P. 1
Sunnah-Sunnah Fithrah (Masalah Khitan)

Sunnah-Sunnah Fithrah (Masalah Khitan)

|Views: 71|Likes:
Published by 4lamsyah

More info:

Published by: 4lamsyah on Oct 22, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/22/2010

pdf

text

original

Sunnah-sunnah Fithrah (Masalah Khitan

)
Penulis: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari
Syariah. Seputar Hukum Islam. 18 - April - 2007. 02:05:46
Islam adalah agama yang sangat memerhatikan kebersihan dan iuga kesehatan. Banyak
permasalahan yang memiliki pengaruh bagi kebersihan dan kesehatan tubuh tak luput diaiarkan
dalam agama ini. Satu diantaranya adalah tentang khitan. yang telah diakui secara medis memiliki
manIaat yang besar.
Pembaca yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasul kita yang mulia –semoga
shalawat dan salam tercurah pada beliau- pernah bersabda sebagaimana tersampaikan lewat
sahabatnya yang mulia Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
ِ بِ ر'´-'ا ´ .َ·َ و ِ ر'َ-ْ=َ َ `ا ُ »ْ-ِ'ْ-َ-َ و ِ=ْ-ِ `ا ُ-ْ-َ-َ و ُ داَ -ْ=ِ-ْ-ِ `اَ و ُ ن'َ-ِ=ْ'ا – ِ ةَ ·ْ=ِ-ْ'ا َ.ِ- ٌ.ْ-َ= ْوَ أ – ٌ.ْ-َ= ُ ةَ ·ْ=ِ-ْ'ا
“Perkara Iithrah itu ada lima –atau lima hal berikut ini termasuk dari perkara Iithrah yaitu khitan.
istihdad (menghilangkan rambut yang tumbuh di sekitar kemaluan). mencabut bulu ketiak.
menggunting kuku. dan memotong kumis. (HR. Bukhari no. 5889. 5891. 6297 dan Muslim no.
597)
Kelima perkara yang disebutkan dalam hadits ini merupakan beberapa perkara kebersihan yang
diaiarkan oleh Islam.
Pertama: memotong qulIah (kulit penutup) zakar yang bila dibiarkan (tidak dihilangkan) akan
meniadi sebab terkumpulnya naiis dan kotoran di daerah tersebut hingga menimbulkan berbagai
penyakit dan luka.
Kedua: mencukur rambut yang tumbuh di sekitar kemaluan. baik di daerah qubul ataupun dubur .
karena bila dibiarkan rambut tersebut akan bercampur dengan kotoran dan naiis (seperti kencing.
kotoran. dsb). serta bisa menyebabkan thaharah syar’iyyah (seperti wudhu) tidak bisa sempurna.
Ketiga: menggunting kumis. bila dibiarkan terus tumbuh akan menperielek waiah.
Memaniangkannya iuga berarti tasyabbuh (menyerupai) dengan Maiusi (para penyembah api).
Keempat: menggunting kuku. bila dibiarkan akan terkumpul kotoran di bawahnya hingga
bercampur pada makanan. akibatnya timbullah penyakit. Dan iuga bisa menghalangi kesempurnaan
thaharah (wudhu) karena kuku yang paniang akan menutup sebagian uiung iari.
Kelima: mencabut bulu ketiak yang bila dibiarkan akan menimbulkan bau yang tak sedap.
Kesimpulannya. menghilangkan perkara-perkara yang disebutkan ini merupakan mahasin
(kebagusan/keindahan) Islam. yang Islam datang dengan kebersihan dan kesucian. dengan
pengaiaran dan pendidikan. agar seorang muslim berada di atas keadaan yang terbaik/terbagus dan
bentuk yang paling indah. (Taisirul `Allam. 1/78)
Makna Fithrah
Mayoritas ulama berpendapat bahwa yang dimaukan dengan Iithrah di sini adalah sunnah. demikian
24/08/2010 Print Preview - Sunnah-sunnah Fithrah …
http://asysyariah.com/print.php?id_onlin… 1/7
dikatakan Al-Imam Al-Khaththabi rahimahullahu dan selainnya. Maknanya. kata mereka. perkara-
perkara yang disebutkan dalam hadits di atas termasuk sunnah-sunnah para nabi. Adapula yang
berpendapat makna Iithrah adalah agama. demikian pendapat yang dipastikan oleh Abu Nu’aim
rahimahullahu dalam Al-Mustakhrai.
Abu Syamah rahimahullahu berkata: “Asal makna Iithrah adalah penciptaan pada awal
permulaannya. Dari makna ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala dinyatakan dalam ayat Al-Qur’an
sebagai:
ِ ضْرَ `ْاَ و ِ تاَ و'َ-´-'ا ُ ·ِ='َ·
Maksudnya adalah Dzat yang mengawali penciptaan langit dan bumi (tanpa ada contoh
sebelumnya. pent.). Demikian pula dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
ِ ةَ ·ْ=ِ-ْ'ا َ'َ= ُ -َ'ْ·ُ- ٍ دْ·ُ'ْ·َ- ´ .ُآ
Artinya: Setiap anak yang lahir. ia dilahirkan di atas Iithrah. Maknanya: si anak dilahirkan di atas
perkara yang Allah Subhanahu wa Ta’ala mengawali penciptaan si anak dengannya. Dalam hadits
ini ada isyarat kepada Iirman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
'َ+ْ-َ'َ= َ س'´-'ا َ ·َ=َ· ¸ِ-´'ا ِ -ا َ ةَ ·ْ=ِ·
“Fithrah Allah yang Dia menciptakan manusia di atas Iithrah tersebut.” (Ar-Rum: 30)
Maknanya: setiap orang seandainya dibiarkan semeniak lahir hingga bisa memandang dengan
pikirannya (tanpa dikotori dan dinodai oleh pengaruh-pengaruh dari luar) niscaya akan
mengantarkannya ke agama yang benar yaitu tauhid. Yang memperkuat makna ini adalah Iirman
Allah sebelumnya:
'َ+ْ-َ'َ= َ س'´-'ا َ ·َ=َ· ¸ِ-´'ا ِ -ا َ ةَ ·ْ=ِ· 'ً-ْ-ِ-َ= ِ .ْ- -'ِ' َ =َ+ْ=َ و ْ»ِ·َ 'َ·
“Tegakkanlah waiahmu kepada agama Allah yang haniI (lurus. condong kepada tauhid dan
meninggalkan kesyirikan). (Demikianlah) Iithrah Allah yang Dia menciptakan manusia di atas Iithrah
tersebut.”
Makna di atas iuga diisyaratkan oleh kelaniutan hadits. yaitu:
ِªِ-اَ ·-َ-َ و ِªِ-اَ د ·َ+ُ- ُ -اَ ·َ-َ 'َ· ِ ةَ ·ْ=ِ-ْ'ا َ'َ= ُ -َ'ْ·ُ- ٍ دْ·ُ'ْ·َ- ´ .ُآ
“Maka kedua orang tuanya yang meniadikan anak tersebut Yahudi atau Nasrani (memalingkan si
anak dari Iithrahnya. pent.)”
Dengan demikian yang dimaksudkan dengan Iithrah dalam hadits yang meniadi pembahasan kita
adalah perkara-perkara yang disebutkan dalam hadits ini yang bila dikeriakan maka pelakunya
disiIati dengan Iithrah yang Allah memIithrahkan para hamba di atasnya. menekankan mereka untuk
menunaikannya. dan menyukai untuk mereka agar mereka berada di atas siIat yang paling sempurna
dan bentuk/penampilan yang paling tinggi/mulia.”
Al-Qadhi Al-Baidhawi rahimahullahu berkata: “Fithrah ini merupakan sunnah yang terdahulu yang
dipilih oleh para nabi dan disepakati oleh syariat. Seakan-akan Iithrah ini merupakan perkara yang
sudah seharusnya meniadi tabiat/perangai di mana mereka diciptakan di atas tabiat/perangai
24/08/2010 Print Preview - Sunnah-sunnah Fithrah …
http://asysyariah.com/print.php?id_onlin… 2/7
tersebut.” (Lihat Fathul Bari 10/417. Al-Minhai 3/139. Tharhut Tatsrib Ii Syarhit Taqrib 1/234-
235. Nailul Authar 1/161)
Perkara Iithrah ini bila dilakukan akan membaguskan penampilan seseorang dan membersihkannya.
sebaliknya bila ditinggalkan dan tidak dihilangkan apa yang semestinya dihilangkan akan
menielekkan rupa dan memburukkan penampilan seseorang. Dia akan dianggap kotor dan tercela.
(Tharhut Tatsrib Ii Syarhit Taqrib 1/235)
Apakah Fithrah Sebatas Lima Perkara Ini?
Perkara Iithrah tidak sebatas lima perkara ini. hal ini diketahui dengan laIadz: ْ.ِ- dari kalimat َ .ِ - ٌ.ْ-َ=
ِ ةَ ·ْ=ِ-ْ'ا yang menuniukkan tab’idh artinya sebagian. (Ihkamul Ahkam Ii Syarhi `Umdatil Ahkam. kitab
Ath-Thaharah. bab Iil Madzi wa Ghairihi).
Terlebih lagi telah disebutkan dalam hadits-hadits lain. adanya tambahan selain lima perkara
tersebut. seperti dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang diriwayatkan oleh Imam Muslim
rahimahullahu disebutkan ada 10 hal yang termasuk perkara Iithrah yaitu istihdad. mencabut bulu
ketiak. menggunting kuku. memotong kumis. memaniangkan ienggot. siwak. berkumur-kumur.
memasukkan air ke hidung (istinsyaq). mencuci ruas-ruas iari dan istinia (cebok) . Dengan demikian
penyebutan bilangan 5 atau 10 tidak berarti meniadakan tambahan. demikian ucapan mayoritas
ulama ushul. (Tharhut Tatsrib Ii Syarhit Taqrib 1/236)
Hukum Lima Perkara Fithrah Ini
Ulama berbeda pendapat tentang hukum kelima perkara Iithrah yang disebutkan dalam hadits ini.
ada yang mengatakan sunnah. adapula yang berpendapat waiib. Namun yang kuat dari pendapat
yang ada. wallahu a`lam. lima perkara tersebut ada yang hukumnya waiib dan adapula yang sunnah.
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata ketika menerangkan hadits Aisyah tentang 10 hal yang
termasuk perkara Iithrah: “Mayoritas perkara yang disebutkan dalam hadits tentang Iithrah tidaklah
waiib menurut ulama. sebagiannya diperselisihkan kewaiibannya seperti khitan. berkumur-kumur.
dan istinsyaq. Dan memang tidak ada penghalang atau tidak ada yang mencegah untuk
menggandengkan perkara waiib dengan selain yang waiib sebagaimana penggandengan ini tampak
pada Iirman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
ِ -ِ د'َ-َ= َ مْ·َ- ُª´-َ= ا·ُ-'َ و َ ·َ-ْ`َ أ اَ ذِ إ ِ -ِ ·َ-َ` ْ.ِ- ا·ُ'ُآ
“Makanlah buah-buahan hasil panen kalian apabila telah berbuah dan tunaikanlah haknya
(zakatnya) pada hari dipetik hasilnya.” (Al-An`am: 141)
Mengeluarkan zakat tanaman (apabila mencapai nishabnya) hukumnya waiib sementara memakan
hasil tanaman itu tidaklah waiib. wallahu a`lam.” (Al-Minhai. 3/139)
Kita akan sebutkan hukum masing-masing dari lima perkara tersebut dalam perincian
pembahasannya berikut ini:
1. KHITAN
Al-Imam Malik. Abu HaniIah. dan sebagian pengikut Al-Imam Asy-SyaIi’i berpendapat khitan itu
sunnah. tidak waiib. Adapun Al-Imam Asy-SyaIi’i. Ahmad dan sebagian Malikiyyah berpendapat
hukumnya waiib. Pendapat yang kedua inilah yang raiih/kuat menurut penulis. dengan dasar ketika
ada seseorang yang baru masuk Islam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan
kepadanya:
24/08/2010 Print Preview - Sunnah-sunnah Fithrah …
http://asysyariah.com/print.php?id_onlin… 3/7
ْ.ِ-َ-ْ=اَ و ِ ·ْ-ُ´ْ'ا َ ·ْ·َ- َ =ْ-َ= ِ ·ْ'َ أ
“Buanglah darimu rambut kekuIuran dan berkhitanlah.” (HR. Abu Dawud no. 356. dihasankan
Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 2977 dan Irwaul Ghalil no. 79)
Penulis ‘Aunul Ma’bud (syarah Sunan Abu Dawud) menyatakan perintah Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas menuniukkan waiibnya khitan bagi orang yang masuk Islam
dan hal itu merupakan tanda keislamannya.
Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata: “Yang raiih/kuat menurut kami. hokum khitan adalah
waiib. Demikian madzhab iumhur ulama seperti Malik. Asy-SyaIi’i. dan Ahmad. Pendapat ini yang
dipilih oleh Ibnul Qayyim. Beliau membawakan 15 sisi pendalilan yang menuniukkan waiibnya
khitan. Walaupun satu persatu dari alasan-alasan tersebut tidak dapat mengangkat perkara khitan
kepada hukum waiib namun tidak diragukan bahwa pengumpulan alasan-alasan tersebut dapat
mengangkatnya. Dikarenakan tidak cukup tempat untuk membawakan semua alasan. maka aku
cukupkan dua alasan di antaranya:
Pertama: Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
ً '-ْ-ِ-َ= َ »ْ-ِهاَ ·ْ-ِ إ َª´'ِ- ْ·ِ-´-ا ِ نَ أ َ =ْ-َ'ِإ 'َ-ْ-َ=ْوَ أ ´ »ُ`
“Kemudian Kami wahyukan kepadamu. (Ikutilah millah Ibrahim yang haniI).”
Sementara khitan termasuk millahnya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang kita diperintahkan untuk
mengikutinya. sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang disebutkan dalam
kitab Ibnul Qayyim rahimahullahu tersebut . Alasan ini merupakan argumen yang paling bagus.
sebagaimana dikatakan Al-Baihaqi rahimahullahu yang dinukilkan oleh Al-HaIizh rahimahullahu
(10/281).
Kedua: Khitan merupakan syiar Islam yang paling ielas dan paling nampak yang dengannya
dibedakan antara seorang muslim dengan seorang Nasrani . sampai-sampai hampir tidak diiumpai
ada di kalangan kaum muslimin yang tidak berkhitan. (Tamamul Minnah. hal. 69)
Khitan bagi Wanita
Seperti halnya lelaki. wanita pun disyariatkan berkhitan (Al-Mughni. kitab Ath-Thaharah. Iashl
Hukmul Khitan) sebagaimana dituniukkan dalam hadits-hadits berikut ini:
1. Ummu ‘Athiyyah Al-Anshariyyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan bahwa di Madinah ada
seorang wanita yang biasa mengkhitan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepadanya:
ِ .ْ·َ-ْ'ا َ'ِ إ ´ -َ=َ أَ و ِ ةَ أْ·َ-ْ'ِ' َ=ْ=َ أ َ =ِ'ذ ´ نِ 'َ· ،¸ِ´َ+ْ-َ- َ `َ و ¸-ِ-َ أ
“Potonglah tapi iangan dihabiskan (iangan berlebih-lebihan dalam memotong bagian yang dikhitan)
karena yang demikian itu lebih terhormat bagi si wanita dan lebih disukai/dicintai oleh suaminya.”
(HR. Abu Dawud no. 5271. dishahihkan dalam Shahih Abi Dawud dan Ash-Shahihah no. 721)
2. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ُ .ْ-ُ·ْ'ا َ -َ=َ و ْ-َ-َ· ِ ن'َ-'َ-ِ=ْ'ا َ-َ-ْ'ا اَ ذِإ
“Apabila bertemu dua khitan . sungguh telah waiib mandi .” (HR. Ahmad 6/239. dishahihkan Asy-
Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1261)
24/08/2010 Print Preview - Sunnah-sunnah Fithrah …
http://asysyariah.com/print.php?id_onlin… 4/7
3. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam iuga bersabda:
ُ .ْ-ُ·ْ'ا َ -َ=َ و ْ-َ-َ· َ ن'َ-ِ=ْ'ا ُ ن'َ-ِ=ْ'ا ´ .َ-َو ،ِ ِ ·َ-ْرَ `ْا 'َ+ِ-َ·ُ- َ .ْ-َ- َ .َ'َ= اَ ذِ إ
“Apabila seorang laki-laki duduk di antara empat cabang seorang wanita dan khitan yang satu
menyentuh khitan yang lain maka sungguh telah waiib mandi.” (HR. Muslim no. 349)
Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata. “Ketahuilah. khitan wanita adalah perkara yang
dikenal di kalangan salaI. berbeda halnya dengan apa yang disangka oleh orang yang tidak berilmu.
Beberapa atsar berikut ini menuniukkan hal tersebut”. Kemudian beliau rahimahullahu menyebutkan
tiga atsar:
1. Al-Hasan berkata: ‘Utsman bin Abil ‘Ash radhiyallahu ‘anhu diundang untuk menghadiri iamuan
makan. Lalu ditanyakan. “Tahukah engkau undangan makan untuk acara apakah ini? Ini acara
khitan anak perempuan!” ‘Utsman berkata:
َ .ُآْ'َ- ْنَ أ َ-َ 'َ· ،َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´ 'َ- ِ -ا ِ لْ·ُ-َ ر ِ -ْ+َ= َ'َ= ُ -اَ ·َ- '´-ُآ 'َ- ٌءْ¸َ- اَ -َه
“Ini perkara yang tidak pernah kami lihat di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” ‘Utsman
pun menolak untuk menyantap hidangan .
2. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adabul MuIrad no.1245 (dan didhaiIkan oleh Al-Albani
dalam Dha’iI Adabul MuIrad). Ummul Muhaiir berkata. “Aku dan para wanita dari kalangan
Romawi meniadi tawanan perang. Maka ‘Utsman menawarkan agar kami mau masuk Islam. namun
tidak ada di antara kami yang berislam kecuali aku dan seorang wanita lainnya. ‘Utsman pun
memerintahkan. “Khitanilah kedua wanita ini dan sucikanlah keduanya”. Setelah itu iadilah aku
berkhidmat kepada ‘Utsman.
3. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adabul MuIrad no.1247 (dan dihasankan oleh Al-
Albani dalam Shahih Adabul MuIrad). Ummu ‘Alqamah mengabarkan:
¸ِ· ُªَ-ِ-'َ= ْت´ ·َ-َ· ´ .ُه'َ-َ 'َ· يَ -ُ= َ'ِ إ ُ -ْ'َ-ْرَ 'َ· .َ'َ- :ْ-َ''َ· ؟´ .ِ+ْ-ِ+ْ'ُ- ْ.َ- ´ .ُ+َ' ·ُ=ْ-َ- َ `َ أ :َªَ-ِ-'َ·ِ' َ .ْ-ِ-َ· ´ .ِ-ُ= َªَ-ِ-'َ= ¸ِ=َ أ َ ت'َ-َ- ´ نَ أ
ُ -ْ·ُ=ِ ·ْ=َ أ ،ُ -ْ·ُ=ِ ·ْ=َ أ ٌن'َ=ْ-َ- ، فُ أ :ْ-َ''َ-َ· – ٍ ·ْ-ِ`َآ ٍ ·ْ·َ- اَ ذ َ ن'َآَ و – 'ً-َ ·َ= ُªَ-ْأَ ر ُ ك ·َ=ُ-َ و ´-َ·َ-َ- ُªْ-َ أَ ·َ· ِ -ْ-َ-ْ'ا
“Anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ‘Aisyah dikhitan. maka ditanyakan kepada ‘Aisyah.
“Bolehkah kami memanggil seseorang yang dapat menghibur mereka?” ‘Aisyah mengatakan. “Ya.
boleh.” Maka aku mengutus seseorang untuk memanggil ‘Uday. lalu dia pun mendatangi anakanak
perempuan itu. Kemudian lewatlah ‘Aisyah di rumah itu dan melihatnya sedang bernyanyi sambil
menggerak-gerakkan kepalanya. sementara dia mempunyai rambut yang lebat. ‘Aisyah pun
berkata. “Hei. setan! Keluarkan dia. keluarkan dia!” (Lihat Ash-Shahihah. 2/348-349)
Yang perlu iadi perhatian. ada perbedaan hukum khitan lelaki dengan hokum khitan bagi wanita.
walaupun ada pendapat di kalangan ulama yang menyamakan (sama-sama waiib). Tampak
perbedaan hukum tersebut dalam hadits Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu berikut ini:
ِ ء'َ-ّ ِ-'ِ' ٌªَ-َ ·ْ´َ- ِ ل'َ= ·'ِ' ٌª´-ُ- ُ ن'َ-ِ=ْ'ا
“Khitan itu sunnah bagi lelaki dan pemuliaan bagi wanita.”
Namun kata Al-HaIizh Ibnu Haiar Al-Asqalani rahimahullahu hadits ini tidak tsabit. karena datang
dari riwayat Haiiai bin Arthah. sementara ia tidak bisa diiadikan sebagai huiiah. dikeluarkan hadits
ini oleh Al-Imam Ahmad dan Al-Baihaqi . Namun ada syahid (pendukung) dari hadits yang
24/08/2010 Print Preview - Sunnah-sunnah Fithrah …
http://asysyariah.com/print.php?id_onlin… 5/7
diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Musnad Asy-Syamiyyin. dari ialan Sa’id bin Bisyr dari
Qatadah dari Jabir bin Zaid dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. namun Sa’id ini diperselisihkan.
Abusy Syaikh dan Al-Baihaqi mengeluarkannya dari sisi lain dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.
Al-Baihaqi iuga mengeluarkannya dari hadits Abu Ayyub radhiyallahu ‘anhu. (Fathul Bari. 10/419)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu menyatakan telah teriadi perselisihan
pendapat dalam hukum khitan. dan pendapat yang paling dekat dengan kebenaran menyatakan
bahwa khitan itu waiib bagi laki-laki dan sunnah bagi wanita. Perbedaan hukum khitan antara laki-
laki dan perempuan itu dikarenakan khitan pada laki-laki mengandung maslahat yang berkaitan
dengan syarat shalat dan termasuk perkara thaharah (bersuci). Apabila kulup (kulit yang menutupi
uiung zakar) tidak dihilangkan. maka air kencing yang keluar tertahan dan terkumpul di kulup
tersebut hingga berakibat peradangan pada bagian tersebut. ataupun keluar tanpa sengaia bila zakar
itu bergerak. sehingga menaiisi. Adapun pada wanita. tuiuan khitan adalah meredakan syahwatnya.
bukan untuk menghilangkan kotoran. (Maimu’ Fatawa wa Rasa`il Fadhilatusy Syaikh Muhammad
ibnu Shalih Al-’Utsaimin 11/117. Asy-Syarhul Mumti’. 1/110)
Dengan demikian khitan hanya waiib bagi laki-laki. tidak waiib bagi wanita. Pendapat ini iuga yang
dipilih oleh Al-Imam MuwaIIaquddin Ibnu Qudamah Al-Maqdisi (Asy-Syarhul Mumti’. 1/109)
Hukum Orang yang Tidak Mau Dikhitan
Al-Haitami berkata: “Yang benar iika diwaiibkan bagi kita khitan. lalu ditinggalkan tanpa udzur
maka pelakunya Iasik. Namun pahamilah bahwasanya pembicaraan di sini hanya dituiukan pada
anak laki-laki tanpa menyertakan anak perempuan. Laki-laki diIasikkan bila meninggalkan khitan
tanpa udzur dan lazim dari sebutan Iasik tersebut bahwa perbuatan itu termasuk dosa besar.” (Az-
Zawaiir 2/162)
Bagian yang Dikhitan
Khitan pada anak laki-laki dilakukan dengan cara memotong kulup (qulIah) atau kulit yang
menutupi uiung zakar. Minimal menghilangkan apa yang menutupi uiung zakar dan disenangi untuk
mengambil seluruh kulit di uiung zakar tersebut. Sedangkan pada wanita. dilakukan dengan
memotong kulit di bagian paling atas kemaluan di atas vagina yang berbentuk seperti biii atau
iengger ayam iantan . Yang harus dilakukan pada khitan wanita adalah memotong uiung kulit dan
bukan memotong habis bagian tersebut. (Al-Maimu Syarhul Muhadzdzab 1/349. Fathul Bari
10/420. Nailul Authar 1/162. 165)
Ibnu Taimiyyah rahimahullahu ketika ditanya mengenai khitan wanita. beliau memberikan iawaban
bahwa wanita dikhitan dengan memotong kulit yang paling atas yang berbentuk seperti iengger
ayam iantan . (Maimu’ Fatawa. 21/114)
Faidah
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu mengatakan. pelaksanaan khitan itu
seharusnya dilakukan oleh seorang dokter yang ahli (atau tenaga kesehatan lainnya. pent.) yang
mengetahui bagaimana cara mengkhitan. Bila seseorang tidak mendapatkannya maka ia bisa
mengkhitan dirinya sendiri iika memang mampu melakukannya dengan baik. Nabi Ibrahim
‘alaihissalam mengkhitan dirinya sendiri. Orang yang mengkhitan boleh melihat aurat yang dikhitan
walaupun usia yang dikhitan telah mencapai sepuluh tahun. kebolehan ini dikarenakan adanya
kebutuhan. (Asy-Syarhul Mumti`. 1/110)
Waktu Khitan
24/08/2010 Print Preview - Sunnah-sunnah Fithrah …
http://asysyariah.com/print.php?id_onlin… 6/7
Waktu Khitan
Ada perbedaan pendapat tentang kapan waktu disyariatkannya khitan. Jumhur ulama berpendapat
tidak ada waktu khusus untuk melaksanakan khitan. (Nailul Authar. 1/165)
Al-Imam Al-Mawardi rahimahullahu menielaskan. untuk melaksanakan khitan ada dua waktu.
waktu yang waiib dan waktu yang mustahab (sunnah). Waktu yang waiib adalah ketika seorang
anak mencapai baligh . sedangkan waktu yang sunnah adalah sebelum baligh. Boleh pula
melakukannya pada hari ketuiuh setelah kelahiran. Juga disunnahkan untuk tidak mengakhirkan
pelaksanaan khitan dari waktu yang sunnah kecuali karena ada uzur. (dinukil dari Fathul Bari.
10/421)
Ibnul Mundzir rahimahullahu mengatakan. “Tidak ada larangan yang ditetapkan oleh syariat yang
berkenaan dengan waktu pelaksanaan khitan ini. iuga tidak ada batasan waktu yang meniadi
ruiukan dalam pelaksanaan khitan tersebut. begitu pula sunnah yang harus diikuti. Seluruh waktu
diperbolehkan. Tidak boleh melarang sesuatu kecuali dengan huiiah dan kami iuga tidak mengetahui
adanya huiiah bagi orang yang melarang khitan anak kecil pada hari ketuiuh.” (dinukil dari Al-
Maimu’ Syarhul Muhadzdzab. 1/352)
Namun Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu menyebutkan dua hadits yang menuniukkan adanya
pembatasan waktu khitan:
Pertama: Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma. ia menyatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam mengaqiqahi cucu beliau Al-Hasan dan Al-Husain. dan mengkhitan keduanya pada hari
ketuiuh.
Kedua: Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. ia berkata. “Ada tuiuh perkara yang sunnah
dilakukan pada hari ketuiuh seorang bayi. yaitu diberi nama. dikhitan…”
Kemudian beliau menyatakan bahwa walaupun kedua hadits di atas memiliki kelemahan . namun
kedua hadits ini saling menguatkan karena makhrai kedua hadits ini berbeda dan tidak ada dalam
sanadnya rawi yang tertuduh berdusta. Kalangan SyaIi’iyyah mengambil hadits ini. sehingga mereka
menganggap sunnah dilakukan khitan pada hari ketuiuh dari kelahiran seorang anak. sebagaimana
disebutkan dalam Al-Maimu’ (1/307) dan selainnya. Batas tertinggi dilakukannya khitan adalah
sebelum seorang anak baligh. Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Tidak boleh bagi si wali
menunda dilakukannya khitan anak (yang dibawah perwaliannya) sampai si anak melewati masa
baligh.” (Tamamul Minnah. hal. 68)
Lebih aIdhal/utama bila khitan ini dilakukan ketika anak masih kecil. karena lebih cepat sembuhnya
dan agar si anak tumbuh di atas keadaan yang paling sempurna. (Ar-Raudhul Murbi’ Syarh Zadil
Mustaqni’ 1/35. Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi. Asy-Syaikh Shalih Fauzan 1/34)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
Silahkan mengcopy dan memperbanyak artikel ini
dengan mencantumkan sumbernya yaitu : www.asysyariah.com
24/08/2010 Print Preview - Sunnah-sunnah Fithrah …
http://asysyariah.com/print.php?id_onlin… 7/7

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->