STUDI TENTANG PERWALIAMANATAN DI PASAR MODAL INDONESIA

Oleh: Tim Studi Perwaliamanatan Di Pasar Modal Indonesia

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL PROYEK PENINGKATAN EFISIENSI PASAR MODAL TAHUN 2005

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Daftar Isi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Tujuan dan Manfaat C. Metode Studi D. Organisasi Studi E. Waktu Studi BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi dan Pengertian B. Fungsi dan Tanggung Jawab Wali Amanat C. Pendaftaran, Pelaporan Dan Pemeliharaan Dokumen D. Aspek Hukum Perwaliamanatan BAB III PEMAPARAN DAN ANALISIS HASIL STUDI A. Pola Kontrak Perwaliamanatan Di Pasar Modal Indonesia B. Masalahan dan Kendala Yang Dihadapi Wali Amanat C. Pembahasan Hasil Kuesioner BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan B. Rekomendasi Daftar Pustaka Lampiran

Hal i iv

1 3 3 4 4

5 10 12 15 18 29 35 63 66

iv

KATA PENGANTAR

Keberadaan Wali Amanat dalam kegiatan Pasar Modal di Indonesia memegang peran yang sangat vital, terutama dalam kaitannya dengan penerbitan efek bersifat utang. Dalam Undang-undang No. 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal, Wali Amanat didefinisikan sebagi Pihak yang mewakili kepentingan pemegang efek yang bersifat utang baik di dalam maupun di luar pengadilan. Beberapa aspek menyangkut kegiatan Wali Amanat di pasar modal, diantaranya mencakup penyusunan kontrak perwaliamanatan dengan Emiten, monitoring Emiten atas pemenuhan kewajiban-kewajibannya dan ketentuan lain dalam kontrak perwaliamanatan, penyampaian laporan dan keterbukaan informasi, penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Obligasi, serta pelaksanaan keputusan RUPO. Dibalik pentingnya peran Lembaga Penunjang Pasar Modal ini, kegiatan pengkajian dan evaluasi atas kinerja mereka selama ini dirasakan masih sangat sedikit, sehingga pengembangan dari sisi regulasi, pengawasan dan pembinaan oleh Bapepam selaku otoritas pasar modal juga belum berjalan optimal. Dari sisi peraturan yang ada saat ini, Undang-undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal telah memberikan rambu-rambu yang mengatur pelaksanaan tugas Wali Amanat berikut tanggung jawab yang harus diembannya. Sebagai peraturan pelaksananya, di tingkat Peraturan Bapepam telah terdapat 3 peraturan tentang Wali Amanat, khususnya berkenaan dengan pendaftaran, pelaporan serta pemeliharaan dokumen. Namun demikian, ketentuan-ketentuan yang ada tersebut masih terdapat beberapa masalah yang dirasa cukup mendesak untuk dilakukan pengaturan, seperti dari aspek

i

kode etik. atau obligasi berdasarkan prinsip syariah. terutama di pihak pemegang obligasi. yang menghasilkan solusi yang belum memuaskan para pihak. jaminan obligasi berupa piutang dan lain sebagainya. sampai saat ini masih terdapat penyelesaian masalah antara Emiten dengan pemegang obligasi. Jenis maupun kompleksitas struktur obligasi yang diterbitkan Emiten di Indonesia juga telah semakin meningkat. pengurangan nilai pokok obligasi berdasarkan periode tertentu (amortisasi). seperti obligasi dan produk-produk keuangan lain. akibat dari wanprestasi Emiten serta proses restrukturisasi obligasi. seperti adanya ketentuan pembelian kembali efek bersifat utang oleh Emiten (buy back). Perkembangan kondisi tersebut di atas sudah barang tentu menimbulkan implikasi berupa tuntutan yang semakin besar akan peningkatan kualitas jasa dan profesionalisme dari Wali Amanat. obligasi dengan beberapa seri dengan variasi tingkat suku bunga. Sebagai contoh. standar pelaporan dan keterbukaan informasi. ketentuan call option dan put option. Sementara itu. obligasi subordinasi. saat ini banyak beredar obligasi amortisasi. Iklim investasi di Indonesia yang semakin membaik telah kembali menarik kegiatan penerbitan surat hutang.independensi dan profesionalisme Wali Amanat. Ketentuan yang diatur dalam Kontrak Perwaliamanatan sebagai dasar penerbitan efek bersifast utang saat ini juga sudah lebih kompleks dengan berbagai kondisi atau klausula yang terus berkembang. Investor efek bersifat utang di pasar modal Indonesia memerlukan Wali Amanat yang memiliki kemampuan memahami dan menganalisis struktur efek surat hutang dengan ketentuanii . ketentuan rapat umum pemegang obligasi berkaitan dengan perubahan kondisi penting dalam obligasi. kontrak perwaliamanatan serta berbagai aspek teknis pelaksanaan tugas Wali Amanat dalam mewakili kepentingan pemegang efek bersifat utang lainnya.

masalah-masalah yang dihadapi dalam praktik. Akhirnya. Wassalam. dipandang perlu untuk melakukan suatu studi guna mengetahui tingkat kinerja dan pelaporan aktivitas Wali Amanat. Kritik dan saran konstruktif sangat kami hargai sebagai masukan bagi kami dalam penyempurnaan hasil penelitian ini. Berdasarkan uraian di atas. agar dapat ditempatkan pada keadaan yang semestinya. Selain itu. Ketua Tim Studi iii . supaya lembaga ini dapat menjalankan tugasnya dengan lebih independen dan profesional. tim studi berharap hasil penelitian ini akan dapat bermanfaat bagi pengembangan pasar modal Indonesia pada umumnya dan optimalisasi peran dan fungsi Wali Amanat dalam mewakili kepentingan investor obligasi pada khususnya.ketentuan dalam kontrak perwaliamanatan yang semakin komplek agar kepentingan pemegang efek bersifat utang dapat terlindungi. perlu dipikirkan cara agar posisi tawar Wali Amanat dalam berhadapan dengan Emiten yang selama ini dirasa belum seimbang. serta kemungkinan peningkatan pembinaan dan pengaturan yang dapat dilakukan oleh Bapepam.

salah satu pihak yang berperan penting dalam kegiatan penerbitan efek bersifat utang disamping Emiten sendiri. LATAR BELAKANG Dalam kegiatan bisnis di pasar modal. ataupun memanggil rapat umum pemegang efek bersifat utang untuk menentukan langkah yang akan diambil. maka Wali Amanat harus melakukan tindakan tindakan yang diperlukan. Bila dipandang perlu. terutama dalam perundingan dengan pihak-pihak terkait untuk menyusun suatu kontrak perwaliamanatan. Selanjutnya. Sebagai pihak yang mewakili kepentingan pemegang efek bersifat utang baik di dalam maupun di luar pengadilan.BAB I PENDAHULUAN A. Wali Amanat berkewajiban memonitor kondisi Emiten dan memastikan kepatuhan Emiten terhadap ketentuan dalam kontrak perwaliamanatan yang telah dibuat. Selain tugas-tugas di atas. termasuk hak dan kewajiban para pihak yang terlibat. Kontrak perwaliamanatan inilah yang menjadi dasar utama dalam mengatur syarat dan kondisi penerbitan efek bersifat utang. peran Wali Amanat ini sudah mulai berjalan sebelum efek bersifat utang diterbitkan. Apabila terjadi pelanggaran dalam pemenuhan kewajiban maupun covenants yang ada. adalah Wali Amanat. Wali Amanat 1 . seperti meminta Emiten melakukan langkah-langkah untuk memperbaiki pelanggaran tersebut. selama umur efek bersifat utang. Wali Amanat akan bertindak mewakili pemegang efek bersifat utang untuk melakukan tindakan di pengadilan dalam rangka memperjuangkan hak-hak pemegang efek bersifat utang.

berupa kajian dan evaluasi mengenai sejauh mana pengembangan di bidang regulasi di bidang ini dapat dilakukan. Kondisi ini tentu saja memerlukan perhatian dari Bapepam.8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. 2 . Selain itu.pada umumnya juga berperan sebagai agen pembayaran atas kupon bunga dan utang pokok Emiten.2). Dalam Pasal 50 telah diatur mengenai siapa saja yang dapat melakukan kegiatan sebagai Wali Amanat beserta persyaratannya. serta ketentuan mengenai kontrak perwaliamanatan yang dibuat antara Emiten dengan Wali Amanat (Pasal 52). Namun demikian. dalam Pasal 53 telah diatur juga tentang tanggung jawab Wali Amanat apabila tidak menjalankan tugasnya dengan baik. seperti persyaratan dan tata cara pendaftaran Wali Amanat (Pasal 50 ayat (3)). Konsekuensi hukum tersebut berupa kewajiban mengganti kerugian yang timbul kepada pemegang efek bersifat utang yang diwakilinya. dari beberapa hal yang diamanatkan tersebut.2) sebagai ketentuan pelaksana pasal 50 ayat (3). Ketentuan Bapepam yang lain mengatur mengenai kewajiban pelaporan (Peraturan Nomor X. Undang-undang Pasar Modal telah mengamanatkan beberapa hal yang wajib diatur lebih lanjut oleh peraturan Bapepam.1) dan pemeliharaan dokumen (Peraturan NomorX. serta larangan menjadi penanggung atas efek bersifat utang yang sama (pasal 54).C. batasan hubungan kredit yang diperbolehkan dengan Emiten (Pasal 51 ayat (3)).I. Fungsi dan kedudukan Wali Amanat secara garis besar telah diatur dalam Undang-undang No.I. Sikap independen yang wajib dimiliki dalam menjalankan tugasnya dapat tersimpul dari ketentuan pasal 51 yang melarang adanya hubungan afiliasi dan hubungan kredit dalam jumlah tertentu dengan Emiten. penggunaan jasa Wali Amanat (pasal 51 ayat (4)). hingga saat ini Bapepam baru menetapkan peraturan mengenai tatacara pendaftaran Wali Amanat (Peraturan Nomor VI.

Dari pola kontrak perwaliamanatan yang ada selama ini. ketiadaan pedoman yang dapat dijadikan dasar bagi Wali Amanat untuk merundingkan pasal-pasal dalam kontrak perwaliamanatan mengakibatkan Wali Amanat kurang mampu menghasilkan isi kontrak yang cukup dapat melindungi pemegang efek bersifat utang. pada akhirnya investorlah yang sering dirugikan apabila hal tersebut terjadi.Semakin meningkatnya kegiatan bisnis di pasar modal paska krisis moneter membawa akibat semakin banyaknya perusahaan yang tertarik memanfaatkan pasar modal sebagai alternatif pendanaan. Dari sini sudah terlihat ketidakseimbangan kedudukan Wali Amanat dengan Emiten sebagai pihak yang menunjuk dan membayar jasanya. Hal ini cukup beralasan mengingat dalam kasus-kasus sebelumnya. dapat terlihat bahwa kecenderungan Emiten untuk meminta syarat-syarat yang ringan dalam penerbitan efek bersifat utang lebih dapat terakomodasi. Hal tersebut seperti makin banyaknya obligasi yang diterbitkan tanpa jaminan khusus. Posisi tawar Wali Amanat dalam mewakili kepentingan pemegang efek bersifat utang sudah saatnya ditinjau kembali. tetapi di sisi yang lain timbul beberapa kekhawatiran mengenai risiko yang timbul apabila pihak Emiten melakukan cedera janji atas kewajiban utangnya. 3 . Di sisi lain. tanpa sinking fund dan tanpa kewajiban melakukan pemeringkatan berkala. antara lain dengan menerbitkan efek bersifat utang. mengingat saat ini Emitenlah yang memiliki wewenang menunjuk pihak Wali Amanat untuk efek bersifat utang yang diterbitkannya. Hal ini dari satu sisi merupakan hal yang menggembirakan bagi kalangan pasar modal. Peningkatan perlindungan terhadap kepentingan investor obligasi di Indonesia merupakan masalah yang saat ini masih menghadapi berbagai macam kendala yang serius.

sinking fund. credit rating dan covenant-covenant dalam kontrak perwaliamanatan merupakan bentuk-bentuk jaring pengaman untuk menjaga kepentingan investor. Namun demikian sebagaimana disebutkan di atas. Oleh karena itu studi mengenai kendalakendala yang dihadapi Wali Amanat dalam menjalankan tugas dan fungsinya selama ini menjadi hal berikutnya yang perlu dilakukan. semoga dapat dicarikan suatu solusi bagi peningkatan peran Wali Amanat khususnya dalam melindungi kepentingan investor di Pasar Modal Indonesia. Wali Amanat tetap merupakan pelaku sentral dalam mengawasi pasang surut obligasi dan kondisi penerbitnya mulai dari mulai penerbitan hingga jatuh tempo. B.Selain itu. dipandang perlu dilakukan studi tentang perwaliamanatan di Pasar Modal Indonesia. Dengan memahami secara lebih baik permasalahan dan keterbatasan yang dihadapi Wali Amanat. sehingga pada akhirnya diharapkan kemungkinan kerugian yang dapat menimpa investor dapat dikurangi. adanya hak Emiten melakukan pembelian kembali obligasi dan call option yang memerlukan pengaturan dari sisi keterbukaannya. Dari pemaparan di atas. TUJUAN DAN MANFAAT Tujuan dan manfaat yang ingin dicapai dari dilakukannya studi mengenai perwaliamanatan di Indonesia ini antara lain sebagai berikut: 4 . Adanya kelemahan isi kontrak perwaliamanatan yang selama ini telah dibuat dapat diperbaiki dan posisi tawar Wali Amanat dapat lebih ditingkatkan. Hasil studi ini diharapkan dapat dipakai sebagai masukan guna menentukan kebijakan untu meningkatkan kepercayaan investor yang berinvestasi kepada obligasi. Pengaturan mengenai jaminan/agunan.

Mengetahui kendala-kendala yang dihadapi Wali Amanat dalam menjalankan tugas dan fungsinya. kontrak-kontrak perwaliamanatan yang ada di Pasar Modal Indonesia b. METODE STUDI Untuk memperoleh data dan atau informasi yang dibutuhkan. C. 2. Mendapatkan informasi terutama bagi Bapepam dalam hal peningkatan perannya untuk melindungi kepentingan investor obligasi. dalam studi/penelitian ini dilakukan melalui : 1. 2. peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia khususnya yang terkait dengan Wali Amanat dan penerbitan obligasi. Studi Lapangan Studi lapangan dilakukan dengan dua cara: 5 . Mengetahui serta mempelajari pola perjanjian perwaliamanatan dalam penerbitan obligasi antara Wali Amanat dan Emiten efek bersifat utang. tulisan dan hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya yang berkaitan dengan masalah perwaliamanatan. serta mencari solusi atas permasalahan dimaksud. Studi Pustaka Studi pustaka dilaksanakan dengan mempelajari beberapa literatur dan bahan-bahan tertulis sebagai berikut: a. c. 3.1.

investor.4 orang pembantu peneliti . Wali Amanat. serta pihak profesional di bidang hukum.1 orang sekretaris .1 orang ketua . 6 . Responden yang dimintai pendapat dalam studi ini mencakup 5 kategori yaitu Emiten. Melakukan wawancara dengan para narasumber yang berkompeten. Konsultan Investor dan tentunya Wali Amanat. D. Untuk memperoleh masukan mengenai permasalahan tertentu yang dipelajari. tim studi juga menyebarkan kuesioner kepada para pelaku pasar modal yang berkepentingan secara langsung dengan penerbitan Obligasi. ORGANISASI STUDI Organisasi studi terdiri dari : .2 staf sekretariat E.1 orang wakil ketua .a.9 orang peneliti . antara lain dengan profesi Notaris. yaitu Konsultan Hukum dan Notaris. b. WAKTU STUDI Studi ini dilakukan pada tahun anggaran 2005 dari bulan Januari hingga Desember 2005.

pemegang efek selaku kreditur harus berhadapan langsung dan melakukan pengawasan secara sendiri-sendiri untuk memastikan bahwa tidak terdapat hal-hal yang dilanggar dalam kontrak perwaliamanatan. pada bab ini akan dijelaskan mengenai definisi dan pengertian Wali Amanat. Dengan alasan ekonomis tersebut. Tanpa adanya lembaga Wali Amanat. 1. DEFINISI DAN PENGERTIAN Wali Amanat Definisi Wali Amanat sebagaimana telah ditetapkan dalam UUPM Pasal 1 angka 30 adalah :”Pihak yang mewakili kepentingan pemegang Efek yang bersifat utang”. Oleh karena efek bersifat utang merupakan surat pengakuan utang yang bersifat sepihak dari pihak penerbit (Emiten) dan para kreditur (investor) jumlahnya relatif banyak. Efek bersifat utang yang ditawarkan kepada publik tentunya dimiliki oleh banyak investor. A. fungsi dan tanggung jawab Wali Amanat. obligasi dan Efek bersifat Utang. serta aspek hukum perwaliamanatan. Antara para kreditur mungkin akan saling mengamati untuk menentukan apakah 7 .BAB II TINJAUAN PUSTAKA Sebagai landasan teoritis atas studi tentang perwaliamanatan. pendaftaran. Pengawasan secara individual oleh masing-masing kreditur ini tentunya akan memakan waktu dan biaya yang tidak efisien. satu kreditur mungkin akan memanfaatkan hasil pengawasan dari kreditur lainnya. maka perlu dibentuk suatu lembaga yang mewakili kepentingan seluruh kreditur. pelaporan dan pemeliharaan dokumen Wali Amanat.

semua permasalahan para kreditur sebagaimana tersebut di atas dapat diminimalisir. dan penyebaran informasi menjadi lebih merata karena Wali Amanat akan memberitahukan 8 . dapat terjadi terlalu banyak kreditur yang melakukan pengawasan sendiri-sendiri terhadap Emiten. Wali Amanat merupaka pihak yang secara profesional khusus ditunjuk untuk melakukan pengawasan bagi kepentingan seluruh kreditur efek bersifat utang.diperlukan suatu tindakan pengawasan pada Emiten atau tidak. dari pada menyebarkan informasi tersebut kepada kreditur-kreditur yang lain. Dalam keadaan seperti ini. dilain pihak ada kreditur lain yang harus meminta jasa profesional untuk melakukan tugas tersebut. Perbedaan kemampuan melakukan pengawasan antar kreditur dapat dijembatani oleh keahlian Wali Amanat. Pengawasan secara individual juga memiliki kelemahan berupa kemampuan melakukan pengawasan yang tidak sama antara satu kreditur dengan lainnya. tidak ada satupun investor yang melakukan pengawasan karena saling mengandalkan satu sama lain. atau sebaliknya. biayabiaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan pengawasan ditanggung oleh lembaga ini. Kreditur yang pertama mengetahui adanya informasi penting terkait dengan Emiten. Ada kreditur yang memiliki keahlian yang memadai untuk melakukan monitoring dan analisis terhadap emiten. Dengan keberadaan lembaga penunjang pasar modal ini. Masalah lain yang mungkin timbul adalah penyebaran informasi penting yang tidak merata. Dengan kemampuan profesional dari Wali Amanat. mungkin akan melakukan tindakan antisipasi terlebih dahulu untuk memperoleh keuntungan atau menghindari kerugian yang akan timbul.

setiap perkembangan Emiten kepada seluruh kreditur dalam waktu yang sama. Selain karena kegiatan usaha perbankan yanng terkait erat dengan pengawasan terhadap para debiturnya. Berdasarkan ketentuan UU Pasar Modal. pihak yang dapat melakukan kegiatan usaha sebagai Wali Amanat adalah Bank Umum. Jadi sertifikat obligasi merupakan suatu surat pengakuan hutang atas pinjaman yang diterima oleh perusahaan (penerbit obligasi) dari pemodal. Obligasi Obligasi dapat didefinisikan sebagai efek utang pendapatan tetap yang diperdagangkan di masyarakat dimana penerbitnya setuju untuk membayar sejumlah bunga tetap untuk jangka waktu tertentu dan akan membayar kembali jumlah pokoknya pada saat jatuh tempo. Obligasi membayar serangkaian bunga dalam jumlah tertentu secara regular. Ada empat ketentuan dasar yang menjadi daya tarik utama dalam berinvestasi pada obligasi yakni : a. Obligasi terutama ditujukan kepada para investor jangka panjang. Jangka waktu obligasi telah ditentukan (umumnya 5-10 tahun) dan disertai dengan pemberian imbalan bunga yang jumlah dan saat pembayarannya juga telah ditetapkan dalam perjanjian. alasan yang diajukan dalam penjelasan pasal 50 ayat (1) adalah karena Bank Umum memiliki jaringan kegiatan usaha yang cukup luas. Untuk mengantisipasi perkembangan pasar modal di masa datang pihak selain bank umum yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah dimungkinkan melakukan kegiatan usaha ini. Karena itu obligasi tersebut disebut sekuritas pendapatan tetap atau fixed income securities. 9 . Obligasi adalah salah satu alternative investasi pasar modal. 2.

Karena nilai rupiah yang mereka dapatkan dari investasi obligasi tidak berubah. Emiten akan membayar kembali pinjaman tersebut seutuhnya dan tepat waktu. d. b. Jenis-jenis obligasi yang umumnya ada di Indonesia antara lain : a. Obligasi konversi yaitu obligasi yang para pemegang obligasi ini pada waktu yang telah ditetapkan dapat menukarkan obligasinya dengan saham biasa dari perseroan yang menerbitkan atas dasar harga konversi yang telah ditentukan sebelumnya. tingakat obligasi baru biasanya sama dengan tingkat suku bunga perbankan. Mereka tidak bisa mendapatkan uang dalam jumlah utuh sebanyak yang telah mereka bayarkan untuk obligasi. Tingkat bunga obligasi kompetitif dalam artian obligasi membayar tingkat suku bunga yang dapat dibandingkan dengan apa yang bias didapatkan investor ditempat lain. Obligasi atas unjuk yaitu obligasi yang pelunasannya dibayarkan kepada pembawa obligasi tersebut. Risiko lain yang dihadapi pemegang obligasi adalah meningkatnya inflasi. Sebagai hasilnya. Sehingga obligasi terlihat kurang beresiko dibandingkan investasi yang tergantung pada naik turunnya pasar. Obligasi memiliki jatuh tempo yang telah ditentukan ketika obligasi habis masanya dan pinjaman harus dibayar penuh pada nilai nominal. obligasi juga mempunyai resiko. para pembeli mungkin kehilangan uang karena obligasi yang mereka miliki tidak memberi hasil sebaik obligasi yang baru diemisi. maka nilai uang itu dapat terkikis oleh inflasi. Disamping mempunyai daya tarik.b. yaitu jika tingkat suku bunga bank naik. Pembayaran suku bunga obligasi juga sudah ditetapkan ketika obligasi di emisi. c. 10 .

Biasanya suatu obligasi sebelum ditawarkan kepada masyarakat pemodal. Proses pemeringkatan berguna untuk menilai kinerja perusahaan dari berbagai faktor yang secara langsung maupun tidak langsung dengan keuangan perusahaan. Pihak yang menerbitkan obligasi disebut issue. Obligasi Daerah (Municipal Bonds) Obligasi yang diterbitkan oleh Pemerintah Daerah Tingkat I atau Tingkat II. Bapeda. Obligasi Pemerintah (Government Bond) Undang-undang No. c. obligasi tersebut diminta untuk diperingkat (rating) oleh lembaga pemeringkat (rating agency). 24 tahun 2004 tentang Surat Utang Negara (SUN) mendefinisikan surat berharga yang berupa surat pengakuan hutang dalam mata uang rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh Negara Republik Indonesia sesuai dengan masa berlakunya. Hal ini dikarenakan resiko yang melekat pada obligasi korporasi lebih besar dibandingkan dengan obligasi negara yang dijamin penuh oleh pemerintah RI. Surat utang yang diterbitkan oleh perusahaan swasta atau negara. 11 .Sedangkan berdasarkan penerbitnya (Issuer). obligasi dibedakan : a. Pada umumnya di Indonesia bersifat jangka panjang dan tidak dijamin oleh penerbitnya. b. Peringkat (rating) yang diberikan oleh rating agency akan menyatakan apakah obligasi tersebut layak untuk investasi. serta Badan Usaha Milik Daerah dan kegiatan swasta yang dijamin daerah. Obligasi Perusahaan (Corporation Bond). unit organisasi Pemda (Dinas Pekerjaan Umum. Selain itu juga menawarkan bunga atau interest yang cukup tinggi dibandingkan dengan obligasi negara. dan sebagainya).

Kasnic. lembaga pemeringkat adalah PT. maka rating sangat diperlukan sehingga dapat dinilai apakah issue nantinya dapat atau tidak membayar utangnya. Pefindo dan PT.Karena obligasi merupakan surat utang. misalnya bond rating. sesuai dengan penilaian rating agency. Proses pemeringkatan dapat dibagi atas dua jenis yaitu: Coorporate Rating dan Securities Rating. Namun harus diperhatikan bahwa bond rating ini hanya dimaksudkan untuk mengukkur 12 . sedangkan securities Rating adalah pemeringkatan yang dilakukan terhadap suatu produk effek yang digulirkan oleh suatu perusahaan. Pemeringkatan suatu obligasi ini sangat berguna bagi para investor obligasi. Dibawah ini. pemeringkatan terhadap suatu obligasi. merupakan bagan pihak-pihak yang terkait dalam perdagangan obligasi : Rating Agency Issuer Trusste Lead Underwriter Guarantor Underwriter/Selling Agents Investor Paying Agent Di Indonesia. Coorporate Rating adalah pemeringkatan yang dilakukan untuk menilai suatu perusahaan secara menyeluruh. karena dengan adanya rating maka para investor tidak perlu lagi melakukan proses evaluasi yang membosankan dan membutuhkan kerja keras sendiri-sendiri.

yang diterbitkan Issuer jika terjadi wanprestasi dari isser. Kontrak perwaliamanatan. Wali Amanat umumnya adalah bank yang telah mendapat izin operasi sebagai Wali Amanat dari Bapepam. Underwriter biasanya merupakan suatu kelompok yang terdiri dari penjamin emisi utama (lead underwriter) dan penjamin emisi pelaksana (underwriter). issuer akan berhubungan dengan pihak yang akan menjamin emisi obligasi dari issuer tersebut agar laku di pasar. kadang-kadang melibatkan pihak yang disebut Guarantor. pembayaran bunga yang sering terlambat. Wali Amanat wajib menyampaikan laporan tengah tahunan dan tahunan 13 . Pada waktu penawaran umum pertama kali. Wali Amanat bertugas atas dasar hukum kontrak perwaliamanatan yang ditandatangani oleh Wali Amanat dengan issuer. Guarantor merupakan pihak yang memberikan jaminan akan melunasi surat hutang beserta kewajiban yang berhubungan. Penjaminan emisi ini dilakukan oleh underwriter. Agen penjualan inilah yang langsung berhubungan dengan masyarakat pemodal. Wali Amanat berfungsi melakukan pencatatan/administrasi mengenai obligasi yang masih beredar. Penjamin emisi pelaksana biasanya bertindak juga sebagai agen penjual (selling agent). dan pengawasan terhadap Issue. Selanjutnya ada pihak yang disebut Trustee atau Wali Amanat. Wali Amanat merupakan lembaga yang berfungsi untuk mengurusi segala urusan dari obligasi sesudah penawaran umum sampai masa hidup pasar obligasi tersebut berakhir.tingkat resiko wanprestasi dari suatu emisi obligasi bukan dari pengurus eksternal seperti resiko pasar. Penjamin emisi utama dan pelaksana ini hanya melaksanakan tugasnya sampai proses emisi utama dan pelaksana tidak ada lagi hubungannya dengan obligasi tersebut.

langsung berhubungan dengan Paying Agent. terkait dengan fungsinya untuk mewakili pemegang efek bersifat utang/pemegang obligasi. Hal ini diperlukan agar Wali Amanat dapat melaksanakan fungsinya secara independen sehingga dapat melindungi kepentingan pemegang efek bersifat utang/pemegang obligasi secara maksimal. biasanya Wali Amanat menunjuk pihak yang disebut Paying Agent. Sehingga dalam melaksanakan fungsi dan tanggung jawabnya Wali Amanat dituntut untuk selalu mengutamakan dan mengedepankan kepentingan pemegang obligasi/kreditur. Kadang-kadang Wali Amanat bertindak sendiri sebagai Paying Agent. Wali Amanat memiliki beberapa tanggungjawab. Pelaksanaan tanggungjawab tersebut selain didasarkan pada suatu peraturan perundangan yang berlaku juga didasarkan kepada suatu kontrak 14 . Sehingga investor yang ingin mengambil bunga atau pokoknya. Berkenaan dengan hal tersebut. Di dalam melaksanakan pembayaran bunga maupun pokok. Wali Amanat dilarang mempunyai hubungan afiliasi dengan emiten/penerbit obligasi. Larangan hubungan afiliasi antara Wali Amanat dengan Emiten dimaksudkan untuk menghindari terjadinya benturan kepentingan antara Wali Amanat selaku wakil pemegang efek bersifat utang dan kepentingan emiten.kepada Bapepam mengenai segala sesuatu tentang pelaksanaan obligasi yang ditanganinya. B. FUNGSI DAN TANGGUNG JAWAB WALI AMANAT Sebagaimana telah diamanahkan dalam pasal 51 ayat (2) UUPM bahwa Wali Amanat adalah pihak yang mewakili kepentingan pemegang efek bersifat utang/obligasi baik di dalam maupun di luar pengadilan.

• Hak pembayaran pokok. b. • Penetuan tanggal-tanggal untuk pembayaran bungan dan pokok. Membuat kontrak/perjanjian perWali Amanatan 15 . Sebelum proses emisi yaitu melakukan penelitian terhadap calon emiten. Adapun kontrak/perjanjian yang mendasari fungsi dan tanggungjawab Wali Amanat disebut kontrak perWali Amanatan atau perjanjian perWali Amanatan. terbagi atas: a. • Hak untuk memperoleh informasi mengenai jaminan (preferen/tidak preferen). Kontrak perWali Amanatan merupakan kontrak yang dibuat antara emiten dengan Wali Amanat yang mengikat pemegang efek bersifat utang/pemegang obligasi. • Hak untuk memperoleh laporan-laporan dari emiten. yang mencakup: • Hak pembayaran bunga. • meneliti legalitas dari emiten. Tanggungjawab Wali Amanat terkait dengan fungsinya sebagai wakil dari pemegang efek bersifat utang (kreditur) sekurang-kurangnya meliputi: I. • Hak untuk memperoleh pemberitahuan apabila terjadi kejadian yang penting dari emiten. Saat proses emisi. II. • Hak untuk mengetahui rating obligasi. penelitian ini mencakup: • analisa laporan keuangna emiten untuk memantau keadaan keuangan emiten./perjanjian. Menentukan hak-hak para pemegang efek bersifat utang/obligasi.

yaitu berupa legal opinion dan legal audit. • Menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) apabila diperlukan. sebelum emisi efek bersifat utang/obligasi. meliputi: A. • Tanggal-tanggal pembayaran bunga. menganalisa data-data historis emiten yaitu melakukan analisa terhadap laporan keuangan emiten untuk mengetahui kinerja dan keadaan keuangan emiten. meliputi: A. BES sehubungan dengan efek bersifat utang/obligasi yang diterbitkan. 16 . • Melaksanakan keputusan RUPO.c. apabila terdapat kejadian penting. Dalam upaya Wali Amanat dalam melindungi pemegang efek bersifat utang/obligasi. • Memantau penggunaan dana yang diperoleh dari emisi efek bersifat utang/obligasi. Menentukan dan memantau hak-hak pemegang efek bersifat utang/obligasi. yang terdiri dari: • Besarnya bunga obligasi. • Memberitahukan kepada pemegang efek bersifat utang/obligasi. • Cara pembayaran bunga. emiten Bapepam. Setelah emisi efek bersifat utang/obligasi • Memantau pemenuhan kewajiban emiten yang tercantum dalam perjanjian perwaliamantan. 2. B. beberapa hal yang dilakukan antara lain: 1. • Penyediaan dana untuk membayar bunga dan pokok obligasi. Proses emisi efek bersifat utang/obligasi. mempelajari data-data dari Konsultan Hukum yang ditunjuk dalam emisi tersebut.

Menetapkan covenant-covenant dalam perjanjian perWali Amanatan (negative covenant dan positive covenant) yang harus dipenuhi emiten selama jangka waktu efek bersifat utang/obligasi dengan memperhatikan struktur obligasi. B. • Kepatuhan atas covenant pada perjanjian perWali Amanatan. Setelah emisi. perhitungan dan pengikatan jaminan obligasi (bila ada). • Monitoring jaminan (nilai maupun pengikatannya. struktur jaminan. Pemberian keterangan/perhitungan yang sewaktu-waktu diminta RUPO maupun Bapepam. B. Melaksanakan keputusan RUPO. C. meliputi: A. C. Pengawasan dan pemantauan kepatuhan serta pelaksanaan kewajiban emiten berdasarkan perjanjian perWali Amanatan atau dokumen lainnya yang mencakup: • Analisis kinerja keuangan secara periodik. D. 17 . kinerja dan proyeksi keuangan. Melakukan pengecekan. • Pemenuhan kewajiban emiten terhadap pemegang efek bersifat utang/obligasi. 3. • Penggunaan dana. Bursa Efek dan pemegang obligasi dalam hal terjadi potensi kelalaian atau kelalaian yang dilakukan oleh emiten atau terjadi keadaan yang dapat membahayakan kepentingan pemegang obligasi. Penyampaian laporan kepada Bapepam.• Menentukan jaminan yang dijaminkan untuk pemegang efek bersifat utang/obligasi.

Anggaran Dasar Nomor Pokok Wajib Pajak Izin Usaha sebagai Bank Umum 18 . pelaporan dan pemeliharaan dokumen dalam kegiatan usahanya. tentang Pendaftaran Bank Umum Sebagai Wali Amanat. untuk dapat melakukan kegiatannya di pasar modal. Namun demikian. ii.2. apabila ada pihak lain yang mungkin dapat diijinkan melakukan kegiatan sebagai Wali Amanat selain Bank Umum. Dalam Peraturan Bapepam Nomor VI. PENDAFTARAN.C.C. Sesuai dengan ketentuan dalam Undang-undang Perbankan. dokuemen-dokumen tersebut dibawah ini wajib disampaikan kepada Bapepam menyertai permohonan pendaftaran: i. Pendaftaran Dalam Undang-undang Pasar Modal ditentukan bahwa yang dapat melakukan kegiatan sebagai Wali Amanat adalah Bank Umum dan pihak lain yang ditentukan dengan Peraturan Pemerintah. perwaliamanatan merupakan salah satu kegiatan usaha dari Bank Umum. a. DOKUMEN PELAPORAN DAN PEMELIHARAAN Pengawasan dan pembinaan Bapepam terhadap Wali Amanat selama ini diwujudkan dalam bentuk ketentuan yang mewajibkan lembaga penunjang pasar modal ini untuk melakukan pendaftaran. iii. Bank umum diwajibkan terlebih dahulu terdaftar di Bapepam. Ketentuan di atas dimaksudkan untuk mengakomodasi perkembangan pasar modal di masa yang akan datang.

serta daftar pegawai dan pembagian kerja pada kegiatan perwaliamanatan vii. laporan tengah tahunan dan tahunan mengenai kegiatan Wali Amanat yang antara lain memuat: jumlah dan jenis Efek bersifat utang yang masih beredar. pelanggaran atas ketentuan 19 . Laporan tahunan dan tengah tahunan disampaikan selambat-lambatnya 60 (enam puluh) hari sejak tanggal periode laporan. − Kedua. Laporan keuangan terakhir yang telah diperiksa oleh Akuntan Publik v. dimana Wali Amanat wajib menyampaikan laporan kegiatan kepada Bapepam yang meliputi: − Pertama. b.1 tentang Laporan Wali Amanat. dan pelaksanaan pengawasan yang telah dilakukan oleh Wali Amanat terhadap Emiten. laporan peristiwa penting yang menyangkut kegiatan perwaliamanatan. vi.iv. serta daftar pejabat penanggung jawab dan tenaga ahli di bidang perwaliamanatan.I. Pernyataan direksi bahwa administrasi kegiatan Wali Amanat terpisah dari kegiatan Bank Umum lainnya. apabila dimungkinkan di dalam kontrak perwaliamanatan. jumlah Efek bersifat utang yang telah dikonversikan menjadi saham. Pelaporan Kewajiban penyampaian laporan Wali Amanat kepada Bapepam adalah sebagaimana diatur dalam Peraturan Nomor X. Rekomendasi dari Bank Indonesia Buku pedoman operasional yang sekurang-kurangnya memuat: struktur organisasi Bank Umum dan Wali Amant. antara lain: pembayaran pokok dan bunga Efek yang bersifat utang sebelum jatuh tempo. pembayaran pokok dan atau bunga Efek bersifat utang.

c. risalah atau laporan mengenai jumlah dan jenis efek bersifat utang yang masih beredar dan yang telah dilunasi 4.dalam kontrak perwaliamanatan seperti pembayaran pokok dan atau bunga Efek bersifat utang yang tidak tepat waktu dan pengurangan. menyimpan dan memelihara catatan. Catatan. Laporan Kejadian Penting ini selambat-lambatnya disampaikan 2 (dua) hari setelah terjadinya peristiwa atau sejak diketahuinya peristiwa tersebut. penambahan. Pemegang Efek bersifat utang. Catatan. Kontrak Perwaliamantan Kontrak yang berkaitan dengan pemberian jaminan dan bukti kepemilikan dan penguasaan atas harta yang dijaminkan 3. Dokumen-dokumen tersebut meliputi: 1. antara lain tidak dibayarnya pokok dan bunga. pembukuan dan keterangan tertulis yang berhubungan dengan Emiten yang menggunakan jasa Wali Amanat merupakan kewajiban yang ditetapkan Bapepam dalam Peraturan Nomor X. risalah atau laporan pelaksanaan pengawasan terhadap Emiten.2 tentang penyelenggaraan Rapat Umum Pemeliharaan Dokumen oleh Wali Amanat. atau adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di bidang Pasar Modal oleh Wali Amanat 20 . Ketiga. Pemeliharaan Dokumen Kegiatan mengadministrasikan. pengalihan atau penukaran jaminan.I. 2. termasuk tindakan yang dilakukan Wali Amanat karena tidak dipenuhinya persyaratan dalam kontrak perwaliamantan.

5.

Catatan, risalah dan atau laporan mengenai Rapat Umum Pemegang Efek bersifat utang

6.

Catatan, risalah atau laporan mengenaijumlah efek dan jenis efek bersifat utang yang dikonversikan menjadi saham (jika ada)

7. 8.

Daftar Emiten yang menggunakan jasa Wali Amanat Buku pedoman operasional Wali Amanat.

Dokumen-dokumen tersebut di atas wajib disimpan ditempat yang aman dan terpisah dari kegiatan bank lainnya selama 5 tahun sejak seluruh kewajiban Emiten terhadap pemegang efek bersifat utang telah terpenuhi. untuk memastikan pemenuhan kewajiban dalam peraturan ini, Bapepam sewaktu-waktu dapat melakukan pemeriksaan atas dokumendokumen tersebut. D. ASPEK HUKUM PERWALIAMANATAN Seperti yang dibahas dimuka bahwa Wali Amanat ini bertindak sebagai Pihak yang mewakili para pemegang obligasi sehingga secara hukum diartikan melakukan perbuatan hukum tertentu dimana orang yang diwakili menerima akibat yuridisnya. Undang-undang Pasar Modal tidak memberikan suatu definisi mengenai apa yang dimaksud dengan perwakilan atau vertegenwoording. Namun demikian apabila kita melihat pada doktrin hukum yang berlaku di Indonesia, maka dapat ditemukan bahwa perwakilan didefinisikan sebagai ”toerekening van een handelingan een ander dan de handelde” atau melakukan perbuatan hukum sebagai ganti dan guna orang lain yang mewakilinya. Doktrin Hukum Perdata membagi lembaga perwakilan ini menjadi dua jenis, yaitu perwakilan berdasarkan kehendak dan perwakilan berdasarkan

21

undang-undang. Tindakan Wali Amanat merupakan perwakilan khusus berdasarkan undang-undang karena telah diwajibkan dalam peraturanperundangan di bidang pasar modal. Kewenangan yang dimiliki oleh Wali Amanat dalam menjalankan fungsinya terdiri dari dua jenis yaitu kewenangan umum yang bersifat pengurusan dan kewenangan khusus yang bersifat tindakan pemilikan. Kewenangan umum untuk pengurusan (daden van beheer) misalnya dalam hal menjalankan pengawasan terhadap Emiten dalam penggunaan dana hasil emisi obligasi, mewakili para pemegang obligasi dalam Rapat Umum Pemegang Obligasi, sebagai agen pembayar dalam membayar bunga obligasi dan sebagainya. Sedangkan kewenangan khusus yang melakukan tindakan pemilikan misalnya dalam hal Emiten melakukan wanprestasi, Wali Amanat dapat melakukan tindakan pelelangan atas agunan (barang jaminan) yang telah ditetapkan dalam kontrak perwaliamanatan dan jaminan. Untuk membatasi kewenangan, hak dan kewajiban serta tanggung jawab Wali Amanat harus ditetapkan secara tegas dalam perjanjian perwaliamanatan dan dapat dijalankan sebagaimana diamanatkan dalam UUPM. Apabila Wali Amanat melakukan kelalaian atas kewenangan yang telah diberikan, maka menurut pasal 53 UUPM, maka Wali Amanat wajib memberikan ganti rugi kepada pemegang Efek bersifat Utang. Emiten dan Wali Amanat diwajibkan membuat perjanjian

perwaliamanatan dimana dalam UUPM pasal 52 menggunakan istilah ’kontrak perwaliamanatan’ yang dibuat dihadapan Notaris dalam bentuk Akta Notaris sehingga klausula-klausula di dalam akta tersebut lebih terjamin kepastian hukumnya bagi tiap pihak yang terkait dalam kontrak tersebut seperti yang diatur dalam pasal 1868 KUHPerdata (jo. Pasal 1870 KUHPerdata) bahwa suatu akta yang dibuat di hadapan notaris merupakan

22

akta otentik dan menjadi bukti sempurna atas hak para pihak beserta ahli warisnya serta pihak lain yang memperoleh hak dari akta tersebut. Proses terbentuknya Kontrak Perwaliamanatan berawal dari draft perjanjian yang dibuat oleh Notaris. Selanjutnya masing-masing pihak seperti Emiten, Konsultan Hukum, Wali Amanat, Penjamin Emisi Efek, penanggung (jika ada) serta Notaris sendiri terlibat dalam diskusi pembahasan materi yang penting untuk dimasukkan dalam Kontrak Perwaliamanatan. Berikut adalah alur atau flow chart dari awal penyusunan sampai ditandatanganinya Kontrak Perwaliamanatan di Pasar Modal Indonesia.
Penyampaian Bahan untuk dituangkan dalam draft Kontrak Pembuatan Draft Kontrak Perwaliamanatan oleh Notaris

Draft Kontrak Perwaliamanatan Didiskusikan Oleh Para Pihak

Kontrak Perwaliamanatan Ditandatangani setelah Disepakati

Setelah ditandatanganinya Kontrak Perwaliamanatan oleh para pihak maka, berdasarkan pasal 1313 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata disebutkan suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih. Ini berarti dengan ditandatanganinya Kontrak Perwaliamanatan maka para pihak terikat kepada Kontrak Perwaliamanatan dapat dianggap sebagai hukum yang sah mengikat para pihak. Pada dasarnya perjanjian perwaliamanatan yang dibuat adalah karena hubungan hukum hutang piutang atau pinjam meminjam uang sehingga
23

dalam praktek yang terjadi selama ini antara Kontrak Perwaliamanatan yang satu dengan yang lain terdapat berbedaan baik format maupun materi yang diatur. Peraturan-perundangan di bidang pasar modal belum menentukan secara detil mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kontrak perwaliamanatan. hal-hal yang harus dimuat dalam Kontrak Perwaliamanatan antara lain: 1. maupun Peraturan Bapepam. dan tugas dan fungsi Wali Amanat Namun demikian. baik Emiten. utang pokok dan bunga serta manfaat lain dari emiten saat jatuh tempo jaminan (jika ada) agen pembayaran.esensi dari perjanjian ini adalah segala ketentuan yang mengatur hubungan hutang piutang tersebut. 2. Dalam ketentuan Penjelasan Pasal 52 UU Pasar Modal. 5. Notaris maupun Konsultan Hukum. 4. Wali Amanat. 3. Disamping itu belum adanya kesepakatan dari para pihak yang terkait dalam penerbitan efek bersifat utang/obligasi sehubungan dengan pembuatan kontrak Perwaliamanatan. Hal ini dikarenakan belum adanya pengaturan mengenai standar kontrak Perwaliamanatan secara lebih rinci yang dituangkan dalam peraturan pelaksananya seperti Peraturan Pemerintah. 24 . sehingga sebaiknya diperjanjikan secara tegas dalam kontrak perwaliamanatan.

Sebagai contoh materi atau substansi Kontrak Perwaliamanatan misalnya adalah sebagai berikut: 1. 3. Pasal 9 mengatur ketentuan syarat-syarat untuk dapat dikatakan Emiten telah lalai memenuhi kewajibannya 1 . A. Terakhir. Rincian selengkapnya mengenai pola kontrak perwaliamanatan yang umum/lazim dibuat dalam rangka penerbitan efek bersifat utang (obligasi) di pasar modal Indonesia adalah sebagai berikut: 25 . berkenaan dengan masalah perwaliamantan tersebut. POLA PERJANJIAN PERWALIAMATAN DI INDONESIA Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Tim Studi Perwaliamanatan. akan dibahas masukan dan jawaban para responden atas kuesioner yang diedarkan. terdapat kecenderungan terciptanya pola standar atau yang lazim termuat dalam suatu kontrak perwaliamanatan di pasar modal Indonesia. terutama aspek-aspek yang menyangkut pola kontrak perwaliamanatan dan kendala-kendala yang dihadapi dalam memfungsikan kedudukan Wali Amanat sebagai wakil pemegang efek bersifat utang. Pasal 8 biasanya memuat ketentuan tentang eksekusi jaminan jika terjadi even of default oleh Emiten. Pasal 2 Kontrak Perwaliamanatan memuat ketentuan tentang penggunaan dana hasil obligasi. 2.BAB III PEMAPARAN DAN ANALISIS HASIL STUDI Pada bab ini akan dipaparkan dan dianalisis tiga permasalahan penting dalam perwaliamanatan di Indoensia.

3. Definisi Pasal ini memuat tentang beberpa kata/istilah yang mempunyai arti tertentu dalam kontrak perwaliamanatan. berdasarkan syarat-syarat yang tercantum kontrak perwaliamanatan. Penunjukan. Tugas. dengan tidak mengurangi ketentuan peraturan perundangan yang berlaku 26 . serta untuk pembayaran utang lain (refinancing). dan Wali Amanat yang dilakukan secara berkala tiap 3 (tiga) bulan sekali. sehingga memudahkan bagi para pihak untuk memahami isi kontrak. Penggunaan dana yang umum dinyatakan adalah untuk modal kerja perusahaan. dalam pasal ini juga dicantumkan mengenai kewajiban pelaporan realisasi penggunaan dana oleh Emiten kepada Bapepam. serta wajib mendapat persetujuan terlebih dahulu oleh Wali Amanat setelah disetujui oleh RUPO.4 tentang Laporan Realisasi Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum. Setiap perubahan atas rincian penggunaan dana ini wajib dilaporkan terlebih dahulu kepada Bapepam dengan mengemukakan alasan dan pertimbangannya. Bursa Efek. Selain itu. Realisasi penggunaan dana ini wajib dipertanggungjawabkan juga dalam Rapat Umum Pemegang Saham tahunan Emiten. 2. Hak dan Kewajiban Wali Amanat Dalam Pasal ini dinyatakan penunjukan Emiten kepada pihak tertentu dan pernyataan penerimaan oleh pihak tersebut untuk menjalankan tugas sebagai Wali Amanat. untuk ekspansi usaha atau pembiayaan suatu proyek tertentu. Penggunaan Dana Hasil Emisi Dalam pasal ini umumnya dinyatakan mengenai rincian penggunaan dana hasil emisi setelah diikurangi dengan biaya-biaya yang timbul dalam proses penawaran umum. sesuai Peraturan Bapepam Nomor X.1.K.

Melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab dan kehati-hatian serta bertindak bijaksana untuk kepentingan terbaik pemegang efek bersifat utang. Tugas ini berlaku efektif sejak tanggal emisi. atau terjadi keadaan pada Emiten yang dapat membahayakan kepentingan pemegang efek bersifat utang. kecerobohan atau adanya pertentangan kepentingan pada Wali Amanat dalam menjalankan tugasnya. ii. 27 . iii. ii Melaporkan kepada Bapepam dan pemegang efek bersifat utang melalui Bursa Efek. Tugas pokok Wali Amanat terdiri atas: i. Bertanggungjawab kepada pemegang efek bersifat utang atas kerugian yang timbul akibat dari kelalaian. Mewakili kepentingan pemegang efek bersifat utang dalam melakukan tindakan hukum yang berkaitan dengan kepentingan pemegang efek bersifat utang di dalam maupun di luar pengadilan. iii Memantau dan menganalisa secara berkala perkembangan pengelolaan usaha emiten berdasarkan laporan keuangan Emiten dan laporan lainnya. Kewajiban Wali Amanat adalah sebagai berikut: i Menyampaikan informasi lengkap secara terbuka tentang kualifikasinya selaku Wali Amanat dalam Prospektus. dalam hal mengetahui dengan bukti yang cukup bahwa emiten telah lalai/melanggar kontrak perwaliamanatan.mengenai hak dan kewajiban selaku Wali Amanat dalam suatu emisi efek bersifat utang.

dikirim atau dibuat oleh oleh orang-orang yang berhak mewakili. vi Memberikan nasihat dan tindakan lain yang lazim dilakukan selaku Wali Amanat kepada Emiten. Menerima daftar dari KSEI yang memuat rincian KTUR berikut spesifikasi dan spesimennya. serta telah ditandatangani. vii Kewajiban Wali Amanat kepada KSEI. Mempercayai setiap dokumen yang dianggap asli dan sah.iv Memanggil dan mengadakan RUPO sebelum mengambil tindakan yang memerlukan persetujuan RUPO. Menerima foto copy bukti pembayaran bunga dan atau pokok efek bersifat utang dan denda (jika ada) pada hari yang sama saat pembayaran tersebut. Menerima pemberitahuan dari KSEI mengenai jumlah dana yang wajib dibayarkan Emiten atas bunga dan/atau pelunasan utang pokok selambat-lambatnya 2 (dua) hari kerja sebelum tanggal pembayaran. iii. v Melaksanakan tindakan-tindakan yang sah sesuai keputusan RUPO. ii. termasuk dalam hal terjadi kegagalan atau keterlambatan. - berakhirnya Hak-hak Wali Amanat adalah sebagai berikut: i. meliputi: melakukan verifikasi atas KTUR yang diserahkan pemegang efek bersifat utang sesuai spesifikasi kepada yang KSEI dikeluarkan tentang KSEI dan memberitahukan pelaksanaan RUPO. mengenai segala hal yang berkaitan dengan KTUR sesuai spesiifikasi yang ditetapkan KSEI. 28 . serta pelaksanaan pembayarannya. iv.

Meminta laporan kesiapan Emiten membayar jumlah pokok obligasi dan atau bunga dan denda (jika ada). termasuk RUPO yang diadakan atas permintaan Bapepam dengan alas an: a. vii. 29 . ii. b. rekomendasi atau pendaftaran selaku Wali Amanat telah dicabut. sehubungan atas dengan dan dugaan kewajiban pelanggaran pembatasan berdasarkan bukti yang cukup. Wali Amanat dinyatakan pailit atau mengajukan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) atau dibekukan operasi/kegiatan usahanya. Wali Amanat tidak mampu melaksanakan kewajibannya. c. Semua jumlah yang terhutang dalam kontrak perwaliamanatan telah dibayar sebagaimana mestinya. membubarkan diri secara sukarela atau bubar menurut ketentuan peraturan perundangan. iii. Wali Amanat dibubarkan oleh suatu lembaga peradilan atau badan resmi lainnya. Wali Amanat diberhentikan oleh RUPO. Pengakhiran tugas Wali Amanat Wali Amanat berhenti menjalankan tugasnya dalam hal terjadi halhal sebagai berikut: i. Wali Amanat telah gagal menjalankan tugasnya. Ijin usaha. Meminta independen pemeriksaan audit terbatas oleh auditor adanya Emiten.v. iv. vi. Meminta pembayaran kepada Emiten atas segala biaya-biaya yang dibutuhkan dan/atau penggantian atas biaya-biaya yang dikeluarkan Wali Amanat dalam menjalankan tugasnya.

maka imbalan jasa Wali Amanat setelah pembelian kembali menjadi tidak ada lagi. Emiten dan Bapepam.v. Dalam hal Wali Amanat diberhentikan atau berhenti atas kemauan sendiri sebelum berakhir masa tugasnya. Wali Amanat dapat mengajukan pengunduran diri secara tertulis kepada Emiten dan diberitahukan kepada RUPO. Dalam hal terdapat ketentuan pembelian kembali maka nilai nominal akan berkurang sesuai pelaksanaan buy back tersebut. 5. 4. maka imbalan jasa Wali Amanat pada tahun yang bersangkutan akan dikembalikan secara proposional. Nama Efek bersifat utang. Syarat-syarat Obligasi Dalam pasal ini lazim dinyatakan bahwa Emiten berjanji dan mengikatkan diri kepada Wali Amanat sebagai kuasa pemegang efek bersifat utang untuk menerbitkan efek bersifat utang dengan syaratsyarat sebagai berikut: i. 30 . Segera setelah pengunduran diri Wali Amanat wajib memberikan laporan pertanggungjawaban mengenai pelaksanaan tugasnya kepada RUPO. beserta masing-masing Seri (jika ada) jangka waktu. Dalam hal terjadi pembelian kembali yang mengakibatkan pelunasan sebelum jatuh tempo. jenis dan tingkat suku bunga serta nilai nominalnya. Selama pertanggungjawaban belum diterima maka Wali Amanat belum dibebaskan dari tugas dan kewajibannya. Tugas Wali Amanat baru berhenti setelah Emiten dan RUPO menyatakan persetujuannya dan Wali Amanat yang menggantikan telah mulai melaksanakan tugasnya. Imbalan Jasa Wali Amanat Besarnya imbalan jasa Wali Amanat adalah sesuai dengan yang dinyatakan dalam surat penunjukan Emiten kepada Wali Amanat.

xii. Penarikan efek dari rekening hanya dapat dilakukan dengan pemindahbukuan. v. Cara penghitungan bunga.ii. xiii. Sertifikat Jumbo merupakan bukti bahwa Emiten sejak tanggal emisi secara sah dan mengikat berhutang kepada pemegang efek sejumlah pokok dan bunganya dan denda (jika ada). Satuan pemindahbukuan yang berlaku. Penarikan efek di luar rekening untuk dikonversikan menjadi sertifikat efek bersifat utang tidak dapat 31 . xiv. Ketentuan perpajakan yang berlaku atas setiap pembayaran yang dilakukan Emiten kepada pemegang efek. vi. Pembayaran dilakukan oleh Agen Pembayaran atas nama Emiten. viii. Bank Kustodian atau perusahaan Efek yang merupakan pemegang efek dapat bertindak untuk dirinya sendiri atau atas nama nasabahnya berdasarkan surat kuasa. Peralihan hak kepemilikan atas efek dengan pemindahbukuan dari satu rekening ke rekening yang lain. vii. kecuali sertifikat jumbo yang diterbitkan Emiten dan didaftrakan di KSEI. x. sebagai bukti utang untuk kepentingan pemegang efek. Efek bersifat utang diterbitkan tanpa warkat. xi. iii. Pemegang efek bersifat hutang yang berhak atas bunga adalah yang tercatat dalam Daftar Pemegang Efek pada tanggal yang ditentukan. ix. Waktu pelaksanaan pembayaran bunga. iv. Besarnya denda keterlambatan pembayaran pokok atau bunga. Efek bersifat utang harus dilunasi Emiten dengan nilai yang sama dengan yang tertulis dalam Konfirmasi Tertulis yang dimiliki Pemegang Efek pada tanggal pelunasan pokok.

maka tanpa persetujuan tertulis terlebih dahulu dari Wali Amanat. yang secara material dapat berakibat secara negatif terhadap kelangsungan uisaha atau kemampuan Emiten dalam memenuhi kewajibannya. peleburan atau pengambilalihan. baik dalam satu transaksi atau beberapa transaksi dalam satu tahun buku. Emiten tidak dapat melakukan hal-hal sebagai berikut: i. mengijinkan atau anak atau memberikan perusahaannya memberikan pinjaman/hutang melakukan peminjaman/hutang pinjaman/hutang baru yang kedudukannya lebih tinggi dari hutang efek bersifat utang. tidak adanya hak suara dan bunga atas efek yang dilakukan buy back dan hanya dapat dilakukan bila Emiten tidak sedang dalam keadaan lalai atas pembayaran hutangnya. 32 . xv. kecuali apabila ada pembatalan pendaftaran dalam penitipan kolektif di KSEI. atau memberikan persetujuan kepada anak perusahaannya untuk melakukan ketiga hal tersebut. Pembatasan-pembatasan terhadap Emiten Sebelum semua jumlah yang terhutang dibayar oleh Emiten. Mengubah bidang usaha utama Emiten dan atau anak perusahaan emiten yang dapat mempengaruhi secara material kelangsungan usaha atau kemampuan Emiten memenuhi kewajibannya. Ketentuan buy back (jika ada) hanya dapat dilakukan setelah ulang tahun pertama penerbitan. melepaskan hak atau menjadikan jaminan hutang yang diikat secara khusus melebihi dari jumlah tertentu atas seluruh kekayaan Emiten.dilakukan. iv. iii. dengan pengecualian tertentu. 6. ii. Melakukan penggabungan. Mengalihkan. Melakukan peminjaman/hutang baru.

kecuali Emiten telah memenuhi kewajiban pembayaran bunga dan/atau pokok. Mengurangi modal dasar. Menjalankan usahanya dengan sebaik-baiknya. Membagikan dividen kepada pemegang saham Emiten. Mengajukan permohonan pailit atau penundaan kewajiban pembayaran utang atau mengijinkan anak perusahaan melakukan hal tersebut. Menyetorkan dana (in good fund) untuk pelunasan bunga dan atau pokok pada tanggal yang ditentukan kepada Agen Pembayaran yang ditunjuk.v. vi. Memenuhi semua ketentuan dalam Dokumen Penawaran Umum. Memelihara sistem akuntansi dan pengawasan pembiayaan sesuai dengan Pedoman StandarAkuntansi Keuangan (atau Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia untuk Emiten Bank) serta buku- 33 . iv. Apabila Emiten adalah Bank maka wajib menjaga tingkat kesehatan tertentu sesuai kriteria Bank Indonesia. Apabila lewat waktu yang ditentukan dan pembayaran belum dilakukan maka Emiten wajib membayar sejumlah denda yang merupakan hak selurh pemegang efek bersifat utang secara proposional. vii. modal ditempatkan dan modal disetor emiten. iii. viii. bagi hasil atau lainnya dengan pihak lain yang dapat mengakibatkan operasional keuangan Emiten diatur oleh pihak lain. Kewajiban Emiten Sebelum seluruh kewajiban Emiten kepada pemegang efek dilunasi. Emiten berkewajiban untuk: i. ii. Melakukan segala bentuk kerjasama. 7.

xii. vii. Membayar semua kewajiban pajak. ix. Menyerahkan kepada Wali Amanat laporan keuangan yang diserahkan Emiten kepada Bapepam. Segera memberitahukan kepada Wali Amanat secara tertulis apabila terjadi perubahan-perubahan dalam ruang lingkup usaha Emiten yang berpengaruh material terhadap usaha Emiten. Memberitahukan secara tertulis kepada Wali Amanat tentang setiap perubahan dalam Anggaran Dasar Emiten. Bursa Efek dan KSEI. vi. restribusi atau kewajiban lain kepada pemerintah. viii. v. Menjaga rasio keuangan konsolidasi dan memelihara setiap keadaan keuangan Emiten dalam Laporan Keuangan yang telah diaudit dan menyerahkan kepada Wali Amanat dalam kondisi: Likuiditas dalam rasio tertentu Debt to equity Rasio tertentu Perbandingan EBITDA dan Interest Coverage dalam rasio tertentu 34 . ijin-ijin dan keuangan emiten. melakukan pemeriksaan atas buku-buku. Memelihara kekayaan dalam keadaan baik dan mengasuransikan risiko-risiko yang biasa dihadapi Emiten. faktur. memasuki gedung-gedung yang dimiliki Emiten. x. inventaris dan perjanjian-perjanjian.buku dan catatan-catatan yang cukup untuk menggambarkan dengan tepat keadaan keuangan Emiten dan hasil operasionalnya. rekening dan dokumen lain yang dimiliki Emiten. Mengijinkan Wali Amanat sewaktu-waktu pada jam kerja untuk melakukan kunjungan langsung kepada Emiten. xi. Memberitahukan hasil RUPS kepada Wali Amanat.

xiii Memenuhi ketentuan dalam perjanjian-perjanjian lain yang berkaitan dengan emisi efek bersifat utang. 9. Kuasa Pemegang Efek kepada Wali Amanat Sejak tanggal Emisi. Wali Amanat mengikatkan diri untuk melaksanakan tugas-tugas dan kewajiban sebagai Wali Amanat dengan penuh tanggung jawab. termasuk melindungi kepentingan pemegang efek dihadapan instansi peradilan. untuk menjalankan semua hak pemegang efek bersifat utang tanpa pengecualian. secara bersamasama memberikan kuasa kepada Wali Amanat tanpa perlu adanya pemberian surat kuasa khusus. iii. integritas serta bertindak secara bijaksana untuk kepentingan pemegang efek bersifat utang. 35 . Wali Amanat berhak dan berwenang untuk bertindak sebagai Wali Amanat Efek bersifat utang dan telah terdaftar sebagai Lembaga Penunjang Pasar Modal. sekarang dan dikemudian pada waktunya. ii. berdasar ketentuan perundangan yang berlaku. Kontrak Perwaliamanatan berlaku sebagai bukti yang sempurna mengenai pemberian kuasa pemegang efek kepada Wali Amanat dan kuasa ini tidak dapat berakhir karena sebab apapun termasuk sebabsebab yang diatur dalam Pasal 1813. Pernyataan Wali Amanat Wali Amanat menyatakan dan menjamin hal-hal sebagai berikut: i. Wali Amanat bertanggung jawab kepada pemegang efek bersifat utang atas setiap kerugian yang timbul karena kelalaian. 8. setiap pemegang efek bersifat utang langsung tunduk kepada Kontrak Perwaliamanatan dan menyetujui untuk dan dengan ini. pengadilan niaga dan arbitrase. 1814 dan 1816 Kitab Undangundang Hukum Perdata.

untuk melakukan sesuatu dan untuk tidak melakukan sesuatu. 10. viii. Secara umum konsekuensi dari kelalaian Emiten tersebut Dalam perjanjian perwaliamanatan dirinci beberapa tindakan atau kejadian yang menyebabkan Emiten masuk dalam kondisi “lalai melaksanakan kewajibannya” dan karenanya Wali Amanat dapat 36 . Ketentuan tentang kelalaian Emiten dalam perjanjian perwaliamanatan merupakan refleksi dari aspek janji untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Kelalaian Emiten Berdasarkan Pasal 1233 KUH Perdata. vii. termasuk pinjam meminjam dapat dibedakan menjadi 3 jenis. anggota Direksi dan Komisaris Wali Amanat adalah sebagai berikut. iv. Untuk pembuatan Kontrak Perwaliamanatan telah memperoleh perseujuan yang dipersyaratkan Anggaran Dasar dan peraturan perundangan yang berlaku. Pembuatan Kontrak Perwaliamanatan telah dibuat sebagaimana mestinya sesuai perundangan dan ditandatangani sebagaimana mestinya atas nama Wali Amanat dan merupakan kewajiban yang sah dan mengikat bagi Wali Amanat sesuai peraturan perundangan di wilayah RI. v. Pada tanggal Kontrak Perwaliamanatan ini.kecerobohan atau benturan kepentingan dalam hubungannya dengan pelaksanaan tugasnya. vi. Orang-orang yang menandatangani Kontrak ini adalah yang berhak dan berwenang untuk dan atas nama Wali Amanat. menurut isinya suatu perikatan. yaitu untuk memberikan atau menyerahkan sesuatu. Pernyataan ada tidaknya hubungan Afiliasi dan hubungan kredit dengan Emiten.

Rapat Umum Pemegang Obligasi Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) tidak deselenggarakan secara berkala. Emiten tidak dapat memenuhi kewajiban kepada kreditur lain (selain pemegang obligasi) atau cross default. Emiten membuat pernyataan yang tidak benar. Kelalaian tersebut antara lain terjadi Emiten tidak membayar. Jika dalam waktu tertentu (14 hari) Emiten tidak memperbaiki. 11. maka Wali Amanat berhak mengumumkan kepada masyarakat bahwa Emiten tersebut telah lalai. Emiten tidak melakukan sesuatu yang dilakukan berdasarkan perjanjian harus dilakukan. bunga atau kewajiban pembayaran lainnya. 37 . Memberhentikan dan menunjuk Wali Amanat baru. ii. Emiten menerima pernyataan moratorium dari pengadilan atau pihak yang berwenang lainnya. baik pokok. vii. antara lain: i. Emiten dinyatakan pailit. Pemberian pengarahan atau amanat kepada Wali Amanat untuk memberikan kelonggaran atas penyelesaian kelalaian Emiten. vi. ii. Emiten menghentikan atau mengancam menghentikan kegiatan usahanya. iv. karena: i. iii.mengambil tindakan tertentu. namun digantungkan pada suatu kejadian tertentu. v. Selanjutnya atas persetujuan RUPO Wali Amanat dapat melakukan penagihan jumlah yang terutang kepada Emiten. Terhadap kelalaian Emiten tersebut Wali Amanat dapat mengambil tindakan antara lain berupa pemberitahuan kepada Emiten bahwa yang bersangkutan telah lalai.

Dalam hal kelalaian itu terjadi. tidak tertutup kemungkinan Wali Amanat lalai dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya. 12. yaitu perubahan nilai pokok obligasi. misalnya 20% dari total obligasi yang diterbitkan.permintaan tertulis dari pemegang obligasi yang memiliki jumlah atau persentase tertentu. namun ada pula yang menjaminkan seluruh kakayaan perusahaan. yaitu harus dihadiri pemegang obligasi paling sedikit 3/4 dari pokok obligasi dan disetujui oleh paling sedikit 3/4 yang hadir. 13. kecuali hak Emiten untuk meminta pembatalan perjanjian perwaliamanatan. Perjanjian perwaliamanatan juga mengatur masalah korum dalam pengambilan keputusan RUPO. Jaminan Untuk memberikan kepastian pelunasan obligasi serta membuat obligasi yang akan diterbitkan memiliki daya tarik bagi investor. perubahan tingkat bunga. diperlukan korum yang cukup ketat. cukup dihadiri pemegang obligasi paling sedikit 2/3 dari pokok obligasi dan disetujui oleh paling sedikit 2/3 yang hadir. baik yang sudah ada maupun yang akan ada dan penjaminan oleh pihak ketiga (guarantor). Sedangkan untuk pengambilan keputusan lain. 38 . Mengambil tindakan lain yang dikuasakan oleh atau atas nama pemegang obligasi. dalam perjanjian perwaliamanatan dicantumkan berbagai macam bentuk jaminan atas penerbitan obligasi. Beberapa perjanjian perwaliamanatan menyebutkan suatu aset tertentu digunakan sebagai jaminan.iii. Untuk mengambil keputusan tertentu. Kelalaian Wali Amanat Dalam pelaksanaan perjanjian perwaliamanatan. maka diberlakukan ketentuan dalam Pasal 1267 KUH Perdata. perubahan tata cara pembayaran bunga dan perubahan jangka waktu.

v. status badan hukum Emiten. susunan pengurus informasi dalam pernyataan pendaftaran beserta dokumen pendungkung tidak memuat pernyataan yang tidak benar. disertai penggantian kerugian dan bunga. akan memaksa pihak lain untuk memenuhi perjanjian. 17. Pernyataan tersebut antara lain pernyataan tentang: i. 14. 15. jika hal itu masih dapat dilakukan.Pasal dimaksud mengatur bahwa pihak terhadap siapa perikatan tidak dipenuhi. Keadaan Memaksa (force majeure) Pasal ini memuat tentang keadaan-keadaan yang dapat menyebabkan para pihak dalam kontrak perwaliamanatan (Emiten dan Wali Amanat) karena suatu keadaan tertentu tidak bisa memenuhi kewajiban dan tangung jawabnya sebagaimana telah ditetapkan dalam kontrak perwaliamanatan. ii. iv. dapat memilih apakah ia. iii. kelengkapan perijinan yang dimiliki pernyataan tentang perkara yang dihadapi Pemberitahuan pasal ini memuat tentang identitas yang meliputi alamat masing-masing para pihak dalam kontrak perwaliamanatan (Emiten dan Wali Amanat). Penyelesaian perselisihan Pasal ini memuat tentang cara atau pilihan penyelesaian sengketa apabila terjadi suatu sengketa yang berhubungan dengan pelaksanaan atau 39 . 16. Pernyataan Emiten Dalam perjanjian perwaliamanatan seringkali dirumuskan beberapa pernyataan dari Emiten terkait dengan obligasi yang diterbitkannya. ataukah ia akan menuntut pembatalan perjanjian.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai sejauhmana hal tersebut berpengaruh terhadap hubungan Emiten dengan Wali Amanat. antara lain: 1. terpenuhinya seluruh hak dan kewajiban yang ditentukan dalam perjanjian perwaliamanatan. tidak diperoleh peringkat Efek dari perusahaan pemeringkat efek.pemenuhan hak dan kewajiban pada masing-masing pihak dalam kontrak perwaliamanatan 18. Menerima penunjukan sebagai Wali Amanat bagi Bank Umum berarti mendapatkan lahan bisnis dari pihak Emiten. diperoleh keterangan mengenai beberapa permasalahan yang dihadapi Wali Amanat dalam menjalankan tugasnya. Dalam suatu penerbitan efek bersifat utang. Pertanyaan ini penting mengingat tugas utama dari Wali Amanat adalah mewakili kepentingan pemegang efek bersifat utang untuk mengawasi Emiten sendiri. Emiten merupakan pihak yang berwenang menunjuk dan membayar jasa suatu lembaga untuk bertindak sebagai sebagai Wali Amanat. Emiten berkuasa dalam menentukan siapa yang dia tunjuk untuk menjadi Wali Amanat. Sementara itu. ii. MASALAH DAN KENDALA YANG DIHADAPI WALI AMANAT Dari hasil wawancara dengan para narasumber. Posisi yang tidak seimbang antara keduanya tersebut seringkali menimbulkan keraguan berkaitan 40 . Ketentuan Lain-lain Dalam ketentuan lain-lain antara lain diatur bahwa perjanjian perwaliamanat berakhir dengan sendirinya antara lain jika: i. B. Keberadaan Wali Amanat: a.

hubungan Wali Amanat dengan pemegang efek bersifat utang dan hubungan antar sesama Wali Amanat. seringkali Wali Amanat merupakan pihak yang terakhir kali dihubungi untuk terlibat di dalamnya.dengan independensi Wali Amanat ketika harus berhadapan dengan Emiten. Selama ini belum ada suatu kode etik yang mengatur hubungan antara Wali Amanat dengan Emiten. Hal-hal yang dapat menimbulkan benturan kepentingan tersebut antara lain: a. kondisi Emiten dan struktur penawaran efek bersifat utang tersebut. Dalam penunjukan profesi dan lembaga yang terlibat dalam penawaran umum efek bersifat utang. Padahal dalam menentukan keputusan apakah bersedia menjalankan tugasnya. Hal ini sering menimbulkan permasalahan dalam praktik. Wali Amanat harus dapat melepaskan diri dari kondisi-kondisi yang dapat mengakibatkan benturan kepentingan dalam pekerjaannya. 2. Benturan Kepentingan Dalam Pelaksanaan Tugas Wali Amanat Untuk dapat menjalankan tugas mewakili kepentingan pemegang efek bersifat utang dengan baik. seperti misalnya persaingan yang tidak sehat antar sesama Wali Amanat dalam memperoleh klien. c. Hubungan Kredit dengan Emiten Hubungan kredit antara Wali Amanat dengan Emiten dapat mengakibatkan benturan kepentingan dalam hal kepentingan Wali Amanat selaku kreditur berbenturan dengan kepentingan 41 . b. Wali Amanat perlu terlebih dahulu mempelajari dengan cermat. Tanpa diberi waktu yang cukup untuk mempelajari dan menganalisi dengan baik maka hal tersebut akan berpengaruh terhadap kinerja Wali Amanat dalam merundingkan ketentuan-ketentuan dalam kontrak Perwaliamanatan dengan Emiten.

maka pihak Wali Amanat belum memiliki dasar pedoman yang pasti mengenai hal ini. Undang-undang Pasar Modal telah mengamanatkan pembatasan besarnya hubungan kredit antara Wali Amanat dengan Emitennya. b. Hubungan afiliasi tersebut dapat timbul karena hubungan kekeluargaan. Wali Amanat dapat memilih mengutamakan tindakan penyelamatan atas kredit yang disalurkannya. Hubungan Afiliasi dengan Emiten Hubungan afiliasi sebagai mana dimaksud dalam pasal 1 ayat 1 UU Pasar Modal mungkin terjadi antara Wali Amanat dengan Emiten. hubungan pengelolaan dan pengawasan. Dengan adanya hubungan afiliasi ini. maka Wali Amanat berhadapan dengan pilihan mengenai kepentingan manakah yang harus didahulukan. akan tetapi hal itu mungkin merupakan pelanggaran tugasnya selaku Wali Amanat yang harus melakukan tindakan yang terbaik untuk kepentingan pemegang efek bersifat utang. Karena kedua posisi tersebut sama-sama memiliki hubungan kredit. sehingga kepentingan pemegang efek menjadi terabaikan. hubungan pengendalian ataupun hubungan kepemilikan saham. Emiten dapat mempengaruhi Wali Amanat untuk bertindak sesuai kepentingan Emiten. Namun. dengan pengecualian hanya untuk hubungan afiliasi karena kepemilikan saham pemerintah. Untuk itu UU Pasar Modal dalam Pasal 51 ayat (2) telah melarang adanya hubungan afiliasi ini.Wali Amanat selaku wakil pemegang efek bersifat utang. Pelarangan ini dapat menghindari adanya benturan kepentingan 42 . dengan belum adanya peraturan pelaksana mengenai hal tersebut. misalnya dalam hal terdapat kondisi dimana Emiten mengarah kepada default atas kewajibankewajiban utangnya.

kepentingan penjamin emisi efek yang utama adalah berkaitan dengan pemasaran efek yang diterbitkan. Penjamin Emisi akan cukup puas selama syarat dan kondisi obligasi yang ditawarkan menarik bagi investor. Untuk itu UU Pasar Modal dalam pasal 54 melarang perangkapan posisi tersebut demi perlindungan kepentingan pemegang efek bersifat utang. Mengundurkan diri sebagai 43 . Untuk itu. Untuk itu.sebagaimana tersebut di atas. Wali Amanat harus berusaha sedapat mungkin menegosiasikan syarat-syarat dan kondisi yang terbaik dari sudut kepentingan kreditur. Hal ini berbeda dengan sudut pandang kepentingan Wali Amanat yang bertindak untuk kepentingan keamanan investasi pemegang efek bersifat utang. maka Wali Amanat sekaligus berdiri pada dua posisi yang berseberangan. d. Hubungan Afiliasi dengan Penjamin Emisi Dalam suatu penerbitan efek bersifat utang. Dalam hal terdapat hubungan afiliasi maka Wali Amanat harus mengundurkan diri dari posisi sebagai Wali Amanat. c. Wali Amanat perlu secara jujur dan transparan mengungkapkan kepada publik mengenai ada tidaknya hubungan afiliasi dimaksud. yaitu sebagai pihak yang mewakili kreditur dan sebagai pihak yang justru wajib menanggung kewajiban utang debitur (Emiten) dalam hal terjadi wan prestasi. Kondisi-kondisi di atas sangat mungkin terjadi dalam praktik kegiatan usaha Wali Amanat sebagai Bank Umum. perlu kiranya terdapat pembatasan atas hubungan afiliasi antara Wali Amanat dengan Penjamin Emisi Efek agar masing-masing pihak dapat melaksanakan tugasnya secara lebih independen tanpa saling mempengaruhi satu sama lain. Bertindak sebagai penanggung pada emisi Efek yang sama Dengan menjadi penanggung atas utang Emiten.

maka hal ini dapat menimbulkan kesulitan bagi Emiten untuk memperoleh Wali Amanat yang bebas dari benturan kepentingan. 3. Pertanyaan beikutnya adalah siapakah pihak yang paling berkompeten untuk menentukan standar kinerja tersebut. sehingga hal tersebut mempersulit dalam pelaksanaan kegiatan Wali Amanat. Fungsi dan Tugas Wali Amanat Yang Tercantum Dalam UU Pasar Modal belum terdapat pengaturan pelaksanaannya. sehingga apabila Wali Amanat gagal memenuhinya dan timbul kerugian maka pemegang efek dapat menuntut ganti rugi.Wali Amanat apabila terdapat benturan kepentingan adalah salah satu pilihan yang bisa diambil. Dengan demikian pemegang efek bersifat utang menggantungkan sepenuhnya pada Wali Amanat dalam 44 . Ketiadaan pedoman/standar dalam penyusunan kontrak perwaliamanatan Kontrak Perwaliamanatan pada umumnya disusun atas inisiatif dari pihak emiten sebagai debitur bersama penjamin emisi sebelum penawaran umum dilakukan. Keterlibatan pemegang efek bersifat utang selaku kreditur pada saat itu tidak dapat dilakukan secara langsung. Beberapa kesulitan dalam implementasi ketentuan ini antara lain karena sampai saat ini belum ada ketentuan mengenai standar kinerja yang wajib dipenuhi oleh Wali Amanat. kecerobohan atau benturan kepentingan dalam pelaksanaan tugasnya. Akan tetapi mengingat saat ini jumlah Wali Amanat di pasar modal Indonesia saat ini masih sangat terbatas. 4. melainkan diwakili oleh Wali Amanat. Konsekuensi hukum yang diberikan oleh undang-undang Pasar Modal kepada Wali Amanat adalah berupa kewajiban memberikan ganti rugi kepada pemegang Efek bersifat utang atas kerugian yang timbul karena kelalaian. Apakah pihak Asosiasi Wali Amanat atau Bapepam selaku regulator di pasar modal.

Hal ini berakibat Wali Amanat kurang mampu memasukkan ketentuanketentuan yang berguna untuk melindungi kepentingan investor apabila emiten keberatan dengan ketentuan-ketentuan. banyak tergantung pada kemampuan Wali Amanat dalam melakukan perundingan dan negosiasi dengan para pihak terkait. antara lain dengan adanya jaminan khusus/agunan. kewajiban atau pembatasan yang diajukan Wali Amanat. Beberapa hal yang sering menjadi perdebatan antara Emiten dengan Wali Amanat antara lain: a. dan kewajiban melakukan pemeringkatan setahun sekali. serta membuktikan adanya dana untuk pelunasan utang pokok pada escrow account sebulan sebelum jatuh tempo. Dipihak 45 . pernyataan kesanggupan membayar utang pokok enam bulan sebelum jatuh tempo.melakukan perundingan terhadap ketentuan-ketentuan dalam kontrak perwaliamanatan. Ketentuan yang memberikan kepastian terhadap pembayaran utang pokok umumnya diharapkan Wali Amanat juga tercantum dalam kontrak. Di pihak Emiten seringkali hal tersebut diharapkan tidak perlu ada dengan alasan akan memberatkan emiten. Apakah isi dari kontrak perwaliamanatan yang dihasilkan cukup mewakili aspirasi dan kepentingan pemegang efek. terutama dengan Emiten. pihak Wali Amanat sendiri sampai saat ini tidak memiliki suatu pedoman yang dapat dijadikan dasar acuan mengenai hal-hal yang harus dimuat dalam kontrak perwaliamanatan agar aspek perlindungan kepentingan pemegang efek tidak terabaikan. Wali Amanat mengharapkan dalam penerbitan efek bersifat utang sedapat mungkin terdapat ketentuan pengaman. seperti kewajiban melaporkan rencana pembayaran pokok setaun sebelum jatuh tempo. Namun demikian. sinking fund.

dan lain-lain. Dalam kondisi wan prestasi. Korum untuk meminta persetujuan perubahan hal-hal yang penting dalam kontrak perwaliamanatan 46 . Ketentuan mengenai tata cara dan korum RUPO. Pembatasan tersebut misalnya: larangan membuat hutang baru. seperti: adakah hak suara maupun hak bunga. serta kewajiban mempertahankan rasio-rasio keuangan tertentu. Wali Amanat merasa perlu memasukkan ketentuan kewajiban dan Pembatasan yang harus dipenuhi Emiten. sedapat mungkin pembatasan dan kewajiban tersebut tidak memberatkan sehingga apabila terjadi sedikit pelanggaran tidak mengakibatkan emiten dinyatakan wanprestasi atas kontrak perwaliamanatan. Selama ini. Di pihak Emiten. ketentuan yang jelas mengenai hak-hak efek bersifat utang yang dibuyback. Wali Amanat juga mengharapkan Emiten tidak dapat melakukan buyback. larangan membayar dividen tunai. jangka waktu dan pokok efek bersifat utang. karena belum ada peraturan perundangan yang tegas mengaturnya maka pengaturannya dalam kontrak perwaliamanatan masih tergantung kesepakatan para pihak. c. larangan melakukan merger dan konsolidasi. Belum adanya standar rasio-rasio keuangan yang berlaku pada industriindustri tertentu terkadang juga menyulitkan Wali Amanat untuk memperoleh kesepakatan dengan pihak Emiten. khususnya untuk menentukan perubahan ketentuan-ketentuan penting dalam kontrak perwaliamanatan seperti: bunga. dengan maksud untuk mempermudah dalam melakukan pengawasan kepada emiten. Wali Amanat mengharapkan sebelum ada ketentuan mengenai serta keterbukaan informasi pelaksanaan buyback. Dalam ketentuan mengenai pembelian kembali efek bersifat utang. d.Emiten umumnya memandang hal tersebut tidak perlu dicantumkan. b.

Dalam kondisi yang paling buruk. Bila dilihat besarnya imbalan jasa yang diterima Wali Amanat selama ini. maka posisi Wali Amanat saat itu relatif pasif. Namun. PEMBAHASAN HASIL KUESIONER Guna mendapatkan masukan yang mewakili aspirasi dari seluruh pihak yang terlibat langsung dan berkepentingan dalam permasalahan 47 . Dalam hal demikian. Wali Amanat harus berhadapan dengan Emiten untuk memperjuangkan hak-hak pemegang efek lewat institusi peradilan. C. maka posisi Wali Amanat menjadi aktif dalam melaporkan hal tersebut kepada pemegang efek bersifat utang dan melakukan upaya agar Emiten dapat memperbaiki pelanggaran tersebut. Wali Amanat akan mengalami kesulitan terutama dalam hal pembiayaan proses litigasi tersebut. ketika Emiten mengalami dan melakukan pelanggaran atas pembatasan kewajiban yang ada dalam kontrak perwaliamanatan. yaitu hanya memonitor wanprestasi kondisi atau Emiten. Tindakan yang diambil Wali Amanat Dalam hal Emiten Wanprestasi Dalam kondisi Emiten dapat melaksanakan seluruh kewajibannya dengan baik. Besarnya denda keterlambatan pembayaran kewajiban bunga maupun pokok saat ini belum ada dasar acuan yang dapat dipakai oleh para pihak. e. 5. maka sangat tidak mungkin Wali Amanat harus menanggung biaya yang tidak sedikit tersebut. Dalam hal waktu yang diberikan untuk emiten dapat memperbaiki pelanggaran telah terlampaui maka Wali Amanat dapat memanggil pemegang efek untuk mengadakan rapat umum pemegang efek bersifat utang yang membahas tinakan apa yang harus dilakukan.sudah sewajarnya lebih besar dari pada RUPO yang membahas masalah lain.

Dari hasil pengembalian kuesioner tersebut akan dilakukan analisis atas jawaban responden. Emiten Obligasi. Profil responden: Kelompok Responden Notaris Konsultan Hukum Wali Amanat Emiten Investor Jumlah Frekuensi 8 12 8 14 11 53 Prosentase 15. Wali Amanat dan Investor.6 15.8 100. 2. Dengan demikian. diharapkan hasilnya cukup mencerminkan aspirasi seluruh pihak yang berkepentingan di Pasar Modal Indonesia. jawaban responden adalah sebagai berikut: 48 .1 22. Notaris. Pedoman Kontrak Perwaliamanatan Berkenaan dengan pertanyaan mengenai seberapa perlunya terdapat suatu pedoman yang dapat dipakai oleh para pelaku sebagai dasar acuan dalam pembuatan kontrak perwaliamanatan. Tim Studi telah menyebarkan 150 kuesioner kepada para responden yang digolongkan menjadi 5 kategori. 53 (35%) responden telah mengisi dan mengembalikan kepada Tim Studi.1 26.4 20. Hasil jawaban kuesioner studi perwaliamanatan selengkapnya adalah sebagai berikut:: 1.0 Komposisi responden yang diperoleh dirasa telah cukup berimbang karena tidak terdapat satu atau beberapa kategori yang terlalu mendominasi dalam pemberian masukan dalam kuesioner. Dari jumlah tersebut.perwaliamanatan di Pasar Modal Indonesia. Pendekatan yang dilakukan dalam melakukan analisis adalah dengan pendekatan legal dengan mempertimbangkan dinamika dan kebutuhan pasar. yaitu: Konsultan Hukum.

Mayoritas responden studi ini (90. serta manfaat lain dari Emiten. Tugas dan fungsi Wali Amanat Hingga saat ini.6%) juga mendukung perlunya hal tersebut: 49 .4% menyatakan sangat perlu dan 39.Jawaban Sangat perlu Perlu Kurang perlu Tidak perlu Jumlah Frekuensi 32 21 53 Prosentase 60. Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum Obligasi. Berkaitan dengan hal ini. UU Pasar Modal dalam Pasal 52 telah mewajibkan Emiten dan Wali Amanat mengikuti ketentuan dari Bapepam dalam pembuatan kontrak perwaliamanatan mereka. d.4 39. Jaminan (jika ada). maka dapat disimpulkan bahwa seluruh pelaku pasar sepakat bahwa pedoman kontrak perwaliamanatan merupakan hal yang mutlak dibutuhkan di pasar modal Indonesia. c. Utang pokok dan bunga. ketentuan dari Bapepam mengenai pedoman kontrak perwaliamanatan sebagaimana diamanatkan Undang-undang Pasar Modal belum terwujud. (1) Pengaturan secara rinci tentang ketentuan penggunaan dana hasil penawaran umum oleh Emiten pada umumnya selalu tercantum dalam kontrak perwaliamanatan.6 100.0 Dengan hasil 60. b. dan e.6% menyatakan perlu. Agen Pembayaran. Lebih lanjut. antara lain mengenai: a. 3. Saat jatuh tempo. dalam Penjelasan Pasal 52 tersebut dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan “ketentuan yang ditetapkan Bapepam” adalah hal-hal yang wajib dimuat dalam kontrak perwaliamanatan antara lain.

Ketentuan mengenai kewajiban pelaporan penggunaan dana hasil emisi obligasi selama ini hanya diberlakukan bagi Emiten kepada Bapepam.2 43.4 tentang Laporan Realisasi Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum.4 9.1%) mencerminkan bahwa hanya sedikit pelaku pasar yang berpandangan bahwa keterbukaan informasi kepada publik mengenai penggunaan dana hasil emisi obligasi bukan hal yang penting dilakukan. (2) Selanjutnya. mayoritas responden juga menyatakan sangat perlu atau perlu: Jawaban Sangat perlu Perlu Kurang perlu Tidak perlu Jumlah Frekuensi 18 27 8 53 Prosentase 34. mengenai pertanyaan apakah Wali Amanat perlu diwajibkan memonitor penggunaan dana tersebut secara aktif serta melaporkan hasilnya kepada publik dan Bapepam. Hal ini sebagaimana diatur dalam Peraturan Bapepam Nomor X.K.Jawaban Sangat perlu Perlu Kurang perlu Tidak perlu Jumlah Frekuensi 25 23 5 53 Prosentase 47. Hal tersebut kemungkinan karena pengaturan yang rinci dianggap akan membatasi fleksibilitas Emiten dalam menggunakan dana yang diperoleh secara maksimal. dalam 50 .0 50.4 100.1 100. Sedangkan bagi Wali Amanat.0 Hanya sebagian kecil (9.4%) saja responden yang menganggap hal tersebut kurang perlu.9 15.0 Jumlah responden yang menyatakan hal tersebut kurang perlu (15.

penggunaan dana hasil emisi memang tidak secara khusus dinyatakan sebagai hal yang wajib dilaporkan kepada Bapepam dan dilaporkan kepada pemegang publik. Jawaban Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah Frekuensi 8 8 30 7 53 Prosenatse 15. kiranya penyempurnaan atas peraturan Bapepam tersebut menjadi cukup beralasan.2 100.8% responden kurang/tidak setuju apabila hal tersebut didelegasikan kewenangannya kepada Wali Amanat tanpa melalui mekanisme persetujuan pemegang obligasi (Rapat Umum Pemegang Obligasi/RUPO).1 15. Namun berdasarkan masukan dari pelaku pasar di atas.2% yang mendukung pemberian persetujuan cukup oleh Wali Amanat. hanya 11. yang dalam angka 4 huruf c yang hanya mensyaratkan perubahan penggunaan dana yang berasal dari penawaran umum obligasi untuk mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari Wali Amanat setelah disetujui oleh Rapat Umum Pemegang Obligasi (4) Selanjutnya.1 56.0 Hasil di atas selaras dengan ketentuan Peraturan Bapepam Nomor X. (3) Berkaitan dengan pihak yang berwenang memberikan persetujuan atas perubahan penggunaan dana. sedangkan mayoritas (88.Peraturan Bapepam Nomor X.6 13. dalam hal terjadi kelalaian Wali Amanat dalam menjalankan tugas monitoring penggunaan dana tersebut. Hanya 30.K. 69.I.7%) merasa perlu Wali 51 .3% responden yang menyatakan tidak perlu diatur konsekuensi hukumnya.1 tentang Laporan Wali Amanat.4 tentang Laporan Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum.

0 Konsekuensi hukum atas kelalaian Wali Amanat memonitor penggunaan dana Emiten tersebut dapat didasarkan pada ketentuan dalam Pasal 53 Undang-undang Pasar Modal yang menyatakan Wali Amanat wajib memberikan ganti rugi kepada pemegang Efek bersifat utang atas kerugian karena kelalaiannya dalam pelaksanaan tugasnya sebagaimana diatur dalam Undangundang Pasar Modal dan atau peraturan pelaksanaannya. Jawaban Sangat perlu Perlu Kurang perlu Tidak perlu Jumlah Frekuensi 13 34 6 53 Prosentase 24.3 100. berdasarkan ketentuan (angka 5 huruf b Peraturan IX. maka Emiten dituntut konsisten dengan apa yang telah dinyatakan kepada masyarakat. 52 .2 11.C. serta kontrak perwaliamanatan. Emiten dapat bertindak bebas tanpa perlu persetujuan Wali Amanat atau para pemegang obligasi. (Pasal 570 KUHPerdata) Pada dasarnya dalam penggunaan dana hasil penerbitan obligasi.Amanat dikenakan suatu sanksi apabila lalai memonitor penggunaan dana dimaksud. Emiten sebagai penerima pinjaman (dana) demi hukum menjadi pemilik dari dana tersebut. sepanjang tidak bertentangan dengan hukum dan tidak mengganggu hak pihak lain. Emiten harus menyatakan rencana penggunaan dana hasil penerbitan obligasi tersebut.2.5 64. mengingat dalam penerbitan obligasi. Namun demikian. Emiten sebagai pemilik berhak menikmati kegunaan dan berbuat bebas terhadap dana tersebut. Secara umum. Berdasarkan konsep hak milik.

Dengan demikian.7% responden menyatakan “ya” dan hanya 9. Hal ini diperlukan agar Wali Amanat dapat melaksanakan fungsinya 53 .4 100.9 88.4% menyatakan sebaliknya: Jawaban Tidak jawab Ya Tidak Jumlah Pendapat mayoritas Frekuensi 1 47 5 53 responden ini Prosentase 1. 4. sebanyak 88. meskipun penggunaan hak milik atas dana tersebut dibatasi. yaitu investor/para pemegang obligasi. yang menjelaskan bahwa pembatasan hubungan kredit antara Wali Amanat dengan Emiten dimaksudkan untuk menghindari benturan kepentingan pada Wali Amanat dalam melaksanakan kegiatannya sebagai wakil pemegang obligasi di satu sisi dan sebagai kreditur atau debitur dari Emiten disisi yang lain.7 9. Faktor Yang Mempengaruhi Independensi Wali Amanat (1) Berkenaan dengan pertanyaan mengenai apakah hubungan kredit antara Wali Amanat dengan Emiten obligasi perlu dibatasi dengan alasan akan menimbulkan benturan kepentingan dalam pelaksanaan tugas Wali Amanat. Perubahan “janji” tersebut selayaknya memperoleh persetujuan dari pihak kepada siapa “janji” tersebut diberikan.0 sudah sejalan dengan ketentuan Penjelasan Pasal 51 ayat (3) UU Pasar Modal. namun pembatasan tersebut tidak bertentangan atau selaras dengan upaya memberikan perlindungan kepada masyarakat investor.Pernyataan rencana penggunaan dana tersebut menjadi semacam “janji” kepada investor dan hal tersebut menjadi salah satu alasan utama para investor bersedia membeli obligasi yang ditawarkan.

sementara 22. sebaliknya 3.6 37.0 Dalam Pasal 51 ayat (3) Undang-undang Pasar Modal telah diamanatkan kepada Bapepam untuk mengatur mengenai batasan hubungan kredit dimaksud.8% lainnya justru mengharapkan tidak boleh sama sekali ada hubungan kredit. mengenai besarnya batasan yang ideal hubungan kredit antara keduanya. Jawaban Tidak lebih dari 10% dari Nilai pokok Obligasi Emiten Tidak lebih dari 20% dari Nilai pokok Obligasi Emiten Tidak lebih dari 30% dari Nilai pokok Obligasi Emiten Tidak lebih dari 50% dari Nilai pokok Obligasi Emiten Jumlah lain.7%) menjawab tidak lebih dari 20% dari nilai pokok obligasi.8 100.secara independen sehingga dapat melindungi kepentingan pemegang obligasi secara maksimal (2) Selanjutnya. Sebanyak 3.9 3.3% responden memilih angka tidak lebih dari 30% dan 5.8% responden mengharapkan tidak ada pembatasan hubungan kredit sama sekali.7% menyebut angka tidak lebih dari 50%. Mengingat sampai saat ini Bapepam belum menentukan/memiliki dasar acuan bagi penentuan batasan dimaksud. 11. maka pertanyaan di atas dimaksudkan untuk memperoleh gambaran mengenai pendapat pelaku pasar terhadap besaran hubungan kredit tersebut.7 2 1 2 53 3.7 11. mayoritas responden (37. Dari hasil jawaban responden ini dapat disimpulkan bahwa mayoritas pelaku pasar modal 54 .6% responden menyetujui angka tidak lebih dari 10% dari nilai pokok obligasi. sebutkan: Nihil Tergantung jumlah emisi obligasi Tidak boleh ada hub kredit Jumlah Frekuensi 12 20 6 3 Prosentase 22.3 5.8 1.

6%) menyatakan bahwa batasan paling ideal hubungan kredit tersebut tidak lebih dari 10% . Hasil survey menunjukkan bahwa secara umum mayoritas responden (20. (4) Menjawab pertanyaan mengenai apakah hubungan afiliasi antara Wali Amanat dengan Penjamin Emisi Efek juga perlu dibatasi agar masing-masing dapat melaksanakan fungsinya secara independen.8%) menyatakan bahwa afiliasi dalam bentuk hubungan kepemilikan dan hubungan pengendalian merupakan dua hal utama yang mengakibatkan benturan kepentingan pada Wali Amanat. UU Pasar Modal hanya memberikan toleransi atas hubungan afiliasi ini apabila timbul dari kepemilikan atau penyertaan modal pemerintah. (3) Selain pembatasan hubungan kredit dengan Emiten. dapat juga merupakan faktor yang mempengaruhi efektifitas pelaksanaan tugas Wali Amanat tersebut. Selain itu faktor hubungan kredit dan hubungan transaksi komersial lainnya dengan Emiten obligasi.5 15. terdapat pula kemungkinan bahwa hubungan afiliasi antara Wali Amanat dengan Emiten dapat mempengaruhi independensi Wali Amanat dalam menjalankan tugasnya mewakili kepentingan pemegang obligasi.0 55 .8% menyatakan sebaliknya.7 41.1 5.30% dari nilai pokok obligasi yang diterbitkan oleh Emiten. Jawaban Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah Frekuensi 20 22 8 3 53 Prosentase 37.(71. sedangkan sisanya 20.7 100. diperoleh jawaban bahwa 79.2% responden setuju atau sangat setuju.

mengurangi risiko kerugian dalam hal terjadi wan prestasi. jo Pasal 1131 s. Dalam ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.2 100. Pasal 33.2% menyatakan kurang atau tidak setuju. secara aktif memonitor kondisi keuangan dan peringkat obligasi Emiten. jo.5. 1134 KUH Perdata. dalam suatu perikatan utang piutang dapat ditambahkan perjanjian tambahan (assesoir) berupa jaminan kebendaan. serta memberikan rasa aman karena kedudukan kreditur obligasi bersifat preferen. cash flow serta karakter manajemen Emiten. Jaminan Dalam menjawab pertanyaan mengenai perlu tidaknya Emiten obligasi diwajibkan memberikan jaminan khusus untuk pelunasan utang obligasi yang diterbitkannya.0 Dari pihak yang mendukung adanya jaminan khusus memberikan beberapa alasan antara lain bahwa dengan adanya jaminan khusus maka akan lebih menarik investor. Jawaban Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah Frekuensi 19 18 9 7 53 Prosentase 35. serta memperhatikan kompetensi. jo.8 34. 69. Sedangkan bagi yang merasa jaminan khusus kurang atau tidak terlalu penting memberikan alasan bahwa ketiadaan jaminan khusus tidak perlu dipermasalahkan sepanjang investor dapat menganalisa prospektus dan laporan keuangan periodik Emiten.0 13. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria. Pasal 39.d.8% responden menyatakan setuju atau sangat setuju dan 30. Jaminan kebendaan atas suatu utang mengakibatkan timbulnya kedudukan istimewa (preferensi) bagi kreditor yang memegang jaminan 56 .0 17. antara lain Pasal 28.

jaminan umum dan jaminan khusus.6 100. 6. terhadap pertanyaan apakah responden setuju apabila dana yang dicadangkan tersebut dapat sewaktu-waktu dipakai untuk membiayai tindakan hukum dalam hal Emiten mengalami wan prestasi.kebendaan tertentu untuk memperoleh pelunasan mendahului kreditur yang tidak memegang jaminan kebendaan tertentu.8 32.9% setuju dan sangat setuju dan sisanya kurang atau tidak setuju: Jawaban Tidak jawab Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah (2) Frekuensi 1 19 17 10 6 53 Prosenatse 1.0 17. diperoleh hasil 67.5%) dan responden yang kurang atau tidak setuju sebesar (39.0 22. dimana seluruh 57 . Sinking Fund (1) Atas pertanyaan mengenai setujukah responden apabila Emiten obligasi diwajibkan mencadangkan sinking fund bagi pelunasan utang obligasi.0 Lebih lanjut.9 35.3 100.9 11.5 34. mayoritas responden menyatakan setuju atau sangat setuju namun dengan prosentase yang sedikit lebih rendah (58. yaitu. secara hukum dikenal 2 bentuk penanggungan/jaminan.6%): Jawaban Tidak jawab Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah Frekuensi 1 13 18 9 12 53 Prosenatse 1.1 18. Jaminan umum timbul secara otomatis berdasarkan ketentuan Pasal 1131 KUH Perdata.9 24.0 Dalam konteks penanggungan / penjaminan utang.

Permasalahan hukum yang serius adalah apabila Emiten dinyatakan pailit atau dilikuidasi. Dalam kaitannya dengan sinking fund. 7. baik yang sudah ada maupun yang akan ada merupakan jaminan dari perikatan-perikatan yang dibuat debitor tersebut. Keberadaan jaminan ini menentukan tingkat preferensi kreditor tertentu terhadap kreditor lainnya. Meskipun tidak dinyatakan sebagai jaminan namun sinking fund memiliki karakteristik yang menyerupai jaminan kebendaan. terdapat permasalahan hukum yang menarik untuk dikaji lebih lanjut. sepanjang emiten tidakberada dalam kepailitan dan likuidasi. keberadaan sinking fund memberikan dampak yang positif.harta kekayaan debitor. Pemeringkatan Obligasi (1) Responden menanggapi sangat positif terhadap ide adanya pemeringkatan obligasi yang dilakukan setiap tahun atau update rating setiap saat bila terjadi peristiwa yang secara material mempengaruhi kemampuan Emiten dalam memenuhi kewajiban 58 . Dalam kaitannya dengan perlindungan investor. misalnya aturan tentang gadai dan hipotik. Sedangkan dalam jaminan khusus dibuat perjanjian tambahan secara khusus (assesoir) atas kebendaan tertentu dan mengikuti aturan-aturan tertentu. Pertanyaan lebih lanjut adalah apakah dengan adanya sinking fund tersebut pemegang obligasi berkedudukan istimewa sehingga sinking fund tersebut hanya dapat digunakan untuk pelunasan obligasi atau sinking fund tersebut berkedukan bebas sehingga dapat digunakan untuk melunasi kewajiban kepada seluruh kreditur secara proporsional?. sedangkan Emeiten telah membentuk sinking fund.

2 100.5% yang tidak atau kurang setuju: Jawaban Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah 8. 41.8% kurang setuju: Jawaban Frekuensi Prosenatse Sangat setuju 30 56. Hal ini terlihat dari angka 96.5% menyatakan sebaiknya diatur dalam peraturan Bapepam.9 39.0 Pembelian Kembali Obligasi (buy back) (1) Mayoritas responden setuju apabila pembelian kembali obligasi oleh Emiten dilakukan. maka jumlah yang setuju masih mayoritas meskipun tidak mutlak yaitu sebesar 58.8 Tidak setuju Jumlah 53 100.0 pengaturan mengenai masalah buy back obligasi ini dilakukan.3 13.9 100. berbanding 1.5% dibandingkan 41.4 1.9% tidak setuju: Jawaban Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah (2) Mengenai bagaimanakah Frekuensi 20 32 1 53 sebaiknya Prosentase 37.6 Kurang setuju 2 3. Hal ini terlihat dari angka 98.6 28.obligasinya. Frekuensi 10 21 15 7 53 Prosentase 18.1% setuju atau sangat setuju.2% setuju dibanding 3. 32% menyatakan diatur dalam Kontrak Perwaliamanatan sedangkan sisanya (24.7 60.0 Namun dalam hal ditanyakan setujukah responden bila Emiten mengalami penurunan peringkat obligasi diwajibkan (2) memberikan atau menambah nilai jaminan obligasi.6 Setuju 21 39.5% 59 .

0 Selanjutnya. maka jawabannya adalah 88. Jawaban Tidak jawab Diatur di dalam Perwaliamanatan Diatur dalam peraturan Bapepam tersendiri Tidak ditentukan pengaturannya secara khusus dan diserahkan kepada kesepakatan para pihak Jumlah (3) Frekuensi 1 Perjanjian 17 22 13 Prosentase 1. Rapat Umum Pemegang Efek Bersifat Utang (Obligasi) (1) Terhadap pertanyaan “Menurut pendapat Anda.7 100.1 41.0 9. 71.5 100.7 5.7 5.9 32.5 53 100. perlukah diselenggarakan RUPO baik secara berkala maupun insidentil?”.8 7. 60 .00 71. mengenai ketentuan larangan Emiten melakukan buy back apabila dalam keadaan wanprestasi kewajiban obligasi.0 37.7 20.3% menyatakan sebaliknya: Jawaban Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah Frekuensi 18 20 11 4 53 Prosentase 34.0 (4) Pertanyaan mengenai sumber pendanaan buy back obligasi berasal dari keuntungan yang diperoleh dari kegiatan yang dibiayai penerbitan obligasi.5 24.4% yang tidak setuju: Jawaban Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah Frekuensi 9 38 3 3 53 Prosentase 17.memilih tidak ditentukan pengaturannya melainkan diserahkan kepada kesepakatan para pihak.7% responden setuju atau sangat setuju dan 28.7% setuju berbanding 11.

peminjam (Emiten) berhak untuk menikmati atau menggunakan uang atau dana tersebut dengan bebas.9 Sangat perlu 12 22. tanpa perlu memperoleh persetujuan dari pihak tertentu. Secara umum. termasuk jenis barang yang menghabis karena ketentuan peraturan perundang-undangan yang pemakaiannya.3%) memandang perlu adanya Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO). baik secara berkala maupun secara insidentil. sepanjang tidak melawan hukum dan mengganggu 61 . Konsekuensi dari pinjam peminjam dengan ojek berupa barang yang menghabis karena pemakaiannya adalah beralihnya kepemilikan atas barang tersebut kepada peminjam (Emiten). dimana objek perjanjian/perikatan tersebut adalah sejumlah uang. Jawaban Frekuensi Prosentase Tidak jawab 1 1. mengingat pada prinsipnya penerbitan obligasi atau surat utang lainnya dilakukan berdasarkan perjanjian.8 Tidak perlu 2 3. penerbitan efek bersifat utang didasarkan pada perjanjian pinjam-meminjam.9 Kurang perlu 11 20.0 Berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sedangkan uang. maka para pihak yang membuat perjanjian dapat menetapkan syarat-syarat. menurut hemat kami.6 Perlu 27 50. Namun demikian.mayoritas responden (73. sehingga Peminjam (Emiten) menjadi pemilik mutlak/penuh atas uang atau dana yang diperoleh dari penerbitan obligasi (Pasal 1755 KUHPerdata). sejauh ini memang tidak terdapat ketentuan khusus yang mengatur mengenai RUPO. Sebagai pemilik mutlak atau penuh. sepanjang tidak melanggar berlaku.8 Jumlah 53 100.

ketentuan tersebut di atas relevan sepanjang RUPO tersebut dimaksudkan untuk menarik/ membatalkan atau merubah isi perjanjian perwaliamanatan.kepentingan pihak lain (Pasal 570 KUHPerdata). namun dalam hal tertentu hak tersebut dibatasi oleh undang-undang. baik bagi Emiten maupun bagi investor. meskipun Emiten berhak menggunakan uang hasil penerbitan obligasi secara penuh. sepanjang disepakati oleh para pihak dan tidak bertentangan dengan undang-undang (Pasal 1320 dan 1338 KUHPerdata). Meskipun pencantuman kewajiban menyelenggarakan RUPO tidak bertentangan dengan undang-undang. Atau dengan kata lain. jika tidak ada maksud dari para pihak untuk menarik atau merubah isi perjanjian. yang tercermin dalam perjanjian perwaliamanatan. maka dapat dikatakan tidak perlu diadakannya RUPO. Sifat “unik” dari penerbitan obligasi melalui pasar modal yang berbeda dengan perjanjian pinjam-meminjam pada umumnya 62 . namun hal tersebut tidak selamanya memberikan manfaat maksimal. maka setiap klausul dalam perjanjian tersebut berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak yang membuat perjanjian dan hanya dapat ditarik/dibatalkan atau diubah dengan kesepakatan para pihak yang membuat perjanjian atau karena diwajibkan oleh kententuan undang-undang (Pasal 1338 KUH perdata). Terkait dengan RUPO. Berdasarkan hal tersebut. Penetapan syarat dalam perjanjian perwaliamanatan. Mengingat penerbitan obligasi berbasis pada suatu perjanjian. dimana didalamnya mengatur kewajiban untuk mengadakan rapat umum kreditur (dalam hal obligasi populer dengan sebutan RUPO) merupakan sesuatu yang dapat dilakukan.

adalah adanya peran Wali Amanat dalam pembuatan dan pelaksanaan perjanjian penerbitan obligasi. Sifat “unik” tersebut muncul karena pada saat dibuatnya perjanjian belum diketahui secara pasti pihak yang akan memberikan pinjaman (kreditur), hal tersebut dikarenakan penjualan /penerbitan obligasi tersebut ditawarkan kepada masyarakat, yang tidak dapat diidentifikasi secara pasti. Agar syarat sahnya perjanjian (syarat subjektif) terpenuhi, yaitu adanya kesepakatan para pihak dan adanya kecakapan (dan kewenangan) dari subjek perjanjian, maka Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Undang-undang Modal (UUPM)

mengintrodusir konsep Wali Amanat, yang berdasarkan undangundang diberikan diberi kuasa untuk mewakili kepentingan investor obligasi (efek bersifat utang) – Pasal 51 UUPM. Berdasarkan kuasa dari undang-undang tersebut, Wali Amanat membuat perjanjian penerbitan obligasi dengan Emiten, serta melaksanakan segala sesuatu yang terkait dengan pelaksanaan perjanjian, untuk kepentingan pihak yang diwakili (investor obligasi/efek bersifat utang). Sifat “unik” lain dari penerbitan obligasi adalah adanya kewajiban berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan untuk mempublikasikan informasi-informasi penting tentang

penerbit/Emiten/debitur kepada calon investor/kreditor dalam suatu dokumen yang bernama Prospektus. Salah satu yang harus dipublikasikan dalam Prospektus adalah peringkat Efek yang diterbitkan oleh lembaga pemeringkat Efek (rating) yang secara umum mencerminkan kemampuan dari penerbit efek/Emiten untuk memenuhi kawajibannya atas efek yang diterbitkannya (Peraturan Bapepam Nomor IX.C.2 dan Nomor IX.C.3).

63

Meskipun peringkat efek (rating) tersebut tidak tercantum dalam perjanjian perwaliamanatan, namun mengingat penyajian

Prospektus merupakan suatu kewajiban yang lahir dari undangundang (Pasal 70 UUPM), maka seluruh informasi dari Prospektus merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari isi perjanjian perwaliamanatan. Pendekatan ini didasarkan pada Pasal 1339 KUH Perdata yang menyatakan bahwa “persetujuan tidak hanya mengikat apa yang dengan tegas didalamnya, melainkan juga segala sesuatu yang menurut sifat persetujuan dituntut berdasarkan keadilan,

kebiasaan atau undang-undang”. Jika dikaitkan antara ketentuan pasal 1339 KUH Perdata dengan Peraturan Nomor IX.C.2 dan IX.C.3 serta isi perjanjian

perwaliamanatan, maka antara ketiganya harus dilihat sebagai satu kesatuan. Dalam arti bahwa pelaksanaan perjanjian

perwaliamanatan tidak hanya memperhatikan isi dari perjanjian, namun juga wajib memperhatikan peraturan perundang-

undangan lain yang terkait dengan penerbitan obligasi/surat utang serta kebiasaan yang lazim berlaku di masyarakat. Salah satu contoh dari penerapan Pasal 1339 KUH Perdata dalam kaitannya dengan penerbitan obligasi atau Efek bersifat utang di pasar modal adalah pengungkapan peringkat obligasi atau Efek bersifat utang (rating). Meskipun rating tersebut tidak diungkap dalam perjanjian perwaliamanatan, dan hanya diungkapkan dalam Prospektus, namun hal tersebut tidak berarti bahwa Wali Amanat maupun Emiten dalam melaksanakan perjanjian

perwaliamanatan tidak memperhatikan lagi atau tidak “peduli” dengan rating atas obligasi yang diterbitkannya.

64

Sebagaimana diketahui bahwa rating atas suatu obligasi atau Efek bersifat utang merupakan salah satu dasar utama bagi investor untuk memutuskan membeli atau tidak obligasi atau Efek bersifat utang yang ditawarkan. Bahkan nilai informasi tentang rating tidak hanya investor yang akan membeli obligasi berharga pada saat investor akan membeli obligasi atau Efek bersifat utang di pasar perdana, tetapi juga bagi investor yang akan membeli

obligasi atau Efek bersifat utang di pasar sekunder. Mengingat nilai dan relevansi nilai informasi tersebut, maka menjadi sesuatu yang logis jika investor meminta kepada Emiten agar selalu menyajikan informasi yang relevan dengan obligasi yang diterbitkannya. Berdasarkan undang-undang, kreditur dalam hal ini pemegang obligasi atau Efek bersifat utang dapat mengajukan tidak berlakunya tindakan yang seharusnya tidak dilakukan oleh debitur (Emiten) yang merugikan kreditur (pemegang obligasi) Pasal 1341 KUH Perdata. Jika Emiten lalai dalam menyediakan informasi dimaksud atau Emiten melakukan sesuatu yang seharusnya dilarang dilakukan dan hal tersebut dapat merugikan pemegang obligasi, maka menjadi logis juga jika bagi investor disediakan suatu forum untuk memperjuangkan haknya dimaksud. Forum dimaksud adalah Rapat Umum Pemegang Obligasi. Dari paparan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa meskipun mayoritas responden menghendaki diadakannya RUPO, baik secara berkala maupun secara insidentil, namun ternyata hal tersebut tidak selalu relevan. RUPO menjadi relevan jika: − akan dilakukan perubahan atas isi pokok perjanjian

perwaliamanatan

65

8 34. Jawaban Tidak jawab Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah Frekuensi 14 19 18 1 1 53 Prosentase 26. maka kita akan menemukan bahwa dasar pelaksanaan tugas Wali Amanat bukanlah karena Wali Amanat yang bersangkutan memperoleh kuasa dari investor.9 1. (2) Hasil penelitian menunjukkan bahwa 69.0 1. seperti penggantian Wali Amanat.4 35. khususnya informasi yang terkait dengan kemampuan Emiten dalam memenuhi kewajibannya atas obligasi yang diterbitkannya − Emiten melakukan sesuatu yang tidak diwajibkan (baik dalam perjanjian perwaliamanatan maupun dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku) dan tindakan tersebut merugikan investor obligasi.− Emiten tidak menyediakan informasi yang memadai. hendaknya tidak semata-mata diserahkan kepada Emiten dan Wali Amanat. perubahan tingkat bunga. melainkan karena Wali Amanat tersebut diberi kuasa oleh undang-undang (UUPM) – Pasal 51 ayat (2) UUPM.8% dari responden yang cenderung menghendaki adanya RUPO (73. melainkan harus diserahkan dan disetujui oleh RUPO.5% dari responden yang mengembalikan kuesioner) beranggapan bahwa untuk halhal tertentu.9 100.0 Jika kita lihat ketentuan UUPM. dan restrukturisasi surat utang (debt to equity swap/ debt to debt swap/ debt to asset swap). perpanjangan jangka waktu pelunasan surat utang (roll over). Undangundang Pasar Modal tidak secara memerinci jenis tindakan yang 66 .

penjaminan kekayaan hanya dapat dilakukan oleh penerima kuasa. Pertanyaan lebih lanjut adalah. KUH Perdata mengatur bahwa jika suatu kuasa diberikan secara umum. maka praktis dibutuhkan wakil dari pihak 67 . dan restrukturisasi surat utang (debt to equity swap/ debt to debt swap/ debt to asset swap). perubahan tingkat bunga. Mengingat investor sebagai pihak yang sebenarnya melakukan perikatan dengan Emiten baru ada setelah Emiten menjual obligasinya kepada masyarakat.pelaksanaanya dikuasakan kepada Wali Amamat. perpanjangan jangka waktu pelunasan surat utang (roll over). Sebaliknya jika dalan hal-hal di atas dikategorikan sebagai tindakan pemilikan. jika hal tersebut harus secara tegas dinyatakan dalam pemberian kuasa (Pasal 1796 KUH Perdata). dalam hal ini undang-undang. termasuk dalam pengertian tindakan pengurusan atau tidak. sedangkan tindakan lain yan bersifat bukan mengurusan. maka umum yang sebenarnya Wali Amanat atas dasar kuasa dari undang-undang berwenang diterimanya melakukan hal-hal dimaksud. Hal yang patut memperoleh perhatian kita adalah alasan undangundang memberikan kuasa kepada Wali Amanat. atau dengan kata lain UUPM memberikan kuasa secara umum kepada Wali Amanat untuk mewakili kepentingan pemegang obligasi (Efek berifat utang). maka Wali Amanat harus memperoleh kuasa terlebih dahulu dari pemberi kuasa. misalnya pengalihan kekayaan. seperti penggantian Wali Amanat. maka tindakan yang dapat dilakukan oleh penerima kuasa sebatas pada tindakan pengurusan. Jika hal-hal tersebut di atas dapat dikategorikan sebagai tindakan pengurusan. apakah kewenangan untuk melakukan hal-hal tertentu. tanpa persetujuan lagi dari pemberi kuasa.

dan restrukturisasi surat utang (debt to equity swap/ debt to debt swap/ debt to asset swap). Alternatif pertama memiliki kelemahan. dalam hal ini Bapepam. dapat ditetapkan secara sepihak oleh Emiten. Kedua undang-undang. Tidak tertutup kemungkinan saat ini terdapat perjanjian perwaliamanatan yang mengatur bahwa tindakan tertentu seperti penggantian Wali Amanat. maka berdasarkan ketentuan yang ada dapat dilakukan dua hal. dengan menyebut secara tegas hal-hal yang dikuasakan kepada Wali Amanat. Sedangkan alternatif kedua relatif 68 . maka terbukalah kemungkinan untuk merubah bentuk kuasa umum yang diberikan oleh undang-undang menjadi kuasa khusus. Setelah terjadi peralihan tersebut. Dengan argumen tersebut. yaitu undang-undang. maka relevansi kuasa yang diberikan oleh undang-undang berakhir sejak pihak yang sebenarnya membuat perikatan muncul. yaitu pertama merubah perjanjian perwaliamanatan dengan menghapuskan klausul di atas dan memindahkan kewenangan tersebut kepada para pemegang obligasi atau Efek bersifat utang. atau cukup berdasarkan kesepakatan antara Emiten dengan Wali Amanat. yaitu setelah Emiten menjual obligasinya. Jika hal tersebut terjadi. perubahan tingkat bunga. yaitu tidak tercapainya kata sepakat antara Wali Amanat dan Emiten untuk merubah perjanjian perwaliamanatan. perpanjangan jangka waktu pelunasan surat utang (roll over). tanpa melibatkan pemegang obligasi. para pemagang obligasi seketika mengantikan pemberi kuasa sebelumnya.pembeli/investor. berdasarkan ketentuan Pasal 52 UUPM menetapkan Peraturan Bapepam yang mengatur bahwa kewenangan tersebut di atas adalah kewenangan dari pemegang obligasi atau Efek bersifat utang. Dengan kata lain.

Terkait dengan masalah korum ini. perpanjangan jangka waktu pelunasan surat utang (roll over). atau dilaksanakan sendiri oleh pemegang obligasi melalui mekanisme RUPO. sehingga sangat logis jika untuk melakukan hal tersebut dibutuhkan persetujuan dari pemilik investasi itu sendiri. merupakan tindakan yang sangat signifikan terhadap keamanan sebuah investasi. sehingga berdasarkan undang-undang. dan restrukturisasi surat utang (debt to equity swap/ debt to debt swap/ debt to asset swap). antara lain masalah korum. perubahan tingkat bunga. Dari paparan di atas. sedangkan untuk mengambil keputusan tertentu yang tidak bersifat pengurusan. yaitu pemegang obligasi atau Efek bersifat utang.4 37. selain memperhatikan aspek hukum juga harus memperhatikan aspek kebutuhan pasar dan kelaziman yang berlaku.7 35.5% responden yang cenderung setuju adanya mekanisme RUPO menghendaki agar pengaturan tentang korum diatur dalam peraturan perundang-undangan. Perumusan Peraturan Bapepam.8 100.0 69 . terlihat RUPO diperlukan karena pada umumnya perjanjian perwaliamanatan yang ada memberikan kuasa umum kepada Wali Amanat. RUPO akan dapat mengambil keputusan secara fair jika diatur mekanisme dan tata caranya. Tindakan berupa penggantian Wali Amanat.lebih mudah diterapkan. maka kuasa khusus kepada Wali Amanat. 73. Jawaban Tidak jawab Sangat perlu Perlu Kurang perlu Tidak perlu Jumlah Frekuensi 14 20 19 53 Prosentase 26. mau tidak mau Emiten atau Wali Amanat harus menyerahkan kewenangan tersebut kepada pemegang obligasi atau efek bersifat utang.

Sebagaimana telah dibahas pada masalah RUPO. Selain itu.9 3. maka diharapkan penetapan korum tersebut akan memperhatikan berbagai kepentingan yang ada. sehingga justru dapat merugikan kepentingan pemberi kuasa. Wali Amanat bekerja berdasarkan kuasa.Pendapat responden tersebut cukup beralasan. Pengakhiran Tugas dan Penggantian Wali Amanat (1).7 26. dan selanjutnya setelah pemegang obligasi atau Efek bersifat utang teridentifikasi.1%) cenderung menolak pembatasan tugas Wali Amanat yang didasarkan pada waktu tertentu.0 70 . Dalam praktek. Penunjukan. jika peraturan tentang korum diserahkan kepada undang-undang (peraturan Bapepam). mayoritas responden (64.8 30. 10. pemberian kuasa yang digantungkan pada masa tertentu dapat mempersulit penyelesaian pekerjaan.4 100. dimana pada pertama kali kuasa tersebut diperoleh dari undang-undang. Kuasa diberikan biasanya tidak berjangka waktu melainkan digantungkan pada selesainya suatu pekerjaan atau perbuatan yang dikuasakan. Jawaban Tidak jawab Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah Frekuensi 1 2 16 20 14 53 Prosenatse 1. Relevan dengan hal tersebut. Ketentuan tentang pemberian kuasa dalam KUH Perdata tidak mengatur tentang jangka waktu tertentu suatu kuasa dapat diberikan. mengingat Bapepam berdasarkan Pasal 52 UUPM berhak mengatur ketentuan tentang pedoman kontrak perwaliamanatan dimana didalamnya dapat diatur masalah korum.2 37. maka selayaknya jika para pemegang obligasi menggantikan posisi undang-undang sebagai pemberi kuasa.

sehingga sangat relevan dan masuk akal jika pemberi kuasa mencabut kuasa yang diberikan jika penerima kuasa tidak dapat menunjukkan pengakhiran prinsipnya kinerja tugas di yang baik. penerima kuasa (termasuk Wali Amanat) wajib melaksanakan perbuatan atau pekerjaan yang dikuasakan kepadanya.4 3. pada maka dan penggantian dengan Amanat kuasa. maka penerima kuasa tersebut harus mempertanggungjawabkan kepada pemberi kuasa. Menurut hemat kami pendapat mayoritas responden dimaksud adalah sangat rasional dan tidak bertentangan dengan kaidah hukum. Jawaban Tidak jawab Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah Frekuensi 11 35 5 2 53 Prosenatse 20. bahkan jika penerima kuasa tidak melaksanakan tugasnya dengan baik (baik karena kesenagajaan maupun kelalaian) dan karenanya timbul biaya atau kerugian. Selain itu Penerima kuasa juga diwajibkan untuk melaporkan pekerjaan yang telah dilaksanakan (Pasal 1800. 1802 KUH Perdata). Paparan di atas menunjukkan bahwa seorang penerima kuasa (termasuk Wali Amanat) harus dapat menunjukkan kinerja yang baik.(2) Dilain pihak. Mengingat Wali penunjukan. mayoritas responden (86.0 9.0 Berdasarkan undang-undang. lakukan pemberian selayaknyalah jika hal tersebut dilakukan oleh pihak yang 71 .8 100.8 66.8%) cenderung memberikan tugas tugas kepada Wali Amanat tidak berdasarkan waktu melainkan pada kinerja yang dicapai oleh Wali Amanat dimaksud.

7 100. UUPM hanya menyebut bahwa Wali Amanat adalah Pihak yang mewakili kepentingan pemegang Efek yang bersifat utang (Pasal 1 angka 30 UUPM).4 7.0 Batasan Hak. Lebih lanjut disebutkan bahwa Wali Amanat mewakili kepentingan pemegang Efek bersifat utang baik di dalam maupun di luar pengadilan (Pasal 51 ayat 1) Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa dalam menjalankan tugasnya. Kewajiban dan Tanggung Jawab Wali Amanat Undang-undang Pasar Modal tidak mengatur secara terperinci tentang batasan hak.5 9. Jawaban Tidak jawab Para pemegang obligasi surat utang Emiten Regulator. sebutkan Jumlah 11. (3) Mayoritas jawaban responden (77. berdasarkan peraturan perundang-undangan Pihak lain. antara lain. selain Wali Amanat dimaksud telah memperoleh kuasa berdasarkan undang-undang.4 5. Dalam penjelasan dimaksud ditentukan bahwa isi kontrak perwaliamanatan antara lain mengatur tentang utang 72 . yaitu para pemegang obligasi atau Efek bersifat utang. Wali Amanat juga harus membuat kontrak atau perjanjian dengan Emiten sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bapepam (Pasal 52 UUPM).4%) yang tidak memberikan jawaban atas pertanyaan “siapakah yang paling kompeten untuk mengangkat (termasuk mengganti) dan memberhentikan Wali Amanat? (kecuali untuk pengangkatan pertama kali)” bisa terjadi karena beberapa faktor. karena responden kurang atau tidak memahami prinsip pemberian kuasa pada pelaksanaan tugas Wali Amanat.memiliki kewenangan untuk memberikan kuasa kepada Wali Amanat. Frekuensi 41 4 5 3 53 Prosentase 77. kewajiban dan tanggung jawab Wali Amanat.

5%) menyatakan bahwa hal yang sangat urgen untuk diatur adalah batasan hak dan kewajiban Wali Amanat terhadap Emiten. dimana disatu sisi menjadi salah satu pihak dalam perjanjian perwaliamanatan. Lebih unik lagi karena kuasa yang diberikan kepada Wali Amanat berasal dari undang-undang. Situasi seperti ini rupanya juga menjadi perhatian responden. Karena posisinya uang unik tersebut. agen pembayaran. selaku pelaksana undangundang dan juga kepada para pemegang obligasi atau Efek bersifat utang. tetapi juga kepada Negara/Pemerintah. dimana hal tersebut memiliki kaitan erat dengan batasan hak. tidak satupun responden yang menyatakan urgensi pengaturan tentang batasan hak dan kewajiban Wali Amanat terhadap regulator (Bapepam). kewajiban dan tanggung jawab Wali Amanat. sedangkan disisi lain Wali Amanat bertindak untuk mewakili kepentingan pemegang obligasi atau Efek bersifat utang berdasarkan kuasa.5%) memandang bahwa batasan hak dan kewajiban Wali Amanat terhadap pemegang obligasi/surat utang lebih urgen untuk memperoleh prioritas pengaturan. jaminan (jika ada). 73 . dan tugas dan fungsi Wali Amanat. membawa konsekuensi bahwa Wali Amanat tidak hanya memiliki hak dan kewajiban kepada Emiten. Posisi unik Wali Amanat. Namun demikian. dimana respon responden tentang urgensi pengaturan hak dan kewajiban Wali Amanat terbagi menjadi 2 bagian.pokok dan bunga serta manfaat lain dari Emiten. saat jatuh tempo. yang apabila ditarik lebih jauh asal kewenangan yang dikuasakan tersebut berasal dari para pemegang obligasi atau Efek bersifat utang. Satu bagian (58. dibagian lain (41. Hal menarik dalam Pasal 52 adalah Bapepam berwenang untuk merumuskan hal yang berkaitan dengan tugas dan fungsi Wali Amanat.

Dalam penerbitan obligasi atau Efek bersifat utang unsur esensialia tampak dari adanya nilai pokok obligasi dan jatuh temponya obligasi dimaksud. serta amanat UUPM kepada Bapepam untuk menetapkan pedoman kontrak perwaliamanatan. Kewajiban Emiten Ketentuan pokok dalam perjanjian pinjam-meminjam adalah debitur wajib mengembalikan dalam jumlah dan keadaan yang sama dan pada waktu yang ditentukan – Pasal 1763 KUH Perdata. Prinsip kebebasan berkontrak. termasuk dalam kaitannya dengan penerbitan obligasi atau Efek bersifat utang dapat diterapkan dengan memperhatikan beberapa unsur. Selain itu. Seluruh unsur tersebut dapat diterapkan sepanjang tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku – Pasal 1339 KUH Perdata.5 53 100. 12.0 Mengingat posisi strategis Wali Amanat. menurut undang-undang dapat pula disepakati bahwa debitur wajib memberikan bunga tertentu kepada kreditur – 1765 KUH Perdata.5 41.Jawaban Batasan hak dan kewajiban Wali Amanat terhadap Emiten Batasan hak dan kewajiban Wali Amanat terhadap pemegang obligasi/surat utang Batasan hak dan kewajiban Wali Amanat terhadap Regulator Jumlah Frekuensi 31 22 Prosentase 58. maka jawaban responden dimaksud sangat relevan. Dalam penerbitan obligasi 74 . baik dari sisi hukum maupun dari sisi kebutuhan atau dinamika pasar. yaitu unsur esensialia. unsur naturalis dan unsur aksidentalia. Prinsip esensialia dalam hal ini adalah unsur yang wajib terdapat dalam perjanjian yang menunjukkan karakteristik khas perjanjian dan membedakan dengan jenis perjanjian lainnya. Prinsip naturalia adalah unsur yang harus ada dalam perjanjian. setelah unsur esensialianya diketahui secara pasti.

misalnya kewajiban pembayaran bunga. Sedangkan unsur aksidentalia adalah unsur pelengkap dalam perjanjian yang secara bebas dapat disepakati oleh para pihak. Sedangkan efektifnya pemenuhan prinsip aksidentalia sangat tergantung dari apakah hal-hal tertentu. mewajibkan Emiten untuk menyampaikan pernyataan kesanggupan membayar obligasi 6 bulan sebelum jatuh tempo obligasi. mewajibkan Emiten untuk membuktikan bahwa telah terdapat dana untuk membayar obligasi di escrow account 3 bulan sebelum jatuh tempo. Terkait dengan pertanyaan kepada responden tentang cara menjamin pembayaran atas pokok obligasi pada saat jatuh tempo. rencana pembayaran obligasi minimal 1 tahun sebelum jatuh tempo obligasi. maka sifat unsur aksidentalianya akan berubah menjadi unsur esensialia atau naturalia. telah disepakati oleh para pihak dan tercantum dalam akta perjanjian.atau Efek bersifat utang unsur naturalia tampak dari adanya kewajiban bagi penerbit (Emiten) untuk membayar obligasi yang diterbitkannya. dan ketiga. maka kita dapat mengkategorikan “cara menjamin pembayaran obligasi” dimaksud sebagai unsur aksidentalia yang dapat disepakati oleh para pihak. Dalam penerbitan obligasi atau Efek bersifat utang unsur aksidentalia tampak dari adanya kesepakatan tingkat bunga atas obligasi yang diterbitkan Emiten. jika salah satu atau seluruh cara tersebut di atas diadopsi dalam bentuk Peraturan Perundangundangan. Namun demikian. Ketiga pilihan di atas dapat dipilih untuk disepakati oleh para pihak dalam penerbitan obligasi. Cara pertama adalah dengan mewajibkan Emiten untuk menyampaikan kepada pemegang obligasi. Kedua. 75 . meskipun misalnya tidak secara tegas tercantum dalam akta perjanjian bahwa Emiten (debitur) wajib mengembalikan nilai pokok obligasi yang diterbitkannya pada sauatu waktu tertentu. Kekuatan mengikat terhadap pemenuhan prinsip naturalia adalah demi hukum mengikat kedua belah pihak.

Meskipun cara yang ketiga secara umum memberikan perlindungan yang lebih baik kepada pemegang obligasi atau surat utang. Emiten tidak dapat menggunakan dana tersebut. selain untuk memenuhi kewajiban kepada pemegang obligasi. 76 . Seperti telah disinggung sebelumnya bahwa penerbitan obligasi mengacu pada prinsip pinjam-meminjam. begitu juga jika obligasi tersebut dijamin dengan aset tertentu yang menjadikan obligasi tersebut sebagai secured bond.Dilihat dari sisi kebutuhan pasar. karena dengan penempatan dana pada escrow account. namun terdapat beberapa hal yang menyebabkan hal tersebut kurang relevan. pemberian hak untuk ditukar dengan saham (konversi) atau dengan penanggungan utang oleh pihak ketiga. karena adanya pihak lain yang menjamin obligasi dimaksud. Cara pertama dan kedua (menyampaikan rencana pembayaran obligasi minimal 1 tahun sebelum jatuh tempo obligasi atau menyampaikan pernyataan kesanggupan membayar obligasi 6 bulan sebelum jatuh tempo obligasi) memberikan kesempatan yang cukup memadai bagi investor (kreditur) untuk mempertimbangkan investasinya dan menilai kemampuan Emiten untuk melaksanakan kewajibannya kepada investor. Sedangkan cara ketiga (Membuktikan bahwa telah terdapat dana untuk membayar obligasi di escrow account 3 bulan sebelum jatuh tempo) lebih menjamin pemenuhan kewajiban kepada pemegang obligasi. Pembuatan escrow account oleh Emiten menjadi tidak terlalu diperlukan. misalnya jika obligasi tersebut dijamin pelunasannya oleh pihak ketiga. Ketentuan hukum tentang pinjam-meminjam telah mengatur berbagai kemungkinan untuk menyelesaikan kewajiban debitur (Emiten) kepada para krediturnya (pemegang obligasi). ketiga cara tersebut memiliki keunggulan. misalnya dengan menempatkan jaminan kekayaan tertentu.

misalnya melalui arbitrase. dan satu hal yang harus memperoleh perhatian adalah kenyataan bahwa obligasi atau Efek bersifat utang merupakan salah satu jenis instrumen investasi yang tentu saja mengandung risiko. terutama yang terkait dengan kemampuan Emiten untuk memenuhi kewajibannya terhadap pemegang obligasi menjadi mutlak adanya dan untuk mendorong pelaksanaan keterbukaan informasi tersebut diperlukan suatu kerangka hukum yang memadai. Namun mengingat sudah ada ketentuan hukum yang mengatur penyelesaian kewajiban terhadap pemegang obligasi. maka aspek keterbukaan informasi menjadi issue penting untuk meningkatkan awareness terhadap risiko yang dihadapinya. antara lain melalui penerbitan peraturan Bapepam. perdamaian didalam pengadilan. baik dalam perjanjian perwaliamanatan maupun dalam dokumen pendukung penerbitan obligasi tersebut. terdapat kemungkinan terjadi perselisihan atau perbedaan pendapat tentang pelaksanaan persyaratan yang telah disepakati sebelumnya. antara lain perdamaian diluar pengadilan. atau risiko tidak dipenuhinya berbagai persyaratan yang telah dijanjian. antara lain risiko gagal bayar (default). dalam bentuk atau cara yang beragam. Mayoritas jawaban responden mengarah pada perlunya ada suatu mekanisme untuk menjamin pembayaran obligasi. Penyelesaian Sengketa di Pasar Modal Serta Biaya Perkara Seperti telah disinggung sebelumnya bahwa obligasi merupakan instrumen investasi yang mengandung berbagai risiko. Terdapat beberapa cara yang dapat ditempuh oleh para pihak yang terkait dengan obligasi. penyelesaian berdasarkan keputusan hakim atau menunjuk pihak lain (diluar pengadilan) untuk menyelesaikan perselisihan dimaksud. 77 . 13.Bentuk-bentuk menentukan penyelesaian kewajiban tersebut di atas turut tingkat risiko. Keterbukaan informasi. Jika risiko tersebut terjadi.

Mayoritas responden (71. terlihat korelasi dan relevansi yang erat dengan kecenderungan mayoritas responden untuk 78 . fair dan relatif cepat. Simplifikasi dari kompleksitas persengketaan yang ada di Pasar Modal amat dibutuhkan guna mendukung kelancaran kegiatan pasar modal.4% sampai dengan 10%.5 Bapepam 7 13. murah dan fair.7%) mengendaki penyelesaian perselisihan antara Emiten dengan pemegang obligasi dilakukan melalui arbitrase. sedangkan jangka waktu penyelesaian paling lama 180 (seratus delapan puluh) hari sejak tanggal Majelis selengkapnya terbentuk (Peraturan Prosedur Badan Arbitrase Nasional Indonesia Pasal 4 ayat (6) dan ayat (7) serta Pasal 32). disamping menempuh upaya akhir di pengadilan.8 Jumlah 53 100. Sejalan dengan keberadaan serta tujuan BAPMI. sebutkan 2 3. Hal tersebut sangat beralasan. tergantung besarnya nilai tuntutan. mengingat arbritase.7 Indonesia (BAPMI) Pengadilan Umum 4 7. Namun demikian jika hal tersebut tidak tercapai. misalnya melalui Badan Arbitrase Nasional (BANI) menjanjikan penyelesaian perkara secepat mungkin dan dengan biaya seminimal mungkin. Upaya perdamaian diluar pengadilan dapat dipandang sebagai upaya penyelesaian yang terbaik. sehingga pada tanggal 9 Agustus 2002 telah dibentuk Badan Arbitrase Pasar Modal Indonesia (BAPMI) yang bertujuan memfasilitasi sarana alternatif penyelesaian sengketa dibidang Pasar Modal yang cepat.8 Badan Arbitrase Pasar Modal 38 71. Jawaban Frekuensi Prosentase Tidak jawab 2 3. dan adil.Pada prinsipnya para pihak akan memilih bentuk penyelesaian yang paling cepat. maka penyelesaian perselisihan melalui arbitrase merupakan upaya penyelesaian yang cukup menarik. transparan. mengingat dapat dilakukan dengan biaya rendah.2 Lembaga lain.0 Besarnya biaya ditentukan antara 0. mandiri.

khususnya yang terkait dengan perluasan atau pemberdayaan peran Wali Amanat dan upaya peningkatan efektifitas pelaksanaan fungsi Wali 79 . Jawaban Frekuensi Prosentase Tidak jawab Penjamin Emisi Obligasi 2 3.1%) menghendaki biaya perkara dibebankan kepada Emiten. 14. Satu permasalahan yang terkait dengan penyelesaian sengketa di pasar modal. maka biaya perkara wajib dibayar oleh Emiten?”.5 Jumlah 53 100.0 Proses peradilan di Indonesia umumnya membebankan biaya perkara kepada penggungat. dalam hal ini BAPMI. Biaya perkara yang harus dibayar oleh pihak yang dinyatakan bersalah merupakan salah satu bentuk hukuman kepada yang bersangkutan. maka biaya perkara biasanya dibebankan kepada pihak yang dinyatakan bersalah oleh hakim. jika perkara tersebut diputuskan dengan perdamaian antara para pihak yang bersengketa. Mayoritas responden (81.8 Wali Amanat 4 7. Mengingat sepanjang penelitian yang dilakukan belum didapatkan dasar hukum yang memadai.1 Pemegang Obligasi 4 7. maka untuk merespon jawaban responden tersebut diperlukan penelaahan yang lebih mendalam. tim memberikan kesempatan kepada responden untuk memberikan usulan/masukan secara tertulis. Namun demikian.5 Emiten 43 81. jika hakim sudah memeriksa perkara dan telah menetapkan putusan (vonis). khususnya untuk menjawab pertanyaan “apakah dengan prinsip kebebasan berkontrak dapat disepakati bahwa jika pada waktu yang akan datang terjadi sengketa di pengadilan atau arbitrase.menyelesaikan sengkata antara Emiten dengan Pemegang Obligasi melalui arbitrase. Usulan / masukan responden Dalam penyebaran kuesioner. baik melalui pengadilan maupun arbitrase adalah biaya perkara.

pengawasan penggunaan dana hasil penjualan obligasi f. Pengawasan atas keamanan status barang jaminan obligasi c. mayoritas responden (55. secara umum sudah terakomodir dalam ketentuan peraturan perundangundangan (Pasal 51 ayat (2) UUPM). mengeksekusi jaminan bila emiten terjadi wanprestasi h.8%) berpendapat bahwa peran Wali Amanat perlu tingkatkan. yang menyebutkan bahwa “Wali 80 . Secara umum. Menjawab pertanyaan mengenai perlukah adanya perluasan peran Wali Amanat selain sebagai wakil pemegang Obligasi di luar maupun di dalam Pengadilan. antara lain: a. antara lain dengan menambahkan beberapa kewenangan / atribut yang dirasa perlu untuk dapat berperan secara efektif sebagai Wali Amanat. pengawasan on the spot d. mewakili kepentingan pemegang obligasi. Sebagaimana pembahasan sebelumnya. pencantuman negative covenants dalam perjanjian perwaliamanatan atau perjanjian lain yang dapat merugikan pemegang obligasi g. Pengawasan atas kinerja finansial b.Amanat dalam mengawasi dan mewakili kepentingan pemegang obligasi. Kewenangan atau atribut tersebut adalah untuk melakukan pengawasan atas seluruh aspek dari Emiten yang terkait dengan kepentingan pemegang obligasi atau Efek bersifat utang yang diterbitkan Emiten dimaksud. memperoleh informasi lain dari Emiten terkait dengan corporate action yang dilakukan emiten i. pengawasan penerapan Standard Operating Procedures e. baik di dalam maupun diluar pengadilan. Beberapa masukan responden di atas. bahwa asal kewenangan Wali Amanat pada awalnya berasal dari kuasa yang diberikan oleh UUPM kepada Wali Amanat dimaksud.

Amanat mewakili kepentingan pemegang Efek bersifat utang baik didalam maupun diluar pengadilan”. Persoalan lebih lanjut adalah apa yang dimaksud atau ruang lingkup dari “kepentingan” dalam frase “kepentingan pemegang Efek bersifat utang” tersebut?. Berdasarkan Pasal 1233 KUH Perdata. kepentingan utama dari kreditur adalah pembayaran bunga dan pengembalian pokok pinjaman dalam jumlah yang telah disepakati tepat pada waktunya. Jika suatu perjanjian perwaliamanatan tidak secara tegas mengatur tentang hal-hal yang harus atau dilarang dilakukan oleh Emiten. lingkup dari “kepentingan” meliputi juga juga segala sesuatu yang menurut sifat persetujuan dituntut berdasarkan keadilan. sesuai ketentuan Pasal 1339 KUH Perdata. Untuk menjamin agar debitur dapat melakukan pembayaran bunga dan pengembalian pokok pinjaman dalam jumlah yang telah disepakati tepat pada waktunya. Dalam kaitannya dengan perikatan pinjam-meminjam. 81 . Namun demikian. bahwa dasar dari penerbitan obligasi adalah perikatan pinjam-meminjam (utang piutang). Untuk menguraikan hal tersebut kita dapat melakukan analisis atas perbuatan hukum penerbitan obligasi dengan menggunakan ketentuan pasal 1233 KUH Perdata. kebiasaan atau undang-undang. untuk melakukan sesuatu dan untuk tidak melakukan sesuatu. yaitu untuk memberikan atau menyerahkan sesuatu. dapat disepakati hal-hal apa saja yang dapat atau harus dilakukan oleh debitur dan hal-hal apa saja yang dilarang dilakukan oleh debitur. Sebagaimana telah disinggung diatas. menurut isinya suatu perikatan. Kepentingan para pihak dalam perikatan sesungguhnya tercermin dari dicantumkannya klausula yang mencakup 3 hal tersebut di atas. maka batasan dari “kepentingan” menjadi kurang jelas. termasuk pinjam meminjam dapat dibedakan menjadi 3 jenis.

akan lebih baik dan memberikan kepastian hukum apabila seluruh hal atau kewenangan yang sewajarnya dimiliki oleh Wali Amanat agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik. 82 . Sedangkan dari sisi regulasi. dengan mempertimbangkan kepentingan berbagai pihak. selayaknya Bapepam memberikan panduan tentang lingkup “kepentingan pemegang Efek bersifat utang” dalam bentuk peraturan perundang-undangan (Peraturan Bapepam).Disadari bahwa Penerapan pasal 1339 KUH Perdata yang dapat ditafsirkan sedemikian luas tidaklah memberikan suatu kepastian hukum yang memadai akan hak dan kewajiban para pihak dalam penerbitan obligasi. Untuk itu. dicantumkan dalam perjanjian perwaliamanatan. berdasarkan pasal 1233 KUH Perdata.

KESIMPULAN Dari pemaparan dan analisis atas hasil penelitian dari Tim Studi yang telah diungkapkan pada BAB III. Pernyataan dan Jaminan Emiten 83 . Serta Berhentinya Wali Amanat e. Jaminan m. Tata Cara Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) l. Syarat-syarat Efek Bersifat Utang/Obligasi g. Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum c. Definisi b. Tugas. Kelalaian Emiten k. Pernyataan dan Jaminan Wali Amanat j. Kuasa Pemegang Obligasi Kepada Wali Amanat i. Penunjukan Wali Amanat oleh Emiten d. Pembatasan-pembatasan dan Kewajiban Emiten h. hal-hal pokok yang lazim diperjanjikan sehingga membentuk suatu pola kontrak perwaliamanatan. dapat diuraikan sebagai berikut : a. Kelalaian Wali Amanat n. Imbalan Jasa Wali Amanat f. Pola Kontrak Perwaliamanatan di Indonesia Dalam praktek penerbitan efek bersifat utang (obligasi) di Pasar Modal Indonesia. Hak dan Kewajiban Wali Amanat. maka beberapa kesimpulan yang dapat diambil antara lain: 1.BAB IV KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A.

b. serta Wali Amanat bertindak sebagai penanggung atas efek bersufat utang yang diwaliamanatinya. serta belum adanya kode etik yang mengatur hubungan Wali Amanat dengan Pemegang Efek bersifat utang. Masalah dan Kendala Yang Dihadapi Wali Amanat Secara umum terdapat 5 (lima) masalah pokok yang dihadapi Wali Amanat dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. yaitu: a. karena penunjukan dan pembayaran imbalan jasa Wali Amanat dilakukan oleh Emiten.o. Penyelesaian perselisihan 2. penunjukan Wali Amanat yang sering dilakukan tanpa memberikan waktu yang cukup untuk melakukan pengkajian secara mendalam. Keadaan Memaksa (Force Majeure) p. Fungsi dan Tugas Wali Amanat yang tercantum dalam UU Pasar Modal belum terdapat pengaturan pelaksanaannya. Pemberitahuan q. Ketentuan-ketentuan Lain r. sehingga hal tersebut mempersulit dalam pelaksanaan kegiatan Wali Amanat d. hubungan afiliasi dengan Penjamin Emisi Efek bersifat utang. Ketiadaan pedoman/standar dalam penyusunan kontrak perwaliamanatan. Hal ini membuat Wali Amanat dan Emiten tidak mempunyai dasar acuan dalam merundingkan ketentuan-ketentuan 84 . Keberadaan Wali Amanat di pasar modal Indonesia. dengan Emiten dan dengan sesama Wali Amanat. Permasalahan yang timbul adalah ketidaksejajaran kedudukan Wali Amanat dengan Emiten. Benturan Kepentingan Dalam Pelaksanaan Tugas Wali Amanat Benturan kepentingan dapat terjadi karena adanya hubungan kredit dan afiliasi dengan Emiten. c.

d. sinking fund dan kewajiban melakukan pemeringkatan secara berkala merupakan hal yang dapat memberikan keamanan bagi pihak pemegang efek bersifat utang atas investasinya. Kesulitan utama yang timbul adalah masalah pembiayaan dalam hal terjadi sengketa dengan Emiten yang harus diselesaikan lewat badan peradilan. Adanya jaminan khusus. Dalam pembuatan kontrak perwaliamanatan. Tindakan yang diambil Wali Amanat Dalam hal Emiten Wanprestasi. Hubungan kredit antara Wali Amanat dan Emiten perlu dibatasi. e. Masukan Dari Para Pelaku Pasar Modal Dari jawaban dan masukan atas kuesioner yang diedarkan. e. para pihak yang terlibat dalam negosiasi memerlukan suatu pedoman yang dapat dijadikan acuan dalam menentukan hal-hal yang wajib dimuat dalam kontrak perwaliamanatan. c. Ketentuan mengenai pembelian kembali efek bersifat utang oleh emiten memerlukan pengaturan untuk kepastian hukumnya. b. Penggunaan Dana hasil Emisi Efek bersifat utang perlu diatur secara rinci dalam kontrak perwaliamanatan. Wali Amanat perlu secara aktif memonitor hal tersebut dan perlu ada konsekuensi hukum atas kegagalan Wali Amanat memenuhi tugas tersebut. beberapa masukan yang penting antara lain: a. 3. 85 . Besarnya batasan hubungan kredit yang diusulkan tidak lebih dari 10 s/d 30% dari nilai pokok efek bersifat utang.dalam Kontrak Perwaliamanatan. sehingga dalam praktik hal tesebut tergantung pada posisi tawar dan kemampuan bernegosiasi masing-masing pihak.

f. h. Ketentuan mengenai pembatasan hak dan kewajiban Wali Amanat terhadap Emiten merupakan hal yang paling penting diatur dalam kontrak perwaliamanatan.terutama dari segi kepastian hak-hak yang timbul keadilan dalampelaksanaannya dan keterbukaan informasi yang harus dilakukan Emiten. Emiten perlu melakukan beberapa hal sebagai berikut: Melaporkan rencana pembayaran utang pokok kepada Wali Amanat setahun sebelum jatuh tempo. Penunjukan dan masa jabatan Wali Amanat perlu didasarkan pada kinerja Wali Amanat dalam melaksanakan tugasnya. j. dan Membuktikan adanya dana pada escrow account untuk pelunasan utang pokok. Biaya-biaya yang timbul dari kegiatan penyelesaian sengketa antara Emiten dengan pemegang efek bersifat utang karena wan prestasi Emiten. 86 . i. g. Guna mengamankan pembayaran utang pokok Emiten pada saat jatuh tempo. Membuat pernyataan kesanggupan melunasi utang pokok pada enam bulan sebelum jatuh tempo. sudah sepantasnya dibebankan kepada pihak Emiten sendiri. Rapat Umum Pemegang Efek bersifat utang yang diselenggarakan secara berkala maupun secara insidentil dalam hal pembahasan suatu hal tertentu dipandang sebagai forum utama yang penting bagi para pemegang efek bersifat utang. sebulan sebelum jatuh temponya efek bersifat utang.

c. konsekuensi hukum. maka Tim Studi mengajukan beberapa rekomendasi berkenaan dengan permasalahan perwaliamanatan di Indonesia. perlu menyusun suatu pedoman yang dapat dijadikan dasar oleh para pihak dalam penyusunan Kontrak Perwaliamanatan. pembatasanpembatasan. tugas dan tanggung jawab Wali Amanat. Wali Amanat perlu secara aktif memonitor hal tersebut dan perlu ada konsekuensi hukum atas kegagalan Wali Amanat memenuhi tugas tersebut. pedoman kontrak perwaliamanatan ini perlu mengatur ketentuan minimal yang harus dimuat berkenaan dengan aspek hubungan para pihak. Beberapa masukan mengenai isi ketentuan perdoman kontrak perwaliamanatan tersebut. b. hak dan kewajiban Emiten dan pemegang obligasi. sinking fund dan kewajiban melakukan pemeringkatan secara berkala merupakan hal 87 . antara lain: a. Pedoman Kontrak Perwaliamantan Perlu disusun suatu pedoman mengenai kontrak perwaliamanatan di Pasar Modal Indonesia. sebagai berikut: 1. Penggunaan Dana hasil Emisi Efek bersifat utang perlu diatur secara rinci. Bapepam selaku regulator dengan mempertimbangkan masukan-masukan dari berbagai pelaku pasar yang berkepentingan. REKOMENDASI Berdasarkan kesimpulan-kesimpulan yang telah diperoleh Tim Studi sebagaimana tersebut di atas. Adanya jaminan khusus. dan lain sebagainya. Sebagai salah satu landasan hukum utama bagi para pihak yang terlibat.B.

2. terutama dari segi kepastian hak-hak yang timbul keadilan dalam pelaksanaannya dan keterbukaan informasi yang harus dilakukan Emiten. Perlu adanya pengaturan secara lebih rinci mengenai pemberian ganti rugi kepada pemegang efek bersifat utang atas kelalaian Wali Amanat dalam pelaksanaan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 53 UU Pasar Modal. d. Penunjukan dan masa jabatan Wali Amanat perlu didasarkan pada kinerja Wali Amanat dalam melaksanakan tugasnya. Wali Amanat dituntut mampu bersikap profesional dan independen agar aspek perlindungan terhadap investor selalu terjaga. antara lain: 88 . Ketentuan mengenai pembelian kembali efek bersifat utang oleh emiten memerlukan pengaturan untuk kepastian hukumnya. f. e. Independensi dan profesionalisme Wali Amanat Dalam pelaksanaan tugasnya.yang dapat memberikan keamanan bagi pihak pemegang efek bersifat utang. g. Untuk itu beberapa keadaan yang dapat mengakibatkan benturan kepentingan dalam pelaksanaan tugas tersebut harus dibatasi dan diawasi pemenuhannya oleh Bapepam. h. Rapat Umum Pemegang Efek bersifat utang yang diselenggarakan secara berkala maupun secara insidentil dalam hal pembahasan suatu hal tertentu dipandang sebagai forum utama yang penting bagi para pemegang efek bersifat utang. Ketentuan mengenai rincian pembatasan hak dan kewajiban Wali Amanat terhadap Emiten merupakan hal yang penting diatur dalam kontrak perwaliamanatan.

b. Selain itu. Hubungan kredit yang mungkin timbul antara Wali Amanat dengan Emiten perlu dibatasi dalam jumlah yang tidak melebihi antara 10% s/d 30% dari nilai pokok efek bersifat utang yang diterbitkan Emiten. 3. Tidak boleh terdapat hubungan afiliasi sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 1 angka 1 UU Pasar Modal. antara Wali Amanat dengan Emiten dan Penjamin Emisi Efek bersifat utang. Melaporkan rencana pembayaran utang pokok kepada Wali Amanat setahun sebelum jatuh tempo. profesionalisme Wali Amanat perlu didukung juga dengan adanya suatu kode etik dan standar profesi Wali Amanat. sebulan sebelum jatuh temponya efek bersifat utang.a. Wali Amanat tidak boleh menjadi penanggung (guarantor) atas utang Efek bersifat utang dimana dia bertindak sebagai Wali Amanat. b. c. Emiten perlu diwajibkan melakukan beberapa hal sebagai berikut: a. Membuktikan adanya dana pada escrow account untuk pelunasan utang pokok. dan c. 4. Pengecualian yang diperbolehkan hanya dalam hal hubungan afiliasi tersebut terjadi karena kepemilikan atau penyertaan modal Pemerintah. Guna mengamankan pembayaran utang pokok Emiten pada saat jatuh tempo. sudah sepantasnya dibebankan kepada pihak Emiten 89 . Biaya-biaya yang timbul dari kegiatan penyelesaian sengketa antara Emiten dengan pemegang efek bersifat utang karena wan prestasi oleh Emiten. Membuat pernyataan kesanggupan melunasi utang pokok pada enam bulan sebelum jatuh tempo.

sendiri. dirasakan perlu adanya suatu pencadangan dana yang sengaja disisihkan oleh Emiten dalam jumlah tertentu untuk keperluan tersebut. *** 90 . Agar mempermudah Wali Amanat dalam menarik dana untuk membiayai proses litigasi tersebut.

SH. 3. SH II. MSi Sutrisno. SH. 2. SH. STAF SEKRETARIAT 1. MM Luthfy Zain Fuady. ComLaw Ali Ridwan. SH. MM Pudjo Damaryono. KETUA 1. 2. SEKRETARIS Heru Nugroho. PEMBANTU PELAKSANA 1. SE Bayu Bandono. 5. Djunggu H. SH. Suharyono Asima Nurbetty . Sitorus. SH Suciya Wardaya. PELAKSANA 1. Monang Situmeang. 7. SH Halim Haryono. SH Adi Suryono V. Imam Mundir Gunarsih D. 3. 9. 2. SE Muhamad Halamsyah. 2. Drs.Lampiran 1 ANGGOTA TIM STUDI TENTANG PERWALIAMANATAN DI PASAR MODAL INDONESIA I. 6. SE Imam Cahyadi. SE IV. 8. 4. MM Tuahta Aloy Saragih. 4. MM III.

4. Wali Amanat Wali Amanat Pemeringkat Efek Pemeringkat Efek Investor Investor . 10. dan Yulius Purnawan Sarmiati AS PT Bank Mega Tbk Teddy O. Irwan Santoso. Punu PT Bank Niaga Tbk Urip Suprodjo PT Pefindo Heyder Bachsin PT Kasnic Rating Indonesia Kabani PT Trimegah Securities Joseph Ginting PT Reliance Securities PROFESI Konsultan Hukum Konsultan Hukum Notaris Notaris 5.Lampiran 2 DAFTAR NARASUMBER STUDI PERWALIAMANATAN DI PASAR MODAL INDONESIA NO. NARASUMBER Sumaryono.J. 2. 1. SH Sri Indrastuti Hadiputranto Dina Chozie Sugeng Santoso. 7. 6. 9. 8. 3.

faksimili. Koordinator Tim Studi Kebijakan Bapepam 2. Mendapatkan informasi mengenai bagaimana perlindungan terhadap investor obligasi di Pasar Modal Indonesia dapat lebih ditingkatkan.1/2005 tentang Pembentukan Tim Studi Perwaliamanatan Di Pasar Modal Indonesia.4123 / HP 081310226824 Fax.id Nomor Sifat Lampiran Perihal : : : : S. : (021) 3858001 ext.3-8 Jalan Dr. c.28 /PM/TS. Sekretaris Bapepam . Mengetahui serta mempelajari pola perjanjian perwaliamanatan dalam penerbitan obligasi antara Wali Amanat dan Emiten. Jawaban dan masukan Saudara atas kuesioner ini bersifat rahasia dan hanya semata-mata digunakan untuk kepentingan studi. : (021) 3857917 Email : heru@bapepam. 256/KM.PWA/2005 Segera 1 (satu) berkas Permintaan Pengisian Kuesioner 21 September 2005 Yth.go.com 5. Tim Studi mohon kesediaan Saudara untuk bertindak sebagai responden dengan mengisi dan menyerahkan kembali kuesioner sebagaimana terlampir dalam surat ini. 4. Responden Studi Perwaliamanatan Di Pasar Modal Indonesia Sehubungan dengan telah dibentuknya Tim Studi Mengenai Perwaliamanatan Di Pasar Modal Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan RI No. Pertanyaan lebih lanjut atas kuesioner kami dapat Saudara tujukan kepada: Heru Nugroho Sekretaris Tim Studi Perwaliamanatan di Pasar Modal Indonesia Proyek Peningkatan Efisiensi Pasar Modal Badan Pengawas Pasar Modal Alamat : Gedung Baru Dep Keu Lantai 4. Tim Studi ini dibentuk dengan maksud dan tujuan: a. atas kesediaan Saudara meluangkan waktu untuk mengisi dan mengembalikan kuesioner ini kami ucapkan banyak terima kasih. 3. serta solusi atas permasalahan dimaksud. email ataupun kurir selambat-lambatnya pada 30 September 2005 kepada alamat tersebut di atas. Ketua Tim Studi Perwaliamanatan Di Pasar Modal Indonesia Djunggu H Sitorus NIP 060044939 Tembusan: 1. Untuk itu.id atau heru91nugroho@yahoo. Wahidin Raya No.Lampiran 3 DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL TIM STUDI PERWALIAMANATAN DI PASAR MODAL INDONESIA Gedung Baru Departemen Keuangan RI Lt. 2. Dr. Badan Pengawas Pasar Modal Jl. Demikian. Kuesioner yang telah diisi dengan lengkap dapat dikembalikan kepada kami melalui pos. b.1 Jakarta Pusat 10710 Telp. Mengetahui kendala-kendala yang dihadapi Wali Amanat dalam menjalankan tugas dan fungsinya. dengan ini dapat kami sampaikan hal-hal sebagai berikut: 1.go. Pelaksanaan studi lapangan oleh Tim Studi ini salah satunya dilakukan dengan melakukan penyebaran kuesioner guna memperoleh sejumlah informasi dari para pelaku pasar modal di Indonesia. Wahidin Jakarta 10710 Telephone Faksimilie Email 3858001 3857917 bapepam@bapepam.

.......... PADAJAWABAN YANG ANDA PILIH.............................................NAMA JABATAN : ............... Menurut Anda sampai sejauhmana hubungan afiliasi antara Wali Amanat dengan Emiten yang dapat mengakibatkan benturan kepentingan? ................................... Menurut anda................ Jika jawaban Anda di atas ya.......... .......... perlukah Wali Amanat diwajibkan secara aktif memonitor penggunaan dana emisi obligasi dan melaporkan hasilnya kepada Publik dan Bapepam? Sangat perlu Perlu Kurang perlu Tidak perlu 4....... jika perubahan pengunaan dana hasil emisi Obligasi hanya disetujui oleh Wali Amanat saja tanpa melalui RUPO? Sangat setuju Setuju Tidak setuju Sangat tidak setuju 5...... Menurut Anda..................... 8...................................................................................................................... Menurut Anda.............. Menurut Anda................................................................................................. berapa batasan ideal hubungan kredit antara Wali Amanat dengan Emiten? Tidak lebih dari 10% dari Nilai pokok Obligasi Emiten Tidak lebih dari 20% dari Nilai pokok Obligasi Emiten Tidak lebih dari 30% dari Nilai pokok Obligasi Emiten Tidak lebih dari 50% dari Nilai pokok Obligasi Emiten Jumlah lain........................... PETUNJUK PENGISIAN: BERILAH TANDA 1...................... .. sebutkan:........... perlukah rencana penggunaan dana hasil emisi obligasi diatur secara rinci dalam kontrak perwaliamanatan? Sangat perlu Perlu Kurang perlu Tidak perlu 3................................ ............... : ............................... Bagaimana pendapat Anda............................. Menurut Anda... perlukah terdapat suatu pedoman mengenai kontrak perwaliamanatan di pasar modal Indonesia? Sangat perlu Perlu Kurang perlu Tidak perlu PENGGUNAAN DANA 2.............................................................. perlukah diatur mengenai konsekuensi hukum alas kelalaian Wali Amanat memonitor penggunaan dana hasil emisi obligasi? Sangat perlu Perlu Tidak perlu Sangat tidak perlu HUBUNGAN KREDIT 6.................................... apakah hubungan kredit antara Wali Amanat dengan Emiten Obligasi perlu dibatasi karena akan menimbulkan benturan kepentingan dalam pelaksanaan tugas Wali Amanat? Ya Tidak 7.................................................

........................... Setujukah anda jika terdapat dana yang dicadangkan oleh Emiten untuk digunakan Wali Amanat membiayai tindakan hukum................................................................9.......................................................................................................... .. Setujukah anda jika terdapat kewajiban untuk melakukan pemeringkatan tiap tahun dan/atau pemeringkatan inisidentil dalam hat terjadi keadaan yang secara material mempengaruhi kemampuan Emiten membayar utang obligasi yang diterbitkannya? Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju 15............................... . Jika jawaban anda atas pertanyaan nomor 10 adalah kurang/tidak setuju........... Setujukah anda jika hubungan afiliasi antara Penjamin Emisi Efek dengan Wali Amanat perlu dilarang agar masing-masing dapat melaksanakan tugasnya dengan independen? Sangat Setuju Setuju Kurang setuju Tidak Setuju JAMINAN 10........................... Setujukah anda jika dalam penerbitan obligasi Emiten diwajibkan untuk memberikan jaminan khusus atas penerbitan obligasi? Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju 11............. Setujukah anda jika dalam penerbitan obligasi Emiten diwajibkan untuk mencadangkan sinking fund bagi pelunasan obligasi yang diterbitkan? Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju 13....... menurut anda masalah apakah yang mungkin timbul jika Emiten tidak diwajibkan untuk memberikan jaminan atas penerbitan obligasi? ............................. SINKING FUND 12............. Setujukah anda jika Emiten yang mengalami penurunan peringkat obligasi diwajibkan untuk memberikan atau menambah jaminan atas obligasi yang diterbitkan? Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju ......... dalam hat Emiten mengalami wan prestasi atas utang obligasi? Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju PEMERINGKATAN OBLIGASI 14..............................................................................................................................

........ Jika jawaban Anda alas pertanyaan no.......................... misalnya penggantian Wali Amanat........... Jika jawaban Anda atas pertanyaan no.......... merupakan kewenangan RUPO: Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju 22..BUY BACK OBLIGASI 16.......................... apabila Emiten sedang dalam keadaan wanprestasi atas ketentuan kontrak perwaliamanatan yang dibuatnya? Sangat Setuju Setuju Kurang setuju Tidak Setuju 19... setujukah Anda jika perubahan perjanjian perwaliamanatan yang signifikan.........................24 21.... Jika Emiten mengalami keuntungan yang siginifikan dalam laporan keuangan tahun berjalan dan keuntungan tersebut diperoleh dari kegiatan yang dibiayai oleh penerbitan obligasi.......... perubahan tingkat bunga........ maka bagaimana sebaiknya pengaturan buy back tersebut dilakukan? Diatur di dalam Perjanjian Perwaliamanatan..... dan restrukturisasi surat utang (debt to equity swap/ debt to debt swap/ debt to asset swap)................... Menurut pendapat Anda.. Setujukah anda jika Emiten dimungkinkan melakukan pembelian kembali (buy back) atas obligasi yang diterbitkannya? Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju 17................................ menurut pendapat Anda..... lanjutkan ke no..... 21 adalah "sangat setuju atau setuju"...... setujukah anda jika Emiten tetap dimungkinkan untuk melakukan buy back atas obligasi yang diterbitkan? Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Jelaskan jawaban Anda: ........ perlukah diselenggarakan RUPO baik secara berkala maupun insidentil? Sangat perlu Perlu Tidak perlu Sangat tidak perlu Jika jawaban Anda tidak perlu atau sangat tidak perlu.. Tidak ditentukan pengaturannya secara khusus dan diserahkan kepada kesepakatan para pihak................................... 20 adalah "sangat perlu atau perlu"..... RAP AT UMUM PEMEGANG OBLIGASI 20........... perlukah diatur tentang korum RUPO untuk dapat mengambil keputusan? Sangat perlu Perlu Tidak perlu Sangat tidak perlu ......... Setujukah anda jika Emiten dilarang membeli kembali obligasi yang diterbitkannya... 18....... Diatur dalam peraturan Bapepam tersendiri...................... ..... Jika anda setuju untuk pertanyaan di atas........ perpanjangan jangka waktu pelunasan surat utang (roll over).......

...... Batasan hak dan kewajiban Wali Amanat terhadap Regulator.. 20 adalah "tidak perlu atau sangat tidak perlu"... Menurut Anda...... sebutkan: ............ Setujukah Anda jika mekanisme penggakhiran tugas Wali Amanat ditentukan berdasarkan kinerja Wali Amanat dalam melaksanakan tugasnya? Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju 27.... Menurut pendapat Anda................. Jika jawaban Anda atas pertanyaan no.. sebutkan: ....... makakah dari 3 (tiga) hal berikut ini yang paling penting untuk diatur? Batasan hak dan kewajiban Wali Amanat terhadap Emiten . Menurut pendapat Anda..................... perlukah ditetapkan semacam standar atau kriteria untuk menilai kinerja atau tingkat pemenuhan kewajiban dan tanggung jawab Wali Amanat? Sangat perlu Perlu Tidak perlu Sangat tidak perlu . siapakah yang paling kompeten untuk mengangkat (termasuk mengganti) dan memberhentikan Wali Amanat? (kecuali untuk pengangkatan pertama kali) Para pemegang obligasi surat utang Emiten Regulator............ Menurut pendapat Anda.... Jika jawaban Anda atas pertanyaan no.............. Batasan hak dan kewajiban Wali Amanat terhadap pemegang obligasi/surat utang. menurut pendapat Anda apakah media yang paling tepat bagi pemegang obligasij surat utang untuk menyalurkan aspirasinya? Regulator Wali Amanat Emiten Pihak lain.. kewajiban serta tanggung jawab Wali Amanat dituangkan? Dituangkan dalam peraturan perundang-undangan Ditetapkan berdasar asas kebebasan berkontrak Ditetapkan berdasar kewenangan Emiten Ditetapkan berdasar kewenan an Wali Amanat 30................ menurut pendapat Anda bagaimana sebaiknya pengaturan tentang korum? Ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan Ditetapkan berdasar asas kebebasan berkontrak Ditetapkan berdasar kewenangan Emiten Ditetapkan berdasar kewenangan Wali Amanat 24.......... berdasarkan peraturan perundang-undangan Pihak lain...... BATASAN HAK... PENGAKHIRAN TUGAS DAN PENGGANTIAN WALI AMANAT 25...............................23.......... bagaimanakah sebaiknya pengaturan tentang batasan hak. PENUNJUKAN..... KEWAJIBAN DAN TANGGUNG AWAB WALI AMANAT 28......... 22 adalah "sangat perlu atau perlu".. 29.......................... Setujukah Anda jika mekanisme penggakhiran tugas Wali Amanat ditentukan berdasarkan masa jabatan tertentu? Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju 26..

.................... perlukan Emiten diwajibkan untuk: a.. Menurut anda...................... Menurut pendapat Anda....... 32.... sebutkan: ....... 30 adalah "sangat perlu atau perlu"..... siapakah pihak yang menurut Anda paling kompeten untuk merumuskan standar atau kriteria tersebut? Organisasi atau asosiasi para Wali Amanat Regulator Emiten bersama Wali Amanat Pihak lain.... menurut anda. menurut anda. apakah besarnya imbalan jasa (fee) bagi Wali Amanat saat ini sudah sesuai dengan tugas dan tanggung jawab yang diemban oleh Wali Amanat dalam mewakili kepentingan Pemegang Obligasi? Ya Tidak Tidak tahu KEWAJIBAN EMITEN 34.............. Jika jawaban Anda atas pertanyaan no......... berapakah lamanya waktu yang cukup bagi Emiten untuk memperbaikinya agar tidak dinyatakan cedera janji ? 5 (lima) hari kerja 7 (tujuh) hari kerja 14 (empat belas) hari kerja 1 (satu) bulan ....... Membuktikan bahwa telah terdapat dana untuk membayar obligasi di escrow account 3 bulan sebelum jatuh tempo: Sangat perlu Perlu Tidak perlu Sangat tidak perlu 35......... sebutkan: ... Menyampaikan rencana pembayaran obligasi minimal 1 tahun sebelum jatuh tempo obligasi : Sangat perlu Perlu Tidak perlu Sangat tidak perlu b............... Untuk menjamin pembayaran pokok Obligasi pada saat jatuh tempo............. Menyampaikan pernyataan kesanggupan membayar obligasi 6 bulan sebelum jatuh tempo obligasi: Sangat perlu Perlu Tidak perlu Sangat tidak perlu c. atau pembatalan Surat Tanda Terdaftar sebagai Wali Amanat) Tindakan tertentu lainnya.... IMBALAN JASA WALI AMANAT 33...........31. Dalam hat terjadi pelanggaran kontrak perwaliamanatan........ apakah konsekuensi paling logis jika Wali Amanat tidak dapat menunjukkan kinerja yang baik? (tidak memenuhi standar dan kriteria sebagaimana dimaksud pada pertanyaan no................ pembatasan kegiatan usaha........ 31) Pemberian kesempatan bagi Wali Amanat untuk memperbaiki kinerjanya Pemberhentian Wali Amanat disertai kewajiban memberikan ganti kerugian (jika timbul kerugian karena kelalaian Wali Amanat dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya) Tindakan tertentu oleh regulator terhadap Wali Amanat (misalnya peringatan....

................................................................................ untuk kemudian meminta kepada Emiten mengganti semua biaya-biaya tersebut? Ya Tidak USULAN/MASUKAN ANDA 39............................................................................................................................ dalam hal terjadi sengketa antara Emiten dengan Pemegang Obligasi berkenaan dengan pelanggaran ketentuan dalam perjanjian perwaliamanatan oleh Emiten.......................................................................................................... .......... Apa usulan Saudara untuk peningkatan efektifitas fungsi Wali Amanat dalam mengawasi Emiten dan mewakili kepentingan pemegang Obligasi: ............................................................................................. apakah sebaiknya Wali Amanat menanggung biaya-biaya perkara terlebih dahulu...................................................................................................... jelaskan jawaban Saudara dalam hal apa peran tersebut perlu diperluas: ..................................36........... Menurut anda............................................... perlukah adanya perluasan peran Wali Amanat selain sebagai wakil pemegang Obligasi di luar maupun di dalam Pengadilan.. siapakah pihak yang wajib menanggung biaya-biaya yang timbul? Penjamin Emisi Obligasi Wali Amanat Emiten Pemegang Obligasi 38.................................................. .... ... Menurut Anda..................... Dalam hal perlu................................ Menurut anda..................................................... ............................................ sebutkan: ............................ lembaga mana yang paling tepat dan efisien dalam menyelesaikan sengketa antara Emiten dengan Pemegang Obligasi? Badan Arbitrase Pasar Modal Indonesia (BAPMI) Pengadilan Umum Bapepam Lembaga lain............. BIAYA-BIAYA PERKARA 37. Menurut Anda............................................................................................................. Terima Kasih atas kesediaan Anda menyediakan waktu untuk mengisi kuesioner kami ..................................... 40.....................

2 : Pemeliharaan Dokumen Oleh Wali Amanat 5. Ramon E Johnson and Calvin M Boardman. Peraturan Nomor X. University of Utah. Peraturan Nomor VI.C. The Bond Indenture Trustee: Function. Peraturan Nomor X. Salt Lake City.4 tentang Laporan Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum 6.K.C. . and Monitoring Costs. UT.3 tentang tentang Pedoman dan Isi Prospektus Ringkas Dalam Rangka Penawaran Umum 8.C. 84112.DAFTAR KEPUSTAKAAN 1. Peraturan Nomor X. Industry Structure. Peraturan Bapepam Nomor IX.I.1 : Laporan Wali Amanat 4.I. Kitab undang-undang Hukum Perdata (KUH Perdata) 9. Peraturan Bapepam Nomor IX.2 Dalam Rangka Penawaran Umum tentang Pedoman dan Isi Prospektus 7. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal 2.2 : Pendaftaran Bank Umum Sebagai Wali Amanat 3.