P. 1
bahan CA

bahan CA

|Views: 285|Likes:
Published by eno_oce

More info:

Published by: eno_oce on Oct 25, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/19/2012

pdf

text

original

Kanker atau neoplasma ganas adalah penyakit yang ditandai dengan kelainan siklus sel khas yang menimbulkan

kemampuan sel untuk:
y y y

tumbuh tidak terkendali (pembelahan sel melebihi batas normal) menyerang jaringan biologis di dekatnya. bermigrasi ke jaringan tubuh yang lain melalui sirkulasi darah atau sistem limfatik, disebut metastasis.

Tiga karakter ganas inilah yang membedakan kanker dari tumor jinak. Sebagian besar kanker membentuk tumor, tetapi beberapa tidak, seperti leukemia. Cabang ilmu kedokteran yang berhubungan dengan studi, diagnosis, perawatan, dan pencegahan kanker disebut onkologi. Pada umumnya, sel kanker membentuk sebuah tumor, kecuali pada leukemia. Reaksi antara asam tetraiodotiroasetat dengan integrin adalah penghambat aktivitas hormon tiroksin dan triiodotironina yang merupakan salah satu faktor yang berperan dalam angiogenesis dan proliferasi sel tumor.[1] Pertumbuhan yang tidak terkendali tersebut disebabkan kerusakan DNA, menyebabkan mutasi di gen vital yang mengontrol pembelahan sel. Beberapa mutasi mungkin dibutuhkan untuk mengubah sel normal menjadi sel kanker. Mutasi-mutasi tersebut sering diakibatkan agen kimia maupun fisik yang disebut karsinogen. Mutasi dapat terjadi secara spontan (diperoleh) ataupun diwariskan (mutasi germline). Kanker dapat menyebabkan banyak gejala yang berbeda, bergantung pada lokasi dan karakter keganasan, serta ada tidaknya metastasis. Diagnosis biasanya membutuhkan pemeriksaan mikroskopik jaringan yang diperoleh dengan biopsi. Setelah didiagnosis, kanker biasanya dirawat dengan operasi, kemoterapi, atau radiasi. Kebanyakan kanker menyebabkan kematian. Kanker adalah salah satu penyebab utama kematian di negara berkembang. Kebanyakan kanker dapat dirawat dan banyak disembuhkan, terutama bila perawatan dimulai sejak awal. Banyak bentuk kanker berhubungan dengan faktor lingkungan yang sebenarnya bisa dihindari. Merokok dapat menyebabkan banyak kanker daripada faktor lingkungan lainnya. Tumor (bahasa Latin; pembengkakan) menunjuk massa jaringan yang tidak normal, tetapi dapat berupa "ganas" (bersifat kanker) atau "jinak" (tidak bersifat kanker). Hanya tumor ganas yang mampu menyerang jaringan lainnya ataupun bermetastasis. Kanker dapat menyebar melalui kelenjar getah bening maupun pembuluh darah ke organ lain.

[sunting] Klasifikasi

Perkembangan sel normal menjadi sel kanker Pada umumnya, kanker dirujuk berdasarkan jenis organ atau sel tempat terjadinya. Sebagai contoh, kanker yang bermula pada usus besar dirujuk sebagai kanker usus besar, sedangkan kanker yang terjadi pada sel basal dari kulit dirujuk sebagai karsinoma sel basal. Klasifikasi kanker kemudian dilakukan pada kategori yang lebih umum, misalnya:[2]
y

y

y y y

Karsinoma, merupakan kanker yang terjadi pada jaringan epitel, seperti kulit atau jaringan yang menyelubungi organ tubuh, misalnya organ pada sistem pencernaan atau kelenjar. Contoh meliputi kanker kulit, karsinoma serviks, karsinoma anal, kanker esofageal, karsinoma hepatoselular, kanker laringeal, hipernefroma, kanker lambung, kanker testiskular dan kanker tiroid. Sarkoma, merupakan kanker yang terjadi pada tulang seperti osteosarkoma, tulang rawan seperti kondrosarkoma, jaringan otot seperti rabdomiosarcoma, jaringan adiposa, pembuluh darah dan jaringan penghantar atau pendukung lainnya. Leukemia,Limfoma dan Mieloma kanker yang terjadi pada jaringan darah Melanoma timbul dari melanosit. Mesotelioma pada pleura atau perikardium

[sunting] Ciri-ciri sel kanker
Jaringan kanker memiliki ciri morfologis yang sangat khas saat diamati dengan mikroskop. Diantaranya berupa banyaknya jumlah sel yang mengalami mitosis, variasi jumlah dan ukuran nukleus, variasi ukuran dan bentuk sel, tidak terdapat fitur selular yang khas, tidak terjadi koordinasi selular yang biasa nampak pada jaringan normal dan tidak terdapat batas jaringan yang jelas. Immunohistochemistry dan metode molekular lain digunakan untuk menemukan ciri morfologis khas pada sel kanker/tumor, sebagai rujukan diagnosis dan prognosis. Hahn dan rekan menggunakan ekspresi ektopik dari kombinasi antara telomerase transkriptase balik dengan onkogen h-ras dan antigen T dari virus SV40 untuk menginduksi konversi tumorigenik pada sel fibroblas dan sel epitelial manusia, yang terjadi akibat disrupsi pada lintasan metabolik intraselular. Ciri fenotipe dari sel kanker setelah mengalami transformasi dari sel normal, antara lain:[3]

[sunting] Transformasi in vitro
y y

Terjadi perubahan sitologi seperti pada sel kanker in vivo yaitu peningkatan basofil sitoplasmik, peningkatan jumlah dan ukuran nuklei Perubahan pada karakteristik perkembangan sel: a. sulit mati walaupun telah mengalami diferensiasi berkali-kali b. tumbuh berkembang yang tidak terhenti, walaupun telah berdesakan dengan sel di sekitarnya, sehingga jaringan kanker memiliki kepadatan yang tinggi c. membutuhkan serum dan faktor pertumbuhan lebih sedikit d. tidak lagi membutuhkan lapisan antarmuka untuk berkembangbiak, dan dapat tumbuh sebagai koloni bebas di dalam medium semi-padat. e. tidak memiliki kendali atas siklus sel f. sulit mengalami apoptosis

y y

y y

y

y

Perubahan pada struktur dan fungsi membran sel, termasuk peningkatan aglutinabilitas karena lektin herbal Perubahan pada komposisi antarmuka sel, glikoprotein, proteoglikan, glikolipid dan musin, ekspresi antigen tumorik dan peningkatan penyerapan asam amino, heksos dan nukleosida. Tidak terjadi interaksi matriks sel-sel dan sel-ekstraselular, sehingga tidak terjadi penurunan laju diferensiasi Sel kanker tidak merespon stimulasi zat yang menginduksi diferensiasi, karena terjadi perubahan komposisi antarmuka sel, termasuk komposisi molekul pencerap zat bersangkutan. Perubahan dalam mekanisme transduksi sinyal selular, termasuk pada lintasan yang sangat fundamental, selain lintasan regulasi yang mengendalikan fungsi pencerap faktor pertumbuhan, jenjang fosforilasi dan defosforilasi. Kemampuan untuk menginduksi tumor pada model. Kemampuan ini yang menjadi sine qua non yang mendefinisikan kata "ganas" pada transformasi in vitro. Walaupun demikian, sel kanker yang tidak memiliki kemampuan seperti ini, tetap memiliki sifat "tumorigenik" pada model yang lain.

[sunting] Transformasi in vivo
Transformasi pada sel manusia memerlukan akumulasi dari berbagai perubahan genetik yang mengakibatkan ketidak-stabilan genomik,[4] seperti:
y y y y

Peningkatan ekspresi protein onkogen sebagai akibat dari translokasi, amplifikasi dan mutasi pada kromosom. Tidak terdapat ekspresi protein dari gen "penekan tumor". Perubahan pada metilasi DNA. Terdapat kelainan transkripsi genetik yang menyebabkan kelebihan produksi zat pendukung pertumbuhan, seperti IGF-2, TGF- , faktor angiogenesis tumor, PDGF, dan faktor pertumbuhan hematopoietik seperti CSF dan interleukin.

y y y y

Tidak terjadi keseimbangan genetis, sehingga proliferasi menjadi semakin tidak terkendali, peningkatan kemungkinan terjadinya metastasis. Perubahan pada pola enzim dan peningkatan enzim yang berperan dalam sintesis asam nukleat dan enzim yang bersifat litik, seperti protease, kolagenase dan glikosidase. Produksi antigen onkofetal, seperti antigen karsinoembrionik dan hormon plasentis (contoh: gonadotropin korionik), atau isoenzim seperti alkalina fosfatase plasentis. Kemampuan untuk menghindari respon antitumor dari inangnya.

Dari berbagai perubahan genetik tersebut, pada tumor pada manusia, seringkali ditemukan translokasi kromosom yang menghasilkan produk kimerik dengan kemampuan transformasi menjadi sel tumor/kanker atau mengubah ekspresi onkogen.[4]

[sunting] Ciri dan gejala
Secara umum, gejala kanker bisa dibadi menjadi tiga kelompok :
y

y

y

Gejala lokal : pembesaran atau pembengkakan yang tidak biasa tumor, pendarahan (hemorrhage), rasa sakit dan/atau tukak lambung/ulceration. Kompresi jaringan sekitar bisa menyebabkan gejala jaundis (kulit dan mata yang menguning). Gejala metastasis (penyebaran) : pembesaran kelenjar getah bening (lymph node), batuk, hemoptisis, hepatomegali (pembesaran hati), rasa sakit pada tulang, fraktur pada tulangtulang yang terpengaruh, dan gejala-gejala neurologis. Walaupun pada kanker tahap lanjut menyebabkan rasa sakit, sering kali itu bukan gejala awalnya. Gejala sistemik : berat badan turun, nafsu makan berkurang secara signifikan, kelelahan dan kakeksia(kurus kering), keringat berlebihan pada saat tidur/keringat malam, anemia, fenomena paraneoplastik tertentu yaitu kondisi spesifik yang disebabkan kanker aktif seperti trombosis dan perubahan hormonal. Setiap gejala dalam daftar di atas bisa disebabkan oleh berbagai kondisi (daftar berbagai kondisi itu disebut dengan diagnosis banding). Kanker mungkin adalah penyebab utama atau bukan penyebab utama dari setiap gejala.

[sunting] Penyebab
Kanker adalah penyakit yang 90-95% kasusnya disebabkan faktor lingkungan dan 5-10% karena faktor genetik.[5]. Faktor lingkungan yang biasanya mengarahkan kepada kematian akibat kanker adalah tembakau (25-30%), diet dan obesitas (30-35 %), infeksi (15-20%), radiasi, stres, kurangnya aktivitas fisik, polutan lingkungan.[5]

[sunting] Bahan Kimia

Timbulnya penyakit kanker paru-paru sangat berkorelasi dengan konsumsi rokok.Source:NIH. Patogenesis kanker dapat dilacak balik ke mutasi DNA yang berdampak pada pertumbuhan sel dan metastasis. Zat yang menyebabkan mutasi DNA dikenal sebagai mutagen, dan mutagen yang menyebabkan kanker disebut dengan karsinogen. Ada beberapa zat khusus yang terkait dengan jenis kanker tertentu. Rokok tembakau dihubungkan dengan banyak jenis kanker,[6] dan penyebab dari 90% kanker paru-paru.[7] Keterpaparan secara terus-menerus terhadap serat asbestos dikaitkan dengan mesothelioma.[8]. Banyak mutagen adalah juga karsinogen. Tetapi, beberapa mutagen bukanlah karsinogen. Alkohol adalah contoh bahan kimia bersifat karsinogen yang bukan mutagen.[9]. Bahan kimia seperti ini bisa menyebabkan kanker dengan menstimulasi tingkat pembelahan sel. Tingkat replikasi yang lebih cepat, hanya menyisakan sedikit waktu bagi enzim-enzim untuk memperbaiki DNA yang rusak pada saat replikasi DNA, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya mutasi. Riset selama beberapa dekade menunjukkan keterkaitan antara penggunaan tembakau dan kanker pada paru-paru, laring, kepala, leher, perut, kandung kemih, ginjal, esofagus, dan pankreas.[10]. Asap tembakau memiliki lebih dari lima puluh jenis karsinogen yang sudah dikenali termasuk nitrosamines dan hidrokarbon aromatik polisiklik.[11] Tembakau bertanggung jawab atas satu per tiga dari seluruh kematian akibat kanker di negara-negara maju,[6] dan sekitar satu per lima di seluruh dunia.[11] Tingkat kematian akibat kanker paru-paru di Amerika Serikat mencerminkan pola merokok, dengan kenaikan dalam pola merokok diikuti dengan peningkatan yang dramatis dalam tingkat kematian akibat kanker paru-paru. Walaupun begitu, jumlah perokok di seluruh dunia terus meningkat, sehingga beberapa organisasi menyebutkannya sebagai epidemik tembakau.[12] Kanker yang berhubungan dengan pekerjaan seseorang diyakini memiliki jumlah sebesar 2-20% dari semua kasus.[13]

[sunting] Radiasi Ionisasi
Sumber-sumber radiasi ionisasi, seperti gas radon, bisa menyebabkan kanker. Keterpaparan terus-menerus terhadap radiasi ultraviolet dari matahari bisa menyebabkan melanoma dan beberapa penyakit kulit yang berbahaya.[14] Diperkirakan 2% dari penyakit kanker di masa yang akan datang dikarenakan CT Scan di saat ini.[15] Radiasi dari frekuensi radio tak berion dari

telepon seluler dan sumber-sumber radio frekuensi yang serupa juga dianggap sebagai penyebab kanker, tetapi saat ini sangat sedikit bukti kuat yang mendukung keterkaitan ini.[16]

[sunting] Infeksi
Beberapa kanker bisa disebabkan infeksi.[17] Ini bukan saja berlaku pada binatang-binatang seperti burung, tetapi juga pada manusia. Virus-virus ini berperan hingga 20% dari kanker pada manusia di seluruh dunia.[18]

[sunting] Ketidakseimbangan Hormonal [sunting] Disfungsi Sistem Kekebalan [sunting] Keturunan [sunting] Penyebab Lain

[sunting] Patofisiologi
Kanker adalah kelas penyakit beragam yang sangat berbeda dalam hal penyebab dan biologisnya. Setiap organisme, bahkan tumbuhan, bisa terkena kanker. Hampir semua kanker yang dikenal muncul secara bertahap, saat kecacatan bertumpuk di dalam sel kanker dan sel anak-anaknya (lihat bagian mekanisme untuk jenis cacat yang umum). Setiap hal yang bereplikasi memiliki kemungkinan cacat (mutasi). Kecuali jika pencegahan dan perbaikan kecatatan ditangani dengan baik, kecacatan itu akan tetap ada, dan mungkin diwariskan ke sel anang/(daughter cell). Biasanya, tubuh melakukan penjagaan terhadap kanker dengan berbagai metoda, seperti apoptosis, molekul pembantu (beberapa polimerase DNA), penuaan/(senescence), dan lain-lain. Namun, metoda koreksi-kecatatan ini sering kali gagal, terutama di dalam lingkungan yang membuat kecatatan lebih mungkin untuk muncul dan menyebar. Sebagai contohnya, lingkungan tersebut mengandung bahan-bahan yang merusak, disebut dengan bahan karsinogen, cedera berkala (fisik, panas, dan lain-lain), atau lingkungan yang membuat sel tidak mungkin bertahan, seperti hipoksia. Karena itu, kanker adalah penyakit progresif, dan berbagai kecacatan progresif ini perlahan berakumulasi hingga sel mulai bertindak berkebalikan dengan fungsi seharusnya di dalam organisme. Kecacatan sel, sebagai penyebab kanker, biasanya bisa memperkuat dirinya sendiri (self-amplifying), pada akhirnya akan berlipat ganda secara eksponensial. Sebagai contohnya :
y y y

Mutasi dalam perlengkapan perbaikan-kecacatan bisa menyebabkan sel dan sel anangnya mengakumulasikan kecacatan dengan lebih cepat. Mutasi dalam perlengkapan pembuat sinyal (endokrin) bisa mengirimkan sinyal penyebab-kecacatan kepada sel di sekitarnya. Mutasi bisa menyebabkan sel menjadi neoplastik, membuat sel bermigrasi dan dan merusak sel yang lebih sehat.

y

Mutasi bisa menyebabkan sel menjadi kekal (immortal), lihat telomeres, membuat sel rusak bisa membuat sel sehat rusak selamanya.

[sunting] Pembentukan sel kanker
Kondisi-kondisi yang dapat menyebabkan perubahan sel normal menjadi sel kanker adalah hiperplasia, displasia, dan neoplasia. Hiperplasia adalah keadaan saat sel normal dalam jaringan bertumbuh dalam jumlah yang berlebihan. Displasia merupakan kondisi ketika sel berkembang tidak normal dan pada umumnya terlihat adanya perubahan pada nukleusnya. Pada tahapan ini ukuran nukleus bervariasi, aktivitas mitosis meningkat, dan tidak ada ciri khas sitoplasma yang berhubungan dengan diferensiasi sel pada jaringan. Neoplasia merupakan kondisi sel pada jaringan yang sudah berproliferasi secara tidak normal dan memiliki sifat invasif.[19] Kelainan siklus sel, antara lain terjadi saat:
y y

y y

perpindahan fasa G1 menuju fasa S.[20] siklus sel terjadi tanpa disertai dengan aktivasi faktor transkripsi.[21] Pencerap hormon tiroid beta1 (TRbeta1) merupakan faktor transkripsi yang diaktivasi oleh hormon T3 dan berfungsi sebagai supresor tumor dan gangguan gen THRB yang sering ditemukan pada kanker.[22] siklus sel terjadi dengan kerusakan DNA yang tidak terpulihkan.[23] translokasi posisi kromosom yang sering ditemukan pada kanker sel darah putih seperti leukimia atau limfoma, atau hilangnya sebagian DNA pada domain tertentu pada kromosom.[24] Pada leukimia mielogenus kronis, 95% penderita mengalami translokasi kromosom 9 dan 22, yang disebut kromosom filadelfia.

Karsinogenesis pada manusia adalah sebuah proses berjenjang sebagai akibat paparan karsinogen yang sering dijumpai dalam lingkungan, sepanjang hidup, baik melalui konsumsi,[25] maupun infeksi.[26] Terdapat empat jenjang karsinogenesis:
y y y y

inisiasi tumor promosi tumor konversi malignan progresi tumor

[sunting] Diagnosis kanker
Kebanyakan kanker dikenali karena tanda atau gejala tampak atau melalui screening. Kedua metode ini tidak menuju ke diagnosis yang jelas, yang biasanya membutuhkan sebuah biopsi. Beberapa kanker ditemukan secara tidak sengaja pada saat evaluasi medis dari masalah yang tak berhubungan. Karena kanker juga dapat disebabkan adanya metilasi pada promotor gen tertentu, maka deteksi dini dapat dilakukan dengan menguji gen yang menjadi biomarker untuk kanker. Beberapa jenis kanker telah diketahui status metilasi biomarker-nya. Misalnya untuk kanker payudara dapat digunakan biomarker BRCA, sedangkan untuk kanker kolorektal dapat menggunakan biomarker Sox17.

Deteksi dini ini sangat penting. Pada beberapa kanker seperti kanker kolorektal apabila diketahui sejak dini peluang untuk sembuh lebih besar.[27] Selain itu, deteksi dini dapat memudahkan dokter untuk memberikan pengobatan yang sesuai.

[sunting] Pencegahan
[sunting] Faktor-faktor yang dapat diubah [sunting] Diet [sunting] Vitamin [sunting] Pengobatan Pencegahan [sunting] Uji Genetik [sunting] Vaksinasi [sunting] Penyaringan/(Screening)

[sunting] Kanker pada orang dewasa
Di Amerika Serikat dan beberapa negara berkembang lainnya, kanker sekarang ini bertanggung jawab untuk sekitar 25% dari seluruh kematian.[28] Dalam setahun, sekitar 0,5% dari populasi terdiagnosa kanker. Pada pria dewasa di Amerika Serikat, kanker yang paling umum adalah kanker prostat (33% dari seluruh kasus kanker), kanker paru-paru (13%), kanker kolon dan rektum (10%), kanker kandung kemih (7%), dan "cutaneous melanoma (5%). Sebagai penyebab kematian kanker paruparu adalah yang paling umum (31%), diikuti oleh kanker prostat (10%), kanker kolon dan rektum (10%), kanker pankreas (5%) dan leukemia (4%).[28] Untuk dewasa wanita di Amerika Serikat, kanker payudara adalah kanker yang paling umum (32% dari seluruh kasus kanker), diikuti oleh kanker paru-paru (12%), kanker kolon dan rektum (11%), kanker endometrium (6%, uterus) dan limfoma non-Hodgkin (4%). Berdasarkan kasus kematian, kanker paru-paru paling umum (27% dari kematian kanker), diikuti oleh kanker payudara (15%), kanker kolon dan rektum (10%), kanker indung telur (6%), dan kanker pankreas (6%).[28] Statistik dapat bervariasi besar di negara lainnya. Di Indonesia, kanker menjadi penyumbang kematian ketiga terbesar setelah penyakit jantung. Penyebab utama kanker di negara tersebut adalah pola hidup yang tidak sehat, seperti kurang olahraga, merokok, dan pola makan yang tak sehat. Pada tanaman, kanker adalah penyakit yang disebabkan oleh jenis jamur/ bakteri tertantu. Pola invasi kanker tanaman dan kaner pada manusia sangat berbeda. [29]

Pendahuluan Kanker bukanlah suatu penyakit yang ringan. Langkah awal dalam pengobatan kanker adalah deteksi dengan benar bahwa gejala yang muncul pada tubuh pasien adalah benar-benar sel kanker ganas. Deteksi ini bisa dilakukan dengan pemeriksaan biopsy, sehingga langkah pengobatan bisa dilakukan secara cepat dan tepat. Langkah berikutnya adalah terapi pengobatan dengan cara konvensional. Namun pada kenyataannya pengobatan dengan cara ini sering kali kanker belum bisa diatasi secara total. Disinilah peran tanaman obat/herbal. Peran utama herbal adalah meningkatkan daya tahan tubuh pasien dan melokalisir sel-sel kaker sehingga sel-sel kanker tidak mudah menyebar, dan lebih mudah diangkat, juga tidak bersifat toksik sehingga lebih aman untuk tubuh pasien. Contohnya adalah tanaman obat dari ekstrak keladi tikus (Typhonium Flagelliforme). Dalam penggunaannya, tanaman obat ini bisa dipakai bersamaan dengan pengobatan konvensional (pembedahan, kemoterapi, radioterapi dan hormonterapi) atau setelah pengobatan konvensional selesai dilakukan. Karena obat dari ekstrak keladi tikus dapat membantu mengurangi efek pengobatan secara konvensional. Jumlah penderita kanker di Indonesia belum diketahui secara pasti, tetapi peningkatan dari tahun ke tahun dapat dibuktikan sebagai salah satu penyebab kematian. Hanya beberapa kanker yang dapat diobati secara memuaskan, terutama jika diobati saat masih stadium dini. Keberhasilan pengobatan sangat ditentukan oleh jenis kanker, stadium kanker, keadaan umum penderita, dan usaha penderita untuk sembuh. Definisi Kanker Kanker adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan sel-sel jaringan tubuh yang tidak normal. Sel-sel kanker akan berkembang dengan cepat, tidak terkendali, dan akan terus membelah diri, selanjutnya menyusup ke jaringan sekitarnya (invasive) dan terus menyebar melalui jaringan ikat, darah, dan menyerang organ-organ penting serta syaraf tulang belakang. Dalam keadaan normal, sel hanya akan membelah diri jika ada penggantian sel-sel yang telah mati dan rusak. Sebaliknya sel kanker akan membelah terus meskipun tubuh tidak memerlukannya, sehingga akan terjadi penumpukan sel baru yang disebut tumor ganas. Penumpukan sel tersebut mendesak dan merusak jaringan normal, sehingga mengganggu organ yang ditempatinya. Kanker dapat terjadi diberbagai jaringan dalam berbagai organ di setiap tubuh, mulai dari kaki sampai kepala. Bila kanker terjadi di bagian permukaan tubuh, akan mudah diketahui dan diobati. Namun bila terjadi didalam tubuh, kanker itu akan sulit diketahui dan kadang - kadang tidak memiliki gejala. Kalaupun timbul gejala, biasanya sudah stadium lanjut sehingga sulit diobati. Perbedaan Tumor dan Kanker Tumor ada dua macam yaitu tumor jinak dan tumor ganas. Tumor jinak hanya tumbuh dan membesar, tidak terlalu berbahaya, dan tidak menyebar ke luar jaringan. Sedangkan tumor ganas adalah kanker yang tumbuh dengan cepat dan tidak terkendali dan merusak jaringan lainnya. Jenis - jenis kanker yang telah dikenal saat ini yaitu : - Karsinoma Yaitu jenis kanker yang berasal dari sel yang melapisi permukaan tubuh atau permukaan saluran tubuh, misalnya jaringan seperti sel kulit, testis, ovarium, kelenjar mucus, sel melanin, payudara, leher rahim, kolon, rectum, lambung, pancreas, dan esofagus.

- Limfoma Yaitu jenis kanker yang berasal dari jaringan yang membentuk darah, misalnya jaringan limfe, lacteal, limfa, berbagai kelenjar limfe, timus, dan sumsum tulang. Limfoma spesifik antara lain adalah penyakit Hodgkin (kanker kelenjar limfe dan limfa) - Leukemia Kanker jenis ini tidak membentuk massa tumor, tetapi memenuhi pembuluh darah dan mengganggu fungsi sel darah normal. - Sarkoma Yaitu jenis kanker dimana jaringan penunjang yang berada dipermukaan tubuh seperti jaringan ikat, termasuk sel sel yang ditemukan diotot dan tulang. - Glioma Yaitu kanker susunan syaraf, misalnya sel-sel glia (jaringan penunjang) di susunan saraf pusat. - Karsinoma in situ Yaitu istilah yang digunakan untuk menjelaskan sel epitel abnormal yang masih terbatas di daerah tertentu sehingga masih dianggap lesi prainvasif (kelainan/luka yang belum memyebar) Faktor - faktor penyebab kanker Penyebab kanker biasanya tidak dapat diketahui secara pasti karena penyebab kanker dapat merupakan gabungan dari sekumpulan faktor, genetik dan lingkungan. Namun ada beberapa faktor yang diduga meningkatkan resiko terjadinya kanker, sebagai berikut : y Faktor keturunan

Faktor genetik menyebabkan beberapa keluarga memiliki resiko lebih tinggi untuk menderita kanker tertentu bila dibandingkan dengan keluarga lainnya. Jenis kanker yang cenderung diturunkan dalam keluarga adalah kanker payudara, kanker indung telur, kanker kulit dan kanker usus besar. Sebagai contoh, risiko wanita untuk menderita kanker meningkat 1,5 s/d 3 kali jika ibunya atau saudara perempuannya menderita kanker payudara. y Faktor Lingkungan

- Merokok sigaret meningkatkan resiko terjadinya kanker paru - paru, mulut, laring (pita suara), dan kandung kemih. - Sinar Ultraviolet dari matahari - Radiasi ionisasi (yang merupakan karsinogenik) digunakan dalam sinar rontgen dihasilkan dari pembangkit listrik tenaga nuklir dan ledakan bom atom yang bisa menjangkau jarak yang sangat jauh. Contoh, orang yang selamat dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada Perang Dunia II, berisiko tinggi menderita kanker sel darah, seperti Leukemia. y Faktor Makanan yang mengandung bahan kimia.

Makanan juga dapat menjadi faktor risiko penting lain penyebab kanker, terutama kanker pada saluran pencernaan. Contoh jenis makanan yang dapat menyebabkan kanker adalah : - Makanan yang diasap dan diasamkan (dalam bentuk acar) meningkatkan resiko terjadinya kanker lambung - Minuman yang mengandung alkohol menyebabkan berisiko lebih tinggi terhadap kanker kerongkongan. - Zat pewarna makanan - Logam berat seperti merkuri yang sering terdapat pada makanan laut yang tercemar seperti: kerang, ikan, dsb. - Berbagai makanan (manis,tepung) yang diproses secara berlebihan. y Virus

Virus yang dapat dan dicurigai menyebabkan kanker antara lain : - Virus Papilloma menyebabkan kutil alat kelamin (genitalis) agaknya merupakan salah satu penyebab kanker leher rahim pada wanita. - Virus Sitomegalo menyebabkan Sarkoma Kaposi (kanker sistem pembuluh darah yang ditandai oleh lesi kulit berwarna merah) - Virus Hepatitis B dapat menyebabkan kanker hati. - Virus Epstein - Bar (di Afrika) menyebabkan Limfoma Burkitt, sedangkan di China virus ini menyebabkan kanker hidung dan tenggorokan. Ini terjadi karena faktor lingkungan dan genetik. - Virus Retro pada manusia misalnya virus HIV menyebabkan limfoma dan kanker darah lainnya. y Infeksi

- Parasit Schistosoma (bilharzia) dapat menyebabkan kanker kandung kemih karena terjadinya iritasi menahun pada kandung kemih. Namun penyebab iritasi menahun lainnya tidak menyebabkan kanker. - Infeksi oleh Clonorchis yang menyebabkan kanker pankreas dan saluran empedu. - Helicobacter Pylori adalah suatu bakteri yang mungkin merupakan penyebab kanker lambung, dan diduga bakteri ini menyebabkan cedera dan peradangan lambung kronis sehingga terjadi peningkatan kecepatan siklus sel. y Faktor perilaku

- Perilaku yang dimaksud adalah merokok dan mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung lemak dan daging yang diawetkan juga peminum minuman beralkohol. - Perilaku seksual yaitu melakukan hubungan intim diusia dini dan sering berganti ganti pasangan. y Gangguan keseimbangan hormonal

Hormon estrogen berfungsi merangsang pertumbuhan sel yang cenderung mendorong terjadinya kanker, sedangkan progesteron melindungi terjadinya pertumbuhan sel yang berlebihan. - Ada kecenderungan bahwa kelebihan hormon estrogen dan kekurangan progesteron menyebabkan meningkatnya risiko kanker payudara, kanker leher rahim, kanker rahim dan kanker prostat dan buah zakar pada pria. y Faktor kejiwaan, emosional

- Stres yang berat dapat menyebabkan ganggguan keseimbangan seluler tubuh. Keadaan tegang yang terus

menerus dapat mempengaruhi sel, dimana sel jadi hiperaktif dan berubah sifat menjadi ganas sehingga menyebabkan kanker. y Radikal bebas

- Radikal bebas adalah suatu atom, gugus atom, atau molekul yang mempunyai electron bebas yang tidak berpasangan dilingkaran luarnya. Sumber - sumber radikal bebas yaitu : 1. Radikal bebas terbentuk sebagai produk sampingan dari proses metabolisme. 2. Radikal bebas masuk ke dalam tubuh dalam bentuk racun-racun kimiawi dari makanan , minuman, udara yang terpolusi, dan sinar ultraviolet dari matahari. 3. Radikal bebas diproduksi secara berlebihan pada waktu kita makan berlebihan (berdampak pada proses metabolisme) atau bila kita dalam keadaan stress berlebihan, baik stress secara fisik, psikologis,maupun biologis. Faktor Resiko dan Gejala Kanker y Faktor Resiko Hormonal

Hormon estrogen dapat berfungsi sebagai promotor bagi kanker tertentu, misalnya kanker payudara dan kanker endometrium. Wanita yang memiliki menstruasi memiliki kadar estrogen yang tinggi, maka resiko terbentuknya kanker payudara meningkat pada wanita yang mengalami menstruasi dini dan mencapai menopause lambat. Terlambat mengandung atau tidak memiliki anak dapat meningkatkan resiko kanker payudara. y Faktor Kejiwaan, Emosi Psikis

Gangguan yang terjadi pada emosi dapat menyebabkan atau memperberat kanker seperti stress, dendam, kebencian yang mendalam,atau sakit hati (kepedihan). Peranan faktor kejiwaan pada kanker dapat melalui beberapa cara, diantaranya: stress atau dendam yang mempengaruhi perkembangan sel menjadi liar dan efek yang melemahkan sistem kekebalan tubuh sel T sehingga tidak mampu melenyapkan sel kanker yang terbentuk. y Beberapa faktor yang bersifat Protektif terhadap pembentukan kanker yaitu :

- Hormon progesteron bersifat protektif terhadap kanker yaitu dengan menghambat efek stimulasi estrogen. Hormon progesteron meningkat pada saat kehamilan dan saat menyusui pada wanita oleh karena itu, wanita yang menyusui selama paling sedikit 6 bulan berturut - turut, wanita yang hamil beberapa kali, akan mengurangi resiko terkena kanker payudara. Gejala - gejala Kanker Gejala kanker secara umum yang timbul tergantung dari jenis atau organ tubuh yang terserang yaitu : y Nyeri dapat terjadi akibat tumor yang meluas menekan syaraf dan pembuluh darah disekitarnya, reaksi kekebalan dan peradangan terhadap kanker yang sedang tumbuh, dan nyeri juga disebabkan karena ketakutan atau kecemasan. Pendarahan atau pengeluaran cairan yang tidak wajar, misalnya ludah, batuk atau muntah yang berdarah, mimisan yang terus menerus, cairan puting susu yang mengandung darah, cairan liang senggama yang berdarah (diantara menstruasi/menopause) darah dalam tinja, darah dalam air kemih. Perubahan kebiasaan buang air besar

y

y

y y y y y y

Penurunan berat badan dengan cepat akibat kurang lemak dan protein (kaheksia) Benjolan pada payudara Gangguan pencernaan, misalnya sukar menelan yang terus menerus. Tuli, atau adanya suara - suara dalam telinga yang menetap. Luka yang tidak sembuh - sembuh Perubahan tahi lalat atau kulit yang mencolok

Gejala Kanker secara khusus berdasarkan jenis kanker yang dialami : y Kanker Otak Sakit kepala yang sangat pada pagi hari dan berkurang pada tengah hari, epilepsi, lemah, mati rasa pada lengan dan kaki, kesulitan berjalan,mengantuk, perubahan tidak normal pada penglihatan, perubahan pada kepribadian, perubahan pada ingatan, sulit bicara. y Kanker mulut Terdapat sariawan pada mulut, lidah dan gusi yang tidak kunjung sembuh. y Kanker Tenggorokan Batuk terus menerus, suara serak atau parau. y Kanker Paru-paru Batuk terus - menerus, dahak bercampur darah, rasa sakit di dada. y Kanker Payudara Adanya benjolan, penebalan kulit (tickening), perubahan bentuk, gatal - gatal, kemerahan, rasa sakit yang tidak berhubungan dengan menyusui atau menstruasi. y Kanker saluran pencernaan Adanya darah dalam kotoran yang ditandai dengan warna merah terang atau hitam, rasa tidak enak terus menerus pada perut, benjolan pada perut, rasa sakit setelah makan, penurunan berat badan. y Kanker Rahim (uterus) Pendarahan diperiode - periode datang bulan, pengeluaran darah saat mens yang tidak seperti biasanya dan rasa sakit yang luar biasa. y Kanker Indung Telur (ovarium) Pada fase lanjut barulah muncul gejala. y Kanker Kolon Pendarahan pada rectum, ada darah pada kotoran, perubahan buang air besar (diare yang terus menerus atau sulit buang air besar).

y

Kanker Kandung Kemih atau Ginjal Ada darah pada air seni, rasa sakit atau perih pada saat buang air kecil, keseringan atau kesulitan buang air kecil, sakit pada kandung kemih.

y

Kanker prostat Kencing tidak lancar, rasa sakit yang terus menerus pada pinggang belakang, penis dan paha atas.

y

Kanker buah zakar/testis Adanya benjolan pada buah zakar, ukuran penampungan pada buah zakar yang membesar dan menebal secara mendadak, sakit pada perut bagian bawah, dada membesar atau melembek.

y

Limfoma Kelenjar getah bening membesar, kenyal seperti karet, gatal - gatal, berkeringat pada waktu tidur malam, demam atau penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.

y

Leukemia Pucat, kelelahan kronis, penurunan berat badan, sering kena infeksi, mudah terluka, rasa sakit pada tulang dan persendian, mimisan.

y

Kanker Kulit Benjolan pada kulit yang menyerupai kutil (mengeras seperti tanduk), infeksi yang tidak sembuh - sembuh, bintik-bintik berubah warna dan ukuran, rasa sakit pada daerah tertentu, perubahan warna kulit berupa bercak-bercak.

y

Komplikasi

Komplikasi yang sering terjadi pada pasien kanker adalah infeksi yaitu pada pengidap kanker stadium lanjut. Infeksi terjadi akibat kekurangan protein dan zat gizi lainnya serta penekanan sistem imun yang sering terjadi setelah pengobatan konvensional. Diagnosis Kanker Deteksi Dini Kanker : y Upaya pendeteksian kanker yang terkini adalah dengan Digital Infrared Imaging atau Pencitraan Inframerah Digital (PID). Teknik ini untuk memonitor kesehatan payudara dan leher rahim pada wanita terhadap adanya proses prakanker. Prinsip kerja PID adalah bahwa benda pada temperatur tertentu akan memancarkan radiasi gelombang electromagnet dari permukaan yang tidak kasat mata, dimana intensitas maksimum terjadi pada panjang gelombang daerah sinar inframerah. Aktivitas kimia dan aktivitas pembuluh darah didalam jaringan sekitar prakanker yang sedang tumbuh selalu lebih tinggi daripada jaringan normal.

y

Beberapa tes penyaringan yang dapat dilakukan dirumah, misalnya melakukan pemeriksaan payudara sendiri setiap bulan sangat dapat membantu wanita mendeteksi kaknker payudara.

y

Memeriksa buah zakar dapat membantu pria mendeteksi kanker secara dini sehingga dapat disembuhkan bila ditemukan pada stadium dini.

y

Memeriksa secara teratur adanya luka terbuka dimulut yang tidak sembuh - sembuh untuk mendeteksi kanker mulut pada stadium dini.

Menentukan Stadium kanker Jika kanker telah ditemukan, pemeriksaan penentuan stadium (staging) kanker membantu dokter dalam merencanakan pengobatan yang tepat dan menentukan prognosis perjalanan penyakitnya. Staging bisa dilakukan dengan menggunakan : 1. Pemindaian/scanning (misalnya pemindaian hati atau tulang) 2. Pewarnaan terhadap jaringan sehingga bila ada kanker jaringan patologis dapat diketahui. 3. CT (Computed Tomography) atau MRI (Magnetic Resonance Imaging) 4. Mediastinoskopi 5. Biopsi sumsum tulang. Terkadang perlu dilakukan pembedahan untuk menentukan stadium kanker. Misalnya, suatu laparatomi (pembedahan perut) memungkinkan ahli bedah untuk mengangkat atau mengobati kanker usus besar sambil menentukan penyebaran kanker ke kelenjar getah bening terdekat. Pengobatan Kanker 1. Pengobatan Konvensional - Pengobatan dengan Kemoterapi Prinsip kerja pengobatan ini adalah dengan meracuni atau membunuh sel - sel kanker, mengontrol pertumbuhan sel kanker, dan menghentikan pertumbuhannya agar tidak menyebar atau untuk mengurangi gejala-gejala yang disebabkan oleh kanker. Kemoterapi terkadang merupakan pilihan pertama untuk menangani kanker. Kemoterapi bersifat sistematik, berbeda dengan radiasi atau pembedahan yang bersifat setempat, karenanya kemoterapi dapat menjangkau sel-sel kanker yang mungkin sudah menjalar dan menyebar ke bagian tubuh yang lain. Penggunaan kemoterapi berbeda-beda pada setiap pasien, kadang-kadang sebagai pengobatan utama, pada kasus lain dilakukan sebelum atau setelah operasi dan radiasi. Tingkat keberhasilan kemoterapi juga berbeda-beda tergantung jenis kankernya. Kemoterapi biasa dilakukan di rumah sakit, klinik swasta, tempat praktek dokter, ruang operasi (walaupun jarang dilakukan) dan juga di rumah (oleh perawat, penderita sendiri, atau anggota keluarga lainnya).

Efek samping kemoterapi adalah terjadi penurunan jumlah sel-sel darah (akan kembali normal sekitar seminggu kemudian), infeksi (ditandai dengan panas , sakit tenggorokan, rasa panas saat kencing, menggigil dan luka yang memerah, bengkak, dan rasa hangat), anemia, pendarahan seperti mimisan, rambut rontok, kadang ada keluhan seperti kulit yang gatal dan kering, mual dan muntah, dehidrasi dan tekanan darah rendah, sembelit/konstipasi, diare, gangguan sistem syaraf. - Pengobatan dengan Terapi Penyinaran (Radiasi) Terapi radiasi biasanya dilakukan sebelum atau sesudah operasi untuk mengecilkan tumor. Radiasi dilakukan dalam usaha menghancurkan jaringan-jaringan yang sudah terkena kanker. Efek samping penyinaran adalah mual dan muntah, penurunan jumlah sel darah putih, infeksi/peradangan, reaksi pada kulit seperti terbakar sinar matahari, rasa lelah, sakit pada mulut dan tenggorokan, diare dan dapat menyebabkan kebotakan. - Pengobatan dengan pembedahan Pembedahan merupakan bentuk pengobatan kanker yang paling tua. Beberapa kanker sering dapat disembuhkan hanya dengan pembedahan jika dilakukan pada stadium dini. - Pengobatan dengan terapi kombinasi Untuk beberapa kanker, pengobatan terbaik merupakan kombinasi dari pembedahan, penyinaran, dan kemoterapi. Pembedahan atau penyinaran mengobati kanker yang daerahnya terbatas, sedangkan kemoterapi bertujuan membunuh sel-sel kanker yang berada diluar jangkauan pembedahan maupun penyinaran. Terkadang penyinaran atau kemoterapi dilakukan sebelum pembedahan untuk memperkecil ukuran tumor atau setelah pembedahan untuk menghancurkan sisa-sisa sel kanker yang mungkin tersisa. 2. Pengobatan Herbal Pengobatan herbal adalah suatu pengobatan menggunakan berbagai macam ekstrak dari tumbuh-tumbuhan (tanaman obat), contohnya, ekstrak dari keladi tikus (Extract Typhonium Flagelliforme) yang dikombinasikan dengan bahan alami lainnya yang diolah secara modern, yang dapat membantu detoxifikasi jaringan darah dan menstimulasi system kekebalan tubuh untuk bersama-sama memberantas sel kanker. Pengobatan herbal adalah salah satu alternatif pengobatan yang telah banyak terbukti keampuhannya selain pengobatan yang dilakukan secara modern/konvensional. Penggunaan herbal untuk mengobati kanker tidak muncul begitu saja. Ada beberapa pendekatan yang mendasari pengobatan dengan bahan baku tersebut, yaitu sebabagi berikut: 1. Konsep dari hasil penelitian bahwa kanker bersifat reversible (bisa normal kembali) 2. Konsep menghambat pertumbuhan kanker. Kanker tumbuh karena karsinogen dan lingkungan yang mendukung mutasi genetis pertumbuhan. Jika karsinogen dan lingkungan tersebut ditiadakan, pertumbuhan kanker akan terhambat. 3. Konsep penuaan sel kanker. Jika pertumbuhannya dihambat, maka sel kanker tersebut tidak mempunyai

kesempatan untuk berkembang, kemudian tua dan mati. 4. Konsep memperkuat sel lain di sekitar kanker. Kanker berkembang dengan cara menyerang sel yang ada disekitarnya, sehingga dengan memperkuat sel sehat di sekitarnya akan terbentuk pertahanan sel yang dapat menahan sel kanker. Usaha Pencegahan Kanker dan Terapi Mental Pencegahan Secara Umum Cara pencegahan umum kanker adalah mengurangi paparan terhadap bahan karsinogen, misalnya tidak merokok, menghindari makanan tinggi lemak, menambah makanan tinggi serat seperti sayuran dan buah, hidup akif fisik, mengupayakan berat badan yang ideal, dan hidup dengan pola sehat. Pencegahan juga dapat dilakukan dengan penapisan atau screening terhadap kemungkinan terkena kanker. Tes penapisan kanker ini dimaksudkan untuk mengetahui kemungkinan terjadinya kanker sehingga dapat menurunkan jumlah kematian akibat kanker karena jika kanker ditemukan pada stadium sangat dini, dimana kanker belum menyebar lebih jauh, biasanya kanker tersebut dapat diobati dan memberikan hasil yang optimal. Terapi Mental Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam hal terapi mental untuk penderita kanker adalah : y y y y y y y y Mengelola stress Menyadari adanya stress Dukungan moral pada pasien kanker Tetap aktif dan bergembira Berempati (mamahami beratnya beban mental yang dialami penderita untuk mendukung pemulihan kanker) Optimis dalam menjalankan hidup Buanglah dendam dan kebencian Terapi doa (mendekatkan diri kapada Tuhan)

Gangguan Makan Setelah Menjalani Terapi Radiasi
26 Sep 2010
y y

Kesehatan Warta Kota

TERAPI radiasi masih menjadi pilihan dalam pengobatan kanker, selain operasi dan kcmoterapi. Menurut data organisasi kanker Amerika Serikat, pasien kanker yang memilih terapi radiasi untuk mengatasi sakitnya itu mencapai 60 - 80 persen. Meski dipakai untuk pengobatan, terapi itu mempunyai efek samping bagi penderita kanker. Mulai dari rambut rontok, gangguan selera makan, mual, muntah, kehilangan pendengaran, perubahan kulit dan kulit kepala, dan pendengaran. Dari beberapa efek samping Itu, gangguan selera makan harus dilawan. Masuknya makanan akan mempengaruhi daya tahan dan mempercepat proses penyembuhan. Seperti dikatakan dr Flelda

Djulta SpRad(K) saat talkshow Metode Terkini Terapi Radiasi Pada Kanker yang diadakan di RS Dharmais. Selasa (21/9). "Radiasi pada daerah kepala dan leher atau pada saluran makan akan menyebabkan gangguan makan dan saluran cema. Anda akan kehilangan nafsu makan. Namun pasien disarankan tetap makan, walaupun sedang tidak lapar." kata Flelda. Flelda mengatakan, bagi pasien kanker yang menjalani terapi radiasi, pilihlah makanan yang memiliki kandungan protein dan kalori yang tinggi. Tetapi harus hindari makanan yang terlalu berbumbu, seperti sayur yang kasar. craters yang keras, atau kecap. Selain Itu jangan makan atau minum yang terlalu panas atau terlalu dingin, artinya mlnumlah alr yang mempunyai suhu sama dengan suhu ruangan. Jangan merokok, menghlsap tembakau, dan minum alkohol, karena akan membuat mulut lebih kering. Jauhi Juga makanan yang terlalu manis. Pilih makanan berkuah agar memakannya lebih mudah. Kesehatan gigi Juga perlu diperhatikan untuk mencegah masuknya kuman ke dalam tubuh. "Gigi yang berlubang, goyang harus diperbaiki dulu karena gigi yang berlubang dan goyang akan menjadi jalan masuk kuman. Perawatan gigi harus tetap dilakukan ketika dilakukan radiasi," kata Flelda. Kondisi psikologis Juga berperan agar solera makan tetap balk (lihat boks). Selain Itu, mual dan diare Juga cukup mengganggu ketika menjalani terapi radiasi. Untuk menghindari mual,jangan makan 1 - 2 Jam menjelang radiasi. Saat dlradlasi lebih balk dengan perut kosong. Setelah radiasi, untuk makan pun disarankan 1 - 2 Jam seusai dlradiasl. Flelda mengatakan, saat menjalani program pengobatan kanker, harus ditangani dari berbagai disiplin ilmu. Termasuk dalam mengikuti terapi radiasi. Selain dokter onkologi radiasi, Juga ada ahli fisika radiasi, doslmetris (petugas yang disupervisi oleh ahli fisika radiasi yang membantu dokter onkologi radiasidalam perencanaan terapi radiasi), terapls radiasi, perawat radioterapl, serta ahli gizi, rehabilitas medis, pekerja sosial, dan dokter onkologi gigi. , Sayangnya, alat radiasi yang dimiliki rumah sakit di Indonesia masih terbatas. Akibatnya pasien harus menunggu 2 - 3 bulan untuk dapat menjalankan terapi Itu. Termasuk di rumah sakit swasta. DI seluruh Indonesia, hanya ada 20 rumah sakit yang memiliki alatnya. Sementara di Jakarta ada lima RS, yakni RSCM, Dharmais. Pertamina, Persahabatan, dan RSPAD. Dampaknya, dari sekitar 125.000 pasien yang harus menjalani radiasi, hanya delapan persen atau 8.000 pasien yang dapat ditangani. Harga alat radioterapl Itu pun Juga mahal, sekitar Rp 24 miliar. (Us)
Nutrisi untuk penderita kanker

Jus sayuran segar sangat baik dikonsumsi oleh penderita kanker. Mengapa? Pada dasarnya, setiap orang memiliki sel kanker. Sepanjang hidup seseorang, tubuh mengalami enam sampai 10 kali erupsi sel-sel kanker. Masalah muncul bila sistem kekebalan tubuh mengalami gangguan atau melemah.Kekebalan yang melemah mengakibatkan daya tahan tubuh tidak mampu mengendalikan mutasi genetik sel karena terganggu atau kehilangan mekanisme kontrol. Seperti dituturkan oleh ahli bedah kanker dan pakar pengobatan herbal, dr Paulus W Halim SpB, daya tahan tubuh yang lemah akan kehilangan kemampuan untuk membunuh sel kanker yang ada dan tidak mampu mengendalikan pertumbuhan sel tersebut. Akibatnya, melalui aliran darah dan getah bening, sel kanker leluasa menyebar ke jaringan sekitar dan organ lain. Lazimnya, pengobatan kanker dilakukan melalui pembedahan dengan membuang jaringan yang terserang sel-sel ganas itu. Pengobatan lain, dengan kemoterapi atau radioterapi untuk membinasakan sel kanker. Ada pula terapi hormon yang bertujuan mengatur keseimbangan hormon. Namun, menurut Paulus, pengobatan kanker bisa juga dibarengi dengan terapi komplementer atau terapi pendamping berupa pemberian nutrisi. Dengan memerhatikan ekobiosistem tubuh, terapi ini dilakukan dengan tidak memunculkan lingkungan dalam tubuh yang mendukung sel kanker untuk hidup dan berkembang biak. Untuk ini, penderita disarankan mengonsumsi makanan yang juga berfungsi sebagai obat (bersifat nutrasetikal). Jadi, cara paling efektif dalam berperang melawan kanker adalah jangan beri sel kanker makanan yang disukai, tutur Paulus dalam sebuah seminar di Jakarta, Sabtu (9/6) lalu. NutrasetikalKonsep nutrasetikal, menurut dia, diperkenalkan pertama kali oleh Stephen De Felice, ketua Foundation for Innovation in Medicine pada 1989. Nutrasetikal adalah bahan pangan atau bagian dari pangan yang memberikan manfaat medis, termasuk mencegah atau mengobati penyakit. Intinya merupakan kombinasi dari fungsi nutrisi dan pharmaceutical. Nutrasetikal terdiri atas herbal, suplemen, dan minuman nutrasetikal. Herbal dapat berbentuk bumbu dapur, sayuran, dan buah-buahan. Suplemen berupa vitamin dan mineral, sedangkan minuman nutrasetikal meliputi air jahe, kunyit asam, beras kencur, air kacang hijau, susu kedelai, agar-agar, atau gula aren. Nah, bagi penderita kanker, kata Paulus, jika ingin mengonsumsi gula sebaiknya pilih madu, gula aren, atau gula kelapa. Hindari pemanis buatan. Selain itu, hindari susu sapi dan hasil olahan susu sapi. Susu sapi membuat tubuh memproduksi mucous. Kanker makan dari mucous. Jadi, sebaiknya gunakan susu kedelai tanpa pemanis. Menurut dia, sel kanker senang dengan lingkungan asam. Daging, misalnya, adalah bahan pangan yang bersifat asam. Selain itu, daging juga mengandung residu antibiotik, hormon pertumbuhan, dan parasit. Karena itu, penderita kanker sebaiknya kembali ke diet vegetarian. Penderita kanker juga perlu menghindari konsumsi lemak tinggi, tapi diimbangi dengan serat tinggi. Demikian pula dengan makanan kalengan, makanan yang diawetkan atau mengandung bahan pengawet. Hindari mengonsumsi garam meja yang mengandung pemutih dan bahan kimia, sebaiknya mengonsumi garam kasar.

Hal lain yang perlu dihindari adalah makanan yang telah direkayasa, seperti kedelai dan jagung transgenik. Juga, sayuran yang mengandung residu logam berat, pestisida, atau herbisida. Lupakan makanan seperti jengkol, emping, melinjo, durian, buah bergetah seperti cempedak, nangka, sawo, duku, langsat. Enyahkan pula makanan yang dipanaskan dengan microwave, makanan yang dibekukan, dan makanan yang dipanaskan dengan suhu tinggi. Paulus mengingatkan, makanan yang wajib dikonsumsi oleh penderita kanker harus 80 persen berupa sayuran segar, biji-bijian, sereal, dan buah-buahan. Jus sayuran segar mengandung zat fito enzim yang mudah diserap sel dalam waktu 15 menit, ujar dokter yang membuka klinik di Tangerang itu. Sisanya, sekitar 20 persen, makanan yang dimasak, termasuk kacang-kacangan. Kacang-kacangan harus dimasak karena ia memiliki antinutrisi. Setelah dimasak, sifat negatif itu akan hilang. Selain itu, hindari cabai dan santan yang kental. Perhatikan minumanTak hanya makanan, penderita kanker juga perlu memerhatikan minuman yang akan dikonsumsi. Minuman yang tinggi kafein seperti kopi, teh, dan cokelat, sebaiknya dihapus dalam daftar menu sehari-hari. Sebagai pengganti, minumlah teh hijau karena mengandung zat antikanker. Bagaimana dengan air suling? Air ini ternyata tidak baik bagi penderita kanker karena mengandung asam. Air isi ulang juga perlu dihindari sebab kemungkinan mengandung toksin dan logam berat. Jadi, sebaiknya gunakan air murni atau yang sudah di-filter. Lebih penting lagi, hindari minuman beralkohol dan soft drink. Paulus mengungkapkan, Indonesia adalah negara kedua di dunia setelah Brasil dengan kekayaan hayati. Dari 40 jenis flora di dunia, 30 ribu di antaranya tumbuh di negeri ini. Sekitar 26 persen dari jumlah tersebut sudah dibudidayakan, 74 persen masih tumbuh liar di hutan-hutan. Bahkan, ada 940 jenis tanaman berkhasiat dalam pengobatan dan telah dibudidayakanai 10 kali erupsi sel-sel kanker. Masalah muncul bila sistem kekebalan tubuh mengalami gangguan atau melemah. Kekebalan yang melemah mengakibatkan daya tahan tubuh tidak mampu mengendalikan mutasi genetik sel karena terganggu atau kehilangan mekanisme kontrol. Seperti dituturkan oleh ahli bedah kanker dan pakar pengobatan herbal, dr Paulus W Halim SpB, daya tahan tubuh yang lemah akan kehilangan kemampuan untuk membunuh sel kanker yang ada dan tidak mampu mengendalikan pertumbuhan sel tersebut. Akibatnya, melalui aliran darah dan getah bening, sel kanker leluasa menyebar ke jaringan sekitar dan organ lain. Lazimnya, pengobatan kanker dilakukan melalui pembedahan dengan membuang jaringan yang terserang sel-sel ganas itu. Pengobatan lain, dengan kemoterapi atau radioterapi untuk membinasakan sel kanker. Ada pula terapi hormon yang bertujuan mengatur keseimbangan hormon. Namun, menurut Paulus, pengobatan kanker bisa juga dibarengi dengan terapi komplementer atau terapi pendamping berupa pemberian nutrisi. Dengan memerhatikan ekobiosistem tubuh, terapi ini dilakukan dengan tidak

memunculkan lingkungan dalam tubuh yang mendukung sel kanker untuk hidup dan berkembang biak. Untuk ini, penderita disarankan mengonsumsi makanan yang juga berfungsi sebagai obat (bersifat nutrasetikal). Jadi, cara paling efektif dalam berperang melawan kanker adalah jangan beri sel kanker makanan yang disukai, tutur Paulus dalam sebuah seminar di Jakarta, Sabtu (9/6) lalu. Nutrasetikal Konsep nutrasetikal, menurut dia, diperkenalkan pertama kali oleh Stephen De Felice, ketua Foundation for Innovation in Medicine pada 1989. Nutrasetikal adalah bahan pangan atau bagian dari pangan yang memberikan manfaat medis, termasuk mencegah atau mengobati penyakit. Intinya merupakan kombinasi dari fungsi nutrisi dan pharmaceutical. Nutrasetikal terdiri atas herbal, suplemen, dan minuman nutrasetikal. Herbal dapat berbentuk bumbu dapur, sayuran, dan buah-buahan. Suplemen berupa vitamin dan mineral, sedangkan minuman nutrasetikal meliputi air jahe, kunyit asam, beras kencur, air kacang hijau, susu kedelai, agar-agar, atau gula aren. Nah, bagi penderita kanker, kata Paulus, jika ingin mengonsumsi gula sebaiknya pilih madu, gula aren, atau gula kelapa. Hindari pemanis buatan. Selain itu, hindari susu sapi dan hasil olahan susu sapi. Susu sapi membuat tubuh memproduksi mucous. Kanker makan dari mucous. Jadi, sebaiknya gunakan susu kedelai tanpa pemanis. Menurut dia, sel kanker senang dengan lingkungan asam. Daging, misalnya, adalah bahan pangan yang bersifat asam. Selain itu, daging juga mengandung residu antibiotik, hormon pertumbuhan, dan parasit. Karena itu, penderita kanker sebaiknya kembali ke diet vegetarian. Penderita kanker juga perlu menghindari konsumsi lemak tinggi, tapi diimbangi dengan serat tinggi. Demikian pula dengan makanan kalengan, makanan yang diawetkan atau mengandung bahan pengawet. Hindari mengonsumsi garam meja yang mengandung pemutih dan bahan kimia, sebaiknya mengonsumi garam kasar. Hal lain yang perlu dihindari adalah makanan yang telah direkayasa, seperti kedelai dan jagung transgenik. Juga, sayuran yang mengandung residu logam berat, pestisida, atau herbisida. Lupakan makanan seperti jengkol, emping, melinjo, durian, buah bergetah seperti cempedak, nangka, sawo, duku, langsat. Enyahkan pula makanan yang dipanaskan dengan microwave, makanan yang dibekukan, dan makanan yang dipanaskan dengan suhu tinggi. Paulus mengingatkan, makanan yang wajib dikonsumsi oleh penderita kanker harus 80 persen berupa sayuran segar, biji-bijian, sereal, dan buah-buahan. Jus sayuran segar mengandung zat fito enzim yang mudah diserap sel dalam waktu 15 menit, ujar dokter yang membuka klinik di Tangerang itu. Sisanya, sekitar 20 persen, makanan yang dimasak, termasuk kacang-kacangan. Kacang-kacangan harus dimasak karena ia memiliki antinutrisi. Setelah dimasak, sifat negatif itu akan hilang. Selain itu, hindari cabai dan santan yang kental. Perhatikan minuman Tak hanya makanan, penderita kanker juga perlu memerhatikan minuman yang akan dikonsumsi. Minuman yang tinggi kafein seperti kopi, teh, dan cokelat, sebaiknya dihapus dalam daftar menu sehari-hari. Sebagai pengganti, minumlah teh hijau karena mengandung zat antikanker. Bagaimana dengan air suling?

Air ini ternyata tidak baik bagi penderita kanker karena mengandung asam. Air isi ulang juga perlu dihindari sebab kemungkinan mengandung toksin dan logam berat. Jadi, sebaiknya gunakan air murni atau yang sudah di-filter. Lebih penting lagi, hindari minuman beralkohol dan soft drink. Paulus mengungkapkan, Indonesia adalah negara kedua di dunia setelah Brasil dengan kekayaan hayati. Dari 40 jenis flora di dunia, 30 ribu di antaranya tumbuh di negeri ini. Sekitar 26 persen dari jumlah tersebut sudah dibudidayakan, 74 persen masih tumbuh liar di hutan-hutan. Bahkan, ada 940 jenis tanaman berkhasiat dalam pengobatan dan telah dibudidayakan.

Pentingnya Makanan Sehat bagi Penderita Kanker Label: kanker, makanan Terbaru: DechaCare.com API Akse ke DechaCare.com API bagi developer website informasi kesehatan. Dokumentasi DechaCare.com API selengkapnya. Anggota DechaCare.com Daftar sekarang (GRATIS) Daftarkan email Anda, selanjutnya DechaCare.com hanya akan mengirimkan informasi pilihan Anda ke email Anda. Informasi selengkapnya... Diet makanan sehat dapat mempengaruhi pasien dengan kondisi kanker, meskipun efeknya tidak terlalu besar, seorang ahli menyebutkan. Meski keterbatasan jumlah dan kualitas dari hasil penelitiannya, para ahli dari Inggris tersebut mengatakan mereka dapat menyimpulkan bahwa diet makanan sehat secara efektif dapat berpengaruh terhadap kondisi pasien kanker. Mereka menyebutkan bahwa mengkonsumsi makan makanan sehat secara terus menerus sangat menjanjikan untuk perbaikan kanker payudara, dimana dapat menekan risiko kematian akibat kanker yang spesifik tersebut, meskipun sampai saat ini tinjauan untuk diet sehat tersebut masih kecil. Peneliti Thomas dkk mempelajari data 59 kasus. Dari sejumlah tersebut 25 adalah mereka yang menderita kanker, sedangkan 34 pasien mengalami lesi pra-kanker. Dalam penelitian ini pemberian makan makanan sehat termasuk pemberian suplemen vitamin A, C, B6, serat, kalsium, asam folat, dan beta karoten, yang sama baiknya dengan tindakan penurunan berat badan, olah raga dan menurunkan kalori. Dalam penelitian tersebut disimpulkan bahwa diet makanan sehat dapat menekan risiko terjadinya kanker payudara berulang. Mereka juga memfokuskan perhatian pada asupan kalsium yang tinggi dapat menekan risiko terjadinya polip kolorektal berulang, dimana merupakan pemicu terjadinya kanker kolon.

Tentunya makan yang benar sangat penting bagi kesehatan, Thomes mengatakan. Diet makanan sehat tentunya sangat penting bagi kesembuhan karena beberapa pasien dengan kanker akan hidup lebih lama dengan pemberian obat-obatan secara efektif. Diet sehat bekerja sangat baik, Trichopoulus mengatakan. Meskipun efeknya terhadap timbulnya kembali kanker dan tindakan pencegahan tidak besar, namun kenyataannya diet dapat menekan kanker hingga 10-15%. Ia menambahkan mengkonsumsi sedikit daging merah dan banyak makan buah-buahan sangat baik bagi penderita kanker. Pada penelitian lainnya yang juga dipublikasikan dalam jurnal yang sama disebutkan bahwa bawang putih dan suplemen vitamin tidak dapat menekan kejadian kanker lambung atau lesi prakanker di lambung.
Pantangan makanan bagi penderita kanker :

Dibantu dr. Susi dan dr. Jamal dari Tim Medis Klinik Herbal Ny.Ning Harmanto, alasan memberikan pantangan makanan penderita kanker sebagai berikut: 1. Sayur-sayuran
y y y

Tauge mengandung zat yang mendorong pertumbuhan sel kanker. Sawi putih dan kangkung mengurangi efektivitas kerja obat. Cabai merangsang aktifitas bawah sadar sehingga menurunkan jumlah oksigen dalam tubuh.

2. Buah-buahan
y y y y y

Lengkeng dan nangka mengandung zat tumbuh bagi sel kanker. Durian, duku, nanas, dan anggur menghasilkan alkohol sehingga merangsangberkembangnya sel kanker. Minuman ringan atau soft drink bersifat karsinogen. Es atau minuman dingin mengganggu kelancaran peredaran darah. Alkohol merangsang aktivitas bawah sadar sehingga jumlah oksigen dalam tubuh menurun.

3. Daging dan Ikan Asin
y y

Daging (sapi, kerbau, kambing, babi) memfasilitasi pertumbuhan sel yang tidak normal. Ikan asin yang diolah dari bahan tidak segar mengalami penguraian sehingga menjadi bahan allergen yang mengundang reaksi imunitas tubuh. Akibatnya, tubuh akan merasa meriang, gatal-gatal, dan bengkak. Sementara itu, bagi penderita kanker akan timbul reaksi berdenyut-denyut dan timbul rasa nyeri di bagian tubuh yang terkena kanker. Selanjutnya karena ada gangguan permeabilitas (penyerapan air) jaringan tubuh, permukaan luka akan tampak basah, benyek, dan kadang-kadang terjadi perdarahan. Yang lebih memprihatinkan, beberapa produsen pengolah ikan sering menambahkan formalin atau bahan pengawet mayat, bukan pengawet makanan. Formalin ini bersifat hepatotoksik atau racun bagi organ hati, sehingga semakin lama mengganggu sistem kerja sel dan jaringan yang akhirnya memicu kanker.

4. Makanan yang Diawetkan
y y

Makanan awetan mengandung senyawa kimia yang dapat berubah menjadi karsinogenaktif. Makanan yang dibakar,bagian yang gosong atau hangus mengandung zat karsinogen.

5. Sea food
y

Udang, kerang, kepiting, cumi mengandung kandungan lemak tinggi. Penderita kanker atau tumor harus mengurangi makanan yang mengandung lemak tinggi karena bisa merangsang berkembangnya sel kanker.

6. Daging Unggas
y

Biasanya untuk memacu pertumbuhan ternak atau unggas digunakan obat-obatan kimia termasuk hormon yang disuntikkan ke dalam tubuh hewan sehingga bobot ternak atau unggas cepat meningkat. Suntikan hormon yang diberikan pada ternak mirip hormon anabolic pada manusia. Hormon ini diduga memicu kanker prostat dan kanker kelenjar.

7. Buah-buahan
y

Durian, nangka, lengkeng, nenas, duku dan anggur bila sangat matang mengandung alkohol yang bisa memicu berkembangnya sel kanker.

Nah aneka pantangan makanan tersebut diharapkan tidak membuat pasien takut makan. Penderita kanker harus mengkonsumsi makanan yang bergizi tinggi dan boleh makan enak namun hendaknya dipilih yang aman.bagi anda yang menderita kanker/tumor/ kista/myom, silahkan dipertimbangkan untuk mau mentaati atau tidak pantangan makanan tersebut. Dari pengalaman klinik herbal Ny.Ning Harmanto dan dari data yang ada, proses kesembuhan pasien kanker sebagian besar dipengaruhi oleh ketaatan pasien berpantang makanan.

TERAPI NUTRISI PADA PENDERITA KANKER
Wiwiek Indriyani Maskoep PUSAT PENGEMBANGAN PALIATIF DAN BEBAS NYERI RSU Dr. SOETOMO ± FK UNAIR SURABAYA PENDAHULUAN Nutrisi adalah proses dimana tubuh manusia menggunakan makanan untuk membentuk energi, mempertahankan kesehatan, pertumbuhan dan untuk berlangsungnya fungsi normal setiap organ dan jaringan tubuh (Rock CL, 2004). Status nutrisi normal menggambarkan keseimbangan yang baik antara asupan nutrisi dengan kebutuhan nutrisi (Denke, 1998; Klein S, 2004). Kekurangan nutrisi memberikan efek yang tidak diinginkan terhadap struktur dan fungsi hampir semua organ dan sistem tubuh (Suastika, 1992). Malnutrisi dan Cachexia sering terjadi pada penderita kanker (24% pada stadium dini dan > 80% pada stadium lanjut), AIDS dan penyakit kronis lainnya. Malnutrisi dan

Cachexia meningkatkan morbiditas dan mortalitas serta menurunkan kualitas hidup, ³survival´ penderita. Penderita dengan malnutrisi sering tidak dapat mentoleransi terapi termasuk radiasi khemoterapi dan lebih mempunyai kecenderungan mengalami ³adverase effect´ terhadap terapi kanker (Lutz, 1994; Denke, 1998, Bruera, 2003; Jakowiak, 2003; Trujillo, 2005; Watson, 2005). Cachexia adalah keadaan malnutrisi yang ditandai dengan anorexia, penurunan berat badan, muscle wasting, asthenia, depresi, nausea kronik dan anemia yang menyebabkan distress psikologis, perubahan dalam komposisi tubuh, gangguan dalam metabolisme karbohidrat, lemak dan protein, cairan jaringan, keseimbangan asam basa, kadar vitamin dan elektrolit (Trujillo, 2005). Anorexia adalah tidak adanya keinginan untuk makan dan menunjukkan bahwa seseorang tidak mempunyai ketertarikan (interest) terhadap semua makanan. Pengendalian terhadap asupan makanan adalah kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai 1 organ, environment dan mekanisme perifer (dinding usus berperan terhadap regulasi apetite dan beraksi terhadap stimuli mekanis dan kemis seperti peptide yang diproduksi diusus antara lain cholecycstokinin, somatostatin, glucagons) dan sentral (jalur hipotalamaus: dipengaruhi oleh perciuman, rasa kecap, stimuli visual, temperature, stimuli gastrointestinal melalui N.vagus, kadar glukosa dan asam amino dalam darah dan pusat kortikal: dipengaruhi oleh environment, kultural, faktor ekonomi dan emosional) (Walsh, 1989; Woodruff, 1997, Strasser, 2002). Malnutrisi adalah hilangnya/ penurunan berat badan diatas 10% atau berat badan kurang dari 80% BB ideal, dalam kurun waktu 3 bulan (Suastika, 1992; Waller, 1996; Strasser, 2002, Trujillo, 2005). Ketika seseorang didiagnosis menderita kanker, maka nutrisi merupakan bagian dari terapi. Tujuan utama terapi nutrisi pada penderita kanker adalah mempertahankan atau meningkatkan status nutrisi sehingga dapat memperkecil terjadinya komplikasi meningkatkan efektivitas terapi kanker (bedah, kemoterapi, radiasi) kualitas hidup dan survival penderita (Lutz, 1994; Bruera, 2003; Trujillo, 2005). PREVALENSI MALNUTRISI Prevalensi malnutrisi pada penderita kanker tergantung pada jenis tumor, stadium, organ yang terlibat, terapi antikanker, kondisi non malignan yang menyertainya seperti diabetes melitus, penyakit saluran cerna dan lain-lain. Pada penelitian multisenter terhadap 12 jenis kanker, prevalensi penurunan berat badan (BB) sebesar 31%-40% pada penderita kanker payudara, kanker hematologik dan sarcoma; 54%-64% pada penderita kanker colon, prostate dan paru > 80% pada penderita dengan kanker pancreas dan lambung dan didapatkan penurunan BB paling berat (Shike, 1996; Strasser, 2002; Trujillo, 2005; Mroos, 2006). Terapi kanker juga berpengaruh terhadap status nutrisi penderita. Pada suatu penelitian didapatkan > 40% penderita yang mendapat terapi kanker (bedah, kemoterapi dan radiasi) mengalami malnutrisi (Shike, 1996; Trujillo, 2005). 2

PENYEBAB MALNUTRISI Penyebab malnutrisi pada penderita kanker adalah multifaktorial. Secara umum penyebabnya dikelompokkan menjadi 2 kategori yaitu: 1. berkurangnya asupan makanan dan malabsorbsi dan 2. gangguan proses metabolisme (Shike, 1996). Bruera mengelompokkan penyebab cachexia pada penderita kanker sebagai berikut: 1. faktor psikologis dan susunan saraf pusat (keengganan makan, gangguan persepsi rasa kecap, stress psikologis); 2. efek tumor (obstruksi mekanis, pemakaian substrate/ nutrisi oleh tumor, produksi sitokin oleh sel tumor, lipid mobilizing factors); 3. efek yang berhubungan dengan terapi (kemoterapi, radiasi, bedah, nausea, stomatitis, xerostomia, nyeri, ileus); 4. efek yang berhubungan dengan penderita (peningkatan resting energy expenditure, gangguan proses metabolisme, produksi sitokin oleh makrofag, disfungsi autonomic, penurunan pengosongan lambung (Lutz, 1994; Woodfruff, 1997; Strasser, Bruera, 2002; Watson, 2005).
1. BERKURANGNYA ASUPAN MAKANAN DAN MALABSOBSI

Efek Tumor a. Efek langsung : Tumor dari traktus gastrointestinal seperti tumor lidah, faring, esophagus dan lambung yang menyebabkan obstruksi atau tumor dari luar traktus gastrointestinal yang menyebabkan obstruksi antaralain tumor kepala leher, pancreas, hepar atau tumor lain yang metastasis ke abdominal (Sheke, 1996; Waller, 1996; Woodruff,1997). Gangguan pencernaan dan absorbsi misalnya pada kanker pankres, limfoma usus halus, tumor vilous colon (Waller, 1996). b. Efek tidak langsung (remote effect): Tumor dapat menimbulkan anorexia tanpa melibatkan traktus gastrointestinal secara langsung. Terjadi akibat adanya penurunan rasa kecap, kualitas penciuman, gangguan neuroendokrin, gangguan pada hypothalamic appetite control center sehingga terjadi gangguan kontrol asupan makanan dan rasa cepat kenyang (Walsh, 1989; Waller, 1996; Shike, 1996, Woodruff, 1997). 3 Efek Samping Pengobatan Antitumor Gangguan nutrisi akibat tindakan bedah tergantung pada letak tumor, luasnya reseksi saluran cerna dan ada tidaknya tindakan vagotomi. Operasi pada bagian saluran cerna seperti lidah, mandibula, faring, esophagus, lambung dapat menurunkan kemampuan menelan dan pencernaan makanan. Reseksi usus halus yang luas menyebabkan gangguan penyerapan nutrient, cairan dan elektrolit, reseksi pancreas dapat menyebabkan malabsorbsi dari lemak dan protein (Shike, 1996; Triyllo, 2005). Kemoterapi dapat menyebabkan nausea, vomiting, nyeri abdomen, mukositis, ileus diare dan malabsorbsi. Beberapa preparat antineopalstik yang sering menyebabkan simtom gastrointestinal (40%) antaralain cisplatin, doxorubicin, fluorouracil. Penggunaan obat analgesik opioid dapat menyebabkan nausea, konstipasi dan gas distension pada usus halus dan usus besar sehingga menyebabkan malabsorbsi (narcotic bowel syndrome), penggunaan diuretik sering menyebabkan penurunan kadar zinc yang mengakibatkan penurunan rasa kecap (Walsh, 1989; Twycross, 1990; Shike, 1996; Bruera, 2003; Trujillo, 2005).

Radioterapi dapat memberikan reaksi akut dan delayed reaction (komplikasi kronis). Reaksi akut dapat terjadi dalam 3 hari sampai 1 minggu terapi, dapat berupa kesulitan menelan akibat edema dan mukositis orofaring menyebabkan disfagia dan odinofagia, penurunan produksi saliva dengan konsekuensi penurunan enzim (radiasi kepala leher), nausea vomiting, enteritis atau diare (radiasi daerah abdominal). Komplikasi akhir berupa keradangan mucosal persisten, fibrosis intestinal dan striktur (Shike, 1996; Bruera, 2003; Trujillo, 2005). Keadaan lain yang menyertai penderita kanker seperti infeksi, Diabetes mellitus, penyakit rematik dan lain-lain. Autonomic Failure Sindroma klinik meliputi manifestasi kardiovaskuler (postural hypotension, syncope dan fixed heart rate) dan simtom gastrointestinal (nausea, anorexia, konstipasi dan kadang-kadang diare). Terjadi pada sekitar 52% penderita kanker terutama stadium lanjut (Bruera, 2003; Watson, 2005). 4
2. GANGGUAN METABOLISME

Penyebab perubahan metabolisme pada penderita kanker masih belum jelas. Namun beberapa mekanisme yang berperan adalah adanya respon sistemik yang diperantarai oleh tumor induced distant hormonal factor (axis neuroendokrin), adanya respon non spesifik terhadap faktor-faktor yang dilepaskan oleh tumor, adanya respon inflamasi sistemik yang diperantarai oleh sitokin yang diproduksi oleh makrofag. Sitokin adalah kelompok berbagai soluble glycoprotein dan low molecular weigh peptides yang mengatur interaksi antar sel serta fungsi sel dan jaringan. Dalam kaitannya dengan cachexia pada kanker, sitokin mengatur motilitas dan pengosongan lambung melalui saluran gastrointestinal atau susunan saraf pusat dengan cara mengganggu sinyal eferen yang mengatur satiety (Strasser, 2002; Trujillo, 2005; Watson, 2005). Beberapa hormon dan sitokin yang berperan dalam gangguan metabolisme adalah : TNF mensupresi aktivitas lipoprotein lipase di adiposit, sehingga mengganggu kliren triglicerida dari plasma dan menyebabkan hypertriglyceridemia; IL-1 menyebabkan anorexia melalui blocking neuropeptide Y (NPY) induced feeding, NPY adalah suatu potent feeding stimulatory peptide yang diaktivasi oleh penurunan kadar leptin; TNF dan IL-1 meningkatkan kadar corticotrophin releasing hormone yang merupakan neurotransmitter di saraf sentral dan pelepasan glucose sensitive neurons menyebabkan penurunan intake makanan, IL-6 dan, leukemia inhibitor factor (LIF) yang diproduksi oleh sel kanker terutama otot skeletal menyebabkan efek cachectic yang poten; IFN- juga menyebabkan cachexia; lipid mobilizing factor menyebabkan lipolisis dan penurunan BB; Proteolysis Inducing Factor (PIF) menyebabkan degradasi protein dalam otot skeletal melalui peningkatan pengaturan jalur ubiquitin proteasome proteolytic, menurunkan sintesis protein dan meningkatkan sitokin dan acute phase protein; Leptin mengontrol intake makanan dan energy expenditure melalui neuropeptic effector moleculs dalam hipotalamus, leptin merangsang jalur katabolik dan menghambat jalur anabolik, TNF, IL1 dan LIF meningkatkan kadar leptin menyebabkan anorexia dengan cara mencegah mekanisme kopensasi normal terhadap penurunan intake makanan; uncoupling protein (UPC) 1, 2 dan 3 yang berperan dalam pembentukan energi dan ATP yang berpengaruh terhadap energy expenditure, ekspresinya dipengaruhi oleh produk dari tumor (sitokin) (Shike, 1996; Strasser, 2002; Trujillo, 2005). Sebagai contoh pada penderita kanker paru

5 small cell didapatkan peningkatan rata-rata 37% dari basal energy expenditur, sehingga intake makanan yang diberikan tidak mencukupi kebutuhan tubuh, menyebabkan keseimbangan energi negatif dan penurunan berat badan. Hemostasis glukosa : glukosa adalah sumber energi utama bagi sel tumor dan host, peningkatan penggunaannya akan disertai peningkatan pelepasan laktat yang kemudian diregenerasi menjadi glukosa oleh Liver melalui coricycle. Peningkatan coricycle ini akan meningkatkan kehilangan energi sekitar 300 kcal perhari. Glukoneogenesis meningkat untuk mempertahankan hemostasis glukosa. Asam amino, gliserol dan fat breakdown digunakan untuk proses glukoneogenesis di Liver untuk membentuk glukosa (kadar plasma alanine, glycine dan glutamine menurun). Produksi glukosa, intoleransi glukosa dan resistensi insulin meningkat. Dilepaskannya counter regulatory hormone seperti glucocorticoid dan glucagons meningkatkan resistensi insulin sehingga penggunaan glukosa oleh otot skeletal menurun (Shike, 1996; Trujillo, 2005; Watson, 2005; Boediwarsono, 2006). Metabolisme protein: katabolisme otot meningkat (muscle wasting) menyebabkan asthenia atau menurunnya kekuatan yang disebabkan oleh peningkatan pemecahan protein dan penurunan sintesis protein otot, peningkatan sintesis protein Liver (acute phase protein) dan tumor. Terjadi negative nitrogen balance dimana terjadi peningkatan whole body protein turnover dan gangguan aminoacid turnover (Strasser, 2002; Trujillo, 2005). Metabolisme lemak : penderita akan mengalami kehilangan jaringan lemak karena terjadi peningkatan lipolisis dan penurunan lipogenesis. Turnover glycerol dan free fathy acid (FFA) meningkat, penurunan kadar lipoprotein lipase menyebabkan klirens triglyceride dari plasma menurun, kadar triglyceride meningkat, high dan low density lipoprotein menurun (Trujillo, 2005).
3. DEFINISI MIKRONUTRIEN

Defisiensi mikronutrien: berbagai komponent / zat dalam makanan dapat berpengaruh dalam perkembangan kanker melalui beberapa mekanisme termasuk gangguan metabolisme carcinogen, antioksidan, peningkatan diferensiasi, hambatan pertumbuhan dan pengaturan imunologik. Vitamin C dan E berfungsi sebagai 6 antioksidan, merangsang sistem imun, mengurangi nitrit yang mencegah pembentukan nitrosamine yang berperan dalam pembentukan sel tumor. Vitamin A mengontrol diferensiasi sel dan berperan dalam pertahanan imunologis host. Penurunanan kadar vitamin tertentu dapat berhubungan dengan keganasan tertentu (vitamin A pada kanker colorectal, esophagus, leukemia, limfoma; beta carotene pada kanker gaster, pancreas, oral dan tiroid; Vit.E pada kanker paru, gaster, prostate, gall bladder, leukemia, limfoma, malignant bone tumor, tumor-tumor susunan saraf pusat; Vit. C pada kanker paru, gaster, pancreas, esophagus, colon, prostate; Vit.D (dan Calcium) pada kanker colon (Lutz, 1994; Rock, 2004 Trujillo, 2005). Trace elements seperti selenium, zinc, manganase dan ± copper adalah cofactor untuk beberapa enzim antioksidan seperti glutahione peroksidase, RNA polymerase, superoxide dismutase, dan diamine oksidase. Metabolismenya dipengaruhi pada penderita kanker, sebagai contoh terdapat peningkatan kadar zinc diurine penderita melanoma, keganasan ginekologis dan paru, juga kadar yang rendah dalam plasma penderita Ca prostat dan mamma. Defisiensi selenium terdapat pada

Ca cervix, paru dan gall bladder (Trujillo, 2005).
4. GANGGUAN ELEKTROLIT

Hipercalcemia, hiperfosfatemia, hipocalcemia dan hiperkalemia berhubungan dengan tumor lysis syndrome (TLS) yang sering terjadi pada limfoma sebagai akibat rapid tumor breakdown baik secara langsung akibat pertumbuhan tumor yang cepat diikuti dengan kematian sel tumor secara langsung atau akibat terapi ditandai dengan hiperurusemia akibat pemecahan DNA, hiperkalemia akibat pemecahan cytosol, hiperfosfatemia akibat pemecahan protein dan hipercalcemia akibat hiperfosfatemia. Hipocalcemia, hipomagnesemia dan hipofosfatemia sering terjadi pada penggunaan preparat platinum, hiponatremia pada penggunaan preparat cyclophosphamid dan vincristine (Trujillo, 2005). PENGARUH MALNUTRISI PADA PENDERITA KANKER Malnutrisi dan cachexia dapat memberikan dampak yang buruk terhadap struktur dan fungsi hampir semua organ dan sistem tubuh. Pada sistem kardiovaskular: penurunan berat badan sebesar 24% berhubungan dengan penurunan isi jantung sebesar 17%, dapat 7 terjadi hipotensi arterial, bradikardi, penurunan tekanan vena, konsumsi oksigen menurun, stroke volume dan cardiac output menurun; pada paru: perubahan anatomi akibat atrofi dan melemahnya otot pernafasan, gangguan kemampuan membersihkan sekret, menurunnya elastisitas jaringan paru dan mengakibatkan pembesaran rongga udara; pada gastrointestinal: atrofi gastrointestinal dan pankreas sehingga enzim pencernaan menurun, motilitas dan sekresi asam lambung menurun, terjadi pertumbuhan bakteri yang berlebihan pada usus halus, malabsorbsi dan intoleransi laktosa akibat edema usus halus pada hipoalbunemia; pada liver peningkatan glikogen, infiltrasi lemak; pada ginjal : glumerular filtration rate dan aliran darah turun; pada sistem hematologi: dapat terjadi pansitopenia yaitu anemia normochrom normositer, leukopenia, trombositopenia, hipoplasia elemen selular sumsum tulang; pada sistem imun menyebabkan penurunan imunitas selular sedangkan imunitas humoral tidak jelas pengaruhnya; penyembuhan luka terhambat akibat terhambatnya nervaskularisasi, proliferasi fibroblas, sintesis kolagen, remodelling luka dan adanya edema pada penderita dengan hipoalbuminemia; pada sistem muskoloskeletal berupa berkurangnya massa otot skeletal, meningkatnya kelelahan, berubahnya pola kontraksi dan relaksasi otot, berkurangnya massa tulang dan osteoporotik. Keadaan ini akan menyebabkan peningkatan kepekaan terhadap infeksi, gangguan penyembuhan luka, toleransi yang jelak terhadap terapi, menurunkan kualitas hidup dan meningkatkan mortalitas dan morbiditas penderita kanker (Suastika, 1992; Jaskowiak, 2003; Klein, 2004; Boediwarsono, 2006). PENENTUAN STATUS NUTRISI PADA KANKER Penentuan status nutrisi pada penderita kanker berdasarkan atas anamnesis, pemeriksaan fisik dengan pemeriksaan antropometri dan meriksaan laboratorium (Denke, 1998; Bristian, 2004). Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang baik merupakan cara efektif dalam penentuan status nutrisi penderita. Pada anamnesis perlu ditanyakan adalah berat badan rata-rata pada 3 bulan terakhir, informasi tentang asupan makanan baik jenis makanan, kemampuan mengkonsumsi makanan dan ha-hal yang berpengaruh

terhadapnya misalnya adanya nyeri, mual-muntah, sulit menelan, luka berbau dan terapi yang sedang dijalani. Pemeriksaan fisik meliputi adanya kulit kering, bersisik, atrofi otot 8 (muscle wasting) adanya edema pitting, penurunan kekuatan otot dan cadangan lemak, pemeriksaan antropometri berupa BB, body mass index (BMI= rasio BB/TB), ketebalan otot triceps (triceps skinfold thickness) dan midarm mucle sirumference. BMI dapat digunakan untuk menilai status nutrisi penderita. Nilai BMI 18,5 ± 24,9 kg/m2 adalah normal, protein energy-malnutrition : ringan BMI 17,0 ± 18,4 kg/m2, sedang BMI 16,0 ± 16,9 kg/m2 dan berat BMI < 16,0 kg/m2 (Lutz, 1994; Denke, 1998; Bristian, 2004). Nilai tricep skin fold (TST) dan mid-upperarm mucle circumference (MUAMC) dapat menilai status otot, kulit dan fat untuk menentukan status nutrisi (tabel lampiran 1) (Denke, 1998; Bristian, 2004). Pemeriksaan laboratoris dengan menentukan kadar protein serum terdiri dari albumin serum, trasferin dan prealbumin. Pengukuran kadar protein serum dapat menolong memprediksi prognosis penderita. Kadar albumin yang rendah secara kronis diikuti dengan perpanjangan hospital stay, penyembuhan luka yang buruk, infeksi dan meningkatkan mortalitas. Kadar prealbumin < 5 mg/dl menunjukkan prognosis buruk, 5,0 ± 10,9 mg/dl menunjukkan resiko yang bermakna dan memerlukan support nutrisi yang agresif, 11.0 ± 15 mg/dl meningkatkan resiko dan perlu nutrisi dan monitor yang ketat (Denke, 1998; Bristian, 2004; Shike, 2005). INDIKASI TERAPI NUTRISI Terapi nutrisi diberikan kepada penderita malnutrisi atau pada penderita yang dalam perjalanan penyakitnya diperkirakan akan menjadi malnutrisi (Waller, 1996; Boediwarsono, 2006). Secara praktis bila didapatkan 2 dari 3 berikut ini, yaitu adanya penurunan berat badan > 10% dalam kurun waktu 3 bulan, kadar trasferin serum < 150 mg/dl, kadar albumin serum < 3,4 g/dl merupakan indikasi pemberian terapi nutrisi (Waller, 1996; Boediwarsono, 206). PEMBERIAN NUTRISI Terdapat 3 pilihan dalam pemberian nutrisi yaitu diet oral, nutrisi enteral dan nutrisi parenteral. Diet oral diberikan kepada penderita yang masih bisa menelan cukup makanan dan keberhasilannya memerlukan kerjasama yang baik antara dokter, ahli gizi, penderita dan keluarga. Nutrisi enteral bila penderita tidak bisa menelan dalam jumlah 9 cukup, sedangkan fungsi pencernaan dan absorbsi usus masih cukup baik. Selama sistem pencernaan masih berfungsi atau berfungsi sebagian dan tidak ada kontraindikasi maka diet enteral (EN) harus dipertimbangkan, karena diet enteral lebih fisiologis karena meningkatkan aliran darah mukosa intestinal, mempertahankan aktivitas metabolik serta keseimbangan hormonal dan enzimatik antara traktus gastrointestinal dan liver. Diet enteral mempunyai efek enterotropik indirek dengan menstimulasi hormon usus seperti gastrin, neurotensin, bombesin, enteroglucagon. Gastrin mempunyai efek tropik pada lambung, duodenum dan colon sehingga dapat mempertahankan integritas usus, mencegah atrofi mukosa usus dan translokasi bakteri, memelihara gut-associated lymphoid tissue (GALT) yang berperan dalam imunitas mukosa usus (Shike, 1996; Bruera, 2003; Rombeau, 2004; Trujillo, 2005; Boediwarsono, 2006).

Nutrisi parenteral total (TPN) diberikan pada penderita dengan gangguan proses menelan, gangguan pencernaan dan absorbsi (Bozzetti, 1989; Baron, 2005; Shike 1996; Mahon, 2004; Trujillo, 2005). Daftar makanan yang sering diberikan pada penderita kanker sesuai jenis gangguan sistem pencernaan: penderita dengan ulserasi pada mukosa mulut (makanan yang lembut atau lunak atau mengandung cairan, makanan dingin lebih baik daripada panas, gunakan anaesthetic mouthwash sebelum makan, food lubrixant seperti butter, margarine dan milk untuk xerostomia, untuk mengatasi kesulitan menelan penderita melakukan proses inhalasi, menelan dan ekshalasi), paska laringektomi supraglotik (makanan padat dan lembut, hindari makanan cair), striktura esofagus (makanan lemak, usahakan dalam bentuk cair atau hyghly caloric nutritional supplements), reseksi lambung (5 atau 6 kali makanan kecil perhari, batasi monosakarida dan laktosa, berikan tambahan zat besi dan Vit B12 parenteral) insufisiensi pankreas (batasi lemak, medium chain triglyceride, suplemen enzim pankreas), reseksi usus = short bowel (makanan porsi kecil dan sering, batasi lemak, serat, monokarbohidrat dan laktosa, tambahkan calcium, magnesium, zine dan Vit B12 secara parenteral, untuk pederita paska reseksi ileum terminale, chronic radiation enteritis (batasi lemak, serat dan laktose) (Lutz, 1994; Shike, 1996). Nutrisi enteral adalah cara pemberian makanan melalui selang/ tube kesaluran pencernaan. Pemasangan selang yang umum adalah melalui hidung sampai kelambung 10 (Nasogastric tube). Bila pemberian nutrisi diperlukan untuk jangka lama atau ada kesulitan pemasangan selang dapat dilakukan secara bedah atau endoskopi yaitu esofagostomi, gastrostomi atau jejonostomi (Lutz, 1994; Shike, 1996; Waller, 1996). Kecepatan pemberian nutrisi enteral tergantung pada kondisi penderita. Penderita dengan kanker kepala leher dimana saluran cerna masih baik dapat diberikan bolus 300 ± 500 cc beberapa kali perhari, penderita pasca gastrektomi memerlukan pemberian secara drip pelan-pelan 200 cc/jam, penderita short bowel, malabsorbsi, radiation induced enteritis 100 cc/jam (Waller, 1996). Bahan makanan untuk nutrisi enteral dapat disediakan dengan melalui konsultasi gizi, dapat juga menggunakan formula nutrisi enteral yang beredar dipasaran yang secara umum terdapat 2 kategori berdasarkan kandungan karohidrat lemak dan protein yaitu full digestion formula dan partial digestion formula. Terdapat juga sediaan tinggi protein atau mengandung zat yang dibutuhkan untuk meningkakan status imunologis penderita (Shike, 1996; Boediwarsono, 2006). Nutrisi parenteral (NPE) diberikan untuk mencukupi sumber nutrien essensial tanpa menggunakan traktus gastrointestinal yaitu secara intravena (Askandar, 2001). NPE dapat dibedakan menjadi NPE parsial (NPE-P) dan NPE total (NPE-T) dapat melalui vena perifer atau sentral. Tumor yang mengenai sistem pencernaan atau tindakan yang melibatkan sistem pencernaan sehingga terjadi gangguan proses menelan dan pencernaan merupakan indikasi pemberian NPE. Dalam pemberian NPE pertimbangkan jenis larutan yang dibutuhkan sesuai dengan kebutuhan makro dan mikronutrien, perhatikan osmolaritas larutan (sebaiknya kurang dari 800-1000 mOsm/l dan bila tidak mungkin lakukan infus cabang) (Askandar, 2005; Trujillo, 2005). KEBUTUHAN MAKRONUTRIEN PADA PENDERITA KANKER Kebutuhan makronutrien (karbohidrat lemak dan protein) penderita kanker sangat

individual beberapa penelitian mendapatkan data bahwa 50 ± 60% penderita kanker rawat inap mengalami abnormalitas resting energy expenditur (REE) yang sangat bervariasi sehingga sulit untuk menentukan kebutuhan kalori secara umum (Baron, 2005). Untuk menentukan kebutuhan kalori, harus ditetapkan lebih dahulu tujuan dari terapi nutrisi dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhinya seperti status nutrisi, jenis tumor, terapi tumor yang diberikan, adanya infeksi dan lamanya penyakit. Kebutuhan kalori untuk 11 tujuan maintenance adalah 115 ± 130% dari REE, sedangkan uintuk meningkatkan BB diperlukan sampai 150% REE (Boediwarsono, 2006). Pengukuran REE berdasarkan rumus Harnis Benedict: untuk pria REE (kcal/hari) = 666 + (13,7 x BB) + (5 x TB)-(6,8 x umur); wanita REE (kcal/hari) = 655 + (9,5 x BB) + (1,8 x TB) ± (4,7 x umur). BB adalah berat badan dalam kilogram, T B adalah tinggi bdan dalam cm, umur dalam tahun. Pada penderita dapat ditambahkan sekitar 20-50% dari REE yang diberikan dalam bentuk kalori non protein untuk memenuhi energy expenditur selama aktivitas atau sehubungan dengan penyakitnya. Kebutuhan energi juga dapat diperkirakan dengan cara perkalian sebagai berikut : BB x 30 ± 35 kcal/hari. Kebutuhan protein adalah 0,8 ± 1,2 gram per kg BB perhari. Pada penderita dengan malnutrisi dapat diberikan 1,5 g/kg BB/ hari. Diperlukan polyunsaturated fatty acid (linoleic acid) sekitar 2-4% dari total kalori dan kolesterol < 200 mg/hari (Baron, 2005; Boediwarsono, 2006). KEBUTUHAN MIKRONUTRIEN Mikronitrien terdiri dari vitamin, mineral dan frace elemen. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa defisiensi vitamin tertentu, mineral dan frace elemen berhubungan dengan penyakit kanker tertentu. Anjuran konsumsi vitamin adalah : Vitamin C 300 ± 400 mg/hari namun beberapa peneliti menganjurkan intake Vitamin C 300 ± 1000 mg menurunkan resiko dari penyakit kanker, Vitamin A ( ± carotene) sebagai anti oksidan 25.000 ± 50.000 IU, Vitamin E 100 ± 400 unit/hari sebagai antioksidan. Anjuran konsumsi kalium, natrium dan chlorida masing-masing 45 ± 145 meq/hari, calcium 60 meq/hari, magnesium 35 meq/hari, dan fosfat 23 mmol (Trujillo, 2004; Baron, 2005).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->