P. 1
Kekerasan Anak Dalam Pendidikan

Kekerasan Anak Dalam Pendidikan

|Views: 763|Likes:
Published by giftallah

More info:

Published by: giftallah on Oct 22, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/13/2013

pdf

text

original

Kekerasan Anak dalam Pendidikan : Akar Masalah, Locus, Korban, Pelaku, dan Kewajiban Negara Pendahuluan Kekerasan sudah

mengakarabi kehidupan keseharian masyarakat kita. Penyelesaian konflik selalu saja disertai dengan tindakan kekerasan. Tindakan kekerasan yang kerap terjadi bukan hanya dilakukan oleh individu-individu sebagai anggota masyarakat tetapi juga oleh aparat Negara. Johan Galtung membagi tipologi kekerasan menjadi 3 (tiga) yaitu kekerasan langsung, kekerasan kultural, dan kekerasan struktural. Kekerasan langsung adalah sebuah peristiwa; kekerasan struktural adalah sebuah proses; sedangkan kekerasan kultural adalah sebuah sesuatu yang bersifat permanen. Ketiga tipologi kekerasan ini memasuki waktu secara berbeda , analog dengan perbedaan dalam teori gempa bumi antara gempa bumi sebagai suatu peristiwa (kekerasan langsung), gerakan-gerakan lempeng tektonik sebagai sebuah proses (kekerasan struktural), dan garis-garis retakan sebagai suatu kondisi yang permanen (kekerasan kultural).1 Kondisi ini mengarah ke suatu citra strata kekerasan fenomenologi kekerasan. Kekerasan kultural merupakan strata yang paling dasar dan merupakan sumber inspirasi bagi kekerasan struktural dan kekerasan langsung. Strata berikutnya kekerasan struktural berupa ritme-ritme kekerasan yang melokal dan merupakan pola-pola dari kekerasan kultural. Puncaknya, kekerasan yang tampak oleh mata berupa kekerasan langsung yang dilakukan oleh manusia terhadap yang lain.2 Kekerasan langsung mewujud dalam perilaku, misalnya pembunuhan, pemukulan, intimidasi, penyiksaan. Kekerasan struktur atau kekerasan yang melembaga mewujud dalam konteks, sistem, dan struktur, misalnya diskriminasi dalam pendidikan, pekerjaan, pelayanan kesehatan. Kekerasan kultural mewujud dalam sikap, perasaan, nilai-nilai yang dianut dalam masyarakat misalnya , kebencian, ketakutan, rasisme, seksisme, ketidaktoleranan.3 Menurut sifatnya kekerasan ada 2 (dua) yaitu kekerasan personal dan kekerasan struktural. Kekerasan personal bersifat dinamis, mudah diamati, memperlihatkan fluktuasi yang hebat yang dapat menimbulkan perubahan sedangkan kekerasan struktural sifatnya statis, memperlihatkan stabilitas tertentu dan tidak tampak. Kekerasan struktural mengambil bentuk-bentuk seperti eksploitasi, fragmentasi masyarakat, rusaknya solidaritas, penetrasi kekuatan luar yang menghilangkan otonomi masyarakat, dan marjinalisasi masyarakat sehingga meniadakan partisipasi masyarakat dalam mengambil keputusan tentang nasib mereka sendiri. Kekerasan struktural ini juga menimbulkan kemiskinan, ketidakmerataan pendapatan dan kekayaan, ketidakadilan sosial, dan alienasi atau peniadaan individual karena proses penyeragaman warga Negara.4 Gambar berikut mendeskripsikan keterkaitan bentukbentuk kekerasan.

1 Johan Galtung, Studi Perdamaian : Perdamaian dan Konflik Pembangunan dan Peradaban, Surabaya, Pustaka Eureka, 2003, hal. 438 2 ibid. 3 Simon Fisher, et.al, Mengelola Konflik : keterampilan & Strategi untuk Bertindak , Jakarta, The British Council, 2001. hal. 10 4 Justin Sihombing, Kekerasan terhadap Masyarakat Marjinal, Yogyakarta, Penerbit Narasi 2005, hal. 8 ² 9

Kekerasan fisik secara langsung: perilaku

Kekerasan yang terlihat Kekerasan yang tidak terlihat (di bawah permukaan)

Sumber-sumber kekerasan : Sikap, perasaan, nilai-nilai

Kekerasan Struktur atau kekerasan yang melembaga : Konteks, sistem, dan struktur

Gambar 1: Sikap, perilaku dan konteks Sumber : Simon Fisher, et.al, 2001

Sebangun dengan pendekatan Galtungian di atas, toeri Spiral Kekerasan buah pikiran Dom Helder Camara dapat dijadikan sandaran analisis untuk memotret dan memetakan tindak kekerasan sehingga memperoleh gambaran yang utuh. Teori ini melandaskan dari bekerjanya 3 (tiga) bentuk kekerasan yang bersifat personal, institusional, dan struktural, yaitu ketidakadilan, perlawanan masyarakat sipil, dan represi negara. Dari ketiga bentuk kekerasan itu yang paling mendasar dan menjadi sumber utama adalah ketidakadilan.5 Ketidakadilan ini bermula dari kebijakan yang tidak berpihak pada sekelompok masyarakat khususnya masyarakat marjinal. Penggusuran rumah dan PKL yang menjadi agenda tetap Pemda DKI, memicu aksiaksi perlawanan masyarakat untuk mempertahankan haknya bertempat tinggal dan berusaha. Aksi-aksi tersebut dibalas dengan tindakan yang represif oleh aparat Pemda DKI melalui Polisi Pamong Praja dan aparat keamanan. Siklus kekerarasan ini akan terus terjadi apabila Pemda DKI terus mengagendakan penggusuran hunian kumuh dan PKL yang mayoritas dihuni oleh masyarakat miskin kota. Selanjutnya Ted Robert Gurr mengemukakan teori bahwa kekerasan muncul karena deprivasi relative yang dialami masyarakat maupun individu. Deprivasi relative dimaknai sebagai perasaan kesenjangan antara nilai harapan (value of expectations) dan kapabilitas nilai (value capabilities).6

5 6

Untuk melihat lebih jauh baca Spiral Kekerasan, Dom Helder Camara ibid

Kertas Posisi 2010 Kekerasan Anak di Institusi Pendidikan: Tinjauan Hak atas Pendidikan

2

Pengalaman di banyak negara, menunjukkan bahwa kekerasan di dalam masyarakat lahir dari pengabaian-pengabaian terhadap sense of justice.7 Kekerasan dengan segala manifestasinya tersebut merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dan serangan terhadap martabat manusia.8 Instrumen Bill of Rights9 menjamin kebebasan setiap manusia dari segala bentuk manifestasi kekerasan. Dalam kerangka hukum HAM Internasional terdapat hak-hak-hak asasi yang tidak dapat dikurangi dalam kondisi apapun. Sekelompok hak ini disebut sebagi non derogable rights, yaitu hak-hak yang yang bersifat absolute yang tidak boleh dikurangi pemenuhannya oleh Negara, walaupun dalam keadaan darurat sekalipun. Hak-hak yang termasuk ke dalam jenis ini adalah : (i) hak atas hidup (right to life), (ii) hak atas bebas dari penyiksaan (right to be free from torture); (iii) hak bebas dari perbudakan (right to be free slavery), (iv) hak bebas dari penahanan karena gagal memenuhi perjanjian (utang); (v) hak bebas dari pemidanaan yang berlaku surut; (vi) hak sebagai subyek hukum; dan (vii) hak atas kebebasan berpikir, keyakinan, dan agama.10 Lebih jauh Konvensi Anti Penyiksaan (Convention Anti Torture) mengatur salah satu bentuk manifestasi tindak kekerasan berupa penyiksaan, perlakuan atau penghukuman lain yang kejam, dan merendahkan martabat manusia.11 Konvensi ini, dalam pendekatan Galtung, selain mengatur kekerasan langsung (violance based on event approuch) juga mengatur kekerasan struktur dan kekerasan kultural. Dalam konsepsi hukum internasional kekerasan langsung merupakan tanggung jawab individu (individual responsibility), dalam arti individu yang melakukan tindak kekerasan akan mendapatkan hukuman (punishment) menurut ketentuan hukum pidana. Di sisi lain kekerasan struktural dan kekerasan kultural merupakan bentuk tanggung jawab negara (state responsibility) di mana tanggung jawab adalah mengimplemetasikan ketentuan konvensi melalui upaya merumuskan kebijakan (beleid), melakukan tindakan pengurusan/administrasi (bestuursdaad), melakukan pengaturan (regelendaad), melakukan pengelolaan (behersdaad), dan melakukan pengawasan (toezichhoudendaad). Muaranya ada pada sistem hukum pidana (criminal justice system) yang berlaku saat ini (ius constitutum). Jika terdapat ketidaksesuaian dengan ketentuan konvensi maka memerlukan perubahan (amandement) maupun desain tata hukum baru (ius constituendum) melalui upaya
7 Lihat Catatan Penerbit dalam Justin Sihombing, Kekerasan terhadap Masyarakat Marjinal, Yogyakarta, Penerbit Narasi 2005, hal. ix 8 Pasal 5 Deklarasi Universal HAM menegaskan bahwa tidak seorang pun boleh disiksa atau diperlakukan secara kejam, diperlakukan atau dihukum secara tidak manusiawi atau dihina. Kemudian sebangun dengan ketentuan pasal ini, Pasal 7 Kovenan Hak Sipil dan Politik menyatakan tidak seorang pun dapat dikenakan penyiksaan atau perlakuan atau hukuman lain yang keji, tidak manusiawi atau merendahkan martabat. Pada khususnya, tidak seorang pun dapat dijadikan obyek eksperimen medis atau ilmiah tanpa persetujuan yang diberikan secara bebas. 9 Instrumen Bill of Rights merupakan instrumen hukum HAM internasional yang utama dan menjadi sandaran yuridis bagi instrumen hukum HAM yang mengeloborasi dan mengatur persoalan perlindungan HAM secara tematis. Instrumen ini terdiri dari Deklarasi Umum HAM (DUHAM), Kovenan Internasional Hak Hak Sipil dan Politik beserta 2 optional protokolnya, dan Kovenan Internasional Hak-Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya. 10 Lihat Pasal 4 Kovenan Internasional Sipil dan Politik. Pasal 7 dari kovenan yang sama menegaskan larangan tindakan penyiksaan atau perlakuan atas hokuman yang kejam, tidak manusiawi atau penghinaan. Kemudian Konstitusi RI hasil Amandemen II mengadopsi ketentuan kovenan dan memuatnya dalam Pasal 28 I. 11 Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi dan Merendahkan Martabat Manusia merupakan elaborasi dari Pasal 5 Deklarasi Universal HAM dan Pasal 7 Kovenan Hak Sipil dan Politik . Lihat Konsideran Konvensi.

Kertas Posisi 2010 Kekerasan Anak di Institusi Pendidikan: Tinjauan Hak atas Pendidikan

3

14 Gambaran Umum Tindak Kekerasan Terhadap Anak 15 Di Indonesia. Ini berarti. menurut mereka adalah pengalaman yang sangat buruk dalam hidup mereka karena susah untuk dilupakan.kriminalisasi dan atau dekriminalisasi substansi hukum pidana sehingga semangat dan jiwa ketentuan konvensi termuat dalam ketentuan hukum pidana. Analisis Hasil Konsultasi Anak Regional dan Nasional : Kekerasan Terhadap Anak ibid 14 ibid 15 Tulisan dalam Bab ini mengacu pada Hasil Konsultasi Anak tentang Kekerasan Terhadap Anak. karena penderitaan yang di akibatkan oleh kekerasan tidak terbatas rasanya. penghukuman lain yang kejam dan merendahkan martabat manusia di dalam wilayah hukumnya dan mengatur sedemikian rupa agar tindakan-tindakan tersebut merupakan tindak pidana. administrasi. Bahkan. kekerasan telah dengan sengaja digunakan oleh aparat negara sebagai alat untuk memperoleh keterangan atau pengakuan dari seorang tersangka anak pada saat penyidikan. ekonomi dan sosialnya untuk melindungi anak-anak di negaranya dari segala tindakan kekerasan fisik dan mental karena kekerasan adalah pelanggaran serius terhadap hak asasi dan martabat anak. bahwa setiap Negara yang telah meratifikasi Konvensi tidak terkecuali Indonesia harus menggunakan seluruh sumber daya politik. bahkan hubungan darah. 12 13 Kertas Posisi 2010 Kekerasan Anak di Institusi Pendidikan: Tinjauan Hak atas Pendidikan 4 . 2005.12 Dalam konteks kekerasan terhadap anak. Luka yang menggores di tubuh dan hati anak-anak yang mengalami kekerasan tak mudah di pulihkan. hukum. Rasa malu. Berkaitan dengan semakin meningkatnya tindak kekerasan terhadap anak di Indonesia dan meyakini bahwa situasi kekerasan terhadap anak membutuhkan perhatian serius secara global. perlakuan. dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kedekatan emosional dengan anak. Negara Republik Indonesia telah meratifikasi konvensi ini melalui UndangUndang Nomor 5 Tahun 1998. dengan maksud untuk mengakselerasikan gerakan penghapusan kekerasan terhadap anak secara global termasuk segala bentuk penghukuman fisik terhadap anak yang tidak manusiawi dan mengancam martabat kemanusiaan nya. Kekerasan merupakan salah satu bentuk kontes kekuasaan orang dewasa terhadap anak yang di maksudkan agar anak merasa takut dan tunduk pada kemauan atau aturan yang dibuat oleh orang dewasa. sedih. kurang lebih 500 anak mengikuti konsultasi anak tentang kekerasan terhadap anak. 16 Lihat Antarini Arna. Juga di praktekkan oleh institusi Negara melalui agen. maka prakarsa untuk melakukan study tentang kekerasan terhadap anak ini diambil oleh Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). cit. Artinya sesuai dengan ketentuan Pasal 2 dan Pasal 4 mewajibkan Negara Republik Indonesia sebagai peserta Konvensi untuk mengambil langkah-langkah legislatif. Kekerasan juga digunakan sebagai alat disiplin dan penghukuman di banyak institusi termasuk institusi keluarga dan sekolah.16 Antarini Arna. atau langkah-langkah efektif lainnya untuk mencegah tindakan penyiksaan. sakit.13 Secara yuridis perlindungan terhadap martabat anak telah dijamin dalam Konvensi International tentang Hak-Hak Anak yang menyatakan bahwa Negara peserta Konvensi harus melindungi anak dari segala bentuk kekerasan baik fisik maupun mental selama mereka berada dalam kuasa orang tua atau pihak lain (Pasal 19). dan tidak berdaya bercampur menjadi satu hingga menjadi mimpi buruk yang berkepanjangan.agennya. marah. locusnya terjadi baik di ruang privat maupun di ruang publik. Pengalaman ini. op. Dalam konsultasi ini anak-anak memberikan konfirmasi bahwa mereka semua pernah mengalami kekerasan dalam bentuk yang berbeda beda.

kakek. dan sebab-sebab terjadinya kekerasan. di jambak.19 Bagi anak-anak yang pernah berkonflik dengan hukum. Mereka adalah para Ibu. Dari dalam rumah mereka pula orang tua anak-anak biasa memaksa anakanak untuk bekerja. di sulut rokok. pengalaman menghadapi penyidik di kantor polisi merupakan catatan tersendiri. Pada saat penyidikan berlangsung. dan penghapus papan tulis. mengamen. Di dalam lingkungan keluarga. hingga pemukulan.Kekerasan sangat dekat dengan kehidupan anak. Di dalam institusi ini anak-anak di tahan bersama-sama dengan tahanan dewasa. Tradisi menjodohkan dan mengawinkan anak perempuan sejak usia dini yang biasa di sebut pemaksaan perjodohan juga masih terjadi di tingkat keluarga di beberapa daerah di Indonesia. di strap di depan kelas. Sekolah juga menjadi ajang praktek kekerasan seksual yang dilakukan oleh murid laki-laki kepada murid perempuan. di cacai maki. di ikat di pohon. Dalam kehidupan sehari-hari kekerasan yang dialami anak-anak perempuan berbeda dengan anak laki-laki. di cambuk dan di tendang. Kekerasan polisi terhadap tersangka anak terjadi di kantor-kantor kepolisian yang tidak memiliki Ruang Pemeriksaan Khusus (RPK).18 Kekerasan juga dilakukan oleh guru di sekolah-sekolah umum maupun sekolah khusus seperti pesantren. pelaku kekerasan. di olok-olok. Mereka dipaksa untuk bekerja di warung remang-remang. kakak. Mulai dari disuruh push up puluhan kali. anak-anak sering di pukul. dan keluarga dekat lain nya. dan mengemis. Berbagai bentuk kekerasan fisik seperti di lempar dengan kapur. dipukul tangan nya dengan mistar besi panjang. di hina. demikian pula guru terhadap murid perempuan. Sejak usia sangat dini anakanak sudah di kenalkan pada bentuk-bentuk kekerasan mulai dari yang verbal. Pengalaman anak-anak berhadapan dengan kekerasan sangat beraneka ragam baik dari segi bentuk-bentuk kekerasan yang dialami. Anak perempuan lebih sering mengalami kekerasan seksual hingga berdampak kehamilan sedangkan anak laki-laki lebih sering mengalami kekerasan fisik hingga berdampak pada kematian. di bentak-bentak. dalam ruang tanpa penerangan yang cukup dan perasaan ketakutan yang luar biasa. Penyidikan di kantor polisi biasa dilakukan tanpa kehadiran pendamping atau pembela hukum sehingga anak-anak mengalami tekanan psikis. dan di jemur di lapangan upacara sering dialami oleh anak-anak di sekolah. nenek. Mereka juga mengalami kekerasan psikis seperti misalnya di kurung di kamar mandi. lari mengelilingi lapangan upacara. Kekerasan seksual. mulai dari di colek bagian-bagian tubuh tertentu hingga perkosaan juga terjadi di lingkungan keluarga. Hasil Konsultasi Anak Propinsi dan Nasional Tentang Kekerasan Terhadap Anak 18 ibid 19 ibid 20 ibid 17 Kertas Posisi 2010 Kekerasan Anak di Institusi Pendidikan: Tinjauan Hak atas Pendidikan 5 . fisikal. Kekerasan terhadap anak berbasis tradisi lain nya yang sampai saat ini masih di praktekkan di sebagian daerah Papua adalah pemotongan ruas jari pada saat orang tua meninggal dunia dan jual beli anak.20 Institusi Negara lain yang masih mempraktekkan kekerasan terhadap anak adalah penjara anak ( LAPAS). Penghukuman fisik (corporal punishment) masih menjadi alat untuk mendisiplinkan murid di sekolah. dan di paksa untuk mengaku. di cubit. Summary Executive. Anak didik LAPAS mendapatkan hukuman fisik Lihat Antarini Arna. tidak di beri makan. hingga seksual.17 Kekerasan bisa terjadi di rumah atau di lingkungan keluarga dan pelakunya adalah orang-orang yang seharusnya bertanggung jawab untuk melindungi anakanak. tempat kejadian. dianggap bodoh dan di bentak-bentak. ayah. anak-anak biasa di pukul.

di tendang. Kekerasan terhadap anak yang terjadi di jalanan dan lingkungan komunitas dapat dilakukan oleh siapa saja termasuk aparat Negara yang secara spesifik di identifikasi sebagai petugas trantib ( ketentraman dan ketertiban). caci maki dan hinaan dari aparat Negara tersebut. Anak-anak perempuan mengalami pelecehan seksual perkosaan. 232 21 22 Kertas Posisi 2010 Kekerasan Anak di Institusi Pendidikan: Tinjauan Hak atas Pendidikan 6 . Kekerasan terhadap anak di LAPAS utamanya dilakukan oleh penjaga LAPAS.23 Kekerasan dalam Pendidikan Dilihat dari kacamata waktu dan strata kehidupan. yang dimaksudkan dengan bangunan pendidikan adalah segala unsur yang membentuk pendidikan. hal. di siram air panas. namun dalam hal tidak terjadi pemisahan penghuni anak dan dewasa. hormat pada pribadi dan keadilan. dan tidak di beri makan.21 Kekerasan juga dialami oleh anak-anak yang terpaksa harus bekerja baik di dalam rumah tangga maupun di tempat lain. Insist Press. pengayaan dan tidak melindas nilai-nilai kemanusiaan. Dilain pihak. Anak-anak mengalami intimidasi dan ancaman. sehingga pendidikan mampu menjadi sarana pemberdayaan. karena ada pendidik dan ada peserta didik. Kecuali itu. pendidikan mengandung nuansa kebertingkatan. anak-anak juga menjadi sasaran kekerasan preman jalanan. maka pendidikan mengenal perbedaan status. Disatu pihak. penggusuran dan ³street cleansing´ anak-anak jalanan dan anak-anak yang dilacurkan di jalanan menjadi sasaran kekerasan. artinya dengan beban kerja yang cukup berat. Di tempat kerja lain seperti di jermal. Karena kenyataan. di jemur di lapangan terbuka. dan exploitasi seksual untuk kepentingan komersial dan rekreasi orang dewasa. Anak laki-laki yang hidup di jalanan mengalami kekerasan seksual berupa tindakan sodomi dan dipaksa melakukan oral seks . 2003. Kekerasan dalam Pendidikan : Sebuah Tinjauan Sosio-Ekonomi Didaktika. di pabrik. dan di masukkan ke ruang isolasi. Kecuali pelaku utama pendidik dan peserta ibid ibid 23 ibid 24 Francis Wahono. Satpol PP (satuan polisi pamong praja). pemukulan. maka berbagai bentuk kekerasan fisik. Dari segi tinjauan ekonomi-sosial. anak-anak tidak di beri waktu untuk istirahat dengan cukup. dan industri rumah tangga terjadi eksploitasi fisik oleh majikan dan mandor. dipalak (dipaksa menyerahkan uang) dan diancam oleh preman jalanan.22 Satu area yang belum di sebutkan diatas dan menjadi tempat terjadinya kekerasan terhadap anak tanpa dapat di control adalah jalanan dan lingkungan komunitas.berupa dipukul dengan karet timba. pengemudi dan awak angkutan umum perkotaan serta waria. Di lingkungan kerja anak-anak mengalami penghinaan dengan di bentak-bentak dan di cerca dengan kata-kata kotor. psikis dan seksual dapat dilakukan oleh penghuni dewasa terhadap anak. Yogyakarta. Dalam setiap razia. di seterika. Oleh karenanya bagaimana pentahapan waktu dan perbedaan strata kestatusan itu harus dikelola. Anak-anak yang bekerja dalam rumah tangga pada umumnya mengalami kekerasan dan tindakan tidak manusiawi lainnya termasuk dipukul dengan besi panas. Untuk melihat bentuk-bentuk kekerasan yang terjadi dalam bidang pendidikan memerlukan tinjauan dari segi ekonomi-sosial dan segi teknologi-manajerial. seperti kemerdekaan. pendidikan amat rentan terhadap kekerasan. dalam Gelombang Perlawanan Rakyat : Kasus-Kasus Gerakan Sosial di Indonesia. karena merupakan sebuah proses maka pendidikan memuat pentahapan. 24 Dalam bidang pendidikan bentuk-bentuk kekerasan sebagaimana menjadi thesis Galtung terjadi melalui praktik-praktik dan pelaku yang berbeda.

Kekerasan ini bersifat vertikal karena melibatkan negara melalui aparatus. Bentuk kekerasan struktural dan kultural terjadi pada unsur selain unsur pelaku utama pendidikan. lapangan. buku-buku. selain pelaku utama yakni pendidik dan peserta didik. Pranata pendidikan adalah sarana-sarana pendidikan. media massa. guru. remaja. Kekerasan ini bersifat horisontal. Peserta didik dapat mencakup anak-anak.didik. Kalau tinjauan teknologi-manajerial melihat ketiga unsur tersebut secara terpisah. Kerangka pendidikan adalah visi. tinjauan teknologi-manajerial membedakan bangunan pendidikan ke dalam 3 (tiga) unsur : kerangka. alat-alat peraga. dan metode pendidikan. Kekerasan ini mewujud dalam kerangka pendidikan. dan kurikulum pendidikan. Keterkaitan antar unsur tersebut tergambar dalam diagram berikut : 25 26 ibid. dan masyarakat pada umumnya. Kelima unsur tersebut diikat oleh tinjauan ekonomi sosial sebagai pendekatan. orang dewasa. 238 ibid Kertas Posisi 2010 Kekerasan Anak di Institusi Pendidikan: Tinjauan Hak atas Pendidikan 7 . kita tidak dapat memisahkannya dari pranata dan kurikulum. kita tidak dapat memisahkannya dari kerangka dan kurikulum. 26 Apabila pendekatan Galtung dijadikan pisau analisis maka kekerasan langsung terjadi pada unsur bangunan pendidikan yakni pelaku utama pendidikan. sistem. Pendidik dapat dapat terdiri dari dosen. dan kebijakan vis a vis masyarakat. tempat pertemuan. gedung. Kalau kita berbicara mengenai unsur sistem pendidikan kendati maksud yang kita utamakan adalah pranata. hal. dan berbagai teori-teori dasar pendidikan serta acuan undang-undang dan peraturannya. maka tinjauan ekonomi-sosial melihatnya sebagai unsur yang saling berkaitan. kita tidak dapat memisahkannya dari kerangka dan pranata. dan kurikulum. individu vis a vis individu yang lain. filsafat. Demikian juga kalau kita berbicara mengenai unsur metode pendidikan kendati maksud yang kita utamakan adalah kurikulum. unsur-unsur itu antara lain adalah pendekatan. juga meliputi kerangka. misi. institusi. konteks masyarakat. orang tua. jurnal. Lain dari tinjauan ekonomi-sosial. laboratorium sampai kepada sumber budget pendanaannya. pranata. dan metode. Maka kalau berbicara mengenai unsur pendekatan pendidikan kendati maksud utama adalah kerangka. pemimpin. sistem. pranata pendidikan. 25 Unsur-unsur pokok bangunan pendidikan. Kurikulum pendidikan adalah berbagai isi ± baik itu nilai terumus dan tertindak ± serta ilmu pengetahuan yang dikelola dan disampaikan secara sistematik. dan kurikulum pendidikan. rakyat. pranata. berbagai produk media massa. dan berbagai lapisan serta golongan masyarakat.

disiplin perintah tanpa boleh banyak bertanya. Sistem pendidikan ini yang cocok dengan pendekatan ini adalah sistem pendidikan militer. Dari tinjauan ekonomi-sosial. selama ini situasi dan kondisi. sehingga tidak dapat dibantah. Bagian kedua adalah bagian bawah dari diagram yang menggambarkan keadaan bangunan pendidikan masa yang akan datang. Artinya. pendekatan pendidikan seperti ini disebut pendekatan top down. ketat ideologi.Pendidik Pendekatan Top Down Kerangka Kurikulum Pranata Sistem Militer Metode Anjing PESERTA DIDIK Pendekatan Bottom up Kerangka Pendidik Pranata Sistem Petani Metode Ayam Kurikulum Gambar 2 : Pendidikan di Indonesia : Kini dan Mendatang Sumber : Francis Wahono. Peserta didik menjadi obyek langsung dari kurikulum yang didukung oleh kerangka dan pranata pendidikan. disiplin seragam. enggan melakukan secara langsung tetapi bersembunyi dibalik kurikulum. lebih bermoral dan pandai. dari atas ke bawah.27 Diagram bagian atas secara simbolik tergambarkan bagaimana peserta didik berada pada strara paling bawah. Pendekatan seperti ini berasumsi bahwa pendidik adalah pusat kebenaran dan pengetahuan. hal. 2003 Diagram di atas menggambarkan bagaimana bangunan pendidikan selama ini justru cenderung ikut memperlancar praktik-praktik kekerasan. 239 Kertas Posisi 2010 Kekerasan Anak di Institusi Pendidikan: Tinjauan Hak atas Pendidikan 8 . mendikte. Sementara pendidik dalam berhubungan dengan peserta didik. Bagian pertama adalah bagian atas dari diagram. kurikulum dan pranata pendidikan. Sebagai konsekuensinya. Peserta didik menjadi titik pertemuan antara dua bagian. pengalamanm dan daya kembang serta daya serap peserta didik sangat tipis untuk menjadi masukan dan ikut merubah kerangka. yang melukiskan keadaan bangunan pendidikan masa kini. 27 ibid.

Pendekatan ini tidak menjadikan kerangka dan pranata pendidikan.30 Pelaku Kekerasan dan Korban Kekerasan Dalam Bidang Pendidikan Kekerasan Langsung di Sekolah Dampak Dari Kekerasan Struktural dan Kekerasan Kultural Memetakan pelaku kekerasan dalam bidang pendidikan jika mengacu pada pendekatan Galtung menghasilkan 3 (tiga) pelaku tindak kekerasan yakni individu. tujuan. Unsur kurikulum. Dari segi sistem pendidikan ini mempertemukan peserta didik dengan pendidik secara langsung. unsur-unsur itu antara lain adalah pendekatan. Sang induk menginginkan mendewasakan. sistem. Francis Wahono membagi 2 (dua) tinjauan untuk melihat bentuk-bentuk kekerasan yang terjadi dalam bidang pendidikan yakni tinjauan dari segi ekonomi-sosial dan segi teknologi-manajerial. yang dimaksudkan dengan bangunan pendidikan adalah segala unsur yang membentuk pendidikan. dan kurikulum. Lain dari tinjauan ekonomi-sosial. 241 28 29 Kertas Posisi 2010 Kekerasan Anak di Institusi Pendidikan: Tinjauan Hak atas Pendidikan 9 . tetapi juga harus menjauhkan dari kecenderungan pelanggaran hak asasi manusia. Sebagaimana tuan dan anjing. Dalam konteks system pendidikan nasional. institusi. Pendekatan top down. Kedua tinjauan tersebut menempatkan Negara sebagai pelaku utama kekerasan dalam bidang pendidikan baik dari segi ekonomi-sosial maupun dari segi ibid ibid.metode pendidikan yang dipakai adalah metode anjing. dan metode pendidikan. Dari segi metode pendidikan semacam ini disebut pendidkan metode ayam. Induk ayam tidak pernah mendikte anak ayam agar setia. tinjauan teknologi-manajerial membedakan bangunan pendidikan ke dalam 3 (tiga) unsur : kerangka. pranata. dan metode anjing yang selama ini cenderung dipakai dalam sistem pendidikan kita telah menjadikan lembaga kependidikan lebih dipakai sebagai penghantar kekerasan. 240 30 ibid.28 Pada bagian kedua dari diagram. Dari segi tinjauan ekonomi-sosial. Dalam perspektif Camarian ketiga pelaku terlibat langsung tidak langsung dalam melanggengkan terjadinya kekerasan spiral. anjing dididik oleh tuannya dengan sistem reward dan punishment agar si anjing menjadi setia dan tunduk pada tuannya. tidak langsung mendiktepeserta didik. Melainkan dibangun berdasarkan kebutuhan peserta didik atau konteks keberadaan peserta didik. pada bagian ini. Pendekatan pendidikan yang bottom up dengan sistem petani dan metode ayam akan mampu menciptakan pendidikan yang nol kekerasan.29 Pendidikan ini dinamakan pendidikan sistem petani. Kecuali pelaku utama pendidik dan peserta didik. Kurikulum tidak langsung menjadi ujung tombak pendidikan. melainkan sampai pada peserta didik hanya melalui penggrapan dan penjiwaan pendidikan. dan metode pendidikan. terlihat bahwa unsur peserta didik diusung di atas dan menjadi pusat kegiatan pendidikan (bottom up approuch). dan manifestasi tindak kekerasannya. ujung tombaknya tetap pendidik. Sebagaimana petani menghadapi dan memperlakukan tanamannya sesuai dengan konteks kehidupannya di alam. sistem. Masing-masing pelaku berbeda motivasi. Pendidikan harus mampu memberdayakan sekaligus mengayakan peserta didik. dan Negara. memandirikan anak-anaknya. termasuk penyelenggara pendidikan tidak menjadi penentu pendekatan. sistem militer. sebagaimana induk ayam memperlakukan anak-anaknya.

28 Februari 2000. Kondisi ini diungkapkan Darmaningtyas dalam bukunya "Pendidikan pada dan Setelah Krisis (Evaluasi Pendidikan di Masa Krisis)" (1999) mengemukakan bahwa pendidikan Indonesia sejak masa Orde Baru merupakan alat kekuasaan dan bersifat militeristik. www. Padahal. namun kini mulai ditinggalkan karena terbukti tidak memberikan hasil memuaskan.com. Suplemen 60 Tahun Indonesia Merdeka. tidak dialogis. 31 Lihat ST Sularto. Exposure individu terhadap cakrawala baru itu dapat berfungsi sebagai layar proyeksi bagi aktualisasi dirinya . di mana sekolah merupakan unit pendidikan yang keberadaannya dipandang dan diperlakukan hanya sebagai pelaksana ketentuan dari kekuatan atau struktur di luar dirinya. sikap dan cara bertindak siswa. Karena padatnya materi pelajaran yang harus diberikan kepada peserta didik ditambah standar penilaian nasional mengakibatkan pola ajar yang diterapkan dalam sekolah cenderung sentralistik. Hal senada juga diungkapkan Elias Kopong melalui disertasi doktornya An Exploratory Study of Curriculum Implementation in Indonesia (1995) menemukan bahwa dalam kurikulum sentralistis ini kebhinnekaan yang menjadi ciri khas rakyat Indonesia terabaikan dan berakibat tercerabutnya siswa dari praktik budaya dan kebutuhan riil siswa di tempat tinggalnya. Fuad Hasan mengemukakan bahwa pendidikan yang baik tidak menyebabkan individu terangkat akarnya dan tidak pula terasing dari ranah budayanya sendiri.kompas. Darmaningtyas mengemukakan bahwa sentralisasi kurikulum merupakan kerangka politik untuk menyeragamkan pola pikir. Namun kurikulum hanya menjadi perpanjangan kepentingan politik negara. Hal ini ditunjukkan dengan kebijakan penyeragaman pakaian sekolah SD-SLTA dan sentralisasi kurikulum. ada degenerasi dalam hal tujuan utama kegiatan pendidikan. www. 25 Februari 2003 Kertas Posisi 2010 Kekerasan Anak di Institusi Pendidikan: Tinjauan Hak atas Pendidikan 10 .32 Kurikulum sebagai bagian dari system pendidikan berada dalam locus kewenangan pemerintah. Desentralisasi Kurikulum dan Evaluasi Belajar . Praksis pendidikan semakin tidak berorientasi pada anak . Kompas. Catatan Sekitar Masalah Pendidikan. 8 Desember 2003 33 Lihat Iwan Jazadi. Setiap pergantian kekuasaan terjadi perubahan kurikulum. Itu antara lain terlihat dari semakin etatifnya praksis pendidikan. 32 Lihat AJE Toenlioe. 53. Sejak kurikulum yang pertama (kurikulum 1968) hingga yang kelima (kurikulum 2004/Kurikulum Berbasis Kompetensi). Salah dampaknya adalah maraknya tindak kekerasan di sekolah-sekolah.com. 16 Agustus 2005. dan berpotensi terjadinya tindak kekerasan.kompas.com.33 Dampak kurikulum yang sentralistik dirasakan oleh tenaga pengajar dalam menggawangi proses belajar mengajar di sekolah. tetapi lebih pada impuls kepentingan politik praktis. Tindakan kekerasan tersebut mewujud melalui kebijakan yang ditetapkan oleh Negara dalam mengurus pendidikan warga negaranya.teknologi-manajerial. Praksis Pendidikan Minus Visi : Catatan atas ´Bongkar Pasangµ Kurikulum. Pendidikan yang baik mestinya berhasil membentangkan cakrawala yang memperkenalkan individu pada nilai-nilai baru.31 Penerapan kurikulum secara sentralistik dalam konteks sosiologi. setiap perubahan berdampak pada praksis pendidikan. Ini tidak berarti pendidikan harus menjadikan individu sepenuhnya terpasung dalam ranah budayanya sendiri. Paradigma ini memang pernah populer dan digunakan sebagai acuan pembangunan berbasis industri di berbagai negara. hal. www. lebih kurang sejalan dengan paradigma struktur sosial. Kasus-kasus berikut merupakan bukti proses pembelajaran yang berlangsung di sekolah melahirkan tindakan kekerasan. Kurikulum pendidikan yang ditetapkan oleh Negara dapat menjadi contoh kasus untuk melihat kekerasan yang dilakukan oleh Negara. bahkan menimbulkan berbagai dampak negatif. lihat Fuad Hasan.kompas. Mencermati Perubahan Paradigma Pendidikan Indonesia.

yang ekonomis dengan diskriminasi ethnis. Pengajar sebagai pemegang kunci (key person). yang kultural.khn. usianya 8 tahun. menyebabkan anak harus belajar berbagai hal dalam waktu yang ditentukan. 07-08. op.E.go. Penyiksaan ini membuat Alan terkencing dan muntah. Juli-Agustus 2005. 4-5 37 Anita Lie. Sahetapy. PKPA. No. Hukuman ini merupakan perintah langsung sang guru. yang sosial. Orang Miskin Dilarang Sekolah. kebijakan serta bentuk represif lainnya. tetapi yang telah terbentuk dalam suatu sistem sosial tertentu. Ramai-Ramai Menyiksa Anak di Sekolah. dalam Basis . Kekerasan struktural dimaksudkan kekerasan tidak langsung. Maret-April 2004. (aspek) budaya. 16 38 Lihat Justin Sihombing. Mereka berjalan dengan terseok-seok karena celana dan rok seragam mereka melorot sampai batas mata kaki. Anak ini kebetulan tidak bisa perkalian tujuh. hal. Kedua. hal. yang struktural.36 Lebih jauh. atau memperlakukan peserta didik dengan kasar. Yogyakarta. yang bukan berasal dari orang tertentu. pengajar saat ini sangat sarat dengan persoalan. bahkan dari yang berwajib / berkuasa secara psikis. siswa kelas IV SD. Karena tidak bisa perkalian inilah maka teman-teman sekelasnya yang jumlahnya 29 orang diminta memukuli Alan dengan mistar. misalnya kekerasan dalam bentuk indoktrinasi. Bukan Sekedar Operator Kurikulum. walaupun apa yang diinginkan kurikulum belum tentu relevan dengan cita-cita anak. Yayasan BP Basis. yang psikologis berupa stigmatisasi. pergulatan hidup yang berat membuat sebagian pendidik belum mampu mengelola emosi negative sehinga harus mengumpat di kelas. mengasihani diri sendiri. 104 ibid 36 Tabrani Yunis. Kekerasan ini beroperasi melalui (nilai-nilai) sosial. 17 40 Lihat J.39 Kebijakan penetapan kurikulum pendidikan yang mengakibatkan terjadi tindak kekerasan di sekolah merupakan bentuk kekerasan struktural. Edisi. 38 Ideologi yang mendasari penyusunan kurikulum sangat menentukan perilaku masyarakatnya dan arah kemajuan atau kemunduran bangsa. 20 39 Anita Lie.cit . Yogyakarta.Kasus 1 : Namanya Alan Anarki. Medan. Perbuatan kekerasan apalagi yang struktural tidak harus selalu dengan menggunakan secara fisik. hal. dalam KALINGGA. Kekerasan ini dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Kekerasan Struktural. dalam kenyataannya tidak layak mengajar dan mendidik di sekolah.id 34 35 Kertas Posisi 2010 Kekerasan Anak di Institusi Pendidikan: Tinjauan Hak atas Pendidikan 11 .37 Dalam titik ini negara dikatakan sebagai pelaku tindak kekerasan dalam rangka menjalankan tugas dan fungsi pemerintah.cit. kurikulum pendidikan yang cukup padat dan sarat beban. hal. Guru. hal.40 Kekerasan struktural ini berbentuk eksploitasi sistematis disertai mekanisme yang menghalangi terbentuknya kesadaran serta menghambat Lihat Eko Prasetyo. dan (faktor) struktural (masyarakat). Penyiksaan ini atas perintah gurunya sendiri. Kurikulum yang ada sangat memaksa anak untuk mengikuti dan mengejar pencapaian kurikulum. Ia bisa berupa sesuatu yang non-fisik.35 Tindak-tindak kekerasan tersebut disebabkan oleh factor-faktor berikut : pertama. sampai pada yang bersifat naratif. Intelektualitas pendidik yang rendah namun dipaksa mengejar target kurikulum.34 Kasus 2 : Gara-gara tidak mengerjakan mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR) 8 (delapan) siswa Kelas IV SD dihukum di depan kelas dalam keadaan setengah bugil. www. op. 2004. Insist Press.

terutama sekali berdasarkan standar-standar yang absolut mengenai perilaku. Kekerasan Struktural termanifestasi dalam bentuk ketimpangan kekuasaan yang menyebabkan ketimpangan hidup.kehadiran lembaga-lembaga yang dapat menentang eksploitasi dan penindasan. suka murung.com/poskup/2005/11/09/edisi09/0911pin1. Kekerasan Struktural dan Kekerasan Langsung berlangsung karena µdisahkan¶ oleh Kekerasan Kultural. memaksa dengan kuat untuk mengekang µkehendak diri¶ anak bila perilaku dan keyakinan-keyakinan anak bertentangan dengan apa yang dipandang benar menurut keyakinan dirinya. persepsi dan perilakunya. Ketidakadilan. mudah stres atau tegang. Pada akhirnya peserta didik tinggal kelas atau berhenti sekolah. kekerasan ini merupakan bentuk kekerasan langsung di mana peserta didik menjadi korban tindak kekerasan (victim of violence) akibat penerapan kurikulum pendidikan. Pengajar ini menekankan nilai kepatuhan yang tinggi terhadap kekuasaan atau kewenangannya dengan menghukum. dalam jangka pendek. serta tidak terarah. Padahal hukuman apapun bentuknya bagi peserta didik. hingga tidak tertutup kemungkinan anak menjadi malas belajar atau bahkan sekolah. Medan. Agama. mudah tergganggu dan suka mengganggu. 14 43 John Th Ire. Dampak pola pengasuhan authoritarian adalah anak menjadi penakut. kebijakan yang menindas. Kita Semua Manusia" di Pontianak 18 September 2001 kerjasama Komnas HAM-Insitut Dayakologi 42 Syamsuarni. Kekerasan kultural adalah kekerasan yang melegitimasi terjadinya Kekerasan Struktural dan Kekerasan Langsung serta menyebabkan tindakan kekerasan dianggap wajar saja terjadi (diterima) oleh sebuah masyarakat. dalam Kalingga. kekerasan jenis ini lebih tersembunyi dan lebih berbahaya tentu. mudah dongkol dan menarik diri dari masyarakat. permusuhan secara pasif dan menggunakan tipu daya. akan mempengaruhi konsentrasi. Oleh karenanya.45 Istilah kekerasan kultural disini meliputi aspek-aspek budaya dan ranah simbolik yang ditunjukkan oleh agama dan ideologi. Jender. Mengayau atau Perang ? Fenomenologi Kekerasan Antar Etnis di Kalimantan Barat . www. tidak bahagia. Dalam pendekatan Galtung.htm 44 ibid 45 ibid 41 Kertas Posisi 2010 Kekerasan Anak di Institusi Pendidikan: Tinjauan Hak atas Pendidikan 12 . hal. Kekerasan di sekolah yang marak terjadi seringkali dibenarkan oleh masyarakat bahkan orang tua dari peserta didik karena tindak kekerasan tersebut merupakan bagian dari proses mendidik anak. PKPA. Hukuman di Sekolah dan Hak Anak atas Pendidikan. Dengan kata lain. dalam Anakmu Bukanlah Anakmu. Secara psikologis.42 Kekerasan merupakan operasionalisasi dari pola asuh authoritarian. Etnis. Menurut Galtung. perundang-undangan yang diskriminatif adalah bentuk-bentuk kekerasan struktural. mengontrol dan menilai tingkah laku dan sikap-sikap anak sesuai dengan yang ditentukan. dan Lihat John Bamba.44 Ketiga jenis kekerasan ini saling berhubungan satu sama lain dalam hubungan sebab-akibat.41 Kasus-kasus di atas menempatkan tenaga pendidik sebagai pelaku (perpretator) tindak kekerasan.indomedia. Xenophobia dan Bentuk-Bentuk Intoleransi Lainnya "HindariKekerasan. bahasa dan seni. Pengajar authoritarian berusaha untuk menentukan.43 Perspektif Galtung memandang bahwa baik kekerasan struktural maupun kekerasan langsung bersumber pada kekerasan cultural. Hentikan Diskriminasi. Edisi Maret-April 2004. makalah untuk Seminar Dalam Rangka Kampanye Melawan Diskriminasi Ras. sumbernya ada pada Kekerasan Kultural (atau lebih tepat: Kultur Kekerasan) yang melegitimasi terjadinya Kekerasan Struktural dan Kekerasan Langsung. mengutip penelitian Baumrind dalam Lerner & Hullsch. hukuman di lembaga pendidikan dapat menyebabkan anak menjadi trauma atau antipati terhadap pendidikan. cemas atau gelisah.

Bahkan.ilmu pengetahuan yang melegitimasi kekerasan langsung dan struktural. hal. 2005 46 47 Johan Galtung.47 Fenomena tersebut mendeskripsikan bahwa kekerasan kultural dan kekerasan struktural merupakan akar dari kekerasan langsung.46Gambar lingkaran ketiga bentuk kekerasan : Kekerasan Kultural Kekerasan Langsung Kekerasan Struktural Sumber: John Th Ire. Dengan kata lain bentuk-bentuk kekerasan langsung yang terjadi di sekolah seperti pemukulan. 443 Lihat Antarini Arna. penghinaan. untuk pendisiplinan atau malah dianggap untuk kebaikan. Analisis Konsultasi Anak Nasional : Kekerasan Terhadap Anak: Agresi Terhadap Martabat Kemanusiaan Anak Kertas Posisi 2010 Kekerasan Anak di Institusi Pendidikan: Tinjauan Hak atas Pendidikan 13 . kebisuannya diartikan sebagai kerelaan menerima kekerasan. Masyarakat mempunyai anggapan bahwa anak-anak sudah terbiasa dengan tindakan kekerasan dan penghukuman fisik sebagai proses pembelajaran dalam hidupnya. jika itu dilakukan kepada anak selalu ada rasionalisasinya entah untuk pendidikan. pengucilan. op. Fenomena kekerasan langsung ini nampak dalam gambar di bawah ini : Kekerasan Langsung Kekerasan Struktural Kekerasan Kultural Sumber: John Th Ire. 2005 Pemukulan. cit. penganiayaan. Anggapan ini mencerminkan adanya relasi yang dominatif antara orang dewasa dan anak yang pada gilirannya salah satu pihak dapat memamerkan kuasa atau dominasinya kepada pihak lain yang dianggap lebih lemah. dan penghukuman yang lain merupakan buah-buah dari kekerasan kultural dan struktural.

(17) Papua 49 Lihat Laporan Konsultasi Anak Terhadap Kekerasan Tingkat Propinsi dan Nasional 50 Lihat paragraph 43 : The Committee is deeply concern ed that corporal punishment in the family and in schools is widespread. penyalahgunaan kekuasaan dan pengabaian. tempat-tempat umum. 3. Unsur yang paling spesifik adalah alasan yang memotivasi penyiksaan dalam rangka memperoleh informasi atau pengakuan darinya atau pihak ketiga.Kekerasan di Lingkungan Sekolah : Akar Masalah dan Sumbernya Berdasarkan hasil diskusi kelompok untuk mengidentifikasi kekerasan di lingkungan sekolah dalam Konsultasi Anak Nasional tentang kekerasan terhadap anak48. yakni :49 1. termasuk di rumah. tidak manusiawi. lembaga pemasyarakatan. (14) Jawa Timur. Tindakan yang dikualifikasikan sebagi penyiksaan memang sangat spesifik unsur-unsur tindak pidananya. dan keluarga masih tinggi. memantau. tidak Konsultasi Anak Nasional tentang Kekerasan diikuti oleh anak-anak yang mewakili 17 propinsi yang terdiri dari : (1) Jabotabek. 4. Khusus dalam Concluding Observation CRC Committee on Indonesia paragraph 41 dikatakan angka anak menjadi korban tindak kekerasan. tidak manusiawi. (10) Sulawesi Barat. (5) Banten. Penghukuman fisik (corporal punishment) yang sering terjadi di lingkungan sekolah sebagaimana diurai di atas juga mendapat sorotan dari CRC Committee menyatakan bahwa penghukuman fisik masih secara meluas terjadi dalam keluarga dan sekolah. sekolah. dan panti anak. 2. namun perlakuan dan penghukuman yang kejam. (16) Sumatera Selatan. shools an d childcare settings 48 Kertas Posisi 2010 Kekerasan Anak di Institusi Pendidikan: Tinjauan Hak atas Pendidikan 14 . dan menginvestigasi pengaduan-pengaduan serta mengusut kasus tersebut. tidak manusiawi. termasuk pelecehan seksual di sekolah. Terkait dengan permasalahan ini dalam paragraph 42. atau merendahkan martabat. dan merendahkan martabat. (4) NAD. (2) Lampung. secara cultural diterima dan disahkan menurut hukum. Diskriminasi terhadap anak dengan kebutuhan khusus Kekerasan seksual yang dilakukan oleh pengajar (terutama laki-laki) Kekerasan mental/psikis Kekerasan fisik Maraknya tindakan-tindakan kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah juga menjadi sorotan CRC Committee pada 35th session dalam Consideration of Report Submitted By States Parties under article 44 of The Convention. (6) Sulawesi. perlakuan dan hukuman yang kejam. dan merendahkan martabat memang berbeda intensitas penderitaan yang diderita korban dibandingkan dengan penyiksaan. Perlakuan dan hukuman yang kejam. CRC Committee merekomendasikan untuk mengembangkan upaya-upaya yang ditujukan guna memecahkan masalah tersebut dan memastikan bahwa terdapat system nasional untuk menerima. (12) Maluku. bentuk-bentuk kekerasan yang sering diterima oleh peserta didik. including in the family.51 Penghukuman fisik dapat dikategorikan sebagai bentuk perlakuan yang tidak manusiawi dan merendahkan martabat manusia sebagaimana diatur dalam Konvensi Anti Penyiksaan yang melarang melakukan penyiksaan. (11) Jawa Barat. culturally accepted and still lawfull .50 Terkait dengan masalah ini CRC Committee merekomendasikan untuk merubah peraturan perundang-undangan guna melarang penghukuman fisik di mana pun. (3) NTT. 51 Lihat paragraph 44 yang menyatakan Amend its current legislation to prohibit corporal punishment everywhere. (15) Maluku Utara. Kemudian memastikan para pelaku tindak kekerasan tersebut sepatutnya dituntut. (8) Kalimantan Barat. (13) Palu. Dalam kaitan ini perlu dibedakan unsur-unsur pokok penyiksaan dengan perlakuan dan hukuman yang kejam. (9) NTB -Mataram. (7) Jawa Tengah.

2004. Sistem pendidikan ini menganut ³banking concept of Education. 38 55 Lihat Eko Prasetyo. hal. yang dimulai dari menurunkan martabat. Peserta didik menjadi obyek langsung dari kurikulum yang didukung oleh kerangka dan pranata pendidikan. 2001. Dengan demikian perlakuan pasti merupakan tindakan khusus yang dilakukan secara sengaja dengan tujuan menghina korban. Keutuhan Jasmani. meminjam analisis Francis Wahono di atas. REaD Book. Editor Ifdhal Kasim. mereka pasif dan hanya mendengar. 120 56 ibid. Insist Press.53 Dalam hal ini terdapat motivasi dari pelaku untuk menempatkan korban dalam kekuasaannya.manusiawi. Penyebab internal ini ditambah oleh rangsangan sekolah yang melihat kualitas ditentukan oleh bagaimana membuat peserta didik untuk berada terus menerus dalam kurikulum yang tidak manusiawi dengan jadwal yang amat ketat. Peserta didik dalam proses pendidikan model bank yang dipraktikkan di sekolahsekolah lebih menjadi objek pendidikan. Karenanya tampak ada skala perbuatan yang menyakitkan hati. Perlakuan yang merendahkan martabat seharusnya tidak diterapkan dalam situasi yang merendahkan martabat yang disebabkan oleh factor-faktor ekonomi dan sosial secara umum. dan Kebebasan dalam Hak-Hak Sipil dan Politik : Esai-esai Pilihan.´ . Teori dan praktik pendidikan seperti ini mengabdi kepada tujuan-tujuan yang disusun oleh para pendidik dengan menempuh cara yang seefisien mungkin.54 Kondisi demikian menempatkan peserta didik benar-benar berada di bawah kendali sekolah saat pengajar berada dalam posisi lebih tahu dan mengerti. Praktek pendidikan seperti itu.52 Perbedaan selanjutnya dibuat antara perlakuan yang merendahkan martabat disatu pihak dan hukuman yang merendahkan martabat dilain pihak. tetapi bahkan lebih jauh merupakan proses dehumanisasi dan penindasan. peserta didik berada pada strata paling bawah. mentaati dan mencontohi para guru. Pengadilan Eropa untuk HAM menyatakan dalam kasus Tyrer (1978) bahwa tingkat penderitaan yang membenarkan penggunaan istilah ³tidak manusiawi´ lebih tinggi dari pada kata ³merendahlan martabat´. 53 ibid 54 Lihat Mansour Fakih. Yogyakarta. Terkait dengan persoalan ini. mempertontonkan kekuasaan yang dimiliki kepada korban 3. dalam perspektif Paulo Freire tidak saja bersifat menjinakkan. dan merendahkan martabat berkembang dalam praktik-praktik pengadilan (yurisprudensi). hal. Jakarta. Kekerasan diawali dari sini karena pendidikan gaya bank menghalalkan dipakainya kekerasan untukmenertibkan dan mengendalikan para peserta didik. mempertahankan status quo kekuasaan yang dimilikinya 2. Konsep ini dikatakan Satre sebagai konsep pendidikan yang µmengunyah¶ (digenstive) atau memberi makan (nutritive) di mana pengetahuan µdisuapkan¶ oleh pengajar kepada peserta didik untuk µmengeyangkan mereka¶. mengendalikan korban sesuai kehendaknya Dalam konteks system pendidikan kekinian. Yogyakarta. 122-123 Kertas Posisi 2010 Kekerasan Anak di Institusi Pendidikan: Tinjauan Hak atas Pendidikan 15 . meningkat menjadi tidak manusiawi. Roem Topatimasang. Elsam.55 Kekerasan di lingkungan dunia pendidikan memang bertaut erat dengan system klasifikasi materi pembelajaran yang berdampingan dengan metode pembelajaran bergaya bank. hal. Artinya relasi kekuasaan akan dijadikan sarana untuk : 1. hal. dan akhirnya mencapai tingkat penyiksaan. 2000. Orang Miskin Dilarang Sekolah. Hak atas Hidup. dan Toto Rahardjo. Pendidikan Popular: Membangun Kesadaran Kritis. mengikuti.56 52 Lihat Yoram Dinstein.

59 Jika merujuk pada ketentuan Pasal 31 ayat (4) UUD 1945 yang mewajibkan pemerintah dan DPR mengalokasikan anggaran pendidikan minimal 20% dari APBN dan APBD. Kesepakatan seperti ini merupakan bentuk konspiratif eksekutif dan legislative yang mengakibatkan terabaikannya pemenuhan hak atas pendidikan.or. Pendidikan Popular: Membangun Kesadaran Kritis.60 Realiasi alokasi anggaran 20% untuk sector pendidikan disepakati baru pada tahun 2009 jika mendasarkan perjanjian antara pemerintah dengan DPR. dan Toto Rahardjo. 2. 7. namun juga membangkitkan kesadaran kritis warga belajar terhadap ketidak adilan sistemik. Analisa APBN-P dan Pendidikan. Berdasarkan hal ini peserta Konsultasi Nasional mengidentifikasi pelaku kekerasan di sekolah sebagai berikut :58 1. www. 9. 3. paling tidak sector pendidikan dialokasikan sebesar 80 trilyun dari total APBN yang besarnya mencapai 300 trilyun.kau. Roem Topatimasang. Bapak Guru Ibu Guru Kepala Sekolah Guru BP Pelatih Penjaga Sekolah Teman sekelas Kakak Kelas Pelatih paskibraka Ketua Kelas Wali Kelas Para pelaku kekerasan ini dalam perspektif Camarian merupakan buah dari bekerjanya ketidakadilan sosial sebagai akibat dari upaya kelompok elit nasional mempertahankan kepentingan mereka sehingga terpelihara sebuah struktur yang mendorong terjadinya tindak kekerasan. dan Budaya. politik anggaran public dapat pula dijadikan analisis untuk melihat sampai sejauh mana Negara melakukan kekerasan dalam bidang pendidikan. Komitmen yang rendah dari Pemerintah untuk mengurusi pendidikan yang menjadi hak asasi warga negaranya. 8. salah satunya melalui penerapan kurikulum pendidikan. maka pelaku-pelaku tindak kekerasan biasanya secara relative menempati posisi yang lebih dibandingkan dengan korban. 4.Sebagai antitesis Freire selanjutnya mengembangkan suatu pendidikan yang tidak saja mentransformasikan hubungan guru dan murid lebih membebaskan.id 57 Kertas Posisi 2010 Kekerasan Anak di Institusi Pendidikan: Tinjauan Hak atas Pendidikan 16 . 11. Namun realitanya sampai tahun 2005 ini dalam APBN P Pemerintah belum memenuhi kewajiban konstitusionalnya karena sector pendidikan hanya didanai 30 trilyun atau sekitar 10% dari total APBN sebesar 322 trilyun. 10. 58 Konsultasi Anak Nasional tentang Kekerasan 59 Lihat Maastricht Guideline untuk pelanggaran Hak Ekonomi. 60 Lihat Isadi. Sosial. 5.57 Mengingat locusnya berada pada lembaga pendidikan (sekolah). Minimnya alokasi anggaran untuk pendidikan memang tidak terlepas dari tersedotnya APBN untuk melunasi utang luar negeri yang setiap tahunnya rata-rata Mansour Fakih. serta meletakan dasar konsep pendidikan yang memposisikan justru murid sebagai subjek pendidikan dengan tidak saja memperkenalkan berbagai metodologi dan praktek hubungan pendidikan yang bersifat membebaskan. hal. 6. tercermin dalam besaran alokasi anggaran untuk sector pendidikan yang sangat kecil merupakan bentuk kekerasan struktural dan pelanggaran HAM melalui pembiaran (acts by omission). Di samping penetapan kurikulum.

yang mengalami melek huruf pun mengalami problem kemampuan yang menurut riset International Education Achievement. Konspirasi Global : Kejahatan yang Terorganisir . Berdasarkan jajak pendapat tersebut. dan Jayapura. Dalam perspektif HAM. 3.61 Terbukti untuk sector pendidikan. terdapat 1. Pemerintah Pasif dalam Persoalan HAM. persoalan yang disinyalir oleh CRC Committee menunjukkan kegagalan negara untuk mengimplementasikan apa yang menjadi kewajibannya untuk menghargai. INFID.655 atau hampir 21% rusak berat. hal. 75-76 64 Lihat Naning Mardiniah. dalam Panduan Pelatihan Anti Utang.216 maka 168. 4 66 Lihat Pasal 4 KHA 61 Kertas Posisi 2010 Kekerasan Anak di Institusi Pendidikan: Tinjauan Hak atas Pendidikan 17 . saat ini masih terdapat 30% penduduk usia sekolah (44 juta jiwa) di 177 kabupaten yang tidak terlayani pendidikannya atau putus sekolah.htm 63 Eko Prasetyo. ternyata dalam APBN 2006 anggaran Departemen Pendidikan Nasional ditetapkan Rp 34.3 persen. 2005. Di samping itu. hal.hampir 1/3 dari total APBN. dan tindakan lain yang tepat. Jajak pendapat KOMPAS. 4.469. Padahal menurut seorang ekonom untuk menggratiskan pendidikan dasar cukup dialokasikan dana sebesar 10 trilyun saja. responden yang menyatakan penikmatan hak mendapatkan pendidikan tidak memadai sebesar 54. CRC Committee dalam paragraph 61 menguatkan kembali carut marutnya kondisi pendidikan di Indonesia. Jakarta. cit. hal. melindungi.63 Akibatnya sampai saat ini mengakibatkan bangunan ruang kelas SD yang sudah ada dari 801. et. Penduduk yang buta aksara berkisar 10% dari penduduk Indonesia (18. hal. administrasi. op. khususnya hak yang membutuhkan peranan aktif pemerintah (positive right). 12 Desember 2005.com/kompas/cetak/0511/05/humaniora/2181437. Sikka. Lebih lanjut. dan memenuhi hak anak atas pendidikan melalui upaya-upaya legislative. membuktikan pasifnya perlindungan pemerintah dalam persoalan HAM.596 anak usia sekolah kekurangan gizi. Meneropong Hak Atas Pendidikan dan Layanan Kesehatan : Analisis Situasi di Tiga Kabupaten : Indramayu. 5. Lebih lanjut negara berkewajiban melakukan tindakan-tindakan tersebut sampai pada jangkauan semaksimum mungkin dari sumber-sumber yang tersedia. 6.5 triliun dan anggaran pendidikan di Departemen Agama Rp 5. kualitas guru masih rendah Kekerasan terhadap anak di sekolah tinggi dan tidak ada peraturan yang melarang pendisiplinan murid dengan menggunakan hukuman fisik Analisis akhir dari persoalan di atas tidak bisa dipisahkan dari kebijakan negara pada sector pendidikan.66 Arimbi Heroepoetri. 2003.65 Terkait dengan hal tersebut. bahwa kemampuan membaca siswa SD Indoneisa berada di urutan paling bawah yakni 38 dari 39 negara.kompas.64 Data-data ini menegaskan bahwa merosotnya indeks pembangunan manusia pada urutan 112 dari 175 negara (paling rendah di Asia) memang terkait dengan rendahnya komitmen pemerintah untuk mengurusi hak pendidikan warga negaranya.62 Lebih ironis lagi alokasi APBN lebih diprioritaskan untuk menutupi kejahatan perbankan yang jumlahnya 60 trilyun. Permasalahan yang tetap menjadi sorotan sebagai berikut : 1. 61 65 Jajak Pendapat KOMPAS.6 triliun atau baru sekitar 10 persen dari belanja pemerintah pusat. Jakarta. Pendidikan dasar masih harus bayar Pendidikan tinggi tidak mudah di akses oleh kelompok masyarakat miskin Angka drop out terus menerus tinggi Anak perempuan yang menikah dan hamil tidak bisa melanjutkan pendidikan Ratio guru-murid tidak seimbang.5 juta). CESDA-LP3ES. 21 62 Lihat www. al. 2.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003 sebagai ketentuan payung Sistem Pendidikan Nasional apabila kita melihat semangat yang terkandung didalamnya justru mengarah pada privatisasi pendidikan. Penjelasan pasal 5 ayat 1 : peran serta masyarakat yang di maksud antara lain berupa pemberian dukungan sumber daya meliputi antara lain : dana. sarana. kecuali untuk anak yang tidak mampu tetapi berprestasi. menjadi orang tua asuh. karena jika RUU tersebut diterapkan maka setiap satuan pendidikan akan menjadi badan hukum yang wajib mencari seumber pendanaannya sendiri. manajemen. Pasal-pasal yang menunjukkan kecenderungan tersebut antara lain :67 1. : Setiap peserta didik berkewajiban ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan. dalam UU Sisidiknas mewajibkan semua sekolan menadi Badan Hukum Pendidikan. (badan Hukum Pendidikan).id ibid 69 Realisasi hak warga negara atas pendidikan dasar masih jauh dari ketentuan konstitusi. dalam nota keuangan pemerintah dijelaskan bahwa keluarnya RAPBN-P ini didasarkan pada alasan kepentingan untuk mengamankan pelaksanaan APBN 2005. RPP Wajib Belajar a. Kemudian peraturan perundang-undangan yang mengelaborasi undang-undang payung tersebut mengentalkan aroma privatisasi sebagaimana terurai di bawah ini:68 1.Peraturan perundang-undangan sebagai produk politik dapat juga untuk melihat keberpihakan eksekutif dan legislative dalam menyikapi persoalan pemenuhan hak atas pendidikan. RPP ini tidak membicarakan tentang tanggung jawab pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan dasar 9 tahun yang bermutu dan bebas biaya. kecuali yang dibebaskan dari kewajiban tersebut« (dan seterusnya) 2. penyelenggaraan. pasal 12 ayat 2 b.kau. RPP tentang Pendidikan Dasar dan Menengah. pelaksana.or. artinya rakyat miskin tidak sepenuhnya ditanggung dalam pembiayaan pendidikannya. secara keseluruhan RUU BHP ini merupakan usaha privatisasi pendidikan. c. karena persoalan ekonomi) b. 3. Analisa APBN-P dan Pendidikan. Pasal 54 ayat 2 : masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber. www.69 agar lebih realistis dan lebih mendukung pencapaian sasaran pembangunan ekonomi jangka menengah. 2. Pasal 53 : Badan Hukum Pendidikan (BHP ini merupakan salah satu langkah menuju ³swastanisasi´ pendidikan yang diwujudkan dalam bentuk BHP.) 3. warga negara di atas 15 tahun tidak dibiayai pemerintah jika ingin menyelesaikan program wajib belajar 9 tahun. RUU BHP.(dan seterusnya). RAPBN tahun 2006 mengalokasikan anggaran untuk pndidikan hanya sebasar 68 67 Kertas Posisi 2010 Kekerasan Anak di Institusi Pendidikan: Tinjauan Hak atas Pendidikan 18 . dalam Rencana Strategis yang disusun oleh Depdiknas sebagai bagian dari Program Jangka Menengah kabinet sekarang. termasuk di dalamnya sekolah negeri. Lebih lanjut. «. (padahal di beberapa wilayah banyak anak yang terlambat masuk sekolah. pasal 3 ayat 2. tenaga pendidik. Lihat Isadi. pasal 13 ayat 7 : pendanaan wajib belajar dapat berasal dari masyarakat atau sumbangan lain yang tidak mengikat. prasarana.

yaitu. formal mandiri dan formal standart.com. Pendidikan formal akan dibagi dalam 2 (dua) kategori pendidikan. Dalam GATS salah satu dari tujuh jasa yang akan diliberalkan ialah pendidikan. artinya pendidikan di sini diletakkan sebagai komoditi yang bisa diperdagangkan. naik ke kelas IV SD dan tidak bisa memakai buku yang sebelumnya digunakan kakaknya. Kewajiban negara sebagai pemegang mandate utama untuk menghargai. melalui ketentuan yang dikeluarkan oleh WTO dalam bidang jasa.kompas. Ketentuan ini akan melandasai perdagangan sector jasa. yakni Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). melindungi.71 Permasalahan pendidikan semakin rumit manakala kepentingan ekonomi pemodal (korporasi) melalui kebijakan memasuki system pendidikan. dan pihak sekolah. Perjanjian ini dikenal dengan GATS (General Agreement Trade and Service). 16 Juli 2004 70 71 Kertas Posisi 2010 Kekerasan Anak di Institusi Pendidikan: Tinjauan Hak atas Pendidikan 19 .000 per semester untuk 11 judul buku pelajaran. dapat kita lihat dari upaya komersialisasi buku pelajaran72 antara penerbit. Kepentingan korporasi dalam hal ini penerbit. Tahun ini anak keduanya. gejala di atas dapat dikategorikan sebagai kekerasan struktural di mana negara melalui kebijakan yang ditetapkannya melakukan kekerasan. sebab buku pelajaran sebelumnya sudah tak bisa digunakan lagi karena berbeda isinya. Sementara siswa SLTA membutuhkan dana di atas Rp 500. Lihat www. nyaris selalu ada yang disebut "penyempurnaan" materi buku. Masalah buku pelajaran baru muncul dalam keluarga Ririn ketika Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) menetapkan kurikulum baru.kompas.000 per semester. Tia.73 Dampak lebih jauh akan menghalangi upaya mewujudkan program pendidikan dasar gratis sebagai wujud tanggung jawab pemerintah. Lihat www. Pendidikan formal mandiri sepenuhnya akan dikelola secara komersiil sedangkan formal standart akan menerima dana subsidi bagi yang tidak mampu. bukan sebagai hak dari setiap warga negara sebagaimana yang tercantum dalam UUD 1945. Dampaknya orangtua siswa merasa terbebani dan kewalahan membiayai kebutuhan buku anaknya di sekolah sehingga mengganggu proses belajar-mengajar anak-anak yang orangtuanya kurang mampu secara ekonomi. seorang siswa SD harus mengeluarkan dana untuk membeli buku pelajaran di atas Rp 250.Dalam Rencana Strategis Depdiknas ini justru pemerintah nampak mencoba meminimalisir tanggungjawabnya dalam pembiayaan pendidikan. Yona. Dalam perspektif Galtungian. Repotnya Menghadapi Tahun Ajaran Baru.70 Secara substansif peraturan perundang-undangan tersebut mensegregasi dan mendiskriminasi peserta didik dalam mengakses layanan pendidikan. dan memenuhi HAM yang meliputi kewajiban bertindak (obligation of conduct) dan kewajiban mencapai hasil (obligation of ibid ibid 72 Komersialisasi ini ditandai dengan selalu bergantinya buku pelajaran seiring dengan pergantian tahun ajaran baru.com. Arah privatisasi pendidikan ini didorong juga oleh kepentingan global. dengan cara membiarkan pihak ketiga ± dalam hal ini penerbit buku ± mempengaruhi realisasi program pendidikan dasar gratis untuk semua. Ketika kurikulum tidak berganti pun. Orangtua tak punya pilihan lain kecuali mengikuti saja aturan main pemerintah yang kemudian diteruskan oleh pengelola sekolah. penjual buku. Larang Para Guru Jualan Buku Pelajaran. karena kurikulumnya berbeda.000 per semester untuk membeli buku 10 judul buku pelajaran ditambah empat buku muatan lokal. Ini sama artinya dengan mempersilakan orangtua membeli buku baru. 18 Juli 2004 73 Dicontohkan. Doktrin hukum HAM menetapkan kondisi demikian sebagai bentuk pelanggaran HAM oleh negara baik melalui tindakan (act commission) yakni menetapkan suatu peraturan perundang-undangan yang menghalangi penikmatan suatu hak maupun melalui pembiaran (act omission). terdiri atas delapan judul buku pelajaran dan dua judul muatan lokal. Akibatnya peserta didik dari keluarga miskin semakin sulit untuk menikamti hak asasinya. Siswa SLTP harus mengeluarkan dana di atas Rp 400.

Kekerasan struktural sebagaimana dipapar di atas disederhanakan dalam bagan di bawah ini : 74 Pasar Komersialisasi Parlemen Pengusaha Pemerintahan (Birokrasi) Regulasi Represi Sekolah Regulasi Represi Pendidik Represi Peserta Didik Peserta Didik sebagai Korban Sistem Pendidikan Sebagaimana nampak pada bagan di atas. hal. Kemudian kewajiban mencapai hasil yang mengamanati negara untuk mencapai sasaran sesuai dengan standar substansif hak atas pendidikan tidak mungkin teralisasi jika melihat alokasi anggaran untuk pendidikan tidak sesuai dengan konstitusi dan dibiarkannya pihak korporasi mengkomersialisasikan pendidilkan. cit. op. peserta didik merupakan korban yang paling menderita sebagai akibat dari penerapan system pendidikan nasional.result) jika melihat kondisi di atas jelas telah gagal ditunaikan. 87 Kertas Posisi 2010 Kekerasan Anak di Institusi Pendidikan: Tinjauan Hak atas Pendidikan 20 . Anak sebagai peserta didik memang merupakan kelompok yang paling rentan dan 74 Mengadopsi bagan dari Eko Prsetyo dalam Orang Miskin Dilarang Sekolah. Kewajiban bertindak yang merupakan kewajiban untuk melaksananakan dipenuhinya hak atas pendidikan malahan disikapi dengan menetapkan produk kebijkan yang menghalangi dinikmatinya suatu hak.

hal. hal. 14 Hari Wibowo. industri dan bisnis. Sebangun dengan kerangka tersebut. Kondisi ini terjadi karena peserta didik hanya diperlakukan sebagi objek demi kepentingan ideology. Shobirin Nadj dan Naning Mardiniah . 245 75 76 Kertas Posisi 2010 Kekerasan Anak di Institusi Pendidikan: Tinjauan Hak atas Pendidikan 21 .75 Dalam kerangka doktrin hukum HAM menurut Komite Hak Ekonomi. Jakarta. CESDA -LP3ES. 2000. Dengan demikian pihak yang memiliki kuasa merupakan pihak yang melanggar HAM. Kampanye Hak Asasi Manusia. sedangkan pelaku adalah pihak yang memiliki kekuasaan berdasarkan otoritasnya maupun karena modal. Editor : E.76 Pelaku Korban Pemberdaya Negara Ya Bukan Ya Modal Ya Ya Bukan Masyarakat Sipil Bukan Ya Ya Sumber : Galtung. anak merupakan bagian dari kelompok masyarakat yang dikategorikan sebagai kelompok rentan dan tidak beruntung (vulnerable and disadvantage groups). menerbitkan suatu kebijakan yang semakin menghilangkan akses bagi masyarakat sipil untuk Anita Lie. Tenaga pendidik tidak mampu mengembangkan kesadaran untuk menghentikan gejala dehumanisasi ini karena mereka sendiri terjebak sebagai objek. dalam Diseminasi Hak Asasi Manusia : Perspektif dan Aksi. Bagan di bawah ini mendeskripsikan paparan di atas. cit. politik. dan Budaya. op.berpotensi mengalami kekerasan baik dari orang dewasa maupun korban dari system pendidikan yang ditetapkan oleh negara. Negara melakukan pelanggaran melalui tindakan atau pembiaran melalui kebijakan yang ditetapkannya. 1994 Bagan tersebut apabila ditransformasikan dalam gambar relasi antara pemodal dengan negara yang menghasilkan struktur kekuasaan yang menindas masyarakat sipil tersaji sebagai berikut : Pemodal Negara Masyarakat Madani Perselingkuhan antara negara dengan kaum pemodal. Sosial. korban merupakan pihak yang tuna kuasa (powerless). sedangkan pemodal melakukan pelanggaran HAM melalui intervensi substansi sebuah produk kebijakan sehingga menghalangi terpenuhinya hak-hak seseorang.

Kesulitan bertambah manakala institusi yang bertanggung jawab terhadap urusan pendidikan melakukan tindakan kolutif dengan pemodal baik penerbit. et. orang tua siswa dibebani aneka pungutan. wisata belajar (study tour). Jakarta. Kasus perjanjian tukar guling (ruilslag) tukar guling terhadap SLTPN 56 Melawai terhadap antara Departemen Pendidikan Nasional dan PT Tata Disantara. seluruh siswa SLTPN 56 Melawai diwajibkan pindah ke SLTPN 56 di Jeruk Purut. Konstelasi demikian berdampak pada masifikasi pelanggaran HAM. Mendagangkan Sekolah :Studi Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di DKI Jakarta. anak perusahaan PT Abdul Latief Corporate menjadi bukti empric. seperti biaya ujian. Akibat ruilslag itu. seragam olahraga. daftar ulang. gejala komodifikasi pendidikan semakin menjauhkan akses bagi anak-anak miskin untuk menikmati pendidikan. konveksi. ICW. dan jas-jasa yang lain. buku paket.77 Akibatnya masyarakat madani sebagai pihak tuna kuasa (powerless) termarjinalkan dalam interaksi tersebut.kompas. Sebagaimana telah disinyalir oleh ICW dalam Buku ³Mendagangkan Sekolah :Studi Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di DKI Jakarta´. Dalam konteks pemenuhan hak anak atas pendidikan. 2004. Ambil rapor 30 Transportasi rapat MKS Biaya sampul rapor 31 Biaya perbaikan WC Biaya foto rapor 32 Iuran Korpri Biaya kartu bayaran 33 Pungutan subsidi beras Biaya ujian bersama 34 Biaya disket Biaya ujian tahunan 35 Biaya kursus Biaya ujian bayangan 36 Biaya komputer Biaya foto kopi ujian 37 Biaya nilai olah raga Biaya mencontek 38 Biaya mutasi guru/kepsek Biaya osis 39 Biaya les Biaya Ekstrakulikuler 40 Dana taktis sekolah Biaya hari besar nasional 41 Biaya perawatan sekolah Biaya komputer 42 Biaya pendalaman materi Usaha Kesehatan Sekolah 43 Perpustakaan Biaya keagamaan 44 Biaya opresional komite sekolah Biaya Infak 45 Biaya membeli kapur Biaya pompa 46 Biaya sarana olah raga Paling tidak ada 17 dana potongan ditemukan di sekolah dasar di Jakarta. biro perjalanan. pengusaha sepatu. Akibatnya biaya sekolah semakin merambat naik. bahwa pungutan-pungutan masih saja membebani orang tua peserta didik. Jakarta Selatan. Globalisasi ekonomi sebagai ruang interaksi antara ketiga elemen tersebut pada akhirnya menciptakan ketidaksetaraan relasi kuasa dimana pihak pemegang otoritas yakni negara menghamba pada kekuatan modal. seragam sekolah. rapor siswa.htm 78 Ade Irawan. bangunan sekolah. bahwa saat ini pemerintah berpihak pada kepentingan pemodal.com/kompas/cetak/0402/28/metro/882338. kegiatan ekstrakulikuler. 96-97 77 Kertas Posisi 2010 Kekerasan Anak di Institusi Pendidikan: Tinjauan Hak atas Pendidikan 22 . al. hal. Aneka pungutan tersebut meliputi : 78 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Jenis-jenis pungutan disekolah Pungutan No Pungutan Biaya formulir pendaftaran 24 Biaya sewa buku Biaya bangunan (awal tahun) 25 Biaya buku LKS Biaya seragam (Baju biasa) 26 Biaya buku sangkil Biaya seragam olahraga 27 Biaya buku pelajaran Biaya batik 28 Biaya kunti Biaya rapor 29 Iuran MKS Biaya adm.menikmati hak asasinya. Lihat www.

Jakarta.342.com/kompas/cetak/0505/03/utama/1725336. ´Prinsip-Prinsip van Bovenµ Mengenai Korban Pelanggaran Berat HAM. dana taktis sekolah. gaji guru honorer hingga mutasi kepala sekolah. dan Garut. dan Rehabilitasi. pemenuhan terhadap hak-hak korban tersebut harus dilihat sebagai bagian dari usaha pemajuan dan perlindungan HAM secara keseluruhan. uang LKS dan buku paket Rp 205.000 per siswa per tahun. Kupang.htm 81 Ifdhal Kasim. Realita ini menunjukkan bahwa hak konstitusional setiap warga negara untuk menikmati pendidikan dasar gratis. uang study tour Rp 191. seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Tegal. pada tingkat sekolah tidak terlaksana. Kecamatan Kramat. Eko dikenai pungutan sejumlah Rp 5. 2002.UKS. gagal ditunaikan oleh negara. perpustakaan. dan uang SPP Rp 187. Ruwet Dioni (37).673. Eko ditemukan menggantung diri menggunakan selendang di ruang tamu rumah mereka oleh ibunya. Selama satu tahun orang tua membayar tidak kurang dari Rp 1. kini terbaring dalam kondisi kritis di rumah sakit setelah sebelumnya ia berupaya bunuh diri. siswa kelas VI SD Kepunduhan 01. Yang melibatkan 1. jauh lebih besar dari uang BOS sebesar Rp 235. 81 Korban pelanggaran HAM didefisinikan oleh studi van Boven dengan merujuk pada Deklarasi Prinsip-Prinsip Dasar Keadilan bagi Korban Kejahatan dan 79 Bahkan ketika dana bantuan operasional sekolah (BOS) telah dikucurkan.000. Tidak ada HAM tanpa pemulihan atas pelanggarannya. menunjukkan pendidikan gratis di tingkat sekolah dasar masih impian. Jawa Tengah. Banyaknya biaya yang dibebankan kepada orang tua peserta didik. perayaan hari raya besar. sekolah tetap saja menarik berbagai macam pungutan termasuk sejumlah komponen yang telah dibiayai melalui dana BOS seperti biaya LKS dan buku paket. Data ini diperoleh dari ha sil survey yang dilakukan ICW di Jakarta. Semarang. Setiap pelanggaran terhadap HAM senantiasa menerbitkan kewajiban negara untuk mengupayakan pemulihan (reparation) kepada korbannya. xiii Kertas Posisi 2010 Kekerasan Anak di Institusi Pendidikan: Tinjauan Hak atas Pendidikan 23 .500 responden. Hingga Senin (2/5). pernyataan pemerintah bahwa setiap warga negera wajib sekolah minimal tingkat SMP dan gratis. Malahan aneka pungutan yang masih membebani orang tua peserta didik menjadi penyebab anak bunuh diri. Kabupaten Tegal. Lihat Kompas.79 Kasus 3: Upaya Bunuh Diri karena Menunggak Biaya Sekolah Akibat kemiskinan dan masih adanya berbagai bentuk pungutan di sekolah. Setiap bulan. Untuk kelas I SD. orang tua siswa dibebani uang pendaftaran Rp 206.570.80 Kasus tersebut sejatinya merupakan bentuk pelanggaran HAM oleh negara karena membiarkan institusi pendidikan menarik pungutan kepada orang tua peserta didik. Kasus upaya bunuh diri terkait masalah biaya pendidikan ini semakin menegaskan betapa sulit bagi orang-orang miskin untuk bisa mengakses pendidikan.740.515. korban masih tak sadarkan diri di ruang ICU Rumah Sakit Mitra Siaga Kabupaten Tegal. Hal ini sama artinya dengan mengatakan bahwa impunitas akan terus berlangsung apabila tidak ada langkah konkret untuk pemenuhan hak-hak korban pelanggaran HAM. pekan lalu. Kompensasi. Artinya. Upaya nekat tersebut dilakukan oleh Eko Haryanto (15). SPP.kompas. Tindakan tersebut diduga dilakukan korban lantaran ia malu gara-gara menunggak uang sekolah selama sembilan bulan.OSIS. uang ujian. hal. ELSAM. Kata Pengantar dalam Mereka yang Menjadi Korban : Hak Korban Atas Restitusi. uang pendaftaran dan bangunan. 28 Oktober 2005 80 Lihat http://www. Dengan demikian.225. Dengan demikian negera telah melanggar HAM warga negara atas pendidikan dasar.

bertautan dengan kebijakan negara dalam menyelenggarakan pendidikan yang mulai terkooptasi kepentingan pemodal. baik karena tindakan (by act) maupun karena kelalaian (by omission)«82 Perlu ditegaskan bahwa korban dalm pengertian yang digunakan dalam deklarasi di atas bukan hanya terbatas pada perseorangan atau kelompok yang mengalami secara langsung. bahkan juga bentuk-bentuk eksploitasi. viv 84 Agus Hartono. Relasi kekuasan seperti ini selain bersumber pada kebijakan juga bersumber pada ideology yang dipegang teguh oleh pendidik. orang yang menjadi tanggungannya atau orang dekatnya (their relatives). Buletin Kelopak. hal. Memahami Anak dalam Berpartisipasi . sedangkan obyek adalah pihak yang kehilangan keuntungan atau dirampas keuntungannya. termasuk cedera fisik maupun mental. Relasi kuasa ini mengakibatkan bentuk-bentuk peminggiran. Struktur sosial yang menindas peserta dididik dapat dilihat dalam gambar di bawah ini. Kondisi ini apabila ditelisik lebih jauh. Indonesia. Subyek ± obyek lebih dipahami menjadi logika penguasaan.83 Dalam konteks kekerasan di sekolah yang dilakukan oleh pendidik terhadap peserta didik dikarenakan terdapatnya relasi kuasa yang tidak seimbang di antara para pihak. 84 Dengan kata lain. Korban didefisinikan sebagai berikut : Orang yang secara individual maupun kelompok telah menderita kerugian. Di titik ini ada pihak yang menjadi subyek dan ada yang menjadi obyek. kekerasan. penderitaan emosional. penyingkiran. Pertautan tersebut dilingkupi kultur patriarkhis sehingga kurikulum dan upaya komodifikasi pendidikan semakin memarjinalkan peserta didik. dan orang-orang yang membantu atau mencegah agar tidak menjadi korban. penelantaran dan lain-lain pada pihakpihak yang ditandai sebagai ³si lemah´ pada konstruksi sosial yang dikuasai oleh ³si kuat´. relasi demikian menjadikan pendidik sebagai pelaku. Juni 2004.Penyalahgunaan Kekeuasaan (Declaration of Basic Principle of Justice for Victim of Crime and Abuse of Power) . di mana subyek adalah pihak yang mendapatkan keuntungan. peserta didik menjadi korban. diskriminasi. kerugian ekonomi atau perampasab yang nyata terhadap hak -hak dasarnya. 4 Kertas Posisi 2010 Kekerasan Anak di Institusi Pendidikan: Tinjauan Hak atas Pendidikan 24 . 82 83 ibid ibid. tetapi juga mencakup orang-orang yang secara tidak langsung menjadi korban seperti kelurga korban. hal. Peserta didik perempuan yang pada akhirnya menjadi korban yang paling menderita.

dan buku Disuruh berdiri Dibotakin kepala Disuruh lari Disuruh pompa Dicekik Diusir Disuruh pilih sampah Push Up Dijemur Dijitak Membersihkan WC Menyapu keliling sekolah Digiling tangan dengan pensil/pena Ditarik alis mata Disiram Diperkosa 85 Anak Perempuan Sering Kadang2 Kadang2 ¥ ¥ ¥ ¥ ¥ ¥ ¥ - ¥ ¥ ¥ ¥ ¥ ¥ ¥ ¥ ¥ ¥ ¥ ¥ ¥ ¥ - ¥ ¥ ¥ ¥ - ¥ ¥ ¥ ¥ ¥ ¥ ¥ ¥ ¥ ¥ ¥ ¥ ¥ Hasil Konsultasi Anak terhadap Kekerasan Tingkat Nasional Kertas Posisi 2010 Kekerasan Anak di Institusi Pendidikan: Tinjauan Hak atas Pendidikan 25 . 85 Bentuk Kekerasan Anak Laki-Laki Sering Fisik Dipukul Ditampar Dijewer Dicubit Ditendang Dilempar dengan penghapus. kapur. Tabel berikut mendeskripsikan lebih jauh dampak dari struktur tersebut. sapu.Negara Pemodal Kepala Sekolah Pendidik Peserta Didik Laki-Laki Peserta Didik Perempuan Struktur sosial sebagaimana tergambarkan di atas mengakibatkan terjadinya perbedaan pengalaman kekerasan pada anak laki-laki dan perempuan di sekolah.

86 Kekerasan dalam sekolah yang sering terjadi dalam bentuk penghukuman fisik (corporal punishment) yang dijadikan alat untuk mendisiplinkan murid di sekolah. 3. cit Kertas Posisi 2010 Kekerasan Anak di Institusi Pendidikan: Tinjauan Hak atas Pendidikan 26 . Kekerasan juga digunakan sebagai alat disiplin dan penghukuman di banyak institusi termasuk institusi keluarga dan sekolah. 8. menghilangkan/merusak barang Memanjat pagar. 17. 18. merokok Lupa bawa buku gambar Ngisengin teman. op. Kondisi ini terjadi dikarenakan ketidaksetaraan relasi kekuasaan antara pendidik dan peserta didik sebagaimana terefleksikan pada struktur hierarkis di atas. 13. 19. Dalam 86 87 Antarini Arna. melempar kaca tanpa sengaja. Penyebab Anak kurang disiplin Murid kurang sopan Murid meremehkan guru Keamanan sekolah kurang tegas Tidak mentaati peraturan Tidak mengerjakan PR Tidak mengikuti pelajaran Pulang sebelum bel berbunyi Berkelahi Melanggar peraturan sekolah (pakaian seragam) Menganggu dan mengejek Ribut di kelas Terlambat datang Melanggar tata tertib di sekolah Menganggu teman saat PBM berlangsung Mengejek. dapat terlihat dari identifikasi penyebab kekerasan di lingkungan sekolah.Jumlah Fisik Non Fisik Dimaki Dihina Dimarahi Diancam Dikatain Dibentak Dilecehkan Digertak Disumpahi Jumlah Non Fisik 7 ¥ ¥ ¥ 3 14 ¥ ¥ ¥ ¥ ¥ ¥ 6 4 ¥ ¥ ¥ 3 11 ¥ ¥ ¥ ¥ ¥ ¥ 6 Bentuk-bentuk Kekerasan tersebut di atas merupakan salah satu bentuk kontes kekuasaan orang dewasa terhadap anak yang di maksudkan agar anak merasa takut dan tunduk pada kemauan atau aturan yang dibuat oleh orang dewasa. mencontek Lebih jauh relasi sebagaimana digambarkan di atas juga menjadi sebab terjadinya pelecehan seksual (sexsual harassment) di lingkungan sekolah. 12. cit Hasil Konsultasi Anak terhadap Tindak Kekerasan Tingkat Nasional . 2. 14. 15. 9. Relasi kuasa antara pendidik dan peserta didik yang mengakibatkan terjadinya kekerasan di sekolah. 6. op. 5. Analisis Konsultasi Anak Nasional. 16. 10. Hasil Konsultasi Anak terhadap Kekerasan Tingkat Nasional mengambarkan bentuk penghukuman fisik sebagai alat mendisiplinkan peserta didik sebagaimana tampak pada tabel berikut :87 Lingkup Sekolah 1. 4. 7. 11.

Desentralisasi Kurikulum dan Evaluasi Belajar. CRC Committee mengidentifikasi permasalahan pendidikan di Indonesia. Dalam konteks sosiologi.90 Lihat Concluding Observation CRC Committee . Relasi pada dimensi pertama menjadikan anak sebagai korban akibat ketidaksetaraan relasi antara peserta didik dengan pendidik. dapat juga dilakukan oleh peserta didik laki-laki baik teman sebaya maupun kakak kelas. di mana sekolah merupakan unit pendidikan yang keberadaannya dipandang dan diperlakukan hanya sebagai pelaksana ketentuan dari kekuatan atau struktur di luar dirinya. Kekerasan di sekolah yang kerap terjadi di Indonesia mendapat perhatian dari . Dalam arti pendidik adalah korban penerapan kebijakan pendidikan yang ditetapkan oleh negara melalui Departemen Pendidikan Nasional yang terefleksi dalam kurikulum. Lihat AJE Toenlioe. Dalam perspektif HAM kondisi demikian menerbitkan kewajiban negara untuk menghapus praktik-praktik kekerasan yang masih terjadi sampai saat ini. bahkan menimbulkan berbagai dampak negative. negara mendeklarasikan sendiri kewajibannya untuk melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia. Kedua. www. yang notabene sebagai ujung tombak pelaksana system pendidikan. relasi antara negara dalam hal ini institusi yang berwenang mengurusi sector pendidikan dengan penyelenggara pendidikan. Pembukaan UUD 1945 sebagai recht idée atau state fundamental norm. Paradigma ini memang pernah populer dan digunakan sebagai acuan pembangunan berbasis industri di berbagai negara. perspektif Galtung yang mentesiskan bahwa kultur patriarkhi ini dapat menjadi sumber dan inspirasi terjadinya kekerasan langsung di lingkungan sekolah relevan dalam kasus pelecehan seksual. sentralisasi pengelolaan pendidikan di negeri ini melaui penetapan krikulum KBK lebih kurang sejalan dengan paradigma struktur sosial. lihat paragraph 61 butir e. Bisa jadi kurikulum yang ditetapkan pemerintah bersumber dari kultur patriarkhis yang masih menjadi paradigma para pengambil kebijakan.89 Kurikulum yang diterapkan di Indonesia sebagaimana telah disinyalir oleh Francois Wahono membuahkan tindakan kekerasan di sekolah-sekolah. Di sisi lain kekerasan yang dipicu oleh kurikulum yang ditetapkan negara merupakan kekerasan struktural. UUD 1945 sebagai konstitusi suatu negara sejatinya telah memenuhi konstitusi negara demokratis karena telah menjamin pemenuhan HAM warga negaranya.com/kompas/cetak/0312/08/didaktika/722837. Dalam titik ini. CRC Committee melalui Concluding Observation CRC Committee tentang pemenuhan hak khususnya hak Pendidikan. Kewajiban ini terbit karena 2 (dua) hal ini. yang kemdian dielaborasi ke dalam batang tubuh UUD 1945. Galtung mengkategorikan kekerasan relasi dimensi pertama sebagai kekerasan langsung. namun kini mulai ditinggalkan karena terbukti tidak memberikan hasil memuaskan. menjadi korban. pertama. 89 88 Kertas Posisi 2010 Kekerasan Anak di Institusi Pendidikan: Tinjauan Hak atas Pendidikan 27 . dalam hal ini institusi sekolah. pertama relasi antara peserta didik dengan pendidik. Karenanya pelaku pelecahan seksual di sekolah pelakunya selain pendidik. salah satunya adalah masih sering terjadinya kekerasan terhadap anak di sekolah tinggi dan tidak ada peraturan yang melarang pendisiplinan murid dengan menggunakan hukuman fisik. Sementara relasi dimensi kedua menjadikan pendidik.konteks pelecehan seksual tentu saja peserta didik perempuan menempati posisi yang paling rentan karena sekolah sebagai institusi pendidikan masih dilingkupi kultur patriarkhi yang terefleksikan dalam perbedaan pengalaman antara peserta didik perempuan dan peserta didik laki-laki.kompas.htm 90 Deklarasi ini tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 sebagai tujuan didirikannya negara ini. Relasi kedua dimensi tersebut dalam system pendidikan di Indonesia menghasilkan korban. 88 Kekerasan Anak di Sekolah dalam Tinjauan Hukum HAM Kekerasan pada anak pada institusi pendidikan dalam perspektif sosilogis mengandung 2 (dua) dimensi.

91 Dalam titik ini terbit 3 (tiga) kewajiban utama untuk melindungi HAM yakni : 1. CRC Committee pada 35th session dalam Consideration of Report Submitted By States Parties under article 44 of The Convention khususnya dalam Concluding Observation CRC Committee on Indonesia paragraph 41 menegaskan bahwa angka anak menjadi korban tindak kekerasan. dan merendahkan martabat manusia. perlakuan buruk atau eksploitasi. dan semua tindakan lain yang memadai guna pelaksanaan sepenuhnya dari semua hak tersebut. Padahal tindak kekerasan berupa penghukuman fisik bertentangan dengan Konvensi Anti Penyiksaan. Dalam konteks kekerasan langsung yang terjadi di sekolah maka hak-hak sipil dan politik peserta didik yang melekat mendapatkan halangan (obstacle) karena dominasi pengaruh pendidik. Terjadinya tindak kekerasan disekolah sebagaimana telah dipaparkan di atas menjadi bukti empiris bahwa kekerasan masih mewarnai system pendidikan kita. dan Budaya. dan pendidikan yang tepat untuk melindungi anak dari semua bentuk kekerasan fisik atau mental. anggaran. apabila kekerasan di sekolah yang masih berlangsung sampai saat ini jika ditilik dengan Konvensi Hak Anak maka negara telah gagal menunaikan kewajibannya sebagaimana diamanat Pasal 37 yang menandasakan bahwa negara harus menjamin tidak seorang pun anak dapat dijadikan sasaran penganiayaan. Tingkatan kedua. yakni Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik dan Kovenan Hak-Hak Ekonomi. Sosial. Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial (CERD). Konvensi Anti Penyiksaan (CAT). tidak manusiawi atau penghinaan. KHA dalam Pasal 28 ayat (2) malah mewajibkan negara 91 Republik Indonesia bahkan telah meratifikasi 2 (dua) instrument hokum HAM yang dikenal dengan instrument bill of right. yakni kewajiban untuk memenuhi menerbitkan kewajiban negara untuk mengambil tindakan-tindakan legislative. tidak manusiawi atau hukuman yang menghinakan. atau perlakuan kejam yang lain. Terkait dengan kewajiban ini. Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (CEDAW). administrative. penelantaran atau perlakuan alpa. Menghargai (to respect human right) 2. negara mempunyai komitmen untuk menegakkan kewajibannya sebagai negara pihak (state party) instrument hukum HAM internasional melalui tindakan hukum ratifikasi. termasuk penyalahgunaan seks selama dalam pengasuhan orang tua. Sosial. lukaluka atau penyalahgunaan. hukum. tidak manusiawi. administrasi. Memenuhi (to fulfill human right) Tingkatan pertama. Tingkatan ketiga. Dalam konteks hak atas pendidikan bagi anak. wali hukum atau orang lain manapun yang mempunyai tanggung jawab mengasuh anak. 92 Pedoman Maastricht Untuk Pelanggaran Hak-Hak Ekonomi.Kedua. sosial. Melindungi (to protect human right) 3. Kemudian. Konvensi tersebut secara tegas melarang bentuk-bentuk perlakuan atau penghukuman yang kejam. yakni kewajiban untuk melindungi mengharuskan negara untuk mencegah pelanggaran hak oleh pihak ketiga. penyalahgunaan kekuasaan dan pengabaian. implementasi jaminan pemenuhan dan perlindungan HAM yang telah dijamin secara lengkap secara yuridis baik dalam hukum internasional maupun hukum domestic belum ditunaikan. yakni kewajiban untuk menghargai menerbitkan kewajiban negara untuk menahan diri tidak mencampuri dinikmatinya hak-hak asasi warga negaranya. dan Budaya Kertas Posisi 2010 Kekerasan Anak di Institusi Pendidikan: Tinjauan Hak atas Pendidikan 28 . Pasal 19 mewajibkan negara untuk mengambil semua tindakan legislative. Sebelum Republik Indonesia telah mengikatkan diri pada : Konvensi Hak Anak (CRC). Kovenan Hak-Hak Sipil dan Politik dalam Pasal 7 menegaskan bahwa tidak seorangpun yang boleh dikenakan siksaan atau perlakuan atas hukuman yang kejam. termasuk pelecehan seksual masih terjadi di institusi-institusi pendidikan Indonesia.92 Namun realitanya.

Zen. jenis kelamin. Apa Bisa? Dialog tentang Hak Setiap Orang Atas Pendidikan dalam Kumpulan Tulisan HAM Dalam Praktik di Indonesia. jika menilik alokasi anggaran pendidikan yang dianggarkan sampai saat ini belum memenuhi kewajiban konstitusional. kelahiran. artinya institusi ± bangunan dan fasilitas sekolah yang memadai dan program-program pendidikan untuk setiap orang. harta kekayaan. artinya format. cacat. warna kulit. dapat disesuaikan dengan perubahan situasi masyarakat. Lebih jauh ayat 2 mewajibkan mengambil langkahlangkah yang diperlukan untuk menjamin bahwa anak dilindungi dari semua bentuk diskriminasi. 2) Aksesibilitas. Hak atas pendidikan sebagai salah satu rumpun hak-hak ekonomi. bahasa. metode pengajaran mesti berkesesuaian dengan situasi. hal. dan budaya anak-anak. Namun. institusi dan program-program pendidikan. dan Budaya untuk menetapkan criteria terpenuhinya hak atas pendidikan. 2005. 95 Saat ini banyak tanda yang mengindikasikan dan mengarah pada kehancuran negara dan bangsa Indonesia. Ketentuan Kovenan Hak-Hak Ekonomi.19. untuk melindungi hak-hak anak secara sui generis diundangkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 93 Indikator tersebut diinterpretasikan oleh Committee on Economic. Jakarta. Lebih jauh komitmen untuk memenuhi hak pendidikan bertambah manakala Millenium Development Goals (MDG¶s) disepakati oleh negara Indonesia.untuk mengambil semua langkah yang tepat untuk menjamin bahwa disiplin sekolah dilaksanakan dalam cara yang sesuai dengan martabat manusia anak dan sesuai dengan konvensi ini. pandangan politik. Pendidikan Dasar Gratis. Lihat Kompas. suku bangsa atau social. YLBHI. Sosial. dan budaya terpenuhi apabila indicator berikut terefleksikan dalam penyelenggaraan sistem pendidikan. yakni: 93 1) Ketersediaan lembaga. Social. maka dapat dikatakan negara telah gagal melaksanakan landasan filosofis tujuan negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. kondisi dan budaya siswa. atau status lain dari anak atau dari orang tua anak atau walinya yang sah menurut hokum. sosial.94 Artinya hak pendidikan harus diberlakukan sama kepada setiap anak tanpa memandang perbedaan apa pun. termasuk dapat diakes secara ekonomis. Lihat A. Patra M. dan Budaya dapat dijadikan indicator untuk mengeksaminasi sampai sejauhmana kewajiban negara menjamin hak -hak warga negaranya. substansi pendidikan seperti kurikulum. a nd Cultural / Komite Hak Ekonomi.95 Sebangun dengan instrument hukum internasional di atas. Dalam sector pendidikan disepakati kewajiban negara untuk mewujudkan pendidikan dasar bagi semua dengan jaminan agar semua anak perempuan dan laki-laki menyelesaikan jenjang pendidikan dasar pada tahun 2015. artinya setiap orang punya akses atas lembaga. artinya pendidikan mesti fleksibel. 4) Adaptibilitas. Sosial. agama. Sedangkan kekerasan struktural dan cultural di samping membuahkan pelanggaran hak-hak ekonomi. Salah satu indikasinya adalah hampir semua sumber daya yang dimiliki negara digunakan untuk membayar utang kepada pihak lain bukan untuk kesejahteraan rakyat. Alokasi anggaran untuk sector pendidikan dapat dijadikan sebagai indicator untuk mengeksaminasi itikad baik negara untuk menjamin pemenuhan hak anak atas pendidikan. Indikator ini merupakan kewajiban untuk mencapai hasil (obligation of result) yang harus dielaborasi melalui rangkaian kebijakan yang terukur dan terencana (obligation of conduct) sehingga target dalam MDG¶s terealisasi. sosial. yang mengharuskan anggaran pendidikan minimal 20% dari total APBN. asal usul bangsa. 94 Pasal 2 KHA menegaskan negara mengormati dan menjamin hak-hak anak tanpa diskriminasi dalam bentuk apapun tanpa memandang ras. 3) Akseptibilitas. 24 Oktober 2005 Kertas Posisi 2010 Kekerasan Anak di Institusi Pendidikan: Tinjauan Hak atas Pendidikan 29 . Indikator di atas dapat dikerangkakan dalam perspektif prinsip KHA yakni prinsip non diskriminasi.

Selubung kultur yang memandang bahwa kekerasan di sekolah merupakan wilayah domestic sekolah sudah saatnya disingkap. Ketentuan Pasal 59 malahan mewajibkan pemerintah dan lembaga negara lainnya memberikan perlindungan khusus kepada anak korban tindak kekerasan baik kekerasan fisik dan/atau mental. (3) Dalam hal anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) mati. atau pihak manapun yang bertanggung jawab atas pengasuhan.2002 tentang Perlindungan Anak. atau penganiayaan terhadap anak. melindungi.000. berhak mendapatkan perlindungan dari kekejaman.00 (seratus juta rupiah). maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100. Hak anak untuk bebas dari kekerasan telah dijamin dalam ketentuan Pasal 13 yang menyatakan bahwa setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua. maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 200. kekerasan. wali. kekerasan atau ancaman kekerasan. CRC Committee merekomendasikan untuk menciptakan system nasional untuk menerima. dalam perspektif ilmu hukum. negara diwajibkan memberi sanksi. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.00 (dua ratus juta rupiah). Dalam konteks perlindungan anak. dan ayat (3) apabila yang melakukan penganiayaan tersebut orang tuanya. terutama menjamin kebebasan anak dari kekerasan di sekolah. menurut Pasal 69. Terkait dengan penghukuman fisik (corporal punishment) yang masih sering terjadi di lingkungan sekolah yang secara cultural diterima. Pemberian sanksi kepada pelaku.000. namun implementasinya terbentur kultur masyarakat yang masih Kertas Posisi 2010 Kekerasan Anak di Institusi Pendidikan: Tinjauan Hak atas Pendidikan 30 .000.00 (tujuh puluh dua juta rupiah). Institusi kepolisian dan institusi kejaksaan menjadi ujung tombak untuk mengungkapkan tindak pidana yang terjadi dalam masyarakat. Dalam konteks kekerasan di sekolah.000. dan memenuhi hak anak. Bagi para pelaku tindak kekerasan. ayat (2). Terkait dengan permasalahan tersebut. CRC Committee merekomendasikan untuk merubah peraturan perundangundangan guna melarang penghukuman fisik di sekolah. kekerasan terhadap anak merupakan tindak pidana dan terhadap pelakunya diancam hukuman pidana. dan penganiayaan.000. sudah seharusnya kepolisian dan kejaksaan memainkan otoritasnya sebagai penegak hukum. kemudian disahkan menurut hukum.000. Sanksi pidana pertanggung jawabannya dibebankan kepada setiap individu pelaku tindak pidana (individual responsibility). dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp 72. Meskipun kekerasan langsung terhadap anak telah dijamin dalam peraturan perundangan. (2) Dalam hal anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) luka berat. Intervensi negara dalam penegakan hukum pidana menjadi signifikan. Dalam titik ini diperlukan tindakan negara untuk mengemban kewajiban untuk menghargai. Kewajiban ini telah diamanatkan dalam Concluding Observation CRC Committee on Indonesia paragraph 42. Undang-undang ini merupakan upaya negara untuk mengkriminalisasi kekerasan terhadap anak. (4) Pidana ditambah sepertiga dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Kemudian memastikan para pelaku tindak kekerasan tersebut sepatutnya dituntut. dan menginvestigasi pengaduan-pengaduan serta mengusut kasus kekerasan di sekolah. Pasal 80 secara tegas menyatakan : (1) Setiap orang yang melakukan kekejaman. memasuki ranah hukum pidana. memantau.

Ketiga. 2001. pengacara. anggota parlemen. yakni persepsi. dan pengadilan. kultur hukum (culture of law). Advokasi Kebijakan Publik : Ke Arah Suatu Kerangka Kerja Terpadu dalam. Bila dugaan Purniati benar. manakala kekerasan tersebut merupakan kekerasan seksual. LSPP. hal. atau aspek tekstual dari sistem hukum yang berlaku. Lihat Candra Gautama. Memang dampak kekerasan dan pengalaman kekerasan yang dialami pesera didik perempuan dan laki-laki berbeda. jaksa. Purniati Mangunsong memperkirakan jumlah korban perkosaan di Indonesia setiap tahun mencapai 1500-2000 orang atau lebih. Bahkan diantara murid perempuan yang satu dengan yang lain 96 Roem Topatimasang. 53 Kertas Posisi 2010 Kekerasan Anak di Institusi Pendidikan: Tinjauan Hak atas Pendidikan 31 . birokrasi pemerintah. partai politik. tentara. terdapat kesenjangan antara isi hukum. Sehingga tindak kekerasan terhadap anak sampai saat ini belum cukup mendapat perhatian dari institusi terkait. tata laksana hukum. Panduan bagi Jurnalis. tetapi dalam hal ini lebih dititikberatkan pada naskah (text) hukum tertulis. praktek-praktek pelaksanaan. yakni semua perangkat kelembagaan dan pelaksana dari dari isi hukum yang berlaku. Meski demikan. Ada juga kebijakan-kebijakan yang lebih merupakan kesepakatan umum (konvensi) tidak tertulis. Padahal doktrin ilmu hukum berprinsip ketentuan hukum yang khusus mengesampingkan ketentuan hukum yang umum (lex specialis derogate lex generalis). dan kultur hukum. Dalam kaitannya dengan implementasi suatu peraturan perundangundangan tidak terlepas dari 3 (tiga) factor yang membentuk sistem hukum (system of law) yang terdiri dari : Pertama. pejabat pemerintah. Dalam konteks implementasi Undang-Undang Perlindungan Anak. Pact dan Insist. 41 97 Kalyanamitra. hal. Hal ini dapat dilihat bahwa kasus-kasus kekerasan terhadap anak masih saja terjadi di berbabagi penjuru tanah air dan pelaku kekerasan tersebut tidak mendapatkan sanksi hukum. berdasarkan berita dari berbagai media massa periode 1994-1996 mengungkapkan bahwa 60% dari 871 korban perkosaan atau 524 adalah anak-anak usia 0-17 tahun. 96 Kedua. tata laksana hukum (structure of law). seperti kepolisian. sikap penerimaan. Sementara itu. dll) dan aparat pelaksananya (hakim. Seringkali pihak yang berwenang tidak menganggap kekerasan di sekolah sebagai tindak pidana. dan pengadilan mendasarkan penyelidikan. penjara. pihak kepolisian. Malahan apabila korban hamil dipaksa keluar dari sekolah dan tidak dapat melanjutkan studinya. Persoalan bertambah pelik. Yogyakarta. berdasarkan persentase yang dibuat oleh Kalyanamitra maka jumlah anak-anak usia 0-17 tahun adalah 900-1200 anak. 2000. hal ini merupakan µaspek kontekstual¶ dari sistem hukum yang berlaku. penafsiran terhadap dua aspek sistem hukum di atas: isi dan tata-laksana hukum. Apalagi sekolah-sekolah yang terletak di lingkungan sosial yang terlalu memercayakan penuh pendidikan anak pada sekolah. peraturan-peraturan dan keputusan-keputusan pemerintah. Jakarta. Karena itu. yakni uraian atau penjabaran tertulis dari suatu kebijakan yang tertuang dalam bentuk peraturan perundang-undangan. Kalaupun pelakunya diproses secara hukum. Dalam pengertian ini tercakup lembaga-lembaga hukum (pengadilan. tetap harus diingat bahwa angka ini hanya mencakup kasus perkosaan dan tidak mewakili kasus-kasus kekerasan seksual dan eksploitasi seksual.memberikan toleransi karena masyarakat menganggap kekerasan di sekolah merupakan upaya mendisiplinkan anak. penuntutan. isi hukum (content of law).97 Korban akan mendapatkan penderitaan yang lebih kemudian dipersalahkan (blaming the victim) oleh komunitas yang melingkupinya. Merubah Kebijakan Publik. dll). kejaksaan. dan proses peradilannya pada Kitab KUHP dan KUHAP bukan merujuk pada Undang-Undang Perlindungan Anak. kejaksaan. karena kasus perkosaan sering tidak dilaporkan. Konvensi Hak Anak. Dalam pengertian ini juga tercakup bentuk-bentuk tanggapan (response) masyarakat luas terhadap pelaksanaan isi dan tata-laksana hukum tersebut. polisi. pemahaman.

Dalam hal ini. dan partisipasi berbagai pihak di luar negara. kejahatan dan pelanggaran hak-hak asasi lainnya.akan berbeda dampak dan pengalamannya. berpeluang besar menimbulkan pelanggaran dan kejahatan HAM yang lain. hanya dapat dilaksanakan secara berarti setelah seseorang memperoleh tingkat pendidikan minimum. 99 Lihat Pasal 81 : (1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.99 Perbedaan persepsi diantara unsurunsur penegak hukum (criminal justice system) menyangkut pemahaman tentang bentuk-bentuk kekerasan dan elemen-elemennya. namun bertautan dengan HAM yang lain.00 (enam puluh juta rupiah). Jakarta.000. Pengeyaman banyak hak sipil dan politik. melakukan tipu muslihat. atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul. hal. tidak dapat dicegah atau bahkan dibiarkan oleh negara (violence by omission). Hak atas pendidikan walaupun dianggap sebagai hak kebudayaan. Ifdhal Kasim & Johanes da Masenus Arus.00 (enam puluh juta rupiah). Pendidikan merupakan prasayarat bagi pelaksanaan HAM. serangkaian kebohongan. Untuk kasus kekerasan seksual dampaknya selain luka secara fisik dasn psikis. memaksa.00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60. berpotensi besar mendapat ancaman.000. Hak atas Pendidikan. diskriminasi. 212 -213 Kertas Posisi 2010 Kekerasan Anak di Institusi Pendidikan: Tinjauan Hak atas Pendidikan 32 . Dengan kata lain. perkosaan. 2001. atau tidak langsung (state sponsored) misalnya melalui berbagai sarana. dan Budaya : Esai -Esai Pilihan. dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300. cara.000. (2) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku pula bagi setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat. dan budaya seperti hak untuk memilih pekerjaan. untuk menikmati keuntungan kemajuan ilmu pengetahuan dan mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi berdasarkan kemampuan. khususnya anak-anak yang tidak memperoleh pendidikan dasar.000. hak untuk mengambil bagian dalam kehidupan budaya.00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60. dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300. menjadi factor yang signifikan tidak terungkapnya kekerasan seksual dan justru pada akhirnya menguntungkan pelaku. Lihat pula Pasal 82 Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan. Kekerasan langsung kepada anak berdampak luka secara fisik dan psikis anak. Sosial. banyak hak-hak ekonomi.98 Sementara pelaku tidak memperoleh dampak sebagaimana diderita oleh korban. penganiayaan.000. hak untuk memilih dan dipilih.000.000. Keterlibatan negara bisa jadi bersifat langsung misalnya melalui kebijakan maupun melalui tindakan apartus (state directed). negara sendiri bisa dianggap melakukan tindak kekerasan ketika berbagai kejadian yang menimpa anak-anak peserta didik di sekolah. berkumpul dan berorganisasi. Elsam. 100 Lihat Pasal 28 dan Pasal 29 KHA 101 Manfred Nowak. Perspektif feminisme menjunjung tinggi nilai pengalaman p erseorangan. atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.100 Sejalan dengan itu. sosial. seperti kebebasan atas informasi.000. korban kehilangan masa depannya karena mendapatkan stigma dan tidak diperbolehkan meneruskan sekolah. seperti pelecehan seksual. hak atas kesamaan atas layanan public bergantung pada sekurang-kurangnya suatu tingkat pendidikan minimum. dalam Hak-Hak Ekonomi.101 Dengan kata lain pelanggaran hak pendidikan khususnya pendidikan dasar berdampak pada pemenuhan hak-hak anak. serangkaian kebohongan. Dalam perspektif hukum HAM. Oleh karenanya akses terhadap pendidikan dasar menjadi signifikan karena : (1) tidak terpenuhinya hak ini. seseorang. kebebasan berekspresi. Anak-anak dari keluarga miskin yang tak bisa bersekolah rentan menjadi 98 Diperlukan perspektif feminisme untuk melihat dampak dan pengalaman kekerasan yang dialami oleh peserta didik perempuan. Sedangkan kekerasan struktural dan cultural berdampak pada hilangnya akses untuk dapat menikmati HAM yang lain. kondisi ini menempatkan negara sebagai pelaku pelanggaran HAM.

Tidak ada HAM tanpa pemulihan atas pelanggarannya. retitusi108.102 Sebagaimana telah dipapar di atas. pendidikan. studi van Boven mengemukakan bahwa hak-hak korban pelanggaran HAM secara komprehensif tidak hanya terbatas pada hak untuk tahu (right to know) dan hak atas keadilan (right to justice). ibid Kertas Posisi 2010 Kekerasan Anak di Institusi Pendidikan: Tinjauan Hak atas Pendidikan 33 . op. viv 106 Ifdhal Kasim. kerja paksa dan bentuk-bentuk eksploitasi lainnya. Dengan demikian. Kata Pengantar dalam Mereka yang Menjadi Korban : Hak Korban Atas Restitusi. xiii 104 ibid 105 ibid. xvi 108 Restitusi merupakan kewajiban pengembalian harta milik atau pembayaran atas kerusakan. kerugian ekonomi atau perampasab yang nyata terhadap hak-hak dasarnya. tetapi juga mencakup orang-orang yang secara tidak langsung menjadi korban seperti kelurga korban. seperti perawatan kesehatan mental dan fisik. setiap pelanggaran HAM yang menimbulkan korban senantiasa menerbitkan kewajiban negara untuk mengupayakan pemulihan (reparation) kepada korbannya. hal. 103 Korban pelanggaran HAM didefisinikan melalui studi van Boven dengan merujuk pada Deklarasi Prinsip-Prinsip Dasar Keadilan bagi Korban Kejahatan dan Penyalahgunaan Kekeuasaan (Declaration of Basic Principle of Justice for Victim of Crime and Abuse of Power) . Lihat. Hal ini sama artinya dengan mengatakan bahwa impunitas akan terus berlangsung apabila tidak ada langkah konkret untuk pemenuhan hak-hak korban pelanggaran HAM. ibid 109 Rehabilitasi merupakan kewajiban untuk memulihkan korban secara medis dan social. cit. ELSAM. 2002.buruh kasar. termasuk cedera fisik maupun mental. hal. Kompensasi. hal. Prinsip-Prinsip van Boven. ´Prinsip-Prinsip van Bovenµ Mengenai Korban Pelanggaran Berat H AM. Ifdhal Kasim. Pendidikan Dasar Gratis. Aspek-aspek pemulihan bagi korban meliputi kompensasi107. penderitaan emosional. Apa Bisa? Dialog tentang Hak Setiap Orang Atas Pendidikan. sebagai ³kendaraan´ utama bagi setiap orang dan keluarga terlepas dari kemiskinan ekonomi dan keterpurukan sosial serta mewujudkan pemenuhan hak berpartisipasi dalam masyarakat. baik karena tindakan maupun karena kelalaian«104 Perlu ditegaskan bahwa korban dalam pengertian yang digunakan dalam deklarasi di atas bukan hanya terbatas pada perseorangan atau kelompok yang mengalami secara langsung. (2) Pendidikan dapat dipandang sebagai upaya pemberdayaan. ibid. Korban didefisinikan sebagai berikut : Orang yang secara individual maupun kelompok telah menderita kerugian. dan tanah. dan Rehabilitasi. op. Prinsip-Prinsip van Boven. orang yang menjadi tanggungannya atau orang dekatnya dan orang-orang yang membantu atau mencegah agar tidak menjadi korban. penggantian baiaya-biaya yang timbul sebagai akibat jatuhnya korban atau penyediaan jasa oleh pelakunya sndiri. Jakarta. pemberian pekerjaan. Patra M.. rehabilitasi109. 19-20 103 Ifdhal Kasim. cit. 106 Pemulihan adalah hak yang menunjuk kepada semua tipe pemulihan baik material maupun non material bagi para korban pelanggaran HAM. kepuasan (satisfaction) dan jaminan 102 Lihat A. Lihat Ifdhal Kasim. hal. Zen. . xv 107 Kompensasi merupakan kewajiban yang harus dibayarkan dalam bentuk uang tunai atau diberikan dalam berbagai bentuk. tetapi mencakup juga hak atas reparasi (right to reparation). perumahan. pemenuhan terhadap hak-hak korban tersebut harus dilihat sebagai bagian dari usaha pemajuan dan perlindungan HAM secara keseluruhan.105 Terkait dengan upaya pemulihan korban. atau kerugian yang diderita.

Sedangkan kekerasan secara struktural dan cultural. New York. Pengaturan serupa juga terdapat pada Pasal 1 Konensi Anti Penyiksaan. dan memenuhi hak-hak anak. negara sebagai pelaku dibebani kewajiban untuk menjamin kepuasan dan tidak terulangnya kekerasan terhadap anak. dan tindakan apparatus untuk memastikan perlindungan anak 4. wali hukum atau orang lain manapun yang memiliki tanggung jawab mengasuh anak. sosial dan pendidikan yang tepat untuk melindungi anak dari semua bentuk kekerasan fisik atau mental.110 Dalam konteks kekerasan langsung. cit. Konvensi yang secara sui generis mengatur hak anak yakni Konvensi Hak Anak (KHA) telah diratifikasi melalui Keputusan Presiden Nomor Nomor 36 Tahun 1990. khususnya bagian pendidikan sebagaimana telah dipaparkan di atas. Sebaliknya. hal. perlakuan buruk atau eksploitasi. tidak mampu sepenuhnya memulihkan korban pada keadaannya semula. Meninjau kembali secara komprehensif semua peraturan perundangundangan. Prinsip-Prinsip van Boven. hal. Kelemahan ini terlihat dalam kesimpulan akhir concluding observation CRC Committee 35th session.111 Kewajiban ini terbit karena Republik Indonesia telah meratifikasi instrument Hukum HAM Internasional. ibid 111 Ifdhal Kasim. xvii 112 Lihat Pasal 37 butir (a) KHA. 1998. Identifikasi mitra yang relevan seperti LSM/masyarakat madani 3. penelantaran atau perlakuan alpa. persoalannya adalah kelemahan negara dalam menunaikan kewajiban untuk menghargai. 113 Kewajiban untuk melakukan affirmative action merupakan kewajiban konstitusional negara sebagaimana telah diatur dalam Pasal 28 H ayat 2. restitusi. Implementasi kewajiban ini meliputi tindakan-tindakan sebagai berikut :114 1. Memang upaya pemulihan ini sebagaimana diungkapkan oleh van Boven. 114 Rachel Hodgkin & Peter Newell. tidak manusiawi atau hukuman yang menghinakan. USA. 253 Kertas Posisi 2010 Kekerasan Anak di Institusi Pendidikan: Tinjauan Hak atas Pendidikan 34 . hal ini justru memberikan tekanan imperative kepada pelaku maupun negara untuk memenuhi hak-hak korban tersebut. UNICEF. Pasal 7 Kovenan Hak Sipil dan Poltik. Seharusnya negara mengambil langkah-langkah yang diperlukan bagi terpenuhinya hak-hak anak melalui tindakan afirmatif (affirmative action) mengingat kondisi rentan anak-anak. Indentifikasi dan koordinasi institusi yang bertanggung jawab terhadap perlindungan anak pada semua tingkatan pemerintahan 2. op. individu sebagai pelaku dibebani kewajiban untuk memulihkan korban melalui kompensasi. Mengadopsi strategi untuk menjamin implementasi secara penuh perlindungan anak antara lain : 110 Sedangkan kepuasan dan jaminan tidak terulangnya pelanggaran merupakan bagian dari kewajiban negara dan bentuk khusus dari reparasi.112 Meskipun KHA telah diratifikasi. dan rehabilitasi. termasuk penyalahgunaan seks selama dalam pengasuhan orang tua. melindungi. KHA menegaskan kewajiban negara untuk menjamin tidak seorang anak pun dapat dijadikan sasaran penganiayaan atau perlakuan kejam yang lain.113 Kewajiban afirmatif merupakan pelaksanaan ketentuan Pasal 19 ayat 1 KHA yang menegaskan bahwa negara harus mengambil semua tindakan legislative. kebijakan. administrative. Implementation Handbook for The Convention on The Rihgts of The Child.terhadap tidak terulanginya lagi pelanggaran (guarantees of non-repetition). Kenyataan tidak dapat diperbaikinya pelanggaran tersebut bukan berarti lalu haj-hak korban itu menjadi sia-sia atau useless. luka-luka atau penyalahgunaan.

dalam Jurnalisme Anak Pinggiran. hal 36 116 ibid. Pembagian anggaran public yang proporsional untuk belanja sosial bagi kepentingan anak. Melakukan sosialisasi secara meluas kepada orang dewasa dan anak-anak 8. Jakarta. Suatu Peluang dan Tantangan. Mengembangkan mekanisme monitoring dan evaluasi 7. Children Mainstreaming. Children mainstreaming policy merupakan kebijakan yang menempatkan isu anak ke dalam isu pembangunan dan mengkaitkan semua analisis pembangunan berdasarkan prinsip kepentingan yang terbaik untuk anak.115 Terkait dengan prinsip ini. Membuat kebijakan yang berdampak secara kondusif untuk melidungi anak c. termasuk kesehatan. Menjalin kerjasama internasional 5. Children mainstreaming policy menjadi solusi terbaik untuk memecahkan persoalan-persoalan yang melingkupi anak-anak. Terdapatnya kecenderungan kenaikan anggaran public untuk kepentingan anak 4. kesejahteraan. Mengambil langkah-langkah untuk memastikan terdapatnya koordinasi antara kebijakan ekonomi dan sosial 2. dan pendidikan baik antara pemerintah pusat dan daerah. Melakukan analisa alokasi anggaran dan sumber daya 6. Tindakan-tindakan yang diambil untuk memastikan bahwa anak-anak khususnya kelompok anak yang tidak beruntung mendapatkan perlindungan terhadap risiko perubahan kebijakan ekonomi termasuknya pengurangan alokasi anggaran untuk sector sosial Sebangun dengan langkah di atas Rekomendasi CRC Committee dalam paragraph 63 terkait dengan masalah hak anak atas pendidikan menegaskan langkah -langkah sebagai berikut : 1. Mengambil langkah-langkah untuk memastikan bahwa semua kompetensi nasional dan daerah berdasarkan pada kepentingan terbaik untuk anak termasuk para pengambil kebijakan anggaran public dan mengevaluasi penetapan prioritas terhadap para pengambil kebijakan 5. The Guideline for Periodic Report memaparkan hal-hal sebagai berikut116 : 1. Mengakui standar-standar instrument hukum HAM yang relevan d. pendidikan dasar tidak lagi dipungut biaya 115 Nono Sumarsono. Menetapkan indentifikasi Kertas Posisi 2010 Kekerasan Anak di Institusi Pendidikan: Tinjauan Hak atas Pendidikan 35 . Tindakan-tindakan yang diambil untuk memastikan bahwa disparitas antar wilayah dan kelompok anak dapat dijembatani melalui ketentuan jaminan sosial 6. Memperkuat upaya-upaya untuk mencapai standar universal 2. Kelompok Kerja Anak Pinggiran.berdasarkan indicator hasil (result indicator) dan indicator kemajuan (progress indicator) b. 1999. 3. Mengembangkan pelatihan yang diperlukan dan upaya peningkatan kesadaran masyarakat Kewjiban tersebut sejatinya merupakan elaborasi dari salah satu prinsip dalam KHA yakni kepentingan terbaik untuk anak. hal. Oleh karena itu merubah anutan paradigma pembangunan yang tidak berorientasi kepada kepentingan anak menjadi pembangunan berparadigma kepentingan terbaik untuk anak menjadi langkah fundamental. 63 a.

khususnya hak-hak anak ke dalam kurikulum pendidikan untuk menumbuhkembangkan kesadaran kritis peserta didik 2. khususnya hak-hak anak kepada para pengambil kebijakan di sector pendidikan dan pelaksana pendidikan di sekolah (seperti Kepala Sekolah.3. Pemerintah mengeluarkan kebijakan baik di level daerah maupun pusat yang melarang dilakukannya praktik-praktik kekerasan di sekolah-sekolah 4. Di samping itu. upaya tersebut merupakan pengejawantahan didirikannya Negara Republik Indonesia yang bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 Rekomendasi-Rekomendasi Berdasarkan paparan di atas. pedesaan dan wilayah terbelakang lainnya mempunyai akses yang sama tanpa hambatan financial 4. Pemerintah sudah saatnya menjadikan indicator-indikator pemenuhan hak anak atas pendidikan yang tercantum dalam instrument hukum HAM internasional dijadikan pijakan dan diadopsi dalam kebijakan sector pendidikan dan penyusunan anggaran public 5. Memastikan progresivitas anak laki-laki dan anak perempuan baik di kota. dan pengajar) 3. rekomendasi-rekomendasi pokok yang hendak diajukan adalah sebagai berikut : 1. Memberikan kesempatan kepada anak-anak yang telah menikah dan remaja yang hamil 7. Mengambil langkah-langkah untuk mengurangi kekerasan di sekolah Tindakan-tindakan di atas merupakan upaya untuk menghilangkan siklus kekerasan terhadap anak di sekolah juga sekaligus menghilangkan akar masalah terjadinya kekerasan langsung yang bersumber pada kekerasan struktur dan kekerasan cultural. termasuk hak anak dalam kurikulum sekolah 9. dan tingkat buta huruf 6. Membuka ruang partisipasi bagi peserta didik untuk menyuarakan aspirasinya sehingga dunia pendidikan yang layak nir kekerasan dapat terwujud karena HAK ANAK adalah HAK ASASI MANUSIA. Pemerintah sudah saatnya memasukkan substansi HAM. Komite Sekolah. Mengambil langkah-langkah secara efektif untuk mengurangi drop out. Pemerintah menyelenggarakan pelatihan HAM. Mengupayakan pelatihan-pelatihan yang memadai bagi pengajar 8. Mengambil langkah-langkah yang tepat untuk memperkenalkan HAM. mengulang. Kertas Posisi 2010 Kekerasan Anak di Institusi Pendidikan: Tinjauan Hak atas Pendidikan 36 . Implementasi upaya-upaya tambahan untuk memberikan akses pendidikan usia dini kepada setiap anak 5.

Kertas Posisi 2010 Kekerasan Anak di Institusi Pendidikan: Tinjauan Hak atas Pendidikan 37 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->