STUDI TENTANG PERWALIAMANATAN DI PASAR MODAL INDONESIA

Oleh: Tim Studi Perwaliamanatan Di Pasar Modal Indonesia

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL PROYEK PENINGKATAN EFISIENSI PASAR MODAL TAHUN 2005

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Daftar Isi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Tujuan dan Manfaat C. Metode Studi D. Organisasi Studi E. Waktu Studi BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi dan Pengertian B. Fungsi dan Tanggung Jawab Wali Amanat C. Pendaftaran, Pelaporan Dan Pemeliharaan Dokumen D. Aspek Hukum Perwaliamanatan BAB III PEMAPARAN DAN ANALISIS HASIL STUDI A. Pola Kontrak Perwaliamanatan Di Pasar Modal Indonesia B. Masalahan dan Kendala Yang Dihadapi Wali Amanat C. Pembahasan Hasil Kuesioner BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan B. Rekomendasi Daftar Pustaka Lampiran

Hal i iv

1 3 3 4 4

5 10 12 15 18 29 35 63 66

iv

KATA PENGANTAR

Keberadaan Wali Amanat dalam kegiatan Pasar Modal di Indonesia memegang peran yang sangat vital, terutama dalam kaitannya dengan penerbitan efek bersifat utang. Dalam Undang-undang No. 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal, Wali Amanat didefinisikan sebagi Pihak yang mewakili kepentingan pemegang efek yang bersifat utang baik di dalam maupun di luar pengadilan. Beberapa aspek menyangkut kegiatan Wali Amanat di pasar modal, diantaranya mencakup penyusunan kontrak perwaliamanatan dengan Emiten, monitoring Emiten atas pemenuhan kewajiban-kewajibannya dan ketentuan lain dalam kontrak perwaliamanatan, penyampaian laporan dan keterbukaan informasi, penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Obligasi, serta pelaksanaan keputusan RUPO. Dibalik pentingnya peran Lembaga Penunjang Pasar Modal ini, kegiatan pengkajian dan evaluasi atas kinerja mereka selama ini dirasakan masih sangat sedikit, sehingga pengembangan dari sisi regulasi, pengawasan dan pembinaan oleh Bapepam selaku otoritas pasar modal juga belum berjalan optimal. Dari sisi peraturan yang ada saat ini, Undang-undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal telah memberikan rambu-rambu yang mengatur pelaksanaan tugas Wali Amanat berikut tanggung jawab yang harus diembannya. Sebagai peraturan pelaksananya, di tingkat Peraturan Bapepam telah terdapat 3 peraturan tentang Wali Amanat, khususnya berkenaan dengan pendaftaran, pelaporan serta pemeliharaan dokumen. Namun demikian, ketentuan-ketentuan yang ada tersebut masih terdapat beberapa masalah yang dirasa cukup mendesak untuk dilakukan pengaturan, seperti dari aspek

i

akibat dari wanprestasi Emiten serta proses restrukturisasi obligasi. seperti adanya ketentuan pembelian kembali efek bersifat utang oleh Emiten (buy back). obligasi subordinasi. kontrak perwaliamanatan serta berbagai aspek teknis pelaksanaan tugas Wali Amanat dalam mewakili kepentingan pemegang efek bersifat utang lainnya. Ketentuan yang diatur dalam Kontrak Perwaliamanatan sebagai dasar penerbitan efek bersifast utang saat ini juga sudah lebih kompleks dengan berbagai kondisi atau klausula yang terus berkembang. seperti obligasi dan produk-produk keuangan lain. pengurangan nilai pokok obligasi berdasarkan periode tertentu (amortisasi). jaminan obligasi berupa piutang dan lain sebagainya. saat ini banyak beredar obligasi amortisasi. Perkembangan kondisi tersebut di atas sudah barang tentu menimbulkan implikasi berupa tuntutan yang semakin besar akan peningkatan kualitas jasa dan profesionalisme dari Wali Amanat. terutama di pihak pemegang obligasi.independensi dan profesionalisme Wali Amanat. Investor efek bersifat utang di pasar modal Indonesia memerlukan Wali Amanat yang memiliki kemampuan memahami dan menganalisis struktur efek surat hutang dengan ketentuanii . standar pelaporan dan keterbukaan informasi. atau obligasi berdasarkan prinsip syariah. Sementara itu. Jenis maupun kompleksitas struktur obligasi yang diterbitkan Emiten di Indonesia juga telah semakin meningkat. ketentuan call option dan put option. yang menghasilkan solusi yang belum memuaskan para pihak. Sebagai contoh. obligasi dengan beberapa seri dengan variasi tingkat suku bunga. kode etik. Iklim investasi di Indonesia yang semakin membaik telah kembali menarik kegiatan penerbitan surat hutang. ketentuan rapat umum pemegang obligasi berkaitan dengan perubahan kondisi penting dalam obligasi. sampai saat ini masih terdapat penyelesaian masalah antara Emiten dengan pemegang obligasi.

perlu dipikirkan cara agar posisi tawar Wali Amanat dalam berhadapan dengan Emiten yang selama ini dirasa belum seimbang. dipandang perlu untuk melakukan suatu studi guna mengetahui tingkat kinerja dan pelaporan aktivitas Wali Amanat. tim studi berharap hasil penelitian ini akan dapat bermanfaat bagi pengembangan pasar modal Indonesia pada umumnya dan optimalisasi peran dan fungsi Wali Amanat dalam mewakili kepentingan investor obligasi pada khususnya. serta kemungkinan peningkatan pembinaan dan pengaturan yang dapat dilakukan oleh Bapepam. Selain itu. agar dapat ditempatkan pada keadaan yang semestinya.ketentuan dalam kontrak perwaliamanatan yang semakin komplek agar kepentingan pemegang efek bersifat utang dapat terlindungi. supaya lembaga ini dapat menjalankan tugasnya dengan lebih independen dan profesional. Berdasarkan uraian di atas. Wassalam. masalah-masalah yang dihadapi dalam praktik. Kritik dan saran konstruktif sangat kami hargai sebagai masukan bagi kami dalam penyempurnaan hasil penelitian ini. Ketua Tim Studi iii . Akhirnya.

Wali Amanat 1 . terutama dalam perundingan dengan pihak-pihak terkait untuk menyusun suatu kontrak perwaliamanatan. Wali Amanat berkewajiban memonitor kondisi Emiten dan memastikan kepatuhan Emiten terhadap ketentuan dalam kontrak perwaliamanatan yang telah dibuat. Bila dipandang perlu.BAB I PENDAHULUAN A. termasuk hak dan kewajiban para pihak yang terlibat. Selain tugas-tugas di atas. Sebagai pihak yang mewakili kepentingan pemegang efek bersifat utang baik di dalam maupun di luar pengadilan. ataupun memanggil rapat umum pemegang efek bersifat utang untuk menentukan langkah yang akan diambil. selama umur efek bersifat utang. Kontrak perwaliamanatan inilah yang menjadi dasar utama dalam mengatur syarat dan kondisi penerbitan efek bersifat utang. salah satu pihak yang berperan penting dalam kegiatan penerbitan efek bersifat utang disamping Emiten sendiri. adalah Wali Amanat. peran Wali Amanat ini sudah mulai berjalan sebelum efek bersifat utang diterbitkan. maka Wali Amanat harus melakukan tindakan tindakan yang diperlukan. Wali Amanat akan bertindak mewakili pemegang efek bersifat utang untuk melakukan tindakan di pengadilan dalam rangka memperjuangkan hak-hak pemegang efek bersifat utang. Apabila terjadi pelanggaran dalam pemenuhan kewajiban maupun covenants yang ada. LATAR BELAKANG Dalam kegiatan bisnis di pasar modal. Selanjutnya. seperti meminta Emiten melakukan langkah-langkah untuk memperbaiki pelanggaran tersebut.

2 .C. Dalam Pasal 50 telah diatur mengenai siapa saja yang dapat melakukan kegiatan sebagai Wali Amanat beserta persyaratannya. seperti persyaratan dan tata cara pendaftaran Wali Amanat (Pasal 50 ayat (3)).8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.1) dan pemeliharaan dokumen (Peraturan NomorX. batasan hubungan kredit yang diperbolehkan dengan Emiten (Pasal 51 ayat (3)). berupa kajian dan evaluasi mengenai sejauh mana pengembangan di bidang regulasi di bidang ini dapat dilakukan. dalam Pasal 53 telah diatur juga tentang tanggung jawab Wali Amanat apabila tidak menjalankan tugasnya dengan baik.2) sebagai ketentuan pelaksana pasal 50 ayat (3).I. Undang-undang Pasar Modal telah mengamanatkan beberapa hal yang wajib diatur lebih lanjut oleh peraturan Bapepam. Sikap independen yang wajib dimiliki dalam menjalankan tugasnya dapat tersimpul dari ketentuan pasal 51 yang melarang adanya hubungan afiliasi dan hubungan kredit dalam jumlah tertentu dengan Emiten. Kondisi ini tentu saja memerlukan perhatian dari Bapepam. penggunaan jasa Wali Amanat (pasal 51 ayat (4)). Fungsi dan kedudukan Wali Amanat secara garis besar telah diatur dalam Undang-undang No. Ketentuan Bapepam yang lain mengatur mengenai kewajiban pelaporan (Peraturan Nomor X. serta ketentuan mengenai kontrak perwaliamanatan yang dibuat antara Emiten dengan Wali Amanat (Pasal 52).2). serta larangan menjadi penanggung atas efek bersifat utang yang sama (pasal 54). dari beberapa hal yang diamanatkan tersebut.I. Namun demikian. Selain itu. Konsekuensi hukum tersebut berupa kewajiban mengganti kerugian yang timbul kepada pemegang efek bersifat utang yang diwakilinya. hingga saat ini Bapepam baru menetapkan peraturan mengenai tatacara pendaftaran Wali Amanat (Peraturan Nomor VI.pada umumnya juga berperan sebagai agen pembayaran atas kupon bunga dan utang pokok Emiten.

pada akhirnya investorlah yang sering dirugikan apabila hal tersebut terjadi. Hal tersebut seperti makin banyaknya obligasi yang diterbitkan tanpa jaminan khusus. tetapi di sisi yang lain timbul beberapa kekhawatiran mengenai risiko yang timbul apabila pihak Emiten melakukan cedera janji atas kewajiban utangnya. ketiadaan pedoman yang dapat dijadikan dasar bagi Wali Amanat untuk merundingkan pasal-pasal dalam kontrak perwaliamanatan mengakibatkan Wali Amanat kurang mampu menghasilkan isi kontrak yang cukup dapat melindungi pemegang efek bersifat utang. dapat terlihat bahwa kecenderungan Emiten untuk meminta syarat-syarat yang ringan dalam penerbitan efek bersifat utang lebih dapat terakomodasi. Dari sini sudah terlihat ketidakseimbangan kedudukan Wali Amanat dengan Emiten sebagai pihak yang menunjuk dan membayar jasanya. Peningkatan perlindungan terhadap kepentingan investor obligasi di Indonesia merupakan masalah yang saat ini masih menghadapi berbagai macam kendala yang serius. Hal ini cukup beralasan mengingat dalam kasus-kasus sebelumnya. 3 . Dari pola kontrak perwaliamanatan yang ada selama ini. Di sisi lain. antara lain dengan menerbitkan efek bersifat utang. Hal ini dari satu sisi merupakan hal yang menggembirakan bagi kalangan pasar modal. Posisi tawar Wali Amanat dalam mewakili kepentingan pemegang efek bersifat utang sudah saatnya ditinjau kembali. tanpa sinking fund dan tanpa kewajiban melakukan pemeringkatan berkala. mengingat saat ini Emitenlah yang memiliki wewenang menunjuk pihak Wali Amanat untuk efek bersifat utang yang diterbitkannya.Semakin meningkatnya kegiatan bisnis di pasar modal paska krisis moneter membawa akibat semakin banyaknya perusahaan yang tertarik memanfaatkan pasar modal sebagai alternatif pendanaan.

TUJUAN DAN MANFAAT Tujuan dan manfaat yang ingin dicapai dari dilakukannya studi mengenai perwaliamanatan di Indonesia ini antara lain sebagai berikut: 4 . adanya hak Emiten melakukan pembelian kembali obligasi dan call option yang memerlukan pengaturan dari sisi keterbukaannya. Adanya kelemahan isi kontrak perwaliamanatan yang selama ini telah dibuat dapat diperbaiki dan posisi tawar Wali Amanat dapat lebih ditingkatkan. semoga dapat dicarikan suatu solusi bagi peningkatan peran Wali Amanat khususnya dalam melindungi kepentingan investor di Pasar Modal Indonesia. Namun demikian sebagaimana disebutkan di atas. Dengan memahami secara lebih baik permasalahan dan keterbatasan yang dihadapi Wali Amanat. sinking fund. Wali Amanat tetap merupakan pelaku sentral dalam mengawasi pasang surut obligasi dan kondisi penerbitnya mulai dari mulai penerbitan hingga jatuh tempo.Selain itu. dipandang perlu dilakukan studi tentang perwaliamanatan di Pasar Modal Indonesia. Oleh karena itu studi mengenai kendalakendala yang dihadapi Wali Amanat dalam menjalankan tugas dan fungsinya selama ini menjadi hal berikutnya yang perlu dilakukan. B. Hasil studi ini diharapkan dapat dipakai sebagai masukan guna menentukan kebijakan untu meningkatkan kepercayaan investor yang berinvestasi kepada obligasi. credit rating dan covenant-covenant dalam kontrak perwaliamanatan merupakan bentuk-bentuk jaring pengaman untuk menjaga kepentingan investor. Pengaturan mengenai jaminan/agunan. Dari pemaparan di atas. sehingga pada akhirnya diharapkan kemungkinan kerugian yang dapat menimpa investor dapat dikurangi.

Mengetahui serta mempelajari pola perjanjian perwaliamanatan dalam penerbitan obligasi antara Wali Amanat dan Emiten efek bersifat utang. dalam studi/penelitian ini dilakukan melalui : 1. C. c. Mengetahui kendala-kendala yang dihadapi Wali Amanat dalam menjalankan tugas dan fungsinya. kontrak-kontrak perwaliamanatan yang ada di Pasar Modal Indonesia b. METODE STUDI Untuk memperoleh data dan atau informasi yang dibutuhkan. peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia khususnya yang terkait dengan Wali Amanat dan penerbitan obligasi. 2. Studi Pustaka Studi pustaka dilaksanakan dengan mempelajari beberapa literatur dan bahan-bahan tertulis sebagai berikut: a. 3. 2.1. Studi Lapangan Studi lapangan dilakukan dengan dua cara: 5 . Mendapatkan informasi terutama bagi Bapepam dalam hal peningkatan perannya untuk melindungi kepentingan investor obligasi. tulisan dan hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya yang berkaitan dengan masalah perwaliamanatan. serta mencari solusi atas permasalahan dimaksud.

9 orang peneliti . WAKTU STUDI Studi ini dilakukan pada tahun anggaran 2005 dari bulan Januari hingga Desember 2005. Melakukan wawancara dengan para narasumber yang berkompeten. tim studi juga menyebarkan kuesioner kepada para pelaku pasar modal yang berkepentingan secara langsung dengan penerbitan Obligasi. Wali Amanat.4 orang pembantu peneliti . D. Konsultan Investor dan tentunya Wali Amanat. 6 .1 orang ketua . Untuk memperoleh masukan mengenai permasalahan tertentu yang dipelajari. Responden yang dimintai pendapat dalam studi ini mencakup 5 kategori yaitu Emiten. antara lain dengan profesi Notaris.1 orang sekretaris . serta pihak profesional di bidang hukum.2 staf sekretariat E.a.1 orang wakil ketua . ORGANISASI STUDI Organisasi studi terdiri dari : . b. investor. yaitu Konsultan Hukum dan Notaris.

pemegang efek selaku kreditur harus berhadapan langsung dan melakukan pengawasan secara sendiri-sendiri untuk memastikan bahwa tidak terdapat hal-hal yang dilanggar dalam kontrak perwaliamanatan. serta aspek hukum perwaliamanatan. pendaftaran. Antara para kreditur mungkin akan saling mengamati untuk menentukan apakah 7 . Pengawasan secara individual oleh masing-masing kreditur ini tentunya akan memakan waktu dan biaya yang tidak efisien. A. Tanpa adanya lembaga Wali Amanat. Efek bersifat utang yang ditawarkan kepada publik tentunya dimiliki oleh banyak investor. obligasi dan Efek bersifat Utang. 1. pelaporan dan pemeliharaan dokumen Wali Amanat. fungsi dan tanggung jawab Wali Amanat. satu kreditur mungkin akan memanfaatkan hasil pengawasan dari kreditur lainnya. DEFINISI DAN PENGERTIAN Wali Amanat Definisi Wali Amanat sebagaimana telah ditetapkan dalam UUPM Pasal 1 angka 30 adalah :”Pihak yang mewakili kepentingan pemegang Efek yang bersifat utang”. maka perlu dibentuk suatu lembaga yang mewakili kepentingan seluruh kreditur. Oleh karena efek bersifat utang merupakan surat pengakuan utang yang bersifat sepihak dari pihak penerbit (Emiten) dan para kreditur (investor) jumlahnya relatif banyak.BAB II TINJAUAN PUSTAKA Sebagai landasan teoritis atas studi tentang perwaliamanatan. pada bab ini akan dijelaskan mengenai definisi dan pengertian Wali Amanat. Dengan alasan ekonomis tersebut.

Kreditur yang pertama mengetahui adanya informasi penting terkait dengan Emiten. Ada kreditur yang memiliki keahlian yang memadai untuk melakukan monitoring dan analisis terhadap emiten. dari pada menyebarkan informasi tersebut kepada kreditur-kreditur yang lain. dan penyebaran informasi menjadi lebih merata karena Wali Amanat akan memberitahukan 8 .diperlukan suatu tindakan pengawasan pada Emiten atau tidak. Pengawasan secara individual juga memiliki kelemahan berupa kemampuan melakukan pengawasan yang tidak sama antara satu kreditur dengan lainnya. dilain pihak ada kreditur lain yang harus meminta jasa profesional untuk melakukan tugas tersebut. mungkin akan melakukan tindakan antisipasi terlebih dahulu untuk memperoleh keuntungan atau menghindari kerugian yang akan timbul. Wali Amanat merupaka pihak yang secara profesional khusus ditunjuk untuk melakukan pengawasan bagi kepentingan seluruh kreditur efek bersifat utang. Dalam keadaan seperti ini. biayabiaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan pengawasan ditanggung oleh lembaga ini. tidak ada satupun investor yang melakukan pengawasan karena saling mengandalkan satu sama lain. Masalah lain yang mungkin timbul adalah penyebaran informasi penting yang tidak merata. semua permasalahan para kreditur sebagaimana tersebut di atas dapat diminimalisir. Perbedaan kemampuan melakukan pengawasan antar kreditur dapat dijembatani oleh keahlian Wali Amanat. dapat terjadi terlalu banyak kreditur yang melakukan pengawasan sendiri-sendiri terhadap Emiten. atau sebaliknya. Dengan kemampuan profesional dari Wali Amanat. Dengan keberadaan lembaga penunjang pasar modal ini.

alasan yang diajukan dalam penjelasan pasal 50 ayat (1) adalah karena Bank Umum memiliki jaringan kegiatan usaha yang cukup luas. 9 . Berdasarkan ketentuan UU Pasar Modal. Obligasi Obligasi dapat didefinisikan sebagai efek utang pendapatan tetap yang diperdagangkan di masyarakat dimana penerbitnya setuju untuk membayar sejumlah bunga tetap untuk jangka waktu tertentu dan akan membayar kembali jumlah pokoknya pada saat jatuh tempo. Karena itu obligasi tersebut disebut sekuritas pendapatan tetap atau fixed income securities.setiap perkembangan Emiten kepada seluruh kreditur dalam waktu yang sama. Obligasi membayar serangkaian bunga dalam jumlah tertentu secara regular. Obligasi adalah salah satu alternative investasi pasar modal. Ada empat ketentuan dasar yang menjadi daya tarik utama dalam berinvestasi pada obligasi yakni : a. Selain karena kegiatan usaha perbankan yanng terkait erat dengan pengawasan terhadap para debiturnya. Obligasi terutama ditujukan kepada para investor jangka panjang. Jangka waktu obligasi telah ditentukan (umumnya 5-10 tahun) dan disertai dengan pemberian imbalan bunga yang jumlah dan saat pembayarannya juga telah ditetapkan dalam perjanjian. Jadi sertifikat obligasi merupakan suatu surat pengakuan hutang atas pinjaman yang diterima oleh perusahaan (penerbit obligasi) dari pemodal. pihak yang dapat melakukan kegiatan usaha sebagai Wali Amanat adalah Bank Umum. Untuk mengantisipasi perkembangan pasar modal di masa datang pihak selain bank umum yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah dimungkinkan melakukan kegiatan usaha ini. 2.

para pembeli mungkin kehilangan uang karena obligasi yang mereka miliki tidak memberi hasil sebaik obligasi yang baru diemisi. Sehingga obligasi terlihat kurang beresiko dibandingkan investasi yang tergantung pada naik turunnya pasar. Emiten akan membayar kembali pinjaman tersebut seutuhnya dan tepat waktu. d. c. Tingkat bunga obligasi kompetitif dalam artian obligasi membayar tingkat suku bunga yang dapat dibandingkan dengan apa yang bias didapatkan investor ditempat lain. maka nilai uang itu dapat terkikis oleh inflasi. Mereka tidak bisa mendapatkan uang dalam jumlah utuh sebanyak yang telah mereka bayarkan untuk obligasi. Pembayaran suku bunga obligasi juga sudah ditetapkan ketika obligasi di emisi. yaitu jika tingkat suku bunga bank naik. Risiko lain yang dihadapi pemegang obligasi adalah meningkatnya inflasi.b. Sebagai hasilnya. Obligasi konversi yaitu obligasi yang para pemegang obligasi ini pada waktu yang telah ditetapkan dapat menukarkan obligasinya dengan saham biasa dari perseroan yang menerbitkan atas dasar harga konversi yang telah ditentukan sebelumnya. Disamping mempunyai daya tarik. Obligasi atas unjuk yaitu obligasi yang pelunasannya dibayarkan kepada pembawa obligasi tersebut. obligasi juga mempunyai resiko. tingakat obligasi baru biasanya sama dengan tingkat suku bunga perbankan. 10 . b. Jenis-jenis obligasi yang umumnya ada di Indonesia antara lain : a. Karena nilai rupiah yang mereka dapatkan dari investasi obligasi tidak berubah. Obligasi memiliki jatuh tempo yang telah ditentukan ketika obligasi habis masanya dan pinjaman harus dibayar penuh pada nilai nominal.

24 tahun 2004 tentang Surat Utang Negara (SUN) mendefinisikan surat berharga yang berupa surat pengakuan hutang dalam mata uang rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh Negara Republik Indonesia sesuai dengan masa berlakunya.Sedangkan berdasarkan penerbitnya (Issuer). Obligasi Pemerintah (Government Bond) Undang-undang No. b. dan sebagainya). Obligasi Perusahaan (Corporation Bond). Biasanya suatu obligasi sebelum ditawarkan kepada masyarakat pemodal. Bapeda. Peringkat (rating) yang diberikan oleh rating agency akan menyatakan apakah obligasi tersebut layak untuk investasi. Obligasi Daerah (Municipal Bonds) Obligasi yang diterbitkan oleh Pemerintah Daerah Tingkat I atau Tingkat II. obligasi dibedakan : a. serta Badan Usaha Milik Daerah dan kegiatan swasta yang dijamin daerah. Pada umumnya di Indonesia bersifat jangka panjang dan tidak dijamin oleh penerbitnya. unit organisasi Pemda (Dinas Pekerjaan Umum. 11 . Proses pemeringkatan berguna untuk menilai kinerja perusahaan dari berbagai faktor yang secara langsung maupun tidak langsung dengan keuangan perusahaan. Pihak yang menerbitkan obligasi disebut issue. c. obligasi tersebut diminta untuk diperingkat (rating) oleh lembaga pemeringkat (rating agency). Surat utang yang diterbitkan oleh perusahaan swasta atau negara. Selain itu juga menawarkan bunga atau interest yang cukup tinggi dibandingkan dengan obligasi negara. Hal ini dikarenakan resiko yang melekat pada obligasi korporasi lebih besar dibandingkan dengan obligasi negara yang dijamin penuh oleh pemerintah RI.

sesuai dengan penilaian rating agency. pemeringkatan terhadap suatu obligasi. merupakan bagan pihak-pihak yang terkait dalam perdagangan obligasi : Rating Agency Issuer Trusste Lead Underwriter Guarantor Underwriter/Selling Agents Investor Paying Agent Di Indonesia. karena dengan adanya rating maka para investor tidak perlu lagi melakukan proses evaluasi yang membosankan dan membutuhkan kerja keras sendiri-sendiri. sedangkan securities Rating adalah pemeringkatan yang dilakukan terhadap suatu produk effek yang digulirkan oleh suatu perusahaan. Pemeringkatan suatu obligasi ini sangat berguna bagi para investor obligasi. Dibawah ini. Pefindo dan PT. Coorporate Rating adalah pemeringkatan yang dilakukan untuk menilai suatu perusahaan secara menyeluruh. Proses pemeringkatan dapat dibagi atas dua jenis yaitu: Coorporate Rating dan Securities Rating. misalnya bond rating. lembaga pemeringkat adalah PT. Kasnic.Karena obligasi merupakan surat utang. maka rating sangat diperlukan sehingga dapat dinilai apakah issue nantinya dapat atau tidak membayar utangnya. Namun harus diperhatikan bahwa bond rating ini hanya dimaksudkan untuk mengukkur 12 .

Pada waktu penawaran umum pertama kali. yang diterbitkan Issuer jika terjadi wanprestasi dari isser. Wali Amanat berfungsi melakukan pencatatan/administrasi mengenai obligasi yang masih beredar. issuer akan berhubungan dengan pihak yang akan menjamin emisi obligasi dari issuer tersebut agar laku di pasar. Wali Amanat bertugas atas dasar hukum kontrak perwaliamanatan yang ditandatangani oleh Wali Amanat dengan issuer. Kontrak perwaliamanatan. dan pengawasan terhadap Issue. Selanjutnya ada pihak yang disebut Trustee atau Wali Amanat. Underwriter biasanya merupakan suatu kelompok yang terdiri dari penjamin emisi utama (lead underwriter) dan penjamin emisi pelaksana (underwriter). Wali Amanat merupakan lembaga yang berfungsi untuk mengurusi segala urusan dari obligasi sesudah penawaran umum sampai masa hidup pasar obligasi tersebut berakhir. Penjamin emisi pelaksana biasanya bertindak juga sebagai agen penjual (selling agent). pembayaran bunga yang sering terlambat. kadang-kadang melibatkan pihak yang disebut Guarantor. Guarantor merupakan pihak yang memberikan jaminan akan melunasi surat hutang beserta kewajiban yang berhubungan. Agen penjualan inilah yang langsung berhubungan dengan masyarakat pemodal. Penjaminan emisi ini dilakukan oleh underwriter.tingkat resiko wanprestasi dari suatu emisi obligasi bukan dari pengurus eksternal seperti resiko pasar. Penjamin emisi utama dan pelaksana ini hanya melaksanakan tugasnya sampai proses emisi utama dan pelaksana tidak ada lagi hubungannya dengan obligasi tersebut. Wali Amanat umumnya adalah bank yang telah mendapat izin operasi sebagai Wali Amanat dari Bapepam. Wali Amanat wajib menyampaikan laporan tengah tahunan dan tahunan 13 .

B. Wali Amanat dilarang mempunyai hubungan afiliasi dengan emiten/penerbit obligasi. biasanya Wali Amanat menunjuk pihak yang disebut Paying Agent. FUNGSI DAN TANGGUNG JAWAB WALI AMANAT Sebagaimana telah diamanahkan dalam pasal 51 ayat (2) UUPM bahwa Wali Amanat adalah pihak yang mewakili kepentingan pemegang efek bersifat utang/obligasi baik di dalam maupun di luar pengadilan. terkait dengan fungsinya untuk mewakili pemegang efek bersifat utang/pemegang obligasi.kepada Bapepam mengenai segala sesuatu tentang pelaksanaan obligasi yang ditanganinya. Wali Amanat memiliki beberapa tanggungjawab. Pelaksanaan tanggungjawab tersebut selain didasarkan pada suatu peraturan perundangan yang berlaku juga didasarkan kepada suatu kontrak 14 . Hal ini diperlukan agar Wali Amanat dapat melaksanakan fungsinya secara independen sehingga dapat melindungi kepentingan pemegang efek bersifat utang/pemegang obligasi secara maksimal. Larangan hubungan afiliasi antara Wali Amanat dengan Emiten dimaksudkan untuk menghindari terjadinya benturan kepentingan antara Wali Amanat selaku wakil pemegang efek bersifat utang dan kepentingan emiten. Sehingga investor yang ingin mengambil bunga atau pokoknya. Kadang-kadang Wali Amanat bertindak sendiri sebagai Paying Agent. langsung berhubungan dengan Paying Agent. Berkenaan dengan hal tersebut. Di dalam melaksanakan pembayaran bunga maupun pokok. Sehingga dalam melaksanakan fungsi dan tanggung jawabnya Wali Amanat dituntut untuk selalu mengutamakan dan mengedepankan kepentingan pemegang obligasi/kreditur.

• Hak pembayaran pokok. Tanggungjawab Wali Amanat terkait dengan fungsinya sebagai wakil dari pemegang efek bersifat utang (kreditur) sekurang-kurangnya meliputi: I. II. penelitian ini mencakup: • analisa laporan keuangna emiten untuk memantau keadaan keuangan emiten. • Hak untuk memperoleh pemberitahuan apabila terjadi kejadian yang penting dari emiten. Saat proses emisi. • Hak untuk memperoleh informasi mengenai jaminan (preferen/tidak preferen). Adapun kontrak/perjanjian yang mendasari fungsi dan tanggungjawab Wali Amanat disebut kontrak perWali Amanatan atau perjanjian perWali Amanatan./perjanjian. Sebelum proses emisi yaitu melakukan penelitian terhadap calon emiten. • Hak untuk mengetahui rating obligasi. Membuat kontrak/perjanjian perWali Amanatan 15 . yang mencakup: • Hak pembayaran bunga. terbagi atas: a. Kontrak perWali Amanatan merupakan kontrak yang dibuat antara emiten dengan Wali Amanat yang mengikat pemegang efek bersifat utang/pemegang obligasi. Menentukan hak-hak para pemegang efek bersifat utang/obligasi. • Penetuan tanggal-tanggal untuk pembayaran bungan dan pokok. • Hak untuk memperoleh laporan-laporan dari emiten. b. • meneliti legalitas dari emiten.

c. menganalisa data-data historis emiten yaitu melakukan analisa terhadap laporan keuangan emiten untuk mengetahui kinerja dan keadaan keuangan emiten. • Menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) apabila diperlukan. sebelum emisi efek bersifat utang/obligasi. • Tanggal-tanggal pembayaran bunga. Menentukan dan memantau hak-hak pemegang efek bersifat utang/obligasi. mempelajari data-data dari Konsultan Hukum yang ditunjuk dalam emisi tersebut. • Memberitahukan kepada pemegang efek bersifat utang/obligasi. • Penyediaan dana untuk membayar bunga dan pokok obligasi. meliputi: A. Dalam upaya Wali Amanat dalam melindungi pemegang efek bersifat utang/obligasi. meliputi: A. apabila terdapat kejadian penting. beberapa hal yang dilakukan antara lain: 1. • Cara pembayaran bunga. • Memantau penggunaan dana yang diperoleh dari emisi efek bersifat utang/obligasi. BES sehubungan dengan efek bersifat utang/obligasi yang diterbitkan. • Melaksanakan keputusan RUPO. 2. Setelah emisi efek bersifat utang/obligasi • Memantau pemenuhan kewajiban emiten yang tercantum dalam perjanjian perwaliamantan. Proses emisi efek bersifat utang/obligasi. 16 . B. yang terdiri dari: • Besarnya bunga obligasi. emiten Bapepam. yaitu berupa legal opinion dan legal audit.

C. Pemberian keterangan/perhitungan yang sewaktu-waktu diminta RUPO maupun Bapepam. • Monitoring jaminan (nilai maupun pengikatannya.• Menentukan jaminan yang dijaminkan untuk pemegang efek bersifat utang/obligasi. Pengawasan dan pemantauan kepatuhan serta pelaksanaan kewajiban emiten berdasarkan perjanjian perWali Amanatan atau dokumen lainnya yang mencakup: • Analisis kinerja keuangan secara periodik. D. Bursa Efek dan pemegang obligasi dalam hal terjadi potensi kelalaian atau kelalaian yang dilakukan oleh emiten atau terjadi keadaan yang dapat membahayakan kepentingan pemegang obligasi. • Pemenuhan kewajiban emiten terhadap pemegang efek bersifat utang/obligasi. • Kepatuhan atas covenant pada perjanjian perWali Amanatan. B. B. • Penggunaan dana. 3. 17 . C. Setelah emisi. struktur jaminan. Melakukan pengecekan. kinerja dan proyeksi keuangan. Menetapkan covenant-covenant dalam perjanjian perWali Amanatan (negative covenant dan positive covenant) yang harus dipenuhi emiten selama jangka waktu efek bersifat utang/obligasi dengan memperhatikan struktur obligasi. Melaksanakan keputusan RUPO. meliputi: A. perhitungan dan pengikatan jaminan obligasi (bila ada). Penyampaian laporan kepada Bapepam.

C. untuk dapat melakukan kegiatannya di pasar modal. Namun demikian. Anggaran Dasar Nomor Pokok Wajib Pajak Izin Usaha sebagai Bank Umum 18 . ii. Pendaftaran Dalam Undang-undang Pasar Modal ditentukan bahwa yang dapat melakukan kegiatan sebagai Wali Amanat adalah Bank Umum dan pihak lain yang ditentukan dengan Peraturan Pemerintah. apabila ada pihak lain yang mungkin dapat diijinkan melakukan kegiatan sebagai Wali Amanat selain Bank Umum. perwaliamanatan merupakan salah satu kegiatan usaha dari Bank Umum. Sesuai dengan ketentuan dalam Undang-undang Perbankan.2. Dalam Peraturan Bapepam Nomor VI.C. iii. DOKUMEN PELAPORAN DAN PEMELIHARAAN Pengawasan dan pembinaan Bapepam terhadap Wali Amanat selama ini diwujudkan dalam bentuk ketentuan yang mewajibkan lembaga penunjang pasar modal ini untuk melakukan pendaftaran. a. dokuemen-dokumen tersebut dibawah ini wajib disampaikan kepada Bapepam menyertai permohonan pendaftaran: i. tentang Pendaftaran Bank Umum Sebagai Wali Amanat. Bank umum diwajibkan terlebih dahulu terdaftar di Bapepam. pelaporan dan pemeliharaan dokumen dalam kegiatan usahanya. Ketentuan di atas dimaksudkan untuk mengakomodasi perkembangan pasar modal di masa yang akan datang. PENDAFTARAN.

apabila dimungkinkan di dalam kontrak perwaliamanatan. serta daftar pejabat penanggung jawab dan tenaga ahli di bidang perwaliamanatan. laporan tengah tahunan dan tahunan mengenai kegiatan Wali Amanat yang antara lain memuat: jumlah dan jenis Efek bersifat utang yang masih beredar. Laporan tahunan dan tengah tahunan disampaikan selambat-lambatnya 60 (enam puluh) hari sejak tanggal periode laporan. Pernyataan direksi bahwa administrasi kegiatan Wali Amanat terpisah dari kegiatan Bank Umum lainnya. vi. pembayaran pokok dan atau bunga Efek bersifat utang. serta daftar pegawai dan pembagian kerja pada kegiatan perwaliamanatan vii. Pelaporan Kewajiban penyampaian laporan Wali Amanat kepada Bapepam adalah sebagaimana diatur dalam Peraturan Nomor X.iv. antara lain: pembayaran pokok dan bunga Efek yang bersifat utang sebelum jatuh tempo. laporan peristiwa penting yang menyangkut kegiatan perwaliamanatan. dimana Wali Amanat wajib menyampaikan laporan kegiatan kepada Bapepam yang meliputi: − Pertama. jumlah Efek bersifat utang yang telah dikonversikan menjadi saham. Rekomendasi dari Bank Indonesia Buku pedoman operasional yang sekurang-kurangnya memuat: struktur organisasi Bank Umum dan Wali Amant.1 tentang Laporan Wali Amanat. dan pelaksanaan pengawasan yang telah dilakukan oleh Wali Amanat terhadap Emiten.I. − Kedua. Laporan keuangan terakhir yang telah diperiksa oleh Akuntan Publik v. b. pelanggaran atas ketentuan 19 .

Kontrak Perwaliamantan Kontrak yang berkaitan dengan pemberian jaminan dan bukti kepemilikan dan penguasaan atas harta yang dijaminkan 3. 2. menyimpan dan memelihara catatan.I.dalam kontrak perwaliamanatan seperti pembayaran pokok dan atau bunga Efek bersifat utang yang tidak tepat waktu dan pengurangan. termasuk tindakan yang dilakukan Wali Amanat karena tidak dipenuhinya persyaratan dalam kontrak perwaliamantan. Dokumen-dokumen tersebut meliputi: 1. Pemeliharaan Dokumen Kegiatan mengadministrasikan. pengalihan atau penukaran jaminan.2 tentang penyelenggaraan Rapat Umum Pemeliharaan Dokumen oleh Wali Amanat. c. risalah atau laporan pelaksanaan pengawasan terhadap Emiten. Catatan. Laporan Kejadian Penting ini selambat-lambatnya disampaikan 2 (dua) hari setelah terjadinya peristiwa atau sejak diketahuinya peristiwa tersebut. pembukuan dan keterangan tertulis yang berhubungan dengan Emiten yang menggunakan jasa Wali Amanat merupakan kewajiban yang ditetapkan Bapepam dalam Peraturan Nomor X. atau adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di bidang Pasar Modal oleh Wali Amanat 20 . Catatan. risalah atau laporan mengenai jumlah dan jenis efek bersifat utang yang masih beredar dan yang telah dilunasi 4. Pemegang Efek bersifat utang. penambahan. antara lain tidak dibayarnya pokok dan bunga. Ketiga.

5.

Catatan, risalah dan atau laporan mengenai Rapat Umum Pemegang Efek bersifat utang

6.

Catatan, risalah atau laporan mengenaijumlah efek dan jenis efek bersifat utang yang dikonversikan menjadi saham (jika ada)

7. 8.

Daftar Emiten yang menggunakan jasa Wali Amanat Buku pedoman operasional Wali Amanat.

Dokumen-dokumen tersebut di atas wajib disimpan ditempat yang aman dan terpisah dari kegiatan bank lainnya selama 5 tahun sejak seluruh kewajiban Emiten terhadap pemegang efek bersifat utang telah terpenuhi. untuk memastikan pemenuhan kewajiban dalam peraturan ini, Bapepam sewaktu-waktu dapat melakukan pemeriksaan atas dokumendokumen tersebut. D. ASPEK HUKUM PERWALIAMANATAN Seperti yang dibahas dimuka bahwa Wali Amanat ini bertindak sebagai Pihak yang mewakili para pemegang obligasi sehingga secara hukum diartikan melakukan perbuatan hukum tertentu dimana orang yang diwakili menerima akibat yuridisnya. Undang-undang Pasar Modal tidak memberikan suatu definisi mengenai apa yang dimaksud dengan perwakilan atau vertegenwoording. Namun demikian apabila kita melihat pada doktrin hukum yang berlaku di Indonesia, maka dapat ditemukan bahwa perwakilan didefinisikan sebagai ”toerekening van een handelingan een ander dan de handelde” atau melakukan perbuatan hukum sebagai ganti dan guna orang lain yang mewakilinya. Doktrin Hukum Perdata membagi lembaga perwakilan ini menjadi dua jenis, yaitu perwakilan berdasarkan kehendak dan perwakilan berdasarkan

21

undang-undang. Tindakan Wali Amanat merupakan perwakilan khusus berdasarkan undang-undang karena telah diwajibkan dalam peraturanperundangan di bidang pasar modal. Kewenangan yang dimiliki oleh Wali Amanat dalam menjalankan fungsinya terdiri dari dua jenis yaitu kewenangan umum yang bersifat pengurusan dan kewenangan khusus yang bersifat tindakan pemilikan. Kewenangan umum untuk pengurusan (daden van beheer) misalnya dalam hal menjalankan pengawasan terhadap Emiten dalam penggunaan dana hasil emisi obligasi, mewakili para pemegang obligasi dalam Rapat Umum Pemegang Obligasi, sebagai agen pembayar dalam membayar bunga obligasi dan sebagainya. Sedangkan kewenangan khusus yang melakukan tindakan pemilikan misalnya dalam hal Emiten melakukan wanprestasi, Wali Amanat dapat melakukan tindakan pelelangan atas agunan (barang jaminan) yang telah ditetapkan dalam kontrak perwaliamanatan dan jaminan. Untuk membatasi kewenangan, hak dan kewajiban serta tanggung jawab Wali Amanat harus ditetapkan secara tegas dalam perjanjian perwaliamanatan dan dapat dijalankan sebagaimana diamanatkan dalam UUPM. Apabila Wali Amanat melakukan kelalaian atas kewenangan yang telah diberikan, maka menurut pasal 53 UUPM, maka Wali Amanat wajib memberikan ganti rugi kepada pemegang Efek bersifat Utang. Emiten dan Wali Amanat diwajibkan membuat perjanjian

perwaliamanatan dimana dalam UUPM pasal 52 menggunakan istilah ’kontrak perwaliamanatan’ yang dibuat dihadapan Notaris dalam bentuk Akta Notaris sehingga klausula-klausula di dalam akta tersebut lebih terjamin kepastian hukumnya bagi tiap pihak yang terkait dalam kontrak tersebut seperti yang diatur dalam pasal 1868 KUHPerdata (jo. Pasal 1870 KUHPerdata) bahwa suatu akta yang dibuat di hadapan notaris merupakan

22

akta otentik dan menjadi bukti sempurna atas hak para pihak beserta ahli warisnya serta pihak lain yang memperoleh hak dari akta tersebut. Proses terbentuknya Kontrak Perwaliamanatan berawal dari draft perjanjian yang dibuat oleh Notaris. Selanjutnya masing-masing pihak seperti Emiten, Konsultan Hukum, Wali Amanat, Penjamin Emisi Efek, penanggung (jika ada) serta Notaris sendiri terlibat dalam diskusi pembahasan materi yang penting untuk dimasukkan dalam Kontrak Perwaliamanatan. Berikut adalah alur atau flow chart dari awal penyusunan sampai ditandatanganinya Kontrak Perwaliamanatan di Pasar Modal Indonesia.
Penyampaian Bahan untuk dituangkan dalam draft Kontrak Pembuatan Draft Kontrak Perwaliamanatan oleh Notaris

Draft Kontrak Perwaliamanatan Didiskusikan Oleh Para Pihak

Kontrak Perwaliamanatan Ditandatangani setelah Disepakati

Setelah ditandatanganinya Kontrak Perwaliamanatan oleh para pihak maka, berdasarkan pasal 1313 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata disebutkan suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih. Ini berarti dengan ditandatanganinya Kontrak Perwaliamanatan maka para pihak terikat kepada Kontrak Perwaliamanatan dapat dianggap sebagai hukum yang sah mengikat para pihak. Pada dasarnya perjanjian perwaliamanatan yang dibuat adalah karena hubungan hukum hutang piutang atau pinjam meminjam uang sehingga
23

maupun Peraturan Bapepam. 3. dalam praktek yang terjadi selama ini antara Kontrak Perwaliamanatan yang satu dengan yang lain terdapat berbedaan baik format maupun materi yang diatur. Dalam ketentuan Penjelasan Pasal 52 UU Pasar Modal. Peraturan-perundangan di bidang pasar modal belum menentukan secara detil mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kontrak perwaliamanatan. 4. Notaris maupun Konsultan Hukum. 2. sehingga sebaiknya diperjanjikan secara tegas dalam kontrak perwaliamanatan. dan tugas dan fungsi Wali Amanat Namun demikian. 24 .esensi dari perjanjian ini adalah segala ketentuan yang mengatur hubungan hutang piutang tersebut. baik Emiten. hal-hal yang harus dimuat dalam Kontrak Perwaliamanatan antara lain: 1. utang pokok dan bunga serta manfaat lain dari emiten saat jatuh tempo jaminan (jika ada) agen pembayaran. Wali Amanat. Disamping itu belum adanya kesepakatan dari para pihak yang terkait dalam penerbitan efek bersifat utang/obligasi sehubungan dengan pembuatan kontrak Perwaliamanatan. 5. Hal ini dikarenakan belum adanya pengaturan mengenai standar kontrak Perwaliamanatan secara lebih rinci yang dituangkan dalam peraturan pelaksananya seperti Peraturan Pemerintah.

Pasal 2 Kontrak Perwaliamanatan memuat ketentuan tentang penggunaan dana hasil obligasi. Sebagai contoh materi atau substansi Kontrak Perwaliamanatan misalnya adalah sebagai berikut: 1.BAB III PEMAPARAN DAN ANALISIS HASIL STUDI Pada bab ini akan dipaparkan dan dianalisis tiga permasalahan penting dalam perwaliamanatan di Indoensia. terdapat kecenderungan terciptanya pola standar atau yang lazim termuat dalam suatu kontrak perwaliamanatan di pasar modal Indonesia. terutama aspek-aspek yang menyangkut pola kontrak perwaliamanatan dan kendala-kendala yang dihadapi dalam memfungsikan kedudukan Wali Amanat sebagai wakil pemegang efek bersifat utang. 3. berkenaan dengan masalah perwaliamantan tersebut. Pasal 9 mengatur ketentuan syarat-syarat untuk dapat dikatakan Emiten telah lalai memenuhi kewajibannya 1 . Rincian selengkapnya mengenai pola kontrak perwaliamanatan yang umum/lazim dibuat dalam rangka penerbitan efek bersifat utang (obligasi) di pasar modal Indonesia adalah sebagai berikut: 25 . Terakhir. akan dibahas masukan dan jawaban para responden atas kuesioner yang diedarkan. POLA PERJANJIAN PERWALIAMATAN DI INDONESIA Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Tim Studi Perwaliamanatan. 2. Pasal 8 biasanya memuat ketentuan tentang eksekusi jaminan jika terjadi even of default oleh Emiten. A.

sehingga memudahkan bagi para pihak untuk memahami isi kontrak.K. Bursa Efek. Selain itu. berdasarkan syarat-syarat yang tercantum kontrak perwaliamanatan. 3. sesuai Peraturan Bapepam Nomor X. untuk ekspansi usaha atau pembiayaan suatu proyek tertentu. dengan tidak mengurangi ketentuan peraturan perundangan yang berlaku 26 . serta wajib mendapat persetujuan terlebih dahulu oleh Wali Amanat setelah disetujui oleh RUPO. Definisi Pasal ini memuat tentang beberpa kata/istilah yang mempunyai arti tertentu dalam kontrak perwaliamanatan.4 tentang Laporan Realisasi Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum.1. Penunjukan. Penggunaan dana yang umum dinyatakan adalah untuk modal kerja perusahaan. dan Wali Amanat yang dilakukan secara berkala tiap 3 (tiga) bulan sekali. 2. Setiap perubahan atas rincian penggunaan dana ini wajib dilaporkan terlebih dahulu kepada Bapepam dengan mengemukakan alasan dan pertimbangannya. Hak dan Kewajiban Wali Amanat Dalam Pasal ini dinyatakan penunjukan Emiten kepada pihak tertentu dan pernyataan penerimaan oleh pihak tersebut untuk menjalankan tugas sebagai Wali Amanat. Penggunaan Dana Hasil Emisi Dalam pasal ini umumnya dinyatakan mengenai rincian penggunaan dana hasil emisi setelah diikurangi dengan biaya-biaya yang timbul dalam proses penawaran umum. serta untuk pembayaran utang lain (refinancing). Realisasi penggunaan dana ini wajib dipertanggungjawabkan juga dalam Rapat Umum Pemegang Saham tahunan Emiten. Tugas. dalam pasal ini juga dicantumkan mengenai kewajiban pelaporan realisasi penggunaan dana oleh Emiten kepada Bapepam.

Melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab dan kehati-hatian serta bertindak bijaksana untuk kepentingan terbaik pemegang efek bersifat utang. dalam hal mengetahui dengan bukti yang cukup bahwa emiten telah lalai/melanggar kontrak perwaliamanatan. Bertanggungjawab kepada pemegang efek bersifat utang atas kerugian yang timbul akibat dari kelalaian.mengenai hak dan kewajiban selaku Wali Amanat dalam suatu emisi efek bersifat utang. Mewakili kepentingan pemegang efek bersifat utang dalam melakukan tindakan hukum yang berkaitan dengan kepentingan pemegang efek bersifat utang di dalam maupun di luar pengadilan. atau terjadi keadaan pada Emiten yang dapat membahayakan kepentingan pemegang efek bersifat utang. iii. Tugas ini berlaku efektif sejak tanggal emisi. ii. kecerobohan atau adanya pertentangan kepentingan pada Wali Amanat dalam menjalankan tugasnya. iii Memantau dan menganalisa secara berkala perkembangan pengelolaan usaha emiten berdasarkan laporan keuangan Emiten dan laporan lainnya. ii Melaporkan kepada Bapepam dan pemegang efek bersifat utang melalui Bursa Efek. Tugas pokok Wali Amanat terdiri atas: i. Kewajiban Wali Amanat adalah sebagai berikut: i Menyampaikan informasi lengkap secara terbuka tentang kualifikasinya selaku Wali Amanat dalam Prospektus. 27 .

serta telah ditandatangani. 28 . v Melaksanakan tindakan-tindakan yang sah sesuai keputusan RUPO. vi Memberikan nasihat dan tindakan lain yang lazim dilakukan selaku Wali Amanat kepada Emiten. termasuk dalam hal terjadi kegagalan atau keterlambatan. iv. Mempercayai setiap dokumen yang dianggap asli dan sah. Menerima pemberitahuan dari KSEI mengenai jumlah dana yang wajib dibayarkan Emiten atas bunga dan/atau pelunasan utang pokok selambat-lambatnya 2 (dua) hari kerja sebelum tanggal pembayaran. ii. vii Kewajiban Wali Amanat kepada KSEI. serta pelaksanaan pembayarannya. Menerima foto copy bukti pembayaran bunga dan atau pokok efek bersifat utang dan denda (jika ada) pada hari yang sama saat pembayaran tersebut. meliputi: melakukan verifikasi atas KTUR yang diserahkan pemegang efek bersifat utang sesuai spesifikasi kepada yang KSEI dikeluarkan tentang KSEI dan memberitahukan pelaksanaan RUPO. iii. Menerima daftar dari KSEI yang memuat rincian KTUR berikut spesifikasi dan spesimennya. - berakhirnya Hak-hak Wali Amanat adalah sebagai berikut: i.iv Memanggil dan mengadakan RUPO sebelum mengambil tindakan yang memerlukan persetujuan RUPO. dikirim atau dibuat oleh oleh orang-orang yang berhak mewakili. mengenai segala hal yang berkaitan dengan KTUR sesuai spesiifikasi yang ditetapkan KSEI.

v. iii. sehubungan atas dengan dan dugaan kewajiban pelanggaran pembatasan berdasarkan bukti yang cukup. termasuk RUPO yang diadakan atas permintaan Bapepam dengan alas an: a. Pengakhiran tugas Wali Amanat Wali Amanat berhenti menjalankan tugasnya dalam hal terjadi halhal sebagai berikut: i. ii. Ijin usaha. Wali Amanat tidak mampu melaksanakan kewajibannya. vii. iv. Wali Amanat dinyatakan pailit atau mengajukan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) atau dibekukan operasi/kegiatan usahanya. b. Meminta laporan kesiapan Emiten membayar jumlah pokok obligasi dan atau bunga dan denda (jika ada). membubarkan diri secara sukarela atau bubar menurut ketentuan peraturan perundangan. Wali Amanat dibubarkan oleh suatu lembaga peradilan atau badan resmi lainnya. Wali Amanat diberhentikan oleh RUPO. rekomendasi atau pendaftaran selaku Wali Amanat telah dicabut. Meminta pembayaran kepada Emiten atas segala biaya-biaya yang dibutuhkan dan/atau penggantian atas biaya-biaya yang dikeluarkan Wali Amanat dalam menjalankan tugasnya. vi. Semua jumlah yang terhutang dalam kontrak perwaliamanatan telah dibayar sebagaimana mestinya. Meminta independen pemeriksaan audit terbatas oleh auditor adanya Emiten. Wali Amanat telah gagal menjalankan tugasnya. c. 29 .

Segera setelah pengunduran diri Wali Amanat wajib memberikan laporan pertanggungjawaban mengenai pelaksanaan tugasnya kepada RUPO. Dalam hal terjadi pembelian kembali yang mengakibatkan pelunasan sebelum jatuh tempo. 4. Dalam hal terdapat ketentuan pembelian kembali maka nilai nominal akan berkurang sesuai pelaksanaan buy back tersebut.v. Tugas Wali Amanat baru berhenti setelah Emiten dan RUPO menyatakan persetujuannya dan Wali Amanat yang menggantikan telah mulai melaksanakan tugasnya. 5. Syarat-syarat Obligasi Dalam pasal ini lazim dinyatakan bahwa Emiten berjanji dan mengikatkan diri kepada Wali Amanat sebagai kuasa pemegang efek bersifat utang untuk menerbitkan efek bersifat utang dengan syaratsyarat sebagai berikut: i. Wali Amanat dapat mengajukan pengunduran diri secara tertulis kepada Emiten dan diberitahukan kepada RUPO. maka imbalan jasa Wali Amanat setelah pembelian kembali menjadi tidak ada lagi. Dalam hal Wali Amanat diberhentikan atau berhenti atas kemauan sendiri sebelum berakhir masa tugasnya. Nama Efek bersifat utang. jenis dan tingkat suku bunga serta nilai nominalnya. beserta masing-masing Seri (jika ada) jangka waktu. Imbalan Jasa Wali Amanat Besarnya imbalan jasa Wali Amanat adalah sesuai dengan yang dinyatakan dalam surat penunjukan Emiten kepada Wali Amanat. Selama pertanggungjawaban belum diterima maka Wali Amanat belum dibebaskan dari tugas dan kewajibannya. maka imbalan jasa Wali Amanat pada tahun yang bersangkutan akan dikembalikan secara proposional. Emiten dan Bapepam. 30 .

Besarnya denda keterlambatan pembayaran pokok atau bunga. xii. Efek bersifat utang diterbitkan tanpa warkat. Peralihan hak kepemilikan atas efek dengan pemindahbukuan dari satu rekening ke rekening yang lain. Cara penghitungan bunga. Waktu pelaksanaan pembayaran bunga. vii. Penarikan efek dari rekening hanya dapat dilakukan dengan pemindahbukuan. Sertifikat Jumbo merupakan bukti bahwa Emiten sejak tanggal emisi secara sah dan mengikat berhutang kepada pemegang efek sejumlah pokok dan bunganya dan denda (jika ada). v. Pemegang efek bersifat hutang yang berhak atas bunga adalah yang tercatat dalam Daftar Pemegang Efek pada tanggal yang ditentukan. Pembayaran dilakukan oleh Agen Pembayaran atas nama Emiten. kecuali sertifikat jumbo yang diterbitkan Emiten dan didaftrakan di KSEI. xiii. Efek bersifat utang harus dilunasi Emiten dengan nilai yang sama dengan yang tertulis dalam Konfirmasi Tertulis yang dimiliki Pemegang Efek pada tanggal pelunasan pokok. Penarikan efek di luar rekening untuk dikonversikan menjadi sertifikat efek bersifat utang tidak dapat 31 . Ketentuan perpajakan yang berlaku atas setiap pembayaran yang dilakukan Emiten kepada pemegang efek. iv. xi. iii. Bank Kustodian atau perusahaan Efek yang merupakan pemegang efek dapat bertindak untuk dirinya sendiri atau atas nama nasabahnya berdasarkan surat kuasa. x. vi. Satuan pemindahbukuan yang berlaku. viii.ii. ix. sebagai bukti utang untuk kepentingan pemegang efek. xiv.

atau memberikan persetujuan kepada anak perusahaannya untuk melakukan ketiga hal tersebut. Ketentuan buy back (jika ada) hanya dapat dilakukan setelah ulang tahun pertama penerbitan. Mengubah bidang usaha utama Emiten dan atau anak perusahaan emiten yang dapat mempengaruhi secara material kelangsungan usaha atau kemampuan Emiten memenuhi kewajibannya. peleburan atau pengambilalihan. Melakukan penggabungan. tidak adanya hak suara dan bunga atas efek yang dilakukan buy back dan hanya dapat dilakukan bila Emiten tidak sedang dalam keadaan lalai atas pembayaran hutangnya. Melakukan peminjaman/hutang baru. 32 . Pembatasan-pembatasan terhadap Emiten Sebelum semua jumlah yang terhutang dibayar oleh Emiten.dilakukan. ii. melepaskan hak atau menjadikan jaminan hutang yang diikat secara khusus melebihi dari jumlah tertentu atas seluruh kekayaan Emiten. yang secara material dapat berakibat secara negatif terhadap kelangsungan uisaha atau kemampuan Emiten dalam memenuhi kewajibannya. dengan pengecualian tertentu. iii. mengijinkan atau anak atau memberikan perusahaannya memberikan pinjaman/hutang melakukan peminjaman/hutang pinjaman/hutang baru yang kedudukannya lebih tinggi dari hutang efek bersifat utang. maka tanpa persetujuan tertulis terlebih dahulu dari Wali Amanat. baik dalam satu transaksi atau beberapa transaksi dalam satu tahun buku. Emiten tidak dapat melakukan hal-hal sebagai berikut: i. xv. Mengalihkan. iv. 6. kecuali apabila ada pembatalan pendaftaran dalam penitipan kolektif di KSEI.

Menjalankan usahanya dengan sebaik-baiknya. Apabila lewat waktu yang ditentukan dan pembayaran belum dilakukan maka Emiten wajib membayar sejumlah denda yang merupakan hak selurh pemegang efek bersifat utang secara proposional.v. Apabila Emiten adalah Bank maka wajib menjaga tingkat kesehatan tertentu sesuai kriteria Bank Indonesia. ii. vii. 7. bagi hasil atau lainnya dengan pihak lain yang dapat mengakibatkan operasional keuangan Emiten diatur oleh pihak lain. Memenuhi semua ketentuan dalam Dokumen Penawaran Umum. vi. Memelihara sistem akuntansi dan pengawasan pembiayaan sesuai dengan Pedoman StandarAkuntansi Keuangan (atau Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia untuk Emiten Bank) serta buku- 33 . Emiten berkewajiban untuk: i. modal ditempatkan dan modal disetor emiten. Menyetorkan dana (in good fund) untuk pelunasan bunga dan atau pokok pada tanggal yang ditentukan kepada Agen Pembayaran yang ditunjuk. Kewajiban Emiten Sebelum seluruh kewajiban Emiten kepada pemegang efek dilunasi. iv. Mengajukan permohonan pailit atau penundaan kewajiban pembayaran utang atau mengijinkan anak perusahaan melakukan hal tersebut. viii. Melakukan segala bentuk kerjasama. iii. kecuali Emiten telah memenuhi kewajiban pembayaran bunga dan/atau pokok. Membagikan dividen kepada pemegang saham Emiten. Mengurangi modal dasar.

rekening dan dokumen lain yang dimiliki Emiten. inventaris dan perjanjian-perjanjian.buku dan catatan-catatan yang cukup untuk menggambarkan dengan tepat keadaan keuangan Emiten dan hasil operasionalnya. xi. Bursa Efek dan KSEI. Menjaga rasio keuangan konsolidasi dan memelihara setiap keadaan keuangan Emiten dalam Laporan Keuangan yang telah diaudit dan menyerahkan kepada Wali Amanat dalam kondisi: Likuiditas dalam rasio tertentu Debt to equity Rasio tertentu Perbandingan EBITDA dan Interest Coverage dalam rasio tertentu 34 . melakukan pemeriksaan atas buku-buku. Mengijinkan Wali Amanat sewaktu-waktu pada jam kerja untuk melakukan kunjungan langsung kepada Emiten. faktur. Segera memberitahukan kepada Wali Amanat secara tertulis apabila terjadi perubahan-perubahan dalam ruang lingkup usaha Emiten yang berpengaruh material terhadap usaha Emiten. ix. ijin-ijin dan keuangan emiten. Memberitahukan hasil RUPS kepada Wali Amanat. memasuki gedung-gedung yang dimiliki Emiten. restribusi atau kewajiban lain kepada pemerintah. viii. x. v. Memberitahukan secara tertulis kepada Wali Amanat tentang setiap perubahan dalam Anggaran Dasar Emiten. vii. Memelihara kekayaan dalam keadaan baik dan mengasuransikan risiko-risiko yang biasa dihadapi Emiten. xii. Menyerahkan kepada Wali Amanat laporan keuangan yang diserahkan Emiten kepada Bapepam. vi. Membayar semua kewajiban pajak.

Wali Amanat berhak dan berwenang untuk bertindak sebagai Wali Amanat Efek bersifat utang dan telah terdaftar sebagai Lembaga Penunjang Pasar Modal. Wali Amanat mengikatkan diri untuk melaksanakan tugas-tugas dan kewajiban sebagai Wali Amanat dengan penuh tanggung jawab. Kuasa Pemegang Efek kepada Wali Amanat Sejak tanggal Emisi. untuk menjalankan semua hak pemegang efek bersifat utang tanpa pengecualian.xiii Memenuhi ketentuan dalam perjanjian-perjanjian lain yang berkaitan dengan emisi efek bersifat utang. ii. termasuk melindungi kepentingan pemegang efek dihadapan instansi peradilan. iii. 35 . sekarang dan dikemudian pada waktunya. Wali Amanat bertanggung jawab kepada pemegang efek bersifat utang atas setiap kerugian yang timbul karena kelalaian. 9. integritas serta bertindak secara bijaksana untuk kepentingan pemegang efek bersifat utang. secara bersamasama memberikan kuasa kepada Wali Amanat tanpa perlu adanya pemberian surat kuasa khusus. setiap pemegang efek bersifat utang langsung tunduk kepada Kontrak Perwaliamanatan dan menyetujui untuk dan dengan ini. Pernyataan Wali Amanat Wali Amanat menyatakan dan menjamin hal-hal sebagai berikut: i. berdasar ketentuan perundangan yang berlaku. 1814 dan 1816 Kitab Undangundang Hukum Perdata. pengadilan niaga dan arbitrase. 8. Kontrak Perwaliamanatan berlaku sebagai bukti yang sempurna mengenai pemberian kuasa pemegang efek kepada Wali Amanat dan kuasa ini tidak dapat berakhir karena sebab apapun termasuk sebabsebab yang diatur dalam Pasal 1813.

yaitu untuk memberikan atau menyerahkan sesuatu. Orang-orang yang menandatangani Kontrak ini adalah yang berhak dan berwenang untuk dan atas nama Wali Amanat. 10. vii. untuk melakukan sesuatu dan untuk tidak melakukan sesuatu.kecerobohan atau benturan kepentingan dalam hubungannya dengan pelaksanaan tugasnya. Pada tanggal Kontrak Perwaliamanatan ini. menurut isinya suatu perikatan. viii. termasuk pinjam meminjam dapat dibedakan menjadi 3 jenis. anggota Direksi dan Komisaris Wali Amanat adalah sebagai berikut. iv. Untuk pembuatan Kontrak Perwaliamanatan telah memperoleh perseujuan yang dipersyaratkan Anggaran Dasar dan peraturan perundangan yang berlaku. Secara umum konsekuensi dari kelalaian Emiten tersebut Dalam perjanjian perwaliamanatan dirinci beberapa tindakan atau kejadian yang menyebabkan Emiten masuk dalam kondisi “lalai melaksanakan kewajibannya” dan karenanya Wali Amanat dapat 36 . Pernyataan ada tidaknya hubungan Afiliasi dan hubungan kredit dengan Emiten. v. Pembuatan Kontrak Perwaliamanatan telah dibuat sebagaimana mestinya sesuai perundangan dan ditandatangani sebagaimana mestinya atas nama Wali Amanat dan merupakan kewajiban yang sah dan mengikat bagi Wali Amanat sesuai peraturan perundangan di wilayah RI. Ketentuan tentang kelalaian Emiten dalam perjanjian perwaliamanatan merupakan refleksi dari aspek janji untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Kelalaian Emiten Berdasarkan Pasal 1233 KUH Perdata. vi.

Rapat Umum Pemegang Obligasi Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) tidak deselenggarakan secara berkala. baik pokok. Pemberian pengarahan atau amanat kepada Wali Amanat untuk memberikan kelonggaran atas penyelesaian kelalaian Emiten. ii.mengambil tindakan tertentu. Emiten dinyatakan pailit. Emiten membuat pernyataan yang tidak benar. maka Wali Amanat berhak mengumumkan kepada masyarakat bahwa Emiten tersebut telah lalai. Emiten tidak melakukan sesuatu yang dilakukan berdasarkan perjanjian harus dilakukan. iv. vii. Emiten tidak dapat memenuhi kewajiban kepada kreditur lain (selain pemegang obligasi) atau cross default. Terhadap kelalaian Emiten tersebut Wali Amanat dapat mengambil tindakan antara lain berupa pemberitahuan kepada Emiten bahwa yang bersangkutan telah lalai. iii. 11. karena: i. bunga atau kewajiban pembayaran lainnya. vi. antara lain: i. 37 . Kelalaian tersebut antara lain terjadi Emiten tidak membayar. Selanjutnya atas persetujuan RUPO Wali Amanat dapat melakukan penagihan jumlah yang terutang kepada Emiten. Emiten menghentikan atau mengancam menghentikan kegiatan usahanya. v. Memberhentikan dan menunjuk Wali Amanat baru. Jika dalam waktu tertentu (14 hari) Emiten tidak memperbaiki. ii. Emiten menerima pernyataan moratorium dari pengadilan atau pihak yang berwenang lainnya. namun digantungkan pada suatu kejadian tertentu.

perubahan tingkat bunga. misalnya 20% dari total obligasi yang diterbitkan. Untuk mengambil keputusan tertentu. Perjanjian perwaliamanatan juga mengatur masalah korum dalam pengambilan keputusan RUPO.iii.permintaan tertulis dari pemegang obligasi yang memiliki jumlah atau persentase tertentu. Jaminan Untuk memberikan kepastian pelunasan obligasi serta membuat obligasi yang akan diterbitkan memiliki daya tarik bagi investor. yaitu harus dihadiri pemegang obligasi paling sedikit 3/4 dari pokok obligasi dan disetujui oleh paling sedikit 3/4 yang hadir. dalam perjanjian perwaliamanatan dicantumkan berbagai macam bentuk jaminan atas penerbitan obligasi. Kelalaian Wali Amanat Dalam pelaksanaan perjanjian perwaliamanatan. diperlukan korum yang cukup ketat. 38 . kecuali hak Emiten untuk meminta pembatalan perjanjian perwaliamanatan. 13. perubahan tata cara pembayaran bunga dan perubahan jangka waktu. cukup dihadiri pemegang obligasi paling sedikit 2/3 dari pokok obligasi dan disetujui oleh paling sedikit 2/3 yang hadir. baik yang sudah ada maupun yang akan ada dan penjaminan oleh pihak ketiga (guarantor). maka diberlakukan ketentuan dalam Pasal 1267 KUH Perdata. tidak tertutup kemungkinan Wali Amanat lalai dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya. Beberapa perjanjian perwaliamanatan menyebutkan suatu aset tertentu digunakan sebagai jaminan. Sedangkan untuk pengambilan keputusan lain. namun ada pula yang menjaminkan seluruh kakayaan perusahaan. Dalam hal kelalaian itu terjadi. yaitu perubahan nilai pokok obligasi. Mengambil tindakan lain yang dikuasakan oleh atau atas nama pemegang obligasi. 12.

Pernyataan Emiten Dalam perjanjian perwaliamanatan seringkali dirumuskan beberapa pernyataan dari Emiten terkait dengan obligasi yang diterbitkannya. status badan hukum Emiten.Pasal dimaksud mengatur bahwa pihak terhadap siapa perikatan tidak dipenuhi. susunan pengurus informasi dalam pernyataan pendaftaran beserta dokumen pendungkung tidak memuat pernyataan yang tidak benar. 16. 17. v. dapat memilih apakah ia. jika hal itu masih dapat dilakukan. Penyelesaian perselisihan Pasal ini memuat tentang cara atau pilihan penyelesaian sengketa apabila terjadi suatu sengketa yang berhubungan dengan pelaksanaan atau 39 . Keadaan Memaksa (force majeure) Pasal ini memuat tentang keadaan-keadaan yang dapat menyebabkan para pihak dalam kontrak perwaliamanatan (Emiten dan Wali Amanat) karena suatu keadaan tertentu tidak bisa memenuhi kewajiban dan tangung jawabnya sebagaimana telah ditetapkan dalam kontrak perwaliamanatan. iii. iv. ataukah ia akan menuntut pembatalan perjanjian. kelengkapan perijinan yang dimiliki pernyataan tentang perkara yang dihadapi Pemberitahuan pasal ini memuat tentang identitas yang meliputi alamat masing-masing para pihak dalam kontrak perwaliamanatan (Emiten dan Wali Amanat). disertai penggantian kerugian dan bunga. 14. 15. ii. akan memaksa pihak lain untuk memenuhi perjanjian. Pernyataan tersebut antara lain pernyataan tentang: i.

antara lain: 1. Ketentuan Lain-lain Dalam ketentuan lain-lain antara lain diatur bahwa perjanjian perwaliamanat berakhir dengan sendirinya antara lain jika: i. Pertanyaan ini penting mengingat tugas utama dari Wali Amanat adalah mewakili kepentingan pemegang efek bersifat utang untuk mengawasi Emiten sendiri. tidak diperoleh peringkat Efek dari perusahaan pemeringkat efek. Emiten merupakan pihak yang berwenang menunjuk dan membayar jasa suatu lembaga untuk bertindak sebagai sebagai Wali Amanat. Menerima penunjukan sebagai Wali Amanat bagi Bank Umum berarti mendapatkan lahan bisnis dari pihak Emiten. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai sejauhmana hal tersebut berpengaruh terhadap hubungan Emiten dengan Wali Amanat. Keberadaan Wali Amanat: a. Posisi yang tidak seimbang antara keduanya tersebut seringkali menimbulkan keraguan berkaitan 40 . B. Emiten berkuasa dalam menentukan siapa yang dia tunjuk untuk menjadi Wali Amanat. diperoleh keterangan mengenai beberapa permasalahan yang dihadapi Wali Amanat dalam menjalankan tugasnya. Sementara itu. Dalam suatu penerbitan efek bersifat utang. terpenuhinya seluruh hak dan kewajiban yang ditentukan dalam perjanjian perwaliamanatan. MASALAH DAN KENDALA YANG DIHADAPI WALI AMANAT Dari hasil wawancara dengan para narasumber. ii.pemenuhan hak dan kewajiban pada masing-masing pihak dalam kontrak perwaliamanatan 18.

kondisi Emiten dan struktur penawaran efek bersifat utang tersebut. Benturan Kepentingan Dalam Pelaksanaan Tugas Wali Amanat Untuk dapat menjalankan tugas mewakili kepentingan pemegang efek bersifat utang dengan baik. Hal ini sering menimbulkan permasalahan dalam praktik. Wali Amanat perlu terlebih dahulu mempelajari dengan cermat. Selama ini belum ada suatu kode etik yang mengatur hubungan antara Wali Amanat dengan Emiten. Padahal dalam menentukan keputusan apakah bersedia menjalankan tugasnya. 2. Hal-hal yang dapat menimbulkan benturan kepentingan tersebut antara lain: a. seperti misalnya persaingan yang tidak sehat antar sesama Wali Amanat dalam memperoleh klien. Tanpa diberi waktu yang cukup untuk mempelajari dan menganalisi dengan baik maka hal tersebut akan berpengaruh terhadap kinerja Wali Amanat dalam merundingkan ketentuan-ketentuan dalam kontrak Perwaliamanatan dengan Emiten. c. Hubungan Kredit dengan Emiten Hubungan kredit antara Wali Amanat dengan Emiten dapat mengakibatkan benturan kepentingan dalam hal kepentingan Wali Amanat selaku kreditur berbenturan dengan kepentingan 41 . hubungan Wali Amanat dengan pemegang efek bersifat utang dan hubungan antar sesama Wali Amanat. Wali Amanat harus dapat melepaskan diri dari kondisi-kondisi yang dapat mengakibatkan benturan kepentingan dalam pekerjaannya. seringkali Wali Amanat merupakan pihak yang terakhir kali dihubungi untuk terlibat di dalamnya. b.dengan independensi Wali Amanat ketika harus berhadapan dengan Emiten. Dalam penunjukan profesi dan lembaga yang terlibat dalam penawaran umum efek bersifat utang.

sehingga kepentingan pemegang efek menjadi terabaikan. Undang-undang Pasar Modal telah mengamanatkan pembatasan besarnya hubungan kredit antara Wali Amanat dengan Emitennya. misalnya dalam hal terdapat kondisi dimana Emiten mengarah kepada default atas kewajibankewajiban utangnya. Dengan adanya hubungan afiliasi ini. Emiten dapat mempengaruhi Wali Amanat untuk bertindak sesuai kepentingan Emiten. Karena kedua posisi tersebut sama-sama memiliki hubungan kredit.Wali Amanat selaku wakil pemegang efek bersifat utang. dengan belum adanya peraturan pelaksana mengenai hal tersebut. hubungan pengendalian ataupun hubungan kepemilikan saham. Hubungan Afiliasi dengan Emiten Hubungan afiliasi sebagai mana dimaksud dalam pasal 1 ayat 1 UU Pasar Modal mungkin terjadi antara Wali Amanat dengan Emiten. b. Pelarangan ini dapat menghindari adanya benturan kepentingan 42 . Namun. Wali Amanat dapat memilih mengutamakan tindakan penyelamatan atas kredit yang disalurkannya. Untuk itu UU Pasar Modal dalam Pasal 51 ayat (2) telah melarang adanya hubungan afiliasi ini. dengan pengecualian hanya untuk hubungan afiliasi karena kepemilikan saham pemerintah. maka Wali Amanat berhadapan dengan pilihan mengenai kepentingan manakah yang harus didahulukan. maka pihak Wali Amanat belum memiliki dasar pedoman yang pasti mengenai hal ini. Hubungan afiliasi tersebut dapat timbul karena hubungan kekeluargaan. akan tetapi hal itu mungkin merupakan pelanggaran tugasnya selaku Wali Amanat yang harus melakukan tindakan yang terbaik untuk kepentingan pemegang efek bersifat utang. hubungan pengelolaan dan pengawasan.

kepentingan penjamin emisi efek yang utama adalah berkaitan dengan pemasaran efek yang diterbitkan. Wali Amanat harus berusaha sedapat mungkin menegosiasikan syarat-syarat dan kondisi yang terbaik dari sudut kepentingan kreditur. Penjamin Emisi akan cukup puas selama syarat dan kondisi obligasi yang ditawarkan menarik bagi investor. d. Bertindak sebagai penanggung pada emisi Efek yang sama Dengan menjadi penanggung atas utang Emiten. Wali Amanat perlu secara jujur dan transparan mengungkapkan kepada publik mengenai ada tidaknya hubungan afiliasi dimaksud. Hubungan Afiliasi dengan Penjamin Emisi Dalam suatu penerbitan efek bersifat utang. Mengundurkan diri sebagai 43 . Untuk itu UU Pasar Modal dalam pasal 54 melarang perangkapan posisi tersebut demi perlindungan kepentingan pemegang efek bersifat utang. Kondisi-kondisi di atas sangat mungkin terjadi dalam praktik kegiatan usaha Wali Amanat sebagai Bank Umum.sebagaimana tersebut di atas. perlu kiranya terdapat pembatasan atas hubungan afiliasi antara Wali Amanat dengan Penjamin Emisi Efek agar masing-masing pihak dapat melaksanakan tugasnya secara lebih independen tanpa saling mempengaruhi satu sama lain. Dalam hal terdapat hubungan afiliasi maka Wali Amanat harus mengundurkan diri dari posisi sebagai Wali Amanat. Hal ini berbeda dengan sudut pandang kepentingan Wali Amanat yang bertindak untuk kepentingan keamanan investasi pemegang efek bersifat utang. maka Wali Amanat sekaligus berdiri pada dua posisi yang berseberangan. c. Untuk itu. Untuk itu. yaitu sebagai pihak yang mewakili kreditur dan sebagai pihak yang justru wajib menanggung kewajiban utang debitur (Emiten) dalam hal terjadi wan prestasi.

Beberapa kesulitan dalam implementasi ketentuan ini antara lain karena sampai saat ini belum ada ketentuan mengenai standar kinerja yang wajib dipenuhi oleh Wali Amanat. sehingga hal tersebut mempersulit dalam pelaksanaan kegiatan Wali Amanat.Wali Amanat apabila terdapat benturan kepentingan adalah salah satu pilihan yang bisa diambil. Konsekuensi hukum yang diberikan oleh undang-undang Pasar Modal kepada Wali Amanat adalah berupa kewajiban memberikan ganti rugi kepada pemegang Efek bersifat utang atas kerugian yang timbul karena kelalaian. kecerobohan atau benturan kepentingan dalam pelaksanaan tugasnya. Ketiadaan pedoman/standar dalam penyusunan kontrak perwaliamanatan Kontrak Perwaliamanatan pada umumnya disusun atas inisiatif dari pihak emiten sebagai debitur bersama penjamin emisi sebelum penawaran umum dilakukan. Akan tetapi mengingat saat ini jumlah Wali Amanat di pasar modal Indonesia saat ini masih sangat terbatas. Pertanyaan beikutnya adalah siapakah pihak yang paling berkompeten untuk menentukan standar kinerja tersebut. maka hal ini dapat menimbulkan kesulitan bagi Emiten untuk memperoleh Wali Amanat yang bebas dari benturan kepentingan. 4. Keterlibatan pemegang efek bersifat utang selaku kreditur pada saat itu tidak dapat dilakukan secara langsung. Fungsi dan Tugas Wali Amanat Yang Tercantum Dalam UU Pasar Modal belum terdapat pengaturan pelaksanaannya. melainkan diwakili oleh Wali Amanat. Dengan demikian pemegang efek bersifat utang menggantungkan sepenuhnya pada Wali Amanat dalam 44 . Apakah pihak Asosiasi Wali Amanat atau Bapepam selaku regulator di pasar modal. sehingga apabila Wali Amanat gagal memenuhinya dan timbul kerugian maka pemegang efek dapat menuntut ganti rugi. 3.

dan kewajiban melakukan pemeringkatan setahun sekali. serta membuktikan adanya dana untuk pelunasan utang pokok pada escrow account sebulan sebelum jatuh tempo. Apakah isi dari kontrak perwaliamanatan yang dihasilkan cukup mewakili aspirasi dan kepentingan pemegang efek. antara lain dengan adanya jaminan khusus/agunan. Di pihak Emiten seringkali hal tersebut diharapkan tidak perlu ada dengan alasan akan memberatkan emiten. Hal ini berakibat Wali Amanat kurang mampu memasukkan ketentuanketentuan yang berguna untuk melindungi kepentingan investor apabila emiten keberatan dengan ketentuan-ketentuan. banyak tergantung pada kemampuan Wali Amanat dalam melakukan perundingan dan negosiasi dengan para pihak terkait. Dipihak 45 .melakukan perundingan terhadap ketentuan-ketentuan dalam kontrak perwaliamanatan. Ketentuan yang memberikan kepastian terhadap pembayaran utang pokok umumnya diharapkan Wali Amanat juga tercantum dalam kontrak. Namun demikian. sinking fund. terutama dengan Emiten. pihak Wali Amanat sendiri sampai saat ini tidak memiliki suatu pedoman yang dapat dijadikan dasar acuan mengenai hal-hal yang harus dimuat dalam kontrak perwaliamanatan agar aspek perlindungan kepentingan pemegang efek tidak terabaikan. seperti kewajiban melaporkan rencana pembayaran pokok setaun sebelum jatuh tempo. pernyataan kesanggupan membayar utang pokok enam bulan sebelum jatuh tempo. Beberapa hal yang sering menjadi perdebatan antara Emiten dengan Wali Amanat antara lain: a. kewajiban atau pembatasan yang diajukan Wali Amanat. Wali Amanat mengharapkan dalam penerbitan efek bersifat utang sedapat mungkin terdapat ketentuan pengaman.

serta kewajiban mempertahankan rasio-rasio keuangan tertentu. ketentuan yang jelas mengenai hak-hak efek bersifat utang yang dibuyback. Wali Amanat merasa perlu memasukkan ketentuan kewajiban dan Pembatasan yang harus dipenuhi Emiten. jangka waktu dan pokok efek bersifat utang. Wali Amanat juga mengharapkan Emiten tidak dapat melakukan buyback. larangan melakukan merger dan konsolidasi. khususnya untuk menentukan perubahan ketentuan-ketentuan penting dalam kontrak perwaliamanatan seperti: bunga. larangan membayar dividen tunai. dengan maksud untuk mempermudah dalam melakukan pengawasan kepada emiten. Di pihak Emiten. seperti: adakah hak suara maupun hak bunga. Belum adanya standar rasio-rasio keuangan yang berlaku pada industriindustri tertentu terkadang juga menyulitkan Wali Amanat untuk memperoleh kesepakatan dengan pihak Emiten. karena belum ada peraturan perundangan yang tegas mengaturnya maka pengaturannya dalam kontrak perwaliamanatan masih tergantung kesepakatan para pihak. sedapat mungkin pembatasan dan kewajiban tersebut tidak memberatkan sehingga apabila terjadi sedikit pelanggaran tidak mengakibatkan emiten dinyatakan wanprestasi atas kontrak perwaliamanatan. Korum untuk meminta persetujuan perubahan hal-hal yang penting dalam kontrak perwaliamanatan 46 . dan lain-lain. Selama ini. Dalam kondisi wan prestasi. b. c. Ketentuan mengenai tata cara dan korum RUPO. Pembatasan tersebut misalnya: larangan membuat hutang baru. Dalam ketentuan mengenai pembelian kembali efek bersifat utang. d.Emiten umumnya memandang hal tersebut tidak perlu dicantumkan. Wali Amanat mengharapkan sebelum ada ketentuan mengenai serta keterbukaan informasi pelaksanaan buyback.

sudah sewajarnya lebih besar dari pada RUPO yang membahas masalah lain. yaitu hanya memonitor wanprestasi kondisi atau Emiten. Wali Amanat harus berhadapan dengan Emiten untuk memperjuangkan hak-hak pemegang efek lewat institusi peradilan. Wali Amanat akan mengalami kesulitan terutama dalam hal pembiayaan proses litigasi tersebut. maka posisi Wali Amanat menjadi aktif dalam melaporkan hal tersebut kepada pemegang efek bersifat utang dan melakukan upaya agar Emiten dapat memperbaiki pelanggaran tersebut. ketika Emiten mengalami dan melakukan pelanggaran atas pembatasan kewajiban yang ada dalam kontrak perwaliamanatan. maka posisi Wali Amanat saat itu relatif pasif. Dalam hal waktu yang diberikan untuk emiten dapat memperbaiki pelanggaran telah terlampaui maka Wali Amanat dapat memanggil pemegang efek untuk mengadakan rapat umum pemegang efek bersifat utang yang membahas tinakan apa yang harus dilakukan. Besarnya denda keterlambatan pembayaran kewajiban bunga maupun pokok saat ini belum ada dasar acuan yang dapat dipakai oleh para pihak. Tindakan yang diambil Wali Amanat Dalam hal Emiten Wanprestasi Dalam kondisi Emiten dapat melaksanakan seluruh kewajibannya dengan baik. Dalam kondisi yang paling buruk. Bila dilihat besarnya imbalan jasa yang diterima Wali Amanat selama ini. maka sangat tidak mungkin Wali Amanat harus menanggung biaya yang tidak sedikit tersebut. e. C. Namun. 5. PEMBAHASAN HASIL KUESIONER Guna mendapatkan masukan yang mewakili aspirasi dari seluruh pihak yang terlibat langsung dan berkepentingan dalam permasalahan 47 . Dalam hal demikian.

8 100.1 26.1 22. 53 (35%) responden telah mengisi dan mengembalikan kepada Tim Studi.0 Komposisi responden yang diperoleh dirasa telah cukup berimbang karena tidak terdapat satu atau beberapa kategori yang terlalu mendominasi dalam pemberian masukan dalam kuesioner. Emiten Obligasi. Tim Studi telah menyebarkan 150 kuesioner kepada para responden yang digolongkan menjadi 5 kategori. 2. Dari hasil pengembalian kuesioner tersebut akan dilakukan analisis atas jawaban responden. Hasil jawaban kuesioner studi perwaliamanatan selengkapnya adalah sebagai berikut:: 1.perwaliamanatan di Pasar Modal Indonesia. Profil responden: Kelompok Responden Notaris Konsultan Hukum Wali Amanat Emiten Investor Jumlah Frekuensi 8 12 8 14 11 53 Prosentase 15. diharapkan hasilnya cukup mencerminkan aspirasi seluruh pihak yang berkepentingan di Pasar Modal Indonesia. Notaris.4 20.6 15. Pendekatan yang dilakukan dalam melakukan analisis adalah dengan pendekatan legal dengan mempertimbangkan dinamika dan kebutuhan pasar. Pedoman Kontrak Perwaliamanatan Berkenaan dengan pertanyaan mengenai seberapa perlunya terdapat suatu pedoman yang dapat dipakai oleh para pelaku sebagai dasar acuan dalam pembuatan kontrak perwaliamanatan. Dengan demikian. Wali Amanat dan Investor. jawaban responden adalah sebagai berikut: 48 . yaitu: Konsultan Hukum. Dari jumlah tersebut.

UU Pasar Modal dalam Pasal 52 telah mewajibkan Emiten dan Wali Amanat mengikuti ketentuan dari Bapepam dalam pembuatan kontrak perwaliamanatan mereka. antara lain mengenai: a. (1) Pengaturan secara rinci tentang ketentuan penggunaan dana hasil penawaran umum oleh Emiten pada umumnya selalu tercantum dalam kontrak perwaliamanatan. dan e. Lebih lanjut. 3. Agen Pembayaran. d. b. Jaminan (jika ada). Berkaitan dengan hal ini. ketentuan dari Bapepam mengenai pedoman kontrak perwaliamanatan sebagaimana diamanatkan Undang-undang Pasar Modal belum terwujud. Tugas dan fungsi Wali Amanat Hingga saat ini. Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum Obligasi.0 Dengan hasil 60. Saat jatuh tempo. maka dapat disimpulkan bahwa seluruh pelaku pasar sepakat bahwa pedoman kontrak perwaliamanatan merupakan hal yang mutlak dibutuhkan di pasar modal Indonesia.Jawaban Sangat perlu Perlu Kurang perlu Tidak perlu Jumlah Frekuensi 32 21 53 Prosentase 60.6%) juga mendukung perlunya hal tersebut: 49 .6 100. dalam Penjelasan Pasal 52 tersebut dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan “ketentuan yang ditetapkan Bapepam” adalah hal-hal yang wajib dimuat dalam kontrak perwaliamanatan antara lain.4 39. c. Mayoritas responden studi ini (90. serta manfaat lain dari Emiten.6% menyatakan perlu.4% menyatakan sangat perlu dan 39. Utang pokok dan bunga.

K. (2) Selanjutnya.Jawaban Sangat perlu Perlu Kurang perlu Tidak perlu Jumlah Frekuensi 25 23 5 53 Prosentase 47.4%) saja responden yang menganggap hal tersebut kurang perlu.4 100. Hal tersebut kemungkinan karena pengaturan yang rinci dianggap akan membatasi fleksibilitas Emiten dalam menggunakan dana yang diperoleh secara maksimal.0 Hanya sebagian kecil (9. Ketentuan mengenai kewajiban pelaporan penggunaan dana hasil emisi obligasi selama ini hanya diberlakukan bagi Emiten kepada Bapepam.2 43.4 tentang Laporan Realisasi Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum.0 Jumlah responden yang menyatakan hal tersebut kurang perlu (15.1 100. mayoritas responden juga menyatakan sangat perlu atau perlu: Jawaban Sangat perlu Perlu Kurang perlu Tidak perlu Jumlah Frekuensi 18 27 8 53 Prosentase 34. Sedangkan bagi Wali Amanat. mengenai pertanyaan apakah Wali Amanat perlu diwajibkan memonitor penggunaan dana tersebut secara aktif serta melaporkan hasilnya kepada publik dan Bapepam. dalam 50 .4 9.1%) mencerminkan bahwa hanya sedikit pelaku pasar yang berpandangan bahwa keterbukaan informasi kepada publik mengenai penggunaan dana hasil emisi obligasi bukan hal yang penting dilakukan. Hal ini sebagaimana diatur dalam Peraturan Bapepam Nomor X.0 50.9 15.

Namun berdasarkan masukan dari pelaku pasar di atas. hanya 11. 69.Peraturan Bapepam Nomor X.K.6 13.2 100.0 Hasil di atas selaras dengan ketentuan Peraturan Bapepam Nomor X.2% yang mendukung pemberian persetujuan cukup oleh Wali Amanat. dalam hal terjadi kelalaian Wali Amanat dalam menjalankan tugas monitoring penggunaan dana tersebut. kiranya penyempurnaan atas peraturan Bapepam tersebut menjadi cukup beralasan. Jawaban Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah Frekuensi 8 8 30 7 53 Prosenatse 15.3% responden yang menyatakan tidak perlu diatur konsekuensi hukumnya.I. penggunaan dana hasil emisi memang tidak secara khusus dinyatakan sebagai hal yang wajib dilaporkan kepada Bapepam dan dilaporkan kepada pemegang publik. sedangkan mayoritas (88.8% responden kurang/tidak setuju apabila hal tersebut didelegasikan kewenangannya kepada Wali Amanat tanpa melalui mekanisme persetujuan pemegang obligasi (Rapat Umum Pemegang Obligasi/RUPO).1 15.1 56.7%) merasa perlu Wali 51 . yang dalam angka 4 huruf c yang hanya mensyaratkan perubahan penggunaan dana yang berasal dari penawaran umum obligasi untuk mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari Wali Amanat setelah disetujui oleh Rapat Umum Pemegang Obligasi (4) Selanjutnya.1 tentang Laporan Wali Amanat. (3) Berkaitan dengan pihak yang berwenang memberikan persetujuan atas perubahan penggunaan dana. Hanya 30.4 tentang Laporan Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum.

3 100. berdasarkan ketentuan (angka 5 huruf b Peraturan IX. Namun demikian. mengingat dalam penerbitan obligasi. Secara umum. Emiten dapat bertindak bebas tanpa perlu persetujuan Wali Amanat atau para pemegang obligasi.C. sepanjang tidak bertentangan dengan hukum dan tidak mengganggu hak pihak lain. Emiten sebagai pemilik berhak menikmati kegunaan dan berbuat bebas terhadap dana tersebut.2 11. Jawaban Sangat perlu Perlu Kurang perlu Tidak perlu Jumlah Frekuensi 13 34 6 53 Prosentase 24. Berdasarkan konsep hak milik.2. Emiten sebagai penerima pinjaman (dana) demi hukum menjadi pemilik dari dana tersebut. 52 .0 Konsekuensi hukum atas kelalaian Wali Amanat memonitor penggunaan dana Emiten tersebut dapat didasarkan pada ketentuan dalam Pasal 53 Undang-undang Pasar Modal yang menyatakan Wali Amanat wajib memberikan ganti rugi kepada pemegang Efek bersifat utang atas kerugian karena kelalaiannya dalam pelaksanaan tugasnya sebagaimana diatur dalam Undangundang Pasar Modal dan atau peraturan pelaksanaannya. serta kontrak perwaliamanatan.5 64. maka Emiten dituntut konsisten dengan apa yang telah dinyatakan kepada masyarakat.Amanat dikenakan suatu sanksi apabila lalai memonitor penggunaan dana dimaksud. Emiten harus menyatakan rencana penggunaan dana hasil penerbitan obligasi tersebut. (Pasal 570 KUHPerdata) Pada dasarnya dalam penggunaan dana hasil penerbitan obligasi.

4% menyatakan sebaliknya: Jawaban Tidak jawab Ya Tidak Jumlah Pendapat mayoritas Frekuensi 1 47 5 53 responden ini Prosentase 1.7% responden menyatakan “ya” dan hanya 9.Pernyataan rencana penggunaan dana tersebut menjadi semacam “janji” kepada investor dan hal tersebut menjadi salah satu alasan utama para investor bersedia membeli obligasi yang ditawarkan. namun pembatasan tersebut tidak bertentangan atau selaras dengan upaya memberikan perlindungan kepada masyarakat investor.9 88. Perubahan “janji” tersebut selayaknya memperoleh persetujuan dari pihak kepada siapa “janji” tersebut diberikan. Faktor Yang Mempengaruhi Independensi Wali Amanat (1) Berkenaan dengan pertanyaan mengenai apakah hubungan kredit antara Wali Amanat dengan Emiten obligasi perlu dibatasi dengan alasan akan menimbulkan benturan kepentingan dalam pelaksanaan tugas Wali Amanat. 4. yang menjelaskan bahwa pembatasan hubungan kredit antara Wali Amanat dengan Emiten dimaksudkan untuk menghindari benturan kepentingan pada Wali Amanat dalam melaksanakan kegiatannya sebagai wakil pemegang obligasi di satu sisi dan sebagai kreditur atau debitur dari Emiten disisi yang lain. yaitu investor/para pemegang obligasi. Hal ini diperlukan agar Wali Amanat dapat melaksanakan fungsinya 53 . meskipun penggunaan hak milik atas dana tersebut dibatasi.7 9.4 100. sebanyak 88.0 sudah sejalan dengan ketentuan Penjelasan Pasal 51 ayat (3) UU Pasar Modal. Dengan demikian.

Dari hasil jawaban responden ini dapat disimpulkan bahwa mayoritas pelaku pasar modal 54 .8% responden mengharapkan tidak ada pembatasan hubungan kredit sama sekali. sebaliknya 3.3 5.7%) menjawab tidak lebih dari 20% dari nilai pokok obligasi.3% responden memilih angka tidak lebih dari 30% dan 5.0 Dalam Pasal 51 ayat (3) Undang-undang Pasar Modal telah diamanatkan kepada Bapepam untuk mengatur mengenai batasan hubungan kredit dimaksud.secara independen sehingga dapat melindungi kepentingan pemegang obligasi secara maksimal (2) Selanjutnya.7 2 1 2 53 3. mengenai besarnya batasan yang ideal hubungan kredit antara keduanya.8% lainnya justru mengharapkan tidak boleh sama sekali ada hubungan kredit. 11. Mengingat sampai saat ini Bapepam belum menentukan/memiliki dasar acuan bagi penentuan batasan dimaksud.8 100.9 3.7 11. sebutkan: Nihil Tergantung jumlah emisi obligasi Tidak boleh ada hub kredit Jumlah Frekuensi 12 20 6 3 Prosentase 22. Sebanyak 3. sementara 22.7% menyebut angka tidak lebih dari 50%. Jawaban Tidak lebih dari 10% dari Nilai pokok Obligasi Emiten Tidak lebih dari 20% dari Nilai pokok Obligasi Emiten Tidak lebih dari 30% dari Nilai pokok Obligasi Emiten Tidak lebih dari 50% dari Nilai pokok Obligasi Emiten Jumlah lain.6 37.8 1. mayoritas responden (37. maka pertanyaan di atas dimaksudkan untuk memperoleh gambaran mengenai pendapat pelaku pasar terhadap besaran hubungan kredit tersebut.6% responden menyetujui angka tidak lebih dari 10% dari nilai pokok obligasi.

Hasil survey menunjukkan bahwa secara umum mayoritas responden (20. (4) Menjawab pertanyaan mengenai apakah hubungan afiliasi antara Wali Amanat dengan Penjamin Emisi Efek juga perlu dibatasi agar masing-masing dapat melaksanakan fungsinya secara independen. sedangkan sisanya 20.5 15.8%) menyatakan bahwa afiliasi dalam bentuk hubungan kepemilikan dan hubungan pengendalian merupakan dua hal utama yang mengakibatkan benturan kepentingan pada Wali Amanat. UU Pasar Modal hanya memberikan toleransi atas hubungan afiliasi ini apabila timbul dari kepemilikan atau penyertaan modal pemerintah.7 41. dapat juga merupakan faktor yang mempengaruhi efektifitas pelaksanaan tugas Wali Amanat tersebut.(71. diperoleh jawaban bahwa 79. Selain itu faktor hubungan kredit dan hubungan transaksi komersial lainnya dengan Emiten obligasi.8% menyatakan sebaliknya.6%) menyatakan bahwa batasan paling ideal hubungan kredit tersebut tidak lebih dari 10% . Jawaban Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah Frekuensi 20 22 8 3 53 Prosentase 37.2% responden setuju atau sangat setuju. (3) Selain pembatasan hubungan kredit dengan Emiten.0 55 .7 100.30% dari nilai pokok obligasi yang diterbitkan oleh Emiten.1 5. terdapat pula kemungkinan bahwa hubungan afiliasi antara Wali Amanat dengan Emiten dapat mempengaruhi independensi Wali Amanat dalam menjalankan tugasnya mewakili kepentingan pemegang obligasi.

5. serta memberikan rasa aman karena kedudukan kreditur obligasi bersifat preferen. jo. jo. secara aktif memonitor kondisi keuangan dan peringkat obligasi Emiten.8 34. 1134 KUH Perdata. Dalam ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. cash flow serta karakter manajemen Emiten. jo Pasal 1131 s. antara lain Pasal 28.0 17.d.8% responden menyatakan setuju atau sangat setuju dan 30. Jawaban Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah Frekuensi 19 18 9 7 53 Prosentase 35. Pasal 33. Pasal 39.0 13.0 Dari pihak yang mendukung adanya jaminan khusus memberikan beberapa alasan antara lain bahwa dengan adanya jaminan khusus maka akan lebih menarik investor. mengurangi risiko kerugian dalam hal terjadi wan prestasi. Jaminan Dalam menjawab pertanyaan mengenai perlu tidaknya Emiten obligasi diwajibkan memberikan jaminan khusus untuk pelunasan utang obligasi yang diterbitkannya.2 100. Sedangkan bagi yang merasa jaminan khusus kurang atau tidak terlalu penting memberikan alasan bahwa ketiadaan jaminan khusus tidak perlu dipermasalahkan sepanjang investor dapat menganalisa prospektus dan laporan keuangan periodik Emiten. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria. 69. Jaminan kebendaan atas suatu utang mengakibatkan timbulnya kedudukan istimewa (preferensi) bagi kreditor yang memegang jaminan 56 . serta memperhatikan kompetensi. dalam suatu perikatan utang piutang dapat ditambahkan perjanjian tambahan (assesoir) berupa jaminan kebendaan.2% menyatakan kurang atau tidak setuju.

0 17. Sinking Fund (1) Atas pertanyaan mengenai setujukah responden apabila Emiten obligasi diwajibkan mencadangkan sinking fund bagi pelunasan utang obligasi.1 18.8 32.3 100.6%): Jawaban Tidak jawab Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah Frekuensi 1 13 18 9 12 53 Prosenatse 1. Jaminan umum timbul secara otomatis berdasarkan ketentuan Pasal 1131 KUH Perdata. 6. secara hukum dikenal 2 bentuk penanggungan/jaminan.0 Lebih lanjut. jaminan umum dan jaminan khusus. diperoleh hasil 67.9 11.9 24.0 Dalam konteks penanggungan / penjaminan utang.5%) dan responden yang kurang atau tidak setuju sebesar (39.6 100. yaitu.9% setuju dan sangat setuju dan sisanya kurang atau tidak setuju: Jawaban Tidak jawab Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah (2) Frekuensi 1 19 17 10 6 53 Prosenatse 1.0 22.kebendaan tertentu untuk memperoleh pelunasan mendahului kreditur yang tidak memegang jaminan kebendaan tertentu. terhadap pertanyaan apakah responden setuju apabila dana yang dicadangkan tersebut dapat sewaktu-waktu dipakai untuk membiayai tindakan hukum dalam hal Emiten mengalami wan prestasi.5 34.9 35. dimana seluruh 57 . mayoritas responden menyatakan setuju atau sangat setuju namun dengan prosentase yang sedikit lebih rendah (58.

misalnya aturan tentang gadai dan hipotik. Meskipun tidak dinyatakan sebagai jaminan namun sinking fund memiliki karakteristik yang menyerupai jaminan kebendaan.harta kekayaan debitor. Keberadaan jaminan ini menentukan tingkat preferensi kreditor tertentu terhadap kreditor lainnya. Dalam kaitannya dengan perlindungan investor. keberadaan sinking fund memberikan dampak yang positif. Permasalahan hukum yang serius adalah apabila Emiten dinyatakan pailit atau dilikuidasi. Pemeringkatan Obligasi (1) Responden menanggapi sangat positif terhadap ide adanya pemeringkatan obligasi yang dilakukan setiap tahun atau update rating setiap saat bila terjadi peristiwa yang secara material mempengaruhi kemampuan Emiten dalam memenuhi kewajiban 58 . sedangkan Emeiten telah membentuk sinking fund. baik yang sudah ada maupun yang akan ada merupakan jaminan dari perikatan-perikatan yang dibuat debitor tersebut. sepanjang emiten tidakberada dalam kepailitan dan likuidasi. Pertanyaan lebih lanjut adalah apakah dengan adanya sinking fund tersebut pemegang obligasi berkedudukan istimewa sehingga sinking fund tersebut hanya dapat digunakan untuk pelunasan obligasi atau sinking fund tersebut berkedukan bebas sehingga dapat digunakan untuk melunasi kewajiban kepada seluruh kreditur secara proporsional?. Dalam kaitannya dengan sinking fund. 7. Sedangkan dalam jaminan khusus dibuat perjanjian tambahan secara khusus (assesoir) atas kebendaan tertentu dan mengikuti aturan-aturan tertentu. terdapat permasalahan hukum yang menarik untuk dikaji lebih lanjut.

9% tidak setuju: Jawaban Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah (2) Mengenai bagaimanakah Frekuensi 20 32 1 53 sebaiknya Prosentase 37.2% setuju dibanding 3.5% menyatakan sebaiknya diatur dalam peraturan Bapepam.obligasinya. Hal ini terlihat dari angka 98.1% setuju atau sangat setuju.7 60.0 Namun dalam hal ditanyakan setujukah responden bila Emiten mengalami penurunan peringkat obligasi diwajibkan (2) memberikan atau menambah nilai jaminan obligasi. Hal ini terlihat dari angka 96.5% dibandingkan 41.0 pengaturan mengenai masalah buy back obligasi ini dilakukan.4 1.6 Setuju 21 39. berbanding 1.8 Tidak setuju Jumlah 53 100.6 28.0 Pembelian Kembali Obligasi (buy back) (1) Mayoritas responden setuju apabila pembelian kembali obligasi oleh Emiten dilakukan. Frekuensi 10 21 15 7 53 Prosentase 18. 41.3 13.9 100.2 100.5% yang tidak atau kurang setuju: Jawaban Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah 8. maka jumlah yang setuju masih mayoritas meskipun tidak mutlak yaitu sebesar 58.5% 59 .6 Kurang setuju 2 3.9 39. 32% menyatakan diatur dalam Kontrak Perwaliamanatan sedangkan sisanya (24.8% kurang setuju: Jawaban Frekuensi Prosenatse Sangat setuju 30 56.

Jawaban Tidak jawab Diatur di dalam Perwaliamanatan Diatur dalam peraturan Bapepam tersendiri Tidak ditentukan pengaturannya secara khusus dan diserahkan kepada kesepakatan para pihak Jumlah (3) Frekuensi 1 Perjanjian 17 22 13 Prosentase 1.8 7. maka jawabannya adalah 88.5 53 100.7 20.9 32.7 100.5 100.00 71.3% menyatakan sebaliknya: Jawaban Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah Frekuensi 18 20 11 4 53 Prosentase 34.1 41.5 24.7% responden setuju atau sangat setuju dan 28.0 (4) Pertanyaan mengenai sumber pendanaan buy back obligasi berasal dari keuntungan yang diperoleh dari kegiatan yang dibiayai penerbitan obligasi.4% yang tidak setuju: Jawaban Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah Frekuensi 9 38 3 3 53 Prosentase 17. mengenai ketentuan larangan Emiten melakukan buy back apabila dalam keadaan wanprestasi kewajiban obligasi.7 5.0 37. perlukah diselenggarakan RUPO baik secara berkala maupun insidentil?”. 71. 60 . Rapat Umum Pemegang Efek Bersifat Utang (Obligasi) (1) Terhadap pertanyaan “Menurut pendapat Anda.memilih tidak ditentukan pengaturannya melainkan diserahkan kepada kesepakatan para pihak.0 9.0 Selanjutnya.7% setuju berbanding 11.7 5.

8 Jumlah 53 100. Jawaban Frekuensi Prosentase Tidak jawab 1 1. peminjam (Emiten) berhak untuk menikmati atau menggunakan uang atau dana tersebut dengan bebas. sejauh ini memang tidak terdapat ketentuan khusus yang mengatur mengenai RUPO. sehingga Peminjam (Emiten) menjadi pemilik mutlak/penuh atas uang atau dana yang diperoleh dari penerbitan obligasi (Pasal 1755 KUHPerdata).8 Tidak perlu 2 3. baik secara berkala maupun secara insidentil. tanpa perlu memperoleh persetujuan dari pihak tertentu. sepanjang tidak melanggar berlaku.3%) memandang perlu adanya Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO).9 Sangat perlu 12 22. Sedangkan uang. maka para pihak yang membuat perjanjian dapat menetapkan syarat-syarat. termasuk jenis barang yang menghabis karena ketentuan peraturan perundang-undangan yang pemakaiannya.mayoritas responden (73. penerbitan efek bersifat utang didasarkan pada perjanjian pinjam-meminjam. mengingat pada prinsipnya penerbitan obligasi atau surat utang lainnya dilakukan berdasarkan perjanjian. Secara umum.6 Perlu 27 50.9 Kurang perlu 11 20. Sebagai pemilik mutlak atau penuh. sepanjang tidak melawan hukum dan mengganggu 61 . dimana objek perjanjian/perikatan tersebut adalah sejumlah uang. Konsekuensi dari pinjam peminjam dengan ojek berupa barang yang menghabis karena pemakaiannya adalah beralihnya kepemilikan atas barang tersebut kepada peminjam (Emiten). menurut hemat kami.0 Berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Namun demikian.

Penetapan syarat dalam perjanjian perwaliamanatan. namun dalam hal tertentu hak tersebut dibatasi oleh undang-undang. jika tidak ada maksud dari para pihak untuk menarik atau merubah isi perjanjian. maka dapat dikatakan tidak perlu diadakannya RUPO. baik bagi Emiten maupun bagi investor. Sifat “unik” dari penerbitan obligasi melalui pasar modal yang berbeda dengan perjanjian pinjam-meminjam pada umumnya 62 . Mengingat penerbitan obligasi berbasis pada suatu perjanjian. Atau dengan kata lain.kepentingan pihak lain (Pasal 570 KUHPerdata). Terkait dengan RUPO. sepanjang disepakati oleh para pihak dan tidak bertentangan dengan undang-undang (Pasal 1320 dan 1338 KUHPerdata). yang tercermin dalam perjanjian perwaliamanatan. namun hal tersebut tidak selamanya memberikan manfaat maksimal. ketentuan tersebut di atas relevan sepanjang RUPO tersebut dimaksudkan untuk menarik/ membatalkan atau merubah isi perjanjian perwaliamanatan. meskipun Emiten berhak menggunakan uang hasil penerbitan obligasi secara penuh. Berdasarkan hal tersebut. maka setiap klausul dalam perjanjian tersebut berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak yang membuat perjanjian dan hanya dapat ditarik/dibatalkan atau diubah dengan kesepakatan para pihak yang membuat perjanjian atau karena diwajibkan oleh kententuan undang-undang (Pasal 1338 KUH perdata). Meskipun pencantuman kewajiban menyelenggarakan RUPO tidak bertentangan dengan undang-undang. dimana didalamnya mengatur kewajiban untuk mengadakan rapat umum kreditur (dalam hal obligasi populer dengan sebutan RUPO) merupakan sesuatu yang dapat dilakukan.

adalah adanya peran Wali Amanat dalam pembuatan dan pelaksanaan perjanjian penerbitan obligasi. Sifat “unik” tersebut muncul karena pada saat dibuatnya perjanjian belum diketahui secara pasti pihak yang akan memberikan pinjaman (kreditur), hal tersebut dikarenakan penjualan /penerbitan obligasi tersebut ditawarkan kepada masyarakat, yang tidak dapat diidentifikasi secara pasti. Agar syarat sahnya perjanjian (syarat subjektif) terpenuhi, yaitu adanya kesepakatan para pihak dan adanya kecakapan (dan kewenangan) dari subjek perjanjian, maka Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Undang-undang Modal (UUPM)

mengintrodusir konsep Wali Amanat, yang berdasarkan undangundang diberikan diberi kuasa untuk mewakili kepentingan investor obligasi (efek bersifat utang) – Pasal 51 UUPM. Berdasarkan kuasa dari undang-undang tersebut, Wali Amanat membuat perjanjian penerbitan obligasi dengan Emiten, serta melaksanakan segala sesuatu yang terkait dengan pelaksanaan perjanjian, untuk kepentingan pihak yang diwakili (investor obligasi/efek bersifat utang). Sifat “unik” lain dari penerbitan obligasi adalah adanya kewajiban berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan untuk mempublikasikan informasi-informasi penting tentang

penerbit/Emiten/debitur kepada calon investor/kreditor dalam suatu dokumen yang bernama Prospektus. Salah satu yang harus dipublikasikan dalam Prospektus adalah peringkat Efek yang diterbitkan oleh lembaga pemeringkat Efek (rating) yang secara umum mencerminkan kemampuan dari penerbit efek/Emiten untuk memenuhi kawajibannya atas efek yang diterbitkannya (Peraturan Bapepam Nomor IX.C.2 dan Nomor IX.C.3).

63

Meskipun peringkat efek (rating) tersebut tidak tercantum dalam perjanjian perwaliamanatan, namun mengingat penyajian

Prospektus merupakan suatu kewajiban yang lahir dari undangundang (Pasal 70 UUPM), maka seluruh informasi dari Prospektus merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari isi perjanjian perwaliamanatan. Pendekatan ini didasarkan pada Pasal 1339 KUH Perdata yang menyatakan bahwa “persetujuan tidak hanya mengikat apa yang dengan tegas didalamnya, melainkan juga segala sesuatu yang menurut sifat persetujuan dituntut berdasarkan keadilan,

kebiasaan atau undang-undang”. Jika dikaitkan antara ketentuan pasal 1339 KUH Perdata dengan Peraturan Nomor IX.C.2 dan IX.C.3 serta isi perjanjian

perwaliamanatan, maka antara ketiganya harus dilihat sebagai satu kesatuan. Dalam arti bahwa pelaksanaan perjanjian

perwaliamanatan tidak hanya memperhatikan isi dari perjanjian, namun juga wajib memperhatikan peraturan perundang-

undangan lain yang terkait dengan penerbitan obligasi/surat utang serta kebiasaan yang lazim berlaku di masyarakat. Salah satu contoh dari penerapan Pasal 1339 KUH Perdata dalam kaitannya dengan penerbitan obligasi atau Efek bersifat utang di pasar modal adalah pengungkapan peringkat obligasi atau Efek bersifat utang (rating). Meskipun rating tersebut tidak diungkap dalam perjanjian perwaliamanatan, dan hanya diungkapkan dalam Prospektus, namun hal tersebut tidak berarti bahwa Wali Amanat maupun Emiten dalam melaksanakan perjanjian

perwaliamanatan tidak memperhatikan lagi atau tidak “peduli” dengan rating atas obligasi yang diterbitkannya.

64

Sebagaimana diketahui bahwa rating atas suatu obligasi atau Efek bersifat utang merupakan salah satu dasar utama bagi investor untuk memutuskan membeli atau tidak obligasi atau Efek bersifat utang yang ditawarkan. Bahkan nilai informasi tentang rating tidak hanya investor yang akan membeli obligasi berharga pada saat investor akan membeli obligasi atau Efek bersifat utang di pasar perdana, tetapi juga bagi investor yang akan membeli

obligasi atau Efek bersifat utang di pasar sekunder. Mengingat nilai dan relevansi nilai informasi tersebut, maka menjadi sesuatu yang logis jika investor meminta kepada Emiten agar selalu menyajikan informasi yang relevan dengan obligasi yang diterbitkannya. Berdasarkan undang-undang, kreditur dalam hal ini pemegang obligasi atau Efek bersifat utang dapat mengajukan tidak berlakunya tindakan yang seharusnya tidak dilakukan oleh debitur (Emiten) yang merugikan kreditur (pemegang obligasi) Pasal 1341 KUH Perdata. Jika Emiten lalai dalam menyediakan informasi dimaksud atau Emiten melakukan sesuatu yang seharusnya dilarang dilakukan dan hal tersebut dapat merugikan pemegang obligasi, maka menjadi logis juga jika bagi investor disediakan suatu forum untuk memperjuangkan haknya dimaksud. Forum dimaksud adalah Rapat Umum Pemegang Obligasi. Dari paparan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa meskipun mayoritas responden menghendaki diadakannya RUPO, baik secara berkala maupun secara insidentil, namun ternyata hal tersebut tidak selalu relevan. RUPO menjadi relevan jika: − akan dilakukan perubahan atas isi pokok perjanjian

perwaliamanatan

65

(2) Hasil penelitian menunjukkan bahwa 69.0 Jika kita lihat ketentuan UUPM.4 35. hendaknya tidak semata-mata diserahkan kepada Emiten dan Wali Amanat. melainkan harus diserahkan dan disetujui oleh RUPO. maka kita akan menemukan bahwa dasar pelaksanaan tugas Wali Amanat bukanlah karena Wali Amanat yang bersangkutan memperoleh kuasa dari investor. perubahan tingkat bunga.9 1. Undangundang Pasar Modal tidak secara memerinci jenis tindakan yang 66 .8 34. Jawaban Tidak jawab Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah Frekuensi 14 19 18 1 1 53 Prosentase 26.− Emiten tidak menyediakan informasi yang memadai.8% dari responden yang cenderung menghendaki adanya RUPO (73. seperti penggantian Wali Amanat. khususnya informasi yang terkait dengan kemampuan Emiten dalam memenuhi kewajibannya atas obligasi yang diterbitkannya − Emiten melakukan sesuatu yang tidak diwajibkan (baik dalam perjanjian perwaliamanatan maupun dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku) dan tindakan tersebut merugikan investor obligasi.5% dari responden yang mengembalikan kuesioner) beranggapan bahwa untuk halhal tertentu. perpanjangan jangka waktu pelunasan surat utang (roll over).9 100. melainkan karena Wali Amanat tersebut diberi kuasa oleh undang-undang (UUPM) – Pasal 51 ayat (2) UUPM.0 1. dan restrukturisasi surat utang (debt to equity swap/ debt to debt swap/ debt to asset swap).

Hal yang patut memperoleh perhatian kita adalah alasan undangundang memberikan kuasa kepada Wali Amanat. jika hal tersebut harus secara tegas dinyatakan dalam pemberian kuasa (Pasal 1796 KUH Perdata). penjaminan kekayaan hanya dapat dilakukan oleh penerima kuasa.pelaksanaanya dikuasakan kepada Wali Amamat. dan restrukturisasi surat utang (debt to equity swap/ debt to debt swap/ debt to asset swap). seperti penggantian Wali Amanat. Mengingat investor sebagai pihak yang sebenarnya melakukan perikatan dengan Emiten baru ada setelah Emiten menjual obligasinya kepada masyarakat. termasuk dalam pengertian tindakan pengurusan atau tidak. perubahan tingkat bunga. dalam hal ini undang-undang. maka umum yang sebenarnya Wali Amanat atas dasar kuasa dari undang-undang berwenang diterimanya melakukan hal-hal dimaksud. Jika hal-hal tersebut di atas dapat dikategorikan sebagai tindakan pengurusan. sedangkan tindakan lain yan bersifat bukan mengurusan. maka tindakan yang dapat dilakukan oleh penerima kuasa sebatas pada tindakan pengurusan. tanpa persetujuan lagi dari pemberi kuasa. KUH Perdata mengatur bahwa jika suatu kuasa diberikan secara umum. perpanjangan jangka waktu pelunasan surat utang (roll over). Sebaliknya jika dalan hal-hal di atas dikategorikan sebagai tindakan pemilikan. maka Wali Amanat harus memperoleh kuasa terlebih dahulu dari pemberi kuasa. apakah kewenangan untuk melakukan hal-hal tertentu. Pertanyaan lebih lanjut adalah. maka praktis dibutuhkan wakil dari pihak 67 . misalnya pengalihan kekayaan. atau dengan kata lain UUPM memberikan kuasa secara umum kepada Wali Amanat untuk mewakili kepentingan pemegang obligasi (Efek berifat utang).

atau cukup berdasarkan kesepakatan antara Emiten dengan Wali Amanat. Tidak tertutup kemungkinan saat ini terdapat perjanjian perwaliamanatan yang mengatur bahwa tindakan tertentu seperti penggantian Wali Amanat. dalam hal ini Bapepam. yaitu pertama merubah perjanjian perwaliamanatan dengan menghapuskan klausul di atas dan memindahkan kewenangan tersebut kepada para pemegang obligasi atau Efek bersifat utang. Setelah terjadi peralihan tersebut. Jika hal tersebut terjadi. Dengan kata lain. yaitu undang-undang. perpanjangan jangka waktu pelunasan surat utang (roll over). tanpa melibatkan pemegang obligasi. maka relevansi kuasa yang diberikan oleh undang-undang berakhir sejak pihak yang sebenarnya membuat perikatan muncul. dan restrukturisasi surat utang (debt to equity swap/ debt to debt swap/ debt to asset swap). maka berdasarkan ketentuan yang ada dapat dilakukan dua hal.pembeli/investor. yaitu tidak tercapainya kata sepakat antara Wali Amanat dan Emiten untuk merubah perjanjian perwaliamanatan. yaitu setelah Emiten menjual obligasinya. berdasarkan ketentuan Pasal 52 UUPM menetapkan Peraturan Bapepam yang mengatur bahwa kewenangan tersebut di atas adalah kewenangan dari pemegang obligasi atau Efek bersifat utang. para pemagang obligasi seketika mengantikan pemberi kuasa sebelumnya. maka terbukalah kemungkinan untuk merubah bentuk kuasa umum yang diberikan oleh undang-undang menjadi kuasa khusus. dapat ditetapkan secara sepihak oleh Emiten. Dengan argumen tersebut. Kedua undang-undang. dengan menyebut secara tegas hal-hal yang dikuasakan kepada Wali Amanat. Sedangkan alternatif kedua relatif 68 . Alternatif pertama memiliki kelemahan. perubahan tingkat bunga.

7 35. RUPO akan dapat mengambil keputusan secara fair jika diatur mekanisme dan tata caranya. perpanjangan jangka waktu pelunasan surat utang (roll over). mau tidak mau Emiten atau Wali Amanat harus menyerahkan kewenangan tersebut kepada pemegang obligasi atau efek bersifat utang. Terkait dengan masalah korum ini.4 37. merupakan tindakan yang sangat signifikan terhadap keamanan sebuah investasi. maka kuasa khusus kepada Wali Amanat. selain memperhatikan aspek hukum juga harus memperhatikan aspek kebutuhan pasar dan kelaziman yang berlaku. 73. terlihat RUPO diperlukan karena pada umumnya perjanjian perwaliamanatan yang ada memberikan kuasa umum kepada Wali Amanat. antara lain masalah korum.0 69 . atau dilaksanakan sendiri oleh pemegang obligasi melalui mekanisme RUPO. Tindakan berupa penggantian Wali Amanat. Jawaban Tidak jawab Sangat perlu Perlu Kurang perlu Tidak perlu Jumlah Frekuensi 14 20 19 53 Prosentase 26. perubahan tingkat bunga. dan restrukturisasi surat utang (debt to equity swap/ debt to debt swap/ debt to asset swap). Dari paparan di atas.8 100.lebih mudah diterapkan. sedangkan untuk mengambil keputusan tertentu yang tidak bersifat pengurusan. Perumusan Peraturan Bapepam. sehingga sangat logis jika untuk melakukan hal tersebut dibutuhkan persetujuan dari pemilik investasi itu sendiri. sehingga berdasarkan undang-undang. yaitu pemegang obligasi atau Efek bersifat utang.5% responden yang cenderung setuju adanya mekanisme RUPO menghendaki agar pengaturan tentang korum diatur dalam peraturan perundang-undangan.

Jawaban Tidak jawab Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah Frekuensi 1 2 16 20 14 53 Prosenatse 1. mengingat Bapepam berdasarkan Pasal 52 UUPM berhak mengatur ketentuan tentang pedoman kontrak perwaliamanatan dimana didalamnya dapat diatur masalah korum. jika peraturan tentang korum diserahkan kepada undang-undang (peraturan Bapepam).9 3. sehingga justru dapat merugikan kepentingan pemberi kuasa.1%) cenderung menolak pembatasan tugas Wali Amanat yang didasarkan pada waktu tertentu. Penunjukan. mayoritas responden (64. Dalam praktek. 10.0 70 . maka selayaknya jika para pemegang obligasi menggantikan posisi undang-undang sebagai pemberi kuasa. Selain itu.7 26. dimana pada pertama kali kuasa tersebut diperoleh dari undang-undang.4 100. Pengakhiran Tugas dan Penggantian Wali Amanat (1). Kuasa diberikan biasanya tidak berjangka waktu melainkan digantungkan pada selesainya suatu pekerjaan atau perbuatan yang dikuasakan. dan selanjutnya setelah pemegang obligasi atau Efek bersifat utang teridentifikasi.2 37.8 30. pemberian kuasa yang digantungkan pada masa tertentu dapat mempersulit penyelesaian pekerjaan. Wali Amanat bekerja berdasarkan kuasa. maka diharapkan penetapan korum tersebut akan memperhatikan berbagai kepentingan yang ada. Relevan dengan hal tersebut.Pendapat responden tersebut cukup beralasan. Sebagaimana telah dibahas pada masalah RUPO. Ketentuan tentang pemberian kuasa dalam KUH Perdata tidak mengatur tentang jangka waktu tertentu suatu kuasa dapat diberikan.

Jawaban Tidak jawab Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah Frekuensi 11 35 5 2 53 Prosenatse 20. Menurut hemat kami pendapat mayoritas responden dimaksud adalah sangat rasional dan tidak bertentangan dengan kaidah hukum. Selain itu Penerima kuasa juga diwajibkan untuk melaporkan pekerjaan yang telah dilaksanakan (Pasal 1800.(2) Dilain pihak. maka penerima kuasa tersebut harus mempertanggungjawabkan kepada pemberi kuasa.0 Berdasarkan undang-undang. 1802 KUH Perdata).8%) cenderung memberikan tugas tugas kepada Wali Amanat tidak berdasarkan waktu melainkan pada kinerja yang dicapai oleh Wali Amanat dimaksud.8 100. Mengingat Wali penunjukan. lakukan pemberian selayaknyalah jika hal tersebut dilakukan oleh pihak yang 71 . pada maka dan penggantian dengan Amanat kuasa. sehingga sangat relevan dan masuk akal jika pemberi kuasa mencabut kuasa yang diberikan jika penerima kuasa tidak dapat menunjukkan pengakhiran prinsipnya kinerja tugas di yang baik. Paparan di atas menunjukkan bahwa seorang penerima kuasa (termasuk Wali Amanat) harus dapat menunjukkan kinerja yang baik.4 3. penerima kuasa (termasuk Wali Amanat) wajib melaksanakan perbuatan atau pekerjaan yang dikuasakan kepadanya.0 9. mayoritas responden (86.8 66. bahkan jika penerima kuasa tidak melaksanakan tugasnya dengan baik (baik karena kesenagajaan maupun kelalaian) dan karenanya timbul biaya atau kerugian.

Dalam penjelasan dimaksud ditentukan bahwa isi kontrak perwaliamanatan antara lain mengatur tentang utang 72 . Wali Amanat juga harus membuat kontrak atau perjanjian dengan Emiten sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bapepam (Pasal 52 UUPM).4 7.7 100. berdasarkan peraturan perundang-undangan Pihak lain. Lebih lanjut disebutkan bahwa Wali Amanat mewakili kepentingan pemegang Efek bersifat utang baik di dalam maupun di luar pengadilan (Pasal 51 ayat 1) Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa dalam menjalankan tugasnya.5 9. (3) Mayoritas jawaban responden (77. sebutkan Jumlah 11. Jawaban Tidak jawab Para pemegang obligasi surat utang Emiten Regulator. UUPM hanya menyebut bahwa Wali Amanat adalah Pihak yang mewakili kepentingan pemegang Efek yang bersifat utang (Pasal 1 angka 30 UUPM).0 Batasan Hak. karena responden kurang atau tidak memahami prinsip pemberian kuasa pada pelaksanaan tugas Wali Amanat. antara lain. kewajiban dan tanggung jawab Wali Amanat.4 5. Kewajiban dan Tanggung Jawab Wali Amanat Undang-undang Pasar Modal tidak mengatur secara terperinci tentang batasan hak.4%) yang tidak memberikan jawaban atas pertanyaan “siapakah yang paling kompeten untuk mengangkat (termasuk mengganti) dan memberhentikan Wali Amanat? (kecuali untuk pengangkatan pertama kali)” bisa terjadi karena beberapa faktor. Frekuensi 41 4 5 3 53 Prosentase 77. selain Wali Amanat dimaksud telah memperoleh kuasa berdasarkan undang-undang.memiliki kewenangan untuk memberikan kuasa kepada Wali Amanat. yaitu para pemegang obligasi atau Efek bersifat utang.

dimana disatu sisi menjadi salah satu pihak dalam perjanjian perwaliamanatan.pokok dan bunga serta manfaat lain dari Emiten. sedangkan disisi lain Wali Amanat bertindak untuk mewakili kepentingan pemegang obligasi atau Efek bersifat utang berdasarkan kuasa. 73 .5%) memandang bahwa batasan hak dan kewajiban Wali Amanat terhadap pemegang obligasi/surat utang lebih urgen untuk memperoleh prioritas pengaturan. Karena posisinya uang unik tersebut. dimana respon responden tentang urgensi pengaturan hak dan kewajiban Wali Amanat terbagi menjadi 2 bagian. dimana hal tersebut memiliki kaitan erat dengan batasan hak. Lebih unik lagi karena kuasa yang diberikan kepada Wali Amanat berasal dari undang-undang. selaku pelaksana undangundang dan juga kepada para pemegang obligasi atau Efek bersifat utang. tetapi juga kepada Negara/Pemerintah. Posisi unik Wali Amanat.5%) menyatakan bahwa hal yang sangat urgen untuk diatur adalah batasan hak dan kewajiban Wali Amanat terhadap Emiten. Namun demikian. saat jatuh tempo. Hal menarik dalam Pasal 52 adalah Bapepam berwenang untuk merumuskan hal yang berkaitan dengan tugas dan fungsi Wali Amanat. dan tugas dan fungsi Wali Amanat. Satu bagian (58. yang apabila ditarik lebih jauh asal kewenangan yang dikuasakan tersebut berasal dari para pemegang obligasi atau Efek bersifat utang. agen pembayaran. tidak satupun responden yang menyatakan urgensi pengaturan tentang batasan hak dan kewajiban Wali Amanat terhadap regulator (Bapepam). Situasi seperti ini rupanya juga menjadi perhatian responden. kewajiban dan tanggung jawab Wali Amanat. membawa konsekuensi bahwa Wali Amanat tidak hanya memiliki hak dan kewajiban kepada Emiten. jaminan (jika ada). dibagian lain (41.

5 41. maka jawaban responden dimaksud sangat relevan. Prinsip kebebasan berkontrak. Prinsip esensialia dalam hal ini adalah unsur yang wajib terdapat dalam perjanjian yang menunjukkan karakteristik khas perjanjian dan membedakan dengan jenis perjanjian lainnya. setelah unsur esensialianya diketahui secara pasti. Selain itu. baik dari sisi hukum maupun dari sisi kebutuhan atau dinamika pasar. Kewajiban Emiten Ketentuan pokok dalam perjanjian pinjam-meminjam adalah debitur wajib mengembalikan dalam jumlah dan keadaan yang sama dan pada waktu yang ditentukan – Pasal 1763 KUH Perdata. Dalam penerbitan obligasi atau Efek bersifat utang unsur esensialia tampak dari adanya nilai pokok obligasi dan jatuh temponya obligasi dimaksud. menurut undang-undang dapat pula disepakati bahwa debitur wajib memberikan bunga tertentu kepada kreditur – 1765 KUH Perdata. unsur naturalis dan unsur aksidentalia. Prinsip naturalia adalah unsur yang harus ada dalam perjanjian. Dalam penerbitan obligasi 74 . termasuk dalam kaitannya dengan penerbitan obligasi atau Efek bersifat utang dapat diterapkan dengan memperhatikan beberapa unsur. Seluruh unsur tersebut dapat diterapkan sepanjang tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku – Pasal 1339 KUH Perdata.Jawaban Batasan hak dan kewajiban Wali Amanat terhadap Emiten Batasan hak dan kewajiban Wali Amanat terhadap pemegang obligasi/surat utang Batasan hak dan kewajiban Wali Amanat terhadap Regulator Jumlah Frekuensi 31 22 Prosentase 58.0 Mengingat posisi strategis Wali Amanat.5 53 100. serta amanat UUPM kepada Bapepam untuk menetapkan pedoman kontrak perwaliamanatan. yaitu unsur esensialia. 12.

Sedangkan unsur aksidentalia adalah unsur pelengkap dalam perjanjian yang secara bebas dapat disepakati oleh para pihak. maka sifat unsur aksidentalianya akan berubah menjadi unsur esensialia atau naturalia. Namun demikian. rencana pembayaran obligasi minimal 1 tahun sebelum jatuh tempo obligasi. misalnya kewajiban pembayaran bunga. meskipun misalnya tidak secara tegas tercantum dalam akta perjanjian bahwa Emiten (debitur) wajib mengembalikan nilai pokok obligasi yang diterbitkannya pada sauatu waktu tertentu. maka kita dapat mengkategorikan “cara menjamin pembayaran obligasi” dimaksud sebagai unsur aksidentalia yang dapat disepakati oleh para pihak. Terkait dengan pertanyaan kepada responden tentang cara menjamin pembayaran atas pokok obligasi pada saat jatuh tempo. Ketiga pilihan di atas dapat dipilih untuk disepakati oleh para pihak dalam penerbitan obligasi. 75 . Kedua. dan ketiga. telah disepakati oleh para pihak dan tercantum dalam akta perjanjian.atau Efek bersifat utang unsur naturalia tampak dari adanya kewajiban bagi penerbit (Emiten) untuk membayar obligasi yang diterbitkannya. mewajibkan Emiten untuk menyampaikan pernyataan kesanggupan membayar obligasi 6 bulan sebelum jatuh tempo obligasi. Sedangkan efektifnya pemenuhan prinsip aksidentalia sangat tergantung dari apakah hal-hal tertentu. mewajibkan Emiten untuk membuktikan bahwa telah terdapat dana untuk membayar obligasi di escrow account 3 bulan sebelum jatuh tempo. jika salah satu atau seluruh cara tersebut di atas diadopsi dalam bentuk Peraturan Perundangundangan. Cara pertama adalah dengan mewajibkan Emiten untuk menyampaikan kepada pemegang obligasi. Dalam penerbitan obligasi atau Efek bersifat utang unsur aksidentalia tampak dari adanya kesepakatan tingkat bunga atas obligasi yang diterbitkan Emiten. Kekuatan mengikat terhadap pemenuhan prinsip naturalia adalah demi hukum mengikat kedua belah pihak.

Seperti telah disinggung sebelumnya bahwa penerbitan obligasi mengacu pada prinsip pinjam-meminjam. misalnya dengan menempatkan jaminan kekayaan tertentu. ketiga cara tersebut memiliki keunggulan. Emiten tidak dapat menggunakan dana tersebut. Cara pertama dan kedua (menyampaikan rencana pembayaran obligasi minimal 1 tahun sebelum jatuh tempo obligasi atau menyampaikan pernyataan kesanggupan membayar obligasi 6 bulan sebelum jatuh tempo obligasi) memberikan kesempatan yang cukup memadai bagi investor (kreditur) untuk mempertimbangkan investasinya dan menilai kemampuan Emiten untuk melaksanakan kewajibannya kepada investor. karena adanya pihak lain yang menjamin obligasi dimaksud. begitu juga jika obligasi tersebut dijamin dengan aset tertentu yang menjadikan obligasi tersebut sebagai secured bond. karena dengan penempatan dana pada escrow account. pemberian hak untuk ditukar dengan saham (konversi) atau dengan penanggungan utang oleh pihak ketiga. selain untuk memenuhi kewajiban kepada pemegang obligasi. Ketentuan hukum tentang pinjam-meminjam telah mengatur berbagai kemungkinan untuk menyelesaikan kewajiban debitur (Emiten) kepada para krediturnya (pemegang obligasi).Dilihat dari sisi kebutuhan pasar. Meskipun cara yang ketiga secara umum memberikan perlindungan yang lebih baik kepada pemegang obligasi atau surat utang. 76 . Sedangkan cara ketiga (Membuktikan bahwa telah terdapat dana untuk membayar obligasi di escrow account 3 bulan sebelum jatuh tempo) lebih menjamin pemenuhan kewajiban kepada pemegang obligasi. Pembuatan escrow account oleh Emiten menjadi tidak terlalu diperlukan. misalnya jika obligasi tersebut dijamin pelunasannya oleh pihak ketiga. namun terdapat beberapa hal yang menyebabkan hal tersebut kurang relevan.

antara lain melalui penerbitan peraturan Bapepam. dan satu hal yang harus memperoleh perhatian adalah kenyataan bahwa obligasi atau Efek bersifat utang merupakan salah satu jenis instrumen investasi yang tentu saja mengandung risiko. Terdapat beberapa cara yang dapat ditempuh oleh para pihak yang terkait dengan obligasi. terdapat kemungkinan terjadi perselisihan atau perbedaan pendapat tentang pelaksanaan persyaratan yang telah disepakati sebelumnya. baik dalam perjanjian perwaliamanatan maupun dalam dokumen pendukung penerbitan obligasi tersebut. Mayoritas jawaban responden mengarah pada perlunya ada suatu mekanisme untuk menjamin pembayaran obligasi. maka aspek keterbukaan informasi menjadi issue penting untuk meningkatkan awareness terhadap risiko yang dihadapinya. antara lain risiko gagal bayar (default). misalnya melalui arbitrase.Bentuk-bentuk menentukan penyelesaian kewajiban tersebut di atas turut tingkat risiko. penyelesaian berdasarkan keputusan hakim atau menunjuk pihak lain (diluar pengadilan) untuk menyelesaikan perselisihan dimaksud. 77 . terutama yang terkait dengan kemampuan Emiten untuk memenuhi kewajibannya terhadap pemegang obligasi menjadi mutlak adanya dan untuk mendorong pelaksanaan keterbukaan informasi tersebut diperlukan suatu kerangka hukum yang memadai. Keterbukaan informasi. perdamaian didalam pengadilan. atau risiko tidak dipenuhinya berbagai persyaratan yang telah dijanjian. Penyelesaian Sengketa di Pasar Modal Serta Biaya Perkara Seperti telah disinggung sebelumnya bahwa obligasi merupakan instrumen investasi yang mengandung berbagai risiko. Jika risiko tersebut terjadi. Namun mengingat sudah ada ketentuan hukum yang mengatur penyelesaian kewajiban terhadap pemegang obligasi. dalam bentuk atau cara yang beragam. antara lain perdamaian diluar pengadilan. 13.

0 Besarnya biaya ditentukan antara 0. mengingat arbritase. Mayoritas responden (71. mandiri. misalnya melalui Badan Arbitrase Nasional (BANI) menjanjikan penyelesaian perkara secepat mungkin dan dengan biaya seminimal mungkin.2 Lembaga lain.5 Bapepam 7 13. fair dan relatif cepat. maka penyelesaian perselisihan melalui arbitrase merupakan upaya penyelesaian yang cukup menarik.Pada prinsipnya para pihak akan memilih bentuk penyelesaian yang paling cepat. Hal tersebut sangat beralasan. Jawaban Frekuensi Prosentase Tidak jawab 2 3. Namun demikian jika hal tersebut tidak tercapai. transparan. murah dan fair. sehingga pada tanggal 9 Agustus 2002 telah dibentuk Badan Arbitrase Pasar Modal Indonesia (BAPMI) yang bertujuan memfasilitasi sarana alternatif penyelesaian sengketa dibidang Pasar Modal yang cepat.8 Badan Arbitrase Pasar Modal 38 71.8 Jumlah 53 100. tergantung besarnya nilai tuntutan. Sejalan dengan keberadaan serta tujuan BAPMI. dan adil. Upaya perdamaian diluar pengadilan dapat dipandang sebagai upaya penyelesaian yang terbaik. sebutkan 2 3. disamping menempuh upaya akhir di pengadilan. sedangkan jangka waktu penyelesaian paling lama 180 (seratus delapan puluh) hari sejak tanggal Majelis selengkapnya terbentuk (Peraturan Prosedur Badan Arbitrase Nasional Indonesia Pasal 4 ayat (6) dan ayat (7) serta Pasal 32).7%) mengendaki penyelesaian perselisihan antara Emiten dengan pemegang obligasi dilakukan melalui arbitrase. terlihat korelasi dan relevansi yang erat dengan kecenderungan mayoritas responden untuk 78 . Simplifikasi dari kompleksitas persengketaan yang ada di Pasar Modal amat dibutuhkan guna mendukung kelancaran kegiatan pasar modal.4% sampai dengan 10%. mengingat dapat dilakukan dengan biaya rendah.7 Indonesia (BAPMI) Pengadilan Umum 4 7.

0 Proses peradilan di Indonesia umumnya membebankan biaya perkara kepada penggungat. Biaya perkara yang harus dibayar oleh pihak yang dinyatakan bersalah merupakan salah satu bentuk hukuman kepada yang bersangkutan. tim memberikan kesempatan kepada responden untuk memberikan usulan/masukan secara tertulis. jika hakim sudah memeriksa perkara dan telah menetapkan putusan (vonis). Mayoritas responden (81. Satu permasalahan yang terkait dengan penyelesaian sengketa di pasar modal.menyelesaikan sengkata antara Emiten dengan Pemegang Obligasi melalui arbitrase. Mengingat sepanjang penelitian yang dilakukan belum didapatkan dasar hukum yang memadai.5 Emiten 43 81. 14. Usulan / masukan responden Dalam penyebaran kuesioner.1%) menghendaki biaya perkara dibebankan kepada Emiten. maka biaya perkara biasanya dibebankan kepada pihak yang dinyatakan bersalah oleh hakim. Jawaban Frekuensi Prosentase Tidak jawab Penjamin Emisi Obligasi 2 3. maka biaya perkara wajib dibayar oleh Emiten?”. jika perkara tersebut diputuskan dengan perdamaian antara para pihak yang bersengketa. dalam hal ini BAPMI. khususnya yang terkait dengan perluasan atau pemberdayaan peran Wali Amanat dan upaya peningkatan efektifitas pelaksanaan fungsi Wali 79 .8 Wali Amanat 4 7. baik melalui pengadilan maupun arbitrase adalah biaya perkara. maka untuk merespon jawaban responden tersebut diperlukan penelaahan yang lebih mendalam. khususnya untuk menjawab pertanyaan “apakah dengan prinsip kebebasan berkontrak dapat disepakati bahwa jika pada waktu yang akan datang terjadi sengketa di pengadilan atau arbitrase.5 Jumlah 53 100. Namun demikian.1 Pemegang Obligasi 4 7.

memperoleh informasi lain dari Emiten terkait dengan corporate action yang dilakukan emiten i.Amanat dalam mengawasi dan mewakili kepentingan pemegang obligasi. bahwa asal kewenangan Wali Amanat pada awalnya berasal dari kuasa yang diberikan oleh UUPM kepada Wali Amanat dimaksud. mengeksekusi jaminan bila emiten terjadi wanprestasi h.8%) berpendapat bahwa peran Wali Amanat perlu tingkatkan. pencantuman negative covenants dalam perjanjian perwaliamanatan atau perjanjian lain yang dapat merugikan pemegang obligasi g. Pengawasan atas keamanan status barang jaminan obligasi c. yang menyebutkan bahwa “Wali 80 . antara lain dengan menambahkan beberapa kewenangan / atribut yang dirasa perlu untuk dapat berperan secara efektif sebagai Wali Amanat. mayoritas responden (55. Kewenangan atau atribut tersebut adalah untuk melakukan pengawasan atas seluruh aspek dari Emiten yang terkait dengan kepentingan pemegang obligasi atau Efek bersifat utang yang diterbitkan Emiten dimaksud. pengawasan on the spot d. mewakili kepentingan pemegang obligasi. Pengawasan atas kinerja finansial b. antara lain: a. pengawasan penggunaan dana hasil penjualan obligasi f. Secara umum. Beberapa masukan responden di atas. Sebagaimana pembahasan sebelumnya. Menjawab pertanyaan mengenai perlukah adanya perluasan peran Wali Amanat selain sebagai wakil pemegang Obligasi di luar maupun di dalam Pengadilan. pengawasan penerapan Standard Operating Procedures e. secara umum sudah terakomodir dalam ketentuan peraturan perundangundangan (Pasal 51 ayat (2) UUPM). baik di dalam maupun diluar pengadilan.

maka batasan dari “kepentingan” menjadi kurang jelas. bahwa dasar dari penerbitan obligasi adalah perikatan pinjam-meminjam (utang piutang). lingkup dari “kepentingan” meliputi juga juga segala sesuatu yang menurut sifat persetujuan dituntut berdasarkan keadilan. Namun demikian. termasuk pinjam meminjam dapat dibedakan menjadi 3 jenis. menurut isinya suatu perikatan. Jika suatu perjanjian perwaliamanatan tidak secara tegas mengatur tentang hal-hal yang harus atau dilarang dilakukan oleh Emiten. Untuk menjamin agar debitur dapat melakukan pembayaran bunga dan pengembalian pokok pinjaman dalam jumlah yang telah disepakati tepat pada waktunya. Berdasarkan Pasal 1233 KUH Perdata. dapat disepakati hal-hal apa saja yang dapat atau harus dilakukan oleh debitur dan hal-hal apa saja yang dilarang dilakukan oleh debitur. yaitu untuk memberikan atau menyerahkan sesuatu. kepentingan utama dari kreditur adalah pembayaran bunga dan pengembalian pokok pinjaman dalam jumlah yang telah disepakati tepat pada waktunya. 81 . Sebagaimana telah disinggung diatas. kebiasaan atau undang-undang. sesuai ketentuan Pasal 1339 KUH Perdata. Untuk menguraikan hal tersebut kita dapat melakukan analisis atas perbuatan hukum penerbitan obligasi dengan menggunakan ketentuan pasal 1233 KUH Perdata. untuk melakukan sesuatu dan untuk tidak melakukan sesuatu. Kepentingan para pihak dalam perikatan sesungguhnya tercermin dari dicantumkannya klausula yang mencakup 3 hal tersebut di atas. Persoalan lebih lanjut adalah apa yang dimaksud atau ruang lingkup dari “kepentingan” dalam frase “kepentingan pemegang Efek bersifat utang” tersebut?.Amanat mewakili kepentingan pemegang Efek bersifat utang baik didalam maupun diluar pengadilan”. Dalam kaitannya dengan perikatan pinjam-meminjam.

82 . Sedangkan dari sisi regulasi.Disadari bahwa Penerapan pasal 1339 KUH Perdata yang dapat ditafsirkan sedemikian luas tidaklah memberikan suatu kepastian hukum yang memadai akan hak dan kewajiban para pihak dalam penerbitan obligasi. dengan mempertimbangkan kepentingan berbagai pihak. berdasarkan pasal 1233 KUH Perdata. akan lebih baik dan memberikan kepastian hukum apabila seluruh hal atau kewenangan yang sewajarnya dimiliki oleh Wali Amanat agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Untuk itu. dicantumkan dalam perjanjian perwaliamanatan. selayaknya Bapepam memberikan panduan tentang lingkup “kepentingan pemegang Efek bersifat utang” dalam bentuk peraturan perundang-undangan (Peraturan Bapepam).

Pola Kontrak Perwaliamanatan di Indonesia Dalam praktek penerbitan efek bersifat utang (obligasi) di Pasar Modal Indonesia. hal-hal pokok yang lazim diperjanjikan sehingga membentuk suatu pola kontrak perwaliamanatan. KESIMPULAN Dari pemaparan dan analisis atas hasil penelitian dari Tim Studi yang telah diungkapkan pada BAB III. Pernyataan dan Jaminan Wali Amanat j. Pembatasan-pembatasan dan Kewajiban Emiten h. Hak dan Kewajiban Wali Amanat. Imbalan Jasa Wali Amanat f. Jaminan m. Serta Berhentinya Wali Amanat e. Definisi b. Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum c. maka beberapa kesimpulan yang dapat diambil antara lain: 1. Kuasa Pemegang Obligasi Kepada Wali Amanat i. Kelalaian Emiten k.BAB IV KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. dapat diuraikan sebagai berikut : a. Pernyataan dan Jaminan Emiten 83 . Syarat-syarat Efek Bersifat Utang/Obligasi g. Tugas. Penunjukan Wali Amanat oleh Emiten d. Tata Cara Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) l. Kelalaian Wali Amanat n.

o. Ketentuan-ketentuan Lain r. Masalah dan Kendala Yang Dihadapi Wali Amanat Secara umum terdapat 5 (lima) masalah pokok yang dihadapi Wali Amanat dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Hal ini membuat Wali Amanat dan Emiten tidak mempunyai dasar acuan dalam merundingkan ketentuan-ketentuan 84 . yaitu: a. Benturan Kepentingan Dalam Pelaksanaan Tugas Wali Amanat Benturan kepentingan dapat terjadi karena adanya hubungan kredit dan afiliasi dengan Emiten. Permasalahan yang timbul adalah ketidaksejajaran kedudukan Wali Amanat dengan Emiten. Keberadaan Wali Amanat di pasar modal Indonesia. Penyelesaian perselisihan 2. penunjukan Wali Amanat yang sering dilakukan tanpa memberikan waktu yang cukup untuk melakukan pengkajian secara mendalam. serta belum adanya kode etik yang mengatur hubungan Wali Amanat dengan Pemegang Efek bersifat utang. karena penunjukan dan pembayaran imbalan jasa Wali Amanat dilakukan oleh Emiten. serta Wali Amanat bertindak sebagai penanggung atas efek bersufat utang yang diwaliamanatinya. hubungan afiliasi dengan Penjamin Emisi Efek bersifat utang. Fungsi dan Tugas Wali Amanat yang tercantum dalam UU Pasar Modal belum terdapat pengaturan pelaksanaannya. Keadaan Memaksa (Force Majeure) p. sehingga hal tersebut mempersulit dalam pelaksanaan kegiatan Wali Amanat d. Pemberitahuan q. b. c. Ketiadaan pedoman/standar dalam penyusunan kontrak perwaliamanatan. dengan Emiten dan dengan sesama Wali Amanat.

Besarnya batasan hubungan kredit yang diusulkan tidak lebih dari 10 s/d 30% dari nilai pokok efek bersifat utang. Hubungan kredit antara Wali Amanat dan Emiten perlu dibatasi. 3. b. beberapa masukan yang penting antara lain: a. Dalam pembuatan kontrak perwaliamanatan. c.dalam Kontrak Perwaliamanatan. sinking fund dan kewajiban melakukan pemeringkatan secara berkala merupakan hal yang dapat memberikan keamanan bagi pihak pemegang efek bersifat utang atas investasinya. Ketentuan mengenai pembelian kembali efek bersifat utang oleh emiten memerlukan pengaturan untuk kepastian hukumnya. Adanya jaminan khusus. Wali Amanat perlu secara aktif memonitor hal tersebut dan perlu ada konsekuensi hukum atas kegagalan Wali Amanat memenuhi tugas tersebut. sehingga dalam praktik hal tesebut tergantung pada posisi tawar dan kemampuan bernegosiasi masing-masing pihak. d. para pihak yang terlibat dalam negosiasi memerlukan suatu pedoman yang dapat dijadikan acuan dalam menentukan hal-hal yang wajib dimuat dalam kontrak perwaliamanatan. Kesulitan utama yang timbul adalah masalah pembiayaan dalam hal terjadi sengketa dengan Emiten yang harus diselesaikan lewat badan peradilan. e. e. Tindakan yang diambil Wali Amanat Dalam hal Emiten Wanprestasi. Masukan Dari Para Pelaku Pasar Modal Dari jawaban dan masukan atas kuesioner yang diedarkan. 85 . Penggunaan Dana hasil Emisi Efek bersifat utang perlu diatur secara rinci dalam kontrak perwaliamanatan.

sudah sepantasnya dibebankan kepada pihak Emiten sendiri. i. 86 .terutama dari segi kepastian hak-hak yang timbul keadilan dalampelaksanaannya dan keterbukaan informasi yang harus dilakukan Emiten. Membuat pernyataan kesanggupan melunasi utang pokok pada enam bulan sebelum jatuh tempo. g. h. Ketentuan mengenai pembatasan hak dan kewajiban Wali Amanat terhadap Emiten merupakan hal yang paling penting diatur dalam kontrak perwaliamanatan. Guna mengamankan pembayaran utang pokok Emiten pada saat jatuh tempo. Rapat Umum Pemegang Efek bersifat utang yang diselenggarakan secara berkala maupun secara insidentil dalam hal pembahasan suatu hal tertentu dipandang sebagai forum utama yang penting bagi para pemegang efek bersifat utang. Emiten perlu melakukan beberapa hal sebagai berikut: Melaporkan rencana pembayaran utang pokok kepada Wali Amanat setahun sebelum jatuh tempo. Penunjukan dan masa jabatan Wali Amanat perlu didasarkan pada kinerja Wali Amanat dalam melaksanakan tugasnya. f. sebulan sebelum jatuh temponya efek bersifat utang. Biaya-biaya yang timbul dari kegiatan penyelesaian sengketa antara Emiten dengan pemegang efek bersifat utang karena wan prestasi Emiten. j. dan Membuktikan adanya dana pada escrow account untuk pelunasan utang pokok.

Pedoman Kontrak Perwaliamantan Perlu disusun suatu pedoman mengenai kontrak perwaliamanatan di Pasar Modal Indonesia. REKOMENDASI Berdasarkan kesimpulan-kesimpulan yang telah diperoleh Tim Studi sebagaimana tersebut di atas. antara lain: a. Wali Amanat perlu secara aktif memonitor hal tersebut dan perlu ada konsekuensi hukum atas kegagalan Wali Amanat memenuhi tugas tersebut. Adanya jaminan khusus. dan lain sebagainya. perlu menyusun suatu pedoman yang dapat dijadikan dasar oleh para pihak dalam penyusunan Kontrak Perwaliamanatan. Penggunaan Dana hasil Emisi Efek bersifat utang perlu diatur secara rinci. tugas dan tanggung jawab Wali Amanat. maka Tim Studi mengajukan beberapa rekomendasi berkenaan dengan permasalahan perwaliamanatan di Indonesia. pembatasanpembatasan. c. sinking fund dan kewajiban melakukan pemeringkatan secara berkala merupakan hal 87 .B. konsekuensi hukum. Beberapa masukan mengenai isi ketentuan perdoman kontrak perwaliamanatan tersebut. hak dan kewajiban Emiten dan pemegang obligasi. Sebagai salah satu landasan hukum utama bagi para pihak yang terlibat. pedoman kontrak perwaliamanatan ini perlu mengatur ketentuan minimal yang harus dimuat berkenaan dengan aspek hubungan para pihak. b. sebagai berikut: 1. Bapepam selaku regulator dengan mempertimbangkan masukan-masukan dari berbagai pelaku pasar yang berkepentingan.

Penunjukan dan masa jabatan Wali Amanat perlu didasarkan pada kinerja Wali Amanat dalam melaksanakan tugasnya. h. f. antara lain: 88 . Ketentuan mengenai pembelian kembali efek bersifat utang oleh emiten memerlukan pengaturan untuk kepastian hukumnya.yang dapat memberikan keamanan bagi pihak pemegang efek bersifat utang. 2. Independensi dan profesionalisme Wali Amanat Dalam pelaksanaan tugasnya. Wali Amanat dituntut mampu bersikap profesional dan independen agar aspek perlindungan terhadap investor selalu terjaga. Rapat Umum Pemegang Efek bersifat utang yang diselenggarakan secara berkala maupun secara insidentil dalam hal pembahasan suatu hal tertentu dipandang sebagai forum utama yang penting bagi para pemegang efek bersifat utang. e. Untuk itu beberapa keadaan yang dapat mengakibatkan benturan kepentingan dalam pelaksanaan tugas tersebut harus dibatasi dan diawasi pemenuhannya oleh Bapepam. terutama dari segi kepastian hak-hak yang timbul keadilan dalam pelaksanaannya dan keterbukaan informasi yang harus dilakukan Emiten. g. Ketentuan mengenai rincian pembatasan hak dan kewajiban Wali Amanat terhadap Emiten merupakan hal yang penting diatur dalam kontrak perwaliamanatan. d. Perlu adanya pengaturan secara lebih rinci mengenai pemberian ganti rugi kepada pemegang efek bersifat utang atas kelalaian Wali Amanat dalam pelaksanaan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 53 UU Pasar Modal.

Membuat pernyataan kesanggupan melunasi utang pokok pada enam bulan sebelum jatuh tempo. Tidak boleh terdapat hubungan afiliasi sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 1 angka 1 UU Pasar Modal. Emiten perlu diwajibkan melakukan beberapa hal sebagai berikut: a. c. 4. Pengecualian yang diperbolehkan hanya dalam hal hubungan afiliasi tersebut terjadi karena kepemilikan atau penyertaan modal Pemerintah.a. profesionalisme Wali Amanat perlu didukung juga dengan adanya suatu kode etik dan standar profesi Wali Amanat. b. antara Wali Amanat dengan Emiten dan Penjamin Emisi Efek bersifat utang. Wali Amanat tidak boleh menjadi penanggung (guarantor) atas utang Efek bersifat utang dimana dia bertindak sebagai Wali Amanat. Hubungan kredit yang mungkin timbul antara Wali Amanat dengan Emiten perlu dibatasi dalam jumlah yang tidak melebihi antara 10% s/d 30% dari nilai pokok efek bersifat utang yang diterbitkan Emiten. Biaya-biaya yang timbul dari kegiatan penyelesaian sengketa antara Emiten dengan pemegang efek bersifat utang karena wan prestasi oleh Emiten. Membuktikan adanya dana pada escrow account untuk pelunasan utang pokok. sebulan sebelum jatuh temponya efek bersifat utang. Selain itu. b. Melaporkan rencana pembayaran utang pokok kepada Wali Amanat setahun sebelum jatuh tempo. dan c. 3. Guna mengamankan pembayaran utang pokok Emiten pada saat jatuh tempo. sudah sepantasnya dibebankan kepada pihak Emiten 89 .

Agar mempermudah Wali Amanat dalam menarik dana untuk membiayai proses litigasi tersebut. *** 90 .sendiri. dirasakan perlu adanya suatu pencadangan dana yang sengaja disisihkan oleh Emiten dalam jumlah tertentu untuk keperluan tersebut.

STAF SEKRETARIAT 1. PEMBANTU PELAKSANA 1. 8. SE Imam Cahyadi. 6. 2. 9. Monang Situmeang. 5. KETUA 1. MSi Sutrisno. Djunggu H. 4. SH Adi Suryono V. MM III. 2. Sitorus. MM Pudjo Damaryono. 3. 3. 4. 2. SE Bayu Bandono. SE IV. PELAKSANA 1. SH Halim Haryono. SH. SH II. SH. Imam Mundir Gunarsih D. SH. SH. Suharyono Asima Nurbetty . SE Muhamad Halamsyah. 7.Lampiran 1 ANGGOTA TIM STUDI TENTANG PERWALIAMANATAN DI PASAR MODAL INDONESIA I. MM Luthfy Zain Fuady. MM Tuahta Aloy Saragih. 2. SH Suciya Wardaya. Drs. SEKRETARIS Heru Nugroho. SH. ComLaw Ali Ridwan.

8. 6. 2. 7. Irwan Santoso. NARASUMBER Sumaryono. SH Sri Indrastuti Hadiputranto Dina Chozie Sugeng Santoso.J. 4.Lampiran 2 DAFTAR NARASUMBER STUDI PERWALIAMANATAN DI PASAR MODAL INDONESIA NO. 9. dan Yulius Purnawan Sarmiati AS PT Bank Mega Tbk Teddy O. 10. Punu PT Bank Niaga Tbk Urip Suprodjo PT Pefindo Heyder Bachsin PT Kasnic Rating Indonesia Kabani PT Trimegah Securities Joseph Ginting PT Reliance Securities PROFESI Konsultan Hukum Konsultan Hukum Notaris Notaris 5. 1. Wali Amanat Wali Amanat Pemeringkat Efek Pemeringkat Efek Investor Investor . 3.

3.1/2005 tentang Pembentukan Tim Studi Perwaliamanatan Di Pasar Modal Indonesia.go.go.Lampiran 3 DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL TIM STUDI PERWALIAMANATAN DI PASAR MODAL INDONESIA Gedung Baru Departemen Keuangan RI Lt. Wahidin Jakarta 10710 Telephone Faksimilie Email 3858001 3857917 bapepam@bapepam.1 Jakarta Pusat 10710 Telp. serta solusi atas permasalahan dimaksud. Jawaban dan masukan Saudara atas kuesioner ini bersifat rahasia dan hanya semata-mata digunakan untuk kepentingan studi. Mendapatkan informasi mengenai bagaimana perlindungan terhadap investor obligasi di Pasar Modal Indonesia dapat lebih ditingkatkan. : (021) 3857917 Email : heru@bapepam. Dr. 2.3-8 Jalan Dr. c.id atau heru91nugroho@yahoo. Koordinator Tim Studi Kebijakan Bapepam 2. Responden Studi Perwaliamanatan Di Pasar Modal Indonesia Sehubungan dengan telah dibentuknya Tim Studi Mengenai Perwaliamanatan Di Pasar Modal Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan RI No. faksimili. 4. Sekretaris Bapepam .com 5. : (021) 3858001 ext.PWA/2005 Segera 1 (satu) berkas Permintaan Pengisian Kuesioner 21 September 2005 Yth. Pertanyaan lebih lanjut atas kuesioner kami dapat Saudara tujukan kepada: Heru Nugroho Sekretaris Tim Studi Perwaliamanatan di Pasar Modal Indonesia Proyek Peningkatan Efisiensi Pasar Modal Badan Pengawas Pasar Modal Alamat : Gedung Baru Dep Keu Lantai 4. Mengetahui serta mempelajari pola perjanjian perwaliamanatan dalam penerbitan obligasi antara Wali Amanat dan Emiten. Wahidin Raya No. dengan ini dapat kami sampaikan hal-hal sebagai berikut: 1. Tim Studi ini dibentuk dengan maksud dan tujuan: a. Untuk itu.id Nomor Sifat Lampiran Perihal : : : : S. Badan Pengawas Pasar Modal Jl. Demikian. b.28 /PM/TS. atas kesediaan Saudara meluangkan waktu untuk mengisi dan mengembalikan kuesioner ini kami ucapkan banyak terima kasih. 256/KM. email ataupun kurir selambat-lambatnya pada 30 September 2005 kepada alamat tersebut di atas. Tim Studi mohon kesediaan Saudara untuk bertindak sebagai responden dengan mengisi dan menyerahkan kembali kuesioner sebagaimana terlampir dalam surat ini. Mengetahui kendala-kendala yang dihadapi Wali Amanat dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Kuesioner yang telah diisi dengan lengkap dapat dikembalikan kepada kami melalui pos. Ketua Tim Studi Perwaliamanatan Di Pasar Modal Indonesia Djunggu H Sitorus NIP 060044939 Tembusan: 1. Pelaksanaan studi lapangan oleh Tim Studi ini salah satunya dilakukan dengan melakukan penyebaran kuesioner guna memperoleh sejumlah informasi dari para pelaku pasar modal di Indonesia.4123 / HP 081310226824 Fax.

............................................... Menurut Anda..................... PADAJAWABAN YANG ANDA PILIH.......................... sebutkan:....... .............................. Menurut anda................... .................................... 8........ : ...... perlukah Wali Amanat diwajibkan secara aktif memonitor penggunaan dana emisi obligasi dan melaporkan hasilnya kepada Publik dan Bapepam? Sangat perlu Perlu Kurang perlu Tidak perlu 4.. PETUNJUK PENGISIAN: BERILAH TANDA 1......................................... perlukah diatur mengenai konsekuensi hukum alas kelalaian Wali Amanat memonitor penggunaan dana hasil emisi obligasi? Sangat perlu Perlu Tidak perlu Sangat tidak perlu HUBUNGAN KREDIT 6.......... jika perubahan pengunaan dana hasil emisi Obligasi hanya disetujui oleh Wali Amanat saja tanpa melalui RUPO? Sangat setuju Setuju Tidak setuju Sangat tidak setuju 5.....................................................NAMA JABATAN : ............... Menurut Anda...................................... apakah hubungan kredit antara Wali Amanat dengan Emiten Obligasi perlu dibatasi karena akan menimbulkan benturan kepentingan dalam pelaksanaan tugas Wali Amanat? Ya Tidak 7.............. perlukah rencana penggunaan dana hasil emisi obligasi diatur secara rinci dalam kontrak perwaliamanatan? Sangat perlu Perlu Kurang perlu Tidak perlu 3................ Menurut Anda sampai sejauhmana hubungan afiliasi antara Wali Amanat dengan Emiten yang dapat mengakibatkan benturan kepentingan? ....................................................... perlukah terdapat suatu pedoman mengenai kontrak perwaliamanatan di pasar modal Indonesia? Sangat perlu Perlu Kurang perlu Tidak perlu PENGGUNAAN DANA 2............................................................................................... Menurut Anda.................................. Jika jawaban Anda di atas ya..................................... berapa batasan ideal hubungan kredit antara Wali Amanat dengan Emiten? Tidak lebih dari 10% dari Nilai pokok Obligasi Emiten Tidak lebih dari 20% dari Nilai pokok Obligasi Emiten Tidak lebih dari 30% dari Nilai pokok Obligasi Emiten Tidak lebih dari 50% dari Nilai pokok Obligasi Emiten Jumlah lain..... Menurut Anda............................................................. Bagaimana pendapat Anda............................... ................

........................................................ Setujukah anda jika terdapat dana yang dicadangkan oleh Emiten untuk digunakan Wali Amanat membiayai tindakan hukum...... Setujukah anda jika dalam penerbitan obligasi Emiten diwajibkan untuk mencadangkan sinking fund bagi pelunasan obligasi yang diterbitkan? Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju 13...... Setujukah anda jika hubungan afiliasi antara Penjamin Emisi Efek dengan Wali Amanat perlu dilarang agar masing-masing dapat melaksanakan tugasnya dengan independen? Sangat Setuju Setuju Kurang setuju Tidak Setuju JAMINAN 10........... Jika jawaban anda atas pertanyaan nomor 10 adalah kurang/tidak setuju..................... ........9..................................................... menurut anda masalah apakah yang mungkin timbul jika Emiten tidak diwajibkan untuk memberikan jaminan atas penerbitan obligasi? ....................................................................................... dalam hat Emiten mengalami wan prestasi atas utang obligasi? Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju PEMERINGKATAN OBLIGASI 14.................................... Setujukah anda jika dalam penerbitan obligasi Emiten diwajibkan untuk memberikan jaminan khusus atas penerbitan obligasi? Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju 11................. Setujukah anda jika Emiten yang mengalami penurunan peringkat obligasi diwajibkan untuk memberikan atau menambah jaminan atas obligasi yang diterbitkan? Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju ............ SINKING FUND 12................................................................................................................................ Setujukah anda jika terdapat kewajiban untuk melakukan pemeringkatan tiap tahun dan/atau pemeringkatan inisidentil dalam hat terjadi keadaan yang secara material mempengaruhi kemampuan Emiten membayar utang obligasi yang diterbitkannya? Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju 15........................ .

. Jika jawaban Anda atas pertanyaan no......... setujukah anda jika Emiten tetap dimungkinkan untuk melakukan buy back atas obligasi yang diterbitkan? Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Jelaskan jawaban Anda: .................... 18...... lanjutkan ke no...... dan restrukturisasi surat utang (debt to equity swap/ debt to debt swap/ debt to asset swap).................... . setujukah Anda jika perubahan perjanjian perwaliamanatan yang signifikan...............................24 21. menurut pendapat Anda... Setujukah anda jika Emiten dimungkinkan melakukan pembelian kembali (buy back) atas obligasi yang diterbitkannya? Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju 17................ misalnya penggantian Wali Amanat.. 20 adalah "sangat perlu atau perlu". Jika Emiten mengalami keuntungan yang siginifikan dalam laporan keuangan tahun berjalan dan keuntungan tersebut diperoleh dari kegiatan yang dibiayai oleh penerbitan obligasi............. Setujukah anda jika Emiten dilarang membeli kembali obligasi yang diterbitkannya..... Jika anda setuju untuk pertanyaan di atas............ Tidak ditentukan pengaturannya secara khusus dan diserahkan kepada kesepakatan para pihak................................ Jika jawaban Anda alas pertanyaan no. perlukah diselenggarakan RUPO baik secara berkala maupun insidentil? Sangat perlu Perlu Tidak perlu Sangat tidak perlu Jika jawaban Anda tidak perlu atau sangat tidak perlu...... perlukah diatur tentang korum RUPO untuk dapat mengambil keputusan? Sangat perlu Perlu Tidak perlu Sangat tidak perlu .................... RAP AT UMUM PEMEGANG OBLIGASI 20...... merupakan kewenangan RUPO: Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju 22................ apabila Emiten sedang dalam keadaan wanprestasi atas ketentuan kontrak perwaliamanatan yang dibuatnya? Sangat Setuju Setuju Kurang setuju Tidak Setuju 19............................BUY BACK OBLIGASI 16.. Menurut pendapat Anda...... perpanjangan jangka waktu pelunasan surat utang (roll over)...... Diatur dalam peraturan Bapepam tersendiri..... 21 adalah "sangat setuju atau setuju".......... perubahan tingkat bunga................ maka bagaimana sebaiknya pengaturan buy back tersebut dilakukan? Diatur di dalam Perjanjian Perwaliamanatan............................

......... sebutkan: . berdasarkan peraturan perundang-undangan Pihak lain................. Menurut pendapat Anda..... bagaimanakah sebaiknya pengaturan tentang batasan hak..... 22 adalah "sangat perlu atau perlu"............ BATASAN HAK............................ Menurut Anda....................... perlukah ditetapkan semacam standar atau kriteria untuk menilai kinerja atau tingkat pemenuhan kewajiban dan tanggung jawab Wali Amanat? Sangat perlu Perlu Tidak perlu Sangat tidak perlu . PENGAKHIRAN TUGAS DAN PENGGANTIAN WALI AMANAT 25..... makakah dari 3 (tiga) hal berikut ini yang paling penting untuk diatur? Batasan hak dan kewajiban Wali Amanat terhadap Emiten ............. Batasan hak dan kewajiban Wali Amanat terhadap Regulator.. menurut pendapat Anda apakah media yang paling tepat bagi pemegang obligasij surat utang untuk menyalurkan aspirasinya? Regulator Wali Amanat Emiten Pihak lain... Setujukah Anda jika mekanisme penggakhiran tugas Wali Amanat ditentukan berdasarkan masa jabatan tertentu? Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju 26....... Menurut pendapat Anda... Setujukah Anda jika mekanisme penggakhiran tugas Wali Amanat ditentukan berdasarkan kinerja Wali Amanat dalam melaksanakan tugasnya? Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju 27.... siapakah yang paling kompeten untuk mengangkat (termasuk mengganti) dan memberhentikan Wali Amanat? (kecuali untuk pengangkatan pertama kali) Para pemegang obligasi surat utang Emiten Regulator.... 29...23.. menurut pendapat Anda bagaimana sebaiknya pengaturan tentang korum? Ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan Ditetapkan berdasar asas kebebasan berkontrak Ditetapkan berdasar kewenangan Emiten Ditetapkan berdasar kewenangan Wali Amanat 24........................ Menurut pendapat Anda........ Batasan hak dan kewajiban Wali Amanat terhadap pemegang obligasi/surat utang............... KEWAJIBAN DAN TANGGUNG AWAB WALI AMANAT 28. sebutkan: .. Jika jawaban Anda atas pertanyaan no.. Jika jawaban Anda atas pertanyaan no............... kewajiban serta tanggung jawab Wali Amanat dituangkan? Dituangkan dalam peraturan perundang-undangan Ditetapkan berdasar asas kebebasan berkontrak Ditetapkan berdasar kewenangan Emiten Ditetapkan berdasar kewenan an Wali Amanat 30................... 20 adalah "tidak perlu atau sangat tidak perlu".. PENUNJUKAN.

........ IMBALAN JASA WALI AMANAT 33.. apakah besarnya imbalan jasa (fee) bagi Wali Amanat saat ini sudah sesuai dengan tugas dan tanggung jawab yang diemban oleh Wali Amanat dalam mewakili kepentingan Pemegang Obligasi? Ya Tidak Tidak tahu KEWAJIBAN EMITEN 34..... Menyampaikan rencana pembayaran obligasi minimal 1 tahun sebelum jatuh tempo obligasi : Sangat perlu Perlu Tidak perlu Sangat tidak perlu b. 32... Menurut anda.. sebutkan: .......... pembatasan kegiatan usaha..... Untuk menjamin pembayaran pokok Obligasi pada saat jatuh tempo.... 31) Pemberian kesempatan bagi Wali Amanat untuk memperbaiki kinerjanya Pemberhentian Wali Amanat disertai kewajiban memberikan ganti kerugian (jika timbul kerugian karena kelalaian Wali Amanat dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya) Tindakan tertentu oleh regulator terhadap Wali Amanat (misalnya peringatan............. perlukan Emiten diwajibkan untuk: a......... atau pembatalan Surat Tanda Terdaftar sebagai Wali Amanat) Tindakan tertentu lainnya..... Membuktikan bahwa telah terdapat dana untuk membayar obligasi di escrow account 3 bulan sebelum jatuh tempo: Sangat perlu Perlu Tidak perlu Sangat tidak perlu 35....... Menurut pendapat Anda.................. siapakah pihak yang menurut Anda paling kompeten untuk merumuskan standar atau kriteria tersebut? Organisasi atau asosiasi para Wali Amanat Regulator Emiten bersama Wali Amanat Pihak lain............ Menyampaikan pernyataan kesanggupan membayar obligasi 6 bulan sebelum jatuh tempo obligasi: Sangat perlu Perlu Tidak perlu Sangat tidak perlu c........................ apakah konsekuensi paling logis jika Wali Amanat tidak dapat menunjukkan kinerja yang baik? (tidak memenuhi standar dan kriteria sebagaimana dimaksud pada pertanyaan no.............. Jika jawaban Anda atas pertanyaan no........... Dalam hat terjadi pelanggaran kontrak perwaliamanatan...... 30 adalah "sangat perlu atau perlu"...... sebutkan: ..... menurut anda. berapakah lamanya waktu yang cukup bagi Emiten untuk memperbaikinya agar tidak dinyatakan cedera janji ? 5 (lima) hari kerja 7 (tujuh) hari kerja 14 (empat belas) hari kerja 1 (satu) bulan .........31.. menurut anda..............

................... Menurut Anda.................................. sebutkan: ............ perlukah adanya perluasan peran Wali Amanat selain sebagai wakil pemegang Obligasi di luar maupun di dalam Pengadilan................................ lembaga mana yang paling tepat dan efisien dalam menyelesaikan sengketa antara Emiten dengan Pemegang Obligasi? Badan Arbitrase Pasar Modal Indonesia (BAPMI) Pengadilan Umum Bapepam Lembaga lain....... .. Menurut anda........................................................................................................................................................................... untuk kemudian meminta kepada Emiten mengganti semua biaya-biaya tersebut? Ya Tidak USULAN/MASUKAN ANDA 39.............................. Menurut anda........................................................................................................ apakah sebaiknya Wali Amanat menanggung biaya-biaya perkara terlebih dahulu.............................................................................................. jelaskan jawaban Saudara dalam hal apa peran tersebut perlu diperluas: ........................ Apa usulan Saudara untuk peningkatan efektifitas fungsi Wali Amanat dalam mengawasi Emiten dan mewakili kepentingan pemegang Obligasi: ........... Dalam hal perlu.................................................................................................................................................................36....................................................... .......................................................................... ........... Terima Kasih atas kesediaan Anda menyediakan waktu untuk mengisi kuesioner kami ................................................................................. dalam hal terjadi sengketa antara Emiten dengan Pemegang Obligasi berkenaan dengan pelanggaran ketentuan dalam perjanjian perwaliamanatan oleh Emiten............... 40..... .............................. Menurut Anda............ siapakah pihak yang wajib menanggung biaya-biaya yang timbul? Penjamin Emisi Obligasi Wali Amanat Emiten Pemegang Obligasi 38..................................... BIAYA-BIAYA PERKARA 37....

2 : Pemeliharaan Dokumen Oleh Wali Amanat 5.I. Peraturan Nomor X. The Bond Indenture Trustee: Function.K. Peraturan Bapepam Nomor IX. Peraturan Bapepam Nomor IX. and Monitoring Costs. University of Utah. Kitab undang-undang Hukum Perdata (KUH Perdata) 9.1 : Laporan Wali Amanat 4. . Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal 2.2 Dalam Rangka Penawaran Umum tentang Pedoman dan Isi Prospektus 7. Industry Structure. Peraturan Nomor VI.C. Ramon E Johnson and Calvin M Boardman. Salt Lake City.C. Peraturan Nomor X.DAFTAR KEPUSTAKAAN 1. Peraturan Nomor X.3 tentang tentang Pedoman dan Isi Prospektus Ringkas Dalam Rangka Penawaran Umum 8.C. UT.I.2 : Pendaftaran Bank Umum Sebagai Wali Amanat 3.4 tentang Laporan Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum 6. 84112.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful