P. 1
File Makalah Mafia Hukum

File Makalah Mafia Hukum

|Views: 3,666|Likes:
Published by Neycha_ciayou

More info:

Published by: Neycha_ciayou on Oct 25, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/03/2015

pdf

text

original

PENEGAKAN HUKUM DAN MARAKNYA KASUS

MAFIA HUKUM DI NEGARA INDONESIA

BAB I

PENDAHULUAN

Di era globalisasi ini penting bagi kita untuk mengetahui lebih dalam

tentang penegakan suata negara, terutama yang berkaitan dengan keadaan dan

situasi penegakan hukum di negara kita yaitu negara Indonesia. Hal ini penting

bagi kita karena erat hubungannya dengan apa yang kita saksikan dalam realita

kehidupan masyarakat saat ini.

Terkadang masih banyak orang yang salah mengartikan dan belum banyak

mengerti tentang keadaan sisitem hukum di Indonesia, sehingga kita sebagai

masyarakat kadang pasrah saja menerima hukuman dari kesalahan, terkadang hal

tersebut dialami suatu perusahaan karena lemahnya pengetahuan sebagaian

masyarakat akan pengetahuan tentang proses hukum dan sanksi-sanksi yang

diberikan kepada para pelaku yang berlaku di negara Indonesia.

Banyak kasus hukum yang di selesaikan secara tak adil, dimana para

penegak hukum memiliki peran ganda sebagai mafia hukum secara tak kasat

mata.

Para mafia hukum inilah yang memporak-porandakan sistem hukum yang

berlaku di tanah air kita. Gencarnya aksi mafia hukum tersebut disambut kritik

dan protes yang tajam dari masyarakat sendiri, namun tak ayal, jarang yang

sanggup untuk menghentikan mereka.

³Sejak hukum itu dijarah oleh banjir rasionalisme dan rasionalisasi, maka

ia menjadi institusi yang terisolasi dan asing« maka menjadi tugas para

ilmuwannya untuk mengutuhkan kembali hukum dengan lingkungan, alam, dan

orde kehidupan yang lebih besar.´

( Satjipto Raharjo)

A. Latar Belakang

Perkembangan sosial dan budaya dalam penyelenggaraan negara dewasa

ini tampak ada yang sangat memprihatinkan dalam konteks ideologi. Betapa

manusia-manusia yang mengklaim sebagai ³produk dari proses reformasi´ telah

dengan lantang menafikan makna terdalam Pancasila.

A

pa yang tidak tepat dengan nilai-nilai dasar Pancasila yang siapapun

secara sadar semestinya mengakui sebagai nilai-nilai keabadian. Nilai-nilai

Pancasila dengan Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan dan Keadilan

adalah agung dan menakjubkan. Banyak pakar dari belahan dunia Barat dan

Timur telah mengkaji Pancasila dengan kesimpulan yang senada ³betapa

beruntungnya bangsa Indonesia yang telah mampu menggali dan berdiri di atas

Pancasila´.

Kita semua tahu bahwa berdasarkan UUD 1945 adalah bahwa Indonesia

merupakan Negara Hukum. Namun kini kita menyaksikan bahwa hukum di

Republik Indonesia sedang menapaki kisahnya di era reformasi yang tidak

berwibawa. Hukum disinyalir benar-benar ada dalam titik ketidakberdayaan

melawan keangkuhan sosial dan dominasi politik.

Salah satu fungsi hukum adalah alat penyelesaian sengketa atau konflik,

disamping fungsi yang lain sebagai alat pengendalian sosial dan alat rekayasa

sosial . Pembicaraan tentang hukum barulah dimulai jika terjadi suatu konflik

antara dua pihak yang kemudian diselesaikan dengan bantuan pihak ketiga. Dalam

hal ini munculnya hukum berkaitan dengan suatu bentuk penyelesaian konflik

yang bersifat netral dan tidak memihak .

Pelaksanaan hukum di Indonesia sering dilihat dalam kacamata yang

berbeda oleh masyarakat. Hukum sebagai dewa penolong bagi mereka yang

diuntungkan, dan hukumsebagai hantu bagi mereka yang dirugikan. Hukum yang

seharusnya bersifat netral bagi setiap pencari keadilan atau bagi setiap pihak yang

sedang mengalami konflik, seringkali bersifat diskriminatif , memihak kepada

yang kuat dan berkuasa.

Penegakan hukum merupakan masalah penting yang harus segera

ditangani. Masalah hukum ini paling dirasakan oleh masyarakat dan membawa

dampak yang sangat buruk bagi kehidupan bermasyarakat. Persepsi masyarakat

yang buruk mengenai penegakan hukum, menggiring masyarakat padapola

kehidupan sosial yang tidak mempercayai hukum sebagai sarana penyelesaian

konflik, dan cenderung menyelesaikan konflik dan permasalahan mereka di luar

jalur. Cara ini membawa akibat buruk bagi masyarakat itu sendiri.

Pemanfaatan penegakan hukum oleh sekelompok orang demi

kepentingannya sendiri, selalu berakibat merugikan pihak yang tidak mempunyai

kemampuan yang setara. Akibatnya rasa ketidakadilan dan ketidakpuasan tumbuh

subur di masyarakat Indonesia. penegakan hukum yang konsisten harus terus

diupayakan untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap hukum di

Indonesia.

Perilaku publik menjadi sangat tidak merefleksikan nilai dasar Pancasila

secara tepat. Pancasila pun ditafsir secara serampangan dan jauh dari kaidah

awalnya untuk menata semua perikehidupan dan dimensi keilmuan untuk

berketuhanan, berkemanusiaan, berpersatuan, berkerakyatan dan berkeadilan.

Maka perilaku komunitas public sekarang ini yang cenderung adu kuat ala

gerombolan telah mengingatkan pada kisah historis yang dilansir olehThomas

Hobbes: ´homo homini lupus´ yang arti sebenarnya adalah manusia menjadi

serigala (pemangsa) bagi sesamanya sendiri.

Semua itu (yang menistakan hidup ber-Pancasila) tidak akan terjadi dalam

kehidupan yang memiliki hukum atas jiwa terdalam Pancasila. Kenyataan

kekerasan (fisik maupun psikologis) yang terus mengemuka sekarang ini adalah

cerminan peradaban klasik (pra-sejarah) yang sepertinya belum tercerahkan.

Kita semua harusnya menyadari bahwa Pancasila merupakan produk

budaya dan pemikiran cerdas untuk melandasi semua dimensi kehidupan negara.

Ilmu hukum juga merupakan hasil dari proses keilmuan yang secara domestic

mestinya dapat menyerap prinsip-prinsp utama Pancasila. Hukum yang

berdasarkan Pancasila tetaplah ilmiah (³scientific-mind´) dan bukan kumpulan

dogma semata-mata.

Kita bangsa Indonesia sudah menghadapi banyak masalah: bagaimana

rakyat antri beras, antri minyak tanah, antri gas elpiji, antri sembako, dan lain

sebagainya. Dalam kondisi demikian sesungghnya kita tidak mempunyai

kesempatan lagi untuk mencibir ilmu hukum ataupun Pancasila. Bagaimana

mungkindalam sebuah negara yang memiliki Pancasila sedang antri penderitaan

sedangkan para ilmuwan hukum asyik dengan pasal-pasalnya. Di satu sisi orang

antri dan di sisi lain orang korupsi, sementara akademisi sibuk berargumentasi.

Maka masalah tersebut disikapi dengan pengembangan hukum yang mampu

mengatur distribusi kebutuhan secara Panccasilais agar manusia-manusia

Indonesia tidak egois seperti sekarang.

Maka Archie J. Bahm menjelaskan bahwa sikap ilmiah memiliki watak

dasar; keingintahuan, kespekulatifan, keobyektifan, keterbukaan, kesabaran, dan

kesementaraan. Dalam perjalanan waktu, meskipun seorang ilmuwan secara sadar

dalam menyelesaikan masalah hanya menggunakan sebagian saja komponen ilmu,

misalnya sikap dan metode saja, usahanya tersebut tetap ilmiah. Ada titik-titik

kebijaksanaan yang dapat ditempuh demi rakyat sebagai tujuan akhirnya.

Penggunaan dana publik untuk rakyat merupakan langkah utama dalam

menyelesaikan kekurangan kebutuhan publik.

Berbagai kasus yang berserakan sekarang ini merupakan cermin tidak

dihargainya hukum secara konsisten dalam sebuah kerangka sistem. Hukum

cenderung diputarfungsikan sesuai dengan selera masing-masing penggunanya,

termasuk Pancasila sedang mengalami nasib serupa. Kasus pemilihan Kepala

Daerah di banyak wilayah dengan banyak sentuhan politiknya amat sangat

membuktikan bahwa hukum dan Pancasila selalu dimain-mainkan sesuai

seleranya.

³Hukum adalah fakta dan kaidah sekaligus´, kata D.H.M. Meuwissen.

Untuk itulah hukum harus dipahami tanpa terlepas dari nuansa etis, sosiologis,

politis, ekonomis, historis, maupun kultural. Konsekuensinya adalah bahwa ilmu

hukumakan menarik perhatian publik dan penggunaan hukum nyaris mudah

dimanipulasi atas nama ambisi yang mengabaikan jiwa Pancasila yang

mengandung spirit: Tuhan, Manusia, Bangsa yang bersatu, Rakyat, dan Keadilan.

Hal tersebut senada dengan gagasan seorang Begawan ilmu hukum

Indonesia Prof. Dr. Satjipto Rahardjo, SH. yang telah menggaagas tentang

³Hukum Progresif´, Pandangan ini menyatakan:

Progresivisme bertolak dari pandangan kemanusiaan, bahwa manusia pada

dasarnya adalah baik, memiliki sifat-sifat kasih saying serta kepedulian terhadap

sesama. Ini menjadi modal penting bagi membangun masyarakat. Dengan

demikian hukum menjadi alat untuk menjabarkan dasar kemanusiaan tersebut.

Hukum bukanlah raja, tetapi alat yang berfungsi memberikan kedamaian kepada

dunia dan manusia. Hukum mempunyai tujuan besar berupa kesejahteraan dan

kebahagiaan manusia, maka hukum itu selalu berada pada status law in making.

Memahami hukum sebagai suatu sistem yang berwatak Pancasila adalah

kebutuhan sebagaimana melihat hukum dengan mempergunakan System

Approach. Wacana ilmu Hukum menunjukkan rotasi historik watak hukum yang

³empiris´ maupun ³normatif´ yang dalam perkembangannya mengikuti jejak

kemasyarakatan yang menurut Henry Maine bergerak secara evolusioner dari

tipe tradisional ke tipe modern.

Negara menciptakan hukum bermuatan norma, memerintah sesuatu,

pedoman perilaku, yang secara sosiologis acapkali didayagunakan sebagai

instrumen kontrol ³law is governmental social control´ model Donald Black.

Meski pemikiran ini banyak dicibir oleh pengagum aliran positifistik yang

legalistik tanpa tahu kegunaannya. M,aka sangat disayangkan apabila aliran atau

mazhab demikian masuk pada wilayah hukum tanpa filtter Pancasila. Hukum akan

terlihat kering dan seperti ada menara gading berdiri tanpa kegunaan bagi

publiknya.

Permasalahan hukum sangat beragam dan telah menjadi fokus sentral

kajian Ilmu Hukum dengan persepsi dan visi yang berbeda. Apa yang terjadi

sekarang perlu dihentikan apabila tidak ada titik keseimbangan pengajaran yang

mengedepankan Pancasila. Terjadi dominasi reduksi normatif terhadap hukum

yang mengakibatkan hukum lebih menonjolkan momentum positifnya ataupun

empirisnya melalui influensi tradisi cabang ilmu dalam mendefinisikan hukum

yang berkedilan. Pada akhirnya hukum menjadi terisolir darielementasi non-

yuridis lainnya yang menentukan keberadaan hukum dalam masyarakat dan

kurang peduli terhadap kebutuhan rakyat.

Dengan memahami hukum berikut dengan segenap komponennya, intristik

mengahargai hukum yang adikuat: hukum adalah fakta maupaun kaidah dengan

sumber ideologisnya: Pancasila. Pengertian demikian akan menjadikan hukum

memiliki sifat dialektis antara fakta dan kaidah, bentuk dan isi. Pengkajian

Hukum menjadi tidak akan berhenti pada anatomi sepihak: bentuk-isi, kaidah-

kaidah, melainkan berusaha untuk memikirkannya dalam suatu hubungan

sistematik.

Pancasila adalah motivasi dan pedoman sekaligus confirm and deepen the

identity of their people. Sebagaimana kita tahu bahwa Pancasila terdiri atas lima

sila yang membentuk suaru rangkaian siste ideologis dan filosofis yang logic

saintifik yang menjadi dasar hukum utama (yang dalam bahasa populernya

disebut ³sumber dari segala sumber hukum´).

Rangkaian sila-sila Pancasila itu secara terang menginformasikan bahwa

kaidah dasar yang merupakan nilai fundamental Pancasila adalah: Ketuhanan,

Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan. Nilai dasar ini

memberikan arah bagi semua warga negara Republik Indonesia untuk

menyelenggarakan kehidupan yang berbasis Ketuhanan, Kemanusiaan,

Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan. Dengan kata lain bahwa kita dalam

pengajaran Ilmu Hukum dilarang berbuat yang tidak berketuhanan,

berkemanusiaan, berpersatuan, berkerakyatan, dan berkeadilan.

Dari sisi demikianlah maka tidaklah patut dalam suatu penyelenggaraan

Pendidikan Tinggi yang berdasarkan Pancasila diketemukan adanya kolusi,

korupsi, dan nepotisme (KKN), atau pembunuhan karakter, karena hal itu

bertentangan dengan Pancasila yang memiliki nilai-nilai universal.

Hukum tak bisa dipisahkan dari keadilan masyarakat. Hukum untuk

manusia bukan ³hukum untuk hukum´ yang malah membuahkan berbagai praktik

penyimpangan hukum, seperti maraknya kasus mafia hukum kelas kakap yang

begitu melecehkan supremasi hukum di Indonesia.

Mafia hukum merujuk sekelompok orang, baik terorganisir atau tidak yang

bisa mencampuri dan mengatur persoalan hukum. Bentuk-bentuk praktik mafia

hukum meliputi: makelar kasus, suap-menyuap, pemerasan, jual-beli perkara,

mengancam saksi dan pihak tertentu, pungutan-pungutan gelap, dan sebagainya.

Bagaimana realitas mafia hukum harus diberantas?

Sudah saatnya kita merasakan keadilan yang seutuhnya. Pemberantasan

para mafia hukum harus direalisasikan demi tegaknya hukum dan keadilan di

negara Indonesia.

Oleh karena itu, makalah ini membahas tentang apa itu hukum dan segala

sesuatunya yang berakaitan dengan hukum dalam realita kehidupan masyarakat

terutama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara khususnya dalam negara

Indonesia yang erat kaitannya dengan permasalahan di atas dan diharapkan

dengan mempelajari materi di atas dengan lebih dalam, dapat menghindari hal-hal

yang tidak diinginkan, seperti masalah ketidak-adilan dalam proses hukum.

B. Tujuan

1) Mengetahui hukum di Indonesia.

2) Mengetahiu apa itu hukum progresif dan latar belakangnya.

3) Mengetahui apa yang disebut mafia hukum dan modus-modusnya di

peradilan Indonesia.

4) Mengetahui penanganan mafia hukum di indonesia.

BAB II

HUKUM DI INDONESIA

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->