P. 1
Askep Broncho Pneumonia Rosdiana.ns

Askep Broncho Pneumonia Rosdiana.ns

|Views: 699|Likes:
Published by Rosdiana
Semoga Menginspirasikan
Semoga Menginspirasikan

More info:

Published by: Rosdiana on Oct 26, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/26/2013

pdf

text

original

BAB I KONSEP DASAR A.

DEFINISI Bronchopneumonia adalah radang paru-paru yang mengenai satu atau beberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak Infiltrat (Whalley and Wong, 1996).

Bronchopneumoina adalah frekwensi komplikasi pulmonary, batuk produktif yang lama, tanda dan gejalanya biasanya suhu meningkat, nadi meningkat, pernapasan meningkat (Suzanne G. Bare, 1993).

Bronchopneumonia disebut juga pneumoni lobularis, yaitu radang paru-paru yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur dan benda-benda asing (Sylvia Anderson, 1994).

Berdasarkan beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa Bronkopneumonia adalah radang paru-paru yang mengenai satu atau beberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrat yang disebabkan oleh bakteri,virus, jamur dan benda asing.

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIKAN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

B.

ANATOMI FISIOLOGI

Pernapasan (respirasi) adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung oksigen serta menghembuskan karbondioksida sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh. Jadi, dalam paru-paru terjadi pertukaran zat antara oksigen yang ditarik dari udara masuk ke dalam darah dan CO2 akan dikeluarkan dari darah secara osmosis. Seterusnya CO2 akan dikeluarkan melalui jalan pernapasan dan masuk ke dalam tubuh melalui kapiler-kapiler vena pulmonalis kemudian masuk ke serambi kiri jantung → ke aorta → seluruh tubuh, disini terjadi oksidasi (pembakaran).

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIKAN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

Sebagai sisa dari pembakaran adalah CO2 dan zat ini dikeluarkan melalui peredaran darah vena masuk ke jantung (serambi kanan) → ke bilik kanan dan dari sini keluar melalui arteri pulmonalis ke jaringan paru-paru. Akhirnya dikeluarkan menembus lapisan epitel dari alveoli. Proses pengeluaran CO2 ini adalah sebagian dari sisa metabolisme, sedangkan sisa dari metabolisme lainnya akan dikeluarkan melalui traktus urogenitalis dan kulit. Setelah udara dari luar diproses, didalam hidung masih terjadi perjalanan panjang menuju paru-paru (sampai alveoli). Pada laring terdapat epiglotis yang berguna untuk menutup laring sewaktu menelan, sedangkan waktu bernapas epiglotis terbuka begitu seterusnya. Bulu getar silia digunakan untuk menyaring debu-debu, kotoran dan benda asing sehingga udara yang masuk kedalam alat pernapasan benarbenar bersih. Tetapi kalau kita bernapas melalui mulut, udara yang masuk ke dalam paru-paru tidak dapat disaring, dilembapkan/dihangatkan, ini bisa mengakibatkan gangguan terhadap tubuh.

ORGAN-ORGAN PADA SISTEM PERNAPASAN A. Rongga Hidung dan Nasal 1. Hidung Eksternal, berbentuk piramid disertai dengan suatu akar dan dasar. Bagian ini tersusun dari kerangka kerja tulang, kartilago hialin, dan jaringan fibroareolar.Septum Nasal membagi hidung menjadi sisi kiri dan sisi kanan rongga nasal. Bagian anterior septum adalah kartilago. Naris(Nostril)Eksternal dibatasi oleh kartilago Nasal. Kartilago Nasal Lateral terletak dibawah jembatan hidung. Ala Besar dan Ala kecil kartilago nasal mengelilingi nostril. Tulang Hidung Tulang Nasal membentuk jembatan dan bagian superior kedua sisi hidungVomer dan Lempeng perpendicular tulang etmoid membentuk bagian posterior septum nasal. Langit-langit rongga nasal pada sisi medial terbentuk dari lempeng kribriform tulang etmoid, pada sisi anterior dari tulang frontal

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIKAN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

dan nasal, dan pada sisi posterior dari tulang sfenoid.Konka (Turbinatum) Nasalis Superior, tengah dan inferior menonjol pada sisi medial lateral rongga nasal. Setiap konkaf dilapisi membaran mukosa (Epitel kolumnar bertingkat dan bersilia) yang berisi kelenjar pembuat mucus dan banyak mengandung pembuluh darah. Meatus Superio, Media dan inferior merupakan jalan udara rongga masaal yang terletak di bawah konkaf. 4 pasang sinus paranasal (Frontal, Etmoid. Maksilar, dan sfenoid) adalah kantong tertutup pada bagian frontal, etmoid, maksilar, dan sfenoid. Lapisan ini dilapisi membaran mukosa. Sinus berfungsi untuk meringankan tulang cranial, memberi area permukaan tambahan pada saluran nasal umtuk menghangatkan dan melembabkan udara yang masuk, memproduksi mukus dan memberi efek resonansi dalam produksi wicara. Sinus paranasal mengalirkan cairannya ke meatus rongga nasal melalui duktus kecil yang terletak da area tubuh yang lebih tinggi dari area lantai sinus. Pada posisi tegak aliran mucus ke dalam rongga nasal mungkin terhambat, terutama dalam kasus infeksi sinus. Duktus nasolakrimal dari kelenjar air mata membuka ke arah meatus inferior. 2. Membran Mukosa Nasal a. Struktur 1) Kulit pada bagian eksternal pada permukaan hidung yang mengandung folikel ranbut, keringat dan kelenjar sebasea, merentang sampai vestibula yang terletak dalam nostril. Kulit di bagian dalam ini mengandung rambut (vibrissae) yang berfungsi untuk menyaring partikel dari udara terhisap. 2) Di bagian rongga nasal yang lebih dalam, epithelium respiratoris membentuk glukosa yang melapisi ruang nasal selebihnya. Lpaisan ini terdiri dari epithelium bersilia dengan sel goblet yang terletak pada lapisan jaringan ikat tervakularisasi dan terus memanjang untuk melapisi saluran pernapasa sampai ke bronkus.

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIKAN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

b. Fungsi 1) Penyaringan partikel kecil. Silia pada epithelium respiratorik melambai ke depan dan belakang dalam suatu lapisan mucus. Gerakan dan mucus membentuk uatu perangkap untuk partikel yang kemudian akan disapu ke atas untuk di telan, di batukan atau di bersihkan keluar. 2) Penghangatan dan pelembaban udara yang masuk. Udara kering akan dilembabkan melalui evaporasi sekresi serosa dan mucus serta dihangatkan oleh radiasi panas dari pembuluh darah yang terletak di bawahnya. 3) Resepsi odor. Epithelium olfaktori yang terletak di bagian atas rongga hidung dibawah lempeng kribiform, mengandung sel- sel olfaktori yang mengalami spesialisasi untuk indra penciuman.

B. Faring adalah tabung muscular berukuran 12,5 cm yang merentang dari bagian dasar tulang tengkorak sampai osofagus. Faring terbagi menjadi nasofaring, orofaring, dan laringofaring. 1) Nasofaring adalah bagian posterior rongga nasal yang membuka kearah melalui dua naris internal atau koana. Dua tuba eustachius (auditorik) menghubungkan naso faring dengan telinga tengah. Tuba ini berfungsi untuk menyetarakan tekanan udara pada kedua sisi gendang telinga. Amandel ( adenoid) faring adalah penumpukan jaringan limfatik yang terletak di dekat naris internal. Pembesaran adenoid dapat menghambat aliran udara. 2) Orofaring dipisahkan dari nasofaring oleh palatum lunak muscular, suatu perpanjangan paltum keras tulang. Uvula(“anggur kecil”) adalah prosesus kerucut(conical) kecil yang menjulur ke bawah dari bagian tengah tepi bawah palatum lunak. Amandel Palatinum terletak pada kedua sisi Orofaring posterior. Laringofaring mengelilingi mulut esophagus dan laring, yang merupakan gerbang untuk sistem respirstorik selanjutnya.

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIKAN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

C. Laring(kotak suara) Menghubungkan faring dengan trakea. Laring adalah tabung pendek berbentuk seperti kotak triangular dan di topang oleh Sembilan kartilago; 3 berpasangan dan 3 tidak berpasangan. 1.Kartilago tidak berpasangan a)Kartilago Tiroid(Jakun) terletak di bagian proksinal kelenjar tiroid. Biasanya berukuran lebih besar dan lebih menonjol pada laki-laki akibat hormone yang di sekresi saat pubertas. b) Kartilago Krikoid adalah cincin anterior yang lebih kecil dan lebih tebal, terletak di bawah kartilago tiroid. c) Epiglotis adalah katup kartilago elastis yang melekat pada tepian anterior kartilago tiroid. Saat menelan, epiglottis secara otomatis menutupi mulut laring untuk mencegah masuknya makanan dan cairan. 2. Kartilago berpasangan a. Kartilago Aritenoid terletak di atas dan di kedua sisi kartilago krikoid. Kartilago ini melekat pada pita suara sejati, yaitu lipatan berpasangan dari epithelium skuamosa bertingkat. b.Kartilago Kornikulata melekat pada bagian ujung kartilagi aritenoid. c. Kartilago Kuneiform berupa batang=batang kecil yang membantu menopang jaringan lunak. 3. Dua pasang lipatan lateral membagi rongga laring a. Pasangan bagian atas adalah lipatan ventricular(pita suara semu)yang tidak berfungsi saat produksi suara. b. Pasangan bagian bawah adalah pita suara sejati yang melekat pada kartilago tiroid dan pada kartilago aritenoid serta kartilago krikoid. Pembuka di antara kedua pita ini adalah glottis. Saat bernapas, pita suara terabduksi(tertarik membuka)oleh otot laring, dan glotis berbentuk triangular.

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIKAN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

Saat menelan, pita suara teraduksi(tertarik menutup), dan glottis membentuk celah sempit. Dengan demikian, kontraksi otot rangka mengatur ukuran pembukaan glottis dan derajat ketegangan pita suara yang diperlukan untuk produksi suara.

D. Trakea (Pipa Udara) adalah tuba dengan panjang 10 cm-12 cm dan diameter 2,5 cm serta terletak di atas permukaan anterior esofagus. Tuba ini merentang dari laring pada area vertebra serviks ke enam sampai area vertebra toraks kelima tempatnya membelah menjadi dua bronkus utama. Trakea dapat tetap terbuka karena danya 16-20 cincin kartilago berbentuk-c. Ujung posterior mulut cincin dihubungkan dengan jaringan ikat dan organ sehingga memungkinkan ekspansi esofagus. Trakea dilapisi epitelium respiratorik(kolumnar bertingkat dan bersilia) yang mengandung banyak sel goblet.

E. PERCABANGAN BRONKUS 1.Bronkus Primer(Utama) kanan berukuran lebih pendek, lebih tebal, dan lebih lurus dibandingkan bronkus primer kiri karena arkus aorta

membelokkan trakea bawah ke kanan. Objek asing yang masuk ke dalam trakea kemungkina di tempatkan dalam bronkus kanan. 2. Setiap bronkus primer bercabang senbilan ampai dua belas kali untuk membentuk bronki sekunder dan tertier dengan diameter yang semakin kecil. Saat tuba semakin menyempit, batang atau lempeng kartilago mengganti cincin kartilago. 3.Bronki disebut ekstrapulmonar sampai memasuki paru-paru, setelah itu disebut intrapulmonar. 4.Struktur mendasar dari kedua paru-paru adalah percabangan brongkial yang selanjutnya: bronki, bronkiolus, bronkiolus terminal, bronkiolus respiratorik,

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIKAN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

duktus alveolar, dan alveoli. Tidak ada kartilago dalam bronkiolus; silia tetap ada sampai bronkiolus respiratorik terkecil. F. Paru-Paru 1. Paru-paru adalah organ berbentuk pramid seperti spons dan berisi udara, terletak dalam rongga toraks. a. Paru Kanan memiliki 3 Lobus; paru kiri memiliki 2 lobus. b. Setiap paru memiliki sebuah apeks yang mencapai bagian atas iga pertama, sebuah permukaan diafragmatik(bagian dasar)terletak di atas diafragma, sebuah permukaan mediastinal(medial) yang terpisah dari paru lain oleh mediastinum, dan permukaan kostal teretak diatas kerangka iga. c. Permukaan mediastinal memiliki Hilus(akar), tempat masuk dan keluarnya pembuluh darah bronki, pulmonary, dan bronkial dari paru. 2. Pleura adalah membrane penutup yng membungkus setiap paru. a. Pleura Parietal melapisi rongga toraks(kerangka iga, diafragma, mediastinum). b. Pleura Viseral melapisi paru dan bersambungan dengan pleura parietal dibagian bawah paru. c. Rongga Pleura(ruang intrapleural) adalah ruang potensial antara pleura parietal dan visceral yang mengandung lapisan tipuis cairan pelumas. Cairan ini disekresi oleh sel-sel pleural sehingga paru-paru dapat mengembang tanpa melakukan friksi. Tekanan cairan(tekanan intrapleural) agak negative dibandingkan tekanan atmosfer. d. Resesus pleura adalah area rongga pleura yang tidak berisi jaringan paru. Area ini muncul saat pleura parietal bersilangan dari satu permukaan ke permukaan lain. Saat bernapas, paru-paru bergerak keluar, masuk area ini. Resesus pleural kostomediastinal terletak di tepi anterior kedua sisi pleura, tempat pleura parietal berbelok dari kerangka iga ke permukaan lateral midiastinum.

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIKAN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

Resesus pleura kostodiafrgmatik terletak ditepi posterior kedua sisi pleura diantara diafragma dan permukaan kostal internal toraks.

PROSES TERJADINYA PERNAPASAN Terbagi dalam 2 bagian, yaitu: 1. Inspirasi (menarik napas) 2. Ekspirasi (menghembuskan napas) Bernapas merupakan gerak refleks yang terjadi pada otot-otot pernapasan. Refleks bernapas ini di atur oleh pusat pernapasan yang terletak didalam sumsum penyambung (medula oblongata). Pusat pernapasan sangat peka terhadap kelebihan kadar CO2 dalam darah dan kekurangan dalam darah. Inspirasi terjadi bila muskulus diafragma telah mendapat rangsangan dari nervus frenikus lalu mengerut datar. Ekspirasi, pada suatu saat akan kendur lagi dan dengan demikian rongga dada menjadi kecil kembali, maka udara didorong ke luar. VOLUME dan KAPASITAS PARU-PARU Volume udara dalam paru-paru dan kecepatan pertukaran saat inspirasi dan ekspirasi dapat diukur melalui spirometer. 1. Volume Volume tidal (VT), yaitu volume udara yang masuk dan keluar paru-paru selama ventilasi normal biasa. Nilai VT pada dewasa normal sekitar 500 ml untuk laki-laki dan 380 ml untuk perempuan. Volume cadangan inspirasi (VCI), yaitu volume udara ekstra yang masuk paru-paru dengan ispirasi maksimum diatas inspirasi tidal. VCI berkisar 3100 ml pada laki-laki dan 1900 ml pada perempuan. Volume cadangan ekspirasi (VCE) yaitu vilume ektra udara yang dapat dengan kuat dikeluarkan pada akhir respirasi tidak normal. VCE berkisar 1200 ml pada laki-laki dan 800 ml pada perempuan.

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIKAN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

Volume residual (VR), yaitu volume udara sisa dalam paru-paru setelah melakukan ekspirasi kuat. Rata-rata pada laki-laki sekitar 1200 ml dan pada perempuan sekitar 1000 ml. volume residual penting untuk kelangsungan aerasi dalam darah saat jeda pernapasan. 2. Kapasitas Kapasitas residual fungsional (KRF) adalah penambahan volume residual dan volume cadangan ekspirasi. Kapasitas ini meruakan jumlah udara sisa dalam system respiratorik setelah ekspirasi normal, nilai rata-ratanya adalah 2200 ml. jadi nilai (KRF = VR + VCE) Kapasitas inspirasi (KI), adalah penambahan volume tidal dan volume cadangan inspirasi. Nilai rata-ratanya adalah 3500 ml. jadi nilai (KI =VT + VCI) Kapasitas vital (KV), yaitu penambahan volume tidal, volume cadangan inspirasi dan volume cadangan ekspirasi (KT = VT + VCI + VCE) nilai ratarata nya sekitar 4500 ml. Kapasitas total paru (KTP), adalah jumlah total udara yang dapat ditampung dalam paru-paru dan sama dengan kapasitas vital + volume residual (KTP = KV + VR). Nilai rata-ratanya adalah 5700 ml. 6 Responses to 'Anatomi dan Fisiologi Sistem (http://nursingbegin.com/anatomi-fisiologi-saluran-pernafasan/ ) C. PATOFISIOLOGI DAN PATOFLOW 1. Etiologi Bakteri : Diplococus Pneumonia, Pneumococcus, Stretococcus Hemoliticus Aureus, Haemophilus Influenza, Basilus Friendlander (Klebsial Pneumoni), Mycobacterium Tuberculosis. Virus : Respiratory syntical virus, virus influenza, virus sitomegalik.

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIKAN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

Jamur

:

Citoplasma

Capsulatum, Immitis,

Criptococcus Aspergillus

Nepromas, Sp,

Blastomices Albicans,

Dermatides,

Cocedirides

Candinda

Mycoplasma Pneumonia. Aspirasi benda asing. Faktor lain yang mempengaruhi timbulnya Bronchopnemonia adalah daya tahan tubuh yang menurun misalnya akibat malnutrisi energy protein (MEP), penyakit menahun, pengobatan antibiotik yang tidak sempurna.

2. Fatofisiologi Bronkopneumonia merupakan infeksi sekunder yang biasanya disebabkan oleh virus penyebab Bronchopneumonia yang masuk ke saluran pernafasan sehingga terjadi peradangan broncus dan alveolus. Inflamasi bronkus ditandai adanya penumpukan sekret, sehingga terjadi demam, batuk produktif, ronchi positif dan mual. Bila penyebaran kuman sudah mencapai alveolus maka komplikasi yang terjadi adalah kolaps alveoli, fibrosis, emfisema dan atelektasis. Kolaps alveoli akan mengakibatkan penyempitan jalan napas, sesak napas, dan napas ronchi. Fibrosis bisa menyebabkan penurunan fungsi paru dan penurunan produksi surfaktan sebagai pelumas yang berpungsi untuk melembabkan rongga fleura. Emfisema (tertimbunnya cairan atau pus dalam rongga paru) adalah tindak lanjut dari pembedahan. Atelektasis mngakibatkan peningkatan frekuensi napas, hipoksemia, acidosis respiratori, pada klien terjadi sianosis, dispnea dan kelelahan yang akan mengakibatkan terjadinya gagal napas.

3. Manifestasi klinis 1) Biasanya didahului infeksi traktus respiratorius bagian atas. 2) Penyakit ini umumnya timbul mendadak, suhu meningkat 39-40O C disertai menggigil, napas sesak dan cepat, 3) batuk-batuk yang non produktif “napas bunyi” pemeriksaan paru saat perkusi redup, saat auskultasi suara napas ronchi basah yang halus dan nyaring. Batuk pilek yang mungkin berat sampai terjadi insufisiensi pernapasan dimulai

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIKAN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

dengan infeksi saluran bagian atas, penderita batuk kering, sakit kepala, nyeri otot, anoreksia dan kesulitan menelan.

4. Komplikasi Komplikasi dari bronchopneumonia adalah : a. Atelektasis adalah pengembangan paru-paru yang tidak sempurna atau kolaps paru merupakan akibat kurangnya mobilisasi atau refleks batuk hilang. b. Empisema adalah suatu keadaan dimana terkumpulnya nanah dalam rongga pleura terdapat di satu tempat atau seluruh rongga pleura. c. Abses paru adalah pengumpulan pus dalam jaringan paru yang meradang. d. Infeksi sitemik e. Endokarditis yaitu peradangan pada setiap katup endokardial. f. Meningitis yaitu infeksi yang menyerang selaput otak

D.

PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Pengambilan sekret secara broncoscopy dan fungsi paru untuk preparasi langsung, biakan dan test resistensi dapat menemukan atau mencari etiologinya, tetapi cara ini tidak rutin dilakukan karena sukar. 2. Secara laboratorik ditemukan leukositosis biasa 15.000 – 40.000 / m dengan pergeseran LED meninggi. 3. Foto thorax bronkopeumoni terdapat bercak-bercak infiltrate pada satu atau beberapa lobus, jika pada pneumonia lobaris terlihat adanya konsolidasi pada satu atau beberapa lobus.

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIKAN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

E.

PENATALAKSANAAN 1. Kemotherapi untuk mycoplasma pneumonia, dapat diberikan Eritromicin 4 X 500 mg sehari atau Tetrasiklin 3 – 4 mg sehari. Obat-obatan ini meringankan dan mempercepat penyembuhan terutama pada kasus yang berat. Obat-obat penghambat sintesis SNA (Sintosin Antapinosin dan Indoksi Urudin) dan interperon inducer seperti polinosimle, oliudikocid 2. pengobatan simtomatik seperti : a) Istirahat, umumnya penderita tidak perlu dirawat, cukup istirahat dirumah. Simptomatik terhadap batuk. b) Batuk yang produktif jangan ditekan dengan antitusif c) Bila terdapat obstruksi jalan napas, dan lendir serta ada febris, diberikan broncodilator. d) Pemberian oksigen umumnya tidak diperlukan, kecuali untuk kasus berat. Antibiotik yang paling baik adalah antibiotik yang sesuai dengan penyebab yang mempunyai spektrum sempit.

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIKAN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

BAB II KONSEP TUMBUH KEMBANG DAN HOSPITALISASI

A.

KONSEP PERTUMBUHAN USIA Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interselular, berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau keseluruhan, sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat. (http://www.aqilaputri.rachdian.com/index2.php?option=com_content&do_pdf =1&id=23 diakses tanggal 4 desember pukul 15.00

B.

KONSEP PERKEMBANGAN Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian. Pertumbuhan terjadi secara simultan dengan perkembangan. (http://www.aqilaputri.rachdian.com/index2.php?option=com_content&do_pdf =1&id=23

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIKAN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

Ciri-ciri dan Prinsip-prinsip Tumbuh Kembang Anak. Proses tumbuh kembang anak mempunyai beberapa ciri-ciri yang saling berkaitan. Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut: 1). Perkembangan menimbulkan perubahan. Perkembangan terjadi bersamaan dengan pertumbuhan. Setiap pertumbuhan disertai dengan perubahan fungsi. Misalnya perkembangan intelegensia pada seorang anak akan menyertai pertumbuhan otak dan serabut saraf. 2). Pertumbuhan dan perkembangan pada tahap awal menentukan perkembangan

selanjutnya. Setiap anak tidak akan bisa melewati satu tahap perkembangan sebelum ia melewati tahapan sebelumnya. Sebagai contoh, seorang anak tidak akan bisa berjalan sebelum ia bisa berdiri. Seorang anak tidak akan bisa berdiri jika pertumbuhan kaki dan bagian tubuh lain yang terkait dengan fungsi berdiri anak terhambat. Karena itu perkembangan awal ini merupakan masa kritis karena akan menentukan perkembangan selanjutnya. 3). Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda.

Sebagaimana pertumbuhan, perkembangan mempunyai kecepatan yang berbedabeda, baik dalam pertumbuhan fisik maupun perkembangan fungsi organ dan perkembangan pada masing-masing anak. 4). Perkembangan berkorelasi dengan pertumbuhan. Pada saat pertumbuhan berlangsung cepat, perkembangan pun demikian, terjadi peningkatan mental, memori, daya nalar, asosiasi dan lain-lain. Anak sehat, bertambah umur, kepandaiannya. bertambah berat dan tinggi badannya serta bertambah

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIKAN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

5). Perkembangan mempunyai pola yang tetap. Perkembangan fungsi organ tubuh terjadi menurut dua hukum yang tetap, yaitu: a. Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah kepala, kemudian menuju ke arah kaudal/anggota tubuh (pola sefalokaudal). b. Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah proksimal (gerak kasar) lalu berkembang ke bagian distal seperti jari-jari yang mempunyai kemampuan gerak halus (pola proksimodistal). 6). Perkembangan memiliki tahap yang berurutan. Tahap perkembangan seorang anak mengikuti pola yang teratur dan berurutan. Tahap-tahap tersebut tidak bisa terjadi terbalik, misalnya anak terlebih dahulu mampu membuat lingkaran sebelum mampu membuat gambar kotak, anak mampu berdiri sebelum berjalan dan sebagainya. Proses tumbuh kembang anak juga mempunyai prinsip-prinsip yang saling berkaitan. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut: 1.Perkembangan merupakan hasil proses kematangan dan belajar.

Kematangan merupakan proses intrinsik yang terjadi dengan sendirinya, sesuai dengan potensi yang ada pada individu. Belajar merupakan perkembangan yang berasal dari latihan dan usaha. Melalui belajar, anak memperoleh kemampuan menggunakan sumber yang diwariskan dan potensi yang dimiliki anak. 2. Pola perkembangan dapat diramalkan, terdapat persamaan pola

perkembangan bagi semua anak. Dengan demikian perkembangan seorang anak dapat diramalkan. Perkembangan berlangsung dari tahapan umum ke tahapan spesifik, dan terjadi berkesinambungan.

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIKAN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

1. Tahapan perkembangan anak menurut umur 0-3 bulan a) Mengangkat kepala setinggi 45 0 . b) Menggerakkan kepala dari kiri/kanan ke tengah. c) Melihat dan menatap wajah anda. d) Mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh gambar e) Suka tertawa keras. f) Bereaksi terkejut terhadap suara keras. g) Membalas tersenyum ketika diajak bicara/tersenyum. h) Mengenal ibu dengan penglihatan, penciuman, pendengaran, kontak 2. Tahap perkembangan anak menurut Umur 3-6 bulan a) Berbalik dari telungkup ke telentang. b) Mengangkat kepala setinggi 90 c) Mempertahankan posisi kepala tetap tegak dan stabil. d) Menggenggam pensil. Meraih benda yang ada dalam jangkauannya. e) Memegang tangannya sendiri. f) Berusaha memperluas pandangan. g) Mengarahkan matanya pada benda-benda kecil.

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIKAN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

h) Mengeluarkan suara gembira bernada tinggi atau memekik. i) Tersenyum ketika melihat mainan/gambar yang menarik saat bermain sendiri. 3. Tahap perkembangan anak menurut umur 6-9 bulan a) Duduk (sikap tripoid – sendiri). b) Belajar berdiri, kedua kakinya menyangga sebagian berat badan. c) Merangkak meraih mainan atau mendekati seseorang. d) Memindahkan benda dari satu tangan ketangan lainnya. e) Memungut 2 benda, masing-masing tangan pegang 1 benda pada saat yang bersamaan. f) Memungut benda sebesar kacang dengan cara meraup.

g) Bersuara tanpa arti, mamama, bababa, dadada, tatatata. h) Mencari mainan/benda yang dijatuhkan. i) Bermain tepuk tangan/ciluk ba. j) Bergembira dengan melempar benda. k) Makan kue sendiri. 4. Tahap perkembangan anak menurut umur 9-12 bulan a) Mengangkat badannya ke posisi berdiri. b) Belajar berdiri selama 30 detik atau berpegangan di kursi.

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIKAN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

c)

Dapat berjalan dengan dituntun. Mengulurkan lengan/badan untuk

meraih mainan yang diinginkan. gambar d) e) f) g) h) i) j) k) Mengenggam erat pensil. Memasukkan benda ke mulut. Mengulang menirukan bunyi yang didengar. Menyebut 2-3 suku kata yang sama tanpa arti. Mengeksplorasi sekitar, ingin tahu, ingin menyentuh apa saja. Bereaksi terhadap suara yang perlahan atau bisikan. Senang diajak bermain ;CILUK BA Mengenal anggota keluarga, takut pada orang yang belum dikenal.

5. Tahap perkembangan anak menurut umur 12-18 bulan a. b. c. d. Berdiri sendiri tanpa berpegangan. Membungkuk memungut mainan kemudian berdiri kembali. Berjalan mundur 5 langkah. Memanggil ayah dengan kata ”papa”, memanggil ibu dengan kata ”mama”. Gambar e. f. Menumpuk 2 kubus. Memasukkan kubus di kotak.

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIKAN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

g.

Menunjuk apa yang diinginkan tanpa menangis/merengek, anak bisa mengeluarkan suara yang menyenangkan atau menarik tangan ibu

h.

Memperlihatkan rasa cemburu / bersaing.

6. Tahap perkembangan anak menurut Umur 18-24 bulan a) Berdiri sendiri tanpa berpegangan 30 detik. b) Berjalan tanpa terhuyung-huyung. c) Bertepuk tangan, melambai-lambai. d) Menumpuk 4 buah kubus.gambar e) Memungut benda kecil dengan ibu jari dan jari telunjuk. f) Menggelindingkan bola kearah sasaran. g) Menyebut 3– 6 kata yang mempunyai arti. h) Membantu/menirukan pekerjaan rumah tangga. i) Memegang cangkir sendiri, belajar makan - minum sendiri. 7. Tahap perkembangan anak menurut Umur 24-36 bulan a) Jalan naik tangga sendiri. b) Dapat bermain dan menendang bola kecil. c) Mencoret-coret pensil pada kertas. d) Bicara dengan menggunakan 2 kata. e) Dapat menunjuk 1 atau lebih bagian tubuhnya ketika diminta.

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIKAN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

f) Melihat gambar dan dapat menyebut dengan benar nama 2 benda atau lebih. g) Membantu memungut mainannya sendiri atau membantu mengangkat piring jika diminta. h) Makan nasi sendiri tanpa banyak tumpah. i) Melepas pakaiannya sendiri. 8. Tahap perkembangan anak menurut Umur 36-48 bulan a) Berdiri 1 kaki 2 detik b) Melompat kedua kaki diangkat c) Mengayuh sepeda roda tiga. d) Menggambar garis lurus e) Menumpuk 8 buah kubus. o 2-4 warna. f) Menyebut nama, umur, tempat. g) Mengerti arti kata di atas, di bawah, di depan. h) Mendengarkan cerita. i) Mencuci dan mengeringkan tangan sendiri j) Bermain bersama teman, mengikuti aturan permainan k) Mengenakan sepatu sendiri.

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIKAN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

l) Mengenakan celana panjang, kemeja, baju Umur 60 bulan o Berdiri 1 kaki 6 detik. m) Melompat-lompat 1 kaki. n) Menari. o) Menggambar silang. gambar p) Menggambar lingkaran. q) Menggambar orang dengan 3 bagian tubuh. r) Mengancing baju atau pakaian boneka. s) Menyebut nama lengkap tanpa dibantu t) Senang menyebut baru. u) Senang bertanya tentang sesuatu v) Menjawab pertanyaan dengan kata-kata yang benar. w) Bicaranya mudah dimengerti x) Bisa membandingkan/membedakan sesuatu dari ukuran dan bentuknya y) Menyebut angka, menghitung jari z) Menyebut nama-nama hari o Berpakaian sendiri tanpa dibantu. aa) Menggosok gigi tanpa dibantu. bb) Bereaksi tenang dan tidak rewel ketika ditinggal ibu. 9. Tahap perkembangan anak menurut Umur 60-72 bulan

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIKAN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) k) l) m) C.

Berjalan lurus. Berdiri dengan 1 kaki selama 11 detik. Menggambar dengan 6 bagian, menggambar orang lengkap Menangkap bola kecil dengan kedua tangan gambar Menggambar segi empat. Mengerti arti lawan kata Mengerti pembicaraan yang menggunakan 7 kata atau lebih Menjawab pertanyaan tentang benda terbuat dari apa dan kegunaannya. Mengenal angka, bisa menghitung angka 5 -10 Mengenal warna-warni Mengungkapkan simpati Mengikuti aturan permainan Berpakaian sendiri tanpa dibantu

KONSEP HOSPITALISASI USIA Reaksi hospitalisasi bersifat individual dan sangat tergantung pada usia

perkembangan anak,pengalaman sebelumnya terhadap sakit,sistem pendukung yang tersedia dan kemampuan koping yang dimilikinya,pada umumnya,reaksi anak terhadap sakit adalah kecemasan karena perpisahan,kehilangan, perlukaan tubuh,dan rasa nyeri.

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIKAN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

Reaksi anak pada hospitalisasi : 1. Masa bayi(0-1 th) Dampak perpisahan Pembentukan rasa percaya diri dan kasih sayang Usia anak > 6 bln terjadi stanger anxiety /cemas a) Menangis keras b) Pergerakan tubuh yang banyak c) Ekspresi wajah yang tak menyenangkan 2. Masa todler (2-3 th) Sumber utama adalah cemas akibat perpisahan .Disini respon perilaku anak dengan tahapnya. a) Tahap protes menangis, menjerit, menolak perhatian orang lain b) Putus asa menangis berkurang,anak tak aktif,kurang menunjukkan minat bermain, sedih, apatis c) Pengingkaran/ denial d) Mulai menerima perpisahan e) Membina hubungan secara dangkal f) Anak mulai menyukai lingkungannya 3. Masa prasekolah ( 3 sampai 6 tahun ) a) Menolak makan b) Sering bertanya c) Menangis perlahan d) Tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan Perawatan di rumah sakit : a) Kehilangan control b) Pembatasan aktivitas Sering kali dipersepsikan anak sekolah sebagai hukuman. Sehingga ada perasaan malu, takut sehingga menimbulkan reaksi agresif, marah, berontak,tidak mau bekerja sama dengan perawat.

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIKAN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

4. Masa sekolah 6 sampai 12 tahun Perawatan di rumah sakit memaksakan meninggalkan lingkungan yang dicintai , klg, klp sosial sehingga menimbulkan kecemasan. Kehilangan kontrol berdampak pada perubahan peran dlm klg, kehilangan klp sosial,perasaan takut mati, kelemahan fisik. Reaksi nyeri bisa digambarkan dgn verbal dan non verbal

5.Masa remaja (12 sampai 18 tahun ) Anak remaja begitu percaya dan terpengaruh kelompok sebayanya. Saat masuk rumah sakit cemas karena perpisahan tersebut. Pembatasan aktifitas kehilangan control, reaksi yang muncul : a) Menolak perawatan / tindakan yang dilakukan b) Tidak kooperatif dengan petugas Perasaan sakit akibat perlukaan menimbulkan respon : a) bertanya-tanya b) menarik diri c) menolak kehadiran orang lain Reaksi orang tua terhadap hospitalisasi & Perasaan yang muncul dalam hospitalisasi: Takut dan cemas,perasaan sedih dan frustasi: Kehilangan anak yang dicintainya: a) Prosedur yang menyakitkan b) Informasi buruk tentang diagnosa medis c) Perawatan yang tidak direncanakan d) Pengalaman perawatan sebelumnya & Perasaan sedih: Kondisi terminal perilaku isolasi /tidak mau didekati orang lain & Perasaan frustasi:Kondisi yang tidak mengalami perubahan Perilaku tidak kooperatif,putus asa,menolak tindakan, menginginkan P.P &Reaksi saudara kandung terhadap perawatan anak di RS: Marah,cemburu,benci,rasa bersalah

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIKAN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

Intervensi perawatan dalam mengatasi dampak hospitalisasi Fokus intervensi keperawatan adalah meminimalkan stressor memaksimalkan manfaat hospitalisasi memberikan dukungan psikologis pada anggota keluarga mempersiapkan anak sebelum masuk rumah saki. Upaya meminimalkan stresor atau penyebab stress Dapat dilakukan dengan cara : a) Mencegah atau mengurangi dampak perpisahan b) Mencegah perasaan kehilangan control c) Mengurangi / meminimalkan rasa takut terhadap perlukaan tubuh dan rasa nyeri Upaya mencegah / meminimalkan dampak perpisahan 1. Melibatkan orang tua berperan aktif dalam perawatan anak 2. Modifikasi ruang perawatan 3. Mempertahankan kontak dengan kegiatan sekolah ( surat menyurat, bertemu teman sekolah) Mencegah perasaan kehilangan kontrol: a) Hindarkan pembatasan fisik jika anak dapat kooperatif. b) Bila anak diisolasi lakukan modifikasi lingkungan c) Buat jadwal untuk prosedur terapi,latihan,bermain d) Memberi kesempatan anak mengambil keputusan dan melibatkan orang tua dalam perencanaan kegiatan Meminimalkan rasa takut terhadap cedera tubuh dan rasa nyeri 1) Mempersiapkan psikologis anak dan orang tua untuk tindakan prosedur yang menimbulkan rasa nyeri 2) Lakukan permainan sebelum melakukan persiapan fisik anak 3) Menghadirkan orang tua bila memungkinkan 4) Tunjukkan sikap empati

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIKAN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

5) Pada tindakan elektif bila memungkinkan menceritakan tindakan yang dilakukan melalui cerita, gambar. Perlu dilakukan pengkajian tentang kemampuan psikologis anak menerima informasi ini dengan terbuka. Memaksimalkan manfaat hospitalisasi anak 1) Membantu perkembangan anak dengan memberi kesempatan orang tua untuk belajar . 2) Memberi kesempatan pada orang tua untuk belajar tentang penyakit anak. 3) Meningkatkan kemampuan kontrol diri. 4) Memberi kesempatan untuk sosialisasi. 5) Memberi support kepada anggota keluarga. Mempersiapkan anak untuk mendapat perawatan di rumah sakit 1) Siapkan ruang rawat sesuai dengan tahapan usia anak. 2) Mengorientasikan situasi rumah sakit. Pada hari pertama lakukan tindakan : 1) Kenalkan perawat dan dokter yang merawatnya 2) Kenalkan pada pasien yang lain. 3) Berikan identitas pada anak. 4) Jelaskan aturan rumah sakit. 5) laksanakan pengkajian . 6) Lakukan pemeriksaan fisik.

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIKAN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN A. PENGKAJIAN 1. RIWAYAT KESEHATAN SEKARANG a. Riwayat kesehatan 1) Adanya riwayat infeksi saluran pernapasan sebelumnya : batuk, pilek, demam. 2) Anorexia, sukar menelan, mual dan muntah. 3) Riwayat penyakit yang berhubungan dengan imunitas seperti malnutrisi. 4) Anggota keluarga lain yang mengalami sakit saluran pernapasan 5) Batuk produktif, pernafasan cuping hidung, pernapasan cepat dan dangkal, gelisah, sianosis 2. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU 3. PEMERIKASAAN FISIK PERSISTEM 4. PEMERIKSAAN PENUNJANG B. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1) Tidak efektifnya bersihan jalan napas berhubungan dengan penumpukan sekret. 2) Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan kapiler alveoli. 3) Defisit volume cairan berhubungan dengan output yang berlebihan. 4) Resti pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat. 5) Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIKAN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

6) Kurang pengetahuan orang tua tentang perawatan klien berhubungan dengan kurangnya informasi. 7) Cemas anak berhubungan dengan dampak hospitalisasi C. RENCANA KEPERAWATAN Diagnosa 1 Tujuan : Bersihan jalan nafas kembali efektif. KH : sekret dapat keluar. Rencana tindakan : 1. Monitor status respirasi setiap 2 jam, kaji adanya peningkatan pernapasan dan bunyi napas abnormal. 2. Lakukan suction sesuai indikasi. 3. Beri terapi oksigen setiap 6 jam 4. Ciptakan lingkungan / nyaman sehingga pasien dapat tidur dengan tenang 5. Beri posisi yang nyaman bagi pasien 6. Monitor analisa gas darah untuk mengkaji status pernapasan 7. Lakukan perkusi dada 8. Sediakan sputum untuk kultur / test sensitifitas Diagnosa 2 Tujuan : pertujaran gas kembali normal. KH : Klien memperlihatkan perbaikan ventilasi, pertukaran gas secara optimal dan oksigenisasi jaringan secara adekuat Rencana tindakan : 1. Observasi tingkat kesadaran, status pernafasan, tanda-tanda cianosis 2. Beri posisi fowler sesuai program / semi fowler 3. Beri oksigen sesuai program 4. Monitor AGD 5. Ciprtakan lingkungan yang nyaman 6. Cegah terjadinya kelelahan

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIKAN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

Diagnosa 3. Tujuan : Klien akan mempertahankan cairan tubuh yang normal KH : Tanda dehidrasi tidak ada. Rencana tindakan : 1. Catat intake dan output cairan (balanc cairan) 2. Anjurkan ibu untuk tetap memberikan cairan peroral 3. Monitor keseimbangan cairan , membran mukosa, turgor kulit, nadi cepat, kesadaran menurun, tanda-tanda vital. 4. Pertahankan keakuratan tetesan infus 5. Observasi tanda-tanda vital (nadi, suhu, respirasi) Diagnosa 4. Tujuan : Kebuituhan nutrisi terpenuhi. KH : Klien dapat mempertahankan/meningkatkan pemasukan nutrisi.. Rencana tindakan : 1. Kaji status nutrisi klien 2. Lakukan pemeriksaan fisik abdomen klien (auskultasi, perkusi, palpasi, dan inspeksi) 3. Timbang BB klien setiap hari. 4. Kaji adanya mual dan muntah 5. Berikan diet sedikit tapi sering 6. Berikan makanan dalam keadaan hangat 7. kolaborasi dengan tim gizi Diagnosa 5 Tujuan : Tidak terjadi peningkatan suhu tubuh. KH : Hipertermi/peningkatan suhu dapat teratasi dengan proses infeksi hilang Rencana tindakan :

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIKAN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

1. Observasi tanda-tanda vital 2. Berikandan anjurkan keluarga untuk memberikan kompres dengan air pada daerah dahi dan ketiak 3. Libatkan keluarga dalam setiap tindakan 4. Berikan minum per oral 5. Ganti pakaian yang basah oleh keringat 6. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat penurun panas. Diagnosa 6 Tujuan : Pengetahuan orang tua klien tentang proses penyakit anaknya meningkat setelah dilakukan tindakan keperawatan KH : Orang tua klien mengerti tentang penyakit anaknya. Rencana tindakan : 1. Kaji tingkat pengetahuan orang tua klien tentang proses penyakit anaknya 2. Kaji tingkat pendidikan orang tua klien 3. Bantu orang tua klien untuk mengembangkan rencana asuhan keperawatan dirumah sakit seperti : diet, istirahat dan aktivitas yang sesuai 4. Tekankan perlunya melindungi anak. 5. Jelaskan pada keluarga klien tentang Pengertian, penyebab, tanda dan gejala, pengobatan, pencegahan dan komplikasi dengan memberikan penkes. 6. Beri kesempatan pada orang tua klien untuk bertanya tentang hal yang belum dimengertinya Diagnosa 7 Tujuan : Cemas anak hilang KH : Klien dapat tenang, cemas hilang, rasa nyaman terpenuhi setelah dilakukan tindakan keperawatan Rencana tindakan : 1. Kaji tingkat kecemasan klien

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIKAN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

2. Dorong ibu / keluarga klien mensufort anaknya dengan cara ibu selalu didekat klien. 3. Fasilitasi rasa nyaman dengan cara ibu berperan sertamerawat anaknya 4. Lakukan kunjungan, kontak dengan klien 5. Anjurkan keluarga yang lain mengunjungi klien 6. Berikan mainan sesuai kesukaan klien dirumah

D. INTERVENSI KEPERAWATAN E. EVALUASI KEPERAWATAN Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan Brochopneumonia dalah : a. Pertukaran gas normal. b. Bersihan jalan napas kembali efektif c. Intake dan output seimbang d. Intake nutrisi adekuat e. Suhu tubuh dalam batas normal f. Pengetahuan keluarga meningkat

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIKAN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

DAFTAR PUSTAKA

Cecily L. Betz, (2002) Buku Saku Keperawatan Pediatri, Jakarta : EGC Donna L. Wong, (2004) Pedoman Klinis Keperawatan Pediatric , Jakarta : EGC Donna L. Wong Dkk, (2009) Buku Ajar Keperawatan Pediatric, Jakarta : EGC http://irmanweb.wordpress.com/2008/06/25/asuhan-keperawatan-pada-gangguansistem-pernafasan/ diakses tanggl 5 desember pukul 18.00 wib http://www.ilmukeperawatan.com/askep.html diakses tanggl 5 desember pukul 18.00 wib http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/03/14/tumbuh-kembang-anak-3%E2%80%93-5-tahun/ diakses tanggl 5 desember pukul 18.00 wib http://www.aqilaputri.rachdian.com/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id =23 diakses tanggl 5 desember pukul 18.00 wib http://ratnarespati.com/2008/08/21/tahap-tahap-pertumbuhan-dan-perkembangananak/ diakses tanggl 5 desember pukul 18.00 wib

©2010 MATERI AJAR INI HANYA UNTUK KEGIATAN PENDIDIKAN DAN KESEHATAN – Rosdiana.Ns http://askep-rose.blogspot.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->