STRUKTUR MOLEKUL DNA

Kemampuan sel tunggal atau DNA phage memperbanyak dirinya dalam sel induk dalam waktu yang singkat melahirkan pertanyaan tentang apa dan bagaimana struktur tiga dimensi molekul DNA. Pertanyaan ini dijawab dengan gemilang oleh beberapa peneliti utama yang semuanya sedang dalam proses persaingan dramatis dan menegangkan, paling tidak oleh empat kelompok bebuyutan: Linus Pauling, dan Delbrück di California Institute of Technology Pasadena Amerika Serikat; James Dewey Watson dan Francis Crick di Laboratorium Cavendis, Cambridge University, Cambridge Inggris; serta, Maurice Wilkins dan Rosalind E. Franklin di laboratorium fisika Wheatstone King’s College London. Walaupun kompetisi ini dimenangkan oleh kelompok Cavendis, namun tanpa bukti foto sinar X kristal DNA serta interpretasi gemilang oleh si cantik Rosalind E. Franklin bahwa gugus fosfatnya berada pada bagian terluar dari struktur tiga dimensi DNA, proposal Crick dan Watson masih harus mengalami pengujian berat. Laporan Crick dan Watson termuat dalam majalah terkemu Nature 25 April 1953, sebagiannya dikutip sebagai berikut: "Kami ingin mengemukakan struktur yang sangat berbeda dari garam DNA. Struktur ini memiliki dua rantai heliks masing-masing memilin pada poros yang sama. Kami telah membuat beberapa asumsi kimia biasa yaitu bahwa setiap rantai terdiri dari gugus fosfat diester yang menyambung residu-residu ß-Ddeoksiribofuranosa dengan ikatan-ikatan 3′,5′. Kedua rantai itu (namun bukan basabasanya) dikaitkan dengan suatu pasangan tegak lurus (perpendicular) terhadap poros serat. Kedua rantai mengikuti pilinan tangan-kanan, namun karena berpasangan, urutan atom-atom pada kedua rantai itu berada pada arah yang berlawanan. Setiap rantai secara kasar mengikuti model I dari Furberg (Furberg, 1952); yaitu bahwa basa-basanya berada di dalam pilinan, dan gugus fosfat berada di bagian luar. Terdapat satu residu (basa nitrogen) pada setiap rantai tiap 3.4 Angstrong dengan arah Z. Kami mengasumsikan sudut dengan besaran 36o antara tiap residu pada rantai yang sama, sehingga struktur pilinan berulang setelah 10 residu disetiap rantainya, yaitu setelah 34 Angstrong. Jarak atom fosfor dari poros serat adalah 10 Angstrong. Karena gugus fosfat berada pada bagian luar, kation-kation menggapainya dengan mudah….Kenampakan yang baru dari struktur DNA yang kami ajukan ialah bahwa kedua rantai dipasangkan bersama-sama oleh basa-basa purin dan pirimidin. Ruang dari basa-basa ini tegak-lurus terhadap poros serat. Mereka disambung bersama dalam pasangan, basa yang satu dari satu rantai terikat dengan basa yang lain pada rantai lain oleh ikatan-ikatan hidrogen, sehingga keduanya berdampingan dengan kordinat-kordinat-Z. Satu dari pasangan basa haruslah purin dan yang lain adalah pirimidin agar terjadi ikatan. Ikatan hidrogen tersusun sebagai berikut: posisi purin 1 dengan posisi pirimidin 1; posisi purin 6 dengan posisi pirimidin 6. Jika di asumsikan bahwa basa-basa ini berada dalam struktur dengan bentuk tautomerik yang paling masuk akal (yaitu dengan konfigurasi keto ketimbang konfigurasi enol) maka diperoleh bahwa hanya pasangan-pasangan khusus basa-basa yang dapat membentuk ikatan. Pasangan-pasangan ini adalah Adenin (purin) berpasangan dengan Timin (pirimidin), dan Guanin (purin) berpasangan dengan Citosin (pirimidin). Dengan kata lain, jika adenin adalah anggota dari sepasang basa pada rantai pertama, maka pada rantai yang lain pasangannya haruslah timin; hal yang sama untuk guanin dan citosin. Telah dibuktikan bahwa perbandingan jumlah adenin terhadap timin dan guanin terhadap

DNA dalam analogi tangga dan anak tangga seperti nampak pada foto 1. Temuan Watson dan Crick memastikan bahwa DNA adalah polimer yang terdiri dari satuan-satuan deoksiribonukleotida.citosin selalu sangat dekat dengan kesatuan asam nukleat deoksiribosa (lihat Tabel 1.1. Aturan Chargaff Jumlah basa Adenin (A) hampir mendekati basa Timin (T) dan jumlah basa Guanin (G) hampir mendekati Citosin (C). DNA dalam Analogi Tangga dan Anak Tangga Tabel 1.1. Basa nitrogen adalah turunan dari purin dan pirimidin. Satu nukleotida terdiri dari masing-masing satu basa nitrogen. Purin dalam DNA adalah adenin (A) dan guanin (G) sedangkan pirimidin adalah thimin (T) dan Citosin (C). Hubungan pasangan khusus basa-basa ini secara langsung memberi rekaan kepada mekanisme penjiplakan bahan-bahan genetis". Kedua tiang penyangga utama tersebut memiliki arah yang berlawanan (lihat arah anak panah). Gula yang dibawah oleh deoksiribonukleotida dalam DNA adalah deoksiribosa.DNA Terdiri Dari Pasangan Rangkaian Nukleotida Yang Terpilin 12. Jadi.1 5. yang berpasangan menurut aturan Chargaff: C berpasangan dengan G dan T berpasangan dengan A. DNA Terdiri Dari Pasangan Rangkaian Nukleotida Yang Terpilin Gen – gen yang berderet pada kromosom masing – masing mempunyai tugas khas sendiri – sendiri dengan waktu “bereaksi” yang khusu pula. Hanya melalui ikatan hidrogen dari pasangan basa nitrogen ini maka jarak tetap dari pilinan ganda dipertahankan. mengikuti aturan Cargaff. Pasangan-pasangan asam nukleat tersebut tertarik satu sama lain melalui ikatan hidrogen yang dibentuk antara dua pasangan yang bercocokkan. Gambar 1. gula dan satu atau lebih gugus fosfat.faktor yang disebut penentu . Dua tiang penyangga tangga merupakan rangka molekul berpilin ganda yang terdiri dari urutan siliberganti deoxiribosa – fosafat. Anak tangga tersusun dari pasangan-pasangan asam nukleat.1: Aturan Chargaff).1.menunjukan bahwa jenis gula ini tidak memiliki atom oksigen yang ada pada senyawa induknya (ribosa). Awalan deoksi. A berpasangan dengan T dan C berpasangan dengan G dalam rantai yang berlawanan dan antiparalel.

Gula pentose (deoksiribosa) 2. sedang nukleotida adalah nukleosida + fosfat + basa nitrogen. sedangkan nukleosida terdiri dari sebuah gula pentose dan sebuah basa nitrogen (purin / pirimidin). Basa nitrogen . a) Struktur DNA Penemu DNA dan RNA adalh seorang ahli kimia berkebangsaan jerman. yang menyelidiki susunan kimia dari nucleus. Asam Deoksiribo Nukleat merupakan molekul kompleks yang dibentuk oleh tiga macam molekul. yaitu: 1. Dengan penelitian lebih lanjut diketahui bahwa asam nukleat tersusun atas nukleotida – nukleotida sehingga merupakan polinukleotida. Frederich Miescher (1869). Percobaan transformasi dalam bakteri diplococcus pneumonia (pneumococcus) yang dilakukan oleh Griffith pada tahun 1928 telah memberikan keyakinan bahwa DNA benar – benar merupakan bahan genetic.pada zaman mendel akhirnya diketahui struktur kimianya yang disebut DNA. Jadi nukleosida adalah nukleotida yang tanpa fosfat. Satu nukleotida terdiri dari nukleosida dan fosfat (PO4 . Fosfat (PO4-) 3.) . zat yang mengandung fosfor sangat tinggi dalam nucleus tersebut mula – mula disebut nukleat. yaitu: .

Purin : guanine (G) dan adenine (A) b. Adenin nukleosida = adenine deoksiribosa fosfat 2. Pirimidin : Timin (T) dan sitosin (S) Rumus Bangun Basa Nitrogen Jadi satu molekul nukleotida yang terdiri dari ikatan gula basa dan fosfat yang menyusun DNA dapat berbentuk: 1. Sitosin nukleosida = sitosin deoksiribosa fosfat 4. Timin nukleosida = timin deoksiribosa fosfat . Guanine nukleosida = guanine deoksiribosa fosfat 3.a.

.

Mereka akhirnya mendapatkan hadiah nobel pada tahun 1962. . Struktur kimia gen (DNA) menurut Watson – crick yang berupa tangga berpilin /ulir rangkap tersususn atas: 1.H.F wilkins pada DNA dengan menggunakan sinar X .H. T dengan A dihubungkan oleh ikatan lemah 2 atom H (hydrogen). dengan pasangan tetapnya sebagai anak tangga: G dengan S dihubungkan oleh ikatan lemah 3 atom H (Hidrogen). J.Berdasarkan hasil penelitian Franklin dan M. Gula dan fosfat sebagai induk tangga 2.D Watson dan F. yang terkenal dengan nama double helix(ukir rangkap / tangga berpilin). Basa nitrogen.C Crick (1953) mengemukakan suatu model gen.

Helikase untuk mempermudah membuka ulir rangkap DNA menjadi dua buah ulir tunggal. 1) Teori konservatif : menyatakan bahwa ulir rangkap (double helix) yang lama tetap (tidak berubah). sehingga terbentuklah dua DNa yang sama persis. Tiga macam cara replikasi DNA: (a) teori konservatif. menyatakan bahwa dua pita dari ulir rangkapp memisahkan diri dan tiap – tiap pita yang lama mendapatkan pasangan pita baru seperti pasangannya yang lama. 2) Teori dispersive : menyatakan bahwa ulir rangkap terputus – putus. Sedangkan kemampuan DNA membentuk molekul kimia lain dari salah satu atau sebagaian rantainya disebut kemampuan heterokatalitik. untuk menggabungkan deoksiribo nukleosida trifosfat. dan (c) teori semi konservatif. .(a) Struktur ulir rangkap(tangga berpilin) (b) susunan pasangan basa DNA (c) Struktur DNA jika tidak mengulir (berpilin) b) Replikasi DNA Kemampuan DNA untuk membentuk DNA baru yang sama persis dengan DNA asal (replikasi) disebut kemampuan autokatalik. Timidin ialah senyawa antara timin dan deoksiribosa. 3. (b) teori dispersive. Ligase. Tiga hipotesis tentang terjadinya replikasi DNA adalah sebagai berikut. Peristiwa reolikasi DNA pertama – tama diselidikipada tahun 1957 oleh taylor dan kawan – kawan dengan menggunakan nitrogen radioaktif N15 yang dilembagakandalam timidin. 2. dan langsung terbentuk ulir rangkap baru. yang hasilnya ternyata sel – sel anakan yang terjadi mengandung bahan radioaktif itu pula. sehingga kembali menjadi 2 DNA yang sama persis. percobaan taylor dan kawan – kawan ini diperkuat oleh penelitian meselson dan stahl (1958) dengan memberikan N dlam bentuk N15O3 pada bakteri Escherichia coli. 3) Teori semi konservatif . untuk menyambung bagian – bagian ulir tunggal DNA yang baru terbentuk. Replikasi DNA berlangsung pada sel – sel muda . Lalu potongan – potongan tersebut memisah dan membentuk potongan – potongan baru yang akan bersambung dengan potongan – potongan lama. Gambar. saat interfase (mitosis) . Polymerase. proses replikasi DNA ini melibatkan beberapa enzim antara lain sebagai berikut: 1. Cara replikasi DNA berdasarkan percobaan meselson dan sthal ini disebut dengan cara semikonservatif yang banyak diterima oleh sebagian besar ahli biologi.

skema replikasi DNA secara semikonservatif .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful