Þ a a e

|

TUGAS MATA KULIAH PKKDM I
Koordinator Mata Kuliah:
Grace Polii, S. Kep., Ns
Dosen Pembimbing:
Irmacakti Sumaraw, S. Kep., Ns
Angela R. Napitupulu, S. Kep., Ns


ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN BRONKITIS








Disusun oleh:

1. ernando Hengkelare 09061030
2. ransisco Polandos 09061048



PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
AKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS KATOLIK DE LA SALLE
MANADO
2010
Þ a a e | 1

KATA PENCANTAR


Puii dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena berkat
penyelenggaraan-Nya, makalah tentang Proses Asuhan Keperawatan Pada Pasien
Bronkitis ini bisa diselesaikan. Makalah ini ditulis dengan tuiuan sebagai tugas
mata kuliah Proses Keperawatan Kebutahan Dasar Manusia I (PKKDM I)
Universitas Katolik De La Salle Manado. Tuiuan yang lebih khusus dari penulisan
makalah ini ialah untuk memberi pelatihan bagaimana cara membuat ASKEP
serta menambah pengetahuan tentang penyakit Bronkitis.

Tim Penulis iuga menyampaikan rasa terima kasih kepada Dosen beserta
asisten dosen yang telah memberikan tugas untuk membuat makalah ini, serta
kepada siapa saia yang telah terlibat dalam proses penulisannya, terlebih kepada
temanteman seangkatan Fakultas Keperawatan 2009 Universitas Katolik De La
Salle Manado yang telah berpartisipasi dalam pembuatan makalah ini..

Akhirnya, harapan tim penulis semoga makalah tentang Proses Asuhan
Keperawatan Pada Pasien Bronkitis ini bermanIaat bagi pembaca. Tim Penulis
telah berusaha sebisa mungkin untuk menyelesaikan makalah ini, namun tim
penulis menyadari makalah ini belumlah sempurna. Oleh karena itu, tim penulis
mengharapakan kritik dan saran yang siIatnya membangun guna
menyempurnakan makalah ini.



Manadoţ CkLober 2010
Þenulls


Þ a a e | 2

D A T A R I S I

@ ÞLnCn@ ŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦ 1
D A F T A R I S I .......................................................................................................... 2
PENDAHULUAN ŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦ 4
A. LATAR BELAKANG ........................................................................................ 4
B. TUJUAN PENELITIAN ..................................................................................... 4
C. METODE PENULISAN ..................................................................................... 5
D. SISTEMATIKA PENULISAN ........................................................................... 6
BAB I LAPORAN PENDAHULUAN ŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦ 7
I. DEFINISI ........................................................................................................... 7
II. ETIOLOGI ......................................................................................................... 8
III. ANATOMI FISIOLOGI .................................................................................... 9
A. Organ-Organ PernaIasan ŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦ 10
B. Fisiologi PernaIasanŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦ 12
IV. PATOFISIOLOGI ............................................................................................ 13
V. PATOFLOW .................................................................................................... 14
VII. MANIFESTASI KLINIK .................................................................................. 15
VIII. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK .................................................................... 15
IX. TERAPI ............................................................................................................ 16
X. KOMPLIKASI ................................................................................................. 18
XI. PROGNOSIS .................................................................................................... 18
XII. PENCEGAHAN ............................................................................................... 18
BAB II ASKEP TEORI ŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦ 19
1. Data Dasar Pengkaiian Pasien ........................................................................... 19
2. Diagnosa dan Perencanaan/Rasional ................................................................. 21
BAB III ASKEP PADA KLIEN ŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦ 30
III.1 PENGKAJIAN DATA DASAR ........................................................................ 30
III.2 ANALISA DAN DIAGNOSA DATA............................................................... 42
III.3 PERENCANAAN ASUHAN KEPERAWATAN .............................................. 46
III.4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI ASUHAN KEPERAWATAN ............... 53
BAB III PENUTUP ŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦ 77
Þ a a e | 3

A. KESIMPULAN ................................................................................................ 77
B. SARAN. ........................................................................................................... 77
DAFTAR PUSTAKA ŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦ 79
DAFTAR ISTILAH ŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦŦ 80




























Þ a a e | 4

PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG
Bronkitis adalah suatu penyakit yang ditandai adanya dilatasi (ektasis)
bronkus lokal yang bersiIat patologis dan berialan kronik. Perubahan
bronkus tersebut disebabkan oleh perubahan-perubahan dalam dinding
bronkus berupa destruksi elemen-elemen elastis dan otot-otot polos bronkus.
Bronkus yang terkena umumnya bronkus kecil (medium size), sedangkan
bronkus besar iarang teriadi.
Bronkitis kronis dan emIisema paru sering terdapat bersama-sama
pada seorang pasien, dalam keadaan laniut penyakit ini sering menyebabkan
obstruksi saluran naIas yang menetap yang dinamakan cronik obstructive
pulmonarv disease ( COPD ).
Bronkitis kronis ditemukan dalam angka-angka yang lebih tinggi
daripada normal diantara pekeria-pekeria tambang, pedagang-pedagang biii
padi-padian, pembuat-pembuat cetakan metal, dan orang-orang lain yang
terus menerus terpapar pada debu. Namun penyebab utama adalah merokok
sigaret yang berat dan beriangka paniang, yang mengiritasi tabung-tabung
bronchial dan menyebabkan mereka menghasilkan lendir yang berlebihan.
Kenyataannya penyakit ini sering ditemukan di klinik-klinik dan diderita
oleh laki-laki dan wanita. Penyakit ini dapat diderita mulai dari anak bahkan
dapat merupakan kelainan congenital.
Berdasarkan dari latar belakang diatas maka penulis (mahasiswa)
mencoba untuk mengangkat kasus pada pasien Tn. 'AS¨ dengan gangguan
sistem Pernapasan Bronkitis kronis.

B. TU1UAN PENELITIAN
a. Tujuan Umum
Penulis dapat melakukan tindakan keperawatan terhadap pasien
dengan Gangguan sistem PernaIasan; Bronkitis kronis secara langsung
dan cepat.
Þ a a e | 5

b. Tujuan Khusus
Penulis mampu :
i. Mengkaii klien dengan Gangguan system PernaIasan; Bronkitis
kronis.
ii. Merumuskan diagnosa keperawatan pada klien dengan Gangguan
system PernaIasan; Bronkitis kronis.
iii. Menentukan tuiuan dan rencana tindakan keperawatan pada klien
dengan Gangguan sistem PernaIasan; Bronkitis kronis.
iv. Mengimplementasikan rencana yang telah disusun dalam bentuk
pelaksanaan tindakan keperawatan pada klien dengan Gangguan
sistem PernaIasan; Bronkitis kronis.
v. Melakukan evaluasi tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan
pada klien dengan Gangguan sistem PernaIasan; Bronkitis kronis.
vi. Menyusun laporan hasil pengamatan dan Asuhan Keperawatan
kasus dalam bentuk Asuhan Keperawatan dengan pedoman yang
telah ditetapkan.

C. METODE PENULISAN
Metode Penulisan yang digunakan dalam menyusun Asuhan
Keperawatan ini adalah metode deskriptiI yaitu metode yang bersiIat
menggambarkan suatu keadaan dengan obiektiI selama mengamati klien,
mulai dari pengumpulan data sampai melakukan evaluasi yang disaiikan
dalam bentuk teori dan Iormat-Iormat Asuhan Keperawatan.
Untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam Asuhan Keperawatan
ini Penulis menggunakan metode pengumpulan data sebagai berikut :
1. Wawancara
Wawancara dilakukan secara allo anamnese dengan anak klien untuk
memperoleh data yang diharapkan.
2. Observasi
Penulis mengadakan pengamatan langsung pada klien sehingga Penulis
dapat menyimpulkan data dengan tepat.
3. Pemeriksaan Iisik
Þ a a e | 6

Sumber data berikut dilakukan pada klien dengan cara : inspeksi, palpasi,
perkusi, dan auskultasi untuk melengkapi data.
4. Studi Keperawatan
Untuk melengkapi data, Penulis menggunakan catatan status klien,
catatan keperawatan klien, data-data medik dan pemeriksaan diagnosa.
5. Studi Dokumentasi
Penulis dalam menyusun asuhan keperawatan serta konsep dasar tentang
Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan sistem Pernapasan;
Bronkitis kronis adalah dari beberapa buku sumber.

D. SISTEMATIKA PENULISAN
Adapun sistematika Penulisan Asuhan Keperawatan ini terdiri dari:
PENDAHULUAN
Di dalam pendahuluan ini Penulis menielaskan tentang latar belakang
masalah, tuiuan Penulisan, metode Penulisan dan sistematika
Penulisan.
BAB I : LAPORAN PENDAHULUAN
Bab ini menielaskan tentang : konsep dasar medis yaitu DeIinisi,
Etiologi, Anatomi Fisiologi, PatoIisiologi dan PatoIlow, ManiIestasi
Klinis, Diagnosis, Terapi, Komplikasi, Prognosis dan Pencegahan
BAB II : ASKEP TEORI
Bab ini menielaskan tentang Askep dalam bentuk teori yang meliputi:
1. Data dasar pengkaiian pasien
2. Diagnosa dan Perencanaan/rasional
BAB III : ASKEP PADA KLIEN
Bab ini merupakan penerapan asuhan keperawatan secara langsung
pada klien dengan pendekatan proses keperawatan yang terdiri dari
Pengkaiian, Analisa dan Diagnosa, Perencanaan, Implementasi, dan
Evaluasi
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR ISTILAH

Þ a a e | 7

BAB I
LAPORAN PENDAHULUAN

I. DEINISI
Bronkitis adalah suatu penyakit yang ditandai dengan adanya
inIlamasi pada pembuluh bronkus, trakea dan bronkioli. InIlamasi
menyebabkan bengkak pada permukaannya, mempersempit ruang
pembuluh dan menimbulkan sekresi dari cairan inIlamasi.
Bronkitis iuga ditandai dengan adanya dilatasi (pelebaran) pada
bronkus lokal yang bersiIat patologis. Dilatasi bronkus disebabkan oleh
perubahan dalam dinding bronkus berupa destruksi elemen-elemen
elastis dan otot-otot polos bronkus. Pada umumnya bronkus berukuran
kecil yang diserang. Hal ini dapat menghalangi aliran udara ke paru-paru
dan dapat merusaknya.
Secara klinis para ahli mengartikan bronkitis sebagai suatu
penyakit atau gangguan respiratorik dengan batuk merupakan geiala
utama dan dominan. Ini berarti bahwa bronkitis bukan merupakan
penyakit yang berdiri sendiri melainkan bagian dari penyakit lain iuga.
DeIinisi Bronkitis menurut beberapa sumber, Bronkhitis adalah
hipersekresi mukus dan batuk produktiI kronis berulang-ulang minimal
selama 3 bulan pertahun atau paling sedikit dalam 2 tahun berturut-turut
pada pasien yang diketahui tidak terdapat penyebab lain !erawatan
Medikal Bedah 2. 1998. hal. 490).
Bronkhitis adalah suatu penyakit yang ditandai dengan adanya
dilatasi/ektasis (pelebaran) bronkus lokal yang bersiIat patologis dan
berialan kronik. Perubahan bronkus tersebut disebabkan oleh perubahan-
perubahan dalam dinding bronkus berupa desrtuksi elemen-elemen
elastis dan otot-otot polos bronkus. Bronkus yang terkena umumnya
bronkus kecil (medium size), sedangkan bronkus besar iarang teriadi. Hal
ini dapat memblok aliran udara ke paru-paru dan dapat merusaknya.
unawan. Irivan. 2006).
Þ a a e | 8

Secara harIiah bronkitis adalah suatu penyakit yang ditanda oleh
inIlamasi bronkus. Secara klinis pada ahli mengartikan bronkitis sebagai
suatu penyakit atau gangguan respiratorik dengan batuk merupakan
geiala yang utama dan dominan. Ini berarti bahwa bronkitis bukan
penyakit yang berdiri sendiri melainkan bagian dari penyakit lain tetapi
bronkitis ikut memegang peran.( Ngastiyah, 1997 )
Bronkitis berarti inIeksi bronkus. Bronkitis dapat dikatakan
penyakit tersendiri, tetapi biasanya merupakan laniutan dari inIeksi
saluran peranpasan atas atau bersamaan dengan penyakit saluran
pernapasan atas lain seperti Sinobronkitis, Laringotrakeobronkitis,
Bronkitis pada asma dan sebagainya (Gunadi Santoso, 1994)
Bronkitis dibedakan meniadi bronkitis akut dan kronik. Bronkitis
Akut adalah batuk yang tiba-tiba teriadi karena inIeksi virus yang
melibatkan ialan naIas yang besar. Bronkitis akut pada umumnya ringan.
Berlangsung singkat (beberapa hari hingga beberapa minggu), rata-rata
10-14 hari. Meski ringan, namun adakalanya sangat mengganggu,
terutama iika disertai sesak, dada terasa berat, dan batuk
berkepaniangan..
Bronchitis kronik merupakan inIlamasi berulang dan degenerasi
bronkus yang bisa berhiubungan dengan inIeksi aktiI. Bronchitis kronik
dapat merupakan proses dasar dari suatu penyakit, seperti asma, Iibrosis
kistik, sindrom diskinesia silia, aspirasi benda asing, atau paparan
terhadap iritan ialan naIas. Pada orang dewasa, dikatakan bronchitis
kronik apabila terdapat batuk kronik dan pembentukan sputum selama
sedikitnya 3 bulan dalam setahun, sekurang-kurangnya dalam dua tahun
berturut-turut.


II. ETIOLOGI
Bronkitis berhubungan dengan inIeksi virus, bakteri sekunder,
polusi udara, alergi, aspirasi kronis, reIluks gastroesophageal, dan inIeksi
iamur. Virus merupakan penyebab tersering bronkitis (90°), sedangkan
Þ a a e | 9

sisanya (10°) oleh bakteri. Virus penyebab yang sering yaitu yaitu virus
InIluenza A dan B, ParainIluenza, Respiratory Syncitial Virus (RSV),
Rinovirus, adenovirus dan corona virus. Bronkitis akut karena bakteri
biasanya dikaitkan dengan Mycoplasma pneumoniae, Mycobacterium
tuberculosis, Bordatella pertusis, Corynebacterium diphteriae, Clamidia
pneumonia, Streptococcus pneumonia, Moraxella catarrhalis, H.
inIluenza, Penyebab lain agen kimia ataupun pengaruh Iisik.
Bronchitis kronik dapat disebabkan oleh serangan bronchitis akut
yang berulang, yang dapat melemahkan dan mengiritasi bronkus, dan
pada akhirnya menyebabkan bronchitis kronik. Penyebab umum untuk
bronchitis akut dan kronik pada anak adalah sebagai berikut.
· InIeksi virus ; adenovirus, inIluenza, parainIluenza, respiratory
syncytial virus, rhinovirus, coxsackievirus, herpes simplex virus.
· InIeksi bakteri : S pneumonia, M catarrhalis, H inIluenza,
Chlamydia pneumoniae (Taiwan acute respiratory |TWAR| agent),
Mycoplasma species.
· Polusi udara, seperti merokok.
· Alergi
· Aspirasi kronik atau reIluks gastrointestinal
· InIeksi Iungi

III. ANATOMI ISIOLOGI





Þ a a e | 1

A. Organ-Organ Pernafasan
1. Organ saluran pernaIasan atas
a) Hidung
Hidung merupakan saluran udara yang pertama, mempunyai 2
lubang, dipisahkan oleh sekat hidung (septum oli) di dalamnya
terdapat bulu-bulu yang berguna untuk menyaring udara, debu, dan
kotoran-kotoran yagn masuk ke dalam lubang hidung.
b)Faring
Merupakan tempat persimpangan antara ianaln naIas dan ialan
makanan. Terdapat di bawah dasar teng korak, di belakang ronga
hidung dan mulut sebelah depan rusa tulang leher.
Faring dibagi tiga bagian :
(1)Bagian atas yang sama tingginya dengan koana yang disebut
nesoIaring
(2)Bagian tengah yang sama tingginya denan istmus Iausium
disebut oroIaring.
(3)Bagian bawah sekat, dinamakan langioIaring.
c) Laring. Merupakan saluran pendek yang menghubugnkan Iaring
dan trakea, dan bertindak sebagai pembentukan suara.
2. Organ saluran pernaIasan bawah
a) Trakhea
Merupakan laniutan dari laring yang dibentuk oleh 16 s/d 20 cincin
yang terdiri dari tulang-tulang rawan yang berbentuk seperti kuku
kuda. Paniang trakhea 9-11 cm dan di belakang terdiri dari iaringan
ikat yang dilapisi oleh otot polos.
b)Bronkhial dan alveoli
Uiung distal trachea membagi meniadi bronki primer kanan dan
kiri yang terletak di dalam rongga dada. Fungsi percabangan
bronkial untuk memberikan saluran bagi udara antara trakea dan
alveoli.
Þ a a e | 11

Alveoli beriumlah 300-500 iuta di dalam paru-paru, Iungsinya
adalah sebagai satu-satunya tempat pertukaran gas antara
lingkungan eksternal dan aliran darah.
c) Paru-paru
Paru-paru merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri
dari gelembung-gelembung (gelembung hawa-alveoli).
Gelembung-gelembung alveolir ini terdiri dari sel-sel epitel dan
endotel.
Banyaknya gelembung paru-paru ini kurang lebih 700.000.000
buah (paru kiri dan kanan).
Kapasitas paru-paru :
(1) Kapasitas total
Jumlah udara yang dapat mengisi paru-paru pada inspiasi
sedalam dalamnya.
(2) Kapasitas vital
Jumlah udara yang dapat dikeluarkan setelah ekspirasi
maksimal.
d)Toraks
Rongga toraks terdiri dari rongga pleura kanan dan kiri dan bagian
tengah yang disebut mediastinum. Toraks mempunyai peranan
penting dalam pernaIasan, karena bentuk elips dari tulang rusuk
dan sudut perlekatannya tulang belakang. Perubahan dalam ukuran
toraks inilah yang memungkinkan teriadinya proses inspirasi dan
ekspirasi.
Bagian paru-paru :
1) Pleura adalah bagian terluar dari paru-paru dikelilingi oleh
membran halus, licin atau pleura.
2) Mediastinum adalah bagian dinding yang membagi rongga
toraks meniadi 2 bagian
3) Lobus adalah bagian paru-paru dibagi meniadi lobus kiri terdiri
atas lobus bawah dan atas tengah dan bawah
Þ a a e | 12

4) Bronkus dan bronkiolus terdapat beberapa divisi bronkus di
dalam setiap lobus paru. Brokiolus adalah percabangan dari
bronkus
5) Alveoli paru terbentuk oleh sekitar 300 iuta alveoli yang
tersusun dalam kloster antara 15-20 alveoli

B. isiologi Pernafasan
PernaIasan adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang
mengandung oksigen ke dalam tubuh serta menghembuskan udara yang
banyak mengandung CO
2
sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh.
Penghisapan udara ini disebut inspirasi dan menghembuskan disebut
ekspirasi.
PernaIasan paru-paru Merupakan pertukaran oksigen dan
karbondioksida yang teriadi pada paru-paru. PernaIasan melalui paru-
paru atau pernaIasan eksterna oksigen diambil melalui mulut dan hidung
pada waktu bernaIas dimana oksigen masuk melalui trakea sampai ke
alveoli berhubungan dengan darah dalam kapiler pulmonar, alveoli
memisahkan oksigen dari darah , O
2
menembus membran, diambil oleh
sel darah merah dibawa ke iantung dan dari iantung dipompakan ke
seluruh tubuh.
Guna pernaIasan :
1) Mengambil O
2
yang kemudian dibawa oleh darah ke seluruh tubuh
(sel-selnya) untuk mengadakan pembakaran.
2) Mengeluarkan CO
2
yang teriadi sebagai sisa dari pembakaran,
kemudian dibawa oleh darah ke paru-paru untuk dibuang (karena
tidak berguna lagi oleh tubuh).
3) Menghangatkan dan melembabkan udara.

PernaIasan dalam keadaan normal
Orang dewasa : 16 18 x/mnt
Anak-Anak kira-kira : 24 x/ mnt
Bayi kira-kira : 30 x/ mnt
Þ a a e | 13


Paru adalah struktur elastik yang dibungkus dalam sangkar toraks,
yang merupakan suatu bilik udara kuat dengan dinding yang dapat
menahan tekanan. EIek dari gerakan ini adalah secara bergantian
meningkatkan dan menurunkan kapasitas dada. Inspirasi adalah ketika
kapasitas dalam dada meningkat, udara masuk melalui trakea. Ekspirasi
adalah ketika dinding dada dan diaIragma kembali ke ukurannya semula.

IV. PATOISIOLOGI
Penemuan patologis dari bronchitis adalah hipertropi dari keleniar
mukosa bronchus dan peningkatan seiumlah sel goblet disertai dengan
inIiltrasi sel radang dan ini mengakibatkan geiala khas yaitu batuk
produktiI. Batuk kronik yang disertai peningkatan sekresi bronkus
tampaknya mempengaruhi bronchiolus yang kecil kecil sedemikian
rupa sampai bronchiolus tersebut rusak dan dindingnya melebar. Faktor
etiologi utama adalah merokok dan polusi udara lain yang biasa terdapat
pada daerah industri. Polusi tersebut dapat memperlambat aktiIitas silia
dan pagositosis, sehingga timbunan mukus meningkat sedangkan
mekanisme pertahanannya sendiri melemah.
Mukus yang berlebihan teriadi akibat displasia. Sel sel penghasil
mukus di bronkhus. Selain itu, silia yang melapisi bronkus mengalami
kelumpuhan atau disIungsional serta metaplasia. Perubahan perubahan
pada sel sel penghasil mukus dan sel sel silia ini mengganggu sistem
eskalator mukosiliaris dan menyebabkan penumpukan mukus dalam
iumlah besar yang sulit dikeluarkan dari saluran naIas.






Þ a a e | 14

PATUFLUW

LLloloal




























leraen lnfasl kuman ke [alan napas
kLlvasl laŦ L
ÞenlnakaLan pelepasan
PlsLamln
lenomene lnfeksl
lrlLasl Mukosa 8ronkus
Ldema mukosa sel
aobleL memproduksl
mukus
Þenvebaran bakLerl/vlrus ke
seluruh LubuhŦ
8akLerlmla/vlremla
ÞenlnakaLan akumulasl
sekreL bronkus
ndxŦ 8erslhan [alan
napas Lldak efekLlf
PlperLerml
ÞenlnakaLan la[u
meLabollsme
Lubuh umum
uemam
ndxŦ Canaauan
keselmbanaan
calran
Malalse
ndxŦ lnLoleransl
kLlflLas
ÞenvemplLan [alan
napas
napas pendek
Þenaaunaan
oLoL napas
Lambahan
ndxŦ Canaauan pola
napas
8aLuk produkLlf
nverl
ndxŦ Canaauan
rasa nvamanť
nverl
@ldak nafsu
makan
ndxŦ Canaauan
nuLrlsl kurana
darl kebuLuhan
nverl pada
reLrosLernal
8ronklulos melebar erusakan
8ronklolus
ndxŦ erusakan
ÞerLukaran Cas
8aLuk
darah
kLMA1IAN
Þ a a e | 15

VII. MANIESTASI KLINIK
Geiala utama bronkitis adalah timbulnya batuk produktiI
(berdahak) yang mengeluarkan dahak berwarna putih kekuningan atau
hiiau. Dalam keadaan normal saluran pernapasan kita memproduksi
mukus kira-kira beberapa sendok teh setiap harinya. Apabila saluran
pernapasan utama paru (bronkus) meradang, bronkus akan menghasilkan
mukus dalam iumlah yang banyak yang akan memicu timbulnya batuk.
Selain itu karena teriadi penyempitan ialan naIas dapat menimbulkan
shortness oI breath.
Menurut Gunadi Santoso dan Makmuri (1994), tanda dan geiala
yang ada yaitu :
a. Biasanya tidak demam, walaupun ada tetapi rendah
b. Keadaan umum baik, tidak tampak sakit, tidak sesak
c. Mungkin disertai nasoIaringitis atau koniungtivitis
d. Pada paru didapatkan suara napas yang kasar
Menurut Ngastiyah (1997), yang perlu diperhatikan adalah akibat
batuk yang lama, yaitu :
a. Batuk siang dan malam terutama pada dini hari yang menyebabkan
seseorang kurang istirahat.
b. Daya tahan tubuh yang menurun.
c. Anoreksia sehingga berat badan sukar naik.
d. Kesenangan anak untuk bermain terganggu dan Konsentrasi belaiar
anak menurun.

VIII. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a. Foto Thorax : Tidak tampak adanya kelainan atau hanya hyperemia
Tubular shadow atau traun lines terlihat bayangan garis yang
paralel, keluar dari hilus menuiu apeks paru. bayangan tersebut
adalah bayangan bronchus yang menebal.
Corak paru bertambah.
b. Laboratorium : Leukosit ~ 17.500.
Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan:
Þ a a e | 16

a. Tes Iungsi paru-paru
b. Gas darah arteri
Analisa gas darah
Pa O2 : rendah (normal 25 100 mmHg)
Pa CO2 : tinggi (normal 36 44 mmHg).
Saturasi hemoglobin menurun.
Eritropoesis bertambah.
c. Rontgen dada.

IX. TERAPI
Tuiuan pengobatan bronkitis adalah untuk mengurangi geiala
batuk, melegakan pernapasan serta menyembuhkan bronkitis. Terapi
bronkitis meliputi :
1. Istirahat yang cukup.
2. Minum cairan yang banyak.
3. Bernapas dalam udara hangat serta menghindari udara dingin dan AC.
4. Penekan batuk, pengencer dahak dan antibiotik.
Rehabilitasi paru: rehabilitasi paru adalah program latihan
pernapasan di mana Anda bekeria dengan seorang terapis pernaIasan
untuk membantu Anda belaiar untuk bernapas dengan lebih mudah dan
meningkatkan kemampuan Anda untuk berolahraga.
Jenis obat yang dipakai untuk bronkitis:
a. Beberapa ienis obat bronkitis yang sering digunakan oleh dokter adalah :
1. Antibiotik. Bronkitis biasanya teriadi akibat inIeksi virus , sehingga
antibiotik tidak eIektiI. Namun dokter mungkin meresepkan
antibiotik iika bronkitis disebabkan oleh inIeksi bakteri.
2. Obat batuk. Jika batuknya kering maka diberikan obat penekan batuk
seperti DMP atau kodein, iika batuknya berdahak maka diberikan
obat pengencer dahak seperti Gliseril Guikolat (GG) dan epexol.
3. Obat lain. Jika Anda memiliki asma atau penyakit paru obstruktiI
kronik (PPOK), dokter mungkin merekomendasikan inhaler dan
Þ a a e | 17

obat-obatan lain untuk mengurangi peradangan dan membuka bagian
dalam paru-paru yang menyempit .
b. Obat tradisional herbal bronkitis.
Obat tradisional yang dapat digunakan untuk mengobati bronkitis
adalah propolis. Propolis adalah antibiotik alami yang dapat digunakan
untuk mengobati bronkitis akut dan bronkitis kronik. Propolis akan
semakin berkhasiat iika di campur dengan madu hutan. Selain propolis
dapat digunakan teripang. Teripang adalah hewan yang hidup di dasar
laut. Teripang sangat bermanIaat untuk meningkatkan daya tahan tubuh
dan merangsang regenerasi sel sel baru. Daun meniran merupakan
tanaman obat atau herbal yang bermanIaat untuk meningkatkan daya
tahan tubuh. Daun meniran telah tersedia dalam bentuk kapsul.
Kemoterapi pada bronkitis.
Kemotherapi dapat digunakan :
1. Secara kontinue untuk mengontrol inIeksi bronkus ( ISPA )
2. Untuk pengobatan aksaserbasi inIeksi akut pada bronkus/paru
3. atau kedua-duanya digunakan
Kemoterapi menggunakan obat-obat antibiotik terpilih, pemakaian
antibiotik antibiotik sebaikya harus berdasarkan hasil uii sensivitas
kuman terhadap antibiotik secara empirik.
Walaupun kemoterapi ielas kegunaannya pada pengelolaan
bronkitis, tidak pada setiap pasien harus di berikan antibiotik. Antibiotik
diberikan iika terdapat aksaserbasi inIeksi akut, antibiotik diberikan
selama 7-10 hari dengan terapi tunggal atau dengan beberapa antibiotik,
sampai teriadi konversi warna sputum yang semula berwarna
kuning/hiiau meniadi mukoid (putih iernih).
Kemoterapi dengan antibiotik ini apabila berhasil akan dapat
mengurangi geiala batuk, iumlah sputum dan geiala lainnya terutama
pada saat teriadi aksaserbasi inIeksi akut, tetapi keadaan ini hanya
bersiIat sementara.


Þ a a e | 18

X. KOMPLIKASI
a. Bronkitis Akut yang tidak ditangani cenderung meniadi Bronkitis Kronik
b. Pada anak yang sehat iarang teriadi komplikasi, tetapi pada anak dengan
gizi kurang dapat teriadi Othithis Media, Sinusitis dan Pneumonia.
c. Bronkitis Kronik menyebabkan mudah terserang inIeksi.
d. Bila sekret tetap tinggal, dapat menyebabkan atelektasisi atau
Bronkietaksis.

XI. PROGNOSIS
a. Bronkitis akut biasanya sembuh total, dengan prognosis yang bagus.
b. Pasien dengan bronkitis kronik dan didiagnosis asma, penyakit struktur
saluran napas, atau imunodeIisiensi perlu pengawasan secara teratur
untuk meminimalkan kerusakan paru dan perkembangan meniadi
penyakit paru kronik yang ireversibel.

XII. PENCEGAHAN
Menurut Ngastiyah (1997), untuk mengurangi gangguan tersebut
perlu diusahakan agar batuk tidak bertambah parah.
Membatasi aktivitas anak.
Tidak tidur di kamar yang ber AC atau gunakan baiu dingin, bila ada
yang tertutup lehernya.
Hindari makanan yang merangsang.
Jangan memandikan anak terlalu pagi atau terlalu sore, dan mandikan
anak dengan air hangat.
Jaga kebersihan makanan dan biasakan cuci tangan sebelum makan.
Menciptakan lingkungan udara yang bebas polusi



Þ a a e | 19

BAB II
ASKEP TEORI


1. Data Dasar Pengkajian Pasien
a. Aktivitas/istirahat
Geiala : Keletihan, kelelahan, malaise.
Ketidakmampuan melakukan aktivitas sehari hari karna sulit
bernapas.
Ketidakmampuan untuk tidur, perlu tidur dalam posisi duduk tinggi.
Dispnae pada saat istirahat/respon terhadap aktivitas/latihan.
Tanda : Keletihan
Gelisah, insomnia.
Kelemahan umum/kehilangan massa otot.
b. Sirkulasi
Geiala : Pembengkakan pada ekstremitas bawah.
Tanda : Peningkatan tekanan darah, peningkatan Irekuensi iantung/takikardia
berat.
Distensi vena leher.
Edema dependent
Bunyi iantung redup.
Warna kulit/membran mukosa: normal/sianosis
Pucat, dapat menuniukkan anemia.
c. Integritas Ego
Geiala : Peningkatan Iaktor resiko.
Perubahan pola hidup
Tanda : Ansietas, ketakutan, peka rangsang.
d. Makanan/cairan
Geiala : Mual/muntah.
NaIsu makan buruk/anoreksia.
Ketidakmampuan untuk makan karna distress pernapasan.
Þ a a e | 2

Penurunan berat badan menetap, peningkatan berat badan
menuniukan edema (bronkitis).
Tanda : Turgor kulit buruk, edema dependen, berkeringat.
Penurunan berat badan, palpitasi abdominal dapat menayatakan
hepatomegali.
e. Hygiene
Geiala : Penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan melakukan aktivitas.
Tanda : Kebersihan buruk, bau badan.
I. PernaIasan
Geiala : Batuk menetap dengan produksi sputum setiap hari selama minimun
3 bulan berturut turut tiap tahun sedikitnya 2 tahun.
Episode batuk hilang timbul.
Tanda : PernaIasan biasa cepat.
Penggunaan otot bantu pernaIasan.
Bentuk barel chest (dada tong), gerakan diaIragma minimal.
Bunyi napas ronchi
Perkusi hiperesonan pada area paru.
Warna pucat dengan sianosis bibir dan dasar kuku, abu abu
keseluruhan.
g. Keamanan
Geiala : Riwayat reaksi alergi terhadap zat/Iaktor lingkungan.
Adanya/berulangnya inIeksi.
h. Seksualitas
Geiala : Penurunan libido
i. Interaksi sosial
Geiala : Hubungan ketergantungan
Kegagalan dukungan/terhadap pasangan/orang dekat
Penyakit lama/ketidakmampuan membaik.
Tanda : Ketidakmampuan untuk mempertahankan suara karena distress
pernapasan
Keterbatasan mobilitas Iisik.
Kelalaian hubungan dengan anggota keluarga lain..
Þ a a e | 21

i. Penyuluhan/pembelaiaran
Geiala : Penggunaan/penyalahgunaan obat pernapasan.
Kesulitan menghentikan merokok.
Penggunaan alkohol secara teratur.
Kegagalan untuk membaik.

2. Diagnosa dan Perencanaan/Rasional
1. Diagnosa keperawatan : Bersihan Jalan Napas, TakeIektiI
Dapat dihubungkan dengan : Peningkatan produksi sekret
Tuiuan : Mempertahankan ialan napas paten dengan
bunyi napas bersih
Kriteria evaluasi : Menuniukan perilaku untuk memperbaiki
bersihan ialan napas, mis: batuk eIektiI dan
mengaeluarkan sekret
Tindakan/intervensi Rasional
1. Auskulatasi bunyi napas. Catat adanya
bunyi napas, mis: krekels, ronki.



2. Kaii/pantau Irekuensi pernapasan.
Catat rasio inspirasi/ekspirasi.



3. Catat adanya/deraiat dispnea, mis:
keluhan 'lapar udara¨, gelisah,
ansietas, distres pernapasan,
penggunaan otot bantu.

4. Kaii pasien untuk posisi yang nyaman
mis: peninggian kepala tempat tidur,
duduk sandaran tempat tidur.
5. Pertahankan polusi lingkungan
minimum, mis: debu, asap, dan bulu
bantal yang berhubungan dengan
kondisi individu.
6. Dorong/bantu latihan napas
abdomen/bibir.


-Beberapa deraiat spasme bronkus teriadi
dengan obstruksi ialan naIas dan dapat
dimaniIestasikan dengan adanya bunyi
naIas adventisius, mis: penyebaran
krekels basah (bronkitis)
-Takipnee biasanya ada pada beberapa
deraiat dan dapat ditemukan selama /
adanya proses inIeksi akut. Pernapasan
melambat dan Irekuensi pernapasan
memaniang dibandingkan ekspirasi.
-DisIungsi pernapasan adalah variabel
yang tergantung pada tahap proses
kronis selain proses akut yang
menimbulkan perawatan dirumah sakit,
mis: inIeksi, reaksi alergi.
-Peninggian kepala temat tidur
mempermudah Iungsi pernapasan
dengan menggunakan graavitasi.
-Pencetus tipe reaksi alergi pernapasan
yang dapat mentriger episode akut.


-Memberikan pasien beberapa cara untuk
mengatasi dan mengontrol dispnea dan
menurunkan iebakan udara

Þ a a e | 22

Intervensi Rasional
7. Observasi karakteristik batuk, mis: menetap, batuk pendek basah.
Bantu tindakan untuk memperbaiki keeIektiIan upaya batuk.

8. Tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml/hari sesuai
teloransi iantung. Memberikan air hangat. Aniurkan masukan
cairan antara, sebagai pengganti makanan.

9. Berikan obat sesuai indikasi:
-Bronkidalator (mis: epineIrin, albuterol, isoetarin)
-Xatin (mis: aminoIilin, oxtriIilin, teoIilin)
-Kromolin
-Antimikrobial
-Analgesik(mis: kodein)

10. Berikan humidiIikasi taambahan, mis: nebuliser.


11. Bantu pengobatan pernapasan, mis: Iisioterapi dada.


12. Awasi/buat graIik seri GDA, nadi oksimetri, Ioto dada.

Batuk dapat menetap tetapi tidak eIektiI, khususnya pada lansia,
penyakit akut atau kelemahan. Batuk paling eIektiI pada posisi
duduk tinggi atau kepala dibawah setelah di perkusi dada.
- Hidrasi membantu menurunkan kekentalan sekret, mempermudah
pengeluaran. Penggunaan cairan hangat dapat menurunkan
spasme bronkus. Cairan selama makan dapat meningkatkan
distensi gaster dan tekanan pada diagIragma.

- Merilekskan otot halus dan menurunkan spasme ialan napas.
- Menurunkan edema mukosa dan spasme otot polos.
- Menurunkan inhalasi ialan napas lokal.
- Mengontrol inIeksi pernapasan.
- Batuk menetap yang melelahkan perlu ditekan untuk menghemat
energi dan memungkinkan pasien untuk istirahat.
- Kelembaban menurunkan kekentalan sekret mempermudah
pengeluaran dan dapat membantu menurunkan/mencegah
pembentukan mukosa tebal pada bronkus.
- Drainase postural dan perkusi bagian penting untuk membuang
banyak sekresi/kental dan memperbaiki ventilasi pada segmen
dasar paru.
- Membuat dasar untuk pengawasan kemaiuan/kemunduran proses
penyakit dan komplikasi.




Þ a a e | 23

2. Diagnosa keperawatan : Pertukaran Gas, Kerusakan
Dapat dihubungkan dengan : Gangguan suplai oksigen (obstruksi ialan napas oleh sekresi, spasme bronkus, iebakan udara)
Tuiuan : Menuniukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi iaringan yang adekuat dengan GDA dalam rentang
normal dan bebas geiala distress pernaIasan.
Kriteria evaluasi : Pasien dapat berpartisipasi dalam program pengobatan dalam tingkat kemampuan situasi.
Intervensi Rasional
1. Kaii Irekuensi, kedalaman pernapasan. Catat penggunaan otot
aksesori, napas bibir, ketdakmampuan bicara/berbincang.
2. Tinggikan kepala tempat tidur, bantu pasien untuk memilih posisi
yang mudah untuk bernapas. Dorong napas dalam perlahan/napas
bibir sesuai kebutuhan/toleransi individu.
3. Kaii/awasi secara rutin kulit dan warna membran mukosa.
4. Dorong mengeluarkan sputum; penghisapan bila diindikasikan.
5. Auskultasi bunyi napas catat area penurunan aliran udara
dan/bunyi tambahan.
6. Palpasi Iremitus.
7. Awasi tingkat kesadaran/status mental. Selidiki adanya
perubahan.
8. Evaluasi tingkat toleransi aktivitas. Berikan lingkungan tenang
dan kalem. Batasi aktivitas pasien atau dorong untuk
tidur/istirahat di kursi selama Iase akut.
9. Awasi tanda vital dan irama iantung
10. Awasi/gambarkan seri GDA dan Nadi oksimetri.
11. Berikan oksigen tambahan yang sesuai dengan indikasi hasil
GDA dan toleransi pasien.
- Berguna dalam evaluasi deraiat distres pernapasan dan/atau
kronisnya proses penyakit
- Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi duduk
tinggi dan latihan napas untuk menurunkan kolaps ialan
napas, dan keria napas.
- Sianosis mungkin periIer (terlihat pada kuku) atau sentral
(terlihat sekitar bibir/atau daun telinga. Keabu-abuan dan
dianosis sentral mengidentiIikasikan beratnya hipoksemia.
- Kental, tebal, dan banyak sekresi adalah sumber utama
gangguan pertukaran gas pada ialan napas kecil.
Penghisapan dibutuhkan bila batuk tidak eIektiI.
- Bunyi napas redup karena penurunan aliran udara atau area
konsolidasi. Adanya mengi mengindikasikan spasme
bronkus/ tertahannya sekret. Krekels basa menyebar
menuniukkan cairan pada interstisial iantung
- Penurunan getasan vibrasi diduga ada pengumpulan cairan
atau iebakan udara
- Gelisah dan ansietas adalah maniIestasi umum pada
hipoksia. DGA memburuk disertai bingung menuniukan
Þ a a e | 24

12. Berikan penekan SSP ( mis: antiansietas) dengan hati-hati
13. Bantu intubasi, berikan/pertahankan ventilasi mekanik, dan
pindahan ke UPI sesuai instruksi untuk pasien.
disIungsi serebral yang berhubungan dengan hipoksemia
- Selama distres pernapasan berat/akut pasien secara total tak
mampu melakukan aktivitas sehari-hari karena hipoksemia
dan disprea. Istirahat diselingi aktivitas perawatan masih
penting dari program pengobatan. Program latihan
dituniukkna untuk meningkatkan ketahanan dan kekuatan
tanpa menyebabkan dispnea berat, dan dapat meningkatkan
rasa sehat.


3. Diagnosa keperawatan : Nutrisi, Perubahan, Kurang dari Kebutuhaan Tubuh
Dapat berhubungan dengan : Dispnea, Kelemahan, EIek Samping Obat, Produksi sputum, Anoreksia, mual/muntah.
Tuiuan : Menuniukkan peningkatan berat badan menuiu tuiuan yang tepat.
Hasil evaluasi : Menuniukkan perilaku pola hidup untuk meningkatkan dan/atau mempertahankan berat yang tepat.
Intervensi Rasional
1. Kaii kebiasaan diet, masukan makanan saat ini. Catat deraiat
kesulitan makan. Evaluasi berat badan dan ukuran tubuh.
2. Auskultasi bunyi usus.
3. Berikan perawatan oral sering, buang sekret, berikan wadah
khusus untuk sekali pakai dan tisu.
4. Dorong periode istirahat semalam 1 iam sebelum dan sesudah
makan. Berikan makan porsi kecil tapi sering.

5. Hindari makanan penghasil gas dan minuman karbonat.

- Pasien distres pernapasan akut sering anokreksia karena dispnea,
produksi sputum, dan obat.
- Penurunan bising usus menuniukkan penurunan motilitas gaster.
- Rasa tidak enak, bau adalah pencegahan utama yang dapat
membuat mual dan muntah.
- Membantu menurunkan kelemahan selama waktu makan dam
memberikan kesempatan untuk meningkatkan masukan kalori
utama.
- Dapat menghasilkan distensi abdomen yang menggangu napas
abdomen dan gerakan diaIrgma, dan dapat meningkatkan
Þ a a e | 25


6. Hindari makanan sangat panas dan sangat dingin.

7. Timbang berat badan sesuai indikasi.

8. Konsul ahli gizi/nutrisi pendukung tim untuk memberikan
makanan yang mudah cerna secara nutrisi seimbang (mis:
tambahan nutrisi tambahan oral/selang).
dispnea.
- Suhu ekstrem dapat mencetuskan/meningkatkan spasme batuk.

- Berguna untuk menentukan kebutuhan kalori, menyusun tuiuan
berat badan, dan evaluasi keadekuatan rencan nutrisi.
- Kebutuhan kalori yang didasarkan pada kebutuhan individu
memberikan nutrisi maksimal.




4. Diagnosa Keperawatan : InIeksi, Resiko Tinggi Terhadap
Dapat berhubungan dengan : Menetapnya sekret, proses penyakit kronis.
Tuiuan : MengidentiIikasi intervensi untuk mencegah resiko tinggi
Menuniukan teknik, perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang aman.
Kriteria evaluasi : Mendemonstrasikan teknik mencuci tangan yang tepat dan melaksanakan tindakan pencegahan
yang sesuai
Untuk mencegah inIeksi.
Intervensi Rasional
1. Awasi suhu
2. Kaii pentingnya latihan napas, batuk eIektiI, perubahan posisi
sering, dan masukan cairan adekuat.
- Demam dapat teriadi karena inIeksi dan/atau dehidrasi.
- Aktivitas ini meningkatkan mobilisasi dan pengeluaran sekret
untuk menurunkan arisiko teriadinya nIaeksi paru.
Þ a a e | 26

3. Observasi warna, karakter, bau sputum.

4. Tuniukkan dan bantu pasien tentang pembuangan tisu dan
sputum. Tekankan cuci tangan yang benar (perawat dan pasien)
dan pengunaan sarung tangan bila memegang/membuang tisu,
wadah sputum.
5. Awasi penguniung; berikan masker sesuai indikasi.

6. Dorong keseimbangan antara aktivitas dan istirahat.


7. Diskusikan kebutuhan masukan nutrisi adekuat.

8. Dapatkan spesimen sputum dengan batuk atau penghisapan untuk
pewarnaan kuman Gram, kultur/sensivitas.
9. Berikan antimikrobial sesuai indikasi.
- Sekret berbau, kuning/kehiiauan menuniukkan adanya inIeksi
paru.
- Mencegah patogen melalui cairan.



- Menurunkan potinsial terpaian pada penyakita inIeksius

- Menurunkan konsumsi/kebutuhan keseimbangan oksigen dan
memperbaiki pertahanan pasien terhadap inIeksi, meningkatkan
penyembuhan.
- Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan
menurunkan tekanan darah terhadap inIeksi.
- Dilakukan untuk mengidentiIikasikan organisme penyebab dan
kerentanan terhadap berbagai antimikrobial.
- Dapat diberikan untuk organisme khusus yang teridentiIikasi
dengan kultur.


Þ a a e | 27

5. Diagnosa keperawatan : Intoleran AktiIitas Berhubungan
Dapat berhubungan dengan : InsuIisiensi ventilasi dan oksigenasi.
Tuiuan : - Pasien akan mengidentiIikasi aktivitas yang menimbulkan kelemahan
- Berpartisipasi dalam aktivitas yang dibutuhkan dengan TTV dalam rentang normal
- Mengungkapkan secara verbal pemahaman tentang kebutuhan oksigen, pengobatan dan atau
peralatan yang dapat meningkatkan toleransi terhadap aktivitas.
Kriteria Evaluasi : - Pasien dapat menidentiIikasi aktivitas yang menimbulkan kelemahan.
- Pasien mengungkapkan kebutuhan akan oksigen.
Intervensi Rasional
1. Kaii keadaan umum pasien
2. Kaii tingkat kemampuan aktivitas.
3. Observasi tanda-tanda vital.
4. Aniurkan pasien untuk banyak istirahat di tempat tidur.
5. Bantu pasien untuk beraktivitas
6. Libatkan keluarga dalam mendampingi pasien.
7. Kolaborasi medik dalam pemberian O2

- Menentukan intervensi yang tepat
- Mengetahui seiauh mana kemampuan aktivitas pasien &
menentukan tindakan selaniutnya.
- Mengetahui perubahan curah iantung sehingga tidak teriadi
hipotensi
- Mengurangi keria iantung.
- Dapat memenuhi kebutuhan sehari hari dan kebutuhan O
2
.
- Membantu memenuhi kebutuhan sehari hari.


Þ a a e | 28

6. Diagnosa keperawatan : Kurang Pengetahuan |Kebutuhan Belaiar| Mengenai Kondisi, Tindakan
Dapat berhubungan dengan : Kurang InIormasi/tidak mengenal sumber inIomasi.
Tuiuan : Menyatakan pemahaman kondisi/proses penyakit dan tindakan.
Kriteria evaluasi : Pasien memahami kondisi penyakitnya dan melakukan perubahan pola hidup
Intervensi Rasional
1. Jelaskan/kuatkan penielasan proses penyakit individu. Dorong
pasien/orang terdekat untuk menanyakan pertanyaan.
2. Instuksikan/kuatkan rasional untuk latihan napas, batuk eIektiI,
dan latihan kolaborasi umum.
3. Diskusikan obat pernapasan, eIek samping, dan reaksi yang tak
diinginkan.
4. Tuniukkan teknik penggunaan dosis inhaler.

5. Sistem alat untuk mencatat obat intermitten/penggunaan inhaller.
6. Aniurkan meghindari agen sedatiI antiansietas.
7. Tekankan pentingnya perawatan oral/kebersihan gigi.

8. Diskusikan pentingnya menghindari orang yang sedang inIeksi
pernapasan aktiI
- Menurunkan ansietas dan dapat menimbulkan partisipasi pada
rencana pengobatan.
- Napas bibir dan napas abdominal/diaIragmatik membantu otot
pernapasan. Meningkatkan toleransi aktivitas,
- Penting bagi pasien memeahami perbedaan antara eIek samping
menggangu dan eIek samping merugikan.
- Pemberian yang tepat obat meningkatkan penggunaan dan
keeIektiIan.
- Menurunkan resiko kelebihan dosis dari obat.
- Agen sedatiI antansietas dapat menekan pernapsan.
- Menurunkan pertumbuhan bakteri pada mulut, dimana dapat
menimbulkan inIeksi saluran napas atas.
- Menurunkan pemaianan dan insiden mendapatkan inIeksi saluran
napas atas.
Þ a a e | 29

9. Diskusikan Iaktor individu yang meningkatkan kondisi.

10. Kaii eIek bahaya merokok dan nasehatkan menghentikan rokok
pada pasien/orang terdekat.
- Faktor lingkungan dapat menimbulkan iritasi bronchial dan
peningkatan produksi sekret ialan naIas.
- Penghentian merokok dapat memperlambat/menghambat
kemaiuan penyakit PPOM.


Þ a a e | 3

BAB III
ASKEP PADA KLIEN


III.1 PENGKA1IAN DATA DASAR
I. Identitas Diri Klien
N a m a : %n. AS
Tanggal masuk RS : 14 Oktober 2010
Tempat/Tgl. Lahir : Manado. 13 Maret 1962
Sumber InIormasi : Keluarga
U m u r : 48 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki Keluarga terdekat yang dapat
Alamat : Kec. Singkil segera dihubungi (Orang
Tua/Wali, Suami, Istri, dan
lain-lain): Anak
Status Perkawinan : Kawin
A g a m a : Kristen Pendidikan : SMA
S u k u : Sanger Pekeriaan : %ukang !arkir
Pendidikan : SMA Alamat : Kec. Singkil
Pekeriaan : %ukang Bangunan
Lama Bekeria : 25 tahun

II. Status Kesehatan Saat ini
1. Alasan Kuniungan/Keluhan Utama :
Batuk disertai sputumdahak) selama 4 bulan terakhir. dada terasa nveri
saat batuk. sesak nafas. dan mual-mual.
2. Faktor Pencetus :
!asien perokok berat. mengkonsumsi rata-rata 2 bungkus per hari #okok
Surva)
3. Lamanya Keluhan : 4 hari
4. Timbulnya Keluhan : () bertahap
( ) mendadak
Þ a a e | 31

5. Faktor yang memperberat : ebu dan serbuk bahan-bahan bangunan mis.
Sebuk kavu dan semen)
6. Upaya yang dilakukan untuk mengatasinya :
Sendiri membeli obat Mextril dan Konidin di warung
Oleh orang lain Memberi saran
7. Diagnosa Medik :
1. Bronkitis Kronis Tanggal : 14 Oktober 2010

II. Riwayat Kesehatan yang lalu
1. !envakit vang pernah dialami :
a. Kanak Kanak :
b. Kecelakaan : Sepeda Motor
c. Pernah dirawat penyakit waktu
d. Operasi : tidak
2. Alergi :
Tipe Reaksi Tindakan
%erhadap debu flu dan batuk

3. Imunisasi :
Tipe Reaksi Tindakan
Campak bercak-bercak merah
pada kulit
!% suhu tubuh naik minum obat
!aracatamol
Kebiasaan : merokok/kopi/obat/alkohol/lain-lain
4. Obat obatan :
Lamanya
Sendiri :
Orang lain (resep)
5. !ola Nurtisi :
O Frekwensi makan :
Berat Badan : 59 kg
Þ a a e | 32

Tinggi Badan : 160 cm
O Jenis makanan : aging. savur. nasi
O Makanan yang disukai : !isang goreng dan tinutuan
O Makanan yang tidak disukai : Ikan laut
O Makanan pantang : kacang-kacangan
O NaIsu makan : ( ) baik
( ) Sedang alasan : mual/muntah/sariawan
() Kurang alasan : mual/muntah/sariawan
Perubahan berat badan 6 bulan terakhir :
( ) bertambah ........kg
( ) tetap
() berkurang 3 kg
6. !ola Eliminasi :
1. Buang air besar
Frekwensi : 2 kali Penggunaan pencahar : tidak
W a k t u : pagi/siang/sore/malam
W a r n a : kekuningan
Konsistensi : padat
2. Buang air kecil
Frekwensi : normal
W a r n a : kuning encer
B a u : normal

8. !ola tidur dan istirahat
Waktu tidur (iam) : 11 malam
Lama tidur/hari : 6 iam / hari
Kebiasaan pengantar tidur : merokok
Kebiasaan saat tidur : mendengkur
Kesulitan dalam hal tidur : ( ) menielang tidur
( ) sering/mudah terbangun
( ) merasa tidak puas setelah bangun
tidur
Þ a a e | 33

9. !ola Aktifitas dan Latihan
1. Kegiatan dalam pekeriaan : mencampurkan material bangunan
2. Olah Raga : - Jenis : tidak
- Frekwensi : tidak
3. Kegiatan di waktu luang : santai dengan anak dan cucu
4. Kesulitan/keluhan dalam hal : () pergerakan tubuh
( ) mandi
( ) mengenakan pakaian
( ) bersolek
( ) berhaiat
()sesak napas setelah mengadakan
aktifitas
()mudah merasa kelelahan
10.Pola bekeria :
1. Jenis pekeriaan : Kuli Bangunan Lama : 25 tahun
2. Jumlah iam keria : 8 iam / hari Lama : 6 hari keria
3. Jadwal Keria : senin s.d sabtu
4. Lain-lain (sebutkan) :

VI. Riwayat Keluarga
Genogram :











Pasien
Bronkitis
Þ a a e | 34

V. Riwayat Lingkungan
Kebersihan : lingkungan temapat tinggal di daerah kumuh vang sistem
sanitasinva tidak baik
Bahaya : rentan terhadap penvakit kulit dan diare
Polusi : terhadap udara

VI. Aspek Psikososial
1. Pola pikir & persepsi
a. Alat bantu yang digunakan :
( ) Kaca mata
( ) alat bantu pendengaran
b. Kesulitan yang dialami :
) sering pusing
( ) menurunnya sensitiIitas terhadap sakit
( ) menurunnya sensitiItas terhadap panas/dingin
( ) membaca/menulis
2. Persepsi Diri
Hal yang amat dipikirkan saat ini :
pasien berharap segera sembuh agar dapat kembali bekeria
Harapan setelah menialani perawatan :
lebih memperhatikan kebersihan lingkungan dan berhenti merokok
Perubahan yang dirasa setelah sakit :
badan terasa lemah. nveri saat batuk dan merasa tidak nvaman.

3. Suasana Hati : gelisah
Rentang perhatian : anak dan cucu meniadi lebih perhatian
4. Hubungan/komunikasi
1. Bicara Bahasa Utama : Bahasa Indonesia
( ) ielas
) relevan Bahasa Daerah: dialek Manado
( ) mampu mengekspresikan
( ) mampu mengerti orang lain
Þ a a e | 35

2. Tempat Tinggal
( ) sendiri
() bersama orang lain, yaitu Anak dan cucu
3. Kehidupan Berkeluarga
- Adat istiadat yang dianut : ...........
- Pembuat keputusan dalam keluarga : Kepala keluarga pasien)
- Pola komunikasi : lancar terhadap anak dan
cucu
- Keuangan . ( ) memadai
() Kurang
4. Kesulitan dalam Keluarga : ( ) Hubungan orang tua
( ) Hubungan dengan sanak saudara
( ) Hubungan perkawinan
5. Kebiasaan Seksual
1. Gangguan hubungan seksual disebabkan kondisi sebagai berikut :
( ) Iertilitas ( ) menstruasi
) Libido ( ) kehamilan
( ) Ereksi ( ) alat kontrasepsi

2. Pemahaman terhadap Iungsi seksual :
pasien tidak terlalu memahami tentang gangguan seksual vang
dialami

6. Pertahanan Koping
1. Pengambilan Keputusan : ( ) sendiri
() dibantu orang lain :
sebutkan Anak
2. Yang disukai tentang diri sendiri : pasien tidak tergantung pada
orang lain
3. Yang ingin dirubah dari kehidupan : kebiasaan
merokok
4. Yang dilakukan iika stress :
Þ a a e | 36

( ) pemecahan masalah
( ) makan
( ) tidur
( ) makan obat
( ) cari pertolongan
() lain-lain (misal : marah, diam, dll) sebutkan : DIAM
5. Apa yang dapat dilakukan perawat agar anda nyaman dan aman :
!erawat memberikan dukungan agar pasien cepat sembuh

7. Sistem Nilai - Kepercayaan
1. Siapa atau apa sumber kekuatan : oa kepada %uhan dan Keluarga
2. Apakah Tuhan, Agama, Kepercayaan penting untuk anda ?
) Ya ( ) Tidak
3. Kegiatan agama atau kepercayaan yang dilakukan (macam dan
Irekwensi) sebutkan:
Masuk gereia setiap minggu iika tidak ada lembur keria
4. Kegiatan agama atau kepercayaan yang ingin dilakukan selama di
Rumah Sakit, Sebutkan :
Berdoa
8. Tingkat Perkembangan :
Usia : Middle age Karakteristik : normal sesuai usia
dan kulit mulai
keriput

VII. Pengkaiian Fisik
Tanda-tanda Vital Saat Pasien Masuk Rumah Sakit
Suhu tubuh : 40
0
C (demam)
Denyut Nadi : 80 kali /menit
PernaIasan : 28 kali /menit
Tekanan Darah : 130/80 mmHg


Þ a a e | 37

Kepala, Mata, Kuping, Hidung & Tenggorokan
Kepala : bentuk : simetris dan oval
Keluhan yang berhubungan : tidak ada
Pusing/sakit kepala : tidak

M a t a : Ukuran pupil 5 mm Isokor: baik
Reaksi terhadap cahaya : pupil mengecil
Akomodasi : baik
Bentuk : simetris
Koniunctiva : merah pucat
Fungsi penglihatan : baik
- Baik/kabur/tidak ielas : baik
- Dua bentuk: tidak
- Rasa sakit : tidak
Tanda-tanda radang tidak ada
Pemeriksaan mata terakhir : tidak pernah
Operasi tidak
Kaca mata : tidak menggunakan kaca mata
Lensa Kontak pasien tidak menggunakan lensa kontak

Hidung : Reaksi Alergi : bersin bila berdebu
Cara mengatasinya dibiarkan saia
Pernah mengalami Ilu : !asie pernah mengalami
influensa
Bagaimana Irekwensinya dalam setahun sering
Sinus normal perdarahan tidak ada

Mulut & Tenggorokan : Gigi geligi geraham 2 atas tercabut
Kesulitan/gangguan berbicara tidak
Kesulitan menelan tidak
Pemeriksaan gigi terakhir tidak pernah

Þ a a e | 38

PernaIasan : Suara paru : krekels
Pola NaIas : tidak teraturtakhipnoe) Batuk sering
Sputum: ada Nyeri: terasa
Kemampuan melakukan aktiIitas sulit
Batuk darah pernah 6 bulan lalu)
Rontgen Foto terakhir 4 bulan lalu Hasil bronkitis

Sirkulasi : Nadi PeriIer -------
Capilary ReIilling : 3 detik
Distensi Vena Jugularis %ampak
Suara Jantung redup
Suara Jantung tambahan %idak dilakukan
Irama iantung (monitor) %idak dilakukan
Nyeri : pada bagian thorax Edema : tidak
Palpitasi %idak ada Baal: tidak
Perubahan warna (kulit, Kuku, Bibir, dll) : kemerahan
Clubbing tidak ada
Keadaan Ekstremitas :mobilitas berkurang)
Syncobe %idak
Rasa pusing . ada
Monitoring Hemodinamik : CJ! %idak dilakukan mm
H2O

Nutrisi : Jenis Diet : tidak ada naIsu makan : berkurang
Rasa mual : sering Muntah : Kadang
Intake Cairan 6-7 gelas/hari

Eliminasi :Pola rutin ------
(b.a.b) Penggunaan Laxan %idak diterapkan
Colostomy %idak diterapkan
Ileostomy %idak diterapkan
Konstibasi tidak diterapkan
Þ a a e | 39

Diare Kadang-kadang
(b.a.k) Inkontinensia
InIeksi %idak ada
Nematuri -
Catheter %idak diterapkan
Urine Output ~ 2000 ml
Reproduksi : Kehamilan
Buah dada Perdarahan
Pemeriksaan Pap Smear terakhir
Hasil
Keputihan
Pemeriksaan Sendiri
Prostat tidak ada
Penggunaan Kateter tidak ada

Neurologis : Tingkat kesadaran sadar
Orientasi : pasien dapat berorientasi terhadap waktu
Koordinasi : pasien dapat berkoordinasi dengan anggota
gerak tubuh
Pola tingkah laku normal
Riwayat epilepsi/keiang/parkinson tidak ada
ReIleks tidak ada
Kekuatan menggenggam : pasien dapat menggenggam
obiek
Pergerakan Ekstremitas : ekstremitas baik
Muskuloskeletal : Nyeri pada bagian dada thorax)
Kekakuan tidak ada
Pola latihan gerak
Kulit : Warna : kemerahan seara umum
Integritas : kering
Turgor : kering

Þ a a e | 4

Data Laboratorium
Laboratorium :
Leukosit ~ 17.500.
Analisa gas darah
Pa O2 : 16 ÷ rendah (normal 25 100 mmHg)
Pa CO2 : 67 mmHg ÷ tinggi (normal 36 44 mmHg).
Saturasi hemoglobin menurun.
Eritropoesis bertambah.

Pengobatan

Hasil Pemeriksaan Diagnostik lain
Foto Thorax : Tidak tampak adanya kelainan namun nampak
bayangan bronchus yang menebal dan corak paru
bertambah.



Persepsi Klien Terhadap Penyakitnya
Pasien memperkirakan bahwa penyakitnya disebabkan oleh proIesi
kerianya sebagai seorang pekeria bangunan yang setiap harinya
berhadapan dengan debu atau serbuk/ampas bahan.

Patofisiologi
Penemuan patologis dari bronchitis adalah hipertropi dari
keleniar mukosa bronchus dan peningkatan seiumlah sel goblet
disertai dengan inIiltrasi sel radang dan ini mengakibatkan geiala khas
yaitu batuk produktiI. Batuk kronik yang disertai peningkatan sekresi
bronkus tampaknya mempengaruhi bronchiolus yang kecil kecil
sedemikian rupa sampai bronchiolus tersebut rusak dan dindingnya
melebar. Faktor etiologi utama adalah merokok dan polusi udara lain
yang biasa terdapat pada daerah industri. Polusi tersebut dapat
Þ a a e | 41

memperlambat aktiIitas silia dan pagositosis, sehingga timbunan
mukus meningkat sedangkan mekanisme pertahanannya sendiri
melemah.
Mukus yang berlebihan teriadi akibat displasia. Sel sel
penghasil mukus di bronkhus. Selain itu, silia yang melapisi bronkus
mengalami kelumpuhan atau disIungsional serta metaplasia.
Perubahan perubahan pada sel sel penghasil mukus dan sel sel
silia ini mengganggu sistem eskalator mukosiliaris dan menyebabkan
penumpukan mukus dalam iumlah besar yang sulit dikeluarkan dari
saluran naIas.

Kesan Perawat Terhadap Klien



Kesimpulan










Þ a a e | 42

III.2 ANALISA DAN DIAGNOSA DATA

No DATA ETIOLOGI MASALAH
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
1






















DS:
Pasien mengatakan batuk disertai
sputum seiak 4 bulan terakhir (menetap)
Sesak napas

DO:
Suara napas terdengar krekels
Keadaan umum pasien gelisah
pernapasan cepat (takhipnoe)
TTV:
-. Suhu tubuh : 40
0
C
normal. 26-27
0
C)
-. Denyut Nadi : 80 kali /menit
normal. 60 kali/menit)
-. PernaIasan : 28 kali /menit
normal dewasa. 12-20 kali/menit)
-. Tekanan Darah : 130/80 mmHg
normal. 120/80 mmHg)





Alergen


Aktivasi Ig. E


ÞenlnakaLan pelepasan
PlsLamln


Edema mukosa
meningkat
(sel goblet memproduksi
mukus)


Peningkatan akumulasi
sekret


Ndx. Bersihan ialan
napas tak eIektiI

Bersihan ialan napas tak
eIektiI





















Bersihan ialan napas tak
eIektiI berhubungan
dengan peningkatan
produksi sekret yang
ditandai dengan batuk
disertai sputum

















Þ a a e | 43


2



























DS:
Pasien mengatakan terasa nyeri saat
batuk
Pernah batuk darah

DO:
Keadaan umum pasien gelisah
Broncus menebal
Corak paru bertambah
Suara iantung redup
Leukosit lebih dari 17.500
Saturasi hemoglobin menurun
Eritropoesis bertambah
Nilai GDA tak normal:
Analisa gas darah
Pa O2 : 16rendah (normal 25 100
mmHg)
Pa CO2 : 67tinggi (normal 36 44
mmHg).
TTV:
-. Suhu tubuh : 40
0
C
normal. 26-27
0
C)
-. Denyut Nadi : 80 kali /menit
normal. 60 kali/menit)
-. PernaIasan : 28 kali /menit
normal dewasa. 12-20 kali/menit)
-. Tekanan Darah : 130/80 mmHg

Alergen


Aktivasi IG. E


ÞenlnakaLan pelepasan
PlsLamln


Edema mukosa
meningkat
(sel goblet memproduksi
mukus)


Peningkatan akumulasi
sekret


Batuk produktiI



Bronkiolus melebar



Kerusakan Pertukaran
Gas


























Kerusakan pertukaran gas
berhubungan dengan
gangguan suplay oksigen
(obstruksi ialan napas
oleh sekresi) yang
ditandai dengan nilai
GDA tak normal
(hipoksia dan
hiperkapnia)


















Þ a a e | 44









3
normal. 120/80 mmHg)







DS:
Pasien sering mual
NaIsu makan berkurang
DO:
Berat badan pasien turun 3 kg 6 bulan
terakhir meniadi 59 kg


Kerusakan bronkiolus


Ndx. Kerusakan
pertukaran gas


Alergen


Aktivasi Ig. E


ÞenlnakaLan pelepasan
PlsLamln


Edema mukosa
meningkat
(sel goblet memproduksi
mukus)


Peningkatan akumulasi
sekret










Perubahan nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh








Perubahan nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan
mual yang ditandai
dengan kehilangan berat
badan
Þ a a e | 45

Batuk produktiI


Nyeri


Tidak naIsu makan


Ndx. Perubahan nutrisi
kurang dari kebutuhan
tubuh











Þ a a e | 46

III.3 PERENCANAAN ASUHAN KEPERAWATAN

Nama Klien : Tn. AS Umur : 48 Tahun Ruangan : B
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
RENCANA TINDAKAN

RASIONAL
TU1UAN
KRITERIA
EVALUASI
INTERVENSI/PERENCANAAN
Bersihan ialan napas
tak eIektiI berhubungan
dengan peningkatan
produksi sekret yang
ditandai dengan batuk
disertai sputum.

DS:
Pasien mengatakan
batuk disertai sputum
seiak 4 bulan terakhir
(menetap)
Sesak napas

DO:
Suara napas terdengar
krekels
Keadaan umum
pasien gelisah
pernapasan cepat
(takhipnoe)
Mempertahankan
ialan napas paten
dengan bunyi
napas
bersih/ielas
Menuniukkan
perilaku untuk
memperbaiki
bersihan ialan
napas, misalnya
batuk eIektiI dan
mengeluarkan
sektet.

DO:
Suara napas
vesikuler
KU membaik
Frekuensi
pernapasan
Normal (12-20
kali/menit)
Suhu tubuh
normal (26-27
0

C)
Denyut nadi
1. Asukultasi bunyi napas dan
catat adanya bunyi napas






2. Kaii Irekuensi pernapasan








3. Catat iika adanya/deraiat
dispnea misalnya keluhan
gelisah

1. Beberapa deraiat spasme
bronkus teriadi dengan
obstruksi ialan naIas dan
dapat dimaniIestasikan
dengan adanya bunyi naIas
adventisius, mis: penyebaran
krekels basah (bronkitis)

2. Takipnee biasanya ada pada
beberapa deraiat dan dapat
ditemukan selama / adanya
proses inIeksi akut.
Pernapasan melambat dan
Irekuensi pernapasan
memaniang dibandingkan
ekspirasi.

3. DisIungsi pernapasan adalah
variabel yang tergantung
pada tahap proses kronis
selain proses akut yang
Þ a a e | 47

TTV:
-. Suhu tubuh : 40
0

C
normal. 26-27
0
C)
-. Denyut Nadi
: 80 kali /menit
normal. 60
kali/menit)
-. PernaIasan : 28
kali /menit
normal dewasa. 12-
20 kali/menit)
-. Tekanan Darah :
130/80 mmHg
normal. 120/80
mmHg)

normal (60
kali/menit)
Tekanan darah
normal (120/80
mmHg)

DS:
Pasien
mengatakan
sudah tidak
batuk berlendir
Pasien
mengatakan
sudah tidak
sesak napas lagi



4. Kaii pasien untuk posisi yang
nyaman misalnya peninggian
kepala tempat tidur atau duduk
pada sandaran tempat tidur

5. Pertahankan polusi lingkungan
seminimum mungkin dari debu
atau asap

6. Bantu pasien latihan napas
abdomen atau bibir.



7. Memberikan obat sesuai
indikasi: Kromolin 3x1,
Antimikrobial 1x1, Analgesik
(mis: kodein) 3x1.

menimbulkan perawatan
dirumah sakit, mis: inIeksi,
reaksi alergi.

4. Peninggian kepala temat
tidur mempermudah Iungsi
pernapasan dengan
menggunakan graavitasi.

5. Pencetus tipe reaksi alergi
pernapasan yang dapat
mentriger episode akut.

6. Memberikan pasien
beberapa cara untuk
mengatasi dan mengontrol
dispnea dan menurunkan
iebakan udara
7. Menurunkan inhalasi ialan
napas lokal, mengontrol
inIeksi pernapasan, dan
batuk menetap yang
melelahkan perlu ditekan
untuk menghemat energi dan
memungkinkan pasien untuk
istirahat.


Þ a a e | 48

Nama Klien : Tn. AS Umur : 48 Tahun Ruangan : B
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
RENCANA TINDAKAN

RASIONAL
TU1UAN
KRITERIA
EVALUASI
INTERVENSI/PERENCANAAN
Kerusakan pertukaran
gas berhubungan
dengan gangguan
suplay oksigen
(obstruksi ialan napas
oleh sekresi) yang
ditandai dengan nilai
GDA tak normal
(hipoksia dan
hiperkapnia)

DS:
Pasien mengatakan
terasa nyeri saat batuk
Pernah batuk darah

DO:
Keadaan umum
pasien gelisah
Broncus menebal
Corak paru
bertambah
Suara iantung redup
Menuniukkan
perbaikan
ventilasi dan
oksigenasi
iaringan adekuat
dengan GDA
dalam rentang
normal dan
bebas geiala
distres
pernapasan
Berpartisipasi
dalam program
pengobatan dalam
tingkat
kemampuan/situasi

DO:
KU membaik
Broncus
membaik
Corak paru
membaik
Suara iantung
tunggal
Leukosit normal
(4000-11.000
mm
3
)
Saturasi
hemoglobin
(Laki-laki: 13-18
g/dl, Perempuan:
11,5-16,5 g/dl)
Eritropoesis
1. Kaii Irekuensi dan kedalaman
pernapasan

2. Tinggikan kepala tempat tidur,
bantu pasien untuk memilih
posisi yang mudah untuk
bernapas


3. Kaii secara rutin kulit dan
warna membran mukosa



4. Aniurkan pasien mengeluarkan
sputum





5. Asukultasi bunyi napas

1. Berguna dalam evaluasi
deraiat distres pernapasan dan
kronisnya proses penyakit
2. Pengiriman oksigen dapat
diperbaiki dengan posisi
duduk tinggi dan latihan napas
untuk menurunkan kolaps
ialan napas, dispnea dan keria
napas
3. Sianosis mungkin periIer atau
sentral. Keabu-abuan dan
dianosis sentral
mengindikasikan bertanya
hipoksemia
4. Sputum tebal, kental dan
banyaknya sekresi adalah
sumber utama gangguan
pertukaran gas pada ialan
napas kecil. Penghisapa
dibutuhkan bila batuk tidak
eIektiI.
5. Bunyi napar redup karena
penurunan aliran udara atau
Þ a a e | 49

Leukosit lebih dari
17.500
Saturasi hemoglobin
menurun
Eritropoesis
bertambah
Nilai GDA tak
normal:
Analisa gas darah
Pa O2 : 16rendah
(normal 25 100
mmHg)
Pa CO2 : 67tinggi
(normal 36 44
mmHg).
TTV:
-. Suhu tubuh
: 40
0
C
normal. 26-27
0
C)
-. Denyut Nadi
: 80 kali /menit
normal. 60
kali/menit)
-. PernaIasan : 28
kali /menit
normal dewasa.
12-20 kali/menit)
-. Tekanan Darah :
normal (L: 4,5
6,5 x 10
6
/mm
3
, P:
3,8 5,8 x
10
6
/mm
3
)
GDA normal
Pa O
2
÷ 25-100
mmHg.
Pa CO
2
÷ 36-44
mmHg
TTV normal
Suhu tubuh 26-
27
0
C
Denyut nadi 60
kali/menit
Pernapasan 12-20
kali/menit
Tekanan darah
120/80 mmHg

DS:
Pasien
mengatakan
sudah tidak nyeri
saat batuk






6. Palpasi Iremitus


7. Awasi tingkat kesadaran






8. Evaluasi tingkat toleransi
aktivitas. Berikan lingkungan
yang tenang. Batasi aktivitas
pasien.








area konsoidasi. Adanya
mengi mengindikasikan
spasme bronkus/ tertahannya
sekret. Krekels basah
menyebar menuniukkan cairan
pada interstisial iantung
6. Menurunan getaran vibrasi
diduga adanya pengumpulan
cairan atau iebakan udara
7. Gelisah dan ansietas adalah
maniIestasi umum pada
hipoksia. GDA memburuk
disertai bingung menuniukkan
disIungsi serebral yang
berhubungan dengan
hipoksemia
8. Selama distres pernapasan
berat/akut pasien secara total
tak mampu melakukan
aktivitas sehari-hari karena
hipoksemia dan
dispnea.istirahat diselingi
aktivitas perawat masih
penting dari program
pengobatan. Program latihan
dituiukan untuk meningkatkan
ketahanan dan kekuatan tanpa
menyebabkan dispnea berat,
Þ a a e | 5

130/80 mmHg
normal. 120/80
mmHg)



9. Awasi tanda vital dan irama
iantung


10. Berikan oksigen tambahan yang
sesuai dengan indikasi hasil
GDA dan toleransi pasien
dan dapat menigkatkan rasa
sehat.
9. Takikardia dan perubahan
tekanan darah dapat
menuniukkna eIek hipoksemia
sistemik pada Iungsi iantung
10.Dapat memperbaiki/mencegah
memburuknya hipoksia.













Þ a a e | 51

Nama Klien : Tn. AS Umur : 48 Tahun Ruangan : B
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
RENCANA TINDAKAN

RASIONAL
TU1UAN
KRITERIA
EVALUASI
INTERVENSI/PERENCANAAN
Perubahan nutrisi
kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan
dengan mual yang
ditandai dengan
kehilangan berat badan.

DS:
Pasien sering mual
NaIsu makan
berkurang
DO:
Berat badan pasien
turun 3 kg 6 bulan
terakhir meniadi 59
kg


Menyatakan
pemahaman
kondisi/proses
penyakit dan
tindakan
1. MengidentiIikas
i hubungan
tanda/geiala
yang ada dari
proses penyakit
dan
menghubungkan
dengan Iaktor
penyebab
2. Melakukan
perubahan pola
hidup dan
berpartisipasi
dalam program
pengobatan

DO:
Berat badan
pasien meningkat

DS:
Pasien sudah
tidak mual lagi
1. Kaii kebiasaan diet, masukan
makanan saat ini. Catat deraiat
kesulitan makan. Evaluasi berat
badan dan ukuran tubuh.

2. Auskultasi bunyi usus.


3. Berikan perawatan oral sering,
buang sekret, berikan wadah
khusus untuk sekali pakai dan
tisu.
4. Dorong periode istirahat semalam
1 iam sebelum dan sesudah
makan. Berikan makan porsi
kecil tapi sering.


5. Hindari makanan penghasil gas
dan minuman karbonat.



1. Pasien distres pernapasan akut
sering anokreksia karena
dispnea, produksi sputum, dan
obat.

2. Penurunan bising usus
menuniukkan penurunan
motilitas gaster.
3. Rasa tidak enak, bau adalah
pencegahan utama yang dapat
membuat mual dan muntah.

4. Membantu menurunkan
kelemahan selama waktu
makan dam memberikan
kesempatan untuk
meningkatkan masukan kalori
utama.
5. Dapat menghasilkan distensi
abdomen yang menggangu
napas abdomen dan gerakan
diaIrgma, dan dapat
meningkatkan dispnea.
Þ a a e | 52

NaIsu makan
pasien membaik
6. Hindari makanan sangat panas
dan sangat dingin.


7. Timbang berat badan sesuai
indikasi.


8. Konsul ahli gizi/nutrisi
pendukung tim untuk
memberikan makanan yang
mudah cerna secara nutrisi
seimbang (mis: tambahan nutrisi
tambahan oral/selang).
6. Suhu ekstrem dapat
mencetuskan/meningkatkan
spasme batuk.

7. Berguna untuk menentukan
kebutuhan kalori, menyusun
tuiuan berat badan, dan
evaluasi keadekuatan rencan
nutrisi.
8. Kebutuhan kalori yang
didasarkan pada kebutuhan
individu memberikan nutrisi
maksimal.











Þ a a e | 53

III.4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI ASUHAN KEPERAWATAN

Namak||en ť1nŦA5 Dmur ť481ahun uangan ť
HARI /
TANGGAL
WAKTU Dx /
Int
IMPLEMENTASI PARA
Kamis, 14
Oktober 2010
08:30





08:40


08:55


09:00



09:15



09:30
1






















1. Mengobservasi TTV Pasien.
Hasil: - Suhu tubuh : 40
0

- Denyut Nadi : 80 kali /menit
- PernaIasan : 28 kali /menit
- Tekanan Darah : 130/80 mmHg

2. Mengauskultasi bunyi napas.
Hasil: Bunyi napas: Krekels

3. Mengkaii Irekuensi pernapasan.
Hasil: Frekuensi pernapasan: Takiphnoe

4. Mencatat iika adanya/deraiat dispnea.
Hasil: pasien gelisah karna sesak napas

5. Mengkaii pasien untuk posisi yang nyaman misalnya peninggian kepala
tempat tidur atau duduk pada sandaran tempat tidur.
Hasil: pasien tidur dengan kepalanya di sandaran tempat tidur

6. Meniaga lingkungan sekitar pasien seminimum mungkin dari debu atau
asap.























Þ a a e | 54




09:35



11:00




08:55


09:20



09:10


09:40


08:40















2

















Hasil: menutup iendela dan pintu sesuai dengan situasi dan keadaan
lingkungan

7. Membantu pasien melatih napas secara abdomen atau bibir
Hasil: iika sesak napas pasien dapat menggunakan cara bernapas melalui
mulut.

8. Memberikan obat sesuai indikasi: Kromolin 3x1, Antimikrobial 1x1,
Analgesik (mis: kodein) 3x1.
Hasil: pasien bisa nyaman beristirahat.


1. Mengkaii Irekuensi dan kedalaman pernapasan.
Hasil: Irekuensi pernapasan: Takiphnoe dan dangkal

2. Meninggikan kepala tempat tidur, bantu pasien untuk memilih posisi yang
mudah untuk bernapas.
Hasil: posisi kepala pasien diatas sandaran tempat tidur.

3. Mengkaii secara rutin kulit dan warna membran mukosa.
Hasil: pasien mengalami sianosis.

4. Menganiurkan pasien mengeluarkan sputum
Hasil: sputum kental, tebal, dan banyak sekresi.

5. Mengauskultasi bunyi napas.
Hasil: bunyi napas: krekels










Fernando Hengkelare
Kamis, 14 Oktober
2010



















Þ a a e | 55

09:50


10:00


10:15



10:20


10:25





10:30



10:40


10:50





















3
6. Mengpalpasi Iremitus.
Hasil: Getaran vibrasi menurun dugaan terdapat pengumpulan cairan/
udara teriebak.
7. Mengawasi tingkat kesadaran.
Hasil: Pasien gelisah (maniIestasi umum pada hipoksia)

8. Mengevaluasi tingkat toleransi aktivitas. Berikan lingkungan yang tenang.
Batasi aktivitas pasien.
Hasil: aktivitas pasien dibatasi, istirahat diutamakan.

9. Mengawasi tanda vital dan irama iantung.
Hasil: tanda vital dan irama iantung normal.

10. Memberikan oksigen tambahan yang sesuai dengan indikasi hasil GDA
dan toleransi pasien.
Hasil: oksigen yang diberikan dengan menggunakan masker oksigen.



1. Mengkaii kebiasaan diet, masukan makanan saat ini. Catat deraiat kesulitan
makan. Evaluasi berat badan dan ukuran tubuh.
Hasil: pasien susah makan, berat badan: 58 kg, tinggi badan: 160 cm.

2. Mengauskultasi bunyi usus.
Hasil: Bunyi usus: 40 kali/menit

3. Memberikan perawatan oral sering, buang sekret, berikan wadah khusus
untuk sekali pakai dan tisu.















Fernando Hengkelare
Kamis, 14 Oktober
2010













Þ a a e | 56



11:15




11:20



11:25



11:30


12:00



Hasil: pasien dapat melakukan instruksi perawat.

4. Mendorong periode istirahat semalam 1 iam sebelum dan sesudah makan.
Berikan makan porsi kecil tapi sering.
Hasil: pasien dapat istirahat 1 iam sebelum dan sesudah makan, porsi
makan kecil tapi sering diberikan.

5. Menghindari makanan penghasil gas dan minuman karbonat.
Hasil: makanan penghasil gas, minuman karbonat dihentikan karna dapat
meningkatkan dispnea.

6. Menghindari makanan sangat panas dan sangat dingin.
Hasil: makanan sangat panas dan sangat dingin dapat meningkatkan
spasme batuk.

7. Menimbang berat badan sesuai indikasi.
Hasil: berat badan: 58 kg

8. Mengkonsultasikan dengan ahli gizi/nutrisi pendukung tim untuk
memberikan makanan yang mudah cerna secara nutrisi seimbang (mis:
tambahan nutrisi tambahan oral/selang).




















Fernando Hengkelare
Kamis, 14 Oktober
2010






Þ a a e | 57

HARI /
TANGGAL
WAKTU Dx /
Int
EVALUASI PARA
Kamis, 14
Oktober 2010
12:30 1
















S: - Pasien sudah merasa nyaman dengan posisi tidurnya sekarang
Pasien belum merasa sembuh karna masih batuk
O: TTV pasien:
- Suhu tubuh : 40
0

- Denyut Nadi : 80 kali /menit
- PernaIasan : 28 kali /menit
- Tekanan Darah : 130/80 mmHg
Bunyi napas: krekels, Frekuensi pernapasan: takiphnoe, pasien gelisah
karna sesak napas, pasien tidur dengan kepalanya di sandaran tempat
tidur, menutup iendela dan pintu sesuai dengan situasi dan keadaan
lingkungan, iika sesak napas pasien dapat menggunakan cara bernapas
melalui mulut, pasien bisa nyaman beristirahat setelah diberikan obat.
A: Masalah belum teratasi.
P: Intervensi Laniut:
1. Mengobservasi TTV Pasien.
2. Mengauskultasi bunyi napas.
3. Mengkaii Irekuensi pernapasan.

















Þ a a e | 58










2









4. Mencatat iika adanya/deraiat dispnea.
5. Mengkaii pasien untuk posisi yang nyaman misalnya peninggian
kepala tempat tidur atau duduk pada sandaran tempat tidur.
6. Meniaga lingkungan sekitar pasien seminimum mungkin dari debu
atau asap.
7. Membantu pasien melatih napas secara abdomen atau bibir
8. Memberikan obat sesuai indikasi: Kromolin 3x1, Antimikrobial 1x1,
Analgesik (mis: kodein) 3x1.

S: - pasien belum merasa nyaman dengan kondisinya sekarang
O: - Frekuensi pernapasan: Takiphnoe dan dangkal, posisi kepala pasien
diatas sandaran tempat tidur, pasien mengalami sianosis, sputum
kental, tebal, dan banyak sekresi, bunyi napas: krekels, Getaran
vibrasi menurun dugaan terdapat pengumpulan cairan/ udara teriebak,
Pasien gelisah (maniIestasi umum pada hipoksia), aktivitas pasien
dibatasi, istirahat diutamakan, tanda vital dan irama iantung normal,
oksigen yang diberikan dengan menggunakan masker oksigen.
A: Masalah belum teratasi.
P: Intervensi Laniut:






Fernando Hengkelare
Kamis, 14 Oktober 2010











Þ a a e | 59















3
1. Mengkaii Irekuensi dan kedalaman pernapasan.
2. Meninggikan kepala tempat tidur, bantu pasien untuk memilih
posisi yang mudah untuk bernapas.
3. Mengkaii secara rutin kulit dan warna membran mukosa.
4. Menganiurkan pasien mengeluarkan sputum.
5. Mengauskultasi bunyi napas.
6. Mengpalpasi Iremitus.
7. Mengawasi tingkat kesadaran.
8. Mengevaluasi tingkat toleransi aktivitas. Berikan lingkungan yang
tenang. Batasi aktivitas pasien.
9. Mengawasi tanda vital dan irama iantung.
10. Memberikan oksigen tambahan yang sesuai dengan indikasi hasil
GDA dan toleransi pasien.

S: - pasien belum merasa nyaman dengan kondisinya yang sekarang.
O: - pasien susah makan, berat badan: 58 kg, tinggi badan: 160 cm, Bunyi
usus: 40x/menit, pasien dapat melakukan instruksi perawat, pasien
dapat istirahat 1 iam sebelum dan sesudah makan, porsi makan kecil
tapi sering diberikan, makanan penghasil gas, minuman karbonat











Fernando Hengkelare
Kamis, 14 Oktober 2010






Þ a a e | 6


dihentikan karna dapat meningkatkan dispnea, makanan sangat panas
dan sangat dingin dapat meningkatkan spasme batuk, Berat badan: 58
kg.
A: Masalah belum teratasi.
P: Intervensi Laniut:
1. Mengkaii kebiasaan diet, masukan makanan saat ini. Catat deraiat
kesulitan makan. Evaluasi berat badan dan ukuran tubuh.
2. Mengauskultasi bunyi usus.
3. Memberikan perawatan oral sering, buang sekret, berikan wadah
khusus untuk sekali pakai dan tisu.
4. Mendorong periode istirahat semalam 1 iam sebelum dan sesudah
makan. Berikan makan porsi kecil tapi sering.
5. Menghindari makanan penghasil gas dan minuman karbonat.
6. Menghindari makanan sangat panas dan sangat dingin.
7. Menimbang berat badan sesuai indikasi.
8. Mengkonsultasikan dengan ahli gizi/nutrisi pendukung tim untuk
memberikan makanan yang mudah cerna secara nutrisi seimbang
(mis: tambahan nutrisi tambahan oral/selang).














Fernando Hengkelare
Kamis, 14 Oktober 2010

Þ a a e | 61

Namak||en ť1nŦA5 Dmur ť481ahun uangan ť
HARI /
TANGGAL
WAKTU Dx /
Int
IMPLEMENTASI PARA
Jumat, 15
Oktober 2010
08:30





08:40


08:55


09:00



09:15



09:30



1


























1. Mengobservasi TTV Pasien.
Hasil: - Suhu tubuh : 38,5
0
C
- Denyut Nadi : 80 kali /menit
- PernaIasan : 28 kali /menit
- Tekanan Darah : 130/80 mmHg

2. Mengauskultasi bunyi napas.
Hasil: Bunyi napas: Krekels

3. Mengkaii Irekuensi pernapasan.
Hasil: Frekuensi pernapasan: Takiphnoe

4. Mencatat iika adanya/deraiat dispnea.
Hasil: pasien gelisah karna sesak napas

5. Mengkaii pasien untuk posisi yang nyaman misalnya peninggian kepala
tempat tidur atau duduk pada sandaran tempat tidur.
Hasil: pasien tidur dengan kepalanya di sandaran tempat tidur

6. Meniaga lingkungan sekitar pasien seminimum mungkin dari debu atau
asap.
Hasil: menutup iendela dan pintu sesuai dengan situasi dan keadaan
lingkungan




























Þ a a e | 62

09:35



11:00




08:55


09:20



09:10


09:40


08:40


09:50












2




















7. Membantu pasien melatih napas secara abdomen atau bibir
Hasil: iika sesak napas pasien dapat menggunakan cara bernapas melalui
mulut.

8. Memberikan obat sesuai indikasi: Kromolin 3x1, Antimikrobial 1x1,
Analgesik (mis: kodein) 3x1.
Hasil: pasien bisa nyaman beristirahat.


1. Mengkaii Irekuensi dan kedalaman pernapasan.
Hasil: Irekuensi pernapasan: Takiphnoe dan dangkal

2. Meninggikan kepala tempat tidur, bantu pasien untuk memilih posisi yang
mudah untuk bernapas.
Hasil: posisi kepala pasien diatas sandaran tempat tidur.

3. Mengkaii secara rutin kulit dan warna membran mukosa.
Hasil: pasien mengalami sianosis.

4. Menganiurkan pasien mengeluarkan sputum
Hasil: sputum kental, tebal, dan banyak sekresi.

5. Mengauskultasi bunyi napas.
Hasil: bunyi napas: krekels

6. Mengpalpasi Iremitus.
Hasil: Getaran vibrasi menurun dugaan terdapat pengumpulan cairan/
udara teriebak.


Fernando
Hengkelare
Jumat, 15 Oktober
2010
























Þ a a e | 63

10:00


10:15



10:20


10:25




10:30



10:40


10:50



11:15


















3
7. Mengawasi tingkat kesadaran.
Hasil: Pasien gelisah (maniIestasi umum pada hipoksia)

8. Mengevaluasi tingkat toleransi aktivitas. Berikan lingkungan yang tenang.
Batasi aktivitas pasien.
Hasil: aktivitas pasien dibatasi, istirahat diutamakan.

9. Mengawasi tanda vital dan irama iantung.
Hasil: tanda vital dan irama iantung normal.

10. Memberikan oksigen tambahan yang sesuai dengan indikasi hasil GDA
dan toleransi pasien.
Hasil: oksigen yang diberikan dengan menggunakan masker oksigen.


1. Mengkaii kebiasaan diet, masukan makanan saat ini. Catat deraiat kesulitan
makan. Evaluasi berat badan dan ukuran tubuh.
Hasil: pasien susah makan, berat badan: 58,5 kg, tinggi badan: 160 cm.

2. Mengauskultasi bunyi usus.
Hasil: Bunyi usus: 35 kali/menit

3. Memberikan perawatan oral sering, buang sekret, berikan wadah khusus
untuk sekali pakai dan tisu.
Hasil: pasien dapat melakukan instruksi perawat.

4. Mendorong periode istirahat semalam 1 iam sebelum dan sesudah makan.
Berikan makan porsi kecil tapi sering.









Fernando
Hengkelare
Jumat, 15 Oktober
2010

















Þ a a e | 64




11:20



11:25



11:30


12:00



Hasil: pasien dapat istirahat 1 iam sebelum dan sesudah makan, porsi
makan kecil tapi sering diberikan.

5. Menghindari makanan penghasil gas dan minuman karbonat.
Hasil: makanan penghasil gas, minuman karbonat dihentikan karna dapat
meningkatkan dispnea.

6. Menghindari makanan sangat panas dan sangat dingin.
Hasil: makanan sangat panas dan sangat dingin dapat meningkatkan
spasme batuk.

7. Menimbang berat badan sesuai indikasi.
Hasil: berat badan: 58,5 kg

8. Mengkonsultasikan dengan ahli gizi/nutrisi pendukung tim untuk
memberikan makanan yang mudah cerna secara nutrisi seimbang (mis:
tambahan nutrisi tambahan oral/selang).















Fernando
Hengkelare
Jumat, 15 Oktober
2010








Þ a a e | 65

HARI /
TANGGAL
WAKTU Dx /
Int
EVALUASI PARA
Jumat, 15
Oktober 2010
12:30 1
















S: - Pasien sudah merasa nyaman dengan posisi tidurnya sekarang
Pasien belum merasa sembuh karna masih batuk
O: TTV pasien:
- Suhu tubuh : 38,5
0
C
- Denyut Nadi : 80 kali /menit
- PernaIasan : 28 kali /menit
- Tekanan Darah : 130/80 mmHg
Bunyi napas: krekels, Frekuensi pernapasan: takiphnoe, pasien gelisah
karna sesak napas, pasien tidur dengan kepalanya di sandaran tempat
tidur, menutup iendela dan pintu sesuai dengan situasi dan keadaan
lingkungan, iika sesak napas pasien dapat menggunakan cara bernapas
melalui mulut, pasien bisa nyaman beristirahat setelah diberikan obat.
A: Masalah belum teratasi.
P: Intervensi Laniut:
1. Mengobservasi TTV Pasien.
2. Mengauskultasi bunyi napas.
3. Mengkaii Irekuensi pernapasan.

















Þ a a e | 66










2









4. Mencatat iika adanya/deraiat dispnea.
5. Mengkaii pasien untuk posisi yang nyaman misalnya peninggian
kepala tempat tidur atau duduk pada sandaran tempat tidur.
6. Meniaga lingkungan sekitar pasien seminimum mungkin dari debu
atau asap.
7. Membantu pasien melatih napas secara abdomen atau bibir
8. Memberikan obat sesuai indikasi: Kromolin 3x1, Antimikrobial 1x1,
Analgesik (mis: kodein) 3x1.

S: - pasien belum merasa nyaman dengan kondisinya sekarang
O: - Frekuensi pernapasan: Takiphnoe dan dangkal, posisi kepala pasien
diatas sandaran tempat tidur, pasien mengalami sianosis, sputum,
kental, tebal, dan banyak sekresi, bunyi napas: krekels, Getaran
vibrasi menurun dugaan terdapat pengumpulan cairan/ udara teriebak,
Pasien gelisah (maniIestasi umum pada hipoksia), aktivitas pasien
dibatasi, istirahat diutamakan, tanda vital dan irama iantung normal,
oksigen yang diberikan dengan menggunakan masker oksigen.
A: Masalah belum teratasi.
P: Intervensi Laniut:





Fernando Hengkelare
Jumat, 15 Oktober 2010












Þ a a e | 67















3
1. Mengkaii Irekuensi dan kedalaman pernapasan.
2. Meninggikan kepala tempat tidur, bantu pasien untuk memilih
posisi yang mudah untuk bernapas.
3. Mengkaii secara rutin kulit dan warna membran mukosa.
4. Menganiurkan pasien mengeluarkan sputum.
5. Mengauskultasi bunyi napas.
6. Mengpalpasi Iremitus.
7. Mengawasi tingkat kesadaran.
8. Mengevaluasi tingkat toleransi aktivitas. Berikan lingkungan yang
tenang. Batasi aktivitas pasien.
9. Mengawasi tanda vital dan irama iantung.
10. Memberikan oksigen tambahan yang sesuai dengan indikasi hasil
GDA dan toleransi pasien.

S: - pasien belum merasa nyaman dengan kondisinya yang sekarang.
O: - pasien susah makan, berat badan: 58,5 kg, tinggi badan: 160 cm,
Bunyi usus: 35x/menit, pasien dapat melakukan instruksi perawat,
pasien dapat istirahat 1 iam sebelum dan sesudah makan, porsi makan
kecil tapi sering diberikan, makanan penghasil gas, minuman










Fernando Hengkelare
Jumat, 15 Oktober 2010







Þ a a e | 68

karbonat dihentikan karna dapat meningkatkan dispnea, makanan
sangat panas dan sangat dingin dapat meningkatkan spasme batuk,
Berat badan: 58,5 kg.
A: Masalah belum teratasi.
P: Intervensi Laniut:
1. Mengkaii kebiasaan diet, masukan makanan saat ini. Catat deraiat
kesulitan makan. Evaluasi berat badan dan ukuran tubuh.
2. Mengauskultasi bunyi usus.
3. Memberikan perawatan oral sering, buang sekret, berikan wadah
khusus untuk sekali pakai dan tisu.
4. Mendorong periode istirahat semalam 1 iam sebelum dan sesudah
makan. Berikan makan porsi kecil tapi sering.
5. Menghindari makanan penghasil gas dan minuman karbonat.
6. Menghindari makanan sangat panas dan sangat dingin.
7. Menimbang berat badan sesuai indikasi.
8. Mengkonsultasikan dengan ahli gizi/nutrisi pendukung tim untuk
memberikan makanan yang mudah cerna secara nutrisi seimbang
(mis: tambahan nutrisi tambahan oral/selang).
















Fernando Hengkelare
Jumat, 15 Oktober 2010

Þ a a e | 69

Namak||en ť1nŦA5 Dmur ť481ahun uangan ť
HARI /
TANGGAL
WAKTU Dx /
Int
IMPLEMENTASI PARA
Sabtu, 16
Oktober 2010
08:30





08:40


08:55


09:00



09:15



09:30



1


























1. Mengobservasi TTV Pasien.
Hasil: - Suhu tubuh : 37,5
0
C
- Denyut Nadi : 80 kali /menit
- PernaIasan : 28 kali /menit
- Tekanan Darah : 130/80 mmHg

2. Mengauskultasi bunyi napas.
Hasil: Bunyi napas: Krekels

3. Mengkaii Irekuensi pernapasan.
Hasil: Frekuensi pernapasan: Takiphnoe

4. Mencatat iika adanya/deraiat dispnea.
Hasil: pasien gelisah karna sesak napas

5. Mengkaii pasien untuk posisi yang nyaman misalnya peninggian kepala
tempat tidur atau duduk pada sandaran tempat tidur.
Hasil: pasien tidur dengan kepalanya di sandaran tempat tidur

6. Meniaga lingkungan sekitar pasien seminimum mungkin dari debu atau
asap.
Hasil: menutup iendela dan pintu sesuai dengan situasi dan keadaan
lingkungan

























Þ a a e | 7

09:35



11:00




08:55


09:20



09:10


09:40


08:40


09:50












2




















7. Membantu pasien melatih napas secara abdomen atau bibir
Hasil: iika sesak napas pasien dapat menggunakan cara bernapas melalui
mulut.

8. Memberikan obat sesuai indikasi: Kromolin 3x1, Antimikrobial 1x1,
Analgesik (mis: kodein) 3x1.
Hasil: pasien bisa nyaman beristirahat.


1. Mengkaii Irekuensi dan kedalaman pernapasan.
Hasil: Irekuensi pernapasan: Takiphnoe dan dangkal

2. Meninggikan kepala tempat tidur, bantu pasien untuk memilih posisi yang
mudah untuk bernapas.
Hasil: posisi kepala pasien diatas sandaran tempat tidur.

3. Mengkaii secara rutin kulit dan warna membran mukosa.
Hasil: pasien mengalami sianosis.

4. Menganiurkan pasien mengeluarkan sputum
Hasil: sputum kental, tebal, dan banyak sekresi.

5. Mengauskultasi bunyi napas.
Hasil: bunyi napas: krekels

6. Mengpalpasi Iremitus.
Hasil: Getaran vibrasi menurun dugaan terdapat pengumpulan cairan/
udara teriebak.


Fernando
Hengkelare
Sabtu, 16 Oktober
2010
























Þ a a e | 71

10:00


10:15



10:20


10:25




10:30



10:40


10:50



11:15


















3
7. Mengawasi tingkat kesadaran.
Hasil: Pasien gelisah (maniIestasi umum pada hipoksia)

8. Mengevaluasi tingkat toleransi aktivitas. Berikan lingkungan yang tenang.
Batasi aktivitas pasien.
Hasil: aktivitas pasien dibatasi, istirahat diutamakan.

9. Mengawasi tanda vital dan irama iantung.
Hasil: tanda vital dan irama iantung normal.

10. Memberikan oksigen tambahan yang sesuai dengan indikasi hasil GDA
dan toleransi pasien.
Hasil: oksigen yang diberikan dengan menggunakan masker oksigen.


1. Mengkaii kebiasaan diet, masukan makanan saat ini. Catat deraiat
kesulitan makan. Evaluasi berat badan dan ukuran tubuh.
Hasil: pasien susah makan, berat badan: 59 kg, tinggi badan: 160 cm.

2. Mengauskultasi bunyi usus.
Hasil: Bunyi usus: 25 kali/menit

3. Memberikan perawatan oral sering, buang sekret, berikan wadah khusus
untuk sekali pakai dan tisu.
Hasil: pasien dapat melakukan instruksi perawat.

4. Mendorong periode istirahat semalam 1 iam sebelum dan sesudah makan.
Berikan makan porsi kecil tapi sering.








Fernando
Hengkelare
Sabtu, 16 Oktober
2010


















Þ a a e | 72




11:20



11:25



11:30


12:00



Hasil: pasien dapat istirahat 1 iam sebelum dan sesudah makan, porsi
makan kecil tapi sering diberikan.

5. Menghindari makanan penghasil gas dan minuman karbonat.
Hasil: makanan penghasil gas, minuman karbonat dihentikan karna dapat
meningkatkan dispnea.

6. Menghindari makanan sangat panas dan sangat dingin.
Hasil: makanan sangat panas dan sangat dingin dapat meningkatkan
spasme batuk.

7. Menimbang berat badan sesuai indikasi.
Hasil: berat badan: 59 kg

8. Mengkonsultasikan dengan ahli gizi/nutrisi pendukung tim untuk
memberikan makanan yang mudah cerna secara nutrisi seimbang (mis:
tambahan nutrisi tambahan oral/selang).
















Fernando
Hengkelare
Sabtu, 16 Oktober
2010







Þ a a e | 73

HARI /
TANGGAL
WAKTU Dx /
Int
EVALUASI PARA
Jumat, 15
Oktober 2010
12:30 1
















S: - Pasien sudah merasa nyaman dengan posisi tidurnya sekarang
Pasien belum merasa sembuh karna masih batuk
O: TTV pasien:
- Suhu tubuh : 37,5
0
C
- Denyut Nadi : 80 kali /menit
- PernaIasan : 28 kali /menit
- Tekanan Darah : 130/80 mmHg
Bunyi napas: krekels, Frekuensi pernapasan: takiphnoe, pasien gelisah
karna sesak napas, pasien tidur dengan kepalanya di sandaran tempat
tidur, menutup iendela dan pintu sesuai dengan situasi dan keadaan
lingkungan, iika sesak napas pasien dapat menggunakan cara bernapas
melalui mulut, pasien bisa nyaman beristirahat setelah diberikan obat.
A: Masalah belum teratasi.
P: Intervensi Laniut:
1. Mengobservasi TTV Pasien.
2. Mengauskultasi bunyi napas.
3. Mengkaii Irekuensi pernapasan.

















Þ a a e | 74











2








4. Mencatat iika adanya/deraiat dispnea.
5. Mengkaii pasien untuk posisi yang nyaman misalnya peninggian
kepala tempat tidur atau duduk pada sandaran tempat tidur.
6. Meniaga lingkungan sekitar pasien seminimum mungkin dari debu
atau asap.
7. Membantu pasien melatih napas secara abdomen atau bibir
8. Memberikan obat sesuai indikasi: Kromolin 3x1, Antimikrobial 1x1,
Analgesik (mis: kodein) 3x1.


S: - pasien belum merasa nyaman dengan kondisinya sekarang
O: - Frekuensi pernapasan: Takiphnoe dan dangkal, posisi kepala pasien
diatas sandaran tempat tidur, pasien mengalami sianosis, sputum,
kental, tebal, dan banyak sekresi, bunyi napas: krekels, Getaran
vibrasi menurun dugaan terdapat pengumpulan cairan/ udara teriebak,
Pasien gelisah (maniIestasi umum pada hipoksia), aktivitas pasien
dibatasi, istirahat diutamakan, tanda vital dan irama iantung normal,
oksigen yang diberikan dengan menggunakan masker oksigen.
A: Masalah belum teratasi.






Fernando Hengkelare
Sabtu, 16 Oktober 2010











Þ a a e | 75
















3
P: Intervensi Laniut:
1. Mengkaii Irekuensi dan kedalaman pernapasan.
2. Meninggikan kepala tempat tidur, bantu pasien untuk memilih
posisi yang mudah untuk bernapas.
3. Mengkaii secara rutin kulit dan warna membran mukosa.
4. Menganiurkan pasien mengeluarkan sputum.
5. Mengauskultasi bunyi napas.
6. Mengpalpasi Iremitus.
7. Mengawasi tingkat kesadaran.
8. Mengevaluasi tingkat toleransi aktivitas. Berikan lingkungan yang
tenang. Batasi aktivitas pasien.
9. Mengawasi tanda vital dan irama iantung.
10. Memberikan oksigen tambahan yang sesuai dengan indikasi hasil
GDA dan toleransi pasien.


S: - pasien merasa nyaman dengan kondisinya yang sekarang.
O: - pasien susah makan, berat badan: 59 kg, tinggi badan: 160 cm, Bunyi
usus: 25 x/menit, pasien dapat melakukan instruksi perawat, pasien










Fernando Hengkelare
Sabtu, 16 Oktober 2010







Þ a a e | 76



dapat istirahat 1 iam sebelum dan sesudah makan, porsi makan kecil
tapi sering diberikan, makanan penghasil gas, minuman karbonat
dihentikan karna dapat meningkatkan dispnea, makanan sangat panas
dan sangat dingin dapat meningkatkan spasme batuk, Berat badan: 59
kg.
A: Masalah teratasi.
P: Intervensi dihentikan





Fernando Hengkelare
Sabtu, 16 Oktober 2010

Þ a a e | 77

BAB III
PENUTUP


A. KESIMPULAN
Asuhan Keperawatan mengambarkan dan mencerminkan
individualisasi perawatan yang perawat berikan. Proses-proses
keperawatan yang dilakukan menuniukan pentingnya peranan perawat
dalam proses pengobatan dan penyembuhan pasien. Intervensi yang
diberikan haruslah sesuai dengan masalah pasien dan diagnosa
keperawatan yang ada. Akhirnya, dengan penyusunan Asuhan
Keperawatan Pada Pasien Bronkitis yang telah dibuat menuniukan dan
menielaskan cara pembuatan asuhan keperawatan yang benar dalam
bentuk teori dan penangganan langsung kepada pasien. Penanganan
langung dan keriasama yang baik dengan keluarga pasien dan pasien itu
sendiri dapat mempermudah intervensi yang akan dilakukan. Pemahaman
yang benar tentang penyakit bronkitis dapat mempermudah dalam
pembuatan Askep. Dengan mengetahui cara yang benar dalam pembuatan
Askep dapat meningkat keterampilan dan kualitas dari perawat itu sendiri.
Askep yang akurat iuga dapat membantu dalam memenuhi syarat
akreditasi asuhan keperawatan.

B. SARAN.
Diharapkan dengan adanya penielasan mengenai proses
keperawatan/asuhan keperawatan khusunya tentang asuhan keperawatan
pada pasien bronkitis, dapat menuniang kita dalam proses pembelaiaran
pada mata kuliah PKKDM I serta meniadi pedoman dan bahan
pembelaiaran dalam melaksanakan proIesi kita sebagai perawat nantinya.
Oleh karena itu dengan adanya bahan materi ini diharapakan kita sebagai
mahasiswa mampu mengetahui deIinisi penyakit bronkitis, etiologinya,
anatomi dan Iisiologi, patoIisiologi dan patoIlow bronkitis, maniIestasi
Þ a a e | 78

klinik, pemeriksaan diagnosis, terapi penyakit, komplikasi dari penyakit
bronkitis, prognosis dan pencegahan yang dapat dilakukan dalam proses
keperawatan, dapat mengidentiIikasi tuiuan dalam proses keperawatan,
serta dapat mengetahui contoh bentuk asuhan keperawatan sebelum kita
turun ke lapangan/masyarakat.









Þ a a e | 79

DATAR PUSTAKA


Doenges, Marilynn E. 1999. #encana Asuhan Keperawatan . !edoman Untuk
!erencanaan dan !endokumentasian !erawatan !asien Edisi 3. EGC :
Jakarta.
Long, Barbara C. 1998. !erawatan Medikal Bedah. EGC: Jakarta.
Tamsuri, Anas. 2008. Klien angguan !ernapasan. Seri Asuhan Keperawatan.
EGC: Jakarta.
Booker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan Edisi 31. EGC: Jakarta.
Gunawan, Iriyan. 2006. Bronkitis pada anak.
http://www.asuhankeperawatan.blogspot.com. Diakses tanggal 2 oktober
2010 pukul 16.15 WIB.
Kurniawan. 2010. Makalah Kesehatan.
http://kurniawanwhu.wordpress.com/2010/05/09/makalah-kesehatan/.
Diakses tanggal 6 oktober 2010 pukul 15:35 WIB.
Þ a a e | 8

DATAR ISTILAH


Congenital : Sudah terdapat seiak lahir
Bronkitis : InIlamasi pada mukosa bronkus
Bronkitis Akut : Batuk yang tiba-tiba teriadi karena inIeksi virus
yang melibatkan ialan naIas yang besar
Bronkitis Kronik : Bronkitis kronik adalah inIlamasi luas ialan napas
dan peningkatan produksi sputum mukoid.
Laringotrakeobronkitis : InIeksi virus yang akut pada saluran napas atas
yang dapat disertai komplikasi inIeksi bakteri
sekunder.
Septum oli : Sekat hidung.
Sel goblet : Sel-sel yang mensekresikan mukus yang terdapat
dalam lapisan mukosa pada traktus respiratorius
serta gastrointenstinal.
Silia : 1. Bulu mata, 2. Joniot-ioniot mikroskopis pada sel
tertentu, mis: sel yang melapisi traktus
respiratorius.
Mukus : Sekresi viskus dari keleniar mukus.
Alergen : Faktor-Iaktor pembawa alergi.
Histamin : Amina yang dilepaskan dalam seiumlah dan
menimbulkan konstriksi otot polos, sekresi
lambung serta vasodilatasi.
Mukosa : Selaput lendir.
Bronkus : Salah satu dari dua saluran napas yag besar dan
dibentuk oleh percabangan trakea.
Hipertermi : Kenaikan suhu tubuh.
Malaise : Suatu rasa sakit atau rasa tidak enak badan.
Nasofaringitis : Faring bagian atas yang berada diatas palatum
mole.
Konjungtivitis : InIlamasi koniungtiva.
Þ a a e | 81

Anoreksia : Keadaan hilangnya selera makan.
Eritropoesis : Pembentukan eritrosit oleh sumsum tulang yang
dirangsang oleh hormon eritroprotein.
Otitis media : InIlamasi telinga tengah.
Sinusitis : InIlamasi sinus, khususnya membran mukosa yang
melapisi sinus paranasal.
Pneumonia : InIlamasi iaringan paru yang biasanya disebabkan
oleh inIeksi bakteri/virus.
Bronkietaksis : Suatu penyakit dimana bronkus dan bronkiolus
mengalami dilatasi serta terisi oleh sputum yng
puluren, berbau dan banyak.
Prognosis : Perialanan penyakit atau hasil akhir yang
diperkirakan.
Dispnea : Napas tidak teratur.
Insomnia : Keadaan tidak bisa tidur.
Takikardia : Frekuensi iantung yang cepat.
Distensi : Keadaan membengkak dan mengembang.
Hepatomegali : Pembesaran hepar.
Barel chest : Dada tong.
Ronchi : Suara bronkial berdedas/gemeretak yang terdengar
pada auskultasi.
Libido : Dorongan/implus yang menghasilkan
tindakan/perbuatan.
Hipoksemia : Kekurangan oksigen dalam darah.
Sputum : Bahan yang dibatukkan keluar dari saluran
pernapasan.
Spasme batuk : Kontraksi otot yang mendadak saat batuk.
Patogen : BersiIat menimbulkan penyakit (mis:
mikroorganisme)
Infeksius : 1. Penyakit yang dapat ditularkan, 2. Penyakit yang
disebabkan oleh inIeksi.
Þ a a e | 82

Ansietas : Perasaan tidak tenang, perasaan takut,
khawatir/cemas, dan gelisah.
PPOM : Penayakit Paru Obstruksi Menahun
COPD : cronik obstructive pulmonarv disease
GDA : Gas Darah Arteri


Sign up to vote on this title
UsefulNot useful