P. 1
MAKALAH BIROKRASI

MAKALAH BIROKRASI

|Views: 932|Likes:
Published by ekaarinatha

More info:

Published by: ekaarinatha on Oct 24, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/08/2013

pdf

text

original

KEPUTUSAN PEJABAT BIROKRASI DAN DILEMA YURISDIKSI PERADILAN

Oleh: Eman Suparman1
I. PENDAHULUAN Dalam masyarakat awam terminologi birokrasi memiliki konotasi yang kurang baik. Istilah birokrasi acapkali dipahami sebagai prosedur kerja yang berbelit-belit, proses pelayanan yang lamban, mekanisme kerja yang tidak efektif dan efisien, serta sumber penyalahgunaan kedudukan dan wewenang. Moerdiono dalam tulisannya pernah mengemukakan bahwa (1993: 38), mempunyai konotasi netral untuk ”istilah birokrasi pada dasarnya

menunjukkan ciri-ciri suatu organisasi besar, [namun] telah salah kaprah dipahami sebagai sesuatu ukuran yang buruk, walaupun Max Weber, yang dipahami sebagai ayatullah-nya segala ulasan mengenai birokrasi, juga menunjukkan sisi positip birokrasi, namun sisi negatifnya lebih menonjol diingat orang bila mendengar istilah ini”. Berkembangnya kecenderungan anggapan masyarakat awam di Indonesia bahwa birokrasi itu berkonotasi buruk, boleh jadi turut ditumbuh-suburkan oleh tradisi penerapan birokrasi itu sendiri selama masa pemerintahan Orde Baru 1966-1998. “Ketika itu birokrasi telah mengalami pemekaran fungsi dan peranan, dari sekedar instrumen teknis yang bersifat administrasi, ia berubah menjadi mesin politik yang efektif dalam upaya rekayasa masyarakat” (Manuel Kasiepo, 1987: 23). Akibat yang tampak kemudian adalah semakin dominannya peran birokrasi dalam sistem politik orde baru. Agaknya warisan
1

Lektor pada Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung, sedang mengikuti program S3 (Angkatan V) pada PDIH Universitas Diponegoro, Semarang.

1

dari praktik itulah yang terus mewarnai kesan masyarakat hingga kini, meski rejim otoriter Orde Baru secara de facto telah berakhir. Sebagai salah satu instrumen di dalam praktik penyelenggaraan negara dan berbagai upaya pembangunan di dalamnya, birokrasi mempunyai peranan yang semakin penting di dalam masyarakat. Apalagi di Indonesia yang masyarakatnya sedang terus menerus melakukan perubahan melalui berbagai aktivitas positif yang konstruktif. Dalam kerangka masyarakat semacam itu telah semestinya birokrasi pemerintah ditata mendekati apa yang disebut dengan “tipe ideal birokrasi modern” sebagaimana diintroduksikan oleh Max Weber, yaitu legal dan rasional (Mochtar Mas’oed dan Colin MacAndrews, 1989:98-99). Menurut Max Weber, birokrasi yang bersifat legal-rasional haruslah memiliki karakteristik sebagai berikut: (1) pembagian kerja lebih jelas, (2) adanya hirarki wewenang, (3) pengaturan perilaku pemegang jabatan birokrasi, (4) impersonalitas hubungan, (5) kemampuan teknis, dan (6) karier. Jika dalam perkembangan masyarakat yang berangsur semakin maju birokrasi tidak diupayakan untuk mendekati typenya yang ideal, maka dikhawatirkan birokrasi akan semakin dirasakan sebagai instrumen penghambat pemenuhan kebutuhan pelayanan masyarakat. Hal itu disebabkan karena mekanisme proses yang terus menerus diupayakan oleh masyarakat itu sendiri telah menghasilkan perubahan taraf hidup dan kesejahteraan dalam bidang materiil yang tidak jarang diikuti pula oleh perubahan sikap dan perilakunya. II. BEBERAPA PENGERTIAN ISTILAH Birokrasi adalah: “Keseluruhan aparat pemerintah, sipil maupun militer yang melakukan tugas membantu pemerintah dan menerima gaji dari pemerintah karena statusnya itu” (Yahya Muhaimin, 1980:21). Moerdiono menggunakan istilah birokrasi pemerintahan, yang didefinisikannya sebagai

2

Pendapat tersebut dikemukakannya bukan tanpa alasan. Bila dikembalikan kepada konsepsi dasar tentang birokrasi dari Max Weber. tampak sekali perbedaannya. agaknya cara pandang Moerdiono tidak lepas dari atribut yang melekat dan dilekatkan pada dirinya. Yang pertama memasukkan unsur militer sebagai bagian dari birokrasi. walaupun Sebagai Tidaklah lazim. Dia instansi militer bukan membandingkan yang besar-besar. sebagai instansi birokrasi karena militer dengan organisasi instansi militer biasa bekerja secara operasional. bahwa satuan tempur atau satuan teritorial ukuran serta cakupannya juga bisa amat besar” (Moerdiono. disebut sebagai birokrasi. Untuk membuktikan seberapa jauh kebenaran pendapat Moerdiono militer itu bukan birokrasi disebabkan mereka bekerja tentang organisasi secara operasional. “birokratis”. seorang yang berlatar belakang militer. Tugas pokoknya adalah secara profesional menindaklanjuti keputusan politik yang telah diambil pemerintah” (1993:38). tidak kalah kenyalnya dibandingkan dengan organisasi militer (Moerdiono. tidak lazim disebut sebagai bahwa organisasi perusahaan swasta yang besar-besar itu “birokrasi”. baik di negeri kita maupun di negeri-negeri lainnya. 1993:39). Dalam pemahamannya. Hal itu disebabkan karena usaha-usaha swasta itu bekerja secara operasional. sehingga unsur militer tidak dimasukan sebagai bagian dari birokrasi. Mencermati dua definisi birokrasi yang dikutip dari dua tokoh di atas. 1993:39). Sedangkan definisi kedua secara tegas hanya menyebut jajaran eksekutif sipil.berikut: “Seluruh jajaran badan-badan eksekutif sipil yang dipimpin oleh pejabat pemerintah di bawah tingkat menteri. meski 3 . sehingga terbebas dari kesan instansi perusahaan swasta Menurut pendapatnya. tentu saja harus diuji oleh sebuah konsepsi yang ada. Hal itu birokrasi lazimnya kita pahami sejalan dengan konsep pemikiran Moerdiono dalam paparannya tersebut. yang antara lain menguraikan: “Istilah terbatas pada badan-badan eksekutif sipil.

Pos jabatan adalah lapangan kerjanya sendiri atau lapangan kerja pokoknya.dalam mengemukakan konsepsinya Weber tidak memakai istilah birokrasi. Terhadap ciri-ciri birokrasi Max Weber di atas. Mereka dipilih berdasarkan kualifikasi profesional. Mereka memiliki gaji dan biasanya juga ada hak-hak pensiun. 9. melainkan menamakannya dengan model “ideal type” dari tata hubungan organisasi yang rasional (Miftah Thoha. Gaji berjenjang menurut kedudukan dalam hirarki. 10. dan dalam keadaan-keadaan tertentu ia juga dapat diberhentikan. hanya menjalankan tugas-tugas impersonal mereka. Jabatan mungkin tidak sesuai baik dengan posnya maupun dengan sumber-sumber yang tersedia di pos tersebut. 4. Ia tunduk pada sistem disipliner dan kontrol yang seragam (Martin Albrow. Para pejabat diangkat berdasarkan suatu kontrak. 8. 3. Fungsi-fungsi jabatan ditentukan secara tegas. 7. 1987:72). Konsepsi Weber tentang “ideal type” itu memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1. 5. dan promosi dimungkinkan berdasarkan senioritas maupun keahlian (merit) dan menurut keunggulan (superioritas). 1989: 42-43). 2. 6. Para anggota staf secara pribadi bebas. Pejabat dapat selalu menempati posnya. Seperti halnya dilakukan Manuel Kasiepo yang memberi penafsiran atas birokrasi Weber tersebut dengan ciripertimbangan 4 . idealnya didasarkan suatu diploma (ijazah) yang diperoleh melalui suatu ujian. Ada hirarki jabatan yang jelas. ada pula kalangan yang memberi interpretasi lebih sederhana. Terdapat suatu struktur karir.

yang pada prinsipnya mereka menyatakan bahwa “tipe ideal” organisasi yang dikemukakan oleh Max Weber itu sukar dijumpai di dalam kenyataannya (Akhmad Setiawan. Pendapat demikian boleh jadi ada benarnya. Berdasarkan dua kelompok ciri-ciri birokrasi atau “ideal type” dari tata hubungan organisasi yang rasional di atas. 5 . militer juga harus netral keberadaannya karena posisinya dituntut harus berdiri di atas semua kepentingan dan golongan. Tidak kalah strategisnya juga adalah masalah rekruitmen kepegawaian yang harus didasarkan pada prinsip rasionalitas dengan mempertimbangkan keahlian dan kemampuan yang ditempuh melalui ujian atau pengalaman. dan (3) a-politik (Manuel Kasiepo. Memang banyak kritik yang dikemukakan terhadap organisasi birokrasi. Oleh karena itu agaknya tidak terdapat cukup alasan untuk menyatakan bahwa instansi militer bukan birokrasi. 1998 :143). akan tetapi ada beberapa prinsip pokok yang baik dan dapat meningkatkan kerja birokrasi tersebut. efektivitas. militer jelas terikat konstitusi dan aturan hukum. dalam arti pemberian pelayanan kepada masyarakat tanpa membedakan dan tanpa memperlihatkan pertimbangan pribadi. Persoalannya organisasi militer memenuhi hampir sebagian besar dari sepuluh ciri “ideal type” Weber di atas. Kesemuanya itu terletak pada suatu sistem administrasi negara modern sebagaimana dikemukakan oleh Max Weber. 1987: 23). Persoalannya berdasarkan interpretasi Manuel Kasiepo atas “ideal type” Weber. penulis sama sekali tidak sependapat dengan pandangan Moerdiono. Beberapa prinsip tersebut yaitu: efisiensi. (2) netral.ciri yang lebih sederhana yaitu: (1) terikat konstitusi dan aturan hukum. kecepatan dalam pelayanan. Konsekuensinya militer juga tidak berpolitik praktis dalam arti menjadi anggota suatu partai politik tertentu.

pendidikan. Yang termasuk dalam kategori ini. kecamatan. Sekolah (SDSLTA). Administrasi Negara itu sendiri meliputi tiga hal. menguraikan tiga kategori Birokrasi. Prajudi Atmosudirdjo. kabupaten. fungsi utamanya adalah “service”. yaitu unit organisasi yang pada hakikatnya merupakan bagian yang langsung berhubungan dengan masyarakat. Birokrasi Pemerintahan Umum. yaitu: (1) Sebagai aparatur negara. Transmigrasi. Koperasi. Hukum Administrasi Negara adalah: “Hukum mengenai Administrasi Negara. Hukum Administrasi Negara 6 . yaitu organisasi pemerintahan yang menjalankan salah satu bidang atau sektor yang khusus guna mencapai tujuan pembangunan. Dalam pengertiannya yang luas. Birokrasi Pelayanan. Untuk memahami pengertian Pejabat Birokrasi barang tentu tidak dapat dilepaskan dari konteks pemaparan mengenai pengertian Hukum Administrasi Negara. antara lain: Rumah Sakit. dan (3) sebagai proses teknis penyelenggaraan Undang-undang. Menurut S. dan desa). dan Hukum hasil ciptaan Administrasi Negara” (1995:43). Birokrasi Pembangunan. 1998: 145). Bank Rakyat Desa. seperti pertanian. kesehatan. Kedua.” Ketiga. atau sebagai institusi politik (kenegaraan). dari tingkat pusat sampai di daerah (propinsi. dan berbagai unit organisasi lainnya yang memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat atas nama pemerintah.Berdasarkan perbedaan tugas pokok atau misi yang mendasari suatu organisasi birokrasi. aparatur pemerintah. Fungsi pokoknya adalah “development function” atau “adaptive function. Tugas-tugas tersebut lebih bersifat mengatur. industri. (2) sebagai fungsi atau aktivitas melayani atau sebagai kegiatan pemerintah operasional. Syukur Abdullah (Akhmad Setiawan. yaitu rangkaian organisasi pemerintahan yang menjalankan tugas-tugas pemerintahan umum termasuk memelihara ketertiban dan keamanan. sebagai berikut: Kesatu.

