Artikel

- Kebijakan Penanggulangan Kebakaran

MENCERMATI STANDAR PENGAMANAN GEDUNG UNTUK ANTISIPASI BAHAYA KEBAKARAN
Walaupun tidak dikehendaki, peristiwa kebakaran pada suatu bangunan masih sering terjadi. Bahkan ada juga yang menyebabkan nyawa melayang, selain kerugian material yang kadang tak sedikit jumlahnya. Seperti yang terjadi baru-baru ini di kota Solo, yakni terbakarnya pertokoan di Jalan Gatot Subroto dan Gudang Batik Semar serta terbakarnya Pasar Wonogiri. Kedua kejadian terakhir bahkan menyebabkan kerugian mencapai milyaran rupiah. Kemudian kejadian kebakaran yang baru-baru ini terjadi di Pasar Taman Puring dan Gedung B3 lantai 2 Pasar Senen Jakarta. Terbakarnya fasilitas umum pasar tersebut akan menyebabkan terganggunya roda perekonomian para pedagang yang tidak sedikit jumlahnya. Apalagi pengalaman tahuntahun sebelumnya dimana kebakaran telah meluluhlantakkan tidak hanya bangunanbangunan pribadi tapi juga bangunan kantor-kantor fasilitas umum, yang tidak hanya melumat arsip-arsip dan dokumen-dokumen penting tapi juga memunculkan

permasalahan pada bangunan itu sendiri. Bila bangunan tidak roboh, maka kekuatannya akan mengalami degradasi yang cukup besar sehingga tidak dapat lagi berfungsi sebagai mana mestinya dan untuk mengembalikan fungsinya seperti semula diperlukan bangunan baru atau dilakukan rehabilitasi, yang tentunya akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kendala umum yang sering muncul pada setiap terjadinya kebakaran pada bangunan adalah upaya-upaya penanganan kebakaran yang pada kasus-kasus tertentu banyak mengalami kesulitan di lapangan seperti upaya penyelamatan jiwa (evakuasi manusia), barang dan proses pemadaman kebakarannya. Kendala proses pemadaman

1

penyediaan hidrant/tabung pemadam kebakaran. walaupun di lokasi yang mudah dijangkau unit pemadam kebakaran. menyebabkan tidak dapat menjangkau lokasi kebakaran yang cukup rumit dan tinggi. juga karena tidak tersedianya fasilitas-fasilitas pemadam kebakaran pada bangunan dan respon dari unit pemadam kebakaran yang terkadang terlambat dikarenakan jarak dan kemacetan lalu lintas yang mengganggu untuk secepatnya mencapai lokasi kebakaran. Sistem pencegahan aktif merupakan upaya pencegahan terjadinya kebakaran secara dini dari dalam bangunan itu sendiri. dan sebagainya. dimana kebakaran sudah sulit dipadamkan dalam waktu kurang lebih 8 menit. Lokasi kebakaran di tengah perumahan padat dengan jalan yang sempit akan menyulitkan upaya pemadaman. Padahal terkadang karena situasi lingkungan bangunan dan barang yang mudah terjilat api sehingga tercapai dengan cepat kondisi flashover.Artikel . yang diusahakan sendiri oleh pemilik gedung. Apalagi untuk bangunan yang cukup kompleks dan bertingkat. jenis dan kompleksifitas bangunan itu sendiri. tapi karena keterbatasan peralatan pemadam kebakaran. Sedangkan sistem pencegahan pasif misalnya melalui usaha pemilihan bahan 2 . yang diantaranya adalah dengan memasang peralatan detektor kebakaran pada titik-titik strategis. aktifPencegahan aktif-pasif Sehingga perlu diupayakan kebijakan guna mempencegahan sedini mungkin kebakaran yang timbul. Mobilitas unit pemadam kebakaran sangat bergantung sekali pada akses ke lokasi kebakaran. pemasangan sprinkle. Secara umum dalam upaya pencegahan terjadinya kebakaran pada bangunan terbagi atas sistem pencegahan aktif dan sistem pencegahan pasif. selain jumlah air yang terbatas di lingkungan lokasi kebakaran.Kebijakan Penanggulangan Kebakaran kebakaran.

Alarm tanda terjadinya kebakaran. perkantoran. desain tapak bangunan yang memudahkan akses pemadaman kebakaran dan sebagainya. Tidak semua bangunan terutama untuk fasilitas umum. sehingga pada saat api sudah membakar ruangan/barang belum menyadari kalau telah terjadi kebakaran. pembatasan penyebaran dan besarnya api. Apalagi bila kondisi ruangan kosong atau berupa gudang yang terkunci dan penjaga berada saat itu di luar bangunan. menyerupai 3 . Padahal sistem deteksi awal terjadinya kebakaran ini akan sangat membantu untuk kepentingan evakuasi dan penyelamatan manusia dan barang serta upaya pencegahan kebakaran yang semakin meluas. pasar dan sebagainya sudah dilengkapi dengan sistem detektor kebakaran. pengaturan dan jarak ruangan. Karena penyebaran asap umumnya vertikal ke atas. akan segera berbunyi bila terjadi kebakaran.Kebijakan Penanggulangan Kebakaran bangunan yang lebih tahan terhadap api. perlindungan terhadap bangunan di sekitarnya dan keselamatan pada saat pemadaman kebakaran. Pemasangan detektor dan peralatan pemadaman kebakaran merupakan salah satu upaya aktif agar bangunan tersebut mampu melakukan swalindung (self protective). Sistem proteksi pasif ini harus mampu mendukung bekerjanya sistem proteksi aktif. kompartemenisasi. Kebakaran terkadang baru diketahui setelah api menjalar semakin besar. sehingga upaya lokalisasi dan pemadaman juga dapat segera dilakukan sebelum api menjadi besar dan menjalar ke lain ruangan. penyelamatan dan evakuasi manusia dan barang secara aman. Pembuatan tangga-tangga darurat dan balkon-balkon pada bangunan bertingkat juga akan memudahkan proses evakuasi pada saat terjadi kebakaran. Tangga-tangga darurat sebaiknya dibuat di sisi luar bangunan sehingga kemungkinan terhambat asap akan dapat dihindari.Artikel . yang biasanya berupa detektor asap.

yang berupa ruangan-ruangan khusus tempat berlindung sementara dan evakuasi manusia bila terjadi kebakaran. yang meliputi pengelolaan 4 . Sehingga diharapkan seorang arsitek harus memikirkan bahwa pencegahan bangunan terhadap bahaya kebakaran juga termasuk unsur pengamanan dalam dan luar lingkungan bangunan. perencana.Kebijakan Penanggulangan Kebakaran efek cerobong (stack effect). maka diperlukan suatu kebijakan-kebijakan yang dapat mengikat seluruh pihak baik pemilik bangunan. Bahkan bagi kota-kota besar yang memiliki gedung-gedung pencakar langit sudah mensyaratkan dibuatnya kompartemen-kompartemen pada lantai-lantai tertentu. lokasi hidrant beserta pompanya dan sebagainya. pengguna dan pemerintah selaku pembuat peraturan. Perencanaan tapak bangunan juga ikut menentukan kemudahan-kemudahan dalam menanggulangi terjadinya kebakaran. Manajemen pengamanan kebakaran Dari beberapa upaya di atas. jalur pencapaian dan manuver mobil pemadam kebakaran.Artikel . sistem jaringan pipa. Kompartemen ini khusus dirancang agar tahan terhadap api dan memudahkan akses untuk melakukan evakuasi. Perancang bangunan (arsitek) perlu memperhatikan jarak-jarak bangunan. Masyarakat juga memiliki hak untuk menuntut langkah-langkah pengamanan dan penanggulangan terjadinya bahaya kebakaran. Dengan dibantu oleh ahli mekanikal dan elektrikal serta utilitas dapat pula dihitung besar kebutuhan pompa. sprinkle dan penempatan detektor-detektor api pada lokasi yang strategis. Oleh karenanya pemerintah mempunyai peran strategis untuk memfasilitasi suatu sistem manajemn pengamanan kebakaran (fire safety management). Dari data statistik di Amerika Serikat menyebutkan bahwa 74% dari korban meninggal pada kebakaran bangunan diakibatkan terhirupnya asap yang berlebihan.

Peralatan instalasi kebakaran tidak sama dengan instalasi utilitas lainnya seperti instalasi penyejuk udara (AC).Kebijakan Penanggulangan Kebakaran dan pengendalian manusia. melakukan safety audit dan safety work pada bangunan-bangunan bertingkat dan fasilitas umum atau bangunan-bangunan khusus. seperti gudang. Tidak ada waktu lagi untuk memperbaiki atau mengganti bagian yang mengalami kerusakan. pembentukan regu-regu pemadam kebakaran yang profesional. Pemerintah melalui Departemen Pekerjaan Umum pada tahun 1987 sebenarnya telah mengeluarkan standar pengamanan kebakaran. peralatan harus siap bekerja bila terjadi kebakaran dan dapat digunakan untuk memadamkannya dengan cepat. Tapi untuk instalasi kebakaran. terkadang perawatan dan pemeliharaannya masih kurang begitu diperhatikan. sistem manajemen pengamanan kebakaran harus mampu menggugah kesadaran pemilik bangunan untuk melengkapi dengan perlengkapan pencegahan aktif dan pasif terhadap bahaya kebakaran sesuai spesifikasi bangunannya. Jadi perlengkapan instalasi kebakaran harus siap setiap saat. peralatan tersebut tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya.Artikel . Hal ini dapat dijabarkan lagi menjadi upaya-upaya pemerintah dalam melakukan inspeksi dan pemeliharaan sarana dan prasaran penanggulangan kebakaran. namun dalam pelaksanaannya masih 5 . bengkel kerja dan sebagainya. informasi. pelatihan evakuasi dan petunjuk menghadapi keadaan darurat saat kebakaran. Karena bila instalasi AC rusak maka aktifitas masih tetap bisa berlangsung sambil menunggu perbaikan. Sehingga bila suatu saat terjadi kebakaran. Dalam pelaksanaan. organisasi dan peralatan. air bersih dan sebagainya yang bekerja secara rutin. Dan walaupun sudah ada. sehingga perawatan dan pemeliharaan harus rutin dilakukan.

Karena bagaimanapun kebakaran tidak diharapkan terjadi.Artikel . Alamat : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik UNS. Ir. Misalnya. untuk mendapatkan ijin mendirikan bangunan (IMB) juga perlu dievaluasi sistem pencegahan dan pengamanan bangunan terhadap bahaya kebakaran yang akan digunakan. tapi bukan berarti mengabaikan tindakan pencegahan dan penanggulannya. sudah saatnya pada era otonomi ini dilakukan evaluasi oleh pemerintah khususnya pemerinta daerah untuk membuat kebijakan penanggulangan kebakaran beserta petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknisnya yang dapat mengikat semua pihak untuk melaksanakannya. Sutami 36 A Surakarta 57126 6 . *** 270602 *** Penulis : Achmad Basuki Dosen Teknik Sipil FT Universitas Sebelas Maret. Jl. Oleh karena itu. Sedangkan untuk gedung-gedung swasta masih bersifat sukarela dan tergantung pada pemiliknya.Kebijakan Penanggulangan Kebakaran sebatas pada gedung-gedung pemerintah yang sebagian mencantumkan masalah pengamanan kebakaran pada kontrak perencanaan dan pelaksanaannya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful