INTI, PLASMA (PIR-TRANS) DAN KKPA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

4 Votes

I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang Pelaksanaan PIRTRANS & KKPA Program pembangunan perkebunan melalui pola PIR-TRANS didasarkan pada Kepres No. 1 tahun 1986, sedangkan pola KKPA didasarkan atas keputusan Bersama Menteri Pertanian dan Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil No.73/Kpts/KB.510/2/1998 dan No. 01/SKB/M/11/98 yang masa kedua pola ini bertujuan sama yaitu meningkatkan produksi non migas, meningkatkan pendapatan petani, membantu pengembangan wilayah serta menunjang pengembangan perkebunan, meningkatkan serta memberdayakan KUD di wilayah plasma. 1.2. Pengertian Umum dalam PIR & KKPA Pola Perusahaan Inti Rakyat atau disingkat PIR adalah pola Pelaksanaan Pengembangan Perkebunan dengan menggunakan perkebunan besar sebagai inti yang membantu dan membimbing perkebunan rakyat disekitarnya sebagai plasma dalam suatu sistem kerjasama yang saling menguntungkan, utuh dan kesinambungan. Perusahaan Inti adalah perusahaan perkebunan besar, baik milik swasta maupun milik negara yang ditetapkan sebagai pelaksana proyek PIR. Kebun Plasma adalah areal wilayah plasma yang dibangun oleh perusahaan Inti dengan tanaman perkebunan. PIRTRANS adalah proyek PIR yang dikaitkan dengan program transmigrasi

KKPA adalah fasilitas pendanaan yang disediakan oleh Pemerintah berupa Kredit kepada Koperasi Primer untuk Anggotanya. KUD adalah lembaga ekonomi desa di wilayah plasma yang merupakan wadah petani peserta/kelompok tani plasma yang berfungsi mengkoordinir pemeliharaan/perawatan, panen, transport dan penjualan hasil produksi

Kelompok Tani adalah wadah atau organisasi kelompok petani peserta yang berada dalam satu hamparan yang sama Petani Peserta adalah petani yang ditetapkan sebagai penerima pemilikan kebun plasma / KKPA. II. TAHAPAN PEMBANGUNAN KEBUN INTI, KEBUN PLASMA dan KKPA Tahapan Pembangunan kebun Plasma / KKPA meliputi : 1. Masa Konstruksi 2. Masa Penyerahan Kebun sampai Pelunasan Kredit 3. Masa Pasca Kredit Lunas 2.1. Masa Kontruksi 2.1.1. Masa persiapan meliputi kegiatan : (pengurusan legalitas dan perencanaan)

Permohonan ijin prinsip dari Menteri Pertanian melalui Direktorat Jendral Perkebunan Permohonan Pencadangan lahan kepada Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Survey pendahuluan Permohonan pelepasan Kawasan Hutan kepada Menteri Kehutanan Study kelayakan dan Perencanaan Proyek SK Menteri Pertanian tentang pelaksanaan proyek dan penunjukan Perusahaan Inti

2.1.2. Masa Pembangunan fisik kebun Pembangunan fisik kebun sepenuhnya dilaksanakan oleh Perusahaan Inti sesuai dengan standar fisik yang telah ditentukan Direktorat Jendral Perkebunan Pemanfaatan petani peserta sebagai tenaga kerja juga bertujuan untuk membina petani peserta tersebut mempunyai kemampuan untuk mengelola kebun plasma nantinya Keberhasilan suatu proyek plasma sangat tergantung dari pembangunan fisik kebun yang baik guna menjamin penyerahan kebun yang tepat waktu dan produksi tinggi Membangun fasilitas pabrik untuk menampung hasil produksi inti dan plasma

2.2. Masa Penyearahan Kebun sampai Pelunasan Kebun

kelompok tani dan perusahaan . Persiapan Penyerahan Kebun dilaksanakan sejak tanaman berumur 30 bulan s/d 48 bulan yaitu : Pengukuran kavling Pembentukan kelompok tani Undian Blok / Kavling Penilaian awal fisik kebun Permohonan Penilaian teknis Penilaian Teknis Akhir Kebun Pembuatan sertifikat Masa Penyerahan Kebun 2. kelompok tani serta memotong hasil produksi petani untuk pembayaran kredit pembangunan kebun pada Bank pelaksana. - Perjajian Kerjasama antara Inti. KUD.2. Masa Pelunasan Kredit Tugas Perusahaan Inti adalah : Bertangung jawab untuk membina KUD. transport hasil petani peserta ke lokasi pabrik inti Menyediakan kebutuhan petani peserta Melakukan administrasi terhadap penjualan hasil petani peserta Mengaturkan hubungan kerjasama dengan petani peserta. panen. Menerima hasil produksi petani peserta melalui KUD Tugas KUD adalah : KUD berkewajiban mengkoordinasi pemeliharaan.2.2. Kelompok Tani dan Bank Penyuluhan terpadu oleh TP3D1 dan TP3D2 Pelaksanaan alih kebun atau akan kredit 2.2.3.2.1.

Masalah Tanah garapan Masyarakat Penyelesaian . Masa Pasca Kredit Lunas Untuk menjamin kelangsungan dan kesinambungan program PIR dan KKPA kesepakatan kerjasama antara perusahaan inti. walaupun petani peserta telah melunasi kredit pembangunan kebunnya. Pemda & Perusahaan . 2. Oleh sebab itu TP3D1 dan TP3D2 berkewajiban untuk membina petani peserta. I.3. Tugas dan Tanggung jawab bank Menerima cicilan kredit dari perusahaan inti Membayar pendapatan hasil produksi petani pada masing-masing KUD Membantu mencari potensi usaha perkebunan arus pengembalian dan penyaluran kredit pada KUD Tugas dan Tanggung jawab Petani Peserta Membayar kredit pembangunan kebun plasma/KKPA Melaksanakan pengusahaan kebunnya sesuai bimbingan dari Perusahaan Inti Menyerahkan/menjual hasil kebun plasmanya kepada perusahaan inti dengan syarat dan harga wajar yang saling menguntungkan Mentaati kontrak kerja sama yang sudah di sepakati antara para petani peserta (sebagai anggota kelompok tani) dengan perusahaan inti dan Bank. Plasma 1.Pendapatan secara detil melibatkan aparat Desa.Mengadministrasikan seluruh transaksi keuangan antara kebun plasma dengan bank secara periodik Memupuk sumber dana sebagai tabungan untuk menambah modal KUD Membantu anggota / petani peserta memperoleh bantuan kredit perbankan untuk mengembangkan usaha Mempersiapkan diri untuk pembelian saham Perusahaan Inti. KUD dan petani peserta harus tetap dilaksanakan secara konsisten. KUD dan perusahaan inti untuk melakukan suatu kesepakatan kerjasama yang saling menguntungkan dan kesinambungan. Permasalahan dan upaya penyelesaiannya Masalah 1. II.

Tanaman bibit lebih dari 24 bulan .Lakukan pembinaan beserta kelompok tani dan KUD Penyelesaian .Prioritaskan masyarakat yang terkena lahan garapannya .Lengkapi dokumen perolehan tanah bila ada yang dibeli / ganti rugi diluar areal yang ditetapkan dan segera usul legalitasnya .Penetapan melalui keputusan instansi yang berwenang .Buat kelompok percontohan Masalah 7. Komposisi perbandingan Inti & Plasma 1.Monitoring dan Pengawasan .Koordinasi dengan instansi/aparat terkait . Gangguan Hama babi 5.Menghormati/menghargai hak lembaga desa/ulayat . Tidak berada dilokasi Plasma.Koordinasi dengan aparat yang terkait .SK usulan dan penetapan petani peserta secara prosedural dan transparan .Inti harus 20% dari total kebun inti & plasma . kavling diupahkan . Penjualan hak oleh petani peserta 6.Untuk areal inti dapat diberi saguhati . Penetapan kesepakatan harga sering .Masyarakat miskin yang berada disekitar proyek .Lakukan pembinaan secara kontiniu . Pelaksanaan perawatan & panen belum memenuhi standart yang ditetapkan 8. Komposisi petani peserta antara lokal & transmigran 3.2.Kendalikan dengan system yang lebih efektif & efisien .

Pembinaan oleh staff inti .Lakukan perbaikan jalan dan transportasi .Training oleh dinas kopersi. Kemampuan SDM dan permodalan KUD yang .Upayakan pemberian penghargaan pada kelompok yang menunjukan hasil kwalitas TBS yang baik .Bantuan modal bergulir dari perusahaan .Monitor secara kontiniu .Study banding pada KUD yang lebih baik .Informasi tentang harga yang sangat terbatas transparan dari inti . perusahaan .Sanksi sesuai ketentuan yang ditetapkan 10.Minimalisasi masalah antri di PKS .Pembinaan kepada kelompok tani/petani secara kontiniu .Instraksi terkait harus mampu dan profesional dalam menengahi permasalahan yang timbul .Mengumpulkan dana tabungan dari anggota KESIMPULAN DAN SARAN .Pinjaman modal kerja pada Bank .Tingkatkan kemampuan dan profesional petani dalam memahami system penetapan kesepakatan harga . Pelaksanaan greading TBS yang belum dilaksanakan sesuai aturan yang ditentukan .terkendala 9.

LATAR BELAKANG 1.Sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah tentang 5 (lima) pola pembangunan perkebunan yang ditetapkan pemerintah saat ini. Keberhasilan pengelolaan kebun plasma sangat tergantung pada kemampuan pengelolaan secara teknis dan pemahaman terhadap aturan yang ditetapkan dan koordinasi dengan instansi terkait. Perlu adanya pengetahuan tentang plasma dan kemitraan bagi staff perusahaan untuk pengembangan perusahaan kedepan. antara perusahaan dengan KUD atau petani. . karena masih dibawah standart perusahaan inti. LAMPIRAN KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERKEBUNAN NOMOR TANGGAL TENTANG : 11/KB.740/SK/Dj-Bun/03.94 : 21 MARET 1994 : SISTIM PENILAIAN FISIK KEBUN UNTUK PENGALIHAN KEBUN PLASMA DALAM POLA PERUSAHAAN INTI RAKYAT YANG DIKAITKAN DENGAN PROGRAM TRANSMIGRASI (PIR-TRANS) 1. Management KUD yang baik dan dipercaya oleh kelompok tani/petani peserta perlu diciptakan agar program yang dianjurkan perusahaan dapat dilaksanakan dengan baik. SARAN Kwalitas hasil produksi (TBS) dan masalah transport pada kebun plasma yang telah dialihkan adalah masalah utama saat ini yang perlu dilakukan perbaikan. I. seharusnya bertujuan meningkatkan ekonomi kerakyatan melalui kemitraan. Pengelolaan teknis agronomi kebun plasma yang baik dapat dimiliki oleh inti sebelum kavling diserahkan pada petani peserta pada umur 48 bulan. Peran aktif pihak management sangat diharapkan untuk dapat mendukung perbaikan masalah ini. Pengembangan perkebunan melalui Pola PIR yang dikaitkan dengan program Transmigrasi (PIR-TRANS) sebelum dikelola oleh petani didahului dengan suatu tahapan yaitu pengalihan status pemilikan kebun plasma dari perusahaan inti kepada petani peserta. Oleh sebab itu pengetahuan tentang plasma dan KKPA yang saat ini sedang kita laksanakan sangat penting untuk dipahami dan ditingkatkan.

PIR-TRANS yang dilandasi dengan INPRES Nomor 1 Tahun 1986. maka beberapa komponen yang perlu dinilai adalah sebagai berikut : 1. II. c. maka dalam rangka upaya pencapaian berbagai sasaran yang ingin dicapai perlu diadakan penyempurnaan sistem penilaian fisik kebun plasma proyek PIR-TRANS kelapa sawit. Pemberian kriteria dan tata cara penilaian harus dapat disajikan secara sederhana tetapi mencakup seluruh aspek yang merupakan komponen penentu. INDIKATOR PENENTU 1. mudah dan dengan biaya yang wajar atau disebut indikator efektivitas dan efisiensi. Pengambil alihan kebun plasma tersebut diawali dengan penilaian fisik kebun atas dasar standart fisik kebun dan tata cara penilaian serta klasifikasi kebun yang ditetapkan Direktur Jenderal Perkebunan sebagai pedoman kerja.Dalam mengadakan penilaian dan pemberian nilai harus diupayakan agar pengaruh faktorfaktor subyektif seminimal mungkin. Pada dasarnya kavling yang dialihkan kepada petani adalah kebun yang baik yang dicirikan oleh tiga indikator utama yaitu : 1. Atas dasar ketiga indikasi tersebut. Proses produksi pada kavling tersebut dapat berjalan secara lancar.1. sampai saat ini sebagaian kebun plasma telah berhasil dialihkan pemilikannya kepada petani peserta. Memperhatikan ketentuan sistim penilaian fisik kebun untuk pengalihan kebun plasma dengan pola PIR-TRANS kelapa sawit selama ini. 3. 2. Dalam penilaian fisik kebun beberapa hal pokok yang harus menjadi patokan utama adalah : 1. 1. 1. Untuk dapat diharapkan tanaman mempunyai potensi produksi yang baik ditunjukan oleh berbagai indikator yaitu : 1) 2) Jumlah pohon perhektar Jumlah pohon telah berbunga betina . Pada kavling tersebut tidak terdapat hal-hal yang mempunyai potensi untuk memerosotkan kondisi kebun setelah dialihkan kepada petani atau disebut indikator adanya potensi ancaman. Kavling tersebut mempunyai indikasi untuk dapat berproduksi dengan baik atau disebut indikator produksi 2. sehingga untuk obyek yang sama perbedaan penilaian oleh berbagai penilai tidak berbeda jauh. 1. 1. harus dapat menggambarkan tentang tingkat pencapaian sasaran yang diharapkan dari tujuan pembangunan kebun plasma tersebut. Penilaian fisik yang mengkelaskan kebun tersebut.

1. Kavling yaitu tanaman dengan luas 2 hektar yang diukur secara planimetris/proyeksi yang diperuntukan bagi satu kepala keluarga (KK) petani peserta . akan menimbulkan erosi dan kemerosotan kesuburan tanah dimasa datang. 4) Adanya kacangan penutup tanah sehingga dapat diperoleh peningkatan kesuburan tanah.3) 4) Jumlah pohon berbuah dan Rata-rata berat tandan buah segar (TBS) 1. Termasuk kedalam kelompok ini seperti jumlah pohon dan berat tandan 1. III SISTIM PENILAIAN KEBUN PLASMA 1. Sebagai contoh pemeliharaan piringan pohon ditunjukan untuk menampung brondolan dan efesiensi pemupukan. sehingga nilai bobotnya ditentukan oleh seberapa jauh fungsi tersebut dapat dicapai. pada hakekatnya dilakukan melalui dua pendekatan yaitu : 1. Metode Penilaian 1. Untuk berjalannya proses produksi secara efektif dan efisien beberapa indikator yang menunjukan hal itu antara lain adalah : 1) 2) Telah dibuatnya dan terpeliharanya jalan produksi dan jalan koleksi Telah dibuatnya dan terpeliharanya jalan pikul dan TPH 3) Terawatnya piringan pohon sehingga brondolan yang hilang dapat dikurangi dan terjadinya efektivitas pemupukan. 1. pemberian nilai bobot untuk berbagai indikator tersebut diatas. 3) Terdapatnya hama dan penyakit yang mempunyai potensi yang meluas keseluruh kebun (sebagai contoh ulat api dan cendawan akar merah) 1. Berbagai hal yang bersifat ancaman antara lain diindikasikan oleh adanya : 1) Lalang yang tidak terkendali (tidak dapat dikontrol dengan cara wiping yang normal) yang nantinya dikhawatirkan akan meluas menjadi lalang sheet dan tumbuhnya anakan kayu 2) Tidak dilaksanakannya sistim pengawetan tanah. Indikator yang dinilai bobotnya sangat ditekankan kepada parameter yang terukur secara pasti. Indikator yang dinilai bobotnya lebih dititik beratkan kepada kegunaan atau fungsinya. Pada dasarnya setiap kebun plasma mempunyai susunan hirarchi areal kebun yaitu : 1.

1. I. 1. dengan mengisi formulir model-A yaitu data lapangan kebun plasma. Afdeling yaitu terdiri atas beberapa hamparan atau dapat juga merupakan satuan pemukiman transmigrasi. KONDISI TANAMAN 1. 2. Komponenkomponen tersebut beserta nilai bobotnya adalah sebagai berikut : Nilai Komponen yang dinilai Bobot Maksimal 20 10 1. yaitu kebun plasma yang terdiri atas 20 ± 30 KK petani peserta yang nantinya membentuk kelompok tani sehamparan. 1. Rekapitulasi dari hasil sensus setiap kavling tersebut diisikan pada formulir model B yaitu penetapan kelas kebun atas dasar komponen dan nilai bobot dari masing-masing komponen tersebut. Jumlah pohon Perkavling 1. 3. Komponen yang dinilai dan nilai bobot 1. 1. Hamparan. Kriteria 1. Jumlah pohon minimal per-kavling untuk jarak tanam 9. Tata cara pelaksanaannya dilakukan melalui : 1. pengawetan tanah. Formulir model ± A tersebut menginventarisasikan tentang kondisi tanaman pohon demi pohon. Standart jumlah pohon ± perkavling (2 ha yang diukur secara planimetris/proyeksi ditentukan oleh jarak tanam. Atas dasar indikator penentu yang dikemukakan diatas. Penilaian atas pengklasifikasian kavling dilakukan pada saat tanaman berumur sekitar 3. jalan pikul dan TPH.42 m segitiga sama sisi adalah 240 dan untuk jarak tanam 9 m segitiga sama sisi adalah .5 tahun. Setiap petugas melakukan sensus pencatatan untuk masing-masing tanaman didalam satu kavling. maka telah dilakukan penetapan komponen yang dinilai dan diberi nilai bobot untuk menentukan ³elegible´ atau belum ³elegiblenya´ suatu kavling tanaman sebelum dialihkan kepada petani. kondisi penutup tanah. a.2. Pengklasifikasian kebun dilakukan untuk setiap kapling dan dilaksanakan secara sensus lengkap. kemudian direkapitulasikan ke formulir model A-1 2. Untuk jarak tanam 9.42 m segitiga sama sisi jumlah pohon standart 256 dan untuk jarak tanam 9 m segitiga sama sisi jumlah pohon standart 286.

