P. 1
an Demokrasi Antara Pemikiran Barat Dan Timur

an Demokrasi Antara Pemikiran Barat Dan Timur

4.0

|Views: 331|Likes:
Published by edove

More info:

Published by: edove on Oct 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/17/2013

pdf

text

original

Perkembangan demokrasi antara pemikiran barat dan timur

Fenomena demokrasi telah menjadi wacana luas sejak berakhirnya perang dingin di tahun 1991. Runtuhnya simbol kekuasaan komunis yakni Uni soviet menjadi determinasi penerimaan konsep demokrasi secara menyeluruh oleh sebagian besar negara-negara di dunia. Demokrasi merupakan konsep penyelenggaraan pemerintah yang diusung oleh pemahaman liberal Barat, utamanya Amerika sebagai pencetus pertama konsep demokrasi. Walaupun demikian, banyak pula yang berpendapat bahwa demokrasi secara partikular berakar dari nilai nasionalisme dan kebebasan berpendapat yang berkembang sekitar awal abad 20. Konsep demokrasi bukanlah hal yang sama sekali baru bagi dunia internasional. Konsep demokrasi tertua telah diperkenalkan secara implisit oleh filsuf Yunani kuno, yakni Plato dan Aristoteles. Akan tetapi, posisi demokrasi dalam ketatanegaraan berdasarkan pemikiran filsuffilsuf tersebut belumlah substansial seperti masa sekarang. Hal itu disebabkan demokrasi dianggap merupakan konsep negara yang buruk dalam dunia filsuf Yunani saat itu. Pada masa-masa selanjutnya nilai demokrasi ditelan oleh konsep negara politea dan otokrasi, hal ini sejalan dengan pemikiran Santo Agustinus dan Thomas Aquina. Sedangkan pada masa berikutnya, yakni pada masa pemikiran Machiavelli dan Thomas Hobbes, konsep demokrasi mengalami nasib naas, dikubur oleh kekuasaan yang terpusat pada satu penguasa saja. Selanjutnya, demokrasi mulai mendapatkan angin segar dari Montesquieu dan J.J. Rousseau sehingga meraih kepercayaan diri sebagai konsep negara yang idealis dan banyak diidam-idamkan oleh orang-orang di dunia, khususnya orang-orang yang tertindas. Demokrasi meraih momentum keemasan ketika ia diembeli oleh nilai-nilai liberalisme seperti kebebesan berpendapat dan kebebasan pasar ekonomi yang seluas-luasnya. Berbeda dengan pemikir-pemikir barat era sebelumnya, seperti yang telah disebutkan di atas, Freidrich Engels, Karl Marx dan Engels muncul sebagai pemikir radikal yang kontroversional. Dinamakan kontroversional karena seolah-olah pemikiran ketiganya mendirikan parameter jelas yang membatasi konsep demokrasi yang berlebihan. Dikatakan oleh ketiganya, bahwa demokrasi yang dijunjung tinggi oleh demokrasi mesti diawasi oleh keterlibatan pemerintah pusat dalam melakukan kontrol yang ketat, bila perlu. Berikut dalam tulisan ini akan dibahas satu persatu perspektif pemikir barat dalam menerjemahkan konsep demokrasi sesuai dengan konteks zamannya masing-masing dengan harapan semoga tulisan ini menjadi bacaan ringan dan menambah pengetahuan pembaca budiman. Segala kritik dan saran diterima dengan terbuka demi memperbaiki tulisan ini di masa datang. 1.Zaman Yunani Kuno, Plato (429-347 Sm) dan Aristoteles (384-322 SM) Keilmuan Yunani, pusat awal perkembangan peradaban Barat, memperkenalkan metodemetode eksperimental dan spekulatif guna mengembangkan pengetahuan melalui semangat rasionalisme dan empirisme dengan menempatkan akal di atas segala-galanya. Dengan kata lain sumber kebenaran hanya dapat dikenali melalui akal. Berbeda dengan pemikiran di atas yang lazim di Yunani, Socrates, salah satu pemikir Yunani yang paling signifikan dan inspiratif, mengungkapkan bahwa kebenaran dapat dikenali melalui metode retoriknya. Yakni kebenaran akan diketahui buktinya dengan melakukan investigasi, dengan bertanya, terus-menerus.

hanyalah filsuf yang dibekali dengan nilai-nilai kebenaran. Penyerahan wewenang pada rakyat yang demikian sepenuhnya merupakan awal kehancuran suatu entitas kekuasaan itu sendiri. Socrates menemukan argumen untuk membela diri. . Artinya. Plato mengungkapkan bahwa kebenaran yang mutlak terletak pada ide dan gagasan yang abadi. Plato menegaskan bahwa rakyat tidak memiliki pengetahuan ketatanegaraan sama sekali. Landasan pemikiran Plato tentang negara berawal dari idenya yang menggolongkan manusia ke dalam kelas dalam negara. Hal ini ditegaskan oleh tulisan Aristoteles. Dengan metode induksi ini ia menentukan pengertian umum yang berhasil membuktikan bahwa tidak semua kebenaran itu relatif. bukan warganegara. dan lebih pentingnya lagi. berturut terdiri dari akal. filsuf terkemuka negara Yunani kuno. Warganegara adalah individu yang memiliki waktu untuk memperluas pengetahuan tentang urusan publik dan mengupayakan kewajiban. semangat. petani tidak masuk kategori warganegara. demokrasi kerakyatan tidak bisa diterima oleh pemikiran plato seperti di atas karena rakyat biasa tidak mempunyai waktu untuk memikirkan negara. filsuf yang notabene mengusahakan kebajikan bisa disebut warganegara. Hierarki inilah yang kemudian dipertahankan oleh plato sebagai justifikasi pemikirannya mengenai demokrasi. meskipun sedikit berbeda. menurut Plato. individu yang secara alamiah merupakan budak dan kelas produsen. militer. yang menempatkan bentuk negara demokrasi sebagai bentuk terburuk suatu negara. Meskipun tidak meninggalkan ajaran gurunya. Aristoteles dan Plato berbagi kemiripan landasan pemikiran. Pemikiran Aristoteles mengenai demokrasi diungkapkan dalam pandangannya mengenai warganegara.Athena. dan nafsu yang kemudian memperoleh interpretasi berbeda yakni sebagai penasihat. Dalam sejarah awal perkembangannya demokrasi juga memakan korban. Menurutnya tidak semua individu dikelompokkan ke dalam warganegara. golongan penghasil produsen. Plato mempercayai bahwa masing-masing individu mesti melaksanakan fungsinya dengan sebaik-baiknya dan tidak ada pelanggaran hierarkis. Singkat cerita. Sebaliknya. implementasi pemikiran Aristoteles terdapat pada pengertian. sementara budak. Plato mengungkapkan bahwa hal terpenting berhubungan dengan penguasa adalah. maka para penguasa Athena menganggap Socrates sebagai oposan. sangat kritis membela pemikiran-pemikirannya. yaitu agar kaum muda tidak mempercayai para dewa dan mengajari mereka untuk mencapai kebijaksanaan sejati dengan berani bersikap mencintai kebenaran sehingga terhindar dari kedangkalan berpikir.penguasa mesti berasal dari kalangan filsuf. Mereka menganggap Socrates menyesatkan dan meracuni kaum muda dengan ajaran-ajarannya. yaitu dengan metode induksi (penyimpulan dari khusus ke umum). Socrates. Socrates sangat meyakini adanya kebenaran mutlak. Melalui idealisme yang empiris. Republik. Jadi ketika wewenang diberikan kepada individu secara meluas seperti golongan petani. tempat lahirnya para filsuf Yunani dahulunya terkenal dengan sistem pemerintahan yang demokratis. Dengan sejumlah argumentasi. dan pedagang. mengakibatkan negara berada pada bentuk terburuknya. Pemikiran ini serupa dengan muridnya Aristoteles. Seluruh filsafat Plato bertumpu pada ide yang menurutnya realitas (kenyataan) sebenarnya dari segala sesuatu yang ada dan dapat dikenal lewat panca indra. dan budak.

sehingga terbentuknya suatu negara merupakan cerminan kebutuhan kodrati manusia. Secara singkat ini menyiratkan seolah Tuhan mengatur kehidupan ketatanegaraan. setidaknya telah mendapatkan posisi yang lebih baik daripada dulu pada zaman filsuf.Abad Pencerahan. Ia melihat wewenang representasi Tuhan tersebut mesti diikuti oleh rakyat umum atas dasar nilai kebaikan dan kepatuhan bersama. tapi masih lebih baik daripada tirani.Abad Pertengahan. pemikiran Thomas Aquinas tidak jauh berbeda dengan Santo Agustinus. Secara simbolis ia mengungkapkan bahwa penguasa tunggal. Negara memuat serangkaian kewajiban salah satunya adalah mengarahkan setiap kelas-kelas sosial dalam masyarakat untuk mencapai tujuan bersama sesuai dengan doktrin kristiani meyakini keberadaan alam akhirat yang abadi. Thomas Aquinas berpikirn bahwa tentang kehendak bebas manusia dan tujuan akhir manusia yang selalu bermuara pada kebaikan. terkenal dengan tulisannya Summa Theologika. 3. semacam bentuk negara kesemakmuran Kristiani. Bentuk negara yang sesuai dengan cita-cita keduanya yakni politea. pertikaian. Dalam hal ini. dan peperangan. maka wewenang tersebut cenderung dilaksanakan jauh dari cita-cita negara Tuhan. Masyarakat bawah menurutnya terdiri dari banyak orang yang masih berposisi budak. ia beranggapan negara akan mengalami kejayaan manakala pemimpimnya terlepas dari nilai moral dan etika yang dulu pada abad pertengahan pernah diagung-agungkan. filsafat tentang sejarah yang membahas City of God. hukum alam dan hukum abadi. Akan tetapi. yakni membahas teori tentang waktu. bisa dikarakterkan menjadi tiga: filsafat murni. meskipun buruk. yang mana tuhan kemudian menetapkan bahwa manusia adalah makhluk sosial dan politik. demokrasi di tempat terburuk. Sehingga ia melihat konsep negara dengan wewenang terletak pada rakyat luas demokrasi. dalam lingkaran pemikirannya Machiavelli menyiratkan salah satu nilai demokrasi. Thomas Aquinas lahir 1225. dan teori tentang penebusan dosa.2. Dalam tulisanya ia juga sering mengusung pola hukum yang meliputi hukum kodrat. sedikit sekali mereka menyinggung bentuk negara demokrasi. Santo Agustinus (354-450) dan Thomas Aquinas (1229-1274) Watak filsafat politik Santo Agustinus. merupakan representasi Tuhan di dunia. Menurutnya negara merupakan aktualisasi sifat alamiah manusia. yakni . Keduanya memiliki pandangan yang sama bahwa negara mesti dibentuk oleh nilai ketuhanan. Sehingga ketika wewenang diberikan pada rakyat secara luas. Machiavelli (1467-1527) dan Thomas Hobbes (1588-1679) Machiavelli meletakkan. pada tujuan ketuhanan. Meski tidak dijelaskan secara tersurat dalam berbagai tulisan baik Santo Agustinus dan Thomas Aquinas mengenai posisi demokrasi. Selain itu. adapun Thomas Aquinas pernah mengatakan bahwa bentuk negara terbaik adalah monarki. Menurutnya. dan tirani di tempat terbaik dalam hirarki bentuk negara menurut pemikirannya. demokrasi. monarki. Hal berdasarkan pemikiran realis klasiknya yang berlebihan. sebagai suatu negara yang tidak ideal karena negara demokrasi merupakan refleksi negara duniawi yang penuh dengan kekacauan. Dalam beberapa tulisannya dia memperkenalkan konsep pemahaman dalam memahami fenomena budak sebagai keadaan alamiah yang mesti diterima dengan lapang sebagai suatu keadaan dalam rangka upaya untuk menebus dosa. Ia meletakkan bentuk negara politea yang berdasarkan dengan konsep ketuhanan sebagai konsep negara paling baik. bekas penganut Manikheisme dan pembuat onar semasa remajanya ini. idealnya. dan yang terburuk adalah tirani denga tambahan demokrasi. Ia mengatakan bahwa hakikat manusia adalah berasal dari tuhan.

Ia mengungkapkan adanya kehendak umum sebagai bentuk penyatuan sosial yang menciptakan pribadi kolektif baru. Oleh karena itu semestinya dilibatkan dalam setiap kegiatan politis pemerintahan. Parlemen yang representatif dipilih oleh rakyat. Era Westphalia. Akan tetapi. Montesquieu (1689-1755). Berbeda dengan JJ Russeau. patriotisme. prinsip pemerintahan Montesquieu bisa dikategorikan ke dalam tiga kelompok. Menurutnya pemerintahan akan sebaik-baiknya dijalankan jika kekuasaan terpusat pada satu orang saja. Thomas Hobbes.kebebasan individu. Nilai kebebasan ini kemudian dituankan dalam kontrak sosialnya John Locke yang bersifat sangat liberal. monarki. yakni JJ Russeau melalui penerbitan lembaga-lembaga pemerintahan atau biasa dikenal dengan distribusi kekuasaan. oleh karena itu. Namun. Akan tetapi. ketika pertama kali John Locke mengungkapkan bahwa dalam keadaan alamiah. John Locke memberikan dukungannya bahwa rakyat sipil atau warganegara juga termasuk dalam masyarakat politik. JJ Russeau memperkenalkan untuk pertama kalinya konsep kedaulatan rakyat yang menempatkan kebebasan manusia sejajar dengan kehendak negara. pemikirannya tentang konsep kedaulatan rakyat ini biasa dikenal dengan demokrasi langsung. Karena rakyat adalah subyek hukum maka dia harus menjadi pembautnya. meletakkan adanya kewenangan dalam menjalankan kekuasaan tersebut.yakni republik. semua anggota komunitas politik memiliki kedudukan sama dalam pembuatan hukum. Montesquieu mengatakan bahwa nilai penggerak pemerintahan adalah civic virtue dan spirit publik dari rakyat dalam cinta pada negara. merupakan JJ Russeau. kebebasan individu disediakan sepanjang tidak mengganggu keselamatan dan stabilitas tatanan politik. Menurutnya. Pemikiran ini selaras dengan Thomas Hobbes. monarki absolut berada di tataran tertinggi bentuk negara terbaik berdasarkan pemikirannya. Dalam Republik. kesediaan menundukkan kepentingan diri. Kewenangan tersebut diperoleh dari kontrak sosial dimana sekelompok orang secara pasrah dan sadar memberikan seluruh kekuatan politiknya pada orang di luar kelompok mereka. kewenangan untuk menjalankan kedaulatan rakyat. manusia lahir dengan persamaan dan kebebasan kebebasan di sini masih tunduk dalam hukum alam yang bersifat normatif (hukum manusia). Manusia dilahirkan bebas . Walaupun Machiavelli tidak secara eksplisit menunjukkan nilai-nilai demokrasi. dan depotisme. yaitu negara. kedaulatan rakyat ini bersifat tidak terbatas dan tidak dapat dibagi-bagi. Keadaulatan ada di tangan komunitas kapasita kolektif. JJ Russeau mengatakan bahwa itdak ada sistem pemerintahan perwakilan. karena saat itu negara gereja masih mendominasi keadaan politik. tetap. ia telah memulai anggapan bahawa sebenarnya nilai demokrasi itu tetap digenggam dalam bentuk negaranya. . Meninggalkan pemikiran ekstrem Machiavelli. Akan tetapi. Kemiripan tersebut dapat ditelusuri pada periode pemikir barat selanjutnya. dan monarki di tempat tertinggi dalam hierarki bentuk negara sesuai dengan pemikirannya. John Locke juga tampil dengan mengurusng konsep kekuasaan mayoritas. maka pemikirannya ini masih berkembang secara rahasia. John Locke (1632-1704). kontrak sosial memiliki kemiripan struktur dengan bentuk negara demokrasi saat ini. meletakkan demokrasi di tempat terburuk. dan Jean Jacques Russeau (1712-1778) Benih nilai-nilai demokrasi baru mendapatkan perhatian penuh oleh pemikir politik abad selanjutnya. Individu bebas dari pengaruh orang lain dalam menyatakan kehendak bebasnya.

maka rakyat harus menjadi abdi negara. keserhanaan dan persamaan. dan Fredrich Engels (1820-1895) Pandangan Hegel mengenai demokrasi. sebaliknya ia memposisikan kekuasaan mesti diletakkan terpusat. mencakup kedaulatan tidak bisa dilaksanakan kecuali oleh hak pilih rakyat dalampemilu. Ia menarasikan bahwa negara bukanlah alat melainkan tujuan itu sendiri sehingga untuk kebaikan bersama. Karl Marx tidak bicara secara khusus tentang demokrasi. kelas bawah terus menerus berusaha melawan kelas atas dengan menghilangkan kelas. sebaliknya ia mendukung adanya regulasi ketat pemerintah. artinya dengan suatu persyaratan bahwa warganegara wajib dibekali dan memiliki pengetahuan ketatanegaraan untuk kemudian diberi wewenang untuk menjalankan kedaulatan. Karakter pemerintahan. Keberadaan dua kelas ini seringkali menciptakan pertentangan. Fredrich Hegel (1818-1883). Demokrasi terletak di dalam republiknya Montesquieu. Dalam tanda kutip. Posisi individu dalam pemikirannya. Akan tetapi. dalam tanda kutip. eksekutif. mencita-citakan kehidupan yang tidak mengenal kelas sosial. pemisahan kekuatan pada legislatif. yang mengusung persamaan semua kelas. Pahamnya yang demikian sering dikenal dengan nama sosialis. dan equal. akan tetapi keberadaannya tetap diakui. adalah demokrasi yang berhaluan Marxisme-komunisme. tidak mungkin bertentangan dengan negara. Karl Marx (17701831). ia tidak memposisikan demokrasi di ujung tanduk. Pemirikirannya yang seperti ini berasa dari pengarku pemikiran Kristiani Protestanisme. Abad Imperialisme dan Kolonialisme. pemikirannya yang Kristiani Protestanisme seolah menegaskan negara dengan orientasi nilai kebaikan yang berlandaskan pada ketuhanan. Perjuangan kelas bawah untuk menghilangkan gap tersbut inilah yang seringkali identik dengan perjuangan menuju revolusi. yang merupakan kehendak rakyat sendiri. Dilatarbelakangi oleh adanya dua kaum ini. Berasal dari keadaan politis yang bersangkut paut erat dengan mass produksi dan ekonomi yang menyebabkan terciptanya dua kelas yakni kelas pemilik modal produksi dan kelas yang tidak memiliki modal. Montesquieu melatarbelakangi konsepsi bahwa kedaulatan rakyat bisa dibagi (didistribusikan) melalui tiga. Seolah Hegel nampak menempatkan kembali negara dengan kekuasaan di tangan abdi negara dan agama dalam posisi sejajar. Tetapi untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan cara paksa atau kekerasan . Konsepnya yang meletakkan rakyat harus sebagai abdi negara seolah menjustifikasi adanya bentuk negara yang demokratis. demokrasi rakyat yang disebut juga demokrasi proletar. Hegel dikenal sebagai pemikir yang mengedepankan disposisinya berkaitan dengan nilai-nilai kristiani. demokrasi. Adapun demokrasi bisa ditarik ke haluan Marx. dan yudikatif dengan fungsionalnya masingmasing. menurutnya demokrasi pada masanya dan sedikit pada masa sekarang bukanlah hasil akhir dan terbaik dari bentuk negara yang ada. yang didefinisikan sebagai kedaulatan yan gdiserahkan pada lembaga kerakyatan. manusia dibebaskan dari keterkaitannya kepada kepemilikan pribadi tanpa penindasan dan paksaan.kejujuran.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->