SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH TASIKMALAYA PROGRAM STUDI S.

I KEPERAWATAN TAHUN 2008 ABSTRAK Nama : Rani Susanti NIM : 105200400044 Judul : Hubungan Pengetahuan, Sikap dan Motivasi Pasien Tuberkulosis Paru dengan Keteraturan Berobat di Wilayah Kerja Puskesmas Purbaratu Kota Tasikmalaya ix, halaman 72, tabel 10, 1 bagan, 9 lampiran Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi masalah serius di berbagai bagian dunia. Di Indonesia, tuberkulosis menjadi penyebab kematian ke tiga setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan. Pengobatan pada tuberkulosis merupakan paduan obat anti tuberkulosis (OAT) jangka pendek dengan pengawasan langsung oleh pengawas menelan obat (PMO). Ketidakteraturan minum obat merupakan salah satu penyebab kegagalan program penanggulangan TB Paru. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif korelasi dengan menggunakan metode survei dengan pendekatan cross sectional. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder, dimana data primer menggunakan kuesioner dan data sekunder dengan melihat catatan berobat dan melihat register di Puskesmas. Jumlah sampel yang diteliti dalam penelitian ini adalah diambil seluruhnya dari jumlah populasi. Menurut Arikunto (2006) apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik semua populasi diambil sebagai sampel yaitu 48 orang. Hasil penelitian menunjukan bahwa responden TB paru yang memiliki pengetahuan kurang dari 23,42 sebanyak 43,8% dan dan lebih dari 23,42 sebanyak 56,3%. Responden TB paru yang memiliki sikap negatif 45,8% dan bersikap positif 54,2%, responden TB paru yang memiliki motivasi kurang dari 8,81 sebanyak 39,6% dan lebih dari 8,81 sebnayak 60,4%. Responden TB paru yang tidak teratur berobat 35,4% dan teratur 64,6%. Hasil uji statistik chi square menunjukan bahwa pengetahuan tentang TB paru (OR = = 0,022),ρ = 0,033), sikap melakukan pengobatan (OR = 0,222, ρ 3,850, = 0,044), ada hubunganρ motivasi untuk berobat teratur (OR = 3,492, dengan keteraturan berobat. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa pengetahuan tentang TB paru, sikap untuk melakukan pengobatan dan motivasi untuk berobat teratur ada hubungan dengan keteraturan berobat. Saran penulis kepada Puskesmas agar lebih memperhatikan dan memberikan penyuluhan tentang penyakit TB paru kepada masyarakat sebagai upaya preventif guna mengurangi penyakit TB paru. Kepustakaan : 21 buah (2001-2008) BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penyakit tuberkulosis (TBC) adalah penyakit infeksi menular yang masih tetap merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk Indonesia. World Health Organization (WHO) dalam Annual Report on Global TB Control 2003 menyatakan terdapat 22 negara dikategorikan sebagai high-burden countries terhadap TB. Indonesia termasuk peringkat ketiga setelah India dan China dalam menyumbang TB di dunia. Menurut WHO estimasi insidence rate untuk pemeriksaan dahak didapatkan basil tahan asam (BTA) positif adalah 115 per 100.000 (WHO, 2003). Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001 estimasi prevalensi angka kesakitan di Indonesia sebesar 8 per 1000 penduduk berdasarkan gejala tanpa pemeriksaan laboratorium. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 TB menduduki ranking ketiga sebagai penyebab kematian (9,4% dari total kematian) setelah penyakit sistem sirkulasi dan sistem pernafasan. Hasil survei prevalensi tuberkulosis di Indonesia tahun 2004 menunjukan bahwa angka prevalensi tuberkulosis Basil Tahan Asam (BTA) positif secara nasional 110 per 100.000 penduduk (Depkes RI, 2007). Sejak tahun 2000 Indonesia telah berhasil mencapai dan mempertahankan angka kesembuhan sesuai dengan target global, yaitu minimal 85% penemuan kasus TB di Indonesia pada tahun 2006 adalah 76%. Keberhasilan pengobatan TB dengan DOTS pada tahun 2004 adalah 83% dan meningkat menjadi 91% pada tahun 2005 (Depkes RI, 2008). Resiko penularan setiap tahun (Annual Risk of Tuberkulosis Infection = ARTI) di Indonesia dianggap cukup tinggi dan bervariasi antara 1-2%. Pada daerah dengan ARTI sebesar 1% berarti setiap tahun diantara 1000 penduduk, 10 orang akan terinfeksi. Sebagian besar dari orang yang terinfeksi tidak akan terjadi penderita tuberkulosis, hanya 10% dari yang terinfeksi yang akan menjadi penderita tuberkulosis. Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi penderita tuberkulosis adalah daya tahan tubuh rendah, diantaranya karena gizi buruk atau HIV/AIDS disamping faktor pelayanan kesehatan yang belum memadai (Sulianti, 2007) Pasien dengan TB sering menjadi sangat lemah karena penyakit kronis yang berkepanjangan dan kerusakan status nutrisi. Anoreksia, penurunan berat dan malnutrisi umum terjadi pada pasien dengan TB. Keinginan pasien untuk makan mungkin terganggu oleh keletihan akibat batuk berat, pembentukan sputum, nyeri dada atau status kelemahan secara umum (Smeltzer, 2001). Sejak tahun 1990-an WHO dan International Union Agains Tuberculosis and Lung Disease (IUATLD) telah mengembangkan strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai strategi Directly Observed Treatment Shortcourse chemotherapy (DOTS) dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif (costefective). Penerapan strategi DOTS secara baik, disamping secara cepat menekan penularan, juga mencegah berkembangnya Multi Drugs Resistance Tuberculosis (MDRTB). Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien, prioritas diberikan kepada pasien menular. Menemukan dan menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan TB. WHO telah merekomendasikan strategi DOTS sebagai strategi dalam penanggulangan TB sejak tahun 1995 (Depkes RI, 2007). Tujuan program penanggulangan tuberkulosis adalah menggunakan sumber daya yang terbatas untuk mencegah, mendiagnosis dan mengobati penyakit dengan cara yang paling baik dan ekonomis. Alasan utama gagalnya pengobatan adalah pasien tidak minum

obatnya secara teratur dalam waktu yang diharuskan. Pasien dengan cermat diinstruksikan tentang pentingnya tindakan higienis, termasuk perawatan mulut, menutup mulut dan hidung ketika batuk dan bersin, membuang tisu basah dengan baik dan mencuci tangan. Seluruh keberhasilan program tergantung dari supervisi yang baik atas pengobatan. Idealnya pengobatan hendaknya diobservasi langsung (yaitu pasien diawasi setiap kali minum obat), setidaknya penting selama 2 bulan pertama. Di beberapa daerah pedesaan, pengobatan dengan pengawasan langsung mungkin perlu dilakukan oleh seseorang setempat yang bertanggung jawab atau sukarelawan. Penderita hendaknya kenal orang itu, ikatan demikian akan mengurangi kelalaian (Crofton, 2002). Obat TBC diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis, dalam jumlah cukup dan dosis tepat selama 6-8 bulan, supaya semua kuman (termasuk kuman persister) dapat dibunuh. Dosis tahap intensif dan dosis tahap lanjutan ditelan sebagai dosis tunggal. Apabila panduan obat yang digunakan tidak adekuat (jenis, dosis, dan jangka waktu pengobatan), kuman TBC akan berkembang menjadi kuman tebal obat (resisten) (Depkes RI, 2002). Selanjutnya setiap penderita harus diawasi (observed) dalam meminum obatnya yaitu obat diminum di depan seorang pengawas, dan inilah yang dikenal sebagai Directly Observed Therapy (DOT). Penderita juga harus menerima pengobatan (treatment) dalam sistem pengelolaan, penyediaan obat anti tuberkulosis yang tertata dengan baik, termasuk pemberian regimen OAT yang adekuat, yakni melalui pengobatan jangka pendek (short cource) sesuai dengan klasifikasi dan tipe masing-masing kasus (Taufan, 2007). Faktor penunjang kelangsungan berobat adalah pengetahuan penderita mengenal bahaya penyakit TB paru yang gampang menular kesisi rumah, terutama pada anak, motivasi keluarga baik saran dan perilaku keluarga kepada penderita untuk menyelesaikan pengobatannya dan penjelasan petugas kesehatan kalau pengobatan gagal akan diobati dari awal lagi. Oleh karena itu pemahaman dan pengetahuan penderita memegang peranan penting dalam keberhasilan pengobatan TB paru (Ainur, 2008). Tabel 1.1 Jumlah Suspek yang Diperiksa di Unit Puskesmas Purbaratu No Nama Kelurahan Jumlah Suspek Jumlah yang Diobati Hasil dari Pengobatan Sembuh Lengkap DO Lalai Gagal Meninggal 1 Sukamenak 35 18 1 8 - - - 2 Sukaasih 5 2 - - - - - 3 Sukanagara 4 11 1 4 - - 1 1 4 Purbaratu 18 4 - 3 - - - 5 Sukajaya 22 13 - 9 - - - 1 6 Singkup 13 6 - 2 2 1 - Jumlah 97 54 2 26 2 1 1 2 Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Purbaratu. Tabel di atas menunjukkan bahwa jumlah kasus TB paru di Puskesmas Purbaratu dengan jumlah suspek sebanyak 97 orang dengan jumlah yang diobati 54 orang yang dinyatakan sebagai pasien TB paru yang berobat jalan di Puskesmas Purbaratu. Data terakhir diperoleh bahwa penderita yang melakukan pengobatan lengkap (teratur) sebanyak 28 orang, sembuh 3 orang dan penderita yang mengalami DO sebanyak 10 orang dan gagal

sebanyak 1 orang. Sementara yang meninggal sebanyak 4 orang dan pindah 2 orang (Catatan Program Tb paru Puskesmas Purbaratu). Hal ini memberikan gambaran bahwa angka kesembuhan penderita TB paru sangat rendah, masalah yang menjadi penyebabnya yaitu masyarakat belum menyadari bahaya TB paru. Berdasarkan latar belakang di atas, maka perlu dilakukan penelitian tentang “Hubungan Pengetahuan, Sikap dan Motivasi Pasien Tuberkulosis Paru Dengan Keteraturan Berobat di Puskesmas Purbaratu Kota Tasikmalaya”. B. Rumusan Masalah Apakah ada Hubungan antara Pengetahuan, Sikap dan Motivasi Pasien Tuberkulosis Paru Dengan Keteraturan Berobat di Wilayah Kerja Puskesmas Purbaratu Kota Tasikmalaya. C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Diketahuinya hubungan antara pengetahuan, sikap dan motivasi pasien tuberkulosis paru dengan keteraturan berobat di wilayah kerja Puskesmas Purbaratu Kota Tasikmalaya. 2. Tujuan khusus a. Mengidentifikasi hubungan pengetahuan dengan keteraturan berobat pasien TB paru di Puskesmas Purbaratu. b. Mengidentifikasi hubungan sikap dengan keteraturan berobat pasien TB paru di Puskesmas Purbaratu. c. Mengidentifikasi hubungan motivasi dengan keteraturan berobat pasien TB paru di Puskesmas Purbaratu. D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Puskesmas Mendapatkan masukan tentang hubungan pengetahuan, sikap dan motivasi pasien Tb paru dengan keteraturan berobat, berupa saran dan harapan yang luas untuk dijadikan masukan bagi peningkatan dan pengobatan di Puskesmas Purbaratu kota Tasikmalaya. 2. Bagi STIKes Muhammadiyah Tasikmalaya Hasil penelitian ini dapat menambah informasi, khususnya mengenai keteraturan berobat TB paru dan menjadikan acuan penelitian selanjutnya. 3. Bagi peneliti Hasil penelitian ini dapat berguna bagi peneliti untuk mendapatkan pengalaman dan mengetahui hubungan pengetahuan, sikap dan motivasi pasien Tb paru tentang keteraturan berobat. 4. Bagi peneliti selanjutnya Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai landasan untuk meneliti aspek lain tentang keteraturan berobat pada pasien TB paru. 5. Bagi profesi keperawatan Hasil penelitian ini dapat menambah informasi khususnya mengenai Tb paru tentang pentingnya pengetahuan, sikap dan motivasi pasien Tb paru tentang keteraturan berobat. BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengetahuan Adalah hasil penginderaan manusia atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Dengan sendirinya, pada waktu penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indera pendengaran (telinga) dan indera penglihatan (mata). Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat yang berbedabeda secara garis besarnya dibagi dalam tingkatan pengetahuan yaitu: 1. Tahu (Know) Diartikan hanya sebagai recail (memanggil) memori yang telah ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu. 2. Memahami (Comprehension) Memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek tersebut. Tidak sekedar dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut harus dapat menginterprestasikan secara benar tentang objek yang diketahui tersebut. 3. Aplikasi (Application) Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada situasi yang lain. 4. Sintesis (Synthesis) Sintesis menunjukkan suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau meletakkan dalam satu hubungan yang logis dari komponen-komponen pengetahuan yang dimiliki. 5. Analisis (Analysis) Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan atau memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui. 6. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu (Notoatmodjo, 2007). B. Sikap Sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan (senang-tidak senang, setujutidak setuju, baik-tidak baik, dan sebagainya) (Notoatmodjo, 2005). Azwar (2005) menjelaskan tentang sikap sebagi berikut : 1. Sikap seseorang terhadap objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada objek tertentu. 2. Sikap merupakan kecenderungan potensi untuk bereaksi dengan cara tertentu apabila individu diharapkan pada stimulus yang menghendaki adanya respon. 3. Sikap merupakan komponen-komponen kognitif, afektif dan konatif yang saling berinteraksi dalam memahami, merasakan dan berperilaku terhadap objek. 4. Sikap sebagai keteraturan tertentu dalam hal berperasaan (kognisi), presdiposisi tindakan (konasi) seseorang terhadap suatu onjek dilingkungan sekitarnya.

4. 3. Kaitan ini berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya.5. Newcomb. 2. 2. Secra umum. Sikap sering diperoleh dari orang lain yang paling dekat. Komponen Perilaku Komponen perilaku (konatif) dalam struktur sikap menunjukan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya. 3. 2. komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu 3. Menghargai (Valuing) Menghargai diartikan subjek atau seseorang memberikan nilai yang positif terhadap . salah seorang ahli psikolog sosial menyatakan bahwa sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak. 2005). Komponen Afektif Komponen afektif menyangkut masalah emosional subyektif seseorang terhadap suatu objek sikap. Menerima (Receiving) Menerima diartikan bahwa seseorang atau subjek mau menerima stimulus yang diberikan (objek). Sikap positif terhadap nilai-nilai kesehatan tidak selalu terwujud dalam suatu tindakan nyata. Sikap akan terwujud di dalam suatu tindakan tergantung pada situasi saat itu. Kaitan ini didasarkan oleh asumsi kepercayaan dan perasaan banyak mempengaruhi perilaku. orang lain yang dianggap penting. Menanggapi (Responding) Menanggapi diartikan bahwa memberikan jawaban atau tanggapan terhadap pertanyaan atau objek yang dihadapi. (Notoatmodjo. Hal ini disebabkan oleh beberapa alasan. Sikap yang sering diperoleh melalui pengalaman pribadi. Sikap mempunyai tingkatan berdasarkan intensitasnya antara lain: 1. budaya. Kecenderungan berperilaku secara konsisten selaras dengan kepecayaan dan perasaan ini membentuk sikap individual. Nilai (value) di dalam suatu masyarakat apapun selalu berlaku nilai-nilai yang menjadi pegangan setiap orang dalam menyelenggarakan hidup bermasyarakat. Sikap akan diikuti atau tidak diikuti oleh tindakan yang mengacu pada pengalaman orang lain. antara lain: 1. dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. yaitu : 1. Berdasarkan dari apa yang kita lihat itu suatu objek. media masa. Sikap membuat seseorang mendekati atau menjauhi orang lain atau objek lain. Sikap diikuti atau tidak diikuti oleh suatu tindakan berdasarkan pada banyak atau sedikitnya pengalaman seseorang. 2005). Stuktur sikap menurut skema triadic terdiri atas tiga komponen yang saling menunjang (Azwar. 2003). Karena itu adalah logis untuk mengaharapkan bahwa seseorang akan dicerminkannya dalam bentuk tendensi perilaku terhadap objek (Azwar. institusi atau lembaga agama serta faktor emosi dalam diri individu. Komponen Kognitif Komponen kognitif berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau yang benar bagi objek sikap kepercayaan datang dari apa yang kita lihat atau apa yang kita ketahui.

Motivasi yang dipelajari. Motivasi Motivasi adalah suatu dorongan dari dalam diri seseorang yang menyebabkan orang tersebut melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai suatu tujuan. (Notoatmodjo. seperti minum. dan sebagainya. minum. Motivasi objektif. Pada hampir semua kasus. misalnya mahasiswa yang belajar karena ia tahu bahwa besok ia akan ujian. yang meliputi kebutuhan untuk melakukan eksplorasi. Motivasi kebutuhan organis. antara lain sebagai berikut: 1. C. Pembagian motivasi berdasarkan atas terbentuknya motivasi tersebut mencakup: a. b. (Notoatmodjo. berusaha. Motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik. melakukan manipulasi. beristirahat. 2. misalnya dorongan untuk makan. atau bersin. tertawa. motivasi manusia dapat digolongkan dan tiap-tiap golongan tersebut mempunyai hubungan jenjang. bernafas. c. dan sebagainya. b. 2007) D. Tuberkulosis Paru 1. ginjal. suatu motivasi timbul kalau motivasi yang mempunyai jenjang lebih rendah telah terpenuhi. Pembagian motivasi menurut penyebabnya a. Woodworth dan Marquis. 2003). Penyebab . seksual. Penyakit ini dapat juga menyebar ke bagian tubuh lain seperti meningen. bekerja. yaitu motivasi yang berfungsi tanpa rangsangan dari luar tetapi sudah dengan sendirinya terdorong untuk berbuat sesuatu. Motivasi tidak dapat diamati. dan beristirahat. dorongan untuk mengejar kedudukan. 2008). b. dan sebagainya. 4. Pengertian Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi yang menyerang parenkim paru-paru yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis. infeksi tuberkulosis didapat melalui inhalasi partikel kuman yang cukup kecil (sekitar 1-5 mm). dorongan seksual. tanpa dipelajari. Motivasi-motivasi pembawaan. Membahasnya dengan orang lain dan mengajak atau mempengaruhi atau menganjurkan orang lain merespon. dan nodus limfe (Somantri. membedakan motivasi yang berdasarkan kebutuhan manusia menjadi 3 macam: a. yang mencakup dorongan-dorongan menyelamatkan diri. makan. yaitu motivasi yang berfungsi karena adanya rangsangan dari luar. seperti dorongan untuk belajar sesuatu. dan dorongan untuk membalas. Motivasi darurat. Menurut Maslow (1964). Nukleus yang terinfeksi kemudian terhirup oleh individu yang rentan (hospes). droplet dikeluarkan selama batuk. b. Pembagian motivasi dapat dibagi berdasarkan pandangan dari para ahli. tulang. yaitu motivasi-motvasi yang timbul karena dipelajari. yang dapat diamati adalah kegiatan atau mungkin alasan-alasan tindakan tersebut. Maksudnya. Bertanggungjawab (Responsible) Sikap yang paling tinggi tingkatannya adalah bertanggungjawab terhadap apa yang telah diyakininya. 3. Sebelum infeksi pulmonari dapat terjadi. 2005).objek atau stimulus. yang dibawa sejak lahir. organisme yang terhirup terlebih dahulu harus melawan mekanisme pertahanan paru dan masuk jaringan paru (Asih. Pengertian dan Penyebab TBC a.

Oleh karena itu. TBC dapat dipengaruhi oleh: a. Status gizi. Kepadatan penduduk c. Status pendidikan. hal ini faktor terpenting dari kejadian TBC. 2008) 3. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan. Sebagian besar komponen mycobacterium tuberculosis adalah berupa lemak/lipid sehingga kuman mampu tahan terhadap asam serta sangat tahan terhadap zat kimia dan faktor fisik. sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman.Mycobacterium tuberculosis merupakan jenis kuman berbentuk batang berukuran panjang 1-4 mm dengan tebal 0. Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak. 2007).6 mm. b. Daerah tersebut menjadi tempat yang kondusif untuk penyakit tuberkulosis (Somantri.3-0. jelas semua ini akan mudah menumbuhkan penyakit tuberkulosis. Faktor ekonomi. Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman tuberkulosis ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut (Depkes RI. Resiko Penularan TBC . Berdasarkan hasil penelitian kejadian tuberkulosis menunjukakan bahwa penyakit yang bergizi normal ditemukan kasus lebih kecil daripada status gizi kurang dan buruk. pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei). c. Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama. Keteraturan berobat. makin menular pasien tersebut. Pendidikan e. Jarak tempuh dengan pusat pelayanan kesehatan g. Pengetahuan f. keadaan sosial yang rendah pada umumnya berkaitan erat dengan berbagai masalah kesehatan karena ketidakmampuan dalam mengatasi masalah kesehatan. Status gizi d. Sedangkan menurut Departemen Kesehatan. (Taufan. ini merupakan faktor yang penting dalam timbulnya penyakit tuberkulosis. Cara Penularan Sumber penularan adalah pasien tuberkulosis Basil Tahan Asam (TBC BTA) positif. pemukiman dan lingkungan sehat. Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak. 4. Percikan dapat bertahan selama beberapa jama dalam keadaan yang gelap dan lembab. Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Mikroorganisme ini adalah bersifat aerob yakni menyukai daerah yang banyak oksigen. mycobacterium tuberculosis senang tinggal di daerah apeks paru-paru yang kandungan oksigennya tinggi. Status sosial ekonomi b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tuberkulosis Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian tuberkulosis diantaranya: a. Pada waktu batuk atau bersin. Masalah kemiskinan akan sangat mengurangi kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan gizi. latar belakang pendidikan mempengaruhi penyebaran penyakit menular khususnya tuberkulosis. 2. 2008). Berdasarkan hasil penelitian mengatakan semakin rendah latar belakang pendidikan kecenderungan terjadi kasus tuberkulosis.

Wheezing Wheezing terjadi karena penyempitan lumen endobronkus yang disebabkan oleh sekret. Keringat malam Keringat malam bukanlah gejala yang patognomonis untuk penyakit tuberkulosis paru. Proses yang paling ringan ini menyebabkan sekret akan terkumpul pada waktu penderita tidur dan dikeluarkan saat penderita bangun pagi hari. di ujung skapula atau di tempat-tempat lain). Nyeri dada Nyeri dada pada tuberkulosis paru termasuk nyeri pleuritik yang ringan. e. ulserasi dan lain-lain (pada tuberkulosis lanjut). Batuk darah Darah yang dikeluarkan penderita mungkin berupa garis atau bercak-bercak darah. Menggigil Dapat terjadi bila panas badan naik dengan cepat. c. .Resiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak.. Dahak Dahak awalnya bersifat mukoid dan keluar dalam jumlah sedikit. gumpalan-gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah sangat banyak. b. bronkostenosis. Bila nyeri bertambah berat berarti telah terjadi pleuritis luas (nyeri dikeluhkan di daerah aksila. tetapi tidak diikuti pengeluaran panas dengan kecepatan yang sama atau dapat terjadi sebagai suatu reaksi umum yang lebih hebat. Dispneu Dispneu merupakan late symptom dari proses lanjut tuberkulosis paru akibat adanya restriksi dan obstruksi saluran pernapasan serta loss of vascular bed / thrombosis yang dapat mengakibatkan gangguan difusi. peradangan. f. d. berarti 10 (sepuluh) orang diantara 1000 penduduk terinfeksi setiap tahun. Batuk Gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan yang paling sering dikeluhkan. c. E. 2007). Diagnosa Penderita TBC 1. Biasanya batuk ringan sehingga dianggap batuk biasa atau akibat rokok. Pasien TB paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan resiko penularan lebih besar dari pasien TB paru dengan BTA negatif. kemudian berubah menjadi purulen/kuning atau kuning hijau sampai purulen dan kemudian berubah menjadi kental bila sudah terjadi perlunakan. hipertensi pulmonal dan korpulmonal. Gejala Penyakit TBC a. Resiko penularan setiap tahunnya ditunjukkan dengan Annual Risk of Tuberculosis Infection (ARTI) yaitu proporsi penduduk yang beresiko terinfeksi TBC selama satu tahun. jaringan granula. b. Gejala-gejala umum: a. Infeksi TB dibuktikan dengan perubahan reaksi tuberkulin negatif menjadi positif (Depkes RI. Panas badan Merupakan gejala paling sering dijumpai dan paling penting sering kali panas badan sedikit meningkat pada siang maupun sore hari. ARTI sebesar 1%.

seringkali baru disadari oleh penderita setelah ia memperoleh terapi dan saat ini masih lebih baik dari sebelumnya (Retrospective Symptomatology) (Alsagaff. sehingga sering terjadi overdiagnosis. (Depkes RI. karena itu harus dianalisa dengan baik dan harus lebih berhati-hati apabila dijumpai perubahan sikap dan temperamen (misalnya penderita yang mudah tersinggung). Pada program TB nasional. 2007) 3. Penemuan Pasien TBC Kegiatan penemuan pasien terdiri dari penjaringan suspek. harus diperiksa dahaknya. Adapun strategi penemuan pada tuberkulosis adalah: a. Penemuan secara aktif dari rumah ke rumah. b. takikardi dan sakit kepala timbul bila ada panas. yaitu sewaktu pagi sewaktu (SPS). Pemeriksaan terhadap kontak pasien TB. perhatian penderita berkurang atau menurun pada pekerjaan. . penularan TB di masyarakat dan sekaligus merupakan kegiatan pencegahan penularan TB yang paling efektif di masyarakat. Diagnosis TB paru 1) Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari. Nausea. biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya. didukung dengan penyuluhan secara aktif. Penemuan pasien TB dilakukan secara pasif dengan promosi aktif. untuk meningkatkan cakupan penemuan tersangka pasien TB. Penemuan pasien merupakan langkah pertama dalam kegiatan program penanggulangan TB. Penemuan dan penyembuhan pasien TB menular. keringat malam dapat timbul lebih dini. 2. Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB paru. f. Gejala umum ini. penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis utama. penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien. e. terutama mereka yang BTA positif dan pada keluarga anak yang menderita TB yang menunjukkan gejala sama. Penjaringan tersangka pasien dilakukan di unit pelayanan kesehatan. Lemah badan Gejala-gejala ini dapat disebabkan oleh kerja berlebihan. diagnosis. 2) Diagnosis TB paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB (BTA). Anoreksia Anoreksia dan penurunan berat badan merupakan manifestasi toksemia yang timbul belakangan dan lebih sering dikeluhkan bila proses progresif. kecuali pada orang-orang dengan vasomotor labil. d. Diagnosis TBC a. dianggap tidak cost efektif. 2005). Pemeriksaan lain seperti foto toraks. kurang tidur dan keadaan sehari-hari yang kurang menyenangkan. baik oleh petugas kesehatan maupun masyarakat. atau penyakit yang kelihatan neurotik. c. 3) Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja.Keringat malam umumnya baru timbul bila proses telah lanjut. Gangguan menstruasi Gangguan menstruasi sering terjadi bila proses tuberkulosis paru sudah menjadi lanjut. anak yang tidak suka bermain. secara bermakna akan dapat menurunkan kesakitan dan kematian akibat TB.

pembesaran kelenjar limfe superfisialis pada limfadenitis TB dan deformitas tulang belakang (gibbus) pada spondilitis TB dan lain-lainnya. 2) Bakteriologi (hasil pemeriksaan dahak secara mikroskopis): BTA positif atau BTA negatif. usus.4) Gambaran kelainan radiologik paru tidak selalu menunjukkan aktifitas penyakit. Klasifikasi Penyakit dan Tipe Pasien Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien tuberkulosis memerlukan suatu “definisi kasus” yang meliputi empat hal. tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus. alat kelamin. persendian. tulang. foto toraks dan lain-lain. selaput jantung (pericardium). 1. selaput otak. Namun pada kondisi tertentu pemeriksaan foto toraks perlu dilakukan sesuai dengan indikasi sebagai berikut: 1) Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. patologi. 2) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada menunjukkan gambaran tuberkulosis. Klasifikasi Berdasarkan Organ Tubuh yang Terkena a. yaitu: 1) Lokasi atau organ tubuh yang sakit: paru atau ekstra paru. 4) Riwayat pengobatan TB sebelumnya: baru atau sudah pernah diobati. . serologi. Ketepatan diagnosis tergantung pada metode pengambilan bahan pemeriksaan dan ketersediaan alat-alat diagnostik. Indikasi pemeriksaan foto toraks Pada sebagian besar TB paru. 3) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif. Tuberkulosis paru Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim) paru.. ginjal. b. 2. anatomi. misalnya kaku kuduk pada meningitis TB. pleuritis eksudativa. 3) Tingkat keparahan penyakit: ringan atau berat. kulit. nyeri dada pada TB pleura (pleuritis). Tuberkulosis paru BTA positif 1) Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. Tuberkulosis ekstra paru Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru. 2) Ketiga spesimen dahak hasilnya tetap negatif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. 2) Diagnosis pasti sering sulit ditegakkan sedangkan diagnosis kerja dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis TB yang kuat (presumtif) dengan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain. kelenjar lymfe. Pada kasus ini pemeriksaan foto toraks dada diperlukan untuk mendukung diagnosis TB paru BTA positif. c. 3) Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak nafas berat yang memerlukan penanganan khusus (seperti: pneumotorak. Diagnosis TB ekstra paru 1) Gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena. b. 2007). saluran kencing. misalnya pleura. Klasifikasi Berdasarkan Hasil Pemeriksaan Dahak Mikroskopis a. efusi perikarditis atau efusi pleural) dan pasien yang mengalami hemoptisis berat (untuk menyingkirkan bronkiektasis atau aspergiloma) (Depkes RI. F. diagnosis terutama ditegakkan dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis dan tidak memerlukan foto toraks. dan lain-lain. misalnya uji mikrobiologi.

4) 1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. Dalam kelompok ini termasuk kasus kronik. misalnya: meningitis. Kriteria diagnostik TB paru BTA negatif harus meliputi: 1) Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negtif. pleuritis eksudativa unilateral. d. peritonitis. 3) Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. 4) Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan. e. b. Tuberkulosis paru BTA negatif Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru dan BTA positif. didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur). 2007) . 2) TB ekstra-paru berat. pleuritis eksudativa bilateral. dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya. 2) Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis. 4. Kasus baru Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu). b. perikarditis. yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan. TB usus. f. sendi. yaitu bentuk berat dan ringan. dan kelenjar adrenal. dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya. Klasifikasi Berdasarkan Riwayat Pengobatan Sebelumnya Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya dibagi menjadi beberapa tipe pasien. tulang (kecuali tulang belakang). c. Klasifikasi Berdasarkan Tingkat Keparahan Penyakit a. Kasus setelah putus berobat (Default) Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif. yaitu: 1) TB ekstra-paru ringan. Kasus pindahan (Transfer In) Adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB lain untuk melanjutkan pengobatannya. Kasus lain Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. b. Kasus kambuh (Relaps) Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap. Kasus setelah gagal (Failure) Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. dan atau keadaan umum pasien buruk. misalnya: TB kelenjar limfe. 3. TB tulang belakang. TB ekstra paru. TB paru BTA negatif foto toraks positif.. (Depkes RI. Bentuk berat bila gambaran foto toraks memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas (misalnya proses “far advanced). TB saluran kemih dan alat kelamin. yaitu: a. milier.

Jenis. 2HRZES/HRZE/5HRE Kategori 3: a. yaitu: Kategori 1: a. memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT (Obat Anti Tuberkulosis) (Depkes RI. 2007). 2HRZE/6HE Kategori 2: a. 2HRZ/6HE Program Nasional Penanggulangan TBC di Indonesia menggunakan paduan OAT: Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3 Kategori 2 : 2HRZES/HRZE/5H3R3E3 Kategori 3 : 2HRZ/4H3R3 Disamping ketiga kategori ini. Sifat. mencegah kekambuhan. Tujuan Pengobatan Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien.G. Pengobatan TB 1. Paduan OAT di Indonesia WHO dan IUATLD (International Union Against Tuberculosis and Lung Disease) merekomendasikan paduan OAT standar. 2HRZ/4H3R3 b. 2. 2HRZES/HRZE/5H3R3E3 b. Sifat. dan Dosis OAT Tabel 2. dan Dosis OAT Jenis OAT Sifat Dosis yang direkomendasikan Harian 3 x seminggu Isoniazid (H) Bakterisid 5 (4-6) 10 (18-20) Rifampicin (R) Bakterisid 10 (8-12) 10 (8-12) Pyrazinamide (Z) Bakterisid 25 (20-30) 35 (30-40) Streptomycin (S) Bakterisid 15 (12-18) 15 (12-18) Ethambutol (E) Bakteriostatik 15 (15-20) 30 (20-35) 3. 2HRZE/4HR c.1 Jenis. Paduan OAT ini . mencegah kematian. 2HRZE/4H3R3 b. 2HRZ/4HR c. disediakan paduan obat sisipan (HRZE).

dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Obat ini diberikan untuk: 1) Penderita kambuh (relaps) 2) Penderita gagal (failure) 3) Penderita dengan pengobatan setelah lalai (after default). Dilanjutkan 1 bulan dengan Isoniasid (H). Kategori 2 : 2HRZES/HRZE/5H3R3E3 Tahap intensif diberikan selama 3 bulan. Rifampisin (R). b. yang terdiri dari 2 bulan dengan Isoniasid (H). TBC kulit. Setelah itu diteruskan dengan tahap lanjutan selama 5 bulan dengan HRE yang diberikan tiga kali dalam seminggu. 4. TBC tulang (kecuali tulang belakang). Kategori 1 (2HRZE/4H3R3) Tahap intensif terdiri dari Isoniasid (H). Perlu diperhatikan bahwa suntikan streptomisin diberikan setelah penderita selesai menelan obat. 2002). diberikan obat sisipan (HRZE) setiap hari selama 1 bulan (Depkes RI. pleuritis eksudativa unilateral. Satu (1) paket untuk satu (1) penderita dalam satu (1) masa pengobatan. Obat ini diberikan untuk: 1) Penderita baru BTA positif dan rontgen positif sakit ringan 2) Penderita ekstra paru ringan. Rifampisin (R). OAT sisipan (HRZE) Bila pada akhir tahap intensif pengobatan penderita baru BTA positif dengan kategori 1 atau penderita BTA positif pengobatan ulang dengan kategori 2. Prinsip Pengobatan Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip-prinsip sebagai berikut: a. . Pirasinamid (Z) dan Etambutol (E) dan suntikan streptomisin setiap hari di UPK. Obat ini diberikan untuk: 1) Penderita baru TBC paru BTA positif 2) Penderita TBC paru BTA positif rontgen positif yang “sakit berat” 3) Penderita TBC ekstra paru berat. Pirasinamid (Z) dan Etambutol (E). Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OATKDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan. Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi). hasil pemeriksaan dahak masih BTA positif. OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat. b. obat-obat tersebut diberikan setiap hari selama 2 bulan (2HRZE). Pirasinamid (Z) dan Etambutol (E) setiap hari. diteruskan dengan tahap lanjutan terdiri dari HR selama 4 bulan diberikan 3 kali seminggu (4H3R3). Untuk menjamin kepatuhan pasian menelan obat. Kemudian diteruskan dengan tahap lanjutan yang terdiri dari Isoniasid (H).disediakan dalam bentuk paket kombipak. a. diberikan tiga kali dalam seminggu selama 4 bulan (4H3R3). Kategori 3 : 2HRZ/4H3R3 Tahap intensif terdiri dari HRZ diberikan setiap hari selama 2 bulan (2HRZ). dilakukan pengawasan langsung (DOT= Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO). dengan tujuan untuk memudahkan pemberian obat dan menjamin kelangsungan (kontinuitas) pengobatan sampai selesai. sendi dan kelenjar adrenal. yaitu TBC kelenjar limfe (limfadenitis). Rifampisin (R). c. d. Rifampisin (R).

ganti Etambutol Ikterus tanpa penyebab lain Hampir semua OAT Hentikan semua OAT sampai ikterus menghilang Bingung dan muntah-muntah (permukaan ikterus karena obat) Hampir semua OAT Hentikan semua OAT. Pemeriksaan dahak secara mikroskopis lebih baik dibandingkan dengan pemeriksaan radiologis dalam memantau kemajuan pengobatan. Tuli Streptomisin Streptomisin dihentikan. Tabel 2. 3) Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan. namun dalam jangka waktu yang lama. 2007) 5. 2) Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah terjadinya kekambuhan. sakit perut Rifampisin Semua OAT diminum malam sebelum tidur Nyeri sendi Pirasinamid Beri aspirin Kesemutan s/d rasa terbakar di kaki INH Beri vitamin B6 (piridoxin) 100 mg per hari Warna kemerahan pada air seni (urine) Rifampisin Tidak perlu diberi apa-apa tapi perlu dijelaskan kepada pasien. Tahap awal (Intensif): 1) Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat. Hasil pemeriksaan dinyatakan negatif bila ke 2 spesimen tersebut negatif.3 Efek samping berat OAT Efek Samping Penyebab Penatalaksanaan Gatal dan kemerahan kulit Semua jenis OAT Ikuti petunjuk penatalaksanaan dibawah. Tabel 2. Untuk memantau kemajuan pengobatan dilakukan pemeriksaan spesimen sebanyak dua kali (sewaktu dan pagi). Efek Samping Obat dan Penatalaksanaannya Tabel berikut. Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap. hasil pemeriksaan ulang dahak tersebut dinyatakan positif (Depkes RI.2 Efek samping ringan OAT Efek Samping Penyebab Penatalaksanaan Tidak ada nafsu makan. Tahap lanjutan: 1) Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit. 2007) 6. (Depkes RI.c. segera lakukan tes fungsi hati . menjelaskan efek samping ringan maupun berat dengan pendekatan gejala. 2) Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat. Bila salah satu spesimen positif atau keduanya positif. yaitu tahap intensif dan lanjutan. Pemantauan dan Hasil Pengobatan TB Pemantauan kemajuan hasil pengobatan pada orang dewasa dilaksanakan dengan pemeriksaan ulang dahak secara mikroskopis. biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. mual. ganti Etambutol Gangguan keseimbangan Streptomisin Streptomisin dihentikan.

7. d. 4) Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan pasien. jangan lakukan desensitisasi pada pasien TB dengan HIV positif sebab mempunyai resiko besar terjadi keracunan yang berat (Depkes RI. Hal ini dimaksudkan untuk menentukan obat mana yang merupakan penyebab dari efek samping tersebut. berarti hepatotoksisitas karena reaksi hipersensitivitas. selain itu harus disegani dan dihormati oleh pasien. maka pemberian kembali OAT harus dengan cara “drug challenging” dengan menggunakan obat lepas. Bila jenis obat penyebab dari reaksi efek samping telah diketahui. guru. Untuk menjamin keteraturan pengobatan diperlukan seorang PMO. Namun. a. Efek samping hepatotoksisitas bisa terjadi karena reaksi hipersensitivitas atau karena kelebihan dosis. Kedua obat ini merupakan jenis OAT yang paling ampuh sehingga merupakan obat utama (paling penting) dalam pengobatan jangka pendek. PMO dapat berasal dari kader kesehatan. baik oleh petugas kesehatan maupun pasien. dipercaya. juru imunisasi. Gatal-gatal tersebut pada sebagian pasien hilang.Gangguan penglihatan Etambutol Hentikan Etambutol Purpura dan renjatan (syok) Rifampisin Hentikan Rifampisin Penatalaksanaan pasien dengan efek samping “gatal dan kemerahan kulit”: jika seorang pasien dalam pengobatan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) mulai mengeluh gatal-gatal. singkirkan dulu kemungkinan penyebab lain. ganti obat tersebut dengan obat lain. perawat. misalnya pirasinamid atau etambutol atau streptomisin. Berikan dulu anti-histamin. Kadang-kadang. Siapa yang bisa jadi PMO Sebaiknya PMO adalah petugas kesehatan. c. semua OAT dihentikan dulu kemudian diberi kembali sesuai dengan prinsip dechallenge-rechalenge. dan lain-lain. Bila pasien dengan reaksi hipersensitivitas terhadap Isonasid atau Rifampisin tersebut HIV negatif. pada pasien timbul reaksi hipersensitivitas (kepekaan) terhadap Isonasid atau Rifampisin. sambil meneruskan OAT dengan pengawasan ketat. maka pengobatan TB dapat diberikan lagi dengan tanpa obat tersebut. tapi hal ini akan menurunkan resiko terjadinya kambuh. Bila tidak ada petugas kesehatan yang memungkinkan. misalnya bidan di desa. Lamanya pengobatan mungkin perlu diperpanjang. Untuk membedakannya. mungkin dapat dilakukan desensitisasi. pasien perlu dirujuk pada UPK rujuan penanganan kasus-kasus efek samping obat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: a. dan disetujui. 3) Bersedia membantu pasien dengan sukarela. namun pada sebagian pasien malahan terjadi suatu kemerahan kulit tersebut hilang. pekarya. PMO (Pengawasan Menelan Obat) Salah satu komponen DOTS adalah pengobatan paduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung. PKK. Bila mungkin. Bila jenis obat penyebab efek samping itu belum diketahui. b. Bila dalam proses rechallenge yang dimulai dengan dosis rendah sudah timbul reaksi. b. Jika gejala efek samping ini bertambah berat. anggota PPTI. atau . sanitarian. Persyaratan PMO 1) Seseorang yang dikenal. 2007). 2) Seseorang yang tinggal dekat dengan pasien.

Hal ini mudah dimengerti. 4) Memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB yang mempunyai gejala-gejala mencurigakan TB untuk segera memeriksakan diri ke Unit Pelayanan Kesehatan. Penyakit utama terjadinya hal tersebut adalah pasien tidak mematuhi ketentuan dan lamanya pengobatan secara teratur untuk mencapai kesembuhan. (Depkes RI. 4) Cara pemberian pengobatan pasien (tahap intensif dan lanjutan). 2) Memberi dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur. Resistensi obat anti tuberkulosis terjadi akibat pengobatan tidak sempurna. penting karena ketidakteraturan berobat menyebabkan timbulnya masalah resistensi. angka sembuh masih lebih rendah dari yang diharapkan. 2008). c. Terutama pemakaian obat secara teratur pada 2 bulan fase inisial sering kali tidak tercapai. Walaupun telah ada cara pengobatan tuberkulosis dengan efektifitas yang tinggi. Tata cara penyembuhan itu terangkum dalam strategi DOTS. Informasi penting yang perlu dipahami PMO untuk disampaikan kepada pasien dan keluarganya: 1) TB disebabkan kuman. 3) Mengingkatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah ditentukan. penderita TBC dapat diberikan obat anti-TBC (OAT) yang . 5) Pentingnya pengawasan supaya pasien berobat secara teratur.basil TB yang multiresisten. sementara itu dengan mempersingkat lamanya pengobatan menjadi 6 bulan telah menunjukkan penurunan angka drop out. Sejak tahun 1995. 6) Kemungkinan terjadinya efek samping obat dan perlunya segera meminta pertolongan ke UPK. 3) Cara penularan TB.tokoh masyarakat lainnya atau anggota keluarga. Keteraturan Pasien Pada Aturan Pemakaian Obat Yang Telah Ditetapkan Keteraturan berobat yaitu diminum tidaknya obat-obat tersebut. manajemen operasional yang menyesuaikan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) menekankan adanya pengawas minum obat (PMO) untuk setiap penderita TBC paru dengan harapan dapat menjamin keteraturan minum obat bagi setiap penderita selama masa pengobatan. 2) TB dapat disembuhkan dengan berobat teratur. Kelemahan itu dapat menyebabkan penderita tidak berobat. putus berobat. putus berobat atau karena kombinasi obat anti tuberkulosis tidak adekuat. karena kalau penderita tidak tekun meminum obat-obatnya. peranan pendidikan mengenai penyakit dan keteraturan berobat sangat penting (Taufan. Tugas seorang PMO bukanlah untuk mengganti kewajiban pasien mengambil obat dari unit pelayanan kesehatan. baik fisik maupun mentalnya. Tugas seorang PMO 1) Mengawasi pasien TB agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan. TBC dapat disembuhkan dengan berobat secara teratur sampai selesai dalam waktu 6-8 bulan. Kondisi seorang penderita penyakit tuberkulosis sering berada dalam kondisi rentan dan lemah. hasil akhir hanyalah kegagalan penyembuhan ditambah dengan timbulnya basil. bukan penyakit keturunan atau kutukan. gejala-gejala yang mencurigakan dan cara pencegahannya. Oleh karena itu.. bila tanpa disertai dengan sistem evaluasi yang baik pula. Dalam proses penyembuhan. 2007) H. d. dan atau menghentikan pengobatan karena berbagai alasan. Karena semua tatalaksana yang telah dilakukan dengan baik akan menjadi sia-sia.

Ha: Ada hubungan antara motivasi untuk melakukan pengobatan dengan keteraturan berobat pasien TB paru. Kegiatan pokok Puskesmas dilaksanakan sesuai kemampuan tenaga maupun fasilitasnya. Kerangka Penelitian Berdasarkan latar belakang masalah dan tujuan penelitian ini. laboratorium.1 Kerangka Penelitian Variabel Bebas Variabel Terikat Output Keterangan: = Variabel yang diteliti = Variabel yang tidak diteliti K. Definisi Operasional Tabel 2. usaha kesehatan kerja. perawatan kesehatan masyarakat. pencatatan dan pelaporan sistem informasi kesehatan dan kesehatan usia lanjut (Hatmoko. kesehatan olah raga. usaha peningkatan gizi. pemberantasan penyakit menular. I. kesehatan mata. Hipotesa 1. 2008). Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Puskesmas adalah suatu kesatuan organisasi kesehatan fungsional yang merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran serta masyarakat disamping memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok. upaya pengobatan termasuk pelayanan darurat kecelakaan. Masa pemberian obat memang cukup lama yaitu 6-8 bulan secara terus-menerus. penyuluhan kesehatan masyarakat. sehingga dapat mencegah penularan kepada orang lain. Ha: Ada hubungan antara pengetahuan pasien tentang TB paru dengan keteraturan berobat. L. keluarga brencana.diminum secara teratur sampai selesai dengan pengawasan yang ketat.4 Definisi Operasional No Variabel Definisi Operasional Skala Alat Ukur Hasil Ukur . Oleh sebab itu. kesehatan lingkungan. karenanya kegiatan pokok di setiap Puskesmas dapat berbeda-beda. 2008). 2. J. usaha kesehatan sekolah. Ha: Ada hubungan antara sikap untuk melakukan pengobatan dengan keteraturan berobat pasien TB paru. para penderita TBC jika ingin sembuh harus minum obat secara teratur. maka kerangka penelitian ini adalah: Bagan 2. Pada saat ini kegiatan puskesmas ada 17 yakni : kesejahteraan ibu dan anak (KIA). Jika tidak teratur minum obat penyakitnya sukar diobati kuman TBC dalam tubuh akan berkembang semakin banyak dan menyerang organ tubuh lain akan membutuhkan waktu lebih lama untuk dapat sembuh biaya pengobatan akan sangat besar dan tidak ditanggung oleh pemerintah (Ainur. Tanpa adanya keteraturan minum obat penyakit sulit disembuhkan. 3. usaha kesehatan gigi dan mulut. usaha kesehatan jiwa.