jumlah pohon 240 terdiri dari minimal 207 pohon asli (tanaman awal). Jumlah Pohon Berbunga 1. Apabila jumlah pohon berbunga betina lebih rendah dari 85% dari jumlah pohon standart dan lebih besar dari 70% dari jumlah pohon standart nilai bobotnya proposional 3. a. Pohon yang berat TBSnya kurang dari 3 kg tidak diperhitungkan 1. Kriteria 1. maksimal 23 pohon sisipan beda umur 1 tahun dengan pohun asli dan kekurangannya sebanyak 10 pohon merupakan sisipan beda umur 1 ± 2 tahun dengan pohon asli.286 dengan ketentuan sebagai berikut : Untuk jarak tanam 9. jumlah pohon 268 terdiri dari minimal 231 pohon asli (Tanaman awal). 2. Kriteria Jumlah pohon berbunga betina 85% dari jumlah pohon standart atau dengan batas minimal yang diperhitungan 70% dari jumlah pohon standart 1. Jumlah pohon berubah 1. Jika jumlah pohon berbunga betina 85% dari jumlah standart atau lebih diberi nilai : 10 1. b. Tata cara penilaian . Untuk jarak tanam 9 m segitiga sama sisi. b. Tata cara penilaian 1. Pohon berubah adalah pohon yang berat TBSnya maksimal 3 kg atau lebih 10 2. a. Apabila jumlah pohon berbunga betina dibawah 70% dari jumlah pohon standart tersebut nilai bobotnya : 0 Nilai Komponen yang dinilai Bobot Maksimal 15 15 3. Jumlah pohon berubah 70% dari jumlah pohon standart dengan batas minimal yang diperhitungkan 60% dari jumlah pohon standart 3.42 m segitiga sama sisi. maksimal 26 pohon sisipan beda umur tahun dengan pohon asli dan kekurangannya sebanyak 11 pohon merupakan sisipan beda umur 1 ± 2 tahun dengan pohon asli.

b.1. b.5 kg (Matang panen) 1. Tata cara penilaian 1. Jika berat TBS rata-rata 3. Nilai Komponen yang dinilai Bobot Maksimal 8 1. Tata cara penilaian 1. a. . Berat TBS Rata ± Rata 1. a. Apabila berat TBS rata-rata 3 kg sampai dengan 3. Jika kacangan penutup 30% maka tambahan nilai bobotnya diberi : 4 Jika kacangan hanya 15% maka tambahan nilai bobotnya : 15/30 x 4 = 2 1. Jika jumlah pohon 70% dari jumlah standart atau lebih diberi nilai : 15 2. Kriteria Standart berat TBS rata. Apabila jumlah pohon berubah lebih rendah dari 70% dari jumlah pohon standart dan lebih besar 60% dari jumlah pohon standart nilai bobotnya proposional. 3. 1. Kriteria Penutup tanah yang ideal adalah kacangan yang jumlahnya pada saat diambil alih dianggap sudah memadai pada saat tingkat 30% dengan keadaan lalang terkendali dan bebas anak kayu. KONDISI PENUTUP TANAH 1. Jika lalang terkendali. 4. Jika lalang tidak terkendali atau banyak anakkan kayu nilai menjadi : 0 dan harus direhabilitasi dahulu sebelum dilakukan ambil alih.5 kg atau lebih diberi nilai : 15 2. Apabila jumlah pohon berubah dibawah 60% dari jumlah pohon standart tersebut nilai bobotnya : 0 1.5 kg nilai bobotnya proposional. bebas anakkan kayu dan selebihnya rumput lunak diberi nilai : 6 1.rata 3. Tambahan nilai bobot selanjutnya secara proposional sesuai dengan prosentase kacangan. II.

durehabilitasi terlebih dahulu sebelum dilakukan ambil alih. Jika tingkat kemiringan lahan 8 ± 26% diperlukan teras individu. IV. 2. Telah dibuat gorong-gorong dan jembatan diberi nilai :2 6. Diperkeras pada tanjakan dan bagian lembek diberi nilai : 3 3. Jika kondisi jalan tersebut tidak dapat dilalui sepanjang musim 4 1. 1. sedangkan >27% diperlakukan teras kontour 2. SISTEM PENGAWETAN TANAH 1. Indikasi kurang berfungsinya parit drainase ditunjukan oleh keadaan daun tanaman yang menguning. b. Lebar jalan produksi 6 m dan koleksi 4±5 diberi nilai : 3 2. KONDISI JALAN. III. Kriteria Kondisi jalan produksi dan koleksi dapat dilalui sepanjang musim dengan kendaraan truck bermuatan penuh. Nilai Komponen yang dinilai Bobot Maksimal 13 5 1. 1. Jika parit sirip ikan dan parit pembuangan (Out Let) tidak dibangun yang mengakibatkan lahan tergenang. a. Kriteria Berbagai indikator tentang diperlakukannya sistem pengawetan tanah dan parit drainase adalah sbb : 1. TPH. Jalan Produksi dan Koleksi 1. maka sebelum dilakukan ambil alih teras harus dibangun dulu. a. Tata Cara Penilaian 1. Jika areal memerlukan teras dan teras tersebut tidak dibangun. Tanjakan dapat dilalui truck diberi nilai : 3 5.1. Telah dibuat parit kiri ± kanan jalan diberi nilai : 2 4. JALAN PANEN DAN PIRINGAN POHON . Dibangun teras diberi nilai Dibangun parit sirip ikan diberi nilai Dibangun parit pembuangan (Out Let) diberi nilai : 3 1.

Hasil pengamatan dilapangan terhadap komponen tersebut diatas yang dibandingkan dengan keadaan standart diharapkan memberikan nilai bobot perolehan untuk setiap komponen. hama dan penyakit. Batas maksimal nilai bobot adalah : 4 Batas minimal nilai bobot adalah : 1 Jumlah Nilai Bobot 1.harus direhabilitas terlebih dahulu sebelum diambil alih. 4. 2. maka setiap kavling diklasifikasikan atas : Kelas A = Nilai bobot > 80 ± 100 memenuhi persyaratan dialihkan . yang dibuat 1 TPH setiap 5 gawangan dan dalam keadaan bersih. crown disease. secara ringkas pemberian nilai bobot perolehan tersebut diformasikan sebagai berikut : Data Dilapangan 100 Nilai bobot perolehan = Standart Fisik X Nilai bobot komponen maksimal Hasil penilaian tersebut dituangkan pada formulir penetapan kelas kebun Plasma (Form Model ± B). Jalan pikul adalah jalan antara 2 gawangan yang dapat dilalui tanpa hambatan bebas dari tumbuhan kayu besar dan anakkan kayu. KESAN DAN FAKTOR LAIN Penilaian ini dilakukan terhadap berbagai kondisi yang belum tercakup pada butir 1 s/d IV. yang diturunkan dari Form Model ± A. Homogenitas tanaman Defisiensi. 1. Kriteria 1. TPH adalah tempat pengumpulan TBS. 1. Cara Dan Hasil Penilaian 1. V. Jalan Pikul dan Piringan Pohon a. 2. TPH. Atas dasar penilaian dilapangan terhadap keseluruhan komponen. Faktor yang dinilai adalah kebersihan lapangan. Piringan pohon terawat dengan baik diberi nilai : 2 1. 3.

PENDAHULUAN Dalam rangka menjamin perolehan harga yang wajar dari Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit produksi petani dan mencegah persaingan tidak sehat diantara Pabrik. PENETAPAN HARGA PEMBELIAN TANDAN BUAH SEGAR (TBS) KELAPA SAWIT PRODUKSI PETANI 1. Ketentuan dimaksud merupakan penyempurnaan dari Keputusan Menteri Pertanian No. maka Perusahaan Inti lebih dahulu telah mengadakan penilaian kebun terhadap kebun-kebun yang akan dialihkan kepada petani peserta. 2. Askrindo. petugas Bank pelaksana dan petugas PT. Pelaksanaan penilaian adalah sebagai berikut : 1. Kelas D = Nilai bobot < 60 tidak memenuhi persyaratan dialihkan IV. ataupun petugas lain yang ditunjuk. I. dan memuat aspek-aspek antara lain : Sortasi TBS. Kelapa Sawit (PKS). sanksi dan Insentif pengiriman TBS ke Pabrik. Dinas perkebunan. 1. sehingga diperoleh keyakinan bahwa kebun yang akan dialihkan tersebut benarbenar telah memenuhi standar fisik.Kelas B = Nilai bobot > 70 ± < 80 belum memenuhi persyaratan untuk dialihkan dan dapat dinilai kembali minimal 12 bulan. serta Tata Cara Pembelian dan Pembayaran. 627/Kpts-II/1998 tanggal 11 September 1998 tentang Ketentuan penetapan Harga Pembelian Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit Produksi Petani. RUMUS HARGA PEMBELIAN TBS 1. II. pengangkutan dan Penetapan Berat TBS. Penilaian dilakukan oleh Tim yang terdiri dari petugas yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal. telah dikeluarkan keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. Sebelum perusahaan Inti mengajukan permohonan untuk diadakan penilaian fisik kebun plasma kepada Drektorat Jenderal Perkebunan. PELAKSANAAN PENILAIAN 1. Perkebunan. Rumus Harga .320/8/97 tanggal 22 Agustus 1997 dan peraturan pelaksanaannya. Kelas C = Nilai bobot > 60 ± < 70 belum memenuhi persyaratan untuk dialihkan dan dapat dinilai kembali setelah minimal 12 bulan. Penilai masing-masing kapling dilakukan oleh petugas penilai tersebut diatas dibantu oleh petugas kebun Inti dan petani peserta. A. 1. sedangkan pengklasifikasian masing-masing kavling dilakukan oleh Tim Penilai berdasarkan hasil penilaian tersebut. 839/kpts/KB. Petugas penilai dari Direktorat Jenderal Perkebunan.

3. Pemerintah Daerah Tingkat I Kantor Wilayah Departemen Kehutanan dan Perkebunan Dinas Perkebunan Propinsi Daerah Tingkat I Perusahaan Pusat Penelitian Kelapa Sawit dan pihak lain yang dipandang perlu Tim Penetapan Harga pembelian TBS mempunyai tugas : 1. 1. dinyatakan dalam persentase (%) Harga pembelian TBS ditetapkan setiap bulan berdasarkan harga riil rata-rata tertimbang minyak sawit kasar (CPO) dan inti sawit sesuai realisasi penjualan ekspor (FOB) dan lokal masingmasing perusahaan pada bulan sebelumnya. dinyatakan dalam persentase (%) HCPO : Harga rata-rata minyak kasar (CPO) tertimbang realisasi penjualan ekspor (FOB) dan lokal masing-masing perusahaan pada bulan sebelumnya. Merumuskan dan mengusulkan besarnya indeks ³K´ kepada Gubernur Kepala Daerah Tingkat I 2. dinyatakan dalam Rp/Kg R CPO : Rendemen minyak sawit kasar. Rumus harga tersebut adalah : H TBS = K (HCPO x R CPO + H IS x R IS) Dengan pengertian : H TBS : Harga TBS acuan yang diterima oleh Petani di tingkat Pabrik dinyatakan dalam Rp/Kg K : Indeks proporsi yang menunjukan bagian yang diterima oleh petani. 2. 3. Memantau pelaksanaan penetapan rendemen minyak sawit kasar dan inti sawit 4. Memantau pelaksanaan ketentuan dan penetapan harga pembelian TBS . 4. dinyatakan dalam Rp/Kg R IS : Rendemen inti sawit. 5. Tim Penetapan Harga Gubernur Kepala Daerah Tingkat I menetapkan Tim Penetapan Harga Pembelian TBS yang keanggotaannya terdiri dari unsur : 1. Harga pembelian TBS tersebut adalah harga franko pabrik pengolahan kelapa sawit. Memantau penetapan besarnya indeks ³K´ serta komponen lainnya yang terkait dalam rumus harga pembelian TBS.Harga pembelian TBS oleh Perusahaan didasarkan pada rumus harga pembelian TBS. dinyatakan dalam persentase (%) H IS : Harga rata-rata inti sawit tertimbang realisasi penjualan eksport (FOB) dan lokal masing-masing perusahaan pada bulan sebelumnya. B.

pasir dan sampah lainnya 1. Petani/kelembagaan petani dan perusahaan akan dikenakan sanksi. 1. pemantauan dan evaluasi atas pelaksanaan keputusan ini. Rotasi panen dilakukan sekali dalam tujuh hari dan pada keadaan tertentu disesuaikan dengan kenyataan potensi produksi 1. Perusahaan membeli produksi TBS dari binaan perusahaan lain 4. Perkebunan Besar Swasta. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I menetapkan sanksi sebagaimana ketentuan yang ditetapkan. Perkebunan Nusantara. Melaporkan realisasi pembelian TBS secara berkala kepada Dinas Perkebunan propinsi Daerah Tingkat I. Menyelesaikan masalah-masalah yang timbul antara perusahaan dan petani/kelembagaan petani. Mengumpulkan harga pembelian TBS paling lambat setiap tanggal 7 bulan berjalan. Brondolan yang dikumpulkan dari piringan dimasukan ke dalam karung dan dikirim ke pabrik bersama-sama dengan tandan . 1. 1. Pusat Penelitian kelapa Sawit dan instansi terkait lainnya. Menyampaikan harga rata-rata penjualan minyak sawit kasar dan inti sawit kepada perusahaan dan petani/kelembagaan petani secara periodik 6. IV. TATA CARA PANEN 1. TBS yang dikirim ke pabrik beratnya minimal 3 kg pertandan 1. perusahaan : 1. Dalam rangka pembinaan terhadap petani/kelembagaan petani. Tim Pemantau Harga menyusun dan menyampaikan informasi harga minyak sawit kasar dan inti sawit pada bulan sebelumnya serta melakukan pembinaan. Direktur Jendral Perkebunan membentuk Tim Pemantauan Harga yang terdiri dari unsur direktorat Jenderal perkebunan. Petani/kelembagaan petani menjual hasilnya kepada pihak ketiga 2. apabila 1. Kantor pemasaran Bersama PTPN I ± XIV. PEMBINAAN 1. tidak bercampur tanah. Perusahaan dalam perhitungan harga TBS produksi petani menggunakan harga CPO dan inti sawit lebih rendah dari harga rata-rata CPO dan inti sawit yang disampaikan oleh Tim penetapan Harga Pembelian TBS 3. III. 3. Melakukan pembibingan teknis budidaya dan manajemen 2. 1.5. Brondolan yang dikirim ke pabrik harus bersih. 1. PT.

Sanksi diberlakukan bagi seluruh TBS yang diolah di pabrik sebagai berikut : 1. Brondolan segar dalam karung harus bebas dari sampah. 1. buah matang (minimal 85%) dan buah lewat matang (maksimal 5%) 3. VII. dibongkar dan dituangkan di lantai 1. Penimbangan TBS dilakukan di pabrik dengan timbangan yang telah di tara oleh instansi berwenang yaitu Badan Metrologi. Pengangkut TBS bertanggung jawab mengangkut TBS dari TPH sampai ke pabrik dan tidak diperkenankan tertinggal dalam sarana angkutan 2. tanah. Sarana angkutan TBS diwajibkan menggunakan jaring penutup untuk menghindari jatuhnya TBS 4. Tidak terdapat tandan kosong 5. 1. VI. Penilaian mutu panen TBS yang masuk ke pabrik diberlakukan bagi seluruh TBS baik yang berasal dari perusahaan. TBS dalam truk yang disortasi. A. Sanksi 1. Sortasi TBS dilakukan secara acak. Hasil sortasi dipabrik disampaikan oleh perusahaan kepada petani melalui kelembagaan petani 1. PENGANGKUTAN DAN PENETAPAN BERAT TBS 1. V.1. minimal 1 (satu) truk dari setiap bagian kebun (afdeling) atau satuan pemukiman. petani/kelembagaan petani maupun dari kebun lain. pasir atau benda lainnya. Jumlah brondolan sekurang-kurangnya 12. TBS yang diterima di pabrik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1. Kelompok tani atau koperasi mempersiapkan sarana angkutan TBS yang sebanding dengan berat TBS yang akan dipanen untuk menghindari terjadinya TBS menginap 3. Buah mentah (gabungan fraksi 00 dengan fraksi 0) didenda sebesar 50% x BM x berat TBS yang diterima. TBS yang dipanen harus dikirim ke pabrik pada hari itu juga (tidak lebih dari 24 jam sejak panen) 1. Tandan tidak boleh bergagang panjang 4. Tandan terdiri dari buah mentah (0%). dengan pengertian : .5% dari berat TBS keseluruhan 2. 1. Sortasi mutu panen TBS di pabrik dilakukan oleh karyawan pabrik bersama wakil petani/kelembagaan petani 1. SANKSI DAN INSENTIF PENGIRIMAN TBS KE PABRIK 1. SORTASI TBS 1.

Tandan kosong didenda sebesar 100% x TK x berat TBS yang diterima.5% ± X) x berat TBS diterima. Buah lewat matang didenda sebesar 25% x (BLM ± 5%) x berat TBS yang diterima. TATA CARA PEMELIHARAAN DAN PEMBAYARAN 1. dengan pengertian : angka 30% X : : kadar minyak dan inti sawit dalam brondolan persentase jumlah brondolan yang dikirim 1. Brondolan yang dikirim diterima lebih kecil dari 12% didenda sebesar 30% x (12. 1. . dengan pengertian : angka 25% BLM angka 5% : : banyaknya brondolan yang tidak terkutip karena lewat matang : persentase jumlah buah lewat matang batasan BLM yang diperbolehkan 1. Petani menyerahkan TBS kepada perusahaan melalui petani/kelembagaan petani sesuai dengan perjanjian. Insentif Jika buah yang dikirim baik maka kepada yang bersangkutan diberi insentif sebesar 3% dari TBS yang diterima. dengan pengertian : TK : persentase jumlah tandan kosong 1. VIII. Pengaturan lebih lanjut dari pelaksanaan sanksi dan atau insentif tersebut diserahkan kepada perusahaan dan petani/kelembagaan petani B. dengan pengertian : angka 1% BT : : perkiraan berat gagang panjang dari berat TBS persentase jumlah tandan bergagang panjang 1.- angka 50% BM : efisiensi yang dicapai dipabrik bila mengolah buah mentah : persentase jumlah buah sangat mentah 1. Buah gagang panjang (BG) didenda sebesar 1% x BT x berat TBS yang diterima.

1. 1. Hasil pembelian TBS petani dibayarkan oleh perusahaan kepada petani setelah dikurangi kewajiban-kewaajiban petani sesuai dengan ketentuan dan dilakukan 1 (satu) kali sebulan atau berdasarkan kesepakatan bersama antara petani/kelembagaan petani dengan perusahaan. biaya angkut TBS yang menjadi beban petani hanya sampai dengan emplasemen Kantor Kebun/Perusahaan. KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERTANIAN DAN MENTERI KOPERASI DAN PEMBINAAN PENGUSAHA KECIL TENTANG PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN KOPERASI UNIT DESA DI BIDANG USAHA PERKEBUNAN DENGAN POLA KEMITRAAN MELALUI PEMANFAATAN KREDIT KEPADA KOPERASI PRIMER UNTUK ANGGOTANYA. Petani peserta adalah petani yang memiliki lahan dan terdaftar sebagai anggota KUD. 1.1. Untuk pengembangan perkebunan pola PIR. yang dimaksud dengan : 1. 1. Kebun Plasma adalah areal kebun yang dibangun dilahan milik petani peserta dengan tanaman perkebunan oleh Perusahaan Inti dengan menggunakan KKPA. Persuahaan Inti adalah perusahaan yang berskala menengah/besar milik swasta. 1. BUMN/BUND dan atau Koperasi yang melakukan kegiatan usaha dibidang perkebunan. BAB I KETENTUAN UMUM Bagian Pertama Pengertian Pasal I Dalam Keputusan Bersama ini. Kelembagaan petani atau yang mewakili mencatat besarnya penyetoran hasil TBS masing-masing anggotanya berdasarkan petunjuk perusahaan dan tembusannya disampaikan kepada perusahaan. . Perusahaan yang belum mempunyai pabrik mengolahkan TBS kepada pabrik pengolahan terdekat. Penimbangan TBS di pabrik dilakukan oleh perusahaan dan disaksikan oleh petani/kelembagaan petani atau yang mewakili. 1. Kredit kepada Koperasi Primer untuk Anggotanya yang selanjutnya disebut KKPA adalah kredit investasi dan atau kredit modal kerja yang diberikan oleh Bank kepada Koperasi Primer untuk diteruskan kepada anggota-anggotanya guna membiayai usaha anggota yang produktif.

1.1. Menumbuh kembangkan peran dan fungsi KUD dalam mewujudkan interaksi yang utuh antara usaha anggota dengan KUD dalam upaya meningkatkan produktivitas dan tingkat efisiensi 1. 1. Meningkatkan pembinaan dan pengendalian dalam pembangunan perkebunan . Masa konstruksi adalah masa pembangunan kebun plasma oleh perusahaan inti sampai dengan saat penyerahan kebun plasma. Wilayah Plasma adalah wilayah yang merupakan suatu kesatuan usaha yang layak secara ekonomi untuk dikembangkan oleh petani peserta. 1. 1. Masa pasca lunas adalah masa penjualan hasil produksi petani peserta kepada Perusahaan Inti yang tidak dibebani oleh angsuran kredit kebun. Meningkatkan penghasilan dan pendapatan petani peserta melalui pengembangan dibidang usaha perkebunan 1. Memberdayakan KUD agar mampu memanfaatkan peluang bisnis di wilayah pengembangan kebun plasma 1. Iuran dana peremajaan tanaman perkebunan yang selanjutnya disebut IDAPERTABUN adalah penyediaan dana oleh petani peserta secara swadaya untuk peremajaan yang sekaligus merupakan asuransi pertanggungan jiwa petani agar secara mandiri dapat melanjutkan usaha tani di masa mendatang. yang dijiwai prinsip saling memerlukan. 1. Hubungan kemitraan dibidang perkebunan adalah hubungan kerja dibidang pengembangan usaha perkebunan antara KUD dengan Perusahaan Inti disertai pembinaan perusahaan Inti kepada KUD. saling memperkuat dan saling menguntungkan. Meningkatkan usaha KUD melalui hubungan kemitraan 1. Masa penyerahan kebun sampai pelunasan kredit adalah masa penyerahan kebun plasma dari perusahaan inti melalui KUD kepada petani peserta dan masa pembayaran angsuran kredit kebun dari pemotongan hasil penjualan produksi petani peserta kepada Bank melalui Perusahaan Inti. Bagian Kedua Tujuan Pasal 2 Tujuan keputusan ini adalah : 1.

kegiatan KUD dan perusahaan Inti. Bagian Ketiga Sasaran Pasal 3 Sasaran keputusan bersama ini adalah : 1. Melakukan kegiatan usaha dalam pengembangan kemampuan petani anggotanya dan wilayah usaha pengembangan perkebunan. Bagian Keempat Ruang Lingkup Pasal 4 Ruang lingkup keputusan bersama ini meliputi pengaturan peranan. pembinaan serta pembiayaan. 1. Terwujudnya usaha tani perkebunan rakyat yang efisien dengan produktivitas yang optimal dan mempunyai daya saing tinggi. Terwujudnya hubungan kemitraan antara KUD/petani peserta dengan Perusahaan Inti 1. KEGIATAN KUD DAN PERUSAHAAN INTI Bagian Pertama KUD Pasal 5 Peran. BAB II PERAN. dalam melaksanakan pekerjaan yang dilakukan secara kooperatif jauh lebih produktif dan efisien dalam pengembangan usaha perkebunan.1. 1. Meningkatkan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya lahan dan model secara optimal untuk dapat meningkatkan produktivitas dan tingkat efisiensi. fungsi. hubungan kemitraan. fungsi. FUNGSI. Mewujudkan kesadaran dan kemampuan anggota. Meningkatkan produktifitas dan tingkat efisiensi dalam pengelolaan usaha tani dan usaha lainnya . dan kegiatan KUD adalah : 1.

maka KUD dapat bertindak sebagai pelaksana pemberian kredit (executing agent). 4) Peremajaan tanaman dengan menggunakan dana IDAPERTABUN yang disisihkan dari hasil penjualan produksi petani peserta. antara lain : 1) Simpan pinjam 2) Penyediaan dan penyaluran sarana produksi. KUD melakukan pengelolaan kebun yang telah diserahkan oleh Perusahaan Inti secara kelompok.1. KUD menyerahkan kebun plasma kepada masing-masing petani peserta dilengkapi dengan fotokopi sertifikat tanah dan dokumen lain yang diperlukan 1. pengangkutan hasil produksi. Meningkatkan kesadaran anggota agar aktif berkoperasi 1. Pasal 6 Sesuai dengan skim KKPA. KUD menjual hasil produksi kebun plasma kepada Perusahaan Inti yang merupakan mitranya. 1. Mengupayakan peningkatan kesejahteraan petani peserta dan keluarganya melalui berbagai kegiatan usaha. 1. dan kegiatan lain yang terkait. kebutuhan pokok sehari-hari serta jasa lainnya 3) Pemeliharaan kebun. jalan. penanganan pasca panen. atau penyalur kredit (chanelling agent). Bagian Kedua Perusahaan Inti Pasal 7 Perusahaan Inti bertugas : . Melaksanakan kegiatan usaha dengan perusahaan inti melalui hubungan kemitraan sesuai dengan tahapan pembangunan kebun plasma meliputi : 1) 2) 3) Masa konstruksi Masa penyerahan kebun sampai pelunasan kredit Masa pasca kredit lunas 1.

Penyerahan kebun plasma kepada KUD dan petani peserta dilaksanakan secara berkelompok berdasarkan atas penilaian aspek teknis budidaya yang ditetapkan Departemen Pertanian. Pengelola KUD sudah mendapat pendidikan dan latihan serta kegiatan usahanya sudah berjalan sesuai dengan tahapan pembangunan kebun 1.1. 1. memberi bantuan teknis budidaya dan manajemen kepada KUD/petani peserta sesuai dengan tahapan pembangunan kebun plasma. masa penyerahan sampai pelunasan kredit dan masa pasca kredit lunas 1. KUD dalam melaksanakan kegiatannya bermitra dengan perusahaan inti . Membantu dalam pemotongan angsuran kredit sampai lunas dan IDAPERTABUN pada saat pembayaran harga hasil produksi yang besarnya sesuai kesepakatan antara Perusahaan inti dan KUD Pasal 8 Perusahaan Inti dalam penyerahan kebun plasma harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1. Memberi peran kepada KUD dalam masa konstruksi. Membeli. Membimbing. Membangun kebun inti dan atau fasilitas pengolahan sesuai standar yang ditentukan pemerintah. sehingga KUD/petani peserta dapat melaksanakan kegiatan usahanya dan bermitra dengan baik. Perusahaan Inti dan Bank pelaksana BAB III HUBUNGAN KEMITRAAN ANTARA PERUSAHAAN INTI DAN KUD Pasal 9 1. Dalam hal tanaman belum memenuhi persyaratan teknis budidaya dapat dilakukan perbaikan oleh Perusahaan Inti atau penyerahan dilaksanakan dengan pengurangan beban kredit sesuai kesepakatan KUD. Pemenuhan persyaratan di atas sesuai dengan hasil penilaian Tim yang dibentuk oleh Departemen Pertanian dan Departemen Koperasi dan PPK 1. 1. Melaksanakan pembangunan kebun plasma sesuai dengan ketentuan yang berlaku 1. 1. mengolah dan memasarkan seluruh hasil produksi kebun plasma 1.

1. kewajiban dan sanksi dan berpedoman kepada keputusan bersama ini dan ketentuan kemitraan lainnya yang berlaku serta diketahui oleh Bupati KDH Tk II setempat. 4) Melakukan pembinaan manajeman produksi kepada KUD/petani peserta 5) Membimbing dan membina KUD/petani peserta sejak penyiapan lahan. Hubungan kemitraan antara Perusahaan Inti dengan KUD disesuaikan dengan tahapan pembangunan kebun plasma 1. Manajemen dalam pelaksanaan hubungan kemitraan harus jelas dan terbuka 1. BAB IV PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN Pasal 10 1. Hubungan kemitraan antara Perusahaan Inti dengan KUD harus dituangkan dalam perjanjian kerjasama yang memuat hak. KUD memperoleh peluang untuk membeli dan atau memiliki saham Perusahaan Inti mitra usahanya secara bertahap dengan nilai saham nominal dan jumlahnya sesuai dengan kesepakatan dan ketentuan yang berlaku. Menteri Pertanian bertugas : 1) Memberikan ijin usaha perkebunan yang meliputi usaha perkebunan dan ijin usaha industri perkebunan 2) Memberikan penyuluhan/pembinaan kepada petani peserta agar menjadi anggota KUD yang aktif 3) Melakukan penyuluhan dan mendorong terjadinya hubungan kemitraan usaha antara Perusahaan Inti dengan KUD/petani peserta. proses produksi sampai dengan pasca panen sehingga mampu mandiri dalam melaksanakan usaha di bidang perkebunan 6) Menertibkan petunjuk pengalihan kebun plasma dari Perusahaan Inti kepada KUD/petani 7) utuh 8) Memberikan petunjuk pengelolaan inti dan plasma sebagai usaha perkebunan yang Menjelaskan penerapan formula harga pembelian hasil peserta oleh Perusahaan Inti . 1. Dalam rangka pembinaan dan pengembangan KUD di bidang usaha perkebunan.

BAB V . plasma dan kelangsungan hubungan kemitraan bersama instansi terkait. 4. 6. Dalam rangka pembinaan dan pengembangan KUD di bidang usaha perkebunan Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil bertugas : 1) Inti Melakukan penyuluhan perkoperasian kepada KUD/petani peserta dan perusahaan 2) Meningkatkan kemampuan manajerial kelompok ± kelompok anggota menjadi kelompok ± kelompok produktif dan mempunyai tingkat efisiensi tinggi 3) 4) Meningkatkan kemampuan organisasi dan manajemen KUD Meningkatkan kemampuan pengelola KUD melalui pendidikan dan latihan 5) Meningkatkan dan mengembangkan permodalan dan sarana usaha. dilaksanakan secara bersama oleh Menteri Pertanian dan Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil yang meliputi : 1. Penilaian luas minimum dan maksimum kebun plasma Penilaian komponen pembangunan kebun plasma Penilaian pembangunan unit pengolahan Pemantauan terhadap penetapan harga hasil produksi kebun plasma oleh Perusahaan inti sesuai dengan ketentuan yang berlaku Pemantauan penyaluran KKPA dari Bank pelaksana kepada KUD/petani peserta Pemantauan pengembalian kredit petani peserta melalui KUD kepada Bank pelaksana Pemantauan pemilikan dan atau pembelian saham oleh KUD dari perusahaan Inti Penilaian aspek usaha dan kelembagaan KUD Supervisi terhadap penyelenggaraan kebun inti. 8. 3. dibebankan kepada APBN masing ± masing Departemen dan atau APBD masing ± masing instansi terkait. 5.1. Melakukan evaluasi terhadap kegiatan usaha KUD pada setiap tahap pengembangan Pasal 12 Biaya pembinaan dan pengembangan KUD yang dilakukan oleh pemerintah. 7. guna mendorong terwujudnya kegiatan diversifikasi usaha KUD 6) Memberikan petunjuk pola kemitraan antara KUD dengan Perusaahaan Inti pada setiap tahap pembangunan kebun plasma 7) kebun Pasal 11 Pembinaan dan pengembangan KUD dibidang usaha perkebunan yang memanfaatkan KKPA. 2. 9.

KETENTUAN PERALIHAN Pasal 13 Perusahaan Inti yang telah melaksanakan hubungan kemitraan dengan KUD dalam pembangunan kebun plasma dengan KKPA sebelum dikeluarkannya keputusaan ini. agar menyesuaikan dengan ketentuan ini dalam jangka waktu satu tahun sejak berlakunya keputusan ini. Pasal 15 Keputusan bersama ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan Ditentukan di Jakarta Pada tanggal : 26 Februari 1998 MENTERI PERTANIAN DAN PEMBINAAN PENGUSAHA KECIL MENTERI KOPERASI . BAB VI KETENTUAN PENUTUP Pasal 14 Petunjuk teknis Pelaksanaan Keputusan Bersama ini ditetapkan lebih lanjut oleh Direktur Jenderal Perkebunan dan Direktur Jenderal Pembinaan Koperasi Pedesaan yang dapat dilakukan secara bersama atau masing ± masing.