Prajudi Atmosudirdjo. jurisdiction diartikan sebagai berikut: “…Jurisdiction. It is usually applied to courts and quasi-judicial bodies. faktual. Yaitu hukum mengenai surat menyurat. Adapun istilah “yurisdiksi” berasal dari kata Bahasa yurisdictio. a term for power or authority. In law. 1995: 76). rahasia dinas dan jabatan. describing the scope of their right to act. the term “jurisdiction” means its authority to declare and enforce the law…” (1997: 257-258). dan tindakan administratif.meliputi beberapa unsur. legalisasi. pencatatan sipil. dan penerbitan-penerbitan negara. manajerial. Prajudi Atmosudirdjo. registrasi. satu diantaranya adalah Hukum Tata Usaha Negara (HTUN). pelaporan. Di dalam “The Encyclopedia Americana”. yang bersifat organisasional. jurisdiction. informasional atau operasional. penerangan. …As applied in generally to a state or nation. kasual. teknis penyelenggaraan. Oleh karena itu secara singkat dapat pula disebut Hukum Birokrasi. Kata tersebut merupakan kata yang diadopsi dari Bahasa Latin 7 . dapatlah kiranya dirumuskan bahwa yang dimaksud dengan Pejabat Birokrasi adalah “aparatur negara yang menjalankan tugas administrasi melalui pengambilan keputusan-keputusan administratif (administratieve beschikking) yang bersifat individual. Prajudi Inggris Atmosudirdjo. (S. “Tata Usaha Negara (Bureaucracy) adalah keseluruhan usaha-usaha dan kegiatan-kegiatan ketatausahaan dalam dinas Administrasi Negara atau penyelenggaraan pemerintahan negara dengan jalan dan cara-cara rutin serta prosedur tertentu” (S. kearsipan dan dokumentasi. publikasi. Oleh karena itu keputusan maupun tindakannya dapat dilawan melalui berbagai bentuk peradilan administrasi negara"(S. Dalam kerangka pembahasan mengenai Hukum Administrasi Negara ini. 1995:44). dan statistik. tata cara penyusunan dan penyimpanan berita acara. 1995: 49).

baik yang tersangkut di dalamnya unsur asing bahwa membicarakan khususnya maupun nasional” (H. Tobing. yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata (Pasal 1 angka 3 UU Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara).Dapatlah dipahami bahwa yurisdiksi adalah kekuasaan atau kompetensi hukum negara terhadap orang. Sedangkan yurisdiksi pidana adalah kewenangan (hukum) pengadilan suatu negara terhadap perkara-perkara yang menyangkut kepidanaan. masalah kekuasaan dan kewenangan yang dimiliki oleh suatu badan peradilan atau badan-badan negara lainnya yang berdasarkan atas hukum. Problema yurisdiksi peradilan dalam arti dua lembaga pengadilan 8 . yang bersifat konkrit.A. dapatlah diketahui mengenai yurisdiksi bersangkut paut dengan masalah hukum. Adakalanya keputusan pejabat birokrasi atau keputusan Tata Usaha Negara (TUN) dalam beberapa hal memunculkan problema yurisdiksi peradilan. KEPUTUSAN PEJABAT BIROKRASI PERBUATAN HUKUM PERDATA YANG BERISI Keputusan Pejabat Birokrasi atau Keputusan Tata Usaha Negara adalah suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang berisi tindakan hukum Tata Usaha Negara berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. “Yurisdiksi perdata adalah kewenangan (hukum) pengadilan suatu negara terhadap perkara-perkara yang menyangkut keperdataan. Dari pengertian di atas. III. Yurisdiksi dapat dibedakan antara yurisdiksi perdata dan yurisdiksi pidana. 1991: 143-145). benda atau peristiwa (hukum). dan final. baik yang sifatnya nasional yaitu bila para pihak atau objek perkaranya melulu menyangkut nasional. individual. maupun yang bersifat internasional (perdata internasional) yaitu bila para pihak atau objek perkaranya menyangkut unsur asing.

2) Tindakan Hukum.dari lingkungan badan peradilan yang berbeda memiliki peluang dan kesempatan yang sama untuk memeriksa dan memutus satu sengketa tertentu. kemudian muncul sengketa dari padanya. Tindakan Hukum Sepihak dapat dibedakan lagi menjadi: 1) Tindakan Hukum bersifat Umum. dan (b) Tindakan Hukum banyak pihak. Badan peradilan manakah yang memiliki yurisdiksi (kewenangan) untuk mengadili sengketa itu? Apakah kewenangan dari Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) atau justeru menjadi kewenangan Peradilan Umum (Perdata)? Di atas telah dikemukakan bahwa Keputusan Pejabat Birokrasi adalah penetapan tertulis yang berisi tindakan hukum Tata Usaha Negara. Sengketa tersebut menimbulkan pertanyaan. 2) Tindakan Hukum Publik. 2) Tindakan Hukum bersifat Individual. (b) Tindakan Hukum Intern. Sementara itu tindakan pejabat birokrasi itu dapat berupa: 1) Tindakan Material. Tindakan Hukum dapat dibagi menjadi: (a) Tindakan Hukum Ekstern. Tindakan Hukum Publik dapat dibagi lagi menjadi: (a) Tindakan Hukum sepihak. Hal itu sangat mungkin terjadi manakala ada keputusan pejabat birokrasi yang mengandung perbuatan hukum perdata. 9 . Tindakan Hukum Ekstern dapat dibagi lagi menjadi: 1) Tindakan Hukum Privat. Tindakan Hukum yang bersifat Individual dapat dibedakan lagi menjadi: (a) Tindakan Hukum yang Abstrak.

Apabila fungsi yang dijalankan adalah urusan pemerintahan. Rumusan pasal 1 angka 2 Undang-undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara Nomor 5 Tahun 1986 menyiratkan bahwa yang dapat dikategorikan sebagai Pejabat Birokrasi/Pejabat Tata Usaha Negara adalah apa saja dan siapa saja berdasarkan peraturan perundang-undangan melaksanakan suatu bidang urusan pemerintahan. sepihak. 1991:94]. Dari bermacam-macam tindakan hukum yang dapat dilakukan oleh pejabat Birokrasi atau Badan Tata Usaha Negara di atas. Oleh karena itu suatu Badan Hukum Perdata. maka oleh Undang-Undang Peradilan Tata Usaha Negara dianggap sebagai Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara/Pejabat Birokrasi.(Irfan Fachruddin. individual. melainkan fungsi urusan pemerintahan. jika kepada Badan Hukum tersebut diserahi tugas menjalankan urusan pemerintahan (Indroharto. hanya tindakan hukum Tata Usaha Negara yang bersifat ekstern. yaitu “Keputusan Pejabat Birokrasi dan Dilema Yurisdiksi Peradilan”. apabila disengketakan akan termasuk dalam kewenangan badan Peradilan Umum. publik. Sedangkan tindakan-tindakan material dan tindakan hukum lainnya.(b) Tindakan Hukum yang Konkrit. 1991:64). 1994:144-145). Salah satu yang menjadi perhatian dalam penulisan makalah ini adalah sebagaimana tercantum pada judul tulisan ini. Tindakan yang demikianlah yang dimaksud sebagai Keputusan yang dapat disengketakan menurut Undang-Undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara (Peratun) [Indroharto. Sesuatu yang hendak dikaji lebih lanjut dari masalah tersebut adalah Keputusan-keputusan Pejabat 10 . misalnya Perseroan Terbatas atau Yayasan dapat dianggap sebagai Badan atau Pejabat Birokrasi. Dengan demikian yang menjadi patokan bukanlah kedudukan struktural pejabat atau organ yang bersangkutan dalam jajaran pemerintahan dan bukan pula nama resminya. dan konkrit saja yang dapat menjadi objek sengketa.

Hal itu disebabkan langsung maupun tidak langsung. maka ketika PT PLN sebagai Badan Birokrasi menerbitkan suatu Keputusan atau Penetapan tertulis. Oleh karena itu. Persoalan itulah yang dengan segala keterbatasan kemampuan penulis akan dicoba untuk ditelaah melalui makalah ini. “PT Listrik Negara (PT PLN) mengadakan perjanjian jual beli tenaga listrik dengan konsumennya. Apakah Keputusan tersebut suatu Penetapan (Beschikking) ataukah merupakan suatu tindakan hukum yang bersifat keperdataan. Sebagai satu contoh. kewajiban. IV. Apabila PT PLN keberadaannya tergolong sebagai Badan/Pejabat Birokrasi. yakni Hukum Tata Pengurusan Rumah Tangga Negara. PT PLN sebagai salah satu Badan Usaha Milik Negara dapat dikategorikan sebagai Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara/Birokrasi.Birokrasi manakah yang apabila disengketakan keabsahannya termasuk kompetensi Peradilan Tata Usaha Negara dan Keputusan-keputusan macam apakah yang jika disengketakan keabsahannya akan termasuk dalam kewenangan badan Peradilan Umum? Atau bahkan mungkin menjadi “dualitas yurisdiksi” disebabkan kedua badan peradilan yang berlainan itu sama-sama memiliki kewenangan untuk memeriksa. Prajudi Atmosudirdjo. meliputi keseluruhan urusan yang menjadi tugas. Di dalam perjanjian tersebut 11 . PT PLN sebagai Badan Hukum Perdata Milik Negara dalam melaksanakan tugas dan fungsinya melekat pula tugas-tugas dalam menjalankan urusan pemerintahan bidang energi kelistrikan. baik konsumen perorangan maupun badan hukum. baik yang intern maupun ekstern. mengadili dan memutus sengketa bersangkutan. BADAN USAHA MILIK NEGARA SEBAGAI LEMBAGA BIROKRASI Cakupan hukum Administrasi dalam arti sempit. perlu dikaji secara saksama. 1995: 44). dan fungsi negara sebagai badan organisasi juga sebagai suatu badan usaha (S. Umpamanya.

Paparan contoh PT PLN yang adalah BUMN sebagai Badan/Pejabat Birokrasi di atas. sedikit banyak usahanya bersifat pelayanan umum. ketika PT PLN mengeluarkan Surat Keputusan yang ditujukan terhadap konsumen untuk membayar tagihan susulan.dicantumkan berbagai ketentuan dan sanksi terhadap pelanggaran isi perjanjian. Sebagai Perusahaan Milik Negara yang bermisi pelayanan umum. Dari perumpamaan di atas. PT PLN mengemban tugas juga untuk menjalankan fungsi pemerintahan berupa pelayanan bidang ketenaga-listrikan. Apakah tindakan PT PLN di atas merupakan perbuatan yang bersifat keperdataan 12 . Akan tetapi satu hal yang tidak dapat dikesampingkan bahwa PT PLN Persero sebagai Badan Hukum Perdata Milik Negara dalam melakukan hubungan hukum dengan konsumen (para pemakai jasanya) lebih banyak didasarkan pada perjanjian-perjanjian yang tunduk pada aturan-aturan hukum perdata. dalam kasus pemutusan aliran listrik sebagai sanksi pelanggaran perjanjian. tampak bahwa PT PLN sebagai salah satu Badan Usaha Milik Negara yang modal seluruhnya atau sebagian dikuasai oleh Pemerintah. dimaksudkan untuk menunjukkan betapa tidak mudahnya di dalam praktik untuk menentukan batas-batas suatu perbuatan dari Pejabat Birokrasi apakah tergolong tindakannya dalam menjalankan fungsi pemerintahan atau justeru dalam rangka tindakan hukum keperdataan. oleh karena bentuknya adalah badan usaha apalagi sekarang merupakan PT Persero. maka Keputusan tersebut akan tergolong sebagai Keputusan dari Badan/Pejabat Birokrasi. Walaupun demikian. Umpamanya saja. maka tentu saja tujuan mencari untung juga merupakan target utama dari Perusahaan Milik Negara itu. Salah satu sanksi jika terjadi pelanggaran oleh konsumen adalah pemutusan aliran listrik disertai keputusan dari PT PLN bahwa konsumen harus membayar tagihan susulan”. Oleh karenanya pada saat PT PLN menerbitkan Keputusan.

namun jika ditelaah substansinya tidak sedikit yang tidak mudah menyelesaikannya. dan lain-lain itu dalam menjalankan fungsi pemerintahannya lebih banyak melakukan perbuatan-perbuatan hukum yang bersifat keperdataan (privaatrechtelijk). dan final. terdapat dua pandangan dengan pendekatan yang berlainan. PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom). walaupun penerbitan Keputusan Pejabat Birokrasi tersebut dilakukan dalam rangka perbuatan hukum keperdataan. Untuk menggolongkan Keputusan Pejabat Birokrasi sebagaimana dikemukakan di atas. Pendekatan Partial dan Tidak Integral. Bila ada sengketa yang muncul dari Keputusan semacam itu secara substansial memenuhi syarat untuk diajukan kepada Peradilan Tata Usaha Negara. Pandangan ini bertitik tolak dari penjelasan pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 13 . PT Kereta Api Indonesia (KAI). Terlebih lagi jika penerbitan Keputusan Pejabat Birokrasi itu memenuhi syarat substansial dari pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Pertama. yang menimbulkan akibat hukum…”. yaitu “…bersifat konkret. Kesulitan untuk membedakan antara perbuatan hukum perdata dengan perbuatan dalam rangka penyelenggaraan fungsi pemerintahan dirasakan lebih sulit lagi jika Keputusan Pejabat Birokrasi tersebut berasal dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN). individual. Persoalannya karena Pejabat Birokrasi pada BUMN semacam PT Listrik Negara (PLN). 1995: 135]. Pada sisi itulah kemudian muncul permasalahan yurisdiksi antara Peradilan Umum (yurisdiksi perdata) dengan Peradilan Tata Usaha Negara (yurisdiksi PTUN)” [Indriyanto Seno Adji. Pandangan-pandangan tersebut adalah sebagai berikut: (Indriyanto Seno Adji. 1995: 148-149).(privaatrechtelijk) ataukah dalam rangka menjalankan fungsi pemerintahan (publiekrechtelijk)? “Oleh karena itu meskipun dari sisi luar justeru menimbulkan persoalan-persoalan yuridis mungkin perbedaan itu tampak jelas.

Secara Partial.E. Algra et al.yang memberikan pengertian Penetapan Tertulis (dari Badan/Pejabat Birokrasi/Tata Usaha Negara) dengan tolok ukurnya pada Keputusan yang Individual mensyaratkan adanya sifat Individual. objek yang diputuskan berwujud dan dapat ditentukan). Berkaitan dengan pandangan yang pertama di atas. Atas ketentuan pasal tersebut. Jadi menurut pandangan yang pertama menjadi persoalan menyelenggarakan fungsi pemerintahan pada saat diterbitkan Keputusan itu berada dalam perbuatan Hukum Perdata maupun Hukum Publik. Konkret (maknanya. Konkret. (maksudnya tidak ditujukan untuk umum. Ostermann Arrest dari HR 1924 selengkapnya adalah sebagai berikut: 14 . tetapi tertentu baik alamat maupun hal yang dituju). 1977: 178). Keputusan Badan/Pejabat Birokrasi itu hanya dititikberatkan pada substansi Keputusan dengan sifat-sifat di atas. ada atau tidaknya perbuatan hukum perdata maupun hukum Badan/Pejabat ini. tidak Birokrasi Tidak Integral.. sudah definitif dan dapat menimbulkan akibat hukum). badan hukum publik tersebut dapat dipertanggungjawabkan untuk ganti rugi (N. telah dianggap bertindak melawan hukum dalam arti pasal 1401 Nederland Burgerlijk Wetboek (NBW) atau sama dengan pasal 1365 BW Indonesia. dan Final (berarti. Dari arrest tersebut akan diketahui adanya langkah atau perubahan yang besar yang dilakukan oleh Mahkamah Agung Negeri Belanda ketika itu. tanggal 20 November 1924. berikut ini akan dikemukakan sebuah Arrest Hoge Raad 1924 yang di Negeri Belanda dikenal dengan “Revolusi November” melalui “Ostermann Arrest”. maksudnya Keputusan itu telah melepaskan atau mengesampingkan publik (dari yang menyelenggarakan fungsi pemerintahan apakah Badan/Pejabat Birokrasi yang berkenaan dengan perbuatan hukum). dan Final. Hoge Raad telah menetapkan bahwa suatu badan hukum publik yang tidak menepati kewajiban hukum publiknya.

Algra et al. yang bertentangan dengan kewajiban hukum orang itu. dalam memenuhi tugas pemerintahannya harus menepati peraturan undang-undang dan apabila hal itu tidak dilakukannya.. Dengan demikian. Pendapat Pengadilan: Kewajiban (kalau pun ada) dari pegawai untuk memberikan ijin ekspor adalah merupakan suatu kewajiban hukum publik murni. ia juga telah melakukan perbuatan melawan hukum. sehingga Ostermann tidak dapat menarik perlindungan hukum dari kewajiban hukum publik itu berdasarkan pasal 1401 NBW (sama dengan pasal 1365 BW Indonesia). itu Juga badan hukum publik yang bertindak melalui bagian-bagiannya. tanpa mempedulikan apakah peraturan itu mempunyai sifat hukum privat atau hukum publik. Penolakan itu terjadi berdasarkan Beslit Raja (Koninklijk dapat Besluit) yang diambil beberapa hari sebelumnya. melainkan juga suatu perbuatan atau tidak berbuat. Pendapat Hoge Raad: Dengan perbuatan melawan hukum diartikan bukan hanya suatu perbuatan atau hal tidak berbuat yang melanggar hak seseorang. dimana tidak dikenal segala kewajiban hukum privat. tetapi pihak duane menolak memberikan ijin yang diperlukan untuk itu. sama seperti seorang warga negara yang melanggar undang-undang pidana. maka seseorang itu telah melakukan suatu perbuatan melawan hukum.“Pedagang Ostermann ketika Perang Dunia kesatu ingin mengekspor sejumlah margarine (mentega). yang keabsahannya dibantah oleh Ostermann. Oleh karena itu Ostermann tidak menjual menteganya ke luar negeri sehingga ia menderita rugi. 15 .E. Kemudian ia menuntut ganti rugi dari pemerintah melalui pengadilan. maka dengan pemerintahan itu tanpa apa-apa telah melakukan suatu perbuatan melawan hukum dan bertanggung jawab atas kerugian yang diakibatkannya” (N. Ostermann kemudian naik banding dan kemudian kasasi ke Hoge Raad. Tuntutan Ostermann dinyatakan tidak dapat diterima. yang melanggar suatu peraturan undang-undang. 1977:178).

sebenarnya telah dijawab oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 itu sendiri. menurut pandangan yang kedua.” Pasal di atas sesungguhnya telah merupakan rambu atau petunjuk yang amat jelas untuk membedakan antara Keputusan Pejabat Birokrasi yang diterbitkan dalam rangka menjalankan fungsi pemerintahan (publik) dengan yang diterbitkan dalam rangka melakukan perbuatan hukum perdata. adalah bahwa “Tidak selalu suatu Keputusan Badan/Pejabat Birokrasi. Kedua. Kesulitan menentukan apakah suatu keputusan Pejabat Birokrasi itu diterbitkan dalam rangka menyelenggarakan fungsi pemerintahan atau dalam rangka melakukan perbuatan hukum perdata. Pendekatan Tidak Partial dan Integral. yaitu perbuatan dari Badan/Pejabat Birokrasi dalam lingkup dan suasana privaatrechtelijk masuk ke dalam yurisdiksi Peradilan Tata Usaha Negara. meskipun bersifat Konkret. Di lain pihak bahkan dimungkinkan sebaliknya. Maksud dari pasal 2 huruf a di atas sebenarnya dalam rangka menghindarkan adanya suatu benturan yurisdiksi peradilan. tampak suatu indikasi adanya perluasan yurisdiksi Peradilan Umum (Perdata) dengan dimasukannya perbuatan yang bersifat publiekrechtelijk ke dalam lingkup yurisdiksi yang dalam peradilan umum.Mencermati Ostermann Arrest di atas. Individual. maka pemeriksaan sah atau tidaknya Keputusan Badan/Pejabat Birokrasi itu menjadi kewenangan dari Badan Peradilan Umum (Peradilan Perdata). Pasal 2 huruf a Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 menyatakan: “Tidak termasuk dalam pengertian Keputusan Tata Usaha Negara menurut Undang-Undang ini: (a) Keputusan Tata Usaha Negara yang merupakan perbuatan hukum perdata. Artinya apabila Badan/Pejabat Birokrasi menerbitkan suatu Keputusan dalam rangka menjalankan fungsi pemerintahan yang bersifat keperdataan. dan Final (sebagaimana disyaratkan oleh pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986). merupakan kewenangan Peradilan Tata Usaha Negara 16 . Atau dengan kalimat lain. yaitu pendekatan tidak partial dan integral.

Pemilik Café Uitkijk. Kemudian menjadi Unity of Jurisdiction yang dipusatkan di Mahkamah Agung. mengemukakan bahwa “Setiap Keputusan Badan/Pejabat Birokrasi yang berkenaan dengan perbuatan keperdataan menjadikan persoalan tersebut sebagai Dual Jurisdiction atau Dualitas dalam Yurisdiksi”. Maret 1913. Peradilan Tata Usaha Negara). yakni kasus Café Uitkijk. bahwa kerugian sebagai akibat pelaksanaan pekerjaan itu. berikut ini dikemukakan kasus yang berasal dari Amsterdam. Selanjutnya dikemukakan. Serupa dengan pandangan kedua di atas. Syarat tersebut diterima dengan tegas oleh NV HijSM. yang mengadili perkara-perkara dalam tingkat kasasi terhadap putusan terakhir. di wilayah Indonesia ini [diakui] adanya Dual Jurisdiction. Kotapraja mengadakan perjanjian bersyarat dengan NV Holandsche Ijzer en Spoorweg Maatschappij (HIjSM) untuk melakukan pekerjaan pembuatan Café Uitkijk. harus memperoleh ganti rugi. Oemar Seno Adji dalam bukunya (1980: 314). Sehubungan dengan yurisdiksi Peradilan Umum dan Peradilan Tata Usaha Negara ini. ternyata kemudian mengajukan gugatan terhadap NV HijSM karena ditemukan beberapa kekurangan dalam pekerjaan pembuatan Café tersebut. Kotapraja menentukan syarat. 1995: 136]. Tuntutan itu ditolak oleh tergugat (NV HijSM) dengan 17 . maka pemeriksaan terhadap keabsahan Keputusan Badan/Pejabat Birokrasi tersebut akan menjadi kewenangan badan Peradilan Umum (Perdata)” [Indriyanto Seno Adji. yaitu adanya Peradilan Umum (Perdata) dan Peradilan Administratif (sekarang. Oleh karena apabila Keputusan itu diterbitkan oleh Badan/Pejabat Birokrasi dalam rangka menyelenggarakan fungsi pemerintahan yang bercorak keperdataan. baik dari Peradilan Umum (Perdata) maupun Peradilan Tata Usaha Negara.untuk memeriksa dan memutus keabsahannya. Kasus posisinya sebagai berikut: “Pada bulan Maret 1913.

mengemukakan alasan bahwa tidak ada hubungan perjanjian berdasarkan hukum perdata antara ia (NV HijSM) dengan Kotapraja. yang juga lazim dinamakan Perancis. 1977: 174-175). Keadaan semacam itu terjadi antara lain karena Peradilan Umum (Perdata) dan Peradilan Tata Usaha Negara yang memiliki perbedaan kompetensi. sehingga tidak ada suatu janji untuk pihak ketiga yang berlaku. Mahkamah Agung Pengadilan Tertinggi merupakan Pengadilan Kasasi. “sistem kontinental” dan berasal dari sebagai Badan “Dalam sistem tersebut.. Pembelaan tergugat telah ditolak oleh Pengadilan.E. Pengadilan berpendapat memberikan ijin bahwa janji yang dibuat ketika itu adalah persetujuan menurut hukum privat. atau lembaga yang menyatukan kembali yurisdiksi sebab Indonesia mengakui adanya Dual Jurisdiction atau Dualitas Dalam Yurisdiksi. V. Algra et al. Mahkamah Agung Indonesia juga merupakan Unity of Jurisdiction. Di samping tugasnya di atas. Subekti. sehingga konkretnya ketentuan pasal 1353 NBW (pasal 1317 BW Indonesia) berlaku” (N. 1980: 1-2). Tugas Mahkamah Agung adalah membina keseragaman dalam penerapan hukum dan menjaga agar semua hukum dan undang-undang di seluruh wilayah negara diterapkan secara tepat dan adil”(R. 18 . Persoalan itulah yang dinamakan sebagai Dualitas Dalam Yurisdiksi. BEBERAPA KASUS YANG MENGINDIKASIKAN SIKAP MAHKAMAH AGUNG MEMBIARKAN DUALITAS YURISDIKSI Sebagaimana diketahui. namun sejajar dalam kesempatan untuk menilai keabsahan setiap Keputusan Badan/Pejabat Birokrasi yang berkenaan dengan perbuatan keperdataan. Peradilan di Indonesia menganut suatu sistem kasasi.

melalui putusannya Nomor 15K/TUN/1993 tanggal 28 Februari 1993 berpendapat bahwa “gugatan terhadap Surat Keputusan PLN tentang Tagihan Susulan OPAL itu menjadi kewenangan dari Peradilan Umum”. Terhadap temuannya itu. konsumen dengan PT PLN di dalam Kontrak Surat di Penyambungan Listrik tersebut.S.. Karlinah Palmini Achmad Soebroto. Pada tingkat Kasasi. Surat Tagihan Susulan OPAL itulah yang kemudian digugat oleh konsumen juga pada tingkat Mahkamah Agung yurisdiksi peradilan”. terhadap kasus tersebut Mahkamah Agung dengan Ketua Majelis Ny.Untuk mengetahui bagaimana sikap Mahkamah Agung di dalam praktiknya berupaya mempertautkan perbedaan kewenangan mengadili diantara dua badan peradilan yang berbeda tadi. pihak PLN berkesimpulan bahwa selama pelaksanaan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (Kontrak Sesuai Penyambungan Listrik) kesepakatan antara konsumen telah melanggar isi perjanjian. Hal itu dapat disimak dari bunyi pertimbangannya. PLN menemukan sejumlah kasus pelanggaran yang dilakukan oleh konsumen berupa segel rusak dan pemalsuan segel pada instalasi listrik di tempat konsumen. akibat adanya pelanggaran itu PT PLN menghentikan aliran listrik konsumen dengan disertai penerbitan Tagihan Susulan OPAL yang wajib dibayar lunas oleh konsumen. sebagai berikut: hadapan Peradilan Tata Usaha Negara. Kasus yang dipaparkan di atas terjadi antara PT Cahaya Kencana Sakti (konsumen-Penggugat) menggugat Perum Listrik Negara (Tergugat) karena PLN menerbitkan Surat Keputusan tentang Tagihan Susulan OPAL. Kasus gugatan tersebut akhirnya sampai dengan pandangan dualitas tentang 19 . berikut ini dipaparkan sebuah kasus menarik sebagai berikut: “Ketika PT PLN Persero melakukan Operasi Penertiban Aliran Listrik (OPAL).H.

03K/TUN/1993).6115/832/BIKEU/1991/M. Sebagai contoh pada kasus-kasus berikut ini: Combo Fast Food (Putusan No. Melalui Putusan Mahkamah Agung Nomor 14K/TUN/1993 tanggal 30 Juli 1994 dengan Ketua Majelis Soerjono. pada kasus yang berikutnya antara PT Pluit Plastik Industries (Penggugat) yang menggugat Perum Listrik Negara (Tergugat) juga berkenaan dengan penerbitan Surat Keputusan PLN tentang Tagihan Susulan OPAL. Mahkamah Agung berpendapat lain. PT Elsar Utama (Putusan No. PT Inti Sarana Aksara (Putusan No.. 65K/TUN/1992). 63K/TUN/1992). Mahkamah Agung telah menolak permohonan kasasi dari Perum Listrik Negara tentang kewenangan Peradilan Umum (Perdata) untuk memeriksa sengketa keabsahan Surat Tagihan Susulan OPAL. No. karena objek sengketa adalah surat-surat No..H. 1995: 139]. 20 . dan No. Sikap Mahkamah Agung yang tertuang pada putusan MA No. PT Star Impactama Indah (Putusan No. 4068/832/BIKEU/1991/M. Berbeda dengan penanganan kasus sebelumnya. 1995: 138-139). ternyata terus berlanjut pada penanganan kasus-kasus berikutnya. PT Dharma Bumi Agricultural Enterprise (Putusan No. yang adalah wewenang Peradilan Umum” (Indriyanto Seno Adji. perihal Tagihan Susulan OPAL yang ditentukan kepada Penggugat sebagai pelanggan dari Pemohon Kasasi atas dasar jual beli menurut Perjanjian Tenaga Listrik bukti T-1 No.“Bahwa keberatan ini dapat dibenarkan. 14K/TUN/1993 tanggal 30 Juli 1994 di atas. Bahwa masalah yang timbul dari perjanjian penyambungan listrik merupakan masalah Perdata. 01K/TUN/1993).4894/832/BIKEU/1991/M.PJN/186/DISJAYA/845. PT Bina Cipta Sakti Permai (Putusan No. Sebaliknya Mahkamah Agung berpendapat bahwa gugatan PT Pluit Plastik Industries terhadap PLN atas penerbitan Surat Keputusan PLN tentang Tagihan Susulan OPAL menjadi kewenangan dari Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN).S. 15K/TUN/1992). 30K/TUN/1993) [Indriyanto Seno Adji.

antara lain kasus PT Pluit Plastik Industries (Putusan No. yakni menunjuk Peradilan Tata Usaha Negara sebagai peradilan yang memiliki kewenangan.Untuk kasus-kasus tersebut di atas. “Maksud pandangan kedua adalah apabila Keputusan yang diterbitkan itu berada pada saat Badan/Pejabat Birokrasi menyelenggarakan fungsi pemerintahan berkenaan dengan perbuatan yang bersifat keperdataan. Corak dari pandangan kedua itu adalah fungsi pemerintahan yang diselengarakan oleh Badan/Pejabat Birokrasi dengan merelevansikan adanya perbuatan hukum perdata (ataupun Hukum Publik). bahwa Peradilan Tata Usaha Negara-lah yang memiliki yurisdiksi untuk memeriksa dan memutus sengketa keabsahan Surat Keputusan Tagihan Susulan OPAL. Agaknya dalam kasus-kasus dengan asas kebebasan berkontraknya” (Indriyanto 21 . Pada kasus antara PT Cahaya Kencana Sakti lawan PLN (Putusan No. 1995: 150). Mahkamah Agung memutuskan bahwa Peradilan Umum (Perdata) yang memiliki kewenangan untuk memeriksa dan memutus sengketa keabsahan Surat Keputusan Tagihan Susulan OPAL. Sedangkan pada penanganan kasus-kasus berikutnya. tetapi putusannya akhirnya ternyata berbeda. tampaklah bagaimana sikap Mahkamah Agung di dalam memberikan pertim bangan putusan atas kasus yang objek sengketanya sama. Mahkamah Agung justeru berpendapat lain. yaitu adanya hubungan kontraktual Seno Adji. Untuk kasus itu tampak sikap Mahkamah Agung condong ke arah pandangan kedua yakni tidak partial dan integral. Dalam menangani kasus-kasus yang disebut terakhir Mahkamah Agung rupanya lebih condong ke arah pandangan pertama yakni partial dan tidak integral. Dari dua kelompok putusan Mahkamah Agung yang berlainan di atas. menurut Mahkamah Agung dalam putusan-putusannya.15K/TUN/1993).14K/TUN/1993). maka karenanya tunduk dan terikat dalam suasana Hukum Perdata.

berikutnya Mahkamah Agung dalam memberikan pertimbangan putusannya lebih bertitik tolak pada segi substansi Keputusan. Hal ini boleh jadi karena masyarakat diberi pengalaman yang kurang baik berkaitan dengan istilah tersebut pada masa yang lalu. dengan adanya Peradilan Tata Usaha Negara. berikut ini dapat dikemukakan bebarapa butir kesimpulan sebagai berikut: Pertama. Akan tetapi dalam kapasitasnya sebagai pengemban fungsi pemerintahan. Bahkan dimungkinkan sebaliknya. 22 . Di dalam masyarakat kebanyakan di Indonesia. VI. Dari sikap semacam itu tampak suatu indikasi adanya extensi (perluasan) yurisdiksi Peradilan Umum (Perdata) masuk dalam lingkupnya perbuatan yang bersifat publik. karena PT PLN sebagai Badan Usaha juga mengemban fungsi pemerintahan. Dalam makalah ini yang dimaksud dengan Keputusan Badan/Pejabat Birokrasi dibatasi semata-mata pada Keputusan yang dikaji saja. yaitu Keputusan Pejabat PT Perusahaan Listrik Negara sebagai Badan Hukum Perdata Milik Negara. PT PLN juga melakukan misi pelayanan kepada masyarakat dalam bidang tenaga listrik dengan melakukan perjanjianperjanjian dengan para konsumennya yang tunduk pada aturan-aturan hukum perdata. Keputusan tersebut dikategorikan sebagai Keputusan Badan/Pejabat Birokrasi. istilah birokrasi sampai saat makalah ini disusun masih saja memiliki konotasi yang kurang baik. Istilah Birokrasi selalu dihubung-hubungkan dengan berbagai prosedur dan liku-liku proses yang menyulitkan masyarakat. PENUTUP Sebagai penutup dari paparan di atas. maka perbuatan dari Badan/Pejabat Birokrasi dalam lingkup dan suasana yang bersifat keperdataan masuk dalam yurisdiksi Peradilan Tata Usaha Negara. Kedua.

karenanya dituntut kemampuan yang memadai dari para Hakim Agung untuk dapat memisahkan secara tegas antara perbuatan yang bernuansa keperdataan dengan yang bernuansa publik. Surat Tagihan Susulan OPAL yang dikeluarkan PT PLN tentu tergolong Surat Keputusan Badan/Pejabat Birokrasi. Keempat. namun untuk memeriksa keabsahan Surat tersebut timbul permasalahan yurisdiksi antara Peradilan Umum (Perdata) dengan Peradilan Tata Usaha Negara. Hal itu tampak jelas sekali dari yurisprudensi-yurisprudensinya dalam memeriksa sengketa keabsahan Surat Keputusan tentang Tagihan Susulan OPAL. Walaupun substansi Surat Tagihan itu memiliki sifat keperdataan. Rupanya harus diakui bahwa di dalam praktik tidak selalu mudah untuk menyelesaikan permasalahan yurisdiksi.*** 23 . karena berkaitan dengan pelanggaran perjanjian yang dilakukan oleh konsumennya. Mahkamah Agung sebagai lembaga peradilan tertinggi yang mengemban tugas membina keseragaman dalam penerapan hukum di Indonesia. ternyata menganut dualisme pandangan dalam masalah tersebut di atas.Ketiga.

“Beberapa Segi Birokrasi di Indonesia”. 1989. ALGRA. Juni 1992. SENO ADJI. Bandung: Bina Cipta. Indriyanto. 1989.E. dalam Jurnal Ilmu Politik Nomor 2. Prajudi. Yogyakarta: Tiara Wacana. Irfan. FACHRUDDIN. Usaha Memahami Undang-Undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Manuel. Birokrasi (alih bahasa: M. “Kedudukan Notaris dan Akta-Aktanya dalam Sengketa Tata Usaha Negara”. et all. N. Oemar. 24 . “Mencari Model Birokrasi Indonesia”. Rusli Karim & Totok Daryanti). dalam Varia Peradilan Tahun VII Nomor 81. Jakarta: Penerbit Erlangga. S. Peradilan Bebas Negara Hukum. MUHAIMIN. 1987. Perbandingan Sistem Politik. Jakarta: Ghalia Indonesia. dalam Prisma Nomor 10. 1995. MAS’OED. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. ATMOSUDIRDJO. Desember 1994. Jakarta: Gramedia.DAFTAR BACAAN ALBROW. Yahya. Mochtar & Colin Mac Andrew. “Problema Yurisdiksi Peradilan terhadap Keputusan Tata Usaha Negara yang berisi Perbuatan Hukum Perdata”. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan 1993. 1991. dalam Birokrasi dan Administrasi Pembangunan.111. MOERDIONO. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. “Dari Kepolitikan ke Korporatisme Negara: Birokrasi dan Politik di Indonesia Era Orde Baru”. Mula Hukum. KASIEPO. INDROHARTO. Martin. 1980. dalam Varia Peradilan Tahun X No.. SENO ADJI. 1983. Oktober 1980. Hukum Administrasi Negara.

TOBING.. Aspek-Aspek Negara Dalam Hukum Internasional. SUBEKTI. SETIAWAN.SENO ADJI.A. 1987. Dimensi-dimensi Prima Ilmu Ilmu Administrasi Negara (Jilid II). 25 . Maret 1995.“Mahkamah Agung dan Problema Dualitas Yurisdiksi”. 1980. Perilaku Birokrasi dalam Pengaruh Paham Kekuasaan Jawa. Miftah. H. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. R. Jakarta: Rajawali Pers. 1998.I. THOHA. Bandung: Alumni. dalam Varia Peradilan Tahun X Nomor 114. 1991. Kekuasaan Mahkamah Agung R. Jakarta: Rajawali Pers.. Perspektif Perilaku Birokrasi. Indriyanto. Akhmad.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->