Populasi. TS=2. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif korelasi dengan menggunakan metode survei dengan pendekatan cross sectional adalah pencarian hubungan antara satu keadaan lain yang terdapat dalam satu populasi yang sama (Azwar. S=4. 2.1 Pengetahuan Pengetahuan adalah hal-hal yang diketahui pasien seputar penyakit TB paru.STS=5 3 Motivasi untuk melakukan pengobatan Motivasi untuk melakukan pengobatan yaitu suatu dukungan yang kuat dari diri sendiri dan keluarga untuk berobat secara teratur dalam mencapai kesembuhan. Ordinal Kuesioner Kurang dari mean yaitu nilai skor kurang dari rata-rata Lebih dari mean yaitu nilai skor lebih dari rata-rata 2 Sikap untuk melakukan pengobatan Sikap untuk melakukan pengobatan adalah pendapat atau keyakinan untuk melakukan pengobatan secara teratur. 2002). B. sikap dan motivasi pasien Tb paru untuk melakukan pengobatan dengan keteraturan berobat setelah pengobatan kategori I di Wilayah Kerja Puskesmas Purbaratu Kota Tasikmalaya. jika penderita kadang-kadang berhenti minum obat sebelum masa pengobatan selesai. jika penderita telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap Tidak teratur. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah diambil seluruhnya dari jumlah . Sampel dan Sampling 1. Sampel Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo. R=3. Sebagai populasi dalam penelitian ini adalah semua penderita TB paru yang sudah selesai pengobatan kategori I di Puskesmas Purbaratu selama tahun 2007 sebanyak 48 orang sampel. Nominal Data sekunder dari Puskesmas Teratur. Ordinal Kuesioner Bersifat positif: SS=5. 2002). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan. STS=1 Bersifat negatif: SS=1. 2003). S=2. Ordinal Kuesioner Kurang dari mean yaitu nilai skor kurang dari rata-rata Lebih dari mean yaitu nilai skor lebih dari rata-rata 4 Keteraturan berobat pasien TB paru Pengobatan yang dilaksanakan secara teratur sejak pertama dinyatakan TB paru BTA positif (+) dan datang kembali setiap persediaan obat habis dari petugas kesehatan sampai dinyatakan sembuh.R=3. BAB III METODE PENELITIAN A.TS=4. Populasi Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo.

c. 2003). Kriteria Inklusi dan Eksklusi 1. Responden yang bersedia memberikan jawaban c. Variabel Penelitian Variabel penelitian adalah suatu atribut. C. 2006). Kriteria inklusi dalam penelitian ini terdiri dari: a. E. Motivasi untuk berobat teratur. Variabel Bebas Variabel bebas adalah merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel terikat (Sugiyono. Karena populasi sedikit. Lokasi dan Waktu penelitian Lokasi penelitian ini di wilayah kerja Puskesmas Purbaratu Kota Tasikmalaya yang dilaksanakan pada bulan September 2008 F. Sikap untuk melakukan pengobatan. sifat atau nilai dari orang. Responden yang menolak berpartisipasi D. Responden yang berobat diwilayah kerja Puskesmas Purbaratu d. Kriteria Inklusi Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subjek penelitian dari suatu populasi target yang terjangkau yang akan diteliti (Nursalam. Kriteria Eksklusi Kriteria eksklusi adalah menghilangkan atau mengeluarkan subyek yang memenuhi kriteria inklusi karena berbagai sebab sehingga tidak dapat menjadi responden penelitian (Nursalam. Pengetahuan tentang TB paru. b. Responden yang kasus baru b. 2006). lebih baik semua populasi diambil sebagai sampel. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah keteraturan pasien TB paru di Puskesmas Purbaratu Kota Tasikmalaya. Responden kategori I yang sudah selesai pengobatan b. Variabel bebas yang diteliti terdiri dari: a. 2006). Menurut Arikunto (2006) apabila subjeknya kurang dari 100. kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada subjek dan proses . yaitu berjumlah 48 orang yang sekaligus merupakan populasi aktual yang ada di lapangan. 2. Responden yang bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas Purbaratu 2. Responden dalam keadaan tidak sadar c. Kriteria Eksklusi dalam penelitian ini terdiri dari: a. 1. Variabel Terikat Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Sugiyono. objek. 2003).populasi. maka yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah seluruh populasi.

Uji reliabilitas digunakan hanya untuk menguji item valid saja. Sebuah alat evaluasi dipandang reliabel (tahan uji). Langkah-langkah yang dilakukan untuk menguji validitas dan reliabilitas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Dalam penelitian ini untuk pengujian validitas keteraturan berobat pada pasien TB paru menggunakan uji korelasi product moment yang rumusannya sebagai berikut (Arikunto. H. Pada penelitian ini uji reliabilitas menggunakan rumus Alpha sebagai berikut: Keterangan: r11 = reliabilitas instrumen k = banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal = Jumlah varian butir = Varian total Dalam penelitian ini digunakan uji validitas dan reliabilitas dengan menggunaknan program SPSS for window. meskipun digunakan secara berulang-ulang pada subjek yang sama atau berbeda (Danim. keajegan hasil. Data Sekunder Data tentang keteraturan pasien berobat dengan melihat daftar kunjung pasien dalam pengambilan obat setiap kali obat habis. 2006). 2. Keterangan: rxy = Koefisien korelasi variabel X dan variabel Y n = Banyaknya subjek X = Skor jawaban masing-masing item Y = Skor total 2. 2003). yaitu data TB paru se-Provinsi Jawa Barat dan se-Kota Tasikmalaya serta data jumlah suspek TB paru yang diperiksa di unit Puskesmas Purbaratu Kota Tasikmalaya. Uji Reliabilitas Reliabilitas adalah tingkat konsistensi hasil yang dicapai oleh sebuah alat ukur. 2003). Pengumpulan data ini terdiri dari: 1. Uji Coba Instrumen 1. Data Primer Data primer yaitu data yang diperoleh langsung melalui observasi dan wawancara dengan responden dengan menggunakan kuesioner. data dikumpulkan langsung oleh peneliti dengan cara kunjungan ke rumah responden.pengumpulan karakteristik yang diperlukan dalam suatu penelitian (Nursalam. Menentukan nilai r tabel . Uji Validitas Validitas adala suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan sesuatu instrumen (Arikunto. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang berbentuk pertanyaan dan pernyataan tertutup. Selanjutnya ada tambahan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya dan Puskesmas Purbaratu Kota Tasikmalaya. apabila memiliki konsistensi. G. 2006).

444 (r tabel). Pengolahan Data Pengolahan data pada dasarnya merupakan suatu proses untuk memperoleh data atau data ringkasan berdasarkan suatu kelompok data mentah dengan menggunakan rumus tertentu sehingga menghasilkan informasi yang diperlukan (Setiadi. 2) Jika r hasil negatif. serta r hasil > r tabel butir tersebut valid. b. 1) Koding butir jawaban untuk pengetahuan dengan menggunakan penilaian : Nilai 1 untuk jawaban yang benar dan Nilai 0 untuk jawaban yang salah 2) Koding butir untuk jawaban pertanyaan sikap (skala likert) Bersikap positif : (SS=5. Pengolahan data dilakukan dengan cara: a.444 (r tabel). S=2.444 (r tabel). Teknik Pengolahan Data dan Analisa Data 1. dan variabel motivasi didapatkan nilai alpha 0. Koding Koding adalah melakukan pengkodean data agar tidak terjadi kekeliruan dalam melakukan tabulasi data. 2. R=3. Analisa Data Analisa data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara: a. STS=1) Bersikap negatif : (SS=1. d. STS=5) 3) Koding butir untuk jawaban untuk motivasi menggunakan penilaian Nilai 1 untuk jawaban ya dan Nilai 0 untuk jawaban tidak c. Keputusan : Dalam uji validitas ini terlihat dari 75 item pertanyaan semuanya valid. S=4. jika r hasil > r tabel tapi berharga negatif butir tetap ditolak. 3) Jadi.b. I.444 c. 2007). Dimana variabel pengetahuan didapatkan nilai alpha (r hasil) sebesar 0. serta r hasil < r tabel maka butir tersebut tidak valid. d.8781 > 0. Analisa Univariat Dilakukan untuk mendiskripsikan tiap variabel independent dan variabel dependent .9301 > 0. maka dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa kuesioner sudah reliabel. TS=2. variabel sikap didapatkan nilai alpha (r hasil) sebesar 0.9429 > 0. Tabulasi data Tabulasi data adalah penyusunan data sedemikian rupa sehingga memudahkan dalam penjumlahan data dan disajikan dalam bentuk tulisan. Entri data Entri data adalah memasukan data melalui pengolahan komputer. Dari r tabel Product moment dengan tingkat signifikan 5% didapat angka 0. TS=4. Mencari r hasil Disini r hasil tiap item bisa dilihat pada kolom correted item total correlation. Editing Editing adalah menyeleksi data yang telah didapat dari hasil wawancara untuk mendapatkan data yang akurat. Mengambil keputusan Dasar mengambil keputusan: 1) Jika r hasil positif. R=3.

Untuk pertanyaan positif (favorable) yaitu: Sangat setuju (SS) diberi skor = 5 Setuju (S) diberi skor = 4 Ragu-ragu (R) diberi skor = 3 Tidak setuju (TS) diberi skor = 2 Sangat tidak setuju (STS) diberi skor = 1 Untuk pertanyaan negatif (unfavorable) yaitu: Sangat setuju (SS) diberi skor = 1 Setuju (S) diberi skor = 2 Ragu-ragu (R) diberi skor = 3 Tidak setuju (TS) diberi skor = 4 Sangat tidak setuju (STS) diberi skor = 5 Kemudian dari jawaban responden masing-masing item pertanyaan dihitung tabulasi. Keterangan : X = Skor responden = Mean skor kelompok s = Deviasi standar skor kelompok Kategori: a) Jika T > rata-rata skor-T = Bersikap positif (favorable) b) Jika T < rata-rata skor-T = Besikap negatif (unfavorable) 3) Motivasi untuk melakukan pengobatan Untuk mengukur variabel motivasi untuk melakukan pengobatan dari jawaban responden . 1) Pengetahuan tentang penyakit TB paru Untuk mengukur variabel pengetahuan tentang penyakit TB paru dari jawaban responden masing-masing item pertanyaan diberi skor. 2007). Dalam skala likert item ada yang bersifat positif (favorable) terhadap masalah yang diteliti. Untuk setiap item yang dijawab benar diberi nilai satu (1). sebaliknya ada yang bersifat negatif (unfavorable) terhadap masalah yang diteliti. dan jika salah satu jawaban tidak diisi diberi nilai nol (0).dalam bentuk distribusi frekuensi. Pada skala likert disediakan lima alternative jawaban dan setiap jawaban sudah tersedia nilainya. Sebelum membuat kategori terlebih dahulu dicari nilai rata-rata (cut of point) dengan rumus : Skor total jawaban Mean = Banyaknya responden Setelah diperoleh hasil dengan cara penghitungan seperti diatas kemudian nilai tersebut dimasukan kedalam kategori nilai sebagai berikut: Kategori: a) Kurang dari mean yaitu nilai skor kurang dari rata-rata b) Lebih dari mean yaitu nilai skor lebih dari rata-rata 2) Sikap untuk melakukan pengobatan Untuk mengukur sikap digunakan skala likert. Kemudian skor pada setiap pertanyaan yang terdiri dari 30 pernyataan dijumlahkan sehingga didapatkan skor total dari setiap responden. Untuk sikap dikategorikan menjadi posittif dan negatif dengan menghitung terlebih dahulu skor-T (Azwar.

Sebelah Utara : Kabupaten Ciamis b. Sebelah Timur : Kecamatan Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya Luas wilayak kerja Puskesmas Purbaratu 1.810. Sebelah Selatan : Wilayah kerja Puskesmas Cibeureum c. dan jika salah satu jawaban tidak diberi nilai nol (0). Untuk setiap item yang dijawab ya diberi nilai satu (1). Keterangan : x2 = Chi kuadrat f0 = Frekuensi observasi fh = Frekuensi harapan Pengambilan keputusan didasarkan pada besarnya nilai yaitu bila ? value ? 0. 2006). Kategori: : a) Kurang dari mean yaitu nilai skor kurang dari rata-rata b) Lebih dari mean yaitu nilai skor lebih dari rata-rata 4) Keteraturan berobat pasien TB paru Untuk mengukur variabel keteraturan berobat pasien TB paru. Sebelah Barat : Kecamatan Tawang d. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.05 maka Ho ditolak. Gambaran Umum Puskesmas Purbaratu 1.05% maka Ho diterima. Sebagian besar merupakan daratan dan sarana transportasi memakai kendaraan roda empat dan ojeg. artinya tidak ada hubungan antara pengetahuan. Analisa Bivariat Dilakukan untuk mencari hubungan antara data variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat yang dilakukan dengan uji chi-square yaitu uji statistik yang digunakan untuk menguji signifikasi dua variabel (Arikunto. 3.1 Data Geograpi Kelurahan di Wilayah Kerja Puskesmas Purbaratu . Data Geografi Kelurahan yang ada di wilayah kerja Puskesmas Purbaratu dan jarak dari kelurahan ke Pelayanan Kesehatan dapat dilihat dari Tabel 4. b) Tidak teratur. sedangkan bila ? value > 0.1 Tabel 4. jika penderita kadang-kadang berhenti minum obat sebelum masa pengobatan selesai. Letak Puskesmas Purbaratu Puskesmas Purbaratu terletak disebelah utara Kota Tasikmalaya. yang diaktegorikan sebagai berikut: Kategori: a) Teratur. sikap dan motivasi pasien tuberkulosis paru untuk melakukan pengobatan dengan keteraturan berobat pada ? : 5%. dengan batas-batas.masing-masing item pertanyaan diberi skor. sebagai berikut: a. artinya ada hubungan antara pengetahuan.78 Ha. sikap dan motivasi pasien tuberkulosis paru untuk melakukan pengobatan dengan keteraturan berobat. menggunakan data sekunder dari Puskesmas dengan melilihat daftar dari hasil kunjungan pasien dalam pengambilan obat setelah obat itu habis. jika penderita telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap.

2 Tenaga Kerja Puskesmas Purbaratu No Jenis Tenaga Jumlah 1 2 3 4 5 6 7 8 .495 0.5 39 Ha 2 Sukaasih 37 8 155.No Nama Kelurahan Jumlah Luas Wilayah Jarak dari Kelurahan (KM) Kepadatan Penduduk RT RW 1 Sukamenak 43 10 134. Salam. Strategi Strategi untuk mewujudkan Misi Puskesmas Purbaratu adalah sebagai berikut : 1) Audensi ke Dinas Kesehatan untuk mendukung pendirian rawat inap dengan hasil SK Wali Kota dan terbitnya Perda sebagai payung hukum 2) Sosialisasi ke tokoh masyarakat untuk mendukung perkembangan Puskesmas Purbaratu dengan tempat perawatan 3) Sosialisasi pada kepala kelurahan untuk merangkul masyarakat supaya mau menggunakan fasilitas Puskesmas sebagai pilihan pertama 3. Misi dan Strategi Puskesmas Purbaratu a. Visi Mewujudkan kelurahan sehat 2008 dan menjadikan Puskesmas Purbaratu sebagi Puskesmas Dengan Tempat Perawatan (DPT) tahun 2008 b. Tenaga Puskesmas Purbaratu Tabel 4.3 3 30 Ha 3 Sukanagara 42 14 206 1 34 Ha 4 Purbaratu 26 6 167. Sapa.655 5 16 Ha 2. Misi Untuk mencapi Visi tersebut diatas. Sopan. Visi.33 1 30 Ha 5 Sukajaya 29 6 80 4 62 Ha 6 Singkup 35 8 347. maka disusunlah Misi Puskesmas Purbaratu sebagai berikut : 1) Menerapkan 5 S (Senyum. Santun) 2) Menciptakan pelayanan yang prima 3) Membangun kemitraan dengan stekholder terkait 4) Memberdayakan dan mendorong masyarakat untuk hidup sehat 5) Transparansi 6) Mewujudkan pelayanan Keparawatan yang komprehensif c.

Rawat Jalan B. Gambaran Khusus 1. Analisa Univariat a. Rawat Inap b.3 .9 10 11 12 13 14 15 dr. Sarana Puskesmas Purbaratu Sarana yang ada di Puskesmas Purbaratu terdiri dari a. Gigi Bidan Puskesmas Bidan Kelurahan Perawat Puskesmas Perawat Pustu Perawat Gigi Tenaga Laboratorium Asisten Apotek Pelaksana Gizi Sanitarian Administrasi Tenaga Penyuluh Pelaksana Imunisasi Sukwan 2 1 3 6 7 2 2 1 1 1 15 4. Pengetahuan Tabel 4. Umum Dr.

6 Jumlah 48 100 .2%).42 21 43.8 2 Lebih dari Mean 23. Sikap Tabel 4.6%) dan motivasi lebih dari 8.2 Jumlah 48 100 Tabel 4.3 menunjukan responden TB paru yang memiliki pengetahuan kurang dari 23. Motivasi Tabel 4.81 sebanyak 19 responden (39.4 menunjukan responden TB paru yang memiliki sikap negatif sebanyak 22 responden (45. c.4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Sikap tentang TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Purbaratu Kota Tasikmalaya No Sikap f % 1 Negatif 22 45.5 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Motivasi tentang TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Purbaratu Kota Tasikmalaya No Motivasi f % 1 Kurang dari 8. d.4 Jumlah 48 100 Tabel 4.3 Jumlah 48 100 Tabel 4.81 19 39.8%) dan bersikap positif sebanyak 26 responden (54.42 27 56.42 sebanyak 27 responden (56.8%) dan yang memiliki pengetahuan lebih dari 23.81 29 60.81 sebanyak 29 responden (60. Keteraturan Berobat Tabel 4.4%).Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pengetahuan tentang TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Purbaratu Kota Tasikmalaya No Pengetahuan f % 1 Kurang dari 23.42 sebanyak 21 responden (43. b.3%).5 menunjukan responden TB paru yang memiliki motivasi kurang dari 8.6 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Keteraturan Berobat tentang TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Purbaratu Kota Tasikmalaya No Keteraturan Berobat f % 1 Tidak Teratur 17 35.4 2 Teratur 31 64.8 2 Positif 26 54.6 2 Lebih dari 8.

4 31 64.4%) termasuk kategori melakukan pengobatan secara tidak teratur dan 31 responden (64.42 6 12.4 21 43. maka Ho ditolak yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan pasien TB paru dengan keteraturan berobat.850 2 Lebih dari 23.8%).4 31 64. b.0 10 20.030 yang lebih kecil dari nilai ? = 0.2 Jumlah 17 35.42 11 22. Keteraturan pasien Tb paru lihat dengan melakukan obeservasi pada data yang ada di Puskesmas.42 mempunyai peluang 3.8 3.9%). Hubungan antara sikap dengan keteraturan berobat Tabel 4. Analisa Bivariat a. 2.8 21 43.6%) termasuk kategori melakukan pengobatan secara teratur.7 Hubungan Antara Pengetahuan dengan Keteraturan Berobat di Wilayah Kerja Puskesmas Purbaratu Kota Tasikmalaya No Pengetahuan Tidak teratur Teratur Jumlah OR 95% f%f%f% 1 Kurang dari 23. Responden yang pengetahuannya lebih dari 23. tidak teratur sebanyak 6 orang (12.6 diketahui bahwa berdasarkan kategori keteraturan pasien melakukan pengobatan sebanyak 17 responden (35.850 artinya responden yang memiliki pengetahuan lebih dari 23. Hubungan antara pengetahuan dengan keteraturan berobat Tabel 4.040 2 Positif 5 10.5%) dan teratur sebanyak 21 orang (43.8 27 56. Dari hasil analisis diperoleh nilai OR = 3. Hasil uji statistik diperoleh ? value = 0.6 48 100 ? value = 0.42 yang berjumlah 27 orang (56.5 21 43.011 Tabel 4.8%).9 10 20.42.030 Dari tabel diatas dari 21 responden yang kategori pengetahuan kurang dari 23.6 48 100 ? value = 0.8 5.8 diatas dari 22 responden yang kategori sikap negatif terhadap ketidakaturan .3%). tidak teratur 10 orang (20.42 dengan melakukan pengobatan tidak teratur sebanyak 11 orang (22.850 kali untuk melakukan pengobatan secara teratur dibanding dengan responden yang memiliki pengetahuan kurang dari 23.8 22 45.3 Jumlah 17 35.Berdasarkan tabel 4.8 Hubungan Antara Sikap dengan Keteraturan Berobat di Wilayah Kerja Puskesmas Purbaratu Kota Tasikmalaya No Sikap Tidak teratur Teratur Jumlah OR 95% f%f%f% 1 Negatif 12 25.8 26 54.05.

Hasil uji statistik diperoleh ? value = 0.6 22 45.berobat sebanyak 12 orang (25.05.040 Ada hubungan 3 Motivasi untuk berobat teratur 0.8%).8 29 60.044 Tabel 4.81 untuk melakukan pengobatan secara tidak teratur sebnayak 10 orang (20.6 48 100 ? value = 0. Hasil uji statistik diperoleh ? value = 0.850 Ada hubungan 2 Sikap melakukan pengobatan 0.030 3. Dari hasil analisis diperoleh nilai OR = 5.81 mempunyai peluang 3.044 yang lebih kecil dari nilai ? = 0.6%) dan teratur 22 orang (45.8 9 18.011 yang lebih kecil dari nilai ? = 0. maka Ho ditolak yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara sikap pasien TB paru dengan keteraturan berobat.81 10 20.8%). Hubungan antara motivasi dengan keteraturan berobat Tabel 4. Dari hasil analisis diperoleh nilai OR = 3.492 artinya responden yang memiliki motivasi lebih dari 8. C.492 2 Lebih dari 8. maka Ho ditolak artinya terdapat hubungan yang signifikan antara sikap pasien TB paru dengan keteraturan berobat. Ringkasan Hasil Uji Statistik Tabel 4. c.8%).9 diatas dari 19 responden yang mempunyai motivasi kurang dari 8.8 19 39. Pengetahuan tentang TB paru Keteraturan berobat 0.040 kali untuk melakukan pengobatan secara teratur dibanding dengan responden yang memiliki sikap negatif.4%) untuk melakukan pengobatan secara tidak teratur sebanyak 7 orang (14.492 kali untuk melakukan pengobatan secara teratur dibanding dengan responden yang memiliki motivasi kurang dari 8.040 artinya responden yang memiliki sikap positif mempunyai peluang 5.4 31 64.8%) dan teratur 9 orang (18. Kategori sikap positif yang melakukan pengobatan tidak teratur sebanyak 5 orang (10.9 Hubungan Antara Motivasi dengan Keteraturan Berobat di Wilayah Kerja Puskesmas Purbaratu Kota Tasikmalaya No Motivasi Tidak teratur Teratur Jumlah OR 95% f%f%f% 1 Kurang dari 8.044 3.492 Ada hubungan .0%) dan teratur 10 orang (20.011 5.81 sebanyak 29 orang (60.10 Rekapitulasi Hasil Uji Statistik No Variabel Bebas Variabel Terikat ? value OR 95% Keterangan 1.81 7 14.8%).4 Jumlah 17 35.81.05.4%) dan teratur sebanyak 21 orang (43.6 3. Responden yang motivasinya lebih dari 8.

Sikap positif terhadap nilai-nilai kesehatan tidak selalu terwujud dalam suatu tindakan nyata. Penulis berasumsi bahwa pengetahuan tentang TB paru dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan yang memberi pengaruh positif dalam penyembuhan. Kaitan ini didasarkan oleh asumsi bahwa kepercayaan dan perasaan banyak mempengaruhi perilaku. Hal ini sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (2003) bahwa sikap merupakan reaksi atau . tidak teratur 10 orang (20.3%).42 yang berjumlah 27 orang (56. Kategori sikap positif yang melakukan pengobatan tidak teratur sebanyak 5 orang (10.4%) dan teratur sebanyak 21 orang (43. Sebagian besar pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (Notoatmodjo. Hasil uji statistik diperoleh ? value = 0. Hasil uji statistik diperoleh nilai ? = 0. Seperti yang dikemukakan oleh Notoatmodjo (2003) bahwa pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.011 yang lebih kecil dari nilai ? = 0.42 mempunyai peluang 3. Kecenderungan berperilaku secara konsisten selaras dengan kepercayaan dan perasaan ini membentuk sikap individual.2003). Dari hasil analisis diperoleh nilai OR = 3.05.9%). Dari hasil analisis diperoleh nilai OR = 5.8%). Berdasarkan hasil penelitian pengetahuan mempunyai hubungan dengan keteraturan berobat di wilayah Kerja Puskesmas Purbaratu Kota Tasikmalaya dengan demikian hipotesis dalam penelitian ini terbukti dan diterima. b.8%).42 dengan melakukan pengobatan tidak teratur sebanyak 11 orang (22.0%) dan teratur 10 orang (20.040 artinya responden yang memiliki sikap positif mempunyai peluang 5. Sikap sering diperoleh dari orang lain yang paling dekat. maka Ho ditolak yang artinya ada hubungan antara pengetahuan pasien TB paru dengan keteraturan berobat.5%) dan teratur sebanyak 21 orang (43.7 dari 21 responden yang kategori pengetahuan kurang dari 23.030 yang lebih kecil dari nilai ? = 0.05. Hubungan antara pengetahuan dengan keteraturan berobat di Wilayah Kerja Puskesmas Purbaratu Kota Tasikmalaya Dari tabel 4. 2002) bahwa tingkat pendidikan yang relatif rendah pada penderita TB paru menyebabkan keterbatasan informasi tentang gejala dan pengobatan TB paru. hal ini sesuai dengan yang dikemukan oleh (Depkes RI.D.040 kali untuk melakukan pengobatan secara teratur dibanding dengan responden yang memiliki sikap negatif. Hasil penelitian a. Pembahasan 1.850 artinya responden yang memiliki pengetahuan lebih dari 23. Hubungan antara sikap dengan keteraturan berobat di Wilayah Kerja Puskesmas Purbaratu Kota Tasikmalaya Dari tabel 4.8%).850 kali untuk melakukan pengobatan secara teratur dibanding dengan responden yang memiliki pengetahuan kurang dari 23.42. Hal ini sejalan dengan dengan teori yang dikemukan oleh Azwar (2005) bahwa sikap menunjukan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang yang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya.8 diatas dari 22 responden yang kategori sikap negatif terhadap ketidakaturan berobat sebanyak 12 orang (25. Sikap membuat seseorang mendekati atau menjauhi orang lain atau objek lain. maka Ho ditolak yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara sikap pasien TB paru dengan keteraturan berobat. tidak teratur sebanyak 6 orang (12. Responden yang berpengetahuan lebih dari 23.8%).

Dari hasil analisis diperoleh nilai OR = 3. Berdasarkan hasil penelitian sikap mempunyai hubungan dengan keteraturan berobat di wilayah Kerja Puskesmas Purbaratu Kota Tasikmalaya dengan demikian hipotesis dalam penelitian ini terbukti dan diterima.492 kali untuk melakukan pengobatan secara teratur dibanding dengan responden yang memiliki motivasi kurang dari 8. Responden yang motivasinya lebih dari 8.044 yang lebih kecil dari nilai ? = 0. Hal ini disebabkan karena individu yang cepat sembuh atau . Lamanya waktu pengobatan TB paru yang harus dilakukan selama 6 bulan.81 mempunyai peluang 3.respon yang masih tertutup dari seseorang stimulus atau objek. Sikap seseorang terhadap objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung (unfavorable) pada objek tertentu.4%) untuk melakukan pengobatan secara tidak teratur sebanyak 7 orang (14.9 diatas dari 19 responden yang mempunyai motivasi kurang dari 8. Tetapi bagi penderita yang memiliki keinginan atau motivasi yang kuat akan terhindar dan sembuh dari penyakit dan tetap akan melakukan pengobatan secara tertaur.81 sebanyak 29 orang (60.492 artinya responden yang memiliki motivasi lebih dari 8. Studi cross sectional sulit untuk menentukan sebab dan akibat karena pengambilan data risiko dan efek dilakukan pada saat bersamaan (temporal relationship tidak jelas).81 untuk melakukan pengobatan secara tidak teratur sebanyak 10 orang (20. maka Ho ditolak yang artinya ada hubungan antara motivasi pasien TB paru dengan keteraturan berobat. dapat saja dijadikan beban oleh penderita sehingga mereka malas untuk melanjutkan proses pengobatan. Motivasi tidak dapat diamati. Hal ini sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (2007) bahwa motivasi merupakan suatu dorongan dari dalam diri seseorang yang menyebabkan orang tersebut melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai suatu tujuan. Hasil uji statistik diperoleh nilai ? = 0. Berdasarkan hasil penelitian motivasi mempunyai hubungan dengan keteraturan berobat di wilayah Kerja Puskesmas Purbaratu Kota Tasikmalaya dengan demikian hipotesis dalam penelitian ini terbukti dan diterima.6%) dan teratur 22 orang (45. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini mengunakan deskriptif korelasi dengan menggunakan metode survei dengan pendekatan cross sectional dengan melihat pencarian hubungan antara satu keadaan lain yang terdapat dalam satu populasi yang sama.8%) dan teratur 9 orang (18.81. Karena itu adalah logis untuk mengharapkan bahwa seseorang akan dicerminkannya dalam bentuk tendensi perilaku terhadap objek.05. Didalam diri seseorang terdapat kebutuhan atau keinginan terhadap objek diluar seseorang tersebut. Studi prevalens lebih banyak menjaring subyek yang mempunyai masa sakit yang panjang daripada mereka yang mempunyai masa sakit yang pendek. yang dapat diamati adalah kegiatan atau mungkin alasan-alasan tindakan tersebut. Akibatnya sering tidak mungkin ditentukan mana yang sebab dan mana akibat.8%). c. Motivasi pada dasarnya merupakan interaksi seseorang dengan situasi tertentu yang dihadapinya. kemudian bagaimana seseorang tersebut menghubungkan antara kebutuhan dengan situasi diluar objek dalam rangka memenuhi kebutuhan yang dimaksud. 2.8%). Hubungan antara motivasi dengan keteraturan berobat di Wilayah Kerja Puskesmas Purbaratu Kota Tasikmalaya Tabel 4.

Hal ini perlu dicegah jangan sampai . wawancara dilakukan terhadap keluarga dekat responden.81 sebanyak 60.6% dan lebih dari 8. 2. BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Dalam hal ini data yang diperoleh lebih banyak berdasarkan subyektifitas responden.2007). Responden TB paru yang melakukan pengobatan sebanyak 35. Masih ada variabel-variabel independen yang mepunyai hubungan dengan variabel dependen dalam penelitian ini yang tidak diteliti karena adanya keterbatasan biaya maupun tenaga.81 yaitu sebanyak 39.4%. Sikap dan Motivasi pasien TB paru dengan Keteraturan Berobat di Wilayah Kerja Puskesmas Purbaratu Kota Tasikmalaya. maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. 4. Bagi Puskesmas a. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan.8% dan lebih dari 23. Data diperoleh dengan melakukan wawancara terhadap responden berdasarkan panduan kuesioner. Sikap pasien Tb paru tentang Keteraturan Berobat di Puskesmas Purbaratu Kota Tasikmalaya Hasil penelitian didapatkan bahwa responden TB paru yang memiliki sikap negatif (unfavorable) sebanyak 45.yang cepat meninggal akan mepunyai kesempatan yang lebih kecil untuk terjaring dalam studi ini. Peneliti juga mempunyai keterbatasan dalam jumlah variabel yang diteliti. Pengetahuan pasien TB paru tentang Keteraturan Berobat di Puskesmas Purbaratu Kota Tasikmalaya.42 sebanyak 56. Ada hubungan antara judul Hubungan Pengetahuan. 3. Saran 1.3%. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner terstruktur. Melihat dari permasalahan dilapangan maka tidak menutup kemungkinan semakin hari jumlah penderita TB paru akan semakin meningkat. jika ada responden yang sudah tidak mampu. Motivasi pasien TB paru untuk Berobat di Puskesmas Purbaratu Kota Tasikmalaya Hasil penelitian didapatkan bahwa responden TB paru yang memiliki motivasi kurang dari 8. Bias yang terdapat dalam penelitian adalah mungkin terjadi bias prevalens atau bias insidens karena efek suatu faktor risiko selama selang waktu tertentu ditafsirkan sebagai efek penyakit (Setiadi.6%.42 yaitu sebanyak 43. Responden yang dijadikan sampel dalam penelitian ini hanya responden yang masih berada diwilayah kerja Puskesmas Purbaratu Kota Tasikmalaya dan masih mampu berkomunikasi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peneliti.8% dan bersikap positif (favorable) sebanyak 54. 5.2%. Hasil penelitian didapatkan bahwa pengatahuan pasien TB paru di Puskesmas Purbaratu yang mempunyai pengetahuan kurang dari 23. B. Peneliti tidak mampu menjamin kebenaran atas jawaban yang diberikan oleh responden.4% termasuk kategori yang tidak teratur dan teratur 64.

serta bahasa yang digunakan akan bermanfaat terhadap keberhasilan pengobatan pada penderita TBC paru. 2. Bagi Peneliti Selanjutnya Untuk menambah wawasan dan pengetahuan mengenai permasalahan TB paru dengan keteraturan berobat dan dapat dijadikan sebagai acuan sumber data mengenai keteraturan berobat pada pasien TB paru. b. HUBUNGAN PENGETAHUAN.sikap dan motivasi yang berhubungan dengan keteraturan berobat.00044 SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH TASIKMALAYA 2008 . Maka dari itu sangat perlu sekali diberikan penjelasan. Kemampuan petugas pemegang program TB paru di Puskesmas dalam memberikan pelayanan pengobatan pada penderita TBC paru akan lebih baik bila mengetahui pengetahuan penderita TBC paru. Bagi Peneliti Peneliti harus dapat memanfaatkan ilmu yang telah diterima selama menjalankan penelitian ini serta dapat mengaplikasikannya dengan kenyataan di lapangan. Penjelasan tentang pengobatan. Tingginya angka kejadian TB paru di masyarakat maka perguruan tinggi sebaiknya memperhatikan masyarakat sebagai wujud pengabdian masyarakat agar dapat mengurangai angka kejadian TB paru. Bagi Profesi Perawat Dalam menjalankan tugasnya sebagai perawat. Bagi Institusi Pendidikan a. 4.sampai terjadi peningkatan yang terus-menerus. b. maka perawat harus dapat meningkatkan pengetahuannya mengenai TB paru serta melaksanakan program pendidikan yang berkelanjutan untuk memberikan pelayanan yang prima serta memberikan arahan atau penyuluhan untuk memberdayakan dan mendorong masyarakat untuk hidup sehat. Diharapkan dapat memberikan manfaat serta masukan bagi perencanaan upaya pembinaan masyarakat khususnya tentang penegetahuan . 5. SIKAP DAN MOTIVASI PASIEN TUBERKULOSIS PARU DENGAN KETERATURAN BEROBAT DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PURBARATU KOTA TASIKMALAYA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat dalam Menyelesaikan Program Sarjana Keperawatan RANI SUSANTI NIM: 105. penyuluhan dan peningkatan penegetahuan masayarakat terutama masalah yang dapat menyebabkan terjadinya TB paru sebagai upaya preventif dan kuratif kepada masyarakat sehingga masyarakat termotivasi untuk melakukan pengobatan secara teratur untuk mencegah timbulnya masalah resistensi terhadap obat. adanya penyuluhan. 3.2004.

Jakarta: Rineka Cipta Notoatmodjo.or. J. Jakarta:Rineka Cipta Asih. (2007).DAFTAR PUSTAKA Ainur.. Suharsini. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.. Yogyakarta: Graha Ilmu . Soekidjo. C. (2002) Tuberkulosis Klinis. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Surabaya: Airlangga University Press Arikunto.depkes. www//http: tbcindonesia. (2003). Konsep & Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. dan Prihartono. (2008). Soekidjo. (2002). Jakarta: Rineka Cipta Notoatmodjo. Metodologi Penelitian Kesehatan. (2003). www//http: Libang. Jakarta: EGC Azwar. (2005). (2003). (2008). Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru. dan Efendi. Et all. (2008). Pedoman Nasional Penaggulangan Tuberkulosis: Jakarta Hatmoko.(2007). Notoatmodjo. H dan Mukty H. Jakarta: Rineka Cipta Nursalam.G. Alsagaf.go. Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. (2002). Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Medika Setiadi. Soekidjo.com (diakses 27 Juni 2008). (2006). Jakarta: Rineka Cipta Notoatmodjo. . Keperawatan Medikal Bedah. Konsep & Penulisan Riset Keperawatan. Lembar Fakta Tuberkulosis. Sistem Pelayanan Kesehatan Dasar Puskesmas. www//http: freewebtown. N. A.id (diakses 25 Mei 2008). J. Jakarta: Binnarupa Aksara Crofton. Kejadian Putus Berobat Penderita Tuberkulosis Paru dengan Pendekatan DOTS. Jakarta: Widya Medika Depkes RI. Soekidjo.. (2007).. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan.. Departemen Kesehatan RI.id (diakses 22 Maret 2008). (2005). (2003). Pedoman Nasional Penaggulangan Tuberkulosis: Jakarta Departemen Kesehatan RI.A.

com (diakses 14 Desember 2007).net (diakses 25 Mei 2008). 2008 Yang menyatakan (…………………. (2007). (2008). B. mengharapkan partisipasi Bapak atau Ibu dalam peneletian saya yang berjudul “ Hubungan Pengetahuan. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner& Suddarth. Saya yang bertandatangan dibawah ini: Nama : Rani Susanti . Irman. dan Bare. Sikap dan Motivasi Pasien Tuberkulosis Paru dengan Keteraturan Berobat di Wilayah Kerja Puskesmas Purbaratu Kota Tasikmalaya”. Jakarta: Salemba Medika Sugiyono. Bandung: Alfabeta Smeltzer.. www//http: infeksi.Sulianti. menunjukan Bapak atau Ibu telah diberi informasi dan memutuskan untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. (2008). Somantri. LAMPIRAN SURAT PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN Hubungan Pengetahuan.) SURAT PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN Kepada Yth Calon Responden Penelitian Di Tempat Dengan Hormat. Sikap dan Motivasi Pasien Tuberkulosis Paru dengan Keteraturan Berobat di Wilayah Kerja Puskesmas Purbaratu Kota Tasikmalaya Kami adalah mahasiswa STIkes Muhammadiyah Tasikmalaya. Tanda tangan dibawah ini. Statiska Untuk Penelitian. (2001). Dan juga mengharapkan tanggapan dan jawaban yang diberikan sesuai dengan keluhan yang bapak atau ibu rasakan tanpa dipengaruhi oleh orang lain. Jakarta: EGC Taufan. Tasikmalaya. Tuberkulosis.G. Kami menjamin kerahasiaan jawaban dan identitas Bapak atau Ibu atas informasi yang Bapak atau Ibu berikan hanya akan dipergunakan untuk mengembangkan ilmu keperawatan. (2006)..C. S. www//http: gizi.. Keperawatan Medikal Bedah: Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Pengobatan Tuberkulosis Paru Masih Menjadi Masalah.

Untuk keperluan diatas saya mohon kesediaan Bapak/Ibu/Saudara untuk mengisi kuesioner yang telah saya siapkan dengan sejujur-jujurnya. Partisipasi Bapak/Ibu/Saudara dalam mengisi kuesioner ini sangat saya hargai. saya mohon kesediaan Bapak/Ibu/Saudara sekalian untuk menandatangani lembar persetujuan yang telah saya siapkan. saya ucapkan terimakasih.Sirnasari RT02/RW10 Tasikmalaya Akan melakukan penelitian dengan judul “ Hubungan Pengetahuan. Sikap dan Motivasi Pasien Tuberkulosis Paru Dengan Keteraturan Berobat di Wilayah Kerja Puskesmas Purbaratu Kota Tasikmalaya”. nafsu makan menurun. Bebedahan Kp. Identitas Responden 1. Apakah anda tahu tanda-tanda penyakit TBC Ya (Batuk lebih dari tiga minggu. Menurut anda apa penyebab TB paru Kuman/ basil Tidak tahu 4. Atas perhatian responden. Pekerjaan : 5. Apakah Anda tahu tindakan yang pertama kali dilakukan setelah diketahui gejala penyakit TBC Ya Tidak tahu . Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran tentang pengetahuan. Umur : 4. badan lemah. Alamat : 3. berkeringat dingin pada malam hari) Tidak tahu 3. Sebagai bukti kesediaannya menjadi responden dalam penelitian ini. KUESIONER PENELITIAN HUBUNGAN PENGETAHUAN. Saya menjamin kerahasian pendapat dan identitas Bapak/Ibu/Saudara. SIKAP DAN MOTIVASI PASIEN TUBERKULOSIS PARU UNTUK MELAKUKAN PENGOBATAN DENGAN KETERATURAN BEROBAT DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PURBARATU KOTA TASIKMALAYA A. Apakah anda tahu tentang TB paru Ya Tidak 2.00044 Alamat : Jl. 1. Pendidikan : B.NIM : 105. Nama : 2. Pengetahuan Mohon dijawab pada kolom yang tersedia dengan cara memberi tanda “?” pada kotak disebelah kiri jawaban yang anda pilih. sikap dan motivasi dengan keteraturan berobat.2004. berat badan terus menurun. dahak bercampur darah.

Menurut anda apa tujuan imunisasi BCG (Bacillus Calmette et Guerin) Mencegah penyakit TB paru Tidak tahu 7. Penularan penyakit TBC terhadap orang lain melalui bersin. Menurut anda pemeriksaan apa yang terpenting untuk mengetahui adanya TB paru? Dahak Rontgen Tidak tahu 10. pemakaian alat makan secara bersamaan Benar Salah 13. udara. Selain lewat udara dan bersin penularan TBC juga bias melalui pemakaian alat makan secara bersamaan Benar Salah 15. Apakah benar pengobatan penyakit TBC dengan pengobatan teratur bisa disembuhka Benar . Apakah benar pengobatan TBC diperbolehkan berhenti sebelum 6 bulan Benar Tidak 17. Jika ya. apakah pengobatan penyakit TBC (minum Obat Anti TBC) itu tidak boleh terlewatkan Ya Tidak 16. Jika ya. Menurut anda apakah penyakit TBC dapat disembuhkan Benar Salah 12. Dari mana anda tahu tentang TB paru Media elektronik Tetangga/ saudara Petugas kesehatan Spanduk 11. melalui apa penyebaran TB paru Dahak waktu batuk Tidak tahu 9. Menurut anda. tindakan yang anda lakukan adalah Pergi ke Puskesmas Pergi ke pelayanan kesehatan lain (praktek dokter swasta) 6. Apakah benar lamanya pengobatan Penyakit TBC adalah minimal 6 bulan untuk penderita yang baru terkena penyakit TBC Benar Salah 14. Menurut anda apakah TB paru menular Ya Tidak tahu 8.5.

Penderita TB paru dikatakan sembuh apabila BTA dinyatakan positif setelah pengobatan selesai BTA dinyatakan negatif setelah pengobatan selesai Tanda dan gejala TB paru hilang 27. Tujuan pengobatan TB paru adalah Menyembuhkan penderita dan menurunkan kematian Menghilangkan tanda dan gejala Menghilangkan rasa sakit 23. Penularan penyakit Tb paru bisa melalui Udara melalui batuk dan bersin Sentuhan kulit Air 21. Kuman TB paru akan mati apabila Terkena sinar matahari Diobati 2 bulan Minum air putih yang banyak 20. Apakah benar penyakit TBC diwariskan secara keturunan/ genetik Benar Tidak 19. Tahapan pengobatan TB paru terdiri dari 2 Tahapan 3 Tahapan 4 Tahapan 22. Dua bulan awal pengobatan disebut tahap Intensif atau tahaf awal Lanjutan Masa penyembuhan penyakit 28.Tidak 18. Untuk menunjang pemeriksaan diatas dilakukan pemeriksaan Rontgen dada Rontgen kepala Pemeriksaan jantung 26. Setelah dua bulan pengobatan disebut tahap Intensif atau thaf awal Lanjutan Masa penyembuhan penyakit . Untuk menentukan BTA positif atau BTA negatif pada penderita TB paru adalah dengan melakukan pemeriksaan Dahak Urin Tinja 24. Pemeriksaan nomor 23 diatas dilakukan sebanyak 2 kali 3 kali 4 kali 25.

29. Setuju (S). No. Sangat Tidak Setuju (STS). Pernyataan SS S R TS STS 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 . Pola hidup bagaimana yang harus kita miliki agar terhindar dari penyakit TBC Pola hidup sehat Pola hidup sederhana Pola hidup sejahtera 30. Kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari yang dapat memperberat penyakit TB paru adalah Kebiasaan merokok dan minum alkohol Kebiasaan olah raga Kebiasaan tidur terlalu larut malam C. Ragu-Ragu (R). Tidak Setuju (TS). Sikap Pilihlah salah satu jawaban di bawah ini dengan membubuhkan tanda cek (?) pada kotak: Sangat Setuju (SS).

pengap.16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 TB paru merupakan penyakit berat dan dapat mematikan Pergi berobat ke pelayanan kesehatan setelah dinyatakan TB paru BTA (+) TB paru merupakan penyakit yang dapat disembuhkan Bagaimana pendapat anda tentang lamanya pengobatan TB paru selama 6-9 bulan untuk mencapai kesembuhan Bagaimana pendapat anda tentang penyuluhan TB paru di daerah anda Melakukan pengobatan secara teratur sejak dinyatakan BTA (+) Menutup mulut saat batuk salah satu untuk mencegah penularan TB paru di sekitar rumah anda Menjaga kebersihan pribadi dan lingkungan salah satu usaha mencegah penularan TB paru di sekitar rumah Mengajak seluruh anggota keluarga untuk membersihkan ligkungan rumah supaya sehat Lingkungan rumah yang gelap. dan lembab akan meningkatkan resiko kekambuhan TB paru Merokok tidak diperbolehkan pada penderita TB paru walaupun sudah sembuh Menurut anda merokok diperbolehkan walaupun hanya satu batang Udara yang segar tidak diperlukan untuk pertukaran udara Sinar matahari selain dapat menghilangkan lembab juga dapat membunuh kuman Tb paru Perabotan rumah harus dibersihkan minimal seminggu sekali supaya tidak berdebu .

Diri sendiri b. Mengingatkan untuk minum obat d. Menyiapkan obat untuk diminum e. Supaya tidak menularkan kepada keluarga c. Tidak memberikan semangat . Pertanyaan Ya Tidak 1 Apa yang membuat anda semangat dalam pengobatan a. Motivasi Mohon dijawab pada kolom yang tersedia dengan cara memberi tanda “?” pada kotak disebelah kiri jawaban yang anda pilih (jawaban boleh lebih dari satu). Memberikan perhatian untuk meminum obat secara teratur b. Keluarga/ orang terdekat c. Petugas kesehatan e. Diterima dilingkungan tempat tinggal dan ditempat kerja e. Pacar d. Hanya untuk mengambil obat saja 2 Siapakah yang membuat anda semangat dalam pengobatan a. No. Mengantar anda dalam mengambil obat setiap kali habis c.Tempat tidur penderita TB paru tidak perlu dijemur Menurut anda tidak penting untuk meminta pendapat petugas kesehatan tentang rumah yang sehat Menurut anda udara yang segar dapat terpenuhi jika rutin membuka jendela ruangan tiap hari Menurut anda cahaya matahari tidak dapat masuk tanpa dibuka jendela Menurut anda kuman TB akan mati tanpa dijemur Menurut anda penderita TB paru harus tetap memeriksakan kesehatannya ke Puskesmas walaupun sudah dinyatakan sembuh Anda akan membuka jendela dan membiarkan kamar tidur tersinari matahari walupun terasa panas Mengajak seluruh anggota keluarga membersihkan perabotan satu bulan sekali Menjemur tempat tidur seminggu sekali Anda tidak akan membuka jendela karena udara dapat masuk tanpa membuka jendela Penderita TB paru yang sudah sembuh akan dapat kambuh kembali jika ia tertular dari orang lain Menurut anda penderita TB paru tidak akan tertular lagi karena sudah mempunyai kekebalan Menutup mulut dan hidung ketika bersin atau batuk Membuang tisu basah dengan baik dan mencuci tangan Penderita TB paru harus di berikan makanan yang bergizi D. Igin selalu dekat sama keluarga / orang terdekat d. Ingin cepat sembuh b. Tidak ada yang memberikan semangat 3 Semangat apa yang diberikan keluarga/ orang terdekat kepada anda a.

BEASISWA PENELITIAN. MAHASISWA TINGKAT AKHIR. NB: Ada kemungkinan data yang diposting di website ini belum ada filenya. FREE? KLIK DISINI HOT DOWNLOAD MAKALAH. silahkan klik menu contact Silahkan baca syarat dan ketentuannya Main Menu • • • • • Home Profil Contact Donate Terms and Conditions . BARU LULUS KULIAH? KLIK DISINI BUTUH BEASISWA STUDY. anda harus menjadi special member. Sikap dan Motivasi Pasien Tuberkulosis Paru Dengan Keteraturan Berobat di Puskesmas Purbaratu Kota Tasikmalaya”] jurusan skripsi [Ilmu Keperawatan] • • click link 5575 clicks Untuk dapat merequest file lengkap yang dilampirkan pada setiap judul. CARI CONTENT WEB : FREE JOURNAL UNTUK MELENGKAPI REFERENSI KARYA ILMIAH ANDA. Tidak teratur : orang username [Famy] dengan skripsi yang berjudul [“Hubungan Pengetahuan. Teratur : orang 2. FULL PAPER? KLIK DISINI PELUANG KERJA UNTUK FRESH GRADUATE. klik Register untuk menjadi free member di Indoskripsi. Keteraturan Berobat Keteraturan berobat penderita TB paru di Puskesmas Purbaratu Kota Tasikmalaya (dengan melihat catatan berobat dan melihat register di Puskesmas) 1.E. Semua Special Member dapat mendownload data yang ada di download area. Untuk memastikan data ada atau tidak silahkan login di download area. karena dikirim oleh member biasa dan masih menunggu konfirmasi dari member yang bersangkutan. INFO BEASISWA TERBARU? KLIK DISINI INGIN KULIAH S2 JARAK JAUH? KLIK DISINI Jika tertarik untuk memasang iklan di website ini.

Laporkan pada kami! Jika karya anda dipublikasikan/dikirim tanpa izin di sini.com panjirangga eko_pirwanto ekaarissuhartanto jimmyone Posting Rules Member indoskripsi tidak boleh mengirim / mengupload skripsi milik orang lain tanpa izin.Check user status .• Report Abuse Data Menu • • • • Skripsi Tugas Kuliah Artikel Search Data User login Username: * Password: * Log in þÿ • • Create new account Request new password New Member • • • • • iyusmidar@ymail. New Upgrade Member • • • • • ricki yuli anggraini rantarou ad10n0 adil_stelk10 .Login Download Area .

. ..Special Info • • • • • Journal reference Makalah full paper Informasi Beasiswa Informasi Lowongan Kerja Kuliah S2 Jarak Jauh Posting dan update terbaru • • • • • • • • • • E-COMMERCE GLOBAL Pengertian Diksi Journal entry: The Effect of Watching Television on Children Automata Kompleksitas waktu ALGORITMA DAN STRUKTUR DATA II Stuktur data untuk sistem pakar sepak bola Sejarah Perkembangan komputer APLIKASI MANAJEMEN BERITA MENGGUNAKAN BAHASA SCRIPTING PHP DAN WEB DATABASE MYSQL Teknik Kompilasi More.

hubungan tingkat pengetahuan. Smoking can causes any problems in human body for an example is problem on dental and mouth healthy. faculty type. knowledge. smoking prevalence in Indonesian peoples is high. We use probability sampling method by area sampling technique to collect the samples. knowledge.8 % male and 8. gender. peer group’s behavior) with smoking practice.05). Independent variables including: characteristic. This research aimed to identify relation of smoking practice with dental and mouth healthy in students of Pembangunan Nasional “Veteran”Jakarta University in 2007/2008. on the young generation particularly. smoking attitude showing significant correlations with smoking practice. and smoking practice and the dependent variable is dental and mouth healthy. This research type is analytic descriptive by using cross sectional design.This research result expected useful as a consideration for the students especially to increase their . sikap. This research involving 385 respondent students of Pembangunan Nasional “Veteran”Jakarta University in 2007/2008. The study results showing that there are significant correlations between characteristic (age. so they must be the agent of change and also as an agent of innovation. Farida Soetiarto’s research result is about 55. smoking attitude. sibling’s smoking behavior. The research have done on March to June 2008. A research in Jakarta showing that in adolescent group. 2009 by achoy • Ilmu Keperawatan abstraks: Medical Sciences Faculty Nursing Program Study Pembangunan Nasional “Veteran”Jakarta University Research Report 2008 Komang Agus Sumarayasa 204 312 031 Correlation Between Smoking Practice With Dental and Mouth Healthy In Students of Pembangunan Nasional “Veteran”Jakarta University in 2008 vii + 191 pages + 49 Tables + 5 images + 17 appendixes ABSTRACT Students today are leaders tomorrow. Unhappily. The research using independent and dependent variable. praktik merokok dengan kesehatan gigi dan mulut • • View clicks Posted April 14th. There is significant correlation between smoking practice with dental and mouth healthy (p value < 0.8 % female are smoker.8 % of caries incidents caused by smoking behave. 64.

1995).9) Dalam konteks kesehatan masyarakat.9% pemuda di DKI Jakarta sudah merokok.(12) Tercatat hampir setiap kegiatan mahasiswa tiap tahun selalu disponsori oleh rokok. esophagus.8% yang menunjukkan adanya kerusakan yang spesifik pada gigi yang diakibatkan oleh kebiasaan merokok.4.(11. data dari Depkes menyebutkan bahwa sebanyak 70% penduduk Indonesia merupakan perokok aktif. Pengamatan peneliti di Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta memperlihatkan kondisi yang sangat memprihatinkan yaitu kampus dibiarkan menjadi ajang promosi yang tidak sehat oleh industri tembakau melalui berbagai kegiatan berkedok pertunjukan musik atau olahraga. Melihat prevalensi pemuda atau mahasiswa perokok seperti tersebut di atas.(1) Menurut International Agency for Research on Cancer lebih dari 90% penderita kanker mulut adalah perokok(3) dan merupakan faktor resiko terjadinya kanker pangkal tenggorokan.(7) Penelitian yang dilakukan oleh Farida Soetiarto (1992). peneliti sering kali melihat “sales promotion girl” (SPG) dilibatkan dalam memasarkan rokok di kampus. Mahasiswa saat ini adalah pemimpin di masa datang (students today are leaders tomorrow).(56) . lidah.(8.3. sehingga seharusnya mereka menjadi agen perubahan (agent of change).(10) Dari penelitian WHO bahwa di seluruh dunia sekitar sepertiga dari penduduk dewasa dunia yang merokok. saluran mulut dan esofagus(1. efek terhadap bakteri pada mulut.6) Hasil penelitian pada Oral Cancer in England and Wales (Binnie dkk. Keywords : Characteristic.(14) Keller (1967). Tak hanya itu. Reference : 68 (1989-2007) PENDAHULUAN Merokok dapat menyebabkan berbagai penyakit dalam tubuh. seperti kanker paru. kesehatan gigi. Sayangnya prevalensi merokok penduduk Indonesia relatif tinggi.5. Komnas PA mencatat ada 1350 kegiatan yang diselenggarakan atau disponsori industri rokok mulai dari kegiatan musik.(2 p 11-12) Merokok sebagai salah satu faktor yang dapat menyebabkan berbagai efek pada rongga mulut. kanker mulut. risiko terjadinya neoplasma larynx. dan gusi.(19) melaporkan adanya insiden sebesar 55. 1972) menunjukkan jumlah kematian dari kanker mukosa sebesar 60%. yakni 53.8% pelajar pria dan 8. film layar lebar hingga keagamaan.2%. mahasiswa juga harus dapat menjadi salah satu pendorong perubahan dari masyarakat yang beresiko tinggi terkena penyakit akibat merokok menjadi berisiko rendah. seperti kanker mulut. Oleh karena itu upaya penanggulangan melalui pendidikan kesehatan terhadap bahaya merokok agar diarahkan pada sasaran generasi muda. Smoking practice. melaporkan perokok terbesar pada usia 15-19 tahun. menemukan sebanyak 32.(4) Untuk kasus merokok di Indonesia.(11) Penelitian di Jakarta menunjukkan bahwa pada remaja sebesar 64. dan agen pembaharuan (agent of innovation).2. Dental and mouth healthy. dan sebagainya (Danusantoso.24p93) Herper Manalu (1993).(13) Selain itu.understanding about smoking bad effect on dental and mouth healthy and also trying to reduces their habits. maka kesehatan sumber daya manusia untuk pembangunan akan menurun kualitasnya dan pada gilirannya akan mengganggu jalannya pembangunan itu sendiri. Halim.8% pelajar wanita di Jakarta sudah merokok. Chairunnisa (1999). adanya kemudahan dalam mengakses rokok di dalam kampus yang dapat meningkatkan prevalensi mahasiswa yang merokok. penyakit kardiovaskuler. olah raga.

Teknik analisis univariat: dengan menggunakan uji statistik berupa distribusi frekuensi.Sikap mengenai merokok Sebanyak 50. dan standar deviasi. 3. Data yang dikumpulkan dalam bentuk data demografi dan pengukuran variabel independen (pengetahuan. karakteristik. sebanyak 68.6%) pendidikan orang tua responden tergolong menengah ke atas. pengalaman melihat kematian karena rokok. dan adakah keterkaitan antara merokok dengan kesehatan gigi dan mulut pada mahasiswa?” pertanyaan ini yang mendorong peneliti melakukan penelitian atau pengamatan terhadap mahasiswa di kampus UPN “Veteran” Jakarta. lingkungan. Sampel Populasi penelitian ini adalah semua mahasiswa aktif UPN “Veteran” Jakarta.Mengumpulkan data dari responden dengan menggunakan instrumen berupa kuesioner. pengetahuan yang baik dan sikap yang positif digolongkan berdasarkan nilai mean/median yang ditentukan berdasarkan uji normalitas data yang bersangkutan. 2006). mean. (11.Analisis bivariat. dan praktik merokok) dan variabel dependen (kesehatan gigi dan mulut) 2. Analisis data Langkah-langkah dalam analisis data: 1. dan pengalaman melihat kematian karena rokok dengan praktik merokok.Karakteristik responden Sebanyak 50.6% yang memiliki sikap positif. Sampling yang dipakai dalam penelitian ini adalah probability sampling dengan teknik area sampling (Arikunto. dimana populasi diamati pada waktu yang sama.1% dari fakultas non-kesehatan dan sebagian besar (990. sikap. berdasarkan asal fakultas. 3.0). 64. sikap.(36) dengan menggunakan proporsi 64. dan desain yang digunakan adalah cross sectional. lingkungan. berapa banyakkah yang yang sudah seperti diharapkan dan berapa banyak yang belum.8%. dalam artian tidak menyetujui praktik . HASIL PENELITIAN Analisis univariat 1.“Apakah mahasiswa UPN “Veteran” Jakarta seperti mahasiswa Indonesia yang berperilaku sehat?.6% responden berumur ? 21 tahun. pengetahuan. 2. KERANGKA KONSEP PENELITIAN BAHAN DAN CARA Rancangan penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik.7% responden berjenis kelamin lakilaki.Pengetahuan mengenai rokok Sebanyak 60% responden yang berpengetahuan baik mengenai rokok dan bahaya pada kesehatan.24p93) sehingga didapatkan jumlah sampel 385 orang dengan perhitungan jumlah sampel dialokasikan secara proporsional berdasarkan jumlah mahasiswa tiap fakultas. Analisis bivariat digunakan untuk menganalisis hubungan karakteristik. serta hubungan antara praktik merokok dengan kesehatan gigi dan mulut dengan menggunakan chi square test dan Odds Ratio melalui bantuan komputer program windows SPSS 16. median.0 (Statistic Programme For Social Sciences 16.

1% yang mennghisap 1-10 batang rokok per hari.Kesehatan gigi dan mulut responden Sebanyak 82.Lingkungan yang mempengaruhi praktik merokok Sebagian besar responden mempunyai teman yang merokok (93%). 5.2% sudah merokok < 3 tahun yang lalu.001 OR = 2.Pengalaman melihat kematian karena rokok Sebagian besar responden belum pernah melihat kematian karena rokok (75.Praktik merokok responden Sebanyak 41. karang gigi.merokok 4.000 OR = 10.441 hubungan bermakna P = 0. Analisis bivariat Analisis bivariat Derajat kemaknaan 95% Hubungan antara umur dengan praktik merokok Hubungan antara jenis kelamin dengan praktik merokok Hubungan antara jenis fakultas dengan praktik merokok Hubungan antara perilaku merokok saudara dengan praktik merokok Hubungan antara perilaku merokok teman dengan praktik merokok Hubungan antara pengetahuan dengan praktik merokok Hubungan antara sikap dengan praktik merokok Hubungan antara praktik merokok dengan kesehatan gigi dan mulut P = 0.8%). gigi berlubang. 68. Berdasarkan berbagai masalah kesehatan gigi dan mulut yang secara umum yaitu mengenai frekuensi kejadian sakit gigi.286 hubungan bermakna P = 0. saudara (67. dengan 56.030 OR = 0.9% responden yang kesehatan gigi dan mulutnya kurang sehat.001 OR = 2.000 OR = 2.6% responden yang merokok.000 .625 hubungan bermakna P = 0. bau mulut.8% responden yang menghisap rokok tipe mild.1%) 6.006 OR = 4.135 hubungan bermakna P = 0. dan perubahan warna gigi.878 hubungan bermakna P = 0.041 hubungan bermakna P = 0. dan orang tua (54.5%). dan 88. 7.

Adanya model dan dukungan inilah yang membuat remaja terdorong untuk merokok. dkk. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil percobaan yang dilakukan oleh Macgregor. Johnson. dan Edwards (1991). menunjukkan bahwa remaja merokok dipengaruhi oleh saudara kandung yang merokok. I. Faktor sosial yang berpengaruh terhadap perilaku merokok remaja adalah faktor keluarga (orang tua.(54) dominannya perokok pada laki-laki dan sedikitnya perokok pada perempuan dapat dikaitkan dengan kultur yang kurang menerima perilaku perempuan yang merokok. Presson. Menurut Notoatmodjo (1993).(46) mengatakan jika seseorang sudah mulai merokok pada saat remaja. O. salah satu faktor yang menyebabkan seseorang yang bukan perokok menjadi seorang perokok adalah perilaku teman sebaya.(58)menyatakan bahwa sikap seseorang terhadap suatu objek ditentukan oleh seseorang tersebut untuk berperilaku. dan Bewley (1983) dalam Sarafino (1994).(14) Kerusakan yang terjadi dapat diterangkan sebagai berikut: Proses kimiawi yang terjadi yaitu prinsip kerusakan gigi adalah dekalsifikasi yaitu kalsium keluar dari struktur gigi.M dan Edgar. remaja berpikir secara mandiri. Menurut Teori Green (1980). Hurlock (1991) yang dikutip dari Mu’tadin mengatakan bahwa melalui hubungan dengan teman sebaya. Sherman. Biglan. saudara). menerima atau menolak pandangan dan nilai yang berasal dari keluarga dan mempelajari pola perilaku yang diterima dari kelompoknya. Menurut Wahc Robert.382).M bahwa pada perokok bertambah pembentukan plak. maka secara bertahap dalam kurun waktu tertentu merokok akan menjadi sebuah kebiasaan. Penelitian yang dilakukan Antonuccio & Lichestein (1980). mengambil keputusan sendiri. 1998 dalam Smet 1994. (dikutip dari Farida Soetiarto. dengan arah pengaruh berasal dari kelompok sebaya (Wills & Cleary). W. teman yang merokok cenderung meningkatkan perilaku merokok responden. menyatakan bahwa remaja biasanya merokok bersama orang lain terutama bersama teman.1992).000.D.OR = 29. Menurut penelitian yang dilakukan Chassin. dkk (1982). pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Swan. selain faktor keluarga. dan bahan yang terdapat pada asap rokok kretek yang tidak ada pada asap rokok putih adalah eugenol dan derivatnya yang berasal dari .000 OR = 4.090 hubungan bermakna P = 0. Sears. Pengetahuan yang kurang baik dan sikap yang negatif cenderung membuat seseorang berperilaku merokok. Pengaruh kelompok sebaya terhadap perilaku berisiko kesehatan pada remaja dapat terjadi melalui mekanisme peer sosialization. Pengetahuan dan sikap mengenai rokok dan dampaknya pada kesehatan juga mempengaruhi praktik merokok responden. OR = 4.382 hubungan bermakna PEMBAHASAN Menurut Perry. Menurut DeGruy (2002). Murray. salah satu pendorong seseorang untuk berperilaku selain pengetahuan adalah sikapnya terdapat suatu objek. Menurut Suhardi (1997). dan kalkulus. David. dan teman yang merokok. dkk (1984) dalam Sarafino (1994). Santrock (2004) orang tua dan saudara kandung yang perokok menjadi model bagi remaja untuk belajar merokok. Praktik merokok ternyata memiliki hubungan yang bermakna terhadap kesehatan gigi dan mulut responden (p = 0.

Proses kelasi merupakan proses kimia yang tidak melibatkan bakteri rongga mulut. H. dengan jumlah yang dipengaruhi oleh faktor lama merokok kretek dalam tahun dan jumlah batanng rokok kretek yang dihisap setiap hari. Semakin lama seseorang menghisap rokok kretek. mungkin karena penelitian ini hanya . Tingkat kejadian karies spesifik karena euganol dalam asap rokok kretek di Indonesia mencapai 57. tetapi rokok putih tidak mempengaruhinya. Born. Pemeriksaan dengan EDX (Electron Dispersion X-ray). antara lama merokok. selama orang merokok asap meliputi rongga mulut dan reaksi antara gigi sebagai house dan agent berupa asap rokok kretek yang mengandung eugenol. Asap rokok dapat mencapai dentino-enamel junction melewati bagian organik gigi yang mengandung protein dan kolagen. berbeda dengan penelitian Farida Soetiarto (1992). Disebutkan juga oksigen sangat berperan mengikat kristal hidroksi apatit agar tetap stabil. dan jenis rokok terlihat tidak adanya hubungan yang bermakna dengan kerusakan gigi dan mulut. tetapi kerusakan pada bagian organik. Akibatnya. sesuai teori Kelasi oleh Schatz dan Martin (1955). Mereka yang belum terlalu lama merokok tetapi menghabiskan jumlah rokok lebih banyak per harinya juga berpeluang besar menderita karies tersebut.cengkeh.(14) Akan tetapi. Landasan teoritis proses yang terjadi mungkin adalah proses kelasi. menunjukan kadar kalsium pada permukaan karies khas meningkat. kandungan eugenol dalam asap rokok akan mengendap pada gigi bagian depan yang selama ini dianggap paling mudah dibersihkan. asap rokok putih tidak mengandung eugenol seperti asap rokok kretek dan eugenol murni menurunkan kekerasan mikro email dan dentil sesuai dosis. Menurut Farida (2003). kerusakan tidak terjadi pada bagian kristal hidroksi apatid (zat anorganik) seperti pada karies umumnya. Mereka yang merokok lebih dari 18 batang per hari. karies gigi spesifik akan lebih sering terlihat pada gigi bagian depan. Justru karena asap rokok selalu melewati bagian tersebut maka memungkinkan terjadinya penumpukan eugenol pada gigi. jumlah rokok yang dikonsumsi. lebih besar risikonya terkena karies spesifik. A dan Mall. G (1988) sehingga menghambat proses remineralisasi yang akan terjadi bila gigi mengalami dekalsifikasi. Bukan hanya karena sudah lama mengkonsumsi rokok kretek saja yang berpeluang terkena karies spesifik. Oleh karena proses kelasi berdasarkan pembentukan ring struktur dengan ion kalsium maka email yang mengandung kalsium terbesar akan terkelupas terlebih dahulu sampai habis.(59) Studi laboratorik. Gambaran mikroskopis dengan SEM (Scanning Electron Microskope). dimulai dari daerah leher gigi yang tipis lapisan emailnya pada permukaan gigi yang letaknya relatif jauh dari muara kelenjar liur diperberat oleh berkurangnya produksi kelenjar liur pada perokok akibat efek kronik nikotin terhadap fungsi maupun morfologi kelenjar liur seperti yang dikatakan oleh Maier. Oksigen tersebut ada pada gugus OH dan OCH3 dari eugenol. yang masih perlu dibuktikan secara laboratorik. sementara pada karies biasa terjadi penurunan kalsium.7%. Efek kronis eugenol menyebabkan denaturasi protein dan kolagen (bagian organik) tersebut sehingga kristal hidroksi apatid terurai tidak ada pengikatnya. Kalsium membentuk struktur heterosiklik ring dengan atom pengikat ion (ligands berupa oksigen yang seperti dikatakan oleh Ernest Newburn).(59) Perbedaan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini.(14) Kerusakan gigi yang terbentuk tergantung pada frekuensi merokok dan jumlah rokok yang dihisap setiap hari. semakin besar peluang menderita karies spesifik. sehingga tetap mempertahankan kekerasan email. gigi menjadi rapuh.

Ada hubungan yang bermakna antara karakteristik (ummur. Available at: http://lkpkindonesia. 2007. Diakses tanggal 09 Oktober 2007 at 20:15 PM(3) LKPK.Institusi pendidikan Menginformasikan kepada mahasiswa mengenai bahaya merokok antara lain dengan memasang stiker.Ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan praktik merokok responden 4. teman dengan praktik merokok responden 3.com. 2. Halim. Jakarta: Hipokrates(2) Internet.id/ . Diakses tanggal 05 Oktober 2007 at 15:05 PM(4) Abu Salma. variabel yang bervariasi.republika. Jakarta: Arcan(1) Forrest. tidak bisa dilakukan analisis secara lebih spesifik.Mahasiswa Mahasiswa hendaknya memiliki wawasan yang luas tentang bahaya merokok bagi kesehatan dan bersikap positif untuk tidak menyetujui praktik merokok 3.com.Ada hubungan yang bermakna antara sikap dengan praktik merokok responden 5. Februari 10.Ada hubungan yang bermakna antara praktik merokok dengan kesehatan gigi dan mulut responden Saran 1. jenis kelamin. sehingga tidak bisa menentukan faktor resiko maupun outcomes yang sudah terjadi.menggunakan desain cross sectional yaitu hanya dengan melihat secara sekilas. Selain itu dalam penelitian ini tidak dilakukan pemeriksaan gigi oleh tenaga medis dan berbagai pemeriksaan penunjang. 1989. Gramedia . Jakarta: PT. dengan analisis multivariat sehingga dapat diketahui variabel yang paling berpengaruh.Peneliti lain Mengembangkan penelitian serupa dengan desain yang berbeda. DAFTAR PUSTAKA Danusantoso. Posted: Sabtu.www. leaflet dan mengadakan seminar tentang dampak merokok dan penanggulangannya di lingkungan kampus. O. Rokok dan Perokok. 1997. falkultas) dengan praktik merokok 2. serta para pendidik dan tenaga profesional bisa menjadi role model yang baik dalam mensukseskan program kampus bebas asap rokok. Available at: http://ummusalma. Pencegahan Penyakit Mulut (Preventive Dentistry). serta tidak melakukan studi laboratorik eksperimental untuk mempelajari proses kerusakan gigi in vitro. 1995. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan 1. serta studi uji laboratorik sehingga didapatkan perbedaan keadaan yang khas yang lebih spesifik dalam rongga mulut sehubungan dengan praktik merokok sehari-hari. Mangku. tidak mengetahui derajat/kualitas kerusakan. Diakses tanggal 09 Oktober 2007 at 20:10 PM(5) Sipetoe. Dampak Merokok Bagi Kesehatan dan Lingkungan. “Oral Health Matter from Head to Toe”. Usaha Mencegah Pencemaran Udara.blogspot.Ada hubungan antara perilaku merokok saudara. 2007. J. Posted: Februari 16.co.wordpress.

Tobacco Smoking Among Indonesian Male Senior High-School Students.ac.depkes. Wasis.com/Posted on April 26.http://myaminpsetia.www. Charles F.10 PM(21) Triswanto.pd. USA: Running Press Books Publishers(18) Dinas Kesehatan.go. Fatimah Makassar Internet.id/ Posted: Senin. 2003. Titik. Diakses tanggal 17 Maret 2007 at 12. Sugeng D. 30 Mei 2005. 30 Mei 2005.05.gizi. Sikap dan Perilaku Merokok Siswa SLTP Pribadi dan SLTP Putra Bangsa Depok.com/Posted: Friday.P. Jakarta: Universitas Indonesia(17) Wetherall. http://www.19 PM(8) Kompas. 1992. Dian.staff. Afi Fadilla Helmi. Y.id/berita-index. Hubungan Kebiasaan Merokok Kretek Dengan Kerusakan Gigi Pada Sopir Bis P. Stop Rokok Cetakan I. Gambaran Perilaku Merokok dan Faktor-Faktor yang Berhubungan pada Pelajar SLTP Negeri di Depok. www. Diakses tanggal 17 maret 2008 at 11. Yogyakarta: Progresif Books(22) Sukendro. Artikel Ilmiah Risiko Asap Rokok dan Obat-Obatan Terhadap Kelahiran Prematur di Rumah Sakit ST. 2007. Skripsi: FKM-UI(28) Haryanti.Available:http://ridwanamiruddin. Erni. National Institute of Health Research and Development. 2001.go. Diakses tanggal 16 Maret 2008 at 11. Republic of Indonesia (WHO Indonsia). Diakses tanggal 28 Mei 2008 at 09. 2007. Faktor-Faktor Penyebab Perilaku Merokok PadaRemaja. Health Researchers in Center for Disease Control Research and Development. 2003.wordpress.net.kompas.www. Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Diakses tanggal 09 Oktober 2007 at 20:15 PM(11) DINAS Hasdi. Sikap dan Perilaku Siswa Mengenai Kebiasaan Merokok di SMU Yadika 7 Bogor. February 1. 2008. Prevalensi Anak Merokok 26.dinkesjatim. Diakses tgl 09 Oktober 2007 at 19:50 PM (7) Dian Komalasari. Jakarta : EGC(15) Redaksi Plus.id/. Depok: Penebar Swadaya(16) Aditama.com/ Posted: 04 March.30 AM(9) Sumartono R.Widiasarana Indonesia(6) Mulyawati. 2007.D di Jakarta Tahun 1992. Stop Smoking Cetakan 1. Bisnis Asap Mengepung Anak. Rep. Skripsi: FKM-UI(29) Sulistiyowati. Available at http://www. www.00 PM(20) Internet. 2004.idDiakses tanggal 16 Maret 2008 at 12. Diakses tanggal 09 Oktober 2007 at 20:00 PM(19) Ridwan Amiruddin. Merokok dan Kesehatan. Pengetahuan.go. Rokok dan Kesehatan Edisi 3.ugm.(10) Internet. 2007. Suryo. 2003.Filosofi Rokok Cetakan I. 18 Januari 2008.dinkesjatim.10 AM(13) Soetiarto.persi. Pengetahuan. 2001.www. Kandi Santi. Quit: Read This Book And Stop Smoking. Karakteristik. Tesis: FKM-UI(14) Sunaryo. http://hasdiputra.id/ Posted: Jumat.01 PM(25) Aji. of Indonesia. Psikologi Untuk Keperawatan.blogspot.blogspot. Farida.html update: Senin.co. 1997.8 Persen.co.avin. Ministry of Health. Posted: 11/14/2003. Yogyakarta: Pinus Book Publisher(24) Ministry of Health.id/shows?arsipnew&tbl=kesling Diakses tanggal 9 Oktober 2007 at 20. Diakses tanggal 9 Oktober 2007 at 20. Kiprah Rokok di Kampus. 14. Skripsi: FKM-UI(27) Pujiati. Gambaran Perilaku Merokok dan Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Merokok pada Pelajar SMU Negeri di Kecamatan . 2007. Siburian Ganda & Idjriatie Ieke.litbang. Tjandra Yoga.05(12) Yamin Panca Setia.

Provinsi Jawa Barat.sch. com/ . 2007.dpagbi. Akdon. Statistik Terapan: Untuk Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial.co. Internet.mail-archive.pdpersi. Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Perilaku Merokok .comDiakses tanggal 28 Mei 2008 at 12. Yogyakarta: Gajah Mada University Press(37) Internet. 2007. Bart. 2006. 1999.asp. Tesis: FKM-UI(55) Chairunnisa. Jakarta: PT.35 PM(42) Rustamadji. Diakses tanggal 28 Mei 2008 at 12. 22.m3-access.30 PM (53) Suhardi.http://www. 2000. Universitas Indonesia Tahun Ajaran 2004/2005. Pengetahuan.http://www. Rumus dan Data dalam Analisis Statistika Cetakan:2. Kab. Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan Edisi:1. Gendis Islalita. 1998. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisa Data Edisi:1. Diakses tanggal 28 Mei 2008 at 12.blog.com/Profile. Jakarta: Salemba Medika(35) Arikunto.10 PM (40) Anton Christanto. Noel Sita. Pola Merokok Pelajar Tujuh Sekolah Lanjutan di Jakarta Selatan 1986. Kontribusi Iklan Rokok “X” Pada Piala Dunia 2006 di SCTV Dalam Menstimulir Perilaku Merokok Mahasiswa/i Keselamatan dan Kesehatan Kerja Ekstensi Sore Tahun Ajaran 2004/2005 Fakultas Kesehatan Masyarakat.http://mentoring. Diakses tanggal 29 Mei 2008 at 09.pikiranrakyat. Jakarta: LM3(44) Medika Jurnal Kedokteran Tahun ke XXXII. Internet.id/modules.com/posts/32834_Psikologi-Remaja. Posted: Thu. Perilaku Merokok di Indonesia Menurut SKRT 1995. 2007. 2006. Available at http://www.php? op=modload&name=News&file=article&sid=578. Yogyakarta: Graha Ilmu(34) Hidayat. Aziz Alimul. Jakarta (54) Martaferry.Cibinong. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia(46) Ikatan Dokter Indonesia. Maret 2006. Diakses tanggal 28 Mei 2008. Skripsi: FKM-UI(31) Rukmi.05 AM (45) Smet. Psikologi Kesehatan.20 PM(39) Internet.www. Sikap dan Perilaku Siswa Kelas II SMP Negeri 134 Jakarta Barat tentang Kebiasaan Merokok Tahun Ajaran 2000/2001. Skripsi: FKM-UI(30) Apsari. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta(36) Nurgiyantoro.id/?show=detailnews&kode=957&tbl=artikel. 2003.html. Skripsi: FKMUI(32) Riduwan.Internet.com/cetak/2007/032007/18/index/html.http://www. Gunawan.http://smkasmr. Bandung: Alfabeta(33) Setiadi. Asap Rokok dan Kesehatan Anak. 2001.32 PM(47) Internet.keluargasehat. Bogor. Marzuki. Cermin Dunia Kedokteran No: 125. Lembaga Menanggulangi Masalah Rokok Dasawarsa LM3 19902000. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Merokok di Kalangan Pelajar SLTP Negeri di Jakarta Pusat. H.22 PM(38) Judul : Psikologi Remaja Pengarang : Dr. Sarlito Wirawan Sarwono DPAGBI. Merokok Itu Tidak Sehat. Diakses tanggal 28 Mei 2008 at 12. 1994. Suharsimi. 03 Mar 2005 Diakses tanggal 28 Mei 2008 at 12. 2004.A. Majalah Kesehatan Masyarakat Indonesia Tahun XVI nomor VI April 1986(43) _____________2000.

NIHRD. 2002. 2003. karena dikirim oleh member biasa dan masih menunggu konfirmasi dari member yang bersangkutan. Jakarta: Erlangga(58) Soetiarto. available at http://digilib. Departemen Kesehatan Republik Indonesia(61) Aditama.depkes. BOIES” Buku Ajar Penyakit THT (BOIES Fundamentals of Otolaryngology)” Edisi 6. Internet.Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta.go. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Cetakan 1. Kajian Epidemiologik dan Electron Dispersion X-Ray Microanalysis. L. Created: 2002-03-12. Memahami Pertumbuhan dan Kelainan Gigi Anak Cetakan I. Bernida.id/ Center for Research and Development of Health Services and Technology. Cermin Dunia Kedokteran: Proses Berhenti Merokok. 2003. Jakarta: Trubus Agriwidya(65) Arif. 1993. 1998.idDiakses tanggal 19 Juni 2008 at 20. http://digilib. Jakarta: EGC(64) Paramita. Diakses tanggal 16 Maret 2008 at 12. 2006.id/ Created 2001. 102. Niniek L. 2001. S.depkes. 1995 39 Sarlito. Tesis: FKM-UI(56) Notoatmodjo.00 PM(62) Cermin Dunia Kedokteran No. klik Register untuk menjadi free member di Indoskripsi. Untuk memastikan data ada atau tidak silahkan login di download area. Psikologi Sosial. 2001. NB: Ada kemungkinan data yang diposting di website ini belum ada filenya.kalbe. Anne Peplau. Eliza. Farida. Jakarta: EGC(67) Soetjiningsih. 2000. David O. Teori-Teori Psikologi Sosial. Internet: Karies Patognomonig Rokok Kretek. Analisis karies Spesifik yang Berhubungan Dengan Rokok Kretek. S. Panduan Pengembangan Kawasan Tanpa Rokok. Pendidikan Kesehatan Gigi.10 PM(59) Pratiwi. Jonathan L.co. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan. Yogyakarta: Penerbit Andi Offset(57) Sears.litbang. Yogyakarta: Penerbit Andi Offset(60) Departemen Kesehatan.go. Jakarta: Media Aesculapius(66) Adams. 2004. anda harus menjadi special member. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada(63) Herijulianti.http://www. 2000. Edisi Revisi Cetakan 9. 2004. Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. Diakses tanggal 28 Mei 2008 at 13. et al.48 PM(58) Soetiarto. pradnya.litbang. Semua Special Member dapat mendownload data yang ada di download area. Disertasi: FKM-UI(59) Notoatmodjo. Farida. George L. . Mas. Pendidikan Perilaku Kesehatan Cetakan 1. Jakarta: Sagung Seto(68) • • click link 3287 clicks Untuk dapat merequest file lengkap yang dilampirkan pada setiap judul. Freedman. Analisis Kecenderungan Gingivitis Pada Perokok. 1997.