e-banjar portal web site

PENGERTIAN DAN FUNGSI PURA
Contributed by admin Last Updated Monday, 24 November 2008

PENGERTIAN DAN FUNGSI PURA / PARHYANGAN* Prof. I Made Titib Ph. D Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

“Para dewa tidak hanya berkenaan untuk turun dan tinggal di Tìrtha (Patìrthan), di tepi sungai, dan danau, tetapi juga di tepi pantai, pertemuan dua atau lebih sungai-sungai, dan kuala (muara sungai), di puncak-puncak gunung atau bukit-bukit, di lereng-lereng pegunungan, di hutan, di semak belukar dan kebun atau taman-taman, dekat tempattempat yang dirakhmati atau pertapaan, di desa-desa, kota-kota dan di tempat-tempat lain yang membahagiakan” Tantra Samuccaya I.1.28

Pendahuluan

Pura atau kahyangan dibangun di tempat-tempat yang dianggap suci. Tempat-tempat yang dianggap suci disebutkan pada bagian awal dari tulisan ini (Tantra Samuccaya I.1.28), yakni di Tìrtha atau Patìrthan, di tepi sungai, tepi danau, tepi pantai, pertemuan dua atau lebih sungai-sungai yang di Bali disebut Campuhan, sedang di India disebut dengan nama Saògam yang mengandung makna sama, yakni bertemunya dua sungai atau lebih. Di muara sungai, di puncak-puncak gunung atau bukit-bukit, di lereng-lereng pegunungan, dekat pertapaan, di desa-desa, di kota atau pusatpusat kota dan di tempat-tempat lain yang dapat memberikan suasana bahagia.

Dengan memperhatikan kutipan di atas, maka tiada halangan untuk membangun sebuah pura atau kahyangan di mana saja di tempat-tempat yang dipandang suci. Ada suatu yang unik, yakni tempat yang dipandang indah dan memiliki getaran spiritual yang tinggi adalah tempat yang disebut ‘hyang-hyang ning sagara giri’ atau ‘sagara-giri adomukha’, tempat bila di tepi pantai terlihat puncak-pucak gunung yang indah, sebaliknya bila berdiri di pegunungan, tampak pantai-pantai dengan gulung-gemulungnya ombak yang memukau. Tempat-tempat yang disebut ‘hyang-hyang ning sagara giri’ ini hampir dijumpai di mana saja di seantero Bali, karena pulau Bali tidak begitu luas dan ditengah-tengahnya membentang pegunungan vulkanik yang beberapa di antaranya masih aktif.
http://www.e-banjar.com Powered by Joomla! Generated: 24 September, 2010, 20:40

. di pulau yang kecil ini terdapat 4 buah danau yang besar dan kecil dan ratusan mata air yang jernih.Land of One Thousand Temples&rdquo. &ldquo. di Kabupaten Gianyar.(sorga terakhir di bumi).1989: VI) dan bila melihat peninggalan purbakala di daerah Goa Gajah dan Gunung Kawi. yang di Bali disebut juga &ldquo.To Langkir&rdquo.The Island of Gods&rdquo. sebagai sthana para dewa (Misra. (pulau penuh kedamaian yang sangat mempesona).e-banjar portal web site Di samping itu.(yang menjulang tinggi)atau di dalam bahasa Sanskåta disebut &ldquo.com Powered by Joomla! Generated: 24 September. pada bagian Kiûkióðha Kànda karya agung àdikavi mahàrûi Vàlmìki. (gunung yang tinggi) diyakini sebagai bagian dari pegunungan Mahàmeru (yang pada zaman dahulu juga disebut Úiúira Parvata) dan nama ini sudah diungkapkan di dalam susastra Sanskåta Ràmàyaóa.(pulau dewata). &ldquo.The Intresting Peacefull Island&rdquo.The Last Paradise on Earth&rdquo. maka jelaslah pada zaman dahulu kehidupan keagamaan masyarakat Bali sudah sedemikian mantap.Udaya Parvata&rdquo. Tidak mengherankan leluhur umat Hindu di Bali membangun pura di mana saja hampir di seluruh Bali dan Bernet Kempers. Pengertian Pura http://www.The Morning of the World&rdquo. (paginya dunia). Di samping itu berbagai julukan telah diberikan kepada pulau yang memikat ini di antaranya adalah: ------------------------- &ldquo. sebab sejak zaman purbakala pulau ini sudah dikenal di manca negara. Keterangan tentang kemuliaan gunung Agung. yang menyegarkan dan mempesona siapa saja yang memiliki kepekaan dan apresiasi terhadap keindahan.&ldquo.pulau dengan seribu pura (1977: 73). Kepopuleran pulau Bali bukanlah merupakan sesuatu yang baru. 2010. 20:40 . seofrang akhli purbakala memberi julukan pulau yang kecil ini sebagai &ldquo.e-banjar.

dibuatkanlah sthana sementara untuk-Nya yang disebut &ldquo. yakni seniman sorga.. Sorga atau kahyangan digambarkan berada di puncak gunung Mahameru. angsa. seperti meru yang sifatnya sementara terbuat dari bambu. dan lain-lain). 2010. Pada bangunan suci seperti candi di Jawa kita menyaksikan semua gambar. Sudiman tentang candi Lorojongrang (1969: 26) memperkuat keyakinan ini. seperti arca-arca devatà. Pada upacara tertentu seperti karya agung &ldquo. di antaranya sebagai berikut: http://www. diiringi oleh para Úiddha. untuk itu kami kutipkan penjelasan tentang hal tersebut. Pura seperti halnya meru atau candi (dalam pengertian peninggalan purbakala kini di Jawa) merupakan simbol dari kosmos atau alam sorga (kahyangan).ngalinggihang&rdquo.e-banjar portal web site Tuhan Yang Maha Esa dan para devatà bersthana di kahyangan atau svarga-loka.. jenis serta fungsi dari bangunan palinggihnya. Demikian masing-masing devatà diyakini memiliki Vàhana (kendaraan) berupa binatang-binatang mitos seperti lembu.e-banjar. &ldquo. seperti pula diungkapkan oleh Dr. Sang Hyang Widhi dan para devatà serta para roh suci leluhur dimohon hadir turun ke dunia untuk bersthana di sthana yang telah disediakan untuk-Nya yang disebut pura dengan aneka nama. Vidyàdhara-Vidyàdharì. 20:40 . gambar dan ornament dari sebuah pura atau candi. penelitian Soekmono maupun tulian Drs. Secara sinkronis candi tidak lagi terpencil dari hasil-hasil seni bangunan lainnya yang sejenis dan sejaman. vahana devatà..dangsil&rdquo. bagi para devatà yang tidak memiliki sthana khusus di sebuah pura. Berbagai sumber ajaran Hindu sejak kitab suci Veda sampai susastra Hindu mengungkapkan tentang kahyangan. juga mahluk-mahluk suci seperti Vidàdhara-Vidyàdharì dan Kinara-Kinarì.ngusabha&rdquo. dan secara diakronis candi tidak lagi berdiri di luar garis rangkaian sejarah kebudayaan Indonesia.. pohon-pohon sorga (parijata. yang oleh masyarakat Bali disebut &ldquo. Untuk mendukung bahwa pura atau tempat pemujaan adalah replika kahyangan dapat dilihat dari bentuk (struktur). memakai atap janur atau daun aren.vyomàntara&rdquo. relief atau hiasannya menggambarkan mahluk-mahluk sorga. garuda dan lain-lain dan sthana-Nya yang abadi adalah kahyangan atau sorga yang tempatnya jauh di atas angkasa. singa. maka terbukalah suatu perspektif baru yang menempatkan candi dalam kedudukan yang semestinya (sebagai tempat pemujaan/pura). Pada waktu-waktu upacara seperti piodalan dan upacara lainnya.com Powered by Joomla! Generated: 24 September. dan lain-lain.&ldquo. melainkan sebagian pura di Bali adalah tempat suci untuk memuja leluhur yang sangat berjasa yang kini umum disebut padharman.mamungkah&rdquo. Soekmono (1974: 242) pada akhir kesimpulan disertasinya yang menyatakan bahwa candi bukanlah sebagai makam. &ldquo. Tuhan Yang Maha Esa. pura atau mandira.. Kesimpulan Soekmono ini tentunya telah menghapus pandangan yang keliru selama ini yang memandang bahwa candi di Jawa ataupun pura di Bali sebagai tempat pemakaman para raja. relief. oleh karena itu gambaran candi atau pura merupakan replika dari gunung Mahameru tersebut. dan sebagainya.luhuring àkàúa&rdquo.

dari element hakekat yang pokok. Ìúànaúivagurudevapaddhati. http://www. Wujud konkrit (materi) Sang Hyang Úiva merupakan sthana Sang Hyang Vidhi. Demikian pula bila kita melihat struktur halaman pura menunjukkan bahwa pura adalah juga melambangkan alam kosmos. Tidak sembarangan tempat dapat dijadikan tempat untuk membangun pura. para devatà dimohon turun ke bumi.12. yang secara sederhana disebut sebagai &ldquo. 20:40 . atau &ldquo. (Pura dibangun untuk memohon kehadiran Sang Hyang Úiva dan Úakti dan Kekuatan/Prinsip Dasar dan segala Menifestasi atau Wujud-Nya. adalah seperti disebutkan pada kutipan dari Bhaviûya Puràóa dan Båhat Saýhità.com Powered by Joomla! Generated: 24 September. jaba pisan adalah alam bhumi (bhùrloka).nuntun atau nedunang Ida Bhaþþàra. jaba tengah adalah bhuvaáloka dan jeroan adalah svaáloka atau sorga.e-banjar. yang "gingsih&rdquo. III. 2010. di India disebut avahana. di Bali disebut &ldquo. sampai upacara persembahyangan dan mengembalikannya kembali ke kahyangan sthana-Nya yang abadi menunjukkan bahwa pura adalah replika dari kahyangan atau sorga. Khusus pura Besakih secara keseluruhan melambangkan saptaloka (luhuring ambal-ambal) dan saptapatala (soring ambal-ambal). dengan memperhatikan pula praktek upacara yang masih tetap hidup dan terpelihara di Bali maupun di India.sàgara-giri adumukha&rdquo. sedangkan tempat-tempoat yang ideal untuk membangun pura. Hendaknya seseorang melakukan permenungan dan memuja-Nya) Di samping hal tersebut. dalam tradisi Bali (termuat dalam beberapa lontar) menyatakan tanah yang layak dipakai adalah tanah yang berbau harum. yakni pada saat menjelang upacara piodalan (di India disebut abhiseka).16.e-banjar portal web site Pràsàdaý yacchiva úaktyàtmakaý tacchaktyantaiá syàdvisudhàdyaistu tatvaiá. Påthivì sampai kepada Úakti-Nya.. tempatnya tentu sangat indah disamping vibbrasi kesucian memancar pada lokasi yang ideal tersebut.dan tidak berbau busuk.hyang-hyangning sàgara-giri&rdquo.. úaivì mùrtiá khalu devàlayàkhyetyasmàd dhyeyà prathamaý càbhipùjyà.

e-banjar. 1964: 56).Yumu pakatahu&rdquo. Sejak itu prasasti . Selain beliau mengajarkan membuat kahyangan secara pisik.......... .. istana-isatana raja disebut karaton atau kadaton.. yang berhubungan dengan keraton Bali Kuna di Singhamandawa. seperti kata wijayapuraartinya pasaran Wijaya.. Di dalam prasasti Turunyan A I th. yang artinya &ldquo. tampaknya berasal dari jaman yang tidak begitu tua. sebagaimana disebutkan di dalam rontal Usana Dewa. gedong dan lain-lainnya. Pada masing masing desa Pakraman dibangun Kahyangan Tiga. Pada jaman Bali Kuna dan merupakan data tertua ditemui di Bali... membuat kahyangan pura Caturlokapàla dan Kahyangan Rwabhineda di Bali.. juga beliau mengajarkan pembuatannya secara spiritual misalnya: jenis-jenis upacara.... Beliaulah mengajarkan membuat "parhyangan atau kahyangan dewa " di Bali.. Sebelum dipergunakannya kata pura untuk menamai tempat suci/tempat pemujaan dipergunakanlah kata kahyangan atau hyang... Pada abad ke X masuklah bahasa Jawa Kuna ke Bali ditandai oleh perkawinan raja putri Mahendradata dari Jawa Timur dengan raja Bali Dharma Udayana... http://www. 891 M ada disebutkan.e-banjar portal web site Istilah pura dengan pengertian sebagai tempat pemujaan bagi masyarakat Hindu khususnya di Bali. Mpu Kuturan mengajarkan membuat pura Sad Kahyangan Jagat Bali. 20:40 .prasasti memakai bahasa Jawa Kuna dan juga kesusastraan-kesusastraan mulai memakai bahasa Jawa Kuna. membawa cara membuat tempat pemujaan dewa seperti di Jawa Timur.tempat suci di Turunyan&rdquo.. disebutkan di dalamn prasasti Sukawana A I tahun 882 M (Goris..sanghyang di Turuñan&rdquo.... Pada mulanya istilah pura yang berasal dari kata Sanskerta itu berarti kota atau benteng yang sekarang berubah arti menjadi tempat pemujaan Hyang Widhi... jenisjenis pedagingan palinggih dan sebagainya se bagaimana di uraikan didalam lontar Devatàttwa.. Dalam periode pemerintahan Airlangga di Jawa Timur (1019-1042M) datanglah Mpu Ràjakåta yang menjabat Senapati i Kuturandari Jawa Timur ke Bali dan pada waktu itu yang memerintah di Bali adalah raja Marakata yaitu adik dari Airlangga.. Memang ada kata pura dijumpai di dalam prasasti Bali Kuna tetapi kata pura itu belum berarti tempat suci melainkan berarti kotaatau pasar... Kedatangan Mpu Kuturan di Bali membawa perubahan besar dalam tata keagamaan di Bali...&rdquo. Demikianlah rontal Usaha Bali menyebutkan &ldquo. dalam arti sebelum kedatangan dinasti Dalem di Bali. Hyang Api dan Hyang Tanda yang artinya tempat suci untuk dewa Karimama.. Demikian pula di dalam prasasti Pura Kehen A ( tanpa tahun ) disebutkan pemujaan kepada Hyang Karimama. Pada jaman Bali Kuna. tempat suci untuk dewa api dan tempat suci untuk dewa Tanda. Beliau juga memperbesar pura Besakih dan mendirikan palinggih meru...com Powered by Joomla! Generated: 24 September..Úrì Danawaràja akadatwan ing Balingkang. 2010... Prasasti-prasasti tersebut diatas adalah prasasti Bali Kuna yang memakai bahasa Bali Kuna tipe &ldquo......

Salah satu contoh terlihat dalam sebutan istanaraja bukan lagi disebut karatonmelainkan disebut pura. Ruparupanya penggunaan kata pura untuk menyebutkan suatu tempat suci dipakai setelah dinasti Dalem di Klungkung di samping juga istilah kahyangan masih dipakai. sehingga dikenal adanya pura untuk dewa dan pura untak roh suci leluhur yang sulit dibedakan secara fisik(Ardana. maka karaton Dalem di Samprangan disebut Linggarsapura.Kalau di Majapahit kita mengenal istilah Madakaripurayang berarti rumahnya Gajah Mada. Kitab Nàgarakåtàgama 73. Hal ini secara fisik sulit untuk dibedakan. Beliau pada waktu itu menemui keadaan yang kabur sebagai akibat terjadinya peralihan paham keagamaan dari paham-paham keagamaan sebelum Mpu Kuturan ke paham-paham keagamaan yang diajarkan olch Mpu Kuturan yakni: antara pemujaan dewa dengan pemujaan roh leluhur. terdapat pada jenis padagingannya.e-banjar portal web site Pemerintahan dinasti Úrì Kåûóa Kapakisan di Bali membawa tradisi yang berlaku di Majapahit.com Powered by Joomla! Generated: 24 September. Dalam hubungan inilalu kata pura yang berarti istana rajaatau rumah pembesar pada waktu itu diganti dengan kata puri. Demikian pula bentuk-bentuk palinggih. misalnya ada meru untuk roh suci leluhur bertingkat 7 dan meru untuk dewa bertingkat 3. walaupun perbedaannya. Pada periode pemerintahan Dalem Baturenggong di Gelgel (1460 .Karatonnya diGelgel disebut Suwecapuradan karatonnya di Klungkung disebut Smarapura. 2010. Dalam perkembangan lebih lanjut kata puradigunakan di samping kata kahyanganatau parhyangandcngan pengertian sebagai tempat suci untuk memuja Hyang Widhi (dengan segala manifestasinya ) dan bhaþàra atau dewapitara yaitu roh suci leluhur. http://www. Terdapat juga kekaburan di bidang tingkat atap meru.e-banjar. dan sekaligus membedakan palinggib pemujaan dewa serta roh suci leluhur.I 550 M ) datanglah Dang Hyang Nirartha di Bali pada Tahun 1489 M adalah untuk mengabadikan dan menyempumakan kehidupan agama Hindu di Bali. 20:40 . Kendatipun demikian namun kini masih dijumpai kata pura yang digunakan untuk menamai suatu kota misainya Amlapura atau kota asem (bentuk Sanskertanisasi dari karang asem ). Hal itulah yang mendorong Dang Hyang Nirartha membuat palinggih berbentuk padmàsanauntuk memuja Hyang Widhi. ada meru dan gedong untuk dewa dan meru dan gedong untuk roh suci leluhur.3 menyebutkan bahwa apa yang berlaku di Majapahit diperlakukan pula di Bali oleh dinasti Úrì Kåûóa Kapakisan. 1988:20).

dan berkembang pada periode megalithikum.karena gunung itu dianggap sebagai salah satu tempat dari roh leluhur atau alam arwah. Pentrapannya antara lain tcrlihat pada konsepsi pura sebagai tempat pemujaan untuk dewa manifestasi Hyang Widhi di samping juga untuk pemujaan roh leluhur yang disebut bhatara.e-banjar. 2010.e-banjar portal web site Meskipun istilah pura sebagai tempat suci berasal dari jaman yang tidak begitu tua. Kepercayaan terhadap gunung sebagai alam arwah. Pengelompokan Pura http://www. Sistim pemujaan terhadap leluhur tersebut kemudian berkembang bersama-sama dengan berkembangnya kebudayaan Hindu di Indonesia. Salah satu tempat pemujaan arwah leluhur pada waktu itu berbentuk punden berundak-undakyang diduga sebagai replika (bentuk tiruan) dari gunung.com Powered by Joomla! Generated: 24 September. Pangkalnya adalah kebudayaan Indonesia asli berupa pemujaan terhadap arwah leluhur di samping juga pemujaan terhadap kekuatan alam yang maha besar yang telah dikenalnya pada jaman neolithikum.sebelum kcbudayaan India datang di Indonesia.sama dengan unsur pemujaan terhadap dewa Penampilannya selalu terlihat pada sistim kepercayaan masyarakat Hindu di Bali yang menempatkan secara bersama sama pemujaan roh leluhur sebagai unsur kcbudayaan Indonesia asli dengan sistcm pemujaan dewa manifcstasinya Hyang Widhi sebagai unsur kcbudayaan Hindu. 20:40 . Bahkan dalam proses lebih lanjut setelah melalui tingkatan upacara keagamaan tertentu (upacara penyucian) roh suci leluhurdapat mencapai tempat yang sama dan dipuja bersama-sama dalam satu tempat pemujaan dengan dewa yang lazimnya disebut dengan istilah Àtmàúiddhadevatà. namun hakekatnya yang essensial bahwa kebudayaan Indonesia asli tetap memegang kepribadiannnya yang pada akhimya unsur pemujaan leluhur tersebut muncul kembali secara menonjol dan kemudian secara pasti tampil dan berkcmbang bersama . Hal ini membcrikan salah satu pengcrtian bahwa Pura adalah simbul gunung (Mahameru) tempat pemujaan dcwa dan bhaþþàra.adalah relevan dengan unsur kebudayaan Hindu yang menganggap gunung (Mahameru ) sebagai alam devatà yang melahirkan konsepsi bahwa gunung selain dianggap sebagai alam arwah juga sebagai alam para dewa. Perkembangan itu juga mengalami proses akulturasi dan enkulturasi sesuai dengan lingkungan budaya Nusantara. Lebih lanjut kadang kadang dalam proses itu unsur pemujaan leluhur kelihatan melemah bahkan seolah-olah tampak sebagai terdesak. namun tempat pemujaannya sendiri berakar dan mempunyai latar belakang alam pikiran yang bcrasal dari masa yang amat tua.

2).com Powered by Joomla! Generated: 24 September. ikatan pengakuan atas jasa seorang guru suci (Dang Guru). ekonomis. maka terdapat beberapa kelompok pura dan perinciannya lebih lanjut berdasarkan atas karakter atau sifat kekhasannya adalah sebagai berikut. Pura yang berfungsi sebagai tcmpat untuk memuja Hyang Widhi.e-banjar portal web site Dari berbagai jenis pura di Bali dengan pengertian sebagai tempat suci untuk memuja Hyang Widhi/dewa dan bhaþàra. 20:40 . nelayan . Selain kelompok pura yang mempunyai fungsi seperti tersebut di atas. politik.e-banjar. Berdasarkan atas ciri-ciri tersebut (Titib. Ikatan geneologis adalah atas dasar garis kelahiran dengan perkembangan lebih lanjut. roh leluhur tesebut telah mencapai tingkatan úiddhadevatà(telah memasuki alam devatà ) dan disebut bhaþàra. ikatan politik di masa yang silam antara lain berdasarkan kepentingan penguasa dalam usaha menyatukan masyarakat dan wilayah kekuasaannya. Fungsi pura tcrscbut dapat diperinci lebih jauh berdasarkan ciri (kekhasan ) yang antara lain dapat diketahui atas dasar adanya kelompok masyarakat ke dalam berbagai jenis ikatan seperti: ikatan sosial. Ikatan sosial antara lain berdasarkan ikatan wilayah tempat tinggal (teritorial). dapat dikelompokkan berdasarkan fungsinya: 1). bukan tidak mungkin terdapat pula pura yang berfungsi gandayaitu sclain untuk memuja Hyang Widhi/dewa juga untuk memuja bhaþàra. Hal itu di mungkinkan mengingat adanya kepercayaan bahwa sctelah melalui upacara penyucian. 1) Pura Umum http://www. Ikatan ekonomis antara lain dibedakan atas dasar kepentingan sistem mata pencaharian hidup seperti bertani. para devatà. nelayan dan lain-lainnya. genealogis (garis kelahiran). 2003: 96-100). berdagang. 2010. Pura yang berfungsi sebagai tempat untuk memuja bhaþàra yaitu roh suci leluhur.

Pura lainnya yang juga tergolong pura umum adalah pura yang berfungsi sebagai tempat pemujaan untuk memuja kebesaran jasa seorang pandita guru suci atau Dang Guru. Pura-pura kerajaan tersebut rupa-rupanya mewakili tiga jenis tempat pemujaan yaitu: pura gunung.com Powered by Joomla! Generated: 24 September. Nama-nama kahyangan tiga ada juga yang bervariasi pada beberapa desa di Bali. Pembagian mandala atas gunung. Pura-pura tersebut berkaitan dengan dharmayàtrà yang dilakukan oleh Dang Hyang Nirartha. 2010. pura Lempuyang Madya dan lain-lainnya. pura Sakenan. Wilayah banjar sebagai kelompok sub kelompok dari masyarakat desa adat ada yang memiliki pura tersendiri. daratan dan laut sesuai benar dengan pembagian makrokosmos menjadi dunia atas atau uranis. yaitu: pura Desa.e-banjar. Selain pura-pura yang dihubungkan dengan Dang Guru. tergolong pula ke dalam ciri Dang Kahyangan adalah pura-pura yang dihubungkan dengan pura tempat pemujaan dari kerajaan yang pernah ada di Bali (Panitia Pemugaran tempat-tempat bersejarah dan peninggalan purbakala. bahwa Kahyangan Tiga itulah merupakan unsur mengikat kesatuan desa adat bersangkutan. Pura pura tersebut ini tergolong kedalam karakter yang disebut Dang Kahyangan seperti: pura Rambut Siwi. yang merupakan pura kerajaan Kesiman. pura puncak yang ter!etak di puncak bukit atau pegunungan dan pura Segara yang terletak di tepi pantai laut. pura Taman Ayun yang merupakan pura kerajaan Mengwi. pura Batur. Ada tanda-tanda bahwa masing-masing kerajaan yang pemah ada di Bali. Pura tersebut juga dipuja oleh seluruh umat Hindu. karena pada hakekatnya semua umat Hindu merasa berhutang jasa kepada beliau Dang Guru atas dasar ajaran agama Hindu yang disebut åûiåóa. pura Purancak. pura Dalem yang merupakan tempat pemujaan bersama. yaitu: pura Penataran yang terletak di ibu kota kerajaan. 2) Pura Teritorial Pura ini mempunyai ciri kesatuan wilayah (teritorial) sebagai tempat pemujaan dari anggota masyarakat suatu banjar atau suatu desa yang diikat ikat oleh kesatuan wilayah dari suatu banjar atau desa tersebut. Pura Puseh juga disebut pura Segara. pura Caturlokapàla dan pura Sadkahyangan. Pura yang tergolong umum ini dipuja oleh seluruh umat Hindu. Ciri khas suatu desa adat pada dasamya memiliki tiga buah pura disebut Kahyangan Tiga. pura Ponjok Batu. pura Pulaki. pura pusat kerajaan dan pura laut. pura Úìlayukti. 1977: 10) seperti pura Sakenan. 20:40 .e-banjar portal web site Pura ini mempunyai ciri umum sebagai tempat pemujaan Hyang Widhi dengan segala manifestasinya (dewa). sehingga sering disebut Kahyangan Jagat Bali. Pura-pura yang tcrgolong mempunyai ciri-ciri tersebut adalah pura Besakih. bahkan pura Puseh desa http://www. pura Puseh. dunia tengah tempat manusia itu hidup dan dunia bawah atau chithonis. sekurang kurangnya mempunyai satu jenis pura. Dengan lain perkataan. paúraman Mpu Kuturan dan Mpu Agnijaya karena peranannya sebagai Dang Guru. pura Desa sering juga disebut pura Bale Agung.

tempat bersejarah dan peninggalan Purbakala. Pura Dalem banyak juga macamnya. melainkan dianggap mempunyai hubungan dengan pura Watukaru. pura Dalem Gagelang dan sebagainya (Panitia Pemugaran Tempat. pura Dalem Canggu. 4) Pura Kawitan Pura ini mempunyai karakter yang ditentukan oleh adanya ikatan wit atau lcluhur berdasarkan garis kelabiran (genealogis). 2010. pura Masceti. Namun pura Dalem yang merupakan unsur Kahyangan Tiga adalah pura Dalem yang memiliki setra (kuburan).e-banjar. tetapi bukan merupakan pura sebagai unsur Kahyangan Tiga di antaranya: pura Dalem Maspahit. Apabila petani tanah basah mempunyai ikatan pcmujaan seperd tersebut diatas. Alas Harum. Dalam tingkatan hirarkhis dari pura itu kita mengenal pura Ulun Carik. berdagang dan nelayan. 3) Pura Fungsional Pura ini mempunyai karakter fungsional. Masih banyak ada pura Dalem yang tidak mempunyai kaitan dengan Kahyangan Tiga seperti pura Dalem Puri mempunyai hubungan dengan pura Besakih. Alas Rasmini dan lain sebagainya. Umumnya pura Melanting didirikan didalam pasar yang dipuja oleh para pedagang dalam lingkungan pasar tersebut. Pura ini sering pula disebut Padharman yang merupakan bentuk perkembangan yang lebib luas dari pura http://www. Berdagang merupakan salah satu sistim mata pencaharian hidup menyebabkan adanya ikatan pemujaan dalam wujud pura yang disebut pura Melanting. dalam mengolah tanah basah mempunyai ikatan pemujaan yang disebut pura Empelan yang sering juga disebut pura Bedugul atau pura Subak. Pura Dalem Jurit mempunyai hubungan dengan pura Luhur Uluwatu.12).e-banjar portal web site Besakih disebut pura Banua. 1977. umat panyiwinya terikat oleh ikatan kekaryaan karena mempunyai. 20:40 . Di dekat pura Watukaru terdapat sebuah pura yang bernama pura Dalem yang tidak merepunyai hubungan dengan pura Kahyangan Tiga. pura Ulun Siwi dan pura Ulun Danu. Kekaryaan karena bertani. maka petani tanah kering juga mempunyai ikatan pemujaan yang disebut pura Alas Angker.com Powered by Joomla! Generated: 24 September. profesi yang sama dalam sistem mata pencaharian bidup seperti: bertani. Di samping itu banyak juga terdapat pura yang disebut Dalem.

Berdasarkan atas Fungsinya : (a). 2). (b). Klen ini mcmpunyai tempat pemujaan yang discbut pura Dadya sehingga mereka disebut tunggal Dadya. (c). Pura Swagina (pura fungsional)yaitu pura yang penyungsungnya terikat oleh ikatan swagina (kekaryaan) yang mempunyai profesi sama dalam mata pencaharian seperti: pura Subak.com Powered by Joomla! Generated: 24 September. dadya. Klen besar merupakan kelompok kerabat yang lebih luas dari klen kecil (dadya) dan terdiri dari beberapa kelompok kerabat dadya.Àtmàúiddhadevatà&ldquo. Suatu keluarga inti terdiri dari seorang suami. panataran. Di beberapa daerah di Bali. Pura Kawitan. ibu. disebutkan bahwa setiap 40 keluarga batih patut membuat pura panti. Berdasarkan atas Karakterisasi nya (a). Tempat pemujaan satu keluarga inti disebut sanggah atau marajan yang juga disebut kamulan taksu. 20:40 . Melanting dan sebagainya . Tentang pengelompokan pura di Bali ini . padharman dan yang sejenisnya. setiap 20 keluarga batih patut mendirikan pura lbu. pura Penataran (Penataran Klen) dan sebagainya. Keluarga inti disebut juga keluarga batih (nuclear family ) dan keluarga luas terdiri lebih dari satu keluarga inti yang juga disebut keluarga besar (extended family). dalam Seminar kesatuan tafsir terhadap aspek-aspek agama Hindu ke X tanggal 28 sampai dengan 30 Mei 1984 ditetapkan pengelompokan pura di Bali sebagai berikut : 1). yaitu pura sebagai tempat suci untuk memuja &ldquo. Pengelompokan pura di atas jelas berdasarkan Úraddhà atau Tatwa agama Hindu yang berpokok pangkal konsepsi ketuhanan Yang Maha Esa dengan berbagai manifestasi atau prabhawa-Nya dan konsepsi Àtman manunggal dengan Brahman (Àtmàúiddhadevatà) menyebabkan timbulnya pemujaan pada roh suci leluhur. Klen kecil adalah kelompok kerabat yang terdiri dari beberapa keluarga inti maupun keluarga luas yang merasakan diri berasal dari nenek moyang yang sama. Didalam rontal Úiwàgama. batur. setiap 10 keluarga batih supaya membuat palinggih Påtiwì dan setiap keluarga batih membuat palinggih Kamulan yang kesemuanya itu untuk pemujaan roh leluhur yang telah suci. sedangkan tempat pemujaan kciuarga luas disebut sanggah gede atau pamarajan agung. Pura Kahyangan Desa (teritorial )yaitu pura yang disungsung (dipuja dan dipelihara) oleh desa Pakraman atau desa Adat. Pura Kahyangan Jagat. Anggota kelompok kerabat tcrsebut mempunyai ikatan tempat pemujaan yang disebut pura paibon atau pura panti. oleh karena itu pura di Bali ada http://www. Dengan demikian mika pura Kawitan adalah tempat pemujaan roh leluhur yang telah suci dari masing-masing warga atau kelompok kekerabatan. seorang istri dan anak-anak mereka yang belum kawin . ada yang menyebut pura Batur (Batur Klen). Pura kawitan. (b). panti. tempat pemujaan seperti itu.yaitu pura yang penyungsungnya ditcntukan oleb ikatan "wit" atau leluhur berdasarkan garis (vertikal geneologis) seperti: sanggah.e-banjar portal web site milik warga atau pura klen. (roh suci leluhur). 2010. Pura Jagat. yaitu pura tempat memuja Sang Hyang Widhi dalam aneka prabhawa-Nya misalnya pura Sad Kahyangan dan pura Kahyangan Jagat. yaitu pura yang berfungsi sebagai tempat memuja Sang Hyang Widhi Wasa dalam segala prabawa-Nya (manifestasi-Nya). (d).e-banjar. pamarajan.

janaloka. bhuvaáloka (langit) dan svaáloka (sorga). bhuvaáloka. yaitu: bhùrloka (bumi). &ldquo. Pada sudut-sudut itu dibuatlah "padurakûa" (penyangga sudut) yang berfungsi menyangga sudut-sudut pekarangan tempat suci (dikpàlaka ). Di samping itu ada juga pura yang terdiri dari dua halaman. mahàoka. didasarkan atas konsepsi macrocosmos (bhuwana agung). Halaman kedua disebut jaba tengah (halaman http://www. yaitu: jabapura atau jaba pisan (halaman luar). yaitu àkàúa dan påtivì. Dan pura yang terdiri dari satu halaman adalah simbolis dari "ekabhuvana" . Sebuah pura di kelilingi dengan tembok (bahasa Bali = penyengker ) scbagai batas pekarangan yang disakralkan.e-banjar portal web site yang disungsung oleh seluruh lapisan masyarakat di samping ada pula yang disungsung oleh keluarga atau klen tertentu saja. Pembagian halaman pura yang pada umumnya menjadi tiga bagian itu adalah pembagian horizontal sedang pembagian (loka) pada palinggih-palinggih adalah pembagian yang vertikal.jineng" (lumbung). yaitu: jaba pisan (halaman luar) dan jeroan (halaman dalam) dan ada juga yang terdiri dari tujuh halaman (tingkatan) seperti pura Agung Besakih. "bale pawaregan" (dapur) dan &ldquo. Pembagian halaman pura ini. yaitu yang pertama disebut jabaan (jaba pisan) atau halaman depan/luar. Sedang pembagian pura atas 7 bagian (halaman) atau tingkatan melambangkan "saptaloka" yaitu tujuh lapisan/tingkatan alam atas. Penunggalan konsepsi prakåti dengan puruûa dalam struktur pura adalah merupakan simbolis dari pada "Super natural power". yang terdiri dari: bhùrloka. yakni : pembagian pura atas 3 (tiga) bagian (halaman) itu adalah lambang dari "triloka". Struktur Pura Pada umumnya struktur atau denah pura di Bali dibagi atas tiga bagian. pada umumnya pura-pura di Bali terbagi atas tiga halaman.com Powered by Joomla! Generated: 24 September. Pembagian horizontal itu melambangkan "prakåti" (unsur materi alam semesta) sedangkan pembagian yang vertikal adalah simbolis "puruûa" (unsur kejiwaan/spiritual alam semesta).bale wantilan" (semacam auditorium pementasan kesenian. Sebagian telah dijelaskan di atas. Pembagian pura atas 2 (dua) halaman (tingkat) melambangkan alam atas (urdhaá) dan alam bawah (adhaá). jaba tengah (halaman tengah) dan jeroan (halaman dalam). tapaloka dan satyaloka. 2010. yaitu penunggalan antara alam bawah dengan alam atas. Hal itulah yang menyebabkan orang orang dapat merasakan adanya getaran spiritual atau super natural of power (Tuhan Yang Maha Esa ) dalam sebuah pura. svaáloka.e-banjar. dan pada umumnya pada halaman ini terdapat bangunan berupa "bale kulkul" (balai tempat kentongan digantung). 20:40 .

Halaman yang ketiga disebut jeroan (halaman dalam). Orang-orang yang berhati suci masuk kedalam pura akan memperoleh rakhmat-Nya. pada ambang candi di Jawa Timur disebut Banaspati dan di Bali discbut Bhoma. Di atas atau di ambang pintu masuk kori agung terdapat hiasan kepala raksasa. halaman ini termasuk halaman yang paling suci berisi bangunan untuk Tuhan Yang Maha Esa dan para dewa manifestasi-Nya. para devatà dan roh suci leluhur. Pada bagian depan pintu masuk (kori agung) juga terdapat arca Dvàrapàla yang biasanya bermotif arca dewadewa (seperti Pañca Devatà). Cerita Bhoma atau Bhomàntaka (matinya Sang Bhoma ) dapat dijumpai dalam kakawin Bhomàntaka atau Bhomakawya.bale pagongan" (balai tempat gamelan). terlebih dahulu harus memasuki candi bentar.e-banjar portal web site tengah biasanya berisi bangunan "bale agung" (balai panjang) dan &ldquo. vaýúakarta) yang diyakini telah mencapai alam kesucian (svarga). dan pura kawitan (pura untuk memuja pendiri dinasti). Kori Agung ini senantiasa tertutup dan baru dibuka bila ada upacara di pura. dalam bahasa Bali disebut arca pangapit lawang).com Powered by Joomla! Generated: 24 September. Pintu masuk kehalaman dalam (jeroan) di samping disebut kori agung. dihalangi oleh kekuatan raksasa itu. Di kiri dan kanan pintu masuk candi bentar ini biasanya terdapat arca Dvàrapala (patung penjaga pintu. Kepalanya yang menyeringai ini dipahatkan pada kori agung. yang pada pura atau candi di India disebut Kìrttimukha. Bhoma adalah putra dewa Viûóu dengan ibunya dewi Påtivì yang berusaha mengalahkan sorga. yakni pintu masuk pertama dari halaman luar (jabaan atau jaba pisan) ke halaman tengah (jaba tengah). 2010. tetapi biasanya menggunakan jalan kecil yang biasanya disebut "bebetelan". Di antara jeroan dan jaba tengah biasanya dipisahkan oleh candi kurung atau kori agung. Akhimya ia dibunuh oleh Viûóu sendiri. terletak di sebelah kiri atau kanan kori agung itu. KeSimpulan Berdasarkan uraian tersebut di atas maka dapat ditarik simpulan bahwa pura adalah tempat suci. pura teritorial.e-banjar. Mcnurut cerita Hindu. Di samping itu pengelompokkan pura juga dibedakan atas pura umum. 20:40 . berbentuk raksasa yang berfungsi sebagai pengawal pura terdepan. pada arnbang candi pintu masuk candi Jawa Tengah discbut Kàla. pura fungsional. tempat untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa. Umat penyungsung(pemilik pura) tidak menggunakan kori agung itu sebagai jalan keluar-masuk ke jeroan. Sebelum sampai ke halaman dalam (jeroan) melalui kori agung. penempatan kepala raksasa Bhoma atau Kìrttimukha pada kori agung dimaksudkan supaya orang yang bermaksud jahat masuk kedalam pura. juga dinamakan gelung agung. http://www. Candi bentar ini adalah simbolis pecahnya gunung Kailaúa tempat bersemadhinya dewa Úiva.

sedangkan berdasarkan karakternya dibedakan menjadi Pura Kahyangan Jagat. Bhuvah. 20:40 .e-banjar. Pura dengan 3 halaman pada umumnya untuk pura yang besar (Kahyangan Jagat) sedangn pura dengan 2 atau satu halaman pada umumnya utuk pura Kawitan atau pura keluarga. Pura dibedakan berdasarkan pengelompokka peruntukannya. 2010. 2 halaman (Jeroan dan Jabaan) yang melambangkan alam sorga dan bumi dan yang satu halaman saja yang melambangkan alam sorga. Pura Swagina (pura fungsional) dan Pura Kawitan. Jaba Tengah dan Jaba Sisi) yang melambangkan Tribhuwana (Svah. Pura Kahyangan Desa. utamanya roh suci para mahàrûi (àchàrya) dan pendiri dinasti ( http://www. dan Bhurloka).com Powered by Joomla! Generated: 24 September. yaitu pura yaitu pura sebagai tempat untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa atau para devatà manifestasi-Nya dan pura untuk memuja roh suci para leluhur.e-banjar portal web site Berdasarkan fungsinya dibedakan menjadi Pura Jagat dan Pura Kawitan. Berdasarkan struktur pura dibedakan pura dengan 3 halaman (Jeroan.

1989. Bernet. Bandung: Masa Baru.e-banjar. 1959. Mishra. Covarubias. Sudiman. 1982. I Made. Prasasti Bali.1989. Rajendra. 1969. Disertasi dalam Ilmu-ilmu Sastra Universitas Indonesia.Sejarah Kesusastraan Sanskåta.e-banjar portal web site Daftar Pustaka Ardana. -------. Den Haag: Van Goor Zonen. Kempers. A. Kualalumpur: Oxford University Press. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. 2003. Monumental Bali. Titib. 1974. 27 April 1974. Teologi dan Simbol-Simbol Dalam Agama Hindu. Denpasar: tanpa penerbit. Candi Fungsi dan Pengertiannya. Roelof. Candi Lorojongrang. Sejarah Perkembangan Hinduisme di Bali. Surabaya: Penerbit Paramita.com Powered by Joomla! Generated: 24 September. Miguel. Soekmono.Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu ke X tanggal 28 sampai dengan 30 Mei 1984 http://www. J. I. 2010. I Gusti Gde. 20:40 . Denpasar: Publisher. Island of Bali. Yogyakarta: Kanisius. Departemen Pandidikan dan Kebudayaan. Goris. 1954.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful