SUNNAH Kata As-Sunnah dengan dhommah huruf sin-nya dan tasydid (double) huruf nun-nya, sebagaimana

yang ungkapkan oleh Abu Al-Baqo dalam kulliyah-nya : “secara etiomologi sunnah artinya jalan, walaupun jalan tersebut tidak diridhoi”. Menurut terminology, sunnah adalah sebutan untuk sebuah jalan yang diridhoi yang akan ditempuh dalam agama sebagaimana jalan yang dilakukan oleh Rosululloh SAW atau yang lainnya yang tersebut, sebagai symbol dalam agama seperti para sahabat Nabi, sebagaimana hadistnya : “Kalian harus mengikuti sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin (Sahabat yang mendapat petunjuk) setelahku.” Dan secara urf, sunnah adalah sesuatu yang dilakukan oleh yang menjadi panutan, baik orang tersebut nabi maupun seorang wali (yang mengurus agama). Dan kata As-Sunny dinisbatkan (dihubungkan) ke kata sunnah yang dibuang huruf ta-nya karena sebagai nisbat. (menghubungkan) Dan kata Bid’ah menurut Syeikh Zaruq dalam kitabnya ‘Udatul Murid : menurut syara’ bid’ah adalah membuat sesuatu yang baru dalam agama yang menyerupai bahwa sesuatu tersebut dari syara’, padahal sesuatu tersebut bukanlah dari syara’, baik keberadaannya hanya sebagai symbol maupun subtansi. Sebagaimana hadist Nabi SAW :”Barangsiapa yang membuat sesuatu yang baru dalam urusan agamaku, dan sesuatu tersebut bukan dari agamaku, maka akan ditolak. Dan hadist Nabi SAW: …dan setiap yang baru adalah bid’ah..” Para Ulama telah menjelaskan kedua hadist Nabi tersebut, bahwa bid’ah bukanlah mutlak (General) ditetapkan dalam setiap sesuatu yang baru, akan tetapi dikembalikan kepada perubahan hukum dengan melihat aspek itikad yang bukan juga hanya sesuatu aspek ibadah semata, karena sering kali didapatkan pokok-pokok syari’at, dapat dijadikan sebagai analog (Qiyas) dari beberapa hal cabangnya. Syeikh Zaruq berkata, bahwa parameter bid’ah itu bias dipertimbangkan dari 3(tiga) hal : 1) Dilihat dari masalah yang diperbaharui, jika sumber syari’at dan dasar-dasarnya menjustifikasi (menghukumi), maka tidak termasuk bid’ah, namun jika sebaliknya syari’at dan dasar-dasarnya mengingkari (menolak) dengan berbagai alasan, maka sesuatu itu termasuk batal dan sesat. Jika ada dalil yang memperbolehkan namun mengakibatkan munculnya keraguan (syubhat), dengan pertimbangan dan alasan yang sama kuat, maka yang lebih kuat diantara keduanya itulah yang dipakai. 2) Mempertimbangkan pedoman-pedoman para imam dan kaum salaf yang selalu menjalankan sunnah, siapa yang tidak sama alasannya dengan yang digunakan kaum salaf, maka tidak dianggap baik, dan siapa yang sesuai dengan mereka, maka itulah yang benar, walaupun berbeda secara furu’ (cabang) dan ushul(pokok), semuanya mengikuti dasar dan dalilnya, termasuk yang menjadi kaidah ulama salaf adalah sesuatu yang tidak boleh dikatakan bid’ah dan dicaci maki, apa yang ditinggalkannya dengan alasan yang jelas, tidak sah/boleh, menjadi sunnah dan dipuji. Apa yang

maka mereka menunda pelaksanaanya. sesuai dengan hadist Nabi : Apa yang aku tinggalkan kepada kamu semua. karena mereka tidak meninggalkannya. seandainya seperti itu. maka hukumnya dimaafkan. (Para Mujtahid) Syeikh Zaruq berkata. hukum tersebut terinci yang terbagi dalam 6 hukum syari’at : wajib. dan mubah. kita diperintahkan untuk menyegerakan sholat (di awal waktu). bid’ah ada 3 macam : . karena ada sebuah hadist yang menganjurkan untuk menyenangi hal-hal tersebut (zikir dll). Imam Malik berpendapat. sunnah. maka setiap perbuatan yang mirip dengan hukum dasar dengan alasan yang benar dan jelas serta tidak jauh dari kebenaran. itu termasuk bid’ah. Rasululloh SAW bersabda: “Jangan sampai ada yang melakukan sholat ashar kecuali ditempat Bani Quraidhoh. dasar inilah yang menjadi sumber perbedaan mereka dalam masalah ketentuan putaran zikir dengan suara keras. Hal ini juga sama ketika mengatakan bahwa : “Yang benar hanya satu atau berbilang”. walaupun tidak dilakukan oleh ulama salaf. makruh. maka mereka langsung melakukan sholat ashar dijalanan. dan jika tidak maka ia adalah bid’ah. 3) Parameter yang membedakan berdasarkan legitimasi beberapa hukum. hal tersebut tidak termasuk bid’ah. sementara sebagian yang lain mengatakan.” Ternyata mereka bertemu waktu sholat ashar ketika masih dalam perjalanan. Setiap Ulama yang mengemukakan suatu pendapat. kecuali karena ada masalah pada mereka. maka sesuatu itu disamakan dengan ketentuan asal itu. bukan dari hawa nafsu. Parameter inilah yang disepakati ulama yang sungguh-sungguh meneliti sebuah persoalan. sedangkan ulama salaf tidak mengerjakannya. ini menunjukkan sahnya sebuah amalan berdasarkan tentang syara’ selama pemahaman tersebut secara benar. sedangkan hukumnya yang diambil dari syari’at dan sudah ditetapkannya. Imam Syafi’i berpendapat. Mereka juga berbeda pendapat tentang sesuatu yang tidak bertentangan dengan sunnah dan sesuatu yang syubhat. Tentang perbedaan kedua pendapat para sahabatnya ini Rosululloh tidak menyalahkannya. sebab mereka meninggalkan karena ada sesuatu sebab dalam suatu waktu atau karena sesuatu yang lebih utama. khilafu aula. maka itulah supaya lebih dekat kepada kebenaran. mengadakan perkumpulan dan do’a.mereka tetapkan dasarnya dan tidak dilarangmengerjakannya. maka akan terjadi pem bid’ah an umat secara keseluruhan. maka pendapatnya tersebut tidak disebut bid’ah. kita diperintahkan sholat ashar disana. dan telah diketahui bahwa ketentuan yang telah ditetapkan Alloh bagi orang-orang yang melakukan dengan sungguh-sungguh dalam menentukan hukum agama (Mujtahid) adalah sesuai dengan metode ijtihadnya. menurut Imam Malik adalah bid’ah. Syeikh Zaruq berkata. karena mereka menentukan hukum sesuai dengan ijtihadnya masing-masing dan tidak melewati batas. Dan juga tidak benar mengatakan bahwa pendapat yang lain batal karena adanya syubhat. sebagian mereka berkata. haram. sedangkan Imam Syafi’i berpendapat tidak.

menentukan hukum tanpa pengetahuan. Dalam hadist ini mencakup masalah transaksi yang cacat.Pertama Bid’ah Shorihah (Bid’ah yang jelas) yaitu perbuatan bid’ah yang ditetapkan tanpa dalil syara’ untuk menandingi apa yang ditetapkan dalam syara’ seperti hukum wajib. Oleh karena itu Imam Abdus Salam membagi hal-hal yang baru (bid’ah) menjadi 5 bagian hukum. melafazkan niat. Adapun masalah-masalah yang tidak sampai keluar dari dalil syara’ seperti masalah ijtihadiyah yang antara dalil dan masalah tidak ada hubungan kecuali sangkaan mujtahid saja. menjelaskan tentang hadist Nabi Muhammad SAW: Barang siapa yang membuat hal baru atau melindungi orang yang membuat hal-hal yang baru. jabariyah. memperbesar tempat makan dan tempat minum. dan mujassimah. tahlil terhadap orang yang meninggal dunia dan tidak ada hal yang menghalanginya. Apabila telah mengetahui sesuatu yang telah disebutkan diatas. Ketiga Bid’ah Khilafiyah (Bid’ah perbedaan) yaitu bid’ah yang didasarkan pada dua sumber yang saling tarik menarik antara keduanya. buku-buku ilmu nahwu dan ilmu matematika. maka perbuatan seperti membuat tasbih. ziarah kubur dan sejenisnya. Kedua Bid’ah Idhofiyah (Bid’ah yag disandarkan) yaitu perbuatan bid’ah yang disandarkan kepada sesuatu yang dapat diterima dan tidak wajar untuk diperdebatkan keberadaanya. Bid’ah model ini dapat mematikan sunnah dan menghancurkan kebenaran. . 3) Bid’ah sunnah seperti membuat pondok-pondok. baik dalam konteks sunnahnya atau bukan bid’ahnya tanpa perbedaan sebagai yang berlaku pada pendapat masa lalu (salaf). 5) Bid’ah mubah seperti bersalaman (jabat Tangan) setelah sholat ashar dan sholat subuh. penulisan mushaf. seperti masalah jam’iyah. Al Allamah Muhammad Waliyyuddin Asy Syibsyiri dalam itab Syarhul Arba’in Nawawiyyah. madrasah-madrasah baru dan semua kebaikan yang tidak ada pada masa awal (masa Nabi dan Sahabat) 4) Bid’ah makruh seperti menghiasi masjid da menghiasi mushaf. yang satu mengatakan bid’ah dan yang lain sunnah. 2) Bid’ah haram seperti mazhab qodariyah. yaitu : 1) Bid’ah wajib seperti belajar ilmu nahwu dan hal-hal asing dalam Al Qur’an dan Hadist yang dapat memahami syari’at. ini adalah bid’ah yang paling jelek walaupun dilandasi seribu sanad dari sumber hukum yang pokok maupun cabang. menerbitkan kitab beberapa mazhab. zikir berjamaah. sunnah dll. tidak termasuk dalam hal bid’ah. maka baginya bagiannya. maka bukanlah semuanya tersebut dikategorikan bid’ah. pakaian dll. melakukan penyimpangan dan sejenisnya yang tidak sesuai dengan syara’. maka dianggap tidak ada kebenaran didala bid’ah tersebut.

sehingga mereka berpandangan hanya Al-Quran dan Sunnah Nabi saja sebagai sumber hukum yang mutlak. Tanpa disadari. Karena. Yaitu. memang bukan mustahil bahwa dari ungkapan yang sama tetapi muatannya berbeda.IJTIHAD a. Al-Quran. Sedangkan dalam mengerjakan tugas hidup kita sebagi khalifah. Tapi. nampak jelas ketika Rasulullah SAW wafat. dalam segi beragama kita dituntut untuk bisa mengungkap isinya agar ibadah kita didunia ini tidak sia-sia dan hanya berupa formalitas semata. ada hal yang tidak dapat ditolak. Sementara landasan selain Al-Quran adalah semua yang sudah mencukupi ruang batas ketentuan yang dibenarkan Al-Quran. sehingga tidak ada ketentuan yang berada di luar ketentuan yang sudah ditetapkan Allah. Semua muslimin sepakat bahwa sumber hukum pertama yang tertinggi adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya. Mereka mencoba mengekspresikan semua yang ada dari keduanya dalam kehidupan keseharian. Yang mana telah kita ketahui bersama didalam keduanya terdapat hukum-hukum yang relevan dalam kehidupan kita bermasyarakat. Sejarah yang terkandung dalam keduanya memberi kita contoh dalam bermasyarakat untuk meneladaninya. dimulai dari Ali bin Abi Thalib AS sampai dengan Muhammad bin Hasan alMahdi AS (termasuk Fatimah az-Zahra AS). sehingga beramal pun dengan praktik yang berbeda. difahami secara berbeda. disebut as-Sunnah. dan banyak lagi. Sumber hukum peringkat selanjutnya adalah kejelasan yang tersurat maupun yang tersirat dari kehidupan Rasul Allah. yang disebut Al-Quran. Dengan landasan ini. Awal perbedaan ini. muslimin memahami dengan berbeda. al-quran dan sunnah punya ilmu yang sangat melimpah dari ilustrasi dasar lampu. dalam artian wahyu atau kalam Ilahi dan penjelas dalam praktik kehidupan sehari-hari Nabi SAW itu terhenti. keterikatan muslimin untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan dengan kekhawatiran akan jatuh dalam kekufuran. Dari dasar sumber yang sama. Sunnah dalam pemahaman kelompok ini tidak terbatas pada Nabi Muhammad SAW. menjadikan setiap muslim berjanji untuk mengikuti Al. Apa yang ada di dalam Al-Quran adalah sumber awal yang melegitimasi segala hukum sesudahnya. tetapi juga ada pada tiga belas orang maksum setelah beliau.Quran dan Hadits/Sunnah. Sebagian muslimin berpandangan bahwa periode dasar hukum telah terhenti. Karena. muslimin sependapat bahwa barang siapa yang menentang dan mengubah ketentuan Allah dan Rasul-Nya. ternyata. Dari sumber yang sama (Al-Quran dan Hadits). Wafat Nabi Muhammad SAW tidak berarti terhentinya nash Ilahi dalam bentuk Sunnah. Darinya tersurat dan tersirat rangkaian hukum atas sandaran hukum yang lain. Kedua dasar dan sumber hukum ini saling kait dan terikat. Sebagian muslimin yang lain memiliki pandangan dan keyakinan berbeda. beragama dan menjalani kehidupan kita sebagai khalifah di muka bumi ini. Pendahuluan Kita telah mengetahui bersama bahwa sumber hukum tertinggi dalam Islam adalah Al-Qur’an dan Hadits. Kedua pandangan . maka dinyatakan sebagai kufur. yakni adanya perubahan persepsi di kalangan muslim dalam memahami keduanya. hingga akhir zaman.

Perbedaan inilah yang mendasari lemahnya kekuatan muslimin dalam menghadapi tantangan zaman. Permasalahan di atas. muslimin. juga menjadi faktor yang melahirkan generasi muslim zaman ini. Di dalam Al-Qur’an. Sehingga i'tiqad dasar keislaman pun akan berbeda. Islam akan tampak berbeda. dan sunnah.9). termasuk al-Hajibi mendefinisikan ijtihad sebagai tindakan menguras tenaga untuk mengetahui hukum tentang sesuatu dalam batas menduga. dan pandangan yang tercipta dari waktu ke waktu. Hukum ijtihad menjadi fardhu ‘ain jika timbul persoalan yang sangat mendesak untuk ditentukan kepastian hukumnya. Seperti. telah membentuk opini keislaman seseorang. Karena itu. Sementara itu. hukum mengenai berijtihad dikategorikan menjadi fardhu ‘ain. Akibat lain yang ditimbulkan dari perbedaan pandangan itu adalah telah terbentuknya ideologi yang menjadi dasar cara pandang muslim dalam melihat Islam. berasal dari akar kata bahasa Arab al-jahd yang berarti jerih payah. b. dan surat al-Baqarah ayat 59. fardu kifayah. ijtihad adalah mengerahkan segala tenaga dan pikiran untuk menyelediki dan mengeluarkan (meng-istinbat-kan) hukum-hukum yang terkandung di dalam Al-Qur’an dengan syarat-syarat tertentu. maka baginya dua pahala. Sunnah. Generasi kini adalah hasil dari generasi terdahulu. dan motif pada tindakan pun menjadi berbeda pula. Pengertian Ijtihad dan hukumnya Menurut Ensiklopedi Islam. Ketika permasalahan-permasalahan tersebut tidak dapat lagi diselesaikan hanya melalui nash Al-Qur’an dan Hadist secara eksplisit. hal. Bukhari dan Muslim). yang konsekuensinya adalah i'tiqad dasar dari pandangan di atas harus ditimbang kembali untuk mendapatkan nilai yang benar. Hinggalah sekarang. Sementara itu. Hukum ijtihad menjadi fardhu kifayah apabila ada . menguras tenaga untuk memperoleh dugaan tentang hukum syar'i. Namun seiring berjalannya waktu. Dengan kenyataan yang terjadi. asy-Syu’ara ayat 38. karena unsur sejarah mendominasi pandangan muslim dalam menilai Islam. Ijtihad juga diartikan menguras tenaga dan jerih-payah untuk memperoleh hukum syar'i yang bersifat dugaan dari Al-Quran. harus memilih juga. semua muslim sepakat bahwa Islam adalah agama Ilahi yang satu dan merupakan hamparan jalan tunggal menuju kepada Allah. Qiyas.” Di dalam kitab ihya Ulumu ad-Din. surat alHasyar ayat 2. Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah bahwa dengan cara memandang pada fenomena sejarah yang berbeda akan didapatkan nilai keislaman yang berbeda pula. timbul istilah ijtihad. (al-Ra'ya al-Sadid fi al-Ijtihad wa al-Taqlid wa al-Ihthiyath. baik dari nilai ideologi maupun tantangan fisik. perintah ijtihad terdapat dalam surat an-Nisa ayat 83. Dengan dasar perspektif pandangan masing-masing. tetapi bila berijtihad lalu keliru maka baginya satu pahala (HR. serta informasi yang diterima untuk dipelajari hari ini. pengaruh dan bara tersebut masih saja menyala. Ihtihsan dan sebagainya.inilah yang menjadi pemilah kesatuan muslimin yang telah dibina Rasulullah SAW. dasar ijtihad terdapat pula pada sebuah hadist yang artinya: “Apabila seorang hakim berijtihad dan benar. Ijtihad (secara bahasa). permasalahan-permasalahan yang ditemui umat islam pun kian berkembang. mau tak mau. Kelompok terdahulu. sehingga seseorang dapat memastikan keberadaan setiap personal di jalan yang lurus dan tunggal tersebut.

Dasarnya adalah dengan adanya Maksum maka i'tiqad dan idealnya Islam dapat terjaga bersamanya. dan secara umum tidak ada perbedaan mendasar tentang ijtihad. Kebenaran yang ada adalah nilai yang didapat dari usaha maksimal sebagai manusia untuk melepaskan diri dari tanggung-jawab di hadapan Allah. Pemikiran ideal ini menjadi i'tiqad muslimin. maka pikiran ideal merupakan i'tiqad tanpa kepastian untuk didapatkan dalam praktik kehidupan muslim. Paling tidak dengan memprediksikan bahwa konsep tadi dinyatakan benar oleh pandangan muslimin. perkembangan pola hidup manusia. Maka muslimin mengejar idealisme kesempurnaan Islam dengan berusaha mendapatkan nilai ideal. hanya ada pada Allah dan Maksumin. meskipun ada juga pembeda di antara kelompok muslim. Sehingga manusia dengan sendirinya wajib memastikan dirinya untuk berada di dalam Islam. merupakan satu hal yang tidak dapat dihindari. Sedangkan ijtihad menjadi sunnah jika masalah yang akan dicari kepastian hukumnya adalah masalah yang tidak mendesak atau masalah yang belum terjadi dalam masyarakat. adanya perbedaan antara mereka yang memasukkan qiyas dalam ijtihad dan sebagian lagi menolak. tidak hadirnya Imam Maksum di antara muslimin. Dengan sarana yang pasti ini. c. usaha yang dilakukan oleh muslimin untuk mendapatkan ilmu Islam dari sumber-sumber dasar hukum (Al-Quran. Namun demikian. Tetapi dengan tidak adanya maksum. Seperti. Selain dari keduanya. Kedua. maka perubahan yang terjadi selalu memiliki . ulama tidak lagi terkumpul dan pintu ijtihad menjadi "tertutup". Namun. maka Nilai Islam yang ada dalam i'tiqad muslimin pun tidak terjamin untuk kesempurnaannya pada kebenaran Ilahi. Mujtahid dan syarat-syarat menjadi mujtahid Islam sebagai agama dan ideologi merupakan sarana penghantar perjalanan manusia kepada Allah. Maka akan ada selisih antara kebenaran yang bersifat absolut Ilahi yang dii'tiqadi dengan nilai kebenaran yang diamalkan oleh manusia. Selanjutnya. Dari sinilah hak ijtihad hanya menjadi milik mujtahid terdahulu. karena agama samawi ini tidak memberikan jaminan kepada manusia yang tidak maksum secara takwin. Islam sebagai sumber hukum dan nilai absolut. Hadits/Sunnah. Islam masih merupakan konsep yang harus digali. Ketika muslim merupakan bagian komunitas alam yang saling mengikat. Ijma' dan Akal) yang kita sebut ijtihad. Sedangkan secara historis muslimin menggunakan kesempatan berijtihad untuk melepaskan tanggung jawab dalam menjawab permasalahan kehidupan yang belum ditemui dalam hukum yang jelas (dhahir) sampai datangnya masa penaklukan kota Baghdad di masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah oleh Bangsa Tartar (sekitar 665 H.persoalan yang diajukan kepada beberapa ulama sedemikian hingga kewajiban berijtihad bagi ulama atau orang lain menjadi hilang manakala telah ada salah seorang yang telah menjawab persoalan tersebut.) Setelah adanya kejadian tersebut. perkembangan ijtihad dalam kehidupan muslimin berjalan lamban. memastikan manusia untuk tidak memilih jalan lain atau berjalan di jalan yang salah. karena: Pertama.

tanpa adanya wahyu dan maksum yang berkuasa dalam kehidupan muslim. Pada sisi lain. tetapi masih banyak masalah lain dalam ijtihad. Boleh jadi. Begitulah. Keislaman seseorang terlihat dengan bentukan (pengejawantahan) fiqih pada dirinya. gambaran Islam dapat dilihat dari keberadaan fiqih. yakni ia harus selalu berada dan berjalan di bawah hukum Ilahi. yaitu kelompok Ahl al-Ra'yu dan Ahl al-Hadits. dan kelompok Asy'ariy yang lebih mengutamakan hadits nabawi. Apakah ijtihad hanya terbatas pada kasus-kasus yang tidak ada nashnya? b. Karena itu keberadaan ijtihad dan mujtahid memegang peran yang sangat penting atas keberadaan Islam dalam kehidupan manusia. Fiqih adalah pemahaman mendalam serta pengertian sempurna tentang realitas sesuatu. Mana yang harus didahulukan. ijtihad atau hadits nabawi? d. Karena. permasalahan ini akan kembali kepada persoalan: adakah kini masih terbuka pintu ijtihad dan siapa yang dibenarkan untuk berijtihad? Dibalik pertanyaan ini sebenarnya tersembunyi suatu hal yang sangat penting. Maka usaha maksimal mendapatkan hukum tersebut merupakan kewajiban muslimin. Perubahan pola hidup yang dimaksud adalah perubahan pola berfikir dan bertindak serta adanya tuntutan keperluan hidup. maka muslimin harus bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. supaya mereka dapat menjaga dirinya. Al-Raghib al-Isfahani dalam Mufrad Al-Quran menyatakan bahwa tafaqquh ialah spesialisasi. Baik pada komunitas muslim atau dengan yang di luar muslim. Siapa yang berhak untuk berijtihad? Empat kasus di atas telah membelah muslim menjadi dua pecahan. tanpa disadari. ." Fiqih berasal dari akar kata tafaqquh. seperti: a. fiqih merupakan gambaran atau penjelas dari simbol dan amal serta kriteria Islam. Al-Quran memerintahkan muslimin untuk memperdalam pengetahuan sehingga dapat mengatasi problema kehidupan ini. Dengan hal di atas pun bukan berarti permasalahan kewajiban tersebut telah terlepas dari persoalan. Apapun yang terjadi. Dengan kata lain. Apakah boleh berijtihad (ta'awul) ketika ada nash? c.keterikatan dengan yang lain. Sehingga hukum aktual yang ada dalam Islam merupakan suatu keharusan. Dalam Surat al-Taubah ayat 122 ditegaskan: "Mengapa tidak pergi sebagian di antara setiap golongan kamu untuk memperdalam pengetahuan tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya bila mereka telah kembali kepadanya. yaitu fiqih itu sendiri. dari sini pula kelompok kalam terbagi menjadi Mu'tazilah yang menggunakan akal untuk qiyas dalam menentukan hasan (baik) dan qubuh (buruk). dengan mengatakan: tafaqqahu idza thalabahu fatakhashshasha bihi.

Itulah mengapa begitu vitalnya mempelajari dan mendalami masalah fiqih. Untuk menjadi seorang mujtahid. Pada dasarnya yang ditetapkan oleh ijtihad tidak dapat melahirkan keputusan yang mutlak absolut. Sesuatu keputusan yang ditetapkan oleh ijtihad. Di dalam melaksanakan ijtihad. Istihsan adalah mengecualikan hukum suatu masalah dari hukum masalah-masalah lain yang sejenis lalu menetapkan suatu hukum bagi masalah itu dengan hukum yang berbeda berdasarkan pada alasan bagi pengecualian itu. Cara ber-Ijtihad Dalam melaksanakan ijtihad. Ijtihad tidak berlaku dalam urusan penambahan ibadah mahdhah. akibat. Sebagai produk pikiran manusia yang relatif maka keputusan daripada suatu ijtihad pun adalah relatif. Contoh : Menurut al-Qur'an surat al-Jum'ah 9. ijtihad terikat dengan ketentuanketentuan sebagi berikut : a. Qiyas = reasoning by analogy. para ulama telah membuat methode-methode antara lain sebagai berikut : a. karena sifat keduanya adalah sama-sama memabukkan. dan ‘urf. Dalam proses berijtihad hendaknya dipertimbangkan faktor-faktor motifasi. d. Menurut Yusuf Qardawi. d. mengetahui tempattempat ijmak. al-maslahah al mursalah. karena ada sebab yang sama. c. terdapat delapan persyaratan yang harus dimiliki seseorang untuk menjadi mujtahid: memahami Al-Qur’an beserta sebab turunya ayat-ayat. para mujtahid menempuh beberapa cara diantaranya qiyas. kemanfaatan bersama dan nilai-nilai yang menjadi ciri dan jiwa daripada ajaran Islam. Yaitu menetapkan sesuatu hukum terhadap sesuatu hal yang belum diterangkan oleh al-Qur'an dan as-Sunnah. kemaslahatan umum. memahami hadist. Orang yang melakukan ijtihad disebut mujtahid. Kedudukan Ijtihad Berbeda dengan al-Qur'an dan as-Sunnah. b. dan menjadi orang yang bisa memecahkan masalah dengan berijtihad. Almaslahah al mursalah adalah menetapkan hukum suatu masalah yang tidak ada nashnya dalam Al-Qur’an dan sunnah untuk mencapai kebaikan. e. . e. mungkin berlaku bagi seseorang tapi tidak berlaku bagi orang lain. Sebab ijtihad merupakan aktifitas akal pikiran manusia yang relatif. Qiyas adalah menyamakan hukum suatu masalah dengan masalah lain yang telah ada kepastian hukumnya di dalam Al-Qur’an dan Hadist karena sebabnya sama. Sebab urusan ibadah mahdhah hanya diatur oleh Allah dan Rasulullah. Keputusan ijtihad tidak boleh bertentangan dengan al-Qur'an dan as-Sunnah. dengan dianalogikan kepada hukum sesuatu yang sudah diterangkan hukumnya oleh al-Qur'an / as-Sunnah. hukum minum bir sama dengan hukum meminum khamr. istihsan. memahami masyarakat dan adat-istiadatnya. yaitu haram. mengetahui maksud-maksud syariat. terdapat persyaratan-persyaratan tertentu yang harus dimiliki seseorang. mengetahui usul fikih. Sedangkan yang dimaksud dengan ‘urf adalah kebiasaan umum atau adat-istiadat yang dapat berupa perkataan atau perbuatan. Berlaku untuk satu masa / tempat tapi tidak berlaku pada masa / tempat yang lain. mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang bahasa arab. Contohnya. serta bersifat adil dan takwa.

Contoh lain : Menurut surat al-Isra' 23.seseorang dilarang jual beli pada saat mendengar adzan Jum'at. Bagaimana hukumnya perbuatan-perbuatan lain ( selain jual beli ) yang dilakukan pada saat mendengar adzan Jum'at ? Dalam al-Qur'an maupun al-Hadits tidak dijelaskan. sedang mashalihul mursalah mempertimbangkan dasar kepentingan dan kegunaan dengan tanpa adanya dalil yang secara tertulis exsplisit dalam al-Qur'an / al-Hadits. Sabda Rasul : Kalau begitu teruskanlah puasamu. Yang menjadi persoalan untuk saat sekarang ini adalah tentang kemungkinan dapat dicapai atau tidaknya ijma tersebut. Yaitu persepakatan ulama-ulama Islam dalam menentukan sesuatu masalah ijtihadiyah. c. Apabila kita dihadapkan dengan keharusan memilih salah satu diantara dua persoalan yang sama-sama jelek maka kita harus mengambil yang lebih ringan kejelekannya. Ijma' = konsensus = ijtihad kolektif. maka Rasulullah mengatakan : " Kumpulkan orangorang yang berilmu kemudian jadikan persoalan itu sebagai bahan musyawarah ". seseorang tidak boleh berkata uf ( cis ) kepada orang tua. b. Yaitu menetapkan sesuatu hukum terhadap sesuatu persoalan ijtihadiyah atas dasar prinsip-prinsip umum ajaran Islam seperti keadilan. yang dapat mengganggu shalat Jum'at. Maka hukum memukul. d. Istihsan = preference. karena ummat Islam sudah begitu besar dan berada diseluruh pelosok bumi termasuk para ulamanya. Yaitu : kalau jual beli karena dapat mengganggu shalat Jum'at dilarang. padahal saya sedang dalam keadaan berpuasa. Mashalihul Mursalah = utility. Yaitu ketika � Umar bin Khathabb berkata kepada Rasulullah saw : Hari ini saya telah melakukan suatu pelanggaran. saya telah mencium istri. Tanya Rasul : Bagaimana kalau kamu berkumur pada waktu sedang berpuasa ? Jawab �Umar : tidak apa-apa. maka demikian pula halnya perbuatan-perbuatan lain. Dasar istihsan antara lain surat az-Sumar 18. Oleh para ulama istihsan disebut sebagai Qiyas Khofi ( analogi samar-samar ) atau disebut sebagai pengalihan hukum yang diperoleh dengan Qiyas kepada hukum lain atas pertimbangan kemaslahatan umum. menyakiti dan lain-lain terhadap orang tua juga dilarang. Yaitu menetapkan hukum terhadap sesuatu persoalan ijtihadiyah atas pertimbangan kegunaan dan kemanfaatan yang sesuai dengan tujuan syari'at. atas dasar analogi terhadap hukum cis tadi. Perbedaan antara istihsan dan mashalihul mursalah ialah : istihsan mempertimbangkan dasar kemaslahan ( kebaikan ) itu dengan disertai dalil alQur'an / al-Hadits yang umum. juga dilarang. Maka hendaknya kita berijtihad dengan jalan analogi. Karena sama-sama menyakiti orang tua. kasih sayang dan lain-lain. . Ketika Ali bin Abi Thalib mengemukakan kepada Rasulullah tentang kemungkinan adanya sesuatu masalah yang tidak dibicarakan oleh alQur'an dan as-Sunnah. Pada zaman Rasulullah saw pernah diberikan contoh dalam menentukan hukum dengan dasar Qiyas tersebut.

f. sebagai tuntutan hidup yang nyata. walaupun terbatas hanya untuk dirinya. yaa Allah ampunilah kami dan saudara kami yang telah mendahului kami dnegan beriman. Fenomena ini tidak terhindar karena kenyataan adanya tuntutan Islam dan perjalanan masa/waktu. padahal banyak persoalan kehidupan yang dijalani dan harus dipecahkannya tidak terdapat di buku para mujtahid terdahulu. seorang muslim harus hidup dalam hukum. Padahal yang dikenal bahwa muslim yang mengenal Islam itu membela dan membangun kehidupan kemanusiaan.” (An-Najm: 39) Hal itu tentu bertentangan dengan banyak ayat yang menyuruh kita mendo’akan orang mati. Dalam ayat lain tercantum: ِ ْ ِ ْ ِ َ ْ ُ َ َ َ ْ ِ ّ َ ِ َ ْ ِ َ َ َ ْ ِ ْ َ ّ َ َ ْ ُْ ُ َ ْ ِ ِ ْ َ ْ ِ ْ ُ َ َ ْ ِ َّ ‫الذين جاءوا من بعدهم يقولون ربنا اغفرلنا ولخوانناالذين سبقونا بالءيمن‬ “Orang-orang yang datang setelah mereka berkata. Akal dan Ijma'. Maka jadilah muslim yang awam tersebut sebagai mujtahid. dalil-dalil yang ada tidak cukup untuk mendukung kasus yang ada. yang memojokkan manusia untuk meletakkan dirinya pada hukum. bersedekah dan membaca Al-Qur’an tidak berguna dengan dalil. Karena itu. Dengannya orientasi hidup hanya kembali ke alam kehidupan dahulu dan tidak akan membentuk opini kehidupan yang mendatang. maka setiap muslim telah menjadi mujtahid pada posisinya. Maka masalah yang timbul di masa kini tidak akan teratasi. konsekuensinya adalah hukum Islam menjadi hukum yang menindas kemanusiaan. terhentinya atau tidak dibenarkannya ber-ijtihad dapat memastikan bahwa fiqih dan pembahasan pun akan terhenti. serta tidak memiliki kesempatan mengembangkan akal pikiran manusia. Dan contoh-contoh lainnyaseperti: do’a terhadap orang mati. Karena. bukan berarti tidak terbuka kemungkinan untuk tidak ditemukannya ketentuan hukum dari keempatnya. Namun demikian.” (Al-Hasyr: 10) . didapatkan hasil kesimpulan yang tidak kokoh. Ada golongangolongan yang menyatakan bahwa berdo’a kepada orang mati. Satu hal lain yang mendasar bahwa muslimin akan terhenti dalam ruang lingkup kehidupan yang tradisional (lampau). Sunnah. ‫وان ليس لللنسن ال ما سعى‬ َ َ َ ّ ِ ِ ْ ِ ْ ِ َ ْ َ ْ ََ “Dan tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah ia kerjakan. Atau. dari keempat sumber ini. mereka menyimpulkan hukum dari sumber-sumber hukum yang ada (ber-ijtihad). Atau. Meskipun pada dasarnya hukum yang dijadikan sandaran tersebut tidak diketahui keabsahan dan kebenarannya. Tanpa disadari. Kasus Seputar Ijtihad Dasar sumber-sumber ijtihad adalah Al-Quran. Kasus yang terjadi sekarang adalah dengan tertutupnya ijtihad.

taqlid bukanlah berdasarkan ilmu pengetahuan. dan asbaabun nuzul (sebab turunnya) ayat untuk membantu dalam memahami ayat tersebut.Juga termasuk mengetahui ayat yang berlaku umum atau ‘aam (‫ )عام‬dan yang khusus atau khas (‫ .)خاص‬yang mutlak (tanpa kecuali) dan yang muqayyad (yang terbatas). yang nasikh (hukum yang mengganti) dan yang mansyukh (hukum yang diganti). Maka atas dasar ini. Taqlid sedangkan jika kita tidak berijtihad atau tidak mencari orang yang mampu berijtihad maka kita termasuk orang yang taqlid. berbeda dengan pendapat imam Syafi’i” ( ket: dalam pandangannya ini imam Syafi’i didukung oleh mayoritas ulama seperti Imam Malik dan Imam Ahmad ) Oleh sebab itu. g. para ulama berkata bahwa orang yang bertaqlid tidak diperkenankan memberikan fatwa. . Ibnu Qoyim dalam kitab A’laamul Muwaqqi’in (3/293) dan Suyuthi maupun para peneliti yang lain. Bahkan Ibnu Abdil Barr telah menukil kesepakatan tentang hal ini dalam kitab Jami’ Bayan Al Ilmi (2/37 dan 117). hingga sebagian mereka secara berlebihan mengatakan “ Tidak ada perbedaan antara taqlid terhadap hewan dengan taqlid terhadap manusia” Penulis kitab Al Hidayah berkata sehubungan dengan seorang ahli taqlid yang memegang jabatan hakim : “Adapun taqlid yang dilakukan oleh orang awam menurut kami adalah boleh. para ulama menetapkan bahwa orang yang melakukan taqlid (muqolid) tidak dinamakan orang yang berilmu (’alim) (Lihat Al Muwafaqat oleh Imam Syatibi (4/293)). Taqlid berarti “Mengambil suatu pendapat tanpa mengetahui dalil (landasannya)” Artinya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful