P. 1
Achmad Yani Prajurit Sapta Margais

Achmad Yani Prajurit Sapta Margais

|Views: 1,156|Likes:
Published by Peter Kasenda
Di depan anak-anaknya yang sedang menunggu makan siang pada tanggal 30 September 1965. Menteri Panglima Angkatan Darat Letnan Jendral Achmad Yani mengatakan bahwa anak-anak pada tanggal 5 Oktober 1965 tidak usah sekolah dan membolos saja semuanya.”Kabeh melu Bapak nang Istana, ndelok arak-arakan. Ono Nyanyi, Pokoke ora usah sekolah mbolos kabeh“. Mendengar ajakan ayahnda tercinta, tentu saja disambut dengan gembira oleh anak-anaknya yang berjumlah delapan orang itu. Malam harinya, sehabis main golf Achmad Yani masih bergembira ria dengan anak-anaknya dengan berebut menikmati pisang goreng, sebelum menerima kedatangan Brigjen Basuki Rachmat. Rupanya kehadiran Panglima Brawijaya itu untuk melaporkan sesuatu yang teramat penting mengenai situasi politik ketika itu. Achmad Yani mendengar serius kalimat laporan Brigadir Jendral Basuki Rachmat.

Jelas sekali bahwa demontrasi-demontrasi yang dilakukan oleh Gerwani dan PKI membahayakan. Gerwani dan PKI melakukan perusakan terhadap rumah Gubernur Wiyono di Surabaya berbahaya. Dilihat secara keseluruhan maka peristiwa-peristiwa yang terjadi di Jawa Timur dan berbagai aksi sepihak BTI/PKI, bisa dipastikan adalah suatu gerakan yang sistimatis. Gerakan sistimatis yang sedang berjalan.”

Untuk memperkuat isi laporannya, Brigjen Basuki Rachmat membawa saksi utama dari peristiwa perusakan pada tanggal 27 September 1965. Ketika sedang terjadi pembicaraan serius telpon berdering yang berasal dari Brigjen Sugandhi yang melaporkan mengenai gerakan gerakan sepihak PKI kepada Presiden Soekarno. Namun Presiden Soekarno kelihatannya marah mendengar laporan tersebut. Setelah menaruh kembali gagang telponnya Achmad Yani mengatakan kepada tamunya, ”Memang keadaannya makin meruncing. Kita menghadap bersama-sama. Besok. secepatnya ini perlu dilaporkan.“ Setelah tamunya pamit pulang dan sekarang giliran Achmad Yani berpikir keras untuk rencananya esok bertemu dengan Presiden Soekarno untuk melaporkan apa yang telah didengarnya.
Suasana politik ketika itu sebenarnya sedang memanas, PKI terus melakukan tekanan-tekanan terhadap lawan-lawan politiknya. Bahkan menjelang akhir September 1965, PKI melancarkan agitasi politik mengecam TNI-AD terus berjalan dan semakin meningkat. Jendral-jendral TNI-AD dituduh sebagai pencoleng ekonomi, kapitalis birokrat, koruptor, reaksioner dan agen Nekolim. Situasi yang sedemikian eksploitatif itu menyebabkan pada tanggal 30 September l965, Direktorat Polisi Militer memerintahkan pada Letnan Kolonel Norman Sasono, Komandan Pomad Para untuk memperketat pengawalan atas Menpangad Jendral Achmad Yani. Kemudian Norman mengirim satu peleton pasukan yang dipimpin oleh Kapten IG Suparman ke rumah Jendral Achmad Yani. Letnan Kolonel Norman Sasono sempat menginspeksinya para pengawal yang bertugas.

Di pagi hari yang gelap rumah Jendral Achmad Yani yang dijaga oleh satu regu pasukan dimasuki oleh komplotan penculik setelah melucuti senjata para penjaga dengan sergapan secara mendadak. Ketika sejumlah oknum Tjakrabirawa memasuki rumah Jendral Yani sedang tidur sendirian. Tetapi salah satu putranya yang kecil – Eddy telah bangun dan sedang mencari ibunya yang malam itu sedang ber da di kediaman resmi Jendral Yani untuk melakukan tirakatan, karena keesokan harinya, tanggal 1 Oktober 1965 adalah hari ulang tahunnya. Kemudian komplotan itu, Raswad meminta bantuan anak kecil itu untuk membangunkan ayahnya dan kemudian putra bungsu yang polos itu menuju ke ruang tengah untuk menemui tamunya yang tidak diketahui siapa sebenarnya dengan menggunakan piyama baru. Ketika komplotan yang berseragam Tjakrabirawa itu berhadapan dengan Jendral Yani, setelah menghormat secara militer komplotan menyatakan tidak perlu mandi terlebih dahulu dan bahkan berpakaian pun. Ucapan itu terasa sangat kasar ditelinga Jendral Yani dan Yani menjadi marah langsung merampas senjata Praka Dokrin, melempar serta menempeleng bintara tersebut. Ketika Jendral Yani membalik badan serta melangkah ke kamar k
Di depan anak-anaknya yang sedang menunggu makan siang pada tanggal 30 September 1965. Menteri Panglima Angkatan Darat Letnan Jendral Achmad Yani mengatakan bahwa anak-anak pada tanggal 5 Oktober 1965 tidak usah sekolah dan membolos saja semuanya.”Kabeh melu Bapak nang Istana, ndelok arak-arakan. Ono Nyanyi, Pokoke ora usah sekolah mbolos kabeh“. Mendengar ajakan ayahnda tercinta, tentu saja disambut dengan gembira oleh anak-anaknya yang berjumlah delapan orang itu. Malam harinya, sehabis main golf Achmad Yani masih bergembira ria dengan anak-anaknya dengan berebut menikmati pisang goreng, sebelum menerima kedatangan Brigjen Basuki Rachmat. Rupanya kehadiran Panglima Brawijaya itu untuk melaporkan sesuatu yang teramat penting mengenai situasi politik ketika itu. Achmad Yani mendengar serius kalimat laporan Brigadir Jendral Basuki Rachmat.

Jelas sekali bahwa demontrasi-demontrasi yang dilakukan oleh Gerwani dan PKI membahayakan. Gerwani dan PKI melakukan perusakan terhadap rumah Gubernur Wiyono di Surabaya berbahaya. Dilihat secara keseluruhan maka peristiwa-peristiwa yang terjadi di Jawa Timur dan berbagai aksi sepihak BTI/PKI, bisa dipastikan adalah suatu gerakan yang sistimatis. Gerakan sistimatis yang sedang berjalan.”

Untuk memperkuat isi laporannya, Brigjen Basuki Rachmat membawa saksi utama dari peristiwa perusakan pada tanggal 27 September 1965. Ketika sedang terjadi pembicaraan serius telpon berdering yang berasal dari Brigjen Sugandhi yang melaporkan mengenai gerakan gerakan sepihak PKI kepada Presiden Soekarno. Namun Presiden Soekarno kelihatannya marah mendengar laporan tersebut. Setelah menaruh kembali gagang telponnya Achmad Yani mengatakan kepada tamunya, ”Memang keadaannya makin meruncing. Kita menghadap bersama-sama. Besok. secepatnya ini perlu dilaporkan.“ Setelah tamunya pamit pulang dan sekarang giliran Achmad Yani berpikir keras untuk rencananya esok bertemu dengan Presiden Soekarno untuk melaporkan apa yang telah didengarnya.
Suasana politik ketika itu sebenarnya sedang memanas, PKI terus melakukan tekanan-tekanan terhadap lawan-lawan politiknya. Bahkan menjelang akhir September 1965, PKI melancarkan agitasi politik mengecam TNI-AD terus berjalan dan semakin meningkat. Jendral-jendral TNI-AD dituduh sebagai pencoleng ekonomi, kapitalis birokrat, koruptor, reaksioner dan agen Nekolim. Situasi yang sedemikian eksploitatif itu menyebabkan pada tanggal 30 September l965, Direktorat Polisi Militer memerintahkan pada Letnan Kolonel Norman Sasono, Komandan Pomad Para untuk memperketat pengawalan atas Menpangad Jendral Achmad Yani. Kemudian Norman mengirim satu peleton pasukan yang dipimpin oleh Kapten IG Suparman ke rumah Jendral Achmad Yani. Letnan Kolonel Norman Sasono sempat menginspeksinya para pengawal yang bertugas.

Di pagi hari yang gelap rumah Jendral Achmad Yani yang dijaga oleh satu regu pasukan dimasuki oleh komplotan penculik setelah melucuti senjata para penjaga dengan sergapan secara mendadak. Ketika sejumlah oknum Tjakrabirawa memasuki rumah Jendral Yani sedang tidur sendirian. Tetapi salah satu putranya yang kecil – Eddy telah bangun dan sedang mencari ibunya yang malam itu sedang ber da di kediaman resmi Jendral Yani untuk melakukan tirakatan, karena keesokan harinya, tanggal 1 Oktober 1965 adalah hari ulang tahunnya. Kemudian komplotan itu, Raswad meminta bantuan anak kecil itu untuk membangunkan ayahnya dan kemudian putra bungsu yang polos itu menuju ke ruang tengah untuk menemui tamunya yang tidak diketahui siapa sebenarnya dengan menggunakan piyama baru. Ketika komplotan yang berseragam Tjakrabirawa itu berhadapan dengan Jendral Yani, setelah menghormat secara militer komplotan menyatakan tidak perlu mandi terlebih dahulu dan bahkan berpakaian pun. Ucapan itu terasa sangat kasar ditelinga Jendral Yani dan Yani menjadi marah langsung merampas senjata Praka Dokrin, melempar serta menempeleng bintara tersebut. Ketika Jendral Yani membalik badan serta melangkah ke kamar k

More info:

Published by: Peter Kasenda on Oct 26, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/31/2015

Peter Kasenda

Achmad Yani Prajurit Sapta Margais

Tujuan kita mendirikan negara ialah kebahagiaan yang sebesar-besarnya dari seluruh rakyat, bukan kebahagiaan dari satu golongan (Plato)

Di depan anak-anaknya yang sedang menunggu makan siang pada tanggal 30 September 1965. Menteri Panglima Angkatan Darat Letnan Jendral Achmad Yani mengatakan bahwa anak-anak pada tanggal 5 Oktober 1965 tidak usah sekolah dan membolos saja semuanya.”Kabeh melu Bapak nang Istana, ndelok arak-arakan. Ono Nyanyi, Pokoke ora usah sekolah mbolos kabeh“. Mendengar ajakan ayahnda tercinta, tentu saja disambut dengan gembira oleh anak-anaknya yang berjumlah delapan orang itu.1 Malam harinya, sehabis main golf Achmad Yani masih bergembira ria dengan anakanaknya dengan berebut menikmati pisang goreng, sebelum menerima kedatangan Brigjen Basuki Rachmat. Rupanya kehadiran Panglima Brawijaya itu untuk melaporkan sesuatu yang teramat penting mengenai situasi politik ketika itu. Achmad Yani mendengar serius kalimat laporan Brigadir Jendral Basuki Rachmat.
Jelas sekali bahwa demontrasi-demontrasi yang dilakukan oleh Gerwani dan PKI membahayakan. Gerwani dan PKI melakukan perusakan terhadap rumah Gubernur Wiyono di Surabaya berbahaya. Dilihat secara keseluruhan maka peristiwa-peristiwa yang terjadi di Jawa Timur dan berbagai aksi sepihak BTI/PKI, bisa dipastikan adalah suatu gerakan yang sistimatis. Gerakan sistimatis yang sedang berjalan.”

Untuk memperkuat isi laporannya, Brigjen Basuki Rachmat membawa saksi utama dari peristiwa perusakan pada tanggal 27 September 1965. Ketika sedang terjadi pembicaraan serius telpon berdering yang berasal dari Brigjen Sugandhi yang melaporkan mengenai gerakan gerakan sepihak PKI kepada Presiden Soekarno. Namun Presiden Soekarno kelihatannya marah mendengar laporan tersebut. Setelah menaruh kembali gagang telponnya Achmad Yani mengatakan kepada tamunya, ”Memang keadaannya makin meruncing. Kita menghadap bersama-sama. Besok. secepatnya ini perlu dilaporkan.“ Setelah tamunya pamit pulang dan sekarang giliran Achmad Yani berpikir keras untuk rencananya esok bertemu dengan Presiden Soekarno untuk melaporkan apa yang telah didengarnya.2 Suasana politik ketika itu sebenarnya sedang memanas, PKI terus melakukan tekanan-tekanan terhadap lawan-lawan politiknya. Bahkan menjelang akhir September 1965, PKI melancarkan agitasi politik mengecam TNI-AD terus berjalan dan semakin meningkat. Jendral-jendral TNI-AD dituduh sebagai pencoleng ekonomi, kapitalis
1 2

Amelia Yani, Profil Seorang Prajurit TNI, Jakarta: Sinar Harapan, 1988, hal. 13. Arswendo Atmowiloto, Penghianatan G30S/PKI, Jakarta: Sinar Harapan, 1988, hal. 83—93. 1

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda birokrat, koruptor, reaksioner dan agen Nekolim. Situasi yang sedemikian eksploitatif itu menyebabkan pada tanggal 30 September l965, Direktorat Polisi Militer memerintahkan pada Letnan Kolonel Norman Sasono, Komandan Pomad Para untuk memperketat pengawalan atas Menpangad Jendral Achmad Yani. Kemudian Norman mengirim satu peleton pasukan yang dipimpin oleh Kapten IG Suparman ke rumah Jendral Achmad Yani. Letnan Kolonel Norman Sasono sempat menginspeksinya para pengawal yang bertugas.3 Di pagi hari yang gelap rumah Jendral Achmad Yani yang dijaga oleh satu regu pasukan dimasuki oleh komplotan penculik setelah melucuti senjata para penjaga dengan sergapan secara mendadak. Ketika sejumlah oknum Tjakrabirawa memasuki rumah Jendral Yani sedang tidur sendirian. Tetapi salah satu putranya yang kecil – Eddy telah bangun dan sedang mencari ibunya yang malam itu sedang ber da di kediaman resmi Jendral Yani untuk melakukan tirakatan, karena keesokan harinya, tanggal 1 Oktober 1965 adalah hari ulang tahunnya. Kemudian komplotan itu, Raswad meminta bantuan anak kecil itu untuk membangunkan ayahnya dan kemudian putra bungsu yang polos itu menuju ke ruang tengah untuk menemui tamunya yang tidak diketahui siapa sebenarnya dengan menggunakan piyama baru. Ketika komplotan yang berseragam Tjakrabirawa itu berhadapan dengan Jendral Yani, setelah menghormat secara militer komplotan menyatakan tidak perlu mandi terlebih dahulu dan bahkan berpakaian pun. Ucapan itu terasa sangat kasar ditelinga Jendral Yani dan Yani menjadi marah langsung merampas senjata Praka Dokrin, melempar serta menempeleng bintara tersebut. Ketika Jendral Yani membalik badan serta melangkah ke kamar keluarga melalui pintu kaca. Pada saat itulah serman Satu Raswad memerintahkan Gijadi untuk menembak. Sersan Dua Gijadi mengarahkan dan menarik picu senapan otomatis Thomsonnya. Tujuh peluru, setelah menembus pintu kaca memberondong tubuh Jendral Yani sehingga dia tersungkur jatuh. Tubuh Jendral Yani yang telah rebah di lantai itu kemudian diseret ke luar rumah untuk dinaikkan ke dalam salah satu truk. Komplotan itu kemudian menghilang dalam kegelapan malam hari.4 Menpangad Letnan Jendral Achmad Yani yang telah menjadi korban dari situasi yang sangat eksploitatif ketika itu. Kegelapan pagi hari itu bukan saja menyaksikan pembunuhan secara biadab atas Letnan Jendral Achmad Yani, tetapi juga pada Mayor Jendral Haryono MT, Mayor Jendral S. Parman, Mayor Jendral R. Soeprapto, Brigadir Jendral Soetojo, Brigadir Jendral DI Pandjaitan serta Letnan Piere Tendean. Jajaran TNIAD telah kehilangan putra-putra terbaiknya dalam suatu pagi buta yang jahanam. Kejadian berdarah serta tragis itu dimaklumi telah didalangi oleh PKI dan atas kematian para pemimpin-pemimpinnya TNI-AD menghancurkan musuh bebuyutan mereka. Tulisan dibawah ini mencoba mengupas posisi Menpangad Letnan Jendral Achmad Yani dalam pertikaian antara TNI-AD melawan PKI yang kemudian menyebabkan suasana eksploitatif ketika itu yang akhirnya meletus Peristiwa Peristiwa Gerakan 30 September 1965, di mana Letnan Jendral Yani dengan pembantu-pembantu terdekatnya menjadi korbannya.
3 4

Merdeka, 1 Oktober 1989 Arswendo Atmowiloto, op.cit. 2

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Menuju zaman baru
M. Wongsorejo dan Murtini adalah suami istri yang bekerja pada keluarga Meneer Bos M. Wongsorejo bekerja sebagai sopir sedangkan Murtini sebagai pembantu rumah tangga. Di sana Murtini yang sedang mengandung, senang melihat sosok salah satu sopir dari orang-orang Belanda yang sering berkunjung ke rumah majikannya. Dia adalah seorang Indo yang berbadan tinggi, berkulit putih dan hidungnya mancung. Sehari-harinya dipanggil dengan nama Jan. Murtini menginginkan kalau ia melahirkan anak laki-laki akan diberi nama Jani dan mempunyai perawakan seperti Jan. Rupanya harapan tersebut terkabul dengan kelahiran anak pertama keluarga M Wongsorejo pada tanggal 19 Juni 1922 di perumahan pabrik gula, Jenar – Purworejo. Bayi laki-laki itu diberi nama Jani dan kemudian dikenal dengan Ahmad Yani. Kemudian keluarga tersebut di dikaruniai dua anak perempuan yang diberi nama Asmi dan Asinah. Berdasarkan anjuran majikannya, keluarga M. Wongsonegoro pindah ke Batavia pada tahun 1927 dan di sana bekerja pada keluarga Jendral Halstein. Di sanalah berkat bantuan majikan orang tuanya, Yani memperoleh kesempatan untuk mengecap pendidikan awal di sekolah Frobel (Taman Kanak-kanak). Kebetulan Jendral Halstein menyukai Yani yang dianggap sebagai anak pandai dan berbudi halus. Karena itu pula Yani sering diperkenalkan kepada tamu-tamunya, ketika keluarga Halstein kembali ke Negeri Belanda. Keluarga M. Wongsorejo pindah ke Ciawi – Bogor, bekerja pada keluarga Belanda yang lain yang masih bersaudara dengan keluarga Haltstein. Di kota hujan itu, keberuntungan berlaku pada Yani kecil. Atas bantuan majikan orangtuanya, Yani berhasil memasuki Hollands Indlansche School pada tahun 1929. Setelah berhasil menyelesaikan HIS-nya, Yani yang rajin sembayang lima waktu dan belajar mengaji pada guru ngaji Isra itu melanjutkan ke Mear Uitgebreid Lager Onderwijs. Di MULO itulah Yani remaja yang menyenangi olahraga renang dan semua cabang atletik mulai kelihatan jiwa kepemimpinannya. Yani yang dikenal sebagai anak pendiam adalah orang yang serius dalam mengikuti pelajaran sehingga ia termasuk anak pandai dan menempati tiga terbaik pada setiap kenaikan kelas. Ketika ia di MULO, temannya adalah Letjen Purnawirawan Ibrahim Adjie dan Letjen Purnawirawan Achmad Tirto Sudiro. Setelah menyelesaikan MULO, Yani bersama dengan kelima temannya berminat melanjutkan pendidikan ke Batavia. School tot Opleiding voor Indlamsche Arsten (sekolah yang mendidik dokter pribumi) yang terletak di Kwitang menjadi pilihan utamanya. Keinginan masuk sekolah tersebut dibatalkan ketika melihat penampilan gedungnya yang dianggap kurang baik dan seram. Pilihan kedua kemudian jatuh pada Christelijke Algemene Middelbare School yang terletak di Oranye Boulevard (sekarang SMA PSKD I). Setelah menyaksikan sosok gedung megah tersebut keenam remaja tersebut kemudian mendaftarkan diri sebagai siswa sekolah tersebut.5

5

Amelia Yani, op.cit 3

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Ketika Belanda diserbu Jerman dan kemudian Kerajaan Belanda bertekuk lutut menjadi jajahan Jerman. Pemerintah Hindia Belanda makin merasakan adanya ancaman dari Kekaisaran Jepang yang sedang menunggu saat yang baik untuk bergerak ke Selatan. Melihat situasi semacam itu Pemerintah Hindia Belanda langsung mengadakan milisi umum bagi penduduk bumiputera. Rupanya milisi umum tersebut menarik perhatian Yani yang ketika itu terdaftar sebagai siswa AMS B Pasti Alam Kelas 2. Ia mendaftar dan diterima serta mengikuti pendidikan Aspirant Militaire Topografische Dienst di kota Malang selama 6 bulan pada tahun 1940. Setelah menyelesaikan pendidikan Yani dianggkat menjadi Sersan Cadangan dan ditugaskan di kota yang sama pada tahun 1941. Sewaktu milisi Yani ditempatkan pada suatu keluarga Belanda dan kemudian Yani banyak bergaul dengan orang-orang Belanda yang kadang-kadang telah membuatnya merasa seakan-akan menjadi bagian dari komunitas tersebut, walaupun warna kulitnya tidak seperti mereka. Akhir tahun 1941 Yani kembali mengikuti pendidikan basis kemiliteran selama tiga bulan di kota hujan dan setelah menyelesaikan pendidikannya Yani naik pangkat Sersan yang ditugaskan di Bandung. Pemerintah Hindia belanda pada tanggal 8 Desemnber 1941 secara resmi menyatakan perang terhadap Jepang, karena pernyatan tersebut suasana perang menjadi terasa sekali. Balatentara Jepang berhasil menerobos pusat dan jantung pertahanan Pemerintah Hindia Belanda, lapangan terbang Kalijati yang terletak kurag dari 50 km dari Bandung pada tanggal 1 Maret 1942. Ambruknya benteng pertahanan tersebut menyebabkan serangan Balatentara Jepang makin terasa sekali. Sersan Koninkiljke Nederlands Indisch Lager, Achmad Yani untuk pertama kalinya harus mencoba keampuannya militernya dalam menghadapi Bala Tentara Jepang di Ciater – Bandung. Rupanya KNIL bukan tandingan Bala Tentara Jepang sehingga akhirnya Pemerintah Hindia Belanda menyerah kalah. Semua KNIL menjadi tawanan perang termasuk Sersan Achmad Yani.6 Selama tiga bulan Achmad Yani mendekam dalam internerin kamp di Bandung, sesudah itu Yani menyusul ke orang tuanya yang berada di Ciawi dan kemudian kembali ke Rendeng – Purworejo. Karena di sana tidak ada pekerjaan alias menganggur, Yani mulai mencari kesibukan dengan berjualan sabun serta keperluan rumah tangga lainnya di rumah. Kalau sore hari Yani melatih anak-anak latihan baris-berbaris.7 Sementara itu Bala Tentara Jepang dalam menghadapi tentara Sekutu merasakan kekurangan tenaga manusia yang bisa digunakan untuk membantu secara langsung bala tentara Jepang di daerah-daerah pertempuran. Oleh karena itu Pemerintah militer Jepang menghimbau kepada bumiputera agar masuk Heiho pada kuartal pertama tahun 1943. Achmad Yani yang kebetulan setengah menganggur mendaftarkan diri menjadi juru bahasa (Cuyaku) . Setelah mengikuti beberapa test , seorang perwira Jepang, Obata melihat potensi dalam dirri Yani yang tersimpan bakat militer yang tinggi. Obata mengusulkan agar Yani menjadi militer penuh saja dan saran tersebut diterima kemudian Yani mengikuti pendidikan militer di Heiho di Magelang. Bagi Achmad Yani yang telah mengikuti pendidikan militer pada zaman Hindia Belanda, pendidikan militer Heiho
6

A.Yani, Ahmad Yani: Sebuah Kenang-kenangan, (Bandung: Indah Jaya, tanpa tahun penerbit), hal. 43— 45. 7 Amelia Yani, op.cit., hal. 42. Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com 4

Peter Kasenda terasa biasa-biasa saja. Berdasarkan modal tersebut Yani lulus dengan prestasi gemilang. Karena prestasi itulah Yani memperoleh kesempatan mengikuti pendidikan Shodancho Tentara Sukarela Pembela Tantara Air yang dibuka pada bulan Oktober 1943. Selama empat bulan Yani digembleng di kota Bogor. disanalah Yani kembali menunjukkan bakat militernya dan menyebabkan para pelatihnya, di antaranya Kapten Yanagama menaruh perhatian khusus kepadanya.8 Pendidikan militer untuk angkatan pertama calon perwira di Resentai berakhir pada bulan Desember 1943. Para Shodancho tersebut dilantik pada suatu upacara resmi yang khimad di lapangan Gambir pada tanggal 21 Desember 1943. Dalam upacara tersebut mereka diberi pedang jenis Jepang tetapi buatan Indonesia. Walaupun pedang yang diterima tidak sama dengan yang dipergunakan oleb perwira-perwira Jepang, tetapi diterima dengan penuh rasa kebanggaan.9 Atas prestasinya Yani memperoleh penghargaan berupa sebilah pedang Samurai yang berbentuk istimewa dibandingkan dengan yang lainnya. Lulusan Resentai ini kemudian dikembalikan ke daerah asal masing-masing untuk berperan serta dalam pembentukan daidan-daidan (batalyon). Shodancho Achmad Yani turut serta dan ia bertugas aktif sebagai Komandan Dai ki Syodan Dai San Cudan dari Dai Ni Daidan di Magelang sejak bulan Januari 1944.10 Di awal Desember 1944, Shodancho Achmad Yani mengikat janji dengan gadis pujaannya, Yayuk Rullah Sutodiwiryo yang dikenalnya sebagai guru mengetiknya pada awal tahun 1943 sebelum Yani berangkat ke Bogor dan bertemu kembali dalam upacara penyambutan Schondancho yang baru kembali dari Bogor di kapubaten Purworejo, sebagai suami istri di depan penghulu di Magelang. Sebenarnya dalam peraturan dikatakan bahwa Shodancho dalam waktu tertentu tidak diperbolehkan menikah, tetapi rupanya keinginan Yani tak bisa dibendung lagi dan memutuskankan menikah secara diam-diam. Pernikahan yang dilakukan tersebut akhirnya diketahui dan menyebabkan Daidan menjadi “ geger “ dan Daidancho Susman yang menjadi komandan Yani menjadi marah besar. Pelanggaran yang dilakukan seorang perwira Peta yang terkenal disiplin tentu saja ada sanksinya. Hukuman belum sempat diturunkan, Bala tentara Jepang keburu menyerah tanpa syarat pada Sekutu pada tanggal 15 Agustus l945 dengan dijatuhkan bom atom di atas kota Nagasaki dan Hiroshima.11

Panggilan Tanah Air
Takluknya Jepang pada Sekutu secara otomatis tentara Peta dibubarkan serta ribuan tentara Peta baik perwira maupun prajurit diberhentikan, diberi enam bulan gaji , dan bahkan makan dan pakaian yang tersedia dibagi-bagikan pada mereka. Suasana revolusi menyambut mereka sehingga menyebabkan mereka terbawa arus pusaran yang sedemikian kuat tersebut. Kalau selama ini mereka terisolasi sekarang menjadi terkejut dengan melihat apa yang sedang berlangsung, Jepang telah menyerah kalah pada Sekutu
8

Pramono (ed), Biografi Pahlwan Nasional dari Lingkungan ABRI (Jakarta: Departemen Pertahanan & Keamanan Pusat Sejarah ABRI, 1979, hal. 39—48. 9 Nugroho Notosusanto, Tentara Peta pada Zaman Pendudukan Jepang di Indonesia, (Jakarta: Gramedia, 1979), hal. 89—91. 10 Pramono, op.cit 11 A. Yani, op.cit. Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com 5

Peter Kasenda dan Bangsa Indonesia telah menyatakan proklamasi kemerdekaannya yang telah diketahuinya. Sekarang kemerdekaan yang telah sedemikian lama dinantikan serta didambakan, terancam kembali dengan tentara Belanda yang mau mengambil kembali tanah yang pernah dimilikinya. Orang-orang yang berada di luar Peta yang mereka kenal bertekad untuk mencegah kembalinya tentara Belanda tersebut 12 Suasana terancam tersebut menyebabkan masyarakat menginginkan agar bekas Peta terlibat serta dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang telah direbut itu. Mereka tidak ragu-ragu untuk memenuhi harapan masyarakat sekitarnya dan mereka merasakan bahwa dalam dirinya terdapat cukup ketrampilan untuk melancarkan perjuangan bersenjata. Tetapi untuk melakukan hal tersebut tentu saja harus memilkiki senjata, dan senjata itu berada di tangan bala tentara Jepang bukan pada orang Indonesia atas perintah Sekutu, sedangkan orang Indonesia membutuhkan senjata untuk melakukan perjuangan bersenjata. Kenyataan itulah yang menyebabkan terjadi bentrokan bersenjata antara orang Indonesia dengan Jepang.13 Gelombang yang keras itu menyeret Achmad Yani terlibat dalam Peristiwa Tidar pada tanggal 24 September 1945. Di mana sejumlah pemuda Indonesia mengibarkan bendera Merah Putih di puncak bukit kecil itu. Bendera tersebut diturunkan oleh bala tentara Jepang sehingga menyebabkan bentrokan fisik yang menelan korban manusia. Kesatuan Yani juga terlibat dalam perlucutan senjata di hotel Nitaka yang ketika itu merupakan tempat tinggal utama Jepang di kota Magelang.14 Ketika itu kota Magelang kedatangan Sekutu yang berusaha melindungi dan mengungsikan tawanan tawanan perang serta tawanan serta melucuti dan mengembalikan tentara Jepang dan menjaga ketentraman serta keamanan agar kedua maksud bisa terlaksana dengan baik, pada tanggal 26 Oktober 1945 melalui Semarang, Ambarawa kemudian Magelang. Sepanjang perjalanan tersebut tentara Sekutu mendapat penjagaan serta penuh kewaspadaan dari pada para pemuda revolusioner. Ternyata kedatangan mereka menimbulkan kekacauan karena rombongan tersebut diboncengi tentara NICA yang hendak menguasai kembali bumi pertiwi ini. Di kota Ambarawa dan Magelang ternyata mereka membebaskan begitu saja orang-orang interniren Belanda. Kejadian tersebut menyebabkan rakyat menjadi marah sehingga dilancarkan aksi boikot makanan dan keperluan sehari-hari terhadap Sekutu. Pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan Sekutu sudah tidak bisa ditolerir lagi sehingga akhirnya pasukan TKR dan badan-badan kelaskaran di Jawa Tengah mengalir ke daerah itu menghadapi segala kemungkinan yang terjadi akibat tindakan provokatif dari Sekutu maupun NICA. Kecurigaan itu menjadi kebenaran, ketika pada tanggal 31 Oktober 1945 di Semarang meletus pertempuran dengan pasukan Sekutu dan kemudian berkobar di Magelang pada keesokan harinya. Pertempuran tersebut tidak bisa dibendung dan menjalar ke utara dan memuncak dengan hebatnya di medan Palagan Ambarawa. Kota itu menjadi medan ujian bagi para pejuang kemerdekaan. Dalam waktu singkat saja Ambarawa telah dibanjiri para pejuang daerah sekitarnya, termasuk Batalyon III,
12 13

Nugroho Notosusanto, op.cit., hal. 134—138. Ibid. 14 Pramono, op.cit. Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com 6

Peter Kasenda Resimen XIX, Divisi V, yang dikomandoi Mayor Achmad Yani. Pertengahan Desember 1945 Sekutu dengan NICA meninggalkan kota Ambarawa menuju ke arah Semarang dengan mendapat serangan-serangan sepanjang jalan dari pasukan penghadang.15 Walaupun tentara Sekutu telah meninggalkan Indonesia tetapi tentara NICA masih ingin tinggal untuk menguasai kembali Indonesia. Kenyataan tersebut menyebabkan bentrokan tidak bisa dihindari dan kemudian diadakan gencatan senjata. Walaupun sudah ada gencatan senjata insiden-insiden tetap saja ada dan saling menuduh menjadi makan sehari-hari dalam perundingan antara delegasi Indonesia dan Belanda. Rupanya Belanda menganggap bahwa perundingan hanya menghambat maksud sebenarnya sehingga melancarkan Agresi Militer I pada tanggal 21 Juli 1947. Serangan Belanda yang sedemikian mendadak sehingga diputuskan untuk mundur teratur sambil melakukan bumi hangus dan Divisi III TNI menempati masing-masing di daerah-daerah -garis kedua- pada perbatasan daerah Kedu yang menghadapi Semarang dan Pekalongan. Dalam mempertahankan jalan menuju Magelang. Batalyon Yani mendapat perintah mempertahankan desa Ngipik (yang merupakan jalan raya dan jalan kereta api Ambarawa – Magelang) yang terletak di depan desa Bendono yang diduduki Belanda ketika serangan itu dilancarkan. Di sinilah Yani memperlihatkan kemampuannya sebagai komando lapangan yang tangguh sehingga senjata yang sederhana mampu memukul mundur pasukan Belanda. Karena reputasinya itu kemudian masyarakat Magelang mengenal Achmad Yani sebagai de ridder van Magelang atau penyelamat kota Magelang.16 PBB terpaksa turun tangan dengan adanya Agresi Militer Belanda I. Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa memerintahkan pihak Indonesia dan Belanda untuk menghentikan pertempuran pada tanggal 4 Agustus 1947 setelah melalui perdebatan yang keras. Melalui perdebatan-perdebatan yang cukup melelahkan antara kedua belah pihak yang bertikai rupanya ujung terang mulai kelihatan dengan terjadinya gencatan dalam Perjanjian Renville pada tanggal 17 Januari 1948. Sementara itu Kabinet Hatta menjalankan program rasionalisasi dengan maksud agar tenaga-tenaga yang non produktif bisa dipindahkan ke lapangan yang produktif. Tindakan tersebut dilakukan karena kondisi perekonomian negara ketika itu sangat parah akibat blokade yang dilancarkan oleh Belanda. Program Rasionalisasi Hatta berlaku juga pada Angkatan Perang yang mempunyai tujuan menyederhanakan organisasi tentara itu agar bisa lebih effesien sesuai dalam menjalankan reorganisasi dalam Angkatan Perang juga diadakan peleburan berbagai instansi serta membentuk instansi yang baru. Rupanya Rasionalisasi yang dijalankan dalam Angkatan Perang mendapat tantangan dari golongan kiri yang menganggap bahwa program yang dilancarkan kabinet Hatta hanya merugikan serta mematikan peranan golongan kiri dalam Angkatan Perang. Ketika Amir Syarifoeddin masih menjadi Menteri Pertahanan, golongan kiri memperoleh sejumlah keuntungan dengan diadakan Pepolit, Biro Perjuangan dan TNI Masyarakat
15

Moh. Omar, Jendral Gatot Subroto, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan – Proyek Biografi Pahlawan Nasional, 1976), hal. 51—61. 16 A. Yani, op.cit., hal. 79—87. Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com 7

Peter Kasenda dalam Angkatan Perang. Ketidakpuasaan golongan kiri atas kebijaksanaan Rasionalisasi Hatta ternyata menyebabkan bentrokan-bentrokan antar laskar-laskar yang semakin lama semakin panas sehingga kota-kota Solo dan sekitarnya berubah menjadi The Wild West of Republic yang akhirnya meletus Peristiwa Madiun.17 Ketika peristiwa yang memperkenalkan pertama kalinya perang saudara tersebut. Achmad Yani sudah berpangkat Letnan Kolonel dan mendapat jabatan sebagai Komandan Brigade IX Kuda Putih Diponogoro yang bertanggung jawab atas Kedu Utara. Brigade Yani yang bermarkas di pojok alun-alun Magelang mendapat perintah melakukan pembersihan terhadap unsur-unsur yang terlibat dalam Peristiwa Madiun yang berdarah tersebut. Tugas menjaga keutuhan Indonesia sebagai bangsa bisa dilakukan dengan baik berkat pengalaman-pengalaman yang diperoleh selama ini. Meskipun belum pulih benar keadaan akibat meletusnya Peristiwa Madiun tersebut. Belanda kembali melancarkan Agresi Militer Belanda II pada tanggal 19 Desember 1948. Serangan Belanda sedemikian mendadak menyebabkan kota Magelang jatuh dan Brigade IX/III yang dikomandani Achmad Yani terpaksa mengungsi ke gunung-gunung yang berada di sekitarnya agar terlepas dari kejaran Belanda. Tetapi ketika Belanda lengah dilakukan sejumlah serangan yang cukup menganggu sehingga menyebabkan Belanda menjadi kewalahan dalam menghadapinya. Meskipun terjadi bentrokan-bentrokan senjata, tetapi perundingan juga dilakukan sehingga mengakhiri perang yang berkepanjangan dengan adanya Roem-Royen Statement pada tanggal 7 Mei 1949 dan kemudian diteruskan dengan Konperensi Meja Bundar. Kejadian ini menyebabkan pertemuan antara Letnan Kolonel van Santen yang dahulu giat melakukan patroli ke gunung-gunung dengan Letnan Kolonel Achmad Yani dalam acara serah terima kota Magelang pada tanggal 16 Desember 1949. Berakhirnya perang kemerdekaan itu Yani telah menjadi ayah dari tiga putri yang bernama Indriyah Ami Nuli yati, Herlyah Emi Rudiati Yani dan Ameliyah Umi Astagini Yani.18

Menuju Puncak
Setelah perang kemerdekaan, Pemerintah mengadakan integrasi semua laskar yang ada ke dalam tubuh tentara Republik Indonesia. Rupanya keinginan tersebut mendapat tantangan dari Batalyon Lemah Abang yang merupakan tentara Angkatan Umat Islam yang menolak dipadukan ke dalam Divisi III/Diponogoro sebagai Batalyon IX Brigade X karena menganggap bahwa pembentukan batalyon yang baru hanya menuju perlucutan dan demobilisasi. Menghadapi kenyataan ini Achmad Yani menjelaskan masalah tersebut dengan bijaksana dalam menghindari mereka memperoleh simpati dan bisa jadi mereka justru menyebrang ke Darul Islam. 19 Rupanya pemerintah mendengar kata-kata Yani dan kemudian Panglima Diponogoro Gatot Subroto mengirimkan surat kepada Machfuds yang mengetuai AUI, mengucapkan terima kasih atas sumbangan yang telah diberikan pada masa perjuangan kemerdekaan dan
17

Saleh Assad Djamhari, Ithisar Sejarah Perjuangan ABRI (1945 – Sekarang), (Jakarta: Departemen Pertahanan dan Keamanan – Pusat Sejarah ABRI,1979), hal. 40—45. 18 A. Yani, op.cit., hal. 94—117. 19 Ibid. Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com 8

Peter Kasenda mengajaknya untuk bekerja sama dalam mengintegrasikan pasukannya ke dalam Tentara Republik Indonesia . Kemudian Tentara dan Pemerintah mendekati Machfudz untuk berunding tetapi tidak berhasil. Undangan untuk datang ke Purworejo untuk membicarakan persoalan juga ditolak. Pemerintah hendak mendatangi Machfudz di bentengnya di Sumolangu, Wakilwakil Masyumi hendak mengadakan pembicaraan dengannya dan Menteri Agama Kiai Haji Wachid Hasyim yang juga yang bermaksud mau mengadakan pembicaraan dengan AUI dan mengajak mereka menghentikan perlawanan, semuanya ditolak Machfudz dan malahan Tentara Republik Indonesia Serikat dijuluki Machfudz sebagai Tentara Bule Putih atau Kerbau Putih (kata makian untuk Belanda). Rupanya Pemerintah mulai kehilangan kesabaran dan memberi ultimatum pada tanggal 29 Juli 1950. Keesokan harinya Machfudz mulai mengadakan penangkapan atas setiap pamong praja Republik Indonesia Serikat yang dapat diketemukan oleh pasukannya, kira-kira berjumlah tujuh puluhan. Bupati Kebumen dan penjabat pemerintah dan pamong praja yang lain melarikan diri . Keesokan harinya di daerah Kebumen dilancarkan operasi militer untuk menumpas gerakan yang dipimpin oleh Machfudz yang dilaksanakan oleh Brigade IX/III dengan komandan adalah Letkol. Achmad Yani. Setelah satu bulan bertempur, diperkirakan sekitar 700 pemberontak dinyatakan tewas dan 1500 orang ditawan. Operasi militer yang dilakukan itu telah menyebabkan Angkatan Umat Islam tercerai berai. Satu divisi menuju ke Brebes dan Tegal mengikuti pasukan Darul Islam di sana. Divisi yang lain diperkirakan ada 600 orang yang dipimpin oleh Machfudz lari menuju arah barat Banyumas. Nursidik kemudian diketemukan tewas dekat kroya, 26 Agustus 1950. Pertempuran tersebut telah menewaskan Kiai Haji Machfudz alias Kiai Sumolagu alias Kiai Sumolagu di gunung Srindil. Sejumlah pengikutnya yang tidak tertawan melarikan diri ke daerah DI/TII di Jawa Tengah yang dipimpin oleh Amir Fatah. Besar sekali kehancuran akibat pertempuran di Kebumen. Ribuan rakyat melarikan diri dan ratusan yang terbunuh. Ada sekitar delapan belas desa rusak ketika pertempuran berlangsung. Nama desa Sumolagu berdasarkan permohonan rakyat sumolagu kepada pemerintah yang menginginkan hilangnya segala pertautan pikiran dengan gerakan Machfudz kemudian dirubah menjadi Sumbersari.20 Achmad Yani juga menghadapi suatu gerombolan bersenjata yang beraliran ekstrim kiri yang menganggu keamanan daerah sekitarnya – daerah Kresidenan Surakarta. Daerah Istimewa Yogyakarta, Kresidenan Kedu serta Semarang yang dimulai sejak tahun 1950 sebagai akibat rasa tidak puas terhadap kebijaksaaan pemerintah yang menyetujui persetujuan KMB. Sasaran semula gerakan MMC adalah orang-orang yang dianggap sebagai pengkhianat perjuangan ketika masa perang kemerdekaan kemudian mengarah menghasut rakyat agar menentang Pemerintah serta mengadakan gangguangangguan keamanan yang menjurus kearah penggedoran dan perampokan di kampungkampung. Dalam menghadapi gerakan MMC segera dilakukan gerakan pembersihan dan sekaligus penerangan agar pengikut gerakan gerakan MMC kembali ke jalan yang benar.
20

P. van Dijk, Darul Islam – Sebuah Pemberontakan, (Jakarta: Grafitipers, 1983) hal. 134—138.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

9

Peter Kasenda Semula hasilnya memuaskan karena banyak rakyat yang sadar dan membantu dalam usaha memulihkan keamanan sekitarnya. Kejadian itu tidak berlangsung lama karena gerakan MMC mengadakan teror sehingga menyebabkan rakyat menjadi takut dan masa bodoh terhadap upaya pemerintah. Ketakutan rakyat tersebut menyebabkan rakyat tidak mau memberikan keterangan terhadap pemerintah mengenai sel-sel pengacau. Ketika gerakan MMC semakin berani dengan senjata yang dimiliki mereka berkali-kali melakukan penyerangan terhadap pos-pos keamanan polisi dan tentara. Keadaan yang menjadi makin giat menyebabkan perlunya pembersihan yang lebih intensif. Pada tanggal 10 Januari 1951, Panglima divisi Diponogoro mengeluarkan surat perintah Operasi Merapi – dengan tujuan utama maksimal – Menangkap dan menumpas gerombolan dan orang-orang yang menjadi obyek dan tujuan minimal – Mengembalikan kepercayaan rakyat terhadap alat-alat kekuasaan negara serta menimbulkan ketakutan yang mendalam pada pihak pengacau. Brigade Q yang dikomandoi Achmad Yani turut serta menumpas gerombolan MMC. Pengejaran terus-menerus dilakukan sehingga menjelaskan mereka terdesak ruang geraknya.21 Sesudah mengadakan penumpasan terhadap gerakan MMC, Achmad Yani ditugaskan menjadi Komandan Brigade Yudonegoro yang bertanggung jawab atas operasi di daerah Gerakan Banteng Nasional pada tanggal 26 Oktober 1951 menggantikan Letkol. Bakhrun. Masuknya eks AUI dan terutama eks Batalyon 426 ke daerah GBN menyebabkan suasana menjadi rawan. Sisa-sisa eks Batalyon 426 yang bergabung DI/TII telah menyebabkan DI/TII di Jawa Tengah menjadi naik kembali. Membelotnya Batalyon 426 ke dalam pasukan-pasukan DI/TII tentu saja menjadi bahan propaganda yang tinggi nilainya untuk meningkatkan moril pasukan-pasukan DI/TII. Bergabungnya sisa-sisa eks AUI dan eks Batalyon 426 menyebabkan DI/TII di daerah GBN gerakannya semakin terasa meningkat. Upaya-upaya yang dilakukan untuk melakukan pembersihan terhadap gerakan-gerakan yang dilancarkan DI/TII selalu kandas. Kenyatan tersebut menyebabkan Achmad Yani berpikir keras mengenai bagiamana cara mengatasi gerakan tersebut. Berbagai pertemuan dengan pembantupembantunya dilakukan dan berbagai buku telah dibaca dengan harapan agar memperoleh jalan keluar. Kerja keras tersebut memperoleh hasil dan akhirnya Achmad Yani memutuskan untuk membentuk pasukan khusus untuk menandingi DI/TII di GBN. Rupanya keinginan membentuk pasukan penggempur tersebut mendapat sambutan yang baik dari Panglima Divisi Diponogoro, Gatot Subroto. Pasukan penggempur yang dicita-citakan Achmad Yani adalah mempunyai fisik yang kuat, bermental baja, pemberani, disiplin dan trampil serta mahir dalam pertempuran di segala medan sekaligus bisa memahami masyarakat di mana ia bertugas. Pada awal tahun 1952 mulai diadakan penggembelangan atas pasukan yang dimaksud di Battle Training Center Sapta Arga di Purworedjo, di mana Achmad Yani langsung turun tangan dengan bantuan Kapten Yasir Hadibroto dan Kapten Pujadi yang menangani masing-masing satu kompi. Pasukan penggempur ini bersemboyan – Lebih baik mandi keringat daripada mandi darah, menyelesaikan latihan yang berat sekali pada bulan Juni 1952 dan pasukan penggempur yang diberi nama pasukan Banteng Raiders itu kemudian ditugaskan
21

Moh. Oemar, op.cit., hal. 87—91 10

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda kembali ke daerah GBN untuk menguji kemampuannya sekaligus menumpas gerakan yang dilancarkan DI/TII. Rupanya prestasi yang diperlihatkan Banteng Raiders di daerah GBN ternyata memuaskan sehingga kekuatan Batalyon Banteng Raiders ditingkat menjadi satu Batalyon.22 Keberhasilan mengadakan penumpasan terhadap gerakangerakan DI / TII di daerah Gerakan Banteng Nasional itu kemudian diperingati dengan membangun sebuah Monumen Gerakan Banteng Nasional di Slawi, di mana ada patung Achmad Yani dengan sejumlah prajurit tanpa nama.23 Berbagai pertempuran telah dilalui Achmad Yani, khususnya di daerah Jawa Tengah, baik itu dalam rangka mempertahankan kemerdekaan maupun mengadakan penumpasan terhadap gerakan-gerakan yang dianggap bisa menganggu keutuhan Republik Indonesia. Dalam rangka meningkatkan ketrampilan serta wawasan dalam kemiliteran, TNI-AD mengirim Achmad Yani ke Amerika Serikat pada bulan Desember untuk mengikuti Command and General Staf di Fort Leavenworth, Kansas. Setelah mengikuti pendidikan selama sembilan bulan, Achmad Yani mendapat tugas mengikuti job training pada Divisi I Angkatan Darat Amerika Serikat dan kemudian meneruskan dengan tinggal selama dua bulan di Inggris untuk belajar di Special Warfare. Masa pendidikan yang dipeoleh Achmad Yani baik di Amerika Serikat maupun di Inggris bisa dikatakan sebagai pergantian suasana dari orang yang telah bertugas di lapangan selama 10 tahun. Sesudah pulang dari tugas belajar di negeri orang, Achmad Yani terus dipindahkan ke Jakarta. Di Markas Besar TNI AD menjabat sebagai Asisten 2 (Operasi) KSAD. Pengetahuan kemiliteran yang diperoleh di negeri orang serta pengalaman di berbagai front pertempuran tentu saja mendukung pekerjaan dalam menyusun konsepkonsep Operasi. Pekerjaan yang dtekuni sejak bulan September 1956 berakhir pada bulan Januari 1958 dengan dipromosikan Achmad Yani sebagai Deputy I KSAD dan ia juga merangkap menjadi Hakim Perwira untuk daerah Medan, Jakarta, Surabaya dan Makasar.24 Ketika kabinet Ali Sastroamidjojo II mulai menjalankan pemerintahan, mulai muncul Dewan Banteng, Dewan Gadjah, dan Permesta sebagai manifestasi rasa tidak puas terhadap yang dilakukan Jakarta karena dianggap telah melakukan kebijaksaaan yang menguntungkan pusat tetapi merugikan daerah. Beberapa daerah di Sulawesi dan Sumatra tidak puas dengan alokasi biaya pembangunan yang diterimanya dari Jakarta, karena kurang sebanding dengan devisa yang disumbangkan ke Jakarta. Suasana pertikaian antara daerah dan pusat rupanya telah menyebabkan terjadinya kerawanan dalam TNI-AD karena mereka yang mendorong terjadinya pergolakan daerah adalah perwira-perwira TNI-AD . Krisis regional menjadi semakin serius ketika terjadi pengambil-alihan kekuasaan pemerintahan di Sumatra Tengah , Utara, Selatan dan kemudian menyusul pengambil-alihan atas Indonesia timur ( Bali , Nusa Tenggara , Sulawesi dan Mauluku ). Krisis politik tersebut menggoncangkan kabinet yang pada
22

A. Yani, op.cit., hal. 141—160. Dinas Sejarah TNI Angkatan Darat, Seri Monumen Sejarah TNI Angkatan Darat, (Dinas Sejarah TNI Angkatan Darat: Bandung, 1977), hal. 228—236.
23
24

A. Yani, op.cit., hal. 165—167. 11

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda akhirnya menyebabkan kabinet Ali Sastroamidjo II mengundurkan diri sekaligus menyatakan keadaan Perang Darurat . Untuk meradakan pergolakan-pergolakan daerah tersebut kabinet Djuanda yang menggantikan, mengadakan pertemuan nasional dalam Musyawarah Nasional yang dilangsungkan pada tanggal 10 –14 September 1957 dengan dihadiri oleh Presiden Soekarno, bekas Wakil Presiden Moh. Hatta dan tokoh-tokoh daerah lainnya. Musyawarah Nasional tersebut membicarakan masalah pemerintahan, regional, ekonomi, angkatan perang, kepartaian dan dwitunggal Soekarno-Hatta. Rupanya Musyawarah Nasional setelah melalui sejumlah perdebatan pada akhirnya mencapai beberapa keputusan yang mencerminkan saling pengertian sehingga dikeluarkan suatu pernyataan yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno dan bekas Wakil Presiden Moh. Hatta pada tanggal 14 September 1857. Dalam mengatasi Masalah Angkatan Darat musyawarah Nasional memutuskan membentuk panitia yang terdiri tujuh orang yang kemudian disebut sebagai Panitia Tujuh, yang terdiri dari Presiden Soekarno, bekas Wakil Presiden Moh. Hatta, Perdana Menteri Djuanda, Wakil Perdana Menteri Dr. Leimena, Menteri Kesehatan Kol. Dr. Azis Saleh, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan KSAD Mayor Jendral A.H. Nasution.25 Keputusan mengenai adanya Panitia Tujuh yang mencoba mengatasi masalah Angkatan Darat menyebabkan nyaris menjurus kearah “perpecahan” karena Staf Umum Angkatan Darat melalui Deputy I, Kol. Achmad Yani dan Deputy II Kol. Ibnu Sutowo menolak keputusan diatas. Sebenarnya keputusan diatas juga memukul Mayor Jendral A.H. Nasution sebagai KSAD, karena berarti kebijaksanan dan kepemimimpinan A.H. Nasution yang selama ini memperoleh lampu hijau dari Presiden Soekarno dan PM Djuanda telah diragukan dan akan dinilai kembali serta akan dikoreksi . Untuk meperlancar tugas dari Panitia Tujuh kemudian dibentuk Fact Finding Commisiion yang mana anggota merupakan hasil kompromi antara daerah yang bergolak dengan Markas Besar Angkatan Darat. Kol. Mokoginta, Direktur Seskoad dianggap dekat dengan daerah yang bergolak sedangkan Kol. Sudirman dari Brawijaya dianggap dekat dengan MBAD. Sebagai perwira yang dianggap tidak memihak daerah bergolak maupun MBAD dipilih Mayor Muskita. Rupanya keputusan Panitia Tujuh mengadakan Find Finding Commisiion mendapat tantangan dari Staf Umum Angkatan Darat sehingga terjadi pembicaraan keras antara KSAD A.H. Nasution yang juga dari Panitia Tujuh dengan SUAD sehingga menyebabkan A.H. Nasution segera melaporkan ke Presiden Soekarno dan PM Djuanda mengenai ketidaksetujuan SUAD atas pembentukan Fact Fainding Commisiion . Walaupun SUAD mengajukan keberatan, tetapi FFC tetap berjalan dan melakukan kunjungan ke daerah-daerah bergolak khususnya mewawancarai daerah bergolak. Setelah melakukan berbagai kunjungan dan wawancara, komisi diatas menyarankan agar dicabut surat perintah penahanan terhadap perwira-perwira yang
25

Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia VI, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Balai Pustaka, 1990), Hal. 272—279. Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com 12

Peter Kasenda terlibat Peristiwa 17 November 1956 (kudeta mikliter atas MBAD), khususnya terhadap Kol. Zulkifli Lubis. Selain itu menyarankan agar mengenai perlunya adanya amnesti umum terhadap semua TNI yang telah terlibat dalam macam-macam peristiwa yang dituduh pelanggaran dan kejahatan selama ini. Setelah masalah diatas diselesaikan baru bisa mengadakan musyawarah yang menyelesaikan masalah-masalah AD. Berdasarkan saran ini dari daerah-daerah bergolak Fact Finding Commision menyarankan pula agar membentuk suatu badan khusus yang menyelidiki pimpinan AD. Saran-saran yang diajukan komisi tersebut telah menyebabkan sambutan yang cukup panas dari MBAD. Mereka merasa seakan-seakan disalahkan karena telah melakukan pelarangan serta penindakan atas barter, penyelundupan, kup atau pengambil-alihan kekuasaaan atasan militer dam pemerinthan sipil.26 Dalam waktu yang bersamaan kaum pembakang militer telah melakukan sejumlah pertemuan di Sumatra mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan mereka. Berbagai pertempuran yang dilakukan tersebut telah menghasilkan sasaran yang mau mereka capai adalah Dwitunggal Soekarno-Hatta harus dikebalikan kepada kedudukan semula dengan menjadikan Moh. Hatta sebagai Perdana Menteri, digantinya KSAD A.H. Nasution berserta pembantu-pembantunya di Jakarta dan dilarangnyanya PKI melalui UndangUndang. Suasana menjadi lebih tegang ketika PBB tidak berhasil mengesahkan suatu resolusi yang menghimbau agar Belanda merundingkan suatu penyelesaian mengenai masalah tersebut menyebabkan terjadinya suatu ledakan radikalisme anti Belanda. Perusahaan-perusahaan Belanda maupun kantor dagang Belanda mulai diambil-alih oleh Serikat-serikat buruh PKI dan PNI. Melihat kejadian tersebut Nasution mengambil inisiatif memerintahkan agar pihak tentara mau mengelola perusahan yang telah di sita tersebut, Untuk mengindari terjadinya konfrontasi antara PKI dan SOBSI dengan tentara, golongan kiri tersebut menjanjikan dukungan mereka untuk menjaga agar perusahaanperusahaan itu tetap berjalan. Kenyataan ini meperlihatakan bahwa tentara telah mulai memainkan peranan sebagai suatu kekuatan ekonomi dan tentara telah memperoleh sumber-sumber uang yang dikuasai sendiri dan bisa disalurkan menurut keperluannya sendiri. Ini merupakan pertanda posisi angkatan darat menjadi bertambah kuat terhadap angkatan-angkatan lainnya serta pemerintahan sipil dan posisi Nasution dan MBAD terhadap panglima-panglima daerah luar Jawa . Radikalisme terus berlanjut ditandai dengan adanya intimidasi yang dilakukan oleh pemuda dari golongan kiri atas M. Natsir dan tokoh-tokoh Masyumi lainnya sehingga menyebabkan mereka menyingkir ke Sumatra yang mana merupakan basis Masyumi. Ketika Presiden Soekarno berada di luar negeri (6 Januari-16 Februari 1958), para pembakang militer dengan sejumlah polisi mengadakan pertemuan di dekat Padang. Suasana yang mengarah kearah pemberontakan dicoba diredam dengan kunjungan KSAD A.H .Nasution, Kabinet Djuanda dan pemimpin PSI dan Masyumi yang masih berada di Jakarta. Rupanya usaha-usaha yang dilakukan kelihatan sia-sia dan mereka yang berada di Sumatra percaya bahwa kejadian –kejadian yang terjadi di Jakarta yang mengarah kearah radikalisme harus ditentang.

26

A.H. Nasution, Memenuhi Panggilan Tugas, Jilid 4, (Jakarta: Gunung Agung, 1984),hal. 115—122. 13

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Pada tanggal 10 Februari l958, setelah terjadi beberapa pertemuan maupun demontrasi besar di Padang. Kaum pembakang militer mengajukan ultimatum kepada Jakarta, agar dalam waktu lima hari kabinet harus dibubarkan, Moh. Hatta dan Hamengku Buwono IX harus ditunjuk untuk membentuk suatu kabinet ahli sampai terselenggaranya pemilihan umum serta menuntut agar Soekarno kembali ke posisi konsitusional yang menempatkannya sebagai lambang. Keesokan harinya kabinet Djuanda menindak-lanjuti ultimatum itu serta kemudian disusul dengan tindakan KSAD A.H. Nasution memecat tidak hormat serta memerintahkan menahan Ahmad Hussein, Zulkfli Lubis, Dahlan Djambek dan . M. Simbolon . Keputusan kabinet serta KSAD A.H. Nasution ditandingi dengan pengumuman mengenai pembentukan pemerintah pemberontakan di Sumatra dengan markas besarnya di Bukittinggi pada tanggal 15 Februari 1958. Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia demikian para pembakang militer menyebutnya menunjuk Mr. Sjarifuddin Prawiranegara sebagai Perdana Menteri dengan dibantu 15 orang menteri. Tindakan di Padang ini didukung Sulawesi Utara di bawah Letnan Kolonel D. Somba dengan menyatakan berdirinya – Dewan Manguni – serta melepaskan diri dari Jakarta. Dalam waktu yang bersamaan kabinet Djuanda dan KSAD A.H. Nasution memerintahkan pemecatan dengan tidak hormat atas Letnan Kolonel H.N.V. Sumual, D.J. Somba dan Mayor D. Runturambi. Sekarang para pembakang mendapat dukungan secara rahasia dari Amerika Serikat yang cemas terhadap Presiden Soekarno dan PKI. Dukungan yang diperoleh kaum pembakang tersebut kurang berarti di daerah Sumatra Utara atau Kalimantan. Kaum pemberontak Darul Islam di Aceh, Jawa Barat dan Sulawesi Selatan tetap menempuh cara mereka sendiri. Soekarno, Djuanda, A.H. Nasution serta kebanyakan pemimpin PNI dan PKI menghendaki pemberonmtakan itu ditumpas sedangkan Moh. Hatta dengan para pemimpin Masyumi dan PSI di Jakarta menginginkan suatu penyelesaian melalui perundingan. 27 Serangan terhadap kaum pembakang diawali dengan pemboman oleh Angkatan Udara atas instalasi –instalasi di Padang. Bukittinggi dan Menado pada akhir bulan Februari 1958. Selain itu TNI menyiapkan operasi gabungan yang terdiri dari unsur-unsur darat, laut, udara dan kepolisian. Untuk Sumatra dilancarkan Operasi Tegas (untuk Riau) Operasi 17 Agustus (untuk Sumatra barat) yang langsung dikomandani oleh Kol. Achmad Yani, Operasi Saptamarga (untuk Sumatra Timur) dan Operasi Sadar (untuk Sumatra Selatan) sedangkan untuk Sulawesi dan Indonesia Timur umumnya dilancarkan operasi Saptamarga dan Operasi Merdeka . Rencana operasi militer tersebut bukan dibicarakan di MBAD mengingat unsur kerahasiaan, melainkan di rumah kediaman Roekminto Hendradfiningrat, yang merupakan tetangga Kol. Achmad Yani di kompleks militer di jalan Lembang, Menteng. Hadir dalam pertempuran tersebut adalah Letkol. Magenda, Letkol.Achmad Sukendro dan Letkol .Kretarto. Walaupun telah diusahakan agar rencana operasi dirahasiakan tetapi kenyataan rencana operasi telah berhasil disadap oleh kaum pembakang, sebelum Kol.Achmad Yani memberi perintah operasi. Perubahan rencana operasi tidak mungkin
27

M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1191), hal.. 387—398. Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com 14

Peter Kasenda dilakukan karena terdesak waktu yang semakin sedikit. Kol. Yani membiarkan saja kejadian tersebut. Operasi 17 Agustus menuju Sumatra Barat dikomandoi berjalan sesuai dengan taktik yang sudah ada di tangan kaum pembakang.28 Operasi 17 Agustus yang dikomandoi Kol. Yani langsung menuju Padang sebagai pusat militer dan Bukittinggi sebagai pusat pemerintahannya. Pada tanggal 16 April 1958 perairan Padang telah diblokade oleh kapal-kapal ALRI yang dipimpin oleh KRI Gadjah Mada dengan bantuan beberapa kapal Pelni. Keesokan harinya pada pukul 06.30 dilangsungkan pendaratan di sekitar 6 km di sebelah utara Padang, sementara itu pesawat –pesawat AURI melakukan pemboman atas lapangan terbang Tebing. Pendaratan maupun pemboman itu menyebabkan kota Padang jatuh ke tangan TNI. Kota Bukittinggi yang telah terkepung sejak tanggal 19 April 1958 langsung diserbu sehingga kota Bukittinggi ini jatuh pada tanggal 4 Mei 1958. Jatuhnya kota Padang dan Bukittinggi berarti selesailah operasi ke sasaran utama dan selanjutnya dilakukan operasi-operasi pembersihan serta teritorial dan kaum pembakang melarikan diri ke hutan-hutan.29 Meletusnya pemberontakan PRRI/Permesta serta runtuhnya gerakan yang dilancarkan kaum pembakang tersebut telah menyebabkan ribuan korban jatuh dan tak seorangpun melupakan kejadian itu dengan mudah. Pemberontakan itu telah menodai Masyumi maupun PSI yang memperoleh cap sebagai pengkhianat sebagaimana peristiwa Madiun yang telah mencermarkan PKI. Meletusnya peristiwa PRRI telah menyederhanakan politik militer di Indonesia. Tersingkirnya perwira-perwira semacam Zuklifli Lubis, M. Simbolon, Ventje Sumual dan Achmad Hussein yang dikenal sebagai perwira radikal dan peranan TNI-AD khususnya KSAD A.H. Nasution tak tertandingi lagi. Sistim politik ketika itu mulai mengarah ke arah persaingan antara TNI –AD dengan Presiden Soekarno, dan PKI mulai mencari peran yang pas untuk mendekati Presiden Soekarno. Sebaliknya Soekarno yang kurang puas dengan TNI mulai menganggap PKI seabagai sekutu dalam mengahadapi TNI-AD. Berakhirnya peristiwa PRRI/Permesta aliansi Presiden Soekarno dengan TNI-AD mulai mencair karena persoalan-persoalan PKI , TNI-AD memandang sebagai – natural enemy – bukan karena golongan Komunis tidak nasionalis, atheis serta berkiblat pada Komitern, tetapi juga berdasarkan kenyataan bahwa PKI merupakan satu-satunya partai terkuat yang mengancam kepentingan politik TNI-AD. Di samping itu Presiden Soekarno mempunyai kesamaan dengan PKI dalam banyak hal, terutama dalam masalah poltik menghadapi AD. Karena itulah terjadi alinasi antara Presiden Soekarno dengan PKI diadakan. Adanya alinasi dengan Presiden Soekarno, telah menyebabkan PKI memperoleh banyak keuntungan, tetapi alinasi tersbut tidak tidak seberapa menguntungkan PKI kalau dibandingkan dengan kekuatan yang diinginkan PKI dalam menghadapi TNI-AD. Kalau melihat dari sudut umur, sebenarnya TNI-AD telah menganggap bahwa Presiden Soekarno tidak membahayakan kepentingan jangka panjang TNI-AD. Karena itulah TNI-AD tidak ingin mengadakan konfrontasi langsung terhadap Presiden Soekarno
28 29

Amelia Yani, op.cit ., hal. 83—89. Saleh Assad Djamhari, op.cit., hal. 76—79. 15

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda dan hanya mengimbangi saja sejauh tidak merugikan posisi TNI-AD. Sebaliknya kepentinmgan jangka panjang TNI-AD memperoleh ancaman dari PKI. Ketika berlaku SOB, TNI –AD dapat dengan leluasa menekan PKI, tetapi setelah SOB dicabut TNI-AD mengalami kesulitan. PKI telah begitu berpengaruh di desa-desa dan dengan dicabutnya SOB legimitasi TNI-AD untuk berpartisipasi dalam politik menjadi goyah.

Panggung Politik
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, ada sebuah wilayah yang belum menjadi wilayah bangsa Indonesia yang terletak di ujung Timur. Untuk memperoleh wilayah Irian Barat tersebut telah diusahakan pemerintahan Indonesia melalui jalan perundingan dengan Belanda sejak pengakuan kedaulatan hingga sekarang tetapi segala upaya tersebut menjadi sia-sia malahan pemerintahan Belanda mau merekayasa pemerintahan Papua di sana. Kenyataan ini menyebabkan Presiden Soekarno yang juga Panglima Tertinggi Anmgkatan Perang RI kesabarannya hampir habis dan membangkitkan semangat rakyat Indonesia untuk merebut kembali wilayah Irian Barat dalam rapat raksasa di Yogyakarta pada tanggal 1961, Presiden Soekarno menyatakan ‘Gagalkan pembentukan negara boneka Papua buatan Belanda Kolonial, Kibarkanlah sang Merah Putih di Irian Barat Tanah Air Indonesia dan Bersiaplah untuk mobilisasi umum mempertahankan Kemerdekaan dan kesatuan Tanah Airdan Bangsa. Sebagai tindak lanjut dari pencanangan pembebasan Irian Barat ditetapkan sususnan Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat antara lain Panglima Besar Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat adalah Presiden Soekarno sendiri, Kepala Staf adalah Mayor Jendral Achmad Yani dan Panglima Mandala adalah Mayor Jendral Soeharto. Jabatan tersebut bukan saja membuat dirinya menjadi sibuk tetapi lebih dekat dengan Presiden Soekarno karena Achmad Yani menjadi juru bicara dari KOTI yang berkantor di Istana Presiden. Sebagai strategi penguasaan atas Irian Barat Komando Mandala Mayor Jendral Soeharto membagi dalam fase inflitrasi yang dilakukan hingga akhir tahun 1962, fase eksploitasi yang merupakan serangan terbuka dan menduduki Irian Barat berlangsung sampai akhir tahun 1963 dan fase konsolidasi atas seluruh Irian Barat pada tahun 1964. Dalam fase inflitrasi ini Achmad Yani menaruh perhatian penuh dengan melihat langsung pembentukan pasukan satuan komando yang mana akan didaratkan di Irian Barat kemudian hari. Pasukan komnado tersebut melakukan latihan-latihan droping malam yang dilakukan di kebun-kebun karet Jawa Barat agar terbiasa dengan hutanhutan di Irian Barat dan begitu pula dengan latihan droping suplai dari pesawat Hercules di hutan-hutan.30 Kesatuan kesatuan kecil itu kemudian menyebar diselundupakan masuk ke suluruh Irian Barat kemudian menyebar dalam mengikat musuh di daerah-daerah tertentu. Kesatuan-kesatuan itu pula mendapatkan tugas mengumpulkan keteranganketerangan sebanyak mungkin yang diperlukan operasi-operasi selanjutnya.31

30

A.H.Nasution, Memenuhi Panggilan Tugas, Jilid 5, (Jakarta: Gunung Agung, 1985), hal. 177. O.G. Roeder, Anak Desa Biografi Presiden Soeharto,(Jakarta: Gunung Agung, 1976), hal. 221—223.

31

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

16

Peter Kasenda Setelah Achmad Yani bergaul erat dengan Presiden Soekarno rupanya Presiden Soekarno berkenan kalau Achmad Yani menggantikan A.H. Nasution sebagai KSAD sedangkan A.H. Nasution ditugaskan sebagai KSAB pada pertengahan tahun 1962. Sebenarnya ketika Achmad Yani ditawari Presiden Soekarno minta agar Presiden Soekarno memilih WKSAD Gatot Subroto sebagai KSAD menggantikan A.H. Nasution, tetapi Gatot Subroto keburu meninggal dunia pada bulan Juni 1962. Karena Achmad Yani mempunyai watak yang selalu menaruh hormat kepada bapak sehingga ia tidak bisa menolak permintaan dari Presiden Soekarno. Sebenarnya ada sejumlah perwira yang lebih senior dibandingkan dengan Yani, seperti Sungkono, Sudirman, Soeprajogi dan Soeharto. Para perwira yang menganggap dirinya lebih senior daripada Yani, merasa kurang sreg menerima Yani sebagai panglima yang baru. Di samping itu sejumlah perwira yang bersikap kritis terhadap apa yang tampaknya sebagai kesediannya untuk menjadi bagian gaya hidup Istana dan yang membuatnya dengan mudah dijadikan sasaran tuduhan PKI terhadap – Jendral-jendral Korup. Tetapi di lain pihak Achmad Yani sama dengan sikapnya A.H. Nasution yang memusuhi PKI dan di masa lampau malahan Yani lebih bertekad menghantam PKI. Ia pula telah membela serta melindungi musuh-musuh pribadi Presiden Soekarno, seperti Kol. Suwarto dan Kol. Kemal Idris.32 Pengangkatan Yani telah mengurangi dugaan kalau TNI-AD akan melakukan aksi-aksi menentang secara langsung keinginan-keinginan Presiden Soekarno. Sebagai orang Jawa, Yani mempunyai kecenderungan meperlakukan Presiden Soekarno sebagai – Bapak – yang bisa berbuat salah tetapi tidak boleh ditentang secara terbuka. Bisa jadi Yani sebagai panglima baru merasa ragu-ragu dalam mengambil keputusan yang dratis sampai benar-benar kewibaannya bisa ditegakkan. Yani menyadari bahwa pengangkatannya sebagai KSAD dan pergeseran A.H. Nasution sebagai KSAB telah menimbulkan perasaan kecewa di kalangan pengikut A.H. Nasution. Walaupun demikian kepemimpinan Yani atas AD tetap merupakan pusat kekuasaan yang mandiri yang terus memperjuangkan kepentingan AD. Walaupun Yani bergaya Jawa tetapi bukan berarti ia kurang kokoh. Yani mampu menerima serta menuruti kebijaksaaan Presiden Soekarno seperti penafsirannya sendiri. Presiden Soekarno bisa bisa saja mengetahui Yani telah membuat penafsirannya sendiri, tetapi keduanya menutupi perbedaan tersebut dalam semangat musyawarah.33 Pertengahan tahun 1962, peta politik berubah secara berangsur-angsur. Angkatan Darat tidak lagi berada dalam urutan nomor dua sesudah Presiden Soekarno. PKI makin menyaingi Angkatan Darat untuk menempati posisi tersebut sekaligus mengadakan kerjasama dengan Presiden Soekarno yang semakin erat. Peta politik segitiga telah menempatkan Presiden Soekarno berada dalam supremasi politik yang mutlak dengan demikian Presiden Soekarno memainkan peranan sebagai pengimbang

32

Ulf Sundahussen, Politik Militer Indonesia 1945 – 1967, (Jakarta: LP3ES, 1986), hal. 284—285.

33

Harlod Crouch, Militer dan Politik (Jakarta: Sinar Harapan, 1986), hal. 55—57; Ulf Sundhaussen, op.cit., hal. 296—301. Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com 17

Peter Kasenda antara dua kekuatan yang saling bersaing dan situasi semacam itu sangat menguntungkan Soekarno. Sebagai panglima AD yang baru, Achmad Yani mengadakan pergantian sejumlah personil dalam MBAD. Bisa saja ia menggunakan orang-orang lama tetapi sebagai panglima baru ia tentu ingin agar pembantu-pembantunya adalah orang yang ia percayai dan sudah kenal lama dengan dia. Kalau dia memakai orang lama bisa-bisa ia hanya menjadi seorang primus interpares. Oleh karena itu, agar bisa menegakkan kewibawannya mengadakan pergantian personil dengan menaikkan pangkat maupun pemecatan di kalangan perwira tingkat pusat maupun daerah. Dalam mengisi jabatan dalam pucuk pimpinan Angkatan Darat dia mengangkat Brigjen Soeprapto sebagai Deputi I. Kol. S. Parman diangkat sebagai kepala inteljen AD, Kol. D.I. Pandjaitan diangkat sebagai kepala logistik AD, Kol. Djamin Ginting dan S. Sukowati yang dikenal dekat dengan A.H. Nasution juga diangkat sebagai Asisten Operasi dan Latihan serta dipertahankan dipertahankan sebagai Asisten V (Urusan Teritorial). Kol. Pranoto Reksosamudro yang dianggap punyai simpati pada golonmgan kiri diangkat sebagai Asisten Urusan Personil. Di luar MBAD Achmad Yani mengangkat Mayjen Soeharto sebagai Pangkostrad, Ibrahim Adjie (Panglima Siliwangi), Umar Wirahadikusuma (Panglima Jaya ) dan Moh. Yusuf (Panglima Hasanudin), yang merupakan musuh bebuyutan kaum komunis dipertahankan sebagai panglima. Brigjen Basuki Rachmat yang anti Komunis diangkat sebagai panglima Brawijaya dan Kol. Darjatmo yang juga anti Komunis diangkat menggantikan Djamin Ginting sebagai panglima Sumatra Utara. Pengangkatan Achmad Yani atas sejumlah perwira yang terkenal anti Komunis tentu saja kurang menyenangkan bagi Presiden Soekarno dan PKI. MBAD dibawah pimpinan Achmad Yani tidak mengadakan perubahan yang berarti dalam mengajukan argumen-argumen ideologisnya Achmad Yani menganggap bahwa kehadiran militer dalam semua bidang tidak boleh ditafsirkan sebagai usaha Angkatan Darat untuk menegakkan pemerintahan militer, tetapi didasarkan atas hasrat mengamankan program pemerintah. Tentara dapat menawarkan ketrampilan dan memiliki – semangat menyala-nyala untuk mengabdi kepada bangsa, tujuan-tujuan revolusi, dan rakyat. Dikatakan juga bahwa Tentara bukan suatu golongan yang terpisah dari rakyat, melainkan – dari rakyat, dan untuk rakyat. Secara garis besar, pidato-pidato Yani masih mencerminkan kebijaksaaan yang telah ditempuh oleg pendahulunya serta Pancasila ditekankan sebagai dasar ideologis AD dan bangsa. Sebagai seorang bekas perwira lapangan Yani masih merasa segan untuk memberi pernyataan-pertanyaan di hadapan umum dan jika dia berpidato biasanya sangat pendek dan tidak berbelit-belit serta kurang memberikan gambaran yang jelas mengenai masalahnya. Yani lebih suka menyerahkan masalah ideologi maupun pidato kepada Nasution, bukan menyangkut soal kecenderungan, tetapi soal kemampuan Yani dalam soal-soal politik yang bisa dikatakan kurang begitu cemerlang dan Yani tidak dapat bertahan kalau dia membiarkan dirinya diseret ke dalam argumentasi politik maupun perdebatan ideologis dngan Soekarno dan PKI.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

18

Peter Kasenda Sekarang tugas Yani yang lebih kongkrit diarahkan pada merancang langkahlangkah guna memperlunak dampak yang muncul dengan adanya pencabutan UndangUndang Darurat terhadap posisi politik Angkatan Darat. Langkah-langkah yang dilakukan meliputi usaha memperkuat struktur teritorial, dan meningkatkan penyebarluasaan dan pelaksanaan Doktrin Perang Wilayah oleh tentara bersama rakyat. Program yang dirancang oleh Yani rupanya mendapat dukungan dari Presiden Soekarno. Dekrit Presiden menyatakan bahwa dalam – melaksanakan proyek-proyek pembangunan dalam bidang produksi dan distribusi pemerintahan menfaatkan satu-satuan Angkatan Bersenjata – yang bersedia, sebagai tenaga-tenaga trampil, setengah trampil, untuk membantu pelaksanaan proyek –proyek tersebut. Ketentuan-ketentuan diatas telah ditafsirkan Angkatan Darat bahwa mereka bisa melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan seperti pembangunan dan perbaikan jalan, jembatan, sistim irigasi, pembangunan desa dan secara aktif mempengaruhi sikap penduduk dengan jalan, misalnya membangun mesjid-mesjid atau rumah –rumah rakyat.34 Masalah Irian Barat yang telah diperjuangkan pemerintah Indonesia setelah melalui pendekatan militer maupun diplomasi ternyata membuahkan hasil. Pemerintah Belanda bersedia mengembalikan Irian Barat ke pengkuan Ibu Pertiwi . Berdasarkan hasil perundingan yang berlangsung di Washington telah disepakati bahwa penyerahan wilayah tersebut kepada United Nations Temporary Excecurive Authority untuk sementara waktu pada bulan Oktober 1962. Sesudah itu bendera Belanda yang berkibar akan diturunkan dan diganti dengan dikibarkan bendera merah putih pada tanggal 31 desember 1962. Dalam acara tersebut, Mayor jendral Achmad Yani yang menjadi Kepala Staf KOTI sekaligus Menpanad atas nama pemerintah Indonesia hadir untuk menyaksikan penyerahan Irian Barat dari pemerintah Belanda ke UNTEA. Kalau sekarang secara de jure Irian Barat telah menjadi bagian Indonesia tetapi secara de facto baru mulai bulan Mei 1963. Penyelesaian masalah Irian Barat bukan berarti berakhirnya politik konfrontasi. Ketika itu Perdana Menteri Malaysia, Tengku Abdul Rachman, pada bulan Mei 1961, menyatakan pikirannya mengenai perlunya membentuk suatu federasi yang meliputi Malaya, Singapura dan daerah-daerah Kalimantan Utara bekas daerah Inggris dan Pemerintah Indonesia menyatakan tidak keberatan dengan rencana itu. Tetapi ketika meletus pemberontakan di Brunei pada bulan Desember 1962 di bawah pimpinan A.M. Azahari, ketua Partai Rakyat yang merupakan partai terbesar di wilayah itu dengan tujuan membentuk negara merdeka Kalimantan Utara. Walaupun pemberontakan ini tidak berumur panjang tetapi peristiwa ini menimbulkan keraguan besar mengenai kesedian penduduk wilayah tersebut masuk ke dalam federasi yang dimaksud diatas. Kenyataan ini menyebabkan Presiden Soekarno menaruh curiga yang selama ini terpendam karena sibuk dengan sengketa Irian Barat dan ia menyatakan menolak pembentukan federasi tersebut. Dalam pengamatan Soekarno, pembentukan Mayalsia adalah suatu tindakan kekuatan kolonialisme yang menjadi bagian dari gerakan pengepungan terhadap Indonesia. Dalam pandangan dunianya. Posisi Indonesia sebagai Nefo akan terjepit di antara musuh-musuh Oldefo yang melindunginya. Di sebelah Utara ada bekas jajahan34

Ulf Sundhaussen, op.cit., hal. 296—301. 19

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda jahan Inggris seperti Malaysia sampai Kalimantan Utara dan di Selatan ada Australia dan Selandaia Baru.35 Menghadapi politik konfrontasi terhadap Malaysia, Angkatan Darat harus berpikir keras untuk melibatkan diri sebab kerugian-kerugiannya jauh melampui keuntungannya. Program pemulihan ekonomi yang mendapat perhatian besar dari AD telah dipetieskan. Ini berarti sekutu-sekutunya yang paling potensial di kalangan teknokrat maupun politisi administrator yang diperlukan dalam menjalankan rencana pembaruan ekonomi terdesak kebelakang. Keinginan AD untuk memasukan pengaruh Barat dalam tingkat tertentu untuk mengimbangi kecondongan Indonesia ke Uni Soviet dan Cina kini tidak mungkin bisa dilaksanakan. Radikalisasi yang mengiringi mobilisasi anti-Malaysia secara sepihak telah menguntungkan PKI. Angkatan Darat juga was-was mengenai kemungkinan menang perang kalau itu terjadi di wilayah Malaysia dengan dukungan kekuatan Inggris di udara dan laut. Seandainya kalah perang, sudah pasti mereka akan dikutuk oleh pihakpihak yang mendorong mereka ke dalam kancah pertempuran. Situasi politik ketika itu tidak memungkinkan Angkatan Darat menentang kampanye konfrontasi Malaysia secara terang-terangan karena bisa dituduh tidak patriotik seperti ketika terjadi kampanye pembebasan Irian Barat. Yani terpaksa menolak pembentukan Malaysia dan ketika meletus pemberontakan Azahari, Yani meyakinkan – saudara-saudara mereka di Kalimantan Utara – akan simpatinya. Malahan Yani mengumumkan bahwa Angkatan Darat hanya menanti perintah untuk turun tangan di Kalimantan Utara. Walaupun pernyataannya kelihatan garang, tetapi Yani bertekad untuk tidak melibatkan tentara dalam kancah pertempuran dengan negara itu dan dalam pertengahan Februari 1963 rupa-rupanya Yani telah memutuskan untuk tidak terlibat dalam menentang Malaysia. Dalam mempertahankan pengaruh politik AD di daerah, Angkatan Darat mengusahakan agar perwira-perwiranya bisa dipilih sebagai bupati. Untuk merealisir hal tersebut, kadang-kadang menggunakan tekanan-tekanan yang kuat, tetapi lebih sering karena dukungan dari partai-partai non Komunis yang menganggap terpilih perwiraperwira menjadi bupati merupakan cara paling ampuh dalam membendung usaha PKI menghimpun banyak dukungan di pedesaan. Dalam merealisir hal ini tampaknya Divisi Siliwangi telah lebih berhasil ketimbang Divisi Diponogoro maupun Brawijaya. Kenyataan itu bisa jadi karena cabang-cabang PKI yang kuat telah membatasi kebebasan perwira-perwira bertindak dan kalau mereka bertindak keras bisa-bisa mengundang protes dari PKI di Jakarta atau Presiden Soekarno sendiri. Tetapi yang jelas kebanyakan perwira di sini tidak sedemikian anti komunis dibandingkan dengan rekan-rekan di Divisi Siliwangi. Disinilah PKI paling berani menghantam tentara. Di desa-desa Jawa Tengah maupun Jawa Timur, kader-kader PKI dan BTI secara terus terang berani mengatakan bahwa – tentara dan polisi sebagai – anti rakyat – dan berusaha mengambil hati rakyat miskin dengan memperjuangkan Land Reform. Kampanye anti tentara yang paling sukses berlangsung di Jawa Tengah maupun Timur, tetapi kampanye itu dilancarkan di seluruh negeri. Strategi yang dilancarkan Angkatan Darat disadari sepenuhnya oleh PKI dan
35

John D. Legge, Sebuah Biografi Politik, (Jakarta: Sinar Harapan, 1985), hal. 372—373.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

20

Peter Kasenda mereka dengan gigih menentang pimpinan tentara yang dicap sebagai – kapitalis birojkrat – dalam memberlakukan SOB tanpa SOB.36 Masalah rencana pembentukan Federasi Malaysia menjadi pembicaraan di Manila pada bulan April l963 dengan dihadiri utusan dari Malaysia, Philipina dan Indonesia. Ketika Presiden Soekarno sedang berada di Tokyo, diadakan pertemuan tidak resmi dengan Perdana Menteri Malaya Tengku Abdul Rachman yang datang menemuinya pada bulan Mei – Juni 1963. Pertemuan tersebut dilanjuti dengan Konferensi Menteri-menteri Luar Negeri Indonesia, Malaysia dan Philipina pada bulan Juni 1963. Kemudian disusul dengan pertemuan yang dihadiri oleh kepala-kepala pemerintahan Indonesia, Malaysia dan Philipina. Mengenai masalah pembentukan Federasi Malaysia, ketiga kepala pemerintahan setuju meninta Sekjen PBB untuk mengetahui aspirasi rakyat yang ada di daerah-daerah yang akan dimasukan ke dalam Federasi Malaysia. Ketika Misi PBB belum selesai dengan pekerjaannya. Tengku Abdul Rachman pada tanggal 29 Agustus 1963 telah menyatakan bahwa Malaysia akan diresmikan pada tanggal 16 September 1963. Tindakan tengku Abdul Rachman ini dicap Presiden Soekarno sebagai melanggar persetujuan Manila dan terjadi demontrasi besar-besaran terhadap Kedutaan Besar Malaysia dan Inggris secara khusus diobrak-abrik dan diduduki. Sehari sesudah peristiwa pembakaran, Jendral A.H. Nasution menyatakan dukungan terhadap politik konfrontasi serta menginstruksikan aparat-aparat pemerintahan agar menjalankan politik yang telah dilakukan Presiden Soekarno dengan segala kemampuan yang ada. Pada bulan November demi kepentingan pelaksanaan politik konfrontasi Nasution memimpin suatu misi ke Uni Soviet , Amerika Serikat , Yugoslavia, Perancis, Turki, Philipina dan Muangthai dengan tujuan memperoleh dukungan dari negara-negara bagi pelaksanaan politik konfrontasi. Pada bulan Januari 1964, setelah PKI melakukan tekanan-tekanan berat guna menggagalkan usaha perdamaian yang dilakukan oleh AS melalui Robert Kennedy dengan segera Achmad Yani yang dahulu ragu –ragu mengimbangi aksi PKI itu dengan mengintruksikan agar politik konfrontasi dilaksanakan dengan segala zaman kemampuan militer. Dalam waktu yang bersamaan, di hadapan siswa Sekoad, Yani menyatakan bahwa berkaitan dengan politik konfrontasi Presiden Soekarno, bahwa sekarang Indonesia sedang menghadapi perubahan dari satu konsepsi pertahanan lama yang berdasarkan wilayah nasional Indonesia sendiri ke arah pada suatu konsepsi pertahanan baru yang mencakup faktor-faktor serta elemen-elemen internasional, khususnya menyangkut tanggung jawab dan kewajiban Indonesia dalam – menciptakan serta memelihara keamanan serta stabilitas di Asia tenggara. Disebutkan juga kalau ancaman serta stabilitas di Asia Tenggara. Disebutkan juga kalau ancaman keamanan yang mesti dihadapi Indonesia sekarang dan harus dikonfrontasi adalah ancaman kekuatan-kekuatan Neo-Kolonialisme, Kolonialisme dan Imperialisme. Politik konfrontasi yang dijalankan Angkatan Darat sebenarnya mempunyai maksud untuk menghidupkan kembali SOB dalam suasana krisis yang tercipta dengan adanya politik konfrontasi. Sekarang TNI-AD menyadari bahwa tanpa adanya SOB betapa sukar mengimbangi kekuatan PKI yang kegiatan muscle flexing-nya sedemikian meningkat dengan bebas. Ketika mulai kelihatan tanda-tanda TNI-AD mau
36

Ulf Sundhaussen, op.cit., hal. 302—307.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

21

Peter Kasenda mengembalikan SOB, pada tanggal 8 November 1963, Ketua CC-PKI DN Aidit memperingatkan bahwa ada golongan-golongan tertentu (mungkin beberapa komndan miluiter anti PKI berserta kekuatan politik pendukung TNI) sedang berusaha memberlakukan kembali SOB dengan menggunakan dalih – Anti Malaysia.37 Selama tahun 1963, Angkatan Darat mulai melakukan tekanan-tekanan militer yang semakin kuat terhadap Sabah dan Serawak. Tekanan-tekanan militer yang dilakukan tersebut menyebabkan kepala inteljen keamanan nasional Malaysia, Tan Sri Ghazali mengontak Achmad Yani ketika diketahui kalau Achmad Yani akan singgah di Hongkong pada bulan Januari 1964 dalam perjalanannya pulang dari Tokyo ke Jakarta. Tan Sri Ghazali meminta jasa baik Yani bagi kemungkinan hubungan normalisasi antara Malaysia dengan Indonesia. Yani menjawab bahwa masalah tersebut akan dilaporkan terlebih dahulu kepada Presiden Soekarno. Jawaban Yani tersebut cukup menggagetkan Ghazali yang mengetahui Yani sebagai orang anti Komunis dan diperkirakan menyetujui rencana runjuk, malahan akan melaporkan hal tersebut kepada Presiden Soekarno yang justru menentang gagasan tersebut.38 Pada tanggal 3 Mei l964, Presiden Soekarno mencanangkan Dwi Komando Rakyat yang memanggil sukarelawan untuk turut serta mengganyang negara boneka – Malayisa. Pada tanggal 16 Mei Presiden Soekarno membentuk Komando Siaga dan dipimpin oleh Menpangau Komodor Omar Dhani dengan kekuasaan meliputi pasukanpasukan yang ada di Sumatra, Kalimantan dan Jawa. Meskipun seorang perwira AD Brigjen Achmad Wiratanakusumah telah ditunjuk sebagai wakil komandan Kogam, tetapi AD memandang pembentukan instuisi itu sebagai usaha mengurangi kemampuan mereka menghalangi kampanye militer. Achmad Yani menolak tegas dan membujuk agar Presiden Soekarno mengeluarkan surat perintah yang membatasi fungsi Kogam untuk membalas sekiranya terjadi serangan dari pihak Inggris pada tanggal 2 Juni 1964.39 Sebenarnya pada kuartal pertama tahun 1964, Angkatan Darat mengadakan kontak dengan Malaysia sebagai upaya untuk rujuk dengan diam-diam, Letjen. Achmad Yani menunjuk Pangkostrad, Mayor Jendral Soeharto yang merangkap sebagai Wakil Komando Ganyang Malaysia untuk menangani masalah penyelesaian rujuk tersebut. Pelaksanaannya secara fisik dijalankan Letkol. Ali Moertopo dengan bantuan Mayor L.B. Moerdani, Letkol. A. Rachman Ramli dan Letkol. Soegeng Djarot. Untuk mengadakan kontak dengan Kuala Lumpur, Ali Moertopo telah menugaskan sejumlah wiraswasta yang biasa melakukan hubungan dagang antara Jakarta, Kuala Lumpur, Singapura, Bangkok dan Hongkong. Mereka kebanyakan pernah terlibat dalam peristiwa PRRI/Permesta. Mereka ini adalah Yerry Sumendap, Jan Waladouw, Daan Mogot, Welly Pesik dan Des Alwi. Selain itu ada juga kelompok inteljen yang ditugaskan Achmad Yani
37

Yahya A. Muhaimin, Perkembangan Militer dalam Politik di Indnesia 1945—1966, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1982), hal. 154—157. 38 Hidayat Mukmin, TNI dalam Politik Luar Negeri – Studi Kasus Penyelesaian Konfrontasi Indonesia – Malayisa (Jakarta: Sinar Harapan, 1191), hal. 114—115.
39

Hidayat Mukmin, TNI dalam Politik Luar Negeri – Studi Kasus Penyelesaian Konfrontasi Indonesia – Malayisa (Jakarta: Sinar Harapan, 1191), hal. 114—115. Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com 22

Peter Kasenda mengontak Malaysia. Mereka ini adalah kelompok Sukendro, Syarnubi Said dan Eddy Yahya. Tetapi yang akhirnya berhasil dalam upaya penjajagan rujuk oleh Kelompok Soeharto Ali Moertopo.40 Ketika ada perintah untuk mendaratkan penyusupan di Malaysia Barat pada tanggal 17 Agustus dan 2 September 1964, telah merisaukan pimpinan Angkatan Darat dan mulai mempertimbangkan mulai mecegah serangan-serangan yang memancing. Dengan segera dirancang saran untuk memperoleh persetujuan Presiden Soekarno agar bisa mengubah organisasi Kogam sehingga Angkatan Darat bisa mempengaruhi pelaksanaan operasionalnya. Sebenarnya TNI-AD menyembunyikan maksudnya serta mencantumkan rencana mereka dalam bentuk rekomendasi yang dirancang untuk meningkatkan efisiansi komando. Ketika pendaratan-pendaratan yang dilakukan mengalami kegagalan di Malaysia Barat, Omar Dhani berada dalam posisi lemah dalam menghadapi tekanan–tekanan Angkatan Darat yang menuntut sebuah perubahan dan Presiden pun menerima rancangan baru tersebut. Operasi-operasi yang dilancarkan Kolaga terbagi atas dua komando yang berada di Sumatra dan Kalimantan. Komando Sumatra yang berpangkalan dekat Medan secara formal mendapat wewenang untuk – mempersiapkan diri menyerang Malaysia yang disebut sebagai negara boneka – dengan komandannya – Brigjen Kemal Idris, yang merupakan penentang Presiden dan tak begitu menyukai kampanye anti-Malaysia. Omar Dhani menganggap bahwa Kemal Idris telah menunda pemindahan pasukan ke Sumatra karena akomodasi untuk mereka tidak tersedia. Sebenarnya rencana-rencana persiapan menyerang agak seret sebab pimpinan AD tidak memberikan peralatan untuk penyeberangan melalui selat. Ini merupakan pertanda bahwa pimpinan Angkatan Darat memilih Kemal Idris agar bisa menjamin tidak mungkin terpengaruh Presiden Soekarno. Sebagai kompensasinya buat Omar Dhani dan Presiden Soekarno, Brigjen Supardjo ditunjuk sebagai komandan di Kalimantan pada bulan November 1964, selain itu Achmad Yani menempatkan orang-orang kepercayaan di sana. Mayor Jendral M. Panggabean sebagai Panglima wilayah Kalimantan, Brigadir Jendral Ryacudu sebagai Panglima Kalimantan Barat dan Brigjen Sumitro sebagai Panglima Kalimantan Timur pada bulan Februari 1965.41 Situasi yang dimunculkan akibat kampanye pengganyangan Malaysia sangat menguntungkan PKI sehingga dapat menindentifikasikan diri dengan tujuan bangsa serta memperkuat mereka sendiri dalam perimbangan kekuasaan dalam negeri. Selain bermaksud menjalankan kontrol atas operasi-operasi terhadap Malaysia, para pemimpin Angkatan Darat juga masih terus menghambat usaha-usaha PKI yang mau menanamkan pengaruh di pemerintahan. Angkatan Darat memang menentang pendaratan para penyusup ke Semenanjung Malaysia, tetapi mereka menfaatkan sebaiknya bayangan adanya krisis yang timbul sebagai akibat pendaratan tersebut guna meningkatkan kekuasaan Angkatan Darat secara sah. Meskipun PKI masih jauh berada dalam posisi sebagai penguasa, tetapi kemajuan-kemajuan yang diraih sangat mengkuatirkan para pemimpin Angkatan darat, Mereka cemas menyaksikan pertunjukan mengenai
40 41

Hidayat Mukmin, hal. 116—119. Harlod Crouch, op.cit., hal. 75—81. 23

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda keberhasilan PKI memobilisasi rakyat. Sejumlah senior dalam Angkatan Darat mulai mengeritik pimpinan Angkatan Darat yang kelihatan kehilangan inisiatif terhadap PKI, tetapi ada juga sejumlah perwira yang dekat dengan Yani menanggapi kemajuan PKI dalam perspektif lebih luas. Setelah berhasil melakukan sejumlah manuver untuk merusak efektivitas pelaksanaan politik konfrontasi, Yani menganggap bahwa tidak ada gunanya menentang Soekarno secara langsung menyangkut masalah yang begitu kecil seperti masih nasib Murba, BPS maupun penarikan diri Indonesia dari keanggotaan PBB karena masalah PBB. Meskipun Yani mempunyai hubungan yang akrab, ia tidak berkeinginan memperingatkan Presiden Soekarno mengenai betapa terlampau erat hubungan Soekarno dengan PKI. Karena Yani yakin kalau seandainya terjadi adu kekuatan Angkatan Darat mampu mengatasinya asal persatuan AD kedalam bisa dijaga. Tindakan Soekarno yang mengorbankan militansi PKI dinilai Yani sebagai tindakan untuk memperoleh ketenaran bagi diri Soekarno ketimbang minat untuk memenangkan PKI pada akhirnya. Yani memperlakukan Soekarno sebagai seorang Bapak dan lebih baik tidak melakukan konfrontasi langsung daripada menghalangi kesempatan mendekati Soekarno dimonopoli oleh lawan-lawan Angkatan Darat. Ketenangan Yani berserta kelompoknya menyaksikan PKI memperoleh keuntungan-keuntungan, menimbulkan ketidakpuasan di kalangan tinggi Angkatan Darat dan yang berpusat di sekitar A.H Nasution, Menteri Pertahanan dan Keamanan. Nasution menganggap bahwa komitmen Yani terhadap sikap anti Komunis tidak perlu dipersoalkan tetapi Yani diangap telah jatuh ke bawah pengaruh Soekarno sehingga merasa segan menentang kebijaksaan Presiden. Pada akhir tahun 1964, PKI memperoleh kemajuan kemajuan politik dan kebijaksaan luar negri yang bergeser ke kiri, menimbulkan pendapat di kalangan Angkatan Darat bahwa harus diambil langkah-langkah untuk mengatasi perpecahan di antara Yani dan Nasution. Sejumlah senior perwira bermaksud mengadakan pertemuan untuk menyelesaikan masalah itu, tetapi pertemuan tidak bisa memecahkan masalah perbedaan dalan pendekatan, sebab kelompok Yani tetap mempertahankan hubungan dekat dengan Presiden Soekarno. Ketidakberhasilan pimpinan Angkatan Darat mencapai konsensus mengenai taktik yang harus digunakan dalam menangani isu-isu yang sedang dihadapi jelas merupakan kerugian besar dalam menjalankan siasat terhadap Soekarno dan PKI. PKI sadar benar bahwa sendainya terjadi adu kekuatan dengan Angkatan Darat mereka mudah dikalahkan. Selama Presiden Soekarno masih menggunakan pengaruhnya untuk mendominasi kelompok Angkatan Darat, pimpinan PKI masih merasa aman. Tetapi kalau seandainya Presiden Soekarno meninggal dunia, menjadi tidak berdaya atau terjadi perpecahan terbuka antara Presiden Soekarno dengan Angkatan Darat, PKI akan ditempatkan pada posisi di mana tidak ada lagi yang dapat mempertahankannya. Alasanalasan itu yang menyebabkan PKI melipatgandakannya usaha untuk memperoleh sekutu dalam tubuh angkatan bersenjata, meskipun terdapat sejumlah rintangan yang bisa diatasi agar perwira-perwira militer berpihak pada PKI sadar atas pengaruh PKI di kalangan angkatan bersenjata masih terlalu kecil untuk memperoleh perlindungan seandainya

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

24

Peter Kasenda Presiden Soekarno meninggal kemudian melancarkan gerakan ofensif pada tahun 1965 dengan maksud untuk menguji kekuatan lawan-lawan partai di kalangan tentara.42 Pada bulan Februari 1965, Ketua CC-PKI D.N. Aidit melancarkan gagasan mengenai perlunya dibentuk suatu organisasi quasi militer dengan sebutan Angkatan Kelima. Ketika itu Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara dan Angkatan Kepolisian yang berjumlah 500.000 prajurit dengan dukungan 21 juta sukarelawan berserta Hansip dan Hanra yang dibentuk dalam pelaksanan aksi Dwikora. Angkatan Kelima yang dimaksud D.N. Aidit bertolak dari persoalan yang diakibatkan oleh peristiwa-peristiwa yang muncul karena kehebohan mengenai masalah-masalah Landreform yang secara sepihak mulai dilancarkan sejak bulan Mei 1964. Tindakan aksi sepihak para petani didorong BTI dan Pemuda Rakyat melawan orang-orang yang anti Komunis dan prajurit TNI-AD, seperti yang terjadi di Sumatra Utara, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Adanya kejadian-kejadian yang disebut tadi, kemudian PKI menuntut agar buruh dan petani segera dipersenjatai. Dalam mengajukan alasannya mengenai perlunya angkatan kelima tersebut, D.N. Aidit menyatakan bahwa pembentukan Angkatan Kelima akan dapat memantapkan gerakan angkatan bersenjata dalam aksi Dwikora. selain itu PKI juga mengusulkan agar dalam setiap angkatan dalam angkatan bersenjata dibentuk Komisaris Politik yang lazim terdapat di negara-negara sosialis.43 Menghadapi gerakan ofensif PKI ini, Menpangad Yani mencoba mencari rumusan yang tepat, yang memungkinkan AD agar bisa meneruskan kepura-puraan mereka dalam bibir mengenai konsep Nasakom sambil menyingkirkan usul tersebut. Setelah bertemu dengan Presiden Soekarno pada tangal 24 Mei 1965 yani menyatakan pada wartawan bahwa – Nasakom menunjukkan pada semangatnya dan tidak pada pembagian ke dalam kotak-kotak. Rupanya Yani telah berhasil meyakinkan Presiden Soekarno mengenai betapa kuatnya perlawanan yang ada dalam lingkungan Angkatan Darat atas usul PKI tersebut. Ketika berpidato didepan para panglima daerah pada tanggal 27 Mei Presiden Soekarno menjelaskan bahwa sebenarnya dia tidak bermaksud menekankan – bila komandan datanng dari kelompok nasionalis maka wakil haruslah dari kalangan agama atau komunis – dan selanjutnya Presiden Soekarno mengulangi apa yang dikatakan Yani - Yang saya maksudkan ialah bahwa seluruh kesatuan di dalam lingkungan angkatan bersenjata harus terikat pada jiwa persatuan Nasakom dan Yani dalam pidatonya dihadapan para panglima tersebut menyatakan bahwa – Angkatan Darat harus selalu siap berjuang sampai mati dalam mempertahankan Nasakom sebagai saripati Pancasila. Sesudah berhasil menghambat gagasan Nasakomisasi, para pimpinan Angkatan Darat mendapat tantangan dengan diambilalih gagasan angkatan kelima ke tangan Presiden Soekarno dengan menyatakan bahwa gagasan itu sebenarnya berasal dari dirinya sendiri. Angkatan Darat membayangkan bahwa ada kemungkinan angkatan yang dibayangkan Soekarno tidak dapat mereka kuasai. Karena itulah Yani menyatakan bahwa tidak akan ragu dan setuju mempersenjatai tetapi tidak hanya satu atau dua bagian dari
42 43

Ibid. hal. 81—91. Yahya A. Muhaimin, op.cit., hal. 166—169. 25

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda masyarakat tetapi seluruh rakyat Indonesia. Asalkan mereka memerangi Nekolim. Jadi Angkatan Darat secara prinsip menyetujui usulan tersebut sambil berminat mematikannya dalam pelaksanaannya. Pertengahan tahun 1965, pimpinan Angkatan Darat telah memutuskan untuk bersiap tegas terhadap tantangan yang berasal dari PKI maupun Presiden Soekarno. Sekarang Presiden Soekarno telah berpihak pada PKI menghadapi pimpinan Angkatan Darat, dan aksi-aksi yang dilancarkan PKI kelihatan mengarah kepada Angkatan Darat dan bukan hanya kepada sekutu-sekutu Angkatan Darat. Ketika menyaksikan pengaruh PKI yang semakin besar di bawah perlindungan Presiden, pimpinan TNI –AD mulai menilai kembali hubungan Presiden Soekarno dengan Angkatan Darat. Kalau Angkatan Darat tidak bertindak terhadap Presiden bisa jadi Soekarno tetap memberi dorongan kepada PKI dan konsekensinya kemajuan PKI akan terus. Karena itulah Angkatan Darat harus melakukan sesuatu meskipun bisa terjadi perpecahan terbuka dengan Soekarno.44 Ketika itu Achmad Yani menghadapi masalah dengan tersebarnya – Dokumen Gilschrist – yang diberikan Subandrio selaku kepala BPI dalam sidang KOTI pada tanggal 26 Mei 1965. Dalam pertemuan yang dihadiri oleh Yani, Panglima Martadinata, Kepala Kepolisian Sutjipto dan Sri Mulyono Herlambang yang mewakili Omar Dhani yang ketika itu berada di Cina, dan Subandrio. Presiden Soekarno meminta penjelasan kepada Yani mengenai isi dokumen tersebut yang terdapat kata-kata our local army friends. Yani menolak dugaan Presiden Soekarno seakan-akan ada orang Angkatan Darat yang berkerja sama dengan Inggris maupun Amerika Serikat untuk merebut kekuasaan negara. Sehubungan dengan pertanyaan Soekarno mengenai Dewan Jendral, Menpangad Yani menjelaskan bahwa badan yang dimaksud Presiden Soekarno sebenarnya tidak ada dan yang ada adalah Dewan Jabatan dan Pengakatan Perwira Tertinggi yang bertugas semata-mata untuk membicarakan masalah kenaikan pangkat serta penugasan para jendral dan kolonel. Kondisi kesehatan Prresiden Soekarno yang telah jatuh pingsan sebanyak dua kali pada awal bulan dan akhir bulan Agustus l965 telah menjadi pembicaraan politisi kalangan atas terutama di kalangan CC-PKI. Perkembangan yang terjadi kemudian bahwa berita kesehatan Presiden telah menimbulkan dugaan di kalangan para pemimpin PKI dan para pemimpin TNI-AD yang saling menduga bahwa lawannya kemungkinan akan melancarkan suatu kudeta. Bersamaan dengan kondisi ekonomi yang runyam Aidit mendorong radikalisme dengan menyatakan dalam rapat raksasa SOBSI agar – berani, dan bertindak, dan bergerak melawan setan-setan kota. Kemudian disusul dengan demontrasi besar-besaran yang diarahkan pada TNI–AD yang dianggap sebagai penanggung jawab dalam pelaksanaan distribusi beras dan bahan-bahan pokok lainnya. Dalam rapat massa CGMI pada akhir bulan September 1965, Presiden Soekarno menyatakan bahwa sekarang ada sejumlah jendral yang dulunya setia tetapi telah menjadi pelindung-pelindung unsur-unsur kontra revolusioner dan mereka itu harus dihancurkan. Ketika itu sejumlah jendral telah memperingatkan Yani mengenai akan adanya kudeta

44

Harlod Crouch, op.cit.,hal. 96—97. 26

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda yang dilancarkan, tetapi Yani tidak bersikap serius melakukan persiapan milter guna menghadapi PKI.45

Penutup
Perkembangan PKI yang offensif dengan TNI –AD yang defensif pada akhirnya mencapai puncak dengan meletusnya Peristiwa 30 September yang merengut jiwa Menpangad Letjen Achmad Yani berserta sejumlah jendral yang merupakan pembantupembantu terbaiknya. Putra-putra terbaik bangsa Indonesia itu dibuang di sumur tua di markas komplotan penculik. Ketika Merdeka, 1 Oktober 1989 kelompok penyergap di bawah Letnan Kolonel Sarwo Edhi berhasil menguasai Halim yang merupakan pangkalan komplotan Gerakan 30 Sepetember mayat yang sudah dirusak secara mengerikan dari keenam jendral dan satru letnan diangkat. Penggalian mayat jendral-jendral di hadapan kamera-kamera televisi telah menimbulkan simpati publik pada TNI-AD dan sentimen anti PNI mulai meluas dengan pasti. Di Hari ulang Tahun TNI tidak ada pertunjukan maupun menyanyi sebagai yang dijanjikan Achmad Yani pada kedelapan anaknya ketika sedang menunggu makan siang pada tanggal 30 September 1965. Kini kedelapan anak Letnan Jendral Achmad Yani pada HUT TNI mengantarkan ayahnda dengan jenazah para jendral lainnya menuju Taman makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Nasution yang lolos dari sergapan komplotan dalam pidato pemakaman menyatakan bahwa putra-putra yang terbaik yang dimakam merupakan korban fitnah.

.

45

Yahya A. Muhaimin, op.cit., hal. 177—180. 27

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->