MAKALAH MIKROBIOLOGI

PERTUMBUHAN MIKROORGANISME
OPTIMALISASI MIKROORGANISME DALAM UPAYA PENINGKATAN PRODUK INDUSTRI

DisusunOleh : Kelompok 4
1. HERFANTINI 2. Rizky Widyawati 3. AnggresYoris M. 4. MeiliaWahyuningsih

(09330104) (09330105) (09330106) (09330148)

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG 2010

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LatarBelakang Pada masa sekarang, mikrobiologi sudah sangat berkembang luas memasuki bidang- bidang pengetahuan lain, misalnya: pertanian, kesehatan, industri, lingungan hidup sampai bidang antariksa. Oleh karena itu penelaahan biologi mikroorganisme dalam setiap bidang masing-masing. Pada tulisan karangan akan menitik beratkan ini penelaahan dititik beratkan pada

dasar-dasar mikrobiologi, sehingga akan tampak sebagai ilmu dasar ketimbang ilmu terapan. Sebagai ilmu dasar, mikrobiologi akan menelaah permasalahan yang berhubungan dengan bentuk, perkembang-biakan, penyebaran dan sedangkan sebagai ilmu lingkungan yang mempengaruhi mikroorganisme, terapan akan mempelajari lebih banyak peranannya. Mikrobiologi adalah ilmu yang mempelajari organisme hidup yang berukuran sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang melainkan dengan bantuan mikroskop. Organisme yang sangat kecil ini disebut sebagai mikroorganisme, atau kadang-kadang disebut sebagai mikroba, ataupun jasad renik. Pertumbuhan didefinisikan sebagai pertambahan kuantitas konstituen seluler dan struktur organisme yang dapat dinyatakan dengan ukuran, diikuti pertambahan jumlah, pertambahan ukuran sel, pertambahan berat atau massa dan parameter lain. Sebagai hasil pertambahan ukuran dan pembelahan sel atau pertambahan jumlah sel maka terjadi pertumbuhan populasi mikroba. Pertumbuhan mikroba dalam suatu medium mengalami fase-fase yang berbeda, yang berturut-turut disebut dengan fase lag, fase eksponensial, fase stasioner dan fase kematian. Pada fase kematian eksponensial tidak diamati pada kondisi umum pertumbuhan kultur bakteri, kecuali bila kematian dipercepat dengan penambahan zat kimia toksik, panas atau radiasi. Metode pengukuran pertumbuhan yang sering digunakan adalah dengan menentukan jumlah sel yang hidup dengan jalan menghitung koloni pada pelat

agar dan menentukan jumlah total sel/jumlah massa sel. Selain itu dapat dilakukan dengan cara metode langsung dan metode tidak langsung. 1.2 RumusanMasalah a. Apa pengertian pertumbuhan mikroorganisme dalam mikrobiologi?
b. Adakah perbedaan antara pertumbuhan individu dan koloni dalam

mikroorganisme? c. Adakah fase-fase dalam pertumbuhan mikroorganisme? d. Faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme? e. Ada berapa macam media biak dan persyaratan bagi pertumbuhan? f. Pada produk industri keju, adakah bakteri yang ikut berperan? 1.3 Tujuan a. Dapat mengetahui pengertian pertumbuhan mikroorganisme dalam mikrobiologi. b. Dapat mengetahui perbedaan antara pertumbuhan individu dan koloni dalam mikroorganisme. c. Dapat mengetahui fase-fase dalam pertumbuhan mikroorganisme. d. Dapat mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme. e. Dapat mengetahui macam media biak dan persyaratan bagi pertumbuhan. f. Dapat mengetahui pada produk industri keju, ada bakteri yang ikut berperan.

BAB II DASAR TEORI 2.1 PertumbuhanMikroorganisme Pertumbuhan diartikan sebagai penambahan dan dapat dihubungkan dengan penambahan ukuran, jumlah bobot, masa, dan banyak parameter lainnya dari suatu makhluk hidup. Penambahan ukuran atau masa suatu sel individual biasanya terjadi pada proses pendewasaan (maturasi) dan perubahan ini pada umumnya bersifat sementara (temporer) untuk kemudian dilanjutkan dengan proses multiplikasi dari sel tersebut. Multiplikasi terjadi dengan cara pembelahan sel. Pertumbuhan pada umumnya tergantung pada kondisi bahan makanan dan juga lingkungan. Apabila kondisi makanan dan lingkungan cocok untuk mikroorganisme tersebut, maka mikroorganisme akan tumbuh dengan waktu yang relative singkat dan sempurna (Irianto, 2007).

Kuantitas atau ukuran pertumbuhan mikroorganisme dapat diukur dari [1] segi pertambahan dimensi satu, misalnya : panjang, diameter, jari-jari, dan jumlah sel ; [2] segi pertambahan dimensi dua, misalnya : luas, dan [3] segi pertambahan dimensi tiga, misalnya : volume, berat segar, berat kering. Selain tiga segi tersebut, pertumbuhan juga dapat diukur dari [4] segi komponen seluler, misalnya : RNA, DNA, dan protein dan [5] segi kegiatan metabolisme secara

dapat tumbuh paling baik pada suhu optimum dibawah 200C. Bakteri memiliki kemampuan untuk menggandakan diri secara eksponensial dikarenakan sistem reproduksinya adalah pembelahan biner melintang. dengan Pada mikroorganisme yang bersel banyak (multiseluler). misalnya : kebutuhan oksigen. jadi dalam hal ini pembelahan berarti multiplikasi. mempunyai suhu optimum di antara 200 sampai 500C. Setiap sel tunggal setelah mencapai ukuran tertentu akan membelah menjadi mikroorganisme yang lengkap. ada tiga jenis bakteri berdasarkan tingkat toleransinya terhadap suhu lingkungannya: 1. yaitu mikroorganisme yang tumbuh optimal atau suka pada suhu yang tinggi. Pada individu multiseluler bila membelah. hasilan gas-gas tertentu dan lain-lain. pada tahun 1967 di yellow stone park ditemukan bakteri yang hidup dalam sumber air panas bersuhu 93-940C. Istilah pertumbuhan bakteri lebih mengacu kepada pertambahan jumlah sel bukan mengacu kepada perkembangan individu organisme sel. Bakteri merupakan organisme kosmopolit yang dapat kita jumpai di berbagai tempat dengan berbagai kondisi di alam ini. 2. karbon dioksida. bakteri jenis ini dapat hidup di tempat-tempat yang panas bahkan di sumber-sumber mata air panas bakteri tipe ini dapat ditemukan. Namun bakteri juga memiliki batasan suhu tertentu dia bisa tetap bertahan hidup. individunya bertambah mikroorganisme uniseluler pembelahan berarti bertambah banyaknya individu atau sel tersebut. Mikroorganisme termofil.langsung. Mikroorganisme mesofil. Pertumbuhan sel-selnya mikroorganisme berselsatu (uniseluler) menjadi berbeda banyak. dimana tiap sel membelah diri menjadi dua sel. mikroorganisme ini sering tumbuh pada suhu diatas 400C. 3. sampai kutub utara yang beku kita masih dapat menjumpai bakteri. . mempunyai bentuk dan sifat fisiologis yang sama. Mikroorganisme psikrofil yaitu mikroorganisme yang suka hidup pada suhu yang dingin. Mulai dari padang pasir yang panas. yaitu mikroorganisme yang dapat hidup secara maksimal pada suhu yang sedang.

misalnya bakteri Escherichia coli dalam saluran pencernakan manusia maupun binatang umumnya mempunyai waktu generasi 15 . Untuk mikroorganisme yang membelah. luas biakan. misalnya seperti tersebut di atas yang menyatakan bahwa satu sel bakteri menjadi 2 sel bakteri memerlukan rentang waktu yang berbeda ketika 128 sel bakteri menjadi 256 sel . artinya dalam 17 menit satu E. luas. . dapat ditinjau dari duasegi. Namun demikian pertumbuhan mikroorganisme unisel (bersel tunggal) sulit diukur dari segi pertambahan panjang. Coli sekitar 17 menit.20 menit sedangkan bakteri lain (misalnya Salmonella typhi) mempunyai waktu generasi berjam-jam. dan berat kering biakan. Contoh : waktu generasi bakteri E. sedangkan pertumbuhan populasi diartikan sebagai bertambahnya kuantitas dalam suatu populasi atau bertambahnya ukuran koloni. yaitu: pertumbuhan individu dan pertumbuhan koloni atau pertumbuhan populasi. Pertumbuhan fungi multisel (jamur benang) dan mikroorganisme multisel lainnya dapat ditunjukan dengan cara mengukur panjang garis tengah (diameter) biakan. Pertumbuhan bakteri dan mikroorganisme unisel lainnya dapat ditunjukan dengan cara menghitung jumlah sel setiap koloninya maupun mengukur kandungan senyawa tertentu yang dihasilkan.Pertumbuhan jasad hidup. misalnya bakteri. yaitu pertumbuhan sel secara individu dan pertumbuhan kelompok sebagai satu populasi ( Pertumbuhan Pertumbuhan individu mikroorganisme individu diartikan dapat ditinjau dari dua sudut. Beberapa faktor yang mempengaruhi waktu generasi yaitu : [1] Tahapan pertumbuhan mikroorganisme. Waktu yang dibutuhkan dari mulai tumbuh sampai berkembang dan menghasilkan individu baru disebut waktu generasi. sebagai bertambahnya ukuran tubuh.sehingga untuk mikroorganisme yang demikian satuan pertumbuhan sama dengan satuan perkembangan. [2] Takson mikroorganisme (jenis. dll). Coli menjadi dua atau lebih E. karena pertambahannya sangat sedikit dan berlangsung sangat cepat (lebih cepat dari satuan waktu mengukurnya). volume. maupun berat. Coli. spesies. maka waktu generasi diartikan sebagai selang waktu yang dibutuhkan untuk membelah diri menjadi dua kali lipat.

sehingga jumlah sel hidup menurun dengan cepat seperti deret ukur. pengamatan jumlah sel dalam waktu yang cukup lama akan memberikan gambaran berdasarkan kurva pertumbuhan bahwa terdapat fase-fase pertumbuhan. Walaupun demikian penurunan jumlah sel hidup . sehingga sel belum membelah diri. Pada biakan sistem tertutup. Sel mikrobia mulai membelah diri pada fase pertumbuhan yang dipercepat. sampai pada fase kematian logaritma maka kecepatan kematian sel mencapai maksimal. tetapi waktu generasinya masih panjang. Fase pertumbuhan dimulai pada fase permulaan. Jika pada waktu-waktu tertentu jumlah bakteri dihitung dan dibuat grafik hubungan antara jumlah bakteri dengan waktu maka akan diperoleh suatu grafik atau kurva pertumbuhan. seolah-olah tidak terjadi pertumbuhan (pertumbuhan nol). Pertumbuhan populasi mikrobia dibedakan menjadi dua yaitu biakan sistem tertutup (batch culture) dan biakan sistem terbuka (continuous culture). sintesis bahan sel sangat cepat dengan jumlah konstan sampai nutrien habis atau terjadinya penimbunan hasil metabolisme yang menyebabkan terhambatnya pertumbuhan. dengan waktu generasi pendek dan konstan. Selama fase logaritma. Selanjutnya pada fase pertumbuhan yang mulai terhambat. fase pertumbuhan yang dipercepat. bakteri baru menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru.A. Kecepatan sel membelah diri paling cepat terdapat pada fase pertumbuhan logaritma atau pertumbuhan eksponensial. Fase permulaan sampai fase pertumbuhan dipercepat sering disebut lag phase. fase pertumbuhan logaritma (eksponensial). Pertumbuhan Populasi Mikroba Suatu bakteri yang dimasukkan ke dalam medium baru yang sesuai akan tumbuh memperbanyak diri. dan fase kematian logaritma. sehingga jumlah sel hidup konstan. Pada fase stasioner maksimum jumlah sel yang mati semakin meningkat sampai terjadi jumlah sel hidup hasil pembelahan sama dengan jumlah sel yang mati. fase stasioner maksimum. Pada fase permulaan. metabolisme sel paling aktif. kecepatan pembelahan sel berkurang dan jumlah sel yang mati mulai bertambah. Pada fase kematian yang dipercepat kecepatan kematian sel terus meningkat sedang kecepatan pembelahan sel nol. fase kematian dipercepat. fase pertumbuhan yang mulai dihambat.

Kecepatan pertumbuhannya dirumuskan sebagai berikut: dX/dt = μ X – DX = (μ . dari beberapa menit. Pada keadaan mantap (steady state). maka pertumbuhan dapat diukur dari bertambahnya jumlah sel. Kecepatan pertumbuhan merupakan perubahan jumlah atau massa sel per unit waktu. Sebagai nutrienpembatas dapat menggunakan sumber C (karbon). diaturkecepatan aliran medium dan kadar substrat (nutrien pembatas). Pertumbuhan dapat diamati dari meningkatnya jumlah sel atau massa sel (berat kering sel). dalam jumlah minimum tertentu sel mikrobia akan tetap bertahan sangat lama dalam medium tersebut. maka μ = D.D disebut sebagai kecepatan pengenceran (dilution rate). ada aliran keluar untuk mempertahankan volume biakan dalamkhemostat sehingga tetap konstan (misal V ml). Continuous culture mempunyai ciri kuran populasi dan kecepatan pertumbuhan dapat diatur pada nilai konstan enggunakan khemostat. Populasi sel dalam tabungbiakan dipengaruhi oleh peningkatan populasi sebagai hasil pertumbuhan danpengenceran kadar sel sebagai akibat penambahan medium baru dan pelimpahanaliran keluar tabung biakan. yaitu dari satu sel membelah menjadi 2 sel baru. Biakan Sistem Terbuka (Continuous culture) dalam Khemostat Di dalam sistem ini. sumber N atau faktor tumbuh. . Waktu yang diperlukan oleh sejumlah sel atau massa sel menjadi dua kali jumlah/massa sel semula disebut doubling time atau waktu penggandaan. maka kecepatan pengenceran kultur adalah D = W/V per jam. beberapa jam sampai beberapa hari tergantung kecepatan pertumbuhannya. Pada umumnya bakteri dapat memperbanyak diri dengan pembelahan biner.D) X. sel dapat dipertahankan terus menerus pada fase pertumbuhan eksponensial atau fase pertumbuhan logaritma.Pada sistem ini . 1.tidak mencapai nol. sehingga dX/dt = 0. Jika aliran masuk ke dalam tabungbiakan adalah W ml/jam. Pertumbuhan bakteri dalam biak sinambung tidak akan mengikuti kurva pertumbuhan. Waktu yang diperlukan untuk membelahdiri dari satu sel menjadi dua sel sempurna disebut waktu generasi. Dalam pertumbuhan bakteri ini terdapat prosedur yang menjadi dasar biak sinambung yang dilakukan dalam kemostat dan turbidostat. Untuk mengatur proses di dalam khemostat. Waktu penggandaan tidak sama antara berbagai mikrobia.

dengan persamaan: μ = μmax S / (Ks + S) μmax: kecepatan pertumbuhan pada keadaan nutrien berlebihan S : konstante nutrien Ks : konstante pada konsentrasi nutrien saat μ = ½ μmax. Ada perbedaan mendasar antara biak statik klasik dengan biak sinambung dalam kemostat biak static arus dilihat sebagai sistem tertutup (boleh disamakan dengan organisme sial. Pertumbuhan dalam turbidostat Sistem ini didasarkan pada kerapatan bakteri tertentu atau kekeruhan tertentu yang dipertahankan konstan. Dalam pertumbuhan sinkron akan terjadi sinkronisasi pembelahan sel. Hal ini dimaksudkan agar proses metabolisme siklus pembelahan bakteri dapat dipelajari disperlukan suspensi sel yang mengalami pembelahan sel dalam waktu sama yaitu sinkron. Kadar nutrien yang rendah menyebabkan kecepatan pertumbuhan berbanding lurus dengan kadar nutrien atau substrat tersebut. . tahap stationer dan tahap kematian. dengan nutreian pembatas.Dengan sistem ini sel seolah-olah dibuat dalam keadaan setengah kelaparan. sehingga kecepatan pertumbuhan adalah sebagai fungsi konsentrasi nutrien. pembatasan nutrien atau menyaring untuk memperoleh sel-sel yang sama ukurannya. 2. 2005). Kalau pada biak sinambung merupakan sistem terbuka yang mengupayakan keseimbangan aliran untuk organisme selalu terdapat kondisi lingkungan yang sama. Sinkronisasi populasi sel dapat dicapai dengan berbagai tindakan buatan antara lain dengan merubah suhu rangsangan cahaya. Sinkronisasi pertumbuhan ini juga dimaksudkan untuk menyediakan stater dengan usia yang sama (Budiyanto.

Fase kematian Kurva pertumbuhan mikroba : Grafik pertumbuhan mikroba dalam biakan sistem tertutup (batch culture) . Fase log 3. Fase stationer 4. Fase lag 2.Fase-Fase Pertumbuhan Mikroorganisme Ad a 4 fase kurva pertumbuhan mikroorganisme. yaitu : 1.

mungkin tidak diperlukan waktu adaptasi. (2) mutan yang baru dipindahkan dari fase statis ke medium baru dengan komposisi sama seperti sebelumnya. Jumlah inokulum Jumlah awal sel yang semakin tinggi akan mempercepat fase adaptasi. . Pada fase ini kultur paling sensitif terhadap keadaan lingkungan. 2. diperlukan waktu penyesuaian untuk mensintesa enzimfase adaptasi ini dipengaruhi oleh beberapa factor. 2. 2. Adanya hasil metabolisme 3. misalnya: (1) kultur dipindahkan dari medium yang kaya nutrien ke medium yang kandungan nuriennya terbatas. Fase Log/Pertumbuhan Logaritma Pada fase ini mikroba membelah dengan cepat dan konstan mengikuti kurva logaritmik. Medium dan lingkungan pertumbuhan Jika medium dan lingkungan pertumbuhan sama seperti medium dan lingkungan sebelumnya.mula akan mengalami fase adaptasi untuk menyesuaikan dengan kondisi lingkungan di sekitarnya. Pada fase ini mikroba membutuhkan energi lebih banyak dari pada fase lainnya. dan kondisi lingkungan yang baru berbeda dengan sebelumnya. Tetapi jika nutrient yang tersedia enzim. Pada fase ini kecepatan pertumbuhan sangat dipengaruhi oleh medium tempat tumbuhnya seperti: pH dan kandungan nutrient. Fase adaptasi mungkin berjalan lambat karena beberapa sebab. mula. kecepatan pertumbuhan populasi menurun dikarenakan : 1. juga kondisi lingkungan termasuk suhu dan kelembaban udara.1. Fase Lag/Fase Adaptasi Jika mikroba dipindahkan ke dalam suatu medium. Lamanya diantaranya: 1. Fase Stationer Pada fase ini jumlah populasi sel tetap karena jumlah sel yang tumbuh sama yang mungkin beracun atau dapat menghambat pertumbuhan mikroba. Nutrien di dalam medium sudah berkurang. Akhir fase log.

karena jumlah sel mikroorganisme mati. Ukuran sel pada fase ini menjadi lebih kecil karena sel tetap membelah meskipun zat-zat nutrisi sudah habis. sel kemungkinan mempunyai komposisi yang berbeda dengan sel yang tumbuh pada fase logaritmik. Kecepatan kematian bergantung pada kondisi nutrien. maka secara perlahan-lahan jumlah sel yang mati melebihi jumlah sel yang hidup. Setelah masa dilampaui. Fase ini disebut fase kematian dipercepat. Energi cadangan di dalam sel habis. dingin. dan jenis mikroba. lingkungan. Karena kekurangan zat nutrisi. radiasi. sebab sebagian kecil sel yang mampu beradaptasi an tetap hidup dalam beberapa saat waktu tertentu. 2. Fase kematian dipercepat mengalami penurunan jumlah sel. Penghitungan Waktu Generasi Dari hasil pembelahan sel secara biner: 1 sel menjadi 2 sel 2 sel menjadi 4 sel 21 menjadi 22 atau 2x2 4 sel menjadi 8 sel 22 menjadi 23 atau 2x2x2 Dari hal tersebut dapat dirumuskan menjadi: N = N0 2n Keterangan: N: jumlah sel akhir. Namun penurunan jumlah sel tidak mencapai nol. B. . Nutrien di dalam medium sudah habis. sehingga jumlah akhir mikroorganisme tetapmaksimum pada masa tertentu. Fase ini diawali setelah jumlah mikroorganime yang dihasilkan mencapai jumlah yang konstan.dengan jumlah sel yang mati. Pada fase ini sel-sel lebih tahan terhadap keadaan ekstrim seperti panas. Pada fase ini sebagian populasi mikroba mulai mengalami kematian karena beberapa sebab yaitu: 1. 2005). dan bahanbahan kimia. 5. Fase Kematian. Pada fase ini merupakan akhir dari suatu kurva dimana jumlah individu secara tajam akan menurun sehingga grafik tampaknya akan kembali ketitik awal lagi (Budiyanto.

t = 2 Dengan rumus dalam bentuk logaritma: n = log 108 – log (5x 107) = 8 – 7. n: jumlah generasi Waktu generasi = t / n t: waktu pertumbuhan eksponensial.301 0.301 0. rumus N = N0 2n menjadi: log N = log N0 + n log 2 log N – log N0 = n log 2 n = log N – log N0 = log N – log N0 log 2 Contoh 1: N = 108 . N0 = 5x107 .N0: jumlah sel awal.301 Jadi waktu generasi = t/n = 2/1 = 2 jam Waktu generasi juga dapat dihitung dari slope garis dalam plot semilogaritma .6 =1 0. n: jumlah generasi Dalam bentuk logaritma.

Jumlah sel hidup dapat ditetapkan dengan metode plate count atau colony count. Cara lain untuk menghitung jumlah sel hidup adalah dengan filter membran dan MPN (Most Probable Number) yang menggunakan medium cair.15. dalam bentuk sampel kering yang diletakkan di permukaan gelas benda (slide) dan dalam sampel cairan yang diamati menggunakan metode counting chamber. Dari grafik pertumbuhan tersebut diketahui bahwa slope = 0. slope = 0.720. maka jumlah generasi dapat dihitung sebagai berikut: n = Log N – Log N0 = Log 1.Hausser Bacteria Counter (PHBC) untuk menghitung bakteri atau dengan alat haemocytometer untuk menghitung khamir. yaitu dengan rumus.kurva pertumbuhan eksponensial. jadi jumlah koloni dianggap setara dengan jumlah sel.320 – Log 100 = 14 Log 2 14 C. Sampel mikrobia yang dihitung biasanya dibuat seri pengenceran. Massa sel dapat dipisahkan dari cairan mediumnya menggunakan alat sentrifus (pemusing) sehingga dapat diukur volume massa selnya atau diukur berat keringnya (dikeringkan dahulu dengan 0. Jumlah total sel mikrobia dapat ditetapkan secara langsung dengan pengamatan mikroskopis.301 Waktu Generasi: t/n = 60 menit x 5 = 21 menit/generasi . atau sel-sel yang ukurannya relative lebih besar dari bakteri. spora. misalnya dengan alat Petroff. Contoh 2: Jika 100 sel setelah ditumbuhkan selama 5 jam menghasilkan 1. Jumlah sel dapat dihitung dari jumlah sel total yang tidak membedakan jumlah sel hidup atau mati.320 sel.720. sehingga juga diperoleh waktu generasi = 2 jam. dengan cara ditaburkan pada medium agar sehingga satu sel hidup akan tumbuh membentuk satu koloni.301/ waktu generasi. Pengukuran Pertumbuhan Pertumbuhan diukur dari perubahan jumlah sel atau berat kering massa sel. yaitu metode taburan permukaan (spread plate method) dan metode taburan (pour plate method). dan jumlah sel hidup (viable count). Pertumbuhan sel dapat diukur dari massa sel dan secara tidak langsung dengan mengukur turbiditas cairan medium tumbuh. Cara ini ada dua macam.

Temperatur optimum adalah nilai yang paling sesuai /baik untuk kehidupan mikroba. Pengaruh temperatur Temperatur merupakan salah satu faktor yang penting di dalam kehidupan. Faktor-faktor Fisik a. 2. optimum dan maksimum. Ada spesies yng mati setelah mengalami pemanasan beberapa menit didalam medium pada temperature 60oC.pemanasan pada suhu 90-1100C semalam). Pada umumnya batas daerah tempetur bagi kehidupan mikroba terletak di antara 0oC dan 90oC.20 % dari berat basahnya. Umumnya berat kering bakteri adalah 10. Mengenai pH medium kenapa berpengaruh terhadap daya tahan mikroba terhadap pemanasan bahwa sedikit perubahan pH menuju asam atau basa sangat . Daya tahan mikroba terhadap temperatur tidak sama untuk tiap-tiap spesies. Temperatur maksimum adalah nilai tertinggi yang masih dapat digunakan untuk aktivitas mikroba tetapi pada tingkatan kegiatan fisiologi yang paling minimal. Turbiditas juga dapat diukur menggunakan spektrofotometer (optical density/ OD). Turbiditas dapat diukur menggunakan alat photometer (penerusan cahaya). sehingga untuk masin -masing mikroba dikenal nilai temperatur minimum. sehingga cara ini dapat digunakan untuk memperkirakan jumlah atau massa sel secara tidak langsung.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mikroorganisme 1. yang sebelumnya dibuat kurva standart berdasarkan pengukuran jumlah sel baik secara total maupun yang hidup saja atau berdasarkan berat kering sel. Beberapa jenis mikroba dapat hidup di daerah temperatur yang luas sedang jenis lainnya pada daerah yang terbatas. Oleh karena itu. sebaliknya bakteri yang membentuk spora seperti genus Bacillus dan genus Clostridium tetap hidup setelah dipanasi dengan uap 100oC atau lebih selama 30 menit. proses sterilisasi untuk membunuh setiap spesies bakteri yakni dengan pemanasan selama 15-20 menit dengan tekanan 1 atm dan temperatur 121oC di dalam otoklaf. Temperatur minimum suatu jenis mikroba ialah nilai paling rendah dimana kegiatan mikroba asih berlangsun. semakin pekat atau semakin banyak populasi mikrobia maka cahaya yang diteruskan emakin sedikit. Unit photometer atau OD proporsional dengan massa sel dan juga jumlah sel.

Berdasarkan daerah aktivitas temperatur. optimum 550C-600C. sedangkan maksimum 750C. golongan ini terutama terdapat di dalam sumber-sumber air panas dan tempat-tempat lain yang bertemperatur lebih tinggi dari 550C. Grafik pertumbuhan mikroba pada berbagai kisaran suhu pertumbuhan Temperatur tinggi melebihi temperatur maksimum akan menyebabkan denaturasi protein dan enzim. yaitu: a. inilah yang disebut golongan euritermik. Tetapi Escherichia coli tumbuh pada kisaran temperatur 8-46oC. b. mikroba akan mengalami kematian. umumnya hidup di dalam alat pencernaan. Sehubungan dengan hal ini. Bila mikroba dipiara dibawah temperatur minimum atau sedikit diatas temperatur maksimum tidak segera mati. Dengan nilai temperatur yang melebihi maksimum. Mikroba mesofilik adalah golongan mikroba yang mempunyai temperatur optimum pertumbuhan antara 250C-370C minimum 150C dan maksimum di sekitar 55 C. Laju kematian . melainkan dalam keadaan dormansi (tidur). Mikroba termofilik adalah golongan mikroba yang dapat tumbuh pada daerah temperature tinngi. kadang-kadang ada juga yang dapat hidup dengan baik pada temperatur 400C atau lebih. kebanyakan golongan ini tumbuh d tempat-tempat dingin.berpengaruh terhadap pemanasan. c. maka buah-buahan yang masam lebih mudah disterilkan dari pada sayur mayur atau daging. Hal ini akan menyebabkan terhentinya metabolisme. golongan mikroba yang memiliki batas temperatur minimum dan maksimum tidak telalu besar. Mikroba psirkofilik (kryofilik) adalah golongan mikroba yang dapat tumbuh pada daerah temperatur antara 0oC sampai 300C. misalnya Gonococcus yang hanya dapat hidup pada kisaran 30-40oC. mikroba di bagi menjadi 3 golongan. dengan temperatur optimum 15 0 C. Golongan bakteri yang dapat hidup pada batas-batas temperature yang sempit. minmum 400C. sehingga beda (rentang) antara temperatur minimum besar. disebut stenotermik. Titik kematian termal suatu jenis mikroba (Thermal Death Point) adalah nilai temperatur serendah-rendahnya yang dapat mematikan jenis mikroba yang berada dalam medium standar selama 10 menit dalam kondisi tertentu. baik di daratan maupun di lauatan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi titik kematian termal antara lain ialah waktu. Setiap mikroba memerlukan kandungan air bebas tertentu untuk hidupnya. Mikroba yang osmotoleran dapat hidup pada aw terendah (0. Kelembaban dan Pangaruh Kebasahan serta Kekeringan Mikroba mempunyai nilai kelembaban optimum.98. Mikroba umumnya dapat tumbuh pada aw 0. bakteri umumnya memerlukan aw 0. oleh karena itu masing-masing spesies itu ada angka kematian pada suatu temperatur.8.6) misalnya khamir Saccharomyces rouxii. artospora. konidia. Mikroba yang tahan kekeringan adalah yang dapat membentuk spora. spesies yang satu lebih tahan dari pada yang lain terhadap suatu pemanasan. Aspergillus glaucus dan jamur benang lain dapat tumbuh pada aw 0.998-0. Waktu kematian temal (Thermal Death Time) merupakan waktu yang diperlukan untuk membunuh suatu jenis mikroba pada suatu temperatur yang tetap. Hal ini karena tidak semua spesies mati bersama-sama pada suatu temperatur tertentu.0. . bentuk dan jenis spora. Contoh waktu kematian thermal (TDT/ thermal death time) untuk beberapa jenis bakteri adalah sebagai berikut : Nama mikroba Escherichia coli Staphylococcus aureus Spora Bacilus subtilis Spora Clostridium Waktu (menit) 20-30 19 20-50 100-330 Suhu (0C) 57 60 100 100 botulinum b. klamidospora dan kista.75. pH dan komposisi medium. sedangkan untuk jamur di perlukan kelembaban yang rendah dibawah 80%.termal (thermal Deat Rate) adalah kecepatan kematian mikroba akibat pemberian temperatur. Banyak mikroba yang tahan hidup di dalam keadaan kering untuk waktu yang lama. Bakteri umumnya memerlukan aw atau kelembaban tinggi lebih dari 0. temperatur. seperti dalam bentuk spora. umur mikrroba. kelembaban.999. biasanya diukur dengan parameter aw (water activity) atau kelembaban relatif. Pada umumnya untuk pertumbuhan ragi dan bakteri diperlukan kelembaban yang tinggi di atas 85%.90. tetapi bakteri halofil hanya memerlukan aw 0.6. Biasanya.

Sehingga kegiatan metabolisme berhenti.60 Xeromyces Bakteri sebenarnya mahluk yang suka akan keadaan basah. yaitu bakteri yang menyebabkan meningitis. Tetapi ada mikrobia yang dapat tahan dalam keadaan kering. Tanah yang cukup basah baiklah bagi kehidupan bakteri. Meningococcus. bahkan dapat hidup di dalam air.85 Staphylococcus Debaromyces 0.spora-spora bakteri dapat bertahan beberapa tahun dalam keadaan kering. Tabel berikut ini memuat daftar aw yang diperlukan oleh beberapa jenis bakteri dan jamur : Nilai aw 1. Banyak bakteri menemui ajalnya. Sebaliknya. • Pengeringan pada suhu tubuh (37°C) atau suhu kamar (+ 26 °C) lebih buruk daripada pengeringan pada suhu titik-beku. Hanya di dalam air yang tertutup mereka tak dapat hidup subur. Pengeringan dapat juga merusak protoplasma dan mematikan sel. Demikian pula efek kekeringan kurang terasa. . jika kena udara kering.80 Penicillium 0. Pada proses pengeringan.00 0.90 Bakteri Caulobacter Spirillum Lactobacilus Jamur Fusarium Bacillus Mucor 0. air akan menguap dari protoplasma. apabila bakteri berada di dalam sputum ataupun di dalam agar-agar yang kering.75 Halobacterium Aspergillus 0. • Pengeringan di dalam terang itu pengaruhnya lebih buruk daripada pengeringan di dalam gelap. jika digesekkan di atas kaca obyek. hal ini di sebabkan karena kurangnya udara bagi mereka.konidia atau dapat membentuk kista. itu mati dalam waktu kurang daripada satu jam. gula. Adapun syarat-syarat yang menentukan matinya bakteri karena kekeringan itu ialah: • Bakteri yang ada dalam medium susu. daging kering dapat bertahan lebih lama daripada di dalam gesekan pada kaca obyek. misalnya mikrobia yang membentuk spora dan dalam bentuk kista.

Oksidasi agaknya merupakan faktor-maut. sehingga tahan terhadap ion Natrium.94). dan Sarcina ventriculi. Hanya beberapa bakteri yang bersifat toleran terhadap kemasaman. misalnya Halobacterium. Pengaruh perubahan nilai osmotik Tekanan osmose sebenarnya sangat erat hubungannya dengan kandungan air. Bakteri yang bersifat asidofil misalnya Thiobacillus. Contoh mikroba osmofil adalah beberapa jenis khamir. Jamur umumnya . sel membengkak dan akhirnya pecah. Apabila mikroba diletakkan pada larutan hipertonis. Beberapa bakteri dapat hidup pada pH tinggi (medium alkalin). adalah mikroba yang dapat tumbuh pada kadar gula tinggi. Bakteri halofil ada yang mempunyai membran purple bilayer. yaitu terkelupasnya membran sitoplasma dari dinding sel akibat mengkerutnya sitoplasma. rhizobia. actinomycetes.• Pengeringan di dalam udara efeknya lebih buruk daripada pengeringan di dalam vakum ataupun di dalam tempat yang berisi nitrogen. adalah mikroba yang dapat tumbuh pada kadar garam halogen yang tinggi. Acetobacter. yaitu pecahnya sel karena cairan masuk ke dalam sel. kadar garamnya dapat mencapai 30 %. dinding selnya terdiri dari murein. Apabila diletakkan pada larutan hipotonis. umumnya mempunyai kandungan KCl yang tinggi dalam selnya. (2) mikroba halofil. adalah kelompok mikroba yang dapat tahan (tidak mati) tetapi tidak dapat tumbuh pada kadar garam tinggi. Contohnya adalah bakteri nitrat. Bakteri yang tahan pada kadar garam tinggi. maka selnya akan mengalami plasmolisis. Contoh mikroba halofil adalah bakteri yang termasuk Archaebacterium. misalnya Lactobacilli. Kadar ion hidrogen (pH) Mikroba umumnya menyukai pH netral (pH 7). Selain itu bakteri ini memerlukan konsentrasi Kalium yang tinggi untuk stabilitas ribosomnya. (3) mikroba halodurik. c. dan bakteri pengguna urea. d. Khamir osmofil mampu tumbuh pada larutan gula dengan konsentrasi lebih dari 65 % wt/wt (aw = 0. Berdasarkan tekanan osmose yang diperlukan dapat dikelompokkan menjadi (1) mikroba osmofil. maka sel mikroba akan mengalami plasmoptisa.

4 10. bahkan setiap radiasi dapat berbahaya bagi kehidupannya. g.8 7. Buffer merupakan campuran garam mono dan dibasik. Berdasarkan pH-nya mikroba dapat dikelompokkan menjadi 3 yaitu (a) mikroba asidofil.0 6. adalah kelompok mikroba yang dapat hidup pada pH 5.4 4.0. Pengaruh Sinar Kebanyakan bakteri tidak dapat mengadakan fotosintesis. Misalnya Enterobacteriaceae dan beberapa Pseudomonadaceae. adalah kelompok mikroba yang dapat hidup pada pH 8. yaitu yang bergelombang antara 390 m μ sampai 760 m μ.0-7. Contoh pH minimum. dan maksimum untuk beberapa jenis bakteri adalah sebagai berikut : Nama mikroba Escherichia coli Proteus vulgaris Enterobacter aerogenes Pseudomonas aeruginosa Clostridium sporogenes Nitrosomonas spp Nitrobacter spp Thiobacillus Thiooxidans minimum 4.0-6.8-6.0-7.6 5.4-9.4 4.0 8.0 9.6 1.0-7.6 5. tidak begitu berbahaya. adalah kelompok mikroba yang dapat hidup pada pH 2.0-4.0-8.0 Lactobacillus acidophilus 4. tetapi apabila pH media 8 maka pertumbuhan didominasi oleh bakteri.0-5.5-9.0-5.6 8.0-7. dan (c) mikroba alkalifil.4 5.2.6 6.0 8.5. maupun senyawa-senyawa organik amfoter.6-8.6-7. Apabila mikroba ditanam pada media dengan pH 5 maka pertumbuhan didominasi oleh jamur.8 maksimum 9. Oleh karenanya ke dalam medium diberi tambahan buffer untuk menjaga agar pH nya konstan. terutama pada mikroba yang dapat menghasilkan asam.0 pH optimum 6. Sinar yang nampak oleh mata kita.0 4. Cara kerja buffe adalah garam dibasik akan mengadsorbsi ion H+ dan garam monobasik akan bereaksi dengan ion OH-.6 2.0 8.dapat hidup pada kisaran pH rendah.0. optimum.5-8.0-2.0 6.8 7.0 6.4 9. Sebagai contoh adalah buffer fosfat anorganik dapat mempertahankan pH diatas 7.6 6.8 Untuk menumbuhkan mikroba pada media memerlukan pH yang konstan. yang . (b) mikroba mesofil (neutrofil).0-7.0 6.

Lampu air rasa banyak memancarkan sinar bergelombang pendek ini. Suatu kesulitan ialah bahwa bakteri atau virus itu mudah sekali ketutupan benda-benda kecil. bakteri bahkan dapat mati seketika. Dengan penyinaran pada jarak dekat sekali. Hidrolisa. 2. Oksidasi. Alkohol d. Formaldehida (CH2O) c. sedang pada jarak yang agak jauh mungkin sekali hanya pembiakannya sajalah yang terganggu. plasma darah dan bermacam-macam bahan lainya. ruang-ruang penyimpan daging. Spora-spora dan virus lebih dapat bertahan terhadap sinar ultra-ungu. 6. Misal. jika kertas-kertas pembungkus makanan. Faktor-faktor Kimia 1. Lebih dekat.berbahaya ialah sinar yang lebih pendek gelombangnya. gedung-gedung bioskop dan sebagainya pada waktu-waktu tertentu dibersihkan dengan penyinaran ultraungu.beberapa oksidator kuat dapat mengoksidasi unsur sel tertentu sehingga fungsi unsur terganggu.misal preparat zulfat memblokir sintesa folic acid di dalam sel mikroorganisme. pengaruhnya lebih buruk. Terjadinya ikatan kimia. yaitu yang bergelombang antara 240 m μ sampai 300 m μ. Sehigga fungsi enzim terganngu. 5. Yodium . 4. Fenol Dan Senyawa-Senyawa Lain Yang Sejenis b. Alangkah baiknya. Mengubah permeabilitas membran sitoplasma sehingga lalu lintasb zat-zat yang keluar masuk sel mikroorganisme menjadi kacau. 3. asam atau basa kuat dapat menghidrolisakan struktur sel Mengubah sifat koloidal protoplasma sehingga menggumpal dan hingga hancur. Faktor zat kimia yang mempengaruhi prtumbuhan: a. Sinar ultra-ungu biasa dipakai untuk mensterilkan udara. 2. air. selnya mati. mengoksidasi suatu enzim. ruang-ruang pertemuan. ion-ion logam tertentu dapat megikatkan diri pada beberapa enzim. sehingga dapat terhindar dari pengaruh penyinaran. Memblokir beberapa reaksi kimia.

Simbiosis bersifat sangat spesifik (khusus) dan salah satu . maka disebut sintropisme. serta populasi yang keluar dari habitat alamiahnya. Apabila asosiasi melibatkan 2 populasi atau lebih dalam keperluan nutrisi bersama. Desulfovibrio mensuplai asetat dan H2 untuk respirasi anaerobic Methanobacterium. Mutualisme sering disebut juga simbiosis. d. Sebagai contoh interaksi antara mikroba allocthonous (nonindigenous) dengan mikroba autochthonous (indigenous). Hal ini dapat terjadi pada kepadatan populasi yang sangat rendah atau secara fisik dipisahkan dalam mikrohabitat. Klor Dan Senyawa Klor f. atau proses pembersihan air secara alami. b. Contohnya adalah: . Sinergisme Suatu bentuk asosiasi yang menyebabkan terjadinya suatu kemampuan untuk dapat melakukan perubahan kimia tertentu di dalam substrat. Obat Pencuci (Detergen) h. Garam – Garam Logam 3. Sulfonamida i. Zat Warna g.Bakteri Flavobacterium brevis dapat menghasilkan ekskresi sistein. Netralisme Netralisme adalah hubungan antara dua populasi yang tidak saling mempengaruhi. Sistein dapat digunakan oleh Legionella pneumophila.e. Komensalisme Hubungan komensalisme antara dua populasi terjadi apabila satu populasi diuntungkan tetapi populasi lain tidak terpengaruh. Faktor-faktor Biologi a. Sintropisme sangat penting dalam peruraian bahan organik tanah. Antibiotik j. dan antar mikroba nonindigenous di atmosfer yang kepadatan populasinya sangat rendah. Mutualisme (Simbiosis) Mutualisme adalah asosiasi antara dua populasi mikroba yang keduanya saling tergantung dan sama-sama mendapat keuntungan. c.

populasi satu diuntungkan (parasit) dan populasi lain dirugikan (host / inang). Contohnya adalah bakteri Acetobacter yang mengubah etanol menjadi asam asetat. Asam-asam tersebut dapat menghambat pertumbuhan bakteri lain. Thiobacillus thiooxidans menghasilkan asam sulfat. Misalnya dengan menghasilkan senyawa asam. Parasitisme Parasitisme terjadi antara dua populasi. Bakteri amonifikasi menghasilkan ammonium yang dapat menghambat populasi Nitrobacter. atau antibiotika. Contohnya adalah antara protozoa Paramaecium caudatum dengan Paramaecium aurelia. dan fungi memberikan bentuk perlindungan (selubung) dan transport nutrien / mineral serta membentuk faktor tumbuh untuk algae. Kompetisi Hubungan negatif antara 2 populasi mikroba yang keduanya mengalami kerugian. Contohnya adalah bakteri . g. Peristiwa ini ditandai dengan menurunnya sel hidup dan pertumbuhannya. yang hidup pada bintil akar tanaman kacang-kacangan. Kompetisi terjadi pada 2 populasi mikroba yang menggunakan nutrien / makanan yang sama. Amensalisme (Antagonisme) Satu bentuk asosiasi antar spesies mikroba yang menyebabkan salah satu pihak dirugikan. pihak lain diuntungkan atau tidak terpengaruh apapun.populasi anggota simbiosis tidak dapat digantikan tempatnya oleh spesies lain yang mirip. Umumnya parasitisme terjadi karena keperluan nutrisi dan bersifat spesifik. Lichenes e. yang merupakan simbiosis antara algae sianobakteria dengan fungi. Ukuran parasit biasanya lebih kecil dari inangnya. Algae (phycobiont) sebagai produser yang dapat menggunakan energi cahaya untuk menghasilkan senyawa organik. Contoh lain adalah Lichenes (Lichens). Umumnya merupakan cara untuk melindungi diri terhadap populasi mikroba lain. Contohnya adalah Bakteri Rhizobium sp. Terjadinya parasitisme memerlukan kontak secara fisik maupun metabolik serta waktu kontak yang relatif lama. atau dalam keadaan nutrien terbatas. Senyawa organik dapat digunakan oleh fungi (mycobiont). f. toksin.

dan peristiwanya berlangsung cepat. Bahan dasar Bahan dasar dalam media pertumbuhan mikroorganisme diantaranya adalah air (H2O) sebagai pelarut. h. tegangan permukaan dan pH yang sesuai dengan kebutuhan mikroba. memparasit jamur Agaricus sp. agar (dari rumput laut) yang berfungsi untuk pemadat media. Protozoa Didinium nasutum (predator) dengan Paramaecium caudatum (prey). dapat dilihat di gambar sebagai berikut. Kekurangannnya adalah lebih banyak jenis mikroba yang mampu menguraikannya dibanding agar. Fungsinya juga sebagai pemadat . Predasi Hubungan predasi terjadi apabila satu organisme predator memangsa atau memakan dan mencerna organisme lain (prey). Jamur Trichoderma sp. gelatin juga memiliki fungsi yang sama seperti agar.3 Media biak dan persyaratan bagi pertumbuhan  Media Pertumbuhan Mikroorganisme Media pertumbuhan mikroorganisme adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat makanan (nutrisi) yang diperlukan mikroorganisme untuk pertumbuhannya. Media yang digunakan untuk pembiaakan harus steril artinya tidak ditumbuhi oleh mikroba lain yang tidak diharapkan.Bdellovibrio yang memparasit bakteri E. Mikroorganisme memanfaatkan nutrisi media berupa molekulmolekul kecil yang dirakit untuk menyusun komponen sel. Agar sulit didegradasi oleh mikroorganisme pada umumnya mencair pada suhu 45 oC. coli. Syarat tumbuh kembang dalam media : • Pada media harus terkandung semua unsur hara • Harus mempunyai tekanan osmosis (hipertonis dan hipotonis). Gelatin adalah polimer asam amino yang diproduksi dari kolagen. • Harus dalam keadaan steril medianya  Bahan-bahan media pertumbuhan 1. Umumnya predator berukuran lebih besar dibandingkan prey. yaitu bahan yang mengandung natrium silikat. Silica gel. Contohnya adalah Protozoa (predator) dengan bakteri (prey). 2.

jika media ini cair maka cincin ini dapat dengan mudah hancur.media. Mg dan unsur pelikan/trace element. tidak padat. P. Misalnya bakteri yang tumbuh pada media NfB (Nitrogen free Bromthymol Blue) semisolid akan membentuk cincin hijau kebiruan di bawah permukaan media. kondisi anaerob atau sedikit oksigen meningkatkan metabolisme nitrat tetapi bakteri ini juga diharuskan tumbuh merata diseluruh media. tidak begitu cair. contohnya adalah NB (Nutrient Broth).3-0. Sumber nitrogen mencakup asam amino. Medium berdasarkan sifat fisik • Medium padat yaitu media yang mengandung agar 15% sehingga setelah dingin media menjadi padat. misalnya Glucose Agar. • Medium cair yaitu media yang tidak mengandung agar. Medium berdasarkan komposisi • • Medium sintesis yaitu media yang komposisi zat kimianya diketahui jenis dan takarannya secara pasti. lemak. • Medium setengah padat yaitu media yang mengandung agar 0. Mac Conkey Agar. misalnya pada media Nitrate Broth. Medium semi sintesis yaitu media yang sebagian komposisinya diketahui secara pasti. Sumber karbon dan energi yang dapat diperoleh berupa senyawa organik atau anorganik esuai dengan sifat mikrobanya. protein dan asam organik.  Macam-Macam Media Pertumbuhan 1. Jasad heterotrof memerlukan sumber karbon organik antara lain dari karbohidrat. H. 2. Sejumlah mikroba dapat menggunakan sumber N anorganik seperti urea dan ditambah lagi dengan vitamin. Silica gel khusus digunakan untuk memadatkan media bagi mikroorganisme autotrof obligat. N. protein atau senyawa bernitrogen lain.4% sehingga menjadi sedikit kenyal. . Semisolid juga bertujuan untuk mencegah/menekan difusi oksigen. misanya PDA (Potato Dextrose Agar) yang mengandung agar. O. Media semi solid dibuat dengan tujuan supaya pertumbuhan mikroba dapat menyebar ke seluruh media tetapi tidak mengalami percampuran sempurna jika tergoyang. Nutrisi atau zat makanan Media harus mengandung unsur-unsur yang diperlukan untuk metabolisme sel yaitu berupa unsur makro seperti C. unsur mikro seperti Fe. LB (Lactose Broth). 2.

Media diperkaya juga bersifat selektif untuk mikroba tertentu. • Media untuk karakterisasi bakteri.coli resisten antibotik dan menghambat kontaminan yang peka. Blood Agar. Salt broth yang ditambah NaCl 4% untuk membunuh Streptococcus agalactiae yang toleran terhadap garam.dekstrosa dan ekstrak kentang. • • Media untuk peremajaan kultur. 3. misalnya Blood Tellurite Agar. misalnya Tomato Juice Agar. Media ini mengandung semua senyawa esensial untuk pertumbuhan mikroba. yang digunakan untuk menguji kemampuan menggunakan asam sitrat sebagai sumber karbon. kuning telur. Contohnya adalah Luria Bertani medium yang ditambah Amphisilin untuk merangsang E. Media selektif/penghambat. Serum Agar. Media ini digunakan unutk mendiagnosis atau menganalisis metabolisme suatu mikroba. Brain Heart Infusion Agar. Media diperkaya adalah media yang mengandung komponen dasar untuk pertumbuhan mikroba dan ditambah komponen kompleks seperti darah. Media yang digunakan untuk mengetahui kemempuan spesifik suatu mikroba. • Media diperkaya (enrichment). serum. Media umum atau spesifik yang digunakan untuk peremajaan kultur Media untuk menentukan kebutuhan nutrisi spesifik. Contohnya adalah Koser’s Citrate medium. misalnya Nutrient Broth. dll. kita tidak dapat mengetahui secara detail tentang komposisi senyawa penyusunnya. • Medium non sintesis yaitu media yang dibuat dengan komposisi yang tidak dapat diketahui secara pasti dan biasanya langsung diekstrak dari bahan dasarnya. Pancreatic Extract. Ampiciline. Kadang-kadang indikator . Media yang selain mengandung nutrisi juga ditambah suatu zat tertentu sehingga media tersebut dapat menekan pertumbuhan mikroba lain dan merangsang pertumbuhan mikroba yang diinginkan. Untuk bahan ekstrak kentang. Medium berdasarkan tujuan • • Media untuk isolasi. Bile Agar. Bakteri yang ditumbuhkan dalam media ini tidak hanya membutuhkan nutrisi sederhana untuk berkembang biak. tetapi membutuhkan komponen kompleks.

4 Reproduksi Mikroorganisme Bakteri tidak mengalami mitosis dan meiosis. Media ini bertujuan untuk mengidentifikasi mikroba dari campurannya berdasar karakter spesifik yang ditunjukkan pada media diferensial. adalah media yang hanya dapat ditumbuhi oleh satu atau lebih jenis mikroorganisme tertentu tetapi akan menghambat atau mematikan untuk jenis –jenis lainnya. • Media selektif. • Media diferensial. sifat-sifat media. ukuran koloni dan perubahan warna media di sekeliling koloni. Bakteri mengadakan pembiakan dengan dua cara. yaitu secara aseksual dan seksual. sedangkan pembiakan . Arginine Agar. adalah media yang dipergunakan untuk menumbuhkan Media penguji. • Media penyangga. jumlah mikroorganisme pada suatu bahan.ditambahkan untuk menunjukkan adanya perubahan kimia. yaitu media yang digunakan untuk menghitung mikroorganisme tertentu serta penemuan sifatsifatnya. warna. 2. kalau media a dapat dipergunakan untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan satu atau lebih kelompok mikroorganisme secara umum. Lactose Broth. Pembiakan secara aseksual dilakukan dengan pembelahan. Berdasarkan Sifat Penggunaan media bukan hanya untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroorganisme. • • • Media diferensial. 4. yaitu media yang digunakan untuk pengujian senyawa atau Media penghitungan. kalau media dipergunakan dengan maksud “memberikan kesempatan” terhadap suatu jenis atau kelompok mikroorganisme untuk tumbuh dan berkembang lebih cepat dari jenis atau kelompok lainnya yang sama-sama berada dalam satu bahan. Media ini dapat berbentuk media umum. media selektif ataupun media differensial dan penguji. Contohnya adalah Nitrate Broth. Reproduksi. tetapi juga untuk isolasi. misalnya TSIA (Triple Sugar Iron Agar) yang mampu memilih Enterobacteria berdasarkan bentuk. Hal ini merupakan perbedaan penting antara bakteri (prokariot) dengan sel eukariot. benda tertentu dengan bantuan mikroorganisme. yaitu: • Media umum.

seksual dilakukan dengan cara transformasi. Pada proses transformasi tersebut ADN bebas sel bakteri donor akan mengganti sebagian dari sel bakteri penerima. bakteriofage yang nonvirulen (menimbulakan respon lisogen) memindahkan ADN dan bersatu dengan ADN inangnya. a. tetapi tidak terjadi melalui kontak langsung. Haemophillus. . . Berikut ini beberapa cara pembiakan bakteri dengan cara rekombinasi genetik dan membelah diri. yang terjadi hanya berupa pertukaran materi genetika (rekombinasi genetik). Sebab. Selama transduksi. 2. Transformasi Transformasi adalah perpindahan materi genetik berupa DNA dari sel bakteri yang satu ke sel bakteri yang lain. dan Pseudomonas. dan konjugasi. Neisseria. Bila virus – virus baru sudah terbentuk dan akhirnya menyebabkan lisis pada bakteri. Namun. kepingan ganda ADN dipisahkan dari sel bakteri donor ke sel bakteri penerima oleh bakteriofage (virus bakteri). Virus dapat menyambungkan materi genetiknya ke DNA bakteri dan membentuk profag. Contohnya : Streptococcus pnemoniaeu. Proses ini pertama kali ditemukan oleh Frederick Grifith tahun 1982. Diguga transformasi ini merupakan cara bakteri menularkan sifatnya ke bakteri lain. proses pembiakan cara seksual berbeda dengan eukariota lainnya. transduksi . Bacillus. Transduksi Transduksi adalah pemindahan materi genetik bakteri ke bakteri lain dengan perantaraan virus. Cara transformasi ini hanya terjadi pada beberapa spesies saja. Misalnya pada bakteri Pneumococci yang menyebabkan Pneumonia dan pada bakteri patogen yang semula tidak kebal antibiotik dapat berubah menjadi kebal antibiotik karena transformasi. Rekombinasi Genetik Adalah pemindahan secara langsung bahan genetic (DNA) di antara dua sel bakteri melalui proses berikut: 1. dalam proses pembiakan tersebut tidak ada penyatuan inti sel sebagaimana biasanya pada eukarion.

Cara ini dikemukakan oleh Norton Zinder dan Jashua Lederberg pada tahun 1952. Konjugasi Konjugasi adalah bergabungnya dua bakteri (+ dan –) dengan membentuk jembatan untuk pemindahan materi genetik. Ujung pilus akan melekat pada sel peneima dan ADN dipindahkan melalui pilus tersebut. terjadi transfer ADN dari sel bakteri donor ke sel bakteri penerima melalui ujung pilus. Kemampuan sel donor memindahkan ADN dikontrol oleh faktor pemindahan ( transfer faktor = faktor F ) b. Proses inilah yang dinamakan Transduksi. Pembelahan biner mirip mitosis pada sel eukariot.Ketika terbentuk virus baru. Pembelahan Biner Pada pembelahan ini. yaitu sebagai berikut: . Artinya. Badanya. Virus yang terbentuk memiliki dua macam DNA yang dikenal dengan partikel transduksi (transducing particle). pembelahan biner pada sel bakteri tidak melibatkan serabut spindle dan kromosom. Pembelahan Biner dapat dibagi atas tiga fase. 3. sifat sel anak yang dihasilkan sama dengan sifat sel induknya. di dalam DNA virus sering terbawa sepenggal DNA bakteri yang diinfeksinya.

Tetapi pembelahan bakteri mempunyai faktor pembatas misalnya kekurangan makanan. . berupa potongan misselium atau hifa.yaitu: aseksul dan seksual. ada pula bakteri yang tetap bergandengan setelah pembelahan. suhu tidak sesuai. 3. 2. Fase pertama. bakteri demikian merupakan bentuk koloni. Jika pembelahan berlangsung satu jam. dan adanya organisme pemangsa bakteri. Dengan fragmentasi. b. Tunas yang dihasilkan disebut blastospora. dilakukan oleh jamur yang bersel satu. Fase kedua. sitoplasma terbelah oleh sekat yang tumbuh tegak lurus. maka akan dihasilkan delapan anakan sel. Fase ketiga. c. Jika hal ini tidak terjadi. Pada keadaan normal bakteri dapat mengadakan pembelahan setiap 20 menit sekali.1. Dengan cara membelah diri atau bertunas. Secara aseksual a. terpisahnya kedua sel anak yang identik. Ada bakteri yang segera berpisah dan terlepas sama sekali. Jamur Perkembangbiakan jamur ditemukan dua macam. tumbuhnya sekat akan diikuti oleh dinding melintang. 1. maka bumi akan dipenuhi bakteri. hasil eksresi yang meracuni bakteri. Sebaliknya.

Sel telur adalah suatu aplanogamet. 2005). Gamet jantan dan betina yang tidak dapat dibedakan disebut isogamet.yaitu ujung-ujung hifa tertentu membagi-bagi diri membentuk : • bentuk-bentuk yang bulat ( konidiospora ) atau serupa telur (oidiospora) • • bentuk empat persegi panjang ( artispora ) spora yang berdinding tebal. Secara seksual . Jamur ada yang menghasilkan alat kelamin jantan saja atau hanya alat kelamin betina saja. Pada jamur tingkat rendah dijumpai gamet – gamet yang dapat bergerak (planogamet).atau heterogamet (bila beda jenis kelamin). 2. Untuk kecocokan ini diberikan tanda + dan .jamur yang dapat menghasilkan alat kelamin jantan dan alat kelamin betina disebut hermaprodit atu disebut berumah satu (monoesi). Dengan pembentukan konidia. sedangkan gametangium yang menghasilkan sel kelamin betina disebut oogonium.Prosesmperkawinannya terdiri atas persatuan 2 protoplas ( plasmogami ) kemudian diikuti persatuan inti ( kariogami ). Jika jelas berbeda disebut anisogamet yang berciri besar dan kecil. sedangkan anterozoida adalah planogamet (Budiyanto.disebut klamidospora Perkembangbiakan secara seksual memerlukan 2 jenis jamur yang cocok.c. Alat kelamin disebut gametangium.sehingga jamur yang seperti ini disebut jamur berumah dua (diesi).gametangium menghasilkan se l kelamin jantan disebut anteridium.

Gambar Cara Reproduksi Reproduksi vegetatif dengan cara membentuk spora tak berflagel (aplanospora) dan generatif dengan cara gametangiogami dari dua hifa yang kompatibel/konjugasi dengan menghasilkan zigospora. .

Protein susu terdiri dari 80% kasein. kebutuhan keju sampai sekarang harganya relatif mahal. Untuk memenuhi kebutuhan keju dalam negeri dan mengurangi impor. 1980).BAB III PEMBAHASAN Keju merupakan salah satu hasil olahan susu yang telah dikenal masyarakat.043.1981).728.11%) dan 2. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia pada saat ini masih bersifat importer dalam hal penyediaan bahan baku keju. 1980). yang dapat dibuat secara sederhana dari bahan abomasum (lambung ke 4) anak sapi yang masih menyusui atau ternak ruminansia muda lainnya.al. Kasein di dalam air susu berikatan dengan kalsium sebagai kalsium kaseinat(eckles_et. Rennet diekstrak dari lambung keempat ruminansia. sementara yang dapat dipenuhi dari penyediaan susu dalam negeri sebesar 685. 2009). γ dan k-kasein yang sangat penting dalam pembuatan keju. Pembuatan keju dapat dilakukan baik dalam skala industri maupun rumah tangga. Rennet yang diekstrak dari lambung anak sapi yang masih menyusui mengandung 88-94%rennin dan 6-12% pepsin. Bahan dasar keju adalah protein dan lemak yang hanya terdapat dalam air susu. Bahan ini dapat diperoleh dalam bentuk ekstrak rennet maupun bubuk/tepung. sedangkan rennet yang diekstrak dari sapi dewasa mengandung 9094%pepsin dan 6-10% rennin(Scott. Kasein terdiri dari α.7% laktoglobulin. dan protease asam seperti rennet (eckles_et.5 -0. Salah satu bahan penolong yang penting dan perlu disiapkan dalam pembuatan keju ialah bahan penggumpal kasein (protein dalam susu sebagai bahan keju). Berdasarkan data statistik impor pada kondisi tahun 2009 besarnya total penyediaan susu sebesar 2.6 ribu ton. . β.al.2 ribu ton (25.4 ribu ton (74.89%) harus di impor (Statistik Peternakan. 8% laktabumin dan 0.alkohol. Rennet merupakan gabungan dari rennin dan pepsin. Sampai sekarang bahan penggumpal susu yang paling ideal ialah enzim rennin.96% per tahun. Protein susu dapat digumpalkan dengan asam. industri keju masih perlu ditingkatkan. Impor keju terus meningkat sebesar rata-rata 5.

sedangkan pepsin stabil pada pH 5 – 5. Renin juga jauh lebih baik dalam menggumpalkan kasein susu dibanding dengan kasein. sedangkan abomasum kering dibuat dengan cara menjemur sampai kering .4. Disamping terdapat rennin. Tetapi penggunaan-penggunaan larutan NaCl yang terlalu pekat dapat berakibat menurunkan aktivitas enzim yang dihasilkan. pH dan keasaman larutan pengakstrak dibuat mendekati pH isi perut abomasum ruminansia yaitu sekitar 3.3 – 6. sedangkan pada suhu 25oC aktivitasnya turun 1 – 2 % selama sebulan. setelah dicuci langsung dipotong kecil-kecil ukuran 1 x 2 cm. Ekstrak rennet sebaiknya disimpan pada pH 5. lalu dicuci bersih. dihilangkan lemak dan isinya. kemudian dikeringkan. Rennin termasuk enzim protease asam . Philipina adalah menggunakan larutan asam asetat 1 % dan NaCl 5 – 7 % untuk memperoleh ekstrak rennet abomasum ruminansia. abomasum segar dibelah. Pembuatan Ekstrak Rennet adalah sebelum diekstraksi. Untuk abomasum segar. dihilangkan lemak dan isinya. Ekstraksi dapat dilakukan terhadap abomasum segar maupun yang sudah dikeringkan. Untuk mengaktifkan enzim. dicuci bersih.5 dan aktif pada pH 1 – 4. Rennet hasil ekstraksi abomasum anak sapi mempunyai aktivitas maksimum pada pH 6. Dalam hal ini rekomendasi yang dianjurkan oleh Dairy Training Research Institute di Los Banos. sedangkan ekstrak abomasum sapi yang lebih tua dan tidak menyusu lagi mengandung 90 – 94 % pepsin dan hanya 6 – 10 % rennin.3 dan pada pH 2 kestabilannya sangat rendah.5 % selama sebulan.8 untuk menjaga kestabilan enzim rennin dan pepsin. Rennin stabil pada pH 5. ekstraksi dilakukan dengan menggunakan larutan garam (NaCl). Ekstrak rennet yang disimpan pada suhu 5oC aktivitas koagulasinya turun 0. Untuk memudahkan larutan enzim. yaitu enzim yang mempunyai sisi aktif pada dua gugus karboksil. dalam rennet juga terkandung enzim protease lain yaitu pepsin.Rennet ialah ekstrak abomasum anak sapi yang belum disapih atau mamalia lainnya.2 – 6. Secara sederhana ekstraksi rennet dapat dilakukan sebagai berikut : abomasum dibelah. Ekstrak rennet dari abomasum anak sapi yang masih menyusu mengandung 88 – 94 % rennin dan 6 – 12 % pepsin.6 – 5. sedangkan rennin adalah enzim yang terdapat dalam rennet.

sebanyak 5 kali berturut-turut. Hasil ekstraksi tersebut digabungkan. . Endapan dipisahkan dari filtrat (bagian cairan) dengan cara menuangkan cairan pada wadah gelas. pembuatan ekstrak rennet.kemudian dipotong-potong dengan ukuran 1 x 2 cm. Untuk mempercepat ekstraksi. dilakukan pemisahan ampas dari larutan hasil ekstraksi dengan cara sentrifusa (pemusingan) pada kecepatan 2750 putaran per menit selama 15 menit. Lama ekstraksi perendaman adalah 5 hari untuk abomasum segar dan 9 hari untuk abomasum kering. Pembuatan bubuk atau tepung rennet secara garis besarnya terdiri dari persiapan bahan baku. Setelah mencair. Larutan hasil perendaman disaring dan hasilnya disebut ekstrak rennet. Mukosa kemudian dicincang dengan pisau sampai ukuran sekecil mungkin. 2. Bahan baku yang digunakan sebagai bahan rennet adalah perut ke empat atau abomasum anak sapi jantan. Setelah proses ekstraksi berjalan selama 24 jam. campuran asam asetat dan mukosa diaduk selama 24 jam pada suhu ruang. Abomasum segar atau kering kemudian direndam dalam larutan pengekstrak yang dibuat dengan melarutkan 5 gram NaCl ke dalam 100 ml asam asetat 1 persen. Abomasum setelah dipotong dari bagian perut lainnya. 3. pengendapan dan pengeringan endapan rennet. lambung domba atau kambing juga digunakan untuk memproduksi rennet. Abomasum beku dicairkan dengan cara merendam dalam air pada suhu ruang. Caranya dengan merendam 100 gram lambung segar dalam 500 ml asam asetat selama 24 jam pada suhu kamar. disaring kembali dan dipekatkan sampai mencapai volume 20 ml. lalu dimasukkan ke dalam gelas piala 1 liter yang telah diisi dengan larutan asam asetat 10 % dengan perbandingan mukosa : asam asetat = 1 : 2. abomasum dibelah membujur dan lapisan mukosanya dipisahkan dari jaringan dinding luarnya (muscular wall). Cara pembuatannya dapat diuraikan sebagai berikut : 1. Ekstraksi dari lambung dilakukan dengan larutan asam asetat (asam cuka) 10 %. kemudian dimasukkan ke dalam wadah plastik dan disimpan dalam freezer selama seminggu sebelum digunakan. Di beberapa negara.

000 putaran per menit selama 15 menit. Penambahan NaOH dilakukan sedikit demi sedikit dan selama penambahan dilakukan pengadukan. Larutan rennet kemudian di endapkan dengan cara menambahkan larutan garam amonium sulfat jenuh. Bila rennet ditambahkan pada susu dalam jumlah yang cukup. yang kemudian dilakukan pemeraman atau pematangan keju. tetapi waktu yang diperlukan lebih lama dan kualitas serta flavor keju yang dihasilkan kurang baik dibandingkan dengan keju yang menggunakan rennet anak sapi. Aplikasi dalam Pembuatan Keju yaitu Keju dibuat dengan cara koagulasi (penggumpalan) kasein susu membentuk dadih atau curd.4. Keasaman berpengaruh terhadap kestabilan kasein baik secara langsung maupun tidak langsung dengan cara membebaskan ion kalsium yang terlarut dan membentuk koloid senyawa kompleks. Perbandingan volume larutan rennet dengan aminium sulfat jenuh ditentukan berdasarkan hasil percobaan. Disamping menggunakan rennet. . Campuran koagulan (larutan penggumpal) dari enzim pepsin dan rennin mulai digunakan sejalan dengan perkembangan produksi susu dan sukarnya memperoleh rennet anak sapi. pengeringan dilakukan sampai kadar air 5 %.4. Endapan dari hasil ekstraksi selanjutnya diekstraksi lagi dengan cara yang sama dengan ekstraksi pertama. Endapan rennet kemudian dikeringkan dengan oven pada suhu 40 – 50 oC. Waktu penggumpalan susu dengan menggunakan pepsin lebih lama dibandingkan dengan menggunakan rennet. Dalam keadaan asam. penggumpalan kasein dapat juga dilakukan dengan fermentasi bakteri asam laktat. Penggumpalan kasein paling baik dilakukan pada suhu yang bertepatan dengan terjadinya koagulasi maksimum. 5. kecepatan koagulasi maksimum terjadi pada suhu 40 – 42oC. Dadih susu kemudian dipanaskan dan dipres sehingga menghasilkan dadih keras. Pepsin babi baik digunakan dalam pembuatan keju chedder. 6. Koagulasi tidak terjadi pada suhu di bawah 10oC atau di atas 60oC. pembentukan koagulum (gumpalan) makin cepat dan mutunya makin baik. Filtrat atau cairan hasil ekstraksi kemudian dikumpulkan dan dinetralkan dengan cara menambahkan NaOH 1 N sampai pH menjadi 5. Endapan yang terjadi kemudian dipisahkan secara sentrifusa pada kecepatan 5.

Disamping menggunakan hewan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu. dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku. Namun karena pertimbangan kehalalan produk dan dari segi ekonomisnya juga sering menghasilkan rasa pahit pada keju yang diperam. bovine (dari keluarga sapi). yang ditanduk. sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. beberapa galur mikroba dapat menghasilkan enzim sejenis rennet yang dapat digunakan untuk membuat keju. serta babi. (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu. dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. yang tercekik. yang jatuh. dan diterkam binatang buas. Sehingga mulai dikembangkan pengganti rennet dengan . Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah. darah. (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. kecuali yang sempat kamu menyembelihnya.Penggunaan pepsin ayam menghasilkan keju cheddar dengan bentuk yang tidak baik dengan flavor yang lemah dan sering terjadi penyimpangan bau dan rasa. Proses penggumpalan susu pada awalnya menggunakan rennet sapi. daging babi. Dijelaskan dalam surat Al-Maidah : 3 Artinya: “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai. sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. yang terpukul. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa. dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.

spesifitas substrat. Saat proses pembuatan keju Brevibacterium linens memproduksi enzim extra seluler proteolitik yang mengandung proteinase dan yang digunakan pada proses pemasakan tergantung dari dosis enzim dalam rasio aktivitas peptidase dan proteinase. Penggunaan kominitas mikroba ini akan berpengaruh terhadap karakteristik baik bentuk. keju yang dihasilkan dari penambahan bakteri Brevibacterium linens. M. Dari hasil penelitian. numster dan tilsiter yang menggunakan mikroba berbeda-beda. dan Proteus. pusillus. 2003). dan kemungkinan enzim yang hilang pada saat penggaraman atau pengepressan dan saat naiknya suhu saat pemasakkan. ditambahkan pada susu saat proses penggumpalan. Mikroorganisme tersebut salah satunya adalah bakteri. Edothia parasitica dan Bracillus subtilis. Pada saat pembuatan keju casein akan terdegradasi dan proses ini akan ketika semua casein terdegradasi (Gosh. Terutama pada keju limburger. et al. Namun penggunaan Proteus jarang digunakan karena umumnya menimbulkan kontaminan. memiliki rasa. . Staphylococcus equorum. Kultur starter dari bakteri jenis Brevibacterium linens. Namun pada keju yang diuji kandungan trichloro acetic acid (TCA)-nitrogen terlarut dan phosphotungstic acetic acid (PCA)nitrogen terlarut.memanfaatkan peranan dari mikroba yang dapat mengasamkan susu. penyebaran distribusi enzim pada susu. Arthrobacter arilaitensis. Ada dua belas strain bakteri penggumpal susu. yang termasuk dalam sembilan spesies yaitu Lactobacillus casei. Brevibacterium linens. Setelah itu keju diberi parafin dan disimpan selama 12 minggu pada suhu 4-5˚C. Brachybacterium sp. aroma dan tekstur yang sama dengan keju kontrol. rasa dan aroma keju yang dihasilkan. Hafnia. Microbacterium folioforum. Enterobacter. Proteus vulgaris dan Psychrobacter sp. kemudian gumpalan susu diberi penggaraman dan dipress agar cairan yang masih terdapat pada gumpalan dapat dikeluarkan. Xanthomonas. Staphylococcus cohnii.. meningkat pada saat pembuatan keju dan casein terdegradasi secara luas. Beberapa mikroba yang dapat menghasilkan enzim sejenis rennet adalah : Mucor meichei.. tekstur. Sedangkan dari golongan gram negatif antara lain Pseudomonas.

Keton umumnya diproduksi dari aktivitas enzimatik dari mold. “Bleu des causses” dan “Bleu d’Avergne”. . 2-decanone. namun dari salah satu hasil penelitian dari Deetae et al (2007) diketahui bahwa bakteri Proteus vulgaris dan Brachybacterium sp. 2-pentanone. Pada Brachybacterium sp. Reaksi ini akan menghasilkan amina. Aktivator dari ketiga jalur metabolisme ini yaitu enzim endogenous bawaan dari susu. terutama methyl ketone. foliorum. ini mempengaruhi rasa dari produk-produk susu dan juga aroma dari keju terutama dari jenis blue-veined. ini penting dalam pembuatan keju gorgonzola. aldehide. enzim penggumpal. Aroma yang terdapat pada blue cheese berasal dari methyl ketone. Pemecahan asam lemak akan memproduksi ester metil keton. linens dan M. Selain ester. dan dehidratase. Rasa dan aroma yang terbentuk dari ester dan kandungan sulfur. Pada keju cheddar. Ditemukan hexanoic acid ethyl ester. Selain itu ada jenis-jenis keton lain yang diproduksi oleh bakteri asam laktat yang berperan dalam pembentukan aroma keju. asam. Berpengaruh terhadap aroma keju. secondary alkohol. kandungan ini membentuk aroma dari jenis keju roquefort. grana padano. 2-nonanone. golongan keton juga berperan penting dalam membentuk aroma keju. 2oktanone. dan 2-undecanone. Kedua bakteri tersebut menghasilkan acetic acid 2-phenylethyl esters dan propanoic. deaminase. ini diproduksi oleh Proteus vulgaris yang berasosiasi dengan B.Kenaikan kandungan aromatik yang terdapat pada keju umumnya berasal dari tiga jalur metabolisme antara lain katabolisme laktosa dan asam organik. dekarboksilase. katabolisme lipid. dan 2-undecanone yang berasosiasi dengan aroma buah. Ester yang dihasilkan oleh bakteri Proteus vulgaris dan Psychrobacter sp. yang diketahui sebagai aroma yang khas pada cheddar. aromanya dari 2-butanone yang menyebabkan aroma seperti butterscotch. dan sulfur. dan enzim yang berfungsi dalam proses pemasakan dan pembentukan tekstur keju. pecorino dan regusano (jenisjenis keju). trans aminase. dan katabolisme protein. yang berasal dari mikroba. Mampu memproduksi 2-alkanone yang mengandung atom karbon. 2-heptanone. dan bunga. Enzim dari mikroba yang mendegradasi asam amino antara lain. Sehingga keduanya berperan penting pada pembuatan aroma keju gorgonzola dengan proses pemasakkan selama 12 bulan. alkohol. lyase. 2-nonanone.

Mikroba B. 2008). 2008).Volatile sulphur compounds (VSC) juga berperan penting dalam membentuk aroma keju. vulgaris dan strain Psychrobacter. juga mengindikasikan bahwa enzim yang telah dimodifikasi dapat membentuk karakeristik rasa yang spesifik dan mengurangi pH . Aktivitas L-methionine aminotransferase pada P. Lipolytica tidak dapat mengasimilasi laktat ketika ada L-methionine pada media ”calon” keju. Ini juga merupakan prekursor aroma sulfur yang lain seperti dimethyl sulfida (DMDS). Level lipolytic dari enzim yang telah dimodifikasi. Yarrowia lipolytica juga dapat menghasilkan dan mengubah L-methionine menjadi VSC yang mempengaruhi rasa pada beberapa keju. Sehingga diperoleh yeast dengan kemampuan meregulasi L-methionine yang kuat dan mengandung jenis dan jumlah VSC yang besar. M. dll. enzim itu sendiri juga ada yang dimodifikasi agar dapat melakukan proses pembuatan keju seperti yang diharapkan. dan Psychrobacter sp. L-methionine terdegradasi menjadi methantiol selama jalur transaminasi yang diikuti oleh aktifitas enzimatik dimetiolasi 4-methylthio-2ketobutyric acid (KMBA). et al. Selain gen-gen yang mengatur sintesis enzim.. berperan penting dalam produksi VSC. dari golongan yeast. et al. dan butirat. Proteus vulgaris . vulgaris dan Psychrobacter sp. cheddar. Namun Y. Methanethiol (MTL) merupakan VSC yang umumnya ditemukan pada proses pemasakan keju. Enzim-enzim ini berperan dalam proses pembuatan keju cheddar. Enzim yang dapat dimodifikasi yaitu L. dan S-methylthioesters. Peranan VSC terdapat pada bermacam-macam tipe keju misalnya parmesan.Selain pada bakteri P. Foliorum. lebih tinggi dari keju cheddar biasa. dimethyl trisulfida (DMTS).dan D-lactic acid dan asam lemak.linens. laktat. Degradasi enzimatik dari L-methionine dan formasi subsequent dari Volatile Sulphur compounds (VSC) berperan dalam pengembangan karakeristik aroma beberapa keju. Penambahan exogenous asetat. atau perubahan kimia dari KMBA menjadi methantiol (MTL). Sehingga dilakukan modifikasi genetik pada gen-gen yang mengatur transkripsi enzim katabolisme L-methionine dan metabolisme piruvat yang berperan dalam degradasi L-methionine. seperti methanetiol dan produk autooksidasi (dimethyl disulfida dan dimethyl trisulfida) (Cholet. (Cholet.

Dihasilkan keju yang menghasilkan 30 aroma selama proses pemasakan.produk. dan asetat) dan lipolysis untuk meningkatkan kualitas produk pada aplikasi yang spesifik. bahwa catabolisme Trp dari Lactobacillus helveticus dan L. propionat. Modifikasi enzim yang diperoleh dari Lactobacillus casei. Variasi bakteri asam laktat non starter (NSLAB) dan penyebarannya pada gumpalan keju mempengaruhi varietas. Hal itu juga didukung oleh hasil penelitian dari Gummala dan Broadbent (1999). 2007). Enzim dari Lactobacillus mengandung triptofan dekarboksilase. Hasil penelitian dari Tarakci dan Kucukoner (2006) menunjukkan bahwa pembungkusan kedap udara pada saat pemasakan keju menyebabkan perubahan kemampuan lipolysis dan proteolysis serta meningkatnya kandungan garam dan kelembutan keju. Selain enzim-enzim yang berperan aktif dalam proses pemasakan keju. Jadi produksi dari enzim pada keju cheddar. Menurut Novikova dan Ciprovica (2009). Casei yang ditambahkan pada saat starvasi karbohidrat dan menjelang proses pemasakan. proses pembuatan. dan kondisi pemasakan keju. Enzim yang di ekstrak dari Lactobacillus dapat meningkatkan reaksi transaminasi dan dehidrogenasi. rennet. Pembuatan keju dengan menggunakan Lactobacillus sp. Degradasi triptofan akan mempengaruhi formasi kandungan aromatik. . pengembangan rasa dari keju merupakan proses yang kompleks dimana enzim dari susu. kultur starter dan mikroba tambahan yang meningkatkan degradasi protein susu. lemak dan karbohidrat. Penelitian yang dilakukan oleh Hynes. perlakuan fisik juga mempengaruhi. et al (2002) menunjukkan sepuluh strain dari Lactobacillus yang ditambahkan pada proses pembuatan keju mampu mempengaruhi proses pemasakan keju. yang telah dimodifikasi mampu meningkatkan manipulasi dari produk akhir glycolysis (laktat. akan mempengaruhi rasa dari keju yang dihasilkan. Ketika ditambahkan Neutrase mampu mengurangi rasa pahit pada keju cheddar (Najafi dan Lee. 2001). (Kilcawley. et al.

dan high melting fat fraction of milk fat (HMFF). rusaknya enzim karena perlakuan fisik atau distribusi enzim yang tidak merata pada susu. Metode ini bertujuan mengurangi hilangnya enzim saat proses penggumpalan. pemisahan cairan. gellan. Tabel bakteri unruk produk keju . Melalui mekanisme enkapsulasi. enzim dapat dilepaskan dari kapsul dan masih dapat bereaksi dengan baik. Pada penelitian Kailasapathy dan Lam (2004). perlakuan fisik pada enzim juga mempengaruhi aktifitas enzim sehingga berdampak juga mempengaruhi proses pembuatan keju. Sehingga keju dapat terbentuk dengan sempurna. Salah satu teknik penggunaan enzim pada pembuatan keju. Dari ketiga jenis kapsul tersebut ternyata enzim yang di encapsulasi dengan K-carragenan yang menunjukkan aktifitas proteolysis tertinggi.yaitu dengan metode enkapsulasi. enzim yang di-enkapsulasi yaitu enzim protease dengan menggunakan kapsul K-carragenan.Selain perlakuan fisik pada keju saat pemasakan. enzim akan ”dibungkus” dan dilepas pada saat tertentu saat enzim benar-benar dibutuhkan aktifitasnya. Hal ini menunjukkan bahwa K-carragenan mampu melindungi protease selama proses pembuatan keju sehingga pada saat aktifitas protease diperlukan.

sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”. dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. S. hal ini tersirat dalam beberapa ayat di dalam Al-Quran diantaranya dalam : Q.S. Al-Baqoroh: 164 Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi. dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air. Al-Mu’minuun . Q. Al-Furqon: 61 Artinya: “Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya”. silih bergantinya malam dan siang.KAJIAN RELIGI Di dalam Al-Quran secara tersirat Allah SWT telah menyiratkan akan pentingnya pengaruh lingkungan bagi kehidupan makhluk hidup yang ia ciptakan termasuk mikroorganisme yang juga merupakan salah satu contoh makhluk hidup ciptaan Allah SWT. Q. bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia. lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan. S.

dan sebagian daripadanya kamu makan”.Artinya: “Dan sesungguhnya pada binatang-binatang ternak. dan (juga) pada binatang-binatang ternak itu terdapat faedah yang banyak untuk kamu. Kami memberi minum kamu dari air susu yang ada dalam perutnya. . benar-benar terdapat pelajaran yang penting bagi kamu.

2. Perkembangbiakan mikroorganisme terjadi secara seksual dan aseksual. suber energi. jumlah bobot. Pertumbuhan mikroorganisme dapat berlangsung tergantung pada nutrien dan lingkungan yang cocok sehingga mikroorganisme dapat tumbuh dengan waktu yang relatif singkat dan sempurna 3. dan banyak parameter lainnya dari suatu makhluk hidup. Lactobacillus bulgaricus merupakan salah satu bakteri yang dapat dimanfaatkan dalam pembuatan keju terutama dalam proses pematangan dan pemasakan DAFTAR PUSTAKA .karbon . Media biak sangat berperan dalam proses pertumbuhan mikroorganisme yang disertai dengan kebutuhan nutrien pokok. dan zat-zat pelengkap 4.KESIMPULAN 1. Pertumbuhan diartikan sebagai penambahan dan dapat dihubungkan dengan penambahan ukuran. masa. sesuai dengan kemampuan dan cara mikroorganisme melakukan reproduksi 5.

and Lee. C. Volk dan Wheeler. Jakarta: Penerbit Erlangga.Budiyanto Budiyanto MAK. Gosh. Milk Science. Sienkiewicz T. 2007. Mikrobiologi Dasar. No. Bandung: Yrama Widya. 1993. Journal Dairy Science. 52. 2001. Lud. Pengantar Mikrobiologi Umum. Terapan. M. Jakarta: Djambatan. 1990. J. Muhammadiyah Malang Press. Malang: Malang: Universitas Universitas Muhammadiyah Malang Press. Gummalla. 82:2070-2077. and Krenkel. 2005. Suriawiria U. Vol 3. Mikrobiologi. Dasar-dasar Mikrobiologi. Bandung: Angkasa. Mikrobiologi Mikrobiologi Umum. H. 3. Jilid 1. Jakarta: Penerbit Erlangga. A3. B. Mikrobiologi Umum. Vol. R. LLG. Peranan Mikroorganisme dalam Kehidupan Kita. 2003. No. 2007. Debittering of tryptic digests from βcasein and enzyme modified cheese by X-prolyl dipeptidase from Lactobacillus casei ssp. Budiyanto. Casei. 2005. Dwijoseputro. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang Press. Habibi-Najafi. 1999. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang. K. and Broadbent. Koes. Waluyo. B. . B. 2002. MAK. 1995. Irianto. Iranian Journal of Science & Technology. Mikrobiologi Dasar. S. Volk dan Wheeler. Jilid 2. 1993. Tryptophan catabolism by Lactobacillus casei and Lactobacillus helveticus cheese flavor adjuncts. Effect of Enzymes from Brevibacterium linens on ripening of cheddar type cheese.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful