P. 1
Problem Filsafat Jilid I

Problem Filsafat Jilid I

|Views: 756|Likes:
Published by Anom Astika
Bulletin Problem Filsafat Jilid I
Bulletin Problem Filsafat Jilid I

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Anom Astika on Oct 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/03/2012

pdf

text

original

Problem Filsafat

1
No. 1 / Tahun I / November 2009
PROBLEM
FILSAFAT
Bulletin Komunitas Marx
STF Driyarkara No. 1 / 2009
Apa Perlunya
Membaca Das Kapital?
Problem Filsafat 2
No. 1 / Tahun I / November 2009
Problem Filsafat 3
No. 1 / Tahun I / November 2009
Orasi Pembukaan Serial Diskusi Membaca Kapital
berderapnya anak zaman
menyongsong rebahnya kesadaran
inlander
oleh: I Gusti Anom Astika
Yang Terhormat, para calon peserta serial
diskusi Membaca Das Kapital, kawan
kawan Komunitas Marx, Komunitas Hegel,
dan Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi
Filsafat Driyarkara,
Yang Terhormat, para Pengajar dan
Civitas Akademik Sekolah Tinggi Filsafat
Driyarkara,
Yang Terhormat, para pelajar flsafat di
seluruh Indonesia,
Pertama-tama, saya ucapkan
terima kasih yang sedalam-dalamnya
kepada berbagai pihak yang telah
membantu dan mendukung segala
persiapan penyelenggaraan serial diskusi
ini. Baik kepada Pembantu Ketua III STF
Driyarkara, Romo Setyo Wibowo yang
telah berperan banyak membimbing
persiapan penyelenggaran acara ini,
maupun kepada kawan-kawan pengurus
Senat Mahasiswa STF Driyarkara
yang tak henti-hentinya memberikan
saran perihal bagaimana seharusnya
sebuah komunitas diskusi berperan
di dalam kehidupan mahasiswa STF
Driyarkara. Eksklusivitas di dalam hal
ini merupakan isu penting sehubungan
dengan komposisi mahasiswa STF yang
beragam asal usul dan latar belakang.
Karenanya terdapat banyak upaya untuk
melumerkan batas batas eksklusivitas
di dalam berbagai bidang kehidupan
masyarakat akademik, dan salah satunya
adalah melalui penyelenggaraan/
pembentukan komunitas studi ilmiah.
Sebagai bagian dari program Senat
Mahasiswa, seharusnya komunitas
memiliki kemampuan untuk menjaring
partisipasi baik dari berbagai komunitas
kerohaniawanan, maupun dari
kalangan awam. Pada titik ini problem
eksklusivitas dari sebuah komunitas
diskusi perlu dilihat secara kritis sebagai
cara untuk mempererat persaudaraan
maupun sebagai cara untuk memperluas
pengetahuan flsafat. Mungkin karakter
eksklusif ini tampil mengedepan pada
komunitas komunitas diskusi yang
terdahulu. Kendati demikian, belum
selalu eksklusivitas dapat dianggap
sebagai problem dasar dari keberadaan
sebuah komunitas studi flsafat di tengah
ruang belajar yang dihuni oleh banyak
orang dengan berbagai macam latar
belakang. Bagi kami, eksklusivitas di sini
lebih serupa bahasa lain dari problem
pergaulan di antara mereka yang berada
di dalam komunitas dan yang di luar
komunitas, walaupun problem pergaulan
itu sendiri juga tak selalu dapat dianggap
sebagai sebuah problem, dan lebih
serupa fenomena sosial. Apa yang
perlu dipikirkan lebih jauh adalah pada
bagaimana membentuk sebuah komunitas
studi flsafat yang berkemampuan
mendorong para peserta komunitas untuk
menghasilkan gagasan gagasan yang
kreatif sebagai konsekuensi logis dari
diskusi diskusi yang berlangsung di dalam
komunitas. Artinya kemudian, yang lebih
penting adalah bagaimana menciptakan
sebuah ruang bagi berlibatnya berbagai
individu di dalam komunitas studi
flsafat, dan bagaimana ruang itu dapat
melahirkan kerja sama kerja sama ilmiah
di antara para mahasiswa STF Driyarkara.
Boleh-bolehlah sekali waktu diskusi
Komunitas Marx berlanjut di Lapo Ni
Tondongta demi segelas bir dan dua porsi
babi panggang agar lahir sebuah karya
ilmiah tentang pemikiran Karl Marx.
Anggaplah itu seperti ujaran puitik Saut
Sitompul, “Ada daun jatuh, Tulis. Ada
bau babi panggang, Tulis. Tulis, tulis dan
Tulis!”.
Banyak juga yang beranggapan
bahwa persoalan eksklusivitas ini berkait
dengan cara berbahasa dari mereka yang
berada di dalam komunitas terhadap
mereka yang baru mencoba berpartisipasi
di dalam komunitas. Peristilahan yang
tidak lazim, perbincangan yang berlarut-
larut untuk topik yang tidak renyah
dicerna oleh rata-rata mahasiswa STF
boleh jadi berperan di dalam membentuk
eksklusiftas itu. Lebih-lebih apabila wajah-
wajah dari mereka yang berbicara aktif di
dalam komunitas itu lebih memancarkan
kesuraman ketimbang pengharapan.
“Pantaslah, sudah bahasanya aneh, yang
diomongin aneh, apalagi orang-orangnya:
Autis!”, demikian kata seorang mahasiswi
UI yang sekali waktu dua-tiga tahun lalu
hadir dalam sebuah diskusi komunitas.
Anggapan itu belum selalu benar, lantaran
kami beranggapan bahwa “aneh” adalah
sesuatu yang memang dan harus lekat pada
setiap insan pelajar flsafat, sebagaimana
manusia pada umumnya. Bukan dari
“sana” nya aneh, tapi memutuskan untuk
belajar flsafat di alam yang serba instan
dan serba butuh modal seperti sekarang
ini, sesungguhnya adalah ide yang
‘aneh’. “Buat apa belajar flsafat? Gak ada
untungnya!”, demikian kata ayah seorang
mahasiswa STF. Adanya keanehan tidak
selalu bermakna negatif, tetapi sungguh
positif ketika itu dilihat sebagai sikap
kritis terhadap segala sesuatu yang penuh
dengan tipuan optik, segala sesuatu
yang tidak membebaskan manusia, dan
sebagainya. Toh keanehan-keanehan
yang berlangsung di STF Driyarkara baru
sebatas gesture, diksi, dan bentuk bentuk
kebahasaan lainnya, dan belum serupa
anak buah Noordin M Top yang harus
memasuki rumah lewat jendela lantaran
memasang bom pertahanan diri di pintu
masuk rumahnya. Problemnya justru
pada apa yang dapat dihasilkan dari
segala keanehan itu sendiri. Apabila segala
bentuk keanehan dari sebuah komunitas
itu hanya menghasilkan orang orang yang
banyak membaca buku, dan pandai bicara
flsafat tapi begitu sulit melahirkan karya
karya flsafat berdasarkan riset boleh jadi
ada tendensi anti sosial dalam komunitas
itu. Boleh jadi juga komunitas itu, seperti
kata Mbah Surip, sedang begitu sibuk
menggendong dirinya sendiri, kemana-
mana mendapatkan jalan buntu kreativitas.
Entahlah, masih banyak kemungkinan
yang lain. Yang jelas persoalannya bukan
pada keanehan itu sendiri, tetapi lebih
pada bagaimana keanehan itu berinteraksi
dengan lingkungan sosialnya. Jangan
berharap lebih jauh akan keberadaan
sebuah komunitas, apabila publik STF
sendiri lalu berpendapat seumpama dua
bait terakhir sajak Sia-Sia Chairil Anwar di
tahun 1943: “Ah ternyata hatimu yang tak
memberi. Mampus kau dimakan sepi”.
Eksklusivitas menjadi per-
masalahan ketika eksklusivitas itu
justru melahirkan erotisme perdebatan
intelektual. Artinya bahwa problem-
problem yang dibicarakan di dalam
Problem Filsafat +
No. 1 / Tahun I / November 2009
Problem Filsafat 5
No. 1 / Tahun I / November 2009
sebuah perdebatan dapat dan hanya
dapat diperbincangkan oleh mereka yang
berlibat di dalam komunitas dan belum
selalu dipikirkan perihal keterlibatan
orang di luar komunitas sebagai bagian
dari perdebatan. Oleh sebab perbincangan
yang berlangsung di dalam komunitas
sudah sedemikian canggihnya, sehingga
orang di luar komunitas perlu berpikir
dua kali dua puluh empat jam tanpa
harus lapor RT untuk berlibat di dalam
komunitas. Oleh sebab, perdebatan yang
berlangsung sudah demikian luas cakup
pemahamannya; oleh sebab problem-
problem di dalam perdebatan itu
dibicarakan dengan diksi flosofs yang
tak terurai segera penjelasan ataupun
terjemahannya; langsung dalam waktu
sekejap keengganan menyapu semangat
untuk berlibat. Apa sebenarnya yang
diperdebatkan dan apa-apa saja yang
dibahasakan secara flosofs?
Pembentukan sebuah komunitas
pada dasarnya tidaklah sama dengan
pembentukan perkumpulan suporter
sepakbola dan atau perkumpulan
pemuja arwah gentayangan. Adanya
sebuah komunitas di dalam lingkup
masyarakat akademik pun sudah pasti
bukan perkumpulan pesta pora dan
orgy. Melainkan berdasarkan kebutuhan
mempelajari kekhususan pemikiran
seorang flsuf misalnya, dan boleh jadi
juga sebuah ekskursus (studi banding) ke
berbagai pemikiran tentang modernisme,
misalnya. Pendek kata, di dalam proses
pembentukan sebuah komunitas problem
pertama yang harus diawab adalah
“persoalan apa di dalam flsafat yang
perlu dipelajari secara serius”. Apakah itu
serupa pemikiran-pemikiran dari seorang
tokoh flsafat, ataukah itu isu-isu penting
di dalam flsafat, seluruhnya dapat
dianggap sebagai awal dari pembentukan
sebuah komunitas. Problem kedua yang
perlu diawab adalah pada bagaimana
mempersiapkan proses belajar di dalam
komunitas. Bagi kami dari Komunitas Marx
dasar dari problem kedua ini lebih merujuk
pada pemikiran Marx tentang komunitas
sebagaimana yang dituangkannya dalam
Economic and Philosophical Manuscript,
bahwa:
“Dengan hakekat kemanusiaan
yang menciptakan komunitas
sejati manusia, di sana manusia
menciptakan komunitas kemanusiaan
melalui aktivasi dari hakekatnya.
Hakekat manusia adalah hakekat
sosial yang bukan merupakan
kekuasaan abstrak umum terhadap
individu, tetapi hakekat dari setiap
individu, yang berkait dengan
aktivitas, kehidupan, pikiran
dan kesejahteraan dari individu
itu sendiri... Manusia bukanlah
abstraksi, tetapi sungguh individu-
individu yang nyata, hidup dan unik
dari hakekat (komunal) ini”.
1
Artinya, proses belajar ini perlu
mempertimbangkan kepentingan dari
setiap individu untuk dapat berlibat
di dalam komunitas. Bukan sekedar
mobilisasi rasa ingin tahu yang dapat
diadikan dasar untuk mempersiapkan
proses belajar, tetapi justru pemahaman
terhadap problem-problem flsafat dan
problem-problem realitas sosial yang
dapat direfeksikan secara flosofs. Penting
karenanya memperhatikan bagaimana
Antonio Gramsci mendefnisikan flsafat
sebagai sebuah materi pendidikan:
“Konsepsi seseorang tentang dunia
adalah tanggapan atas sejumlah
problem spesifk tertentu yang
diletakkan oleh realitas, yang cukup
spesifk dan ‘orisinal’ oleh karena
kemendesakan dari relevansinya”.
2
Beberapa alinea sebelumnya Antonio
Gramsci menulis dengan begitu lugas:
“Adalah penting untuk
menghancurkan prasangka meluas
bahwa flsafat adalah sesuatu yang
aneh dan sulit hanya karena flsafat
merupakan aktivitas intelektual yang
spesifk yang secara sosial menjadi
kategori khusus kaum spesialis atau
para flsuf sistematik dan profesional.
Sudah saatnya ditunjukkan bahwa
semua orang adalah “flsuf” dengan
membuat batasan-batasan maupun
karakteristik ‘flsafat spontan’ yang
sesuai bagi semua orang”.
3
Arti pentingnya bukan pada bagaimana
Gramsci mendefnisikan flsafat sebagai
sebuah konseptualisasi dunia, tetapi
justru pada bagaimana melihat flsafat
sebagai sebuah upaya untuk memperluas
pemahaman tentang dunia dengan melihat
bahasa, kemasukakalan dan kebiakan,
serta folklor sebagai bagian-bagiannya.
Akan tetapi apa yang dikemukakan
oleh Gramsci di muka agak bermasalah
lantaran terjadi pemisahan antara flsafat
profesional dan flsafat spontan, antara
realitas yang dipahami oleh para flsuf
dengan realitas yang dipahami oleh
orang biasa. Ketika dua pemahaman
terhadap realitas itu dipertemukan di
ranah praktis menjadi sulit untuk mencari
rumusan rumusan flosofsnya. Dalam
artian apabila pendidikan dibayangkan
sebagai sebuah proses pembentukan
pemikiran flsafat, dan oleh karenanya
perlu memperhitungkan keterkaitan
antara teori dan praktek; pencerapan
pengetahuan dan ketrampilan menulis
lalu bagaimana meletakkan flsafat dalam
dimensi praksis? Lefebvre kemudian
menjawabnya sebagai berikut:
“Praksis bagaimana pun dibentuknya
tetap merupakan sesuatu yang
terbuka: praksis selalu menunjuk
pada ranah kemungkinan. Secara
dialektis, inilah tepatnya makna
dari determinasi: yang negatif
mengandung yang positif, menegasi
masa lalu dalam makna yang
mungkin, dan memanifestasikannya
sebagai totalitas. Setiap praksis
memiliki dua koordinat historis:
yang pertama menujuk masa lalu,
yang sudah dan sedang diselesaikan,
sedang yang lain pada masa depan
pada hal mana praksis menjadi
terbuka dan memungkinkan untuk
diciptakan.”
4
Pemaknaannya di sini lebih berkait dengan
flsafat sebagai sebuah media pendidikan,
sebagai sarana yang terus mendorong
lahirnya pemaknaan pemaknaan baru
terhadap pengalaman-pengalaman
hidup manusia. Bahasa memang selalu
mengandung nilai flosofs, tetapi baru
memiliki penjelasan flosofs ketika
dihubungkan dengan aktivitas manusia
yang lain. Adanya flsafat bukan oleh
karena kebiasaan membaca buku, dan
berdiskusi sepanjang hari demi lahirnya
gagasan-gagasan flosofs. Melainkan ia
lahir melalui riset, melalui penyelidikan
terhadap berbagai macam problem
flsafat, baik yang sudah ditulis oleh para
flsuf maupun terhadap problem-problem
kongkret. Artinya kebutuhan untuk
mempelajari flsafat di sini tidak hanya
didasarkan pada ketertarikan terhadap
problem problem flsafat, tetapi juga
tujuan maupun kepentingan individu
di dalam mempelajari flsafat. Apakah
itu untuk menempa kemahirannya di
dalam menelisik gagasan flosofs di balik
fenomena realitas sosial, ataukah itu untuk
merancang sebuah direktori pemikiran
dari perspektif Marxis, seluruhnya coba
diwadahi dalam proses diskusi dalam
rangka praksis ini. Menarik jika kemudian
kita memperhatikan perkembangan yang
paling belakangan dalam studi studi
flsafat dari garis Marxian, yang kini sudah
mencakup bidang bidang kehidupan
yang spesifk seperti problem emansipasi
kaum peranakan sebagaimana yang
diadvokasi oleh Cornel West, problem
Problem Filsafat 6
No. 1 / Tahun I / November 2009
Problem Filsafat /
No. 1 / Tahun I / November 2009
estetika counterpoint dalam bidang
musik sebagaimana yang sudah diinisiasi
oleh Theodor Adorno, maupun problem
feminisme dalam flsafat seiring dengan
munculnya sejumlah flsuf perempuan
di akhir abad ke 20 seperti Judith Butler,
dan Toril Moi. Secara praktis-flosofs
gagasan Marxisme juga berpengaruh
dalam pemikiran di bidang kesenian dan
kesusasteraan. Mungkin yang diketahui
oleh mahasiswa STF baru sebatas debat
antara Lukacs, Brecht, dan Bloch tentang
estetika marxis. Tetapi di belahan Amerika
Latin tercatat nama Augusto Boal yang
bereksperimen teater pembebasan,
sebagaimana juga Tadeusz Kantor di
pinggiran desa desa di Polandia. Sudah
tidak jamannya lagi kita masih berpikir
dalam perspektif ortodoksi marxisme
dan lingkar marxisme Barat. Sebab itulah
pembagian yang kerap bernuansa Perang
Dingin, dan tidak dapat melihat secara
komparatif bagaimana studi flsafat di
Yugoslavia bisa menghasilkan flsuf
semacam Slavoj Zizek sebelum melihat
secara historis bagaimana relasi diantara
intelektual Eropa di masa Perang Dingin.
Dengan demikian, problem pendidikan
flsafat di sini belum selalu bermakna
pembacaan sebuah teks seorang flsuf,
lalu diselidiki paragraf demi paragraf
untuk kemudian dicari logika sang flsuf
di dalam mempersepsikan sesuatu dan
atau mendefnisikan sesuatu. Tetapi juga
melihat konsekuensi logis dari pemikiran
tersebut baik dalam pengembangan studi
studi flsafat maupun dalam realitas
sosial. Oleh karenanya, dalam konteks
pembacaan terhadap Das Kapital yang
menjadi titik tekan adalah pada bagaimana
mempelajari pemikiran Marx secara
flosofs, dan bagaimana realitas sosial
dipersepsi oleh Marx sebagai cara untuk
melihat relasi di antara teori dan realitas
dalam kerangka praksis.
Sudah pasti sulit mempersiapkan
proses belajar yang demikian, oleh karena
persoalan-persoalan yang dibahas tidak
sekedar mencari makna di balik sebuah
istilah, dan juga bukan sekedar membuat
artikulasi logis dari kalimat-kalimat yang
tertuang di dalam teks Das Kapital. Apa
yang lebih penting adalah membuat
pembacaan itu dapat dipersepsikan
sebagai sebuah studi ilmiah. Oleh sebab,
pembacaan secara harafah, dan bahkan
reduksionis, sudah bermula sejak Friedrich
Engels membuat karya Sinopsis terhadap
Kapital, dan seterusnya ketika Engels
melanjutkan Jilid II dan III Das Kapital
dengan berdasar fragmen-fragmen catatan
Marx.
5
Berdasarkan pembacaan terhadap
Kapital jilid II dan III yang cenderung lebih
praktis dan tidak mengandung perdebatan
flosofs seperti dalam Kapital jilid I,
segala pemikiran Marx di dalam proyek
Das Kapital disederhanakan oleh banyak
intelektual Kiri, termasuk Lenin, sebagai
Ekonomi Politik. Gunanya sebatas bahan
agitasi propaganda kepada kelas proletar
untuk mulai melancarkan pemogokan-
pemogokan demi pengambilalihan
alat-alat produksi. Sementara Harry
Cleaver mencatat munculnya berbagai
macam tradisi membaca Das Kapital dan
kemudian membaginya ke dalam dua aras
besar yang saling bersilangan: Pembacaan
berdasarkan bidang kajian dan pembacaan
berdasarkan tujuan politik.
6
Dari sana
Cleaver, menjabarkan pembacaan
berdasarkan perspektif Ekonomi Politik
Internasional Kedua, dengan tokoh-
tokohnya Eduard Bernstein, Karl Kautsky,
dan Rosa Luxemburg; pembacaan
Komunis Marxis, dengan tokoh-tokohnya
Lenin, Stalin, Mao Tse Tung; pembacaan
Neo Marxis Keynesianisme dan Kiri Baru
dengan tokoh-tokohnya Paul Sweezy, Joan
Robinson, dan Paul Baran; pembacaan
Ortodoksi Baru dengan tokoh-tokohnya
Ernest Mandel dan Paul Matick.
Pembacaan secara Filosofs memiliki ragam
tendensi yang begitu luas, mulai dari
lingkar Marxisme Barat (Western Marxism),
dengan tokoh tokohnya seperti Lukacs,
Gramsci dan Karl Korsch yang semuanya
menekankan pengaruh Hegel atas Marx;
Neo Kantianisme Galvano Delavolpe
dan Lucio Colleti; Marxis Hegelianisme
Jean Hyppolite dan Alexandre Kojeve;
Eksistensialisme Jean Paul Sartre, Simone
de Beauvoir, dan Maurice Merleau Ponty;
Marxisme fenomenologis Tran Duc Thao
dan Karel Kosik; teori Kritis mazhab
Frankfurt dengan tokoh tokohnya
Marcuse, Horkheimer, Adorno dan
Habermas; mazhab ortodoksi baru Louis
Althusser; tendensi Johnson Forrest
dengan tokoh tokohnya C.L.R. James dan
Raya Dunayevskaya; mazhab Socialism
ou Barbarie dengan tokoh tokohnya
Cornelius Castoriadis dan Claude Lefort,
serta mazhab Kiri Baru Italia dengan
tokoh tokohnya, Raniero Panzieri, Tronti
dan Antonio Negri.
7
Pembagian ini
belum sepenuhnya benar dan lengkap
karena belum memasukkan tendensi dari
pemikiran Zizek dan Badiou misalnya,
dan belum juga memasukkan unsur
tendensi feminis Marxis, ataupun Geograf
Marxisme David Harvey yang dipengaruhi
oleh mazhab anales (spasial) Fernand
Braudel. Lebih lebih ketika Cleaver secara
sembrono memasukkan Althusser sebagai
pemikir ortodoksi Marxisme dalam bentuk
yang baru, dan tendensi Birmingham
Cultural Studies dengan tokoh tokohnya,
Raymond Williams, dan EP Thompson
sekedar sebagai bagian dari Western
Marxism. Tetapi sebagai sebuah peta
sederhana tentang pembacaan terhadap
Das Kapital, Cleaver menyediakan basis
bibliografk untuk pembacaan Das Kapital
di STF Driyarkara. Oleh karenanya di
dalam proses belajar nantinya diupayakan
beberapa macam pembahasan. Pertama
pembahasan secara literer tekstual yang
berdasarkan atas pemaknaan terhadap teks
Das Kapital, dan yang kedua pembahasan
secara interpretatif dan elaboratif yang
merujuk pada silang referensi antara
karya karya Marx sebelum Das Kapital dan
Das Kapital, maupun Das Kapital dengan
karya karya para penafsirnya. Barangkali
hanya mereka yang kurang kerjaan mau
berpikir tentang Das Kapital dalam cara
yang begitu rumit ini.
Pembahasan yang elaboratif
dan interpretatif sebenarnya juga bukan
sesuatu yang baru, karena sudah banyak
tersedia karya karya tulis ilmiah yang
mempelajari satu atau beberapa gagasan
dalam Das Kapital. Ambil contoh studi
studi yang dilakukan oleh Walter Benjamin
mengenai fetisisme komoditi, reproduksi
modal dan reproduksi budaya sebagai
yang tertuang dalam karyanya The Work
of Art in the Age of Mechanical Reproduction.
Kemudian studi Georg Simmel tentang
kehidupan kota besar yang meletakkan
unsur ekonomi uang sebagai relasi
sosial yang membentuk sosio-psikologi
masyarakat kota, tertuang dalam
tulisannya, Metropolis. Dalam bidang
sejarah, pemaknaan atas ruang studi
sejarah yang tidak hanya berbatas pada
urut urutan waktu tetapi sebagai rangkaian
peristiwa yang berserakan tanpa narasi
tunggal telah melahirkan pemahaman
tentang demokratisasi sejarah yang
berangkat dari pengalaman hidup mereka
yang dipinggirkan. Sejarawan Inggris
EP Thompson sudah memulainya, dan
kemudian diformulasikan secara flosofs
oleh Alain Badiou, menginterpretasikan
kembali sejarah yang dipikirkan oleh Karl
Marx sebagai sejarah aktivitas manusia.
Semuanya ini menunjukkan bahwa yang
ditulis oleh Marx dalam Das Kapital telah
menjadi sumber yang inspiratif bagi
proyek proyek pembebasan manusia
maupun bagi pengembangan studi
flsafat.
Sebagai cara untuk mempelajari
Problem Filsafat 8
No. 1 / Tahun I / November 2009
Problem Filsafat 9
No. 1 / Tahun I / November 2009
Das Kapital, kami mempersiapkan sejumlah
teks pendukung yang memungkinkan
para peserta diskusi membaca dalam
makna yang interpretatif. Pertama kami
mengupayakan agar setiap peserta
bisa mendapatkan buku Das Kapital
yang diterbitkan oleh Penguin Publisher.
Kedua kami juga mengupayakan adanya
pendataan atas buku buku studi Das Kapital
baik yang tersedia di perpustakaan STF
Driyarkara maupun di perpustakaan lain.
Sebagai contoh, buku Dictionary of Marxist
Thought yang ditulis oleh Tom Botomore
sejauh yang kami ketahui tersedia di
perpustakaan Freedom Institute. Kemudian
kami juga mengupayakan adanya sebuah
perpustakaan fle digital dalam bentuk
CD/DVD yang berisi karya karya lengkap
Karl Marx beserta para penafsirnya.
CD/DVD ini sebenarnya dapat dipesan
secara gratis ataupun diunduh secara
gratis pula via internet. Perpustakaan ini
juga menyediakan adanya buku buku
pendukung studi Das Kapital ataupun
artikel-artikel jurnal internasional dalam
bentuk fle digital, dan kuliah 12 kali
pertemuan membaca Das Kapital yang
diampu oleh David Harvey dalam format
fle Audio dan Video. Pendeknya, kami
berusaha mempersiapkan proses belajar
ini dari segi ketersediaan materi, yang
mana akan dapat dipenuhi selambat-
lambatnya pada diskusi pertama buku
Das Kapital. Karenanya kami berharap
nantinya agar peserta diskusi dapat
berpartisipasi aktif di dalam proses belajar,
tidak sekedar melewatkan waktu demi
membuang ludah-ludah keresahan tetapi
juga mempersiapkan gagasan gagasan
yang dapat diartikulasikan secara ilmiah
ke hadapan publik; merencanakan sesuatu
untuk ditulis tepatnya.
Problem proses belajar, sekali
lagi bukan sesuatu yang mudah. Bagi
kami yang belum selesai menuntaskan
kuliah problem waktu dan tenaga,
serta latar belakang pendidikan yang
beragam di antara kami kerap membuat
kami kurang begitu yakin apakah kami
cukup memiliki kemampuan untuk
menyelenggarakan serial diskusi ini.
Lebih-lebih kekurangyakinan ini diwarnai
juga oleh sejumlah pertanyaan yang penuh
prasangka dari kalangan mahasiswa
STF Driyarkara, yang membuat kami
penat berpikir perihal relasi sosial di
dalam lingkup masyarakat akademik.
“Apakah acara ini bermuatan politis?”,
“Apakah acara ini didanai oleh organisasi
di luar STF Driyarkara?”, “Apakah
acara ini bertujuan memperburuk citra
STF Driyarkara di hadapan publik?”,
“Apakah acara ini bertujuan membentuk
embrio Partai Komunis yang baru?”, dan
sebagainya, ini semua yang kami tangkap
sebagai sesuatu yang penuh kewajaran.
Bahkan sehari sebelum acara ini dimulai
masih ada yang berpesan agar acara ini
sebaiknya dilangsungkan di Gedung
Juang ‘45 dan bukan di STF Driyarkara.
Sesungguhnya kami di sini perlu meminta
maaf kepada berbagai pihak apabila
keberadaan kami yang ingin mempelajari
buku Das Kapital di STF Driyarkara
sebagai sesuatu yang salah dan tidak
dapat dibenarkan sama sekali. Sungguh,
kami pun bersedia mengundurkan diri
sebagai mahasiswa STF Driyarkara
apabila di dalam proses belajar nantinya
terjadi usaha-usaha pembentukan embrio
partai Komunis. Bahkan di dalam pikiran
pun kami mencoba memperhitungkan
agar segala sesuatu yang berbau ‘politis’
dalam arti agitasi dan propaganda dapat
diminimalisasi selama proses belajar.
Selebihnya kami hanya dapat bersyukur
kepada Allah Yang Maha Kuasa karena
ternyata hegemoni Orde Baru jauh lebih
berpengaruh dibanding segala macam
pengajaran maupun fasilitas perpustakaan
flsafat di STF Driyarkara. Oleh karena
ternyata flsafat jauh lebih tidak berharga
ketimbang doktrin Rejim Orde Baru:
bahwa belajar Marxisme sama dengan
menyebarluaskan ideologi Marxisme
Leninisme. Seperti sebuah pemenjaraan
intelektual yang dikemukakan oleh
mereka yang berpikir seperti Rejim
Orde Baru tetapi sesungguhnya tidak
memiliki kepribadian. Seperti inlander
di masa kolonial Hindia Belanda yang
begitu rupa memuja muja stabilitas,
tetapi sesungguhnya itulah kedok dari
sikap suka menjilat ke atas dan nginjek ke
bawah! Akhirnya mungkin akan semakin
benar yang dikemukakan oleh Karl
Marx dalam Theses on Feuerbach, bahwa
flsafat hanya mampu menggambarkan
dunia, yang kemudian kami baca sebagai
flsafat hanya mampu menjadi pembenar
dari ideologi kelas berkuasa. “Padahal
yang lebih penting adalah bagaimana
mengubahnya”, demikian lanjut Marx,
yang lalu kami baca sebagai kritik terhadap
ideologi kelas berkuasa.
Problematik proses pendidikan
lebih berkenaan dengan problem
penciptaan sebuah proses belajar bersama
yang tidak mendefnisikan kemampuan
seseorang sebagai yang paling menguasai
dibanding yang lain. Kebetulan saja
beberapa di antara kami pernah membaca
beberapa karya Karl Marx, tetapi itu tidak
mengandaikan bahwa kami lah yang
paling menguasai pemikiran Karl Marx.
Banyak hal yang belum kami pahami dari
pemikiran Karl Marx dan oleh karenanya
kami mengundang teman teman sekalian
untuk dapat berpartisipasi di dalam serial
diskusi ini. Oleh karenanya juga kami
berharap di dalam proses diskusi nantinya
dapat dibentangkan sebuah panorama
kegembiraan intelektual yang tiada habis-
habisnya seperti yang digambarkan oleh
Buyung Saleh Puradisastra dalam puisinya
di tahun 1945:
SEKEDAR PERMINTAAN
8
Tidak terlampau aku meminta
dari hidupku kini di sini
dan tak kutolak beban derita
yang merusakkan ruh dan jasmani
Aku sekadar meminta Cinta
penuh dan padu, mutlak dan murni
mengisi hati semua kita
keturunan Adam di bumi ini.
Aku ingin yang segala mahluk
penuh kasih antara sesama
bagia hidup setimbang tenang.
Aku yakin segala yang buruk
bukannya sifat untuk selama:
pasti nanti Kebajikan kembang
Demikian orasi ini kami sampaikan, dan
semoga segala yang hadir di sini dapat
tetap menatap awan di dalam gelap
Catatan Akhir
1. Karl Marx, Economic and Philosphical
Manuscript 1844, diambil dari Kenneth A.
Megill, The Community in Marx’s Philosophy,
dalam Philosophy and Phenomenological
Research, Vol. 30, No. 3. (Mar., 1970), pp.
382-393. h. 388, melalui situs web htp://
links.jstor.org/sici?sici=0031-8205%281970
03%2930%3A3%3C382%3ATCIMP%3E2.0
.CO%3B2-Z.
2. Antonio Gramsci, The Study of Philosophy,
diambil dari situs web www.marxists.org
3. Ibid.
4. Henri Lefebvre, Sociology of Marx,
diterjemahkan dari bahasa Prancis oleh
Norbert Guterman, Columbia University
Press, 1968, hlm. 55.
5. Bdk. Harry Cleaver, Reading Capital
Politically, Texas University Press, h. 31
6. Ibid. Figure 1.
7. Ibid. hlm. 46.
8. H.B. Jassin (ed.), Gema Tanah Air, Prosa
dan Puisi 1942-1948, Dinas Penerbitan Balai
Pustaka Jakarta, 1959. hlm. 67.
Problem Filsafat 10
No. 1 / Tahun I / November 2009
Problem Filsafat 11
No. 1 / Tahun I / November 2009
Sebenarnya bukanlah
sesuatu yang cukup sederhana untuk
membeberkan lahir dari mana gagasan
Karl Marx di dalam membuat buku
Das Kapital. Ada banyak perkembangan
situasi yang begitu berpengaruh terhadap
pemikiran Marx, dan begitu banyak juga
pekerjaan yang harus diselesaikan oleh
Marx baik sebagai jurnalis, intelektual,
maupun sebagai aktivis politik. Oleh
sebab itu di dalam hal ini kami coba
mendekati asal-usul pemikirannya
lewat sebuah rekonstruksi rasional dari
keberadaan buku Das Kapital.
Pemikiran Marx tentang ekonomi,
sebenarnya perlu dicermati sebagai
kepedulian terhadap perkembangan
kesadaran politik, dan bukan sekedar
kepedulian terhadap perkembangan
Editorial:
Pada orasi yang kami sampaikan sepekan yang lalu telah kami
paparkan dengan ringkas perihal berbagai macam persiapan di
dalam penyelenggaraan serial diskusi Membaca Kapital. Baru pada
kesempatan ini kami sampaikan dengan lebih lapang perihal
keberadaan buku Kapital, beserta metodologi pembacaan buku
Kapital secara lebih programatik dan terinci. Dua artikel pertama
berkait dengan keberadaan buku Kapital, sedangkan selebihnya
adalah yang berkait dengan metodologi pembacaan Kapital. Oleh
karenanya, lebih kurangnya kami berharap banyak masukan
bergulir seiring dengan perkembangan penyelenggaraan serial
diskusi ini.
Adanya Buku Das Kapital
oleh: I Gusti Anom Astika
ekonomi kapitalis. Walaupun dirinya
sendiri mengatakan bahwa buku Das Kapital
adalah penggambaran tentang proses
produksi kapitalisme, dalam arti hukum-
hukum yang mengatur gerak ekonomi
kapitalis
1
, tetapi perlu diperhatikan bahwa
apa yang dikemukakan oleh Marx selalu
berada dalam pemikiran tentang dua
aras perkembangan kesadaran manusia
yang bergerak dan berubah-ubahnya
selalu dipengaruhi oleh relasi-relasi sosial
dan bangunan ekonomi politik. Apa
yang tampak dalam keseharian sebagai
fenomena kesadaran dan tindakan sosial
merupakan aras yang pertama, sementara
pemikiran yang sistematis dan praktek yang
terencana lebih serupa fenomena untuk
aras yang kedua. Dasar dari pemikiran
tentang dua aras ini dikemukakan oleh
Marx dalam Kemiskinan Filsafat (The
Poverty of Philosophy):
“Jadi, apakah metode mutlak ini?
Yalah abstraksinya gerak. Apakah
abstaksinya gerak itu? Yalah gerak
dalam kondisi abstrak. Apakah
gerak
dalam kondisi abstrak itu? Yalah
perumusan logis semurninya dari
gerak
atau gerak nalar semurninya. Terdiri
atas apakah gerak nalar
semurninya itu? Dalam memajukan
diri sendiri, dalam melawan diri
sendiri, dalam menggubah diri
sendiri; dalam merumuskan dirinya
sendiri sebagai tesis, antitesis,
sintesis; atau lagi-lagi, dalam
mengafrmasi/menegaskan diri
sendiri, menegasi diri sendiri dan
menegasi negasinya.”
2
Beberapa tahun sebelumnya di dalam The
German Ideology, Marx menegaskan:
“Berangkat dari pembagian kerja, di
dalam mana semua kontradiksi ini
menjadi implisit, dan yang sebaliknya
berdasar pada pembagian kerja alami
di dalam keluarga dan pemisahan
masyarakat ke dalam keluarga
keluarga individual yang saling
bertentangan satu dengan yang lain,
secara simultan diberikan distribusi
dan sesungguhnya distribusi yang
tidak adil baik secara kuantitatif
maupun kualitatif atas kerja dan
produk-produknya, sehingga
kepemilikan adalah keluarga inti,
bentuk pertama yang berada di
dalam keluarga, di mana anak-anak
dan istri adalah budak budak dari
sang suami.”
(With the division of labour, in which
all these contradictions are implicit, and
which in its turn is based on the natural
division of labour in the family and the
separation of society into individual
families opposed to one another, is given
simultaneously the distribution, and
indeed the unequal distribution, both
quantitative and qualitative, of labour
and its products, hence property: the
nucleus, the frst form, of which lies in
the family, where wife and children are
the slaves of the husband.)
3
Kedua kutipan di muka
sebenarnya merefeksikan dialektika di
dalam kedua aras di muka. Apa yang
tampak dalam kutipan pertama lebih
serupa pemikiran tentang nalar. Tetapi
jika nalar itu diletakkan dalam relasi
sosial maka makna dari nalar tersebut
serupa dengan pembagian kerja di
dalam masyarakat. Artinya di sini Marx
mencoba menyusun sebuah kerangka
berpikir bahwa di dalam berbagai bidang
kehidupan, di dalam mana individu-
individu manusia berkembang satu
dengan yang lain, problem keberadaan
diri manusia dibangun melalui dialektika
diantara ‘pikiran’ dan ‘menjadi’ serta di
antara ‘kesadaran’ dan ‘tindakan’ di dalam
bentuk kerja, yang juga berdialektika
dengan relasi-relasi sosial di dalam
masyarakat. Sehingga bukan sesuatu yang
biasa-biasa saja ketika Marx berpendapat
bahwa :
“Di atas segalanya penting untuk
menghindari mempostulasikan
‘masyarakat’ sekali lagi sebagai
abstraksi yang berlawanan
dengan individu. Sebab individu
adalah ada sosial. Manifestasi
dari kehidupannya, --bahkan
jika manifestasi itu tidak muncul
langsung dalam bentuk manifestasi
komunal, yang diselesaikan melalui
kerjasama dengan manusia-manusia
yang lain-- oleh karenanya adalah
sebuah manifestasi dan penegasan
akan kehidupan sosial.
Dalam kesadaran spesiesnya,
manusia menegaskan kehidupan
Artikel 1
Problem Filsafat 12
No. 1 / Tahun I / November 2009
Problem Filsafat 13
No. 1 / Tahun I / November 2009
sosial sejatinya, dan mereproduksi
eksistensi sejatinya di dalam
pemikiran.... Manusia mengada
(exists) dalam realitas sebagai
representasi dan pemikiran sejati
tentang eksistensi sosial dan sebagai
kesatuan manifestasi manusia akan
kehidupan.“
4
Oleh sebab itu di dalam pembahasan
terhadap buku Das Kapital, perspektif
Kerja sebagai bagian dari perkembangan
kesadaran manusia dan Kerja itu sendiri
sebagai manifestasi dari kehidupan
manusia yang selalu lekat di dalam
lingkup relasi sosial, pembagian kerja
dan pertukaran sosial berperan penting di
dalamnya.
Keberadaan manusia di dalam
lingkup relasi sosial boleh dianggap
sebagai sesuatu yang perlu dipersoalkan
selalu. Apa sebabnya? Karena keberadaan
manusia di sini bukan sebagai sesuatu
yang otonom dan begitu saja berperan
di dalam kehidupan sosial lepas dari
pengaruh kehidupan sosial itu sendiri.
Sementara relasi sosial adalah sesuatu
yang bergerak di luar kemampuan
pemikiran maupun kesadaran manusia, di
mana di dalamnya terdapat pertarungan
kepentingan di antara kelompok-
kelompok sosial, pertarungan kepemilikan
di antara kelompok-kelompok sosial, dan
berbagai pertarungan lain yang semuanya
menyediakan ruang bagi beradanya
manusia dengan aras-aras yang sudah
disebutkan di muka.
Problem kedua di dalam
pembahasan terhadap buku Das Kapital
adalah pada keberadaan dari kelas-kelas
sosial yang berlaku di masyarakat. Dalam
banyak tulisannya, terutama dalam Perang
Sipil di Prancis, Marx secara lugas dengan
berdasar pada narasi sejarah menyatakan:
“Dan (Rakyat) Paris sekarang
perlu memutuskan apakah harus
meletakkan senjatanya pada instruksi
yang menghina yang diajukan oleh
para pemilik budak dari Bordeaux,
dan mengakui bahwa Revolusi
rakyat Paris di tanggal 4 September
tidak bermakna apapun kecuali
sekedar alih kekuasaan dari Louis
Bonaparte kepada para pesaing
kerajaannya; atau rakyat Paris harus
berdiri di depan mengorbankan diri
sebagai pejuang Prancis, yang bisa
diselamatkan dari kehancuran dan
regenerasinya dimungkinkan hanya
dengan penggulingan revolusioner
terhadap kondisi sosial dan politik
yang mendukung Kekaisaran Kedua,
...Rakyat Paris yang sudah dikuruskan
oleh kelaparan selama lima bulan,
tidak ragu ragu untuk memilih satu
kalipun. Rakyat Paris secara heroik
memutuskan untuk melancarkan
semua serangan perlawanan
terhadap para konspirator Perancis,
dan bahkan terhadap meriam meriam
Prussia ...”
(And Paris was now either to lay down
her arms at the insulting behest of the
rebellious slaveholders of Bordeaux,
and acknowledge that her Revolution of
September 4 meant nothing but a simple
transfer of power from Louis Bonaparte
to his royal rivals; or she had to stand
forward as the self-sacrifcing champion
of France, whose salvation from ruin
and who regeneration were impossible
without the revolutionary overthrow of
the political and social conditions that had
engendered the Second Empire, ... Paris,
emaciated by a fve-months’ famine, did
not hesitate one moment. She heroically
resolved to run all the hazards of a
resistance against French conspirators,
even with Prussian cannon...)
5
Apa yang dikemukakan oleh Marx melalui
kutipan di muka sebenarnya adalah
gambaran tentang realitas relasi antar
kelas-kelas sosial. Ada kelas sosial yang
tetap memperjuangkan kepentingannya
sebagai penguasa negeri, sebagai yang
tetap berkehendak memiliki budak-
budak, dan ada kelas sosial yang berupaya
mengubah sistem politik yang menindas
mereka, kelas rakyat jelata. Apakah
sebenarnya yang ingin dikemukakan oleh
Marx melalui penggal paragraf 5 itu?
Praktis di dalam berbagai
tulisannya Marx tidak pernah membuat
defnisi yang baku tentang apa itu kelas.
Sekalipun banyak dari para pendukung
maupun penafsirnya berusaha membuat
defnisi yang baku tentang kelas, namun
upaya pendefnisian tersebut justru akan
memiliki kemungkinan banyak kerumitan
di dalam relasi sosial yang berkembang
dan berubah-ubah menurut ruang dan
waktu. Apa yang mungkin diawab oleh
Marx atas pertanyaan di muka adalah
seperti yang terdapat dalam tulisannya
The Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte.
6

Diceritakan oleh Marx bahwa ada satu
masa di dalam pemerintahan Louis
Bonaparte, di mana berbagai faksi kelas
borjuasi Prancis berperang politik di
dalam memperjuangkan gagasan gagasan
mereka tentang kebebasan hingga
mewujud dalam bentuk Undang-Undang
Dasar yang baru. Seperti misalnya gagasan
bahwa warga negara memiliki hak untuk
berkumpul secara damai dan tidak
bersenjata, untuk mengeluarkan petisi
dan mengungkapkan pendapat, baik
melalui pers atau melalui cara lain, yang
pelaksanaannya secara tanpa batas akan
mengamankan hak hak yang setara dari
yang lain dan keamanan publik; Kebebasan
pendidikan harus dilaksanakan di bawah
syarat syarat yang ditetapkan oleh hukum
dan dibawa kontrol tertinggi negara.
Education is free. Freedom of education shall
be enjoyed under the conditions fxed by law
and under the supreme control of the state.
Akan tetapi Marx lalu mengajukan kritik
bahwa segala hal yang disebutkan sebagai
kebebasan di dalam konstitusi tersebut
pada dasarnya justru mengkhianati
kebebasan itu sendiri oleh sebab
penambahan ide ‘yang lain’, ‘keamanan
publik’ dan ‘ditetapkan oleh hukum’
sebagai sesuatu yang “mengamankan”
kebebasan.
7
Artinya kemudian, kelas-
kelas yang memperjuangkan kebebasan
tidak paham dengan hakekat kebebasan
itu sendiri, dan lebih jauh lagi tidak paham
dengan keberadaannya sebagai kelas
yang mampu mewujudkan kebebasan.
Sehingga menjadi begitu sulit untuk
mendefnisikan keberadaan kelas dalam
relasi relasi sosial. Andaikata ditarik lebih
rampat dan longgar lagi pendefnisiannya
maka kelas adalah sebatas entitas sosial
yang keberadaannya ditentukan oleh relasi
relasinya pada proses produksi, seperti
yang pernah dikemukakan oleh Lenin.
Tetapi pendefnisian yang longgar ini pun
cenderung mereduksi keberadaan kelas
sebagai sesuatu yang hanya bermakna
politik praktis, dan tidak melihat kelas
sebagai bagian dari produksi sosial
masyarakat. Pendek kata defnisi Lenin
tersebut mengenyahkan karakter kultural
dari sebuah kelas sosial sebagai bagian
dari produksi sosial.
Hal ketiga berkait dengan
problem problem ekonomi politik.
Sebagaimana yang tampak dalam tulisan
tulisan awal Marx, ekonomi-politik
sebagai realitas yang melingkupi relasi-
relasi sosial dapat dilihat dalam diksi
pemikiran sebagai berikut:
“Pekerja tidak selalu mendapatkan
apa yang dihasilkan oleh kapitalis,
tetapi sudah pasti akan turut jatuh
ketika kapitalis mengalami kerugian.
Sehingga pekerja tidak mendapatkan
apapun ketika kapitalis menjaga
harga barang di atas harga alaminya
baik itu melalui jasa perdagangan
atau produksi rahasia, ataupun
melalui monopoli....
Problem Filsafat 1+
No. 1 / Tahun I / November 2009
Problem Filsafat 15
No. 1 / Tahun I / November 2009
Harga kerja dari berbagai macam
pekerja menunjukkan adanya
berbagai perbedaan yang begitu
lebar dibanding keuntungan yang
dicapai oleh berbagai macam usaha
di mana kapital berjalan. Dalam
kerja semua keragaman alami,
spiritual, dan sosial dari aktivitas
individual dimanifestasikan dan
diberikan penghargaan secara
berbeda beda, sementara kapital
justru memperlakukan sama dan
mengabaikan kesejatian dari aktivitas
individual”.
8
Apa yang dikemukakan oleh Marx
dalam dua alinea dari Manuskrip Ekonomi
dan Politik 1844 di muka sebenarnya
merepresentasikan bagaimana pekerjaan
yang sesungguhnya merupakan hakekat
dari aktivitas individual di dalam realitas
sosial adalah sesuatu yang mampu
dipertukarkan, dalam arti diperjualbelikan.
Apabila dikembalikan pada konteks relasi
relasi sosial sebagaimana yang sudah
disampaikan di muka maka relasi pekerja
dengan obyek kerjanya, hubungan antara
pengrajin sepatu dengan sepatu yang
dikerjakan olehnya, dalam hal ini tidak
bermakna apa-apa ketika keberadaan
dari si pengrajin itu tak lebih dari pekerja
dari industri sepatu. Pola hubungan
di antara pekerja pabrik sepatu dan
pemilik pabrik sepatu diperantarai oleh
sesuatu yang belum dapat dimaknakan
apapun kecuali alat pertukaran, yaitu
uang. Di dalam penjelasannya tentang
uang, Marx berpendapat bahwa uang
merupakan alat tukar yang tidak dapat
dipertanggungjawabkan; pengabstraksian
kerja dalam bentuk uang mengandaikan
dialektika di antara pekerjaan/kerja yang
secara sosial dibutuhkan untuk membuat
barang dagangan/komoditi, dengan
proses produksi kapitalisme yang justru
meniadakan kerja manusia itu sendiri.
Sehingga proses produksi kapitalisme
dalam kelanjutannya hanya menempatkan
manusia sebagai bagian dari proses
akumulasi modal. Walaupun begitu,
Marx melihat bahwa proses produksi
kapitalisme bukan lah sesuatu yang kekal
dan tetap, melainkan sesuatu yang sangat
mungkin berubah dan bahkan mengalami
kehancuran oleh karena kontradiksi
kontradiksi yang terjadi di dalam proses
produksi tersebut. Mirip dengan contoh
alinea yang diberikan di muka, maka
sudah seperti kewajaran bahwa proses
produksi kapitalisme tidak akan pernah
menurunkan harga barang dagangan/
komoditi, sementara penghargaan
terhadap kerja manusia akan selalu
direndahkan, demi mencapai keuntungan
yang sebesar besarnya. Sebagai akibatnya
daya beli masyarakat menjadi melemah,
dan infasi merajalela seperti yang kerap
terjadi di Indonesia belakangan ini.
Dari tiga hal yang sudah di
sampaikan di muka setidaknya di
dalam pembahasan terhadap buku Das
Kapital dapat bergerak melalui sisi sisi
ekonomi, politik, dan flsafat, oleh karena
dari sanalah Marx lalu secara serius
melakukan riset di British Museum untuk
menghasilkan Das Kapital.
Catatan Akhir
1. Preface to Capital.
2. Karl Marx, Kemiskinan Filsafat,
diterjemahkan oleh Oey Hay Djoen,
Penerbit Hasta Mitra, hlm. 78.
3. Karl Marx, The German Ideology, Chapter
II, Private Property and Communism, diambil
dari situs web www.marxists.org
4. Karl Marx, Economic and Political
Manuscript, di dalam Shlomo Avineri, The
Social and Political Thought of Karl Marx,
Cambridge University Press, 1968, hlm.
87.
5. Karl Marx, The Civil War in France,
bab Paris Workers’ Revolution and Thiers’
Reactionary Massacres, diambil dari situs
web www.marxists.org
6. Bdk. Karl Marx, Eighteenth Brumaire of
Louis Bonaparte, Bab II, diambil dari situs
web www.marxists.org
7. Ibid.
8. Karl Marx, Economic and Political
Manuscript, op.cit.
Problem Filsafat 16
No. 1 / Tahun I / November 2009
Problem Filsafat 1/
No. 1 / Tahun I / November 2009
Di dalam berbagai perbincangan
tentang perkembangan ekonomi politik
sebagaimana yang berlangsung selama
satu hingga dua dekade terakhir di
Indonesia, problematik kelaparan, dan
kesengsaraan akibat kemiskinan seperti
sesuatu yang berada di luar perkembangan
itu. Ia serupa perbincangan tentang
kepedulian sosial, dan bukan bagian dari
ekonomi politik. Apakah kemiskinan
atau kelaparan itu merupakan hasil dari
penerapan kebiakan ekonomi tertentu,
ataukah itu merupakan problem yang
berlangsung bersama dengan penerapan
kebiakan tersebut, semuanya seperti tidak
ingin dihubungkan. Seperti yang tampak
dalam perbincangan seputar korupsi yang
marak belakangan ini, hampir tidak ada
satu pun gagasan tentang “kepedulian
sosial” tercakup di dalamnya. Seluruhnya
berkutat pada proses hukum, dan tentang
si A bicara apa dan kemudian dibantah
oleh si B yang menganggap perbincangan
si B tidak benar. Lebih-lebih ketika semua
dimensi dalam perbincangan tersebut
seperti disekap di dalam ruang isi
penyadapan telepon yang dilakukan oleh
sejumlah orang yang diduga terlibat dalam
satu kasus korupsi tertentu. Tak satu pun
gagasan tentang kaitan antara korupsi
dan kemiskinan/pemiskinan masyarakat
dapat berkembang di dalam perbincangan
tersebut. Seolah-olah antara tindak korupsi
dan fenomena kemiskinan adalah sesuatu
yang tak mungkin dihubungkan oleh
karena pemahaman terhadap fenomena
korupsi dan fenomena kemiskinan/
Apa Perlunya Membaca Das
Kapital?
oleh: I Gusti Anom Astika
Artikel 2
pemiskinan masyarakat kerap terjebak
dalam partikularitas salah kaprah, yang
tidak menghubungkan antara satu
pengetahuan dengan pengetahuan yang
lain. Demikian juga dengan flsafat
yang pada awalnya berusaha menjawab
problem-problem irasionalitas dalam
kehidupan manusia, baik itu dalam
kerangka mempertanyakan berbagai
fenomena alam maupun fenomena
kehidupan sosial, pada perkembangannya
kemudian menjadi semacam lembaga
pembenar perilaku ataupun lembaga etik
sebagaimana yang diinginkan oleh para
pemilik modal. “Berusahalah sepenuh
hidupmu, maka di sana kan tampak dunia
bahagia mendapatkanmu”, demikian
kata seorang motivator di sebuah acara
stasiun televisi. Sementara bagaimana
sebuah pemikiran berkemampuan
menggelontorkan segala macam bentuk
kritisisme di dalam masyarakat, seperti
tidak pernah dipelajari dan seperti tidak
pernah dianggap sebagai sesuatu yang
flosofs. Pada titik ini pemikiran Marx
tentang ekonomi, politik dan flsafat justru
memberikan banyak pertanyaan terhadap
flsafat. Salah satu contohnya adalah ketika
Marx mempersoalkan pembreidelan pers
yang dilakukan oleh pemerintah Prusia,
dengan menyatakan bahwa
“Kebebasan adalah bagian esensial
dari hakekat manusia sekalipun
musuh musuh kebebasan berusaha
merealisasikan kebebasan dengan
melawan realitas kebebasan; musuh
musuh kebebasan ini ingin merampas
bagi dirinya sendiri permata agung
kemanusian ini yang mereka tolak
sebagai permata hakekat manusia...
karenanya bahaya yang paling
mematikan bagi setiap manusia
adalah kehilangan kebebasannya...
“Dalam rangka melawan
kebebasan pers, seseorang harus
mempertahankan titik piak
bahwa ras manusia tidak memiliki
kemampuan untuk mencapai
kedewasaan... Jika ketidakdewasaan
manusia merupakan alasan mistik
yang dipergunakan sebagai
ungkapan untuk melawan kebebasan
pers, maka tindak pembredelan pers
sebenarnya di dalam banyak hal
adalah sarana yang paling rasional
untuk meyakini bahwa manusia
tidak pernah dewasa.”
1
Gagasan Marx yang tertuang pada
dua alinea di muka setidaknya
menggambarkan bagaimana peran flsafat
seharusnya di dalam menjawab persoalan
persoalan sosial. Bukan dalam arti flsafat
harus terjun ke dalam politik praktis tetapi
flsafat sebagai cara untuk membangun
kritik terhadap keberadaan manusia
yang flosofs, seperti yang tampak dalam
gagasan tentang kebebasan. Bagaimana
jika kemudian flsafat justru menjadi
pembenar bagi gagasan kebebasan yang
diajukan oleh kelas yang berkuasa?
Dalam hal ini Marx menjawab
pertanyaan di muka secara eksplisit dalam
tulisan The Poverty of Philosophy bahwa:
“Di Inggris, pemogokan-pemogokan
telah secara teratur telah melahirkan
penemuan baru dan penerapan
mesin mesin baru. Mesin-mesin
adalah, boleh dikatakan, senjata
yang dipakai oleh kaum kapitalis
untuk menindas pemberontakan
kerja yang dispesialisasikan. Keledai
yang berswa-laku, penemuan
terbesar dari industri modern, telah
melumpuhkan kaum pemintal
yang sedang memberontak. Jika
kombinasi-kombinasi (tindakan)
dan pemogokan-pemogokan tidak
berakibat lain daripada membuat
usaha usaha sang jenius mekanikal
bertindak terhadap mereka, maka
mereka akan tetap mempengaruhi
pengaruh luar biasa terhadap
industri.”
2
Memang, Marx memang menunjukkan
tentang perlunya perlawanan terhadap
pemikiran yang justru membelenggu
kebebasan manusia walaupun sepertinya
membebaskan manusia. Tetapi yang lebih
penting di sini adalah pemahaman terhadap
logika flosofs yang membenarkan
pembelengguan atas kebebasan manusia.
Seperti itulah bentuk perlawanan yang
perlu dilakukan, mengambil posisi kritis
terhadap segala hal yang membelenggu
kebebasan manusia. Henri Lefebvre
kemudian memperjelas pemikiran Marx
dengan menyatakan bahwa:
“...Setiap kemungkinan yang
menghadirkan manusia selalu
berhadapan dengan dua alternatif
–yaitu alienasi yang lebih besar, dan
akan disalienasi. Alienasi, seperti
proses lainnya, akan cenderung
menjadi nyata. Disalienasi dihasilkan
melalui perjuangan yang sadar yang
bergerak maju lebih sadar ketika
kelas pekerja muncul di dalam
tahapan sejarah-- melawan alienasi.
Di manapun dan selalu manusia yang
sosial, adalah yang memperbaharui,
yang kreatif, sebagaimana juga
dimanapun dan selalu manusia
terbelenggu oleh pencapaiannya
sendiri.”
3
Penjelasan yang diberikan oleh Lefebvre
mungkin bisa menjadi satu daya bagi kita
para pelajar flsafat, yang kerap bertanya
tanya tentang bagaimana masa depan
lulusan flsafat. Pun realitas menunjukkan
Problem Filsafat 18
No. 1 / Tahun I / November 2009
Problem Filsafat 19
No. 1 / Tahun I / November 2009
bahwa di berbagai perguruan tinggi di
Indonesia, jurusan flsafat adalah jurusan
yang tidak menjanjikan masa depan. Bagi
kami dari komunitas Marx, mempelajari
flsafat adalah cara untuk mempertanyakan
semua yang tampaknya tersedia tapi
nyatanya irasional, cara untuk bersikap
kritis terhadap segala sesuatu yang tampak
indah tapi justru membelenggu kehidupan
manusia. Demikian juga dengan buku Das
Kapital yang menunjukkan dengan jelas
bagaimana segala sesuatu yang dihasilkan
oleh manusia seperti tidak memiliki nilai
apapun ketika masuk di dalam relasi
relasi sosial yang bersifat ekonomis, dan
bagaimana relasi relasi sosial yang bersifat
ekonomis itu dibentuk oleh kapitalisme.
Catatan Akhir
1. Karl Marx dalam Marx-Engels Werke
jilid 1 hlm. 48-49, 51, 60 sebagaimana yang
dikutip oleh Maximillien Rubel dalam
Marx Without Myth, Basil Blackwell, 1975,
hlm. 24-25.
2. Karl Marx, Kemiskinan Filsafat,
diterjemahkan oleh Oey Hay Djoen,
Penerbit Hasta Mitra, 2004, hlm. 175.
3. Henry Lefebvre, Sociology of Marx,
diterjemahkan oleh Norbert Guterman,
Random House 1968, hlm. 54.
Artikel 3
Berpikir dengan Pendekatan Materialisme
Dialektis dan Historis
oleh: Martin Suryajaya
“Materialisme adalah konsepsi flsafat
Marxis, sedang dialektika adalah metode-
nya” sedangkan “materialisme historis
adalah penerapan atau pengenaan mate-
rialisme dialektik ke alam sejarah manu-
sia”—demikian tutur Njoto dalam kuli-
ahnya di tahun 1961.
1
Kedua pernyataan
tersebut dapat kita uraikan dalam tiga
pokok pengertian: materialisme, dialek-
tika dan historisitas. Melalui uraian atas
pokok-pokok ini kita akan mengerti apa
yang dimaksud sebagai “berpikir dengan
pendekatan materialisme dialektis dan
historis”.
1. Materialisme
Seperti kita ketahui secara
umum, materialisme pada mulanya meru-
pakan gugus pengertian bahwa materi
(ikhwal indrawi) adalah hakikat dari reali-
tas. Marx merubah pandangan umum ini.
Baginya, materialisme macam itu hanya
benar untuk materialisme klasik hingga
abad ke-18. Dalam Tesis pertamanya
tentang Feuerbach, Marx menunjukkan
pengertian baru dari materialisme:
“Kekeliruan mendasar dari materi-
alisme yang ada sampai saat ini—
termasuk juga Feuerbach—adalah
bahwa benda [Gegenstand], realitas,
keindrawian, dimengerti hanya
dalam bentuk obyek [Objekt] atau
kontemplasi [Anschauung], tetapi ti-
dak sebagai aktivitas indrawi manu-
sia, praktik, [atau dengan kata lain]
tidak secara subyektif.”
2

Materialisme sebelum Marx hanya mema-
hami materi sebagai obyek indrawi bela-
ka. Pengertian ini tak mampu menyadari
bahwa obyek-obyek material itu adalah
juga hasil dari aktivitas subyektif manu-
sia. Sentralitas pada obyek ini dibalikkan
oleh Marx dengan menunjukkan peran
sentral subyek, manusia, dalam konstitusi
materialitas hal-ikhwal. Dengan pendeka-
tan yang dapat disebut sebagai “material-
isme subyektif” inilah Marx lantas dapat
menunjukkan sesuatu, selain obyek ma-
terial, yang konstitutif terhadap realitas.
Sesuatu itu tak lain adalah kerja.
Pengertian Marx tentang materi-
alisme ini merupakan sesuatu yang baru
dalam sejarah pemikiran. Pengertian ini
pulalah yang, dalam tafsir Etienne Balibar,
untuk pertama kalinya mampu melepas-
kan materialisme dari idealisme.
3
Selama
materialisme hanya berhenti pada primasi
pada materi sebagai esensi realitas, maka
materialisme itu tak akan lebih dari “ide-
alisme terselubung” (disguised idealism).
Berdasarkan konseptualisasi Marx yang
baru, kini materialisme menjadi subyektif
dan terekspresikan dalam praktik konkret.
Pembaharuan ini juga, bagi Balibar, meng-
hasilkan konsepsi baru tentang subyek,
yakni persamaan “subyek = praktik”.
4
Ma-
Problem Filsafat 20
No. 1 / Tahun I / November 2009
Problem Filsafat 21
No. 1 / Tahun I / November 2009
terialisme Marx adalah pengertian bahwa
keseluruhan obyek yang menyusun reali-
tas ini tak lain adalah efek dari aktivitas
subyek. Dipahami dalam kerangka ini, tak
ada yang sepenuhnya natural dalam reali-
tas keseharian, tak ada nostalgia akan ke-
murnian azali. Kenaikan harga sembako
tidaklah alami, begitu juga hutan-hutan
yang jadi gundul di Kalimantan, pema-
nasan global dan matinya seorang buruh
pabrik. Semuanya adalah efek dari kon-
fgurasi aktivitas manusia yang tertentu.
Sikap kritis yang menolak untuk meman-
dang realitas secara natural dan mengakui
adanya intervensi subyektif yang justru
mengkonstitusi kenyataan sehari-hari ini-
lah yang disebut Njoto sebagai konsepsi
materialis.
2. Dialektika
Kita juga tahu bukan Marx yang
pertama kali berbicara mengenai dialek-
tika. Sejak Platon, pemikiran flosofs
senantiasa dicirikan dengan sifat dialektis.
Sokrates, junjungan Platon, sendiri ber-
flsafat dengan dialektika, dengan dialog
(ingat: asal kata Yunani dari dialektika
adalah dialegesthai yang artinya “dialog”).
Namun dari Hegel lah Marx menimba
pelajaran mengenai dialektika. Pengan-
daian dasar dialektika Hegel adalah relas-
ionalisme internal, yakni pengertian bahwa
keseluruhan kenyataan, dipahami seb-
agai manifestasi-diri Roh, senantiasi ter-
hubung satu sama lain dalam jejalin yang
tak putus. Secara logis, term A hanya bisa
dimengerti sejauh ada juga term non-A
yang darinya A ditentukan sifatnya. Se-
cara ontologis, Ada dapat dimengerti
sejauh ia koeksis dengan Ketiadaan: Ke-
tiadaan internal dalam defnisi Ada dan
Ada internal dalam defnisi Ketiadaan.
Relasionalisme internal segala hal-ikhwal
inilah yang memungkinkan terwujudnya
determinasi resiprokal antar elemen dari
realitas. Dengan berlandaskan pengertian
Spinoza bahwa “omnis determinatio est ne-
gatio” (semua determinasi adalah negasi),
bagi Hegel, relasi determinasi resiprokal
ini adalah pula relasi negasi resiprokal:
afrmasi (A), negasi (non-A) dan afrmasi
pada tataran yang lebih tinggi atau “nega-
si atas negasi” (non-non-A yang mencak-
up intisari A dan non-A). Inilah yang bi-
asanya kita kenal sebagai dialektika antara
tesis-antitesis-sintesis. Dialektika inilah
yang dimengerti Hegel sebagai dinamika
internal dari realitas dan pikiran.
Lantas bagaimana posisi Marx
pada fase penggarapan Kapital terhadap di-
alektika Hegel itu? Pertanyaan ini sulit
diawab. Marx sendiri hanya mengomen-
tari hal ini secara eksplisit satu kali, yakni
dalam Kata Pengantar untuk Edisi Kedua
dari Das Kapital jilid satu. Konteksnya
adalah tuduhan yang dilayangkan pere-
sensi Jerman dan Russia atas buku Kapital.
Dalam resensinya mereka menyebut bah-
wa traktat tersebut dipenuhi oleh “sofsme
Hegelian”.
5
Terhadap tuduhan ini, Marx
menjawab:
“Metode dialektis saya, pada fon-
dasinya, tidak hanya berbeda dari
kaum Hegelian melainkan tepatnya
beroposisi dengannya. Bagi Hegel,
proses pemikiran, yang ia transfor-
masikan menjadi subyek independen
di bawah nama ‘Idea’, merupakan
pencipta dunia riil, dan dunia riil
hanyalah penampakan eksternal
dari idea. Dengan saya, kebalikan-
nya menjadi benar: yang-ideal tidak
lain dari dunia material yang dire-
feksikan dalam pikiran manusia dan
diterjemahkan ke dalam bentuk pe-
mikiran.”
6
Dari pernyataan ini, seolah Marx sepenuh-
nya memisahkan pengertian dialektikanya
dari pengertian Hegel atasnya. Namun ini
tidak sejelas yang kita kira. Dalam para-
graf selanjutnya, Marx mendeklarasikan
bahwa—berhadapan dengan fakta bahwa
banyak intelektual Jerman pada masanya
yang memperlakukan Hegel ibarat Moses
Mendelssohn memperlakukan Spinoza
sebagai “anjing mati”—ia sendiri meru-
pakan murid dari “pemikir besar itu”. Na-
mun deklarasi kesetiaan ini kembali dilan-
jutkan dengan distansiasi kritis.
“Mistifkasi yang diderita dialektika
di tangan Hegel tidak membatalkan
Hegel sebagai yang pertama yang
mempresentasikan bentuk gerakan
umumnya dalam cara yang kom-
prehensif dan sadar. Dengannya di-
alektika berjalan pada kepalanya. Ia
mesti dibalik, untuk menyingkapkan
inti rasional dalam cangkang mistis.
Dalam bentuk mistisnya, di-
alektika digemari di Jerman sebab
ia seolah mentransfgurasi dan men-
gagung-agungkan apa yang eksis.
Dalam bentuknya yang rasional, ia
merupakan skandal dan ancaman
bagi borjuasi dan para jurubicaranya
sebab ia mengikutsertakan dalam
pemahaman positifnya tentang apa
yang eksis sebuah pengakuan secara
bersamaan akan negasinya, akan ke-
hancurannya yang tak terelakkan,
sebab ia memandang segala bentuk
perkembangan historis sebagai apa
yang ada dalam kondisi cair, dalam
gerakan, dan karenanya memandang
aspek kesementaraannya pula, dan
sebab ia tak membiarkan dirinya
dikesankan oleh apapun, [sehingga]
pada esensinya bersifat kritis dan
revolusioner.”
7

Dalam pernyataan tersebut dikatakan
bahwa dialektika Marx adalah saripati
rasional dari cangkang mistis dialektika
Hegel. Bagaimana deskripsi metaforis ini
diterangkan? Dari pernyataan itu pula
dielaskan bahwa ia menolak dialektika
Hegel sejauh itu dipahami sebagai glori-
fkasi atas apa yang eksis, alias suatu jus-
tifkasi atas status quo. Dengan demikian,
selama dialektika Hegel masih dipahami
dalam pengertian bahwa segala yang riil
(situasi penghisapan, sistem yang merep-
resentasi rakyat dalam parlemen borjuis)
niscaya rasional dan dengannya menjadi
sah untuk eksis dan terus eksis, maka di-
alektika Marx bukanlah dialektika Hegel.
Namun, dari penjelasan Marx ini saja,
tidak ada pengertian yang lengkap ten-
tang relasi dialektika Marx dan Hegel.
Para komentator Marx sendiri tak pernah
memberikan jawaban yang seragam atas
problem ini. Komentator seperti Mag-
nis-Suseno, mengikuti tafsiran Jean-Yves
Calvez SJ., cenderung menekankan kon-
tinyuitas pemikiran Marx.
8
Implikasinya,
tak ada distingsi yang ketat atau patahan
dalam pemikiran Marx “muda” yang
masih Hegelian dan Marx pada fase lan-
jut (termasuk fase penggarapan Kapital).
Sebaliknya, komentator seperti Louis Al-
thusser justru menekankan adanya pa-
tahan (coupure) radikal yang mengantarai
pemikiran Marx muda yang masih Hege-
lian dan pemikiran Marx lanjut yang sa-
masekali non-Hegelian.
9

Oleh karena kerumitan ini, maka
dalam kurikulum ini kita tidak akan me-
mastikan makna yang tepat dari relasi
Marx-Hegel. Biarlah problematika ini kita
kupas bersama lewat diskusi-diskusi yang
intens. Di sini cukup dimengerti bahwa
Marx berhutang budi pada pemikiran
Hegel tentang dialektika sebab dengannya
realitas dapat dilihat sebagai sesuatu yang
senantiasa berubah, cair dan bergerak ter-
us menerus. Realitas, dengan demikian,
adalah efek dari aktivitas subyektif yang,
pada gilirannya, mendeterminasi aktivitas
subyektif itu sendiri. Gerak determinasi
resiprokal atau gerak dialektis inilah yang
juga ditekankan oleh Marx. Dialektika,
sesuai dengan pendapat Njoto, merupak-
an metode dari materialisme Marxis. Arti-
nya, flsafat Marx yang bertumpu pada
konsepsi materialis—bahwa yang terse-
lubung pada jantung realitas sesungguh-
nya tak lain adalah praxis subyektif yang
jadi material—hanya dapat diekspresikan
oleh satu-satunya metode yang cocok den-
Problem Filsafat 22
No. 1 / Tahun I / November 2009
Problem Filsafat 23
No. 1 / Tahun I / November 2009
gan karakter materialis ini, yakni metode
dialektika—sebuah modus di mana ben-
danya itu sendiri tidak hadir dalam sta-
bilitas yang diam, melainkan telah selalu
dalam gerak determinasi bolak-balik yang
tak berkesudahan.
3. Historisitas
Kesejarahan merupakan tema
sentral dalam diskursus Marx. Kita sering
mendengar tentang ramalan Marx menge-
nai tatanan komunis dunia sebagai hasil
evolusi dialektika sejarah. Seolah-olah
Malaikat Sejarah yang bekerja dari balik
layar realitas tengah merancang suatu Pe-
nyelenggaraan Ilahi bagi kaum proletar
sedunia. Seolah-oleh sejarah akan berpun-
cak pada suatu konfagrasi fnal antara
yang-Baik dan yang-Jahat, antara proletar
dan borjuasi, dan akan berakhir dalam
suatu surga dunia komunis. Pandangan
inilah yang dikenal sebagai historisisme,
atau pengertian bahwa sejarah dipimpin
oleh suatu teleologi internal. Ada ko-
mentator yang menyatakan bahwa his-
torisisme Marx ini merupakan ekses dari
ketergantungannya pada flsafat Hegel.
10

Memang kita dapat menafsirkan flsafat
sejarah Hegel sebagai konsepsi sejarah
yang dipimpin oleh suatu teleologi internal
sebab sejarah, bagi Hegel, pada dasarnya
merupakan evolusi-diri Roh menuju
pada kesadarannya yang paripurna. Ini-
lah salah satu alasan mengapa Althusser
bersusah payah membersihkan pemikiran
Marx lanjut dari pengaruh Hegel. Althuss-
er adalah alah seorang dari komentator
kontemporer yang menekankan segi anti-
historisis dari pemikiran Marx. Baginya
tafsiran historisis atas Marx merupakan
pembacaan yang bersifat voluntaristik,
yakni pemahaman humanis tentang pro-
letar sebagai “misionaris esensi manusia”
(missionary of the human essence).
11
Padahal,
bagi Althusser, jika kita baca sungguh-
sungguh Kapital dan bahkan karya-karya
awal Marx, kita akan mengerti bahwa his-
torisisme adalah problem yang asing ter-
hadap flsafat Marx.
12

Memang benar bahwa konsepsi
materialis Marx yang bersifat subyektif,
atau menekankan pada praxis, dapat men-
garah pada pengertian bahwa sejarah pun
merupakan hasil bentukan manusia dan,
oleh karenanya, Marx terjatuh dalam his-
torisisme. Apalagi skema Marx yang ter-
kenal tentang infrastruktur (Unterbau) dan
suprastruktur (Überbau) dapat menjurus
pada historisisme: karena infrastruktur
ekonomis mendeterminasi suprastruktur
ideologis, maka perkembangan realitas
ekonomi lah yang menentukan pembe-
basan politik dari kelas proletar yang ter-
hisap. Pada akhirnya, tafsiran semacam
ini akan berujung pada suatu iman pada
“keniscayaan historis” bahwa kapitalisme
akan tumbang dengan sendirinya karena
kontradiksi internalnya seperti dianali-
sis Marx dan kelas proletar akan menjadi
satu-satunya kelas sosial dunia. Namun
pembacaan seperti ini abai terhadap relasi
determinasi timbal-balik yang menstruktur
relasi antara subyek dan sejarah dunia
yang melingkupinya. Pembacaan histori-
sis itu berpegang pada sebaris frase kunci
yang tidak berasal dari Marx melainkan
dari Engels, yakni “determinasi pada po-
kok terakhir”.
13
Artinya, determinasi pada
pokok terakhir ada pada infrastruktur
ekonomi. Terhadap tafsiran historisis ini,
Althusser juga mengajukan sanggahan. Ini
dilancarkannya melalui elaborasi konsep
overdeterminasi (surdétermination), yakni
relasi determinasi resiprokal di mana po-
kok yang mendeterminasi ikut terdeter-
minasi oleh apa yang ia determinasikan
sendiri.
14
Relasi overdeterminasi inilah
yang bagi Althusser dimengerti Marx
dalam konteks relasi antara infrastruk-
tur dan suprastruktur. Itulah sebabnya
Althusser dapat menulis: “Dari momen
pertama hingga terakhir, jam sepi ‘pokok
terakhir’ tak pernah datang [the lonely hour
of the ‘last instance’ never comes].”
15
Dengan
demikian, tak ada historisisme yang esen-
sial dalam pemikiran Marx.
4. Materialisme Dialektis dan Material-
isme Historis
Setelah kita mencapai pengertian
tentang materialisme, dialektika dan his-
torisitas dalam pemikiran Marx, kini kita
dapat beranjak menuju pemahaman akan
materialisme dialektis dan historis—atau
apa yang kerap disebut sebagai MDH.
Kita akan mulai dengan uraian tentang
asal-usul term.
16
Tentang materialisme di-
alektis, term ini sendiri tidak ada dalam
corpus Marx-Engels: Marx hanya bicara
tentang “metode dialektis” sementara
Engels tentang “dialektika materialis”.
Ekspresi “materialisme dialektis” pertama
kali dipakai oleh Joseph Dietzgen di tahun
1887, salah seorang kawan koresponden
Marx. Lenin lah yang mempergunakan
term ini secara sistematis—sesuatu yang,
dalam Materialism and Empirio-Criticism
(1908), ia elaborasi dari karya-karya En-
gels. Sesudah Lenin, wacana Marxisme
Soviet terbagi oleh dua orientasi pemiki-
ran: “dialektis” (Deborin) dan “mekanis”
(Bukharin). Untuk mengatasi perdebatan
yang tak kunjung selesai di antara kedua
kubu ini, Sekretaris Jendral Partai Stalin
mengeluarkan dekrit di tahun 1931 yang
memutuskan bahwa materialisme dialek-
tis adalah sama dengan Marxisme-Le-
ninisme. Lantas, pada tahun 1938, Stalin
menjalankan kodifkasi atas ajaran terse-
but secara lebih lanjut di dalam pamfet-
nya, Dialectical and Historical Materialism.
Kodifkasi Stalin inilah yang dikenal seb-
agai sistem diamat (singkatan dari dialecti-
cal materialism) dan diterapkan di sebagian
besar negara Komunis. Koreksi penting
atas kodifkasi Stalin ini datang dari Mao
Tse-Tung. Dalam esainya dari tahun 1937,
On Contradiction, Mao menolak ide Stalin
tentang “hukum-hukum dialektika” dan
justru memberikan penekanan pada kom-
pleksitas kontradiksi. Kontradiksi, dalam
pandangan Mao, tidak tunggal melainkan
memiliki struktur ganda: di satu sisi ter-
dapat kontradiksi pokok, yakni kontradiksi
yang tak dapat diperdamaikan (misalnya,
kontradiksi antara borjuis dengan prole-
tar), dan di sisi lain terdapat kontradiksi ti-
dak pokok yang dapat diselesaikan dengan
negosiasi (misalnya, kontradiksi antara
buruh dan petani). Dari penafsiran Mao
atas kontradiksi inilah nantinya Althusser
mengelaborasi konsep overdeterminasi
yang tadi telah kita bahas secara singkat
sebagai kritik atas pembacaan historisis
tentang Marx.
Apapun penafsiran para komen-
tator tentang materialisme dialektis dan
historis, ada satu yang tetap, yakni bahwa
semuanya mengakui bahwa materialisme
dialektis dan materialisme historis meru-
pakan ajaran yang internal dalam pe-
mikiran Marx sendiri walaupun Marx tak
pernah menggunakan term-term tersebut
secara sistematis. Oleh karena pemba-
hasan mengenai materialisme dialektis
dan historis ini mengandaikan rekon-
struksi atas keseluruhan teks Marx, maka
kami di sini hanya akan membatasi pada
pengertian tentang kedua term tersebut
berangkat dari klarifkasi yang telah kita
lakukan atas term materialisme, dialek-
tika dan historisitas. Materialisme dialek-
tis merupakan cara berpikir Marx tentang
realitas, yakni pengertian bahwa realitas
tersusun oleh materi yang memiliki relasi
langsung dengan subyektivitas dan relasi
ini pun bergerak dalam untaian determi-
nasi resiprokal. Dalam pengertian yang
lebih sederhana, realitas adalah efek dari
mekanisme perjuangan kelas. Jika, mengi-
kuti Njoto, materialisme historis meru-
pakan penerapan materialisme dialektis
kepada kenyataan yang menyejarah, maka
materialisme historis dapat kita mengerti
sebagai gugus pemahaman tentang se-
jarah sebagai ikhwal yang tersusun oleh
determinasi resiprokal antar subyek dan
antara subyek dengan materi obyektif.
Atau dalam arti yang dipermudah, sejarah
adalah efek perjuangan kelas—sebuah
Problem Filsafat 2+
No. 1 / Tahun I / November 2009
Problem Filsafat 25
No. 1 / Tahun I / November 2009
efek yang bergerak dalam arah ganda, ke-
pada sejarah dan kepada kelas itu sendiri.
Catatan Akhir
1. Njoto, Marxisme: Ilmu dan Amalnya (Jakarta:
Penerbit Harian Rajat), 1962, hlm. 18 & 27.
2. Karl Marx, Theses On Feuerbach dalam Karl
Marx dan Frederick Engels, Selected Works: Vol
II (Moscow: Foreign Languages Publishing
House), 1958, hlm. 403
3. Lih. Etienne Balibar, The Philosophy of Marx
diterjemahkan oleh Chris Turner (London:
Verso), 2007, hlm. 24.
4. “[T]he subject is nothing other than practice
which has always already begun and contin-
ues indefnitely.” Ibid., hlm. 25.
5. Karl Marx, Capital: Volume I diterjemahkan
oleh Ben Fowkes (Middlesex: Penguin Books),
1979, hlm. 100.
6. Ibid., hlm. 102.
7. Ibid., hlm. 103.
8. Franz Magnis-Suseno, Pemikiran Karl Marx:
Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revision-
isme (Jakarta: Gramedia), 1999, hlm. 8.
9. Althusser menggambarkan transisi ini dalam
beberapa fase: “there is the transition from
neo-Hegelian rationalist idealism […] to, ini-
tially, the humanist materialism of Feuerbach
(1842), then the historicist empiricism of The
German Ideology (1845-1846), and fnally, in
1857-1867, when Marx wrote the works that
were to culminate in Capital, a radically new
philosophy (what we call dialectical material-
ism). Louis Althusser, The Humanist Contro-
versy and Other Essays diterjemahkan oleh GM
Goshgarian (London: Verso), 2003, hlm. 231.
10. Andrew Levine, A Future for Marxism? Al-
thusser, The Analytical Turn and The Revival of
Socialist Theory (London:Pluto Press), 2003,
hlm. 66.
11. Lih. Louis Althusser dan Etienne Balibar,
Reading Capital diterjemahkan oleh Ben Brew-
ster (London: Verso), 1979, hlm. 140-141.
12. Lih. Ibid., hlm. 143.
13. Engels sendiri sebetulnya tidak menuliskan
seperti itu. Ia menulis: “elemen determina-
tif dalam sejarah adalah, pada pokok terakhir,
produksi dan reproduksi kehidupan riil”.
Seperti dikutip dari Etienne Balibar, The Phi-
losophy of Marx, op.cit., hlm. 93.
14. Lih. Louis Althusser, For Marx diterjemah-
kan oleh Ben Brewster (London: Verso), 1997,
hlm. 111.
15. Ibid., hlm. 113.
16. Uraian berikut kami dasarkan pada Etienne
Balibar, The Philosophy of Marx, op.cit., hlm. 3.
(Berikut adalah dafar tiga jilid kumpu-
lan karya politik Marx. Ketiganya terse-
dia dalam bahasa Inggris terjemahan Ben
Fowkes, et.al. (dan juga terdapat di per-
pustakaan STF Driyarkara):
o Political Writings Volume I: The
Revolution of 1848
o Political Writings Volume II: Sur-
veys from Exile
o Political Writings Volume III: The
First International and Afer
Dalam ketiganya terangkum sejumlah
karya politik Marx meliputi: Manifesto of
the Communist Party, The Class Struggles
in France, The Eighteenth Brumaire of Louis
Bonaparte, The Civil War in France dan Cri-
tique of the Gotha Programme. Selain ke-
tiga jilid ini periksa juga Early Writings
terjemahan Gregor Benton dan Rodney
Livingstone karena di sana juga terdapat
karya-karya politik awal Marx seperti
Manuskrip Paris, kritik atas konsepsi
Hegel tentang negara dan hukum, serta
kata pengantar untuk Kontribusi terhadap
Kritik Ekonomi Politik. Buku antologi lain
yang merangkum secara umum tulisan
Marx adalah The Marx-Engels Reader yang
diedit oleh Robert C Tucker.)
Pada bagian ini kita akan
melakukan survei umum atas pemikiran
politik Marx sebagaimana tertuang dalam
karya-karyanya sebelum Das Kapital. Per-
tama-tama kita akan mengklarifkasi ter-
lebih dahulu apa yang terkenal sebagai
“tiga sumber” pemikiran Marx: flsafat Jer-
man, sosialisme Prancis dan ekonomi politik
Inggris.
1
Klasifkasi tentang tiga sumber
ini dapat diasalkan pada pembagian Bab
dalam buku Engels, Anti-Dühring. Di ta-
hun 1907, pengertian ini diskematisasi
oleh Karl Kautsky dalam kuliahnya ber-
judul, Tiga Sumber Marxisme, yang kemu-
dian dielaborasi lebih lanjut oleh Lenin di
tahun 1913. Tiga sumber tersebut tentu
saja dapat ditebak: flsafat Idealisme
Hegel, aktvisme Prancis (semisal Proud-
hon) dan ilmu ekonomi modern Adam
Smith.
2
Untuk dapat secara lebih men-
dalam memahami problematika flsafat
dalam karya-karya Marx, kita mesti mulai
dengan melacaknya sejak pada teks-tek-
snya yang paling awal. Salah satu dari
naskah-naskah awal itu adalah surat
Marx kepada ayahnya yang ditulisnya
menjelang akhir semester pertama ku-
liahnya di jurusan hukum Universitas
Berlin, yakni ketika Marx baru berumur
19 tahun. Melalui surat bertanggal 10 No-
vember 1837 ini kita dapat menyaksikan
bagaimana problem yang digeluti Marx
remaja ini tak lain adalah problematika
yang khas Hegel. Di sana Marx berkisah
pada sang ayah bagaimana ia terserap
dalam pembacaannya atas Hegel dan
berlibat aktif dalam klub diskusi yang
dialankan oleh kaum Hegelian Muda. Ia
bahkan telah menulis dialog sepanjang 24
halaman dengan judul “Kleanthes, atau
Titik Tolak dan Kemajuan yang Niscaya
dari Filsafat” di mana Marx memaparkan,
dengan gaya yang khas Hegel, bagaima-
na sains dan seni yang pada mulanya ter-
Survei atas Pemikiran Marx dalam
Karya-Karya Sebelum Kapital
oleh: Martin Suryajaya
Artikel 4
Problem Filsafat 26
No. 1 / Tahun I / November 2009
Problem Filsafat 2/
No. 1 / Tahun I / November 2009
pisah dapat mencapai sintesis.
3
Namun
Marx tidak membaca Hegel untuk kemu-
dian berhenti sebagai pengagum Hegel
belaka; ia melancarkan kritik atasnya dan
mengelaborasikan posisi pemikiran yang
independen bertolak dari problematika
Hegelian itu.
Dalam catatan dari disertasinya
tentang “Perbedaan antara Filsafat Alam
Demokritos dan Epikuros”, Marx mulai
menunjukkan posisi kritisnya atas flsafat
refeksi Hegel. “Selama flsafat berjalan
berlawanan arah dengan dunia penam-
pakan, sistemnya akan terdegradasi men-
jadi sebuah totalitas abstrak, yakni men-
jadi satu sisi dunia dengan sisi yang lain
meletak di seberangnya. Relasinya den-
gan dunia menjadi sebuah refeksi.”
4
Di
momen ini flsafat hanya dimungkinkan
sebagai ikhwal yang sepenuhnya terpisah
dari dunia, yang merupakan obyek refek-
sinya belaka. Filsafat menjadi interioritas
murni yang berlawanan dan berseberan-
gan dengan dunia eksterior. Maka itu,
“konsekuensinya, menjadi flosofsnya
dunia berkoinsidensi dengan menduni-
anya flsafat, realisasi flsafat berkoin-
sidensi dengan kelenyapannya sendiri,”
demikian Marx.
5
Artinya, Marx menun-
jukkan konsekuensi fnal dari flsafat re-
feksi: memuncaknya refeksi eksternal
dari flsafat atas dunia, sebagai obyektivi-
tas yang meletak di luar sana, pada refek-
si internal antara flsafat dan dunia, seb-
agai obyektivitas non-flosofs yang telah
disadari secara flosofs. Pada akhirnya,
flsafat menjadi ikhwal duniawi—ikhwal
yang pada-dirinya non-flosofs—atau
dengan kata lain, flsafat memuncak pada
disolusinya sendiri, pada dunia yang
non-flosofs dan persis karena itu pula
flsafat mengalami realisasinya yang ter-
tinggi, yakni dunia yang menjadi flosofs.
Tugas flsuf, dengan demikian, adalah
menyelesaikan rangkaian momen terse-
but, yakni dengan tidak berhenti pada re-
feksi eksternal tentang dunia, melainkan
dengan merefeksikannya secara internal
sehingga dunia mesti menjadi flosofs.
Mengubah dunia menjadi flosofs, men-
jadi Prometheus
6
bagi bumi manusia—ini-
lah tugas flsuf sebagaimana dipersepsi
Marx sejak mula dan ia teruskan, dalam
satu atau lain cara, hingga akhir.
Visi transformasi flosofs atas
dunia dialankan Marx, pada masa mu-
danya, melalui radikalisasi fungsi kritik.
Seperti juga bagi kaum Hegelian Muda,
kritik menjadi kata kunci Marx. Ini sudah
terlihat dalam suratnya kepada Arnold
Ruge di tahun 1843. Dalam surat itu, Marx
menekankan perlunya ”sebuah kritisisme
tanpa ampun terhadap segala yang ada” yang
ia pahami dalam dua makna: “kritisisme
tak boleh takut akan konsekuensinya
sendiri maupun terhadap konfik den-
gan kekuasaan yang berlaku.”
7
Kritisisme
Marx ini berbeda dari prosedur kritik Kant.
Sementara Kant memfungsikan kritik
dengan reservasi, yakni dengan membiar-
kan postulat-postulat a priori tak terjamah
oleh kritik,
8
Marx justru berpegang pada
kritisisme yang “tanpa ampun”, pada kri-
tisisme total tanpa reservasi. Aparatus kri-
tik inilah yang oleh Marx diarahkan pada
agama sebagai ideologi yang menopang
struktur masyarakat yang eksploitatif.
Untuk mentransformasi dunia
secara flosofs, untuk mengkritik tatanan
sosial konkret, kritik pertama-tama mesti
dilancarkan terhadap pengandaian ide-
ologis yang mendasarinya. Dalam arti ini-
lah Marx menulis, dalam pengantar bagi
Kontribusi bagi Kritik atas Filsafat Hukum
Hegel yang terbit di tahun 1844, bahwa
“kritisisme atas agama adalah premis dari
segala bentuk kritisisme.”
9
Di sana Marx
memaparkan logika dasar dari kritiknya
atas agama:
Agama merupakan kesadaran diri
manusia sejauh ia belum menemukan
dirinya atau telah kehilangan dirin-
ya. Namun manusia bukanlah entitas
abstrak yang tergeletak di luar dunia.
Manusia adalah bumi manusia, nega-
ra, masyarakat. Negara ini, masyara-
kat ini, memproduksi agama yang
merupakan sebuah kesadaran dunia
yang terbalik, sebab ia merupakan
sebuah dunia yang terbalik. […] Perla-
wanan melawan agama, karenanya,
secara tidak langsung merupakan
sebuah perjuangan melawan dunia
tersebut yang mana aroma spiritual-
nya adalah agama. Penderitaan relig-
ius adalah pada saat yang bersamaan
sebuah ekpresi dari penderitaan riil
dan protes atas penderitaan riil. […]
Penghapusan agama sebagai keba-
hagiaan ilusif umat manusia adalah
sebuah tuntutan untuk kebahagiaan
riil mereka. Seruan untuk mening-
galkan ilusi tentang kondisi mereka
adalah seruan untuk meninggalkan
kondisi yang membutuhkan ilusi. Kriti-
sisme atas agama, karenanya, adalah
embrio dari kritisisme atas lembah air
mata yang mana agama merupakan
aura-nya.
10
Kritisisme atas lembah air mata—inilah
yang ditempuh Marx, yakni kritik atas
dunia yang sebegitu murungnya se-
hingga membutuhkan limpahan cahaya
agama. Agama, bagi Marx, adalah sim-
tom atau gejala dari masyarakat tertindas.
Bayangan ideal tentang sepotong surga
yang transenden terhadap dunia tak lain
adalah simtom dari penyakit yang ada
dalam dunia itu sendiri. Pembacaan simto-
matik inilah yang menjadikan kritik agama
Marx lebih maju ketimbang Feuerbach
yang hanya berhenti pada pengertian ten-
tang Tuhan sebagai hasil proyeksi-refek-
tif dari manusia. Feuerbach belum mam-
pu mendorong flsafat refeksi sampai
pada ujungnya; ia hanya berhenti pada
refeksi eksternal tentang Tuhan dan be-
lum sampai ke pengertian bahwa Tuhan
adalah refeksi yang internal dalam diri
manusia yang tersituasikan dalam kon-
fgurasi sosio-politik yang konkret-mate-
rial.
11
Marx mampu menunjukkan, jauh
sebelum Nietzsche, bahwa Tuhan adalah
simtom yang internal dalam masyara-
kat dan direfeksikan keluar berdasarkan
sesuatu yang internal tadi. Transendensi,
dengan demikian, tak lain adalah simtom
dari imanensi yang sakit, dari ranah sos-
ial yang tak ubahnya seperti lembah air
mata. Masyarakat konkret yang men-
jadi locus simtomatik adalah masyara-
kat yang terstratifkasi, yang terstruktur
oleh hierarki. Agama membuat hierarki
ini menjadi natural, seolah merupakan
“konsesi dari surga”.
12
Dalam metafor
Marx, agama menyediakan bunga-bun-
gaan imajiner yang disematkan di rantai
yang membelenggu kita sehingga kita jadi
sedikit lebih betah dalam kondisi dirantai,
padahal yang penting adalah mematah-
kan rantai itu dan memetik bunga hidup
yang sesungguhnya. Dari pengertian ini-
lah Marx membentangkan orientasi dasar
dari proyek pemikirannya:
Adalah tugas sejarah, karenanya, ke-
tika dunia-lain kebenaran telah lenyap,
untuk mewujudkan kebenaran dari
dunia ini. Tugas flsafat yang mende-
sak, dalam pengabdiannya pada se-
jarah, adalah untuk menyingkapkan
alienasi-diri manusia dalam bentuk
sekuler-nya setelah bentuk suci-nya
tersingkap. Dengan demikian, kritik
surga ditransformasi menjadi kritik
dunia, kritik agama menjadi kritik hu-
kum, dan kritik teologi menjadi kritik
politik.
13
Yang jadi problem bagi Marx bukan lagi
eksistensi Tuhan di luar sana, pada oto-
ritas religius yang meletak dalam dunia
obyektif, sebab semua itu hanyalah sim-
tom dari kesadaran yang tertentu. Itulah
sebabnya Marx menulis: “Ini bukan lagi
soal pertanyaan tentang perjuangan kaum
awal melawan para rahib di luar dirinya,
melainkan perjuangannya melawan rahib
internal-nya sendiri, melawan sifat kera-
Problem Filsafat 28
No. 1 / Tahun I / November 2009
Problem Filsafat 29
No. 1 / Tahun I / November 2009
hiban-nya sendiri.”
14
Kesadaran yang sakit
inilah yang menginginkan jaminan ekster-
nal-transenden bagi sesuatu yang internal,
yakni diri sendiri. Tuhan dipanggil hanya
untuk mengkonfrmasi atau merestui kes-
adaran yang tak berani mengambil sikap
independen ini. Itulah kesadaran borjuis.
Menghadapi konstelasi ini, Marx
menggagas dalam tulisan itu sebuah kon-
sepsi tentang subyek emansipatoris. Bag-
inya, subyek ini hanya mungkin disebut
sungguh-sungguh emansipatoris apabila
ia memegang kunci dari masyarakat se-
cara umum, artinya, sejauh eksistensinya
adalah manifestasi esensi dari masyarakat
tersebut. Ia mestilah bukan sebuah kelas
di antara kelas-kelas sosial lain, dan sejauh
ia emansipatoris maka ia mesti menandai
pula kehancuran dari segala kelas dan hi-
erarki sosial.
15
Subyek ini tentunya diciri-
kan oleh karakter universal sejauh apa
yang ia suarakan, sejauh ia adalah esensi
dari masyarakat itu sendiri, senantiasa
mengekspresikan kondisi masyarakat
secara umum, yakni totalitas kondisi ma-
syarakat. Subyek inilah yang dimaksud
Marx dengan proletariat. Melalui subyek
inilah transformasi dunia secara flosofs
dapat diwujudkan sebab “sebagaimana
flsafat menemukan senjata material-nya
dalam proletariat, demikian pula prole-
tariat menemukan senjata intelektual-nya
dalam flsafat.”
16
Marx mengelaborasi titik piak
komunisme tersebut secara ekstensif un-
tuk pertama kalinya pada tulisan yang
tak ia terbitkan semasa hidup, yakni apa
yang dikenal sebagai “Manuskrip Paris”
atau yang di kemudian hari diuduli seb-
agai Economic and Philosophic Manuscripts
of 1848. Dalam manuskrip inilah untuk
pertama kalinya Marx berbicara tentang
alienasi atau keterasingan (Entäusserung).
Titik tolak pemaparan Marx tentang ket-
erasingan adalah konsepsi Hegel menge-
nai kerja (labour). Bagi Hegel, kerja adalah
momen yang melaluinya superioritas ke-
sadaran-diri manusia ditegakkan, atau
dalam pengertian yang lebih sederhana,
kerja adalah realisasi-diri manusia.
17
Rel-
evansinya bagi Marx adalah pengertian
bahwa melalui kerja lah manusia men-
jadi intim dengan dirinya sendiri. Namun
keintiman ini, sebagaimana dianalisis
Marx, kini berubah menjadi sesuatu yang
asing. Ketika pekerja semakin banyak
memproduksi kemakmuran, ia sendiri
justru makin melarat. Marx menulis: “pen-
ingkatan nilai dunia benda-benda berjalan
dengan proporsi yang sama dengan penu-
runan nilai dunia manusia. Pekerja tidak
hanya memproduksi komoditas; ia juga
memproduksi dirinya sendiri sebagai se-
buah komoditas”.
18
Situasi ini ditopang oleh
empat bentuk keterasingan yang mendasari
realitas kerja manusia:
1. Keterasingan dalam relasi antara
pekerja dan obyek hasil kerjanya. Ba-
rang produksi yang dihasilkan pekerja
adalah sesuatu yang asing bagi sang pe-
kerja sendiri. Tidak seperti orang yang
melinting rokok untuk kemudian me-
nikmati hasil lintingannya sendiri, pe-
kerja pabrik rokok, misalnya, melinting
ribuan rokok per hari tanpa dapat me-
miliki hasil lintingannya sendiri. Sep-
erti juga kaum intelektual yang bekerja
menteorikan berbagai pembenaran
bagi kekuasaan tetapi tak pernah bisa
menikmati hasil kerjanya, yakni teor-
inya sendiri lepas dari kegunaan untuk
membenarkan kekuasaan, sebagaima-
na mereka inginkan. Dengan demiki-
an, hasil kerja menjadi sesuatu yang
sepenuhnya eksternal dan independen
terhadap pekerjanya. Hasil kerja itulah
yang disebut Marx sebagai obyektifkasi
kerja, yakni kerja yang menjadi obyektif
dalam benda yang sepenuhnya terlepas
dari pekerjanya sendiri.
2. Keterasingan dalam relasi antara
pekerja dan aktivitas pekerjaannya send-
iri. Ini adalah taraf keterasingan lebih
mendasar ketimbang yang pertama. Di
sini alienasi terjadi dalam aktivitas kerja
itu sendiri karena kerja yang dilakukan
sang pekerja tidak muncul dari aspirasi
dasar dirinya, yakni eksternal terhadap
ada-nya sang pekerja. Marx menulis,
“Pekerja merasa dirinya di luar peker-
jaannya dan pekerjaannya terasa di luar
dirinya. Ia merasa kerasan (at home) keti-
ka ia tak bekerja dan ketika ia bekerja ia
tidak kerasan. Kerjanya oleh karenanya
tidak bersifat sekehendak diri, melain-
kan dipaksakan, kerja yang dipaksakan.”
19

Aktivitas kerja ini mengasingkan pe-
kerja karena kerja yang dilakukan bu-
kan lagi untuk pemuasan kebutuhan,
yakni kebutuhan untuk realisasi-diri
melalui kerja itu sendiri, melainkan
sekedar untuk memuaskan kebutuhan
yang eksternal terhadap aktivitas kerja
itu sendiri, misalnya kebutuhan hidup
sehari-hari (sandang, pangan, papan).
Karena kerja tak lagi menjadi realisasi-
diri, maka bagi Marx dalam kerja yang
terjadi justru “hilangnya diri”.
3. Keterasingan hidup spesies ma-
nusia atau alam. Manusia adalah ba-
gian dari alam yang melingkupinya.
Alam adalah ranah yang melaluinya
manusia hidup, yang melaluinya ma-
nusia mendapatkan cara untuk mem-
pertahankan eksistensinya sebagai spe-
sies. Karena keterasingan yang terjadi
dalam kerja, manusia kehilangan ben-
tuk kolektifnya sebagai spesies yang
senantiasa berkait dengan alam secara
keseluruhan. Sejatinya aktivitas kerja
adalah bagian dari aktivitas alam yang
spontan dan bebas. Namun bentuk
kerja yang terasing membuat kerja tak
lagi menjadi bagian dari aktivitas alam.
Dalam dimensi keterasingan inilah ter-
cakup keterasingan manusia terhadap
tubuh alaminya sendiri, seperti pekerja
tambang yang rusak organ pernafasan-
nya.
4. Keterasingan manusia dari ma-
nusia lainnya. Dalam dimensi keterasin-
gan ini seorang pekerja melihat pekerja
lain, melihat hasil kerja pekerja lain,
sebagai sesuatu yang asing dari dirinya
sendiri. Seorang buruh yang bekerja
memproduksi sekrup tiap hari akan
merasa asing terhadap pemilik pabrik
mobil yang mana pabrik sekrup hany-
alah salah satu pabriknya. Kesusahan
seorang buruh dalam memproduksi
sekrup adalah kebahagiaan seorang pe-
milik pabrik mobil yang ingin produk-
sinya jalan terus.
Apa yang dihasilkan oleh keempat ben-
tuk keterasingan ini adalah kepemilikan
pribadi (private property).
20
Kepemilikan
ini adalah produk dari kerja yang teras-
ing karena alasan berikut. Pertama-tama
Marx menunjukkan kesamaan antara
kepemilikan pribadi dan upah (wages).
21

Bentuk abstrak dari kepemilikan pribadi
paling dasar yang ada dalam masyarakat
kapitalis adalah upah sebab ia menjadi
kunci bagi pekerja untuk mendapatkan
kepemilikan pribadi yang lain. Lantas
Marx menunjukkan bahwa upah ini tak
lain adalah konkretisasi dari kerja yang
telah dialankan oleh pekerja. Kerja apa?
Kerja yang terasing. Jika kerja itu sungguh
merupakan sebuah realisasi-diri, maka tak
perlu ada upah—kerja itu sendiri adalah
upahnya (baik dari segi aktivitas kerja itu
sendiri maupun obyek yang dihasilkan-
nya). Adanya upah menandakan bahwa
kerja itu tidak bernilai pada dirinya send-
iri, bahwa kerja itu hanya bernilai untuk
menghasilkan suatu tujuan yang eksternal
terhadap kerja itu sendiri, yakni uang un-
tuk mencukupi kebutuhan hidup. Maka
dari keterasingan dalam pekerjaan lah
muncul kepemilikan pribadi.
Dalam masyarakat borjuis yang
dianalisis Marx, abstraksi puncak dari
keterasingan pekerja itu adalah konsep
tentang uang. Ini adalah abstraksi lanjut
dari konsep upah. Uang menjembatani ke-
inginan dan hasrat manusia dengan obyek
hasratnya. Ia adalah prinsip rekonsiliasi
Problem Filsafat 30
No. 1 / Tahun I / November 2009
Problem Filsafat 31
No. 1 / Tahun I / November 2009
atas seluruh kontradiksi. Ia membuat apa
yang tak mungkin menjadi mungkin, apa
yang hanya diharapkan menjadi sungguh
ada. Dalam hal ini, Marx dekat dengan
intuisi Rousseau dalam Kontrak Sosial ten-
tang kritik atas fungsi representasi:
Begitu kekuasaan legislatif bukan
lagi urusan utama bagi warga, dan
mereka lebih suka membantu den-
gan uang daripada dengan pribadin-
ya, negara mendekati ke arah kehan-
curannya. Harus bertempur? Mereka
cukup membayar pasukan dan boleh
tinggal di rumah. Harus rapat ke de-
wan? Bayar saja utusan dan mereka
bisa tinggal di rumah. Karena malas
dan punya uang, akhirnya mereka
membayar tentara untuk memper-
budak tanah air dan membayar para
wakil untuk menjualnya.
22
Uang berfungsi merepresentasikan apa
yang tak dapat dipresentasikan secara
langsung. Ia adalah germo, mucikari.
“Uang adalah mucikari antara kebutuhan
manusia dan obyeknya, antara hidupnya
dan sarana hidupnya,” demikian Marx
menulis.
23
Uang, dengan demikian, adalah
nama lain dari prinsip mediasi. Ia menjadi
mediator antara hasrat dan obyek hasrat.
Sebagai prinsip mediasi atau mucikari,
uang mesti dilihat dalam konteks yang
lebih besar. Konteks luas itu adalah situasi
keterasingan manusia dalam kerja. Situa-
si inilah yang juga disebut Marx sebagai
kondisi pelacuran universal (universal pros-
titution).
24
Pekerja melacurkan kerjanya
kepada kaum pemodal untuk kemudian
diupah seturut hasil kerjanya.
Sebagai perlawanan terhadap
kondisi keterasingan itu, Marx menggar-
iskan ide dasar dari komunisme, yakni
penghapusan kepemilikan pribadi. Dalam
manuskrip ini ia juga memeriksa tiga ben-
tuk komunisme: pertama, komunisme kla-
sik di mana segala benda dimiliki bersama
seperti dalam visi para pengarang utopis
(bagi Marx, ini justru meradikalisasi kepe-
milikan pribadi dengan membuatnya jadi
universal); kedua, komunisme dengan
pembubaran negara namun, menurut
Marx, masih belum menangkap esensi
dari manusia; terakhir, komunisme seb-
agai pelampauan atas keterasingan manu-
sia yang telah mampu menangkap esensi
manusia, yakni hakikat sosial-nya (bagi
Marx, pada taraf ini komunisme sama
dengan humanisme).
25
Pengertian tentang
komunisme yang digelarkan Marx di sini
belum sistematis. Sistematisasi atasnya
berhasil ia wujudkan empat tahun sesu-
dahnya, kali ini bersama Friedrich Engels.
Manifesto Partai Komunis (1848)
ditulis oleh Marx dan Engels atas per-
mintaan Liga Komunis. Di sinilah di-
katakan bahwa sesosok momok (spectre)
tengah menghantui Eropa, momok komu-
nisme yang ditakuti oleh berbagai partai
di berbagai bangsa. Pada masa itu istilah
“komunis” kerapkali disematkan kepada
segala posisi oposan terhadap kekuasaan
yang berlaku. Beredarnya gosip atau don-
gengan tentang momok komunisme inilah
yang coba diklarifkasi oleh Marx dan
Engels dengan manifesto tentang komu-
nisme itu sendiri, sehingga orang menjadi
jelas tentang duduk perkara komunisme
dan tidak lagi percaya pada gosip. Ada
dua pokok yang akan kita angkat dari
sana: konsepsi tentang sejarah dan karak-
ter-karakter utama komunisme. Kita mu-
lai dari yang pertama.
“Sejarah masyarakat yang ada
sampai kini adalah sejarah perjuangan ke-
las.”
26
Wajah sejarah peradaban dibentuk
oleh konfik antar kelas sosial yang tatkala
meruncing dapat mengubah konstelasi
masyarakat secara umum. Pada zaman
kita, kata Marx, perjuangan kelas yang
dimaksud adalah perjuangan kelas tertin-
das, kaum proletar, melawan kelas bor-
juasi. Namun pertarungan kelas melawan
borjuasi ini tidak didasari oleh pengertian
bahwa borjuasi itu jahat, tidak bermoral,
ataupun kejam. Argumentasi Marx mela-
wan borjuasi tak pernah diartikulasikan-
nya dalam tataran moral. Bahkan Marx
sendiri yang menunjukkan, dalam Mani-
festo ini, bahwa borjuasi juga memiliki
peran yang revolusioner pada masanya.
Siapakah yang untuk pertama kalinya
berani keluar dari pakem feodal Abad
Pertengahan? Kaum borjuis. Siapakah
subyek revolusioner yang menumbangkan
kolusi antara monarki dan agama seperti
dalam Revolusi Prancis 1789? Kaum bor-
juis. Adalah kaum borjuis pula yang perta-
ma kali menjalankan desakralisasi dunia:
“Kaum borjuis telah menelanjangi aura
setiap pekerjaan yang sampai suatu masa
masih sangat dihormati dan ditatap den-
gan penuh ketakjuban. Ia telah mengubah
fsikawan, pengacara, pendeta, penyair,
ilmuwan, menjadi buruh bayarannya.”
27
Marx sadar betul akan peran borjuasi ini;
ia tak sekedar mencercanya.
Marx menunjukkan bahwa bor-
juasi telah mengembangkan revolusinya
sendiri, yakni pertama-tama sebagai rev-
olusi atas instrumen produksi (melalui
mesin uap Di era Revolusi Industri, mis-
alnya), yang lalu mengubah pula relasi
produksi (antara buruh, pemilik dan
mesin). Borjuasi lah kelas pertama dalam
sejarah yang memegang kunci transgresi
dan memaksimalkannya untuk keuntun-
gannya. “Revolusionerisasi produksi se-
cara terus-menerus, gangguan atas kon-
disi sosial tanpa henti, ketakpastian yang
terus menerus dan agitasi membedakan
era borjuasi dari seluruh era sebelumnya,”
demikian disadari Marx.
28
Itulah sebab-
nya, samudra-samudra luas dilayari, pan-
tai-pantai asing disusuri dan suku-suku
primitf ditundukkan, untuk kemudian
membuka lahan produktif di sana. Bor-
juasi telah menjalani perjuangan kelasnya
sendiri dan berhasil tampil keluar sebagai
pemenang di zaman modern. Ia menang
dan menghancurkan seluruh kelas lama
selain dirinya dan hambanya, yakni kaum
proletar. Dengan demikian, pada zaman
ketika borjuasi berkuasa seperti saat ini,
hanya ada dua kelas yang efektif dalam
masyarakat: kelas borjuis dan kelas prole-
tar.
Krisis datang menerpa struk-
tur eksistensi borjuasi. Krisis itu adalah
over-produksi. Masyarakat dibanjiri oleh
terlalu banyak komoditas yang tak lagi
mampu dibeli semuanya oleh konsumen.
Artinya terdapat sisa atau ekses yang tak
tertutup yang makin lama makin mem-
bebani proses produksi. Strategi kaum
borjuis untuk mengatasi ekses ini adalah,
menurut Marx, dengan destruksi atas sisa
produksi itu (misalnya pembakaran kopi
ketika harga kopi sedang jatuh) dan den-
gan membuka pasar baru. Dengan ditem-
puhnya kedua jalan tersebut krisis tetap
tak terhindarkan karena pemerasan, atas
nama efektivitas dan efsiensi, atas para
pekerja makin mencapai titik puncaknya.
Hal ini diperparah lagi dengan suatu hal
lain. Semakin menguatnya peran borjuasi
di masyarakat berbanding lurus dengan
semakin banyaknya jumlah proletar. Kelas
menengah yang berdagang secara tradis-
ional seperti pemilik toko, pedagang kecil,
pengrajin, semuanya lebur ke dalam pro-
letariat ketika borjuasi memegang peran
dagang yang semakin besar. Kaum prole-
tar ini terbentuk dari seluruh kelas selain
borjuis. Dengan demikian, semakin maju
kaum borjuis, semakin tinggi pula potensi
kehancurannya sendiri. Itulah yang di-
maksud Marx dan Engels ketika keduanya
menulis: “Apa yang diproduksi oleh kaum
borjuis, paling utama, adalah penggali
kuburnya sendiri. Keruntuhannya dan
kemenangan kaum proletar sama-sama
tak terhindarkan.”
29
Artinya, kini Malaikat
Sejarah tengah berada di pihak proletari-
at: sejarah perjuangan kelas di masa kini
adalah sejarah perjuangan kelas pekerja
(mulai dari buruh, guru, karyawan, hingga
kaum intelektual, yang di era kapitalis ini
tidak bisa tidak hanyalah pekerja bayaran
kapitalisme).
Problem Filsafat 32
No. 1 / Tahun I / November 2009
Problem Filsafat 33
No. 1 / Tahun I / November 2009
Setelah memaparkan visi se-
jarahnya secara umum, Marx dan En-
gels memberikan karakteristik dasar dari
komunisme. Pertama-tama keduanya
menunjukkan watak internasionalis dari
komunisme. Kaum komunis tidak men-
gelompokkan diri pada kelas buruh
pada suatu negara tertentu melainkan
mengekspresikan kebutuhan dasar dari
seluruh pekerja di segala negara. Kaum
komunis adalah “anak semua bangsa”.
Yang ia perjuangkan bukanlah kenaikan
gaji buruh di pabrik A atau C, melainkan
emansipasi universal dari seluruh buruh
di dunia.
Karakter kedua dari komunisme
berkenaan dengan hak milik pribadi.
Kaum komunis tidak serta merta menun-
tut penghapusan hak milik pribadi tanpa
alasan historis yang jelas. Tuntutan un-
tuk menghapuskan kepemilikan pribadi
oleh kaum komunis, menurut Marx dan
Engels, merupakan ekspresi dari perjuan-
gan kelas yang telah menyejarah dalam
era sebelumnya. Artinya, penghapusan
hak milik bukanlah ide yang pertama kali
muncul dalam komunisme melainkan su-
dah dialankan oleh kelas borjuis dalam
menghadapi kelas feodal. Marx dan En-
gels memberi contoh: Revolusi Prancis
menghapuskan kepemilikan feodal dan
menggantinya dengan kepemilikan bor-
juis. Jadi ada konsep kepemilikan atau
hak milik yang berubah seturut dengan
konfgurasi historis-materialnya. Apa
yang dihapuskan oleh kaum komunis, se-
bangun dengan yang sebelumnya, adalah
konsep kepemilikan borjuis. Namun
karena kepemilikan borjuis adalah pun-
cak dari kepemilikan pribadi, maka peng-
hapusan atas kepemilikan borjuis adalah
penghapusan atas kepemilikan pribadi.
Sebagai seorang flsuf politik,
Marx cukup beruntung karena ia sempat
menyaksikan sendiri eksperimentasi yang
dialankan berdasarkan ide komunisme-
nya. Ini ia saksikan di Prancis, dua kali:
di tahun 1848 dan 1870. Dalam cakupan
rentang waktu tersebut Marx menulis
trilogi tentang percobaan revolusi prole-
tar di Prancis, dan kegagalannya. Ketiga
buku tersebut adalah The Class Struggles
in France 1848-1850, The Eighteenth Bru-
maire of Louis Napoleon dan terakhir The
Civil War in France. Ketiganya merupakan
historiograf flosofs yang unik yang tak
mungkin kita kupas satu persatu pada
kesempatan ini. Cukup dikatakan, pada
saat ini, bahwa karya yang pertama
membahas tentang awal gerakan buruh
modern di Prancis yang memuncak pada
kekalahannya, yang dikupas dalam buku
kedua, dengan naiknya keponakan Napo-
leon Bonaparte, yakni Louis Bonaparte,
sebagai Kaisar Prancis dengan sokongan
kaum borjuasi yang merasa terancam oleh
revolusi buruh. Barangkali buku ketiga
perlu sedikit kita urai di sini—walaupun
buku ini ditulis sesudah Das Kapital—se-
bab di sana Marx menunjukkan contoh
historis dari apa yang ia mengerti sebagai
“kediktatoran proletariat”.
The Civil War in France berbi-
cara mengenai komune Paris antara ta-
hun 1870-1871. Konteks dari komune
Paris adalah kebiakan Napoleon III
(atau Louis Napoleon) untuk melibat-
kan Prancis dalam perang Prancis-Prusia
yang berakhir dengan kekalahan Prancis.
Eksploitasi habis-habisan atas kaum bu-
ruh Paris ditambah dengan pemboman
bertubi-tubi oleh Jerman membuat kaum
buruh mengkonsolidasikan diri dalam se-
mangat komunis, bersama kelompok re-
publikan Prancis yang anti-royalis (anti-
Napoleon), dan membentuk Pertahanan
Nasional. Pada momen ini administrasi
Paris dipimpin oleh Adolphe Thiers. Ke-
tika Jerman telah meninggalkan kota itu,
Thiers mencoba melucuti senjata milisi
Pertahanan Nasional—sebuah aksi yang
sudah diantisipasi oleh kaum komunis
dengan mengonsolidasikan diri dengan
tentara. Thiers pun terusir dari Paris dan
Komite Sentral Pertahanan Nasional, di
bawah kendali kaum komunis, menetap-
kan pembentukan komune-komune di
Paris. Pada momen inilah bermula pemer-
intahan otonom kaum buruh di Paris. Di
dalam momen komune Paris inilah ber-
temu seluruh tendensi gerakan kiri mod-
ern, mulai dari Marxis, Blanquis, hingga
anarkhis. Yang menguntungkan adalah
pada masa itu, perpecahan antara kaum
Marxis dan anarkhis belumlah terjadi.
Semuanya bersatu padu, berdebat dan
mempraktekkan apa yang diinginkan ber-
sama sebagai pemerintahan rakyat yang
otonom. Di sinilah separasi antara agama
dan negara diartikulasikan secara jelas
untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Di sini pulalah ide-ide politik egalitarian
diuji-cobakan dalam intensitas yang be-
gitu tinggi, mulai dari prinsip kesetaraan
komunis hingga emansipasi perempuan
yang dimotori oleh para feminis komune.
Seluruh pemerintahan Paris diatur oleh
badan-badan rakyat (komune) di mana
seluruh rakyat dapat terlibat secara se-
tara. Melihat eksperimentasi komunis ini
pantaslah Engels berkata, di akhir pen-
gantarnya untuk The Civil War in France:
“kaum farisi Sosial-Demokrat lagi-lagi
ketakutan terhadap frase ‘kediktatoran
proletariat’. Baiklah, Tuan-Tuan sekalian,
apakah Anda ingin tahu seperti apakah
kediktatoran itu? Lihatlah Komune Paris.
Itulah kediktatoran proletariat.”
30
Namun barikade jalanan di Paris
runtuh oleh serbuan tentara Prancis dari
luar ibukota. Eksekusi massal atas para
communard dialankan. Di atas ribuan
mayat pejuang komune, di puncak bukti
Montmartre, dibangunlah basilika Sacré-
Coeur dengan inskripsi besar di langit-
langitnya: Gallia Poenitens—Bertobatlah
Prancis.
31
Kegagalan eksperimentasi histo-
ris atas pemikiran Marx, baik pada masa
hidupnya ataupun sesudahnya, tidak
dapat begitu saja menggugurkan tesis
dasar Marx, yakni bahwa kesetaraan han-
ya mungkin diwujudkan melalui otonomi
rakyat pekerja. Ini cocok dengan kritik
dasar Marx atas masyarakat borjuis yang
telah meresapi pemikirannya sejak mula,
yaitu kritik atas mediasi. Ini telah kita lihat
dalam kritiknya atas konsep uang. Kritik
tersebut dapat diartikulasikan secara kon-
struktif sebagai tesis tentang penguta-
maan peran imediasi atau kelangsungan,
yang terwujud dalam konsepsinya tentang
tatanan komunis dunia di mana rakyat
pekerja dapat mempresentasikan dirinya
secara langsung sebagai pemerintah tanpa
mediasi Kaisar ataupun parlemen. Tentu
saja, pengutamaan pada imediasi ini tak
boleh terjatuh pada nostalgia tentang ma-
syarakat primitif sebelum adanya diferen-
siasi kelas—sesuatu yang disadari Marx
sendiri. Akhirnya, pemikiran Marx dapat
dimengerti sebagai suatu upaya menemu-
kan formula tentang imediasi yang sama
sekali baru yang menjadi kondisi bagi la-
hirnya kesetaraan konkret antar umat ma-
nusia. Ini adalah sebuah proyek pemikiran
yang masih relevan hingga kini.
Catatan Akhir
1. Uraian tentang sumber dan fgur yang me-
landasi formulasi pemikiran Marx ini kami
dasarkan pada Etienne Balibar, The Philosophy of
Marx, op.cit., hlm. 7.
2. Berkait dengan tiga sumber ini, Constanzo
Preve, masih sebagaimana dipaparkan oleh Bal-
ibar dalam buku di atas, menunjukkan adanya
“empat guru” Marx: Epikuros, untuk intuisi
dasar yang diolah Marx dalam disertasinya seb-
agai “materialisme kebebasan” dengan konsep
klinamen—gerak acak dari atom-atom—sebagai
konsep kunci kebebasan materialis; Rousseau,
untuk pengertian yang ia ajukan tentang de-
mokrasi egaliter atau asosiasi yang didasarkan
pada asosiasi langsung seluruh rakyat; Adam
Smith, yang darinya ide tentang kerja sebagai
basis dari hak milik berasal; Hegel, untuk mo-
dus flsafat dialektisnya. Ibid.
3. Ia juga menulis bahwa kalimat terakhir
dalam dialog tersebut itu adalah permulaan
dari Sistem Hegel. Lih. Karl Marx, Leter to His
Father dalam Early Texts diedit dan diterjemah-
Problem Filsafat 3+
No. 1 / Tahun I / November 2009
Problem Filsafat 35
No. 1 / Tahun I / November 2009
kan oleh David McLellan (Oxford: Basil Black-
well), 1972, hlm. 7.
4. Karl Marx, Dissertation and Preliminary Notes
on the Diference between Democritus’ and Epicu-
rus’ Philosophy of Nature dalam ibid., hlm. 15.
5. “As a consequence, the world’s becoming
philosophical coincides with philosophy’s be-
coming worldly, the realization of philosophy
coincides with its disappearance” Ibid.
6. Marx sendiri, dalam pengantar disertasinya,
menjunjung laku Prometheus mencuri api pen-
getahuan dari para dewa dan memberikannya
pada pikiran manusia. Karl Marx, To Make the
World Philosophical dalam Robert C Tucker (ed.),
The Marx-Engels Reader (New York: WW Norton
& Company), 1978, hlm. 9.
7. Karl Marx, For a Ruthless Criticism of Every-
thing Existing dalam ibid., hlm. 13.
8. Dalam kata pengantar untuk edisi kedua Kri-
tik atas Rasio Murni-nya Kant menulis bahwa
kritik yang ia maksudkan “tidak berlawanan
dengan prosedur dogmatik rasio dalam penge-
tahuannya yang murni sebagai sains, sebab
ia selalu bersifat dogmatik, yakni berpegang
pada bukti prinsip-prinsip a priori yang pasti.”
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason diter-
jemahkan oleh Norman Kemp Smith (London:
Macmillan & Co Ltd), 1964, hlm. 32.
9. Karl Marx, Contribution to the Critique of
Hegel’s Philosophy of Right: Introduction dalam
Robert C Tucker (ed.), op.cit., hlm. 53.
10. Ibid., hlm. 53-54.
11. Perbedaan antara kritik agamanya dan kritik
agama Feuerbach dengan jelas Marx paparkan
dalam Tesis-Tesis tentang Feuerbach. Di dalam Te-
sis VII, misalnya, Marx menulis bahwa Feuer-
bach “tidak melihat bahwa ‘sentimen religius’
itu sendiri adalah sebuah produk sosial, dan
bahwa individu abstrak yang ia analisis nyat-
anya termasuk dalam bentuk masyarakat yang
partikular.” Lalu juga Tesis VIII: “Segala Mis-
teri yang menyasarkan teori kepada mistisisme
menemukan solusi rasionalnya dalam praktik
manusia dan dalam pemahaman akan praktik
ini.” Karl Marx, Theses on Feuerbach dalam Karl
Marx and Frederick Engels: Selected Works Volume
II (Moscow: Foreign Languages Publishing
House), 1958, hlm. 405.
12. Ibid., hlm. 56.
13. Ibid., hlm. 54.
14. Ibid., hlm. 60.
15. “A class in civil society which is not a class of
civil society, a class which is the dissolution of
all classes”. Ibid., hlm. 64.
16. Ibid., hlm. 65.
17. Pengertian ini dengan jelas Hegel tunjuk-
kan dalam Bab Independensi dan Ketergantungan
Kesadaran-Diri: Tuan dan Budak dari bukunya,
Fenomenologi Roh. Di sana dielaskan bagaimana
kesadaran seorang Tuan justru dilampaui oleh
kesadaran budaknya karena sang budak dapat
merealisasikan independensi kesadarannya
melalui kerja, sementara sang Tuang hanya ber-
santai. Akhirnya sang Tuan yang awalnya teri-
hat seolah independen justru tergantung pada
(kerja) budaknya, sementara sang budak yang
awalnya terlihat tergantung justru independen
terhadap sang Tuan yang tak bekerja. Lih. GWF
Hegel, Phenomenology of Spirit diterjemahkan
oleh AV Miller (Oxford: Clarendon Press), 1977,
hlm. 111-119.
18. Karl Marx, Economic and Philosophic Manu-
scripts of 1844 dalam Robert C Tucker (ed.),
op.cit., hlm. 71.
19. Ibid., hlm. 74.
20. “Private property is thus the product, the
result, the necessary consequence, of alienated
labour, of the external relation of the worker to
nature and to himself.” Ibid., hlm. 79.
21. “We also understand, therefore, that wages
and private property are identical: where the
product, the object of labour pays for labour it-
self, the wage is but a necessary consequence of
labour’s estrangement, for afer all in the wage
of labour, labour does not appear as an end in
itself but as the servant of wage.” Ibid.
22. Jean-Jacques Rousseau, Perihal Kontrak So-
sial, atau Prinsip-Prinsip Hukum Politik (edisi
dwibahasa Indonesia-Prancis) diterjemahkan
oleh Ida Sundari Husen dan Rahayu Hidayat
(Jakarta: Dian Rakyat), 1989, hlm. 90 (Buku III,
Bab 15).
23. Robert C Tucker (ed.), op.cit., hlm. 102.
24. Ibid., hlm. 82 (terutama catatan kaki nomor
7).
25. Lih. Ibid., hlm. 84.
26. Karl Marx dan Friedrich Engels, Manifesto of
the Communist Party dalam ibid., hlm. 473.
27. Ibid., hlm. 476.
28. Ibid.
29. Ibid., hlm. 483.
30. Karl Marx, The Civil War in France dalam
Robert C Tucker (ed.), op.cit., hlm. 629.
31. Bdk. Investigasi sejarah spasial David Har-
vey atas hal ini dalam Paris, Capital of Modernity
(New York: Routledge), 2003, terutama hlm.
303-333.
Setelah mensurvei pemikiran
Marx secara umum pada Bab sebelumnya,
kini kita akan maju selangkah menuju teks
Kapital itu sendiri. Namun sebelum masuk
langsung ke dalam pokok-pokok utama
Kapital, terlebih dahulu kita mesti mema-
hami peta penafsiran yang telah terben-
tang dalam jangka waktu satu setengah
abad sejak buku itu ditulis. Kita tak bisa
membaca Kapital tanpa mengabaikan be-
gitu saja sejarah penafsiran setengah abad
itu. Dalam memaparkan tradisi penafsiran
atas Kapital ini kami akan berpegang pada
kajian historiografs Harry Cleaver dalam
bukunya, Reading Capital Politically. Selu-
ruh paparan kami berikut adalah rangku-
man atas kajian tersebut.
Harry Cleaver membagi tra-
disi penafsiran menjadi tiga perspektif:
perspektif ekonomi politik, perspektif
flsafat dan perspektif politik. Kita akan
mulai dari yang pertama. Dari segi eko-
nomi politik, penafsiran awal tentang
Kapital mesti ditempatkan pada konteks
Internasional Kedua (1889-1916). Problem-
nya berkisar pada persoalan determinasi
ekonomi dan teks acuannya, tentu saja,
adalah Contribution to a Critique of Political
Economy, di mana Marx berbicara tentang
relasi ekonomi sebagai basis masyarakat
“yang darinya muncul suprastruktur le-
gal dan politis.”
1
Dari dasar pengandaian
ini lantas muncul perdebatan di kalangan
Marxis Internasional Kedua tentang apakah
krisis ekonomi yang akan menumbangkan
kapitalisme itu niscaya. Tokoh seperti Ed-
uard Bernstein, dalam bukunya Evolution-
ary Socialism, berpendapat bahwa krisis itu
tidak niscaya menghancurkan kapitalisme,
bahwa krisis itu hanya akan memperlam-
bat akumulasi kapital sementara kaum
kapitalis akan dapat mengkonsolidasikan
diri menghindari krisis ini. Maka itu bagi
Bernstein perjuangan yang mesti dilancar-
kan melawan kaum kapitalis adalah per-
juangan ekonomi seraya menggabungkan
diri ke dalam parlemen. Hasil pembacaan
Bernstein atas Kapital ini segera dilawan
oleh Rosa Luxemburg dalam Reformasi
atau Revolusi (1900) dan Akumulasi Kapital
(1913). Luxemburg menyatakan bahwa
krisis kapitalisme tak terhindarkan justru,
berkebalikan dengan Bernstein, karena
akumulasi kapital akan memuncak dalam
konfik antar negara. Berdasarkan penger-
tian ini, Luxembur memberikan solusi
yang berbeda, yakni persiapan revolusi
dan penolakan atas sekedar reformasi.
Keduanya mewakili posisi dasar pem-
bacaan ekonomi politik atas Kapital yang
akan membayangi para penafsir selanjut-
nya. Penekanan Bernstein pada reformasi
gradual melalui jalur intra-parlementer
(dan karenanya lebih dekat dengan ten-
densi sosial-demokrat) akan diteruskan
oleh Karl Kautsky, Rudolf Hilderling, Oto
Bauer, Fritz Sternberg, sementara ketida-
kpercayaan Luxemburg pada perjuangan
ekonomi-parlementer dan penekanannya
pada revolusi atau jalur ekstra-parlement-
er akan diteruskan oleh Lenin, Anton Pan-
nekoek dan Paul Matick.
Di luar konteks Internasional Ked-
ua terdapat sebuah tradisi tafsir lain yang
Perbedaan Pendapat di Seputar Pembacaan
Terhadap Kapital
oleh: Martin Suryajaya
Artikel 5
Problem Filsafat 36
No. 1 / Tahun I / November 2009
Problem Filsafat 3/
No. 1 / Tahun I / November 2009
berkembang di dunia Anglo-Amerika, yak-
ni Neo-Marxis Keynesian. Tokoh-tokohnya
adalah Michael Kalecki, Joan Robinson,
Paul Sweezy dan Paul Baran. Tradisi tafsir
ini berkembang di sekitar tahun 40/50-an.
Dalam Essay on Marxian Economic (1942),
misalnya, Joan Robinson menekankan
bahwa teori ekonomi politik Marx memi-
liki keterbatasan yang hanya dapat diatasi
dengan menambahkan teori JM Keynes
ke dalamnya. Tendensi yang berkembang
dari tradisi ini, seperti pada Sweezy dan
Baran, justru bergerak semakin jauh dari
ekonomi politik Marx sendiri, yakni den-
gan hanya mencomoti bagian-bagian dari
Kapital yang dapat dipakai untuk melihat
fenomena pada masanya dan membuang
sisanya (misalnya teori tentang nilai dan
nilai-lebih) atau menggantikannya dengan
teori Keynes yang lebih baru. Intuisi eko-
nomi politik mazhab Neo-Marxis Keynes-
ian inilah yang ada di balik gerakan Kiri
Baru (New Lef) di Amerika tahun 60-an.
2

Oleh karena fenomena yang dihadapi jauh
berbeda dari gambaran Marx—fenomena
multi-faksi dalam masyarakat yang sama-
sama mengkritik pemerintah namun tidak
memiliki kesamaan ideologis seperti Black
Panther, aktivis feminis, gerakan anti-per-
ang—maka kaum Kiri Baru cenderung
berpegang pada versi heterodoks dari
Marxisme, seperti Neo-Marxis Keynesian.
Melawan kecenderungan pen-
campur-adukan dari kaum Neo-Marxis
ini, bangkitlah sebuah gerakan kembali ke
ortodoksi ekonomi politik Marx. Dalam
rekonstruksi Cleaver, “kebangkitan orto-
doksi” ini dipimpin oleh Althusser dan
diteruskan oleh seluruh muridnya.
3
Frase
“ortodoksi” yang dipakai di sini mesti
dipahami dalam konteks teori ekonomi
politik Marx. Althusser dapat digolong-
kan ke dalam kelompok ini sejauh ia beru-
paya untuk kembali mengakui kebenaran
pengertian Marx tentang sirkuit ekonomi
dalam Kapital. Berlawanan dengan para
eksponen Neo-Marxis Keynesian yang
begitu saja mencomot teori Keynes un-
tuk menambal kekurangan teori Marx,
Althusser dan murid-muridnya (yang
tergabung dalam proyek pembacaan ber-
sama atas Kapital seperti Balibar dan Ran-
cière) justru berupaya memberikan bukti
flosofs bagi kebenaran analisis Marx
dalam Kapital, misalnya dengan berangkat
dari pengakuan atas teori nilai-lebih untuk
lantas mengelaborasinya sedemikian se-
hingga dapat menggambarkan situasi sek-
arang tanpa keluar dari wilayah analisis
Marx. Cara baca yang “ortodoks”—dalam
pengertian yang sudah kami terangkan di
atas—ini juga meresapi penafsir besar sep-
erti Ernest Mandel, seorang Trotskyis dari
Internasional Keempat (1938-sekarang).
Kini kita akan masuk dalam
pembacaan Kapital dari perspektif flsafat.
Harry Cleaver membagi perspektif ini ke
dalam dua kubu besar: ortodoks dan re-
visionis. Kubu ortodoks mencakup Marx-
isme Soviet (dalam kontradistingsinya
terhadap Marxisme Barat atau Western
Marxism) seperti Lenin, Stalin dan Mao,
sekaligus formulasi baru atas Marxisme
ortodoks oleh Althusser dan para murid-
nya. Kubu revisionis mencakup berbagai
posisi dengan latar belakang yang berbe-
da. Frase “revisionis” di sini mesti dipa-
hami secara luas, tidak sekedar menunjuk
pada perselisihan revisionisme awal abad
ke-20 dengan Bernstein sebagai tokoh uta-
manya melainkan lebih kepada pengem-
bangan intuisi Marx ke dalam berbagai
segi kehidupan. Menurut Cleaver, kubu
ini diwakili oleh para tokoh dengan latar
belakang seperti:
o Marxisme Barat (Western Marx-
ism): György Lukács, Antonio Gramsci,
Karl Korsch—semuanya menekankan
pengaruh Hegel dalam Marx.
o Marxis Neo-Kantian: Galvano
Delavolpe dan Lucio Colleti.
o Marxis-Hegelianisme: Alexandre
Kojéve dan Jean Hyppolite.
o Marxis-eksistensialisme: Jean-
Paul Sartre, Simone de Beauvoir dan
Maurice Merleau-Ponty.
o Marxisme fenomenologis: Tran
Duc Thao dan Karel Kosik.
o Teori Kritis Mazhab Frankfurt:
Herbert Marcuse, Theodor Adorno,
Max Horkheimer, Walter Benjamin dan
Jürgen Habermas.
Oleh Cleaver, pembagian kubu ortodoks
dan revisionis ini dielaskan melalui dua
tendensi yang berbeda: sementara Al-
thusser mencoba menghidupkan kem-
bali doktrin diamat (dialectical materialism)
melalui pembacaan atas Kapital, Mazhab
Frankfurt dan tendensi Marxisme Barat
justru mengutamakan peran kebudayaan
dalam analisis Marxis. Diamat versus kul-
turalisme—pertentangan inilah yang men-
erangkan dasar perbedaan posisi antara
Marxis ortodoks dan Marxis revisionis.
“Adalah patut disayangkan na-
mun benar bahwa satu di antara pem-
bacaan flosofs atas Kapital yang paling
penting secara politis pada periode ini
adalah pembacaan Louis Althusser,”
demikian Harry Cleaver menulis.
4
Alasan
mengapa Althusser menjadi sedemikian
penting tak lain adalah karena ia berha-
sil menjalankan revitalisasi atas doktrin
diamat. Doktrin ini sendiri, seperti telah
kami uraikan dalam Bab I Kurikulum ini,
berasal dari frase Engels, dialectical mate-
rialism. Kita juga telah melihat problem
terbesar dari doktrin ini, yakni persoalan
determinasi struktur basis terhadap struk-
tur atas, dengan kata lain, persoalan deter-
minisme ekonomi. Walaupun Engels sendiri
pernah mengklarifkasi, dalam suratnya
kepada Joseph Bloch, bahwa ia tak pernah
memaksudkan determinasi sebagai deter-
minasi satu arah, namun pengertian ten-
tang ketimbal-balikan determinasi antara
basis dan suprastruktur tak pernah bisa
ia jelaskan secara memadai. Celakanya,
Stalin nantinya membakukan doktrin dia-
mat ini dan menjadikannya, seperti ditulis
Cleaver, sebagai “justifkasi teoretis bagi
eksploitasi atas pekerja Soviet.”
5
Kondisi
ini berlangsung terus hingga tahun 50-
an. Althusser lah yang berani memasuki
kembali medan perdebatan ini dengan
menarik kesimpulan baru dari doktrin
diamat—itulah yang membuatnya pent-
ing. Dalam kuliah seminarnya yang diadi-
kan buku, Membaca Kapital, Althusser dan
murid-muridnya berupaya menunjukkan
adanya suatu “sains tentang sejarah” di
dalam Kapital. Sains ini sama sekali tidak
berurusan dengan sejarah konkret me-
lainkan sains tentang struktur teoretis
yang ahistoris: sebuah sains Marxis yang
sepenuhnya berbeda dengan segala ide-
ologi. Proyek Althusserian ini adalah
kelanjutan dari pembuktian atas keilmia-
han Marxisme, atas suatu Marxisme yang
saintifk. Untuk itu Althusser membagi
fase pemikiran Marx menjadi dua: fase
pra-Kapital yang masih Hegelian, huma-
nis, ideologis, dan fase pasca-Kapital yang
non-Hegelian, anti-humanis dan ilmiah.
Namun Harry Cleaver—yang berasal dari
tradisi Marxis Anglo-Amerika, sebuah
tradisi yang ditopang oleh EB Thompson,
musuh kontemporer Althusser—men-
ganggap bahwa teori Althusser tidak lebih
dari sekedar justifkasi untuk PCF (Partai
Komunis Prancis).
6
Menurut Cleaver, Al-
thusser tidak memberikan pemecahan
baru atas doktrin diamat-histomat sejak
masa Engels sampai Stalin dan teorinya
tentang overdeterminasi bersifat ambigu.
Tentang tendensi kultural yang
meresapi Mazhab Frankfurt sebagai
eksponen revisionis, Cleaver menunjuk-
kan peran sentral Friedrich Pollock. Ia
merupakan pendiri Institut Penelitian
Sosial di Frankfurt. Pollock lah yang
menurut Cleaver menjelaskan mengapa
terdapat tendensi kultural yang kuat di
Mazhab Frankfurt. Hal ini ditunjukkan
dalam buku Pollock berjudul, Automation.
Di dalamnya ia menggambarkan fenom-
ena akumulasi modal yang tersentralisasi
sebagai esensi dari “kapitalisme negara”
Problem Filsafat 38
No. 1 / Tahun I / November 2009
Problem Filsafat 39
No. 1 / Tahun I / November 2009
dan “negara otoritarian”.
7
Penyebab dari
sentralisasi akumulasi ini, menurut Pol-
lock, adalah perluasan relasi kuasa dalam
pabrik menuju ranah sosial secara umum.
Konsekuensi dari pemikiran Pollock:
dibutuhkan sebuah teori Marxis yang
mampu menggambarkan kinerja kapital-
isme dalam ikhwal kemasyarakatan. Dari
sinilah tendensi analisis kultural itu mun-
cul.
Perspektif pembacaan ketiga
adalah pembacaan politis atas Kapital.
Dalam perspektif ini pokok yang diuta-
makan adalah strategi-taktik perjuangan
proletariat. Figur awal yang memegang
peranan sentral dalam pembacaan ini
adalah Lenin. Dalam What Is to Be Done?
ia menggagas pentingnya membentuk se-
buah “partai garis depan” (vanguard party)
yang merangkum seluruh pekerja dalam
satu garis organisasi yang terdisiplinkan.
Hanya dengan cara inilah, menurut Len-
in, revolusi dapat terjadi. Ini adalah se-
buah posisi klasik yang dipraktikkan oleh
Marxis di seluruh dunia. Seiring dengan
itu, yakni dalam State and Revolution, Len-
in juga menekankan konsep badan rakyat,
atau soviet, dan merumuskannya dalam
sebaris kalimat: “Seluruh kuasa bagi so-
viet-soviet.” Namun di kemudian hari so-
viet-soviet yang independen ini diadikan
obyek dari kebiakan “birokratisasi soviet”
yang membuat otonomi mereka hilang
terlebur dalam garis komando Moskow.
Untuk memperjuangkan kemba-
li otonomi kelompok-kelompok pekerja,
maka pada tahun 1941 berkembanglah
dalam lingkaran Trotskyis apa yang dise-
but sebagai Tendensi Johnson-Forrest (The
Johnson-Forrest Tendency). Ini merupakan
kelompok yang dibentuk oleh J.R. Johnson
dan F. Forrest—keduanya tak lain adalah
nama samaran dari C.L.R. James dan Raya
Dunayevskaya. Mereka yang tergabung
dalam Tendensi ini melawan konsep Len-
in tentang partai pemersatu. Kaum “oton-
omis” ini bahkan menolak serikat buruh
sebab kerapkali justru serikat itulah yang
diadikan kaki-tangan kapitalis untuk
meredam aksi buruh. Mereka mengkritik
Uni Soviet sebagai dilandasi oleh “kapi-
talisme-negara” sebab bagi mereka sen-
tralisasi yang dialankan melalui birokrati-
sasi soviet tak ubahnya akumulasi kapital
di tangan negara. Orang-orang yang ter-
gabung dalam Tendensi ini memfokuskan
diri pada organisasi kecil di tingkat lokal
8

dengan asumsi bahwa setiap pekerja me-
miliki kesadarannya sendiri untuk mela-
wan tanpa perlu diajari dan diatur oleh
partai.
Berdekatan dengan Tendensi
Johnson-Forrest, terdapatlah kelompok
Trotskyis yang memisahkan diri dari Inter-
nasional Keempat di tahun 40-an. Mulanya
mereka adalah seksi Prancis dari Interna-
sional tersebut. Mereka lalu mendirikan
jurnal yang terkenal, Socialisme ou Barbarie
(Sosialisme atau Kebiadaban). Jurubicara
dari kelompok para mantan-Trotskyis ini
adalah Cornelius Castoriadis dan Claude
Lefort. Mereka mengartikulasikan kritik
yang keras terhadap Leninisme. Tak her-
an, oleh karenanya, jika Althusser—yang
memang memegang garis Marxisme-Le-
ninisme—beserta seluruh muridnya (mu-
lai dari Balibar hingga Badiou) senantiasa
menjaga jarak terhadap mereka.
9
Bahkan,
menurut Cleaver, kelompok Socialisme ou
Barbarie ini, melalui kedua jurubicaranya,
tidak hanya menolak ortodoksi di dalam
Marxisme melainkan lebih jauh menolak
Marxisme itu sendiri.
10
Mereka mengelab-
orasi sendiri pemikiran tentang perlawa-
nan pekerja dan pada akhirnya berhenti di
sekitar posisi sosial-demokrat dengan sen-
tralitas konsep demokrasi (seperti pada
Lefort).
Para Marxis Italia memiliki
caranya sendiri untuk turun dalam perde-
batan kontemporer tentang strategi-taktik
perjuangan kiri. Mereka yang tumbuh
dalam iklim penuh gejolak tahun 60-an
menghidupkan kembali strategi ekstra-
parlementer Rosa Luxemburg seraya me-
nolak Partai Komunis Italia yang resmi
dan diakui negara sebagai bagian dari
parlemen. Oleh karenanya, mereka, seper-
ti juga kaum kiri Prancis di tahun ’68, ber-
musuhan terhadap dua pihak: negara den-
gan segala aparatus represinya dan partai
komunis resmi. Salah satu kelompok mer-
eka adalah Potere Operaio yang melahirkan
prinsip perjuangan Operaismo (Workerism)
dengan tokoh seperti Antonio Negri, Ra-
niero Panzieri dan Mario Tronti. Mereka
ini mengambil garis otonomis, dalam arti
independen terhadap partai komunis dan
serikat buruh yang jelas-jelas telah men-
jadi instrumen kapital—sebuah fenomena
yang jamak terjadi di Eropa Barat sejak ta-
hun 60-an. Namun ada yang berbeda dari
kecenderungan umum gerakan kiri Eropa
pada masa itu. Sementara peristiwa Mei
’68 di Prancis meledak dan mendapatkan
sorotan pers yang luar biasa walaupun
hanya berlangsung sekejap, perlawanan
kiri Italia yang bermula di tahun 60-an
masih terus berlanjut hingga tahun 80-an.
Tidak seperti gerakan kiri Prancis tahun
60-an yang tersusun oleh aksi massa biasa
yang berakhir menjadi huru-hara biasa,
gerakan kiri Italia di masa yang sama ti-
dak berhenti pada aksi massa melainkan
juga perjuangan bersenjata. Antonio Ne-
gri, dalam menegaskan watak otonomis
perjuangan kiri Italia, menyatakan: “Di
Prancis, ketika peristiwa Mei ’68, adalah
para intelektual yang memimpin gerakan
pemberontakan, bukan para pekerja. Di
Itali yang sebaliknya lah yang terjadi: para
pekerja yang menolak kompromi historis
lah yang memimpin perjuangan, bukan
kaum intelektual.”
11
Negri sendiri pernah
dipenjara atas dakwaan menjadi “otak
intelektual” dari gerakan milisi Brigate
Rosse (Brigade Merah). Karena perpad-
uan antara gerakan aksi massa buruh,
mahasiswa, kaum intelektual dan milisi
sipil inilah pada masa itu dikenal istilah
“laboratorium politik Italia”. Di Itali lah
kita menjumpai, secara sekaligus, gerakan
perlawanan kiri yang kuat dan represi
pemerintah yang keras. Itulah sebabnya,
gerakan kiri Italia mendapatkan simpati
luas dari kalangan intelektual kiri Eropa,
seperti misalnya pada musim semi tahun
1977, ketika berderet-deret tank masuk ke
halaman universitas dan para intelektual
kiri Prancis seperti Foucault, Deleuze dan
Guatari angkat bicara mendukung per-
juangan kiri Italia.
12
Dengan demikian kita telah
mendapatkan gambaran tentang berb-
agai tradisi pembacaan terhadap Kapital.
Paparan ringkas ini, tentu saja, kurang
memadai. Ada lebih banyak lagi alternatif
pembacaan apabila kita masuk ke dalam
detail. Namun, karena keterbatasan ru-
ang, kami harap pemetaan sederhana ini
sudah memadai untuk memberikan kita
pemahaman tentang orientasi-orientasi
dasar dalam membaca Kapital.
Catatan Akhir
1. Karl Marx, Contribution to a Critique of Political
Economy seperti dikutip dalam Harry Cleaver,
Reading Capital Politically (Texas University
Press), 1980, hlm. 31.
2. Lih. Ibid., hlm. 39.
3. Lih. Ibid., hlm. 41.
4. Ibid., hlm. 47.
5. Ibid., hlm. 49.
6. Lih. Ibid., hlm. 50.
7. Ibid., hlm. 53.
8. Dalam deskripsi C.L.R. James tentang aktivi-
tas mereka: “However high they soar they build
upon shop foor organization and action on the
job.” Seperti dikutip dalam ibid., hlm. 62.
9. Slavoj Žižek pernah mencatat bahwa setiap
Althusserian kontra terhadap Lefort. “Rancière […]
belongs to the feld one is tempted to defne as
‘post-Althusserian’: authors like Balibar, Alain
Badiou, up to Ernesto Laclau, whose starting
point was close to Althusser. The frst thing to
note here is how they are all opposed to the
most elaborated ‘formal’ theory of democracy
in contemporary French thought, that of Claude
Lefort.” Slavoj Žižek, The Lesson of Rancière
dalam Jacques Rancière, The Politics of Aesthetic
diterjemahkan oleh Gabriel Rockhill (London:
Problem Filsafat +0
No. 1 / Tahun I / November 2009
Problem Filsafat +1
No. 1 / Tahun I / November 2009
Continuum), 2004, hlm. 73.
10. Harry Cleaver, op.cit., hlm. 64.
11. Antonio Negri dan Anne Dufourmantelle,
Negri on Negri diterjemahkan oleh M.B. DeBe-
voise (New York: Routledge), 2004, hlm. 35.
12. Lih. Ibid., hlm. 4.
Pertanyaan-Pertanyaan Pemandu bagi
Pembacaan Terhadap Kapital
Rangkaian pertanyaan yang disampaikan di sini adalah upaya penggalian
makna dalam arti literer, baik itu menyangkut peristilahan maupun rangkaian
gagasan. Pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya elaboratif akan dikembangkan sesuai
dengan perjalanan serial diskusi Membaca Kapital. Sebagian besar dari pertanyaan ini
dikembangkan dari yang sudah ditulis oleh John Fox dan William Johnston dalam buku
Understanding Capital, Progress Book, Toronto 1978.
Chapter I
1. Apa makna dan perbedaan di antara nilai guna, nilai tukar dan nilai?
2. Apa makna dan perbedaan di antara kerja kongkret dan kerja abstrak
3. Mengapa di dalam masyarakat kapitalis, nilai guna merupakan cadangan material
bagi nilai tukar
4. Bagaimana hubungan di antara nilai dan nilai guna? Dapatkah keduanya berada di
dalam sebuah komoditi tanpa kehadiran dari salah satunya?
5. Bagaimana makna kata “secara sosial” sebagaimana yang terungkap dalam peristilahan
“kerja yang diperlukan secara sosial”?
6. Apa yang dimaksud dengan dua aspek kerja? Apakah terdapat kontradiksi di antara
dua aspek tersebut
7. Mengapa pembagian kerja sosial merupakan prasyarat bagi produksi komoditi?
Apakah setiap pembagian kerja sosial selalu membawa hasil pada produksi komoditi?
8. Apakah akan terdapat peningkatan kesejahteraan material ketika pembesaran nilai
mengalami penurunan?
9. Apa yang disebut sebagai ragam bentuk nilai sebagaimana yang dipikirkan oleh
Marx?
10. Bagaimana keterkaitan di antara relasi sosial dan kerja di dalam masyarakat feodal
dan masyarakat kapitalis?
11. Apakah yang dimaksud dengan fetisisme komoditi dan bagaimana asal usul dari
karakter fetish itu?
Chapter II
1. Mengapa pertukaran nilai guna berkembang di dalam pertukaran produk kerja
sebagai nilai, dan mengapa komoditi harus direalisasikan dahulu sebagai nilai sebelum
sebagai nilai guna?
2. Apakah tahap tahap di dalam pengkonversian produk kerja ke dalam komoditi?
3. Pada titik mana di dalam pengkonversian itu fetisisme kemudian muncul dan
bagaimana manifestasinya untuk pertama kalinya?
Chapter III
1. Relasi apa yang diekspresikan melalui pembesaran nilai?
2. Apa keterkaitan di antara nilai dan harga jual?
3. Apa ragam fungsi fungsi yang ditampilkan oleh uang?
Problem Filsafat +2
No. 1 / Tahun I / November 2009
Problem Filsafat +3
No. 1 / Tahun I / November 2009
Chapter IV
1. Apa batasan batasan inheren di dalam sirkulasi komoditi yang sederhana?
2. Apakah landasan obyekti dari sirkuit C-M-C dan M-C-M? Apakah tujuan subyektif
yang dilekatkan pada masing masing dari sirkuit ini?
Chapter V
1. Apakah kontradiksi yang terdapat di dalam formula kapital?
2. Mengapa sirkulasi kapital tidak dapat menjadi dasar bagi nilai lebih?
3. Apa kesahan mendasar yang terletak di balik usaha usaha un tuk merepresetasikan
sirkulasi komoditi sebagai sumber nilai lebih?
Chapter VI
1. Mengapa Marx mengatakan bahwa nilai dari tenaga-kerja mencakup faktor historis
dan moral? Apa yang menentukan nilai dari tenaga kerja?
2. Apa kondisi kondisi yang dibutuhkan untuk membeli dan menjual kekuatan kerja
untuk menjadi generalisasi proses sosial
3. Apakah kekhususan dari tenaga kerja sebagai komoditi?
4. Mengapa Marx membedakan antara kerja dan tenaga kerja?
Chapter VII
1. Mengapa Marx mengasosiasikan proses kerja dengan produksi nilai guna? Apakah
faktor faktor mendasar dari proses kerja?
2. Apa karakteristik yang spesifk dari proses kerja kapitalistik
3. Bagaimana nilai komoditas ditentukan?
4. Bagaimana perbedaan di antara nilai guna dan nilai dari komoditi tenaga kerja
membawa hasil pada penciptaan nilai lebih?
Chapter VIII
1. Apakah yang dimaksud dengan Kapital konstan dan kapital Variabel dalam pemikiran
Marx?
2. Bagaimana pembedaan di antara kerja abstrak dan kerja kongkret berhubungan
dengan pembedaan di antara kapital konstan dan kapital variabel?
Chapter IX
1. Apa yang dimaksud dengan waktu kerja yang diperlukan dan waktu kerja yang
berlebih?
Chapter X
1. Bagaimana legislasi/perundang undangan yang mengatur waktu kerja di Inggris
terbagi ke dalam dua periode yang berbeda? Apa dasar pemikiran dari pembagian ini?
2. Apakah macam macam hak yang dilibatkan di dalam perjuangan menuntut
penyesuaian jam kerja?
3. Bagaimana penjelasan Marx tentang Undang undang Kepabrikan?
Chapter XI
1. Apa hubungan di antara nilai lebih rata rata dan nilai lebih massif?
2. Apa faktor faktor yang menentukan batas minimal kapital yang dibutuhkan untuk
investasi di dalam lingkup produksi yang khusus?
Chapter XII
1. Apa perbedaan diantara nilai lebih absolut dan nilai lebih relatif?
2. Mengapa kapitalis individual termotivasi untuk meningkatkan produktivitas para
pekerja melalui inovasi?
3. Apa hubungan diantara nilai tenaga kerja seorang pekerja dengan produktivitasnya?
Bagaimana relasi ini masuk kedalam formasi nilai lebih relatif?
Chapter XIII
1. Apa yang dimaksud oleh Marx dengan istilah ‘koperasi sederhana’
2. Bagaimana koperasi sederhana berakibat dalam peningkatan nilai lebih relatif?
3. Apakah dua aspek yang berbeda dari kontrol kapitalis terhadap produksi, dan
bagaimana aspek aspek tersebut muncul?
4. Bagaimana peningkatan dalam produktivitas yang bersesuaian dengan koperasi
muncul menjadi fungsi dari kapital?
Chapter XIV
1. Bagaimana usaha manufaktur mengembangkan nilai lebih relatif?
2. Bagaimana karakter teknis dari manufaktur menyebabkan jumlah kapital menjadi
minimum bagi kapitalis untuk bangkit?
3. Apa halangan halangan yang menghambat perkembangan penuh dari tendensi usaha
manufaktur?
4. Bagaimana perbedaan di antara pembagian kerja di dalam masyarakat dan pembagian
kerja di dalam pabrik?
Chapter XV
1. Bagaimana perubahan sosial dan ekonomi yang dihasilkan dari peralihan dari industri
manufaktur ke industri modern?
2. Bagaimana koperasi sederhana manufaktur muncul kembali di dalam pabrik dan
bagaimana pembagian kerja manufaktur muncul kembali di pabrik?
3. Apa pertimbangan pertimbangan yang membatasi penggunaan mesin di dalam
kapitalisme?
4. Apa beda di antara nilai mesin dan nilai yang dialihkan oleh mesin ke produk?
5. Apa kontradiksi inheren yang terdapat dalam penggunaan mesin untuk produksi
nilai lebih relatif, dan bagaimana kontradiksi ini dimanifestasikan?
6. Apa hakekat perbedaan di antara peningkatan produktivitas dan peningkatan
intensitas kerja?
Chapter XVI
1. Apa yang dimaksud dengan corak produksi kapitalis yang spesifk?
Chapter XVII
1. Bagaimana panjang waktu kerja, intensitas kerja, dan produktivitas kerja menentukan
Problem Filsafat ++
No. 1 / Tahun I / November 2009
Problem Filsafat +5
No. 1 / Tahun I / November 2009
nilai lebih dan nilai tenaga kerja?
Chapter XVIII
1. Mengapa penting memahami tingkat nilai lebih dari rasio nilai lebih untuk nilai yang
diciptakan?
Chapter XIX
1. Apa dilema dari teori teori ekonomi politik klasik sehubungan dengan persoalan
upah?
Chapter XX
1. Apa hubungan di antara harga kerja dan nilai tenaga kerja?
Chapter XXI
1. Apakah karya mulia yang sesuai bagai corak produksi kapitalis?
Chapter XXII
1. Apakah konsekuensi dari variasi internasional di dalam produktivitas dan intensitas
kerja?
Chapter XXIII
1. Bagaimana kita memahami bahwa kapitalisme adalah sebuah sistem yang
mereproduksi dirinya sendiri? Apakah itu memudahkan kita untuk memahami
produksi kapitalis?
2. Apa yang dimaksud oleh Marx dengan “reproduksi sederhana”
Chapter XXIV
1. Bagaimana kapital menchasilkan kapital? Apa yang memungkinkan terjadinya
reproduksi kapital?
2. Bagaimana hubungan pertukaran di antara kapital dan kerja hanya sekedar
pelengkap?
Chapter XXV
1. Bagaimana hukum umum dari akumulasi kapitalis?
Chapter XXVI dan XXVII
1. Apa yang disebut sebagai akumulasi primitif?
2. Bagaimana perampasan populasi pertanian menciptakan prakondisi bagi kesejahteraan
kapitalis
Chapter XXVIII
1. Mengapa legislasi diperlukan untuk kapitalisme di dalam periode awal
perkembangannya?
Chapter XXX dan XXXI
1. Bagaimana pemisahan produsen pertanian dari sarana produksinya mempengaruhi
perkembangan usaha manufaktur?
2. Apa maksud dari sarana subsistensi telah diubah menjadi elemen material kapital
variabel?
Chapter XXXII
1. Apa tendensi historis dari akumulasi kapital?
2. Bagaimana corak produksi yang sederhana memajukan perkembangan kapitalis?
Problem Filsafat +6
No. 1 / Tahun I / November 2009
Problem Filsafat +/
No. 1 / Tahun I / November 2009
1. Profl Komunitas Marx
Komunitas ini didirikan pada
paruh pertama tahun 2009. Pada mulanya
ia digagas tidak sebagai komunitas
tersendiri melainkan sebagai divisi dalam
Komunitas Hegel. Namun oleh berbagai
alasan, lantas dicapai kesepakatan untuk
dihadirkan dalam format yang terpisah.
Gagasan dasar pembentukan Komunitas
Marx, tentu saja, adalah agar menjadi
wadah mendiskusikan teks-teks Karl
Marx—seorang flsuf yang namanya tak
pernah surut diperdebatkan di sepanjang
perjalanan flsafat hingga kini.
Marx menjadi fgur penting
sebab segala diskursus tentang emansipasi
niscaya menimba inspirasi darinya. Saat
ini namanya kian berkibar lagi terutama
jika kita periksa teks-teks pemikir
kontemporer seperti Žižek dan Badiou
yang secara eksplisit hendak merevitalisasi
Marxisme (dan bahkan Leninisme) dan
menguatkan kembali peran Marx sebagai
pemikir politik utama—sesuatu yang
memiliki sejarahnya pada upaya teoretik
Mazhab Frankfurt (dengan tokoh-tokoh
besar seperti Adorno dan Benjamin).
Jika kita menengok ke dua abad sebelum
abad 21, kita menyaksikan berbagai
eksperimentasi historis atas ajaran Marx
yang dialankan hampir tanpa putus,
semenjak Internasional pertama di era
Marx sendiri hingga gerakan Zapatista di
Meksiko akhir abad ke-20. Tak hanya itu,
Marx juga memberikan tulang punggung
ontologis bagi flsafat politiknya, yakni
pengertian baru tentang materialisme
yang diolahnya dalam dialog kritis dengan
flsafat Hegel yang telah ia kuasai secara
fasih. Pemikirannya, dengan demikian,
Perihal Komunitas Marx
merentang dari domain ontologi hingga
politik. Kekayaan wacana inilah yang
membuat kita tak bisa memalingkan muka
begitu saja dari Marx apabila kita sungguh
ingin belajar flsafat pada hari ini.
Atas dasar pengertian tentang
peran sentral Marx inilah Komunitas Marx
dibentuk. Komunitas ini akan membantu
kita untuk lebih memahami pemikiran
Marx karena di dalam diskusi nantinya,
kita akan saling-bantu memperdalam
pengertian melalui presentasi dari masing-
masing peserta tentang pokok teks yang
dipilih. Dengan kerja kolektif inilah, kita
akan mencapai pengertian secara lebih
mudah dibandingkan dengan secara
individual membaca keseluruhan teks.
Buku Marx yang akan dibahas
pada kesempatan pertama ini adalah
Das Kapital. Ini merupakan buku yang
dianggap karya utama Marx dan oleh
karenanya ia tergolong cukup sulit
apalagi untuk dipelajari sendirian.
Namun kesulitan ini akan kita patahkan
dengan pembacaan bersama yang telaten
dan sebisa mungkin merujuk kembali
pada karya-karya Marx yang lain. Kita
tak perlu ragu untuk mencobanya sebab
tak ada yang mustahil untuk kita pahami
jika kita bahu-membahu mengkajinya.
Komunitas Marx terbuka untuk siapa
saja, tanpa memandang latar belakang
pendidikan (entah mahasiswa semester
awal ataupun akhir), sebab di dalamnya
kita hadir sebagai kawan yang sama-sama
belajar untuk mengerti.
2. Organisasi Kerja Komunitas Marx
Komunitas Marx pada tahun
pertama, 2009-2010, dikoordinatori oleh
Berto Tukan. Di dalam penyelenggaraan
serial diskusi “Membaca Kapital” ini
secara organisasional Komunitas dibagi
dalam empat divisi kerja:
1. Divisi Materi: bertanggung jawab
atas pengadaan materi bagi peserta
diskusi, baik materi primer maupun
sekunder. Termasuk juga bertanggung
jawab atas notulensi hasil diskusi. Divisi
ini dipegang oleh Anom Astika.
2. Divisi Kepesertaan: bertanggung
jawab untuk mengorganisasikan peserta
berdasarkan formulir kepesertaan yang
sudah dibagikan ke biara-biara maupun
peserta dari kalangan awam. Divisi ini
dipegang oleh Togap Jaya Alam.
3. Divisi Presentasi: bertanggung
jawab atas presentasi dan presentator
diskusi. Divisi ini dipegang oleh Martin
Suryajaya.
4. Divisi Publikasi: bertanggung
jawab a tas pengundangan peserta, pe
ngumuman acara diskusi dan publikasi
hasil-hasil diskusi. Divisi ini dipegang
oleh Priscilia Hanu.
3. Metode Diskusi Membaca Kapital
Buku Kapital terdiri atas 8 bagian
dan 32 bab. Berdasarkan pembagian ini kami
merencanakan akan menyelenggarakan
diskusi sebanyak 16 kali pertemuan,
setiap dua minggu sekali. Serial diskusi
yang seluruhnya berjumlah 16 pertemuan
ini akan kita bagi ke dalam dua bentuk
pertemuan. Pertemuan pertama adalah
presentasi pembacaan teks Kapital (dengan
corak tekstual), sementara pertemuan
jenis kedua adalah presentasi dan diskusi
atas elaborasi lebih lanjut (dengan acuan
teks ekstra-Kapital) atas tema yang
didiskusikan dalam pertemuan pertama.
Jad manakala dalam pertemuan minggu
pertama kita membahas bagian teks
Kapital yang berjudul “Transformasi Uang
Menjadi Kapital” maka pada pertemuan
berikutnya dua minggu kemudian kita
akan masuk ke dalam elaborasi lebih
lanjut tentang tema tersebut, misalnya
dengan mengkomparasikannya terhadap
pemikiran Marx pada teks sebelum Kapital
atau dengan membaca tradisi penafsiran
atas tema tersebut oleh para komentator
Marx.
4. Kepesertaan dan Presentasi Diskusi
Peserta diskusi adalah mahasiswa
S1/S2 STF Driyarkara yang mengisi
formulir kepesertaan. Peserta diskusi
diharapkan membaca teks-teks yang
dibagikan dan membuat teks presentasi
(dalam pertemuan pertama) maupun
teks komentar (dalam pertemuan kedua).
Peserta yang berhalangan hadir diharap
melaporkan ketakhadirannya pada
Divisi Kepesertaan. Peserta presentator
yang berhalangan hadir sesuai dengan
jadwal yang sudah ditentukan harap
berkoordinasi dengan Divisi Presentasi.
5. Publikasi Hasil Diskusi
Publikasi yang akan dikeluarkan
oleh Komunitas Marx sepanjang perjalanan
serial diskusi “Membaca Kapital” ialah
Bulletin Komunitas Marx yang akan terbit
setiap dua minggu sekali berselingan
dengan jadwal diskusi (jadi apabila
minggu ini adalah jadwal diskusi, maka
Bulletin akan diterbitkan pada minggu
antara minggu ini dan diskusi selanjutnya
pada dua minggu kemudian). Rubrik
yang menyusun Bulletin tersebut adalah
sebagai berikut:
1. Editorial
2. Paper presentasi
3. Notulensi diskusi
4. Paper ringkasan terjemahan
5. Pertanyaan-pertanyaan yang
belum terjawab dalam diskusi
Selain Bulletin dwi-mingguan, Komunitas
Marx juga berencana akan menerbitkan
hasil diskusi, setelah dirumuskan ke
dalam proposal riset, sebagai buku hasil
riset bersama atas teks Kapital.
Catatan: Silahkan mendaftar pada formulir
yang telah diedarkan.
Problem Filsafat +8
No. 1 / Tahun I / November 2009
Orasi Pembukaan Serial Diskusi Membaca Kapital...............................................................2
Editorial.......................................................................................................................................10
Artikel I: Adanya Buku Das Kapital........................................................................................10
Artikel II: Apa Perlunya Membaca Das Kapital....................................................................16
Artikel III:Berpikir dengan Pendekatan Materialisme Dialektis dan Historis..................19
Artikel IV: Survei atas Pemikiran Marx dalam Karya-Karya Sebelum Kapital................25
Artikel V: Perbedaan Pendapat di Seputar Pembacaan Terhadap Kapital........................35
Pertanyaan-Pertanyaan Pemandu bagi Pembacaan Terhadap Kapital..............................41
Perihal Komunitas Marx...........................................................................................................46
.
Dafar Isi

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->