas. Kedua adalah kolektor yang tujuan mengoleksi manuskripnya adalah untuk menjual kembali manuskrip yang dimilikinya. penyimpan seperti ini perlu mendapat penanganan khusus untuk dijadikan museum pribadi di rumah penyimpannya. Pertama peyimpan yang murni menyimpan karena mengangap sebagai sesuatu yang berharga dan bernilai untuk kehidupan mereka. seperti Surat Keputusan Sultan yang disebut dengan Sarakata. Keragaman gaya sajian maupun jenis tulisan sepertinya ditujukan untuk merangsang minat para pembaca untuk membaca tulisannya. sebagian besar manuskrip dibeli oleh orang Malaysia dengan harga yang tinggi untuk disimpan di negaranya. Vol. Seperti kasus di wilayah Samahani Aceh Besar. II. Aceh Utara. hanya saja mereka tetap menyimpannya karena dinilai sebagai warisan yang sangat berharga bagi keberlangsungan hidup mereka. terutama bahaya alamiyah. Menurut penulis. 30 . (wawancara dengan beberapa kolektor di wilayah Pidie dan Aceh Besar). Penulis juga sangat yakin. Kondisi manuskrip rata-rata sangat memprihatinkan karena peyimpanan dan perawatan yang dilakukan masyarakat belum memenuhi standar perawatan manuskrip. 7. surat-surat.Jurnal Lektur Keagamaan. 1997:4).4 Adalah hal yang kurang tepat jika dikatakan bahwa orang Aceh adalah bangsa yang tidak suka menulis (Hurgronje. cerita fiksi dan non-fiksi yang biasanya dituang dalam bentuk hikayat. selawatan. Demikian banyaknya ragam manuskrip baik isi maupun gaya sajiannya adalah bukti telah tumbuhnya tradisi menulis pada bangsa Aceh pada masa lampau. penyimpan mengangap bahwa dengan keberadaan manuskrip di rumahnya menjadikan rumahnya aman dari segala bahaya. Vol.

Selain itu. kemajuan ilmu pengetahuan ditandai dengan hadirnya tokoh-tokoh intelektual sufi. Selain menyebarkan ajarannya. Selain ia menulis tentang tasawuf yang berkisar seputar masalah tarekat Syattariyah. yang dikenal sebagai tokoh utama dalam tarekat Syattariah. dan meneliti segala aspek tentang mereka. Tulisan-tulisan tentang mereka dan karya-karya mereka sudah banyak diterbitkan. karena setelah diteliti. Mereka menuangkan ide mereka. ia juga menulis karya lain seperti tafsir Al-Qur’an. kemudian menulis dengan tinta yang pada umumnya menggunakan tinta hitam dan merah untuk mengungkapkan kata-kata atau hal-hal yang penting. hingga masalah kepentingan umat secara umum. ilmu filsafat. Para ulama tersebut melahirkan berbagai karya yang mencakup berbagai bentuk ilmu pengetahuan dari ilmu tasawuf. demi untuk menarik minat pembacanya. dan ilmu-ilmu lain.. sehingga banyak buku yang terbit sebagai hasil studi para ilmuan terhadap mereka. ar-Raniri. Para peneliti menunjukkan perhatian serius dengan memperhatikan. dan sebagian manuskrip Dala’il al-Khairat. Salah satu contoh manuskrip yang ditulis dengan tinta emas adalah Surat Sultan Iskandar Muda. 5 31 . Salah satu contoh tokoh intelektual sufi yang turut mempedulikan setiap kepentingan negara dan umatnya adalah Abdurrauf al-Fansuri. bahkan kadang mereka tidak segan-segan mengeluarkan biaya besar untuk menulis dengan menggunakan tinta emas sekalipun. dan berkerja meniti karirnya di Aceh (Lihat Fakhriati. karena ia yang pertama sekali menyebarkan tarekat ini kepada masyarakat di Nusantara. dan Abdurrauf alFansuri 5 . ia peduli terhadap ilmu lain yang dibutuhkan oleh masyarakat di lingkungannya. serta tanda-tanda yang menunjukkan berakhirnya sebuah kalimat. ternyata Abdurrauf adalah ulama yang berasal dari Fansur atau lebih dikenal dengan Barus. ilmu fikih. — Fakhriati melahirkan sebuah karya yang nantinya akan bermanfaat bagi pembacanya. Syamsuddin as-Sumatrani. 2008). saya juga pernah menemukan Al-Qur’an yang gambar iluminasinya ditulis dengan tinta emas. yaitu Hamzah Fansuri. Penulis manuskrip Dala’il al-Khairat menggunakan tinta emas untuk gambar peta Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.. Pada abad ke-16 dan ke-17 M. mempelajari.Perang dan Damai di Aceh. yang berjudul Tarjuman alPenulis cenderung menyebutnya Abdurrauf al-Fansuri dari pada Abdurrauf Singkel.

Namun demikian. Pada abad ke-18. 1995). ia juga peduli dengan pemerintahan yang berkembang saat itu. Selanjutnya. 6 32 . Abad ke-19. 2009: 21 .Jurnal Lektur Keagamaan. Mir’at at-°ull±b. Faqih Jalaluddin telah menulis berbagai karya yang menyangkut berbagai masalah. dan penjelasan terhadap hadis-hadis. murid langsung dari Abdurrauf al-Fansuri. di antara tulisannya adalah Asr±r as-Sulµk dan Manzal al-Ajl±. 7. Mereka bahkan menggunakan kesempatan menulis untuk membakar semangat perjuangan melawan kebatilan yang mereka sebut sebagai kafee untuk memperjuangkan agama dan bangsanya. yaitu Sultanah Safiyatuddin (1641-1676 M) adalah pemerintah yang sah dan benar dalam hukum Islam (Lihat Azra. Faqih Jalaluddin dan Baba Daud. pada abad-abad berikutnya. Sangat sedikit hasil kajian terhadap sosok ulama Aceh dan karyakarya mereka pada masa ini muncul.52 Mustaf³d. seorang ulama hasil didikan Baba Daud yang telah melakukan sesuatu yang sangat berharga bagi umatnya adalah Syekh Nayyan. Perhatian lebih banyak tertuju pada usaha menghimpun kekuatan membela diri dan mengusir penjajah. Di antara para ulama yang telah menghasilkan karyanya pada abad ke-18 M. adalah abad yang cukup menderita untuk rakyat Aceh. ia memberi fatwa bahwa pemerintah yang berkuasa pada saat itu. para peneliti dan ilmuwan kurang menaruh perhatian pada penulis-penulis Aceh. karena harus menghadapi penjajah Belanda. Di samping itu. Kendati demikian. yakni Dayah Tanoh Abee (Baca manuskrip. Ia telah membangun dayah yang sampai sekarang tetap berjaya dengan pendidikan dan penyimpanan kitabkitab lama hasil karya para ulama Aceh dan luar Aceh. orang Aceh yang cinta tulis menulis terus menuangkan pikiran dan pengalamannya yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. seperti Bid±yat alMujtah³d. Tarjuman alMustafid dan juga menulis tentang Fikih. yang berjudul Hadis al-Arba‘in. meskipun kondisi negeri pada saat itu kurang mendukung 6 . 1. Vol. No. pada masa ini karya-karya hasil tulisan orang Aceh bukan Kondisi kerajaan yang secara perlahan mulai melemah berikut masuknya kekuatan asing yang berusaha meruntuhkan kekuatan kerajaan serta timbulnya persoalan di dalam negeri antara ulama dan uleebalang memberi pengaruh memudarnya semangat keilmuan. Sedangkan Baba Daud telah berhasil menyempurnakan karya gurunya. karya Teungku Ismail tentang sejarah Syekh Nayyan).

. melainkan bangkit kembali dengan semakin banyaknya karya yang muncul dalam berbagai bentuk.Perang dan Damai di Aceh. Karya-karyanya tidak hanya berkisar tentang tasawuf. melainkan juga ilmu-ilmu lain seperti fikih dan bahasa Arab. Bid±yat alUntuk penjelasan pergeseran silsilah yang terjadi dalam tubuh tarekat Syattariyah di Aceh. Ia lebih cenderung menjadikan karya-karya pendahulunya sebagai rujukan daripada menyalin kembali. — Fakhriati semakin tenggelam. di antaranya adalah yang berbentuk cerita dalam bentuk hikayat yang mengajak umat untuk berperang melawan penjajah. Karya-karya para ulama menjadi pegangan bagi umatnya. Peran Manuskrip bagi Masyarakat dalam Perang dan Manuskrip telah memberi daya tarik tersendiri pada masyarakatnya. 2. 7 Damai 33 . dan Daw±’ al-Qulµb yang menjelaskan tentang obat hati yang perlu dimiliki oleh setiap orang.7 Ia menulis berbagai masalah. Merupakan suatu kenikmatan tersendiri baginya untuk membuat buku baru sebagai hasil karyanya sendiri daripada menyalin kembali hasil para ulama di masa yang silam. Salah satu karyanya adalah Fa‘lam annahu l± il±ha illall±h.. Teungku di Pulo adalah sosok yang cukup berpengaruh untuk masyarakatnya di Aceh. Ia adalah salah satu penulis yang giat menuangkan pikirannya untuk kepentingan murid dan masyarakatnya. lantunan hikayat menjadi kesenangan bagi masyarakat banyak. meski tidak merujuk kepada Abdurrauf al-Fansuri sebagai silsilahnya. 8 Sampai sekarang masih bisa dijumpai manuskrip-manuskripnya yang dikoleksikan oleh keturunannya. Teungku Amiruddin Hasan Meunasah Kruet Teumpeun. Ia memiliki juru tulis khusus bernama Teungku Rahman yang bertugas dengan setia melakukan segala perintahnya dalam menulis. Ia juga menjadi Qadi untuk pemerintah yang berkuasa pada saat itu (Lihat Fakhriati 2005). 8 Selain itu. Ia telah menjadi teman setia bagi pembacanya di sepanjang masa. Pada abad ke-20. Di antara para ulama yang gemar menulis dan cukup produktif pada masa ini adalah Teungku Khatib Langgien. muncul ulama besar yang bernama Teungku Muhammad Ali Irsyad. Ia adalah tokoh tarekat. seperti Mi’r±j as-S±lik³n yang menceritakan tentang praktik tarekat dan pemahaman filosofi tentang makna tasawuf. di samping ia juga menjadi tempat berpijak dan bertindak. lihat Fakhriati 2008.

p. Vol II. (Kern Papieren. di meunasah. mereka masih tetap melakukan penyerangan secara individu yang dimotivasi oleh semangat prang sabi. (Kiefer. Hikayat Prang Sabi. Dalam peperangan melawan Belanda. muda. 1973: 109-123). 7. Persiapan ini menunjukkan bahwa orang yang melakukan jihad adalah orang yang akan kembali ke Hari Akhir. 1979:25-27). Motivasi pembunuhan bermula dari membaca Hikayat Prang Sabi di rumahnya. 34 . misalnya. No. atau di perkumpulan-perkumpulan kecil di kedai kopi. orang Aceh tidak pernah menyerah. Mereka melakukannya secara individu. 2009: 21 . 1. telah mendorong para pembaca dan pendengarnya untuk bertindak secara langsung terjun ke lapangan mempraktikkan apa yang diceritakan dalam hikayat. C. dan anak-anak sekalipun. misalnya. 234. dijadikan sebagai kitab wajib di setiap pesanren (dayah) bagi para pemula. kaum Muslim Tausug melaksanakan jihad yang dikenal dengan Parrang Sabbil melawan kolonial Spanyol. Salah satu contoh bentuk penyerangan individual yang populer sejak tahun 1910 tersebut adalah peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh seorang pemuda Aceh terhadap tentara Belanda pada tahun 1917 di Langsa. Meskipun mereka kalah dan tidak bisa lagi melakukan penyerangan secara berkelompok. Sebelum melakukan jihad mereka harus melaksanakan upacara mandi yang kelakukannya sama seperti mandi yang dilakukan untuk orang yang mau dikuburkan. Kern. Snouck Hurgronje menyatakan bahwa hikayat adalah salah satu bentuk hiburan rohani yang disenangi oleh berbagai lapisan masyarakat. orang tua.Jurnal Lektur Keagamaan. Para ulama dan orang yang berbakat membuat hikayat pun dengan segala senang hati menciptakan berbagai hikayat untuk dibaca di hadapan khalayak ramai. misalnya. seperti di lapangan. di Pilipina misalnya. kesenangan mendengar hikayat di kalangan orang Aceh telah terjadi secara turun temurun. (Hurgronje. 1997:201).9 9 Perlawanan secara individu juga terjadi di tempat lain selain di Aceh. baik rakyat biasa maupun para pemimpin. Di lain pihak. Ilmu fikih yang tetuang dalam kitab tersebut kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Hikayat-hikayat yang dibaca dengan intonasi nyanyian khas Aceh dapat memberi kesan dan pengaruh yang sangat kuat kepada para pendengarnya untuk bertindak dan bersikap seperti yang dikatakan dalam hikayat.52 Mujtah³d. No. sehingga menjadi darah daging pelaksananya. Isi hikayat pada umumnya bersifat mendidik dan mengajari hal-hal yang bermanfaat bagi pembaca dan pendengarnya. 23-24. Vol.

Kak Putri misalnya. 3. Tidak selamanya setiap insan yang normal jiwanya di dunia ini ingin berperang. Untuk memimpin Aceh. Mereka mengangap manuskrip sebagai sesuatu yang dapat memberi makna mistis dalam kehidupan mereka. Dalam manuskrip Hikayat Prang Sabi sendiri terdapat harapan untuk mewujudkan negeri Aceh menjadi negeri yang aman dan damai. sementara rumah di sekelilingnya sudah hancur berantakan. Nabi mengangkat raja lain yang dapat memimpin dan membina negeri Aceh. Salah seorang penyimpan manuskrip. Para pemilik manuskrip–khususnya–menyimpan manuskrip sebagai sesuatu yang berharga. Dengan menyimpan manuskrip. memiliki keinginan menyimpan manuskrip karena ada kepercayaan dapat berlindung dari gempa bumi. bahkan tidak dapat membaca tulisan di dalamnya. Sabda Nabi neu yu peu Islam kafe belanda yang na tinggai dara ngen agam nak bek karam u nuraka neuboh raja lein geulanto peutimang naggro mat neraca. 35 . Selain isi manuskrip tentang ajakan untuk berperang di jalan Allah. “Nabi bersabda agar orang Belanda yang masih tinggal di daerah Aceh diislamkan agar tidak masuk ke dalam neraka. — Fakhriati Hikayat Prang Sabi telah membangkitkan semangat jihad melawan musuh yang dianggap sebagai kafir yang merongrong Islam dan bangsa Aceh dan karenanya harus dimusnahkan.. Isinya yang mengajarkan umat sesuai dengan ajaran Islam dan mengajak mereka untuk menegakkan perang adalah unsur yang mau tidak mau harus dipatuhi oleh orang yang cinta kepada agama dan bangsanya.. terlebih setelah sekian lama berprofesi sebagai penjual beli manuskrip dengan untung yang besar namun hasilnya tidak berkah (habis begitu saja tanpa termanfaatkan dengan baik). sehingga negeri Aceh menjadi mulia”. hlm. truh lee siat naggroe mulia (Hikayat Prang Sabi miliki Syik Jah. Cinta kedamaian adalah sesuatu yang lain yang diinginkan setiap insan. maka kehidupan dapat berkah dan dapat terhindar dari malapetaka. meskipun sebagian mereka tidak memahami isinya. terdapat juga isi manuskrip lainnya yang mengharap adanya suasana damai. Manuskrip Aceh pada Masa Kini Manuskrip memiliki arti penting bagi generasi sekarang di Aceh....Perang dan Damai di Aceh. kecuali harus melaksanakannya.. 33).

Sering kali ketidakperdulian ini disebabkan mereka tidak dapat membaca dan memahami isinya. ia dan keluarganya telah memperoleh hikmah. 2009: 21 . Tidak ada satu pun dari pasukan kedua belah pihak yang terlibat konflik berusaha masuk ke rumahnya. Sehingga mereka membiarkan manuskrip ada di rumahnya dengan menyimpan di dalam karung-karung atau peti dan meletakkan di loteng-loteng. No. bukan berarti tidak ada orang yang perduli terhadap manuskrip.52 Selain itu. Ia lebih mementingkan keamanan manuskrip dibandingkan dengan yang lain. Padahal rumah di sekelilingnya sudah disisir semuanya. 1. Ia dan keluarganya berkeyakinan bahwa pengalaman tersebut adalah berkat dari menyimpan. dan mengamalkan manuskrip. Ia yakin dengan kepatuhannya kepada wasiat kakeknya tersebut. meskipun ia dan keluarga berada di tengah-tengah perang dan dikelilingi oleh pihakpihak yang berseteru. seperti baju dan uang. Hikayat Prang Sabi. membaca. dalam tubuh masyarakat Aceh telah terjadi beberapa kali konflik yang menelan sejumlah korban dari berbagai 36 . Syik Jah Amut misalnya. 7. Bentuk-Bentuk Perang yang Terjadi di Aceh 1. Wasiat pendahulu-pendahulu mereka terus dipelihara dan dijaga. Ketiga-tiga manuskrip tersebut adalah manuskrip pemompa semangat untuk berjihad dan mengajarkan cara menghilangkan diri dari musuh. Ia mendapat wasiat dari kakeknya agar tiga manuskrip yang ia miliki hendaknya selalu dibaca dan diamalkan. atau mereka memindahtangankan (mereka menghindari istilah menjual) dengan cara barter. merasa bahwa menyimpan manuskrip-manuskrip yang ia miliki sebagai warisan dari leluhurnya lebih baik daripada menyimpan sesuatu yang berharga lainnya. Konflik Internal Secara internal.Jurnal Lektur Keagamaan. dan Hikayat Nuri. Namun demikian. Vol. Adapun tiga manuskrip tersebut adalah manuskrip Hiyakaye. manuskrip juga dianggap sebagai barang warisan yang berharga dari nenek moyang mereka. yaitu ia dan keluarganya terhindar dari serangan musuh ketika konflik Aceh terjadi. Pada umumnya penduduk desa yang seperti ini tidak berani menjualnya karena takut mendapat bencana meskipun ada yang berhasrat membelinya. yaitu manuskrip yang isinya dapat membuat musuh tidak dapat melihat orang yang mengamalkan isi kitab tersebut.

Belanda menekan kedudukan ulama agar tidak ikut campur dalam mengelola sistem pemerintahan. Politik saling mencurigai antara sesama atau lebih dikenal dengan politik devide at impera selalu menjadi acuan Belanda dalam usaha memperluas wilayah jajahannya.. Belanda berusaha melenyapkan kekuasaan sultan dan mengangkat kedudukan uleebalang sebagai penguasa wilayah. Ia membagi-bagi wilayah kecil dengan penguasa uleebalang yang harus tunduk di bawah kekuasan Belanda. “Kesalahan diri sendiri tidak pernah nampak karena sangat jahat kafir Belanda Hatinya sudah gelap sehingga kapan saja jin dan syaitan dapat masuk ke dalam dada mereka Tidak mau mendengar pengajaran agama Tuhan pada Rasul Anbiya Mereka tidak mau mematuhi kalam Tuhan. (Sir±judd³n. malah menyalahkan semua para anbiya. sesudah kemerdekaan konflik juga timbul antara mereka.. Sebelum kemerdekaan konflik telah terjadi antara ulama dan uleebalang.. 11). sehingga konflik pun muncul ke atas permukaan. Uleebalang pada umumnya senang dengan perlakuan Belanda tersebut sehingga ikut-ikutan untuk menekan dan menghalanghalangi gerak para ulama terutama dalam melaksanakan tugasnya menyebarkan dan melaksanakan ajaran agama. Para ulama tidak menerima tindakan demikian. Para uleebalang mulai menunjukkan sikap tidak patuh kepada aturan-aturan sultan yang tertuang dalam sarakata. kekuasaan sultan sudah mulai melemah. h. Perbedaannya hanya terletak pada faktor penyebabnya. Pada masa sebelum Belanda campur tangan ke dalam wilayah Aceh. Pembangkangan ini ternyata disambut oleh Belanda yang ingin ikut campur ke dalam pemerintahan kerajaan Aceh. Perilaku koruptif dengan tidak memberitahukan kepada sultan hasil pajak yang sebenarnya mulai merebak. — Fakhriati pihak.. Di sisi lain.” 37 .Perang dan Damai di Aceh. Pembagian hasil upeti yang didapat tidak dilakukan.. Perlawanan ulama ini digambarkan oleh Teungku Muhammad Ali sebagai berikut: Keusalah drou hantem leumah sebab that ku’eh kafeee Ulanda Hate jih seupot beurangkajan iblih ngen syaithan di dalam dada Han jitem deunge pengajaran agama Tuhan bak Rasul Anbiya Kalam Tuhan han jitem pateh ji peusalah dum anbiya..

1. No. yaitu setelah kemerdekaan. Banyak di antara mereka harus lari dan pergi 38 . 13-14). 2009: 21 . h. Pada akhir tahun 1945. terjadi kembali perang saudara antara ulama dan uleebalang yang dikenal dengan perang cumbok. agar selamat hidup di dunia dan akhirat.. jangan berteman dengan orang jahil yang suka kepada dunia takutlah hai salik kepada orang yang seperti itu orang jahil pun takut kepada orang salik yang bertapa orang yang mengikuti perintah Allah disalahkan semua karena mereka tidak salat wajib yang lima waktu tak pernah mendengar firman Tuhan dalam al-Quran mulia mereka tidak pernah mendengar firman Tuhan dalam al-Quran barangsiapa menyebut nama Tuhan dan salatlah kalian orang yang mengucap kalimah yang baik mereka itulah orang yang baik dan taat”. Bek tamuerakan wahe ado ngen ureung jahe aso donya Beutatakot hai ureung salek keu ureung ulok jahe donya Di ureung jahe pih jitakot keuureung salek duk lam tapa Padum-dum oreung jahe jipeujahat sabe ureung tapa Ureung yang pubuet suroh Allah jipeusalah dum ji rata Seubab hana ji sumayang wate limeung jiyu plihara Hantem jideungo firman Tuhan dalam Quran yang that mulia So na seubot nama Tuhan yanke tolan semayang gata Ureung yang na kheun kalimah tayibah yanke yang jroh taat gata (Sir±judd³n. Vol.Jurnal Lektur Keagamaan.. Korban telah banyak berjatuhan dari kedua belah pihak. 7. Mereka mengajak pengikutnya untuk mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya.52 Berpegang teguh pada ajaran agama menjadi kewajiban bagi para ulama untuk mempertahankannya. terutama di pihak uleebalang.. Geutanyo bandum wahe ado bak buet Rasul ikut gata Laen bak Rasul bek ta ikot meunan patot dum peutua. “Semua kita wahai saudara harus ikut pekerjaan Rasul Selain itu jangan ikuti karena begitulah seharusnya. Para ulama tidak memberi kesempatan kepada uleebalang untuk mengatur dan memerintah sementara mereka juga menginginkan kekuasaan sehingga terjadilah perang. Para uleebalang ingin mendapatkan kembali posisi di atas dalam pemerintahan sebagaimana telah mereka alami pada masa Belanda.

Perang melawan Jepang. namun mereka juga tetap waspada apa yang akan terjadi ke depan. Para pemuda Aceh menyambut gembira harapan yang diberikan Jepang. Mereka tetap menjadikan rujukan dan membina hubungan erat dengan para ulama setempat. menggantikan posisi uleebalang. — Fakhriati meninggalkan Aceh agar selamat dari serangan dan pembunuhan (Reid. juga berkisah tentang peristiwa berkecamuknya peperangan serta menggambarkan bagaimana semangat juang pasukan bersama rakyat Aceh dalam perang mengusir penjajah yang menelan banyak korban di kedua belah pihak. Pada tahun 1509 M. Aceh mencari bantuan ke Turki untuk persiapan menghadapi mereka.Perang dan Damai di Aceh. Orang Aceh sangat senang atas kemenangan ini. Semangat jihad 39 . Dengan kegigihannya. 2. Para pemuda Aceh direkrut untuk berada di tangga pemimpin negeri. Setelah merasa bahwa janji-janji Jepang hanyalah tipuan belaka. Sangat beruntung bagi orang Aceh. (1942-1945) adalah perang lain yang harus dihadapi orang Aceh. maka rakyat Aceh mulai mengerakkan seluruh kemampuannya untuk berperang menghadapi Jepang. 1979:200-204. Mereka mengikutinya. Jepang menjanjikan angin surga untuk bersama orang Aceh melawan Belanda dan berada di pihak orang Aceh untuk membangun Aceh. Sehingga gerak mereka tidak lepas dari pantauan para petinggi ulama. karena keberhasilan ada di tangan mereka dan jendral Kohler tewas terbunuh oleh rencong Aceh. Mereka melawan Jepang meski dengan senjata yang tidak sebanding sekalipun. 2003:119-124). Pidie. dan Pasai (Zainuddin 1961:267.. Usman. Hikayat tersebut selain menceritakan kemenangan pasukan Aceh dengan tewasnya jenderal Kohler. pasukan Aceh di bawah komando Kuemala Hayati telah berhasil mengalahkan Portugis yang berada di bawah pimpinan Admiral Die d’Lopez Sequeira yang berusaha menguasai wilayah Aceh Besar. Pada awalnya. Kemudian perang kembali berkecamuk ketika Belanda melakukan agresi pertama ke wilayah Aceh pada tahun 1873. Konflik Eksternal Perang melawan orang asing yang datang ke tanah Aceh terjadi pertama kali dengan pasukan Portugis yang ingin menguasai wilayah Aceh. 2003:115). Usman. sehingga lahir hikayat tentang tewasnya jendral Kohler..

tidak terlihat munculnya karya-karya para ulama pada saat ini. sehingga ajarannya juga diamalkan. Pada jangka waktu perang yang singkat dengan Jepang. Jepang pergi sendiri meninggalkan Aceh setelah dikalahkan oleh Amerika dengan jatuhnya bom di Hirosima dan Nagasaki. 1991:131). meski tekanan hidup lebih parah daripada yang dialami pada masa Belanda. dan perebutan kekuasaan. (Abdullah. beda agama. Vol. Hikayat Prang Sabi kembali dikumandangkan dari berbagai tempat dan sudut untuk membakar semangat rakyat berjuang melawan Jepang sebagai kafir. Manuskrip ini disimpan di Pusat Manuskrip Melayu dengan nomor kelas MS 1314. 10 40 . Dalam kitab Wa¡iyyat Syeikh Abdurrauf al-Fansuri 10 terdapat ajaran Abdurrauf tentang kewajiban perang sabil.52 kembali berkobar. Akhirnya. Untuk itu Allah mewajibkan umat Islam untuk melakukan perang sabil. 2009: 21 . Abdurrauf al-Fansuri adalah tokoh yang sangat kuat memperjuangkan negara melawan penjajah. terdapat semangat jihad dengan mengharapkan berkat dari Abdurrauf al-Fansuri dalam berjuang melawan Belanda. juga karena seluruh kemampuan jiwa dan raga orang Aceh tercurah ke dalam perang menghadapi Jepang. Orang Aceh sangat menghormati dan menghargai keagungan Abdurrauf al-Fansuri. Ia menyebut bahwa memerangi orang kafir adalah berbentuk perang sabil yang diridai oleh Allah. kemungkinan besar karena selain masa perang melawan Jepang yang demikian singkat. Mereka hanya menggunakan kitab-kitab lama untuk dibaca dan direnungi serta diamalkan. 7.Jurnal Lektur Keagamaan. Karena itu ia mengajak kaum Muslimin untuk bersungguh-sungguh melaksanakan perang sabil dan bercita-cita untuk mati syahid. No. Ia mengajarkan bahwa perang melawan orang kafir yang menjajah wilayah kaum Muslimin adalah wajib. Ia mengatakan bahwa Allah melarang orang Islam untuk tunduk di bawah pemerintah kafir dan mengambil orang kafir sebagai teman. Dalam sebuah doa. 1. Kondisi-Kondisi yang Menyebabkan Perang Dari hasil pemetaan di atas dapat dianalisis berdasarkan manuskrip yang ada bahwa terjadinya perang di Aceh adalah karena faktor-faktor penjajahan. Hal ini terjadi.

penjelasan tentang peraturan berjihad yang terdiri dari jihad yang wajib dilakukan oleh setiap individu bila orang kafir menguasai daerah orang Muslim. Berkat Teungku Syiah Kuala. C). Bukunya tentang kewajiban melakukan jihad bagi setiap Muslim yang sedang menghadapi musuh yang berjudul Na¡³¥ah al. khususnya Aceh. dan penghapusan dosa selama di dunia. Bak Allah beh kafee Ulanda. Di akhir buku ini tertulis doa yang berisi permohonan kepada Allah agar Allah melindungi orang yang melakukan jihad. Cod. Beureukat syufa’at Nabi Muhammad bak meunang umat. ia berjuang dengan giat melawan Belanda. berkat syafaat Nabi Muhammad agar menang umat. — Fakhriati L±’il±ha’ill±h. Or. Cod. (Manuskrip. tidak heran kalau sampai sekarang manuskrip al-Palembani masih disimpan dan dikoleksi oleh orang Aceh.Muslim³na wa Ta©kirah al-Mu’min³na f³ fa«±’il al-Ji¥±di f³ Sab³lill±h wa Kar±mah al-Muj±hid³na f³ Sab³lill±h 11 telah menjadi rujukan bagi rakyat dalam berperang. Keluar peluru jangan bersuara. firman Allah disuruh perangi kafir. dorongan kuat dari tokoh luar Aceh juga menjadi kondisi membangkitnya semangat orang Aceh dalam menggerakkan perang melawan penjajah Belanda.Perang dan Damai di Aceh. 7992 (5): 3) “Tiada Tuhan selain Allah. hati harus putih bersih dan iman harus kuat. Boh beudee jife bek jimeusu.. Hatee bak puteh. dan jihad yang hanya wajib dilakukan secara berkelompok bila orang kafir masuk ke dalam wilayah mereka. Masyarakat Aceh menggunakan buku tersebut sebagai pedoman mereka menulis. 11 41 . iman bak teugoh. Selain itu. Beureukat Teungku Syiah Kuala. firman Allah neuyou prang kafe. 20. Salah satu manuskrip yang mengambil rujukan pada buku tersebut adalah Nasihat Ureung Meuprang dan Hikayat Prang Sabi. Kemudian dilanjutkan dengan anjuran kepada orang yang melaksankan jihad agar membaca l± ¥awla wa l± quwwata ill± bill±h tujuh kali. Perkumpulan kaum Muslimin di Mekah juga menjadi kondisi lain untuk mendorong orang Aceh bergerak lebih radikal terhadap Buku ini berisi pahala yang dicapai oleh orang yang melakukan jihad. (Manuskrip. beutalo kafe. Or. Sebagai penganut dan penyebar tarekat Samaniyyah di wilayah Nusantara. Kemudian. A. Abdussamad al-Palembani (w. Agar Allah usir kafir Belanda”. kalah kafir. Karena itu. Setelah tahun 1789 M) adalah tokoh dari Palembang (Sumatera Selatan) yang telah membakar semangat jihad untuk wilayah Nusantara..

No. Vol. manuskrip-manuskrip tentang hal tersebut masih disimpan oleh penduduk setempat. sehingga rakyat antusias membaca dan mendengarkannya. 2009: 21 . Orang Aceh yang berada di Mekah 12 mendapatkan informasi tentang kekejaman kolonial di setiap negara Muslim lainnya di dunia. Salah satunya adalah simpanan Teungku Ainal Mardhiah Teupin Raya. hlm. Sehingga perkumpulan tersebut membuat komitmen untuk memberantas kolonial di wilayah mereka.Jurnal Lektur Keagamaan. Mereka mendengar akan kesuksesan saudara mereka dalam memperjuangkan negara mereka. Teungku Muhammad Ali yang berdomisili di daerah Leungputu. Isi manuskrip tersebut adalah penjelasan perang yang terjadi di berbagai negara Muslim di dunia.. Konsekwensinya mereka menciptakan gerakan melawan penjajah di daerah mereka sendiri.52 kaum non-Muslim. 14 Sampai sekarang. Ia kemudian pulang ke Aceh dan mengabdi kepada agama dan bangsanya dengan berbagai macam cara.14 Manuskrip Teungku Ali Muhammad Pulo Peub yang ditulis pada abad ke-19 M adalah salah contoh manuskrip yang menarik dikaji untuk melihat kondisi yang menyebabkan terjadinya perang di Aceh. Di antaranya adalah dengan menuangkan ilmunya ke dalam tulisannya. 13 Sehingga semangat yang berapi-api mereka bawa pulang serta.. 1972: 193210: Holt. 1990: 42-49). 10) Han jibri peubut tarekat sufi seubab that dengki si celaka. adalah seorang intelektual yang selama dua puluh tahun berada di Mekah untuk menuntut ilmu-ilmu agama. 11) Pergi ke Mekah khususnya untuk melaksakan haji telah menjadi suatu tradisi bagi orang Aceh khususnya dan Nusantara pada umumnya.. dan mengajak rakyatnya untuk ikut serta. Keusalah drou hantem leumah that kueh kafee Ulanda (Sir±judd³n. Mereka saling mendapat dorongan untuk mencapai satu tujuan yang sama. Mereka yang memiliki cukup biaya pergi ke Mekah dan bahkan sebagian mereka menetap di sana berpuluh-puluh tahun guna menuntut ilmu agama dari para guru di tanah suci. sebagai tokoh Syattariyah tidak luput mengulas sifat dan sikap uleebalang dan kafir Belanda yang menghalang-halangi kaum tarekat dalam beribadah. misalnya. (Sir±judd³n. Manuskrip ini ditulis dalam bahasa Aceh dan dalam bentuk hikayat. 1980: 337-347. Meunan Peurintah Huleebalang dum sibarang yang peutua. 8-12). hlm. seperti di Arab dan di Mesir. Ia. 7. 12 42 . Salah satu cara mereka merangkul rakyatnya adalah dengan menulis informasi yang mereka peroleh di Mekah dalam bahasa Aceh dan berbentuk hikayat. 1.. 13 Lihat misalnya keberhasilan Mahdi Sudan dalam Dekmejian. (Bruinessen. Ureung salik ji peusalah menan fitnah ureng celaka (Sir±judd³n. h.

Perang dan Damai di Aceh. Bismill±hirra¥m±nirra¥³m Q±lal faq³ru ilall±hil malikil jal³lil syaykhi ‘abdur ra’µfi anna ‘alayya wa lamma wa¡altu ila ar«il Asy³ wa k±na l³ f³h± rajulun yu¡±¥ibun³ wa yataraddadu ilayya ka£³ran wa raaytu annahu yatakallamu f³ wa¥datil wujµdi ‘ala khil±fi m± qarrarahu sayyid³ wa syaykh³l ‘±limir rabb±niyyil munfaridi f³ aw±nihi bil± £±n³ A¥mad bin Mu¥ammadil Madan³l An¡±r³yyi¡ ¢amad±n³yyisy Syah³ri bil Qusy±sy³ wa khal³fatul ‘±lamil ‘al±matil ¥ibril ba¥ril fahh±mati wahua syaykhun± Burh±nudd³ni Mul± Ibrah³m ibni ¦asanil Kµr±n³ 43 . Ia memilih bersikap moderat dan cukup hati-hati dalam menghadapi konflik yang ada pada saat itu. terdapat upaya-upaya damai yang dapat dilihat agar setiap masyarakat dapat menikmati hidup dengan tenang dan dapat melaksanakan segala aktivitas sehari-hari demi kemajuan bangsa. hubungan ketidakharmonisan kedua pihak yang bersaudara setanah air semakin tidak terelakkan dan bahkan semakin meruncing.. Untuk menciptakan perdamaian di kalangan masyarakat dan juga di tingkat pemerintahan. ia tidak setuju dengan pandangan yang mengatakan penyatuan makhluk dengan Tuhannya yang tidak ada perbedaan sama sekali. — Fakhriati “Demikian perintah uleebalang sebagai pemimpin. tidak berdasarkan ajaran dari gurunya.. Upaya-Upaya Damai Dalam manuskrip.. Bahkan ia sangat takut bila seseorang akan menuduhnya berada pada garis yang salah dalam tasawuf. Orang salik disalahkan demikian bentuk fitnah orang celaka Tidak diizinkan melaksanakan tarekat sufi karena mereka sangat dengki... Ia menulis kitab tasawuf dengan judul Tanb³h al-Masy³ yang di antara isinya adalah upaya untuk menetralkan pemahaman tasawuf yang telah simpangsiur pada saat itu. Kesalahan sediri tidak pernah kelihatan sangat jahat kafir Belanda” Uraian Teungku Muhammad Ali Pulo Pueb tentang ketidaksetujuan dan sikap uleebalang terhadap ketaatan kaum tarekat dalam beribadah menunjukkan bahwa uleebalang pada masa itu telah berhasil dipandu dan didikte oleh Belanda dalam mengatur negara dan mengesampingkan para ulama. Akibatnya. Di satu sisi.. Abdurrauf al-Fansuri dengan bijaksana menyikapi perbedaan-perbedaan pandangan antara kaum sufi yang sebelumnya telah mengarah kepada kekerasan.

niscaya kembali kata itu kepada diri kita. 44 . maka tiadalah perkataan dalamnya.1). sehingga orang mengkafirkan saya setelah saya wafat. Bahwa orang tersebut tidak membedakan antara tingkatan-tingkatan dan tidak merujuk kepada ketentuan syariat. 7. dan jangan engkau mengutuk saudaramu yang Muslim. ia juga menulis: Dan tiadalah harus kita mengkafirkan dia. saya melihat ia berbicara tentang wa¥datul wujµd yang berbeda dengan apa yang telah diajarkan syekh saya Ahmad bin Mu¥ammad al-Madan³ al-An¡±r³ as-¢amad±n³ yang dikenal dengan al-Qusy±sy³ dan khalifah Alam yang luas pemahamannya yaitu syekh kami Burh±nudd³n Mul± Ibrah³m bin Hasan al-Kµr±n³ semoga Allah merahmati keduanya. Dalam karangannya yang lain. h. (Tanb³h al-M±sy³ versi Tanoh Abee. ia melarang menuduh atau mengklaim dengan kutukan yang menyakitkan si pendengar yang mengakibatkan akan menjerumuskan diri sendiri ke dalam kata-kata yang pernah diucapkan tersebut. hlm. No. Di sisi lain. 32). (Daq±’iq al-¦uruf. Maka saya buat risalah ini dengan mengharap bantuan dari Allah dan menyadari akan sedikitnya perbendaharaan dan banyak kelemahan dan saya namakan buku ini dengan Tanb³hul M±sy³ ala Tar³qatil Qusy±sy³ dan saya mengucapkan Bismillahirra¥m±nirra¥³m”. Dan jikalau tiada ia kafir. Vol. “Peliharalah lidahmu dari perbuatan g³bah dan mengkafirkan orang lain. karena sesungguhnya pada keduanya terdapat kesalahan besar di sisi Tuhanmu. Wa¥fa§ lis±naka ‘anil g³bati wa takfir fa’innahu kha¯aran ‘a§³man ‘inda rabbikal kab³r wa l± tula‘‘in akh±kal muslima fatakun minal mujrim³na yaumal qiy±mati wa l± tamda¥¥uhu ay«an fatakun minal mabgµ«³na aw mina« «±rib³na ‘unuqa akh³him. (Tanbih al-Masyi yang disimpan di Tanoh Abee. dan jangan pula engkau memujinya. padahal saya tidak ada hubungan dengan masalah tersebut. karena engkau akan termasuk golongan orang-orang yang berdosa pada hari kiamat. 1. karena engkau akan termasuk golongan orang yang dimurkai Allah atau golongan orang yang memenggal leher saudaranya”. saya khawatir ketentuan dan keyakinan orang tersebut dinisbahkan kepada ketentuan dan keyakinan saya. 392).52 ra¥imanallahu bihim± wa ©±lika min ¥ay£u annar rajula lam yumayyiz baynal mur±tibi wa lam yarji’ ila taqr³ril mu¯±biqi lisyar³‘ati faakh±fu ayyunsama taqr³rur rajuli wa i‘tiq±duhu ila taqr³r³ wa i‘tiq±d³ ¥atta yukaffirun³ ba‘da waf±t³ wa ana bar³un minhu fajami‘tu h±©ihir ris±lata mustaq³nan bill±hi wa mu‘tarifan biqillatil bi«±‘ati wan na«±¥ati wa sammaytuh± bitanb³hil m±sy³ ala ¯ar³qatil qusy±syi wa faqultu bismill±hir ra¥m±nir ra¥³mi “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Syekh Abdurrauf al-Fansuri berkata: bahwa ketika saya sampai di Aceh. ada seseorang datang kepada saya berkali-kali. 2009: 21 .Jurnal Lektur Keagamaan. karena jikalau ada ia kafir.

Sultan Iskandar Stani sangat mendukung sikap ar-Raniri. ar-Raniri menjelaskan: . maka sungguh dapat dilihat bahwa pandangan Abdurrauf al-Fansuri sangat jauh berbeda dengan pandangan ar-Raniri yang pengikut Hamzah Fansuri sebagai pengikut wujudiyah yang sesat sehingga perlu dimusnahkan berikut kitab-kitabnya karena menurutnya mereka sudah berada pada jalan yang salah menurut agama. (Daq±’iq al-¦urµf. maka disuruh raja akan mereka itu membawa tobat daripada iktikad yang kufur itu. maka sekali-kali tiada ia mau tobat. abad ke-18 M. Ia sangat mengharapkan agar istrinya selalu 15 Ar-Raniri. Maka disuruh oleh raja bunuh akan mereka itu. tulisan Faqih Jalaluddin Asr±r al-Sulµk juga mengandung unsur pemeliharan perdamaian dan mencegah terjadi konflik di antara pengikut tarekat yang ia dalami. Ketika seorang prajurit Aceh pergi ke medan perang.... MS dikutip dari Azra 1995:182. Dalam salah satu manuskrip yang disimpan oleh salah seorang penduduk Pidie terdapat tulisan tentang uraian sebuah harapan dari seorang pemuda yang pergi berjihad untuk dapat kembali hidup bersama isterinya lagi. yaitu dengan penguraian kata-kata sejelas mungkin dan lebih hati. berlindung kiranya kita kepada Allah dari pada kufur itu. pada halaman yang sama. dan disuruhnya himpunkan segala kitab karangan guru mereka di tengah medan masjid yang bernama Bayt Al-Rahman.. ia selalu mengharapkan agar dapat kembali dan bersama keluarganya lagi. huwa al-‘alam. sehingga tidak ada kesalahpahaman di antara pembaca. hingga berperanglah mereka itu dengan penyuruh raja.dan inilah bahaya mengkafirkan itu. sehingga ia memerintahkan pekerjapekerja kerajaan melakukan pembunuhan terhadap pengikut Hamzah Fansuri..dan lagi kata mereka itu: al-‘alam huwa Allah. Maka dengan beberapa kali disuruh raja akan mereka itu membawa tobat. Dalam kitabnya Fath al-Mubin.Perang dan Damai di Aceh..15 Pada abad selanjutnya. al-Fath al-Mubin. — Fakhriati Seterusnya. Maka disuruh oleh raja tunukan segala kitab itu. Abdurrauf al-Fansuri menjelaskan: . bahwa alam itu Allah dan Allah itu alam. Setelah sudah demikian itu. 392). 45 . Dari ungkapan-ungkapan Abdurrauf al-Fansuri yang dituangkan dalam tulisannya seperti tersebut di atas.

Ia berusaha untuk tidak menciptakan konflik terhadap pemahaman yang berbeda dari pemikirannya yang ia tuangkan dalam tulisan. Dalam salah satu tulisannya ia menyebutkan: 46 . (Poerwa. yaitu uleebalang dan Belanda. 2009: 21 . Sehingga untuk meluruskan jalan pemahaman umat. Namun ajarannya ini kemudian ditentang oleh Teungku di Pulo dan kawan-kawannya. 1993:4). (Manuskrip Laut Makrofat Allah). tetapi berusaha untuk tidak secara gamblang menyebut perilaku uleebalang sebagai perilaku musuh yang perlu diperangi. Kendatipun ia sangat tidak menyukai cara-cara uleebalang dan Belanda. Dalam masa penjajahan Belanda Teungku Id ibn Ustman masih sempat menyelesaikan tulisannya tentang bagaimana memahami tasawuf dengan benar. Ia sempat mendapat pengikut banyak untuk melaksanakan ajarannya. Ia juga membuat perumpamaanperumpamaan sebagai salah satu caranya untuk menjelaskan sesuatu yang masih kurang jelas untuk pembacanya. 7. salah seorang ulama yang cukup produktif pada masanya. Ia menjelaskan segala hal yang menyangkut filosofi tasawuf dengan sangat hati-hati. dalam kitabnya Mi‘r±j as-S±lik³n menyajikan ajaran yang mengandung unsur perdamaian. Ia lebih memilih jalan menjauhkan diri dari ancaman mereka dan mengajak umatnya untuk tetap berada pada jalan yang benar.Jurnal Lektur Keagamaan. Ishak. Hal ini dimaksudkan untuk menghindarkan rakyat dari perpecahan yang meluas akibat menyebarkan dua faham yang saling bertentangan sebagaimana yang terjadi pada masa Sultan Iskandar Tsani pada abad ke-17 M. demikian juga dalam hal mengenal Tuhan tidak bisa disamakan dengan makhluknya. No. 1961:16. Dalam tulisan Teungku Muhammad Khatib Langgien. Menurutnya cara-cara tasawuf yang benar adalah cara pelaksanaan yang ditawarkan oleh Hamzah Fansuri. ia kemudian diusir dan bahkan dibunuh oleh masyarakat setempat. Vol. yaitu jalan agama yang diridai Tuhan. 1. Karya Teungku Muhammad Ali Pulo Peub memancarkan keinginan untuk berdamai dengan lawannya.52 menjaga diri dan berdoa agar mereka dapat hidup bersama lagi membangun keluarga yang sakinah sepanjang hidup mereka. Seperti menjelaskan tentang perbedaan mengenal gajah dengan mengenal manusia karena berbeda bentuk dan akal.

Satu contoh lain adalah manuskrip Hikayat Abdurrahman. Mengatasi masalah ini.. Salah satu sifat yang perlu dihindarkan adalah hubb ad-dunya.. dicemohi. bila 47 . Ia mengalami berbagai cobaan dan penderitaan dalam liku-liku hidupnya. Isinya menjelaskan tentang kehidupan sebuah keluarga yang bernama Abdurrahman dan seorang anak perempuan yang salehah bernama Siti Hazanah.. Selanjutnya. seperti . Dalam menjelaskan hal-hal yang berbentuk filosofi seperti di atas. dan hanya menyerahkan diri kepada Allah. Akibat dari sifat ini. Manuskrip Hiyakaye adalah sebuah manuskrip yang dikemas untuk memberi semangat hidup bagi para pembacanya. h. (Mi‘r±j as-S±lik³n... 27).. Manuskrip ini menguraikan cerita fiksi berjudul Hikayat Abdurrahman. h. Sifat-sifat yang tercela dihindarkan dan sifat-sifat yang baik digunakan. ia juga menulis tentang obat hati. Kisah perjalanan hidup Siti Hazanah setelah ditinggal mati keluarganya menjadi sorotan utama dalam manuskrip ini.dan lagi yang demikian itu tempat tergelincir kebanyakan manusia yang tiada makrifat baginya hai salik adalah segala alam makrifat yang telah kunyatakan kepadamu ialah alam makrifat yang indah-indah dan ia yang terlebih sukar paham segala orang awam. Ia mengadakan pembelaan terhadap dirinya... ia lebih memilih cara sabar. karena tuduhan-tuduhan dari sepihak yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya.Perang dan Damai di Aceh. 28-29). dan ia memberi peringatan kepada pembacanya agar hati-hati dalam menafsirkan karena dapat menyesatkan pemahaman. Isi manuskrip ini mengajak pembaca untuk selalu menghafal dan mengamalkan ayat-ayat tertentu agar kehidupan di dunia selamat dari kecaman apa pun.( Mi‘r±j as-S±lik³n. Ia dicaci maki. — Fakhriati Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu karena mustahil dikata umpama barangsiapa mengenal ia akan gajah maka sanya ia mengenal akan manusia. diam. tenang dalam menjalani hidup dalam keadaan apapun. ia juga menjelaskan bahwa tingkat ini diperuntukkan kepada ahli sufi yang berada pada tingkat tinggi. dijauhi dan tidak perlakukan sebagaimana karabat lain. h. yang perlu diamalkan oleh pembacanya agar dapat hidup lebih tenang baik di dunia maupun akhirat. 28). karena kasih akan dunia ibu segala kejahatan (Dawa’ al-Qulµb. seseorang akan terlena dengan dunianya dan tidak mau bersegera mencari bekal untuk akhirat.

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 21 - 52

ia mendapat kesempatan. Ia tidak pernah menyakiti orang lain. Akhirnya pembelaan dari pihak yang tidak diduga, yaitu dari makhluk Allah selain manusia, untuk menyatakan bahwa dia adalah orang benar dan tidak pernah bersalah. Dalam perjalanan hidupnya, akhirnya, ia mencapai tingkat sufi yang paling tinggi, yaitu makrifat Allah. Ia memperoleh kesenangan yang sangat tinggi dan selalu diidam-idamkan selama hidupnya, yaitu melihat Tuhannya. Seperti tersebut dalam teks;
Rupa po yang takalen Hate heran leumah Tuhan yankeu iman dengan makrifat Yan alamat takwa hanban. (Manuskrip Hikayat Abdurrahman, hlm. 45). “Wujud Tuhan yang terlihat Itulah iman dengan makrifat Hati menjadi heran akan hadirnya Tuhan pertanda hasil takwa yang sangat tinggi”

Penutup Catatan sejarah Aceh adalah bagian dari cerita panjang tentang perang dan damai, di samping cerita tentang kemajuan dan kemundurannya. Orang Aceh sesungguhnya adalah manusia-manusia yang ramah, terbuka, dan suka pada kedamaian dan ketenangan. Mereka dapat menerima kehadiran siapapun tanpa memandang ras dan agama selama ia sendiri tidak merusak hubungan baik dengan penduduk dan masyarakat Aceh. Namun, di balik keramahtamahan dan keterbukaan itu tersimpan sikap yang sangat tegas dan tidak mau tunduk atas setiap kehendak asing yang ingin menguasai atau merusak citra Aceh baik wilayah, harga diri, terlebih agamanya. Sejarah perang Aceh selalu terkait dengan upaya mempertahankan wilayah, agama, dan harga diri. Untuk urusan seperti ini, orang Aceh memiliki semangat jihad atas nama agama yang sulit diredam, kecuali apa yang mereka tuju telah tercapai. Ulama bagi masyarakat Aceh memiliki posisi sentral sebagai panutan dalam beragama, bermasyarakat, dan berjuang f³ sab³lill±h. Selain komando untuk mengusir penjajah, pada umumnya ulama yang menulis manuskrip-manuskrip Aceh mengajarkan agar mendorong terciptanya perdamaian dalam hidup, meskipun sedang berada pada posisi menghadapi musuh. Permusuhan dan pertikaian tidak boleh diciptakan dan dimulai, tapi mempertahankan diri dan agama adalah wajib. Salah satu usaha mempertahankan diri adalah 48

Perang dan Damai di Aceh... — Fakhriati

dengan doa-doa mujarabat, yaitu doa-doa yang ampuh untuk dibawa kemana saja dan dapat mengalahkan segala keinginan jahat yang bertebaran di luar diri pemegang doa tersebut. Doa-doa tersebut menjadi alat pelindung bagi pemegangnya bila ia dihafal, diamalkan, dan dilaksanakan sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku. Dan, ia tidak akan bermanfaat bila hanya tertulis dalam secarik kertas untuk dikantongi dan dibawa-bawa si pemegang.[]

Daftar Pustaka
Azra, Azyumardi, 1995, Jaringan Ulama: Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII, Bandung: Mizan. Bruinessen, Martin, 1990, “Seeking Knowledge and Merit: Indonesians on the Hajj” dalam Ulumul Quran, Vol. II, No.5, Jakarta. Dekmejian, H. Richard dan Margaret J. Wyszomirski, 1972, ‘Charismatic Leadership in Islam: The Mahdi Sudan’ dalam Comperative Studies in Society and Theory. Djajadiningrat, Hoesein, 1934, Atjehsch-Nederlandsch Woordenboek, Vol. 2, Batavia: Landsdrukkerij. Fakhriati, 2005, New Light on the Life and Work of Teungku di Pulo: An Achehnese Intellectual in the Late 19th and Early 20th Centuries, Makalah dipresentasikan pada SEASREP Conference, Chiang Mai, Thailand, 8-9 Desember 2005. -----------, 2008, Menelusuri Tarekat Syattariyah di Aceh Lewat Naskah, Jakarta: Balitbang dan Diklat Departemen Agama RI. Holt, P. M., 1980, ‘Islamica Milleniarism and the Fulfillment of the Prophecy’ dalam The Prophecy and Milleniarism, diedit oleh Ann Williams, London. Hurgronje, Snouck, C., 1997, Aceh: Rakyat dan adat istiadatnya, INIS. Ishak, Otto Syamsuddin, 1993, ‘Dinamika Pemikiran Keagamaan di Aceh’, dalam Serambi Indonesia, Jum’at, 15 Januari 1993. Iskandar, Teuku, 1958, ‘De Hikayat Atjeh’ dalam BKI XXVI. Keifer, Thomas M., 1973, ‘Parrang Sabbil: Ritual Suicide among the Tausug of Jolo’ dalam BKI, Vol. 129. Kern Papieren, No. C. 234, Bajlagen 4, Weltevreden Desember 16, 1921, Koleksi KITLV, No. 414.

49

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 21 - 52

Kern, R. A., 1979, Hasil Penyelidikan Tentang Sebab Musabab Terjadinya Pembunuhan, diterjemahkan oleh Aboe Bakar, Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. Poerwa, Aziz, 1961, ‘Tumbuhnya Agama Baru Indonesia’ in Sketsmasa, No. 17, Tahun IV. Raliby, Osman, 1980, ‘Aceh, Sejarah, dan Kebudayaannya, dalam Bunga rampai tentang Aceh, Jakarta: Penerbit Bhratara Karya Aksara. Reid, Anthony, 1979, The Blood of The People: Revolution and The End of Traditional Rule in Northen Sumatra, Oxford University Press. ---------, 2007, Asal Mula Konflik Aceh: Dari Perebutan Pantai Timur Sumatera hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Said, Mohammad, 1961, Atjeh Sepandjang Abad, Medan. Sjamsuddin, Nazaruddin, 1999, Revolusi di Serambi Mekah; Perjuangan Kemerdekaan dan Pertarungan Politik di Aceh 1945-1949, UI Press. Syamsuddin, T., dkk, 1978, Adat Istiadat Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. Sulaiman, Nasruddin, dkk, 1992, Aceh: Manusia, Masyarakat, Adat, dan Budaya, Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. Tippe, Syarifudin, 2000, Aceh di Persimpangan Jalan, Jakarta: Pustaka Cidesindo. Usman, Rani, 2003, Sejarah Peradaban Aceh, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Vleer, A. J., 1978, Kedudukan “Tuha Peut” dalam Susunan Pemerintahan Negeri di Aceh, alih aksara oleh Aboe Bakar, Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. Zainuddin, H. M., 1961, Tarich Atjeh dan Nusantara, Medan, Penerbit Iskandar Muda.

50

Perang dan Damai di Aceh. Pidie.. Pidie. — Fakhriati Lampiran: Gambar 1: Foto Halaman Awal Naskah Hiyakaye milik Syik Jah Amut. Aceh 51 . Aceh Gambar 2: Foto Halaman Awal Naskah Teungku Khatib Langgien milik Teungku Amir Meunasah Kruet Teumpeun. Geulumpang Miyeunk. Teupin Raya..

52 Gambar 2: Foto Halaman Awal Naskah Sarakata milik Cut Manfarijah Dayah Tanoh. Teupin Raya Aceh 52 . 2009: 21 . No. 1. 7. Vol.Jurnal Lektur Keagamaan.

We have discovered thirty-eight manuscripts that we can classify into three categories. and the oldest manuscript was written in 1625 AD (1035 AH). like dluang. Malay (Jawi). Dari sisi lain. remembrance of God. In terms of codicology. dari satu sisi dapat dianggap sebagai salah satu representasi dari lokalitas dan kekhasan wilayah bersangkutan. and Balinese. Arabic grammar. modern lined paper. lontar. Hal ini Tulisan ini semula merupakan Makalah disajikan dalam “Seminar Hasil Penelitian Naskah Klasik Keagamaan” Puslitbang Lektur Keagamaan. Badan Litbang dan Diklat.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Kata kunci: kodikologi. Cisarua-Bogor. this manuscript includes jurisprudence. this category is unfortunately not taken care well. medicines. In regard to Islamic literature in Bali. and palm leaf. 22-24 Desember 2008. and story. Islam Beberapa Aspek Kodikologi Naskah Keagamaan Islam di Bali: Sebuah Penelusuran Awal*) Puslitbang Lektur Keagamaan dan UIN Syahid. this Islamic manuscrip was written between the seventeenth and nineteenth century. Agama. kertas Eropa. Second. this Islamic manuscript uses diverse tools. — Asep Saefullah dan Adib M. Bali Pengantar Keberadaan naskah tulisan tangan (manuskrip) di suatu wilayah. The second category is tweleve manuscripts made of palm leaf: nine of them deal with Islam. Jakarta Asep Saefullah dan M. Fourth. *) 53 . The fitst category refers to tweleve manuscripts made of paper. Most of this category of manuscript was torn away. Adib Misbachul Islam This paper is a result of our research of Islamic literature in Bali in 2008. European paper. dluang. we can write four important things as follows. ia dapat juga menjadi bukti adanya hubungan dengan wilayah lain jika ditemukan bukti-bukti lain yang menunjukkan ke arah itu. divinity. First. and one of them is difficult to read. Bugese. The third category is about fourteen Qur’anic manuscripts. this Islamic manuscript adopts Arabic. Third. Hotel Permata Alam. prayer.. Qur’an. two of them about Hinduism.. mysticism. Dep.

Rusia dan di berbagai negeri yang lain. keberadaan naskah tersebut dapat dikaitkan dengan proses islamisasi atau perkembangan Islam yang banyak melibatkan para ulama produktif di zamannya. Sebagian naskahnaskah tersebut sudah tersimpan dengan baik di berbagai perpustakaan dan museum. dikhawatirkan naskahnaskah tersebut akan punah atau pindah tangan. Belanda. Bali. Vol. (Chambert-Loir dan Fathurahman: 1999). 7. adalah bagaimana kondisi naskah-naskah yang masih di tangan masyarakat tersebut. Afrika Selatan. Dengan demikian. Bugis-Makassar. tetapi sebagian besar lagi diduga masih tersebar di tangan masyarakat. 2009: 53 . No. Masalah ini tergolong serius karena umumnya naskah-naskah tersebut kurang terawat dan sangat tua. Aceh. yang pada akhirnya 54 . Batak. Srilangka. Dalam proses ini telah terjadi transmisi keilmuan. sudah semakin rapuhnya kondisi fisik naskah-naskah tersebut seiring dengan berjalannya waktu (Bafadal dan Saefullah [Eds. Sunda. Jerman. Pentingnya upaya konservasi ini setidaknya disebabkan oleh dua hal: Pertama. banyaknya data penting berkaitan dengan fenomena keagamaan yang terdapat dalam naskah-naskah tersebut. dan yang kedua naskah-naskah yang ditulis dalam bahasa-bahasa daerah. dan lain-lain. baik di dalam maupun di luar negeri. dengan demikian.].Jurnal Lektur Keagamaan. 1. yang menurut Oman Fathurahman (2003: 1-2) membentuk pola dua kelompok bahasa naskah: Pertama. upaya penelusuran naskah-naskah di masyarakat mutlak diperlukan sebagai upaya konservasi untuk kemudian dilestarikan dan dimanfaatkan. tidaklah mengherankan jika di Indonesia banyak ditemukan naskah-naskah berbahasa Arab dan juga bahasa daerah seperti Melayu. Jawa. Dalam konteks kajian keislaman di Indonesia. Persoalannya. Inggris. 2005: vii). Perancis. dan kedua. Dengan demikian. Sebagian besar naskah di luar negeri yang sudah terinventarisasi antara lain tersimpan di Malaysia. khususnya bagi penelitian lebih lanjut atau dalam rangka mengkaji nilai-nilai yang terkandung di dalamnya untuk merajut budaya bangsa menuju kerukunan umat beragama. diperkirakan ditulis pada sekitar abad ke-1719 M dan umumnya terbuat dari kertas yang secara fisik tidak akan tahan lama. Jika hal ini terus berlarut.90 dapat ditelusuri dari berbagai informasi yang terkandung di dalam naskah itu atau dari fisik naskah. naskah-naskah yang ditulis dalam bahasa Arab.

Beberapa Aspek Kodikologi Naskah ... — Asep Saefullah dan Adib M. Islam

hilang juga informasi dan sumber penting tentang khazanah kebudayaan Indonesia. Berdasarkan permasalahan di atas, Puslitbang Lektur Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat, Departemen Agama RI melakukan upaya penelusuran naskah klasik keagamaan khusus milik perorangan. Hasil temuan naskah tersebut terutama dideskripsikan dan dikaji beberapa aspek kodikologinya (istilah “kodikologi” akan dijelaskan di bawah). Buku tentang kodikologi Nusantara, terlebih naskah keagamaan, tergolong masih sedikit.1 Sehubungan dengan hal tersebut, penelitian ini merupakan bagian dari grand design—jika dapat dikatakan demikian—program konservasi naskah klasik keagamaan Indonesia yang sedang digalakkan oleh Puslitbang Lektur Keagamaan. Penelitian dilakukan di Provinsi Bali dan sasarannya adalah naskah-naskah keagamaan Islam.2 Dalam makalah ini akan dibahas dua masalah berikut: 1. Seberapa banyak naskah keagamaan Islam di Provinsi Bali yang masih berada di tangan masyarakat atau milik perorangan? 2. Dari aspek kodikologi, bagaimana kondisi naskah-naskah tersebut dan hal-hal apa saja yang dapat diungkapkan dari temuan naskah-naskah tersebut? Adapun tujuannya, pertama, untuk mengetahui jumlah naskah keagamaan Islam di Provinsi Bali yang masih berada di tangan masyarakat, khususnya milik perorangan, dan kedua, membuat deskripsi naskah-naskah tersebut dan mengungkapkan beberapa aspek kodikologinya serta sedapat mungkin mengungkapkan halhal menarik dari temuan naskah tersebut. Dari segi kebijakan, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu upaya penyelamatan naskah keagamaan di masyarakat dan selanjutnya dapat
Beberapa yang dapat disebut antara lain Kodokologi Melayu di Indonesia, karya Sri Wulan Rujiati Mulyadi (1994), Penelusuran penyalinan naskah-naskah Riau abad XIX: Sebuah Kajian kodikologi, karya Mu'jizah dan Maria Indra Rukmi (1998), Penyalinan Naskah Melayu di Jakarta pada Abad XIX: Naskah Algemeene Secretarie Kajian dari Segi Kodikologi, karya Maria Indra Rukmi (1997), atau beberapa tulisan berupa artikel atau tesis, seperti “Penyalinan Naskah Melayu di Palembang”, karya Maria Indra Rukmi, makalah dalam Seminar Tradisi Naskah, Lisan dan Sejarah di FIB UI (2005). 2 Pilihan ini dilakukan karena naskah-naskah lontar dipandang relatif terpelihara dengan baik.
1

55

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 53 - 90

menjadi bahan penelitian lebih lanjut, terutama kajian terhadap isi teks dan kontekstualisasinya. Secara metodologis, penelitian ini sebagian besar bersifat penelitian lapangan, yakni berupa penelusuran atas naskah-naskah keagamaan Islam di Provinsi Bali. Data primer dalam penelitian ini berupa naskah-naskah kuno yang disimpan perorangan dan lembaga-lembaga sosial keagamaan Adapun naskah-naskah koleksi perpustakaan, museum, maupun pusat dokumentasi dalam penelitian ini tidak menjadi sasaran penelusuran karena naskah-naskahnya dipandang relatif aman dan terpelihara. Penelusuran dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan naskah-naskah yang belum diinventarisasi. Dalam menyajikan data digunakan pendekatan kodikologi.3 Secara sederhana, kodikologi dapat dikatakan sebagai ilmu kodeks (bahan tulisan tangan), yaitu ilmu yang mempelajari seluk beluk semua aspek naskah, antara lain bahan, umur, tempat penulisan, dan perkiraan penulis naskah (Mulyadi, 1994:2). Dalam wilayah kajian kodikologi dikenal istilah deskripsi. Secara ringkas, deskripsi adalah upaya menjelaskan seluk-beluk naskah secara fisik. Dalam makalah ini akan disajikan pengklasifikasian naskah-naskah yang ditemukan di lapangan, misalnya dari segi pemilik dan tempat penyimpanan, bidang kajian (isi naskah), bahan, usia naskah, kolofon, ilustrasi dan iluminasi, dan beberapa ciri khusus yang dapat diidentifikasi. Dengan kata lain, makalah ini hanya menyajikan beberapa aspek kodikologi dari naskah-naskah keagamaan Islam yang ditemukan di Provinsi Bali. Pernaskahan di Bali Henri Chambert-Loir dan Fathurahman (1999:51) mengatakan, “Pulau Bali terkenal sebagai gudang sastra Jawa Kuna karena sastra Jawa yang ditulis di berbagai kerajaan beragama Hindu-Buddha di
Tentang kodikologi di Indonesia dapat dibaca antara lain dalam Sri Wulan Rujiati Mulyadi, Kodikologi Melayu di Indonesia, (Depok: Fakultas Sastra UI, 1994). Ada juga buku yang sangat menarik dan relatif baru tentang kodikologi Islam, yaitu Francois Deroche, Islamic Codicology, An Introduction to the Study of Manuscripts in Arabic Script, (London: Al-Furqan Islamic Heritage Foundation, 2006), dan ada juga dalam edisi Arabnya yang terbit tahun 2005.
3

56

Beberapa Aspek Kodikologi Naskah ... — Asep Saefullah dan Adib M. Islam

Jawa Tengah dan Jawa Timur antara abad ke-10 dan ke-15, dan yang hampir punah setelah kedatangan agama Islam, masih berlanjut di Bali, bahkan hidup sampai kini.” Pernyataan ini terbukti dengan adanya sejumlah lembaga seperti museum dan perguruan tinggi di wilayah ini yang memiliki ribuan koleksi naskah. Lembaga-lembaga tersebut antara lain Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali, Denpasar mengoleksi sekitar 1.416 naskah, Museum Negeri Provinsi Bali, Denpasar menyimpan 266 naskah, Universitas Hindu Indonesia, Denpasar memiliki 148 naskah, Kirtiya Liefrinck-van der Tuuk (Gedong Kirtiya), Singaraja memiliki tidak kurang dari 3000 naskah, Fakultas Sastra Universitas Udayana mempunyai 740 naskah, dan Balai Penelitian Bahasa, Denpasar mempunyai 156 naskah, serta Balai Arkeologi Denpasar juga menyimpan tiga naskah (ChambertLoir dan Fathurahman, 1999:54-60; terutama berdasarkan Katalog Lontar yang Tersimpan pada Instansi Pemerintah dan Swasta yang diterbitkan oleh Kantor Dokumentasi Budaya Bali Provinsi Bali, tahun 1998). Jumlah ini belum termasuk naskah yang tersimpan pada koleksi pribadi yang diduga masih ribuan jumlahnya, terutama di puri (kediaman keluarga keturunan raja), griya (kediaman keluarga brahmana), dan kalangan ‘profesional’ (pemangku, dalang, balian usada atau orang-orang terdidik) (Chambert-Loir dan Fathurahman, 1999:56). Hampir seluruh naskah tersebut ditulis di atas bahan lontar sehingga sering pula disebut naskah lontar. Di tengah “samudra koleksi naskah lontar” tersebut, di daerahdaerah tertentu di Bali ditemukan sejumlah naskah keagamaan Islam dan Mushaf Al-Qur’an kuno. Beberapa di antaranya ditulis di atas bahan dluang (kertas dari kulis kayu). Pada bulan Oktober 2008 yang lalu kami melakukan penelusuran ke pelosok-polosok pulau dewata ini. Kami menemukan 24 naskah keagamaan Islam yang terdiri atas 12 naskah ditulis di atas dluang, kertas Eropa, maupun kertas bergaris modern, dan 12 naskah lontar (naskah lontar berbentuk geguritan; 9 naskah berisi cerita tentang tokoh Islam dan ajaran moral Islam, 2 cerita Hindu, dan 1 tidak terbaca). Di samping itu, ditemukan pula 14 Mushaf Al-Qur’an kuno, termasuk satu Mushaf ditulis di atas dluang. Naskah-naskah tersebut tersebar di beberapa kabupaten di Bali, antara lain Denpasar, Buleleng, Jembrana, dan 57

Temuan Naskah dan Tempat Penyimpanannya Naskah keagamaan Islam di Bali yang berhasil ditelusuri terdiri atas naskah pelajaran agama. H. M. Kampung Islam Gelgel. Kabid Bimas Islam & P. No. wirid dan doa. Gianyar. Kampung Islam Buitan Sidemen Karang Asem. tasawuf. Ida Bagus Nyana. termasuk 14 naskah Al-Qur’an. Ghufron. dan Masjid Baitul Qadim. Masjid Asy-Syuhada Kampung Bugis Serangan Denpasar. Soleh. 1. H. Beberapa informan awal yang kami datangi di Kanwil Departemen Agama Provinsi Bali adalah Ketut Ariawan. Pendidikan Islam dan Pemberdayaan Masjid. seperti fikih. 4 58 . jumlah naskah yang kami temukan sebanyak 38 naskah. Drs.Jurnal Lektur Keagamaan. 28 Oktober 2008. Kasi. Musta’in. dan juga obat-obatan yang disertai doa-doa. Sebagaimana disebutkan. Karang Asem-Tradisi Tulis Lontar. Jembrana. baik dari pejabat maupun pegawai Departemen Agama Provinsi Bali tentang lokasi-lokasi dan orang-orang yang diduga menyimpan dan atau mempunyai naskah keagamaan Islam. Masjid Agung Jami’ Singaraja Buleleng. 2009: 53 . Kasubag Umum. Haji. Wawancara. Gedong Kirtya-Singaraja-Buleleng. serta hikayat yang terutama ditulis di atas bahan lontar yang disebut geguritan. Informan lain Drs. Perlu disebutkan bahwa dalam penelusuran naskah keagamaan Islam di Bali. H. Drs.90 Karang Asem. kami melakukan kontak dengan pihak yang dipandang otoritatif dalam bidang keagamaan. Kami mendapatkan informasi awal.4 Lokasi-lokasi yang selanjutnya didatangi adalah: Kampung Bugis Kepaon Denpasar dengan Masjid Al-Muhajirin. Selanjutnya kami mendapat banyak informasi dari Drs. Vol. Staf Urusan Agama Hindu. Di samping itu ditemukan juga naskah-naskah Al-Qur’an kuno yang sejauh ini belum pernah didata. Selanjutnya penelusuran dilakukan sampai dengan 2 Nopember 2008. 7. Mereka menyarankan kami mendatangi Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali. Loloan Timur. Pegayaman Singaraja Buleleng. yaitu Kanwil Departemen Agama Provinsi Bali. Budakeling. Negara. SH. Kabid. Berikut temuan naskah berdasarkan lokasi atau tempat ditemukannya naskah. Penamas. hasil penelusuran di lapangan ditemukan 38 naskah. Dengan demikian. Pesantren Al-Hidayah Bedugul. dan Bangli.

5.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . Di Pegayaman. dua di antaranya beraksara dan berbahasa Bugis. Singaraja. 1. Suharto. Wawancara. naskah ini disimpan di rumah H. Husen Abdul Jabbar. salah seorang Guru Besar di Universitas Udayana. Burhanuddin. Badri Yunardi. Sebelumnya. dan 1 (satu) Al-Qur’an Kuno milik Bapak Marjui. Bali.. 6 Di Masjid AlMu’awanatul Khairiyah Kampung Bugis Suwung. Islam 1. 7 Kedua naskah ini juga sudah diteliti oleh E. 59 . 5. Tetapi. Bedugul. Denpasar. dekat Masjid Asy-Syuhada. 1-18. pada awalnya merupakan koleksi Prof. di Bedugul. Oleh karena itu. No. 2. Shaleh Saidi. Kampung Islam di pedalaman dekat Singaraja ditemukan 3 (tiga) naskah milik Drs. Denpasar ditemukan 3 (tiga) naskah milik H. Denpasar Di Kampung Bugis Serangan. Kondisinya tidak lengkap lagi. Jurnal Lektur Kegamaan. Musthafa Amin. dan Kampung Jawa. 2007. Meski sudah tersimpan di Perpustakaan Yayasan. 6 Mushaf ini sangat tidak terawat. 8 Hadiman. di Yayasan An-Nur. Dr. Vol. Pattani atau Trengganu. — Asep Saefullah dan Adib M. h. Denpasar. dan 1 (satu) naskah Al-Qur’an kuno di Masjid Al-Muhajirin.. h. 2007. mushaf ini sangat menarik terutama dari segi iluminasinya yang indah dan. dalam laporan penelitian ini naskah-naskah lontar koleksi Yayasan Masjid An-Nur penting untuk didata dan disampaikan. ditemukan 12 naskah lontar. merujuk identifikasi Annabel Teh Gallop (2004) termasuk tipe Pantai Timur Melayu. Menurut informasi salah seorang ustadz di PP alHidayah. dan beberapa di antaranya dijelaskan juga ukuran lontarnya. Vol. dan ditumpuk dengan Al-Qur’an lain cetakan zaman sekarang. Denpasar ditemukan 6 (enam) naskah milik H. 1-18.8 naskah lontar yang tersimpan di Yayasan AnNur. Di sini ditemukan pula 1 (satu) Al-Qur’an kuno milik I 5 Naskah ini telah diteliti oleh E.5 Di Kampung Bugis Kepaon. 7 Di samping itu. 29 Oktober 2008. No. naskah-naskah lontar tersebut belum dikaji secara kodikologis9. “Beberapa Mushaf Kuno dari Provinsi Bali”. Wawancara dengan beliau pada 2 November 2008 di Loloan Timur. “Beberapa Mushaf Kuno dari Provinsi Bali”. Jurnal Lektur Kegamaan. Buleleng Wilayah yang didatangi di Buleleng meliputi Pegayaman. masing-masing satu naskah Al-Qur’an. 1. 9 Semua naskah lontar koleksi Yayasan an-Nur hanya disebutkan judulnya. Badri Yunardi.

tapi tidak berhasil ditemukan karena pemiliknya tidak ada di tempat dan tidak berhasil dijumpai. tidak jauh dari Masjid Agung Singaraja. yang dipandang mushaf tertua di Buleleng. karena selain ditulis pada bahan dluang. Di masjid ini ditemukan 8 (delapan) Al-Qur’an kuno (satu satu di antaranya merupakan litograf yang iluminasinya diberi pewarnaan). Hidayat. Mushaf ini sangat menarik. Sebelumnya. Jurnal Lektur Kegamaan. antara lain H. H. sehingga seluruhnya ada delapan Al-Qur’an kuno. 10 60 . yaitu tahun 1035 H. ditemukan 1 (satu) AlQur’an Kuno milik Bapak M. 2009: 53 . Gunawan. 30 Oktober 2008 di Masjid Agung Singaraja. dan yang terpenting mempunyai kolofon yang sangat tua. 12 Para ustadz di Pesantren Al-Hidayah.90 Wayan Ma’ruf. h. 1. Jembrana Di Masjid Bait al-Qadim. Abdurrahman Alawi.10 Di Singaraja. 3. Di Kampung Jawa. 29 Oktober 2008. yang ternyata seluruhnya Al-Qur’an kuno sebanyak tujuh mushaf. yaitu di Masjid Agung Jami’. sekitar 1625 M. Husen Abdul Jabbar. Wawancara. Zen Usman. Wawancara. No. dan Agus. ditulis dengan khat Naskhi yang indah. 12 konon ada naskah semacam Barzanji. Al-Qur’an kuno ini masih lengkap. Hasyim Zaki. ditemukan banyak naskah Al-Qur’an kuno. Wawancara dengan beliau pada 2 November 2008 di Loloan Timur. 13 Naskah ini juga sudah diteliti oleh E. Muchlis Sanusi. naskah ini disimpan di rumah H. Syarifuddin. “Beberapa Mushaf Kuno dari Provinsi Bali”. dan H. H. 1. Akan tetapi. antara DenpasarSingaraja. bahwa masjid ini sering didatangi wartawan dari berbagai media massa dan meliput salah satu Al-Qur’an kuno di sana. Naskah Al-Qur’an ini konon merupakan wakaf dari Encik Ya’qub dari Trengganu. Lurah Kampung Bugis dan juga Ketua Ta’mir Masjid Agung Singaraja. 2007. Vol. No. Loloan Timur. 7. Abdurrahman Said.13 Menurut Bapak Drs. ditemukan satu buah naskah Al-Qur’an. 11 Bunyi kolofon tersebut: “tamma al-qur’±n f³ yaum al-kh±mis min syahr al-mu¥arram f³ hil±li i¥d± wa ‘isyr³na ba‘da alfi sanah khamsin wa £al±£µna alhijrah an-nabawiyyah “ (Al-Qur’an ini selesai [ditulis] pada hari Kamis dari bulan Muharram pada malam dua puluh satu pada tahun seribu tiga puluh lima [21 Muharram 1035] Hijrah Nabi). sejauh ini koleksi lain yang tersimpan di dalam lemari kaca belum pernah dilihat. Jembrana. Vol. H. 1-18. Badri Yunardi. 5.Jurnal Lektur Keagamaan. Bedugul. Negara. menurut Hadiman. 11 Sementara di Bedugul. dan beberapa Pengurus Masjid.

— Asep Saefullah dan Adib M. terjemahan Dawud bin Abdullah Fatani.. bisa jadi maksudnya Karang Asem? Sebagian orang Bali menyebut “Kampung Islam” dengan bunyi ucapan yang terdengar adalah “Kampung Selam”. antara lain pada sampul dalam Kitab Siraj al-Huda terdapat tulisan. dan pada pias halaman ada Hamisy Kitab Asrar al-Dini. tetapi karena sudah hancur. Kampung Islam Pasuruan. h. 1320 H/1902 M). naskah-naskah tersebut dibuang. atau bias juga tetap dibaca “as-Salam” sebagaimana bahasa Arab. Naskah yang tersisa adalah kitab-kitab cetakan sekitar tahun 1300-an Hijriah. b) Kitab Usul al-Tahqiq juga tentang Usuluddin. Islam 4. Cet. Teks dalam kitab ini juga bertuliskan “al-salam” (‫ . “Tanda keterangan haza al-haq 16 Pak Muhammad Sa’id bin Mukhammad Ali Kusamba. Syarah atas Matan Umm al-Barahin karya Sanusi. yaitu catatan pemiliknya.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . 16 Kata “¥aq” kadang diartikan “kepunyaan”. Konon di sini pernah ada naskah beraksara Bugis. 44. 2) Kumpulan kitab dalam satu bundel terdiri dari empat kitab. 14 Kampung Biutan As-Salam 15 adanya”. a) Kitab Miftah al-Jannah tentang Usuluddin karangan Muhammad Tayyib bin Mas’ud alBanjari. al-Matba’ah al-Miriyah al-Ka’inah. “Haza al-Kitab ini yang empunya Bapak Abd al-Rahman negeri Bali. (diterbitkan di Mesir. antara lain: 1) Kitab Sabil al-Muhtadin karya Syaikh Muhammad Arsyad bin Abdullah AlBanjari. t. berbunyi. peneliti hanya mendatangi Kampung Islam Buitan—sebuah kampung kecil yang hanya berpenduduk 25 keluarga. dan di tepinya ada Kitab Sirat al-Mustaqim. Maktabah al-Kutub alArabiyyah al-Kubra. Teks ini juga terdapat pada Kitab Sabil al-Muhtadin Juz I. Catatan kedua pada Daftar Isi Kitab Miftah al-Jannah. Ada yang menarik dari kitab-kitab ini. tentang ilmu fikih karangan Nuruddin Al-Raniri (diterbitkan di Mekah. Ke-6 (diterbitkan di Mekah.. jilid 1 dan 2. 3) Kitab Siraj al-Huda karangan Muhammad Zain al-Din bin Muhammad Badawi al-Sumbawa’i. al-Matba’ah al-Miriyah al-Ka’inah.. dan di piasnya ada Hamisy Risalah Diya al-Murid. jadi “ha©a al-¥aq. 1321 H/1903 M).). c) Kitab Mau’i§ah li al-N±s tentang tata cara sembahyang. dan f) Kitab Tajwid al-Qur’an.” bisa diartikan “ini kepunyaan…” 15 14 61 . Karang Asem Di Karang Asem. dan membeli pada bulan Ramadan tanggal 15 hari Ahad pada tahun Zai Hijrah Nabi Teks aslinya: kaf-ra-ng-syin-mim. yang maksudnya “Islam” sebagaimana kebiasaan sebagian orang Bali. Karangsem.t.)اﻟﺴﻼم‬tapi bisa jadi dibaca “Selam”. pengarang ketiga kitab ini tidak disebutkan.

wirid. 7. juga berasal dari Madura.Jurnal Lektur Keagamaan. menurut Abdullah. No. yaitu milik H. Nama-nama di atas. dan geguritan (cerita). Dalam 17 Wawancara. MA 03 dan MA 04 yang dalam teksnya tidak disebutkan judulnya. Tasawuf/Akhlak: Naskah dalam bidang ini ada empat. Fikih: Dalam bidang fikih hanya ditemukan satu naskah. yang berisi tentang sifat-sifat Allah. Musthafa Amin. milsanya tentang taharah [bersuci]. Musthafa Amin. dan ini pun bagian pertama dari kumpulan teks lain yang berisi tentang obat-obatan disertai doa dan wirid. Jika demikian.90 Sallallahu ‘alaihi wa sallam 1334 H”. Tauhid/Teologi: Dalam bidang ini ada empat naskah. dan jaiz (satu dari dua naskah milik Drs. 2 November 2008. antara lain berisi tanya jawab tentang Uluhiyah (ketuhanan). Dua naskah lainnya milik H. dan obat-obatan. 2009: 53 . kandungan isi naskah-naskah keislaman di Bali setidaknya meliputi: Fikih. Doa. Kampung Islam Buitan. Musthafa Amin. 3. nomor MA 05 dan MA 06. mustahil. Bidang Kajian (Isi Naskah) Dilihat dari segi bidang kajiannya. satu naskah milik H. Naskah MA 04 ditulis dalam buku Letjes. wajib. dan sebagian keluarga di sana. Burhanuddin. wirid. selain berasal dari Bugis. Wirid. Vol. tata bahasa Arab (nashwu-saraf). Musthafa Amin (MA 01). Tauhid. 62 . dan Obat-obatan: Naskah yang berisi doa. Karang Asem. Al-Qur’an. Suharto di Pegayaman. adalah para leluhurnya. Tahun 1334 H adalah sekitar tahun 1915 M. satu naskah beraksara dan berbahasa Bugis milik H. tetapi naskah ini sudah bercerai berai dan tidak berjilid). no. Suharto juga berisi teks lain yang berisi masalah fikih. doa. 1. obat-obatan. Burhanuddin. 1. yaitu Khazinah al-Asrar serta satu naskah beraksara dan berbahasa Bugis milik H. yaitu “Kitab Nikah” milik H. 2. dan dua naskah lainnya milik Drs. 4. terdapat dua naskah. Tasawuf. juga berisi wifiq. bisa jadi Kitab Miftah al-Jannah khususnya dibeli di Pasuruan. 17 salah seorang yang dituakan di Buitan.

hasil penelitian lapangan terhadap naskah-naskah lontar di Bali berhasil memberikan informasi lain terkait dengan tradisi pernaskahan di Pulau Dewata tersebut. Sementara itu. dan karenanya tradisi pernaskahan di sana pun dengan sendirinya juga tidak dapat dilepaskan dari Hindu. 5. berisi tentang morfologi bahasa Arab atau ilmu sharaf. 63 . dan bunyi akhir tiaptiap baris (Agastia. dan satu naskah di Masjid Bait al-Qodim Loloan Timur. banyaknya suku kata dalam tiap baris. Ini dapat dilihat dari beberapa naskah lontar yang ditemukan di lapangan. Geguritan: Sebagaimana yang dikenal secara luas oleh masyarakat. satu naskah milik Bapak Marjui. Dari 14 naskah AlQur’an yang ditemukan. dan semuanya dalam bentuk geguritan. Denpasar. Kampung Serangan Denpasar.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . pupuh diikat oleh beberapa kaidah yang mencakup: banyaknya baris dalam tiap bait. FIB Universitas Indonesia. 6.: 155).. Ke-14 naskah tersebut adalah delapan naskah AlQur’an di Masjid Agung Jami’ Singaraja. 19 Dari 12 naskah lontar. 18 sembilan di antaranya menunjukkan adanya pengaruh Islam dalam tradisi kesusastraan Bali. t. Islam naskah MA 01 juga terdapat naskah jenis ini. Bali memang identik dengan Hindu. satu naskah di Masjid Al-Mu’awanatul Khairiyah Kampung Bugis Suwung. Pembacaan naskah lontar oleh Made Suparta. Dari 12 naskah lontar yang berhasil ditemukan. dan satu naskah di Masjid Muhajirin Kapaon Denpasar. Al-Qur’an: Meskipun naskah Al-Qur’an tidak sepenuhnya menjadi sasaran dalam penelitian ini. ada satu naskah yang tidak dapat dibaca. Meskipun demikian. 11 di antaranya belum pernah diinventarisasi. Berikut ini gambaran mengenai isi 1119 naskah lontar yang berhasil ditemukan: 18 Geguritan adalah karya sastra Bali yang dibangun di atas pupuh. Suharto. milik Drs. yang terletak setelah “Kitab al-Nikah”. 7. satu naskah di Pegayaman.t. satu naskah di Kampung Jawa Singaraja. dosen pada Program Studi Jawa. — Asep Saefullah dan Adib M. ditulis di atas dluang.. Bahasa: Dalam bidang bahasa ditemukan satu buah naskah tanpa judul. Pegayaman. tetapi temuan ini penting karena banyak naskah baru yang ditemukan.

Teks ini berisi konsep dharma dalam agama Hindu. geguritan Jayengrana. Geguritan Semaun. Yang menarik. Teks ini menceritakan sosok pahlawan muslim dalam melawan raja kafir. Teks ini berisi cerita tentang peran Amir Hamzah dalam proses islamisasi di Nusantara. meskipun kapan dan dari mana awal mula masuknya pengaruh Islam tersebut masih perlu diteliti lebih jauh lagi. Di samping itu. 20 64 .Jurnal Lektur Keagamaan. 2). teks ini juga berisi cerita tentang proses islamisasi di Bali. Geguritan Pan Bongkling. Teks ini tentang kehidupan keluarga kerajaan di negeri Arab. 5). dan satu naskah yang tidak dapat diidentifikasi baik judul maupun isinya karena kondisi fisiknya yang sudah lapuk. 8). semua kolofon 20 yang terdapat dalam naskah lontar itu menginformasikan adanya tahun penyalinan yang sama. Geguritan Siti Badariyah. Dari 12 naskah lontar di atas. empat di antaranya tidak bertanggal. Cerita Islam 1). yaitu: Geguritan Siti Badariyah. 7). Teks ini menceritakan tokoh Bagendhali yang sangat sakti. Teks ini berisi cerita tentang kehidupan Nabi. Geguritan Jimat Teks ini berisi mistik Islam. teks ini juga banyak mengandung ajaran moral dan etika Islam. Cerita Hindu 1). No.90 a. Geguritan Krama Selam. Teks ini menceritakan proses islamisasi di Bali. Geguritan Bagendhali. beserta dua saudaranya: Bagenda Sulaiman dan Bagendha Alah. b. Teks ini berisi filsafat moral Hindu yang disampaikan secara naratif. Geguritan Jayengrana. yakni 1923 isaka atau 2001. Geguritan Amir Hamzah. 7. 6). 1. 4). Geguritan Amir Hamzah. Gambaran isi naskah lontar di atas secara jelas memperlihatkan adanya pengaruh Islam dalam tradisi kesusastraan Bali. 2009: 53 . Geguritan Sebun Bangkung. sebab deskripsi kodikologis terhadap naskah-naskah lontar di atas menunjukkan bahwa naskah-naskah lontar tersebut memang masih muda. Vol. Tidak banyak berbeda dengan teks Pepalihan Gama Selam. 9). 2). Teks ini berisi cerita mengenai tokoh heroik yang bernama Sema’un pada masa-masa awal islamisasi 3). Pepalihan Gama Selam Bali. Kidung Tuwan Semeru.

Muhlis Sanusi. 65 . di Kepaon Denpasar. dan H. yaitu H. dan dua naskah lainnya yang ditulis di atas dluang telah robek. seperti mushaf kuno milik M. Naskah-naskah yang ditemukan di rumah H. seperti mushaf koleksi Masjid Singaraja. ada empat naskah yang relatif terbaca.. Singaraja. Zen Usman yang lengkap dan kondisinya bagus. Zen Usman relatif baik. 21 Wawancara dengan Drs. dari enam naskah yang dimilikinya. 30 Oktober 2008. karena sebagian di antaranya disalin ulang pada tahun 2000-an. Satu buah naskah berlubang dimakan rayap dan satu lagi tinggal setengahnya. Kondisi naskah lontar di Yayasan An-Nur memang mendapatkan perawatan. Kondisi naskah di Masjid Singaraja dan milik M. tetapi tidak utuh. tetapi naskah-naskah lontar itu termasuk baru. terutama pada halaman belakang. — Asep Saefullah dan Adib M. Di Pegayaman pun demikian. Naskah-naskah keagamaan Islam yang ditemukan pada masyarakat umumnya tidak terpelihara dan bahkan tak terperhatikan sama sekali. Musthafa Amin. Zen Usman. salah seorang keturunan Raja Buleleng yang masuk Islam (MAJS/NQ/01). Meskipun telah disimpan dalam kotak kayu khusus. Sebagian besar mushaf itu juga tidak lengkap dan banyak lembarannya yang sudah terlepas. di dalam tempat penyimpanan naskah itu tidak terlihat ada bahan penangkal serangga. Kondisi Naskah Naskah keagamaan Islam di Bali kurang mendapat perhatian. seperti Al-Qur’an kuno di Masjid Al-Muhajirin Kepaon. kecuali mushaf yang diduga ditulis oleh Gusti Ngurah Ketut Jelantik Selagi. tetapi hampir semuanya tidak ada yang lengkap. dan di dalam lemari kaca. satu naskah tercerai berai.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . H. Abdurrahman Alawi. tidak seperti naskah lontar yang. seperti cengkih atau kapur barus. di samping telah banyak dikaji. Demikian juga di Kampung Bugis Serangan. Islam Beberapa Aspek Kodikologi Naskah Islam di Bali 1. Hadir pula beberapa pengurus Ta’mir Masjid Agung yang lain. 21 dan mushaf milik M. Hasyim Zaki. empat naskah yang ditemukan sudah lapuk semua. Lurah Kampung Islam.. satu naskah di antaranya dari bahan kertas modern bergaris. satu naskah Al-Qur’an tidak lengkap lagi dan tengahnya berlubang dimakan serangga. Hidayat. dari empat naskah yang ditemukan. Buleleng. juga terdokumentasi dengan baik sebagaimana dijelaskan di atas.

c) Kertas modern bergaris. berangka tahun Jumadil Awwal 993/1585 dan kedua adalah mushaf dari Ternate. Semua naskah lontar tersebut milik Yayasan An-Nur. Vol. 2009: 53 . lengkap 30 juz. Berdasarkan kolofonnya. dan Horn (tertera angka tahun 1825 pada mushaf di Masjid al-Muhajirin. Bahan Bahan yang digunakan untuk menulis naskah-naskah keagamaan Islam di Bali dapat dikelompokkan ke dalam empat jenis: a) Dluang. b) Kertas Eropa. Pro Patria. naskah Al-Qur’an dari Kampung Jawa. Naskah yang ditulis di atas kertas Eropa berjumlah tujuh naskah. terdapat tiga naskah yang ditulis di atas dluang. serta satu naskah lain ditulis di atas kertas bergaris bukan Letjes milik H. No. Burhanuddin di Serangan. 2005: vii-viii) 22 66 . Bahan lontar digunakan untuk menyalin 12 naskah geguritan.90 2. Naskah ditulis di atas kertas modern bergaris (Letjes) ada dua. Sebagian besar naskah lainnya ditulis di atas kertas Eropa.Salih Afifuddin Abdul Baqi bin Abdullah Al-Adni. dan satu naskah menggunakan bahasa Melayu dengan aksara Bali. Musthafa Amin. Musthafa Amin menyebutkan angka Mushaf tertua konon mushaf nomor MS 12716 koleksi William Marsden di Perpustakaan School of Oriental and African Studies (SOAS). Zen Usman termasuk naskah yang paling tua. Zen Usman di Kampung Jawa Singaraja. dan d) lontar. Musthafa Amin di Kepaon (MA 04) dan H. Denpasar. yaitu milik H. yaitu: dua naskah milik Drs. mushaf ini selesai ditulis pada malam Ahad. Beberapa cap kertas (watermark) dan cap tandingan (countermark) yang berhasil diidentifikasi antara lain kelompok Crescent. Suharto di Pegayaman dan satu mushaf AlQur’an. Misalnya naskah Kitab Al-Nikah dan Obat-obatan (MA 01) milik H. 3. 21 Muharram 1035 H atau sekitar tahun 1625 M. Maluku Utara. 22 Naskah-naskah lain pada umumnya ditulis pada abad ke-13 H atau sekitar abad ke-18-19 M. milik M.Jurnal Lektur Keagamaan. Kepaon). University of London. Dari 38 naskah. milik M. 7. 11 naskah menggunakan bahasa dan aksara Bali. bahkan ia merupakan naskah Al-Qur’an tertua ketiga di Asia Tenggara. (Bafadal dan Anwar. Britania. yang ditulis oleh Al-Faqih al. pada 7 Zulqa’dah 1005 H/1597 M. Usia Naskah Dilihat berdasarkan usia naskah. 1. keduanya di Denpasar.

“… dan arti uluhiyah pada bahasa Jawi ketuhanan dan arti Ilah pada bahasa Jawi Tuhan…” 5. Kolofon Dari 38 naskah yang diinventarisasi. Aksara yang digunakan adalah Arab.. sedangkan bahasanya adalah Arab. 4. dari daftar cap kertas yang disusun Heawood diketahui bahwa kertas dengan cap kertas kelompok Pro Patria diproduksi pertengahan abad ke-17 M (Heawood. Bugis. menurut Heawood (1986:140). Selain Al-Qur’an yang berjumlah 14 naskah. 67 . Bahasa dan Aksara Naskah-naskah keagamaan Islam di Bali setidaknya menggunakan empat aksara dan empat bahasa. yaitu milik H. 10r-10v disebutkan demikian. Tentang istilah Jawi. dalam naskah MA 02 disebut “bahasa Jawi”. Kolofon yang agak tua terdapat pada naskah Al-Qur’an MAJS/NQ/03 koleksi Masjid Agung Jami’ Singaraja. Burhanuddin. Kertas Eropa yang memiliki cap kertas pada kelompok Pro Patria.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah .. Serangan Denpasar. atau Crescent. Cap kertas yang terlihat pada naskah MA 03 yang termasuk kelompok Names dengan cap kertas berupa: tulisan nama I Pigoizard. yaitu bulan Zulqa’dah 1265 H/1848 M. diproduksi sekitar tahun 1737 atau sesudahnya. dan Bali. Bugis. Demikian juga dilihat dari kertas Eropa yang digunakan. dan Bali. Sementara aksara dan bahasa Bali hanya digunakan pada 12 naskah lontar koleksi Yayasan An-Nur. naskah berbahasa Arab hanya dua. Setidaknya ada enam naskah yang berkolofon. Islam tahun 1287 H/1870 M dan 1288 H/1871 M. Selebihnya. dan dalam naskah MA 01 milik H. Britania. tidak banyak ditemukan naskah yang mempunyai kolofon. atau sekitar delapan naskah lainnya menggunakan bahasa Melayu dengan aksara Jawi. — Asep Saefullah dan Adib M. misalnya ketika mengartikan kata “uluhiyah” dan “ilah” pada h. Misalnya. Musthafa Amin terdapat dua kolofon. Naskah yang menggunakan aksara dan bahasa Bugis ada dua. Melayu. Jawi. yaitu naskah tentang morfologi Arab (saraf) dan sifat-sifat Allah dari Pegayaman. pada umumnya diproduksi antara pertengahan abad ke-17 M sampai abad ke-19 M. Horn. 1986: 145-146).

Agak sulit menghubungkan kedua kolofon yang terdapat dalam satu naskah ini. orang Palembang. yang terdiri dari beberapa teks. Kampung Kepaon. Kolofon pertama menyebutkan tempat penulisan di negeri Badung. kolofonnya berbunyi: Telah mengambil ijazah faqir a-haqir ila Allah Ta’ala Haji Hasan ibn alMarhum al-Haj Muhammad Amin al-Din Palimbangi akan mengamalkan laqad ja’akum serta doa yang kemudian kepada Syaikhuna wa ustazuna wa wasilatuna ila Allah Ta’ala al-Arif bi Allah sayyidi al-Syaikh Muhammad Azhari ibn al-Mukarram al-Marhum Kemas Muhammad Haji Abdullah Palimbangi Nafa’ana Allah bi barakatihi wa barakat ‘ulumihi.90 Pada naskah MA 01. sedangkan kolofon kedua menyebutkan Ampenan. 33v bagian akhir teks pertama terdapat nama kitab. No. Bunyi kolofon tersebut sebagai berikut: Haza [al-]Kitab al-Nikah [ter] Hijrah al-Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam seribu dua ratus delapan puluh tujuh (1287) pada tahun Ba alif(?) pada malam ahad waktu jim(?) pada pukul delapan pada delapan hari bulan Rabi’ al-Awwal pada ketika itulah hamba Pa Abdul A’raf sudah selesai menyuruh ini kitab di dalam negeri Badung Bali Badung adanya Kampung Kepaon 1287 Tamma wa sallallahu ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa sahbihi wa sallam Pada teks kedua h. Amin 1288 H di Ampenan Syahr [al-]Shafar. namanya orang menyurat ini Haji Dawud dari negeri Badung Kepaon tatkala menyurat ini di negeri Pabeyan rumah bapak Tayid23 tamat alkalam” 23 Ba-pa-alif ta-alif-ya-dal (‫)ﺑﻔﺄ ﺗﺎﻳﺪ‬ 68 . Dalam kolofonnya disebutkan bahwa teks ditulis oleh Haji Dawud. 7. 1. 10v: “…tammat. Badung. di Pabeyan. Berikut bunyi kutipan kolofon pada h. yakni “Kitab Nikah” dan waktu penyalinannya. 2009: 53 . h. yang bisa dipastikan di Palembang sebab yang mengambil ijazah untuk amalan dalam teks ini adalah Haji Hasan Palimbangi. 41v. Naskah ini tergolong masih baik karena tulisannya dapat dibaca. Nama Kepaon juga disebut dalam naskah MA 02.Jurnal Lektur Keagamaan. Kepaon. Satu hal yang dapat diduga adalah telah terjadi hubungan antara Palembang dan Bali sekitar tahun 1287-1288 H/1870-1871 M. Bali. Vol. walaupun jilidnya sudah lepas.

kondisi naskah-naskah Bali beragam. mushaf ini ditulis oleh Abd Shafiyyuddin pada hari Kamis tanggal 21 Muharram 1035 H. Penjilidan Aspek lain dalam kodikologi adalah bagian penjilidan. Letak kolofon ini di pias halaman bagian akhir mushaf setelah Surah al-Nas dan sebelum doa khatm Al-Qur’an. Kampung Jawa Singaraja. Burhanuddin.. dalam bahasa Arab yang berbunyi sebagai berikut: “tubi‘a bima¯ba‘ah al-Tauf³q li ¡±¥ibih± al-¥±jj Mu¥ammad ‘Abduh pepajah bi Pare-pare 1373” 6. 69 . Serangan. sama dengan 1848 M. yakni pada Mushaf milik Zain Usman. ada yang sudah lapuk. bisa jadi berarti tahun seribu masuk ratusan ketiga.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . percetakan at-Taufiq milik Haji Muhammad Abduh.. Dalam kolofonnya. — Asep Saefullah dan Adib M. Selain itu disebutkan pula nama dan tempat percetakan serta pemilik percetakannya. Pada kolofonnya disebutkan. ada yang masih baik. bunyinya demikian: “tamma al-qur’±n f³ yaum al-kh±mis min syahr al-mu¥arram f³ hil±li i¥d± wa ‘isyr³na ba‘da alfi sanah khamsin wa £al±£µna al-hijrah an-nabawiyyah “ Pada naskah Litrograf beraksara Bugis milik H. Kolofon ini ditulis dalam bahasa Arab. bahwa di Bali ditemukan juga kolofon yang menyebutkan angka yang sangat tua. Kolofon ini juga ditulis dalam bahasa Arab. Pare-pare. Islam Kolofon lain ditemukan dalam mushaf Kuno nomor MAJS/NQ/03 koleksi Masjid Agung Jami’ Singaraja. artinya 1200-an lebih. dan ada juga yang sudah terlepas dari 24 sanah alfi taqw³m £al±£. ditemukan angka tahun 1373 H/1885 M pada halaman sampul. Dari segi penjilidan. Berikut ini kutipan kolofon: “kana al-farag al-kha¯¯ ¥ajj Mu¥ammad Ja‘far yauma arba‘ wa f³ waqti a««u¥± f³ syahri ©i al-qa‘dah f³ sanah alfi taqw³m £al±£24 hijrah an-nab³ 1265 “ Penting dicatat. 1035 H/1625 M. mushaf ini disebutkan selesai ditulis oleh Haji Muhammad Ja’far pada waktu duha hari Rabu bulan Zulqa’dah 1265 H/1848 M. dan angka tahun yang tertulis adalah 1265 H. Angka tahun ini menerangkan selesainya pencetakan naskah.

7. Pada masa ini. yaitu: Alif. dan satu mushaf di masjid al-Muhajirin. Selain naskah mushaf. 27 Berbeda dengan yang lainnya. 26 Sampul seperti ini banyak ditemukan di Nusantara. jilidan aslinya sudah tidak ada. hampir semua bahan sampulnya terbuat dari kulit tebal dengan motif floral serta menggunakan amplop. namun untuk mushaf koleksi masjid asy-Syuhada sudah diganti dengan sampul dari kertas karton. Oleh karena itu. 2009: 53 . Pena yang digunakan biasanya dimiringkan mata penanya sehingga ketika ditarik menyamping miring kanan ke bawah akan membentuk titik belah ketupat ( ). belum banyak ditemukan naskah yang Kuras adalah istilah yang mengacu pada sejumlah lembar kertas/perkamen yang dilipat dan dijahit untuk kepentingan penjilidan (Francois Deroche. 2005: 122). misalnya. No. 1. misalnya beberapa naskah di Bayt al-Qur’an dan Museum Istiqlal TMII Jakarta (Saefullah. menarik juga untuk dilihat model-model tulisannya atau yang lazim disebut kaligrafi. kebanyakan bahan sampul naskahnya adalah kertas karton tipis. 7. Dari segi bahan sampul. Vol. yaitu tahun 1035 H/1625 M (Gambar 01). 1992:86-99) 25 70 . walaupun masih sangat sederhana dan belum dapat dikatakan standar. khususnya di Nusantara. 27 Kaligrafi Arab standar dalam bahasa Arab disebut Al-Kha¯¯ al-Mansµb mempunyai tiga alat ukur. 26 Naskah lain adalah yang ditulis di atas kertas bergaris dalam buku Letjes dengan sampul kertas berwarna biru khas Letjes. Pada dua mushaf ini. Loloan Timur. lima titik belah ketupat. Tinggi alif pada jenis Naskhi standar.90 ikatan kuras naskah.25 Bahkan sebagian di antaranya lepas jilidannya. seperti yang terlihat pada satu mushaf di Masjid asy-Syuhada. titik belah ketupat. Naskah-naskah AlQur’an umumnya menggunakan jenis kaligrafi atau khat Naskhi. 2007: 47). Kepaon. Mushaf dari Kampung Jawa Singaraja sudah menggunakan khat Naskhi yang indah dan mendekati standar apalagi jika dilihat masa penulisannya—walaupun belum menggunakan pena khat untuk membentuk tipis-tebalnya huruf—.Jurnal Lektur Keagamaan. seluruh naskah ditulis dalam aksara Arab dan Jawi. dan ada juga yang terbuat dari karton. Rumusan ini diciptakan oleh Ibnu Muqlah (Sirojuddin. Adapun untuk naskah mushaf. dan lingkaran. Kaligrafi Selain naskah lontar. naskah-naskah Bali cukup bervariasi. ada yang bahan sampulnya terbuat dari kulit.

dan Riq’ah. sapuan pada beberapa huruf. yang berarti menerangi. dan biasanya digunakan untuk memberikan penjelasan lebih lengkap dari teks bersangkutan. kecuali dalam naskah Al-Qur’an. Jika dikelompokkan ke dalam jenis-jenis khat. “Il±ha”. Sementara jenis Khat Riq’ah yang biasanya tipis-tipis dan condong ke kiri ditemukan dalam banyak naskah. 17v. tipis tebal goresan aksaranya sudah nampak dan memperlihatkan bentuk Naskhi yang cukup indah (Gambar 02). Namun demikian. 71 . terdapat ilustrasi tentang sifat-sifat Allah berdasarkan kalimat L± Il±ha Ill± All±h yang dibagi ke dalam empat kategori “L±”. Farisi. Jenis Farisi misalnya ditemukan pada Naskah MA 03 dari Kepaon. misalnya naskah dari Pegayaman. Dalam naskah MA 03. Ilustrasi yang ditemukan pun hanya sedikit. biasanya lebih berfungsi sebagai hiasan. Sedangkan iluminasi. Pada naskah MA 04. bahkan untuk naskah keagamaan lainnya digunakan Khat Farisi atau Riq’ah. baik yang cenderung ke Naskhi maupun Farisi.. yaitu Naskhi. h. a. khususnya sin dan kaf memperlihatkan gaya Farisi. Islam disalin dengan khat Naskhi yang indah. h. maka naskahnaskah yang ditemukan dapat dikelompokkan ke dalam tiga jenis khat. Ilustrasi Ilustrasi terdapat pada naskah tasawuf dan masalah doa. wirid. 8. Ilustrasi dan Iluminasi Ilustrasi adalah sebuah gambar atau hiasan yang ada hubungannya dengan teks. walaupun masih sederhana dan ada kesan Riq’ah karena sebagian hurufnya condong ke kanan (Gambar 04).Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . dan “All±h” (Gambar 05). Akan tetapi secara umum dapat dikatakan Riq’ah. dan wifiq. yang berasal dari kata illumination. 11r. Karakter tulisannya condong ke kanan dan sapuansapuan pada sin dan gigi ba. kata “Il±h” diletakkan dalam kotak belah ketupat dan segi empat. Dalam naskah-naskah keagamaan Islam di Bali tidak ditemukan iluminasi. dan tidak berkaitan langsung dengan teks. Jenis Naskhi yang ditemukan memang sangat sederhana. ta. khususnya naskah MA 06 (Gambar 03). dan di sekelilingnya terdapat penjelasan sehingga membentuk semacam concept map (peta konsep).. £a. — Asep Saefullah dan Adib M. “Ill±”. yang agak meliuk-liuk dan memanjang. atau ya.

masingmasing dalam satu kotak. Vol. unik. Pada naskah Serangan 01 yang berbahasa dan beraksara Bugis. kalimat L± Il±ha ill± All±h Mu¥ammad Rasµl Allah”. yang terdapat pada bagian tengah mushaf. dan disebut juga nama-nama malaikat. yakni iluminasi dalam bentuk arabesk (pola geometris yang disalin bersilangan) dari kalimat L± Il±ha ill± All±h Mu¥ammad Rasµl Allah sebagai bingkai hiasan yang mengelilingi bidang teks ayat-ayat Al-Qur’an. 2009: 53 . Karakter kedaerahan iluminasi dapat juga dilihat dari penempatan halaman berhias pada awal. kata “All±h”. dan Jawa. Iluminasi dalam mushaf-mushaf kuno yang ditemukan di Bali sangat luar biasa. terdapat ilustrasi lafa§ al-jal±lah. Desain hiasan yang menurut identifikasi Annabel Teh Gallop (2004) sebagai tipe Aceh. sahabat. No. Dalam hal penempatan 28 Wifiq: suatu formula yang terdiri atas susunan bilangan atau angka Arab tertentu yang mengandung rahasia-rahasia spiritual. Contoh ilustrasi terakhir adalah tentang wifiq. dan juga dapat dikaji secara kodikologis. 28 Dalam naskah wirid dan doa MA 05. 72 . Bagi yang mempercayainya. dan simbol-simbol huruf hijaiah yang dirangkai sedemikian rupa dan diletakkan dalam satu kotak (Gambar 08). Iluminasi Iluminasi hanya ditemukan dalam naskah-naskah Al-Qur’an. 7. dan di atas-bawahnya terdapat penjelasan yang diduga terkait dengan zikir (Gambar 07). Sulawesi. 1. terdapat simbol-simbol yang diletakkan dalam bingkai garis. tetapi karena pentingnya temuan ini. ada perbedaan kedaerahan yang konsisten dan mencolok. kata “Muhammad” dan “Ilah”. h.Jurnal Lektur Keagamaan. tengah. ditemukan di Bali. Bahkan satu mushaf di Masjid Agung Singaraja (MAJS/NQ/01) sangat khas. b. hasilnya disajikan di sini. tentang tasawuf. Meskipun naskah Al-Qur’an terkadang dikhususkan dalam klasifikasi kajian naskah klasik. atau akhir. 12v-13r. Pantai Timur Semenanjung Melayu atau Pattani dan Trengganu. yang diletakkan dalam blok hitam. misalnya kata “Allah” dan “Muhammad” dalam satu kotak. dan lain-lain (Gambar 06).90 terkait dengan ilmu ma’rifah. pengetahuan mengenai formula tersebut merupakan hikmah ilahiyah. Ada dua blok yang semuanya berisi kata “All±h”. dan menarik.

Demikian juga dengan bahannya. dapat dijelaskan dengan kenyataan bahwa orang-orang Bugis pada masa lalu telah banyak bermukim di Bali. yaitu awal juz 16 atau bagian tengah Surah al-Kahf. Abdurrahman Alawi (Pengurus Ta’mir Masjid). Teks ditulis dengan menggunakan khat naskhi. Pada naskah ini terdapat bingkai teks berupa tiga buah garis tipis berwarna hitam dan merah. Wawancara dengan H. 30 Tebal naskah 682 halaman. seperti kepala surah. Sampul naskah memakai tutup (plop). desa di mana Masjid Agung Singaraja berada pun bernama Kampung Bugis. dan di Jawa hampir selalu ditemukan pada permulaan surah al-Kahf (Gallop. Tinta yang digunakan berwarna hitam. “paper used by Denham in Africa” (Heawood. setiap halaman terdiri atas 14 baris. sementara ukuran teksnya adalah 18 X 14. Bahkan. Bagian dalam sampul naskah dilapisi kain saten. dan H. Tipe Aceh dan Istimewa: Iluminasi Kalimat L± Il±ha Ill± All±h Mu¥ammad Rasµl All±h Di Masjid Jami’ Agung Singaraja terdapat mushaf. — Asep Saefullah dan Adib M.. atau tanda baca. 30 Oktober 2008. 30 Tentang bahan kertas yang biasanya digunakan di Afrika. 29 73 . 2004: 132). Di bawah ini akan diuraikan secara singkat keempat tipe atau desain hiasan tersebut. Hasyim Zaki. Belum lagi desain hiasannya dan motif pewarnaannya yang memiliki unsur-unsur daerah lain. Menurut keterangan pengurus takmir masjid. Naskah berukuran 27 X 21 cm.. Hasan (penduduk setempat). adalah kertas yang umumnya digunakan di Afrika. H. Pada bagian tertentu. salah seorang keturunan Raja Buleleng yang masuk Islam. 1986: 85). Pada halaman pelindung terdapat catatan yang tertulis: “h±©a alwaqf mu¡¥af masjid jam³‘”. Penempatan ini dapat ditemukan pula pada mushaf-mushaf Bali. Islam iluminasi tengah: Aceh selalu bagian tengah Al-Qur’an. yaitu Sulawesi dan Aceh. Sampul naskah berukuran 33. Pantai Timur Melayu biasanya pada permulaan juz 15 atau awal Surah al-Isra’. kode MAJS/NQ/0129 yang sejauh pengetahuan kami memiliki keistimewaan yang luar biasa.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . kecuali halaman awal yang terdiri atas 7 baris. Rangkaian dari kalimat L± Il±ha Ill± All±h Mu¥ammad Rasµl All±h yang didekor sedemikian rupa sehingga menciptakan bingkai hiasan berbentuk arabesq yang mengelilingi teks ayat Al-Qur’an. digunakan tinta berwarna merah. yakni iluminasi bagian tengah. mengapa dapat sampai ke Bali. naskah mushaf ini ditulis oleh Gusti Ngurah Ketut Jelantik Selagi. meskipun berupa kertas Eropa tetapi berdasarkan cap kertas (water mark)-nya yang termasuk kelompok Cressent. 5 cm. 1). awal juz.5 X22 cm yang terbuat dari kulit berwarna merah maron dengan motif floral.

dan mushaf ini menempatkan awal juz 16. Vol. adalah seorang Muslim Bali yang memiliki darah Aceh. Abdurrahman Alawi (Pengurus Ta’mir Masjid). No. terutama merah. pewarnaan dan detail hiasan bingkai (Gallop. namun menampilkan latar belakang kertas itu sendiri. Ciri kedaerahan pada umumnya dapat dilihat pada pola. memanjang ke atas dan ke bawah. Wawancara dengan H. dan miring ke dalam pada ujung atas dan bawah. yang dapat berbentuk sulur lembut yang tipis ataupun berukuran lebih besar. kuning dan hitam. Menurut kakaknya. yang mengapit bidang teks pada masing-masing halaman. 2009: 53 . namun terbatas.90 Merujuk pada identifikasi yang pernah dibuat Annabel Teh Gallop (2004) tentang ragam hias mushaf. tetapi di bagian kiri dan kanan garis tegak tersebut terdapat bentuk segitiga. Hasan. dan H. H. ada garis melengkung sampai ke tepi. 2004: 129). Bapak H. yang dekat ke Sulawesi. Hasan (penduduk setempat). Dari segi teks ayat pada bagian tengah yang beriluminasi. 1.31 Sedangkan iluminasi yang istimewa terdapat pada bagian tengah mushaf. 31 74 . 30 Oktober 2008. 7. Akan tetapi. Iluminasi mushaf Aceh mudah dikenali dengan “garis bingkai vertikal. bahwa di wilayah ini pernah kedatangan orang-orang dari Aceh. Sepasang bingkai berhias dari Aceh ini dicirikan dengan pewarnaan yang kuat. yang memang berwarna putih. Desain seperti diuraikan di atas jelas sekali terlihat pada iluminasi bagian awal mushaf ini (MAJS/NQ/01). salah satu mushaf AlQur’an di Masjid Jami’ Agung Singaraja memiliki unsur-unsur yang umumnya terdapat di Aceh dan Sulawesi. jejaknya bisa ditemukan bahwa salah seorang pengurus ta’mir masjid sendiri. H. Di ketiga sisi luar bidang teks. mushaf ini sama dengan mushaf-mushaf dari Aceh yang selalu menempatkan awal juz 16 atau bagian tengah Surah al-Kahf. Segi empat berhias di sekitar bidang teks sering diisi dengan sulur ikal warna putih. hanya saja tidak diketahui siapa dan kapan hal itu terjadi. Warna dasar keempat dalam naskah beriluminasi dari Aceh adalah warna putih. Hasyim Zaki. Hasyim Zaki.Jurnal Lektur Keagamaan. leluhur mereka ada yang berasal dari Aceh. Segi empat berhias di sekitar bidang teks pada pola Aceh yang sering diisi dengan sulur Bagaimana pola Aceh terdapat dalam mushaf ini? Berdasarkan keterangan pengurus Ta’mir masjid dan penduduk setempat. di satu sisi memperlihatkan pola Aceh dengan “sepasang garis tegak kirikanan”. walaupun tidak terlalu jelas sebab salah satu ciri kedaerahan iluminasi Sulawesi adalah garis lurus. dan di bagian-bagian tertentu sering terdapat motif jalinan. sementara lengkungan pada sisi vertikal diapit oleh dua ‘sayap’ kecil.

Gambar 12. milik Bapak I Wayan Ma’ruf. 2). 3).. dan pinggir luar bingkai. Iluminasi hiasan mushaf dari Sulawesi yang menurut Gallop (2005) “Sulawesi Diaspora”. Tipe Sulawesi Tipe Sulawesi ditemukan pada mushaf dari Pegayaman. bandingkan dengan Gambar 12a). dan beberapa bentuk setengah lingkaran di atas. masih terdapat surah Al-Fatihah yang diletakkan dalam bingkai berhias melengkapi sepasang hiasan akhir mushaf (Gambar 11. berupa jalinan kalimat L± Il±ha Ill± All±h Mu¥ammad Rasµl All±h yang membentuk pola arabesq dan sedikit motif floral. Iluminasi mushaf dari Pattani bercirikan. di samping putih yang merupakan warna dasar kertas. bercirikan bentukbentuk geometris yang kuat. hitam. segitiga di tengah bagian pinggir menghadap keluar. bahwa di bagian luar bingkai pada mushaf Pegayaman ini. horizontal dan diagonal. bawah. dan keduanya mengapit teks ayat di atas dan di bawah. — Asep Saefullah dan Adib M. dua bidang empat persegi panjang yang mengapit teks ayat. Tipe Pantai Timur Semenanjung Malaya Ciri khas iluminasi mushaf dari Pantai Timur Semenanjung Malaya adalah “Lengkungan luar bingkai berhias sering ditutup dengan rangkaian ‘ombak-ombak’ atau ‘dedaunan’ kecil”. desainnya sama dengan desain yang umumnya ditemukan di Sulawesi. Warna yang dominan adalah merah dan hitam (Gambar 09 dan 10.. “lengkungan pada bingkai berhias kadang75 . dan di bagian-bagian tertentu sering terdapat motif jalinan. Akan tetapi. Sedikit berbeda. Islam ikal warna putih. bandingkan dengan Gambar 10a). bukan segi tiga tetapi lengkunganlengkungan yang membentuk semi segitiga yang di dalamnya dihiasai desain floral dengan pewarnaan merah. Di bagian akhir mushaf. dan kuning. Dua buah garis vertikal di kiri-kanan paling luar. yakni dua bingkai yang diletakkan secara berhadapan dengan ciri khas garis-garis tegak. dari iluminasi yang masih bisa dilihat pada bagian awal dan bagian tengah. yakni garis-garis vertikal. dalam mushaf MAJS/NQ/01. misalnya dari Pattani dan Trengganu (Gallop. 2004:130). dan tidak memiliki garis-garis lengkung bergelombang. Mushaf ini sudah tidak lengkap lagi dan sebagian besar sudah dimakan serangga. dua bidang persegi panjang di atas membingkai kepala surah dan di bawah membingkai keterangan surah.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah .

Di beberapa halaman verso terdapat kata alihan. merah muda. Dua buah bingkai diletakkan secara berhadapan di halaman kiri-kanan. Teks yang masih ada dimulai bagian tengah surat al-Baqarah dan berakhir pada surah al-Naba. secara keseluruhan efeknya adalah pancaran emas yang cemerlang. Vol. Lengkungan-lengkungan dan riak-riak gelombang tergambar dengan jelas dalam mushaf ini. Selain itu. dan emas sering digunakan” (Gallop. Ketika garis-garis dan ombak disepuh. Zen 32 Naskah ini berukuran 30 X 19 cm. Bingkai teks berupa tiga buah garis tipis berwarna hitam dan merah. 1. Sementara Trengganu lebih bercirikan pembatas beriluminasi yang memenuhi tepi luar kertas. No. Tinta yang digunakan berwarna hitam. awal Juz ke-30 (juz ‘amma) 76 . Pewarnaannya terdiri atas merah. menimbulkan efek ‘stalagnit-stalaktit’. Dalam kertas ini terlihat adanya garis bayang tebal dan garis tipis. Jarak garis tebal pertama sampai ke-6 13 cm. hijau. Penomoran halaman tidak ada. di samping warna putih yang merupakan warna dasar kertas (Gambar 13. Pola hiasan pada Al-Qur’an kuno dari Masjid Al-Muhajirin Kepaon Denpasar32 memperlihatkan tipe Pantai Timur Semenanjung Malaya.Jurnal Lektur Keagamaan. Secara umum. ukuran teksnya 19. 2004:130). Sampul naskah sudah tidak ada. Bingkai teks ayat berupa empat persegi panjang agak lebar mengelilingi bidang teks dan diisi dengan hiasan bermotif daun dan dipadukan dengan lengkungan setengah lingkaran. bandingkan dengan Gambar 13a). Teks ditulis dengan menggunakan garis panduan yang ditekan. 4). naskah sudah lapuk dan tidak lengkap. yakni di atas-bawah dan pinggir bingkai teks ayat. dalam kertas terdapat angka 1825. 5 X 11. dan kuning emas. 2009: 53 . hitam. Tipe Jawa dan Mushaf Tertua Ketiga di Nusantara: Tahun 1035 H/1625 M Mushaf lain yang menarik. meliputi warna-warna muda seperti biru dan hijau maupun warna-warna tua yang lebih menggetarkan. Pewarnaan hiasan bingkai Pantai Timur lebih luas daripada yang ditemukan di Aceh. dan bingkai kedua halaman tersebut disatukan dalam bingkai luar.90 kadang terdiri dari dua ombak yang saling berpautan yang ditutup dengan semacam kubah”. 5 cm. 7. Alas naskah yang digunakan adalah kertas Eropa. unik. Teks ditulis dengan menggunakan khat Naskhi. “Dari pembatas luar ini banyak garis atau sulur kecil mengarah ke dalam seakanakan bertemu dengan ‘ombak-ombak’ yang muncul dari lengkungan. dan luar biasa adalah mushaf yang ditemukan di Kampung Jawa Singaraja milik M. Jumlah garis tipis dalam 1 cm 9 buah.

iluminasinya memperlihatkan unsur Jawa. mushaf ini memperlihatkan goresan seorang khattat (ahli kaligrafi) Arab dengan khat Naskhi yang indah walaupun tidak dengan kalam khat yang tipis-tebal. Keempat. mushaf ini ditulis di atas dluang. yakni pada pewarnaan yang cenderung menggunakan warna biru (Gallop. Ketiga. Desain hiasan ini menunjukkan salah satu karakter khas Jawa. 2004: 130). Mushaf ini berukuran 24 X 16 cm. tetapi lengkungan-lengkungan yang mengelilingi teks ayat lazim ditemukan di Turki Usmani. hanya beberapa halaman yang tampak lapuk. — Asep Saefullah dan Adib M. 33 77 . Tulisan rapi dan jelas. Tinta yang digunakan berwarna hitam.. dan blok bawah mengbingkai keterangan surah. dan untuk kepala surah masih berupa Sulus sederhana. bingkai teks berupa tiga buah garis berwarna hitam. Jumlah baris setiap halaman 13. dan kolofonnya dalam bahasa Arab. atas-bawah dan pinggir. Sampulnya terbuat dari kulit berwarna coklat motif floral. Teks ditulis dengan menggunakan khat Naskhi. yang berbunyi: “tamma al-qur’±n f³ yaum al-kh±mis min syahr al-mu¥arram f³ hil±li i¥d± wa ‘isyr³na ba‘da alfi sanah khamsin wa £al±£µna al-hijrah an-nabawiyyah “. Islam Usman. blok atas membingkai nama surah Al-Fatihah. dan di atasbawahnya diapit juga oleh blok empat persegi panjang. 33 Dikatakan demikian karena beberapa alasan: Pertama. Bidang teks ayat diapit di kiri-kanan oleh blok empat persegi panjang yang dihiasi dengan pola arabesq. kedua bingkai yang berhadapan pada dua halaman kiri-kanan ini disatukan oleh bingkai garis yang memotong setiap ujung segitiga pada setiap sisinya. Tebal naskah 769 halaman yang terdiri atas 754 halaman isi. mushaf ini masih baik. Bagian dalam bingkai ini pun Secara umum.. Sementara itu.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . dari segi kaligrafinya. Kedua. Iluminasi pada mushaf ini terdapat pada bagian awal yang membingkai Surah al-Fatihah dan awal Surah al-Baqarah. naskah ini memiliki kolofon yang menunjukkan waktu penyalinannya pada Kamis. Selanjutnya. kecuali halaman awal yang terdiri atas 7 baris dan halaman akhir yang terdiri atas 10 baris. Untuk bagian yang berisi keterangan awal surah tinta dan awal juz digunakan berwarna merah. 21 Muharram 1035 H (23 Oktober 1625 M). sebuah masa yang tua. oleh Abd al-Sufi al-Din. terdapat segi tiga yang juga berhiaskan bentuk arabesq. di tiga sisinya. dan ukuran teksnya adalah 16 X 11 cm. Alas tulis dari bahan dasar kulit kayu ini pada umumnya tergolong tua karena kertas ini umumnya telah ada sebelum kertas Eropa masuk ke Nusantara. jika merujuk identifikasi Gallop (2004).

bisa diduga bahwa asal-usulnya berkaitan dengan Pulau Jawa. dan Jawa. 7. 35 di antaranya merupakan naskah keagamaan Islam. seperti Palembang dan Pasuruan. Sebagian besar naskah sudah rusak. bandingkan dengan Gambar 14a). 78 . Penelusuran awal naskah-naskah keagamaan Islam di Bali berhasil menemukan 38 naskah yang tersebar di berbagai daerah di pulau Dewata ini. Lebih dari itu. terutama dari beberapa unsur yang terdapat pada pola hiasannya. yakni ditulis pada Kamis. 1. Kesimpulan a. Pemiliknya tidak mengetahui secara pasti asal usul mushaf ini kecuali bahwa ia mendapatkannya dari orang tuanya dan konon telah dimilikinya secara turun temurun. Namun demikian. dan bahkan tidak utuh lagi. mushaf ini menambah koleksi dan informasi mushaf tertua di Nusantara. Vol. misalnya tentang nama tokoh al-Haj Muhammad Amin al-Din Palimbangi dan Muhammad Sa’id bin Muhammad Ali Kusamba. Penutup 1. serta iluminasi mushaf yang memperlihatkan empat tipe Aceh.90 diberi hiasan berbentuk arabesq yang dipadukan dengan pola dedaunan (Gambar 14. 21 Muharram 1035 H/1625 M (Gambar 15). 2005: vii-viii). 2009: 53 . Pantai Timur Malaya. b. keberadaan mushaf ini di sebuah tempat yang disebut Kampung Jawa. 1) Kondisi naskah keagamaan Islam di Bali pada umumnya sangat memprihatinkan. Walaupun jumlahnya tidak begitu signifikan dibandingkan dengan naskah non keislaman yang biasanya ditulis di atas lontar. Setidaknya mushaf ini menjadi mushaf tertua ketiga setelah Mushaf kode MS 12716 di University of London yang ditulis Jumadil Awwal 993/1585 dan mushaf dari Ternate yang ditulis pada 7 Zulqa’dah 1005 H/1597 M (Bafadal dan Anwar. Sulawesi. Dari 38 naskah tersebut. keberadaan 35 naskah keislaman itu dapat menunjukkan mata rantai Islamisasi di Indonesia dan jaringan keilmuan dan keulamaan Islam Nusantara.Jurnal Lektur Keagamaan. atau tempat. tidak terawat dan kurang mendapat perhatian. No.

Bugis. dan lontar. Keberadaan naskah keagamaan Islam di Bali yang tersebar di berbagai kabupaten memungkinkan masih ada naskahnaskah lain yang belum tersentuh sehingga penelusuran lebih lanjut perlu segera dilakukan. wirid.Lebih dari itu. tasawuf.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . dan untuk itu perlu pembuktian melalui penelitian secara lebih mendalam. Melayu (Jawi). 4) Isi naskah antara lain mencakup fikih. dan Bali. dan obat-obatan. kertas bergaris modern. Kondisi naskah keagamaan Islam di Bali yang memprihatikan perlu mendapatkan perhatian serius dan perlu segera dilakukan upaya konservasi lebih lanjut. setidaknya untuk melihat bagaimana hubungan Islam-Hindu di Bali. 2. Dari aspek kodikologi. dan yang tertua tahun 1035 H/1625 M. tauhid. antara lain dengan penelusuran naskah dan digitalisasi. dan bagaimana posisi Bali dalam proses Islamisasi maupun dalam jaringan transmisi keilmuan dalam Dunia Islam. Analisis terhadap isi teks dan penjelasannya secara kontekstual perlu diteliti lebih lanjut.. yaitu dluang. b. bahasa (nahwu-saraf). c. — Asep Saefullah dan Adib M. kertas Eropa. c) Waktu penyalinan antara abad ke-17–19 M.. b) Bahasa dan aksara yang digunakan meliputi Arab. dan geguritan (cerita). doa. Islam 2. khususnya Islam-Hindu di Bali terjalin dengan baik. dapat dicatat beberapa hal: a) bahan yang digunakan beragam. Al-Qur’an. Rekomendasi a. adanya naskah lontar yang mengandung unsur keislaman membuktikan bahwa hubungan antarumat beragama. Wa All±h a‘lam…[] 79 .

Penyalinan Naskah Melayu di Jakarta pada Abad XIX: Naskah Algemeene Secretarie Kajian dari Segi Kodikologi. Edward. Naskah Klasik Keagamaan Nusantara 1. London: Al-Furqan Islamic Heritage Foundation. 2005.90 Daftar Pustaka Agastia. 2009: 53 . Islamic Codicology. No. “Penyalinan Naskah Melayu di Palembang”. Annabel Teh. Jurnal Lektur Keagamaan. 1996. The Lontar Foundation. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Francois. Hilversum: The Paper Publications Society. Jakarta. 1. 2005.. Asep (Eds. Bafadal. 80 . 1999. 1997. Bali. 2004. 1-10. New York dan Tokyo. Depok: Fakultas Sastra UI. h. V. Vol. An Introduction to the Study of Manuscripts in Arabic Script. Annabel Teh. Adelaide: Art Gallery of South Australia. diterjemahkan ke Bahasa Arab oleh Ayman Fuad Sayyid. Jurnal Lektur Keagamaan. tanpa tahun. Rosehan. 2005. Crescent Moon: Islamic Art & Civilisation in Southeast Asia. The Writing Traditions of Indonesia. Kodikologi Melayu di Indonesia. Chambert-Loir. 2003. Fadhal AR. 2. Gallop. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. 2006. Edisi bahasa Arab diteritkan tahun 2005 oleh penerbit yang sama dengan judul al-Madkhal ila ‘Ilm al-Kitab al-Makhtut bi al-Harf al‘Arabi. 1. dan Saefullah. 1986. Melestarikan. “Seni Mushaf di Asia Tenggara”. “Islamic Manuscript art of Southeast Asia”. Khazanah Naskah: Panduan Koleksi Naskah-Naskah Indonesia Sedunia. Oman. No. Lisan dan Sejarah di FIB UI . Tatakrama. dan Memanfaatkan Khazanah Naskah Islam: Sebuah Refleksi”. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. Depok: Fakultas Sastra UI. Depok. dan Seni Pertunjukan Jawa. Mulyadi. Vol. makalah dalam Seminar Tradisi Naskah. 156-183. Cet. Oman. 1. 1994. dan Sunda. Ada Bagus Gede. Watermarks: Mainly of the 17th and 18th Centuries.). Vol. Mushaf-Mushaf Kuno di Indonesia. Jakarta: Ecole francaise d’Extreme-Orient-Yayasan Obor Indonesia Deroche. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. Keadaan dan Perkembangan Bahasa. Etika. Rukmi. Sastra. Gallop. Sri Wulan Rujiati. 121143. 2. No. Heawood. John H. Weatherhill Inc. Ann dan McGlynn. Fathurahman. Fadhal AR. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. 2005. Illuminations. Bafadal. Henri & Fathurahman. Rukmi. Kumar. 7. Maria Indra. dan Anwar. dalam James Bennett (Ed. “Jenis-jenis ‘Naskah Bali’” dalam Soedarsono (Ed). Maria Indra. “Pentingnya Memelihara. h.Jurnal Lektur Keagamaan. h.).

Kanwil Dep. Penamas. 7. Agama Prov. 8. Pengurus Harian Masjid Agung Jami’ Singaraja H. Agama Prov. Ketua MUI Singaraja H. Gunawan. 11. Kanwil Dep. H.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . — Asep Saefullah dan Adib M. h. Syafruddin. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. Musta’in. Agama Prov. Wawancara pada 2 Nopember 2008 di Loloan Timur. H. 9. penduduk Singaraja yang bekerja di Denpasar. Seni Kaligrafi Islam. E. Agama Prov. Vol. 4. H. Bedugul. Jakarta: Multi Kreasi Singgasana. 39-62. Sekretaris MUI Sngaraja (No. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. Kabid. No. Ketua Dewan Penasehat MUI Singaraja. Drs. 2 Nopember 2008. Abdullah. 29 Oktober 2008. Yunardi. para ustadz di Pesantren AlHidayah. Badri. 5. Kanwil Dep. 1992. H. 1-18. Agama Prov. H. M. 13. “Ragam Hiasan Mushaf Kuno Koleksi Bayt al-Qur’an dan Museum Istiqlal Jakarta”. 1. Ketut Ariawan. Islam Saefullah. Pendidikan Islam dan Pemberdayaan Masjid. Bali Drs. Wawancara. Wawancara. dan Agus. 1-5) Wawancara di ruang kerja masing-masing pada 28 Oktober 2008. 6.. Hasyim Zaki. 3. Hadiman. Kanwil Dep. Kabid Bimas Islam & P. SH. Kanwil Dep. Abdurrahman Said. Bali (No. Bali Drs. Haji. 5. secara terpisah pada 29-30 Desember 2008 di Masjid Agung Singaraja maupun di kantor MUI Singaraja. Husen Abdul Jabbar. yang dituakan di Kampung Islam Buitan. 12. 81 . Karang Asem. 14. Ghufron.. 2007. Bali Drs. H. Asep. Soleh. dalam Jurnal Lektur Keagamaan. 2. 30 Oktober 2008. Bali Drs. Ida Bagus Nyana. “Beberapa Mushaf Kuno dari Provinsi Bali”. Abdurrahman Alawi. 2007. Kasi. 10. Informan: 1. 1. Wawancara. Staf Urusan Agama Hindu. No. Lurah Kampung Bugis dan juga Ketua Ta’mir Masjid Agung Singaraja. 5. Hasan. Sirojuddin AR. h. Kasubag Umum. H. Jurnal Lektur Kegamaan. Hidayat. Vol. H. Muchlis Sanusi. 7-11) Wawancara.

Kalimat pertama teks ini berbunyi: Sebagai lagi (obat) supaya bincar(?) buang air seni ambil limau nipis tiga biji ditaruh gula batu maka embunkan pagi2 minum insya Allah ‘afiyah berturut-turut tiga pagi.90 Lampiran: 1. 860. Vol. Aks. Akan tetapi cap kertas hanya terlihat sebagian. kertas dengan cap kertas nomor tersebut tidak bertanggal. Denpasar Fk/Bali MA 01 98 hlm. Tinta yang digunakan berwarna hitam. 1. sementara rubrikasi berwarna merah. Jarak antarbaris di setiap halaman 7 mm. Arab dan Melayu 19 baris/hlm. tampaknya cap kertas ini mirip dengan contoh no. 2009: 53 . yang terdiri atas: 1. Menurut Heawood (1986: 84). namun dimungkinkan diproduksi pada masa modern. Arab dan Jawi 24x16 cm Prosa Kertas Eropa Naskah ini merupakan kumpulan teks yang terdiri atas beberapa bidang kajian. Wirid dan Doa Bhs. Kitab Nikah. Tamma wa sallallahu ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa sahbihi wa sallam. sementara ukuran teksnya adalah 19 X 11 cm. yakni pembahasan tentang tuduhan suami bahwa istrinya berzina. Adapun bunyi kalimat pertama (1r) adalah sebagai berikut: Terpelihara dirinya daripada had ta-waw-kaf-sin karena jikalau ia tia(da) mau bersumpah maka dipukul ia delapan puluh kali demikian lagi disuruh bersumpah istrinya di atas mimbar lima kali supaya terpelihara ia daripada had zina maka apabila sudah bersumpah keduanya jatuhlah talaknya itu talak bain kubra … Alas naskah yang digunakan adalah kertas Eropa. yang termasuk kelompok Crescent. Sebagaimana disebutkan.Jurnal Lektur Keagamaan. Teks ditulis dengan menggunakan bahasa Melayu dan aksara Jawi dengan menggunakan garis panduan yang ditekan. Tebal naskah 98 halaman (49 lembar) dengan jumlah baris 19 per halaman. 82 . No. Contoh Deskripsi Naskah Milik Musthafa al-Amin. Setelah dicocokkan dengan daftar cap kertas yang disusun oleh Heawood (1986). Halaman 1r-33v: Teks kitab nikah. Obat-obatan. 2. Naskah berukuran 24 X 16 cm. dalam kolofon teks ini disebutkan “Kitab Nikah”. Halaman 33v-41v: Teks obat-obatan. naskah ini merupakan kumpulan teks. Naskah sudah tidak bersampul dan bagian awal teks yang berisi Kitab Nikah sudah tidak lengkap. tetapi tidak disebutkan judulnya. Bunyi kolofon tersebut sebagai berikut: Haza [al-]Kitab al-Nikah [ter] Hijrah al-Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam seribu dua ratus delapan puluh tujuh (1287) pada tahun Ba alif(?) pada malam ahad waktu jim(?) pada pukul delapan pada delapan hari bulan Rabi’ al-Awwal pada ketika itulah hamba Pa Abdul A’raf sudah selesai menyuruh ini kitab di dalam negeri Badung Bali Badung adanya Kampung Kepaon 1287. Sepertinya bagian awal teks dimulai dari “Had al-Qa©af”. 7.

5 cm. naskah ini berjudul Pepalihan Gama Selam Bali. 2. Amin 1288 H di Ampenan Syahr [al-]Shafar. Tulisan tampak rapi dan jelas. Bali 4 baris/lempir Aks. Halaman 47v-48v: Teks Li °³bat Aqli al-Ins±n. Halaman 41v-47r: Teks berisi berbagai macam masalah. Tinta yang digunakan berwarna hitam.5 X 3. Naskah berukuran 40. pias kiri berukuran 3 cm.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . penanggalan. 4. Pemilik naskah: Yayasan An-Nur. Ukuran kotak tempat menyimpan naskah ini adalah 46 X 8. Naskah di tempatkan dalam kotak yang terbuat dari kayu jati berwarna coklat. antara lain kitab waris. 3. 5 cm. dan teks khutbah nikah. Tebal naskah 9 lempir dengan jumlah baris 4 per lempir. Denpasar. Islam Kalimat terakhir berbunyi: Telah mengambil ijazah faqir a-haqir ila Allah Ta’ala Haji Hasan ibn al-Marhum al-Haj Muhammad Amin al-Din Palembangi akan mengamalkan laqad ja’akum serta doa yang kemudian kepada Syaikhuna wa ustazuna wa wasilatuna ila Allah Ta’ala al-Arif bi Allah sayyidi al-Syaikh Muhammad Azhari ibn al-Mukarram al-Marhum Kemas Muhammad Haji Abdullah Palimbangi Nafa’ana Allah bi barakatihi wa barakat ‘ulumihi.5 cm Puisi Lontar Berdasarkan informasi di luar teks. Jarak antarbaris tiap lempir adalah 0. Pemilik Naskah: H. Denpasar 83 . Kondisi lontar masih baik.. Teks ditulis di atas lontar dengan menggunakan bahasa dan aksara Bali. Teks dibagi dalam dua kolom. — Asep Saefullah dan Adib M. Kampung Bugis.5 x 3. Di bawah setiap baris teks terdapat garis panduan tipis berwarna hitam. Bali.. Bali 40. sedangkan ukuran teksnya adalah 34 X 2.5 cm. Denpasar Gg/Bali YN 02 9 lempir Pepalihan Gama Selam Bali Bhs. Teks ini berisi cerita proses islamisasi di Bali. Kepaon.5 cm. Contoh Deskripsi Naskah Lontar Milik Yayasan An-Nur. Pias kanan berukuran 3 cm. Musthofa Amin. wirid dan doa.

17v. 11r. Ilustrasi Gambar 05: MS MA 03. Kepaon. h. Musthafa Amin. Denpasar 84 . Suharto Gambar 03: Khat Riq’ah pada MS MA 06.90 Lampiran II: Gambar-Gambar A. h. Musthafa Amin. koleksi H. naskah koleksi H. Musthafa Amin. Beberapa Jenis Kaligrafi Gambar 01: Khat Naskhi pada Mushaf kuno dari Kampung Jawa. Vol. Denpasar Gambar 04: Khat Farisi MS MA 01. naskah koleksi H. 1.Jurnal Lektur Keagamaan. milik H. Singaraja Gambar 02: Khat Naskhi pada naskah tauhid dari Pegayaman Singaraja. milik Drs. Denpasar B. No. 7. Musthafa Amin. Kepaon. Kepaon. 2009: 53 . Kepaon. Denpasar Gambar 06: MS MA 04.

. — Asep Saefullah dan Adib M. Gambar 08: MS MA 03. 56. Iluminasi halaman awal pada Mushaf Kuno koleksi Masjid Jami’ Agung Singaraja 85 . Denpasar C. Baharuddin. Serangan. Kp. Islam Gambar 07: MS Serangan 01. Denpasar.. Iluminasi pada Mushaf Gambar 09: MS MAJS/NQ/01. h. milik H. 12v-13r. Musthafa Amin. Kepaon. h.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah . naskah milik H.

h 46 dan 87.. Illuminations. No.Jurnal Lektur Keagamaan. dalam Ann Kumar dan John H. 2009: 53 . McGlynn. 1.90 Gambar 10: MS MAJS/NQ/01. 86 . Iluminasi halaman tengah pada Mushaf Kuno koleksi Masjid Jami’ Agung Singaraja Gambar 10a: Tipe Iluminasi mushaf halaman tengah dari Aceh. koleksi Perpustakaan Nasional Jakarta. 7. 1996. Vol.

h. 1996. milik I Wayan Ma’ruf. — Asep Saefullah dan Adib M. sepertinya Tafsir Jalalain. Koleksi Perpustakaan Nasional Jakarta. Islam Gambar 11: Iluminasi bagian akhir pada mushaf kuno dari Pegayaman. Tampak tidak utuh lagi kerena dimakan serangga. Illuminations. pada di halaman kiri terdapat surah Al-Fatihah.. 59 87 . dalam Ann Kumar dan John H. milik I Wayan Ma’ruf.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah .. Gambar 12: Iluminasi bagian awal pada mushaf kuno dari Pegayaman. McGlynn. Gambar 12a: Tipe Iluminasi halaman tengah tipe Sulawesi juga terdapat pada Tafsir AlQur’an.

Jawa Barat. No. Bandung. 1. tetapi Al-Qur’an ini berasal dari Cirebon. Vol. Kepaon. dalam Ann Kumar dan John H. h. Iluminasi ini terdapat pada again awal surah alFatihah dan awal al-Baqarah. 7. Illuminations. Gambar 13a: Tipe Iluminasi mushaf seperti ini umum ditemukan di Pantai Timur Semenanjung Malaya.Jurnal Lektur Keagamaan. Al-Qur’an kuno koleksi Museum Sri Baduga. 114 88 . Denpasar. 2009: 53 . McGlynn.90 Gambar 13: Iluminasi bagian tengah pada mushaf kuno dari Masjid Al-Muhajirin. 1996.

35 89 . milik H. Islam Gambar 14: Iluminasi bagian awal pada mushaf kuno dari Kp. dalam Ann Kumar dan John H. — Asep Saefullah dan Adib M. Kraton Yogyakarta. Illuminations. Jawa Singaraja. 1996. koleksi Widya Budaya. h. Zen Usman. Mushaf disalin di Surakarta pada 1797-1798 M oleh Ki Atmaparwita. McGlynn.Beberapa Aspek Kodikologi Naskah ... Gambar 14a: Tipe Iluminasi mushaf halaman tengah dari Jawa.

21 Muharram 1035 H/1625 M oleh Abd al-Shufi al-Din 90 . Vol. 7.90 Gambar 15: Kolofon pada mushaf kuno dari Kampung Jawa. pada Kamis. Ditulis di atas dluang. 2009: 53 . milik H.Jurnal Lektur Keagamaan. Zen Usman. No. 1. Singaraja.

. The manuscripts are culturally important that is related to the daily religious needs of the disciples of the order of Syattariyah in Minangkabau. or to listen to the stories about the ulama. Padang Pramono dan Bahren This article focus on discussing efforts to intreprate local Islam manuscripts of Minangkabau. 91 . his story can not be written in Latin texts. By means of social context analyses of the texts. dibandingkan suku bangsa-suku bangsa yang lain di Indonesia. Keunikan tersebut tampak pada penyatuan antara adat dan agama Islam.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua.. Because the guru is considered holy man. Tarekat Syattariyah. Kata Kunci: Surau. topik mengenai hubungan sosial-kultural dan Islam di Minangkabau tetap menarik untuk didiskusikan. This is related to the beliefs that to know about the guru. Etnis ini memiliki karakteristik yang unik. The ideological perspective is influenced by the surau teaching system based on the doctrines and books of the teachers. to posses the book. dalam hal hubungannya antara sosio-kultural dan Islam. Oleh karena itu. the guru of the order of Syattariyah are essential. otherwise it will be considered blasphemy or haram. particularly the order of Syattariyah in Minangkabau. Minangkabau Pendahuluan Minangkabau merupakan suku bangsa di Indonesia yang mendiami sebagian besar wilayah Provinsi Sumatera Barat. — Pramono dan Bahren Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua dalam Naskah-Naskah Tarekat Syattariyah di Minangkabau Fakultas Sastra Universitas Andalas. Manuskrip. it is found that one way to reflect the disciples’ respect for the guru(-s) has been done through writing the biography of the respective teachers and understanding their teaching.

Keempat. Oleh karena itu. mereka adalah penganut aliran Ahlu Sunah wal Jama’ah. Akan tetapi. Kaum Tua di Minangkabau memiliki empat kriteria atau hakikat. Tuhan telah menganugerahkan akal kepada setiap manusia untuk dapat berijtihad setiap saat (Fathurahman. Kedua. 1988: 135). bukan masalah perbedaan itu yang akan diulas dalam tulisan ini. Akan tetapi. Pertama. Ketiga. adat kebiasaan yang telah melekat dalam berbagai macam amalan keagamaan (Latief.Jurnal Lektur Keagamaan.108 Dalam konteks hubungannya dengan Islam. termasuk para ulama mazhab sekali pun. Perbedaan-perbedaan dalam berbagai amalan dan perilaku keagamaan di antara kedua kelompok itu hingga sekarang masih tetap ada. sekarang ini kedua istilah tersebut mungkin sudah terasa asing dalam pendengaran kita. menurut penilaian mereka). yaitu Kaum Tua dan Kaum Muda. Pem92 . kedua sumber itulah yang boleh dijadikan pedoman umat Islam dalam menjalankan praktikpraktik keagamaannya. dalam bidang aqidah. Paham keagamaan tersebut berbeda dengan paham keagamaan yang diyakini oleh kalangan Kaum Muda. Dalam praktik pengamalan ajaran Islam. Organisasi-organisasi serta lembaga-lembaga pendidikan agama yang didirikan oleh masing-masingnya pun masih ada. 7. yang luput dari kekeliruan. mereka ingin tetap mempertahankan tradisi. di Minangkabau timbul dua macam aliran keagamaan. mereka membenarkan dan merasa berkewajiban untuk mempertahankan aliran-aliran tarekat yang mu’tabarah (sah dan boleh diamalkan. Golongan ini juga berpendapat bahwa tidak ada ulama. Apalagi. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan pendapat antara kedua golongan itu masih tetap hidup dan berpengaruh dalam masyarakat Minangkabau. No. 2009: 91 . Vol. diketahui bahwa pada awal abad ke-19 hingga awal abad ke-20. dan oleh karenanya pandangan keagamaannya tidak dapat diikuti secara mutlak. dalam bidang syari’ah. 2003: 99). Sedang istilah yang banyak dipakai sekarang ini adalah “Kaum Tradisional” untuk Kaum Tua dan “Kaum Modernis” untuk Kaum Muda. Persoalan lain yang menarik dan kurang mendapat perhatian adalah persoalan pola kepemimpinan Kaum Tua. 1. Para ulama golongan ini memiliki pandangan bahwa hanya Alquran dan hadits Nabi yang sahihlah yang benar. mereka menganut mazhab Imam Syafi’i semata-mata.

1988: 210) antara lain menyebutkan dalam laporannya pada tahun 1916 bahwa. Dengan demikian. Peranan Ulama Pemimpin Kaum Tua Bagi masyarakat Minangkabau. tetapi juga penyelamat untuk kehidupan di akhirat. Persesuaian Islam dengan adat tersebut awalnya terjadi secara bertahap. adat menurun’. Jika ada orang Minang yang tidak memeluk. Salah seorang di antaranya adalah Ph. Van Ronkel. Dalam kosa-kata Minang. Ulama bagi mereka tidak hanya penerang masa hidup di dunia. dari waktu ke waktu.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. Pada masa penjajahan. syarak dibawa naik’. 1984: 138). “menjadi orang Minang berarti menjadi Muslim”. syarak dibao naik ‘adat dibawa turun. maka secara sosial mereka dapat dikucilkan. Dalam perjalanan sejarahnya. khususnya ulama pemimpin Kaum Tua tidak hanya memiliki peran keagamaan saja. Ronkel (dalam Latief. S. ketika Islam mulai masuk dari wilayah pesisir (rantau) ke daerah pedalaman (darek). ulama pemimpin Kaum Tua di Minangkabau juga berperan di bidang sosial-budaya dan politik. masyarakat Minang berusaha menyesuaikan adat dan tradisi kemasyarakatannya dengan Islam. agama Islam misalnya. melainkan terletak pada kepatuhan yang mutlak dari para anggotanya kepada pada syekh yang memang menuntut kepatuhan itu sebagai 93 . masuknya Islam dari wilayah rantau ke darek ini digambarkan dalam pepatah: syarak mandaki. sosok ulama Minangkabau. adaik manurun ‘syarak mendaki.. — Pramono dan Bahren bicaraan akan difokuskan pada peran pemimpin Kaum Tua dan bentuk penghormatan terhadap mereka. pemerintah Belanda mengerahkan beberapa orang sarjananya untuk mengadakan penelitian tentang tarekat yang ada di Sumatera Barat. atau keluar dari. Besarnya peran ulama pemimpin Kaum Tua di Minangkabau sempat mendapat perhatian khusus oleh pemerintah Belanda pada masa penjajahan. Upaya penyesuaian berbagai nilai Islam dengan adat di kalangan masyarakat Minangkabau ini tampaknya telah dimulai sejak orang Minang menerima Islam sebagai agamanya (Hamka. Kondisi seperti itu mempengaruhi masyarakat Minangkabau tentang persepsinya terhadap sosok ulama. Akan tetapi. bahaya dari aliran-aliran tarekat bukanlah terletak pada unsur fanatismenya. adaik dibao turun. atau seperti yang ditulis Yusuf (2004: 4)..

menjadi lawan bagi setiap aliran lainnya. dengan mendekati. menyebabkan mereka cenderung menghindari konfrontasi dengan Belanda (Suryadi. Dengan adanya ancaman tersebut. Kedua. kemudian pemerintah Belanda membuat strategi khusus untuk mengantisipasi potensi perlawanan dari kaum tarekat di Sumatera Barat. di mana banyak pengikut tarekat Syattariyah di Ulakan Pariaman terpengaruh oleh gerakan pembaharu Islam di Sumatera Barat.Jurnal Lektur Keagamaan. No. Khusus mengenai kaum Syattariyah. 7. dengan harapan agar mereka lebih memusatkan perhatian pada aktivitas kesufian. Dengan demikian. setidaknya ada dua strategi yang dibuat oleh pemerintah Belanda. 2004: 117 dan 92). 2004: 117). Vol. lalu diusir dari daerah ini atau dibunuh dengan berbagai cara yang licik (Latief. Hal ini dapat dicermati pada paroh pertama abad ke-19. menjauhi urusan dunia. Pertama. Boleh jadi karena sifat tarekat Syattariyah (di Ulakan) yang suka pada harmoni. Dalam konteks ini. Untuk kasus pusat tarekat Syattariyah di Ulakan Pariman. Belanda menempatkan seorang posthouder di Ulakan sejak tahun 1844 (Suryadi. Dalam hal ini pemerintah Belanda menempatkan seorang pengawas kelas tiga yang punya latar belakang ilmu budaya. suka mengejar-ngejar kekuasaan. 1988: 213-214). tidak jarang merupakan sesuatu yang amat berbahaya bagi pemerintahan Belanda. 1. Sedang tokoh-tokoh tarekat yang dianggap berbahaya dan tidak mempan dibujuk. membujuk dan memuji-muji para guru tarekat.108 haknya. 2009: 91 . mengadakan pengawasan yang ketat terhadap segala aktivitas yang dilakukan oleh kaum tarekat (Syattariyah). dapat mengganggu kelancaran pemerintahan Belanda nantinya. semangat jihad mereka yang sering menggangu kolonial akan dapat diredam. Apabila terdapat kejadian-kejadian tertentu yang mereka cetuskan. ia menyebutkan bahwa para pemimpin tarekat Syattariyah itu biasanya adalah orangorang yang tangguh pengetahuannya. Apalagi dalam kenyataanya Ulakan sebagai salah satu pusat tarekat Syattariyah tidak pernah benar-benar menunjukkan penentangannya atau setidaknya bersikap tegas terhadap Belanda yang dianggap kafir. agaknya strategi Belanda ini berhasil. 94 . Dengan demikian. Golongan penganut tarekat Syattariyah yang terpengaruh oleh ide-ide pembaharuan itu karena tidak puas dengan ulama Ulakan yang dinilai tidak memiliki komitmen untuk memerangi Belanda.

bahkan mungkin puluhan atau ratusan tahun (Ratna. Gambaran perlawanan ulama tarekat Syattariyah tersebut dapat ditemui dalam naskah Sejarah Surau Baru dan naskah Sejarah Syekh Paseban karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib. Secara mentalitas berbekas hingga hari ini. Perang terjadi atas komando dan dorongan Syekh Surau Baru. dkk. diceritakan tentang pemberontakan rakyat Koto Tangah dan Pauh. Kisah ini dapat ditemukan dalam kutipan teks berikut ini. Dalam masa tawanan itulah Syekh Surau Baru wafat dan tidak ada lagi yang melawan Belanda hingga ratusan tahun kemudian. — Pramono dan Bahren Dalam konteks itu. akibat-akibat yang dimaksud tidak berhenti secara serta merta setelah kolonialisme berakhir. Padang Pariaman dengan cara memberikan penghargaan dan banyak pujian telah membuat mereka bersikap kompromi dengan Belanda.. Padang.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. Peperangan itu menyebabkan Syekh Surau Baru ditawan Belanda. maka Pakih Mudo mengomando rakyat Koto Tangah dan Pauh dalam peperangan itu. 2006: 74).. perspektif postkolonial mencoba mengungkap akibat-akibat negatif yang ditimbulkan oleh kolonialisme. Pakih Mudo adalah murid Syekh Surau Baru yang diutus untuk mengislamkan rakyat Pauh. Akibatakibat yang ditimbulkan lebih bersifat sebagai degradasi mentalitas dibandingkan dengan kerusakan material. Kondisi di atas sangat berbeda dengan ulama-ulama tarekat Syattariyah di Koto Tangah. Padang berperang dengan Belanda yang dibantu oleh orang Kota Padang. Di wilayah ini Belanda mendapat perlawanan yang tajam dari mereka. Penawanan itu dilaksanakan dengan alasan bahwa Pakih Mudo adalah murid Syekh Surau Baru. Dalam naskah Sejarah Syekh Surau Baru misalnya.. Ketika rakyat Koto Tangah dan Pauh. 95 . Padang kepada Belanda di bawah pimpinan Pakih Mudo. Hal ini akan diterangkan lebih jauh di bagian selanjutnya. melainkan berlangsung sampai sekarang. yakni perlawanan ke Belanda yang dinamakan Perang Paderi yang dipimpin oleh Imam Bonjol. misalnya kekuatan Golkar yang telah mampu mendekati para ulama itu untuk berafiliasi ke dalam partai tersebut. menarik jika dilihat dengan perspektif postkolonial. Oleh karena itulah. Di mana. Politik Belanda terhadap ulama tarekat Syattariyah di Ulakan. Lubuk Begalung dan sekitarnya.

Padang. Syekh Paseban selalu mengadakan ziarah ke makam Syekh Surau Baru di Batusingka.: 51-52). 2001: 29. Perlawanan Syekh Paseban. penulisnya kembali menegaskan tentang kepahlawanan Syekh Surau Baru. ia ditangkap dan dipenjarakan oleh Belanda. Selain Syekh Surau Baru.Jurnal Lektur Keagamaan. Vol. Syekh Surau Baru yang mula-mula melawan penjajah Belanda yang akan menginjakkan telapak kakinya di Pantai Minangkabau pada tahun 1658 Masehi (1076 Hijrat) yang bermaksud menjajah Minangkabau. Air Dingin.. Ziarah tersebut ia lakukan karena. (ketiga) Jasa beliau Syekh Surau Ba96 . Penghargaan tersebut berupa bintang jasa yang oleh Belanda dikatakan bahwa Syekh Paseban berhak menerima karena ia adalah ulama besar yang telah banyak berjasa bagi kaumnya. t. Koto Tangah. Padang yaitu. Selain itu. Syekh Surau Baru inilah yang mengislamkan Negeri Kota Tengah. pernah suatu kali Belanda dengan taktiknya akan memberikan penghargaan kepada Syekh Paseban. Beliau sama pergi menuntut ilmu dengan Syekh Burhanuddin ke Aceh kepada Syekh Abdurrauf (Syekh Kuala). 2009: 91 . Padang. Maka amanlah Belanda di Padang sampai 170 tahun kemudian barulah ada kembali perlawanan terhadap Belanda yang (di)kepalai oleh Tuanku Imam Bonjol yang dinamai Perang Paderi mulai tahun 1803 berakhir tahun 1837 (al-Khatib. terjadi berkali-kali peperangan di Pauh dan Koto Tangah antara rakyat dengan tentara Belanda yang dibantu oleh laskar Padang yang telah takluk di bawah kekuasaan kompeni Belanda.t. 34).. No. pada waktu itu adalah dengan tidak bersedia membayar pajak kepada pemerintahan Belanda di Kota Padang. 1. “kata Syekh Paseban (al-Khatib. tidak Belanda. Pauh. Dalam konteks perlawanan tersebut. Juga beliaulah. Kota Tengah. perlawanan terhadap Belanda juga dilakukan oleh ulama tarekat Syattariyah di Koto Tangah. Lubuk Bagalung (Negeri yang dua puluh) dan Negri Padang.108 Beginilah riwayat ringkas perjalanan hidup beliau Tuan Syekh Surau Baru yang telah mengislamkan Koto Tangah. Syekh Paseban. Akan tetapi. penghargaan itu ditolak oleh Syekh Paseban. dalam naskah Sejarah Ringkas Syekh Paseben Asyattari Rahimahullah Taala Anhu. Pauh. (kedua) adalah di suatu makam Syekh Muhammad Natsir (Syekh Surau Baru). Dalam salah satu bagian teks disebutkan bahwa. “Yang akan memberi saya bintang adalah Tuhan. Setelah Syekh Surau Baru wafat ditawan kompeni Belanda barulah habis perlawanan rakyat terhadap kompeni Belanda. Syekh Surau Baru ini adalah orang Kota Panjang. Oleh karena perbuatannya tersebut. 7. Beliaulah. dan sekitarnya.

ulama tarekat Syattariyah di Koto Tangah. Padang adalah benar-benar berjiwa pahlawan. pengikutnya harus menghormatinya. Hal ini juga sekaligus mempertegas bahwa ulama tarekat Syattariyah di Koto Tangah. Oleh karenanya. menjelang Pemilihan Umum pertama 1955. Itu perbedaan perjuangan Syekh Surau Baru dengan Syekh Paseban. Dalam naskah otobiografi Sejarah Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib disebutkan bahwa.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. Kondisi seperti itu juga ikut mempengaruhi pandangan ideologis tarekat Syattariyah di Koto Tangah. maka banyaklah lahir parta-partai di negeri ini. Padang selain orang alim juga anti penjajah. Perti mengikuti aliran Ahlul Sunnah wal Jamaah dalam itikad dan mazhab Syafi’i dalam syariat dan ibadat. Setelah adanya maklumat ini. Syekh Muhammad Abbas al-Kadi Bukittinggi. Agaknya penulis naskah ingin mempertegas bahwa Syekh Surau Baru. 2002: 899). Pada awalnya. agar beroleh berkah. Bukittinggi. Hal ini dikarenakan ulama-ulama yang berwiba97 . penduduk Koto Tangah sudah tujuh puluh lima persen masuk ke dalam Partai Islam Perti. M. Hal ini untuk menolak tudingan Belanda bahwa Indonesia bukanlah negera yang sah. 170 tahun (seratus tujuh puluh tahun) sebelum Tuanku Imam Bonjol. Hatta. memaklumatkan agar menumbuhkan berbagai organisasi dan partai. Syekh Surau Baru melawan Belanda waktu Belanda akan menjejakkan kakinya di Pantai Padang sedangkan Tuanku Imam Bonjol mengusir Belanda yang telah menduduki Minangkabau. Wakil Presiden Republik Indonesia. 2002: 899).. Sejak 22 Nopember organisasi sosial ini berubah menjadi partai politik dengan nama Partai Politik Islam Perti (Nasution. Setelah Indonesia merdeka. Syekh Muhammad Jamil Jaho Padangpanjang dan Syekh Abdul Wahid Tabekgadang. Beliau Syekh Surau Baru dapat ditawan Belanda dimasukkannya ke dalam rajam dan wafat di situ dan Tuanku Imam Bonjol ditawan Belanda dibuangnya ke Manado dan wafat di situ (al-Khatib. beliaulah yang mulanya melawan Belanda di Minangkabau ini. Padang. Salah satu organisasi sosial yang berikutnya menjadi sebuah partai di Sumatera Barat adalah Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti). termasuk juga di Sumatera Barat (Nasution. Pendirinya adalah para ulama yang terdiri dari Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung.. 2001: 39). Perti adalah organisasi sosial yang didirikan pada tanggal 5 Mei 1930 di Candung. — Pramono dan Bahren ru.

maka jatuhlah pilihan saya kepada Perti. padahal ia bukanlah pengurus atau pejabat dalam tubuh Partai Islam Perti itu.108 wa—termasuk Imam Maulana Abdul manaf Amin al-Khatib—tarekat Syattariyah di Koto Tangah telah masuk ke dalam partai itu (alKhatib. Padang tidak salah.Jurnal Lektur Keagamaan. 1. Angku Talaok bergabung dengan Partai 98 . 2009: 91 . Menarik dikemukakan bahwa. Pada waktu itu pemerintah melalui Wakil Presiden Muhammad Hatta menganjurkan bahwa setiap warga masyarakat untuk masuk ke dalam salah satu partai. Hal ini ia lakukan tidak lain karena menginginkan pilihan penduduk Koto Tangah. Dalam konteks kepartaian tersebut. Tidak hanya itu. Poster-poster dan simbol-simbol partai ia buat sendiri dan dengan biaya sendiri. No. ia juga menempelkan poster-poster itu di berbagai tempat di Koto Tangah. orang yang tanpa ikatan sebuah sistem aturan (pemerintah)’ namanya. Hal ini memang terlihat agak berlebihan. 7. Padang yang dilakukannya sendiri. Hal itu dimungkinkan karena Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib benar-benar terhimbau oleh anjuran pemerintah pada waktu itu. dan Partai Islam Perti. 2002: 47).setelah saya selidiki beberapa partai Islam seperti Masyumi. dan pemerintah tidak menjamin keamanan orang seperti itu. Dalam hal ini ia mengatakan bahwa: “. Sebab partai ini berdasarkan mazhab Syafi’i dan beritikad ahlu sunah waljamaah” (al-Khatib.. dengan banyak pertimbangan dan dari hasil pengamatan Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib. Vol. Jika tidak masuk ke dalam salah satu partai. Partai Islam Perti-lah yang sesuai dengan paham tarekat Syattariyah. 2002: 6). Padang. Oleh karena itu. pada waktu menjelang Pemilihan Umum pertama 1955. Di satu sisi. maka orang tualang ‘orang lepas. Nah«atul Ulama. Menurut penuturannya.. Partai Sarikat Islam. yakni partai Islam yang sesuai dengan paham tarekat Syattariyah. ia giat mengampanyekan Partai Islam Perti. menjelang Pemilihan Umum pertama tahun 1955—saat di mana masing-masing partai gencar berkampanye mencari dukungan—terjadi ketegangan hubungan antara Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib dengan Angku Talaok akibat perbedaan pilihan partai di antara mereka (al-Khatib. Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib pernah giat memperjuangkan Partai Islam Perti di Koto Tangah. 2002: 47-57).

Pada awal tahun 1950-an. Angku Talaok pernah diminta oleh para penganut tarekat Syattariyah di Batang Kabung dan sekitarnya untuk membantu mengajar di beberapa surau mereka. Koto Tangah.H. khalifah tarekat Syattariyah dari Syekh Paseban. Ia pernah bersilang pendapat dengan Angku Inyik Adam. Padang.. Dekrit ini hanya diterima oleh sebagian saja yang dipimpin oleh putranya K. — Pramono dan Bahren Islam Indonesia (PII). Pengelolaan bidang pendidikan dan dakwah seolah-olah terlupakan kalau tidak dapat dikatakan terabaikan sama sekali. Perti mengalami perpecahan di dalam tubuh organisasinya dengan adanya pro dan kontra terhadap gagasan Nasakom yang dicetuskan oleh Soekarno. Angku Inyik Adam mengajaknya untuk masuk ke dalam Partai Golkar. dan beberapa surau lain di sekelilingnya. 2002: 63). ajakan itu ditolak oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin. bergerak di bidang sosial. Kalau saya masuk Golkar berarti ziarah bersama (bersyafar) ini tentu Syafar orang Golkar kata orang” (al-Khatib.) bukan orang partai. bukan pula ziarah bersama ini (bersyafar) tidak atas nama partai. Dalam hal ini menarik disimak penolakan ajakan untuk masuk ke partai Golkar oleh Angku Inyik Adam berikut ini: “Begini Inyik. sementara di sisi lain. yaitu status nonpolitik. Burhanuddin ar99 . agar mudah mendapat bantuan dari pemerintah untuk renovasi makam Syekh Surau Baru di Batusingka. Maka pada tahun 1969.. Imam Maulana Abdul Manaf Amin menjadi anggota Partai Islam Perti. Bersyafar ini adalah atas nama kaum muslimin. yang telah lebih dahulu mengajar di surau Batang Kabung. adalah Imam Maulana Abdul Manaf Amin. mendekritkan agar kembali kepada khitah semula. banyak dan bahkan sebagian besar pengikut tarekat Syattariyah di Sumatera Barat yang masuk ke partai Gokar setelah Perti kembali berstatus organisasi nonpolitik. Polemik tentang partai juga dialami oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib di era Orde Baru. Penting dikemukakan di sini bahwa. adapun Beliau ini (Syekh Surau Baru–pen.. Saat itu.. tidak dihitung partainya. pendiri organisasi ini yang masih hidup pada waktu itu. yang sebetulnya merupakan kawan seperguruan Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib sendiri ketika belajar dengan Syekh Paseban. Syekh Sulaiman ar-Rasuli. Saat itu.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. Kemelut yang kurang terbenahi ini sangat merugikan bagi tujuan semula organisasi. Akan tetapi.

Bagi yang sedikit maju dan cerdas. dan kemudian dalam menyalurkan aspirasi politiknya bergabung dengan Golkar. 7. Padang Pariaman yang lama mengajar di Batang Kabung. No. Salah satu bentuk penghargaan itu adalah naskah-naskah karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib. 2009: 91 . ulama yang mencampuradukkan diri dengan politik itu adalah khianat pada tugas keulamaannya (Samad. Syekh dan Maulana. penulisan riwayat hidupnya. penyebaran buku-buku hasil karyanya. Koto Tangah. Bentuk penghargaan yang terakhir ini sangat menarik dan penting untuk dijelaskan. ada juga ulama tarekat Syattariyah yang dengan tegas menolak bergabung dengan Golkar. Sangat dimungkinkan bahwa Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib yang juga menolak ajakan masuk ke Golkar karena terpengaruh sikap Tuanku Salif ini.Jurnal Lektur Keagamaan. Berbagai argumen muncul dari ulama-ulama tarekat Syattariyah yang bergabung ke dalam partai Golkar. Penghormatan terhadap Ulama Pemimpin Kaum Tua Di kalangan Kaum Tua di Minangkabau. 1. Akan tetapi. akan lebih mudah untuk memberikan pelajaran tarekat kepada orangorang yang berada di dalam Golkar. Misalnya. Ada lagi alasan ulama bahwa merubah dan memperbaiki dari dalam jauh lebih mudah daripada memperbaiki dari luar. 2003: 268).108 Rasuli. yang banyak sekuler dan bercampur agamanya (Samad. misalnya sebutan Tuanku. Dalam konteks penghargaan ulama pemimpin Minangkabau dalam bentuk penulisan riwayat hidupnya dan penyebaran buku-buku hasil karyanya banyak ditemukan di Minangkabau. Padang. almarhum Tuanku Salif dari Sungai Sarik. Ia banyak menulis sejarah para 100 . Inyiek. Menurut ulama ini. daripada kita menumpang kapal kecil lebik baik naik kapal besar. 2003: 266). penghormatan kepada ulama-ulama pemimpin mereka terlihat pada gelar-gelar yang diberikan. Vol. menurut mereka pilihan guru kepada Golkar adalah petunjuk Allah yang harus diterima. yakni Golkar. menurut mereka. Hal ini jika dikaitkan dengan kecenderungan pendapat ulama dalam tarekat Syattariyah yang besar pengaruhnya terhadap sikap kaumnya. mereka mengajukan dalil. Dengan masuk ke dalam Golkar. Bagi orang awam. Bentuk penghargaan yang lain terlihat juga dalam pelestarian cita-cita dan perjuangan ulama terdahulu.

Amin. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut ini: “. 1936: 5). maka harus diluruskan. Tidak surat-surat kabar dan majalah saja yang memutarbalikkan sejarah beliau-beliau ini. Dengan menulis sejarah guru atau syekh. Syekh Burhanuddin. Penulisnya mengharapkan 101 .. “. Sebab. Padang” (al-Khatib. Demikianlah supaya kita berhati-hati menerima sejarah dan menerima tarekat dari guru tarekat..sudah jelas oleh kita bahwa Nabi kita Muhammad S. maka akan mendapat berkah dan keselamatan baik di dunia maupun di akhirat. — Pramono dan Bahren syekh dan ajaran-ajarannya. Dalam teks yang terdapat dalam hampir seluruh naskah karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin alKhatib menempatkan guru sebagai orang yang harus dihormati. Ajaran guru adalah sesuatu yang benar dan tidak boleh dibantah. akhir-akhir ini banyak pula keluar di surat-surat kabar dan majalah-majalah yang memutarbalikkan sejarah beliau yang berdua ini yang jauh berbeda dengan yang dalam buku ini. supaya tarekatnya diterima oleh orang kampung yang buta ilmu pengetahuan agama. Mudah-mudahan dengan menulis sejarah beliau. amin ya rabbil ‘alamin.dengan adanya ketiga buku sejarah ini dapatlah saudara-saudara yang menjadi pengikut dan pencinta Syekh Abdurrauf dan Syekh Burhanuddin mengetahui bagaimana beliau-beliau ini mengembangkan agama Islam dan dapat kejelasan apakah mazhab beliau.. Berikut ini dapat dilihat gambaran tentang bantahan terhadap kritikan dari pihak luar. Batang Kabung. apakah bilangan yang beliau pakai untuk menentukan tanggal satu hari bulan Arab. jangan asal dimasuki saja” (al-Khatib. Tentu kita lebih menghormati ulama dari pada mereka. Perlu dijelaskan di sini bahwa.M menyuruh kita menghormati dan memuliakan ulama. dan Syekh Surau Baru. Syekh Paseban ini.. Begitu pula ikan-ikan dalam laut.. maka saya termasuk orang yang dianjurkan Nabi tadi. 2001: 12-13). yang kesimpulannya penghuni langit dan bumi menghormati ulama. Tetapi juga guru-guru tarekat kampung memutarbalikkan pula sejarah Syekh Abdurrauf dan sejarah Syekh Burhanuddin. Jika ada golongan lain mengkritik ajaran guru. yang dimaksud dengan “ketiga buku sejarah ini” dalam kutipan di atas oleh Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib adalah teks sejarah Syekh Abdurrauf. Saya yang menulis adalah salah seorang dari murid beliau yang bernama Haji Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. yaitu orang yang menghormati dan memuliakan ulama dan mudah-mudahan Allah memberi berkat atas usaha saya..

No. seperti berikuit ini: “. jika salatnya dilakukan sebanyak sebelas rakaat. Malahan beliau terima hal yang demikian dengan hati yang ikhlas dan bertawakal kepada Allah swt. maka tidak boleh mengikut paham tersebut. Begitulah kerja beliau Syekh Abdurrauf tiap-tiap harinya. dikisahkan tentang bagaimana bentuk penghormatannya kepada gurunya. Misalnya. Namun. Menghormati guru juga diyakini berimplikasi terhadap cepatnya pemahaman ilmu yang diajarkan oleh sang guru. 1.tetapi pelajaran [bang] yang [berikan] diberikan oleh Syekh Ahmad Qusyasyi hanya surah al-Baqarah saja. dan seterusnya. paham gurulah yang benar. Artinya itu-itu saja pelajaran yang diberikan oleh Syekh Ahmad al-Qusyasyi hingga sampai kepada masa akan kembali pulang. Tambahan lagi. Selain menuntut ilmu juga kerja beliau Syekh Abdurrauf di Madinah adalah mengembalakan unta Tuan Syekh Ahmad al-Qusyasyi tiap-tiap hari. 2009: 91 . Jika patuh dan hormat terhadap guru.108 bahwa dengan adanya ketiga sejarah syekh tersebut. Beliau tetap hormat dan khidmat serta patuh terhadap guru beliau. Sangat patuh dan sangat hormat kepada guru apa yang diperintahkannya oleh guru ti- 102 . 7.Jurnal Lektur Keagamaan. sebagai mengkhidmati guru beliau tetap mendukung guru dari tempat tinggalnya kepada tempat dia mengajar ilmu di Masjid Nabawi. walaupun pemerintah telah mengumumkan awal memasuki puasa Ramadan. begitu hati beliau terhadap guru tidak menaruh bosan dan berkecil hati.. tidak birasak-birasak sekedar lamanya. Mereka tidak akan ikut salat tarawih di bulan Ramadan. sebagian besar pengikut tarekat Syattariyah tidak akan salat Jumat apabila khutbah dilaksanakan tidak menggunakan bahasa Arab. Untuk menentukan awal bulan Ramadan dilakukan dengan ru’yah (melihat bulan) terlebih dahulu.. Sudah itu terus pergi gembala unta ke tengah padang. maka pemahaman ilmu akan datang dengan tidak disangka-sangka. di dukung pula ke tempat tinggal beliau. yaitu pagi-pagi didukung guru di hulu dari tempat tinggalnya ke tempat dia mengajar. karena menurut fatwa gurunya yang benar adalah mengerjakan salat tarawih itu dua puluh tiga rakaat. Begitu pula petang-petangnya setelah memasukkan unta ke kandanganya maka pergi pula menjemput guru ke mesjid. Vol. maka pengikut tarekat Syattariyah akan memahami bagaimana ketiganya beramal ibadah. Syekh Ahmad al-Qusyasyi. Dalam teks sejarah Syekh Abdurrauf Singkil misalnya. bagaimana mereka menentukan awal bulan Arab. Oleh karena suatu paham tidak sesuai atau berlainan dengan fatwa guru yang diterimanya.

adab kepada guru.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. sehingga pelajaran diperoleh dengan mudah dan sempurna. untuk kemudian menjadi suri teladan bagi kehidupannya. 1936:8-9). Adapun adab dan tertib Burhanuddin kepada gurunya Syekh Abdurrauf di dalam menuntut ilmu tidak ada ubahnya seperti adab dan tertib Syekh Abdurrauf pula terhadap gurunya. Bagi para penganut tarekat Syattariyah.. dan lagi menggali tebat (kolam) ikan di sekeliling masjid. agar ilmu yang didapat beroleh berkah. Begitulah kerja Burhanuddin selama menuntut ilmu di Aceh dalam masa tiga puluh tahun. Ia harus diperoleh dengan perjuangan yang sungguh-sungguh tidak kenal menyerah. Dalam teks sejarah Syekh Burhanuddin juga dikisahkan tentang bentuk penghormatan yang dilakukan kepada gurunya. 1992: 20-21). Syekh Abdurrauf Singkil. menggambarkan sekaligus mendorong kepatuhan murid kepada guru. 103 .. mengetahui riwayat guru adalah sebuah keharusan karena itu bermakna penghormatan kepada guru. seperti berikut ini: “Adapun kaji yang diberikan yang diberikan oleh Syekh Abdurrauf kepada Burhanuddin adalah surah al-Fatihah saja tidak berasak-asak sekedar lamanya. Kedua kutipan di atas. membaca ataupun mendengar orang membacakan riwayat gurunya. yaitu kambing tiap-tiap hari. Di samping itu. Syekh Ahmad al-Qusyasyi. — Pramono dan Bahren dak pernah membantah dan waktu bersalam mencium tangan guru” (alKhatib... Oleh karena itu orang berusaha untuk memiliki. Teks-teks yang terkandung dalam naskah-naskah karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib. Amanat “tidak kenal menyerah” itu senantiasa terwaris dari guru yang satu ke guru berikutnya. Kepatuhan itu akan membawa berkah. kedua kutipan tersebut juga berpesan kepada pembacanya bahwa sebuah ilmu tidaklah diperoleh dengan mudah. yaitu mendukung guru dari tempat tinggalnya ke tempat mengajar.” (al-Khatib. yaitu di masjid. banyak sedikitnya memperlihatkan pandangan tentang hubungan guru-murid yang secara eksplisit mengarahkan agar para murid dan pengikut tarekat Syattariyah merasa (ataupun diwajibkan) mengenal riwayat syekh yang menjadi gurunya atau guru dari gurunya. memuliakan guru agar mendapat syafaatnya (limpahan rahmat). Selain mendukung guru juga Burhanuddin menggembalakan ternak Syekh Abdurrauf.

kedurhakaan terhadap syekh akan menimbulkan malapetaka bagi murid-murid. Perintah dan larangan guru bersifat mutlak dan mengikat. apalagi membantah guru.108 Oleh karena merasa “wajib” untuk mengetahui riwayat dan ajaran para syekh tersebut. 3) Tatkala jiwa akan berpisah dengan badan (me- 104 . Oleh karena itu. Kedurhakaan terhadap syekh akan berakibat luas terhadap kehidupan murid. Setidaknya menurut keyakinan mereka. baik secara duniawi maupun setelah ia meninggal. Karena itu. 1. Sebaliknya. dapat memperlakukan muridnya sesuai dengan aturan yang ditetapkan. Syekh Burhanuddin. dan Syekh Surau Baru. 2003: 147-148). Seorang guru melalui prosesi bai’ah yang sudah dilakukan sebelumnya. yaitu: 1) Allah akan menyempitkan rezekinya di dunia. murid secara sukarela harus menerima dan mematuhi segala bentuk aturan yang telah ditetapkan guru kepadanya. maka banyak kalangan penganut tarekat Syattariyah. 7.Jurnal Lektur Keagamaan. di kalangan Syattariyah berlaku ungkapan bahwa ”seorang murid di hadapan guru ibarat sesosok mayat di tangan orang yang memandikannya” (Samad. 2009: 91 . mereka selalu berziarah mengunjungi makam untuk mendapatkan berkah sekaligus sebagai bukti kesetiaan terhadap guru tersebut. khususnya di Koto Tangah. penghormatan dan penghargaan terhadap guru. menarik untuk dipaparkan tentang sejarah teks yang menceritakan sejarah Syekh Abdurrauf. Dalam pandangan mereka roh seorang syekh yang sudah meninggal masih dapat memberikan pertolongan kepada murid-muridnya. Dari naskah-naskah itu jelas bahwa syekh sebagai pemimpin menjadi sentral dalam pembentukan ideologi penganut tarekat Syattariyah Kaum Tua) di Minangkabau. Padang yang ingin memiliki naskah-naskah karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib. ada tiga hal yang akan terjadi bagi seorang murid yang durhaka kepada gurunya. Bahkan penghormatan yang demikian masih terus berlangsung meskipun guru yang bersangkutan telah meninggal dunia. Selain itu. dalam pengajian tarekat Syattariyah dilakukan atas dasar pandangan bahwa guru adalah orang yang suci dan dekat kepada Allah. No. Sebaliknya. 2) Allah akan mencabut berkat ilmu yang telah dipelajarinya dari sang guru. Perihal banyaknya peminat naskah-naskah karyanya itu. sebagai sumpah setia murid kepada gurunya. Vol. Murid tidak boleh banyak mempertanyakan tentang “mengapa” dan “apa sebabnya”.

Denpasar : Program Pascasarjana Program Doktor (S3) Kajian Budaya Universitas Udayana. Jakarta: IAIN Syarif Hidayatullah. 1984. riwayat dan ajarannya ditulis dan disebarkan. 1988. H. Suaranya didengar. Sanusi. tidak hanya masalah keagamaan tetapi juga masalah sosial budaya serta politik yang mereka hadapi. 2002. — Pramono dan Bahren ninggal). “Gerakan Kaum Tua di Minangkabau”. Para ulama pemimpin Kaum Tua itu berperan tidak hanya di bidang keagamaan saja. (Disertasi S3).[] Daftar Pustaka Fathurahman. Allah akan mencabut iman yang ada di dada murid. Oman. tetapi juga di bidang sosial-budaya dan politik.. Di antara sumbangannya yang dapat dicatat adalah sebagai berikut ini. Islam dan adat Minangkabau. Kedua. sebagai penerang di dunia bahkan sampai di akhirat. “Postkolonialisme Indonesia”. Jakarta : Djambatan. “Tarekat Syattariyah di Dunia Melayu-Indonesia: Kajian Atas Dinamika dan Perkembangannya Melalui Naskah-Naskah di Sumatera Barat”. penghormatan terhadap pemimpin memberikan tauladan agar murid pun harus berperilaku (beribadah) seperti sang guru: pola hidup sederhana (zuhud)dan tidak ambisius (qan±’ah). Jakarta: Pustaka Panjimas. Ensiklopedi Islam Indonesia (Jilid 3 O-Z). 2006. M. tingkah lakunya diikuti. Prof. khususnya dalam membangun kepribadian dan moral. Mereka dihormati. Ratna. Dr. 105 . khususnya pada golongan Kaum Tua. dkk. 1992: 30). Hamka. Tulisan itu memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi kemajuan ummat. Nasution. Laporan Penelitian. Kekhasannya ini tampak pada pola kepemimpinannya. riwayat dan ajarannya dijadikan rujukan untuk pengambil keputusan. Pertama. Penutup Pertemuan Islam dengan budaya lokal Minangkabau telah menjadikan corak kepemimpinan yang khas.Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. Depok: Pascasarjana UI.. Nyoman Kutha. Latief. 2003. sehingga dia mati dalam keadaan tidak beriman (al-Khatib. Desertasi. Harun (Ketua Tim).

Yusuf. 106 .Jurnal Lektur Keagamaan. naskah tulisan tangan koleksi Imam Maulana Abdul Manaf Amin. 2004. Manuskrip al-Khatib. Kitab Riwayat Hidup Imam Maulana Abdul Manaf Amin. Laporan Penelitian Kelompok Kajian Puitika Fakultas Sastra Unand. Suryadi. Batang Kabung.108 Samad. 2002. naskah tulisan tangan koleksi Imam Maulana Abdul Manaf Amin. Padang Sumatra Barat. Padang Sumatra Barat. Inilah Sejarah Ringkas Auliyaullah al-Salihin Syekh Abdurrauf (Syekh Kuala) Pengembang Agama Islam di Aceh. 2001. 7. Imam Maulana Abdul Manaf Amin. Syair Sunur: Teks dan Konteks Otobiografi Seorang Ulama Minangkabau Abad Ke-19. tt. 1992. naskah tulisan tangan koleksi Imam Maulana Abdul Manaf Amin. 1936. Batang Kabung. “Tradisionalisme Islam di Tengah Modernisme: Kajian Tentang Kontinuitas. Koto Tangah. Padang Sumatra Barat ------. Batang Kabung. Batang Kabung. 2009: 91 . Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah. Koto Tangah. Batang Kabung. Inilah Sejarah Ringkas Auliyaullah al-Salihin Syekh Burhanuddin Ulakan yang Mengembangkan Agama Islam di Daerah Minangkabau. ------. Perubahan. Duski. ------. Padang Sumatra Barat. 1. Vol. Koto Tangah. “Manuskrip dan Skriptorium Minangkabau. Padang : Citra Budaya. dan Dinamika Tarekat di Minangkabau” (disertasi). ------. M dkk. Sejarah Ringkas Shaikh Muhammad Nasir (Syekh Surau Baru). naskah tulisan tangan koleksi Imam Maulana Abdul Manaf Amin. Padang Sumatra Barat. 2004. 2003. Koto Tangah. No. Sejarah Ringkas Syekh Paseban al-Syatari Rahimahulallahu Taala. Koto Tangah. naskah tulisan tangan koleksi Imam Maulana Abdul Manaf Amin.

— Pramono dan Bahren Lampiran: Gambar 1: Imam Maulana Abdul Manaf Amin Al-Khatib (w..Kepemimpinan Islam di Kalangan Kaum Tua. 2006) dan Naskah-naskah Tulisannya Gambar 2: Naskah Sejarah Ringkas Auliyaullah al-Salihin Syekh Burhanuddin Ulakan yang Mengembangkan Agama Islam di Daerah Minangkabau (1992: 2) 107 ..

No. 2009: 91 . Pengembang Agama Islam di Aceh (1936: 1) 108 . Syekh Abdurrauf (Syekh Kuala). Vol.108 Gambar 3: Naskah Sejarah Ringkas Auliya’ullah al-Salihin. 1.Jurnal Lektur Keagamaan. 7.

Peran Penting Pernaskahan... — Agus Aris Munandar

Peran Penting Pernaskahan dan Benda Khazanah Keislaman Lainnya dalam Kajian
Arkeologi Islam di Indonesia *
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, Depok

Agus Aris Munandar

This writing is studying the important position of the written data, particularly related to the Islamic classical manuscripts in Islamic archeology. The written data from the written sources in the study of Islamic archeology are as follow: (a) It functions as the supporting study toward the artefactual data; (b) To widen good understanding on the position and the role of the artefact in society at the period; (c) Data from written sources could be the basic of the research and a framework for the study of Islamic archeology; and (d) To encrich interpretation to develop historiography. The position of the written sources is getting more and more important in the stage of historiography as some parts of the archeological studies which are remain unknown can be helped by the study from the written sources. In the end, this effort will be able to open new insight and interpretation and to widen historiographical narration in order to make the study of archeology to be more and more dynamics. Kata kunci: Arkeologi-religi, artefak, naskah, khazanah, historiografi

Pengantar Perkembangan Islam di wilayah Nusantara berdasarkan bukti arkeologis telah terjadi sejak abad ke-11 M. Hal itu didasarkan dengan penemuan nisan Fatimah binti Maimun bin Hibatullah di daerah Leran Gresik Jawa Timur, pada nisan itu dipahatkan angka tahun 475 H atau 1082 (Tjandrasasmita 1986: 2). Berdasarkan hal
Tulisan ini pada mulanya merupakan makalah yang disampaikan dalam Diskusi Pengembangan Wawasan SDM Tenaga Fungsional Puslitbang Lektur Keagamaan, 24 Februari 2009 di Ruang Sidang Badan Litbang Lektur Keagamaan, Jakarta.
*

109

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 7, No. 1, 2009: 109 - 132

itu terdapat dua kemungkinan yang mengemukan, yaitu: (1) tokoh Fatimah yang dimakamkan itu adalah orang Jawa yang telah memeluk Islam, atau (2) ia muslimah pendatang yang karena suatu sebab meninggal dan dimakamkan di Gresik. Selain nisan, dalam kajian para ahli Belanda dahulu tidak melaporkan adanya temuan serta lainnya dari situs nisan Fatimah binti Maimun. Akibatnya tidak ada lagi data yang dapat menyokong terjadinya interpretasi baru atas kasus temuan nisan Fatimah binti Maimun. Masalah nisan Fatimah binti Maimun sebenarnya hanya salah satu contoh saja dari banyak permasalahan kajian arkeologi Islam di Indonesia. Suatu kajian terhadap bentuk religi harus pula menjelaskan 4 hal yang berkenaan dengan eksistensi religi tersebut, yaitu: a. Historical explanations, yaitu usaha untuk menjelaskan keberadaan suatu agama pada suatu masa sejak agama itu mulai ada, bertahan, dan berkembang dalam tahap selanjunya. b. Structural explanations, upaya untuk menjelaskan keberadaan suatu agama berkenaan dengan para penentu perkembangan agama, menjelaskan hal-hal penting yang menjadi dasar terbentuknya masyarakat pemeluk agama. c. Causal explanations, upaya menjelaskan keadaan agama dalam masyarakat dengan mengacu kepada kondisi dan suasana masyarakat sebelum agama itu timbul. d. Functional explanations, menjelaskan suatu keadaan sehingga agama tersebut mempunyai fungsi dalam masyarakat (Spiro 1977: 99—101). Keempat fokus utama kajian agama tersebut kiranya dapat dikerjakan secara baik bilamana berkenaan dengan keadaan agama yang masih hidup di masa sekarang, yang masih ada masyarakat pemeluknya, dan dalam pertalian kekinian. Akan sukar kiranya jika keempat kajian tersebut diterapkan untuk meneliti kehidupan agama yang pernah berkembang di masa silam. Walaupun agama yang dimaksudkan itu sampai sekarang masih ada pemeluknya, namun pemeluk agama masa lalu tentu sudah tiada dan juga secara sosiologis akan berbeda kondisi mereka dengan pemeluk agama masa sekarang. Oleh karena itu kajian keagamaan masa lalu niscaya tidak akan sempurna lengkap, pasti ada yang rumpang. Hal itu bukan karena 110

Peran Penting Pernaskahan... — Agus Aris Munandar

ketidakmampuan peneliti menarik sintesa dan tafsiran, melainkan memang datanya yang terbatas. Data kajian perkembangan agama Islam pada tahap awalnya, tentu bertumpu kepada sumber-sumber tertulis dan data artefaktual yang bersifat fisik. Jika kedua macam data itu dalam kondisi bagus tentu akan membantu memperlancar proses kajian, tetapi seringkali kondisi data yang ada itu telah rusak sebagian, atau hilang. Begitupun dari data yang ada dan masih bertahan hingga kini belum tentu juga dapat dipergunakan dalam kajian, karena memang tidak sesuai dengan permasalahan yang akan dipecahkan. Dalam membahas perkembangan agama dari suatu lingkup kebudayaan, menurut disiplin antropologi sebaiknya harus memperhatikan lima butir unsur agama yang saling berkaitan satu sama lain. Kelima butir itu selayaknya diperhatikan sesuai dengan proporsi data yang tersedia, tergantung pada zamannya serta kualtitas dan kuantitas data yang tersedia. Bagan yang memperlihatkan lima butir unsur religi adalah sebagai berikut:
Bagan I: Unsur-Unsur Religi
SISTEM KEPERCAYAAN

UMAT AGAMA

EMOSI KEAGAMAAN

PERALATAN RITUS & UPACARA

SISTEM RITUS & UPACARA

[Koentjaraningrat, 1980: 80—3]

Apabila dikembalikan kepada ketersediaan data sudah tentu tidak semua butir tersebut dapat dikaji secara baik. Jika membicarakan perkembangan agama di masa silam, tentunya yang masih dapat diamati secara langsung adalah sisa peralatan ritus dan upacara. Sistem kepercayaan yang mungkin termaktub dalam kitab-kitab keagamaan, dan sedikit tentang sistem ritus dan upacara 111

langkah kehidupan dan lain-lain. Bantuan analogi itu dilakukan dengan syarat masyarakat yang dijadikan bahan komparasi masih melaksanakan praktek keagaaman yang mirip dengan agama-agama masa silam.Jurnal Lektur Keagamaan. dianggap mempunyai banyak pengalaman. Vol. sebab masyarakatnya telah tiada. Walaupun demikian ahli para peminat sejarah kebudayaan harus berupaya semampunya dengan --berdasarkan data yang ada-. Kontak-kontak dengan para musafir dari India dan Cina sangat mungkin mulai terjadi di awal tarikh Masehi. 1. Nenek moyang bangsa Indonesia merasa tertarik dan 112 . masih mungkin untuk dikaji. Jadi mereka tidak mungkin datang ke wilayah-wilayah yang sepi penduduknya. Dalam kondisi peradaban masyarakat yang relatif maju seperti itulah pengaruh kebudayaan luar mulai diperkenalkan oleh para musafir India. Dalam periode tersebut mulailah terbentuk komunitas-komunitas yang teratur dipimpin oleh ketua kelompok. Babakan Perkembangan Kebudayaan di Indonesia Perkembangan kebudayaan Indonesia diawali dan didasari pada kebudayaan prasejarah. emosi keagamaannya pun sukar digali kembali. rumah-rumah mereka panggung. Agaknya para niagawan dari India atau Cina tersebut berkunjung ke komunitaskominitas nenek moyang bangsa Indonesia yang dapat dianggap berinteraksi. Penduduk kepulauan Indonesia masa itu telah menetap dan membentuk perkampungan. kepada tokoh itulah masyarakat bertanya perihal berbagai hal. apalagi emosi keaagamaan agak sukar untuk dikemukakan dan dikaji. apabila tidak maka tiada mungkin dilakukan. Sang pemimpin didampingi oleh seseorang yang dituakan. Kemudian terdapat masyarakat biasa yang menjadi rakyatnya. 7. Masa tersebut sangat mungkin dimulai sekitar tahun 500 SM hingga ditemukannya aksara pertama dalam prasasti di wilayah Indonesia (sekitar abad ke-4 atau 5 M). fenomena alam.132 yang dalam penafsirannya harus meminta bantuan analogi pada masyarakat masa kini. dan luas wawasannya. No. Sedangkan gambaran umat agama. Tahapan prasejarah yang paling penting di Indonesia adalah masa bercocok tanam tingkat lanjut yang bersamaan dengan berkembangnya kepandaian perundagian. 2009: 109 .untuk tetap mencoba menjelaskan pula butir-butir tersebut.

Dalam jalur niaga tersebut turut serta para ulama penyebar Islam. — Agus Aris Munandar perlu untuk menerima kebudayaan dari India oleh karena itu mereka menerimanya. Kemajuan arsitektur bangunan suci juga didasarkan pada kaidah keagamaan Hindu atau Buddha. dan (3) sistem penghitungan tahun Saka. dan wilayah Kalimantan Timur. Islam tidak berkembang dalam kurun waktu yang bersamaan di Nusantara.Peran Penting Pernaskahan. Berlandaskan ajaran agama Hindu-Buddha berkembanglah sistem pemerintahan kerajaan. bernama Samudra Pasai.. Hubungan niaga yang ramai antara wilayah Indonesia barat dan timur turut mempercepat proses penyebaran agama Islam. dalam hal ini raja dianggap sebagai dewa yang menjelma ke dunia. artinya tidak pernah dimiliki sebelumnya oleh masyarakat masa itu. Zaman berkembangnya pengaruh India dalam masyarakat Indonesia kuna lazim dinamakan dengan zaman Hindu-Buddha atau zaman Klasik Indonesia. Hanya tiga anasir budaya saja yang sebenarnya diterima dari kebudayaan India. di wilayah Sumatra bagian utara telah berdiri kerajaan Islam pertama di Nusantara. (2) aksara Pallava. dan di bagian-bagian lain Indonesia mungkin masih dalam zaman proto-sejarah (beberapa daerah telah dicantumkan dalam kakawin Nāgarakrtāgama yang selesai digubah oleh Mpu Prapanca tahun 1365 M). Berdasarkan sumber-sumber tradisi dapat diketahui bahwa wilayah Indonesia Timur (Nusa Tenggara dan Maluku) menerima Islam karena upaya para mubalig dari pesantren-pesantren di Jawa Timur. namun perkembangannya semakin merata mulai abad ke-15 M. Sebelum kedatangan Islam di wilayah-wilayah tersebut telah ada komunitas-komunitas membentuk sistem pemerintahan tradi113 . bahkan niagawan itu sendiri adalah ulama penyebar Islam. Ketiganya benar-benar merupakan sesuatu yang baru. yaitu (1) agama HinduBuddha. dan bangunan pahat batu (rock-cut) yang digarap secara baik. Sumber tradisi juga menyebutkan adanya peranan para ulama dari wilayah Sumatra Barat yang aktif menyebarkan Islam di Sulawesi Selatan. bangunan pe-tirtha-an (bangunan air suci). Sekitar pertengahan abad ke-13 M. Seraya itu di Pulau Jawa masih berdiri kerajaan Singhasari yang bercorak Hindu-Buddha. dalam hal ini bentuk-bentuk arsitektur candi yang tidak pernah sama antara satu bangunan dengan lainnya (unikum)..

antara lain terlihat pada penggunaan atap tumpang pada masjid-masjid kuna yang sebelumnya dipergunakan untuk menaungi candi-candi zaman Majapahit. No. sehingga hampir-hampir menutupi agama Islam yang secara resmi dipeluk dalam masyarakat. tanpa melalui sistem kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha sebagaimana halnya di Jawa. diperkenalkannya sistem persenjataan dengan mesiu. 7. Dengan demikian perkembangan kebudayaannya dapat dinyatakan dari masa prasejarah protosejarah sejarah dengan masuknya Islam. bunga teratai dan lainnya lagi pada kepurbakalaan Islam seperti pada bangunan cungkup makam. tapak dara. misalnya digunakannya huruf Arab. Dalam proses dinamika kebudayaan bentuk-bentuk akulturasi tersebut sebenarnya turut memperkaya khazanah peradaban yang ada. tempat merebaknya kebudayaan HinduBuddha yang relatif lama. 1. selain ajaran agama itu sendiri terdapat beberapa perolehan lainnya. Ornamenornamen masa Hindu-Buddha juga masih dipertahankan di kompleks keraton Islam di Jawa. Vol. Di beberapa wilayah terdapat pula masyarakat yang masih mempertahankan aspek-aspek kebudayaan Hindu-Buddha yang telah dipadukan dengan anasir dari agama Islam. tanpa adanya bentuk akulturasi dengan kebudayaan yang berkembang sebelumnya. 114 . Wacana Bentuk akulturasi ketika agama Islam sudah berkembang di Jawa dengan tradisi yang telah dikenal sebelumnya.Jurnal Lektur Keagamaan. Lain halnya di Jawa. dikenalnya tahun Hijriah. bentuk meander. cara berpakaian yang hampir menutup seluruh tubuh. 2009: 109 . Penggunaan ragam hias dari masa Hindu-Buddha seperti sulur-daun. tubuh makam (jirat) dan juga pada nisannya. Walaupun demikian di Jawa juga terdapat daerah-daerah yang keislamannya relatif menonjol dengan sedikitnya pengaruh dari tradisi lama. maka terdapat fenomena adanya bentukbentuk akulturasi antara Islam dengan tradisi yang telah dikenal dalam agama Hindu-Buddha.132 sional yang masih bercorak tradisi perundagian. Cukup banyak peradaban Nusantara yang mendapat pembaharuan dalam zaman awal perkembangan agama Islam. Aspek kebudayaan hasil perpaduan tersebut dirasakan sangat dominan dalam masyarakat tertentu. Di beberapa wilayah Nusantara terdapat masyarakat yang sampai sekarang memeluk agama Islam secara taat. Religi yang berkembang pun secara hipotetis masih merupakan pemuliaan terhadap arwah nenek moyang. dan terbentuknya kota-kota pelabuhan baru tempat bermukimnya masyarakat yang telah memeluk agama Islam.

tambo. masuk dan berkembangnya Islam terjadi lebih kemudian. Jawa. yaitu Demak (sekitar tahun 1500 M) yang menurut sumber tradisi merupakan penerus kerajaan Majapahit. babad kisah sejarah dari sudut pandang tradisional. dan jatuhnya istana Pakuwan Pajajaran sebagai ibu kota kerajaan Sunda pada sekitar tahun 1579/1580 M. Dengan demikian diskusi tentang pembabakan dalam sejarah kebudayaan Indonesia merupakan hal yang agak rumit. kerajaan. peperangan. — Agus Aris Munandar Dalam bidang kesusastraan masa Islam juga cukup maju.. dan Arab. hanya beberapa saja yang dalam perkembangan kebudayaannya tidak mendapat pengaruh Islam. Setelah pertumbuhan kebudayaan Hindu-Buddha menyusul kemudian masuk dan berkembangnya Islam yang berbeda-beda di tiap wilayah. Hampir seluruh wilayah Nusantara mempunyai lapisan kebudayaan yang dipengaruhi oleh agama Islam. tetapi Bali adalah daerah terakhir yang diduduki kekuatan Belanda setelah puputam Klungkung 1906 M. atau kalaupun ada hanya bersifat tipis saja. dan lain-lain lagi.. ada daerah yang lebih dahulu berkenalan dengan orang-orang Belanda. dalam masa itu banyak kerajaan Islam di kepulauan Indonesia yang silih berganti tumbuh dan berkembang. Di luar Jawa dikenal karya sastra dalam bentuk hikayat. Di Jawa selain dikenal bentuk kidung (puisi karya etnis Jawa).Peran Penting Pernaskahan. lontara. Akan halnya di wilayah Jawa bagian barat. Begitupun masuknya kekuatan kolonial Belanda di wilayahwilayah Indonesia tidak dalam periode yang sama. tidak seluruh wilayah Indonesia mengalami perkembangan kebudayaan 115 . Masa pertumbuhan kerajaan Islam terentang antara abad ke13 hingga 17 M. karya sastra-karya sastra umumnya ditulis dengan aksara Arab atau aksara Jawa dengan bahasa Melayu. salasilah. Di wilayah Jawa Tengah perkembangan Islam ditandai dengan berdirinya kerajaan Islam pertamanya. tentang berdirinya suatu kota. juga dikenal bentuk suluk yang berisikan ajaran-ajaran tasawuf. mungkin ditandai dengan berdirinya Kesultanan Cirebon. dan lain-lain. Akibatnya dapat dipahami apabila di wilayah tertentu Indonesia pengaruh kebudayaan Eropa (Belanda) jauh lebih kentara. Dengan demikian proses akulturasi yang terjadi antara peradaban Eropa barat yang dibawa Belanda dengan kebudayaan daerah-daerah setempat tentunya berbeda dalam hal rentang waktu dan intensitasnya.

7. 1. Pulau Bali telah disebut-sebut keberadaannya oleh berita Cina dinasti T’ang dan prasasti-prasasti di Jawa dalam abad ke-8. Vol. Sedikitnya pengaruh kebudayaan luar. No. 4. namun prasasti yang ditemukan di Bali sendiri baru 116 . 2009: 109 .Jurnal Lektur Keagamaan. pengaruh itu terjadi baru awal abad ke-20 M. Terdapatnya etnis yang secara sadar menolak adanya pembaruan akibat pergaulan dengan kebudayaan luar tersebut. maka di Pulau Dewata masa proto-sejarahnya relatif lebih lama daripada yang berlangsung di Jawa. Berdasarkan adanya macam perbedaan tersebut. sebab Bali mempunyai perkembangan kebudayaan yang tidak banyak dipengaruhi anasir budaya luar.132 dalam tahap-tahap yang sama. Perkembangan kebudayaan di Bali terlihat dalam bagan berikut: Bagan III : Perkembangan Kebudayaan di Bali Apabila menelisik data sejarah dan arkeologi. Masa “pergaulan” dengan kebudayaan luar berlangsung cukup lama. walaupun terdapat beberapa daerah yang memiliki perkembangan yang hampir mirip. maka garis perkembangan kebudayaan di wilayah-wilayah Indonesia menjadi bervariasi. 2. hal itu sangat mungkin terjadi karena: 1. Wilayah-wilayah tertentu mempunyai corak kebudayaan yang berbeda dari yang lainnya. Sebagai contoh berikut diuraikan bagan perkembangan kebudayaan di Jawa. 3. Intensitas “pergaulan” yang relatif mendalam. Bagan II : Perkembangan Kebudayaan di Jawa Garis tersebut akan berbeda apabila dibandingkan dengan kebudayaan yang berkembang di Pulau Bali.

— Agus Aris Munandar dijumpai dalam tahun 835 S (913 M) dalam masa pemerintahan Sri Kesari Warmadewa (Goris 1965: 9). sebab tercatat penguasa pertama di Ternate ialah Sultan Zainal Abidin (1486-1500 M). Begitupun di Bali tidak pernah berdiri kerajaan Islam sebagaimana di Jawa atau Sulawesi selatan. semula dari sistem tradisional kolano ke bentuk kesultanan (Putuhena 1980: 268). Buleleng. Karangasem. secara ringkas dapat terlihat pada bagan berikut: Bagan IV : Perkembangan Kebudayaan di Wilayah Maluku Utara (Putuhena. Sementara itu bukti tertulis lokal yang menceritakan perihal daerah itu sendiri baru didapatkan pada paruh pertama abad ke-15 M. Masa kolonial lebih awal terjadi di daerah tersebut. karena politik perdagangan cengkeh bangsa-bangsa barat yang berebutan untuk menguasai Maluku Utara. Sudah tentu wilayah-wilayah lainnya di Indonesia akan mempunyai tahapan perkembangan kebudayaan yang berbeda-beda pula. ketika daerah tersebut telah dikenal dalam catatan para pendatang dan sumber-sumber tertulis etnis lain di Indonesia. Tahapan perkembangan kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha tidak dimiliki di wilayah Maluku Utara. Di wilayah Maluku utara perkembangan kebudayaannya pun berbeda pula dengan daerah lainnya. hal itulah yang sebenarnya menjadi salah satu masalah yang harus diperhatikan manakala hendak disusun suatu historiografi tentang kebudayaan. seperti Klungkung. Walaupun demikian tahap perkembangan kebudayaan 117 .Peran Penting Pernaskahan.. di Bali berkembang kerajaan-kerajaan kecil dengan latar belakang Hindu-Bali. pada waktu yang bersamaan dengan tumbuh kembangnya kesultanan-kesultanan Islam.. 1980) Masa protosejarah di wilayah Maluku utara agaknya berlangsung cukup lama (antara awal tarikh Masehi hingga sekitar abad ke14 M). Mengwi dan lain-lain. tokoh inilah yang mengalami masa transisi dalam sistem pemerintahannya.

132 seperti itu harus dijadikan acuan kronologis demi untuk memudahkan penulisan dan agar pembicaraan tidak berkembang menjadi tidak terarah. pemimpin hanya melaksanakannya saja. (5) nilai kuasa. Vol. Semua aspek kebudayaan yang ditelaah dalam suatu historiografi kebudayaan sudah sewajarnya apabila mengikuti kronologi yang dapat dianggap “seragam” sejak masa prasejarah hingga zaman Kemerdekaan. Maklum masa itu rasa kebersamaan dari masyarakat manusia yang menghuni suatu permukiman sangat nyata. Beberapa nilai yang dijadikan sudut pandang adalah: (1) nilai teori. 7. dan (6) nilai solidaritas. 1. Sebab kronologi seperti itu merupakan kerangka besar yang dapat dijadikan patokan untuk penulisan sejarah kebudayaan Indonesia secara garis besar.Jurnal Lektur Keagamaan. (4) nilai ekonomi. diagram perkembangan kebudayaan di wilayah Indonesia sebelum masuknya pengaruh asing (baca: India) adalah sebagai berikut: Bagan V: Perkembangan Kebudayaan di Wilayah Indonesia sebelum Masuknya Pengaruh Asing Dalam diagram yang memperlihatkan masa prasejarah dan protosejarah tersebut terlihat nilai kuasa cukup rendah bersebrangan dengan nilai solidaritas yang tinggi. (2) nilai agama. Nilai teori (ilmu 118 . Berdasarkan data yang ada. 2009: 109 . (3) nilai seni. No. Nilai-nilai Penting dalam Kebudayaan Indonesia Sutan Takdir Alisjahbana (1982) pernah mengemukakan beberapa diagram yang berkenaan dengan perkembangan kebudayaan di Indonesia dipandang dari segi nilai-nilai. keputusan diambil dengan musyawarah warga.

. Nilai seni belum begitu berkembang. walaupun bentuk-bentuk awal berkesenian telah dirintis oleh masyarakat manusia. — Agus Aris Munandar pengetahuan) masih rendah. yang ada adalah ekonomi barter yang setara. bahkan ada beberapa pembatasan berkesenian. sebab data yang tersedianya pun berbeda pula. karena itu bentuk-bentuk kesenian awal yang mengandung anasir estetika telah dibuat. Oleh karena itu tiap periode dalam mempunyai 119 . kebudayaan manusia berada dalam tahapan mitos. sedangkan nilai ekonomi pada masa perkembangan Islam di Nusantara cukup tinggi. Nusantara. Banyak niagawan Islam yang berlalu-lalang membawa barang dagangan dalam kapal-kapal niaga mereka. Diagram itu berbeda bentuknya ketika diterapkan dalam kebudayaan masa perkembangan dan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. karena manusia masa itu mungkin belum mengerti tentang konsep untung dan rugi. Gambarannya sebagai berikut: Bagan VI: Perkembangan Kebudayaan di Wilayah Indonesia pada Masa Kearajaan-Kerajaan Islam Dalam Bagan VI diperlihatkan bahwa nilai seni tidak terlalu berkembang.Peran Penting Pernaskahan. dan Cina selatan. berlabuh di berbagai bandar antara India. sedangkan nilai religi tinggi sebab masyarakat manusia masa itu kehidupannya masih diliputi oleh suasana religius. Nilai ekonomi pun rendah.. Gagasan berestetika sudah barangtentu telah mulai muncul. Diagram-diagram itu pada dasarnya hendak menunjukkan secara visual bahwa perkembangan kebudayaan di Indonesia berbeda pada tiap periode. Asia Tenggara.

atap ketiga (puncak) dahulu hancur karena tersambar oleh tongkat Sunan Gunung Jati. sisa istana. 2. walaupun demikian tetap perlu diperhatikan mengingat di dalamnya -jika dicermati dengan baik. legenda. 7. Data arkeologis seperti bangunan masjid. dan dalam setiap perkembangan masyarakat yang mengusung kebudayaan sezaman. teka-teki. baik sejarah ataupun arkeologi. Tradisi lisan memang dipandang mutunya lebih rendah daripada kedua data lainnya. Sebab tidak semua macam data itu tersedia dalam bobot yang sama.Jurnal Lektur Keagamaan. yaitu : 1. berita asing. permainan rakyat. Vol. Contoh data dalam bentuk tradisi lisan adalah dongeng. misalnya dalam prasasti (piagem) karya-karya sastra. berbagai ornamen dan sebagainya.132 kekhasan dan fokus perhatian yang berbeda-beda apabila hendak dituangkan dalam suatu kajian ilmu masa lalu. menara. Tradisi lisan yang masih mungkin mengendap dan merupakan ingatan bersama (collective memory) dalam masyarakat baik di Jawa ataupun di Bali. mitos. goa pertapaan. Para peneliti hendaknya mampu menggunakan ketiga macam data tersebut sesuai dengan tujuan studi. yaitu berita tradisi lisan seringkali diabaikan. kolam wudu. Wacana Dalam melakukan kajian jenis data ketiga. pastinya akan berbeda-beda dalam setiap masa. Artefak secara sederhana dapat diberi batasan sebagai benda hasil karya manusia masa 120 . 1. mushalla. Arkeologi Islam Indonesia Sebagai Arkeologi-Sejarah Dalam kajian arkeologi terdapat data utama yang penting.akan ditemukan data yang dapat menyokong sumber tertulis dan data arkeologis. Data yang sudah sewajarnya diperhatikan dalam mengkaji arkeologi-religi masa perkembangan Islam di Indonesia dapat dibagi dalam tiga jenis. yaitu data kebendaan yang lazim disebut artefak. 3. No. Data yang tersirat dalam berbagai sumber tertulis. dan bangun penafsiran yang diharapkannya. peribahasa dan lainnya. dan lain-lain. Misalnya di Cirebon terdapat legenda bahwa atap tumpang masjid Sang Cipta Rasa hanya dua. 2009: 109 .

dan sudah barang tentu masa kolonial dan masa selanjutnya dalam era Republik Indonesia. dinamakan arkeologi sejarah yang berarti kajian arkeologi yang memanfaatkan juga sumber-sumber sejarah. Sebagaimana diketahui bahwa ilmu arkeologi terbagi dalam dua ranah besar. Jadi pada prinsipnya kajian arkeologisejarah berada dalam periode ketika di suatu bangsa telah mengenal bukti-bukti tertulis. Apabila kajian prasejarah sepenuhnya mempelajari artefak melalui berbagai metode untuk menelaah artefak. — Agus Aris Munandar lalu. naskah-naskah kuno. maka kajian arkeologi-sejarah selain bertumpu kepada kajian artefak. Bagan VII: Unsur-Unsur Arkeologi Islam 121 . yaitu Arkeologi-Prasejarah dan Arkeologi-Sejarah (historical archaeology). lalu untuk pemahaman lebih lanjut tentang sesuatu artefak.Peran Penting Pernaskahan. yaitu berbagai berita tertulis. arsip. dipergunakanlah data dari berbagai sumber tertulis sezaman yang mungkin mendukung kajian terhadap artefak. dan lain sebagainya. Oleh sebab itu. berita asing dokumen. Walaupun telah ada bukti tertulis kajian arkeologi-sejarah tetap mendasarkan data utamanya kepada objekobjek kebendaan (artefak).. piagem. Kajian arkeologi-sejarah di Indonesia meliputi masa perkembangan agama Hindu-Buddha dan juga masa perkembangan Islam. dan bentuknya bermacam-macam sesuai dengan keperluan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.. juga memanfaatkan data informasi sumber tertulis berbentuk prasasti. peta kuno. surat-surat kerajaan atau pribadi.

g. topeng. Mimbar kayu. d.Tata Kota & Penataan Istana a. b. terdiri dari: a. Furniture: meja. wayang. pahatan stilasi.Jurnal Lektur Keagamaan. 2009: 109 . batik. Makam dan kompleks makam. b. h. i. f. Alat transportasi: palangka. c. g. 3. dan menyebar. Dalam kajian arkeologi Islam banyak data yang berupa kebendaan. Menara masjid. dipan. j. Bedug. Gapura dan pagar keliling. Hiasan bangunan. Cungkup makam. Heraldik: panjí-panji. Istana dan bangunan-bangunan di dalamnya. perahu. Taman dan bangunan air. Masjid kuno. jadi bukannya data tertulis. 1. dan benda-benda penanda kebesaran raja/sultan. Vol. artefaktual merupakan data utama yang penting. d. kentongan dan waditra lainnya. b. Alun-alun sebagai pusat kota. Hasil seni kriya: ukiran. 7. kursi. Penataan istana yang linear. e. Maksurah. untuk mengungkapkan pencapaian peradaban yang telah direngkuh oleh masyarakat pada masanya. Kepurbakalaan itulah yang merupakan data kajian utama arkeologi Islam. Keramik asing ataupun lokal. c. Monumen terbagi menjadi: a. f. tenun. Peninggalan khazanah keislaman itu antara lain berupa: 1. konsentris. Artefak bergerak. lambang. Apabila data tertulis yang digarap terlebih dahulu. c. sketsel. h. Senjata. Sistem perbentengan. Tugu peringatan.132 Secara prinsipil terdapat beberapa kepurbakalaan masa silam yang dapat dihubungkan dengan periode perkembangan dan kerajaan-kerajaan Islam Nusantara. 122 . No. 2. dan lain-lain. e. Jalan sebagai acuan kota. rak. kereta. i.

(b) bahan. Bentuk arsitektur masjid. gapura. dan lain-lain 3. istana.Peran Penting Pernaskahan.. Kelompok pengguna yang memanfaatkan dan mengapresiasi bangunan-bangunan tersebut. menara. Dalam telah arkeologi. salah satu dari keempat soko gurunya merupakan tatal (serpihan kayu yang disatukan). Selain pemahaman umum tersebut. Langgam arsitektur bangunan masjid. (d) keistimewaannya: antara lain adanya figur bulus (kura-kura) pada dinding belakang mihrab yang berbobot angka tahun 1401 Saka. 4. melainkan sejarah atau filologi. maka sang peneliti harus mampu mengungkapkan kehadiran data arkeologis dalam konteks sejarah kebudayaan Islam di suatu daerah dan pada suatu masa tertentu. gapura. timur. terutama dalam hal latar belakang pembangunan monumen dan juga beberapa keistimewaannya. apabila melakukan studi terhadap suatu monumen. 3. Pada dinding penyekat tersebut terdapat sembilan pintu rendah (tiga pintu di sisi utara. menara. makam dan lainnya 2. (c) sejarah dan peranannya dalam proses penyebaran Islam. tidak sebagai penopang atap. Bahan yang digunakan pada bangunan-bangunan tersebut. Kajian secara umum terhadap kepurbakalaan monumental dari masa awal perkembangan Islam dan masa kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia dapat membawa kepada pemahaman akan: 1. Dinding tembok hanya berfungsi sebagai penyekat antara ruang dalam dan ruang serambi masjid. 123 . Masjid Sang Cipta Rasa di Cirebon mempunyai keistimewaan sebagai berikut: 1. masjid ini mempunyai empat Soko Guru 2. maka dapat diketahui tentang (a) bentuk arsitektur. — Agus Aris Munandar maka kajian itu bukan lagi arkeologi. terdapat pula pemahaman yang lebih khusus lagi.. Sebagaimana masjid kuno lainnya. terdapat relief yang menggambarkan sepasang “halilintar” pada daun pintu tengah masjid. Misalnya kajian terhadap Masjid Demak. istana. adanya penggunaan tiang-tiang dengan gaya ukiran Majapahit pada serambi depan masjid. dan selatan). Demikianlah beberapa pemahaman umum yang mungkin dihasilkan dalam ranah arkeologi-sejarah.

Kompleks makam Sunan Giri di Gresik. Keraton-keraton luar Jawa umumnya berupa bangunan panggung dengan ukuran besar. yaitu: 1. yaitu halaman depan. memilih dataran tinggi.Jurnal Lektur Keagamaan. No. dan belakang. 2. Semula di bagian depan pintu masjid yang terletak di sisi timur terdapat kolam untuk mengambil air wudlu. bukit. Pada bagian bingkai atas ceruk (ruang) mihrab terdapat ornamen yang merupakan stilasi dari bentuk kala-makara. Terdapat beberapa keraton yang dikelilingi tembok benteng (Surasowan di Banten dan Kuto Besak di Palembang) Kajian terhadap pintu gerbang (gapura): (1) dapat diketahui bahwa gapura yang berbentuk Candi Bentar (di Cirebon disebut Lawang Seketeng) selalu terletak di halaman paling depan. 1. Kompleks makam Sunan Drajat di Gunung Muria. antara lain. di Cirebon disebut Lawang Bledeg) terdapat di lingkungan dalam. Adapun kajian terhadap keraton di Jawa dapat diungkap adanya beberapa pengetahuan lain di luar pengetahuan utama.132 3. adapun gapura beratap (di Bali dinamakan Kori Agung. Keraton umumnya terbagi ke dalam tiga penataan halaman. Hal ini dapat diketahui berkat adanya kajian arkeologi Islam terhadap kompleks-kompleks makam yang masih ada hingga sekarang. (2) Kedua bentuk gapura tersebut merupakan kelanjutan bentuk-bentuk pintu gerbang yang telah dikenal dalam zaman perkembangan kebudayaan Hindu-Buddha di Jawa. Kompleks makam tokoh-tokoh yang berhubungan dengan penyebaran agama Islam (para wali) dan juga pemakaman keluarga raja. tengah. 2. 3. Kompleks makam Sunan Gunung Jati di Gunung Sembung. mislanya bangunan persemayaman raja dan keluarganya dan bangunan induk keraton (Keraton Kasepuhan dan Kanoman di Cirebon. 4. 4. 4. 7. Kompleks makam Sunan Bayat di Klaten. Kasultanan di Yogjakarta dan Kasunanan di Surakarta). 3. Bangunan-bangunan penting terdapat di halaman paling belakang. 124 . 2009: 109 . mengarah ke daerah inti istana atau kompleks makam. Vol. atau lereng pegunungan sebagai lokasinya. Kompleks makam yang terletak di lokasi ketinggian antara lain adalah: 1.

— Agus Aris Munandar 5. Iyang). golok. bermata ganda (dwisula). pedang. Kompleks makam Sunan Sendang di Bojonegoro. khususnya meriam. Bentuk dan bahan artefak bergerak. dan sebagainya Dalam masa perkembangan Islam di Indonesia. apa lagi diperkuat dengan kepercayaan bahwa tempat tinggi adalah simbol Gunung Mahameru yang dipuncaknya bersemayam para dewa dalam Swarloka. 4. Tentu saja di Jawa senjata yang paling populer adalah keris. dan meriam Ki Amuk di Banten Lama. Di-Hyang. Kompleks makam Imogiri di Yogjakarta. Telaah arkeologi terhadap senjata yang dipergunakan dalam masa perkembangan Islam menghasilkan kepada bentuk-bentuk senjata tajam yang pernah digunakan masyarakat. Maka dikenal adanya meriam buatan local seperti meriam Pancawura yang ada di keraton Kasunanan Solo. 6. perisai. oleh karena itu tokoh-tokoh yang telah wafat dimuliakan dalam kompleks makam yang terletak di ketinggian. meriam Si Jagur di Museum Fatahillah. setidaknya bukan nama diri seniman. 2. Asal gaya seni artefak tersebut. Secara konsepsi hal ini agaknya dapat dijelaskan bahwa adanya kesinambungan penghormatan kepada tempat-tempat tinggi yang dianggap sebagai tempat keramat.. Dalam zaman prasejarah ada penjelasan yang menyatakan bahwa tempat-tempat tinggi adalah lokasi yang layak bagi persemayaman arwah leluhur (Parahyangan. Konsepsi itu agaknya terus bertahan ketika Islam berkembang di Tanah Jawa. namun nama kelompok pengrajinnya. Selain keris senjata tajam lainnya misalnya tombak bermata tunggal. bermata tiga (trisula). Studi terhadap berbagai meriam dari era kerajaan Islam di Nusantara di masa mendatang akan membawa kepada pengetahuan tentang sistem persenjataan berat 125 . Penggunaan dalam masyarakat pendukungnya. senjata api telah pula digunakan.Peran Penting Pernaskahan.. 3. keris juga dikenal di berbagai etnik lain di Nusantara dan telah banyak buku yang dihasilkan para peneliti dan peminat tentang keris. Konsep itu terus bertahan ketika agama HinduBuddha berkembang. Kajian kepada kepurbakalaan yang berupa artefak bergerak akan membawa kepada pemahaman: 1. Pembuat artefak tersebut.

Sebenarnya dalam kesenian dapat dinyatakan sebenarnya terdapat lima unsur yang saling berkaitan sebagai berikut: Bagan VIII: Unsur-Unsur Kesenian Kelima unsur itu saling berkaitan dan mengisi dalam menghasilkan suatu karya seni. misalnya antara seniman dan masyarakat harus berada dalam “satu bahasa dan satu gagasan” apabila hendak mengapresiasi suatu karya seni. Salah satu bentuk seni rupa yang sederhana namun memerlukan kecermatan adalah seni kriya. jika tidak karya seni tidak mendapat penghargaan dalam masyarakat. 1. terutama dalam sejarah perkembangan Islam di Nusantara. baik seni rupa ataupun seni pertunjukan. No. Bentuk seni kriya dalam masa per126 . Demikian pula dalam mengekspresikan gagasan berkeseniannya seniman harus memilih bahan/media apa yang digunakan.Jurnal Lektur Keagamaan.132 dari kerajaan-kerajaan itu. Vol. 7. 2009: 109 . media dan hasil karya seni. gagasan. karena memang gagasan itu yang mendasari keempat unsur lainnya. Keutuhan lima unsur kesenian dalam karya seni keislaman agaknya cukup diperhatikan oleh para penghasil karya seni keislaman di masa silam. jadi tidak ada satu unsurpun yang diabaikan. Dalam bagan terlihat gagasan berada di bagian tengah. sehingga ada keterkaitan antara seniman. Adakah jumlah meriam yang dimiliki menandakan kebesaran dan kejayaan kerajaan tersebut? Dari masa perkembangan Islam di Jawa banyak dihasilkan karya seni.

Prototipe penataan kota Islam di Jawa itu sangat mungkin terjadi di kota Demak kuno (Adrisijanti M. contoh yang baik adalah figur-figur wayang kulit dan wayang golek Cepak gaya Cirebonan. Taman Sunyaragi. Mengenai tata kota dan penataan kompleks istana terdapat kajian tersendiri dalam bidang arkeologi Islam. kereta milik sultan. kemudian bangunan bagian tengah kompleks 127 . dapat dijumpai sebagai komponen hiasan keraton. di sisi selatannya terdapat bangunan kedaton atau istana.. Penataan kota-kota Islam di Jawa agaknya mempunyai pola yang telah baku. bagian utara terdapat pasar tempat orang berniaga. Romli 2008: 19-20). dan di tepi bagian timur alun-alun berdirilah bangunan-bangunan peradilan seperti kejaksan.Peran Penting Pernaskahan. dimulai dari sisi paling utara merupakan bangunan-bangunan penyongsong tamu. lukisan kaca. Surakarta.. Banten. Dari lingkup kesenian Islam masa Kesultanan Cirebon dikenal adanya bentuk-bentuk pahatan kayu yang mengambil figur dewa-dewa Hindu atau tokoh wayang yang telah sangat distilasi dengan gabungan bentuk mega mendung dan juga bentuk-bentuk wadasan (karang laut). figur wayang kulit gaya lama dari era Majapahit telah “dirombak” dan distilirisasi untuk disesuaikan dengan kaidah kesenian Islam. batik. dan Jogjakarta. dan penjara. Bahkan kota-kota kabupaten di Jawa dalam masa kolonial pun banyak yang tetap mempertahankan pola penataan pusat kota demikian. Bentuk hiasan khas Cirebon yang merupakan gabungan antara motif awan mendung dan batu-batu karang tersebut dikenal meluas dalam bermacam karya seni rupa. Sebagaimana telah diketahui bahwa bentuk wayang kulit sekarang ini adalah gubahan Sunan Kali Jaga. — Agus Aris Munandar kembangan Islam banyak yang bertahan hingga sekarang. bahkan sebagai iluminasi pada naskah-naskah Cirebon. dan ceritanya pun telah direkaulang untuk keperluan Islamisasi. Wayang kulit itu lebih mirip kepada simbol-simbol yang tidak sesuai dengan figur manusia sebenarnya. Bangunan dalam kompleks istana umumnya digambarkan linear. Seni kriya lainnya yang sering menjadi data kajian arkeologi Islam adalah pahatan kayu baik dalam bentuk relief atau ornamen lainnya. sisi barat alun-alun berdiri masjid agung. Pola seperti ini terus diikuti oleh kota-kota kerajaan lainnya seperti Cirebon. Dalam penataan itu pusat kota adalah tanah lapang (alun-alun).

(e) kisah binatang (f) kisah penglipur lara/jenaka (g) undang-undang. 5. Legenda. Peranan data dari sumber tertulis dalam kajian arkeologi Islam dapat dijelaskan sebagai berikut: 128 . begitupun juga mengenai isinya. (j) dan lainnya. Dalam hal khazanah naskah Islam di Nusantara. (e) dan lainnya. (h) obat-obatan. No. Sambas. (b) tarikh nabi-nabi dan sahabatnya. Mengingat dan mengakumulasi pengetahuan tertentu yang telah diketahui oleh penggubah atau masyarakat sekitarnya. 3. Sajarah). 2. Sebagai upaya untuk menyebarkan ajaran keagamaan Islam. Banten Lama. Adapun pola penataan menyebar atau menghadap ke sungai terjadi pada istana-istana kerajaan Islam yang terdapat di luar Jawa. (i) uraian tentang mistik dan tasawuf. Isi yang dikandung tentang (a) ajaran agama Islam. Pengungkapan ekspresi estetika para penggubahnya. misalnya di Kutai Kertanegara. keraton Surakarta dan Yogjakarta dan juga di kompleks Keraton Sumenep di Madura. Semua bangunan keraton dilingkungi tembok benteng dan semuanya terintegrasi dalam suatu area kedaton. Bahasa juga beraneka. (d) Bugis. 2009: 109 . 4. Pola penataan bangunan keraton memusat misalnya terdapat di kompleks keraton Surasowan dan keraton Kaibon. dan paling dalam adalah bangunan-bangunan utama dan tempat tinggal raja dan kerabatnya sehari-hari. Memberikan legitimasi tentang kuasa yang dimiliki oleh para raja. 7. Hikayat. antara lain (a) Jawa. Vol.132 yang merupakan pendukung aktivitas istana. Pola seperti ini terlihat di kompleks keraton Kasepuhan dan Kanoman Cirebon. dan kaum kerabatnya. (e) dan berbagai bahasa daerah lainnya. (c) babad/sejarah tradisional (d) kisah wayang. Bentuknya dalam prosa ataupun puisi dengan aturan prosodi tertentu. Berikut data penting tentang manuskrip masa Islam: Aksara yang digunakan antara lain: (a) Arab dan keturunannya. Penyusunan kisah sejarah tradisional dengan berbagai sebutannya (Babad. (b) Jawa. bentuk dan ragamnya sangat beraneka. Tujuan penulisan naskah-naskah Nusantara itu antara lain untuk: 1. dan Pontianak. (d) Bugis. 1. (c) Melayu. (c) Lampung. (b) Sunda. sultan. Tambo.Jurnal Lektur Keagamaan.

Peran Penting Pernaskahan. Misalnya dari Babad Demak diuraikan bahwa di kota Kerajaan Demak terdapat pula kedaton tempat bersemayamnya para penguasa. dapat dibantu diterangi lewat kajian dari sumber tertulis. namun kajian arkeologi hingga sekarang masih belum dapat membuktikan di mana lokasi tepatnya kedaton tersebut. (d) Memperkaya interpretasi untuk dapat mengembangkan historiografi Kajian arkeologi-sejarah atau pun sejarah diakhiri dengan tahap historiografi. Contohnya dalam kajian arkeologi Islam ditemukan makam Islam kuno. kecuali masjid agungnya yang masih berdiri megah hingga kini. jika kajian hanya menyandarkan diri kepada data arkeologi.. Contoh: dapat dipahami bahwa di situs Trowulan peninggalan Majapahit terdapat kompleks pemakaman Islam Troloyo. tahapan ini sudah tentu memadukan data dari berbagai sumber. (b) Memperluas pemahaman tentang kedudukan dan peranan artefak dalam masyarakat sezaman Merupakan suatu keniscayaan yang terjadi. Temuan dari naskah dapat juga menjadi kerangka acuan yang harus dibuktikan oleh para arkeolog. — Agus Aris Munandar (a) Pendukung kajian terhadap data artefaktual Dalam hal ini data dari sumber tertulis tersebut dijadikan bahan untuk membantu “menjelaskan” artefak dari masa perkembangan Islam. Pada akhirnya dapat membuka interpretasi baru dan 129 . sebab menurut berita Cina dalam masa kejayaan Majapahit pun telah banyak orang-orang Islam yang bermukim dan berniaga di kota itu. maka pemahaman pun terbatas. Peranan data dari sumber tertulis menjadi penting dalam tahap historiografi. karena bagian-bagian yang berdasarkan telaah arkeologi masih gelap. (c) Data dari sumber tertulis dapat menjadi dasar penelitian dan kerangka acuan kajian arkeologi Islam Uraian dari sumber tertulis ada yang dapat dijadikan pegangan bagi kajian arkeologi di lapangan. menurut uraian penduduk adalah makam putri Champa.. Dalam naskah Babad Tanah Jawi terdapat penjelasan bahwa salah seorang Raja Majapahit masa akhir telah menikah dengan putri Champa yang memeluk Islam. Dengan menelisik sumber-sumber tertulis maka diperoleh lagi pemahaman yang lebih luas tentang sesuatu artefak.

mungkin terdapat makna lain yang mendalam dan bukan sekedar bangunan untuk melengkapi Taman Raja. bahkan telah dipugar secara baik.Jurnal Lektur Keagamaan. Hal yang perlu dikemukakan kepada masyarakat pendukung living monument adalah prinsip pelestarian dan kepentingan ilmu pengetahuan yang juga harus dijaga. bahkan pembangunan baru. dan monumen lainnya dari masa perkembangan Islam masih dipergunakan dan dirawat oleh para pendukungnya. Vol. makam. Dalam pada itu data arkeologi Islam yang terdahulu pun banyak yang masih belum dikaji secara tuntas. penambahan. Dewasa ini terdapat kecenderungan masyarakat untuk memperbaiki monumen-monumen kuno Islam yang dipandang sudah lapuk atau rusak. oleh karena itu hasilnya adalah bangunan baru sama sekali tanpa menyikan unsurunsur kunonya. 7. atau perlu dilakukan kajian ulang atau interpretasi baru.132 memperluas narasi historiografi untuk dapat dijadikan bahan diskusi lebih lanjut. memang para peneliti Belanda telah merintis kajian tersebut sejak awal abad ke-20 M. dan (b) living monument. para arkeolog telah membagi dua macam munumen. yaitu (a) dead monument. Misalnya kajian data arkeologi terhadap monumen Gunongan yang dibangun dalam masa Kesultanan Aceh telah cukup memadai. dan gapura. Masjid kuno. Kecenderungan meluas justru terjadi “pemugaran” terhadap masjid-masjid tua oleh masyarakat penggunanya sendiri. Hal ini sebenarnya merupakan permasalahan lama. istana. tetapi banyak temuan baru yang terus bermunculan hingga kini dan menunggu untuk dikaji. Epilog Kajian arkeologi Islam di Nusantara sudah pasti dapat dikembangkan lagi. misalnya terhadap masjid-masjid kuno. Kedua prinsip itu jelas harus berjalan berdampingan dengan aspek pemanfaat dan aktualisasi zaman. 1. No. makam. istana. Jadi apabila telah terjadi “pemugaran” terhadap suatu masjid kuno oleh masyarakat dengan mengabaikan 130 . 2009: 109 . oleh karena itu lumrah saja apabila mereka melakukan perbaikan-perbaikan. Akan tetapi kajian terhadap peranan dan fungsi monumen tersebut dalam masanya masih dapat diperbincangkan lagi. Dalam melakukan perbaikan atau pemugaran tersebut kerapkali kaidah keilmuan (ilmu arkeologi) diabaikan.

Shaleh A. padahal dunia telah mengakui bahwa Indonesia adalah negara Islam dengan penduduk terbesar di dunia. S. dalam Majalah Ilmu-Ilmu Sastra Indonesia (MISI). Takdir. Langkah-langkah di masa mendatang untuk memajukan kajian arkeologi Islam dan menjaga data khazanah artefak serta manuskrip keislaman lainnya. dalam Michael Bunton (Penyunting).. — Agus Aris Munandar prinsip pelestarian dan ilmu pengetahuan. 1977. Ancient History of Bali. Desember. maka bangsa Indonesia telah melupakan jatidiri sejarah keislaman dan bukti-bukti kehadiran agama Islam pada awalnya. 2008. “Sejarah Agama Islam di Ternate”. Spiro. Kuntowijoyo. 1980. R. “Puncak-puncak Prestasi Kesultanan Demak dalam Bidang Budaya”. dalam Majalah Budaya Bende Vol. M. 3: 263—76. sehingga bukti-bukti masa awal perkembangan Islam di wilayah Nusantara tidak terkikis habis oleh pembangunan dan modernisasi. London: Tavistock Publications. Jilid VIII. Udayana University.. Perhatian dan apresiasi terhadap pengembangan arkeologi Islam itu harus juga ditularkan kepada warga masyarakat oleh siapapun yang berminat dalam arkeologi Islam. Halaman 85—126.Peran Penting Pernaskahan. Putuhena. Maret. Goris. 1994. hal itu terjadi karena ketidaktahuan masyarakat tentang studi arkeologi Islam. tidak hanya harus dilakukan oleh pemerintah dan pihak-pihak terkait. 1980. “Religion: Problems of Definition and Explanation”. Jakarta: Dian Rakyat.[] Daftar Pustaka Adrisijanti M. Jika saja hal itu terjadi. Koentjaraningrat. Halaman 18—21. Sejarah Teori Antropologi I.. 1965. No. 131 . Antropological Approaches to the Study of Religion.4 No. Romli. 1982.2. Alisjahbana. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. Metodologi Sejarah. Jakarta: Bhratara. Melford E. Jakarta: Sekar Budaya Nusantara & FIB UI. Sejarah Kebudayaan Indonesia: Dilihat dari Segi Nilai-nilai. Yogjakarta: Tiara Wacana. mungkin hal itu bukan akibat kesalahan masyarakat semata. Denpasar: Faculty of Letters.

Jurnal Lektur Keagamaan. Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 2009: 109 . Uka. 1.132 Tjandrasasmita. 7. Vol. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. 3. 132 . 1986. No. Sepintas Mengenai Peninggalan Kepurbakalaan Islam di Pesisir Utara Jawa.

In addition to that. porcelains and so on. ornamen. Depok This article explains about how archeology has its own role in the study of Islam in Indonesia.Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara Irmawati M-Johan Universitas Indonesia. Sebagai ilmu. mesjid kuno. Sebelum lebih jauh menyampaikan apa peran arkeologi dalam kajian Islam di Nusantara. Bisides that. terlebih dahulu akan dijelaskan apa yang menjadi perhatian arkeologi dan apa yang sebenarnya dikaji dalam penelitian-penelitian arkeologi. the building of palaces. material culture. Kata kunci: Arkeologi. keraton Pendahuluan Tujuan dari tulisan ini adalah menjelaskan bagaimana peran arkeologi dalam kajian Islam di Nusantara dan hal-hal apa saja yang menjadi kajian arkeologi. keraton (also palace) and ancient mosques as well as Islamic sites such as the Old Banten (Banten Lama) and Lobu Tua. This archeological study tries to dismantle the history of the past humankind by using material culture. The material culture this writing means are the gravestones. artefacts such as the coins. This article also explains the aspects that become the object of the study of archeology. the buildings of the mosque. palaces. efigrafi. Selain itu. akan dikemukakan pula berbagai penelitian yang telah dilakukan selama ini yang berkait dengan Islam di Nusantara. situs. Some researches that have ever been conducted are dealing with Islamic epigraphy such as ancient gravestones. some researches that have been conducted on Islam in Indonesia will be presented too. nisan. some archeologists try to develop the study of Islamic sites as the branch or archeolgy through excavation. arkeologi merupakan ilmu yang mempelajari manusia dan masyarakat masa lalu melalui tinggalan budaya materi 133 .

Selain itu arkeologi juga merupakan bagian dari science karena menggunakan kaidah-kaidah ilmu pengetahuan dan metode yang scientific dalam menganalisis dari penggunaan carbon dating hingga studi tentang residu makanan (Renfrew & Bahn. artefak seperti. 1912: 536-548). Selain itu.146 (material culture) seperti bangunan-bangunan. Setelah itu. 1. No. 1977: 108). 2003: 456-552). bangunan istana. Vol. tembikar dan lain-lain. bangunan masjid. ada pula yang mengembangkan kajian situs Islam sebagai kajian arkeologi melalui ekskavasi. Karena mempelajari masa lalu maka arkeologi juga merupakan bagian dari sejarah. alat-alat dan artefak lainnya. Epigrafi Kajian tentang nisan sudah sejak awal telah dilakukan terutama para ahli kebangsaaan Belanda. 2003: 12-3). Moquette pada tahun 1912 mengkaji nisan kubur di Samudra Pasai dan nisan kubur Malik Ibrahim di Gresik yang dianggap memiliki persamaan dalam cara menuliskan huruf dan kalimat-kalimat dengan nisan Umar bin Ahmad al-Kazaruni di Cambay (Moquette. Menurut Sharer & Ashmore (2003) ada tiga hal yang direkonstruksi oleh arkeologi. Pendapatnya ditegaskan lagi 134 . Nisan Kubur a. Untuk itu kita dapat melihat selintas kajian-kajian apa yang telah dilakukan terhadap tinggalan budaya Islam. mata uang.Di mulai pada tahun 1910 yang dilakukan oleh Van Ronkel yang membaca nisan kubur Malik Ibrahim di Gresik yang mencantumkan angka tahun wafatnya yaitu 1511 M (Ronkel. 7. Colin Renfrew dan Paul Bahn (2003) menyebut arkeologi sebagai bentuk past-tense dari antropologi budaya yang juga mempelajari masyarakat dan kebudayaan manusia. antara lain nisan-kubur. sistem sosial dan sistem simbol dan ideologi (Sharer & Ashmore. yaitu sistem teknologi dan lingkungan. 1. 2009: 133 . Material Culture Ada beberapa jenis material culture dari masa Islam yang menjadi perhatian para arkeolog Indonesia. 1910: 596-600. arkeologi mencoba menganalisa data yang diperoleh dari penelitiannya untuk merekonstruksi berbagai hal. Dalam usahanya memahami kehidupan manusia masa lalu. Tjandrasasmita.Jurnal Lektur Keagamaan. yaitu sejarah manusia secara luas yang dimulai sejak tiga juta tahun yang lalu.

80). dan menemukan makam raja-raja yang pernah memerintah Aceh seperti Sultan Ali Mughayat Syah yang wafat 936 H (1530 M). Menurut hasil penelitiannya angka tahun yang tertua adalah 1296 S (1376 M) dan yang angka tahun termuda adalah 1533 S (1611 M).Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan dalam penelitiannya pada tahun 1920 dan mengatakan bahwa nisannisan di Samudra Pasai dan Gersik berasal dari Cambay (Gujarat ) (Moquette. 1914: 73. 1921: 391-399. 1913. Tjandrasasmita. Paul Ravaisse (1925) telah melakukan kajian tentang makam Malik Ibrahim dengan melakukan pembacaan inskripsi yang terdapat pada nisan serta mencoba untuk “membaca” beberapa ornament lampu yang terdapat pada nisan tersebut dan mengatakannya bahwa ornament ini adalah symbol dari surat An-Nur (cahaya) (Ravaisse. Ia membaca ulang hasil pembacaan para ahli terdahulu N.J Krom dan memberikan penafsiran baru terhadap nisan-nisan yang ada. 1925: 668-703). Penelitian pada tahun 1955 selanjutnya di lakukan L. dan lain-lain yang dikaitkan dengan sumber tertulis Kitab Bustanus-Salatin dan Tajus-Salatin (Moquette.P Moquette yang lain adalah penelitiannya tahun 1914 ke Kuta-Raja Aceh. Sumbangan J. Sultan Ala’udin al-Khahar (979 H/1571 M). Sultan Ali Ri’ayat Syah (987 H/1579 M). Pembacaan nisan-nisan yang terdapat di Samudra Pasai juga dilakukan oleh J. Jawa Timur. Damais tentang nisan-nisan di Troloyo. Pada tahun 1919 Moquette menyampaikan hasil penelitiannya tentang makam tertua di Jawa yaitu Fatimah binti Maimun bin Hibatullah yang wafat 495 H (1102 M) berhuruf Kufi (Moquette. 1977: 111). 1977: 108). Keberadaan makam-makam ini membuktikan bahwa pada masa Majapahit yaitu pada masa kejayaan Hayam Wuruk di Jawa sudah ada orang-orang Islam yang dimakamkan dalam lingkungan yang dekat dengan 135 . Sumbangan penelitian Moquette yang penting adalah mengidentifikasikan bahwa Sultan Malik As-saleh adalah Sultan pertama di Samudra Pasai yang dikaitkan dengan Sejarah Melayu dan Hikayat Raja-Raja Pasai (Moquette. Tjandrasasmita. Tjandrasasmita. 1977: 111).P Moqutte pada tahun 1913 yaitu pada nisan Sultan Malik as-Salih yang mencantumkan angka tahun wafatnya pada tahun 696 H (1297 M ) dan nisan Sultan Malik az-Zahir putra Sultan Malik as-Salih yang wafat pada tahun 726 H (1326 M).C. 1920: 44-47.

Hal ini merupakan data penting bagi perkembangan sejarah Islam di Indonesia (Ambary. Vol. Krom yang telah meneliti nisan Trowulan enggan mengakui bahwa sudah ada orang-orang Islam yang berhak dimakamkan dekat dengan lingkungan istana pada akhir abad ke 13 Saka di Jawa. Berdasarkan penelitian epigrafi pada nisan-nisan kubur dapat diketahui bahwa Sultan Malik as-Saleh adalah Sultan pertama di Samudra Pasai dan atas dasar angka tahun pula maka dapat dikatakan bahwa Samudra Pasai adalah kerajaan Islam pertama. satu di antaranya dapat langsung dibaca angka tahunnya yang berangka tahun 1290 S (1368 M). 1995: 223-289. Keengganan Krom menurut Damais mungkin juga karena Nagarakartagama tidak berbicara tentang agama baru tersebut. Menurut Damais ketika mengunjungi makam Putri Cempa di Trowulan ia menemukan dua makam lain yang berprasasti. Keberadaan makam ini merupakan bukti bahwa di Barus telah ada pemukiman Islam (Ambary. 7.129). 1998: 174). No. Peneliti terdahulu antara lain N. 1988: 174) Penelitian di Barus telah memperoleh data penting yaitu makam dari Tuhar Amisuri yang wafat pada 602 H (1203 M) memperlihatkan bahwa makam ini lebih tua dari makam Sultan Malik asSaleh (1297 M). 1.Jurnal Lektur Keagamaan. 2009: 133 . 1998: 57). Lebih lanjut Damais mengatakan bahwa mengingat stratifikasi sosial pada masyarakat Jawa Kuno yang sangat hiarakis maka bukanlah tidak mungkin bahwa mereka adalah keluarga istana. catatan kaki no. terutama dari Gujarat sebagaimana yang terdapat pada nisan Malik Ibrahim dan Fatimah binti Maimun. Untuk itu Damais mengatakan bahwa harus dilakukan penelitian yang sistematis tentang makam-makam kuno yang ada di Trowulan agar dapat diperoleh data baru tentang penyebaran agama Islam di Jawa Timur (Damais.146 keraton. Nisan ini merupakan data penting bahwa di Leran pada abad ke-11 sudah terdapat masyarakat muslim yang kemungkinan merupakan masyarakat pedagang yang diterima oleh masyarakat 136 . Nisan Fatimah binti Maimun bin Hibatullah yang ditulis dalam huruf Kufi ornamental yang bagian ujungnya dibentuk ikal di Leran telah dibaca oleh Paul Ravaisse memiliki penanggalan 475 H (1082 M).J. Penggunaan huruf Kufi hanya terdapat pada nisan-nisan yang diimport dari luar Nusantara. Huruf yang lebih banyak dipakai di Nusantara adalah gaya sulus atau gaya naskh (Ambary.

Medalion Sinar Majapahit mirip dengan halo pada patung-patung yang dianggap tokoh suci pada agama Kristen.243. Di Semenanjung Malaysia. Bentuk lampu seperti itu adalah lampu-lampu dari dunia Islam di Timur Tengah. Naina Hisamuddin di Aceh. Jawa Timur (terutama pantai utara). tipe Aceh. tetapi unsur bentuk dan juga ornamennya. Tipe Aceh (bucrane) misalnya selain terdapat di Pasai dan Aceh ditemukan juga di situs kubur di Barus dan beberapa situs lain di Sumatra Barat hingga Lampung. Atas dasar tipe –tipe tersebut ditelusuri persebarannya di Nusantara dan Asia Tenggara. lalu berkembang bentuk persegí panjang dan silindrik pada fase ke dua abad 17M-19M (Ambary. Banten dan Yakarta. 1998: 239-241). maka dilakukan penelitian bahwa nisan-nisan impor seperti Malik Ibrahim. Pada nisan-nisan di Troloyo telah dikaji pula ornamen medalion sinar Majapahit yang disinggung pertama kali oleh Knebel yag disebutnya sebagai Cap Matahari. Perkembangannya dimulai dari bentuk bucrane pada abad 16-17 M. Menurut Damais. India. Dengan demikian hal ini dapat memperkuat bahwa nisan-nisan yang memiliki ornament ini memang bukan berasal dari Nusantara (Marwoto. Di dalam peninggalan budaya materi di Nusantara motif atau jenis lampu yang tergantung dalam mihrab tidak pernah dikenal. Yang menarik bahwa motif surya Majapahit ini ternyata 137 . bentuk nisan Aceh ditemukan di Kalimantan Selatan. kaki no. 1993: 278). cat. Bentuk Nisan dan Ornamen Studi tentang nisan tidak hanya dilakukan berdasarkan unsur tulisan saja. 68: 301). tipe Bugis Macasar dan tipe Ternate. b. 1996: 1-8 ). 1995: 242. Persia. nisan papan Tinggi di Barus hampir semua memiliki ornamen ini.. Bintan. Hasan Muarif Ambary (1984) dalam disertasinya telah melakukan penelitian tentang bentuk-bentuk nisan di Nusantara dan menggolongkannya menjadi 4 tipe yaitu tipe Demak-Troloyo.Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan setempat yang berada di bawah kerajaan Hindu-Buddha sebelum Kadiri (Tjandrasasmita. Berdasarkan pendapat Paul Ravaisse tentang nisan Leran dari Fatimah binti Maimun bahwa ornamen lampu yang tergantung di dalam mihrab adalah simbol dari Surah An-Nur. Lingkaran cahaya ini di Jawa dan Bali melingkari seluruh tubuh tokoh atau benda yang dianggap memiliki sifat supernatural (Damais. Sulawesi Selatan. Setelah abad ke 17.

Menara di masjid Kudus bukan menara asalnya melainkan bagunan dari jaman Hindu yang digunakan kembali sebagai tempat kulkul. Jasinga. Palembang. Berdasarkan penelitianya seni ukir dan seni bangunan di Kudus merupakan seni bangunan Jawa-Hindu Majapahit (Jasper 1922: 3-30. Tjandrasasmita 1977: 111).F Pijper pada tahun 1947 dan Pijper menyampaikan bahwa masjid kuno di Indonesia pada umumnya tidak memiliki menara. Selain itu ia melakukan penelitian pola-pola ornamennya dan dibandingkan dengan ornamen di candi-candi (Steinmann 1934: 89-97. 1. Menurutnya. Blora. Brunai. No. penelitian tentang jenis tanaman sangat penting untuk mengetahui keragaman tumbuhan yang ada pada masa itu. Samudra Pasai. Vol. Tjandrasasmita. 2. Penelitian tentang menara dan masjid kuno di Indonesia dilakukan oleh Dr. 7. oleh N. Sumatera Barat. Tentang bangunan masjid kuno ia menyampaikan bahwa bentuknya mengikuti bentuk arsitektur lokal dengan beberapa ciri 138 . Kalimantan Timur. Tjandrasasmita 1977: 115). tesis lima buah dan satu buah disertasi. dan telah menghasilkan sembilan buah skripsi Program Studi Arkeologi S1. Steinmann pada tahun 1934 melakukan penelitian ornamen yang terdapat pada masjid Mantingan dan makam Ratu Kalinyamat. G.J Krom yaitu tentang menara Kudus yang diperkirakan berasal dari abad ke 16M dan dianggap merupakan gaya bangunan peralihan dari gaya bangunan Majapahit yang mengingatkan pada bangunan candi (Krom 1920: 294-295. Masjid Kajian tentang masjid kuno di Indonesia khususnya di Jawa mulai dilakukan pada tahun 1920. Cirebon. Setelah itu penelitian di Kudus di lanjutkan oleh J. Troloyo. 1977: 112).Jurnal Lektur Keagamaan. Penelitian dalam bentuk skripsi tentang bentuk-bentuk nisan dan ornamen telah dilakukan di berbagai situs seperti Jakarta. 2009: 133 .146 penggunaannya terus berlanjut pada masa-masa selanjutnya sebagaimana kita temukan pada nisan-nisan di sepanjang pantai utara Jawa. sampai ke Madura bahkan saat ini Muhammadiah juga menggunakan lambang surya Majapahit.E Jasper pada tahun 1922 yang mengkhususkan pada penelitian seni ukir dan seni bangunan.

Pada perkembangan selanjutnya studi tentang masjid kuno terus dilakukan baik dalam bentuk paper ataupun skripsi kurang lebih berjumlah 23 buah di Progam studi Arkeologi UI yang mencakup masjid kuno di Palembang. D. arah hadap dan pola keletakan untuk masjid Istana berada di sebelah barat alun-alun. Selanjutnya jika bagunan tempat menyambung ayam sebagai bangunan yang semiprofan tidak mungkin dijadikan dasar pembuatan masjid dan yang lainnya adalah tidak memiliki loteng. Tjandrasasmita 1977:112). Pada sisi barat laut terdapat mihrab yang umumnya menjadi tempat yang paling raya ornamennya.dan Medan. Padang.J de Graaf yang mengatakan bahwa masjid kuno di Jawa mendapat pengaruh bentuk masjid dari Sumatera yaitu masjid Taluk di Sumatera Barat yang merupakan prototipo masjid Malabar (Graaf. Cirebon. 1947: 274-283).F Stutterheim mengajukan pendapatnya bahwa masjid kuno di Indonesia mendapat pengaruh dari bangunan tempat menyambung ayam di Bali (Stutterheim 1935: 135-140). bentuk denah masjid Taluk adalah segi empat dan dikelilingi air sedangkan masjid Malabar denahnya persegipanjang tidak dikelilingi air. Manonjaya. 1947-48: 289). W. Banyumas. jadi berbeda dan yang sama hanya pada bentuk atap. Ornamen pada bagian atas mimbar 139 . Sumenep. Taluk. Jakarta. Atas dasar penelitian terhadap bangunan masjid kuno di Indonesia Maka dapat diketahui pola-pola bangunan seperti denah masjid. Pendapat Stutterheim disangkal oleh Prof Sutjipto Wiryosuparto. Banten. di sisi kanan mihrab terdapat mimbar yang umumnya berbentuk seperti kursi dan memiliki anak tangga. Sutjipto lalu mengajukan bangunan mandapa atau pendapa yang menjadi asal mula bentuk masjid kuno (Wiryosuparto 1961-62:7-8).Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan seperti denah segi empat dan pejal. Tentang asal usul bangunan masjid kuno telah dibahas oleh beberapa ahli seperti H. atapnya bertingkat-tingkat (Pijper. Masjid ini dibangun dengan bentuk yang baru pada tanggal 9 Oktober 1879 yang dibuat oleh seorang arsitek Belanda bernama Bruins (Kreemer 1920-21: 69-87. Penelitian di Aceh dilakukan oleh J Kreemer di Masjid Raya di Kutaraja yang menurut penelitiannya bahwa Masjid Raya itu asalnya bernama masjid Bait ar-Rahman yang didirikan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636M).R.

Pada masjid-masjid tertentu selain ada tempat bedug juga terdapat makam-makam raja atau tokoh-tokoh penting seperti Masjid Demak dan Masjid Banten. 3. 140 . Keraton Surosowan di Banten. sulur-suluran. seperti Keraton Kasepuhan dan Kanoman di Cirebon. ular. Penelitian mengenai ornamen masjid memperlihatkan bahwa masih banyak digunakan motif-motif yang berasal dari masa sebelum Islam seperti kala makara. 1. Selain penggunaan motifmotif dari masa sebelum Islam dan berbagai motif binatang ternyata ditemukan pula penggunaan motif-motif Islam seperti Interlace atau yang dikenal dengan Arabesque terdapat di Masjid Sang Ciptarasa Cirebon) dan Masjid Mantingan. 7. antefiks dan binatang yang distilir seperti di masjid Mantingan. Atap masjid merupakan atap tumpang yang bertingkat-tingkat dalam jumlah yang ganjil. Ornamen pada masjid-masjid di luar Jawa memperlihatkan bahwa ornamen banyak menggunakan motif-motif lokal sehingga dapat dilakukan studi yang mendalam tentang motif-motif lokal dari seluruh masjid Indonesia. Motif Interlace ini bila kita amati menyebar sampai ke Madura terutama pada makammakam kuno (Marwoto 2003:152-312). Ornamen-ornamen makhluk hidup yang selama ini dianggap tidak boleh dilakukan tidak sepenuhnya dihindari sebagaimana terdapat pada Masjid Trusmi di Cirebon yang mengambarkan berbagai bentuk binatang seperti binatang anjing. Bentuk bangunan masjid yang telah mengikuti gaya bangunan Timur Tengah dengan kubah di tengahnya adalah masjid-masjid yang kemudian dibanguan oleh Belanda seperti masjid Raya Aceh dan Masjid Agung Medan. kambing pada soko guru dan Masjid Demak dengan tempelan porselin yang memiliki berbagai motif binatang seperti anjing dan burung dan kura-kura.146 biasanya motif kala terkadang dengan makara. Demikian pula dengan keratonkeraton dari abad ke 18 seperti Yogyakarta dan Surakarta di arahkan ke utara. Tata letak keraton-keraton Islam di Jawa pada umumnya mengarah ke utara. No. Keraton Banda Aceh dari masa Sultan Iskandar Muda abad ke 17 M. 2009: 133 . Keraton Samudera Pasai besar kemungkinan menghadap ke utara yaitu menghadap ke Selat Malaka. Keraton Keraton atau istana merupakan pusat kota dari sebuah kerajaan. Vol.Jurnal Lektur Keagamaan.

Situs Karang Antu. Cirebon. Maimun dan Sumenep. Banten. Penelitian tentang makna ruang pada situs keraton Kasepuhan yang melihat antara penempatan ruang bagi yang hidup dan yang mati memperlihatkan bahwa Cirebon memisahkan dengan tegas ruang antara yang hidup (di Keraton) dan yang mati (di Gunung Jati).Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan berdasarkan berita asing diarahkan ke barat Laut. Banten Lama Penelitian situs-situs Islam telah dilakukan di beberapa tempat seperti: Kawasan Banten Lama. Situs-Situs Islam a. Banten lama berdasarkan sumber sejarah adalah pusat kota dan bandar utama Kerajaan Banten yang berkembang sejak abad ke 16 hingga abad ke 19 M. 2007: 238-246). dan lain-lain. Hasil penelitian 141 . 2007: 9). Situs Pabean. Berdasarkan penelitian tentang keraton maka dapat diketahui pola tata letak keraton. Situs Kadiri. jadi hampir ke utara (Poesponegoro 1984:219). Kanoman. Situs Pamarican. Selain itu juga memperlihatkan pembagian ruang antara yang profan dan yang sakral (Johan. Bagian yang merupakan tempat tinggal raja biasa disebut “dalem”. Samudra Pasai. 1984: 221). Situs Kraton Kaibon. Banten juga berperan sebagai tempat perdagangan antar bangsa. Kota Banten tumbuh sebagai pusat dagang dengan aneka ragam komoditas perdagangan yang didatangkan dari berbagai wilayah dan diperdagangkan di Banten. Untuk itu Sartono Kartodirdjo mengkategorikan Banten sebagai emporium seperti juga Aceh. Mataram dan Samboapu sebagaimana diberitakan oleh sumber tulis asing susunan halaman untuk sampai ke bagian “dalem” adalah tiga yang mengingatkan akan bangunan halaman candi dan pura di Bali (Poesponegoro. bagian-bagian keraton dan fungsinya dan ornamen yang digunakan di keraton. 4. Kompleks bangunan keraton pada umumnya memiliki tembok keliling yang memisahkan keraton dari bangunan lainnya. Penelitian tentang Keraton dalam bentuk skripsi di program studi S1 Arkeologi ada 11 buah. Situs Jembatan Rante. Makasar dan Mataram (lihat Untoro. Yogyakarta. meliputi Keraton Kasepuhan. termasuk di dalamnya situs Kraton Surosowan. Di Keraton Aceh.

Sohar (Oman) dan Kilwa (Tanzania) dapat dikaitkan dengan adanya kelompok perdagangan dari Oman yang bernama Ibadi. Warna kaca sebagian besar berwarna hijau pucat. Kelompok ini Sangat berperan aktif di wilayah Teluk Persia. sebagian di udara terbuka sebagian dalam cetakan. b. Bukan merupakan kaca yang berkwalitas bagus tetapi lebih merupakan barang sehari-hari. hijau tua. biru kobalt. Banten lama adalah satu-satunya kawasan perkotaan Islam yang tersisa hingga saat ini. kuning pucat dan biru pucat. berslip terang berhiaskan goresan dan glasirnya percikan-percikan. merah ungu dan turkuas. 1. 2002: 157-168). Keberadaan tembikar Sgraffiato di Lobu Tua membuktikan bahwa Labo Tua termasuk dalam jaringan perdagangan dari Teluk Persia (Perret. Selain temuan tembikar ditemukan pula artefak kaca yang kebanyakan dibuat dengan tehnik tiup. Aden. Kraton Kaibon. Vol. penelitian arkeologis banyak menghadapi kendala terutama dengan makin penuhnya penduduk yang menempati kawasan sehingga tidak lagi dapat dikendalikan. No. khususnya di Basrah dan di pesisir lautan Hindia. termasuk Makran. coklat. Keadaan keraton Surosowan dan Kaibon yang telah dipugar sekarang terbengkalai. Sumber tulisan kuno dari Timur Dekat menyebut nama Barus serta adanya pedagang dari Oman di Nusantara sekurang-kurangnya sejak abad ke 10 M. Bambhore dan pesisir Timur Afrika. mata uang VOC. Jenis “later Sgarffiato ware” Lobu Tua memiliki persamaan dengan temuan sejenis di Makran (Iran). Pola hiasannya buga-bunga. Selain itu memugar sisa-sisa Kraton Surosowan. Di duga bahwa beberapa temuan menunjukan dua daerah asal yaitu Iran dan 142 . Benteng Spelwijk.146 arkeologi di Banten yang dimulai pada tahun1977 antara lain adalah ditemukannya situs industri logam dan industri tembikar serta temuan barang-barang perdagangan seperti keramik Asing dari berbagai negara. mata uang cina. geometris abstrak atau kaligrafi dengan huruf kufi. Lobu Tua Pada tahun 1995 dan 1996 dilakukan penggalian di Situs Lobu Tua dekat Barus oleh tim Indonesia Perancis dan ditemukan 600 pecahan tembikar berglasir asal Timur Dekat yang dikenal dengan “later Sgraffiato ware”. 7. Menara Pacinan (Ambary 1998:124).Jurnal Lektur Keagamaan. 2009: 133 . Ciri-cirinya adalah bahannya berwarna merah jambu.

Demikian pula dengan studi tentang masjid kuno dan keraton. Artinya masih 700 abkltas yang belum terbaca.Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan Mesopotamia. fungsinya belum jelas. serta bagian timur Laut Tengah. Bagaimana perkembangan gaya tulisan dan ornamen dalam nisan-nisan kunopun belum pernah dilakukan dalam skala yang luas. Barang-barang dari Laut Tengah nampaknya diimpor sejak awal abad 11 M. Tempayan Miniatur jenis Serahi dari Timur Tengah. Setelah direkonstruksi artefak kaca. 143 . Seperti yang dikatakan Damais bahwa dari 1500 abkalts yang ada di Direktorat Sejarah dan Purbakala baru terbaca 800 abklats. maka dapat dikemukakan beberapa bentuk utuhnya yaitu: Karaf (botol kaca dengan bibir bulat datar) dari abad 9-10 M. Contoh lain tentang penelitian epigrafi Islam yang sudah dilakukan juga mengungkap cukup banyak hal penting tentang raja-raja yang memerintah di kerjaan-kerajaan yang bercorak Islam yang selama ini hanya diketahui atas dasar sumber tertulis berupa naskah ataupun sebaliknya. Walaupun demikian penelitian tentang nisan-nisan kuno masih menyisakan banyak hal yang perlu dilakukan. 94 tahun lebih tua dari Malik as-Saleh di Pasai. Penutup Beberapa contoh penelitian arkeologi sebagaimana diuraikan di atas diharapkan dapat memberikan gambaran singkat bagaimana arkeologi memberikan makna pada material culture Islam sebagai usaha untuk memahami kehidupan dan perilaku manusia. Sebagaimana penemuan angka tahun Tuhar Amisuri di Barus dengan angka tahun wafatnya 1203 M. Penelitian nisan-nisan kuna di pantai utara Jawa sebagai tempat awal Islamisasi belum secara menyeluruh dilakukan. penelitian masih dilakukan secara parsial. Temuan angka tahun ini bila dikaitkan dengan penelitian arkeologi di Lobu Tua Barus berupa artefak kaca dan tembikar yang diduga berasal dari abad ke 9-10 merupakan hal yang tidak mengejutkan. Serahi kecil (kaca merah jingga berhias gaya bulu) berasal dari Mesir abad 11 dan awal 12 M. Selain itu berdasarkan angka tahun yang terdapat pada nisan dapat pula diketahui bilamana orang-orang Islam sudah datang dan menetap di Nusantara. piala silinder diduga berasal dari Iran abad 9-10 M. 2002: 179-195). Kaca berhias garis yang diukir diduga dari Iran abad ke 10 dan awal abad 11 M (Guillot.

1e Jrg. Kreemer.L.hal:291299 Guillot.J.Wibisono.19201921. hal:208-214 144 . “De Oorsprong der Javaanse Moskee” Indonesie.Hal:179-214.146 Seiring dengan perkembangan jaman maka kajian-kajian arkeologi Islam tentunya harus diperluas dengan mengembangkan isue-isue yang relevan dengan masa kini dan menggunakan pendekatan atau teori-teori baru dan yang lebih penting untuk dilakukan adalah menyampaikan hasil-hasil penelitian tentang Islam di Indonesia kepada masyarakat luas. Krom. 1955.7e jaargang. 1996. 1920. hal:69-87.2 Oktober. No. Jakarta:EFEO De Graaf.2003.C Damais.Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia. Jakarta: EFEO. Vol. PIA VII. 1988.P. Lobu Tua Sejarah Awal Barus. Menemukan Peradaban.tweeman delijks Tijdschrift Gewijd aan het Indonesisch Cultuurgebied.NV Uirgeverij W.J.E. Statu Masalah Penenda KeIslaman. 2009: 133 .. Marwoto. afl.N. 1912.J. Pilihan Karya L. “De Groote Moskee te Koeta-Radja” NION. Seni Dekoratif pada Bangunan di Pantai Utara Jawa Abad 15-17. 7.Hal: 238-246. 1947-1949. ed. hal.T Logos Wacana Ilmu Damais. Irmawati.1. Inleideng tot de Hindoe-Javaansce Kunst” S’Gravenhage. Boundedness dan Polusi pada Situs Islam Cirebon Abad XVI-XVIII. “Het Stadje Koedoes en zijn oude Kunst “NION. Moquete. Epigrafi dan Sejarah Nusantara. Wacana vol9 no. 2002.vifde jaargang.hal:3-30.294-295.Claude& Sonny Ch.J.1912.Jurnal Lektur Keagamaan. Johan. H.Yayasan Obor. 1. Jasper.Claude Guillot. 1922. Disertasi Program Pascasarjana FIB-UI. Temuan Kaca di Lobu Tua:Tinjauan Awal. Hasan Mu’arif. Irmawati M. Ciputat : P.C. Cipanas ------.[] Daftar Pustaka Ambary.van Hoeve-s’ Gravenhage.Pusat Penelitian Arkeologi. 1920-1921. J. “De Datum op den grafsteen van Malik Ibrahim te Gresik” TBG 54. “Ornamen Mihrab dan Lampu pada beberapa Makam. 2007. Sebuah Tinjauan Simbolik”.1922.

kwt. Archaeology:Theories. Ph. Fadjar. “Sejarah Pertumbuhan Bangunan Mesjid Indonesia”. Sutjipto. Marwati Djuned. “Verslag van mijn voorlopig onderzoek deer Mohammedaansche oudheden in Aceh en Onderhoogrigheden” OV. Paul. hal: 7-8 145 .80. 1914. Hal:668-703. 1977.135-140. Archaeology Discoveryng Our Past. 1935. Sejarah Nasional Indonesia. Jakarta: EFEO. Riwayat Penyelidikan Kepurbakalaan Islam di Indonesia. 1914.Peran Arkeologi dalam Kajian Islam Nusantara — Irmawati M-Johan Moquete. Stutterheim.Method and Practice. Majapahit dan kedatangan Islam Serta Prosesnya. “De Islam en Zijn komst in den Archipel”.S. 1925. New York: Mc Graw Hill Company Inc. Kesultanan Banten 1522-1684 Kajian Arkeologi Ekonomi. TBG 1925.komunitas Bambu.UI. Colin& Paul Bahn. 1984.Tinjauan Awal. hal:107-135. tahun III. O.hal:157-178. 21. 50 tahun Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional.P. Wirjosuparto. hal. 1912. Tjandrasasmita. ed. Perre. Daniel & Sugeng Riyanto.1912 hal:536-548 OV.P. “Bij de afbeelding van het graf van Malik Ibrahim te Gresik”.4.van.2 bijlage. Jakarta: Puslit Arkenas Tjandrasasmita. 1993. Deel LXI Renfrew. Uka.hal:275-290. Jakarta: Balai Pustaka Ravaisse. J. kwt. Heriyanti Ongkodharmo.86 Moquete. 2003. 54. GrooningenBatavia.Claude Guillot.Pusat Penelitian Arkeologi. Robert&Wendy Ashmore. hal:73. Thames & Hudson Ronkel. 2002.hal:596-600 Sharer. L’inscription coufique de Leran a’ Java.Berhiaskan goresa dan Berglasir Percikan-Percikan Asal Timur Dekat di Lobu Tua.Yayasan Obor Poesponegoro. Surabaya: CV Bunga Rampai Untoro. 1961. 1912. Jakarta: FIB. Jilid III.52. J. “De Grafsteen te Pase en Grissee vergeleken met dergelijke Monumenten uit Hindoestan” TBG.1910. 2007. hal. 1910.W. Depbudpar. Kapitalisme Pribumi Awal. 700 Tahun Majapahit Statu Bunga Rampai.F. Uka. TBG. 2003.Lobu Tua Sejarah Awal Barus. no. Tembikar Berslip.

7.iai-banten.5 hektar itu merupakan kediaman para sultan Banten yang dibangun sekitar tahun 1552.146 Lampiran: Gambar 1: Sisa reruntuhan Keraton Surosowan.org/ 146 . Vol.Jurnal Lektur Keagamaan. 1. Keraton seluas lebih kurang 3. Sumber: http://cetak.com Gambar 2: Pintu gerbang timur ‘Benteng Keraton Surosowan’ Sumber: http://www.kompas. No. 2009: 133 .

Ahmad Sanusi telah menulis selama hidupnya sekitar 480 karya tulis. Introduction The network of `ulam± (Muslim learned men) in Haramayn (Mecca and Medina) has been starting to exist since the sixteenth century. Jakarta Menurut Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur Agama (Skr. They handed down this nature and their religious sciences to the later generation of `ulam± of 147 . Ahmad Sanusi itu.K.H. and His Work Collection Usep Abdul Matin UIN Syarif Hidayatullah. They developed the nature of freedom of joining differences in theology. bahkan sulit ditemukan. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . Namun. Dalam kesulitan itu. Ahmad Sanusi. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse. and in mysticism. Kata kunci: Ahmad Sanusi. The core of the network was the degree to which a number of the famous `ulam± came to learn and to teach in the Haramayn.H. K. tulisan ini bertujuan untuk berbagi pendadapat tentang siapa K.H. sebagian besar dari karyanya tidak tersimpan di satu tempat.H.. these Indonesian `ulam±--in particular from Malay--were involved in the network. Departmen Agama Republik Indonesia (1986). Karena itu. penulis telah berhasil mencari dan menemukan kurang lebih seratus dua puluh dua (122) karya K. — Usep Abdul Matin K. Islam dan negara. Haramain. Sukabumi. In the second half of the seventeenth century.H. in jurisprudence. dan apa saja kiranya buku-buku yang telah beliau tulis. fatwa.. Puslitbang Lektur Keagamaan) Badan Litban dan Diklat. syariah Islam. They came from the various corners of the Muslim world.

pp.2 such as those of Jamaluddin al-Afghani. pp. (Majalengka: Pengurus Besar “Persatuan Ummat Islam” Majlis Penyiaran dan Da`wah. precisely 1910. 74-75. Ahmad Sanusi. said Josep. 2001 in his house. 1 148 .H. KH Ahmad Sanusi dan Perjoangannya. — Usep Abdul Matin Indonesia.1 K. Cantayan in Sukabumi. Rasyid Ridho. where he returned to his home town. Indonesia. about the Arabic thought in the liberal age dated from 1798 to 1939.. 54. During his stay in Mecca. an unpublished thesis. K. this later group started establishing a Southeast Asian Connection in the beginning of the nineteenth century.” . Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana & Kekuasaan. Sipahoetar. 58-59. 1991). (Amsterdam: Vrije Universiteit.K. pp. pp. The author is still alive. see Rijk Universiteit Leiden. when Sanusi was still in the Haramayn. Ahmad Sanusi’s Religio-Intellectual Discourse In the beginning of the twentieth century. p.a. West Java. Gunung Jaya-Sukabumi. he studied not only the religious sciences but the general ones. S. In 1913. in Proces Verbal. by Taufik Abdullah. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya. included the intellectual currents of the Arabic thought in the liberal age (1798 – 1939). 1998). Ahmad Sanusi.I. second edition.3 These facts signify Sanusi’s involvement in the Southeast Asian Connection. and was the secretary to K. 148-149. see his speech translated into Dutch entitled “Dit Boek Nahratoe`ddhargam (De Gebiedende Leeuwenstem) Dienende tot Wering van de Aanvallen Veragtelijke Menschen Gericht tegen de S. In 1915. Introd. which is available in the KITLV Leiden University.H. 3. I am grateful to Mr. Siapa?: Lukisan tentang Pemimpin-pemimpin. Here was he appointed to be the adviser of the Party of Syarekat Islam.H. Muhammad Abduh. Later on. 1900-1942. like physics. 4 About Sanusi`s speech of Syarekat Islam. went to Mecca together with his wife to perform hajj (pilgrimage) and to deepen his Islamic studies under the `ulam± from Malay. Para Pengemban Amanah: Kyai dan Ulama dalam Perubahan Sosial–Politik di Priangan c.4 Azyumardi Azra. He told me that in December 22. 90-91. 1991). Yosep Aspat Alamsyah. (Boenoet: “Pemerintah” Soekaboemi. a santri (religious student) from Sukabumi. 19 Februari 1940).. 2 M. (Leiden: Rijk Universiteit Leiden. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . Sanusi went back to his home country. Wanta. he became a member of the Party of Syarekat Islam. for lending me this book. 1999). and 7. The religious sciences.H. Studiegids Islamologie 1998/1999. 3 See Mohammad Iskandar. which Sanusi studied.

people are used to calling it Pesantren Cantayan. these `ulam± were the members of the Politiesche Economisch Bond (PEB) and Pekauman Corps. 200 boekoe ketjil dan besar). Sipahoetar. Dudu Abdullah Hamidi. Pekauman Corps were the religious leaders who worked in the mosques in Sukabumi for benefit of the Dutch colonial government. perkoempoelan agama).. Op. Loc. In contrast. in 1922. K. Wanta. Cit.H. S. 91. and attracted some twenty thousand (20. Hence. when he was still with me. Abdurrahim. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse .M. 6 5 149 .. the colonial government regarded Sanusi to be their enemy. diinterner: 1928-1939). therefore. Interview with late K. Sipahoetar. in my house in Sukabumi December 12. His students in this pesantren came not only from Sukabumi but also from outside of West Java. Loc. This political role of Sanusi was unlike the other indigenous `ulam± who supported the Dutch colonial authority. p. 2001.000) followers.I.H. he had written two hundred (200) books both in small and big pieces (in Indonesian. since 1922.. K. the Dutch government gave them money. he withdrew from this political organization5 and turned to assist his father. my father. Sanusi was not able to break himself free from political affairs. therefore. Nevertheless. he did not want to cooperate with the colonial Dutch government to make Indonesia independent. which is also located in Sukabumi. especially in West Java. During that exile. Ahmad Sanusi had been a very productive writer.6 For their support. — Usep Abdul Matin In the following year.K.M. 8 Ibid. al-Ittih±diyyat alIsl±miyyah (A. Cit.7 Sanusi’s intellectual productivity is also discernible in his establishment of a pesantren at Genteng. 7 .I/Islamic Association) in 1931..H. Therefore. According to A. Cit. To advocate this organization. to teach his santris in his own pesantren (Islamic School) in Cantayan. Sanusi substituted its name with Persatuan Umat Mohammad Iskandar.8 His fame increased after he had established a religious association (in Indonesian. Dudu Abdullah Hamidi. who interviewed Sanusi face to face.H. According to my late father. during eleven years of his exile (in Indonesian. the Dutch had often put him in jail from 1919 to 1939. he had been known as a famous religious teacher. viz.

Such sentiment was resulted in a way that the`ulam±s of Pekauman published their legal formal opinion (fatw±) that discourages from using of the Tamshiyya by reasoning that Latin characters were prohibited from writing the Qur`anic verses. 1. Bangka. and I thank Ajengan Oyon Gunung Puyuh who allowed me to copy his Tamshiyya number 28. West Java. 12 Sanusi wrote this fatwâ in Malay language and Arabic characters on two wide and long pages of paper without title and year.9 Moreover. On the basis of Perak`s fatw±. 1935). 1935). pp. 11 Ibid.e Java.11 To argue against this fatw±. in October 1934. (Sukabumi: al-Ittihâd. Sanusi depended his Tamshiyya by giving a fatw± that encouraged its use. Vol. Vol 3. See also Ahmad Sanusi. KH. Tażkirat al-Ikhwân bi-mâ fî Âkhir al-Zamân. see ibid.H. 1-5. santris). It was also deemed by the PEB and the `ulam±s of Pekauman in Sukabumi. 1993). This book was famous in Indonesia i... Tahdîr al-Afkâr. — Usep Abdul Matin Islam (PUI/The Association of Muslim Community). as a threat to their influence among their religious students (in Indonesian. Menado. (Sukabumi: Kantor Cetak Sukabumi. When Japan came to occupy Indonesia.10 This explains to us why Sanusi`s fame all over Nusantara grew after the publication of his Tamshiyya in 1934.”. (Jakarta: PT Intermasa. and no one argued against this typescript. I wish also to thank him for allowing me to copy his Tamsyiyyah numbered from 2 to 35. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . Nevertheless. Flores. as well as Johor and Singapore. in Ensiklopedi Islam. including the advantage of the Latin characters. West Java.12 “Ahmad Sanusi. Madura. Celebes. Acep Zarkasih (about 80 years old) who lent me this book.K. Abdullah ibn Husain. the `ulam±s of Pekauman discouraged the people from using the Tamshiyya. 89. he published a Qur`anic exegesis entitled Tamshiyyat al-Muslimin fi Tafsir Kalam Rabb al-`±lamin. I wish to thank to Hasan Husen Basri. Ambon. One of these `ulam± was Haji Oesman Perak from Bogor. p. Sanusi published the Qur`anic verses in this Tamshiyya not only in the Arabic language but also in the Latin characters. 9 150 . Sumatra. Borneo. (Pabuaran Sukabumi: no publisher`s name. the colonial government considered this book to be a threat to their power. Mohammad Iskandar who were willing to give my parents the copy of the fatwâ. they banned this association. Mindarat al-Islâm wa-alÎmân. Sumbawa. He was the student of Ahmad Sanusi. 1955). This fatwâ was published by Kantor Cetak al-Ittihad Sukabumi. I am thankful to H. and Dr. 10 Muhammad Misybâh ibn Haji Syafe`i Sukabumi.

— Usep Abdul Matin Sanusi’s intellectual debate with the `ulam± of Pekauman in Sukabumi. However. Likewise.. two pages. in 1944. His father was a close friend of Sanusi. When the Nicagurkha occupied Sukabumi in West Java. Sanusi moved to Jakarta to cooperate with Muslim leaders in Jakarta to arrange a more stronger military power. which prohibited the official collectors of the tithe from collecting it forcefully from common people. the Japanese administrator disqualified him from this BPUPKI. he gave a fatw± in 1936. in West Java. he empowered Indonesian Muslim youths.13 When Japan occupied Indonesia in the beginnings of 1940s. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . Sanusi keept encouraging PETA to drive out not only the occupation of Dutch but also that of Japan. In the beginning of 1950. like other Indonesian political leaders.. In turn.H. Sanusi collaborated with Japan. and in general other Indonesian youths. in particular those who became AII members. “Zakat Fithrah”. According to the Puslitbang Lektur of the Department of National Religious 13 See his fatwâ in form of bulletin. In this colaboration. he agreed with Japan to establish Pembela Tanah Air (PETA/Fatherland Protector) organization. where he died in the same year. Sanusi returned to Gunung Puyuh in Sukabumi. (Buitenzorg: Ang Tjio Drukkerij. I wish to thank Mr Muflih for lending me this bulletin. in particular those who lived in Sukabumi.a. 151 .. to become soldiers of Hizbullah (Troop of God) and National Army of Indonesia (Tentara Nasional Indonesia/TNI). is also noticeable in the case of zakat fitrah viz. s. H. This colaboration helped him strengthen Indonesian Muslim community that he established in 1934 to drive the Ducth occupation out of Indonesia. In this case. Sanusi was also a member of Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan/BPUPKI/Committee Inspecting to Organize the Independence of Indonesia). Sanoesi.). After the Indonesian independence. tithe in rice or money paid on first day of fasting month. West Java. As a result. and unified them into Hizbullah to expel the English Nicagurkha soldiers from Indonesia. due to Sanusi’s strong leaning to Islam. He left three wives and seventeen children. Sanusi motivated all Muslim people in West Java. the Japanese administrator in Indonesia appointed Sanusi to become a Japanese vice resident in Bogor.K. Ahm.

as a result. in particular his work collection. I had been working for five years to look for Sanusi’s writings. but also an active leader in diverse debates on religion. 2001. Oking had ever put some works written by Ahmad Sanusi into a bamboo in his house. For instance. he was at the age of 80..15 In addition. the dying exhortation of Ahmad Sanusi given to late Ajengan Dadun and the fear as felt by Mr. According to deceased Ajengan Dadun Abdul Qahar. the Netherlands.16 Perhaps. they would put him or her into a jail” (in Sundanese. said to me that. a little brother of Ahmad Sanusi. Oking just mentioned are the reasons of why his books are now disappearing and extremely difficult to find. To me. 31-33. 16 Interview with Mr. — Usep Abdul Matin Affairs in Jakarta. Badan Litbang Agama.H. then he buried them into a ground.. society.. Sanusi had given him a dying exhortation (in Sundanese: wasiat) to suppress his works on masalah-masalah furu` (cases of ethics based on different principles of Islam). bakal dibui). December 12. a student of Ahmad Sanusi. This work is in form of micro film which is available in KITLV library. pp. The reason is the degree to which he is a Muslim who is not only a productive writer. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . Sanusi left four hundred and eighty (480) pieces of works that he compiled by himself.K. Cit.14 These works are now scattered and difficult to discover. politics. I found about one hundred and twenty-two (122) of Sanusi’s works from some generous people.. Therefore. However. Mr. 15 Interview with Ajengan Dadun in his house in Cibadak-Sukabumi. Oking (about 80 years old). Op. Oking at his house in Cigunung-Sukabumi. on December 20. Leiden University. this article of mine may give us a portrait of his social. It has probably connection to such link in Indonesia today. After he died. In 14 Puslitbang Lektur Agama. Oking explained to me that he did so because “if the Dutch administrators found someone possessing Sanusi’s works. Sanusi was advocating to reinforce Islamic law in Indonesia. and intellectual discourse. and intellectualism in his time. the study on Sanusi is worthy conducting. political. in the colonial period of Indonesia. 2001. When I interviewed him. before his death. the study on Sanusi has its significant information of the relationship between Islam and state in Sanusi’s period. In addition. 152 .

and without identity of publication [four pages]. pangajaran nomor 2 di kaloearkeun koe Hoefd Bestuur A. 1932) [four pages].I. Wasidi Swastomo. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. Bulletin and Magazine: 2. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. 1932. K. — Usep Abdul Matin 1998. 5. 8.H. 1 bulan skali bulan Februari 1932 di Batavia [2 pages]. 1. 7. pangajaran al-Ittihad ka 17 Oktober 1933 no 4 [four pages]. 11. Ahmad Sanusi`s works which I have collected so far as follows. One of Qahhar’s students was an officer who was in charge of Cianjur regency (Bupati) in West Java. without title and year of publication. pangajaran nomor 3 telat dua bulan lantaran nunggu kantor cetakna di kaloearkeun koe Hoefd Bestuur A. 10. Without title. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. pangajaran nomor 5 tahun 1932 [four pages].I. Al-Isy±rah f³-al-Farq bayn al-Şadaqah wa-al-Diy±fah. dinukil jisim kuring Ahmad Sanusi bin Haji `Abd al-Rahim.I. campaigned for shari`a in Sukabumi in West Java. pangajaran al-Ittihad nomor 18 19 Janwari [probably. (Batavia: Hoefd Bestuur A. It was published by Kantor Cetak al-Ittih±d Sukabumi. Ahmad Sanusi [on the use of Latin letters in his Qur`anic Exegesis.H. The fatw± of K.K. 9. Tamshiyya]. dicetak di kantor cetak “al-Ittih±d” Punjul Tanah 153 . late Dadun Abdul Qahhar.. his little brother. 6.I. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. 1 bulan sakali bulan Februari 1932 di Batavia [2 pages]. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”. sambungan nomer 17] [four pages]. Ahmad Sanusi’s Work Collection I will mention K. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”..H. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . Hartina Nuduhken kana Bedana antara Aya Şadaqah rejeng diy±fah dina Syara1. “Al-Ittih±diyyat al-Isl±miyyah”.I. 3. January. This man reinforced also the Islamic law in this region (Cianjur).I.H. pangajaran nomor 7 Oktober tahun 1932 [four pages].

Ris±lat Tashq³q al-Awham f³-al-Radd `an al-Tugam li-n±qil³h±. akhir Bulan Syawwal 1347 (dan Haknya menyetak pun sudah jadi miliknya) (Cetakan ketigakalinya) Tercetak di kantor cetak dan toko kitab al-Sayyid `Ali al-`Idrus Keramat 38 Batavia Centrum). 14. Pangadjaran [Tafsir ku. Abdurrahim T. Maanblad Januari Februari no 30-31 1934. no 19.. 17. Jilid tahun ka I kanggi nomor 1 September 1931 September 1931. 13. Fada`il Kasb al-Ikhtiy±r f³ Ilz±m Afwah al-Wu`az al-Gid±r Artinya Menyatakan segala Kelebihan Mencahari dan Berusaha 154 . 27 Jumada al-Ula 1347. Tafs³r Bahasa Soenda Februari 1932 Tahoen ka II diterbitkan saboelan sekali oleh Hadji Ahmad Sanoesi bin Hadji Ahmad Sanoesi bin Hadji Abdurrahim Tanah Tinggi Senen no 191 Batavia Kramat Harga langganan 2 boelan f 1. Ris±lat Tahd³r al-`Aw±m min Muftaray±t Cahaya Islam Hartina Mere Inget ka sakabeh Jalma Awam Kudu Sien tina sakabeh Jijieunan Bohongna kaom Surat Kabar Cahaya Islam dikumpulken ku jisim kuring anu kacida do`ifna Haji Ahmad Sanusi ibn Haji Abd al-Rahman di Tanah Tinggi Senen nomor 191 Weltevreden Batavia Kantor Cetak Harun ibn `Ali Ibrahim 3 Pakojan Betawi Telepon 1850 [72 pages]. Ahmad Sanoesi bin H. 12. 16. because no 29 is dated to that year).. 18. my note] Bahasa Soenda oleh H.20. Ris±lat Tashq³q al-Awham f³-al-Radd `an al-Tagam Artinya Inilah Suatu Pembelah segala Sangkaan yang Salah di dalam Menolak Tukang Menyesatkan kepada Orang-orang Bodo karangan hamba yang doif Haji Ahmad Sanusi ibn Haji `Abd al-Rahim Gunung Puyuh Sukabumi Tercetak atas usaha Sayyid `Ali al-`Idrus Kampung Bali Keramat nomor 38 Batavia. Senen. Ahmad Sanusi Gang Kampung Bali Kecil 6 Tanah Abang Weltevreden Betawi.K. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . 15. probably 1934. No 23 24 Maanblad Juni (year is not clear. Tanah Tinggi. Ahmad Sanoesi bin Hadji Abdoerrahim. Weltevreden 8 november 1928 (Dicetak di Kantor Sayyid Yahya ibn Usman Tanah Abang). — Usep Abdul Matin Tinggi Senin Batavia Centrum. Batavia Kramat.H. Tafs³r Boechori dikloearken 1 boelan sekali oleh H. Tinggi Senen no 191.

(Tanah Abang:Sayyid Yahya. (Tanah Abang-Weltevreden Batavia: Sayyid Yahya bin `Usman.a. Mr. without the name of the publisher. 20 Romadhan 1347).a. 17 155 . (Batavia Centrum: al-Sayyid al-`Idrµs..a. 9. I am grateful to my friend.H. No. 3. 6. Kanz al-Rahmah wa-al-Lutf f³ Tafs³r Sµrat al-Kahf.). 7. Al-Kalimat al-Mabniyyah f³ Qasy³dat ibn Hajjah. s.). s.). Tamshiyyat al-Muslimin f³ Kalami Rabb al-`Alam³n. Kit±b Mift±h al-Jannah f³ Bay±n Firqat Ahl al-Sunnah wa-alJam±`ah. Tażkirat al-Th³libin fi Bayan Sunniyat al-Talq³n. 5. 4. Tercetak diterbitkan alIttihad Tanah Tinggi 191 Punjul Batavia Centrum.a.). s.). There are tweleve works of Sanusi that I found from deceased Ahmad Djunaedi Ma`ruf17: 1.a.a. s. Tarbiyyat al-Isl±m.). s. because no 31 is dated to 1934). 2. for helping me find this collection of late Ma`ruf.. (Panarakan Kaler-Bogor: Ikhtiyar. 29 Maanblad December (year is not clear. 8. without the name of publisher. (Gunung PuyuhSukabumi: without the name of publisher.K. probably 1934. Al-Tamshiyyath al-Isl±miyyah f³ Man±qib Im±m al-Sh±fi`i. Ujang Sholehuddin. s. — Usep Abdul Matin Kehidupan di dalam […/not clear] segala Mulut si Tukang Ngajar yang selalu Menipu Orang dikeluarkan oleh hamba yang [ …/not clear] Haji Ahmad Sanusi bin Haji `Abd al-Rahim di Tanah Tinggi 191 Batavia Centrum.a). (Sukabumi: al-Ittih±d. (without place of the publisher. I had copied a number works composed by Ajengan Ahmad Sanusi as follows. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . (Tanah Tinggi-Senen-Batavia Centrum: al-Ittihad. Number 47. 10. s. (without place of the publication. Shir±j al-Ażkiy±` f³ Tarjamat al-Azkiy±`. From the beginning of December to the beginning of January 2002. and s. Al-Mufhim±t fi Daf`i al-Khayal±t. Nµr al-Yaq³n f³ Mahw Madzhab al-La`³n min al-Mutanabbiyy³n wa-al-Mutabaddi`³n.a).

13. Tawh³d al-muslim³n wa `aq±`id al-mu`min³n (Bg [Bandung]: Sukma Rat.a. Jumad al-Awwal 1352). 9. s. Lujj±m al-Gudd±r al-Qa`ilin bi-anna Abaway al-Nabiyy min Ahl al-N±r. 4. Oking18: 1. (Sukabumi: alIttih±d. 8. Al-Aqw±l al-Muf³dah f³-al-Umµr al-Muwhamah. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . s. without the name of publisher.a. Vol.a. Hid±yat al-siby±n f³ fad±’il sµrat tab±rak al-mulk min alQur’±n (Tanah Abang: Sayyid Yahya.). There are nineteen (19) works of Sanusi that I found from Mr. 18 I thank Mr. Kashf al-Sa`±dah f³ Tafs³r Sµrat al-W±qi`ah. s.K.H.a). Al-Kaw±kib al-Durriyyah f³ al-Ad`iyyat al-nabawiyyah (Tanah Abang: Kantor Cetak Sayyid Yahya. s. 1. s. 12. — Usep Abdul Matin 11. (Babakan Sirna-Karang Tengah Cibadak-Sukabumi. s. Min majmµ`at durµs al-`ulµm (Tanah Abang: Kantor Cetak Sayyid Yahya.). 6. Bahr al-madad f³ tarjamat ayyuh± al-walad (Vogelwegsukabumi: no publisher. Oking. s. It includes the list of Sanusi`s works. T³j±n al-gilm±n f³ tafs³r al-Qur’±n (Petamburan-Batavia: alSayyid `Abdullah putra al-Sayyid `Ushman.a). 14.a).a. Iskandar Sanusi for introducing me to Mr. Al-Kaw±kib al-Durriyah fi-al-Ad`iyyah al-Nabawiyyah. s. Hilyat al-`aql wa-al-fikr (Tanah Abang: Kantor Cetak Sayyid Yahya.a).a). 3..).a). 10. 12. 11. s. Al-Sh±fiyat al-w±fiyah f³ fad±`il sµrat al-F±tihah 7. s.). s.`Tawh³d al-muslim³n wa`aq±`id al-mu`min³n (Tanah TinggiPunjul-Batavia: Kantor Cetak al-Ittihad.a). (Cibadak Sukabumi: without the name of publisher. 2. (Tanah Abang: Kantor Cetak Sayyid Yahya.a. (without place of the publication.. 156 . no name of the publisher. nor year of the publication). Al-Sh±fiyat al-W±fiyah f³ Fadh±`il Sµrat al-F±tihah. Ǐq±d al-himam f³ ta`l³q al-hikam 5.). Jawharat al-wah³d (Pekojan-Betawi: Kantor cetak sareng Toko Buku Harun bin Ali Ibrahim. s.

K. s. and s. Ǐq±d al-himam f³ ta`l³q al-hikam. 17. “Al-Tabl³g al-Isl±m³ (Embaran Kaislaman)”. (Gunung Puyuh-Sukabumi: without publisher`s name. (no place of the publication: no publisher`s name.). (Sukabumi: alIttihad. (Gunung Puyuh-Sukabmi. s.a. “Kabagjaan Islam”. 8. There are nine (9) works of Sanusi that I obtained from H.. (Tanah Tinggi Betawi: Kantor Cetak Al-Ittih±d. Tafs³r Malja` al-T±lib³n. no. 3. “Kabagjaan Islam”. 28 January 1931/9 Ramadlan 1349). no name of publisher. in “Kabagjaan Islam”. s.). (Tanah Tinggi Betawi: Kantor Cetak Al-Ittih±d. s. 3. Al-mutahhir±t min al-Mukaffir±t. October 1935). Vol 1. 3. 2. 2. Vol. 16. “Mu`±hadah Perjanjian Allah Ta`ala ka Nabi Adam”. no. 19. (Pekojan-Betawi: Toko Buku Harun bin `Ali Ibrahim. Ahmad Muflih.a).a). 1. no. Vol. s. West Java: 1. Mr. s. Al-Muf³d (Vogelweg Sukabumi: no publisher`s name. 4.a). Al-Jaw±hir al-B±hiyyah f³ Adab al-Mar`ah al-Mutazawwijah. 3rd edition. 18. 6. (Tanah Abang Weltevreden: Sayyid Yahya. (no place of publication: no publisher`s name.a. no publisher`s name. — Usep Abdul Matin 15. Ujang to introduce me to his father. s.a). (Gunung Puyuh-Sukabumi: al-Ittihad. Tanw³r al-dal±m fi Furuq al-Isl±m. Tafs³r Malja` al-T±lib³n..a). s.).H. 18. s.a. 19 157 . Hilyat al-siby±n f³ bay±n sawm ramaz±n (No place of publication: no publisher`s name. This piece of work is printed in 16 combined pages.a). (no place of publication: no publisher`s name. Acep Zarkasyih in Sukabumi. Min majmµ`at durµs al-`ulµm. 9. 5.a). 1935). 1 November 1931). There is one (1) book of Sanusi that I gained from Mr. Ahmad Muflih19: I wish again to thank Mr. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . 7. Tafs³r Malja` al-T±lib³n. (no place of publication.

a.a). (no place of publication: no name of publisher. 9. 8. s. 2nd edition. Thirty-seven of them are books written by Ahmad Sanusi as listed above.. Al-Lu`lu` al-Nadlid fi Masa`il al-Tauhid.a). There are thirty-seven (37) books of Sanusi that I copied from Dr.). 28 January 1931/9 Ramadhan 1349). s. Tafs³r Sµrat al-Mulk: Hid±yat Qulµb al-Siby±n f³ Fad±`il Sµrat Tab±rak al-Mulk min al-Qur`±n. (Tanah Abang Weltevreden: Sayyid Yahya. s. — Usep Abdul Matin 1. s. 4. Jawharat al-Marfiyyah fi Mukhtasar Ma©hab al-Sh±fi`iyyah.a).1. (VogelwegGunung Puyuh-Sukabumi: no publisher. Malja` al-T±lib³n f³ Tafsir Kal±m Rabb al-`±lamin. (Kampung Petamburan-Tanah Abang-Betawi: Tuan Sayyid `Abd All±h bin Sayyid `U£m±n. because the writer “just started to learn how to write to follow the footsteps of professional writers” (diajar tutulisan tuturuti ka anu tukang ngarang). 5. (no place of publication: no year of publication. 158 . s.a).. Al-Ad±wiyyah al-S±fiyah f³ Bay±n S±l±t al-H±jah wa-alIstikh±rah wa Daf`i al-Kurb±t.). Tafr³h Sudµr al-Mu`minin f³ Mawlid Sayyid al-Mursal³n. 2.a).a). “Al-Mufid: `Ilm al-Tawh³d”. (Vogelweg 100 Sukabumi: no publisher. 6. On the title-page of this work. (Gunung Puyuh-Sukabumi: no publisher. 3.a. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . Qal±`id al-Durar f³ Bay±n `Aqd al-Jauhar. 22 Rabi` al-Awwal 1348). 7. s. (Cantayan: no publisher. Manzµmat al-Rij±l li-Sayyid `Al³ Zayn al-`±bid³n. 20 I am once again grateful to Dr. On the title-page of this book. s. s.K. Hilyat al-Siby±n f³ Bay±n Saum Ramad±n. the author mentioned that he asked the pardons of his pardons if they find his bad expressions of his words (kirang sae prak-prakannana). (Pekojan-Betawi: Ahl al-Sunnah wa-al-Jam±`ah. Oman Fathurrahman for allowing me to copy about 63 works from his collection. Oman Fathurrahman20: 1.H. (Babakan Sirna: no publisher. the author says that he asks the pardons of his readers if they find some some mistakes in this book because the writer was still learning (anu nulisna diajar). Vol.

without publisher. (Tanah Tinggi-Senen No 191 Batavia Kramat: no publisher. 16. s. Tawh³d al-Muslim³n wa `Aqa`id al-Mu`min³n. 21.). (Tanah Tinggi-Senen No 191 Batavia Kramat: no publisher. number 1.. Kashf al-Awham wa-al-Zunµn f³ Bay±n Qaulih Ta`±l± l± Yamassuhµ ill± al-Mutahharµn.a. Vol. On the title page. year III). 28 March 1931). Al-Matlab al-Aśna f³-al-Asm±` al-Husna. 13.H. — Usep Abdul Matin 10. No.). No. 23. Mei 1936). Tafsir Bahasa Soenda. 24. No. Pangajaran dengen Bahasa Soenda. “Miftahoelmadad: Kaifiat Ngajarken Zoebad Ilmoe Tauhid Fiqih Tashaoef”. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . 1. 28 April 1931). Tafsir Bahasa Soenda. 7.a.. (Gunung PuyuhSukabumi: no publisher. 1 October 1931). No.). (Tanah Abang Weltevrede: Sayyid Yahya. (Vogelweg-Sukabumi: without publisher. 2. 18. February 1932).K. Tafsir Bahasa Soenda. (Tanah Tinggi-Senen No 191 Batavia Kramat: al-Ittihad. The author is Ahmad Sanusi. (Tanah Tinggi-Senen No 191 Batavia Kramat: no publisher. (Senen-Batavia Centrum: Harun bin `Ali Nur. s.a. 19-20. 22. “Tuntunan Budi”. 159 . the author mentioned the right of the publication: Pasal (section) 11 tina undang-undang (of the law) dated to 1912 number 600. s. 12. Qaw±n³n al-D³niyyah wa-al-Duny±wiyyah f³ Umµr al-Zak±h wa-al-Fitrah.). No. (Jatinegara: no publisher. Vol. 4. 8. 11. s. 191: Harun bin `Ali. 28 July 1931). Tafsir Bahasa Soenda. 19. 5. Tafsir Boechari. s. 3. 17. (Senen: Pak Haji Harun bin `Ali Ibrahim. No. 28 August 1931). the scriber is al-Sayyid Muhammad bin Yahya. (Vogelweg-Sukabumi: without publisher. 14.a.). 2. 20. 26 Rajab 1347). (Gunung PuyuhSukabumi: without publisher. 28 May 1931/10 Muharram 1350). 15.a. no 191. (Tanah Tinggi-Senen Batavia Kramat: al-Ittihad. maanblad. No. Tafsir Bahasa Soenda. Mift±¥ al-Mad±d. mandblad. No. (Pekojan-Betawi No. January-February. (De Vogelweg no 100 Soekaboemi: al-Ittihad. Tafsir Bahasa Soenda. 3.

31. 30. s. (Sukabumi: Al-Ittih±d. Tafr³h sudµr al-mu`min³n f³ mawlid sayyid al-mursal³n. Hilyat al-`Aql wa-al-Fikr f³ Bay±n Muqtaday±t al-Shirk wa-alFikr. 8 Rabi`u al-Akhir 1349). (without the place of publisher: without the publisher`s name. Al-Sir±j al-Wahh±j fi-al-Isr±` wa-al-Mi`r±j.). 1912). (Cantayan-Sukabumi: without publisher. s. 16.).. 16. s. This collection belonged to her late husband. (Gunung Puyuh Sukabumi: no publisher`s name.a. 27.a). Al-Suyµf al-Sy±rimah f³-al-Radd `al± al-Fat±w± al-B±tilah.. (Pekojan-Betawi: Harun ibn `Ali Ibrahim. 26. Ris±lat Tahd³r al-`Aw±m min Muftaray±t Cahaya Islam. 20 Muharram 1348). (PekojanBetawi: Harun Ibn `Ali Ibrahim.a. (no place of publisher: without the name of publisher. 37. 24 Ramadhan 1347). 33. She gave them to me as a gift.a. (Babakan Sirna: without publisher. 1929/6 Ramadhan 1347). s. 3. Tanb³h al-Hayr±n f³ Tafs³r Sµrat al-Dukh±n. 2. (Sukabumi: Kutamas. Ujang Suhud. Vol. 32. s. Tamshiyyat al-Wild±n f³ Tafs³r al-Qur`±n. 29. 35. Rawdat al-`irf± f³ ma`rifat al-Qur’±n. 28.H. (8 Rab³` al-±khir 1348/3 October 1929). (Tanah Abang: Sayyid Yahya. (Tanah Tinggi Punjul 65 Batavia Kramat: al-Ittihad. s. Epon (the wife of late Haji Tamim. Al-Fiqh al-Akbar Im±m Hanaf³. There are nine (9) books of Sanusi that I received from Mrs.a). [1931]). 34. J±mi`u al-Durar f³ Tabd³d Awham Haji Bodor. Ris±lat al-Jawharah al-Mardiyyah f³ Mukhtasyar al-Furµ`iyyah al-Sh±fi`iyyah. 1935). 160 .). (Sukabumi: Kutamas. (Tanaha Abang Weltevreden Betawi: Sayyid Yahya bin Ustman. Mr. Sir±j al-Ummah f³ Khasy±`isy al-Jum`ah. (Tanah Abang: Sayyid Yahya. (Tanah Abang Weltevreden: Sayyid Yahya.). 6.a. Hid±yat Qulµb al-Shiby±n f³ Fad±`il Sµrat Tab±raka al-Mulk min al-Qur`±n. Rawdat al-`irf± f³ ma`rifat al-Qur’±n. 2. It is as follows: 1.Igtir±r bi-Żal±lat wa-Iftir±y±t Tasyfiyyat al-Afk±r.a). Vol. Tahdir al-Afk±r min al. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . 1912). 36. my grandfa).K. — Usep Abdul Matin 25. s. Sillah al-B±sil fi-al-Darb `al± Taz±hiq al-B±til.

6. s. Tafs³r malja` al-t±lib³n. Zainal Abidin Toko kitab dan Petji Merk “Sedjati”. 2. Vol. Tafs³r malja` al-t±lib³n.). 4. Jawharat al-mardiyyah f³ mukhtasar maż±hib al-Sh±fi`iyyah. I write them in the Arabic script as follows: 1. There are three (3) books of Sanusi that I received from my late father. 3rd edition. 10 Syawwal 1349/28 February 1931). Rawdat al-`irf± f³ ma`rifat al-Qur’±n. 1 September 1931. Mamih Ijong. (Tanah Tinggi Senen 191 Batavia Keramat: no publisher`s name. Tafs³r malja` al-t±lib³n. On the last page of the book there is the list of the people who just died.. (De Vogelweg Sukabumi: No publisher`s name. s. (Djl. Dudu Abdullah Hamidi: 1.).اﻟﻤﻄﻬﺮات ﻣﻦ اﻟﻤﻜﻔﺮ١ت‬De Vogelweg No. and some corrections of the author of some words mentioned in previous volumes of this exegesis. — Usep Abdul Matin 4. (Tanah Tinggi Betawi: no publisher`s name. Uking`s collection. 1912). s. 9. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . M.H. s.H. Vol.a. (no place of publication: no publisher`s name. K.a.. 8.). 5. 3.a. (Tanah Abang Weltevreden Betawi: Kantor Cetak Sayyid Yahya bin `Usman. Tafs³r malja` al-t±lib³n.). there is a list of the people who died. 30. On the last page of the book. 28 April 1931). Rawdat al-`irf±n f³ ma`rifat al-Qur’±n.K. ‫( . Tjagak Tjisaat – Sukabumi: H. (no place of publication: no publisher`s name. Vol. 100 Sukabumi: no publisher`s name. 3. Vol. (Tanah Tinggi Senen Keramat No. 161 . 2. Tamshiyyat al-dar±r³.). 7. tahun ka 1).a. There are eleven (11) books of Sanusi that I received from Mrs. I found the cover of this book from Mr. Vol. 4 Pekojan Betawi: Kantor Cetak Harun bin `Ali. 1. s. This book starts from the verse alNaba` to the verse al-N±s and ends at the Du`a` Khatm alQur`±n. Rawdat al-`irf± f³ ma`rifat al-Qur’±n.a. (no place of publication: no publisher`s name. 28 March 1931). It contais the Quranic exegesis of the verse Al `Imr±n.

s. ‫ .ﺗﻴﺠﺎن اﻟﻐﻠﻤﺎن ﻓﻲ ﺗﻔﺴﻴﺮ اﻟﻘﺮأن‬Cantayan Sukabumi.a.K.ﺟﻮهﺮة اﻟﻤﺮﺿﻴﺔ ﻓﻲ ﻣﺨﺘﺼﺮ ﻣﺪاهﺐ اﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ‬No place of the publication: no publisher`s name.a. ‫( . (Tanah Abang Weltevreden: Boekhandel en Steendrukkerij Sajid Yahya. 8. In addition. 3. 5.). ‫( . the author warned the readers that his works entitled: 1. Tafsir Yasin (Tafrih Qulub al-Mu`minin). s. On the back-cover title-page of this book. On the last page of this book. he prohibited the readers from reading the fake works (kitab-kitab tiruan). 9. sayyid Yahya. 20 Muharram 1348).).اﻟﺪﻳﺎر اﻷﺳﻼﻣﻴﺔ ﻓﻲ اﻟﺴﻌﺎدة اﻷﺑﺪﻳﺔ : دار ﻷﺳﻼم دﻧﺎ آﺎﺑﻜﺠﺎ‬ (Kramat 38 Jakarta: Sd. Ali Alaydroes. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . s. ‫ . ‫( . 5: Percetakan “al-`Usmaniyyah” Sayyid Hasan bin Usman bin ….. 1 Rajab 1347/13 December 1928).a.آﺸﻒ اﻷوهﺎم واﻟﻈﻨﻮن ﻓﻲ ﺑﻴﺎن ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻲ ﻻﻳﻤﺴﻪ اﻻ اﻟﻤﻄﻬﺮون‬Tanah Abang: Kantor Cetak Sayyid Yahya.a. s. On the title-page of this book.). which says that he received anything to publish this book in a cheap cost. (Petamburan Betawi: Cetakan Sayyid `Abdullah putra Sayyid Usman.). 4. like al-Wajiz by 162 . ‫ : ﻣﻨﻈﻮﻣﺔ اﻟﺮﺟﺎل ﻟﺴﻴﺪى ﻋﻠﻰ زﻳﻦ اﻟﻌﺎﺑﺪﻳﻦ‬Ieu Nadlam Qashidah Tawassul kalawan Sakabeh Awliya` Allah.H. s.هﺪاﻳﺔ اﻟﺼﻤﺪ ﻓﻰ ﻣﺘﻦ اﻟﺰﺑﺪ‬Gunung Puyuh Sukabumi: No publisher`s name. 2. ‫( . (De Vogelweg Sukabumi: Al-Ittihad.اﻟﻤﻄﻬﺮات ﻣﻦ اﻟﻤﻜﻔﺮات‬no place of the publication: No publisher`s name. there is announcement of the publisher.. s. there is a stample named by Muhammad Sanusi.ا ﻟﺸﺮاج اﻟﻮهﺎج ﻓﻰ اﻷﺳﺮاء واﻟﻤﻌﺮاج‬Tanah Abang Kecil No. — Usep Abdul Matin 2.اﻟﺴﻼح اﻟﻤﺎﺣﻴﺔ ﻟﻄﺮق اﻟﻔﺮق اﻟﻤﺒﺘﺪﻋﺔ‬Gunung Puyuh Sukabumi: no publisher`s name. 13 Jumadi al-Awwal 1361/29 Mei 2602 Nippon (1942).).آﺸﻒ اﻟﺴﻌﺎدة ﻓﻲ ﺗﻔﺴﻴﺮ ﺳﻮرة اﻟﻮاﻗﻌﺔ‬Babakan Sirna Sukabumi. ‫” اﻧﺎﻧﻮ ﻣﻌﻤﻮر . ‫( .a. ‫( . 11. 10. s. 6.a. 7.). He said that Tafsir Raudhat al`Irfan is worth reading for both old people (sepuh) and teenagers (murangkalih).a.اﻳﻘﺎظ اﻟﻬﻤﻢ ﻓﻲ ﺗﻌﻠﻴﻖ اﻟﺤﻜﻢ‬No place of the publication: no publisher`s name.). ‫ . s.). ‫( . Tafsir Dukhan (Tanbih al-Hayran). Friday. were published by Musa bin `Ali Patekwan Betawi without the author`s permission. 3. 26 Rajab 1347).a.ﺗﺎج اﻟﻤﻔﺎﺧﺮ ﻓﻲ ﺗﻔﺮﻳﺢ اﻟﺨﺎﻃﺮ ﻓﻲ ﻣﻨﺎﻗﺐ اﻟﺴﻴﺪ ﻋﺒﺪ اﻟﻘﺎدر ﺟﻴﻼﻧﻰ‬Tanah Abang Weltevereden: Kantor Cetak Sayyid Yahya. 2.

Azra. s. 2001 in his house. and my grandfa who became the adjutant to the late father of K. 1999. Conclusion On the basis of the above-mentioned details. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.K. Ahmad Sanusi: K. Mr. since he traveled to the Haramayn (Mecca and Medina) to learn and to teach.. On this paper. Gunung JayaSukabumi. in particular the students of Islamic History and Civilization. (Gunung Puyuh Sukabumi: no publisher`s name. He warned them that whoever was involved in this case would be expelled by God from Islam.H. 163 . There is one book of Sanusi that I found from a santri of Syams al-`Ulum in Gunung Puyuh. — Usep Abdul Matin Haji Muhammad Juwayni bin Haji `Abdurrahim Parakan Salak published by Sayyid `Ali al-`Idrusiy in the Keramat Batavia Centrum. who lived from the last nineteenth to the first twentieth century. December 22. Azyumardi.. thereby prohibiting Indonesians from having and reading Sanusi’s works. Abdurrahim. Yosep Aspat.H. I hope that this article inspires the readers.a. Ahmad Sanusi. Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana & Kekuasaan. Sukabumi: Misb±h al-Fal±h f³ Awrad al-Mas` wa-al-Syab±h. is a prolific writer whose works are now dfficult to discover for the reason that the Dutch colonial government regarded him as a dangerous man to them. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse .H. [] Bibliography Alamsyah. he qouted the prophet`s statement: “Man Gassana fa laysa minna” (whoever performed a back bitting is not from us). He was a Sundanese reformer Muslim whose ideas were influenced very much by notorious Muslim reformers. I have a good luck to find more than one hundred writings authored by Sanusi. such as Muhammad `Abduh and Jamaluddin Al-Afghani. Then. I dedicate this work to my late parents.). to study further on Sanusi in a more deeply way. I could draw a conclusion that KH. by Taufik Abdullah. Introd.

19 Februari 1940. Second edition. Vol. Leiden. Sukabumi: al-Ittih±d. West Java. Rijk Universiteit. KH Ahmad Sanusi dan Perjoangannya. Sukabumi.. 1935. Mindharat al-Islam wa-alIman. in our house in Sukabumi December 12. KH. Fatw±. Badan Litbang Agama. Dudu Abdullah Hamidi.a. Interview with Mr. [This work is in form of micro film which is available in the KITLV library. Interview: Interview with late Ajengan Dadun in his house in Cibadak. Tahdîr al-Afk±r.H. 1986. Proyek Penelitian Keagamaan. Biografi K. 1900-1942. Leiden University. 2001. The Netherlands]. in Proces Verbal. KITLV. on December 20. Majalengka: Pengurus Besar “Persatuan Ummat Islam” Majlis Penyiaran dan Da`wah. M. 1998 Leiden: Rijk Universiteit Leiden. 3. Iskandar. he was at the age of 80. Interview with late K. ibn Husain. 2001. Ahmad. Amsterdam: Vrije Universiteit. 1993. [Fatw±] “Zakat Fithrah. Sukabumi: Kantor Cetak Sukabumi. Wanta. ---------. Oking in his house in Cigunung. my father. Muhammad Misbah. Puslitbang Lektur Agama. [Sanusi`s speech of Syarekat Islam] “Dit Boek Nahratoe`ddhargam (De Gebiedende Leeuwenstem) Dienende tot Wering van de Aanvallen Veragtelijke Menschen Gericht tegen de S. Mohammad.H. 1. Ahmad Sanusi. December 12. When I interviewed him. Siapa?: Lukisan tentang Pemimpin-pemimpin.” . Para Pengemban Amanah: Kyai dan Ulama dalam Perubahan Sosial – Politik di Priangan c.I. Boenoet: “Pemerintah” Soekaboemi.. 1955. Ahmad Sanusi (1888-1950): His Religio-Intellectual Discourse . Sipahoetar. Jakarta: Bagian Proyek Penelitian dan Pengembangan Lektur Agama Departemen Agama. ---------. An unpublished thesis. — Usep Abdul Matin Ensiklopedi Islam. Studiegids Islamologie 1998/1999. 1935. Sanusi. ---------. Leiden University. Abdullah. 164 .. 2001.K. Ibn Haji Syafe`i Sukabumi. Jakarta: PT Intermasa. Kantor Cetak al-Ittihad Sukabumi. Sukabumi.a.” s. Buitenzorg: Ang Tjio Drukkerij. Vol. 1991. Tadhkirat al-Ikhw±n bi-m± fî ±khir al-Zam±n. 1991.H.

illustrate the existing difference between the order of Syattariyah and the order of Naqsyabandiyah. Buku karya Oman Fathurahman. An interesting thing is that this book is a result of the philological study with the approach of sociointellectual history which the local philologists are still rare to use. Moreover.Tarekat Syattariyah di Minangkabau — Uka Tjandrasasmita Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Tinjauan Buku “Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Teks dan Konteks”. Jakarta This writing is an overview of the book written by Oman Fathurahman. Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Teks dan Konteks. the order of Syattariyah Syekh Burhanuddin Ulakan tought in the following period was flexible. Burhanuddin Ulakan. The study of the book has been extended by additional analysis on the representation of the Sundanese manuscript with Kuningan version dan two other Javanese manuscripts – Cirebon version and Girilaya version. Tarekat Syattariyah di 165 . In fact. tarekat Syattariyah. karya Oman Fathurahman Uka Tjandrasasmita UIN Syarif Hidayatullah. The explanation which is based on the manuscripts of the Syattariyah Minangkabau. Minangkabau Pendahuluan Kajian filologi dengan pendekatan sejarah sosial-intelektual masih jarang dilakukan oleh ahli filologi Indonesia. Kajian filologi semacam ini mensyaratkan para filolog untuk memperkaya wawasannya dengan pengetahuan tentang sejarah sosial-intelektual tersebut. with its seven grades teaching. Therefore. The order of Syattariyah is considered by a group of Naqsyabandiyah to teach the wujudiyah (monism or unity of being). it was clear that the teaching of monisme or unity of being was eliminated and the teaching was adjusted to the teaching of Islam which is based on the creed of Ahlus Sunnah wal Jamaah Kata kunci: Filologi. this study is hoped to motivate other local philologist to conduct such study.

tidak sebatas Minangkabau. Vol. merupakan karya yang berasal dari disertasi untuk memperoleh gelar doktor pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia tahun 2003. surau merupakan pusat penulisan dan penyalinan naskah-naskah keislaman tersebut.174 Minangkabau: Teks dan Konteks. naskah-naskah Minangkabau memperlihatkan kekhasannya tersendiri yang menunjukkan ekpresi Islam di Indonesia di mana terdapat unsur-unsur budaya lokal. Azra mengatakan bahwa dari segi kajian naskah-naskah (manuscripts) keislaman yang tersebar di Nusantara. Hal ini menunjukkan bahwa surau merupakan pusat pewarisan intelektual Islam. 7. Ketiga naskah tersebut menurut Oman Fathurahman. dipakai sebagai bahan perbandingan untuk melihat sejauh mana kekhasan dinamika dan perkembangan tarekat Syattariyah di Sumatera Barat yang tetap menjadi perhatian utamanya. Naskah dan Pendekatan Interdisipliner Buku karya Oman Fathurahman ini dapat dikatakan telah teruji bobot keilmiahannya karena merupakan hasil disertasi yang dinyatakan lulus dengan pujian cumlaude oleh dewan pengujinya. ”Apresiasi Warisan Intelektual Islam di Surau Minangkabau”. 2009: 165 . Buku yang akan kita tinjau ini merupakan kajian filologis dengan pendekatan sejarah sosial-intelektual. untuk kasus di Minangkabau (Sumatera Barat). Betapa pentingnya buku karya Oman Fathurahman ini telah ditandaskan oleh Azyumardi Azra dalam Kata Pengantarnya. 1. 166 . melainkan juga analisis terhadap representasi naskah Sunda “versi Kuningan” dan dua naskah Jawa “versi Cirebon” dan “versi Girilaya”.Jurnal Lektur Keagamaan. Diharapkan kehadiran buku ini dapat mendorong para ahli filologi Indonesia lainnya untuk mengadakan kajian semacam itu. No. Jika diadakan perbandingan dengan naskah-naskah yang mengandung keagamaan Islam di daerah lainnya di Nusantara atau dengan naskah-naskah Islam yang berkembang di wilayah asalnya di Tanah Arab. Cakupan pembahasan dalam buku ini sudah mengalami perluasan. Naskah-naskah lokal di Minangkabau menunjukkan ekspresi Islam lokal.

ekonomi. adat. Soejono. bahkan H. maka selayaknya filologi juga memakai pernaskahan itu dengan pendekatan sejarah dan ilmu-ilmu sosial lainnya... Buku ini diharapkan mendorong para ahli filologi pribumi lainnya untuk mengadakan kajian semacam itu.J. Mengingat naskah-naskah atau manuskrip khazanah budaya bangsa Indonesia. Kecuali dapat dimanfaatkan bagi penulisan sejarah. hukum. Karyanya telah saya contoh untuk membedakan ahli-ahli filologi masa lampau yang menggunakan kajiannya dengan pendekatan sejarah-politik konvensional sempit seperti R. pada umumnya mengandung informasi berlimpah yang meliputi kehidupan sosial. Sebenarnya kajian terhadap naskah dengan pendekatan sejarah sosio-intelektual telah dipelopori oleh Azyumardi Azra melalui disertasinya untuk memperoleh Ph. Contribution of Islamic Manuscripts for the Study of Islamic Archaeology (Uka Tjandrasasmita. 2006: 43-52). di Columbia University tahun 1992 dengan judul The Transmission of Islamic Reformation to Indonesia Networks of Middle Eastern and Malay-Indonesian Ulama in the Seventeenth and Eighteenth Centuries. Kecuali itu.. de Graaf dan lain-lain (Uka Tjandrasasmita: Kajian Naskah-Naskah Klasik. politik.P. Saya sendiri telah mencoba menguraikan permasalahan ini dalam buku yang baru saya sebutkan di atas. baik yang bernuansa keagamaan Islam maupun yang bukan.471). secara khusus kami juga telah menyampaikan makalah tentang bagaimana hubungannya antara Filologi dan Pendekatan Interdisipliner di 167 . Disertasi yang sangat penting artinya bagi pengembangan sejarah pemikiran keagamaan ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Hoesein Djajadiningrat.A. dan kebudayaan bahkan perobatan. Hans Overbeck. kajian naskah dapat juga memberikan kontribusi pada kajian arkeologi.A. Cense. Mengenai hal ini pernah saya kemukakan dalam suatu risalah sebagai kontribusi memperingati usia ke-80 tahun R. A.D.Tarekat Syattariyah di Minangkabau — Uka Tjandrasasmita Hal yang menarik perhatian kita adalah bahwa buku Oman Fathurahman ini merupakan hasil kajian filologi dengan pendekatan sejarah sosial-intelektual yang masih jarang dilakukan di antara ahli filologi pribumi. yaitu Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Melacak Akar-Akar Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia. 2006: 459-.

mengingat begitu luasnya kandungan pernaskahan kuno yang dapat dikaitkan dengan kajian berbagai ilmu. Vol. 7. 2000). sehingga tidak mengherankan kalau karya-karya Abdurrauf merujuk pada kitab-kitab kedua ahli tasawuf tersebut. Karya guru Syekh Burhanuddin Ulakan. Kedua ahli tasawuf ini adalah guru Abdurrauf ibn Ali al-Jawi al-Fansuri. Isi pokoknya dapat dibaca dalam ringkasannya yang antara lain mengemukakan tentang sumber primernya yang berdasarkan 10 judul naskah-naskah Syattariyah dari Sumatera Barat. H. khususnya tentang Tarekat Syattariyah di Minangkabau. 2009: 165 . yaitu Abdurrauf ibn Ali al-Jawi al-Fansuridi antaranya ialah Tanbīh al-Māsyī al168 . K. 1. Untuk mengukur sampai dimana dinamika tarekat Syattariyah yang dibentangkan dalam naskah-naskah dari Sumatera Barat atau Minangkabau itu. dapat dikatakan bahwa cakupan yang dibicarakannya cukup banyak dan sangat bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Oman Fathurahman dalam penelitiannya menggunakan dua sumber Arab yaitu kitab al-Sim¥ al-Majīd sebuah karangan tasawuf Syekh A¥mad al-Qusyāsyī dan It¥āf al-ª±ki bi Syar¥ al-Tu¥fah alMursalah ilā Rū¥ al-Nabī karangan Ibrāhīm al-Kūrānī. Karya Abdurrauf kemudian ditransmisikan kepada Syekh Burhanuddin Ulakan yang meneruskan dan mengembangkan ajaran tarekat Syattariyah di Sumatera Barat. Deram (w.174 Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama pada tanggal 14 Nopember 2008. dan Tuanku Bagindo Abbas Ulakan. Naskahnaskah tersebut merupakan karya tulis tiga orang ulama yaitu: Imam Maulana Abdul Manaf Amin (1922-2006).Jurnal Lektur Keagamaan. Bahkan naskah-naskah yang membicarakan hal-hal pengobatan tradisional dengan bermacam tumbuhan dapat dikaji dari segi ilmu kedokteran modern. Pribumisasi Tarekat Syattariyah di Sumatera Barat Kembali mengenai tinjauan terhadap buku karya Oman Fathurahman. Selanjutnya juga diturunkan kepada muridmuridnya di Minangkabau sampai pada tiga orang ahli tarekat Syattariyah abad ke-20 yang namanya telah disebut di atas dan karangannya menjadi sumber primer bagi penelitian tarekat di Sumatera Barat/Minangkabau. No.

1999). dijumpai empat salinan naskah yang disalin dalam rentang waktu berbeda. teks Tanbīh al-Māsyī yang aslinya ditulis dalam bahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. hal tersebut sudah dibahas dengan teliti dalam subjudul “Zikir Tarekat Syattariyah dalam Tanbīh al-Māsyī dan Kifāyah al-Muhtājīn” (h.Tarekat Syattariyah di Minangkabau — Uka Tjandrasasmita Mansūb il± °arīq al-Qusyāsyī (Pedoman bagi orang yang menempuh tarekat al-Qusyāsyī). Bila Nuruddin al-Raniri yang pada waktu itu menjadi penentang keras terhadap Wujudiyah maka Abdurrauf al-Singkili bersikap moderat yang dapat kita simak dari kitab Tanbīh al-Māsyī dan kitab-kitab lainnya. Oman Fathurahman menyebutkan tidak kurang dari 23 buah karya Abdurrauf di bidang tasawuf. kata Azyumardi Azra. Pada bab IV. 10 buah di bidang fikih. Dalam naskah-naskahnya. Persoalan yang diangkat dalam karangan tersebut ialah masalah Wujudiyah yang pada abad ke-17 menjadi ajang pertentangan antara Hamzah al-Fansuri dan muridnya asSumatrani. belum mendapat porsi yang cukup memadai dalam pembahasannya karena baru diungkap secara sepintas. menurut pembacaan saya. khususnya mengenai amalan-amalan Syattariyah yang mengandung rumus-rumus atau simbol-simbol zikir dan cukup penting. sedangkan untuk kitab yang menjadi objek kajiannya. Meskipun demikian. 64-69 dan 7072). sayang dalam buku ini ajaran-ajaran zikir Syattariyah Abdurrauf yang terdapat dalam teks itu. Kitab tafsirnya yang berjudul Tarjumān al-Mustafīd merupakan tafsir Al-Qur’an pertama di dunia Islam dalam bahasa Melayu. serta dianggap ajaran yang sesat oleh lawannya. Ada perbedaan antara tujuan zikir Abdurrauf dalam Tanbīh alMāsyī yang merujuk kepada karya Syekh al-Qusyāsyī dengan Syattariyah di Sumatera Barat. Kitab-kitab di bidang hadis yang dicatat Oman Fathurahman ada dua buah. Kitab Abdurrauf ini sebenarnya pernah dikaji dan diterbitkan Oman Fathurahman dengan judul Menyoal Wahdatul Wujud: Kasus Abdurrauf Singkel di Aceh Abad ke-17 (Fathurahman. Abdurrauf mewacanakan bahwa tujuan akhir zikir tarekat Syattariyah ialah 169 . yaitu Tanbīh al-Māsyī. dan satu buah di bidang tafsir. yaitu Nuruddin al-Raniri sehingga atas anjurannya kitab-kitab karangan kedua ahli tasawuf Wujudiyah itu dibakar. Namun.

Sikap dari para penganut tarekat Syattariyah di Sumatera Barat/Minangkabau tersebut oleh Oman dibahas berdasarkan naskah-naskah primer yang ditulis. disalin dan diwariskan oleh para guru tarekat Syattariyah dari surau sebagai skriptorium pernaskahan. Bulan Safar tersebut dikaitkan dengan anggapan masa wafatnya Syekh Burhanuddin Ulakan sendiri. 2009: 165 .174 konsep fana. Orang yang mengikuti upacara ritual ini bukan hanya penganut tarekat Syattariyah tetapi juga penganut Islam pada umumnya. Dalam level tertentu. sejumlah naskah Minangkabau menjelaskan adanya upaya pelucutan doktrin Wujudiyah dari keseluruhan ajaran tareakat Syattariyah. 130-149). Ada pertanyaan yang perlu dikemukakan. sedangkan dalam teks-teks di Sumatra Barat lebih banyak disebutkan bahwa. padahal kenyataannya tarekat Syattariyah yang diajarkan Syekh Burhanuddin Ulakan sampai masa berikutnya senantiasa mendasarkan pada prinsip-prinsip al-Quran dan Hadis Nabi. Hal lain yang juga menarik perhatian kita adalah uraian yang didasarkan pada naskah-naskah dari Minangkabau/Sumatera Barat yang mengandung gambaran adanya perbedaan paham antara tarekat Syattariyah dengan tarekat Naqsyabandiyah. dengan alasan bertentangan dengan prinsip-prinsip ahlussunnah wal-jamaah. Ritual Basapa ialah upacara berziarah ke makam Syekh Burhanuddin Ulakan sebagai ulama besar tarekat Syattariyah di Sumatera Barat yang dilakukan setiap tahun pada tanggal 10 Safar. Di dalamnya dibahas serta diberikan contoh pula adanya pribumisasi tarekat Syattariyah yang antara lain berwujud dalam kesenian upacara ritual kesenian yang disebut Basapa dan kesenian Salawat Dulang (h. 1. No. Vol.Jurnal Lektur Keagamaan. Tarekat Syattariyah dianggap oleh kelompok masyarakat penganut tarekat Naqsyabandiyah mengajarkan doktrin Wujudiyah yang dianggap berlebihan dan menyimpang. tujuan akhir zikir hanya “sekadar” untuk membersihkan jiwa agar memperoleh kedekatan dengan Tuhan dan untuk membuka rasa agar memperoleh keyakinan dan kesaksian akan hakikat dan wujud-Nya. Jelas ini merupakan bagian dari dinamika tarekat Syattariyah di Sumatera Barat. yang dalam buku ini dikemukakan pada bagian keenam (h. yaitu apa bedanya dengan upacara tabuik yang biasanya dilakukan 170 . 7. 111-129).

Kecuali itu pribumisasi tarekat Syattariyah terekspresi dalam upacara kesenian Salawat Dulang. dan “Girilaya” Untuk melengkapi disertasinya. sebelum diterbitkan dalam bentuk buku. naskah yang berasal dari Kiai Maolani. Oman Fathurahman telah memperluas pembahasan tentang dinamika tarekat Syattariyah di Minangkabau melalui perbandingan dengan “versi Kuningan”. tarekat di Kuningan. “Cirebon”. Berbeda dengan tarekat Syattariyah Sumatera Barat. baik dari Kuningan maupun dari Mertasinga Cirebon yang ditulis pada abad 18-19 M. Salawat Dulang atau Salawat Talam sampai kini dilakukan oleh masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat. pertama kalinya upacara itu dilakukan pada masa hidupnya Syekh Burhanuddin Ulakan yang pernah menyaksikan upacara kesenian di Aceh dengan menggunakan rebana. “versi Cirebon”. Cirebon. dan “versi Girilaya”. karena hal itu mungkin disebabkan adanya hubungan silsilah guru-guru tarekat Syattariyah yang juga sering mencantumkan tokoh Ali bin Abu Thalib panutan utama aliran Syiah. Sunan Gunung Jati atau Syekh 171 . Karena berdasarkan pemberitaan dalam naskah. Demikian di antaranya pribumisasi tarekat Syattariyah di Sumatera Barat. dan Girilaya cenderung kepada tarekat Syattariyah Abdurrauf dari Aceh dengan tidak menolak sama sekali tasawuf Wujudiyah walaupun tetap mengajarkan Martabat Tujuh yang diterima oleh Syekh Abdul Muhyi (Pamijahan) dari gurunya Abdurrauf al-Singkili. Menurut tradisi. Dalam upacaya ini biasanya terdiri dari dua grup yang dilaksanakan dengan cara berdialog tentang keagamaan Islam.Tarekat Syattariyah di Minangkabau — Uka Tjandrasasmita oleh penganut Syiah di Pariaman dan tempat lainnya? Ini bisa bersamaan atau hampir bersamaan. dan berbagai lagu-lagu lainnya. yaitu kesenian yang menggunakan antara lain dulang atau talam dengan cara dipukul-pukul sambil membacakan salawat Nabi. tarekat Syattariyah ketiga versi tersebut dikatakannya. Kalau Oman Fathurahman mengambil contoh naskah versi Kuningan. penelusurannya akan semakin lengkap jika dikaitkan pula dengan ajaran tarekat Syattariyah yang semula dianut oleh Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah. Selain itu disisi pula dengan khutbah. Tarekat Syattariyah versi “Kuningan”.

Wahyu. Naqsyabandiyah. Oleh karena itu. Imam Ja’far as-Sidik. 7. 2005) dan (Naskah Kuningan. dan Satoriyah (Syattariyah). Masalah tarekat-tarekat ini dapat dibaca dalam Amman N. Cirebon dan Kuningan. Vol. Dalam naskah Kuningan lebih rinci lagi ajaran tasawuf dengan tarekat-tarekatnya terutama tarekat Syattariyah seperti disebut dalam silsilah Mursyidnya: dari mulai Nabi Muhammad. Kecuali itu bagaimana kaitan ajaran tarekat Syekh Abdul Muhyi dari Pamijahan dengan yang berada di Cirebon. menurut cerita. Kecamatan Tondano. 2009: 165 . Sebab. Sayidina Zainal Abidin. Kabupaten Minahasa. makamnya ada di kompleks makam Kiai Mojo di Kampung Jawa. Juga bagaimana kelak jika telah dipelajari tarekat Syattariyah yang diajarkan di Buton dan mungkin tempat-tempat lainnya yang sudah tentu akan memberikan gambaran yang luas sekali tentang keberadaan tarekat Syattariyah di Nusantara ini.174 Syarif Hidayatullah berguru tasawuf tarekat Kubrawiyah. 2007). 1.Jurnal Lektur Keagamaan. bagaimanapun. masyarakat Kuningan menyebut Kiai Maolani atau Lengkong itu dengan Embah Manado. Muhammad Magrib dan seterusnya secara turun temurun sampai pada ulama-ulama di Jawa. Sejarah Wali: Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati (Naskah Mertasinga. Kini. Abi Yazid al-Bisthami. No. Penutup Hasil kajian yang telah dilakukan Oman Fathurahman melalui bukunya ini. ke Sayidina Husein. ia pernah ke Cirebon dan mengajarkan tarekat Syattariyah. Sayidina Ali. Sayidina Muhammad al-Baqir. apakah ada hubungannya dengan naskah tarekat Syattariyah dari Haji Maolani-Lengkong-KuninganJawa Barat yang diasingkan Pemerintah Hindia-Belanda semasa Perang Diponegoro ke Menado. Hal ini perlu diadakan penelitian lebih jauh. telah memberikan sumbangan besar bagi perkembangan studi filologi dengan pendekatan sejarah sosio172 . yang terkenal sebagai pujangga besar Sunda dengan banyaknya karangan mengenai adat istiadat dan lain sebagainya. Tambahan lain yang perlu dimasukkan adalah bagaimana hubungan tarekat Syattariah dengan Martabat Tujuh yang ditulis oleh Haji Hasan Mustafa. sampai terakhir pada Kiai Mas Demang wedana pensiun Atmawijaya.

1994. Jakarta: E.Tarekat Syattariyah di Minangkabau — Uka Tjandrasasmita intelektual atau pemikiran Islam karya cendekiawan Muslim masa lampau di Indonesia. Bandung: Mizan. Penerbit Mizan.E. Semoga buku ini mencapai tujuannya untuk menambah wawasan para pembacanya dan juga untuk memperkaya khazanah kepustkaan Indonesia pada umumnya dan kepustakaan Islam Indonesia pada khususnya. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII Melaacak Akar-Akar Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia. [] Daftar Pustaka Azra. Melalui kajian semacam itu dapat diyakini betapa tingginya nilainilai keintelektualan para ulama kita di masa lampau yang telah mewariskan ratusan bahkan ribuan naskah sebagai warisan khazanah budaya bangsa. Demikian pula bagi para mahasiswa yang tengah menuntut ilmu di berbagai jurusan dengan bidangnya masing-masing dapat menyentuh nuraninya untuk mempelajari filologi atau pernaskahan. baik UIN Syarif Hidayatullah atau di perguruan tinggi agama lainnya. Fathurahman. Henri & Oman Fathurahman. Centre de Jakarta. perlu menyadari untuk mengadakan penelitian naskah-naskah yang bernuansa keagamaan. terutama yang termasuk ilmu-ilmu sosial.F. baik dalam bidang filologi maupun di bidang ilmu-ilmu lainnya.-Yayasan Obor Indonesia.O. yang tidak terbatas pada kajian filologi.F. Oman. Hasil kajian seperti itu akan mendorong semangat terutama bagi siapapun yang berkecimpung.E. Buku karya Oman Fathurahman ini dapat semakin menegaskan bahwa naskah kuno keagamaan memiliki arti yang sangat penting untuk studi-studi keagamaan. 173 . 1999. Chambert-Loir. Jakarta dan Bandung: E. Tanbih Al-Masyi Menyoal Wahdatul Wujud Kasus Abdurrauf Singkel di Aceh Abad 17. 1999. Panduan Koleksi Naskah Naskah Indonesia Sedunia/ World Guide to Indonesian Manuscript Collections. Azyumardi.O. bahkan ilmu-ilmu lainnya seperti kedokteran dan teknologi. Lebih-lebih bagi mahasiswa-mahasiswa Fakultas Adab dan Humanaiora.

2006. Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama R. h. (Naskah Kuningan).174 Tjandrasasmita. No. Bandung: Penerbit Pustaka ----------. 2006. ----------. Amman N. 2007. 2009: 165 . Archaeology Indonesia Perspective. ----------. 1426 H/1995 M. Wahju. Vol. Tgl. 1. Sejarah Wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati (Naskah Mertasinga). Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. 1998. Disampaikan dalam Diklat Penelitian Naskah Keagamaan Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan Departemen Agama RI. Soejono’s Fest Script. R. 2008. 4 November. Indonesian Institute for Sciences: International Center for Prehistoric and Austronesian Studies.P. “Pendekatan Interdisipliner Dalam Kajian Filologi”. Alih aksara dan bahasa. Kajian Naskah-Naskah Klasik dan Penerapannya bagi Kajian Sejarah Islam di Indonesia. 174 . Uka.Alih aksara dan bahasa. Bandung: Penerbit Pustaka. Jakarta: Pidato Penganugerahan Gelar Doktor Honoris Causa oleh IAIN Syarif Hidayatullah.Jurnal Lektur Keagamaan. 7. Kajian Sejarah dan Arkeologi Islam di Indonesia: Pemanfaatan: Hasil Kajian Filologi. Sejarah Wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. “The Contribution of Islamic Manuscripts for the Study of Islamic Archaeology”.I. 459-471 ----------.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->