P. 1
isi

isi

4.0

|Views: 421|Likes:
Published by Rochman Hadi

More info:

Published by: Rochman Hadi on Oct 24, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/18/2011

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin menuntut guru untuk lebih aktif dan terampil dalam mencerdaskan anak didiknya. Berbagai perubahan baik di bidang kurikulum, sarana dan prasarana sekolah, standar mutu SDM guru, kualitas sekolah, semakin mengalami perbaikan pesat. Bahkan sekarang sekolahsekolah di perkotaan telah menerapkan sistem Sekolah Berbasis Internasional, yang tujuannya bisa mencetak siswa-siswa unggul yang dapat bersaing di kancah internasional. Hal ini tentu saja membuat peranan guru semakin penting dalam mengelola proses pembelajaran yang tepat. Sehingga tujuan pembelajaran yang sudah dicanangkan dapat tercapai dengan baik. Salah satu instrument pengukur keberhasilan pembelajaran, adalah hasil belajar siswa (output). Untuk mengetahui hal tersebut, maka guru perlu membuat strategi-strategi pembelajaran baik dalam proses pembelajaran maupun dalam proses evaluasi. Strategi dalam proses pembelajaran misalnya ketepatan pemilihan tehnik mengajar, seperti pengunaan Jigsaw, NHT, Kooperatif, dan sebagainya. Sedangkan startegi dalam evaluasi yaitu bagaimana seorang guru memilih dan atau membuat instrument evaluasi yang tepat sesuai dengan tujuan pembelajaran. Misalnya, menggunakan tehnik tes, non tes, dan sebagainya. Untuk itu dalam makalah ini disajikan berbagai bentuk tehnik tes dalam evaluasi proses dan hasil belajar, yang meliputi tes tertulis, tes lisan, dan tes praktik. B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana tehnik tes tertulis dalam evaluasi pembelajaran? 2. Bagaimana tehnik tes lisan dalam evaluasi pembelajaran? 3. Bagaimana tehnik tes praktik dalam evaluasi pembelajaran? C. Tujuan 1. Memahami tehnik tes tertulis dalam evaluasi pembelajaran. 2. Memahami tehnik tes lisan dalam evaluasi pembelajaran. 3. Memahami tehnik tes praktik dalam evaluasi pembelajaran

1

BAB II KAJIAN TEORI DAN PEMBAHASAN

A. Kajian Teori 1. PENGERTIAN TES Pengertian test Secara harfiah kata â testâ berasal dari kata bahasa prancis kuno: testum yang berarti piring untuk menyisihkan logam-logam mulia, dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan tes yang berarti ujian atau percobaan. Test merupakan suatu alat penilaian dalam bentuk tulisan untuk mencatat atau mengamati prestasi siswa yang sejalan dengan target penilaian ( Jacobs & Chase, 1992; Alwasilah, 1996). Jawaban yang diharapkan dalam tes menurut Sudjana dan Ibrahim (2001) dapat secara tertulis, lisan dan perbuatan. Menurut Zainul dan Nasution (2001) tes didefinisikan sebagai pertanyaan atau tugas atau seperangkat tugas yang direncanakan untuk memperoleh informasi tentang suatu atribut psikologis tertentu. Dari pengertian diatas, dapat dipahami bahwa test adalah cara yang dapat digunakan atau prosedur yang dapat ditempuh dalam rangka pengukuran dan penilaian yang dapat berbetuk pemberian tugas, atau serangkaian tugas sehingga dapat dihasilkan nilai yang dapat melambangkan prestasi. 2. MACAM-MACAM TES Macam-macam test yaitu: 1) Menurut pelaksanaannya praktek test terbagi atas: a. Tes tulisan (written tes) b. Test lisan (oral test) c. Test perbuatan (performance test) 2) Menurut fungsinya test terbagi atas: a. Tes formatif (formative test), yaitu test yang dilaksanakan setelah selesainya satu pokok bahasan. Test ini berfungsi untuk menetukan tuntas tidaknya satu pokok bahasan. b. Tes sumatif (summative test), yaitu test yang diberikan setelah sekumpulan satuan program pembelajaran selesai diberikan.

2

c. Test diagnostik (Diagnostic test), yaitu test yang dilakukan untuk menentukan secara tepat, jenis kesulitan yang dihadapi oleh peserta didik dalam suatu mata pelajaran tertentu. 3) Menurut waktu yang diberikan: a. Pra tes b. Post test 4) Menurut kebutuhannya: a. Psycho test yaitu test tentang sifat-sifat atau kecenderungan atau hidup kejiwaan seseorang (peserta didik). b. Test kemampuan (aptitude test), yaitu test bakat. 5) Menurut jenisnya: a. Test standar, yaitu test yang sudah dibakukan setelah mengalami beberapa kali uji coba (try out) dan memenuhi syarat test yang baik. b. Test buatan guru, yaitu test yang dibuat oleh guru. 6) Menurut jenis waktu yang disediakan test terdiri atas: a. Power test, yakni test dimana waktu yang disediakan untuk menyelesaikan test tidak dibatasi. b. Speed test, yaitu test dimana waktu yang disediakan untuk menyelesaikan test dibatasi. B. Pembahasan Penggunaan setiap jenis tes harus disesuaikan dengan kawasan (domain) perilaku siswa yang hendak diukur. Misalnya tes tertulis atau tes lisan dapat digunakan untuk mengukur kawasan kognitif, sedangkan kawasan psikomotorik cocok dan tepat apabila diukur dengan tes tindakan, dan kawasan afektif biasanya diukur dengan skala perilaku, seperti skala sikap. Teknik tes merupakan teknik evaluasi yang menggunakan perangkat soal yang harus dikerjakan oleh siswa dalam batas waktu tertentu. Fungsi test secara umum test memiliki dua fungsi yaitu: 1. Sebagai alat pengukur terhadap peserta didik. Dalam hal ini test berfungsi mengukur tingkat perkembangan atau kemajuan yang telah dicapai oleh peserta didik setelah mereka menempuh proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu 2. Sebagai alat pengukur keberhasilan

3

program pengajaran, karena melalui test tersebut dapatdiketahui seberapa jauh tujuan pembelajaran telah dicapai. Macam-macam test menurut pelaksanaannya dalam praktek test terbagi atas: 1) Tes tertulis (written tes), yaitu test yang mengajukan butir-butir pertanyaan dengan mengharapkan jawaban tertulis. Biasanya test ini digunakan untuk mengukur aspek kognitif peserta didik. 2) Test lisan (oral test), yaitu tes yang mengajukan pertanyan-pertanyaan dengan menghendaki jawaban secara lisan. Test ini juga dilakukan untuk aspek kognitif peserta didik. 3) Test perbuatan (performance test), yaitu tes yang mengajukan pertanyan-pertanyaan dengan menghendaki jawaban dalam bentuk perbuatan. Test ini digunakan untuk menilai aspek psikomotor/ keterampilan peserta didik.

Tabel 1. Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen Teknik Penilaian ‡ Tes tertulis Bentuk Instrumen ‡ Tes pilihan: pilihan ganda, benar-salah,

menjodohkan dll. ‡ Tes isian: isian singkat dan uraian ‡ Tes lisan ‡ Tes praktik (tes kinerja) ‡ Daftar pertanyaan ‡ Tes identifikasi ‡ Tes simulasi ‡ Tes uji petik kinerja

1) TES TERTULIS 1. Bentuk-Bentuk Tes a. Tes Subjektif Pada umumnya berbentuk esai atau uraian. Tes bentuk esai adalah sejenis tes kemajuan belajar yang memerlukan jawaban yang bersifat pembahasan atau uraian kata-kata. Ciri-ciri pertanyaannya didahului dengn kata-kata seperti: uraikan, jelaskan, mengapa, bagaimana, bandingkan, simpulkan, dan sebagainya. Soal bentuk esai ini menuntut kemampuan siswa untuk dapat mengornagisir, menginterpretasi, menghubungkan pengertian-pengertian

4

yang telah dimiliki. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa tes esai menuntut siswa untuk dapat mengingat-ingat dan mengenal kembali, dan terutama harus mempunyai daya kreativitas yang tinggi. Tes subjektif (essay) terbagi menjadi 2 yaitu: a) Tes Uraian Bebas Adalah tes essay yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menjawab soal sesuai dengan sistematika peserta didik seluas-luasnya. b) Tes Uraian Terbatas Adalah tes essay yang butir soalnya memberikan batasan kepada peserta didik dalam menjawabnya. 1) Kebaikan-kebaikannya: a) Mudah disiapkan dan disusun. b) Tidak member banyak kesempata untuk berspekulasi atau untung-untungan. c) Mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapat serta menyusun dalam bentuk kalimat yang bagus. d) Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengutarakan maksudnya dengan gaya bahasa dan gayanya sendiri. e) Dapat diketahui sejauh mana siswa mendalami sesuatu masalah yang diteskan. 2) Keburukan-keburukannya: a) Kadar validitas dan reabilitas rendah karena sukar diketahui segi-segi mana dari pengetahuan siswa yang betul-betul telah dikuasai. b) Kurang presentatif dalam hal mewakili seluruh scope bahan pelajaran yang akan dites karena soalnya hanya beberapa saja. c) Cara memeriksanya banyak dipengaruhi oleh unsureunsur subjektif. d) Pemeriksaannya lebih sulit sebab membutuhkan pertimbangan individual lebih banyak dari penilai.

5

e) Waktu untuk koreksinya lama dan tidak dapat diwakilkan kepada orang lain. 3) Petunjuk penyusunan: a) Hendaknya soal-soal tes dapat meliputi ide-ide pokok dari bahan yang diteskan, dan kalau mungkin disusun soal yang sifatnya komprehensif. b) Hendaknya soal tidak mengambil kalimat-kalimat yang disalin langsung dari buku atau catatan. c) Pada waktu menyusun, soal itu sudah dilengkapi dengan kunci jawaban serta pedoman penilaiannya. d) Hendaknya diusahakan agar pertanyaanya bervariasi antara µJelaskan¶, µMengapa¶, Bagaimana¶, Seberapa jauh¶, agar dapat diketahui lebih jauh penguasaan siswa terhadap bahan. e) Hendaknya rumusan soal dibuat sedemikian rupa sehingga mudah dipahammi oleh siswa. f) Hendaknya ditegaskan model jawaban apa yang dikehendaki oleh penyusun tes. Untuk ini tidak boleh terlalu umum, tetapi harus spesifik. Contohnya: Pertanyan: 1. Jelaskan hubungan antara rumah tangga produksi dan rumah tangga konsumsi dalam perekonomian 2 sektor! Jawaban: RT konsumsi mensupply faktor-faktor produksi (tanah, tenaga kerja,skill, modal) kepada RT produksi, sebagai balas jasa RT produksi memberikan imbalan berupa sewa, upah, laba, bunga. Faktor produksi yang diterima RT produksi diolah menjadi barang dan jasa yang kemudian disalurkan kepada RT Konsumsi dan pemerintah. Sebagai balas jasa RT produksi menerima uang dari RT Konsumsi. 2. Menurut pendapat anda, bagaimana cara mengembangkan koperasi di Indonesia!

6

b. Tes Objektif Tes objektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif. Hal ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan dari tes bentuk esai. 1) Kebaikan-kebaikannya: a) Mengandung lebih banyak segi-segi yang positif misalnya lebih representatif mewakili isi dan luas bahan, lebih objektif, dapat dihindari campur tangannya unsure-unsur subjektif baik dari segi siswa maupun segi guru yang memeriksa. b) Lebih mudah dan cepat cara memeriksanya karena dapat menggunakan kunci tes bahkan alat-alat kemajuan hasil teknologi. c) Pemeriksaannya dapat diserahkan pada orang lain. d) Dalam pemeriksaan, tidak ada unsur subjektif yang mempengaruhi. 2) Kelemahan-kelemahannya: a) Persiapan untuk menyusunnya jauh lebih sulit dari pada tes esai karena soalnya banyak dan harus teliti untuk menghindari kelemahan-kelemahan yang lain. b) Soal-soalnya cenderung untuk mengungkapkan ingatan dan daya pengenalan kembali saja, dan sukar untuk mengukur proses mental yang tinggi. c) Banyak kesempatan untuk main untung-untungan. d) Kerja sama antar siswa pada waktu mengerjakan soal tes lebih terbuka. 3) Cara mengatasi kelemahan: a) Kesulitan menyusun tes objektif dapat diatasi dengan jalan banyak berlatih terus-menerus hingga benar-benar mahir. b) Menggunakan table spesifikasi untuk mengatasi kelemahan noror 1 dan 2.

7

c) Menggunakan nomor atau standar penilaian yang memperhitungakan faktor tebakan (guessing) yang bersifat spekulatif. Macam-macam Tes Objektif: a. Tes benar-salah (true false) Soalnya berupa pernyataan, ada yang benar dan ada yang salah. Jara menjawab dengan melingkari huruf B jika benar dan melingkari huruf S jika menurutnya pernyataan itu salah. Bentuk benar salah ada 2 macam (dilihat dari segi mengerjakan / menjawab soal), yakni:  Dengan pembetulan (with correction/ siswa diminta membetulkan bila ia memilih jawaban salah.  Tanpa pembetulan (without correction / siswa hanya diminta melingkari huruf B atau S tanpa memberikan jawaban yang benar.

1) Petunjuk penyusunannya: a) Tulislah huruf B-S pada permulaan masing-masing item dengan maksud untuk mempermudah mengerjakan dan menilai (scoring). b) Usahakan agar jumlah butir soal yang harus dijawab B sama dengan butir oal yang harus dijawab S. Dalam hal ini hendaknya pola jawaban tidak bersifat teratur misalnya: B-S-B-S-B-S atau SS-BB-SS-BB-SS. c) Hindari item yang masih bisa diperdebatkan. Contoh: B-S Saving lebih penting daripada Investasi.

d) Hindarilah pertanyaan-pertanyaan yang persis dengan buku. e) Hindarilah kata-kata yang menunjukkan kecenderungan memberi saran seperti yang dikehendaki oleh item yang bersangkutan, misalnya: semuanya, tidak selalu, tidak pernah, dan sebagainya. 2) Cara Mengolah Skor Rumus untuk mencari skor akhir bentuk benar-salah ada 2 macam, yaitu: a) Dengan denda

8

S=R-W Dengan pengertian: S = skor yang diperoleh R = right (jawaban benar) W = wrong (jawaban salah) Dengan menggunakan rumus seperti ini maka ada kemungkinan seorang siswa memperoleh skor negatif. b) Tanpa denda S=R Yang dihitung hanya yang benar. Untuk soal yang tidak dikerjakan dinilai 0. Contoh 1: AB S

Salah satu tugas Bank Sentral adalah memelihara kestabilan nilai rupiah. Contoh II: B S

Salah satu tugas Bank Sentral adalah menghimpun dana dan atau menyalurkannya kepada masyarakat secara individual. Pembetulan: Bank yang bertugas menghimpun dana dan menyalurkannya kepada masyarakat secara individual merupakan tugas Bank Umum, sedangkan Bank Sentral bertugas mencetak uang, mengawasi Bank-Bank, memelihara kestabilan nilai rupiah.

b. Tes Pilihan Ganda (multiple choice test) Multiple choice test terdiri atas bagian keterangan (stem) dan bagian kemungkinan jawaban atau alternative (options). Kemungkinan

9

jawaban (option) terdiri atas satu jawaban yang benar yaitu kunci jawaban dan beberapa pengecoh (distractor). 1) Hal-Hal yang perlu diperhatikan dalam tes pilihan ganda : a) Instruksi pengerjaannya harus jelas, dan bila perlu diberi contoh mengerjakannya. b) Hanya ada satu jawaban benar. c) Kalimat pada butir soal hendaknya sesingkat mungkin dan tidak terlalu sukar. d) Usahakan menghindari penggunaan bentuk negative dalam kalimat pokoknya. e) Kalimat pokok pada setiap butir hendaknya tidak tergantung pada butir-butir soal lain. f) Jangan membuang bagian pertama dari suatu kalimat. g) Bila dapat disusun urutan logis antar pilihan-pilihan. h) Alternatif yang disediakan hendaknya agak seragam dalam panjangnya, sifat uraian, maupun taraf teknis. i) Alternatif-alternatif yang disajikan hendaknya agak bersifat homogeny mengenai isinya dan bentuknya. j) Jangan gunakan kata-kata indicator seperti selalu, kadang-kadang, pada umumnya. 2) Cara mengolah skor: a) Dengan denda S=R 

S = skor yang diperoleh ( raw score) R = jawaban yang benar W = jawaban yang salah 0 = banyaknya options 1 = bilangan tetap b) Tanpa denda S=R

10

Contoh soal: Pilihlah jawaban yang paling tepat dengan melingkari salah satu pilihan jawaban. Koperasi yang pertama kali di Indonesia didirikan oleh . . . . A. R. Aria Wiraatmaja B. Mohamad Hatta C. Margono Djohohadikusumo D. Ir. Ibnoe Soedjono E. Prof. R.S. Soeriatmaja

c. Tes Melengkapi Tes ini hampir sama dengan tes isian bedanya terletak pada kalimatkalimat yang digunakan sebagai instrumen yang masing-masing berdiri sendiri. Tes melengkapi merupakan suatu keterangan atau pemberitahuan tentang suatu pengertian yang belum lengkap. Bisa juga untuk melengkapinya harus memilih satu dari beberapa kemungkinan jawaban yang telah disediakan. Cara Mengolah Skor S=R Contoh soal: Inflasi terjadi apabila jumlah uang yang beredar « daripada jumlah barang dan jasa yang tersedia.

d. Tes Bentuk Asosiasi Asosiasi yakni suatu pernyataan yang tidak lengkap yang diikuti dengan beberapa kemungkinan, hanya perbedaan pada bentuk asosiasi kemungkinan jawaban bisa lebih dari satu, sedangkan melengkapi pilihan hanya satu yang paling tepat. Petunjuk : Pilih A jika (1), (2) dan (3) benar Pilih B jika (1) dan (3) benar Pilih C jika (2) dan (4) benar

11

Pilih D jika hanya (4) yang benar Pilih E jika semuanya benar.

Cara Mengolah Skor: S=R Contoh soal: Pilihlah (a) jika pernyataan 1,2,3 adalah benar Pilihlah (b) jika pernyataan 1 dan 3 benar Pilihlah (c) jika pernyataan 2 dan 4 benar Pilihlah (d) jika pernyataan 4 saja yang benar Pilihlah (e) jika semua pernyataan adalah benar 1. Di bawah ini yang termasuk modal sendiri dari koperasi adalah« 1) Simpanan wajib 2) Simpanan sukarela 3) Simpanan pokok 4) Hibah 2. Yang termasuk perangkat koperasi adalah« 1) Rapat anggota 2) Pengurus 3) Pengawas 4) Anggota

e. Tes Bentuk Sebab Akibat Hubungan antar hal (Sebab akibat). Bentuk tes ini terdiri dari dua kalimat : satu kalimat pernyataan dan satu kalimat alasan. Ditanyakan apakah pernyataan memiliki hubungan sebab akibat atau tidak dengan alasan. Cara Mengolah Skor S=R

12

Contoh soal: Pilihlah (a) jika pernyataan 1 dan 2 benar, serta ada hubungan sebab akibat Pilihlah (b) jika pernyataan 1 dan 2 benar, tetapi didak ada hubungan sebab akibat Pilihlah (c) jika pernyataan 1 adalah benar, sedangkan pernyataan 2 salah Pilihlah (d) jika pernyataan 1 adalah salah, sedangkan pernyataan 2 benar Pilihlah (e) jika kedua pernyataan tersebut salah

1. Rapat anggota merupakan kekuasaan tertinggi dalam koperasi. SEBAB Di dalam rapat anggota, semua kegiatan kepengurusan koperasi selama satu periode dievaluasi secara terbuka oleh seluruh perangkat koperasi. 2. Salah satu kendala yang menghambat kemajuan koperasi di Indonesia adalah supply modal yang diberikan pemerintah. SEBAB Dengan adanya pemberian bantuan modal tersebut, koperasi di Indonesia menjadi tidak mandiri.

f. Tes Subjektif Bentuk Analisa Kasus Bentuk tes ini adalah siswa dihadapkan pada suatu kasus. Contoh soal: Koperasi ³Maju Jaya´ yang jumlah simpanan pokok dan simpanan wajib anggotanya sebesar Rp 100.000.000,- menyajikan perhitungan laba rugi singkat pada 31 Desember 2001 sebagai berikut : (hanya untuk anggota): 1. Penjualan Rp 460.000.000,2. Harga Pokok Penjualan Rp 400.000.000,3. Laba Kotor Rp 60.000.000,4. Biaya Usaha Rp 20.000.000,5. Laba Bersih Rp 40.000.000,Berdasarkan RAT, SHU dibagi sebagai berikut: _ Cadangan Koperasi 40%

13

_ Jasa Anggota 25% _ Jasa Modal 20% _ Jasa Lain-lain 15% Buatlah: a. Perhitungan pembagian SHU b. Jurnal pembagian SHU c. Perhitungan persentase jasa modal d. Perhitungan persentase jasa anggota e. Hitung berapa yang diterima Tuan Yohan (seorang anggota koperasi) jika jumlah simpanan pokok dan simpanan wajibnya Rp 500.000,- dan ia telah berbelanja di koperasi Maju Jaya senilai Rp 920.000,-.

g. Tes Bentuk Analisa Diagram, Gambar, dan Tabel Membaca Diagram, atau table Bentuk soal ini mirip dengan bentuk pilihan ganda biasa, hanya saja disertai dengan tabel. Contoh soal: 1. Gambar timbangan dalam lambang koperasi mengandung makna«.

h. Menjodohkan (matching test) Matching test merupakan salah satu jenis test yang memasangkan antara pertanyaan dengan jawaban yang tepat. Tugas murid adalah mencari dan menempatkan jawaban-jawaban, sehingga sesuai atau cocok dengan pertanyaannya. Atau bisa juga berbentuk pencarian pasangan dari susunan dalam dua daftar yang masing-masing memuat kata,istilah,atau kalimat yang diletakan bersebelahan. 1) Petunjuk penyusunan a. Seri pertanyaan-pertanyaan dalam matching test hendaknya tidak lebih dari 10 soal.

14

b. Jumlah jawaban yang harus dipilih, harus lebih banyak daripada jumlah soalnya (kurang lebih 1 kali). c. Antara item-item yang tergabung dalam satu seri matching test harus merupakan pengertian-pengertian yang benar-benar homogen. 2) Cara mengolah skor S=R Artinya skor terakhir dihitung jawaban yang benar saja. Contoh soal: 1. Pihak-pihak yang bertugas mengelola usaha koperasi« 2. Pemegang kekuasaan tertinggi dalam koperasi« A. Pengurus B. Pengawas C. Rapat anggota

i. Tes Isian (completion test) Completion test biasa disebut dengan tes isian, tes menyempurnakan, atau tes melengkapi. Completion test terdiri dari kalimat-kalimat yang ada bagian-bagiannya dihilangkan. Bagian yang dihilangkan ini harus diisi oleh murid. 1) Petunjuk penyusunan a) Jangan mengutip kalimat atau pertanyaan yang tertera pada buku. b) Diusahakan semua tempat kosong hendaknya sama panjangnya. c) Diusahakan hendaknya setiap pertanyaan jangan mempunyai lebih dari 1 tempat kosong. d) Jangan mulai pertanyaan dengan tempat kosong. 2) Penggunaan tes subjektif dalam tes isian

15

a) Kelompok yang akan diuji merupakan kelompok kecil dan tes itu tidak akan digunakan berulang-ulang. b) Guru ingin menggunakan berbagai cara untuk mengetahui kemampuan siswa dalam bentuk tes tulis. c) Guru ingin mengetahui lebih banyak tentang sikap-sikap siswa daripada hasil yang telah dicapai. d) Memiliki waktu yang cukup banyak untuk menyusun tes. 3) Penggunaan tes objektif dalam tes isian a) Kelompok yang akan diuji merupakan kelompok besar dan tesnya akan digunakan berulang-ulang. b) Skor yang diperoleh diperkirakan akan dapat dipercaya (mempunyai reliabilitas yang tinggi) c) Guru lebih mampu menyusun tes bentuk objektif daripada tes bentuk esai. d) Hanya mempunyai waktu sedikit untuk koreksi dibandingkan dengan waktu yang digunakan untuk menyusun tes. 4) Cara mengolah skor S=R

Contoh soal: 1. Landasan struktural koperasi adalah« 2. Pembinaan dan pengembangan KUD diatur dalam Inpres No. «

2) TES LISAN Tes Lisan adalah tes yang menuntut peserta didik memberikan jawaban secara lisan. Tes lisan biasanya dilaksanakan dengan cara mengadakan percakapan antara peserta didik dengan pendidik tentang permasalahannya yang diujikan. Tes lisan dapat digunakan untuk mengungkapka hasil belajar peserta didik, baik pada aspek kognitif maupun afektif. Tes lisan dapat digunakan untuk menguji peserta didik baik secara individual maupun secara kelompok.

16

Ada beberapa kelemahan dan kelebihan tes lisan. Kelebihan tes lisan antara lain, pendidik bisa mengetahui kemampuan pesereta didik dalam mengemukakan pendapatnya secara langsung, formulasi pertanyaan dapat secara langsung disesuaikan dengan tingkat pemahaman peserta didik, dapat menghindari jawaban spekulatif, dan dapat mengetahui penguasaan peserta didik secara tepat. Kelemahanya, membutuhkan waktu yang relatif lama, subyektifitas pelaksanaan sulit dihindari, dan seringkali peserta didik kurang bebas dalam mengemukakan pendapatnya (cemas). Macam-macam tes lisan : a) Tes lisan bebas

Yaitu pendidik dalam memberikan soal kepada peserta didik tanpa menggunakan pedoman yang dipersiapkan secara tertulis b) Tes lisan berpedoman

Pendidik menggunakan pedoman tertulis tentang apa yang akan ditanyakan kepada peserta didik. Nurkanca, dkk (1986:60) menjelaskan bahwa hal-hal yang perlu mendapat perhatian dalam pelaksanaan tes lisan antara lain adalah sebagai berikut: a) Pertahankanlah situasi evaluasi dalam pelaksanaan tes lisan. Guru harus tetap

menyadari bahwa tujuan evaluasi adalah untuk mendapatkan gambaran tentang prestasi belajar yang dicapai oleh murid-murid. b) Janganlah guru membentak-bentak seorang murid karena murid tersebut

memberikan jawaban yang menurut penilaian guru merupakan jawaban yang sangat ³tolol´. c) Jangan pula ada kecenderungan untuk membantu seoarang murid yang sedang di

tes dengan memberikan kunci-kunci tertentu karena kita merasa kasihan atau simpati pada murid tersebut. Hal ini bertentangan dengan prinsip-prinsip evaluasi karena kita bertindak tidak adil terhadap murid yang lain. d) Siapkanlah terlebih dahulu suatu rencana pertanyaan serta score jawaban yang

diminta untuk setiap pertanyaan. Hal ini untuk menjaga agar guru jangan samapai terkecoh oleh jawaban yang ngelantur dari murid-murid. e) Laksanakanlah skoring secara teliti terhadap setiap jawaban yang diberikan oleh

murid.

17

Cara penilaian dalam tes lisan menggunakan format penilaian secara subjektif, penilaian didasarkan pada ketepatan jawaban yang diberikan oleh peserta didik.

3) TES PRAKTIK Pengertian Tes praktek, atau juga disebut tes perbuatan adalah tes yang penugasannya disampaikan dalam bentuk lisan atau tertulis dan pelaksanaan tugasnya dinyatakan dengan perbuatan atau penampilan. Penilaian tes perbuatan dilakukan sejak peserta didik melakukan persiapan, melaksanakan tugas, sampai dengan hasil akhir yang dicapainya. Untuk menilai tes perbuatan pada umumnya diperlukan sebuah format pengamatan, yang bentuknya dibuat sedemikian rupa sehingga tutor dapat menuliskan angkaangka yang diperolehnya pada tempat yang sudah disediakan. Bentuk formatnya dapat disesuaikan menurut keperluan. Untuk tes perbuatan yang sifatnya individual, sebaiknya menggunakan format pengamatan individual. Bentuk-bentuk Tes Praktek Tes praktek pada intinya digunakan untk mengukur tingkat kemampuan dan kepahaman peserta didik terhadap materi yang telah diujikan, tes praktek ini lebih cenderung pada tes yang kurang menggunakan teori secara penuh namun berdampak lebih efektif pada keterampilan peserta didik. Pada umumnya dikelompokkan ke dalam 2 kategori diantaranya Tes Uji keterampilan langsung dan tidak langsung. Tes uji keterampilan langsung yaitu tes dimana peserta didik diujikan atau dihadapkan pada lapangan/medan secara langsung tanpa menggunakan mediasi perantara, sebagai contoh yaitu pada peserta didik ekonomi, siswa diajak untuk secara langsung berinteraksi di lapangan seperti instansi atau lembaga keuangan. Sedangkan uji keterampilan tidak langsung yaitu uji keterampilan dimana peserta didik hanya diujikan melalui praktek lapangan guna mensimulasikan kondisi sebenarnya, sebagai contoh yaitu peserta didik di kondisikan pada suatu situasi yang menyerupai suasana pasar sehingga meskipun tidak berada pada pasar secara langsung namun dengan adanya suasana tersebut peserta didik mampu memahami dengan jelas.

18

Cara menyusun test praktik Dalam menyusun test praktik, perlu diperhatikan beberapa langkahnya antara lain : a) Menentukan tujuan penilaian. Tujuan penilaian sangat penting karena setiap tujuan memiliki penekanan yang berbeda-beda. Misalnya untuk tujuan tes prestasi belajar, diagnostik, atau seleksi. Contoh untuk tujuan prestasi belajar, lingkup materi/kompetensi yang ditanyakan/diukur disesuaikan seperti untuk kuis/menanyakan materi yang lalu, pertanyaan lisan di kelas, ulangan harian, tugas individu/kelompok, ulangan semester, ulangan kenaikan kelas, laporan kerja praktik/laporan praktikum, ujian praktik. b) Memperhatikan standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD). Standar kompetensi merupakan acuan/target utama yang harus dipenuhi atau yang harus diukur melalui setiap kompetensi dasar yang ada atau melalui gabungan kompetensi dasar. c) Menentukan jenis alat ukurnya, yaitu tes atau non-tes atau mempergunakan keduanya. Untuk penggunaan tes diperlukan penentuan materi penting sebagai pendukung kompetensi dasar. Syaratnya adalah materi yang diujikan harus mempertimbangkan urgensi (wajib dikuasai peserta didik), kontinuitas (merupakan materi lanjutan), relevansi (bermanfaat terhadap mata pelajaran lain), dan keterpakaian dalam kehidupan sehari-hari tinggi (UKRK). Langkah selanjutnya adalah menentukan jenis tes dengan menanyakan apakah materi tersebut tepat diujikan secara tertulis/lisan. Bila jawabannya tepat, maka materi yang bersangkutan tepat diujikan dengan bentuk soal apa, pilihan ganda atau uraian. Bila jawabannya tidak tepat, maka jenis tes yang tepat adalah tes perbuatan:

19

kinerja (performance), penugasan (project), hasil karya (product), atau lainnya. d) Menentukan Standar Nilai, karena dalam hal ini sangat menentukan terhadap hasil penilaian tes. Kelebihan tes praktik:
y

Tes perbuatan merupakan alat paling tepat untuk mengecek terbentuk atau tidaknya keterampilan yang dirumuskan dalam tujuan pembelajaran.

y

Tes perbuatan juga dapat membuat pergantian suasana sehingga kejenuhan dapat dikurangi atau dihilangkan.

Kelemahan tes praktik:
y y

Tidak semua bahan ajar dapat diungkap dalam tes perbuatan. Tes perbuatan juga membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang cukup banyak.

y

Peserta didik juga cenderung kikuk dalam praktik yang tidak terjadi dalam keadaan sebenarnya.

Format penilaian Dalam tes praktik, penilaian diberikan secara subjektif berdasarkan format penilaian yang diberikan guru. Penilaian bisa dari guru dan atau observer. Kriteria penilaian antara lain didasarkan pada:
y y y y

Ketrampilan peserta didik dalam mempraktekkan materi yang ditugaskan Penguasaan materi Pelafalan Dan lain-lain bergantung pada materi yang diberikan.

Contoh : Materi: Pasar Modal Standar Kompetensi : Mengenal Pasar Modal Kompetensi Dasar : Mengenal jenis produk dalam bursa efek Pada materi pasar modal, peserta didik dibagi dalam beberapa kelompok. Secara acak kelompok yang terpilih harus mempraktekkan atau mensimulasikan proses jual beli saham ( ada yang sebagai emiten, pialang, bank, pembeli, dsb). Kemudian kelompok yang lain bertugas sebagai observer.

20

BAB III PENUTUP

Kesimpulan Teknik tes adalah teknik evaluasi yang menggunakan tes sebagai instrument atau alat ukur evaluasi. Tes adalah seperangkat pertanyaan atau tugas yang diberikan kepada peserta didik untuk memperoleh informasi tentang kemampuan, penguasaan atau aspekaspek lain yang sejenis berdasarkan ketentuan yang benar. Penggunaan setiap jenis tes harus disesuaikan dengan kawasan (domain) perilaku siswa yang hendak diukur . Secara umum bila ditinjau dari cara pelaksanaannya tes dapat dibedakan menjadi 3, yaitu 1) tes tertulis, 2) tes lisan, 3) tes perbutan. Tes tertulis adalah suatu tes yang menuntut peserta didik memberikan jawaban secara tertulis. Tes tertulis dibagi menjadi 2 yaitu: 1) tes subjektif dan 2) tes objektif. Tes lisan adalah tes yang menuntut peserta didik memberikan jawaban secara lisan, tes lisan biasanya dilaksanakan dengan mengadakan percakapan antara peserta didik dengan pendidik. Sedangkan ter perbuatan atau praktik adalah tes yang menuntut peserta didik melakukan perbuatan, baik penampilan atau tindakan.

21

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->