STUDI TENTANG PERWALIAMANATAN DI PASAR MODAL INDONESIA

Oleh: Tim Studi Perwaliamanatan Di Pasar Modal Indonesia

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL PROYEK PENINGKATAN EFISIENSI PASAR MODAL TAHUN 2005

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Daftar Isi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Tujuan dan Manfaat C. Metode Studi D. Organisasi Studi E. Waktu Studi BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi dan Pengertian B. Fungsi dan Tanggung Jawab Wali Amanat C. Pendaftaran, Pelaporan Dan Pemeliharaan Dokumen D. Aspek Hukum Perwaliamanatan BAB III PEMAPARAN DAN ANALISIS HASIL STUDI A. Pola Kontrak Perwaliamanatan Di Pasar Modal Indonesia B. Masalahan dan Kendala Yang Dihadapi Wali Amanat C. Pembahasan Hasil Kuesioner BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan B. Rekomendasi Daftar Pustaka Lampiran

Hal i iv

1 3 3 4 4

5 10 12 15 18 29 35 63 66

iv

KATA PENGANTAR

Keberadaan Wali Amanat dalam kegiatan Pasar Modal di Indonesia memegang peran yang sangat vital, terutama dalam kaitannya dengan penerbitan efek bersifat utang. Dalam Undang-undang No. 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal, Wali Amanat didefinisikan sebagi Pihak yang mewakili kepentingan pemegang efek yang bersifat utang baik di dalam maupun di luar pengadilan. Beberapa aspek menyangkut kegiatan Wali Amanat di pasar modal, diantaranya mencakup penyusunan kontrak perwaliamanatan dengan Emiten, monitoring Emiten atas pemenuhan kewajiban-kewajibannya dan ketentuan lain dalam kontrak perwaliamanatan, penyampaian laporan dan keterbukaan informasi, penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Obligasi, serta pelaksanaan keputusan RUPO. Dibalik pentingnya peran Lembaga Penunjang Pasar Modal ini, kegiatan pengkajian dan evaluasi atas kinerja mereka selama ini dirasakan masih sangat sedikit, sehingga pengembangan dari sisi regulasi, pengawasan dan pembinaan oleh Bapepam selaku otoritas pasar modal juga belum berjalan optimal. Dari sisi peraturan yang ada saat ini, Undang-undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal telah memberikan rambu-rambu yang mengatur pelaksanaan tugas Wali Amanat berikut tanggung jawab yang harus diembannya. Sebagai peraturan pelaksananya, di tingkat Peraturan Bapepam telah terdapat 3 peraturan tentang Wali Amanat, khususnya berkenaan dengan pendaftaran, pelaporan serta pemeliharaan dokumen. Namun demikian, ketentuan-ketentuan yang ada tersebut masih terdapat beberapa masalah yang dirasa cukup mendesak untuk dilakukan pengaturan, seperti dari aspek

i

seperti adanya ketentuan pembelian kembali efek bersifat utang oleh Emiten (buy back). yang menghasilkan solusi yang belum memuaskan para pihak. obligasi dengan beberapa seri dengan variasi tingkat suku bunga. Investor efek bersifat utang di pasar modal Indonesia memerlukan Wali Amanat yang memiliki kemampuan memahami dan menganalisis struktur efek surat hutang dengan ketentuanii . atau obligasi berdasarkan prinsip syariah. kode etik.independensi dan profesionalisme Wali Amanat. Iklim investasi di Indonesia yang semakin membaik telah kembali menarik kegiatan penerbitan surat hutang. standar pelaporan dan keterbukaan informasi. terutama di pihak pemegang obligasi. obligasi subordinasi. Perkembangan kondisi tersebut di atas sudah barang tentu menimbulkan implikasi berupa tuntutan yang semakin besar akan peningkatan kualitas jasa dan profesionalisme dari Wali Amanat. pengurangan nilai pokok obligasi berdasarkan periode tertentu (amortisasi). jaminan obligasi berupa piutang dan lain sebagainya. akibat dari wanprestasi Emiten serta proses restrukturisasi obligasi. Ketentuan yang diatur dalam Kontrak Perwaliamanatan sebagai dasar penerbitan efek bersifast utang saat ini juga sudah lebih kompleks dengan berbagai kondisi atau klausula yang terus berkembang. ketentuan rapat umum pemegang obligasi berkaitan dengan perubahan kondisi penting dalam obligasi. sampai saat ini masih terdapat penyelesaian masalah antara Emiten dengan pemegang obligasi. Sebagai contoh. Jenis maupun kompleksitas struktur obligasi yang diterbitkan Emiten di Indonesia juga telah semakin meningkat. seperti obligasi dan produk-produk keuangan lain. kontrak perwaliamanatan serta berbagai aspek teknis pelaksanaan tugas Wali Amanat dalam mewakili kepentingan pemegang efek bersifat utang lainnya. saat ini banyak beredar obligasi amortisasi. ketentuan call option dan put option. Sementara itu.

tim studi berharap hasil penelitian ini akan dapat bermanfaat bagi pengembangan pasar modal Indonesia pada umumnya dan optimalisasi peran dan fungsi Wali Amanat dalam mewakili kepentingan investor obligasi pada khususnya. perlu dipikirkan cara agar posisi tawar Wali Amanat dalam berhadapan dengan Emiten yang selama ini dirasa belum seimbang. Kritik dan saran konstruktif sangat kami hargai sebagai masukan bagi kami dalam penyempurnaan hasil penelitian ini. supaya lembaga ini dapat menjalankan tugasnya dengan lebih independen dan profesional.ketentuan dalam kontrak perwaliamanatan yang semakin komplek agar kepentingan pemegang efek bersifat utang dapat terlindungi. Wassalam. serta kemungkinan peningkatan pembinaan dan pengaturan yang dapat dilakukan oleh Bapepam. dipandang perlu untuk melakukan suatu studi guna mengetahui tingkat kinerja dan pelaporan aktivitas Wali Amanat. Akhirnya. Berdasarkan uraian di atas. agar dapat ditempatkan pada keadaan yang semestinya. Selain itu. masalah-masalah yang dihadapi dalam praktik. Ketua Tim Studi iii .

Kontrak perwaliamanatan inilah yang menjadi dasar utama dalam mengatur syarat dan kondisi penerbitan efek bersifat utang. terutama dalam perundingan dengan pihak-pihak terkait untuk menyusun suatu kontrak perwaliamanatan. Sebagai pihak yang mewakili kepentingan pemegang efek bersifat utang baik di dalam maupun di luar pengadilan. peran Wali Amanat ini sudah mulai berjalan sebelum efek bersifat utang diterbitkan. adalah Wali Amanat. ataupun memanggil rapat umum pemegang efek bersifat utang untuk menentukan langkah yang akan diambil. Selain tugas-tugas di atas. Apabila terjadi pelanggaran dalam pemenuhan kewajiban maupun covenants yang ada. selama umur efek bersifat utang. seperti meminta Emiten melakukan langkah-langkah untuk memperbaiki pelanggaran tersebut. LATAR BELAKANG Dalam kegiatan bisnis di pasar modal. Wali Amanat berkewajiban memonitor kondisi Emiten dan memastikan kepatuhan Emiten terhadap ketentuan dalam kontrak perwaliamanatan yang telah dibuat.BAB I PENDAHULUAN A. Wali Amanat akan bertindak mewakili pemegang efek bersifat utang untuk melakukan tindakan di pengadilan dalam rangka memperjuangkan hak-hak pemegang efek bersifat utang. Bila dipandang perlu. salah satu pihak yang berperan penting dalam kegiatan penerbitan efek bersifat utang disamping Emiten sendiri. maka Wali Amanat harus melakukan tindakan tindakan yang diperlukan. Selanjutnya. Wali Amanat 1 . termasuk hak dan kewajiban para pihak yang terlibat.

batasan hubungan kredit yang diperbolehkan dengan Emiten (Pasal 51 ayat (3)).2) sebagai ketentuan pelaksana pasal 50 ayat (3).2). Undang-undang Pasar Modal telah mengamanatkan beberapa hal yang wajib diatur lebih lanjut oleh peraturan Bapepam. hingga saat ini Bapepam baru menetapkan peraturan mengenai tatacara pendaftaran Wali Amanat (Peraturan Nomor VI. Selain itu. seperti persyaratan dan tata cara pendaftaran Wali Amanat (Pasal 50 ayat (3)).I. berupa kajian dan evaluasi mengenai sejauh mana pengembangan di bidang regulasi di bidang ini dapat dilakukan. Konsekuensi hukum tersebut berupa kewajiban mengganti kerugian yang timbul kepada pemegang efek bersifat utang yang diwakilinya. dalam Pasal 53 telah diatur juga tentang tanggung jawab Wali Amanat apabila tidak menjalankan tugasnya dengan baik. 2 .I. Kondisi ini tentu saja memerlukan perhatian dari Bapepam.1) dan pemeliharaan dokumen (Peraturan NomorX. penggunaan jasa Wali Amanat (pasal 51 ayat (4)). Dalam Pasal 50 telah diatur mengenai siapa saja yang dapat melakukan kegiatan sebagai Wali Amanat beserta persyaratannya.8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.pada umumnya juga berperan sebagai agen pembayaran atas kupon bunga dan utang pokok Emiten. Ketentuan Bapepam yang lain mengatur mengenai kewajiban pelaporan (Peraturan Nomor X. serta ketentuan mengenai kontrak perwaliamanatan yang dibuat antara Emiten dengan Wali Amanat (Pasal 52). serta larangan menjadi penanggung atas efek bersifat utang yang sama (pasal 54). Sikap independen yang wajib dimiliki dalam menjalankan tugasnya dapat tersimpul dari ketentuan pasal 51 yang melarang adanya hubungan afiliasi dan hubungan kredit dalam jumlah tertentu dengan Emiten. Fungsi dan kedudukan Wali Amanat secara garis besar telah diatur dalam Undang-undang No.C. Namun demikian. dari beberapa hal yang diamanatkan tersebut.

tanpa sinking fund dan tanpa kewajiban melakukan pemeringkatan berkala.Semakin meningkatnya kegiatan bisnis di pasar modal paska krisis moneter membawa akibat semakin banyaknya perusahaan yang tertarik memanfaatkan pasar modal sebagai alternatif pendanaan. Di sisi lain. Dari sini sudah terlihat ketidakseimbangan kedudukan Wali Amanat dengan Emiten sebagai pihak yang menunjuk dan membayar jasanya. antara lain dengan menerbitkan efek bersifat utang. Peningkatan perlindungan terhadap kepentingan investor obligasi di Indonesia merupakan masalah yang saat ini masih menghadapi berbagai macam kendala yang serius. Hal ini dari satu sisi merupakan hal yang menggembirakan bagi kalangan pasar modal. tetapi di sisi yang lain timbul beberapa kekhawatiran mengenai risiko yang timbul apabila pihak Emiten melakukan cedera janji atas kewajiban utangnya. dapat terlihat bahwa kecenderungan Emiten untuk meminta syarat-syarat yang ringan dalam penerbitan efek bersifat utang lebih dapat terakomodasi. Hal tersebut seperti makin banyaknya obligasi yang diterbitkan tanpa jaminan khusus. pada akhirnya investorlah yang sering dirugikan apabila hal tersebut terjadi. 3 . Dari pola kontrak perwaliamanatan yang ada selama ini. ketiadaan pedoman yang dapat dijadikan dasar bagi Wali Amanat untuk merundingkan pasal-pasal dalam kontrak perwaliamanatan mengakibatkan Wali Amanat kurang mampu menghasilkan isi kontrak yang cukup dapat melindungi pemegang efek bersifat utang. Posisi tawar Wali Amanat dalam mewakili kepentingan pemegang efek bersifat utang sudah saatnya ditinjau kembali. Hal ini cukup beralasan mengingat dalam kasus-kasus sebelumnya. mengingat saat ini Emitenlah yang memiliki wewenang menunjuk pihak Wali Amanat untuk efek bersifat utang yang diterbitkannya.

Dari pemaparan di atas. sehingga pada akhirnya diharapkan kemungkinan kerugian yang dapat menimpa investor dapat dikurangi. Oleh karena itu studi mengenai kendalakendala yang dihadapi Wali Amanat dalam menjalankan tugas dan fungsinya selama ini menjadi hal berikutnya yang perlu dilakukan. B. Pengaturan mengenai jaminan/agunan. Adanya kelemahan isi kontrak perwaliamanatan yang selama ini telah dibuat dapat diperbaiki dan posisi tawar Wali Amanat dapat lebih ditingkatkan. Wali Amanat tetap merupakan pelaku sentral dalam mengawasi pasang surut obligasi dan kondisi penerbitnya mulai dari mulai penerbitan hingga jatuh tempo. adanya hak Emiten melakukan pembelian kembali obligasi dan call option yang memerlukan pengaturan dari sisi keterbukaannya. Namun demikian sebagaimana disebutkan di atas. Hasil studi ini diharapkan dapat dipakai sebagai masukan guna menentukan kebijakan untu meningkatkan kepercayaan investor yang berinvestasi kepada obligasi. credit rating dan covenant-covenant dalam kontrak perwaliamanatan merupakan bentuk-bentuk jaring pengaman untuk menjaga kepentingan investor. Dengan memahami secara lebih baik permasalahan dan keterbatasan yang dihadapi Wali Amanat. sinking fund. dipandang perlu dilakukan studi tentang perwaliamanatan di Pasar Modal Indonesia. TUJUAN DAN MANFAAT Tujuan dan manfaat yang ingin dicapai dari dilakukannya studi mengenai perwaliamanatan di Indonesia ini antara lain sebagai berikut: 4 . semoga dapat dicarikan suatu solusi bagi peningkatan peran Wali Amanat khususnya dalam melindungi kepentingan investor di Pasar Modal Indonesia.Selain itu.

dalam studi/penelitian ini dilakukan melalui : 1. kontrak-kontrak perwaliamanatan yang ada di Pasar Modal Indonesia b. 2. c. Studi Pustaka Studi pustaka dilaksanakan dengan mempelajari beberapa literatur dan bahan-bahan tertulis sebagai berikut: a. serta mencari solusi atas permasalahan dimaksud. Studi Lapangan Studi lapangan dilakukan dengan dua cara: 5 . 2.1. tulisan dan hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya yang berkaitan dengan masalah perwaliamanatan. Mengetahui kendala-kendala yang dihadapi Wali Amanat dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Mengetahui serta mempelajari pola perjanjian perwaliamanatan dalam penerbitan obligasi antara Wali Amanat dan Emiten efek bersifat utang. 3. C. Mendapatkan informasi terutama bagi Bapepam dalam hal peningkatan perannya untuk melindungi kepentingan investor obligasi. peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia khususnya yang terkait dengan Wali Amanat dan penerbitan obligasi. METODE STUDI Untuk memperoleh data dan atau informasi yang dibutuhkan.

serta pihak profesional di bidang hukum.a. Wali Amanat. Responden yang dimintai pendapat dalam studi ini mencakup 5 kategori yaitu Emiten.1 orang ketua . yaitu Konsultan Hukum dan Notaris. Melakukan wawancara dengan para narasumber yang berkompeten. Konsultan Investor dan tentunya Wali Amanat. WAKTU STUDI Studi ini dilakukan pada tahun anggaran 2005 dari bulan Januari hingga Desember 2005. tim studi juga menyebarkan kuesioner kepada para pelaku pasar modal yang berkepentingan secara langsung dengan penerbitan Obligasi.2 staf sekretariat E. b. antara lain dengan profesi Notaris. Untuk memperoleh masukan mengenai permasalahan tertentu yang dipelajari.1 orang wakil ketua . investor.9 orang peneliti .4 orang pembantu peneliti .1 orang sekretaris . 6 . D. ORGANISASI STUDI Organisasi studi terdiri dari : .

obligasi dan Efek bersifat Utang. Antara para kreditur mungkin akan saling mengamati untuk menentukan apakah 7 . A. Oleh karena efek bersifat utang merupakan surat pengakuan utang yang bersifat sepihak dari pihak penerbit (Emiten) dan para kreditur (investor) jumlahnya relatif banyak. serta aspek hukum perwaliamanatan. Tanpa adanya lembaga Wali Amanat. pendaftaran. Dengan alasan ekonomis tersebut. maka perlu dibentuk suatu lembaga yang mewakili kepentingan seluruh kreditur. pemegang efek selaku kreditur harus berhadapan langsung dan melakukan pengawasan secara sendiri-sendiri untuk memastikan bahwa tidak terdapat hal-hal yang dilanggar dalam kontrak perwaliamanatan.BAB II TINJAUAN PUSTAKA Sebagai landasan teoritis atas studi tentang perwaliamanatan. 1. Efek bersifat utang yang ditawarkan kepada publik tentunya dimiliki oleh banyak investor. satu kreditur mungkin akan memanfaatkan hasil pengawasan dari kreditur lainnya. fungsi dan tanggung jawab Wali Amanat. DEFINISI DAN PENGERTIAN Wali Amanat Definisi Wali Amanat sebagaimana telah ditetapkan dalam UUPM Pasal 1 angka 30 adalah :”Pihak yang mewakili kepentingan pemegang Efek yang bersifat utang”. pelaporan dan pemeliharaan dokumen Wali Amanat. Pengawasan secara individual oleh masing-masing kreditur ini tentunya akan memakan waktu dan biaya yang tidak efisien. pada bab ini akan dijelaskan mengenai definisi dan pengertian Wali Amanat.

Dalam keadaan seperti ini. Masalah lain yang mungkin timbul adalah penyebaran informasi penting yang tidak merata. Pengawasan secara individual juga memiliki kelemahan berupa kemampuan melakukan pengawasan yang tidak sama antara satu kreditur dengan lainnya. atau sebaliknya. dapat terjadi terlalu banyak kreditur yang melakukan pengawasan sendiri-sendiri terhadap Emiten. dilain pihak ada kreditur lain yang harus meminta jasa profesional untuk melakukan tugas tersebut. semua permasalahan para kreditur sebagaimana tersebut di atas dapat diminimalisir. tidak ada satupun investor yang melakukan pengawasan karena saling mengandalkan satu sama lain. biayabiaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan pengawasan ditanggung oleh lembaga ini. dari pada menyebarkan informasi tersebut kepada kreditur-kreditur yang lain. Ada kreditur yang memiliki keahlian yang memadai untuk melakukan monitoring dan analisis terhadap emiten.diperlukan suatu tindakan pengawasan pada Emiten atau tidak. Perbedaan kemampuan melakukan pengawasan antar kreditur dapat dijembatani oleh keahlian Wali Amanat. mungkin akan melakukan tindakan antisipasi terlebih dahulu untuk memperoleh keuntungan atau menghindari kerugian yang akan timbul. Dengan kemampuan profesional dari Wali Amanat. Dengan keberadaan lembaga penunjang pasar modal ini. Kreditur yang pertama mengetahui adanya informasi penting terkait dengan Emiten. dan penyebaran informasi menjadi lebih merata karena Wali Amanat akan memberitahukan 8 . Wali Amanat merupaka pihak yang secara profesional khusus ditunjuk untuk melakukan pengawasan bagi kepentingan seluruh kreditur efek bersifat utang.

Ada empat ketentuan dasar yang menjadi daya tarik utama dalam berinvestasi pada obligasi yakni : a. Jangka waktu obligasi telah ditentukan (umumnya 5-10 tahun) dan disertai dengan pemberian imbalan bunga yang jumlah dan saat pembayarannya juga telah ditetapkan dalam perjanjian.setiap perkembangan Emiten kepada seluruh kreditur dalam waktu yang sama. 9 . Obligasi Obligasi dapat didefinisikan sebagai efek utang pendapatan tetap yang diperdagangkan di masyarakat dimana penerbitnya setuju untuk membayar sejumlah bunga tetap untuk jangka waktu tertentu dan akan membayar kembali jumlah pokoknya pada saat jatuh tempo. 2. Obligasi membayar serangkaian bunga dalam jumlah tertentu secara regular. Jadi sertifikat obligasi merupakan suatu surat pengakuan hutang atas pinjaman yang diterima oleh perusahaan (penerbit obligasi) dari pemodal. Selain karena kegiatan usaha perbankan yanng terkait erat dengan pengawasan terhadap para debiturnya. Obligasi terutama ditujukan kepada para investor jangka panjang. Obligasi adalah salah satu alternative investasi pasar modal. alasan yang diajukan dalam penjelasan pasal 50 ayat (1) adalah karena Bank Umum memiliki jaringan kegiatan usaha yang cukup luas. Karena itu obligasi tersebut disebut sekuritas pendapatan tetap atau fixed income securities. Untuk mengantisipasi perkembangan pasar modal di masa datang pihak selain bank umum yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah dimungkinkan melakukan kegiatan usaha ini. Berdasarkan ketentuan UU Pasar Modal. pihak yang dapat melakukan kegiatan usaha sebagai Wali Amanat adalah Bank Umum.

d. yaitu jika tingkat suku bunga bank naik. Sebagai hasilnya. maka nilai uang itu dapat terkikis oleh inflasi. 10 . c. Emiten akan membayar kembali pinjaman tersebut seutuhnya dan tepat waktu. Tingkat bunga obligasi kompetitif dalam artian obligasi membayar tingkat suku bunga yang dapat dibandingkan dengan apa yang bias didapatkan investor ditempat lain. tingakat obligasi baru biasanya sama dengan tingkat suku bunga perbankan. para pembeli mungkin kehilangan uang karena obligasi yang mereka miliki tidak memberi hasil sebaik obligasi yang baru diemisi.b. b. Obligasi konversi yaitu obligasi yang para pemegang obligasi ini pada waktu yang telah ditetapkan dapat menukarkan obligasinya dengan saham biasa dari perseroan yang menerbitkan atas dasar harga konversi yang telah ditentukan sebelumnya. Disamping mempunyai daya tarik. obligasi juga mempunyai resiko. Risiko lain yang dihadapi pemegang obligasi adalah meningkatnya inflasi. Pembayaran suku bunga obligasi juga sudah ditetapkan ketika obligasi di emisi. Karena nilai rupiah yang mereka dapatkan dari investasi obligasi tidak berubah. Obligasi atas unjuk yaitu obligasi yang pelunasannya dibayarkan kepada pembawa obligasi tersebut. Mereka tidak bisa mendapatkan uang dalam jumlah utuh sebanyak yang telah mereka bayarkan untuk obligasi. Jenis-jenis obligasi yang umumnya ada di Indonesia antara lain : a. Sehingga obligasi terlihat kurang beresiko dibandingkan investasi yang tergantung pada naik turunnya pasar. Obligasi memiliki jatuh tempo yang telah ditentukan ketika obligasi habis masanya dan pinjaman harus dibayar penuh pada nilai nominal.

Obligasi Pemerintah (Government Bond) Undang-undang No. unit organisasi Pemda (Dinas Pekerjaan Umum. Pihak yang menerbitkan obligasi disebut issue. serta Badan Usaha Milik Daerah dan kegiatan swasta yang dijamin daerah. Biasanya suatu obligasi sebelum ditawarkan kepada masyarakat pemodal. Obligasi Daerah (Municipal Bonds) Obligasi yang diterbitkan oleh Pemerintah Daerah Tingkat I atau Tingkat II. 11 . obligasi tersebut diminta untuk diperingkat (rating) oleh lembaga pemeringkat (rating agency). 24 tahun 2004 tentang Surat Utang Negara (SUN) mendefinisikan surat berharga yang berupa surat pengakuan hutang dalam mata uang rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh Negara Republik Indonesia sesuai dengan masa berlakunya. obligasi dibedakan : a. Surat utang yang diterbitkan oleh perusahaan swasta atau negara. Pada umumnya di Indonesia bersifat jangka panjang dan tidak dijamin oleh penerbitnya.Sedangkan berdasarkan penerbitnya (Issuer). Obligasi Perusahaan (Corporation Bond). Hal ini dikarenakan resiko yang melekat pada obligasi korporasi lebih besar dibandingkan dengan obligasi negara yang dijamin penuh oleh pemerintah RI. dan sebagainya). Peringkat (rating) yang diberikan oleh rating agency akan menyatakan apakah obligasi tersebut layak untuk investasi. Proses pemeringkatan berguna untuk menilai kinerja perusahaan dari berbagai faktor yang secara langsung maupun tidak langsung dengan keuangan perusahaan. c. b. Bapeda. Selain itu juga menawarkan bunga atau interest yang cukup tinggi dibandingkan dengan obligasi negara.

Kasnic. sedangkan securities Rating adalah pemeringkatan yang dilakukan terhadap suatu produk effek yang digulirkan oleh suatu perusahaan. Dibawah ini. maka rating sangat diperlukan sehingga dapat dinilai apakah issue nantinya dapat atau tidak membayar utangnya. misalnya bond rating. lembaga pemeringkat adalah PT. merupakan bagan pihak-pihak yang terkait dalam perdagangan obligasi : Rating Agency Issuer Trusste Lead Underwriter Guarantor Underwriter/Selling Agents Investor Paying Agent Di Indonesia. Pefindo dan PT. Namun harus diperhatikan bahwa bond rating ini hanya dimaksudkan untuk mengukkur 12 . Coorporate Rating adalah pemeringkatan yang dilakukan untuk menilai suatu perusahaan secara menyeluruh. Proses pemeringkatan dapat dibagi atas dua jenis yaitu: Coorporate Rating dan Securities Rating. Pemeringkatan suatu obligasi ini sangat berguna bagi para investor obligasi.Karena obligasi merupakan surat utang. pemeringkatan terhadap suatu obligasi. karena dengan adanya rating maka para investor tidak perlu lagi melakukan proses evaluasi yang membosankan dan membutuhkan kerja keras sendiri-sendiri. sesuai dengan penilaian rating agency.

Pada waktu penawaran umum pertama kali. Penjamin emisi pelaksana biasanya bertindak juga sebagai agen penjual (selling agent). Kontrak perwaliamanatan. Wali Amanat wajib menyampaikan laporan tengah tahunan dan tahunan 13 . pembayaran bunga yang sering terlambat. Wali Amanat berfungsi melakukan pencatatan/administrasi mengenai obligasi yang masih beredar. Wali Amanat merupakan lembaga yang berfungsi untuk mengurusi segala urusan dari obligasi sesudah penawaran umum sampai masa hidup pasar obligasi tersebut berakhir. yang diterbitkan Issuer jika terjadi wanprestasi dari isser. kadang-kadang melibatkan pihak yang disebut Guarantor. Agen penjualan inilah yang langsung berhubungan dengan masyarakat pemodal. Underwriter biasanya merupakan suatu kelompok yang terdiri dari penjamin emisi utama (lead underwriter) dan penjamin emisi pelaksana (underwriter). Selanjutnya ada pihak yang disebut Trustee atau Wali Amanat. Guarantor merupakan pihak yang memberikan jaminan akan melunasi surat hutang beserta kewajiban yang berhubungan. dan pengawasan terhadap Issue. Penjaminan emisi ini dilakukan oleh underwriter. Wali Amanat umumnya adalah bank yang telah mendapat izin operasi sebagai Wali Amanat dari Bapepam. issuer akan berhubungan dengan pihak yang akan menjamin emisi obligasi dari issuer tersebut agar laku di pasar. Wali Amanat bertugas atas dasar hukum kontrak perwaliamanatan yang ditandatangani oleh Wali Amanat dengan issuer. Penjamin emisi utama dan pelaksana ini hanya melaksanakan tugasnya sampai proses emisi utama dan pelaksana tidak ada lagi hubungannya dengan obligasi tersebut.tingkat resiko wanprestasi dari suatu emisi obligasi bukan dari pengurus eksternal seperti resiko pasar.

Di dalam melaksanakan pembayaran bunga maupun pokok. Wali Amanat memiliki beberapa tanggungjawab. Kadang-kadang Wali Amanat bertindak sendiri sebagai Paying Agent. Sehingga investor yang ingin mengambil bunga atau pokoknya. biasanya Wali Amanat menunjuk pihak yang disebut Paying Agent. terkait dengan fungsinya untuk mewakili pemegang efek bersifat utang/pemegang obligasi. Larangan hubungan afiliasi antara Wali Amanat dengan Emiten dimaksudkan untuk menghindari terjadinya benturan kepentingan antara Wali Amanat selaku wakil pemegang efek bersifat utang dan kepentingan emiten. B. Sehingga dalam melaksanakan fungsi dan tanggung jawabnya Wali Amanat dituntut untuk selalu mengutamakan dan mengedepankan kepentingan pemegang obligasi/kreditur. Pelaksanaan tanggungjawab tersebut selain didasarkan pada suatu peraturan perundangan yang berlaku juga didasarkan kepada suatu kontrak 14 . FUNGSI DAN TANGGUNG JAWAB WALI AMANAT Sebagaimana telah diamanahkan dalam pasal 51 ayat (2) UUPM bahwa Wali Amanat adalah pihak yang mewakili kepentingan pemegang efek bersifat utang/obligasi baik di dalam maupun di luar pengadilan.kepada Bapepam mengenai segala sesuatu tentang pelaksanaan obligasi yang ditanganinya. Berkenaan dengan hal tersebut. langsung berhubungan dengan Paying Agent. Hal ini diperlukan agar Wali Amanat dapat melaksanakan fungsinya secara independen sehingga dapat melindungi kepentingan pemegang efek bersifat utang/pemegang obligasi secara maksimal. Wali Amanat dilarang mempunyai hubungan afiliasi dengan emiten/penerbit obligasi.

Adapun kontrak/perjanjian yang mendasari fungsi dan tanggungjawab Wali Amanat disebut kontrak perWali Amanatan atau perjanjian perWali Amanatan. b./perjanjian. penelitian ini mencakup: • analisa laporan keuangna emiten untuk memantau keadaan keuangan emiten. terbagi atas: a. Kontrak perWali Amanatan merupakan kontrak yang dibuat antara emiten dengan Wali Amanat yang mengikat pemegang efek bersifat utang/pemegang obligasi. • meneliti legalitas dari emiten. II. • Penetuan tanggal-tanggal untuk pembayaran bungan dan pokok. • Hak untuk mengetahui rating obligasi. Sebelum proses emisi yaitu melakukan penelitian terhadap calon emiten. • Hak pembayaran pokok. • Hak untuk memperoleh pemberitahuan apabila terjadi kejadian yang penting dari emiten. Saat proses emisi. Menentukan hak-hak para pemegang efek bersifat utang/obligasi. Tanggungjawab Wali Amanat terkait dengan fungsinya sebagai wakil dari pemegang efek bersifat utang (kreditur) sekurang-kurangnya meliputi: I. Membuat kontrak/perjanjian perWali Amanatan 15 . • Hak untuk memperoleh laporan-laporan dari emiten. • Hak untuk memperoleh informasi mengenai jaminan (preferen/tidak preferen). yang mencakup: • Hak pembayaran bunga.

• Tanggal-tanggal pembayaran bunga. B. sebelum emisi efek bersifat utang/obligasi. BES sehubungan dengan efek bersifat utang/obligasi yang diterbitkan. • Memberitahukan kepada pemegang efek bersifat utang/obligasi. emiten Bapepam. meliputi: A. menganalisa data-data historis emiten yaitu melakukan analisa terhadap laporan keuangan emiten untuk mengetahui kinerja dan keadaan keuangan emiten. Menentukan dan memantau hak-hak pemegang efek bersifat utang/obligasi. Proses emisi efek bersifat utang/obligasi. Dalam upaya Wali Amanat dalam melindungi pemegang efek bersifat utang/obligasi. yaitu berupa legal opinion dan legal audit. • Memantau penggunaan dana yang diperoleh dari emisi efek bersifat utang/obligasi. 16 . • Cara pembayaran bunga. meliputi: A. mempelajari data-data dari Konsultan Hukum yang ditunjuk dalam emisi tersebut.c. • Penyediaan dana untuk membayar bunga dan pokok obligasi. yang terdiri dari: • Besarnya bunga obligasi. • Melaksanakan keputusan RUPO. Setelah emisi efek bersifat utang/obligasi • Memantau pemenuhan kewajiban emiten yang tercantum dalam perjanjian perwaliamantan. • Menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) apabila diperlukan. apabila terdapat kejadian penting. 2. beberapa hal yang dilakukan antara lain: 1.

Bursa Efek dan pemegang obligasi dalam hal terjadi potensi kelalaian atau kelalaian yang dilakukan oleh emiten atau terjadi keadaan yang dapat membahayakan kepentingan pemegang obligasi. Melakukan pengecekan. kinerja dan proyeksi keuangan. Setelah emisi. Pengawasan dan pemantauan kepatuhan serta pelaksanaan kewajiban emiten berdasarkan perjanjian perWali Amanatan atau dokumen lainnya yang mencakup: • Analisis kinerja keuangan secara periodik.• Menentukan jaminan yang dijaminkan untuk pemegang efek bersifat utang/obligasi. • Pemenuhan kewajiban emiten terhadap pemegang efek bersifat utang/obligasi. B. 17 . • Kepatuhan atas covenant pada perjanjian perWali Amanatan. meliputi: A. struktur jaminan. Melaksanakan keputusan RUPO. D. Menetapkan covenant-covenant dalam perjanjian perWali Amanatan (negative covenant dan positive covenant) yang harus dipenuhi emiten selama jangka waktu efek bersifat utang/obligasi dengan memperhatikan struktur obligasi. perhitungan dan pengikatan jaminan obligasi (bila ada). • Monitoring jaminan (nilai maupun pengikatannya. C. • Penggunaan dana. Pemberian keterangan/perhitungan yang sewaktu-waktu diminta RUPO maupun Bapepam. Penyampaian laporan kepada Bapepam. 3. C. B.

a. untuk dapat melakukan kegiatannya di pasar modal. PENDAFTARAN. tentang Pendaftaran Bank Umum Sebagai Wali Amanat.C. Anggaran Dasar Nomor Pokok Wajib Pajak Izin Usaha sebagai Bank Umum 18 . Bank umum diwajibkan terlebih dahulu terdaftar di Bapepam. Pendaftaran Dalam Undang-undang Pasar Modal ditentukan bahwa yang dapat melakukan kegiatan sebagai Wali Amanat adalah Bank Umum dan pihak lain yang ditentukan dengan Peraturan Pemerintah. apabila ada pihak lain yang mungkin dapat diijinkan melakukan kegiatan sebagai Wali Amanat selain Bank Umum.2. perwaliamanatan merupakan salah satu kegiatan usaha dari Bank Umum. dokuemen-dokumen tersebut dibawah ini wajib disampaikan kepada Bapepam menyertai permohonan pendaftaran: i. Dalam Peraturan Bapepam Nomor VI. ii. pelaporan dan pemeliharaan dokumen dalam kegiatan usahanya. iii.C. Sesuai dengan ketentuan dalam Undang-undang Perbankan. Namun demikian. DOKUMEN PELAPORAN DAN PEMELIHARAAN Pengawasan dan pembinaan Bapepam terhadap Wali Amanat selama ini diwujudkan dalam bentuk ketentuan yang mewajibkan lembaga penunjang pasar modal ini untuk melakukan pendaftaran. Ketentuan di atas dimaksudkan untuk mengakomodasi perkembangan pasar modal di masa yang akan datang.

− Kedua. dan pelaksanaan pengawasan yang telah dilakukan oleh Wali Amanat terhadap Emiten. apabila dimungkinkan di dalam kontrak perwaliamanatan. dimana Wali Amanat wajib menyampaikan laporan kegiatan kepada Bapepam yang meliputi: − Pertama. jumlah Efek bersifat utang yang telah dikonversikan menjadi saham. Laporan keuangan terakhir yang telah diperiksa oleh Akuntan Publik v. Laporan tahunan dan tengah tahunan disampaikan selambat-lambatnya 60 (enam puluh) hari sejak tanggal periode laporan. pelanggaran atas ketentuan 19 . vi. laporan peristiwa penting yang menyangkut kegiatan perwaliamanatan. Rekomendasi dari Bank Indonesia Buku pedoman operasional yang sekurang-kurangnya memuat: struktur organisasi Bank Umum dan Wali Amant. laporan tengah tahunan dan tahunan mengenai kegiatan Wali Amanat yang antara lain memuat: jumlah dan jenis Efek bersifat utang yang masih beredar.I.iv. serta daftar pegawai dan pembagian kerja pada kegiatan perwaliamanatan vii. Pernyataan direksi bahwa administrasi kegiatan Wali Amanat terpisah dari kegiatan Bank Umum lainnya. b. Pelaporan Kewajiban penyampaian laporan Wali Amanat kepada Bapepam adalah sebagaimana diatur dalam Peraturan Nomor X. antara lain: pembayaran pokok dan bunga Efek yang bersifat utang sebelum jatuh tempo. pembayaran pokok dan atau bunga Efek bersifat utang.1 tentang Laporan Wali Amanat. serta daftar pejabat penanggung jawab dan tenaga ahli di bidang perwaliamanatan.

menyimpan dan memelihara catatan. risalah atau laporan mengenai jumlah dan jenis efek bersifat utang yang masih beredar dan yang telah dilunasi 4. pengalihan atau penukaran jaminan.I. 2. Ketiga. c. termasuk tindakan yang dilakukan Wali Amanat karena tidak dipenuhinya persyaratan dalam kontrak perwaliamantan.dalam kontrak perwaliamanatan seperti pembayaran pokok dan atau bunga Efek bersifat utang yang tidak tepat waktu dan pengurangan. pembukuan dan keterangan tertulis yang berhubungan dengan Emiten yang menggunakan jasa Wali Amanat merupakan kewajiban yang ditetapkan Bapepam dalam Peraturan Nomor X. Laporan Kejadian Penting ini selambat-lambatnya disampaikan 2 (dua) hari setelah terjadinya peristiwa atau sejak diketahuinya peristiwa tersebut. Catatan. Pemeliharaan Dokumen Kegiatan mengadministrasikan. Pemegang Efek bersifat utang. Catatan. Dokumen-dokumen tersebut meliputi: 1. penambahan. antara lain tidak dibayarnya pokok dan bunga. risalah atau laporan pelaksanaan pengawasan terhadap Emiten.2 tentang penyelenggaraan Rapat Umum Pemeliharaan Dokumen oleh Wali Amanat. Kontrak Perwaliamantan Kontrak yang berkaitan dengan pemberian jaminan dan bukti kepemilikan dan penguasaan atas harta yang dijaminkan 3. atau adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di bidang Pasar Modal oleh Wali Amanat 20 .

5.

Catatan, risalah dan atau laporan mengenai Rapat Umum Pemegang Efek bersifat utang

6.

Catatan, risalah atau laporan mengenaijumlah efek dan jenis efek bersifat utang yang dikonversikan menjadi saham (jika ada)

7. 8.

Daftar Emiten yang menggunakan jasa Wali Amanat Buku pedoman operasional Wali Amanat.

Dokumen-dokumen tersebut di atas wajib disimpan ditempat yang aman dan terpisah dari kegiatan bank lainnya selama 5 tahun sejak seluruh kewajiban Emiten terhadap pemegang efek bersifat utang telah terpenuhi. untuk memastikan pemenuhan kewajiban dalam peraturan ini, Bapepam sewaktu-waktu dapat melakukan pemeriksaan atas dokumendokumen tersebut. D. ASPEK HUKUM PERWALIAMANATAN Seperti yang dibahas dimuka bahwa Wali Amanat ini bertindak sebagai Pihak yang mewakili para pemegang obligasi sehingga secara hukum diartikan melakukan perbuatan hukum tertentu dimana orang yang diwakili menerima akibat yuridisnya. Undang-undang Pasar Modal tidak memberikan suatu definisi mengenai apa yang dimaksud dengan perwakilan atau vertegenwoording. Namun demikian apabila kita melihat pada doktrin hukum yang berlaku di Indonesia, maka dapat ditemukan bahwa perwakilan didefinisikan sebagai ”toerekening van een handelingan een ander dan de handelde” atau melakukan perbuatan hukum sebagai ganti dan guna orang lain yang mewakilinya. Doktrin Hukum Perdata membagi lembaga perwakilan ini menjadi dua jenis, yaitu perwakilan berdasarkan kehendak dan perwakilan berdasarkan

21

undang-undang. Tindakan Wali Amanat merupakan perwakilan khusus berdasarkan undang-undang karena telah diwajibkan dalam peraturanperundangan di bidang pasar modal. Kewenangan yang dimiliki oleh Wali Amanat dalam menjalankan fungsinya terdiri dari dua jenis yaitu kewenangan umum yang bersifat pengurusan dan kewenangan khusus yang bersifat tindakan pemilikan. Kewenangan umum untuk pengurusan (daden van beheer) misalnya dalam hal menjalankan pengawasan terhadap Emiten dalam penggunaan dana hasil emisi obligasi, mewakili para pemegang obligasi dalam Rapat Umum Pemegang Obligasi, sebagai agen pembayar dalam membayar bunga obligasi dan sebagainya. Sedangkan kewenangan khusus yang melakukan tindakan pemilikan misalnya dalam hal Emiten melakukan wanprestasi, Wali Amanat dapat melakukan tindakan pelelangan atas agunan (barang jaminan) yang telah ditetapkan dalam kontrak perwaliamanatan dan jaminan. Untuk membatasi kewenangan, hak dan kewajiban serta tanggung jawab Wali Amanat harus ditetapkan secara tegas dalam perjanjian perwaliamanatan dan dapat dijalankan sebagaimana diamanatkan dalam UUPM. Apabila Wali Amanat melakukan kelalaian atas kewenangan yang telah diberikan, maka menurut pasal 53 UUPM, maka Wali Amanat wajib memberikan ganti rugi kepada pemegang Efek bersifat Utang. Emiten dan Wali Amanat diwajibkan membuat perjanjian

perwaliamanatan dimana dalam UUPM pasal 52 menggunakan istilah ’kontrak perwaliamanatan’ yang dibuat dihadapan Notaris dalam bentuk Akta Notaris sehingga klausula-klausula di dalam akta tersebut lebih terjamin kepastian hukumnya bagi tiap pihak yang terkait dalam kontrak tersebut seperti yang diatur dalam pasal 1868 KUHPerdata (jo. Pasal 1870 KUHPerdata) bahwa suatu akta yang dibuat di hadapan notaris merupakan

22

akta otentik dan menjadi bukti sempurna atas hak para pihak beserta ahli warisnya serta pihak lain yang memperoleh hak dari akta tersebut. Proses terbentuknya Kontrak Perwaliamanatan berawal dari draft perjanjian yang dibuat oleh Notaris. Selanjutnya masing-masing pihak seperti Emiten, Konsultan Hukum, Wali Amanat, Penjamin Emisi Efek, penanggung (jika ada) serta Notaris sendiri terlibat dalam diskusi pembahasan materi yang penting untuk dimasukkan dalam Kontrak Perwaliamanatan. Berikut adalah alur atau flow chart dari awal penyusunan sampai ditandatanganinya Kontrak Perwaliamanatan di Pasar Modal Indonesia.
Penyampaian Bahan untuk dituangkan dalam draft Kontrak Pembuatan Draft Kontrak Perwaliamanatan oleh Notaris

Draft Kontrak Perwaliamanatan Didiskusikan Oleh Para Pihak

Kontrak Perwaliamanatan Ditandatangani setelah Disepakati

Setelah ditandatanganinya Kontrak Perwaliamanatan oleh para pihak maka, berdasarkan pasal 1313 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata disebutkan suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih. Ini berarti dengan ditandatanganinya Kontrak Perwaliamanatan maka para pihak terikat kepada Kontrak Perwaliamanatan dapat dianggap sebagai hukum yang sah mengikat para pihak. Pada dasarnya perjanjian perwaliamanatan yang dibuat adalah karena hubungan hukum hutang piutang atau pinjam meminjam uang sehingga
23

3. Dalam ketentuan Penjelasan Pasal 52 UU Pasar Modal. dan tugas dan fungsi Wali Amanat Namun demikian. dalam praktek yang terjadi selama ini antara Kontrak Perwaliamanatan yang satu dengan yang lain terdapat berbedaan baik format maupun materi yang diatur. 2. Notaris maupun Konsultan Hukum. 24 . 5. Peraturan-perundangan di bidang pasar modal belum menentukan secara detil mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kontrak perwaliamanatan. sehingga sebaiknya diperjanjikan secara tegas dalam kontrak perwaliamanatan. Hal ini dikarenakan belum adanya pengaturan mengenai standar kontrak Perwaliamanatan secara lebih rinci yang dituangkan dalam peraturan pelaksananya seperti Peraturan Pemerintah. hal-hal yang harus dimuat dalam Kontrak Perwaliamanatan antara lain: 1. 4. utang pokok dan bunga serta manfaat lain dari emiten saat jatuh tempo jaminan (jika ada) agen pembayaran. baik Emiten. maupun Peraturan Bapepam. Disamping itu belum adanya kesepakatan dari para pihak yang terkait dalam penerbitan efek bersifat utang/obligasi sehubungan dengan pembuatan kontrak Perwaliamanatan. Wali Amanat.esensi dari perjanjian ini adalah segala ketentuan yang mengatur hubungan hutang piutang tersebut.

Pasal 8 biasanya memuat ketentuan tentang eksekusi jaminan jika terjadi even of default oleh Emiten. Terakhir. 3.BAB III PEMAPARAN DAN ANALISIS HASIL STUDI Pada bab ini akan dipaparkan dan dianalisis tiga permasalahan penting dalam perwaliamanatan di Indoensia. Pasal 2 Kontrak Perwaliamanatan memuat ketentuan tentang penggunaan dana hasil obligasi. POLA PERJANJIAN PERWALIAMATAN DI INDONESIA Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Tim Studi Perwaliamanatan. Sebagai contoh materi atau substansi Kontrak Perwaliamanatan misalnya adalah sebagai berikut: 1. A. Pasal 9 mengatur ketentuan syarat-syarat untuk dapat dikatakan Emiten telah lalai memenuhi kewajibannya 1 . 2. terdapat kecenderungan terciptanya pola standar atau yang lazim termuat dalam suatu kontrak perwaliamanatan di pasar modal Indonesia. terutama aspek-aspek yang menyangkut pola kontrak perwaliamanatan dan kendala-kendala yang dihadapi dalam memfungsikan kedudukan Wali Amanat sebagai wakil pemegang efek bersifat utang. berkenaan dengan masalah perwaliamantan tersebut. Rincian selengkapnya mengenai pola kontrak perwaliamanatan yang umum/lazim dibuat dalam rangka penerbitan efek bersifat utang (obligasi) di pasar modal Indonesia adalah sebagai berikut: 25 . akan dibahas masukan dan jawaban para responden atas kuesioner yang diedarkan.

dengan tidak mengurangi ketentuan peraturan perundangan yang berlaku 26 . Bursa Efek. untuk ekspansi usaha atau pembiayaan suatu proyek tertentu. Tugas. Setiap perubahan atas rincian penggunaan dana ini wajib dilaporkan terlebih dahulu kepada Bapepam dengan mengemukakan alasan dan pertimbangannya. 2. Penggunaan Dana Hasil Emisi Dalam pasal ini umumnya dinyatakan mengenai rincian penggunaan dana hasil emisi setelah diikurangi dengan biaya-biaya yang timbul dalam proses penawaran umum.1. serta untuk pembayaran utang lain (refinancing). Definisi Pasal ini memuat tentang beberpa kata/istilah yang mempunyai arti tertentu dalam kontrak perwaliamanatan.4 tentang Laporan Realisasi Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum. Hak dan Kewajiban Wali Amanat Dalam Pasal ini dinyatakan penunjukan Emiten kepada pihak tertentu dan pernyataan penerimaan oleh pihak tersebut untuk menjalankan tugas sebagai Wali Amanat. berdasarkan syarat-syarat yang tercantum kontrak perwaliamanatan.K. Realisasi penggunaan dana ini wajib dipertanggungjawabkan juga dalam Rapat Umum Pemegang Saham tahunan Emiten. serta wajib mendapat persetujuan terlebih dahulu oleh Wali Amanat setelah disetujui oleh RUPO. dalam pasal ini juga dicantumkan mengenai kewajiban pelaporan realisasi penggunaan dana oleh Emiten kepada Bapepam. 3. dan Wali Amanat yang dilakukan secara berkala tiap 3 (tiga) bulan sekali. Penggunaan dana yang umum dinyatakan adalah untuk modal kerja perusahaan. Penunjukan. Selain itu. sehingga memudahkan bagi para pihak untuk memahami isi kontrak. sesuai Peraturan Bapepam Nomor X.

iii. Mewakili kepentingan pemegang efek bersifat utang dalam melakukan tindakan hukum yang berkaitan dengan kepentingan pemegang efek bersifat utang di dalam maupun di luar pengadilan. dalam hal mengetahui dengan bukti yang cukup bahwa emiten telah lalai/melanggar kontrak perwaliamanatan. Kewajiban Wali Amanat adalah sebagai berikut: i Menyampaikan informasi lengkap secara terbuka tentang kualifikasinya selaku Wali Amanat dalam Prospektus. Bertanggungjawab kepada pemegang efek bersifat utang atas kerugian yang timbul akibat dari kelalaian.mengenai hak dan kewajiban selaku Wali Amanat dalam suatu emisi efek bersifat utang. atau terjadi keadaan pada Emiten yang dapat membahayakan kepentingan pemegang efek bersifat utang. Tugas ini berlaku efektif sejak tanggal emisi. ii. kecerobohan atau adanya pertentangan kepentingan pada Wali Amanat dalam menjalankan tugasnya. 27 . Tugas pokok Wali Amanat terdiri atas: i. Melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab dan kehati-hatian serta bertindak bijaksana untuk kepentingan terbaik pemegang efek bersifat utang. iii Memantau dan menganalisa secara berkala perkembangan pengelolaan usaha emiten berdasarkan laporan keuangan Emiten dan laporan lainnya. ii Melaporkan kepada Bapepam dan pemegang efek bersifat utang melalui Bursa Efek.

- berakhirnya Hak-hak Wali Amanat adalah sebagai berikut: i. Mempercayai setiap dokumen yang dianggap asli dan sah. meliputi: melakukan verifikasi atas KTUR yang diserahkan pemegang efek bersifat utang sesuai spesifikasi kepada yang KSEI dikeluarkan tentang KSEI dan memberitahukan pelaksanaan RUPO. serta telah ditandatangani. mengenai segala hal yang berkaitan dengan KTUR sesuai spesiifikasi yang ditetapkan KSEI. termasuk dalam hal terjadi kegagalan atau keterlambatan. iv. dikirim atau dibuat oleh oleh orang-orang yang berhak mewakili. serta pelaksanaan pembayarannya.iv Memanggil dan mengadakan RUPO sebelum mengambil tindakan yang memerlukan persetujuan RUPO. Menerima pemberitahuan dari KSEI mengenai jumlah dana yang wajib dibayarkan Emiten atas bunga dan/atau pelunasan utang pokok selambat-lambatnya 2 (dua) hari kerja sebelum tanggal pembayaran. vii Kewajiban Wali Amanat kepada KSEI. vi Memberikan nasihat dan tindakan lain yang lazim dilakukan selaku Wali Amanat kepada Emiten. Menerima daftar dari KSEI yang memuat rincian KTUR berikut spesifikasi dan spesimennya. 28 . v Melaksanakan tindakan-tindakan yang sah sesuai keputusan RUPO. ii. Menerima foto copy bukti pembayaran bunga dan atau pokok efek bersifat utang dan denda (jika ada) pada hari yang sama saat pembayaran tersebut. iii.

rekomendasi atau pendaftaran selaku Wali Amanat telah dicabut. Wali Amanat dibubarkan oleh suatu lembaga peradilan atau badan resmi lainnya. 29 . b. Meminta independen pemeriksaan audit terbatas oleh auditor adanya Emiten. iv. membubarkan diri secara sukarela atau bubar menurut ketentuan peraturan perundangan. Ijin usaha. sehubungan atas dengan dan dugaan kewajiban pelanggaran pembatasan berdasarkan bukti yang cukup. Pengakhiran tugas Wali Amanat Wali Amanat berhenti menjalankan tugasnya dalam hal terjadi halhal sebagai berikut: i. iii. Wali Amanat telah gagal menjalankan tugasnya. Wali Amanat dinyatakan pailit atau mengajukan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) atau dibekukan operasi/kegiatan usahanya.v. vi. Semua jumlah yang terhutang dalam kontrak perwaliamanatan telah dibayar sebagaimana mestinya. Wali Amanat tidak mampu melaksanakan kewajibannya. Meminta pembayaran kepada Emiten atas segala biaya-biaya yang dibutuhkan dan/atau penggantian atas biaya-biaya yang dikeluarkan Wali Amanat dalam menjalankan tugasnya. Meminta laporan kesiapan Emiten membayar jumlah pokok obligasi dan atau bunga dan denda (jika ada). c. termasuk RUPO yang diadakan atas permintaan Bapepam dengan alas an: a. ii. Wali Amanat diberhentikan oleh RUPO. vii.

Dalam hal terjadi pembelian kembali yang mengakibatkan pelunasan sebelum jatuh tempo. beserta masing-masing Seri (jika ada) jangka waktu. Wali Amanat dapat mengajukan pengunduran diri secara tertulis kepada Emiten dan diberitahukan kepada RUPO. Emiten dan Bapepam. 5. Segera setelah pengunduran diri Wali Amanat wajib memberikan laporan pertanggungjawaban mengenai pelaksanaan tugasnya kepada RUPO. Imbalan Jasa Wali Amanat Besarnya imbalan jasa Wali Amanat adalah sesuai dengan yang dinyatakan dalam surat penunjukan Emiten kepada Wali Amanat. 30 . maka imbalan jasa Wali Amanat pada tahun yang bersangkutan akan dikembalikan secara proposional. 4. Syarat-syarat Obligasi Dalam pasal ini lazim dinyatakan bahwa Emiten berjanji dan mengikatkan diri kepada Wali Amanat sebagai kuasa pemegang efek bersifat utang untuk menerbitkan efek bersifat utang dengan syaratsyarat sebagai berikut: i. Dalam hal Wali Amanat diberhentikan atau berhenti atas kemauan sendiri sebelum berakhir masa tugasnya. Selama pertanggungjawaban belum diterima maka Wali Amanat belum dibebaskan dari tugas dan kewajibannya. maka imbalan jasa Wali Amanat setelah pembelian kembali menjadi tidak ada lagi. Dalam hal terdapat ketentuan pembelian kembali maka nilai nominal akan berkurang sesuai pelaksanaan buy back tersebut. jenis dan tingkat suku bunga serta nilai nominalnya. Nama Efek bersifat utang. Tugas Wali Amanat baru berhenti setelah Emiten dan RUPO menyatakan persetujuannya dan Wali Amanat yang menggantikan telah mulai melaksanakan tugasnya.v.

v. xi. Penarikan efek dari rekening hanya dapat dilakukan dengan pemindahbukuan. iii. kecuali sertifikat jumbo yang diterbitkan Emiten dan didaftrakan di KSEI. vi. xiv. iv. Penarikan efek di luar rekening untuk dikonversikan menjadi sertifikat efek bersifat utang tidak dapat 31 . viii. sebagai bukti utang untuk kepentingan pemegang efek. vii. Ketentuan perpajakan yang berlaku atas setiap pembayaran yang dilakukan Emiten kepada pemegang efek. Waktu pelaksanaan pembayaran bunga. Sertifikat Jumbo merupakan bukti bahwa Emiten sejak tanggal emisi secara sah dan mengikat berhutang kepada pemegang efek sejumlah pokok dan bunganya dan denda (jika ada). Efek bersifat utang diterbitkan tanpa warkat. Peralihan hak kepemilikan atas efek dengan pemindahbukuan dari satu rekening ke rekening yang lain. x. Besarnya denda keterlambatan pembayaran pokok atau bunga. Pemegang efek bersifat hutang yang berhak atas bunga adalah yang tercatat dalam Daftar Pemegang Efek pada tanggal yang ditentukan. Satuan pemindahbukuan yang berlaku. Pembayaran dilakukan oleh Agen Pembayaran atas nama Emiten. xiii. xii. Bank Kustodian atau perusahaan Efek yang merupakan pemegang efek dapat bertindak untuk dirinya sendiri atau atas nama nasabahnya berdasarkan surat kuasa. ix. Efek bersifat utang harus dilunasi Emiten dengan nilai yang sama dengan yang tertulis dalam Konfirmasi Tertulis yang dimiliki Pemegang Efek pada tanggal pelunasan pokok.ii. Cara penghitungan bunga.

yang secara material dapat berakibat secara negatif terhadap kelangsungan uisaha atau kemampuan Emiten dalam memenuhi kewajibannya. atau memberikan persetujuan kepada anak perusahaannya untuk melakukan ketiga hal tersebut. Melakukan peminjaman/hutang baru. mengijinkan atau anak atau memberikan perusahaannya memberikan pinjaman/hutang melakukan peminjaman/hutang pinjaman/hutang baru yang kedudukannya lebih tinggi dari hutang efek bersifat utang. melepaskan hak atau menjadikan jaminan hutang yang diikat secara khusus melebihi dari jumlah tertentu atas seluruh kekayaan Emiten. dengan pengecualian tertentu. iii. kecuali apabila ada pembatalan pendaftaran dalam penitipan kolektif di KSEI. 32 . Pembatasan-pembatasan terhadap Emiten Sebelum semua jumlah yang terhutang dibayar oleh Emiten. Emiten tidak dapat melakukan hal-hal sebagai berikut: i. ii. 6. baik dalam satu transaksi atau beberapa transaksi dalam satu tahun buku. Melakukan penggabungan. maka tanpa persetujuan tertulis terlebih dahulu dari Wali Amanat. xv. Mengubah bidang usaha utama Emiten dan atau anak perusahaan emiten yang dapat mempengaruhi secara material kelangsungan usaha atau kemampuan Emiten memenuhi kewajibannya. Mengalihkan. tidak adanya hak suara dan bunga atas efek yang dilakukan buy back dan hanya dapat dilakukan bila Emiten tidak sedang dalam keadaan lalai atas pembayaran hutangnya. peleburan atau pengambilalihan. iv. Ketentuan buy back (jika ada) hanya dapat dilakukan setelah ulang tahun pertama penerbitan.dilakukan.

bagi hasil atau lainnya dengan pihak lain yang dapat mengakibatkan operasional keuangan Emiten diatur oleh pihak lain. kecuali Emiten telah memenuhi kewajiban pembayaran bunga dan/atau pokok. vii. modal ditempatkan dan modal disetor emiten. vi. viii. Apabila Emiten adalah Bank maka wajib menjaga tingkat kesehatan tertentu sesuai kriteria Bank Indonesia.v. Memenuhi semua ketentuan dalam Dokumen Penawaran Umum. ii. Melakukan segala bentuk kerjasama. Membagikan dividen kepada pemegang saham Emiten. Memelihara sistem akuntansi dan pengawasan pembiayaan sesuai dengan Pedoman StandarAkuntansi Keuangan (atau Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia untuk Emiten Bank) serta buku- 33 . Apabila lewat waktu yang ditentukan dan pembayaran belum dilakukan maka Emiten wajib membayar sejumlah denda yang merupakan hak selurh pemegang efek bersifat utang secara proposional. iv. Menjalankan usahanya dengan sebaik-baiknya. 7. Menyetorkan dana (in good fund) untuk pelunasan bunga dan atau pokok pada tanggal yang ditentukan kepada Agen Pembayaran yang ditunjuk. Mengurangi modal dasar. Kewajiban Emiten Sebelum seluruh kewajiban Emiten kepada pemegang efek dilunasi. iii. Emiten berkewajiban untuk: i. Mengajukan permohonan pailit atau penundaan kewajiban pembayaran utang atau mengijinkan anak perusahaan melakukan hal tersebut.

Memberitahukan hasil RUPS kepada Wali Amanat. inventaris dan perjanjian-perjanjian. ix. faktur. xi. Menjaga rasio keuangan konsolidasi dan memelihara setiap keadaan keuangan Emiten dalam Laporan Keuangan yang telah diaudit dan menyerahkan kepada Wali Amanat dalam kondisi: Likuiditas dalam rasio tertentu Debt to equity Rasio tertentu Perbandingan EBITDA dan Interest Coverage dalam rasio tertentu 34 . Bursa Efek dan KSEI. vi. xii. Mengijinkan Wali Amanat sewaktu-waktu pada jam kerja untuk melakukan kunjungan langsung kepada Emiten. Memberitahukan secara tertulis kepada Wali Amanat tentang setiap perubahan dalam Anggaran Dasar Emiten. x. restribusi atau kewajiban lain kepada pemerintah. vii. memasuki gedung-gedung yang dimiliki Emiten. ijin-ijin dan keuangan emiten. viii. v. melakukan pemeriksaan atas buku-buku.buku dan catatan-catatan yang cukup untuk menggambarkan dengan tepat keadaan keuangan Emiten dan hasil operasionalnya. Segera memberitahukan kepada Wali Amanat secara tertulis apabila terjadi perubahan-perubahan dalam ruang lingkup usaha Emiten yang berpengaruh material terhadap usaha Emiten. Membayar semua kewajiban pajak. rekening dan dokumen lain yang dimiliki Emiten. Menyerahkan kepada Wali Amanat laporan keuangan yang diserahkan Emiten kepada Bapepam. Memelihara kekayaan dalam keadaan baik dan mengasuransikan risiko-risiko yang biasa dihadapi Emiten.

Wali Amanat berhak dan berwenang untuk bertindak sebagai Wali Amanat Efek bersifat utang dan telah terdaftar sebagai Lembaga Penunjang Pasar Modal. pengadilan niaga dan arbitrase. sekarang dan dikemudian pada waktunya. 1814 dan 1816 Kitab Undangundang Hukum Perdata. ii. setiap pemegang efek bersifat utang langsung tunduk kepada Kontrak Perwaliamanatan dan menyetujui untuk dan dengan ini.xiii Memenuhi ketentuan dalam perjanjian-perjanjian lain yang berkaitan dengan emisi efek bersifat utang. Kontrak Perwaliamanatan berlaku sebagai bukti yang sempurna mengenai pemberian kuasa pemegang efek kepada Wali Amanat dan kuasa ini tidak dapat berakhir karena sebab apapun termasuk sebabsebab yang diatur dalam Pasal 1813. 35 . 8. Kuasa Pemegang Efek kepada Wali Amanat Sejak tanggal Emisi. Pernyataan Wali Amanat Wali Amanat menyatakan dan menjamin hal-hal sebagai berikut: i. 9. Wali Amanat mengikatkan diri untuk melaksanakan tugas-tugas dan kewajiban sebagai Wali Amanat dengan penuh tanggung jawab. berdasar ketentuan perundangan yang berlaku. Wali Amanat bertanggung jawab kepada pemegang efek bersifat utang atas setiap kerugian yang timbul karena kelalaian. secara bersamasama memberikan kuasa kepada Wali Amanat tanpa perlu adanya pemberian surat kuasa khusus. termasuk melindungi kepentingan pemegang efek dihadapan instansi peradilan. untuk menjalankan semua hak pemegang efek bersifat utang tanpa pengecualian. iii. integritas serta bertindak secara bijaksana untuk kepentingan pemegang efek bersifat utang.

yaitu untuk memberikan atau menyerahkan sesuatu. v. vii. untuk melakukan sesuatu dan untuk tidak melakukan sesuatu.kecerobohan atau benturan kepentingan dalam hubungannya dengan pelaksanaan tugasnya. iv. anggota Direksi dan Komisaris Wali Amanat adalah sebagai berikut. termasuk pinjam meminjam dapat dibedakan menjadi 3 jenis. Pembuatan Kontrak Perwaliamanatan telah dibuat sebagaimana mestinya sesuai perundangan dan ditandatangani sebagaimana mestinya atas nama Wali Amanat dan merupakan kewajiban yang sah dan mengikat bagi Wali Amanat sesuai peraturan perundangan di wilayah RI. menurut isinya suatu perikatan. vi. Secara umum konsekuensi dari kelalaian Emiten tersebut Dalam perjanjian perwaliamanatan dirinci beberapa tindakan atau kejadian yang menyebabkan Emiten masuk dalam kondisi “lalai melaksanakan kewajibannya” dan karenanya Wali Amanat dapat 36 . Kelalaian Emiten Berdasarkan Pasal 1233 KUH Perdata. Ketentuan tentang kelalaian Emiten dalam perjanjian perwaliamanatan merupakan refleksi dari aspek janji untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. 10. Pernyataan ada tidaknya hubungan Afiliasi dan hubungan kredit dengan Emiten. Pada tanggal Kontrak Perwaliamanatan ini. viii. Orang-orang yang menandatangani Kontrak ini adalah yang berhak dan berwenang untuk dan atas nama Wali Amanat. Untuk pembuatan Kontrak Perwaliamanatan telah memperoleh perseujuan yang dipersyaratkan Anggaran Dasar dan peraturan perundangan yang berlaku.

Jika dalam waktu tertentu (14 hari) Emiten tidak memperbaiki. ii. vi. vii. Emiten tidak melakukan sesuatu yang dilakukan berdasarkan perjanjian harus dilakukan. Emiten membuat pernyataan yang tidak benar. Terhadap kelalaian Emiten tersebut Wali Amanat dapat mengambil tindakan antara lain berupa pemberitahuan kepada Emiten bahwa yang bersangkutan telah lalai. Rapat Umum Pemegang Obligasi Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) tidak deselenggarakan secara berkala. Memberhentikan dan menunjuk Wali Amanat baru. v. Emiten menerima pernyataan moratorium dari pengadilan atau pihak yang berwenang lainnya. maka Wali Amanat berhak mengumumkan kepada masyarakat bahwa Emiten tersebut telah lalai. 37 . Kelalaian tersebut antara lain terjadi Emiten tidak membayar. antara lain: i. Emiten menghentikan atau mengancam menghentikan kegiatan usahanya. iv. iii. Pemberian pengarahan atau amanat kepada Wali Amanat untuk memberikan kelonggaran atas penyelesaian kelalaian Emiten. Emiten tidak dapat memenuhi kewajiban kepada kreditur lain (selain pemegang obligasi) atau cross default. namun digantungkan pada suatu kejadian tertentu. 11. Selanjutnya atas persetujuan RUPO Wali Amanat dapat melakukan penagihan jumlah yang terutang kepada Emiten. karena: i.mengambil tindakan tertentu. bunga atau kewajiban pembayaran lainnya. ii. Emiten dinyatakan pailit. baik pokok.

dalam perjanjian perwaliamanatan dicantumkan berbagai macam bentuk jaminan atas penerbitan obligasi. misalnya 20% dari total obligasi yang diterbitkan.permintaan tertulis dari pemegang obligasi yang memiliki jumlah atau persentase tertentu. yaitu perubahan nilai pokok obligasi. 38 . diperlukan korum yang cukup ketat. Kelalaian Wali Amanat Dalam pelaksanaan perjanjian perwaliamanatan. 13. Jaminan Untuk memberikan kepastian pelunasan obligasi serta membuat obligasi yang akan diterbitkan memiliki daya tarik bagi investor. Dalam hal kelalaian itu terjadi. Mengambil tindakan lain yang dikuasakan oleh atau atas nama pemegang obligasi. 12. baik yang sudah ada maupun yang akan ada dan penjaminan oleh pihak ketiga (guarantor).iii. Beberapa perjanjian perwaliamanatan menyebutkan suatu aset tertentu digunakan sebagai jaminan. maka diberlakukan ketentuan dalam Pasal 1267 KUH Perdata. tidak tertutup kemungkinan Wali Amanat lalai dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya. perubahan tata cara pembayaran bunga dan perubahan jangka waktu. perubahan tingkat bunga. kecuali hak Emiten untuk meminta pembatalan perjanjian perwaliamanatan. Perjanjian perwaliamanatan juga mengatur masalah korum dalam pengambilan keputusan RUPO. Sedangkan untuk pengambilan keputusan lain. Untuk mengambil keputusan tertentu. yaitu harus dihadiri pemegang obligasi paling sedikit 3/4 dari pokok obligasi dan disetujui oleh paling sedikit 3/4 yang hadir. cukup dihadiri pemegang obligasi paling sedikit 2/3 dari pokok obligasi dan disetujui oleh paling sedikit 2/3 yang hadir. namun ada pula yang menjaminkan seluruh kakayaan perusahaan.

14. ii. dapat memilih apakah ia. 17. Penyelesaian perselisihan Pasal ini memuat tentang cara atau pilihan penyelesaian sengketa apabila terjadi suatu sengketa yang berhubungan dengan pelaksanaan atau 39 . iii. Keadaan Memaksa (force majeure) Pasal ini memuat tentang keadaan-keadaan yang dapat menyebabkan para pihak dalam kontrak perwaliamanatan (Emiten dan Wali Amanat) karena suatu keadaan tertentu tidak bisa memenuhi kewajiban dan tangung jawabnya sebagaimana telah ditetapkan dalam kontrak perwaliamanatan. 16. status badan hukum Emiten. jika hal itu masih dapat dilakukan. Pernyataan tersebut antara lain pernyataan tentang: i. disertai penggantian kerugian dan bunga.Pasal dimaksud mengatur bahwa pihak terhadap siapa perikatan tidak dipenuhi. kelengkapan perijinan yang dimiliki pernyataan tentang perkara yang dihadapi Pemberitahuan pasal ini memuat tentang identitas yang meliputi alamat masing-masing para pihak dalam kontrak perwaliamanatan (Emiten dan Wali Amanat). 15. v. iv. ataukah ia akan menuntut pembatalan perjanjian. susunan pengurus informasi dalam pernyataan pendaftaran beserta dokumen pendungkung tidak memuat pernyataan yang tidak benar. akan memaksa pihak lain untuk memenuhi perjanjian. Pernyataan Emiten Dalam perjanjian perwaliamanatan seringkali dirumuskan beberapa pernyataan dari Emiten terkait dengan obligasi yang diterbitkannya.

Pertanyaan ini penting mengingat tugas utama dari Wali Amanat adalah mewakili kepentingan pemegang efek bersifat utang untuk mengawasi Emiten sendiri. terpenuhinya seluruh hak dan kewajiban yang ditentukan dalam perjanjian perwaliamanatan. B. Menerima penunjukan sebagai Wali Amanat bagi Bank Umum berarti mendapatkan lahan bisnis dari pihak Emiten. antara lain: 1. Ketentuan Lain-lain Dalam ketentuan lain-lain antara lain diatur bahwa perjanjian perwaliamanat berakhir dengan sendirinya antara lain jika: i. Posisi yang tidak seimbang antara keduanya tersebut seringkali menimbulkan keraguan berkaitan 40 . diperoleh keterangan mengenai beberapa permasalahan yang dihadapi Wali Amanat dalam menjalankan tugasnya. Keberadaan Wali Amanat: a. MASALAH DAN KENDALA YANG DIHADAPI WALI AMANAT Dari hasil wawancara dengan para narasumber.pemenuhan hak dan kewajiban pada masing-masing pihak dalam kontrak perwaliamanatan 18. ii. Emiten merupakan pihak yang berwenang menunjuk dan membayar jasa suatu lembaga untuk bertindak sebagai sebagai Wali Amanat. Sementara itu. tidak diperoleh peringkat Efek dari perusahaan pemeringkat efek. Emiten berkuasa dalam menentukan siapa yang dia tunjuk untuk menjadi Wali Amanat. Dalam suatu penerbitan efek bersifat utang. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai sejauhmana hal tersebut berpengaruh terhadap hubungan Emiten dengan Wali Amanat.

Selama ini belum ada suatu kode etik yang mengatur hubungan antara Wali Amanat dengan Emiten. 2. Hal ini sering menimbulkan permasalahan dalam praktik. Padahal dalam menentukan keputusan apakah bersedia menjalankan tugasnya. kondisi Emiten dan struktur penawaran efek bersifat utang tersebut. Dalam penunjukan profesi dan lembaga yang terlibat dalam penawaran umum efek bersifat utang. Benturan Kepentingan Dalam Pelaksanaan Tugas Wali Amanat Untuk dapat menjalankan tugas mewakili kepentingan pemegang efek bersifat utang dengan baik. Wali Amanat harus dapat melepaskan diri dari kondisi-kondisi yang dapat mengakibatkan benturan kepentingan dalam pekerjaannya. Wali Amanat perlu terlebih dahulu mempelajari dengan cermat. c. Hal-hal yang dapat menimbulkan benturan kepentingan tersebut antara lain: a. b. seringkali Wali Amanat merupakan pihak yang terakhir kali dihubungi untuk terlibat di dalamnya.dengan independensi Wali Amanat ketika harus berhadapan dengan Emiten. Tanpa diberi waktu yang cukup untuk mempelajari dan menganalisi dengan baik maka hal tersebut akan berpengaruh terhadap kinerja Wali Amanat dalam merundingkan ketentuan-ketentuan dalam kontrak Perwaliamanatan dengan Emiten. seperti misalnya persaingan yang tidak sehat antar sesama Wali Amanat dalam memperoleh klien. Hubungan Kredit dengan Emiten Hubungan kredit antara Wali Amanat dengan Emiten dapat mengakibatkan benturan kepentingan dalam hal kepentingan Wali Amanat selaku kreditur berbenturan dengan kepentingan 41 . hubungan Wali Amanat dengan pemegang efek bersifat utang dan hubungan antar sesama Wali Amanat.

Dengan adanya hubungan afiliasi ini. dengan pengecualian hanya untuk hubungan afiliasi karena kepemilikan saham pemerintah. misalnya dalam hal terdapat kondisi dimana Emiten mengarah kepada default atas kewajibankewajiban utangnya. Undang-undang Pasar Modal telah mengamanatkan pembatasan besarnya hubungan kredit antara Wali Amanat dengan Emitennya. Hubungan Afiliasi dengan Emiten Hubungan afiliasi sebagai mana dimaksud dalam pasal 1 ayat 1 UU Pasar Modal mungkin terjadi antara Wali Amanat dengan Emiten. dengan belum adanya peraturan pelaksana mengenai hal tersebut. maka Wali Amanat berhadapan dengan pilihan mengenai kepentingan manakah yang harus didahulukan. maka pihak Wali Amanat belum memiliki dasar pedoman yang pasti mengenai hal ini. hubungan pengendalian ataupun hubungan kepemilikan saham. Untuk itu UU Pasar Modal dalam Pasal 51 ayat (2) telah melarang adanya hubungan afiliasi ini. Wali Amanat dapat memilih mengutamakan tindakan penyelamatan atas kredit yang disalurkannya. Hubungan afiliasi tersebut dapat timbul karena hubungan kekeluargaan. Pelarangan ini dapat menghindari adanya benturan kepentingan 42 . akan tetapi hal itu mungkin merupakan pelanggaran tugasnya selaku Wali Amanat yang harus melakukan tindakan yang terbaik untuk kepentingan pemegang efek bersifat utang. Emiten dapat mempengaruhi Wali Amanat untuk bertindak sesuai kepentingan Emiten. b.Wali Amanat selaku wakil pemegang efek bersifat utang. hubungan pengelolaan dan pengawasan. sehingga kepentingan pemegang efek menjadi terabaikan. Karena kedua posisi tersebut sama-sama memiliki hubungan kredit. Namun.

c. yaitu sebagai pihak yang mewakili kreditur dan sebagai pihak yang justru wajib menanggung kewajiban utang debitur (Emiten) dalam hal terjadi wan prestasi. Hubungan Afiliasi dengan Penjamin Emisi Dalam suatu penerbitan efek bersifat utang. Dalam hal terdapat hubungan afiliasi maka Wali Amanat harus mengundurkan diri dari posisi sebagai Wali Amanat. kepentingan penjamin emisi efek yang utama adalah berkaitan dengan pemasaran efek yang diterbitkan. Kondisi-kondisi di atas sangat mungkin terjadi dalam praktik kegiatan usaha Wali Amanat sebagai Bank Umum. Hal ini berbeda dengan sudut pandang kepentingan Wali Amanat yang bertindak untuk kepentingan keamanan investasi pemegang efek bersifat utang. perlu kiranya terdapat pembatasan atas hubungan afiliasi antara Wali Amanat dengan Penjamin Emisi Efek agar masing-masing pihak dapat melaksanakan tugasnya secara lebih independen tanpa saling mempengaruhi satu sama lain. Untuk itu UU Pasar Modal dalam pasal 54 melarang perangkapan posisi tersebut demi perlindungan kepentingan pemegang efek bersifat utang. Untuk itu. Penjamin Emisi akan cukup puas selama syarat dan kondisi obligasi yang ditawarkan menarik bagi investor.sebagaimana tersebut di atas. Untuk itu. d. Bertindak sebagai penanggung pada emisi Efek yang sama Dengan menjadi penanggung atas utang Emiten. Mengundurkan diri sebagai 43 . Wali Amanat perlu secara jujur dan transparan mengungkapkan kepada publik mengenai ada tidaknya hubungan afiliasi dimaksud. Wali Amanat harus berusaha sedapat mungkin menegosiasikan syarat-syarat dan kondisi yang terbaik dari sudut kepentingan kreditur. maka Wali Amanat sekaligus berdiri pada dua posisi yang berseberangan.

Beberapa kesulitan dalam implementasi ketentuan ini antara lain karena sampai saat ini belum ada ketentuan mengenai standar kinerja yang wajib dipenuhi oleh Wali Amanat. Keterlibatan pemegang efek bersifat utang selaku kreditur pada saat itu tidak dapat dilakukan secara langsung. melainkan diwakili oleh Wali Amanat. Fungsi dan Tugas Wali Amanat Yang Tercantum Dalam UU Pasar Modal belum terdapat pengaturan pelaksanaannya. 4. Apakah pihak Asosiasi Wali Amanat atau Bapepam selaku regulator di pasar modal. 3. Konsekuensi hukum yang diberikan oleh undang-undang Pasar Modal kepada Wali Amanat adalah berupa kewajiban memberikan ganti rugi kepada pemegang Efek bersifat utang atas kerugian yang timbul karena kelalaian. maka hal ini dapat menimbulkan kesulitan bagi Emiten untuk memperoleh Wali Amanat yang bebas dari benturan kepentingan. Dengan demikian pemegang efek bersifat utang menggantungkan sepenuhnya pada Wali Amanat dalam 44 . kecerobohan atau benturan kepentingan dalam pelaksanaan tugasnya. Pertanyaan beikutnya adalah siapakah pihak yang paling berkompeten untuk menentukan standar kinerja tersebut. sehingga apabila Wali Amanat gagal memenuhinya dan timbul kerugian maka pemegang efek dapat menuntut ganti rugi. Ketiadaan pedoman/standar dalam penyusunan kontrak perwaliamanatan Kontrak Perwaliamanatan pada umumnya disusun atas inisiatif dari pihak emiten sebagai debitur bersama penjamin emisi sebelum penawaran umum dilakukan. sehingga hal tersebut mempersulit dalam pelaksanaan kegiatan Wali Amanat.Wali Amanat apabila terdapat benturan kepentingan adalah salah satu pilihan yang bisa diambil. Akan tetapi mengingat saat ini jumlah Wali Amanat di pasar modal Indonesia saat ini masih sangat terbatas.

seperti kewajiban melaporkan rencana pembayaran pokok setaun sebelum jatuh tempo. kewajiban atau pembatasan yang diajukan Wali Amanat. banyak tergantung pada kemampuan Wali Amanat dalam melakukan perundingan dan negosiasi dengan para pihak terkait. dan kewajiban melakukan pemeringkatan setahun sekali. Hal ini berakibat Wali Amanat kurang mampu memasukkan ketentuanketentuan yang berguna untuk melindungi kepentingan investor apabila emiten keberatan dengan ketentuan-ketentuan. Beberapa hal yang sering menjadi perdebatan antara Emiten dengan Wali Amanat antara lain: a. Namun demikian.melakukan perundingan terhadap ketentuan-ketentuan dalam kontrak perwaliamanatan. terutama dengan Emiten. Wali Amanat mengharapkan dalam penerbitan efek bersifat utang sedapat mungkin terdapat ketentuan pengaman. Di pihak Emiten seringkali hal tersebut diharapkan tidak perlu ada dengan alasan akan memberatkan emiten. antara lain dengan adanya jaminan khusus/agunan. serta membuktikan adanya dana untuk pelunasan utang pokok pada escrow account sebulan sebelum jatuh tempo. Apakah isi dari kontrak perwaliamanatan yang dihasilkan cukup mewakili aspirasi dan kepentingan pemegang efek. pihak Wali Amanat sendiri sampai saat ini tidak memiliki suatu pedoman yang dapat dijadikan dasar acuan mengenai hal-hal yang harus dimuat dalam kontrak perwaliamanatan agar aspek perlindungan kepentingan pemegang efek tidak terabaikan. Dipihak 45 . pernyataan kesanggupan membayar utang pokok enam bulan sebelum jatuh tempo. Ketentuan yang memberikan kepastian terhadap pembayaran utang pokok umumnya diharapkan Wali Amanat juga tercantum dalam kontrak. sinking fund.

seperti: adakah hak suara maupun hak bunga. karena belum ada peraturan perundangan yang tegas mengaturnya maka pengaturannya dalam kontrak perwaliamanatan masih tergantung kesepakatan para pihak. serta kewajiban mempertahankan rasio-rasio keuangan tertentu. larangan melakukan merger dan konsolidasi. jangka waktu dan pokok efek bersifat utang. dengan maksud untuk mempermudah dalam melakukan pengawasan kepada emiten. b. Pembatasan tersebut misalnya: larangan membuat hutang baru. Wali Amanat mengharapkan sebelum ada ketentuan mengenai serta keterbukaan informasi pelaksanaan buyback. c. d. ketentuan yang jelas mengenai hak-hak efek bersifat utang yang dibuyback. Selama ini. Wali Amanat juga mengharapkan Emiten tidak dapat melakukan buyback. khususnya untuk menentukan perubahan ketentuan-ketentuan penting dalam kontrak perwaliamanatan seperti: bunga. dan lain-lain. Dalam ketentuan mengenai pembelian kembali efek bersifat utang. Korum untuk meminta persetujuan perubahan hal-hal yang penting dalam kontrak perwaliamanatan 46 . sedapat mungkin pembatasan dan kewajiban tersebut tidak memberatkan sehingga apabila terjadi sedikit pelanggaran tidak mengakibatkan emiten dinyatakan wanprestasi atas kontrak perwaliamanatan. Dalam kondisi wan prestasi.Emiten umumnya memandang hal tersebut tidak perlu dicantumkan. Ketentuan mengenai tata cara dan korum RUPO. Wali Amanat merasa perlu memasukkan ketentuan kewajiban dan Pembatasan yang harus dipenuhi Emiten. Belum adanya standar rasio-rasio keuangan yang berlaku pada industriindustri tertentu terkadang juga menyulitkan Wali Amanat untuk memperoleh kesepakatan dengan pihak Emiten. Di pihak Emiten. larangan membayar dividen tunai.

Besarnya denda keterlambatan pembayaran kewajiban bunga maupun pokok saat ini belum ada dasar acuan yang dapat dipakai oleh para pihak. maka posisi Wali Amanat saat itu relatif pasif. maka posisi Wali Amanat menjadi aktif dalam melaporkan hal tersebut kepada pemegang efek bersifat utang dan melakukan upaya agar Emiten dapat memperbaiki pelanggaran tersebut. 5. e. Bila dilihat besarnya imbalan jasa yang diterima Wali Amanat selama ini. Wali Amanat harus berhadapan dengan Emiten untuk memperjuangkan hak-hak pemegang efek lewat institusi peradilan. Dalam hal demikian. Dalam kondisi yang paling buruk. Wali Amanat akan mengalami kesulitan terutama dalam hal pembiayaan proses litigasi tersebut. yaitu hanya memonitor wanprestasi kondisi atau Emiten. Tindakan yang diambil Wali Amanat Dalam hal Emiten Wanprestasi Dalam kondisi Emiten dapat melaksanakan seluruh kewajibannya dengan baik. PEMBAHASAN HASIL KUESIONER Guna mendapatkan masukan yang mewakili aspirasi dari seluruh pihak yang terlibat langsung dan berkepentingan dalam permasalahan 47 . Dalam hal waktu yang diberikan untuk emiten dapat memperbaiki pelanggaran telah terlampaui maka Wali Amanat dapat memanggil pemegang efek untuk mengadakan rapat umum pemegang efek bersifat utang yang membahas tinakan apa yang harus dilakukan. ketika Emiten mengalami dan melakukan pelanggaran atas pembatasan kewajiban yang ada dalam kontrak perwaliamanatan.sudah sewajarnya lebih besar dari pada RUPO yang membahas masalah lain. Namun. C. maka sangat tidak mungkin Wali Amanat harus menanggung biaya yang tidak sedikit tersebut.

Notaris. Dengan demikian. Wali Amanat dan Investor.8 100. 53 (35%) responden telah mengisi dan mengembalikan kepada Tim Studi.1 26. Tim Studi telah menyebarkan 150 kuesioner kepada para responden yang digolongkan menjadi 5 kategori. diharapkan hasilnya cukup mencerminkan aspirasi seluruh pihak yang berkepentingan di Pasar Modal Indonesia.perwaliamanatan di Pasar Modal Indonesia.6 15.0 Komposisi responden yang diperoleh dirasa telah cukup berimbang karena tidak terdapat satu atau beberapa kategori yang terlalu mendominasi dalam pemberian masukan dalam kuesioner.1 22. Pendekatan yang dilakukan dalam melakukan analisis adalah dengan pendekatan legal dengan mempertimbangkan dinamika dan kebutuhan pasar.4 20. 2. Dari jumlah tersebut. Pedoman Kontrak Perwaliamanatan Berkenaan dengan pertanyaan mengenai seberapa perlunya terdapat suatu pedoman yang dapat dipakai oleh para pelaku sebagai dasar acuan dalam pembuatan kontrak perwaliamanatan. Dari hasil pengembalian kuesioner tersebut akan dilakukan analisis atas jawaban responden. yaitu: Konsultan Hukum. jawaban responden adalah sebagai berikut: 48 . Profil responden: Kelompok Responden Notaris Konsultan Hukum Wali Amanat Emiten Investor Jumlah Frekuensi 8 12 8 14 11 53 Prosentase 15. Emiten Obligasi. Hasil jawaban kuesioner studi perwaliamanatan selengkapnya adalah sebagai berikut:: 1.

Jawaban Sangat perlu Perlu Kurang perlu Tidak perlu Jumlah Frekuensi 32 21 53 Prosentase 60.4 39. c. antara lain mengenai: a. serta manfaat lain dari Emiten. 3.6% menyatakan perlu. maka dapat disimpulkan bahwa seluruh pelaku pasar sepakat bahwa pedoman kontrak perwaliamanatan merupakan hal yang mutlak dibutuhkan di pasar modal Indonesia. ketentuan dari Bapepam mengenai pedoman kontrak perwaliamanatan sebagaimana diamanatkan Undang-undang Pasar Modal belum terwujud. Mayoritas responden studi ini (90. Agen Pembayaran.6%) juga mendukung perlunya hal tersebut: 49 .0 Dengan hasil 60. (1) Pengaturan secara rinci tentang ketentuan penggunaan dana hasil penawaran umum oleh Emiten pada umumnya selalu tercantum dalam kontrak perwaliamanatan. dalam Penjelasan Pasal 52 tersebut dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan “ketentuan yang ditetapkan Bapepam” adalah hal-hal yang wajib dimuat dalam kontrak perwaliamanatan antara lain. Berkaitan dengan hal ini. Lebih lanjut. Jaminan (jika ada). dan e. UU Pasar Modal dalam Pasal 52 telah mewajibkan Emiten dan Wali Amanat mengikuti ketentuan dari Bapepam dalam pembuatan kontrak perwaliamanatan mereka. b.6 100. Saat jatuh tempo. Tugas dan fungsi Wali Amanat Hingga saat ini. Utang pokok dan bunga.4% menyatakan sangat perlu dan 39. Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum Obligasi. d.

mayoritas responden juga menyatakan sangat perlu atau perlu: Jawaban Sangat perlu Perlu Kurang perlu Tidak perlu Jumlah Frekuensi 18 27 8 53 Prosentase 34.Jawaban Sangat perlu Perlu Kurang perlu Tidak perlu Jumlah Frekuensi 25 23 5 53 Prosentase 47. dalam 50 .4%) saja responden yang menganggap hal tersebut kurang perlu. Sedangkan bagi Wali Amanat. mengenai pertanyaan apakah Wali Amanat perlu diwajibkan memonitor penggunaan dana tersebut secara aktif serta melaporkan hasilnya kepada publik dan Bapepam.4 tentang Laporan Realisasi Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum.0 Hanya sebagian kecil (9.4 9. Hal tersebut kemungkinan karena pengaturan yang rinci dianggap akan membatasi fleksibilitas Emiten dalam menggunakan dana yang diperoleh secara maksimal.K. (2) Selanjutnya.9 15.4 100.2 43. Ketentuan mengenai kewajiban pelaporan penggunaan dana hasil emisi obligasi selama ini hanya diberlakukan bagi Emiten kepada Bapepam.0 50.1 100. Hal ini sebagaimana diatur dalam Peraturan Bapepam Nomor X.1%) mencerminkan bahwa hanya sedikit pelaku pasar yang berpandangan bahwa keterbukaan informasi kepada publik mengenai penggunaan dana hasil emisi obligasi bukan hal yang penting dilakukan.0 Jumlah responden yang menyatakan hal tersebut kurang perlu (15.

dalam hal terjadi kelalaian Wali Amanat dalam menjalankan tugas monitoring penggunaan dana tersebut.1 15.3% responden yang menyatakan tidak perlu diatur konsekuensi hukumnya. Jawaban Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah Frekuensi 8 8 30 7 53 Prosenatse 15.7%) merasa perlu Wali 51 .1 tentang Laporan Wali Amanat. sedangkan mayoritas (88.2 100. yang dalam angka 4 huruf c yang hanya mensyaratkan perubahan penggunaan dana yang berasal dari penawaran umum obligasi untuk mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari Wali Amanat setelah disetujui oleh Rapat Umum Pemegang Obligasi (4) Selanjutnya.0 Hasil di atas selaras dengan ketentuan Peraturan Bapepam Nomor X.I.K.2% yang mendukung pemberian persetujuan cukup oleh Wali Amanat. hanya 11. penggunaan dana hasil emisi memang tidak secara khusus dinyatakan sebagai hal yang wajib dilaporkan kepada Bapepam dan dilaporkan kepada pemegang publik.6 13. Namun berdasarkan masukan dari pelaku pasar di atas.Peraturan Bapepam Nomor X. kiranya penyempurnaan atas peraturan Bapepam tersebut menjadi cukup beralasan. (3) Berkaitan dengan pihak yang berwenang memberikan persetujuan atas perubahan penggunaan dana. 69.4 tentang Laporan Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum.1 56. Hanya 30.8% responden kurang/tidak setuju apabila hal tersebut didelegasikan kewenangannya kepada Wali Amanat tanpa melalui mekanisme persetujuan pemegang obligasi (Rapat Umum Pemegang Obligasi/RUPO).

0 Konsekuensi hukum atas kelalaian Wali Amanat memonitor penggunaan dana Emiten tersebut dapat didasarkan pada ketentuan dalam Pasal 53 Undang-undang Pasar Modal yang menyatakan Wali Amanat wajib memberikan ganti rugi kepada pemegang Efek bersifat utang atas kerugian karena kelalaiannya dalam pelaksanaan tugasnya sebagaimana diatur dalam Undangundang Pasar Modal dan atau peraturan pelaksanaannya. sepanjang tidak bertentangan dengan hukum dan tidak mengganggu hak pihak lain. Emiten harus menyatakan rencana penggunaan dana hasil penerbitan obligasi tersebut. Emiten sebagai pemilik berhak menikmati kegunaan dan berbuat bebas terhadap dana tersebut. Emiten dapat bertindak bebas tanpa perlu persetujuan Wali Amanat atau para pemegang obligasi.Amanat dikenakan suatu sanksi apabila lalai memonitor penggunaan dana dimaksud. (Pasal 570 KUHPerdata) Pada dasarnya dalam penggunaan dana hasil penerbitan obligasi.3 100. Emiten sebagai penerima pinjaman (dana) demi hukum menjadi pemilik dari dana tersebut. berdasarkan ketentuan (angka 5 huruf b Peraturan IX. serta kontrak perwaliamanatan. Secara umum.C. maka Emiten dituntut konsisten dengan apa yang telah dinyatakan kepada masyarakat. mengingat dalam penerbitan obligasi.2 11. Namun demikian.5 64. Berdasarkan konsep hak milik.2. Jawaban Sangat perlu Perlu Kurang perlu Tidak perlu Jumlah Frekuensi 13 34 6 53 Prosentase 24. 52 .

namun pembatasan tersebut tidak bertentangan atau selaras dengan upaya memberikan perlindungan kepada masyarakat investor. Perubahan “janji” tersebut selayaknya memperoleh persetujuan dari pihak kepada siapa “janji” tersebut diberikan.7 9.4 100.4% menyatakan sebaliknya: Jawaban Tidak jawab Ya Tidak Jumlah Pendapat mayoritas Frekuensi 1 47 5 53 responden ini Prosentase 1. yang menjelaskan bahwa pembatasan hubungan kredit antara Wali Amanat dengan Emiten dimaksudkan untuk menghindari benturan kepentingan pada Wali Amanat dalam melaksanakan kegiatannya sebagai wakil pemegang obligasi di satu sisi dan sebagai kreditur atau debitur dari Emiten disisi yang lain. sebanyak 88.0 sudah sejalan dengan ketentuan Penjelasan Pasal 51 ayat (3) UU Pasar Modal. yaitu investor/para pemegang obligasi. Hal ini diperlukan agar Wali Amanat dapat melaksanakan fungsinya 53 . 4. meskipun penggunaan hak milik atas dana tersebut dibatasi. Dengan demikian.7% responden menyatakan “ya” dan hanya 9.9 88. Faktor Yang Mempengaruhi Independensi Wali Amanat (1) Berkenaan dengan pertanyaan mengenai apakah hubungan kredit antara Wali Amanat dengan Emiten obligasi perlu dibatasi dengan alasan akan menimbulkan benturan kepentingan dalam pelaksanaan tugas Wali Amanat.Pernyataan rencana penggunaan dana tersebut menjadi semacam “janji” kepada investor dan hal tersebut menjadi salah satu alasan utama para investor bersedia membeli obligasi yang ditawarkan.

6 37.8 1.secara independen sehingga dapat melindungi kepentingan pemegang obligasi secara maksimal (2) Selanjutnya. Sebanyak 3.7 11.8 100.7%) menjawab tidak lebih dari 20% dari nilai pokok obligasi.8% responden mengharapkan tidak ada pembatasan hubungan kredit sama sekali. sementara 22.6% responden menyetujui angka tidak lebih dari 10% dari nilai pokok obligasi.0 Dalam Pasal 51 ayat (3) Undang-undang Pasar Modal telah diamanatkan kepada Bapepam untuk mengatur mengenai batasan hubungan kredit dimaksud. Dari hasil jawaban responden ini dapat disimpulkan bahwa mayoritas pelaku pasar modal 54 .7 2 1 2 53 3. Jawaban Tidak lebih dari 10% dari Nilai pokok Obligasi Emiten Tidak lebih dari 20% dari Nilai pokok Obligasi Emiten Tidak lebih dari 30% dari Nilai pokok Obligasi Emiten Tidak lebih dari 50% dari Nilai pokok Obligasi Emiten Jumlah lain. mayoritas responden (37.8% lainnya justru mengharapkan tidak boleh sama sekali ada hubungan kredit.3 5. sebutkan: Nihil Tergantung jumlah emisi obligasi Tidak boleh ada hub kredit Jumlah Frekuensi 12 20 6 3 Prosentase 22. mengenai besarnya batasan yang ideal hubungan kredit antara keduanya. Mengingat sampai saat ini Bapepam belum menentukan/memiliki dasar acuan bagi penentuan batasan dimaksud. maka pertanyaan di atas dimaksudkan untuk memperoleh gambaran mengenai pendapat pelaku pasar terhadap besaran hubungan kredit tersebut.7% menyebut angka tidak lebih dari 50%. 11.9 3. sebaliknya 3.3% responden memilih angka tidak lebih dari 30% dan 5.

0 55 .1 5.2% responden setuju atau sangat setuju.8%) menyatakan bahwa afiliasi dalam bentuk hubungan kepemilikan dan hubungan pengendalian merupakan dua hal utama yang mengakibatkan benturan kepentingan pada Wali Amanat.6%) menyatakan bahwa batasan paling ideal hubungan kredit tersebut tidak lebih dari 10% . dapat juga merupakan faktor yang mempengaruhi efektifitas pelaksanaan tugas Wali Amanat tersebut.(71. terdapat pula kemungkinan bahwa hubungan afiliasi antara Wali Amanat dengan Emiten dapat mempengaruhi independensi Wali Amanat dalam menjalankan tugasnya mewakili kepentingan pemegang obligasi. Selain itu faktor hubungan kredit dan hubungan transaksi komersial lainnya dengan Emiten obligasi.7 100.7 41.8% menyatakan sebaliknya. Jawaban Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah Frekuensi 20 22 8 3 53 Prosentase 37. sedangkan sisanya 20. Hasil survey menunjukkan bahwa secara umum mayoritas responden (20.5 15. diperoleh jawaban bahwa 79. (3) Selain pembatasan hubungan kredit dengan Emiten. (4) Menjawab pertanyaan mengenai apakah hubungan afiliasi antara Wali Amanat dengan Penjamin Emisi Efek juga perlu dibatasi agar masing-masing dapat melaksanakan fungsinya secara independen. UU Pasar Modal hanya memberikan toleransi atas hubungan afiliasi ini apabila timbul dari kepemilikan atau penyertaan modal pemerintah.30% dari nilai pokok obligasi yang diterbitkan oleh Emiten.

d. serta memberikan rasa aman karena kedudukan kreditur obligasi bersifat preferen. mengurangi risiko kerugian dalam hal terjadi wan prestasi. Dalam ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.8 34. serta memperhatikan kompetensi.0 13.5. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria.0 17. Jaminan Dalam menjawab pertanyaan mengenai perlu tidaknya Emiten obligasi diwajibkan memberikan jaminan khusus untuk pelunasan utang obligasi yang diterbitkannya. secara aktif memonitor kondisi keuangan dan peringkat obligasi Emiten. jo Pasal 1131 s. 1134 KUH Perdata. dalam suatu perikatan utang piutang dapat ditambahkan perjanjian tambahan (assesoir) berupa jaminan kebendaan. 69. Jawaban Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah Frekuensi 19 18 9 7 53 Prosentase 35. Pasal 39.2 100.8% responden menyatakan setuju atau sangat setuju dan 30.0 Dari pihak yang mendukung adanya jaminan khusus memberikan beberapa alasan antara lain bahwa dengan adanya jaminan khusus maka akan lebih menarik investor.2% menyatakan kurang atau tidak setuju. Sedangkan bagi yang merasa jaminan khusus kurang atau tidak terlalu penting memberikan alasan bahwa ketiadaan jaminan khusus tidak perlu dipermasalahkan sepanjang investor dapat menganalisa prospektus dan laporan keuangan periodik Emiten. cash flow serta karakter manajemen Emiten. jo. antara lain Pasal 28. jo. Pasal 33. Jaminan kebendaan atas suatu utang mengakibatkan timbulnya kedudukan istimewa (preferensi) bagi kreditor yang memegang jaminan 56 .

mayoritas responden menyatakan setuju atau sangat setuju namun dengan prosentase yang sedikit lebih rendah (58. dimana seluruh 57 .kebendaan tertentu untuk memperoleh pelunasan mendahului kreditur yang tidak memegang jaminan kebendaan tertentu. terhadap pertanyaan apakah responden setuju apabila dana yang dicadangkan tersebut dapat sewaktu-waktu dipakai untuk membiayai tindakan hukum dalam hal Emiten mengalami wan prestasi.0 Dalam konteks penanggungan / penjaminan utang.6 100.6%): Jawaban Tidak jawab Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah Frekuensi 1 13 18 9 12 53 Prosenatse 1.9 11.5%) dan responden yang kurang atau tidak setuju sebesar (39.9 24.0 22. jaminan umum dan jaminan khusus. Sinking Fund (1) Atas pertanyaan mengenai setujukah responden apabila Emiten obligasi diwajibkan mencadangkan sinking fund bagi pelunasan utang obligasi.9 35.5 34.8 32.1 18.9% setuju dan sangat setuju dan sisanya kurang atau tidak setuju: Jawaban Tidak jawab Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah (2) Frekuensi 1 19 17 10 6 53 Prosenatse 1.3 100. 6.0 17. secara hukum dikenal 2 bentuk penanggungan/jaminan. Jaminan umum timbul secara otomatis berdasarkan ketentuan Pasal 1131 KUH Perdata. yaitu. diperoleh hasil 67.0 Lebih lanjut.

misalnya aturan tentang gadai dan hipotik.harta kekayaan debitor. Pertanyaan lebih lanjut adalah apakah dengan adanya sinking fund tersebut pemegang obligasi berkedudukan istimewa sehingga sinking fund tersebut hanya dapat digunakan untuk pelunasan obligasi atau sinking fund tersebut berkedukan bebas sehingga dapat digunakan untuk melunasi kewajiban kepada seluruh kreditur secara proporsional?. Dalam kaitannya dengan perlindungan investor. keberadaan sinking fund memberikan dampak yang positif. baik yang sudah ada maupun yang akan ada merupakan jaminan dari perikatan-perikatan yang dibuat debitor tersebut. terdapat permasalahan hukum yang menarik untuk dikaji lebih lanjut. Keberadaan jaminan ini menentukan tingkat preferensi kreditor tertentu terhadap kreditor lainnya. 7. Permasalahan hukum yang serius adalah apabila Emiten dinyatakan pailit atau dilikuidasi. sedangkan Emeiten telah membentuk sinking fund. Meskipun tidak dinyatakan sebagai jaminan namun sinking fund memiliki karakteristik yang menyerupai jaminan kebendaan. Dalam kaitannya dengan sinking fund. Pemeringkatan Obligasi (1) Responden menanggapi sangat positif terhadap ide adanya pemeringkatan obligasi yang dilakukan setiap tahun atau update rating setiap saat bila terjadi peristiwa yang secara material mempengaruhi kemampuan Emiten dalam memenuhi kewajiban 58 . sepanjang emiten tidakberada dalam kepailitan dan likuidasi. Sedangkan dalam jaminan khusus dibuat perjanjian tambahan secara khusus (assesoir) atas kebendaan tertentu dan mengikuti aturan-aturan tertentu.

1% setuju atau sangat setuju.2% setuju dibanding 3.9 100.9% tidak setuju: Jawaban Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah (2) Mengenai bagaimanakah Frekuensi 20 32 1 53 sebaiknya Prosentase 37.5% yang tidak atau kurang setuju: Jawaban Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah 8.0 Pembelian Kembali Obligasi (buy back) (1) Mayoritas responden setuju apabila pembelian kembali obligasi oleh Emiten dilakukan. Hal ini terlihat dari angka 98.5% 59 .6 Setuju 21 39. Hal ini terlihat dari angka 96.5% dibandingkan 41.8 Tidak setuju Jumlah 53 100.9 39.obligasinya.5% menyatakan sebaiknya diatur dalam peraturan Bapepam.2 100. 41.3 13.6 Kurang setuju 2 3.8% kurang setuju: Jawaban Frekuensi Prosenatse Sangat setuju 30 56. maka jumlah yang setuju masih mayoritas meskipun tidak mutlak yaitu sebesar 58. 32% menyatakan diatur dalam Kontrak Perwaliamanatan sedangkan sisanya (24.4 1.6 28.0 pengaturan mengenai masalah buy back obligasi ini dilakukan.7 60. Frekuensi 10 21 15 7 53 Prosentase 18. berbanding 1.0 Namun dalam hal ditanyakan setujukah responden bila Emiten mengalami penurunan peringkat obligasi diwajibkan (2) memberikan atau menambah nilai jaminan obligasi.

1 41. Rapat Umum Pemegang Efek Bersifat Utang (Obligasi) (1) Terhadap pertanyaan “Menurut pendapat Anda. 60 .0 Selanjutnya.5 24.7 20.9 32.7 5.8 7.0 37. maka jawabannya adalah 88.5 100.0 9.memilih tidak ditentukan pengaturannya melainkan diserahkan kepada kesepakatan para pihak. perlukah diselenggarakan RUPO baik secara berkala maupun insidentil?”.7 100.0 (4) Pertanyaan mengenai sumber pendanaan buy back obligasi berasal dari keuntungan yang diperoleh dari kegiatan yang dibiayai penerbitan obligasi. Jawaban Tidak jawab Diatur di dalam Perwaliamanatan Diatur dalam peraturan Bapepam tersendiri Tidak ditentukan pengaturannya secara khusus dan diserahkan kepada kesepakatan para pihak Jumlah (3) Frekuensi 1 Perjanjian 17 22 13 Prosentase 1.7% responden setuju atau sangat setuju dan 28. mengenai ketentuan larangan Emiten melakukan buy back apabila dalam keadaan wanprestasi kewajiban obligasi.7 5.4% yang tidak setuju: Jawaban Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah Frekuensi 9 38 3 3 53 Prosentase 17.7% setuju berbanding 11. 71.00 71.5 53 100.3% menyatakan sebaliknya: Jawaban Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah Frekuensi 18 20 11 4 53 Prosentase 34.

Sebagai pemilik mutlak atau penuh. Sedangkan uang. baik secara berkala maupun secara insidentil. Jawaban Frekuensi Prosentase Tidak jawab 1 1. sejauh ini memang tidak terdapat ketentuan khusus yang mengatur mengenai RUPO.6 Perlu 27 50.mayoritas responden (73.3%) memandang perlu adanya Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO). dimana objek perjanjian/perikatan tersebut adalah sejumlah uang. peminjam (Emiten) berhak untuk menikmati atau menggunakan uang atau dana tersebut dengan bebas.8 Tidak perlu 2 3. sehingga Peminjam (Emiten) menjadi pemilik mutlak/penuh atas uang atau dana yang diperoleh dari penerbitan obligasi (Pasal 1755 KUHPerdata). Secara umum. mengingat pada prinsipnya penerbitan obligasi atau surat utang lainnya dilakukan berdasarkan perjanjian. penerbitan efek bersifat utang didasarkan pada perjanjian pinjam-meminjam.9 Kurang perlu 11 20. sepanjang tidak melanggar berlaku. menurut hemat kami. sepanjang tidak melawan hukum dan mengganggu 61 .8 Jumlah 53 100.0 Berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. termasuk jenis barang yang menghabis karena ketentuan peraturan perundang-undangan yang pemakaiannya. Namun demikian.9 Sangat perlu 12 22. maka para pihak yang membuat perjanjian dapat menetapkan syarat-syarat. Konsekuensi dari pinjam peminjam dengan ojek berupa barang yang menghabis karena pemakaiannya adalah beralihnya kepemilikan atas barang tersebut kepada peminjam (Emiten). tanpa perlu memperoleh persetujuan dari pihak tertentu.

dimana didalamnya mengatur kewajiban untuk mengadakan rapat umum kreditur (dalam hal obligasi populer dengan sebutan RUPO) merupakan sesuatu yang dapat dilakukan. yang tercermin dalam perjanjian perwaliamanatan. maka setiap klausul dalam perjanjian tersebut berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak yang membuat perjanjian dan hanya dapat ditarik/dibatalkan atau diubah dengan kesepakatan para pihak yang membuat perjanjian atau karena diwajibkan oleh kententuan undang-undang (Pasal 1338 KUH perdata). Terkait dengan RUPO. Atau dengan kata lain. Mengingat penerbitan obligasi berbasis pada suatu perjanjian. meskipun Emiten berhak menggunakan uang hasil penerbitan obligasi secara penuh. Penetapan syarat dalam perjanjian perwaliamanatan. baik bagi Emiten maupun bagi investor.kepentingan pihak lain (Pasal 570 KUHPerdata). jika tidak ada maksud dari para pihak untuk menarik atau merubah isi perjanjian. Berdasarkan hal tersebut. namun hal tersebut tidak selamanya memberikan manfaat maksimal. ketentuan tersebut di atas relevan sepanjang RUPO tersebut dimaksudkan untuk menarik/ membatalkan atau merubah isi perjanjian perwaliamanatan. Sifat “unik” dari penerbitan obligasi melalui pasar modal yang berbeda dengan perjanjian pinjam-meminjam pada umumnya 62 . namun dalam hal tertentu hak tersebut dibatasi oleh undang-undang. Meskipun pencantuman kewajiban menyelenggarakan RUPO tidak bertentangan dengan undang-undang. sepanjang disepakati oleh para pihak dan tidak bertentangan dengan undang-undang (Pasal 1320 dan 1338 KUHPerdata). maka dapat dikatakan tidak perlu diadakannya RUPO.

adalah adanya peran Wali Amanat dalam pembuatan dan pelaksanaan perjanjian penerbitan obligasi. Sifat “unik” tersebut muncul karena pada saat dibuatnya perjanjian belum diketahui secara pasti pihak yang akan memberikan pinjaman (kreditur), hal tersebut dikarenakan penjualan /penerbitan obligasi tersebut ditawarkan kepada masyarakat, yang tidak dapat diidentifikasi secara pasti. Agar syarat sahnya perjanjian (syarat subjektif) terpenuhi, yaitu adanya kesepakatan para pihak dan adanya kecakapan (dan kewenangan) dari subjek perjanjian, maka Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Undang-undang Modal (UUPM)

mengintrodusir konsep Wali Amanat, yang berdasarkan undangundang diberikan diberi kuasa untuk mewakili kepentingan investor obligasi (efek bersifat utang) – Pasal 51 UUPM. Berdasarkan kuasa dari undang-undang tersebut, Wali Amanat membuat perjanjian penerbitan obligasi dengan Emiten, serta melaksanakan segala sesuatu yang terkait dengan pelaksanaan perjanjian, untuk kepentingan pihak yang diwakili (investor obligasi/efek bersifat utang). Sifat “unik” lain dari penerbitan obligasi adalah adanya kewajiban berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan untuk mempublikasikan informasi-informasi penting tentang

penerbit/Emiten/debitur kepada calon investor/kreditor dalam suatu dokumen yang bernama Prospektus. Salah satu yang harus dipublikasikan dalam Prospektus adalah peringkat Efek yang diterbitkan oleh lembaga pemeringkat Efek (rating) yang secara umum mencerminkan kemampuan dari penerbit efek/Emiten untuk memenuhi kawajibannya atas efek yang diterbitkannya (Peraturan Bapepam Nomor IX.C.2 dan Nomor IX.C.3).

63

Meskipun peringkat efek (rating) tersebut tidak tercantum dalam perjanjian perwaliamanatan, namun mengingat penyajian

Prospektus merupakan suatu kewajiban yang lahir dari undangundang (Pasal 70 UUPM), maka seluruh informasi dari Prospektus merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari isi perjanjian perwaliamanatan. Pendekatan ini didasarkan pada Pasal 1339 KUH Perdata yang menyatakan bahwa “persetujuan tidak hanya mengikat apa yang dengan tegas didalamnya, melainkan juga segala sesuatu yang menurut sifat persetujuan dituntut berdasarkan keadilan,

kebiasaan atau undang-undang”. Jika dikaitkan antara ketentuan pasal 1339 KUH Perdata dengan Peraturan Nomor IX.C.2 dan IX.C.3 serta isi perjanjian

perwaliamanatan, maka antara ketiganya harus dilihat sebagai satu kesatuan. Dalam arti bahwa pelaksanaan perjanjian

perwaliamanatan tidak hanya memperhatikan isi dari perjanjian, namun juga wajib memperhatikan peraturan perundang-

undangan lain yang terkait dengan penerbitan obligasi/surat utang serta kebiasaan yang lazim berlaku di masyarakat. Salah satu contoh dari penerapan Pasal 1339 KUH Perdata dalam kaitannya dengan penerbitan obligasi atau Efek bersifat utang di pasar modal adalah pengungkapan peringkat obligasi atau Efek bersifat utang (rating). Meskipun rating tersebut tidak diungkap dalam perjanjian perwaliamanatan, dan hanya diungkapkan dalam Prospektus, namun hal tersebut tidak berarti bahwa Wali Amanat maupun Emiten dalam melaksanakan perjanjian

perwaliamanatan tidak memperhatikan lagi atau tidak “peduli” dengan rating atas obligasi yang diterbitkannya.

64

Sebagaimana diketahui bahwa rating atas suatu obligasi atau Efek bersifat utang merupakan salah satu dasar utama bagi investor untuk memutuskan membeli atau tidak obligasi atau Efek bersifat utang yang ditawarkan. Bahkan nilai informasi tentang rating tidak hanya investor yang akan membeli obligasi berharga pada saat investor akan membeli obligasi atau Efek bersifat utang di pasar perdana, tetapi juga bagi investor yang akan membeli

obligasi atau Efek bersifat utang di pasar sekunder. Mengingat nilai dan relevansi nilai informasi tersebut, maka menjadi sesuatu yang logis jika investor meminta kepada Emiten agar selalu menyajikan informasi yang relevan dengan obligasi yang diterbitkannya. Berdasarkan undang-undang, kreditur dalam hal ini pemegang obligasi atau Efek bersifat utang dapat mengajukan tidak berlakunya tindakan yang seharusnya tidak dilakukan oleh debitur (Emiten) yang merugikan kreditur (pemegang obligasi) Pasal 1341 KUH Perdata. Jika Emiten lalai dalam menyediakan informasi dimaksud atau Emiten melakukan sesuatu yang seharusnya dilarang dilakukan dan hal tersebut dapat merugikan pemegang obligasi, maka menjadi logis juga jika bagi investor disediakan suatu forum untuk memperjuangkan haknya dimaksud. Forum dimaksud adalah Rapat Umum Pemegang Obligasi. Dari paparan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa meskipun mayoritas responden menghendaki diadakannya RUPO, baik secara berkala maupun secara insidentil, namun ternyata hal tersebut tidak selalu relevan. RUPO menjadi relevan jika: − akan dilakukan perubahan atas isi pokok perjanjian

perwaliamanatan

65

Undangundang Pasar Modal tidak secara memerinci jenis tindakan yang 66 . perpanjangan jangka waktu pelunasan surat utang (roll over).9 100. melainkan karena Wali Amanat tersebut diberi kuasa oleh undang-undang (UUPM) – Pasal 51 ayat (2) UUPM. maka kita akan menemukan bahwa dasar pelaksanaan tugas Wali Amanat bukanlah karena Wali Amanat yang bersangkutan memperoleh kuasa dari investor.5% dari responden yang mengembalikan kuesioner) beranggapan bahwa untuk halhal tertentu.9 1.8% dari responden yang cenderung menghendaki adanya RUPO (73.0 1. khususnya informasi yang terkait dengan kemampuan Emiten dalam memenuhi kewajibannya atas obligasi yang diterbitkannya − Emiten melakukan sesuatu yang tidak diwajibkan (baik dalam perjanjian perwaliamanatan maupun dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku) dan tindakan tersebut merugikan investor obligasi. (2) Hasil penelitian menunjukkan bahwa 69. seperti penggantian Wali Amanat. dan restrukturisasi surat utang (debt to equity swap/ debt to debt swap/ debt to asset swap). Jawaban Tidak jawab Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah Frekuensi 14 19 18 1 1 53 Prosentase 26.8 34.− Emiten tidak menyediakan informasi yang memadai.0 Jika kita lihat ketentuan UUPM.4 35. hendaknya tidak semata-mata diserahkan kepada Emiten dan Wali Amanat. perubahan tingkat bunga. melainkan harus diserahkan dan disetujui oleh RUPO.

atau dengan kata lain UUPM memberikan kuasa secara umum kepada Wali Amanat untuk mewakili kepentingan pemegang obligasi (Efek berifat utang).pelaksanaanya dikuasakan kepada Wali Amamat. seperti penggantian Wali Amanat. maka Wali Amanat harus memperoleh kuasa terlebih dahulu dari pemberi kuasa. jika hal tersebut harus secara tegas dinyatakan dalam pemberian kuasa (Pasal 1796 KUH Perdata). perubahan tingkat bunga. Mengingat investor sebagai pihak yang sebenarnya melakukan perikatan dengan Emiten baru ada setelah Emiten menjual obligasinya kepada masyarakat. Pertanyaan lebih lanjut adalah. maka praktis dibutuhkan wakil dari pihak 67 . apakah kewenangan untuk melakukan hal-hal tertentu. maka umum yang sebenarnya Wali Amanat atas dasar kuasa dari undang-undang berwenang diterimanya melakukan hal-hal dimaksud. termasuk dalam pengertian tindakan pengurusan atau tidak. maka tindakan yang dapat dilakukan oleh penerima kuasa sebatas pada tindakan pengurusan. Jika hal-hal tersebut di atas dapat dikategorikan sebagai tindakan pengurusan. dan restrukturisasi surat utang (debt to equity swap/ debt to debt swap/ debt to asset swap). sedangkan tindakan lain yan bersifat bukan mengurusan. dalam hal ini undang-undang. KUH Perdata mengatur bahwa jika suatu kuasa diberikan secara umum. Sebaliknya jika dalan hal-hal di atas dikategorikan sebagai tindakan pemilikan. Hal yang patut memperoleh perhatian kita adalah alasan undangundang memberikan kuasa kepada Wali Amanat. penjaminan kekayaan hanya dapat dilakukan oleh penerima kuasa. misalnya pengalihan kekayaan. tanpa persetujuan lagi dari pemberi kuasa. perpanjangan jangka waktu pelunasan surat utang (roll over).

dalam hal ini Bapepam. dapat ditetapkan secara sepihak oleh Emiten. dengan menyebut secara tegas hal-hal yang dikuasakan kepada Wali Amanat. yaitu tidak tercapainya kata sepakat antara Wali Amanat dan Emiten untuk merubah perjanjian perwaliamanatan. atau cukup berdasarkan kesepakatan antara Emiten dengan Wali Amanat. dan restrukturisasi surat utang (debt to equity swap/ debt to debt swap/ debt to asset swap). perpanjangan jangka waktu pelunasan surat utang (roll over). maka terbukalah kemungkinan untuk merubah bentuk kuasa umum yang diberikan oleh undang-undang menjadi kuasa khusus. yaitu pertama merubah perjanjian perwaliamanatan dengan menghapuskan klausul di atas dan memindahkan kewenangan tersebut kepada para pemegang obligasi atau Efek bersifat utang. maka relevansi kuasa yang diberikan oleh undang-undang berakhir sejak pihak yang sebenarnya membuat perikatan muncul. Tidak tertutup kemungkinan saat ini terdapat perjanjian perwaliamanatan yang mengatur bahwa tindakan tertentu seperti penggantian Wali Amanat. yaitu setelah Emiten menjual obligasinya. Dengan argumen tersebut. Jika hal tersebut terjadi. Setelah terjadi peralihan tersebut. Alternatif pertama memiliki kelemahan. yaitu undang-undang. tanpa melibatkan pemegang obligasi. para pemagang obligasi seketika mengantikan pemberi kuasa sebelumnya.pembeli/investor. berdasarkan ketentuan Pasal 52 UUPM menetapkan Peraturan Bapepam yang mengatur bahwa kewenangan tersebut di atas adalah kewenangan dari pemegang obligasi atau Efek bersifat utang. Kedua undang-undang. perubahan tingkat bunga. maka berdasarkan ketentuan yang ada dapat dilakukan dua hal. Dengan kata lain. Sedangkan alternatif kedua relatif 68 .

dan restrukturisasi surat utang (debt to equity swap/ debt to debt swap/ debt to asset swap). yaitu pemegang obligasi atau Efek bersifat utang. atau dilaksanakan sendiri oleh pemegang obligasi melalui mekanisme RUPO.4 37. sedangkan untuk mengambil keputusan tertentu yang tidak bersifat pengurusan. perubahan tingkat bunga. maka kuasa khusus kepada Wali Amanat. perpanjangan jangka waktu pelunasan surat utang (roll over). 73. sehingga berdasarkan undang-undang. terlihat RUPO diperlukan karena pada umumnya perjanjian perwaliamanatan yang ada memberikan kuasa umum kepada Wali Amanat. RUPO akan dapat mengambil keputusan secara fair jika diatur mekanisme dan tata caranya. merupakan tindakan yang sangat signifikan terhadap keamanan sebuah investasi.0 69 .7 35. Tindakan berupa penggantian Wali Amanat.5% responden yang cenderung setuju adanya mekanisme RUPO menghendaki agar pengaturan tentang korum diatur dalam peraturan perundang-undangan. mau tidak mau Emiten atau Wali Amanat harus menyerahkan kewenangan tersebut kepada pemegang obligasi atau efek bersifat utang. Dari paparan di atas. selain memperhatikan aspek hukum juga harus memperhatikan aspek kebutuhan pasar dan kelaziman yang berlaku. Terkait dengan masalah korum ini. Perumusan Peraturan Bapepam.8 100. sehingga sangat logis jika untuk melakukan hal tersebut dibutuhkan persetujuan dari pemilik investasi itu sendiri.lebih mudah diterapkan. antara lain masalah korum. Jawaban Tidak jawab Sangat perlu Perlu Kurang perlu Tidak perlu Jumlah Frekuensi 14 20 19 53 Prosentase 26.

Wali Amanat bekerja berdasarkan kuasa. mayoritas responden (64.1%) cenderung menolak pembatasan tugas Wali Amanat yang didasarkan pada waktu tertentu. sehingga justru dapat merugikan kepentingan pemberi kuasa.2 37. Ketentuan tentang pemberian kuasa dalam KUH Perdata tidak mengatur tentang jangka waktu tertentu suatu kuasa dapat diberikan. Sebagaimana telah dibahas pada masalah RUPO.Pendapat responden tersebut cukup beralasan.4 100. maka diharapkan penetapan korum tersebut akan memperhatikan berbagai kepentingan yang ada.8 30. Selain itu. pemberian kuasa yang digantungkan pada masa tertentu dapat mempersulit penyelesaian pekerjaan. Kuasa diberikan biasanya tidak berjangka waktu melainkan digantungkan pada selesainya suatu pekerjaan atau perbuatan yang dikuasakan. maka selayaknya jika para pemegang obligasi menggantikan posisi undang-undang sebagai pemberi kuasa. Pengakhiran Tugas dan Penggantian Wali Amanat (1). mengingat Bapepam berdasarkan Pasal 52 UUPM berhak mengatur ketentuan tentang pedoman kontrak perwaliamanatan dimana didalamnya dapat diatur masalah korum.0 70 .9 3. Dalam praktek.7 26. dimana pada pertama kali kuasa tersebut diperoleh dari undang-undang. Penunjukan. Jawaban Tidak jawab Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah Frekuensi 1 2 16 20 14 53 Prosenatse 1. Relevan dengan hal tersebut. jika peraturan tentang korum diserahkan kepada undang-undang (peraturan Bapepam). 10. dan selanjutnya setelah pemegang obligasi atau Efek bersifat utang teridentifikasi.

pada maka dan penggantian dengan Amanat kuasa.(2) Dilain pihak.4 3. bahkan jika penerima kuasa tidak melaksanakan tugasnya dengan baik (baik karena kesenagajaan maupun kelalaian) dan karenanya timbul biaya atau kerugian.8 66.0 Berdasarkan undang-undang.0 9. sehingga sangat relevan dan masuk akal jika pemberi kuasa mencabut kuasa yang diberikan jika penerima kuasa tidak dapat menunjukkan pengakhiran prinsipnya kinerja tugas di yang baik. Paparan di atas menunjukkan bahwa seorang penerima kuasa (termasuk Wali Amanat) harus dapat menunjukkan kinerja yang baik. lakukan pemberian selayaknyalah jika hal tersebut dilakukan oleh pihak yang 71 . Mengingat Wali penunjukan. Selain itu Penerima kuasa juga diwajibkan untuk melaporkan pekerjaan yang telah dilaksanakan (Pasal 1800.8 100. penerima kuasa (termasuk Wali Amanat) wajib melaksanakan perbuatan atau pekerjaan yang dikuasakan kepadanya. mayoritas responden (86. Menurut hemat kami pendapat mayoritas responden dimaksud adalah sangat rasional dan tidak bertentangan dengan kaidah hukum. 1802 KUH Perdata).8%) cenderung memberikan tugas tugas kepada Wali Amanat tidak berdasarkan waktu melainkan pada kinerja yang dicapai oleh Wali Amanat dimaksud. Jawaban Tidak jawab Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah Frekuensi 11 35 5 2 53 Prosenatse 20. maka penerima kuasa tersebut harus mempertanggungjawabkan kepada pemberi kuasa.

selain Wali Amanat dimaksud telah memperoleh kuasa berdasarkan undang-undang. Kewajiban dan Tanggung Jawab Wali Amanat Undang-undang Pasar Modal tidak mengatur secara terperinci tentang batasan hak. berdasarkan peraturan perundang-undangan Pihak lain.4%) yang tidak memberikan jawaban atas pertanyaan “siapakah yang paling kompeten untuk mengangkat (termasuk mengganti) dan memberhentikan Wali Amanat? (kecuali untuk pengangkatan pertama kali)” bisa terjadi karena beberapa faktor. Wali Amanat juga harus membuat kontrak atau perjanjian dengan Emiten sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bapepam (Pasal 52 UUPM). antara lain. (3) Mayoritas jawaban responden (77. karena responden kurang atau tidak memahami prinsip pemberian kuasa pada pelaksanaan tugas Wali Amanat. Lebih lanjut disebutkan bahwa Wali Amanat mewakili kepentingan pemegang Efek bersifat utang baik di dalam maupun di luar pengadilan (Pasal 51 ayat 1) Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa dalam menjalankan tugasnya.0 Batasan Hak. Jawaban Tidak jawab Para pemegang obligasi surat utang Emiten Regulator.4 5. yaitu para pemegang obligasi atau Efek bersifat utang.7 100.5 9. Frekuensi 41 4 5 3 53 Prosentase 77.4 7. UUPM hanya menyebut bahwa Wali Amanat adalah Pihak yang mewakili kepentingan pemegang Efek yang bersifat utang (Pasal 1 angka 30 UUPM). kewajiban dan tanggung jawab Wali Amanat. Dalam penjelasan dimaksud ditentukan bahwa isi kontrak perwaliamanatan antara lain mengatur tentang utang 72 .memiliki kewenangan untuk memberikan kuasa kepada Wali Amanat. sebutkan Jumlah 11.

Satu bagian (58. dan tugas dan fungsi Wali Amanat. tetapi juga kepada Negara/Pemerintah. Posisi unik Wali Amanat. sedangkan disisi lain Wali Amanat bertindak untuk mewakili kepentingan pemegang obligasi atau Efek bersifat utang berdasarkan kuasa. Hal menarik dalam Pasal 52 adalah Bapepam berwenang untuk merumuskan hal yang berkaitan dengan tugas dan fungsi Wali Amanat. Karena posisinya uang unik tersebut. agen pembayaran. yang apabila ditarik lebih jauh asal kewenangan yang dikuasakan tersebut berasal dari para pemegang obligasi atau Efek bersifat utang. membawa konsekuensi bahwa Wali Amanat tidak hanya memiliki hak dan kewajiban kepada Emiten. saat jatuh tempo. jaminan (jika ada). tidak satupun responden yang menyatakan urgensi pengaturan tentang batasan hak dan kewajiban Wali Amanat terhadap regulator (Bapepam). dibagian lain (41. dimana respon responden tentang urgensi pengaturan hak dan kewajiban Wali Amanat terbagi menjadi 2 bagian. Namun demikian.5%) menyatakan bahwa hal yang sangat urgen untuk diatur adalah batasan hak dan kewajiban Wali Amanat terhadap Emiten. Situasi seperti ini rupanya juga menjadi perhatian responden. 73 . kewajiban dan tanggung jawab Wali Amanat.5%) memandang bahwa batasan hak dan kewajiban Wali Amanat terhadap pemegang obligasi/surat utang lebih urgen untuk memperoleh prioritas pengaturan. Lebih unik lagi karena kuasa yang diberikan kepada Wali Amanat berasal dari undang-undang. dimana hal tersebut memiliki kaitan erat dengan batasan hak. dimana disatu sisi menjadi salah satu pihak dalam perjanjian perwaliamanatan. selaku pelaksana undangundang dan juga kepada para pemegang obligasi atau Efek bersifat utang.pokok dan bunga serta manfaat lain dari Emiten.

Prinsip esensialia dalam hal ini adalah unsur yang wajib terdapat dalam perjanjian yang menunjukkan karakteristik khas perjanjian dan membedakan dengan jenis perjanjian lainnya. Prinsip naturalia adalah unsur yang harus ada dalam perjanjian. maka jawaban responden dimaksud sangat relevan.5 53 100. Dalam penerbitan obligasi 74 . termasuk dalam kaitannya dengan penerbitan obligasi atau Efek bersifat utang dapat diterapkan dengan memperhatikan beberapa unsur. Kewajiban Emiten Ketentuan pokok dalam perjanjian pinjam-meminjam adalah debitur wajib mengembalikan dalam jumlah dan keadaan yang sama dan pada waktu yang ditentukan – Pasal 1763 KUH Perdata.Jawaban Batasan hak dan kewajiban Wali Amanat terhadap Emiten Batasan hak dan kewajiban Wali Amanat terhadap pemegang obligasi/surat utang Batasan hak dan kewajiban Wali Amanat terhadap Regulator Jumlah Frekuensi 31 22 Prosentase 58. serta amanat UUPM kepada Bapepam untuk menetapkan pedoman kontrak perwaliamanatan. 12. Seluruh unsur tersebut dapat diterapkan sepanjang tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku – Pasal 1339 KUH Perdata.5 41. setelah unsur esensialianya diketahui secara pasti. Prinsip kebebasan berkontrak. Dalam penerbitan obligasi atau Efek bersifat utang unsur esensialia tampak dari adanya nilai pokok obligasi dan jatuh temponya obligasi dimaksud. unsur naturalis dan unsur aksidentalia.0 Mengingat posisi strategis Wali Amanat. menurut undang-undang dapat pula disepakati bahwa debitur wajib memberikan bunga tertentu kepada kreditur – 1765 KUH Perdata. baik dari sisi hukum maupun dari sisi kebutuhan atau dinamika pasar. Selain itu. yaitu unsur esensialia.

mewajibkan Emiten untuk menyampaikan pernyataan kesanggupan membayar obligasi 6 bulan sebelum jatuh tempo obligasi. 75 . rencana pembayaran obligasi minimal 1 tahun sebelum jatuh tempo obligasi. Kedua. Sedangkan efektifnya pemenuhan prinsip aksidentalia sangat tergantung dari apakah hal-hal tertentu. Ketiga pilihan di atas dapat dipilih untuk disepakati oleh para pihak dalam penerbitan obligasi. Kekuatan mengikat terhadap pemenuhan prinsip naturalia adalah demi hukum mengikat kedua belah pihak. Terkait dengan pertanyaan kepada responden tentang cara menjamin pembayaran atas pokok obligasi pada saat jatuh tempo. telah disepakati oleh para pihak dan tercantum dalam akta perjanjian. Namun demikian. meskipun misalnya tidak secara tegas tercantum dalam akta perjanjian bahwa Emiten (debitur) wajib mengembalikan nilai pokok obligasi yang diterbitkannya pada sauatu waktu tertentu. dan ketiga. Sedangkan unsur aksidentalia adalah unsur pelengkap dalam perjanjian yang secara bebas dapat disepakati oleh para pihak. maka sifat unsur aksidentalianya akan berubah menjadi unsur esensialia atau naturalia. jika salah satu atau seluruh cara tersebut di atas diadopsi dalam bentuk Peraturan Perundangundangan. misalnya kewajiban pembayaran bunga.atau Efek bersifat utang unsur naturalia tampak dari adanya kewajiban bagi penerbit (Emiten) untuk membayar obligasi yang diterbitkannya. Dalam penerbitan obligasi atau Efek bersifat utang unsur aksidentalia tampak dari adanya kesepakatan tingkat bunga atas obligasi yang diterbitkan Emiten. Cara pertama adalah dengan mewajibkan Emiten untuk menyampaikan kepada pemegang obligasi. mewajibkan Emiten untuk membuktikan bahwa telah terdapat dana untuk membayar obligasi di escrow account 3 bulan sebelum jatuh tempo. maka kita dapat mengkategorikan “cara menjamin pembayaran obligasi” dimaksud sebagai unsur aksidentalia yang dapat disepakati oleh para pihak.

pemberian hak untuk ditukar dengan saham (konversi) atau dengan penanggungan utang oleh pihak ketiga. Emiten tidak dapat menggunakan dana tersebut. Seperti telah disinggung sebelumnya bahwa penerbitan obligasi mengacu pada prinsip pinjam-meminjam.Dilihat dari sisi kebutuhan pasar. misalnya jika obligasi tersebut dijamin pelunasannya oleh pihak ketiga. begitu juga jika obligasi tersebut dijamin dengan aset tertentu yang menjadikan obligasi tersebut sebagai secured bond. Sedangkan cara ketiga (Membuktikan bahwa telah terdapat dana untuk membayar obligasi di escrow account 3 bulan sebelum jatuh tempo) lebih menjamin pemenuhan kewajiban kepada pemegang obligasi. Pembuatan escrow account oleh Emiten menjadi tidak terlalu diperlukan. karena dengan penempatan dana pada escrow account. misalnya dengan menempatkan jaminan kekayaan tertentu. 76 . Cara pertama dan kedua (menyampaikan rencana pembayaran obligasi minimal 1 tahun sebelum jatuh tempo obligasi atau menyampaikan pernyataan kesanggupan membayar obligasi 6 bulan sebelum jatuh tempo obligasi) memberikan kesempatan yang cukup memadai bagi investor (kreditur) untuk mempertimbangkan investasinya dan menilai kemampuan Emiten untuk melaksanakan kewajibannya kepada investor. selain untuk memenuhi kewajiban kepada pemegang obligasi. Meskipun cara yang ketiga secara umum memberikan perlindungan yang lebih baik kepada pemegang obligasi atau surat utang. ketiga cara tersebut memiliki keunggulan. karena adanya pihak lain yang menjamin obligasi dimaksud. Ketentuan hukum tentang pinjam-meminjam telah mengatur berbagai kemungkinan untuk menyelesaikan kewajiban debitur (Emiten) kepada para krediturnya (pemegang obligasi). namun terdapat beberapa hal yang menyebabkan hal tersebut kurang relevan.

Keterbukaan informasi. penyelesaian berdasarkan keputusan hakim atau menunjuk pihak lain (diluar pengadilan) untuk menyelesaikan perselisihan dimaksud. atau risiko tidak dipenuhinya berbagai persyaratan yang telah dijanjian. Mayoritas jawaban responden mengarah pada perlunya ada suatu mekanisme untuk menjamin pembayaran obligasi. antara lain perdamaian diluar pengadilan. Jika risiko tersebut terjadi. Namun mengingat sudah ada ketentuan hukum yang mengatur penyelesaian kewajiban terhadap pemegang obligasi. antara lain melalui penerbitan peraturan Bapepam. baik dalam perjanjian perwaliamanatan maupun dalam dokumen pendukung penerbitan obligasi tersebut. misalnya melalui arbitrase. 77 . terutama yang terkait dengan kemampuan Emiten untuk memenuhi kewajibannya terhadap pemegang obligasi menjadi mutlak adanya dan untuk mendorong pelaksanaan keterbukaan informasi tersebut diperlukan suatu kerangka hukum yang memadai. perdamaian didalam pengadilan. 13. Penyelesaian Sengketa di Pasar Modal Serta Biaya Perkara Seperti telah disinggung sebelumnya bahwa obligasi merupakan instrumen investasi yang mengandung berbagai risiko.Bentuk-bentuk menentukan penyelesaian kewajiban tersebut di atas turut tingkat risiko. maka aspek keterbukaan informasi menjadi issue penting untuk meningkatkan awareness terhadap risiko yang dihadapinya. dalam bentuk atau cara yang beragam. Terdapat beberapa cara yang dapat ditempuh oleh para pihak yang terkait dengan obligasi. dan satu hal yang harus memperoleh perhatian adalah kenyataan bahwa obligasi atau Efek bersifat utang merupakan salah satu jenis instrumen investasi yang tentu saja mengandung risiko. antara lain risiko gagal bayar (default). terdapat kemungkinan terjadi perselisihan atau perbedaan pendapat tentang pelaksanaan persyaratan yang telah disepakati sebelumnya.

mandiri. Simplifikasi dari kompleksitas persengketaan yang ada di Pasar Modal amat dibutuhkan guna mendukung kelancaran kegiatan pasar modal. dan adil. sebutkan 2 3. mengingat arbritase. terlihat korelasi dan relevansi yang erat dengan kecenderungan mayoritas responden untuk 78 . Mayoritas responden (71.5 Bapepam 7 13. misalnya melalui Badan Arbitrase Nasional (BANI) menjanjikan penyelesaian perkara secepat mungkin dan dengan biaya seminimal mungkin. Upaya perdamaian diluar pengadilan dapat dipandang sebagai upaya penyelesaian yang terbaik. sedangkan jangka waktu penyelesaian paling lama 180 (seratus delapan puluh) hari sejak tanggal Majelis selengkapnya terbentuk (Peraturan Prosedur Badan Arbitrase Nasional Indonesia Pasal 4 ayat (6) dan ayat (7) serta Pasal 32).2 Lembaga lain. transparan. fair dan relatif cepat. tergantung besarnya nilai tuntutan.Pada prinsipnya para pihak akan memilih bentuk penyelesaian yang paling cepat.0 Besarnya biaya ditentukan antara 0.8 Jumlah 53 100. murah dan fair. mengingat dapat dilakukan dengan biaya rendah. Namun demikian jika hal tersebut tidak tercapai. disamping menempuh upaya akhir di pengadilan.8 Badan Arbitrase Pasar Modal 38 71. sehingga pada tanggal 9 Agustus 2002 telah dibentuk Badan Arbitrase Pasar Modal Indonesia (BAPMI) yang bertujuan memfasilitasi sarana alternatif penyelesaian sengketa dibidang Pasar Modal yang cepat. Sejalan dengan keberadaan serta tujuan BAPMI. maka penyelesaian perselisihan melalui arbitrase merupakan upaya penyelesaian yang cukup menarik.7%) mengendaki penyelesaian perselisihan antara Emiten dengan pemegang obligasi dilakukan melalui arbitrase.4% sampai dengan 10%. Jawaban Frekuensi Prosentase Tidak jawab 2 3. Hal tersebut sangat beralasan.7 Indonesia (BAPMI) Pengadilan Umum 4 7.

khususnya yang terkait dengan perluasan atau pemberdayaan peran Wali Amanat dan upaya peningkatan efektifitas pelaksanaan fungsi Wali 79 .0 Proses peradilan di Indonesia umumnya membebankan biaya perkara kepada penggungat. Mayoritas responden (81.menyelesaikan sengkata antara Emiten dengan Pemegang Obligasi melalui arbitrase.8 Wali Amanat 4 7.1 Pemegang Obligasi 4 7. maka biaya perkara wajib dibayar oleh Emiten?”. baik melalui pengadilan maupun arbitrase adalah biaya perkara. 14. Namun demikian.5 Jumlah 53 100. maka untuk merespon jawaban responden tersebut diperlukan penelaahan yang lebih mendalam. jika perkara tersebut diputuskan dengan perdamaian antara para pihak yang bersengketa. jika hakim sudah memeriksa perkara dan telah menetapkan putusan (vonis). Biaya perkara yang harus dibayar oleh pihak yang dinyatakan bersalah merupakan salah satu bentuk hukuman kepada yang bersangkutan.5 Emiten 43 81.1%) menghendaki biaya perkara dibebankan kepada Emiten. Mengingat sepanjang penelitian yang dilakukan belum didapatkan dasar hukum yang memadai. Jawaban Frekuensi Prosentase Tidak jawab Penjamin Emisi Obligasi 2 3. dalam hal ini BAPMI. maka biaya perkara biasanya dibebankan kepada pihak yang dinyatakan bersalah oleh hakim. khususnya untuk menjawab pertanyaan “apakah dengan prinsip kebebasan berkontrak dapat disepakati bahwa jika pada waktu yang akan datang terjadi sengketa di pengadilan atau arbitrase. Satu permasalahan yang terkait dengan penyelesaian sengketa di pasar modal. Usulan / masukan responden Dalam penyebaran kuesioner. tim memberikan kesempatan kepada responden untuk memberikan usulan/masukan secara tertulis.

memperoleh informasi lain dari Emiten terkait dengan corporate action yang dilakukan emiten i. Pengawasan atas kinerja finansial b. baik di dalam maupun diluar pengadilan. Sebagaimana pembahasan sebelumnya. mengeksekusi jaminan bila emiten terjadi wanprestasi h. yang menyebutkan bahwa “Wali 80 . pengawasan penerapan Standard Operating Procedures e. bahwa asal kewenangan Wali Amanat pada awalnya berasal dari kuasa yang diberikan oleh UUPM kepada Wali Amanat dimaksud. Menjawab pertanyaan mengenai perlukah adanya perluasan peran Wali Amanat selain sebagai wakil pemegang Obligasi di luar maupun di dalam Pengadilan. Pengawasan atas keamanan status barang jaminan obligasi c. antara lain dengan menambahkan beberapa kewenangan / atribut yang dirasa perlu untuk dapat berperan secara efektif sebagai Wali Amanat. mewakili kepentingan pemegang obligasi. Kewenangan atau atribut tersebut adalah untuk melakukan pengawasan atas seluruh aspek dari Emiten yang terkait dengan kepentingan pemegang obligasi atau Efek bersifat utang yang diterbitkan Emiten dimaksud. pengawasan on the spot d. Beberapa masukan responden di atas. antara lain: a.8%) berpendapat bahwa peran Wali Amanat perlu tingkatkan. pengawasan penggunaan dana hasil penjualan obligasi f. pencantuman negative covenants dalam perjanjian perwaliamanatan atau perjanjian lain yang dapat merugikan pemegang obligasi g. mayoritas responden (55.Amanat dalam mengawasi dan mewakili kepentingan pemegang obligasi. secara umum sudah terakomodir dalam ketentuan peraturan perundangundangan (Pasal 51 ayat (2) UUPM). Secara umum.

termasuk pinjam meminjam dapat dibedakan menjadi 3 jenis. kepentingan utama dari kreditur adalah pembayaran bunga dan pengembalian pokok pinjaman dalam jumlah yang telah disepakati tepat pada waktunya. Untuk menguraikan hal tersebut kita dapat melakukan analisis atas perbuatan hukum penerbitan obligasi dengan menggunakan ketentuan pasal 1233 KUH Perdata.Amanat mewakili kepentingan pemegang Efek bersifat utang baik didalam maupun diluar pengadilan”. lingkup dari “kepentingan” meliputi juga juga segala sesuatu yang menurut sifat persetujuan dituntut berdasarkan keadilan. Persoalan lebih lanjut adalah apa yang dimaksud atau ruang lingkup dari “kepentingan” dalam frase “kepentingan pemegang Efek bersifat utang” tersebut?. yaitu untuk memberikan atau menyerahkan sesuatu. sesuai ketentuan Pasal 1339 KUH Perdata. kebiasaan atau undang-undang. Untuk menjamin agar debitur dapat melakukan pembayaran bunga dan pengembalian pokok pinjaman dalam jumlah yang telah disepakati tepat pada waktunya. Berdasarkan Pasal 1233 KUH Perdata. bahwa dasar dari penerbitan obligasi adalah perikatan pinjam-meminjam (utang piutang). untuk melakukan sesuatu dan untuk tidak melakukan sesuatu. dapat disepakati hal-hal apa saja yang dapat atau harus dilakukan oleh debitur dan hal-hal apa saja yang dilarang dilakukan oleh debitur. Jika suatu perjanjian perwaliamanatan tidak secara tegas mengatur tentang hal-hal yang harus atau dilarang dilakukan oleh Emiten. 81 . Dalam kaitannya dengan perikatan pinjam-meminjam. maka batasan dari “kepentingan” menjadi kurang jelas. Namun demikian. Sebagaimana telah disinggung diatas. Kepentingan para pihak dalam perikatan sesungguhnya tercermin dari dicantumkannya klausula yang mencakup 3 hal tersebut di atas. menurut isinya suatu perikatan.

akan lebih baik dan memberikan kepastian hukum apabila seluruh hal atau kewenangan yang sewajarnya dimiliki oleh Wali Amanat agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik. 82 . Untuk itu. Sedangkan dari sisi regulasi. selayaknya Bapepam memberikan panduan tentang lingkup “kepentingan pemegang Efek bersifat utang” dalam bentuk peraturan perundang-undangan (Peraturan Bapepam). berdasarkan pasal 1233 KUH Perdata. dicantumkan dalam perjanjian perwaliamanatan. dengan mempertimbangkan kepentingan berbagai pihak.Disadari bahwa Penerapan pasal 1339 KUH Perdata yang dapat ditafsirkan sedemikian luas tidaklah memberikan suatu kepastian hukum yang memadai akan hak dan kewajiban para pihak dalam penerbitan obligasi.

Pola Kontrak Perwaliamanatan di Indonesia Dalam praktek penerbitan efek bersifat utang (obligasi) di Pasar Modal Indonesia. Tata Cara Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) l. Tugas.BAB IV KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Imbalan Jasa Wali Amanat f. hal-hal pokok yang lazim diperjanjikan sehingga membentuk suatu pola kontrak perwaliamanatan. Pernyataan dan Jaminan Wali Amanat j. dapat diuraikan sebagai berikut : a. Definisi b. Kelalaian Emiten k. Serta Berhentinya Wali Amanat e. Penunjukan Wali Amanat oleh Emiten d. Syarat-syarat Efek Bersifat Utang/Obligasi g. Jaminan m. Pernyataan dan Jaminan Emiten 83 . Pembatasan-pembatasan dan Kewajiban Emiten h. Kuasa Pemegang Obligasi Kepada Wali Amanat i. Hak dan Kewajiban Wali Amanat. Kelalaian Wali Amanat n. Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum c. KESIMPULAN Dari pemaparan dan analisis atas hasil penelitian dari Tim Studi yang telah diungkapkan pada BAB III. maka beberapa kesimpulan yang dapat diambil antara lain: 1.

serta Wali Amanat bertindak sebagai penanggung atas efek bersufat utang yang diwaliamanatinya. hubungan afiliasi dengan Penjamin Emisi Efek bersifat utang. Keberadaan Wali Amanat di pasar modal Indonesia. Hal ini membuat Wali Amanat dan Emiten tidak mempunyai dasar acuan dalam merundingkan ketentuan-ketentuan 84 . yaitu: a. Ketiadaan pedoman/standar dalam penyusunan kontrak perwaliamanatan. Ketentuan-ketentuan Lain r. dengan Emiten dan dengan sesama Wali Amanat. penunjukan Wali Amanat yang sering dilakukan tanpa memberikan waktu yang cukup untuk melakukan pengkajian secara mendalam. b. Keadaan Memaksa (Force Majeure) p. Masalah dan Kendala Yang Dihadapi Wali Amanat Secara umum terdapat 5 (lima) masalah pokok yang dihadapi Wali Amanat dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Benturan Kepentingan Dalam Pelaksanaan Tugas Wali Amanat Benturan kepentingan dapat terjadi karena adanya hubungan kredit dan afiliasi dengan Emiten. Permasalahan yang timbul adalah ketidaksejajaran kedudukan Wali Amanat dengan Emiten. serta belum adanya kode etik yang mengatur hubungan Wali Amanat dengan Pemegang Efek bersifat utang. karena penunjukan dan pembayaran imbalan jasa Wali Amanat dilakukan oleh Emiten. c. Fungsi dan Tugas Wali Amanat yang tercantum dalam UU Pasar Modal belum terdapat pengaturan pelaksanaannya. sehingga hal tersebut mempersulit dalam pelaksanaan kegiatan Wali Amanat d. Penyelesaian perselisihan 2. Pemberitahuan q.o.

Penggunaan Dana hasil Emisi Efek bersifat utang perlu diatur secara rinci dalam kontrak perwaliamanatan. 3. Kesulitan utama yang timbul adalah masalah pembiayaan dalam hal terjadi sengketa dengan Emiten yang harus diselesaikan lewat badan peradilan. sehingga dalam praktik hal tesebut tergantung pada posisi tawar dan kemampuan bernegosiasi masing-masing pihak. beberapa masukan yang penting antara lain: a. Besarnya batasan hubungan kredit yang diusulkan tidak lebih dari 10 s/d 30% dari nilai pokok efek bersifat utang. Hubungan kredit antara Wali Amanat dan Emiten perlu dibatasi. sinking fund dan kewajiban melakukan pemeringkatan secara berkala merupakan hal yang dapat memberikan keamanan bagi pihak pemegang efek bersifat utang atas investasinya. para pihak yang terlibat dalam negosiasi memerlukan suatu pedoman yang dapat dijadikan acuan dalam menentukan hal-hal yang wajib dimuat dalam kontrak perwaliamanatan. e. e. Wali Amanat perlu secara aktif memonitor hal tersebut dan perlu ada konsekuensi hukum atas kegagalan Wali Amanat memenuhi tugas tersebut. Dalam pembuatan kontrak perwaliamanatan.dalam Kontrak Perwaliamanatan. b. Adanya jaminan khusus. d. 85 . Ketentuan mengenai pembelian kembali efek bersifat utang oleh emiten memerlukan pengaturan untuk kepastian hukumnya. Masukan Dari Para Pelaku Pasar Modal Dari jawaban dan masukan atas kuesioner yang diedarkan. Tindakan yang diambil Wali Amanat Dalam hal Emiten Wanprestasi. c.

Penunjukan dan masa jabatan Wali Amanat perlu didasarkan pada kinerja Wali Amanat dalam melaksanakan tugasnya. Rapat Umum Pemegang Efek bersifat utang yang diselenggarakan secara berkala maupun secara insidentil dalam hal pembahasan suatu hal tertentu dipandang sebagai forum utama yang penting bagi para pemegang efek bersifat utang. Ketentuan mengenai pembatasan hak dan kewajiban Wali Amanat terhadap Emiten merupakan hal yang paling penting diatur dalam kontrak perwaliamanatan. g. j. f. Membuat pernyataan kesanggupan melunasi utang pokok pada enam bulan sebelum jatuh tempo. sudah sepantasnya dibebankan kepada pihak Emiten sendiri. sebulan sebelum jatuh temponya efek bersifat utang. dan Membuktikan adanya dana pada escrow account untuk pelunasan utang pokok.terutama dari segi kepastian hak-hak yang timbul keadilan dalampelaksanaannya dan keterbukaan informasi yang harus dilakukan Emiten. Emiten perlu melakukan beberapa hal sebagai berikut: Melaporkan rencana pembayaran utang pokok kepada Wali Amanat setahun sebelum jatuh tempo. Biaya-biaya yang timbul dari kegiatan penyelesaian sengketa antara Emiten dengan pemegang efek bersifat utang karena wan prestasi Emiten. 86 . Guna mengamankan pembayaran utang pokok Emiten pada saat jatuh tempo. h. i.

konsekuensi hukum. tugas dan tanggung jawab Wali Amanat. Sebagai salah satu landasan hukum utama bagi para pihak yang terlibat. antara lain: a.B. pembatasanpembatasan. Bapepam selaku regulator dengan mempertimbangkan masukan-masukan dari berbagai pelaku pasar yang berkepentingan. sebagai berikut: 1. dan lain sebagainya. Beberapa masukan mengenai isi ketentuan perdoman kontrak perwaliamanatan tersebut. pedoman kontrak perwaliamanatan ini perlu mengatur ketentuan minimal yang harus dimuat berkenaan dengan aspek hubungan para pihak. maka Tim Studi mengajukan beberapa rekomendasi berkenaan dengan permasalahan perwaliamanatan di Indonesia. Adanya jaminan khusus. sinking fund dan kewajiban melakukan pemeringkatan secara berkala merupakan hal 87 . hak dan kewajiban Emiten dan pemegang obligasi. b. REKOMENDASI Berdasarkan kesimpulan-kesimpulan yang telah diperoleh Tim Studi sebagaimana tersebut di atas. Wali Amanat perlu secara aktif memonitor hal tersebut dan perlu ada konsekuensi hukum atas kegagalan Wali Amanat memenuhi tugas tersebut. perlu menyusun suatu pedoman yang dapat dijadikan dasar oleh para pihak dalam penyusunan Kontrak Perwaliamanatan. c. Penggunaan Dana hasil Emisi Efek bersifat utang perlu diatur secara rinci. Pedoman Kontrak Perwaliamantan Perlu disusun suatu pedoman mengenai kontrak perwaliamanatan di Pasar Modal Indonesia.

Wali Amanat dituntut mampu bersikap profesional dan independen agar aspek perlindungan terhadap investor selalu terjaga. Independensi dan profesionalisme Wali Amanat Dalam pelaksanaan tugasnya. Ketentuan mengenai rincian pembatasan hak dan kewajiban Wali Amanat terhadap Emiten merupakan hal yang penting diatur dalam kontrak perwaliamanatan. antara lain: 88 . d. Ketentuan mengenai pembelian kembali efek bersifat utang oleh emiten memerlukan pengaturan untuk kepastian hukumnya.yang dapat memberikan keamanan bagi pihak pemegang efek bersifat utang. g. Untuk itu beberapa keadaan yang dapat mengakibatkan benturan kepentingan dalam pelaksanaan tugas tersebut harus dibatasi dan diawasi pemenuhannya oleh Bapepam. Perlu adanya pengaturan secara lebih rinci mengenai pemberian ganti rugi kepada pemegang efek bersifat utang atas kelalaian Wali Amanat dalam pelaksanaan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 53 UU Pasar Modal. f. terutama dari segi kepastian hak-hak yang timbul keadilan dalam pelaksanaannya dan keterbukaan informasi yang harus dilakukan Emiten. e. Penunjukan dan masa jabatan Wali Amanat perlu didasarkan pada kinerja Wali Amanat dalam melaksanakan tugasnya. h. Rapat Umum Pemegang Efek bersifat utang yang diselenggarakan secara berkala maupun secara insidentil dalam hal pembahasan suatu hal tertentu dipandang sebagai forum utama yang penting bagi para pemegang efek bersifat utang. 2.

Pengecualian yang diperbolehkan hanya dalam hal hubungan afiliasi tersebut terjadi karena kepemilikan atau penyertaan modal Pemerintah. Melaporkan rencana pembayaran utang pokok kepada Wali Amanat setahun sebelum jatuh tempo. Tidak boleh terdapat hubungan afiliasi sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 1 angka 1 UU Pasar Modal. Guna mengamankan pembayaran utang pokok Emiten pada saat jatuh tempo. b. 4. 3. Membuktikan adanya dana pada escrow account untuk pelunasan utang pokok. Emiten perlu diwajibkan melakukan beberapa hal sebagai berikut: a. sebulan sebelum jatuh temponya efek bersifat utang.a. sudah sepantasnya dibebankan kepada pihak Emiten 89 . profesionalisme Wali Amanat perlu didukung juga dengan adanya suatu kode etik dan standar profesi Wali Amanat. antara Wali Amanat dengan Emiten dan Penjamin Emisi Efek bersifat utang. Membuat pernyataan kesanggupan melunasi utang pokok pada enam bulan sebelum jatuh tempo. Selain itu. dan c. c. Hubungan kredit yang mungkin timbul antara Wali Amanat dengan Emiten perlu dibatasi dalam jumlah yang tidak melebihi antara 10% s/d 30% dari nilai pokok efek bersifat utang yang diterbitkan Emiten. Wali Amanat tidak boleh menjadi penanggung (guarantor) atas utang Efek bersifat utang dimana dia bertindak sebagai Wali Amanat. Biaya-biaya yang timbul dari kegiatan penyelesaian sengketa antara Emiten dengan pemegang efek bersifat utang karena wan prestasi oleh Emiten. b.

dirasakan perlu adanya suatu pencadangan dana yang sengaja disisihkan oleh Emiten dalam jumlah tertentu untuk keperluan tersebut. Agar mempermudah Wali Amanat dalam menarik dana untuk membiayai proses litigasi tersebut. *** 90 .sendiri.

SH. 3. Drs. 2. Suharyono Asima Nurbetty . MM Tuahta Aloy Saragih. 8. SE Muhamad Halamsyah. ComLaw Ali Ridwan. SH Adi Suryono V. SH Halim Haryono. 6. Djunggu H. 7. STAF SEKRETARIAT 1. SE Bayu Bandono. SEKRETARIS Heru Nugroho. SE Imam Cahyadi. 4. KETUA 1. 9. 5.Lampiran 1 ANGGOTA TIM STUDI TENTANG PERWALIAMANATAN DI PASAR MODAL INDONESIA I. SE IV. MSi Sutrisno. PEMBANTU PELAKSANA 1. SH. 4. Sitorus. SH. SH II. MM Luthfy Zain Fuady. 2. MM III. SH. MM Pudjo Damaryono. 2. SH. Imam Mundir Gunarsih D. SH Suciya Wardaya. 3. PELAKSANA 1. Monang Situmeang. 2.

7.J. 10. 6. 1. Punu PT Bank Niaga Tbk Urip Suprodjo PT Pefindo Heyder Bachsin PT Kasnic Rating Indonesia Kabani PT Trimegah Securities Joseph Ginting PT Reliance Securities PROFESI Konsultan Hukum Konsultan Hukum Notaris Notaris 5. NARASUMBER Sumaryono. SH Sri Indrastuti Hadiputranto Dina Chozie Sugeng Santoso. Wali Amanat Wali Amanat Pemeringkat Efek Pemeringkat Efek Investor Investor . 2. Irwan Santoso. 8. dan Yulius Purnawan Sarmiati AS PT Bank Mega Tbk Teddy O. 9.Lampiran 2 DAFTAR NARASUMBER STUDI PERWALIAMANATAN DI PASAR MODAL INDONESIA NO. 3. 4.

atas kesediaan Saudara meluangkan waktu untuk mengisi dan mengembalikan kuesioner ini kami ucapkan banyak terima kasih. Mengetahui kendala-kendala yang dihadapi Wali Amanat dalam menjalankan tugas dan fungsinya.id Nomor Sifat Lampiran Perihal : : : : S. Tim Studi ini dibentuk dengan maksud dan tujuan: a. Koordinator Tim Studi Kebijakan Bapepam 2. Pelaksanaan studi lapangan oleh Tim Studi ini salah satunya dilakukan dengan melakukan penyebaran kuesioner guna memperoleh sejumlah informasi dari para pelaku pasar modal di Indonesia. Kuesioner yang telah diisi dengan lengkap dapat dikembalikan kepada kami melalui pos.4123 / HP 081310226824 Fax.com 5. Wahidin Jakarta 10710 Telephone Faksimilie Email 3858001 3857917 bapepam@bapepam. Mendapatkan informasi mengenai bagaimana perlindungan terhadap investor obligasi di Pasar Modal Indonesia dapat lebih ditingkatkan. Jawaban dan masukan Saudara atas kuesioner ini bersifat rahasia dan hanya semata-mata digunakan untuk kepentingan studi.go.1 Jakarta Pusat 10710 Telp. Responden Studi Perwaliamanatan Di Pasar Modal Indonesia Sehubungan dengan telah dibentuknya Tim Studi Mengenai Perwaliamanatan Di Pasar Modal Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan RI No. Dr. : (021) 3858001 ext. 256/KM. 3.1/2005 tentang Pembentukan Tim Studi Perwaliamanatan Di Pasar Modal Indonesia. dengan ini dapat kami sampaikan hal-hal sebagai berikut: 1. 2. b.PWA/2005 Segera 1 (satu) berkas Permintaan Pengisian Kuesioner 21 September 2005 Yth. Untuk itu. email ataupun kurir selambat-lambatnya pada 30 September 2005 kepada alamat tersebut di atas. Pertanyaan lebih lanjut atas kuesioner kami dapat Saudara tujukan kepada: Heru Nugroho Sekretaris Tim Studi Perwaliamanatan di Pasar Modal Indonesia Proyek Peningkatan Efisiensi Pasar Modal Badan Pengawas Pasar Modal Alamat : Gedung Baru Dep Keu Lantai 4. 4. Demikian. Mengetahui serta mempelajari pola perjanjian perwaliamanatan dalam penerbitan obligasi antara Wali Amanat dan Emiten.28 /PM/TS. Ketua Tim Studi Perwaliamanatan Di Pasar Modal Indonesia Djunggu H Sitorus NIP 060044939 Tembusan: 1.go.Lampiran 3 DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL TIM STUDI PERWALIAMANATAN DI PASAR MODAL INDONESIA Gedung Baru Departemen Keuangan RI Lt. Badan Pengawas Pasar Modal Jl. Tim Studi mohon kesediaan Saudara untuk bertindak sebagai responden dengan mengisi dan menyerahkan kembali kuesioner sebagaimana terlampir dalam surat ini. serta solusi atas permasalahan dimaksud. Wahidin Raya No. faksimili. c. Sekretaris Bapepam .id atau heru91nugroho@yahoo. : (021) 3857917 Email : heru@bapepam.3-8 Jalan Dr.

....................... apakah hubungan kredit antara Wali Amanat dengan Emiten Obligasi perlu dibatasi karena akan menimbulkan benturan kepentingan dalam pelaksanaan tugas Wali Amanat? Ya Tidak 7........... sebutkan:...................................... Menurut Anda sampai sejauhmana hubungan afiliasi antara Wali Amanat dengan Emiten yang dapat mengakibatkan benturan kepentingan? ............................... Menurut Anda............................................................................. ........... Menurut Anda.............................................. : .......................................... PADAJAWABAN YANG ANDA PILIH..... Menurut Anda.......... ............................................................................. 8............................. jika perubahan pengunaan dana hasil emisi Obligasi hanya disetujui oleh Wali Amanat saja tanpa melalui RUPO? Sangat setuju Setuju Tidak setuju Sangat tidak setuju 5.......... PETUNJUK PENGISIAN: BERILAH TANDA 1.................... perlukah rencana penggunaan dana hasil emisi obligasi diatur secara rinci dalam kontrak perwaliamanatan? Sangat perlu Perlu Kurang perlu Tidak perlu 3................................................. Bagaimana pendapat Anda....... perlukah terdapat suatu pedoman mengenai kontrak perwaliamanatan di pasar modal Indonesia? Sangat perlu Perlu Kurang perlu Tidak perlu PENGGUNAAN DANA 2..... ..................................... perlukah Wali Amanat diwajibkan secara aktif memonitor penggunaan dana emisi obligasi dan melaporkan hasilnya kepada Publik dan Bapepam? Sangat perlu Perlu Kurang perlu Tidak perlu 4.....................................NAMA JABATAN : .. Jika jawaban Anda di atas ya............................................................................... perlukah diatur mengenai konsekuensi hukum alas kelalaian Wali Amanat memonitor penggunaan dana hasil emisi obligasi? Sangat perlu Perlu Tidak perlu Sangat tidak perlu HUBUNGAN KREDIT 6............................ Menurut Anda......... berapa batasan ideal hubungan kredit antara Wali Amanat dengan Emiten? Tidak lebih dari 10% dari Nilai pokok Obligasi Emiten Tidak lebih dari 20% dari Nilai pokok Obligasi Emiten Tidak lebih dari 30% dari Nilai pokok Obligasi Emiten Tidak lebih dari 50% dari Nilai pokok Obligasi Emiten Jumlah lain......................... Menurut anda...............

...... SINKING FUND 12....... Jika jawaban anda atas pertanyaan nomor 10 adalah kurang/tidak setuju...................................... ................................................................................................ Setujukah anda jika hubungan afiliasi antara Penjamin Emisi Efek dengan Wali Amanat perlu dilarang agar masing-masing dapat melaksanakan tugasnya dengan independen? Sangat Setuju Setuju Kurang setuju Tidak Setuju JAMINAN 10.... Setujukah anda jika Emiten yang mengalami penurunan peringkat obligasi diwajibkan untuk memberikan atau menambah jaminan atas obligasi yang diterbitkan? Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju ... Setujukah anda jika terdapat kewajiban untuk melakukan pemeringkatan tiap tahun dan/atau pemeringkatan inisidentil dalam hat terjadi keadaan yang secara material mempengaruhi kemampuan Emiten membayar utang obligasi yang diterbitkannya? Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju 15................................ menurut anda masalah apakah yang mungkin timbul jika Emiten tidak diwajibkan untuk memberikan jaminan atas penerbitan obligasi? ..................................................... Setujukah anda jika terdapat dana yang dicadangkan oleh Emiten untuk digunakan Wali Amanat membiayai tindakan hukum........ dalam hat Emiten mengalami wan prestasi atas utang obligasi? Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju PEMERINGKATAN OBLIGASI 14. Setujukah anda jika dalam penerbitan obligasi Emiten diwajibkan untuk memberikan jaminan khusus atas penerbitan obligasi? Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju 11............................................................ Setujukah anda jika dalam penerbitan obligasi Emiten diwajibkan untuk mencadangkan sinking fund bagi pelunasan obligasi yang diterbitkan? Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju 13................................................................................................................................................ .............9.

......... misalnya penggantian Wali Amanat........................24 21......... perlukah diatur tentang korum RUPO untuk dapat mengambil keputusan? Sangat perlu Perlu Tidak perlu Sangat tidak perlu .......................BUY BACK OBLIGASI 16. maka bagaimana sebaiknya pengaturan buy back tersebut dilakukan? Diatur di dalam Perjanjian Perwaliamanatan....... 18....................... ............... merupakan kewenangan RUPO: Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju 22.... lanjutkan ke no.. apabila Emiten sedang dalam keadaan wanprestasi atas ketentuan kontrak perwaliamanatan yang dibuatnya? Sangat Setuju Setuju Kurang setuju Tidak Setuju 19.................................... dan restrukturisasi surat utang (debt to equity swap/ debt to debt swap/ debt to asset swap)..... perubahan tingkat bunga........................... Jika jawaban Anda atas pertanyaan no...... setujukah anda jika Emiten tetap dimungkinkan untuk melakukan buy back atas obligasi yang diterbitkan? Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Jelaskan jawaban Anda: ......... 20 adalah "sangat perlu atau perlu"... menurut pendapat Anda.............. Jika anda setuju untuk pertanyaan di atas............... perpanjangan jangka waktu pelunasan surat utang (roll over).... Jika Emiten mengalami keuntungan yang siginifikan dalam laporan keuangan tahun berjalan dan keuntungan tersebut diperoleh dari kegiatan yang dibiayai oleh penerbitan obligasi.... RAP AT UMUM PEMEGANG OBLIGASI 20.... Setujukah anda jika Emiten dilarang membeli kembali obligasi yang diterbitkannya....... setujukah Anda jika perubahan perjanjian perwaliamanatan yang signifikan...... perlukah diselenggarakan RUPO baik secara berkala maupun insidentil? Sangat perlu Perlu Tidak perlu Sangat tidak perlu Jika jawaban Anda tidak perlu atau sangat tidak perlu. Setujukah anda jika Emiten dimungkinkan melakukan pembelian kembali (buy back) atas obligasi yang diterbitkannya? Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju 17. Diatur dalam peraturan Bapepam tersendiri.. Menurut pendapat Anda................................. 21 adalah "sangat setuju atau setuju".......................... Jika jawaban Anda alas pertanyaan no....... Tidak ditentukan pengaturannya secara khusus dan diserahkan kepada kesepakatan para pihak..

.................... 22 adalah "sangat perlu atau perlu"........... kewajiban serta tanggung jawab Wali Amanat dituangkan? Dituangkan dalam peraturan perundang-undangan Ditetapkan berdasar asas kebebasan berkontrak Ditetapkan berdasar kewenangan Emiten Ditetapkan berdasar kewenan an Wali Amanat 30........ Menurut pendapat Anda... PENGAKHIRAN TUGAS DAN PENGGANTIAN WALI AMANAT 25.....23........... 20 adalah "tidak perlu atau sangat tidak perlu"............................ Batasan hak dan kewajiban Wali Amanat terhadap Regulator........... perlukah ditetapkan semacam standar atau kriteria untuk menilai kinerja atau tingkat pemenuhan kewajiban dan tanggung jawab Wali Amanat? Sangat perlu Perlu Tidak perlu Sangat tidak perlu .......... PENUNJUKAN.. Jika jawaban Anda atas pertanyaan no. menurut pendapat Anda bagaimana sebaiknya pengaturan tentang korum? Ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan Ditetapkan berdasar asas kebebasan berkontrak Ditetapkan berdasar kewenangan Emiten Ditetapkan berdasar kewenangan Wali Amanat 24................ Menurut pendapat Anda........... siapakah yang paling kompeten untuk mengangkat (termasuk mengganti) dan memberhentikan Wali Amanat? (kecuali untuk pengangkatan pertama kali) Para pemegang obligasi surat utang Emiten Regulator.... BATASAN HAK...... sebutkan: . Menurut pendapat Anda. Jika jawaban Anda atas pertanyaan no........ Menurut Anda........ sebutkan: . Batasan hak dan kewajiban Wali Amanat terhadap pemegang obligasi/surat utang..... KEWAJIBAN DAN TANGGUNG AWAB WALI AMANAT 28......... bagaimanakah sebaiknya pengaturan tentang batasan hak. Setujukah Anda jika mekanisme penggakhiran tugas Wali Amanat ditentukan berdasarkan kinerja Wali Amanat dalam melaksanakan tugasnya? Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju 27.... 29... makakah dari 3 (tiga) hal berikut ini yang paling penting untuk diatur? Batasan hak dan kewajiban Wali Amanat terhadap Emiten ............ berdasarkan peraturan perundang-undangan Pihak lain................... menurut pendapat Anda apakah media yang paling tepat bagi pemegang obligasij surat utang untuk menyalurkan aspirasinya? Regulator Wali Amanat Emiten Pihak lain. Setujukah Anda jika mekanisme penggakhiran tugas Wali Amanat ditentukan berdasarkan masa jabatan tertentu? Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju 26................

......... berapakah lamanya waktu yang cukup bagi Emiten untuk memperbaikinya agar tidak dinyatakan cedera janji ? 5 (lima) hari kerja 7 (tujuh) hari kerja 14 (empat belas) hari kerja 1 (satu) bulan ......... perlukan Emiten diwajibkan untuk: a.......... apakah konsekuensi paling logis jika Wali Amanat tidak dapat menunjukkan kinerja yang baik? (tidak memenuhi standar dan kriteria sebagaimana dimaksud pada pertanyaan no.... IMBALAN JASA WALI AMANAT 33......... atau pembatalan Surat Tanda Terdaftar sebagai Wali Amanat) Tindakan tertentu lainnya...................... Menurut pendapat Anda.... Jika jawaban Anda atas pertanyaan no. Menyampaikan rencana pembayaran obligasi minimal 1 tahun sebelum jatuh tempo obligasi : Sangat perlu Perlu Tidak perlu Sangat tidak perlu b.... sebutkan: .... pembatasan kegiatan usaha.......... 31) Pemberian kesempatan bagi Wali Amanat untuk memperbaiki kinerjanya Pemberhentian Wali Amanat disertai kewajiban memberikan ganti kerugian (jika timbul kerugian karena kelalaian Wali Amanat dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya) Tindakan tertentu oleh regulator terhadap Wali Amanat (misalnya peringatan..31..... siapakah pihak yang menurut Anda paling kompeten untuk merumuskan standar atau kriteria tersebut? Organisasi atau asosiasi para Wali Amanat Regulator Emiten bersama Wali Amanat Pihak lain.. 30 adalah "sangat perlu atau perlu"....... sebutkan: ............. Untuk menjamin pembayaran pokok Obligasi pada saat jatuh tempo................ Menyampaikan pernyataan kesanggupan membayar obligasi 6 bulan sebelum jatuh tempo obligasi: Sangat perlu Perlu Tidak perlu Sangat tidak perlu c..... menurut anda. menurut anda... apakah besarnya imbalan jasa (fee) bagi Wali Amanat saat ini sudah sesuai dengan tugas dan tanggung jawab yang diemban oleh Wali Amanat dalam mewakili kepentingan Pemegang Obligasi? Ya Tidak Tidak tahu KEWAJIBAN EMITEN 34.......... Menurut anda............................... Dalam hat terjadi pelanggaran kontrak perwaliamanatan.... 32........ Membuktikan bahwa telah terdapat dana untuk membayar obligasi di escrow account 3 bulan sebelum jatuh tempo: Sangat perlu Perlu Tidak perlu Sangat tidak perlu 35...

......................... BIAYA-BIAYA PERKARA 37.......................... ..................... Menurut anda............................................................................................... Menurut Anda........ Terima Kasih atas kesediaan Anda menyediakan waktu untuk mengisi kuesioner kami .............................. ............................................................................... lembaga mana yang paling tepat dan efisien dalam menyelesaikan sengketa antara Emiten dengan Pemegang Obligasi? Badan Arbitrase Pasar Modal Indonesia (BAPMI) Pengadilan Umum Bapepam Lembaga lain..... Dalam hal perlu........................................................................................... siapakah pihak yang wajib menanggung biaya-biaya yang timbul? Penjamin Emisi Obligasi Wali Amanat Emiten Pemegang Obligasi 38....36........................................................................................... .......................................................... untuk kemudian meminta kepada Emiten mengganti semua biaya-biaya tersebut? Ya Tidak USULAN/MASUKAN ANDA 39........................ sebutkan: ............... 40............................................................................................ jelaskan jawaban Saudara dalam hal apa peran tersebut perlu diperluas: .................................................................................................................................................................................................................... Menurut Anda.......... dalam hal terjadi sengketa antara Emiten dengan Pemegang Obligasi berkenaan dengan pelanggaran ketentuan dalam perjanjian perwaliamanatan oleh Emiten.. Apa usulan Saudara untuk peningkatan efektifitas fungsi Wali Amanat dalam mengawasi Emiten dan mewakili kepentingan pemegang Obligasi: ....................... Menurut anda......... ....................................................................... apakah sebaiknya Wali Amanat menanggung biaya-biaya perkara terlebih dahulu........................... perlukah adanya perluasan peran Wali Amanat selain sebagai wakil pemegang Obligasi di luar maupun di dalam Pengadilan.......

Ramon E Johnson and Calvin M Boardman. Peraturan Bapepam Nomor IX. Peraturan Nomor VI. UT. 84112. Salt Lake City.DAFTAR KEPUSTAKAAN 1.C. The Bond Indenture Trustee: Function. Peraturan Nomor X.K.3 tentang tentang Pedoman dan Isi Prospektus Ringkas Dalam Rangka Penawaran Umum 8. . Peraturan Nomor X. University of Utah. Peraturan Bapepam Nomor IX.4 tentang Laporan Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum 6. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal 2.2 Dalam Rangka Penawaran Umum tentang Pedoman dan Isi Prospektus 7. and Monitoring Costs.2 : Pemeliharaan Dokumen Oleh Wali Amanat 5. Kitab undang-undang Hukum Perdata (KUH Perdata) 9. Industry Structure.C. Peraturan Nomor X.I.1 : Laporan Wali Amanat 4.2 : Pendaftaran Bank Umum Sebagai Wali Amanat 3.I.C.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful