P. 1
Hasil Studi Kelayakan Kondisi Kota Bandung Terkait Dengan Syarat Kota Layak Anak

Hasil Studi Kelayakan Kondisi Kota Bandung Terkait Dengan Syarat Kota Layak Anak

|Views: 2,034|Likes:
Hasil studi ini menyimpulkan bahwasannya Kota Bandung belumlah layak menyandang predikat sebagai Kota Layak Anak, seperti yang digembar gemborkan oleh Pemerintah Daerah Tingkat II Kotamadya Bandung.
Hasil studi ini menyimpulkan bahwasannya Kota Bandung belumlah layak menyandang predikat sebagai Kota Layak Anak, seperti yang digembar gemborkan oleh Pemerintah Daerah Tingkat II Kotamadya Bandung.

More info:

Published by: Muhammad Taufik Rahmat on Oct 20, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial Share Alike

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

04/27/2013

pdf

BAB

1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Aspek keberhasilan pembangunan Indonesia adalah pembangunan berbasis kebutuhan (need based approach) dan pembangunan berbasis hak (right based approarch). Kedua pendekatan ini harus mewarnai semua perencanaan, pelaksanaan dan monitoring dari program/kegiatan kerja baik oleh pemerintah maupun pihak-pihak lainnya. Dalam pendekatan berbasis kebutuhan, masyarakat lebih banyak berperan sebagai penerima manfaat dari hasil pembangunan dengan partisipasi yang harus tinggi. Untuk pembangunan berbasis hak menekankan penggabungan hak asasi manusia dan pembangunan manusia dalam aktivitas pembangunan masyarakat. Dengan demikian, masyarakat ditempatkan sebagai pemegang hak (right holder), pemerintah sebagai pemangku kewajiban (duty bearer) dan lembaga non pemerintah adalah pemangku kewajiban kedua setelah pemerintah (secondary bearer). Pendekatan pembangunan berbasis hak juga berlaku untuk anak sebagai bagian dari masyarakat. Pendekatan pembangunan berbasis hak anak menekankan bahwa pembangunan berbasis hak dengan menempatkan anak sebagai pusat dari seluruh kegiatan dalam pembangunan (child centered) dengan menggunakan instrument hukum yang memayungi anak, seperti Konvensi Hak Anak (Convention on the Right of the Children) serta Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Konvensi Hak Anak (KHA) yang telah diratifikasi pemerintah Indonesia pada tahun 1990 secara tegas menetapkan hal-hal penting tentang hak-hak yang melekat pada diri anak. KHA meminta kewajiban bagi pemerintah yang meratifikasi untuk membuat langkahlangkah implementasi dan kemudian melaporkannya ke Komite Hak Anak secara regular. Di Indonesia, Undang-Undang Dasar tahun 1945 secara jelas juga mengatur tentang hak-hak anak, seperti yang tertuang dalam pasal 28B ayat 2, ”Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”. Berkaitan dengan itu, Indonesia telah menetapkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagai Pelaksanaan Konvensi PBB tentang Hak Anak. Selanjutnya ditetapkan pula Peraturan
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

1

Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2004-2009. Melalui Perpres ini, pemerintah berupaya meningkatkan kesejahteraan anak dan mewujudkan anak Indonesia yang sehat, cerdas, ceria, dan berakhlak mulia; serta melindungi anak terhadap berbagai bentuk kekerasan, eksploitasi, dan diskriminasi. Selain Konvensi Hak Anak terdapat kesepakatan internasional lainnya di bidang anak yang juga telah ditandatangani oleh pemerintah Indonesia, yakni Deklarasi Dunia Yang Layak Bagi Anak (World Fit For Children) tahun 2002. Kesepakatan tersebut dijabarkan ke dalam Program Nasional Bagi Anak Indonesia (PNBAI) 2015 yang kemudian menjadi visi dan misi pembangunan kesejahteraan dan perlindungan anak dalam rangka pemenuhan hak anak. PNBAI mencakup 4 (empat) bidang pokok yaitu : promosi hidup sehat, penyediaan pendidikan yang berkualitas, perlindungan terhadap perlakuan salah, eksploitasi dan kekerasan, serta memerangi HIV dan AIDS. Untuk mempercepat terwujudnya visi dan misi pemenuhan hak dan perlindungan anak melalui PNBAI 2015, Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bersama sektor pemerintah terkait, organisasi masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat mengembangkan model Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA). Pengembangan model Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) didasari pada kenyataan bahwa proporsi anak di Indonesia mencakup 33% dari total penduduk dengan pertumbuhan sebesar 4,4%. Sementara itu kota-kota di Indonesia mengalami pertumbuhan setiap tahun rata-rata 3,4%, yang disebabkan oleh angka pertumbuhan penduduk tinggi dan migrasi penduduk desa kekota sehingga kota tidak mampu menyerap bertambahnya penduduk. Data dari Unicef (2007) juga menunjukkan bahwa 43,24% anak Indonesia tinggal di perkotaan dan diperkirakan akan mencapai 60% pada tahun 2025. Fakta lain menunjukkan bahwa anak belum merasa aman dan tenang di rumah, belajar, bermain, berekreasi, belum adanya rute aman bagi anak serta belum menjadi prioritasnya ruang bermain anak bagi pemerintah kabupaten/kota. Hal ini disebabkan masih terbatasnya kebijakan pemerintah yang menyatukan isu hak anak ke dalam perencanaan pembangunan kabupaten/kota serta belum terintegrasikannya hak perlindungan anak ke dalam pembangunan kabupaten/kota.

Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

2

Hingga saat ini, Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak telah merintis pengembangan model kota/kabupaten layak anak (KLA) di 15 kota/kabupaten di Indonesia, yakni kota Jambi, Surakarta, Padang, Malang, Pontianak, Manado, Kupang serta kabupaten, Sidoarjo, Kutai Kartanegara, Gorontalo, Aceh Besar, Ogan Komering Ilir, Lampung Selatan, Karawang dan kabupaten Sragen. Selain itu, KLA telah dikembangkan pula secara mandiri oleh beberapa kota/kabupaten lainnya, yakni Kota Bandung, Semarang, Kabupaten Boyolali, Kuningan dan Banjarnegara. Pengembangan KLA di masing-masing kabupaten dan kota tersebut memiliki spesifikasi yang berbeda sesuai dengan potensi dan kebutuhan setempat. Untuk menjadikan KLA sebagai prioritas dalam pembangunan kesejahteraan dan perlindungan anak di pemerintahan kabupaten/kota, serta untuk mengetahui peluangpeluang dan hambatan-hambatan dalam pengembangan dan keberlanjutannya, maka dipandang perlu adanya suatu kajian yang menyeluruh mengenai pelaksanaan konsep KLA. Kajian ini akan memfokuskan pada 7 aspek indikator KLA yang terbagi ke dalam 2 indikator, yaitu indikator umum yang meliputi bidang kesehatan, pendidikan, perlindungan, infrastruktur serta lingkungan hidup/pariwisata yang terukur dan indikator khusus yang meliputi bidang pembuatan kebijakan dan promosi pelaksanaan kebijakan KLA. Dan untuk melihat kesiapan suatu kabupaten/kota untuk menuju perwujudan KLA, dipandang perlu melihat situasi dan kondisi lingkungan yang kondusif bagi perwujudan KLA ini. 1.2. Tujuan Tujuan dilakukan kajian pengembangan KLA di Kota Bandung pada dasarnya adalah untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh mengenai pelaksanaan bidang kesejahteraan dan perlindungan anak melalui pengembangan kabupaten/kota layak anak di Kota Bandung. Kajian ini juga akan melihat penyediaan informasi yang relevan dengan kebijakan pengembangan KLA dan mendapatkan rekomendasi tentang pelaksanaan kebijakan KLA di Kota Bandung. 1.3. Hasil yang Diharapkan Serangkaian kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung dimaksudkan untuk menghasilkan sebuah laporan yang mencakup beberapa hal, yaitu :

Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

3

1. Gambaran mengenai indikator KLA, baik itu indikator umum yang meliputi bidang kesehatan, pendidikan, perlindungan, infrastruktur serta lingkungan hidup/ pariwisata maupun indikator khusus yang meliputi bidang pembuatan kebijakan dan promosi pelaksanaan kebijakan KLA. 2. Gambaran mengenai 8 elemen lingkungan yang kondusif bagi KLA yang meliputi : a. Governance commitment, yaitu apakah komitmen pemerintah telah ada dan dilaksanakan; b. Legislation, yaitu apakah peraturan perundang-undangan telah ada dan jalan; c. Attitude, yaitu bagaimana sikap pemangku kepentingan terhadap KLA; d. Open discussion, yaitu apakah masyarakat dan media massa mewacanakan KLA; e. Children life skills, yaitu bagaimana perilaku anak sebagai pemegang hak dapat menyatakannya; f. Awareness of community, yaitu bagaimana kesadaran dan sikap masyarakat terhadap KLA sudah menjadi kebutuhan mendasar; g. Essential services and rehabilitation, yaitu apakah pelayanan-pelayanan dasar di KLA telah dapat diakses; serta h. Monitoring and reporting, yaitu apakah monitoring dan evaluasi dilakukan untuk melihat hasil dan perencanaan. 3. Gambaran mengenai persepsi masyarakat dan anak tentang kebijakan KLA, yang terutama meliputi pemahaman dan pandangan mereka tentang kebijakan KLA dan implementasinya. 1.4. Manfaat Manfaat dari kajian KLA di Kota Bandung baik secara langsung dan tidak langsung adalah: 1. Untuk memperoleh gambaran terkini tentang upaya Kota Bandung dalam mewujudkan KLA; 2. Sebagai bahan masukan untuk mempercepat terwujudnya KLA di Kota Bandung; 3. Sebagai bahan pelajaran untuk pengembangan KLA di daerah lainnya di Indonesia. 1.5. Lokasi Penelitian dilaksanakan di Kota Bandung yang merupakan salah satu kota yang mengembangkan KLA secara mandiri pada tahun 2007.
4

Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

BAB

2 METODOLOGI KAJIAN
2.1. Kerangka Pemikiran

Kota Layak Anak atau secara lengkap Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) adalah sistem pembangunan satu wilayah administrasi yang mengintegrasikan komitmen dan sumberdaya pemerintah, masyarakat dan dunia usaha yang terencana secara menyeluruh dan berkelanjutan dalam program dan kegiatan pemenuhan hak anak. Saat ini pemerintah, melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, telah mengeluarkan kebijakan khusus tentang KLA dalam bentuk Peraturan Menteri (Permen), yakni Permen No. 2 Tahun 2009 tentang Kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak, yang berisi tentang pedoman penyelenggaraan pembangunan Kabupaten/Kota melalui pengintegrasian komitmen dan sumberdaya pemerintah, masyarakat, dan dunai usaha yang terencana secara menyeluruh dan berkelanjutan untuk memenuhi hak anak. Kebijakan KLA merupakan upaya yang perlu dikembangkan oleh pemerintah kabupaten/kota mengingat bahwa anak merupakan potensi bangsa bagi pembangunan nasional, sehingga pembinaan dan pengembangannya perlu dilakukan sedini mungkin dengan menyusun kebijakan yang berpihak pada kepentingan anak. Kebijakan tentang KLA juga merupakan konsekuensi dari ratifikasi Konvensi Hak Anak melalui Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990, dimana pemerintah berkewajiban membuat langkahlangkah yang diperlukan bagi peningkatan kesejahteraan anak dan pemenuhan hak-hak anak. Salah satunya dengan ikut menandatangani Deklarasi Dunia yang Layak bagi Anak (World Fit For Children), dimana di dalamnya perlu mengembangkan rencana aksi untuk menjadikan kabupaten/kota yang layak anak sebagai bentuk pelaksanaan WFFC; Penilaian kabupaten/kota dalam mewujudkan KLA dilakukan secara bertahap dengan memberikan penilaian terutama yang berkaitan dengan adanya: 1. Kebijakan yang telah dibuat yang terkait dengan perlindungan anak di daerahnya; 2. Pengorganisasian; 3. Program dan kegiatan; 4. Keuangan; dan 5. Pelaporan.
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

5

Jenis kebijakan meliputi adanya Peraturan Daerah, Peraturan Bupati/Walikota, Instruksi Bupati/Walikota, Keputusan Bupati/ Walikota, Surat Edaran, dan Naskah Kesepahaman, serta kebijakan lainnya terkait anak. Sedangkan pengorganisasian meliputi Gugus Tugas KLA, Sekretaris Gugus Tugas KLA, sanggar anak, lembaga peduli anak dan organisasi lainnya yang terkait pemenuhan hak dan perlindungan anak. Untuk program dan kegiatan meliputi kegiatan kabupaten/kota yang terkait dengan advokasi dan sosialisasi, pemberdayaan ekonomi keluarga anak jalanan, taman bermain anak, rumah cerdas atau rumah pintar, sekolah ramah anak, perpustakaan keliling, rapat koordinasi Gugus Tugas KLA, seminar KLA dan komunikasi informasi dan edukasi tentang KLA dan lainnya terkait anak. Keuangan meliputi besarnya anggaran yang peduli terhadap anak yang ada di kabupaten/kota baik yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah maupun dari donor internasional, donor swasta, stimulan perlindungan anak dan lainnya. Untuk pelaporan meliputi adanya panduan kerja dan pelaporan, data dan analisa masalah anak dan laporan laiinnya yang menginformasikan tentang anak. 2.2. Metode Kajian Kajian yang dilakukan pada dasarnya untuk melihat upaya-upaya pembangunan di Kota Bandung secara lintas sektoral bagi pemenuhan hak-hak anak, terutama yang menyangkut peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak. 2.2.1. Analisis Pemenuhan Indikator dan Elemen Pendukung KLA Secara umum tujuan analisis ini adalah untuk mengetahui kondisi pemenuhan indikator KLA yang sudah disusun oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, khususnya indikator umum yang mencakup bidang pendidikan, kesehatan, perlindungan, infrastruktur, dan lingkungan hidup. Indikator di setiap bidang tersebut dikelompokkan ke dalam sejumlah jenis pelayanan dasar. Pemenuhan indikator yang lebih spesifik lagi akan tercermin dari data-data statistik yang relevan dan tersedia di pemerintah Kota Bandung. Dari analisis ini paling tidak terdapat sejumlah pertanyaan yang akan dijawab, yakni: 1. Indikator apa saja yang tersedia datanya?
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

6

2. Seberapa besar tingkat pemenuhan indikatornya ? 3. Permasalahan apa saja yang muncul dalam penyediaan data? 4. Adakah data statistik lain yang relevan yang dimiliki yang bisa menjadi pelengkap dari indikator KLA? 5. Adakah data pendukung yang diperoleh dari penelitian dan monitoring kasus 2.2.2. Analisis Proses menuju KLA Analisis proses ini secara umum bertujuan untuk melihat realisasi pemenuhan indikator khusus dan 8 elemen pendukungnya. Dari analisis proses ini paling tidak juga terdapat sejumlah pertanyaan yang akan dijawab, antara lain : 1. Bagaimana proses penyusunan kebijakan KLA dan bagaimana promosi pelaksanaan kebijakannya? 2. Apakah komitmen pemerintah telah ada dan dilaksanakan? 3. Apakah peraturan perundang-undangan telah ada dan berjalan? 4. Bagaimana sikap pemangku kepentingan terhadap KLA 5. Apakah masyarakat dan media massa mewacanakan KLA? 6. Bagaimana perilaku anak sebagai pemegang hak dapat menyatakan? 7. Bagaimana kesadaran dan sikap masyarakat terhadap KLA sudah menjadi kebutuhan mendasar? 8. Apakah pelayanan dasar di KLA telah dapat diakses? 9. Apakah monev dilakukan untuk melihat hasil dan perencanaan? 2.2.3. Analisis SWOT SWOT adalah singkatan dari bahasa Inggris Strengths (Kekuatan), Weakness (Kelemahan), Opportunities (Peluang) dan Threats (Ancaman). Dalam kajian ini, analisis SWOT dipergunakan untuk menganalisis faktor-faktor di dalam instansi-instansi satuan kerja pemerintah daerah (SKPD) yang memberikan andil terhadap implementasi kebijakan kesejahteraan dan perlindungan anak pada umumnya atau implementasi kebijakan KLA, maupun faktor-faktor eksternalnya. Strengths atau kekuatan dalam hal ini diartikan sebagai faktor-faktor internal yang mendukung kebijakan kota layak anak, seperti adanya komitmen pemerintah, kebijakankebijakan dan program dan di bidang kesejahteraan dan perlindungan anak berikut penganggarannya serta implementasinya yang berjalan baik di lapangan. Sedangkan
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

7

weakness atau kelemahan adakah tidak ada atau lemahnya faktor-faktor pendukung tersebut. Tentang opportunities atau peluang, dalam hal ini diartikan sebagai faktor-faktor eksternal yang mendukung terwujudnya KLA, seperti data-data statistik yang mencerminkan kondisi ideal atau positif, kelembagaan di luar pemerintah di bidang kesejahteraan dan perlindungan anak berikut aktivitasnya. Sedangkan threats atau ancaman adalah data-data statistik yang tidak atau kurang mencerminkan kondisi yang ideal atau positif serta permasalahan-permasalahan yang belum bisa teratasi yang mengancam atau menghalangi terwujudnya sebuah kota layak anak. Untuk menganalisisnya, kekuatan dan kelemahan dihubungkan dengan peluang dan ancaman. Kombinasi di mana kekuatan bertemu dengan peluang adalah keadaan yang paling positif dalam mewujudkan kota layak anak. Keadaan ini harus dipertahankan atau dikembangkan agar bisa menjadi pembelajaran atau best practises bagi kota/kabupaten lain yang hendak mengembangkan kota/kabupaten layak anak. Sebaliknya, kombinasi antara kelemahan dan ancaman merupakan kondisi yang paling buruk dalam mewujudkan kota layak anak. Kondisi ini merupakan peringatan atau bad practises yang harus dirubah atau diperbaiki dalam mewujudkan kota layak anak. 2.2.4. Analisis Relevansi, Dampak dan Keberlanjutan Analisis ini terdiri dari sejumlah standar atau kriteria untuk melakukan evaluasi. Analisis ini akan dipergunakan untuk evaluasi suatu program dan bukan untuk evaluasi kebijakan. Analisis relevansi, diartikan sebagai kriteria untuk melihat apakah upaya-upaya yang dilakukan pemerintah selama ini relevan dengan tujuan dari kebijakan KLA. Di sisi lain juga harus dilihat apakah kebijakan KLA ini relevan dengan visi dan misi dari pemerintah kota setempat.? Analisis dampak, diartikan sebagai kriteria untuk melihat melihat efek yang lebih luas dari kebijakan, program dan kegiatan di bidang KLA pada individu, masyarakat, dan lembaga. Dampak dapat bersifat segera dan jangka panjang, yang dimaksudkan dan

Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

8

tidak disengaja, positif dan negatif, makro (sektor) dan mikro (rumah tangga). Apakah ada perubahan yang tidak disengaja dan / atau perubahan negatif telah dihasilkan? Analisis keberlanjutan, diartikan sebagai kriteria untuk melihat sejauh mana kebijakan KLA ini bukan lagi hanya sebagai kebijakan milik dan dilakukan oleh pemerintah semata, tetapi sudah menjadi milik masyarakat, sehingga masyarakat itu sendiri yang akan mengawalnya. 2.3. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan beberapa teknik, antara lain: 1. Dokumentasi data sekunder, yakni mengumpulkan data-data statistik, laporanlaporan, dan data serta informasi pendukung lainnya. 2. Review kebijakan, khususnya kebijakan terkait di tingkat daerah. 3. Focused Group Discussion. 4. Wawancara mendalam (indepth interview) dengan pertanyaan terbuka. 5. Penyebaran angket menggunakan kuesioner yang terdiri dari pertanyaan-pertanyaan tertutup. 2.4. Subjek Kajian Dalam kajian ini terdapat sejumlah pihak yang akan menjadi subyek penelitian atau informan yang terdiri : 1. Unsur Eksekutif, yang meliputi : a. Pejabat eselon 2, 3 dan 4 di kabupaten/kota b. Bagian atau sub bagian yang menangani urusan anak c. Bagian atau sub bagian yang menangani masalah sosial anak d. Bidang pemerintah yang berhubungan dengan indikator KLA, seperti Bappeda, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Pertamanan, Dinas Pendidikan, Dinas Tenaga Kerja, dan instansi lainnya yang terkait. 2. Unsur Legislatif, khususnya komisi yang menangani masalah social di DPRD serta Partai Politik yang merupakan pemenang Pemilu 2009 3. Unsur Masyarakat, yang terdiri dari tokoh agama, tokoh adat, tokoh perempuan, tokoh pemuda, KPAID, LSM yang bekerja di bidang anak 4. Forum Anak/Organisasi Anak/OSIS
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

9

2.5. Tahapan Kajian Proses yang dilakukan dalam kajian ini, antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Menyusun instrumen Melakukan uji coba instrumen Merevisi instrumen Melaksanakan kajian Menginput data Melakukan analisis data Membuat laporan sementara Mempresentasikan hasil Merevisi laporan sekaligus menyusun laporan lengkap

10. Memberikan laporan kepada KPP dan PA

Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

10

BAB

3 GAMBARAN WILAYAH KOTA BANDUNG
3.1. Gambaran Umum Sebelum memperoleh penghargaan atau predikat sebagai Kota Layak Anak, Kota Bandung telah memiliki 6 fungsi kota yaitu sebagai : Pusat Pemerintahan Jawa Barat Kota Ekonomi dan Perdagangan Kota Pendidikan Kota Budaya dan Wisata Kota Industri Etalase Jawa Barat Sedangkan secara administratif Kota Bandung berbatasan dengan daerah

kabupaten/kota lainnya yaitu : 1. Sebelah Utara berbatasan dengan kabupaten Bandung Barat. 2. Sebelah Barat berbatasan dengan Kota Cimahi. 3. Sebelah Timur dan Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bandung. Batas-batas administratif tersebut terlihat dalam peta Kota Bandung berikut ini.

Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

11

3.1.1. Sejarah Kota Bandung Menurut website resmi pemerintah kota Bandung (www.bandung.go.id), dalam sejarahnya kota Bandung tidak berdiri bersamaan dengan pembentukan Kabupaten Bandung, tetapi dengan tenggang waktu sangat jauh setelah Kabupaten Bandung berdiri. Kabupaten Bandung dibentuk pada sekitar pertengahan abad ke-17 M, dengan bupati pertama bernama Tumenggung Wiraangunangun, yang memerintah kabupaten Bandung hingga tahun 1681. Semula Kabupaten Bandung beribukota di Krapyak (sekarang Dayeuhkolot) kira-kira 11 kilometer ke arah selatan dari pusat kota Bandung sekarang. Ketika kabupaten Bandung dipimpin oleh bupati ke-6, yakni R.A Wiranatakusumah II (1794-1829) yang dijuluki "Dalem Kaum I", kekuasaan di Nusantara beralih dari Kompeni ke Pemerintahan Hindia Belanda, dengan gubernur jenderal pertama Herman Willem Daendels (1808-1811). Untuk kelancaran menjalankan tugasnya di Pulau Jawa, Daendels membangun Jalan Raya Pos (Groote Postweg) dari Anyer di ujung barat Jawa Barat ke Panarukan di ujung timur Jawa Timur (kira-kira 1000 km). Pembangunan jalan raya itu dilakukan oleh rakyat pribumi di bawah pimpinan bupati daerah masing-masing. Untuk kelancaran pembangunan jalan raya, dan agar pejabat pemerintah kolonial mudah mendatangi kantor bupati, Daendels melalui surat tanggal 25 Mei 1810 meminta Bupati Bandung dan Bupati Parakanmuncang untuk memindahkan ibukota kabupaten, masing-masing ke daerah Cikapundung dan Andawadak (Tanjungsari), mendekati Jalan Raya Pos. Rupanya jauh sebelum surat itu keluar, bupati Bandung sudah merencanakan untuk memindahkan ibukota Kabupaten Bandung. Tempat yang dipilih adalah lahan kosong berupa hutan, terletak di tepi barat Sungai Cikapundung, tepi selatan Jalan Raya Pos yang sedang dibangun (pusat kota Bandung sekarang). Alasan pemindahan ibukota itu antara lain, Krapyak tidak strategis sebagai ibukota pemerintahan, karena terletak di sisi selatan daerah Bandung dan sering dilanda banjir bila musim hujan. Sekitar awal tahun 1809, bupati beserta sejumlah rakyatnya pindah dari Krapyak mendekali lahan bakal ibukota baru. Dengan kata lain, Bupati R. A. Wiranatakusumah II adalah pendiri (the founding father) kota Bandung. Kota Bandung diresmikan sebagai ibukota baru Kabupaten Bandung dengan surat keputusan tanggal 25 September 1810.

Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

12

Setahap demi setahap, dimulailah pembangunan ibukota kabupaten baru. Perpindahan rakyatnya pun dilakukan secara bertahap, disesuaikan dengan pengadaan perumahan serta fasilitas lain yang tersedia. Seiring dengan perkembangan kota, maka jumlah penduduk Bandung pun semakin bertambah sehingga pada tahun 1906 berjumlah 38.400 jiwa, dan tahun 1921 meningkat menjadi sekitar 102.227 jiwa. Mulai tahun 1906, Bandung dikelola burgemeester karena waktu itu Bandung baru mendapat status gemeente Bandung, yang memungkinkan untuk mengelola kota secara otonom. Status tersebut ditetapkan dengan ordonansi pada 21 Februari 1906 dan diundangkan pada 1 Maret 1906, serta berlaku efektif pada 1 April 1906. Pada masa kolonial, pengembangan Kota Bandung mendapat perhatian besar dari pemerintah Hindia Belanda, yang ingin membangun Bandung menjadi sebuah “kota ideal”. Berbagai infrastuktur kota tersebut dibangun untuk menunjang kepentingan sistem kolonial, serta kebutuhan pembangunan sebuah wilayah ekslusif orang Belanda atau Eropa. Di samping itu, kota Bandung yang dibangun dengan nuansa Eropa menyebabkan Bandung dijuluki sebagai “Kota Eropa di daerah tropis”. Hal ini tampak dari terbaginya wilayah kota atas dasar penataan kependudukan Hindia Belanda yang diskriminatif. Konsep pembangunan yang dipakai dalam membangun Kota Bandung adalah: membangun kota menjadi prototipe sebuah koloniaalstad (kota kolonial) menata dan menghijaukan kota dalam upaya mewujudkan tuinstad (kota taman) mempersiapkan Bandung sebagai ibu kota Hindia Belanda. Konsep “kota kolonial” mengacu pada desain model arsitektur barat yang mendominasikan Kota Bandung, sedangkan konsep “kota taman” tampak dari banyaknya taman yang tersebar diseluruh Bandung. Untuk merealisasikan gagasan tersebut, infrastuktur segera dibangun secara bertahap. Berdasarkan raadbesluit (Keputusan Dewan Kotamadya) pada 18 Desember 1918, gemeente Bandung menyediakan lahan seluas 27.000 m² untuk kompleks bangunan instansi pemerintah. Seiring terjadinya gejolak politik pada masa periode 1945-1965 terjadi perubahan drastis terhadap kondisi kota-kota di Indonesia termasuk Bandung. Peristiwa Bandung Lautan Api maupun peristiwa politik lainnya di satu sisi telah melumpuhkan aktivitas dan merusak tatanan kota Bandung. Euforia kemerdekaan telah mengakibatkan berubahnya
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

13

fisik maupun aktivitas yang telah terbentuk sebelumnya. Arus migrasi ke Kota Bandung mengalir tanpa dapat dicegah, akibatnya tumbuhnya kawasan-kawasan permukiman secara tidak terkendali. Baru pada tahun 1971 dengan disepakatinya (1) Master-Plan Kota Bandung, Kota Bandung dikembangkan menjadi kota dengan fungsi sebagai berikut : Pusat Pemerintahan, Pusat Perguruan Tinggi, Pusat Perdagangan, Pusat Industri, Pusat Kebudayaan dan Pariwisata. Dengan fungsi tersebut, Kota Bandung berkembang dengan pesat dan timbulah beberapa permasalahan, yaitu urbanisasi yang tinggi, transportasi, disparitas kepadatan penduduk dan terkonsentrasinya/tercampurnya kegiatan komersial pada satu kawasan dan sebagainya, sehingga keterbatasan lahan menjadi salah satu persoalan. Kemudian ditetapkanlah (2) Rencana Induk Kota (RIK) Bandung 1971-1991 dan RIK 1985-2005. Dalam RIK ini fungsi-fungsi yang telah ditetapkan dalam MasterPlan tersebut masih ditetapkan kembali sehingga memberikan peluang kegiatan yang sangat luas. 3.1.2. Kondisi Geografis Kota Bandung merupakan ibukota dari provinsi Jawa Barat, yang terletak di antara 107° 36” Bujur Timur, 6° - 55‟ Lintang Selatan. Ketinggian tanah mencapai ± 791 m di atas permukaan laut, dengan titik terendah sekitar 675 m yang berada di sebelah selatan dengan permukaan relatif datar dan titik tertinggi sekitar 1,050 m berada di sebelah utara dengan kontur yang berbukit-bukit. Iklim asli Kota Bandung dipengaruhi oleh iklim pegunungan yang sejuk tetapi beberapa tahun belakangan mengalami peningkatan suhu yang disebabkan polusi dan meningkatnya suhu global akibat efek rumah kaca. Luas wilayah Kota Bandung 16.729,65 ha yang terdiri dari dataran (145,52 km²), perbukitan (0,82 km²) dan pesawahan (21,56 km²) dan sebanyak 8.791.35 (52.55%) digunakan untuk daerah perumahan/pemukiman. 3.1.3. Kondisi Demografi Jumlah penduduk Kota Bandung tahun 2007 adalah 2.329.928 jiwa (BPS Kota Bandung Tahun 2007) dengan jumlah penduduk laki-laki sebesar 1.188.312 jiwa atau 51.00% dan penduduk perempuan sebesar 1.146.865 jiwa atau sebesar 49.00%. Selama 2003
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

14

hingga 2007 telah terjadi kenaikan jumlah penduduk rata-rata sebesar 33.080 jiwa. Pertumbuhan penduduk di Kota Bandung dipengaruhi oleh faktor alami seperti kelahiran dan kematian serta faktor migrasi atau perpindahan penduduk yang disebabkan karena Bandung merupakan ibukota propinsi, juga merupakan kota jasa yang dikunjungi oleh banyak pendatang dari luar Kota Bandung yang akhirnya bekerja dan menetap di Kota Bandung. Jumlah penduduk laki-laki dan perempuan hampir sama banyaknya, yang membedakan adalah komposisi umur. Komposisi penduduk Kota Bandung menurut kelompok umur menunjukkan bahwa penduduk berusia muda yaitu 0 – 14 tahun 24.21%, usia produktif 15 – 64 tahun sebesar 71.75% dan usia tua = 65 tahun sebesar 3,72%. Pengelompokan penduduk berdasarkan umur berguna bagi intervensi program kesehatan yang akan dilakukan. Kelompok umur rentan seperti kelompok umur balita dan usia lanjut merupakan sasaran program kesehatan karena resiko terhadap penyakitpenyakit tertentu yang memerlukan penanganan khusus dalam bidang kesehatan. Jumlah penduduk terbanyak tingkat kecamatan yaitu kecamatan Babakan Ciparay (137.392 jiwa) dan paling sedikit di Kecamatan Bandung Wetan (31.714 jiwa). Bila dilihat dari jumlah penduduk di Kota Bandung 2.329.928 jiwa maka rata-rata kepadatan penduduk di Kota Bandung yaitu 13.196 jiwa/km². Walaupun Kecamatan Babakan Ciparay memiliki jumlah penduduk terbanyak tetapi Kecamatan Bandung Kulon merupakan kecamatan terpadat di Kota Bandung yaitu 37.991 jiwa/km². Hal ini dikarenakan luas wilayah Kecamatan Bandung Kulon lebih sempit daripada Kecamatan Babakan Ciparay. Kecamatan yang tingkat kepadatan penduduknya jarang adalah kecamatan Astanaanyar (6.203 jiwa/km2). Kondisi ini menandakan bahwa persebaran penduduk di Kota Bandung belum merata dan masih terpusat di tempat-tempat tertentu. 3.1.4. Kondisi Ekonomi Kondisi perekonomian Kota Bandung dapat terlihat dari Indikator Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) yang setiap tahun mengalami kenaikan yang signifikan. Hal tersebut berkaitan dengan penetapan salah satu target program prioritas yaitu LPE Kota Bandung tahun 2008 adalah 11%. LPE Kota Bandung pada tahun 2007 mencapai 8.24% diatas pencapaian LPE Propinsi Jawa Barat yang mencapai 5,31%. Faktor lain yang menjadi salah satu ukuran kemajuan dalam proses pembangunan adalah Produk Domestik
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

15

Regional Bruto (PDRB) yang menggambarkan produksi barang dan jasa masyarakat Kota Bandung. Peningkatan PDRB ini secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap tingkat kesehatan masyarakat di Kota Bandung. 3.1.5. Kondisi Sosial Budaya Setidaknya ada dua karakteristik budaya yang perlu mendapat perhatian yaitu kebudayaan Sunda dan kebudayaan perkotaan. Kota Bandung bermula dari sebuah kota kolonial, namun sejak tahun 1950-an telah menjadi „Kota Sunda‟ dengan dominasi suku bangsa Sunda yang merupakan penduduk asli yang mayoritas (E.M. Bruner 1974). Secara stereotipik, Orang Sunda menganut nilai kemandirian sosial, dalam arti bahwa setiap orang dewasa bertanggungjawab atas perbuatannya sendiri, dan terkait dengan pandangan ini adalah sikap „tidak mencampuri urusan orang lain‟. Di satu sisi, nilai ini mendukung atau setidaknya sejajar dengan nilai demokrasi dan kesetaraan, namun di sisi lain mengandung kelemahan pengendalian sosial. Masyarakat Kota Bandung sejak awal merupakan masyarakat yang heterogen, dan semakin lama semakin dibanjiri oleh pendatang yang menumpang hidup, dan turut menghidupi. Studi Bruner tersebut menunjukkan bagaimana kebudayaan Sunda menjadi pedoman pergaulan antar budaya di tempat-tempat umum. Menurutnya, acuan ke kebudayaan setempat yang dominan ini menunjang integrasi antar golongan penduduk yang beragam di kota. Meskipun studi itu tidak sampai memperlihatkan bagaimana peranannya dalam pembangunan kota. Namun dewasa ini interaksi sosial di beberapa jenis tempat umum tidak lagi berpedoman kepada kebudayaan Sunda, melainkan ke kebudayaan nasional atau diwarnai oleh unsur-unsur kebudayaan para pelaku yang dominan di bidang kegiatan yang bersangkutan. Dengan demikian peranan kebudayaan Sunda (terutama bahasanya) sebagai sarana komunikasi umum di Kota Bandung, telah melemah. Namun studi lain oleh Parsudi Suparlan (1974) memperlihatkan penyerapan bahasa Sunda oleh generasi kedua pendatang di Kota Bandung. Demikian pula, rasa turut memiliki Kota Bandung juga menguat di kalangan para pendatang yang telah tinggal di sini beberapa generasi. Bahkan beberapa tokoh yang terkemuka dalam upaya pelestarian peninggalan sejarah Bandung dan tradisi budaya Sunda, adalah orang-orang bukan-Sunda. Mereka ini juga menjadi semacam fasilitator antar golongan budaya,
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

16

meski jumlahnya terlalu kecil. Sementara itu, kiranya juga dapat diterima bahwa di kalangan pendatang yang tinggal sementara, atau belum lama, belum tumbuh sense of belonging yang kuat untuk menumbuhkan sikap turut memelihara keadaan Kota Bandung, juga tidak memiliki legitimasi sosial untuk turut mengendalikan keadaan kota ini. Perkumpulan para pendatang banyak, perkumpulan penduduk asli juga banyak, namun belum terjalin. Di Kota Bandung belum tumbuh perasaan kewargaan yang kuat yang mengikat baik orang Sunda maupun bukan-Sunda sebagai warga kota, meskipun ada juga potensinya pada pertandingan-pertandingan olahraga tingkat tinggi dengan daerah lain, seperti solidaritas yang kuat di kalangan „bobotoh Persib‟ yang anggotanya juga meliputi warga Bandung yang bukan-Sunda.

3.1.6. Visi dan Misi Pemerintah kota Bandung memiliki visi sebagai berikut : ”Terwujudnya kota Bandung sebagai kota jasa yang bermartabat (bersih, makmur, taat dan bersahabat) Makna dari visi tersebut yaitu : Pertama : Kota Bandung sebagai Kota Jasa harus bersih dari sampah, dan bersih praktik Korupsi, Kolusi dan Nepotisme ( KKN ), penyakit masyarakat (judi, pelacuran, narkoba, premanisme dan lainnya), dan perbuatan-perbuatan tercela lainnya yang bertentangan dengan moral dan agama dan budaya masyarakat atau bangsa; Kedua : Kota Bandung sebagai Kota Jasa yang memberikan kemakmuran bagi warganya; Ketiga : Kota Bandung sebagai Kota Jasa harus memiliki warga yang taat terhadap agama, hukum dan aturan - aturan yang ditetapkan untuk menjaga keamanan, kenyamanan dan ketertiban kota . Keempat : Kota Bandung sebagai Kota Jasa harus memiliki warga yang bersahabat, santun, akrab dan dapat menyenangkan bagi orang yang berkunjung serta menjadikan kota yang bersahabat dalam pemahaman kota yang ramah lingkungan. Secara harfiah, Bermartabat diartikan sebagai harkat atau harga diri, yang menunjukkan eksistensi masyarakat kota yang dapat dijadikan teladan karena kebersihan,
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

17

kemakmuran, ketaatan, ketaqwaan dan kedisiplinannya. Jadi kota jasa yang bermartabat adalah kota yang menyediakan jasa pelayanan yang didukung dengan terwujudnya kebersihan, kemakmuran, ketaatan, ketaqwaan, dan kedisiplinan masyarakatnya. Berdasarkan pemahaman tersebut, sangatlah rasional pada kurun waktu lima tahun kedepan diperlukan langkah dan tindakan pemantapan (revitalisasi, reaktualisasi, reorientasi dan refungsionalisasi) yang harus dilakukan oleh pemerintah Kota Bandung beserta masyarakatnya serta didukung secara politis oleh pihak legislatif melalui upayaupaya yang lebih keras, cerdas dan terarah namun tetap ramah dalam meningkatkan akselerasi pembangunan guna tercapainya kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Sementara misi kota Bandung atau tugas yang diemban Pemerintah Kota Bandung meliputi : 1. 2. Mengembangkan sumber daya manusia yang handal yang religius, Yang mencakup pendidikan, kesehatan dan moral keagamaan. Mengembangkan perekonomian kota yang adil, yang mencakup peningkatan perekonomian kota yang tangguh, sehat dan berkeadilan dalam rangka meningkatkan 3. pendapatan masyarakat, menciptakan lapangan kerja dan kesempatan berusaha. Mengembangkan Sosial Budaya Kota yang ramah dan berkesadran tinggi, serta berhati nurani, yang mencakup peningkatan partisipasi masyarakat dalam rangka meningkatkan ketenagakerjaan, meningkatkan kesejahteraan sosial, keluarga, pemuda dan olah raga serta kesetaraan gender. 4. Meningkatkan penataan Kota, yang mencakup pemeliharaan serta peningkatan prasarana dan sarana kota agar sesuai dengan dinamika peningkatan kegiatan kota dengan tetap memperhatikan tata ruang kota dan daya dukung lingkungan kota . 5. Meningkatkan kinerja pemerintah kota secara professional, efektif, efisien akuntabel dan transparan, yang mencakup pemberdayaan aparatur pemerintah dan masyarakat. 6. Mengembangkan sistem keuangan kota , mencakup sistem pembiayaan pembangunan yang dilaksanakan pemerintah, swasta dan masyarakat.

Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

18

BAB

4 KONDISI KESEJAHTERAAN DAN
PERLINDUNGAN ANAK

4.1. Pengantar Kota Layak Anak (KLA) adalah sistem pembangunan kota yang mengintegrasikan komitmen dan sumberdaya pemerintah, masyarakat dan dunia usaha yang terencana secara menyeluruh dan berkelanjutan dalam program dan kegiatan pemenuhan hak dan perlindungan anak. Sementara kondisi kesejahteraan dan perlindungan anak merupakan salah satu parameter bagi suatu kota atau kabupaten untuk mencanangkan diri sebagai kota atau kabupaten layak anak (KLA). Kondisi tersebut secara lebih sistematis dituangkan dalam sejumlah indikator KLA. Kondisi tersebut selain terekam dalam data kuantitatif yang berupa data-data statistik di bidang anak, juga dalam data-data kualitatif yang merupakan pandangan dari para pemangku kepentingan di bidang anak tentang kondisi anak yang ada. Data-data tersebut juga merupakan cerminan dari permasalahan anak yang terjadi serta upayaupaya yang dilakukan baik dalam bentuk kebijakan pemerintah maupun dalam bentuk program dan kegiatan yang dilakukan baik oleh pemerintah dan masyarakat. Namun demikian, tidaklah berarti bahwa suatu kota atau kabupaten harus menunggu terlebih dulu kondisi yang ideal di bidang kesejahteraan dan perlindungan anak sebelum mencanangkan diri sebagai KLA atau kota yang menuju KLA. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sendiri juga tidak memberi batasan kondisi anak yang seperti apa yang bisa menggambarkan sebuah kota atau kabupaten layak anak. Yang lebih diperhatikan adalah upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak. Berikut ini adalah gambaran dari upaya-upaya tersebut yang dijabarkan daalm pelayanan-pelayanan dasar yang ditujukan untuk kelompok anak yang terdapat di kota Bandung. Di dalamnya akan diuraikan tentang visi dan misi serta program dan kegiatann dari SKPD terkait, sejauh informasinya tersedia, serta , data-data statistik terkait termasuk gambaran permasalahan secara kualitatif. Pelayanan dasar yang diuraikan
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

19

meliputi bidang kesehatan, pendidikan, perlindungan sosoail, infrastruktur dan sebagainya. 4.2. Pelayanan Dasar Bidang Kesehatan Untuk melihat pelayanan dasar yang disediakan pemerintah kota Bandung di bidang kesehatan secara lebih komprehansif, maka akan diawali dengan dengan melihat visi dan misi pemerintah Kota Bandung di bidang kesehatan, bagaimana strategi dalam menjabarkan visi dan misi tersebut, fasilitas pelayanan yang disediakan, serta hasil-hasil yang telah dicapai, termasuk gambaran permasalahan di bidang kesehatan anak. 4.2.1. Visi dan Misi Visi Pemerintah Kota Bandung di bidang kesehatan tercakup dalam visi “Bandung Sehat 2007”, dimana diharapkan seluruh pelaku kesehatan bersama seluruh elemen masyarakat Kota Bandung pada tahun 2007 : 1. hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku hidup sehat 2. memiliki kemampuan hidup sehat 3. memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil,merata, dan 4. memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Visi pembangunan kesehatan tersebut mendukung terwujudnya Visi Kota Bandung sebagai ”Kota Jasa yang Bermartabat” (Bersih Makmur, Taat dan Bersahabat) serta visi pembangunan kesehatan Indonesia yaitu ”Indonesia Sehat 2010”. Untuk merealisasikan visi Bandung Sehat 2007, maka ditetapkan “Misi Pembangunan Kesehatan” sebagai berikut : 1. Menggerakkan pembangunan Kota Bandung berwawasan kesehatan, 2. Memelihara serta meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat serta lingkungannya sehingga mandiri untuk hidup sehat, 3. Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau, 4. Mengembangkan professional,
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

sumber

daya

manusia

kesehatan

yang

berkualitas

dan

20

5. Meningkatkan dan mengembangkan pembiayaan kesehatan. Strategi operasional yang digunakan pemerintah kota Bandung dalam mewujudkan “Bandung Sehat 2007” adalah sebagai berikut : 1. Menggerakkan semua potensi dalam pembangunan kesehatan berwawasan kesehatan, 2. Membentuk kemitraan dalam usaha bersama untuk mewujudkan Bandung Sehat 2007, 3. Meningkatkan kualitas kegiatan promosi kesehatan, 4. Memahami dan melaksanakan berbagai kewenangan bidang kesehatan, 5. Meningkatkan manajemen kualitas pelayanan kesehatan, 6. Memperluas kerjasama bidang kesehatan dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) kesehatan, 7. Mengoptimalkan Sistem Informasi Kesehatan (SIK), 8. Meningkatkan Advokasi bidang kesehatan dalam peningkatan proporsi anggaran bidang kesehatan, 9. Meningkatkan pembiayaan kesehatan bersumber daya masyarakat. Untuk menjalankan misinya di bidang kesehatan, Pemerintah Kota Bandung mengeluarkan kebijakan sebagai berikut: 1. Mengupayakan pembangunan kelurahan dan kecamatan yang berwawasan kesehatan, 2. Menggerakan semua potensi masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatan dan mewujudkan lingkungan sehat perkotaan, 3. Mengupayakan peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan baik promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif kepada masyarakat, 4. Mengupayakan peningkatan sumber daya manusia kesehatan, 5. Mengupayakan peningkatan sumber dan proporsi pembiayaan kesehatan melalui advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Penjabaran kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah Kota Bandung pada pelaksanaan pembangunan kesehatan dirumuskan dalam 3 program pokok sebagai berikut: 1. Program Lingkungan Sehat, Perilaku Sehat dan Pemberdayaan masyarakat, 2. Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan,
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

21

3. Program Pengawasan Obat, Makanan, Minuman dan Bahan Berbahaya. Program tersebut dilaksanakan melalui berbagai kegiatan yang menjangkau semua sasaran yang telah ditetapkan sebagai berikut : 1. Peningkatan jenis–jenis pelayanan kesehatan dan pengembangan puskesmas keliling, 2. Pemenuhan obat dan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin, 3. Peningkatan sarana kesehatan, 4. Sosialisasi pentingnya hidup sehat di kalangan masyarakat, 5. Optimalisasi pelayanan kesehatan, 6. Pengawasan obat dan makanan, 7. Peningkatan kemampuan dan keterampilan tenaga keperawatan, 8. Pemberantasan penyalahgunaan napza dan rehabilitasi korban penyalahgunaan napza. 4.2.2. Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dalam penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan, Kota Bandung sebagai kota metropolitan sampai dengan tahun 2008 memiliki sarana-sarana kesehatan sebagai berikut : 1. Puskesmas sebanyak 71 buah, 5 di antaranya adalah puskesmas dengan tempat perawatan untuk persalinan, 16 puskesmas di antaranya memiliki kemampuan gawat darurat serta 13 puskesmas keliling, 2. Rumah Sakit 31 buah, tiga di antaranya adalah RS Ibu dan Anak, yakni RSIA Hermina, RSIA Melinda, dan RSIA Teja. 3. Praktek Dokter Umum 4. Praktek Dokter Gigi 5. Praktek Dokter Spesialis 6. Praktek Bidan 7. Balai Pengobatan Swasta 8. Laboratorium Klinik 9. Apotek sebanyak 10. Rumah bersalin sebanyak : 1.567 orang, : 583 orang, : 137 orang, : 811 orang, : 512 buah, : 88 buah, : 493 buah, dan : 51 buah.

Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

22

Dengan rincian seperti itu, kondisi fasilitas kesehatan di Kota Bandung secara umum sudah mencukupi walaupun ada beberapa jenis tenaga yang masih kurang. Selain itu yang perlu diperhatikan adalah persebaran dari fasilitas tersebut yang masih kurang merata. Dari sisi penyediaan anggarannya sendiri, Alokasi anggaran kesehatan dalam APBD Kota Bandung tahun 2007 adalah sebesar 8,14%, meningkat dibandingkan dengan tahun 2006. Dalam rangka peningkatan derajat kesehatan, selain kebijakan dan program yang sudah tersusun secara sektoral, pemerintah kota Bandung juga mempunyai program khusus, yang berupa Bantuan Walikota Khusus atau Bawaku Sehat, yang merupakan bagian dari trilogi Bawaku, yakni Bawaku Cerdas (untuk bidang pendidikan), Bawaku Sehat (untuk bidang kesehatan) dan Bawaku Makmur (untuk bidang ekonomi). Dengan visi, misi, kebijakan, program dan penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan yang cukup komprehensif, tidaklah berarti semua permasalahan kesehatan bisa diatasi dan data-data statistik kesehatan selalu positif. Namun paling tidak pemerintah kota Bandung bisa berbangga dengan sejumlah prestasi atau catatan positif yang berhasil diraihnya, seperti Angka harapan hidup (AHH) Kota Bandung yang pada tahun 2008 telah mencapai 73,39 tahun. Capaian ini dipengaruhi oleh menurunnya Angka Kematian Bayi (AKB) yang pada tahun 2007 berjumlah 186 kasus turun menjadi 181 anak kasus pada tahun 2008. Angka Kematian Ibu (AKI) tahun 2007 untuk Kota Bandung meski belum dapat dihitung tetapi terjadi kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya dari 8 orang menjadi 20 orang. Data lain menunjukkan, jumlah balita yang menderita gizi buruk tahun 2006 adalah 1.141 balita (0.74%). Terjadi penurunan dibandingkan tahun 2005. Tahun ini juga ditemukan 3 kecamatan rawan gizi di Kota Bandung. Di Bandung, jumlah anak-anak kurang gizi ternyata kebanyakan berasal dari keluarga yang secara ekonomi mampu. Menurut Kasubdin Kesehatan Keluarga Dinkes Kota Bandung, jumlah kasus masalah gizi di Bandung per Februari 2007 mencapai 16.171 anak balita. Sebanyak 1.286 anak dinyatakan gizi buruk. Jumlah anak balita di Bandung sendiri sekitar 154 ribu. Kasubdin Kesehatan Keluarga menyatakan,

Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

23

"Kami menemukan fakta bahwa ternyata dari setengah kasus kurang gizi justru menimpa anak-anak dari kalangan mampu yang ternyata salah mendapatkan asupan gizi dari orang tua mereka. Biasanya itu didorong oleh gaya hidup," Dari 16.171 anak balita yang mengalami masalah gizi, sebanyak 12.368 anak dari kalangan mampu yang terserang masalah gizi. Sedangkan dari kalangan tidak mampu secara ekonomi hanya sekitar 3.400-an anak. Berdasarkan penelitian di pos-pos pelayanan terpadu, petugas kesehatan menemukan asupan gizi yang diberikan orangtua dari kalangan mampu tidak terkontrol dengan baik, karena menyerahkan persoalan pemenuhan kebutuhan anak kepada pembantu rumah tangga yang kebanyakan minim pengetahuan soal gizi. Sementara untuk kalangan kurang mampu justru termotivasi untuk memenuhi kebutuhan gizi anak mereka. Contoh konkret tentang pemeriksaan gizi yang dilakukan di 26 kecamatan di Bandung menunjukan pemukiman kalangan menengah ke atas seperti Gumuruh, Batununggal, sebagai kawasan yang terbanyak ditemukan kasus gizi buruk. Dilihat dari aspek kinerja kesehatan, data yang ada menunjukkan adanya peningkatan Angka Harapan Hidup dan Cakupan Air Bersih masing-masing 0,19% dan 10,31%, yang didukung dengan penurunan Status Gizi Buruk pada anak balita. Khusus ketersediaan air bersih untuk rumahtangga, bila dibandingkan dengan tingkat provinsi kota Bandung berada pada peringkat ketiga setelah Kabupaten Bogor dan Kabupaten Bandung. Pencapaian indikator-indikator tersebut didukung oleh peningkatan cakupan kunjungan ibu hamil sebesar 0,17%, peningkatan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan sebesar 5,54%, peningkatan cakupan tempat-tempat umum memenuhi syarat hyigiene sebesar 3,37%, peningkatan cakupan rumah tangga sehat 5,6%, peningkatan cakupan Posyandu Purnama Mandiri sebesar 4,98% dan peningkatan cakupan penyediaan obat dan perbekalan kesehatan sampai dengan 100%. Data lain tentang keadaan kesehatan lingkungan menunjukkan bahwa persentase Rumah Sehat di Kota Bandung tahun 2006 adalah 41.28%, masih jauh dari target SPM sebesar 80% serta mengalami penurunan dibandingkan tahun 2005. untuk Tempat Pengelolaan Makanan sebesar 80.75%. Sementara persentase tempat-tempat umum sehat tahun 2006 adalah sebesar 82.29% sedangkan Di bidang perilaku sehat masyarakat, terlihat bahwa Rumah Tangga Ber-Perilaku Hidup Bersih dan Sehat untuk
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

24

tahun 2006 adalah sebesar 15.12% dan persentase Posyandu Purnama di Kota Bandung tahun 2006 adalah sebesar 30.05%, sedangkan Posyandu Mandiri sebesar 3.14%. Terjadi peningkatan dibandingkan dengan tahun 2005. Di bidang Pelayanan Kesehatan, data yang ada menunjukkan : 1. Persentase Persalinan oleh tenaga kesehatan pada tahun 2006 adalah sebesar 83.68% sedangkan target SPM adalah sebesar 85.17%. 2. Persentase Desa yang mencapai “Universal Child Immunization” (UCI) adalah sebesar 70.50%. Turun dibandingkan tahun 2005. Sedangkan target tahun 2006 adalah sebesar 77.19%. 3. Persentase Desa Terkena Kejadian Luar Biasa (KLB) ditangani adalah 100%. Dari 6 jenis kasus KLB yang terjadi. Tidak ada kasus kematian yang ditemukan dari KLB pada tahun 2006 ini. 4. Persentase Ibu Hamil yang mendapat tablet Fe1 yang ditangani tahun 2006 ini sebesar 82.16% sedangkan Fe3 sebesar 72.75%. Sedangkan target SPM adalah sebesar 83.88%. 5. Persentase Bayi yang mendapat ASI Eksklusif tahu 2006 adalah sebesar 106.88%. Melebihi target SPM Kota Bandung yaitu 83.33%. 6. Murid sekolah dasar yang diperiksa gigi tahun 2006 ini adalah sebesar 46.76% dan yang mendapat perawatan sebesar 37.98%. 7. Pelayanan Keluarga Miskin tahun 2006 baru 31.63%. Belum mencapai target yang diinginkan sebesar 100%. 4.3. Pelayanan Dasar Bidang Pendidikan Seperti halnya pada bidang kesehatan, pelayanan dasar di bidang pendidikan merupakan penjabaran dari visi dan misi kota Bandung, terutama dalam rangka menciptakan sumberdaya manusia yang handal dan religius. Pembangunan pendidikan di kota Bandung ini juga dalam rangka meningkatkan angka Indeks Pembangunan Manusia., yang meskipun sudah relatif tinggi tapi tetap ingin ditingkatkan. 4.3.1. Visi dan Misi Dalam bidang pendidikan pemerintah kota Bandung memiliki visi, yang dituangkan dalam visi Bandung Cerdas 2008, yang terdiri dari sejumlah target sebagai berikut :
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

25

1. Tercapainya rata-rata lama sekolah (RLS) menjadi 12 tahun. 2. Angka melek huruf = 100 % 3. Angka partisipasi murni (apm) untuk sd 100 %, apm smp = 97 %, dan apm sma/smk = 70 % 4. Angka melanjutkan=95 % 5. Angka drop out < 1 % 6. Memberi kontribusi dari indeks pendidikan sebesar 92,5 % untuk mencapai indeks pembangunan manusia (ipm) sebesar 80,7 7. Memberikan layanan pendidikan gratis bagi 80 % anak usia sekolah (7-18 tahun) yang tidak mampu 8. Mewujudkan proporsi anggaran pendidikan sebesar 20 % terhadap apbd kota secara bertahap Tujuan pembangunan pendidikan di kota Bandung sendiri adalah sebagai berikut : 1. Meningkatkan dan memantapkan indeks Pendidikan Kota Bandung dalam rangka menuju Bandung Cerdas 2008. 2. Meningkatkan dan memantapkan APK dan APM penduduk Kota Bandung pada jenjang Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah 3. Membantu masyarakat kurang mampu agar tetap dapat menyekolahkan anaknya sekurang-kurangnya mencapai jenjang Pendidikan Menengah Untuk mencapai tujuan pembangunan pendidikan tersebut, Dinas Pendidikan melakukan sejumlah upaya peningkatan dan akselerasi pembangunan pendidikan, yakni melalui tahap-tahap sebagai berikut : 1. Tahap Inisiasi dan Sosialisasi, melalui Sinergitas, Koordinasi dan Sosialisasi Program. Strategi yang ditetapkan dalam tahap ini antara lain: (a) Inisiasi program dan pembentukan Tim Akselerasi (b) Penyusunan Program (c) Koordinasi Dinas/Balai/Lembaga (DIBALE) terkait (d) Sosialisasi dan asistensi penyusunan Rencana Aksi Daerah (RAD), Rencana Aksi Kecamatan (RAK) dan Rencana Aksi Kelurahan (RAL) 2. Tahap Institusionalisasi dan penjaringan data untuk tersusunnya data-base pendidikan. Strategi yang ditetapkan adalah: (a) Semiloka petugas pendataan tingkat Kota, Kecamatan;(b) Pelaksanaan pendataan (c) Kompilasi dan tabulasi data Kartu

Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

26

Kendali Sekolah Anak (KKSA) ; (d) Verifikasi dan penerbitan Kartu Bebas Biaya Sekolah (KBBS). 3. Tahap Penguatan Manajemen dan Pengembangan Sistem. Strategi yang ditetapkan adalah: (a) Penguatan manajemen berbasis sekolah (MBS); (b) Pengorganisasian dan revitalisasi penyelenggaraan satuan pendidikan (regrouping, pengembangan sekolah baru, pelaksanaan double skip.dll); (c) Peningkatan monitoring, supervisi dan evaluasi melalui Pengembangan Sistem Informasi Manajemen Pendidikan Berbasis Teknologi. 4. Pengembangan dan Penguatan Sistem Kelembagaan, dengan staretgi : (a) Bantuan biaya pendidikan; (b) Peningkatan Kemitraan dengan stakeholders pendidikan dan dunia usaha/industri; (c) Peningkatan aksesibilitas dan daya tampung; (d) Pengembangan dan peningkatan kualitas tenaga kependidikan.

4.3.2. Fasilitas Pelayanan Pendidikan Dari sisi penyediaan fasilitas pelayanan pendidikan, sampai dengan 2008, Kota Bandung memiliki 602 TK/RA, 998 SD/MI, 250 SMP/MTs dan 245 SMA/SMK/MA yang tersebar di 30 Kecamatan. Selain itu sebagai pusat pendidikan, Kota Bandung juga memiliki cukup banyak Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang telah memiliki reputasi cukup baik pada skala internasional maupun regional. Jumlah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sebanyak 8 buah yang terdiri dari : 2 universitas, 1 institut, 3 sekolah tinggi dan 2 politeknik. Sementara untuk Perguruan Tinggi Swasta (PTS) sebanyak 78 yang terdiri dari : 14 universitas, 2 institut, 33 sekolah tinggi, 16 akademi, 13 politeknik. (Sumber Bandung Dalam Angka Tahun 2007). Akan tetapi penyebaran lembaga pendidikan tersebut tidak merata baik dari sisi kuantitas maupun kualitas, sarana prasarana pendidikan, maupun ketenagaan pendidikan, dimana hal ini akan mempengaruhi kualitas penyelenggaraan pendidikan di Kota Bandung, dengan munculnya sekolah favorit dan sekolah yang kurang peminatnya sehingga harus merger. Dalam hal ketenagaan pendidikan, Kota Bandung memiliki guru sebanyak 26.049 orang, dengan proporsi terbanyak adalah guru SD dan guru SLTA. Rasio guru per sekolah semakin meningkat bila jenjang pendidikan semakin tinggi, karena kebutuhan bidang
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

27

ilmu yang semakin spesifik. Rasio guru per sekolah tingkat SLTA adalah sebanyak 33 orang. Dalam hal bantuan pendidikan, perkembangan jumlah bantuan bagi siswa miskin dari tahun ke tahun dapat dilihat pada angka berikut : Tahun 2004 : 12.000 anak Tahun 2005 : 14.000 anak Tahun 2006 : 22.000 anak Tahun 2007 : 68.835 anak Melalui Bawaku Cerdas, Pemerintah kota Bandung juga telah membantu sejumlah 67.000 siswa rentan DO dan menggratiskan 244 SD/MI, 51 SMP/MTs dan 30 SMA/SMK (67.756 Siswa) Kota Bandung adalah perintis vokasi Jawa Barat dengan SMK Bertaraf Internasional dan berstandar SMM ISO 9001:2000 (SMKN7, SMKN 13 dan SMKN 3). 4.3.3. Hasil Yang Dicapai Dengan visi Bandung Cerdas 2008, hingga tahun 2008 hasil yang dicapai adalah sebagai berikut : Untuk kondisi sarana dan prasarana pendidikan dipandang belum memadai. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel Rekapitulasi Kondisi Sarana Prasarana Pendidikan Tahun 2008 Jenjang Pendidikan TK/RA SD/MI SMP/MTs SMA/SMK/MA Jumlah Ruang Kelas 1.014 5.730 2.531 2.801 Kondisi Ruang Kelas Rusak Ringan 1.157 243 224 Rusak Sedang 241 28 18 Rusak Berat 268 29 6 Rusak Total 30 17 2 Kebutuhan RKB 5 597 143 43

Sumber: Disdik Kota Bandung-2008 (data diolah)

Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

28

Dalam aspek pelayanan pendidikan, yang dilihat dari rasio siswa per kelas, terlihat bahwa pada tingkat taman kanak-kanak, rasio siswa per kelas sebanyak 35 orang, SD sebanyak 40 orang, SLTP sebanyak 47 orang, SLTA sebanyak 37 orang. Pada tingkat SLTP jumlah anak yang bersekolah relatif banyak bila dibandingkan dengan daya tampung sehingga rasio per kelas melebihi 40 siswa. Pada tingkat SLTA, rasio ini semakin menurun, karena relatif banyak yang tidak melanjutkan studi. Dari target capaian IPM (Indeks Pembangunan Manusia), yang dilihat dari Angka Melek Huruf (AMH) dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS), hasilnya adalah Angka Melek Huruf di Kota Bandung pada tahun 2008 sebesar 99,50 %, meningkat 0,06 % dari tahun 2007, dengan demikian keberadaan buta aksara masih tersisa sebanyak 849 orang laki-laki dan 1.913 orang perempuan, dan hal ini akan dituntaskan pada tahun 2009 melalui Program Keaksaraan Fungsional kerjasama Pemerintah Propinsi Jawa Barat dengan Pemerintah Kota Bandung. Sedangkan capaian Rata-Rata Lama Sekolah pada tahun 2008 baru mencapai 10,52 tahun, hal ini sangat jauh dari target capaian semula yaitu 12 tahun, sehingga Pemerintah Kota Bandung perlu merevisi kembali target capaian rata-rata lama sekolah sampai dengan tahun 2013. Banyak faktor yang jadi penyebab dari ketidaktercapaiannya rata-rata lama sekolah 12 tahun sampai tahun 2008. Jika dilihat dari penduduk usia 16 sampai 18 tahun, dimana capaian angka partisipasi murni tahun 2008 baru mencapai 75,91 %, antara lain disebabkan oleh persepsi masyarakat tentang pendidikan, yang dianggap belum menjanjikan karena tidak relevannya kompetensi atau kecakapan lulusan dengan kebutuhan dunia kerja, sehingga masyarakat kurang terdorong untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang pendidikan menengah, sementara anggapan lainnya adalah pendidikan masih dianggap mahal, sehingga masyarakat menjadi apatis untuk berpartisipasi dalam pendidikan. Jika dilihat dari keberhasilan penyelenggaraan wajib belajar Sembilan tahun, Kota Bandung telah beberapa kali mendapat penghargaan. Dilihat dari angka partisipasi kasar maupun angka partisipasi murni telah melebihi target, karena sesuai dengan fungsinya sebagai kota pendidikan, banyak siswa usia pendidikan dasar dari daerah sekitar bersekolah di Kota Bandung

Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

29

Capaian Angka Partisipasi Kasar (APK) tahun 2008 pada jenjang Sekolah Dasar dan sederajat adalah 131,65 % meningkat 1,60 % dari tahun 2007. APK jenjang Sekolah Menengah Pertama dan yang sederajat telah mencapai 116,16 % meningkat 12,11 % dari tahun 2007, sedangkan APK pendidikan menengah (SMA/SMK/MA) baru mencapai 98,51 % meningkat 6,58 % dari tahun 2007. Sedangkan capaian Angka Partisipasi Murni (APM) tahun 2008 pada jenjang Sekolah Dasar dan sederajat adalah 123,13 % meningkat 1,80 % dari tahun 2007. APM jenjang Sekolah Menengah Pertama dan yang sederajat telah mencapai 99,44 % meningkat 7,13 % dari tahun 2007, sedangkan APK pendidikan menengah (SMA/SMK/MA) baru mencapai 75,91 % meningkat 4,3 % dari tahun 2007. Meskipun hasil dari pembangunan pendidikan dengan visi Bandung Cerdas 2008 menunjukkan hasil yang relatif di positif, kota namun mengingat kompleksitas sejumlah permasalahannya, pendidikan Bandung masih menyimpan

permasalahan, yakni sebagai berikut : 1. Keterbatasan daya tampung dan aksesibilitas pendidikan, terutama bagi masyarakat kurang mampu; 2. Kerusakan infrastruktur sekolah, terutama di sekolah dasar; 3. Masih rendahnya tingkat kesejahteraan guru dan belum optimalnya pengembangan kompetensi dan profesionalisme guru; 4. Belum optimalnya kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri; 5. Pengembangan pendidikan belum berbasis pada potensi daerah; 6. Kinerja pelayanan pendidikan masih rendah; 7. Kualitas dan distribusi buku pelajaran masih rendah; 8. Pengembangan lifeskill pada peserta didik belum optimal; 9. Proses pembelajaran masih konvensional serta beratnya beban kurikulum sekolah; 10. Biaya pendidikan dirasakan mahal dan belum efisien; 11. Belum optimalnya kualitas manajemen sekolah. 4.4. Pelayanan Dasar Bidang Perlindungan Anak 4.4.1. Visi dan Misi Bidang perlindungan anak, secara nomenklatur diurus oleh Badan Perlindungan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB), namun dalam implementasinya memiliki
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

30

ruang gerak yang sangat terbatas.

Instansi atau SKPD lain yang turut mengurusi

masalah perlindungan anak dan juga memiliki kelompok sasaran anak jalanan yang memang menjadi masalah kota Bandung adalah Kantor Sosial. Dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya, Dinas Sosial memiliki visi sebagai berikut : Terciptanya kesetiakawanan sosial yang dinamis dalam kehidupan keluarga yang layak normatif diliputi suasana kehidupan yang bermartabat Sedangkan misi yang diembannya adalah : 1. Mengembangkan sosial budaya kota yang ramah dan berkesadaran tinggi bermartabat serta berhati nurani yang mencakup peningkatan partisipasi masyarakat dalam rangka kesejahteraan sosial keluarga, pemuda dan olah raga serta kesetaraan gender. 2. Mewujudkan pemanfaatan sumber kesejahteraan yang diarahkan dan didayagunakan secara optimal untuk meningkatkan daya mampu serta daya jangkau penanggulangan masalah sosial. 3. Mewujudkan upaya kerja sosial sebagai suatu sistem melembaga dalam rangka pembangunan seutuhnya. 4. Meningkatkan kualitas dan jangkauan upaya / usaha untuk mewujudkan, memelihara, memulihkan dan mengembangkan kesejahteraan sosial yang dilaksanakan oleh pemerintah bersama masyarakat. Sasaran Kegiatan secara umum adalah semua elemen masyarakat, termasuk di dalamnya adalah kelompok anak, yang masuk dalam kategori : Fakir miskin, Karang Taruna, Penyandang cacat, Gelandangan dan Pengemis (Gepeng), WTS, Purnalapas, ANKN, Anak Terlantar & Anak Panti dan Anak Jalanan Tugas pokok dari Dinas Sosial adalah melaksanakan kewenangan daerah di bidang sosial. Sedangkan fungsinya adalah : 1. Pelaksanaan kebijakan teknis bidang sosial, 2. Pelaksanaan tugas teknis operasional bidang sosial yang meliputi bina sosial, pelayanan sosial, rehabilitasi sosial, dan keluarga sejahtera, dan 3. Pelaksanaan pelayanan teknis ketatausahaan kantor. Keberadaan dari Dinas Sosial ini bertujuan untuk :
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

31

1. Meningkatkan usaha kesejahteraan sosial sebagai suatu sistem yang melembaga di masyarakat ; 2. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penanggulangan masalah sosial ; 3. Meningkatkan mutu dan jumlah pelayanan sosial kepada masyarakat ; 4. Meningkatkan pemberdayaan dan kerjasama dengan Lembaga-lembaga sosial yang ada ; 5. Meningkatkan potensi-potensi masyarakat dalam rangka penanggulangan masalah sosial ; 6. Meningkatkan suasana yang kondusif ditengah-tengah masyarakat yang terbebas dari masakah-masalah sosial 7. Meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat. Dilihat dari misinya, khususnya pada misi yang pertama, yakni mengembangkan sosial budaya kota yang ramah dan berkesadaran tinggi, bermartabat, ....dst, terlihat adanya harapan dari pemerintah kota Bandung akan terwujudnya suasana kota yang ramah, secara sosial dan budaya. Hal ini relevan sekali dengan ciri kota layak anak. Namun dari sisi lain, menurut salah seorang narasumber dari penelitian ini, sifat ramah dari masyarakat kota Bandung ini yang menjadi daya tarik penduduk dari kota lain untuk datang atau tinggal menetap di kota Bandung, sehingga menimbulkan berbagai masalah sosial dan lingkungan. 4.4.2. Permasalahan Sosial Anak dan Penanganannya Berbagai masalah sosial yang berkembang di masyarakat pada tahun 2008 menurut catatan Dinas Sosial pemerintah kota Bandung adalah seperti terlihat dalam tabel berikut. Tabel Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial ( PMKS ) Tahun 2008 No 1. 2 3 4 5 6 7 8 Jenis PMKS Balita Terlantar Anak Terlantar Anak Korban Tindak Kekerasan Anak Jalanan Anak Nakal Anak Cacat Wanita Rawan Sosial Ekonomi ( WRSE ) Wanita Korban Tindak Kekerasan Satuan Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Jumlah 360 6,643 19 4,821 239 484 5,868 40
32

Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27

Lanjut Usia Terlantar Lanjut Usia Korban Tindak Kekerasan Penyandang Cacat Pentyandang Cacat Eks Penyakit Kronis Tuna Susila Pengemis Gelandangan Eks Narapidana Korban Penyalahgunaan Napza Keluarga Fakir Miskin Keluarga Berumah Tidak Layak Huni Keluarga Bermasalah Sosial Psikologis Komunitas Adat Terpencil Masyarakat Yang Tinggal Didaerah Rawan Bencana Korban Bencana Alam Korban Bencana Sosial Pekerjaan Migran Korban HIV/AIDS Keluarga Rentan Jumlah

Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang KK KK KK Orang Orang Jiwa Jiwa Orang Orang Orang

2,429 62 10,200 1,344 116 4,126 948 298 363 84,288 27,041 2,967 4,386 1,161 423 1,277 1,268 358 161,527

Sumber : Dinas Sosial 2008.

Dari kelompok penyandang masalah sosial tersebut, yang dipandang paling menonjol adalah masalah anak jalanan. Meskipun dalam tabel disebutkan jumlahnya hanya 4.821 anak, namun dalam perkiraan BPPKB jumlahnya hampir 8000. Dari jumlah tersebut sekitar 90% bukan warga kota Bandung. Pendekatan penanganan anak jalanan yang dilakukan masih mengandalkan razia dan pembinaan di panti, dengan menggunakan payung hukum Perda tentang K3 (Ketertiban, Keamanan dan Keindahan). Perda ini dipandang merugikan kelompok anak jalanan karena mereka sering memperoleh tindak kekerasan dari aparat. Kendalanya adalah mereka yang tertangkap razia hanya dikenakan denda sebesar Rp 10.000,- hingga Rp 50.000,-. Sebagian dari PMKS tersebut ada yang dipulangkan ke daerag asalnya, tapi kemudian mereka kembali lagi ke kota Bandung. Sedangkan untuk anak-anak dan pekerja seks komersial (PSK) yang tertangkap kemudian ke dinas sosial untuk dimasukkan ke panti. Akan tetapi kapasitas panti dan anggaran yang disediakan dalam hal ini hanya untuk 60 orang pertahun. Menurut pandangan KPAID Kota Bandung, penanganan anak jalanan saat ini masih belum maksimal, komprehensif, menyeluruh dan terpadu. Penanganan anak jalanan
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

33

dipandang masih parsial, terbukti dari apa yang selama ini dilakukan oleh SKPD terkait. Misalnya Dinas Kesehatan dalam upaya pemenuhan kartu berobat gratis bagi anak jalanan, masih terbatas peruntukannya. Dinas pendidikan dalam upaya pengadaan mobile school belum optimal karena kurang sosialisasi ke masyarakat. Dinas Sosial dalam upaya pembinaan anak jalanan terbatas pada petugas dan dana. Disamping itu pemerintah Kota Bandung belum memiliki panti sosial. Selama ini gelandangan, pengemis, anak jalanan dan PSK dibawa ke panti sosial keterampilan Wanita Silih Asih Palimanan, Kabupaten Cirebon dan Panti Rehabilitasi Sosial Margarahayu, Cibadak Kab. Sukabumi. Dalam rencana ke depan, dinas sosial sebetulnya sudah mempersiapkan pendekatan baru yang masih berbasis panti yakni dengan membangun Pusat Kesejahteraan Sosial (Puskesos). Lokasi sudah disediakan seluas 5 ha yang akan dibangun gedung 5 lantai pada tahun 2010. keberadaan panti ini sudah memperoleh persetujuan dari Menteri Sosial KIB 1. Bachtiar Chamsyah dan dijanjikan akan dibantu pembangunanannya. Belum diperoleh kejelasan tentang realisasi bantuan tersebut dari menteri sosial yang baru. Pusat pelayanan yang sudah dimiliki pemerintah kota Bandung saat ini adalah Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), yang didirikan pada tahun 2009. Lembaga ini bersifat lintas sektoral yang bertugas untuk menangani atau mendampingi perempuan dan anak yang mengalami kasus-kasus kekerasan dan eksploitasi. Data lain tentang anak-anak yang memperoleh perlindungan khusus, adalah anak korban eksploitasi. Dari catatan Bagian PP Pemkot Bandung, 2006, terdapat buruh/pekerja anak sebanyak 7.244 orang. Mereka pada umumnya adalah anak-anak yang bekerja pada industri pembuatan sepatu, tas dan dompet serta Boneka Kain. Sebagian dari mereka juga bekerja di toko meubel, Pabrik Roti, Sapu Lidi, Aquarium, Konfeksi, Sablon, Penjual Koran dan Cleaning Service. Sedangkan anak yang dieksploitasi secara ekonomi yang komunitasnya pada dua tahun terakhir sangat tinggi adalah anak-anak pedagang coet (cobek).

Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

34

Untuk kasus eksploitasi seksual, trafiking atau perdagangan anak dan perempuan, hingga sekarang masih terus berlangsung. Meskipun data pasti tidak diketahui, karena sifatnya illegal, namun pada tahun 2006 menurut catatan Sumber Yayasan Bahtera di Kota Bandung terdapat 16 kasus trafiking, dengan korban anak-anak asal Kota Bandung sendiri. Sedangkan menurut catatan Bagian PP Kota Bandung, pada tahun 2006 jumlah anak korban trafiking adalah 301 orang. Sedangkan permasalahan pemenuhan hak sipil anak khususnya akta kelahiran dan wadah partisipasi anak, data yang ada menunjukkan bahwa hingga tahun 2007 cakupan kepemilikan akta kelahiran pada kelompok anak sudah mencapai sekitar 68%. Meskipun angkanya sudah di atas angka rata-rata nasional akan tetapi masih dianggap rendah sehingga harus ditingkatkan. Untuk itu pemerintah kota Bandung sudah menggratiskan biaya pengurusan akta kelahiran melalui Perda Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan di tahun 2009, akan tetapi secara formal masih harus menunggu perubahan Perda tentang Retribusi yang masih mewajibkan retribusi bagi pengurusan akta kelahiran. Untuk masalah partisipasi anak, di kota Bandung saat ini sudah terbentuk Forum Komunikasi Anak Bandung (FOKAB) yang merupakan wadah partisipasi anak di kota Bandung, bahkan pada tahun 2006 lalu salah seorang anggota FOKAB menjadi wakil anak Indonesia untuk menghadiri acara Unicef di New York. Keberadaan FOKAB ini melengkapi keberadaan kelompok-kelompok anak yang sudah ada sebelumnya seperti OSIS dan Karang Taruna. Tentang pelibatan kelompok anak dalam penyusunan kebijakan, memang sudah mulai dirintis oleh pemerintah kota Bandung, namun belum optimal dan belum diatur secara khusus. Praktek mengundang kelompok anak dalam pertemuan yang membahas kebijakan pemerintah paling tidak pernah dilakukan ketika diadakan musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang), dimana kelompok anak sekolah dilibatkan dalam pertemuan tersebut. Selain itu kelompok anak, khususnya anak penyandang cacat juga diundang dalam pembahasan Perda tentang Penyandang Cacat. Permasalahan lain yang tak kalah memprihatinkannya adalah anak-anak yang berkonflik dengan hukum (ABH) yang akhir-akhir ini meningkat tinggi. Jika pada tahun 2006 jumlah
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

35

ABH hanya sebanyak 75 orang anak, maka pada tahun 2007 menjadi sebanyak 93 anak dan meningkat lagi pada tahun 2008 menjadi 115 anak. Kasus yang paling banyak dilakukan anak-anak adalah kasus pencurian, sedangkan kasus yang paling banyak melibatkan anak-anak terjadi pada kasus melanggar ketertiban umum (tawuran, geng motor, dsb). Presentase angka penahanan terhadap AKH pada tahun 2007 (JanuariOktober) di wilayah hukum Pengadilan Negeri Bandung mencapai 95%. Hal ini meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2006 yang mencapai 85%. Sejumlah permasalahan masih menghinggapi diantaranya adalah: 1. Kota Bandung belum memiliki LP Anak sendiri, sehingga mereka masih dititipkan di Rutan Kebonlawu Klas I Bandung. Para ABH ini hanya menempati satu blok khusus dengan kapasitas 20 – 30 orang yang harus di huni 50 hingga 70 orang anak. Rutan ini tidak hanya menampung ABH yang melakukan tindak pidana di wilayah hukum PN Bandung saja, tetapi juga titipan dari PN Bale Bandung yang mewilayahi Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat dan Kota Cimahi. 2. Dalam proses peradilan, hakim juga menemui kendala dalam pengambilan putusan berupa tindakan (pasal 24 ayat 1 huruf b dan c UU no. 3 tahun 1997 tentang Pengadilan Anak) karena LP Anak dan Panti Sosial yang dapat memberikan pendidikan, pembinaan dan latihan kerja bagi AKH belum ada di Kota Bandung, sehingga putusan pembinaan saja yang lebih banyak diterapkan. 3. ABH jarang didampingi oleh Penasihat Hukum, padahal anak berhak untuk mendapat bantuan hukum. Namun dalam masalah penanganan ABH ini, kota Bandung memiliki catatan positif, karena PN Bandung telah memiliki Ruang Sidang Ramah Anak (RSRA). Keberadaan RSRA ini sebetulnya bukan merupakan prestasi pemerintah kota Bandung karena seharusnya menurut Surat Edaran Mahkamah Agusng, RSRA ini ada di setiap pengadilan negeri. PN Bandung sendiri juga bukan organ dari pemerintah kota Bandung, karena kekuasaan kehakiman merupakan salah satu urusan yang tidak didelegasikan ke daerah dalam otonomi daerah, sehingga secara struktural masih merupakan bagian dari kementerian kehakiman. anak yang berkonflik dengan hukum,

Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

36

RSRA selain bangunan atau ruangannya terpisah dari ruang sidang biasa, dengan ukuran yang tidak terlalu luas dan didesain tidak terlalu kaku sehingga anak tidak merasa menjadi terasing. Para penegak hukum juga tidak menggunakan baju seragam penegak hukum, tetapi bebas. Hakim yang memimpin sidang pun bukan sembarang hakim, tapi hakim yang memang ditunjuk khusus untuk sidang kasus anak yang sudah mendapatkan pelatihan. Sidang kasus anak biasanya berlangsung secara tertutup untuk mengurangi beban psikologis pelaku anak. Selama persidangan juga diharapkan kehadiran orangtua pelaku, meskipun terkadang tidak bisa terpenuhi. Begitu juga lamanya persidangan juga lebih singkat, karena hakim diminta untuk mempercepat proses persidangan kasuskasus yang menjadikan anak sebagai tersangka. Namun proses yang cepat inipun juga seringkali tidak terpenuhi karena jaksa mengalami kesulitan menghadirkan saksi. 4.5. Pelayanan Dasar Bidang Infrastruktur dan Lingkungan Hidup Pelayanan dasar bidang infrastruktur, terutama yang berkaitan dengan lingkungan hidup yang dilakukan oleh pemerintah kota Bandung, meskipun tidak dalam kerangka Kota Layak Anak (KLA), namun sangat mendukung terealisasikannya keberadaan KLA terutama secara fisik. Suhu udara yang sejuk memberikan kontribusi bagi kesehatan anak. Demikian pula dengan keberadaan taman-taman atau ruang terbuka hijau menjadi wahana anak-anak untuk memanfaatkan waktu luangnya untuk bersosialisasi. Kondisi yang berlangsung saat ini di kota Bandung dalam hal ini adalah terjadinya kejar mengejar antara perkembangan kualitas lingkungan yang semakin memburuk dengan upaya-upaya pemerintah kota untuk memperlambat perkembangan negatif tersebut. Hasilnya pemerintah kota merasa kewalahan, sehingga tak mengherankan sebuah studi menyimpulkan bahwa selama setahun hanya sekitar 55 hari kota Bandung memiliki kualitas udara yang bersih. Hal ini tentu saja tidak menjadikan lingkungan yang kondusif bagi keberadaan KLA. Kota Bandung dalam perkembangannya sejak awal sudah memperhatikan pentingnya pengelolaan lingkungan hidup perkotaan. Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah bagian penting dari ekosistem perkotaan. RTH adalah ruang-ruang dalam kota atau wilayah yang lebih luas baik dalam bentuk area / kawasan maupun dalam bentuk area
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

37

memanjang/jalur di mana dalam penggunaannya lebih bersifat terbuka (tanpa bangunan). RTH meliputi taman kota, taman wisata alam, taman rekreasi, taman lingkungan perumahan dan permukiman, taman lingkungan perkantoran dan gedung komersial, taman hutan raya, hutan kota, hutan lindung, benteng alam, cagar alam, kebun raya, kebun binatang, pemakaman umum, lapangan olahraga, lapangan upacara, parkir terbuka, lahan pertanian perkotaan, jalur di bawah listrik tegangan tinggi, sempadan sungai, pantai, bangunan, median jalan, rel kereta api, pipa gas dan pedestrian, kawasan jalur hijau dan taman atap (roof garden). Predikat membanggakan yang selama ini disandang Kota Bandung adalah Paris van Java, karena kota ini dikenal memiliki desain kota yang indah dan memiliki banyak taman atau ruang terbuka hijau. Namun demikian, saat ini Kota Bandung memiliki beban berat untuk mengembalikan kebanggaan tersebut. Pada bebarapa tahun terakhir terus digalakkan optimalisasi Ruang Terbuka Hijau (RTH) dalam bentuk taman kota. Perkembangan luas RTH Kota Bandung pada tahun 2006 seluas 1.314,20 ha (7,85%) menjadi 1.466,13 ha (8,76%) di tahun 2007. Perkembangan luas RTH di Kota Bandung tampak pada tabel berikut. Tabel Perkembangan Ruang Terbuka Tahun 2006-2007 JENIS Taman Kebun bibit Pemakaman RTH Lahan Kritis Jumlah
Sumber : Dinas Pertamanan

2006 Luas 120.95 1.69 141.06 1,050.51 1,314.20

% 0.72 0.01 0.84 6.28 7.86

2007 Luas 129.45 1.69 145.50 1,189.50 1,466.13

% 0.77 0.01 0.87 7.11 8.76

Sesuai dengan RTRW Kota Bandung (Peraturan Daerah Nomor 03 tahun 2006) pada tahun 2013 Kota Bandung diharapkan memiliki luas RTH sebesar 10%, dan sesuai dengan RPJPD Kota Bandung (Peraturan Daerah Nomor 08 tahun 2008) luas RTH Kota Bandung pada tahun 2025 mencapai 30%, yang terdiri dari 20% RTH Publik dan 10% RTH Privat.

Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

38

Berdasarkan definisi ruang terbuka hijau tersebut, relatif masih ada peluang untuk mewujudkan RTH di Kota Bandung. Tidak kurang dari 16 jenis, yang menjadi potensi RTH Kota Bandung yaitu : Taman Kota, Taman Rekreasi, Taman Lingkungan Perumahan dan Pemukiman, Taman Lingkungan Perkantoran dan Gedung Komersial, Hutan Kota, Kebun Binatang, Pemakaman Umum, Lapangan Olah Raga, Lapangan Upacara, Parkir Terbuka, Lahan Pertanian Perkotaan, Jalur dibawah Tegangan Tinggi (SUTT dan SUTET), Sempadan Sungai dan Sempadan Bangunan, Jalur Pengaman Jalan, Median Jalan, Rel Kereta Api dan Pedestrian, Kawasan dan Jalur Hijau, Daerah Penyangga (Buffer Zone) Lapangan Udara Husein Sastranegara dan Taman Atap (Roof Garden). Iklim asli kota Bandung dipengaruhi oleh iklim pegunungan di sekitarnya, dengan temperatur udara rata-rata 23ºC. Namun beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan suhu, yang disebabkan polusi dan meningkatnya suhu global. Temperatur maksimum di kota Bandung pada tahun 2008 mencapai 30.7ºC. Hal ini mengindikasikan bahwa sebenarnya terdapat kenaikan temperatur di Kota Bandung. Semakin sedikitnya Ruang Terbuka Hijau (RTH), serta meningkatnya pencemaran udara berkontribusi dalam meningkatkan iklim mikro di Kota Bandung. Berikut adalah temperatur rata-rata kota Bandung delapan tahun terakhir. Temperatur Rata-rata di Kota Bandung Tahun 2000 – 2008 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Temperatur (⁰C) Rata-rata Maksimum Minimum 23,1 28,6 19,2 23,1 28,3 19,6 23,6 29,3 19,4 23,6 29,2 18,8 23,5 29,3 19,0 23,4 28,7 19,8 23,5 28,7 19,8 23,5 28,9 19,4 23,1 28,6 19,4

Sumber: BMG Tahun 2008

Pelaksanaan program Langit Biru di Kota Bandung yang bertujuan untuk mengurangi pencemaran udara sudah berjalan sekitar 10 tahun, namun hasil pengukuran kualitas udara ambien (SO2 , CO, NO x, O3 , HC, Pb dan debu) di beberapa tempat menunjukkan masih terdapat parameter yang mendekati dan bahkan melebihi
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

39

Baku Mutu (BM). Dari 15 tempat yang dipantau oleh Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bandung Tahun 2004-2008, kualitas udara yang melebihi di atas ambang batas adalah di terminal Cicaheum, Ledeng, Leuwipanjang dan pada beberapa jalan utama seperti Jalan Diponegoro, Soekarno-Hatta, Wastukancana, Ahmad Yani, Buahbatu dan Jalan Siliwangi, terutama dilihat dari kadar HC, debu dan Pb. Khusus untuk HC di semua lokasi melebihi baku mutu, hal ini nampaknya terkait dengan pertumbuhan kendaraan yang pesat. Jumlah pertumbuhan kendaraan di Kota Bandung berdasarkan hasil penelitian Japan International (JICA) tahun 1997, mencapai 12 % pertahun. Berdasarkan Data Dinas Perhubungan pada tahun 2001 total kendaraan bermotor 501.885 unit, tahun 2007 meningkat menjadi 839.278 unit. Peningkatan terbesar terjadi pada sepeda motor dari 283.936 unit pada tahun 2001 menjadi 594.362 unit pada tahun 2007. Meningkatnya pencemaran udara di Kota Bandung juga dipicu adanya kemudahan akses memasuki Kota Bandung, khususnya dari Jakarta. Hasil penelitian Departemen Teknik Lingkungan ITB Desember 2006, menunjukkan bahwa keberadaan tol Cipularang telah berimplikasi terhadap kualitas udara. Di titik masuk Kota Bandung seperti gerbang tol Pasteur dan jembatan Cikapayang, kandungan CO rata-rata pada hari Jumat dan Sabtu meningkat sekitar 38% (di hari normal sekitar 1800 menjadi 2.500 kg/hari pada Jumat dan Sabtu), sedangkan NO x meningkat 59% dan HC meningkat 50 %. Meningkatnya pencemaran udara di Kota Bandung juga dipengaruhi oleh tidak terawatnya mesin kendaraan. Data BPLH Kota Bandung, menunjukan bahwa berdasarkan hasil uji emisi gas buang kendaraan bermotor Tahun 2002-2007, lebih dari 60% kendaraan berbahan bakar solar tidak memenuhi baku mutu emisi, sementara untuk yang berbahan bakar bensin berfluktuasi dari sekitar 10 % hingga 52%. Sementara yang paling besar. Perkembangan kualitas lingkungan hidup di kota Bandung seperti diuraikan di muka menjadi tantangan tersendiri bagi keberadaan KLA, khususnya dilihat dari indikator lingkungan hidup Dinas Perhubungan Kota Bandung mengemukakan bahwa angkutan kota adalah penyumbang polusi udara

Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

40

4.6. Pelayanan di Bidang Budaya dan Pariwisata Salah satu predikat yang disandang Kota Bandung adalah Kota Seni dan Kota Pariwisata, karena berkembangnya kesenian tradisional dan modern dan tersedianya tempat-tempat pariwisata, baik itu wisata alam, wisata pendidikan, wisata belanja dan wisata kuliner. Selain itu juga terlihat dari meningkatnya secara pesat kunjungan wisatawan ke kota Bandung. Dari sisi kesejahteraan dan perlindungan anak, pemenuhan hak dan kebutuhan anak untuk berkesenian selain untuk mengembangkan bakat di bidang seni juga mengasah kepekaan emosional anak yang berguna bagi perkembangan kepribadiannya. Selain itu tersedianya obyek pariwisata juga merupakan pemenuhan anak untuk memanfaatkan waktu luang dan rekreasi. Sejumlah fasilitas publik di bidang budaya dan pariwisata telah tersedia sejak lama di kota Bandung, yakni lapangan terbuka yang menjadi pilihan untuk kegiatan seni skala besar, misalnya Lapangan Gazibu dan Tegallega. Selain itu juga terdapat sejumlah gedung-gedung seni yang dapat dimanfaatkan, baik milik pemerintah maupun swasta. Galeri-galeri seni pribadi juga banyak terdapat di Kota Bandung. Sarana seni di Kota Bandung di antaranya adalah museum (6 unit), gedung pertunjukan (12 unit), galeri (28 unit), gedung bersejarah (637 unit). Sarana olahraga di Kota Bandung terdiri dari lapangan indoor dan outdoor, yaitu kolam renang (13 unit), pusat bilyar (49 unit), bowling (4 unit), stadion (6 unit), pusat kebugaran (9 unit) dan lapangan golf serta lapangan umum yang dapat digunakan oleh masyarakat. Sedangkan sarana pariwisata dan rekreasi di Kota Bandung ragamnya sangat besar, baik obyek wisata alam, sejarah, buatan, modern, basis kreatifitas dan lain sebagainya. Seluruh obyek dan sarana tersebut sebaiknya menjadi paket wisata menarik yang dan menjadi obyek yang utuh, sehingga setiap sisi Bandung dapat menjadi obyek wisata yang menarik. Perkembangan pariwisata Kota Bandung didukung keberadaan hotel (170 unit), restoran (123 unit), rumah makan (440 unit), biro perjalanan wisata (116 unit), agen wisata (12 unit), penyelenggara wisata (4 unit), lembaga pendidikan wisata (16 unit), hiburan lingkung seni dan budaya (367 unit), galeri (25 unit) dan bioskop (9 unit).

Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

41

BAB

5

GAMBARAN PEMENUHAN INDIKATOR KHUSUS DAN ELEMEN PENDUKUNG KLA

Pada bab V ini akan diuraikan tentang dua hal utama yakni gambaran tentang indikator khusus serta gambara tentang delapan (8) elemen pendukung Kota Layak Anak. Kedua hal tersebut dalam penggambarannya banyak yang memiliki data dan informasi yang kurang lebih sama, sehingga tidak bisa dihindari munculnya kesan pengulangan uraian. Selain itu, terdapat perubahan asumsi yang digunakan dalam penelitian atau kajian Kota Layak Anak (KLA) ini, yakni asumsi tentang kebijakan KLA ini dimana awalnya diasumsikan bahwa kebijakan KLA merupakan kebijakan yang spesifik, yang bersifat lintas sektoral dan harus dijadikan acuan bagi setiap instansi atau SKPD terkait dalam mengembangkan kebijakan dan program-programnya. Dalam kenyataannya, asumsi tersebut tidak tepat karena yang terjadi adalah implementasi tentang apapun kebijakan dan program di masing-masing SKPD terkait yang mempunyai kaitan dengan masalah kesejahteraan dan perlindungan anak. Terlebih lagi, penetapan kota Bandung sebagai kota yang menuju Kota Layak Anak dilakukan secara mandiri dalam arti tidak melalui proses dan tahapan pengembangan seperti yang terjadi pada kota-kota lain yang diinisiasi, diadvokasi dan difasilitasi oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP dan PA). Predikat Kota Layak Anak kepada kota Bandung diberikan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2006 dengan sejumlah pertimbangan yang kemudian diapresiasi oleh KPP dan PA sebagai model KLA Mandiri, yang bisa menjadi alternative bagi kota dan kabupaten lain yang tertarik untuk mencanangkan diri sebagai KLA yang mandiri. 5.1. Gambaran Indikator Khusus Gambaran tentang indikator khusus ini mencakup Pembuatan Kebijakan dan Promosi Pelaksanaan Kebijakan, di mana akan digali mengenai bagaimana proses pembuatan kebijakan KLA di kota Bandung, serta bagaimana upaya promosi pelaksanaan kebijakan tersebut. Dalam rangka pemenuhan indikator khusus ini, selain upaya pembuatan kebijakan dan promosi pelaksanaan kebijakannya, juga masih terdapat beberapa upaya
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

42

lain, yakni fasilitasi, advokasi, sosialisasi, bimbingan teknis, komunikasi informasi dan edukasi (KIE), penggalangan sumberdaya pembangunan, penelitian dan pengembangan, pengembangan model/pilot project dan pelatihan hak anak. Upaya-upaya tersebut mengacu pada standar pengembangan KLA yang dikeluarkan oleh KPP dan PA. Standar dari KPP dan PA ini hanya menjadi referensi saja mengingat proses pengembangan KLA di kota Bandung tidak mengikuti standar tersebut. Penetapan Bandung sebagai KLA, seperti telah diuraikan, secara formal merupakan penghargaan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2006, yang kemudian diapresiasi oleh KPP dan PA sebagi model pengambangan KLA secara mandiri. Namun demikian sebelum itu, pemerintah kota Bandung sendiri beserta para pemangku kepentingan di bidang telah lebih dulu menggagas konsep Kota Ramah Anak. Pada tahun 2004, LPA Jabar melakukan sosialisasi tentang Kota Ramah Anak yang dihadiri oleh walikota serta berbagai unsur dinas instansi maupun dari tokoh masyarakat. Acara seminar Kota Ramah Anak itu sendiri sebenarnya inisiatif dari salah seorang pengurus LPA Jabar, yakni Prof. Sambas yang pada tahun 2002 mengikuti Worls Summit for Children di New York, yang melahirkan gagasan World Fit for Children (Dunia yang Layak bagi Anak). Gagasan tersebut selain telah dijadikan referensi utama bagi perumusan Program Nasional Bagi Anak Indonesia (PNBAI), oleh Prof. Sambas juga ditawarkan kepada walikota Bandung untuk diaplikasikan di Jawa Barat atau Bandung pada tahun 2004 dan disambut positif melalui penyelenggaraan seminar Kota Ramah Anak. Menurut Prof. Sambas, setelah seminar tersebut juga pernah beberapa kali dilakukan sosialisasi tentang Kota Ramah Anak (KRA). Namun demikian, setelah itu tidak ada langkah konkrit dari pihak walikota meski sudah didesak LPA beberapa kali. Ketika komitmen tentang KRA tidak ditindaklanjuti, Pemerintah kota Bandung malah tertarik untuk merespons keinginan KPAI untuk membentuk KPAID di tingkat provinsi dan kota/kabupaten, sehingga pada tahun 2005 pemerintah kota Bandung mempersiapkan pembentukan KPAID melalui panitia seleksi calon anggota KPAID Kota Bandung, yang kemudian baru dilantik pada tahun 2006. Mendahului pembentukan KPAID, pemerintah kota Bandung juga membentuk Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Annak (P2TP2A). Dua upaya terakhir inilah yang terutama mendorong KPAI memberikan penghargaan Kota Layak Anak kepada kota Bandung.
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

43

Penghargaan sebagai KLA tidak lantas membuat pemerintah kota Bandung membuat suatu kebijakan khusus tentang KLA di Bandung, seperti Keputusan Walikota Tentang Pembentukan Gugus Tugas KLA seperti yang terjadi di kota dan kabupaten lain. Begitu juga dalam aspek promosi pelaksanaan kebijakan, mengingat tidak adanya kebijakan spesifik tentang KLA maka sosialisasi tentang KLA pun juga tidak dilakukan. Namun menurut pihak BPPKB, kegiatan-kegiatan di bidang anak senantiasa diarahkan bahwa kegiatan tersebut berkaitan dengan KLA. 5.2. Gambaran 8 Elemen Lingkungan yang Kondusif bagi KLA 5.2.1. Komitmen Pemerintah Jika melihat visi misi, rencana strategis serta program pokoknya, sangat terlihat bahwa Pemerintah kota Bandung pada dasarnya memiliki komitmen yang tinggi dalam urusan kesejahteraan dan perlindungan anak. Komitmen tersebut meski tidak secara spesifik terbungkus dalam konteks kebijakan kota layak anak, tetapi mempunyai sumbangsih yang sangat besar dalam pemenuhan hak anak terutama dalam bidang pendidikan dan kesehatan. Komitmen pemerintah kota Bandung terhadap permasalahan kesejahteraan dan perlindungan anak terutama terlihat dalam bidang pendidikan dan kesehatan. Selain terlihat dari program-program yang terdapat dalam SKPD Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan, komitmen itu juga terlihat dalam program bantuan walikota khusus (bawaku), yang meliputi sejumlah sektor, termasuk di antaranya sektor pendidikan, dengan nama bawaku cerdas dan sektor kesehatan dengan nama bawaku sehat. Secara tidak langsung juga terdapat bawaku makmur untuk sektor ekonomi yang ditujukan bagi warga miskin. Di bidang pendidikan, komitmen pemerintah kota Bandung yang kuat juga tercermin dalam alokasi anggaran pendidikan yang cukup besar. Pada tahun 2009 pemkot mengeluarkan kebijakan untuk membebaskan pendidikan SD - SMU, tidak terkecuali sekolah swasta. Alokasi anggaran untuk bidang pendidikan sendiri tahun 2009 telah mencapai 52% (Rp 1,1 trilyun) dari APBD, yang sebesar Rp 2,1 trilyun lebih. Namun diakui bahwa persentase untuk sektor pendidikannya sendiri hanya sekitar 15% dari
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

44

APBD. Selebihnya, lebih banyak dihabiskan untuk pembayaran gaji tenaga kependidikan dan PNS pendukungnya. Komitmen lain yang ditunjukkan Pemkot Bandung adalah dengan meningkatkan derajat kelembagaan SKPD yang mengurusi bidang perlindungan anak, meski belum optimal. Sebelumnya urusan anak secara spesifik ditangani oleh Bagian Pemberdayaan Perempuan, namun sekarang sudah ditangani Badan Pemberdayan Perempuan dan Keluarga Berencana. Meskipun demikian untuk program dan kegiatan di bidang perlindungan anak belum bisa berdiri sendiri, melainkan masih menempel pada bidang pemberdayaan perempuan dan bidang keluarga berencana, karena di kedua bidang tersebut juga terdapat kelompok sasaran anak-anaknya. Dengan kondisi yang seperti, komitmen yang tinggi lebih ditunjukkan oleh para pejabat di BPPKB sendiri, bagaimana agar urusan perlindungan anak tetap bisa dikelola dengan baik, meskipun tidak ada pos anggaran khusus untuk bidang perlindungan anak. Alokasi anggaran untuk BPPKB sendiri sangat kecil, hanya sekitar 1 – 2% dari APBD. 5.2.2. Kebijakan/Legislasi Dari sisi kebijakan atau peraturan di tingkat kota Bandung, seperti sudah disinggung, belum ada kebijakan atau peraturan khusus tentang KLA, mengingat memang belum ada tindak lanjut dari pemerintah kota Bandung pasca pemberian penghargaan sebagai kota layak anak. Namun demikian, pasca pemberian penghargaan tersebut sudah ada Kebijakan tersebut tertuang dalam Perda No. 7/2008 kebijakan baru berupa peraturan daerah yang dibuat yang mempunyai dampak mendasar pada hak anak. tentang Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan yang menggratiskan biaya pengurusan surat administrasi kependudukan, seperti KTP, akta kelahiran dan akta kematian. Dengan penggratisan akta kelahiran, pemenuhan hak sipil anak berupa identitas dan kewarganeraan semakin mudah dipenuhi. Kendala yang masih dihadapi adalah penerapan kebijakan tersebut masih harus menunggu keluarnya Perda Retribusi yang baru, karena selama ini biaya pengurusan akta kependudukan diatur secara khusus dalam Perda Retribusi. Dengan demikian penggratisan biaya pengurusan akta kelahiran yang dilakukan selama ini masih bersifat terbatas dan lebih merupakan kebijaksanaan yang dikeluarkan pada momen-momen tertentu, seperti dalam rangka menyambut peringatan Hari Anak Nasional.
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

45

Setelah dikeluarkannya Perda No. 7/2008, Pemkot Bandung sendiri sudah mempunyai rencana untuk membuat Perda tentang Perlindungan Anak, yang diharapkan sudah bisa mulai diproses tahun 2010. Dalam Raperda Perlindungan Anak tersebut, direncanakan materi atau pasal tentang Kota Layak Anak akan dimasukkan. Keberadaan Gugus Tugas KLA kemungkinan juga akan diintegrasikan ke dalam Gugus Tugas Perlindungan Anak. 5.2.3. Sikap Pemangku Kepentingan Berdasarkan pengalaman, setiap kebijakan dan program di bidang kesejahteraan dan perlindungan anak di Bandung senantiasa mendapatkan dukungan dari berbagai pihak pemangku kepentingan. Dukungan tersebut bukan hanya dalam bentuk persetujuan akan tetapi juga kritik dan masukan kritis terhadap program yang dilaksanakan agar tidak terjadi penyimpangan. Dukungan sebetulnya sudah terlihat pada saat pertama kali pemerintah kota menyelenggarakan Seminar Kota Ramah Anak tahun 2004. Bahkan salah seorang penggagas tersebut, yakni Prof. Sambas dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Barat, ikut terlibat dalam perumusan konsep Kota Layak Anak. Dukungan serupa juga terlihat dari hasil focus group discussion (FGD). Para peserta FGD, yakni para pemangku kepentingan yang terdiri dari perwakilan tokoh agama dan masyarakat, KPAID, kalangan pendidikan dan lembaga swadaya masyarat siap mendukung kebijakan dan program KLA dari pemerintah kota Bandung. Salah satu dukungan tersebut seperti yang diungkapkan berikut. ....saya sangat setuju kalau Bandung nanti layak anak. Saya setuju.., saya ingin sebagai warga Bandung mencapai seperti itu, hanya mungkin tidak bisa hanya ngobrol saja.... perlu adanya satu kebersamaan antara pamerintah dengan masyarakat atau pemerintah dengan lembaga-lembaga yang ada, yang sebenarnya mitra pemerintah adalah masyarakat yang komit terhadap rencana pemerintah itu, ya kan?...... Mereka juga berharap dan mendukung adanya payung hukum bagi kota layak anak di Bandung. Mereka juga berharap masyarakat diajak dalam pembuatan payung hukum tersebut maupun pada saat pelaksanaannya nanti.
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

46

5.2.4. Wacana Publik Sosialisasi tentang KLA yang dilakukan pemerintah kota Bandung masih sangat terbatas, belum banyak masyarakat yang mengetahui apa itu Kota Layak Anak. Bahkan di tingkat aparat SKPD sendiri masih banyak yang belum pernah mendengar tentang KLA. Kenyataan yang sama juga terjadi di masyarakat serta di kelompok anak-anak sendiri. Meskipun demikian, ketika dilacak dari media, pernah ada satu artikel tentang Bandung dan Kota Ramah Anak. Masih terbatasnya pemahaman masyarakat tentang KLA tentu saja tidak mendukung bagi munculnya wacana publik tentang KLA yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan diskusi atau mengkritisi terhadap berbagai upaya yang dilakukan dalam rangka pengembangan Bandung sebagai KLA. Media massa belum tergerak untuk mengangkat isu KLA di hadapan pembacanya, tetapi hanya sekedar memberitakan kegiatan sosialisasi atau acara pemberian penghargaan kepada kota Bandung sebagai KLA. 5.2.5. Wadah Partisipasi Anak Partisipasi anak dalam arti memberi ruang bagi anak untuk menyampaikan pendapatnya dan atau terlibat dalam suatu kegiatan bukan barang baru di Bandung. Secara kelembagaan beberapa tahun sebelumnya di Bandung sudah berdiri wadah partisipasi anak yang bernama Forum Anak Daerah (FAD) Jawa Barat yang bertempat di Bandung. Di tingkat kota Bandung sendiri juga sudah dibentuk Forum Komunikasi Anak Bandung (FOKAB). Di kedua lembaga ini anak-anak sudah dibiasakan menyampaikan aspirasinya, terutama ketika memperingati Hari Anak Nasional maupun dalam berbagai pertemuan yang mengundang mereka. Namun demikian, keberadaan FAD dan FOKAB ternyata belum banyak diketahui oleh para anak-anak itu sendiri. Jauh sebelumnya juga sudah ada organisasi di tingkat anak dan remaja seperti OSIS di sekolah dan Karang Taruna (KT) di masyarakat, meskipun sebagian anggota KT sudah bukan anak-anak lagi. Meskipun secara kelembagaan sudah ada wadah partisipasi anak, namun pelibatan mereka dalam pengambilan keputusan atau kebijakan masih sangat terbatas dan belum melembaga dengan baik. Untuk menggali pandangan anak, pemerintah kota pernah mengundang perwakilan dari OSIS dalam pertemuan Musyawarah Perencanaan

Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

47

Pembangunan (Musrenbang). Selain itu ketika hendak menyusun Perda tentang Penyandang Cacat, pemerintah kota juga mengundang anak-anak penyandang cacat. 5.2.6. Kesadaran dan Sikap Masyarakat Meskipun tidak secara eksplisit ditujukan terhadap kebijakan dan program Kota Layak Anak, masyarakat secara diam-diam mengamati berbagai perubahan yang terjadi di masyarakat yang dampaknya dirasakan anak-anak dan mereka menunjukkan kerisauannya namun tidak bisa berbuat banyak. Setelah memperoleh gambaran tentang KLA mereka pun berharap agar kerisauannya tersebut memperoleh tanggapan. Beberapa orang peserta FGD dari Kelompok Orang Dewasa mengamati adanya kondisi di lapangan yang tidak hanya mengganggu kesehatan anak, tetapi mengganggu aspek sosial, mental dan moral anak. Seperti yang dialami setiap hari di jalanan dimana kendaraan umum menyebabkan polusi yang mengganggu kesehatan anak. Mereka juga melihat gorong-gorong jalan yang terbuka yang bisa membahayakan anak pejalan kaki. Jalur khusus bagi anak yang naik sepeda, sehingga keselamatan anak juga terganggu. Dari sisi ketersediaan dan pemanfaatan lahan terbuka, mereka juga merasakan bagaimana anak-anak sekarang semakin terbatas ruang bermainnya karena lahan-lahan terbuka yang dulu bisa digunakan anak untuk bermain sekarang sudah dipakai untuk bangunan gedung. Dari sisi keindahan kota, mereka juga merasa terganggu dengan billboard yang gambarnya belum layak dikonsumsi oleh anak, sehingga mental dan moral anak pun bisa terganggu. Kondisi-kondisi di lapangan tersebut merupakan kondisi yang kurang kondusif bagi keberadaan kota layak anak dan berharap hal itu bisa diperhatikan. Salah seorang peserta FGD juga menyatakan kegembiraannya terhadap apa yang dilakukan oleh walikota dengan mengembalikan fungsi-fungsi taman yang selama ini berubah peruntukannya. Terhadap kebijakan dan program Kota Layak Anak di kota Bandung, masyarakat mendukung sepenuhnya. Dengan menjadikan Bandung sebagai kota layak anak, masyarakat berharap agar kasus-kasus atau masalah-masalah anak, seperti anak jalanan, putus sekolah, kenakalan remaja maupun masalah lingkungan dan infrastruktur
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

48

kota dan lain-lain bisa diatasi dengan baik. Mereka juga siap untuk dilibatkan dalam implementasi kebijakan KLA di lapangan. 5.2.7. Pelayanan Dasar dan Rehabilitasi Program-program pelayanan dasar yang disediakan pemerintah kota Bandung pada umumnya mudah diakses. Di samping karena kota Bandung sudah merupakan kota besar yang sudah sangat mudah akses komunikasi dan transportasinya serta lengkap fasilitas dasarnya juga karena komitmen dan dukungan anggaran yang disediakan pemerintah kota. Program pelayanan dasar dan rehabilitas ini selain dibiayai melalui anggaran sektoral kepada instansi atau SKPD terkait, juga melalui dana hibah walikota melalui program bawaku (bantuan walikota khusus). Dalam bidang pendidikan terdapat program wajib belajar sembilan tahun dan pendidikan gratis hingga SMA. Kepada anak-anak putus sekolah juga terdapat program Kelompok Belajar Paket A-C yang bebas biaya juga. Dengan program Bawaku Cerdas, anak-anak yang mengalami permasalahan dalam pendidikan bisa memperoleh bantuan. Kerusakan bangunan sekolah juga bisa dibantu perbaikannya. Sedangkan di bidang kesehatan, pelayanan posyandu dan puskesmas juga menjangkau setiap kelurahan dan sistem rujukan perawatan ke rumah sakit yang lebih lengkap fasilitasnya bagi warga kurang mampu juga sudah dibangun dan diterapkan. Berbagai fasilitas kesehatan (RS, RSB, RSIA, Klinik, Balai Pengobatan) dan tenaga kesehatan (dokter dan bidan praktek swasta) juga mudah ditemui. Bagi keluarga kurang mampu juga sudah disediakan program Jamkesmas dan Bawaku Sehat. Namun demikian, pelayanan dasar melalui program bawaku ini hanyalah ditujukan bagi warga kota Bandung, sehingga anak jalanan atau gepeng (gelandangan dan pengemis) yang pada umumnya tidak memiliki KTP Bandung dan berasal dari luar daerah mengalami kesulitan untuk bisa mengakses program bawaku ini. Pelayanan dasar lainnya, adalah penggratisan layanan pengurusan akta kelahiran yang awalnya hanya diberikan pada momen-momen tertentu, seperti HAN atau Hari Ulang Tahun Kota Bandung, pada tahun 2009 ini sudah dibuatkan dasar hukumnya, meskipun masih harus menunggu perubahan Perda tentang Retribusi yang masih membolehkan penarikan retribusi bagi pengurusan akta catatan sipil.
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

49

Untuk anak-anak yang mengalami kasus-kasus kekerasan, di Bandung juga telah dibentuk Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) yang sudah berjalan. Untuk anak-anak yang berhadapan dengan hukum, pengadilan negeri Bandung juga sudah menerapkan system restorative justice untuk kasus-kasus pidana ringan serta fasilitas pengadilan ramah anak. Namun demikian untuk anak-anak yang menjalani hukuman pidana juga belum disediakan Lapas Khusus Anak, sehingga penahanan mereka masih disatukan dengan narapidana dewasa, meskipun berada dalam blok yang terpisah. 5.2.8. Monitoring dan Pelaporan Jika diartikan secara spesifik yang dikaitkan langsung dengan tahapan pelaksanaan kebijakan KLA, maka monitoring dan pelaporan tentang kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam rangka pengembangan KLA di kota Bandung, belum bisa terlaksana.. Hal ini mengingat belum adanya upaya khusus pasca pencangan Bandung sebagai kota yang menuju KLA. Akan tetapi secara umum, pemerintah kota Bandung setiap tahun menyusun Rencana Pembangunan Jangka Pendek Daerah (RPJPD) yang jangka waktunya satu tahun. Jika disimak dalam RPJPD Kota Bandung ini fungsi monitoring dan pelaporan untuk setiap sektor dijalankan, tidak terbatas pada sektor yang berkaitan dengan masalah anak. Sebelum disusun rencana program dan kegiatan tahun berikutnya dari setiap bidang atau sektor, terlebih dahulu dilakukan review terhadap apa yang sudah dilakukan pada tahun sebelumnya. 5.3. Gambaran Mengenai Persepsi Masyarakat dan Anak tentang Kebijakan KLA Menengok hasil yang diperoleh dari focused group discussion (FGD) baik yang dilakukan terhadap kelompok masyarakat maupun kelompok anak, pemahaman tentang Bandung sebagai kota yang menuju Kota Layak Anak masih sangat terbatas. Hasil dari angket yang disebarkan kepada sekitar 150 anak SMP dan SMA di kota Bandung juga menunjukkan fakta yang sama. Sebagian besar (76%) belum pernah mendengar tentang Kota Layak Anak (KLA). Jika ada anak yang pernah mendengar tentang KLA, hal itu karena mereka pernah diundang pemerintah kota dalam acara pemberian penghargaan Bandung sebagai kota yang menuju kota layak anak. Pemahaman yang sebenarnya
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

50

tentang apa itu kota layak anak belum dimiliki, baik di tingkat masyarakat maupun di tingkat kelompok anak. Keterbatasan pemahaman tersebut tak bisa dilepaskan dari masih terbatasnya sosialisasi KLA. Sosialisasi dari instansi atau SKPD yang membidangi urusan anak, yakni BPPKB. Pihak BPPKB sendiri memang tidak memprogramkan secara khusus sosialisasi tentang KLA karena bidang perlindungan anak di BPPKB juga belum menjadi bidang yang terpisah, tapi terutama masih menempel pada bidang pemberdayaan perempuan. Dengan masih terbatasnya sosialisasi KLA, persepsi yang dimiliki publik (orang dewasa dan kelompok anak) tentang kebijakan kota layak anak sendiri masih didasarkan pada pengamatan terhadap kondisi fasilitas publik yang bersifat fisik dan mudah dilihat mata. Mereka menyaksikan bagaimana kondisi fasilitas pelayanan publik, seperti bis-bis kota yang banyak mengeluarkan asap, tidak adanya jalur khusus untuk sepeda bagi anak, gorong-gorong jalan yang membahayakan anak, terbatasnya lapangan bermain atau olah raga di sekolah serta gambar yang terpajang di billboard yang dianggap kurang mendidik. Selain itu mereka juga mengamati perubahan peruntukan lahan yang semakin membatasi ruang terbuka untuk anak-anak bermain akibat dipakai untuk bangunan gedung. Pada umumnya yang lebih mudah dilihat adalah perkembangan yang negatif yang menimpa anak-anak. Akan tetapi ada pula yang juga melihat perkembangan positif, seperti yang diungkapkan salah seorang peserta FGD orang dewasa, seperti berikut. .....tapi alhamdulillah sekarang dengan kepemimpinan walikota sekarang ini sudah ada komitmen, terjadi perubahan paradigma dan sekarang sudah mengubah, menata kembalai lahan-lahan yang sudah bergeser. Pom bensin, taman-taman ini dikembalikan ke posisi semula, hanya barangkali belum seoptimal. Nah ini tentu partisipasi dari semua,....... Dari sudut pandang kelompok anak sendiri, kebijakan pemkot yang terkait dengan KLA sendiri lebih dilihat dari bagaimana nasib anak-anak yang ada di kota Bandung. Menurut mereka, selama anak-anak Bandung belum merasa bahagia dan dibatasi kreativitasnya maka kota Bandung belum bisa disebut sebagai kota layak anak, seperti yang diungkapkan salah seorang anak peserta FGD berikut:
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

51

…….kalo misalnya disebut kota layak anak, mestinya anak2 di kota bandung udah bahagia pak. Udah tiap hari gimana gitu, istilahnya anak-anak tuh apalagi kita sebagai remaja, mereka lebih banyak ingin berkreativitas tapi mereka dibatasi untuk berkreativitas itu. Pasti anak-anak kan kalau ikut kegiatan ini seru nih tapi ga di izinin ga dibolehin atau gimana…. Keberadaan anak jalanan dan pengemis juga menunjukkan bahwa kota Bandung belum menjadi KLA. Begitu juga dengan belum adanya fasilitas khusus buat anak penyandang cacat atau difable di tempat-tempat umum, seperti yang dinyatakan seorang anak berikut. diskriminasi buat difable juga kan masih, selain aksesnya sedikit di Bandung juga masih banyak yang mencibir....

Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

52

BAB

6 ANALISA DATA
6.1. Pengantar Menurut Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan No. 2 Tahun 2009 tentang Kebijakan Kota Layak (KLA), tujuan Kebijakan Kota Layak Anak adalah untuk : 1. meningkatkan komitmen pemerintah, masyarakat dan dunia usaha di kabupaten/kota dalam upaya mewujudkan pembangunan yang peduli terhadap anak, kebutuhan dan kepentingan terbaik bagi anak 2. mengintegrasikan potensi sumber daya manusia, keuangan, sarana, prasarana, metoda dan teknologi yang pada pemerintah, masyarakat serta dunia usaha di kabupaten/kota dalam mewujudkan hak anak; 3. mengimplementasi kebijakan perlindungan anak melalui perumusan strategi dan perencanaan pembangunan kabupaten/kota secara menyeluruh dan berkelanjutan sesuai dengan indikator KLA; dan 4. memperkuat peran dan kapasitas pemerintah kabupaten/kota dalam mewujudkan pembangunan di bidang perlindungan anak. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut perlu digali faktor-faktor apa yang menjadi pendukung sehingga perlu dikembangkan dan faktor-faktor penghambat apa yang perlu diwaspadai. Selain itu kebijakan dan program KLA itu sendiri juga harus mampu mengidentifikasi faktor-faktor yang mampu menjamin keberlanjutan status sebagai kota layak anak. Untuk menggali berbagai faktor tersebut dilakukan analisis SWOT dan Keberlanjutan. 6.2. Analisis SWOT dan Keberlanjutan Analisis SWOT terdiri dari 4 pisau analisis, yakni kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman. Kekuatan merupakan faktor yang bersifat positif yang berasal dari dalam pemilik kebijakan, yakni pemerintah kota Bandung. Sebaliknya, kelemahan merupakan faktor yang bersifat negatif yang berasal dari dalam pemerintah kota Bandung. Sedangkan peluang dan ancaman sama-sama berasal dari luar pemerintah kota Bandung, dimana peluang merupakan faktor yang bersifat positif sementara ancaman merupakan faktor yang bersifat negatif.
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

53

Kekuatan : Kekuatan yang dimiliki oleh kota Bandung terutama adalah sebagai berikut : 1. Bandung memiliki sejarah yang sangat panjang dan maju dalam pengembangan kota modern. Hal ini tentu saja merupakan bekal positif yang tidak banyak dimiliki oleh kota lain, dalam mengembangkan kebijakan kota layak anak, khususnya ditinjau dari segi tata ruang dan penyediaan infrastruktur kota. Kondisi tersebut juga didukung oleh keberadaan kalangan akademisi yang berasal dari perguruan tinggi teknik terkenal di kota Bandung yang juga mempunyai kepedulian terhadap lingkungan fisik perkotaan. Kekuatan ini tentu saja tidak menafikan kemungkinan adanya penyimpangan-penyimpangan yang bisa terjadi. 2. Penghargaan sebagai kota yang menuju kota layak anak dari KPAI merupakan pengakuan obyektif dari pihak luar terhadap apa yang sudah dilakukan oleh pemerintah kota di bidang kesejahteraan dan perlindungan anak. Penghargaan dari sebuah lembaga negara ini merupakan pertimbangan yang cukup kuat bagi pemerintah kota untuk mengembangkan lebih lanjut kebijakan dan program KLA dan meminta dukungan dari pihak legislatif. 3. Pemerintah kota Bandung memiliki walikota yang visioner, dengan konsep Bandung Cerdas, Bandung Sehat, Bandung kota Seni dan Budaya, dll.. Pemimpin yang visioner, apalagi visinya tersebut relevan dengan kesejahteraan dan perlindungan anak, sangat dibutuhkan dalam pengembangan kota layak anak. Dari sisi komunikasi massa, konsep yang berisi namun singkat padat dan mudah diingat, bisa menggugah masyarakat untuk mendukungnya. 4. Kualitas sumber daya manusia (SDM) yang memadai, baik dari kalangan birokrasi, akademisi dan masyarakat aktivis peduli anak merupakan kekuatan sinergis yang dibutuhkan dalam pengembangan kota layak anak. Upaya-upaya pemerintah yang ditujukan bagi kesejahteraan dan perlindungan anak akan dikembangkan secara lebih matang, yang akan diimbangi oleh sikap kritis dari kalangan akademisi maupun baik daro konseptualnya maupun dari sisi implementasinya. Interaksi seperti ini akan menghasilkan perbaikan-perbaikan terhadap upaya yang telah dilakukan. 5. Keberadaan wadah partisipasi anak seperti Forum Anak Daerah (FAD) Jabar maupun Forum Komunikasi Anak Bandung (FOKAB) dan kesediaan dari pemerintah kota untuk menggali pandangan dari kelompok anak, meskipun belum optimal merupakan kondisi yang kondusif bagi pengembangan kota layak anak, bahkan dalam jangka
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

54

panjang akan sangat dibutuhkan. selain itu indikator partisipasi anak ini sangat penting dalam KLA karena anak sangat menentukan dalam menentukan seperti apa kota hendak dibangun, 6. Tersedianya fasilitas pelayanan dasar dan rehabilitasi yang memadai dan bisa diakses dengan mudah oleh masyarakat, baik itu di bidang pendidikan, kesehatan, perlindungan serta infrastruktur kota, sehingga setiap anak bisa memanfaatkannya. 7. Keberadaan Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kota Bandung yang dibentuk oleh pemerintah kota, serta LPA Jabar, meski senantiasa bermitra dengan pemerintah kota namun mereka tak kehilangan daya kritisnya dalam merespon apa yang sudah dilakukan oleh pemerintah kota terhadap kelompok anak. 8. Terdapat komitmen yang kuat dari pejabat di BKBPP, meskipun bidang anak masih melekat pada bidang pemberdayaan perempuan dan secara eselon birokrasi pengaruhnya terbatas, namun sudah berhasil mengadvokasi kebijakan KLA. Kelemahan : Kelemahan yang masih terdapat dalam pengembangan Bandung sebagai kota yang menuju KLA adalah sebagai berikut : 1. Meskipun pernah menginisiasi Kota Ramah Anak dan beberapa tahun kemudian memperoleh penghargaan sebagai Kota Layak Anak, namun secara konkrit pemerintah kota belum memiliki kebijakan spesifik tentang KLA. Hal ini untuk jangka pendek menjadi menjadi masih kendala sangat untuk melakukan sehingga upaya-upaya tidak dalam banyak rangka yang pengembangan kota layak anak. Sebagai salah satu akibatnya adalah sosialisasi KLA lemah, masyarakat memahaminya. Keterbatasan ini juga berimbas pada lemahnya wacana publik tentang KLA, sehingga masih sulit untuk mendapatkan dukungan publik dalam pengembangan KLA. 2. Komitmen yang tinggi dari pemerintah kota belum diimbangi dengan kekuatan nomenklatur bidang perlindungan anak dalam SKPD berikut eselon pejabatnya. Bidang perlindungan anak belum berdiri sendiri dalam BPPKB, tetapi masih melekat pada bidang pemberdayaan perempuan maupun bidang keluarga berencana. Hal ini menyebabkan SKPD terkait mengalami kendala untuk membuat program yang spesifik di bidang perlindungan anak dan mengajukan anggarannya. 3. Meskipun sudah ada rintisan pelibatan anak dalam proses pengambilan keputusan di tingkat pemerintah kota, namun belum ada upaya khusus untuk mengembangkan
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

55

rintisan tersebut ke arah yang lebih permanen dalam bentuk kebijakan. Di sisi lain, wadah partisipasi anak, terutama FOKAB, juga belum dikembangkan kapasitasnya sehingga sehingga mampu berperan optimal dalam pengambilan keputusan pemerintah. Wadah partisipasi anak juga masih berposisi sebagai wadah melatih anak menyampaikan pandangannya dan mengadakan kegiatan di kalangan anak sendiri. Keberadaan mereka sendiri ternyata juga belum banyak diketahui oleh anakanak pada umumnya. 4. Dalam mengatasi masalah anak jalanan, pemerintah kota Bandung belum melakukan koordinasi dengan pemerintah kabupaten di sekitar Bandung yang menjadi daerah asal anak jalanan, sehingga masalah anak jalanan belum bisa diatasi secara efektif, serta bisa mengganggu predikat kota Bandung sebagai kota layak anak. Peluang : Sejumlah peluang yang dimiliki kota Bandung dalam mengembangkan KLA adalah sebagai berikut 1. Terdapat kelembagaan di luar pemerintah, yakni KPAID Kota Bandung dan LPA Jawa Barat yang saling mendukung, yang selama ini menjadi mitra pemerintah namun tetap kritis merupakan peluang besar untuk mengembangkan Bandung sebagai KLA. Di belakang kedua lembaga tersebut juga terdapat sejumlah LSM anak yang selama ini sudah terbukti integritasnya mendamping kelompok anak. 2. Di tingkat anak sendiri juga terdapat sejumlah wadah partisipasi anak, seperti Forum Anak Derah Jabar serta Forum Komunikasi Anak Bandung (FOKAB) yang belum diberdayakan dengan baik. Begitu juga dengan OSIS dan Karang Taruna yang selama ini lebih menjadi wadah aktivitas dibanding wadah aspirasi, juga belum diberdayakan dengan baik. Jika mereka memperoleh capacity building, maka keberadaan wadah partisipasi anak ini akan menjadi kekuatan tersendiri bagi sebuah kota layak anak. 3. Dibukanya ruang partisipasi anak dalam pengambilan keputusan, seperti yang terjadi dalam pembahasan Perda Penyandang Cacat dan Pertemuan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) merupakan titik awal untuk proses-proses serupa di masa datang, sehingga keputusan pemerintah benar-benar di bidang anak benar-benar bisa berperspektif anak. 4. Sebagai ibukota provinsi, Bandung memiliki kelebihan dalam perhatian yang diberikan oleh pemerintah provinsi. Kedudukan khusus atau keistimewaan sebagai
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

56

ibukota propinsi memiliki peluang yang lebih besar dalam pengembangan kota karena dalam konteks kewilayahan memiliki dukungan dari pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat 5. Perhatian dan kepedulian dari berbagai elemen masyarakat yang selama ini bergerak di bidang kesejahteraan dan perlindungan anak, seperti PKK dan Forum PAUD dan aktivis dan pemerhati anak perseorangan biasa dalam mengembangkan KLA. Ancaman : Terdapat sejumlah faktor yang bisa dipandang mengancam dalam pengembangan Bandung sebagai kota layak anak, yakni sebagai berikut : 1. Ketimpangan pembangunan antara kota Bandung dan kota-kota dan kabupaten sekitarnya, yang mendorong munculnya fenomena urbanisasi dan melahirkan masalah anak jalanan yang tidak mudah diatasi. Keberadaan anak jalanan yang tidak teratasi merupakan bukti yang kasat mata yang mengganggu predikat Bandung sebagai kota layak anak. Terlebih lagi masalah anak jalanan juga bisa memicu kriminalitas di jalanan, baik yang membuat anak menjadi korban maupun pelaku tindak kriminalitas dan kekerasan. 2. Sebagai kota besar, permasalahan anak di kota Bandung juga semakin kompleks, selain masalah anak jalanan, juga terdapat permasalahan lain seperti pekerja anak, anak berhadapan dengan hukum, anak korban kekerasan, eksploitasi dan trafiking serta kenakalan remaja. Kompleksitas permasalahan tersebut jika tidak diatasi dengan baik, bisa mengganggu predikat sebagai kota layak anak 3. Perkembangan kota yang sangat cepat yang terjadi di kota Bandung dipastikan akan memakan lahan-lahan kosong sehingga mengurangi ruang-ruang publik yang menjadi tempat bermain anak. Selain itu bertambahnya jumlah kendaraan dari warga Bandung sendiri maupun dari para wisatawan dari luar menyebabkan kualitas udara kota semakin memburuk, di mana sebuah penelitian menyimpulkan bahwa kota Bandung hanya memiliki udara bersih selama 55 hari dalam setahun dan 4. Karakteristik geografis wilayah Bandung yang memiliki daratan yang tidak merata menyebabkan sebagian sebagai wilayahnya menjadi langganan banjir tahunan. merupakan sumber dukungan yang luar

Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

57

Keberlanjutan : Yang dimaksud keberlanjutan dalam hal ini adalah lebih pada bagaimana prospek kebijakan dan program Kota Layak Anak (KLA) ke depan, karena penghargaan sebagai kota layak anak yang diberikan oleh KPAI hanya akan tinggal menjadi secarik kertas jika tidak ada upaya-upaya khusus untuk menindaklanjutinya. Berkaca pada pengalaman melakukan inisiasi Kota Ramah Anak pada tahun 2004, yang tidak ditindaklanjuti dengan kebijakan dan program spesifik yang disebabkan oleh lemahnya posisi SKPD yang membidangi urusan perlindungan anak di hadapan SKPD lain, maka predikat KLA juga dikawatrikan hanya tinggal predikat. Prospek untuk keberlanjutan dari kebijakan dan program KLA di kota Bandung sangatlah besar. Peluang tersebut akan sangat tergantung pada bagaimana mensinergikan kekuatan-kekuatan yang dimiliki kota Bandung serta memanfaatkan peluang-peluang yang dimilikinya. Selain itu keberlanjutan KLA juga akan tergantung pada bagaimana mengatasi kelemahan-kelemahan serta mengantisipasi ancaman-ancaman yang dimiliki kota Bandung.

Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

58

BAB

7 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Tujuan dilakukan kajian pengembangan KLA di Kota Bandung pada dasarnya adalah untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh mengenai pelaksanaan bidang kesejahteraan dan perlindungan anak melalui pengembangan kabupaten/ kota layak anak di Kota Bandung. Kajian ini juga melihat penyediaan informasi yang relevan dengan kebijakan pengembangan KLA dan mendapatkan rekomendasi tentang pelaksanaan kebijakan KLA di Kota Bandung. Sementara hasil yang diharapkan adalah informasi yang mencakup beberapa hal, yaitu : 1. Gambaran mengenai indikator KLA, baik itu indikator umum yang meliputi bidang kesehatan, pendidikan, perlindungan, infrastruktur serta lingkungan hidup/pariwisata maupun indikator khusus yang meliputi bidang pembuatan kebijakan dan promosi pelaksanaan kebijakan KLA. 2. Gambaran mengenai 8 elemen lingkungan yang kondusif bagi KLA yang meliputi komitmen pemerintah, kebijakan/legislasi, sikap pemangku kepentingan, wacana publik, wadah partisipasi anak, kesadaran dan sikap masyarakat terhadap KLA sudah menjadi kebutuhan mendasar, aksesibilitas pelayanan-pelayanan dasar di KLA telah dapat diakses; serta monitoring dan pelaporan 3. Gambaran mengenai persepsi masyarakat dan anak tentang kebijakan KLA, yang terutama meliputi pemahaman dan pandangan mereka tentang kebijakan KLA dan implementasinya. Berbeda dengan kota-kota lain yang menjadi obyek kajian KLA, kota Bandung dipilih karena pencanangan sebagai KLA atau kota yang menuju KLA bersifat mandiri, dalam arti tidak melalui fasilitasi dari Kementerian PP dan PA. Dalam kenyataan, predikat KLA dari kota Bandung ini secara formal memang merupakan penghargaan dari KPAI atas kepedulian dari pemerintah kota atau walikota Bandung terhadap permasalahan anak, yang secara khusus diwujudkan dengan pembentukan KPAID tingkat kota, yang merupakan KPAI tingkat kota yang kedua setelah Makassar.

Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

59

Dengan statusnya sebagai model pengembangan KLA secara mandiri tersebut, penelitian ini juga akan melihat sejauh mana kota Bandung bisa dijadikan sebagai model pengembangan KLA bagi kota-kota dan kabupaten-kabupaten lain di Indonesia. Jika alasan pemilihan kota Bandung sebagai obyek kajian pengembangan KLA secara mandiri yang diharapkan bisa menginspirasi kota-kota atau kabupaten lain untuk mengembangkan KLA-nya secara mandiri pula, maka terdapat beberapa catatan yang harus diberikan, yakni sebagai berikut. 1. Kota Bandung merupakan ibukota propinsi dan sekaligus kota terbesar keempat di Indonesia, yang memiliki keistimewaan sebagai ibukota provinsi yang posisinya tidak bisa ditiru oleh kabupaten atau kota yang bukan merupakan ibukota provinsi. 2. Kota Bandung mempunyai sejarah perkembangan kota modern yang panjang, karena sejak awal memang sudah didesain oleh pemerintah Belanda sebagai sebuah kota modern. Dengan demikian sejak awal Bandung sudah memiliki kejelasan konsep tata ruang dan penyediaan infrastruktur sebuah kota. 3. Pihak pemerintah kota Bandung sendiri dan pemangku kepentingan yang lain mengaku masih membutuhkan dukungan dari pihak Kementerian PP dan PA. Mereka sendiri juga belum memiliki konsep sendiri tentang KLA yang berbeda dari konsep yang dimiliki KPPPA. Pemkot Bandung sendiri juga tidak merasa menjadi model pengembangan KLA secara mandiri yang bisa ditiru oleh kota dan kabupaten lainnya. Dengan demikian, kota Bandung sebenarnya kurang tepat untuk dijadikan model pengembangan KLA secara mandiri. Namun demikian jika Bandung tetap ingin dijadikan model pengembangan KLA, maka idealnya hanya lebih tepat berlaku untuk kota yang sama-sama menjadi ibukota provinsi. Kota dan kabupaten lain yang bukan merupakan ibukota provinsi yang ingin mengembangkan diri menjadi KLA sebetulnya masih bisa memperoleh pelajaran dari kota Bandung, khususnya dalam sejumlah hal sebagai berikut : 1. kepedulian dari walikota terhadap permasalahan anak, yang antara lain diwujudkan dengan program aksi yang dirasakan langsung oleh kelompok anak, seperti bawaku sehat dan bawaku cerdas. 2. penyusunan visi pembangunan kota yang secara eksplisit maupun implisit memiliki keberpihakan pada kesejahteraan dan perlindungan anak, seperti bandung cerdas 2008 dan bandung sehat 2007
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

60

3. pendirian atau pembentukan lembaga-lembaga di luar SKPD yang berfungsi mencegah dan menangani permasalahan-permasalahan anak, seperti KPAID dan P2TP2A. 4. inisiatif ruang sidang ramah anak (RSRA), meskipun ini bukan domainnya pemerintah kota, tetapi karena keberadaannya di tingkat kota, sehingga tetap mempunyai nilai lebih yang mendukung keberadaan kota layak anak, 7.1. KESIMPULAN 1. Dilihat dari indikator-indikator yang dimiliki untuk sebuah kota layak anak, meskipun belum semua indikator bisa terpenuhi, namun secara umum Kota Bandung, memiliki sejumlah prestasi di setiap bidang pembangunan sehingga Bandung bisa dikategorikan sebagai kota yang menuju kota layak anak. Penghargaan dari KPAI merupakan bukti adanya pengakuan pihak luar terhadap kelayakan Bandung sebagai KLA. 2. Di bidang kesehatan, pemerintah kota memiliki visi Bandung Sehat 2007. Dalam realitasnya, sebagai kota besar Bandung memiliki fasilitas yang lengkap untuk pelayanan kesehatan dengan jumlah fasilitas yang memadai, termasuk beroperasinya puskesmas keliling. Aksesibilitasnya pun juga sangat memadai, kecuali bagi warga yang bukan penduduk kota Bandung yang masih mengalami kesulitan. Untuk jaring pengaman juga terdapat Program Bawaku Sehat. Data-data statistik di bidang kesehatan, secara umum bervariasi dimana sebagian data menunjukkan hasil yang positif, sedangkan sebagian yang lain masih negatif. Hal ini menunjukkan masalah kesehatan di kota Bandung sangatlah berat dan kompleks. 3. Di bidang pendidikan, situasinya juga mirip yang terdapat dalam bidang kesehatan. Kota Bandung juga memiliki visi Bandung Cerdas 2008. Sebagai kota besar Bandung juga memiliki fasilitas pendidikan yang lengkap dan jumlah yang memadai serta mudah diakses. Untuk jaring pengamannya juga terdapat program Bawaku Cerdas. Tentang data statistiknya, meskipun masih terdapat data-data di bidang pendidikan yang kurang bagus, namun secara umum pembangunan pendidikan dengan visi Bandung Cerdas 2008 dan dukungan APBD yang tinggi telah menunjukkan hasil yang relatif positif. Namun demikian sejumlah masalah masih harus dihadapi, seperti keterbatasan daya tampung, kerusakan bangunan sekolah, dan masih rendahnya kesejahteraan guru.
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

61

4. Di bidang perlindungan anak, terdapat sejumlah kebijakan dan program yang menjadi indikator KLA, seperti kebijakan penggratisan akta kelahiran melalui Perda No. 7/2008, meskipun masih ada ganjalan dengan Perda Retribusi. Untuk anak yang berhadapan dengan hukum, sudah terdapat penerapan restorative justice untuk kasus pidana ringan serta adanya ruang sidang ramah anak. terbukanya peluang peningkatan partisipasi anak melalui pelibatan anak dalam musrenbang dan pembahasan perda. Secara kelembagaan juga terdapat Forum Anak Daerah (FAD) Jabar, Forum Komunikasi Anak Bandung (FOKAB) maupun P2TP2A, LPA dan sejumlah LSM Anak. Namun demikian, kebijakan, program-program dan institusi tersebut masih tetap dihadapkan pada sejumlah masalah seperti anak jalanan, pekerja anak dan kenakalan remaja. 5. Di bidang infrastruktur, Bandung memiliki sejumlah taman yang menjadi ciri khas kota Bandung dan berbagai fasilitas umum lainnya yang jumlahnya memadai, seperti Lapangan Gazibu dan Tegallega, gedung-gedung kesenian dan galeri-galeri seni, museum, gedung pertunjukan, gedung bersejarah serta sejumlah lapangan dan gedung olah raga. yang dapat digunakan oleh masyarakat. Selain itu juga terdapat sejumlah program seperti penataan prasarana dan sarana, penataan sarana transportasi kota. Permasalahan yang dihadapi adalah pesatnya pembangunan fisik kota yang telah menjadikan lahan-lahan terbuka menjadi bangunan komersial dan pesatnya pertambahan jumlah kendaraan bermotor. 6. Di bidang Lingkungan Hidup, terdapat program Langit Biru di Kota Bandung yang bertujuan untuk mengurangi pencemaran udara sudah berjalan sekitar 10 tahun, optimalisasi Ruang Terbuka Hijau (RTH) dalam bentuk taman kota, dengan hasil berupa penambahan luas RTH dari 1.314,20 ha (7,85%) pada tahun 2006 menjadi 1.466,13 ha (8,76%) di tahun 2007. Di sekolah pendidikan lingkungan hidup telah dijadikan pelajaran muatan lokal. Permasalahan yang dihadapi hingga saat ini adalah peningkatan suhu kota, polusi udara yang disebabkan oleh peningkatan jumlah kendaraan bermotor. 7. Di bidang pembuatan kebijakan dan promosinya, meskipun pernah menginisiasi Kota Ramah dan mendapatkan penghargaan KLA dari KPAI, tetapi belum ada kebijakan yang spesifik dalam rangka pengembangan KLA. Kondisi tersebut juga tak bisa dilepaskan dari rencana pemerintah kota untuk mengeluarkan Perda Perlindungan Anak pada tahun 2010. Diharapkan substansi tentang KLA bisa diintegrasikan dalam perda tersebut.
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

62

8. Promosi dan sosialisasi kebijakan, khususnya yang terkait dengan KLA dirasakan masih sangat terbatas sehingga belum banyak masyarakat termasuk anak-anak maupun kalangan birokrasi sendiri yang mendengar dan mengetahui tentang KLA. Upaya tersebut perlu dilakukan untuk memperoleh dukungan yang dibutuhkan dalam pengembangan KLA. Berbagai elemen masyarakat sebetulnya menyambut positif tentang kebijakan KLA dan berharap mereka bisa dilibatkan. 7.2. REKOMENDASI : 1. Komitmen pemerintah kota Bandung yang tinggi terhadap KLA perlu ditingkatkan dengan segera melaksanakan tahap-tahap pengembangan KLA, seperti yang terdapat dalam buku pedoman KLA. Hal ini mengingat model KLA mandiri dari kota Bandung belum dirumuskan secara tersendiri dan pemerintah kota Bandung sendiri masih tetap berharap adanya dukungan dari Kementerian PPPA dalam pengembangan dan implementasi KLA di kota Bandung. 2. Untuk mempercepat proses pengembangan dan implementasi KLA perlu digunakan pendekatan bimbingan teknis (technical assistance) secara reguler, baik itu dilakukan oleh pihak Kementerian PPPA maupun konsultan yang ditunjuk khusus untuk itu. Penggunaan konsultan ini, agar lebih efisien bisa diterapkan secara regional yang mencakup beberapa kota dan kabupaten yang berdekatan yang juga ingin mencanangkan diri sebagai KLA. 3. Sehubungan kurang kuatnya posisi bidang perlindungan anak dalam kelembagaan birokrasi pemerintah kota, maka nomenklatur perlindungan anak dalam BPPKB perlu diperjelas sehingga program dan kegiatan di bidang perlindungan anak dalam rangka KLA bisa dilakukan secara lebih konkrit. 4. Mengingat masih terbatasnya pihak-pihak yang mengetahui tentang KLA, mak perlu adanya peningkatan pemahaman dan pengetahuan semua jajaran SKPD dan masyarakat secara rutin dan terorganisir, melalui sosialisasi dan pembuatan berbagai bentuk materi KIE yang berisi tentang kebijakan KLA yang sederhana dan mudah dipahami. 5. Sehubungan dengan akan dibahasnya Raperda Perlindungan Anak pada tahun 2010, maka dalam draf Raperda tersebut perlu dimasukkan klausul tentang KLA secara spesifik, agar kedudukan dasar hukum pengembangan dan implementasi KLA bisa lebih kuat.

Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

63

6. Penyusunan buku Data Dasar KLA perlu ditindaklanjuti dalam bentuk penyusunan Sistem database yang yang berbasis IT, bersifat integratif dan lintas sektoral sehingga dapat dijadikan media monitoring implementasi KHA. 7. Permasalahan anak jalanan di kota Bandung perlu ditangani secara lebih serius, tidak saja melibatkan SKPD-SKPD terkait dan LSM tetapi juga melalui koordinasi dan kerjasama dengan kota dan kabupaten sekitar yang menjadi daerah asal anak jalanan serta melibatkan pihak pemerintah provinsi, sehingga masalah anak jalanan benar-benar bisa diatasi secara holistik, dari hulu hingga ke hilir. 8. Forum Anak Kota Bandung perlu diberdayakan dan ditingkatkan perannya dengan melibatkannya dalam pembuatan kebijakan dan program di kota Bandung. 9. Untuk menjamin keberlanjutan kebijakan dan program KLA, perlu dirumuskan mekanisme birokrasi yang bisa memelihara penguasaan isu dan komitmen di bidang anak ketika terjadi pergantian pejabat dan staf. Hal ini bisa dilakukan menerapkan prinsip keterbukaan informasi dan melakukan transfer pengetahuan tentang isu anak

Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

64

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pemberdayaan Masyarakat Kota Bandung. (2008). Laporan Hasil Kajian Kota Layak Anak dalam Rangka Pengembangan Model Kota Layak Anak di Bandung. Bagian Pemberdayaan Perempuan Kota Bandung dan KPAID Kota Bandung 2007, Profil Kesejahteraan dan Perlindungan Anak Di Kota Bandung BPS Kota Bandung. (2009). Bandung dalam Angka Tahun 2008. Deputi Bidang Perlindungan Anak Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia. (2002). Indikator Profil Kesejahteraan dan Perlindungan Anak. Deputi Bidang Perlindungan Anak Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia. (2009). Bahan Advokasi dan Sosialisasi Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA). Deputi Bidang Perlindungan Anak Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia. (2009). Kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA). Dinas Kesehatan Kota Bandung, Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2007 Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kota Bandung, Selayang Pandang KPAID Kota Bandung 2006 -2009, Menuju Bandung Kota Layak Anak Tahun 2009 Pemerintah Kota Bandung (2009), Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kota Bandung 2010 http://www.aids-ina.org/ http://www.mdopost.com/ http://www.Bandungkota.go.id/ http://www.poskoBandung.com/ http://www.suaraBandung.com/ http://oecd.org/dac/evaluation/ DAC Criteria for Evaluating Development Assistance
Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

65

Pemerintah Kota Bandung. (2005). Peraturan Daerah Kota Bandung No. 04 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bandung Tahun 2005 – 2010.

Kajian Kota Layak Anak di Kota Bandung 2009

66

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->