RADEN SALEH (1807 – 1880) Lukisan Raden Saleh yang berjudul “Badai” ini merupakan ungkapan khas karya

yang beraliran Romatisme. Dalam aliran ini seniman sebenarnya ingin mengungkapkan gejolak jiwanya yang terombang-ambing antara keinginan menghayati dan menyatakan dunia (imajinasi) ideal dan dunia nyata yang rumit dan terpecah-pecah. Dari petualangan penghayatan itu, seniman cenderung mengungkapkan hal-hal yang dramatis, emosional, misterius, dan imajiner. Namun demikian para seniman romantisme sering kali berkarya berdasarkan pada kenyataan aktual. Dalam lukisan “Badai” ini, dapat dilihat bagaimana Raden Saleh mengungkapkan perjuangan yang dramatis dua buah kapal dalam hempasan badai dahsyat di tengah lautan. Suasana tampak lebih menekan oleh kegelapan awan tebal dan terkaman ombak-ombak tinggi yang menghancurkan salah satu kapal. Dari sudut atas secercah sinar matahari yang memantul ke gulungan ombak, lebih memberikan tekanan suasana yang dramatis. Walaupun Raden Saleh berada dalam bingkai romantisisme, tetapi tema-tema lukisannya kaya variasi, dramatis dan mempunyai élan vital yang tinggi. Karya-karya Raden Saleh tidak hanya sebatas pemandangan alam, tetapi juga kehidupan manusia dan binatang yang bergulat dalam tragedi. Sebagai contoh adalah lukisan “Een Boschbrand” (Kebakaran Hutan), dan “Een Overstrooming op Java” (Banjir di Jawa), “Een Jagt op Java” (Berburu di Jawa) atau pada “Gevangenneming van Diponegoro” (Penangkapan Diponegoro). Walaupun Raden Saleh belum sadar berjuang menciptakan seni lukis Indonesia, tetapi dorongan hidup yang diungkapkan tema-temanya sangat inspiratif bagi seluruh lapisan masyarakat, lebih-lebih kaum terpelajar pribumi yang sedang bangkit nasionalismenya. Noto Soeroto dalam tulisannya “Bi het100” Geboortejaar van Raden Saleh (Peringatan ke 100 tahun kelahiran Raden Saleh), tahu 1913, mengungkapkan bahwa dalam masa kebangkitan nasional, orang Jawa didorong untuk mengerahkan kemampuannya sendiri. Akan tetapi, titik terang dalam bidang kebudayaan (kesenian) tak banyak dijumpai. Untuk itu, keberhasilan Raden Saleh diharapkan dapat membangkitkan perhatian orang Jawa pada kesenian nasional.

Bisik2 pun terdengar bahwa lukisan tsb akan di mahar kan (bahasa halus nya untuk kata lain dari dijual). Keraguan saya pun sirna. bilangannya pun mencapai 10 milyard. .A. lengkap dengan seragam kebesaran seorang Raja Jawa. Tentu saja mahal. Waktu pertama saya mendengar bahwa sahabat tersebut meng kolektor lukisan Raden Saleh. telah datang seorang Kurator Senior Indonesia ber initial OHD. Lukisan ini masih terlihat terawat sekali. Sahabat saya tsb konon memiliki lukisan tsb turun temurun dari Kakek-nya. Wow tentu saja lukisan tsb sangat berharga sekaligus mahal harganya. Payen. tetapi dirumah seorang sahabat. karena lukisan2 Raden Saleh bisa disebut langka keberadaannya. Konon kabarnya. Pelukis Belgia ini pula yang menganjurkan agar Raden Saleh diberi kesempatan untuk belajar melukis di negeri Belanda. tanpa cacat sedikitpun. Saya melihat sebuah lukisan karya Raden Saleh bukan di sebuah Galeri atau Museum. saya sempat tidak percaya akan ke asli an nya. karena ternyata saat sebelum saya melihat lukisan itu. Di tulisan ini saya tidak ingin mengupas siapa dan apa Raden Saleh. siapa itu Raden Saleh. Sebelum melihat lukisan ini saya sempat menelpon pelukis Sri Hardy dan menanyakan ciri2 lukisan lama. ybs menyatakan bahwa lukisan tsb asli. padahal lukisan ini dibuat tahun 1878. tentu saja Paku Buwono IX. tetapi saya ingin menuliskan bagaimana saya mempunyai kesempatan melihat lukisan karya pelukis besar Raden Saleh secara langsung. Lukisan yang saya lihat langsung adalah lukisan Paku Buwono IX sedang menaiki Kuda putih. Raden Saleh mulai tertarik untuk belajar melukis dari pelukis asal Belgia A. Pria kelahiran tahun 1807 di Terboyo Semarang dikenal sebagai Pelukis Terkenal Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda.Hampir semua orang tahu. bisa saja itu hanya duplikat saja.J.

di museum koleksi lukisan Istana Bogor. Sabtu (26/6). karya pelukis Raden Saleh (1811-1880). Seminar tentang Raden Saleh yang diadakan di Jakarta 24-25 Juni 2010. Jawa barat. antara hidup dan Mati” (1870).Para peserta seminar 200 Tahun Raden Saleh menikmati lukisan berjudul “Perkelahian dengan Singa. . dalam rangka memperingati HUT 40 tahun IKJ.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful