Beberapa definisi dan pendapat dari pakar-pakar bahasa mengenai wacana.

Dalam pengertian linguistik, wacana adalah kesatuan makna (semantis) antarbagian di dalam suatu bangun bahasa. Oleh karena itu wacana sebagai kesatuan makna dilihat sebagai bangun bahasa yang utuh karena setiap bagian di dalam wacana itu berhubungan secara padu. Selain dibangun atas hubungan makna antarsatuan bahasa, wacana juga terikat dengan konteks. Konteks inilah yang dapat membedakan wacana yang digunakan sebagai pemakaian bahasa dalam komunikasi dengan bahasa yang bukan untuk tujuan komunikasi. Menurut Hawthorn (1992) wacana adalah komunikasi kebahasaan yang terlihat sebagai sebuah pertukaran di antara pembicara dan pendengar, sebagai sebuah aktivitas personal di mana bentuknya ditentukan oleh tujuan sosialnya. Sedangkan Roger Fowler (1977) mengemukakan bahwa wacana adalah komunikasi lisan dan tulisan yang dilihat dari titik pandang kepercayaan, nilai, dan kategori yang termasuk di dalamnya. Foucault memandang wacana kadang kala sebagai bidang dari semua pernyataan, kadang kala sebagai sebuah individualisasi kelompok pernyataan, dan kadang kala sebagai sebuah praktik regulatif yang dilihat dari sejumlah pernyataan. Pendapat lebih jelas lagi dikemukakan oleh J.S. Badudu (2000) yang memaparkan; wacana sebagai rentetan kalimat yang berkaitan dengan, yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lainnya, membentuk satu kesatuan, sehingga terbentuklah makna yang serasi di antara kalimat-kalimat itu. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa wacana merupakan kesatuan bahasa terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi yang tinggi yang berkesinambungan,yang mampu mempunyai awal dan akhir yang nyata,disampaikan secara lisan dan tertulis. Sementara itu Samsuri memberi penjelasan mengenai wacana, menurutnya; wacana ialah rekaman kebahasaan yang utuh tentang peristiwa komunikasi, biasanya terdiri atas seperangkat kalimat yang mempunyai hubungan pengertian yang satu dengan yang lain. Komunikasi itu dapat menggunakan bahasa lisan, dan dapat pula memakai bahasa tulisan. Lull (1998) memberikan penjelasan lebih sederhana mengenai wacana, yaitu cara objek atau ide diperbincangkan secara terbuka kepada publik sehingga menimbulkan pemahaman tertentu yang tersebar luas. Mills (1994) merujuk pada pendapat Foucault memberikan pendapatnya yaitu wacana dapat dilihat dari level konseptual teoretis, konteks penggunaan, dan metode penjelasan. Berdasarkan level konseptual teoretis, wacana diartikan sebagai domain dari semua pernyataan, yaitu semua ujaran atau teks yang mempunyai makna dan mempunyai efek dalam dunia nyata. Wacana menurut konteks penggunaannya merupakan sekumpulan pernyataan yang dapat dikelompokkan ke dalam kategori konseptual tertentu. Sedangkan menurut metode penjelasannya, wacana merupakan suatu praktik yang diatur untuk menjelaskan sejumlah pernyataan. Dari uraian di atas, jelaslah terlihat bahwa wacana merupakan suatu pernyataan atau rangkaian pernyataan yang dinyatakan secara lisan ataupun tulisan dan memiliki hubungan makna antarsatuan bahasanya serta terikat konteks. Dengan demikian apapun bentuk pernyataan yang dipublikasikan melalui beragam

media yang memiliki makna dan terdapat konteks di dalamnya dapat dikatakan sebagai sebuah wacana. Jenis-Jenis Wacana Leech mengklasifikasikan wacana berdasarkan fungsi bahasa seperti dijelaskan berikut ini; Wacana ekspresif, apabila wacana itu bersumber pada gagasan penutur atau penulis sebagai sarana ekspresi, seperti wacana pidato; Wacana fatis, apabila wacana itu bersumber pada saluran untuk memperlancar komunikasi, seperti wacana perkenalan pada pesta; Wacana informasional, apabila wacana itu bersumber pada pesan atau informasi, seperti wacana berita dalam media massa; Wacana estetik, apabila wacana itu bersumber pada pesan dengan tekanan keindahan pesan, seperti wacana puisi dan lagu; Wacana direktif, apabila wacana itu diarahkan pada tindakan atau reaksi dari mitra tutur atau pembaca, seperti wacana khotbah. Berdasarkan saluran komunikasinya, wacana dapat dibedakan atas; wacana lisan dan wacana tulis. Wacana lisan memiliki ciri adanya penutur dan mitra tutur,bahasa yang dituturkan, dan alih tutur yang menandai giliran bicara. Sedangkan wacana tulis ditandai oleh adanya penulis dan pembaca, bahasa yang dituliskan dan penerapan sistem ejaan. Wacana dapat pula dibedakan berdasarkan cara pemaparannya, yaitu wacana naratif, wacana deskriptif, wacana ekspositoris, wacana argumentatif, wacana persuasif, wacana hortatoris, dan wacana prosedural.
WACANA BAHASA INDONESIA Sejarah Singkat Kajian Wacana

Pada mulanya linguistik merupakan bagian dari filsafat. Linguistik modern, yang dipelopori oleh Ferdinand de Saussure pada akhir abad ke-19, mengkaji bahasa secara ilmiah. Kajian lingusitik modern pada umumnya terbatas pada masalah unsur-unsur bahasa, seperti bunyi, kata, frase, dan kalimat serta unsur makna (semantik). Kajian linguistik rupanya belum memuaskan. Banyak permasalahan bahasa yang belum dapat diselesaikan. Akibatnya, para ahli mencoba untuk mengembangkan disiplin kajian baru yang disebut analisis wacana. Analisis wacana menginterprestasi makna sebuah ujaran dengan memperhatikan konteks, sebab konteks menentukan makna ujaran. Konteks meliputi konteks linguistik dan konteks etnografii. Konteks linguistik berupa rangkaian kata-kata yang mendahului atau yang mengikuti sedangkan konteks etnografi berbentuk serangkaian ciri faktor etnografi yang melingkupinya, misalnya faktor budaya masyarakat pemakai bahasa.

Manfaat melakukan kegiatan analisis wacana adalah memahami hakikat bahasa, memahami proses belajar bahasa dan perilaku berbahasa. Pengertian Wacana dan Analisis Wacana Wacana merupakan satuan bahasa di atas tataran kalimat yang digunakan untuk berkomunikasi dalam konteks sosial. Satuan bahasa itu dapat berupa rangkaian kalimat atau ujaran. Wacana dapat berbentuk lisan atau tulis dan dapat bersifat transaksional atau interaksional. Dalam peristiwa komunikasi secara lisan, dapat dilihat bahwa wacana sebagai proses komunikasi antarpenyapa dan pesapa, sedangkan dalam komunikasi secara tulis, wacana terlihat sebagai hasil dari pengungkapan ide/gagasan penyapa. Disiplin ilmu yang mempelajari wacana disebut dengan analisis wacana. Analisis wacana merupakan suatu kajian yang meneliti atau menganalisis bahasa yang digunakan secara alamiah, baik dalam bentuk tulis maupun lisan. Persyaratan Terbentuknya Wacana Penggunaan bahasa dapat berupa rangkaian kalimat atau rangkaian ujaran (meskipun wacana dapat berupa satu kalimat atau ujaran). Wacana yang berupa rangkaian kalimat atau ujaran harus mempertimbangkan prinsip-prinsip tertentu, prinsip keutuhan (unity) dan kepaduan (coherent). Wacana dikatakan utuh apabila kalimat-kalimat dalam wacana itu mendukung satu topik yang sedang dibicarakan, sedangkan wacana dikatakan padu apabila kalimat-kalimatnya disusun secara teratur dan sistematis, sehingga menunjukkan keruntututan ide yang diungkapkan.
STRUKTUR WACANA BAHASA INDONESIA

Elemen-elemen Wacana Elemen-elemen wacana adalah unsur-unsur pembentuk teks wacana. Elemenelemen itu tertata secara sistematis dan hierarkis. Berdasarkan nilai informasinya ada elemen inti dan elemen luar inti. Elemen inti adalah elemen yang berisi informasi utama, informasi yang paling penting. Elemen luar inti adalah elemen yang berisi informasi tambahan, informasi yang tidak sepenting informasi utama.

(4) T-T. elemen wacana terbagi menjadi dua kategori.Berdasarkan sifat kehadirannya. Relasi komplementatif adalah relasi antarelemen yang bersifat saling melengkapi. dan (6) Pr-T. Berdasarkan peringkat keutamaan informasi ada wacana yang mengikuti pola segitiga tegak dan ada wacana yang mengikuti pola segitiga terbalik. Berdasarkan mekanisme pertukaran dapat dikemukakan pola-pola pertukaran berikut: (1) P-S. (2) T-J. Relasi Antarelemen dalam Wacana Ada berbagai relasi antarelemen dalam wacana. REFERENSI DAN INFERENSI SERTA KOHESI DAN KOHERENSI WACANA BAHASA INDONESIA Referensi dan Inferensi Wacana Bahasa Indonesia Referensi dalam analisis wacana lebih luas dari telaah referensi dalam kajian sintaksis dan semantik. Struktur Wacana Bahasa Indonesia Struktur wacana adalah bangun konstruksi wacana. yakni elemen wajib dan elemen manasuka. masing-masing elemen memiliki kedudukan yang otonom dalam membentuk teks. Istilah referensi dalam analisis wacana adalah ungkapan kebahasaan yang dipakai seorang pembicara/penulis untuk mengacu pada suatu hal yang dibicarakan. Relasi atribut berkaitan dengan relasi subordinatif karena relasi atribut juga berarti relasi antara elemen atasan dengan elemen bawahan. (5) Pr-S. sedangkan elemen manasuka bersifat boleh hadir dan boleh juga tidak hadir bergantung pada kebutuhan komunikasi. yakni organisasi elemenelemen wacana dalam membentuk wacana. Dalam relasi itu. Elemen wajib bersifat wajib hadir. Relasi koordinatif adalah relasi antarelemen yang memiliki kedudukan setara. (3) P-T. Dalam jenis ini tidak ada elemen atasan dan bawahan. Dalam relasi subordinatif itu terdapat atasan dan elemen bawahan. Relasi atribut adalah relasi antara elemen inti dengan atribut. Struktur wacana dapat diperikan berdasarkan peringkat keutamaan atau pentingnya informasi dan pola pertukaran. Relasi subordinatif adalah relasi antarelemen yang kedudukannya tidak setara. baik dalam konteks linguistik maupun dalam konteks .

Hubungan parataksis itu dapat diciptakan dengan menggunakan pernyataan atau gagasan yang sejajar (coordinative) dan subordinatif. Koherensi adalah kepaduan gagasan antarbagian dalam wacana. Sebaliknya wacana tulis cenderung gramatikal. Penataan koordinatif berarti menata ide yang sejajar secara beruntun. Oleh sebab itu. dan leksikal. frasa benda tidak panjang. (a) adanya acuan yang bergeser. Implikatur adalah makna tidak langsung atau makna tersirat yang ditimbulkan oleh apa yang terkatakan (eksplikatur). Wacana lisan cenderung kurang terstruktur (gramatikal). . konjungsi. (b) ungkapan berbeda tetapi acuannya sama. frasa benda panjang. penataan subordinatif lebih banyak. wacana dibedakan atas wacana tulis dan wacana lisan. Inferensi adalah membuat simpulan berdasarkan ungkapan dan konteks penggunaannya. menggunakan piranti hubung. JENIS-JENIS WACANA BAHASA INDONESIA Wacana Lisan dan Tulis Berdasarkan saluran yang digunakan dalam berkomunikasi. Jenis alat kohesi ada tiga. Wacana lisan berbeda dari wacana tulis. Kohesi merupakan salah satu cara untuk membentuk koherensi. dan berstruktur subjek-predikat. jarang menggunakan piranti hubung (alat kohesi). dan berstruktur topik-komen.nonlinguistik. Kohesi dan Koherensi Wacana Bahasa Indonesia Istilah kohesi mengacu pada hubungan antarbagian dalam sebuah teks yang ditandai oleh penggunaan unsur bahasa sebagai pengikatnya. dalam sebuah teks koherensi lebih penting dari kohesi. Dalam menafsirkan acuan perlu diperhatikan. penataan subordinatif lebih sedikit. Namun bukan berarti kohesi tidak penting. yaitu substitusi. Kohesi merupakan salah satu unsur pembentuk koherensi. Dalam membuat inferensi perlu dipertimbangkan implikatur. Cara lain adalah menggunakan bentuk-bentuk yang mempunyai hubungan parataksis dan hipotaksis (parataxis and hypotaxis). dan (c) ungkapan yang sama mengacu pada hal yang berbeda.

Aspek kejiwaan yang dapat mencerna wacana narasi adalah emosi. pelaku. baik yang didasarkan pada pertimbangan logika maupun emosional. Wacana argumentasi bertujuan mempengaruhi pembaca atau pendengar agar menerima pernyataan yang dipertahankan. eksposisi. dan polilog. Untuk mernpengaruhi ini. Untuk mencapai tujuan tersebut. dan Polilog Berdasarkan jumlah peserta yang terlibat pembicaraan dalam komunikasi. Bila peserta dalam komunikasi itu dua orang dan terjadi pergantian peran (dari pembicara menjadi pendengar atau sebaliknya).Wacana Monolog. wacana persuasi kadang menggunakan alasan yang tidak rasional. dan peristiwa. Wacana narasi merupakan satu jenis wacana yang berisi cerita. dan narasi. Eksposisi. pembicara tidak berganti peran sebagai pendengar. Jika peserta dalam komunikasi lebih dari dua orang dan terjadi pergantian peran. maka wacana yang dibentuknya disebut dialog. Dialog. Oleh karena itu. Wacana persuasi bertujuan mempengaruhi penerima pesan agar melakukan tindakan sesuai yang diharapkan penyampai pesan. Wacana Deskripsi. maka wacana yang dihasilkan disebut monolog. dikenal ada wacana dekripsi. yaitu wacana monolog. Dengan demikian. argumentasi. dialog. Argumentasi. digunakan segala upaya yang memungkinkan penerima pesan terpengaruh. persuasi. . Bila dalam suatu komunikasi hanya ada satu pembicara dan tidak ada balikan langsung dari peserta yang lain. unsur-unsur yang biasa ada dalam narasi adalah unsur waktu. Wacana eksposisi dapat berisi konsep-konsep dan logika yang harus diikuti oleh penerima pesan. maka wacana yang dihasilkan disebut polilog. Persuasi dan Narasi Dilihat dari sudut pandang tujuan berkomunikasi. Oleh sebab itu. Wacana deskripsi bertujuan membentuk suatu citra (imajinasi) tentang sesuatu hal pada penerima pesan. untuk memahami wacana eksposisi diperlukan proses berpikir. Untuk mempertahankan argumen diperlukan bukti yang mendukung. Sedangkan wacana eksposisi bertujuan untuk menerangkan sesuatu hal kepada penerima agar yang bersangkutan memahaminya. ada tiga jenis wacana.

konteks wacana dibedakan atas dua kategori. seperti partisipan. dan pendengar. Konteks ekstralinguistik itu mencakup praanggapan. dan peristiwa). Konteks linguistik adalah konteks yang berupa unsur-unsur bahasa. Konteks yang harus diperhatikan adalah konteks linguistik dan konteks ekstralinguistik. bentuk komunikasi (dialog. monolog. Konteks linguistik itu mencakup penyebutan depan. Dengan kata lain. dan proposisi positif Di samping konteks ada juga koteks. mitra tutur. partisipan. Secara garis besar. topik. Konteks ekstralinguistik adalah konteks yang bukan berupa unsur-unsur bahasa. saluran. yakni konteks linguistik dan konteks ekstralinguistik. kata kerja bantu. latar.Wujud koteks bermacam-macam. Koteks dapat pula berupa unsur teks dalam sebuah teks. Koteks adalah teks yang berhubungan dengan sebuah teks yang lain. Latar adalah tempat dan waktu serta peristiwa beradanya komunikasi. dan bahkan wacana. dan kode. topik atau kerangka topik. Macam-macam Konteks Konteks adalah sesuatu yang menyertai atau yang bersama teks. pengguna bahasa senantiasa terikat konteks dalam menggunakan bahasa. atau polilog) Pengguna bahasa harus memperhatikan konteks agar dapat menggunakan bahasa secara tepat dan menentukan makna secara tepat pula. waktu. dapat berupa kalimat. Konteks tersebut dapat berupa konteks linguistik dan dapat pula berupa konteks ekstralinguistik. pargraf. sifat kata kerja. saluran (bahasa lisan atau tulis). Konteks linguistik yang juga berupa teks atau bagian teks dan menjadi lingkungan sebuah teks dalam wacana yang sama dapat disebut konteks ekstralinguistik berupa hal-hal yang bukan unsur bahasa. Partisipan adalah pelaku atau orang yang berpartisipasi dalam peristiwa komunikasi berbahasa.KONTEKS WACANA BAHASA INDONESIA Hakikat Konteks Konteks adalah benda atau hal yang berada bersama teks dan menjadi lingkungan atau situasi penggunaan bahasa. Partisipan mencakup penutur. Saluran adalah ragam bahasa dan sarana yang . latar atau setting (tempat.

Penggunaan konteks untuk mencari acuan. Dalam menganalisis wancana sasaran utamanya bukan pada struktur kalimat tetapi pada status dan nilai fungsional kalimat dalam konteks. baik itu konteks linguistik ataupun konteks ekstralinguistik. baik konteks linguistik atau koteks maupun konteks nonlinguistik. 2. yakni prinsip interpretasi lokal dan prinsip analogi.digunakan dalam penggunaan wacana. Prinsip interpretasi analogi adalah prinsip interpretasi suatu wacana berdasarkan pengalaman terdahulu yang sama atau yang sesuai. Skemata dalam Analisis Wacana Skemata adalah pengetahuan yang terkemas secara sistematis dalam ingatan manusia. yaitu pembentukan acuan berdasarkan konteks linguistik. tetapi juga dapat berupa waktu. 1. 3. Dengan interpretasi analogi itu. Penggunaan konteks untuk mencari bentuk tak terujar yaitu bentuk yang memiliki unsur tak terujar atau bentuk eliptis adalah bentuk yang hanya dapat ditentukan berdasarkan konteks. Tiga manfaat konteks dalam analisis wancana. Kode adalah bahasa atau dialek yang digunakan dalam wacana. Hal itu berarti bahwa analis tidak harus memperhitungkan semua konteks wancana. Prinsip interpretasi lokal adalah prinsip interpretasi berdasarkan konteks. yaitu bahwa maksud sebuah tuturan ditentukan oleh konteks wancana. ranah penggunaan wacana. Konteks nonlinguistik yang merupakan konteks lokal tidak hanya berupa tempat. analis sudah dapat memahami wacana dengan konteks yang relevan saja. Penggunaan konteks untuk menentukan maksud tuturan. dan partisipan. Skemata itu memiliki struktur pengendalian. yakni cara pengaktifan skemata sesuai dengan kebutuhan. ANALISIS WACANA Prinsip Interpretasi Lokal dan Prinsip Analisis Dalam analisis wacana berlaku dua prinsip. Ada dua cara yang disebut pengaktifan dalam .

Sumber Buku Wacana Bahasa Indonesia. pendengar/pembaca mungkin sudah mempunyai skemata yang sesuai. pembaca. Bagi analis wacana. Pengaktifan atas ke bawah adalah proses pengendalian skemata dari konsep ke data atau dari keutuhan ke bagian. Pengaktifan bawah ke atas adalah proses pengendalian skemata dari data ke konsep atau dari bagian ke keutuhan. dan koherensi. dan lain-lain. Analisis Kohesi dan Koherensi Praktik analisis wacana dilaksanakan dengan menerapkan prinsip interpretasi lokal dan prinsip interpretasi analogi. Analisis wacana dapat diarahkan pada: struktur. Skemata berfungsi baik bagi pembaca/pendengar wacana maupun bagi analis wacana. Ketiga.struktur itu. Dalam analisis itu diterapkan konteks yang relevan dengan kebutuhan analisis. karya Suparno dan Martutik DIarsipkan di bawah: Bahasa SINTAKSIS . skemata berfungsi untuk memahami wacana. Kedua. kohesi. tetapi petunjuk-petunjuk yang disajikan oleb penulis tidak cukup memberikan saran tentang skemata yang dibutuhkan. struktur wacana. yang dapat dioperasionalkan antara lain untuk menetapkan hubungan antarelemen wacana dan alat-alat kohesi yang berlaku dalam sebuah teks. acuan kewacanaan. Kegagalan pemahaman wacana terjadi karena tiga kemungkinan. skemata juga berfungsi untuk melakukan analisis berbagai aspek wacana: elemen wacana. Pertama. Bagi pendengar/pembaca. koherensi dan kohesi wacana. mungkin mendapatkan penafsiran wacana secara tetap sehingga gagal memahami maksud penutur. di samping berfungsi untuk memahami wacana. pendengar/pembaca mungkin tidak mempunyai skemata yang sesuai dengan teks yang dihadapinya. yakni (1) cara pengaktifan dari atas ke bawah dan (2) cara pengaktifan dari bawah ke atas.

tidak mengalami proses morfologi. Misalnya dan tidak mempunyai makna leksikal. secara etimologi berarti: menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat. penderita. tetapi mempunyai tugas sintaksis untuk menggabungkan menambah dua buah konstituen. Yang termasuk kata penuh adalah kata-kata kategori nomina. atau hampir mutlak sehingga dapat menjadi pengisi fungsi-fungsi sintaksis. selalu terikat dengan kata yang ada di belakangnya . KATA SEBAGAI SATUAN SINTAKSIS Sebagai satuan terkecil dalam sintaksis. Misalnya mesjid memiliki makna ‘ tempat ibadah orang Islam ’. objek (O). mempunyai kemungkinan untuk mengalami proses morfologi. predikat (P). verba. harus dibedakan adanya dua macam kata yaitu kata penuh dan kata tugas. verba. merupakan kelas terbuka. dan numeralia. dan dapat berdiri sendiri sebagai sebuah satuan. adverbia. Sedangkan pelaku. Kata-kata yang termasuk kata penuh mempunyai kebebasan yang mutlak. dan perangkai dalam penyatuan satuan-satuan atau bagian-bagian dari satuan sintaksis. Peran ketiga alat sintaksis itu tidak sama antara bahasa yang satu dengan yang lain.Kata sintaksis berasal dari bahasa Yunani. dan numeralia berkenaan dengan kategori sintaksis. Kata penuh adalah kata yang secara leksikal mempunyai makna. Jadi. Eksistensi struktur sintaksis terkecil ditopang oleh urutan kata. dan keterangan (K) yang berkenaan dengan fungsi sintaksis. Sedangkan kata tugas mempunyai kebebasan yang terbatas. Yang termasuk kata tugas adalah kata-kata kategori preposisi dan konjungsi. STRUKTUR SINTAKSIS Secara umum struktur sintaksis terdiri dari susunan subjek (S). dan di dalam peraturan dia tidak dapat berdiri sendiri. bisa juga ditambah dengan konektor yang biasanya disebut konjungsi. adjektiva. penanda kategori sintaksis. Sedangkan kata tugas adalah kata yang secara leksikal tidak mempunyai makna. yaitu sun yang berarti “dengan” dan kata tattein yang berarti “menempatkan”. kata berperan sebagai pengisi fungsi sintaksis. Kata sebagai pengisi satuan sintaksis. dan intonasi. Nomina. bentuk kata. dan penerima berkenaan dengan peran sintaksis. ajektifa. merupakan kelas tertutup.

yang biasanya berkategori nomina) dan non direktif (komponen pertamanya berupa artikulus. salah satu komponennya dapat menggantikan kedudukan keseluruhannya. seperti si dan sang sedangkan komponen keduanya berupa kata atau kelompok kata berkategori nomina. FRASE Pengertian Frase Frase lazim didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonpredikatif (hubungan antara kedua unsur yang membentuk frase tidak berstruktur subjek . Frase Endosentrik Frase Endosentrik adalah frase yang salah satu unsurnya atau komponennya memiliki perilaku sintaksias yang sama dengan keseluruhannya. yaitu yang merupakan inti frase berlaku sebagai komponen atasan. ajektifa. yaitu komponen yang bukan inti atau hulu (Inggris head) mengubah atau membatasi makna komponen inti atau hulunya itu. sedangkan komponen lainnya. Selain itu disebut juga frase subordinatif karena salah satu komponennya. yaitu komponen yang membatasi. atau verba). Frase ini disebut juga frase modifikatif karena komponen keduanya. dan dengan kata-kata yang dirangkaikannya (untuk konjungsi). atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat. dan dari.predikat atau predikat . seperti di. Dilihat dari kategori intinya dibedakan adanya frase nominal (frase endosentrik yang intinya berupa nomina atau pronomina maka . Artinya. berlaku sebagai komponen bawahan. dan komponen keduanya berupa kata atau kelompok kata.objek). atau yang berada di depannya (untuk posposisi).(untuk preposisi). ke. Jenis Frase Frase Eksosentrik Frase eksosentrik adalah frase yang komponen-komponennya tidak mempunyai perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Frase eksosentris biasanya dibedakan atas frase eksosentris yang direktif atau disebut frase preposisional ( komponen pertamanya berupa preposisi.

aspek.frase ini dapat menggantikan kedudukan kata nominal sebagai pengisi salah satu fungsi sintaksis). Frase koordinatif tidak menggunakan konjungsi secara eksplisit disebut frase parataksis. Frase Apositif Frase apositif adalah frase koordinatif yang kedua komponennya saling merujuk sesamanya. maka dapat menggantikan kedudukan kata verbal dalam sintaksis). Dalam bahasa Indonesia perluasan frase tampak sangat produktif. Faktor kedua. frase verbal (frase endosentrik yang intinya berupa kata verba. terutama untuk konsep nomina. Frase Koordinatif Frase koordinatif adalah frase yang komponen pembentuknya terdiri dari dua komponen atau lebih yang sama dan sederajat dan secara potensial dapat dihubungkan oleh konjungsi koordinatif. Artinya. melainkan dinyatakan dengan unsur leksikal. jumlah. atau sangat khusus sekali. atau sangat khusus. modalitas. Perluasan Frase Salah satu ciri frase adalah dapat diperluas. oleh karena itu urutan komponennya dapat dipertukarkan. Artinya. Dan faktor lainnya adalah keperluan untuk memberi deskripsi secara terperinci dalam suatu konsep. bahwa pengungkapan konsep kala. di dalam konstruksi itu ada . frase numeralia (frase endosentrik yang intinya berupa kata numeral). ingkar. Antara lain karena pertama. dan pembatas tidak dinyatakan dengan afiks seperti dalam bahasa-bahasa fleksi. biasanya diterangkan secara leksikal. frase ajektifa (frase edosentrik yang intinya berupa kata ajektiv). jenis. KLAUSA Pengertian Klausa Klausa adalah satuan sintaksis berupa runtunan kata-kata berkonstruksi predikatif. untuk menyatakan konsep-konsep khusus. frase dapat diberi tambahan komponen baru sesuai dengan konsep atau pengertian yang akan ditampilkan.

sedangkan klausa berpotensi menjadi kalimat mayor. Klausa nominal (klausa yang predikatnya berupa nomina atau frase nominal). Klausa numeral (klausa yang predikatnya berupa kata atau frase numeralia). bukan kalimat mayor. sekurang-kurangnya mempunyai subjek dan predikat. mungkin hanya subjek saja. Klausa adverbial (klausa yang predikatnya berupa frase yang berkategori preposisi).komponen. Klausa berpusat adalah klausa yang subjeknya terikat di dalam predikatnya. tetapi hanya sebagai kalimat minor. Frase dan kata juga mempunyai potensi untuk menjadi kalimat kalau kepadanya diberi intonasi final. dan yang lain berfungsi sebagai subjek. objek saja. (2) klausa intransitif (klausa yang predikatnya berupa verba intransitif). meskipun di tempat lain ada nomina atau frase nomina yang juga berlaku sebagai subjek. Perlu dicatat juga istilah klausa berpusat dan klausa tak berpusat. Klausa ajektifal (klausa yang predikatnya berkategori ajektifa. Klausa berpotensi untuk menjadi kalimat tunggal karena di dalamnya sudah ada fungsi sintaksis wajib. (4) klausa resiprokal (klausa yang predikatnya berupa verba resiprokal. yaitu subjek dan predikat. Sesuai dengan adanya tipe verba. Klausa terikat diawali dengan konjungsi subordinatif dikenal dengan klausa subordinatif atau klausa bawahan. dan keterangan. dan mempunyai potensi menjadi kalimat mayor) dan klausa terikat (klausa yang unsurnya tidak lengkap. Berdasarkan kategori unsur segmental yang menjadi predikatnya dapat di bedakan: klausa verbal (klausa yang predikatnya berkategori verba). KALIMAT Pengertian Kalimat . objek. sedangkan klausa lain yang hadir dalam kalimat majemuk disebut klausa atasan atau klausa utama. dikenal adanya (1) klausa transitif (klausa yang predikatnya berupa verba transitif). baik berupa kata maupun frase). berupa kata atau frase. (3) klausa refleksif (klausa yang predikatnya berupa verba refleksif). atau keterangan saja). yang berungsi sebagai predikat. Jenis Klausa Berdasarkan strukturnya klausa dibedakan klausa bebas ( klausa yang mempunyai unsur-unsur lengkap.

Sedangkan dalam kaitannya dengan satuansatuan sintaksis yang lebih kecil (kata. dan klausa) bahwa kalimat adalah satuan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar. transformasi penanyaan. transformasi pengingkaran. yang dalam bahasa tulis dilambangkan dengan tanda seru. Sedangkan kalimat majemuk adalah kalimat yang terdapat lebih dari satu klausa. FNum=Frase Numeral. dilengkapi dengan konjungsi bila diperlukan. adalah kalimat yang dibentuk dari klausa inti yang lengkap bersifat deklaratif. Misalnya: FN + FV + FN + FN : Nenek membacakan kakek komik Ket : FN=Frase Nominal (diisi sebuah kata nominal). bahwa yang penting atau yang menjadi dasar kalimat adalah konstituen dasar dan intonasi final. transformasi pemerintahan. transformasi penambahan. frase. aktif. FP=Frase Preposisi. . dan afirmatif. yang dalam bahasa tulis dilambangkan dengan tanda titik.Dengan mengaitkan peran kalimat sebagai alat interaksi dan kelengkapan pesan atau isi yang akan disampaikan. Kalimat inti dapat diubah menjadi kalimat noninti dengan berbagai proses transformasi: KALIMAT INTI + PROSES TRANSFORMASI = KALIMAT NONINTI Ket : Proses Transformasi antara lain transformasi pemasifan. yaitu intonasi deklaratif. Intonasi final yang ada yang memberi ciri kalimat ada tiga. transformasi pelepasan. yang dalam bahasa tulis dilambangkan dengan tanda tanya. intonasi interogatif. yang biasanya berupa klausa. transformasi pengonversian. FV=Frase Verbal. atau netral. sedangkan konjungsi hanya ada kalau diperlukan. kalimat didefinisikan sebagai “ Susunan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang lengkap ”. biasa juga disebut kalimat dasar. Jenis Kalimat Kalimat Inti dan Kalimat Non-Inti Kalimat inti. FA=Frase Ajektifa. Sehingga disimpulkan. serta disertai dengan intonasi final. Kalimat Tunggal dan Kalimat Majemuk Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya mempunyai satu klausa. dan intonasi seru.

kalimat ini merupakan campuran dari kalimat majemuk koordinatif dan subordinatif sehingga disebut juga kalimat majemuk campuran. Sedangkan kalimat minor klausanya tidak lengkap. . dan diikuti oleh dua buah objek kalau verba tersebut bersifat bitransitif. (3) Kalimat majemuk kompleks yaitu kalimat majemuk yang terdiri dari tiga klausa atau lebih.Berkenaan dengan sifat hubungan klausa-klausa dalam kalimat. sekurang-kurangnya ada unsur subjek dan predikat. yaitu verba yang biasanya diikuti oleh sebuah objek kalau verba tersebut bersifat monotrasitif. Jadi. Secara eksplisit dihubungkan dengan konjungsi koordinatif dan biasanya unsur yang sama disenyawakan atau dirapatkan sehingga disebut kalimat majemuk rapatan. Sedangkan kalimat nonverbal adalah kalimat yang predikatnya bukan kata atau frase verbal. bisa nominal. adverbial. dimana ada yang dihubungkan secara koordinatif dan ada pula yang dihubungkan secara subordinatif. ajektifal. objek saja. atau yang sederajat. atau juga numeralia. atau juga topik pembicaraan. biasanya dibedakan: (1) kalimat transitif adalah kalimat yang predikatnya berupa verba transitif. Kedua klausa itu dihubungkan dengan konjungsi subordinatif. yang setara. Klausa yang satu merupakan klausa atasan dan yang lain disebut klausa bawahan. atau kalimat yang predikatnya berupa kata atau frase berkategori verba. Kalimat Mayor dan Kalimat Minor Kalimat mayor mempunyai klausa lengkap. Berkenaan dengan banyaknya jenis atau tipe verbal. Pandangan kedua. Proses terbentuknya kalimat ini dapat dilihat dari dua sudut bertentangan. konstruksi kalimat subordinatif dianggap sebagai hasil proses perluasan terhadap salah satu unsur klausanya. konteks situasi. dibedakan: (1) kalimat majemuk koordinatif/ kalimat majemuk setara yaitu kalimat majemuk yang klausa-klausanya memiliki status yang sama. predikat saja. konteksnya bisa berupa konteks kalimat. (2) Kalimat majemuk subordinatif adalah kalimat majemuk yang hubungan antara klausa-klausanya tidak setara atau sederajat. (2) kalimat intransitif adalah kalimat yang predikatnya berupa verba intransitif. dipandang sebagai hasil proses menggabungkan dua buah klausa atau lebih. dimana klausa yang satu dianggap sebagai klausa atasan dan yang lain disebut klausa bawahan. entah hanya terdiri subjek saja. Kalimat Verbal dan Kalimat non-Verbal Kalimat verbal adalah kalimat yang dibentuk dari klausa verbal. Pertama. atau keterangan saja.

Kelengkapan sebuah kalimat serta pemahamannya sangat tergantung pada konteks dan situasinya. Nada adalah suprasegmental yang diukur berdasarkan kenyaringan suatu segmen dalam suatu arus ujaran.biasanya dipertentangkan degan kalimat pasif yang ditandai dengan prefiks di. Sedangkan kalimat terikat adalah kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai ujaran yang lengkap. Biasanya kalimat terikat menggunakan salah satu tanda ketergantungan. Kalimat Bebas dan Kalimat Terikat Kalimat bebas adalah kalimat yang mempunyai potensi untuk menjadi ujaran lengkap. tempo. Verba aktif biasanya ditandai dengan prefiks me. atau dapat memulai sebuah paragraf atau wacana tanpa bantuan kalimat atau konteks lain yang menjelaskannya. seperti penanda rangkaian. Tempo adalah waktu yang diperlukan untuk melafalkan suatu arus ujaran. dan penanda anaforis. Jadi. penunjukan. Dari pembicaraan mengenai kalimat terikat. Intonasi Kalimat Intonasi merupakan ciri utama yang membedakan kalimat dari sebuah klausa. atau kalau dibalik.atau diper. (6) kalimat nonverbal adalah kalimat yang predikatnya bukan verba. Dalam bahasa Indonesia dikenal tiga macam nada. sebab bisa dikatakan: kalimat minus intonasi sama dengan klausa. klausa plus intonasi sama dengan kalimat.atau memper.. atau menjadi pembuka paragraf atau wacana tanpa bantuan konteks. dan nada. dapat disimpulkan bahwa sebuah kalimat tidak harus mempunyai struktur fungsi secara lengkap.yaitu verba yang tidak memiliki objek. (5) kalimat statis adalah kalimat yang predikatnya berupa verba yang secara semantis tidak menyatakan tindakan atau kegiatan. (3) kalimat aktif adalah kalimat yang predikatnya kata kerja aktif. kalau intonasi dari sebuah kalimat ditanggalkan maka sisanya yang tinggal adalah klausa. Intonasi dapat diuraikan atas ciri-ciri yang berupa tekanan. yang biasa . Ada juga istilah kalimat aktif anti pasif dan kalimat pasif anti aktif sehubungan dengan adanya sejumlah verba aktif yang tidak dapat dipasifkan dan verba pasif yang tidak dapat dijadikan verba aktif (4) kalimat dinamis adalah kalimat yang predikatnya berupa verba yang secara semantis menyatakan tindakan atau gerakan. Tekanan adalah ciri-ciri suprasegmental yang menyertai bunyi ujaran.

tanda . Fokus. yaitu modus yang menyatakan keharusan. yaitu modus yang menunjukkan sikap objektif atau netral. keadaan. Dalam bahasa Indonesia aspek dinyatakan tidak secara morfemis melainkan dengan berbagai cara dan alat leksikal. Modus. atau proses. (6) modus desideratif. Dalam bahasa Indonesia aspek juga ada yang sudah dinyatakan secara inhern oleh tipe verbanya. dan interjektif. kejadian. yaitu yang menyatakan perbuatan terus berlangsung. antara lain (1) modus indikatif atau modus deklaratif. Aspek Aspek adalah cara untuk memandang pembentukan waktu secara internal di dalam suatu situasi. yaitu modus yang menyatakan keinginan atau kemauan. atau tengahan. Sesungguhnya yang menjadi pembeda antara kalimat deklaratif. yaitu modus yang menyatakan persyaratan. t=turun. yaitu modus yang menyatakan perintah. Aspek. Dalam berbagai bahasa aspek merupakan kategori gramatikal karena dinyatakan secara morfemis.dilambangkan dengan angka “1”. larangan. Modalitas. yaitu modus yang menunjukkan harapan atau keinginan. (4) modus interogatif. (5) modus obligatif. (2) . (3) modus imperatif. yaitu modus yang menyatakan pertanyaan. Berbagai macam aspek dari berbagai bahasa. adalah modus. Ada beberapa macam modus. dan (7) modus kondisional. Kala.di atas huruf=tekanan Tekanan yang berbeda menyebabkan intonasinya juga berbeda. contoh: Bacálah buku itu ! 2 – 32t / 2 11t # Ket: n=naik. interogatif. antara lain: (1) aspek kontinuatif. akibatnya keseluruhan kalimat itu pun akan berbeda. (2) modus optatif. imperatif. dan nada tinggi dilambangkan dengan angka “3”. dan Diatesis Modus Modus adalah pengungkapan atau penggambaran suasana psikologis perbuatan menurut tafsiran si pembaca atau sikap si pembicara tentang apa yang diungkapkannya. nada sedang dilambangkan dengan angka “2”.

(3) aspek progresif. dan kata yang terakhir ini memang dapat mengisi fungsi keterangan. atau juga sikap terhadap lawan bicaranya. Kala ini lazimnya menyatakan waktu sekarang. (4) aspek repetitif. yaitu yang menyatakan perbuatan berakhir. yaitu yang menyatakan perbuatan berlangsung sebentar. keinginan. keadaan. sehingga mereka mengatakan kala sudah. modalitas dinyatakan secara leksikal. atau pengalaman yang disebutkan di dalam predikat. atau juga keizinan. Beberapa bahasa menandai kala itu secara morfemis. tadi. yaitu yang menyatakan peristiwa atau kejadian yang baru mulai.aspek inseptif. Modalitas Modalitas adalah keterangan dalam kalimat yang menyatakan sikap pembicara terhadap hal yang dibicarakan. dan konsep kategori sintaksis. Mungkin juga karena dalam tata bahasa tradisional. istilah keterangan digunakan untuk dua macam konsep. sebagai fungsi sintaksis memberi keterangan terhadap keseluruhan kalimat. dan akan itu “sejenis” dengan kata-kata kemarin. (6) aspek imperfektif. dan peristiwa. sedangkan kala terikat pada verbanya atau predikatnya. pertanyaan kala itu ditandai dengan bentuk kata tertentu pada verbanya. sedang. yaitu konsep fungsi sintaksis. Penyebab kekeliruan itu barangkali karena kata-kata seperti sudah. dan akan adalah keterangan waktu. kejadian. sudah lampau. Padahal keterangan waktu. melainkan secara leksikal. yaitu aspek yang menyatakan perbuatan sedang berlangsung. dan besok yang menyatakan waktu. Dalam bahasa Indonesia dan sejumlah bahasa lain. yaitu mengenai perbuatan. . (5) aspek perefektif. Kala Kala atau tenses adalah informasi dalam kalimat yang menyatakan waktu terjadinya perbuatan. dan keterangan lainnya. tindakan. dan (8) aspek sesatif. dan akan datang. artinya. yaitu yang menyatakan perbuatan sudah selesai. Dalam bahasa Indonesia banyak orang yang mengelirukan konsep kala dengan konsep keterangan waktu sebagai fungsi sintaksis. Bahasa Indonesia tidak menandai kala secara morfemis. Posisinya pun dapat dipindahkan ke awal kalimat atau ke tempat lain. Sikap ini dapat berupa pernyataan kemungkinan. yaitu yang menyatakan perbuatan itu terjadi berulang-ulang. sedang.

dan keharusan. Dalam bahasa Indonesia fokus kalimat dapat dilakukan dengan berbagai cara. yakni jika subjek yang berbuat atau melakukan suatu perbuatan. yakni jika subjek menjadi penyebab atas terjadinya sesuatu. yang. antara lain (1) modalitas intensional. dengan memberi tekanan pada bagian kalimat yang difokuskan. Keempat. Fokus Fokus adalah unsur yang menonjolkan bagian kalimat sehingga perhatian pendengar atau pembaca tertuju pada bagian itu. dengan menggunakan konstruksi posesif anaforis beranteseden. permintaan. kepastian. tetapi ada pula yang menggunakan cara lain. (2) diatesis pasif. (3) modalitas deontik. yaitu modalitas yang menyatakan kemungkinan. Ada bahasa yang mengungkapkan fokus ini secara morfemis. yakni jika subjek berbuat atau melakukan sesuatu terhadap dirinya sendiri. (1) diatesis aktif. (4) diatesis resiprokal. dan (4) modalitas diamik. sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi dan terbesar. harapan. Kelima. (3) diatesis refleksi. yaitu modalitas yang menyatakan keizinan atau keperkeaan. yaitu modalitas yang menyatakan keinginan. Diatesis Diatesis adalah gambaran hubungan antara pelaku atau peserta dalam kalimat dengan perbuatan yang dikemukakan dalam kalimat itu. Kedua. yakni jika subjek yang terdiri dari dua pihak berbuat tindakan berbalasan. jika subjek berbuat atau melakukan sesuatu terhadap dirinya sendiri. atau juga ajakan. Ketiga. dengan menggunakan afiks tertentu. . dengan cara memakai partikel pun. (2) modalitas epistemik. dengan mengontraskan dua bagian kalimat. dan adalah pada bagian kalimat yang difokuskan. yaitu modalitas yang menyatakan kemampuan.Dalam kepustakaan linguistik dikenal adanya beberapa jenis modalitas. tentang. Ada beberapa macam diatesis. dan (5) diatesis kausatif. dengan mengedepankan bagian kalimat yang difokuskan. WACANA Pengertian wacana Wacana adalah satuan bahasa yang lengkap. antara lain. antara lain: Pertama.

antara lain: Pertama. menggunakan kata ganti dia.Sebagai satuan bahasa yang lengkap. mereka. pikiran. menggunakan elipsis. menggunakan hubungan generik . Kedua. dilihat dari penyampaian isinya dibedakan . ini. atau sebaliknya spesifik generik. dan persyaratan kewacanaan lainnya. menggunakan hubungan sebab . Keempat. menggunakan hubungan perbandingan antara isi kedua bagian kalimat. yaitu penghilangan bagian kalimat yang sama yang terdapat kalimat yang lain. konjungsi. Selanjutnya. atau isi antara dua buah kalimat dalam satu wacana. yaitu adanya keserasian hubungan antara unsur-unsur yang ada dalam wacana sehingga isi wacana apik dan benar. Sebagai satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Keenam. Alat Wacana Alat-alat gramatikal yang dapat digunakan untuk membuat sebuah wacana menjadi kohesif.akibat di antara isi kedua bagian kalimat. Ketiga. atau isi antara dua buah kalimat dalam satu wacana. yang bisa dipahami oleh pembaca (dalam wacana tulis) atau pendengar (dalam wacana lisan) tanpa keraguan apapun. dilihat adanya wacana lisan dan wacana tulis. Jenis Wacana Berkenaan dengan sasarannya. atau ide yang utuh. Persyaratan gramatikal dapat dipenuhi kalau dalam wacana itu sudah terbina kekohesifan. atau menghubungkan paragraf dengan paragraf. menggunakan hubungan pertentangan pada kedua bagian kalimat yang terdapat dalam wacana itu. Kedua. gagasan. Kelima. sebuah wacana yang kohesif dan koheren dapat juga dibuat dengan bantuan berbagai aspek semantik. wacana dibentuk dari kalimat-kalimat yang memenuhi persyaratan gramatikal. wacana prosa. Ketiga. nya. maka dalam wacana itu berarti terdapat konsep.spesifik. Selain dengan upaya gramatikal. menggunakan hubungan tujuan di dalam isi sebuah wacana. antara lain: Pertama. yakni alat untuk menghubung-hubungkan bagian-bagian kalimat. dan itu sebagai rujukan anaforis sehingga bagian kalimat yang sama tidak perlu diulang melainkan menggunakan kata ganti. Dilihat dari penggunaan bahasa apakah dalam bentuk uraian ataukah bentuk puitik dibagi wacana prosa dan wacana puisi. menggunakan hubungan rujukan yang sama pada dua bagian kalimat atau pada dua kalimat dalam satu wacana. yaitu bahasa lisan atau bahasa tulis.

para ahli mencoba untuk mengembangkan disiplin kajian baru yang disebut analisis wacana. Dan kasus penurunan tingkat terjadi apabila sebuah konstituen menjadi unsur konstituen lain yang tingkatannya lebih rendah sari tingkatan konstituen asalnya. mengkaji bahasa secara ilmiah. . dalam wacana –wacana singkat sub-subsatuan wacana tidak ada. dibangun oleh subsatuan atau sub-subsatuan wacana yang disebut bab. Analisis wacana menginterpretasi makna sebuah ujaran dengan memperhatikan konteks. frase. sebuah satuan menjadi konstituen dalam jenjang. Kalau dalam urutan normal kenaikan tingkat atau penurunan tingkat terjadi pada jenjang berikutnya yang satu tingkat ke atas atau satu tingkat ke bawah. Kasus pelapisan tingkat terjadi kalau sebuah konstituen menjadi unsur konstituen pada konstruksi yang tingkatannya sama. Subsatuan Wacana Dalam wacana berupa karangan ilmiah. sebab konteks menentukan makna ujaran. Sejarah Singkat Kajian Wacana Pada mulanya linguistik merupakan bagian dari filsafat. misalnya faktor budaya masyarakat pemakai bahasa. sedangkan konteks etnografi berbentuk serangkaian ciri faktor etnografi yang melingkupinya. wacana eksposisi. Dalam praktek berbahasa banyak faktor yang menyebabkan terjadinya penyimpangan urutan. Linguistik modern.menjadi wacana narasi. Akibatnya. morfem. frase. atau juga subparagraf. Kajian linguistik rupanya belum memuaskan. fonem. subbab. yang dipelopori oleh Ferdinand de Saussure pada akhir abad ke-19. dan kalimat serta unsur makna (semantik). CATATAN MENGENAI HIERARKI SATUAN Urutan hierarki satuan-satuan linguistik bahwa satuan yang satu tingkat lebih kecil akan membentuk satuan yang lebih besar yaitu : wacana. Manfaat melakukan kegiatan analisis wacana adalah memahami hakikat bahasa. Namun. kata. dua tingkat di atasnya. paragraf. Kajian lingusitik modern pada umumnya terbatas pada masalah unsur-unsur bahasa. wacana persuasi dan wacana argumentasi. seperti bunyi. sekurangkurangnya. Konteks meliputi konteks linguistik dan konteks etnografi. Konteks linguistik berupa rangkaian kata-kata yang mendahului atau yang mengikuti. kalimat. Banyak permasalahan bahasa yang belum dapat diselesaikan. klausa. Urutan hierarki tersebut adalah urutan normal teoritis. maka dalam pelompatan tingkat terjadi peristiwa. kata.

Kegiatan Belajar 2: Pengertian Wacana dan Analisis Wacana Wacana merupakan satuan bahasa di atas tataran kalimat yang digunakan untuk berkomunikasi dalam konteks sosial. Kegiatan Belajar 3: Persyaratan Terbentuknya Wacana Penggunaan bahasa dapat berupa rangkaian kalimat atau rangkaian ujaran (meskipun wacana dapat berupa satu kalimat atau ujaran). Ellis. Evelyn dan Michael H. Elinor dan Bambi B. Discourse Analysis. Wacana yang berupa rangkaian kalimat atau ujaran harus mempertimbangkan prinsip-prinsip tertentu. Herbert H. dan Eve V. Schieffelin (ed) Acquiring Conversational Competence. Oxford: University Press. Oxford: Oxford University. Analisis wacana merupakan suatu kajian yang meneliti atau menganalisis bahasa yang digunakan secara alamiah. Clark. Wacana dapat berbentuk lisan atau tulis dan dapat bersifat transaksional atau interaksional. Discourse. Clark. Hatch. Psychology and Language. (1983). Cambridge: Cambridge University Press. London: Rutledge & Kegan Paul. (1983). Long. . prinsip keutuhan (unity) dan kepaduan (coherent). wacana terlihat sebagai hasil dari pengungkapan ide/gagasan penyapa.(1986). E. Rowly: New Bury House Pub. sedangkan wacana dikatakan padu apabila kalimat-kalimatnya disusun secara teratur dan sistematis sehingga menunjukkan kerunutan ide yang diungkapkan. (1989). (1980). Ochs. Gillian dan George Yule. Understanding Second Language Acquisition. DAFTAR PUSTAKA Brown.memahami proses belajar bahasa dan perilaku berbahasa. sedangkan dalam komunikasi secara tulis. dapat dilihat bahwa wacana sebagai proses komunikasi antarpenyapa dan pesapa. Diane (ed). What’s That dalam Larsen-Freeman. New York: Harcourt Brace Jovanovich. Wacana dikatakan utuh apabila kalimat-kalimat dalam wacana itu mendukung satu topik yang sedang dibicarakan.Guy. Discourse Analysis in Second Language Research. Satuan bahasa itu dapat berupa rangkaian kalimat atau ujaran. Keenan. Conversational Competence in Children dalam Ochs. (1977). Cook. baik dalam bentuk tulis maupun lisan. Discourse Analysis. Dalam peristiwa komunikasi secara lisan. Disiplin ilmu yang mempelajari wacana disebut dengan analisis wacana.

Malang: IKIP Malang. A Theory of Discourse.J. Dalam relasi itu. Kegiatan Belajar 3: . Sinclair. Rani. Malang: PPS IKIP Malang (tesis tidak diterbitkan). Analisis Wacana Percakapan Anak-anak Usia Prasekolah. (1998). Elemen luar inti adalah elemen yang berisi informasi tambahan. Dalam relasi subordinatif itu terdapat atasan dan elemen bawahan. Rani. Mch. (1983) Discourse Analysis. Dalam jenis ini tidak ada elemen atasan dan bawahan. (1992). yakni elemen wajib dan elemen mana suka. (1986). J. Abdul. sedangkan elemen mana suka bersifat boleh hadir dan boleh juga tidak hadir bergantung pada kebutuhan komunikasi. Elemen inti adalah elemen yang berisi informasi utama. W. Chicago: The University at Chicago Press. Elemen-elemen itu tertata secara sistematis dan hierarkis. Berdasarkan sifat kehadirannya. Samsuri. masing-masing elemen memiliki kedudukan yang otonom dalam membentuk teks. Analisis Wacana Iklan Radio yang Berbahasa Indonesia. Towards on Analysis of Discourse. informasi yang paling penting. Relasi atribut berkaitan dengan relasi subordinatif karena relasi atribut juga berarti relasi antara elemen atasan dengan elemen bawahan. Elemen wajib bersifat wajib hadir. dan R.S.M. Modul 2: STRUKTUR WACANA BAHASA INDONESIA Kegiatan Belajar 1: Elemen-elemen Wacana Elemen-elemen wacana adalah unsur-unsur pembentuk teks wacana. Michael. (1992). Stubbs. James L. (1971). (tesis). Relasi komplementatif adalah relasi antarelemen yang bersifat saling melengkapi. Martutik. Berdasarkan nilai informasinya ada elemen inti dan elemen luar inti. Relasi koordinatif adalah relasi antarelemen yang memiliki kedudukan setara. (1979). Analisis Wacana Interaktif. Analisis Wacana. Poerwadarminta. Oxford: Oxford University Press. Kamus Umum Bahasa Indonesia. London: WW Norton and Company. Kegiatan Belajar 2: Relasi Antarelemen dalam Wacana Ada berbagai relasi antarelemen dalam wacana. Coulthard. (1996). Relasi subordinatif adalah relasi antarelemen yang kedudukannya tidak setara. Abdul. (Bahan Ajar di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya).Keneavy. Relasi atribut adalah relasi antara elemen inti dengan atribut. Jakarta: Balai Pustaka. elemen wacana terbagi menjadi dua kategori. informasi yang tidak sepenting informasi utama.

Hasan. University Press. Text. (4) T-T. Istilah referensi dalam analisis wacana adalah ungkapan kebahasaan yang dipakai seorang pembicara/penulis untuk mengacu pada suatu hal yang dibicarakan. London: Longman. Sabarti. (a) adanya acuan yang bergeser.K. . dkk. dkk. Cohesion in English. Dalam membuat inferensi perlu dipertimbangkan implikatur. Akhadiah. dan Hasan R. (3) P-T. Gillian & George Yule. (1980). Cook. Berdasarkan mekanisme pertukaran dapat dikemukakan pola-pola pertukaran berikut: (1) P-S. dan (6) Pr-T DAFTAR PUSTAKA Alwi. (1995). London: Longman. Soenjono. Implikatur adalah makna tidak langsung atau makna tersirat yang ditimbulkan oleh apa yang terkatakan (eksplikatur). Dardjowidjojo. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Guy. dan (c) ungkapan yang sama mengacu pada hal yang berbeda. yakni organisasi elemen-elemen wacana dalam membentuk wacana.A. Inferensi adalah membuat simpulan berdasarkan ungkapan dan konteks penggunaannya. (1993). tetapi acuannya sama. Discourse dan Process. Elemen dalam Wacana dan Penerapannya pada Bahasa Indonesia. (2) T-J. Discourse. Discourse Analysis. Struktur wacana dapat diperikan berdasarkan peringkat keutamaan atau pentingnya informasi dan pola pertukaran. (1985). Halliday. (1989). Dalam menafsirkan acuan perlu diperhatikan. Brown. baik dalam konteks linguistik maupun dalam konteks nonlinguistik. Cambridge: Cambridge.Struktur Wacana Bahasa Indonesia Struktur wacana adalah bangun konstruksi wacana. M. Modul 3: REFERENSI DAN INFERENSI SERTA KOHESI DAN KOHERENSI WACANA BAHASA INDONESIA Kegiatan Belajar 1: Referensi dan Inferensi Wacana Bahasa Indonesia Referensi dalam analisis wacana lebih luas dari telaah referensi dalam kajian sintaksis dan semantik. Oxford: Oxford University Press. Berdasarkan peringkat keutamaan informasi ada wacana yang mengikuti pola segitiga tegak dan ada wacana yang mengikuti pola segitiga terbalik. R. Makalah disajikan pada Seminar Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. (b) ungkapan berbeda. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta de Beaugrande. (5) Pr-S. (1983). (1976).

Modul 4: JENIS-JENIS WACANA BAHASA INDONESIA Kegiatan Belajar 1: Wacana Lisan dan Tulis Berdasarkan saluran yang digunakan dalam berkomunikasi. M. Jakarta: Sastra Hudaya. Chicago: The University at Chicago Press. Samsuri. Cara lain adalah menggunakan bentuk-bentuk yang mempunyai hubungan parataksis dan hipotaksis (parataxis and hypotaxis). Jenis alat kohesi ada 3. Montgomery and Bazil. wacana dibedakan atas wacana tulis dan wacana lisan. Wacana lisan cenderung kurang terstruktur (gramatikal). Cambridge: Cambridge University Press. Analisis Wacana. penataan subordinatif lebih sedikit. dan berstruktur subjek- . Wacana lisan berbeda dari wacana tulis. (1985). dan berstruktur topik-komen. (1983). (1981). Penataan koordinatif berarti menata ide yang sejajar secara beruntun. (1983) Discourse Analysis. Ethnography and Language in Educational setting. penataan subordinatif lebih banyak. (ed). frasa benda panjang. Sebaliknya wacana tulis cenderung gramatikal. Malang: IKIP Malang. dan Wallat C. konjungsi. (1988). (1989). Coulthard. Hubungan parataksis itu dapat diciptakan dengan menggunakan pernyataan atau gagasan yang sejajar (coordinative) dan subordinatif. Koherensi adalah kepaduan gagasan antarbagian dalam wacana. Namun bukan berarti kohesi tidak penting. Samsuri. dalam sebuah teks koherensi lebih penting dari kohesi. Studies in Discourse Analysis London: Rutledge and Kegan Paul Ltd. Tata Kalimat Bahasa Indonesia. New Jersey: Ablex Publishing Corporation. Green. frasa benda tidak panjang. Stubbs. Malcolm dan Martin Montgomery (ed).Guy. Norwood.“Developing a Description of Spoken Discourse dalam Coulthard. menggunakan piranti hubung. Discourse. Kohesi merupakan salah satu cara untuk membentuk koherensi. Oxford: University Press. dan leksikal. jarang menggunakan piranti hubung (alat kohesi). (1981). Discourse Analysis. Oleh sebab itu. yaitu substitusi. Kohesi merupakan salah satu unsur pembentuk koherensi. Michael. DAFTAR PUSTAKA Brown. Cook. D. Gillian dan George Yule. J.Kegiatan Belajar 2: Kohesi dan Koherensi Wacana Bahasa Indonesia Istilah kohesi mengacu pada hubungan antarbagian dalam sebuah teks yang ditandai oleh penggunaan unsur bahasa sebagai pengikatnya.

Cook. M. persuasi. Eksposisi. Aspek kejiwaan yang dapat mencerna wacana narasi adalah emosi. dan narasi. dan polilog. Dengan demikian. dikenal ada wacana deskripsi. Apabila peserta dalam komunikasi itu 2 orang dan terjadi pergantian peran (dari pembicara menjadi pendengar atau sebaliknya) maka wacana yang dibentuknya disebut dialog. dialog. Untuk mempertahankan argumen diperlukan bukti yang mendukung.Guy. Diane (ed). Discourse. Sedangkan wacana eksposisi bertujuan untuk menerangkan sesuatu hal kepada penerima agar yang bersangkutan memahaminya. D. Dialog. Rowley: Newbury House Pub. Kegiatan Belajar 2: Wacana Monolog. Turns. pembicara tidak berganti peran sebagai pendengar. Gillian dan George Yule. Wacana persuasi bertujuan mempengaruhi penerima pesan agar melakukan tindakan sesuai yang diharapkan penyampai pesan. Apabila dalam suatu komunikasi hanya ada satu pembicara dan tidak ada balikan langsung dari peserta yang lain maka wacana yang dihasilkan disebut monolog. Oleh sebab itu. (1980). yaitu wacana monolog. Wacana argumentasi bertujuan mempengaruhi pembaca atau pendengar agar menerima pernyataan yang dipertahankan. Malcolm dan Martin Montgomery (ed). Montgomery and Bazil. Untuk mencapai tujuan tersebut. Wacana eksposisi dapat berisi konsep-konsep dan logika yang harus diikuti oleh penerima pesan. R. Studies in Discourse . Coulthard. Oleh karena itu. pelaku. Jika peserta dalam komunikasi lebih dari dua orang dan terjadi pergantian peran maka wacana yang dihasilkan disebut polilog. digunakan segala upaya yang memungkinkan penerima pesan terpengaruh. untuk memahami wacana eksposisi diperlukan proses berpikir. Cambridge: Cambridge University Press. (1983). Wacana narasi merupakan satu jenis wacana yang berisi cerita. and Tasks: Pattern of Participation in Language Learning and Teaching dalam Larsen-Freeman. dan Polilog Berdasarkan jumlah peserta yang terlibat pembicaraan dalam komunikasi. Argumentasi. (1989). Untuk mempengaruhi ini. argumentasi. Wacana deskripsi bertujuan membentuk suatu citra (imajinasi) tentang sesuatu hal pada penerima pesan. dan peristiwa. Brown. (1981). Discourse Analysis in Second Language Research. eksposisi. Discourse Analysis. DAFTAR PUSTAKA Allwright. Persuasi dan Narasi Dilihat dari sudut pandang tujuan berkomunikasi. Kegiatan Belajar 3: Wacana Deskripsi.L. Oxford: University Press.predikat. baik yang didasarkan pada pertimbangan logika maupun emosional. ada 3 jenis wacana. unsur-unsur yang biasa ada dalam narasi adalah unsur waktu. wacana persuasi kadang menggunakan alasan yang tidak rasional. Developing a Description of Spoken Discourse dalam Coulthard. Topic.

dan R. monolog atau polilog) Pengguna bahasa harus memperhatikan konteks agar dapat menggunakan bahasa secara tepat dan menentukan makna secara tepat pula. Secara garis besar. topik atau kerangka topik.M. kata kerja bantu. Michael. latar. saluran (bahasa lisan atau tulis). Koteks adalah teks yang berhubungan dengan sebuah teks yang lain. bentuk komunikasi (dialog. yakni konteks linguistik dan konteks ekstralinguistik. seperti partisipan. Kegiatan Belajar 2: Macam-macam Konteks Konteks adalah sesuatu yang menyertai atau yang bersama teks. (1986). Londan: Rutledge & Kegan Paul. Koteks dapat pula berupa unsur teks dalam sebuah teks. Dengan kata lain. dapat berupa kalimat. Partisipan adalah pelaku atau orang yang berpartisipasi dalam . Towards on Analysis of Discourse. Stubbs. (1979). Konteks linguistik yang juga berupa teks atau bagian teks dan menjadi lingkungan sebuah teks dalam wacana yang sama dapat disebut konteks ekstralinguistik berupa hal-hal yang bukan unsur bahasa. konteks wacana dibedakan atas dua kategori. (1998). Konteks yang harus diperhatikan adalah konteks linguistik dan konteks ekstralinguistik. Konteks ekstralinguistik itu mencakup praanggapan. J. pengguna bahasa senantiasa terikat konteks dalam menggunakan bahasa. Keenan. saluran. (1983). Ochs. Schieffelin (ed) Acquiring Conversational Competence. E. latar atau setting (tempat. Malang: IKIP Malang. dan peristiwa). Konteks linguistik itu mencakup penyebutan depan. partisipan. Oxford: Oxford University. Chicago: The University at Chicago Press. Analisis Wacana. Mch. sifat kata kerja. dan proposisi positif Di samping konteks ada juga koteks. Konteks tersebut dapat berupa konteks linguistik dan dapat pula berupa konteks ekstralinguistik. Conversational Competence inf Children dalam Ochs. Oxford: Oxford University Press. Sinclair. Understanding Second Language Acquisition. Samsuri. Wujud koteks bermacam-macam. topik. (1983) Discourse Analysis. Modul 5: KONTEKS WACANA BAHASA INDONESIA Kegiatan Belajar 1: Hakikat Konteks Konteks adalah benda atau hal yang berada bersama teks dan menjadi lingkungan atau situasi penggunaan bahasa.Analysis London: Rutledge and Kegan Paul Ltd. Elinor dan Bambi B. Ellis. Konteks linguistik adalah konteks yang berupa unsur-unsur bahasa. paragraf. waktu. dan kode. Konteks ekstralinguistik adalah konteks yang bukan berupa unsur-unsur bahasa. dan bahkan wacana. Coulthard.

Penggunaan konteks untuk mencari bentuk tak terujar. Brown. (1980). Orasi Ilmiah dalam Rangka Pengukuhan Guru Besar IKIP Malang. London: Longman. Kode adalah bahasa atau dialek yang digunakan dalam wacana.A. Cook. (1976). Soeseno. Jakarta de Beaugrande. yaitu bentuk yang memiliki unsur tak terujar atau bentuk eliptis adalah bentuk yang hanya dapat ditentukan berdasarkan konteks. DAFTAR PUSTAKA Alwi. Discourse Analysis. (1983). Saluran adalah ragam bahasa dan sarana yang digunakan dalam penggunaan wacana. yaitu bahwa maksud sebuah tuturan ditentukan oleh konteks wacana. Text. Makalah disajikan pada Seminar Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. (1989). Penggunaan konteks untuk mencari acuan. baik itu konteks linguistik ataupun konteks ekstralinguistik. Discourse dan Process. Soenjono. Dardjowidjojo. yaitu pembentukan acuan berdasarkan konteks linguistik. Elemen dalam Wacana dan Penerapannya pada Bahasa Indonesia. Discourse. Halliday. (1985). Cambridge: Cambridge University Press.Guy. Analisis Wacana dan Penerapannya. Tiga manfaat konteks dalam analisis wacana. dkk.peristiwa komunikasi berbahasa. (1976). mitra tutur. Kegiatan Belajar 3: Penggunaan Konteks dalam Analisis Wacana Dalam menganalisis wancana sasaran utamanya bukan pada struktur kalimat tetapi pada status dan nilai fungsional kalimat dalam konteks. Partisipan mencakup penutur. 3. Modul 6: ANALISIS WACANA Kegiatan Belajar 1: . Oxford: University Press. Gillian dan George Yule. R. Cohesion in English.K. Kartomihardjo. dan Hasan R. dan pendengar. Hasan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Latar adalah tempat dan waktu serta peristiwa beradanya komunikasi. London: Longman. M. Penggunaan konteks untuk menentukan maksud tuturan. 2. 1. (1993). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.

Hal itu berarti bahwa analis tidak harus memperhitungkan semua konteks wacana. pembaca. struktur wacana. . analis sudah dapat memahami wacana dengan konteks yang relevan saja. koherensi dan kohesi wacana. Skemata berfungsi baik bagi pembaca/pendengar wacana maupun bagi analis wacana. yaitu elemen wacana. Kegiatan Belajar 3: Analisis Kohesi dan Koherensi Praktik analisis wacana dilaksanakan dengan menerapkan prinsip interpretasi lokal dan prinsip interpretasi analogi. Dalam analisis itu diterapkan konteks yang relevan dengan kebutuhan analisis. skemata berfungsi untuk memahami wacana. Ada 2 cara yang disebut pengaktifan dalam struktur itu. Dengan interpretasi analogi itu. kohesi. skemata juga berfungsi untuk melakukan analisis berbagai aspek wacana. Bagi analis wacana. Ketiga. Kedua. acuan kewacanaan. tetapi petunjuk-petunjuk yang disajikan oleb penulis tidak cukup memberikan saran tentang skemata yang dibutuhkan. antara lain untuk menetapkan hubungan antarelemen wacana dan alat-alat kohesi yang berlaku dalam sebuah teks. dan lain-lain. tetapi juga dapat berupa waktu. di samping berfungsi untuk memahami wacana. Kegiatan Belajar 2: Skemata dalam Analisis Wacana Skemata adalah pengetahuan yang terkemas secara sistematis dalam ingatan manusia. Pengaktifan atas ke bawah adalah proses pengendalian skemata dari konsep ke data atau dari keutuhan ke bagian.Prinsip Interpretasi Lokal dan Prinsip Analisis Dalam analisis wacana berlaku dua prinsip. pendengar/pembaca mungkin tidak mempunyai skemata yang sesuai dengan teks yang dihadapinya. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. mungkin mendapatkan penafsiran wacana secara tetap sehingga gagal memahami maksud penutur. dan koherensi yang dapat dioperasionalkan. yakni prinsip interpretasi lokal dan prinsip analogi. Prinsip interpretasi lokal adalah prinsip interpretasi berdasarkan konteks. Analisis wacana dapat diarahkan pada struktur. pendengar/pembaca mungkin sudah mempunyai skemata yang sesuai. yakni (1) cara pengaktifan dari atas ke bawah dan (2) cara pengaktifan dari bawah ke atas. Kegagalan pemahaman wacana terjadi karena tiga kemungkinan. Bagi pendengar/pembaca. yakni cara pengaktifan skemata sesuai dengan kebutuhan. DAFTAR PUSTAKA Alwi. Prinsip interpretasi analogi adalah prinsip interpretasi suatu wacana berdasarkan pengalaman terdahulu yang sama atau yang sesuai. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Konteks nonlinguistik yang merupakan konteks lokal tidak hanya berupa tempat. Skemata itu memiliki struktur pengendalian. dkk. Pertama. Hasan. baik konteks linguistik atau koteks maupun konteks nonlinguistik. (1993). Pengaktifan bawah ke atas adalah proses pengendalian skemata dari data ke konsep atau dari bagian ke keutuhan. ranah penggunaan wacana. dan partisipan.

Kalimat pokok adalah kalimat yang inti dari ide atau gagasan dari sebuah paragraf. R. Elemen dalam Wacana dan Penerapannya pada Bahasa Indonesia. Kalimat Pokok Biasanya diletakkan pada awal paragraf. . Paragraf dikenal juga dengan nama lain alinea. (1976).Syarat sebuah paragraf Di setiap paragraf harus memuat dua bagian penting. .K. Jakarta de Beaugrande. Halliday. Terdapat ide atau gagasan yang menarik dan diperlukan untuk merangkai keseluruhan tulisan. Pengertian Paragraf / Alinea dan Bagian dari Paragraf . Kalimat Penjelas Kalimat penjelas adalah kalimat yang memberikan penjelasan tambahan atau detail rincian dari kalimat pokok suatu paragraf. Biasanya berisi suatu pernyataan yang nantinya akan dijelaskan lebih lanjut oleh kalimat lainnya dalam bentuk kalimat penjelas. Cohesion in English. (1989). Discourse Analysis.A. London: Longman. Soenjono. London: Longman. Paragraf dibuat dengan membuat kata pertama pada baris pertama masuk ke dalam (geser ke sebelah kanan) beberapa ketukan atau spasi. (1980). (1976). Soeseno. Makalah disajikan pada Seminar Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Guy. yakni : 1. (1985).Brown.12:24am — godam64 Paragraf adalah suatu bagian dari bab pada sebuah karangan atau karya ilmiah yang mana cara penulisannya harus dimulai dengan baris baru. Cook. B.Bagian-Bagian Suatu Paragraf yang Baik A. (1983). Discourse dan Process. Gillian dan George Yule. Kartomihardjo. Discourse. M. Dardjowidjojo. Oxford: University Press. 08/05/2006 . 2. dan Hasan R. Orasi Ilmiah dalam Rangka Pengukuhan Guru Besar IKIP Malang. Demikian pula dengan paragraf berikutnya mengikuti penyajian seperti paragraf pertama.Bahasa Indonesia Mon. tetapi bisa juga diletakkan pada bagian tengah maupun akhir paragraf. • bahasa indonesia . Cambridge: Cambridge University Press. Analisis Wacana dan Penerapannya. Text. Kalimat yang satu dengan yang lain saling berkaitan dan berhubungan dengan wajar.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful