P. 1
makalah kimia korosi

makalah kimia korosi

4.0

|Views: 17,872|Likes:

More info:

Published by: Vinsensius Viktor Limas on Oct 25, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/18/2013

pdf

text

original

Korosi Besi

Diajukan untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia semester ganjil

Disusun Oleh :

1. Anton Halit 2. Cindy Natalia 3. Fransiska Kovinna 4. Melisa Octavia 5. Vinsensius Viktor L. 6. Wandi Wijaya

(8) (12) (21) (34) (43) (45)

SMA XAVERIUS 1 PALEMBANG

2009/2010

Kata Pengantar
Terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat-Nya selama pembuatan tugas ini sehingga dapat selesai tepat pada waktunya. Adapun mata pelajaran yang menjadi dasar penulisan ini adalah Kimia. Dalam makalah ini, kami membahas seputar tentang korosi. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada ibu guru yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk menyelesaikan tugas ini. Kami mengerjakan tugas ini dengan sebaik-baiknya, meskipun masih terdapat beberapa kekurangan karena keterbatasan kemampuan kami dan juga terbatasnya waktu yang ibu berikan. Atas keterbatasan kami inilah, kritik dan saran yang membangun akan sangat kami harapkan, guna menyempurnakan tugas-tugas lainnya kelak. Terakhir, ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam proses pembuatan karya ilmiah ini. Semoga makalah ini dapat berguna dan bermutu, serta dapat menjadi salah satu bekal atau pengalaman bagi kami untuk menjadi lebih baik lagi.

Palembang, November 2009

Penulis

ii

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ………………………………………………………………….. i KATA PENGANTAR …………………………………………………………….…. . ii DAFTAR ISI ………………….…………….………………………………………… iii BAB I PENDAHULUAN ……………..…………………………………………….... 1

1.1. Latar Belakang ……....………….…………………………………….…… 1.2. Rumusan Masalah ………..…………………………………………...….... 1.3. Tujuan Penelitian ……………...………………...……………….………… 1.4. Manfaat Penelitian ……………...…………………………………………..
1.5. Hipotesis …………………………………………………………………….

1 1 2 2 2

1.6. Pelaksanaan Kegiatan ……………………………………………………….. 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA …..…………………………………………………... 4 BAB III METODE PERCOBAAN…………………………………………………….. 10 BAB IV HASIL PENGAMATAN…….……………………………............................ 13 BAB V PEMBAHASAN ……………………………………………………………… 16 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ……………………………………………….. 20 4.1. Kesimpulan …..…..…………………………………………………............... 20 4.2. Saran ...…...…………………………………………………........................... 20 LAMPIRAN ……………………………………………………………………………. 21 DAFTAR PUSTAKA …..…………………………………………………................... 23

iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Pendahuluan 1.1.1. Latar Belakang Korosi merupakan proses degradasi, deteorisasi, pengrusakan material yang disebabkan oleh pengaruh lingkungan sekelilingnya. Adapun prosesnya yakni merupakan reaksi redoks antara suatu logam dengan berbagai zat di sekelilingnya tersebut. Dalam bahasa sehari-hari korosi disebut dengan perkaratan. Kata korosi berasal dari bahasa latin “corrodere” yang artinya pengrusakan logam atau perkaratan. Jadi jelas korosi dikenal sangat merugikan. Korosi merupakan sistem termodinamika logam dengan lingkungannya, yang berusaha untuk mencapai kesetimbangan. Sistem ini dikatakan setimbang bila logam telah membentuk oksida atau senyawa kimia lain yang lebih stabil. Pencegahan korosi merupakan salah satu masalah penting dalam ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Besi adalah salah satu dari banyak jenis logam yang penggunaannya sangat luas dalam kehidupan sehari-hari. Namun kekurangan dari besi ini adalah sifatnya yang sangat mudah mengalami korosi. Padahal besi yang telah mengalami korosi akan kehilangan nilai jual da fungsi komersialnya. Ini tentu saja akan merugikan sekaligus membahayakan. Berdasarkan dari asumsi tersebut, percobaan ini difokuskan dalam upaya pencegahan terjadinya peristiwa korosi ini khususnya pada besi. Selain itu pada percobaan ini akan diketahui logam-logam apa sajakah yang dapat menghambat terjadinya korosi sesuai dengan sifat-sifat kimianya.
1.1.2. Rumusan Masalah

1. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi korosi? 2. Bagaimana pengaruh logam lain pada korosi besi? 3. Logam apa yang dapat meningkatkan dan menghambat korosi? 4. Bagaimana pengaruh pH larutan terhadap korosi besi? 1.1.3. Tujuan Penelitian
1

1. Unuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi korosi besi

2. Untuk mengetahui pengaruh logam lain pada korosi besi 3. Untuk mengetahui logam yang meningkatkan korosi dan yang menghambat korosi. 4. Untuk mengetahui pengaruh pH larutan terhadap korosi besi 1.1.4. Manfaat Penelitian 1. Dapat menentukan berbagai sifat korosi dari logam seperti Mg, Zn, Sn, dan Cu terhadap besi, sehingga dapat diketahui logam mana yang mampu melindungi besi dari perkaratan dan lgam mana yang mempercepat korosi besi. 2. Dapat menghindari terjadinya pengkaratan pada logam dalam kehidupan sehari-hari
3. Sangat berguna dalam bidang komersial untuk mempertinggi nilai jual dari

besi 4. Menjadi lebih mahir dalam menggunakan alat-alat laboratorium. 1.1.5. Hipotesis 1. Korosi Besi Korosi yang paling cepat terjadi pada tabung ke 1 karena air suling melibatkan pengaruh air dan oksigen secara bersamaan.
2. Pengaruh Logam Lain terhadap Korosi Besi

Logam Mg paling efektif untuk melapisi besi karena potensial sel nya paling negatif (oksidasi) diantara 3 logam lainnya 3. Pengaruh Sifat Larutan (pH) terhadap Korosi Besi Larutan asam cuka mempercepat korosi besi karena bersifat asam.

3.1.6. Pelaksanaan Penelitian 1. Korosi Besi
2

1. Hari, Tanggal Penelitian: Selasa, 20 Oktober 2009 2. Tempat Penelitian 3. Waktu Penelitian 4. Acara : SMA Xaverius 1, Palembang : Jam Pelajaran Kimia : Praktikum

2. Pengaruh Logam Lain terhadap Korosi Besi 1. Hari, Tanggal Penelitian: Rabu, 21 Oktober 2009 2. Tempat Penelitian 3. Waktu Penelitian 4. Acara : SMA Xaverius 1, Palembang : Jam Pelajaran Kimia : Praktikum

3. Pengaruh Sifat Larutan (pH) terhadap Korosi Besi 1. Hari, Tanggal Penelitian: Kamis, 26 Oktober 2009 2. Tempat Penelitian 3. Waktu Penelitian 4. Acara : Rumah Wandi : Pulang Sekolah : Praktikum

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
3

Korosi adalah reaksi redoks antara suatu logam dengan berbagai zat di lingkungannya yang menghasilkan senyawa-senyawa yang tak dikehendaki. Dalam bahasa sehari-hari, korosi disebut perkaratan. Contoh korosi yang paling lazim adalah perkaratan besi.Pada peristiwa korosi, logam mengalami oksidasi, sedangkan oksigen (udara) mengalami reduksi Sejak logam dibandingkan dengan yang bukan logam, seperti keramik, plastik, karet, beton, dan lain - lain yang mempunyai hantaran elektrik yang tinggi, korosi biasanya disebabkan oleh sifat elektrokimia. Pada kasus non logam yang tidak mempunyai konduktifitas elektris, korosinya disebabkan oleh bahan – bahan kimia. Sesungguhnya, korosi dapat disebut sebagai "vulture dari metalurgi: karena berangsur-angsur akan habis logamnya". Karat logam umumnya adalah berupa oksida dan karbonat. Rumus kimia karat besi adalah Fe2O3. xH2O, suatu zat padat yang berwarna coklat-merah. Sebagian orang mengartikan korosi sebagai karat, yakni sesuatu yang hampir dianggap sebagai musuh umum masyarakat. Karat (rust) adalah sebutan yang belakangan ini hanya dikhususkan bagi korosi pada besi, padahal korosi merupakan gejala destruktif yang mempengaruhi hampir semua logam.Walaupun besi bukan logam pertama yang dimanfaatkan oleh manusia, tidak perlu diingkari bahwa logam itu paling banyak digunakan, dan karena itu, paling awal menimbulkan masalah korosi serius. Karena itu tidak mengherankan bila istilah korosi dan karat hampir dianggap sinonim (Chamberlain, 1991). Reaksi reduksi oksidasi merupakan reaksi yang disertai pertukaran elektron antara pereaksi, yang menyebabkan keadaan oksidasi berubah. Dari sejarahnya, istilah oksidasi diterapkan untuk proses-proses dimana oksigen diambil oleh suatu zat. Maka reduksi dianggap sebagai proses dimana oksigen diambil dari dalam suatu zat. Kemudian pengangkapan hidrogen juga disebut reduksi, sehingga kehilangan hidrogen harus disebut dengan oksidasi. Sekali lagi reaksi-reaksi lain dimana baiik oksigen maupun hidrogen yang tidak ambil bagian belum bisa dikelompokkan sebagai oksidasi atau reduksi sebelum definisi oksidasi dan reduksi yang paling umum, yang didasarkan pada pelepasan dan pengambilan elektron, disusun orang (Svehla, 1990). Korosi dapat digambarkan sebagai sel galvanik yang mempunyai hubungan pendek dimana beberapa daerah permukaan logam bertindak sebagai katoda dan lainnya sebagai
4

anoda, dan rangkaian listrik dilengkapi oleh aliran electron menuju besi itu sendiri. Sel elektrokimia terbentuk pada bagian logam dimana terdapat pengotor atau di daerah yang terkena tekanan (Oxtoby, dkk., 1999). Korosi adalah kerusakan atau degradasi logam akibat reaksi dengan lingkungan yang korosif. Korosi juga diartikan sebagai serangan yang merusak logam karena logam bereaksi secara kimia atau elektrokimia dengan lingkungan. Ada definisi lain yang mengatakan bahwa korosi adalah kebalikan dari proses ekstraksi logam yang dari bijih mineralnya. Contohnya bijih besi di alam bebas ada dalam bentuk senyawa besi oksida atau besi sulfida, setelah diekstraksi dan diolah, akan dihasilkan besi yang digunakan untuk pembuatan baja atau baja paduan. Selama pemakaian, baja tersebut akan bereaksi dengan lingkungan yang menyebabkan korosi (kembali menjadi senyawa besi oksida). Deret volta dan persamaan Nernst akan membantu untuk dapat mengetahui kemungkinan terjadinya korosi (Anonim, 2008). Hambatan terhadap korosi pada besi tuang kelabu yang terendam dalam air, relatif baik bila dibandingkan dengan hambatan pada baja lunak. Hambatan terhadap korosi dan kekuatan bahan ini ditingkatkan sedikit dengan menambahkan 3 persen nikel. Ketahanannya terhadap tumbukan juga dapat ditingkatkan dengan mengubah prosedur pengecoran sehingga menghasilkan steroid-steroid grafit alih-alih serpih-serpih yang normal, bila besi mengalami korosi, serpih-serpih grafit seringkali tetap mencuat di permukaan, dan secara berangsur membentuk lapisan yang lebih mulia dan kaya akan karbon pada logam tersebut (Chamberlain, 1991). Tembaga murni adalah logam yang sangat lunak dan mudah ditempa. Logam ini biasanya dipadukan dengan sedikit logam lain seperti Be, Te, Ag, Cd, As, dan Cr untuk mengubah sifat-sifatnya pada penerapan-penerapan tertentu, sambil tetap memperahankan ketahanan terhadap korosinya yang istimewa dalam kondisi-kondisi kerja yang lebih buruk (Chamberlain, 1991). Tembaga, adalah logam merah muda, yang lunak, dapat ditempa, dan liat. Melebur pada suhu yang sangat tinggi, yakni 1038 oC. Karena potensial elektrod standarnya positif, yaitu (+0,34 untuk pasangan Cu/Cu2+), ia tak larut dalam asam klorida dan asam sulfat encer, meskipun dengan adanya oksigen ia bisa larut sedikit (Svehla, 1990). Zink adalah logam yang putih kebiruan, logam ini cukup mudah untuk ditempa dan liat. Zink melebur pada suhu 410oC. Dan mendidih pada 906oC. Logamnya murni melarut
5

lambat sekali dalam asam dan dalam alkali. Adanya zat-zat pencemar atau kontak dengan platinum atau tembaga, yang dihasilkan oleh penambahan beberapa tetes larutan garam dari logam-logam ini, mempercepat reaksi. Ini menjelaskan larutnya zink-zink komersial (Svehla, 1990). Besi yang murni adalah logam yang berwarna putih perak yang kukuh dan liat. Ia melebur pada suhu 1535oC. Jarang terdapat besi komersial yang murni, biasanya besi mengandung sejumlah kecil karbida, silsida, fosfida, dan sulfida dari besi, serta sedikit grafit. Zat-zat pencemar ini memainkan peranan penting dalam kekuatan struktur besi. Berbeda dengan tembaga, tembaga adalah logam merah muda, yang lunak, dapat ditempa, dan liat. Melebur pada 1038o+C. Karena potensial elektroda standarnya positif, ia tidak larut dalam asam klorida dan asam sulfat encer, meskipun dengan adanya oksigen ia bisa larut sedikit (Svehla, 1990). Pada sebuah generator untuk cairan logam, sebagai raktor, terjadi penentrating selama transfer panas, yang akan menyebabkan tingginya suhu air agar dapat dituang pada natrium suhu rendah dengan mengisi bagian kosong pada tube, pada proses ini akan terjadi korosi, yang kemudian akan berakibat pada keadaan ekonomi dan pemasaran generator ini, sehingga perlu adanya sebuah prosedur baru untuk kemudian mencegah berlanjutnya proses korosi, diantaranya adalah dengan pengetesan reaksi natrium dengan air, dll (Hamada dan Tanabe, 2004).

Prinsip Proses Elektrokimia Karat merupakan hasil korosi, yaitu oksidasi suatu logam. Besi yang mengalami korosi membentuk karat dengan rumus Fe2O3.xH2O. Korosi atau proses pengaratan merupakan proses elektro kimia. Pada proses pengaratan, besi (Fe) bertindak sebagai pereduksi dan oksigen (O2) yang terlarut dalam air bertindak sebagai pengoksidasi.
6

Reaksi perkaratan besi a. Anoda: Fe(s) Fe2+ + 2e H2 Katoda: 2 H+ + 2 eb.

2 H2O + O2 + 4e4OH+ 2H + 2 H2O + O2 + 3 Fe 3 Fe2+ + 4 OH- + H2 Fe(OH)2 oleh O2 di udara dioksidasi menjadi Fe2O3 . nH2O

Autokatalis Karat yang terbentuk pada logam akan mempercepat proses pengaratan berikutnya. Oleh sebab itu, karat disebut juga dengan autokatalis. Mekanisme terjadinya korosi adalah logam besi yang letaknya jauh dari permukaan kontak dengan udara akan dioksidasi oleh ion Fe2+. Ion ini larut dalam tetesan air. Tempat terjadinya reaksi oksidasi di salah satu ujung tetesan air ini disebut anode. Ion Fe2+ yang terbentuk bergerak dari anode ke katode melalui logam. Elektron ini selanjutnya mereduksi oksigen dari udara dan menghasilkan air. Ujung tetesan air tempat terjadinya reaksi reduksi ini disebut katode. Sebagian oksigen dari udara larut dalam tetesan air dan mengoksidasi Fe2+ menjadiFe3+ yang membentuk karat besi (Fe2O3.H2O). Kerugian Besi atau logam yang berkarat bersifat rapuh, mudah larut, dan bercampur dengan logam lain, serta bersifat racun. Hal ini tentu berbahaya dan merugikan. Jika berkarat, besi yang digunakan sebagai pondasi alau penyangga jembatan menjadi rapuh sehingga mudah ambruk. Alat-alat produksi dalam industri makanan dan farmasi tidak boleh menggunakan menggunakan logam yang mudah berkarat. Hal ini disebabkan karat yang terbentuk mudah larut dalam makanan, obat-obatan, atau senyawa kimia yang diproduksi. Oleh sebab itu, untuk kepentingan industri biasanya menggunakan peralatan stainless yang antikarat. Faktor yang berpengaruh : 1.Kelembaban udara 2.Elektrolit 3.Zat terlarut pembentuk asam (CO2, SO2) 4. Adanya O2
7

5. Lapisan pada permukaan logam 6. Letak logam dalam deret potensial reduksi Cara-cara Pencegahan Korosi Besi 1. Pengecetan. Jembatan, pagar dan railing biasanya dicat. Cat menghindarkan kontak dengan udara dan air. Cat yang mengandung timbel dan zink (seng) akan lebih baik, karena keduanya melindungi besi terhadap korosi. 2. Pelumuran dengan Oli atau Gemuk. Cara ini diterapkan untuk berbagai perkakas dan mesin. Oli dan gemuk mencegah kontak dengan air. 3. Pembalutan dengan Plastik. Berbagai macam barang, misalnya rak piring dan keranjang sepeda dibalut dengan plastik. Plastik mencegah kontak dengan udara dan air. 4. Tin Plating (pelapisan dengan timah). Kaleng-kaleng kemasan terbuat dari besi yang dilapisi dengan timah. Pelapisan dilakukan secara elektrolisis, yang disebut tin plating. Timah tergolong logam yang tahan karat. Akan tetapi, lapisan timah hanya melindungi besi selama lapisan itu utuh (tanpa cacat). Apabila lapisan timah ada yang rusak, misalnya tergores, maka timah justru mendorong/mempercepat korosi besi. Hal itu terjadi karena potensial reduksi besi lebih negatif daripada timah (Eº Fe = -0,44 volt; Eº Sn = -0,44 volt). Oleh karena itu, besi yang dilapisi dengan timah akan membentuk suatu sel elektrokimia dengan besi sebagai anode. Dengan demikian, timah mendorong korosi besi. Akan tetapi hal ini justru yang diharapkan, sehingga kaleng-kaleng bekas cepat hancur. 5. Galvanisasi (pelapisan dengan zink). Pipa besi, tiang telpon dan berbagai barang lain dilapisi dengan zink. Berbeda dengan timah, zink dapat melindungi besi dari korosi sekalipun lapisannya tidak utuh. Hal ini terjadi karena suatu mekanisme yang disebut perlindungan katode. Oleh karena potensial reduksi besi lebih positif daripada zink, maka besi yang kontak dengan zink akan membentuk sel elektrokimia dengan besi sebagai katode. Dengan demikian besi terlindungi dan zink yang mengalami oksidasi. Badan mobilmobil baru pada umumnya telah digalvanisasi, sehingga tahan karat. 6. Chromium Plating (pelapisan dengan kromium). Besi atau baja juga dapat dilapisi dengan kromium untuk memberi lapisan pelindung yang mengkilap, misalnya untuk bumper mobil. Chromium plating juga dilakukan dengan elektrolisis. Sama seperti zink, kromium dapat memberi perlindungan sekalipun lapisan kromium itu ada yang rusak.
8

7. Sacrificial Protection (pengorbanan anode). Magnesium adalah logam yang jauh lebih aktif (berarti lebih mudah berkarat) daripada besi. Jika logam magnesium itu akan berkarat tetapi besi tidak. Cara ini digunakan untuk melindungi pipa baja yang ditanam dalam tanah atau badan kapal laut. Secara periodik, batang magnesium harus diganti. Tips dan Cara Mencegah dan Mengatasi Besi Berkarat Beberapa cara untuk menanggulangi besi atau logam lain agar tahan dari proses perkaratan: 1. Melapisi besi atau logam lainnya dengan cat khusus besi yang banyak dijual di toko-toko bahan bangunan. 2. Membuat logam dengan campuran yang serba sama atau homogen ketika pembuatan atau produksi besi atau logam lainnya di pabrik. 3. Pada permukaan logam diberi oli atau vaselin 4. Menghubungkan dengan logam aktif seperti magnesium / Mg melalui kawat agar yang berkarat adalah magnesiumnya. Hal ini banyak dilakukan untuk mencegah berkarat pada tiang listrik besi atau baja. Mg ditanam tidak jauh dari tiang listrik. 5. Melakukan proses galvanisasi dengan cara melapisi logam besi dengan seng tipis atau timah yang terletak di sebelah kiri deret volta . 6. Melakukan proses elektro kimia dengan jalan memberi lapisan timah seperti yang biasa dilakukan.

BAB III METODE PERCOBAAN
4.1. Alat dan Bahan 4.1.1. Korosi Besi Alat dan bahan Ukuran dan satuan Jumlah

9

Tabung reaksi Paku besi Amplas Prop karet Kristal CaCl2 Larutan NaCl Larutan NH4Cl Larutan Na2CO3 Minyak tanah(kerosin)

Panjang 5 cm 1M 1M 1M -

7/1 7 1 lembar 2 2 gram 5ml 5ml 5ml 5ml

4.1.2. Pengaruh Logam Lain terhadap Korosi Besi Alat dan bahan Tabung reaksi Paku besi Amplas Cawan petri Pita magnesium,lempeng seng,lempengtembaga,lempeng timah Agar-agar Larutan NaOH Larutan K3Fe(CN)6 Larutan garam besi (II) Larutan garam besi (III) Larutan garam seng Kristal NaCl Larutan fenoflatein Pengaduk kaca Alat pembakar,tungku,kasa Neraca Silinder ukur
10

Ukuran dan satuan biasa Panjang 5 cm 0,5x5cm Serbuk 5% Panjang 25ml

Jumlah 4/1 5 1 lembar 1 Masing-masing 1 6gram 5ml 50ml 5ml 5ml 5ml 15 gram 5ml 1 1 set 1 1

4.1.3. Pengaruh Sifat Larutan (pH) terhadap Korosi Besi Alat dan bahan Gelas Plastik Larutan gula Larutan deterjen Larutan Asam cuka Paku Besi Amplas Indikator universal 4.2. Cara Kerja 3.2.1 Korosi Besi 1. Ambillah 7 tabung reaksi, kemudian: a. tambahkan 5ml air suling kedalam tabung 1 b. tambahkan 2 gram kristal CaCL2 kemudian kapas kering kedalam tabung 2 c. tambahkan air yang sudah dididihkan kedalam tabung 3 hingga hampir penuh d. tambahkan kira-kira 5ml larutan NaCl 1 M kedalam tabung 4 e. tambahkan kira-kira 5ml larutan NH4Cl 1 M kedalam tabung 5 f. tambahkan kira-kira 5ml larutan Na2CO3 1M kedalam tabung 6 g. tambahkan kerosin kedalam tabung tujuh 2. Amplaslah 7 batang paku kemudian masukkan kedalam tabung yang telah terisi larutan berbeda 3. tutup tabung 2 dan 3 dengan prop karet 4. Simpanlah dan selama seminggu lihat percobaan secara berangsur setiap dua hari sekali 3.2.2. Pengaruh Logam Lain terhadap Korosi Besi 1. Percobaan pendahuluan. Percobaan ini diperlukan untuk menafsirkan hasilhasil percobaan selanjutnya.
11

Ukur Ukuran dan satuan an dan Satuan Panjang 5 cm 3 buah

Jumlah Jumlah

Secukupnya Secukupnya Secukupnya 3 1 lembar 3 lembar

a. Tambahkan larutan Fe2+ dan larutan Fe3+ masing-masing kedalam larutan K3Fe(CN)6 didalam dua tabung reaksi yang berlainan b. Tambahkan larutan Zn2+ kedalam tabung reaksi berisi K3Fe(CN)6 c. Tambahkan larutan fenoflatein dalam larutan yang sifatnya basa 2. Letakkan paku bersih dalam cawan Petri. Tuangkan agar-agar yang mengandung NaCl dan K3Fe(CN)6 dan fenoflatein sampai menutupi paku 3. Ambil 5 paku bersih dan masing-masing logam yang telah disediakan lilitkan. 3.2.3. Pengaruh Sifat Larutan (pH) terhadap Korosi Besi 1. Masukkan larutan gula, deterjen, dan asam cuka ke dalam masing-masing gelas plastik secukupnya (kira-kira hingga paku terendam) 2. Ukurlah tingkat pH masing-masing larutan dengan indikator universal 3. Masukkan paku yang telah diamplas sebanyak 1 buah ke dalam masing-masing gelas plastik. 4. Simpan selama 3 hari dan amatilah pengkaratan yang terjadi.

BAB IV HASIL PENGAMATAN 4.1. Korosi Besi
Tabung keHari ke-2 Hari ke-4 Hari ke-6

12

1

Karat ++ Endapan ++

Karat ++ Endapan ++ -

Karat++ Endapan ++ -

2

-

3

Karat + Endapan +

Karat + (pada paku) Endapan + Karat +++ warnanya kusam Karat ++++

Endapan + Karat pada paku Karat +++ Endapan+++ Karat ++++

4

Karat +++ kasar Karat ++++ Endapan halus dan banyak Tidak ada karat dan tidak ada endapan Karat

Endapan+++ dan Endapan+++ dan 5

Endapan halus dan Endapan halus dan banyak banyak Tidak ada karat dan Tidak ada karat dan tidak ada endapan tidak ada endapan Tidak ada dan Tidak ada pada paku

6

7

Endapan tidak ada Endapan tidak ada Endapan tidak ada

4.2. Pengaruh Logam Lain terhadap Korosi Besi
Larutan yang dicampur Fe2+ + K3Fe(CN)6 Fe3+ +K3Fe(CN)6 Zn2+ +K3Fe(CN)6 Larutan basa+ fenoflatein Pengamatan Biru kehitaman Hijau lumut Kuning tua Merah muda

Pengamatan Perlakuan paku Paku saja Hijau Hari-1 Logam lain Hari-2 Paku Hijau hitam banyak,
13

Hari-3 Logam lain merah muda Paku Hijau hitam banyak, Logam lain Merah muda

Magnesium Bersih Muncul buih Banyak putih gelembung disekeliling putih, paku merah muda hijau hitam Seng Timah Tembaga Merah Putih muda Biru Biru Tetap tetap Merah muda

merah muda

Banyak gelembung putih, paku hijau hitam

Merah muda

Biru

Merah muda

Biru

bergelembung hitam Merah muda Biru Biru Merah muda

bergelembung hitam Merah muda Biru Biru tua hitam Merah muda

Sistem

Lokasi warna merah muda

Lokasi warna biru

Fe Fe/Mg Fe/Zn Fe/Sn Fe/Cu 4.3. Pengaruh

Tidak ada Kepala Ujung, kepala dan foil Zn Sepanjang paku Foil Cu

Ujung, kepala dan sepanjang paku Ujung bawah Tidak ada Ujung dan kepala Kepala dan ujung

Sifat Larutan (pH) terhadap Korosi Besi pH 7 9 2 Pengamatan karat ++ endapan ++ karat+ endapan+ Karat +++ endapan+++

Larutan Gula Deterjen Asam Cuka

14

BAB V PEMBAHASAN
5.1. Korosi Besi Pada tabung 1 terjadi karat karena adanya penggunaan air dan oksigen secara bersamaan. Air dan oksigen semakin mempercepat terjadi karat Pada tabung 2 tidak terjadi karat karena kandungan H2O diserap sehingga udara kering. Apalagi tabung telah dikeringkan sehingga tidak ada air dan tidak bersentuhan dengan oksigen karena telah diprop karet. Pada tabung 3 berkarat karena adanya reaksi dari air dan oksigen namun karatnya tidak sebanyak pada paku tabung 1 karena air telah dididihkan. Dengan kata lain H20 air telah berkurang karena ada proses penguapan. Pada tabung ke 4 terjadi karat karena larutan NaCl termasuk elektrolit kuat dan semakin kuat asamnya maka akan semakin cepat proses korosi

15

Pada tabung 5 terjadi karat yang lebih banyak karena adanya garam asam yang terhidrolisis menghasilkan H+ yang mempercepat korosi Pada tabung 6 dan 7 tidak terjadi karat karena pada tabung 6 adalah garam basa dan pada tabung 7 karena kerosin berfungsi sebagai isolasi terhadap H20 dan O2 yang mencegah korosi. 5.2. Pengaruh Logam Lain pada Korosi Besi Pada percobaan ini, digunakan bahan dasar logam besi, dalam hal ini paku, karena logam ini sangat luas dan korosi pada logam ini sangat utama. Salah satu proses pencegahan korosi pada besi adalah dengan proses pelapisan dengan logam lain berdasarkan sifat-sifat kimia tertentu dari logam yang akan digunakan dalam hal ini adalah Mg, Zn, Sn, dan Cu. Paku adalah salah satu bahan yang sangat mudah teroksidasi oleh oksigen yang ada di udara bebas. Dimana oksigen akan membentuk lapisan oksida melapisi permukaan logam, teteapi oksida logam besi ini mempunyai pori-pori sehingga mudah ditembus oleh oksigen atau uap air. Dengan demikian, keadaan ini memungkinkan reaksi oksidasi secara berkelanjutan pada bagian awal lapisan oksida yang telah terbentuk sebelumnya. Demikian seterusnya sampai semua logam besi teroksidasi, menyebabkan perubahan bentuk yang gembur dan keropos, yang pada akhirnya akan mengurangi bahkan merusak penampilan dan kekuatan logam besi tersebut. Dalam percobaan ini kita dapat mengetahui apakah paku besi mengalami korosi atau terlindung dari korosi jika ada dan tidak ada kontak langsung dengan logam lain seperti Mg, Zn, Sn, dan Cu. Pada percobaan ini digunakan agar-agar yang berfungsi sebagai medium indikator, juga digunakan untuk mengetahui tempat-tempat reaksi anoda dan katoda terjadi. Terlebih dahulu, agar-agar dilarutkan dalam air mendidih, karena agar-agar tidak larut dalam air dingin. Campuran kemudian ditambahkan NaCl yang berfungsi sebagai jembatan garam yang dapat dinetralkan. Larutan kemudian ditambahkan dengan indikator PP yang menyebabkan adanya warna merah muda dengan adanya OH -, warna merah muda dalam gel menunjukkan tempat dimana reduksi. Selanjutnya dilakukan
16

penambahan K3Fe(CN)6 yang bertujuan untuk menunjukkan tempat dimana Fe teroksidasi yang ditandai dengan adanya warna biru. Untuk mengetahui logam mana yang meningkatkan korosi besi atau menghambat korosi, maka dalam percobaan ini digunakan empat macam logam dalam bentuk foil seperti foil Mg, Zn, Sn, Cu, dan yang dilekatkan pada paku. Selanjutnya keempat paku tersebut dimasukkan ke dalam cawan petri, kemudian ke dalam cawan petri dimasukkan agar-agar dalam keadaan panas, hal ini dilakukan supaya agar-agar tersebut tidak meggumpal. Dari hasil pengamatan, diperoleh bahwa reaksi Fe/Cu dan Fe dengan larutan gel diperoleh warna biru. Hal ini membuktikan bahwa Fe teroksidasi pada paku. Reaksi Fe/Zn diperoleh warna merah, yang menunjukkan tempat terjadinya reduksi. Dapat diketahui bahwa logam Zn adalah logam yang mampu melindungi besi karena adanya daya reduksi yang kuat dari logam tersebut. Zn dapat menghambat terjadinya korosi pada besi karena harga potensial elektrodanya lebih rendah dari harga potensial reduksi Cu bila dibandingkan dengan Fe. Sedangkan logam Cu meningkatkan korosi besi paku yang ditandai dengan adanya warna biru, hal ini disebabkan karena Cu melindungi diri kemudian melindungi Fe. Sama halnya dengan Fe/Mg yang menandakan terjadinya reduksi pada bagian paku, sedangkan pada bagian lempeng Mg terlindungi dengan buih yang terselubung rapi disekitar lempeng. Pada bagian Fe/Sn cenderung mengeluarkan warna biru pada tiap ujung dan kepala tapi pada sepanjang paku akan berlangsung perlindungan paku terhadap korosi. REAKSI : a. Fe anoda : Fe Fe2+ + 2e4OHx2 x1 2Fe(OH)2 2Fe2+ + 4OHkatoda : O2 + 2H2O + 4eRedoks: 2Fe + O2 + 2H2O

Reaksi Lengkap : 2Fe + O2 + 2H2O b. Fe/Mg anoda : Mg Mg2+ + 2e4OH-

x2 x1
17

katoda : O2 + 2H2O + 4e-

redoks : 2Mg + O2 + 2H2O

2Mg2+ + 4OH2Mg(OH)2

Reaksi Lengkap : 2Mg + O2 + 2H2O c. Fe/Zn anoda : Zn Zn2+ + 2e4OH-

x2 x1 2Zn(OH)2 2Zn2+ + 4OH-

katoda : O2 + 2H2O + 4eRedoks: 2Zn + O2 + 2H2O

Reaksi Lengkap : 2 Zn + 2H2O + O2 d. Fe/Sn anoda : Sn Sn2+ + 2e4OH-

x2 x1 2Sn(OH)2 2Sn2+ + 4OH-

katode : O2 + 2H2O + 4eRedoks : 2Sn + O2 + 2H2O

Reaksi Lengkap : 2Sn + O2 + 2H2O

e. Fe/Cu anoda : Fe Fe2+ + 2e4OHx2 x1 2Fe(OH)2 2Fe2+ + 4OHkatoda : O2 + 2H2O + 4eRedoks: 2Fe + O2 + 2H2O

Reaksi Lengkap : 2Fe + O2 + 2H2O

5.3. Pengaruh Sifat Larutan (pH) terhadap Korosi Besi * Air gula Pada paku yang dicelupkan pada air gula yang mempengaruhinya yaitu air. Air dapat mempengaruhinya karena air mengandung oksigen terlarut. Itu yang membuat paku menjadi berkarat tetapi proses paku berkarat tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat karena yang hanya mempengaruhi karatnya suatu paku yaitu hanya air sedangkan gula sifatnya netral.. * Deterjen
18

Deterjen berasal dari air dan deterjen. Deterjen mengandung air. pH 9 pada deterjen, ini disebabkan karena deterjen bersifat basa sehingga pada paku terjadi pengkaratan tetapi mengalami penghambatan pada proses pengkaratan. Sehingga pada paku tidak terlihat jelas karat yang dihasilkan. * Air cuka Asam sendiri sebenarnya berfungsi mempercepat karat. Air cuka menghasilkan H+ sehingga pada paku yang dicelupkan pada air cuka itu paku menjadi cepat berkarat dan hasil endapan terlihat sangat jelas.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan - Pada tabung 5, karat dan endapan yang terjadi paling banyak - Dari hasil percobaan dapat disimpulakan bahwa logam Sn dan Cu dapat mempercepat korosi, Zn dan Mg dapat menghambat korosi mudah menghambat korosi. - Semakin rendah pH larutan, akan semakin mempercepat terjadinya korosi 5.2. Saran Sebaiknya dalam menggunakan alat berbahan besi dilakukan langkah efektif untuk mencegah korosi secara cepat dan tepat.

19

LAMPIRAN Pilar Besi India yang Tak Berkarat Erabaru News Minggu, 28 Juni 2009

Sejak abad ini, di berbagai belahan dunia menemukan begitu banyak bekas peradaban prasejarah, semua peninggalan sejarah ini tersebar di bawah tanah, di dasar lautan dan bahkan di atas angkasa. Artikel ini menceritakan sebuah pilar (tonggak) besi yang ditemukan di kota New Delhi , India . Penguasaan teknik peleburannya telah melampaui taraf teknik manusia masa sekarang. Tugu peringatan di candi sekitar Siamaihaluoli kota New Delhi , India , berdiri tegak sebuah pilar besi raksasa. Tinggi pilar besi yang oleh penduduk setempat disebut dengan Raja Ah-Yii ini adalah 6,7 meter, diameternya sekitar 0,37 meter dan beratnya kirakira 6 ton, hasil pengecoran besi panas, padat berisi dan terdapat pola hiasan bercorak kuno di atas pilar tersebut. Konon pembuatan pilar besi ini telah mencapai hingga di atas ribuan tahun lamanya. Namun yang paling membuat orang merasa heran dan takjub adalah bahwa pilar besi yang telah berdiri tegak selama ribuan tahun ini, tidak berkarat hingga sekarang meskipun diterpa angin dan hujan!

20

Semua orang mengetahui, bahwa besi merupakan logam yang mudah berkarat, besi yang pada umumnya, jangankan ribuan tahun, dalam beberapa puluhan tahun saja telah dipenuhi oleh karat. Hingga saat ini, orang-orang juga belum menemukan cara yang efektif untuk mencegah timbulnya karat pada perkakas besi. Kalau demikian, siapakah yang menuang pilar besi ini? Kemurnian Peleburan Setelah dilakukan penelitian, pilar besi ini terbentuk melalui tingkat kemurnian peleburan besi yang mencapai hingga 99,72% dan hingga kini juga tidak ada orang yang mengetahui bagaimana orang-orang dulu menguasai teknik peleburan ini. Dan teknik manusia pada zaman sekarang juga tidak memungkinkan bisa melebur hingga mencapai peleburan yang demikian murni. Demikian jelaslah, bahwa ini merupakan sebuah bekas peradaban prasejarah manusia yang ditinggalkan, majunya tingkat peradaban manusia itu telah hilang dan meninggalkan misteri sepanjang masa ini. Mengenai peradaban prasejarah, telah banyak ilmuwan yang mengakui realita keberadaannya secara terbuka. Arkeolog Michael Claimo dan Richard Thompson dalam monograf mereka (Arkeologinya yang Dilarang; Sejarah Manusia yang Disembunyikan) menceritakan ribuan kejadian peninggalan peradaban prasejarah. Pakar manusia prasejarah dari Inggris yang bernama Genamd Hundcock dalam sebuah bukunya juga telah mencatat begitu banyak peninggalan peradaban prasejarah penting. Dan dalam kitab Injil dan AlQuran juga telah mencatat fakta kejadian peradaban manusia sebelumnya yang dihancurkan oleh sebuah banjir besar (kisah Nabi Nuh). Berkaitan dengan peradaban prasejarah dan sifatnya yang berkala, pendiri Falun Gong Mr. Li Hongzhi dalam bukunya (Zhuan Falun) menyebutkan, "Di luar negeri, banyak ilmuwan pemberani secara terbuka telah mengakui itu adalah suatu kebudayaan prasejarah, peradaban sebelum peradaban manusia yang ada sekarang ini, yakni sebelum adanya peradaban sekarang ini masih ada periode peradaban, bahkan tidak hanya satu kali saja. Berdasarkan pengamatan benda budaya yang tergali, ternyata itu bukanlah produk dari satu masa peradaban saja. Oleh karena itu dipercaya, dari sekian banyak kali peradaban manusia setelah mengalami pukulan yang memusnahkan, hanya menyisakan sedikit orang yang
21

masih bertahan hidup dan menempuh kehidupan primitif, kemudian berangsur-angsur berkembang menjadi sejenis manusia baru lagi, demikianlah mereka mengalami perubahan melalui periode demi periode. Oleh ilmuwan fisika dikatakan bahwa gerakan materi mengikuti hukum tertentu, perubahan segenap alam semesta kita juga mengikuti hukum tertentu." Penguraian di atas dengan tulisan yang sederhana telah menyingkap pokok masalah penting sejarah manusia dan telah memecahkan rahasia serta berbagai macam prasangka yang membingungkan para ahli sejarah selama lebih dari setengah abad.(erabaru.net)*

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2008, Korosi, (online) (http://www.wikipedia.com), diakses 31 Oktober 2009. Http://erabaru.net/iptek/55-iptek/1409-pilar-besi-india-yang-tak-berkarat http://gadang-e-bookformaterialscience.blogspot.com/2007/10/makalah-ilmiah-ku-korosimaterial-logam.htmlorosi. http://iefha-shun.blogspot.com/ http://www.cort-h.co.cc/index.php/operasi-migas/25-internal-corrosion/23-korosi-internal

22

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->